RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

Archive for Oktober, 2009

PĀŢHA UNTUK UPACARA MANGGALA ( Upacara Memperoleh Berkah )

Posted by ratanakumaro pada Oktober 31, 2009

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattung (3X) )

Namatthu Buddhassa,

pemercikan air suci

pemercikan air suci

Rekan-rekan se-Dhamma yang berbahagia. Kita semua sebagai ummat Buddha mengetahui, bahwa Paritta (Pali) atau Paritrana (Sansekerta) dan pirit atau pirith menurut pengucapannya dalam bahasa Singhala merupakan suatu Perlindungan ( sesuai dengan makna dari kata “Paritta” itu sendiri ) bagi yang menguncarkannya dengan baik dan benar.

Paritta adalah khotbah Sang Buddha yang merupakan suatu perlindungan yang kuat bilamana bisa dihapal. Pada saat pengulangan Paritta, pikiran harus ditujukan, dipusatkan pada makna paritta tersebut sehingga pada saat itu kesadaran ( sati-sampajjana ) menjadi kuat, pikiran ( citta ) bersatu dengan kebajikan, bersih dari kilesa, penuh dengan cinta-kasih (metta) dan kebenaran (sacca). Mengulangi paritta menjadi sebuah pengkondisian untuk mempercepat masaknya buah kamma baik ( kusala-kamma-vipaka ) yang telah dibuat, sebaliknya buah kamma tidak baik ( akusala-kamma-vipaka ) akan terhambat masaknya, kecuali akusala-garuka-kamma-vipaka ( kamma buruk yang berat ; seperti membunuh orang tua, orang suci, dll. ). Inilah yang dimaksudkan dengan perlindungan dalam Paritta.

meja puja yang telah siap untuk Upacara

meja puja yang telah siap untuk Upacara

Kekuatan mengulangi Paritta atau membaca Paritta sangat tergantung adanya faktor berikut ini :

  1. Saddha, keyakinan yang kuat  terhadap Dhamma.
  2. Sila, memiliki moral yang baik.
  3. Metta, cinta kasih universal yang berkembang.
  4. Sacca, kebenaran dalam mengucapkan Dhamma.
  5. Vaca, pengucapan yang tepat dan hapal dengan baik.

Berkaitan dengan faktor yang kelima, yaitu “Vaca”, maka seseorang yang membaca Paritta seharusnya terlebih dahulu belajar / mempelajari cara-cara pengucapan paritta dengan baik dan benar. Sangatlah penting arti sebuah kata bahasa Pali pada saat pengucapannya, kata yang sama bila diucapkan dengan berbeda suara / penekanan akan menjadi lain sekali artinya.

Bila kelima faktor tersebut diatas dipenuhi, maka pembacaan dan penguncaran Paritta sesuai dengan maksud tujuan-tujuan tertentu, akan memberikan manfaat yang luar-biasa. Sebab, penguncaran Paritta merupakan ‘pemantik’ bagi bangkitnya tiga kekuatan besar dan tiada bandingnya di seluruh penjuru alam-semesta ini, yaitu kekuatan “Tiga-Mustika” (Ti-Ratana ) : Buddha-Dhamma-Sangha.  Tiada permata ataupun kekuatan apapun yang mampu menandingi Ti-Ratana, Tathagata yang dipuja oleh para manusia, dewa, naga, yakkha, gandhabba, dan juga bahkan para Brahma.

PĀŢHA UNTUK UPACARA MAŃGALA ( Upacara Memperoleh Berkah )

Pada kesempatan ini, saya hendak menyajikan Patha khusus yang sebaiknya dibaca pada saat upacara memperoleh berkah ; seperti misalnya  ketika membuka usaha / bidang-bisnis baru, kantor baru, demi berkah kejayaan, kebahagiaan, kesehatan, paras bagus, kekayaan, kekuatan, dan berbagai macam keberhasilan serta demi tujuan melenyapkan berbagai bentuk rintangan, halangan, gangguan ( baik yang tampak mata maupun tak tampak ), penderitaan, kesedihan, dan lain-lain sebagainya.

Saya sendiri sudah sering melakukan penguncaran Patha khusus untuk memperoleh berkah ini. Terakhir, pada hari Kamis 29 Oktober 2009 jam 19.00 WIB s/d 20.45 WIB kemarin, dalam acara upacara memperoleh berkah bagi kesuksesan dan keberhasilan sebuah usaha pabrikasi yang baru saja didirikan. Upacara seperti ini biasanya berlangsung selama kurang-lebih 1,5 jam hingga 2 jam .

meja puja untuk Upacara

meja puja untuk Upacara

Setelah mempersiapkan meja Puja-Bhakti, serta dimana ruangan dan para peserta (hadirin) yang hendak mengikuti Upacara telah siap-sedia, kita bisa memulai Upacara.

Patha khusus yang pertama kali harus dibaca adalah DEVATĀ – ĀRĀDHANĀ” , yang bertujuan untuk mengundang para dewa yang berada di segenap penjuru alam semesta , para yakkha, gandhabba, naga dan juga Brahma untuk hadir mengikuti jalannya upacara keagamaan ; mendengarkan Dhamma / Ajaran Sang Buddha.

Pembacaan Paritta

Pembacaan Paritta

Setelah penguncaran devata-aradhana tersebut selesai, maka terus menerus kita menguncarkan paritta-paritta khusus untuk tujuan perolehan berkah – saya lampirkan dibawah – dan setelah selesai  penguncaran Paritta, pemimpin upacara keagamaan memercikkan air-suci yang telah diuncari Paritta-Paritta khusus tersebut kepada para peserta upacara dan ke sekeliling tempat yang dimaksudkan untuk diberkati.

Dibawah ini adalah Patha-Patha khusus yang saya maksudkan untuk upacara ini, terdiri dari 22 Paritta / Patha / Gatha yang saya ambil dari sumber “PARITTA SUCI” terbitan Sangha Theravada Indonesia ( STI ), edisi II Pembaruan cetakan kedua (2008) , dicetak oleh Percetakan Bocah Marga Jaya, Bekasi.

Semoga Paritta / Patha /Gatha dibawah ini bermanfaat bagi anda semuanya. Selamat belajar dan berpraktek demi kebahagiaan dan kesejahteraan anda masing-masing. Sadhu , Sadhu, Sadhu. 😉

_____________________________________________

1. DEVATĀ – ĀRĀDHANĀ

Samantā cakkavālesu atrāgacchantu devatā, saddhamang munirājassa suņantu saggamokkhadang, sagge kāme ca rūpe girisikharataţe cantalikkhe vimāne, dīpe raţţhe ca gāme taruvana-gahane gehavatthumhi khette, bhummā cāyantu devā jalathala-visame yakkha-gandhabba-nāgā, tiţţhantā santike yang munivara-vacanang sādhavo me suņantu,

Dhammassavanakālo ayambhadantā,

Dhammassavanakālo ayambhadantā,

Dhammassavanakālo ayambhadantā.


Semoga para dewa yang berada di segenap alam semesta datang ke sini mendengarkan Ajaran Kebenaran Sang Buddha, Raja para bijaksanawan, yang membimbing ke surga dan ke kebebasan. Datanglah para dewa yang bersemayam di  surga, yang berada di tingkat alam nafsu atau pun di tingkat alam berbentuk; juga para dewa bumi yang bersemayam di vimāna ( tempat menyenangkan , tempat para dewa bersemayam ), atau di puncak gunung, di jurang, di angkasa, di pulau, di kota, di desa, di pepohonan, di hutan belukar, di sekitar rumah, atau di sawah-ladang ; juga para yakkha, gandhabba, dan naga yang bersemayam di perairan, daratan, atau pun di perbukitan. Silakan mereka yang berada di sekitar ini mendengarkan Sabda Sang Buddha, Raja para bijaksanawan, seperti berikut ini.

Para Budiman, sekarang tiba saatnya mendengarkan Dhamma,

Para Budiman, sekarang tiba saatnya mendengarkan Dhamma,

Para Budiman, sekarang tiba saatnya mendengarkan Dhamma

_____________________________________________

2. PUBBABHAGANAMAKARA


Namo tassa bhagavato arahato sammasambuddhassa.

(tikkhattung ; 3X )

Terpujilah Sang Bhagava, Yang Mahasuci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna.

_________________________________________________

3. SARAŅAGAMANA PATHA


Buddhang saranang gacchami

Dhammang saranang gacchami

Sanghang saranang gacchami



Dutiyampi Buddhang saranang gacchami

Dutiyampi Dhammang saranang gacchami

Dutiyampi Sanghang saranang gacchami



Tatiyampi Buddhang saranang gacchami

Tatiyampi Dhammang saranang gacchami

Tatiyampi Sanghang saranang gacchami


Aku berlindung kepada Buddha

Aku berlindung kepada Dhamma

Aku berlindung kepada Sanggha


Kedua kalinya aku berlindung kepada Buddha

Kedua kalinya aku berlindung kepada Dhamma

Kedua kalinya aku berlindung kepada Sanggha


Ketiga kalinya aku berlindung kepada Buddha

Ketiga kalinya aku berlindung kepada Dhamma

Ketiga kalinya aku berlindung kepada Sanggha

_________________________________________________

4. NAMAKĀRASIDDHI GĀTHA


Yo cakkhumā mohamalāpakattho

Sāmangva buddho sugato vimutto

Mārassa pāsā vinimocayanto

Pāpesi khemang janatang vineyyang.

Buddhang varantang sirasā namāmi

Lokassa nāthañca vināyakañca

Tantejasā te jayasiddhi hotu

Sabbantarāyā ca vināsamentu

Dhammo dhajo yo viya tassa satthu

Dassesi lokassa visuddhimaggang

Niyyāniko dhammadharassa dhārī

Sātāvaho santikaro suciņņo.

Dhammang varantang sirasā namami

Mohappadālang upasantadāhang

Tantejasā te jayasiddhi hotu

Sabbantarāyā ca vināsamentu.

Saddhammasenā sugatānugo yo.

Lokassa pāpūpakilesajetā

Santo sayang santiniyojako ca

Svaākkhāta-dhammang viditang karoti.

Sańghang varantang sirasā namāmi

Buddhānubuddhang samasīladiţţhing

Tantejasā te jayasiddhi hotu

Sabbantarāyā ca vināsamentu.


Sang Penglihat yang telah melenyapkan kegelapan,

Sebagai seorang Sambuddha, Sugata, yang telah bebas;

Membebaskan makhluk vineyya ( yang telah siap dibimbing untuk menuju ke kebebasan sejati ) dari jerat Mara si jahat, mengantarkan ke keselamaatan.

Aku bersujud kepada Sang Buddha nan mulia,

Sang Pelindung dan Pembimbing Dunia.

Berkat kekuatan ini, semoga kejayaan ada pada Anda,

Dan semoga segala rintangan lenyap adanya.

Dhamma bagaikan panji Sang Guru

Menunjukkan jalan kesucian kepada dunia,

Pengantar ke kebebasan, pelindung pelaksana Dhamma ;

Bila dilaksanakan, mendatangkan kebahagiaan dan kedamaian.

Aku bersujud kepada Dhamma nan mulia,

Pelenyap kebodohan, penakluk kobaran api nafsu (keserakahan dan kebencian)

Berkat kekuatan ini, semoga kejayaan ada pada Anda,

Dan semoga segala rintangan lenyap adanya.

Sanggha, laskar Dhamma, siswa Sang Sugata,

Penakluk keburukan si penoda makhluk dunia.

Mereka sendiri telah damai dan membimbing orang ke kedamaian.

Menunjukkan Dhamma yang telah dibabarkan oleh Sang Guru.

Aku bersujud kepada Sanggha nan mulia,

Yang telah mencapai penerangan setelah Sang Buddha,

Yang setaraf Sila dan pandangan-Nya.

Berkat kekuatan ini, semoga kejayaan ada pada Anda

Dan semoga segala rintangann lenyap adanya.

_________________________________________________

5. SACCAKIRIYA GĀTHĀ


Natthi me saranang annang,  Buddho me saranang varang

Etena saccavajjena,                      Sotthi te hotu sabbada.


Natthi me saranang annang,  Dhammo me saranang varang

Etena saccavajjena,                       Sotthi te hotu sabbada.


Natthi me saranang annang,  Sanggho me saranang varang

Etena saccavajjena,                       Sotthi te hotu sabbada.


Tiada perlindungan lain bagiku,

Sang Buddha-lah pelindungku nan luhur.

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga setiap saat Anda selamat sejahtera


Tiada perlindungan lain bagiku,

Dhamma-lah pelindungku nan luhur,

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga setiap saat Anda selamat sejahtera


Tiada perlindungan lain bagiku,

Sanggha-lah pelindungku nan luhur,

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga setiap saat Anda selamat sejahtera

_________________________________________________

6. MAHĀKĀRUŅIKONĀTHOTIĀDI GĀTHĀ


Mahākāruņiko nātho     Atthāya sabbapāņinang

Pūretvā pāramī sabba    Patto sambodhimuttamang

Etena saccavajjena          Mā hontu sabbupaddavā

Mahākāruniko nātho     Hitāya sabbapāņinang

Pūretvā pārami sabbā    Patto sambodhimuttamang

Etena saccavajjena          Mā hontu sabbupaddavā

Mahākāruniko nātho     Sukhāya sabbapāņinang

Pūretvā pāramī sabbā    Patto sambodhimuttamang

Etena saccavajjena          Mā hontu sabbupaddavā


Sang Pelindung yang mahawelas asih,

Setelah menyempurnakan semua paramita,

Mencapai Bodhi nan luhur atas usaha sendiri

Demi kepentingan semua makhluk.

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga semua musibah lenyap adanya.

Sang Pelindung yang mahawelas asih,

Setelah menyempurnakan semua paramita,

Mencapai Bodhi nan luhur atas usaha sendiri

Demi manfaat semua makhluk.

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga semua musibah lenyap adanya.

Sang Pelindung yang mahawelas asih,

Setelah menyempurnakan semua paramita,

Mencapai Bodhi nan luhur atas usaha sendiri

Demi kebahagiaan semua makhluk.

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga semua musibah lenyap adanya.

_______________________________________________

7. NAMOKĀRAŢŢHAKA GĀTHĀ


Namo arahato sammā-                  Sambuddhassa mahesino

Namo uttamadhammassa            Svākkhātasseva tenidha

Namo mahāsangghasssāpi          Visuddhasīladiţţhino

Namo omātyāraddhassa               Ratanatayassa sādhukang

Namo omakātītassa                        Tassa vatthuttayassapi

Namokārappabhāvena                  Vigacchantu upaddavā

Namokārānubhāvena                    Suvatthi hotu sabbadā

Namokārassa tejena                      Vidhimhi homi tejava


Sujudku pada Sang Arahanta,

Sammasambuddha, Penemu Kebajikan Maha-agung.

Sujudku pada Dhamma nan utama

yang telah dengan sempurna dibabarkan di dunia.


Sujudku pada Mahasangha,

yang ber-Sila dan berpandangan murni.

Semoga sujudku pada Ti-Ratana,

yang berawal dengan kata “AUM” mendatangkan keberhasilan.


Sujudku pada Ti-Ratana, yang terbebas dari kenistaan.

Dengan daya kata “AUM”, semoga semua rintangan lenyap.


Dengan kuasa kata “AUM”, semoga sejahtera selalu.

Dengan kekuatan kata “AUM”, semoga kekuatan saya ada pada upacara ini.

___________________________________________

8. MANGGALA SUTTA


Evamme sutang.

Ekang samayang bhgavā,

Sāvatthiyang viharati,

Jetavane anathapindikassa, ārāme.

 


Atha kho aññatara devatā,

Abhikantāya rattiyā abhikkantavannā,

Kevalakappang jetavanang obhasetvā

Yena bhagavā tenupassangkami.

 


Upasangkamitvā bhagavantang abhivādetvā

Ekamantang aţţhāsi.

Ekamantang ţhitā kho sā devatā

Bhagavantang gāthāya ajjhabhāsi :


Bahū devā manussā ca                  Mańgalani acintayung

Ākangkhamānā sotthānang           Brūhi mańgalamuttamang.

 


Asevanā ca bālānang                      Panditānañca sevanā

Pūjā ca pūjanīyānang                     Etammańgalamuttamang

 


Paţirūpadesavāso ca                      Pubbe ca katapuññatā

Attasammāpaņidhi ca                    Etammańgalamuttamang

 


Bāhusaccañca sippañca                 Vinayo ca susikkhito

Subhāsitā ca yā vācā                       Etamańgalamuttamang

 


Mātāpitu-upaţţhānang                 Puttadārassa sańgaho

Anākulā ca kammantā                   Etamańgalamuttamang

 


Dānañca dhammacariyā ca          Ñātakānañca sańgaho

Anavajjāni kammāni                      Etammańgalamuttamang

 


Āratī viratī pāpā                               Majjapānā ca saññamo

Appamādo ca dhammesu            Etammańgalamuttamang

 


Gāravo ca nivāto ca                         Santuţţhi ca kataññuta

Kālena dhammasavanang            Etamańgalamuttamang

 


Khanti ca sovacassatā                    Samaņānañca dassanang

Kālena dhammasākacchā             Etammańgalamuttamang

 


Tapo ca brahmacariyañca             Ariyasaccāna dassanang

Nibbānasacchikiriyā ca                  Etammańgalamuttamang

 


Phuţţhassa lokadhammehi         Cittang yassa na kampati

Asokang virajang khemang         Etammańgalamuttamang

 


Etādisani katvāna                            Sabbatthamaparājitā

Sabbattha sotthing gacchanti     Tantesang mańgalamuttamanti

 


Demikian telah saya dengar.

Pada suatu ketika Sang Bhagava

Berdiam di Jetavana,

Arama milik hartawan Anathapindika,

Di dekat kota Savatthi.


Saat itulah sesosok dewa, ketika hari menjelang pagi,

Dengan bercahaya cemerlang menerangi seluruh Jetavana,

Mengunjungi Sang Bhagava.

Setelah datang, menghormat Sang Bhagava,

Ia berdiri di satu sisi yang layak.


Dengan berdiri di satu sisi yang layak itulah,

Ia memohon Sang Bhagava dengan syair berikut ini :


Banyak dewa dan manusia

Yang mengharapkan kebahagiaan,

Mempersoalkan tentang berkah.

Mohon uraikan, apakah berkah utama itu.


Tak bergaul dengan orang-orang dungu,

Bergaul dengan para bijaksanawan,

Dan menghormat yang patut dihormat,

Itulah berkah utama.


Bertempat tinggal di tempat yang sesuai,

Memiliki timbunan kebajikan di masa lampau,

Dan membimbing diri dengan benar,

Itulah berkah utama.


Berpengetahuan luas, berketerampilan,

Terlatih baik dalam tata susila,

Dan bertutur kata dengan baik,

Itulah berkah utama.


Membantu ayah dan ibu,

Menunjang anak dan istri,

Dan bekerja dengan sungguh-sungguh,

Itulah berkah utama.


Berdana, melakukan kebajikan,

Menyokong sanak saudara,

Dan tidak melakukan pekerjaan tercela,

Itulah berkah utama.


Menjauhi, menghindari perbuatan buruk,

Menahan diri dari minuman keras,

Dan tak lengah melaksanakan Dhamma,

Itulah berkah utama.


Memiliki rasa hormat, berendah hati,

Merasa puas dengan yang dimiliki, ingat budi baik orang,

Dan mendengarkan Dhamma pada waktu yang sesuai,

Itulah berkah utama.


Sabar, mudah dinasehati,

Mengunjungi para petapa,

Dan membahas Dhamma pada waktu yang sesuai,

Itulah berkah utama.


Bersemangat dalam mengikis kilesa ( pengotor-batin ), menjalankan hidup suci,

Menembus Empat Kebenaran Mulia,

Dan mencapai Nibbana,

Itulah berkah utama.


Meski disinggung oleh hal-hal duniawi

Batin tak tergoyahkan,

Tiada sedih, tanpa noda, dan penuh damai,

Itulah berkah utama.


Setelah melaksanakan hal-hal seperti itu,

Para dewa dan manusia tak akan terkalahkan dimana pun,

Mencapai kebahagiaan dimana pun berada.

Itulah berkah utama bagi para dewa dan manusia.

___________________________________________________

9. RATANA SUTTA ( tiga bait terakhir saja )


Yānidha bhūtani samāgatani

Bhummāni vā yāniva antalikkhe.

Tathāgatang devamanussa-pūjitang

Buddhang namassāma suvatthi hotu

Yānidha bhūtani samāgatani

Bhummāni vā yāniva antalikkhe.

Tathāgatang devamanussa-pūjitang

Dhammang namassāma suvatthi hotu

Yānidha bhūtani samāgatani

Bhummāni vā yāniva antalikkhe.

Tathāgatang devamanussa-pūjitang

Sańghang namassāma suvatthi hotu


Makhluk apa pun yang berkumpul di sini,

Baik yang berada di bumi atau pun di angkasa ;

Marilah bersama-sama menghormat Sang Buddha,

Tathagata, yang dipuja para dewa dan manusia.

Makhluk apa pun yang berkumpul di sini,

Baik yang berada di bumi atau pun di angkasa ;

Marilah bersama-sama menghormat Dhamma,

Tathagata, yang dipuja para dewa dan manusia.

Makhluk apa pun yang berkumpul di sini,

Baik yang berada di bumi atau pun di angkasa ;

Marilah bersama-sama menghormat Sańgha

Tathagata, yang dipuja para dewa dan manusia.

_______________________________________________

10. KARAŅĪYAMETTA SUTTA


Karaņīyamatthakusalena

Yantang santang padang abhisamecca :

Sakko ujū ca suhujū ca

Suvaco cassa mudu anatimāni.

Santussako ca subharo ca

Appakicco ca sallahukavutti

Santindriyo ca nipako ca

Appagabbho kulesu ananugiddho.

Na ca khuddang samācare kiñci

Yena viññū pare upavadeyyung

Sukhino vā khemino hontu

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.

Ye keci pāņabhūtatthi

Tasā vā thāvarā vā anavasesā

Dīghā vā ye mahantā vā

Majjhimā rassakā aņukathūlā.

Diţţha vā ye ca adiţţhā

Ye ca dūre vasanti avidūre

Bhūtā vā sambhavesī vā

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.

Na paro parang nikubbetha

Nātimaññetha katthaci nang kañci

Byārosanā paţīghasaññā

Nāññamaññassa dukkhamiccheyya.

Mātā yathā niyang puttang

Āyusā ekaputtamanurakkhe.

Evampi sabbabhūtesu

Mānasambhāvaye aparimāņang.

Mettañca sabbalokasming

Mānasambhāvaye aparimānang

Uddhang adho ca tiriyañca

Asambādhang averang asapattang.

Tiţţhañcarang nisino vā

Sayāno vā yāvatassa vigatamiddho

Etang sating adhittheyya

Brahmametang vihārang idhamāhu.

Diţţhiñca anupagamma

Silavā dassanena sampanno

Kāmesu vineyya gedhang

Nahi jātu gabbhaseyyang punaretīti.


Inilah yang patut dikerjakan

Oleh ia yang tangkas dalam hal yang berguna,

Yang mengantar ke jalan kedamaian:

Sebagai orang yang cakap, jujur, tulus,

Mudah dinasehati, lemah-lembut, tidak sombong.

Merasa puas atas yang dimiliki, mudah dirawat,

Tidak repot, bersahaja hidupnya,

Berindria tenang, penuh pertimbangan,

Sopan, tak melekat pada keluarga-keluarga ;

Tidak berbuat kesalahan walaupun kecil

Yang dapat dicela oleh para bijaksanawan,

Senantiasa bersiaga dengan ujaran cinta kasih:

“Semoga semua makhluk berbahagia dan tenteram.

Semoga semua makhluk hidup bahagia.”

Makhluk hidup apa pun yang ada ;

Yang goyah ( yang gampang tergoyah oleh keinginan dan ketakutan )

Dan yang kokoh ( yang terkendali keinginan dan ketakutannya )

Tanpa kecuali

Yang panjang atau yang besar,

Yang sedang, pendek, kecil, kurus atau pun yang gemuk ;

Yang tampak atau pun yang tak tampak,

Yang berada jauh atau pun dekat,

Yang telah menjadi atau pun yang belum menjadi,

Semoga mereka semua hidup bahagia.

Tak sepatutnya yang satu menipu yang lainnya,

Tidak menghina siapa pun di mana juga ;

Dan, tak selayaknya karena marah dan benci

Mengharap yang lain celaka.

Sebagaimana seorang Ibu mempertaruhkan jiwa

Melindungi putra tunggalnya ;

Demikianlah terhadap semua makhluk,

Kembangkan pikiran cinta kasih tanpa batas.

Cinta kasih terhadap makhluk di segenap alam,

Patut dikembangkan tanpa batas dalam batin

Baik ke arah atas, bawah, dan diantaranya ( alam arupa, alam nafsu, dan diantaranya ( alam rupa ) ) ;

Tidak sempit, tanpa kedengkian, tanpa permusuhan.

Selagi berdiri, berjalan atau duduk

Ataupun berbaring, sebelum terlelap ;

Sepatutnya ia memusatkan perhatian ini

Yang disebut sebagai “berdiam dalam Brahma”.

Ia yang mengembangkan metta, tak berpandangan salah ( tak berpandangan salah terhadap nama-rupa ),

Teguh dalam Sila dan berpengetahuan sempurna,

Dan melenyapkan kesenangan nafsu indriya ;

Tak akan lahir dalam rahim lagi.

_______________________________________________

11. KHANDHA PARITTA


Virupakkhehi me mettang           Mettang erapathehi me

Chabyaputtehi me mettang        Mettang kanhagotamakehi ca.

 


Apadakehi me mettang                                Mettang dipadakehi me

Catuppadehi me mettang            Mettang bahuppadehi me

 


Ma mang apadako hingsi              Ma mang hingsi dipadako

Ma mang catuppado hingsi          Ma mang hingsi bahuppado

 


Sabbe satta sabbe pana                                Sabbe bhuta ca kevala

Sabbe bhadrani passantu             Ma kinci papamagama.

 


Appamāņo buddho

Appamāņo dhammo

Appamāņo sańgho

 


Pamanavantani siringsapani

Ahi vicchika satapadi unnanabhi sarabu musika.

Kata me rakkha kata me paritta

Patikkamantu bhutani.

 


Sohang namo bhagavato

Namo sattannang sammasambuddhanang.


Cinta kasihku pada suku ular Virupakkha.

Cinta kasihku pada suku ular Erapatha.

Cinta kasihku pada suku ular Chabyaputta.

Cinta kasihku pada suku ular Kanhagotamaka.

Cinta kasihku pada makhluk-makhluk tanpa kaki.

Cinta kasihku pada makhluk-makhluk berkaki dua.

Cinta kasihku pada makhluk-makhluk berkaki empat.

Cinta kasihku pada makhluk-makhluk berkaki banyak.

Semoga makhluk-makhluk tanpa kaki tak menyakitiku.

Semoga makhluk-makhluk berkaki dua tak menyakitiku.

Semoga makhluk-makhluk berkaki empat tak menyakitiku.

Semoga makhluk-makhluk berkaki banyak tak menyakitiku.

Segala makhluk, segala kehidupan,

Segala yang terlahir tanpa kecuali ;

Semoga semuanya mendapatkan kebaikan;

Janganlah ada dosa ( Pali : kesalahan, keburukan ; perbuatan jahat, kebencian, cacat )

Apa pun pada mereka.

Tak terbatas daya Sang Buddha!

Tak terbatas daya Dhamma!

Tak terbatas daya Sangha!

Segala makhluk melata, seperti :

Ular, ketungging, lipan, laba-laba, tokek, dan

Tikus adalah terbatas daya mereka.

Telah kubangun penjagaan. Telah kubangun perlindungan.

Silakan makhluk-makhluk menyingkir dengan damai!

Aku ini pemuja Sang Bhagava,

Pemuja Tujuh Sammasambuddha.

______________________________________________

12. VAŢŢAKA PARITTA


Atthi loke sīlaguno                         Saccang soceyyanuddayā

Tena saccena kāhāmi                     Saccakiriyama-nuttarang.

Āvajjitvā dhammabalang             Saritvā pubbake jine

Saccabalama-vassāya                     Saccakiriyama-kāsahang.

Santi pakkhā apattanā                   Santi pādā avañcanā

Mātā pitā ca nikkhantā                  Jātaveda paţikkama.

Saha sacce kate mayhang             Mahāpajjalito sikhī

Vajjesi solasa karīsāni                   Udakang patvā yathā sikkhī

Saccena me samo natthi               Esā me saccapāramiti


Di alam ini terdapat berkah Sila,

Berkah kebenaran, berkah kesucian, dan berkah kasih sayang.

Berdasarkan atas kebenaran ini,

Aku melakukan sumpah nan luhur.

Setelah merenungkan kekuatan Dhamma,

Mengenang para Penakluk di waktu lampau,

Dan mendasarkan pada kekuatan kebenaran ;

Aku bersumpah :

“Aku bersayap namun tak mampu terbang.

Aku berkaki tetapi tak dapat berjalan.

Ayah bundaku pun telah pergi.

Wahai Api Hutan, kembalilah!”

Di saat setelah aku membuat sumpah,

Kobaran jilatan api yang ganas

Seluas 16 karissa ( 1 karissa = 125 lengan; 1 lengan = 0,5 meter )

Berhenti serentak,

Bagaikan api yang tersiram air.

Tiada sesuatu apa pun yang setara dengan sumpahku.

Inilah sacca-paramita-ku.

_______________________________________________

13. BUDDHĀNUSSATI

 


Itipi so bhagava arahang sammasambuddho,

Vijjacarana-sampanno sugato lokavidu,

Anuttaro purisadhammasarathi,

Sattha devamanussanang, buddho bhagavati.


Karena itulah Sang Bhagava, Beliau adalah Yang Mahasuci, Yang telah Mencapai Penerangan Sempurna, Sempurna Pengetahuan serta Tindak-tanduk-Nya, Sempurna Menempuh Jalan ke Nibbana, Pengetahu Segenap Alam, Pembimbing Manusia yang Tiada Taranya, Guru para Dewa dan Manusia, Yang Sadar, Yang Patut Dimuliakan.

______________________________________________

14. DHAMMĀNUSSATI


Svakkhato bhagavata dhammo,

Sanditthiko akaliko ehipassiko,

Opanayiko paccattang veditabbo vinnuhiti.


Dhamma telah sempurna dibabarkan  oleh Sang Bhagava, terlihat amat jelas, tak bersela waktu, mengundang untuk dibuktikan, patut diarahkan ke dalam batin, dapat dihayati oleh para bijaksanawan dalam batin masing-masing.

_______________________________________________

15. SAŃGHĀNUSSATI



Supaţipanno bhagavato sāvakasańgho,

Ujupaţipanno bhagavato sāvakasańgho,

Ñayapatipanno bhagavato savakasańgho,

Sāmīcipaţipanno bhagavato sāvakasańgho,

Yadidang cattāri purisayugāni aţţhapurisapuggalā,

Esa bhagavato sāvakasańgho,

Āhuneyyo pāhuneyyo dakkhineyyo añjalikaraņiyo,

Anuttarang puññakhettang lokassāti.


Sangha siswa Sang Bhagava telah bertindak baik,

Sangha siswa Sang Bhagava telah bertindak lurus,

Sangha siswa Sang Bhagava telah bertindak benar,

Sangha siswa Sang Bhagava telah bertindak patut,

Mereka adalah empat pasang makhluk , terdiri dari delapan jenis makhluk suci (Ariya-Sangha)

Itulah Sangha Siswa Sang Bhagava ;

Patut menerima pujaan, patut menerima sambutan,

Patut menerima persembahan, patut menerima penghormatan;

Ladang menanam jasa yang tiada taranya bagi makhluk dunia.

_______________________________________________

16. BOJJHAŃGA PARITTA



Bojjhańgo satisańkhāto                                Dhammānang vicayo tathā

Viriyampīti-passadhi-                    Bojjhańgā ca tathāpare.

Samādhupekkhabojjhańgā          Sattete sabbadassinā

Muninā sammadakkhātā              Bhāvitā bahulīkatā.

Sangvattanti abhiññaya                Nibbānāya ca bodhiyā

Etena saccavajjena                          Sotthi te hotu sabbadā.

 


Ekasming samaye nātho               Moggallānañca kassapang

Gilāne dukkhite disvā                   Bojjhańge satta desayi

Te ca tang abhinanditvā                Rogā muccingsu tangkhaņe

Etena saccavajjena                          Sotthi te hotu sabbadā.

 


Ekadā dhammarājāpi                     Gelaññenābhipīlito

Cundattherena taññeva               Bhaņāpetvāna sādarang.

Sammoditvā ca ābādhā                 Tamha vuţţhāsi ţhānaso

Etena saccavajjena                          Sotthi te hotu sabbadā.

 


Pahīnā te ca ābādhā                       Tiņņannampi mahesinang

Maggāhatakilesā va                        Pattānuppatti-dhammatang

Etena saccavajjena                          Sotthi te hotu sabbadā.


Faktor-faktor untuk mencapai Penerangan adalah :

Sati, dahmmavicaya,

Virya, piti, dan passaddhi.

Faktor lainnya lagi adalah :

Samadhi dan upekkha.

Ketujuh faktor ini telah diajarkan dengan jelas

Oleh Sang Maha Muni, Yang Mahatahu.

Bila dikembangkan dan dilatih

Menghasilkan pengetahuan luhur, kepadaman kilesa

Dan Penerangan Sempurna.

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga Anda sejahtera selalu.

Pada suatu ketika, Sang Pelindung

Menjenguk Yang Ariya Moggallana dan Yang Ariya Kassapa

Yang sedang menderita sakit.

Beliau membabarkan Tujuh Faktor Pencapaian Penerangan.

Beliau berdua merasa gembira atas pembabaran itu

Dan sembuh dari sakit di saat itu pula.

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga Anda sejahtera selalu.

Suatu ketika, Sang Dhammaraja sendiri

Menderita sakit,

Meminta Yang Ariya Cunda Thera

Mengulang Sutta itu dengan seksama

Beliau merasa gembira

Dan sembuh dari sakit itu.

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga Anda sejahtera selalu.

Penyakit telah dimusnahkan

Oleh ketiga petapa agung tersebut,

Yang telah mencapai ketidak-munculan secara tetap ;

Bagai kilesa yang telah dimusnahkan oleh Sang Jalan.

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga Anda sejahtera selalu.

_______________________________________________

17. ĀŢĀNĀŢIYA PARITTA



Vipassissa namatthu                      Cakkhumantassa sirimato.

Sikhissapi namatthu                       Sabbabhūtā-nukampino.

Vessabhussa namatthu                 Nhātakassa tapassino.

Namatthu kakusandhassa            Mārasenap-pamaddino.

Konāgamanassa namatthu          Brāhmanassa vusīmato.

Kassapassa namatthu                    Vippamuttassa sabbadhi.

Ańgirasassa namatthu                   Sakyaputtassa sirīmato

Yo imang dhmmamadesesi         Sabbadukkhā-panūdanang.

Ye cāpi nibbutā loke                      Yathābhūtang vipassisung

Te janā apisunā                                                Mahantā vītasāradā.

Hitang devamanussānang           Yang namassanti gotamang

Vijjācaraņa-sampannang              Mahantang vītasāradang

Vijjācaraņa-sampannang              Buddhang vandāma gotamanti


Sujudku kepada Sang Buddha Vipassi,

Pemilik penglihatan dan keagungan.

Sujudku kepada Sang Buddha Sikhi,

Pengasih semua makhluk.

Sujudku kepada Sang Buddha Vessabhu,

Pembersih noda, pelaksana tapa.

Sujudku kepada Sang Buddha Kakusandha,

Penghancur Mara beserta bala tentaranya.

Sujudku kepada Sang Buddha Konagamana,

Penghanyut keburukan, pencapai kesucian.

Sujudku kepada Sang Buddha Kassapa,

Yang terbebas dari segala kilesa.

Sujudku kepada Sang Buddha Angirasa,

Putra Sakya nang Agung,

Yang telah membabarkan Dhamma ini,

Untuk melenyapkan semua dukkha.

Mereka-mereka yang mencapai padamnya kilesa di dunia ini,

Melihat dengan jelas Dhamma sebagaimana adanya;

Adalah orang-orang yang bukan penghasut,

Sebagai manusia besar, yang matang dalam kebijaksanaan.

Demi manfaat,

Para dewa dan manusia memuji Sang Buddha Gotama,

Yang sempurna pengetahuan dan tindak-tanduk-Nya,

Sebagai manusia besar yang matang dalam kebijaksanaan.

Kami bersujud kepada Sang Buddha Gotama,

Yang sempurna pengetahuan dan tindak-tanduk-Nya.

_______________________________________________

18. JAYA PARITTA


Jayanto bodhiyā mūle                   Sakyānang nandivaddhano

Evang tvang vijayo hohi              Jayassu jayamańgale

Aparājitapallańke                             Sīse paţhavipokkhare

Abhiseke sabbabuddhānang     Aggappatto pamodati.

Sunakkhattang sumańgalang   Supabhātang suhuţţhitang

Sukhaņo sumuhutto ca                 Suyiţţhang brahmacārisu.

Padakkhiņang kāyakammang  Vācākammang padakkhinang

Padakkhiņang manokammang  Paņidhi te padakkhinā

Padakkhiņāni katvāna                     Labhantatthe padakkhiņe.


Semoga Anda memperoleh berkah kejayaan ;

Sebagaimana Mahabijaksanawan

Yang berjaya atas Mara di bawah poho Bodhi,

Mencapai kejayaan yang unggul di antara para Buddha,

Yang berbahagia di atas tahta nan mulia dan tak terkalahkan,

Yang perkasa di maha pertiwi, pembawa suka-cita kaum Sakya.

Saat berbuat baik ; itulah neptu yang baik, berkah yang baik,

Fajar yang terang, bangun tidur yang ceria,

Waktu yang baik, saat yang baik,

Dan disebut telah memuja para suciwan dengan baik.

Setelah melakukan kebaikan-kebaikan , yaitu :

Bertindak baik,

Berucap baik,

Berpikir baik,

Berpengharapan baik,

Pahala-pahala baiklah yang akan diperoleh.

_______________________________________________

19. ABHAYA PARITTA



Yandunnimittang avamańgalañca,

Yo cāmanāpo sakuņassa saddo,

Pāpaggaho dussupinang akantang,

Buddhānubhāvena vināsamentu.

Yandunnimittang avamangalañca,

Yo cāmanāpo sakuņassa saddo

Pāpaggaho dussupinang akantang

Dhammānubhāvena vināsamentu.

Yandunnimittang avamangalañca

Yo cāmanāpo sakuņassa saddo

Pāpaggaho dussupinang akantang

Sańghānubhāvena vināsamentu.


Tanda-tanda jelek dan hal yang tak menyenangkan apa pun,

Juga suara-suara burung yang tak mengenakkan hati,

Si pembawa malapetaka, dan mimpi buruk yang tak dikehendaki ;

Berkat kekuatan Buddha, semoga semuanya lenyap.

Tanda-tanda jelek dan hal yang tak menyenangkan apa pun,

Juga suara-suara burung yang tak mengenakkan hati,

Si pembawa malapetaka, dan mimpi buruk yang tak dikehendaki ;

Berkat kekuatan Dhamma, semoga semuanya lenyap.

Tanda-tanda jelek dan hal yang tak menyenangkan apa pun,

Juga suara-suara burung yang tak mengenakkan hati,

Si pembawa malapetaka, dan mimpi buruk yang tak dikehendaki ;

Berkat kekuatan Sangha, semoga semuanya lenyap.

_______________________________________________

20. DEVATĀ-UYYOJANA GĀTHĀ



Dukkhappattā ca niddukkhā       Bhayappattā ca nibbhayā

Sokappattā ca nissokā                   Hontu sabbepi pāņino.

Ettāvatā ca amhehi                         Sambhatang puññasampadang

Sabbe devānumodantu                                Sabbasampatti-siddhiyā.

Dānang dadantu saddhāya          Silang rakkhantu sabbadā

Bhāvanābhirata hontu                   Gacchantu devatāgatā

Sabbe buddhā balappattā            Paccekānañca yang balang

Arahantānañca tejena                   Rakkhang bandhāmi sabbaso.


Semoga semua makhluk

Yang tertimpa duka terlepas dari duka ;

Yang tercekam ketakutan terbebas dari ketakutan ;

Yang terundung kesedihan terhindar dari kesedihan.

Semoga para dewa turut bersukacita

Atas timbunan kebajikan

Yang telah kami timbun sebanyak ini

Demi keberuntungan dan keberhasilan.

Berdanalah dengan penuh keyakinan!

Rawatlah Sila setiap saat!

Gemarlah mengembangkan batin!

Para dewa yang telah datang dipersilakan kembali!

Dengan kekuatan para Buddha

Beserta kekuatan para Pacceka Buddha,

Dan dengan daya para Arahanta seluruhnya ;

Aku membuat perlindungan.

________________________________________________

21. BUDDHAJAYAMAŃGALA GĀTHĀ



Bahung sahassama-bhinimmita-sāvudhantang

Grīmekhalang uditaghora-sasenamārang

Dānādi-dhammavidhinā jitavā munindo

Tantejasā bhavatu te jayamańgalāni.


Mārātirekama-bhiyujjhita-sabbaratting

Goram-panālavakamak-khamathaddha-yakhang

Khantīsudanta-vidhinā jitavā munindo

Tantejasā bhavatu te jayamangalāni.


Nālāgiring gajavarang atimattabhūtang

Dāvaggi-cakkamasanīva sudāruņantang

Mettambu-sekavidhinā jitavā munindo

Tantejasā bhavatu te jayamańgalāni.


Ukkhitta-khaggamatihattha-sudāruņantang

Dhāvan-tiyojana-pathańguli-mālavantang

Iddhī-bhisańkhata-mano jitavā munindo

Tantejasā bhavatu te jayamangalāni.


Katvāna kaţţhamu-darang iva gabbhinīyā

Ciñcāya duţţhavacanang janakāya-majjhe

Santena somavidhinā jitavā munindo

Tantejasā bhavatu te jayamańgalāni.


Saccang vihāya matisaccaka-vādaketung

Vādābhiropita-manang atiandha-bhūtang

Paññapadipa-jalito jitavā munindo

Tantejasā bhavatu te jayamańgalāni.


Nandopananda-bhujagang vibudhang mahiddhing

Puttena therabhujagena damāpayanto

Iddhūpadesa-vidhinā jitavā munindo

Tantejasā bhavatu te jayamańgalani.


Duggāha-diţţhi-bhujagena sudaţţha-hatthang

Brahmang visuddhi-jutimiddhi-bakābhidhānang

Ñāņāgadena vidhinā jitavā munindo

Tantejasā bhavatu te jayamańgalāni.


Etāpi buddha-jayamańgala-aţţhagāthā

Yo vācano dinadine sarate matandi

Hitvānaneka-vividhāni cupaddavāni

Mokkhang sukkhang adhigameyya naro sappañño.


Dengan seribu tangan yang masing-masing memegang senjata,

Dengan menunggang gajah Girimekhala ; Mara bersama pasukannya meraung menakutkan.

Raja para Bijaksanawan menaklukkannya dengan kebajikan,

Dana-paramita.

Dengan kekuatan ini semoga Anda mendapat berkah Kejayaan.

Lebih dari Mara yang membuat onar sepanjang malam

Adalah Yakkha Alavaka yang menakutkan, bengis dan beringas.

Raja para Bijaksanawan menaklukkannya dengan kesabaran.

Dengan kekuatan ini, semoga Anda mendapat berkah kejayaan.

Nalagiri, gajah mulia yang menjadi mabuk dan garang,

Sangat kejam bagaikan api hutan, bagai senjata cakra dan bak halilintar.

Raja para Bijaksanawan menaklukkannya dengan percikan cinta-kasih.

Dengan kekuatan ini semoga Anda mendapat berkah kejayaan.

Dengan pedang terhunus di tangan yang kokoh kuat,

Angulimala yang kejam, dengan berkalung untaian jari berlari mengejar sepanjang jalan tiga yojana.

Raja para Bijaksanawan menaklukkannya dengan kemampuan pikiran sakti yang mengagumkan.

Dengan kekuatan ini semoga Anda mendapat berkah Kejayaan.

Setelah memperbesar perutnya dengan potongan kayu laksana wanita hamil, Cinca memfitnah di tengah-tengah banyak orang.

Raja para Bijaksanawan menaklukkannya dengan keteguhan nan luhur, yakni kedamaian batin.

Dengan kekuatan ini, semoga Anda mendapat berkah kejayaan.

Saccaka, terbiasa berkata menyimpang dari kebenaran,

Dengan pikiran buta, mengibarkan pahamnya laksana panji.

Raja para Bijaksanawan menaklukkannya dengan terangnya pelita kebijaksanaan.

Dengan kekuatan ini, semoga Anda mendapat berkah kejayaan.

Nandopananda, naga berkesaktian tinggi berpengertian salah.

Raja para Bijaksanawan menaklukkannya dengan petunjuk kekuatan sakti kepada Moggalana Thera, menyuruh Sang Putra menjelma menjadi naga menjinakkannya.

Dengan kekuatan ini semoga Anda mendapat berkah kejayaan.

Bagaikan ular yang melilit lengan, demikian pandangan salah dimiliki oleh Brahma Baka yang sakti,

Yang beranggap diri bersinar cemerlang karena kescuian.

Raja para Bijaksanawan menaklukkannya dengan pengetahuan.

Dengan kekuatan ini semoga Anda mendapat berkah kejayaan.

Inilah delapan syair kemenangan sempurna Sang Buddha,

Yang patut dibaca dan direnungkan setiap hari tanpa rasa malas.

Setelah mengatasi aneka macam rintangan,

Orang bijaksana mencapai kebebasan dan kebahagiaan.

_______________________________________________

22. CULAMAŃGALACAKKAVĀLA GĀTHĀ



Sabbabuddhā-nubhāvena

Sabbadhammā-nubhāvena

Sabbasańghā-nubhāvena


Buddharatanang

Dhammaratanang

Sangharatanang

Tiņņang ratanānang ānubhāvena


Caturāsīti-sahassa-dhammakkhandhā-nubhāvena

Piţakattayānubbhavena

Jinasavakanubhāvena


Sabbe te rogā

Sabbe te bhayā

Sabbe te antarāyā

Sabbe te upaddavā

Sabbe te dunnimitā

Sabbe te avamańgalā vinassantu.


Āyuvaddhako

Dhanavaddhako

Sirivaddhako

Yasavaddhako

Balavaddhako

Vannavaddhako

Sukhavaddhako

Hotu sabbadā.


Dukkharogabhayā verā                 Sokā sattu cupaddavā

Anekā antarāyāpi                            Vinassantu ca tejasā.


Jayasiddhi dhanang lābhang       Sotthi bhāgyang sukhang balang

Siri āyu ca vanno ca                         Bhogang vuddhī ca yasavā

Satavassā ca āyū ca                         Jīvasiddhī bhavantu te.


Bhavatu sabbamańgalang            Rakkhantu sabbadevatā.

Sabbabuddhā-nubhāvena           Sadā sotthī bhavantu te.


Bhavatu sabbamańgalang            Rakkhantu sabbadevatā

Sabbadhammā-nubhāvena         Sadā sotthi bhavantu te.


Bhavatu sabbamańgalang            Rakkhantu sabbadevatā

Sabbasańgha-nubhāvena             Sadā sotthī bhavantu te.



Dengan kekuatan semua Buddha,

Dengan kekuatan semua Dhamma,

Dengan kekuatan semua Sangha ;

Dengan kekuatan ketiga Mustika :

Mustika Buddha,

Mustika Dhamma,

Mustika Sangha ;

Dengan kekuatan delapanpuluh empat ribu kelompok Dhamma,

Dengan kekuatan Tipitaka,

Dengan kekuatan siswa-siswa Sang Pemenang ;

Semoga semua penyakit,

Semua ketakutan,

Semua rintangan,

Semua musibah,

Semua tanda-tanda jelek,

Semua malapetaka Anda ;

Menjadi lenyap adanya.

Semoga Anda senantiasa berusia panjang,

Berkekayaan melimpah,

Berkemuliaan luhur,

Berkedudukan terhormat,

Berkekuatan besar,

Berparas bagus, dan

Berkebahagiaan dalam.

Semoga penderitaan, penyakit, rasa takut, permusuhan,

Kesedihan, seteru, musibah,

Serta segala macam rintangan apa pun ;

Semua lenyap berkat kekuatan ini.

Semoga kemenangan, keberhasilan, harta, keuntungan,

Keselamatan, keberuntungan, kebahagiaan, kekuatan,

Kemakmuran, panjang umur, paras bagus,

Kesejahteraan, kemajuan, kedudukan,

Usia seratus tahun, dan keberhasilan hidup ;

Ada pada Anda.

Semoga jadilah semua berkah kebaikan.

Semoga semua dewa melindungi.

Dan, dengan kekuatan semua Buddha,

Semoga kesejahteraan selalu ada pada Anda.

Semoga jadilah semua berkah kebaikan.

Semoga semua dewa melindungi.

Dan, dengan kekuatan semua Dhamma,

Semoga kesejahteraan selalu ada pada Anda.

Semoga jadilah semua berkah kebaikan.

Semoga semua dewa melindungi.

Dan, dengan kekuatan semua Sangha,

Semoga kesejahteraan selalu ada pada Anda.

__________________________________________

Demikianlah, saudara-saudari se-Dhamma. Marilah kita mempraktikkan Dhamma dengan sebaik-baiknya. Menguncarkan Paritta dengan baik dan benar adalah merupakan salah satu praktik Dhamma yang menunjang ketenangan dan kejernihan batin kita , mengkondisikan bagi berbuahnya kamma-kamma baik masa lampau dan menghambat bagi berbuahnya kamma-kamma buruk kita di waktu lalu.

Semoga Membawa Manfaat 😉

______________________________________________

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )


Upacarika RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Sabtu, 31 Oktober 2009

Posted in Acara Ummat Buddha, Berita Buddhis, BUDDHA, Upacara Keagamaan | 10 Comments »

ACARA RAPAT TRIWULANAN GABUNGAN PD & PC MAGABUDHI WILAYAH JAWA-TENGAH

Posted by ratanakumaro pada Oktober 26, 2009

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattum (3X) )

Namatthu Buddhassa,

Pembukaan ; Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

Pembukaan ; Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

Salam hangat untuk rekan-rekan se-Dhamma di manapun anda berada. Sungguh merupakan suatu kebahagiaan berjumpa lagi dengan anda-anda semua. Kali ini, saya menyapa anda-anda semua dengan sebuah artikel laporan acara “Rapat Triwulanan Gabungan PD & PC MAGABUDHI ( Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia )  Wilayah Jawa-Tengah” yang diselenggarakan pada hari Minggu, tanggal 25 Oktober 2009 di kantor Pengurus Daerah MAGABUDHI Wilayah Jawa-Tengah di Vihara Tanah-Putih Semarang.

pembukaan2

Khusyuk membaca Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

Acara ini dihadiri oleh perwakilan Romo dan Ramani ( Romo Wanita ) dari seluruh wilayah Jawa-Tengah ; yang terdiri dari para Upacarika, Pandhita Muda dan para Pandhita Madya.  Saya sendiri, hadir mewakili PC MAGABUDHI Vihara Tanah-Putih Semarang bersama dengan rekan saya, Romo Vijayo. Keanggotaan saya dalam jajaran Romo-Romo MAGABUDHI secara resmi telah disahkan oleh Pengurus Pusat (PP) MAGABUDHI semenjak tanggal 02 Agustus 2009, dengan nomor keanggotaan : 2768/JTG/Upc/2009 , dengan jabatan : Upacarika ( dengan wewenang untuk memimpin Upacara Kebaktian, dan Upacara Keagamaan lainnya ).

Total peserta yang hadir dan mengikuti acara hingga selesai kurang-lebih adalah 20 orang yang terdiri dari Romo dan Ramani Magabudhi wilayah Jawa-Tengah.

pembukaan3

menguncarkan Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

Topik yang dibahas dalam Rapat Triwulanan Gabungan PD & PC MAGABUDHI Wilayah Jawa-Tengah kali ini adalah =

1. Evaluasi Program Kerja Pelatihan Pembacaan Palivacana.

2. Sosialisasi tentang Tata-cara Perkawinan dalam Agama Buddha dan Sosialisasi UU. No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan PP No.9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan.

3. Agenda Program Kerja tahun 2010 : Diskursus tentang Arti dan Penggunaan Paritta, yang akan dibimbing oleh YM. Bhante Dhammadiro Maha-Thera.

Acara Rapat MAGABUDHI ini, dimulai jam 10.30 WIB. Sebenarnya, dalam undangan yang disebarkan, rapat akan dimulai pada pukul 09.00 WIB, namun dikarenakan para pengurus cabang dari daerah-daerah mengalami kendala dalam tranpsortasi, sehingga acara menjadi diundur dan dimulai jam 10.30 WIB. Meski, pada jam tersebut, masih banyak pula pengurus-pengurus cabang Magabudhi wilayah Jawa-Tengah yang belum hadir.

Romo Warto & Romo Sugianto

Romo Warto (kiri) & Romo Sugianto (kanan)

MAGABUDHI Wilayah Jawa-Tengah terdiri dari tiga-puluh (30) Pengurus Cabang. Hampir seluruh wilayah Kabupaten / Kota bisa ditemukan pengurus cabang Magabudhi ; kecuali di wilayah Purbalingga, Sragen, dan Pemalang yang hingga kini belum ada perwakilan Magabudhi disana.

SESI PERTAMA

Sesi ini diisi dengan topik Evaluasi Program Kerja Pelatihan Palivacana yang telah diselenggarakan oleh Pengurus Magabudhi beserta seluruh elemen “Keluarga Buddhis Theravada Indonesia” ( KBTI ) selama tahun 2009 ini.

Sesi ini menjadi cukup seru, karena diawali dengan penjelasan dari Romo Sugianto , bahwa di lapangan sering dijumpai hal-hal “mistis” sehubungan dengan pembacaan Paritta, terutama Paritta “DEVATA-ARADHANA” .

Romo Sugianto

Romo Sugianto

Paritta “DEVATA-ARADHANA” ini , memang merupakan paritta khusus yang diuncarkan untuk mengundang seluruh Dewa dari segala penjuru alam-semesta, termasuk para Brahma, para dewa yang bersemayam di surga, yang berdiam di alam kamadhatu, juga para Dewa Bumi yang bersemayam di vimana atau di puncak gunung, di jurang, di angkasa, di pulau, di kota, di desa, di pepohonan, di hutan belukar, di sekitar rumah, atau di sawah-ladang, juga mengundang para Yakkha, Gandhabba, dan Naga yang bersemayam di perairan, di daratan, atau pun di perbukitan ; mereka semua di undang dengan tujuan untuk bersama-sama dengan khusyuk mengikuti jalannya Puja-Bhakti dan mendengarkan Dhamma yang dibabarkan Sang Buddha demi berkah kesejahteraan dan keselamatan bersama.

sessi I ; sharing dan tanya-jawab seputar Paritta

sessi I ; sharing dan tanya-jawab seputar Paritta

Masing-masing Romo dan Ramani mulai menceritakan kisah-kisah pengalaman mistisnya masing-masing. Saya sendiri memilih untuk menjadi pendengar yang baik saja 😉  ,   sembari terkadang menjawab pertanyaan dari rekan saya dari PC MAGABUDHI Vihara Tanah-Putih Semarang, yaitu Romo Vijayo.

Satu pertanyaan yang sempat muncul adalah, bila dengan Devata-Aradhana kita semua mengundang para Dewa dan Brahma , maka, bagaimana cara mempersilakan pulang kepada para Dewa dan Brahma, bila  acara puja-bhakti / atau acara keagamaan lainnya yang dilangsungkan tersebut telah selesai dilaksanakan ? Dalam kesempatan ini, saya berkesempatan menjawab pertanyaan tersebut, dengan menunjukkan adanya satu Gatha ( dimana jawaban saya tersebut semakin ditegaskan / dikonfirmasikan pula oleh Romo Pdt.Mdy. Warto ( Wakil Ketua Magabudhi PD Jawa-Tengah )  yang menunjukkan Gatha tersebut dalam Paritta ) yang sebaiknya dibaca untuk mempersilakan para Dewa, Brahma, Yakkha, Gandhabba, Naga, untuk kembali ke alamnya masing-masing.  Gatha yang baik dibaca untuk keperluan ini adalah “DEVATA-UYYOJANA GATHA”. Dalam terjemahan Gatha tersebut, ada satu kalimat yang dengan explisit menyatakan , “.. Para dewa yang telah datang dipersilakan kembali!” .  Dan setelah dibacakan “Devata-Uyyojana Gatha” tersebut, para Dewa, Brahma, termasuk para Dewa-Bumi, Yakkha, Gandhabba, Naga, akan berurutan kembali ke alam mereka masing-masing.

Romo Vijayo PC Magabudhi Vihara Tanah Putih Semarang

Romo Vijayo PC Magabudhi Vihara Tanah Putih Semarang

SESI II

Acara sharing mengenai pengalaman membaca Paritta ini terus bergulir cukup lama, hingga kurang lebih jam 11.45 WIB topik baru berganti ke topik berikutnya, yaitu membahas mengenai ” Sosialisasi tentang Tata-cara Perkawinan dalam Agama Buddha dan Sosialisasi UU. No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan PP No.9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan” .

Romo Sugiyanto menerangkan tentang Surat Keterangan Nikah dari Magabudhi

Romo Sugianto menerangkan tentang Surat Keterangan Nikah dari Magabudhi

Disini Romo Sugianto memberi penjelasan, bahwa di masa lalu banyak terjadi kesalahan, yaitu pasangan suami-istri Buddhis yang setelah menikah tidak dicatat di dalam Kantor Pencatatan-Sipil, tetapi hanya sekedar dinikahkan oleh Pandhita. Sehingga, mereka tidak mempunyai keterangan resmi dari negara bahwa mereka adalah pasangan yang telah benar-benar menikah dan sah secara negara ; artinya mereka hanya sah secara agama.

Untuk itulah, Romo Sugianto mensosialisasikan, bahwa mengenai hak bagi ummat Buddha yang menikah untuk dicatat dalam Kantor Pencatatan Sipil Pemda setempat, telah diatur dalam UU No.1 tahun 1974 dan PP No.9 tahun 1975.

Romo Sugiyanto mensosialisasikan Surat Keterangan Nikah yang diterbitkan Magabudhi

Romo Sugianto mensosialisasikan Surat Keterangan Nikah yang diterbitkan Magabudhi

Dikarenakan telah terlanjur banyak pasangan suami-istri Buddhis yang menikah dan beranak-cucu tetapi belum dicatat dalam Kantor Pencatatan-Sipil Pemda setempat, maka, Magabudhi Jawa-Tengah berencana membuat program “Kawin-Massal” bagi para pasangan suami-istri dari puluhan tahun yang lalu yang telah beranak-cucu namun belum mendapat surat keterangan resmi dari negara.

Dalam kesempatan ini pula, Romo Sugianto mensosialisasikan adanya Akta khusus yang akan diterbitkan oleh pengurus-pengurus cabang Magabudhi bagi para pasangan suami-istri yang menikah. Akta ini sah dan resmi secara agama, sebab resmi dikeluarkan oleh Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia ( MAGABUDHI ), dimana di dalam akta tersebut secara resmi pula diketahui oleh Pandhita yang menikahkan dan ditandatangani oleh Pengurus Cabang setempat.

SESI III

Setelah selesai membahas topik II ini, acara berlanjut kepada pembahasan topik III , yaitu ” Agenda Program Kerja tahun 2010 : Diskursus tentang Arti dan Penggunaan Paritta, yang akan dibimbing oleh YM. Bhante Dhammadiro Maha-Thera “ yang memang ahli dalam bahasa Pali ( Beliau menempuh pendidikannya di Thailand hingga level 7 ).

Program kerja tersebut merupakan kelanjutan dari program kerja yang sebelumnya ( Pelatihan Pembacaan Palivacana ).  Pelatihan-pelatihan seperti ini merupakan keuntungan bagi ummat Buddha, sebab dengan begini ummat Buddha bisa mengetahui bagaimana cara membaca Paritta dengan baik dan benar sesuai yang seharusnya serta mengetahui manfaat-manfaat dari masing-masing khotbah Sang Buddha yang dibaca / atau diuncarkan tersebut.

ISTIRAHAT MAKAN SIANG DAN PENUTUPAN

Selesai pembahasan ketiga topik rapat tersebut, barulah masuk pada sesi istirahat dan makan siang, kurang lebih jam 13.00 WIB.

Istirahat dan Makan Siang jam 13.00 WIB

Istirahat dan Makan Siang jam 13.00 WIB

Selesai makan, acara memasuki sesi penutupan, dengan mereview pokok-pokok yang telah dibahas selama rapat berlangsung. Dalam kesempatan ini juga diambil kesepakatan bersama mengenai format Surat Keterangan Perkawinan yang akan diterbitkan oleh pengurus Magabudhi bagi para pasangan suami-istri Buddhis ; dimana format akta yang sebelumnya hanya berisi tanda-tangan dari Pandhita yang menikahkan saja, semenjak hari Minggu 25 Oktober 2009 tersebut disepakati akan ditambahkan pembubuhan tanda-tangan / atau diketahui oleh pengurus cabang Magabudhi setempat.

Acara rapat triwulanan gabungan PD & PC MAGABUDHI Wilayah Jawa-Tengah ini ditutup dengan menguncarkan Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara yang dipimpin oleh Romo Pandhita Madya Sugianto.

Akhir Acara ; Menguncarkan Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

Akhir Acara ; Menguncarkan Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

SEKILAS MAGABUDHI

Sedikit saya tambahkan disini, bagi ummat Buddha yang berminat untuk bergabung dalam Magabudhi, bisa menghubungi kepengurusan cabang setempat dan mendaftarkan diri. Segala informasi bisa diperoleh dari pengurus cabang setempat. Setelah bergabung, maka proses / tingkatan-tingkatan yang akan ditempuh adalah :

1). Menjadi seorang Upacarika ( dengan syarat bahwa sebelumnya ia telah di-wisudi sebagai Upasaka / Upasika ) dengan wewenang memimpin Upacara Kebaktian dan Upacara Keagamaan lainnya. Jabatan ini harus dijalani selama 2 tahun, sebelum akhirnya nanti mengikuti “up-grading” menjadi Pandhita Muda.

2). Setelah melalui masa jabatan sebagai Upacarika dan mengikuti Up-grading dengan pelatihan-pelatihan formal yang diselenggarakan oleh Magabudhi, maka seorang Romo akan naik tingkat menjadi Pandhita Muda. Jabatan sebagai Pandhita Muda ini akan ditempuh selama 5 (lima) tahun masa jabatan.

3). Setelah 5 (lima) tahun menjabat sebagai Pandhita Muda, maka seorang Romo bisa menaiki jenjang berikutnya menjadi seorang Pandhita Madya, tentunya melalui proses “up-grading” berikutnya yang diadakan secara formal dan resmi oleh Magabudhi.

4). Setelah 5 (lima) tahun menjabat sebagai Pandhita Madya, maka seorang Romo bisa menaiki jenjang berikutnya menjadi seorang Pandhita ( penuh ).

Organisasi Magabudhi ini adalah organisasi tempat ummat Buddha mengabdi pada Buddha-Dhamma-Sangha ; menjadi seorang Dhammadutta. Menurut keterangan dari Romo Pandhita Madya Sugianto ( Ketua PD MAGABUDHI Jawa-Tengah ),  bahwa yang bisa secara resmi disebut sebagai Pemuka Agama Buddha Theravada dalam kaitannya dengan hubungan-masyarakat, dan hubungannya dengan Pemerintah, adalah para Romo dan Ramani ( Romo perempuan ) yang telah secara resmi tergabung dalam Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia ( MAGABUDHI ) ini. Tugas para Romo dan Ramani ini adalah membantu para Bhikkhu dalam membina ummat dan hubungan kemasyarakatan legal-formal ; para Bhikkhu, meskipun terutama sebagai “ujung-tombak” dari ummat Buddha dan Buddha-Dhamma itu sendiri, namun tentunya sudah tidak pada porsinya untuk terlalu disibukkan dengan urusan-urusan administratif  yang bersifat keduniawian.  Kurang lebih, demikian yang saya tangkap dari pemaparan Romo Pandhita Madya Sugianto.

Demikianlah, laporan yang bisa saya tuliskan berkaitan dengan acara Rapat Triwulanan Gabungan PD & PC MAGABUDHI Wilayah Jawa-Tengah yang diadakan pada hari Minggu 25 Oktober 2009 kemarin. Semoga, laporan acara ini bermanfaat bagi ummat Buddha dimanapun anda berada.

_________________________________________________

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )


Upacarika RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Senin, 26 Oktober 2009

Posted in Acara Ummat Buddha, Berita Buddhis, BUDDHA, Diskusi Ummat Buddha | 11 Comments »