RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

Archive for September, 2010

Keprihatinan atas Tragedi Penganiayaan Pendeta Gereja HKBP Ciketing, Bekasi

Posted by ratanakumaro pada September 13, 2010

Among tigers, lions, leopards & bears I lived in the jungle.
No one was frightened of me, nor did I fear anyone.
Uplifted by such universal friendliness, I enjoyed the forest.
Finding great solace in such sweetly silenced solitude…

(Buddha Gotama ; Suvanna-sama Jataka 540)

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattung (3X) )

Namatthu Buddhassa,

Sahabat, saudara dan saudari, bahasa Inggris saya tidak begitu bagus, namun saya akan coba translate sabda Sang Buddha tersebut diatas kedalam bahasa Indonesia, kurang lebih begini artinya, “Diantara harimau, singa, macan tutul, dan beruang, Aku hidup didalam hutan belantara. Tidak satupun menakutkan bagi-Ku, atau Aku menakuti  mereka. Ditopang oleh keramah-tamahan/persahabatan universal, Aku menikmati hutan belantara itu. Menemukan penghiburan luar biasa didalam indahnya kesunyian yang hening.”


Sabda Sang Buddha tersebut sengaja saya pilih untuk menjadi tema  perenungan kita kali ini. Apa yang tersirat dari petuah Sang Buddha, adalah pentingnya “keramah-tamahan semesta”, “rasa persahabatan universal” dalam hidup bermasyarakat yang terdiri dari berbagai jenis masyarakat yang majemuk. Bila keramah-tamahan semesta, atau toleransi, memenuhi hati kita, tidak akan ada ketakutan yang akan menghantui hidup kita meskipun kita tinggal diantara berbagai jenis masyarakat yang berbeda-beda secara SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar-Golongan).

Perenungan dan peresapan atas rasa persahabatan unviersal ini saya pilih berkaitan dengan tragedi pelanggaran hak-asasi-manusia yang baru saja terjadi di negara kita tercinta, Republik Indonesia, yaitu tepatnya tragedi penganiayaan, penusukan dan pemukulan terhadap dua orang pendeta Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Ciketing, Bekasi, pada hari Minggu 12 September 2010, sekitar pukul 09.00 WIB kemarin.

Pendeta Sihombing

Pendeta Sihombing

KRONOLOGI KEJADIAN

Berdasarkan informasi dari Pendeta Leonard Nababan, gembala sidang di HKBP Bekasi, yang dihubungi Kompas.com, korban penusukan bernama Pendeta ST.Sihombing. Menurut Pdt.Nababan, Sihombing sedang berjalan kaki menuju ke gereja, sekitar pukul 08.30 WIB. Saat itulah penusukan terjadi. Pelaku menggunakan sepeda motor, dan langsung melarikan diri setelah melakukan penusukan.

Informasi pertama mengenai tindakan kekerasan ini pertama kali beredar luas di jejaring Twitter. Disebutkan , Pdt. Luspida Simandjuntak dipukuli dan satu pendeta lain, yaitu Pendeta ST. Sihombing ditusuk benda tajam menjelang ibadah, disebutkan juga, salah satu pendeta ini dilarikan ke rumah sakit Mitra Keluarga Bekasi, karena kritis akibat pendarahan.( http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5263374)

Pdt.Luspida Simanjuntak

Pdt.Luspida Simanjuntak

Menurut penuturan Pendeta Luspida Simanjuntak, ia mengenali salah satu orang yang memukulnya. “Saya dipukul dengan stick panjang dari depan di kepala. Kemudian dari belakang di leher dan di punggung”, demikian ia menyatakan. (http://sipayung-hoga.blogspot.com/2010/09/menikam-jemaat-dan-pukul-pendeta-hkbp.html)

Sejak Juli 2010 lalu, jemaat Gereja HKBP Pondok Timur Indah, Bekasi, tidak dapat beribadah semestinya dengan aman lantaran terjadi sejumlah kasus kekerasan. Seperti diketahui, saat ibadah setiap Minggu ratusan jemaat HKBP kerap ditunggui oleh pihak-pihak yang menentang diadakannya peribadatan Gereja HKBP di areal tanah di Desa Ciketing, Bekasi. Setelah bertahun-tahun sebelumnya, aktivitas peribadatan ini telah berlangsung tanpa masalah. (http://sipayung-hoga.blogspot.com/2010/09/menikam-jemaat-dan-pukul-pendeta-hkbp.html)

LATAR BELAKANG KEJADIAN

Tragedi kekerasan yang menimpa jemaat HKBP Pondok Timur Indah, Bekasi tersebut memang tidak baru kali ini saja terjadi. Sebelumnya, pada hari Minggu, 01 Agustus 2010, terjadi bentrok antara Ormas Islam dengan jemaat gereja HKBP. Tidak ada korban jiwa dalam musibah itu.

Anggota FPI

Anggota FPI

http://www.tempointeraktif.com/hg/kriminal/2010/08/08/brk,20100808-269588,id.html

Bentrok terjadi ketika sekitar 200 anggota Ormas Islam mendatangi lokasi kebaktian jemaat gerja di lahan kosong Kampung Ciketing Asem, Kecamatan Mustika Jaya, Kota Bekasi, Jawa Barat,  meminta bubar karena tidak mengantongi izin.

Jemaat HKBP Bekasi Terpaksa Beribadat Tanpa Gedung Gereja

Jemaat HKBP Bekasi Terpaksa Beribadat Tanpa Gedung Gereja

Koordinator ormas Islam Murhali Barda, mengatakan jemaat gereja HKBP tidak mentaati aturan. Murhali melihat, sikap jemaat HKBP yang bersikeras melakukan kebaktian meski tanpa memiliki izin merupakan aksi provokasi.

Koordinator FPI, Murhali Barda bersitegang dengan Pendeta Gereja HKBP, Minggu 1 Agustus 2010

Koordinator FPI, Murhali Barda bersitegang dengan Pendeta Gereja HKBP, Minggu 1 Agustus 2010

Tujuannya, agar umat Islam melakukan aksi anarkis sehingga jemaat gereja merasa didzolimi. “Ini provokasi, seakan-akan mereka didzolimi, dan itu yang dijual ke masyarakat luas,” kata Ketua Front Pembela Islam Bekasi Raya itu.

Massa Segel Gereja HKBP Ciketing, Bekasi

Massa Segel Gereja HKBP Ciketing, Bekasi

Pendeta Luspida, sebelumnya mengatakan lahan yang digunakan kebaktian adalah milik jemaat HKBP, sehingga mereka sah memakai lahan itu untuk kegiatan peribadatan. “Kami juga telah mengurus izin tetapi belum direspon,” katanya. (http://www.warta-ummat.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2134:ormas-islam-di-bekasi-harus-cerdas-menelaah-tragedi-hkbp&catid=105:umum&Itemid=518)

AJAKAN : MARI BERTENGGANG-RASA DI TENGAH PERBEDAAN

Ada pelajaran berharga yang bisa kita petik dari tragedi penganiayaan jemaat dan pendeta gereja HKBP tersebut diatas, yaitu pelajaran tentang pentingnya rasa keramah-tamahan/persahabatan universal, atau toleransi, atau tenggang-rasa yang sepertinya telah meluntur dari lubuk sanubari masyarakat Indonesia.

Ketika saya kecil, pelajaran PMP, atau “Pendidikan Moral Pancasila”, yang kemudian diubah menjadi mata pelajaran PPKn, atau “Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan”, berulangkali menekankan dan meresapkan pentingnya rasa tenggang-rasa, toleransi, atau keramah-tamahan dan persahabatan universal. Dan penekanan pelajaran tenggang-rasa tersebut memang sebenarnya sangat bermanfaat, terbukti waktu itu kehidupan beragama di Indonesia bisa terjaga dengan apik, harmonis, tanpa dihiasi kekerasan-kekerasan seperti yang sekarang ini terjadi, didukung dengan wibawa POLRI dan TNI yang mampu memberantas setiap gerakan radikal yang bernafaskan SARA.

Spanduk Ancaman terhadap Jemaat Gereja HKBP

Spanduk Ancaman terhadap Jemaat Gereja HKBP

Dalam gerakan reformasi tahun 1998, memang segala hal tentang Pancasila, termasuk pelajaran PMP atau/ PPKn ini ditentang oleh arus masyarakat kala itu. Segala bentuk Upacara Bendera ditentang. Tapi sekarang ini, saya rasa itu bukan aspirasi murni dari gerakan demonstrasi mahasiswa saat itu. Ketika melihat dan mendengarkan statement-statement dari pemimpin-pemimpin teroris yang akhir-akhir ini ditangkap oleh POLRI (seperti misalnya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir), yang menyatakan bahwa “Pancasila adalah Syirik”, “Demokrasi adalah Syirik”, “Penghormatan pada Bendera Merah-Putih adalah Syirik”, “Pluralisme adalah musyrik”, patut diduga dengan kuat, bahwa ketika reformasi 1998 berlangsung, aktivis-aktivis yang berhaluan atau berideologi terorisme — seperti ideologinya Ustadz  Abu Bakar Ba’asyir, Amrozi, Noordin M Top, dll. — ikut menunggangi gerakan reformasi yang dipelopori Mahasiswa waktu itu, sehingga salah satu “goal” yang ingin dicapai adalah dihapuskannya kurikulum yang berisikan pendidikan Pancasila (PMP atau/ PPKn) dan peniadaan upacara Bendera sesuai dengan ideologi fundamental yang mereka yakini dan hingga kini mereka serukan bahkan mereka implementasikan dalam sikap hidup mereka dan kelompoknya.

Untuk itu, saya mengajak mari kita kembali pada pelajaran tenggang-rasa yang pernah diresapkan ke dalam sanubari kita sejak kecil melalui kurikulum “Pendidikan Moral Pancasila” (PMP) waktu itu. Ummat beragama di Indonesia, agama apapun, baik itu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, Kong-Hucu, semuanya sejatinya memiliki sifat luhur “persahabatan-universal” ini. Ummat Islam Indonesia sendiri, yang akhir-akhir ini banyak dituding-tuding dan didiskreditkan sebagai ummat yang menyukai kekerasan, sesungguhnya tidaklah seperti yang ditudingkan tersebut, dan bila ada, itu hanya sebagian kecil saja dari ummat Islam ; TIDAK-SEMUANYA, sehingga tidak bisa digeneralisasikan . Ini semua akibat ulah teroris yang menyusup ke tengah-tengah masyarakat Islam Indonesia, dan berlindung dibalik simbol-simbol agama Islam.

HIMBAUAN PADA PEMERINTAH

Kepada Pemerintah Republik Indonesia, saya menghimbau :

1.     Memperhatikan UUD 1945, Bab XI mengenai Agama, Pasal 29 ayat (2) yang menyatakan,” Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Oleh karenanya, Pemerintah wajib menjalankan perintah UUD 1945 ini dengan melindungi segenap warga negara Indonesia untuk menjalankan peribadatannya sesuai agama dan kepercayaannya.

2.    Memperhatikan UUD 1945 / Amandemen, Pasal 28D ayat (1) yang menyatakan, “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.” Memperhatikan Pasal 28E, ayat (2) yang menyatakan,”Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.” Memperhatikan Pasal 28E ayat (3) yang menyatakan, “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”. Memperhatikan Pasal 28G yang menyatakan, “Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain.” Memperhatikan Pasal 28I ayat (1) yang menyatakan, “Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut, adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun.” Pasal 28I ayat (2) yang menyatakan, “Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.” Pasal 28I ayat (4) yang menyatakan,” Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah”.  Maka, dengan ini saya menghimbau kepada Pemerintah untuk bertanggung jawab atas peristiwa penganiayaan jemaat gereja dan Pendeta Gereja HKBP, Bekasi dan menyeret para pelaku penganiayaan ke hadapan hukum untuk diadili dan dihukum sesuai hukum yang berlaku demi memberikan rasa kepastian hukum , keadilan dan keamanan bagi para korban penganiayaan.

3.    Memperhatikan UUD 1945/Amandemen Pasal 28J ayat (1) yang menyatakan, “Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.” Memperhatikan Pasal 28J ayat (2) yang menyatakan, “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.” Maka dari itu, setiap manusia Indonesia, setiap warga negara Indonesia, baik secara pribadi maupun kelompok, segala organisasi massa berlandaskan ideologi atau agama apa pun, wajib menghormati hak asasi manusia setiap manusia Indonesia tanpa mencederainya dengan arogansi dan egoisme agama, dan menghimbau kepada Pemerintah untuk menindak tegas dan bila diperlukan membubarkan ormas-ormas yang berlandaskan ideologi apapun yang berhaluan keras dan radikal untuk menjamin terlaksananya dan terlindunginya Hak-Hak Asasi Manusia Indonesia.

Demikian, saudara-saudari, para sahabat semuanya. Mari kita menopang diri kita masing-masing dengan rasa keramah-tamahan / persahabatan universal, atau rasa tenggang-rasa, atau toleransi antar manusia yang berbeda jenis, golongan, suku, ras, dan keyakinan. Sebagaimana yang tersirat dari sabda Sang Buddha tersebut diatas, dengan ditopang rasa persahabatan universal, kita akan mampu merealisasikan “Freedom From Fear”, bebas merdeka dari rasa ketakutan meskipun kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang pluralistik, yang berbeda-beda baik secara Suku, Agama, Ras, maupun golongan-golongannya.

Saya sangat berharap, Pemerintah Indonesia khususnya mampu menegakkan wibawa Negara Kesatuan Republik Indonesia dan wibawa Hukum di hadapan masyarakat. Negara mempunyai hak untuk “memaksa”-kan penegakan hukum melalui perangkat-perangkat hukum, seperti POLRI dan segenap jajaran hukum lainnya. Bila POLRI dan segenap jajaran hukum bersikap “Pilih-Kasih” , apalagi “TAKUT”terhadap sekelompok atau segerombol manusia radikal yang menyukai kekerasan untuk memaksakan pendapat dan keyakinannya, maka jatuhlah wibawa POLRI dan segenap jajaran hukum, dan manusia Indonesia akan merasa tidak aman lagi untuk hidup menetap di Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan ini tentunya tidak diinginkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sendiri.

________________________________________

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

Upacarika RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Senin, 13 September 2010

Iklan

Posted in Kerukunan Ummat Beragama di Indonesia | 26 Comments »

KEPRIHATINAN ATAS RENCANA PENDETA TERRY JONES MEMBAKAR AL-QURAN

Posted by ratanakumaro pada September 9, 2010

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattung (3X) )


Namatthu Buddhassa,

Pengeboman WTC 11 September 2001 oleh Al-Qaeda

Pengeboman WTC 11 September 2001 oleh Al-Qaeda

Para sahabat dan saudara/i terkasih…, pagi ini saya cukup dikagetkan dengan sebuah berita di koran Suara Merdeka, Kamis 9 September 2010, yang menyatakan adanya rencana pembakaran Al-Quran oleh Pendeta Terry Jones dari Gereja Evanjelis Dove World Outreach Center untuk memperingati tragedi serangan bom oleh teroris tanggal 11 September 2001 yang menewaskan 2.752 ummat manusia.

Foto Osama Bin Laden , Pemimpin Al-Qaeda

Foto Osama Bin Laden, Pemimpin Al-Qaeda

Banyak tokoh dunia yang telah mengecam rencana tersebut, mulai dari Menlu AS Hillary Clinton, Ketua Masyarakat Islam Amerika Utara, hingga Panglima Militer AS di Afghanistan. Vatican pun mengecam rencana pembakaran Al-Quran tersebut. Dalam sebuah statemen yang dikeluarkan hari Rabu, 08 September 2010, Vatikan menyatakan keprihatinan yang sangat mendalam,” Tindak kekerasan yang tercela sebenarnya tidak perlu dibalas dengan sikap yang justru memalukan seperti pembakaran kitab suci agama tertentu”, demikian bunyi pernyataan tersebut sebagaimana dirilis di harian Suara Merdeka, Kamis 9 September 2010.

PESAN DAMAI DARI UMMAT BUDDHA

Saya , sebagai ummat Buddha, menyampaikan pesan damai sebagaimana yang diajarkan oleh Sang Buddha. Ummat Buddha harus senantiasa memegang teguh prinsip “Avihimsa” atau “Tanpa-Kekerasan” dan senantiasa memancarkan “Metta-Karuna” atau “Cinta-Kasih dan Kasih-Sayang” terhadap semua makhluk hidup baik yang tampak maupun tak tampak. Dan untuk itu , sebagai sesama makhluk hidup, saya menyatakan keprihatinan yang sangat mendalam dan ikut menyesalkan sikap Pendeta Terry Jones yang berencana hendak membakar Al-Quran dalam rangka memperingati tragedi WTC.

Segala fenomena adalah bersifat “Netral”. Batin-lah yang mengolah dan menyaring segala informasi dan fenomena diluar, sehingga menimbulkan persepsi dan sikap. “Kejahatan tidak akan berakhir bila dibalas dengan kejahatan, kejahatan hanya akan berakhir bila dibalas dengan cinta-kasih”, demikian Sang Buddha bersabda dalam Dhammapada.

Kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh teroris internasional yang menggunakan simbol-simbol agama Islam tidak seharusnya direspon dengan merusak, membakar, dan melakukan tindakan-tindakan lain yang sangat buruk dan tidak dilandasi sikap tidak menghargai atau menghormati keyakinan ummat Islam, sebab tidak semua ummat Islam menyetujui cara pandang dan jalan hidup yang ditempuh para teroris ( atau yang oleh sebagian orang disebut sebagai “mujahiddin” ) tersebut meskipun…sekalipun…, para teroris tersebut menyatakan bahwa segala tindakan yang mereka ambil adalah bersumber dan sesuai dengan ajaran Islam sebagaimana tertuang di dalam Al-Quran dan segala sumber-sumber sahih bagi ummat Islam dan meskipun alasan para teroris tersebut adalah untuk berjuang membela dan menegakkan agama mereka.

Segala sikap yang melecehkan, merendahkan, seperti rencana pembakaran Al-Quran tersebut hanya akan memicu konflik berkepanjangan yang akan sulit diredakan ; untuk itu, jangan sampai ada ummat Buddha atau ummat agama apa pun juga yang mempunyai niat tidak terpuji seperti itu.

Himbauan untuk Pendeta Terry Jones, sebaiknya beliau membatalkan niat buruknya tersebut dan meminta maaf kepada ummat Islam sedunia yang pasti sudah merasa terluka dan terhina karena sikapnya.

TERORISME DI INDONESIA

Indonesia sendiri, negara tercinta tempat kita tinggal hidup dan mencari nafkah, juga dilanda permasalahan yang sama. Terorisme internasional, disinyalir kuat telah masuk ke Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Imam Samudera

Foto Nurdin M Top

Dalam perkembangannya, banyak gembong teroris yang telah ditangkap, diadili, maupun tewas dalam proses penangkapannya yang dilakukan oleh Densus 88.

Foto Jenazah Noordin M Top

Baru-baru ini, adalah giliran Ustadz Abu Bakar Ba’asyir , pemimpin Jamaah Anshorut Tauhid (yang juga mantan pimpinan Jamaah Islamiyah) ,yang ditangkap oleh POLRI dengan dugaan sebagai dalang / otak dan penyandang dana bagi aktivitas terorisme di Indonesia, demikian sesuai yang dinyatakan oleh Kadiv Humas POLRI Irjen Edward Aritonang dalam sebuah konferensi pers.

Abu Bakar Ba'asyir

Pesan dari saya sebagai ummat Buddha adalah :

1. Keadilan dapat ditegakkan tanpa harus membalas kejahatan dengan kejahatan. Siapapun juga yang secara hukum yuridis formal terbukti sebagai pelaku kejahatan kemanusiaan yang dengan sadar dan sengaja mengakibatkan tewasnya nyawa orang lain, wajib mendapat hukuman yang sepadan secara hukum, TAPI TIDAK DENGAN HUKUMAN MATI. Sebagaimana Sila Pertama dalam Pancasila Buddhis mengajarkan untuk tidak membunuh makhluk hidup apapun juga, maka hukum pun dapat ditegakkan tanpa harus membalas pembunuhan dengan pembunuhan. Alternatif yang dapat dipilih adalah HUKUMAN PENJARA SEUMUR HIDUP di dalam Lembaga Pemasyarakatan. Dengan pengawasan yang ketat, siapapun terdakwa kasus kejahatan kemanusiaan, bisa tetap memperoleh hak hidup yang layak dan merehabilitasi diri dan cara pandang hidupnya.

2. Proses penegakan hukum atas pelaku kejahatan kemanusiaan, dalam hal ini terorisme berazazkan dalil-dalil agama, harus mengedepankan dan menjunjung tinggi Hak-hak Azazi Manusia (HAM). Semua manusia Indonesia adalah setara dimata hukum, mempunyai hak dan kewajiban yang sama, maka biarkanlah para tersangka pelaku kejahatan kemanusiaan tersebut memperoleh hak dan memenuhi kewajiban hukumnya dengan sebaik-baiknya.

3. Segala bentuk terorisme dan kejahatan kemanusiaan harus dilenyapkan dari muka bumi. Pemerintah dan semua pemuka agama wajib memberi penerangan kepada semua ummat beragama untuk tidak mengedepankan jalan peperangan dalam mencari penyelesaian masalah-masalah keagamaan dan kemasyarakatan umumnya. Peperangan dan pembunuhan hanya akan menghadirkan tragedi dan traumatik kejiwaan bagi ummat manusia dan semua makhluk hidup alam semesta hingga generasi-generasi berikutnya. Kepada ummat Buddha khususnya, semenjak kehadiran Sang Buddha di muka bumi, beliau tidak pernah mengajarkan dan menempuh jalan-jalan peperangan dalam membabarkan ajaran-Nya kepada semua makhluk hidup. Meskipun Beliau, sebagai pemimpin kerohanian kenamaan di masa hidup-Nya juga senantiasa mengalami masa-masa sulit, mengalami masa-masa percobaan pembunuhan oleh para pemuka-pemuka kerohanian yang lain ( yang tentunya merupakan usaha sia-sia, sebab tidak ada satu makhluk pun di penjuru alam semesta ini yang bisa membunuh seorang Buddha dan terbukti demikian ), namun Beliau tidak pernah sekalipun mengajarkan jalan kekerasan. “Avihimsa” atau “tanpa kekerasan” dan “Metta-Karuna” atau “Cinta-Kasih dan Kasih-Sayang” adalah apa yang senantiasa Sang Buddha ajarkan kepada kita. Oleh karena itu, tidak ada celah bagi terorisme dalam Buddhisme. Semenjak awal mula kelahiran ajaran Buddha hingga detik ini, tidak ada satu masa pun yang dihiasi dengan darah dan pedang hingga bom dan senjata modern serta peperangan agama atas nama penyebaran “BUDDHA-DHAMMA”, sebab dalam Ti-Pitaka tidak ditemukan satupun dalil tentang keabsahan peperangan atas nama agama. Untuk itu, sebagai ummat Buddha, siswa-siswa Sang Sugatha, kita harus terus senantiasa melestarikan ajaran Buddha yang Agung dan Luhur tersebut, dengan tidak menodainya melalui tindakan-tindakan yang tidak terpuji yang tidak pernah diajarkan oleh Sang Buddha.

Demikian sebaiknya kita semua, masyarakat bangsa Indonesia umumnya dan ummat Buddha khususnya, senantiasa mengedepankan persaudaraan dan perdamaian, cinta-kasih tanpa batas kepada semua makhluk.

Sebagai penutup, biarlah saya mengulang kembali pesan/sabda Sang Buddha untuk kita semua, bahwa kejahatan tidak akan berakhir bila dibalas dengan kejahatan, kejahatan akan berakhir bila dibalas dengan cinta-kasih. Ini adalah hukum universal, hukum alam, yang bila diterapkan akan membawa keselamatan bagi kita semua, makhluk hidup semesta alam.

Dunia tidak menciptakan kita.., tetapi KITA LAH YANG MENCIPTAKAN DUNIA. Segalanya berawal dari pikiran, oleh pikiran kita sendirilah kehidupan di dunia ini menjadi baik, dan oleh pikiran kita sendirilah kehidupan di dunia ini menjadi sangat buruk.

Sekarang ini adalah jaman Kaliyuga. Sebagaimana Sang Buddha hadir ke dunia untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran dan kebinasaan, seperti itu pulalah seharusnya kita semua, siswa-siswa Sang Buddha hadir ke dunia, untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran dan kebinasaan, untuk menyelamatkan dunia dari segala kemarahan, kebencian, dan kejahatan.

________________________________________

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

Upacarika RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Kamis, 09 September 2010

Posted in Isu Nasional dan Internasional | 15 Comments »