RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

HARUSKAH BERPANTANG MAKAN DAGING?

Posted by ratanakumaro pada November 29, 2008

“Namo Tassa Bhagavato Arahatto Sammasambuddhassa”

(tikkhattum / 3x )


Namatthu Buddhassa,

Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

Pertanyaan ini umum diajukan oleh orang-orang yang ingin “nglakoni”, atau sedang menjalankan “laku”, yang bertujuan “resik-resik” diri. Sebagian orang mengatakan, kita harus berpantang makan “yang berjiwa” jika kita ingin mencapai kesucian / kemurnian. Apakah benar demikian ?

Hal ini pun juga menjadi perdebatan dikalangan ummat Buddha. Untuk mendapatkan jawaban mengenai hal inilah saya menulis artikel “Haruskah Berpantang Makan Daging ?” ini. Dan jawaban atas pertanyaan ini bersumber dari Sang Guru Agung, Buddha Gotama.

Sila pertama dalam Pancasila yang diajarkan oleh Sang Buddha 600-an tahun SM dulu kala berbunyi :

“ Panatipata veramani sikkhapadam samadiyami “

Artinya :

“ Aku bertekad melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup “

Berhubungan dengan ajaran ini, yang menjunjung tinggi prinsip “tanpa-kekerasan” ( Avihimsa ), apakah berarti seorang Buddhis harus menjadi vegetaris ? Tidak harus. Ummat Buddha, tidak diperbolehkan makan daging jika :

1. Membunuh binatang / makhluk hidup dengan tangan sendiri,

2. Menyuruh seseorang untuk membunuh binatang / makhluk hidup atas namanya.

3. Membiarkan seseorang untuk membunuh binatang / makhluk hidup atas namanya.


Contoh kasus mengenai ketiga hal tersebut diatas yang sering terjadi misalnya : kita membeli seekor hewan hidup dan kemudian entah dengan tangan kita sendiri, atau dengan menyuruh orang lain dan membiarkannya membantai hewan hidup tersebut untuk kemudian dagingnya ia santap, baik sendirian, maupun dengan tujuan didermakan ke orang-orang lain. Bahkan, bila pembelian hewan ini untuk maksud persembahan kepada suatu Dewa  tertentu sekalipun, dan kemudian dagingnya dibagi-bagikan ke masyarakat sekitar sekalipun, tetaplah ini merupakan perbuatan yang tidak baik dan tidak benar, tetaplah merupakan suatu karma yang tidak baik dan tidak benar, dan pasti berbuah-karma yang tidak baik dan tidak benar pula.

Kemudian, bilamana ummat Buddha diperbolehkan makan daging ? Ummat Buddha diperbolehkan memakan daging jika dan hanya jika, binatang itu dibunuh :

1. Tanpa seizinnya,

2. Tanpa persetujuannya, dan,

3. Tanpa sepengetahuannya.

Kasus kedua ini contohnya adalah ketika kita bertamu dirumah seseorang dan kita disuguhi sajian masakan yang menggunakan bahan utama daging-dagingan, maka, para ummat Buddha diperbolehkan untuk menyantapnya.

Ummat Buddha juga boleh membeli masakan yang berbahan dasar daging-dagingan di rumah-rumah makan, pasar, dan lain sebagainya, karena hewan-hewan tersebut dibunuh bukan atas dasar kehendak kita, dan dagingnya tidak disajikan khusus untuk kita / atas nama kita.

Meskipun demikian, tetaplah disaat kita menyantap daging ini kita sedikit atau banyak turut bertanggungjawab secara tidak langsung atas terbunuhnya hewan tersebut.

Walau demikian , seorang vegetarian ketat sekalipun mempunyai tanggung jawab yang sama dengan orang-orang non vegetarian, terhadap makhluk-makhluk yang dibunuh secara tidak langsung.

Sayur-sayuran, sebagai makanan para vegetarian tidak luput dari penyemprotan hama serangga, yang notabene adalah makhluk hidup juga.

Para vegetarian juga sangat mungkin menggunakan pakaian, sepatu, tas, dompet, “kalep” jam tangan, sabuk, topi, sandal, dan lain-lain perlengkapan yang terbuat dari kulit makhluk hidup.

Para vegetarian juga sangat mungkin menggunakan bahan-bahan rumah tangga yang terbuat dari bagian-bagian hewan, misalnya : sabun. Bukankah sabun juga terbuat dari lemak hewan ?

Para vegetarian juga tidak terhindarkan pernah dan akan sering menggunakan obat-obatan, jamu-jamuan, yang terdiri dari serum hewan atau dibuat setelah dicoba dengan mengorbankan binatang-binatang untuk uji-coba ( “kelinci-percobaan” ).

Jika kita harus menjadi seorang vegetarian, maka seharusnya, kita secara konsekwen harus menjadi vegetarian mutlak, tidak mempergunakan seluruh produk hewani dan sayur-sayuran yang dibudidayakan. Jadi, sebagai seorang vegetarian, untuk ‘hidup’ ia harus secara konsekwen memurnikan makanan, lingkungan dan hidupnya, padahal untuk menjadi demikian sangatlah tidak mungkin, karena memang demikianlah hakekat keberadaan ( hidup ) yang memang secara mutlak tidak memuaskan.

Pada dasarnya, seorang Buddhis harus berbuat apa saja untuk mencegah pembunuhan, akan tetapi, dia bisa memilih untuk menjadi vegetarian, atau tidak, setiap orang bebas menentukan pilihannya masing-masing. Yang non-vegetarian sekalipun tetap mengambil peranan spiritual yang sama dengan para vegetarian.

SUCI DAN TIDAK SUCI BUKAN DARI MAKANAN

Apakah makan daging membuat seseorang menjadi ternoda, tidak murni, dan tidak suci ? Sang Buddha dengan tegas mengatakan : T I D A K . Bukan karena makanan yang kita makan sehingga kita menjadi ternoda, tetapi karena pikiran, perbuatan dan perkataan yang jahatlah yang menjadikan kita ternoda, tidak murni, dan tidak suci.

“ Apabila seseorang kasar, congkak, menghasut, menipu, licik, dan tidak mau berbagi pada orang lain, inilah yang membuat manusia ternodai, bukan karena makan daging.

Kemarahan, kesombongan, keras kepala, keinginan jahat, licik, cemburu, angkuh berkelompok dengan mereka yang jahat, inilah yang membuat manusia ternodai, bukan karena makan daging.

Bermoral jelek, tak membayar hutang, bergunjing, menipu, bersaksi dusta, berbuat jahat seperti itu kepada yang lainnya, inilah yang membuat manusia ternodai, bukan karena makan daging. “

( SN ; 244 -246 ).

Para pengikut sekolah Buddhisme Mahayana adalah vegetarian ketat. Mereka menghormati para vegetarian, dan mengutuk yang memakan daging. Seyogyanya para siswa Mahayana ini ingat, bahwa dalam Ajaran asli Sang Buddha tidak mengharuskan semua ummat Buddha untuk menjadi vegetarian. Kita sebagai ummat Buddha harus ingat bahwa Jalan yang diajarkan Sang Buddha adalah “JALAN-TENGAH” ( Majjhima Pattipada ), sehingga haruslah bersifat “membebaskan”, dan tidak perlu menjadi ekstrim dalam menempuh “Jalan-Pembebasan”, karena justru jalan-jalan ekstrim inilah yang dulu dihindari oleh Sang Buddha, baik ekstrim yang bersifat penyiksaan diri ( termasuk vegetarian ), maupun ekstrim pemuasan hawa-nafsu ( pengumbaran syahwat, beristri lebih dari satu,dan lain-lain ).

DAGING YANG DILARANG UNTUK DIKONSUMSI

Meskipun Sang Buddha tidak mengharuskan para siswanya untuk menjadi vegetarian, namun Beliau pernah menasehati para Bhikkhu untuk menghindari memakan sepuluh jenis daging dengan tujuan demi kehormatan dan perlindungan diri mereka sendiri. Kesepuluh jenis daging itu adalah :

1. Daging Manusia,

2. Gajah,

3. Kuda,

4. Anjing,

5. Ular,

6. Singa,

7. Harimau,

8. Macan tutul,

9. Beruang,

10. Hyena.

Hewan-hewan tersebut diatas ( kecuali tentunya yang pertama, manusia, bukanlah “hewan” ) akan menyerang jika mereka mencium aroma daging jenis mereka sendiri pada diri kita / tubuh kita ( Vinaya Pitaka ). Namun, pada kesempatan yang lain, Sang Buddha secara rinci menganjurkan pemberian kaldu daging untuk memberi kekuatan pada tubuh yang sakit ( Vinaya V: 205 ).

Devadatta, salah seorang murid-Nya dan sekaligus sepupunya, pernah meminta Sang Buddha untuk memberlakukan peraturan pertapaan yang keras bagi para Bhikkhu, yang salah satu diantaranya adalah berpantang makan daging ; namun Sang Buddha menolak / tidak menerima permintaan Devadatta tersebut.

Jivaka Komarabhacca, seorang tabib / dokter, mendiskusikan issue controversial ini, yang dihembuskan oleh sekelompok orang “Jain”dengan Sang Buddha :

“ Tuan, aku telah mendengar bahwa hewan sengaja dibantai untuk Petapa Gotama, dan bahwa petapa Gotama secara sadar makan daging yang sengaja dibunuh untuknya.

Tuan, apakah mereka yang berkata bahwa hewan sengaja dibantai untuk Petapa Gotama, dan Petapa Gotama secara sadar makan daging yang sengaja dibunuh untuknya ; apakah mereka memberi tuduhan palsu pada Sang Buddha ? Atau apakah mereka [ justru ] mengatakan yang sebenarnya ?

Apakah pernyataan Anda dan pernyataan tambahan Anda tidak diejek oleh orang lain dengan segala cara ? “

Sang Buddha menjawab :

“ Jivaka, mereka yang berkata : “ Hewan sengaja dibantai untuk Petapa Gotama, dan Petapa Gotama secara sadar makan daging yang sengaja dibunuh untuknya”, tidak berkata sesuai dengan apa yang telah aku Nyatakan, dan mereka memberi tuduhan palsu kepadaKu.

Jivaka, Aku telah menyatakan bahwa seseorang tidak boleh menggunakan daging jika terlihat, terdengar atau dicurigai telah sengaja dibunuh untuk seorang Bhikkhu.

Aku mengizinkan para Bhikkhu makan daging yang cukup murni dalam tiga hal :

1. Tidak terlihat,

2. Tidak terdengar, atau

3. Tidak dicurigai


Telah sengaja dibunuh untuk seorang Bhikkhu. “ ( Jivaka Sutra ).

Vegetarianisme itu sendiri tidak membantu manusia untuk mengembangkan sifat spiritualitasnya. Ada orang-orang yang baik, rendah hati, sopan, dan religius di antara non-vegetarian. Karena itu, orang sebaiknya tidak menyatakan bahwa orang religius yang sejati haruslah mempraktekkan vegetarianisme.

Namun, jika para non-vegetarianis menyatakan bahwa seseorang tidak dapat memiliki hidup sehat tanpa makan protein hewani, juga tidak dapat dibenarkan, karena ada jutaan vegetarian murni di seluruh dunia yang lebih kuat dan sehat bila dibandingkan para “carnivora” berkaki dua ini.

Orang-orang yang mengkritik ummat Buddha yang makan daging tidak memahami ajaran Buddha tentang makanan. Makhluk hidup memerlukan nutrisi, kita memerlukan makan untuk hidup, dengan demikian manusia harus menyediakan makanan bagi tubuhnya untuk menjaganya agar tetap sehat dan memberinya energi untuk berkarya.

Jika seseorang mencandu suatu jenis makanan, atau membunuh untuk memuaskan ketamakannya akan daging, hal inilah yang salah. Jika seseorang makan tanpa ketamakan dan tanpa terlibat langsung dalam tindakan pembunuhan, tetapi semata-mata untuk mempertahankan tubuh fisik, maka ini hal benar, dan ia telah mempraktekkan “penahanan-diri” dari bentuk-bentuk pikiran, ucapan, dan perbuatan jahat.

Pada kenyataannya, Sang Buddha menyatakan bahwa bukanlah apa yang masuk kedalam mulut seseorang yang mengotori, melainkan apa yang keluar dari mulutnyalah yang menodai kesucian / kemurniannya.

MAKANAN PARA ARIYA

Sang Buddha tidak pernah memilih-milih makanan atas dasar kesukaan / kegiuran.

Pada suatu ketika Sang Buddha sedang ber-Pindapata dengan Bhikkhu Ananda dan bertemu seorang wanita bernama Punadesi ( ditengah-tengah jalan ). Punadesi seorang yang miskin, dan bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga yang kaya raya.

Ketika Punadesi melihat Sang Buddha, ia merasa gembira sekali. Dahulu, ia pernah ingin berdana makanan, akan tetapi saat itu ia tidak punya makanan apapun untuk dihaturkan pada Sang Buddha. Dan hari ini, bagi Punadesi, merupakan karma baik baginya bisa bertemu dengan Sang Buddha dan Bhikkhu Ananda. Kemudian, ia segera berdana makanan dan Sang Buddha-pun menerimanya dan makan di pinggir jalan agar Punadesi dapat melihatnya dan bergembira / senang hatinya. Seusai makan, Sang Buddha ber-Anumodana ( mengungkapkan kegembiraan atas dana yang dihaturkan kepadaNya ), dan kemudian Punadesi mencapai tingkat kesucian pertama, Sotapana.

Contoh yang lain mengenai makanan para Ariya, misalnya yang ditauladankan oleh Bhikkhu Rathabala ( seroang “SAVAKA-BUDDHA” pada jaman Sang Buddha dan merupakan salah satu murid Sang Buddha ). Bhikkhu Rathabala memakan makanan yang sudah dibuang seseorang. Pada suatu hari Bhikkhu Rathabala sedang ber-Pindapatta. Beliau berdiri didepan rumah tetapi tidak ada yang mengenali Beliau. Keluarga pemilik rumah itu adalah keluarga yang kaya raya. Beliau melihat ada makanan yang dibuang lalu meminta tolong kepada pembantu keluarga itu untuk menaruh makanan itu kedalam mangkuknya. Pembantu tersebut bersedia dan memasukkan makanan itu ke dalam mangkuk Bhikkhu Rathabala. Setelah itu beliau pergi agaka jauh dan mencari tempat untuk makan makanan tersebut.

Inilah yang telah dicontohkan oleh Para Ariya yang Agung. Mereka tidak memilih-milih makanan, entah berdasarkan kegiuran / nafsu pribadi, maupun dengan alasan jenis makanan tersebut makanan berdaging atau bukan. Para Ariya menyantap makanan apapun yang disajikan, KECUALI MAKANAN YANG BUSUK DAN MENIMBULKAN PENYAKIT.

Seorang Ariya tidak bisa menerima persembahan dana makanan jika dana itu diberikan dengan terlebih dahulu menyebutkan jenis makanannya. Makanan yang “lezat” dan disebutkan terlebih dahulu akan menimbulkan “kilesa” / kekotoran batin ( dalam hal ini nafsu ), dan hal ini salah dalam DHAMMA dan VINAYA ( hukum / peraturan ke-Bhikkhuan ). Namun, meskipun makanan itu lezat, bila disajikan tanpa disebutkan terlebih dahulu, makanan itu boleh disantap oleh para Ariya.

Para Ariya tidak mabuk dalam makanan, tidak mabuk dalam kehidupan.

Orang yang tidak mabuk dalam kehidupan karena telah melihat “tilakkhana” ( aniccam-dhukkam-anatta ), kemudian dapat melihat terang dalam “Ariya-Saccani” dan menjadi seorang “Ariya”, seorang yang suci, akhirnya mencapai Nibbana ( Sanskerta : Nirvana ).

Demikianlah ulasan saya mengenai “Haruskan Berpantang Makan Daging ?”. Semoga ulasan ini bermanfaat bagi para pejalan spiritual yang sedang / ingin “NGLAKONI”.


Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

“ Semoga Semua Makhluk Berbahagia dan Terbebas dari Semua Penderitaan ! “

— RATANA KUMARO  —

Semarang Barat, Sabtu, 29 November 2008

Iklan

27 Tanggapan to “HARUSKAH BERPANTANG MAKAN DAGING?”

  1. wah mas ratna, apa namanya tidak menang menange dhewe kalu mau makan tapi yang penting bukan ybs yang membunuh, atau atas nama dia, apa ini tidak sama dengan ” Doyan nangkane nanging emoh pulute”
    sepurane nggih, kalu menurut saya ya mending tidak makan sekalian, gitu lho..

  2. ratanakumaro said

    Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

    Rahayu… ,

    Wah, Mas Herjuno Sutarto / Ngabehi K.M. sedang bersemangat berkomentar ya, jadinya ada pemahaman yang terlewat.

    ” wah mas ratna, apa namanya tidak menang menange dhewe kalu mau makan tapi yang penting bukan ybs yang membunuh, atau atas nama dia, apa ini tidak sama dengan ” Doyan nangkane nanging emoh pulute” ”

    Pertama, coba anda baca lagi penjelasan diatas, yaitu bahwa Sang Buddha mengajarkan kepada siswa2nya untuk : TIDAK MEMILIH-MILIH MAKANAN BERDASARKAN KESUKAAN / KEGIURAN.

    Jadi, ummat Buddha, harus melatih diri untuk tidak “penginan” terhadap jenis makanan apapun, termasuk daging. Sehingga, ummat Buddha yang benar2 berlatih, dia tidak akan seperti yang anda komentarkan tersebut ( mau makan tapi yang penting bukan ybs yang membunuh, atau atas nama dia, apa ini tidak sama dengan ” Doyan nangkane nanging emoh pulute” ” ).

    Apalagi jika yang dimaksud adalah Sang Buddha dan Para Ariya, termasuk para Bhikkhu. Tau gak mas, bagaimana beliau2 itu makan ? Beliau2 makan dari pemberian, dan, seperti keterangan saya dalam artikel diatas ( yang sekali lagi terlewatkan oleh mas Herjuno ),makanan yang mereka terima dari pemberian orang2 itu sembarang, apapun diterima, asal tidak busuk dan menyebabkan penyakit.

    Menerima makanan apapun yang disajikan oleh seseorang ini merupakan bentuk penghormatan ( ANUMODANA ), yaitu, bahwa kita dengan sukacita menerima apa yang diberikan , meskipun sesungguhnya ( misalkan saja ) itu tidak sesuai dengan selera kita ( tapi untuk seorang Buddha sudah tidak ada lagi rasa-perasaan seperti itu, kalau masih punya, berarti ya belum “Buddha” ). Coba anda baca2 lagi artikel diatas.

    Kemudian , kalau ada orang yang ingin berdana makanan kepada Sang Buddha dan Para Bhikkhu, orang tersebut tidak boleh menyebutkan jenis makanan yang akan diberikan ( misal : ” Bhante, saya mau berdana makanan Bhante, Sate Kambing Pak Gudel, enak lho Bhante! Dagingnya empuk, tebel2 , manis! …dst. ” ). Kalau orang tersebut menyebutkan makanan yang akan disajikan, maka makanan itu tidak bisa diterima oleh Sang Buddha dan Para Bhikkhu. juga, seorang Bhikkhu tidak boleh meminta makanan dengan menyesuaikan seleranya ( misal, ” Tolong baksonya mas, terus bregedel jagung, dan itu tuh, steak obongnya!” ). Jadi, “sak-derma”-ne, “sak-pawehe”, apa yang diberikan, diterima… .

    Mas Herjuno… Sebuah contoh… ,Kakak saya yang tertua sudah menjalani hidup pertapaan sebagai Bhikkhu-hutan dan petapa ‘peminta-minta’ di Burma beberapa tahun. Ketika saya tanya, bagaimana pola makan sebagai Bhikkhu, dia bercerita, bahwa Bhikkhu petapa dibekali ‘mangkuk’, dan mangkuk itu untuk menerima dana makanan dari para penduduk, kemudian, makanan yang diberikan itu, TUMPLEK BLEK jadi satu dalam mangkuk itu ( misalnya saja, ada yang memberi lodeh, jangan bening, semur daging, tempe bacem, oseng2 kacang panjang, kolak, cao, dst ( jenis makanan disana tentunya bukan seperti itu, ini hanya contoh ) ), sehingga, rasanya jadi tidak karuan mas… .

    Nah, sehingga, yang dimaksud dengan ajaran Sang Buddha disini bahwa sebagai murid Sang Buddha tidak dilarang makan daging adalah seperti itu. Jika ada orang berdana makanan berbahan dasar daging, kita boleh menerima ( kalau ditolak, kita jadi tidak menghargai si pemberi ).

    Dalam praktek, jika seorang ummat Buddha hidup dijaman tidak adanya pasar, penjual makanan, maka yang dimakasud dengan ” asal tidak membunuh dengan tangan sendiri, menyuruh, atas namanya…dst.”, maka, ia mutlak tidak boleh melakukan hal2 tersebut, dan berarti, otomatis akan menjadi vegetarian, kecuali, ada orang lain yang memberikan dana makanan kepadanya seperti contoh2 diatas dengan syarat : bukan atas perintahnya, tidak sepengetahuan dia ( dst )seseorang mencarikan daging atau menyembelih hewan untuk dijadikan dana makanan baginya… .

    Mas herjuno, kalau untuk ummat awam, mungkin masih ada yang makan makanan berdasarkan “kesukaan / kegiuran ” atas jenis makanan ( misal, penggila sea food, mie ayam, dll. ), tetapi, untuk para Bhikkhu, sudah tidak ada hal seperti itu, karena, para Bhikkhu ‘diikat’ oleh aturan moralitas / SILA yang tidak boleh dilanggar dan terkontrol dengan ketat oleh SANGHA ( pesamuan para Bhikkhu ).

    Untuk ummat awam yang seperti itu, maka, tinggal bagaimana ummat Buddha yang lainnya yang lebih ‘mengerti’ senantiasa mengingatkan mengenai Dhamma ini, bahwa, kita tidak seyogyanya mempunyai ‘ketamakan’ atas jenis makanan, memilih2 jenis makanan berdasarkan “kesukaan / kegiuran “.

    Begitu mas herjuno … , kalau masih ada yang mengganjal, sumangga diutarakan lagi… Silakan dibaca2 lagi mas… Terima kasih lho, saking semangatnya mau ngomentar, sampai2 point2 utama jadi tidak terperhatikan , hehe… .

    Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

    Semoga Semua Makhluk Berbahagia dan Terbebas dari Semua Penderitaan !

  3. ratanakumaro said

    Oiya, ada yang belum saya jawab dari keseluruhan komentar mas herjuno :

    ” sepurane nggih, kalu menurut saya ya mending tidak makan sekalian, gitu lho.. ”

    RATNA KUMARA =

    Wah, jangan mas, jangan sampai “mending tidak makan sekalian… “, makhluk hidup butuh nutrisi untuk menunjang kehidupannya lo…

    atau jangan2 maksud anda, sebaiknya tidak usah makan daging sekalian ? Kalau yang anda maksud ini, maka itu hak masing2, termasuk hak anda, kan sudah saya jelaskan dalam artikel diatas , bahwa apa yang diajarkan Sang Buddha adala “JALAN TENGAH” , dan sifatnya ‘memerdekakan’, jadi, jadi vegetarian boleh, tidak juga boleh… Namun pada dasarnya Sang Buddha tidak pernah mengajarkan untuk menempuh jalan vegetarian… .

    Begitu mas herjuno… .

    Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

    Semoga Semua Makhluk Berbahagia dan Terbebas dari Semua Penderitaan !

  4. iya maksud saya tidak usah makan daging sekalian, saya sendiri walaupun umat muslim tapi tidak suka makan daging2ngan kalu tidak “kepepet”.Maaf tulisan sampeyan panjang banget jadinya saya bacanya lompat2, berarti aturan di atas untuk para bhiku saja ya?Terus umat buddhist sendiri(umat awam) gimana aturan2nya, tentang penyembelihan hewan dan mengkonsumsinya, pertanyaan saya hukumnya bagaimana?

  5. CY said

    Kalo menurut pendapat saya sih, vegetarian itu hanya salah satu jalan meminimalisir karma buruk yg kita timbulkan karena membunuh hewan utk dimakan. Jadi hanya meminimalkan, bukan meniadakan. Dan itu juga merupakan hak setiap orang mau vegy atau tidak.

    Para vegetarian juga sangat mungkin menggunakan pakaian, sepatu, tas, dompet, “kalep” jam tangan, sabuk, topi, sandal, dan lain-lain perlengkapan yang terbuat dari kulit makhluk hidup

    Oleh sebab itu target saya tiap beli sepatu tidak pernah melewati 150rb. Sehingga sepatu yang didapat sudah otomatis kulit sintetis hehehe…

    Sekali lagi , mengulang Sabda Sang Buddha, “bukanlah apa yang masuk kedalam mulut seseorang yang mengotori, melainkan apa yang keluar dari mulutnyalah yang menodai kesucian / kemurniannya “

    Boleh tau bro, kata2 diatas terdapat di kitab mana ayat berapa? 😛

  6. sugimo said

    Yth, Saudara-Saudaraku.

    Berlatih dengan benar atas dasar pemahaman dan pengertian yang benar terhadap konsekuensi bentukan-bentukan yang akan terjadi serta sifat bentukan-bentukan yang senantiasa berputar.
    Kemudian menemukan cara menghentikan bentukan-bentukan dst…. dst….dst…., didalamnya termasuk pemahaman dan pengertian serta perbuatan makan dengan benar agar tidak menimbulkan bentukan-bentukan mental selanjutnya.

    Semoga seluruh makhluk berbahagia, mencapai pencerahan dan kebenaran sempurna.
    Maturnuwun

  7. Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

    Yth. Bpk. Sugimo… ,

    Sungguh pitutur yang dalam… ,

    Maturnuwun sanget… ,

    Rahayu… .

    Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

    ” Semoga Semua Makhluk Berbahagia dan Terbebas dari Semua Penderitaan !”

  8. kweklina said

    Tapi menurutku menjaga perbuatan lebih berguna daripada pusing memikirkan apa yang tidak boleh dimakan?
    ——————————–

    POINT ! Seratus untuk Nona Kwek Lie Na !!
    —————————

    Yang jelas,ke 10 makanan itu kayaknya memang jarang dimakan,oleh manusia!
    ——————————–
    Memang jarang, tapi ada juga yang memakan kesepuluh jenis daging itu… Orang yang paling dekat dan kita kenal kan SUMANTO dari Indonesia, hehe :)) ( becanda lo Mas Sumanto, hehe )
    ——————–
    Loh kok sapi ngak termasuk ya,padahal banyak orang Budha tidak makan daging sapi?
    ——————————–

    Wah, Nona salah info, yang gak makan daging sapi itu ummat HINDU, bukan ummat Buddha…

    kuharap ada penjelasan ya!
    ———————————-

    Itu sudah dijelasin… .

    ———————————

    Terimakasih!

    ———————————

    Kembali Kasih !

    Salam Damai dan Cinta Kasih,
    Semoga Semua Makhluk Berbahagia dan Terbebas dari Semua Penderitaan !

  9. CY said

    @Kweklina
    Kelompok yang tidak makan daging sapi itu adalah pengikut Dewi Kwan Im, kenapa tidak makan sapi? Karena dlm legenda tertulis bahwa ayahanda Sang Dewi tumimbal lahir menjadi sapi akibat karma2 buruknya semasa menjadi raja yg suka memenggal, tapi entah kapan, sehingga penyembah Sang Dewi memutuskan tidak makan sapi (daripada nanti termakan tumimbal lahirnya ayahanda Sang Dewi kan berabe…)

    Begitu yang saya tau ceritanya.

  10. wira jaka said

    wah gawat …… dulu saya pernah makan 2 diantaranya, salah satunya untuk obat,

    eh mas Ratna Kumara sudah pulang dari melanglang buana ya …??, wah pasti mulai nulis lagi nih …., kita tunggu loh 😀

    salam,

  11. simon said

    Sekali lagi , mengulang Sabda Sang Buddha, “bukanlah apa yang masuk kedalam mulut seseorang yang mengotori, melainkan apa yang keluar dari mulutnyalah yang menodai kesucian / kemurniannya “ .

    ini rasanya kata-kata Yesus bukan Buddha.
    “Bukan apa yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan apa yang keluar dari mulutlah yang menajiskan orang.” (Matius 15:11)
    ————————————

    Yah, memang ada beberapa kalimat / sabda yang serupa antara Yesus dan Buddha.

    Sebagai contoh, salah satu sabda Sang Buddha :

    ” Barangsiapa melihat Aku, dia melihat Dhamma…,
    Barangsiapa melihat Dhamma, dia melihat Aku… .”

    Bandingkan dengan salah satu sabda Yesus ( seingat saya … ) :
    ” Barangsiapa melihat Aku, dia melihat Bapa… ”

    Juga tidak perlu dicari tahu mengapa 623 tahun SM Sang Buddha sudah bersabda demikian dan Yesus 623 tahun kemudian menyabdakan hal yang serupa ( yah, semacam serupa tapi tak sama mungkin … .)
    Lebih baik mempraktekkan kebaikan dan kebenaran… .

    ——————————-

    Kalau kata-kata itu dari Buddha berarti daging no 2-10 itu tidak perlu dihindari dan boleh dimakan. Ajaran seharusnya tidak boleh kontradiksi dan membingungkan.

    ——————————-

    Saudara Simon, daging no.1 sampai dengan no.10 tersebut diatas tidak diperkenankan dimakan bukan dalam kaitan AKAN MENAJISKAN, tetapi demi perlindungan diri, karena, hewan2 yang tersebut diatas, atas dasar praktek dan pengalaman, akan menyerang manusia jika dia mencium bau daging dari jenisnya sendiri pada diri manusia… .

    Jadi, tidak membingungkan, dan tidak “contradictio in terminis”, sebab termin mengenai kesepuluh daging itu menggunakan pijakan “demi perlindungan diri” , bukan menggunakan alasan “demi kesucian / ketidak-najisan”… .

    —————————-

    salam,
    Simon
    —————————-

    Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

    Semoga Anda Senantiasa Berbahagia dan Terbebas dari Semua Penderitaan … .

  12. simon said

    “Yah, memang ada beberapa kalimat / sabda yang serupa antara Yesus dan Buddha. “

    apa ada sutta nya ttg sabda ini :

    “bukanlah apa yang masuk kedalam mulut seseorang yang mengotori, melainkan apa yang keluar dari mulutnyalah yang menodai kesucian / kemurniannya “ .
    ————————————
    Nanti saya carikan suttanya, itu saya tahu dari Bhante Sri Dhammananda yang mengucapkan…, semoga saya bisa menemukan suttanya,
    tapi setidaknya sabda itu tersirat dan tersurat dalam Sutta Nipata ; 244 -246 yang tertulis diatas

    Tapi kalau untuk sabda yang ini :

    ” Ia yang melihat Dhamma, melihat Sang Tathagata ;
    Ia yang melihat Sang Tathagata, melihat Dhamma ”

    dikutip dari Samyutta Nikaya, salah satu sabda Sang Buddha kepada Vakkali.

    ——————————–

    perbedaan sangat mencolok antara Buddha dan Yesus. Bagi Buddha tidak ada Pencipta, bagi Yesus ada Pencipta yang dipanggil Bapa.

    ——————————–

    Ya, betul demikian, memang Sang Buddha menunjukkan kekeliruan para Brahmana yang menganggap bahwa alam semesta ini diciptakan oleh suatu “Maha-Dewa” tertentu ( dalam hal ini Maha Brahma ). Sehingga, dalam hal ini ajaran Yesus yang diperkenalkan lewat ke-Katholik-an dan ke-Kristenan memang berbeda dengan Dhamma Sang Buddha.
    ———————————–
    Jadi, tidak membingungkan, dan tidak “contradictio in terminis”, sebab termin mengenai kesepuluh daging itu menggunakan pijakan “demi perlindungan diri” , bukan menggunakan alasan “demi kesucian / ketidak-najisan”… .

    hmmm.. demi perlindungan diri orang bisa punya bodyguard atau senjata atau paling tidak ambil langkah seribu. Manusia toh lebih hebat dari hewan, buktinya saja hewan hampir punah dimangsa manusia.
    lha kalau sudah well-protected berarti makan daging apa saja boleh dan tidak mengganggu kesucian.
    ———————————–

    Aturan tersebut terutama untuk para Bhikkhu yang hidup di hutan ( coba baca keterangan diatas, itu merupakan nasehat Sang Buddha kepada para Bhikkhu ( Vinaya Pitaka ) ).

    Yah, sesungguhnya bagi ummat Buddha awam sebaiknya juga mengikuti anjuran itu…. .

    ———————————–
    Salam
    simon
    ———————————–
    Salam juga… ,

    Maaf jika saya tidak bisa selalu membalas komentar anda, bukan karena apa, tapi saya merawat blog ini ditengah kesibukan bekerja…. .

    Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

    Semoga Anda Senantiasa Berbahagia dan Terbebas dari Semua Penderitaan… .

  13. CY said

    @Simon
    Dalam Buddhisme kita diberi pilihan bebas, kalau mau dimakan ya tidak mengapa. Tapi apapun yang kita lakukan tetap saja ada hasil karmanya. “Benih apa yang kita tanam itu yang kita tuai”, ingatkah kata2 ini ada di ayat berapa di Alkitab?? Bukankah itu mendefinisikan jenis karma yg langsung berbuah?? Jadi dalam hal ini saya setuju dengan Bro Ratna, tidak perlu kita cari tahu siapa mengikuti sabda siapa, yg penting sikap hidup kita dlm mengamalkan apa2 yang diajarkan oleh Beliau-Beliau itu.

    Anda bilang utk proteksi diri ada senjata dan bodyguard, ok… suatu saat bila karma anda berbuah, bodyguard anda bisa sakit mendadak dan tidak hadir serta senjata anda macet sehingga 10 jenis hewan dan manusia pada daftar diatas yg anda makan dagingnya (bila ada) akan dengan leluasa memangsa anda. Anda tidak bisa menjamin senjata apapun di dunia ini “zero error” …

    **Semoga semua makhluk berbahagia dan terlepas dari penderitaan**

  14. CY said

    @Simon

    Manusia toh lebih hebat dari hewan, buktinya saja hewan hampir punah dimangsa manusia.

    Jangan sombong jadi manusia. Begitu semua hewan punah dari dunia maka manusia juga akan ikut punah, anda pasti pernah belajar siklus makanan di pelajaran biologi sekolah menengah kan?? Coba ingat kembali, begitu salah satu siklus anda ganggu maka hancur berantakan keseluruhan ekosistem.

  15. nano said

    Saya pernah dengar sebuah dialog

    Seseorang bertanya pada seorang Biksu”, kenapa anda tidak makan daging, apa nanti ada tenaga”.
    Jawab Biksu”, bukankah sapi juga tidak makan daging “.

    @ CY
    bro,kalo hewan punah manusia ga ikut punah lah. Manusia secara alami akan bermutasi menyesuaikan diri.
    Mata rantai makanan tidak se dramatis itu.

    Salam Damai dan Cinta Kasih
    “Semoga Semua Makhluk Berbahagia dan Terbebas dari Semua Penderitaan”!

  16. CY said

    @Nano
    Bro, saya yakin manusia tidak akan membiarkan hewan punah, buktinya pada ternak ayam, ternak sapi dll…, harga ayam naik aja pada ribut semua. hehe

    “Semoga semua makhluk berbahagia dan terbebas dari semua penderitaan”

  17. bukan apa yang masuk kedalam tubuh kita yang membuat najis namun apa yang keluar dari mulut kita 😀
    kata2 yang keluar dari hati yang harus kita waspadai

  18. wira jaka said

    maaf mas … keluar dari konteks,
    —————————–
    Selamat datang mas… silakan… .
    —————————–
    saya sedang mencoba menahan diri untuk membatasi makan (terutama makan siang dan malam, karena lebih banyak diluar) tetapi yang ditahan adalah porsi harganya.
    Saya coba tetapkan bahwa sekali makan maksimal adalah Rp. 5.000,- sementara menu terserah ….
    tetapi sulitnya minta ampun …. hanya tercapai beberapa kali saja ….
    sementara hanya untuk diri sendiri …. kalau keluarga belum bisa diberlakukan. termasuk kalau makan bersama teman-teman … 😀

    yah selain penghematan … juga pengendalian diri 😛
    —————————–

    Wah, salut mas, bagus sekali itu… .
    Yang panjenengan lakukan itu gak semua orang juga bisa lho mas… ,
    Pasti kan lidahnya pengin ngrasain sesuatu yang “enak”2, dan itu harganya pasti minta lebih dan lebih lagi… .

    Kreatif juga panjenengan, “nglakoni” dengan strategi dan taktik yang jitu…, 🙂

    Salam Damai dan Cinta Kasih… .

  19. Yah Kang,
    Dalam komunitas Budha memang pergulatan masalah MAKANAN sangat menjadikan perhatian KHUSUS. Saya kira hampir semua pelakon dalam Keagamaan demikian adanya. Adanya pemahaman PANTANG MEMBUNUH/MAKAN DAGING selalu menjadi perhatian bagi yang NGLAKONI. di Kristen ada VEGEI, di KEJAWEN ada, di Islam ada.
    Dan saya sendiri pernah mengalami kejadian yg secara tiba-tiba saja saya kok merasa MUAL~MUNTAH2 ketika makan DAGING, hingga harus nginap di Rumah Sakit selama 8 hari yang sempat saya tulis di http://kariyan.wordpress.com/2008/02/27/wedhus-ngglundhung/.
    Pedahal selama ini gak pernah ngalamin seperti itu loh Kang. Setelah pulang dari RS, kontan aku sudah gak bisa lagi makan DAGING, TELOR ( pokoknya makanan yg berbau DARAH ) dan kondisi ini berlangsung selama 1 tahun hingga bulan Pebruari 2009 ini Kang. Namun jUJUR saja aku gak bisa 100% jadi Vegetarian, sebab kadang masih kecampuran. tapi pada Prinsipnya secara LANGSUNG aku wes gak MAKAN DAGING. Dampak dari sisi kesehatan jelas ada, Dampak secara EMOSIONAL juga ada, dampak secara Kerohanian juga ada ketika aku pas DUDUK DZIKIR, MEDITASI, MANEKUNG, SAMADHI opo waelah istilahne Berbeda dengan ketika masih mengkonsumsi DAGING sebelumnya.

    Ada hikmah buat saya pribadi Kang, Ketika saya mengucap ” Bismillah Hirrohmanir Rohim “..Dengan nama ALLAH yang Pengasih dan Penyayang…
    Bagaimana saya bisa berbuat WELAS~ASIH, KASIH~SAYANG sesuai dengan Sifat2 Tuhan, kalau saya masih melakukan PEMBUNUHAN sesama MAKHLUK???.
    Tiba-tiba saja, saya digiring dalam LAKON kehidupan dan Penghidupan ini. Bertemulah saya dengan WEBnya ” Master SUMA CHING HAI ” itupun dengan secara tiba-tiba saja mendapatkannya. dan dari Suma CHING HAI saya banyak mendapatkan WULANG~WURUK tentang MAKNA ” VEGETARIAN “…

    Ahhhhgk, tapinya untuk mengikuti 5 sila, tak sanggup saya Kang. Sebab saya masih suka MEROKOK…ha..ha…
    dan berat…sungguh berat memang untuk menjadi manusia yang ” PURNA ” itu yah Kang.
    Akhirnya dengan terus bertambahnya perjalanan ini, saya juga sepaham dengan pendapat sampeyan bahwa :
    ” BUKAN APA YANG MASUK DALAM MULUT KITA, MELAINKAN APA YANG KELUAR DARI MULUT KITA ” Yah…yah…APA YANG BISA KITA PERBUAT untuk Sesama Makhluk dan Alam Semesta inilah yang terpenting. Ibarat menanam ( nandur ), Jika kita menanam KEBAJIKAN ataupun KEBURUKAN pasti akan menuai HASIL.

    Terima kasih Kang,
    Sudah memberikan WACANA buat saya dalam LAKON GELAR~GULUNG Kehidupan dan Penghidupan ini.

    DAMAI DIHATI…DAMAI DIBUMI…

    Wassalam.
    ++++++++++++++++++++++++++++
    Dear mas Santri Gundhul,
    Salam Hormat untuk Anda,
    Salam Damai dan Cinta Kasih…,

    Pengalaman rohani yang sangat menarik mas… ,

    Yah, yang memang ingin vegetarian silakan, yang tidak juga silakan… 😉
    Yang pasti, Sang Buddha sendiri tidak pernah mengajarkan untuk ber-vegetarian, asalkan :
    1. Tidak membunuh makhluk hidup,
    2.Tidak menyuruh orang lain membunuhkan makhluk hidup untuknya ( untuk disantapnya )
    3. Atas sepengetahuannya membiarkan orang lain membunuhkan makhluk hidup atas namanya.

    Jika diberi makan daging, ya dimakan. Jika di warung ada masakan daging, kalau lidah masih kepengin, ya bolehlah makan. Tapi kalau memang sudah dengan kesadaran sendiri tidak ingin makan daging ya tidak mengapa.

    Oiya mas, kenapa kesulitan melaksanakan lima (5) Sila atawa PANCASILA ?
    1. Tidak membunuh makhluk hidup apapunn juga.
    2. Tidak mengambil barang yang tidak diberikan.
    3.Tidak berbuat sex yang tidak benar.
    4. Tidak berucap dusta / kebohongan
    5. Tidak meminum minuman yang memabukkan dan tidak mengkonsumsi barang madat yang menyebabkan lemahnya kesadaran.

    Mari berpraktik PANCASILA mas ! 😉

    Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta!

  20. kangBoed said

    Weleh weleeeeeeh bisa bisa di rumah emBah Gundul ga disediain TOAK AREN ma rokok lagi ya hehehe… wah kalo jigongan nemenin si mBah cari wangsit gak seru lagi doooong gak bisa sambil mabuuk pingsan klepeeek klepeek mbari pinggul goyang goyang dengerin ndangdutan waaaaaaaah. piye toh iki ….
    Broooot..her Ratna hihihi… asyik pokone sampeyan berarti daaah santai yaaa dah balik ke kandang lagi hehehe bisa nemenin ngebanyol sambil jogetan hahaha yayaya sempeyan entu gempaaal kekaaaar kaya ade rai pancen oyyeee hihhihihi sapa nyang percaya sampeyan susah pergi kemana aja pasti di panggil booooos he he he
    hihihi broooooot…her yayaya bingung dah pokoknya salam sayang saja dari saya penuh cinta dan hmm… ya ya iyaaaaa sini tak cium gundulmu dari jauh hehehe… yayaya dua duanya sekalian broo Ratna and mbah Gundul ya tak cium gundule dari jauh dengan ciuman cinta dari hati yang sadang di mabuk asmara hihihi widiiiiiiiiiw geli aaaaah

  21. waaa…, uraiannya lengkap banget

  22. Bro Ratana
    Saya ada saran,karena tulisan Mas Ratana banyak yang sharing dan komentar, dan bahkan puluhan, saya punya usul jika setting komentar Mas Ratana diredesain.
    Salah satunya : buat tampilan komentar bertingkat dan grouping misalnya yang ditampilkan maksimal 10, 15 per page. Sisanya, di page selanjutnya. Setting saja di Pengaturan (Setting) –> diskusi (discussion) –> Break comments into pages with XX comments per page.
    Hanya sekadar saran.. karena isi + komentar yang panjang menyebabkan ketika membuka jadi lambat(maklum karena akses internet lambat). 😀
    Terima kasih.

    Mettacitena.

  23. …………..
    Dahulu ada seorang chinesse yang menjadi penjagal babi. Setiap hari dia membunuh babi dan membuat pisau goloknya menjadi merah. Kadang-kadang ia berpikir, “Mengapa aku harus melakukan ini? Setiap hari aku membunuh babi.” Dan dia berpikir, “Ini bukan karena aku sendiri ingin membunuh babi, tapi karena orang lain ingin memakannya (babi) dan membutuhkan babi dan inilah kemudian mengapa aku melakukannya.” dan akhirnya ia menjadi terhibur,karena tindakannya tidak terlalu jelek.

    Di tempat tinggal si penjagal ini terdapat Vihara yang cukup dekat dan di dalam vihara ini terdapat bell yang besar dan setiap pagi ketika bell ini berbunyi dia bangun dan pergi membunuh babi. Suatu pagi, dia ketiduran dan bangun terlambat dan ketika dia terlambat membunuh babinya, babi yang akan dibunuhnya barusan melahirkan 10 ekor anak babi. Setelah itu, karena tidak ada bunyi bell pada pagi tersebut, dia pergi ke vihara dan bertanya kepada kepala vihara, mengapa pada pagi ini tidak ada bell. Dan ketua vihara mengatakan kepadanya bahwa tadi malam ia bermimpi dan pada mimpinya ia bertemu 10 anak babi datang dan meminta pada Biksu tersebut, “Tolong selamatkan kami bersepuluh”. Dan kemudian biksu ini bertanya, “Bagaimana saya dapat menyelamatkan kalian?” Dan anak babi berkata,”Hanya satu hal yang kamu perlu lakukan yakni tidak membunyikan bell pada pagi hari ini dan kamu akan menyelamatkan kami semua”. Dan kemudian biksu ini berkata kepada penjagal ini, “Oleh karena itu, saya tidak membunyikan bell.”
    Ketika mendengar perkataan tersebut, perasaannya sangat tersentuh dan saat itu juga dia berhenti membunuh babi.

    Apa yang saya katakan adalah : bunyi bell dapat menjadi penyebab dari pembunuhan babi, dan oleh karena itu, adakalanya penyebab pembunuhan dapat juga terjadi karena hal-hal lain, sehingga kita harus tidak membunyikan “bell”, yang akan menyebabkan seseorang akan membunuh babi. Maka dengan hanya satu kondisi tidak akan menyebabkan masalah yang nyata.
    ………….
    (Ini merupakan 1/16 bagian dari Skrip Ceramah dari HH 17th Karmapa pada 3 Januari 2007 tentang Vegetarianisme di Bodhgaya – India.Semoga menambah referensi ceritera).

    Sarvamanggalam.

  24. kafir said

    “Mahakasyapa, sekarang Aku menyatakan dengan resmi bahwa sejak saat ini tidak satupun dari murid-muridku boleh makan daging dari makhluk hidup apapun! Jika kalian mengetahui hewan-hewan dibunuh untuk daging, tapi kita masih makan, kita sudah melakukan dosa pembunuhan.” ~ Sang Buddha

    “Jika masih ada orang bodoh yang memfitnah Saya, mengatakan bahwa Saya telah mengijinkan makan daging, Anda harus mengetahui bahwa ia akan terikat oleh akibat dari karma buruk dan turun ke tiga alam derita (neraka, setan kelaparan, binatang.)” ~ Sang Buddha

  25. berarti Daging manusia juga boleh dimakan ya…,? selam kita tidak mengetahui atau melihat siapa yang membunuh nya.

  26. Atjep thea said

    Saya orang muslim…muslim boleh memakan daging yang di sembelih..daging yg haram di makan BABI & ANJING

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: