RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

Archive for Juni, 2009

ARTI DOA [ Menurut Buddhisme ]

Posted by ratanakumaro pada Juni 28, 2009

“Sesuai dengan benih yang kita tabur, begitulah buah yang akan kita petik. Pembuat kebajikan akan memperoleh kebahagiaan dan pembuat kejahatan akan memperoleh penderitaan.”

[Samyutta Nikaya I, 227]

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattum (3X) )

Namatthu Buddhassa,

Saya pernah mendapat pertanyaan dari seorang non-Buddhis berkaitan dengan “doa” . Begini pertanyaannya, Jika sosok “Yang-Maha-Kuasa” dan “Yang-Maha-Pencipta”  ditolak keberadaannya oleh Sang Buddha, lalu, kepada siapakah ummat Buddha berdoa ? Saya melihat ummat Buddha banyak yang kaya-raya, makmur, darimanakah itu bila bukan dari “Yang-Maha” ? Ataukah itu dari Sang Buddha ? “

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin menyitir ungkapan yang sangat terkenal dari Descartes, Bapa filsafat idealisme. “Cogito Ergo Sum”, yang artinya, “Aku berpikir, maka Aku Ada”, demikian Descartes berkata. Psikologi modern  juga menyatakan bahwa kita adalah buah pikiran kita sendiri, sebuah temuan ilmiah yang sangat selaras dengan apa yang diajarkan Sang Buddha lebih dari 2.550 tahun yang lalu. Ketika seseorang berdoa, maka sebenarnya ia sedang melakukan proses “sugesti” dan “afirmasi” bagi dirinya sendiri. Dan kemudian ia mendapatkan kelegaan serta keteguhan dari “doa” yang ia ucapkan pada suatu sosok “Yang-Maha-Segala”. Kelegaan dan keteguhan itu sesungguhnya hanyalah efek psikologis semata dari hasil “sugesti” dan “afirmasi” yang ia tanamkan dalam “jiwa” melalui untaian kata-kata indah yang terangkum dalam doa tersebut, bukan berasal dari “sentuhan-tangan-Yang-Maha-Kuasa” . Inilah efek yang diciptakan oleh pikiran melalui “iman” dan “devosi” umumnya ummat manusia.

Dalam satu kesempatan, Sang Buddha bersabda, “Tumhehi kiccam atappam akkhataro Tathagata”, yang artinya, Usaha harus dikerjakan oleh dirimu sendiri. Para Tathagata hanyalah Guru.” ~ Dhammapada v.276.

Sang Buddha tidak pernah mengajarkan para siswa-Nya untuk berdoa dan berserah diri pada “Maha-Dewa” siapapun namanya, termasuk kepada Sang Buddha sendiri. Kebalikan dari ajaran “berserah-diri” tersebut,  Sang Buddha justru mengajarkan para siswa-Nya untuk berusaha, berdaya-upaya dengan kemampuan dirinya sendiri, dengan segenap-tenaga, hingga meraih kesuksesan. Untuk itulah, Sang Buddha memberikan rumusan bagi para siswa-Nya supaya berhasil dengan sukses meraih apa yang dicita-citakan, yang disebut dengan “Panca-Bala” :

“Pañcimāni, bhikkhave, balāni. Katamāni pañca? Saddhābalaŋ, vīriyabalaŋ, satibalaŋ, samādhibalaŋ, paññābalaŋ. “

Inilah o para Bhikkhu, lima kekuatan. Apakah lima kekuatan itu? Kekuatan keyakinan (Saddhābalaŋ), Kekuatan ketekunan/ semangat (vīriyabalaŋ), Kekuatan perhatian (satibalaŋ), Kekuatan samādhi/konsentrasi (samādhibalaŋ), Kekuatan Kebijaksanaan (paññābalaŋ).


Inilah kunci  bagi siapapun yang ingin meraih kesuksesan menggapai cita-citanya. Di dalam berusaha mencapai cita-cita, alih-alih menyibukkan diri dengan uncaran doa-doa berjam- jam, kita hendaknya selalu penuh keyakinan, ketekunan/semangat, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan, dalam berusaha dan berdaya-upaya meraih cita-cita, hingga apa yang kita cita-citakan itu berhasil.

Pada suatu kesempatan, Sang Buddha bersabda pada hartawan Anathapindika:

Oh, perumah tangga, di dunia ini ada lima hal yang diinginkan, menarik dan menyenangkan. Apakah kelima hal itu? Tidak lain adalah usia panjang, kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran dan kelahiran kembali di alam-alam Surga. Akan tetapi, oh, perumah tangga, Saya tidak pernah mengajarkan bahwa lima hal tersebut dapat diperoleh dengan doa (acayana) ataupun dengan kaul/nadar (patthana). Jika seandainya dapat diperoleh dengan doa atau kaul/nadar, [maka] siapakah yang tidak akan melakukannya?

Bagi seorang siswa mulia, oh, perumah tangga, yang mendambakan usia panjang, kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran, dan kelahiran kembali di alam-alam Surga; sangatlah tidak tepat apabila ia berdoa atau merasa senang dalam usaha seperti itu. Sebaliknya, ia selayaknya menempuh jalan kehidupan yang mengakibatkan usia panjang, kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran dan kelahiran kembali di alam-alam Surga. Hanya dengan berbuat demikianlah ia dapat memperoleh apa yang diinginkan, menarik dan menyenangkan.


TIDAK PERLU BERDOA, TETAPI KENDALIKANLAH PIKIRAN KITA

Jika Pikiran tidak terjaga,  tindakan jasmani tidak terjaga, ucapan juga tak terjaga, buah pikiran juga tak terjaga. Jika pikiran terjaga, tindakan jasmani terjaga, ucapan juga terjaga, dan buah-pikiran juga terjaga. [ Atthasalini hal.68. The Expositor,Bag.I,halm91 ]

Dalam Dhammapada, terdapatlah kata-kata mutiara Sang Buddha, yang mengingatkan kita semua untuk senantiasa mengendalikan pikiran kita, karena, pikiran adalah pemimpin, karena pikiran kita sendirilah kita bahagia dan  karena pikiran kita sendirilah kita menderita.

“Pikiran itu sangat sulit dikendalikan, Bergerak sangat cepat, Menuju kemana ia mau pergi. Melatih pikiran adalah baik, Pikiran yang terkendali akan membawa kebahagiaan.” [ Dhammapada ; Citta-Vagga 3:4 ]

“Pikiran itu sangat sulit untuk diawasi dan sangat halus, Bergerak kemana ia mau pergi, Orang bijaksana seharusnya mengendalikan pikirannya; Pikiran yang terkendali akan membawa kebahagiaan.” [ Dhammapada ; Citta-Vagga 3:4 ]

“Seseorang yang pikirannya tidak ternoda oleh nafsu, Terbebas dari kebencian, Dapat mengatasi baik dan buruk, Maka tidak ada lagi perasaan takut.” [ Dhammapada ; Citta-Vagga 3:7 ]

Seperti orang menabur benih padi, maka akan tumbuh tanaman padi, demikian pula, benih-benih pikiran baik akan menyebabkan tumbuhnya pohon yang berbuah kebajikan yang bermanfaat bagi si pembuat kebajikan, dan demikianlah sebaliknya. Hukum-alam seperti ini ( Hukum-Alam, sesungguhnya ada lima, yaitu  : utu-niyama, bija-niyama, kamma-niyama, ctta-niyama, dhamma-niyama ), tidak dapat direkayasa dengan “Doa”.

Rahasia kesuksesan dan kegagalan, semua terletak pada, bagaimana kita menggunakan pikiran [mind-set] kita, bagaimana kita mengendalikan pikiran, dan kemana pikiran kita arahkan, bukan pada “kalimah-sakti” yang terangkai dalam sebuah “doa”. Hendaknya hal ini senantiasa kita pahami dengan bijaksana.

KISAH NYATA ; SESEORANG  YANG  BERSANDAR PADA MUJIZAT “YANG-MAHA-KUASA”

Ada sebuah kisah nyata, dari kehidupan di sekitar saya sendiri. Seorang perumah tangga, mempunyai anak tiga. Semenjak menikah, ia tidak pernah mempunyai pekerjaan tetap. Sekian lama tidak terdengar kabar, pada suatu ketika, saya bertemu dengannya. Cukup kagum, karena ia saat itu naik mobil Mercedes Benz, dan bekerja mandiri sebagai seorang kontraktor. Kemudian, setelah bercakap-cakap, barulah saya ketahui, semua modalnya dia peroleh dari pinjaman uang ke “lintah-darat”, dan saat bertemu dengan saya itu sebenarnya dia terlilit hutang yang sangat besar. Untuk membayar hutang-hutangnya kepada “lintah-darat”, dia membuat banyak kartu-kredit. Ia saat itu berkelakar,

” Jika kita punya hutang yang banyak, kita tidak perlu pusing-pusing memikirkannya, biarkan yang meminjamkan uang pada kita itulah yang pusing memikirkan bagaimana menagih uangnya yang kita pinjam, ha ha ha..! “


Seiring berjalannya waktu, kehidupannya semakin “suram”. Mulailah debt-collector bermunculan, karena ia tak mampu membayar angsuran bulanan lagi. Hutangnya ketika itu sudah mencapai 700 juta rupiah. Pada suatu saat, ia menyatakan sesuatu hal pada saya sebagai obat penghalau “pesimisme”-nya sendiri :

“Seseorang pernah memberikan kesaksian di rumah-ibadah tempat istri saya kesana, disana orang tersebut berkata,”Jika didepan saya tidak terdapat satu jalanpun kecuali hanya sebuah dinding tembok, maka sayapun mau untuk lari menabrak dinding tembok didepan saya, karena saya yakin itulah kehendak Tuhan. Dan Tuhan pasti telah menyiapkan rencana indahnya ketika saya lari menabrakkan diri ke dinding tembok tersebut! “

Berdasarkan kesaksian seseorang di sebuah rumah-ibadah itulah, kemudian, pada perjalanan hidupnya selanjutnya, ia benar-benar melakukan hal yang bodoh. Karena merasa sudah tidak ada jalan lagi, maka ia mulai mempunyai pikiran buruk. Ia mulai menipu ke beberapa teman, saudara, dan akhirnya menipu banyak orang. Padahal, terakhir bertemu saya ( yaitu ketika ia menceritakan kisah “kesaksian” diatas ), ia pun telah terbelit pada hutang kartu kredit dan hutang yang lainnya hingga 700 juta rupiah.

Ketika ia merasa terpojok, ia dan istrinya memutuskan bercerai. Namun dengan perjanjian, bahwa ia tetap tinggal dirumahnya. Perceraian ini hanya rekayasa, supaya istri dan anak-anaknya terbebas dari kejaran para debt collector dan juga para polisi  ( sebab, semua kreditur telah melaporkan dirinya pada pihak yang berwajib, polisi ). Alangkah malangnya, kabar terakhir yang saya dengar, ketika sang suami bersusah payah menyembunyikan diri dari kejaran polisi dan debt collector, si istri asyik-masyuk berselingkuh dengan laki-laki lain yang lebih kaya. Hancurlah ia, meraung-raung, ia tak menyangka semua akan menjadi begitu. Ia meronta, “Dimana keadilan Tuhan, bukankah selama inipun aku rajin beribadah ? Berdoa ? Mengapa doaku tak pernah didengarnya ? Mengapa Tuhan melakukan ini semua padaku ?  “

Nah, saudara-saudari, apakah yang bisa kita petik dari kisah ini ?  Hukum-alam, berjalan dengan pasti. Alam tidak pernah memihak. Alam tidak bisa disanjung dengan doa. Jika kita berbuat jahat, maka buah kejahatan telah mulai berkembang dan menunggu untuk waktu-masak, dimana kita siap memetiknya.

Mengenai hal ini, ada beberapa kata-kata mutiara Sang Buddha, yang patut kita renungkan bersama :

“Apabila buah dari perbuatan buruk belum masak, orang bodoh menganggap hidupnya manis seperti madu; namun apabila buah dari perbuatan buruknya telah masak, maka orang bodoh itu akan merasakan pahitnya penderitaan.” [Dhammapada ; Bala-Vagga 5:10 ]

“Akibat dari perbuatan buruk tidak segera berbuah, seperti susu yang perlahan-lahan menjadi asam setelah diperah; demikian pula penderitaan akan membakar orang bodoh seperti bara api yang tertutup oleh arang.” [ Dhammapada ; Bala-Vagga 5:12 ]

“Janganlah menganggap remeh kejahatan yang ringan dengan berpikir : “Perbuatan keliru yang tidak berarti ini tidak akan berakibat buruk pada diriku.” Karena seperti air yang mengisi tempayan tetes demi tetes, demikian pula orang bodoh memenuhi dirinya dengan perbuatan jahat Sedikit demi sedikit.” [ Dhammapada ; Papa-Vagga 9:6 ]

“Selama akibat dari perbuatan jahat belum masak, si pembuat kejahatan menganggap perbuatan jahatnya sebagai hal yang menguntungkan. Tetapi setelah akibat dari perbuatan jahatnya sudah masak, ia akan menyadari kerugian dari perbuatan jahat tersebut.” [ Dhammapada ; Papa-Vagga 9:4 ]


KISAH SANG BUDDHA MEMANFAATKAN KEKUATAN TAKHAYUL DARI “PERSEMBAHAN-KORBAN” DAN “DOA”

Ada sebuah kisah dari kehidupan lampau Sang Buddha, yang menggambarkan bagaimana Sang Boddhisatta ( calon-Buddha ) memanfaatkan kekuatan takhayul berupa “persembahan-korban-binatang” dan “doa” yang mencengkeram rakyat Benares waktu itu. Sang Boddhisatta sangat kasihan mengapa rakyat Benares dicengkeram kepercayaan takhayul semacam itu. Karena itu, Sang Boddhisatta kemudian mencari cara / “akal” bagaimana caranya membelokkan praktik takhayul tersebut menjadi sebuah praktik latihan lima moralitas ( Pancasila ) yang jauh lebih bermanfaat dari “persembahan-korban-binatang” dan “doa” pada “Maha-Dewa”.

Dahulu kala, Raja Brahmadatta memerintah di Benares, India Utara. Sang Bodhisatta, Makhluk yang akan mencapai Penerangan, terlahir sebagai pangeran di negara itu. Karena pintarnya, ia telah menyelesaikan seluruh pendidikannya kala ia berusia 16 tahun. Jadi pada usia yang sangat muda ayahnya telah menjadikan ia sebagai orang kedua dalam pemerintahannya.

Pada hari-hari itu, kebanyakan orang Benares memuja dewa-dewa. Mereka sangatlah percaya tahayul. Mereka berpikir bahwa para dewalah yang menyebabkan terjadinya sesuatu pada diri mereka, dan bukannya hasil dari perbuatan mereka sendiri. Jadi mereka akan berdoa kepada para dewa ini dan minta pertolongan. Mereka akan meminta pernikahan yang menguntungkan, atau kelahiran seorang anak, atau kekayaan, ketenaran.

Mereka akan berjanji kepada para dewa bahwa, jika doa mereka terkabul mereka akan membayar pada dewa tersebut dengan persembahan. Sebagai tambahan selain bunga dan wewangian, mereka membayangkan bahwa para dewa tersebut menginginkan persembahan korban binatang. Jadi bila mereka berpikir bahwa para dewa telah membantu, mereka akan membunuh banyak binatang-binatang – kambing, lembu, ayam, babi, dsb.

Pangeran tersebut melihat semua ini dan berpikir, “Binatang-binatang yang tak berdaya ini juga merupakan sasaran sang raja, jadi aku harus melindungi mereka. Orang-orang melakukan perbuatan tidak benar ini karena kebodohan dan kepercayaan terhadap tahayul. Ini bukanlah agama yang sebenarnya. Karena agama yang sebenarnnya menawarkan kehidupan seperti apa adannya, bukan pembunuhan. Agama yang benar menawarkan kedamaian bukan pembunuhan.

“Aku takut orang-orang ini terlalu mempercayai tahayul sehingga sukar bagi mereka untuk meninggalkannya. Betapa menyedihkan. Tetapi mungkin paling tidak kepercayaan mereka ini dapat diubah menjadi sesuatu yang berguna. Suatu hari nanti aku akan menjadi raja, Jadi aku harus membuat rencana agar tahayul ini dapat membantu mereka. Jika mereka harus memberikan persembahan biarlah mereka membunuh ketamakan dan kebencian mereka sendiri dan bukannya membunuh binatang-binatang yang tidak berdaya ini! Dengan demikian seluruh kerajaan akan mendapatkan manfaat”.

Jadi pangeran yang pandai tersebut membuat rencana jangka panjang. Sering ia akan mengedarai keretannya menuju satu pohon banyan yagn terkenal tepat di luar kota. Pohon itu sangat besar, banyak orang berdoa dan memberikan persembahan kepada dewa yang mereka kira hidup di pohon itu. Pangeran itu turun dari keretanya dan memberikan persembahan yang sama – dupa, bunga, wewangian dan air – tetapi bukan persembahan binatang.

Dengan cara demikian dia membuat suatu tontonan besar, dan kabar tentang persembahan yang dilakukannya itu dengan segera tersebar luas. Segera, orang mengira bahwa ia juga adalah salah satu pengikut dewa pohon banyan tersebut.

Pada saatnya raja Brahmadatta meninggal dan pangeran tersebut menjadi raja yang baru. Ia memimpin sebagai seorang raja yang adil dan semua rakyatnya mendapatkan manfaat. Jadi semua rakyat percaya dan menghormatinya sebagai seorang raja yang adil dan bijaksana.

Kemudian pada suatu hari, ia memutuskan bahwa telah tiba saatnya yang tepat untuk melaksanakan rencananya. Jadi ia memanggil seluruh jajaran pemimpin rakyat Benares ke aula kerajaan. Ia bertanya kepada mereka, “Para menteri dan rakyatku yang setia, tahukah kalian bagaimana aku mampu memastikan bahwa nantinya aku akan menjadi raja?” Tidak ada seoarngpun dapat menjawab.

Ia berkata, “Ingatkah kalian bahwa aku sering memberikan persembahan yang manis-manis dan baik kepada dewa pohon banyan?” “Ya, tuanku”, kata mereka.

Raja melanjutkan, “Pada tiap-tiap saat itu, aku berjanji pada dewa pohon banyan yang hebat itu, Aku berdoa, ‘Oh dewa yang hebat, jika anda membuatku menjadi raja di Benares, aku akan memberikan persembahan yang khusus, lebih hebat dari bunga dan wewanggian'”.

“Karena sekarang aku telah menjadi raja, anda semua dapat melihat sendiri bahwa dewa telah mengabulkan doaku. Jadi sekarang aku harus memenuhi janjiku dan memberian pesembahan khusus.”

Semua yang berada dalam aula tersebut menyetujuinya. Mereka berkata, “Kita harus mempersiapkan persembahan ini dengan segera. Binatang apa yang hendak paduka bunuh?”

Sang Raja berkata, “Para pengikutku, aku bahagia kalian semua mau bekerjasama. Aku berjanji pada dewa pohon banyan bahwa aku akan mempersembahkan siapa saja yang gagal berlatih Lima Langkah Latihan (Panca Sila). Yaitu, mereka yang menghancurkan kehidupan, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan kesalahan dalam hal seksual, berbicara bohong, atau kehilangan akal sehatnya karena alkohol. Aku berjanji, bahwa jika ada yang melakukan hal ini, aku akan mempersembahkan nyali, daging, dan darah mereka pada altar dewa yang hebat tersebut!”

Karena begitu percayanya akan tahayul, semua yang berada diaula menyetujuinya bahwa hal ini harus dilakukan, atau dewa tentunya akan menghukum raja dan semua yang ada dalam kerajaan itu.

Sang raja berpikir, “Ah, begitu hebatnya kekuatan tahayul sampai-sampai semua orang kehilangan akal sehatnya! Mereka tidak dapat melihat bahwa latihan pertama adalah jangan membunuh. Jika aku mengorbankan salah satu dari mereka, akulah yang akan berada di altar! Dan dengan kekuatan seperti itu aku dapat membuat janji semscam itu, dan tidak harus melakukannya!”

Jadi, dengan keyakinan penuh pada kekuatan tahayul, sang Raja berkata kepada para pimpinan rakyat, “Pergilah ke seluruh bagian kerajaan dan umumkanlah janji yang telah kubuat kepada dewa pohon banyan. Kemudian umumkanlah bahwa seribu orang pertama yang melanggar langkah-langkah latihan akan mendapatkan kehormatan untuk menjadi persembahan, untuk memenuhi janji raja.”

Demikianlah dan terjadilah, orang-orang di Benares menjadi terkenal karena mereka berhati-hati melatih Lima Latihan  Moralitas (Panca Sila). Dan raja yang baik tersebut, yang mengenal dengan baik pengikutnya, tidak mengorbankan siapapun.

[ Sumber :    http://www.geocities.com/Athens/Stage/5255/dhamma/jataka/pangerantahayul.htm      ]


JANGAN BERBUAT JAHAT, PERBANYAK KEBAJIKAN, SUCIKAN HATI DAN PIKIRAN

Sesungguhnya, pada ketiga syair ( jangan berbuat jahat, perbanyak kebajikan, sucikan hati dan pikiran ) tersebutlah, inti kebahagiaan hidup. Sebagaimana kita lihat pada contoh kisah-nyata diatas, seseorang yang mengharapkan “mujizat-keselamatan-dan-ksejahteraan” melalui penguncaran doa-doa sementara ia sendiri senantiasa berbuat jahat, sesungguhnya telah menjerumuskan dirinya sendiri kearah jurang-kehancuran.

Dalam hal ini, kata-kata mutiara Sang Buddha, patut kita renungkan bersama :

“Dalam kehidupan ini ia menderita, dalam kehidupan yang akan datang ia juga akan menderita. Dalam kedua alam kehidupan si pembuat kejahatan menderita. Ia menderita dan bersedih menyaksikan buah dari perbuatannya yang buruk.” [ Dhammapada ; Yamaka-Vaga 1:15 ]

“Dalam kehidupan ini ia berbahagia, dalam kehidupan yang akan datang ia juga berbahagia. Dalam kedua alam kehidupan si pembuat jasa kebaikan berbahagia, Ia bergembira dan berbahagia menyaksikan buah dari perbuatannya yang baik.” [ Dhammapada ; Yamaka-Vagga 1:16 ]

“Si pembuat kejahatan menyesal dalam kehidupan ini, Ia juga menyesal dalam kehidupan yang akan datang. Ia menyesal di kedua alam kehidupan, Ia sangat menyesal ketika merenungkan perbuatan jahatnya. Dan ia akan lebih menderita lagi setelah terlahir di alam sengsara.” [ Dhammapada ; Yamaka-Vagga 1:17 ]

“Si pembuat kebajikan berbahagia dalam kehidupan ini, Ia juga berbahagia dalam kehidupan yang akan datang.  Ia berbahagia di kedua alam kehidupan, Ia sangat berbahagia ketika merenungkan perbuatan bajiknya. Dan ia akan lebih bahagia lagi setelah terlahir di alam surga/bahagia.” [ Dhammapada ; Yamaka-Vagga 1:18 ]

“Jangan terhanyut dalam kelengahan, tidak melekat pada kenikmatan indriya. Orang yang sadar dan selalu waspada, akan memperoleh kebahagiaan yang tidak terbatas.” [ Dhammapada ; Appamada-Vagga 2:7 ]

“Seseorang yang pikirannya tidak ternoda oleh nafsu, terbebas dari kebencian. Dapat mengatasi baik dan buruk, maka tidak ada lagi perasaan takut.” [ Dhammapada ; Citta-Vagga 3:7 ]

“Apabila seseorang telah melakukan perbuatan baik, Ia hendaknya mengulangi perbuatan baik tersebut. Ia merasa berbahagia dengan perbuatan baik, oleh karena kebaikan akan membawa kebahagiaan.” [ Dhammapada ; Papa-Vagga 9:3 ]

“Selama akibat dari perbuatan baik belum masak, si pembuat kebaikan menganggap perbuatan baiknya sebagai hal yang merugikan. Tetapi setelah akibat dari perbuatan baiknya sudah masak, Ia akan menyadari manfaat dari perbuatan baik tersebut.” [ Dhammapada ; Papa-Vagga 9:5 ]

“Janganlah menganggap remeh perbuatan baik yang ringan dengan berpikir : “ Perbuatan baik yang tidak berarti ini tidak akan membawa kebaikan pada diriku” Karena seperti air yang mengisi tempayan tetes demi tetes, Demikian pula orang bijaksana memenuhi dirinya dengan perbuatan baik Sedikit demi sedikit.” [ Dhammapada ; Papa-Vagga 9:7 ]

Nah, saudara-saudari semuanya dan khususnya ummat Buddha, sesungguhnya, mantra dan doa yang “melambung-tinggi” itu tidaklah berharga bila dibandingkan dengan  sebuah usaha yang penuh keyakinan (saddha), ketekunan/semangat ( viriya ), perhatian ( sati ), konsentrasi ( Samadhi ), dan kebijaksanaan ( panna ). Doa, hanya membantu “batin” untuk memperoleh suatu kelegaan dan keteguhan tekad, yang sesungguhnya itu hanyalah proses psikologis semata ( hasil dari “sugesti” dan “afirmasi” yang dilakukan ).

Hindarilah kejahatan, perbanyaklah kebajikan, sucikan hati dan pikiran, inilah kunci kebahagiaan, inilah kunci “surga” pada kehidupan saat ini dan kehidupan setelah kematian nanti ( pada kelahiran-kembali kelak ). Bagaimana kita menghindari kejahatan ? Dengan memperteguh diri dalam “Latihan Lima Moralitas” ( Pancasila ), maka kita telah menghindarkan diri dari kejahatan. Dengan mengembangkan kedermawanan ( Dana ), cinta-kasih ( Metta ), Kasih-Sayang ( Karuna ), rasa simpati ( Mudita ), dan keseimbangan-batin ( Upekkha ),  maka kita telah mengembangkan dan memperbanyak kebajikan.

Seorang penyair Buddhis, Dr.Tagore, pernah membuat sebuah syair yang berusaha menggambarkan bagaimana seorang Boddhisatta ( makhluk yang bercita-cita mencapai pencerahan-sempurna/menjadi Buddha demi keselamatan semua makhluk ) membentuk batin-Nya untuk tujuan pencapaian “pembebasan”-nya. Dengan bersandar pada kekuatan sendiri, dengan usahanya sendiri, seorang Boddhisatta akan membentuk pikirannya seperti ini :

“ Biarlah aku tidak berdoa untuk dilindungi dari bahaya, tetapi untuk tidak takut dalam menghadapi mereka.

Biarlah aku tidak meminta untuk disembuhkan dari penyakitku, tetapi demi ketabahan untuk mengatasinya.

Biarlah aku tidak berharap dalam kecemasan untuk diselamatkan, tetapi berharap demi kesabaran untuk memenangkan kebebasanku. “

Sungguh sebuah syair yang sangat indah, bertujuan untuk memajukan perkembangan spiritual, jauh dari ke-takhayul-an dan “fantasi” akan turunnya “invisible-hand” dari sosok “Maha-Kuasa”. Dan justru “Doa” yang bersifat “afirmasi-positif” seperti inilah sesungguhnya yang sepatutnya mulai kita praktikkan demi manfaat pencapaian perkembangan spiritual kita bersama, bukan “doa” yang diselimuti  kabut “takhayul” akan harapan datangnya “keajaiban” dari “kekuatan-ghaib” diatas  sana.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Minggu, 29 Juni 2009

Iklan

Posted in BUDDHA, Doa, Rahasia Doa | 21 Comments »

TUHAN “YANG-MAHA…” DIMATA SEORANG BUDDHA

Posted by ratanakumaro pada Juni 22, 2009

”Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan; Mengapa Brahma  itu tidak menciptakan secara baik? Bila kekuatannya demikian tak terbatas, mengapa tangannya begitu jarang memberkati? Mengapa dia tidak memberi kebahagiaan semata? Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela? Mengapa memenangkan kepalsuan, sedangkan kebenaran dan keadilan gagal? SAYA MENGANGGAP, BRAHMA  ADALAH KETIDAK-ADILAN . Yang membuat dunia yang diatur keliru.” [Bhuridatta Jataka, Jataka 543]

Apabila, O para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami penderitaan dan kebahagiaan sebagai hasil atau sebab dari ciptaan Tuhan (Issaranimmanahetu), maka para petapa telanjang ini tentu juga diciptakan oleh satu Tuhan yang jahat/nakal (Papakena Issara), karena mereka kini mengalami penderitaan yang sangat mengerikan.

[Devadaha Sutta, Majjhima Nikaya 101]

Bila ada Sang Maha Kuasa yang dapat mendatangkan bagi setiap mahluk ciptaanya kebahagiaan atau penderitaan, perbuatan baik maupun jahat, maka yang maha kuasa itu diliputi dosa, sedangkan manusia hanya menjalankan perintahnya saja.

( Mahabodhi Jataka No.528 )

___________________________________________________

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattum (3X) )

Namatthu Buddhassa,


Akhir-akhir ini, saya sering mendapat pernyataan dari orang-orang non-Buddhis, bahwa setelah Sang Buddha Parinibbana, Beliau mencapai suatu tataran spiritual  “Menyatunya-Atman-Dengan-Brahman” ( Jawa : Manunggaling-Kawula-Lan-Gusti), pernyataan masyarakat non-Buddhis itu tidaklah-benar. Tidaklah benar pula bila dinyatakan bahwa Sang Buddha adalah salah satu Nabi utusan Tuhan dari sekian banyak Nabi yang tidak dipopulerkan dalam lingkup tradisi agama-agama theistik tertentu.

Pada kenyataannya, Sang Buddha justru menolak teori / pandangan adanya sosok “Maha-Pencipta” dan “Maha-Kuasa” dalam bentuk apapun;  menolak adanya “Atman” dan menolak ke-Maha-Kuasa-an “Brahman”.  Dan Sang Buddha itu sendiripun bukan seorang Tuhan “Yang-Maha…” sebagaimana anggapan orang-orang non-Buddhis. Sang Buddha adalah “Guru-Agung” yang telah mencapai Pencerahan-Sempurna dan kemudian menunjukkan hakekat segala-sesuatu, serta menunjukkan “Jalan-Keselamatan” bagi semua makhluk supaya bisa terbebas dari samsara.

Alam semesta dan makhluk hidup mengada, karena proses hukum alam semata yang tertutup kabut seiring perjalanan waktu semesta yang memang sebenarnya telah berusia sangat tua, sehingga para makhluk tidak mampu menguak misterinya. Dan misteri hukum alam  ini, kemudian telah disingkapkan dengan kehadiran Sang Buddha Gotama ke muka bumi ini.

Setelah pencerahan-Nya, Sang Buddha kemudian menembus dan memahami, bahwa sosok-sosok “Maha-Dewa-Yang-Maha” yang sebelumnya banyak dipuja-puji oleh banyak aliran spiritual sebelum Beliau hadir dan ketika Beliau masih hidup, ternyata hanyalah sekumpulan Dewa, dari surga Kamadhatu, Rupadhatu, hingga Arupadhatu. Untuk Dewa lingkup Kamadhatu, watak Dewa disana masih memiliki nafsu dan emosi, sehingga pantas beberapa “Maha-Dewa” yang diyakini sebagai pemilik “kuasa” memiliki watak seperti itu ( pendendam, pemarah, pencemburu, suka berperang, bangga akan “kekuatan” dan “kekuasaan ). Dan Dewa-dewa dari lingkup kamadhatu ini, selain dikenali dari wataknya, dapat dikenali dari satuan hitungan waktu ( missal, sehari semalam disana = 800 tahun waktu manusia, atau sehari semalam disana = 1.600 tahun waktu manusia, maka Tuhan tersebut berarti hidup di alam surga Kamadhatu, tepatnya di alam Nimmanarati dan Paranimmittavasavatti ).

Pada alam kamadhatu inilah,  seperti yang dikisahkan dalam banyak kitab-kitab Buddhis, kelak siapapun yang masuk ke surga ini, akan mendapatkan jatah ratusan bidadari cantik berkaki merah muda, mendapatkan istana2 megah, istana2 emas, dan lain2 sebagainya.

Gambaran diatas adalah gambaran alam surga Kamadhatu. Berbeda lagi kondisinya bila yang dibicarakan adalah surga Rupa-Dhatu, disana (Rupa-Dhatu) sudah mulai tidak terdapat nafsu. Tidak ada lagi perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan. Ini adalah alam para Brahma. “Maha-Brahma” yang disembah para Brahmana, hidup dalam alam Rupa-Dhatu tepatnya di alam Jhana I. “Maha-Brahma” adalah pemimpin dari keenam surga kamadhatu dibawahnya, dan juga pemimpin para dewan dan menteri Brahma. Usia Maha-Brahma mencapai 1 Asankkheyya-Kappa ( 100.000.000.000.000 tahun waktu manusia ).

Dengan pembagian surga-surga tersebut, Sang Buddha bertujuan memberikan “pencerahan” kepada semua makhluk, bahwa sesungguhnya, apa yang disebut sebagai “Maha-Kuasa” yang “Tunggal”, sesungguhnya tidak ada. Sebab, yang ada hanyalah kumpulan dari para Dewa yang jumlahnya sangat banyak. Dan Sang Buddha, kemudian menunjukkan, bahwa pembebasan dari lautan samsara, bukanlah untuk terlahir di alam-alam “Tuhan” tersebut, tetapi pelenyapan dari keserakahan/nafsu-indriya ( lobha ), kemarahan/kebencian (dosa), dan kebodohan/kegelapan batin ( moha ), ialah saat kita merealisasi   N I B B A N A.

Karena penolakan terhadap adanya “Maha-Pencipta” dan “Maha-Kuasa” dalam bentuk dan nama apapun, maka banyak masyarakat kemudian memandang Buddhisme sebagai sebuah ajaran “Atheistik”. Oleh ilmuwan barat, dan para filosof, penolakan tersebut justru dipandang sebagai hal yang positif dan dianggap sangat sesuai dengan pemikiran modern dan sangat ilmiah. Namun, untuk orang-orang dan tempat tertentu seperti di Indonesia, hal ini menjadi sesuatu hal yang negative , karena seringkali penolakan terhadap adanya “Tuhan-Yang-Maha…” dikaitkan dengan faham “atheist-materialistisch” dan “komunisme”.

Apa yang lebih tepat disematkan pada Buddhisme adalah suatu ajaran “NON-THEISTIK”. Sang Buddha memang menolak adanya suatu sosok “Maha-Pencipta” dan “Maha-Kuasa”. Alih-alih terjebak dalam pandangan spekulatif tentang sosok “Maha..” tersebut, Sang Buddha menerangkan panca-niyama ( lima-hukum-alam ) yang bekerja dengan sendirinya tanpa ada sosok “Maha-Kuasa” dalam bentuk apapun yang menggerakkan, serta bekerjanya hukum-sebab-musabab-yang-saling-bergantungan ( paticcasamuppada ), yang kesemuanya itu Beliau peroleh sebagai hasil Pencerahan-Nya.

Meskipun Sang Buddha menolak adanya sosok “Pencipta”, “Maha-Kuasa”, namun, Sang Buddha menunjukkan suatu “Tujuan-Sejati” bagi kehidupan spiritual/rohani yang jauh lebih dalam dan luas daripada sekedar menuju “Penyatuan-Atman-Brahman” ( Jawa : “Manunggaling-Kawula-Lan-Gusti” )  sebagaimana banyak ajaran spiritual mengajarkannya . Apa yang menjadi tujuan-sejati dalam Buddha-Dhamma itu, adalah suatu kondisi batin sebagai hasil realisasi-pembebasan sempurna dari proses tumimbal-lahir, pembebasan dari samsara, yaitu :  N I B B A N A.

Realisasi pembebasan dan kesucian tertinggi ini, jelas jauh berbeda dan sangat bertentangan dengan pandangan “Atheis-materialistik”. Sebab, kaum materialis berpendapat, bahwa hidup ini tidak mempunyai tujuan apapun setelah kematian nanti, karena setelah kematian, maka “kemusnahan-total” dari fisik-material-lah yang terjadi, sementara Buddha-Dhamma mengajarkan setelah mati, maka “batin” akan melanjutkan potensi-kamma-nya ke kehidupan selanjutnya (tumimbal-lahir). Sehingga, kehidupan-suci yang merupakan tujuan kehidupan spiritual sangat ditolak oleh kaum materialist, sementara Buddha-Dhamma sangat mengagungkan kehidupan-suci. Kaum materialist juga menolak keberadaan “batin”, sebab bagi kaum materialist, apa yang disebut “batin” hanyalah residu dari kumpulan-material penyusun otak saja, yang disebut “Fosfor”, sementara Buddha-Dhamma menerangkan bahwa selain “Rupa” ( tubuh-materi ) terdapat “Nama” ( batin ).

Kaum materialist memandang tidak ada yang lebih tinggi daripada dunia inderawi ini dan oleh karena itu mementingkan hidup untuk bersenang-senang, memuaskan nafsu indriya, mencari kesejahteraan material. Sedangkan Buddha-Dhamma, justru berkebalikan darinya, karena Buddha-Dhamma mengajarkan ummatnya untuk mengejar suatu kebahagiaan-diatas-duniawi, yaitu kebahagiaan-spiritual, realisasi kesucian-tertinggi demi pembebasan sempurna dari samsara. Dalam hal ini, Buddha-Dhamma mempunyai “benang-merah” dengan pandangan ajaran-ajaran yang lain, yaitu bahwa kebahagiaan-tertinggi tidak terdapat pada kehidupan duniawi ini, meskipun dengan tujuan yang berbeda ( Agama lain menuju “Surga” tempat dimana Tuhan bertahta dan hidup berdiam bersama para malaikat dan ummat-ummat pilihannya, sedangkan Buddha-Dhamma menuju pada pengakhiran, pelepasan-Agung ; N I B B A N A ).

Sehingga, menilik hal-hal tersebut diatas, jelas Buddha-Dhamma jauh berbeda dan bahkan sangat bertentangan dengan “Atheisme” kaum materialist, dan oleh karenanya, sangat tidak tepat bila Buddha-Dhamma disebut ajaran yang “Atheistik”.

Diatas dua pandangan : Atheisme-materialistisch dan Theisme-idealistisch, disitulah Buddha-Dhamma berada; mengatasi kedua pandangan “keliru” tersebut. Dan inilah puncak dari semua pengetahuan dan pencarian manusia.

PIKIRAN ITU SENDIRILAH “SANG-MAHA-PENCIPTA”

Menurut Sang Buddha, tidak ada siapapun juga yang menjadi “Creator” atas diri kita, kecuali itu adalah pikiran kita sendiri.

“1. Pikiran mendahului semua kondisi batin, pikiran adalah pemimpin, SEGALANYA DICIPTAKAN OLEH PIKIRAN. Apabila dengan pikiran yang jahat seseorang berbicara  atau berbuat dengan jasmani, maka penderitaan akan mengikuti si pelaku karenanya, seperti roda kereta yang mengikuti jejak kaki lembu jantan yang menariknya.

2. Pikiran mendahului semua kondisi batin, pikiran adalah pemimpin, SEGALANYA DICIPTAKAN OLEH PIKIRAN. Apabila dengan pikiran yang bersih/suci seseorang berbicara atau berbuat dengan jasmani, maka kebahagiaan akan mengikuti si pelaku karenanya, seperti bayangan yang tidak pernah meninggalkan tubuh seseorang.

[ Dhammapada 1; Yamaka-Vagga ; 1-2 ]

Salah satu dari Mahayana Sutra, yaitu Lankavatara Sutra, menyatakan konsep Tuhan yang berdaulat, ataupun atman adalah imajinasi belaka atau perwujudan dari pikiran dan bisa menjadi halangan menuju kesempurnaan karena ini membuat kita menjadi terikat dengan konsep Tuhan Maha Pencipta:

“ Semua konsep seperti sebab, pelanjutan, atom, unsur-unsur dasar, yang membuat kepribadian, jiwa pribadi, roh sakti, Tuhan yang berdaulat, pencipta, adalah imajinasi belaka dan perwujudan dari pemikiran manusia. “

Tidak, Mahamati, doktrin Tathágata dari rahim ke-Tathágata-an tidaklah sama dengan filosofi Atman.

[ Dikutip dari :

http://id.wikipedia.org/wiki/Tuhan_dalam_agama_Buddha ]


HUKUM SEBAB-MUSABAB YANG SALING BERGANTUNGAN (PATICCASAMUPPADA )

DAN LIMA-HUKUM-ALAM ( PANCA-NIYAMA )

Untuk menerangkan terjadinya semua makhluk, Sang Buddha menerangkan bekerjanya “hukum-sebab-akibat-yang-saling-bergantungan” ( Paticcasamuppada ; untuk lebih jelasnya, klik tautan ini ). Sebelum kemunculan seorang Samma-Sambuddha, hukum Paticcasamuppada belum pernah terdengar , dalam system-ajaran manapun juga . Paticcasamuppada adalah hukum yang dilihat Sang Buddha pada detik-detik menjelang Beliau mencapai Pencerahan-Sempurna.

Secara singkat, hukum paticcasamuppada dapat dirumuskan sebagai berikut :

“ Imasming Sati Idang Hoti,

Imassuppada Idang Uppajjati,

Imasming Asati Idang Na Hoti,

Imassa Nirodha Idang Nirsujjati “

Artinya =

“ Dengan adanya ini, maka adalah itu,

Dengan timbulnya ini, maka timbullah itu,

Dengan tidak adanya ini, maka tidak adalah itu,

Dengan padamnya ini, maka padamlah itu.”

Disamping itu, untuk menerangkan segala fenomena alam, maka Sang Buddha menyatakan bahwa hal tersebut semuanya berjalan sesuai hukum-alam yang bekerja dengan sendirinya, tanpa ada campur tangan siapapun juga yang bisa disebut sebagai “Maha-Kuasa”.

“Sesuai dengan benih yang kita tabur, begitulah buah yang akan kita petik. Pembuat kebajikan akan memperoleh kebahagiaan dan pembuat kejahatan akan memperoleh penderitaan.” [Samyutta Nikaya I, 227]

Di dalam Abhidhamma Vatara 54, dan Digha Nikaya Atthakatha II-432 dijelaskan bahwa Hukum Kamma hanya merupakan satu dari dua puluh empat sebab (paccaya 24) atau salah satu dari Panca Niyama (Lima Hukum) yang bekerja di alam Semesta ini, dan masing-masing merupakan hukum sendiri yang saling berhubungan.

Dalam Abhidhamma diterangkan adanya lima jenis hukum-alam ( panca-niyama ) yang mengatur semua fenomena alam-semesta ini , yaitu :

  1. Utu-niyama : hukum energi menyangkut tatanan fisik inorganic, seperti cuaca, angin, dan hujan. Tatanan musim, sifat panas, perubahan iklim yang menyertai perubahan musim, termasuk dalam kelompok ini.
  2. Bija-niyama : hukum hereditas menyangkut tatanan biologi atau alam organic, seperti beras yang diproduksi dari padi, rasa manis dari tebu atau madu, karakteristik dari buah-buahan tertentu, dll. Teori sel, gen dan kemiripan kembar juga termasuk dalam kelompok ini.
  3. Kamma-niyama : hukum karma menyangkut tatanan sebab dan akibat.
  4. Citta-niyama : hukum keteraturan alam batiniah menyangkut tatanan pikiran, seperti proses kesadaran, kemunculan dan kemusnahan kesadaran, komponen kesadaran, dan kekuatan pikiran. Telepati, kemampuan membaca pikiran orang lain, kemampuan memprediksi, dan hal-hal lain yang tak bisa dijelaskan dalam sains, termasuk dalam kelompok ini.
  5. Dhamma-niyama : hukum kodrat menyangkut tatanan sifat-dasar fenomena, seperti naluri, gaya gravitasi dan hukum fisika lainnya.

Kelima niyama tersebut tidak terpisahkan satu sama lain. Istilah niyama hanya bertujuan untuk membantu manusia memahami aturan yang bekerja di alam semesta ini. Panca-niyama secara integrative menunjuk satu realitas, beroperasi dalam satu kesatuan, terkait dan saling bergantungan satu sama lainnya. Terminologi yang diberikan untuk menunjuk keterkaitan tersebut adalah ; interdependensi. Konsep interdependensi menempati peranan sentral dalam Avatamsaka-sutra, yang merupakan salah satu teks utama Buddhisme mazhab Mahayana.

PANDANGAN  SANG BUDDHA TENTANG “SANG-MAHA-PENCIPTA/KUASA”

Berbagai literature Buddhis yang pernah ada semenjak pertama kali Sang Buddha memutar roda-Dhamma hingga sekarang, tidak pernah menyatakan sebuah kepercayaan terhadap adanya “Sang-Maha-Pencipta/Kuasa” seperti yang diusung-usung dalam system ajaran yang lain ( dimana mereka (selain Buddha-Dhamma) lebih bersifat pada sebuah sistem-kepercayaan ). Dan justru inilah hal terutama yang menyebabkan Buddhisme menjadi ajaran yang “UNIQUE”, dan jauh berbeda dengan system ajaran yang lain.

Jikalau Tuhan adalah penyebab dari semua yang terjadi, apalah gunanya usaha keras/pengorbanan manusia? [Asvaghosa, Buddha-carita 9, 53] .

Dewa / “Tuhan” , memang ada, namun “Dewa-Yang-Maha…”, tidak pernah ada. Sebagaimana bahwa “Brahma”, memang ada, dan dia hidup di alam Rupa-Dhatu, namun “Brahma” , dan siapapun yang dinyatakan dan menyatakan dirinya “Tuhan”, bukanlah “Maha…”, karena “Maha…” tersebut tidak pernah ada.

Untuk memahami ajaran Sang Buddha berkaitan dengan penolakan terhadap kepercayaan masyarakat kepada “Sang-Maha…”, tentunya kita harus merujuk kepada sutta-sutta ( khotbah-khotbah ) yang diucapkan oleh Sang Buddha sendiri dan telah dirawat dan diwariskan secara turun-temurun, dalam sebuah kitab yang disebut : Ti-Pitaka ( Pali-Pitaka ; kitab suci bagi ummat Buddha-Theravada ). Sutra-sutra yang tersebar dalam Tri-Pitaka ( Kitab suci ummat Buddha-Mahayana ) juga patut kita perhatikan. Sebab selama ini orang-orang yang tidak mengerti Buddhisme banyak keliru mengartikan, bahwa Buddhisme mazhab Mahayana berseberangan dengan Buddhisme mazhab Theravada dalam memandang kepercayaan kepada “Sang-Maha…” ; dalam kenyataannya, kedua mazhab bersumber dari ajaran yang sama, ialah ajaran Sakyamuni-Buddha sebagai Buddha-historis.

Dari khotbah-khotbah Sang Buddha sendiri, maka kita bisa temukan bahwa Sang Buddha menolak sebuah kepercayaan kepada “Sang-Maha…”. “Maha-Dewa”  yang ditolak Sang Buddha dan dengan begitu tidak di-”imani” oleh ummat Buddha adalah :

–    “Yang-Maha-Pencipta” yang merujuk pada “Makhluk-Adi-Kuasa-Personal” yang dianggap “Kekal-Abadi” dan memiliki kuasa yang “Maha-Tak-Terbatas”

–    “Tuhan-Impersonal” ( Tuhan yang bukan makhluk, tidak terpersonifikasikan ) dengan berbagai deskripsi / atribut seperti : “Roh-Kekal”, “Asal-Muasal-Semesta”, “Sangkan-Paraning-Dumadi”, “Absolut-Idea”, “Roh-Dunia”, “Roh-Absolut”, dan lain sebagainya. Tuhan-impersonal ini sering dipersamakan dengan “Anatta” dalam ajaran Buddha, padahal antara “Roh-Absolut” sebagai “Tuhan-Impersonal” dengan “Anatta” ( Tidak-Ada-Roh ; Ke-Tanpa-Diri-an ) jelas-jelas hal yang sangat bertentangan.

Dalam teks-teks Buddhis, kepercayaan akan seorang “Tuhan-Yang-Maha-Pencipta”, “The-Creator-God” ( issaranimmana-vada ) sering dibahas dan sekaligus ditolak secara bersamaan dalam usaha pembahasan mengenai asal-muasal-dunia, “roh-dunia” (pradhana), waktu ( time ), alam ( nature ), dan sebagainya.

Ajaran Buddha disatu sisi menolak anggapan bahwa kehidupan manusia dan keberadaan alam adalah suatu kebetulan belaka ( Adhiccasamuppanika ; pandangan yang mengajarkan bahwa  asal mula sesuatu terjadi secara kebetulan) , dipihak lain juga menolak ajaran “Absolute-determinisme” ( ajaran yang mengajarkan bahwa hidup manusia sudah ditentukan secara absolute, tidak bisa diubah-ubah lagi ). Pandangan-pandangan seperti ini dinyatakan sebagai pandangan yang bersifat merusak, mempunyai akibat-akibat yang buruk ( niyata-micchaditthi ) yang disebabkan karena efeknya atas tindakan-tindakan moral etika.

Dalam sistem kepercayaan terhadap “Tuhan-Yang-Maha…”, meskipun juga meyakini adanya kelahiran-kembali dalam hal tertentu ( yakni, setelah manusia mati, maka manusia akan dihadapkan pada dua pilihan, surga-kekal-abadi, atau sebaliknya, neraka-jahanam-kekal-abadi ) namun kepercayaan ini jauh berbeda dengan Dhamma yang diajarkan Sang Buddha. Kelahiran kembali yang didasarkan atas kepercayaan pada “Tuhan Yang Maha…” seperti tersebut diatas adalah termasuk jenis pandangan eternalisme ( sassata-ditthi ) dimana pandangan eternalisme ini  dalam Brahmajala-Sutta telah ditolak oleh Sang Buddha. Eternalisme seperti ini adalah penghalang bagi pembebasan-sejati dari samsara. Eternalisme, adalah ekspresi dari keterikatan akan keberlangsungan kehidupan ( bhava-tanha ; nafsu keinginan untuk hidup ), dan eternalisme ini juga merupakan salah satu dari sepuluh-belunggu ( dasa-samyojana ) yang mengikat makhluk-makhluk dalam samsara, sebab ;

–     Theisme ( faham Ke-Tuhan-an ), secara khusus tunduk pada kepercayaan akan adanya “Diri” ( “Diri-sejati”, “Atman” )

–     Theisme, menuntut keterikatan pada Ritual dan Upacara keagamaan

–     Theisme, mendasari pembenaran terhadap nafsu-keinginan untuk kehidupan Materi-Halus ( yaitu, alam-alam surga lingkup keindriyaan ( kamadhatu ) sebagaimana yang sering dijanjikan oleh “Tuhan” sendiri )


AWAL-MULA MUNCULNYA KONSEP “SANG-MAHA-PENCIPTA/KUASA”

“Yang-Maha-Kuasa” dan “Maha-Pencipta”, dalam jaman Sang Buddha, oleh para Brahmana dikenal dengan sebutan Maha-Brahma. Maha-Brahma ini mempunyai pandangan-salah, karena ia secara keliru menganggap dirinya sebagai “Bapa-Alam-Semesta” ( dalam kenyataannya, tidak ada siapapun yang disebut “Bapa-Alam-Semesta”, tidak Maha-Brahma, tidak pula “Tuhan”2 yang lain ). Pandangan-salah ini ditunjang dengan kenyataan bahwa Maha-Brahma ini adalah makhluk-mulia, pemimpin para Dewa dari seluruh surga Kammadhatu ( keenam lapisan surga diatas alam manusia ) dan pemimpin para Dewan dan Menteri Brahma.

Brahmajala Sutta didalam Digha Nikaya mengisahkan mengapa Maha-Brahma sampai memiliki pandangan-salah semacam itu.

Para bhikkhu, pada suatu masa yang lampau setelah berlangsungnya suatu masa yang lama sekali, ‘bumi ini belum ada’. Ketika itu umumnya makhluk-makhluk hidup di alam dewa Abhassara, di situ mereka hidup ditunjang oleh kekuatan pikiran, diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya dan melayang-layang di angkasa hidup diliputi kemegahan, mereka hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

Demikianlah, pada suatu waktu yang lampau ketika berakhirnya suatu yang lama sekali, bumi ini mulai berevolusi dalam pembentuk, ketika hal ini terjadi alam Brahma  kelihatan dan masih kosong. Ada makhluk dari alam dewa Abhassara yang ‘masa hidupnya atau ‘pahala kamma baiknya’  untuk hidup di alam itu telah habis, ia meninggal dari alam Abhassara itu dan terlahir kembali di alam Brahma. Disini, ia hidup ditunjang pula oleh kekuatan pikirannya diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya-cahaya yang melayang-layang di angkasa, hidup diliputi kemegahan, ia hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

Karena terlalu lama ia hidup sendirian di situ, maka dalam dirinya muncullah rasa ketidak puasan, juga muncul suatu keinginan, ‘O, semoga ada makhluk lain yang datang dan hidup bersama saya di sini! Pada saat itu ada makhluk lain yang disebabkan oleh masa usianya atau pahala kamma baiknya telah habis, mereka meninggal di alam Abhassara dan terlahir kembali di alam Brahma sebagai pengikutnya, tetapi dalam banyak hal sama dengan dia.

Para bhikkhu, berdasarkan itu, maka makhluk pertama yang terlahir di alam Brahma berpendapat : “Saya Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan Dari Semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada). Semua makhluk ini adalah ciptaanku”. Mengapa demikian? Baru saja saya berpikir, ‘semoga mereka datang’, dan berdasarkan pada keinginanku itu maka makhluk-makhluk ini muncul. Makhluk-makhluk itu pun berpikir, ‘dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada. Kita semua adalah ciptaannya. Mengapa? Sebab, setahu kita, dialah yang lebih dahulu berada di sini, sedangkan kita muncul sesudahnya”.

“Para bhikkhu, dalam hal ini makhluk pertama yang berada di situ memiliki usia yang lebih panjang, lebih mulia, lebih berkuasa daripada makhluk-makhluk yang datang sesudahnya.
Para bhikkhu, selanjutnya ada beberapa makhluk yang meninggal di alam tersebut dan terlahir kembali di bumi. Setelah berada di bumi ia meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menjadi pertapa. Karena hidup sebagai pertapa, maka dengan bersemangat, tekad, waspada dan kesungguhan bermeditasi, pikirannya terpusat, batinnya menjadi tenang dan memiliki kemampuan untuk mengingat kembali satu kehidupannya yang lampau, tetapi tidak lebih dari itu.

Mereka berkata : “Dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Masa Kuasa, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada. Dialah yang menciptakan kami, ia tetap kekal dan keadaannya tidak berubah, ia akan tetap kekal selamanya, tetapi kami yang diciptakannya dan datang ke sini adalah tidak kekal, berubah dan memiliki usia yang terbatas.”

Dikutip dari  :

http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka_dtl.php?cont_id=167&hal=3&path=tipitaka/sutta/digha&hmid=


Dari sutta tersebut, kita bisa memetik apa yang diajarkan Sang Buddha. Sang Buddha mengajarkan bahwa dunia yang kita tempati sekarang ini beserta surga-surga kammadhatu akan mengalami pembentukan dan kehancuran secara berkala.  Pada saat terjadinya kehancuran bumi kita ini , yang oleh ajaran agama-agama samawi disebut sebagai “kiamat”, para makhluk yang berdiam di alam yang lebih rendah akan terlahir kembali di alam Surga Abhassara ( Sanskrit : Abhasvara ), surga tertinggi di Jhana II ( surga ke-12 bila dihitung dari surga tingkat pertama di alam Kammadhatu ).

Setelah berlalunya waktu yang sangat lama sekali, tiga surga di alam Jhana I muncul kembali, dan seorang dewa Abhassara mati serta terlahir kembali di alam ini sebagai Maha-Brahma ( surga ke-9 bila dihitung dari surga tingkat pertama di alam Kammadhatu ).

Karena lamanya ia sendirian disana, ia merasa kesepian dan menginginkan kehadiran makhluk lain. Tak lama kemudian, harapannya terpenuhi, semata-mata hanya karena para dewa Abhassara lainnya mati dan terlahir kembali di alam Brahma, karena karma-karma mereka sendiri, dan kemudian menjadi para Menteri dan Dewan Brahma.

Karena Maha-Brahma tidak mengingat kehidupannya yang sebelumnya, maka ia berpikir, “ Aku adalah Brahma, Maha-Brahma,… Maha-Tahu, Pengendali, Tuhan, Pembuat, Pencipta… makhluk lainnya yang ada disini adalah ciptaan-Ku.”. Para Menteri dan Dewan Brahma serta para  pengikutnya setuju dengan kesimpulan yang keliru ini.

Dan ketika beberapa di antara mereka mati dan terlahir kembali sebagai manusia, ada beberapa banyak dari mereka yang meninggalkan kehidupan perumah tangga, dan menempuh hidup sebagai Petapa / seorang Brahmana, lalu mereka mengembangkan kemampuannya untuk mengingat kehidupan sebelumnya, dan karenanya mengajarkan bahwa Maha-Brahma adalah Pencipta yang kekal dari semua makhluk.

TEGURAN SANG BUDDHA TERHADAP “SANG-MAHA-PENCIPTA/KUASA”

Dalam sutta-sutta Buddha ditunjukkan bahwa Sang Buddha pernah memberi “teguran”, menunjukkan kekeliruan para Brahma yang keliru memahami dirinya sebagai “Awal-Mula, Pencipta-Langit-dan-Bumi, Yang-Maha-Kuasa “. Dalam Samyutta-Nikaya, Bab Buku dengan Syair ( Sagathavagga ), bagian Brahmasamyutta, dikisahkan Sang Buddha mengingatkan kekeliruan pandangan salah seorang Brahma yang menganggap bahwa alam Brahma sebagai “ Yang-Kekal-Abadi, Yang-Mutlak, Tiada-Kematian, dll. “. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anathapindika. Pada saat itu, muncul suatu pandangan-salah , pandangan spekulatif dalam benak salah seorang Brahma, yang bernama Brahma-Baka ;

“ Ini adalah kekal, Ini adalah stabil, ini abadi, ini Mutlak, ini tidak bisa hancur. Sungguh, inilah tempat orang tidak terlahir, tidak menjadi tua, tidak mati, tidak berlalu, dan tidak terlahir kembali ;  dan tidak ada jalan keluar yang lebih tinggi daripada ini. “


Setelah mengetahui isi hati Brahma Baka dan pandangan-salah yang muncul tersebut, dalam sekejap mata Sang Buddha lenyap dari hutan Jeta dan muncul kembali di alam Brahma. Brahma-Baka melihat Sang Buddha datang dari kejauhan dan berkata kepada Beliau ;

“ Mari Yang Mulia ! Selamat datang, Yang Mulia ! Sudah lama sekali, Yang Mulia, sejak engkau menyempatkan datang kemari. Sungguh, Yang Mulia, INI ADALAH KEKAL, INI STABIL, INI ABADI, INI LENGKAP, INI TIDAK BISA HANCUR. SUNGGUH , INILAH TEMPAT ORANG TIDAK-TERLAHIR, TIDAK MENJADI TUA, TIDAK MATI , TIDAK BERLALU, DAN TIDAK TERLAHIR KEMBALI ; DAN TIDAK ADA JALAN KELUAR YANG LEBIH TINGGI DARIPADA INI. “

“ Sayang, tuan, Brahma Baka terbenam di dalam ketidak-tahuan ! Sayang, tuan, Brahma Baka terbenam di dalam ketidak-tahuan !  Sepanjang dia akan mengatakan apa yang sebenarnya tidak kekal sebagai kekal , dan akan mengatakan apa yang sebenarnya tidak stabil sebagai stabil , dan akan mengatakan apa yang sebenarnya tidak abadi sebagai abadi ,  dan akan mengatakan apa yang sebenarnya tidak lengkap sebagai lengkap , dan akan mengatakan apa yang sebenarnya bisa hancur sebagai tidak bisa hancur , dan dengan mengacu pada [suatu alam] di mana orang terlahir, menjadi tua, mati, berlalu, dan terlahir kembali, akan mengatakan demikian : “ Sungguh, inilah tempat orang tidak terlahir, tidak menjadi tua, tidak mati, tidak berlalu, dan tidak terlahir kembali” ;  dan ketika ada jalan keluar yang lebih tinggi dari ini, akan mengatakan , “ Tidak ada jalan keluar yang lebih tinggi daripada ini. “


Lalu terjadilah dialog panjang antara Brahma-Baka dengan Sang-Buddha. Brahma-Baka meminta Sang Buddha untuk menjelaskan duduk perkaranya, dan menjelaskan bagaimana hal-ihwal Brahma-Baka bisa sampai di alam itu, yang ia anggap sebagai alam “Yang-Kekal-Abadi, Tanpa-Kematian , Yang-Mutlak “. Sang Buddha lalu menjelaskan semuanya dengan mendetail, sebab-sebab apa Brahma-Baka kini terlahir dialam “Ketuhanan” tersebut, dan akan berapa lama ia tinggal disitu, siapakah dulunya Brahma-Baka ini, dan apa hubungannya Brahma-Baka ini dengan Sang Buddha pada kehidupan lampaunya, Sang Buddha juga mampu mengetahui kehidupan masa kini Brahma Baka tersebut. Karena penjelasan Sang Buddha yang sangat dalam dan luas , mendetail itu, Brahma-Baka akhirnya mengakui kebenaran Sang Buddha dan berkata :

“ Pastilah Engkau tahu rentang kehidupanku ini ; Yang lain-lain engkau pun tahu, jadi Engkau adalah  SANG-BUDDHA. Demikianlah keagunganmu yang terang benderang ini menyinari bahkan  alam Brahma. “


Kemudian, kisah yang lain adalah kisah dimana Sang Buddha beserta keempat muridnya, Y.M. Mahamoggallana, Y.M. Mahakassapa, Y.M. Mahakappina, Y.M. Anuruddha, menaklukan satu Brahma yang lain yang penuh kesombongan karena menganggap dirinya lebih tinggi daripada yang lain. Di Savatthi, pada waktu itu muncul pandangan-salah yang sangat spekulatif pada satu Brahma :

“ Tidak ada petapa atau Brahmana yang bisa datang kemari ! “


Dengan kekuatan batinnya Sang Buddha mengerti isi hati satu Brahma itu, dan dalam sekejap Sang Buddha lenyap dari hutan Jeta dan muncul kembali di alam Brahma. Sang Buddha duduk bersila di udara diatas Brahma itu, setelah masuk kedalam samadhi dengan pokok-pemusatan perhatian ; api.

Pada saat itu Y.M. Mahamoggallana bertanya-tanya, “ Dimanakah Sang Buddha berdiam pada saat ini ? “ Dengan kemampuan mata-dewa, Y.M. Mahamoggallana melihat Sang Buddha sedang duduk bersila di udara di atas Brahma itu, setelah masuk ke dalam samadhi objek api. Mengetahui hal ini, Y.M. Mahamoggallana segera menyusul Sang Buddha, lenyap dari hutan Jeta, dan muncul di alam Brahma, kemudian menempatkan diri di bagian timur dan duduk bersila di udara di atas Brahma itu – walaupun lebih rendah dari Sang Buddha -, setelah sebelumnya masuk samadhi dengan objek api juga.

Selanjutnya disusul oleh Y.M. Mahakassapa yang menempatkan diri di bagian selatan, Y.M. Mahakappina yang menempatkan diri di bagian barat, Y.M. Anuruddha yang menempatkan diri di bagian utara. Kesemuanya duduk bersila lebih rendah dari Sang Buddha.

Y.M. Magamoggallana pun lalu menegur Brahma tersebut dengan syair berikut :

“ Hari ini , sahabat, apakah engkau masih memegang pandangan itu, Pandangan yang tadinya kamu pegang ? Apakah engkau melihat kecermelangan Yang Melampaui kecemerlangan di alam Brahma ? “


Brahma tersebut menjawab :

“ Saya tidak lagi memegang pandangan itu Yang Mulia, Pandangan yang tadinya saya pegang. Memang saya melihat kecemerlangan yang melampaui kecemerlangan di alam Brahma. Hari ini bagaimana munkin saya mempertahankan, “ AKU ADALAH KEKAL ABADI ? “


Setelah membangkitkan rasa kemendesakan pada Brahma itu, kemudian dalam sekejap Sang Buddha lenyap dari alam Brahma tersebut dan kembali di hutan Jeta.

Lalu Brahma itu berbicara kepada satu anggota kelompoknya ;

“ Ayo, tuan, datangilah Y.M. Mahamoggallana dan katakan kepadanya : “ Tuan Mahamoggallana , adakah siswa Sang Buddha lainnya yang sekuat dan sehebat Tuan Moggallana, Kassapa, Kappina dan Anuruddha ? “


Anggota kelompok Brahma itu menurutinya dan lalu mendatangi Y.M. Mahamoggallana. Y.M. Mahamoggallana kemudian berkata kepada anggota kelompok Brahma itu dengan syair :

“ Sungguh banyak siswa Sang Buddha yang merupakan Arahat dengan noda-noda yang telah hancur, pemilik tiga-pengetahuan dengan kekuatan-kekuatan batin, yang terampil dalam jalan pikiran orang lain. “


Mendengar jawaban tersebut, para Brahma itu terkagum-kagum dan turut bersuka-cita karenanya.

Dan sesungguhnya, disamping kisah-kisah dalam sutta-sutta tersebut, masih banyak lagi kisah-kisah bagaimana Sang Buddha membimbing para Brahma yang memiliki pandangan salah yang menganggap dirinya adalah “Yang-Mutlak, Pencipta-Alam-Semesta, Yang-Maha-Kuasa “. Dan atas bimbingan Sang Buddha, para Brahma yang berpandangan-salah itupun akhirnya memahami kekeliruannya.

KISAH KONYOL TENTANG “SANG-MAHA-PENCIPTA”

Didalam Kevaddha Sutta ( Sutta ke-11 dari Digha Nikaya ), Sang Buddha menceritakan sebuah kisah kepada Upasaka Kevaddha yang memberikan gambaran tentang keterbatasan-keterbatasan “Sang-Maha-Pencipta” yang oleh kaum Brahmana disebut “Maha-Brahma” ini.

Pada suatu ketika di antara para bhikkhu sangha terdapat seorang bhikkhu yang menjadi ragu-ragu sebagai berikut:

“Kemanakah empat unsure (mahabhutarupa) padat, cair, panas dan udara pergi, mengapa tanpa meninggalkan bekas.”

Bhikkhu itu mengembangkan batinnya dengan melakukan meditasi hingga ia memiliki kemampuan batin untuk mengunjungi dan berkomunikasi dengan para dewa.

Kemudian bhikkhu itu pergi ke alam dewa Catumaharajika menanyakan tentang kemana perginya empat unsur itu, namun para dewa tak dapat memberikan jawaban dan menyuruh bhikkhu itu untuk bertemu dengan Empat Raja Dewa yang lebih tinggi dan berkuasa daripada mereka.

Ia pergi menghadap Empat Raja Dewa dan menanyakan pertanyaan itu, namun Empat Raja Dewa tidak dapat menjawabnya dan menyuruhnya untuk pergi ke alam Tavatimsa.

Di alam Tavatimsa para dewa tak dapat menjawab pertanyaannya dan ia disuruh menghadap Sakka / Dewa Indra, raja alam dewa Tavatimsa. Sakka / Dewa Indra, juga tak dapat menjawab pertanyaannya.

Sakka menyuruhnya ke alam Yama, tapi para dewa alam Yama menyuruhnya menghadap Suyama, raja alam dewa Yama. Suyama tak dapat menjawab juga, maka ia ke alam dewa Tusita, menghadap Santusita; ke alam dewa Nimmanarati, menghadap Sunimmita, raja alam Nimmanarati; ke alam Parinimmita Vasavatti, menghadap Vasavatti, raja alam Parinimmita Vasavatti, yang tak dapat menjawab pertanyaannya juga.

Kemudian Ia disuruh pergi ke alam dewa Brahma, tetapi para dewa pengikut Brahma tak dapat menjawab pertanyaannya itu. Lalu para dewa pengikut Brahma ini menyuruhnya untuk menghadap dewa Maha Brahma “Yang Maha Kuasa”, “Maha Tinggi”, “Maha Tahu”, junjungan dari semua, “Pencipta”, “Pengatur”, “Asal Mula Segala Sesuatu” ( Sangkan-Paraning-Dumadi ), “Ayah dari Semua yang Ada dan yang akan Ada”.  Oleh para dewa Brhama, Maha-Brahma dinyatakan lebih tinggi dan berkuasa daripada mereka.
Ia pergi menghadap “Tuhan” / “Maha Brahma” dan bertanya:

“Kemanakah empat unsur (mahabhuta), padat, cair, panas dan udara- pergi, mengapa tanpa bekas?”


Setelah Bhikkhu itu berkata, Maha Brahma menjawab:

“Bhikkhu, saya adalah dewa brahma yang maha kuasa, maha tinggi, maha tahu, junjungan dari semua, pencipta, pengatur, asal mula segala sesuatu, ayah dari yang ada dan yang akan ada.”


Kemudian bhikkhu itu berkata kepada Brahma:

“Saya tidak bertanya siapa anda, apakah anda itu benar seperti yang anda katakan. Tetapi yang saya tanya adalah kemanakah empat unsur itu pergi, mengapa tanpa bekas?”


Sampai tiga kali bhikkhu itu bertanya, namun Brahma tetap menjawab yang sama. Kemudian Brahma menarik bhikkhu itu ke sampingnya dan berkata:

“Para dewa pengikut Brahma ini berpendapat bahwa tidak ada sesuatu yang tidak saya tidak tahu, saya tahu semua, saya mengerti semua, tidak ada yang saya tidak realisasikan. Maka saya tidak menjawab di depan mereka. Bhikkhu saya tidak tahu jawaban ke mana empat unsur itu pergi, lenyap tanpa bekas. Bhikkhu, anda telah berbuat salah, telah bertindak salah karena anda telah melupakan Sang Buddha, anda telah bersusah payah mencari tahu hal ini, mencari jawaban untuk pertanyaanmu. Pergilah menghadap kepada Sang Bhagava. Terimalah jawaban apa pun yang akan diberikannya.”


Bhikkhu itu dalam sekejap lenyap dari alam Brahma dan muncul di hadapan saya, ia memberi hormat dan duduk. Setelah duduk ia bertanya kepada saya:

“Bhante, ke manakah empat unsur pergi, lenyap tanpa bekas?”

Saya menjawab: “Bhikkhu, pertanyaan itu jangan tanyakan seperti yang kau katakan. Tetapi sebaliknya anda harus bertanya,


‘Di manakah unsur padat, cair, panas dan udara,

Panjang dan pendek, halus dan kasar,

bersih dan tak bersih, tidak di temukan?

Di manakah jasmani dan batin dari orang meninggal,

pergi tanpa bekas?’


Jawabannya:


‘Kebijakan Arahat, yang tak tampak, yang tanpa akhir, yang dapat dicapai dari beberapa sisi Di situlah unsur padat, cair, panas dan udara, Panjang dan pendek, kasar dan halus, bersih dan tak bersih, tidak ditemukan. Di situlah jasmani dan batin dari orang yang meninggal pergi tanpa bekas. Bilamana kesadaran lenyap, hal-hal itu pun lenyap.


Di akhir dari khotbah, Upasaka Kevaddha menjadi senang dan gembira.

PEMBUAL YANG MEMBICARAKAN HAL YANG DIA SENDIRI TIDAK MENGERTI

Dalam Majjhima Nikaya No. 79: Cula Sakuludayi Sutta, terdapat dialog antara Sang Buddha dengan Udayi, dimana Sang Buddha menunjukkan, pembicaraan mengenai “Kemegahan-Tertinggi”,  ” yang tak dapat dipahami”, hanyalah pembicaraan bualan-bualan semata.

“Baiklah kalau begitu, Udayi, apakah doktrin dari gurumu sendiri?”

“Doktrin guru kami sendiri, tuan yang terhormat, berkata demikian:

‘Ini adalah kemegahan tertinggi! Ini adalah kemegahan tertinggi!'”

“Tetapi apakah yang kemegahan tertinggi itu, Udayi, yang mana doktrin   gurumu katakan?”

“Hal itu adalah, tuan yang terhormat, suatu kemegahan yang lebih hebat   dan megah dari segalanya. Hal itu adalah Kemegahan Tertinggi.”

“Tetapi, Udayi, apakah kemegahan yang lebih hebat dan megah dari   segalanya itu?”

“Hal itu, tuan yang terhormat, bahwa Kemegahan Tertinggi lebih hebat   dan megah dari segalanya.”

“Selama waktu yang lama, Udayi, engkau bisa melanjutkan berkata dengan   cara ini, seraya mengatakan,’Suatu kemegahan yang lebih hebat  dan   megah dari segalanya adalah Kemegahan Tertinggi’. Tetapi  tetaplah kau   tidak akan sudah menjelaskan kemegahan itu. Anggaplah seseorang berkata:’Saya mencintai dan mengingini
wanita   tercantik di daratan ini’, dan lantas ia ditanya: ‘Tuan yang  baik,   wanita yang tercantik yang engkau cintai dan ingini itu,
tahukah   engkau apakah ia adalah seorang wanita dari kaum ningrat atau  dari   suatu keluarga Brahmana atau dari kasta pedagang atau Sudra?’ dan ia   menjawab ‘tidak’.—‘Lantas, tuan yang baik, tahukah Anda
namanya dan   nama marganya? Atau apakah ia itu tinggi, pendek, atau  sedang-sedang   tingginya, apakah ia itu berkulit legam, coklat atau keemasan,  atau di   desa atau daerah atau kota  mana ia berdiam?’ dan ia menjawab  ‘tidak’.   Dan lantas ia ditanyai:’Kalau demikian, tuan yang baik, engkau   mencintai dan mengingini sesuatu yang engkau sendiri tidak tahu  pun   melihatnya?’ dan ia menjawab ‘ya’. —Apakah yang kau pikir,  Udayi,   bahwa dengan menjadi demikian, bukankah perkataan orang itu  penuh   dengan bualan (nonsense)?”

“Tentulah, tuan yang terhormat, bahwa dengan menjadi demikian,  perkataan orang itu penuh dengan bualan.”

“Tetapi dengan cara yang sama, kamu, Udayi, berkata, ‘ Suatu kemegahan   yang lebih hebat dan megah daripada segalanya, hal itu adalah   Kemegahan Tertinggi’, dan namun engkau sendiri belumlah  menjelaskan   kemegahan itu.”



KEPERCAYAAN / IMAN MEM-“BUTA”  PARA PENGANUT “MAHA-DEWA” yang  “MAHA-PENCIPTA/KUASA”

Dalam sebuah dialog antara Sang Buddha dengan Vasettha dimana Sang Buddha menunjukkan bahwa kepercayaan / iman  kepada”Maha-Dewa” yang “Maha-Pencipta/Kuasa” hanyalah merupakan khayalan dan kepercayaan / iman “membuta” semata.

“Apakah ada, Vasettha, satu dari para Brahmana yang benar-benar  mengetahui Tiga Veda yang sudah pernah bertemu Brahma muka  dengan   muka?”

“Tidaklah demikian, sesungguhnya, Gotama.”

“Atau adakah kalau begitu, Vasettha, satu dari para guru dari para   Brahmana yang benar-benar mengetahui Tiga Veda, yang sudah  bertemu  Brahma muka dengan muka?”

“Tidaklah demikian, sesungguhnya, Gotama.”

“Atau adakah, Vasettha, satu dari murid-murid dari para guru dari para  Brahmana yang benar-benar mengetahui Tiga Veda yang sudah bertemu Brahma muka dengan muka?”

“Tidaklah demikian, sesungguhnya, Gotama.”

“Atau adakah kalau demikian, Vasettha, satu dari para Brahmana itu  sampai pada tujuh generasi yang sudah bertemu Brahma muka
dengan   muka?”

“Tidaklah demikian, sesungguhnya, Gotama.”

“Baiklah kalau begitu, Vasettha, Rishi-rishi purba dari para  Brahmana   itu yang benar-benar mengetahui Tiga Veda, para penulis dari   syair-syair itu, pengucap-pengucap dari syair-syair itu, yang   kata-kata dalam bentuk kuno/purbanya begitu dilafalkan,  diucapkan atau   digubah, yang mana para Brahmana zaman sekarang melafalkan lagi dan   mengulangi; melagukan atau menghafalpersis seperti apa yang  sudah   dilagukan dandihafalkan—yang dengan lucunya, Atthaka…dan  Bhagu,   lakukan bahkan mereka berkata demikian:”Kami mengetahuinya,  kami sudah   melihatnya, dimana Brahma berada, darimana Brahma adanya,  kemana   Brahma adanya?”

“Tidaklah demikian, sesungguhnya, Gotama.”

“Lantas engkau berkata, Vasettha, bahwa tidak seorangpun dari  para   Brahmana itu, ataupun guru-guru mereka, atau murid-murid
mereka,   bahkan sampai ke generasi ketujuhpun, sudah pernah melihat  Brahma muka   dengan muka. Dan bahkan Rishi-rishi purba, penulis dan para  pengucap   dari syair-syair itu, yang kata-kata dalam bentuk kunonya  begitu   berhati-hatinya dilagukan dan dihafal oleh para Brahmana  sekarang   setepat mungkin seperti yang sudah diturunkan-bahkan mereka  tidak   berpura-pura untuk mengetahui atau sudah melihat dimana atau  darimana   dan kemana Brahma adanya. Jadi para Brahmana yang benar-benar   mengetahui Tiga Veda sudah sesungguhnya mengatakan demikian:
‘Apa yang   kami tidak tahu, apa yang kami belum lihat, atas keselarasan  dengan   itu kami dapat menunjukkan jalan, dan dapat berkata: ‘Ini  adalah jalan   yang lurus, ini adalah jalan yang langsung menuju pada  keselamatan,   dan membimbing mereka yang bertindak sesuai dengannya, pada   persekutuan dengan dengan Brahma.’

“Sekarang apa yang kau pikir, Vasettha? Bukankah hal itu  mengikuti,   hal ini dengan menjadi demikian, bahwa perkataan para Brahmana  yang   benar-benar mengetahui  Tiga Veda, kemudian menjadi suatu  percakapan   yang bodoh/tidak bermanfaat?”

“Sesungguhnya, Gotama, bahwa dengan menjadi demikian, berlanjutbahwa   perkataan dari para Brahmana yang mengetahui dengan benar Tiga  Veda   itu adalah perkataan yang bodoh/tak berguna adanya.”


SEKUMPULAN ORANG BUTA

“Dengan sesungguhnya, Vasettha, para Brahmana yang benar benar   mengetahui Tiga Veda itu seharusnya sanggup untuk menunjukkan  jalan   menuju persekutuan dengan sesuatu yang mereka tidak tahu, pun  belum   melihat—keadaan dari hal-hal demikian itu tidaklah bisa  adanya!

“Sama halnya, Vasettha, seperti ketika sekumpulan orang buta   bergandengan satu sama lain, bukanlah yang terdepan yang bisa
melihat,   pun bukannya yang di tengah, pun bukanlah yang di belakang  tersembunyi   yang bisa melihat — seperti demikianlah, kiranya, Vasettha,  percakapan   para Brahmana yang mengetahui dengan baik Tiga Veda itu adalah   percakapan buta: yang pertama tak melihat apapun, pun yang  ditengah,   pun yang terakhir. Percakapan dari para Brahmana yang  mengetahui   dengan baik Tiga Veda ini lantas menjadi tidak masuk akal,  kata-kata   belaka, suatu hal yang kosong dan gagal!


TANGGA YANG MENUJU KE – TIDAK MANAPUN JUGA

…”Sama halnya, Vasettha, seperti jika seseorang harus membuat
suatu   tangga di dalam suatu tempat dimana 4 jalan bersilangan, untuk  menaiki   suatu rumah yang besar. Dan orang-orang berkata
padanya,’Baiklah,   teman yang baik, rumah yang besar ini, pada mana engkau membuat  tangga   untuk menaikinya, tahukah kamu apakah rumah itu berada di  timur, atau   di selatan, atau di barat, atau di utara? Apakah rumah itu  tinggi atau   rendah atau sedang-sedang saja ukurannya?’

“Dan ketika ditanya demikian dia menjawab: Tidak. — Dan  orang-orang   berkata padanya,’Tetapi kalau begitu, teman yang baik, engkau  sedang   membuat suatu tangga yang menaiki sesuatu — sebagai contoh  sebuah   rumah besar— yang mana, sejenak yang lalu, engkau tidak   mengetahuinya, bahkan pun belum melihatnya.'”…..

BERDOA DEMI ALAM BAKA

“Lagi, Vasettha, jikalau seandainya sungai Aciravati ini penuh
dengan air bahkan sampai ke tepi sungai, dan meluap. Dan seseorang
dengan pekerjaan/bisnis pada tepi yang satunya, dalam perjalanan ke
tepi yang satunya, berusaha menuju ke tepi yang satunya, ingin tiba, dan
mau menyeberang. Dan ia, sambil berdiri pada tepi yang sebelah
sini, memohon dengan khusuk pada tepi yang jauh itu, dan
berkata,’Datanglah kesini, O tepi yang jauh!datanglah ke tepi sini!’

“Sekarang apakah yang engkau pikir, Vasettha?Akankah tepi yang
jauh itu dari sungai Aciravati, oleh sebab permohonan khusuk dari
orang itu dan doanya dan pengharapannya dan pemujaannya, datang ke tepi
yang ini?”

“Tentulah tidak, Gotama.”

“Dengan cara yang sama pula, Vasettha, para Brahmana yang
mengetahui dengan baik Tiga Veda lakukan—menelantarkan praktek-praktek
dengan kualitas yang benar-benar membuat seseorang menjadi seorang
Brahmana, dan mengadopsi praktek-praktek yang kualitasnya membuat
seseorang menjadi Non-Brahmana—berkata demikian: ‘Indra kami memanggil,
Soma kami memanggil, Varuna, Isana, Pajapati, Brahma, Mahiddhi, Yama
kami memanggil.’

“Dengan sesungguhnya, Vasettha, bahwa para Brahmana yang
mengetahui dengan baik Tiga Veda—menelantarkan praktek-praktek dengan
kualitas yang benar-benar membuat orang menjadi seorang Brahmana,
mengadopsi praktek-praktek dengan kualitas yang membuat yang benar-benar
membuat orang Non-Brahmana—boleh, karena alasan  permohonan khusuk
dan doa dan pengharapan dan pemujaan mereka, setelah meninggalkan tubuh
ini, setelah kematian, mencapai persatuan dengan Brahma, kondisi
hal-hal demikian adalah tidak akan bisa.”

[ Digha Nikaya No. 13:Tevijja Sutta (“Tiga Veda”) terjemahan
oleh Prof. Rhys Davids]


KRITIK SANG BUDDHA TERHADAP TIGA PANDANGAN KELIRU ( Anguttara-Nikaya ; III,61 )

Para bhikkhu, ada tiga pendapat sektarian yang, jika sepenuhnya diperiksa, diteliti dan dibahas, akan berakhir pada suatu doktrin tanpa tindakan, sekalipun sudah diterapkan karena tradisi. 36Apakah tiga pendapat ini?

Para bhikkhu, ada beberapa petapa dan brahmana yang mengajar dan memegang pandangan ini: “Apapun yang dialami seseorang, apakah itu perasaan menyenangkan, menyakitkan atau perasaan netral, semua itu disebabkan oleh tindakan lampau.” Ada lainnya yang mengajar dan memegang pandangan ini: “Apapun yang dialami seseorang… semua itu disebabkan oleh ciptaan Tuhan.” Dan masih ada petapa dan brahmana lain yang mengajar dan memegang pandangan ini: “Apapun yang dialami seseorang… tidak ada sebabnya dan tidak dikondisikan.”37

(1) Para bhikkhu, aku telah menemui para petapa dan brahmana ini (yang memegang pandangan pertama) dan berkata kepada mereka: “Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajar dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang… semua itu disebabkan oleh tindakan lampau?” Ketika mereka mengatakan “Ya”, aku katakan kepada mereka: “Jika demikian halnya, yang mulia, maka tindakan masa lampau (yang dilakukan dalam suatu kehidupan lampau) itulah yang menyebabkan orang membunuh, mencuri, terlibat dalam perilaku seksual yang salah; yang membuat mereka berbohong, mengucapkan kata-kata yang jahat, berbicara kasar dan suka berbicara yang tak ada gunanya; yang menyebabkan mereka menginginkan milik orang lain, dengki, dan jahat serta memiliki pandangan salah.38 Maka mereka yang menganggap tindakan lampau sebagai faktor penentu tidak akan memiliki semangat dan usaha untuk melakukan ini atau tidak melakukan itu. Karena mereka tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan, istilah ‘petapa’ tidak sesuai untuk mereka, karena mereka hidup tanpa kewaspadaan dan pengendalian diri.”

Para bhikkhu, inilah teguran pertamaku – yang diakui kebenarannya – kepada para petapa dan brahmana yang mengajarkan dan memegang pandangan seperti itu.

(2) Sekali lagi, para bhikkhu, aku menemui para petapa dan brahmana (yang memegang pandangan kedua) dan berkata kepada mereka: “Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajar dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang… semua itu disebabkan oleh ciptaan Tuhan?” Ketika mereka mengatakan “Ya”, kukatakan kepada mereka: “Jika demikian halnya, yang mulia, maka ciptaan Tuhan itulah yang membuat orang-orang membunuh… dan memiliki pandangan salah. Maka mereka yang menganggap ciptaan Tuhan sebagai faktor penentu tidak akan memiliki semangat dan usaha untuk melakukan ini atau tidak melakukan itu. Karena mereka tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan, istilah ‘petapa’ tidak sesuai untuk mereka, karena mereka hidup tanpa kewaspadaan dan pengendalian diri.”

Para bhikkhu, inilah teguran keduaku – yang diakui kebenarannya – kepada para petapa dan brahmana yang mengajar dan memegang pandangan seperti itu.

(3) Sekali lagi, para bhikkhu, aku menemui para petapa dan brahmana (yang memegang pandangan ketiga) dan berkata kepada mereka: “Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajarkan dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang… semua itu tidak ada sebabnya dan tidak dikondisikan?” Ketika mereka mengatakan “Ya”, kukatakan pada mereka: “Jika demikian halnya, yang mulia, maka tidak ada sebab dan kondisi yang membuat orang membunuh… dan memiliki pandangan salah. Maka mereka yang menganggap bahwa (urutan peristiwa) yang tanpa sebab dan kondisi sebagai faktor penentu tidak akan memiliki semangat dan usaha untuk melakukan ini atau tidak melakukan itu. Karena mereka tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan, istilah ‘petapa’ tidak sesuai untuk mereka, karena mereka hidup tanpa kewaspadaan dan pengendalian diri.”

Para bhikkhu, inilah teguran ketigaku – yang diakui kebenarannya – kepada para petapa dan brahmana yang mengajar dan memegang pandangan seperti itu.

Demikianlah, para bhikkhu, tiga pendapat sektarian yang, jika sepenuhnya diperiksa, diteliti dan dibahas, akan berakhir pada suatu doktrin tanpa-tindakan, sekalipun jika dipakai karena tradisi.

Sumber:

http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka_dtl.php?cont_id=738&hal=2&path=tipitaka/sutta/anguttara/anguttara1&hmid

Lebih jauh, atas pandangan tersebut diatas, Sang  Buddha mengatakan,

Jadi, karena diciptakan oleh seorang Tuhan Yang Maha Tinggi, maka manusia akan menjadi pembunuh, pencuri, penjahat, pembohong, pemfitnah, penghina, pembual, pencemburu, pemarah, pendendam, dan orang yang keras kepala“.

Oleh sebab itu, bagi mereka yang berpandangan segala sesuatu adalah ciptaan seorang Tuhan, maka mereka tidak akan lagi mempunyai keinginan, ikhtiar ataupun keperluan untuk melakukan suatu perbuatan ataupun untuk menghindar dari perbuatan lain.” (Majjhima Nikaya ii, Sutta No.101)


SIFAT KETUHANAN YANG TIDAK KEKAL

Sejauh mana matahari-matahari dan bulan-bulan berevolusi dan
penjuru-penjuru langit bersinar dengan cemerlangnya, sejauh
mencakup Seribu-kali lipat sistem-Dunia. Dalam Seribu-kali lipat Sistem
Dunia itu, ada seribu bulan, seribu matahari, seribu Semeru, gunung
dari gunung-gunung, seribu dari keempat benua, seribu dari keempat
samudera, seribu dari dunia-dunia surgawi dari alam inderawi,
dan seribu dari dunia Brahma. Sejauh mencakup Seribu-kali lipat
Sistem Dunia ini, sejauh itu adalah Maha Brahma dianggap yang
tertinggi disana.

Tetapi bahkan pada Maha Brahma, O para bhikkhu, terdapatlah
transformasi, terdapatlah perubahan. Melihat hal ini, O para
bhikkhu,
seorang murid yang terlatih baik merasa muak bahkan dengan hal
itu.
Dengan menjadi muak dengan hal itu, lunturlah keterikatannya
bahkan
sampai yang tertinggi, apalagi pada yang rendah!

[Anguttara Nikaya, Dasaka Nipata, No. 29]

KEKECEWAAN DARI PARA DEWA

Sekarang muncullah di dunia ini seorang Tathagata, yang Suci,
yang
telah mencapai Penerangan Sempurna, sempurna pengetahuan dan
tindak
tandukNya, yang Mulia/Luhur, Pengenal segenap Alam, Pembimbing
manusia
yang tiada taranya, Guru para dewa dan manusia, yang patut
dimuliakan.

Ia lantas mengajarkan Dhamma:”Ini adalah
kepribadian(personality); ini
adalah asal dari kepribadian; ini adalah akhir dari
kepribadian; ini
adalah jalan menuju akhir dari kepribadian.”

Dan dewa-dewa itu yang berumur panjang, yang bergemerlapan
dengan
kecantikan, yang berdiam dengan penuh kesenangan dan untuk
waktu yang
lama berada dalam rumah-rumah surgawi yang megah, bahkan
mereka,
setelah mendengar Sang Bhagava  mengajarkan Dhamma, tertimpa
ketakutan, kegelisahan dan tergetar:

“Aduh celaka, kita yang, sebenarnya, tidak permanen, percaya
bahwa
kita adalah permanen! Kita yang, sebenarnya, rapuh, percaya
bahwa kita
berkesinambungan!Kita yang, sebenarnya, tidak kekal, percaya
bahwa
kita kekal adanya!Tetapi, yang benar adalah bahwa, kita adalah
tidak
permanen, rapuh, tidak kekal, terpikat dalam kepribadian!”

[Anguttara Nikaya, Cattuka nipata, No. 33]


PENCIPTAAN DAN SEBAB

Asumsi bahwa suatu Tuhan (isvara) adalah penyebab, dan lain sebagainya,
bersandar atas kepercayaan salah dalam suatu diri yang kekal;
tetapi
kepercayaan itu haruslah ditinggalkan, jikalau seseorang sudah
dengan
jelas mengerti bahwa segala sesuatu adalah  tunduk pada penderitaan.

[Vasubhandu, Abhidharmakosa, 5, 8 (vol. IV, p. 19); Sphutartha
p. 445,
26.]


Sekolah-sekolah tertentu memegang pandangan bahwa ada suatu
Tuhan
Mahesvara yang adalah absolut, ada/hadir dimana-mana, dan
kekal; dan
bahwa ia adalah pencipta dari semua Dharma.

Teori ini adalah tidak logis. Dan mengapa?
(a) Bahwa yang menciptakan tidaklah kekal; yang tidak kekal
tidaklah
hadir dimana-mana; yang tidak hadir dimana-mana tidaklah
absolut.
(b) Oleh karena ia adalah kekal dan hadir dimana-mana, dan
komplet
dengan semua kemampuan; ia seharusnya, dalam segala masa dan di
semua
tempat, menghasilkan secara tiba-tiba semua Dharma (fenomena).
(c) (Jikalau mereka katakan)bahwa ciptaannya bergantung pada
nafsu dan
kondisi-kondisi, kalau begitu mereka bertentangan dengan
doktrin
mereka sendiri tentang “sebab yang unik”. Atau dengan kata
lain, kita
boleh katakan bahwa nafsu dan kondisi-kondisi seharusnya juga
secara
tiba-tiba muncul semua, karena sebab (yang menghasilkan mereka)
selalu
ada disitu.

[Vijnaptimatrata Siddhi Sastra (suatu karya standar dari
sekolah
Buddhis Idealistik) terjemahan dari versi Chinese oleh Wong Mow
Lam
(“The Chinese Buddhist”, Vol. II, No. 2; Shanghai 1932) ]


Demikianlah, saudara-saudari, bagaimana Sang Buddha memandang ajaran tentang adanya sosok “Maha-Dewa” yang disebut sebagai “Yang-Maha…”  tersebut. Adalah salah jika dikatakan bahwa Buddha-Dhamma agama yang Theistik, namun juga keliru besar jika Buddha-Dhamma adalah agama yang bersifat “Atheis-Materialistik”. “Tujuan-Sejati” dalam kehidupan spiritual Buddha-Dhamma adalah menuju pada apa yang dalam bahasa Pali disebut dengan :

“Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang”


Yang artinya  :

“Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak”.


Dan itu adalah : N I B B A N A, pemadaman dari ketiga api : keserakahan / nafsu-indriya ( lobha ), kemarahan/kebencian ( dosa ), dan kebodohan/kegelapan batin ( moha ). Nibbana ini lepas dari “Tuhan”, Nibbana ini pun bukan “Tuhan-Yang-Maha” .

Nibbana ini, sering dipersamakan dengan Tuhan dalam agama2 lain. Padahal, sesungguhnya jauh berbeda. Sebab, Nibbana ini bukanlah pencipta alam-semesta seisinya ( termasuk pencipta semua makhluk ).

Nibbana adalah KONDISI-BATIN, yang telah bebas dari kekotoran batin, bebas dari keserakahan / nafsu-indriya (lobha), bebas dari kemarahan/kebencian (dosa), dan bebas dari kebodohan-batin (moha).

Dalam bahasa Sanskerta, NIBBANA ini disebut dengan NIRVANA. Nirvana, berasal dari dua kata, yaitu ; 1). NIR , yang artinya = TANPA ( sifat negasi ), dan, 2). VANA , yang artinya jalinan nafsu keinginan. Sehingga, Nirvana adalah kondisi batin yang telah terbebas dari ikatan/jeratan jalinan nafsu keinginan sebagai penyebab semua makhluk bertumimbal lahir, mengarungi alam sangsara.

Nibbana ini pun  lepas dari alam surga, bukan surga tempat para bidadari-bidadari cantik yang telah tersediakan bagi para ummat-soleh ( ber-Sila ) dan para “pejuang” agama-agama tertentu.  Surga yang termaksud , yang berisi bidadari-bidadari cantik dan istana2 megah tersebut,  barulah lingkup “Kamadhatu”, yaitu “alam-kesenangan-lingkup-keindriyaan” dan ini masih dalam lingkup keberadaan dan duniawi (lokiya). Sedangkan Nibbana, adalah diatas-duniawi ( lokuttara ), tidak dalam lingkup-keindriyaan, tidak dalam lingkup alam Rupa-Jhana, tidak pula dalam lingkup Arupa-Jhana. Tak terjejaki lagi, akhir dari samsara.

_________________________________________________

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Minggu, 21 Juni 2009

Posted in BUDDHA | 176 Comments »

JALAN2 KE ALAS KETONGGO

Posted by ratanakumaro pada Juni 15, 2009

Namatthu Buddhassa,

Dear All Brother and Sisters,

Peringatan dari Perhutani

Pada hari Sabtu, 13 Juni 2009, saya diajak seorang Bhikkhu  berjalan-jalan ke Alas Ketonggo, Jawa-Timur.  Bhikkhu tersebut, dulunya (sebelum menjadi Bhikkhu)  tinggal bertapa di dalam hutan itu ( Alas Ketonggo ) selama satu tahun, sebelum akhirnya menuntut ilmu ke tanah para Buddha ( India, Tibet, Thailand, Burma/Myanmar )  dan ditahbiskan menjadi Bhikkhu disana ( Burma/Myanmar ).

Jalan setapak menuju Pertapaan Dewi Tunjung Sari

Alas Ketonggo, adalah hutan dengan luas 4.846 meter persegi, yang terletak 12 Km arah selatan kabupaten Ngawi. Jawa Timur.  Menurut masyarakat Jawa, Alas Ketonggo merupakan salah satu dari kedua alas-angker / “wingit” di tanah Jawa. Disana terdapat kerajaan makhluk-halus, begitu menurut masyarakat. Sedangkan satu hutan lainnya adalah, Alas-Purwa di Banyuwangi.  Alas Purwa disebut dengan “Bapak”, sedangkan Alas Ketonggo disebut dengan “Ibu”.

Menurut catatan, di Alas-Ketonggo terdapat lebih dari sepuluh (10) tempat pertapaan :

Mulai dari Palenggahan-Agung-Srigati, Pertapaan-Dewi-Tunjung-Sekar, Sendang-Derajad, Sendang-Mintowiji, Goa Sidodadi Bagus, Pundhen Watu Dakon, Pundhen Tugu Mas, Umbul Jambe, Punden Siti Hinggil, Kali Tempur Sedalem, Sendang Panguripan, Kori Gapit, dan Pesanggrahan Soekarno.

Papan-Nama-Palenggahan-Agung-Srigati

Saya kemarin hanya sempat ke Palenggahan Agung Srigati, Pertapaan Dewi Tunjung Sekar, Sendang Derajad, Sendang Mintowiji, Gowa Sidodadi Bagus, tidak sempat ke tempat2 lain karena sesuatu hal.

PALENGGAHAN AGUNG SRIGATI

Lokasi Palenggahan Agung Srigati ini di wilayah Desa Babadan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Jawa-Timur. Konon, tempat ini dulunya adalah tempat peristirahatan Prabu Brawijaya V setelah lari dari kerajaan Majapahit karena kerajaan diserbu oleh tentara-tentara Demak dibawah pimpinan R.Patah dan Wali-Sanga ( Sembilan Wali penyebar agama Islam di tanah Jawa ).  Dikatakan, ditempat itulah Sang Prabu kemudian melepas semua tanda-tanda Kebesaran-Kerajaan, yaitu jubah Beliau, Mahkota , dan semua benda-benda Pusaka; konon, kesemuanya kemudian “raib”, “moksa”.  Dan lalu Sang Prabu melanjutkan perjalanan menuju Gunung Lawu.

Pak Marji-Sang Juru Kunci

Yang merupakan petilasan Sang Prabu Brawijaya V adalah berupa gundukan tanah yang tumbuh setiap hari dan mengeras bagaikan membentuk batu-karang.  Kini, gundhukan tanah tersebut, yang didasari plesteran-semen ditutup keramik, dikelilingi oleh sebuah bangunan berukuran 4X3 meter. Dinding rumah Palenggahan Agung Srigati ini biasanya ditutupi bendera Merah-Putih panjang, namun Sabtu kemarin, penutupnya hanya berupa kain putih saja.

Suasana Dalam Pesanggrahan Agung Srigati

Didalam rumah-rumahan Palenggahan Agung ini, terdapat berbagai benda-benda yang secara simbolik melambangkan tanda-tanda kebesaran kerajaan Majapahit. Baik berupa mahkota Raja, tombak-tombak pusaka, gong, dan lain-lainnya.  Di dalam ruangan ini sangat pekat aroma Dupa dan bunga-bunga, hal yang sangat wajar kita temukan di sebuah tempat “sakral”. Dupa dan taburan bunga-bunga ini berasal dari para pengunjung.

Gundukan Tanah Palenggahan Agung Srigati

Pak Marji ( Juru Kunci ) menyatakan, gundukan tanah tersebut pada saat-saat tertentu tidak tumbuh menyembul, katanya saat Indonesia mengalami suatu musibah atau peristiwa yang kurang-baik, maka gundukan tanah tidak akan tumbuh. Bila gundukan tanah tidak tumbuh, maka ini menjadi pertanda buruk bagi bangsa dan negara, begitu katanya.

Plang-Papan-Nama-Pertapaan Dewi Tunjung Sekar

Pada saat terjadi krisis moneter 1997, tanah tersebut tidak tumbuh, sehingga sama sekali tidak ada gundukan yang menyembul.

Pertapaan Dewi Tunjung Sekar ; Tidak terawat

Pada hari-hari tertentu, seperti Jumat Pon dan Jumat Legi, apalagi di bulan Sura, masyarakat Jawa berbondong-bondong datang ke Palenggahan ini. Pada saat-saat itu, warga banyak menguncarkan “doa” dan bertapa, memohon berkah kepada “yang Maha Kuasa”, dari yang meminta berkah rejeki, karier, hingga perjodohan.

Pertapaan Dewi Tunjung Sekar dilihat dari Sungai

KISAH-KISAH MISTIS

Pak Marji menuturkan, banyak kisah mistis di Alas Ketonggo yang berhubungan dengan situasi politik-nasional.  Alkisah, menjelang Soeharto (Presiden RI kedua) lengser pada tanggal 21 Mei 1998, ada pohon jati yang mengering dan mati. Padahal sebelumnya, pohon itu tumbuh seperti biasa.

Papan Nama Sendang Derajad

Sendang Derajad

Dua puluh tiga (23) hari sebelum Ibu Tien Soeharto meninggal juga ada kejadian aneh, yaitu patahnya sebuah dahan pohon besar di Alas-Ketonggo. Padahal saat itu tidak ada hujan tidak ada angin.

Batu Bertuliskan "Tuk Mintowiji"

Tuk Mintowiji 2

Tuk Mintowiji

Tanggal 20 Juli 2001, tiga hari menjelang Megawati Soekarnoputri dilantik menjadi Presiden RI, muncul cahaya Biru dan Putih bagaikan lentera diatas Kali Tempur Sedalem.

Guwa Sidodadi Bagus

Lorong Goa Sidodadi Bagus dari sisi Kanan

Tugu tempat pemujaan di dalam Goa

Lorong Goa sisi Kiri

Cerita-cerita mistis seperti inilah yang membuat banyak orang “ngalab-berkah” ke Alas Ketonggo. Tidak jarang, bahkan para pejabat-pejabat negara Republik Indonesia berkunjung ke tempat ini mencari “orang-sakti” , atau untuk “mohon-petunjuk” kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, begitu katanya.

Sayangnya, jalan menuju Alas Ketonggo ( khususnya menuju Palenggahan Agung Srigati ) ini sangat tidak terawat. Yang ada hanya jalan berbatu (tanpa aspal) yang bergelombang, sempit.  Mungkin sebaiknya pemerintah memperhatikan perbaikan jalan tersebut, supaya orang-orang yang ingin “nglakoni” atau bertapa ke Alas Ketonggo bisa menempuh perjalanan dengan nikmat.

Peace & Love,

Ratana Kumaro.

Posted in WISATA | 53 Comments »