RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

Keprihatinan atas Tragedi Penganiayaan Pendeta Gereja HKBP Ciketing, Bekasi

Posted by ratanakumaro pada September 13, 2010

Among tigers, lions, leopards & bears I lived in the jungle.
No one was frightened of me, nor did I fear anyone.
Uplifted by such universal friendliness, I enjoyed the forest.
Finding great solace in such sweetly silenced solitude…

(Buddha Gotama ; Suvanna-sama Jataka 540)

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattung (3X) )

Namatthu Buddhassa,

Sahabat, saudara dan saudari, bahasa Inggris saya tidak begitu bagus, namun saya akan coba translate sabda Sang Buddha tersebut diatas kedalam bahasa Indonesia, kurang lebih begini artinya, “Diantara harimau, singa, macan tutul, dan beruang, Aku hidup didalam hutan belantara. Tidak satupun menakutkan bagi-Ku, atau Aku menakuti  mereka. Ditopang oleh keramah-tamahan/persahabatan universal, Aku menikmati hutan belantara itu. Menemukan penghiburan luar biasa didalam indahnya kesunyian yang hening.”


Sabda Sang Buddha tersebut sengaja saya pilih untuk menjadi tema  perenungan kita kali ini. Apa yang tersirat dari petuah Sang Buddha, adalah pentingnya “keramah-tamahan semesta”, “rasa persahabatan universal” dalam hidup bermasyarakat yang terdiri dari berbagai jenis masyarakat yang majemuk. Bila keramah-tamahan semesta, atau toleransi, memenuhi hati kita, tidak akan ada ketakutan yang akan menghantui hidup kita meskipun kita tinggal diantara berbagai jenis masyarakat yang berbeda-beda secara SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar-Golongan).

Perenungan dan peresapan atas rasa persahabatan unviersal ini saya pilih berkaitan dengan tragedi pelanggaran hak-asasi-manusia yang baru saja terjadi di negara kita tercinta, Republik Indonesia, yaitu tepatnya tragedi penganiayaan, penusukan dan pemukulan terhadap dua orang pendeta Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Ciketing, Bekasi, pada hari Minggu 12 September 2010, sekitar pukul 09.00 WIB kemarin.

Pendeta Sihombing

Pendeta Sihombing

KRONOLOGI KEJADIAN

Berdasarkan informasi dari Pendeta Leonard Nababan, gembala sidang di HKBP Bekasi, yang dihubungi Kompas.com, korban penusukan bernama Pendeta ST.Sihombing. Menurut Pdt.Nababan, Sihombing sedang berjalan kaki menuju ke gereja, sekitar pukul 08.30 WIB. Saat itulah penusukan terjadi. Pelaku menggunakan sepeda motor, dan langsung melarikan diri setelah melakukan penusukan.

Informasi pertama mengenai tindakan kekerasan ini pertama kali beredar luas di jejaring Twitter. Disebutkan , Pdt. Luspida Simandjuntak dipukuli dan satu pendeta lain, yaitu Pendeta ST. Sihombing ditusuk benda tajam menjelang ibadah, disebutkan juga, salah satu pendeta ini dilarikan ke rumah sakit Mitra Keluarga Bekasi, karena kritis akibat pendarahan.( http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5263374)

Pdt.Luspida Simanjuntak

Pdt.Luspida Simanjuntak

Menurut penuturan Pendeta Luspida Simanjuntak, ia mengenali salah satu orang yang memukulnya. “Saya dipukul dengan stick panjang dari depan di kepala. Kemudian dari belakang di leher dan di punggung”, demikian ia menyatakan. (http://sipayung-hoga.blogspot.com/2010/09/menikam-jemaat-dan-pukul-pendeta-hkbp.html)

Sejak Juli 2010 lalu, jemaat Gereja HKBP Pondok Timur Indah, Bekasi, tidak dapat beribadah semestinya dengan aman lantaran terjadi sejumlah kasus kekerasan. Seperti diketahui, saat ibadah setiap Minggu ratusan jemaat HKBP kerap ditunggui oleh pihak-pihak yang menentang diadakannya peribadatan Gereja HKBP di areal tanah di Desa Ciketing, Bekasi. Setelah bertahun-tahun sebelumnya, aktivitas peribadatan ini telah berlangsung tanpa masalah. (http://sipayung-hoga.blogspot.com/2010/09/menikam-jemaat-dan-pukul-pendeta-hkbp.html)

LATAR BELAKANG KEJADIAN

Tragedi kekerasan yang menimpa jemaat HKBP Pondok Timur Indah, Bekasi tersebut memang tidak baru kali ini saja terjadi. Sebelumnya, pada hari Minggu, 01 Agustus 2010, terjadi bentrok antara Ormas Islam dengan jemaat gereja HKBP. Tidak ada korban jiwa dalam musibah itu.

Anggota FPI

Anggota FPI

http://www.tempointeraktif.com/hg/kriminal/2010/08/08/brk,20100808-269588,id.html

Bentrok terjadi ketika sekitar 200 anggota Ormas Islam mendatangi lokasi kebaktian jemaat gerja di lahan kosong Kampung Ciketing Asem, Kecamatan Mustika Jaya, Kota Bekasi, Jawa Barat,  meminta bubar karena tidak mengantongi izin.

Jemaat HKBP Bekasi Terpaksa Beribadat Tanpa Gedung Gereja

Jemaat HKBP Bekasi Terpaksa Beribadat Tanpa Gedung Gereja

Koordinator ormas Islam Murhali Barda, mengatakan jemaat gereja HKBP tidak mentaati aturan. Murhali melihat, sikap jemaat HKBP yang bersikeras melakukan kebaktian meski tanpa memiliki izin merupakan aksi provokasi.

Koordinator FPI, Murhali Barda bersitegang dengan Pendeta Gereja HKBP, Minggu 1 Agustus 2010

Koordinator FPI, Murhali Barda bersitegang dengan Pendeta Gereja HKBP, Minggu 1 Agustus 2010

Tujuannya, agar umat Islam melakukan aksi anarkis sehingga jemaat gereja merasa didzolimi. “Ini provokasi, seakan-akan mereka didzolimi, dan itu yang dijual ke masyarakat luas,” kata Ketua Front Pembela Islam Bekasi Raya itu.

Massa Segel Gereja HKBP Ciketing, Bekasi

Massa Segel Gereja HKBP Ciketing, Bekasi

Pendeta Luspida, sebelumnya mengatakan lahan yang digunakan kebaktian adalah milik jemaat HKBP, sehingga mereka sah memakai lahan itu untuk kegiatan peribadatan. “Kami juga telah mengurus izin tetapi belum direspon,” katanya. (http://www.warta-ummat.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2134:ormas-islam-di-bekasi-harus-cerdas-menelaah-tragedi-hkbp&catid=105:umum&Itemid=518)

AJAKAN : MARI BERTENGGANG-RASA DI TENGAH PERBEDAAN

Ada pelajaran berharga yang bisa kita petik dari tragedi penganiayaan jemaat dan pendeta gereja HKBP tersebut diatas, yaitu pelajaran tentang pentingnya rasa keramah-tamahan/persahabatan universal, atau toleransi, atau tenggang-rasa yang sepertinya telah meluntur dari lubuk sanubari masyarakat Indonesia.

Ketika saya kecil, pelajaran PMP, atau “Pendidikan Moral Pancasila”, yang kemudian diubah menjadi mata pelajaran PPKn, atau “Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan”, berulangkali menekankan dan meresapkan pentingnya rasa tenggang-rasa, toleransi, atau keramah-tamahan dan persahabatan universal. Dan penekanan pelajaran tenggang-rasa tersebut memang sebenarnya sangat bermanfaat, terbukti waktu itu kehidupan beragama di Indonesia bisa terjaga dengan apik, harmonis, tanpa dihiasi kekerasan-kekerasan seperti yang sekarang ini terjadi, didukung dengan wibawa POLRI dan TNI yang mampu memberantas setiap gerakan radikal yang bernafaskan SARA.

Spanduk Ancaman terhadap Jemaat Gereja HKBP

Spanduk Ancaman terhadap Jemaat Gereja HKBP

Dalam gerakan reformasi tahun 1998, memang segala hal tentang Pancasila, termasuk pelajaran PMP atau/ PPKn ini ditentang oleh arus masyarakat kala itu. Segala bentuk Upacara Bendera ditentang. Tapi sekarang ini, saya rasa itu bukan aspirasi murni dari gerakan demonstrasi mahasiswa saat itu. Ketika melihat dan mendengarkan statement-statement dari pemimpin-pemimpin teroris yang akhir-akhir ini ditangkap oleh POLRI (seperti misalnya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir), yang menyatakan bahwa “Pancasila adalah Syirik”, “Demokrasi adalah Syirik”, “Penghormatan pada Bendera Merah-Putih adalah Syirik”, “Pluralisme adalah musyrik”, patut diduga dengan kuat, bahwa ketika reformasi 1998 berlangsung, aktivis-aktivis yang berhaluan atau berideologi terorisme – seperti ideologinya Ustadz  Abu Bakar Ba’asyir, Amrozi, Noordin M Top, dll. – ikut menunggangi gerakan reformasi yang dipelopori Mahasiswa waktu itu, sehingga salah satu “goal” yang ingin dicapai adalah dihapuskannya kurikulum yang berisikan pendidikan Pancasila (PMP atau/ PPKn) dan peniadaan upacara Bendera sesuai dengan ideologi fundamental yang mereka yakini dan hingga kini mereka serukan bahkan mereka implementasikan dalam sikap hidup mereka dan kelompoknya.

Untuk itu, saya mengajak mari kita kembali pada pelajaran tenggang-rasa yang pernah diresapkan ke dalam sanubari kita sejak kecil melalui kurikulum “Pendidikan Moral Pancasila” (PMP) waktu itu. Ummat beragama di Indonesia, agama apapun, baik itu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, Kong-Hucu, semuanya sejatinya memiliki sifat luhur “persahabatan-universal” ini. Ummat Islam Indonesia sendiri, yang akhir-akhir ini banyak dituding-tuding dan didiskreditkan sebagai ummat yang menyukai kekerasan, sesungguhnya tidaklah seperti yang ditudingkan tersebut, dan bila ada, itu hanya sebagian kecil saja dari ummat Islam ; TIDAK-SEMUANYA, sehingga tidak bisa digeneralisasikan . Ini semua akibat ulah teroris yang menyusup ke tengah-tengah masyarakat Islam Indonesia, dan berlindung dibalik simbol-simbol agama Islam.

HIMBAUAN PADA PEMERINTAH

Kepada Pemerintah Republik Indonesia, saya menghimbau :

1.     Memperhatikan UUD 1945, Bab XI mengenai Agama, Pasal 29 ayat (2) yang menyatakan,” Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Oleh karenanya, Pemerintah wajib menjalankan perintah UUD 1945 ini dengan melindungi segenap warga negara Indonesia untuk menjalankan peribadatannya sesuai agama dan kepercayaannya.

2.    Memperhatikan UUD 1945 / Amandemen, Pasal 28D ayat (1) yang menyatakan, “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.” Memperhatikan Pasal 28E, ayat (2) yang menyatakan,”Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.” Memperhatikan Pasal 28E ayat (3) yang menyatakan, “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”. Memperhatikan Pasal 28G yang menyatakan, “Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain.” Memperhatikan Pasal 28I ayat (1) yang menyatakan, “Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut, adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun.” Pasal 28I ayat (2) yang menyatakan, “Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.” Pasal 28I ayat (4) yang menyatakan,” Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah”.  Maka, dengan ini saya menghimbau kepada Pemerintah untuk bertanggung jawab atas peristiwa penganiayaan jemaat gereja dan Pendeta Gereja HKBP, Bekasi dan menyeret para pelaku penganiayaan ke hadapan hukum untuk diadili dan dihukum sesuai hukum yang berlaku demi memberikan rasa kepastian hukum , keadilan dan keamanan bagi para korban penganiayaan.

3.    Memperhatikan UUD 1945/Amandemen Pasal 28J ayat (1) yang menyatakan, “Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.” Memperhatikan Pasal 28J ayat (2) yang menyatakan, “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.” Maka dari itu, setiap manusia Indonesia, setiap warga negara Indonesia, baik secara pribadi maupun kelompok, segala organisasi massa berlandaskan ideologi atau agama apa pun, wajib menghormati hak asasi manusia setiap manusia Indonesia tanpa mencederainya dengan arogansi dan egoisme agama, dan menghimbau kepada Pemerintah untuk menindak tegas dan bila diperlukan membubarkan ormas-ormas yang berlandaskan ideologi apapun yang berhaluan keras dan radikal untuk menjamin terlaksananya dan terlindunginya Hak-Hak Asasi Manusia Indonesia.

Demikian, saudara-saudari, para sahabat semuanya. Mari kita menopang diri kita masing-masing dengan rasa keramah-tamahan / persahabatan universal, atau rasa tenggang-rasa, atau toleransi antar manusia yang berbeda jenis, golongan, suku, ras, dan keyakinan. Sebagaimana yang tersirat dari sabda Sang Buddha tersebut diatas, dengan ditopang rasa persahabatan universal, kita akan mampu merealisasikan “Freedom From Fear”, bebas merdeka dari rasa ketakutan meskipun kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang pluralistik, yang berbeda-beda baik secara Suku, Agama, Ras, maupun golongan-golongannya.

Saya sangat berharap, Pemerintah Indonesia khususnya mampu menegakkan wibawa Negara Kesatuan Republik Indonesia dan wibawa Hukum di hadapan masyarakat. Negara mempunyai hak untuk “memaksa”-kan penegakan hukum melalui perangkat-perangkat hukum, seperti POLRI dan segenap jajaran hukum lainnya. Bila POLRI dan segenap jajaran hukum bersikap “Pilih-Kasih” , apalagi “TAKUT”terhadap sekelompok atau segerombol manusia radikal yang menyukai kekerasan untuk memaksakan pendapat dan keyakinannya, maka jatuhlah wibawa POLRI dan segenap jajaran hukum, dan manusia Indonesia akan merasa tidak aman lagi untuk hidup menetap di Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan ini tentunya tidak diinginkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sendiri.

________________________________________

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

Upacarika RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Senin, 13 September 2010

Ditulis dalam Kerukunan Ummat Beragama di Indonesia | 26 Comments »

KEPRIHATINAN ATAS RENCANA PENDETA TERRY JONES MEMBAKAR AL-QURAN

Posted by ratanakumaro pada September 9, 2010

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattung (3X) )


Namatthu Buddhassa,

Pengeboman WTC 11 September 2001 oleh Al-Qaeda

Pengeboman WTC 11 September 2001 oleh Al-Qaeda

Para sahabat dan saudara/i terkasih…, pagi ini saya cukup dikagetkan dengan sebuah berita di koran Suara Merdeka, Kamis 9 September 2010, yang menyatakan adanya rencana pembakaran Al-Quran oleh Pendeta Terry Jones dari Gereja Evanjelis Dove World Outreach Center untuk memperingati tragedi serangan bom oleh teroris tanggal 11 September 2001 yang menewaskan 2.752 ummat manusia.

Foto Osama Bin Laden , Pemimpin Al-Qaeda

Foto Osama Bin Laden, Pemimpin Al-Qaeda

Banyak tokoh dunia yang telah mengecam rencana tersebut, mulai dari Menlu AS Hillary Clinton, Ketua Masyarakat Islam Amerika Utara, hingga Panglima Militer AS di Afghanistan. Vatican pun mengecam rencana pembakaran Al-Quran tersebut. Dalam sebuah statemen yang dikeluarkan hari Rabu, 08 September 2010, Vatikan menyatakan keprihatinan yang sangat mendalam,” Tindak kekerasan yang tercela sebenarnya tidak perlu dibalas dengan sikap yang justru memalukan seperti pembakaran kitab suci agama tertentu”, demikian bunyi pernyataan tersebut sebagaimana dirilis di harian Suara Merdeka, Kamis 9 September 2010.

PESAN DAMAI DARI UMMAT BUDDHA

Saya , sebagai ummat Buddha, menyampaikan pesan damai sebagaimana yang diajarkan oleh Sang Buddha. Ummat Buddha harus senantiasa memegang teguh prinsip “Avihimsa” atau “Tanpa-Kekerasan” dan senantiasa memancarkan “Metta-Karuna” atau “Cinta-Kasih dan Kasih-Sayang” terhadap semua makhluk hidup baik yang tampak maupun tak tampak. Dan untuk itu , sebagai sesama makhluk hidup, saya menyatakan keprihatinan yang sangat mendalam dan ikut menyesalkan sikap Pendeta Terry Jones yang berencana hendak membakar Al-Quran dalam rangka memperingati tragedi WTC.

Segala fenomena adalah bersifat “Netral”. Batin-lah yang mengolah dan menyaring segala informasi dan fenomena diluar, sehingga menimbulkan persepsi dan sikap. “Kejahatan tidak akan berakhir bila dibalas dengan kejahatan, kejahatan hanya akan berakhir bila dibalas dengan cinta-kasih”, demikian Sang Buddha bersabda dalam Dhammapada.

Kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh teroris internasional yang menggunakan simbol-simbol agama Islam tidak seharusnya direspon dengan merusak, membakar, dan melakukan tindakan-tindakan lain yang sangat buruk dan tidak dilandasi sikap tidak menghargai atau menghormati keyakinan ummat Islam, sebab tidak semua ummat Islam menyetujui cara pandang dan jalan hidup yang ditempuh para teroris ( atau yang oleh sebagian orang disebut sebagai “mujahiddin” ) tersebut meskipun…sekalipun…, para teroris tersebut menyatakan bahwa segala tindakan yang mereka ambil adalah bersumber dan sesuai dengan ajaran Islam sebagaimana tertuang di dalam Al-Quran dan segala sumber-sumber sahih bagi ummat Islam dan meskipun alasan para teroris tersebut adalah untuk berjuang membela dan menegakkan agama mereka.

Segala sikap yang melecehkan, merendahkan, seperti rencana pembakaran Al-Quran tersebut hanya akan memicu konflik berkepanjangan yang akan sulit diredakan ; untuk itu, jangan sampai ada ummat Buddha atau ummat agama apa pun juga yang mempunyai niat tidak terpuji seperti itu.

Himbauan untuk Pendeta Terry Jones, sebaiknya beliau membatalkan niat buruknya tersebut dan meminta maaf kepada ummat Islam sedunia yang pasti sudah merasa terluka dan terhina karena sikapnya.

TERORISME DI INDONESIA

Indonesia sendiri, negara tercinta tempat kita tinggal hidup dan mencari nafkah, juga dilanda permasalahan yang sama. Terorisme internasional, disinyalir kuat telah masuk ke Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Imam Samudera

Foto Nurdin M Top

Dalam perkembangannya, banyak gembong teroris yang telah ditangkap, diadili, maupun tewas dalam proses penangkapannya yang dilakukan oleh Densus 88.

Foto Jenazah Noordin M Top

Baru-baru ini, adalah giliran Ustadz Abu Bakar Ba’asyir , pemimpin Jamaah Anshorut Tauhid (yang juga mantan pimpinan Jamaah Islamiyah) ,yang ditangkap oleh POLRI dengan dugaan sebagai dalang / otak dan penyandang dana bagi aktivitas terorisme di Indonesia, demikian sesuai yang dinyatakan oleh Kadiv Humas POLRI Irjen Edward Aritonang dalam sebuah konferensi pers.

Abu Bakar Ba'asyir

Pesan dari saya sebagai ummat Buddha adalah :

1. Keadilan dapat ditegakkan tanpa harus membalas kejahatan dengan kejahatan. Siapapun juga yang secara hukum yuridis formal terbukti sebagai pelaku kejahatan kemanusiaan yang dengan sadar dan sengaja mengakibatkan tewasnya nyawa orang lain, wajib mendapat hukuman yang sepadan secara hukum, TAPI TIDAK DENGAN HUKUMAN MATI. Sebagaimana Sila Pertama dalam Pancasila Buddhis mengajarkan untuk tidak membunuh makhluk hidup apapun juga, maka hukum pun dapat ditegakkan tanpa harus membalas pembunuhan dengan pembunuhan. Alternatif yang dapat dipilih adalah HUKUMAN PENJARA SEUMUR HIDUP di dalam Lembaga Pemasyarakatan. Dengan pengawasan yang ketat, siapapun terdakwa kasus kejahatan kemanusiaan, bisa tetap memperoleh hak hidup yang layak dan merehabilitasi diri dan cara pandang hidupnya.

2. Proses penegakan hukum atas pelaku kejahatan kemanusiaan, dalam hal ini terorisme berazazkan dalil-dalil agama, harus mengedepankan dan menjunjung tinggi Hak-hak Azazi Manusia (HAM). Semua manusia Indonesia adalah setara dimata hukum, mempunyai hak dan kewajiban yang sama, maka biarkanlah para tersangka pelaku kejahatan kemanusiaan tersebut memperoleh hak dan memenuhi kewajiban hukumnya dengan sebaik-baiknya.

3. Segala bentuk terorisme dan kejahatan kemanusiaan harus dilenyapkan dari muka bumi. Pemerintah dan semua pemuka agama wajib memberi penerangan kepada semua ummat beragama untuk tidak mengedepankan jalan peperangan dalam mencari penyelesaian masalah-masalah keagamaan dan kemasyarakatan umumnya. Peperangan dan pembunuhan hanya akan menghadirkan tragedi dan traumatik kejiwaan bagi ummat manusia dan semua makhluk hidup alam semesta hingga generasi-generasi berikutnya. Kepada ummat Buddha khususnya, semenjak kehadiran Sang Buddha di muka bumi, beliau tidak pernah mengajarkan dan menempuh jalan-jalan peperangan dalam membabarkan ajaran-Nya kepada semua makhluk hidup. Meskipun Beliau, sebagai pemimpin kerohanian kenamaan di masa hidup-Nya juga senantiasa mengalami masa-masa sulit, mengalami masa-masa percobaan pembunuhan oleh para pemuka-pemuka kerohanian yang lain ( yang tentunya merupakan usaha sia-sia, sebab tidak ada satu makhluk pun di penjuru alam semesta ini yang bisa membunuh seorang Buddha dan terbukti demikian ), namun Beliau tidak pernah sekalipun mengajarkan jalan kekerasan. “Avihimsa” atau “tanpa kekerasan” dan “Metta-Karuna” atau “Cinta-Kasih dan Kasih-Sayang” adalah apa yang senantiasa Sang Buddha ajarkan kepada kita. Oleh karena itu, tidak ada celah bagi terorisme dalam Buddhisme. Semenjak awal mula kelahiran ajaran Buddha hingga detik ini, tidak ada satu masa pun yang dihiasi dengan darah dan pedang hingga bom dan senjata modern serta peperangan agama atas nama penyebaran “BUDDHA-DHAMMA”, sebab dalam Ti-Pitaka tidak ditemukan satupun dalil tentang keabsahan peperangan atas nama agama. Untuk itu, sebagai ummat Buddha, siswa-siswa Sang Sugatha, kita harus terus senantiasa melestarikan ajaran Buddha yang Agung dan Luhur tersebut, dengan tidak menodainya melalui tindakan-tindakan yang tidak terpuji yang tidak pernah diajarkan oleh Sang Buddha.

Demikian sebaiknya kita semua, masyarakat bangsa Indonesia umumnya dan ummat Buddha khususnya, senantiasa mengedepankan persaudaraan dan perdamaian, cinta-kasih tanpa batas kepada semua makhluk.

Sebagai penutup, biarlah saya mengulang kembali pesan/sabda Sang Buddha untuk kita semua, bahwa kejahatan tidak akan berakhir bila dibalas dengan kejahatan, kejahatan akan berakhir bila dibalas dengan cinta-kasih. Ini adalah hukum universal, hukum alam, yang bila diterapkan akan membawa keselamatan bagi kita semua, makhluk hidup semesta alam.

Dunia tidak menciptakan kita.., tetapi KITA LAH YANG MENCIPTAKAN DUNIA. Segalanya berawal dari pikiran, oleh pikiran kita sendirilah kehidupan di dunia ini menjadi baik, dan oleh pikiran kita sendirilah kehidupan di dunia ini menjadi sangat buruk.

Sekarang ini adalah jaman Kaliyuga. Sebagaimana Sang Buddha hadir ke dunia untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran dan kebinasaan, seperti itu pulalah seharusnya kita semua, siswa-siswa Sang Buddha hadir ke dunia, untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran dan kebinasaan, untuk menyelamatkan dunia dari segala kemarahan, kebencian, dan kejahatan.

________________________________________

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

Upacarika RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Kamis, 09 September 2010

Ditulis dalam Isu Nasional dan Internasional | 15 Comments »

TIPS : CARA MUDAH MENANGKIS GENDAM

Posted by ratanakumaro pada Juli 4, 2010

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattung (3X) )

Namatthu Buddhassa,

bandul jam ; alat / media hipnotis

bandul jam ; alat / media hipnotis

Apakah ada diantara sahabat semuanya yang tidak mengenal “gendam” ? Saya rasa tidak. Sudah banyak masyarakat yang menjadi korban dari kejahatan “gendam”. Media cetak maupun elektronik sudah banyak yang menyiarkan berita mengenai korban-korban kejahatan “gendam” ini. Ada yang menjadi korban ketika di dalam angkutan umum (misalnya bis kota atau antar kota dan antar provinsi), ada yang menjadi korban ketika duduk di warung, ada pula ketika sedang santai berjalan-jalan di lingkungan perumahannya sendiri.

Subjek yang 'masak' untuk disugesti

Subjek yang 'masak' untuk disugesti

Gendam dipercaya menggunakan ilmu sihir, magic, mantra dan sihir. Namun menurut saya tidaklah demikian. Trik-trik yang digunakan pelaku gendam lebih menyerupai trik-trik hipnotisme. Hipnotis , akan menjadi sangat efektif bila subjek / “korban” yang dihipnotis memang bersedia untuk dihipnotis. Jika subjek / “korban” menolak, maka hipnotis ini tidak akan mampu menembus lapisan kesadaran subjek / ”korban”.

Lain lagi ceritanya, bila pelaku kejahatan gendam merasa tidak mampu memperdayai korban lalu menggunakan cara-cara yang lain, misalnya dengan menggunakan ramu-ramuan obat bius untuk membuat efek mabuk / terbius untuk beberapa waktu, maka ini sudah tidak berkaitan lagi dengan hipnotisme.

Spiral 'pikiran'

Spiral 'pikiran'

Untuk menangkis serangan gendam baik yang berupa hipnotisme maupun gendam yang menggunakan ramu-ramuan obat bius (seperti misal biji kecubung yang dicampur ke dalam air putih atau minuman lain), maka saya mempunyai beberap tips sederhana , sebagai berikut :

  1. Waspadalah terhadap orang yang menepuk Anda dan hindari percakapan serta interaksi dalam bentuk apapun yang mungkin terjadi. Ketika Anda menjadi terfokus pada ucapan seorang pelaku gendam, maka pada saat itulah sugesti hipnosis sedang dilontarkan.
  2. Menyingkirlah dari orang yang mulai mengarahkan sugestinya pada anda.
  3. Buat diri Anda sibuk, pusatkan perhatian hanya pada apa yang anda kerjakan, misal membaca koran, melihat pemandangan, mendengarkan musik, atau mungkin bermeditasi di dalam bis. Abaikanlah segala perkataan si pelaku gendam.
  4. Jagalah jarak, bersikaplah waspada, dan curiga terhadap orang yang baru Anda kenal dan berusaha mendekati dan berinteraksi dengan Anda, sebab seluruh proses hipnosis merupakan teknik komunikasi yang sangat persuasif.
  5. Yang paling penting, sesuai ajaran Sang Buddha, kikislah semua keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan-batin (moha), sebab seseorang yang penuh nafsu dan serakah, akan sangat mudah dihipnotis. Seorang laki-laki yang penuh nafsu memandang kecantikan dan tatap mata pelaku gendam berjenis kelamin wanita akan sangat mudah terjatuh menjadi korban kejahatan gendam ketimbang seorang laki-laki yang tidak terpikat sama sekali dengan kecantikan dan bola-mata bundar pelaku gendam tersebut. Seseorang yang serakah melihat air minum kaleng yang ditawarkan pelaku gendam akan sangat mudah jatuh menjadi korban gendam ketimbang seseorang yang tidak tergoda melihat segarnya air minum kalengan tersebut. Seseorang yang benci dengan kehidupannya yang mungkin penuh kesulitan akan sangat mudah jatuh menjadi korban gendam ketimbang seseorang yang senantiasa lila-legawa dengan segala apa yang ada di perjalanan hidupnya. Seseorang yang berpikir uang sebesar sepuluh ribu rupiah (Rp. 10.000) bisa beranak menjadi sebesar sepuluh juta rupiah (Rp. 10.000.000) akan sangat mudah terjatuh menjadi korban gendam ketimbang seseorang yang mempunyai kesadaran dan nalar wajar bahwa benda tidak mungkin beranak pinak kecuali dengan usaha dan kerja-keras. Seseorang yang berpikir dengan uang Rp.50.000 bisa membeli cincin emas 10 gram dengan tingkat kemurnian 24 karat akan sangat mudah terjatuh menjadi korban gendam.

Image Hipnosis

Image Hipnosis

Saya sendiri pernah beberapa kali “dicobai” oleh pelaku gendam seperti ini, dan syukurlah dengan langkah-langkah tersebut diatas saya berhasil menghindari dari “derita” menjadi korban pelaku kejahatan “gendam”.

Demikian sahabat semuanya, semoga tips-tips tersebut diatas bermanfaat bagi anda semuanya.

________________________________________

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )


Upacarika RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Minggu, 04 Juli 2010

Ditulis dalam TIPS SEHARI-HARI | 13 Comments »

PĀŢHA UNTUK UPACARA MANGGALA ( Upacara Memperoleh Berkah )

Posted by ratanakumaro pada Oktober 31, 2009

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattung (3X) )

Namatthu Buddhassa,

pemercikan air suci

pemercikan air suci

Rekan-rekan se-Dhamma yang berbahagia. Kita semua sebagai ummat Buddha mengetahui, bahwa Paritta (Pali) atau Paritrana (Sansekerta) dan pirit atau pirith menurut pengucapannya dalam bahasa Singhala merupakan suatu Perlindungan ( sesuai dengan makna dari kata “Paritta” itu sendiri ) bagi yang menguncarkannya dengan baik dan benar.

Paritta adalah khotbah Sang Buddha yang merupakan suatu perlindungan yang kuat bilamana bisa dihapal. Pada saat pengulangan Paritta, pikiran harus ditujukan, dipusatkan pada makna paritta tersebut sehingga pada saat itu kesadaran ( sati-sampajjana ) menjadi kuat, pikiran ( citta ) bersatu dengan kebajikan, bersih dari kilesa, penuh dengan cinta-kasih (metta) dan kebenaran (sacca). Mengulangi paritta menjadi sebuah pengkondisian untuk mempercepat masaknya buah kamma baik ( kusala-kamma-vipaka ) yang telah dibuat, sebaliknya buah kamma tidak baik ( akusala-kamma-vipaka ) akan terhambat masaknya, kecuali akusala-garuka-kamma-vipaka ( kamma buruk yang berat ; seperti membunuh orang tua, orang suci, dll. ). Inilah yang dimaksudkan dengan perlindungan dalam Paritta.

meja puja yang telah siap untuk Upacara

meja puja yang telah siap untuk Upacara

Kekuatan mengulangi Paritta atau membaca Paritta sangat tergantung adanya faktor berikut ini :

  1. Saddha, keyakinan yang kuat  terhadap Dhamma.
  2. Sila, memiliki moral yang baik.
  3. Metta, cinta kasih universal yang berkembang.
  4. Sacca, kebenaran dalam mengucapkan Dhamma.
  5. Vaca, pengucapan yang tepat dan hapal dengan baik.

Berkaitan dengan faktor yang kelima, yaitu “Vaca”, maka seseorang yang membaca Paritta seharusnya terlebih dahulu belajar / mempelajari cara-cara pengucapan paritta dengan baik dan benar. Sangatlah penting arti sebuah kata bahasa Pali pada saat pengucapannya, kata yang sama bila diucapkan dengan berbeda suara / penekanan akan menjadi lain sekali artinya.

Bila kelima faktor tersebut diatas dipenuhi, maka pembacaan dan penguncaran Paritta sesuai dengan maksud tujuan-tujuan tertentu, akan memberikan manfaat yang luar-biasa. Sebab, penguncaran Paritta merupakan ‘pemantik’ bagi bangkitnya tiga kekuatan besar dan tiada bandingnya di seluruh penjuru alam-semesta ini, yaitu kekuatan “Tiga-Mustika” (Ti-Ratana ) : Buddha-Dhamma-Sangha.  Tiada permata ataupun kekuatan apapun yang mampu menandingi Ti-Ratana, Tathagata yang dipuja oleh para manusia, dewa, naga, yakkha, gandhabba, dan juga bahkan para Brahma.

PĀŢHA UNTUK UPACARA MAŃGALA ( Upacara Memperoleh Berkah )

Pada kesempatan ini, saya hendak menyajikan Patha khusus yang sebaiknya dibaca pada saat upacara memperoleh berkah ; seperti misalnya  ketika membuka usaha / bidang-bisnis baru, kantor baru, demi berkah kejayaan, kebahagiaan, kesehatan, paras bagus, kekayaan, kekuatan, dan berbagai macam keberhasilan serta demi tujuan melenyapkan berbagai bentuk rintangan, halangan, gangguan ( baik yang tampak mata maupun tak tampak ), penderitaan, kesedihan, dan lain-lain sebagainya.

Saya sendiri sudah sering melakukan penguncaran Patha khusus untuk memperoleh berkah ini. Terakhir, pada hari Kamis 29 Oktober 2009 jam 19.00 WIB s/d 20.45 WIB kemarin, dalam acara upacara memperoleh berkah bagi kesuksesan dan keberhasilan sebuah usaha pabrikasi yang baru saja didirikan. Upacara seperti ini biasanya berlangsung selama kurang-lebih 1,5 jam hingga 2 jam .

meja puja untuk Upacara

meja puja untuk Upacara

Setelah mempersiapkan meja Puja-Bhakti, serta dimana ruangan dan para peserta (hadirin) yang hendak mengikuti Upacara telah siap-sedia, kita bisa memulai Upacara.

Patha khusus yang pertama kali harus dibaca adalah DEVATĀ – ĀRĀDHANĀ” , yang bertujuan untuk mengundang para dewa yang berada di segenap penjuru alam semesta , para yakkha, gandhabba, naga dan juga Brahma untuk hadir mengikuti jalannya upacara keagamaan ; mendengarkan Dhamma / Ajaran Sang Buddha.

Pembacaan Paritta

Pembacaan Paritta

Setelah penguncaran devata-aradhana tersebut selesai, maka terus menerus kita menguncarkan paritta-paritta khusus untuk tujuan perolehan berkah – saya lampirkan dibawah – dan setelah selesai  penguncaran Paritta, pemimpin upacara keagamaan memercikkan air-suci yang telah diuncari Paritta-Paritta khusus tersebut kepada para peserta upacara dan ke sekeliling tempat yang dimaksudkan untuk diberkati.

Dibawah ini adalah Patha-Patha khusus yang saya maksudkan untuk upacara ini, terdiri dari 22 Paritta / Patha / Gatha yang saya ambil dari sumber “PARITTA SUCI” terbitan Sangha Theravada Indonesia ( STI ), edisi II Pembaruan cetakan kedua (2008) , dicetak oleh Percetakan Bocah Marga Jaya, Bekasi.

Semoga Paritta / Patha /Gatha dibawah ini bermanfaat bagi anda semuanya. Selamat belajar dan berpraktek demi kebahagiaan dan kesejahteraan anda masing-masing. Sadhu , Sadhu, Sadhu. ;)

_____________________________________________

1. DEVATĀ – ĀRĀDHANĀ

Samantā cakkavālesu atrāgacchantu devatā, saddhamang munirājassa suņantu saggamokkhadang, sagge kāme ca rūpe girisikharataţe cantalikkhe vimāne, dīpe raţţhe ca gāme taruvana-gahane gehavatthumhi khette, bhummā cāyantu devā jalathala-visame yakkha-gandhabba-nāgā, tiţţhantā santike yang munivara-vacanang sādhavo me suņantu,

Dhammassavanakālo ayambhadantā,

Dhammassavanakālo ayambhadantā,

Dhammassavanakālo ayambhadantā.


Semoga para dewa yang berada di segenap alam semesta datang ke sini mendengarkan Ajaran Kebenaran Sang Buddha, Raja para bijaksanawan, yang membimbing ke surga dan ke kebebasan. Datanglah para dewa yang bersemayam di  surga, yang berada di tingkat alam nafsu atau pun di tingkat alam berbentuk; juga para dewa bumi yang bersemayam di vimāna ( tempat menyenangkan , tempat para dewa bersemayam ), atau di puncak gunung, di jurang, di angkasa, di pulau, di kota, di desa, di pepohonan, di hutan belukar, di sekitar rumah, atau di sawah-ladang ; juga para yakkha, gandhabba, dan naga yang bersemayam di perairan, daratan, atau pun di perbukitan. Silakan mereka yang berada di sekitar ini mendengarkan Sabda Sang Buddha, Raja para bijaksanawan, seperti berikut ini.

Para Budiman, sekarang tiba saatnya mendengarkan Dhamma,

Para Budiman, sekarang tiba saatnya mendengarkan Dhamma,

Para Budiman, sekarang tiba saatnya mendengarkan Dhamma

_____________________________________________

2. PUBBABHAGANAMAKARA


Namo tassa bhagavato arahato sammasambuddhassa.

(tikkhattung ; 3X )

Terpujilah Sang Bhagava, Yang Mahasuci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna.

_________________________________________________

3. SARAŅAGAMANA PATHA


Buddhang saranang gacchami

Dhammang saranang gacchami

Sanghang saranang gacchami



Dutiyampi Buddhang saranang gacchami

Dutiyampi Dhammang saranang gacchami

Dutiyampi Sanghang saranang gacchami



Tatiyampi Buddhang saranang gacchami

Tatiyampi Dhammang saranang gacchami

Tatiyampi Sanghang saranang gacchami


Aku berlindung kepada Buddha

Aku berlindung kepada Dhamma

Aku berlindung kepada Sanggha


Kedua kalinya aku berlindung kepada Buddha

Kedua kalinya aku berlindung kepada Dhamma

Kedua kalinya aku berlindung kepada Sanggha


Ketiga kalinya aku berlindung kepada Buddha

Ketiga kalinya aku berlindung kepada Dhamma

Ketiga kalinya aku berlindung kepada Sanggha

_________________________________________________

4. NAMAKĀRASIDDHI GĀTHA


Yo cakkhumā mohamalāpakattho

Sāmangva buddho sugato vimutto

Mārassa pāsā vinimocayanto

Pāpesi khemang janatang vineyyang.

Buddhang varantang sirasā namāmi

Lokassa nāthañca vināyakañca

Tantejasā te jayasiddhi hotu

Sabbantarāyā ca vināsamentu

Dhammo dhajo yo viya tassa satthu

Dassesi lokassa visuddhimaggang

Niyyāniko dhammadharassa dhārī

Sātāvaho santikaro suciņņo.

Dhammang varantang sirasā namami

Mohappadālang upasantadāhang

Tantejasā te jayasiddhi hotu

Sabbantarāyā ca vināsamentu.

Saddhammasenā sugatānugo yo.

Lokassa pāpūpakilesajetā

Santo sayang santiniyojako ca

Svaākkhāta-dhammang viditang karoti.

Sańghang varantang sirasā namāmi

Buddhānubuddhang samasīladiţţhing

Tantejasā te jayasiddhi hotu

Sabbantarāyā ca vināsamentu.


Sang Penglihat yang telah melenyapkan kegelapan,

Sebagai seorang Sambuddha, Sugata, yang telah bebas;

Membebaskan makhluk vineyya ( yang telah siap dibimbing untuk menuju ke kebebasan sejati ) dari jerat Mara si jahat, mengantarkan ke keselamaatan.

Aku bersujud kepada Sang Buddha nan mulia,

Sang Pelindung dan Pembimbing Dunia.

Berkat kekuatan ini, semoga kejayaan ada pada Anda,

Dan semoga segala rintangan lenyap adanya.

Dhamma bagaikan panji Sang Guru

Menunjukkan jalan kesucian kepada dunia,

Pengantar ke kebebasan, pelindung pelaksana Dhamma ;

Bila dilaksanakan, mendatangkan kebahagiaan dan kedamaian.

Aku bersujud kepada Dhamma nan mulia,

Pelenyap kebodohan, penakluk kobaran api nafsu (keserakahan dan kebencian)

Berkat kekuatan ini, semoga kejayaan ada pada Anda,

Dan semoga segala rintangan lenyap adanya.

Sanggha, laskar Dhamma, siswa Sang Sugata,

Penakluk keburukan si penoda makhluk dunia.

Mereka sendiri telah damai dan membimbing orang ke kedamaian.

Menunjukkan Dhamma yang telah dibabarkan oleh Sang Guru.

Aku bersujud kepada Sanggha nan mulia,

Yang telah mencapai penerangan setelah Sang Buddha,

Yang setaraf Sila dan pandangan-Nya.

Berkat kekuatan ini, semoga kejayaan ada pada Anda

Dan semoga segala rintangann lenyap adanya.

_________________________________________________

5. SACCAKIRIYA GĀTHĀ


Natthi me saranang annang,  Buddho me saranang varang

Etena saccavajjena,                      Sotthi te hotu sabbada.


Natthi me saranang annang,  Dhammo me saranang varang

Etena saccavajjena,                       Sotthi te hotu sabbada.


Natthi me saranang annang,  Sanggho me saranang varang

Etena saccavajjena,                       Sotthi te hotu sabbada.


Tiada perlindungan lain bagiku,

Sang Buddha-lah pelindungku nan luhur.

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga setiap saat Anda selamat sejahtera


Tiada perlindungan lain bagiku,

Dhamma-lah pelindungku nan luhur,

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga setiap saat Anda selamat sejahtera


Tiada perlindungan lain bagiku,

Sanggha-lah pelindungku nan luhur,

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga setiap saat Anda selamat sejahtera

_________________________________________________

6. MAHĀKĀRUŅIKONĀTHOTIĀDI GĀTHĀ


Mahākāruņiko nātho     Atthāya sabbapāņinang

Pūretvā pāramī sabba    Patto sambodhimuttamang

Etena saccavajjena          Mā hontu sabbupaddavā

Mahākāruniko nātho     Hitāya sabbapāņinang

Pūretvā pārami sabbā    Patto sambodhimuttamang

Etena saccavajjena          Mā hontu sabbupaddavā

Mahākāruniko nātho     Sukhāya sabbapāņinang

Pūretvā pāramī sabbā    Patto sambodhimuttamang

Etena saccavajjena          Mā hontu sabbupaddavā


Sang Pelindung yang mahawelas asih,

Setelah menyempurnakan semua paramita,

Mencapai Bodhi nan luhur atas usaha sendiri

Demi kepentingan semua makhluk.

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga semua musibah lenyap adanya.

Sang Pelindung yang mahawelas asih,

Setelah menyempurnakan semua paramita,

Mencapai Bodhi nan luhur atas usaha sendiri

Demi manfaat semua makhluk.

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga semua musibah lenyap adanya.

Sang Pelindung yang mahawelas asih,

Setelah menyempurnakan semua paramita,

Mencapai Bodhi nan luhur atas usaha sendiri

Demi kebahagiaan semua makhluk.

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga semua musibah lenyap adanya.

_______________________________________________

7. NAMOKĀRAŢŢHAKA GĀTHĀ


Namo arahato sammā-                  Sambuddhassa mahesino

Namo uttamadhammassa            Svākkhātasseva tenidha

Namo mahāsangghasssāpi          Visuddhasīladiţţhino

Namo omātyāraddhassa               Ratanatayassa sādhukang

Namo omakātītassa                        Tassa vatthuttayassapi

Namokārappabhāvena                  Vigacchantu upaddavā

Namokārānubhāvena                    Suvatthi hotu sabbadā

Namokārassa tejena                      Vidhimhi homi tejava


Sujudku pada Sang Arahanta,

Sammasambuddha, Penemu Kebajikan Maha-agung.

Sujudku pada Dhamma nan utama

yang telah dengan sempurna dibabarkan di dunia.


Sujudku pada Mahasangha,

yang ber-Sila dan berpandangan murni.

Semoga sujudku pada Ti-Ratana,

yang berawal dengan kata “AUM” mendatangkan keberhasilan.


Sujudku pada Ti-Ratana, yang terbebas dari kenistaan.

Dengan daya kata “AUM”, semoga semua rintangan lenyap.


Dengan kuasa kata “AUM”, semoga sejahtera selalu.

Dengan kekuatan kata “AUM”, semoga kekuatan saya ada pada upacara ini.

___________________________________________

8. MANGGALA SUTTA


Evamme sutang.

Ekang samayang bhgavā,

Sāvatthiyang viharati,

Jetavane anathapindikassa, ārāme.

 


Atha kho aññatara devatā,

Abhikantāya rattiyā abhikkantavannā,

Kevalakappang jetavanang obhasetvā

Yena bhagavā tenupassangkami.

 


Upasangkamitvā bhagavantang abhivādetvā

Ekamantang aţţhāsi.

Ekamantang ţhitā kho sā devatā

Bhagavantang gāthāya ajjhabhāsi :


Bahū devā manussā ca                  Mańgalani acintayung

Ākangkhamānā sotthānang           Brūhi mańgalamuttamang.

 


Asevanā ca bālānang                      Panditānañca sevanā

Pūjā ca pūjanīyānang                     Etammańgalamuttamang

 


Paţirūpadesavāso ca                      Pubbe ca katapuññatā

Attasammāpaņidhi ca                    Etammańgalamuttamang

 


Bāhusaccañca sippañca                 Vinayo ca susikkhito

Subhāsitā ca yā vācā                       Etamańgalamuttamang

 


Mātāpitu-upaţţhānang                 Puttadārassa sańgaho

Anākulā ca kammantā                   Etamańgalamuttamang

 


Dānañca dhammacariyā ca          Ñātakānañca sańgaho

Anavajjāni kammāni                      Etammańgalamuttamang

 


Āratī viratī pāpā                               Majjapānā ca saññamo

Appamādo ca dhammesu            Etammańgalamuttamang

 


Gāravo ca nivāto ca                         Santuţţhi ca kataññuta

Kālena dhammasavanang            Etamańgalamuttamang

 


Khanti ca sovacassatā                    Samaņānañca dassanang

Kālena dhammasākacchā             Etammańgalamuttamang

 


Tapo ca brahmacariyañca             Ariyasaccāna dassanang

Nibbānasacchikiriyā ca                  Etammańgalamuttamang

 


Phuţţhassa lokadhammehi         Cittang yassa na kampati

Asokang virajang khemang         Etammańgalamuttamang

 


Etādisani katvāna                            Sabbatthamaparājitā

Sabbattha sotthing gacchanti     Tantesang mańgalamuttamanti

 


Demikian telah saya dengar.

Pada suatu ketika Sang Bhagava

Berdiam di Jetavana,

Arama milik hartawan Anathapindika,

Di dekat kota Savatthi.


Saat itulah sesosok dewa, ketika hari menjelang pagi,

Dengan bercahaya cemerlang menerangi seluruh Jetavana,

Mengunjungi Sang Bhagava.

Setelah datang, menghormat Sang Bhagava,

Ia berdiri di satu sisi yang layak.


Dengan berdiri di satu sisi yang layak itulah,

Ia memohon Sang Bhagava dengan syair berikut ini :


Banyak dewa dan manusia

Yang mengharapkan kebahagiaan,

Mempersoalkan tentang berkah.

Mohon uraikan, apakah berkah utama itu.


Tak bergaul dengan orang-orang dungu,

Bergaul dengan para bijaksanawan,

Dan menghormat yang patut dihormat,

Itulah berkah utama.


Bertempat tinggal di tempat yang sesuai,

Memiliki timbunan kebajikan di masa lampau,

Dan membimbing diri dengan benar,

Itulah berkah utama.


Berpengetahuan luas, berketerampilan,

Terlatih baik dalam tata susila,

Dan bertutur kata dengan baik,

Itulah berkah utama.


Membantu ayah dan ibu,

Menunjang anak dan istri,

Dan bekerja dengan sungguh-sungguh,

Itulah berkah utama.


Berdana, melakukan kebajikan,

Menyokong sanak saudara,

Dan tidak melakukan pekerjaan tercela,

Itulah berkah utama.


Menjauhi, menghindari perbuatan buruk,

Menahan diri dari minuman keras,

Dan tak lengah melaksanakan Dhamma,

Itulah berkah utama.


Memiliki rasa hormat, berendah hati,

Merasa puas dengan yang dimiliki, ingat budi baik orang,

Dan mendengarkan Dhamma pada waktu yang sesuai,

Itulah berkah utama.


Sabar, mudah dinasehati,

Mengunjungi para petapa,

Dan membahas Dhamma pada waktu yang sesuai,

Itulah berkah utama.


Bersemangat dalam mengikis kilesa ( pengotor-batin ), menjalankan hidup suci,

Menembus Empat Kebenaran Mulia,

Dan mencapai Nibbana,

Itulah berkah utama.


Meski disinggung oleh hal-hal duniawi

Batin tak tergoyahkan,

Tiada sedih, tanpa noda, dan penuh damai,

Itulah berkah utama.


Setelah melaksanakan hal-hal seperti itu,

Para dewa dan manusia tak akan terkalahkan dimana pun,

Mencapai kebahagiaan dimana pun berada.

Itulah berkah utama bagi para dewa dan manusia.

___________________________________________________

9. RATANA SUTTA ( tiga bait terakhir saja )


Yānidha bhūtani samāgatani

Bhummāni vā yāniva antalikkhe.

Tathāgatang devamanussa-pūjitang

Buddhang namassāma suvatthi hotu

Yānidha bhūtani samāgatani

Bhummāni vā yāniva antalikkhe.

Tathāgatang devamanussa-pūjitang

Dhammang namassāma suvatthi hotu

Yānidha bhūtani samāgatani

Bhummāni vā yāniva antalikkhe.

Tathāgatang devamanussa-pūjitang

Sańghang namassāma suvatthi hotu


Makhluk apa pun yang berkumpul di sini,

Baik yang berada di bumi atau pun di angkasa ;

Marilah bersama-sama menghormat Sang Buddha,

Tathagata, yang dipuja para dewa dan manusia.

Makhluk apa pun yang berkumpul di sini,

Baik yang berada di bumi atau pun di angkasa ;

Marilah bersama-sama menghormat Dhamma,

Tathagata, yang dipuja para dewa dan manusia.

Makhluk apa pun yang berkumpul di sini,

Baik yang berada di bumi atau pun di angkasa ;

Marilah bersama-sama menghormat Sańgha

Tathagata, yang dipuja para dewa dan manusia.

_______________________________________________

10. KARAŅĪYAMETTA SUTTA


Karaņīyamatthakusalena

Yantang santang padang abhisamecca :

Sakko ujū ca suhujū ca

Suvaco cassa mudu anatimāni.

Santussako ca subharo ca

Appakicco ca sallahukavutti

Santindriyo ca nipako ca

Appagabbho kulesu ananugiddho.

Na ca khuddang samācare kiñci

Yena viññū pare upavadeyyung

Sukhino vā khemino hontu

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.

Ye keci pāņabhūtatthi

Tasā vā thāvarā vā anavasesā

Dīghā vā ye mahantā vā

Majjhimā rassakā aņukathūlā.

Diţţha vā ye ca adiţţhā

Ye ca dūre vasanti avidūre

Bhūtā vā sambhavesī vā

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.

Na paro parang nikubbetha

Nātimaññetha katthaci nang kañci

Byārosanā paţīghasaññā

Nāññamaññassa dukkhamiccheyya.

Mātā yathā niyang puttang

Āyusā ekaputtamanurakkhe.

Evampi sabbabhūtesu

Mānasambhāvaye aparimāņang.

Mettañca sabbalokasming

Mānasambhāvaye aparimānang

Uddhang adho ca tiriyañca

Asambādhang averang asapattang.

Tiţţhañcarang nisino vā

Sayāno vā yāvatassa vigatamiddho

Etang sating adhittheyya

Brahmametang vihārang idhamāhu.

Diţţhiñca anupagamma

Silavā dassanena sampanno

Kāmesu vineyya gedhang

Nahi jātu gabbhaseyyang punaretīti.


Inilah yang patut dikerjakan

Oleh ia yang tangkas dalam hal yang berguna,

Yang mengantar ke jalan kedamaian:

Sebagai orang yang cakap, jujur, tulus,

Mudah dinasehati, lemah-lembut, tidak sombong.

Merasa puas atas yang dimiliki, mudah dirawat,

Tidak repot, bersahaja hidupnya,

Berindria tenang, penuh pertimbangan,

Sopan, tak melekat pada keluarga-keluarga ;

Tidak berbuat kesalahan walaupun kecil

Yang dapat dicela oleh para bijaksanawan,

Senantiasa bersiaga dengan ujaran cinta kasih:

“Semoga semua makhluk berbahagia dan tenteram.

Semoga semua makhluk hidup bahagia.”

Makhluk hidup apa pun yang ada ;

Yang goyah ( yang gampang tergoyah oleh keinginan dan ketakutan )

Dan yang kokoh ( yang terkendali keinginan dan ketakutannya )

Tanpa kecuali

Yang panjang atau yang besar,

Yang sedang, pendek, kecil, kurus atau pun yang gemuk ;

Yang tampak atau pun yang tak tampak,

Yang berada jauh atau pun dekat,

Yang telah menjadi atau pun yang belum menjadi,

Semoga mereka semua hidup bahagia.

Tak sepatutnya yang satu menipu yang lainnya,

Tidak menghina siapa pun di mana juga ;

Dan, tak selayaknya karena marah dan benci

Mengharap yang lain celaka.

Sebagaimana seorang Ibu mempertaruhkan jiwa

Melindungi putra tunggalnya ;

Demikianlah terhadap semua makhluk,

Kembangkan pikiran cinta kasih tanpa batas.

Cinta kasih terhadap makhluk di segenap alam,

Patut dikembangkan tanpa batas dalam batin

Baik ke arah atas, bawah, dan diantaranya ( alam arupa, alam nafsu, dan diantaranya ( alam rupa ) ) ;

Tidak sempit, tanpa kedengkian, tanpa permusuhan.

Selagi berdiri, berjalan atau duduk

Ataupun berbaring, sebelum terlelap ;

Sepatutnya ia memusatkan perhatian ini

Yang disebut sebagai “berdiam dalam Brahma”.

Ia yang mengembangkan metta, tak berpandangan salah ( tak berpandangan salah terhadap nama-rupa ),

Teguh dalam Sila dan berpengetahuan sempurna,

Dan melenyapkan kesenangan nafsu indriya ;

Tak akan lahir dalam rahim lagi.

_______________________________________________

11. KHANDHA PARITTA


Virupakkhehi me mettang           Mettang erapathehi me

Chabyaputtehi me mettang        Mettang kanhagotamakehi ca.

 


Apadakehi me mettang                                Mettang dipadakehi me

Catuppadehi me mettang            Mettang bahuppadehi me

 


Ma mang apadako hingsi              Ma mang hingsi dipadako

Ma mang catuppado hingsi          Ma mang hingsi bahuppado

 


Sabbe satta sabbe pana                                Sabbe bhuta ca kevala

Sabbe bhadrani passantu             Ma kinci papamagama.

 


Appamāņo buddho

Appamāņo dhammo

Appamāņo sańgho

 


Pamanavantani siringsapani

Ahi vicchika satapadi unnanabhi sarabu musika.

Kata me rakkha kata me paritta

Patikkamantu bhutani.

 


Sohang namo bhagavato

Namo sattannang sammasambuddhanang.


Cinta kasihku pada suku ular Virupakkha.

Cinta kasihku pada suku ular Erapatha.

Cinta kasihku pada suku ular Chabyaputta.

Cinta kasihku pada suku ular Kanhagotamaka.

Cinta kasihku pada makhluk-makhluk tanpa kaki.

Cinta kasihku pada makhluk-makhluk berkaki dua.

Cinta kasihku pada makhluk-makhluk berkaki empat.

Cinta kasihku pada makhluk-makhluk berkaki banyak.

Semoga makhluk-makhluk tanpa kaki tak menyakitiku.

Semoga makhluk-makhluk berkaki dua tak menyakitiku.

Semoga makhluk-makhluk berkaki empat tak menyakitiku.

Semoga makhluk-makhluk berkaki banyak tak menyakitiku.

Segala makhluk, segala kehidupan,

Segala yang terlahir tanpa kecuali ;

Semoga semuanya mendapatkan kebaikan;

Janganlah ada dosa ( Pali : kesalahan, keburukan ; perbuatan jahat, kebencian, cacat )

Apa pun pada mereka.

Tak terbatas daya Sang Buddha!

Tak terbatas daya Dhamma!

Tak terbatas daya Sangha!

Segala makhluk melata, seperti :

Ular, ketungging, lipan, laba-laba, tokek, dan

Tikus adalah terbatas daya mereka.

Telah kubangun penjagaan. Telah kubangun perlindungan.

Silakan makhluk-makhluk menyingkir dengan damai!

Aku ini pemuja Sang Bhagava,

Pemuja Tujuh Sammasambuddha.

______________________________________________

12. VAŢŢAKA PARITTA


Atthi loke sīlaguno                         Saccang soceyyanuddayā

Tena saccena kāhāmi                     Saccakiriyama-nuttarang.

Āvajjitvā dhammabalang             Saritvā pubbake jine

Saccabalama-vassāya                     Saccakiriyama-kāsahang.

Santi pakkhā apattanā                   Santi pādā avañcanā

Mātā pitā ca nikkhantā                  Jātaveda paţikkama.

Saha sacce kate mayhang             Mahāpajjalito sikhī

Vajjesi solasa karīsāni                   Udakang patvā yathā sikkhī

Saccena me samo natthi               Esā me saccapāramiti


Di alam ini terdapat berkah Sila,

Berkah kebenaran, berkah kesucian, dan berkah kasih sayang.

Berdasarkan atas kebenaran ini,

Aku melakukan sumpah nan luhur.

Setelah merenungkan kekuatan Dhamma,

Mengenang para Penakluk di waktu lampau,

Dan mendasarkan pada kekuatan kebenaran ;

Aku bersumpah :

“Aku bersayap namun tak mampu terbang.

Aku berkaki tetapi tak dapat berjalan.

Ayah bundaku pun telah pergi.

Wahai Api Hutan, kembalilah!”

Di saat setelah aku membuat sumpah,

Kobaran jilatan api yang ganas

Seluas 16 karissa ( 1 karissa = 125 lengan; 1 lengan = 0,5 meter )

Berhenti serentak,

Bagaikan api yang tersiram air.

Tiada sesuatu apa pun yang setara dengan sumpahku.

Inilah sacca-paramita-ku.

_______________________________________________

13. BUDDHĀNUSSATI

 


Itipi so bhagava arahang sammasambuddho,

Vijjacarana-sampanno sugato lokavidu,

Anuttaro purisadhammasarathi,

Sattha devamanussanang, buddho bhagavati.


Karena itulah Sang Bhagava, Beliau adalah Yang Mahasuci, Yang telah Mencapai Penerangan Sempurna, Sempurna Pengetahuan serta Tindak-tanduk-Nya, Sempurna Menempuh Jalan ke Nibbana, Pengetahu Segenap Alam, Pembimbing Manusia yang Tiada Taranya, Guru para Dewa dan Manusia, Yang Sadar, Yang Patut Dimuliakan.

______________________________________________

14. DHAMMĀNUSSATI


Svakkhato bhagavata dhammo,

Sanditthiko akaliko ehipassiko,

Opanayiko paccattang veditabbo vinnuhiti.


Dhamma telah sempurna dibabarkan  oleh Sang Bhagava, terlihat amat jelas, tak bersela waktu, mengundang untuk dibuktikan, patut diarahkan ke dalam batin, dapat dihayati oleh para bijaksanawan dalam batin masing-masing.

_______________________________________________

15. SAŃGHĀNUSSATI



Supaţipanno bhagavato sāvakasańgho,

Ujupaţipanno bhagavato sāvakasańgho,

Ñayapatipanno bhagavato savakasańgho,

Sāmīcipaţipanno bhagavato sāvakasańgho,

Yadidang cattāri purisayugāni aţţhapurisapuggalā,

Esa bhagavato sāvakasańgho,

Āhuneyyo pāhuneyyo dakkhineyyo añjalikaraņiyo,

Anuttarang puññakhettang lokassāti.


Sangha siswa Sang Bhagava telah bertindak baik,

Sangha siswa Sang Bhagava telah bertindak lurus,

Sangha siswa Sang Bhagava telah bertindak benar,

Sangha siswa Sang Bhagava telah bertindak patut,

Mereka adalah empat pasang makhluk , terdiri dari delapan jenis makhluk suci (Ariya-Sangha)

Itulah Sangha Siswa Sang Bhagava ;

Patut menerima pujaan, patut menerima sambutan,

Patut menerima persembahan, patut menerima penghormatan;

Ladang menanam jasa yang tiada taranya bagi makhluk dunia.

_______________________________________________

16. BOJJHAŃGA PARITTA



Bojjhańgo satisańkhāto                                Dhammānang vicayo tathā

Viriyampīti-passadhi-                    Bojjhańgā ca tathāpare.

Samādhupekkhabojjhańgā          Sattete sabbadassinā

Muninā sammadakkhātā              Bhāvitā bahulīkatā.

Sangvattanti abhiññaya                Nibbānāya ca bodhiyā

Etena saccavajjena                          Sotthi te hotu sabbadā.

 


Ekasming samaye nātho               Moggallānañca kassapang

Gilāne dukkhite disvā                   Bojjhańge satta desayi

Te ca tang abhinanditvā                Rogā muccingsu tangkhaņe

Etena saccavajjena                          Sotthi te hotu sabbadā.

 


Ekadā dhammarājāpi                     Gelaññenābhipīlito

Cundattherena taññeva               Bhaņāpetvāna sādarang.

Sammoditvā ca ābādhā                 Tamha vuţţhāsi ţhānaso

Etena saccavajjena                          Sotthi te hotu sabbadā.

 


Pahīnā te ca ābādhā                       Tiņņannampi mahesinang

Maggāhatakilesā va                        Pattānuppatti-dhammatang

Etena saccavajjena                          Sotthi te hotu sabbadā.


Faktor-faktor untuk mencapai Penerangan adalah :

Sati, dahmmavicaya,

Virya, piti, dan passaddhi.

Faktor lainnya lagi adalah :

Samadhi dan upekkha.

Ketujuh faktor ini telah diajarkan dengan jelas

Oleh Sang Maha Muni, Yang Mahatahu.

Bila dikembangkan dan dilatih

Menghasilkan pengetahuan luhur, kepadaman kilesa

Dan Penerangan Sempurna.

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga Anda sejahtera selalu.

Pada suatu ketika, Sang Pelindung

Menjenguk Yang Ariya Moggallana dan Yang Ariya Kassapa

Yang sedang menderita sakit.

Beliau membabarkan Tujuh Faktor Pencapaian Penerangan.

Beliau berdua merasa gembira atas pembabaran itu

Dan sembuh dari sakit di saat itu pula.

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga Anda sejahtera selalu.

Suatu ketika, Sang Dhammaraja sendiri

Menderita sakit,

Meminta Yang Ariya Cunda Thera

Mengulang Sutta itu dengan seksama

Beliau merasa gembira

Dan sembuh dari sakit itu.

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga Anda sejahtera selalu.

Penyakit telah dimusnahkan

Oleh ketiga petapa agung tersebut,

Yang telah mencapai ketidak-munculan secara tetap ;

Bagai kilesa yang telah dimusnahkan oleh Sang Jalan.

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga Anda sejahtera selalu.

_______________________________________________

17. ĀŢĀNĀŢIYA PARITTA



Vipassissa namatthu                      Cakkhumantassa sirimato.

Sikhissapi namatthu                       Sabbabhūtā-nukampino.

Vessabhussa namatthu                 Nhātakassa tapassino.

Namatthu kakusandhassa            Mārasenap-pamaddino.

Konāgamanassa namatthu          Brāhmanassa vusīmato.

Kassapassa namatthu                    Vippamuttassa sabbadhi.

Ańgirasassa namatthu                   Sakyaputtassa sirīmato

Yo imang dhmmamadesesi         Sabbadukkhā-panūdanang.

Ye cāpi nibbutā loke                      Yathābhūtang vipassisung

Te janā apisunā                                                Mahantā vītasāradā.

Hitang devamanussānang           Yang namassanti gotamang

Vijjācaraņa-sampannang              Mahantang vītasāradang

Vijjācaraņa-sampannang              Buddhang vandāma gotamanti


Sujudku kepada Sang Buddha Vipassi,

Pemilik penglihatan dan keagungan.

Sujudku kepada Sang Buddha Sikhi,

Pengasih semua makhluk.

Sujudku kepada Sang Buddha Vessabhu,

Pembersih noda, pelaksana tapa.

Sujudku kepada Sang Buddha Kakusandha,

Penghancur Mara beserta bala tentaranya.

Sujudku kepada Sang Buddha Konagamana,

Penghanyut keburukan, pencapai kesucian.

Sujudku kepada Sang Buddha Kassapa,

Yang terbebas dari segala kilesa.

Sujudku kepada Sang Buddha Angirasa,

Putra Sakya nang Agung,

Yang telah membabarkan Dhamma ini,

Untuk melenyapkan semua dukkha.

Mereka-mereka yang mencapai padamnya kilesa di dunia ini,

Melihat dengan jelas Dhamma sebagaimana adanya;

Adalah orang-orang yang bukan penghasut,

Sebagai manusia besar, yang matang dalam kebijaksanaan.

Demi manfaat,

Para dewa dan manusia memuji Sang Buddha Gotama,

Yang sempurna pengetahuan dan tindak-tanduk-Nya,

Sebagai manusia besar yang matang dalam kebijaksanaan.

Kami bersujud kepada Sang Buddha Gotama,

Yang sempurna pengetahuan dan tindak-tanduk-Nya.

_______________________________________________

18. JAYA PARITTA


Jayanto bodhiyā mūle                   Sakyānang nandivaddhano

Evang tvang vijayo hohi              Jayassu jayamańgale

Aparājitapallańke                             Sīse paţhavipokkhare

Abhiseke sabbabuddhānang     Aggappatto pamodati.

Sunakkhattang sumańgalang   Supabhātang suhuţţhitang

Sukhaņo sumuhutto ca                 Suyiţţhang brahmacārisu.

Padakkhiņang kāyakammang  Vācākammang padakkhinang

Padakkhiņang manokammang  Paņidhi te padakkhinā

Padakkhiņāni katvāna                     Labhantatthe padakkhiņe.


Semoga Anda memperoleh berkah kejayaan ;

Sebagaimana Mahabijaksanawan

Yang berjaya atas Mara di bawah poho Bodhi,

Mencapai kejayaan yang unggul di antara para Buddha,

Yang berbahagia di atas tahta nan mulia dan tak terkalahkan,

Yang perkasa di maha pertiwi, pembawa suka-cita kaum Sakya.

Saat berbuat baik ; itulah neptu yang baik, berkah yang baik,

Fajar yang terang, bangun tidur yang ceria,

Waktu yang baik, saat yang baik,

Dan disebut telah memuja para suciwan dengan baik.

Setelah melakukan kebaikan-kebaikan , yaitu :

Bertindak baik,

Berucap baik,

Berpikir baik,

Berpengharapan baik,

Pahala-pahala baiklah yang akan diperoleh.

_______________________________________________

19. ABHAYA PARITTA



Yandunnimittang avamańgalañca,

Yo cāmanāpo sakuņassa saddo,

Pāpaggaho dussupinang akantang,

Buddhānubhāvena vināsamentu.

Yandunnimittang avamangalañca,

Yo cāmanāpo sakuņassa saddo

Pāpaggaho dussupinang akantang

Dhammānubhāvena vināsamentu.

Yandunnimittang avamangalañca

Yo cāmanāpo sakuņassa saddo

Pāpaggaho dussupinang akantang

Sańghānubhāvena vināsamentu.


Tanda-tanda jelek dan hal yang tak menyenangkan apa pun,

Juga suara-suara burung yang tak mengenakkan hati,

Si pembawa malapetaka, dan mimpi buruk yang tak dikehendaki ;

Berkat kekuatan Buddha, semoga semuanya lenyap.

Tanda-tanda jelek dan hal yang tak menyenangkan apa pun,

Juga suara-suara burung yang tak mengenakkan hati,

Si pembawa malapetaka, dan mimpi buruk yang tak dikehendaki ;

Berkat kekuatan Dhamma, semoga semuanya lenyap.

Tanda-tanda jelek dan hal yang tak menyenangkan apa pun,

Juga suara-suara burung yang tak mengenakkan hati,

Si pembawa malapetaka, dan mimpi buruk yang tak dikehendaki ;

Berkat kekuatan Sangha, semoga semuanya lenyap.

_______________________________________________

20. DEVATĀ-UYYOJANA GĀTHĀ



Dukkhappattā ca niddukkhā       Bhayappattā ca nibbhayā

Sokappattā ca nissokā                   Hontu sabbepi pāņino.

Ettāvatā ca amhehi                         Sambhatang puññasampadang

Sabbe devānumodantu                                Sabbasampatti-siddhiyā.

Dānang dadantu saddhāya          Silang rakkhantu sabbadā

Bhāvanābhirata hontu                   Gacchantu devatāgatā

Sabbe buddhā balappattā            Paccekānañca yang balang

Arahantānañca tejena                   Rakkhang bandhāmi sabbaso.


Semoga semua makhluk

Yang tertimpa duka terlepas dari duka ;

Yang tercekam ketakutan terbebas dari ketakutan ;

Yang terundung kesedihan terhindar dari kesedihan.

Semoga para dewa turut bersukacita

Atas timbunan kebajikan

Yang telah kami timbun sebanyak ini

Demi keberuntungan dan keberhasilan.

Berdanalah dengan penuh keyakinan!

Rawatlah Sila setiap saat!

Gemarlah mengembangkan batin!

Para dewa yang telah datang dipersilakan kembali!

Dengan kekuatan para Buddha

Beserta kekuatan para Pacceka Buddha,

Dan dengan daya para Arahanta seluruhnya ;

Aku membuat perlindungan.

________________________________________________

21. BUDDHAJAYAMAŃGALA GĀTHĀ



Bahung sahassama-bhinimmita-sāvudhantang

Grīmekhalang uditaghora-sasenamārang

Dānādi-dhammavidhinā jitavā munindo

Tantejasā bhavatu te jayamańgalāni.


Mārātirekama-bhiyujjhita-sabbaratting

Goram-panālavakamak-khamathaddha-yakhang

Khantīsudanta-vidhinā jitavā munindo

Tantejasā bhavatu te jayamangalāni.


Nālāgiring gajavarang atimattabhūtang

Dāvaggi-cakkamasanīva sudāruņantang

Mettambu-sekavidhinā jitavā munindo

Tantejasā bhavatu te jayamańgalāni.


Ukkhitta-khaggamatihattha-sudāruņantang

Dhāvan-tiyojana-pathańguli-mālavantang

Iddhī-bhisańkhata-mano jitavā munindo

Tantejasā bhavatu te jayamangalāni.


Katvāna kaţţhamu-darang iva gabbhinīyā

Ciñcāya duţţhavacanang janakāya-majjhe

Santena somavidhinā jitavā munindo

Tantejasā bhavatu te jayamańgalāni.


Saccang vihāya matisaccaka-vādaketung

Vādābhiropita-manang atiandha-bhūtang

Paññapadipa-jalito jitavā munindo

Tantejasā bhavatu te jayamańgalāni.


Nandopananda-bhujagang vibudhang mahiddhing

Puttena therabhujagena damāpayanto

Iddhūpadesa-vidhinā jitavā munindo

Tantejasā bhavatu te jayamańgalani.


Duggāha-diţţhi-bhujagena sudaţţha-hatthang

Brahmang visuddhi-jutimiddhi-bakābhidhānang

Ñāņāgadena vidhinā jitavā munindo

Tantejasā bhavatu te jayamańgalāni.


Etāpi buddha-jayamańgala-aţţhagāthā

Yo vācano dinadine sarate matandi

Hitvānaneka-vividhāni cupaddavāni

Mokkhang sukkhang adhigameyya naro sappañño.


Dengan seribu tangan yang masing-masing memegang senjata,

Dengan menunggang gajah Girimekhala ; Mara bersama pasukannya meraung menakutkan.

Raja para Bijaksanawan menaklukkannya dengan kebajikan,

Dana-paramita.

Dengan kekuatan ini semoga Anda mendapat berkah Kejayaan.

Lebih dari Mara yang membuat onar sepanjang malam

Adalah Yakkha Alavaka yang menakutkan, bengis dan beringas.

Raja para Bijaksanawan menaklukkannya dengan kesabaran.

Dengan kekuatan ini, semoga Anda mendapat berkah kejayaan.

Nalagiri, gajah mulia yang menjadi mabuk dan garang,

Sangat kejam bagaikan api hutan, bagai senjata cakra dan bak halilintar.

Raja para Bijaksanawan menaklukkannya dengan percikan cinta-kasih.

Dengan kekuatan ini semoga Anda mendapat berkah kejayaan.

Dengan pedang terhunus di tangan yang kokoh kuat,

Angulimala yang kejam, dengan berkalung untaian jari berlari mengejar sepanjang jalan tiga yojana.

Raja para Bijaksanawan menaklukkannya dengan kemampuan pikiran sakti yang mengagumkan.

Dengan kekuatan ini semoga Anda mendapat berkah Kejayaan.

Setelah memperbesar perutnya dengan potongan kayu laksana wanita hamil, Cinca memfitnah di tengah-tengah banyak orang.

Raja para Bijaksanawan menaklukkannya dengan keteguhan nan luhur, yakni kedamaian batin.

Dengan kekuatan ini, semoga Anda mendapat berkah kejayaan.

Saccaka, terbiasa berkata menyimpang dari kebenaran,

Dengan pikiran buta, mengibarkan pahamnya laksana panji.

Raja para Bijaksanawan menaklukkannya dengan terangnya pelita kebijaksanaan.

Dengan kekuatan ini, semoga Anda mendapat berkah kejayaan.

Nandopananda, naga berkesaktian tinggi berpengertian salah.

Raja para Bijaksanawan menaklukkannya dengan petunjuk kekuatan sakti kepada Moggalana Thera, menyuruh Sang Putra menjelma menjadi naga menjinakkannya.

Dengan kekuatan ini semoga Anda mendapat berkah kejayaan.

Bagaikan ular yang melilit lengan, demikian pandangan salah dimiliki oleh Brahma Baka yang sakti,

Yang beranggap diri bersinar cemerlang karena kescuian.

Raja para Bijaksanawan menaklukkannya dengan pengetahuan.

Dengan kekuatan ini semoga Anda mendapat berkah kejayaan.

Inilah delapan syair kemenangan sempurna Sang Buddha,

Yang patut dibaca dan direnungkan setiap hari tanpa rasa malas.

Setelah mengatasi aneka macam rintangan,

Orang bijaksana mencapai kebebasan dan kebahagiaan.

_______________________________________________

22. CULAMAŃGALACAKKAVĀLA GĀTHĀ



Sabbabuddhā-nubhāvena

Sabbadhammā-nubhāvena

Sabbasańghā-nubhāvena


Buddharatanang

Dhammaratanang

Sangharatanang

Tiņņang ratanānang ānubhāvena


Caturāsīti-sahassa-dhammakkhandhā-nubhāvena

Piţakattayānubbhavena

Jinasavakanubhāvena


Sabbe te rogā

Sabbe te bhayā

Sabbe te antarāyā

Sabbe te upaddavā

Sabbe te dunnimitā

Sabbe te avamańgalā vinassantu.


Āyuvaddhako

Dhanavaddhako

Sirivaddhako

Yasavaddhako

Balavaddhako

Vannavaddhako

Sukhavaddhako

Hotu sabbadā.


Dukkharogabhayā verā                 Sokā sattu cupaddavā

Anekā antarāyāpi                            Vinassantu ca tejasā.


Jayasiddhi dhanang lābhang       Sotthi bhāgyang sukhang balang

Siri āyu ca vanno ca                         Bhogang vuddhī ca yasavā

Satavassā ca āyū ca                         Jīvasiddhī bhavantu te.


Bhavatu sabbamańgalang            Rakkhantu sabbadevatā.

Sabbabuddhā-nubhāvena           Sadā sotthī bhavantu te.


Bhavatu sabbamańgalang            Rakkhantu sabbadevatā

Sabbadhammā-nubhāvena         Sadā sotthi bhavantu te.


Bhavatu sabbamańgalang            Rakkhantu sabbadevatā

Sabbasańgha-nubhāvena             Sadā sotthī bhavantu te.



Dengan kekuatan semua Buddha,

Dengan kekuatan semua Dhamma,

Dengan kekuatan semua Sangha ;

Dengan kekuatan ketiga Mustika :

Mustika Buddha,

Mustika Dhamma,

Mustika Sangha ;

Dengan kekuatan delapanpuluh empat ribu kelompok Dhamma,

Dengan kekuatan Tipitaka,

Dengan kekuatan siswa-siswa Sang Pemenang ;

Semoga semua penyakit,

Semua ketakutan,

Semua rintangan,

Semua musibah,

Semua tanda-tanda jelek,

Semua malapetaka Anda ;

Menjadi lenyap adanya.

Semoga Anda senantiasa berusia panjang,

Berkekayaan melimpah,

Berkemuliaan luhur,

Berkedudukan terhormat,

Berkekuatan besar,

Berparas bagus, dan

Berkebahagiaan dalam.

Semoga penderitaan, penyakit, rasa takut, permusuhan,

Kesedihan, seteru, musibah,

Serta segala macam rintangan apa pun ;

Semua lenyap berkat kekuatan ini.

Semoga kemenangan, keberhasilan, harta, keuntungan,

Keselamatan, keberuntungan, kebahagiaan, kekuatan,

Kemakmuran, panjang umur, paras bagus,

Kesejahteraan, kemajuan, kedudukan,

Usia seratus tahun, dan keberhasilan hidup ;

Ada pada Anda.

Semoga jadilah semua berkah kebaikan.

Semoga semua dewa melindungi.

Dan, dengan kekuatan semua Buddha,

Semoga kesejahteraan selalu ada pada Anda.

Semoga jadilah semua berkah kebaikan.

Semoga semua dewa melindungi.

Dan, dengan kekuatan semua Dhamma,

Semoga kesejahteraan selalu ada pada Anda.

Semoga jadilah semua berkah kebaikan.

Semoga semua dewa melindungi.

Dan, dengan kekuatan semua Sangha,

Semoga kesejahteraan selalu ada pada Anda.

__________________________________________

Demikianlah, saudara-saudari se-Dhamma. Marilah kita mempraktikkan Dhamma dengan sebaik-baiknya. Menguncarkan Paritta dengan baik dan benar adalah merupakan salah satu praktik Dhamma yang menunjang ketenangan dan kejernihan batin kita , mengkondisikan bagi berbuahnya kamma-kamma baik masa lampau dan menghambat bagi berbuahnya kamma-kamma buruk kita di waktu lalu.

Semoga Membawa Manfaat ;)

______________________________________________

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )


Upacarika RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Sabtu, 31 Oktober 2009

Ditulis dalam Acara Ummat Buddha, Berita Buddhis, BUDDHA, Upacara Keagamaan | 10 Comments »

ACARA RAPAT TRIWULANAN GABUNGAN PD & PC MAGABUDHI WILAYAH JAWA-TENGAH

Posted by ratanakumaro pada Oktober 26, 2009

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattum (3X) )

Namatthu Buddhassa,

Pembukaan ; Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

Pembukaan ; Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

Salam hangat untuk rekan-rekan se-Dhamma di manapun anda berada. Sungguh merupakan suatu kebahagiaan berjumpa lagi dengan anda-anda semua. Kali ini, saya menyapa anda-anda semua dengan sebuah artikel laporan acara “Rapat Triwulanan Gabungan PD & PC MAGABUDHI ( Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia )  Wilayah Jawa-Tengah” yang diselenggarakan pada hari Minggu, tanggal 25 Oktober 2009 di kantor Pengurus Daerah MAGABUDHI Wilayah Jawa-Tengah di Vihara Tanah-Putih Semarang.

pembukaan2

Khusyuk membaca Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

Acara ini dihadiri oleh perwakilan Romo dan Ramani ( Romo Wanita ) dari seluruh wilayah Jawa-Tengah ; yang terdiri dari para Upacarika, Pandhita Muda dan para Pandhita Madya.  Saya sendiri, hadir mewakili PC MAGABUDHI Vihara Tanah-Putih Semarang bersama dengan rekan saya, Romo Vijayo. Keanggotaan saya dalam jajaran Romo-Romo MAGABUDHI secara resmi telah disahkan oleh Pengurus Pusat (PP) MAGABUDHI semenjak tanggal 02 Agustus 2009, dengan nomor keanggotaan : 2768/JTG/Upc/2009 , dengan jabatan : Upacarika ( dengan wewenang untuk memimpin Upacara Kebaktian, dan Upacara Keagamaan lainnya ).

Total peserta yang hadir dan mengikuti acara hingga selesai kurang-lebih adalah 20 orang yang terdiri dari Romo dan Ramani Magabudhi wilayah Jawa-Tengah.

pembukaan3

menguncarkan Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

Topik yang dibahas dalam Rapat Triwulanan Gabungan PD & PC MAGABUDHI Wilayah Jawa-Tengah kali ini adalah =

1. Evaluasi Program Kerja Pelatihan Pembacaan Palivacana.

2. Sosialisasi tentang Tata-cara Perkawinan dalam Agama Buddha dan Sosialisasi UU. No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan PP No.9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan.

3. Agenda Program Kerja tahun 2010 : Diskursus tentang Arti dan Penggunaan Paritta, yang akan dibimbing oleh YM. Bhante Dhammadiro Maha-Thera.

Acara Rapat MAGABUDHI ini, dimulai jam 10.30 WIB. Sebenarnya, dalam undangan yang disebarkan, rapat akan dimulai pada pukul 09.00 WIB, namun dikarenakan para pengurus cabang dari daerah-daerah mengalami kendala dalam tranpsortasi, sehingga acara menjadi diundur dan dimulai jam 10.30 WIB. Meski, pada jam tersebut, masih banyak pula pengurus-pengurus cabang Magabudhi wilayah Jawa-Tengah yang belum hadir.

Romo Warto & Romo Sugianto

Romo Warto (kiri) & Romo Sugianto (kanan)

MAGABUDHI Wilayah Jawa-Tengah terdiri dari tiga-puluh (30) Pengurus Cabang. Hampir seluruh wilayah Kabupaten / Kota bisa ditemukan pengurus cabang Magabudhi ; kecuali di wilayah Purbalingga, Sragen, dan Pemalang yang hingga kini belum ada perwakilan Magabudhi disana.

SESI PERTAMA

Sesi ini diisi dengan topik Evaluasi Program Kerja Pelatihan Palivacana yang telah diselenggarakan oleh Pengurus Magabudhi beserta seluruh elemen “Keluarga Buddhis Theravada Indonesia” ( KBTI ) selama tahun 2009 ini.

Sesi ini menjadi cukup seru, karena diawali dengan penjelasan dari Romo Sugianto , bahwa di lapangan sering dijumpai hal-hal “mistis” sehubungan dengan pembacaan Paritta, terutama Paritta “DEVATA-ARADHANA” .

Romo Sugianto

Romo Sugianto

Paritta “DEVATA-ARADHANA” ini , memang merupakan paritta khusus yang diuncarkan untuk mengundang seluruh Dewa dari segala penjuru alam-semesta, termasuk para Brahma, para dewa yang bersemayam di surga, yang berdiam di alam kamadhatu, juga para Dewa Bumi yang bersemayam di vimana atau di puncak gunung, di jurang, di angkasa, di pulau, di kota, di desa, di pepohonan, di hutan belukar, di sekitar rumah, atau di sawah-ladang, juga mengundang para Yakkha, Gandhabba, dan Naga yang bersemayam di perairan, di daratan, atau pun di perbukitan ; mereka semua di undang dengan tujuan untuk bersama-sama dengan khusyuk mengikuti jalannya Puja-Bhakti dan mendengarkan Dhamma yang dibabarkan Sang Buddha demi berkah kesejahteraan dan keselamatan bersama.

sessi I ; sharing dan tanya-jawab seputar Paritta

sessi I ; sharing dan tanya-jawab seputar Paritta

Masing-masing Romo dan Ramani mulai menceritakan kisah-kisah pengalaman mistisnya masing-masing. Saya sendiri memilih untuk menjadi pendengar yang baik saja ;)  ,   sembari terkadang menjawab pertanyaan dari rekan saya dari PC MAGABUDHI Vihara Tanah-Putih Semarang, yaitu Romo Vijayo.

Satu pertanyaan yang sempat muncul adalah, bila dengan Devata-Aradhana kita semua mengundang para Dewa dan Brahma , maka, bagaimana cara mempersilakan pulang kepada para Dewa dan Brahma, bila  acara puja-bhakti / atau acara keagamaan lainnya yang dilangsungkan tersebut telah selesai dilaksanakan ? Dalam kesempatan ini, saya berkesempatan menjawab pertanyaan tersebut, dengan menunjukkan adanya satu Gatha ( dimana jawaban saya tersebut semakin ditegaskan / dikonfirmasikan pula oleh Romo Pdt.Mdy. Warto ( Wakil Ketua Magabudhi PD Jawa-Tengah )  yang menunjukkan Gatha tersebut dalam Paritta ) yang sebaiknya dibaca untuk mempersilakan para Dewa, Brahma, Yakkha, Gandhabba, Naga, untuk kembali ke alamnya masing-masing.  Gatha yang baik dibaca untuk keperluan ini adalah “DEVATA-UYYOJANA GATHA”. Dalam terjemahan Gatha tersebut, ada satu kalimat yang dengan explisit menyatakan , “.. Para dewa yang telah datang dipersilakan kembali!” .  Dan setelah dibacakan “Devata-Uyyojana Gatha” tersebut, para Dewa, Brahma, termasuk para Dewa-Bumi, Yakkha, Gandhabba, Naga, akan berurutan kembali ke alam mereka masing-masing.

Romo Vijayo PC Magabudhi Vihara Tanah Putih Semarang

Romo Vijayo PC Magabudhi Vihara Tanah Putih Semarang

SESI II

Acara sharing mengenai pengalaman membaca Paritta ini terus bergulir cukup lama, hingga kurang lebih jam 11.45 WIB topik baru berganti ke topik berikutnya, yaitu membahas mengenai ” Sosialisasi tentang Tata-cara Perkawinan dalam Agama Buddha dan Sosialisasi UU. No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan PP No.9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan” .

Romo Sugiyanto menerangkan tentang Surat Keterangan Nikah dari Magabudhi

Romo Sugianto menerangkan tentang Surat Keterangan Nikah dari Magabudhi

Disini Romo Sugianto memberi penjelasan, bahwa di masa lalu banyak terjadi kesalahan, yaitu pasangan suami-istri Buddhis yang setelah menikah tidak dicatat di dalam Kantor Pencatatan-Sipil, tetapi hanya sekedar dinikahkan oleh Pandhita. Sehingga, mereka tidak mempunyai keterangan resmi dari negara bahwa mereka adalah pasangan yang telah benar-benar menikah dan sah secara negara ; artinya mereka hanya sah secara agama.

Untuk itulah, Romo Sugianto mensosialisasikan, bahwa mengenai hak bagi ummat Buddha yang menikah untuk dicatat dalam Kantor Pencatatan Sipil Pemda setempat, telah diatur dalam UU No.1 tahun 1974 dan PP No.9 tahun 1975.

Romo Sugiyanto mensosialisasikan Surat Keterangan Nikah yang diterbitkan Magabudhi

Romo Sugianto mensosialisasikan Surat Keterangan Nikah yang diterbitkan Magabudhi

Dikarenakan telah terlanjur banyak pasangan suami-istri Buddhis yang menikah dan beranak-cucu tetapi belum dicatat dalam Kantor Pencatatan-Sipil Pemda setempat, maka, Magabudhi Jawa-Tengah berencana membuat program “Kawin-Massal” bagi para pasangan suami-istri dari puluhan tahun yang lalu yang telah beranak-cucu namun belum mendapat surat keterangan resmi dari negara.

Dalam kesempatan ini pula, Romo Sugianto mensosialisasikan adanya Akta khusus yang akan diterbitkan oleh pengurus-pengurus cabang Magabudhi bagi para pasangan suami-istri yang menikah. Akta ini sah dan resmi secara agama, sebab resmi dikeluarkan oleh Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia ( MAGABUDHI ), dimana di dalam akta tersebut secara resmi pula diketahui oleh Pandhita yang menikahkan dan ditandatangani oleh Pengurus Cabang setempat.

SESI III

Setelah selesai membahas topik II ini, acara berlanjut kepada pembahasan topik III , yaitu ” Agenda Program Kerja tahun 2010 : Diskursus tentang Arti dan Penggunaan Paritta, yang akan dibimbing oleh YM. Bhante Dhammadiro Maha-Thera “ yang memang ahli dalam bahasa Pali ( Beliau menempuh pendidikannya di Thailand hingga level 7 ).

Program kerja tersebut merupakan kelanjutan dari program kerja yang sebelumnya ( Pelatihan Pembacaan Palivacana ).  Pelatihan-pelatihan seperti ini merupakan keuntungan bagi ummat Buddha, sebab dengan begini ummat Buddha bisa mengetahui bagaimana cara membaca Paritta dengan baik dan benar sesuai yang seharusnya serta mengetahui manfaat-manfaat dari masing-masing khotbah Sang Buddha yang dibaca / atau diuncarkan tersebut.

ISTIRAHAT MAKAN SIANG DAN PENUTUPAN

Selesai pembahasan ketiga topik rapat tersebut, barulah masuk pada sesi istirahat dan makan siang, kurang lebih jam 13.00 WIB.

Istirahat dan Makan Siang jam 13.00 WIB

Istirahat dan Makan Siang jam 13.00 WIB

Selesai makan, acara memasuki sesi penutupan, dengan mereview pokok-pokok yang telah dibahas selama rapat berlangsung. Dalam kesempatan ini juga diambil kesepakatan bersama mengenai format Surat Keterangan Perkawinan yang akan diterbitkan oleh pengurus Magabudhi bagi para pasangan suami-istri Buddhis ; dimana format akta yang sebelumnya hanya berisi tanda-tangan dari Pandhita yang menikahkan saja, semenjak hari Minggu 25 Oktober 2009 tersebut disepakati akan ditambahkan pembubuhan tanda-tangan / atau diketahui oleh pengurus cabang Magabudhi setempat.

Acara rapat triwulanan gabungan PD & PC MAGABUDHI Wilayah Jawa-Tengah ini ditutup dengan menguncarkan Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara yang dipimpin oleh Romo Pandhita Madya Sugianto.

Akhir Acara ; Menguncarkan Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

Akhir Acara ; Menguncarkan Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

SEKILAS MAGABUDHI

Sedikit saya tambahkan disini, bagi ummat Buddha yang berminat untuk bergabung dalam Magabudhi, bisa menghubungi kepengurusan cabang setempat dan mendaftarkan diri. Segala informasi bisa diperoleh dari pengurus cabang setempat. Setelah bergabung, maka proses / tingkatan-tingkatan yang akan ditempuh adalah :

1). Menjadi seorang Upacarika ( dengan syarat bahwa sebelumnya ia telah di-wisudi sebagai Upasaka / Upasika ) dengan wewenang memimpin Upacara Kebaktian dan Upacara Keagamaan lainnya. Jabatan ini harus dijalani selama 2 tahun, sebelum akhirnya nanti mengikuti “up-grading” menjadi Pandhita Muda.

2). Setelah melalui masa jabatan sebagai Upacarika dan mengikuti Up-grading dengan pelatihan-pelatihan formal yang diselenggarakan oleh Magabudhi, maka seorang Romo akan naik tingkat menjadi Pandhita Muda. Jabatan sebagai Pandhita Muda ini akan ditempuh selama 5 (lima) tahun masa jabatan.

3). Setelah 5 (lima) tahun menjabat sebagai Pandhita Muda, maka seorang Romo bisa menaiki jenjang berikutnya menjadi seorang Pandhita Madya, tentunya melalui proses “up-grading” berikutnya yang diadakan secara formal dan resmi oleh Magabudhi.

4). Setelah 5 (lima) tahun menjabat sebagai Pandhita Madya, maka seorang Romo bisa menaiki jenjang berikutnya menjadi seorang Pandhita ( penuh ).

Organisasi Magabudhi ini adalah organisasi tempat ummat Buddha mengabdi pada Buddha-Dhamma-Sangha ; menjadi seorang Dhammadutta. Menurut keterangan dari Romo Pandhita Madya Sugianto ( Ketua PD MAGABUDHI Jawa-Tengah ),  bahwa yang bisa secara resmi disebut sebagai Pemuka Agama Buddha Theravada dalam kaitannya dengan hubungan-masyarakat, dan hubungannya dengan Pemerintah, adalah para Romo dan Ramani ( Romo perempuan ) yang telah secara resmi tergabung dalam Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia ( MAGABUDHI ) ini. Tugas para Romo dan Ramani ini adalah membantu para Bhikkhu dalam membina ummat dan hubungan kemasyarakatan legal-formal ; para Bhikkhu, meskipun terutama sebagai “ujung-tombak” dari ummat Buddha dan Buddha-Dhamma itu sendiri, namun tentunya sudah tidak pada porsinya untuk terlalu disibukkan dengan urusan-urusan administratif  yang bersifat keduniawian.  Kurang lebih, demikian yang saya tangkap dari pemaparan Romo Pandhita Madya Sugianto.

Demikianlah, laporan yang bisa saya tuliskan berkaitan dengan acara Rapat Triwulanan Gabungan PD & PC MAGABUDHI Wilayah Jawa-Tengah yang diadakan pada hari Minggu 25 Oktober 2009 kemarin. Semoga, laporan acara ini bermanfaat bagi ummat Buddha dimanapun anda berada.

_________________________________________________

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )


Upacarika RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Senin, 26 Oktober 2009

Ditulis dalam Acara Ummat Buddha, Berita Buddhis, BUDDHA, Diskusi Ummat Buddha | 11 Comments »

KADO ULTAH KE-1 DARI LOVEPASSWORD : E-BOOK BLOG RATNA KUMARA

Posted by ratanakumaro pada September 28, 2009

Namo Buddhaya,

Dear All,

Terimakasih saya ucapkan kepada sahabat Lovepassword, atas kebaikannya mau meluangkan waktu untuk membuat sebuah E-Book yang berisi  artikel2 di blog Ratna Kumara ini dari bulan september 2008 s/d artikel “Lamanya Waktu yang Dibutuhkan untuk Menjadi Seorang Buddha”, plus beserta komentar2 pengunjung. ( sehingga, artikel2 setelah “Lamanya Waktu yang Dibutuhkan…dst.” belumlah terinput dalam E-Book tersebut ).

Sungguh sebuah hadiah ulang-tahun yang sangat indah bagi blog Ratna Kumara yang kurang lebih sekarang ini sudah berusia 1 tahun.

Untuk rekan2 yang berminat, bisa mendownload E-Book tersebut di alamat ini =

E-BOOK BLOG RATNA-KUMARA

Semoga, isi tulisa2n didalam E-Book tersebut bermanfaat bagi setiap pembaca yang berminat mempelajari Buddha-Dhamma mazhab Theravada.

Selain E-BOOK tersebut diatas, masih ada DUA E-BOOK lagi yang sebaiknya anda miliki juga.

Yang pertama merupakan e-book berisi sumbangan pengetahuan dari sahabat lovepassword yang pasti akan sangat bermanfaat untuk kita semua ;)    :

E-BOOK :  CARA MEMBUAT E-BOOK

Dan, yang kedua adalah sebuah e-book berisi edisi revisi dari artikel “Tuhan “Yang-Maha…” dimata Seorang Buddha” dari blog Ratna-Kumara ini juga  ( artikel ini di-revisi setelah E-Book blog Ratna-Kumara jadi, sehingga di dalam E-book blog Ratna Kumara tersebut artikkel edisi revisi ini belum dimasukkan kedalamnya. Sebaiknya anda juga memiliki e-book artikel ini ;)   ) :

“E-BOOK :  TUHAN “YANG-MAHA…” DIMATA SEORANG BUDDHA” [Edisi Revisi]

Pada kesempatan ini juga, saya, selaku penulis / peng-upload artikel2 tersebut, mohon maaf bila banyak informasi yang kurang memuaskan. Terkadang, karena kurangnya pengalaman dalam menulis, saya lupa mencantumkan sumber pustaka.Namun, untuk artikel2 bulan2 / tahun terakhir, sudah senantiasa saya sertai dengan sumber-pustaka.

Sekali lagi, tak lupa saya ucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada sahabat Lovepassword atas kebaikannya ini. Semoga, karma baiknya ini mengkondisikan bagi berbuahnya karma-karma baiknya diwaktu lalu.

Salam Metta ( Cinta-kasih ) dan Karuna ( Kasih-sayang ),

Ratana Kumaro.

Ditulis dalam BUDDHA | 21 Comments »

SIDDHATTHA GOTAMA : Perjuangan Mencapai Pencerahan

Posted by ratanakumaro pada September 26, 2009

<< ( Sebelumnya ) Baca Artikel ini dulu.. ^_^

[ Sumber : Riwayat Agung Para Buddha (The Great Chronicle of Buddhas), karya Tipitakadhara Mingun Sayadaw (Myanmar) ; Ehipassiko Collection dan Girimangala publications]

SANG BODDHISATTA PANGERAN MELEPASKAN KEDUNIAWIAN SEBAGAI AKIBAT DARI PERASAAN RELIGIUS YANG MENDALAM ( SAMVEGA )

Pangeran Siddhattha jijik melihat penari2 yang tidur bagai bangkai

Pangeran Siddhattha jijik melihat penari2 yang tidur bagai bangkai

Pada saat bangun dari tidur-Nya, Bodhisatta Pangeran duduk bersila di atas dipan-Nya dan melihat ke sekeliling-Nya. Beliau melihat para gadis penari yang tertidur, beberapa menimpa alat musiknya di bawah tubuhnya dan dengan air liur mengalir keluar dari mulutnya mengotori pipi dan tubuhnya, beberapa menggemeretakkan giginya, beberapa mendengkur, beberapa mengoceh dalam tidurnya, beberapa dengan mulut terbuka, beberapa tidur telanjang tanpa mengenakan apa pun, beberapa dengan rambut kusut berantakan—semuanya terlihat seperti mayat yang menjijikkan di kuburan.

Menyaksikan perubahan yang menjijikkan dalam diri para gadis penari, Bodhisatta Pangeran menjadi merasa lebih bosan terhadap kenikmatan indria.

Demikianlah dengan merenungkan dan menyadari bahaya dari kelahiran, usia tua, sakit, dan kematian dan kenyataan bahwa objek-objek dan nafsu kenikmatan indria serta tiga alam kehidupan kàmà, rupa, dan arupa juga tidak membahagiakan dan tidak menyenangkan; lebih merupakan penderitaan, kesakitan, dan penuh cacat, Beliau menjadi secara total melepaskan keterikatan dan kesenangan terhadap lima objek kenikmatan indria, Bodhisatta kemudian mengungkapkan perasaan-Nya dengan mengucapkan:

Upaddutaÿ vata bho, “Oh, betapa menyulitkan!”

Upassathaÿ vata bho, “Oh, betapa menekan!”

Beliau menjadi berkeinginan untuk melepaskan keduniawian dan menjadi petapa.

Channa Kusir Istana mempersiapkan Kuda Khantaka

Channa Kusir Istana mempersiapkan Kuda Khantaka

Beliau berpikir, “Sekarang adalah waktunya bagi-Ku bahkan hari ini juga untuk pergi meninggalkan kehidupan rumah tangga.” Bodhisatta bangkit dari dipan-Nya, mendekati pintu dan berkata, “Siapa di sini?” Channa, si kusir, yang sedang tidur dengan kepala di ambang pintu menjawab, “Yang Mulia, saya Channa.” Bodhisatta Pangeran memerintahkannya, berkata, Aku ingin melepaskan keduniawian hari ini. Tanpa memberitahu siapa pun, pergilah cepat siapkan kuda berdarah murni, Sindhi yang memiliki kecepatan tinggi.” Channa, si kusir mengiyakan, berkata, “Baiklah, Yang Mulia.” Dengan membawa beberapa keperluan untuk berkuda, Channa berangkat menuju ke kandang kerajaan, di bawah cahaya lampu minyak harum ia melihat kuda kerajaan Kanthaka, kuda pemenang, berdiri di lapangan yang indah di tengah kandang di bawah kanopi berlapis bunga-bunga melati. Ia memutuskan, “Aku akan mempersiapkan kuda perkasa Kanthaka untuk Pangeran pergi melepaskan keduniawian malam ini.” Ia memasang pelana Kanthaka dan perlengkapan lainnya.

Selagi ia memasang pelana, Kanthaka menyadari, “Pelanaku dipasang lebih erat kali ini, sebelum-sebelumnya, jika pergi ke taman kerajaan, pelana dipasang agak berbeda. Tidak ragu lagi, Pangeran akan melepaskan keduniawian malam ini dengan menunggangiku dan menjadi petapa.” Dengan gembira, ia meringkik dengan penuh semangat. Ringkikan Kanthaka dalam kegembiraannya dapat bergema di seluruh Kapilavatthu; tetapi para dewa meredam suara itu sehingga tidak terdengar oleh seorang pun.

Boddhisatta melihat anak-istri sebelum pergi tinggalkan istana

Boddhisatta melihat anak-istri sebelum pergi tinggalkan istana

Selagi pendamping kelahirannya, Channa, sedang mempersiapkan dan menjemput kuda istana, Kanthaka, Bodhisatta berkeinginan untuk “melihat bayi sebelum melepaskan keduniawian.” Beliau pergi ke kamar ibu Ràhula, Ratu Yasodharà, dan membuka pintu kamar. Pada waktu itu, kamar tersebut terang benderang oleh cahaya dari lampu minyak harum; dan ibu Ràhula, Ratu Yasodharà, sedang berbaring tidur di atas kasur yang ditebari dengan bunga-bunga melati, dengan tangannya di atas kepala bayi.

Sang Bodhisatta berdiri diam diambang pintu, selagi melihat, Beliau merenungkan, “Jika Aku memindahkan tangan ratu dan menggendong putra-Ku, Aku mungkin akan membangunkan ratu; jika ratu terbangun, itu dapat membahayakan rencana-Ku untuk melepaskan keduniawian yang akan segera Kulakukan. Jadi, biarlah untuk saat ini, Aku tidak dapat melihatnya; setelah Aku mencapai Pencerahan Sempurna; Aku akan kembali untuk melihat putra-Ku.” Setelah merenungkan demikian, Bodhisatta turun dari istana dan mendekati kuda istana dan berkata:

“O Kanthaka, pendamping kelahiran-Ku, bantulah Aku pada malam ini. Setelah mencapai Kebuddhaan dengan bantuanmu, Aku akan menolong dunia ini termasuk dewa, dari lautan samsàra dan mengantarkan mereka ke daratan tinggi Nibbàna.”

Kemudian Bodhisatta melompat ke atas punggung kuda istana Kanthaka.

Kanthaka berukuran delapan belas lengan diukur dari lehernya dan memiliki tinggi yang proporsional. Ia memiliki kecepatan tinggi dan kekuatan besar. Seluruh tubuhnya berwarna putih seperti salju; penampilan fisiknya indah dan anggun bagaikan kulit kerang yang digosok. Duduk di tengah-tengah punggung Kanthaka dengan pendamping kelahirannya, Channa, yang mencengkeram ekor kuda itu; Bodhisatta keluar dari kawasan istana pada jaga pertengahan malam itu, Senin, malam purnama di bulan âsàëha tahun 97 Mahà Era, dan segera tiba di pintu gerbang utama kota itu. (Selagi Bodhisatta berangkat meninggalkan istana dengan menunggangi kuda istana, Kanthaka, para dewa meletakkan tangan mereka di bawah kaki kuda itu pada setiap derapnya, sehingga suara derapannya tidak terdengar oleh siapa pun.)


SANG BODDHISATTA PANGERAN, PENDAMPING KELAHIRAN-NYA CHANNA, DAN KUDA ISTANA KANTHAKA, MASING-MASING MEMILIKI RENCANA SENDIRI

Saat itu adalah ketika Raja Suddhodana telah mengambil tindakan pencegahan untuk mencegah Bodhisatta pergi melepaskan keduniawian dengan memperkuat kedua sisi pintu gerbang utama sehingga tiap-tiap sisi hanya dapat dibuka oleh tenaga seribu orang pasukan. Ia berpikir, “Dengan begini, anakku tidak mungkin dapat pergi keluar kapan saja dengan membuka pintu gerbang kota tanpa ketahuan.”

Sang Bodhisatta memiliki kekuatan besar; Beliau memiliki tenaga yang sebanding dengan seribu crore Gajah Kàlàvaka; Beliau memiliki kekuatan yang sebanding dengan seribu crore laki-laki berukuran sedang (majjhimapurisa). Beliau berpikir, “Jika pintu gerbang tidak terbuka, Aku akan menggunakan kekuatan-Ku. Dengan tetap duduk di punggung Kanthaka, Aku akan mencengkeram Channa yang menemani-Ku dengan memegang ekor kuda dan Aku akan menjepit Kanthaka di antara dua paha-Ku dan melompati tembok kota setinggi delapan belas lengan.”

Channa juga memiliki rencana sendiri, “Jika pintu gerbang utama tidak terbuka, aku akan mendudukkan Pangeran di atas bahuku, menjepit Kanthaka di bawah ketiak kananku dan merangkulnya dengan tangan kananku, aku akan melompati tembok kota setinggi delapan belas lengan dan lari.”

Kuda Kanthaka juga memiliki rencana, “Jika pintu gerbang utama tidak terbuka, aku akan membiarkan Pangeran tetap duduk di punggungku dan Channa tetap memegang ekorku, aku akan melompati tembok kota setinggi delapan belas lengan dan lari.”

PENCEGAHAN OLEH MARA VASAVATTI

Mara mencegah kepergian Boddhisatta

Mara mencegah kepergian Boddhisatta

Demikianlah, mereka bertiga memiliki keinginan yang sama. Bahkan jika gerbang utama tidak terbuka, mereka akan menjalani rencananya masing-masing. Namun demikian, berkat kebajikan dan kumpulan jasa-jasa dan keagungan Bodhisatta mulia, para dewa yang menjaga pintu gerbang kota dengan gembira membiarkan pintu gerbang tersebut tetap terbuka bagi Bodhisatta untuk keluar. Begitu Bodhisatta keluar dari pintu gerbang kota disertai pendamping kelahirannya Channa, Màra Vasavatti yang tidak senang dan selalu menentang dan menghalangi Pembebasan makhluk-makhluk dari lingkaran kelahiran turun ke alam manusia dari Surga Paranimmitavasavatti dalam sekejap, secepat seorang bertenaga besar merentangkan tangannya yang terlipat atau melipat tangannya yang terentang, muncul di depan Bodhisatta. Maksudnya adalah untuk menghalang-halangi Bodhisatta dari rencana-Nya untuk melepaskan keduniawian dengan menipunya untuk memercayai bahwa pencegahan ini adalah demi kebaikan Pangeran sendiri. Dari angkasa, ia mengucapkan:

“O Bodhisatta Pangeran yang sangat bersemangat, jangan pergi melepaskan keduniawian menjadi petapa. Pada hari ketujuh dari sekarang, Roda Pusaka Surgawi akan muncul untuk-Mu.”

Ia juga menghalang-halangi Bodhisatta dengan mengatakan, “Engkau akan menjadi raja dunia yang memerintah empat benua besar yang dikelilingi oleh dua ribu pulau kecil. Kembalilah, Yang Mulia.” Bodhisatta Pangeran menjawab, “Siapakah engkau, yang berbicara pada-Ku dan menghalang-halangi-Ku?” Dewa Màra menjawab, “Yang Mulia, aku adalah Màra Vasavatti.” Kemudian Bodhisatta menjawab dengan tegas:

“O Màra yang sangat kuat, Aku sudah tahu bahkan sebelum engkau katakan, bahwa Roda Pusaka akan muncul untuk-Ku. Namun, Aku sama sekali tidak berkeinginan untuk menjadi raja dunia, yang memerintah empat benua, pergilah engkau, O Màra, dari sini; jangan menghalang-halangi-Ku.”

“Bagi-Ku, Aku akan berusaha untuk menjadi Buddha untuk menolong dan mengantarkan makhluk-makhluk, yang telah siap untuk mendengarkan Dhamma (veneyya), menuju tanah kemenangan Nibbàna, menyebabkan sepuluh ribu alam berputar bagaikan roda tembikar.”

Lalu, Màra menakut-nakuti Bodhisatta dengan kata-kata berikut, “O kawan, Pangeran Siddhattha, ingatlah kata-kata-Mu itu. Mulai saat ini, aku akan membuat-Mu mengenalku dengan baik, ketika pikiran-Mu dipenuhi oleh nafsu-nafsu indria (kàma vitakka), kebencian (vyàpàda vitakka), dan kekejaman (vihiÿsà vitakka).” Dan, sejak saat itu, ia selalu mencari-cari peluang di mana kotoran batin (kilesa) berkesempatan muncul dalam batin Bodhisatta, mengikutinya dari dekat bagaikan bayangan selama tujuh tahun. (Ia mengikuti di belakang Bodhisatta selama tujuh tahun dengan tujuan untuk membunuh-Nya di tempat itu juga ketika kotoran muncul dalam batin Bodhisatta).

IRING-IRINGAN PARA DEWA DAN BRAHMA SAMPAI KE TEPI SUNGAI ANOMA

Di usia dua puluh sembilan (29) tahun, saat Beliau akan memperoleh kemuliaan dan kekuasaan sebagai seorang raja dunia, Beliau menolaknya seolah-olah membuang ludah. Pada tengah malam, di malam purnama bulan âsàlha ketika bintang âsàlha dalam posisi segaris dengan bulan di tahun 97 Mahà Era, Beliau meninggalkan istana yang sebanding dengan kemegahan istana seorang raja dunia. Tetapi ketika Beliau meninggalkan istana-Nya itu, keinginan untuk berpaling dan melihat Kota Kapilavatthu muncul dalam pikiran-Nya.

Segera setelah munculnya pikiran itu, tempat di sekeliling Bodhisatta berputar seperti roda tembikar seolah-olah bumi berkata kepadanya, “O Bodhisatta mulia, kebajikan dan jasa yang telah Engkau miliki membuat-Mu tidak perlu berbalik untuk melihat apa pun yang Engkau inginkan; objek yang ingin Engkau lihat akan menampakkan dirinya di depan-Mu.” Demikianlah Bodhisatta melihat Kota Kapilavatthu dari tempat-Nya berdiri tanpa perlu berpaling. Tempat di mana kuda Kanthaka berhenti ditandai dengan didirikannya stupa yang dinamai Kanthaka Nivattana. Beliau kemudian melanjutkan perjalanannya dengan penuh keagungan di atas punggung kuda Kanthaka. Sepanjang perjalanan yang dilalui Bodhisatta, semua dewa dan brahmà berbaris di depan dan di belakang, di kiri dan kanan, beberapa memegang enam puluh ribu obor (enam ratus obor menurut Komentar Buddhavamsa); yang lain memberi penghormatan dengan karangan bunga yang terbuat dari bunga-bunga harum, bubuk cendana, pengusir serangga ekor yak, spanduk, dan pita. Mereka berbaris menyanyikan lagu-lagu surgawi dan memainkan segala jenis alat musik surgawi.

Sang Bodhisatta mulia, yang seperti dijelaskan di atas, telah melepaskan keduniawian dengan segala kemegahan melewati tiga kerajaan—Sàkiya, Koliya, dan Malla—dalam satu malam yang meliputi jarak sejauh tiga puluh yojanà, akhirnya tiba di tepi Sungai Anomà.

Boddhisatta, Channa si Kusir, dan Kuda Khantaka

Boddhisatta, Channa si Kusir, dan Kuda Khantaka

Kuda istana Kanthaka memiliki kecepatan yang memungkinkannya untuk berlari di sekeliling Gunung Cakkavàla di subuh hari dan tiba kembali tepat saat makan pagi disiapkan untuknya. Namun demikian, harus dimengerti bahwa pada waktu itu bunga-bunga harum yang ditebarkan oleh para dewa dan brahmà, nàga dan garuda, dan lain-lain dari angkasa menutupi seluruh permukaan tanah hingga setinggi perut kuda sehingga ia harus berjalan dengan susah payah, berjuang dan berjuang melewati lautan bunga seolah-olah melewati rawa-rawa, karena itulah ia hanya dapat berlari sejauh tiga puluh yojanà dalam semalam.

MENYEBERANGI SUNGAI ANOMA DAN MENCUKUR RAMBUT

Setelah mencapai tepi Sungai Anomà, Bodhisatta mulia mengistirahatkan kuda-Nya di tepi sungai dan bertanya kepada Channa, “Apa nama sungai ini?” Ketika dijawab oleh Channa bahwa sungai tersebut adalah Sungai Anomà, Bodhisatta menganggap itu adalah pertanda baik, dan berkata, “Pertapaan-Ku tidak akan gagal, bahkan sebaliknya akan memiliki kualitas yang baik,” (karena anomà artinya ‘bukan sesuatu yang rendah’). Kemudian menepuk Kanthaka dengan tumit-Nya untuk memberikan aba-aba kepadanya untuk menyeberangi sungai, dan Kanthaka melompat ke sisi seberang sungai yang lebarnya delapan usabha dan berdiri di sana.

Setelah turun dari punggung kuda, dan berdiri di atas pasir di tepi sungai, Bodhisatta menyuruh Channa, “Channa sahabat-Ku, bawalah kuda Kanthaka bersama dengan semua perhiasan-Ku pulang. Aku akan menjadi petapa.” Ketika Channa mengatakan bahwa ia juga ingin melakukan hal yang sama, Bodhisatta melarangnya sampai tiga kali dengan mengatakan, “Engkau tidak boleh menjadi petapa. Channa sahabat-Ku, pulanglah ke kota.” Dan Ia menyerahkan Kanthaka dan semua perhiasan-Nya kepada Channa.

Boddhisatta Memotong Rambut

Boddhisatta Memotong Rambut

Setelah itu, dengan mempertimbangkan, “Rambut-Ku ini tidak cocok untuk seorang petapa; Aku akan memotongnya dengan pedang-Ku.” Bodhisatta, dengan pedang di tangan kanan-Nya memotong rambut-Nya dan mencengkeramnya bersama mahkota-Nya dengan tangan kiri-Nya. Rambut-Nya yang tersisa sepanjang dua jari mengeriting ke arah kanan dan menempel di kulit kepala-Nya. Sisa rambut itu tetap sepanjang dua jari hingga akhir hidup-Nya meskipun tidak pernah dipotong lagi. Janggut dan cambang-Nya juga tetap ada seumur hidup-Nya dengan panjang yang cukup untuk terlihat indah seperti rambut-Nya. Bodhisatta tidak perlu mencukur-Nya lagi.

MELEMPARKAN GUMPALAN RAMBUT-NYA YANG LEBAT KE ANGKASA DENGAN KEBULATAN TEKAD

Sang Bodhisatta memegang gumpalan rambut-Nya bersama dengan mahkota-Nya mengucapkan tekad, “Jika Aku akan menjadi Buddha, biarlah gumpalan rambut ini tetap di angkasa. Jika tidak, gumpalan rambut ini akan jatuh ke atas tanah.” Kemudian Beliau melemparnya ke angkasa. Setelah itu, gumpalan rambut itu bersama dengan mahkota-Nya naik ke angkasa setinggi satu yojanà dan secara ajaib tetap tergantung di sana seperti karangan bunga yang tergantung.

CETIYA CULAMANI DIDIRIKIAN DI TAVATIMSA OLEH SAKKA

Pada waktu itu, Sakka, raja dewa melihat rambut Bodhisatta dengan mata-dewanya; dan mengambilnya bersama dengan mahkotanya dengan menggunakan sebuah peti permata, berukuran satu yojanà, dan membawanya ke Surga Tàvatimsa. Ia kemudian menyimpannya di dalam Cetiya Culàmani yang didirikannya dan dihias dengan tujuh jenis batu permata. Cetiya itu tingginya tiga yojanà.


MENJADI PETAPA DENGAN PERLENGKAPAN YANG DIPERSEMBAHKAN OLEH BRAHMA GHATIKARA

Brahma Ghatikara persembahkan perlengkapan petapa pada Boddhisatta

Brahma Ghatikara persembahkan perlengkapan petapa pada Boddhisatta

Selanjutnya, Bodhisatta merenungkan, “Busana-Ku ini buatan Negeri Kàsi yang sangat mahal. Tidak sesuai untuk seorang petapa.” Kemudian Brahmà Ghatikàra, yang merupakan sahabat-Nya sewaktu dalam kehidupan-Nya pada masa kehidupan Buddha Kassapa merenungkan melalui Mettà-nya yang mulia yang telah ada selama buddhantara kappa, “Ah, hari ini sahabatku Bodhisatta, melihat bahaya dalam fenomena menyedihkan seperti kelahiran, dan lain-lain telah meninggalkan kehidupan rumah tangga dalam kemuliaan, melepaskan keduniawian Mahàbhinikkhamana. Aku akan pergi, membawakan perlengkapan bertapa untuk sahabatku, Bodhisatta Pangeran.” Demikianlah ia membawakan delapan perlengkapan yaitu, (1) sebuah jubah besar, (2) sebuah jubah atas yang disebut ekacci, (3) sebuah jubah bawah, (4) sebuah korset (empat kebutuhan yang melekat di badan), (5) sebuah jarum dan benang, (6) sebuah pisau yang digunakan untuk menyerut kayu pembersih gigi, (7) sebuah mangkuk dan wadahnya, dan (8) sebuah saringan air, (empat perlengkapan yang tidak melekat di badan) dan kemudian menyerahkannya kepada Bodhisatta.

Selanjutnya Bodhisatta telah berpenampilan seperti seorang petapa setelah mengenakan jubah-Nya dengan baik—jubah yang dapat disebut sebagai sebuah spanduk Arahatta-Phala dan yang dipersembahkan oleh brahmà. Kemudian Beliau melemparkan busana-Nya (busana orang biasa) ke angkasa.

CETIYA DUSSA DIDIRIKAN DI ALAM BRAHMA AKANITTHA

Brahmà Ghatikàra menangkap busana Bodhisatta yang dilemparkan ke angkasa; dan mendirikan sebuah cetiya, berukuran dua belas yojanà dan berhiaskan berbagai macam permata tempat ia menyimpan pakaian tersebut dengan penuh hormat. Karena cetiya itu berisi busana, maka disebut Cetiya Dussa.

CHANNA PULANG KE KOTA

Setelah menjadi petapa, Bodhisatta menyuruh Channa, Channa sahabat-Ku, sampaikan pesan ini kepada ‘ibu-Ku’ (maksudnya: ibu angkat-Nya Mahàpajapati Gotamã) dan ayah-Ku bahwa Aku dalam kondisi sehat.” Kemudian Channa, setelah bersujud dengan penuh hormat kepada Bodhisatta dan mengelilingi-Nya, mengambil buntalan berisi perhiasan Bodhisatta, membawa kudanya dan pergi.

KANTHAKA TERLAHIR KEMBALI SEBAGAI DEWA SETELAH MENINGGAL DUNIA

Karena mendengarkan percakapan antara Bodhisatta dengan Channa, kuda Kanthaka menjadi sangat sedih dengan pikiran, “Mulai saat ini aku tidak akan dapat melihat tuanku lagi.” Setelah ia menghilang dari pandangan Bodhisatta, ia tidak dapat menahan kesedihannya yang timbul karena berpisah dengan seseorang yang dicintainya ‘piyehi vippayoga’, sewaktu ia meninggalkan Bodhisatta yang sangat disayanginya; ia meninggal dunia karena patah hati dan terlahir kembali di Surga Tàvatimsa sebagai dewa bernama Kanthaka. Sedangkan Channa, pertama-tama ia bersedih karena berpisah dengan Bodhisatta, kemudian kesedihannya bertambah karena meninggalnya Kanthaka. Tertekan oleh penderitaan ganda, ia pulang ke Kota Kapilavatthu dengan air mata berlinang, menangis.

KUNJUNGAN BODDHISATTA KE KOTA RAJAGAHA SETELAH BERDIAM SELAMA TUJUH HARI DI HUTAN MANGGA ANUPIYA

Setelah menjadi petapa, Bodhisatta berdiam selama tujuh hari dalam kebahagiaan pertapaan di hutan mangga yang disebut Anupiya kemudian berjalan kaki sejauh tiga puluh yojanà dalam sehari dan memasuki Kota Ràjagaha. (Pernyataan ini diambil dari Komentar Buddhavaÿsa dan Komentar Jàtaka).

MEMASUKI RAJAGAHA UNTUK MENGUMPULKAN DANA MAKANAN

Boddhisatta memasuki Rajagaha, masyarakat berbisik2 membicarakan-Nya

Boddhisatta memasuki Rajagaha, masyarakat berbisik2 membicarakan-Nya

Ketika Beliau akan mengunjungi Kota Ràjagaha untuk mengumpulkan dàna makanan, Beliau berdiri di pintu gerbang timur kota itu; Beliau berpikir, “Jika Aku mengirim pesan kepada Raja Bimbisàra mengenai kunjungan-Ku, ia akan tahu bahwa Pangeran Siddhattha, putra Raja Suddhodana, telah datang ke kotaku; kemudian dengan penuh perhatian dan penghormatan ia akan mengirimkan banyak harta benda kepada-Ku. Tidaklah tepat bagi seorang petapa seperti-Ku untuk memberitahukannya dan menerima empat kebutuhan dengan cara seperti itu. Sekarang, Aku akan pergi mengumpulkan dàna makanan.” Jadi, setelah mengenakan jubah Pamsukålika yang dipersembahkan oleh Brahmà Ghatikara dan mengambil mangkuk-Nya, Bodhisatta memasuki kota melalui pintu gerbang timur dan mengumpulkan dàna makanan dari rumah ke rumah.

Tujuh hari sebelum Bodhisatta memasuki Kota Ràjagaha untuk mengumpulkan dàna makanan, sebuah festival sedang dirayakan oleh orang banyak. Pada hari Bodhisatta memasuki kota. Raja Bimbisàra mengumumkan dengan tabuhan genderang, “Festival telah selesai. Para penduduk harap segera kembali ke pekerjaannya masing-masing.” Pada waktu itu para penduduk masih berkumpul di halaman istana. Sewaktu raja membuka jendela dan melihat keluar untuk memberikan perintah yang diperlukan, ia melihat Bodhisatta yang memasuki Ràjagaha dengan penuh ketenangan.

Melihat penampilan yang anggun dari Bodhisatta, para penduduk Ràjagaha menjadi sangat gembira dan terjadi kegemparan di seluruh kota seperti ketika Gajah Nàlàgiri, yang juga disebut Dhammapàla, memasuki kota atau seperti para penghuni Alam Tàvatimsa yang ketakutan saat Raja Asura bernama Vepaciti, mendatangi tempat mereka.

Ketika Bodhisatta mulia berkeliling dengan keagungan raja Gajah Chaddanta untuk mengumpulkan dàna makanan dari rumah ke rumah di Kota Ràjagaha, para penduduk menyaksikan penampilan anggun yang tiada bandingnya dalam diri Bodhisatta, mereka merasa sangat gembira dan terheran-heran, penasaran ingin melihat bagaimana tingkah laku Bodhisatta yang unik.

Salah satu orang berkata kepada orang lainnya, “Teman, bagaimana ini? Apakah istana bulan yang turun ke alam manusia dengan cahayanya yang menyembunyikan ketakutan Rahu Si Raja Asura?”

Orang kedua menjawab dengan nada mengejek, “Apa yang kau katakan, teman? Pernahkah engkau melihat bulan yang turun ke alam manusia? Itu adalah Dewa Kàma, Dewa Keinginan, melihat kemegahan raja kita dan para penduduknya, ia turun dan menyamar untuk bermain dan bersenang-senang dengan kita.”

Orang ketiga berkata, “O teman, bagaimana itu? Apakah kau gila? Dewa Kàma memiliki tubuh berwarna hitam legam karena terbakar oleh api kekuasaan, keangkuhan, dan kemarahan. Sebenarnya orang yang kita lihat itu adalah Sakka, raja para dewa, yang memiliki seribu mata, yang datang ke kota kita karena mengira bahwa ini adalah Alam Tàvatimsa.”

Orang keempat sambil tersenyum berkata kepada orang ketiga, “Bagaimana engkau dapat mengatakan hal itu? Kata-katamu sendiri saling bertentangan. Menyebutnya Sakka, mana seribu matanya? Mana gajah tunggangannya Eràvana? (Jika Ia adalah Sakka, ia harus memiliki seribu mata, bersenjata petir, dan Eràvana sebagai tunggangannya. Ia tidak memiliki semua itu). Sebenarnya, ia adalah brahmà yang, mengetahui bahwa para brahmana telah melupakan semua Veda, datang untuk mengingatkan mereka agar tidak melupakan pelajaran mereka dan melatihnya dengan rajin.”

Orang lain, seorang terpelajar, menghentikan perdebatan mereka dan berkata, “Beliau bukan bulan, bukan Dewa Kàma, bukan Sakka, dan bukan brahmà. Sebenarnya, Beliau adalah manusia luar biasa, raja dan guru di tiga alam.”

Selagi para penduduk Ràjagaha saling berbicara, masing-masing dengan pendapatnya sendiri-sendiri, pelayan istana datang kepada Raja Bimbisàra dan melaporkan, “Raja besar, seorang yang luar biasa yang tidak seorang pun mengetahui apakah Beliau adalah dewa, atau gandabha atau nàga atau yakkha, sedang mengumpulkan dàna makanan di Kota Ràjagaha.” Mendengar kata-kata ini, raja yang telah melihat Bodhisatta dari teras atas di istananya merasa penasaran dan memerintahkan menterinya, “Pergi selidiki orang ini; jika ia adalah yakkha ia akan menghilang ketika tiba di luar kota ini; jika ia adalah dewa ia akan berjalan di angkasa; jika ia adalah nàga ia akan masuk ke dalam tanah dan menghilang; jika ia manusia, ia akan memakan makanannya di tempat tertentu.”

Dengan ketenangan indria dan batinnya juga dalam keanggunannya, dengan mata yang selalu menatap ke bawah (sejauh kira-kira empat lengan), Beliau menarik perhatian para penduduk Ràjagaha, Beliau berkeliling dan mengumpulkan makanan secukupnya—makanan yang terdiri dari berbagai macam bahan kasar dan halus berwarna warni dicampur menjadi satu. Kemudian Beliau bertanya kepada para penduduk, “Di manakah biasanya para petapa yang mengunjungi kota ini berdiam?” Para penduduk menjawab, “Mereka biasanya berdiam di jalan masuk menuju gua yang menghadap timur di puncak Gunung Pandava.” Dan kemudian Bodhisatta meninggalkan kota melalui pintu gerbang timur. Setelah itu Beliau duduk menghadap ke timur di jalan masuk gua di gunung dan berusaha memakan makanan campur aduk dari bahan kasar dan halus yang dibawa-Nya.

Setelah menikmati kebahagiaan bagaikan raja dunia hanya beberapa hari yang lalu, Beliau berusaha keras untuk menelan beberapa suap makanan yang merupakan campuran berbagai bahan kasar maupun halus dan berwarna-warni. Ketika Beliau menyuapkan makanan itu ke mulut-Nya, Beliau merasa menderita dan nyaris muntah dengan usus terbalik, karena Beliau belum pernah melihat makanan seperti itu sebelumnya yang sangat menjijikkan. Kemudian Beliau menegur diri-Nya sendiri, “Ya Siddhattha, walaupun sebenarnya, Engkau bisa menikmati kemewahan istana di mana makanan dan minuman lezat selalu tersedia dan di mana Engkau memiliki makanan dari beras-beras harum dengan kelezatan yang berbeda-beda kapan saja Engkau inginkan, namun Engkau, karena melihat petapa berpakaian tambal-tambalan merenungkan, ‘Kapankah Aku dapat memakan makanan yang diperoleh dari meminta-minta dari rumah ke rumah setelah menjadi petapa seperti dirinya? Kapankah waktunya tiba bagi-Ku untuk hidup dari makanan yang dikumpulkan dengan cara seperti itu?’ Dan bukankah Engkau telah melepaskan keduniawian dan menjadi petapa karena pikiran seperti itu? Sekarang keinginan-Mu telah terkabul, mengapa Engkau malah ingin berubah pikiran?” Kemudian dengan lahap Beliau memakan makanan-Nya yang paling kasar sekalipun.

Tiga orang menteri yang dikirim oleh Raja Bimbisàra untuk menyelidiki, mendekati Bodhisatta dan mengamati seluruh kenyataan dari diri Bodhisatta. Kemudian dua orang tetap tinggal sementara orang ketiga kembali menghadap raja dan melaporkan, “Raja besar, petapa yang mengumpulkan dàna makanan masih duduk dengan tenang di jalan masuk ke gua yang menghadap timur di puncak Gunung Pandava sama sekali tidak merasa takut bagaikan raja singa atau raja macan atau raja sapi, setelah memakan makanan yang diperolehnya.” Mendengar hal itu, raja tergopoh-gopoh pergi dengan mengendarai kereta mewah menuju tempat Bodhisatta di puncak Gunung Pandava sejauh yang bisa dilewati oleh kereta itu; kemudian meninggalkan kereta dan melanjutkan dengan berjalan kaki. Ketika ia sudah berada di dekat Bodhisatta, ia duduk di atas sebuah batu yang sejuk setelah meminta izin dari Bodhisatta dan merasa terkesan oleh sikap Bodhisatta. Ia berkata, “Teman, Engkau masih berusia muda. Engkau juga memiliki karakteristik baik dan jasmani yang tampan. Aku rasa Engkau pasti berasal dari kasta tinggi, kesatria murni. Aku akan menawarkan kebahagiaan istana dan kekayaan; apa pun yang Engkau inginkan di dua negara Angga dan Magadha yang adalah wilayah kekuasaanku. Jadilah raja dan memerintahlah! Juga katakanlah padaku silsilah-Mu.” Demikianlah raja menanyai Bodhisatta dan menawarkan kerajaan kepada-Nya. Kemudian Bodhisatta mempertimbangkan, “ Jika Aku berkeinginan untuk menjadi raja, bahkan empat raja dewa di alam surga dan lain-lainnya akan menawarkan kerajaannya kepada-Ku. Atau, jika Aku tetap tinggal di istana-Ku sebagai raja, dapat dipastikan Aku akan menjadi raja dunia. Tanpa mengetahui hal ini, Raja Bimbisàra memberikan penawaran tersebut pada-Ku dengan mengatakan hal-hal tadi. Aku akan memberitahukan kehidupan istana-Ku kepadanya.” Dengan pikiran demikian, Ia merentangkan tangan kanan-Nya dan menunjuk arah dari mana Beliau datang. Setelah dengan beberapa syair indah Petapa Gotama menyatakan bahwa ia anak dari Raja Suddhodana  , Kemudian Raja Bimbisàra menjawab, “Yang Mulia, aku telah mendengar bahwa ‘Pangeran Siddhattha’, putra Raja Suddhodana, setelah melihat empat pertanda dengan mata-Nya sendiri, pergi melepaskan keduniawian dan menjadi petapa, yang akan mencapai Pencerahan Sempurna. Pemimpin tertinggi di tiga alam. Setelah menyaksikan sendiri cita-cita agung-Mu untuk mencapai Nibbàna. Aku percaya bahwa Engkau akan menjadi Buddha. Yang Mulia, izinkan aku mengajukan permohonan. Ketika Engkau telah mencapai Kebuddhaan, mohon agar kunjungan pertama-Mu adalah ke negeriku!” Setelah dengan sungguh-sungguh menyampaikan undangannya, Raja Bimbisàra kembali ke kota.

BODDHISATTA BELAJAR DAN BERDISKUSI DENGAN PEMIMPIN ALIRAN ALARA DAN UDAKA, DAN BERHASIL MENCAPAI DELAPAN PENCAPAIAN LOKIYA JHANA

Ketika Raja Bimbisàra yang bijaksana kembali ke Kota Ràjagaha, Bodhisatta melakukan perjalanan untuk mencari kebahagiaan Nibbàna yang disebut Santivara (kedamaia tertinggi); dalam perjalanan tersebut Beliau tiba di tempat kediaman seorang guru agama, bernama Alàra dari suku Kàlàma.

Boddhisatta belajar pada Alara Kalama

Boddhisatta belajar pada Alara Kalama

Sesampainya di tempat kediaman Alàra, si pemimpin aliran, Bodhisatta mengajukan permohonan, “O Sahabat, engkau yang berasal dari suku Kàlàma, Aku ingin menjalani kehidupan suci sesuai caramu.” Alâra mengabulkan permohonan itu dengan mengucapkan kata-kata dukungan yang tulus, “O Sahabat mulia, mari bergabung bersama kami! Dengan cara yang kami jalani, seseorang yang tekun akan dapat memahami pandangan gurunya dalam waktu singkat dan dapat mempertahankan kebahagiaan.”

Setelah diterima oleh Alàra, Bodhisatta dengan rajin memelajari ajaran baru tersebut. Sebagai seseorang yang memiliki kecerdasan yang tinggi, Bodhisatta dapat dengan mudah mempelajari dan mempraktikkan ajaran Alàra. Hanya dengan mengulangi kata-kata guru-Nya dengan sedikit gerakan bibir, Bodhisatta mencapai tahap di mana Beliau dapat mengatakan, “Aku telah mengerti!” Ia membuat pernyataan, “Aku telah mengerti! Aku telah melihat ajarannya!” dan pemimpin aliran beserta siswa-siswa lainnya menerima pernyataan-Nya.

Sehubungan dengan ajaran Alàra mengenai latihan yang menghasilkan pencapaian Akincnnàyatana (Lokiya) Jhàna, Beliau mengetahui bahwa, “Pemimpin aliran Alàra tentu berlatih tidak sekadar mengandalkan keyakinan tanpa disertai kebijaksanaan, namun guru ini pasti seorang yang telah menembus tujuh pencapaian Lokiya.” Kemudian Beliau mendekati guru dan bertanya, “O Sahabat Kàlàma, seberapa jauh engkau dapat mengatakan bahwa engkau telah benar-benar menembus ajaran-ajaran yang engkau ajarkan?” Alàra menjawab bahwa ia telah memiliki pengetahuan praktik (bukan teori) dengan menjelaskan bagaimana mencapai tujuh pencapaian hingga âki¤ca¤¤àyatana Jhàna.

Selanjutnya, Bodhisatta berpikir, “Bukan hanya pemimpin aliran âlàra yang memiliki keyakinan yang kuat untuk mencapai Jhàna; Aku juga memiliki keyakinan yang kuat untuk mencapai Jhàna. Bukan hanya ia yang memiliki usaha, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan yang kuat untuk mencapai Appanà Jhàna; Aku juga memiliki usaha, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan yang kuat untuk mencapai Appanà Jhàna; Alàra berkata bahwa ia telah menembus tujuh Lokiya Jhàna hingga tingkat Akincannàyatana dengan Abhinnà dan berdiam di sana penuh kebahagiaan. Sebaiknya, Aku juga harus berusaha mencapai tujuh pencapaian Lokiya Jhàna seperti dia.”

Demikianlah dengan pikiran seperti ini, Beliau berusaha keras berlatih kasina parikamma, dan dalam dua atau tiga hari Beliau berhasil menembus tujuh pencapaian lokiya hingga tingkat Akincannàyatana Jhàna dan berdiam penuh kebahagiaan di sana sama seperti Guru Alàra.

Kemudian Bodhisatta mendatangi guru âëàra dan bertanya, “Sahabat Kàlàma, Seperti inikah yang engkau maksudkan dengan tujuh Lokiya Jhàna dan Abhinnà yang telah engkau capai dan berdiam di sana penuh kebahagiaan?” Ketika Alàra memberikan jawaban menyetujui, Bodhisatta memberitahukan, “Sahabat, Aku juga telah mencapai tujuh Lokiya Jhàna hingga tingkat âki¤ca¤¤àyatana Jhàna dengan Abhinnà dan berdiam di sana penuh kebahagiaan.” Sebagai seorang mulia yang telah bebas dari noda batin iri hati (issà) dan sifat egois (micchariya), Alàra pemimpin aliran berkata dengan penuh kegembiraan, “Kami telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri seorang petapa yang sangat cerdas seperti diri-Mu. Adalah keuntungan besar bagi kami, Sahabat!” Setelah itu, Alara menyerahkan separuh pengikutnya kepada Petapa Gotama, Boddhisatta kita, dan meminta Boddhisatta untuk bersama-sama dengan dia memimpin aliran petapaan tersebut.

SANG BODDHISATTA MENINGGALKAN GURU-NYA ALARA KARENA MELIHAT CACAT DARI PENCAPAIAN LOKIYA JHANA

Setelah berusaha dan berhasil mencapai tujuh Lokiya Jhàna, karena Beliau memang telah memperoleh Jhàna dalam kehidupan-kehidupan lampau-Nya dan karena Beliau memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi, Bodhisatta kemudian merenungkan sifat-sifat dari pencapaian ini dalam kehidupan-Nya saat ini dan manfaatnya untuk kehidupan mendatang; Beliau mengetahui benar sifat dari pencapaian tujuh tingkat Jhàna ini hingga tingkat âkincannàyatana Jhàna dalam kehidupan ini dan kelahiran kembali di Alam Brahmà âkincannàyatana setelah meninggal dunia. Beliau sampai pada kesimpulan bahwa tujuh Lokiya Jhàna ini masih berada dalam lingkaran penderitaan (vattha dukkha); Beliau juga merenungkan dalam-dalam, “Kelompok pencapaian-pencapaian ini tidak dapat mengakhiri lingkaran penderitaan; pelepasan; untuk melenyapkan kotoran batin seperti nafsu (ràga), dan lain-lain, untuk memadamkan semua kotoran-kotoran ini, untuk mengetahui semua yang harus diketahui, untuk mencapai pengetahuan mengenai Empat Jalan, untuk menembus Nibbàna. Sebenarnya, tujuh pencapaian ini hanya menghasilkan Alam Brahmà âki¤ca¤¤àyatana di mana umur kehidupan adalah selama enam puluh ribu mahàkappa, namun tidak menghasilkan yang lebih tinggi dari itu. Alam Brahmà âki¤ca¤¤àyatana yang tertinggi hanyalah sebuah alam yang belum terbebaskan dari bahaya kelahiran, usia tua, dan kematian. Sebenarnya hanyalah sebuah wilayah yang masih berada dalam kekuasaan raja kematian.”


PERTEMUAN BODDHISATTA DENGAN PEMIMPIN ALIRAN UDAKA DAN USAHA-NYA UNTUK MENCAPAI NEVASANNAVASANNAYATANA JHANA

Setelah meninggalkan pemimpin aliran Alàra, dan karena berkeinginan untuk mencari kebahagiaan Nibbàna, yaitu kedamaian tertinggi (Santivara) Beliau pergi mengembara hingga akhirnya tiba di tempat kediaman seorang pemimpin sebuah aliran lain, Udaka putra Ràma. Beliau mengajukan permohonan kepada si pemimpin aliran Udaka, berkata, “Sahabat, Aku ingin menjalani kehidupan suci sesuai caramu.” Si pemimpin aliran Udaka putra Ràma mengabulkan permohonan tersebut dengan menjawab, “Sahabat, silakan ikuti cara kami! Ajaran-ajaran kami, yang jika  dipraktikkan dengan sungguh-sungguh oleh mereka yang tekun, akan memungkinkan dalam waktu singkat menguasai Abhinnà dan pandangan guru (àcariya-vàda) dan hidup berbahagia.”

Selanjutnya Bodhisatta tidak membuang-buang waktu untuk memelajari ajaran-ajaran dan mempraktikkan latihan dari Udaka, si pemimpin aliran. Seperti halnya Alàra, pemimpin aliran sebelumnya, Bodhisatta yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi dapat dengan mudah memelajari ajaran-ajaran dan mempraktikkan ajaran tersebut hanya dengan mengulangi apa yang diucapkan si guru dengan sedikit gerakan bibir, Bodhisatta mencapai tingkat di mana Beliau dapat mengatakan, “Aku telah mengerti!.” Bahkan Beliau benar-benar membuat pernyataan, “Aku telah mengerti! Aku telah melihat ajarannya!” yang dibenarkan oleh si pemimpin aliran Udaka dan siswa-siswa lainnya.

Sehubungan dengan cara-cara tradisional yang dijelaskan oleh Udaka (yang diturunkan dari ayahnya, Ràma) yang mengarah kepada pencapaian Nevasannàvàsannàyatana (lokiya) Jhàna, Bodhisatta memahami bahwa, “Sepertinya Ràma, ayah Udaka yang telah meninggal dunia, tidak sekadar memelajari teori dengan memercayai apa yang dikatakan oleh orang-orang lain mengenai praktik menuju Nevasa¤¤àvàsa¤¤àyatana Jhàna. Tetapi sebenarnya, Ràma, ayah Udaka pastilah seorang yang telah menembus delapan Lokiya Jhàna.”

Bodhisatta mendekati Udaka si pemimpin aliran dan bertanya, “O Sahabat, sampai sejauh manakah ayahmu, Ràma guru besar, mengatakan mengenai penembusan ajarannya oleh dirinya?” Udaka menjawab bahwa ayahnya telah mencapai Nevasannàvàsannàyatana Jhàna.

Selanjutnya, Bodhisatta berpikir, “Bukan hanya ayah Udaka, Ràma, guru besar, yang memiliki keyakinan yang kuat untuk mencapai Nevasannàvàsannàyatana Jhàna; Aku juga memiliki keyakinan yang kuat untuk mencapai Jhàna tersebut. Bukan hanya ia yang memiliki usaha, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan yang kuat untuk mencapai Nevasa¤¤àvàsa¤¤àyatana Jhàna; Aku juga memiliki usaha, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan yang kuat untuk mencapai Jhàna tersebut; Ayah Udaka, Ràma berkata bahwa ia telah menembus delapan Lokiya Jhàna hingga tingkat Nevasannàvàsannàyatana dengan Abhi¤¤à dan berdiam di sana penuh kebahagiaan. Sebaiknya, Aku juga harus berusaha mencapai delapan pencapaian Lokiya Jhàna sepertinya.” Demikianlah dengan pikiran seperti ini, Beliau berusaha keras berlatih kasiõa parikamma, dan dalam dua atau tiga hari Beliau berhasil seperti ayah Udaka, Ràma, menembus delapan pencapaian Lokiya Jhàna hingga tingkat Nevasannàvàsannàyatana Jhàna dan berdiam penuh kebahagiaan di sana.

Kemudian Bodhisatta mendatangi pemimpin aliran Udaka dan bertanya, “Sahabat Udaka, seperti inikah yang dimaksudkan oleh Ràma guru besar dengan delapan Lokiya Jhàna dan Abhinnà yang telah ia capai dan berdiam di sana penuh kebahagiaan?” Ketika Udaka memberikan jawaban menyetujui, Bodhisatta memberitahukan, “Sahabat, Aku juga telah mencapai delapan Lokiya Jhàna hingga tingkat Nevasannàvàsannàyatana Jhàna dengan Abhinnà dan berdiam di sana penuh kebahagiaan.” Sebagai seorang mulia yang telah bebas dari noda batin iri hari (issà) dan sifat egois (micchariya), Udaka pemimpin aliran seperti halnya Alàra  pemimpin aliran sebelumnya, berkata dengan penuh kegembiraan, Kami telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri seorang petapa yang sangat cerdas seperti dirimu. Adalah keuntungan besar bagi kami, Sahabat! Setelah itu, Udaka menyerahkan separuh pengikutnya kepada Petapa Gotama, Boddhisatta kita, dan meminta Boddhisatta untuk bersama-sama dengan dia memimpin aliran petapaan tersebut.

BODDHISATTA MENINGGALKAN GURU UDAKA SETELAH MELIHAT CACAT DALAM PENCAPAIAN LOKIYA JHANA

Setelah berusaha dan berhasil mencapai delapan Lokiya Jhàna, karena Beliau memang telah memperoleh Jhàna dalam kehidupan-kehidupan lampau-Nya dan karena Beliau memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi, Bodhisatta kemudian merenungkan sifat-sifat dari pencapaian ini dalam kehidupan-Nya saat ini dan manfaatnya untuk kehidupan mendatang; Beliau mengetahui benar sifat dari pencapaian delapan tingkat Jhàna ini hingga tingkat Nevasannàvàsannàyatana Jhàna dalam kehidupan ini dan kelahiran kembali akan terjadi di Alam Nevasannàvàsannàyatana setelah meninggal dunia; Beliau sampai pada kesimpulan bahwa delapan Lokiya Jhàna ini masih berada dalam lingkaran penderitaan; Beliau juga merenungkan dalam-dalam, “Kelompok pencapaian-pencapaian ini tidak dapat mengakhiri lingkaran penderitaan; pelepasan; untuk melenyapkan kotoran batin seperti nafsu (ràga), dan lain-lain, untuk memadamkan semua kotoran-kotoran ini, untuk mengetahui semua yang harus diketahui, untuk mencapai pengetahuan mengenai Empat Jalan, untuk menembus Nibbàna. Sebenarnya, delapan pencapaian ini hanya menghasilkan Alam Brahmà Nevasannàvàsannàyatana di mana umur kehidupan adalah selama delapan puluh empat mahàkappa, namun tidak menghasilkan yang lebih tinggi dari itu. Alam Brahmà Nevasannàvàsannàyatana yang tertinggi hanyalah sebuah alam yang belum terbebaskan dari bahaya kelahiran, usia tua, dan kematian. Sebenarnya hanyalah sebuah wilayah yang masih berada dalam kekuasaan raja kematian.”


BODDHISATTA MENGUNJUNGI URUVELA DAN MEMPRAKTIKKAN PENYIKSAAN DIRI (DUKKARACARIYA) SELAMA ENAM TAHUN

Boddhisatta tiba di Uruvela Senanigama dan mulai mempraktikkan praktik penyiksaan diri

Boddhisatta tiba di Uruvela Senanigama dan mulai mempraktikkan praktik penyiksaan diri

Setelah meninggalkan Udaka, si pemimpin aliran, Bodhisatta bepergian di Negeri Magadha dalam usaha mencapai Nibbàna dan akhirnya tiba di Kota Sena. Di dekat Kota Sena terdapat sebuah hutan bernama Uruvelà. Hutan yang kondisi tanahnya secara alamiah menyenangkan hati orang-orang bijak dan mulia; hutan itu sendiri sangat indah; Sungai Neranjarà memiliki pantai yang menarik, bebas dari lumpur dan sampah; dengan pasir-pasir pantainya yang bagaikan lembaran-lembaran perak yang membentang; dengan arus yang jernih dan bersih penuh dengan ikan-ikan dan kura-kura, sungai tersebut mengalir terus-menerus; terdapat sebuah desa kecil di mana petapa-petapa hutan berdiam dan mengumpulkan dàna makanan. Ketika Bodhisatta melihat situasi ini, Beliau memerhatikan dengan saksama, dan muncul pikiran, “Ini adalah tempat yang tepat untuk putra-putra dari keluarga-keluarga yang baik yang mencari Nibbàna untuk mempraktikkan meditasi.”

Selanjutnya, Beliau membangun sebuah tempat tinggal kecil dari kayu-kayu kering dan daun-daunan dan tinggal di dalam Hutan Uruvelà tersebut dan berlatih meditasi.

TIGA PERUMPAMAAN UNTUK BODDHISATTA

Memulai Praktik Dukkaracariya

Memulai Praktik Dukkaracariya

Kemudian muncul dalam pikiran Bodhisatta tiga perumpamaan sebagai berikut:

(1)    Untuk membuat api, sekeras apa pun seseorang menggosokkan kayu api dengan sepotong kayu api yang basah yang direndam dalam air, ia tidak akan dapat menghasilkan api dan hanya akan mengalami penderitaan karena kegagalan. Demikian pula di dunia ini, mereka yang disebut petapa dan brahmana yang masih memiliki nafsu indria yang basah dan belum dikeringkan dan yang belum menghindari diri dari objek-objek indria atau tidak dapat menembus Jalan dan Buahnya, hanya akan mendapat penderitaan sekeras apa pun mereka berusaha untuk melenyapkan kotoran batin. Ini adalah perumpamaan pertama sehubungan dengan Bodhisatta.

(2) Untuk membuat api, sekeras apa pun seseorang menggosok kayu api dengan sepotong kayu api yang basah yang meskipun jauh dari air, ia tetap tidak bisa menyalakan api karena kayu yang basah itu; sebaliknya ia justru akan menjadi menderita. Demikian pula di dunia ini, mereka yang disebut petapa dan brahmana yang masih memiliki unsur-unsur menipu berupa objek-objek indria yang belum dikeringkan tidak akan menembus Jalan dan Buahnya namun hanya akan menjadi lebih menderita sekeras apa pun mereka berusaha menjauhkan diri dari air objek-objek indria secara fisik maupun batin. Ini adalah perumpamaan kedua sehubungan dengan Bodhisatta.

(3) Untuk membuat api, jika seseorang menggosok sepotong kayu dengan kayu kering yang jauh dari air, ia akan dengan mudah menyalakan api karena kayu itu berada di daratan yang jauh dari air dan kering. Demikian pula di dunia ini mereka yang disebut petapa dan brahmana yang nafsu-nafsu indria telah kering dan telah menjauhkan diri dari objek-objek indria secara fisik maupun batin dapat menembus Jalan dan Buahnya jika mereka mempraktikkan cara pertapaan yang benar, sulit maupun mudah. Ini adalah perumpamaan ketiga sehubungan dengan Bodhisatta. (Perumpamaan ini harus dipahami dengan cara yang dijelaskan sebelumnya. Perumpamaan ini menjelaskan pertapaan yang dijalankan oleh Bodhisatta sendiri.)


KELOMPOK LIMA PETAPA DATANG DAN MELAYANI BODDHISATTA

Boddhisatta mempraktikkan dukkaracariya ditemani 5 petapa disaksikan

Boddhisatta mempraktikkan dukkaracariya ditemani 5 petapa disaksikan

Kelompok lima petapa yang telah menjalani hidup bertapa bahkan sejak kelahiran Bodhisatta seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bertanya-tanya apakah Bodhisatta Pangeran telah melepaskan keduniawian dan menjadi petapa atau belum; mendengar bahwa Bodhisatta telah menjadi petapa mereka mulai mengunjungi desa-desa, kota-kota, dan lain-lain satu demi satu, untuk mencari Bodhisatta dan akhirnya bertemu di Hutan Uruvelà. Berharap bahwa “Tidak lama lagi, Beliau akan menjadi seorang Buddha! Tidak lama lagi Beliau akan menjadi seorang Buddha!” Mereka melayani-Nya dalam menjalani penyiksaan diri (dukkaracariya) selama enam tahun; mereka bergerak ke sana ke sini memenuhi kewajiban mereka seperti menyapu, mengambil air panas, dingin, dan lain-lain.


PRAKTIK DUKKARACARIYA BODDHISATTA, USAHA YANG KERASA

Usaha keras ini dijelaskan dalam empat tingkat yaitu (1) “Meskipun yang tersisa tinggal kulit,” (2) “Meskipun yang tersisa tinggal urat,” (3) “Meskipun yang tersisa tinggal tulang,” dan (4) “Meskipun daging dan darah-Ku menguap yang disebut padhàna-viriya. Praktik yang akan dijelaskan ini disebut Usaha Keras (padhàna) yang dilakukan dengan padhàna-viriya. Praktik ini juga disebut dukkaracariya karena sulit bagi orang-orang biasa untuk menjalaninya.

(a)    Setelah mengunjungi Kota Senà untuk mengumpulkan dàna makanan, Bodhisatta menghabiskan waktu berhari-hari berlatih meditasi untuk mengembangkan cinta kasih (Mettà-bhavanà). Kemudian Beliau berpikir, “Apa untungnya bagi-Ku bergantung dengan makanan-makanan kasar ini? Dengan memakan makanan demi kepuasan-Ku dan mengembangkan cinta kasih, Aku tidak akan mencapai Kebuddhaan yang menjadi tujuan-Ku.” Kemudian Beliau berhenti mengumpulkan dàna makanan dan hidup hanya dari buah-buahan yang besar maupun kecil yang jatuh dari atas pohon di Hutan Uruvelà. Tidak berhasil mencapai Kebuddhaan dengan cara demikian, Beliau berpikir lagi, “Makanan ini yang berupa buah-buahan besar maupun kecil juga masih kasar. Mencari-cari buah-buahan merupakan rintangan (palibodha).” Selanjutnya Beliau bertahan hidup hanya dengan buah yang jatuh dari pohon tempat di mana Beliau tinggal.

(b)   Kemudian Bodhisatta mempertimbangkan, “Adalah baik jika Aku menggemeretakkan gigi dan mendecakkan lidah.” Untuk menekan kesadaran-kesadaran yang tidak baik yang berhubungan dengan pikiran-pikiran buruk, misalnya nafsu-nafsu indria dan lain-lain, dengan kesadaran yang baik yang berhubungan dengan pikiran yang baik pula. “Adalah lebih baik lagi jika Aku melenyapkannya. Lebih baik lagi jika Aku menghilangkannya dengan api semangat.” Demikianlah Beliau menggemeretakkan gigi dan mendecakkan lidah untuk menekan kesadaran-kesadaran yang tidak baik dengan kesadaran yang baik. Beliau tidak membiarkannya muncul tapi melenyapkannya. Beliau melenyapkannya dari dalam diri-Nya melalui api semangat. Keringat bercucuran dari ketiak-Nya. Misalnya, seperti keringat yang bercucuran dari ketiak seorang yang lemah ketika seseorang yang kuat mencengkeram kepala atau bahunya dan menekannya ke bawah. Pada waktu itu usaha Bodhisatta sangatlah besar, tidak berkurang sama sekali. Perhatian-Nya sangat jernih dan kokoh, tidak pernah sekalipun Beliau kehilangan perhatian-Nya. Namun usaha-Nya yang keras itu berlangsung terus menerus, hingga seluruh tubuh-Nya menjadi panas dan tidak tertahankan. Meskipun Beliau terus menerus dalam situasi yang menyedihkan, kemauan-Nya untuk terus berusaha tidak pernah surut.

(c)    Kemudian Bodhisatta berpikir, “Akan lebih baik jika Aku mengembangkan Appanàka-Jhàna, dengan tidak menarik napas atau mengeluarkan napas.” Jadi, dengan usaha yang terus menerus Beliau menahan napas yang masuk dan keluar melalui mulut atau hidung sehingga udara tidak dapat masuk atau keluar. Kemudian udara terkumpul dan keluar melalui telinga, melalui mulut, dan hidung. Bunyi yang dihasilkan oleh angin yang keluar itu sangat keras bagaikan suara ketel air mendidih. Pada waktu itu usaha Bodhisatta sangatlah keras, tidak berkurang sama sekali, perhatian-Nya sangat jernih dan kokoh, tidak pernah sekalipun Beliau kehilangan perhatian-Nya. Namun usaha-Nya yang sangat keras itu berlangsung terus menerus, hingga seluruh tubuh-Nya menjadi panas dan tidak tertahankan. Meskipun Beliau terus menerus dalam situasi yang menyedihkan, kemauan-Nya untuk terus berusaha tidak pernah surut.

(d)   Kemudian Bodhisatta berpikir, “Lebih baik jika Aku mengembangkan Appanàka-Jhàna.” Jadi dengan usaha terus menerus Beliau menahan napas yang masuk dan keluar melalui mulut, hidung, dan telinga. Karena tidak dapat keluar melalui mulut, hidung, dan telinga, udara memaksa keluar menembus kepala. Misalnya, seperti seorang yang kuat melubangi kepala dengan bor yang tajam. Bahkan pada saat itu, semangat-Nya masih sebesar sebelumnya, tidak menurun sama sekali. Perhatian-Nya juga masih kokoh dan jernih, tidak pernah kehilangan perhatian-Nya. Namun usaha-Nya yang sangat keras itu berlangsung terus menerus, hingga seluruh tubuh-Nya menjadi panas dan tidak tertahankan. Meskipun Beliau terus menerus dalam situasi yang menyedihkan, kemauan-Nya untuk terus berusaha tidak pernah surut.

(e)   Selanjutnya Bodhisatta berpikir, “Lebih baik jika Aku mengembangkan Appanàka-Jhàna.” Jadi dengan usaha terus menerus Beliau menahan napas yang masuk dan keluar melalui mulut, hidung, dan telinga. Pada saat itu angin keras mendesak keluar dari kepala-Nya dan akhirnya Beliau menderita sakit kepala yang dahsyat, seperti seseorang yang menderita sakit kepala karena kepalanya diikat dengan tali kulit oleh seorang yang kuat. (Anda, para pembaca, bayangkan seseorang yang sangat kuat melingkari kepala Anda dengan tali kulit dan dengan sebatang tongkat yang diputar untuk mengencangkan ikatan tali itu. Seperti itulah.) Pada waktu itu juga, semangat-Nya masih sama seperti sebelumnya tidak berkurang sedikit pun, perhatian-Nya sangat jernih dan kokoh, tidak pernah sekalipun Beliau kehilangan perhatian-Nya. Namun usaha-Nya yang sangat keras itu berlangsung terus menerus, hingga seluruh tubuh-Nya menjadi panas dan tidak tertahankan. Meskipun Beliau terus menerus dalam situasi yang menyedihkan, kemauan-Nya untuk terus berusaha tidak pernah surut.

(f)      Lagi, Bodhisatta berpikir, “Lebih baik jika Aku mengembangkan Appanàka-Jhàna.” Jadi dengan usaha terus menerus Beliau menahan napas yang masuk dan keluar melalui mulut, hidung, dan telinga seperti sebelumnya. Dan pada saat itu angin yang sangat kuat melukai seolah-olah menerobos keluar. Seperti seorang tukang daging yang ahli membelah perut dengan pisau daging yang tajam. Pada waktu itu juga, semangat-Nya masih sama seperti sebelumnya tidak berkurang sedikit pun, perhatian-Nya sangat jernih dan kokoh, tidak pernah sekalipun Beliau kehilangan perhatian-Nya. Namun usaha-Nya sangat keras itu berlangsung terus menerus, hingga seluruh tubuh-Nya menjadi panas dan tidak tertahankan. Meskipun Beliau terus menerus dalam situasi yang menyedihkan, kemauan- Nya untuk terus berusaha tidak pernah surut.

(g)    Sekali lagi, Bodhisatta berpikir, “Adalah lebih baik jika Aku mengembangkan Appanàka-Jhàna.” Jadi dengan usaha terus menerus Beliau menahan napas yang masuk dan keluar melalui mulut, hidung, dan telinga seperti sebelumnya. Dan pada saat itu seluruh tubuh-Nya mengalami dàharoga (luka bakar) yang sangat parah seperti luka yang diderita oleh seorang yang lemah dibakar di dalam api yang berkobar-kobar oleh dua orang kuat yang masing-masing memegang lengan kanan dan kirinya. Pada waktu itu seluruh tubuh Bodhisatta panas terbakar. Pada waktu itu semangat-Nya tidak berkurang sedikit pun, tapi tetap kuat seperti sebelumnya. Perhatian-Nya juga masih jernih dan kokoh. Sehubungan dengan luka yang diderita-Nya (padhàna) Beliau tidak mendapatkan kedamaian. Namun demikian keinginan-Nya untuk terus berusaha tidak pernah surut.

BODDHISATTA PINGSAN DAN JATUH TERDUDUK SELAGI BERJALAN

Mengalami panas yang luar biasa di seluruh tubuh-Nya, Bodhisatta pingsan dan jatuh terduduk selagi berjalan. (Beliau tidak jatuh terjerembab seperti orang pada umumnya. Karena Beliau memiliki perhatian yang sangat kuat, Beliau hanya jatuh terduduk). Ketika Bodhisatta jatuh dalam posisi demikian, para dewa yang berada di dekat sana mengucapkan tiga pendapat:

(1) Para dewa berkata, “Samana Gotama telah mati.”

(2) Beberapa dewa lain berkata, “Samana Gotama belum mati. Beliau sekarat.”

(3) Beberapa dewa lain berkata, “Samana Gotama tidak mati ataupun sekarat; Samana Gotama telah menjadi Arahanta; dalam postur demikianlah biasanya seorang Arahanta duduk.”

Di antara pada dewa yang berkomentar. Mereka yang mengatakan “Samana Gotama telah mati” pergi menemui Raja Suddhodana dan memberitahukan, “Putramu telah mati.” Sewaktu raja bertanya, “Apakah putraku mati sebelum atau sesudah mencapai Kebuddhaan?” Mereka menjawab, “Putramu tidak berkesempatan menjadi Buddha; dalam usahanya Beliau terjatuh dan mati pada saat berjalan.” “Aku tidak memercayai kata-katamu. Sebelum mencapai Kebuddhaan, anakku tidak mungkin mati” jawab raja.

BODDHISATTA MENGURANGI MAKANAN-NYA HINGGA KURUS KERING

Ketika Beliau bangun dari pingsan-Nya. Bodhisatta berpikir, “Adalah lebih baik jika Aku berlatih tanpa memakan makanan sama sekali.” Dan pada waktu itu para dewa berkata kepada-Nya, Oh, Bodhisatta, Samana Mulia! Jangan tidak makan sama sekali. Oh, Bodhisatta, Samana Mulia! Jika Engkau tidak makan sama sekali, kami akan memasukkan makanan dewa melalui pori-pori-Mu. Dan dengan makanan itu Engkau akan tetap hidup.” Kemudian Bodhisatta berpikir lagi, “Jika Aku tidak makan sama sekali dan jika para dewa memberikan makanan melalui pori-pori-Ku, dan jika Aku tetap hidup meskipun Aku menyatakan Aku berpuasa secara total, hidup-Ku dengan makanan dewa ini akan melawan diri-Ku sendiri sehingga menjadi saling berlawanan,” Kemudian Beliau berkata kepada para dewa, “Oh, dewa, jangan memasukkan makanan dewa melalui pori-pori-Ku. Aku akan makan secukupnya untuk hanya mempertahankan hidup-Ku.”

Sejak saat itu, Bodhisatta tidak lagi berpuasa total tetapi makan sedikit demi sedikit. Untuk makan selama satu hari kadang-kadang Ia mengambil segenggam nasi, kadang-kadang sesuap sup kacang, segenggam bubur, dan sesuap sup ercis.

Dengan memakan hanya makanan demikian, bentuk tubuh Bodhisatta terlihat sangat kurus dan lemah.

Boddhisatta menyiksa diri hingga tubuh-Nya kurus kering

Boddhisatta menyiksa diri hingga tubuh-Nya kurus kering

Karena Bodhisatta hanya makan sangat sedikit makanan, bagian tubuh-Nya yang besar maupun kecil menonjol di tiap-tiap sendi tulang-Nya dan kurus serta seperti ditekan pada bagian-bagian lainnya seperti buku-buku tanaman menjalar àsitika dan kàla.

Bokong Bodhisatta bagaikan kuku unta dengan anus yang seperti ditekan.

Punggung-Nya (tulang punggung) Bodhisatta menonjol keluar dan menjorok ke dalam seperti butiran tasbih.

Daging di antara tulang-tulang rusuk-Nya menjorok ke dalam memperlihatkan pemandangan yang sangat menakutkan seperti rangka atap rumah seorang petapa.

Bola mata-Nya juga terlihat menjorok ke dalam rongga mata-Nya seperti gelembung-gelembung air dari mata air yang dalam.

Kulit kepala-Nya keriput dan kering bagaikan buah labu yang dijemur.

Kulit perut-Nya menempel ke tulang punggung-Nya, tulang punggung-Nya dapat terasa jika kulit perut-Nya disentuh, dan kulit perut-Nya dapat dirasakan kalau tulang punggung disentuh.

Ketika duduk untuk menjawab panggilan alam (buang air), air seni tidak keluar seluruhnya karena tidak tersedia cukup cairan di dalam perut-Nya untuk diubah menjadi air seni. Sedangkan tinja-Nya, berupa satu atau dua bola keras seukuran biji kacang yang dikeluarkan dengan susah payah. Keringat bercucuran di sekujur tubuh-Nya. Dia jatuh di tempat itu juga dengan wajah tertelungkup.

Ketika Bodhisatta mengusap tubuh-Nya dengan tangan untuk mendapatkan perasaan nyaman, bulu-bulu badan-Nya, yang akarnya tidak pernah mendapatkan nutrisi dari daging dan darah-Nya, berguguran dari tubuh-Nya dan menempel di tangan-Nya.

Warna kulit Bodhisatta yang kuning cerah seperti warna emas murni, siïginikkha. Namun bagi mereka yang melihat-Nya selama Beliau menjalani penyiksaan diri, beberapa orang berkata, “Samana Gotama berkulit hitam.” Beberapa orang berkata, “Samana Gotama bukan berkulit hitam, Ia berkulit cokelat.” Beberapa orang lain lagi mengatakan, “Samana Gotama bukan berkulit hitam atau cokelat, kulitnya berwarna abu-abu seperti ikan lele.”


MARA DATANG DAN BERPURA-PURA BAIK UNTUK MENCEGAH BODDHISATTA

Bahkan pada waktu Bodhisatta pergi melepaskan keduniawian, Màra mencoba mencegah-Nya dengan mengatakan, “Oh, Pangeran Siddhattha, pada hari ketujuh sejak hari ini roda pusaka akan muncul. Jangan pergi.” Tetapi Bodhisatta menjawab dengan tegas, “Oh, Màra, Aku tahu bahwa roda pusaka akan datang kepada-Ku. Tetapi, Aku tidak ingin menjadi raja dunia. Pergilah Engkau! Jangan datang lagi! Aku akan berusaha mencapai Kebuddhaan, dan mengguncangkan sepuluh ribu alam semesta.” Sejak saat itu, Màra mengikuti Bodhisatta selama enam tahun mencari kesempatan untuk menyingkirkan-Nya dengan pikiran, “Jika pikiran-pikiran indria kàma vitakka atau pikiran-pikiran kebencian vyàpàda vitakka, atau pikiran-pikiran kejam vihiÿsà vitakka, muncul dalam batin-Nya, aku akan membunuh-Nya pada saat itu juga.”

Namun sampai saat ini, selama enam tahun, Màra tidak berhasil menemukan pikiran-pikiran seperti ini dalam diri Bodhisatta.

Setelah enam tahun berlalu, Màra berpikir, “Pangeran Siddhattha  memiliki semangat yang sangat tinggi. Dukkaracariya yang Beliau praktikkan juga sangat keras. Setiap saat Beliau dapat menjadi Buddha. Bagaimana jika aku mendekati-Nya dan memberikan nasihat, supaya Beliau berhenti latihan.” Kemudian Màra mendekati Bodhisatta dan menasihati-Nya. (Setelah mencapai Pencerahan Sempurna, Buddha memberikan khotbah kepada para bhikkhu, khotbah yang berjudul Padhàna Sutta, menjelaskan bagaimana Màra membujuk-Nya dengan cara berpura-pura baik dan bagaimana Bodhisatta dengan tegas mengusirnya.)

Mendekati Bodhisatta yang terus menerus mengembangkan appànaka Jhàna di Hutan Uruvelà di dekat Neranjarà dengan cita-cita mencapai Nibbàna, Màra berkata:

“O Sahabatkku Pangeran Siddhattha, seluruh tubuh-Mu begitu kurus karena kehilangan daging dan darah. Kecantikan dan warna kulitnya telah memudar. Kematian-Mu telah mendekat; kesempatan untuk tetap hidup sangatlah kecil, hanya satu dibandingkan seribu. O Pangeran Siddhattha, mohon Engkau menjaga diri-Mu sehingga Engkau dapat berumur panjang. Umur yang panjang adalah hal yang paling berharga. Jika Engkau berumur panjang. Engkau dapat banyak melakukan kebajikan. Engkau dapat mengembangkan kebajikan dengan menjalani sãla atau melakukan upacara-upacara pengorbanan. Apalah gunanya menjalani hidup seperti ini di dalam hutan dan mempraktikkan penyiksaan diri dengan begitu menderita dan begitu lemah tanpa mengetahui apakah Engkau dapat bertahan hidup atau mati. (Tidak ada manfaatnya bagi-Mu). Untuk mencapai tujuan-Mu, Nibbàna, cara-cara tradisional sangat sulit dijalani; dan tidaklah layak menjalani jalan seperti itu.”

Demikianlah Màra berkata, terlihat seolah-olah penuh welas asih, seolah-olah ia berniat baik kepada Bodhisatta, dan seolah-olah ia mengasihani Bodhisatta. (Orang biasa pasti termakan oleh bujukan Màra.)

Namun, mendengarkan kata-kata yang penuh welas asih dari Màra, Bodhisatta berkata dengan tegas kepada Màra; sebagai berikut:

“Wahai Màra, Engkau yang mengikat para makhluk—dewa, brahmà, dan manusia—agar mereka tidak dapat terbebaskan dari samsàra! Engkau datang demi keuntunganmu pribadi dan dengan maksud-maksud tersembunyi bertujuan untuk mengganggu dan mencelakakan makhluk-makhluk lain.” (Dengan kata-kata ini Bodhisatta mengusir Màra yang bermaksud jahat terhadap-Nya.)

“Aku tidak berkeinginan sedikit pun untuk melakukan kebajikan-kebajikan yang mengarah kepada lingkaran penderitaan, vattagàmi. Engkau boleh berkata begitu kepada mereka yang menginginkan jasa-jasa vattagàmi. (Dengan kata-kata ini Bodhisatta menjawab pernyataan Màra, “Jika Engkau berumur panjang, Engkau dapat melakukan banyak kebajikan.)

“Wahai Màra, ada makhluk-makhluk yang tidak memiliki keyakinan (saddhà) sama sekali terhadap Nibbàna; ada yang memiliki keyakinan tetapi usahanya (viriya) lemah; ada yang memiliki keyakinan dan usaha yang kuat tetapi tidak memiliki kebijaksanaan (pannà), Engkau sebaiknya berbicara kepada mereka dan mendorong mereka untuk berumur panjang. Sedangkan Aku, Aku memiliki keyakinan bahwa, jika Aku berusaha keras, Aku akan mencapai Nibbàna bahkan dalam kehidupan ini juga ketika jasmani-Ku lenyap. Aku memiliki api semangat yang berkobar-kobar yang mampu membakar rumput-rumput kering dan sampah-sampah kotoran batin menjadi abu. Aku memiliki kebijaksanaan yang seperti bom milik Sakka yang dapat menghancurkan gunung karang kebodohan (avijjà) menjadi berkeping-keping. Aku juga memiliki perhatian (sati) dan konsentrasi (samàdhi), perhatian yang memungkinkan Aku untuk menjadi Buddha yang tidak lupa akan apa yang pernah dilakukan dan diucapkan di waktu-waktu lalu; dan konsentrasi yang tetap berdiri kokoh dalam menghadapi angin badai, bagaikan pilar batu berukir yang tidak tergoyahkan oleh badai. Dengan memiliki lima kualitas, Aku akan mencapai pantai seberang Nibbàna. Aku bekerja keras bahkan dengan mempertaruhkan hidup-Ku. Kepada orang seperti Aku, untuk apakah Engkau membicarakan mengenai umur panjang dan untuk apa membujuk-Ku untuk hidup lebih lama? Sebenarnya, tidak ada gunanya hidup bahkan selama satu hari sebagai manusia bagi mereka yang berusaha dengan rajin dan tidak pernah menyerah, yang memiliki Pandangan Cerah melalui Appanà samàdhi dan yang melihat dengan jelas timbul dan lenyapnya kelompok-kelompok jasmani dan batin.” (Dengan kata-kata ini Bodhisatta melawan Màra yang menakut-nakuti-Nya dengan mengatakan, “O Pangeran Siddhattha, kematian-Mu sudah mendekat, kesempatan-Mu untuk tetap hidup sangatlah kecil, hanya seperseribu.)

“Wahai Màra. Angin di dalam tubuh-Ku ini yang disebabkan oleh latihan appànaka Jhàna mampu mengeringkan air di Sungai Gangà, Yamunà, dan lain-lain, bagaimana mungkin tidak dapat mengeringkan sedikit darah di dalam diri-Ku, dengan pikiran yang terpusat ke Nibbàna? Sebenarnya, cukup kuat untuk mengeringkannya. Ketika darah dalam tubuh-Ku, yang banyaknya kira-kira empat ambana, mengering karena tiupan angin dalam latihan meditasi untuk mencapai Nibbàna, cairan-cairan empedu yang terdiri dari dua jenis, yang tercampur (baddha) dan tidak tercampur (abaddha); dan dahak, yang juga banyaknya empat ambana yang membungkus segala yang dimakan dan ditelan sehingga tidak menimbulkan bau-bau yang menjijikkan; dan air seni dan unsur-unsur gizi, yang juga lebih kurang empat ambana, akan mengering. Jika darah, cairan-cairan empedu, dahak, air seni, dan unsur-unsur gizi ini mengering, tentu saja daging akan menyusut. Ketika darah, cairan-cairan empedu, dahak, air seni, dan daging itu menyusut, pikiran-Ku menjadi lebih jernih.Keletihan demikian tidak akan membuat-Ku mundur karena Engkau tidak mengetahui bahwa pikiran-Ku sangat sungguh-sungguh, Engkau berbicara mengenai ‘keinginan untuk hidup’ (jivitanikanti), dengan berkata “O Pangeran Siddhattha, seluruh tubuh-Mu begitu kurus karena kekurangan daging dan darah” dan seterusnya). Tidak hanya pikiran-Ku menjadi lebih jernih, tetapi perhatian-Ku yang bagaikan pusaka raja dunia, kebijaksanaan-Ku yang bagaikan senjata pemotong intan dan konsentrasi-Ku yang tidak tergoyahkan bagaikan Gunung Meru, menjadi lebih berkembang dan kokoh.”

“Walaupun darah dan daging-Ku menyusut, pikiran-Ku lebih ceria dan menjadi lebih jernih dan mencapai tahap di mana perasaan-perasaan yang tiada bandingnya yang dialami oleh para Bodhisatta mulia, manusia-manusia luar biasa (Mahàpurisa). Meskipun seluruh tubuh-Ku mengering sampai hampir terbakar dan meskipun Aku benar-benar kelelahan, pikiran-Ku tidak pernah memikirkan objek-objek indria seperti kota kerajaan dan istananya, Yasodharà, Ràhula, empat puluh ribu pelayan perempuan dan lain-lain. Wahai Màra, selidiki dan lihatlah sendiri kesucian dan keteguhan hati-Ku yang tiada bandingnya, seseorang yang telah memenuhi Kesempurnaan.” (Dengan kata-kata ini Bodhisatta menunjukkan kesungguhan usaha-Nya.)

SEPULUH BALA TENTARA MARA

Mara dan Bala tentaranya mendatangi Boddhisatta

Mara dan Bala tentaranya mendatangi Boddhisatta

(1)    “Wahai Màra, ada objek-objek indria (vatthu-kàma), bergerak atau tidak bergerak, dan kotoran indria (kilesa-kàma) yang adalah kemelekatan terhadap objek-objek indria ini; dua bentuk indria ini menyebabkan para perumah tangga menjadi bodoh sehingga tidak menyadari kebenaran. Oleh karena itu, dua ini, vatthu-kàma dan kilesa-kàma adalah bala tentara pertama. Ada para perumah tangga yang mati dalam keduniawian (putthujjhana) di tengah-tengah harta duniawi (gihibhoga) karena mereka tidak dapat melepaskannya meskipun mereka mengetahui jarangnya kemunculan seorang Buddha (Buddh’uppàda dullabha) dan sulitnya menjalani hidup bertapa (pabbajitabhàva dullabha). Sebagai petapa, kebutuhan-kebutuhan seperti jubah, mangkuk, vihàra, taman, tempat tidur, dipan, selimut yang dapat dilekati dan dinikmati adalah merupakan materi-materi indria. Dan ada beberapa petapa yang mati dalam keduniawian di tengah-tengah harta benda indria milik vihàra dalam bentuk empat kebutuhan yaitu: tempat tinggal, pakaian, makanan, dan obat-obatan yang dipersembahkan oleh umat awam. Mereka meninggal dunia dengan cara demikian karena mereka tidak sanggup melepaskan harta benda tersebut meskipun mereka telah memelajari pada waktu penahbisan tentang bagaimana memanfaatkan bawah pohon sebagai tempat tinggal, jubah dari potongan-potongan kain, dàna makanan, dan menggunakan air seni sapi yang bau sebagai obat. Para perumah tangga dan petapa ini meninggal dunia saat bertemu dengan bala tentara pertama Màra yaitu indria (kàma). (Dikutip dari terjemahan nissaya dari Paddhana Sutta oleh Ledi Sayadaw.)

(2)    “Walaupun mereka telah menjalani kehidupan pertapaan setelah bertekad melepaskan gilibhoga, beberapa cenderung terganggu atau dirusak oleh kebencian (arati) dan ketidakpuasan (ukkanthita) sehingga tidak merasa berbahagia menjadi petapa, tidak berbahagia dalam belajar atau berlatih, tidak berbahagia dalam bertempat tinggal di kesunyian hutan, dan tidak berbahagia dalam meditasi konsentrasi (samatha) dan meditasi Pandangan Cerah (Vipassanà). Oleh karena itu arati dan ukkanthita merupakan bala tentara kedua Màra. (Beberapa petapa mati tenggelam dalam lautan bala tentara kedua dari Màra ini.)

(3)    “Walaupun beberapa petapa telah mengatasi bala tentara kedua, sewaktu menjalani praktik menyiksa diri dhutaïga, dan karena aturan-aturan keras dari dhutaïga yang memaksa mereka untuk makan makanan apa pun yang tersedia dari segala jenis yang dicampur menjadi satu. Beberapa tidak dapat makan dengan puas (seperti sapi yang haus memuaskan dahaganya sewaktu berkubang di dalam air); dan tidak terpuaskan sehingga menjadi lapar lagi, menderita bagaikan cacing tanah gila yang menggelepar jika terkena garam. Karena dahaga dan lapar, khuppipàsa, mereka menjadi tidak tertarik kepada pertapaan dan menjadi berkeinginan untuk mengambil makanan sebanyak-banyaknya. Khuppipàsa ini adalah bala tentara ketiga Màra. (Beberapa petapa mati tenggelam dalam lautan bala tentara ketiga dari Màra ini.)

(4)    “Ketika mereka menderita lapar dan haus, beberapa dari mereka menjadi sangat lemah secara fisik dan batin dan menjadi sangat ketakutan. Mereka menjadi kehilangan kepercayaan diri, malas, dan tidak berbahagia. Karena kelelahan (tandi) mereka tidak mampu menjalani kehidupan pertapaan mereka. Tandi ini adalah bala tentara keempat dari Màra. (Beberapa petapa mati tenggelam dalam lautan bala tentara keempat dari Màra ini.)

(5)    “Karena tidak mengalami kemajuan dalam usaha spiritualnya dan menjadi malas dan putus asa, mereka mulai merasa bosan dan terjatuh dalam kekecewaan. Sejak saat kemalasan dan kelembaman (thina-middha) berkembang, mereka mulai tidur-tiduran di dalam vihàra, berguling-guling dari satu sisi ke sisi lain dan tidur menelungkup. Thina-middha ini adalah bala tentara kelima dari Màra. (Beberapa petapa mati tenggelam dalam lautan bala tentara kelima dari Màra ini.)

(6)    “Tidur yang berlebih-lebihan karena kemalasan menyebabkan kebuntuan dalam meditasi mereka dan ketumpulan dalam pikiran. Diliputi oleh kemelekatan mereka menjadi lemah dan bingung karena hal-hal sepele ini dan itu. Karena rasa takut (bhiru) berkembang dalam keguncangan dari ketakutan mereka; dan dengan hati yang bergetar mereka menganggap tunggul kayu sebagai gajah, seekor macan sebagai raksana. Bhiru ini adalah bala tentara keenam dari Màra. (Beberapa petapa mati tenggelam dalam lautan bala tentara keenam dari Màra ini.)

(7)    “Walaupun mereka berlatih meditasi setelah mengatasi rasa takut dan memperoleh dorongan melalui latihan, jalan untuk mencapai Jhàna dan mencapai Magga telah tenggelam. Karena keraguan (vicikicchà) berkembang dan mereka tidak yakin apakah mereka telah berada pada Jalan atau tidak, berada dalam praktik maupun teori. Keraguan (vicikicchà) ini adalah bala tentara ketujuh dari Màra. (Beberapa petapa mati tenggelam dalam lautan bala tentara ketujuh dari Màra ini.)

(8)    “Setelah berhasil melenyapkan vicikicchà, beberapa orang terus menerus berusaha siang dan malam tanpa putus. Begitu tanda-tanda tidak lazim muncul dalam meditasi mereka, mereka mulai menganggap tinggi diri mereka. Karena keangkuhan dan kesombongan (makkha-thamba) mereka berkembang, mereka tidak dapat menerima pendapat orang lain; mereka merusak reputasi baik mereka; mereka tidak menghormati saudara tua mereka; bersikap tidak sabar. Makkha-thamba ini adalah bala tentara kedelapan dari Màra. (Beberapa petapa mati tenggelam dalam lautan bala tentara kedelapan dari Màra ini.)

(9)    “Jika mereka meneruskan bermeditasi, setelah melenyapkan makkha-thamba, mereka bahkan melihat lebih banyak tanda-tanda yang tidak lazim dan menjadi bangga akan kemajuan yang mereka muncul sebagai berikut: mereka menjadi gembira dan bersukacita karena memperoleh banyak hadiah; mereka gembira dan bersukacita karena terkenal di empat penjuru; mereka gembira dan bersukacita karena memperoleh hal-hal menakjubkan yang tidak pernah dialami oleh orang lain; dan mereka gembira dan bersukacita karena kemasyhuran dan pengikut yang banyak yang diperoleh melalui khotbah-khotbah mengenai ajaran yang salah dan keangkuhan yang diperlihatkan melalui keinginan jahat dan kemelekatan untuk meningkatkan keuntungan mereka. Kelompok faktor-faktor taõhà-màna adalah bala tentara kesembilan Màra. (Beberapa petapa mati tenggelam dalam lautan bala tentara kesembilan dari Màra ini.)

(10)“Beberapa petapa yang menghadapi sembilan kelompok di atas mempraktikkan pemujaan dan penghormatan diri sendiri yaitu; mereka selalu mencela (att’uukkamsa) dan merendahkan orang lain (paravambhana). Dua ini, att’uukkamsa dan paravambhana, adalah bala tentara kesepuluh Màra.

“Wahai Màra, Engkau yang dengan kekuatan menghalang-halangi Pembebasan manusia, dewa, dan brahmà dari lingkaran penderitaan dan Engkau yang memiliki kekuatan yang besar! Sepuluh faktor ini yaitu kamà, arati, dan lain-lain, yang adalah pemimpin bala tentaramu. Wahai Màra, hatimu yang bukan putih tetapi hitam legam, dan penuh dengan kemelekatan yang sangat kuat! Mereka juga adalah senjatamu, meriammu, dan bahan peledakmu yang membunuh para petapa dalam perjalanannya. Para umat awam yang memiliki keyakinan, kemauan, usaha, dan kebijaksanaan yang rendah dan memiliki sedikit dorongan untuk dapat mengalahkan seranganmu dan menjauhkan diri darinya. Hanya mereka, para petualang sejati, yang memiliki keyakinan, kemauan, usaha, dan kebijaksanaan yang besar, tidak akan menganggap engkau bahkan sebagai sehelai rumput; mereka dapat bertarung bertahan dan melarikan diri. Pelarian diri ini setelah bertarung dan mempertahankan diri dapat mengantar menuju kebahagiaan Jalan dan Buahnya, Nibbàna, dari ancaman pedang, tombak dan senjata-senjata lainnya milik para pasukan dari sepuluh bala tentaramu, duhai Màra Jahat.”

“Wahai Màra, Aku ingin engkau mengenal-Ku sebagai berikut:

‘Pangeran Siddhattha ini, sebagai manusia mulia, pahlawan sejati, setelah tiba di medan pertempuran, tidak akan mundur selangkahpun; Beliau adalah seorang jenderal yang memakai hiasan bunga keberanian di kepala-Nya, bunga rumput mu¤ja yang dianggap sebagai pertanda baik dan berani, spanduk, dan bendera kemenangan. (Biasa dipakai oleh pejuang-pejuang berani, yang tidak mengenal mundur, yang mengikatkan rumput-rumput mu¤ja di kepalanya, di bendera (spanduk)nya atau senjatanya untuk menunjukkan bahwa ia adalah pemberani yang tidak mengenal mundur. Bagaikan pemimpin pasukan yang disebut jenderal). Jika Aku harus mundur dari medan pertempuran dan dikalahkan olehmu dan tetap hidup di dunia, hal demikian sangatlah memalukan, merusak, tidak terhormat, dan menjijikkan. Oleh karena itu, kenalilah Aku sebagai seseorang yang menyakini: ‘Lebih baik mati di medan pertempuran daripada menyerah di depan bala tentaramu.’

‘Karena di dunia ini, beberapa petapa dan brahmana yang maju ke medan perang di garis depan dengan mengenakan jubah kuning dan melengkapi diri mereka dengan perlengkapan-perlengkapan sebagai senjata perang tetapi tidak memiliki kekuatan yang mampu mengalahkan sepuluh bala tentaramu. Dengan demikian mereka bagaikan memasuki kegelapan total tanpa mempersiapkan cahaya seperti kebajikan moralitas, dan lain-lain. Ketika mereka diserang oleh sepuluh bala tentaramu, Màra, tanpa alat apa pun mereka dapat mengetahui jalan permata Roda Dhamma yaitu, Tujuh Faktor Pencerahan Sempurna (Bojjhanga) yang merupakan jalan mulia yang dijalani oleh para Buddha, Pacceka Buddha, dan para mulia lainnya dalam mencapai Nibbàna. (Oleh karena itu Aku ingin engkau menganggap-Ku sebagai seseorang yang akan bertempur dan menghancurkan sepuluh bala tentaramu dan mengibarkan bendera kemenangan.)’”

Mendengar kata-kata berani yang diucapkan oleh Bodhisatta, Màra pergi dari tempat itu tanpa bisa memberikan jawaban apa-apa.

PENCAPAIAN KE-BUDDHA-AN SETELAH MENGUBAH CARA BERLATIH

Setelah Bodhisatta menyelesaikan praktik penyiksaan diri, dukkaracariya, selama enam tahun, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, saat itu adalah awal bulan Vesàkha (April-Mei) setelah bulan Citta (Maret-April) tahun 103 Mahà Era. Pada waktu itu Bodhisatta berpikir:

“Para samana dan brahmana pada masa-masa lampau dalam praktik penyiksaan diri hanya mampu melewati penderitaan sekeras ini. Mereka tidak mampu melewati penderitaan yang lebih keras dari yang Kualami sekarang. Para samana dan brahmana sekarang juga mempraktikkan penyiksaan diri sekeras apa yang Kualami sekarang. Mereka tidak dapat melewati lebih dari apa yang Kualami sekarang. (Kerasnya usaha yang Kulakukan tidak mungkin berkurang bahkan bisa lebih dari kesakitan dan penderitaan yang dialami oleh para samaõa dan brahmana pada masa lampau, pada masa depan, dan masa sekarang. Aku telah berusaha keras mempraktikkan penyiksaan diri dengan sungguh-sungguh selama enam tahun.)

Meskipun Aku telah berusaha sungguh-sungguh dengan cara demikian, Aku tetap tidak mencapai Pencerahan Sempurna, Sabbannuta Nàna; Aku belum menembus Ke-Buddha-an. Mungkin ada cara lain untuk mempraktikkan jalan lain untuk mencapai Pencerahan Sempurna, Sabbannuta Nàna, untuk menembus Kebuddhaan.”

Pada waktu merenungkan demikian, Beliau teringat bahwa Beliau pernah mengembangkan dan mencapai Jhàna Pertama ànàpàna ketika duduk di bawah keteduhan pohon jambu (Eugenia jambolana) sewaktu upacara pembajakan sawah yang diselenggarakan oleh ayah-Nya, Raja Suddhodana, Beliau menyadari kemudian bahwa praktik Jhàna Pertama ànàpàna pasti adalah jalan yang benar, cara yang benar untuk mencapai Sabbannuta Nàna (Ke-Maha-Tahu-an), penembusan Kebuddhaan. Beliau merenungkan lebih jauh, “Mengapa Aku takut akan kebahagiaan Jhàna yang diperoleh dari meditasi konsentrasi ànàpàna; itu adalah kebahagiaan yang muncul secara murni dari melepaskan keduniawian (nekkhamma) dan sama sekali tidak melekat pada objek-objek nafsu materi dan kenikmatan indria. Aku seharusnya tidak takut akan kebahagiaan Jhàna dari meditasi konsentrasi ànàpàna.”

Beliau kembali merenungkan, “Aku tidak akan mampu mengembangkan meditasi konsentrasi ànàpàna itu dengan tubuh-Ku yang lelah dan lemah ini. Lebih baik jika Aku memakan makanan yang padat dan kasar seperti nasi untuk memulihkan dan menyegarkan tubuh yang kurus ini sebelum Aku berusaha mencapai Jhàna melalui meditasi konsentrasi ànàpàna.”

Setelah mempertimbangkan demikian, Bodhisatta mengambil mangkuk-Nya pergi ke Kota Sena untuk mengumpulkan dàna makanan untuk memulihkan tubuh-Nya dengan makanan apa pun yang Beliau terima. Dalam dua atau tiga hari Beliau memperoleh kembali kekuatan dan tanda-tanda fisik utama dari seorang manusia luar biasa (Mahàpurisa Lakkhanà) yang telah lenyap saat Beliau mempraktikkan dukkaracariya dan kemudian muncul kembali dengan jelas dalam bentuk aslinya. Pada waktu itu tubuh fisik Bodhisatta terlihat kuning segar seperti warna emas.

BODDHISATTA MENINGGALKAN PENGIKUT-NYA KELOMPOK LIMA BIKKHU ( PANCAVAGGIYA )

Adalah ciri alami (dhammatà), bahwa ketika seorang Bodhisatta mendekati mencapai Kebuddhaan setelah menyelesaikan praktik dukkaracariya, para bhikkhu pelayan-Nya akan meninggalkan-Nya untuk alasan tertentu atau Bodhisatta meninggalkan mereka. Demikianlah, ketika Bodhisatta mulai memulihkan tubuh-Nya dengan berbagai makanan, nasi kasar, dan lain-lain yang Beliau terima, kelompok lima bhikkhu tersebut menjadi muak dan menggerutu, “Bhikkhu Gotama telah menjadi seseorang yang berlatih untuk memperoleh kekayaan materi; Beliau telah menjadi orang yang meninggalkan latihan meditasi dan kembali mengumpulkan materi.”

Mengikuti ciri alami tersebut, mereka meninggalkan Bodhisatta dan pergi menuju Isipatana, Taman Rusa, dekat Vàràõasã, di mana khotbah pertama, Roda Dhamma, disampaikan oleh semua Buddha. (Adalah ciri-ciri bahwa para bhikkhu pelayan akan meninggalkan Bodhisatta yang dalam waktu menjelang tercapainya Kebuddhaan dan pergi menuju Taman Rusa di mana semua Buddha akan menyampaikan khotbah pertama, Dhammacakka).

Kelompok lima bhikkhu meninggalkan Bodhisatta pada awal bulan Citta dan pindah ke Migadàya, Taman Rusa.  Waktu itu sebenarnya adalah tepat pada waktu Bodhisatta telah menyelesaikan latihan dukkaracariya. Ketika para pelayan bhikkhu meninggalkan-Nya, Bodhisatta hidup menyendiri memperoleh tingkat kesunyian yang mendukung kemajuan dan memperkuat konsentrasi-Nya. Demikianlah Beliau hidup dalam kesunyian total selama lima belas  hari, dan mempraktikkan meditasi dan memperoleh kemajuan. Bodhisatta mulia bermimpi lima mimpi luar biasa setelah tengah malam menjelang fajar pada tanggal empat belas di bulan Vesàkha.

LIMA  MIMPI BODDHISATTA

(1)    Beliau bermimpi bahwa Beliau sedang tertidur di atas permukaan tanah, dengan Pegunungan Himalaya sebagai bantalnya, tangan kiri-Nya di Samudra Timur, tangan kanan-Nya di Samudra Barat dan kedua kaki-Nya di Samudra Selatan. Mimpi pertama menandakan pencapaian Kemahatahuan, menjadi Buddha di antara manusia, dewa, dan brahmà.

(2)    Beliau bermimpi bahwa sejenis rumput yang disebut tiriya dengan tangkai merah berukuran sebuah gandar sapi muncul dari pusar-Nya dan sewaktu Beliau melihat, rumput tersebut tumbuh, pertama berukuran setengah lengan, kemudian satu lengan, satu fathom (1 fathom = 1.8 meter), satu ta, satu gavuta, setengah yojanà, satu yojanà dan seterusnya. Tumbuh tinggi dan lebih tinggi hingga mencapai langit, angkasa luas, seribu yojanà ke atas dan diam di sana. Mimpi kedua ini menandakan bahwa Beliau akan mampu mengajar Jalan Berfaktor Delapan, (Atthangika Magga), yang adalah Jalan Tengah (Majjhima Patipadà), kepada umat manusia dan dewa.

(3)    Beliau bermimpi, ada sekumpulan ulat berbadan putih dan kepala hitam perlahan-lahan merayap ke atas kaki-Nya, menutupi dari ujung kaki hingga ke lutut-Nya. Mimpi ketiga ini menandakan banyaknya orang (berkepala hitam) yang mengenakan pakaian putih menghormati dan berlindung (Màhasaranàgaåmana) kepada Buddha.

(4)    Beliau bermimpi, empat jenis burung berwarna biru, keemasan, merah, dan abu-abu terbang datang dari empat penjuru dan sewaktu mereka turun dan berdiri di atas kedua kaki-Nya, semua burung-burung itu berubah menjadi putih. Mimpi keempat menandakan kasta-kasta dari empat kasta dalam masyarakat, yaitu, kasta kesatria, ajaran Buddha, menjadi bhikkhu dan mencapai Kearahattaan.

(5)     Beliau bermimpi bahwa Beliau sedang berjalan mondar-mandir, ke sana kemari di setumpukan kotoran setinggi gunung tanpa menjadi kotor. Mimpi kelima ini menandakan perolehan empat kebutuhan, yaitu: jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan, dan memanfaatkannya tanpa terikat dan melekat pada mereka.

BODDHISATTA MENAFSIRKAN LIMA MIMPI-NYA SENDIRI

Bodhisatta, bangun dari tidur-Nya dan duduk bersila setelah mengalami lima mimpi ini kemudian berpikir; “Jika Aku mengalami mimpi ini sewaktu masih berada di Kota Kapilavatthu, Aku dapat menceritakannya kepada ayah-Ku Raja Suddhodana; Aku dapat menceritakannya kepada ibu-Ku jika ia masih hidup, di Hutan Uruvela, tidak ada yang akan mendengarkan mimpi-Ku dan menafsirkannya untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membaca pertanda ini.”

Dan kemudian, Beliau menafsirkan-Nya sebagai berikut: Mimpi pertama menandakan pencapaian manfaat ini dan itu; mimpi kedua menandakan manfaat ini dan itu dan seterusnya seperti yang telah dijelaskan di atas.

DANA NASI SUSU GHANA OLEH SUJATA

Dana Nasi Susu Ghana dari Sujata

Dana Nasi Susu Ghana dari Sujata

Setelah mengalami lima mimpi dan menafsirkan sendiri mimpi tersebut, Bodhisatta berkesimpulan:” Pasti Aku akan mencapai Kebuddhaan hari ini juga.” Dan pada saat fajar menyingsing (pagi hari purnama), Beliau membersihkan badan-Nya dan pergi dari tempat itu, dan ketika Beliau tiba di pohon banyan yang setiap tahunnya dikunjungi oleh Sujàtà, putri seorang kaya, Beliau berhenti dan duduk di bawah pohon itu menghadap ke timur sambil menunggu waktu untuk mengumpulkan dàna makanan, dan pada saat itu seluruh pohon banyan itu bersinar terang dengan cahaya yang memancar dari tubuh-Nya.

Pada waktu itu, di Kota Sena, yang terletak di tepi Hutan Uruvela, Sujàtà, putri seorang kaya bernama Senàni, saat usianya menginjak dewasa, berdoa di bawah pohon banyan, “O dewa penjaga pohon banyan, jika aku menikah dengan seorang kaya dari kasta yang sama, aku akan mempersembahkan dàna nasi susu ghana.” Doa Sujàtà telah terkabul. Jadi putri orang kaya, Sujàtà menepati janjinya untuk mempersembahkan nasi susu ghana pada hari purnama di bulan Vesàkha setiap tahunnya.

Persiapan yang dilakukan oleh Sujàtà untuk mengadakan upacara persembahan kepada dewa penjaga pohon banyan pada hari purnama di bulan Vesàkha ketika Bodhisatta telah menyelesaikan enam tahun praktik dukkaracariya adalah sebagai berikut:

(1)    Pertama-tama ia membiarkan seribu ekor sapi susu merumput di hutan, kemudian susu yang diperoleh dari seribu ekor sapi susu ini diberikan sebagai makanan bagi lima ratus sapi susu lainnya.

(2)    Susu yang berasal dari lima ratus sapi susu itu, diberikan  sebagai makanan bagi dua ratus lima puluh sapi susu lainnya lagi.

(3)    Susu yang berasal dari dua ratus lima puluh sapi susu itu, diberikan sebagai makanan bagi seratus dua puluh lima sapi susu lainnya lagi

(4)    Susu yang berasal dari seratus dua puluh lima sapi itu diberikan sebagai makanan kepada enam puluh empat sapi susu lainnya.

(5)    Susu yang berasal dari enam puluh empat sapi itu diberikan sebagai makanan kepada tiga puluh dua sapi susu lain.

(6)    Susu yang berasal dari tiga puluh dua sapi itu diberikan sebagai makanan bagi enam belas sapi lain.

(7)    Susu yang berasal dari enam belas sapi susu itu, diberikan sebagai makanan bagi delapan sapi lain.

Demikianlah, Sujàtà mengambil langkah-langkah ini untuk memperoleh susu yang lezat dan bergizi untuk membuat nasi susu.

Dengan tujuan, “Aku akan melakukan persembahan nasi susu ghana pagi-pagi hari ini.” Sujàtà bangun pagi-pagi pada hari purnama di bulan Vesàkha kemudian memerah delapan sapi susu itu. Anak-anak sapi (yang tidak diikat dengan tali) tidak berani mendekati sapi-sapi ibunya. Anehnya ketika mangkuk susu ditempatkan tepat di bawah ambing sapi, susu mengalir deras terus menerus meskipun tidak diperah. Sujàtà, menyaksikan peristiwa ajaib ini, mengulurkan tangannya menuangkan susu yang mengalir terus-menerus tersebut ke dalam kendi baru dan menyalakan api dengan tangan lainnya, mulai memasak nasi susu ghana.

BANTUAN DARI PARA DEWA DAN BRAHMA

Saat nasi susu ghana sedang dimasak, (1) gelembung-gelembung besar bermunculan banyak berputar searah jarum jam, namun tidak setetes pun tumpah; (2) tidak ada asap sedikit pun yang naik ke atas tungku; (3) empat raja dewa, penjaga dunia datang dan berdiri menjaga tungku; (4) brahmà agung menutupi kendi nasi susu ghana dengan payung; (5) Sakka mengatur kayu-kayu bakar merata agar api menyala dengan merata; (6) dengan kekuatan batinnya para dewa mengumpulkan bahan-bahan makanan bergizi tinggi yang biasanya dimakan oleh dewa dan manusia dari empat benua dan dua ribu pulau-pulau kecil di sekelilingnya; mereka melakukan hal itu seolah-olah mengumpulkan madu dari sarang lebah yang tergantung di dahan-dahan pohon; dan mereka menuangkan bahan-bahan makanan bergizi yang terkumpul ini ke dalam panci nasi susu ghana.

Melihat banyak keajaiban dalam sehari seperti yang dijelaskan di atas, di tempat di mana nasi susu tersebut dimasak, Sujàtà memanggil pelayannya, Punnà, dan memerintahkan, “Punnà, hari ini dewa penjaga pohon banyan, sedang berbaik hati. Selama dua puluh tahun ini, aku belum pernah menyaksikan peristiwa-peristiwa ajaib ini. Cepat pergi bersihkan pohon banyan, tempat tinggal dewa penjaga.” Punnà si pelayan menjawab, “ Baiklah, Nyonya.” Ia segera pergi ke dekat pohon dan melihat Bodhisatta duduk di bawah pohon menghadap ke timur dan melihat seluruh pohon bercahaya kuning keemasan dengan cahaya yang terpancar dari tubuh Bodhisatta. Ketakutan dan berpikir, “Hari ini dewa penjaga pohon banyan telah turun ke bawah pohon; kelihatannya Beliau duduk di sana untuk menerima dàna dengan tangannya sendiri.” Ia tergesa-gesa kembali ke rumah dan melaporkan hal ini kepada Sujàtà.

Mendengar kata-kata pelayannya, Sujàtà menjadi sangat gembira dan berkata, “Sejak hari ini, engkau menjadi putri tertuaku,” kemudian memberikan pakaian dan perhiasan yang sesuai sebagai seorang anak perempuan.

Sudah menjadi tradisi (dhammata) bagi seorang Bodhisatta untuk menerima persembahan nasi susu ghana pada hari Beliau akan mencapai Kebuddhaan; dan menerima makanan ini hanya menggunakan cangkir emas seharga satu lakh. Sujàtà, berpikir, “Aku harus menempatkan nasi susu ghana ini dalam cangkir emas,” mengambil sebuah cangkir berharga satu lakh dari dalam kamarnya. Kemudian ia menuangkan nasi susu ghana yang telah matang ke dalam cangkir dengan memiringkan pancinya. Semua nasi susu ghana tersebut masuk ke dalam cangkir sampai tetes terakhir bagaikan tetesan air yang mengalir dari daun teratai paduma. Seluruh nasi susu ghana mengisi cangkir tersebut sampai penuh, tidak lebih tidak kurang.

Cangkir emas berisi nasi susu ghana tersebut ditutup dengan sebuah cangkir emas yang lain lagi dan dibungkus dengan kain putih yang bersih. Dan setelah berdandan dan menghias diri dengan pakaian lengkap, ia membawa cangkir emas di atas kepalanya dan pergi ke dekat pohon banyan. Ia sangat gembira melihat Bodhisatta dan menganggapnya sebagai dewa penjaga pohon banyan, ia berlutut penuh hormat. Kemudian ia menurunkan cangkir emas dari kepalanya, membukanya dan membawa cangkir emas harum, dan mendekati Bodhisatta dan berdiri di dekat-Nya.

Sujata mempersembahkan Dana Nasi Susu Ghana

Sujata mempersembahkan Dana Nasi Susu Ghana

Mangkuk tanah liat, yang dipersembahkan kepada Bodhisatta oleh Brahmà Ghatikàra pada waktu melepaskan keduniawian dan dengan setia menemani-Nya selama enam tahun dukkaracariya, menghilang secara misterius pada saat istri orang kaya, Sujàtà datang memberikan nasi susu ghana. Karena tidak melihat mangkuk-Nya, Bodhisatta mengulurkan tangan kanan-Nya untuk menerima dàna tersebut. Sujàta menyerahkan dàna makanan ghana dalam cangkir emas dan meletakkannya di tangan Bodhisatta. Bodhisatta menatap Sujàtà, yang memahami maksud tatapan tersebut, kemudian Sujàtà berkata, “ O Yang Mulia, aku mendanakan nasi susu dalam cangkir emas, terimalah beserta cangkir emas ini dan pergilah ke mana pun Engkau suka.” Kemudian ia mengucapkan doa, “Keinginanku telah terkabul, semoga keinginan-Mu terkabul pula!” Kemudian ia pergi tanpa sedikit pun memikirkan cangkir emas seharga satu lakh tersebut seolah-olah hanya sehelai daun kering.

Bodhisatta juga bangkit dari duduk-Nya, setelah mengelilingi pohon banyan dengan hormat, Beliau berjalan menuju tepi Sungai Neranjarà, membawa cangkir emas berisi nasi susu ghana. Di Sungai Neranjarà terdapat sebuah tangga bernama Suppatitthita, tempat banyak Bodhisatta turun dan mandi pada hari pencapaian Kebuddhaan. Bodhisatta meninggalkan cangkir emas-Nya di tangga, setelah selesai mandi, Beliau naik dan duduk menghadap ke timur di bawah keteduhan sebatang pohon. Kemudian, Beliau menyiapkan empat puluh sembilan gumpalan nasi susu ghana, tidak lebih tidak kurang, berukuran sebesar biji kacang palmyra (bukan sebesar kacang palmyra) dan kemudian memakan semuanya tanpa meminum air. Gumpalan nasi susu ghana tersebut akan menjadi nutrisi (àhàra) untuk mempertahankan kebutuhan nutrisi tubuh-Nya selama empat puluh sembilan hari (sattasattàha), kemudian berdiam di sekeliling pohon Bodhi setelah mencapai Pencerahan Sempurna. Selama empat puluh sembilan hari, Buddha diam dalam kebahagiaan Jhàna dan buahnya, tanpa memakan makanan apa pun, tanpa mandi, tanpa mencuci muka, dan tanpa membersihkan tubuh-Nya.

KEAJAIBAN CANGKIR EMAS PERTANDA PENCAPAIAN KE-BUDDHA-AN

Setelah memakan nasi susu ghana yang dipersembahkan oleh Sujàtà, Bodhisatta mengucapkan tekad sambil memegang cangkir, “Jika Aku akan mencapai Kebuddhaan hari ini, semoga cangkir emas ini mengalir ke hulu; jika Aku tidak mencapai Kebuddhaan hari ini, semoga cangkir emas ini mengalir ke hilir mengikuti arus sungai.” Kemudian Beliau meletakkan cangkir emas itu di atas air Sungai Neranjarà. Cangkir emas tersebut memotong arus air menuju ke tengah sungai dan kemudian mengambang dan mengalir ke hulu, dari sana dengan kecepatan seekor kuda tercepat berlari, sampai sejauh delapan puluh lengan dan tenggelam dalam pusaran air. Sewaktu mencapai istana raja nàga, Kàla, cangkir emas itu membentur tiga cangkir emas yang digunakan oleh tiga Buddha sebelumnya, yaitu Kakusandha, Konàgamana, dan Kassapa pada hari mereka akan mencapai Kebuddhaan, menghasilkan bunyi (logam yang beradu) ‘kili, kili’ dan akhirnya diam di bawah tiga cangkir emas tersebut.

Ketakjuban Raja Naga melihat mangkuk Boddhisatta

Ketakjuban Raja Naga melihat mangkuk Boddhisatta

Mendengar bunyi tersebut, Raja Nàga Kàla berkata, “Baru kemarin seorang Buddha muncul, hari ini, seorang Buddha lain muncul lagi.” Dan kemudian ia bangkit dan mengucapkan kata-kata pujian dalam bait-bait. (Periode antara kemunculan Buddha Kassapa dan Buddha kita sangatlah lama, bumi kita ini telah tumbuh berkembang sebesar satu yojanà dan tiga gavuta selama periode ini, namun bagi Raja Nàga Kàla, periode ini sangatlah pendek sehingga ia menyebutnya hanya sebagai ‘kemarin’ dan ‘hari ini.’ )

Kemudian, Bodhisatta beristirahat di Hutan Sala di tepi Sungai Neranjarà yang diliputi oleh keharuman bunga-bunga, menghijau, dan indah dipandang. Kemudian Beliau melakukan meditasi ànapàna; setelah mencapai delapan Lokiya Jhàna dan lima Abhinnà, di kesejukan senja menjelang malam, Beliau berjalan di sepanjang jalan yang telah dihiasi oleh para dewa dan brahmà; setelah turun dan mandi di Sungai Neranjarà, Beliau berjalan menuju pohon Mahàbodhi melalui jalan yang dibuat oleh para dewa dan brahmà. Pada waktu itu, dewa-dewa nàga, yakkha, dan gandabbha memberi hormat kepada-Nya dengan persembahan bunga-bunga dan wangi-wangian surgawi. Mereka juga menyanyikan lagu-lagu surgawi yang merdu. Sepuluh ribu alam semesta hampir seluruhnya tertutupi oleh bunga-bunga dan wangi-wangian surgawi, juga oleh sorak-sorai para dewa dan brahmà.

Boddhisatta menerima dana rumput2an dari Brahmana Sotthiya

Boddhisatta menerima dana rumput2an dari Brahmana Sotthiya

Pada waktu itu Sotthiya, seorang brahmana pemotong rumput berjalan datang dari arah berlawanan membawa rumput-rumputan; mengetahui bahwa Bodhisatta menginginkan beberapa rumput, ia memberikan delapan ikat rumput. Bodhisatta membawa delapan ikat rumput tersebut pergi menuju Mahàbodhi dan berdiri di selatan pohon Mahàbodhi menghadap ke utara. Saat itu, bagian selatan dari sepuluh ribu alam semesta turun hingga seolah-olah menyentuh Alam Mahà âvici; dan bagian utara dari sepuluh ribu alam semesta naik hingga seolah-olah terbang ke Alam Bhavagga. Melihat fenomena ini, Bodhisatta berpikir, “Ini bukanlah tempat di mana Arahatta-Magga Nàna dan Subbannuta Nàna dapat ditembus.” Jadi Beliau bergerak searah jarum jam, berjalan ke sebelah barat pohon Bodhi dan berdiri menghadap ke timur. Saat itu, bagian barat dari sepuluh ribu alam semesta turun hingga seolah-olah menyentuh Alam Mahà âvici; dan bagian timur alam semesta naik hingga seolah-olah menyentuh Alam Bhavagga, melihat fenomena ini, Bodhisatta berpikir lagi, “Ini bukanlah tempat di mana Arahatta-Magga Nàna dan Subbannuta Nàna dapat ditembus.” Jadi Beliau bergerak lagi searah jarum jam, berjalan ke sebelah utara pohon Bodhi dan berdiri menghadap ke selatan. Saat itu, bagian utara dari sepuluh ribu alam semesta turun hingga seolah-olah menyentuh Alam Mahà âvici; dan bagian selatan alam semesta naik hingga seolah-olah menyentuh Alam Bhavagga, melihat fenomena ini, Bodhisatta berpikir lagi, “Ini bukanlah tempat di mana Arahatta-Magga Nàna dan Subbannuta Nàna dapat ditembus.”

Kemudian Beliau bergerak mengelilingi pohon Bodhi, Beliau berjalan ke timur pohon Bodhi, menghadap ke barat.

Tempat di mana singgasana kemenangan, aparàjita, akan muncul di sebelah timur pohon Bodhi tetap utuh tidak berubah, sebagai tempat yang tidak akan ditinggalkan: avijahitatthàna, di mana singgasana semua Buddha muncul. Mengetahui bahwa “tempat ini pastilah tempat kemenangan di mana semua Buddha menghancurkan kotoran batin.” Kemudian Bodhisatta menebarkan delapan ikat rumput yang dibawa-Nya.

Begitu Beliau menebarkan delapan ikat rumput itu, rumput-rumput itu berubah menjadi singgasana permata yang besar, berukuran enam belas lengan, yang sangat indah yang tidak dapat dilukiskan dan diukir oleh pelukis dan pengukir yang paling ahli sekalipun, dan tercipta dalam bentuk yang sangat menakjubkan (dari sebuah singgasana permata).

Dengan bersandar pada pohon Bodhi, menghadap ke arah timur dengan pikiran terpusat, Bodhisatta berseru: ”Meskipun hanya kulit-Ku yang tersisa, meskipun hanya urat-Ku yang tersisa, meskipun hanya tulang-Ku yang tersisa, meskipun seluruh tubuh-Ku dan seluruh daging dan darah-Ku mengering, jika aku belum mencapai Kebuddhaan, Aku tidak akan mengubah postur-Ku dari duduk bersila seperti sekarang ini.”

Demikianlah dengan mengembangkan tekat atas empat faktor, Beliau duduk di atas singgasana permata yang tidak terlihat (aparàjita) dengan postur duduk bersila (postur menaklukkan musuh, bukan mengaku kalah), yang tidak dapat dihancurkan bahkan oleh ratusan petir yang menyerang bersamaan.

MENAKLUKKAN VASAVATTI MARA (DEVAPUTTA MARA) SEBELUM MATAHARI TERBENAM

Ketika Bodhisatta duduk di atas tempat duduk-Nya, aparàjita, yang tidak terlihat, di bawah pohon Bodhi, untuk menembus Sabbannuta Nàna, Sakka datang untuk memberikan penghormatan dan berdiri sambil meniup kulit kerang Vijayuttara. (Kulit kerang ini panjangnya 120 lengan dan ketika ditiup, suaranya baru menghilang setelah empat bulan). Dewa Pancasikha datang untuk memberikan hormat dan memainkan harpa Beluva. Dewa Suyama berdiri dan mengebutkan pengusir serangga dari ekor yak, Dewa Santusita berdiri mengibaskan kipas berhiaskan batu delima, dan Brahmà Sahampati berdiri memegang payung putih sepanjang tiga yojanà. Nàga Kàla tiba bersama delapan puluh ribu penari nàga perempuan dan berdiri memberi hormat dengan menyanyikan bait-bait pujian-pujian kepada Bodhisatta. Semua dewa dan brahmà dari sepuluh ribu alam semesta datang memberi hormat dengan mempersembahkan bunga-bungaan, wangi-wangian, dupa, dan menyanyikan ribuan lagu-lagu pujian.

Màra dari Alam Dewa Vasavatti, demi kesenangannya, terus menerus mengikuti Bodhisatta selama enam tahun dukkacariya, menunggu kesempatan saat Bodhisatta berpikiran jahat (micchà vitakka) seperti nafsu-nafsu indria (kàma vitakka), dan lain-lain, namun tidak berhasil menemukan penyimpangan dari pikiran bajik di dalam diri Bodhisatta. Màra berpikir, “Sekarang, Pangeran Siddhattha telah tiba di pohon Bodhi untuk mencapai Kebuddhaan. Saat ini, Beliau berusaha menjauhkan diri dari wilayah kekuasaanku (di tiga alam manusia, dewa, dan brahmà); Aku tidak dapat mengalahkannya sehingga Beliau berkesempatan untuk melarikan diri dari tiga alam yang berada di bawah kekuasaanku.” Dengan pikiran ini, ia pergi ke Alam Dewa Vasavatti dan mengumpulkan prajurit-prajurit mara, dan memerintahkan, “O Prajurit, ubah dirimu menjadi berbagai bentuk-bentuk untuk bertempur, dan masing-masing memegang senjata yang berbeda-beda, dan cepat serang Pangeran Siddhattha seperti banjir besar.” Ia sendiri, mengikuti mereka dengan menunggangi gajah Girimekhala yang berukuran 150 yojanà dan menciptakan seribu tangan dari tubuhnya, masing-masing memegang senjata yang berbeda-beda Bala tentara Màra yang mendekati Bodhisatta berjumlah sangat besar, barisannya mencapai dua belas yojanà di depan Màra, dua belas yojanà di sebelah kanan Màra, dua belas yojanà di sebelah kiri Màra, sembilan yojanà di atas Màra, dan di belakang mencapai hingga ujung dari sepuluh ribu alam semesta. Suara-suara yang menakutkan yang mengintimidasi, teriakan-teriakan dan sorak-sorai dari pasukan Màra dapat terdengar hingga sejauh seribu yojanà, bagaikan bunyi yang berasal dari bumi yang membelah. Màra yang memegang seribu senjata dengan seribu tangannya, dan prajuritnya yang tidak terhitung banyaknya yang masing-masing memegang senjata yang berbeda-beda. Mengubah wujud mereka ke dalam bentuk yang sangat menakutkan, mendekati Bodhisatta untuk mengalahkan dan menghancurkan-Nya.

Mara dan bala-tentaranya menyerang Boddhisatta

Mara dan bala-tentaranya menyerang Boddhisatta

Ketika bala tentara Màra sedang mendekati pohon Mahàbodhi. Tidak satu pun dewa yang dipimpin oleh Sakka yang datang untuk memberi penghormatan kepada Bodhisatta yang mampu menahan mereka; mereka lari tunggang langgang, Sakka lari dengan terompet kulit kerang Vijayuttara di punggungnya dan tetap berdiri di ujung sepuluh ribu alam semesta; Mahàbrahmà juga mencampakkan payung putihnya di tepi alam semesta, dan kembali ke alamnya; raja nàga juga, meninggalkan para penari nàganya dan masuk ke dalam tanah, pergi ke istana nàga yang disebut Manjerika, berukuran lima ratus yojanà, dan tidur dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya; tidak ada satu pun dewa dan brahmà yang berani berada di dekat-dekat Bodhisatta dan pohon Mahàbodhi. Pada waktu itu, Bodhisatta tetap duduk sendirian bagaikan brahmà yang menyendiri di dalam istananya.

MARA MENYERANG DENGAN SEMBILAN JENIS PELURU

Pasukan Mara mulai kewalahan

Mara menyerang dengan berbagai senjata kesaktiannya

Sewaktu Bodhisatta sedang merenungkan Sepuluh Kesempurnaan, Màra membuat rencana, “Dengan menembakkan sembilan jenis peluru. Aku akan memaksa Pangeran Siddhattha untuk melarikan diri.”

  1. Pertama, ia melepaskan pusaran angin kencang. Tiba-tiba, angin timur, angin barat, angin selatan, dan angin utara bertiup kencang; dan meskipun angin ini mampu meruntuhkan puncak gunung yang berukuran setengah yojanà, satu yojanà, dua atau tiga yojanà, dan mampu mencabut pohon-pohon dan semak belukar di dalam hutan; dan mampu menghancurkan desa-desa dan kota-kota di sekitar sana, namun tidak mampu mendekati Bodhisatta dan bahkan tidak mampu menggerakkan ujung jubah-Nya karena keagungan dan kekuatan kebajikan Bodhisatta.
  2. Dengan penuh harapan Màra berpikir:”Saat ini, Petapa Gotama pasti telah terbang tertiup oleh peluru, seperti yang kutembakkan dan menghantam gunung ‘Cakkavala’ dan hancur berkeping-keping.” Ia menjadi gusar melihat Bodhisatta duduk seperti semula, tidak tergoyahkan, tegak bagaikan tiang pintu gerbang. Kemudian ia merencanakan; “Aku akan membunuh-Nya dengan menenggelamkan-Nya di dalam arus air yang mengalir kencang.” Ia menciptakan awan mendung dalam sekejap dan hujan deras turun dengan segera. Bumi ini berubah menjadi lembah karena tekanan hujan yang diciptakan oleh Dewa Màra. Saat banjir ini, setelah mengikis dan menghanyutkan hutan-hutan, bukit, dan pohon-pohon, namun setelah mendekati Buddha, air ini tidak mampu membasahi bahkan sehelai benang pun dari jubah Bodhisatta; ia mengubah arah aliran-Nya dan mengalir ke tempat lain tanpa menyentuh Bodhisatta.
  3. Menyaksikan fenomena ini, Màra merencanakan, “Aku akan mengubah Pangeran Siddhattha ini menjadi debu dengan menghujaninya dengan batu,” dan menciptakan hujan batu. Batu-batu berukuran sangat besar berjatuhan dari angkasa sebesar puncak gunung yang besar, sehingga menyebabkan kabut debu di mana-mana; namun begitu mendekati Bodhisatta, batu-batu ini berubah menjadi karangan bunga surgawi dan bola-bola bunga.
  4. Setelah itu, dengan pikiran, “Aku akan menyebabkan kematian bagi Pangeran Siddhattha ini, aku akan membunuh-Nya, dan mengalahkan-Nya,” Ia melepaskan hujan senjata. Segala jenis lain-lain yang memancarkan asap dan api, datang dan melayang dari angkasa hanya untuk berubah menjadi karangan bunga, dan lain-lain, di sekeliling pohon Mahàbodhi.
  5. Meskipun Màra berpikir, “Pangeran Siddhattha akan menjadi seperti tumpukan daging cincang,” Ia terkejut ketika melihat bahwa Pangeran Siddhattha tetap duduk seperti semula tanpa terganggu sedikit pun bagaikan gunung berlian besar. Jadi sekali lagi ia menciptakan hujan batu-batu yang menyala terbakar. Batu-batu menyala itu jatuh berkobar namun segera berubah menjadi bunga melati, dan lain-lain sewaktu mendekati Bodhisatta.
  6. Setelah itu, Màra menciptakan hujan abu panas. Abu yang sangat panas bagaikan api turun dari langit namun berubah menjadi bubuk cendana sewaktu mencapai kaki Bodhisatta.
  7. Lagi, ia menciptakan hujan pasir panas. Pasir dalam bentuk bubuk yang sangat halus turun dari angkasa dan jatuh di kaki Bodhisatta menjadi bunga-bunga surgawi.
  8. Setelah itu, ia menciptakan hujan lumpur panas. Lumpur panas dengan kepulan asap dan api yang berkobar-kobar dari angkasa jatuh di kaki Bodhisatta setelah berubah menjadi pasta wangi-wangian surgawi.
  9. Setelah itu, ia menciptakan kabut gelap dengan niat, “Aku akan membuat Pangeran Siddhattha melarikan diri dengan menakut-nakuti-Nya dengan kabut kegelapan.” Kegelapan yang diciptakan Màra bagaikan kegelapan yang dihasilkan oleh empat faktor yaitu: malam bulan muda, dengan langit yang ditutupi awan, di tengah-tengah hutan belantara, namun begitu mendekati Bodhisatta, kabut ini menghilang seperti kegelapan yang sirna dengan munculnya cahaya matahari.

(Di sini, mengetahui bahwa Màra menciptakan awan kegelapan, Bodhisatta memancarkan sinar dari tubuh-Nya yang berukuran seperti bulu-bulu badan-Nya. Harus dipahami, jaringan sinar-sinar inilah yang menghancurkan kegelapan total yang diciptakan oleh Màra dan yang menghasilkan cahaya gilang gemilang.)

DETIK-DETIK KEMENANGAN BODDHISATTA PETAPA GOTAMA ATAS MARA DAN PASUKANNYA

Senjata Mara yang ditujukan pada Boddhisatta berubah menjadi Teratai

Senjata Mara yang ditujukan pada Boddhisatta berubah menjadi Teratai

Mara berusaha dengan keras untuk menaklukkan Boddhisatta Petapa Gotama dengan berbagai kesaktian dan tipu-dayanya. Namun Boddhisatta Petapa Gotama, dengan Welas-Asihnya, mampu mematahkan berbagai serangan yang dilancarkan oleh Mara.

Tidak tahu apa yang harus dilakukan lagi, panik serta marah, ia meneriakkan perintah (kepada pasukannya), “Mengapa kalian hanya berdiri diam di sana? Jangan biarkan Pangeran Siddhattha ini mencapai cita-cita-Nya menjadi Buddha; tangkap Dia, bunuh Dia, tusuk, dan hancurkan Dia. Jangan biarkan Dia melarikan diri.” Ia sendiri mendekati Bodhisatta, duduk di punggung Gajah Girimekhala, melambai-lambaikan sebatang anak panah, ia berkata kepada Bodhisatta, “O Pangeran Siddhattha, menjauhlah dari singgasana permata itu.” Pada saat itu, prajurit-prajurit Màra terlihat dalam wujud yang menakutkan, dan mengancam dengan tindakan-tindakan yang menakutkan.

Seorang ayah yang penuh welas asih tidak akan menunjukkan kemarahan sedikit pun kepada putranya yang nakal, bahkan sebaliknya ia akan merangkulnya, memangkunya dan menidurkannya di pangkuannya dengan cinta kasih dan welas asih seorang ayah terhadap anaknya. Demikian pula, Bodhisatta mulia memperlihatkan kesabaran terhadap semua perbuatan buruk dari Màra jahat, tidak sedikit pun merasa sedih; dan Beliau melihat Màra tanpa rasa takut tetapi dengan penuh cinta kasih dan welas asih.

Jika kumpulan jasa-jasa baik seluruh makhluk-makhluk di seluruh alam semesta yang tidak terhitung banyaknya ditempatkan di satu sisi dari sebuah timbangan kebijaksanaan dan kumpulan jasa-jasa baik yang Kulakukan dalam bentuk Pàramã, ditempatkan di sisi lainnya, kumpulan jasa-jasa baik dari seluruh makhluk tidak dapat menyamai bahkan seper dua ratus lima puluh enam (1/256) dari jasa-jasa baik yang dihasilkan dari satu Pàramã yang Kulakukan. Benar! Bahkan dalam kehidupan-Ku sebagai kelinci di alam binatang, Aku telah dengan sengaja melompat ke dalam kobaran api untuk memberikan daging-Ku yang telah matang dengan penuh kegembiraan ketika Aku melihat ia yang mengharapkan daging-Ku.

Màra tidak tahu, manusia seperti apakah Aku ini; bahwa Aku memiliki pribadi yang seperti ini dalam kehidupan ini adalah sebagai hasil dari kebajikan-kebajikan yang telah Kulakukan. Dan dia pikir Aku hanyalah manusia biasa.

Sebenarnya, Aku bukanlah manusia biasa berumur tujuh hari; Aku juga bukan raksasa, atau brahmà atau dewa. Aku dikandung dalam rahim seorang perempuan meskipun Aku bukan seorang manusia biasa berumur tujuh tahun untuk menunjukkan penderitaan karena usia tua, sakit, dan kematian dalam lingkaran kelahiran kepada semua makhluk.

Hei! Màra, meskipun Aku terlahir di alam manusia ini, Aku tidak sedikit pun ternoda oleh kondisi-kondisi makhluk-makhluk. Setelah mengatasi kondisi-kondisi ini yang tidak terbatas dan kotoran batin yang juga tidak terbatas, Aku memperoleh gelar si penakluk yang tidak terbatas (Anantajina). Bahkan selagi Aku duduk di singgasana tidak terlihat tanpa mengubah postur duduk bersila ini, Aku telah menghanguskan dan menyingkirkan semua kotoran batin; Aku telah benar-benar menjadi Buddha di antara manusia, dewa, dan brahmà. Dan Aku akan menolong semua makhluk dari aliran samsàra dan membawanya ke daratan tinggi Nibbàna. Engkau tidak mampu menahan-Ku; bukan urusanmu.

Hei! Màra, melihat bala tentaramu mendekat dari segala penjuru dengan kibaran bendera dan engkau yang menunggangi Gajah Girimekhala, Aku mendekat dan menghadapimu dengan kebijaksanaan dan bertempur dengan gagah berani. (Yang dimaksudkan di sini bukan mendekat secara fisik, tetapi dengan kekuatan kebijaksanaan). Engkau tidak dapat membuat-Ku bangkit atau pindah dari singgasana yang tidak terlihat ini; Aku akan melihat bahwa engkau tidak mampu melakukan hal ini.

Hei! Màra, bagaikan seorang kuat yang menggunakan sebuah batu besar menghancurkan semua kendi dan cangkir yang dibuat oleh seorang pengrajin tembikar, Aku akan menghancurkan dengan sebelah tangan dan tanpa bangkit dari tempat ini dan dengan kekuatan kebijaksanaan, sepuluh bala tentaramu berupa nafsu indria, kamaraga, (telah dijelaskan di atas) yang mana seluruh dunia akan mengaku kalah, Aku akan menghancurkannya dengan perasaan jijik; atau bala tentaramu yang mendekat yang sebesar dua belas yojanà ke depan, kiri dan kanan, sembilan yojanà ke atas mencapai batas alam semesta, Aku akan memukul mundur seluruh bala tentaramu hingga tidak satu pun yang tertinggal. Bahkan sejak saat ini, engkau dan seluruh bala tentaramu akan Kubuat menyerah bagaikan sekelompok burung-burung yang terbang jauh karena dilempar batu.

Hei! Màra, sebenarnya, jika Aku menginginkan (jika Aku ingin menjadi kecil), Aku dapat berjalan-jalan di dalam sebutir biji mostar. Jika Aku menginginkan (jika Aku ingin menjadi besar), Aku dapat menutupi seluruh alam semesta dengan tubuh-Ku (atthabhava).

Hei! Màra, Aku memiliki kekuatan untuk menghancur-leburkan engkau beserta seluruh bala tentaramu hanya dengan menjentikkan jari; namun Aku tidak akan merasakan sedikit pun kegembiraan dengan membunuh makhluk lain, karena itu adalah perbuatan salah.

Apa untungnya bagi-Ku jika Aku menggunakan senjata kekuatan fisik-Ku melawan Màra ini yang seukuran cacing tanah? Benar, Aku bahkan tidak menyukai berbicara dengan Màra jahat ini.

(Sebelum Bodhisatta mengucapkan kata-kata tegas ini, Màra bertanya, “O Pangeran Siddhattha, mengapa Engkau menduduki singgasana yang tidak terlihat milikku ini?” Bodhisatta menjawab, “Siapakah yang menjadi saksi bahwa singgasana yang tidak terlihat ini adalah milikmu?” Dewa Màra merentangkan tangannya dan berkata, “Apa gunanya mendatangkan saksi lain; semua prajurit Màra yang sekarang berada di depan-Mu adalah saksiku;” dan pada saat itu, banyak crore prajuritnya muncul bersamaan berseru “Aku saksinya, aku saksinya.” Kemudian Bodhisatta, untuk menahan pasukan Màra, mengucapkan bait berikut untuk mengungkapkan saksinya).

Hei! Màra, karena keinginan-Ku akan singgasana yang tidak terlihat ini, tidak ada dàna yang tidak Kuberikan; tidak ada sãla yang tidak Kupatuhi; tidak ada penyiksaan diri (dukkara) yang tidak Kupraktikkan, dalam banyak kehidupan di banyak alam. Hei! Màra, untuk Kesempurnaan Kedermawanan saja, yang telah Kulakukan dalam banyak kehidupan, bahkan dalam satu kehidupan sebagai Vessantara, ketika Aku melakukan dàna besar tujuh kali hingga mencapai dàna-Ku yang tertinggi dengan mendanakan Ratu Maddi, bumi ini berguncang tujuh kali. Sekarang Aku menduduki singgasana yang tidak terlihat ini untuk menaklukkan seluruh dunia, dan engkau bala tentara Màra datang menantang-Ku bertempur, mengapa bumi ini begitu tenang dan tidak berguncang?

Hei! Màra, engkau memerintahkan prajuritmu untuk memberikan kesaksian palsu; namun bumi ini tidak berniat apa-apa dan bersikap adil padamu maupun pada-Ku, bumi ini tidak memihak engkau maupun Aku, dan tidak bermaksud apa pun, bumi ini adalah saksi-Ku.” Setelah berkata demikian, Bodhisatta mengeluarkan tangan kanan-Nya dari balik jubah-Nya dan menunjuk bumi, bagaikan lintasan kilat yang menyambar dari celah awan.

Ibunda Bumi menyapu Mara dan tentaranya dengan berbagai bencana

Ibunda Bumi menyapu Mara dan tentaranya dengan berbagai bencana

Pada saat itu juga, bumi ini berputar cepat bagaikan roda tembikar dan berguncang dengan keras. Bunyi yang diakibatkan oleh bumi menggelegar di seluruh angkasa bagaikan guruh. Tujuh gunung yang mengelilingi Gunung Meru serta Pegunungan Himalaya juga bergemuruh terus menerus, Seluruh sepuluh alam semesta berguncang menakutkan dan mengeluarkan bunyi yang dahsyat, bergemeretak dan terdengar bunyi ledakan-ledakan bagaikan hutan bambu yang terbakar. Seluruh angkasa yang tidak berawan bergemuruh menakutkan bagaikan padi yang dipanggang dan meletus di dalam panci panas. Hujan percikan api yang sangat lebat bagaikan air terjun lahar dari gunung berapi, dan halilintar menyambar-nyambar. Màra, yang terperangkap di tengah-tengah bumi dan langit yang terus-menerus menggelegar, sangat ketakutan tanpa pertolongan dan perlindungan, menjatuhkan bendera pertempurannya dan melepaskan seribu senjatanya di tempat itu juga, kemudian lari tunggang langgang dengan kecepatan tinggi tanpa sempat melirik ke arah gajahnya ‘Girimekhala.’ Karena Màra menyerah, bala tentaranya porak poranda dan para prajuritnya juga menyerah, bubar dalam kekacauan ke segala penjuru bagaikan abu yang berhamburan tertiup badai; akhirnya mereka semua kembali ke Alam Dewa Vasavatti.

Demikianlah, dengan kemenangan atas Màra Vasavatti sebelum matahari tenggelam pada hari purnama di bulan Vesàkha, di tahun 103 Mahà Era, Bodhisatta menjadi penakluk semua alam, semua makhluk dan mencapai keadaan tanpa takut, tanpa bahaya, dan dengan selamat. Pada saat itu, melihat bala tentara Dewa Màra yang tercerai berai dan porak poranda, para dewa dan brahmà yang lari ketakutan saat datangnya Màra, bertanya-tanya, “Siapa yang akan keluar sebagai pemenang? Siapa yang kalah?” Menyaksikan peristiwa ini, mereka bersorak, “jayo hi Buddhassa sirimato ayam,” dan seterusnya. “Kabar baik, Màra telah ditaklukkan; Pangeran Siddhattha keluar sebagai pemenang; kita akan merayakan kemenangan-Nya.” Dikirim dari satu nàga ke nàga lain, dari satu garuda ke garuda lain, dari satu dewa ke dewa lain, dari satu brahmà ke brahmà lain; membawa bunga-bunga dan wangi-wangian, dan lain-lain di tangan masing-masing; mereka berkumpul di singgasana Mahàbodhi di mana Bodhisatta berdiam.

Kemenangan yang diserukan oleh bumi dan langit yang mati yang bergemuruh seolah-olah hidup, hanya dimiliki Buddha, yang karena Kemahatahuan-Nya memiliki segala pengetahuan akan Kebenaran sampai yang sekecil-kecilnya yang harus diketahui, yang merupakan gudang penyimpanan keagungan yang tiada bandingnya di sepuluh ribu alam semesta. Kemenangan ini dirayakan oleh manusia, dewa, dan Brahmà yang bergema menembus angkasa. Dan Màra yang jahat dan keji yang menderita hinaan kekalahan, mundur kocar kacir, takut akan kekuatan Buddha, dan dibutakan oleh kebodohan, mundur bersama bala tentaranya, seolah-olah dapat menyebabkan pergolakan di delapan penjuru permukaan bumi, yang memulai serangan dengan gertakan untuk merebut singgasana Puncak-Bodhi (Bodhimakuta Pallanka).

Demikianlah, pada hari kemenangan, pada hari purnama di bulan Vesàkha, tahun 103 Mahà Era, di tempat singgasana yang tidak terlihat di mana Kemahatahuan dicapai oleh Buddha, rombongan nàga, garuda, dewa, dan Brahma di alam surga, berbahagia dan bergembira dengan kemenangan Buddha, yang telah melatih sifat-sifat luar biasa seperti kelompok-kelompok perbuatan baik (silakhandha), menyerukan kemenangan yang bergema keras mencapai sepuluh ribu alam semesta.

Semua dewa dan brahmà yang berasal dari sepuluh ribu alam semesta berkumpul di depan Bodhisatta, bersujud di depan-Nya, memberi hormat dengan persembahan bunga-bungaan, wangi-wangian, menyanyikan puji-pujian dan menyampaikan penghormatan dalam berbagai cara.

PENCAPAIAN KE-BUDDHA-AN DENGAN DITANDAI PENEMBUSAN TIGA PENGETAHUAN SEJATI (TEVIJJO)

Setelah memenangkan pertempuran melawan Màra Vasavattã yang juga dikenal dengan Devaputta Màra sebelum matahari terbenam pada hari purnama di bulan Vesàkha tahun 103 Mahà Era, Bodhisatta menembus tiga pengetahuan, (vijja) , dengan urutan sebagai berikut: Pengetahuan mengenai kehidupan-kehidupan lampau (Pubbenivasanussati Nàna) di jaga pertama malam itu;   mata-dewa (Dibbacakkhu Nàna), di jaga pertengahan malam itu; dan pengetahuan akan padamnya perbuatan buruk (Asavakkhaya Nàna) di jaga terakhir malam itu, dan mencapai Kebuddhaan di jaga terakhir malam itu juga di malam purnama bulan Vesàkha.

PENGHORMATAN OLEH PARA DEWA DAN BRAHMA

Penghormatan dari para Naga, Dewa, Brahma, atas pencapaian Pencerahan Sang Buddha

Penghormatan dari para Naga, Dewa, Brahma, atas pencapaian Pencerahan Sang Buddha

Pada waktu itu, Sakka sedang berdiri di Alam Dewa Tàvatimsa meniup kulit kerang Vijayuttara yang panjangnya 120 yojanà, untuk memanggil para dewa dan brahmà. Suara dari kulit kerang tersebut dapat terdengar hingga seluas sepuluh ribu yojanà. Sambil meniup kulit kerangnya terus menerus, Sakka berlari cepat menuju pohon Bodhi. (Bukan hanya Sakka dari alam semesta ini, tetapi semua Sakka dari sepuluh ribu alam semesta juga mendatangi Bodhisatta sambil meniup kulit kerang).

Mahà Brahmà datang dan memberi hormat dengan memegang payung putih yang ditinggalkannya di puncak Gunung Cakkavala dan memayungi Bodhisatta dari atas. (Semua Mahà Brahmà dari sepuluh ribu alam semesta datang berdiri memegang payung putih di tangan masing-masing, payung-payung tersebut saling bersentuhan sehingga tidak ada celah di antaranya.)

Suyama, raja dari Alam Dewa Yama datang dan berdiri di dekat Bodhisatta, memberi hormat dengan mengibaskan kipas dari ekor yak yang berukuran tiga gàvuta. (Semua Dewa Suyama dari sepuluh ribu alam semesta datang dan memberi hormat, masing-masing memegang kipas dari ekor yak, memenuhi alam semesta ini.)

Santusita, raja Alam Dewa Tusita, juga datang dan memberi hormat dengan mengipasi Bodhisatta dengan kipas berhias batu delima berukuran tiga gàvuta. (Semua Dewa Santusita dari sepuluh ribu alam semesta juga datang dan memberi hormat, masing-masing memegang kipas berhiaskan batu delima, memenuhi alam semesta ini.)

Dewa Pancasikha datang, membawa harpa surgawi, Beluva, diiringi oleh sekelompok penari surgawi, dan memberi hormat dengan menari, bernyanyi, dan memainkan musik. (Semua penari surgawi dari sepuluh ribu alam semesta datang dan memberi hormat dengan menari, bernyanyi, dan bermain musik.)

Selanjutnya, semua dewa dan dewi yang berdiam di sepuluh ribu alam semesta berkumpul di alam semesta ini dan memberi hormat dengan berdiri di tempat-tempat yang masih tersedia, beberapa dari mereka bahkan harus berdiri dengan berpegangan di tiang pintu gerbang. Beberapa berdiri di sekeliling bersama kelompoknya masing-masing, membawa berbagai persembahan yang terbuat dari tujuh jenis permata, beberapa membawa pohon pisang dari emas, beberapa membawa istana emas, beberapa membawa kebutan dari ekor yak, beberapa membawa tongkat (untuk mengendalikan gajah), beberapa membawa sepasang ikan, beberapa membawa bunga mawar, panggung bundar dari emas, mangkuk berisi air, kendi berisi air, kulit kerang, tongkat api, lampu minyak dengan tiang dari batu delima, cermin emas, cermin bertatahkan batu mulia, cermin dengan tujuh jenis permata, lampu minyak berhiaskan batu delima, kain-kain untuk bendera dan pita-pita, dan pohon-pohon harapan. Semua dewa dari sepuluh ribu alam semesta datang, terlihat penampilan para penari surgawi, dan memberi hormat dengan menarikan tarian surgawi, menyanyikan lagu-lagu surgawi, mempersembahkan bunga-bunga, wangi-wangian, dan bubuk dupa surgawi. Pada waktu itu, seluruh angkasa dipenuhi oleh bunga-bungaan dan wewangian surgawi seolah-olah seluruh semesta ditutupi oleh hujan lebat.

PENCAPAIAN KE-BUDDHA-AN DI ANTARA TIGA ALAM

Ketika Bodhisatta mencapai Arahatta-Phala segera setelah mencapai Arahatta-Magga, batin-Nya menjadi sangat murni dan Beliau mencapai Pencerahan Sempurna (Sammàsambuddha), pemimpin tertinggi di tiga alam, dengan pencapaian Kemahatahuan (Sabbannuta Nàna) bersama-sama dengan Empat Kebenaran Mulia, Empat Pengetahuan Analitis (Patisambhidà Nàna), Enam Kebijaksanaan Tinggi (Assadhàrana Nàna), yang menjadikan Empat belas Kebijaksanaan seorang Buddha, dan Delapan belas kualitas (âvenika Dhamma), dan Empat Kebijaksanaan Berani (Vesàrajja Nàna). Bersamaan dengan tercapainya Sabbannuta Nàna ( Ke-Maha-Tahu-an ), datanglah fajar. (Penembusan Sabbannuta Nàna ( Ke-Maha-Tahu-an ) berarti tercapainya Kebuddhaan.)

BERDIAM DI TUJUH TEMPAT SETELAH PENCERAHAN-SEMPURNA

(1) Satu Minggu di Singgasana (Pallanka-sattàha)

Setelah mencapai Kebuddhaan, pada hari pertama bulan mulai memudar di bulan Vesàkha, Buddha mengucapkan seruan gembira (udàna), dan masih dengan postur duduk bersila di atas singgasana Aparàjita, Beliau berpikir:

“Untuk memperoleh singgasana ini, Aku telah mengembara dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain selama empat asankhyeyya dan seratus ribu kappa, memenuhi Sepuluh Kesempurnaan, berkali-kali dengan cara yang unik. Selama empat asankhyeyya dan seratus ribu kappa, untuk memperoleh singgasana Aparàjita ini, berkali-kali Aku memenggal dan mendanakan kepala-Ku; berkali-kali Aku mencungkil dan mendanakan mata dan jantung-Ku; berkali-kali Aku mendanakan putra-Ku seperti Jàli, putri-Ku seperti Kanhajina, dan istri-Ku seperti Maddi kepada mereka yang memintanya untuk dijadikan budak. Dari atas singgasana inilah Aku secara total menaklukkan lima Màra. Sebuah singgasana yang sunguh-sungguh agung dan mulia. Selagi duduk di atas singgasana ini, semua keinginan-Ku, termasuk cita-cita untuk menjadi Buddha telah terkabulkan. Aku belum akan bangkit dari singgasana ini karena Aku berhutang banyak kepada singgasana ini.”

Demikianlah Buddha menghabiskan tujuh hari di atas singgasana tersebut berdiam dalam Jhàna Keempat yang membawa kepada tingkat Kearahattaan, pencapaian yang berjumlah lebih dari seratus ribu crore.

Berdiam dalam Jhàna Keempat sehari penuh pada hari pertama setelah mencapai Pencerahan Sempurna, Buddha menikmati kebahagiaan Kebebasan, Vimutti (Kebahagiaan Kearahattaan). Selama jaga pertama malam itu, Beliau merenungkan hukum Paticcasamuppàda (Musabab Yang Saling Bergantung), “avijjà paccaya saïkhàrà,” Karena kebodohan (avijjà), tiga jenis bentukan-bentukan pikiran (saïkhàra), yaitu: pikiran baik (pu¤¤àbhisaïkhàra), pikiran buruk (apu¤¤àbhisaïkhàra), dan pikiran netral (ana¤jabhisaïkhàra) muncul. Dimulai dengan cara ini, Buddha meneruskan perenungan dengan urutan maju proses munculnya lingkaran penderitaan. Kemudian Beliau merenungkan, “avijjàya tv’eva asesaviràganirodho sangkhàra nirodho,” “Karena lenyapnya kebodohan dan tidak muncul kembali melalui Jalan Kearahattaan, tiga jenis bentukan-bentukan pikiran, yaitu: pikiran baik, pikiran buruk, dan pikiran netral juga lenyap (dan tidak muncul kembali).” Kemudian Buddha melanjutkan perenungan dengan urutan mundur proses lenyapnya lingkaran penderitaan.

Ketika Buddha terus-menerus merenungkan hukum ini dalam urutan maju dan urutan mundur, Beliau menjadi lebih memahami, lebih jelas dan lebih jelas lagi, proses munculnya penderitaan dalam saÿsàra dalam urutan maju, karena kebodohan yang menjadi penyebabnya, muncullah akibat yang tidak putus-putusnya berupa bentukan-bentukan pikiran, dan lain-lain; demikian pula Buddha juga memahami proses lenyapnya penderitaan saÿsàra dalam urutan mundur, bahwa, karena lenyapnya kebodohan dan lain-lain yang menjadi penyebabnya (tidak muncul kembali), sehingga

akibatnya juga lenyap yang merupakan lenyapnya bentukan-bentukan pikiran, dan lain-lain (dan tidak muncul kembali). Demikianlah, muncul terus-menerus dorongan-dorongan hati dalam batin Buddha seperti mahà-kiriya somanassasahagata nanasampayutta asa¤khàrika javana diawali dengan kepuasan dan kegembiraan, pãti dalam hati-Nya.

(2) Satu Minggu Menatap Pohon Bodhi (Animisa-sattàha)

(Tujuh hari selama Buddha menatap pohon Mahàbodhi dan singgasana Aparàjita tanpa mengedipkan mata-Nya disebut animisa sattàha).

Setelah mencapai Kebuddhaan dan menikmati kebahagiaan Kearahattaan (tanpa mengubah postur bersila-Nya selama duduk) Buddha tetap duduk di atas singgasana Aparàjita selama tujuh hari. Dalam batin beberapa dewa dan brahmà biasa (selain dewa dan brahmà yang mengetahui ciri-ciri Buddha karena mereka telah mengalami mencapai Jalan dan Buahnya dalam masa Buddha-Buddha sebelumnya) merasa ragu dan bertanya-tanya, “Buddha belum bangkit dari singgasana sampai saat ini. Selain dari ciri-ciri yang telah dimiliki-Nya, adakah ciri-ciri lain yang memungkinkan-Nya mencapai Kebuddhaan?”

Buddha menunjukkan Keajaiban-Ganda pertama kali kepada para Dewa yang masih ragu pada-Nya

Buddha menunjukkan Keajaiban-Ganda pertama kali kepada para Dewa yang masih ragu pada-Nya

Kemudian pada hari kedelapan (kedelapan setelah purnama) Buddha bangkit dari menikmati kebahagiaan Kearahattaan; mengetahui keraguan dewa dan brahmà tersebut, Buddha naik ke angkasa dan memperlihatkan Keajaiban Ganda (Yamaka-Patihariya) —air dan api untuk menghilangkan keraguan mereka.

(Keajaiban ganda yang diperlihatkan di Mahàbodhi ini, yang diperlihatkan pada pertemuan sanak saudara-Nya di Kota Kapilavatthu, yang diperlihatkan pada pertemuan para petapa telanjang Pathikaputta di Kota Vesàli―Semua Keajaiban Ganda ini sama dengan yang diperlihatkan di dekat pohon mangga di Kandamba. Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut.)

Setelah menghilangkan keraguan para dewa dan brahmà dengan memperlihatkan Keajaiban Ganda air dan api, Buddha turun dari angkasa dan berdiri tegak bagaikan tiang emas di sebelah timur laut dari singgasana Aparàjita dan merenungkan, “Aku telah mencapai Kemahatahuan di atas singgasana Aparàjita ini,” Beliau menghabiskan tujuh hari tanpa berkedip menatap singgasana dan pohon Mahàbodhi di mana Beliau mencapai ‘Arahatta-Magga ¥àõa dan Sabba¤¤uta ¥àõa’ sebagai hasil dari Kesempurnaan yang Beliau penuhi selama kurun waktu empat asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa. Tempat itu disebut Animisa Cetiya.

(3) Satu Minggu Berjalan (Cankama-sattàha)

Ketika tiba di minggu ketiga, Buddha menghabiskan tujuh hari, berjalan mondar-mandir di jalan setapak permata yang diciptakan oleh para dewa dan brahmà dan berjalan dari timur ke barat antara singgasana Aparàjita dan cetiya ‘tatapan’; Pada saat itu Beliau merenungkan Dhamma dan tenggelam dalam Phala Samàpatti, meditasi dalam Buah Pencapaian. Tempat ini disebut Ratanàcankama Cetiya.

(4) Satu Minggu di Rumah Emas (Ratanàghara-sattàha)

Ketika tiba di minggu keempat, Buddha merenungkan hukum tertinggi dari Abhidhammà Piñaka selagi duduk bersila di dalam rumah emas (Ratanàghara) yang diciptakan oleh para dewa dan brahmà di sudut barat laut dari pohon Mahàbodhi.

Menurut Jinàlankàra Tikà, ketika Buddha duduk bersila di dalam rumah emas dan merenungkan Dhamma mengamati makhluk-makhluk yang layak ditolong, Beliau melihat jelas rangkaian praktik sila, samàdhi, dan pannà: makhluk-makhluk dewa, manusia, dan brahmà yang layak ditolong akan mencapai keadaan mulia Jalan dan Buahnya, Nibbàna, dengan menjalani sãla, memusatkan pikirannya melalui samàdhi, dan berusaha mengembangkan Pandangan Cerah melalui pannà; oleh karena itu Buddha pertama-tama merenungkan Vinaya Piñaka yang mengajarkan sila, kemudian Sutta Pitaka yang mengajarkan samàdhi, dan akhirnya Abhidhammà Pitaka yang mengajarkan pa¤¤à.

Ketika Beliau merenungkan Abhidhammà Pitaka, Beliau memulai pertama-tama dari enam ajaran-ajaran yang sederhana Dhammasàngani, Vibhanga, Dhàtukathà, Puggala Pannàtti, Kathà Vatthu, dan Yamaka; enam sinar tubuh-Nya tidak memancar karena Kemahatahuan-Nya yang sangat luas dan hukum-hukumnya (dalam ajaran tersebut) sangat terbatas; sinar tubuh-Nya tidak dapat dipancarkan. Namun ketika Beliau merenungkan ajaran yang ketujuh yang mencakup seluruh Patthàna dengan metode yang tidak terbatas (anantanaya samanta), Kemahatahuan-Nya berkesempatan untuk memperlihatkan kecemerlangannya (seperti ikan raksasa timingala, berukuran seribu yojanà, berkesempatan bermain-main di samudra.)

Ketika Buddha memusatkan pikiran-Nya pada titik yang paling halus dan dalam yang mencakup seluruh Patthàna dengan metode yang tidak terbatas, muncullah dalam batin Buddha kebahagiaan luar biasa. Karena kebahagiaan ini, darah-Nya menjadi murni, karena kemurnian darah-Nya, kulit-Nya juga menjadi bersih; karena kebersihan kulit-Nya, cahaya sebesar rumah atau sebesar gunung bersinar dari bagian depan tubuh-Nya dan memancar hingga alam semesta yang tidak terhitung banyaknya di sebelah timur bagaikan Chaddanta, raja gajah, terbang di angkasa.

Demikian pula, cahaya bersinar dari bagian belakang tubuh Buddha dan memancar hingga alam semesta yang tidak terhitung banyaknya di sebelah barat; cahaya bersinar dari sebelah kanan tubuh Buddha dan memancar hingga alam semesta yang tidak terhitung banyaknya di sebelah selatan; cahaya bersinar dari sebelah kiri tubuh Buddha dan memancar hingga alam semesta yang tidak terhitung banyaknya di sebelah utara; dan dari telapak kaki-Nya memancar cahaya berwarna koral, mencapai angkasa luas setelah menembus daratan, air, dan udara; bagaikan rantai yang berhiaskan batu safir yang melingkar, demikian pula bola cahaya biru memancar satu demi satu dari kepala-Nya, mencapai angkasa di atasnya setelah melewati enam alam dewa dan dua puluh Alam Brahmà Kàmàvacara. Pada waktu itu tidak terhitung banyaknya makhluk di alam semesta yang tidak terhitung banyaknya memancarkan cahaya keemasan.

Catatan: Cahaya yang memancar dari tubuh Buddha pada hari Beliau merenungkan hukum Patthàna masih bergerak menuju alam semesta yang tidak terhitung banyaknya bahkan hingga hari ini dalam bentuk rantai zat-zat yang bersuhu (utuja-rupa).

(5) Satu Minggu di Bawah Pohon Banyan Ajapala

Setelah menghabiskan empat minggu (dua puluh delapan hari) di dekat pohon Mahàbodhi, pada minggu kelima, Buddha berjalan menuju pohon banyan ajapàla yang terletak di sebelah timur pohon Mahàbodhi dan tinggal selama tujuh hari di bawah pohon tersebut, merenungkan Dhamma dan tenggelam dalam Phala Samàpatti. (Pohon banyan ini disebut ajapàla karena pohon ini merupakan tempat berkumpulnya para gembala. Ajapàla nigrodha, pohon banyan di mana para gembala berteduh di bawahnya).

Pada waktu itu, seorang brahmana yang tidak diketahui nama dan sukunya, yang terlihat kasar dan angkuh, mendekati Buddha dan berbincang-bincang dengan Buddha. Setelah saling menyapa, si brahmana (kasar) berdiri di suatu tempat dan bertanya kepada Buddha:

“Yang Mulia Gotama, kebajikan apa yang membuat seorang brahmana menjadi brahmana yang sesungguhnya di dunia ini? Apa yang diperlukan untuk menjadi seorang yang mulia?”

Di sini, si brahmana kasar tidak akan dapat menembus Empat Kebenaran Mulia bahkan jika Buddha mengajarkannya. Benar bahwa mereka yang mendengar bait-bait Dhamma dari Buddha sebelum Buddha mengajarkan khotbah Dhammacakka akan beruntung hanya karena mendapat kesan pada batinnya, seperti dua pedagang bersaudara Tapussa dan Bhallika; tetapi mereka tidak akan dapat mencapai Jalan dan Buahnya melalui penembusan Empat Kebenaran Mulia. sekadar Dhamma bagi hal-hal yang alami (Sarattha Dipani òãkà). Karena si brahmana kasar tidak dapat menyerap Dhamma (bukan seorang yang dapat melihat Empat Kebenaran), Buddha tidak mengajarkan Dhamma kepadanya. Tetapi, memahami maksud pertanyaan si brahmana, Buddha mengucapkan bait berikut:

“Seorang Arahanta yang disebut brahmana adalah ia yang telah menyingkirkan semua kejahatan; ia bebas dari segala kekerasan dan kekasaran; ia bebas dari noda kotoran batin; ia berusaha untuk mengembangkan meditasi; atau ia memiliki pikiran yang terkendali oleh moralitas; atau ia telah mencapai Nibbàna, lenyapnya secara total kelompok-kelompok batin dengan penembusan Empat Magga ¥àõa; atau ia telah mencapai tingkat Arahatta-Phala, puncak dari Empat Magga Nàna. Ia mempraktikkan latihan mulia Jalan menuju Nibbàna. Di dunia ini, di mana segalanya timbul dan lenyap, tidak ada satu pun dari lima kejahatan yang muncul (ussadà) dari salah satu objek indrianya, yaitu nafsu (rag’ussada), kebencian (dos’ussada), kebodohan (moh’ussada), kesombongan (man’ussada), pandangan salah (ditth’ussada). Arahanta tersebut disebut brahmana yang dengan berani mengatakan, “Sungguh benar, Aku adalah seorang brahmana sejati!”

(Apa yang dimaksudkan di sini adalah: Seseorang yang memiliki tujuh kebajikan layak disebut brahmana: (1) bebas dari kejahatan, (2) bebas dari kekerasan dan kekasaran, (3) bebas dari noda kotoran batin, (4) pengendalian diri melalui moralitas, (5) pencapaian Nibbàna, (6) telah menjalani praktik mulia Jalan, (7) tidak munculnya lima kejahatan (ussada).

Màra Mengaku Kalah

Màra telah mengikuti Buddha selama tujuh tahun untuk mencari kesempatan menemukan kesalahan Buddha, namun ia tidak mendapat kesempatan sedikit pun untuk melakukannya. Oleh karena itu ia mendekati Buddha ketika Buddha berdiam di bawah pohon banyan ajapala dan berkata:

“O Petapa Gotama, apakah Engkau termenung di dalam hutan ini karena Engkau diliputi kesedihan? Apakah Engkau mengalami kehilangan kekayaan bernilai ratusan ribu? Atau, apakah Engkau termenung di sini karena Engkau menginginkan kekayaan bernilai ratusan ribu? Atau, apakah Engkau termenung di dalam hutan ini karena telah melakukan kejahatan berat di sebuah desa atau kota dan tidak berani bertemu orang lain? Mengapa Engkau tidak bergaul dengan orang lain? Engkau sama sekali tidak memiliki teman!”

Buddha menjawab:

“O Màra, Aku telah mencabut dan menghancurkan semua penyebab kesedihan, Aku tidak melakukan kejahatan yang terkecil sekalipun; karena terbebas dari segala kekhawatiran, Aku tenggelam dalam dua Jhàna. Aku telah memotong keinginan akan kelahiran (bhavatanhà); Aku tidak memiliki kemelekatan apa pun; Aku tetap berbahagia dalam dua bentuk Jhàna. (Tidak seperti yang engkau pikirkan, Aku bukan datang ke sini karena kesedihan yang disebabkan oleh kehilangan kekayaan, atau karena keserakahan.)

Màra berkata lagi:

“O Petapa Gotama, di dunia ini, beberapa orang dan petapa melekat kepada objek-objek kekayaannya seperti emas dan perak, dan objek kebutuhannya seperti jubah, dan lain-lain, dan berkata, “Ini milikku.” Jika batin-Mu melekat, seperti orang-orang dan petapa ini terhadap emas dan perak, dan lain-lain, terhadap jubah, dan lain-lain, Engkau tidak akan pernah dapat melarikan diri dari wilayah kekuasaanku di tiga alam.”

Buddha menjawab:

“O Màra, Aku tidak memiliki kemelekatan terhadap semua objek-objek kekayaan seperti emas, perak, dan lain-lain, dan terhadap objek kebutuhan seperti jubah, dan lain-lain, dan berkata “Ini milikku,” tidak seperti orang lain, Aku bukanlah seorang yang berkata “Ini milikku.” “O Màra, anggaplah Aku sebagai seorang yang demikian!, karena Aku telah meninggalkan tiga alam kehidupan, engkau tidak akan menemukan jejak-Ku di wilayah kekuasaanmu di tiga alam kehidupan (bhava), empat jenis kelahiran (yoni), lima bagian (gati), dan sembilan alam makhluk berperasaan.”

Màra berkata lagi:

“O Petapa Gotama, jika Engkau telah menemukan jalan menuju Nibbàna, pergilah sendiri. Mengapa Engkau ingin mengajarkannya kepada orang lain?”

Kemudian Buddha berkata:

“O Marà, (Sekeras apa pun engkau berusaha menghalangi Aku) Aku akan tetap mengajarkan kepada makhluk lain Jalan Benar menuju Nibbàna, jika Aku diminta untuk mengajarkan Jalan Benar dan Nibbàna, bebas dari kematian oleh dewa, manusia, dan brahmà, yang ingin mencapai Nibbàna, pantai seberang.”

Ketika berkata demikian, Màra, yang menjadi kehilangan akal bagaikan kepiting yang cangkangnya dipecahkan oleh anak-anak desa mengucapkan bait berikut (dan mengaku kalah):

“Buddha, bernama Gotama, keturunan raja besar terpilih (Mahàsammata)! (Sebuah perumpamaan bagaikan) burung gagak bodoh kelaparan melompat di delapan penjuru, mengelilingi sebutir batu yang mirip sebongkah lemak dan mencoba merobeknya dengan paruhnya, karena ia berpikir bahwa ia akan memperoleh lemak dan daging yang lembut dan rasanya pasti sangat lezat.”

“Tidak berhasil mendapatkan kelezatan batu itu, burung gagak bodoh itu pergi. Bagaikan burung gagak bodoh itu, karena gagal menikmati sedikit pun kelezatan meskipun ia telah berusaha merobek batu yang mirip sebongkah lemak tersebut, kami menyerah, merasa sedih, sangat sedih, dan hampir patah hati, karena tidak berhasil memperoleh apa pun yang diharapkan setelah mengganggu, menyakiti, dan menghalangi Engkau, Yang Mulia.”


Putri Màra Datang Merayu Buddha

Selanjutnya Màra merenungkan, “Walaupun aku telah mengikuti Buddha untuk mencari kesalahan-Nya, namun aku tidak berhasil menemukan kesalahan yang terkecil pun dari Pangeran Siddhattha yang dapat dicela. Sekarang, Pangeran Siddhattha telah lari dari kekuasaanku di tiga alam.” Demikianlah ia termenung dan merasa patah hati duduk jongkok sendirian di jalan utama tidak jauh dari Buddha dan membuat goresan enam belas garis di atas tanah yang menggambarkan enam belas kejadian. Arti dari enam belas garis itu adalah sebagai berikut:

(1) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Kesempurnaan Kedermawanan dalam kehidupan lampauku. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis pertama.

(2) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Kesempurnaan Moralitas dalam kehidupan lampauku. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis kedua.

(3) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Kesempurnaan Melepaskan keduniawian dalam kehidupan lampauku. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis ketiga.

(4) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Kesempurnaan Kebijaksanaan dalam kehidupan lampauku. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis keempat.

(5) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Kesempurnaan Usaha dalam kehidupan lampauku. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis kelima.

(6) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Kesempurnaan Kesabaran dalam kehidupan lampauku. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis keenam.

(7) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Kesempurnaan Kejujuran dalam kehidupan lampauku. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis ketujuh.

(8) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Kesempurnaan Tekad dalam kehidupan lampauku. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis kedelapan.

(9) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Kesempurnaan Cinta kasih dalam kehidupan lampauku. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis kesembilan.

(10) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Kesempurnaan Ketenangseimbangan dalam kehidupan lampauku. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis kesepuluh.

(11) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Sepuluh Kesempurnaan dalam kehidupan lampauku untuk memperoleh pengetahuan mengenai pikiran dan kehendak makhluk-makhluk lain (indriyaparopariyatti Nàna) yang tidak lazim bagi makhluk-makhluk biasa. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis kesebelas.

(12) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Sepuluh Kesempurnaan dalam kehidupan lampauku untuk memperoleh pengetahuan mengenai sifat dan watak makhluk-makhluk lain (àsayànusaya Nàna) yang tidak lazim bagi makhluk-makhluk biasa. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis kedua belas.

(13) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Sepuluh Kesempurnaan dalam kehidupan lampauku untuk mencapai Welas asih yang luar biasa (Mahàkarunàsamàpatti Nàna) yang tidak lazim bagi makhluk-makhluk biasa. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis ketiga belas.

(14) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Sepuluh Kesempurnaan dalam kehidupan lampauku untuk memperoleh Kemampuan untuk melakukan Keajaiban Ganda (Yamaka-Pàtihàriya Nàna) yang tidak lazim bagi makhluk-makhluk biasa. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis keempat belas.

(15) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Sepuluh Kesempurnaan dalam kehidupan lampauku untuk memperoleh pengetahuan yang tanpa halangan (anàvarana Nàna) yang tidak lazim bagi makhluk-makhluk biasa. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis kelima belas.

(16) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Sepuluh Kesempurnaan dalam kehidupan lampauku untuk memperoleh Kemahatahuan (Sabbannuta Nàna) yang tidak lazim bagi makhluk-makhluk biasa. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis keenam belas.

Pada waktu itu, tiga putri Màra—Tanhà, Arati, dan Ràga—melihat ke sekeliling, berpikir, “Kita tidak melihat ayah kita (Màra). Di manakah ia sekarang?,” dan mereka melihatnya termenung berjongkok dan menggoreskan garis-garis di atas tanah, kemudian mereka segera mendekati ayah mereka dan bertanya, “Ayah, mengapa engkau begitu bersedih dan patah hati?” “Putri-putriku,” jawab Màra, “Petapa Gotama ini telah lari dari kekuasaanku di tiga alam. Walaupun aku telah mengikutinya selama kurun waktu tujuh tahun untuk mencari kesalahan-Nya, namun aku tidak berhasil mendapat kesempatan sedikit pun untuk mencela-Nya. Oleh karena itulah aku begitu sedih dan patah hati.” “Ayah, jangan khawatir. Kami akan membujuk Petapa Gotama ini dan membawa-Nya ke hadapanmu, ayah,” janji tiga putri tersebut.

Kemudian Màra berkata, “Putriku, tidak seorang pun di dunia ini yang mampu membujuk Petapa Gotama ini. Petapa Gotama ini memiliki keyakinan yang sangat kokoh dan tidak tergoyahkan.” “Ayah, kami perempuan. Kami akan menjerat-Nya dengan nafsu dan segera membawa-Nya ke hadapanmu. Jangan kecewa dan bersedih.”

3 Putri Mara datang menggangg

3 Putri Mara datang menggangg

Setelah berkata demikian, tiga putri ini mendekati Buddha dan berkata dengan nada membujuk, “Yang Mulia Petapa, izinkan kami melayani-Mu, bersujud dengan hormat di kaki-Mu dan memuaskan segala kebutuhan-Mu.” Buddha mengabaikan mereka, dan tetap menikmati kebahagiaan Nibbàna dalam Phala Samàpatti tanpa membuka mata-Nya.

Kemudian, tiga putri Màra berdiskusi, “Para laki-laki memiliki selera yang berbeda. Beberapa menyukai perempuan yang muda dan halus; yang lain menyukai perempuan yang sedang dalam tahap pertama kehidupannya. Yang lain lagi menyukai perempuan yang sedang dalam tahap pertengahan. Jadi mari kita menciptakan perempuan dalam berbagai usia dan memikat petapa ini.”

Demikianlah, masing-masing dari mereka menciptakan seratus perempuan (1) yang muda, (2) yang menjelang kehamilan, (3) yang telah melahirkan satu kali, (4) yang telah melahirkan dua kali, (5) yang dalam usia pertengahan, (6) yang dalam usia yang sangat dewasa dan matang, semuanya cantik-cantik.

Buddha menasehati ketiga putri Mara untuk berhenti melakukan usaha sia2 untuk menggoyahkan Beliau

Buddha menasehati ketiga putri Mara untuk berhenti melakukan usaha sia2 untuk menggoyahkan Beliau

Kemudian mereka mendekati Buddha enam kali dan merayu seperti sebelumnya, “Yang Mulia Petapa, izinkan kami melayani-Mu, bersujud dengan hormat di kaki-Mu, dan memuaskan segala kebutuhan-Mu.” Sama seperti sebelumnya, Buddha mengabaikan mereka, dan tetap menikmati kebahagiaan Nibbàna dalam Phala Samàpatti tanpa membuka mata-Nya.

Kemudian Buddha berkata, “Pergilah, dewi. Melihat manfaat apakah engkau mencoba menguji-Ku seperti ini? Perbuatan ini hendaknya dilakukan kepada mereka yang belum terbebas dari nafsu (ràga), kebencian (dosa), dan kebodohan (moha). Sedangkan Aku, Aku telah melenyapkan nafsu, Aku telah melenyapkan kebencian, Aku telah melenyapkan kebodohan.” Kemudian Buddha mengucapkan dua bait berikut seperti yang terdapat dalam Dhammapada:

Yassa jitam nàvajiyati

Jitamassa no yàti kosi loke

Tam Buddhaÿananta gocaram

Apadam kena padena nessatha

Yassa jàlini visattikà

tanhà natthi kuhin ci netave

tam Buddhaÿananta gocaram

apadam kena padena nessatha.

“Buddha, yang telah menaklukkan kotoran batin, tidak ada lagi yang harus ditaklukkan. Tidak ada kotoran apa pun yang telah ditaklukkan mengikuti Buddha. Buddha yang memiliki ketidakterbatasan pemahaman melalui kebijaksanaan, yang tidak memiliki faktor-faktor kotoran seperti nafsu (ràga), dengan cara apakah engkau akan membawa-Nya.

Buddha yang tidak memiliki faktor-faktor seperti kemelekatan (taõhà), yang bagaikan jerat yang dapat menariknya ke dalam kelahiran kembali, yang memiliki sifat seperti racun yang ganas; atau yang dapat melekati segala hal. Buddha yang memiliki ketidakterbatasan pemahaman melalui kebijaksanaan, yang tidak memiliki faktor-faktor kotoran seperti nafsu, dengan cara apakah engkau akan membawa-Nya.”

Setelah mengucapkan puji-pujian terhadap Buddha mereka berkata, “Ayah kita berkata benar. Petapa Gotama ini, yang memiliki ciri-ciri seperti Arahaÿ dan Sugata, tidak dapat dibujuk dengan menggunakan nafsu,” mereka kembali ke ayah mereka, Màra.

Buddha Bertekad untuk Hidup Dalam Dhamma

Selagi Buddha berdiam selama seminggu di Ajapala, Ia berpikir, “Betapa menyedihkan hidup tanpa menghormati orang lain (tidak seorang pun yang dihormati). Siapa yang harus didekati dan dihormati oleh-Ku, seseorang yang telah melenyapkan semua kotoran, yang telah melenyapkan semua kajahatan?” Kemudian Beliau melanjutkan, “Aku harus menetap di dekat mereka yang lebih tinggi dari diri-Ku dalam hal Moralitas, Konsentrasi, Kebijaksanaan, dan Kebebasan sehingga Moralitas, Konsentrasi, Kebijaksanaan, dan Kebebasan-Ku yang masih belum lengkap dan belum mencukupi akan menjadi lengkap dan cukup.” Kemudian Buddha mencari dengan Kemahatahuan-Nya mereka yang lebih tinggi daripada-Nya dalam hal Moralitas, Konsentrasi, Kebijaksanaan, dan Kebebasan.

Melihat bahwa tidak ada makhluk yang demikian di tiga alam, Beliau berpikir, “Lebih baik Aku hanya hidup dengan menghormati Dhamma yang telah Kutembus.”

Pada waktu itu, mengetahui pikiran Buddha, Brahmà Sahampati tiba dalam sekejap di hadapan Buddha dan setelah meletakkan selendangnya di bahu kirinya dan menyentuh tanah dengan lutut kanannya, ia merangkapkan tangannya memberi hormat dan berkata, “Buddha Yang Agung, apa yang Engkau pikirkan adalah benar. Yang Mulia, Buddha-Buddha pada masa lampau hanya hidup dengan menghormati Dhamma. Buddha-Buddha pada masa depan hanya hidup dengan menghormati Dhamma. Buddha Agung, aku juga ingin agar Engkau menjadi Buddha masa sekarang yang hanya hidup dengan menghormati Dhamma.”


(6) Satu Minggu di Danau Mucalinda (Mucalinda-sattàha)

Setelah menghabiskan tujuh hari merenungkan Dhamma di bawah pohon banyan ajapala, Buddha pindah ke pohon mucalinda (Barringtonia acutangula) di sebelah timur pohon Mahàbodhi. Di bawah pohon mucalinda, Buddha duduk bersila menikmati kebahagiaan Kearahattaan.

Raja Naga memayungi Sang Buddha dari hujan lebat di danau Mucalinda

Raja Naga memayungi Sang Buddha dari hujan lebat di danau Mucalinda

Pada waktu itu turun hujan yang sangat lebat (hujan lebat sebelum memasuki musim hujan) selama tujuh hari. (Hujan seperti ini hanya terjadi pada dua peristiwa! Satu ketika munculnya raja dunia, dan satu lagi saat munculnya seorang Buddha.) Ketika turun hujan lebat, raja nàga yang sangat sakti dan sangat berkuasa, Mucalinda, yang memerintah alam nàga di bawah danau di sana berpikir, “Hujan lebat ini turun segera setelah Buddha berdiam di wilayahku. Baik sekali jika tempat kediaman Buddha dapat mudah ditemukan.” Raja nàga sangat sakti untuk menciptakan sebuah istana dengan tujuh jenis permata namun ia mempertimbangkan bahwa “Tidaklah sangat bermanfaat jika aku menciptakan sebuah istana besar dari permata dan mendanakannya kepada Buddha. Aku akan menyumbangkan tenagaku kepada Buddha dengan tubuhku.” Jadi ia mengubah tubuhnya menjadi besar dan melingkari tubuh Buddha dalam tujuh lingkaran dan memayungi kepala Buddha dengan kepalanya yang mengembang sehingga Buddha tidak diserang oleh dingin, panas, gigitan serangga seperti nyamuk, lalat, dan lain-lain.

(7) Satu Minggu di Bawah Pohon Ràjàyatana (Ràjàyatana sattàha)

Setelah menghabiskan tujuh hari menikmati kebahagiaan Arahatta di bawah pohon mucalinda dan ketika tiba minggu ke tujuh, Buddha beranjak dari tempat itu dan pindah ke pohon Ràjàyatana (Buchaniania latifolia) di sebelah selatan pohon Mahàbodhi dan duduk di bawah pohon menikmati kebahagiaan Kearahattaan selama tujuh hari.

Ketika telah berlalu empat puluh sembilan hari, pada hari Rabu, tanggal lima di bulan âsàëha, selagi berdiam di Ràjàyatana, Sakka datang dan mendanakan buah obat myrobalan (Terminalia citrina) karena ia mengetahui keinginan Buddha untuk mencuci muka dan membersihkan diri. Buddha menerima buah itu. Segera setelah Buddha mengambil buah tersebut, Buddha menjawab panggilan alam (buang air). Setelah itu Sakka memberikan pembersih gigi dari alam nàga, dan air dari Danau Anotatta (untuk mencuci muka). Buddha menggunakan pembersih gigi, membersihkan mulut-Nya dan mencuci muka, dengan air dari Danau Anotatta, dengan tetap duduk di bawah pohon Ràjàyatana.

Dua Pedagang Bersaudara, Tapussa dan Bhallika, Menerima Perlindungan Ganda

Seorang Dewa memberitahu Tapussa dan Bhallika keberadaan Buddha sementara empat dewa catummaharajika mempersembahkani Buddha mangkuk dibawah pohon Ket

Seorang Dewa memberitahu Tapussa dan Bhallika keberadaan Buddha sementara empat dewa catummaharajika mempersembahkani Buddha mangkuk dibawah pohon Ket

Kemudian dua pedagang bersaudara, Tapussa dan Bhallika, sedang melakukan perjalanan dengan lima ratus kereta dari rumah mereka di Ukkalàjanapada menuju Majjhima-Desa untuk berdagang. Saat mereka tiba di jalan besar di dekat pohon Ràjàyatana, kereta-kereta itu berhenti seolah-olah rodanya tertahan oleh lumpur walaupun tanah di jalan tersebut rata dan tidak becek. Dan ketika mereka terheran-heran, “Apa penyebabnya?” dan berdiskusi, satu dewa laki-laki yang memiliki hubungan yang erat dengan kedua pedagang bersaudara tersebut dalam kehidupan lampau menampakkan dirinya secara fisik dari atas sebuah pohon dan berkata, “Anak muda, tidak lama setelah mencapai Kebuddhaan, Buddha yang tenggelam dalam kebahagiaan Kearahattaan masih berdiam di bawah pohon Ràjàyatana saat ini tanpa makan selama empat puluh sembilan hari. Anak muda, berilah hormat kepada Buddha dengan memberikan dàna makanan. Ini akan memberikan kesejahteraan  dan kebahagiaan dalam waktu yang lama kepada kalian.”

Pedagang Tapussa dan Bhallika mempersembahkan Kue Nasi dan Gumpalan Madu pada Buddha

Pedagang Tapussa dan Bhallika mempersembahkan Kue Nasi dan Gumpalan Madu pada Buddha

Mendengar hal ini, mereka menjadi sangat bergembira dan mempertimbangkan, “Butuh waktu lama untuk menanak nasi.” Mereka mendatangi Buddha dengan membawa kue nasi dan gumpalan makanan dari madu yang menjadi bekal mereka. Setelah mendekati Buddha, mereka dengan penuh hormat bersujud kepada-Nya, dan berdiam di tempat yang sesuai. “Yang Mulia, sudilah Yang Mulia menerima kue nasi kami dan gumpalan makanan madu. Penerimaan-Mu akan memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan dalam waktu yang lama kepada kami.”

Buddha bertanya-tanya, “Semua saudara-Ku, Buddha-Buddha masa lampau, tidak pernah menerima dàna makanan dengan tangan Mereka. Jadi, dengan apakah Aku harus menerima kue nasi dan gumpalan makanan madu yang dipersembahkan oleh kedua pedagang bersaudara ini?” (Karena mangkuk tanah yang didanakan oleh Brahmà Ghatikàra sewaktu Beliau melepaskan keduniawian telah lenyap pada hari Beliau menerima nasi susu dari Sujàtà).

Mengetahui pikiran Buddha, empat raja dewa dari empat arah, yaitu: Dhataratta, Virulhaka, Virupakkha, dan Kuvera dengan hormat menyerahkan empat mangkuk terbuat dari batu zamrud. Tetapi Buddha menolak menerima mangkuk tersebut. Sekali lagi, empat raja dewa tersebut menyerahkan empat mangkuk dari batu (alami) berwarna hijau daun. Empat mangkuk ini diterima oleh Buddha. Dan karena welas asih-Nya kepada para raja dewa tersebut, Buddha menumpuk empat mangkuk tersebut dan berkehendak, “Semoga empat mangkuk ini menjadi satu.” Segera empat mangkuk tersebut melebur menjadi satu mangkuk bersegi empat.

Tapussa & Bhallika ; 2 Pedagang Ummat Pertama

Tapussa & Bhallika ; 2 Pedagang Ummat Pertama

Kemudian Buddha menerima kue nasi dan gumpalan makanan madu dengan mangkuk dan memakannya dan memberikan khotbah yang sesuai untuk kedua pedagang bersaudara tersebut. Kemudian kedua pedagang bersaudara tersebut menyatakan berlindung kepada Buddha dan Dhamma (karena Sangha belum terbentuk pada waktu itu), dan dengan demikian menjadi siswa yang hanya mengucapkan dua kata perlindungan (Devàcika-sarana) yang ditujukan kepada Buddha dan Dhamma, dengan mengucapkan,

“Kami menyatakan berlindung, Yang Mulia, kepada Buddha dan Dhamma” (Ete mayam bhante Bhagavàntam saranam gacchàma Dhamman ca). (Kedua bersaudara ini adalah siswa pertama yang menyatakan berlindung dengan mengucapkan kedua kata ini.)

Setelah itu kedua pedagang bersaudara mengajukan permohonan dengan berkata, “Buddha Yang Mulia, berikanlah sesuatu kepada kami berkat welas asih-Mu sebagai objek pemujaan kami selamanya.” Buddha mengusap kepala-Nya dengan tangan kanan-Nya dan memberikan mereka relik dari rambut-Nya sesuai permintaan mereka. Kedua bersaudara tersebut sangat gembira menerima relik rambut Buddha, seolah-olah disiram air surga. Setelah menyelesaikan perdagangan, mereka kembali dan tiba di kota mereka Pukkharavati di distrik Ukkalà di mana mereka membangun cetiya untuk memuja relik rambut yang disimpan dalam peti emas.

BUDDHA MERENUNGKAN DHAMMA

Ketika itu, hari Kamis, tanggal enam bulan âsàlha, lima puluh hari setelah mencapai Kebuddhaan pada hari Rabu malam purnama bulan Vesàkha, setelah melewatkan Sattasattàha (empat puluh sembilan hari), Buddha bangkit dari duduk-Nya di bawah pohon Ràjàyatana, kemudian berjalan kembali menuju pohon banyan Ajapàla (gembala) dan berdiam di sana duduk bersila. Selanjutnya Buddha dalam kesunyian dan ketenangan merenungkan Kelompok Dhamma, Empat Kebenaran Mulia.

Selanjutnya, dua bait yang menakjubkan, yang belum pernah didengar sebelumnya, tiba-tiba muncul dengan jelas dalam batin Buddha, yaitu:

(1)    Tidak ada manfaatnya mengajarkan Dhamma Empat Kebenaran Mulia kepada dewa dan manusia, yang telah Kuperoleh dengan usaha keras mengembangkan Kesempurnaan (Pàrami) pada saat ini di saat hanya ada perasaan welas asih-Ku yang merupakan penyebab internal (ajjhattika Nidàna) tetapi belum ada permohonan dari brahmà yang dipuja oleh dunia ini (Lokagaru), yang adalah penyebab eksternal (bàhira-Nidàna); Dhamma Empat Kebenaran Mulia ini tidaklah mudah dipahami dan sangatlah sulit bagi mereka yang diliputi oleh kejahatan dan terpengaruh keserakahan dan kebencian.

(2)    Semua dewa dan manusia yang diliputi oleh kegelapan batin (avijjà), sehingga mereka tidak memiliki mata kebijaksanaan, terikat kepada kenikmatan indria (kàma-ràga), kelahiran yang berulang-ulang (bhava-ràga) dan pandangan salah (ditthi ràga), tidak akan dapat melihat Dhamma Empat Kebenaran Mulia, yang halus, dalam (bagaikan air yang tertahan di dalam tanah). Sulit terlihat (bagaikan biji mostar yang terhalang oleh Gunung Meru besar), kecil bagaikan sebuah atom, dan yang membawa menuju Nibbàna melawan arus sangsàra. (Pikiran seperti ini adalah wajar, dhammatà, yang terjadi pada semua Buddha).

Buddha yang merenungkan demikian merasa segan untuk mengajarkan Dhamma karena tiga alasan berikut: (1) batin makhluk-makhluk yang penuh dengan kotoran, (2) Dhamma yang sangat dalam, dan (3) Buddha sangat meninggikan Dhamma.

Mengajarkan Dhamma hanya setelah permohonan brahmà adalah suatu peristiwa yang wajar, dhammatà, bagi setiap Buddha. Alasan dari pengajaran Dhamma setelah permohonan dilakukan oleh brahmà adalah: di luar masa berkembangnya ajaran Buddha (sebelum munculnya Buddha), mereka yang taat dan bajik, apakah ia umat awam, petapa pengembara, samaõa atau brahmaõa, hanya memuja brahmà. Oleh karena itu, jika brahmà yang dihormati di dunia memperlihatkan penghormatan kepada Buddha dengan bersujud di depan Buddha, seluruh dunia juga akan berbuat serupa, memiliki keyakinan terhadap Buddha. Untuk alasan ini, adalah suatu kebiasaan dan kewajaran bagi Buddha untuk mengajarkan Dhamma hanya setelah permohonan diajukan oleh brahmà. Demikianlah, hanya setelah bàhira Nidàna, permohonan brahmà diajukan, Buddha bersedia mengajarkan Dhamma.

Brahmà Sahampati Memohon Pengajaran Dhamma

(Brahmà Sahampati yang agung adalah seorang Thera mulia bernama Sahaka pada masa Buddha Kassapa. Dalam kapasitasnya, ia berhasil mencapai Jhàna Pertama Råpàvacara dan karena ia meninggal dunia tanpa terjatuh dari Jhàna, ia terlahir di Alam Jhàna Pertama dan menjadi Mahàbrahmà yang memiliki umur kehidupan enam puluh empat antara kappa yang setara dengan satu asaïkhyeyya kappa. Ia disebut Brahmà Sahampati di alam brahmà tersebut. Saÿyutta Atthakatthà dan Sàrattha Tikà).

Ketika Buddha masih tidak berkeinginan untuk berusaha mengajarkan Dhamma, Mahàbrahmà Sahampati berpikir, “Nassati vata bho loko! Vinassati vata bho loko!” “O teman, dunia akan binasa! O teman, dunia akan binasa!” Buddha yang layak mendapat  penghormatan oleh dewa dan manusia karena telah menembus pengetahuan semua Dhamma di dunia tidak sudi mengajarkan Dhamma!” Kemudian dalam sekejap, dengan kecepatan bagaikan seorang kuat yang merentangkan tangannya yang terlipat atau melipat tangannya yang terentang, Brahmà Sahampati lenyap dari alam brahmà bersama-sama dengan sepuluh ribu Mahàbrahmà lainnya, muncul di hadapan Buddha. Pada waktu itu, Mahàbrahmà Sahampati meletakkan selendangnya (selendang brahmà) di bahu kirinya dan berlutut dengan lutut kanannya menyentuh tanah (duduk cara brahmà). Bersujud kepada Buddha dengan mengangkat kedua tangannya yang dirangkapkan dan berkata:

Maha Brahma Sahampati memohon agar Buddha sudi mengajarkan Dhamma pada semua makhluk

Maha Brahma Sahampati memohon agar Buddha sudi mengajarkan Dhamma pada semua makhluk

“Buddha yang agung, sudilah Buddha mengajarkan Dhamma kepada semua makhluk, manusia, dewa, dan brahmà. Buddha agung yang memiliki bahasa yang baik, sudilah Buddha mengajarkan Dhamma kepada semua makhluk, manusia, dewa, dan brahmà. Ada banyak makhluk-makhluk yang memiliki sedikit debu kotoran di mata pengetahuan dan kebijaksanaan mereka. Jika makhluk-makhluk ini tidak berkesempatan mendengarkan Dhamma Buddha, mereka akan menderita kerugian besar karena tidak memperoleh Dhamma yang luar biasa Magga-Phala yang layak mereka dapatkan. Buddha yang mulia, akan terbukti bahwa ada dari mereka yang mampu memahami Dhamma yang Engkau ajarkan.”

Kemudian lagi, setelah mengucapkan dengan bahasa prosa biasa, Mahàbrahmà juga mengajukan permohonan dalam syair seperti berikut:

“Buddha yang agung, pada masa lampau sebelum kemunculan-Mu, di Negeri Magadha, terdapat ajaran salah yang tidak suci, yang diajarkan oleh enam guru berpandangan salah, seperti Påraõa Kassapa yang dinodai oleh lumpur kotoran. Dan oleh karena itu, sudilah membuka pintu gerbang Magga untuk memasuki Nibbàna yang abadi (yang tertutup sejak lenyapnya ajaran Buddha Kassapa). Izinkan semua makhluk mendengarkan Dhamma Empat Kebenaran Mulia yang terlihat jelas oleh-Mu yang bebas dari debu kilesa.

“Buddha yang mulia dan bijaksana, yang memiliki mata kebijaksanaan yang mampu melihat segala sesuatu! Bagaikan seorang yang memiliki pandangan mata yang tajam berdiri di puncak gunung dan melihat semua orang di sekelilingnya, demikian pula Engkau, Buddha yang mulia, karena telah terbebas dari kesedihan, naik ke menara Pa¤¤à dan melihat semua makhluk, manusia, dewa, dan brahmà, yang terjatuh ke dalam jurang kesedihan (karena dilindas oleh kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian, dan lain-lain).

“Buddha yang mulia dan memiliki kecerdasan, yang hanya mengetahui kemenangan, tidak pernah kalah, dalam semua pertempuran! Bangunlah! Buddha yang mulia, yang bebas dari hutang kenikmatan indria, yang memiliki kebiasaan membebaskan makhluk-makhluk yang ingin mendengarkan dan mengikuti ajaran Buddha, dari perjalanan sulit berupa kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian dan bagaikan pemimpin rombongan, yang mengantar mereka dengan selamat menuju Nibbàna! Sudilah, mengembara di dunia ini dan mengumandangkan Dhamma dari Buddha yang agung, sudilah, mengajarkan Empat Kebenaran Mulia kepada semua makhluk manusia, dewa, dan brahmà. Buddha yang mulia, ada makhluk-makhluk yang dapat melihat dan memahami Dhamma yang Engkau ajarkan.”


Buddha Mengamati Dunia Makhluk-makhluk

Ketika Brahmà Sahampati telah mengajukan permohonan untuk mengajarkan Dhamma, dua kondisi, yaitu, bàhira Nidàna dan ajjhattika Nidàna telah terpenuhi, dan kemudian Beliau mengamati dunia makhluk-makhluk dengan sepasang Mata-Buddha (Buddha-cakkhu): Pengetahuan atas keinginan tersembunyi atau kecenderungan atau sebaliknya, sifat-sifat indria (Indriya-paropariyatta Nàna).

Perumpamaan empat jenis teratai

Perumpamaan empat jenis teratai

Dalam pengamatannya, Beliau melihat jelas berbagai jenis makhluk yang berbeda-beda (seperti empat jenis bunga teratai): ada sebuah kolam yang berisi bunga teratai biru, merah, dan putih, empat jenis teratai ini—

(1) jenis bunga teratai yang hidup dalam air, tumbuh dalam air, dan masih berada di bawah permukaan air,

(2) jenis bunga teratai tumbuh dalam air, berkembang dalam air, dan akhirnya diam persis di permukaan air,

(3) jenis bunga teratai yang hidup dalam air, berkembang dalam air, dan akhirnya diam tinggi di atas permukaan air, sama sekali tidak basah dan tidak ada air yang menempel di bunga teratai tersebut. (Dari ketiga jenis bunga teratai ini, teratai no. 3 yang berada tinggi di atas permukaan air akan mekar pada hari itu juga; teratai no. 2 yang berada persis di permukaan air akan mekar keesokan harinya, dan teratai no. 1 yang masih berada di bawah air, akan mekar pada hari ketiga).

(4) Selain tiga jenis teratai ini, ada teratai jenis keempat yang tidak akan muncul di atas permukaan air dan tidak akan mekar; teratai jenis ini adalah teratai sakit dan akhirnya hanya menjadi makanan bagi ikan dan kura-kura.

Bagaikan empat jenis teratai ini, ada makhluk-makhluk yang memiliki sedikit atau sama sekali tidak ada debu kilesa di mata kebijaksanaannya; makhluk-makhluk yang memiliki banyak debu di mata kebijaksanaannya; makhluk-makhluk yang lima kelompok keyakinan, ketekunan, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan yang tajam dan matang; makhluk-makhluk yang kelima kelompok tadi tumpul dan tidak matang; makhluk-makhluk yang memiliki watak-watak seperti keyakinan, dan lain-lain, cukup baik atau tidak cukup baik; makhluk-makhluk yang dapat dengan mudah memahami Dhamma yang diajarkan dan makhluk-makhluk yang tidak dapat memahami; makhluk-makhluk yang memandang hal-hal duniawi seperti kelompok kehidupan, semua bentuk kemelekatan, perbuatan jahat, kehendak-kehendak, dan tindakan yang akan menyebabkan kelahiran kembali, sebagai kelompok yang menakutkan dan berbahaya bagaikan musuh yang memegang pedang yang bersiap-siap untuk menyerang, dan makhluk-makhluk yang tidak memiliki pandangan seperti itu.

Setelah merenungkan dan melihat, Buddha memberikan persetujuan kepada Mahàbrahmà Sahampati dalam syair berikut:

“O Mahàbrahmà Sahampati, Aku tidak menutup pintu Magga bagi para dewa dan manusia untuk memasuki Nibbàna Abadi dan mencapai Kebebasan. (Pintu itu senantiasa terbuka). Semoga dewa dan manusia yang memiliki pendengaran yang baik (sotapasàda) memperlihatkan keyakinan terhadap-Ku.”

“O Mahàbrahmà Sahampati, Aku belum mengajarkan Dhamma mulia yang telah Kuperoleh kepada manusia, dewa, dan brahmà dalam beberapa hari ini. Hal ini karena pada waktu itu, dua Nidàna untuk mengajarkan Dhamma belum terpenuhi dan karena Aku melihat bahwa, bahkan jika Dhamma diajarkan, tidak akan bermanfaat bagi mereka, hanya melelahkan-Ku saja.”

Setelah itu, Mahàbrahmà Sahampati merasa sangat gembira dan berseru, “Buddha telah menyetujui untuk mengajarkan Dhamma!” Kemudian, setelah bersujud dan mengelilingi Buddha, ia menghilang dari tempat itu (dan pulang ke alam brahmà).

BERSAMBUNG –>>

[ Sumber foto ilustrasi  :

http://www.cambodianbuddhist.org/eng...ha/desc13a.htm

http://home.swipnet.se/ratnashri/buddhalife.htm

http://www.mahidol.ac.th/budsir/E_hist62.htm    ]

Ditulis dalam Kronologi Hidup Buddha, Riwayat Hidup Buddha | 7 Comments »

SIDDHATTHA GOTAMA : Kelahiran, Remaja, dan Titik Balik Kehidupan-Nya

Posted by ratanakumaro pada September 25, 2009

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa”

( Tikkhattum ; 3x )

____________________________________________

<< Sebelumnya ( Baca Artikel Pertama ini)

<< Sebelumnya ( Baca Artikel Kedua ini)

[ Sumber : Riwayat Agung Para Buddha (The Great Chronicle of Buddhas), karya Tipitakadhara Mingun Sayadaw (Myanmar) ; Ehipassiko Collection dan Girimangala publications]

DEWA SETAKETU : BODDHISATTA KITA

Boddhisatta Dewa Setaketu

Boddhisatta Dewa Setaketu

Setelah melengkapi dirinya dengan Dasa-Paramita ( Sepuluh Kesempurnaan ) pada kehidupan terakhirnya sebagai (seorang manusia ) Pangeran Wessantara, Boddhisatta kita terlahir di alam surga Tusita bernama Dewa Setaketu. Dewa Setaketu, Bakal Buddha Gotama kita, menikmati kebahagiaan surgawi di surga Tusita selama 4.000 tahun surgawi yang sama dengan 576.000.000 ( lima ratus tujuh puluh enam juta ) tahun manusia. Kemudian, 1.000 tahun manusia sebelum kehidupannya di Surga Tusita berakhir, para Brahma dari alam Suddhavassas berseru,”Teman-teman! Seribu tahun dari sekarang, akan muncul seorang Buddha di alam manusia!”

Mendengar seruan yang memberitakan tentang akan munculnya seorang Buddha, semua raja dewa dari sepuluh ribu alam semesta, seperti Catummaharajika, Sakka, Suyama, Santusita, Sunimitta, Vasavatti dan semua Maha-Brahma berkumpul di suatu alam tertentu untuk mendiskusikan mengenai Bakal-Buddha yang usianya tinggal tujuh hari lagi, dan yang sedang mendekati ajalnya dan telah melihat lima tanda-tanda ( pubbanimitta ). Kemudian mereka semua mendatangi Dewa Setaketu dengan beranjali dan memohon :

“O, Boddhisatta Dewa, Engkau telah memenuhi Sepuluh Kesempurnaan, bukan untuk memberoleh kebahagiaan Sakka, Mara, Brahma, atau Raja Dunia. Engkau memenuhi Kesempurnaan ini dengan cita-cita hanya untuk mencapai Ke-Buddha-an, agar memperoleh Kebebasan, juga untuk membebaskan makhluk-makhluk lain, manusia, dewa dan Brahma. O, Boddhisatta dewa, ini adalah waktu yang paling tepat bagi-Mu untuk menjadi Buddha, inib enar-benar waktu yang tepat untuk menjadi Buddha! Oleh karena itu, sudilah Engkau masuk ke rahim ibu-Mu di alam manusia. Setelah mencapai Pencerahan-Sempurna, semoga Engkau juga membebaskan manusia, dewa, dan Brahma dari samsara dengan mengajarkan Dhamma Keabadian, Nibbana.”

Dewa Setaketu tidak segera menyetujui permohonan para Dewa tersebut, namun melakukan penyelidikan atas kelima hal sebagaimana juga dilakukan oleh para Boddhisatta-Dewa terdahulu, yaitu :

  1. Waktu yang tepat bagi munculnya seorang Buddha.
  2. Benua yang cocok bagi munculnya seorang Buddha.
  3. Negeri yang tepat bagi munculnya seorang Buddha.
  4. Keluarga dimana Boddhisatta (dalam kelahiran terakhirnya) akan dilahirkan, dan
  5. Umur kehidupan dari bakal ibu Boddhisatta.

Setelah menyelidiki kelima hal tersebut, Boddhisatta Dewa Setaketu memutuskan,”Aku akan turun ke alam manusia dan menjadi Buddha.” Kemudian, Boddhisatta melanjutkan pernyataannya,”O,Dewa dan Brahma, sekarang adalah saatnya bagi-Ku untuk menjadi Buddha seperti permohonan kalian, Anda sekalian boleh pergi sekarang ; Aku akan turun ke alam manusia untuk mencapai ke-Buddha-an.”

Setelah menyatakan hal itu, Boddhisatta Dewa Setaketu melangkah masuk ke Taman Nandavana ( sebuah taman surgawi yang sangat megah dan menyenangkan ). Setelah memasuki Taman Nandavana, para pengikutnya, para dewa laki-laki dan perempuan berkata kepadanya,”Setelah meninggal dari alam dewa ini, semoga Engkau terlahir di alam yang baik, tempat tujuan makhluk-makhluk yang memiliki banyak kebajikan!” Demikian, para dewa menyertai Boddhisatta Dewa Setaketu di Taman Nandavana sembari meminta-Nya untuk merenungkan kebajikan-kebajikan yang pernah dilakukannya pada masa lalu. Mereka mengelilingi Boddhisatta. Ketika Boddhisatta sedang berkeliling di Taman diiringi oleh para Dewa , saat kematian-Nya tiba.

MIMPI RATU MAHAMAYA : CALON IBUNDA BODDHISATTA KITA

Mimpi ratu Mahamaya

Mimpi ratu Mahamaya

Bersamaan dengan saat kematian Boddhisatta Dewa Setaketu, Siri Mahamaya, permaisuri Raja Suddhodana dari kerajaan Kapilavatthu sedang menikmati kebahagiaan istana. Saat Permaisuri sedang menjalankan Delapan Sila dan berbaring di atas dipan yang indah, pada jaga terakhir di malam purnama itu, Siri Mahamaya jatuh tertidur dan bermimpi, yang merupakan pertanda masuknya Boddhisatta kedalam rahimnya. Mimpinya adalah sebagai berikut :

“Empat Dewa Catummaharajika mengangkat dan membawanya bersama tempat tidurnya ke Danau Anotatta di Pengunungan Himalaya. Kemudian ia dibaringkan di atas batu datar berukuran enam puluh yojana di bawah keteduhan pohon Sala yang tingginya tujuh Yojana.

Setelah itu, para permaisuri dari Empat Raja Dewa tersebut datang dan membawa ratu ke danau dan memandikannya sebersih mungkin. Kemudian mereka memakaikan pakaian surgawi kepadanya serta mendandaninya dengan kosmetik surgawi; mereka juga meriasnya dengan bunga-bunga surgawi. Kemudian ia dibaringkan dengan kepalanya menghadap ke timur di dalam sebuah kamar dari sebuah istana emas di dalam gunung perak tidak jauh dari danau tersebut.

Pada saat itu dalam mimpinya, ia melihat seekor gajah putih bersih sedang berjalan-jalan di gunung emas tidak jauh dari gunung perak dimana ia berada di dalam istana emasnya. Kemudian gajah putih tersebut turun dari gunung emas, naik ke gunung perak dan memasuki istana emas. Gajah putih tersebut kemudian mengelilingi ratu ke arah kanan dan kemudian masuk ke rahimnya dari sebelah kanan.”

Pada saat sedang bermimpi, Boddhisatta Dewa Setaketu sedang berkeliling di Taman Nandavana di Surga Tusita, menikmati pemandangan dan suara yang indah; pada saat itulah Bliau meninggal dunia dari Alam Tusita dengan penuh kesadaran. Pada saat itu juga Boddhisatta masuk ke rahim yang mirip teratai  milik Permaisuri Ratu Mahamaya , dengan kesadaran agung. Peristiwa ini terjadi pada hari Kamis pagi pada hari purnama di bulan Asalha tahun 67 Maha Era, penanggalan yang ditetapkan oleh Raja Anjana, kakek Boddhisatta. Peristiwa ini ditandai dengan peristiwa bulan dan bintang Uttarasalha berada dalam posisi segaris ( Tanggal dan tahun memasuki rahim dan kelahiran Boddhisatta yang disebutkan disini disesuaikan dengan perhitungan ilmu astrologi dan ilmu sejarah raja-raja. )

Bersamaan dengan saat Boddhisatta memasuki rahim, terjadi gempa bumi dahsyat. Sepuluh ribu alam-semesta berguncang dalam enam arah :

  1. Belahan bumi di timur naik dan di barat turun
  2. Belahan bumi di barat naik dan di timur turun
  3. Belahan bumi di utara naik dan di selatan turun
  4. Belahan bumi di selatan naik dan di utara turun
  5. Belahan bumi di tengah naik dan di sekeliling turun
  6. Belahan bumi di sekeliling naik dan di tengah turun

Selanjutnya, juga terjadi tiga-puluh-dua (32) fenomena ghaib yang biasanya terjadi saat Boddhisatta memasuki rahim dalam kehidupan terakhirnya , yaitu diantaranya ; 1). Cahaya gilang-gemilang bersinar di sepuluh ribu alam-semesta, 2) Mereka yang buta menjadi dapat melihat saat itu juga jika mereka ingin melihat keagungan Boddhisatta, 3). Mereka yang tuli dapat mendengar pada saat itu juga, 4).  Kuda-kuda meringkik dengan suara yang menyenangkan, 5). Hujan turun dengan derasnya, 6). Segala penjuru dipenuhi dengan bunga-bunga teratai dalam tiga warna, dan lain-lainnya.

Sewaktu Ratu Siri Mahamaya bangun, ia menceritakan mimpinya kepada Raja Suddhodana. Keesokan paginya, Raja Suddhodana memanggil enam-puluh-empat (64) Brahmana pandai. Setelah melayani mereka dengan makanan dan lain-lain dan memberikan penghormatan pada mereka, Raja Suddhodana menceritakan mimpi ratu kepada para Brahmana dan bertanya,”Apakah arti mimpi tersebut? Baik atau buruk? Pelajari dan katakan padaku pendapatmu.”

Para Brahmana menjawab,”Raja besar, jangan cemas. Ratu sekarang telah hamil. Janin di dalam rahimnya adalah anak laki-laki bukan perempuan. Engkau akan memiliki seorang putra. Jika ia memutuskan untuk menjalani kehidupan kerajaan, ia akan menjadi raja dunia yang menguasai empat benua. Jika ia meninggalkan kehidupan rumah-tangga dan menjadi petapa, ia akan menjadi Buddha yang menghancurkan akar kotoran batin di tiga alam.”

Demikianlah, dan Ratu Mahamaya pun kemudian dijaga/dilindungi oleh para Dewa Catummaharajika, yaitu Vessavana serta yang lainnya yang hidup di alam semesta ini, memasuki kamar agung Ratu Siri Mahamaya dan memberikan perlindungan siang dan malam.

KELAHIRAN BODDHISATTA

Lahirnya Boddhisatta

Lahirnya Boddhisatta

Usia kehamilan bagi perempuan selain Ibu seorang Boddhisatta, umumnya tidak pasti, bisa kurang dari sepuluh bulan ( 9 bulan 10 hari ), bisa juga lebih dari sepuluh bulan. Juga, mereka tidak tahu pasti kapan bayinya akan terlahir. Bayi mereka akan terlahir pada waktu yang tidak terduga dalam satu dari empat postur, berbaring, duduk, berdiri atau berjalan.

Namun tidak demikian dengan Ratu Mahamaya yang mengandung seorang Boddhisatta. Masa kehamilannya tepat sepuluh bulan atau 295 hari sejak hari pertama kehamilan. Seorang Boddhisatta terlahir sewaktu ibu sedang dalam postur berdiri. Ketika terlahir, ia bersih tanpa noda bagaikan batu delima yang diletakkan di atas kain tenunan dari Kasi.

Ketika Ratu Mahamaya sampai pada tahap akhir dari kehamilannya, Ratu merasakan keinginannya untuk mengunjungi Devadaha, tempat tinggal sanak saudara kerajaannya. Ia memohon restu dari Raja Suddhodana dan Raja pun merestuinya.

Raja melakukan persiapan dengan megah. Setelah persiapan selesai,Raja mendudukkan Sang Ratu di dalam tandu emas baru yang diangkat oleh seribu prajurit istana, dengan dikawal oleh para pengawal dan pelayan untuk melakukan berbagai tugas selama dalam perjalanan. Dengan kemegahan dan kemuliaan demikian, Sang Ratu berangkat menuju Kota Devadaha.

Di antara Kapilavatthu dan Devadaha, terdapat hutan pohon Sala yang dinamakan Taman Lumbini, yang merupakan tempat rekreasi bagi orang-orang dari kedua kerajaan. Ketika Mahamaya Dewi sampai disana, semua pohon Sala di hutan itu berbunga dari bawah pohon hingga pucuknya. Menyaksikan taman Lumbini dengan segala keindahannya Mahamaya Dewi merasakan keinginan untuk bersantai dan beristirahat di dalamnya. Raja Suddhodana pun mengabulkan permohonan Sang Ratu.

Pada saat Mahamaya Dewi memasuki taman, semua dewa berseru yang gemanya menembus sepuluh ribu alam semesta, “Hari ini Boddhisatta akan terlahir dari kamar teratai rahim ibu-Nya.” Para dewa dan Brahma dari sepuluh ribu alam semesta berkumpul di alam semesta ini, mereka membawa berbagai macam harta benda yang indah sebagai penghormatan dalam kelahiran boddhisatta. Langit surga ditutupi oleh payung putih surgawi dan terompet kulit kerang pun ditiup.

Segera setelah Mahamaya Dewi memasuki Taman Lumbini, ia merasakan desakan untuk meraih dahan sebatang pohon Sala yang sedang mekar penuh, batangnya bulat dan lurus.Seolah-olah bergerak, dahan tersebut merunduk dengan sendirinya seperti tongkat rotan yang lunak karena dipanaskan, sehingga dahan tersebut menyentuh telapak tangan Ratu, sebuah peristiwa ghaib yang menggemparkan.

Dengan berpegangan pada dahan pohon Sala, Ratu Mahamaya berdiri dengan anggun dengan berpakaian dari bahan kain broklat berbenang emas dan selendang bersulamkan hiasan-hiasan indah berwarna putih yang mirip mata ikan yang menutupi sampai ujung jari kakinya. Pada saat itu ia merasakan tanda-tanda kelahiran. Para pelayannya buru-buru membentuk lingkaran dan menutupi area tersebut dengan tirai.

Pada saat itu, tiba-tiba sepuluh ribu alam semesta bersama-sama dengan samudera raya bergolak, berguncang dan berputar bagaikan roda pembuat tembikar. Dewa dan Brahma berseru gembira dan menyiramkan bunga-bunga dari angkasa; segala alat musik secara otomatis memainkan lagu-lagu yang indah dan merdu. Seluruh alam semesta menjadi terlihat cerah dan jernih tanpa halangan di semua arah. Fenomena-fenomena ajaib ini yang seluruhnya berjumlah tiga-puluh-dua (32) terjadi menyambut kelahiran Boddhisatta.

Bagaikan permata indah yang melayang keluar dari puncak Gunung Vepulla, melayang-layang kemudian turun perlahan-lahan di atas tempat yang telah dipersiapkan, demikianlan Boddhisatta yang berhiaskan tanda-tanda fisik besar dan kecil dilahirkan bersih dan suci dari rahim teratai yang mirip stupa milik Mahamaya Dewi, pada hari Jumat, malam purnama di bulan Vesakha, bulan musim panas di tahun 68 Maha Era, ketika bulan dalam posisi segaris dengan bintang Visakha.

Pada saat kelahiran Boddhisatta, dua mata air, hangat dan dingin mengalir dari angkasa dan jatuh di tubuh Boddhisatta yang memang telah bersih dan suci dan tubuh ibunya sebagai penghormatan, mereka dapat menyesuaikan panas dan dingin dari air tersebut yang jatuh ke tubuh mereka.

Empat Maha-Brahma yang telah bebas dari nafsu indriya adalah yang pertama menerima Boddhisatta di atas sebuah jaring emas pada saat kelahiran. Kemudian mereka meletakkannya di depan sang ibu dan berkata,”Ratu, bergembiralah, seorang putra yang penuh kekuasaan telah engkau lahirkan.”

Kemudian empat raja dewa menerima Boddhisatta dari tangan empat Maha-Brahma di atas sehelai kulit rusa hitam seolah-olah benda yang sangat berharga. Kemudian manusia menerima Boddhisatta dari tangan empat raja dewa di atas sehelai kain putih.

BAYI SIDDHATTA GOTAMA BERJALAN TUJUH LANGKAH DAN MENGUCAPKAN SERUAN BERANI

Kemudian, setelah turun dari tanan manusia, Boddhisatta berdiri tegak di atas kedua kaki-Nya yang seolah-olah mengenakan sepatu emas, dan menginjak tanah dengan mantap, Ia memandang timur dan pada saat itu, ribuan alam semesta di sebelah timur terlihat jelas dalam posisi segaris tanpa ada halangan apa pun diantaranya. Para Dewa dan manusia di sebelah timur memberi hormat pada Boddhisatta dengan wangi-wangian, bunga dan lain-lain dan berkata,”O, Manusia Mulia, tidak ada makhluk apa pun di sebelah timur yang dapat menyamai-Mu. Mungkinkah ada yang melebihi Engkau?”

Kemudian, Boddhisatta berturut-turut memandang sembilan arah lainnya – delapan arah mata angin, ke atas dan kebawah – Ia melihat tidak ada yang dapat menandingi-Nya di segala arah. Selanjutnya, Ia menghadap ke arah utara dari tempat Ia berdiri, kemudian ia berjalan maju tujuh langkah.

Boddhisatta diikuti oleh Mahabrahma, Raja Brahma, yang memayungi-Nya dengan payung putih dan Dewa Suyama memegang pengusir serangga terbuat dari ekor yak. Para dewa lain membawa seluruh atribut kerajaan seperti sepatu, pedang, dan mahkota mengikuti dari belakang. Profesi makhluk surgawi ini tidak terlihat oleh para manusia disana , mereka hanya melihat tanda-tanda kebesaran mereka saja.

Ketika berjalan, Boddhisatta berjalan biasa di atas tanah seperti manusia biasa, tetapi yang terlihat oleh manusia disana, Boddhisatta berjalan di udara.Pada saat berjalan, Boddhisatta dalam keadaan telanjang tanpa mengenakan pakaian apa pun, namun yang terlihat oleh manusia, Ia berpakaian lengkap. Boddhisatta adalah bayi yang baru lahir yang sedang berjalan, namun oleh mata manusia, Ia terlihat seperti anak berumur enam-belas tahun.

Sewaktu Boddhisatta berjalan, Maha-Brahma mengikuti dan memayungi-Nya dengan payung putih berukuran tiga-yojana, demikian pula dengan para Maha-Brahma dari alam-semesta lannya dengan payung berukuran sama. Sehingga seluruh semesta ditutupi oleh payung putih bagaikan karangan bunga berwarna putih.

Sepuluh ribu Dewa Suyama dari sepuluh ribu alam semesta memegang pengusir serangga terbuat dari ekor yak. Para dewa dari sepuluh ribu Surga Tusita berdiri memegang kipas yang bertatahkan batu delima, semuanya mengayun-ayunkan kipas dan pengusir serangga yang mencapai puncak-puncak gunung di tepi semesta.

Demikian pula, sepuluh ribu Dewa Sakka dari sepuluh-ribu alam semesta, meniupkan sepuluh ribu terompet dari kulit kerang. Semua dewa-dewa lain juga berbaris memberi hormat, beberapa membawa bunga-bunga emas, sementara yang lain membawa bunga-bunga asli atau bunga-bunga kristal yang menyilaukan; beberapa membawa spanduk, sementara yang lain membawa benda-benda bertatahkan permata sebagai persembahan. Dewi-dewi dengan berbagai persembahan di tangan mereka juga berbaris memenuhi seluruh alam semesta.

Ketika pertunjukan pemujaan yang menakjubkan sedang berlangsung, Boddhisatta berhenti setelah berjalan tujuh-langkah ke arah utara. Pada saat itu semua Brahma, Dewa, dan manusia seketika diam, menunggu sambil berharap dengan pikiran,”Apakah yang akan dikatakan oleh Boddhisatta?”

Boddhisatta lalu menyerukan seruan berani yang terdengar oleh semua makhluk di seluruh sepuluh ribu alam semesta :

“Aggo’ham asmi lokassa!”

(Akulah yang tertinggi di antara semua makhluk di tiga alam)

“Jettho’ham asmi lokassa!”

(Akulah yang terbesar di antara semua makhluk di tiga alam)

“Settho’ham asmi lokassa!”

(Akulah yang termulia di antara semua makhluk di tiga alam)

“Ayam antima Jati!”

(Inilah kelahiran-Ku yang terakhir)

“Natthi dani punabhavo!”

(Tidak ada kelahiran ulang bagik-Ku)

Sewaktu Boddhisatta menyerukan seruan ini, tidak ada seorang pun yang dapat membantahnya; seluruh Brahma, Dewa, dan manusia mengucapkan selamat.

Pada waktu yang bersamaan dengan kelahiran Boddhisatta, tujuh pendamping berikut juga terlahir :

  1. Putri Yasodhara, calon istri Pangeran Siddhatta Gotama dan Ibunda Pangeran Rahula.
  2. Pangeran Ananda
  3. Menteri Channa
  4. Menteri Kaludayi
  5. Kuda istana Kanthaka
  6. Mahabodhi atau Pohon Boddhi Assattha, dan
  7. Empat kendi emas

Para penduduk dari kedua kota – Kapilavatthu dan Devadaha – mengiringi Ratu Mahamaya dan putranya, Boddhisatta mulia kembali ke Kota Kapilavatthu.

PETAPA KALADEVILA TERTAWA DAN MENANGIS MENGETAHUI KELAHIRAN BODDHISATTA

Pada hari Boddhisatta dan ibu-Nya dibawa ke kota Kapilavatthu, para dewa Tavatimsa yang dipimpin oleh Sakka bergembira mengetahui bahwa “Seorang putra dari Raja Suddhodana telah terlahir di kota Kapilavatthu” dan bahwa “Putra mulia ini pasti mencapai Pencerahan-Sempurna di tanah kemenangan di bawah pohon Boddhi Assattha” , dan mereka melemparkan pakaian mereka ke angkasa, menepuk lengan dengan telapak tangan, dan bersuka ria.

Waktu itu, Petapa Kaladevila yang telah mencapai lima kemampuan batin tinggi dan delapan Jhana dan yang mempunyai kebiasaan mengunjungi istana Raja Suddhodana sedang makan siang disana seperti biasa, dan kemudian naik ke surga Tavatimsa untuk melewatkan hari itu di alam surga.

Ia duduk di atas singgasana permata di dalam istana permata, menikmati kebahagiaan Jhana. Sewaktu ia keluar dari Jhana, berdiri di depan pintu gerbang istana dan melihat kesana-kemari, ia melihat Sakka dan para dewa lainnya yang bergembira melempar-lemparkan penutup kepala dan jubah mereka dan memuji kebajikan Boddhisatta di jalan-jalan utama di alam surga sepanjang enam puluh Yojana. Kemudian Sang Petapa bertanya,”O dewa, apa yang membuatmu demikian bergembira? Katakanlah ada apa gerangan”.

Kemudian para dewa menjawab,”Yang Mulia Petapa, hari ini putra mulia dari Raja Suddhodana telah lahir. Putra mulia ini, duduk bersila di bawah pohon Boddhi assattha di tempat yang maha suci, di tengah-tengah alam semesta, akan mencapai Pencerahan-Sempurna, menjadi Buddha. Beliau akan membabarkan khotbah – Roda Dhamma. Kami akan mendapatkan kesempatan emas menyaksikan kemuliaan Buddha yang tidak terbatas dan mendengarkan khotbah Dhamma yang teragung. Itulah sebabnya kami bersuka-ria.”

Mendengar jawaban para dewa tersebut, Petapa Kaladevila segera turun dari surga Tavatimsa dan duduk di tempat yang telah dipersiapkan untuknya di dalam istana Raja Suddhodana. Setelah saling menyapa dengan Raja, Kaladevila berkata,”O, Raja, aku mendengar bahwa Putramu telah lahir, aku ingin melihatnya.”

Kemudian Raja membawa putranya yang telah mengenakan pakaian lengkap, kemudian membawanya kepada sang petapa untuk memberi hormat kepada guru istana. Ketika Boddhisatta dibawa, kedua kaki Boddhisatta terbang tinggi dan turun di atas rambut sang petapa. (Tidak seorang pun yang cukup layak menerima penghormatan dari seorang Boddhisatta dalam kelahiran terakhirnya. Jika seseorang, yang tidak mengetahui hal ini, memaksakan kepala Boddhisatta untuk menyentuh kaki sang petapa, kepala sang petapa akan pecah menjadi tujuh keping).

Petapa Kaladevila, menyaksikan peristiwa yang mengherankan dan luar biasa dari keagungan dan kekuatan Boddhisatta, memutuskan, “Aku tidak akan menghancurkan diriku.” Kemudian ia bangkit dari tempat duduknya dan bersujud didepan boddhisatta dengan tangan dirangkapkan. Menyaksikan pemandangan menakjubkan ini, Raja Sudhodana juga bersujud di depan anaknya.

Kaladevila, yang telah mencapai lima kemampuan batin dan delapan Jhana, dapat mengingat peristiwa-peristiwa yang lampau sampai 40 Kalpa yang lalu dan dapat melihat masa depan sampai 40 Kalpa kedepan. Dengan demikian ia dapat mengetahui dan melihat peristiwa-peristiwa selama delapan puluh kalpa.

Setelah mengamati karakteristik besar dan kecil dari Boddhisatta Pangeran, ia mengetahui dan meramalkan bahwa Pangeran akan menjadi Buddha. Mengetahui bahwa “Anak ini adalah manusia luar biasa”, Sang Petapa tertawa penuh kegembiraan.

Kemudian , Sang petapa merenungkan apakah ia dapat menyaksikan Pagneran mencapai ke-Buddha-an. Ia mengetahui bahwa sebelum Pangeran mencapai ke-Buddha-an, ia akan sudah meninggal dunia dan terlahir di alam Arupa-Brahma dimana tak seorang pun yang dapat mendengarkan Dhamma abadi disana, meskipun muncul ratusan atau ribuan Buddha untuk mengajarkan Dhamma. “Aku tidak akan berkesempatan untuk menyaksikan dan memberikan penghormatan kepada manusia menakjubkan ini yang memiliki Kesempurnaan kebajikan. Ini adalah kerugian terbesar bagiku.” Setelah berkata demikian Kaladevila bersedih dan menangis.

Ketika orang-orang yang hadir disana menyaksikan sang petapa tertawa dan kemudian menangis, mereka terheran-heran,”Yang-Mulia Petapa pertama-tama tertawa dan kemudian menangis, betapa anehnya.” Kemudian mereka bertanya, “Yang Mulia, apakah ada sesuatu yang berbahaya terhadap putra raja kami?”

“Tidak ada bahaya sama sekali, malah sebenarnya Beliau akan menjadi Buddha”.

“Kalau begitu, mengapa engkau bersedih?” tanya orang-orang itu lagi.

“Karena aku tidak akan dapat menyaksikan pencapaian Pencerahan-Sempurna oleh manusia luar biasa ini yang memiliki kualitas-kualitas yang menakjubkan. Ini adalah kerugian besar bagiku. Karena itulah aku bersedih”, jawab sang petapa.

Kemudian, Kaladevila sang petapa merenungkan, “Walaupun aku tidak berskesempatan untuk menyaksikan Pangeran mencapai ke-Buddha-an, aku ingin tahu apakah ada di antara sanak-saudaraku yang berkesempatan untuk menyaksikannya.” Kemudian dia meilihat keponakannya, Nalaka, yang memiliki kesempatan tersebut. Jadi ia pergi mengunjungi rumah adiknya dan memanggil keponakannya dan menyuruhnya dengan berkata :

“Keponakanku Nalaka, seorang putra telah lahir di istana Raja Suddhodana. Beliau adalah seorang Boddhisatta. Beliau akan mencapai ke-Buddha-an setelah berusia tiga-puluh-lima tahun. Engkau, keponakanku, adalah seorang yang layak melihat Buddha. Oleh karena itu, engkau lebih baik menjadi petapa, hari ini juga.”

Meskipun lahir dari orangtua yang memiliki kekayaan delapan puluh tujuh crore, pemuda Nalaka percaya kepada pamannya, dan berpikir,”Pamanku tidak akan menyuruhku melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat. Ia mengatakan hal ini tentu demi kebaikanku.” Dengan pendapat ini, ia membeli jubah dan mangkuk dari pasar. Mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah, dan berkata kepada dirinya sendiri, ”Aku akan mejadi petapa untuk mengabdi pada Buddha, pribadi yang termulia diseluruh dunia.“


RAMALAN DARI TANDA-TANDA YANG TERDAPAT PADA BODDHISATTA SAAT UPACARA MEMBASUH KEPALA DAN PEMBERIAN NAMA

Pada hari kelima setelah kelahiran Boddhisatta mulia, ayah-Nya, Raja Suddhodana mengadakan upacara membasuh kepala. Dan dengan rencana untuk memberi nama pada putranya, ia menaburi istananya dengan empat jenis bubuk harum , yaitu : 1). Tagara (Tabernaemontana coronaria), 2). Lavanga (Cloves, Syzygiumm aromaticum), 3). Kunkuma (safron, crocus sativus),dan, 4). Tamala (Xanthochymus pictorius), dan menaburi lima jenis rempah yaitu : 1). Saddhala (sejenis rumput), 2).Padi, 3). Biji mostar, 4).Kuncup melati, 5). Beras. Ia juga mempersiapkan nasi susu murni yang tidak dicampur air, dan mengundang seratus delapan Brahmana pandai yang menguasai Tiga-Veda, ia menyediakan tempat duduk yang baik dan bersih kepada mereka di dalam istana dan melayani mereka dengan nasi susu yang lezat.

Setelah memberi makanan kepada mereka, Raja memberi penghormatan pada mereka, memberikan persembahan kepada mereka dan dari 108 (seratus delapan) Brahmana tersebut, dipilih delapan Brahmana untuk diminta meramalkan masa depan Pangeran berdasarkan tanda-tanda fisik Boddhisatta.

Di antara 8 (delapan) Brahmana yang terpilih, tujuh orang, yaitu : Rama, Dhaja, Lakkhana, Jotimanta, Yanna, Subhoja, dan Suyama, setelah memeriksa tanda-tanda fisik Boddhisatta Pangeran mengacungkan dua jari dan memberikan dua ramalan tanpa kepastian sebagai berikut,Jika anakmu yang memiliki tanda-tanda ini memilih untuk hidup berumah-tangga, Beliau akan menjadi Raja dunia yang menguasai empat benua, tetapi jika Beliau menjadi petapa, Beliau akan mencapai ke-Buddha-an.”

Tetapi Sudatta, Brahmana dari suku Kondanna, yang termuda di antara mereka, setelah dengan seksama memeriksa tanda-tanda manusia luar biasa pada tubuh Boddhisatta, hanya mengacungkan satu jari dan dengan penuh keyakinan meramalkan,”Tidak ada alasan bagi Pangeran untuk hidup berumah-tangga. Beliau pasti akan menjadi Buddha yang menghancurkan akar kotoran batin.”

Ramalan Brahmana muda Sudatta ini akhirnya diterima oleh para Brahmana pandai lainnya.

Setelah dengan seksama memeriksa tiga-puluh-dua tanda manusia agung ( Mahapurissa ), kemudian mereka berdiskusi untuk mencari nama yang tepat bagi Pangeran. Kemudian mereka memberi nama Siddhatta sebagai pertanda yang menunjukkan bahwa Beliau akan berhasil menyelesaikan tugas-tugasnya demi kesejahteraan seluruh dunia.

RAJA SUDDHODANA MENGAMBIL LANGKAH PENCEGAHAN SUPAYA BODDHISATTA TIDAK MELIHAT EMPAT PERTANDA

Setelah Raja Suddhodana menerima hasil ramalan sehubungan dengan putranya, ia diberitahu oleh para Brahmana bahwa, “Sang Pangeran akan melepaskan keduniawiand an menjadi Petapa.” Ia bertanya,”Apa yang dilihat putraku sehingga ia pergi melepaskan keduniawian?”

“Saat melihat empat pertanda – orang tua, orang sakit, orang mati, dan seorang petapa – putramu akan melepaskan keduniawian dan menjadi petapa”, jawab para Brahmana dengan suara bulat.

Mendengar jawaban para Brahmana, Raja Suddhodana memerintahkan,”Jika putraku akan pergi melepaskan keduniawian setelah melihat empat pertanda ini, mulai saat ini, mereka yang berusia tua, sakit, mati ataupun petapa tidak boleh bertemu dengan putraku; karena mereka akan menyebabkan samvega dalam diri-Nya dan membuat-Nya pergi melepaskan keduniawian. Aku tidak ingin anakku menjadi Buddha. Aku ingin melihat-Nya menjadi Raja Dunia yang memerintah di empat Benua dan dua ribu pula di sekelilingnya dan berjalan di angkasa dengan mengendarai roda pusaka diiringi oleh pengikut yang berbaris hingga tiga-puluh enam yojana.”

Selanjutnya sejumlah pengawal ditempatkan di segala penjuru dalam setiap jarak satu gavuta untuk memastikan tidak-adanya orang-tua, orang sakit, orang mati, dan petapa dalam jarak pandang Boddhisatta.

Saat upacara membasuh kepala berlangsung dimana 80.000 kerabat hadir dan berdiskusi,”Apakah Pangeran akan menjadi Buddha atau menjadi Raja Dunia, masing-masing dari kita akan menyediakan seorang putra untuk melayaninya. Jika Beliau akan menjadi Buddha, Beliau akan berkelana dengan disertai para petapa yang berdarah bangsawan. Atau, jika ia menjadi Raja Dunia, Beliau akan melakukan perjalanan kerajaan dengan diiringi oleh 80 pangeran.” Kemudian masing-masing berjanji untuk menyerahkan putranya kepada Boddhisatta.

WAFATNYA IBU BODDHISATTA MAHAMAYA DEVI DAN TERLAHIR DI ALAM SURGA TUSITA

Mahapajapati Gotami

Mahapajapati Gotami

Tujuh hari setelah kelahiran Boddhisatta Pangeran, Ibunya Mahamaya Devi, sampai pada akhir kehidupannya, meninggal dunia dan terlahir kembali di Surga Tusita sebagai Dewa bernama Santusita. Sang ibu meninggal bukan karena melahirkan Boddhisatta, tetapi karena kehidupannya telah berakhir. Kita ingat, sewaktu Dewa Setaketu melakukan lima-penyelidikan, Mahamaya hanya memiliki sisa kehidupan selama 10 bulan 7 hari.

Setelah kematian Ratu Mahamaya, adik Ratu Mahamaya yang bernama Mahapapajapati Gotami, dipersunting Raja Suddhodana dan kemudian ialah yang menjadi ibu sambung bagi bayi Siddhattha Gotama.

PENUNJUKKAN PARA PELAYAN BODDHISATTA

Untuk Putranya, Pangeran Siddhatta, Raja Suddhodana memilih dan menunjuk 240 pelayan perempuan yang bersih dan cantik, yang terampil dalam melakukan tugas-tugas mereka seperti menyusui, memberikan susu manis bebas dari rasa pedas, asin, dan semua rasa yang tidak enak, memandikan, mengasuh, dan merawat.

Raja juga menunjuk 60 pelayan laki-laki untuk membantu pelayan perempuan dan juga menunjuk 60 pengawas yang bertugas mengawasi tugas-tugas para pelayan laki-laki dan perempuan ini.

Dari 240 pelayan perempuan ini, 60 orang bertguas untuk menyusui Pangeran; 60 orang bertugas untuk memandikan dengan air harum dan memakaikan pakaiannya; 60 orang bertugas mengasuh, menggendong dan menepuk-nepukkan tangannya, atau memangkunya dan seterusnya; dan 60 orang lagi bergantian melakukan tugas-tugas ini jika yang lain berhalangan.

RAJA SUDDHODANA MENGADAKAN UPACARA PEMBAJAKAN SAWAH DAN BERSUJUD PADA BODDHISATTA UNTUK KEDUA KALINYA

Tibalah harinya bagi Raja Suddhodana untuk mengadakan upacara pembajakan sawah yang merupakan upacara rutin yang diadakan tiap tahun. Pada hari itu, seluruh Kota Kapilavatthu dihias sehingga menyerupai alam dewa. Semua penduduk kota termasuk para pekerja mengenakan pakaiannya yang terbaik dengan wangi-wangian dan hiasan bunga. Kemudian mereka berkumpul di lapangan istana. Di tempat di mana upacara pembajakan akan dilakukan, seribu (1.000) buah alat bajak telah disiapkan, delapan ratus (800) buah akan digunakan oleh raja dan para menterinya. Tujuh ratus sembilan puluh sembilan (799) kereta bajak yang akan dipakai oleh para menteri dihias dengan hiasan perak dilengkapi dengan mata bajak, sapi, dan tongkat kemudinya. Kereta bajak yang akan dipakai oleh raja dihias dengan hiasan merah emas.

Ketika Raja Suddhodana meninggalkan kota kerajaan dengan para menteri, penasehat, pengawal, dan para pengikut lainnya, ia membawa serta putranya, Boddhisatta, ke lapangan upacara tersebut dan meletakkannya di bawah keteduhan pohon jambu (Eugenia Jambolana) yang rindang. Tanah dibawah pohon tersebut dilapisi dengan kain beludru di mana Pangeran duduk di atasnya. Dan diatasnya dibuatkan sebuah kanopi dari beludru merah-tua dengan hiasan bintang-bintang emas dan perak, seluruh tempat itu dikelilingi oleh tirai yang tebal dan ditempatkan beberapa pengawal untuk menjaga keamanan Pangeran Siddhatta. Raja kemudian mengenakan pakaian kebesaran yang biasanya dipakai khusus untuk upacara ini dan kemudian dengan disertai oleh para menteri memasuki arena dimana upacara akan diadakan.

Boddhisatta Pangeran mencapai Anapana Jhana Pertama

Anapana Jhana I yang pertama kalinya

Anapana Jhana I yang pertama kalinya

Sementara itu, Boddhisatta setelah melihat sekeliling dan tidak melihat seorang pun, segera mengambil posisi duduk bersila dengan tenang. Kemudian Beliau mempraktikkan meditasi anapana, berkonsentrasi pada napas masuk dan keluar, dan segera mencapai rupavacara Jhana Pertama.

Para perawat yang meninggalkan tugasnya berkeliaran ke sana kemari di meja-meja dan bersenang-senang sebentar. Semua pohon-pohon kecuali pohon jambu tempat Boddhisatta duduk, memiliki bayangan alami sesuai pergerakan matahari, pada sore hari, bayangan pohon akan berada di sebelah timur. Namun, bayangan pohon jambu tempat dimana Boddhisatta duduk tidak bergerak sesuai posisi matahari, bahkan di tengah hari, aneh, bayangan pohon itu tetap seperti semula, besar dan bundar, dan tidak berpindah.

Para perawat, tiba-tiba teringat,”Oh, putra junjungan kita tertinggal dibelakang sendirian”. Mereka bergegas kembali dan masuk ke tirai, melihat dengan takjub, Boddhisatta Pangeran duduk bersila dalam kemuliaan, dan juga melihat keajaiban (patihariya) dari bayangan pohon yang tetap berada di posisi dan bentuk yang sama, tidak berpindah. Mereka berlari menuju Raja dan melaporkannya. Raja dengan tenang mendatangi Boddhisatta dan mengamati, melihat dengan mata kepala sendiri dua keajaiban tersebut, ia mengucapkan,”O, Putra Mulia, ini adalah kedua kalinya bahwa, aku, ayah-Mu, bersujud pada-Mu”, kemudian bersujud di depan anaknya dengan penuh cinta dan penuh hormat.

Sakka, Raja Dewa, Memerintahkan Dewa Visukamma untuk Membuat Danau Istana yang Indah untuk Boddhisatta

Ketika Boddhisatta Pangeran menginjak usia tujuh tahun, tumbuh, dan penuh kegembiraan di tengah-tengah kemewahan bagaikan dewa, Raja Suddhodana suatu hari bertanya kepada para penasehatnya jenis olahraga apa yang disenangi anak seumurnya. Ketika para penasehatnya menjawab bahwa Pangeran Siddhatta senang bermain-main di air, Raja Suddhodana memerintahkan para seniman pengrajin untuk memilih lahan yang tepat dan menggali sebuah danau istana yang indah.

Sakka, Raja Dewa, mengetahui melalui perenungan bahwa, mereka sedang dalam tahap memilih lahan, ia berpikir,”Tidaklah layak bagi semua Boddhisatta untuk menggunakan danau yang dibangun oleh manusia, hanya danau yang dibangun oleh dewa yang layak baginya.”

Sakka lalu memanggil Dewa Visukamma dan menugaskannya untuk menggali danau itu, ia berkata,”Pergilah sekarang, ke alam manusia, O Dewa, dan buatkan sebuah danau yang layak untuk Boddhisatta bermain-main”. Atas pertanyaan,”Danau seperti apa yang harus kubuat?” Sakka menjawab,”Danau yang engkau buat harus bebas dari lumpur dan kotoran, dasarnya harus dilapisi dengan batu delima, mutiara dan koral, harus dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari tujuh jenis batu-batu berharga, tangga yang menuju danau harus terbuat dari papan emas, perak, dan batu delima, pegangan tangan harus terbuat dari batu delima, dan jerujinya yang menyangga pegangan tangan harus dilapisi oleh koral. Di tengah-tengah danau itu, untuk Boddhisatta bermain melempar air, buatkan sebuah perahu emas y ang lengkap dengan kursi perak, perahu perak dengan kursi emas, perahu batu delima dengan kursi koral, dan perahu koral dengan kursi batu delima. Juga harus dilengkapi dengan mangkuk emas, mangkuk perak, mangkuk batu delima, dan mangkuk koral untuk melempar air. Danau tersebut harus indah dipenuhi dengan lima jenis bunga teratai.”

Dewa Visukamma, setelah menyanggupi, turun ke alam manusia malam itu juga, dan membuat sebuah danau, lengkap dengan rincian yang diperintahkan oleh Sakka, di tanah yang telah dipilih oleh Raja Suddhodana.

Keesokan paginya, ribuan penduduk melihat danau yang menakjubkan tersebut, mereka berseru gembira,”Danau ini pasti telah diciptakan oleh Sakka dan dewa-dewa untuk Pangeran yang mulia!” dan dengan penuh kegembiraan mereka melaporkan hal tersebut pada Raja Suddhodana.

Raja Suddhodana disertai oleh banyak pengikut pergi melihat danau tersebut, ketika melihat keindahan dan kemegahan danau itu, ia berseru gembira,”Danau ini pasti ciptaan para Dewa karena kekuasaan dan keagungan anakku!”

Setelah itu, Boddhisatta Pangeran bermain-main di air danau yang merupakan kebutuhan dan kenikmatan surgawi.

Raja Suddhodana membangun Tiga Istana untuk Kesenangan Boddhisatta

Ketika menginjak usia 16 tahun, Raja Suddhodana berpikir, “Sekarang waktunya untuk membangun istana untuk putraku”. Kemudian ia memerintahkan agar para arsitek, tukang kayu, tukang batu, pemahat, dan pelukis yang ahli dipanggil ke istana untuk diberi instruksi. Ia kemudian memberikan perintah untuk membangun tiga istana yang diberi nama Istana Emas Ramma, Istana Emas Suramma, dan Istana Emas Subha, yang dirancang khusus sesuai kondisi tiga musim ; dingin, panas, dan hujan.

MENYELAMATKAN BURUNG BELIBIS

Cinta-Kasih Boddhisatta ;  Selamatkan Belibis yang terluka

Cinta-Kasih Boddhisatta ; Selamatkan Belibis yang terluka

Suatu kali Pangeran Siddhattha berjalan-jalan di taman dengan Devadatta, saudara sepupunya. Devadatta yang membawa busur dan anak panah melihat serombongan burun belibis terbang. Devadatta membidikkan anak-panahnya. Seekor belibis terkena dan terjatuh ke tanah. Pangeran Siddhatta bergebas menghampiri belibis yang terluka itu. Dengan penuh kasih-sayang diobatinya luka pada sayap belibis dengan daun-daun yang diremas.

Devadatta meminta belibis itu. Pangeran Siddhattha tidak mau memberikannya. Menurut Pangeran Siddhattha, bila belibis itu mati maka ia menjadi milik Devadatta. Tetapi karena belibis itu masih hidup maka ia menjadi milik dari orang yang menyelamatkan hidupnya. Akhirnya keduanya pergi ke Dewan Para Bijaksana untuk mendapat keputusan.

Dewan memutuskan bahwa hidup adalah milik dari orang yang mencoba menyelamatkannya dan bukan milik yang mencoba menghancurkannya. Dengan demikian maka belibis itu adalah milik Pangeran Siddhattha yang menyelamatkan hidupnya. Setelah sembuh belibis itu dilepas kembali oleh Pangeran Siddhattha. Demikianlah kasih sayang Pangeran Siddhattha terhadap sesama makhluk hidup.

PERTUNJUKAN MEMANAH

Setelah sang ayah, Raja Suddhodana, membangun tiga istana untuk anaknya yang demikian indah dan megahnya, yang belum pernah dinikmati oleh raja-raja sebelumnya, ia berpikir,”Anakku telah berumur enam belas tahun, setelah menganugerahkan mahkota kerajaan dengan membuka payung putih, aku akan menyaksikannya menikmati kemewahan dan kemuliaan sebagai Raja”.

Kemudian ia memerintahkan untuk mengirim pesan kepada 80.000 sanak-saudaranya, keluarga Sakya, ”Para Pengeran Sakya, Putraku telah berumur enam belas tahun sekarang. Aku akan menjadikannya Raja. Semua Pangeran Sakya harap membawa putrinya, yang telah cukup umur, ke istanaku”.

Ketika para Pangeran Sakya menerima pesan dari Raja Suddhodana, mereka menolak permintaannya, menjawab dengan nada menghina, “Pangeran Siddhattha kurang berpendidikan, meskipun ia memiliki penampilan yang menarik. Tidak memiliki ketrampilan dalam menjalani kehidupan, ia tidak akan mampu menjalani kewajibannya sebagai kepala keluarga. Jadi kami tidak dapat mengabulkan permintaan Raja Suddhodana untuk menyerahkan putri kami”.

Menerima jawaban dari para Pangeran Sakya – ayah dari para putri – Raja Suddhodana mendatangi Boddhisatta Pangeran dan menjelaskan masalah ini. Kemudian Boddhisatta berkata,”Ayahku, Aku tidak harus mempelajari apapun. Ketrampilan apa yang engkau mau Kuperlihatkan ? “ Raja Suddhodana menjawab, “Anakku, Engkau harus memperlihatkan kepada para sanak saudara ketrampilan memanah dengan busur yang hanya dapat ditarik dengan kekuatan seribu pala.” Pangeran kemudian berkata,”Kalau begitu, Ayah, umumkan dengan tabuhan genderang di seluruh kerajaan bahwa 7 hari lagi, Aku akan mengadakan pertunjukan memanah”. Kemudian Raja Suddhodana mengumumkan ke seluruh kerajaan Kapilavatthu diiringi tabuhan genderang.

Setelah membuat pengumuman yang diiringi oleh tabuhan genderang, persiapan dilakukan untuk mempersiapkan arena bagi Boddhisatta Pangeran memperlihatkan ketrampilan memanahnya juga membangun panggung-panggung penonton bagi para menteri, para putri, pengikut, para pelayan, prajurit, dan kerabat lainnya. Pada hari ketujuh, setelah semua persiapan selesai dilakukan, raja dan para menterinya, para jenderal dan tamu-tamu semua duduk di tempat yang telah disediakan ; Boddhisatta telah mengambil tempat duduk di singgasana bertatahkan permata di tengah-tengah arena, mengambil busur yang diserahkan oleh para pelayan kerajaan. ( Busur yang memerlukan tenaga seribu atau dua ribu unit berat pala untuk menariknya ).

Duduk bersila di atas singgasana, Pangeran memegang busur dengan tangan kirinya, memelintir tali busur di jari-Nya hingga talinya menegang; kemudian Ia memetik-metik tali busur itu dengan tangan kanan-Nya untuk menyesuaikan. Suara getaran yang ditimbulkan oleh tali busur tersebut begitu kerasnya hingga gemanya terdengar di seluruh wilayah kerajaan Kapilavatthu seolah-olah terbang di angkasa.

Beberapa orang bertanya-tanya, “Suara apakah itu?” dan dijawab oleh yang lainnya, “Itu adalah suara petir yang menggelegar”. Yang lain lagi berkata,”Oh, tidak tahukah engkau; itu bukan suara petir; itu adalah suara yang dihasilkan ketika Pangeran Sakya Siddhattha, yang dengan anggun dan penuh keagungan, menarik busur yang memerlukan seribu orang ( atau dua ribu unit berat pala ), untuk menariknya dan memetik tali busurnya”.

Seluruh delapan puluh ribu Pangeran Sakya dan kerabat istana merasa gembira menyaksikan pertunjukkan yang luar biasa dari Boddhisatta yang memetik dan menyesuaikan tali busur.

Setelah itu, Pangeran Siddhatta mempertunjukkan berbagai variasi keahlian memanah yang membuat para penonton berdecak kagum.

Demikianlah, Boddhisatta Pangeran memperlihatkan keahliannya dalam memanah untuk menaklukkan rasa tidak percaya, penghinaan, fitnahan, dan celaan atas dirinya oleh para kerabat kerajaan – sebuah prestasi yang di atas rata-rata, sangat menakjubkan, dan jarang terlihat. Setelah peristiwa itu, semua kerabat kerajaan, yang keraguannya telah lenyap dengan bergembira berseru,”Belum pernah dalam dinasti Sakya menyaksikan sebuah keahlian seperti yang kita saksikan sekarang”, menghujani Boddhisatta dengan puji-pujian.

Kecantikan Ratu Yasodhara

Di antara empat-puluh ribu (40.000) Putri Sakya, yang paling terkemuka adalah Putri Yasodhara yang memiliki nama gadis Bhaddakaccana.

Yasodhara Dewi, seperti telah dijelaskan sebelumnya, adalah salah satu pendamping kelahiran Boddhisatta. Ia terlahir dari salah satu raja Sakya bernama Suppabuddha, putra dari kakek Boddhisatta, Raja Anjana dari kerajaan Devadaha, Ibu Putri Yasodhara adalah Putri Amitta, yang adalah saudara perempuan Raja Suddhodana. Putri diberi nama Yasodhara karena memiliki reputasi baik dan pengikut yang banyak ( Yaso = banyak pengikut dan ber-reputasi baik; dhara = pembawa; demikianlah putri adalah ia yang memiliki banyak pengikut dan ber-reputasi baik ).

Ia cantik dan berkulit emas bagaikan patung yang dibalut dengan emas murni atau seolah-olah daging dan tubunya terbuat dari emas murni. Dengan tubuh yang proporsional dan tanpa cacat,ia memancarkan pesona, ia tidak tertandingi dalam hal kecantikan dan tingkah laku bagaikan bendera kemenangan yang dinaikkan di jalan-jalan raya di taman bermain Kilamandala milik Raja Mara bernama Manobhu.

Upacara Pelantikan

Delapan puluh ribu kerabat kerajaan yang dipimpin oleh raja Suddhodana, ayah Boddhisatta, berkumpul di ruang pertemuan yang besar dan megah untuk merayakan penobatan Boddhisatta Pangeran Siddhatta yang dilengkapi dengan dinaikkannya payung putih kerajaan di atas kepalanya, pancuran air dingin (abhiseka) dan secara resmi naik tahta.

Dari empat puluh ribu putri yang diserahkan oleh para kerabat Sakya, 10.000 putri ditugaskan untuk melayani Yasodhara Dewi. 30.000 sisanya ditugaskan sebagai pelayan di tiga istana, masing-masing 10.000.

MELIHAT EMPAT PERTANDA

Berkunjung ke Taman Kerajaan

Melihat Empat Pertanda

Melihat Empat Pertanda

Demikianlah, Boddhisatta Pangeran Siddhatta menjadi raja di Kapilavatthu pada usia 16 tahun; ketika Beliau menginjak usia 29 tahun, setelah menikmati kehidupan mewah sebagai raja dunia, dilayani oleh 40.000 putri yang dipimpin oleh istrinya, Ratu Yasodhara, suatu hari muncul keinginannya mengunjungi taman istana. Demikian Beliau memerintahkan kusirnya,” Kusir, siapkan kereta, Aku akan berkunjung ke taman kerajaan”.

“Baiklah”, jawab si kusir segera menyiapkan kereta yang mewah untuk pribadi mulia. Kereta itu ditarik oleh empat ekor kuda berdarah murni berwarna putih bersih bagaikan bulan purnama atau bunga teratai kumuda, dan kecepatannya bagaikan burung garuda, raja segala burung. Ketika diberitahu oleh si kusir bahwa kereta sudah siap, Boddhisatta Pangeran naik ke atas kereta yang indah bagaikan istana surga dan pergi menuju taman kerajaan dalam sebuah arak-arakan besar.

(1) Melihat Pertanda Orang Tua

Ketika Bodhisatta Pangeran sedang berada dalam perjalanan menuju taman kerajaan, para dewa berunding, “Waktunya bagi Pangeran Siddhattha untuk menjadi Buddha semakin dekat. Mari kita memperlihatkan pertanda kepadanya yang akan membuatnya melepaskan keduniawian dan menjadi petapa.” Mereka menyuruh salah satu dewa menyamar sebagai orang tua, berambut putih, tidak bergigi, punggung yang bungkuk, berjalan gemetaran menggunakan tongkat. Pertanda orang tua ini yang adalah penjelmaan dewa tidak dapat dilihat orang lain selain Bodhisatta dan kusirnya.

Saat melihat orang tua, Bodhisatta Pangeran bertanya kepada kusir, “O kusir, rambut orang itu tidak seperti orang lain, rambutnya semua putih. Badannya juga tidak seperti badan orang lain; giginya tidak ada; hanya ada sedikit daging (di tubuhnya); punggungnya bungkuk ia gemetaran. Disebut apakah orang itu?” Si kusir menjawab, “Yang Mulia, orang seperti itu disebut orang tua.”

Sang Bodhisatta Pangeran yang belum pernah mendengar kata ‘orang tua’ apalagi melihatnya, bertanya lagi kepada si kusir, “O kusir, belum pernah aku melihat yang seperti ini, yang rambutnya putih, tidak bergigi, begitu kurus dan gemetaran dengan punggung bungkuk. Apakah artinya orang tua?” Si Kusir menjawab, “Yang Mulia, orang yang tidak hidup lama lagi disebut orang tua (orang tua adalah orang yang memiliki waktu hidup yang pendek).”

Sang Bodhisatta kemudian bertanya, “O kusir, bagaimana itu? Apakah Aku juga akan menjadi orang tua? Apakah Aku tidak dapat mengatasi usia tua?” Si kusir menjawab, “Yang Mulia, semua kita, termasuk Anda, juga saya, akan mengalami usia tua; tidak seorang pun yang dapat mengatasi usia tua.” Bodhisatta Pangeran berkata, “O kusir, jika semua manusia, semua dari mereka tidak dapat mengatasi usia tua, Aku, yang akan mengalami usia tua, tidak ingin lagi pergi ke taman kerajaan dan bersenang-senang di sana. Berbaliklah dari tempat di mana orang tua tadi terlihat dan pulang ke istana.”

“Baiklah Yang Mulia,” jawab si kusir yang segera berputar di tempat di mana orang tua tadi terlihat dan kembali ke istana emas.

Samvega Bodhisatta

Adalah sifat seekor singa, jika ditembak dengan anak panah, tidak berusaha mencabut anak panah yang menjadi penyebab penderitaannya, tetapi mencari musuhnya, si pemburu yang telah memanahnya dan yang menjadi penyebab utama dari anak panah tersebut. Dari dua fenomena ini, sebab dan akibat, para Buddha juga tidak mencari cara untuk menghilangkan akibat yang seperti anak panah tersebut, melainkan mereka mencari dengan kebijaksanaannya penyebab yang menjadi musuh seperti pemburu yang menembakkan anak panah tersebut. Oleh karena itu, para Buddha seperti singa. Si kusir hanya menjelaskan sifat duniawi dari usia tua (jarà) sejauh yang ia pahami, tetapi Bodhisatta Pangeran yang berkeinginan untuk menjadi Buddha mengetahui dengan jelas melalui perenungan bahwa kelahiran (jàti) adalah penyebab utama dari proses ketuaan (jarà). Setelah kembali ke istana emas, Bodhisatta Pangeran merenungkan dengan saÿvega penembusan, “Oh, kelahiran adalah benar-benar menjijikkan. Siapa saja yang mengalami kelahiran, pasti mengalami ketuaan.” Setelah merenungkan demikian, Beliau menjadi bersedih dan murung, muram, dan patah hati.

Raja Suddhodana memperkuat penjagaan

Raja Suddhodana memanggil Si kusir dan bertanya, “O kusir, mengapa anakku tergesa-gesa kembali sebelum sampai di taman?” Si Kusir menjawab, “Yang Mulia, anak Anda telah melihat orang tua, sehingga Beliau tergesa-gesa pulang.” Raja Suddhodana berpikir, “Anakku akan menjadi raja negeri ini. Beliau tidak boleh melepaskan keduniawian dan menjadi petapa. Ramalan para brahmana yang mengatakan bahwa Beliau akan melepaskan keduniawian dan menjadi petapa harus terbukti salah. O kusir, mengapa engkau mengacaukan rencanaku? Secepatnya atur lebih banyak pengawal istana dari sebelumnya; kemudian sediakan lebih banyak pelayan perempuan dan penari-penari perempuan mengelilingi anakku, selagi menikmati lima kenikmatan indria, Beliau tidak akan memikirkan untuk menjadi petapa lagi.”

Setelah berkata demikian, beliau memerintahkan untuk menambah jumlah pengawal di sekeliling istana dalam jarak setengah yojanà (dua gàvuta) di empat penjuru.

(2) Melihat Pertanda Orang Sakit

Penari2 yang disediakan Raja Suddhodana berusaha keras menyenangkan Pangeran Siddhattha

Penari2 yang disediakan Raja Suddhodana berusaha keras menyenangkan Pangeran Siddhattha

Tertipu dan tertarik oleh lima kenikmatan indria yang diatur oleh ayah-Nya, Raja Suddhodana, untuk menghalang-halanginya melepaskan keduniawian dan menjadi petapa, Pangeran Siddhattha menghabiskan waktunya menikmati kenikmatan dan kemewahan istana; desakan perasaan religius-Nya, yang dipicu oleh kebencian terhadap kelahiran dan usia tua, perlahan-lahan menghilang.

Setelah empat bulan berlalu dalam kemewahan hidup, Bodhisatta Pangeran pergi lagi mengunjungi taman kerajaan dengan mengendarai kereta yang ditarik oleh kuda berdarah murni seperti sebelumnya. Dalam perjalanan itu, Pangeran melihat pertanda yang diciptakan oleh para dewa untuk kedua kalinya; orang itu sangat kesakitan diserang penyakit, dan hanya dapat duduk dan berbaring jika dibantu oleh orang lain; ia berbaring lemah di tempat tidurnya dengan ditutupi oleh kotorannya sendiri.

Sang Pangeran bertanya kepada kusirnya,O kusir, mata orang itu tidak seperti mata orang lain; terlihat lemah dan goyah. Suaranya juga tidak seperti orang lain; ia terus-menerus menangis melengking. Tubuhnya juga tidak seperti tubuh orang lain. Terlihat seperti kelelahan. Disebut apakah orang seperti itu?” Si kusir menjawab, “Yang Mulia, orang seperti itu disebut ‘orang sakit.’”

Sang Bodhisatta yang belum pernah melihat orang sakit sebelumnya, bahkan mendengar kata ‘orang sakit’ saja belum pernah bertanya lagi kepada kusirnya, “O kusir, Aku belum pernah melihat orang seperti itu, yang duduk dan berbaring harus dibantu oleh orang lain, yang tidur ditumpukan kotorannya sendiri dan terus-menerus menjerit. Apakah orang sakit itu? Jelaskanlah kepada-Ku.” Si Kusir menjawab, “Yang Mulia, orang sakit adalah orang yang tidak mengetahui apakah ia akan sembuh atau tidak dari penyakit yang dideritanya saat ini.”

Sang Bodhisatta bertanya lagi, “O kusir, bagaimana ini? Apakah Aku juga bisa sakit? Apakah Aku tidak dapat mengatasi penyakit?” Si kusir menjawab, “Yang Mulia, kita semua, termasuk Anda, juga saya, akan menderita sakit; tidak seorang pun yang dapat mengatasi penyakit.” Bodhisatta berkata, “O kusir, jika semua manusia, semua dari mereka tidak dapat mengatasi penyakit, Aku, yang akan menderita sakit, tidak ingin lagi pergi ke taman kerajaan dan bersenang-senang di sana. Berbaliklah dari tempat di mana orang sakit tadi terlihat dan pulang ke istana.”

“Baiklah Yang Mulia,” jawab si kusir yang segera berputar di tempat di mana orang sakit tadi terlihat dan kembali ke istana emas.

Samvega Bodhisatta

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, meskipun si kusir sekadar menjawab sakitnya yang tidak tertahankan sebagai sifat duniawi suatu penyakit (vyàdhi), sejauh yang ia pahami, Bodhisatta yang berkeinginan menjadi Buddha, mengetahui dengan jelas melalui perenungan bahwa kelahiran adalah penyebab utama bagi penyakit, dan usia tua yang telah dijelaskan sebelumnya. Kembali ke istana emas, Bodhisatta merenungkan dengan saÿvega penembusan, “Oh, kelahiran adalah benar-benar menjijikkan. Siapa saja yang mengalami kelahiran, pasti mengalami ketuaan, pasti mengalami sakit.” Setelah merenungkan demikian, Beliau menjadi bersedih dan murung, muram, dan patah hati.

Raja Suddhodana memperkuat penjagaan

Raja Suddhodana memanggil Si kusir dan bertanya, “O kusir, mengapa anakku tergesa-gesa kembali sebelum sampai di taman?” Si kusir menjawab, “Yang Mulia, anak Anda tergesa-gesa pulang, karena Beliau telah melihat orang sakit.” Raja Suddhodana berpikir sama seperti sebelumnya, dan kemudian memerintahkan untuk memperkuat penjagaan dan menambah jumlah pengawal yang ditempatkan dalam jarak tiga gàvuta di empat penjuru; ia juga menambah jumlah pelayan istana dan gadis-gadis penari.

(3) Melihat Pertanda Orang Mati

Tertipu dan tertarik oleh lima kenikmatan indria yang diatur oleh ayah-Nya, Raja Suddhodana, untuk menghalang-halanginya melepaskan keduniawian dan menjadi petapa, Pangeran Siddhattha menghabiskan waktunya menikmati kenikmatan dan kemewahan istana; desakan perasaan religius-Nya, yang dipicu oleh kebencian terhadap kelahiran, usia tua, dan penyakit, perlahan-lahan menghilang.

Setelah empat bulan berlalu dalam kemewahan hidup, Bodhisatta Pangeran pergi lagi mengunjungi taman kerajaan dengan mengendarai kereta yang ditarik oleh kuda berdarah murni seperti sebelumnya. Dalam perjalanan itu, Pangeran melihat pertanda yang diciptakan oleh para dewa untuk ketiga kalinya, yaitu, banyak orang berkumpul dan ada tandu jenazah yang berhiaskan kain berwarna-warni yang untuk ketiga kalinya diciptakan oleh para dewa; Pangeran bertanya kepada kusirnya, “Kusir, mengapa orang-orang ini berkumpul? Mengapa mereka mempersiapkan tandu yang dihias kain berwarna-warni?” Si kusir menjawab, “Yang Mulia, orang-orang itu berkumpul dan mempersiapkan sebuah tandu karena ada seseorang yang mati.”

(Ia belum pernah melihat tandu jenazah sebelumnya; hanya pernah melihat tandu biasa. Oleh karena itu ia bertanya, “Mengapa orang-orang ini berkumpul dan mempersiapkan tandu?”)

bahkan mendengar kata ‘orang mati’ saja belum pernah bertanya lagi kepada kusirnya, “O kusir, jika mereka berkumpul dan mempersiapkan sebuah tandu, antarkan Aku ke tempat orang mati itu.” Si kusir menjawab, “Baiklah, Yang Mulia,” dan mengarahkan keretanya menuju tempat orang mati itu berbaring. Ketika Bodhisatta melihat orang mati itu, ia bertanya, “O kusir, apakah orang mati itu?” Si kusir menjawab, “Yang Mulia, jika seseorang mati, sanak saudaranya tidak akan dapat bertemu dengannya lagi, dan ia juga tidak dapat bertemu dengan sanak saudaranya juga.”

Sang Bodhisatta bertanya lagi, “O kusir, bagaimana ini? Apakah Aku juga bisa mati seperti orang itu? Apakah Aku tidak dapat mengatasi kematian? Apakah ayah-Ku, ibu-Ku, dan sanak saudara-Ku tidak dapat bertemu dengan-Ku lagi suatu hari nanti? Apakah Aku juga tidak akan bisa bertemu dengan mereka lagi suatu hari nanti?” Si kusir menjwab, “Yang Mulia, kita semua, termasuk Anda, juga saya pasti mengalami kematian; tidak seorang pun yang dapat mengatasi kematian.” Bodhisatta berkata, “O kusir, jika semua manusia, semua dari mereka tidak dapat mengatasi kematian, Aku, yang akan mengalami kematian, tidak ingin lagi pergi ke taman kerajaan dan bersenang-senang di sana. Berbaliklah dari tempat di mana orang mati tadi terlihat dan pulang ke istana.”

“Baiklah Yang Mulia,” jawab si kusir yang segera berputar di tempat di mana orang mati tadi terlihat dan kembali ke istana emas.

Samvega Bodhisatta

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, meskipun si kusir sekadar menjawab sifat-sifat duniawi dari kematian (marana) sejauh yang ia pahami tentang orang yang mengalami kematian, sanak saudara yang ditinggalkan tidak akan dapat bertemu dengannya lagi; juga si orang mati juga tidak dapat bertemu dengan sanak saudaranya lagi; Bodhisatta yang berkeinginan menjadi Buddha, mengetahui dengan jelas melalui perenungan bahwa kelahiran adalah penyebab utama bagi tiga fenomena: kematian, penyakit, dan usia tua yang telah dijelaskan sebelumnya. Kembali ke istana emas, Bodhisatta merenungkan dengan samvega penembusan, “Oh, kelahiran adalah benar-benar menjijikkan. Siapa saja yang mengalami kelahiran, pasti mengalami ketuaan, pasti mengalami sakit, pasti mengalami kematian.” Setelah merenungkan demikian, Beliau menjadi bersedih dan murung, muram, dan patah hati.

Raja Suddhodana memperkuat penjagaan

Raja Suddhodana memanggil si kusir dan bertanya seperti sebelumnya, si kusir menjawab, “Yang Mulia, anakmu tergesa-gesa pulang, karena Beliau telah melihat orang mati.” Raja Suddhodana berpikir sama seperti sebelumnya, dan kemudian memerintahkan untuk memperkuat penjagaan dan menambah jumlah pengawal yang ditempatkan dalam jarak satu yojanà di empat penjuru; ia juga menambah jumlah pelayan istana dan gadis-gadis penari.

(4) Melihat Pertanda Seorang Petapa

Tertipu dan tertarik oleh lima kenikmatan indria yang diatur oleh ayah-Nya, Raja Suddhodana, untuk menghalang-halanginya melepaskan keduniawian dan menjadi petapa, Pangeran Siddhattha menghabiskan waktunya menikmati kenikmatan dan kemewahan istana; desakan perasaan religiusnya, yang dipicu oleh kebencian terhadap kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian, perlahan-lahan menghilang.

Setelah empat bulan berlalu dalam kemewahan hidup, Bodhisatta Pangeran pergi lagi mengunjungi taman kerajaan dengan mengendarai kereta yang ditarik oleh kuda berdarah murni seperti sebelumnya. Dalam perjalanan itu, Pangeran melihat pertanda yang diciptakan oleh para dewa untuk keempat kalinya, seorang petapa dengan kepala gundul dan janggut dicukur, mengenakan jubah berwarna kulit kayu; O kusir,” Pangeran berkata, “Kepala orang ini tidak seperti kepala orang-orang lain; kepalanya dicukur bersih dan janggutnya juga tidak ada. Pakaiannya juga tidak seperti pakaian orang-orang lain, berwarna seperti kulit kayu. Disebut apakah orang seperti itu?” Si kusir menjawab, “Yang Mulia, ia adalah petapa.”

Sang Bodhisatta bertanya lagi, “O kusir, apakah ‘petapa’ itu? Jelaskanlah kepadaku.” Si kusir menjawab, “Yang Mulia, petapa adalah seseorang yang, berpendapat bahwa lebih baik melatih sepuluh kebajikan (kusalakammapatha), yang dimulai dari kedermawanan (dàna), telah melepaskan keduniawian dan mengenakan jubah berwarna kulit kayu; ia adalah seorang yang berpendapat bahwa lebih baik melatih sepuluh perbuatan-perbuatan baik yang sesuai kebenaran, yang bebas dari noda, yang suci dan murni, telah melepaskan keduniawian dan mengenakan jubah berwarna kulit kayu; ia adalah seorang yang berpendapat bahwa lebih baik tidak melakukan perbuatan yang dapat menyakiti makhluk lain, berusaha untuk menyejahterakan makhluk lain, telah melepaskan keduniawian dan mengenakan jubah berwarna kulit kayu.”

(Di sini, meskipun si kusir tidak memiliki pengetahuan mengenai pertapaan atau kebajikan-kebajikan karena saat itu belum muncul seorang Buddha dan ajarannya, ia mengatakan hal itu karena kekuasaan para dewa, bahwa orang itu adalah petapa, dan menjelaskan kebajikan-kebajikan seorang petapa. Penjelasan ini dikutip dari Komentar Buddhavaÿsa dan Subkomentar Jinàla¤kàra).

(Para Bodhisatta lain yang memiliki umur kehidupan yang lebih panjang, melihat empat pertanda ini dengan waktu yang berselang beberapa ratus tahun antara satu dengan yang lainnya. Namun, dalam hal Bodhisatta kita, yang umur kehidupannya jauh lebih pendek, empat pertanda ini muncul dalam selang waktu yang lebih pendek, hanya empat bulan. Menurut pelafal Dãgha Nikàya, bahkan disebutkan bahwa Bodhisatta melihat empat pertanda ini seluruhnya dalam waktu satu hari. Komentar Buddhavamsa).

Setelah itu, Bodhisatta berkata kepada kusir, “Orang ini benar-benar mengagumkan dan mulia karena telah melepaskan keduniawian, berpendapat bahwa lebih baik mempraktikkan sepuluh perbuatan-perbuatan baik yang sesuai dengan kebenaran, yang bebas dari noda, yang suci dan murni. Orang ini benar-benar mengagumkan dan mulia karena telah melepaskan keduniawian, berpendapat bahwa lebih baik tidak melakukan perbuatan yang dapat menyakiti makhluk lain, berusaha untuk menyejahterakan makhluk lain. Karena ia benar-benar mengagumkan dan mulia, kusir, antarkan Aku ke tempat petapa tadi.” Si kusir menjawab, “Baiklah, Yang Mulia.”

Si kusir membawa keretanya menuju si petapa. Sesampainya di sana, Bodhisatta bertanya kepada si petapa, jelmaan dewa, “O Sahabat, apa yang sedang engkau lakukan? Kepalamu tidak sama dengan kepala orang-orang lain; pakaianmu juga tidak sama dengan pakaian orang-orang lain.” Si petapa menjawab, “Yang Mulia, aku dikenal sebagai petapa.” Bodhisatta bertanya lagi, “Apakah yang engkau maksudkan dengan petapa?” Si petapa, jelmaan dewa melalui kekuatan batin (Iddhipada), menjawab, “Yang Mulia, aku adalah orang yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga, mencukur rambut dan janggutku dan mengenakan jubah berwarna kulit kayu, dan berpendapat, lebih baik mempraktikkan sepuluh kebajikan yang dimulai dari kedermawanan, yang juga dikenal dalam empat julukan. Dhamma berarti kebenaran, Sama berarti sesuai dengan kebenaran, Kusala berarti tidak ternoda dan Pu¤¤a berarti suci dan murni baik sebab maupun akibatnya; dan juga berpendapat bahwa lebih baik tidak melakukan perbuatan yang dapat menyakiti makhluk lain dan berusaha untuk menyejahterakan makhluk lain.”

Bodhisatta Pangeran menyatakan persetujuannya, “Engkau benar-benar mengagumkan dan mulia. Engkau telah meninggalkan kehidupan rumah tangga, mencukur rambut dan janggutmu, dan mengenakan jubah berwarna kulit kayu, dan berpendapat bahwa lebih baik mempraktikkan sepuluh perbuatan-perbuatan baik yang memiliki julukan istimewa Dhamma, Sama, Kusala, dan Pu¤¤a dan juga berpendapat bahwa lebih baik tidak melakukan perbuatan yang dapat menyakiti makhluk lain, berusaha untuk menyejahterakan makhluk lain”.


Hari Bodhisatta Melepaskan Keduniawian

Sebelum Beliau melepaskan keduniawian dengan meninggalkan kehidupan rumah tangga, Bodhisatta melakukan empat kali kunjungan ke taman kerajaan. Dalam kunjungannya ke taman kerajaan dengan mengendarai kereta yang ditarik oleh kuda berdarah murni pada hari purnama di bulan âsàëha (Juni-Juli) di tahun 96 Mahà Era, Beliau melihat pertanda pertama, seorang tua. Melihat pertanda ini, Beliau menyingkirkan kesombongan yang ditimbulkan oleh kebahagiaan usia muda (yobbana manna).

Kemudian, ketika Bodhisatta berkunjung lagi ke taman kerajaan seperti sebelumnya pada hari purnama di bulan Kattikà (Oktober-November). Dalam perjalanan itu Beliau melihat pertanda kedua, orang sakit, melihat pertanda ini, Beliau menyingkirkan kesombongan yang ditimbulkan oleh kebahagiaan karena memperoleh kesehatan (àrogya màna).

Kemudian, ketika Bodhisatta berkunjung lagi ke taman kerajaan seperti sebelumnya pada hari purnama di bulan Phagguna (Februari-Maret). Dalam perjalanan itu Beliau melihat pertanda ketiga, orang mati, melihat pertanda ini, Beliau menyingkirkan kesombongan yang ditimbulkan oleh kebahagiaan karena memperoleh kehidupan (jivita màna).

Kemudian lagi, pada hari purnama di bulan Âsàlha, tahun 67 Mahà Era, Bodhisatta mengunjungi taman kerajaan lagi. Dalam perjalanan itu Beliau melihat pertanda keempat, seorang petapa. Pemandangan ini menyadarkan-Nya akan hidup bertapa, dan bertekad, “Aku akan menjadi petapa hari ini juga,” Beliau melanjutkan perjalanan-Nya menuju taman kerajaan pada hari itu.

(Dari empat pertanda yang telah dijelaskan, tiga yang pertama disebut samvega nimitta, yang memunculkan desakan perasaan religius. Karena, jika kelahiran terjadi, pasti terjadi ketuaan, sakit,  dan kematian. Karena munculnya kelahiran, muncul pula usia tua, sakit, dan kematian. Tidak mungkin lari dari usia tua, sakit, dan kematian bagi mereka yang terlahir. Bagi mereka yang melihat fenomena ini sebagai sesuatu yang bahaya yang menakutkan, kejam, dan mengerikan, mereka akan memunculkan penyebab bagi munculnya rasa takut dan peringatan dalam diri mereka. Pertanda terakhir, seorang petapa, adalah perwujudan yang bertujuan untuk mendorong praktik Dhamma, sebagai jalan untuk terhindar dari bahaya-bahaya yang disebutkan sebelumnya, yaitu: usia tua, sakit, dan kematian. Oleh karena itu disebut padhana nimitta, pertanda yang memunculkan usaha )


Kelahiran Rahula, Seorang Putra

Pelayan memberitahu Pangeran Siddhatta bahwa Putri Yasodhara melahirkan seorang putra

Pelayan memberitahu Pangeran Siddhatta bahwa Putri Yasodhara melahirkan seorang putra

Pada waktu itu, Raja Suddhodana, ayah-Nya menerima informasi bahwa permaisuri Bodhisatta, Yasodharà telah melahirkan seorang putra. Jadi, ia mengirim kurir untuk menyampaikan pesan kepada Bodhisatta, dengan penuh kegembiraan, “Pergilah sampaikan berita gembira ini kepada putraku.” Ketika Bodhisatta Pangeran mendengar berita ini, bahwa seorang putra telah lahir, Beliau berkata, dengan perasaan religius yang mendalam, “Asura Ràhu yang akan merampas kebebasan dan menawan-Ku telah lahir; ia yang akan memperbudak-Ku telah lahir!”

Ketika ditanya oleh Raja Suddhodana, “Apa yang dikatakan oleh putraku?” Si kurir mengatakan apa yang dikatakan oleh Bodhisatta Pangeran, dan oleh karena itu, Raja Suddhodana memberi nama dan gelar bagi cucunya, “Sejak saat ini, cucuku dikenal dengan nama Pangeran Ràhula.”

Seruan Gembira Kissà Gotami, Seorang Putri Sakya

Sang Bodhisatta memasuki kota raja Kapilavatthu, mengendarai kereta diiringi oleh banyak pengikut dengan keagungan seorang raja. Saat memasuki kota raja, seorang putri Sakya bernama Kisà Gotami yang memiliki kecantikan dan daya tarik, yang bukan berasal dari keturunan yang rendah namun dari silsilah keluarga yang tinggi, menyaksikan fisik (rupakàya) Bodhisatta Pangeran dari teras istananya, dan merasa berbahagia, dan mengungkapkan perasaan gembiranya sebagai berikut:

Nibbutà nåna sà màta

Nibbutà nåna so pità

Nibbutà nåna sà nàri

Yassà’yaÿ idiso pati

Kedamaian dan kebahagiaan bagi batin seorang ibu yang telah melahirkan putra seperti itu yang memiliki keagungan bagaikan matahari terbit, putra luar biasa dari keturunan mulia, sangat tampan, gagah, cerdas. Merenungkan dengan saksama dua sifat dan ketampanan dari putranya, kegembiraannya setiap hari, akan membawa kedamaian bagi batinnya.

Kedamaian dan kebahagiaan bagi batin seorang ayah yang telah membesarkan putra seperti itu yang memiliki keagungan bagaikan matahari terbit, putra luar biasa dari keturunan mulia, sangat tampan, gagah, cerdas. Merenungkan dengan saksama dua sifat dan ketampanan dari putranya, kegembiraannya setiap hari, akan membawa kedamaian bagi batinnya.

Kedamaian dan kebahagiaan bagi batin seorang perempuan yang beruntung dapat menjadi istri dari suami seperti itu yang memiliki keagungan bagaikan matahari terbit, suami luar biasa dari keturunan mulia, sangat tampan, jantan, gagah, cerdas. Merenungkan dengan saksama dua sifat dan ketampanan dari suaminya, kegembiraannya setiap hari, akan membawa kedamaian bagi batinnya.

Mendengar ungkapan kegembiraan dari putri Sakya, Kisà Gotami, Bodhisatta Pangeran merenungkan, “Saudara sepupu-Ku, putri Sakya, Kisà Gotami, telah mengucapkan kata-kata gembira karena melihat pribadi yang seperti ini (attabhàva) yang membawa kegembiraan dan kedamaian kepada ibu, ayah, dan istri. Tetapi, bila telah padam, apakah yang akan membawa kedamaian sejati bagi batin?” Kemudian Bodhisatta, yang batin-Nya telah terbebas dari kotoran (kilesa), mengetahui, “Kedamaian sejati akan muncul hanya jika api nafsu (ràga) dipadamkan; kedamaian sejati akan muncul hanya jika api kebencian (dosa) dipadamkan; kedamaian sejati akan muncul hanya jika api kebodohan (moha) dipadamkan; kedamaian sejati akan muncul hanya jika panasnya kotoran seperti keangkuhan (màna), pandangan salah (diññhi), dan lain-lain disingkirkan. Putri Kisà Gotamã telah mengucapkan kata-kata indah tentang kedamaian. Dan, Aku yang akan mencari Nibbàna, kebenaran tertinggi, pemadaman yang sebenarnya dari segala penderitaan. Bahkan hari ini juga, Aku harus melepaskan keduniawian dengan menjadi petapa di dalam hutan untuk mencari Nibbàna, Kebenaran sejati.”

Pangeran Siddhatta memberikan kalung permata pada Kissa Gotami

Pangeran Siddhatta memberikan kalung permata pada Kissa Gotami

Dengan pikiran untuk melepaskan keduniawian yang muncul terus-menerus dalam diri-Nya, Bodhisatta Pangeran berkata, “Kalung mutiara ini akan menjadi imbalan bagi ajaran yang diberikan oleh Putri Kisà Gotami yang mengingatkan-Ku untuk mencari unsur pemadaman, Nibbuti,” melepas kalung mutiara-Nya yang bernilai satu lakh dari leher-Nya dan mengirimkannya kepada Kisà Gotami. Putri sangat gembira dan berpikir, “Sepupuku, Pangeran Siddhattha, telah mengirimkan hadiah untukku karena pikirannya tertuju padaku.”

Sang Bodhisatta Pangeran pergi menuju istana tempat tinggal-Nya yang megah, indah, dan menakjubkan sebagai tempat tinggal yang nyaman, dan berbaring di dipan istana-Nya. Saat Beliau berbaring, semua palayan perempuan serta para gadis penari yang memiliki kecantikan bagaikan bidadari dan memiliki kulit yang bersih yang memiliki kemampuan menyanyi, menari, dan bermain musik, berkumpul di sekeliling-Nya dengan lima jenis alat musik di tangan mereka dan mulai bermain musik, menari serta menyanyi, untuk memberikan lima kenikmatan indria. Tetapi, karena merasa muak dan letih dengan kegiatan tersebut yang dapat mengobarkan api kotoran batin-Nya, Ia tidak lagi dapat menikmati hiburan berupa nyanyian, tarian, dan musik, Beliau jatuh tertidur pada saat itu juga.

Pada saat Bodhisatta Pangeran tertidur, para pelayan istana perempuan dan para penari berpikir, “Kami menari, menyanyi, dan bermain musik untuk Pangeran; tetapi Beliau tertidur. Untuk apa kami melelahkan diri?” Dan mereka juga tidur dengan alat musik tertimpa di bawah tubuh mereka. Lampu minyak yang mengeluarkan bau harum terus menyala di dalam istana emas memberikan cahayanya yang cemerlang.

________________________________________________

(BERSAMBUNG) –>>


[ Sumber foto ilustrasi  :

http://www.cambodianbuddhist.org/eng...ha/desc13a.htm

http://home.swipnet.se/ratnashri/buddhalife.htm

http://www.mahidol.ac.th/budsir/E_hist62.htm    ]

Ditulis dalam BUDDHA, Kronologi Hidup Buddha, Riwayat Hidup Buddha | 7 Comments »

APA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK MENJADI SEORANG BUDDHA

Posted by ratanakumaro pada September 23, 2009

Buddhopi buddhassa bhaneyya vannam, Kappam pi ce aññam abhasamāno, Khiyetha kappo cira digham antare, Vanno na khiyetha tathāgatassa

[ Begitu banyaknya tanda-tanda seorang Buddha sehingga seorang Buddha lain, yang menggunakan semua waktu seumur hidupnya untuk menjelaskan kemuliaan seorang Buddha, tidak akan dapat menyelesaikan pekerjaannya ]

____________________________________________________________

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa”

( Tikkhattum ; 3x )

Nammatthu Buddhassa,

Petapa Sumedha (Boddhisatta) Mengorabankan diri , menjadi jembatan bagi Buddha Dipankara dan para Arahat

Petapa Sumedha (Boddhisatta) Mengorabankan diri , menjadi jembatan bagi Buddha Dipankara dan para Arahat ( sumber : http://wirajhana-eka.blogspot.com )

Saudara-saudari se-Dhamma, pada artikel terdahulu kita telah membahas mengenai “lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menjadi seorang Buddha”. Pada artikel selanjutnya ini, kita akan membahas, “apakah yang harus dilakukan untuk menjadi seorang Buddha”.  Yang harus dilakukan oleh seorang manusia yang bercita-cita menjadi Buddha, setelah ia mendapatkan ramalan pasti dari seorang Samma-Sambuddha, yaitu adalah menyempurnakan “Dasa-Paramita” ( Sepuluh Kesempurnaan ).

Artikel ini akan dimulai dengan kisah Petapa-Sumedha ( Boddhisatta kita, yang kelak menjadi Buddha Gotama ) yang bertemu dengan Buddha-Dipankara dan mendapatkan ramalan pasti dari Beliau pada Empat Asankheyya-Kappa + 100.000 Maha-Kappa yang lampau. Kemudian, artikel ini dilanjutkan dengan membahas beberapa kisah pilihan dari Jataka ( kisah kehidupan lampau Sang Buddha Gotama ) yang berkaitan dengan penyempurnaan Dasa-Paramita yang dilakukan oleh Boddhisatta kita yang kelak menjadi Buddha-Gotama.

I. PETAPA SUMEDHA SANG BODDHISATTA ( CALON BUDDHA )

Empat Asankkheyya-Kappa + 100.000 Maha-Kappa yang sangat lama dimasa lampau telah berlalu, terdapat sebuah kota yang makmur bernama Amaravati. Sebuah kota yang sempurna dalam segala hal , indah dan menyenangkan. Dikelilingi oleh pohon-pohon hijau dan taman yang indah, memiliki persediaan makanan dan barang-barang kebutuhan yang cukup. Kaya akan barang-barang berharga untuk dinikmati oleh masyarakatnya. Kota ini menghangatkan hati para dewa dan manusia.

Di kota Amaravati ini hiduplah seorang Brahmana bernama Sumedha. Ibunya adalah keturunan Brahmana dari keluarga Brahmana dari generasi ke generasi, demikian pula dengan ayahnya. Sehingga ia adalah seorang Brahmana murni karena kelahiran, baik dari pihak ayah maupun pihak ibu.. Ia terlahir dari seorang ibu yang kaya-raya dan baik. Ia tidak dapat dicemooh karena kelahirannya dengan mengatakan, “Orang ini lahir dari golongan rendah sampai tujuh generasi leluhurnya.” Ia adalah orang yang tak dapat diremehkan atau dicela. Ia adalah seorang dengan darah Brahmana murni dengan fisik yang menarik perhatian setiap orang.

Sehubungan dengan kekayaannya : Ia memiliki harta yang tersimpan dalam gudang harta dalam jumlah yang sangat besar dan sejumlah besar hasil panen serta barang-barang kebutuhan untuk hidup sehari-hari. Ia mempelajari tiga Kitab-Veda : Iru, Yaju,dan Sama. Menguasai kitab-kitab ini dan dapat menghafalnya tanpa cacat.

Orang tua Sumedha meninggal dunia sewaktu ia masih sangat muda.Penjaga harta keluarga membawa daftar harta, membuka gudang harta yang penuh dengan emas, perak, batu-delima, mutiara, dan lain-lain dan memberitahukan pada Sumedha tentang kekayaan yang diwarisinya dari tujuh generasi leluhurnya tersebut serta menyerahkannya pada Sumdedha.

Setelah melalui perenungan yang mendalam, Sumedha memutuskan untuk meninggalkan keduniawian dan pergi hidup bertapa.

Sebelum pergi menjadi petapa, Sumedha melakukan Mahadana. Dengan tabuhan genderang besar, ia mengumumkan di seluruh kota Amaravati, “Kepada siapa pun yang menginginkan kekayaanku, silakan datang dan ambil.” Dan ia mendanakan kekayaannya dalam suatu mahadana kepada semua orang tanpa membedakan status miskin atau kaya. Setelah melakukan Mahadana, Sumedha sang calon Buddha masa depan, melepaskan keduniawian dan pergi menuju Pegunungan Himalaya dengan tujuan Gunung Dhammika pada hari itu juga. Dewa Sakka melihat Sumedha mendekati pegunungan Himalaya, memerintahkan dewa yang bernama Vissukamma untuk mempersiapkan sebuah tempat tinggal bagi Sumedha yang nantinya digunakan Sumedha untuk menetap sementara, karena akhirnya Sumedha memutuskan untuk meninggalkan gubuk yang dipersiapkan Dewa Sakka dan anak buahnya tersebut, dan memilih untuk tinggal di bawah pohon.

Setelah menemukan pohon yang sesuai untuk didiami, Sumedha tinggal dibawah pohon tersebut. Sumedha hidup hanya dari memakan buah-buahan yang jatuh dari pohon. Tanpa berbaring sama sekali, ia berlatih meditasi terus-menerus tanpa putus hanya dalam tiga postur : duduk, berdiri, dan berjalan, hingga pada hari ketujuh, ia mencapai Delapan pencapaian tingkat Jhana ( Empat Rupa-Jhana dan Empat Arupa-Jhana ) dan lima kekuatan batin tinggi ( Abhinna ).

Munculnya Buddha-Dipankara

Setelah petapa Sumedha berhasil dalam pertapaan-Nya, mencapai delapan tingkat pencapaian Jhana dan lima kekuatan batin tinggi seperti telah disebutkan sebelumnya, di dunia ini muncul seorang Buddha yang bernama Dipankara, Raja dari Tri-Loka ( Kamadhatu, Rupadhatu, Arupadhatu ).

Disertai empat ratus ribu Arahanta, Buddha-Dipankara mengunjungi kota Rammavati dan berdiam di Vihara Sudassana. Sementara itu Sumedha sedang menikmati kebahagiaan Jhana di dalam hutan dan sama sekali tidak mengetahui kemunculan Buddha-Dipankara di dunia ini.

Mengetahui kedatangan Buddha Dipankara di vihara Sudassana, penduduk Rammavati, setelah makan pagi, datang membawa barang-barang untuk keperluan pengobatan seperti mentega, ghee, dan lain-lain, juga bunga dan dupa untuk dipersembahkan kepada Buddha Dipankara. Pada akhir khotbah tersebut, mereka mengundang Buddha beserta murid-muridNya untuk makan keesokan harinya.

Sumedha Terbang di Angkasa

Esoknya penduduk Rammavati melakukan persiapan seksama untuk melakukan dana besar-besaran ( asadisa-mahadana ). Sebuah paviliun dibangun, bunga teratai biru yang bersih dan lembut bertebaran di dalam paviliun ; udara segar diberi wewangian empat jenis pengharum, dan  berbagai macam persiapan lainnya.

Ketika persiapan selesai dilakukan di dalam kota, para penduduk mulai dengan pekerjaan memperbaiki jalan yang akan dilalui Buddha untuk memasuki kota. Dengan tanah mereka menambal lubang-lubang yang disebabkan oleh banjir dan meratakan tanah yang berlumpur dan tidak rata. Mereka juga melapisi permukaan jalan dengan pasir putih bagaikan mutiara, menebar bunga dan beras dan menanam pohon pisang lengkap dengan tandan buahnya di sepanjang jalan itu.

Pada waktu itu, Sumedha Sang Petapa meninggalkan pertapaanNya dan ketika ia melakukan perjalanan angkasa, ia melihat penduduk Rammavati berkumpul dan bergembira dalam pekerjaan memperbaiki dan menghias jalan. Merasa ingin tahu apa yang sedang terjadi dibawah, ia turun dari angkasa dan berdiri sementara para penduduk memperhatikannya

Kemudian Petapa Sumedha bertanya pada penduduk, untuk apa mereka melakukan persiapan besar-besaran tersebut, dan para penduduk menjawab, “Yang Mulia Sumedha, telah muncul didunia Buddha Dipankara yang tiada bandingnya, yang telah menaklukkan lima kejahatan Mara, Ia adalah Raja terbesar di seluruh dunia, kami memperbaiki jalan ini untuk-Nya.”

Petapa Sumedha merasa gembira mendengar kata “Buddha” yang diucapkan penduduk Rammavati. Ia mengalami kebahagiaan batin yang luar biasa dan mengulang-ulang kata “Buddha, Buddha” ia tidak dapat mengendalikan kebahagiaan yang luar biasa itu muncul dalam dirinya.

Karena kebahagiaan dan perasaan religius yang mendalam, Petapa Sumedha kemudian merenungkan dalam-dalam,”Aku akan menanam benih kebajikan yang baik di tanah yang subur yaitu Buddha Dipankara ini, untuk melakukan perbuatan baik, yang sulit dan sangat jarang dapat dilakukan, juga untuk menyaksikan saat-saat bahagia munculnya seorang Buddha. Saat-saat bahagia itu sekarang telah datang kepadaku. Aku tidak akan menyia-nyiakannya.”

Dengan pikiran seperti itu, Sumedha meminta kepada para penduduk untuk memberi bagian sedikit jalan untuk petapa Sumedha, sebab ia ingin berpartisipasi dalam pekerjaan memperbaiki jalan tersebut. Kemudian, penduduk dewa memberinya satu ruas jalan yang panjang, becek dan sangat tidak rata yang sangat sulit diperbaiki. Hal ini dikarenakan para penduduk percaya, bahwa Petapa Sumedha adalah Petapa yang sakti yang pasti mampu menyelesaikan pekerjaan yang sulit tersebut. Dan Sumedha pun dengan bahagia menerima bagian jalan yang harus dikerjakannya tersebut.

Sebelum Sumedha menyelesaikan pekerjaannya, Buddha Dipankara tiba diiringi 400.000 Arahanta, yang semuanya telah memiliki enam kemampuan batin-tinggi (Abhinna).

Sumedha mengorbankan dirinya

Sumedha menatap tanpa berkedip pada sosok Buddha, yang dianugerahi dengan 32 tanda besar seorang manusia luar-biasa ( Mahapurissa ), dan 80 tanda-tanda kecil lainnya. Ia menyaksikan sosok Buddha yang indah dan bercahaya, seperti terbuat dari emas-murni, dengan aura terang di sekeliling-Nya dan enam sinar memancar dari tubuh-Nya, seperti kilat di langit biru.

Kemudian Sumedha memutuskan sebagai berikut, “Hari ini, aku akan mengorbankan diriku untuk Buddha. Agar Ia tidak menginjak lumpur dan mengalami ketidaknyamanan, biarlah Buddha beserta 400.000 Arahanta menginjak punggungku dan seolah-olah berjalan di atas jembatan kayu berwarna batu delima. Dengan menggunakan tubuhku sebagai jembatan oleh Buddha dan para Arahanta, aku pasti akan mendapat kesejahteraan dan kebahagiaan dalam jangka waktu yang lama.”

Setelah mengambil keputusan demikian, ia melepaskan sabuknya, menggelar matras kulit macan dan jubahnya di atas tanah becek kemudian berbaring tiarap diatasnya, bagaikan jembatan yang terbuat dari kayu berwarna batu delima.

Aspirasi Sumedha untuk mencapai Ke-Buddha-an

Sumedha, yang sedang bertiarap, seketika muncul keinginan untuk menjadi Buddha, “Jika aku menghendaki, hari ini juga aku dapat menjadi Arahanta yang mana asava dipadamkan dan kotoran batin lenyap. Tapi, apa untungnya ? Seorang manusia luar biasa sepertiku merealisasi Buah Arahatta dan Nibbana sebagai murid yang tidak berguna dari Buddha Dipankara ? Aku akan berusaha sekuat mungkin untuk mencapai ke-Buddha-an.”

“Apa gunanya, secara egois keluar dari lingkaran kelahiran sendirian, padahal aku adalah seorang manusia luar biasa yang memiliki kebijaksanaan, keyakinan, dan usaha. Aku akan berusaha mencapai ke-Buddha-an dan membebaskan semua makhluk termasuk para dewa dari lingkaran kelahiran yang merupakan lautan penderitaan.”

“Setelah mencapai ke-Buddha-an sebagai hasi dari perbuatanku yang tiada bandingnya dengan bertiarap dan menjadi jembatan untuk Buddha Dipankara, aku akan menolong banyak makhluk keluar dari lingkaran kelahiran yang merupakan lautan penderitaan.”

“ Setelah menyeberangi sungai samsara dan meninggalkan tiga alam kehiduapn, aku akan menaiki rakit Dhamma Jalan Mulia Berfaktor Delapan dan pergi menyelamatkan semua makhluk termasuk dewa.” Demikianlah pikirannya bercita-cita untuk menjadi Buddha.

Sumitta , Kelak Menjadi Yasodhara

Sewaktu Sumdedha sedang memikirkan cita-cita untuk mencapai ke-Buddha-an, seorang Brahmana perempuan muda bernama Sumitta bergabung dengan para penduduk menyambut Buddha. Ia membawa delapan kuntum bunga teratai untuk dipersembahkan pada Buddha Dipankara. Sewaktu ia sampai di tengah-tengah keramaian dan begitu matanya menatap Sumedha, ia terpesona dan seketika jatuh cinta kepadanya. Ia ingin mempersembahkan sesuatu pada Sumedha, tapi ia tidak memiliki apa-apa kecuali delapan kuntum teratai. Kemudian ia berkata kepada Sumedha, “Yang Mulia petapa, aku berikan padamu lima kuntum bunga teratai, agar engkau dapat mempersembahkannya sendiri kepada Buddha. Sisa tiga kuntum ini adalah sebagai persembahanku kepada Buddha”. Kemudian ia menyerahkan lima kuntum bunga teratai itu kepada Sumedha, kemudian menyampaikan keinginannya, “ Yang Mulia Petapa, selama waktu yang akan engkau jalani dalam mencapai Ke-Buddha-an ; semoga aku dapat selalu menjadi pendampingmu.”

Sumedha menerima bunga teratai dari Sumitta dan di tengah-tengah keramaian, mempersembahkannya kepada Buddha-Dipankara, yang datang menghampirinya.

Ramalan Pasti dari Buddha Dipankara : Sumedha kelak akan menjadi Buddha

Mengamati apa yang sedang terjadi antara Sumedha dan Sumitta, Buddha membuat ramalan di tengah-tengah keramaian :

“ O… Sumedha, perempuan ini Sumitta, akan menjadi pendampingmu dalam berbagi hidup, membantumu dengan semangat dan perbuatan yang sama dalam usahamu mencapai ke-Buddha-an, ia akan membahagiakanmu dalam setiap pikiran, perkataan dan perbuatannya, ia akan berpenampilan cantik dan menyenangkan, manis tutur katanya dan baik hati. Dalam usahamu mencapai ke-Buddha-an, dalam kelahiranmu yang terakhir, ia akan menjadi murid perempuan yang akan menerima warisan spiritual darimu, menjadi seorang Arahanta, lengkap dengan kemampuan batin tinggi.”

Pada saat Buddha-Dipankara menyatakan hal tersebut diatas, Petapa Sumedha memang telah memenuhi kedelapan faktor yang diperlukan untuk menerima ramalan kepastian bahwa kelak ia akan menjadi Buddha. Kedelapan faktor tersebut adalah :

  1. Ia adalah manusia
  2. Ia adalah laki-laki
  3. Telah memenuhi semua kondisi seperti Kesempurnaan yang diperlukan untuk meraih tingkat ke-Arahatta-an dalam kehidupan itu juga
  4. Dia harus bertemu muka dengan muka dengan seorang Buddha yang hidup.
  5. Dia harus menjadi seorang Petapa yang percaya hukum karma (Kammavadi) atau pernah menjadi anggota Sangha dalam masa kehidupan seorang Buddha.
  6. 6. Dia harus memiliki kekuatan-batin / mencapai keempat Rupa-Jhana dan keempat Arupa-Jhana ( yang dikenal sebagai “Attha-Samapatti-Jhana-Labhi” ).
  7. Berusaha keras untuk mengembangkan kesempurnaan tanpa memperdulikan hidupnya .
  8. Dia harus memiliki kebulatan tekad yang kuat untuk menjadi seorang Buddha meskipun dia tahu bahwa dia akan menanggung penderitaan sebagai binatang, setan, dan lain-lain di dunia yang menyedihkan. Dengan kata lain, dia harus mencegah dirinya untuk mencapai tingkat Arahat, dengan tekad bulat dan tetap berdiam di dalam samsara untuk kepentingan ummat manusia dan para dewa.

Mengetahui bahwa Sumedha memiliki persyaratan ini, Buddha Dipankara menghampiri Sumedha dan berdiri di dekat kepalanya, selagi ia masih bertiarap, dengan kekuatan batin-Nya, melihat jauh ke masa depan untuk mengetahui apakah Sumedha, yang sedang berbaring tiarap di atas lumpur, yang berkeinginan untuk menjadi Buddha, dapat tercapai keinginannya atau tidak.

Buddha Dipankara mengetahui semua tentang masa depan Sumedha, dan berkata,” Sumedha akan menjadi Buddha, bernama Gotama, setelah 4 Asankkheyya-Kappa dan 100.000 Kappa sejak saat ini.”

Setelah mendengar ramalan Buddha Dipankara yang tiada bandingnya di tiga alam, dewa dan manusia bersorak gembira, “Dikatakan Sumedha Sang petapa, adalah benar-benar seorang Bakal Buddha.” Mereka menepuk lengan kiri atas mereka dalam kegembiraan ( pada masa itu mereka tidak bertepuk tangan untuk menyatakan kegembiraan, tapi menepuk lengan kiri dengan telapak tangan kanan ). Dewa dan Brahma yang datang dari sepuluh ribu alam semesta bersama-sama dengan manusia mengangkat tangan memberi penghormatan.

Mereka juga mengungkapkannya lewat pengharapan,” Meskipun sekarang kami gagal dalam melatih ajaran Buddha Dipankara, raja dunia, kami akan bertemu lagi dengan petapa mulia ini yang kelak akan menjadi Buddha; saat itu kami akan sungguh-sungguh berusaha keras untuk mencapai pengetahuan Dhamma yang lebih tinggi.”

Setelah Buddha Dipankara membuat ramalan, Ia pergi dengan menginjakkan kaki  kanan-Nya di sebelah Sumedha. Keempat ratus ribu Arahanta juga meninggalkan tempat  dengan Sumedha di sisi kanan mereka ( setelah mempersembahkan bunga dan dupa ). Demikian pula dengan manusia, para Naga, musisi Surgawi ( Gandhabba ) meninggalkan tempat setelah memberi penghormatan kepada Sumedha dan mempersembahkan bunga dan dupa.

Setelah Buddha Dipankara dan keempat ratus ribu Arahanta menghilang dari pandangan, Sumedha bangun dengan gembira dari posisi tiarapnya, dan dengan pikiran dipenuhi kegembiraan dan kebahagiaan, ia duduk bersila diaas tumpukan bunga-bunga yang ditebarkan untuk menghormatinya oleh para dewa dan manusia, kemudian merenungkan :

“ Aku telah berhasil mencapai Jhana dan lima kemampuan batin. Di sepuluh ribu alam semesta, tidak ada petapa yang menyamaiku. Aku tidak melihat seorang pun yang sama denganku dalam hal kekuatan batin.” Dan Sumedhapun merasakan kegembiraan dan kebahagiaan luar biasa.

II. MENYEMPURNAKAN DASA-PARAMITA

Selama Empat Asankkheyya Kappa + 100.000 Maha-Kappa ( siklus dunia ) yang tak terhitung lamanya, Boddhisatta Gotama berjuang untuk menyempurnakan sepuluh kesempurnaan (Dasa-Paramita) yaitu :

  1. Kesempurnaan Kemurahan-Hati ( Dana-Paramita )
  2. Kesempurnaan Moralitas ( Sila-Paramita )
  3. Kesempurnaan Pelepasan-Keduniawian ( Nekkhama-Paramita )
  4. Kesempurnaan Kebijaksanaan ( Panna-Paramita )
  5. Kesempurnaan Semangat ( Viriya-Paramita )
  6. Kesempurnaan Kesabaran ( Khanti-Paramita )
  7. Kesempurnaan Kebenaran ( Sacca-Paramita )
  8. Kesempurnaan Kebulatan-Tekad ( Adhitthana-Paramita )
  9. Kesempurnaan Cinta-Kasih ( Metta-Paramita )
  10. Kesempurnaan Keseimbangan-Batin ( Upekkha-Paramita )

Dibawah ini dituturkan kisah-kisah kehidupan lampau yang menjelaskan bagaimana Boddhisatta Gotama mencapai kesempurnaan dalam masing-masing dari sepuluh kebajikan itu. Harus dimengerti bahwa Boddhisatta mempraktikkan masing-masing dari sepuluh kesempurnaan itu dalam banyak kelahiran yang tak terhitung, dan hingga tingkat yang tidak hanya mencakup pemberian kekayaan dan kerajaannya untuk kebaikan dunia. Kemurahan hatinya juga mencakup pemberian anggota-anggota tubuhnya, kehidupannya, dan terutama, anak-anak dan istrinya yang tercinta, hingga mencapai kesempurnaan dalam kemurahan hati. Sepanjang sekian banyak kalpa Boddhisatta bekerja dengan tak kenal lelah, dengan kebulatan tekad dan ketekunannya, untuk menyempurnakan setiap Paramita.

1. Kesempurnaan Kemurahan-Hati ( Dana-Paramita )

Kisah berikut ini diambil dari Wessantara Jataka. Sekian waktu yang lalu di negara yang sekarang kita kenal sebagai India, ada sebuah kota bernama Jetuttara. Jetuttara diperinta oleh seorang Raja yang berbelas –kasih dan berkebajikan bernama Sanjaya, yang memiliki anak bernama Wessantara. Pangeran Wessantara, yang tak lain adalah Boddhisatta kita, adalah seorang yang sangat mengagumkan dalam kebajikan dan terpelajar. Dia bukan hanya memiliki segala kualitas yang dibutuhkan untuk dapat menjadi seorang ahli waris, dia juga berbelas-kasih dan terkenal karena praktiknya dalam kemurahan hati.

Kemasyhuran Wessantara karena kemurahan hatinya menyebar ke segenap penjuru negeri. Seorang raja tetangga yang iri hati, yang mendengar bahwa pangeran tak pernah menolak seorang pun, mengirimkan orang-orangnya yang berpakaian Brahmana untuk meminta gajah istananya yang amat besar. Pada waktu itu gajah istana kerajaan bukan hanya sebuah simbol status yang tinggi yang dipilih dengan hati-hati, ia juga suatu defensi yang berguna pada zaman perang. Pangeran Wessantara, yang kaget mendengar bahwa seorang Brahmana membutuhkan gajah kerajaan, mencurigai bahwa itu merupakan taktik dari esorang raja yang iri hati. Karena belum pernah menolak apapun yang diminta, dia menekan pikirannya dengan berefleksi pada kebajikan-kebajikan dari kemurahan hati sehingga memberikan gajah istana bukan taktik politis. Dengan mengangkat kendi emasnya tinggi-tinggi, beliau mencurahkan air sebagai tanda pemberian ke tangan si Brahmana selaku adat pada waktu itu, dan menyerahkan gajah istana yang dirias dengan semarak.

Ketika rakyat mendengar hadiah Pangeran Wessantara, mereka menjadi sangat marah. Dengan mengklaim bahwa Beliau telah menyimpang terlalu jauh dalam praktik amalnya, mereka meminta agar Beliau dihukum karena tindakannya yang tidak sejalan dengan kebijaksanaan politis. Pangeran Wessantara dibuang ke hutan belantara di Gunung Wanka.

Ketika mendengar hukumannya, Pangeran Wessantara berseru, “Para menteri tidak mengerti kebajikan dalam kemurahan hati. Mereka tidak mengerti bahwa aku akan memberikan mataku, kepalaku, hidupku, untuk kebaikan orang lain.” Kemudian perlahan-lahan, dalam kesedihannya, dia berjalan ke arah ayah dan istrinya – Putri Maddi – untuk mengucapkan selamat tinggal. Bagaimanapun juga, Putri Maddi merasa bahwa hidup tanpa suaminya akan lebih buruk daripada kematian. Dengan membawa kedua anak mereka, Jaliya dan Krishnajina, dia bersiap pergi ke hutan belantara bersama dengan Pangeran.

Setelah memberikan segala sesuatu yang mereka miliki kepada orang-orang miskin, Pangeran dan Putri dan anak mereka masuk ke hutan dengan pakaian sederhana seperti pakaian yang dikenakan oleh para petapa. Mereka hidup dari buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan di hutan dan hidup dalam harmoni dengan burung-burung dan binatang-binatang. Anak-anak bermain-main di antara bunga-bunga nan indah dan menceburkan diri di sungai-sungai kecil. Sang Putri mengumpulkan buah-buahan dan kacang-kacangan untuk makanan mereka, sementara Sang Pangeran menghabiskan waktunya dalam meditasi. Mereka hidup dalam kebahagiaan meskipun kekurangan kekayaan dan kenyamanan yang biasa mereka nikmati.

Suatu hari Putri Maddi pergi ke hutan untuk mengumpulkan buah dan pangeran beserta dua anaknya yang kecil sedang bermain di tengah bunga-bunga dengan riangnya, ketika seorang Brahmana tua yang tubuhnya kotor akibat melakukan perjalanan mendekati Sang Pangeran. Menyatakan bahwa istrinya telah tua dan membutuhkan pelayanan seorang yang lebih muda, dia meminta anak-anak bangsawan itu. Kata-kata tersebut laksana sebuah tikaman yang menembus ke jantung Sang Pangeran. Namun, ketika merenungkan cita-citanya untuk mencapai ke-Buddha-an, dan perlunya menyempurnakan kemurahan hati, dengan berat hati dia memenuhi permintaan Sang Brahmana.

Melihat kesedihan di mata anak-anaknya, Pangeran meminta agar Brahmana itu menunggu kembalinya Sang Putri supaya anak-anak dapat mengucapkan selamat berpisah kepada ibu mereka. Brahmana itu menolak, khawatir Pangeran akan berubah pikiran jika ada istrinya. Meskipun Pangeran menjamin bahwa Sang Putri adalah istrinya yang taat, dan akan mendukung keputusannya – meskipun itu menyedihkan hatinya – Brahmana itu tidak mengubah tuntutannya.

Dengan airmata yang berlingan Sang Pangeran menyerahkan kedua anaknya dengan mencurahkan air sebagai tanda pemberian ke tangan Brahmana. Anak-anak yang selalu taat itu perlahan-lahan meninggalkan ayah mereka setelah ber-namaskara dan ber-anjali. Pangeran diliputi kesedihan yang dalam ketika melihat anak-anaknya menerima keputusannya dengan tenang. Perpisahan dari anak-anaknya sangat memedihkan hatinya. Kepalanya berdenyut-denyut dan terasa sakit seakan seribu pisau menikam tenggorokannya. Dengan tujuan ke-Buddha-an di dalam pikirannya, Pangeran menaklukkan kesakitannya dan menahan diri dari menyesali pemberiannya.

Ketika Putri Maddi kembali dari hutan, tangannya penuh dengan buah-buahan, dia mengetahui ada sesuatu yang tidak wajar. Dia tidak mendengar teriakan sukacita dan tawa anak-anaknya. Mereka tidak berlari kepadanya dan memeluknya seperti yang biasa mereka lakukan. Kemudian dia melihat Pangeran, kepalanya menunduk dengan kedukaan yang dalam, wajahnya diliputi dengan ketegaran untuk mempertahankan ketetapan hatinya dengan tanpa penyesalan. Dengan berlari ke arah pangeran, Sang putri menanyakan anak-anak mereka. Namun Pangeran tidak dapat berbicara. Dia menatap istrinya dengan tatapan sedih tetapi tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya.

Sang Putri yang bingung dan putus-asa berlari memanggil anak-anaknya, kemudian jatuh pingsan karena kesedihan yang dalam. Boddhisatta mengangkat tubuhnya dengan lembut dan membasahi wajahnya dengan air dingin. Kemudian dia berbicara dengan penderitaan berat karena pengorbanan tertinggi dalam kemurahan hati yang dibuat untuk kepentingan ummat manusia. Sang Putri menenangkan diri sendiri dan memegang tangan Pangeran, berlutut dan berdoa memohon bantuan para dewa untuk kesejahteraan anak-anak mereka. Setelah berjanji untuk menjadi istrinya selama berkalpa-kalpa, Sang  Putri mengerti tindakan kemurahan hati yang tertinggi ini dan merenung, bahwa dia tidak mengeluh seandainya suaminya memberikan dirinya – sesuai dengan permintaannya – demi mencapai ke-Maha-Tahu-an ( Sabbannutta-Nana ).

Dunia bergetar dan aneka bunga yang menyebarkan aroma-wangi menghujani Sang Pangeran. Suara musik surgawi bergema di udara karena Sakka, Raja para dewa, menatap dengan perasaan terpesona dan mengelu-elukannya sebagai Buddha yang akan datang. Kemudian karena ingin mengujinya lebih lanjut, Sakka menyamar sebagai seorang tua dan berkata, “Aku telah mendengar kemurahan hatimu yang luar biasa. Kemarin kamu telah memberikan kedua anakmu. Sekarang aku meminta istrimu yang berdiri di sampingmu, yang seperti bidadari surgawi.”

Pangeran menatap sang istri yang tenang ketika dia berjalan mendekatinya. Kemudian menggandeng tangannya dan menyatukannya dengan tangan laki-laki tua itu. Dia mencurahkan air pemberian. Tidak ada kemarahan atau keluhan yang terdengar dari Sang Putri, karena dia tahu pikiran suaminya. Dengan linangan air mata dia memandang suaminya dengan ungkapan cinta, dengan sikap berterimakasih bahwa dia mampu membantu suaminya dalam usaha mencari kesempurnaan batin.

Sebuah cahaya cemerlang yang melebihi pancaran para dewa menerangi bumi, ketika Sakka mendapatkan kembali bentuknya sebagai Raja di alam-alam surga, dan para Dewa turn ke bumi untuk mengagungkan Buddha yang akan datang. Dengan menggandeng tangan sang putri, Raja alam-alam surga dengan lembut mengembalikan dia kepada Pangeran sambil berkata,  “ Hanya mereka-mereka yang suci hatinya akan mengerti perbuatan yang mengagumkan ini. Demi kesejahteraan umat manusia, untuk mendapatkan kesempurnaan dalam kemurahan hati, beliau telah mempraktikkan ketidakterikatan hingga tingkatanya yang paling penuh. Hormat pada Buddha yang akan datang”. Setelah memberitahu bahwa Pangeran dan istrinya akan bersatu kembali dengan anak-anak mereka dan Raja Sanjaya, Sakka – Raja alam surgawi – naik kembali ke tempat kediamannya di surga.

Kemurahan-hati ( Dana Paramita ) adalah yang pertama dari sepuluh kesempurnaan ( Dasa Paramita ), namun ini adalah kebajikan terakhir yang dilengkapi Boddhisatta. Ketika melengkapi kebajikan terakhir – kemurahan hati – Pangeran Wessantara berseru dengan sukha-citta :

“Dunia ini tidak menyadari meskipun dia (Putri Maddi) ada, dan tidak tahu tentang sukkha-citta atau dukkha-cittanya, Kemudian dia pun merasakan kekuatan dahsyat dari pemberian, dan bergetar dan bergoncang penuh hingga tujuh kali.”

Setelah bersatu kembali dengan Raja Sanjaya dan anak-anaknya, Pangeran Wessantara memerintah atas kerajaan Jetuttara dengan belas kasih dan kebenaran. Sekarang dia melengkapi sepuluh kebajikan yang dibutuhkan untuk mencapai ke-Buddha-an. Setelah meninggal Pangeran Wessantara dilahirkan di Surga Tusita sebagai Dewa Setaketu, untuk menunggu waktu yang tepat bagi kelahirannya yang terakhir sebagai Samma-Sambuddha.

2. Kesempurnaan Moralitas ( Sila-Paramita )

Kisah berikut ini diceritakan dalam Sankhapala Jataka. Pada masa lalu yang jauh, kerajaan Rajagaha diperintah oleh seorang raja yang berkebajikan bernama Magadha. Ketika anaknya, Pangeran Duriyodha telah cukup usia, Raja Magadha menyerahkan kerajaan kepadanya. Kemudian dia menjalani kehidupan sebagai seorang petapa dan tinggal di sebuah petapaan di halaman tertutup dalam lingkungan istana.

Pangeran Duriyodha, yang sangat cinta pada ayahnya, mengunjungi sang ayah 3-4 x sehari dan menghujani dia dengan pemberian-pemberian dan barang-barang mewah. Merasa bahwa kehidupan seorang petapa sejati tidak mungkin selama tinggal di lingkungan istana, Raja tua meninggalkannya. Dia berpindah ke sebuah kota yang jauh yang bernama Mahinsaka dan tinggal di sebuah gua batu di sisi sebuah danau indah bernama Sankhapala.

Tak lama kemudian raja tua yang dihormati oleh semua orang menjadi seorang guru besar. Satu makhluk Raja Naga yang tinggal di sebuah kerajaan yang indah dan mewah, yang tak jauh dari tempat itu sering mengunjungi raja tua itu untuk mendengarkan ajarannya. Suatu hari, ketika Pangeran Duriyodha mengunjungi ayahnya, beliau berjumpa dengan Raja Naga dan para pengikutnya. Setelah menerima undangan Raja Naga, Pangeran mengunjungi kerajaannya yang indah. Sebuah keinginan yang kuat untuk hidup di dalam kerajaan yang indah itu muncul di dalam dirinya. Setelah kematiannya Pangeran Duriyodha dilahirkan kembali di dalam kerajaan Naga sebagai seorang raja dengan nama Sankhapala.

Raja Sankhapala (Boddhisatta) sering mengenakan jubah yang sederhana dan bermeditasi di hutan yang dekat. Suatu hari yang indah, Raja Sankhapala menanggalkan pakaian kebesarannya dan berdandan sebagai seorang petapa yang sederhana. Dia kemudian melakukan perjalanan jauh ke dalam hutan, untuk bermeditasi di tengah-tengah aneka bunga yang bermekaran di dekat danau Sankhapala nan indah.

Beberapa pemburu, yang telah berburu selama berhari-hari tanpa hasil, mendekati raja yang sedang tenggelam di dalam kedalaman meditasi. Karena tidak mengenal Raja, mereka memutuskan untuk membunuh Beliau dan menyantap dagingnya karena mereka tidak mendapatkan makanan selama berhari-hari. Setelah menusuk beliau dengan tombak-tombak mereka yang tajam, mereka memperlakukan Beliau sebagai tawanan. Kemudian mereka mengikat kaki dan tangan beliau, dan menggantung beliau pada sebuah tongkat panjang dengan kaki diatas. Dengan menempatkan tongkat di pundak mereka, mereka membawa Beliau ke camp mereka.

Kepala Raja, yang ditarik di tengah-tengah batu-batu dan semak-semak, memar dan mengalami luka-luka. Tubuh beliau, yang dilukai dengan pisau-pisau dan tombak pemburu mereka, mengalami kesakitan yang hebat. Mengetahui bahwa mereka tidak mengenal dirinya, dan itu merupakan sebuah tindakan yang dilakukan karena mereka sangat lapar. Boddhisatta tetap tenang. Dengan memancarkan belas-kasih dan cinta-kasih kepada lawan-lawannya Beliau menerima kesakitannya dengan tenang, tidak mengucapkan sepatah kata pun yang menyatakan kebencian atau kemauan jahat.

Pada saat itu seorang pedagang bernama Alara, yang sedang menempuh perjalanan melewati hutan itu dengan kereta-kereta dan lembu-lembunya, melihat Boddhisatta. Dipenuhi dengan belas kasihan ketika melihat ‘petapa’ yang tenang meskipun terluka, Alara memberikan emas dan barang-barang dagangan kepada para pemburu itu untuk kebebasan beliau. Alara yang kemudian menerima Beliau dengan lembut, membersihkan dan mengobati luka-lukanya. Raja kemudian menerangkan bahwa dirinya tak lain adalah Raja Sankhapala dan membawanya kembali ke kerajaan Naga untuk memberikan ganjaran kepadanya atas kebaikan hati dan belas-kasihnya. Dalam menaati peraturan-peraturan selama mengalami siksaan, yang menunjukkan tidak adanya kemarahan atau dendam (kemauan jahat), Boddhisatta melengkapi kesempurnaan dalam moralitas, kemudian dengan sukacita Beliau berseru :

“Mereka melukai aku dengan tombak-tombak yang lancip. Mereka menganiaya aku dengan pisau-pisau pemburu mereka. Aku tidak marah, tidak menyimpannya di dalam hati, tetapi mempertahankan peraturan-peraturan untuk mencapai kesempurnaan.”

3. Kesempurnaan Pelepasan-Keduniawian ( Nekkhama-Paramita )

Kisah berikut ini diceritakan dalam Cula Sutasoma Jataka. Pada masa lampau yang jauh di kota Sudassana memerintah seorang raja bernama Brahmadatta. Boddhisatta kita dilahirkan sebagai anak laki-lakinya dan bernama Somanassa. Pangeran Somanassa terkenal karena cintanya pada pelajaran, kebijaksanaannya dan kebajikannya. Ketika Pangeran cukup usia, dia menikahi seorang putri ayu bernama Chanda Dewi Jauh sebelum raja mewariskan kerajaan kepada anaknya itu, yang memenangkan hati rakyatnya melalui kebaikan hati dan kebajikannya. Pangeran , yang sangat cinta pada pelajaran, segera ditunjuk sebagai Raja Sutasoma, nama yang sering digunakan untuk menunjuk pada seorang yang sangat terpelajar.

Raja Sutasoma (boddhisatta kita) memutuskan bahwa beliau akan memfokuskan bagian pertama dari kehidupannya untuk kesejahteraan rakyat dan kerajaannya, tahun-tahun berikutnya untuk perkembangan spiritual. Dengan pikiran ini, Beliau meminta tukang cukur istana untuk memberitahu kepadanya tentang rambut abu-abu pertama yang muncul di kepalanya. Suatu hari ketika Raja memotong rambutnya, tukang cukur itu mendapat sehelai rambut abu-abu. Memotongnya dengan hati-hati dia menunjukkan pada Raja, yang kemudian memutuskan bahwa itu adalah saat bagi dia untuk meninggalkan kerajaannya, dan mulai mempraktikkan perkembangan spiritual. Setelah mengoperkan kerajaan kepada adiknya yang laki-laki, Pangeran Somadatta, Raja Sutasoma meninggalkan kerajaannya dan kekayaannya lalu menjalani kehidupan sebagai seorang petapa.

Pangeran Somadatta, Putri Chanda Dewi dan rakyat kerajaan meminta raja yang populer itu untuk tetap tinggal. Namun sang raja, yang sekarang telah membulatkan hati untuk menjalani kehidupan spiritual, menolak untuk mengubah pikirannya.

Pangeran Somadatta enggan mengambil-alih kerajaan dan tugas-tugas istana kerajaan. Namun berbagai hal sungguh tidak sama. Sang pangeran muda merindukan kakaknya, yang dicintainya dan yang kepadanya dia bergantung. Rakyat kerajaan, meskipun mencintai Pangeran Somadatta, sering membicarakan Raja bajik yang telah meninggalkan keduniawian itu. Mereka memutuskan untuk mencoba Beliau pada suatu waktu untuk memikat hati Raja dengan aneka kesukaan duniawi. Pangeran, Ratu Chanda Dewi, para menteri dan banyak rakyat mengunjungi tempat petapaan di hutan dimana Raja berdiam. Meskipun mengenakan pakaian sederhana, Raja tampak cerah dan damai, ketika dia duduk dalam meditasi di tengah-tengah aneka bunga yang bermekaran di petapaannya. Dengan menghormat di depan Raja, yang sekarang mengenakan pakaian petapa yang sederhana, mereka mempersembahkan kerajaan kepadanya.

Raja mendengarkan mereka dengan sabar, kemudian mengajarkan kepada mereka kebajikan dari kehidupan suci. Setelah mendengar ceramah beliau, Ratu dan rakyat yang menyertainya memutuskan untuk meninggalkan kesenangan-kesenangan duniawi guna mengembangkan kehidupan spiritual mereka. Setelah diberi nasehat dan dorongan oleh Raja, Pangeran Muda dan para menterinya kembali ke istana untuk memerintah rakyat disana. Ketika menyempurnakan kebajikan dalam pelepasan keduniawian Boddhisatta berseru demikian :

“Sebuah kerajaan jatuh ke dalam tanganku. Seperti air liur yang menjijikkan aku biarkan ia jatuh. Karena tidak merasakan keinginan sedikitpun, dan dengan demikian pelepasan keduniawian tercapai.”

4. Kesempurnaan Kebijaksanaan ( Panna-Paramita )

Kisah berikut ini diceritakan dalam Sattubhatta Jataka. Pada masa lampau yang jauh Boddhisatta dilahirkan sebagai seorang Pandhita yang amat bijaksana dengan nama Pandhita Senaka. Raja menunjuk Beliau sebagai menteri dan tak lama kemudian beliau sangat termasyhur, karena kebijaksanaan dan keadilannya ketika menangani berbagai problem dan konflik, di antara rakyat yang berada di bawah dominasinya. Kemasyhurannya tersebar ke kota sehingga orang-orang yang mengalami problem datang kepadanya dari segala penjuru negeri, untuk mencari keadilan dan jalan keluar yang tepat.

Di kota itu tinggal seorang Brahmana yang memiliki istri muda yang sangat ayu. Tanpa setahu Sang Brahmana dia bercinta dengan banyak laki-laki, dan sering menjamu para tamu laki-lakinya ketika suaminya tidak ada. Pada suatu hari perempuan muda itu meminta agar suaminya mencari pekerjaan supaya dia dapat mengumpulkan emas, untuk menyediakan para pelayan bagi mereka dan menabung untuk masa depan mereka. Kemudian, setelah mengemas makanan-makanan yang lezat untuk bekal di perjalanan, dia menyuruh suaminya pergi.

Brahmana tua itu bekerja keras dan berusaha sungguh-sungguh mengumpulkan emas, guna menyediakan dua pelayan dan menabung untuk masa depan mereka. Kemudian, ketika ingat makanan yang dipaket istrinya, dia berhenti di sisi jalan untuk menyantap makanan-makanan lezat yang dibuat istrinya. Tanpa setahu dia, seekor ular beracun merayap ke dalam tas terbuka yang berisi makanan itu, karena tertarik pada aromanya yang sedap. Setelah memakan isinya dia menutup tas itu, dan melanjutkan perjalanan pulang tanpa menyadari bahwa seekor ular ada di dalam tas yang berisi makanan yang tersisa.

Satu dewa pohon, ketika melihat bahaya mengancam laki-laki itu, menampakkan diri di hadapan Sang Brahmana dan berseru,”Jika kamu kembali ke rumah, istri kau akan mati ; jika kamu berhenti lagi di sisi jalan, kamu akan mati.” Brahmana tua itu terkejut dan khawatir. Karena tidak dapat mengerti kata-kata dewa itu, dia terbelenggu dalam kedukaan. Dalam perjalanan itu dia tertarik oleh sebuah rombongan besar yang datang untuk mengunjungi Pandhita Senaka, guna mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepadanya. Brahmana itu juga mendekati Pandhita tersebut, dan setelah menceritakan riwayatnya, dia meminta kepada Pandhita untuk menerangkan kata-kata Dewa itu.

Setelah merenungkan kata-kata itu selama beberapa waktu Pandhita Senaka meminta, kepada Sang Brahmana untuk melepaskan ikatan di sekitar tas makanan itu dengan hati-hati. Dia mengatakan kepada Brahmana itu bahwa ia curiga ada ular beracun di dalam tas. Dia kemudian menerangkan kata-kata Dewa  itu dengan mengatakan bahwa jika Sang Brahmana pulang, maka istrinya akan mati karena tidak menyadari adanya ular itu, dia akan memasukkan tangannya ke dalam tas itu untuk mengeluarkan makanan yang tersisa, danjika dia berhenti dalam perjalanan untuk istirahat lagi, dia akan mati, karena dia akan memasukkan tangannya ke dalam tas untuk mengambil makanan. Sesuai petunjuk, Brahmana tua itu membuka tas dengan hati-hati. Seekor ular kecil tetapi beracun merayap keluar dan masuk kedalam semak-semak.

Laki-laki tua itu merasa sangat berterimakasih kepada Pandhita itu, yang telah menyelamatkan hidupnya. Dia mempersembahkan 700 coin emas, yang dia peroleh kepada Pandhita. Pandhita Senaka, yang terkejut ketika melihat begitu banyak uang yang dimiliki laki-laki tua yang lelah, akibat melakukan perjalanan itu, menanyakan kepadanya bagaimana dia bisa memiliki begitu banyak uang, dan meminta dia untuk menuturkan kejadian beberapa hari yang lalu dengan lengkap.

Merasa kasihan pada laki-laki tua yang telah bekerja keras, Pandhita menolak hadiah itu dan memberi dia 300 coin emas supaya dia memiliki 1.000 coin emas untuk masa depan dia dan istrinya. Namun, karena mencurigai perempuan muda itu berkhianat, dia meminta kepada Brahmana itu untuk tidak memberitahu istrinya tentang tabungannya. Dia menyediakan dua pelayan untuk istrinya sesuai permintaannya dan memendam seluruh hartanya di taman mereka dengan setahu istrinya.

Beberapa hari kemudian dia terkejut menemukan seluruh emasnya telah lenyap. Dalam bingungnya, dia mengunjungi Pandhita Senaka yang bijaksana dengan berharap mendapatkan solusi untuk masalahnya. Boddhisatta mendengarkan kasus itu, dan mencurigai pengkhianatan perempuan muda itu, menasehati Brahmana tua itu untuk menjami 14 orang tamu selama 7 hari. Tujuh tamu dipilih oleh istrinya dan tujuh tamu lain dia sendiri yang memilih. Setiap hari secara berturut-turut, masing-masing mengeliminasi satu tamu supaya pada hari ketujuh hanya ada dua tamu, yang mana satu tamu dipilih oleh istrinya dan satu lagi dipilih oleh dia sendiri. Dia kemudian meminta agar Brahmana itu datang kembali dan memberitahukan identitas tamu terakhir yang dipilih istrinya.

Brahmana itu mengikuti instruksi Sang Bijaksana dan mengidentifikasi tamu terakhir istrinya – tamu yang dipilih perempuan itu untuk mengikuti perjamuan selama tujuh hari penuh. Boddhisatta kemudian mengirim orang-orangnya untuk menyelidiki rumah tamu terakhir itu dan menemukan emas yang dicuri.

Ketika ditangkap laki-laki itu mengakui kesalahannya dan hubungannya dengan perempuan muda itu. Boddhisatta itu menanyakan kepada Sang Brahmana apakah dia bersedia memaafkan istrinya dan tetap bersama dia. Setelah diberitahu bahwa dia masih mencintai istrinya dan ingin tetap bersama dia, Boddhisatta menasehati perempuan muda itu tentang bahaya dan kebodohan dari tingkah-lakunya dan akibat-akibat dari pelanggaran sexual. Ketika mendengar kebijaksanaan Boddhisatta, perempuan muda itu bersedia untuk mengubah tingkah-lakunya. Brahmana dan istrinya pulang dengan damai.

Boddhisatta telah sering kali mempraktikkan kebajikan dalam bentuk kebijaksanaan selama banyak kelahiran. Ummaga-Jataka melukiskan banyak problem yang beliua pecahkan dalam upayanya mencari kebijaksanaan. Dengan memecahkan problem ini, Boddhisatta melengkapi kebajikan dalam bentuk kebijaksnaan. Beliau berseru dalam kebahagiaan :

“Dengan kebijaksanaan aku menyelidiki kasus ini dan membebaskan sang brahmana dari kesedihan yang dalam. Dalam kebijaksanaan tak seorang pun yang menyamai aku, aku telah mencapai kesempurnaan dalam kebijaksanaan.”

5. Kesempurnaan Semangat / Usaha ( Viriya-Paramita )

Kisah berikut ini diceritakan dalam Maha Janaka Jataka. Pada masa lampau yang jauh, kerajaan Mithila di negara yang sekarang dikenal sebagai India, diperintah oleh seorang raja bernama Maha Janaka. Beliau memiliki dua anak laki-laki bernama Arittha Janaka dan Pola Janaka. Ketika anak yang lebih tua, Arittha, telah cukup umur, Raja Maha Janaka menunjuk dia sebagai raja baru (penggantinya) dan beliau sendiri pensiun. Beliau juga menunjuk anaknya yang lebih muda bernama Pola, sebagai perdana menteri.

Tak lama kemudian raja tua mangkat. Kedua kakak beradik memerintah kerajaan dengan ramah dan bijaksana. Seorang menteri yang iri hati pada keramahan dan perhatian yang raja berikan kepada perdana menteri, merencanakan untuk menghancurkan Pangeran Pola. Dia mulai meracuni pikiran Raja Arittha dengan tuduhan yang salah tentang saudaranya. Raja, yang percaya pada menterinya, segera mulai berpikir bahwa Pangeran Pola merencanakan untuk membunuhnya dan merebut kerajaannya. Dia memerintahkan agar saudaranya itu dirantai dan dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah istana.

Pangeran Pola, yang sebenarnya seorang pangeran yang baik, kaget. Dia tahu bahwa dirinya tidak pernah melakukan suatu perbuatan tercela dengan pikiran, ucapan atau tindakan. Dengan menggunakan kekuatan Kebenaran dia beraspirasi demikian, Aku tidak pernah melakukan suatu perbuatan yang tercela baik dengan pikiran, ucapan maupun tindakan. Dengan kekuatan Kebenaran, semoga rantai yang membelengguku hancur.” Dengan kekuatan Kebenaran belenggu itu pun terhancurkan. Pangeran muda itu melarikan diri ke sebuah kerajaan tetangga dan hidup dalam penyamaran bersama orang-orang desa.

Pangeran Pola, yang memiliki karakter dan kualitas seorang pemimpin, mendapat dukungan dari rakyat desa. Dia mengirim pesan yang meminta abangnya menyerahkan kerajaan kepada dirinya karena tindakannya yang keliru dengan menghukum seorang yang tidak bersalah. Raja Arittha menolak. Dengan membentuk suatu pasukan, Pangeran Pola bersiap menyerang kakaknya yang menghukum dirinya karena kecerobohan.

Raja Arittha menyadari bahwa dirinya bisa mati di medan perang. Dia menyerahkan berbagai permata kepada istrinya yang sedang hamil anak pertama. Dia meminta kepada istrinya untuk melarikan diri dari kerajaan, demi keselamatannya jika dia mati di medan perang. Raja Arittha tewas di pertempuran dan Pangeran Pola mengambil alih kerajaan Mitthila sebagai Raja.

Ratu, dengan bantuan sebuah kereta perang yang bergerak cepat, menempuh perjalanan ke kota Kala Champa dan disana hidup di antara orang-orang miskin, di sebuah rumah untuk para tuna wisma. Suatu hari, seorang brahmana bersama para siswa pengikutnya yang sedang dalam perjalanan, mereka menuju sebuah danau untuk mandi melewati rumah itu. Melihat ratu berparas ayu yang sedang mengandung, dia merasa kasihan. Membawa pulang dia ke ruamh, dia minta istrinya memperhatikan kebutuhan-kebutuhannya karena dia adalah seorang perempuan yang lebih muda. Tak lama kemudian ratu melahirkan seorang bayi laki-laki yang tak lain adalah Boddhisatta kita. Dia menamai bayi itu Maha-Janaka seperti kakeknya.

Pangeran bayi itu tumbuh menjadi seorang siswa yang baik. Dia juga menjadi seorang olahragawan yang kuat. Namun, dia sering diolok-olok oleh teman-teman sebayanya sebagai seorang miskin yang tidak berayah. Karena ingin mengetahui ayahnya yang sejati, Pangeran bertanya kepada ibunya. Ketika mendengar bahwa dirinya anak seorang raja dan bahwa ibunya masih menyimpan permata-permata kerajaan, dia memutuskan untuk mencoba keberuntungannya.

Saat itu pangeran berusia enam-belas tahun. Ketika akan meninggalkan ibunya, Pangeran Maha-Janaka minta izin untuk pergi berlayar sebagai pedagang di kapal. Ibunya memberi dia satu bagian dari permata-permata kerajaan, dan mengucapkan padanya selamat jalan dan mendoakan kesuksesannya. Tujuh hari kemudian perahu itu menghadapi kesulitan. Laut yang bergelora mengamuk kapal itu dan menyebabkannya terombang-ambing ke kiri dan ke kanan. Anak buah kapal yang berani mencoba untuk mengontrol kapal ketika mereka melihat bahwa ia dikelilingi oleh beberapa kura-kura raksasa. Para anak buah kapal ketakutan tak berdaya menghadapi pemandangan makhluk-makhluk raksasa yang tidak lazim itu. Karena ketakutan mereka mulai berdoa kepada para Dewa untuk menyelamatkan mereka.

Apa yang dilakukan oleh Pangeran Maha-Janaka adalah berkebalikan dengan anak buah kapal lainnya yang memilih untuk berdoa meminta keselamatan kepada Dewa. Pangeran Maha-Janaka menyadari bahwa kapal akan segera terbalik. Dia mendesak sesama crew untuk mengikuti dirinya, dia menggunakan ghee (minyak) pada tubuhnya dan menyantap makanan untuk mempertahankan dirinya. Kemudian, setelah memanjat tiang kapal, dia terjun ke dalam air dan berenang. Setiap otot pada tubuhnya sakit dan bibirnya kering. Angin , panas dan air telah menyiksa kulitnya yang halus. Air asin menimbulkan kepedihan sementara panas matahari yang sedang meninggi membakar kulitnya. Tujuh hari telah lewat – tujuh hari dalam kesulitan dan usaha yang berat tetapi dia masih belum melihat daratan. Melihat seekor camar laut pada suatu jarak tertentu beliau melakukan usaha keras, akhirnya dia ingat bahwa dia sedang membawa tubuhnya yang terluka ke sebuah teluk kecil yang tersembunyi.

Pada saat yang hampir sama, Raja Pola dari Kota Mithila sedang menghembuskan nafasnya yang terakhir. Raja tua wafat setelah meninggalkan pesan bahwa raja berikutnya adalah laki-laki yang dipilih oleh anak perempuannya, Putri Siwali, sebagai suaminya. Calon demi calon, yaitu para pangeran dari negeri tetangga, dibawa ke hadapan sang putri untuk diterima. Tetapi sang putri menolak mentah-mentah mereka semua. Para menteri yang merasa prihatin mulai menjelajahi seluruh negeri untuk mencari satu pemuda yang cocok.

Pangeran Maha Janaka, yang telah dibesarkan oleh seorang petani yang penuh perhatian, sedang beristirahat di sebuah taman yang dekat. Setelah beristirahat dan sembuh, dia berjalan perlahan di antara bunga-bunga cantik ketika para menteri  yang naik kuda kerajaan mendekatinya. Ketika mengetahui bahwa dia adalah putra Raja Arittha, mereka mendandani Beliau dengan pakaian kerajaan dan membawanya ke istana. Putri Siwali terpesona ketika memandang Pangeran Maha Janaka. Dia berlari ke arah Sang Pangeran dan memegang tangannya dan menarik dia masuk ke dalam istana.

Dalam usaha mempertahankan hidup selama tujuh hari dengan keberanian dalam menghadapi cobaan berat akibat kecelakaan kapal, Boddhisatta menyempurnakan kebajikan dalam daya upaya. Setelah menyempurnakan kebajikan yang satu ini, Beliau berseru dengan sukhacitta :

“Kami jauh dari memandang daratan, semua crew mati tak lain karena ketakutan, namun pikiranku tetap tidak kacau, aku telah mencapai kesempurnaan dalam keberanian.”

6. Kesempurnaan Kesabaran ( Khanti-Paramita )

Kisah berikut ini diceritakan dalam Khantiwada Jataka. Pada zaman lampau yang jauh, sepanjang Kaya-Panidhana-Kala, Boddhisatta kita dilahirkan di dalam keluarga Pandhita, dan setelah meninggalkan kesenangan hidup yang dinikmati hari lepas hari, Beliau menjalai kehidupan sebagai seorang petapa. Beliau terkenal karena praktik kesabarannya, kebaikan dan belas kasihnya, dan juga karena ketrampilannya dalam mengajar orang lain. Nama aslinya segera dilupakan dan beliau menjadi dikenal sebagai Khantiwada, guru kesabaran. Boddhisatta tinggal di sebuah grotto (gua) nan indah disebuah hutan, di dekat sebuah kolam nan jernih yang disemarakkan dengan wangi bunga teratai biru dan putih.

Suatu hari di musim panas yang menyengat, raja dan para istrinya dan para pengikutnya memutuskan untuk mengunjungi hutan dimana Boddhisatta tingga. Disana, diantara aneka kembang nan indah raja menikmati nyanyian, tarian dan kegembiraan para istrinya yang  cantik. Terpikat oleh keindahan tempat dan aroma aneka bunga, raja merebahkan diri untuk bersantai dan menikmati nyanyian dan tarian para istrinya. Sebentar saja dia terlelap dalam tidur, terbuai oleh musik nan lembut dan hangatnya mentari.

Para istri raja, yang melihat junjungan mereka tertidur, berjalan-jalan di hutan untuk mencari kesenangan yang menyegarkan. Terpikat oleh keindahan hutan, mereka menjelajah lebih dalam dan semakin dalam untuk mencari aneka bunga  yang menawan. Tak lama kemudian mereka tiba di gua berbau wangi dimana Boddhisatta duduk dalam meditasi. Ketika melihat petapa yang tenang dan tak terusik mereka mengelilingi dia dan meminta beliau membagikan kebijaksanaannya kepada mereka.

Tak lama setelah bangun, raja menemukan para istri dan dayang-dayangnya tidak kelihatan. Dengan mengikuti jejak yang ditandai dengan bunga-bunga dan kelopak-kelopak bunga, yang dipetik oleh para istrinya raja tiba ditempat petapa yang tenang dan lembut yang dikelilingi oleh para istrinya. Dia menjadi terbakar oleh iri hati. Kemarahanya tak terkendali, di amencaci-maki Boddhisatta dengan kata-kata yang tidak patut,”Orang ini telah mempengaruhi istri-istriku. Dia hanya mengkhotbahkan kesabaran dan belas-kasih. Dia seorang yang munafik.” Dia meloloskan pedangnya dan bermaksud membunuh Boddhisatta.

Para istri raja itu kemudian memberikan alasan kepadanya, dengan mengatakan bahwa petapa itu tidak melakukan apa-apa selain mengkhotbahkan kepada mereka kebajikan dalam pengendalian nafsu dan kesabaran. Namun hal ini membuat raja semakin gusar. Dikuasai pikiran gila bahwa para istrinya sekarang membela sang petapa, dia berteriak,”Mari tunjukkan praktik pengendalian dirimu!” Dengan mengayunkan pedangnya dia menebas putus tangan sang petapa. Kemduain, melihat ekspresi yang tenang danlembut di mata sang petapa, dia menebas lagi dan lagi, menebas putus lengannya, hidungnya, telinganya, dan kakinya. Dara mengucur dari tubuh Boddhisatta dan membentuk sebuah kubangan darah di sekelilingnya. Namun tidak ada sepatah kata pun kemarahan  yang meluncur dari bibirnya. Belas kasih dan rasa kasihan kepada raja yang bodoh itu memenuhi hati sang Boddhisatta. Mengetahui dirinya akan meninggal, Boddhisatta memaafkan sang raja dengan ketenangan dan kesabaran dengan mengatakan :

“Semoga panjang umur raja yang tangannya kejam, yang karenanya tubuhku menjadi rusak. Perbuatan-perbuatan seperti itu menyucikan batin seperti batinku, yang menghadapinya dengan tanpa kemarahan.”

Namun raja yang kejam itu harus menerima akibat dari perbuatannya yang biada itu. Sebuah gempa bumi yang dahsyat dan suara gemuruh yang menakutkan membelah udara ketika tanah terbuka dan menelan dia. Dia mati dalam siksaan yang ditimbulkan oleh api kebenciannya.

Meskipun kesakitan jasmani dibawah pedang raja yang kejam itu tak tertahankan, Boddhisatta mempertahankan ketenangan dan kesabarannya dan tidak merasakan kemarahan atau kebencian kepada raja itu. Dan dengan berbuat demikian, setelah sekian lama mempraktikkan kesabaran, Beliau melengkapi kebajikan dalam kesabaran.

7. Kesempurnaan Kebenaran ( Sacca-Paramita )

Kisah ini diceritakan dalam Maha Sutasoma Jataka ( Sutasoma Jataka yang lebih besar ). Pada zaman lampau yang jauh , di negara yang sekarang kita kenal sebagai India, Boddhisatta dilahirkan di dalam keluarga istana dari suku Kaurawa. Karena wajah tampannya yang luar biasa dia dinamakan Sutasoma, yang berarti “Soma yang tampan seindah rembulan”. Pangeran Sutasoma sangat unggul dalam pelajaran dan terkenal karena praktiknya dalam agama. Tak lama kemudian beliau melampaui ayahnya dalam kebijaksanaan dan kebajikan, kemudian raja menyerahkan separuh dari kerajaannya kepada anaknya dan menjadikan dia ahli warisnya. Kerajaan diperintah dengan baik oleh ayah dan anak dan rakyat hidup dalam kebahagiaan dan kepuasan.

Suatu hari yang indah di bulan Mei. Aneka bunga bermekaran, memperindah pohon-pohon dengan wara-warninya yang cemerlang. Aroma wangi mereka dan keriangan para putri menarik Pangeran yang melangkah keluar dari istana ke taman istana. Di sana, beristirahat di bawah sebatang pohon yang teduh, Beliau menikmati ketenangan dan keheningan taman. Seorang Brahmana, yang telah mendengar tentang cinta Pangeran pada pelajaran religius, mendekati Beliau dan meminta izinnya untuk membacakan beberapa syair yang ia rasa Pangeran akan menikmatinya. Dengan ramah pangeran mengundang Brahmana itu untuk mengambil tempat duduk di sisinya.

Di hadapannya sang Brahmana dapat membicarakan kedamaian siang yang teduh. Para penjaga yang khawatir menerobos masuk untuk memberitahukan, bahwa Kamashapada si pemakan manusia sedang menjelajahi kota, untuk mencari seratus pangeran. Kamashapada, raja sebuah kerajaan kecil, pernah mengalami nasib malang dengan mencicipi daging manusia. Dia sangat menyukai rasa itu sehingga dia terus menurutui keinginannya dengan membunuh dan menyantap rakyatnya. Rakyat yang marah bersama-sama menghujat dan bersumpah untuk menghancurkan raja itu. Raja itu berlari ke dalam hutan dan meminta perlindungan kepada para Raksha, satu suku yang memakan manusia, dengan imbalan seratus pangeran. Kamashada sekarang sedang mengganas, mencari para pangeran untuk menepati janjinya.

Boddhisatta menyadari bahwa senjata-senjata tidak akan menaklukkan seseorang yang telah merendahkan martabatnya sedemikian rendah dengan membunuh rakyatnya sendiri untuk memuaskan keinginannya yang kuat pada daging manusia. Sebagai gantinya, Beliau memutuskan untuk menyerahkan dirinya dan mencoba menundukkan Kamashapada melalui kebajikan. Pangeran Sutasoma berjalan dengan tenang ke arah si pemakan manusia dan berkata, “Inilah aku. Ambillah aku dan tinggalkan rakyatku yang miskin tanpa mengganggunya.” Melihat pangeran yang tanpa pengawal dan hanya sendiri, Kamashapada menyambar dia, dan menyampirkannya ke atas punggungnya, membawa dia ke dalam hutan.

Kamashapada menurunkan Boddhisatta di sarangnya di tengah-tengah gundukan mayat dan tengkorak yang pecah. Tempat kematian yang berbau sangat busuk. Kamashapada yang duduk bersandar mengagumi keindahan dan kelembutan Pangeran Sutasoma.

Pada saat itu Pangeran sedang merenungkan kesempatan belajar yang hilang dengan sedih, dan memandangnya sebagai bencana yang menimpa, karena baru saja Sang Brahmana akan berbagi kebijaksanaan denga dirinya. Ketika mendengar keluhan Pangeran, Kamashapada tertawa dan bertanya apakah beliau sedang berdukkha-citta karena kehilangan kerajaannya, kekayaannya, atau keluarganya. Kemudian Boddhisatta memberitahu dia bahwa beliau bersedih bukan karena kekayaan atau keluarga tetapi karena kehilangan kesempatan untuk belajar. Beliau kemudian mohon diri untuk kembali guna mendengar kata-kata Sang Brahmana dan berjanji akan kembali ke sarang Kamashapada tanpa pengawal.

Kamashapada tertawa dan berkata,” Apa motifmu untuk kembali lagi kesini ? Jika aku membebaskanmu, aku akan kehilangan kamu.” Keingintahuan si pemakan manusia pun muncul. Dia telah menangkap seratus pangeran dan dapat memenuhi janjinya seandainya dia kehilangan pangeran ini.  Dia setuju dan membebaskan Boddhisatta.

Rakyat kerajaan itu sangat bersukha-citta ketika mereka melihat Pangeran berjalan kembali dengan selamat dan tidak kurang suatu apa pun. Beliau mengundang Brahmana itu dan setelah mendengar kebijaksanaannya Beliau siap kembali ke sarang Kamashapada. Raja ketakutan dan menolak mengizinkan dia berangkat, tetapi Pangeran bersikeras. Kemudian raja mengumpulkan tentara dan meminta agar mereka menemani Pangeran ke dalam hutan. Namun Pangeran menolak pengawalan dengan berkata,”Aku telah berjanji. Aku harus pergi seorang diri tanpa pengawalan.” Diiringi air mata dan rasa keberatan dari keluarga dan rakyatnya, Pangeran kembali ke sarang si pemakan manusia.

Ketika Kamashapada melihat Pangeran berjalan ke arahnya seorang diri dan tanpa pengawal dia kaget dan kagum. Rasa ingin tahunya muncul dan dia berkata,” Aku tidak usah repot-repot untuk membunuhmu. Kayu api pembakaran masih menyala. Daging manusia terasa paling lezat jika dibakar diatas bara api yang menyala-nyala. Jadi, ceritakanlah kepadaku, apa yang sangat penting yang telah kamu pelajari dari Brahmana itu ?”

Kemudian Pangeran bertanya kepadanya, “apa guna kebijaksanaan bagi orang yang hanya percaya pada kejahatan?” Si pemakan manusia yang marah itu kemudian mengejek Pangeran sebagai orang yang tidak punya kebijaksanaan politis sehingga datang kembali, katanya,”Hanya seorang yang tolol yang kembali setelah diberi kebebasan.” Namun Pangeran menghadapi komentarnya dengan mengatakan, bahwa yang lebih penting daripada kebijaksanaan politis adalah kejujuran. “Aku telah berjanji kepadamu. Bagiku, menepati janji itu lebih penting daripada mempertahankan kerajaan.”

Kamashapada yang telah ditundukkan dan menjadi rendah hati itu kemudian duduk di sisi Boddhisatta dan meminta beliau untuk mengajarkan kepadanya kebijaksanaan yang telah beliau peroleh. Boddhisatta bersedia mengajar dia, katanya,”Bahwa melalui pembebasanmu aku mendapatkan kebahagiaan dengan mendengarkan kebijaksanaan ini.” Kemudian beliau mengulangi kata-kata Brahmana itu:

“Tetapi sekali berjumpa dengan seorang yang berkebajikan, itu sudah cukup untuk membentuk suatu persahabatan yang abadi, jangan menunggu pertemuan-pertemuan berikutnya. Jagalah jangan sampai diri Anda terpisah dari orang yang berkebajikan, tetapi ikutilah dan hormatilah mereka senantiasa. Dia yang dekat dengan mereka tidak akan gagal untuk menjadi seperti mereka.

Orang-orang tersebut laksana debu bunga yang memancarkan aroma wangi dari kata-kata dan perbuatan-perbuatan mulia tanpa mengetahuinya. Telinga para raja dengan aneka permata dan emas hilang bersama keindahan permata-permata mereka, menjadi layu!

Sedemikian kuat cinta dalam orang-orang saleh yang memiliki kebajikan yang tidak pernah memudarkan kebajikan tetapi hidup untuk memberikan berkah.”

Ketika mendengar kata-kata ini, hati si pemakan manusia dipenuhi dengan kebahagiaan, dan dia mempersembahkan empat boon (anugerah) kepada Pangeran. Kemudian Boddhisatta meminta keempat boon berikut :

  1. Berjanji untuk hidup dalam kebenaran
  2. Berhenti menyakiti makhluk-makhluk hidup
  3. Membebaskan semua tawanan
  4. Tidak pernah lagi menyantap daging manusia

Sedangkan Kamashapada berkata,”Anda dapat memiliki tiga yang pertama, tetapi yang keempat, aku tidak dapat memberikannya. Aku tidak dapat berhenti menyantap daging manusia. Bagaimana aku dapat menghentikan rasa itu yang karenanya aku kehilangan kerajaanku?” Boddhisatta kemudian menerangkan bahwa jika tidak dapat melakukan yang keempat, maka dia juga tidak dapat melakukan tiga yang lain. Karena setelah menjanjikan sebuah boon lalu menolak menepati janjinya, maka janji itu sendiri bukan kebenaran.

Dengan bantuan Boddhisatta, Kamashapada menjadi seorang yang terubahkan (insyaf). Dia membebaskan seratus pangeran dan hidup dibawah pengaruh baik Pangeran Sutasoma. Tak lama kemudian ia kembali ke kerajaannya dan memerintah disana. Dengan menepati janjinya untuk kembali, Boddhisatta melengkapi kebajikan dalam kebenaran. Inilah yang beliau katakan dengan sukha-citta setelah melengkapi kebajikan dalam kebenaran :

“Aku menjaga janji yang aku ucapkan dan memberikan hidupku untuk dikorbankan. Seratus prajurit siap membebaskan aku. Sesungguhnya aku telah mencapai kesempurnaan.”

Harus dikatakan bahwa kebajikan dalam Kebenaran adalah yang tertinggi dari sepuluh kebajikan karena ia adalah satu kebajikan yang dijaga oleh Boddhisatta sepanjang Kaya-Panidhana-Kala. Selama periode ini adalah mungkin seorang Boddhisatta untuk melakukan kesalahan, karena dia masih seorang duniawi (belum mencapai tingkat kesucian apapun) dan merupakan subjek bagi perbuatna salah. Namun, dia tidak melanggar peraturan Kebenaran. Pencari Kebenaran, kandidat Buddha, mempertahankan peraturan kebenaran sepanjang periode yang amat lama itu, menjadikan Kebenaran sebagai yang paling penting di antara sepuluh kebajikan.

8. Kesempurnaan Kebulatan-Tekad ( Adhitthana-Paramita )

Kisah berikut ini diambil dari Mughapakkha Jataka. Pada masa lampau yang jauh, kota Benares diperintah oleh seorang raja dari kasta Mughapakkha, bernama Kasi. Sebagaimana kebiasaan pada waktu itu, raja memiliki seorang permaisuri dan banyak selir di istananya. Tak satu pun dari istrinya melahirkan anak. Fakta ini menimbulkan kesedihan yang mendalam pada hati raja dan para menterinya, karena tidak ada satu pun yang melanjutkan garis keturunan (silsilah) kerajaan.

Permaisuri Chandra, seorang ratu yang sangat bajik dan murah hati, memutuskan bahwa dia akan melakukan banyak perbuatan bajik dan berdoa, agar dia mendapatkan seorang anak laki-laki sebagai akibat dari perbuatan-perbuatannya yang bajik. Dia mulai bersungguh-sungguh melakukan perbuatan dalam kemurahan-hati, dan belas-kasih kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Kemudian dia beraspirasi untuk mendapatkan seorang anak laki-laki, sebagai akibat dari perbuatan-perbuatannya yang bajik itu.

Tak lama kemudian Ratu Chadra melahirkan seorang bayi laki-laki yang rupawan, yaitu Boddhisatta kita. Raja yang bersuka-cita memberi nama Pangeran itu Temiya dan memberikan anugerah kepada ratu karena telah melahirkan bayi laki-laki untknya. Ratu yang sangat bersuka-cita, yang berpendapat bahwa denganmemiliki seorang anak laki-laki dia mendapatkan segala yang dia perlukan, bertanya kepada raja apakah ia dapat memperoleh anugerahnya pada suatu hari nanti.

Sejak balita bayi ini tampaknya berbeda dari bayi-bayi lainnya. Dia tampaknya mengamati dan memahami semua yang terjadi di sekelilingnya. Ayahnya yang bangga membawa anak itu kemana-mana, dengan demikian Pangeran muda menyaksikan siksaan dari hukuman atas empat orang yang dituduh, diyakini melakukan perampokan.

Pangeran Temiya, sebagai orang muda menyadari bahwa suatu hari, sebagai raja, beliau juga diharapkan menghukum orang-orang yang bersalah dengan cara ini. Saat itu terlintas dalam ingatannya suatu kelahirannya yang lampau ; ketika menjadi seorang raja dia sering menyiksa orang-orang yang bersalah, hingga mengakibatkan kelahiran di alam menyedihkan dan menjalani siksaan selama 80.000 tahun. Dia tahu bahwa dirinya tidak ingin menjadi raja, namun sebagai satu-satunya pewaris tahta beliau tidak melihat jalan keluar.

Merenung demikian, Pangeran memutuskan bahwa dia harus bertindak dengan suatu cara sedemikian rupa agar tahta tidak diberikan kepada dirinya. Pangeran mengubah tingkah-lakunya dengan berpura-pura menjadi bisu, tuli, dan cacat-mental. Raja Kasi pun mulai meragukan kepantasan Puteranya sebagai ahli waris. Anak ini telah berubah. Kini , dia bukan seorang yang luar biasa cerdas dan bijaksana seperti yang pernah dipikirkannya. Di mata raja, sekarang dia seorang bisu yang bodoh.

Ratu memperhatikan anaknya dengan lemah-lembut, mencurahkan seluruh cintanya kepada anak-kecil yang malang itu, yang tidak dapat bicara maupun mendengar. Dia memandikan anak itu dan memberinya makan, karena tampaknya Pangeran Temiya seorang anak yang tidak dapat merawat dirinya sendiri.

Bagaimanapun juga, raja merasa malu terhadap anaknya. Apa gunanya anak yang tidak dapat menjadi raja ini ? Dia memanggil saisnya, Sunanda, memerintahkan untuk membawa anak itu, yang telah berusia 16 tahun, ke kuburan. “Bunuh dia”, perintah raja yang kejam itu, “Bunuh dia dan kuburkan tubuhnya. Kemudian bawalah pulang permata kerajaan yang dia kenakan.”

Ratu Chandra hancur hatinya ketika mendengar kata-katanya. Dengan air mata berlinang dia mengingatkan raja akan anugerah yang dia janjikan padanya pada hari kelahiran anak mereka.”Biarkan dia hidup”, pinta sang ratu dengan memelas,”Aku akan merawat dia, mohon biarkan dia hidup”. Di tengah-tengah permohonan sang ratu, pangeran muda itu dibawa ke kuburan untuk menerima kematiannya.

Setelah menghentikan kereta di tempat yang tepat, Sunanda mulai menggali sebuah kuburan untuk mempersiapkan kematian Pangeran Temiya. Pangeran Temiya kemudian muncul dari tempat duduknya dan berjalan dengan kalem ke arah Sunanda. Ketika mendengar suara langkah-langkah kaki, Sunanda meletakkan sekopnya dan berpaling, menatap Pangeran yang mukanya sangat cerah dan bercahaya,”Aku bukan seorang yang bisu tuli”, kata sang Pangeran,”Aku telah melakukan cara ini, karena ayahku tidak akan setuju membiarkan aku menempuh kehidupan suci. Inilah satu-satunya cara agar aku dapat menolak warisan kerajaan. Ambillah pusaka-pusaka kerajaan ini dan kembalikanlah kepada raja dan ratu. Biarlah mereka mengetahui bahwa anak laki-laki mereka telah menempuh kehidupan suci sebagai petapa. Kemudian bawalah mereka kembali ke lapangan di tengah hutan dimana aku akan tinggal.”

Sebagaimana diminta, Sunanda mengembalikan permata-permata itu dan menghibur sang ratu yang berdukkha-citta dengan menuturkan fakta itu. Raja dan ratu mengunjungi putra mereka yang telah berbuat dengan keyakinan dan kebulatan tekad yang sedemikian rupa, untuk menghindari perbuatan-perbuatan yang tidak trampil (buruk), yang harus dia lakukan selaku seorang raja. Ketika putra mereka berbicara tentang akibat-akibat dari perbuatan-perbuatan yang salah dan berbagai ekstreem, yang telah dia jalani untuk menghindari perbuatan yang salah, raja mengubah cara-caranya. Dia memutuskan untuk memerintah kerajaannya dengan kebenran, dan memberi izin kepada pangeran muda itu untuk bertahan dalam kehidupan suci. Ketika melengkapi kebajikan dalam ketetapan hati, Boddhisatta menyatakan :

“Bahwa aku tidak membenci orang-tuaku , bahwa aku tidak membenci kemuliaan,  namun karena aku menjunjung tinggi Kemahatahuan, maka aku mempertahankan tekadku yang kuat.”

9. Kesempurnaan Cinta-Kasih ( Metta-Paramita )

Kisah berikut ini diceritakan dalam Ekaraja-Jataka. Pada masa lampau yang jauh, di kerajaan Kosala, di sana memerintah seorang raja bernama Dabbamalla. Di istananya ada seorang menteri yang dipercaya, karena kesalahapahaman yang lalu, sangat iri hati pada raja tetangga bernama Ekaraja. Menteri itu merencanakan untuk menghancurkan Raja Ekaraja melalui kelicikan dan tipuan. Perlahan-lahan dia mulai meracuni pikiran Raja Dabbamala dengan menyebarkan berita yang salah tentang Raja Ekaraja. Tak lama kemudian Raja Dabbamala percaya bahwa Raja Ekaraja adalah seorang raja yang serakah dan zalim (bengis), yang bermaksud mengambil alih kerajaannya. Raja Dabbamala mengumpulkan seluruh tentaranya untuk menghancurkan Raja Ekaraja dan merebut kerajaannya.

Boddhisatta, yang lahir sebagai Raja Ekaraja, adalah seorang raja yang lemah lembut dan jujur yang memerintah kerajaannya dengan cinta-kasih, keadilan dan belas-kasih ; dia sering menggunakan waktu luangnya di tengah hutan untuk bermeditasi. Sebagai hasilnya, beliau telah mencapai tingkat-tingkat spiritual yang lebih tinggi, yang dikenal sebagai Jhana-Jhana. Orang-orang dalam kerajaan-Nya adalah orang-orang yang sangat bahagia dan lembut, mereka benar-benar tidak siap untuk bertempur. Karena itu dengan sangat mudah Raja Dabbamala menaklukkan kerajaan itu dan menangkap Raja Ekaraja.

Dengan kemarahan dan kebencian di dalam hatinya akibat tuduhan palsu dari menterinya, Raja Dabbamala mengikat kaki dan tangan Raja Ekaraja dan menggantung beliau dengan kakinya di pohon, dimana dia meninggalkan Beliau untuk mengalami suatu kematian yang perlahan dan menyakitkan. Hari berikutnya dia kembali untuk melihat dan menyaksikan momen-momen terakhir kematian Raja Ekaraja.

Raja berharap menemukan Raja Ekaraja yang ditaklukkan dan disiksa itu memohon belas-kasihan. Sebaliknya, dia menemukan seorang Raja yang tenang dan damai dalam meditasi yang dalam. Raja Ekaraja sedang bermeditasi beberapa kaki diatas tanah dan memancarkan kedamaian danketenangan. Raja Dabbamalla terkejut lantas bertanya kepada Raja Ekaraja tentang bagaimana Beliau keluar dari keadaan itu. Raja Ekaraja kemudian menjelaskan kepadanya kebajikan-kebajikan dalam cinta-kasih dan belas-kasih, dan bagaimana beliau sering tinggal di hutan dan bermediasi di antara binatang-binatang buas yang tidak pernah mengganggu beliau karena belas-kasih yang beliau pancarkan. Ketika mendengar kebenaran itu, Raja Dabbamalla mengembalikan Raja Ekaraja ke istananya dan meminta maaf. Dia kemudian menjatuhkan hukuman berat kepada menterinya atas kelicikannya itu.

Dengan mempraktikkan belas-kasih kepada semua makhluk hidup dengan sepenuh hati, Raja Ekaraja , Sang Boddhisatta, melengkapi kebajikan dalam belas-kasih. Setelah melengkapi kebajikan dalam belas kasih ini, Beliau berseru dengan sukkha-citta :

“Tidak ada ketakutan yang orang miliki terhadap aku, Aku pun tidak takut pada siapa pun. Dengan kemauanku yang baik kepada semua makhluk, aku percaya pada hutan-hutan sunyi dan suka tinggal disana.”

10. Kesempurnaan Keseimbangan-Batin ( Upekkha-Paramita )

Kisah berikut ini diceritakan di dalam Lomahangsa Jataka. Selama Kaya-Panidhana-Kala, Boddhisatta kita yang masih seorang duniawi melakukan banyak perbuatan yang tidak terampil yang mana dua belas diantaranya berakibat cukup serius, bahkan dialami setelah beliau menjadi Buddha. Empat diantaranya berkenaan dengan penghinaan kepada seorang Pacceka-Buddha.

Boddhisatta, yang berjuang mencapai kesempurnaan dan tingkat Buddha, telah merendahkan atau menghina Pacceka-Buddha karena iri-hati.Teks itu tidak secara khusus dihubungkan dengan keempat insiden tersebut. Namun sebagai akibat dari salah satu perbuatan yang tidak terampil ini Boddhisatta kita dilahirkan sebagai seorang asketik (petapa) yang mempraktikkan bentuk asketisme yang ekstrim. Para asketik dari sekte tidur di kuburan-kuburan di antara tulang-belulang dan tengkorak-tengkorak dari tubuh orang mati, yang telah ditinggalkan hingga membusuk, dan hampir tidak mengenakan pakaian.

Boddhisatta, yang selama periode ini percaya pada bentuk asketisme (petapaan) ekstrim ini, mempraktikkan kepercayaan tersebut sepenuhnya sehingga para pengikut sekte ini memuji Beliau dan menghormatinya karena ketekunan dan dedikasinya. Banyak orang yang tidak percaya pada bentuk petapaan ekstrem ini mengejek beliau karena praktik pertapaannya ini.

Sepanjang periode ini,Boddhisata yang mencoba menyempurnakan kebajikan dalam keseimbangan batin, mempertahankan sebuah pikiran yang seimbang dengan tidak bereaksi terhadap pujian maupun celaan yang beliau terima setiap hari. Dengan keseimbangan batin itu, Beliau mengamati berbagai sensasi yang muncul di dalam dirinya ketika Beliau dipuji, dan meredakan reaksi dari keinginan atau keterikatan pada sensasi yang menyenangkan, dengan merenungkan ketidakabadian. Dengan cara yang sama, dengan keseimbangan batin, Beliau mengamati sensasi-sensasi yang muncul ketika beliau diejek dan dihina, dan meredakan aversi (rasa tidak suka) dan repulsi (rasa-jijik) pada sensasi yang tidak menyenangkan dengan merenungkan ketidakabadian. Dengan berbuat demikian, Boddhisatta yang telah mempraktikkan keseimbangan batin selama sekian banyak kelahiran yang lampau, mencapai kesempurnaan dalam keseimbangan batin dan menyatakan demikian :

“Aku telah menempatkan diriku di antara orang mati, kubuat tulang-tulang mereka sebagai bantal, sementara orang-orang berdatangan, sebagian mengejek, dan sebagian memuji.”

Kemudian Boddhisatta menyadari, bahwa bentuk pertapaan ini tidak kondusif bagi usahanya untuk mencapai Pencerahan-Sempurna. Dia meninggalkan sekte ini dan menjalani asketisme yang dipraktikkan oleh sekte-sekte yang lebih moderat, dimana meditasi dan perkembangan spiritual merupakan tujuannya.

_______________________________________________

Dengan melengkapi kesempurnaan dalam kemurahan-hati ( Dana-Paramita ) dalam kelahirannya sebagai Pangeran Wessantara ( baca kisah Pangeran Wessantara ini pada point no.1 “Kesempurnaan Kemurahan-Hati (Dana-Paramita)” diatas ) , Boddhisatta kita melengkapi kesepuluh kesempurnaan.

Setelah wafatnya Pangeran Wessantara, Ia dilahirkan di Surga TusitaDewa Setaketu sebagai dewa bernama . Dan disanalah beliau tinggal hingga saat yang tepat untuk kelahirannya yang terakhir sebagai Buddha Gotama.

Nah, saudara-saudari se-Dhamma, marilah kita meneladani perjuangan Boddhisatta kita dalam memenuhi kesepuluh kesempurnaan selama Empat Asankkheyya-Kappa + 100.000 Maha-Kappa sebelum kelak dilahirkan menjadi Pangeran Siddhatta-Gotama dan akhirnya menjadi Buddha.

Kesempurnaan seorang Buddha adalah tiada bandingnya. Dibawah ini, ada tiga bait syair yang diucapkan oleh Suruci Sang Petapa yang kelak menjadi Yang-Mulia Sariputta sebagai penghormatan kepada Buddha-Anomadassi.

“Sakkā samudde udakam, Pametum ālhakena vā, Na tveva tava sabbaññu, Ñāņam sakkā pametave”

[ Adalah mungkin untuk mengukur banyaknya air di samudera besar menggunakan alat ukur; tetapi o Buddha, tak seorang pun apakah dewa atau manusia yang dapat mengukur dalamnya kebijaksanaan yang dimiliki oleh Yang-Teragung ]

“ Dhāretum pathavim sakkā thapetva tulamandale, Na tveva tava sabbaññu Ñāņam sakkā dharetave “

[ Adalah mungkin mengukur beratnya bumi ini dengan timbangan; tetapi, O Buddha, tak seorang pun apakah dewa atau manusia yang dapat mengukur dalamnya kebijaksanaan yang dimiliki oleh Yang Teragung ]

“Ākāso minitum sakkā rajjuyā angulena vā, Na tveva tava sabbaññu Ñāņam sakkā pametave”

[ Adalah mungkin mengukur luasnya angkasa dengan alat-ukur; tetapi, O Buddha, tak seorang pun apakah dewa atau manusia yang dapat mengukur dalamnya kebijaksanaan yang dimiliki oleh Yang Teragung ]

Sumber Pustaka :

1. Praktik Dhamma menuju Nibbana , Radhika Abeyesekera, Penerbit Sri Manggala 2008.

2. Riwayat Agung Para Buddha ( The Great Chronicle of Buddhas ) , Tipitakadhara Mingun Sayadaw, Myanmar ; Terbitan Ehipassiko collection , Girimangala Publications.

_________________________________________________

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Rabu, 23 September 2009

Ditulis dalam BUDDHA, Kronologi Hidup Buddha, Riwayat Hidup Buddha | 6 Comments »

LAMANYA WAKTU YANG DIBUTUHKAN UNTUK MENJADI SEORANG BUDDHA

Posted by ratanakumaro pada September 19, 2009

“Kelahiran sebagai manusia itu jarang, Kehidupan manusia itu sulit, Mendengar Kebenaran Mulia itu sulit, Munculnya seorang Buddha itu jarang.”

[ Dhammapada 182 ]

______________________________________

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa”

( Tikkhattum ; 3x )

Memahami Istilah-istilah :  Satu Siklus Dunia ( 1 Maha-Kappa ), Satu Periode Dunia ( 1 Asankkheyya-Kappa ), dan Antara-Kappa

Kebanyakan orang yang membaca riwayat hidup Buddha akan berpikir, bahwa Petapa Gotama membutuhkan waktu enam tahun untuk menjadi Buddha. Fakta yang sesungguhnya adalah bahwa Buddha Gotama membutuhkan waktu  selama 300.000 siklus dunia  ( atau = 300.000 Maha-Kappa ) plus (+) 20 periode ( 20 Asankheyya-Kappa ; atau / sama dengan 400 antara-kappa ) yang tak terhitung lamanya untuk mencapai Pencerahan batin Sempurna dan menjadi seorang Buddha. Hampir tidak mungkin membayangkan panjangnya waktu tersebut. ( Praktik Dhamma menuju Nibbana ; Radhika Abeyesekera, Srimanggala 2008 )

Menurut Radhika Abeyesekera, dalam bukunya “Praktik Dhamma Menuju Nibbana” ( Srimanggala 2008) , selama waktu perjalanan tersebut, Boddhisatta kita , telah bertemu dengan para Buddha di masa lampau , yaitu bila saya jumlahkan total kesemuanya adalah sebanyak  163.727 Samma-Sambuddha , dengan perincian sebagai berikut : 125.000 Samma-Sambuddha ( Era Mano-Panidhana-Kala ; diawali pertemuan Boddhisatta dengan Buddha Brahma-Dewa) + 38.700 Samma-Sambuddha ( Era Waci-Panidhana-Kala ; diawali pertemuan Boddhisatta dengan Buddha Gotama-Purana ) + 3 Samma-Sambuddha ( Buddha Tanhangkara, Buddha Medhangkara, Buddha Saranangkara ) + 24  Samma-Sambuddha ( Era Kaya-Panidhana-Kala ; Dimulai pertemuan Boddhisatta dengan Buddha Dipankara ( Buddha pertama yang memberi ramalan kepastian pencapaian ke-Buddha-an Boddhisatta kita ) dan diakhiri pertemuan dengan Buddha Kassapa ( Buddha ke-24 yang memberi ramalan kepastian pencapaian ke-Buddha-an Boddhisatta kita ) .

Sebagian masyarakat Buddhis juga ada yang berpikiran bahwa Sang Buddha hanya membutuhkan waktu selama Empat (4) Asankkheyya-Kappa ( atau = satu (1) Maha-Kappa / 1 siklus dunia saja ) ditambah (+) seratus ribu (100.000) Maha-Kappa untuk merealisasi ke-Buddha-an. Pengertian ini hanyalah penggambaran untuk periode semenjak Boddhisatta ( calon-Buddha ) mendapat ramalan-pasti dari seorang Samma-Sambuddha ; dalam kasus ini, adalah sejak Petapa-Sumedha mendapat ramalan pasti dari Buddha-Dipankara bahwa kelak ia akan terlahir dalam keluarga Sakya berkasta Ksatriya, bernama Siddhatta-Gotama dan akan mencapai tingkat Samma-Sambuddha. Periode Empat A.K + 100.000 Kappa ini hanyalah menggambarkan periode dimana Boddhisatta menyempurnakan ke-sepuluh Kesempurnaan ( Dasa-Paramitha ), yang dikenal sebagai masa “Kaya-Panidhana-Kala”.  Lagipula, waktu selama Empat (4) Asankkheyya-Kappa ( atau = satu (1) Maha-Kappa / 1 siklus dunia saja ) ditambah (+) seratus ribu (100.000) Maha-Kappa untuk merealisasi ke-Buddha-an hanya berlaku bagi Boddhisatta Pannadhika ( calon Buddha dengan faktor kebijaksanaan kuat ) , sedangkan untuk Boddhisatta Saddhadhika ( calon Buddha dengan faktor keyakinannya yang lebih kuat ) akan membutuhkan waktu 8 A.K + 100.000 Maha-Kappa ; dan bagi Boddhisatta Viriyadhika ( calon Buddha dengan faktor usahanya yang lebih kuat ) membutuhkan waktu 16 A.K + 100.000 Maha-Kappa.

Untuk mengerti bagian ini perlu memahami satuan-waktu dalam bahasa Pali yang digunakan untuk menerangkan hal ini. Mereka adalah :

-          Maha Kappa [Maha-Kalpa] atau siklus dunia.

-          Asankkheyya-Kappa atau periode yang tak dapat dihitung lamanya.

-          Antara-Kappa ( Anto-Kappa )

Dalam rentang perjalanan manusia, (sesungguhnya) terdapat suatu masa dimana seluruh ummat manusia hanya akan mempunyai batas waktu umur rata-rata hingga 10 tahun. Masa ini terjadi ketika moralitas ummat manusia sedemikian merosotnya, sehingga umurnya hanya akan bertahan hingga 10 tahun, sesudah itu mati. Masa selang antara batas usia manusia rata-rata 10 tahun lalu naik sampai usia yang panjang sekali hingga mencapai delapan puluh ribu ( 80.000 ) tahun, lalu turun kembali hingga batas usia rata-rata menjadi 10 tahun kembali, itu adalah rentang waktu 1 “Antara-Kappa” ( Antara satu kappa ke Kappa berikutnya, itulah “Antara-Kappa” ).

Satu ( 1 ) Asankheyya Kappa adalah sama dengan 20 Antara Kappa. Satu ( 1 ) Asankheyya Kappa, oleh beberapa sarjana ( sekali lagi, hal ini dinyatakan oeh beberapa sarjana, sebab ada pula para sarjana lainnya yang menyebutkan angka waktu yang berbeda ) dinyatakan, bila dialjabarkan sama dengan 10 pangkat 14 ( angka satu ( 1 ) diikuti empat belas (14)  angka nol),  sehingga lamanya mencapai kurang lebih 100 trilyun tahun. Dan Satu ( 1 ) Maha Kappa adalah sama dengan empat ( 4 ) Asankheyya Kappa, sehingga 1 Maha Kappa lamanya mencapai kurang lebih 400 trilyun tahun.

Sang Buddha menjelaskan siklus dunia sebagai berikut : Banyak, banyak tahun dari zaman sekarang suatu hujan deras yang destruktif (menghancurkan) akan terjadi, dan sebagai akibatnya sistem dunia akan berakhir. Kemudian, setelah satu waktu yang lama, dunia akan berkembang kembali. Dan kemudian, setelah satu periode yang lama, hujan lebat yang destruktif lainnya akan terjadi dan menghancurkan sistem dunia. Periode antara dua hujan yang destruktif adalah satu siklus dunia. Buddha telah membagi satu (1) siklus dunia menjadi empat (4) periode :

-          Samwata-kappa

-          Samwattatthayi-Kappa

-          Wiwata-kappa

-          Wiwatattathayi-kappa

Samwatta-kappa : Periode pertama dari siklus dunia yang dikenal sebagai Samwatta-kappa merupakan periode yang sangat panjang antara hujan besar yang menghancurkan dan munculnya tujuh matahari, yang mana pada waktu itu seluruh sistem dunia terbakar habis. Period ini dikenal sebagai periode kekacauan atau periode tahap pembubaran.

Samwattathayi-Kappa : Periode kedua dari siklus dunia, yang dikenal sebagai Sawattatthayi, adalah ketika langit dan berbagai surga (cakrawala) yang diatas dan dibawah dunia ditutupi dengan debu tebal dan kegelapan. Periode yang lama ini dikenal sebagai periode berlangsungnya kekacauan, atau periode berlangsungnya tahap pembubaran.

Wiwatta-kappa : Periode ketiga, yang dikenal sebagai witatta-kappa, dimulai dengan hujan deras yang produktif, dan terus berlangsung hingga matahari dan bulan mulai muncul. Periode ini dikenal sebagai periode perkembangan yang panjang.

Wiwattatthayi-Kappa : Periode keempat, yang dimulai ketika matahari dan bulan muncul melalui debu, yang dikenal sebagai wiwattatthayi, kelangsungan evolusi, dan berlangsung hingga hujan besar berikutnya yang menghancurkan.

Masing-masing fase dari keempat fase tersebut diatas dibagi menjadi 20 anto-kappa (64 menurut beberapa teks).

Masing-masing fase tersebut disebut “Kappa-Menengah” / Asankkheyya-Kappa. Kappa-menengah terdiri dari dua-puluh ( 20 ) kappa-kecil / anto-kappa. Kappa-kecil /anto-kappa pertama disebut kappa-turun, dan kappa-kecil terakhir ( yang ke-20 ) disebut kappa naik.

Delapan-belas ( 18 ) kappa-kecil di antara kappa-turun dan kappa-naik merupakan siklus yang terdiri atas paruh-pertama naik dan paruh-kedua turun.

Sehingga, yang dimaksud dengan satu siklus dunia adalah dari Samwatta-Kappa , lalu melewati Samwattathayi-Kappa, melewati Wiwatta-Kappa, melewati Wiwattatthayi-Kappa, kemudian kembali lagi pada era Samwatta-Kappa ; demikianlah sehingga dinyatakan bahwa satu siklus dunia adalah periode antara dua hujan yang destruktif. Lamanya satu siklus dunia adalah sama-dengan satu (1) Maha-Kappa ( atau = empat (4) Asankkheyya-Kappa ).

Sedangkan yang dimaksud dengan satu (1) periode adalah satu periode dari keempat periode dalam satu siklus dunia tersebut ( yaitu : Samwatta-Kappa , Samwattathayi-Kappa, Wiwatta-Kappa, Wiwattatthayi-Kappa ). Lamanya satu periode adalah sama dengan satu (1) Asankkheyya-Kappa ( atau = dua puluh (20) Antara-Kappa / Anto-Kappa )

Kita sekarang berada di salah satu dari dua puluh anto-kappa dalam periode yang dikenal sebagai Wiwattatthayi, kelangsungan evolusi. Dalam setiap anto-kappa jangka hidup seseorang naik hingga satu periode yang sangat panjang, dan menurun lagi hingga kira-kira sepuluh tahun. Kita sekarang berada dalam periode yang sangat menguntungkan. Lima Buddha dilahirkan dalam siklus dunia ini ( karenanya dikenal sebagai Maha Baddha Kappa). Empat Buddha telah muncul. Era (zaman) Buddha Metteya (Maitreya) belum datang.

Waktu yang diperlukan untuk terbentuk dan hancurnya suatu sistem dunia sangatlah panjang; diperlukan sangat banyak kappa ( sebagai satuan waktu ) untuk itu. Sewaktu Sang Buddha ditanya tentang panjang kurun waktu satu kappa, Beliau menjawab :

“ Sangat panjang kurun waktu satu kappa. Tak dapat diperhitungkan dengan tahun, abad ataupun ribuan abad.”

“ Bila demikian, Guru, dapatkah dengan menggunakan perumpamaan?”

“Dapat,. Bayangkan bongkahan suatu gunung besar, tanpa retak, tanpa celah, padat, berukuran panjang 1 mil, lebar 1 mil dan tingginya juga 1 mil. Lalu bayangkan setiap seratus tahun ada orang datang menggosoknya dengan sepotong sutra Benares. Maka, akan lebih cepat bukit itu habis tergosok daripada suatu masa kappa berlalu. Pula ketahuilah, lebih dari satu, lebih dari ribuan, lebih dari ratusan ribu kappa, sebenarnya telah berlalu.”

Tentu saja selendang sutra akan habis sebelum batu itu terkikis habis. Buddha memberikan perumpamaan yang indah itu untuk memberikan sebuah gagasan pikiran kepada kita, bahwa satu siklus dunia atau maha Kappa itu sungguh-sungguh teramat sangat lama.

Sang Buddha menjelaskan, bahwa alam-semesta ini telah mengalami siklus “daur-ulang” berulang-kali, sehingga kiamat dalam Buddha-Dhamma tidaklah dianggap sebagai “akhir-dunia”, karena setelah kiamat, maka alam-semesta ini akan mengalami proses siklus pembentukan kembali.   Oleh karena itulah dinyatakan bahwa Sang Buddha membutuhkan waktu selama 300.000 siklus dunia  ( atau = 300.000 Maha-Kappa ) plus (+) 20 periode ( 20 Asankheyya-Kappa ; atau / sama dengan 400 antara-kappa )  yang tak terhitung lamanya untuk mencapai Pencerahan batin Sempurna dan menjadi seorang Buddha.

Jika kita bisa memahami, mengimajinasikan betapa sangat lamanya jangka waktu yang dibutuhkan untuk merealisasi ke-Buddha-an ini, maka kita tidak akan hanya mengagumi tugas mulia seorang Boddhisatta, tetapi juga ketabahan dan keuletan serte keteguhan-hati-Nya untuk mencapai ke-Buddha-an yang Tertinggi (Samma-Sambuddha).

ERA PRA MANO-PANIDHANA KALA

( Era Sebelum Aspirasi Mental)

Era ini adalah era ketika Sang Buddha Gotama pertama kali bercita-cita untuk mencapai ke-Buddha-an. Ini adalah sebuah masa yang sudah sangat lama sekali, lebih dari 300.000 siklus dunia yang lampau ( seperti sudah kita pahami, satu siklus dunia adalah satu siklus dari masa hujan destruktif di masa penghancuran alam semesta, kemudian sampai kepada pembentukan dan evolusi seperti masa kita hidup di abad ke-21 sekarang ini, hingga kelak saat masa kiamat / penghancuran datang kembali ; itulah satu siklus dunia ) , dan ditambah 20 periode yang tidak terhitung yang telah berlalu.

Pada saat itu, Buddha kita dilahirkan di dalam sebuah keluarga miskin. Setelah ayahnya meninggal, dia menghidupi ibunya penuh kesulitan dengan menjual kayu bakar dan sayuran. Karena sulit untuk bertahan hidup dengan penghasilannya itu, dia memutuskan untuk menumpang sebuah kapal dagang dalam perjalanannya menuju Suwanna-Bhumi. Tetapi ibunya berat hati untuk membiarkan dia pergi sendiri. Untuk menyenangkan ibunya, dia membawa serta ibunya di kapal itu. Suatu hari, kurang lebih seminggu setelah kapal berangkat, sebuah badai mengamuk dan kapal terbalik. Sebagian besar penumpangnya tenggelam. Lelaki miskin itu berenang dengan berani untuk mencari ibunya. Kemudian, dengan mempertaruhkan hidupnya, dia menggendong ibunya di punggnungnya dan dengan susah payah dia berenang ke daratan.

Ibunya yang berterimakasih memberkahi anaknya dengan mengatakan, “Karena kamu menyelamatkan aku dari tenggelam di laut, maka suatu hari kamu akan mampu menyelamatkan orang-orang lain dari segala penderitaan mereka ( menjadi seorang Buddha ) “.

Diilhami oleh kata-kata ibunya orang miskin itu membuat aspirasi mental yang pertama muncul untuk mencapai ke-Buddha-an. Dia berpikir, “Semoga pada suatu hari aku dapat menyelamatkan makhluk-makhluk hidup, dengan menunjukkan kepada mereka jalan untuk meghancurkan penderitaan.”

Sejak saat itu dan seterusnya, dia dikenal sebagai “Boddhisatta” ( Skt. : Boddhisattva ) ~ seseorang yang berada di Jalan menuju Kesempurnaan ; atau orang yang bercita-cita untuk mencapai tingkat Buddha. Boddhisatta kemudian memulai tugas yang berat untuk menyempurnakan diri-Nya dengan mengikuti praktik yang dikenal sebagai “Dasa-Paramita” ( Sepuluh-Kesempurnaan ) :

  1. Kesempurnaan Kemurahan-Hati ( Dana-Paramita )
  2. Kesempurnaan Moralitas ( Sila-Paramita )
  3. Kesempurnaan Pelepasan-Keduniawian ( Nekkhama-Paramita )
  4. Kesempurnaan Kebijaksanaan ( Panna-Paramita )
  5. Kesempurnaan Semangat ( Viriya-Paramita )
  6. Kesempurnaan Kesabaran ( Khanti-Paramita )
  7. Kesempurnaan Kebenaran ( Sacca-Paramita )
  8. Kesempurnaan Kebulatan-Tekad ( Adhitthana-Paramita )
  9. Kesempurnaan Cinta-Kasih ( Metta-Paramita )
  10. Kesempurnaan Keseimbangan-Batin ( Upekkha-Paramita )

Ada dua kisah Jataka ( kisah kehidupan lampau Sang Buddha Gotama ) yang berhubungan dengan saat antara aspirasi mental pertama ini , dengan aspirasi mental pertama yang dibuat oleh Boddhisatta bernama Sumedha di hadapan seorang Samma-Sambuddha ( yaitu dihadapan Buddha-Dipankara ).

Pada titik waktu tersebut, ketika Boddhisatta pertama kali membuat aspirasi mental untuk mencapai ke-Buddha-an di hadapan seorang Samma-Sambuddha, periode Mano-Panidhana Kala dimulai.

Kisah pertama menceritakan saat Boddhisatta dilahirkan sebagai anak laki-laki Raja Benares. Dia kemudian dikenal sebagai Sattutapa. Setelah ayahnya meninggal, dia naik tahta sebagai Raja. Raja memiliki seekor gajah yang terlatih dan indah. Ketika mendengar bahwa salah satu taman-Nya dihancurkan oleh gajah-gajah liar, raja berangkat dengan menunggang gajahnya yang terlatih untuk memeriksa kerusakan. Sementara dia memeriksa tingkat kerusakan dan berkata kepada menterinya, gajahnya yang terlatih mencium bau gajah betina yang hadir di malam sebelumnya. Gajah yang terlatih itu melepaskan diri dan meninggalkan pawangnya, dan berlari ke dalam hutan mengejar gajah betina itu. Beberapa hari kemudian, gajah itu kembali dan pawangnya menjelaskan kepada raja bahwa, gajah yang biasanya taat itu telah berubah dan pergi karena nafsu birahinya kepada gajah betina itu.

Raja merenungkan informasi itu,  dan, karena merasa jijik pada akibat nafsu birahi pada gajahnya yang tenang, jinak dan terlatih, Beliau memutuskan untuk meninggalkan aneka kesenangan sensual dan menjadi seorang petapa. Dia meninggalkan milik-milik duniawinya dan kerajaannya, lalu menjalani kehidupan sebagai orang suci. Meskipun periode Kaya-Panidhana-Kala baru saja berlangsung, Boddhisatta telah melengkapi kesempurnaan dalam pelepasan. Dia mulai mempraktikkan kesempurnaan dalam hal ini.

Kisah kedua, mengisahkan bagaimana Boddhisatta dilahirkan sebagai seorang Brahmana bernama Brahma-Kumara. Pada usia ke-16 tahun dia menyelesaikan pendidikannya dan menjalani kehidupan sebagai seorang petapa. Dia bermeditasi di kaki Gunung Munda dengan murid-muridnya, dimana murid utamanya adalah Buddha masa depan : Metteya ( Maitreya ). Suatu hari, ketika mereka pergi mencari buah-buahan untuk dimakan, Boddhisatta melihat induk harimau yang kelaparan yang baru saja melahirkan yang berada di dasar sebuah jurang yang terjal. Melihat induk harimau yang kelaparan itu hampir memangsa bayi-bayinya, dia memanggil muridnya yang utama dan meminta dia untuk mencari bangkai binatang yang mati, untuk diberikan kepada induk harimau itu. Akan tetapi, sebelum muridnya kembali, Boddhisatta melihat induk harimau itu mulai menerkam bayi-bayinya. Untuk menjalankan cita-cita luhur ke-Buddha-an, dia melompat dari jurang terjal dan membiarkan induk harimau yang kelaparan itu menyantap dirinya, dengan demikian dia menyelamatkan kehidupan bayi-bayi harimau. Sebagian orang berpikir, bahwa kematian ini yang menyebabkan Buddha-Gotama mencapai ke-Buddha-an terlebih-dahulu sebelum Maitreya mencapai ke-Buddha-an kelak. Lebih dari 300.000 siklus dunia dan 20 periode yang tak terhitung yang lalu Boddhisatta telah memulai mempraktikkan kemurahan-hati. Sekian tahun kemudian, selama Kaya-Panidhana-Kala, Beliau telah mencapai kesempurnaan dalam kemurahan-hati (dana).

ERA MANO-PANIDHANA KALA

( Era Aspirasi Mental )

Era ini masih dalam hitungan waktu 300.000 siklus dunia + 20 periode yang tak terhitung lamanya diwaktu yang lampau. Era Mano-Panidhana-Kala ini dilalui selama 100.000 siklus dunia diselingi dengan tujuh periode yang tak terhitung lamanya.

Era Mano-Panidhana-Kala ini dilalui selama 100.000 siklus dunia diselingi dengan tujuh periode yang tak terhitung lamanya. Selama ini Boddhisatta menyatakan cita-cita luhur untuk mencapai ke-Buddha-an di hadapan seorang Buddha yang lain.

Boddhisatta Gotama saat itu dikenal sebagai Raja Atidewa. Samma-Sambuddha yang ada saat masa hidupnya Raja Atidewa ini adalah Buddha Brahma-Dewa.

Pada suatu ketika, Raja Atidewa sedang melihat keluar dari balkonnya di istana ketika dia melihat Buddha Brahma-Dewa. Raja segera mendekati Buddha, memujanya dengan bunga-bunga melati dan menyatakan cita-cita luhurnya untuk mencapai ke-Buddha-an. Dia kemudian membangun vihara besar untuk Buddha dan menyediakan segala kebutuhan untuk Beliau dan para Bhikkhu-Nya.

Selama periode Mano-Panidhana-Kala ini, terdapat 125.000 Samma-Sambuddha. Boddhisatta kita menjumpai semua Buddha tersebut dan menyatakan cita-cita luhurnya untuk mencapai ke-Buddha-an di hadapan setiap Buddha setelah melakukan berbagai perbuatan yang bajik.

Kemudian melalui satu periode dengan banyak siklus dunia dimana selama itu tidak ada seorang Samma-Sambuddha. Boddhisatta dilahirkan sebagai seorang yang mencapai Jhana, dan dilahirkan di alam Brahma.

ERA WACI-PANIDHANA-KALA

(Era Aspirasi Verbal)

Era ini terjadi pada 200.000 siklus dunia + 13 periode yang lampau yang tak terhitung lamanya. Era Waci-Panidhana-Kala ini dilalui selama 100.000 siklus dunia + 9 periode yang tak terhitung lamanya.

Selama era ini, Boddhisatta Gotama menyatakan aspirasi verbal di hadapan Buddha yang lain.

Periode ini dimulai pada zaman Buddha Purana-Gotama.

Sebagaimana dikisahkan, pada akhir era Mano-Panidhana-Kala, Boddhisatta terlahir kembali di alam Brahma. Setelah masa hidupnya di alam Brahma dijalani sepenuhnya, Boddhisatta dilahirkan sebagai Pangeran Sagara di dalam keluarga istana di kota Dhannawati. Setelah menyelesaikan pendidikannya dia dinobatkan sebagai seorang penguasa dunia.

Pada zaman itu ada seorang raja bernama Yasaniwasa dann seorang ratu bernama Wimala yang memerintah kota Siriniwasa. Anak laki-laki mereka meninggalkan kehidupan istana untuk mencapai ke-Buddha-an, dan 14 hari kemudian mencapai Pencerahan-Sempurna. Dia kemudian dikenal sebagai Buddha-Gotama, yang sekarang ini disebut sebagai Buddha Gotama-Purana ( Sesepuh ; Buddha Gotama-Purana ini bukan Buddha-Gotama kita yang terakhir hidup sebagai Pangeran Siddhatta Gotama ). Ketika Pangeran Sagara ( Calon Buddha kita ) mendengar bahwa Buddha Gotama-Purana sedang mengunjungi Dhanawati, dia tertarik dan meninggalkan istana dan pergi memberikan penghormatan kepada Buddha. Kemudian, setelah membangun vihara besar untuk Buddha dan menyediakan segala keperluan Beliau, dia kemudian menyatakan cita-citanya untuk mencapai ke-Buddha-an.

Pangeran Sagara, Boddhisatta kita, berkata, “Yang-Mulia, dengan perbuatan-perbuatan bajik ini, semoga aku, seperti halnya Anda, dilahirkan di dalam keluarga yang dikenal sebagai kaum Sakya dan dikenal sebagai Gotama, seperti Anda, dan semoga saya mencapai ke-Buddha-an pada suatu hari di masa depan.”

Buddha Gotama-Purana kemudian meramalkan,”Jika kamu memenuhi semua kesempurnaan, kamu pasti akan mencapai keinginanmu dan mencapai ke-Buddha-an.”

Demikianlah Boddhisatta kita menyatakan aspirasi verbal yang pertama, dan menerima ramalan pertama yang tidak spesifik (dari segi tempat, waktu, dll.)  ini. Kemudian dia meninggalkan kerajaannya dan menjadi murid Buddha Purana-Gotama.

Selama periode ini, ada 38.700 Buddha dan Boddhisatta kita menjumpai setiap Buddha itu dan menyatakan aspirasi verbalnya di hadapan mereka, dan menerima ramalan yang tidak spesifik dari setiap Buddha.

Bertemu dengan  Buddha-Tanhangkara

Periode berikutnya dari era Waci-Panidhana-Kala adalah pada masa Buddha-Tanhangkara. Ini terjadi pada masa 100.000 siklus dunia + empat periode yang lampau yang tak terhitung lamanya.

Sepanjang periode ini, berlangsunglah Maha-Kappa dari Waci-Panidhana-Kala. Selama Maha-Kappa dari Waci-Panidhana-Kala berlangsung, di kota Pupphawati, memerintah Raja bernama Sunanda dan Ratu bernama Sunanda-Dewi.

Mereka memiliki anak laki-laki bernama Tanhangkara yang meninggalkan kerajaannya, dan setelah mempraktikkan berbagai kebajikan selama satu minggu, mencapai Pencerahan-Sempurna. Pada waktu itu, Boddhisatta kita dilahirkan sebagai Raja dunia bernama Sudassana di kota Surindawati. Melihat Buddha-Tanhangkara, Raja Sudassana melakukan banyak perbuatan bajik dan menyatakan aspirasi verbal untuk mencapai ke-Buddha-an. Kembali Boddhisatta kita menerima ramalan tidak spesifik. Dia kemudian meninggalkan kerajaannya dan menjadi murid Buddha-Tanhangkara.

Bertemu dengan Buddha-Medhangkara

Periode berikutnya dari era Waci-Panidhana-Kala adalah pada masa Buddha-Medhangkara. Ini terjadi pada masa 100.000 siklus dunia + empat periode yang lampau yang tak terhitung lamanya.

Sepanjang periode ini, berlangsunglah Maha-Kappa dari Waci-Panidhana-Kala. Dalam anto-kappa ini, di kota Mekhala, memerintah seorang Raja bernama Sudewa dan ratu bernama Yasodhara. Mereka memiliki seorang anak laki-laki bernama Medhangkara yang meninggalkan kerajaannya, dan mempraktikan berbagai kebajikan dan mencapai Pencerahan-Sempurna.

Pada masa itu Boddhisatta kita dilahirkan di dalam keluarga seorang Brahmana, dan dia bernama Somanassa menurut nama kota dimana dia tinggal. Somanassa mempersembahkan berbagai dana kepada Buddha-Medhangkara dan membangun beberapa ruangan untuk meditasi, kemudian bergabung sebagai murid Buddha-Medhangkara. Kembali Boddhisatta kita menyatakan aspirasi verbal untuk mencapai ke-Buddha-an dan menerima ramalan yang tidak spesifik.

Bertemu dengan Buddha-Saranangkara

Periode berikutnya dari era Waci-Panidhana-Kala adalah pada masa Buddha-Sarangkara. Ini terjadi pada masa 100.000 siklus dunia + empat periode yang lampau yang tak terhitung lamanya.

Sepanjang periode ini, berlangsunglah Maha-Kappa dari Waci-Panidhana-Kala. Dalam anto-kappa berikutnya, di kota Wipula, memerintah seorang Raja bernama Sumanggala dan Ratu Yasawathi. Mereka memiliki anak laki-laki bernama Saranangkara yang meninggalkan kerajaannya, dan mempraktikkan berbagai kebajikan dan mencapai Pencerahan-Sempurna. Pada zaman itu Boddhisatta dilahirkan dalam keluarga seorang Brahmana bernama Yasawanta. Dia membangun banyak vihara dan menyediakan nasi susu dan kebutuhan lain untuk Buddha. Dia kemudian menyatakan aspirasi verbal dan kembali menerima ramalan yang tidak spesifik. Dia kemudian bergabung dengan Sangha para Bhikkhu, merealisasi Jhana, dan dilahirkan di alam Brahma.

Hingga bertemu Buddha-Saranangkara, Boddhisatta kita belum memenuhi berbagai kebutuhan yang diperlukan untuk menerima Pernyataan yang Pasti. Semua yang Beliau terima dari para Buddha tersebut hanyalah pernyataan yang tidak spesifik.

Setelah bertemu dengan ketiga Buddha ini : Buddha Tanhangkara, Buddha Medhangkara, Buddha Saranangkara ; Boddhisatta kita akan mulai mendapat ramalan pasti saat nanti bertemu dengan Buddha-Dipangkara dan hingga ke-23 Buddha lainnya berikutnya setelah Buddha-Dipangkara. Era dimana Boddhisatta kita mendapat ramalan pasti bahwa kelak Beliau akan mencapai ke-Buddha-an, disebut dengan era “Kaya-Pinidhana-Kala”.

ERA KAYA-PANIDHANA-KALA

(Era Tindakan)

Era ini terjadi pada 100.000 siklus dunia + 4 periode yang lampau yang tak terhitung lamanya. Era Kaya-Pinidhana-Kala ini dilalui selama 100.000 siklus dunia ( 100.000 Maha Kappa ) + 4 periode ( 4 Asankkheyya Kappa ) yang tak terhitung lamanya.

Periode ini dimulai pada zaman Buddha-Dipankara. Boddhisatta kita saat itu dikenal sebagai Petapa Sumedha.

Periode yang dilalui selama 4 Asankkheyya Kappa + 100.000 Maha-Kappa / Siklus dunia ini, adalah periode dimana Boddhisatta menerima ramalan yang pasti (spesifik) dari Samma-Sambuddha yang lain.

Pada saat itu, Boddhisatta kita dilahirkan di dalam satu keluarga Brahmana dan bernama Sumedha. Dia telah mendistribusikan seluruh kekayaannya di antara kaum miskin dan menjalani kehidupan sebagai seorang petapa.

Pada saat yang sama ada seorang Raja bernama Sumedha, dan seorang Ratu bernama Sumedha yang memerintah kota Rammawati. Anak laki-laki mereka meninggalkan kehidupan istana dan mencapai Pencerahan-Sempurna. Beliau dikenal sebagai Buddha Dipankara. Ketika mendengar bahwa Buddha-Dipankara sedang berkunjung, Petapa Sumedha mulai menghiasi satu jalur jalan yang akan dilalui Beliau. Akan tetapi, Buddha Dipankara tiba sebelum petapa Sumedha selesai menyiapkan jalan itu. Sejangkauan jalan di hadapan Buddha berlumpur. Dengan merebahkan tubuh melintang di bidang yang berlumpur itu, Sumedha meminta agar Buddha-Dipankara dan para pengikut-Nya meniti dirinya supaya kakinya tidak kotor. Kemudian Boddhisatta kita menyatakan tekadnya untuk mencapai ke-Buddha-an. Buddha-Dipankara memberinya delapan genggam bunga melati-putih yang melambangkan “Jalan-Ariya-Beruas-Delapan” yang direalisasi semua Buddha.

Buddha-Dipankara kemudian memberikan ramalan secara pasti (spesifik), dengan bersabda, “ Di masa depan yang jauh, kamu akan dilahirkan sebagai orang dari suku Sakya, dan akan mencapai Pencerahan-Sempurna sebagai Buddha-Gotama.” Sejak menerima ramalan pasti ini, Boddhisatta  mulai berjuang untuk menyempurnakan “Dasa-Paramaita” ( Sepuluh-Kesempurnaan ).

Delapan kondisi harus dimiliki untuk menerima ramalan (proklamasi) yang pasti (spesifik). Kedelapan kondisi tersebut adalah :

  1. Ia adalah manusia
  2. Ia adalah laki-laki
  3. Telah memenuhi semua kondisi seperti Kesempurnaan yang diperlukan untuk meraih tingkat ke-Arahatta-an dalam kehidupan itu juga
  4. Dia harus bertemu muka dengan muka dengan seorang Buddha yang hidup.
  5. Dia harus menjadi seorang Petapa yang percaya hukum karma (Kammavadi) atau pernah menjadi anggota Sangha dalam masa kehidupan seorang Buddha.
  6. 6. Dia harus memiliki kekuatan-batin / mencapai keempat Rupa-Jhana dan keempat Arupa-Jhana ( yang dikenal sebagai “Attha-Samapatti-Jhana-Labhi” ).
  7. Berusaha keras untuk mengembangkan kesempurnaan tanpa memperdulikan hidupnya .
  8. Dia harus memiliki kebulatan tekad yang kuat untuk menjadi seorang Buddha meskipun dia tahu bahwa dia akan menanggung penderitaan sebagai binatang, setan, dan lain-lain di dunia yang menyedihkan. Dengan kata lain, dia harus mencegah dirinya untuk mencapai tingkat Arahat, dengan tekad bulat dan tetap berdiam di dalam samsara untuk kepentingan ummat manusia dan para dewa.

Pada zaman Buddha-Dipankara, lebih dari 200.000 siklus dunia + 16 periode yang tak terhitung lamanya setelah Beliau menyatakan aspirasi mentalnya yang pertama, Boddhisatta kita menemukan delapan perolehan dan menerima ramalan yang pasti (spesifik).

Cita-cita Boddhisatta untuk menjadi seorang Buddha kini telah pasti. Tetapi pada tingkat ini pun, setelah sekian tahun yang tak terhitung lamanya mempraktikkan kemurahan hati (Dana), moralitas (Sila), pelepasan (Nekkhama), Kebenaran (Sacca), dan lain-lain, Boddhisatta kita masih seorang duniawi (puthujjana). Yaitu, bahwa dia tidak mencapai kesucian, bahkan belum pula merealisasi tingkat kesucian yang pertama ; Sottapanna.

Tetapi jika Boddhisatta saat itu menghendaki, saat itu juga ia dapat memenangkan kebebasan-Nya dengan merealisasi tingkat Arahat. Pada tahapan ini dia menahan pencapaian ini, dengan kebulatan tekad dan terus di dalam samsara untuk menyempurnakan Dasa-Paramita demi kebaikan ummat-manusia. Pada hari yang bersejarah di saat ia menerima ramalan pasti dari Buddha-Dipankara, petapa Sumedha membuat pernyataan sebagai berikut :

“Hari ini jika keinginanku demikian, Pelanggaran-pelanggaranku  akan memakan aku.

Tetapi untuk apa buah Ajaran menyelamatkan aku sebelum Aku mencapai Kemahatahuan                ( Sabbanuta-Nana ) ?

Aku akan mencapai Kemahatahuan lebih dahulu,

Dan menjadi Buddha di dunia.

Tetapi buat apa aku, seorang manusia yang berani,

Mencari lautan untuk menyeberang seorang diri ?

Kemahatahuan harus aku capai lebih dahulu,

Dan ummat manusia dan para dewa beramai-ramai menyeberang.

Boddhisatta mengetahui bahwa ada banyak perangkap antara waktu itu dengan waktu ketika Beliau ingin mencapai ke-Buddha-an Tertinggi, mengetahui bahwa, di dalam samsara Beliau ~ melalui tindakannya ~ dapat dilahirkan di dalam salah satu alam yang tidak bahagia, mengetahui dirinya memiliki kemampuan untuk mencapai keselamatan, Boddhisatta Sumedha menghindarinya demi kita. Beliau menghindarinya untuk kebaikan ummat manusia dan para dewa.

Selama periode ini, yang dikenal sebagai Kaya-Panidhana-Kala, Boddhisatta menyempurnakan dirinya ( menyempurnakan “Dasa-Pamaita” / Sepuluh-Kesempurnaan ) dan mempertahankan kebulatan tekad dan cita-citanya untuk mencapai ke-Buddha-an. Pada era Kaya-Panidhana-Kala inilah keseluruhan dari Dasa-Paramita selesai disempurnakan oleh Boddhisatta, dan kelak akan terlahir terakhir kalinya sebagai manusia bernama Pangeran Siddhatta Gotama.

Pada era Kaya-Panidhana-Kala ini, Boddhisatta kita menerima ramalan pasti dari ke-24 Samma-Sambuddha yang lain. Ke-24 Samma-Sambuddha tersebut adalah sebagai berikut :

1. Buddha Dipankara ~ Boddhisatta dilahirkan sebagai Petapa Sumedha dan menerima ramalan yang pasti (spesifik).

Setelah berlalu satu periode yang lamanya 1 Asankkheyya-Kappa , kemudian muncullah Samma-Sambuddha yang berikutnya, yaitu Buddha Kondanna.

2. Buddha Kondanna ~ Boddhisatta kita terlahir sebagai manusia dan menjadi seorang Raja Cakkavatti bernama Vijjitavi.

Setelah berlalu satu periode yang lamanya 1 Asankkheyya-Kappa, kemudian muncullah Samma-Sambuddha yang berikutnya, yaitu Buddha Manggala.

3. Buddha-Manggala ~ Boddhisatta terlahir sebagai manusia dan menjadi seorang Brahmana bernama Suruci.

4. Buddha Sumana ~ Boddhisatta kita terlahir sebagai seekor naga dan menjadi Raja Naga bernama Atula.

5. Buddha Rewata ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia dan menjadi Brahmana bernama Atideva.

6. Buddha Sobhita ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia dan menjadi Brahmana bernama Ajita.

Setelah berlalu satu periode yang lamanya 1 Asankkheyya-Kappa, kemudian muncullah Samma-Sambuddha yang berikutnya, yaitu Buddha Anomadassi.

7. Buddha Anomadassi ~ Boddhisatta kita terlahir sebagai makhluk setan dan menjadi pemimpin para Asura.

8. Buddha Paduma ~ Boddhisatta kita terlahir sebagai seekor singa.

9. Buddha Narada ~ Boddhisatta kita terlahir sebagai seorang manusia dan menjadi seorang petapa bernama Jatila.

Setelah berlalu satu periode yang lamanya 1 Asankkheyya-Kappa kemudian muncullah Samma-Sambuddha yang berikutnya, yaitu Buddha Padumuttara.

10. Buddha Padumuttara ~ Boddhisatta kita terlahir menjadi seorang laki-laki yang kaya-raya bernama Jatila. Periode ini terjadi pada 100.000 Maha-Kappa sebelum kelahiran kembali Boddhisatta kita yang terakhir kalinya sebagai seorang manusia dan menjadi Pangeran Siddhatta Gotama yang kelak merealisasi ke-Buddha-an menjadi Buddha-Gotama.

Setelah berlalu satu periode yang lamanya 70.000 Maha-Kappa ( 70.000 siklus dunia ) kemudian muncullah Samma-Sambuddha yang berikutnya, yaitu Buddha Sumedha.

11. Buddha Sumedha ~ Boddhisatta kita terlahir sebagai manusia dan menjadi seorang Brahmana bernama Uttara ; yang nantinya akan menjadi Bhikkhu.

Periode ini terjadi pada 30.000 Maha-Kappa ( 30.000 siklus dunia ) sebelum kelahiran kembali Boddhisatta kita yang terakhir kalinya sebagai seorang manusia dan menjadi Pangeran Siddhatta Gotama yang kelak merealisasi ke-Buddha-an menjadi Buddha-Gotama.

Setelah berlalu satu periode yang lamanya 12.000 Maha-Kappa ( 12.000 siklus dunia )  kemudian muncullah Samma-Sambuddha yang berikutnya, yaitu Buddha Sujata.

12. Buddha Sujata ~ Boddhisatta kita terlahir menjadi seorang manusia dan menjadi seorang Raja bernama Raja Cakkavatti.

Periode ini terjadi pada 18.000 Maha Kappa ( 18.000 siklus-dunia ) sebelum kelahiran kembali Boddhisatta kita yang terakhir kalinya sebagai seorang manusia dan menjadi Pangeran Siddhatta Gotama yang kelak merealisasi ke-Buddha-an menjadi Buddha-Gotama.

13. Buddha Piyadassi ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia dan menjadi Brahmana bernama Kassapa.

14. Buddha Atthadassi ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia dan menjadi petapa bernama Susima.

15. Buddha Dhammadassi ~ Boddhiasatta kita terlahir kembali sebagai seorang raja Dewa , yaitu sebagai Dewa Sakka.

16. Buddha Siddhatta ~ Boddhisatta kita terlahir menjadi seorang manusia dan menjadi petapa bernama Manggala.

17. Buddha Tissa ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia dan menjadi seorang raja bernama Sujata yang kemudan menjadi seorang petapa.

Periode ini adalah 92 Maha-Kappa ( 92 siklus dunia ) sebelum kelahiran kembali Boddhisatta kita yang terakhir kalinya sebagai seorang manusia dan menjadi Pangeran Siddhatta Gotama yang kelak merealisasi ke-Buddha-an menjadi Buddha-Gotama.

18. Buddha Phussa ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia menjadi seorang Raja bernama Vijitavi yang kemudian menjadi seorang Bhikkhu.

19. Buddha Vipassi ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seekor naga dan menjadi Raja Naga yang bernama Atula. Ini adalah kedua kalinya Boddhisatta kita menjadi Raja Naga bernama Atula, setelah sebelumnya pernah pula terlahir sebagai Naga dan menjadi Raja Naga bernama Atula pada masa Buddha Sumana ( lihat pada point no.4 )

20. Buddha Sikkhi ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia dan menjadi Raja bernama Arindama.

Periode ini adalah 31 Maha-Kappa ( 31 siklus dunia ) sebelum kelahiran kembali Boddhisatta kita yang terakhir kalinya sebagai seorang manusia dan menjadi Pangeran Siddhatta Gotama yang kelak merealisasi ke-Buddha-an menjadi Buddha-Gotama.

21. Buddha Vessabhu ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia dan menjadi Raja bernama Sudassana yang kemudian menjadi Bhikkhu.

Periode ini adalah 1 Maha-Kappa ( 1 siklus dunia ) sebelum kelahiran kembali Boddhisatta kita yang terakhir kalinya sebagai seorang manusia dan menjadi Pangeran Siddhatta Gotama yang kelak merealisasi ke-Buddha-an menjadi Buddha-Gotama.

22. Buddha Kakusandha ~ Boddhisatta kita terlahir kembali menjadi seorang Raja bernama Khema.

Periode ini ada dalam Maha-Kappa ( satu siklus dunia ) yang sama seperti periode Buddha Gotama. Artinya, ada dalam periode siklus dunia yang sekarang ini juga ).

23. Buddha Konagamana ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia dan menjadi Raja bernama Pabbata yang kemudian menjadi seorang Bhikkhu.

Periode ini ada dalam Maha-Kappa ( satu siklus dunia ) yang sama seperti periode Buddha Gotama. Artinya, ada dalam periode siklus dunia yang sekarang ini juga ).

24. Buddha Kassapa ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia dan menjadi Brahmana bernama Jotipala.

Periode ini ada dalam Maha-Kappa ( satu siklus dunia ) yang sama seperti periode Buddha Gotama. Artinya, ada dalam periode siklus dunia yang sekarang ini juga ).

Terdapat 24 Buddha di antara waktu Petapa Sumedha menerima ramalan yang pasti (spesifik) terhitung dari semenjak Buddha Dipankara hingga Buddha Gotama kita. Boddhisatta kita menjumpai setiap Buddha dan mendapatkan ramalan yang pasti dari setiap Buddha.

Selama periode antara Buddha Sobhita dan Buddha Anomadassi, dalam periode kegelapan selama 1 Asankkheyya-Kappa ketika tidak ada Dhamma, Boddhisatta kita pernah melakukan perbuatan salah [ Diantara banyak perbuatan yang tidak bermanfaat yang Boddhisatta lakukan selama Kaya-Panidhana-Kala ada 12 ( dua-belas ) dan akibat-akibat perbuatannya dialami bahkan ketika Beliau menjadi Buddha. Ti-Pitaka tidak menjelaskan kedua-belas perbuatan yang dilakukan selama periode ini. Diduga itu adalah pembunuhan terhadap saudaranya laki-laki, karena ini adalah salah satu perbuatan buruk yang lebih serius, dan juga karena Buddha mengatakan bahwa itu adalah periode kegelapan tanpa seorang Samma-Sambuddha. Tujuh dari perbuatan tidak terampil lainnya adalah meliputi penghinaan terhadap seorang Buddha atau murid seorang Buddha. Mungkin pula itu adalah perbuatan tidak-baik yang tidak diceritakan yang habis seluruhnya selama Kaya-Panidhana-Kala ].   Boddhisatta membunuh saudaranya laki-laki untuk mewarisi kekayaan keluarganya. Alasan dia melakukan kesalahan adalah bahwa dia masih seorang duniawi  – seorang Boddhisatta yang telah mempraktikkan “Dasa-Paramita”  ( Sepuluh-Kesempurnaan )  selama berkalpa-kalpa tetapi masih sebagai seorang duniawi, dengan 1.500 Kilesa ( kotoran-batin ) dan nafsu keinginan dan keserakahan seorang duniawi.

Itulah sebabnya pada zaman Buddha Anomadassi Beliau menjadi pemimpin para Asura.

Itulah sebabnya Beliau menjadi seekor singa pada zaman Buddha Paduma.

Itulah sebabnya dia harus menjalani kehidupan di alam binatang dan baru kembali ke bentuk manusia.

Itulah sebabnya ada banyak cerita Jataka dimana Boddhisatta menjadi binatang.

Dan buah-kamma terakhir dari kamma-buruk masa lampau-Nya menyebabkan kaki Sang Buddha terluka ketika Devadatta menggelindingkan batu besar di Gijjhakula dengan tujuan untuk membunuh Sang Buddha. Setelah memberikan anggota-anggota badannya dan hidupnya dalam kelahiran-kelahiran yang tak terhitung, seorang Buddha telah mencapai titik “saturasi” ( puncak, tertinggi ) dalam kemurahan hati dan tidak dapat dibunuh. Tetapi  akibat kamma-buruk masa-lampaunya, meski gelindingan batu besar yang diarahkan Devadatta mengenai Sang Buddha dengan tujuan untuk membunuh Sang Buddha tersebut tidak  mampu menyebabkan terbunuhnya Sang Buddha , namun kaki-Nya tetap terluka dan cukup membuat rasa sakit bagi Sang Buddha.

Dengan membaca kisah-kisah kehidupan lampau Sang Buddha Gotama, kita bisa memetik pelajaran, bahwa betapa berbahayanya dilahirkan di zaman dimana tidak ada Dhamma di dunia. Kita bisa begitu gampangnya berbuat buruk pada zaman dimana perbuatan tidak bermoral dipandang sebagai perbuatan yang wajar.

Dengan memahami kisah perjalanan kehidupan lampau Sang Buddha, kita juga bisa menjadi melihat betapa Boddhisatta membutuhkan waktu yang sangat lama, untuk mendapatkan kembali kelahiran sebagai manusia. Boddhisatta hidup di alam-alam penuh penderitaan sekian tahun yang tak terhitung lamanya.  Dalam Bàlapandita Sutta, Sunnàata Vagga dari Uparipannàsa (Majjhima Nikàya) ada perumpamaan mengenai seekor kura-kura buta sehubungan dengan kalimat, “Manussattabhavo dullabho,” “Sulitnya terlahir menjadi manusia.” Misalnya ada seseorang yang melemparkan sebuah pelampung yang berlubang di tengahnya ke tengah lautan. Pelampung tersebut akan mengapung dan hanyut ke barat jika tertiup angin timur dan ke hanyut ke timur jika tertiup angin barat; hanyut ke selatan jika tertiup angin utara dan hanyut ke utara jika tertiup angin selatan. Dalam lautan tersebut, ada seekor kura-kura buta yang naik ke permukaan air seratus tahun sekali. Kemungkinan kepala kura-kura tersebut dapat masuk ke dalam lubang pelampung yang hanyut tersebut adalah jarang sekali. Sebagai makhluk yang telah mengalami penderitaan di alam sengsara dalam salah satu kehidupannya, adalah seratus kali lebih sulit terlahir menjadi manusia. Banyak teks-teks lain dalam Tipitaka yang menjelaskan sulitnya terlahir menjadi manusia.

Sekarang kita semua menjadi mengerti betapa sangat lamanya perjuangan seorang manusia untuk menjadi Samma-Sambuddha, bagaimana dia harus membulatkan tekad dan bertekun untuk menyempurnakan tugasnya. Bagi kita yang mengetahui kisah-kisah kehidupan lampau Sang Buddha Gotama sebagaimana diuraikan dalam kitab Jataka, kita mengetahui usaha yang diperlukan untuk menyempurnakan kesepuluh “Paramita” ; bagaimana Boddhisatta meninggalkan kekayaan, kehidupannya yang mewah, dan terutama sekali istri dan anaknya, untuk melekngkapi kesempurnaan dalam kemurahan hati; berapa kali Boddhisatta harus menyerahkan kerajaan-Nya untuk mencapai kesempurnaan dalam pelepasan-keduniawian ( Nekkhama ) ; betapa sulit Boddhisatta menyempurnakan kesempurnaan dalam Kebenaran ( Sacca ), Kesabaran ( Khanti ) , dan kesempurnaan ( Paramita ) yang lain-lainnya.

Jikalau kita membandingkan kesempurnaan spiritual Boddhisatta ketika zaman Buddha Dipankara dengan zaman Beliau merealisasi tingkat Samma-Sambuddha, adalah seperti membandingkan sebutir pasir dengan sebuah pegunungan yang lebih besar daripada Himalaya ; namun pada saat masa Buddha Dipankara, Boddhisatta kita telah mencapai Empat Rupa-Jhana dan Empat-Arupa-Jhana ( Attha Samapatti Jhana-Labhi ) dan mampu mencapai kekuatan-kekuatan gaib serta mampu merealisasi ke-Arahatta-an.

Nah, saudara-saudari se-Dhamma semuanya, teramat-lama waktu perjuangan yang harus ditempuh bagi seorang manusia untuk berhasil merealisasi ke-Buddha-an. Apakah ada diantara saudara-saudari se-Dhamma yang berminat untuk merealisasi tingkat Samma-Sambuddha pada suatu saat di masa depan yang jauh nanti ? Bila ada, saudara-saudari se-Dhamma bisa belajar dari perjalanan Buddha kita , Buddha Gotama, dalam usaha-Nya menyempurnakan diri hingga akhirnya merealisasi tingkat Anuttara Samma-Samboddhi ; menjadi Buddha yang Tiada-Banding, Guru para Dewa dan Manusia.

Sumber Pustaka :

1. Praktik Dhamma menuju Nibbana , Radhika Abeyesekera, Penerbit Sri Manggala 2008.

2. Riwayat Agung Para Buddha ( The Great Chronicle of Buddhas ) , Tipitakadhara Mingun Sayadaw, Myanmar ; Terbitan Ehipassiko collection, Girimangala Publications.

_________________________________________________

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Sabtu, 19 September 2009

Ditulis dalam BUDDHA, Kronologi Hidup Buddha, Riwayat Hidup Buddha | 20 Comments »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya.