RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

SAMADHI

SAMADHI-BENAR


( Samma-Samadhi )

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

SILA –> SAMADHI –> PANNA

TRITUNGGAL-JALAN-PEMBEBASAN

Ajaran Sang Buddha sesungguhnya terangkum dalam : SILA, SAMADHI, dan PANNA. Tritunggal-Pengetahuan inilah Jalan-Pembebasan, menuju berakhirnya ratap-tangis, berakhirnya dukkha, akhir perjalanan samsara semua makhluk alam semesta, merupakan satu-satunya jalan menuju “Nibbana”.

Ketiga-tiganya ini adalah Satu, artinya kita harus menempuh ketiganya, tidak bisa salah satu diantaranya. Inilah mengapa SILA, SAMADHI, dan PANNA merupakan “TRITUNGGAL”.

SILA yang sempurna, akan menghasilkan Konsentrasi sempurna yang berguna bagi pencapaian kesuksesan (samapati) SAMADHI, yaitu berupa empat Rupa-Jhana dan empat Arupa-Jhana dan vipassanannana ( pandangan-terang ), dan Samadhi-Sempurna ini akan menghasilkan pengetahuan tertinggi, Kebijaksanaan-Sempurna ; PANNA.

Melatih Samadhi tujuan utamanya adalah mengembangkan sifat-sifat mulia dan demi pembebasan dari samsara. Seseorang yang mempraktekkan Samadhi haruslah mempunyai keteguhan hati ( ajjhasaya ), tidak mempunyai sifat kasar serta tanpa ‘kehausan’ ( kehausan akan keindriyaan ).

Seorang yogi harus memiliki SILA / moralitas yang sempurna tanpa noda. SILA ini adalah ‘akar’ bagi kehidupan Samadhi yang benar. Dengan memiliki SILA yang sempurna, batin seorang Yogi akan menjadi tenang dan damai. Ia tidak akan mempunyai peraaan resah-gelisah, pikiran-pikiran yang kacau, takut, dan lain-lain. Apalagi yang harus ditakuti bila kita telah bertindak benar dan bajik ? Tidak akan ada orang yang menghujat kita karena kita menjadi seorang pembohong, tidak akan ada debt-collector yang mengejar-ngejar kita karena kita melarikan sejumlah uang, dan lain-lain ‘mimpi-buruk’. Bagi seorang yang memegang teguh SILA, batinnya akan jauh dari ketakutan-ketakutan tersebut. Bila seseorang tidak memiliki SILA atau mengurangi SILA jangan pernah berharap ia akan berhasil mencapai ‘kesuksesan’ dalam samadhinya.

Seorang yogi yang telah memiliki sila yang sempurna dan belum mencapai tingkat Arahat harus mempraktekkan vipassana-bhavana untuk mencapai pembebasan ; Arahat ( catatan ; tingkat kesucian Arahat hanya bisa dicapai dengan hidup sebagai seorang petapa yang melepaskan keduniawian ( dalam terminology Buddhis disebut : ke-bhikkhu-an ), sedang tiga tingkatan dibawahnya : Sotapanna, Sakadagami, Anagami, bisa dicapai oleh ummat non-Bhikkhu. Saat seseorang mencapai Arahat, tetapi tidak hidup mem-Bhikkhu, maka ia akan ‘meninggal’, karena batin yang ‘halus’ menuntut tubuh / cara hidup yang halus pula ).

Bila seseorang yang baru menempuh ‘kehidupan’ Samadhi dan ingin mempraktekkan ‘vipassana’ ( Samadhi ‘pandangan-terangan’ ), maka ia harus bisa mencapai ketenangan pertama (Jhana I). Kekuatan vipassana ini dapat memotong hawa-nafsu dan segala bentuk kekotoran batin. Jika seorang siswa / yogi belum mencapai Jhana I maka ia belum berhasil dalam Samadhi, ini merupakan hukum mutlak.


Jalan Pembebasan

Ada dua ( 2 ) jalan menuju kesucian, yaitu :

1. Sukha-vipassako.

2. Melalui pencapaian Jhana dari Jhana I hingga Jhana VIII kemudian turun tahap demi tahap sampai Jhana I untuk kemudian masuk ke vipassana bhavana.

Cara yang kedua tersebut dipakai untuk membuktikan adanya ‘kesaktian’, atau ditempuh oleh Yogi yang memang ingin mempunyai kesaktian.

Sukha vipassako adalah ajaran khusus yang diberikan Sang Buddha bagi orang-orang yang kesulitan mencapai Jhana yang disebabkan oleh karena kurangnya atau tidak adanya jasa paramita dari orang tersebut pada kehidupan yang lampau. Tidak semua orang bisa mencapai Jhana hingga Jhana IV ( empat Rupa-Jhana ) apalagi hingga Jhana VIII ( empat Arupa-Jhana ).

Sukha vipassako adalah praktek yang mudah untuk menuju pembebasan dan seorang yogi yang melaksanakan sukha-vipassako tidak tertarik pada ‘kesaktian’. Seandainya ia mencapai Jhana, hanya Jhana I saja.

Dalam mempraktekkan vipassana ( pandangan terang ), sukha-vipassako menggunakan pencapaian ketenangan ( Jhana-samapati ) sebagai dasar untuk mengetahui ketenangan yang muncul dalam batin atau dapat dikembangkan menuju vipassana bila batin (citta) ini menuju Samadhi-tetangga ( upacara-samadhi ).

Hal mendasar yang perlu diketahui dalam praktek sukha-vipassako yaitu :

1. Menjaga sila dengan baik.

2. Melaksanakan ‘vipassana-samadhi’ dengan dasar Jhana pertama.

Orang yang melaksanakan Samadhi ( baik sukha-vipassako maupun yang melalui proses Jhana hingga Jhana VIII ) harus berdisiplin tinggi sehingga ia akan mencapai Kebebasan. Seorang yogi yang mempraktekkan sukha-vipassako akan mencapai kebebasan tanpa ‘kekuatan batin istimewa’. Ia hanya akan menjadi seorang Arahat, orang yang telah sempurna.

Pada kesempatan ini saya akan membahas Jhana-Jhana dan keistimewaan yang dihasilkan olehnya, yaitu yang berupa ‘kekuatan-batin’ / kesaktian.


Enam ( 6 ) Kekuatan Batin ( Abhinna )

Enam kekuatan batin ( abhinna ) merupakan dhamma yang istimewa, bagi para yogi yang melatih diri secara khusus untuk memperolehnya. Lima kekuatan batin yang pertama diperoleh dari hasil praktik ‘Rupa-Jhana’, yaitu Jhana I hingga Jhana IV. Kelima kekuatan batin tersebut adalah sebagai berikut :

1. Iddhividdhi : Berbagai jenis kekuatan batin , seperti : menciptakan diri sendiri menjadi banyak dalam rupa yang sama dan merubah diri kembali dari banyak menjadi satu, berjalan diatas air, berjalan di udara, melayang di udara, melunakkan batu, mendatangkan hujan di daerah tandus / kemarau panjang, menciptakan api, menciptakan sinar untuk melihat dalam gelap, melihat jarak jauh siang maupun malam, menghangatkan cuaca di tempat yang dingin, meringankan tubuh sehingga dapat mengikuti arus angin, mendatangkan angin ditempat yang ‘kurang-angin’, melihat benda-benda yang terhalang oleh sekat seperti tembok, melihat barang-barang yang ditutupi dalam suatu tempat ( penglihatan tembus ruang ), dan lain-lainnya.

2. Dibbasota : Mendengar suara dari jarak jauh, tidak terhalang batas ruang dan waktu, termasuk mendengar suara-suara dari alam lain, baik alam surga maupun neraka.

3. Cutupata Nana : Mengetahui kelahiran dan kematian semua makhluk hidup.

4. Cetopariya

Nana : Dapat membaca pikiran / hati orang dan makhluk lain.

5. Pubbenivasanu

-ssati : Mengingat kehidupan lampau.

Adapun kekuatan batin yang keenam adalah kekuatan ‘pandangan-terang’ ( vipassanannana ), yaitu kemampuan mengikis habis kekotoran batin ( asavakayanana ).


KETEGUHAN HATI ( AJJHASAYA ) =

Seseorang yang mempraktekkan Samadhi-Buddhis, menjadi seorang Yogi-Buddhis, harus mempunyai “Keteguhan-Hati”, dan tidak boleh mempunyai sifat kasar, tanpa ‘kehausan’ terhadap ‘keindriyaan’. Seperti yang sudah diterangkan pada paragraph-paragraf awal/pendahuluan, seseorang harus memiliki SILA, yang terawat sempurna dan tanpa-noda. Teguh dalam pengembangan Sila dan Samadhi, inilah sikap-mental yang harus dijaga, dirawat, dikembangkan. Kita tidak boleh tergoda oleh kesenangan-kesenangan indriya.

Setelah anda bertekun dalam Sila dan Samadhi, anda tidak akan lagi melihat keduniawian dengan penuh kemelekatan, kegiuran, karena, bagi anda, semua hal keduniawian itu tidak berarti lagi. Ini akan terjadi secara alamiah. Mengapa ? Karena anda telah menemukan yang lebih tinggi daripada itu semua.


KETEGUHAN HATI DALAM TIGA PENGETAHUAN ( AJJHASAYA TEVIJJO ) =

Ketika seseorang Yogi telah mampu mencapai Jhana IV, ia akan memiliki keteguhan hati dalam tiga pengetahuan sebagai berikut :

1. Pubbenivasanussati nana ; mengetahui kelahirannya yang lampau.

2. Cutupapata nana ; mengetahui tumimbal lahir dari makhluk2 hidup, darimana sebelum dilahirkan dan akan terlahir dimana setelah kematiannya.

3. Asavakhaya nana, mengetahui jalan melenyapkan nafsu kekotoran batin.

Orang yang memiliki tiga pengetahuan ini dapat melihat / mengetahui sebab-musabab kehidupan yang lalu dan kehidupan yang akan datang dari makhluk hidup. Ia mampu melihat sesosok makhluk ( baik itu manusia atau bukan ) dulunya terlahir dimana sebagai apa, kemudian nanti ketika meninggal akan terlahir dimana dan sebagai apa, seperti membuka dan menutup benda –benda saja, mengetahui isi-isi benda tersebut.

Setelah mengetahui dengan jelas tumimbal-lahir yang berulangkali terjadi tersebut, maka timbul rasa bosan dan jenuh mengenai kelahiran dan kematian yang berulang-ulang. Setelah memahami dan menyadari dan memahaminya, maka ia akan berusaha berhenti dari kelahiran yang berulang-ulang dan berusaha menuju pembebasan.

Seorang Yogi yang memiliki tiga pengetahuan ini dapat mengetahui segala sesuatu dengan alamiah / otomatis, karena ia dapat membuktikannya. Yogi tersebut lebih suka membuktikan bukan HANYA-PERCAYA saja.


DISIPLIN DIRI UNTUK MENCAPAI TIGA PENGETAHUAN ( TEVIJJO )

Bagaimanakah cara untuk mencapai tevijjo ? Berikut adalah langkah-langkah yang perlu diambil untuk bisa memperoleh ‘tevijjo’ tersebut :

1. Menjaga SILA dengan baik ( Bagi ummat perumah-tangga, maka PANCASILA yang harus dijaganya, namun bisa dan alangkah lebih baik jika meningkatkan disiplin dengan mendapatkan, menjaga dan merawat ATTHASILA ( Delapan Sila ). Bagi seorang Yogi Buddhis, prinsip “Lebih baik mati daripada melanggar Sila” sangatlah dijunjung tinggi.

2. Melatih Samadhi sampai memperoleh ketenangan dengan memakai objek kasina ( salah satu dari sepuluh objek kasina. Kasina terdiri dari 10 simbol latihan pemusatan pikiran. Enam Kasina, yang cocok untuk Saddha Carita, yaitu : Pathavi (tanah), apo (air), tejo (api), vayo (udara), akassa (angkasa), dan aloka (symbol-sinar). Empat Kasina, yang cocok bagi dosa carita, yaitu : Nila (biru kehijauan), pita (kuning), lohita (merah), dan odata (putih) ).


DIBBACAKKHU ( Mata-Dewa )

Untuk dapat memiliki “Tiga-Pengetahuan” ( Tevijjo ), anda harus mempunyai “Dibbacakkhu” / “Mata-Dewa”. Cara melatih dan memperoleh “Dibbacakkhu” adalah dengan melatih tiga objek kasina :

1. Tejo Kasina ( Objek Api ), missal nyala lilin.

2. Alo Kasina ( Objek Sinar ), missal Matahari.

3. Odata Kasina ( Objek Warna Putih ).

Diantara ketiga objek ini, yang paling efektif adalah objek-sinar ( Alo-Kasina ), demikian menurut Kitab Visudhi Magga.

Bila kita sudah mahir melatih Dibbacakkhu dan Manomayiddhi (kekuatan batin, bila seseorang telah mampu memisahkan batin dengan tubuh/jasmani, dan batin dapat ‘diajak’ pergi kemana-mana (kealam-alam lain). Manomayidhi ini termasuk salah satu abhinna pada seseorang yang telah memiliki tiga pengetahuan (tevijjo). Bila seorang Yogi telah mencapai Jhana keempat dalam meditasi dengan memakai salah satu objek kasina, maka ia dapat mencapai Manomayiddhi seperti pencapaian dibbacakkhu ) , akan memperoleh berbagai pengetahuan ( nana ) sebagai berikut :

1. Cutupata Nana : Mengetahui kehidupan dan kematian semua makhluk hidup sesuai dengan karmanya masing-masing.

2. Cetopariya Nana : Membaca pikiran orang lain dan makhluk-makhluk lain.

3. Pubbenivasa Nussati-

Nana :                         Kehidupan / tumimbal lahir yang lampau.

4. Atitansa Nana : Mengetahui masa yang lalu.

5. Anagatansa Nana : Mengetahui masa yang akan datang.

6. Paccuppannansa Nana : Mengetahui masa sekarang.

7. Yathakammuta Nana : Dapat mengetahui sebab akibat karma suatu makhluk baik itu manusia, dewa, Brahma, dan lain-lain. Karma apa yang menyebabkan mereka bahagia dan menderita.


PATISAMBHIDAPPAPATTO

Seorang Yogi yang telah sempurna pengetahuannya ( patisambhidappapatto ) jauh lebih istimewa dari seorang yogi yang memiliki tevijjo. Keistimewaannya adalah sebagai berikut :

1. Dapat mengetahui sepenuhnya Dhamma yang sempurna. Pokok-pokok Dhamma dapat diketahui dengan sempurna dan dapat menguraikannya seperti yang diajarkan Sang Buddha, walaupun ia baru sehari saja menjadi pengikut Sang Buddha, ia dapat mengetahui dan menguraikan Dhamma dengan sempurna. Dalam kitab suci dinyatakan bahwa orang seperti ini setelah mendengar ajaran Sang Buddha dengan langsung dapat mencapai tingkatan-tingkatan kesucian, karena mengetahui / menyelami setiap bagian yang Sang Buddha ajarkan.

2. Mahir dalam menguraikan Dhamma, seorang yang telah mencapai patisambhidappapato sanggup mengembangkan Dhamma yang Sang Buddha ajarkan. Walaupun Dhamma itu singkat, ia mampu menguraikannya menjadi panjang dan istimewa serta tidak mengubah isi ajaran tersebut. Ini akan menyebabkan pendengarnya senang dan tidak merasa bosan.

3. Pandai dalam merangkum Dhamma, seseorang yang telah mencapai patisambhidappapatto dapat merangkum ajaran Sang Buddha dengan tidak mengubah makna yang terdapat dalam Dhamma itu sendiri, rangkumannya sangat menarik dan istimewa.

4. Pandai dalam banyak bahasa. Selain dapat menggunakan bahasa manusia juga dapat menggunakan bahasa binatang, Dewa, dan bahasa makhluk-makhluk lainnya.


PATISAMBHIDANANA PATIPATTI

Patisambhidanana merupakan vijja ( pengetahuan ) yang lebih istimewa dari tiga (3) pengetahuan / ‘tevijjo’ dan enam (6) Abhinna. Untuk memperoleh patisambhidanana harus mempraktekkan Samadhi dengan objek sepuluh ( 10 ) Kasina.

Untuk mendapatkan keenam abhinna, Yogi hanya perlu mempraktekkan Samadhi dengan objek kasina hingga Jhana IV saja. Sedangkan untuk mendapatkan patisambhidanana ini bukan hanya tuntas empat ‘rupa-jhana’ saja, tapi harus sampai empat ‘arupa-jhana’ atau sampai Jhana VIII. Keempat arupa Jhana tersebut adalah :

1. Akasanancayatana : Kesadaran moral yang berada di “Ruang-yang-Tidak-Terbatas

2. Vinnanacayatana : Kesadaran moral yang berada di “Kesadaran-yang-Tidak Terbatas”

3. Akincannayatana : Kesadaran moral yang berada di “Kehampaan”

4. N’eva sanna ‘asannayatana : Kesadaran moral dimana “Tidak-ada-Pencerapan bukan pula Ada-Pencerapan “.


LIMA RINTANGAN BATIN ( PANCA-NIVARANA )

Ada lima hal yang merintangi kemajuan samadhi seorang Yogi. Jika kita telah memutuskan untuk menempuh kehidupan ‘samadhi’, demi kesuksesan pencapaian kita, maka kita seyogyanya melenyapkan kelima hal yang merintangi ini. Lima hal tersebut dikenal sebagai “Lima-Rintangan-Batin ( Panca-Nivarana ) “.

Lima rintangan batin ( Panca Nivarana ) merupakan ‘AKUSALA-DHAMMA”, yaitu Dhamma yang dapat melenyapkan Kusala Dhamma ( Dhamma yang Baik ) pencapaian tingkat Samadhi.

Lima rintangan batin ini adalah =

1. Kamacchanda, yaitu nafsu-nafsu indriya, keinginan dan kegiuran terhadap bentuk-bentuk ( tubuh, material ( rupa ) ), suara, bau-bauan, rasa, sentuhan, dan bentuk-bentuk pikiran. Nafsu sexual, kesenangan pada tontonan-tontonan ( seperti acara TV, pertunjukan musik, drama, tari, dan lain-lain termasuk kamacchanda yang seyogyanya dilenyapkan. Jika anda perumah-tangga dan sulit melenyapkan kamacchanda ini, sebaiknya dilemahkan, dikurangi ‘kegiuran’nya ).

2. Byapada, yaitu keinginan jahat atau itikad jahat / dendam. Jika kita membawa dendam dari masa lampau, ini pun akan menghalangi kesuksesan pencapaian samadhi kita. Dendam dan keinginan jahat akan selalu menghalang-halangi pemusatan batin kita pada objek samadhi.

3. Thinamiddha, yaitu kemalasan dan kelambanan. Seringkali kita malas untuk bersamadhi, merasa lebih baik jalan-jalan ke mall, kumpul dengan teman-teman, atau bercumbu dengan kekasih. Kemalasan, dan juga kelambanan kita dalam mempraktekkan samadhi, juga merupakan penghalang tercapainya pemusatan batin pada objek samadhi.

4. Uddhaccakukkucca, yaitu kegelisahan atau kekhawatiran. Sering timbul dalam batin kita perasaan gelisah dan khawatir ketika kita sedang bersamadhi. Apalagi bila kita bersamadhi dalam ketiga tempat yang dianjurkan oleh Sang Buddha = didalam hutan, dibawah pohon besar, atau didalam rumah kosong yang sudah lama tidak ditempati. Maka akan timbul perasaan takut, gelisah, khawatir, yang luar biasa hebatnya. Perasaan-perasaan ini harus kita lenyapkan. Ini akan menghalangi pemusatan batin kita pada objek samadhi.

5. Vicikiccha, yaitu keragu-raguan. Pada tengah perjalanan kita sebagai seorang Yogi, bila kita merasakan tidak menemukan kemajuan-kemajuan yang berarti, terutama dalam pencapaian Jhana I hingga VIII, maka akan mulai timbul keragu-raguan. Apakah aku mampu ? Apakah ini Jalan yang benar ? Keragu-raguan ini merupakan bentuk halus dari kekotoran batin. Karena, hasil dari keragu-raguan yang kuat, anda akan melepaskan kehidupan samadhi anda dan anda akan menempuh jalan lain, atau paling parah anda akan kembali lagi menempuh hidup keduniawian, tanpa seberkas kerohanian sedikitpun.

Kelima rintangan batin ini sesungguhnya merupakan ‘teman-teman’ dekat kita selama rentang pengembaraan kita dalam samsara ini. Jhana akan mengatasi nivarana sementara waktu dan jhana merupakan teman baru bagi kita. Sifat teman baru ini sangat halus dan baik, bertentangan dengan teman lama kita, panca nivarana. Sebagai umumnya teman dekat, ia akan berusaha menghalang-halangi kedekatan kita dengan teman baru kita, Jhana.

Yang menyebabkan kita tidak dapat mencapai ketenangan dan memegang objek adalah karena kita selalu ingin ‘berjumpa’ dengan ‘teman-teman-lama’ kita tadi ; panca-nivarana. Hal ini merupakan corak hukum alam.

Bila kita telah mencapai Jhana I maka kita harus rajin berlatih hingga mahir, supaya batin tidak goyah, jangan mundur dalam melatih Jhana dari latihan satu jam, dua jam, satu hari, dua hari, sampai dapat berlatih selama tujuh hari, dengan demikian kita dapat memegang Jhana dengan kuat.


PENCAPAIAN / KESUKSESAN SAMADHI ( SAMAPATI )


1. Kanika Samadhi

Artinya adalah ‘sedikit-perhatian’. Seringkali seseorang yang praktek samadhi dengan menggunakan salah satu objek, saat batin menjadi tenang, tiba-tiba pikiran mengembara kesana-kemari, kadang-kadang mengkhayal, tidak terlalu lama kemudian tenang kembali. Timbul rasa kegiuran terhadap objek samadhi, timbul kebahagiaan, tapi ia akan mengkhayal lagi, dan seterusnya. Kadang-kadang juga timbul rasa malas, singkatnya batin belum mantap. Kualitas samadhi yang seperti inilah yang disebut kanika-samadhi, bukan samapati, bukan merupakan suatu pencapaian kesuksesan samadhi. Intinya, anda belum mencapai apapun dalam samadhi anda.


2. Jhana

Jhana berarti terpusatnya pikiran dengan objek. Kaitannya dengan samapati, Jhana kesatu disebut Pathama-samapati, Jhana kedua disebut Dutiya-Samapati, Jhana ketiga disebut Tatiya-Samapati, demikian seterusnya sampai dengan Jhana VIII, yang disebut “Nevasannana sannayatana samapati”.


MEMASUKI JHANA


Upacara Samadhi ( Meditasi Tetangga )


Setelah perjuangan hebat kita, kita akan melalui masa-masa anda bergulat dalam ‘kanika-samadhi’. Kemudian anda mulai tenang, mulai bisa mencerap objek samadhi, saat inilah anda mulai memasuki Upacara Samadhi.

Upacara Samadhi ini disebut juga Upacara Jhana. Upacara Jhana adalah samadhi yang sudah mantap karena mendekati Jhana Pertama. Dalam tingkat Upacara Jhana ini seseorang sudah dapat memegang objek dalam waktu cukup lama, batin tenang dan merupakan dasar untuk melatih dibbacakkhu ( mata-dewa ). Ciri-ciri Upacara samadhi adalah terdapatnya unsur-unsur berikut ini :

1. Vitaka, yaitu saat dimana batin kita berusaha memegang objek meditasi. Bila objek meditasi kita adalah napas, misalnya, maka kita dapat memegang objek ini cukup lama dan pikiran tidak mengembara lagi kesana dan kesini.

2. Vicara, yaitu saat batin kita semakin dalam memegang / mencerap objek meditasi. Biasanya disini muncul gambaran-gambaran batin ( nimitta ) dari objek meditasi kita. Nimitta berubah-ubah atau muncul warna yang dapat menjadi besar atau kecil dan sebagainya tergantung dari nimitta kita. Bagaimana bentuk nimitta itu, tinggi atau rendahnya gambaran nimitta, batin tetap mengetahuinya, dan tidak terlepas dari kesadaran meditasi. Pada saat kita mengetahui dalam kasina atau mengetahui napas panjang dan napas pendek itulah yang disebut vitaka.

3. Piti, atau kegiuran batin. Batin tergiur dalam kesenangan, kegembiraan, batin kita merasa tenang dan menemukan kepuasan, seolah-olah batin menjadi terang, tubuh terasa ringan dan gembira. Kadang-kadang kita melihat warna yang muncul sepintas-sepintas atau kilat yang tidak begitu lama. Tanda-tanda ‘piti’ ada lima (5) macam =

1. Bulu roma kita berdiri ( merinding )

2. Keluar air mata tanpa sebab.

3. Tubuh menjadi seperti bergoncang.

4. Tubuh seperti melayang-layang terangkat naik, bahkan kadang-kadang bisa benar-benar terbang / melayang.

5. Kadang-kadang tubuh serasa menjadi besar, kecil, tinggi dan tubuh terasa ‘kosong’.

Salah satu dari kelima tanda tersebut dapat menjadi ciri-ciri piti. Saat muncul piti, meditasi kita akan semakin mantap.

4. Sukha, yaitu kebahagiaan yang dalam , kebahagiaan yang halus dan sukar ditemukan dalam kehidupan biasa dan tidak menimbulkan penderitaan. Kebahagiaan ini tidak disebabkan oleh sesuatu yang pernah kita alami, seperti misalnya kenangan-kenangan bersama orang yang dicintai, melainkan kebahagiaan tanpa penderitaan yang merupakan hasil dari meditasi, hasil dari tenang dan damainya batin kita yang telah mencerap objek samadhi dengan mantap.

Keempat hal diatas tersebut merupakan ciri bahwa kita telah mencapai ‘upacara-samadhi’.

Tingkat upacara samadhi ini adalah tingkat sebelum kita memasuki Jhana pertama. Dalam upacara-samadhi, kita hampir memasuki Jhana, telah tiba di pintu gerbang Jhana. Namun ini belum bisa disebut Jhana, karena belum lengkap untuk memenuhi syarat-syarat Jhana.


PATHAMA JHANA / PATHAMA SAMAPATI

Jhana I / Pathama-Jhana dapat kita ketahui dari tanda-tandanya sebagai berikut :

1. Vitaka, berusaha memegang objek. Semisal objek kita adalah napas, maka kita berusaha mencerap objek. Kita menyadari ‘ana’ dan ‘apana’; ‘nafas-masuk’ dan ‘nafas-keluar’.

2. Vicara, telah memegang objek dengan kuat. Adalah saat kita telah benar-benar memegang objek samadhi kita dengan kuat. Batin tidak lagi lari kesana-kemari. Anda telah menyadari ‘nafas-yang-indah’. Saat ini mulai muncul nimitta, atau ‘lambang’ dalam batin, berupa sinar-sinar, dan lain-lain. Tapi lambang itu bukan hasil pikiran yang melamun, tetapi karena kita semakin mantap berdiam dalam objek.

3. Piti, kegiuran. Yaitu perasaan senang pada objek, tergiur untuk lebih dalam mencerap objek. Batin kita tidak mau pergi kemana-mana, selain mencerap objek.

4. Sukha, kebahagiaan yang dalam. Ini adalah perasaan kebahagiaan yang timbul dari ketiga langkah pertama. Setelah muncul kegiuran batin, akan muncul kebahagiaan yang sangat dalam.

5. Ekagatta, pikiran yang telah terpusat. Batin kita telah terpusat sepenuhnya, mutlak, tidak bergeming sedetikpun dari objek samadhi kita. Tidak ada lagi lamunan-lamunan, tidak lagi memikirkan posisi duduk samadhi, kaki yang ngilu, punggung yang kaku, kejadian-kejadian di kantor, di kampung, dan lain-lain hal diluar objek samadhi kita.

Pada waktu memasuki Jhana Pertama kita masih dapat mendengar suara dari luar tetapi tetap masih dapat memegang objek dengan mantap, tidak goyah. Suara tersebut tidak dapat mengganggu meditasi sekalipun kita mendengarnya, batin bekerja dengan wajar seperti biasa.

Bila meditasi telah mencapai tingkat ini disebut telah mencapai Jhana I, yang artinya telah dapat memegang objek dengan kuat dan tidak terpengaruh suara-suara dari luar. Guru-guru meditasi menyatakan hal itu berarti bahwa batin dan jasmani telah mulai dapat dipisahkan.

Kebiasaan batin adalah menganalisa tubuh, misalnya pada waktu kita mendengar suara, maka batin ini ingin mengetahui suara apakah itu dan dari manakah suara itu. Pada tingkat Jhana I ini batin tidak ingin mengetahui tubuh, tetapi batin menjadi diam, batin hanya memegang satu objek, inilah yang disebut Jhana Pertama.

Kelima tanda-tanda / ciri-ciri Jhana I tersebut diatas muncul bersama-sama dalam pikiran atau batin kita, tetapi batin kita tetap dapat menguasainya. Apa saja yangmuncul dari kelima ciri-ciri tersebut dapat kita ketahui. Misal muncul vitaka, kita mengetahuinya sebagai vitaka, muncul vicara, kita mengetahuinya sebagai vicara, dan seterusnya.


RINTANGAN JHANA PERTAMA

Rintangan atau musuh yang berbahaya dalam Jhana pertama atau pathama samapati adalah suara, bila seseorang yang praktek meditasi dapat memegang objek, suara dari luar masih dapat didengar tetapi suara itu tidak dapat mengganggu konsentrasinya, maka ia telah masuk Jhana Pertama.

Tetapi kita jangan lupa, bahwa Jhana pertama ini adalah Jhana yang masih rendah, yang baru tahap awal berhasil kita capai. Jhana pertama ini mudah merosot atau hilang, bila batin kita dimabukkan oleh salah satu nivarana. Bila kita dapat menghalau nivarana maka Jhana akan muncul kembali.

Berkembang dan merosotnya Jhana tergantung bagaimana kita menghadapi rintangan batin (nivarana). Bila nivarana tidak muncul, maka batin menjadi sunyi dan tenang, sebaliknya jika nivarana muncul, maka Jhana akan lenyap.

Keadaan semacam ini juga berlaku bagi Jhana-jhana yang lain, yaitu dari Jhana kedua hingga Jhana kedelapan. Bila nivarana itu muncul dalam salah satu tingkat Jhana maka Jhana itu akan turun dan lenyap, oleh karena itu kita harus senantiasa penuh perhatian (sati) bilamana nivarana itu muncul dan menggoyahkan kemantapan samadhi kita.


DUTIYA JHANA / DUTIYA SAMAPATI

Jhana kedua ini memiliki tiga tanda-tanda sebagai berikut :

1. Piti, atau Kegiuran.

2. Sukha, atau Kegembiraan yang amat dalam.

3. Ekagatta, atau pikiran yang terpusat, batin seimbang.

Jhana kedua ini lanjutan Jhana pertama. Dalam Jhana ini telah dihilangkan vitaka dan vicara, yang ada hanyalah piti, sukha, dan ekagatta.

Seorang yogi yang telah memasuki Jhana kedua tidak dapat lagi merenungkan vitakka dan vicara. Bila ia masih dapat merenungkan vitakka dan vicara berarti masih pada Jhana kesatu.

Beberapa guru meditasi menyatakan untuk masuk Jhana kedua kita harus memotong vitaka dan vicara, tapi ini teorinya. Prakteknya sepertinya berbeda-beda, tergantung kemampuan masing-masing.


LENYAPNYA VITAKKA DAN VICARA

Menurut para yogi yang telah berpraktek, lenyapnya vitakka dan vicara yang benar bukanlah dilupakan atau tidak dipikirkan, tetapi yang memotong adalah hasil praktek hingga mencapai dutiya Jhana. Jika vitakka dan vicara ini lenyap tapi pikiran kita ‘mengembara’ kesana-kemari, itu bukannya telah mencapai Jhana II, tapi justru kita telah turun dari Jhana I ke ‘Kanika-Samadhi’,yaitu saat kita belum pula mencapai ‘upacara-samadhi’.

Para guru meditasi mengatakan bahwa orang yang akan meditasi hendaknya memilih salah satu objek. Objek itu sebagai batin kita agar batin kita menjadi pulau bagi pikiran, supaya pikiran tidak kemana-mana. Seperti melafalkan “ Bud – Dha “ disebut sebagai “PARIKAMMABHAVANA” ( pengembangan batin tingkat pendahuluan ), pada waktu melafalkan itu batin kita diikat oleh lafal “Bud – Dha”, hal ini dinamakan : VITAKKA. Bila batin kita mulai merenungkan lafal “Bud – Dha” yang kita ucapkan itu sudah benar atau masih salah, sudah sesuaikah dengan yang diajarkan Guru meditasi kita, maka hal ini disebut : VICARA.

Sedangkan dutiya Jhana ini memotong vitakka dan vicara dari Jhana pertama secara otomatis, sehingga yang ada adalah piti, sukha, dan ekagatta. Pikiran jadi terpusat dan tidak lari kemana-mana, melainkan merasa piti, sukha, dan menjaga objek dengan mantap. Jadi, objek meditasi masih tetap ada! Bedanya, kita sudah tidak berusaha mencerap dan mencerap terus-menerus, tapi sudah mantap tercerap dalam batin kita, sudah tidak ada usaha lagi. Nafas akan terasa pelan sekali, halus dan jelas tidak lagi mendengar suara dari luar, seperti sunyi kadang-kadang seseorang tidak lagi merasa bernafas atau tidak memiliki nafas padahal ia masih bernafas. Itulah ciri-ciri atau corak dari Jhana kedua.


RINTANGAN JHANA KEDUA ( DUTIYA JHANA )

Rintangan dalam Jhana kedua adalah vitaka dan vicara. Pada saat batin kita dalam samadhi tingkat dutiya Jhana itu, kadang2 kita merasa khawatir apakah sudah masuk dutiya Jhana atau belum, dengan demikian batin akan turun dan masuk Jhana kesatu yang masih merenungkan objek ( vicara ). Jangan melepaskan perhatian ( sati ). Kita harus memegang dutiya Jhana dengan mantap. Berlatihlah memegang Jhana dengan kuat hingga ahli betul.


HASIL DARI JHANA KEDUA

Semua Jhana diatas merupakan hasil dari meditasi, menjadikan pikiran kita memiliki sati sampajanna dengan sempurna. Disaat bekerja kita jadi memiliki ingatan yang baik, tidak ada keragu-raguan lagi dalam batin, merupakan objek yang terbaik untuk memeriksa saraf. Selain itu pada waktu hampir meninggal dunia masih memiliki sati sampajanna yang baik tidak akan merasa bingung.

Bila seorang Yogi meninggal didalam Jhana ia akan memperoleh hasil sebagai berikut :

1. Dutiya Jhana yang masih Kasar, bila meninggal dunia akan terlahir kembali dialam Brahma tingkat IV.

2. Dutiya Jhana menengah, bila meninggal dunia ia akan terlahir dialam Brahma tingkat V.

3. Dutiya Jhana yang halus / tinggi, bila meninggal dunia ia akan terlahir di alam Brahma tingkat VI.

Bila dapat memegang objek dutiya Jhana itu maka akan dapat digunakan dalam vipassana Jhana, dapat menghancurkan nafsu dengan lebih cepat dibanding dengan Jhana pertama yang masih mudah ‘goyah’. Bila dikembangkan dapat diharapkan menjadi seorang Brahmacari dalam kehidupan sekarang, tentunya kalau memiliki semangat yang baik mempraktekkan ajaran Sang Buddha dengan benar dan mempraktekkan Jalan-Tengah.


JHANA KETIGA ( TATIYA-JHANA / TATIYA SAMAPATI )

Ciri-ciri Jhana ketiga yaitu terdapatnya ( dan hanya terdapatnya ) faktor-faktor berikut ini :

1. Sukha, atau kegembiraan yang dalam tanpa kegiuran.

2. Ekagatta, pikiran yang terpusat kuat, batin dan jasmani dapat dibedakan.

Corak Jhana ketiga ini adalah batin yang sudah melepaskan piti dari Jhana kedua. Bila batin sudah masuk Jhana ketiga ini sudah tidak lagi merasakan bulu roma berdiri, mengeluarkan air mata, tubuh terasa ringan, tubuh bergoyang tetapi rasanya seperti diikat dengan kuat, seperti kayu yang ditancapkan ke tanah dengan kuat dan tidak tergoyahkan. Kita harus ahli dalam Jhana kedua, dengan tanpa merenungkan lagi.

Bila kita masih mendengar suara dari luar dan terpengaruh maka kita belum mencapai Jhana ketiga, melainkan masih dalam Jhana kesatu.

Dalam Jhana kedua suara hampir tidak kedengaran lagi, karena batin tidak menerima suara itu dan nafas terasa halus sekali.

Dalam Jhana ketiga kita masih mengetahui nafas tapi nafas itu halus sekali hampir tidak ada nafas, objek yang ada lebih mantap dari Jhana kedua. Ciri-ciri seperti ini adalah ciri-ciri Jhana ketiga.

Setelah kita berhasil sampai pada Jhana ketiga kita harus berlatih terus-menerus sehingga menjadi ahli dalam keluar-masuknya Jhana.


RINTANGAN DALAM JHANA KETIGA

Kegiuran pada objek (piti) adalah musuh yang berbahaya bagi Jhana ketiga, karena pada Jhana ketiga piti ini harus sudah tidak ada. Bila kita masih merasakan piti berarti batin turun pada Jhana kedua. Dalam Jhana ketiga kita harus memegang sati-sampajanna dengan kuat, jangan sampai tergoyah oleh Jhana lain karena hal ini membahayakan Jhana ketiga.


HASIL JHANA KETIGA

Bila kita bisa memegang Jhana ketiga sampai saat kematian tubuh kita, kita tidak akan lagi merasakan kebingungan, ingatan kita menjadi kuat, kita tidak akan pernah lagi menjadi pelupa.

Kita akan selalu bergembira setiap saat seakan tidak ada lagi penderitaan dalam hidup kita, dan wajah kita akan senantiasa terlihat cerah. Sesudah mati Jhana ini akan menolong kelahiran kembali di alam Brahma.

1. Jhana ketiga yang masih kasar, bila meninggal dunia akan terlahir kembali di alam Brahma tingkat tujuh.

2. Jhana ketiga ‘tingkat-menengah’, yang semakin halus, bila kita meninggal dunia akan bertumimbal lahir di alam Brahma tingkat delapan.

3. Jhana ketiga yang sudah halus, bila kita meninggal dunia akan terlahir kembali di alam Brahma tingkat sembilan.

Jhana ketiga ini masih merupakan lokiya-Jhana, juga dapat digunakan untuk vipassanannana. Jhana ketiga ini akan menjadi kekuatan dalam vipassanannana untuk menghancurkan nafsu, dapat mencapai kesuksesan tertinggi dalam hidup ini. Ini adalah hasil dari Jhana ketiga yang kita terima baik dalam kehidupan sekarang maupun dalam kehidupan mendatang.


JHANA KEEMPAT ( CATUTTHA JHANA / CATUTTHA SAMAPATI )

Jhana keempat memiliki dua ciri, yaitu :

1. Ekagatta, batin yang terpusat penuh pada objek.

2. Upekkha, Batin yang seimbang, tidak lagi goyah akan perasaan senang tidak senang, suka dan dukkha, tidak resah, gelisah, tidak takut juga tidak gembira yang meluap-luap.


CIRI-CIRI YOGI YANG MENCAPAI JHANA KEEMPAT

Bila seseorang yang mempraktekkan meditasi telah mencapai Jhana keempat maka akan muncul tanda-tanda yang dapat dirasakan sebagai berikut :

1. Tidak lagi merasakan munculnya nafas seperti keadaan dalam Jhana-Jhana lain. Dalam Jhana-jhana lain selain Jhana IV, nafas sangat halus ( semakin meningkat Jhana kita, semakin halus nafas kita ), tapi dalam Jhana IV, nafas mutlak berhenti. Dalam Visudhi Magga dikatakan bahwa tidak ada nafas, tetapi kadang-kadang para guru meditasi mengatakan masih ada nafas hanya saja nafas itu sangat halus sehingga kita tidak dapat merasakan adanya nafas. Dalam Visuddhi Magga dikatakan empat jenis orang yang tanpa nafas :

a. Orang Mati.

b. Orang yang menyelam kedalam air ( tanpa bantuan alat pernapasan ).

c. Bayi yang Masih dalam kandungan.

d. Seorang Yogi yang telah masuk dalam Jhana IV.

Dalam Jhana IV kita mutlak tidak bernapas. Bila kita merasakan telah tidak bernapas, berarti kita telah masuk dalam Jhana IV. Pada saat memegang objek dalam Jhana IV, seorang yogi tidak lagi merasakan munculnya napas. Dalam keadaan seperti ini biasanya seorang Yogi pemula akan merasa takut dan gelisah menyangka dirinya sudah mati karena tidak bernafas. Kemudian ia akan mencari nafas. Bila kita mencari nafas maka kita akan turun sedikit dari Jhana keempat kemudian kita akan merasakan nafas yang sangat halus pada hidung kita.

2. Bila kita masuk Jhana IV kita akan merasakan ketenangan yang amat dalam yang tidak disebabkan dari luar, tanpa suara, dan lepas dari sukha, telah memadamkan dukha tubuh (tidak merasa kesulitan lagi). Jhana IV ini lebih tenang dari Jhana yang lain, merasa tanpa tubuh (kaya) artinya batin seperti terpisah dengan tubuh, tetapi tetap mengetahui seandainya tubuh ini digigit nyamuk, dimakan binatang atau bahkan tubuhnya dihancurkan tetapi batin tetap pada Jhana keempat, kaya (tubuh) dan citta (batin) telah sungguh-sungguh dipisahkan. Sesungguhnya napas masih ada, tubuh ini masih bekerja sebagaimana mestinya, tubuh ini masih dapat berjalan dan sebagainya, tetapi citta tidak lagi menanggapi aktivitas tubuh ( segala rangsangan dari tubuh ).


RINTANGAN JHANA KEEMPAT

Rintangan yang paling berbahaya bagi kemantapan samadhi kita dalam Jhana IV adalah napas. Bila kita masih mengetahui atau merasa bernafas sewaktu berada dalam Jhana keempat berarti kita sudah turun dari Jhana keempat. Sebaiknya kita tidak perlu memperhatikan napas ada atau tidak ada.


HASIL JHANA KEEMPAT

Seorang Yogi yang telah berhasil mencapai Jhana keempat dalam hidupnya akan selalu berbahagia sepanjang hari. Bila ada problem dalam diri sendiri, ia akan menyelesaikannya dengan cara yang aneh atau cara yang luar biasa.

Bila kita memiliki Jhana IV kita akan memperoleh tiga ilmu, yaitu :

a. Enam Kekuatan batin ( Chalabhinna ).

b. Abhisembhidanana.

c. Patisambhidanana.


Bila kita menghendakinya akan mudah untuk mencapainya. Jhana keempat ini dapat dijadikan kekuatan dalam vipassanananna dan dapat untuk mengikis habis kekotoran batin atau nafsu-nafsu paling lama dalam waktu tujuh hari.

Bila kita mengembangkan vipassanannana, kemudian memegang Jhana IV ini dengan baik, sampai saat-saat kematiannya, akan terlahir di alam Brahma tingkat ke-10 atau tingkat ke-11.


RUPA JHANA DAN ARUPA JHANA

Jhana-Jhana tersebut diatas adalah RUPA-JHANA atau RUPA-SAMAPATI. Bila belum mencapai Magga atau Phala, maka disebut LOKIYA-JHANA atau LOKIYA-SAMAPATI. Bila kita mengembangkan vipassanannana sampai mencapai kesuksesan ( dari tingkat sotapana sampai arahat ) disebut LOKUTTARA JHANA atau LOKUTTARA SAMAPATI. Kata Lokuttara terdiri dari dua suku kata, yaitu Loka ( dunia ) dan Uttara ( mengatasi, terbebas ). Jadi, lokuttara berarti mengatasi/terbebas dari keduniawian, orang yang telah mencapai lokuttaranana berarti orang yang telah terbebas dari/mengatasi keduniawian.

Semua itu merupakan RUPA-JHANA karena ada bentuk yang menjadi objek, sesuai dengan namanya kesuksesan (samapati) maka dikatakan RUPA-SAMAPATI. Untuk ARUPA-JHANA dapat dibagi menjadi empat, yaitu :

1. Akasanancayatana-Jhana, adalah keadaan dari konsepsi ruang tanpa batas.

2. Vinnananancayatana-Jhana, adalah keadaan dari konsepsi kesadaran-tanpa-batas.

3. Akincannayatana-Jhana, adalah keadaan dari konsepsi kekosongan.

4. Nevasannanasannayatana-Jhana adalah keadaan dari konsepsi pencerapan bukan pula tanpa-pencerapan.

Empat macam Jhana ini disebut ARUPA-JHANA atau ARUPA-SAMAPATI karena dikembangkan dengan tanpa bentuk atau RUPA. Maka Jhana atau samapati ada delapan, yaitu empat Rupa-Jhana / Rupa-Samapati dan empat Arupa-Jhana / Arupa-Samapati.


HASIL SAMAPATI :


1. NIRODHA SAMAPATI

Ini merupakan kesuksesan yang sangat sulit diraih. Kita harus memiliki waktu yang tepat untuk melaksanakannya, sebab untuk masuk berdiam dalam nirodha-samapati paling sedikit selama tujuh (7) hari dan maksimal lima belas (15) hari.

Siapa saja yang memberikan dana pada seseorang yang telah keluar dari Nirodha-Samapati, hasilnya akan diterima pada saat itu juga. Misalnya yang berdana orang miskin, dalam waktu dekat akan menjadi orang kaya. Bila yang berdana adalah seseorang yang sedang dalam kesulitan atau mempunyai problem yang sulit dipecahkan, maka hari itu juga persoalan atau kesulitan dapat dipecahkan/diselesaikan.


2. BALA SAMAPATI

Khusus bagi orang suci dapat keluar dan masuk bala samapati setiap saat, tidak memerlukan waktu yang lama, siapa saja yang berdana pada orang yang baru keluar dari bala samapati akan hidup dengan lancar, artinya memperoleh berkah dalam hidupnya.

Jhana samapati, bagi orang yang berdana atau berbuat baik pada orang yang baru keluar dari Jhana samapati, maka ia akan maju atau mendapat kemajuan dalam hidupnya, tidak mengalamai kemunduran atau kemerosotan dalam hidupnya yang sekarang.

KEKUATAN (BALA) KESUKSESESAN / PENCAPAIAN (SAMAPATI)


Bala Samapati berati mencapai kesuksesan sesuai dengan hasil yang diterima dalam kesuksesan. Bala Samapati ini hanya diperuntukkan khusus bagi orang suci (ariya) dari tingkat sotapana sampai arahat. Bagi seorang ariya yang belum mencapai delapan kesuksesan, ia tidak dapat masuk berdiam dalam NIRODHA SAMAPATI. Tetapi ia dapat mencapai BALA SAMAPATI sesuai dengan tingkat kesuciannya, tetapi bukan mencapai delapan kesuksesan. Seorang Sotapana,Sakadagami, Anagami, Arahat, bila masuk/mencapai Jhana tersebut dapat diakatakan masuk/mencapai Bala Samapati.

Seorang yang bukan suci (ariya) bila mencapai / masuk Jhana atau samapati tersebut dikatakan masuk/mencapai Jhana saja.

Karena tanpa mencapai hasil, kesucian (Magga, Phala), hasil yang diperoleh orang-orang suci tidaklah sama dengan yang diperoleh orang biasa, yang belum suci. Tetapi dilihat dari sifatnya (kesucian) tetap sama. Sedangkan yang membedakan hanyalah antara “Yang-Ariya” dan bukan-Ariya.

NIRODHA SAMAPATI

Seorang yang masuk/berdiam dalam Nirodha-Samapati adalah orang yang telah mencapai kesucian ( Ariya-Puggala ) pada tingkat kesucian anagami atau arahat dan ia harus memiliki delapan tingkatan samapati (kesuksesan) dalam lokiya Jhana. Bagi orang yang telah mencapai tingkatan kesucian yang lebih rendah dari anagami tidak dapat masuk/berdiam dalam nirodha samapati, sekalipun telah mencapai delapan tingkatan samapati. Hal ini sudah merupakan hukum alam. Seseorang yang telah mencapai kesucian dan yang dapat masuk/berdiam dalam NIRODHA SAMAPATI adalah orang suci tingkat ANAGAMI dan ARAHAT, tetapi yang tingkat kesuciannya lebih rendah dari tingkat kesucian ANAGAMI adalah yang tidak dapat berdiam dalam Nirodha Samapati.

Demikian wacana Samadhi-Benar ini telah saya paparkan. Semoga membawa manfaat bagi anda semua, yang tertarik melatih diri , menempa diri dalam ‘samadhi’.


SEMOGA SEMUA MAKHLUK BERBAHAGIA DAN TERBEBAS…

Salam Damai dan Cinta Kasih.


– RATNA KUMARA / RATYA MARDIKA –

Semarang-Barat, Jumat 08 Agustus 2008

39 Tanggapan to “SAMADHI”

  1. ratanakumaro said

    Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

    Komentar “Lare-Dusun” saya pindah kesini, karena tulisan “Samadhi-Benar” sekarang saya ubah jadi halaman tersendiri :

    ” Mas Ratna…,
    Ijin ngopy yang bagian ini nggih… .”
    ( Lare Dusun, 27 November 2008 )

    ———————————

    Komentar saya : Silakan Mas, memang tujuan tulisan2 disini untuk dibagi2kan kepada siapapun yang membaca dan memetik manfaat darinya… .

    Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

    “Semoga Semua Makhluk Berbahagia dan Terbebas dari Semua Penderitaan!”

  2. Guh said

    yang dimaksud “samatha” yang mana ya? maaf saya pake fitur search dan di halaman yang panjang ini tidak menemukannya.

  3. Salam Sdr.Guh…,

    Samatha = Ketenangan… , meditasi untuk mencapai “Jhana”…,
    Ya halaman inilah petunjuk praktisnya… Selamat berlatih!!

    “Semoga Semua Makhluk Berbahagia!”

  4. Guh said

    Oooow… seperti agama saya juga ternyata, banyak istilah religius asing yang bikin kehilangan arah :P *becanda*

    terimakasih, ntar saya baca-baca.

  5. Saya ingin bertanya tentang pencapaian kebebasan.

    Di bagian 1 dikatakan…harus punya jhana 1
    Di bagian 2 dikatakan…bisa langsung melakukan vipassana.

    Hal ini membuat saya bingung, tak mungkin kedua pernyataan ini benar. Sepengetahuan saya dalam vipassana hanya diperlukan konsentrasi sesaat (khanika-samadhi), sedangkan jhana harus dicapai dengan appana-samadhi. Bila hal ini benar maka untuk berlatih mdts vipassana guna mencapai kebebasan tidak harus memiliki jhana.

    Mohon penjelasannya. Salam metta untuk semua…
    ———————————————–
    Namo Buddhaya… ,

    Memang , ada dua pendapat :
    1. untuk mempraktekkan Vipassana-Bhavana , tidak memerlukan pencapaian Jhana.
    2. Untuk mempraktekkan vipassana-bhvana, tetap memerlukan pencapaian Jhana.

    Menurut yang saya pelajari, praktek Sukha-vipassako, dilakukan dengan terlebih dulu memiliki pencapaian Jhana I.
    Metoda ini diajarkan Sang Buddha bagi para siswanya yang kesulitan mencapai Jhana lebih dari Jhana I.
    Pentingnya Jhana I dalam praktek Sukha-vipassako adalah =

    1. Dengan kekuatan Jhana I ini, kita dapat memotong / membersihkan batin dari “Panca-Nivarana” ( lima rintangan2 batin ) : seperti keserakahan, kemarahan, dendam , dll ( sudah saya jelaskan diatas, dan pastinya anda sudah mengetahui hal ini ).
    Bila seseorang belum mencapai Jhana I, maka sedikit banyak , kondisi batinnya masih terombang-ambingkan oleh “Panca-Nivarana” ini. Ketika kita masih dalam taraf Kanika-Samadhi, maka batin kita masih sangat mudah digoyahkan oleh Panca-Nivarana ini. Jhana I mengambil peran yang sangat besar dalam memotong nivarana ini.
    2. Seseorang yang belum mencapai Jhana I, ketika ia mempraktekkan vipassana-bhavana, penembusan terhadap tilakkhana ( tiga karakteristik ; anicca,dukkha, anatta ), pada dasaranya, masih bersifat pada “kulit”-nya saja. Sedangkan seseorang yang telah mencapai Jhana, ia mampu menembus tilakhana ini dengan lebih jelas. Apalagi jika seseorang telah mahir dalam Rupa-Jhana, maka ia akan mampu menembus anicca-dukkha-anatta ini lebih dalam lagi, karena ia telah melihat bahwa dalam alam semesta ini, termasuk dirinya sendiri, tidak ada sesuatu yang disebut “mutlak”, karena bahkan tubuhnya sendiri merupakan paduan dari unsur2 terkecil ( rupa-kalapa ) , yang tidak stabil, yang dalam ilmu pengetahuan modern disebut “atom”.

    Mungkin dalam tulisan saya diatas ada kurang penjelasan, sehingga terkesan “membingungkan”. Maaf, akan saya perbaiki.

    Demikian, jadi, pendapat saya ( yang saya peroleh dari hasil belajar dan juga praktek ), pencapaian Jhana I tetap merupakan syarat minimal bagi keberhasilan praktek vipassana-bhavana. Dengan kekuatan konsentrasi / ketenangan yang kita peroleh, kita jadi lebih bisa melihat dengan “jernih” semuanya apa adanya, batin lebih kuat, lebih kokoh.

    —————————————————————–

    Andi Kusnadi
    ======================================
    Saya kutip dari tulisan di atas.
    Bagian 1.
    “Bila seseorang yang baru menempuh ‘kehidupan’ Samadhi dan ingin mempraktekkan ‘vipassana’ ( Samadhi ‘pandangan-terangan’ ), maka ia harus bisa mencapai ketenangan pertama (Jhana I)… ini merupakan HUKUM MUTLAK.”

    Bagian 2.
    “Jalan Pembebasan
    Ada dua ( 2 ) jalan menuju kesucian, yaitu :
    1. Sukha-vipassako.
    2. Melalui pencapaian Jhana dari Jhana I hingga Jhana VIII kemudian turun tahap demi tahap sampai Jhana I untuk kemudian masuk ke vipassana bhavana.”

    Sukha vipassako adalah ajaran khusus yang diberikan Sang Buddha bagi orang-orang yang kesulitan mencapai Jhana .
    ——————————————

    Ya, mungkin kekeliruan pada kalimat terakhir. Seharusnya saya menuliskan sbb. =
    Sukha vipassako adalah ajaran khusus yang diberikan Sang Buddha bagi orang2 yang kesulitan menyempurnakan latihan keempat Rupa-Jhana, sehingga, Jhana yang dibutuhkan hanyalah Jhana I.

    Beberapa pendapat, mengatakan, bahwa vipassana-bhavana hanya memerlukan tingkat ketenangan “upacara-samadhi”. Namun pendapat saya pribadi, sebagai hasil belajar dan praktek, tetaplah diperlukan pencapaian Jhana I demi kesuksesan meditasi vipassana kita. Kita harus mengingat ajaran Sang Buddha, “Ariya Athangika Magga”, dimana didalamnya, bahwa selain “Samma-Sati” (Ruas ketujuh), yang terdiri dari latihan2 vipassana-bhavana, juga terdapat “Samma-Samadhi” ( Ruas kedelapan ) yang merupakan latihan pencapaian Jhana-Jhana ( Rupa-Jhana dan Arupa-Jhana ).

    Sekian penjelasan dari saya, semoga bermanfaat… .Mohon maaf jika ada kekeliruan… .

    Terimakasih atas kunjungan dan sharingnya serta masukan2nya… .

    Salam Damai dan Cinta Kasih… ,
    “May All Beings be Well,
    May All Beings be Free,
    May All Beings Attain Enlightenment!”

    “Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta!”

  6. Dalam meditasi & kontemplasi,
    Dengan menggunakan fantasi seperti anak kecil,
    Kita mencapai kenyataan-kenyataan jauh melampaui fantasi
    Kenyataan misteri…..
    Kenyataan mistik…….

    Love me & you will see my beauty
    ———————————

    Salam Damai dan Cinta Kasih…,

    Wah Mas Tommy, sepertinya yang anda ungkapkan ini sudut pandang menarik tentang meditasi… .

    Sebab, kalau dalam Buddhisme, ber-samadhi justru tidak menggunakan “fantasi”…,
    Kalau samatha-bhavana, kita melatih ketenangan, dengan memusatkan perhatian pada satu objek.
    Kalau dalam vipassana-bhavana, kita melatih “pandangan-cerah”, mengenali ketiga karakteristik dunia : tidak-kekal, duka, tanpa-aku… .

    Mungkin mas Tommy bisa memaparkan / berbagi mengenai meditasi yang panjenengan singgung diatas ? Pasti akan menjadi tambahan wawasan yang menarik bagi kami disini… .

    Salam Damai dan Cinta Kasih… .
    “May All Beings Attain Enlightenmet!”

  7. phang said

    dear Bro Ratna Kumara,
    —————————-
    Salam Damai dan Cinta Kasih… ,
    —————————-

    Saya mau nanya tentang meditasi mencapai jhana…kita ambil objek meditasi anapannasati….apakah dg anapannasati kita bisa mengolah nimitta yang muncul?..terus biasanya butuh wkt berapa lama untuk bisa sampai jhana?..
    —————————–
    Dengan anapanassati kita bisa mengolah nimitta yang muncul.
    Nimitta yang muncul berupa sinar-sinar / cahaya ( mungkin ada beberapa yang merasa mempunyai nimitta seperti “bintang” ), kemudian bisa kita mampatkan, kita ubah ukurannya, kita ubah warnanya sekehendak kita, hingga menjadi bening… .

    Mengenai berapa lama melewati upacara samadhi dan mencapai Jhana I, tergantung pribadi masing-masing.
    Pada beberapa orang, untuk sampai pada titik pencapaian Jhana I ada yang membutuhkan waktu 2-3 jam.
    Mungkin menurut pendapat saya, ini tergantung kamma kita, paramitha kita, tergantung latihan2 kita… .

    ———————————
    Thanks,

    Phang
    ———————————
    Terimakasih kembali, sudah sudi mengunjungi rumah sederhana ini yang belumlah layak disebut “rumah-Buddhis” sejati, karena saya juga seorang siswa, yang hanya ber-citta membagi-bagikan dhamma yang saya pelajari dan yang saya pahami dengan segala keterbatasan saya… .

    Salam Damai dan Cinta Kasih…,
    “May All Beings Be Well and Attain Enlightenmet!”

  8. tomy said

    ada banyak cara meditasi Kangmas :D
    melalui penyadaran tubuh, kontemplasi dengan kisah dalam kitab suci, juga dengan fantasi
    saya mengambil kisah dari India kalau tidak salah, tentang seorang anak yang harus melewati hutan untuk sampai ke sekolah. agar tidak takut orangtuanya menyuruh anak itu untuk minta perlindungan kepada kakak Khrisna. Kangmas pasti sudah tahu ceritanya khan. nah keajaiban sering datang kepada diri kita namun tak pernah kita sadari, perlu cara pandang seorang anak kecil ketakjuban anak kecil ketika melihat hidup ini tanpa dibelenggu oleh berbagai konsep dan persepsi

  9. phang said

    Anumodana atas jawabannya..

    Saya baru mulai meditasi lagi setiap pagi…dan sktr 1.5 jam.. biasanya cuma muncul cahaya2 tetapi ketika saya fokus ke cahaya tersebut cahaya terang tersebut berubah warna kadang jd merah..terus hijau…dan setelah itu hilang.. terus fokus ke napas lagi…tidak lama kemudian muncul lagi tetapi cepat hilang.. apakah state ini di upacara samadhi?…

    Saya masih bisa merasakan napas saya cuma rasanya wkt muncul cahaya…apakah cahaya yg muncul itu ilusi saja?…wkt muncul cahaya terang biasa rasanya agak kaget sehingga napas jd cepat rasanya…

    Salam Metta,

    Semua semua makhluk mencapai pencerahan..

  10. ratanakumaro said

    Salam Damai dan Cinta Kasih…,

    @ mas Tommy ;
    Mm.., paham… Temen saya yang mantan Frater, pernah bercerita kepada saya bagaimana ia dulu berkontemplasi selama masih menjadi seorang Frater.

    @ Phang ;

    1. Yang anda paparkan pada paragraf pertama adalah state “kanika-samadhi”.
    2. Cahaya2 yang muncul ( nimitta ), merupakan refleksi batin kita sendiri. Itulah sebabnya mengapa pengalaman meditator berbeda-beda, nimitta yang muncul berbeda-beda, meskipun sama-sama berlatih anapanassati.

    Salam Metta,
    Semoga Semua makhluk Berbahagia.. .

  11. LUKMAN said

    Ada pendapat bahwa untuk mencapai Jhana harus merupakan makhluk tihetuka.Bagaimana jika belum mencapai itu , apakah tidak mungkin untuk mencapai Jhana 1 ???
    ——————————————–

    Pattanumodana atas komentar Sdr. Lukman…,

    Sungguh ini merupakan komentar yang sangat berbobot. Saya yakin, ketika anda memulai berniat mengajukan komentar ini telah timbul kusala-mano-kamma (perbuatan
    melalui pintu indera pikiran yang bermanfaat/baik)
    — kemudian dilanjutkan dengan timbulnya
    kusala-kaya-kamma, yaitu ketika Sdr.Lukman mulai mengetik kata demi kata pada keyboard saudara…

    Komentar luar biasa dari Saudara ini menginspirasi bagi saya, agar suatu kali nanti menuliskan mengenai kedua-belas (12) jenis Puggala ( makhluk ), dari Putthujjana ( awam, yang masih dikendalikan oleh kilesa/kotoran batin ), hinga Ariya ( yang telah merealisasi kesucian ).

    Pertama mari kita membahas mengenai kesadaran ( citta ) ;

    Kesadaran/citta :
    1. tidak baik (akusala citta)
    2. baik (kusala citta)
    3. Hasil/vipaka
    4. Kiriya

    Titik utama yang kita bahas disini adalah “Akusala citta” dan “Kusala Citta”.

    Akusala citta : kesadaran yang mengandung unsure yang tidak baik (di sebut juga Ahetu ; a= tanpa ; hetu = akar ) yaitu :

    1. Lobha (keserakahan)
    2. Dosa (Kebencian)
    3. Moha (Kegelapan batin)

    Kusala Citta : kesadaran yang mengandung akar yang baik ( hetu ), yaitu :

    1. Alobha (tidak serakah)
    2. Adosa (tidak benci)
    3. Amoha (tidak gelap batin/kebijaksanaan/panna)

    Berbicara tentang hetu (akar) ~ ada dua jenis :
    1. DVIHETUKA ( dvi = dua ; hetu = akar )
    Dvihetuka adalah perbuatan yang cetana-cetasika dilandasi dengan: alobha & adosa
    (2 hetu/akar).

    Makhluk ini terlahir akibat kesadaran tumimbal lahir yang dihasilkan dari perbuatan Alobha dan Adosa (dvihetu). Contoh konkrit perbuatan yang didasarkan oleh dvi-hatu adalah , disaat seseorang berdana, ia hanya sekedar berdana, tanpa didasari oleh kebijaksanaan ( Panna ) dan pengetahuan mengenai kamma-vipaka ( kamma = kehendak / perbuatan ; vipaka = buah ) . Bila terlahir sebagai manusia, maka dvihetuka puggala terlahir sebagai manusia biasa, tanpa menderita cacat.

    2. Dan ; TIHETUKA ( ti = tri = tiga ; hetu = akar ) ,merupakan perbuatan yang cetana-cetasika dilandasi dengan: alobha, adosa, & disertai dengan amoha .

    Contoh konkrit dari perbuatan yang didasari ti-hetu adalah jika perbuatan itu disertai pengertian benar akan kamma & konsekuensinya (kammasakata-ñana). Ketika ia berdana, ia akan mengawali niatnya dengan penuh kebahagiaan, dan mengakhiri perbuatan bajiknya itu dengan penuh kebahagiaan pula, serta melewatkannya dengan penuh kebahagiaan pula, dan mengerti atas konsekuensi dari setiap bentukan-bentukan mental tersebut.

    Dvi-hetuka, tidak akan memiliki potensi untuk mencapai Jhana ; karena pra-syarat pengkondisiannya tidak ada, yaitu : PANNA.

    Sedangkan ti-hetuka-puggala, mempunyai energi potensial menjadi makhluk dengan
    ñana-sampayutta mahavipaka citta (bermuatan pañña). Dengan kualitas bathin sedemikian; ti-hetuka-puggala berpotensi besar utk menggapai jhana (kusala-garuka-kamma) bahkan magga; tentunya jika senantiasa serius & berkesinambungan praktik Samatha Bhavana (jhana2) & Vipassana Bhavana (ñana2).

    Jadi, benar sekali jika dikatakan, bahwa hanya TIHETUKA-PUGGALA saja yang bisa menggapai Jhana, selain jenis makhluk ini, tidak ada yang bisa menggapai Jhana. Berkenaan dengan Panna, maka bukan sekedar pengetahuan intelektual semata, tetapi lebih kepada kematangan batin kita.

    Demikian sharing dari saya…,

    Anumodana,
    Mettacittena… .

    _/\_:lotus:

  12. kangBoed said

    Mohon Maaf mas Ratna Kumara petunjuk pituduhnya terlalu berat buat saya, otak tambah botol mas, saya belum mampu mengikutinya mas harus dari yang ringan dan mudah dulu kali ya mas, he he he jadi malu
    Love & Peace

  13. ratanakumaro said

    “Hidup adalah saat ini… ,
    Usah risaukan detik demi detik yang telah berlalu,
    Usah cemas akan detik demi detik yang akan datang nan tak pasti,

    Hiduplah pada saat ini,
    Perhatikanlah segala gerak tubuh dan batinmu,
    Arahkanlah ke arah yang baik dan benar,

    Surga dan neraka, tidak ada di masa lalu,
    Surga dan neraka, tidak ada pula di masa depan,
    Surga dan neraka ; ADALAH SAAT INI… .

    Jika surga ada di masa lalu, maka kita sudah tidak mungkin lagi menggapainya… ,
    Jika surga ada di masa depan, kita belum tentu akan menggapainya… ,
    Namun, surga adalah saat ini,
    Saat hati dan batin ini, senantiasa berbahagia,
    Saat pikiran, ucapan , dan perbuatan,
    Senantiasa mendendangkan kebajikan, kebenaran, keselamatan… .”

    ————————-

    Puisi ini saya persembahkan untuk anda2 semua, para pengunjung blog ini… .

    Mas “kangBoed”…, jangan begitu… .

    Inilah gunanya hidup ; hidup untuk latihan memurnikan diri… . Batin kita ini “yogabhumi”, tempat melatih diri.

    Jatuh…Bangun…Jatuh…Bangun kembali, begitu seterusnya… .

    Inilah latihan mas… .

    Terimakasih… ,

    Salam Damai dan Cinta Kasih,
    “Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia!”

  14. kangBoed said

    he.. he.. he.. nah kalo yang ini sependapat mas, surga ada dalam kedamaian hati ketenteraman jiwa dan kehalusan gelombang rahsa, dalam kesejatian, bukan dari harta benda dan duniawi, banyak yang salah kaprah ya mas, korupsi tumpuk duit wah banyak deh macamnya baru sedikit kurang terus putar otak biar nambah begitu banyak kebingungan mo di simpan dimana, mo di bank takut KPK, mo dikolong tempat tidur takut maling akhirnya belum sempat dinikmati jantungnya dah kumat duluan, belum nikmati dah dipenjara hidup macam apa ya mas ?
    kalo disini aja tak pernah merasakan surga apalagi nanti, demikian sebaliknya kurang lebih begitu ya mas ?
    Dalam keseharian mas ratna saya mencoba untuk memisahkan lahir dan batin, fisik bagiannya akal pikiran, batin bagiannya Yang Maha Batin,, apapun masalah persoalan lahir yang dihadapi selesaikan dengan pikiran jangan sampai menggetarkan hati biarkan hati kita tetap tenang, hening, heneng ,
    Hidup adalah sebuah pemurnian hati penyucian nurani, itulah pemurnian cinta pemurnian iman, mungkin bisa di tambahkan mas…..
    Tahun 2004 saya pernah membayangkan terjadinya pertemuan lintas agama membicarakan kesejatian, eh malah disini di internet yang kadang gambaran awam kurang baik saya banyak menemukan Sahabat Sejati Kang Masku yang guanteng mas Sabda Langit, mas PJ, mas Ngabehi dan mas Ratna Kumara, gak nyangka lho mas, he.. he.. botol beneran ini sih gagap teknologi mas…
    Love & Peace

  15. ratanakumaro said

    Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

    ———————————-

    Tahun 2004 saya pernah membayangkan terjadinya pertemuan lintas agama membicarakan kesejatian, eh malah disini di internet yang kadang gambaran awam kurang baik saya banyak menemukan Sahabat Sejati Kang Masku yang guanteng mas Sabda Langit, mas PJ, mas Ngabehi dan mas Ratna Kumara, gak nyangka lho mas, he.. he.. botol beneran ini sih gagap teknologi mas…

    ———————————

    Semoga semuanya hidup rukun, berbahagia, damai, sejahtera, sentausa… .

    Maturnuwun mas… .

  16. Namo Buddhaya,
    ~~~~~~~~~~~~~~~
    Namo Buddhaya… ;)
    ~~~~~~~~~~~~~~~
    Saya cuma mau tanya tentang Mas Ratanakumara. Anda praktisi Samadhi?
    ~~~~~~~~~~~~~~~
    Emm…, semestinya demikian…,
    Semestinya, setiap siswa Sang Buddha senantiasa mengembangkan, merawat, menyempurnakan ; SILA, SAMADHI dan PANNA.

    ~~~~~~~~~~~~~~~
    Bila ya, praktik Samatha dengan obyek apa?
    ~~~~~~~~~~~~~~~
    Anapannasati, juga sesekali Tejo Kasina ;)
    ~~~~~~~~~~~~~~~
    BIla praktik Vipassana, dengan metode Goen Ka atau Mahassi Sayadaw?
    ~~~~~~~~~~~~~~~
    Saya tidak pernah secara khusus mempraktekkan vipassana. Pada awal saya memasuki “sekolah” Buddhisme-Theravada, saya memang seringkali mempelajari tulisan-tulisan Beliau-beliau tersebut, S.N. Goen Ka dan juga Mahassi Sayadaw.
    Hanya, setiap saya selesai dari samadhi saya, setelah cukup kuat dan dalam, saya biasa melakukan instruksi Sang Buddha seperti yang tertuang dalam Satipatthana-Sutta, merenungkan tubuh di tubuh, perasaan di perasaan, pikiran di pikiran, dan bentuk-bentuk / objek pikiran.

    Dari sana, saya menyadari anicca, dukkha, anatta.

    “Mengulas” kembali perjalanan kehidupan, bahwa tidak ada yang lain yang saya temukan, kecuali : anicca, dukkha, anatta.

    Dari sini, saya merealisasi “kebahagiaan”, mencicipi secuil kebahagiaan sebagaimana yang Sang Buddha ajarkan… ;)
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Sekarang saya mau minta nasehat dari Mas Ratanakumara. Saya suka dengan Mahasi Sayadaw tehniknya. Namun saya juga pernah mencoba latihan di Goen Ka, Gunung Geulis Bogor, Dhammajava, saya juga suka anapannasati di jika latihan di Vihara. Manakah yg harus saya dalami untuk kemajuan kualitas batin guna mengikis lobha, dosa, moha?
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Mahassi Sayadaw dan Goen Ka, kedua-duanya menitik-beratkan pada praktek vipassana.
    Anapannasati, sebagai “Mula-Kammatthana”, merupakan objek Samatha, namun bisa diarahkan pada vipassana.

    Ringkasnya, ini seperti memilih di antara dua pilihan, SAMATHA atau VIPASSANA ?
    Sepertinya hal ini merupakan “diskusi” klasik dalam kalangan Buddhis.

    Saya pernah baca dalam sebuah buku, bahwa Sang Buddha sendiri tidak pernah memperkenalkan istilah “meditasi-vipassana”. Apa yang Sang Buddha ajarkan adalah “Ariya-Atthangika-Magga” , yang didalamnya terdapat ruas-ruas “Samma-Samadhi” dan “Samma-Sati”.

    Samma-Samadhi, merupakan “konsentrasi-yang-benar”, yang mengantar pada pencapaian Jhana-Jhana.
    Sedangkan Samma-Sati, merupakan “perhatian-yang-benar”, yang mengantar pada praktik vipassana yang kini sangat terkenal dalam tradisi Buddhis.

    Saya, pada tanggal 26 Februari 2009 kemarin, pernah mengajukan suatu pertanyaan kepada AJAHN BRAHMAVAMSO, di Palembang. Begini kurang lebih pertanyaannya ;

    ” Bhante, saya pernah membaca, bahwa praktik BRAHMA-VIHARA, akan mengantar pada “cettovimuthi”, pembebasan batin yang pada akhirnya akan mengantar pada Nibbana.

    Padahal, Bhante, setau saya, BRAHMA-VIHARA merupakan salah satu dari ke-40 Kammatthana yang diajarkan Sang Buddha sebagai pokok landasan pemusatan perhatian untuk melatih batin mencapai tataran Jhana-Jhana… .

    Bagaimana mungkin, Brahma-Vihara yang merupakan praktik samatha, bisa mengantar pada Nibbana ?? ”

    Ajahn Brahm menjawab :

    ” Guru Saya, AJAHN CHAH, tidak pernah mengajarkan, bahwa SAMATHA dan VIPASSANA adalah dua hal yang berbeda. Samatha, dan vipassana, bagaikan DUA SISI TELAPAK TANGAN.

    Ummat Buddha, yang mempertentangkan keduanya, dan hanya memilih salah satu darinya, telah berpikiran keliru.”

    BHAYABERAVA-SUTTA
    Dalam Majjhima-Nikaya, Bhayaberava-Sutta, Sang Buddha menguraikan, bahwa proses Beliau mencapai pencerahan, adalah setelah didahului tercapainya Jhana-Jhana.

    Dalam Bhayaberava-Sutta ; 23 – 26, Beliau menguraikan bagaimana Beliau mencapai Jhana I s/d IV.

    Lalu, pada Bhayaberava-Sutta ; 27 – 33, Sang Buddha menjelaskan, bagaimana “Ketika pikiranku yang terkonsentrasi telah sedemikian termurnikan, terang, tak – ternoda, bebas dari ketidaksempurnaan, dapat diolah, lentur mantap, dan mencapai keadaan tak terganggu” Beliau mengarahkan pada berbagai pengetahuan yang membawa pada “Pencerahan-Sempurna”. Pengetahuan tersebut adalah :
    1. Pengetahuan tentang ingatan kehidupan lampau ( Pubbenivasanussatinana ) ; dari satu hingga beratus-ratus ribu tumimbal lahir / kehidupan, berkalpa-kalap pengerutan dunia, berkalpa-kalpa pengembangan dunia, berkalpa-kalpa pengerutan dan pengembangan dunia. Ingatan Beliau akan kehidupan lampau tidak ada yang bisa menandingi, sebab Beliau adalah BUDDHA, untuk manusia biasa, paling bagus hanya beberapa kehidupan saja ;) .
    2. Pengetahuan akan tumimbal lahir dari semua makhluk, dari mana sebelumnya, dan kelak akan kemana, sesuai karma mereka masing-masing ( Cutupapata-Nana ). Ini sebabnya Beliau bisa menguraikan mengenai bekerjanya Hukum-Kamma dengans sangat mendetail.
    3. Pengetahuan akan penghancuran noda-noda, penembusan terhadap Empat-Kesunyataan-Mulia ( Asavakhaya-Nana ).

    Nah, menilik Sutta tersebut, Sang Buddha sendiri menguraikan, bahwa Pencerahan-Sempurna Beliau terealisasi setelah Beliau mencapai keempat Rupa-Jhana. Dan pencapaian keempat Jhana tersebut, menggunakan metode ANAPANNASATI, yang kemudian Beliau ajarkan sebagai satu dari empat-puluh (40 ) Kammatthana. Serta, yang patut dicatat, setelah tercapainya ketiga-pengetahuan sejati tersebut, Sang Buddha pun berhasil mencabut semua akar dumadi, DOSA ( Kebencian / kemarahan ), LOBBHA ( Keserakahan ) , dan MOHA ( Kegelapan Batin / Kebodohan batin ; Batin yang tanpa Panna )

    Dari para Guru tersebut, Sang Buddha, Ajahn-Chah, dan Ajahn-Brahm, maka, saya sendiri semakin teguh untuk tidak mencurahkan seluruh hidup saya pada praktik vipassana “an-sich”, akan tetapi, melalui “Samma-Samadhi”, dan saya berusaha untuk memperoleh ketiga pengetahuan sebagaimana yang Sang Buddha ajarkan tersebut ;)

    Namun , saya tidak berani menyatakan, mana yang lebih baik, samatha atau vipassana. Karena, sesungguhnya, keduanya bagaikan dua sisi telapak tangan, tidak terpisahkan ( sebagaimana Ajahn Chah menyatakannya ). Keduanya berjalan beriringan, berjalan pada suatu proses sinambung dalam ruas-ruas Ariya Atthangika Magga.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~

    Anumodana sebelum dan sesudahnya.
    Ali, SAB.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~
    Pattanumodana saya ucapkan kepada anda,
    Dengan sukha-citta saya menerima tamu-kehormatan seperti anda, seorang Kalyanamitta yang telah memahami Dhamma dengan baik.

    Sukhi attanam Pariharantu…,
    RATANA KUMARO ( Ratna Kumara ). ;)

  17. Tedy said

    Salam damai dan sejahtera utk semua makhluk!

    Samadhi mungkin satu-satunya jalan menuju “Yg tdk dilahirkan, yg tdk menjelma, yg tdk tercipta, yg mutlak”. Bgm Guruku? ehh… maaf mas Ratana Kumaro He..he..

    Semoga semua makhluk berbahagia!
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear Teddy… ;)

    SAMADHI bukan satu-satunya jalan menuju “Nibbana”, namun, yang benar adalah Ariya-Atthangika-Magga ( Jalan Arya Beruas Delapan ) adalah satu-satunya jalan menuju Nibbana ;)

    “ Maggan’ atthangiko settho
    Saccanam caturo pada
    Virago setho dhammanam
    Dipadananca cakkhuma
    ( Dhammapada, Magga Vagga ; 20:1 )

    Arti :

    Diantara semua Jalan, Jalan Suci yang beruas delapan
    adalah yang terbaik.
    Diantara semua Kebenaran, Empat Kesunyataan Mulia adalah yang termulia;
    Dantara semua keadaan batin, Nibbana adalah yang tertinggi;
    Diantara semua makhluk yang berkaki dua dan dapat melihat,
    Sang Buddha adalah yang Teragung “

    ” Eso’va maggo nath’anno
    Dassanassa visuddhiya
    Etahmhi tumhe patipajjatha
    Marass’etam pamohanam
    ( Dhammapada, Magga Vagga ; 20:2 )

    ARTI :

    Hanyalah melalui Jalan ini, bukan yang lain,
    yang dapat menyucikan seseorang.
    Ikutilah Jalan ini dan melenyapkan semua kejahatan
    tanpa sisa. “

  18. Tedy said

    Salam damai dan sejahtera utk semua makhluk!

    Yup, saya setuju bahwa Ariya-Atthangika-Magga sbg satu2nya jalan ke nibbana.

    Samma samadhi hanya satu dari delapan ruas tsb. Klo gitu masih ada yg tujuh lg dong…???

    ehem…ehem… satu aja susahnya bukan main. He..he..

    Semoga semua makhluk berbahagia!

  19. Tedy said

    NAMO TASSA BHAGAVATO ARAHATO SAMMASAMBUDDHASSA…

    Mas, numpang nanya dong. Bisa dijelaskan ngk kondisi2 yg dialami sewaktu mencapai upacara samadhi-apanna samadhi. Misalnya pada tahap upacara samadhi apakah masih bisa merasakan panca indera (suara, gatal, dll). Yg komplit ya mas, Mmuaaachh… :)

    Sabbe satta bhavantu sukhitatta!

  20. Oke Teddy…,
    Nanti ya, tunggu dulu ;)

  21. Tedy said

    NAMO TASSA BHAGAVATO ARAHATO SAMMASAMBUDDHASSA

    Mas, menurut buku Ajahn Chah yg saya baca SILA dan SAMADHI saling menunjang, sehingga akan muncul PANNA. Nah, tentang praktik sila, khususnya pancasila, apakah berjudi tidak termasuk dalam pancasila tersebut? Mengapa? Padahal kita sama2 tau bahwa orang2 sering bilang racun dunia ada 3 yaitu, wanita/seks (sila ke 3), miras/narkoba (sila ke 5), dan judi (tidak ada, atau saya yg tidak tau). Bgm pendapat anda? Terima kasih.

    Semoga semua makhluk berbahagia!

  22. To: Saudara Teddy

    Saya akan mencoba menjawabpertanyaan saudara.

    Bagi pemula praktisi samadhi, ia harus teguh dan kukuh utk praktik sila minimal 5 setiap moment. Seolah-olah sila itu adalah darah dan sumsum yang merasuk ketulang-tulang dan sanubari sebagai viratti dan hal yg mutlak berlandaskan Panna (kebijaksanaan) porsi anda dan arahkan batin ke obyek. Ini disebut Parikkama (Menapak dalam Samma Samadhi).

    Selanjutnya dia akan berhadapan dengan 5 rintangan (lihat di artikelnya mas Ratana) tentu saja rintangan tersebut harus anda hancurkan dengan 5 kekuatan. Sehingga anda mapan di dalam obyek meditasi.

    Mapan di dalam obyek meditasi berarti anda sudah mampu melintasi 5 rintangan batin. Berati kondisi batin telah meraih upacara samadhi. Pengalaman ini seperti kita berkaca kepada diri sendiri di depan kaca tanpa sedikitpun ada yg berbeda!

    Selanjutnya, dengan mendekatkan sedikit-demi sedikit antara batin dan obyek yg jernih….sehingga manunggalnya antara batin dengan konsep/obyek maka tak ada perbedaan antara batin dan konsep/obyek. Disinilah semua indera akan terserap dan menyatu dengan konsep/obyek yg kita pilih.

    Getaran napas yg kadang panjang, kadang pendek, saling berketarikan dengan batin (upacara samadhi) menumpuk menjadi 1 (menyatu dengan obyek = batin + obyek).

    Semua energi terkumpul pada kesadaran penuh sesuai dengan obyek!!!

    Cuma sekedar share aja….

    Best regard
    Ali Sasana Putra

  23. Tedy said

    To : Saudara Wen Lung Shan

    Terima kasih atas nasehat anda. Saya memang bertekad utk menjaga 5 sila sekuat mungkin. Tapi diantara ke 5 sila, yg sulit saya jaga yaitu sila ke 4 (Ucapan benar). Benar2 sulit, bahkan terkesan mulut ini lebih cepat dari pikiran, sangat cepat sekali. Mohon bimbingannya. Anumodana.

  24. TO: Bro Tedy

    Memang benar sekali ucapan itu sangat sulit dikontrol, cepat seperti peluru yg keluar dari pistol.

    Namun cepat dan sulit bukan berarti kita tidak bisa mengendalikannya.

    Pernahkah anda mengiktui praktik Vipassana?

    Bila pernah akan lebih mudah saya menjelaskannya.

    Begini, saat anda bervipassana ada peraturan untuk tidak berbicara. Peraturan tersebut memang dikondisikan agar kita tidak berbicara yg mengandung lobha, dosa, moha.

    Bila sudah terbiasa dengan hal demikian maka anda kan mampu mengendalikan perbuatan anda melalui ucapan (Vaci kamma).

    Begitu pula bila anda sering bermeditasi Vipassana khususnya, anda akan memiliki tahap Nana Samvara yg artinya Pengendalian Diri berupa pengetahuan spiritual. Maka kita tidak akan mau melakukan perbuatan yg tidak bermanfaat berikut pula ucapan yg tidak berguna.

    Demikianlah pengalaman saya tentang cara mengendalikan diri melalui ucapan.

    Anumodana
    Ali

  25. Tedy said

    To : Bro Wen Lung Shan

    Salam hormat utk anda. Saya tidak pernah latihan meditasi vipassana, hanya latihan samatha bhavana, itu pun cuma latihan sendiri di rumah.

    With metta,
    Tedy

  26. To: Tedy

    Coba anda praktik Vipassana 1 hari aja. Dengan guru pembimbing yg dapat dipercaya. Anda akan terasa cara kerja Dhamma yg begitu alamiah dan rapi.

    Dan akan merasa bahwa selama ini anda selalu tertipu oleh hal-hal yg tidak berguna dan selalu terbelenggu oleh pandangan salah duniawi.

    Dhamma sulit dikatakan untuk memenuhi semua kebenaran itu sendiri. Namun Dhamma dapat dirasakan oleh pikiran murni yg diakibatkan dari murninya perbuatan yg dilandasi oleh sila sehingga anda dapat terbebas dari pandangan salah sehingga mengalami Ditthi Visudhi (Kesucian Pandangan) yaitu Dhamma yg sesungguhnya itu.

    Anumodana
    Ali

  27. CY said

    Bro Wen Lung Shan,
    Pernahkah menjadi guru pembimbing utk Vipassana? :)

  28. To: CY

    Saya pernah menjadi pembimbing Vipassana untuk siswa-siswi saya di kelas agama.

    Kalau pelatih Vipassana secara intensif selama 3-10 hari belum pernah, tapi saya akan berusaha meluangkan waktu untuk menjadi peserta saja.

    Untuk di cetiya Dhammajala depok setiap hari sabtu ke-2 sebulan sekali saya pasti datang untuk latihan dengan Bhante Gunasiri One Day Mindfullnes, bila gak ada halangan.

    Thank you :)
    Ali

  29. Dear Brother WLS,

    Latihan meditasi dengan Bhante Gunasiri ? Samatha atau vipassana Bro ? Durasi berapa lama, kok judulnya “One Day Mindfullness”, apakah seharian ?

    Anumodana,
    Ratana Kumaro.

  30. To: Mas Ratanakumaro

    Benar 1 hari full dari jam 7 pagi sampai jam 7 sore setelah itu tanya jawab tentang hal-hal yg kita lalui, dimulai dari yg paling berkesan selama meditasi Vipassana ala Mahassi Sayadaw, kembang kempisnya perut dan proses nama rupa. 1 jam duduk, 1 jam jalan/berdiri.

    Saya pernah ikutan SN Goenka, tapi bila ikutan ala Vipassana SN Goenka kita kudu benar-benar full 10 hari di tempat yg ada gurunya, kalo di Bogor di Dhammajava. Dan hari duduk jublek aja stylenya.

    Karena Samatha lalu Vipassana.

  31. ommm~RE said

    pertanyaan mas, samatha itu apa, vipassana itu apa?
    makasih atas jawabannya
    ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
    Dear Ommm ,
    Selamat datang di blog Ratna Kumara ini.. ,

    Maaf jika saya terlambat menjawab pertanyaan2 anda ya, karena saya merawat blog ini sambil bekerja.

    SAMATHA
    Adalah praktik samadhi, yang bertujuan mencapai ketenangan-batin.
    Objek praktik samatha ini adalah empat-puluh (40) Kamatthana ( empat puluh pokok landasan pemusatan perhatian ).

    Rintangan-rintangan yang akan ditemui oleh seorang Yogi yang berusaha mencapai ketenangan-batin dan pemusatan perhatian adalah berupa “Panca-Nivarana” ( Lima rintangan Batin ) seperti yang sudah diterangkan diatas, dan juga “Dasa Palibodha”. Dasa Palibodha tersebut adalah sbb. :

    1. Avasa (tempat tinggal)
    2. Kula (pembantu dan orang yang bertanggung jawab)
    3. Labha (keuntungan)
    4. Gana (murid dan teman)
    5. Kamma (pekerjaan)
    6. Addhana (perjalanan)
    7. Ñati (orangtua, keluarga, dan saudara)
    8. Abadha (penyakit)
    9. Gantha (pelajaran)
    10.Iddhi (kekuatan gaib)

    Praktik Samatha ini akan mengantarkan pada “Jhana”, yaitu kondisi batin dalam konsentrasi-tercerap yang sangat kuat. Mengenai Jhana sudah diterangkan diatas.

    Sang Buddha dalam merealisasi pencerahan-sempurna, pertama-tama melalui praktik samadhi ini. Setelah mencapai Jhana kedelapan (8) ~ menurut Suttanta ~ atau kesembilan (9) ~ menurut Abhidhamma ~ , lalu Beliau turun menuju Upacara-Samadhi dan mempraktikkan “vipassana” / meditasi pandangan-cerah dan akhirnya merealisasi pencerahan-sempurna.

    Seorang yogi yang telah berhasil merealisasi Jhana keempat ( IV ) bisa memperoleh berbagai jenis kekuatan-batin istimewa ( kesaktian ) sbb. :

    1. Iddhividhanana : Kekuatan gaib atau kesaktian, yaitu:

    a. Adhitthana_iddhi (dapat menggandakan diri)
    b. Nikubbana_iddhi (dapat merubah diri)
    c. Manomaya_iddhi (dapat mencipta sesuatu)
    d. Nyanavipphara_iddhi (dapat menembus ajaran)
    e. Samadhivipphara_iddhi (dapat menembus dinding, pagar, gunung, masuk ke bumi, berjalan diatas air, terbang, melawan api, menyentuh bulan / matahari, masuk ke alam Brahma)

    2. Dibbasotanana (telinga dewa)
    3. Dibbacakkhunana (mata dewa)
    4. Cetopariyanana (membaca pikiran orang)
    5. Pubbenivasasanussatinana (mengingat kehidupan-kehidupannya yang lampau )
    6. Asavakhayanana ( ini disebut sebagai lokuttara abhinna yang merupakan hasil dari praktik Vipassana ).

    Namun, pencapaian kelima kemampuan-batin istimewa diatas sebenarnya bukanlah pencerahan, karena kesemuanya ini masih bersifat keduniawian.

    Kecuali asavakhayanana diatas, itu adalah pencapaian pencerahan sebagai hasil dari praktik vipassana.

    VIPASSANA

    Tujuan dari praktik meditasi vipassana ( atau dalam Jalan Ariya Beruas Delapan dikenal sebagai ruas “Samma-Sati” ) adalah untuk meraih “Pandangan-Cerah”.

    Vipassana sebaiknya dipraktikkan setelah seseorang secara kontinyu dan dengan baik melaksanakan praktik latihan “SILA” ( moralitas-sempurna ; untuk ummat awam adalah “PANCASILA” , kemudian yang ummat yang tertarik untuk lebih memperdalam praktiknya bisa mengambil latihan “ATTHANGASILA” ( Delapan-Sila ) ; untuk para Samanera/i praktik Silanya adalah “DASASILA”, dan untuk para Bhikkhu adalah “227 SILA PATIMOKHA”. ).

    Praktik Sila ini merupakan langkah “Sila-visuddhi”, atau pensucian-sila / moralitas.

    Setelah mempraktikkan latihan Sila ini dengan sebaik-baiknya, kemudian seorang siswa mulai mempraktikkan “Samma-Samadhi”, yaitu seperti yang sudah saya terangkan diatas juga seperti yang terurai dalam artikel diatas. Tahap praktik “Samma-Samadhi” ini disebut juga tahap “Citta-Visuddhi” ( Pensucian-Pikiran ).

    Setelah melewati tahap latihan “Sila-Visuddhi” dan “Citta-Visuddhi”, barulah kita memasuki tahap latihan “Ditthi-Visuddhi” ( Pensucian-Pandangan ) dimana disini kita benar2 mulai masuk pada praktik vipassana kita.

    Pencapaian yang akan diraih seorang siswa melalui praktik vipassana ini adalah keenam-belas pengetahuan pandangan cerah, atau yang dikenal dengan “NANA” ( baca : Nyana ) atau “INSIGHT”.

    Realisasi keenambelas “Pengetahuan-Pandangan-Cerah” inilah Pencerahan , yang akan membawa kita pada realisasi “Magga” ( Jalan ) dan “Phala” ( Buah ) kesucian ( Ariya ). Setelah merealisasi keenam-belas pengetahuan pandangan cerah ini, kita telah merealisasi “yang-diatas-duniawi” ; “Kebahagiaan-Sejati” .

    Keenam-belas “Pengetahuan-Pandangan-Cerah” ( Nana ) tersebut adalah :

    1.Nama-Rupa Pariccheda Nyana , yaitu pengetahuan mengenai perbedaan Nama dan Rupa.(batin dan materi)

    2.Paccaya Pariggaha Nyana, yaitu pengetahuan mengenai hubungan sebab dan akibat dari Nama dan Rupa.

    3.Sammasana Nyana,yaitu pengetahuan yang menujukkan Nama dan Rupa sebagai Tilakkhana (tiga corak umum) ialah Anicca,Dukkha dan Anatta (berubah-ubah,penderitaan dan tanpa aku yang kekal).

    4.Udayabbaya Nyana, yaitu pengetahuan mengenai timbul dan lenyap nya Nama dan Rupa.

    5.Bhanga Nyana,yaitu pengetahuan mengenai lebur dan lenyap Nama dan Rupa.

    6.Bhaya Nyana,yaitu pengetahuan mengenai ketakutan yang berkenaan dengna sifat Nama dan Rupa.

    7.Adinava Nyana,yaitu pengetahuan mengenai kesedihan yang berkenaan dengan Sifat Nama dan Rupa.

    8.Nibbida Nyana,yaitu pengetahuan mengenai keengganan yang berkenaan dengan sifat Nama dan Rupa.

    9.Muncitukamyata Nyana,yaitu pengetahuan mengenai keinginan untuk mencapai kebebasan.

    10.Patisankha Nyana,yaitu pengetahuan mengenai penglihatan tentang jalan menuju kebebasan,yang menimbulkan keputusan untuk berlatih terus dengan semangat.

    11.Sankharupekkha Nyana,yaitu pengetahuan mengenai keseimbangan tentang semua bentuk-bentuk kehidupan,

    12.Anuloma Nyana,yaitu pengetahuan mengenai penyesuaian diri dengan empat kesunyataan mulia,sebagai persiapan untuk memasuki Magga dan mencapai Phala,melalui Anicca,Dukkha dan Anatta.

    13.Gotrabhu Nyana, yaitu pengetahuan yang telah masak mengenai pemotongan atau pemutusan keadaan duniawi,dan nirwana sebagai objek dari pikiran.

    14.Magga Nyana,yaitu pengetahuan mengenai penembusan terhadap Magga di mana Kilesa(kekotoran batin) telah dilenyapkan.

    15.Phala Nyana,yaitu pengetahuan mengenai pembabaran phala yang merupakan hasil dari penembusan terhadap Magga dan Nirwana sebagai objek batin.

    16.Paccavekkhana Nyana,yaitu pengetahuan mengenai peninjauan terhadap sisa-sisa kilessa (kekotoran batin ) yang masih ada.

    Demikian sementara , rekann Ommm, penjelasan / jawaban dari saya atas pertanyaan yang anda ajukan.

    Semoga bisa membantu menjawab , semoga bermanfaat.

    May U Always b Happy and Well ;)
    Sadhu,Sadhu,Sadhu.

  32. jo pigken said

    Mau yang lebih mantap kan??? baca di bawah ya,, bacanya pelan-pelan bro,,, segerrr… hehe…!!!

    RIWAYAT HIDUP BUDDHA GOTAMA

    PENDAHULUAN

    Riwayat Hidup Buddha Gotama yang dipaparkan di bawah ini hanyalah merupakan garis besar dari kehidupan Beliau dari kelahiran-Nya sebagai Pangeran Siddhattha sampai Parinibbana (kemangkatan mutlak), serta beberapa peristiwa penting dalam kronologi pembabaran Dhamma oleh-Nya.

    KELAHIRAN BODHISATTA

    Seorang Pangeran dilahirkan pada bulan purnama penuh di bulan Vesak (antara bulan Mei dan Juni) di sebuah hutan pohon sala ( shorea robusta ) taman bernama Lumbini di Kapilavatthu, India Utara (sekarang Nepal) pada sekitar abad ke-6 S.M (secara tradisional tahun 623 S.M. dan berdasarkan pada penanggalan “sejarah” pada tahun 563 S.M).

    Ayahnya adalah Raja Suddhodana seorang bangsawan dari dinasti Sakya dan ibunya adalah Ratu Mahamaya seorang putri kerajaan dari dinasti Koliya.

    Pada hari yang sama, lahir pula: Putri Yasodhara yang kelak menjadi isteri Sang Pangeran, Pangeran Ananda yang kelak menjadi pembantu tetap Sang Buddha, Channa tang kelak menjadi kusir Sang Pangeran, Kanthaka yang kelak menjadi kuda Sang Pangeran, Menteri Kaludayi yang kelak mengundang Sang Buddha untuk berkunjung kembali ke Kapilavatthu, Pohon Pippala atau disebut Pohon Bodhi ( Ficus Religiosa ), dan munculnya empat jambangan harta ( Nidhikumbhi ).

    Kelahiran sang pangeran membawa kebahagiaan bagi seluruh kerajaan termasuk seorang petapa bernama Asita yang dikenal juga sebagai Kaladevala yang merupakan guru pribadi raja. Asita segera berkunjung ke istana Raja Suddhodana untuk melihat bayi tersebut. Ketika Petapa Asita telah tiba dan melihat adanya 32 tanda dari seorang Mahapurisa (Manusia Agung) pada bayi tersebut, ia memberikan hormat. Melihat hal ini Raja pun turut memberi penghormatan kepada putranya.

    Setelah itu Petapa Asita tertawa gembira tetapi kemudian ia menangis. Hal ini karena ia merasa bahagia karena Pangeran kelak akan menjadi seorang Buddha, tetapi ia juga bersedih karena ia tidak bisa mendengarkan ajarannya karena usianya yang sudah tua dan ia tidak bisa menunggu bayi tersebut dewasa.

    UPACARA PEMBERIAN NAMA

    Lima hari setelah Sang Pangeran lahir, Ia diberi nama Siddhattha (dalam bahasa Pali) atau Siddhartha (dalam bahasa Sanskerta) yang berarti Tercapailah Segala Cita-cita-Nya, dan dengan nama keluarga Gotama (dalam bahasa Pali) atau Gautama (dalam bahasa Sanskerta).

    Menurut tradisi India kuno maka diadakan upacara pemberian nama dengan mengundang para brahmana terpelajar. Di antara 108 brahmana yang diundang terdapat delapan brahmana yang terkemuka. Tujuh di antara mereka meramalkan ada dua kemungkinan bahwa Pangeran akan menjadi Raja Dunia atau menjadi seorang Buddha jika Ia melihat empat peristiwa, yaitu: orang tua, orang sakit, orang mati, dan petapa suci. Tetapi Kondanna, satu dari kedelapan brahmana itu, dan yang paling muda memastikan bahwa hanya ada satu kemungkinan yaitu Pangeran akan menjadi seorang Buddha.

    WAFATNYA RATU MAHAMAYA

    Pada hari ketujuh setelah melahirkan Pangeran Siddhattha , Ratu Mahamaya wafat, dan adiknya Maha Pajapati Gotami yang juga isteri Raja Suddhodana menggantikan posisi Ratu Maha Maya sebagai ratu sekaligus ibu bagi pangeran kecil. Dari hubungan Raja Suddhodana dengan Maha Pajapati Gotami melahirkan seorang pangeran bernama Nanda dan seorang putri bernama Sundari Nanda ( Rupananda ).

    Maha Pajapati Gotami merawat Pangeran Siddhattha seperti merawat putranya sendiri Pangeran Nanda . Pangeran Nanda sendiri lahir beberapa hari setelah Pangeran Siddhattha lahir.

    Setelah Ratu Maha Maya wafat, ia dilahirkan menjadi seorang putra dewa dengan nama Mayadevaputta (Santusita) di surga Tusita .

    FESTIVAL MEMBAJAK TANAH

    Dalam rangka meningkatkan pertanian, Raja Suddhodana mengadakan festival pembajakan tanah dan mengajak pergi Pangeran Siddhattha yang telah berusia beberapa tahun ke perayaan tersebut. Dan Raja pun turut membajak bersama-sama dengan para petani.

    Pada saat perayaan yang berlangsung meriah, para pengasuh yang ditugaskan untuk menjaga Pangeran merasa sangat tertarik dengan jalannya perayaan tersebut. Mereka ingin menyaksikannya dan akhirnya meninggalkan Pangeran di bawah bayangan pohon jambu. Dan pada saat itu suasana di sekitar pohon jambu tesebut menjadi tenang dan sepi sehingga sesuai untuk meditasi. Pangeran kecil pun duduk bersila dan melakukan meditasi.

    Ketika para pengasuh kembali, mereka merasa heran sekali melihat Pangeran sedang bermeditasi, dan dengan cepat mereka melaporkannya kepada Raja. Raja dengan diiringi oleh para petani berbondong-bondong datang untuk menyaksikan peristiwa ganjil tersebut. Dan mereka pun menemukan Pangeran sedang duduk bermeditasi dan tidak menghiraukan kehadiran orang-orang yang datang memperhatikannya. Hal itu terjadi karena pada saat itu Pangeran berada dalam keadaan Jhana, yaitu keadaan dimana kesadaran sedang berkonsentrasi secara penuh. Melihat hal itu Raja memberi hormat untuk kedua kalinya kepada putranya tersebut.

    MASA KANAK-KANAK DAN PENDIDIKAN

    Semasa kecil, Pangeran Siddhattha hidup dalam kemewahan dan dirawat oleh para pengasuh sebaik mungkin. Seluruh pengiring-Nya muda-muda, berpenampilan menarik, cantik, tampan, dan berbadan lengkap. Jika ada yang sakit, maka orang itu tidak diijinkan tinggal di istana dan akan digantikan oleh orang lain. Sang pangeran di kenakan beraneka ragam perhiasan, kalung bunga, minyak wangi dan pernak-pernik yang semerbak. Tutup kepala, jubah, dan mantel-Nya seluruhnya didatangkan dari Negara Kasi. Untuk menyenangkan hati Pangeran Siddhattha, Raja Suddhodana membuatkannya tiga kolam teratai di istananya, yaitu Kolam Uppala dengan teratai birunya, Kolam Paduma dengan teratai merahnya, dan Kolam Pundarika dengan teratai putihnya.

    Ketika Pangeran Siddhattha berusia tujuh tahun, Ia mulai menjalani pendidikan-Nya. Kedelapan brahmana terkemuka, yang dahulu diundang raja untuk meramalkan masa depan pangeran, menjadi guru-guru-Nya yang pertama. Setelah guru-guru tersebut mengajarkan semua pengetahuannya kepada pangeran, Raja Suddhodana mengutus-Nya untuk berguru kepada guru lain bernama Sabbamitta. Brahmana Sabbamitta yang tinggal di daerah Udicca, berasal dari keturunan terkemuka dan ahli dalam bahasa dan tata bahasa, serta fasih dalam Kitab Veda dan keenam Vedanga yang terdiri dari ilmu fonetik, ilmu persajakan, tata bahasa, ilmu tafsir, ilmu perbintangan, dan upacara keagamaan.

    Sang Pangeran mampu mempelajari semua mata pelajaran yang Ia terima dari guru-Nya, termasuk ilmu kemiliteran, bela diri seperti tinju, gulat, anggar, dan berkuda. Ia adalah siswa yang terpandai dan terbaik dalam segala hal bahkan menjadi lebih pandai dari guru-guru-Nya. Ia adalah siswa yang paling bijak dan satu-satunya yang banyak bertanya kepada para guru dan kakak seperguruanNya. Ia juga anak yang terkuat, tertinggi, dan tertampan di kelas. Meskipun Pangeran Siddhattha adalah siswa yang terpandai, Ia tidak pernah lalai dalam bersikap santun dan memberikan penghormatan yang sepantasnya terhadap guru-guru-Nya.

    Bodhisatta tidak pernah menyia-nyiakan waktu. Ketika Ia sedang tidak ada pekerjaan, Ia akan menyendiri di tempat yang tenang dan berlatih meditasi. Dan meskipun Ia juga terlatih dalam seni memanah dan dalam pemakaian senjata, tetapi Ia tidak suka melukai makhluk lain. Ia juga menghindari pembunuhan atau penganiayaan hewan jinak sekalipun, seperti kelinci dan kijang.

    WELAS ASIH SANG PANGERAN

    Sifat welas asih Pangeran Siddhattha tercermin dalam kehidupan sehari-hari-Nya seperti menghentikan dan menasihati seorang pelayan-Nya yang sedang memukuli seekor ular dengan tongkat.

    Pada kesempatan lainnya, ketika pangeran sedang beristirahat di bawah pohon dalam waktu bermainnya bersama sahabat-sahabat-Nya dan juga sepupunya, Pangeran Devadatta, Ia tiba-tiba melihat seekor angsa jatuh dari angkasa. Ia tahu bahwa Pangeran Devadatta telah memanah angsa tersebut. Dengan segera Pangeran Siddhattha menolong si angsa. Pangeran Devadatta juga mengejar angsa itu, namun Pangeran Siddhattha berhasil terlebih dulu mengambil angsa itu dan dengan lembut Ia menarik anak panah yang menusuk angsa tersebut serta memberikan obat pada lukanya.

    Pangeran Devadatta yang baru saja tiba menuntut agar unggas itu diserahkan kepadanya, namun Pangeran Siddhattha menolaknya. Akhirnya terjadilah perselisihan dan saling debat. Pangeran Devadatta bersikukuh bahwa angsa itu adalah miliknya karena ia yang memanahnya. Sedangkan Pangeran Siddhattha mengatakan bahwa Ia yang berhak atas angsa itu karena Ia telah menyelamatkan hidupnya, sedangkan si pemanah tidak berhak akan angsa yang masih hidup tersebut. Akhirnya Pangeran Siddhattha mengusulkan agar permasalahan ini dibawa ke makamah para bijak untuk memperoleh jawaban atas siapa yang berhak atas angsa tersebut.

    Setelah diajukan ke makamah para bijak, akhirnya salah satu dari para bijak tersebut berseru, “Semua makhluk patut menjadi milik mereka yang menyelamatkan atau menjaga hidup. Kehidupan tak pantas dimiliki oleh orang yang berusaha menghancurkannya. Angsa yang terluka ini masih hidup dan diselamatkan oleh Pangeran Siddhattha. Karenanya, angsa ini mesti dimiliki oleh penyelamatnya, yaitu Pangeran Siddhattha!”

    PERNIKAHAN

    Kekhawatiran Raja Suddhodana terhadap apa yang dikatakan oleh Petapa Asita dan terhadap ramalan Brahmana Kondanna mengenai Pangeran Siddhattha, berusaha membuat anaknya tersebut merasa nyaman dan bahagia. Segala hal-hal yang buruk dijauhkan dari diri anaknya termasuk hal-hal mengenai sakit, tua, mati, dan petapa. Selain itu raja juga membangun tiga buah istana untuk putranya pada setiap musimnya – Istana Ramma untuk musim dingin, Istana Suramma untuk musim panas, Istana Subha untuk musim hujan.

    Pada saat itu Pangeran Siddhattha berusia enam belas tahun, Ia tumbuh sebagai seorang pria muda yang tampan dan perkasa. Namun perangai-Nya yang suka merenung serta welas asih-Nya yang tanpa batas semakin jelas. Hal ini sangat membuat raja khawatir dan memanggil para penasihat istana untuk menemukan jawaban agar sang pangeran tetap mewarisi singgahsananya daripada menjadi seorang Buddha. Dan akhirnya diputuskan untuk mencari gadis tercantik dan menikahkannya dengan pangeran. Kemudian Raja Suddhodana memerintahkan untuk mengirim berita kepada delapan puluh ribu kerabat Sakya-nya dan meminta mereka untuk memperkenankan putri-putri mereka untuk datang ke istana agar pangeran dapat memilih salah satunya sebagai isteri.

    Berita pemilihan isteri tersebut ditanggapi negatif oleh para pangeran Sakya yang beranggapan bahwa Pangeran Siddhattha tidak memiliki kemampuan sebagai seorang ksatria dan seorang pengecut yang tidak memiliki kemampuan seni bela diri dan seni berburu untuk melindungi dan mencari nafkah keluarganya kelak. Menanggapi hal ini Raja Suddhodana merasa sangat tersinggung dan menemui putranya serta menceritakan permasalahannya. Pangeran lalu berkata bahwa Ia akan mempertunjukkan kemahiran-Nya dalam pertandingan apapun, termasuk panahan dihadapan semua pangeran dan putri Sakya.

    Dalam pertandingan, Pangeran Siddhattha akhirnya dapat mengalahkan semua lawannya dalam segala pertandingan. Dengan ini para pangeran dan putri Sakya akhirnya bergembira mengetahui hasilnya, sekaligus merasa tegang siapa yang akan dipilih pangeran untuk menjadi isteri-Nya. Akhirnya pilihan Pangeran Siddhattha jatuh pada Putri Yasodharã, sepupu-Nya yang cantik, putri Raja Suppabuddha dari kerajaan Koliya dan Ratu Amita, saudara perempuan Raja Suddhodana.

    MELIHAT PERISTIWA AGUNG PERTAMA: ORANG TUA

    Memasuki usiaNya yang kedua puluh delapan tahun, Pangeran Siddhattha tidak lagi merasa senang akan segala kemewahan dan hiburan di sekelilingNya. Ia menjadi jenuh dan ingin melihat dunia luar. Ia merasa penasaran untuk mengetahui kehidupan rakyat dan hal-hal di luar tembok istana. Setelah mendapatkan ijin dari ayahNya, Ia akhirnya keluar istana ditemani oleh Channa, kusir-Nya. Orang-orang ramai berdiri di kedua sisi jalan dan menyambut-Nya dengan hangat. Semuanya terasa semarak dan indah karena telah diperintahkan oleh raja untuk menyingkirkan hal-hal yang buruk dari tempat yang akan dilalui oleh pangeran.

    Namun tidak lama kemudian, tiba-tiba seorang lelaki tua melintas di sepanjang jalan tanpa sempat dicegah. Sang pangeran sangat terkejut dengan apa yang tampak oleh-Nya. Ia sangat terkesima dan tidak mengetahui apa yang tengah dilihat-Nya, dan Ia bertanya kepada kusir-Nya, Channa, apa yang telah dilihatNya itu. Channa menjelaskan bahwa itu disebut dengan orang tua, orang yang tidak akan hidup lama lagi, dan semua orang tanpa kecuali akan mengalami hal itu tanpa bisa dicegah. Pangeran Siddhattha segera memerintahkan Channa untuk kembali ke istana karena Ia menjadi tidak bergairah lagi untuk berkeliling kota . Ia sangat sedih dan terguncang pikirannya oleh apa yang dilihat-Nya. Ia berpikir bahwa diri-Nya sendiri, istri-Nya, ayah-Nya, ibu angkat-Nya, dan semua orang yang dicintai-Nya akan menjadi tua. Ia ingin tahu apakah ada yang bisa mencegah dan mengatasi usia lanjut ini.

    Mendengar apa yang terjadi pada putranya, raja menjadi khawatir dan sedih. Ia memerintahkan orang-orangnya untuk menambah penjaga di sekitar tempat itu dan untuk menambah pelayan wanita dan gadis penari untuk menghibur sang pangeran sepanjang waktu.

    MELIHAT PERISTIWA AGUNG KEDUA: ORANG SAKIT

    Empat bulan kemudian, Pangeran Siddhattha sekali lagi memohon kepada ayah-Nya untuk keluar istana. Namun Ia tidak ingin kunjungannya diumumkan atau dipersiapkan karena Ia ingin melihat segala hal, termasuk kehidupan sehari-hari rakyat-Nya. Raja Suddhodana mengijinkan-Nya dengan berat hati karena masih merasa gundah terhadap apa yang terjadi selama kunjungan pertama pangeran. Namun, karena cinta dan kasihnya kepada putranya, ia mengijinkan pangeran melakukan kunjungan untuk kedua kalinya.

    Hari kunjungan pun tiba. Ditemani oleh Channa, pangeran menyamar sebagai pemuda dari keluarga bangsawan. Ia berjalan kaki melihat-lihat kehidupan rakyatnya secara apa adanya. Tidak ada penyambutan, panji-panji ataupun penebaran bunga. Semua rakyat sibuk dengan pekerjaannya sendiri untuk mencari penghidupan. Namun ketika Ia tengah berjalan, tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki yang menangis tersedu-sedu karena kesakitan. Pangeran mencari sumber suara itu dan menemukan seorang lelaki yang sedang berbaring di tanah sambil memegang perutnya dan berguling-guling kesakitan, wajahnya penuh dengan noda-noda hitam. Ia berusaha memohon pertolongan, tetapi tidak ada yang memperdulikannya, sebaliknya orang-orang menghindarinya. Melihat hal ini pangeran merasa terguncang untuk kedua kalinya. Dengan penuh welas asih pangeran segera mendekati orang itu, tanpa bisa dicegah oleh Channa. Pangeran yang memangku kepala orang itu berusaha menenangkan dan bertanya apa yang terjadi, namun tanpa sepatah katapun keluar dari mulut orang itu. Akhirnya pangeran bertanya kepada Channa apa yang telah terjadi. Dan Channa pun menjawab bahwa orang itu sedang sakit dan semua orang tanpa kecuali akan mengalami hal itu. Mendengar hal itu, Pangeran Siddhattha sangat sedih mengetahui semua fenomena duniawi ini. Lalu, bersama dengan Channa , Ia kembali ke istana karena tidak lagi bersemangat meneruskan kunjungan-Nya.

    Setelah mengetahui apa yang telah terjadi selama kunjungan pangeran dari Channa, Raja Suddhodana kembali menjadi sedih dan memerintahkan kembali untuk memperbanyak penjaga dan jumlah pelayan dan gadis penari.

    MELIHAT PERISTIWA AGUNG KETIGA: ORANG MATI

    Dengan menikmati kesenangan dan kemewahan hidup istana setelah kunjungan kedua, perasaan desakan spiritual yang dirasakan-Nya menjadi sedikit berkurang. Tetapi sekitar empat bulan kemudian, Pangeran Siddhattha kembali memohon untuk keluar dari istana untuk melihat kotanya kembali lebih dekat. Dengan berat hati raja pun mengijinkannya.

    Seperti halnya kunjungan kedua, pangeran menyamar sebagai pemuda dari keluarga bangsawan dan juga ditemani oleh Channa yang juga berpakaian berbeda untuk menyembunyikan identitasnya. Di tengah perjalanan, tampak oleh-Nya iring-iringan orang tiba di jalan. Orang-orang tersebut mengusung sebuah tandu yang di dalamnya terdapat seorang lelaki kurus kering terbujur kaku dan ditutupi sehelai kain serta diiringi oleh orang-orang yang menangis. Merasa heran, pangeran bertanya kepada Channa mengenai orang yang terbaring di dalam tandu tersebut. Channa pun menjelaskan bahwa orang itu telah mati, semua orang pasti akan mati tanpa terkecuali.

    Pemandangan yang tidak menyenangkan ini terjadi tanpa seorang pun mampu untuk mencegahnya. Pemandangan ini sungguh menyentuh hati pangeran selama kunjungan-Nya yang ketiga itu. Pangeran Siddhattha tidak lagi bergairah meneruskan kunjungan-Nya. Diiringi oleh Channa, dengan diam Ia kembali ke istana dan memasuki kamar-Nya sendirian. Ia duduk dan merenungkan dalam-dalam apa yang baru saja dilihat-Nya. Dalam hati Ia berkata: “Alangkah mengerikannya! Setiap orang kelak akan mati dan tak seorang pun mampu mencegahnya. Harus ada cara untuk mengatasi hal ini. Akan Kucari cara agar ayah, ibu, Yasodhara, dan semua kerabat-Ku yang tercinta tak akan pernah menjadi tua, sakit, dan mati.”

    Channa kembali mengabarkan kepada raja bahwa pangeran buru-buru pulang setelah melihat mayat. Mendengar hal ini raja kembali menjadi sedih. Walaupun ia telah berusaha sekuatnya untuk mencegah putranya agar tidak melihat hal-hal yang tidak menyenangkan, penampakan yang tak terduga terjadi untuk ketiga kalinya sebagaimana yang diramalkan oleh kedelapan brahmana.

    MELIHAT PERISTIWA AGUNG KEEMPAT: PETAPA

    Pangeran Siddhattha lebih sering menyendiri dan merenungkan ketiga pemandangan yang telah dijumpai-Nya selama berkunjung ke kota . Namun, karena merasa belum puas dengan apa yang telah Ia ketahui sekarang, Ia menjadi sangat penasaran ingin mengetahui lebih lanjut sisi lain kehidupan, yang mungkin belum pernah dilihat-Nya. Sementara itu Raja Suddhodana senantiasa berusaha menyenangkan dan mengalihkan pikiran pangeran dari ketiga peristiwa tersebut. Untuk beberapa bulan, usaha raja nampak berhasil. Tetapi sifat ingin tahu dan suka merenung dari pangeran tidak mudah tergoyahkan oleh sumua hiburan yang ada dalam istana. Dan Empat bulan kemudian, Ia kembali memohon kepada ayah-Nya untuk diperkenankan keluar istana lagi untuk berwisata ke taman kerajaan dan melihat sisi lain dari kehidupan. Raja tidak memiliki alasan apapun untuk menolak permohonan santun putranya itu.

    Ditemani oleh Channa, pangeran menuju taman istana melalui Kota Kapilavatthu. Setelah sampai di taman dan ketika pangeran tengah duduk dan menikmati taman tersebut, tampak oleh-Nya seorang lelaki dengan kepala yang dicukur bersih datang dari kejauhan. Dan pangeran pun bertanya kepada Channa siapakah orang itu. Channa menjawab bahwa oran itu adalah seorang petapa, seseorang yang meninggalkan kehidupan berkeluarga. Pangeran merasa terdorong untuk mengetahui lebih lanjut siapa petapa itu. Bagi-Nya, petapa itu tampak mengagumkan dan mulia, tidak seperti orang lainnya. Pangeran yang merasa tidak puas dengan jawaban Channa, mendekati petapa itu dan bertanya mengenai diri petapa tersebut. Petapa itu pun menjelaskan prihal dirinya.

    Setelah pangeran mendengar penjelasan prihal diri petapa tersebut, bagaimana ia hidup, dan bagaimana ia menemukan jalan kebahagiaan atas dirinya, pangeran merasa bahagia dan menyadari bahwa adanya jalan sejati untuk mengatasi penderitaan hidup.

    LAHIRNYA RÃHULA

    Ketika Pangeran Siddhattha masih di dalam taman dan benak-Nya dipenuhi dengan gagasan untuk hidup bersih dan murni sebagai petapa, seorang kurir kerajaan yang diutus oleh Raja Suddhodana mengabarkan bahwa Putri Yasodhara telah melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan. Mendengar kabar ini, pangeran justru bersedih hati dan berujar: “Sebuah belenggu telah terlahir bagi-Ku; ikatan besar telah timbul bagi-Ku ( Rãhulajãto, bandhanam jãtam )!” Kelahiran tersebut merupakan halangan karena ia mencintai keluarga dan anak-Nya yang baru lahir. Ia berpendapat bahwa kemelekatan pada keluarga dan putra-Nya akan merintangi niat-Nya untuk menjadi petapa, seperti yang Ia inginkan. Mengetahui apa yang diutarakan pangeran saat menerima berita itu, Raja Suddhodana kemudian memberi nama bayi itu “Rãhula”, yang berarti “belenggu”.

    RIWAYAT HIDUP BUDDHA GOTAMA

    PELEPASAN KEDUNIAWIAN

    Keempat peristiwa agung terjadi satu per satu. Apa yang telah diramalkan kedelapan brahmin cendekia menjadi kenyataan.

    Di istana kediamannya, Raja Suddhodana tengah mengadakan pesta besar-besaran. Makan malam besar disajikan dan beberapa pelayan wanita cantik disiapkan untuk melayani sang pangeran untuk merayakan kelahiran cucu Raja Suddhodana – Rãhula, yang lahir pagi itu.

    Sang pangeran, yang baru saja kembali dan perjalanan-Nya yang berbahagia, tampak lebih bahagia dibandingkan perjalanan sebelumnya. Ia berbahagia karena mengetahui bahwa cara untuk mencapai kebahagiaan sejati adalah dengan melepaskan keduniawian dan menjadi petapa.

    Bagaimanapun juga, pangeran tidak ingin mengecewakan ayah-Nya. Dengan tenang Ia menyantap makan malam tanpa merasa tertarik dengan nyanyian dan tarian yang disuguhkan untuk-Nya. Benak-Nya dipenuhi dengan keinginan untuk membebaskan semua makhluk dan usia tua, penyakit, dan kematian, yang semuanya menyengsarakan, menekan, dan menyedihkan.

    MENINGGALKAN ISTANA

    Sekitar pertengahan malam, Pangeran Siddhattha terbangun. Ia duduk bersilang kaki di bangku, lalu melihat sekeliling. Semua gadis penari, penyanyi, dan pemusik tengah tidur mlang melintang di lantai kamar itu. Pangeran merasa sangat jijik dengan pemandangan ini; mereka semua tak ada bedanya dengan mayat di pekuburan.

    Pangeran Siddhattha, semakin tak melekat pada kelima objek kenikmatan indrawi, yang semuanya bukan merupakan kebahagiaan sejati, namun sebaliknya menimbulkan kesulitan dan derita yang lebih mendalam.

    Tekad Pangeran Siddhattha semakin kuat. Inilah waktunya untuk meninggalkan kehidupan rumah tangga. Ia lalu meninggalkan kamar itu perlahan-lahan dan Ia melihat Channa, yang tengah tidur dengan membaringkan kepalanya di ambang pintu. Pangeran Siddhattha membangunkannya dan meminta untuk mempersiapkan Kanthaka, kuda-Nya.

    Channa menaati permintaan-Nya. Segera Ia membawa tali kekang dan beberapa perlengkapan lainnya yang dibutuhkan, lalu menuju ke kandang kuda kerajaan. Sementara itu, Pangeran Siddhattha merasa bahwa Ia perlu menengok isteri dan putra-Nya yang baru lahir sebelum meninggalkan keduniawian.

    Dengan hati penuh cinta, pangeran berdiri diam di pintu sambil memandangi mereka. Ia tak berani memindahkan tangan Putri Yasodhara dan menimang putra-Nya kendatipun Ia sangat ingin melakukannya, karena Ia tidak menginginkan Putri Yasodhara terjaga dan tidak mengijinkan-Nya pergi. Setelah bertekad bulat, Ia keluar dan kamar tersebut dan menutup pintu perlahan-lahan.

    Channa dan Kanthaka sudah siap dan menunggu pangeran di depan istana kediaman-Nya. Pada malam purnama, bulan Asalha, 594 S.M, di usia ke 29 tahun, pada waktu jaga pertengahan malam, diam-diam Pangeran Siddhattha meninggalkan istana dengan menunggangi Kanthaka. Channa, yang terlahir pada hari yang sama dengan sang pangeran, ikut meninggalkan istana dengan berpegangan pada ekor kuda tersebut. Mereka berhasil menerobos ketatnya penjagaan dan meninggalkan Kota Kapilavatthu.

    MEMOTONG RAMBUT

    Pangeran Siddhattha menunggangi si kuda putih Kanthaka yang melesat dengan kencang. Namun setelah sesaat perjalanan, sebuah gagasan muncul pada-Nya untuk memandangi Kapilavatthu. Ia menghentikan kuda istana itu dan membalikkan badan untuk memandangi kota tersebut untuk terakhir kalinya. Tepat di tempat kuda istana Kanthaka berhenti itu akhirnya dibangun sebuah kuil suci (cetiya) yang disebut Cetiya Kanthakanivatta. Setelah itu, Ia melanjutkan perjalanan-Nya melewati tiga kerajaan, yaitu: Sãkya, Koliya, dan Malla. Sepanjang malam, Ia menempuh jarak sejauh tiga puluh yojana (satu yojana setara dengan dua belas mil) Akhirnya Ia tiba di tepi Sungai Anoma dan menyeberanginya.

    Saat itu hari telah pagi. Pangeran Siddhattha turun dan punggung Kanthaka. Ia meminta Channa untuk pulang kembali ke Kapilavatthu bersama dengan Kanthaka serta tanda kebesaran kerajaan, dan meninggalkan-Nya seorang diri. Channa memohon untuk mengikuti-Nya menjadi petapa, tapi Pangeran Siddhattha melarangnya. Setelah Pangeran Siddhattha menyerahkan Kuda Kanthaka beserta tanda kebesaran kerajaan-Nya, Ia menghunus pedang dan memotong rambut-Nya yang panjang. Lalu, dilemparkan-Nya rambut itu ke udara. Kini rambut-Nya sepanjang lebar dua jari dan tidak memanjang lagi sampai akhir hayat-Nya.

    Setelah itu, Ia menukar pakaian-Nya dengan pakaian petapa, dan Ia memerintahkan Channa untuk segera kembali ke Kapilavatthu. Channa memberi sembah kepada Bodhisatta dengan sangat hormat, membawa serta tanda kebesaran kerajaan dan kuda kerajaan Kanthaka, lalu pergi meningggalkan Bodhisatta seorang diri.

    Dalam perjalanan pulang, Kanthaka yang bersedih sejak perpisahan itu, tidak lagi dapat menahan dukanya, dan akhirnya meninggal di perjalanan. Setelah berpisah dengan dua sahabat akrabnya, Channa akhirnya melanjutkan perjalanan ke Kapilavatthu sambil meratap dan menangis.

    RIWAYAT HIDUP BUDDHA GOTAMA

    MENJALANI PERTAPAAN

    Setelah menjadi petapa, Bodhisatta tinggal di hutan mangga yang disebut Anupiya tidak jauh dari Sungai Anomã selama 7 hari pertama, dan kemudian Ia pergi menuju ke Rajagaha, ibukota Kerajaan Magadha. Di Rajagaha, Ia menolak tawaran Raja Bimbisara yang akan memberikan separuh kekuasaannya setelah mengetahui identitas Bodhisatta.

    Setelah itu, Ia melanjutkan perjalanan dengan menuruni Bukit Pandava dan menuju ke Kota Vesali, tempat seorang guru agama yang ternama, Alara Kalama yang tinggal bersama para siswanya. Di sana Bodhisatta bergabung dan menjadi siswa dari Alara Kalama.

    Dalam waktu singkat karena memiliki kepandaian yang luar biasa, Bodhisatta telah mampu menguasai ilmu yang diajarkan oleh Alara Kalama bahkan mencapai pencapaian yang sama dengan guru-Nya itu. Namun setelah merenungkan sifat dan manfaat dari pencapaian-Nya ini, Ia menyimpulkan bahwa ajaran yang Ia praktikkan tersebut tidaklah membawa pada Pembebasan Sejati. Oleh karena itu Ia mohon pamit kepada guru-Nya untuk melanjutkan pencariannya atas jawaban terhadap persoalan hidup dan mati, usia tua, dan penyakit, yang senantiasa dipikirkan-Nya.

    Kemudian Bodhisatta meninggalkan Vesali dan berjalan menuju Negeri Magadha. Ia menyeberangi Sungai Mahi, dan sejenak kemudian sampai di sebuah pertapaan lain di tepi sungai itu. Pertapaan itu dipimpin oleh seorang guru agama yang sangat dihormati. Bernama Uddaka Ramaputta (Uddaka, putra Rama). Kemudian Bodhisatta pun bergabung dan menjadi siswa dari Uddaka Ramaputta. Dalam waktu yang singkat pula, Ia mampu menguasai ilmu yang diajarkan oleh Uddaka Ramaputta bahkan melampauinya. Namun, Bodhisatta segera mengetahui bahwa pencapaian-Nya itu bukanlah apa yang Ia cari. Karena tidak puas dengan pencapaian-Nya itu. Ia meninggalkan pertapaan Uddaka Ramaputta.

    PRAKTIK PERTAPAAN YANG KERAS

    Setelah meninggalkan pertapaan Uddaka Ramaputta, Petapa Gotama menuju ke Senanigama (kota niaga Senani) di Hutan Uruvela. Ketika disanalah Petapa Gotama bertemu dengan 5 orang petapa (pancavaggiya) yang terdiri dari Kondanna, Vappa, Mahanama, Assaji dan Bhaddiya.

    Selama di Hutan Uruvela, Petapa Gotama menjalankan latihan tapa yang paling berat (dukkaracariya), yang sulit dipratikkan oleh orang biasa. Ia menyatakan tekad usaha kuat beruas empat yang dikenal sebagai padhana-viriya, sebagai berikut: “Biarlah hanya kulit-Ku yang tertinggal! Biarlah hanya urat daging-Ku yang tertinggal! Biarlah hanya tulang belulang-Ku yang tertinggal! Biarlah daging dan darah-Ku mengering!” Dengan tekad ini, Ia tak akan mundur sejenak pun, namun akan melakukan usaha sekuat tenaga dalam praktik itu.

    Dalam praktik pertapaan yang keras tersebut, Petapa Gotama berlatih untuk mengurangi makan sedikit demi sedikit hingga tidak makan sama sekali. Karena melakukan hal tersebut, tubuh-Nya berangsur-angsur menjadi semakin kurus dan akhirnya hanya tinggal tulang belulang. Karena kurang makan, sendi-sendi dalam tubuh dan anggota tubuh-Nya menyembul seperti sendi rerumputan atau tanaman menjalar yang disebut asitika atau kala (Latin: Polygonum aviculare dan S. lacustris).

    Enam tahun sudah Petapa Gotama menjalankan pertapaan yang keras dan tiba pada tahap kritis dimana Ia berada di ambang kematian. Hingga suatu hari ketika berjalan-jalan, Ia pingsan dan terjerembab karena tubuh-Nya dilanda panas yang tak tertahankan dan karena kurang makan berhari-hari. Ketika itu, seorang anak laki-lagi pengembala kebetulan lewat di tempat terjatuhnya Petapa Gotama. Setelah membangunkan Petapa Gotama, anak gembala itu menyuapkan air susu kambing bagi-Nya.

    MENCARI JALAN LAIN UNTUK MENCAPAI PENCERAHAN

    Pada suatu sore, Petapa Gotama merenungkan bahwa Ia telah pulih kembali dan merasa lebih segar setelah jatuh pingsan pada hari sebelumnya – berkat susu kambing yang diberikan oleh anak laki-laki gembala itu. Jika tidak demikian, pastilah Ia sudah mati. Tatkala merenung seperti itu, sekelompok gadis penyanyi yang tengah berjalan menuju kota berlalu di dekat tempat Ia bermeditasi. Seraya berjalan, mereka berdendang: “Jika dawai kecapi ditala terlalu longgar, suaranya tak akan muncul. Jika dawai ditala terlalu kencang, dawai akan putus. Jika dawai ditala tidak terlalu longgar dan tidak terlalu kencang, kecapi akan menghasilkan suara merdu.”

    Batin Petapa Gotama sungguh tergugah oleh syair tembang yang dilantunkan para gadis itu. Ia telah terlalu banyak menikmati kepuasan indrawi dengan segala kemewahannya selagi masih tinggal di istana dulu. Sebagaimana halnya dawai kecapi yang ditala terlalu longgar, demikian pula Pencerahan tak akan tercapai dengan pemanjaan diri. Ia juga telah menjalankan tapa sedemikian ketat hingga hampir mati. Sebagaimana halnya dawai kecapi yang ditala terlalu kencang, demikian pula Pencerahan tak dapat dicapai melalui penyiksaan diri.

    Waktu itu adalah hari pertama bulan mati, Vesak, 588 S.M, ketika timbul pemikiran dalam diri Petapa Gotama yang menyadari bahwa praktik keras yang Ia lakukan selama ini tidaklah membawa pada Pencerahan. Setelah berpikir demikian, sejak saat itu Petapa Gotama selalu menuju ke kota niaga Senani untuk menerima dana makanan serta makan setiap pagi guna memulihkan kondisi tubuhnya. Dengan demikian Ia bisa melanjutkan pencarianNya dengan menggunakan latihan pengembangan anapana bhavana (meditasi memperhatikan napas) yang telah Ia lakukan semasa kecil di hari “Perayaan Bajak Kerajaan” yang diselenggarakan oleh ayah-Nya, Raja Suddhodana.

    Kelima petapa, yang selama ini melayani Bodhisatta selama enam tahun dengan pengharapan yang tinggi, mulai berpikir: “Apa pun kebenaran yang telah disadari oleh Bodhisatta akan diajarkan-Nya kepada kami.” Namun sekarang, ketika tampak oleh mereka bahwa Bodhisatta telah mengubah cara latihan-Nya dengan menerima makanan apa pun yang dipersembahkan untuk-Nya, mereka menjadi muak dan menggerutu: “Bodhisatta telah memanjakan diri sendiri; Ia telah berhenti berjuang dan kembali menikmati kemewahan.”

    Setelah itu, kelima petapa meninggalkan-Nya dan menuju ke Migadaya, Taman Rusa, di Isipatana, dekat Bãranasi (Benares). Setelah para petapa yang melayani-Nya meninggalkan diri-Nya, Petapa Gotama hidup menyendiri di Hutan Uruvela. Walaupun kehadiran mereka semasa perjuangan keras-Nya cukup membantu, namun Ia tidak berkecil hati ditinggalkan sendirian sekarang; malahan ini menguntungkan diri-Nya. Ia berdiam dalam suasana yang sangat terpencil, yang mendukung tercapainya kemajuan yang luar biasa serta pengembangan konsentrasi-Nya.

    IWAYAT HIDUP BUDDHA GOTAMA

    PENCAPAIAN PENCERAHAN SEMPURNA

    Setelah Petapa Gotama menerima persembahan nasi susu dari Sujata di pagi hari, pada hari keempat belas bulan Vesak, 588 S.M, Bodhisatta kemudian pergi menuju hutan sala di tepi Sungai Neranjara. Di sana Ia beristirahat sejenak dan melewati sisa hari itu di bawah naungan rindang sebatang pohon sãla sambil berkonsentrasi dalam anapana bhavana. Pada senja sore hari itu, kala udara terasa sejuk dan angin berhembus sepoi-sepoi, Ia menuju ke Hutan Gaya, ke kaki pohon bodhi (Pali: assattha; Latin: Ficus religiosa).

    Dalam perjalanan, Ia bertemu dengan seorang penyabit rumput bernama Sotthiya, yang tengah datang dan arah yang berlawanan seraya memikul rumput. Dia sangat terkesan oleh penampilan agung Petapa Gotama. Setelah tahu bahwa Petapa Gotama memerlukan sedikit rumput, dia lalu mempersembahkan delapan genggam rumput kusa kepada-Nya.

    Sesampainya di pohon bodhi, Petapa Gotama memeriksa sekeliling untuk mencari tempat yang sesuai untuk bermeditasi. Setelah itu, Petapa Gotama duduk bersilang kaki dengan menghadap ke timur. Ia menyatakan tekad-Nya yang bulat: “Walaupun hanya kulit, urat daging, dan tulang-Ku yang tertinggal! Biarpun seluruh tubuh, daging, dan darah-Ku mengering dan berkerut! Aku tidak akan bangkit dari tempat duduk ini kecuali dan sampai Aku mencapai Kebuddhaan!”

    Setelah mengalami pergulatan batin yang berat selama beberapa waktu, akhirnya Petapa Gotama berhasil menundukkan rasa ngeri, keinginan duniawi, niat buruk, dan kekejaman. Kemenangan-Nya atas pergulatan batin ditandai dengan berjajarnya bulan purnama yang tengah menyingsing di ufuk timur dengan bulatan merah matahari yang tengah terbenam di ufuk barat. Bodhisatta akhirnya mengetahui bahwa itulah saat yang tepat untuk meneruskan perjuangan-Nya mencapai Pencerahan Agung. Pada malam bulan purnama, bulan Vesak, 588 M, Bodhisatta tetap duduk tenang memusatkan perhatian-Nya.

    Setelah Ia memasuki jhana pertama, kedua, ketiga dan keempat dalam meditasi-Nya, pikiran-Nya yang terkonsentrasi menjadi murni, cermelang, tanpa noda, tanpa cacat, mudah ditempa, mudah dikendalikan, serta tak tergoyahkan. Saat itu Ia mengarahkan pikiran-Nya dan mencapai tiga pengetahuan.

    Pengetahuan pertama merupakan pengetahuan melihat dengan jelas dan rinci kelahiran-kelahiran-Nya yang terdahulu (pubbenivasanussati ñana). Hal ini terjadi pada waktu jaga pertama, yaitu antara jam 18.00 sampai 22.00.

    Pengetahuan kedua merupakan pengetahuan melihat dengan jelas kematian dan tumimbal lahir kembali makhluk hidup (dibbacakkhu ñana). Ia melihat makhluk-makhluk lenyap dan muncul kembali dalam kondisi rendah dan mulia, cantik dan buruk, mujur dan sial. Hal ini terjadi pada waktu jaga kedua, yaitu antara jam 22.00 sampai 02.00.

    Pengetahuan ketiga merupakan pengetahuan akan penghancuran noda (asavakkhaya ñãna). Ia mengetahui secara langsung segala sesuatu sebagaimana adanya. Ia menyadari dan mencerap bahwa pikiran-Nya terbebas dari noda keinginan indrawi, noda kehidupan, dan noda kebodohan batin. Dan ketika Ia terbebas, muncullah pengetahuan bahwa Ia telah terbebas. Ia menyadari langsung bahwa kelahiran-Nya sudah dihancurkan; hidup suci sudah dijalankan; apa yang harus dilakukan sudah dilakukan; tiada lagi kelahiran kembali di alam mana pun juga. Hal ini terjadi pada waktu jaga ketiga, yaitu antara jam 02.00 sampai 04.00. Ia mengetahui bahwa “inilah penderitaan”, bahwa “inilah sumber penderitaan”, bahwa “inilah berakhirnya penderitaan”, dan bahwa “inilah jalan menuju akhirnya penderitaan”.

    Dengan tercapainya Pengetahuan Sejati Ketiga maka Bodhisatta mencapai Arahatta-Magga, menjadi Yang Sadar (Buddha), Yang Terberkahi (Bhagava), Yang Tercerahkan Sempurna (Sammasambuddha). Seiring dengan Pencerahan-Nya, Buddha juga memperoleh penegtahuan sempurna tentang Empat Kebenaran Ariya (Cattari Ariya Saccani).

    Demikianlah menjelang fajar pada hari bulan purnama, Vesak 588 S.M, pada usia tiga puluh lima tahun, Bodhisatta mencapai Kemahatahuan dan menjadi Buddha dari tiga dunia dengan usaha-Nya sendiri.

    UNGKAPAN KEBAHAGIAAN

    Dengan tercapainya Pencerahan Sempurna, Sang Buddha mengungkapkan kebahagiaan-Nya dengan melontarkan dua bait syair nyanyian pujian kebahagiaan (udana).

    “Tak terhingga kali kelahiran telah Kulalui

    Untuk mencari, namun tak Kutemukan, pembuat rumah ini.

    Sungguh menyedihkan, terlahir berulang kali!”

    “O pembuat rumah! Sekarang engkau telah terlihat!

    Engkau tak dapat membuat rumah lagi!

    Semua kasaumu telah dihancurkan!

    Batang bubunganmu telah diruntuhkan!

    Kini batin-Ku telah mencapai Yang Tak Terkondisi!

    Tercapai sudah berakhirnya nafsu keinginan!”

    RIWAYAT HIDUP BUDDHA GOTAMA

    PEMUTARAN RODA DHAMMA

    Setelah mencapai Pencerahan Sempurna, muncul dalam pikiran-Nya mengenai betapa dalamnya, sungguh halus Dhamma yang telah ditemukan-Nya. Ia mempertanyakan apakah manusia dapat memahaminya. Namun setelah dengan welas asih-Nya Ia melihat bahwa ada manusia yang dapat memahami Dhamma yang ditemukan-Nya, maka Sang Bhagava memiliki niat kuat untuk menyebarkan Dhamma. Kemudian Ia berkata: “Pintu menuju tiada kematian, Nibbana, sekarang telah tebuka. Akan Kubabarkan Dhamma kepada semua makhluk agar mereka yang memiliki keyakinan dan pendengaran yang baik bisa sama-sama memetik manfaatnya.”

    Setelah memantapkan niat untuk mengajarkan Dhamma, Sang Bhagava lalu menimbang-nimbang kepada siapakah Ia perlu mengajarkan Dhamma untuk pertama kalinya, siapakah yang akan segera memahami Dhamma yang Ia temukan. Lalu Ia berpikir bahwa Alara Kalama, salah satu guru-Nya adalah orang yang bijaksana, terpelajar, dan berpikiran tajam, serta sedikit debu saja di matanya. Jika Ia mengajarkan Dhamma pertama kalinya kepadanya, Alara Kalama akan segera memahaminya. Namun kemudian Sang Bhagava mengurungkan niat-Nya setelah menyadari bahwa Alara Kalama telah meninggal tujuh tahun yang lalu.

    Kemudian, Sang Bhagava berpikir tentang guru-Nya yang lain, Uddaka Ramaputta, namun lagi-lagi Sang Bhagava mengurungkan niat-Nya setelah menyadari bahwa Uddaka Ramaputta telah meninggal kemarin malam.

    Akhirnya Sang Bhagava memikirkan kelima petapa (pancavaggiya) yang melayani-Nya semasa Ia melakukan tapa berat di Hutan Uruvela. Dengan Mata Buddha-Nya yang murni melampaui kemampuan pandang manusia, Ia mengetahui bahwa mereka tengah berdiam di Taman Rusa di Isipatana, di Petirahan Para Waskita, dekat Baranasi. Demikianlah, setelah tinggal di Uruvela selama yang dikehendaki-Nya, Ia berjalan menuju Baranasi, yang berjarak delapan belas yojana.

    LIMA SISWA PERTAMA

    Pada senja yang sejuk, hari bulan purnama Asalha, 588 S.M, Sang Bhagava tiba di Migadaya, Taman Rusa di Isipatana. Kemudian, ketika kelima petapa melihat Sang Bhagava semakin dekat, mereka mulai memperhatikan bahwa Ia tidak tampak seperti Petapa Gotama yang dulu mereka layani di Hutan Uruvela selama enam tahun. Mereka melihat bahwa tubuh-Nya bercahaya cemerlang tiada banding, dan mereka juga mendapatkan kesan tenteram dan damai dari diri-Nya. Tak seorang pun di antara mereka yang sadar apa yang tengah terjadi karena mereka akhirnya tak kuasa menaati kesepakatan awal mereka yang menolak menghormati-Nya. Dengan segera mereka berdiri. Salah satu mendekati-Nya dan membawakan mangkuk serta jubah luar-Nya; yang lain menyiapkan tempat duduk; yang lainnya membawakan air, tatakan kaki, dan handuk untuk mencuci kaki-Nya. Dan setelah Sang Bhagava duduk, mereka memberikan hormat dan menyapa-Nya.

    Setelah itu, Sang Bhagava menyatakan bahwa diri-nya telah berhasil mengatasi kelahiran dan kematian dalam hidup ini dan akan mengajarkan Dhamma yang Ia temukan kepada mereka. Dan setelah kelima petapa itu dapat diyakinkan oleh Sang Bhagava, kelima petapa itu duduk diam, dan siap menerima petunjuk-Nya.

    Sang Bhagava membabarkan kotbah pertama-Nya, Dhammacakkappavattana Sutta (Kotbah Mengenai Pemutaran Roda Dhamma). Dalam khotbah ini, Sang Bhagava membabarkan kepada kelima petapa tersebut bahwa terdapat dua ekstrem – yaitu pemanjaan diri dan penyiksaan diri – yang harus dihindari oleh orang yang telah meninggalkan keduniawian. Ia membabarkan Empat Kebenaran Mulia. Ia juga menunjukkan latihan Jalan Tengah, yang terdiri dan delapan faktor, yaitu Jalan Mulia Berfaktor Delapan.

    Kelima petapa mendengarkan dengan saksama dan membuka hati mereka terhadap ajaran-Nya. Dan ketika khotbah itu tengah dibabarkan, pandangan tanpa noda dan murni terhadap Dhamma muncul dalam diri Kondañña. Ia memahami: “Apa pun yang muncul, pasti akan berlalu (yam kiñci samudayadhammam sabbam tam nirodhadhammam)”. Demikianlah, ia menembus Empat Kebenaran Mulia dan mencapai tataran kesucian pertama (Sotapatti) pada akhir pembabaran itu. Karena itu, ia juga dikenal sebagai Aññata Kondañña – Kondañña yang mengetahui. Lalu ia memohon penahbisan lanjut (upasampada) kepada Sang Bhagava. Untuk itu, Sang Bhagava menahbiskannya dengan berkata: “Mari, Bhikkhu! Dhamma telah dibabarkan dengan sempurna. Jalanilah hidup suci demi berakhirnya penderitaan secara penuh”. Dengan demikian, ia menjadi bhikkhu pertama dalam Buddha Sasana melalui penahbisan Ehi Bhikkhu Upasampadã, “Penahbisan Mari Bhikkhu”.

    Setelah itu, tatkala ketiga petapa lainnya pergi menerima dana makanan, Sang Bhagava mengajarkan dan memberikan bimbingan Dhamma kepada Vappa dan Bhaddiya. Mereka akhirnya menjadi murni dan mencapai tataran kesucian Sotapatti. Dengan segera mereka memohon untuk ditahbiskan sebagai bhikkhu di bawah bimbingan¬Nya. Keesokan harinya, Mahanama dan Assaji juga menembus Dhamma dan menjadi Sotapanna. Tanpa jeda lagi mereka juga memohon penahbisan lanjut dari Sang Bhagava dan menjadi bhikkhu. Dengan demikian, kelima petapa itu menjadi lima siswa bhikkhu yang pertama, yang juga dikenal sebagai “Bhikkhu Pancavaggiya” Sejak saat itu, Persamuhan Bhikkhu (Sangha Bhikkhu) terbentuk.

    Setelah kelima bhikkhu itu menjadi Sotapanna, pada hari kelima Sang Bhagava membabarkan Anattalakkhana Sutta (Khotbah Mengenai Tiadanya Inti Diri), yang dibabarkan sebagai tanya-jawab antara Sang Bhagava dan kelima siswa suci-Nya. Pada intinya, Ia menyatakan bahwa bentuk (rüpa), perasaan (vedanna), pencerapan (sañña), bentukan batin (sañkhara), dan kesadaran (viññana) adalah selalu berubah; dan apa yang selalu berubah tidaklah memuaskan (dukkha). Kemudian, kesemuanya ini yang selalu berubah dan tidak memuaskan, harus dilihat sebagaimana adanya dengan pengertian benar: “Ini bukan milikku (n’etam mama); ini bukan aku (n’eso’hamasmi); ini bukan diriku (na m’eso atta)”.

    Mendengar kata-kata-Nya, kelima bhikkhu tersebut menjadi gembira dan bahagia. Dan setelah Sang Bhagava membabarkan khotbah mi, pikiran mereka terbebas dan kotoran batin, tanpa kemelekatan; mereka mencapai tataran Arahat.

    PARA MISIONARI BUDDHIS PERTAMA

    Setelah Sang Bhagava memberikan Pencerahan kepada kelima Petapa, Beliau bersama kelima siswa pertama-Nya itu berdiam di Taman Rusa di Isipatana untuk melewati musim hujan. Dan ketika Sang Bhagava sedang berjalan-jalan ditempat terbuka, Ia bertemu putra seorang saudagar kaya, bernama Yasa yang mengalami kegundahan batin terhadap kehidupannya dan pergi dari rumahnya. Yasa tidak lain adalah putra dari Sujata dari Senanigama, seorang wanita yang pernah mempersembahkan nasi susu kepada Bodhisatta sebelum Pencerahan-Nya.

    Setelah bertemu dengan Sang Bhagava, Yasa mendengarkan Dhamma yang dibabarkan oleh Sang Bhagava dengan saksama. Dan ketika batinnya sudah siap, bisa menerima, bebas rintangan, bersemangat, dan yakin, Sang Bhagava membabarkan Empat Kebenaran Arya.

    Ketika ayah Yasa mencari putranya yang telah pergi dari rumah, ia pun bertemu dengan Sang Bhagava. Kemudian Sang Bhagava juga mengajarkannya ajaran bertahap dan Empat Kebenaran Arya seperti yang telah dilakukan-Nya terhadap Yasa. Setelah pembabaran Dhamma selesai, ayah Yasa mencapai Sotapanna dan berlindung pada Tiratana (Buddha, Dhamma dan Sangha), dan Yasa pun mencapai tataran Arahat dan menjadi bhikkhu.

    Selanjutnya berturut-turut, keluarga ibu Yasa dan mantan istri Yasa menembus Dhamma dan menjadi Sotapanna setelah Sang Bhagava mengajarkan Dhamma kepada mereka ketika ayah Yasa mengundang Sang Bhagava ke rumahnya.

    Begitu pula kelima puluh empat teman Yasa yang empat diantaranya adalah sahabat karib Yasa yang bernama Vimala, Subahu, Punnaji, dan Gavampati, mereka juga menerima pengajaran dari Sang Bhagava, menerima penahbisan menjadi bhikkhu, dan mencapai tataran Arahat.

    Demikianlah, pada saat itu terdapat enam puluh satu Arahat di dunia, yaitu, Buddha, Bhikkhu Pancavaggiya, Bhikkhu Yasa, dan kelima puluh empat sahabat Yasa.

    Pada saat berakhirnya tiga bulan masa kediaman musim hujan (vassana), Sang Bhagava telah mencerahkan enam puluh tiga orang. Di antara mereka, enam puluh orang mencapai tataran Arahat dan memasuki Persamuhan Bhikkhu, sementara yang lainnya – ayah, ibu, dan mantan istri Yasa menjadi Sotapanna dan terkukuhkan sebagai siswa awam sampai akhir hayat mereka. Kemudian, Sang Bhagava bermaksud menyebarkan Dhamma kepada semua makhluk di alam semesta, tanpa memandang apakah mereka adalah dewa ataupun manusia, tanpa memandang apakah mereka berkasta tinggi, rendah, atau paria; tanpa memandang apakah mereka raja ataupun pelayan, kaya ataupun miskin, cantik ataupun buruk, sehat ataupun sakit, patuh ataupun tidak patuh pada hukum.

    Kemudian Sang Bhagava berkata kepada keenam puluh bhikkhu Arahant tersebut: “Para Bhikkhu, Saya telah terbebas dan semua ikatan yang mengikat makhluk hidup, baik para dewa maupun manusia. Kalian juga telah terbebas dan semua ikatan yang mengikat makhluk hidup, baik para dewa maupun manusia. Pergilah, para Bhikkhu, demi kesejahteraan dan kebahagiaan banyak makhluk, atas dasar welas asih kepada dunia, demi kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan para dewa dan manusia (caratha, bhikkhave, carikam bahujanahitaya bahujanasukhaya lokanukampaya atthtaya hitaya sukhaya devamanussanam). Janganlah pergi berdua dalam satu jalan! Para Bhikkhu, babarkanlah Dhamma yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya, dan indah pada akhirnya, dalam makna maupun isinya. Serukanlah hidup suci, yang sungguh sempurna dan murni. Ada makhluk dengan sedikit debu di mata yang akan tersesat karena tidak mendengarkan Dhamma. Ada mereka yang mampu memahami Dhamma. Para Bhikkhu, Saya sendiri akan pergi ke Uruvela di Senanigama untuk membabarkan Dhamma.”

    Demikianlah, Yang Terberkahi mengutus keenam puluh siswa¬Nya yang telah tercerahkan untuk mengembara dan satu tempat ke tempat lain. Ini menandakan karya misionari pertama dalam sejarah umat manusia. Mereka menyebarluaskan Dhamma yang luhur atas dasar welas asih terhadap makhluk lain dan tanpa mengharapkan pamrih apa pun. Mereka membahagiakan orang dengan mengajarkan moralitas, memberikan bimbingan meditasi, dan menunjukkan manfaat hidup suci.

    RIWAYAT HIDUP BUDDHA GOTAMA

    EMPAT PULUH LIMA TAHUN MEMBABARKAN DHAMMA

    Setelah Sang Bhagava mengutus keenam puluh siswaNya, Beliau sendiri tetap melanjutkan pembabaran Dhamma tanpa kenal lelah selama empat puluh lima tahun. Selama dua puluh tahun pertama masa pembabaran Dhamma ini, Sang Bhagava melewatkan masa berdiam musim hujan di berbagai tempat. Namun, selama dua puluh lima tahun terakhir, Ia melewatkan sebagian besar masa berdiam-Nya di Savatthi. Berikut adalah kronologi pembabaran Dhamma oleh Buddha selama empat puluh lima tahun.

    Tahun Pertama (588 S.M)

    Tempat kediaman musim hujan:

    Migadaya (Taman Rusa), Isipatana, di dekat Baranasi.

    Peristiwa utama:

    Buddha membabarkan sutta pertama Dhammacakkappavattana Sutta, Anattalakkhana Sutta, dan Adittapariyaya Sutta; mengalihyakinkan kelima petapa (Pancavaggiya); mendirikan Persamuhan (Sangha) Bhikkhu dan Tiga Pernaungan (Tisarana); mengalihyakinkan Yasa dan kelima puluh empat sahabatnya; mengutus para misionari pertama; mengalihyakinkan ketiga puluh pangeran Bhaddavaggiya mengalihyakinkan ketiga Kassapa bersaudara beserta seribu orang pengikut mereka.

    Tahun Kedua Sampai Keempat (587 – 585 S.M)

    Tempat kediaman musim hujan:

    Veluvanarama (Vihara Hutan Bambu), di dekat Rajagaha.

    Peristiwa utama:

    Buddha memenuhi janji kepada Raja Bimbisara; menerima Vihara Veluvana sebagai pemberian dana; menyabdakan Ovada Patimokkha; menunjuk Sariputta dan Moggallana sebagai siswa bhikkhu utama (agga savaka); mengunjungi Kapilavatthu; mempertunjukkan mukjizat ganda (yamaka patihariya); menahbiskan Pangeran Rahula dan Pangeran Nanda; mengukuhkan Raja Suddhodana, Ratu Mahapajapati Gotami, serta Yasodhara ke dalam arus kesucian; menahbiskan keenam pangeran Sakya; bertemu dengan Anathapindika; menerima Vihara Jetavana sebagai pemberian dana; bertemu dengan Raja Pasenadi dari Kosala, mendamaikan sengketa antara suku Sakya dan Koliya; membabarkan Mahasamaya Sutta.

    Tahun Kelima (584 S.M)

    Tempat kediaman musim hujan:

    Kutagarasala (Balairung Puncak), Mahavana, di dekat Vesali.

    Peristiwa utama:

    Wafatnya Raja Suddhodana; Sang Bhagava mengizinkan Ratu Mahapajapati Gotami bersama kelima ratus putri untuk menjadi bhikkhuni; mendirikan Sangha Bhikkhuni; membabarkan Dakkhinavibanga Sutta.

    Tahun Keenam (583 S.M)

    Tempat kediaman musim hujan:

    Mankulapabbata (Bukit Mankula), di dekat Kosambi.

    Peristiwa utama:

    Ratu Khema menjadi bhikkhuni dan kemudian ditunjuk sebagai salah satu dari kedua siswi bhikkhuni utama dengan Uppalavanna; Sang Bhagava melarang mempertunjukkan mukjizat demi keuntungan pribadi dan harga diri mereka sendiri; melakukan mukjizat ganda.

    Tahun Ketujuh (582 S.M)

    Tempat kediaman musim hujan:

    Surga Tavatimsa.

    Peristiwa utama:

    Buddha melakukan mukjizat; membabarkan Abhidhamma di Surga Tavatimsa; Sang Bhagava difitnah oleh Cincamanavika.

    Tahun Kedelapan (581 S.M)

    Tempat kediaman musim hujan:

    Bhesakalavana (Hutan Bhesakala), di dekat Surmsumaragiri, Distrik Bhagga.

    Peristiwa utama:

    Pangeran Bodhirajakumara mengundang Sang Bhagava ke Kokanada, istana barunya, untuk menerima dana makanan; Sang Bhagava membabarkan Punnovada Sutta; Punna mengunjungi Sunaparanta.

    Tahun Kesembilan (580 S.M)

    Tempat kediaman musim hujan:

    Ghositarãma (Wihar2 Ghosita), Kosambi.

    Peristiwa utama:

    Magandiya membalas dendam; sengketa para bhikkhu di Kosambi.

    Tahun kesepuluh (579 S.M)

    Tempat kediaman musim hujan:

    Hutan Rakkhita, di dekat Desa Parileyyaka.

    Peristiwa utama:

    Karena terjadi sengketa yang berkepanjangan di antara para bhikkhu di Kosambi, Sang Bhagava akhirnya menyendiri di Hutan Rakkhita, di dekat Desa Parileyyaka, ditemani oleh gajah Parileyyaka. Pada penghujung kediaman musim hujan tersebut Ananda, atas nama para warga Savatthi, mengundang Sang Bhagava untuk kembali ke Savatthi. Para bhikkhu Kosambi yang bersengketa tersebut kemudian memohon maaf kepada Sang Bhagava dan kemudian menyelesaikan sengketa mereka.

    Tahun Kesebelas (578 S.M)

    Tempat kediaman musim hujan:

    Dakkhinagiri, desa tempat tinggal Brahmin Ekanala.

    Peristiwa utama:

    Buddha mengalihyakinkan Brahmin Kasi Bharadvaja; menuju ke Kammasadamma di Negeri Kuru serta membabarkan Mahasatipatthana Sutta dan Mahanidana Sutta.

    Tahun Kedua Belas (577 S.M)

    Tempat kediaman musim hujan:

    Veranja.

    Peristiwa utama:

    Sang Bhagava memenuhi undangan seorang brahmin di Veranja untuk melewatkan kediaman musim hujan sana. Sayangnya, waktu itu terjadi bencana kelaparan di sana. Akibatnya, Sang Bhagava dan para siswa-Nya hanya memperoleh makanan mentah yang biasanya diberikan kepada kuda yang dipersembahkan oleh sekelompok pedagang kuda.

    Tahun Ketiga Belas (576 S.M)

    Tempat kediaman musim hujan:

    Caliyapabbata (Batu Cadas Caliya).

    Peristiwa utama:

    Setelah melewati kediaman musim hujan, Sang Bhagava menuju ke Bhaddiya untuk mengalihyakinkan sang hartawan Mendaka beserta istrinya yaitu Candapaduma, putranya yaitu Dhananjaya, menantunya yaitu Sumanadevi, pembantunya yaitu Punna, serta Visakha – cucu putrinya yang berumur tujuh tahun; mengalihyakinkan Siha, seorang panglima di Vesali yang sekaligus merupakan pengikut Nigantha Nataputta; membabarkan Maha Rahulovada Sutta.

    Tahun Keempat Belas (575 S.M)

    Tempat kediaman musim hujan:

    Vihara Jetavana, Savatthi.

    Peristiwa utama:

    Rahula, putra dari Pangeran Siddhattha yang kini menjadi Buddha, menerima penahbisan lanjut; Sang Bhagava membabarkan Cula Rahulovada Sutta, Vammika Sutta, dan Suciloma Sutta.

    Tahun Kelima Belas (574 S.M)

    Tempat kediaman musim hujan:

    Nigrodharama Nigrodha (Taman Nigrodha), Kapilavatthu.

    Peristiwa utama:

    Wafatnya Raja Suppabuddha, ayah-mertua Pangeran Siddhattha (Sang Buddha).

    Tahun Keenam Belas (573 S.M)

    Tempat kediaman musim hujan:

    Kota Alavi.

    Peristiwa utama:

    Sang Bhagava mengalihyakinkan Yaksa Alavaka.

    Tahun Ketujuh Belas (572 S.M)

    Tempat kediaman musim hujan:

    Veluvanarama, Kalandakanivapa (suaka alam tempat memberi makan tupai hitam), di dekat Rajagaha.

    Peristiwa utama:

    Buddha membabarkan Singalovada Sutta kepada perumah tangga muda Singalaka.

    Tahun Kedelapan Belas Sampai Kesembilan Belas (571 – 570 S.M)

    Tempat kediaman musim hujan:

    Caliyapabbata (Batu Cadas Caliya).

    Peristiwa utama:

    Sang Bhagava memberikan khotbah kepada seorang gadis penenun beserta ayahnya; Sang Bhagava mengalihyakinkan Kukkutamitta, sang pemburu dan keluarganya.

    Tahun Kedua Puluh (569 S.M)

    Tempat kediaman musint hujan:

    Veluvanarama, di dekat Rajagaha.

    Peristiwa utama:

    Buddha menetapkan aturan-aturan Parajika; menunjuk Ananda sebagai pengiring tetap; pertemuan pertama dengan Jivaka; mengalihyakinkan Angulimala; Sang Bhagava dituduh atas pembunuhan Sundari; meluruskan pandangan salah Brahma Baka; menundukkan Nandopananda.

    Tahun Kedua Puluh Satu Sampai Keempat Puluh Empat (568-545 S.M)

    Tempat kediaman musim hujan:

    Vihara Jetavana dan Vihan Pubbarama, Savatthi.

    Peristiwa utama:

    Kisah mengenai Raja Pukkusati; Sang Bhagava membabarkan Ambattha Sutta; penyerahan Vihara Pubbarama sebagai dana; wafatnya Raja Bimbisara; Bhikkhu Devadatta berusaha membunuh Sang Bhagava; menjinakkan Gajah Nalagiri; Bhikkhu Devadatta menciptakan perpecahan di dalam Sangha; meninggalnya Bhikkhu Devadatta; mengalihyakinkan Raja Ajatasattu; wafatnya Raja Pasenadi dari Kosala; membabarkan Sakka Pañha Sutta.

    Tahun Keempat Puluh Lima (544 S.M)

    Tempat kediaman musim hujan:

    Beluvagamaka, di dekat Vesa1i.

    Peristiwa utama:

    Buddha mengalihyakinkan Upali, siswa utama Nigantha Nataputta; membabarkan ketujuh kondisi kesejahteraan bagi para penguasa dunia dan para bhikkhu; menyampaikan ceramah Cermin Dhamma; menerima hutan mangga dan Ambapali sebagai persembahan dana; wafatnya Sariputta dan Moggallana; membabarkan Empat Narasumber Utama (Mahapadesa); menyantap sukaramaddava; menerima petapa kelana Subhadda sebagai siswa terakhir; Sang Bhagava mencapai Mahaparinibbana.

    KEGIATAN SEHARI-HARI SANG BHAGAVA

    Selama empat puluh lima tahun Sang Bhagava membabarkan Dhamma dengan semangat. Dan setiap hari Ia melakukan kegiatan rutin-Nya tanpa mengenal jenuh.

    Kegiatan harian yang dilakukan Sang Bhagava bisa dibagi ke dalam lima sesi, yaitu: (1) kegiatan pagi (purebhatta kicca), (2) kegiatan siang (pacchabhatta kicca), (3) kegiatan waktu jaga pertama malam (purimayama kicca), (4) kegiatan waktu jaga pertengahan malam (majjhimayama kicca), dan (5) kegiatan waktu jaga terakhir malam (pacchimayama kicca).

    Kegiatan Pagi (sekitar pukul 06.00 – 12.00)

    Sang Bhagava bangun pukul 04.00, kemudian setelah mandi Ia bermeditasi selama satu jam. Setelah itu pada pukul 05.00, Beliau memindai dunia dengan Mata Buddha-Nya untuk melihat siapa yang bisa Ia bantu. Pukul 06.00, Sang Bhagava menata jubah bawah, mengencangkan ikat pinggang, mengenakan jubah atas, membawa mangkuk dana-Nya, lalu pergi menuju ke desa terdekat untuk menerima dana makanan. Terkadang Sang Bhagava melakukan perjalanan untuk menuntun beberapa orang ke jalan yang benar dengan kebijaksanaan-Nya. Setelah menyelesaikan makan sebelum tengah hari, Sang Bhagava akan membabarkan khotbah singkat; Ia akan mengukuhkan sebagian pendengar dalam Tiga Pernaungan. Kadang Ia memberikan penahbisan bagi mereka yang ingin memasuki Persamuhan.

    Kegiatan Siang (sekitar pukul 12.00 – 18.00)

    Pada waktu ini, biasanya digunakan oleh Sang Bhagava untuk memberikan petunjuk kepada para bhikkhu dan untuk menjawab pertanyaan dari para bhikkhu. Setelah itu Sang Bhagava akan kembali ke bilik-Nya untuk beristirahat dan memindai seisi dunia untuk melihat siapa yang memerlukan pertolongan-Nya. Lalu, menjelang senja, Sang Bhagava menerima para penduduk kota dan desa setempat di aula pembabaran serta membabarkan khotbah kepada mereka. Saat Sang Bhagava membabarkan Dhamma, masing-masing pendengar, walaupun memiliki perangai yang berlainan, berpikir bahwa khotbah Sang Bhagava ditujukan secara khusus kepada dirinya. Demikianlah cara Sang Bhagava membabarkan Dhamma, yang sesuai dengan waktu dan keadaannya. Ajaran luhur dari Sang Bhagava terasa menarik, baik bagi khalayak ramai maupun kaum cendekia.

    Kegiatan Waktu Jaga Pertama Malam (sekitar pukul 18.00 – 22.00)

    Setelah para umat awam pulang, Sang Bhagava bangkit dari duduk-Nya pergi mandi. Setelah mandi, Sang Bhagava mengenakan jubah-Nya dengan baik dan berdiam sejenak seorang diri di bilik-Nya. Sementara itu, para bhikkhu akan datang dari tempat berdiamnya masing-masing dan berkmpul untuk memberikan penghormatan kepada Sang Bhagava. Kali ini, para bhikkhu bebas mendekati Sang Bhagava untuk menghilangkan keraguan mereka, ntuk meminta nasihat-Nya mengenai kepelikan Dhamma, untuk mendapatkan objek meditasi yang sesuai, dan untuk mendengarkan ajaran-Nya.

    Kegiatan Waktu Jaga Pertengahan Malam (sekitar pukul 22.00 – 02.00)

    Rentang waktu ini disediakan khusus bagi para makhluk surgawi seperti para dewa dan brahma dari sepuluh ribu tata dunia. Mereka mendekati Sang Bhagava untuk bertanya mengenai Dhamma yang selama ini tengah mereka pikirkan. Sang Bhagava melewatkan tengah malam itu sepenuhnya untuk menyelesaikan semua masalah dan kebingungan mereka.

    Kegiatan Waktu Jaga Terakhir Malam (sekitar pukul 02.00 – 06.00)

    Rentang waktu ini dipergunakan sepenuhnya untuk Sang Bhagava sendiri. Pukul 02.00 sampai 03.00, Sang Bhagava berjalan-jalan untk mengurangi penat tubuh-Nya yang menjadi kaku karena duduk sejak fajar. Pukul 03.00 sampai 04.00, dengan perhatian murni, Ia tidur di sisi kanan-Nya di dalam Bilik Harum-Nya. Pada pukul 04.00 sampai 05.00, Sang Bhagava bangkit dari tidur, duduk bersilang kaki dan bermeditasi menikmati Nibbana.

    Demikianlah kegiatan harian yang dilakukan oleh Sang Bhagava, yang Ia lakukan sepanjang hidup-Nya.

    RIWAYAT HIDUP BUDDHA GOTAMA

    PERJALANAN TERAKHIR

    Menjelang tengah hari, setelah mempersiapkan diri, membawa mangkuk dan jubah-Nya, Sang Bhagava berjalan menuju Vesali untuk mengumpulkan dana makanan. Saat itu adalah tahun 544 S.M, tiga bulan sebelum memasuki bulan Vesak tahun 543 S.M, beberapa bulan setelah Sariputta dan Moggallana, kedua Siswa Utama Sang Bhagava mencapai Nibbana Akhir (Parinibbana) di hari bulan purnama bulan Kattika.

    Setelah makanan terkumpul dan disantap, dalam perjalanan pulang Sang Bhagava meminta Bhikkhu Ananda untuk mengambil sehelai tikar dan mengajaknya ke cetiya Capala. Setelah tiba di cetiya Capala, Sang Bhagava memberikan sebuah peringatan kepada Bhikkhu Ananda mengenai batas waktu kehidupan-Nya. Namun, saat itu Ananda tidak menyadari hal itu meskipun Sang Bhagava mengulanginya untuk ketiga kalinya.

    Setelah mengulangi peringatan tersebut sebanyak tiga kali dan Bhikkhu Ananda tidak menanggapinya, Sang Bhagava mempersilahkan Bhikkhu Ananda untuk melakukan hal lain yang sepatutnya ia perbuat. Bhikkhu Ananda lalu bangkit dari tempat duduknya, memberi hormat kepada Sang Bhagava, dan mengundurkan diri dengan Sang Bhagava tetap di sebelah kanannya. Kemudian Bhikkhu Ananda duduk di bawah sebatang pohon pada jarak yang tidak jauh dari tempat tersebut.

    Pada saat kesendirian-Nya itu, Sang Bhagava menetapkan bahwa Ia akan Parinibbana (kemangkatan mutlak) tiga bulan dari saat itu.

    Kemudian, Sang Bhagava bersama dengan Bhikkhu Ananda menuju Balairung Puncak di Mahavana dan memintanya untuk memanggil semua bhikkhu yang berada di sekitar Vesali untuk berkumpul di aula pertemuan.

    Setelah membabarkan mengenai Ketiga Puluh Tujuh Syarat Pencerahan (Bodhipakkhiyadhamma) kepada Sangha Bhikkhu, Sang Bhagava memberitahukan saat Parinibbana-Nya: “Dengarkanlah, para Bhikkhu, sekarang Saya nyatakan kepada kalian: semua hal yang terkondisi pasti akan hancur. Berjuanglah dengan penuh kesadaran! Wafatnya Tathagata tak lama lagi akan terjadi. Tiga bulan sejak saat ini, Tathagata akan mencapai Parinibbana.”

    Inilah yang dikatakan Sang Bhagava. Setelah mengatakan hal ini, Sang Bhagava melantunkan syair berikut:

    “Telah lanjut usia-Ku, hidup-Ku hanya tersisa sedikit. Aku akan berangkat meninggalkan kalian. Aku telah menjadikan diri-Ku sebagai pernaungan-Ku sendiri. Berusahalah dengan tekun dan dengan perhatian murni! Bersikap baik, O para Bhikkhu! Dengan pikiran yang terpusat penuh, jagalah batin kalian! Barang siapa berusaha dengan tekun dalam ajaran ini, akan meninggalkan lingkaran tumimbal lahir dan mencapai akhir segala derita.”

    Di hari berikutnya, saat fajar, Sang Bhagava menata jubah-Nya; sambil membawa mangkuk dana dan jubah luar-Nya, Ia menuju Vesali untuk menerima dana makanan. Setelah menerima dana makanan dan bersantap, saat meninggalkan tempat itu Ia membalikkan badan dan menatap Vesali dengan tatapan sesosok gajah pengading suci. Lalu ia berkata kepada Bhikkhu Ananda, “Ananda, inilah terakhir kalinya Tathagata menatap Vesali. Mari, Ananda, mari kita pergi ke Bhandagama!”

    Dengan diiringin sejumlah besar bhikkhu, Sang Bhagava menempuh perjalanan ke Bhandagama. Setelah tinggal di Bhandagama selama yang dikehendaki-Nya, Sang Bhagava menempuh perjalanan secara bertahap dengan sejumlah besar bhikkhu ke Hatthigama, Ambagama, Jambugama, dan kemudian ke Bhoganagara. Selagi di Bhoganagara, Sang Bhagava mengajarkan pada sekumpulan banyak bhikkhu mengenai Empat Narasumber Utama (Mahapadesa).

    MAKANAN TERAKHIR SANG BHAGAVA

    Kemudian, setelah Sang Bhagava tinggal di Bhoganagara, Ia melanjutkan perjalanan ke Pava dengan sekumpulan besar bhikkhu dan tinggal di hutam mangga milik Cunda, putra si pandai besi (kammaraputta).

    Mendengar berita kedatangan Sang Bhagava di hutan mangganya, Cunda segera menghadap Sang Bhagava dan memberi sembah hormat pada-Nya. Sang Bhagava memberinya dorongan dengan pembabaran Dhamma serta membahagiakannya dalam latihan Dhamma. Setelah mendengarkan Dhamma, Cunda mengundang Sang Bhagava beserta Sangha bhikkhu untuk menerima persembahan dana makanan keesokan harinya. Sang Bhagava menyetujuinya dengan berdiam diri.

    Keesokan harinya, Cunda mempersiapkan makanan yang mewah, termasuk masakan khusus yang disebut sukaramaddava (menurut Digha Nikaya Atthakatha, sukaramaddava atau daging babi lunak adalah daging seekor babi yang tidak terlalu muda atau terlalu tua, namun yang tidak dibunuh khusus untuk-Nya [pavattamamsa]; sebagian ahli menafsirkannya sebagai beras lunak yang ditanak dengan lima macam makanan olahan dari sapi; sementara sebagian ahli lainnya mengatakan bahwa makanan tersebut adalah makanan khusus yang dipersiapkan dengan ramuan tertentu yang lezat dan sangat bergizi yang disebut rasayana).

    Ketika makanan dipersembahkan, Sang Bhagava meminta Cunda untuk menghidangkan sukaramaddava kepada diri-Nya semata, dan menghidangkan makanan lainnya bagi Sangha bhikkhu. Seusai makan, Sang Bhagava meminta Cunda untuk memendam sisa sukaramaddava itu di dalam lubang karena Ia tidak melihat siapa pun yang mampu mencernanya dengan baik. Namun, setelah makan, sejenis disentri akut menyerang Sang Bhagava, dan menyebabkan kucuran darah yang disertai rasa sakit yang amat menusuk. Sang Bhagava menahan rasa sakit ini tanpa mengeluh dan tetap berperhatian murni dengan pemahaman jernih. Dengan menahan sakit, Sang Bhagava berkata, “Mari, kita pergi ke Kusinara.”

    PERJALANAN MENUJU KUSINARA

    Dalam perjalanan ke Kusinara, Sang Bhagava merasa letih dan haus. Ia duduk di bawah sebatang pohon dan meminta Bhikkhu Ananda untuk mengambilkan air di aliran air di sekitar tempat itu. Namun beberapa kereta baru saja lewat sehingga aliran air tersebut menjadi keruh. Bhikkhu Ananda menyarankan Sang Bhagava, “Bhante, Sungai Kakuttha berada tidak jauh dari sini; air dingin di sungai itu jernih, menyegarkan, tidak kotor; tepian sungai itu bersih dan menyenangkan. Sang Bhagava bisa minum dan menyejukkan tungkai di sana.”

    Untuk kedua kalinya, Sang Bhagava meminta dan menerima jawaban yang sama. Setelah yang ketiga kalinya, Bhikkhu Ananda menurut dan berkata, “Baiklah, Bhante.” Dan ketika Bhikkhu Ananda tiba di aliran air itu, berkat kekuatan Sang bhagava, ia mendapatkan aliran air yang dangkal itu menjadi jernih, murni, dan tidak kotor. Lalu ia mengambil air dan memasukkannya ke dalam mangkuk dananya. Kemudian ia kembali menghadap Sang Bhagava dan memberitahukan-Nya apa yang telah terjadi, seraya menambahkan: “Semoga Sang Bhagava bersedia minum air ini! Semoga Yang Mahasuci bersedia minum air ini!” Lalu, Sang Bhagava pun minum.

    Setelah Sang Bhagava mi

    • Hasan BaSri said

      Dear Bpk RatnaKumara

      Trpujilah sang bhagava arhat samyaksambuddha gotama

      Mngenai sharira apakah bs bertambah banyak??? Dgn cara bagaimanakah relik itu bs brtambah? Ada brapa macam bentuk sharira? Dmnkn mhn penjelasannya, trims

  33. Antoni said

    Dear Mas Ratna,

    Apakah hanya dengan objek 10 kasina dalam meditasi baru dapat memperoleh “Abhinna” ?
    jadi kalo objeknya menggunakan “Anapanasati”, tidak akan memperoleh “Abhinna” ?

    Mohon Pencerahannya.., Terima kasih. :)

    Regards,

  34. terima kasih saudara yang udah share tulisan ini,..
    sanggat bermafaat untuk yang berlatih meditasi agar mengetahui tingkatan dari pelatihan meditasi nya.
    dan memilikin lagi lagi…. kebijaksanaan orang suci.

    semoga semua makhluk berbahagia… _/’\_

  35. Dicky Gunawan, S.Pd. said

    Namo Buddhaya,
    Salam Kenal Mas Kumara, terima kasih atas info “Dhamma” yang anda tuliskan di blog ini, saya yakin akan sangat berguna untuk pelestarian dan pengembangan agama Buddha di Indonesia maupun di dunia.
    Saya mau tanya nih mas, saat ini kata “Anumodana” sudah dipakai di kalangan umat Buddha sebagai konversi dari kata “Terima kasih”, bagaimana menurut mas Kumara menanggapi hal ini ? Mohon petunjuknya!
    Terima kasih, Anumodana. (Kalau double seperti ini boleh ga ???hehehe)
    Salam dari Dicky Gunawan di Cibinong, Bogor.

  36. anti bengcu said

    Seorang arahat haruslah melampaui perumah tangga mau pun bhikku di dunia ini..jd seorang yg telah mencapai arahat pastilah seorang bhiku..seorang perumah tangga hanyalah bisa sampe sotappana..krn dia masih terikat pd keluarga..

  37. Saya tertarik dengan blok ini yang membahas tentang samadi.saya ingin mendapatkan seorang guru penuntun yang dapat membimbing saya berlatih samadi yang benar sesuai ajaran budha.mohon petunjuk tempat pelatihan samadi?
    Dan juga ingin mendaftar sebagai anggota diblok ini.terimakasih.
    Oh ya, saya bertempat tinggal disidoarjo.
    Umur saya 66 tahun.

  38. Namo Buddhaya kak RATANA KUMARO :) saya ingin bertanya dan berdiskusi lebih detail mengenai abhinna berdasarkan pengalaman saya. boleh saya minta emailnya kak? terima kasih :)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 36 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: