RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

Archive for November, 2008

HARUSKAH BERPANTANG MAKAN DAGING?

Posted by ratanakumaro pada November 29, 2008

“Namo Tassa Bhagavato Arahatto Sammasambuddhassa”

(tikkhattum / 3x )


Namatthu Buddhassa,

Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

Pertanyaan ini umum diajukan oleh orang-orang yang ingin “nglakoni”, atau sedang menjalankan “laku”, yang bertujuan “resik-resik” diri. Sebagian orang mengatakan, kita harus berpantang makan “yang berjiwa” jika kita ingin mencapai kesucian / kemurnian. Apakah benar demikian ?

Hal ini pun juga menjadi perdebatan dikalangan ummat Buddha. Untuk mendapatkan jawaban mengenai hal inilah saya menulis artikel “Haruskah Berpantang Makan Daging ?” ini. Dan jawaban atas pertanyaan ini bersumber dari Sang Guru Agung, Buddha Gotama.

Sila pertama dalam Pancasila yang diajarkan oleh Sang Buddha 600-an tahun SM dulu kala berbunyi :

“ Panatipata veramani sikkhapadam samadiyami “

Artinya :

“ Aku bertekad melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup “

Berhubungan dengan ajaran ini, yang menjunjung tinggi prinsip “tanpa-kekerasan” ( Avihimsa ), apakah berarti seorang Buddhis harus menjadi vegetaris ? Tidak harus. Ummat Buddha, tidak diperbolehkan makan daging jika :

1. Membunuh binatang / makhluk hidup dengan tangan sendiri,

2. Menyuruh seseorang untuk membunuh binatang / makhluk hidup atas namanya.

3. Membiarkan seseorang untuk membunuh binatang / makhluk hidup atas namanya.


Contoh kasus mengenai ketiga hal tersebut diatas yang sering terjadi misalnya : kita membeli seekor hewan hidup dan kemudian entah dengan tangan kita sendiri, atau dengan menyuruh orang lain dan membiarkannya membantai hewan hidup tersebut untuk kemudian dagingnya ia santap, baik sendirian, maupun dengan tujuan didermakan ke orang-orang lain. Bahkan, bila pembelian hewan ini untuk maksud persembahan kepada suatu Dewa  tertentu sekalipun, dan kemudian dagingnya dibagi-bagikan ke masyarakat sekitar sekalipun, tetaplah ini merupakan perbuatan yang tidak baik dan tidak benar, tetaplah merupakan suatu karma yang tidak baik dan tidak benar, dan pasti berbuah-karma yang tidak baik dan tidak benar pula.

Kemudian, bilamana ummat Buddha diperbolehkan makan daging ? Ummat Buddha diperbolehkan memakan daging jika dan hanya jika, binatang itu dibunuh :

1. Tanpa seizinnya,

2. Tanpa persetujuannya, dan,

3. Tanpa sepengetahuannya.

Kasus kedua ini contohnya adalah ketika kita bertamu dirumah seseorang dan kita disuguhi sajian masakan yang menggunakan bahan utama daging-dagingan, maka, para ummat Buddha diperbolehkan untuk menyantapnya.

Ummat Buddha juga boleh membeli masakan yang berbahan dasar daging-dagingan di rumah-rumah makan, pasar, dan lain sebagainya, karena hewan-hewan tersebut dibunuh bukan atas dasar kehendak kita, dan dagingnya tidak disajikan khusus untuk kita / atas nama kita.

Meskipun demikian, tetaplah disaat kita menyantap daging ini kita sedikit atau banyak turut bertanggungjawab secara tidak langsung atas terbunuhnya hewan tersebut.

Walau demikian , seorang vegetarian ketat sekalipun mempunyai tanggung jawab yang sama dengan orang-orang non vegetarian, terhadap makhluk-makhluk yang dibunuh secara tidak langsung.

Sayur-sayuran, sebagai makanan para vegetarian tidak luput dari penyemprotan hama serangga, yang notabene adalah makhluk hidup juga.

Para vegetarian juga sangat mungkin menggunakan pakaian, sepatu, tas, dompet, “kalep” jam tangan, sabuk, topi, sandal, dan lain-lain perlengkapan yang terbuat dari kulit makhluk hidup.

Para vegetarian juga sangat mungkin menggunakan bahan-bahan rumah tangga yang terbuat dari bagian-bagian hewan, misalnya : sabun. Bukankah sabun juga terbuat dari lemak hewan ?

Para vegetarian juga tidak terhindarkan pernah dan akan sering menggunakan obat-obatan, jamu-jamuan, yang terdiri dari serum hewan atau dibuat setelah dicoba dengan mengorbankan binatang-binatang untuk uji-coba ( “kelinci-percobaan” ).

Jika kita harus menjadi seorang vegetarian, maka seharusnya, kita secara konsekwen harus menjadi vegetarian mutlak, tidak mempergunakan seluruh produk hewani dan sayur-sayuran yang dibudidayakan. Jadi, sebagai seorang vegetarian, untuk ‘hidup’ ia harus secara konsekwen memurnikan makanan, lingkungan dan hidupnya, padahal untuk menjadi demikian sangatlah tidak mungkin, karena memang demikianlah hakekat keberadaan ( hidup ) yang memang secara mutlak tidak memuaskan.

Pada dasarnya, seorang Buddhis harus berbuat apa saja untuk mencegah pembunuhan, akan tetapi, dia bisa memilih untuk menjadi vegetarian, atau tidak, setiap orang bebas menentukan pilihannya masing-masing. Yang non-vegetarian sekalipun tetap mengambil peranan spiritual yang sama dengan para vegetarian.

SUCI DAN TIDAK SUCI BUKAN DARI MAKANAN

Apakah makan daging membuat seseorang menjadi ternoda, tidak murni, dan tidak suci ? Sang Buddha dengan tegas mengatakan : T I D A K . Bukan karena makanan yang kita makan sehingga kita menjadi ternoda, tetapi karena pikiran, perbuatan dan perkataan yang jahatlah yang menjadikan kita ternoda, tidak murni, dan tidak suci.

“ Apabila seseorang kasar, congkak, menghasut, menipu, licik, dan tidak mau berbagi pada orang lain, inilah yang membuat manusia ternodai, bukan karena makan daging.

Kemarahan, kesombongan, keras kepala, keinginan jahat, licik, cemburu, angkuh berkelompok dengan mereka yang jahat, inilah yang membuat manusia ternodai, bukan karena makan daging.

Bermoral jelek, tak membayar hutang, bergunjing, menipu, bersaksi dusta, berbuat jahat seperti itu kepada yang lainnya, inilah yang membuat manusia ternodai, bukan karena makan daging. “

( SN ; 244 -246 ).

Para pengikut sekolah Buddhisme Mahayana adalah vegetarian ketat. Mereka menghormati para vegetarian, dan mengutuk yang memakan daging. Seyogyanya para siswa Mahayana ini ingat, bahwa dalam Ajaran asli Sang Buddha tidak mengharuskan semua ummat Buddha untuk menjadi vegetarian. Kita sebagai ummat Buddha harus ingat bahwa Jalan yang diajarkan Sang Buddha adalah “JALAN-TENGAH” ( Majjhima Pattipada ), sehingga haruslah bersifat “membebaskan”, dan tidak perlu menjadi ekstrim dalam menempuh “Jalan-Pembebasan”, karena justru jalan-jalan ekstrim inilah yang dulu dihindari oleh Sang Buddha, baik ekstrim yang bersifat penyiksaan diri ( termasuk vegetarian ), maupun ekstrim pemuasan hawa-nafsu ( pengumbaran syahwat, beristri lebih dari satu,dan lain-lain ).

DAGING YANG DILARANG UNTUK DIKONSUMSI

Meskipun Sang Buddha tidak mengharuskan para siswanya untuk menjadi vegetarian, namun Beliau pernah menasehati para Bhikkhu untuk menghindari memakan sepuluh jenis daging dengan tujuan demi kehormatan dan perlindungan diri mereka sendiri. Kesepuluh jenis daging itu adalah :

1. Daging Manusia,

2. Gajah,

3. Kuda,

4. Anjing,

5. Ular,

6. Singa,

7. Harimau,

8. Macan tutul,

9. Beruang,

10. Hyena.

Hewan-hewan tersebut diatas ( kecuali tentunya yang pertama, manusia, bukanlah “hewan” ) akan menyerang jika mereka mencium aroma daging jenis mereka sendiri pada diri kita / tubuh kita ( Vinaya Pitaka ). Namun, pada kesempatan yang lain, Sang Buddha secara rinci menganjurkan pemberian kaldu daging untuk memberi kekuatan pada tubuh yang sakit ( Vinaya V: 205 ).

Devadatta, salah seorang murid-Nya dan sekaligus sepupunya, pernah meminta Sang Buddha untuk memberlakukan peraturan pertapaan yang keras bagi para Bhikkhu, yang salah satu diantaranya adalah berpantang makan daging ; namun Sang Buddha menolak / tidak menerima permintaan Devadatta tersebut.

Jivaka Komarabhacca, seorang tabib / dokter, mendiskusikan issue controversial ini, yang dihembuskan oleh sekelompok orang “Jain”dengan Sang Buddha :

“ Tuan, aku telah mendengar bahwa hewan sengaja dibantai untuk Petapa Gotama, dan bahwa petapa Gotama secara sadar makan daging yang sengaja dibunuh untuknya.

Tuan, apakah mereka yang berkata bahwa hewan sengaja dibantai untuk Petapa Gotama, dan Petapa Gotama secara sadar makan daging yang sengaja dibunuh untuknya ; apakah mereka memberi tuduhan palsu pada Sang Buddha ? Atau apakah mereka [ justru ] mengatakan yang sebenarnya ?

Apakah pernyataan Anda dan pernyataan tambahan Anda tidak diejek oleh orang lain dengan segala cara ? “

Sang Buddha menjawab :

“ Jivaka, mereka yang berkata : “ Hewan sengaja dibantai untuk Petapa Gotama, dan Petapa Gotama secara sadar makan daging yang sengaja dibunuh untuknya”, tidak berkata sesuai dengan apa yang telah aku Nyatakan, dan mereka memberi tuduhan palsu kepadaKu.

Jivaka, Aku telah menyatakan bahwa seseorang tidak boleh menggunakan daging jika terlihat, terdengar atau dicurigai telah sengaja dibunuh untuk seorang Bhikkhu.

Aku mengizinkan para Bhikkhu makan daging yang cukup murni dalam tiga hal :

1. Tidak terlihat,

2. Tidak terdengar, atau

3. Tidak dicurigai


Telah sengaja dibunuh untuk seorang Bhikkhu. “ ( Jivaka Sutra ).

Vegetarianisme itu sendiri tidak membantu manusia untuk mengembangkan sifat spiritualitasnya. Ada orang-orang yang baik, rendah hati, sopan, dan religius di antara non-vegetarian. Karena itu, orang sebaiknya tidak menyatakan bahwa orang religius yang sejati haruslah mempraktekkan vegetarianisme.

Namun, jika para non-vegetarianis menyatakan bahwa seseorang tidak dapat memiliki hidup sehat tanpa makan protein hewani, juga tidak dapat dibenarkan, karena ada jutaan vegetarian murni di seluruh dunia yang lebih kuat dan sehat bila dibandingkan para “carnivora” berkaki dua ini.

Orang-orang yang mengkritik ummat Buddha yang makan daging tidak memahami ajaran Buddha tentang makanan. Makhluk hidup memerlukan nutrisi, kita memerlukan makan untuk hidup, dengan demikian manusia harus menyediakan makanan bagi tubuhnya untuk menjaganya agar tetap sehat dan memberinya energi untuk berkarya.

Jika seseorang mencandu suatu jenis makanan, atau membunuh untuk memuaskan ketamakannya akan daging, hal inilah yang salah. Jika seseorang makan tanpa ketamakan dan tanpa terlibat langsung dalam tindakan pembunuhan, tetapi semata-mata untuk mempertahankan tubuh fisik, maka ini hal benar, dan ia telah mempraktekkan “penahanan-diri” dari bentuk-bentuk pikiran, ucapan, dan perbuatan jahat.

Pada kenyataannya, Sang Buddha menyatakan bahwa bukanlah apa yang masuk kedalam mulut seseorang yang mengotori, melainkan apa yang keluar dari mulutnyalah yang menodai kesucian / kemurniannya.

MAKANAN PARA ARIYA

Sang Buddha tidak pernah memilih-milih makanan atas dasar kesukaan / kegiuran.

Pada suatu ketika Sang Buddha sedang ber-Pindapata dengan Bhikkhu Ananda dan bertemu seorang wanita bernama Punadesi ( ditengah-tengah jalan ). Punadesi seorang yang miskin, dan bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga yang kaya raya.

Ketika Punadesi melihat Sang Buddha, ia merasa gembira sekali. Dahulu, ia pernah ingin berdana makanan, akan tetapi saat itu ia tidak punya makanan apapun untuk dihaturkan pada Sang Buddha. Dan hari ini, bagi Punadesi, merupakan karma baik baginya bisa bertemu dengan Sang Buddha dan Bhikkhu Ananda. Kemudian, ia segera berdana makanan dan Sang Buddha-pun menerimanya dan makan di pinggir jalan agar Punadesi dapat melihatnya dan bergembira / senang hatinya. Seusai makan, Sang Buddha ber-Anumodana ( mengungkapkan kegembiraan atas dana yang dihaturkan kepadaNya ), dan kemudian Punadesi mencapai tingkat kesucian pertama, Sotapana.

Contoh yang lain mengenai makanan para Ariya, misalnya yang ditauladankan oleh Bhikkhu Rathabala ( seroang “SAVAKA-BUDDHA” pada jaman Sang Buddha dan merupakan salah satu murid Sang Buddha ). Bhikkhu Rathabala memakan makanan yang sudah dibuang seseorang. Pada suatu hari Bhikkhu Rathabala sedang ber-Pindapatta. Beliau berdiri didepan rumah tetapi tidak ada yang mengenali Beliau. Keluarga pemilik rumah itu adalah keluarga yang kaya raya. Beliau melihat ada makanan yang dibuang lalu meminta tolong kepada pembantu keluarga itu untuk menaruh makanan itu kedalam mangkuknya. Pembantu tersebut bersedia dan memasukkan makanan itu ke dalam mangkuk Bhikkhu Rathabala. Setelah itu beliau pergi agaka jauh dan mencari tempat untuk makan makanan tersebut.

Inilah yang telah dicontohkan oleh Para Ariya yang Agung. Mereka tidak memilih-milih makanan, entah berdasarkan kegiuran / nafsu pribadi, maupun dengan alasan jenis makanan tersebut makanan berdaging atau bukan. Para Ariya menyantap makanan apapun yang disajikan, KECUALI MAKANAN YANG BUSUK DAN MENIMBULKAN PENYAKIT.

Seorang Ariya tidak bisa menerima persembahan dana makanan jika dana itu diberikan dengan terlebih dahulu menyebutkan jenis makanannya. Makanan yang “lezat” dan disebutkan terlebih dahulu akan menimbulkan “kilesa” / kekotoran batin ( dalam hal ini nafsu ), dan hal ini salah dalam DHAMMA dan VINAYA ( hukum / peraturan ke-Bhikkhuan ). Namun, meskipun makanan itu lezat, bila disajikan tanpa disebutkan terlebih dahulu, makanan itu boleh disantap oleh para Ariya.

Para Ariya tidak mabuk dalam makanan, tidak mabuk dalam kehidupan.

Orang yang tidak mabuk dalam kehidupan karena telah melihat “tilakkhana” ( aniccam-dhukkam-anatta ), kemudian dapat melihat terang dalam “Ariya-Saccani” dan menjadi seorang “Ariya”, seorang yang suci, akhirnya mencapai Nibbana ( Sanskerta : Nirvana ).

Demikianlah ulasan saya mengenai “Haruskan Berpantang Makan Daging ?”. Semoga ulasan ini bermanfaat bagi para pejalan spiritual yang sedang / ingin “NGLAKONI”.


Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

“ Semoga Semua Makhluk Berbahagia dan Terbebas dari Semua Penderitaan ! “

— RATANA KUMARO  —

Semarang Barat, Sabtu, 29 November 2008

Iklan

Posted in BUDDHA | 27 Comments »

EMPAT KESUNYATAAN MULIA

Posted by ratanakumaro pada November 24, 2008

EMPAT KESUNYATAAN MULIA

( CATTARI ARIYA SACCANI )

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa “


Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Empat Kesunyataan Mulia ( Cattari Ariya Saccani ) adalah ajaran Sang Buddha mengenai fakta yang tak dapat dibantah yang berhubungan dengan alam kehidupan manusia. Kesunyataan ini dalam bahasa Pali disebut : ARIYA SACCANI. Disebut begitu karena diungkapkan oleh seorang Ariya Agung, Sang Buddha Gotama. Saccani, Sacca, berarti apa yang sesungguhnya. Dalam bahasa sanskerta disebut Satya, artinya fakta yang tak dapat dibantah.

Empat kesunyataan mulia tersebut adalah :

1. Dunia ini adalah Penderitaan ( Dukkha Sacca : Kebenaran tentang Dukha )

2. Sebab penderitaan adalah Nafsu Keinginan ( Tanha ) -> Samudaya Sacca.

3. Berakhirnya Penderitaan ( Nibbana ) -> Nirodha-Sacca

4. Jalan Menuju Berakhirnya Penderitaan ( Ariya Athangika Magga ; Jalan Arya / Mulia beruas Delapan ) -> Magga-Sacca.

1. Kesunyataan Mulia Pertama : Dunia Ini adalah Penderitaan ( Dukkha )

Alam semesta dan seluruh alam kehidupan adalah suatu keberadaan yang berkondisi, paduan dari unsur-unsur, sehingga tidak kekal, terserang kelapukan, kehancuran, dan oleh karena itu penuh penderitaan. Tubuh kita ini ( Pali : Rupa ) hanyalah paduan keempat unsur alam semesta :

1). Air,

2).Tanah,

3).Api, dan,

4).Udara.

Kemudian, sesuatu yang oleh manusia umumnya disebut “Jiwa” ini ( Pali ; Nama ) hanya merupakan paduan empat unsur :

1). Pikiran,

2).Perasaan,

3).Pencerapan, dan,

4).Kesadaran.

TILAKHANA

Untuk mengerti lebih jauh mengenai kasunyataan mulia yang pertama, bahwa hidup di alam manapun sejatinya hanyalah ‘dukkha’, kita harus mengerti terebih dahulu tiga sifat dunia / tiga corak keberadaan yang berkondisi ( Tilakhana ). Sabda Sang Buddha yang mengajarkan mengenai Tilakhana ini, yang sangat terkenal, berbunyi sebagai berikut :

“Para Bhikkhu, walau dengan hadirnya Sang Tatthagata atau tanpa hadirnya seorang Tatthagatha, tetaplah berlaku suatu hukum, suatu kesunyataan yang mutlak bahwa segala sesuatu yang terbentuk adalah tidak kekal,… tidak memuaskan,…dan tanpa inti ….” (Angutara Nikaya, Yodhajiva-Vagga, 124).

Sabda tersebut, adalah mengenai tiga hal berikut ini :

1. “ Sabbe Sankhara Anicca “, Segala sesuatu yang berkondisi/bersyarat adalah tidak kekal ( ANICCA ).

2. “ Sabbe Sankhara Dukkha “, Segala sesuatu yang berkondisi/bersyarat adalah penderitaan (DUKKHA).

3. “ Sabbe Dhamma Anatta “, Segala sesuatu baik yang yang Berkondisi/Bersyarat ( tercipta ) maupun yang Tidak-Berkondisi / Tidak-Bersyarat ( tidak-tercipta ), tidaklah mempunyai inti diri yang sejati / jiwa didalamnya ( ANATTA ).

Ti-Lakkhana atau tiga corak umum adalah tiga sifat yang menjadi ciri keberadaan dari segala sesuatu yang ada di alam semesta, yaitu bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta selalu bersifat tidak kekal (Anicca), tidak memuaskan atau menimbulkan penderitaan (Dukkha) dan tanpa inti yang kekal (Anatta).

1.1 ANICCA ( Sanskerta : ANITYA )

“Adalah tidak kekal segala sesuatu yang terbentuk, segalanya muncul dan lenyap kembali. Mereka muncul dan kembali terurai. Kebahagiaan tercapai bila segalanya telah harmonis.” (Digha-Nikaya, Mahaparinibbana Sutta).

Segala sesuatu adalah bersifat tidak kekal karena bersifat muncul, berubah, dan hancur. Artinya adalah bahwa segala sesuatu tak pernah berada dalam keadaan yang sama di saat yang berbeda, melainkan senantiasa muncul dan lenyap dari saat ke saat. Hukum Anicca merupakan sifat dasar dari segala fenomena, baik yang bersifat material ataupun mental, berlaku terhadap partikel-partikel sub atom yang kecil hingga sistem tata surya dan galaksi yang maha besar.

Bahwa segala sesuatu berubah adalah kesunyataan bagi setiap eksistensi, maka kita harus melihat keberadaan alam semesta ini sebagai suatu fenomena atau gejala yang kompleks. Pengertian ini hendaknya juga menjadi dasar pengertian kita mengenai Lakkhana ( Corak Keberadaan ) yang lain yaitu Dukkha ( Penderitaan ) dan Anatta ( Tiada-Inti-Diri ) . Oleh karena setiap eksistensi berada dalam perubahan yang konstan dari saat ke saat. maka tidak akan ada ‘diri’ yang akan merekat padanya. Sebenarnya sifat individual pada setiap eksistensi bukanlah suatu bentuk yang khusus melainkan merupakan perubahan itu sendiri. Tidak adanya sifat individual yang khusus pada setiap perwujudan inilah yang merupakan kesunyataan tentang Nibbana ( Sanskerta : Nirvana, Nir = Tanpa, Vana = Keinginan, secara harafiah artinya = tanpa-keinginan, meskipun definisinya lebih luas dari dua suku-kata tersebut ). Bila kita menyadari kesunyataan yang abadi tentang ketidak kekalan dan kita mendapatkan kedamaian di dalamnya maka pada saat itu juga sebenarnya kita telah berada dalam keadaan Nibbana / Nirvana.

Tanpa menerima kenyataan bahwa segala sesuatu itu berubah, kita tidak dapat memahami kedamaian yang sempurna. Oleh karena kita sulit memahami kesunyataan dari ketidak kekalan inilah maka kita menderita. Jadi salah satu penyebab dari penderitaan adalah penolakan kita terhadap kesunyataan ini. Kebahagiaan hidup tercapai apabila di dalam hidup ini kita bisa menerima hukum kesunyataan sebagaimana adanya dan hidup harmonis sesuai dengan hukum itu. Menyesali usia tua, takut akan kematian, dan menyesali perubahan-perubahan benda-benda fisik maupun mental di sekeliling kita adalah suatu kebodohan. Keterikatan terhadap keadaan-keadaan tertentu juga merupakan kebodohan yang menjadi dasar dari Dukkha.

Sebenarnya pembahasan terhadap hukum Anicca bukan untuk menimbulkan sifat pesimis bahwa segala sesuatu itu berubah-ubah dan kita semuanya hendaknya meninggalkan kehidupan dunia ini segera, tidak begitu. Kesunyataan akan ketidak kekalan ini sebenarnya dibahas agar kita memahami segala sesuatu sebagaimana adanya dan oleh karena itu tidak terikat kepada bentuk-bentuk atau keadaan-keadaan tertentu; agar kita dapat menghadapi segala sesuatu dengan hati yang tenang dan lapang. Dengan pemahaman kita akan kesunyataan ini diharapkan kita dapat memusatkan perhatian dan energi kita pada setiap aktifitas kita di sini dan di saat ini juga; di tengah-tengah badai dapat ditemukan kedamaian; di tengah-tengah arus ketidak kekalan dan perubahan yang terus-menerus, kita dapat juga menemukan kedamaian.

Segala sesuatu didunia ini dilahirkan, segala sesuatu menjadi sasaran kelahiran (jati), sebagai akibatnya setiap yang dilahirkan pasti akan lapuk (jara), mengalami sakit-penyakit (vyadhi), dan akhirnya mati (marana). Karena itulah semuanya tidak kekal. Inilah anicca, inilah ketidakkekalan. Muncul, melapuk, hancur/lenyap. Demikianlah lautan samsara yang kita arungi.

Kita sangat suka berpikir dan berangan-angan bahwa kita dapat memiliki sesuatu untuk selamanya. Tetapi ternyata hal tersebut adalah bertentangan dengan kebenaran sejati, yakni bahwa tidak ada yang kekal dan abadi didunia ini. Setiap kelahiran memiliki waktunya sendiri untuk mati. Termasuk bagi makhluk manusia, kelahirannya hanya tinggal menunggu waktu untuk mati. Lama tidaknya umur seorang manusia tergantung timbunan kammanya yang dia bawa dari kehidupan-kehidupan lampaunya. Kebajikan dan kesusilaan dikehidupan-kehidupan yang terdahulu akan menghasilkan umur panjang, kesehatan dan kesejahteraan material dan spiritual dikehidupan ini.

Lahir, menua, berpenyakit, mati, kemudian, lahir kembali, menua kembali, berpenyakit kembali, dan, mati kembali, kemudian…, lahir kembali, menua kembali, dan seterusnya, dan seterusnya. Tak henti-hentinya kita mengalami seluruh proses yang penuh penderitaan tersebut didalam lautan samsara ini.

Kita berharap kesehatan, kecantikan, ketampanan, keindahan tubuh kita ini kekal. Kita berusaha segenap tenaga menjaganya. Namun keinginan kita bertentangan dengan hukum alam, dengan kebenaran sejati, bahwa semua yang berkondisi adalah tidak kekal. Kita berharap untuk tidak sakit, tapi tetap sakit. Kita berharap untuk menjadi tua, tapi tetap tua. Kita berharap untuk tidak mati, tapi tetap mati.

Kita berharap bisa memiliki harta benda kekal selamanya. Tapi tetap saja kelak kita akan kehilangan sebagian atau seluruh harta kita dan sangat mungkin kita jatuh miskin, jika kamma buruk kita berbuah. Kita berharap memiliki seseorang yang kita kasihi selamanya, tapi itu tidak sesuai hukum alam, karena suatu saat kita pasti kehilangan dirinya, entah karena kematian, bencana alam, perpisahan karena sudah tidak ada kecocokan, atau karena orang yang kita kasihi tersebut berselingkuh dan tidak sayang lagi kepada kita. Segala sesuatu didunia ini pasti akan lenyap, hancur, hilang, mati. Kita pasti akan kehilangan, kita pasti akan mengidap sakit-penyakit, kita pasti mati, inilah hukum alam.

1.2. DUKKHA

“Para Bhikkhu, apakah yang disebut Dukkha itu? Itu bukan lain adalah kelima kelompok kegernaran (Panca-Khandha), …. “ ( Samyutta Nikaya, Khandha Samyutta, 104)

Di dalam artikel ini kita akan membahas tentang Dukkha sebagai salah satu dari tiga corak umum yang menjadi ciri keberadaan dari segala sesuatu yang ada di alam semesta, terutama yang berhubungan dengan Panca Khandha ( Lima Agregat ( Unsur-unsur penyusun ‘diri’) ).

Pengertian kita tentang Dukkha tidak terbatas pada penderitaan saja. Dalam arti yang lebih luas, Dukkha bisa juga berarti ketidak-puasan, ketidak-sempurnaan atau ketidak-abadian. Agama Buddha tidak pernah menyangkal adanya kegembiraan atau kebahagiaan dalam hidup sehari-hari walaupun diakui bahwa salah satu ciri keberadaan dari alam semesta adalah Dukkha. Tetapi setiap kegembiraan itu adalah, bahkan dalam keadaan Jhana ( Suatu ‘alam’ pencapaian dalam Samadhi , kondisi yang membahagiakan, tenang, seimbang ) yang dicapai dengan meditasi tingkat tinggi, yang telah bebas dari pencerapan suka dan duka pun masih tetap berada dalam ciri keberadaan Dukkha.

Tidak seperti ciri keberadaan ( Lakkhana ) yang lain seperti Anicca dan Anatta yang mudah diterima secara obyektif, Dukkha-Lakkhana sulit diterima begitu saja oleh manusia karena secara obyektif sulit bagi kita memahami bahwa segala sesuatu di alam semesta ini adalah menimbulkan penderitaan dan ketidak puasan. Sebab banyak sudut pandangan dan situasi dari manusia yang memandangnya yang menimbulkan perbedaan pandangan secara subyektif bahwa keadaan itu menimbulkan suka dan duka. Pandangan tentang Dukkha dapat dilihat dari tiga sudut pandang yaitu:

1. Dukkha-Dukkha, yaitu Dukkha sebagai penderitaan yang biasa atau Dukkha yang dialami manusia secara langsung pada fisiknya melalui panca indera dan pada perasaannya. Penderitaan pada kehidupan manusia seperti lahir, sakit, usia tua, berkumpul dengan orang yang tidak disenangi, tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkan dan lain-lain termasuk dalam kelompok Dukkha ini.

2. Viparinama-Dukkha, yaitu Dukkha sebagai akibat dari perubahan. Segala keadaan yang menyenangkan manusia adalah tidak kekal dan selalu berubah dari saat ke saat. Perubahan ini biasanya menimbulkan penderitaan atau kemurungan.

3. Sankhara-Dukkha, yaitu Dukkha yang timbul akibat kondisi- kondisi yang selalu bergerak atau berubah-rubah. Dukkha inilah yang berhubungan dengan lima kelompok kegemaran (Panca-khandha).

Dukkha sebagai penderitaan biasa banyak kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Dukkha sebagai akibat dari perubahan juga pernah kita bahas di Anicca-lakkhana di mana ditekankan bahwa perubahan itu sendiri sebenarnya tidak identik dengan Dukkha; bahwa manusia menderita adalah akibat mereka tidak memahami bahwa segala sesuatu pada hakekatnya berubah; bahwa manusia menderita karena merindukan keabadian. Pada sub-bab Dukkha-lakkhana ini kita akan membahas Dukkha sebagai perwujudan dari lima kelompok kegemaran.

Segala sesuatu yang berkondisi pasti penuh dukkha. “Du”, artinya “kosong”, sedang “Kha” artinya “rendah”. Segala sesuatu yang berkondisi pasti kosong dan rendah, kosong dari kekekalan, kosong dari keabadian, kosong dari kebahagiaan sejati. Karena tidak kekal, maka segala sesuatu yang berkondisi adalah ‘dukkha’, kosong, dan penuh derita. Karena tidak kekal, karena berubah-ubah, kita bersedih, kita menderita. Karena terserang penyakit, kita menderita. Karena mengalami kelapukan / usia tua, kita bersedih, kita menderita. Karena mengalami kematian, kehilangan, kita menderita, kita berdukkha.

1.3. ANATTA ( Sanskerta : AN-ATMAN )

“Hanya Dukkha yang terjelma, tiada seorang penderita pun yang berada; segala perubahan terjadi, tetapi pembuat perubahan itu tidak tertemukan; ada Nirvana, tetapi tak seorangpun yang memasukinya; Ada jalan, tetapi tak seorang pengunjungpun yang melewatinya. “
(Visuddhi Magga. XVI).

Pada pembabaran kasunyataan mengenai Anatta ( Sanskerta : An-atman ; Tiada-Inti-Diri ) dijelaskan bahwa tidak ada suatu diri atau ego yang kekal yang merekat di dalam ataupun di luar segala fenomena fisik dan mental dari setiap eksistensi atau keberadaan; bahwa setiap eksistensi hanyalah merupakan perwujudan dari muncul dan lenyapnya fenomena-fenomena atau gejala-gejala fisik dan mental tanpa adanya diri atau atta yang lain yang terpisah di dalam ataupun di luar proses-proses itu sendiri.

Memang sepintas lalu kita bisa melihat adanya suatu diri atau sifat yang menjadi ciri keberadaan dari suatu bentuk atau fenomena (gejala-gejala alam). Memang suatu wujud, jelmaan atau fenomena itu mempunyai diri atau ciri khasnya yang menjadi sifat alamiahnya. Tetapi apabila wujud atau fenomena itu terurai menjadi unsur-unsur pembentuknya, maka tiada satupun dari unsur-unsur itu yang menjadi ciri atau diri wujud yang semula dan tiada satupun dari unsur-unsur itu yang mewarisi ‘diri’ dari wujud yang semula itu. Masing-masing unsur itu memiliki ciri atau diri masing-masing yang menjadi sifat alamiahnya yang juga tanpa inti yang kekal dan akan sirna apabila terurai lagi menjadi unsur-unsur yang lebih kecil atau apabila bersenyawa kembali dengan unsur-unsur lain membentuk suatu wujud, jelmaan atau fenomena yang lebih besar dengan sifat atau diri yang lain pula dari diri yang semula.

Sifat Anatta tidak hanya berlaku untuk bentuk dan keadaan yang tercakup dalam Panca Khandha ( lima agregat penyusun ‘diri’ ) melainkan merupakan sifat dari seluruh keadaan, bentuk atau jelmaan dari yang sangat halus sampai yang maha besar. Tidak ada Atta atau diri yang kekal baik di dalam suatu individu ataupun dalam bentuk semesta yang lebih besar. Yang ada hanyalah diri atau sifat vang sementara, yang senantiasa berubah dari saat ke saat. Suatu saat akan terbentuk diri dari suatu individu; di saat lain diri itu mungkin terurai menjadi diri-diri unsur-unsur pembentuknya yang juga terbentuk dari unsur-unsur lainnya yang memiliki diri masing-masing yang juga tidak kekal dan senantiasa berubah; bisa pula di saat lain diri suatu individu itu bersatu dengan diri dari individu-individu yang lain membentuk suatu organisasi dengan diri atau ciri yang lain pula yang juga tidak kekal dan senantiasa berubah.

Saya coba memberi perumapamaan. Seorang laki-laki yang sedang mengintip seorang perawan yang sedang mandi di sungai, selama ‘pengintaiannya’, ia bisa sangat memahami bahwa : air-sungai tempat si perawan mandi itu mengalir, berubah-ubah, angin berhembus kekanan-kekiri, lemah dan kencang, daun-daun berguguran, ranting-ranting banyak yang patah, debu-debu beterbangan kearahnya, waktu berjalan, langit berubah, tadi terang, kemudian meredup… Itu semua adalah perubahan, ketidakkekalan ( Anicca ( Sanskerta : Anitya ). Tapi laki-laki itu tidak pernah bisa menyadari bahwa si-perawan itupun, yang dia amati selama bermenit-menit, dalam setiap detiknya, telah pula mengalami perubahan, baik didalam ‘rupa’ ( tubuh ), maupun ‘nama’ ( unsur ‘jiwa’ ). Dan bahkan, si pengamat itupun , si laki-laki sendiri, telah mengalami perubahan setiap detik yang dilaluinya! Dalam ilmu biologi ini lebih bisa dijelaskan, betapa setiap waktu kita telah kehilangan berapa juta sel penyusun tubuh kita. Iklan minuman-energi yang menggambarkan dalam setiap gerak, olahraga, aktivitas-kerja, kita telah mengalami begitu banyak ‘kematian’, kematian dari sel-sel, sesungguhnya telah dengan sangat jelas dan tepat menerangkan mengenai ‘Anicca’. Demikian pula sesungguhnya, setiap detik kita telah mengalami banyak kematian, kematian dari tiap bentuk pikiran kita, tiap bentuk, perasaan kita, pencerapan kita, dan kesadaran kita. Sehingga, dalam ajaran ‘peziarah’ spiritual ada ungkapan ‘eling’ lan ‘waspada’, karena kalau kita tidak ‘eling’ lan ‘waspada’, setiap detik kita bisa terjerembab dalam ‘ketidak-benar’-an dan ‘ketidak-baik’-an.

Segala bentuk, wujud, keadaan. jelmaan adalah tidak kekal dan senantiasa berubah. Segala sesuatu yang tidak kekal itulah yang merupakan Dukkha. Segala bentuk, wujud, keadaan, jelmaan adalah tanpa inti atau diri yang kekal. Segala bentuk atau jelmaan individu memang memiliki sifat dan ciri tersendiri. Mereka mempunyai sifat asal yang terbentuk dari organisasi unsure-unsur pembentuknya yang lebih halus. Bentuk atau jelmaan individu itu tergantung pada kondisi-kondisi dari sifat atau diri lain yang juga tidak kekal, yang akan secara bersama-sama tergerak dalam rantai sebab akibat yang saling bergantungan (Paticca Samuppada). Manusia menderita di dalam hidupnya apabila ada penolakan terhadap kesunyataan bahwa segala sesuatu yang terbentuk itu adalah tidak kekal, senantiasa berubah dan tanpa inti yang kekal. Kebahagiaan tercapai apabila kita telah bisa memahami hukum itu dan memahami segala sesuatu sebagaimana adanya dan dapat hidup harmonis dengan segala kesunyataan.

Segala bentuk individu hanyalah suatu bentuk kombinasi unsur-unsur fisik dan mental, yang senantiasa berubah dan berada dalam keadaan Dukkha, di mana unsur-unsur yang membentuk suatu diri atau karakater individu itu adalah terdiri dari lima kelompok atau agregat yang disebut Panca Khandha. Panca Khanda atau lima agregat atau lima kelompok kegemaran itu oleh Sang Buddha diuraikan sebagai berikut:

1. Rupa-khanda, yaitu kelompok objek fisik atau jasmani yang oleh Sang Buddha diurai lagi menjadi empat bentuk elemen (Catur Maha Bhuta) yaitu: elemen padat (Pathavi Dhatu) yang sebenarnya memberikan sifat atau kemampuan menempati ruang dan mempertahankan posisi serta memberikan sifat kaku pada setiap materi; elemen cair (Apo-Dhatu) yang sebenarnya berupa gaya rekat atau tarik menarik antara materi; elemen panas atau energi (Tejo-Dhatu) yang sebenarnya memiliki sifat maha bhuta yang lain tetapi dalam dimensi yang lebih kecil; dan elemen gerak atau getaran (Vayo-Dhatu) yang bila berada dalam kesetimbangan dengan apo-dhatu akan menampakkan eksistensi pattiavi materi yang bersangkutan. Termasuk kelompok Rupa-khanda ini juga terdapat turunan-turunan atau bentuk variasi dari empat Maha Bhuta tadi yaitu mencakup organ-organ indera (pasada-rupa) beserta objek-objeknya (arammana) misalnya bentuk dan warna sebagai objek penglihatan oleh mata; bunyi dan suara sebagai objek pendengaran telinga; bau-bauan sebagai objek penciuman oleh indera penghidu; cita rasa sebagai objek pengecapan oleh lidah; benda-benda dengan berbagai variasi bentuk, temperatur, permukaan kasar atau licin, keras atau lembut, sebagai objek perabaan oleh indera peraba; dan objek- objek mental seperti pikiran, ingatan, konsep dan ide-ide sebagai objek pemikiran oleh indera mental kita. Jadi Rupa-khanda sebenarnya mencakup obyek-obyek di dalam maupun di luar diri kita beserta indera-indera yang dapat berkontak dengannya.

2. Vedana-khanda, yaitu perasaan-perasaan yang timbul akibat adanya kontak antara obyek-obyek indera dengan indera-indera kita tadi. Perasaan-perasaan yang timbul itu bisa berupa perasaan senang, tidak senang, atau netral. Perasaan-perasaan ini timbul sebagai reaksi kontak tadi yang dihubungkan dengan ingatan-ingatan, baik yang berbentuk insting bawaan ataupun yang didapat dari pengalaman-pengalaman.

3. Sanna-khanda, yaitu pencerapan atau pengenalan objek yang terjadi setelah terjadinya kontak dan setelah terjadinya kesadaran akan adanya obyek tersebut. Pencerapan atau pengenalan objek tersebut juga terjadi akibat adanya memori atau ingatan-ingatan, terutama yang berhubungan dengan pengalaman-pengalaman.

4. Sankhara-khanda, yaitu bentuk-bentuk pikiran yang berupa segala kehendak (cetana) yang terjadi setelah timbul perasaan-perasaan akibat kontak yang terjadi. Kehendak-kehendak (cetana) yang terjadi inilah yang kelak akan membuahkan karma berupa perbuatan-perbuatan yang dilakukan, baik yang dilakukan dengan badan jasmani, ucapan, maupun dengan pikiran, yang mengarah kepada perbuatan baik, jahat atau netral.

5. Vinnana-khanda, yaitu kesadaran yang timbul akibat indera mengadakan kontak dengan. obyek yang sesuai. Kesadaran ini timbul sebelum terjadinya proses pencerapan atau pengenalan obyek yang kemudian menimbulkan perasaan-perasaan yang kemudian bisa berakhir dengan reaksi mental berupa kehendak untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan obyek tersebut.

Dari kelima khanda tersebut. tidak satupun yang dapat dikatakan sebagai diri atau ciri dari suatu individu, tetapi apabila kelima khanda itu saling berhubungan dan bekerja sama, maka akan terasa seakan-akan ada suatu diri yang menjadi ciri dari suatu individu atau keadaan tertentu. Jelmaan yang terbentuk oleh kombinasi kelima khanda itulah yang tak lain merupakan Dukkha itu sendiri, Dukkha yang mempunyai arti yang lebih luas dari sekedar duka atau penderitaan: Dukkha yang mencakup segala kefanaan, perubahan dan ketidak kekalan. Tidak ada suatu jelmaan atau diri yang berada di balik kelima khanda ini, tak ada suatu jelmaan atau diri yang mengalami Dukkha ini sebab panca khanda itu sendiri merupakan Dukkha dalam arti yang luas itu, dan di dalam Dukkha yang rnempunyai arti yang luas inilah terdapat kehidupan, kehidupan yang tak lain merupakan perubahan itu sendiri. Dukkha, kehidupan. dan perubahan sebenarnya bukanlah hal berbeda.

Di dalam pengertian Sankhara-Dukkha, seperti yang sudah diterangkan diatas, ditekankan bahwa tidak ada suatu diri atau atta ( Sanskerta : Atman ) yang berada di balik Panca Khanda ini yang akan merasakan Dukkha; bahwa Dukkha itu timbul akibat kondisi-kondisi yang tercakup di dalam kelima Khanda ( agregat ) itu yang selalu bergerak dan berubah-ubah bahwa tidak ada sesuatupun yang berada di luar kondisi-kondisi yang berubah-ubah itu yang menggerakkan atau yang menyebabkan perubahan-perubahan itu; bahwa yang ada hanyalah perubahan-perubahan itu sendiri. Sebagai contoh dari proses-proses pergerakan kondisi-kondisi yang selalu berubah-ubah itu adalah rentetan peristiwa sebagai berikut:

Oleh rentetan kondisi-kondisi yang sebelumnya, pada javana-javana ( Dalam istilah modern disebut : Apersepsi, tanpa-persepsi, secara harafiah berarti : berlari ) menjelang kesadaran sebelum kematian (cuti-citta) terbentuk janaka-kamma ( karma-penghasil, yaitu : karma baik atau buruk yang menonjol pada saat kematian ) yang menentukan nama-rupa dan keadaan seorang manusia yang kemudian dilahirkan dengan indera-indera yang lengkap yang dapat mengadakan kontak dengan objek berupa empat Maha Bhuta ( empat-unsur / elemen : Tanah, Air,Api,Udara ) beserta derivat-derivatnya yang juga terbentuk oleh kondisi-kcndisi sebelumnya. Oleh kondisi-kondisi itu, seorang manusia mampu menangkap objek-objek berupa bentuk, cahaya dan warna, getaran-getaran dan bunyi-bunyian, uap-uap atau partikel gas atau cair atau padat yang berbau dan bercita rasa, dan objek-objek berupa gelombang-gelombang atau gerak-gerak ide dan pikiran. Bila oleh suatu kondisi, Patisandhi Vinnana ( kesadaran-penyambung atau tumimbal-lahir ) telah menyambung dan sifat dualitas (pembedaan antara subyek dengan obyek) telah terbentuk maka manusia itu mempunyai kesadaran (Vinnana) bila terjadi kontak antara suatu objek dengan indera-inderanya yang sesuai.

Oleh kondisi Rupa Khanda ( agregat-Rupa / agregat-tubuh ) yang telah berkontak dengan manusia yang telah bersifat dualitas itu, timbul kesadaran akan adanya suatu bentuk dan warna, bunyi-bunyian atau suara, bau dan cita rasa, ide-ide dan bentuk-bentuk mental. Bila telah ada suatu kondisi di mana terdapat ingatan-ingatan bawaan lahir (Patisandhi Vinnana) maupun ingatan-ingatan yang berupa pengalaman-pengalaman sesudah lahir, maka manusia itu dapat mencerap objek-objek itu dan dikenali sebagai suatu bentuk benda tertentu misalnya sebuah bola, suara genta, bau buah-buahan, dan lain-lain. Atau mencerap objek-objek itu sebagai sesuatu yang belum dikenal ke dalam ingatan-ingatan.

Oleh kondisi-kondisi setelah terjadi pengenalan objek atau pencerapan (Sanna) dan oleh kondisi-kondisi di dalam ingatan maka timbul perasaan-perasaan (Vedana) terhadap objek-objek tadi berupa perasaan suka, tak suka, atau netral.

Oleh kondisi-kondisi setelah timbulnya perasaan-perasaan dan oleh kondisi-kondisi di dalam ingatan berupa kebiasaan dan pengalaman, maka timbul bentuk-bentuk mental (Sankhara) berupa kehendak (cetana), pikiran, rencana, atau keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan terhadap objek tadi. Dengan munculnya kehendak (Cetana) tadi maka akan berlanjut rentetan perbuatan karma yang bisa meneruskan lingkaran-lingkaran perubahan kondisi kelima Khanda itu kembali. Seluruh rentetan perubahan kondisi itulah yang dimaksud dengan Dukkha (Sankhara Dukkha).

Rupa Khanda (4 Maha Bhuta, empat unsure penyusun ‘tubuh’ ) adalah perwujudan dari hukum Anicca yang berlaku di seluruh alam semesta. Setiap bentuk elemen atau unsur itu beserta derivat-derivatnya hanyalah merupakan satu wujud tertentu dari hukum Anicca tadi.

Vinnana Khandha ( bentuk kesadaran ) adalah salah satu perwujudan dari Patisandhi Vinnana ( kesadaran-penyambung ) yang selain membentuk kemampuan untuk menyadari obyek yang berkontak dengan indra, juga membentuk bakat, kecerdasan, kebiasaan-kebiasaan, penyakit-penyakit bawaan, kegemaran atau hobbi dan lain-lain.

Sanna Khandha ( unsur pencerapan ) lebih dipengaruhi oleh ingatan-ingatan atau pengalaman setelah lahir dan berfungsi menganalisa obyek-obyek paramattha untuk dikenali sebagai obyek pannati. Vedana Khandha merupakan perwujudan dari kondisi-kondisi berupa ingatan-ingatan bawaan (Patisandhi Vinnana) dan pengalaman-pengalaman setelah lahir.

Sankhara Khandha ( bentuk-bentuk mental / pikiran ) juga merupakan perwujudan dari kondisi-kondisi berupa ingatan-ingatan bawaan dan kebiasaan-kebiasaan setelah lahir, tetapi kebijaksanaan dan pandangan yang benar dari hasil pendidikan, pengalaman-pengalaman dan latihan dapat mendominasinya.

Tidak semua kontak antara indera dengan obyek bisa sampai kepada timbulnya Cetana dan Karma. Ada kontak yang hanya sampai pada kesadaran, tetapi tidak sampai pada pencerapan. Ada kontak yang telah tercerap tetapi tidak menimbulkan perasaan. Ada kontak yang telah menimbulkan perasaan tetapi kebijaksanaan pikiran dan pandangan yang benar dapat mencegah timbulnya rentetan keinginan atau kehendak beserta perbuatan yang menyertainya.

Mari kita mengulang sejenak Sabda Sang Budha, “ SABBE DHAMMA ANATTA”, artinya : Segala sesuatu, baik yang berkondisi ( tercipta ) maupun tidak berkondisi ( tidak-tercipta ) itu tidak memiliki inti diri / jiwa.Jiwa, dalam ilmu pengetahuan modern, dapat kita ketahui definisinya dalam kamus Abingdon Dictionary of Living Religions adalah : “ Sesuatu yang memberi kehidupan kepada makhluk hidup; atau bagian atau dimensi dalam makhluk hidup, merupakan INTI, tidak berbentuk; atau sesuatu yang tidak berbentuk namun menghidupkan; atau sesuatu yang tidak berbentuk namun MENCIPTAKAN MAKHLUK INDIVIDU “.

Dalam The International Dictionary of Religion : “ Banyak agama mengajarkan bahwa manusia tersusun atas badan fisik yang bisa mati serta INTI yang tidak kasat mata dan KEKAL, yang merupakan jati diri atau JIWA “.

Jiwa dikenal dengan banyak nama : “Jiva” ( Jain ), “Atman” ( Hindu ), “Ruh” ( Islam ), Monad, Ego Diri, Diri yang lebih tinggi, sesuatu yang melebihi diri, diri yang tidak dapat dipahami , batin, atau bahkan pikiran.

Jiwa juga dipahami sebagai : “ Segala sesuatu yang secara mutlak dipandang sebagai keberadaan diri, sosok ego, atau SUBSTANSI POKOK YANG BERSIFAT KEKAL “.

Diri , Jiwa juga bisa diartikan sebagai bagian terbaik dari tubuh ini, inti, yang merupakan sari, bagian yang murni, sejati, indah, kekal, tak lekang oleh waktu.

Dalam kitab kuno India milik kaum Brahman / Hindu, yaitu kitab Kena Upanishad, dikatakan bahwa sesuatu yang disebut “ Jiwa “, “ Inti Diri “, “ Roh “, HARUS MEMILIKI KUASA UNTUK MEMERINTAH.

Ditambahkan, Jiwa tidak menerima perintah dari penguasa lain, Jiwa adalah PENGUASA TERTINGGI, yang menjadi tuan atas dirinya sendiri. Jiwa adalah PENGUASA atau PEMILIK atas DIRI KITA. Jiwa BERBEDA DENGAN DIRI KITA NAMUN TINGGAL DIDALAM DIRI KITA.

Jiwa , yang disebut atman dalam kitab-kitab Hindu, adalah diri individual, dan identik dengan Diri Universal, Makhluk Tertinggi yang disebut Brahman. Atman tinggal didalam setiap makhluk hidup. Seperti halnya Brahman, atman adalah kekal.

Dari definisi tersebut, mari kita merangkum sifat-sifat “ Jiwa “ menurut pengetahuan konvensional yang dipahami oleh manusia pada umumnya tersebut : 1). Jiwa adalah INTI DIRI. 2). Jiwa adalah YANG MENCIPTAKAN DIRI INDIVIDU. 3). Jiwa bersifat KEKAL. 4). Jiwa TIDAK DAPAT DIPAHAMI. 5). BERKUASA UNTUK MEMERINTAH. 6). PENGUASA DAN PEMILIK diri kita. 7). BERBEDA DENGAN DIRI KITA NAMUN TINGGAL DALAM DIRI KITA.

Untuk menemukan, apakah dan siapakah “sejati”-nya “Aku” ini, kita harus masuk kedalam diri kita, melakukan pengamatan, melakukan penyelidikan, melalui cara yang ditunjukkan oleh Sang Buddha, yaitu Samma-Samadhi dan Samma-Sati. Melalui Samma-samadhi dan Samma-Sati, kita mengetahui, bahwa tubuh dan segenap yang ada padanya ini ternyata terdiri dari lima ( 5 ) agregat, lima penyusun : 1). Proses Materi, yaitu yang membentuk tubuh / rupa ( air, api, udara, tanah ), 2). Perasaan, 3).Pencerapan, 4). Bentukan mental, 5). Kesadaran.

Bilamana seluruh fenomena bathin dan jasmani ditelaah dalam unsur-unsur penyusunnya tersebut, ternyata tidak ditemukan adanya unit lain yang oleh manusia umumnya disebut sebagai INTI DIRI, JIWA, ROH, AKU.

Interaksi kelima kelompok energi dan unsur tersebut diatas mewujud sebagai ‘ego’ atau kepribadian. Namun, adakah ‘inti diri’ ? Bagaimana mungkin bisa dikatakan ada ‘inti diri’ jika ternyata hanya terdiri dari kelima kelompok energi dan unsur tersebut ? Dari Kelimanya, adakah yang menjadi INTI ? Tidak ada yang menjadi inti, karena kelima kelompok tersebut saling tergantung satu sama lain, tidak ada yang berdiri sendiri, yang terpisah, sebagai yang memerintah diri.

Singkatnya, ada perbuatan yang dilakukan oleh kelima kelompok tersebut, namun pelakunya, inti diri, yang terpisah, yang kekal, yang berbeda dari “ diri “ tersebut , TIDAK ADA. Perbuatan menyunting dan merangkum ajaran Sang Buddha di dalam blog ini, ada, tapi pelakunya, yang dikenal sebagai “ Ratana Kumaro “ , …. TIDAK ADA. Perbuatan memposting artikel di blog ini dilakukan oleh perpaduan, saling-ketergantungan, kerja-sama dari kelima penyusun tersebut diatas.

Secara konvensional, sebagai kesepakatan bahasa bersama untuk memahami, sebagai “ pengaran-aran “ ( Jawa ), sebagai PENYEBUT, interaksi antara energi dan unsur tersebut diatur oleh hukum sebab akibat, dan sekalipun sama sekali tidak ada jiwa atau diri, namun interaksi tersebut menghasilkan sesosok manusia, SESEORANG – jika kita menggunakan istilah “ orang “ untuk menggambarkan kombinasi proses jasmani dan bathin tersebut.

Artinya, sebagai “penyebut”, perawat blog ini adalah : RATANA-KUMARO / RATNA KUMARA / RATYA MARDIKA, namun inti diri / jiwa / roh-kekal yang disebut namanya tadi, TIDAK ADA.

Kombinasi rumit dari kelima kelompok penyusun ini sangat tergantung pada proses-proses yang terjadi sebelumnya, terutama kesinambungan KAMMA / KARMA / KEHENDAK, yang merupakan proses kehendak dan akibat dari kehendak tersebut ( Ini adalah hukum karma yang akan saya terangkan nanti ).

Jadi, perbedaan individu itu ada, diakui, tapi INTI DIRI, JIWA itu sendiri secara mutlak tidak ada.

Seorang pencipta lagu, misalnya, dikarenakan di masa lampau dia senantiasa melakukan perbuatan yang meninggalkan kondisi untuk terbentuknya perangai ( akibat kehendak / kamma / karma ) yang muncul saat ini.

Akan tetapi, hal tersebut terjadi karena kehendak / kamma / karma meninggalkan potensi yang memungkinkan munculnya daya cipta, bukan karena adanya DIRI / JIWA YANG KEKAL yang berdiam dalam “ seseorang “ pencipta lagu tersebut.

Sesungguhnya, tidak ada seseorang atau individu pun yang identik dari waktu ke waktu; semuanya adalah pergantian dari energi dan unsur, dan tidak ada yang bersifat kekal.

Pandangan umum sehari-hari seperti ruh, ego, diri, jiwa, kepribadian, seolah tampak begitu nyata, jelas, dan dapat didefinisikan dengan baik oleh para ahli jiwa modern ( psikolog ) dan orang awam lainnya; tapi secara mutlak dan bagi mereka yang telah mencapai pencerahan, semua hanyalah ilusi, dan, delusiv.

Dunia objek dan orang yang kita kenal, dunia ego dan keakuan, hanyalah bentukan konseptual yang diciptakan oleh pikiran kita sendiri, hanya ilusi yang kita buat sendiri, bukan kebenaran sejati yang hakiki.

Semua gagasan konseptual, seperti DIRI, makhluk, atau orang, hanyalah fenomena mental dan material, yang bersifat fana, terkondisi, saling tergantung, dan TIDAK ADA INTI DIRI.

Jika kita ingin memahami inti diri yang diajarkan oleh ajaran kuno yang sebenarnya sudah usang ( namun masih banyak dipakai oleh orang-orang yang belum tercerahkan hingga sekarang ) , maka penggambarannya adalah sebagai berikut : INTI DIRI, menurut mereka adalah substansi pokok yang bersemayam dalam tubuh kita, berbentuk cahaya bulat, berdiam dalam mahkota kepala, masuk kedalam hati didada, yang tersambung oleh tali perak, berpusat pada Diri Tertinggi, Jiwa Absolut. Apakah ajaran ini dapat dibenarkan ? Adakah inti diri itu ? Jawabannya, ternyata, TIDAK ADA.

Anda mungkin ada yang bertanya, bagaimana dengan unsur dari “ jiwa “ yang disebut sebagai ‘kesadaran’ ? bukankah dia sepertinya kekal, dia sepertinya INTI DIRI ? Bukankah dia yang melihat, merasakan, dan lain-lainnya ?

Kesadaran, yang nampaknya kekal, ternyata ia hanyalah proses, arus berkesinambungan dari ‘CITTA’ ( suatu pergantian persitiwa mental individual yang bersifat SEMENTARA ) dan ‘CETASIKA’ ( Suatu kumpulan faktor-faktor mental yang kompleks ), yang keduanya berperanan khusus dalam pembentukan kesadaran. Dalam proses sinambung ini tidak terlibat adanya ‘diri’, ‘inti diri’, ‘jiwa’, ‘ruh’ , atau agen-agen lainnya.

Orang-orang yang menolak kebenaran mutlak mengenai tidak adanya Jiwa, sebenarnya didasari oleh rasa takut yang mendalam terhadap penolakan adanya Jiwa.

Orang-orang tersebut, seperti umumnya manusia lainnya, sangat melekat pada hidupnya, sehingga mereka cenderung untuk mempercayai adanya sesuatu yang bersifat tetap, kekal, abadi, didalam dirinya. Bila kemudian ada orang yang mengatakan bahwa tiada sesuatu apapun yang kekal dalam diri mereka, tidak ada semacam jiwa dalam diri mereka yang akan berlangsung selamanya, mereka lalu menjadi ketakutan.

Mereka bertanya-tanya apa yang akan terjadi dengan mereka di masa mendatang – mereka takut m u s n a h.

Namun, dengan mengatakan tidak adanya ‘Jiwa’, bukan berarti pula saya mengatakan bahwa setelah tubuh, raga, rupa, yang terdiri dari empat ( 4 ) unsur : air, api, udara, tanah, ini mati, “NAMA” ( pikiran, perasaan, pencerapan, dan, kesadaran ) atau yang secara konvensional / kesepakatan bersama disebut sebagai “Jiwa” akan musnah, tidak. Karena Energi “nama” ( pikiran, perasaan,pencerapan, dan, kesadaran ) akan bertumimbal lahir, lahir kembali kedalam alam-alam kehidupan sesuai kehendaknya ( karmanya ) sendiri. Kehendak baik, maka terlahir dialam yang baik, kehendak buruk, maka terlahir dialam yang buruk ( lihat artikel “Alam Semesta III ; Kosmologi Buddhis “ ).

Tidak kekal, namun tidak pula musnah. Kasunyatan tentang “ jiwa” adalah, terlahir kembali dengan patisandhi; “ kesadaran yang berkesinambungan “, kesadaran tumimbal lahir yang tidak berpindah dari kehidupan sebelumnya, melainkan timbul karena adanya berbagai kondisi dari kehidupan sebelumnya, misalkan kondisi kamma / kehendak / karma.

Jadi, orang yang terlahir kembali bukanlah orang yang sama dengan orang yang telah meninggal sebelumnya, namun juga bukan orang yang sepenuhnya berbeda dengan yang telah meninggal sebelumnya itu.

Inti dari kebenaran sejati tentang “ jiwa “adalah, tidak ada tubuh ruh, tubuh illahi, tubuh jiwa, tubuh metafisik, yang sama, yang berlanjut dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya.

‘Tidak Kekal’, namun juga ‘Tidak Musnah’, itulah kasunyataan tentang ‘Jiwa’ yang diyakini manusia sebagai ‘Ada’ untuk selamanya.

Kelima penyusun tersebut diatas tadi, bukanlah ‘inti diri’, bukanlah ‘jiwa’ , karena mereka semua fana, tidak memuaskan, tidak kekal, dan tidak punya kuasa untuk memerintah ( ingat definisi jiwa / roh menurut paham Hindu dan agama-agama lainnya ).

‘Rupa’ ( bentuk materi ) bukanlah inti diri, bukanlah ruh, bukanlah jiwa, bukan tuan dan pemilik serta pemerintah dirinya sendiri, dan terikat pula pada kesengsaraan. Jika ‘Rupa’ adalah inti diri, mengapa dia tidak punya kuasa untuk memerintah dirinya selalu sehat, berubah menjadi lebih tampan, dan kekal, kebal dari semua penyakit, kelapukan, dan kerusakan ?

‘Nama’ ( “ jiwa “ : pikiran, perasaan, pencerapan, kesadaran ), bukanlah jiwa, bukanlah inti diri, karena dia bukanlah substansi yang berbeda yang berdiam dalam Rupa ( bentuk materi ), ‘Nama’ bukanlah pemilik tubuh, bukan penguasa atas tubuh, yang bisa memerintah tubuh untuk selalu kuat, tidak kenal lelah, tidak bisa tua, tidak bisa mati. Jika ‘Nama’ adalah Penguasa tubuh, berkuasa atas diri, mengapa dia tidak bisa memerintahkan tubuhnya untuk menjadi lebih baik, kekal, tidak terserang penyakit, kelapukan, kerusakan ? Mengapa ‘Nama’ tidak bisa memerintahkan segala perasaan menjadi kekal, baik perasaan suka, tidak suka, sayang, tidak sayang ? Mengapa pikiran, pencerapan, bahkan kesadaran pun tidak bisa diperintahnya untuk kekal ?

Karena berpikir bahwa dirinya benar-benar ada, maka orang menjadi ber-ego, menjadi tersinggung, menjadi marah, menjadi bersedih, menjadi menangis.

Pada saat dia disakiti seseorang yang lainnya, dia menangis, dia berpikir ego-nya terluka, padahal, SIAPA YANG MENYAKITI ? DAN, SIAPA YANG DISAKITI ? KEDUA-DUANYA : T I D A K A D A .

Seseorang yang kita anggap ada, hanyalah proses menjadi ( Inggris : ‘Being’ ) , proses saling ketergantungan dari unsur-unsur dan energi, dari material dan mental, dari rupa dan nama, tetapi ; TIDAK ADA INTI DIRI, TIDAK ADA ROH, DIRI, PRIBADI TINGGI didalam bentuk yang kita anggap sebagai “seseorang” tersebut.

Sebagai contoh : didepan kita ada benda yang secara konvensional kita sebut sebagai KOMPUTER, tapi adakah roh penggerak didalamnya ? adakah intinya sebagai sosok yang disebut ‘jiwa’ bagi komputer tersebut ? TIDAK ADA ! Yang ada hanyalah proses saling ketergantungan antara unsur-unsur dan energi, antara material dan energi listrik, proses-proses elektrik, selain unsur-unsur itu, kita tidak menemukan inti yang lain dari benda yang kita sebut komputer itu. Ini contoh yang sederhana, yang meskipun berbeda kasus dan bentuk, tapi cukup bisa menggambarkan topik ini didalam hati dan pikiran kita.

Memahami kebenaran mutlak tentang TIADA JIWA, TIADA INTI DIRI adalah fondasi bagi tercapainya PENCERAHAN SEMPURNA. Selama kita masih terselimuti kabut ilusi tentang JIWA, RUH yang kekal abadi, yang berpindah-pindah, maka kita tidak akan pernah mencapai PENCERAHAN SEMPURNA.

Teori tentang jiwa, tentang AKU, hanyalah menimbulkan kesombongan, keangkuhan, peperangan, pertengkaran, bermuara pada : PENDERITAAN.

Para petapa yang cerdas dan bijaksana tidak melihat adanya satu teori tentang jiwa yang tidak menyebabkan timbulnya kesedihan, ratapan, penderitaan, tekanan batin, dan kesengsaraan.

Secara tidak bijaksana, kita menginginkan segala sesuatu agar bersifat kekal, namun kita menyadari bahwa ternyata kita tidak punya kuasa, kendali, kewenangan terhadap segala sesuatu. Tiada inti diri, tiada jiwa, tiada ruh, tiada yang kekal, yang dapat kita temukan dalam fenomena apapun.

2. Kesunyataan Mulia Kedua : Sebab Dukkha / Penderitaan adalah ‘Nafsu-Keinginan’ ( TANHA )

Sebab dukkha adalah :

1). Keserakahan ( Lobha ) akan keindriyaan,

2). Kebencian / Kemarahan ( Dosa ),

3). Kebodohan batin ( Moha ).

Nafsu keinginan ( tanha ) mendera kita, mencambuk-cambuk kita, memaksa kita untuk memenuhi “kehendaknya”, kemudian kita berusaha mati-matian, berkorban apapun, lupa diri, lupa sanak-keluarga, lupa saudara, lupa sahabat, demi terpuaskannya nafsu keinginan.

Karena nafsu keinginan ini pulalah timbul kesedihan, karena nafsu keinginan ini pulalah timbul ketakutan, timbul keserakahan, timbul kemarahan, timbul kebencian, timbul peperangan, timbul perpecahan, dan semua hal yang menyebabkan penderitaan.

Dalam ajaran Buddha , diajarkan ada tiga ( 3 ) jenis nafsu keinginan, yaitu :

Kama-tanha, yaitu nafsu keinginan akan kenikmatan indria. Contoh konkritnya adalah : nafsu keinginan untuk mengenyangkan perut hingga lupa pada manusia lainnya, nafsu keinginan untuk berhubungan sexual sehingga melanggar aturan-aturan,norma-norma masyarakat,nilai-nilai kemanusiaan, dan lain-lain.

Bhava-tanha, yaitu nafsu keinginan akan kelangsungan atau kelahiran kembali. Contoh konkritnya yaitu, ingin terlahir kembali dan terus terlahir kembali untuk selalu hidup bersama kekasihnya, atau mungkin bertujuan untuk membalas dendam, dan lain-lain sebagainya.

Vibhava-tanha, yaitu nafsu keinginan akan pemusnahan diri. Contoh konkritnya yaitu : keinginan untuk bunuh diri karena merasa tak sanggup menanggung beban hidup, keinginan untuk “moksa” demi tercapainya kesempurnaan spiritual., dan lain-lain sebagainya.

Hendaklah setiap orang menghentikan kemarahan dan kesombongan, hendaklah ia mengatasi semua belenggu, belenggu dari kekotoran batin, dari tiga akar kejahatan, penyebab kesengsaraan, yakni : Nafsu Keinginan, Keserakahan, dan Kebencian.

Manusia yang tidak lagi melekat pada semua hal duniawi, tidak lagi terikat pada batin dan jasmani, yang telah terbebas dari nafsu-nafsu, tak akan pernah menderita lagi, tak akan mengalami kematian lagi.

Setelah seseorang memahami sifat sunyata dari dunia : dukkha dan sebab dari dukkha, maka segera ia ingin menghentikan segala penderitaannya.

Tapi, apabila keinginan adalah salah satu penyebab dari penderitaan ( dimana penyebab lainnya adalah ketidak-tahuan / keserakahan ), bukankah seharusnya kita tidak usah berdaya-upaya untuk hal apapun juga ?

Adalah penting untuk menyadari bahwa Sang Buddha mengajarkan perbedaan antara keinginan yang tumbuh dari ketidaktahuan dan keinginan yang timbul atas dasar pengertian.

Sang Buddha sering mengatakan, bahwa kita seharusnya senantiasa bergairah ( adithana ), kita senantiasa bertekad ( tiibacchanda ), juga senantiasa mempunyai cita-cita yang kuat untuk mencapai Nibbana ( chandajato anakkate ).

Keinginan menjadi orang tua yang baik, keinginan menjadi teman yang setia, keinginan menjadi warga negara yang bertanggungjawab adalah keinginan-keinginan yang berdasar atas pengertian, dengan demikian akan menghasilkan kebaikan, bukannya penderitaan.

Apabila kehendak, keinginan dan cita-cita didasarkan atas pengertian, dan apabila kesemuanya itu diwujudkan dalam bentuk perilaku sehari-hari, dan bila semuanya diarahkan pada sasaran yang mulia, maka justru keinginan semacam itulah yang dianjurkan.

3. Kesunyataan Mulia Ketiga : Berakhirnya / Lenyapnya Dukkha : NIRVANA ( Pali : NIBBANA )

Berakhirnya dukkha secara sempurna adalah saat seseorang berhasil memadamkan ketiga akar penderitaan, yaitu keserakahan ( lobha ), kemarahan/kebencian ( dosa ), kebodohan batin ( moha ). Ketika ketiga akar dukkha ini padam, saat itulah seseorang mencapai NIRVANA.

Nirvana, berasal dari dua suku kata : 1). NI, berarti negasi / negatif, tanpa ; 2). VANA, berarti jalinan nafsu keinginan. Sehingga NIRVANA adalah suatu kondisi batin diluar duniawi ( lokuttara dhamma ) yang penuh kebahagiaan sejati, kekal abadi, dan tanpa jalinan nafsu keinginan yang mendera.

Nirvana / Nibbana adalah keadaan diluar keduniawian ( Lokuttara Dhamma ), untuk disadari hanya oleh kebijaksanaan yang mendalam.

Pemahaman Nirvana / Nibbana yang hanya berdasarkan logika & intelektualitas semata adalah mustahil, karena Nirvana / Nibbana bukan suatu hal yang dicapai berdasar pemikiran yang logis. Ajaran Sang Buddha memang logis, masuk di akal, tapi Nirvana / Nibbana adalah berada diluar jangkauan logika.

Seorang rohaniwan yang memiliki kesaktian sekalipun belum tentu memahami Nirvana / Nibbana, karena Nirvana tidak ada kaitannya sama sekali dengan kesaktian yang bersifat harta duniawi. Nirvana / Nibbana bukan untuk di-logika, tetapi untuk dituju, dicapai, dijalani, dialami sendiri.

Nirvana / Nibbana adalah Kesunyataan Mulia yang Ketiga dari ajaran Empat Kesunyataan Mulia, yakni mengenai : Musnahnya Penderitaan ( dukkha nirodha ariya sacca ).

Pada kesunyataan mulia ketiga ini Sang Buddha menegaskan, mengajarkan, bahwa kita dapat bebas dari penderitaan dan mencapai kebebasan dan kebahagiaan Nirvana / Nibbana.

Nirvana / Nibbana adalah Kebahagiaan Tertinggi ( Nibbanam Paramam Sukham ).

‘Vana’ ; Keinginan bertindak sebagai suatu tali yang menghubungkan satu kehidupan dengan kehidupan yang lain.

Sehingga, disebut Nibbana / Nirvana , karena ketika mencapai kondisi ini, alam ini, maka terpisahlah sudah kita dengan jalinan keinginan yang mengikat kita dari satu kelahiran ke kelahiran berikutnya.

Itu sebabnya, ada ajaran yang hidup di masyarakat Jawa kuno untuk “ Ora penginan “ ( Tidak bersifat selalu ingin sesuatu ).

Selama seseorang terikat dengan keinginan atau kemelekatan, orang itu sama dengan menimbun kegiatan Kamma baru yang pasti terwujud dalam bentuk seseorang atau bentuk yang lain dalam lingkaran kelahiran dan kematian ( samsara ) yang terus menerus.

Bila semua bentuk keinginan dibasmi, daya kemampuan Kamma berhenti bekerja, dan seseorang telah mencapai Nirvana / Nibbana ini, maka ia terlepas dari lingkaran kelahiran dan kematian.

Nirvana / Nibbana diterangkan sebagai pemadaman api keserakahan ( Lobha ) akan keindriyaan, kebencian ( Dosa ), dan Khayalan / kebodohan-batin ( Moha ).

“ Seluruh dunia terbakar,” Kata Sang Buddha. “ Dengan api apa dunia tersebut dinyalakan ? Dengan api nafsu keinginan, kebencian dan khayalan; dengan api kelahiran, usia tua, kematian, penderitaan, keluhan, kesakitan, kesedihan dan keputus-asaan dunia dinyalakan”.

Nibbana, dalam satu segi, diterjemahkan sebagai pemadaman dari api-api ini. Nibbana bukanlah “ tidak ada apa-apa “, melainkan pemadaman dari kesemua api tersebut diatas.Pemadaman dari api-api ini adalah cara satu-satunya, jalan tunggal, untuk mencapai Nirvana / Nibbana.

Sang Buddha menggunakan ungkapan-ungkapan lain untuk menggambarkan keadaan ini :

Kelanggengan ( Amata )

Pernaungan Yang Aman ( Khema )

Kedamaian ( Santa )

Perlindungan ( Tana )

Kebahagiaan Tertinggi ( Paramam Sukkham )

Penghancuran Keinginan Rendah ( tanhakkhaya )

Keabadian ( Dhura )

Tanpa Batas ( Ananta )

Tak Berkondisi ( Asamkhata )

Yang Tidak Ada Bandingannya ( Anupameya )

Yang Termulia ( Anuttara )

Yang Tertinggi ( Para )

Kebahagiaan ( Siva )

Kesucian Mutlak ( Visuddha )

Kebebasan ( Muti )

Perdamaian ( Santi )

Diluar Keduniawian ( Lokuttara )

Dan lain-lain.

Sabda Sang Buddha :

“ Apabila seseorang telah membebaskan batinnya, para dewa sekalipun tak dapat menjejakinya, walau mereka berpikir; “ Ini adalah kesadaran Sang Tathagata.” Mengapa ? Disebabkan karena Buddha tak terjejaki. Walau saya berkata demikian, beberapa pertapa dan Brahmin salah menafsirkan, bertentangan dengan kenyataan, mereka berkata : “ Pertapa Gotama adalah berpandangan nihilis, sebab dia mengajarkan pemotongan, penghancuran, hilangnya keberadaan secara menyeluruh.” Tapi Saya tidak mengatakan demikian. Dari dulu sampai sekarang, Saya hanya mengajarkan tentang Penderitaan dan Penghentian Penderitaan.”

Suatu ketika, seorang bernama Upasiva bertanya kepada Sang Buddha : “ Mereka yang telah pergi ( ke Nibbana ), apakah mereka musnah keberadaannya, atau mereka tetap tak lekang selamanya ?

Jelaskan kepada saya, Oh, Guru Bijaksana, Sebab Kaulah yang mengetahui segalanya. “

Sang Buddha menjawab :

“ Tak dapat dinilai mereka yang telah pergi, yang oleh seseorang mungkin dikatakan sebagai Tidak Ada Lagi.

Ketika semua fenomena telah tiada, semua cara untuk menggambarkannya juga tiada. “

Sekali waktu, seorang pengembara bernama Vacchagota bertanya pada Sang Buddha tentang keberadaan mereka yang telah mencapai Nibbana, mereka timbul ( dengan kata lain, tetap keberadaannya ) atau tidak timbul ( dengan kata lain, hilang keberadaannya ). Sang Buddha menolak untuk memberi jawaban, dan menerangkan pada kita bahwa beliau menolak karena Nibbana adalah keadaan yang tak dapat diterangkan dengan kata-kata :

“ Tapi, Gotama yang bijaksana, dimana timbulnya para siswa yang batinnya terbebaskan itu ? “

“Istilah “Timbul” tidak dapat terpakai.”

“Bila demikian, bagaimana kalau dikatakan “ Tidak Timbul “. “

“ Tidak Timbul “, juga tidak terpakai. “

“ Bila demikian, apakah mereka” timbul dan juga tidak timbul “ ? “

“ “ Timbul dan Tidak Timbul “ juga tidak terpakai. “

“ Bila demikian mereka “ tidak timbul dan juga tidak tidak timbul ? “ .“

“ “ Tidak Timbul dan juga Tidak Tidak Timbul “, juga tidak terpakai. “

“Dengan demikian, saya kehilangan jejak dalam hal ini, Gotama yang baik, saya bingung, dan kepuasan yang saya dapati pada pembahasan yang lalu, sekarang telah tiada lagi… . “

“ Kesadaran Tathagata terbebas dari pengungkapan-pengungkapan; dia begitu dalam, tak terukur, tak diketahui dalamnya seperti lautan. “ Timbul “ tak terpakai, “ Tidak Timbul “ tak terpakai, “ Timbul dan juga Tidak Timbul “ tak terpakai, “ Tidak Timbul dan juga Tidak Tidak Timbul “ juga tidak terpakai. “

Yang dimaksud Sang Buddha, bahwa seseorang yang telah mencapai Nibbana keberadaannya tidak ada lagi, adalah bahwa semua ciri-ciri yang dihubungkan dengan keberadaan – lahir, mati, jasmaniah, bergerak dalam waktu dan ruang, dan berperasaan sebagai suatu pribadi sendiri – tidak lagi dapat digunakan untuk menggambarkannya, juga untuk menggambarkan Nibbana itu sendiri. Maksud dari pernyataan bahwa seorang yang telah mencapai Nibbana keberadaannya tidak musnah, adalah tepat seperti itu.

Dimensi Nibbana tak dapat digambarkan secara tepat dengan bahasa duniawi, pula keberadaan Nibbana tak dapat dibayangkan oleh pikiran duniawi.

Namun, meski sulit digambarkan, dijangkau oleh logika, Sang Buddha memberi kita gambaran umum tentang keberadaan Nibbana. Dengan menggambarkan batin manusia, Sang Buddha berkata :

“ Batin adalah putih suci, namun dia ternodai oleh kekotoran batin yang sebelumnya tidak ada. Orang awam tidak menyadarinya, oleh karenanya mereka tidak menjaga batinnya. Batin adalah putih suci, dan dapat dimurnikan dari kekotoran batin yang sebelumnya memang tidak ada. Siswa yang agung mengerti hal itu, makanya mereka menjaga batin mereka. “

Dengan kata lain, batin adalah suci pada awalnya ( pabhassaram idam cittam ), kemudian dinodai kotoran batin yang sebenarnya adalah sesuatu yang asing bagi batin. Bila kotoran batin dibersihkan, maka batin kembali suci lagi. Sang Buddha bersabda :

“ Dimana tanah, air, api, dan udara tak berpijak ? Dimanakah yang panjang dan pendek, kecil dan besar, murni dan tak murni, nama dan rupa, akhirnya musnah ? Jawabnya adalah : Itu adalah kesadaran dari seorang Yang Agung – tak tertandai, tak terikat, dan bercahaya. Disana tak ada tempat tanah, air, api, dan udara itu berpijak. Disana yang panjang dan pendek, kecil dan besar, murni dan tak murni, nama dan rupa, akhirnya musnah. Bila kesadaran telah musnah, maka demikian pula semuanya itu. “

Nirvana / Nibbana adalah sebuah kondisi-batin dimana jasmaniah dan semua keberadaan berlawanan-pasang ( panjang dan pendek, besar dan kecil, murni dan tidak murni ) tidak ada lagi serta batin tak tertandai lagi ( anidassanam ), tak terikat ( anatam ) dan bercahaya ( sabbato pabham ). Bercirikan sebagai keadaan kekal ( nibbanapadam accutam ) dari kemurnian ( suddhi ), kebebasan ( vimitti ) dan kebahagiaan tertinggi ( nibbanam paramam sukham ).

SA-UPADISESA NIBANNA

Sang Buddha memberitahukan, bahwa Nibbana dapat dicapai dalam dua cara. Pertama, mereka yang mencapai Nibbana, dengan batin yang telah bebas, tapi karena jasmani-Nya masih ada, maka dia masih menjadi obyek penderitaan jasmaniah. Yang pertama ini disebut sebagai Nibbana dengan sisa dasar ( Supadisesa Nibbana ).

ANUPADISESA NIBBANA

Lalu, setelah mereka mati, batin juga dibebaskan dari penderitaan jasmaniah dan saat itu seseorang mencapai Nibbana Sempurna. Ini disebut Nibbana tanpa sisa dasar ( anupadisesa nibbana ), atau sering juga disebut sebagai Nibbana Sempurna ( Parinibbana ).

Meskipun kita hanya bisa mengerti sepenuhnya keadaan Nibbana setelah kita mengalaminya sendiri, namun kita tetap dapat mengetahui keberadaan “alam” Nibbana itu. Pertama, kita dapat menyimpulkan keberadaannya. Apabila ada dimensi disertai kelahiran, kematian, kekotoran batin dan kejadian, maka dapat disimpulkan bahwa ada dimensi tanpa itu. Naskah Buddhis Kuno menyebutkan :

“ Dimana ada panas,

Disitu pasti pula ada dingin.

Demikian pula,

Dimana ada Tiga Api,

Disitu pasti pula ada Nibbana.

Dimana ada kejahatan,

Disitu pasti pula ada kebajikan.

Demikian pula,

Dimana ada kelahiran,

Keadaan “ Tak Terlahir “, dengan demikian, juga ada. “

Kedua, kita dapat mengetahui adanya keadaan seperti Nibbana, karena ada yang mencapaianya, yaitu : Sang Buddha beserta pengikut-pengikutnya, Para Arahat Yang Mulia, Yang Telah Pergi.

Sang Buddha menegaskan keberadaan Nibbana. Beliau bersabda :

“ Ada sesuatu Yang Tak-Terlahirkan, Tak-Terjadi, Tak-Terbuat,Tak-Tergabung.

Bila tidak ada yang Tak-Terlahirkan,Tak-Terjadi,Tak-Terbuat,Tak-Tergabung, maka tidak akan ada jalan untuk bebas dari Terlahir,Terjadi,Terbuat,Tergabung.

Tetapi karena adanya Yang Tak-Terlahir,Tak-Terjadi,Tak-Terbuat,Tak-Tergabung, maka ada jalan untuk terbebas dari Terlahir,Terjadi,Terbuat,Tergabung.”

Sekali lagi Beliau menegaskan keberadaan Nibbana, sebagai berikut :

“ Ada suatu keadaan, dimana tidak ada tanah, air, api, dan udara, dimana tidak ada Lingkup Ruang Tak-Terbatas, Kesadaran Tak-Terbatas,Kehampaan, juga Lingkup Bukan Kesadaran bukan pula Tanpa Kesadaran, tidak di bumi ini, bumi seberang, ataupun keduanya, tidak ada matahari, tidak ada bulan, dimana tidak ada yang datang untuk dilahirkan, tidak ada yang pergi ke kematian, tidak ada kurun waktu, tidak ada yang terjatuh dan timbul. Bukan sesuatu yang terpaku, tidak pula bergerak. Dia berasaskan kehampaan. Inilah sebenarnya akhir penderitaan ( Nibbana ). “

Dapatkah setiap orang mencapai Kebahagiaan dan Kebebasan Nibbana ? Bila dapat, apakah setiap orang pada akhirnya akan mencapainya ? Jawaban untuk pertanyaan pertama sudah jelas, yakni bahwa setiap orang dapat mencapai Nibbana, dan justru Sang Buddha senantiasa mendorong setiap orang untuk menjadikan Nibbana tujuan hidupnya serta agar berupaya sekuatnya untuk mencapainya.

“ Keadaan Abadi ini telah banyak yang mencapainya.

Dan tetap dapat dicapai saat inipun,

Bagi siapa yang menjalankannya sendiri,

Tapi tidak bagi yang tidak berusaha sekuatnya. “

Apakah setiap orang akan mencapainya ? Jawaban dari pertanyaan ini tidak dapat diramalkan, karena setiap orang mempunyai minat dan cita-cita masing-masing. Sang Buddha telah mengajarkan Dhamma dengan sekuat tenaga, dengan berbagai macam cara, tetapi tentu saja pelaksanaan dan hasil akhir dari setiap siswa-Nya akan berbeda-beda.

Berlawanan dengan Samsara ( perwujudan keberadaan , lingkaran arus kelahiran-kematian-kelahiran-kematian, dan seterusnya ), Nirvana / Nibbana adalah kekal ( dhuva ), diinginkan ( subha ), dan bahagia (sukha).

4. Kesunyataan Mulia Keempat : Jalan Menuju Lenyapnya / Berakhirnya Dukkha

Jalan ini adalah Jalan Arya / Mulia Beruas Delapan ( Arya Atthangika Magga ), yang bila diringkas maka akan menjadi 3 ruas  :

1). PANNA, Kebijaksanaan – Benar

1.a). Pengertian Benar ( Samma-ditthi ),

1.b). Pikiran Benar ( Samma-sankappa ), ;

2). SILA, Moralitas – Benar.

2.a). Ucapan Benar ( Samma-vaca ),

2.b).Perbuatan Benar ( Samma-kammanta ),

2.c). Pencaharian Benar ( Samma-ajiva ). ;

3). SAMADHI, Pemusatan Perhatian – Benar.

3.a). Daya-upaya Benar ( Samma-vayama ),

3.b).Perhatian Benar ( samma-sati ),

3.c). Konsentrasi Benar ( Samma-samadhi ).


Jika anda ingin menuju pada “Yang-Mutlak, Yang-Tidak-Tercipta, Yang-Tidak-Terlahir… “ , menuju “Nibbana / Nirvana “, maka hanya ada satu jalan, yaitu : ARIYA ATTHANGIKA MAGGA , Jalan Mulia Beruas Delapan yang dibabarkan oleh Sang Buddha.

Berbagai jalan menuju neraka, alam hantu, alam binatang, alam setan jahat, alam manusia, alam-alam surga, alam “Tuhan” ( alam Maha-Brahma ) hingga alam para suciwan di Arupa-Loka, pernah kita bahas pada pembahasan “Alam Semesta III ; Kosmologi Buddhis “ ( Coba anda buka dan baca lagi , di blog ini juga, arsip tulisan-tulisan saya ). Jika anda ingin merealisasi “Yang-Mutlak”, merealisasi Nibbana, maka jalan satu-satunya adalah : SILA -> SAMADHI -> PANNA.

Sila yang harus anda jaga, bagi ummat awam adalah PANCASILA. Namun Sila yang harus dirawat demi “Pencerahan” / terealisasinya Nibbana adalah 227 Sila Pattimokkha ( Sila Kebhikkhuan ).

Samadhi, sudah sedikit di ulas pada “Samadhi-Benar”. Meskipun sesungguhnya pengetahuan mengenai “Samadhi” sangatlah luas jika itu ditilik dari pengajaran Buddha-Dhamma, sangatlah tidak sederhana. Pada intinya, ada dua metode yang diajarkan Sang Buddha :

1. Samatha ( Ketenangan ), dan,

2. Vipassana ( Pandangan Terang ).

Panna, ialah Kebijaksanaan yang menembus kesunyataan alam semesta, kehidupan, dan alam kehidupan. Dengan “Panna”, seseorang akan tertuntun menuju “Pembebasan”, pembebasan dari semua ilusi duniawi yang membingungkan dan mengakibatkan dukkha bagi semua makhluk. Dengan Panna, seseorang akan tidak lagi “melekat” pada dunia ini, pada kesenangan indrawi, pada harta-benda, dan lain sebagainya. Dengan Panna yang kuat, seseorang akan melepaskan diri dari jerat-jerat keduniawian, dan akhirnya pada akhir perjalanan samsaranya, akan mampu mencapai “Yang-Mutlak”, mencapai “Nibbana” / “Nirvana”.

Jalan Mulia Beruas Delapan ( Ariya Atthangika Magga ) ini sesungguhnya dapat diperinci ( untuk memperjelas sebagai sebuah sistem / Jalan-Pembebasan ) sebagai berikut :

1. Pengertian Benar ( Samma-ditthi )

Yaitu sebuah pengertian yang menembus arti dari :

a. Empat Kesunyataan Mulia

b. Ti-Lakkhana ( Tiga Corak Umum )

c. Hukum Paticca-Samuppada

d. Kamma-Niyama ( Hukum Karma )

2. Pikiran Benar ( Samma-Sankappa )

a. Pikiran yang bebas dari nafsu-nafsu keduniawian ( nekkhama-sankappa ).

b. Pikiran yang bebas dari kebencian ( avyapada-sankappa ).

c. Pikiran yang bebas dari kekejaman ( avihimsa-sankappa ).

3. Ucapan Benar ( Samma-Vaca ) :

Dapat disebut sebagai “Ucapan-Benar”, jika dapat memenuhi empat syarat dibawah ini :

a. Ucapan itu BENAR / SESUAI KENYATAAN.

b. Ucapan itu BERALASAN.

c. Ucapan itu BERMANFAAT / BERFAEDAH.

d. Ucapan itu TEPAT PADA WAKTUNYA.

4. Perbuatan Benar ( Samma-Kammanta )

a. Menghindari pembunuhan makhluk hidup apapun juga, dengan alasan apapun.

b. Menghindari pencurian / pengambilan barang yang tidak diberikan.

c. Menghindari perbuatan asusila.

5. Mata-Pencaharian Benar ( Samma-Ajiva )

Lima mata-pencaharian salah yang harus dihindari ( M.117 ), yaitu :

a. Penipuan.

b. Ketidak-setiaan.

c. Penujuman.

d. Kecurangan.

e. Memungut bunga yang tinggi ( praktek lintah darat )

Disamping itu, seorang siswa harus pula menghindari lima macam perdagangan, yaitu :

f. Berdagang alat senjata ( pisau, pedang, belati, pistol, martil, dan lain2 bentuk senjata ).

g. Berdagang makhluk hidup

h. Berdagang daging ( atau segala sesuatu yang berasal dari penganiyayaan makhluk-makhluk hidup ).

i. Berdagang minum-minuman yang memabukkan atau yang dapat menimbulkan kecanduan.

j. Berdagang racun.

6. Daya-Upaya Benar ( Samma-vayama )

a. Dengan sekuat tenaga mencegah munculnya unsur-unsur jahat dan tidak baik didalam bathin.

b. Dengan sekuat tenaga berusaha untuk memusnahkan unsur-unsur jahat dan tidak baik, yang sudah ada di dalam batin.

c. Dengan sekuat tenaga berusaha untuk membangkitkan unsur-unsur baik dan sehat di dalam batin.

d. Berusaha keras untuk mempernyata, mengembangkan dan memperkuat unsur-unsur baik dan sehat yang sudah ada di dalam batin.

7. Perhatian Benar ( Samma-sati )

Samma-sati ini terdiri dari latihan-latihan Vipassana-Bhavana ( meditasi untuk memperoleh pandangan terang tentang hidup ), yaitu :

  a. Käyä-nupassanä         = Perenungan terhadap 
tubuh 
  b. Vedanä-nupassanä       = Perenungan terhadap
 perasaan. 
  c. Cittä-nupassanä        = Perenungan terhadap 
kesadaran. 
  d. Dhammä-nupassanä  = Perenungan terhadap 
bentuk-bentuk pikiran.

8. Konsentrasi-Benar ( Samma-Samadhi ), yaitu latihan meditasi untuk mencapai Jhana-Jhana ( Rupa-Jhana dan Arupa-Jhana ).

Posted in BUDDHA | 5 Comments »

BENCANA ALAM DAN WABAH PENYAKIT M/ BUDDHISME

Posted by ratanakumaro pada November 13, 2008

BENCANA ALAM DAN WABAH PENYAKIT DALAM


PERSPEKTIF BUDDHA-DHAMMA


“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Hari Jumat, 18 Juli 2008, saya mendapat pertanyaan yang sangat menarik dari salah seorang responden. Inti pertanyaan yang dilayangkan via email tersebut adalah, “ Salam Saudara Ratna Kumara, bisakah saudara menjelaskan kepada saya mengenai berbagai fenomena alamiah yang terjadi jika ditinjau dari sudut pandang hukum Karma ? Mampukah ajaran Sang Buddha memberi penjelasan mengenai hal tersebut ? “

Sangat menarik. Dalam kepercayaan umumnya, hal ini sangat mudah dijelaskan, yaitu dengan memberi berbagai jawaban seperti misalnya: “Takdir mas…;) ” Lhah, ini kan sudah kehendak yang diatas to thole… 😉 “,

Akan tetapi, dalam Buddha-Dhamma, tidak ada penjelasan ‘buntu’ yang kemudian dipertanggungjawabkan kepada suatu-makhluk tertentu yang misterius yang harus dipercaya saja dan tidak boleh dipertanyakan, hanya boleh di’iya’kan dengan kemisteriusan iman seperti penjelasan-penjelasan diatas. Penjelasan mengenai hal itu bisa diperoleh dengan mengerti kedua hal yang berkaitan dengan ajaran mengenai hukum Karma, yaitu :

1. Hukum Alam ( Panca-Niyama )

2. Korelasi antara Energi Karma dengan Bencana Alam

1. HUKUM ALAM ( Panca Niyama )

Mungkin ajaran ini sudah umum bagi ummat Buddha, juga bagi para responden di weblog “Ratna Kumara” ini yang sudah beberapa kali membaca tulisan saya berkaitan dengannya. Tapi ada baiknya kita membahasnya kembali.

Dalam Abhidharma dikenal lima jenis hukum-alam ( panca-niyama ) :

a. Utu-niyama : hukum energi menyangkut tatanan fisik inorganic, seperti cuaca, angina, dan hujan. Tatanan musim, sifat panas, perubahan iklim yang menyertai perubahan musim, termasuk dalam kelompok ini.

b. Bija-niyama : hukum hereditas menyangkut tatanan biologi atau alam organic, seperti beras yang diproduksi dari padi, rasa manis dari tebu atau madu, karakteristik dari buah-buahan tertentu, dll. Teori sel, gen dan kemiripan kembar juga termasuk dalam kelompok ini.

c. Kamma-niyama : hukum karma menyangkut tatanan sebab dan akibat.

d. Citta-niyama : hukum keteraturan alam batiniah menyangkut tatanan pikiran, seperti proses kesadaran, kemunculan dan kemusnahan kesadaran, komponen kesadaran, dan kekuatan pikiran. Telepati, kemampuan membaca pikiran orang lain, kemampuan memprediksi, dan hal-hal lain yang tak bisa dijelaskan dalam sains, termasuk dalam kelompok ini.

e. Dhamma-niyama : hukum kodrat menyangkut tatanan sifat-dasar fenomena, seperti naluri, gaya gravitasi dan hukum fisika lainnya.

Kelima niyama tersebut tidak terpisahkan satu sama lain. Istilah niyama hanya bertujuan untuk membantu manusia memahami aturan yang bekerja di alam semesta ini. Panca-niyama secara integrative menunjuk satu realitas, beroperasi dalam satu kesatuan, terkait dan saling bergantungan satu sama lainnya. Terminologi yang diberikan untuk menunjuk keterkaitan tersebut adalah ; interdependensi. Konsep interdependensi menempati peranan sentral dalam Avatamsaka-sutra, yang merupakan salah satu teks utama Buddhisme mazhab Mahayana.

Interdependensi antara satu niyama dengan niyama lainnya terjalin secara kontinu atau sinambung terus menerus dan dinamis ( continuum-dynamis ).

Sebagai contoh, dalam interdependensi utu-niyama dengan kamma-niyama, maka segala apa yang kita lakukan ( kamma-niyama ) juga akan mempengaruhi iklim dunia ( utu-niyama ). Misal, jika energi karma negative yang dihasilkan dari akumulasi keserakahan dan kebencian ummat-manusia telah mencapai titik kulminasi tertentu, maka akan terjadi gangguan pada alam atau ekosistem yang dapat berupa : musim hujan tak datang pada waktunya, musim kemarau terlalu panjang, disusul dengan badai hujan yang terlalu ekstrem dan bencana-bencana lainnya.

Contoh berikutnya, interdependensi antara bija-niyama dengan kamma-niyama. Sebagai contoh, energi negative yang dihasilkan dari pembantaian binatang ( dalam hal perburuan illegal, pusat penjagalan hewan, dll ) dan manusia ( dalam hal peperangan dan pembantaian missal yang didasarai alas an apapun juga, termasuk dalih menyebarkan agama-Tuhan dimuka bumi ) secara terus-menerus ( kamma-niyama ) bisa mencapai titik kulminasi tertentu yang mengaktifkan munculnya wabah penyakit baru. Ini menjelaskan mengapa di zaman modern ini muncul berbagai penyakit aneh-aneh yang dizaman baheula tidak pernah dijumpai. Munculnya penyakit baru itu berasal dari kuman yang bermutasi atau bahkan kuman baru ( bija-niyama ). Ternyata setelah orang berhasil menemukan obat bagi penyakit baru itu, muncul kuman baru yang lebih ganas. Siklus ini tidak akan pernah berakhir selama kita masih melakukan kebiasaan-kebiasaan biadab seperti tersebut diatas. Industri kapitalis yang bergerak dalam pemotongan / penjagalan hewan-hewan untuk dipasarkan secara missal merupakan salah satu penyebab utama dalam hal ini. Tradisi penyembelihan hewan-hewan untuk dipersembahkan kepada ‘Penguasa-Alam’ tiap bulan-bulan tertentu juga merupakan salah satu penyebab hal ini. Ilmu kedokteran modern membuktikan bahwa banyak penyakit yang timbul sebagai akibat mengkonsumsi daging berbagai jenis hewan, dan timbul dari bangkai bangkai makhluk hidup yang ‘dibantai’ semena-mena.

Contoh penyakit AIDS juga bisa dijelaskan lewat interdependensi bija-niyama dengan kamma-niyama. Karena kamma-buruk yang berupa pengumbaran nafsu sexual telah mencapai titik kulminasinya, dimana manusia senang berganti-ganti pasangan, tingkat perselingkuhan meningkat, explorasi fantasi sexual ( berhubungan sex dengan hewan, pria dewasa menyodomi anak-anak dibawah umur, esplorasi ‘gaya’ dalam berhubungan sexual yang semakin ‘aneh-aneh’, dll. ), maka hal tersebut kemudian mengaktifkan munculnya wabah penyakit baru yang menhantui ummat manusia : AIDS. Virus ini muncul dari luka-luka dan akumulasi ‘virus’ akibat hubungan sex yang tidak wajar tersebut, juga karena ‘mutasi-genetika’ yang terjadi. Seperti ‘singgat’ atau ‘set’ yang muncul dari makanan busuk, tidak ada yang menciptakan, tapi terjadi secara alamiah, sains ( dalam hal ini fisika, kimia dan biology ) mampu menjelaskan hal tersebut.

Interdependensi antara dhamma-niyama dengan kamma-niyama terwujud dari kaitan yang erat antara gerakan benda-benda alam-semesta dengan karma kolektif makhluk, misalnya ada tsunami yang ‘mengganyang’ masyarakat Aceh, Lumpur ‘Lapindo’ di Porong-Sidoarjo, dan lain-lain, yang menewaskan banyak manusia disekitarnya. Mengapa hanya orang-orang tersebut yang tertimpa musibah, sedangkan yang lainnya, seperti kita disini, bisa selamat, sehat-walafiat ? Mengapa bencana-alam terjadi di tempat-tempat tertentu, tidak di tempat-tempat lainnya ? Kamma kolektif tersebut bisa ditelusur hingga jauh kepada kamma kehidupan lampau. Ingat hukum kamma, seseorang bisa berbuat sesuatu disini saat ini, tapi bisa menuainya saat ini juga, saat berikutnya dalam kehidupan ini, atau pada kehidupan yang berikutnya, dan juga pada kehidupan-kehidupan berikutnya lagi.

Contoh berikutnya adalah interdependensi antara citta-niyama dengan kamma-niyama. Seseorang yang melakukan pemurnian pikiran melalui sila dan Samadhi akan mendapatkan kekuatan batin, bisa membaca pikiran dan hati orang lain, dll. Seseorang yang dari kehidupan lampaunya telah melakukan hal tersebut, bisa saja pada kehidupan saat ini mengalami kecelakaan yang seharusnya menewaskannya, tapi ternyata ia mampu selamat, kembali sehat-walafiat, dan mampu meneruskan hidupnya kembali dengan normal seperti semula.

Hereditas ( bija-niyama ), kejiwaan-lampau ( citta-niyama ) dan karma lampau ( kamma-niyama ) membentuk sisi karakter alamiah dari kehidupan manusia. Perkembangan fisik ( utu-niyama ) dan lingkungan ( dhamma-niyama ) membentuk sisi pengasuhan dari kehidupan manusia. Dengan demikian, agama Buddha memandang perlunya aspek alamiah dan pengasuhan kedua-duanya dalam pengembangan kepribadian.


2. KORELASI ANTARA ENERGI KARMA DENGAN BENCANA ALAM

Meskipun diatas telah disinggung mengenai interdependensi antara kelima hukum-alam, namun dalam sub-bab ini marilah kita membicarakannya lebih lanjut.

Menurut agama Buddha, perbuatan ( karma ) negative yang serupa yang dilakukan banyak orang dalam frekuensi dan internsitas yang tinggi akan menghasilkan karma kolektif yang cukup kuat untuk menghasilkan bencana alam.

Berdasarkan ajaran-ajaran yang merujuk pada Lankavatara-sutra, Avatamsaka-sutra, dan Surangama-sutra, energi karma memicu aktivasi salah satu dari keempat unsure penyusun alam-semesta : tanah, air, api, dan angin, tergantung jenis karma kolektif kolektif yang dilakukan.

Kebencian, kemarahan, dan seks yang berlebihan berkaitan dengan unsure api yang bersifat panas.

Nafsu keinginan, keserakahan, dan kemelekatan berkaitan dengan unsure air yang bersifat menggapai – itulah sebabnya ada cairan di mulut saat memikirkan makanan lezat, cairan / lender di organ seks saat berfantasi adu-asmara dengan kekasih-pujaan-hati, cairan di mata saat memikirkan peristiwa yang penuh nostalgia.

Energi pikiran yang dilahirkan dari keangkuhan, penindasan dan perlakuan semena-mena, berkaitan dengan unsure padat yang bersifat menghantam, menubruk, menabrak. Dalam tindakan penindasan, bila terdapat juga unsure ketidakadilan yang sangat dominant, maka akan mengaktifkan energi gesekan yang menyebabkan gempa-bumi.

Energi pikiran dari pandangan-salah yang keliru dan menyesatkan yang bertolak-belakang dengan realitas-fenomena yang sesungguhnya, sehingga terjadi aktivitas “gerakan”, dan karenanya berkaitan dengan unsure angina. Dari keempat unsure, unsure angin yang terhalus, sesuai dengan energi dari pandangan terbalik yang paling halus tak kentara.

Karma-Kolektif

Unsur yang Terkait

Jenis Bencana

Kebencian, kemarahan, seks yang berlebihan

Api

Gunung berapi meletus, kebakaran hutan, cuaca panas, musim kemarau panjang, pemanasan global.

Nafsu keinginan, keserakahan, kemelekatan

Air

Banjir, permukaan air laut naik secara global,badai hujan, musim hukan yang terlalu panjang, air laut balik ke air sungai.

Penindasan dan perlakuan semena-mena

Tanah

Tubrukan, tabrakan; bila ketidakadilan sangat dominant, terjadi gesekan, sehingga mengakibatkan gempa-bumi.

Pandangan-salah, keliru, menyesatkan, tidak sesuai realitas / hakekat

Angin

Angin topan, tornado, dan berbagai bentuk badai-angin.

Demikianlah penjelasan mengenai berbagai bencana-alam dan wabah penyakit yang terjadi dari sudut pandang Buddha-Dhamma.

Semoga wacana diatas bermanfaat. Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari segala bentuk penderitaan, baik penderitaan batin, maupun penderitaan jasmani.

Salam Damai dan Penuh Cinta kasih… .

( Diolah dari dan dikembangkan dari sumber : “ Kajian Tematis Agama Kristen dan Agama Buddha”, oleh : Djoko Mulyono, Petrus Santoso, Kristiyanto Liman )

— RATNA KUMARA / RATYA MARDIKA —

Semarang-Barat, Jumat 18 Juli 2008

Posted in BUDDHA | 7 Comments »

MAKHLUK-MAKHLUK ANEH ABAD INI

Posted by ratanakumaro pada November 11, 2008

MAKHLUK-MAKHLUK ANEH ABAD

INI


Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Buaya berkepala manusia

Buaya berkepala manusia


Manusia Buaya

Siapa bilang evolusi telah berakhir ? Diatas ini adalah foto makhluk ‘setengah manusia – setengah buaya ‘ yang ditemukan di Safaniya Beach, Eastern Province. Hasil investigasi yang dilakukan menyebutkan bahwa terdapat lebih dari 3.500 ‘ekor’ / ‘orang’ manusia setengah buaya seperti itu. Manusia buaya ini bukanlah ‘buaya-darat’ pemburu wanita, tetapi benar-benar ‘manusia-buaya’, setengah badan keatas manusia, setengah badan kebawah buaya.

Manusia buaya

Manusia buaya

Berita mengenai penemuan ini sudah pernah saya baca di MAJALAH-DINDING sewaktu saya duduk di bangku kelas 1 SMP PL Domenico Savio Semarang dulu, tahun 1993. Waktu itu berita ini ‘menghebohkan’, dan menjadi ‘berita-utama’ dalam Mading kami. Ketika Mading selesai dipajang, sayang, saya tidak tahu harus kepada siapa meminta izin untuk mengcopy berita ini, dan hilang sudah jejak-jejak fakta akan ‘makhluk’ ini.

Tampaknya karma baik saya berbuah, dan tanggal 9 Oktober 2008 kemarin seorang teman-baik di weblog ini, yaitu Sdri. Kwek Lie Na, mengemailkan ‘foto-foto makhluk aneh’ seperti yang saya upload pada artikel ini, dan salah satu diantaranya adalah makhluk ‘setengah manusia-setengah buaya’ ini. Dan dibawah ini adalah foto makhluk-makhluk aneh yang berhasil diabadikan didalam kamera oleh orang-orang yang peduli.


Ikan Berkepala Manusia

Makhluk apalagi ini ? Mungkin diantara anda ada yang berwajah mirip dengannya ? Hehe… .

Ikan berkepala manussa

Ikan berkepala manussa

Putri Duyung

Mungkin diantara anda ada yang tidak percaya legenda ‘Putri-Duyung’. Tunggu dulu, bagaimana dengan foto dibawah ini ?

Putri Duyung

Putri Duyung

Perempuan Berkaki Empat

Yang ini mungkin tidak pantas disebut sebagai “makhluk-aneh”, mungkin tepatnya diberi julukan ‘manusia-unik’. Melihat fenomena yang terjadi pada perempuan cantik dibawah ini, siapa bilang makhluk berkaki empat hanya ada pada dunia binatang ? Ternyata manusia ada juga yang berkaki empat, dan itu perempuan cantik pula !!

Mempelai Perempuan Berkaki Empat

Mempelai Perempuan Berkaki Empat

Mempelai Perempuan Berkaki Empat

Mempelai Perempuan Berkaki Empat

Proses rebirth ( tumimbal-lahir ) dan evolusi alam semesta beserta semua makhluk tak akan pernah berhenti. “Penciptaan” alam-semesta ternyata tidak persis seperti yang diajarkan selama ini, telah terjadi dan telah berakhir saat langit, bumi, hewan-hewan, tumbuhan serta laki-laki dan perempuan mengisi alam ini, pada beberapa ribu tahun yang lalu, namun sampai kapanpun rebirth dan evolusi itu terus menerus berlangsung tanpa henti. Akan selalu ada perkembangan dan mutasi genetika yang bisa terjadi dan tidak terduga di alam semesta yang maha luas ini.

Semoga artikel dan foto-foto diatas bermanfaat bagi semua yang membacanya.

Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Segala Bentuk Penderitaan, Baik Penderitaan Batin, maupun Penderitaan Jasmani… .

— RATANA KUMARO  —

Semarang Barat, Selasa ,14 Oktober 2008

Posted in BUDDHA | 33 Comments »

KESELAMATAN DAN KEBEBASAN DALAM BUDDHISME

Posted by ratanakumaro pada November 11, 2008

KESELAMATAN & KEBEBASAN


DALAM BUDDHA-DHAMMA


“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa “


Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Dalam Buddha-Dhamma, tidak diajarkan adanya sosok juru-selamat yang hanya dengan beriman kepadanya dosa-dosa kita, ummat manusia, akan sepenuhnya terhapuskan, dan kita terjamin dalam kehidupan yang kekal-abadi karenanya.

Sang Buddha, Guru Agung kita semua, hanyalah penunjuk jalan, tetapi kita masing-masinglah yang harus menjalani “Jalan-Pembebasan” tersebut, seperti Sabda Beliau yang tertera dalam Dhamapada 160 =

“ Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri. Karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya ?

Setelah dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik, ia akan memperoleh perlindungan yang amat sukar dicari. “

Siapakah yang menjadikan seseorang menjadi suci ? Siapakah yang menjadikan seseorang menjadi tidak-suci ? Dengan demikian, siapakah yang menjadikan hidup kita selamat ? Siapakah yang menjerumuskan kehidupan kita dalam jurang kekelaman ? Tidak lain tidak bukan adalah : diri kita sendiri. Keselamatan dan kesucian tidak didapatkan dari suatu kekuatan eksternal, diluar diri kita sendiri. Dhamapada 165 menyatakan :

“ Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan,

Oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci.

Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri.

Tak seorang pun yang dapat mensucikan orang lain. “

Sang Bhagava pernah bersabda, “Jadikanlah dirimu pulau perlindungan bagi dirimu sendiri.” Demikianlah yang diajarkan Sang Buddha. Kita sendiri yang harus bertanggungjawab terhadap hidup kita, terhadap setiap bentuk ucapan, pikiran dan perbuatan kita. Kita tidak pernah bisa menyalahkan siapapun jika hidup kita terjerembab dalam kenistaan, dan kita tidak sepatutnya bermanja-manja meminta kerelaan siapapun untuk “menggendong” kita menuju keselamatan dan kebebasan dari semua bentuk penderitaan.

Dalam Buddha-Dhamma, “Keselamatan” dan “Kebebasan” bukanlah sesuatu yang hanya bisa dinikmati setelah kematian. Pandangan tersebut adalah pandangan spekulatif. Keselamatan dan kebebasan dapat dicapai dalam kehidupan kita sebagai manusia, dan kebebasan inipun diketahui oleh orang yang bersangkutan pula, sebagaimana disabdakan oleh Sang Buddha dalam Parinibbana Sutta, berkenaan dengan Bhikkhu Salba :

“ Mengenai Bhikkhu Salba, O, Ananda, dengan melenyapkan kekotoran-kekotoran batinnya selama hidupnya itu, maka ia telah memperoleh kebebasan batiniah dari noda, telah mendapatkan kebebasan melalui kebijaksanaan, dan hal itu telah dipahami dan disadarinya sendiri. “


REALISASI KEBUDDHAAN SEBAGAI BENTUK KESELAMATAN DAN KEBEBASAN

Sang Buddha tidak mengajarkan manusia untuk “menyembah-Nya”, tetapi justru mengajarkan untuk mencapai apa yang sudah berhasil dicapai-Nya, yakni merealisasi tataran BUDDHA, menjadi BUDDHA, merealisasi Ke-Buddha-an.

Dalam agama Buddha mazhab Mahayana, dikenal istilah “Tathagatagarbha”. Doktrin Tathagatagarbha ini menyatakan, setelah kebodohan / kegelapan batin ( moha ) dilenyapkan, benih ke-Buddha-an yang melekat ( inheren ) dalam setiap makhluk akan tersingkap. Tidak ada suatu makhluk / entitas diluar diri kita sendiri yang bisa menyelamatkan kita selain kita sendiri. Kita masing-masing pada dasarnya adalah Buddha yang belum terealisasikan, seperti yang dinyatakan Sang Buddha dalam Tathagatagarbha-sutra :


“ Aku melihat bahwa semua makhluk

Adalah seperti bayi-bayi dalam kesukaran

Didalam tubuh mereka adalah Tathagatagarbha,

Tetapi mereka tidak menyadarinya.

Maka Aku memberitahukan kepada para Bodhisatva,

“ Hati-hati, jangan sampai menganggap dirimu rendah dan hina, tubuh-tubuhmu adalah Tathagatagarbha ; mereka selalu mengandung Cahaya Keselamatan Dunia. “


Tidak seperti beberapa ajaran diluar Buddhisme, maka Jalan Keselamatan yang ditunjukkan oleh Sang Buddha bukanlah ekslusif untuk suatu suku-bangsa / ras / golongan tertentu saja, tapi untuk semua makhluk, seperti tercantum dalam Avatamsaka-sutra bab 10 =

“ Bagaikan awan hujan yang besar

Menjatuhkan hujan ke seluruh penjuru bumi ;

Curahan hujan tidak membeda-bedakan siapapun

Demikianlah kebenaran semua Buddha. “

Keselamatan dan Kebebasan bukanlah monopoli suatu agama. Tapi keselamatan dan kebebasan adalah monopoli orang-orang yang mensucikan dirinya, membimbing diri ke arah yang baik dan benar, lurus, tanpa noda, apapun agama orang itu.

DUA JENIS KESELAMATAN

Dalam Buddha-Dhamma dikenal dua jenis keselamatan, yaitu :

1). Keselamatan Relatif.

2). Keselamatan Absolut.

1). Keselamatan Relatif

Dalam kebanyakan ajaran-ajaran selain Buddha-Dhamma, dinyatakan bahwa bentuk “Keselamatan” adalah suatu jaminan kelak setelah kita mati kita akan terlahir disisi “Maha-Dewa”, hidup penuh kesenangan didalam sorga.

Jika jenis keselamatan ini yang dimaksudkan, maka bagi agama Buddha keselamatan jenis ini adalah keselamatan “relatif”, karena alam surga sesungguhnya TIDAK-KEKAL, masih dicengkeram kelapukan, karena masih berpijaknya empat unsur alam semesta disana ( air, tanah, api dan udara ), yang senantiasa menuju kehancuran. Alam surga juga bersifat relatif, karena masih terbelenggu oleh dimensi ruang dan waktu.

Sang Buddha tidak pernah mengajarkan untuk berdoa dan menyembah Dewa / Dewi penghuni surga, karena mereka sendiri masih diliputi kekotoran batin, yaitu nafsu-nafsu indria, dan juga masih dicengkeram oleh kelahiran dan kematian. Juga, para Dewa / Dewi masih bisa marah, masih bisa murka, menghukum, tidak senang, cemburu, dan lain-lain sifat-sifat buruk, sehingga bukanlah sosok yang tepat untuk dijadikan perlindungan ( perlindungan yang tepat adalah diri sendiri ).

Seperti yang sudah pernah saya sebutkan pada artikel terdahulu, yang menyebabkan suatu makhluk / seseorang terlahir di alam-alam surga / dewata di keenam alam dewa lingkup-keindriaan / Kamadhatu ( Catummaharajika, Tavatimsa, Yama, Tusita, Nimmanarati, Paranimmitavatti ), adalah hal2 berikut ini :

1. Mempunyai “hiri”, yaitu : Rasa malu untuk berbuat jahat.

2. Mempunyai “ottapa”, yaitu : Takut akan akibat perbuatan jahat.

Saat menjadi manusia, maka seseorang harus berlatih / mempraktekkan dhamma dengan baik, menjaga dan merawat SILA dengan baik, senantiasa berdana / berderma, maka ia akan terlahir di alam-alam Dewa lingkup-keindrian, ditunjang dengan hiri dan ottapa.

Hiri dan ottapa akan mengikis emosi-emosi negatif yang bersifat destruktif, yaitu : kebencian, kemarahan, keirihatian, kemelekatan, dan stress / depressi.

Alam surga bukanlah monopoli agama tertentu. Tetapi, alam surga memang hanya akan dihuni oleh orang-orang tertentu, menjadi monopoli orang-orang semacam itu. Orang-orang seperti apakah ? Orang-orang yang baik hatinya, yang rendah hati, yang penuh cinta kasih, yang mempunyai rasa malu untuk berbuat jahat dan mempunyai rasa takut akan akibat perbuatan jahat, yang selama hidup sebelumnya sangat gemar berderma, suka menolong semua makhluk yang mengalami penderitaan, dan lain-lain sifat dan watak yang positif. Kebajikan dan kebenaranlah yang akan menjamin seseorang masuk s u r g a , bukan agama yang menjamin seseorang masuk s u r g a .

2). Keselamatan Absolut

Buddha-Dhamma mengajarkan, bahwa surga bukanlah tujuan tertinggi bagi semua makhluk. Terbebas dari samsara adalah “Keselamatan-Absolut”, “Kebebasan-Mutlak”. Kebebasan ini diraih dengan merealisasi “Nibbana” ( Sanskerta : Nirvana ), keadaan tanpa-nafsu-keinginan, pemadaman semua kekotoran batin ( dalam ajaran Jawa dikenal dengan “Kahanan-Jati”, “Kang-Tanpa-Tanpa” ).

Musnahnya kekotoran batin, hancurnya nafsu yang abadi serta gemilang, inilah Keselamatan-Mutlak. Saat itulah semua makhluk akan terbebas dan berhasil keluar dari putaran arus kelahiran dan kematian.

Untuk merealisasi Nirvana ini, kita sendirilah yang harus menjalani, yaitu melalui “laku” / praktek : SILA ( moralitas-benar ), SAMADHI ( pemusatan-perhatian-benar ), dan PANNA ( kebijaksanaan-benar ).

Sila yang harus dikembangkan demi realisasi Nirvana ini adalah 227 Sila Pattimokha. Lima moralitas yang dijaga dan dirawat ummat awam ( Pancasila ), hanyalah menyebabkan seseorang terlahir kembali di alam manusia dan alam-alam surga lingkup Kammadhatu. Tapi jika berkehendak untuk merealisasi Nirvana, maka kita harus menjaga dan merawat 227 Sila Pattimokha, yaitu sila ke-Bhikkhu-an.

PENCERAHAN ADALAH PEMBEBASAN

Realisasi Nirvana inilah sesungguhnya pencapaian ke-Buddha-an, Buddhahood. Inilah “Pencerahan”. Banyak orang menyatakan mampu membawa seseorang pada pencapaian “Pencerahan”, tetapi tidak mengerti apa maksud dari “Pencerahan”. Istilah “Pencerahan” dikenal saat Sang Buddha berhasil mencapainya di bulan Vesakkha. Karena pencapaiannya inilah maka ia disebut “Yang-Tercerahkan-Sempurna” ; Samma-Sambuddha, karena mencapai Pencerahan dengan usaha sendiri tanpa bantuan seorang Guru / entitas diluar dirinya sendiri. Sebutan “Buddha” diberikan kepada seseorang yang mampu mencapai “Pencerahan-Buddhi”. Dan Istilah “Pencerahan” inilah yang sekarang ini menjadi banyak diperbincangkan, namun sayang telah terdirtorsi dari “api” sesungguhnya.

Pencerahan dicapai saat seseorang telah mampu menembus “Empat-Kesunyataan-Mulia”, yaitu hakekat hidup, kehidupan dan alam-semesta, ialah : 1). Dukkha ( penderitaan ), 2). Sebab Dukkha ( Tanha : Nafsu keinginan ), 3). Lenyap / Berhentinya dukkha ( Realisasi Nibbana / Nirvana ), dan, 4). Jalan menuju lenyapnya / berhentinya dukkha ( Jalan Mulia Beruas Delapan, yang diringkas : Sila, Samadhi, dan, Panna ).

Untuk menembus Empat Kesunyataan Mulia, maka seseorang perlu terlebih dahulu menembus tiga-corak dunia ( Tilakkhana ) ; 1). Anicca ( Sanskerta : Anitya ), yaitu : Tidak-Kekal, 2). Dukkha, yaitu : Penderitaan, dan, 3). Anatta ( Sanskerta : An-atman ), yaitu : Tidak-Ada AKU.

Pencerahan adalah tersingkapnya ilusi, ilusi keabadian, ilusi kesenangan yang ditawarkan di ke-31 alam kehidupan. Pencerahan dicapai bersamaan dengan padamnya nafsu-nafsu keinginan, terkikisnya keserakahan ( lobha ) akan keindriaan, kebencian ( dosa ), dan kebodohan / kegelapan batin ( moha ).

Kembali kepada realisasi Nibbana, pencapaian ke-Buddha-an. Hal ini sangat dimungkinkan untuk dicapai, karena semua makhluk pada dasarnya memiliki benih-benih ke-Buddha-an didalam dirinya. Disebabkan oleh kekotoran-kekotoran batin, maka ia senantiasa terjebak dalam ilusi-ilusi duniawi. Sebagaimana dinyatakan dalam Anguttara Nikaya I.10 :

“ Batin pada mulanya sesungguhnya adalah suci bersih, tetapi dicemari oleh kekotoran batin yang timbul kemudian, sehingga batin menjadi kotor.

Ummat awam tidak menyadari hal ini, sehingga mereka tidak melatih batinnya.

Akan tetapi batin dapat dibersihkan dari kotoran yang timbul, sehingga batin kembali suci.

Siswa Buddha menyadari hal itu sehingga mereka melatih batinnya. “

Keselamatan dan Kebebasan dalam Buddha-Dhamma menekankan pentingnya transformasi pikiran dibandingkan perbuatan jasmani dan ucapan, karena “ pikiran yang diarahkan dengan keliru, bahkan dapat mengakibatkan kerugian yang jauh lebih besar. “ ( Ud.4.3 ). Juga sebagaimana dinyatakan dalam Anguttara Nikaya II.143 :

“ Bisa ditemukan makhluk yang dapat terbebas dari menderita penyakit jasmaniah selama setahun, dua tahun, atau sepuluh tahun, atau bahkan mungkin seratus tahun.

Tetapi sulit menemukan makhluk yang dapat terbebas dari penyakit batiniah walau untuk sesaat saja, kecuali ia yang telah mengatasi kekotoran batinnya. “

Untuk mencapai “Kebebasan-Mutlak” ini, maka praktek Sila, Samadhi, dan Panna adalah merupakan satu-satunya jalan. Mengenai Sila telah diterangkan tersebut diatas. Mengenai Samadhi, sudah pernah disinggung. Samatha ( Ketenangan ) dan Vipassana ( Pandangan-Terang ), itulah yang diajarkan Sang-Buddha. Dan bagian dari itu ada suatu sutta yang sangat terkenal, yaitu “Mahasatipathana-Sutta”, yang didalamnya dinyatakan :

“Jalan ini, wahai para Bhikkhu, adalah jalan tunggal demi kesucian makhluk-makhluk, demi melampaui kesedihan dan ratap-tangis, demi kepadaman penderitaan dan kepiluan hati, demi mencapai hal yang benar, demi membuat pencerahan Nibbâna; Jalan itu adalah Empat Perkembangan Perhatian (satipathâna). “

Mengenai “Empat-Perkembangan-Perhatian” akan diterangkan lebih lanjut.

Demikianlah, sehingga Keselamatan dan Kebebasan dalam Buddha-Dhamma bukanlah hal sederhana sebagai pencapaian kehidupan di alam surga semata. Keselamatan dalam Buddha-Dhamma merupakan terbebasnya suatu makhluk dari putaran arus kelahiran dan kematian ( samsara ), yang penuh dukkha, kepiluan, dan ratap-tangis. Keselamatan sedemikian ini hanya akan dicapai saat suatu makhluk, dalam hal ini seseorang manusia, merealisasi Nibbana, mencapai Pencerahan, mencapai ke-Buddha-an.

Untuk merealisasi Nirvana ini, maka dalam agama Buddha dikenal tingkatan-tingkatan pencapaian kesucian, yang sudah pernah saya singgung pada artikel “Ketuhanan YME dalam Buddhisme ( I ) “ yang terdahulu. Untuk mengingat kembali, maka tingkatan-tingkatan kesucian tersebut adalah :

1. SOTAPANNA

Adalah manusia suci yang paling banyak akan terlahir tujuh kali lagi. Sotapanna telah melenyapkan tiga belenggu ( samyojana ), yaitu :

1. Sakkaya-ditthi,

2. Vicikiccha, dan,

3. Silabbata-paramasa.

2. SAKADAGAMI

Manusia suci yang paling banyak akan terlahir sekali lagi. Sakadagami telah melenyapkan tiga belenggu ( samyojana ), yaitu :

1. Sakkaya-ditthi,

2. Vicikiccha, dan,

3. Silabbata-paramasa.

Dan telah melemahkan belenggu :

4. Kama-raga, dan

5. Vyapada.

3. ANAGAMI

Manusia suci yang tidak akan terlahir lagi di alam manusia, tetapi langsung terlahir kembali di salah sebuah alam Suddhavasa ( penjelasan mengenai alam Suddhavasa ada dalam buku saya “ Sang Jalan, Ariya-Athangika-Magga… .). Dari salah sebuah alam Suddhavasa ini Anagami itu akan mencapai tingkat kesucian tertinggi sebagai Arahat dan akhirnya ia mencapai parinibbanna.

4. ARAHAT

Manusia suci yang telah menyelesaikan semua usahanya untuk melenyapkan semua belenggu yang mengikatnya. Bila ia meninggal dunia, ia tidak akan terlahir di alam manapun. Ia akan parinibbana.

Belenggu-belenggu yang disebutkan diatas, secara rinci ada sepuluh ( 10 ) belenggu sebagai berikut :

1. Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa, atau “AKU” yang kekal ( sakkaya-ditthi ).

2. Keragu-raguan yang skeptis pada Buddha, Dhamma, Sangha, dan tentang kehidupan yang lampau dan kehidupan yang akan datang, juga keraguan kepada hukum sebab-akibat ( vicikiccha ).

3. Kemelekatan pada suatu kepercayaan bahwa hanya dengan melaksanakan aturan-aturan dan upacara keagamaan seseorang dapat mencapai kebebasan ( silabbata-paramasa ).

4. Nafsu indriya ( kama-raga ).

5. Dendam dan dengki ( vyapada ).

6. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk ( rupa-raga ). Alam bentuk ( rupa-raga ) dicapai oleh seseorang apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan Samadhi dan telah mencapai Jhana I, Jhana II, Jhana III, atau Jhana IV.

7. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa bentuk ( arupa-raga ). Alam tanpa bentuk ( arupa-raga ) dicapai oleh seseorang apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan samadhi telah mencapai Arupa Jhana I, II, III, dan Arupa Jhana IV.

8. Perasaan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

9. Kegelisahan ( uddhaca ). Suatu kondisi batin yang haus sekali karena yang bersangkutan belum mencapai tingkat kebebasan sempurna ( ARAHAT ).

10. Kebodohan atau ketidaktahuan ( avijja ). Kebodohan atau ketidaktahuan ini menunjukkan seseorang yang tidak mengerti mana “Jalan”, mana yang “Bukan-Jalan”. Seseorang yang masih terbakar oleh “tiga-api” ( Nafsu keinginan, Kebencian, dan, Keserakahan ) termasuk dalam golongan orang yang mengalami ‘ketidaktahuan’. Ketidaktahuan akan adanya penderitaan ( dukkha ) dan jalan melenyapkan penderitaan inilah kebodohan. Ketidaktahuan bahwa semua di segenap semesta ini adalah tidak kekal ( anicca ), penderitaan ( dukkha ), dan tidak-ada AKU ( anatta ), adalah kebodohan.

Demikian wacana “Keselamatan dan Kebebasan dalam Buddhisme” telah saya uraikan. Semoga wacana ringkas ini bermanfaat bagi semua yang membacanya.

Salam Damai dan Cinta Kasih… .

Semoga Semua Makhluk Berbahagia dan Terbebas !

— RATANA KUMARO  —

Semarang Barat, Selasa, 23 September 2008

Posted in BUDDHA | 20 Comments »

AWAL MULA “PENCIPTAAN” [Menurut Buddhisme]

Posted by ratanakumaro pada November 7, 2008

AWAL MULA “PENCIPTAAN”

“Agama Masa Depan adalah Agama Kosmik (berkenaan dengan Alam Semesta atau Jagad Raya). Melampaui Tuhan sebagai suatu pribadi serta menghindari Dogma dan Teologi (ilmu ketuhanan). Meliputi yang Alamiah maupun yang Spiritual, Agama yang seharusnya berdasarkan pada Pengertian yang timbul dari Pengalaman akan segala sesuatu yang Alamiah dan Perkembangan Rohani, berupa kesatuan yang penuh arti. Buddhism sesuai dengan Pemaparan ini. Jika ada agama yang sejalan dengan kebutuhan Ilmu Pengetahuan Modern, maka itu adalah Ajaran Buddha.”

( ALBERT EINSTEIN )

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Pada wacana kali ini saya akan mengajak anda membahas mengenai “ Awal Mula Penciptaan “ dari sudut pandang Buddha-Dhamma. Meskipun kata “Penciptaan” tidaklah tepat jika itu mengacu pada Buddha-Dhamma, namun judul ini saya gunakan karena lebih populis, lebih dikenal oleh para pembaca yang non-Buddhis.

Pada wacana ini saya mereferensi buku “ Kajian Tematis Agama Kristen dan Agama Buddha” ( Djoko Mulyono, Petrus Santoso, Kristiyanto Liman ), dan dari referensi tersebut wacana ini saya kembangkan.

Dulu, pada wacana-wacana terdahulu, saya sudah pernah merujuk salah satu sutta Sang Buddha yang berhubungan dengan awal mula terjadinya alam semesta ini, yaitu Agganna-sutta, yang merupakan Sutta ke-27 dari Digha Nikaya. Kali ini kita akan membahas sutta / khotbah Sang Buddha tersebut dalam bentuk alur proses, sebagai berikut ini :

(a). Masa Setelah Kiamat / Hancurnya Bumi

“Vasetha, terdapat suatu saat, cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini hancur ( kiamat ). Dan ketika hal ini terjadi, umumnya makhluk-makhluk terlahir kembali di Abhassara ( alam cahaya, surga ke-12 dalam kosmologi Buddhis ); disana mereka hidup dari ciptaan batin ( mano maya ), diliputi kegiuran batin, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa, hidup dalam kemegahan.

Mereka hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

(b). Kondisi Bumi setelah berlalunya masa Kiamat / Hancurnya Bumi ( pembentukan awal )

“ Pada waktu itu ( bumi kita ini ) semuanya terdiri dari air, gelap gulita. Tidak ada matahari atau bulan yang nampak, tidak ada bintang-bintang maupun konstelasi-konstelasi yang kelihatan, siang maupun malam belum ada, laki-laki maupun wanita belum ada. Makhluk-makhluk hanya dikenal sebagai makhluk-makhluk saja. “

Khotbah Sang Buddha tersebut ternyata senada dengan pendapat para ilmuwan modern, bahwa pada awal-mulanya, permukaan bumi ini tertutup oleh air. Merujuk pada khotbah tersebut, Sang Buddha tidak menyatakan bahwa matahari dan bintang-bintang belum ada atau tercipta setelah bumi. Yang dinyatakan Sang Buddha adalah, bahwa matahari dan bintang-bintang belumlah nampak, atau dengan kata lain ada sesuatu yang lain yang menghalangi penampakan mereka. Bisa diartikan, yang menghalangi terlihatnya cahaya matahari dan bintang-bintang adalah karena makhluk-makhluk yang ada waktu itu semuanya adalah makhluk cahaya, yang memancarkan sinar kemilau yang megah, yang karenanya menutupi sinar matahari, bulan dan bintang. Makhluk hidup yang ada pertama kali adalah “aseksual”, tidak berjenis kelamin, tidak ada laki-laki, tidak ada perempuan. Hal ini senada dengan temuan para ilmuwan modern.

(c). Makanan yang Muncul Pertama Kali

“ Vasetha, cepat atau lambat setelah masa yang lama sekali bagi makhluk-makhluk tersebut, tanah dengan sarinya muncul keluar dari dalam air. Sama seperti bentuk-bentuk buih ( busa ) di permukaan nasi susu masak yang mendingin, demikianlah munculnya tanah itu.

Tanah itu memiliki warna, bau dan rasa. Sama seperti dadih susu atau mentega murni, demikianlah warna tanah itu; sama seperti madu tawon murni, demikianlah manis tanah itu. “

(d). “Dosa-Asal” Para Makhluk : Keserakahan

“ Kemudian Vasetha, diantara makhluk-makhluk yang memiliki sifat serakah ( lolojatiko ) berkata : “O apakah ini ? “, dan mencicipi sari tanah itu dengan jarinya. Dengan mencicipinya, maka ia diliputi oleh sari itu, nafsu keinginan masuk dalam dirinya.

Makhluk-makhluk lainnya mengikuti contoh perbuatannya, mencicipi sari tanah itu, dengan jari-jari…makhluk-makhluk itu mulai makan sari tanah, memecahkan gumpalan-gumpalan sari tanah tersebut dengan tangan mereka.”

(e). Lenyapnya Cahaya dari Para Makhluk Cahaya dan Terlihatnya Sinar Matahari dan Bintang-bintang

“ Dan dengan melakukan hal ini, cahaya tubuh makhluk-makhluk itu lenyap. Dengan lenyapnya cahaya tubuh mereka, maka matahari, bulan, bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi nampak… siang dan malam terjadi.”

(f). Bermulanya Pembentukan Bumi Kembali ( Evolusi )

“ Demikianlah Vasetha, sejauh itu bumi terbentuk kembali. Vasetha, selanjutnya makhluk-makhluk itu menikmati sari tanah, memakannya, hidup dengannya, dan berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali.”

(g).Terbentuknya Tubuh Para Makhluk Dunia

Berdasarkan atas takaran yang mereka makan itu, maka tubuh mereka menjadi padat, dan terwujudlah berbagai macam bentuk tubuh. Sebagian makhluk memiliki bentuk tubuh yang indah dan sebagian makhluk memiliki bentuk tubuh yang buruk.”

(h). Munculnya Tumbuhan Pertama Kali ( Tumbuhan Serupa Cendawan )

“ Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh yang indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh yang buruk…maka sari tanah itupun lenyap…ketika sari tanah lenyap…muncullah tumbuhan dari tanah ( bhumipappatiko ).

Cara tumbuhnya seperti cendawan…mereka menikmati, mendapatkan makanan, hidup dengan tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali…( seperti diatas )…”

Sementara mereka bangga akan keindahan diri mereka, mereka menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan yang muncul dari tanah itupun lenyap.

(i). Munculnya Tumbuhan Selanjutnya ( Tumbuhan Menjalar )

Selanjutnya tumbuhan menjalar ( badalata ) muncul…warnanya seperti dadih susu atau mentega murni, manisnya seperti madu tawon murni. Mereka menikmati, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan menjalar itu…maka tubuh mereka menjadi lebih padat; dan perbedaan tubuh mereka nampak lebih jelas, sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk.

Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk…

Sementara mereka bangga akan keindahan tubuh mereka sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan menjalar itupun lenyap. “

(j). Munculnya Padi

“ Kemudian Vasetha, ketika tumbuhan menjalar lenyap…muncullah tumbuhan padi ( Sali ) yang masak di alam terbuka, tanpa dedak dan sekam, harum, dengan bulir-bulir yang bersih. Pada sore hari, mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan pada waktu malam, pada keesokan paginya padi itu telah tumbuh dan masak kembali. Bila pada pagi hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan siang, maka pada sore hari padi tersebut telah tumbuh dan masak kembali, demikian terus menerus padi itu muncul.

Vasetha, selanjutnya makhluk-makhluk itu menikmati padi ( masak ) dari alam terbuka, mendapatkan makanan itu dan hidup dengan tumbuhan padi tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali.”

(k). Terbentuknya Jenis Kelamin : Laki-laki dan Perempuan

“ Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat, dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas. Bagi wanita nampak jelas kewanitaannya ( itthilinga ) dan bagi laki-laki nampak jelas kelaki-lakiannya ( purisalinga ).”

(l).Terjadinya Hubungan Sexual

Kemudian wanita sangat memperhatikan tentang keadaan laki-laki, dan laki-lakipun sangat memperhatikan keadaan wanita. Karena mereka saling memperhatikan keadaan diri satu sama lain terlalu banyak, maka timbullah nafsu indria yang membakar tubuh mereka. Dan sebagai akibat adanya nafsu indria tersebut, mereka melakukan hubungan kelamin.

Vasetha, ketika makhluk-makhluk lain melihat mereka melakukan hubungan kelamin…dst…dst… “.

Menurut Sang Buddha, alam semesta ini tidak berawal ; tidak ada awal yang benar-benar awal, karena daur-hidup semesta ini, dari awal-mula terjadi hingga kiamat, dan mulai dari awal evolusi lagi, telah berlangsung sangat lama, tidak hanya sekali saja.

Keberadaan dan berlangsungnya alam-semesta itu ditunjang oleh hukum alam semata. Hukum alam itu sendiri, sesungguhnya bersifat relatif, hanya berlaku di alam fenomena, dan muncul “secara khayal” / “delusif” dari dalam tathagatagarbha ( “rahim Tathagata” ).

Sang Buddha juga mengajarkan bahwa ada banyak planet lain yang juga dihuni makhluk hidup, jauh sebelum tata-surya kita terbentuk. Mungkin inilah yang saat ini oleh ilmuwan dan masyarakat modern dikenal dengan “alien”. Tidak mengherankan bila makhluk luar angkasa ini mempunyai teknologi dan peradaban yang jutaan tahun lebih maju daripada manusia, karena ternyata menurut Sang Buddha sendiri, sebelum tata-surya kita terbentuk, diluar sana telah ada tata-surya yang juga telah dihuni oleh makhluk-makhluk hidup.


AWAL-MULA MUNCULNYA KONSEP  “YANG-MAHA-PENCIPTA”

Sang Buddha bukanlah manusia yang hidup di jaman orang-orang tidak mengenal suatu konsepsi adanya “Yang-Maha-Kuasa”, “Pencipta-Langit-dan-Bumi”, “ Asal-dan-Tujuan-Semua-Makhluk”, “Dari-Nya-kembali-Pada-Nya”.

Sosok tersebut, dalam jaman Sang Buddha, oleh para Brahmana dikenal dengan sebutan Maha-Brahma. Maha-Brahma ini mempunyai pandangan-salah, karena ia secara keliru menganggap dirinya sebagai “Bapa-Alam-Semesta”. Pandangan-salah ini ditunjang dengan kenyataan bahwa Maha-Brahma ini adalah makhluk-mulia, pemimpin para Dewa dari seluruh surga Kammadhatu ( keenam lapisan surga diatas alam manusia ) dan pemimpin para Dewan dan Menteri Brahma.

Brahmajala Sutta didalam Digha Nikaya mengisahkan mengapa Maha-Brahma sampai memiliki pandangan-salah semacam itu ( untuk membaca Brahmajala-Sutta, buka lagi artikel saya yang berjudul “Alam-Semesta, Kehidupan dan Alam-Kehidupan (V)”, buka di Arsip September 2008, tulisan tanggal 16 September 2008 ).

Sang Buddha mengajarkan bahwa dunia yang kita tempati sekarang ini beserta surga-surga kammadhatu akan mengalami penciptaan dan kehancuran secara berkala. Pada saat terjadinya kehancuran bumi kita ini , yang oleh ajaran agama-agama samawi disebut sebagai “kiamat”, para makhluk yang berdiam di alam yang lebih rendah akan terlahir kembali di alam Surga Abhassara ( Sanskrit : Abhasvara ), surga tertinggi di Jhana II ( surga ke-12 bila dihitung dari surga tingkat pertama di alam Kammadhatu ).

Setelah berlalunya waktu yang sangat lama sekali, tiga surga di alam Jhana I muncul kembali, dan seorang dewa Abhassara mati serta terlahir kembali di alam ini sebagai Maha-Brahma ( surga ke-9 bila dihitung dari surga tingkat pertama di alam Kammadhatu ).

Karena lamanya ia sendirian disana, ia merasa kesepian dan menginginkan kehadiran makhluk lain. Tak lama kemudian, harapannya terpenuhi, semata-mata hanya karena para dewa Abhassara lainnya mati dan terlahir kembali di alam Brahma, karena karma-karma mereka sendiri, dan kemudian menjadi para Menteri dan Dewan Brahma.

Karena Maha-Brahma tidak mengingat kehidupannya yang sebelumnya, maka ia berpikir, “ Aku adalah Brahma, Maha-Brahma,… Maha-Tahu, Pengendali, Tuhan, Pembuat, Pencipta… makhluk lainnya yang ada disini adalah ciptaan-Ku.”. Para Menteri dan Dewan Brahma serta para pengikutnya setuju dengan kesimpulan yang keliru ini.

Dan ketika beberapa di antara mereka mati dan terlahir kembali sebagai manusia, ada beberapa banyak dari mereka yang meninggalkan kehidupan perumah tangga, dan menempuh hidup sebagai Petapa / seorang Brahmana, lalu mereka mengembangkan kemampuannya untuk mengingat kehidupan sebelumnya, dan karenanya mengajarkan bahwa Maha-Brahma adalah Pencipta yang kekal dari semua makhluk.


MAHA-BRAHMA : MAKHLUK TERBATAS DAN LEBIH RENDAH TINGKATANNYA BILA DIBANDINGKAN DENGAN SAMMA-SAMBUDDHA

Didalam Digha Nikaya, sebuah Kitab Suci Buddhis, dikisahkan sebuah cerita ironis yang memberikan gambaran tentang keterbatasan-keterbatasan  sosok yang disebut sebagai “Yang-Maha-Pencipta” ini, yang dalam Brahmanisme dikenal dengan nama : Maha-Brahma. Terdapatlah seorang Bhikkhu yang ingin mengetahui asal-usul dunia, bersamadhi supaya dapat berkomunikasi dengan para dewata dan mengajukan pertanyaan filosofis tersebut.

Tetapi, tidak ada satupun dewa. Mulai dari surga tingkat pertama hingga ketujuh ( kediaman dewa pengikut Maha-Brahma ) yang dapat menjawab pertanyaan sulit itu.

Namun para dewa dengan gegabah berani memastikan bahwa Maha-Brahma sanggup menjawab pertanyaan itu. Selang beberapa saat kemudian , Maha-Brahma menampakan diri dan Sang Bhikkhu pun mengajukan pertanyaan padanya.

Jawaban yang diperolehnya hanya semata-mata berupa penegasan penuh percaya diri bahwa alam semesta adalah ciptaannya. Setelah tiga kali memberikan jawaban yang sama, Maha-Brahma menarik Bhikkhu tersebut ke satu sisi dan berkata bahwa dia tidak dapat mengecewakan para pengikutnya dengan mengakui kelemahannya bahwa ia tidak tahu jawaban dari pertanyaannya. Maha-Brahma kemudian memberikan saran bahwa pilihan terbaik bagi Bhikkhu tersebut adalah pergi mengunjungi Sang Buddha, yang pasti mengetahui jawaban atas pertanyaan tersebut.

Demikianlah sosok yang diyakini sebagai “Maha-Pencipta”, Maha-Brahma, ini masih lebih rendah tingkatannya apabila dibandingkan dengan Buddha. Sekalipun mempunyai kebanggaan yang berlebihan akan dirinya , namun “Maha-Dewa” ini merupakan sesosok makhluk yang baik hati dan welas asih ( ingat empat sifat luhur, Brahmavihara ). Ia adalah “Maha-Dewa-Yang-Penuh-Welas Asih “ yang menyangka dirinya sebagai “Maha-Pencipta”, “Bapa-Semua-Makhluk”.


…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Dalam Patika-sutta, Sang Buddha menyatakan Beliau tidak hanya mengetahui asal-muasal ( agganna ) dari segala sesuatu, tapi jauh lebih banyak lagi. Dan menurut Sang Buddha, maka sesungguhnya tidaklah ada “awal” yang benar-benar bisa disebut sebagai “awal”, Sang Bhagava Guru, Sang Sugatha, bersabda, “ Tak dapat ditentukan awal dari alam semesta. Titik terjauh dari kehidupan, berpindah dari kelahiran ke kelahiran, terikat oleh ketidak-tahuan dan keinginan, tidaklah dapat diketahui. “ ( SN. II. 178 )

Sang Buddha menyatakan kepada Ratu Srimala ;

“ Adalah sulit untuk mengetahui dan memahami bagaimana pikiran murni yang intrinsik dapat dikontaminasi oleh noda-noda batin. Srimala, ada dua hal yang sulit dipahami. Apa kedua hal tersebut ? Pertama, pikiran murni yang intrinsik ; Kedua, kontaminasi terhadap pikiran ini oleh noda-noda batin. Hanya engkau dan Bodhisatva-Bodhisatva yang telah mencapai Dhamma-Agung yang dapat menerima dua hal ini setelah mendengarkannya. Para Srawaka dapat memahami mereka hanya melalui ‘iman’ ( Srimala-devi-simhanada-sutra ).

Menurut sabda diatas, hanya Sang Buddha sendiri yang memahami secara eksperiensial mengapa terlahir ketidaktahuan dasar ( avijja ; Sanskrit : Avidya ) berupa noda batin “primordial” dari pikiran sejati yang secara intrinsik adalah suci murni ; makhluk suci lainnya , para savaka, hanya bisa menerima hal ini dengan ‘keyakinan/iman’. Menurut Buddha-Dhamma, pengetahuan tentang asal-muasal dunia tidak dapat dituangkan ke dalam bahasa manusia karena kelahiran semesta bersifat dualistis dan khayal / delusiv, sedangkan pengetahuan itu bersifat transendental, melampaui penggambaran.

Demikianlah, kelahiran segenap fenomena dan makhluk-hidup ( dhatu ) dipandang oleh agama Buddha sebagai suatu kesalahan, ketidakmuliaan, dan bukan merupakan unsur kesengajaan ( penciptaan ) dari suatu makhluk Adikuasa. Bahkan, taman dan istana surgawi tidak diciptakan oleh siapa-siapa, melainkan muncul dari pikiran diskriminatif dan delusiv ( Sutra Winaya Definitif ). Seperti yang dikatakan dalam Srimala-devi-simhanada-sutra, “ Tathagata, dengan kemelekatan sebagai kondisi dan karma penoda sebagai musabab, tiga alam ( dhatu ) dilahirkan. “


ASAL KEMUNCULAN ALAM KEHIDUPAN ( SAMSARA )

Setelah terjadinya “penciptaan”, kemudian barulah muncul berbagai alam kehidupan.

Pada sistem-dunia kita sendiri ada 31 alam kehidupan, yang terbagi menjadi : Kammadhatu, Rupadhatu, dan, Arupadhatu ( sudah saya bahas pada artikel “Alam-Semesta, Kehidupan, dan Alam-Kehidupan”,) . Pembagian ke-31 alam kehidupan tersebut juga dapat dibagi menjadi enam-alam-kehidupan, yaitu :

1. Alam-alam surga ( dari surga Kammadhatu s/d Arupadhatu )

2. Alam para Asura, Resi, Yakkha.

3. Alam para manusia ( Pali : Manussa ), tempat kita hidup sekarang ini.

4. Alam para binatang ( tirrachana-yoni ).

5. Alam para hantu ( Peta ), setan, dan lain-lain.

6. Alam Neraka ( Sanskerta : Naraka , artinya alam penderitaan ).

Pertanyaannya, darimanakah munculnya alam-alam kehidupan tersebut ? Menurut Sang Buddha di dalam Surangama-sutra, sesungguhnya semua makhluk secara fundamental adalah sejati dan suci murni, tetapi disebabkan oleh pandangan keliru mereka, mereka memunculkan kesalahan dalam bentuk kebiasaan jelek, yang terbagi menjadi dua :

i. Aspek Internal, dan,

ii. Aspek Eksternal.

Aspek internal, menunjuk pada apa yang terjadi di dalam makhluk. Disebabkan karena cinta-jasmaniah / nafsu, dan kotoran batin, mereka memunculkan kesalahan dalam bentuk emosi. Emosi yang disebut disini bukan menunjuk pada luapan perasaan dalam waktu singkat, melainkan keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis, seperti kebencian, kekikiran, kemelekatan, kebahagiaan, kemarahan, kesedihan. Ketika emosi-emosi ini berakumulasi tanpa henti, mereka menciptakan “cairan-cinta” . “Cairan-Cinta” dan nafsu keinginan menjelaskan mengapa air liur mereka keluar ketika memikirkan makanan lezat ; ketika mereka memikirkan tentang seorang yang meninggal, air mata mereka menetes ; ketika mereka dengan nafsu serakah ingin memiliki sebuah batu permata, aliran nafsu akan “mengalir” melalui hatinya ; ketika dihadapkan pada tubuh yang “semlohai”, sexy, mulus dan menggiurkan, pikiran mereka menjadi melekat pada nafsu birahi, dan organ seksnya mengeluarkan cairan. Kendati jenis-jenis cinta tersebut berbeda-beda, sifat aliran dan penindasan mereka adalah sama. Dengan adanya “embunan” ini, seseorang tak bisa “menaik”, tetapi akan jatuh secara alami. Ini disebut “Aspek-Internal”. Aspek internal dari emosi seperti cinta-jasmaniah dan kemelekatan mendorong mereka jatuh, berat dan tenggelam. Cinta-jasmaniah , kemelekatan, dan nafsu keinginan ( seperti keserakahan ) berkaitan dengan unsur air.

Aspek eksternal, menunjuk pada apa yang terjadi di luar makhluk, yakni lingkungan. Disebabkan oleh “kerinduan” dan hasrat, mereka menciptakan kesalahan dalam pemikiran yang mengembara.

Ketika proses pemikiran berakumulasi tanpa henti ( pengoptimalan pemurnian batin / buddhi ), ia dapat menciptakan “uap-air” yang naik. Embunan ( aspek-internal ) bersifat jatuh karena berat, sedangkan uap air bersifat naik karena ringan. Dari pemikiran terus-menerus, tanpa melibatkan emosi, suatu respons khusus dapat terjadi, yaitu sebuah gerakan yang bersifat mengangkat. Itulah sebabnya, manusia yang menjaga sila secara murni, tubuh mereka ringan seperti mengapung. Bila mereka berangang-angan dilahirkan di surga, dalam mimpi mereka akan bisa terbang. Bila ada seseorang yang sering bermimpi terbang/melayang, itu adalah bagus, menunjukkan anda memiliki “Sila” yang sudah cukup terjaga ( meski tentunya belumlah semurni seorang “petapa” atau “yogi” yang seumur hidupnya benar-benar menjaga Sila-sila khusus , seperti : selibat, tidak melakukan perbuatan tidak suci ( orgasme ), puasa , meninggalkan kemewahan, dan lain-lain ). Kendati aneka pemikiran itu berbeda-beda, sifat ringan dan mengangkat tersebut adalah sama. Ini disebut aspek eksternal.

Spektrum dari rasio antara pemikiran / batin yang bersifat “naik” dengan emosi yang bersifat “turun” menyebabkan munculnya enam alam kehidupan, berikut adalah penjelasannya :

1. Alam-alam Surga ( dari Kammadhatu s/d Arupadhatu ) :

Rasio Penggunaan Pikiran / Buddhi : Emosi =

100 % : 0 %

Karakteristik utama : Kebanggaan akan diri ( tetapi hal ini tidak berlaku di alam para Anagami / Suddhavasa ).

2. Alam para Asura , Resi, Yaksa :

Rasio Penggunaan Pikiran / Buddhi : Emosi =

30-100% : 0-70%

Karakteristik utama : Cemburu / temperamental.

Keterangan : Tergantung rasio penggunaan pikiran / buddhi dengan emosi, mana yang lebih besar. Alam Asura karena prosentase penggunaan emosi cukup tinggi.

3. Alam para Manusia :

Rasio Penggunaan Pikiran / Buddhi : Emosi =

50 % : 50 %

Karakteristik utama : Penuh nafsu keinginan.

Keterangan :

Pemikiran / Buddhi terang = menjadi pintar.

Emosi berat = menjadi bodoh.

4. Alam para Binatang :

Rasio penggunaan Pikiran / buddhi : Emosi =

40 % : 60 %

Karakteristik utama = Kebodohan.

Keterangan =

Emosi ringan = terlahir sebagai binatang bersayap.

Emosi berat = terlahir sebagai binatang buas berbulu.

5. Alam para Hantu / Setan :

Rasio penggunaan Pikiran / buddhi : Emosi =

30 % : 70 %.

Karakteristik utama : Kemelekatan , keserakahan.

Keterangan = contoh-contoh makhluk ini ; kuntilanak, thuyul, pocong, wewe, dll.

6. Alam Neraka ( Sanskrit : Naraka ) :

Rasio penggunaan Pikiran / buddhi : Emosi =0-20% : 80-100%

Karakteristik utama : Penuh Kebencian.

Berdasarkan uraian diatas, kita melihat bahwa kadar emosi merupakan salah satu unsur pokok yang menentukan jenis alam kehidupan berikutnya setelah meninggal. Sebagai contoh, misalnya ada seseorang yang menjaga lima-sila / Pancasila ( 1). Tidak membunuh / menyebabkan penderitaan makhluk lain, 2). tidak mengambil barang yang tidak diberikan, 3). tidak berbuat sex yang tidak benar dan baik, 4). tidak berucap dusta, 5). tidak meminum minuman keras / barang madat yang menyebabkan lemahnya kesadaran ), tapi sepanjang hidupnya, atau saat menjelang kematiannya dipenuhi dengan emosi kemelekatan pada anggota keluarganya, harta bendanya, atau sesuatu hal yang mengganjal di hatinya. Disebabkan oleh derajat emosi kemelekatan yang tinggi, ia sementara tertunda kelahirannya di alam surga ( karena sesuai dengan prioritas karma sebagaimana pernah kita bahas dahulu pada artikel mengenai “Hukum-Karma” dan artikel-artikel lain yang berkaitan dan menjelaskannya ), ia terpaksa terlahir kembali menjadi manusia atau bahkan terlahir di alam yang lebih rendah, didorong oleh energi emosi berupa kemelekatan. Setelah kekuatan karma dari energi kemelekatan itu perlahan-lahan terkikis habis, ia baru kemudian akan terlahir di alam surga.

Sesungguhnya samsara diciptakan oleh pikiran setiap makhluk sendiri-sendiri, bukan diciptakan oleh sosok “Sang-Maha-Pencipta”. Beragam alam kehidupan berkorespondensi dengan ragamnya keadaan mental. Alam kehidupan merupakan lokalisasi dari alam pemikiran yang menghasilkannya.

Selanjutnya, marilah kita bahas empat alam kehidupan : alam surga, alam neraka, alam hantu, dan alam binatang. Alam manusia tidak kita bahas lagi, karena dulu sudah cukup banyak dibahas, dan kita sendiri telah mengenal dan mengalaminya. Alam Asura ( penentang para dewa ) tidak dibahas tersendiri, karena golongan ini juga hidup di alam surga, alam manusia, alam hantu, dan alam binatang.

1. Alam-alam Surga

Kosmologi Buddhis mengenal 26 tingkatan alam-surga, dari alam Kamadhatu s/d Arupadhatu ( bila menurut Mazhab Mahayana, ada 28 tingkatan alam-surga ).

Para dewata di enam alam surga pertama, yaitu di lingkup alam keindriaan ( Kamadhatu ), menikmati kesehatan, kenyamanan, kekayaan dan kebahagiaan. Namun, seketika berkah karma untuk hidup di alam surga telah habis, para dewata mau tak mau mesti terlahir kembali di alam yang lebih rendah.

Mengapa keenam surga tingkat pertama itu masih digolongkan dalam Kamadhatu ? Hal ini dikarenakan para makhluk yang terlahir disana masih memiliki semacam nafsu keinginan sexual. Hanya saja kadarnya dapat dikatakan jauh lebih ringan apabila dibandingkan dengan alam manusia dan alam binatang.

Aktivitas dan kehidupan para dewata di alam Kamadhatu sesungguhnya tidak jauh berbeda denga umat manusia, hanya saja kekuatan supranatural mereka jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan manusia biasa. Secara etika dan kemoralan mereka masih belum sempurna, karena nafsu keinginan masih membelenggu mereka. Meskipun mereka masih terbakar oleh api nafsu seksualnya, namun makin tinggi tingkatan alam tempat dewa tersebut tinggal, makin halus cara mereka memuaskan keinginan sexualnya tersebut. Sebagai contoh, para dewa dari dua tingkatan surga pertama ( catummaharajika dan tavatimsa )masih harus memuaskan nafsu sexualnya, tetapi ini cukup dilakukan dengan cara berpelukan saja. Itulah sebabnya mereka dipandang lebih tinggi tingkatannya bila dibandingkan dengan manusia biasa.

Pada umumnya , para dewata menghabiskan sebagian waktu untuk bersenang-senang sehngga sepanjang kehidupan mereka tidak muncul pemikiran untuk menyempurnakan diri ( demi pencapaian Nibbana / Nirvana ). Lalu, tiba-tiba mereka “kaget” karena dihadang oleh datangnya kematian.

Dalam It. 83 dijabarkan lima hal yang menandakan bahwa kematian seorang dewa telah dekat ;

I. Cahaya tubuhnya yang biasanya terang, menjadi redup.

II. Tahta kedewaan yang biasanya memberikan rasa nyaman kepadanya, menjadi tidak nyaman lagi untuk diduduki ; sebaliknya, dia merasa gelisah dan tidak bisa duduk tenang di atas tahtanya.

III. Karangan bunganya, yang biasanya tidak pernah layu, mulai layu.

IV. Pakaiannya, yang selalu bersih dan segar sekalipun sudah dipakai dalam waktu yang lama, mulai kelihatan tua, pudar, kotor, serta mulai mengeluarkan bau.

V. Tubuhnya, yang biasanya tidak pernah berkeringat, mulai berkeringat.

Ketika lima pertanda ini muncul, dewata tersebut tersiksa oleh pemikiran bahwa sebentar lagi ia juga akan mati. Rekan-rekan dan kekasihnya juga mengetahui bahwa ia akan mati ; mereka tidak lagi mendekatinya, melainkan melempar bunga-bunga dari jarak jauh dan mengirimkan harapan baik, “ Ketika engkau mati dan pergi dari sini, semoga engkau terlahir di antara manusia. Semoga perbuatan baikmu disana bisa membuat engkau terlahir kembali di alam dewa. “ Dengan begitu teman-temannya meninggalkannya.

Hidup menyendiri, dewata yang mendekati kematiannya itu diliputi rasa duka. Dengan mata dewanya ia melihat dimana ia akan dilahirkan kembali. Bila mengetahui akan dilahirkan di alam sengsara, siksaan batin dari kejatuhan tersebut akan meliputinya bahkan sebelum ia terlahir disana. Sementara penderitaan batinnya makin mendalam, ia merasa putus asa dan terpaksa menghabiskan tujuh hari waktu surgawi untuk meratapi kemalangannya. Jika seorang dewa dari surga Tavatimsa akan meninggal, maka tujuh hari waktu disana untuknya meratapi adalah sama dengan tujuh ratus tahun waktu manusia ( karena sehari semalam disana adalah sama dengan seratus tahun waktu manusia ).

Di alam surga yang lebih tinggi, yakni alam Rupa-Brahma ( surga ke-7 hingga surga ke-24 ) dan alam Arupa-Brahma ( surga ke-25 hingga surga ke-28 ) , tentu saja tidak ada pernderitaan dari kematian dan transmigrasi. Namun, ketika efek dari perbuatan bajik yang mengirim mereka kesana sudah habis, para Brahma ini akan jatuh kembali ke alam yang lebih rendah seperti seakan-akan bangun dari tidur / mimpi.

2. Alam-alam Neraka ( Sanskrit : Naraka )

Menurut kosmologi Buddhis, alam neraka ( Skt.: naraka – “tempat-penderitaan” ) setidaknya dibagi menjadi empat ( 4 ) kelompok neraka, keseluruhannya mengandung delapan-belas ( 18 ) neraka. Mereka terdiri dari :

Delapan ( 8 ) neraka panas

Satu ( 1 ) neraka pinggiran

Delapan ( 8 ) neraka dingin

Satu ( 1 ) neraka tersendiri ( soliter )

Akan tetapi sesungguhnya jumlah neraka itu jauh lebih banyak, karena keterbatasan tempat, tidak dibahas disini karakteristik masing-masing neraka tersebut dan jangka kehidupannya, tapi hanya membahas sebab-utama terjadinya aneka bentuk penderitaan di neraka.

Suatu kelompok makhluk bisa menerima balasan karma yang identik, dan terdapat tempat-tempat dimana hal itu terjadi. Semuanya ini datang dari balasan karma yang diciptakan mereka sendiri. Mereka menciptakan sepuluh musabab kebiasaan buruk :

Kebiasaan nafsu birahi

Kebiasaan keserakahan

Kebiasaan arogan

Kebiasaan kebencian

Kebiasaan penipuan

Kebiasaan kebohongan

Kebiasaan permusuhan

Kebiasaan pandangan sesat

Kebiasaan ketidakadilan, dan ,

Kebiasaan “litigasi” ; suka menuntut secara hukum / pengadilan

Disebabkan adanya sepuluh jenis kebiasaan tersebut, lahirlah pengalaman ilusi berupa aneka bentuk siksaan di neraka. Misalnya, kebiasaan mengobarkan nafsu birahi menciptakan kemunculan ilusi berupa hukuman di neraka dalam bentuk siksaan bersentuhan dengan ranjang besi atau tiang tembaga yang membara.

Kebiasaan keserakahan, menciptakan ilusi dingin yang menggigilkan. Sebab, keserakahan seperti magnet yang menarik benda-benda, hal ini sejenis “penyedotan”. Penyedotan yang berlangsung lama menciptakan ilusi dingin yang menggigilkan.

Kebiasaan kebencian yang disuplai terus-menerus menciptakan ilusi adanya aneka bentuk pisau, pedang, gergaji, kampak, dan lain-lain.

Kebiasaan kebohongan yang terus menerus menyebabkan si pelaku terlahir di berbagai neraka, dimana ia mencium bau kencing, kotoran, dan tempat-tempat kotor yang dipenuhi debu beterbangan. Berbohong sekali-kali ketika masih hidup di dunia tidak akan menyebabkan seseorang jatuh ke neraka-neraka ini karena kekuatan karma negatif yang ada tidak cukup untuk melemparkan ia ke dimensi ilusi tersebut.

Kebiasaan untuk tidak bertindak adil menciptakan ilusi diremukkan diantara gunung-gunung, diremukkan di antara batu-batu, digiling, dihancurlumatkan menjadi debu, dan pengalaman delusiv sejenisnya. Ketidakadilan mencakup mendakwa seseorang yang tak bersalah, memfitnah. Kekuatan karma dari ketidakadilan menciptakan beberapa tipe neraka, seperti pengalaman dihenyakkan dari empat gunung yang datang dari empat penjuru, menghimpit badannya hingga hancur remuk.

Demikian pula dengan kebiasaan buruk lainnya ; masing-masing pencipta kebiasaan buruk menciptakan siksaannya sendiri sesuai dengan energi karma buruk yang disuplainya. Karma buruk itu menciptakan berbagai halusinasi yang bersifat ilusi bagi si pembuat karma buruk. Aneka jenis neraka muncul semata-mata karena adanya suplai energi negatif, BUKAN CIPTAAN TUHAN atau makhluk apapun.

Kemunculan neraka-neraka itu merpakan manifestasi dari kekuatan karma negatif ; karenanya mereka disebut bersifat ilusi. Dimensi alam neraka muncul secara ilusi dari ketidaksucian pikiran, ucapan, dan perbuatan fisik. Ini seperti dimensi mimpi-mimpi buruk yang kita alami. Bagi pelaku karma buruk, neraka-neraka itu seperti nyata, eksis ; bagi makhluk yang tidak terlahir di neraka, neraka tidaklah eksis. Oleh sebab itu, dalam agama Buddha dikatakan bahwa neraka tidak boleh dikatakan “eksis” atau “tidak-eksis” karena pada dasarnya ia kosong dari eksistensi yang inheren, tapi disebabkan karena kekuatan karma, manifestasi ilusi berupa fenomena siksaan muncul didepan mata pelaku karma buruk.

3. Alam para Hantu

Jenis hantu pun bermacam-macam, dan ada beberapa kategori, tergantung dari aspek yang digunakan. Ada yang disebut sepuluh ( 10 ) kategori hantu, ada yang dikenal dengan istilah tiga ( 3 ) kelompok hantu, dan ada yang diistilahkan dengan dua ( 2 ) jenis hantu.

Dalam klasifikasi tiga ( 3 ) kelompok hantu, hantu dibagi menurut jumlah kekayaan, yaitu dari aspek jumlah makanan yang dapat dimakan :

( i ) Hantu yang tanpa kekayaan,

( ii ) Hantu yang memiliki sedikit kekayaan,

( iii ) Hantu yang memiliki banyak kekayaan.

Di antara hantu yang tak memiliki kekayaan adalah :

1. Hantu bermulut obor-api, dimana makanan dan minuman yang masuk kedalam mulutnya akan berubah menjadi kobaran api.

2. Hantu bermulut jarum, di mana tenggorokannya sangat sempit sehingga makanan tidak bisa melaluinya, dan ,

3. Hantu bermulut bau busuk, yang mulutnya sangat rusak, busuk, berbau amis dan mereka tidak bisa mencerna makanan/minuman apapun.

Hantu dengan sedikit kekayaan bisa memakan sedikit makanan. Ada tiga jenis yang termasuk dalam kategori ini , yaitu :

1. Hantu berambut seperti jarum,

2. Hantu berambut bau busuk,

3. Hantu berkulit tumor.

Beberapa dari mereka, pada saat hendak makan, mendapatkan makanannya berubah menjadi nanah dan darah. Beberapa dari mereka memakan dan meminum air ludah, air kencing, tahi, atau menelan benda kotor sebagai makanan.

Hantu yang memiliki banyak kekayaan, yang mempunyai kesenangan mewah, juga terdiri atas tiga sub bagian :

1. Hantu kurban, yang hidup dari kurban serta persembahan yang dilakukan manusia. Hantu ini serupa dengan jenis hantu yang digambarkan dalam tradisi China.

2. Hantu barang lenyap, yang hidup dari barang-barang yang lenyap dari dunia manusia,

3. Hantu dengan kekuatan besar, seperti para yaksa , raksasa, dan lain sebagainya, yang merupakan penguasa para hantu.

Hantu kurban dan hantu barang lenyap kadangkala masih menderita rasa lapar dan haus, tetapi hantu dengan kekuatan besar mempunyai kesenangan yang mendekati kesenangan duniawi. Ini terjadi karena hantu jenis terakhir ini telah berbuat banyak amal semasa masih menjadi manusia, namun pada saat yang sama mereka juga sangat rakus, serakah, dan tidak pernah puas diri, oleh sebab itu mereka terlahir menjadi hantu jenis ini.

Pada umumnya, kebanyakan hantu sedikit atau tidak memiliki kekayaan, dan mereka selalu lapar.

Jenis kategori hantu lainnya adalah berdasarkan komunitasnya, dan dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu hantu yang hidup berkelompok dan yang menjelajah angkasa. Hantu yang hidup berkelompok masih dibagi menjadi tiga subkategori, yaitu hantu yang menderita rintangan eskternal, hantu yang menderita rintangan internal, dan hantu yang menderita rintangan spesifik.

4. Alam Binatang

Terdapat beberapa jenis klasifikasi binatang, tergantung dari kriteria yang dipakai. Ada klasifikasi binatang berdasarkan kriteria tempat tinggal, jumlah kaki, hingga sifat dan derajat penderitaan. Berdasarkan kriteria jumlah kaki, maka ada binatang yang tanpa kaki seperti cacing, dua kaki seperti burun, empat kaki seperti binatang buas, dan banyak kaki seperti serangga dengan enam, delapan kaki, atau lebih.

Penderitaan yang dialami binatang beraneka ragam. Pada umumnya dunia binatang diwarnai dengan saling memangsa dan saling membunuh untuk mempertahankan eksistensi kehidupan. Ikan besar memakan ikan yang lebih kecil, serangga yang besar memakan yang lebih kecil. Laba-laba membangun jaringan laba-laba di sudut rumah hanya untuk menangkap dan membunuh serangga yang terbang. Kodok dan burun menelan serangga, dan nafsu makan mereka luar biasa. Bahkan serangga kecil yang bersembunyi di bawah kulit kayu bisa dimakan oleh burung pelatuk. Ular naga pun harus dimakan oleh Garuda. Ada binatang yang dilahirkan di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh sinar matahari sehingga untuk melihat tubuhnya sendiri juga tidak bisa. Dunia binatang benar-benar adalah seperti rumah penjagalan ; mereka selalu saling membunuh dan bahkan dibunuh oleh manusia.

KESINAMBUNGAN DUNIA

Agama Buddha mengajarkan bahwa kesinambungan alam semesta disebabkan oleh interaksi keempat unsur. Untuk memahaminya, mari kita baca kutipan dari Surangama-Sutra berikut ini :

“ Interaksi antara kecemerlangan pencerahan dengan kekosongan buram menimbulkan gerakan yang terus menerus, sehingga melahirkan roda angin yang menyokong dunia. Oleh karena kekosongan menimbulkan gerakan, cahaya yang mengeras itu membangun kepadatan yang merupakan sifat-inheren metal. Cahaya yang ditambahkan ke pencerahan itu membuat sifat-keras tersebut, sehingga melahirkan roda metal yang menyokong daratan-daratan.

Kemelekatan yang bandel pada kemampuan-kognisi yang tak tercerah mengakibatkan terjadinya formasi logam, sedangkan getaran dari kemampuan-kognisi yang bersifat ilusi menyebabkan timbulnya angin. Angin dan logam saling bergesekan, sehingga terjadilah cahaya-api yang sifatnya bisa berubah-ubah. Kecemerlangan dari logam menghasilkan embun, yang kemudian berubah menjadi uap air oleh cahaya api yang menyembul dari bawah, sehingga melahirkan roda air yang melingkupi sepuluh penjuru dunia.

Api menyembul ke atas dan air jatuh ke bawah, dan kombinasi dari keduanya membangun kepadatan. Yang basah menjadi samudera dan lautan ; yang kering menjadi benua-benua dan pulau-pulau. Disebabkan oleh hal ini, api sering menyembul didalam samudera, dan diatas benua, kali-kali dan sungai-sungai mengalir terus-menerus.

Ketika kekuatan air kurang daripada kekuatan api, hasilnya adalah gunung tinggi… . Ketika kekuatan tanah kurang daripada air, hasilnya adalah rerumputan dan pepohonan. Oleh sebab itulah belukar dan padang rumput berubah menjadi abu bila dibakar dan mengeluarkan air bila dipilin… interaksi [ dari api dan air ] menjadi benih untuk kesinambungan dunia… .

Menurut Surangama-sutra, konfrontasi terus-menerus antara pencerahan yang ditambah cahaya ( penyadaran yang merupakan subjek ) dengan kekosongan gelap yang merupakan objek, menyebabkan terjadi rotasi terus-menerus; oleh sebab itu terdapat angin yang eksis dimana-mana yang menyokong kehidupan dunia alam semesta.

Penyadaran berupa subjek itu terguncang oleh kekosongan relatif ini, terpana olehnya dan mengeras menjadi unsur logam ( tanah ). Kemelekatan yang kuat terhadap penyadaran (pengetahuan) yang belum tercerahkan itu mengakibatkan terbentuknya logam.

Gerakan getaran dari penyadaran yang khayal ini menyebabkan angin naik ke atas. Angin dan logam bergesekan satu sama lain. Dari sini terciptalah unsur api.

Kecemerlangan dari logam menimbulkan embun. Bila logam dipanaskan, ia akan mengeluarkan cairan ; butiran air akan muncul di permukaannya. Oleh karena adanya api, kelembaban tercipta di logam. Dari kebasahan logam itu, uap embun tercipta. Bila cahaya api dari bawah menyembur ke atas, ia menciptakan uap air saat melewati logam. Dari ini muncul unsur air yang ada di sepuluh penjuru dunia.

Api bersifat menyembul keatas, sedangkan air bersifat jatuh kebawah. Kombinasi dari api dan air menciptakan zat-zat. Yang basah menjadi samudera, yang kering menjadi benua dan pulau. Oleh sebab itu, api sering menyembul ke atas didalam lautan, dan aliran sungai selalu mengalir kebawah di atas permukaan bumi.

Bila kekuatan air lebih kecil daripada kekuatan api, gunung-gunung tinggi tercipta. Oleh sebab itulah bebatuan di pegunungan menimbulkan percikan api bila digesek keras, dan menjadi cairan bila dicairkan. Oleh sebab itu juga terdapat gunung berapi di berbagai tempat di bumi ini.

Bila kekuatan tanah lebih kecil daripada kekuatan air, maka akan tercipta rerumputan dan pepohonan. Oleh sebab itulah belukar dan padang rumput akan menjadi abu bila dibakar dan mengeluarkan air bila dipilin ( atau dipatahkan ). Demikianlah, interaksi air dan api menjadi benih bagi kesinambungan dunia, di mana dunia mengalami proses kemusnahan dan pembentukan kembali secara terus menerus tanpa henti ( kiamat dan berevolusi kembali berulang kali ).

Dari segi sains, keempat unsur ini dapat disejajarkan dengan unsur-unsur penyusun sebuah atom. Sebagaimana yang kita ketahui, atom merupakan baigan terkecil yang menyusun segala sesuatu di jagad-raya ini. Agar mendapatkan pemahaman yang lebih jelas kita perlu membahas secara lebih dalam seluk beluk dari keempat unsur dasar itu. Logam atau tanah memiliki fungsi sebagai faktor penunjang serta memiliki sifat kepadatan ( solidity ). Unsur air, berfungsi sebagai pengikat, sifatnya adalah kohesif dan unsur angin memiliki fungsi sebagai penggerak serta sifatnya yang selalu bergerak. Hal ini selaras sekali dengan unsur-unsur penyusun atom. Proton dan neutron yang memiliki andil besar dalam menentukan berat atom serta membentuk inti atom dapat diumpamakan dengan unsur tanah / bumi yang mengandung kepadatan. Meson yang mengikat keduanya dapat disejajarkan dengan unsur air yang berfungsi sebagai pengikat. Elektron yang terus-menerus bergerak mengelilingi inti atom ( proton dan neutron ) dapat disepadankan dengan unsur angin yang selalu bergerak. Energi yang mengikat antara inti atom dengan elektron dapat diumpamakan dengan unsur api yang mengandung unsur panas atau energi.

Demikian pembahasan kita mengenai “Awal Mula Penciptaan” ditinjau dari sudut pandang Buddha-Dhamma, baik mazhab Theravada, maupun mazhab Mahayana.


Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

Semoga Semua Makhluk Berbahagia dan Terbebas… !

— RATANA KUMARO  —

Semarang Barat, Jumat, 03 Oktober 2008.

Posted in BUDDHA | 26 Comments »

WARIA JUGA MANUSIA

Posted by ratanakumaro pada November 7, 2008

WARIA


JUGA MANUSIA

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

top-page

Diatas adalah foto Ratu Transgender ( Waria ) Tercantik se-Asia. Namanya adalah Treechada Manyaporn, biasa dipanggil sehari-hari Poy. “Wanita” cantik asal Thailand ini, yang mempunyai tinggi badan 171 cm, dan berat badan 48 Kg, sudah beberapa kali memperoleh penghargaan atas kecantikannya itu, yaitu : 1). Miss Tiffany ( 2004 ) ; 2). Miss International Queen ( 2004 ) ; 3). Miss Asian Trans ( 2007 ).

Berbicara mengenai ‘waria’ di Indonesia dewasa ini ( sejalan dengan diajukannya RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi ), agaknya cukup menggugah rasa simpati bagi beberapa kalangan warga masyarakat, termasuk saya. Mengapa, sebab pihak-pihak yang sedang berjuang menggolkan RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi sepertinya juga berusaha sebisa munkin ‘mengenyahkan’ waria ini dari kehidupan bermasyarakat. Dimana-mana , di TV, di tiap khotbah-khotbah agama, diseru-serukan supaya waria ‘bertobat’. Juga, diserukan supaya TV tidak memperkenankan tampilnya waria dalam acara-acara apapun juga, terutama Entertainment / hiburan. Sesungguhnya, dosakah menjadi waria bagi kehidupan kemanusiaan ? Haruskah waria ini ‘dilenyapkan’ dari pergaulan hidup bermasyarakat ? Apakah mereka sampah masyarakat ? Marilah kita melihat bagaimana agama-agama dan aliran-aliran kepercayaan memandang keberadaan waria ini.

second-a-page

PANDANGAN BEBERAPA AGAMA

Menurut pandangan beberapa agama, hubungan homoseks dianggap sebagai suatu penyimpangan dan perbuatan ‘mesum’, sehingga mereka akan menerima balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.

Pandangan buruk yang diberikan kepada Waria oleh beberapa agama-bisa dimaklumi karena waria ini seolah-olah bukan makhluk yang diciptakan Tuhan, sebab Tuhan hanya menciptakan Langit dan Bumi, Laki-laki dan Perempuan, beserta semua hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan , sebagaimana kisah ‘Penciptaan’ yang digambarkan dalam Perjanjian Lama, Kejadian 1 : 26 – 28. Sehingga, waria tidak termasuk diantara ciptaan-ciptaan itu, sebab dikatakan laki-laki, hanya karena fisiknya saja , tetapi dikatakan perempuan, hanya kondisi-batinnya saja, jadi ; laki-laki tulen bukan, perempuan tulen juga bukan.

second-page

WARIA MENURUT BUDDHA-DHAMMA

Sang Buddha tidak pernah menyatakan bahwa alam-semesta ini diciptakan oleh Tuhan ataupun oleh Samma-Sambuddha. Terjadinya alam-semesta dan makhluk-makhluk adalah murni karena kekotoran batin / kebodohan-batin primordial , dan sejak itulah terjadi alam-semesta dan bekerjanya Panca-Niyama ( Lima Hukum Alam, termasuk diantaranya Hukum Karma ).

Naskah-naskah Buddhis mengungkapkan, bahwa jenis kelamin seseorang bisa berubah dalam satu kehidupan, dan juga antara kehidupan / tumimbal-lahir. Dalam Kitab Vinaya, ada referensi tentang seorang Bhikkhu yang berkarakteristik seksual seperti wanita, dan seorang Bhikkhuni yang berorientasi seksual seperti laki-laki ( Vin. III. 35 ). Dalam kedua kasus ini, Sang Buddha menerima hal ini dan hanya mengatakan bahwa mantan Bhikkhu ( yaitu Bhikkhu yang mempunyai kecenderungan orientasi seksual seperti wanita ) sebaiknya mengikuti peraturan Bhikkhuni, dan mantan Bhikkhuni sebaiknya mengikuti peraturan Bhikkhu.

third-page

Pergantian jenis kelamin dan orientasi batin tersebut dianggap berkaitan dengan karma dan pengarahan batin seseorang secara khusus, kearah tersebut. Tapi menurut agama Buddha, pergantian jenis kelamin tidak membatasi potensi spiritualitas seseorang.

Kelainan jenis kelamin, seperti hermaprodit juga disinggung dalam agama Buddha. Hermaprodit adalah orang yang berkelamin dua jenis. Dalam Kitab Vinaya, disebutkan adanya kemungkinan seorang hermaprodit menggoda Bhikkhu atau Bhikkhuni, sehingga tidak boleh ditasbihkan menjadi anggota Sangha / Pasamuan para Bhikkhu / -ni ( Vin.I.89 ). Seseorang dilahirkan menjadi hermaprodit akibat karma masa lampau yang tak baik, salah-satunya adalah melakukan hubungan homoseksual.

fourth-page

Perbuatan homoseksual bagi ummat awam dan para perumah tangga tidaklah dikecam secara spesifik, walau dianggap sebagai salah satu bentuk dari kegiatan seks yang menyimpang. Sehingga, Buddha-Dhamma tidak pernah menganjurkan untuk ‘mengisolir’ apalagi melenyapkan keberadaan kaum homoseksual ini dalam kehidupan bermasyarakat.

Namun, sebagai pengecualian, perbuatan homoseksual yang terjadi dikalangan para Bhikkhu termasuk sebagai perbuatan melanggar Sila, sama seperti perbuatan-seksual lainnya, termasuk masturbasi sekalipun, karena Bhikkhu/-ni sudah harus tidak melakukan perbuatan “Abrahmacariya” ; perbuatan tidak suci yang tidak sesuai perilaku petapa suci. Dalam Vin.IV.288-9 dinyatakan bahwa dua Bhikkhuni yang berbaring bersamaan di atas sofa merupakan pelanggaran Sila / Moralitas. Nuansa “homo” yang lebih halus tercatat dalam AN.III.270, dimana Sang Buddha mengingatkan bahwa seorang Bhikkhu sebaiknya tidak terlalu berdedikasi terhadap Bhikkhu lain yang menjurus pada perasaan “sayang” , karena dikhawatirkan ia tidak akan setia kepada Bhikkhu yang lainnya, akan tersinggung bila Sangha menghukum Bhikkhu favoritnya, dan tidak mendengarkan Dhamma dari Bhikkhu lain. Agama Buddha memandang homoseks sebagai salah satu bentuk kehausan terhadap kenikmatan ( kama-tanha ) semata, yang tidak perlu dikecam dan dikucilkan apalagi ‘dilenyapkan’ dari kehidupan bermasyarakat. Agama-Buddha juga tidak menganggap bahwa para homoseks harus bertobat, karena mereka tidak menyalahi / berdosa kepada siapapun juga, kecuali hanya merupakan wujud penyimpangan orientasi seksual, yang itu berhubungan dengan diri pribadinya sendiri, karmanya sendiri.

fifth-page

Agama Buddha mengenal istilah ‘Pandaka’ untuk menunjuk ‘waria’ dan kaum homoseks lainnya, yaitu seorang pria yang tidak berperilaku maskulin dan seorang wanita yang tidak berperilaku feminin. Pandaka dalam dunia Buddhisme dianggap sebagai seseorang yang dapat berbuat kebajikan, dapat membimbing diri kearah kebajikan, tetapi mendapat rintangan dalam meditasi, pemahaman Dharma, atau mendapatkan penembusan ke dalam Sang Jalan Pencerahan, karena hadirnya noda-noda batin tertentu dari akumulasi karmanya. Menurut Buddha-Dhamma, menjadi Pandaka adalah akibat karma perzinahan / perbuatan seks yang tidak baik / benar di kehidupan yang lampau ( Thig. 436-7 ). Pravrajyantaraya-sutra mengatakan bahwa jika seorang upasaka menghalangi seseorang yang lain dari penahbisan ( upasampada ) menjadi Bhikkhu, mencela Buddha-Dhamma, atau murka terhadap Bhikkhu, maka bentuk-bentuk kelahiran kembali yang buruk bisa terjadi, termasuk salah satu diantaranya adalah menjadi ‘pandaka’ / waria / homoseks.

sixth-page

Oleh karena itu, tidak sepatutnya waria dikucilkan dari kehidupan bermasyarakat, karena ; waria juga manusia, juga warga semua makhluk hidup di alam-semesta-raya ini. Apalagi untuk waria secantik Treechada Manyaporn, atau yang mempunyai nama panggilan Poy ini, tentunya para netters dalam sekejap jadi ‘kelepek-kelepek’ dan ‘termehek-mehek’ karena kecantikannya, bukan ? Hehe… .

seventh-page

Demikian pembahasan kita mengenai “Waria Juga Manusia” ini. Semoga membawa manfaat dan pengetahuan baru bagi semua yang membacanya.

Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

Semoga Semua Makhluk Berbahagia dan Terbebas… !

— RATANA KUMARO  —

Semarang Barat, Sabtu, 11 Oktober 2008.

Posted in BUDDHA | 87 Comments »

KIAMAT SUDAH DEKAT (kah ?) !!

Posted by ratanakumaro pada November 7, 2008

KIAMAT SUDAH DEKAT ( kah ? ) !!

“Agama Masa Depan adalah Agama Kosmik (berkenaan dengan Alam Semesta atau Jagad Raya). Melampaui Tuhan sebagai suatu pribadi serta menghindari Dogma dan Teologi (ilmu ketuhanan). Meliputi yang Alamiah maupun yang Spiritual, Agama yang seharusnya berdasarkan pada Pengertian yang timbul dari Pengalaman akan segala sesuatu yang Alamiah dan Perkembangan Rohani, berupa kesatuan yang penuh arti. Buddhism sesuai dengan Pemaparan ini. Jika ada agama yang sejalan dengan kebutuhan Ilmu Pengetahuan Modern, maka itu adalah Ajaran Buddha.”

( ALBERT EINSTEIN )

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa “

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Pada tanggal 10 November 2003 silam, Indonesia digegerkan dengan kemunculan Sekte Sibuea, salah satu sekte agama Kristen yang didirikan oleh mantan Pendeta Gereja Pantekosta di Indonesia (GPDI) di Bandung, Mangapin Sibuea. Sekte ini mewartakan bahwa Kiamat akan terjadi pada tanggal 10 November 2003.

Pendeta Mangapin Sibuea mampu mengajak ratusan masyarakat yang tersebar di berbagai penjuru tanah air seperti Ambon, Bandung, Surabaya, Cirebon, Jepara, Papua, Kupang dan Manado,untuk ikut bergabung dalam aliran sekte yang dibentuknya, Sekte Sibuea, yang berkantor pusat di Jalan Siliwangi RT 01/ RW10 Desa Baleendah, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Para pengikut Sekte Sibuea tersebut berkumpul dan melakukan ibadah di “Pondok-Nabi”, yang dibangun oleh seorang “Nabi” versi mereka yang bernama Herry, asal Cirebon, hingga menanti tibanya hari kiamat. Pondok Nabi tersebut, merupakan tempat berkumpulnya para penganut agama Kristiani yang pernah mengalami pengalaman spiritual yang sama tentang keberadaan Yesus Kristus.

Seperti yang dituturkan Barnabas (58) asal Kupang, kepada “Sinar Harapan”, di Gereja Bethel Tabernakel, Jalan Lengkong Bandung, Selasa (11/11) tengah malam. Keinginan masuk aliran Sibuea setelah Barnabas mendapat ilham melalui bisikan-bisikan Tuhan yang tertuang lewat mimpi, alam bawah sadar, bahkan percakapan secara langsung seperti di telepon. Menurut pengakuan Barnabas, bunyi bisikan tersebut datang dari sosok “Yesus Kristus” yang berpakaian rapi seperti seragam pegawai Pemda dan wujudnya seperti mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, bahkan menggunakan kendaraan helikopter dan dari langit turun tepat di depan rumah Barnabas.

Dalam bisikan tahun 2002, “Yesus-Kristus” yang berwajah mirip Try Sutrisno tersebut memperlihatkan kata “Roma” ( menunjuk pada salah satu ayat dalam Alkitab ), sambil membisikkan akan datangnya hari kiamat pada tanggal 10 November 2003 dan semua penganutnya ( Yesus Kristus, – red ) harus berkumpul di “Pondok-Nabi”. Jika tidak datang ke tempat tersebut maka penyakit lumpuhnya akan kambuh lagi dan keluarganya akan meninggal ( Barnabas tadinya mengidap penyakit lumpuh tangan ).

Kejadian itu menyebabkan kecemasan dari pihak polisi. Polisi mengkhawatirkan akan terjadinya peristiwa bunuh diri masal saat menindak “sekte penanti kiamat” tersebut di Bandung. Kekhawatiran tersebut bisa dibenarkan, sebab, ada banyak contoh penganut sekte kiamat seperti ini yang memilih jalan bunuh diri bersama untuk menciptakan “kiamat”. Daftar panjang sejarah terjadinya bunuh-diri massal dari sekumpulan orang-orang yang mengkhawatirkan terjadinya kiamat selama kurun waktu 30 tahun kebelakang adalah sebagai berikut :

  • 18 November 1978: Pendeta Jim Jones, pemimpin sekte
    Kuil Rakyat, bunuh diri dengan racun bersama 914 pengikutnya di Jonestown, Guyana, Amerika Latin. Mereka takut kiamat karena perang nuklir dan merajalelanya komunisme Uni Soviet saat perang dingin.
  • 28 Oktober 1988: Polisi menggerebek gereja Dami Missionary
    di Seoul, tempat lebih dari 150 jemaat sedang menanti kiamat yang diyakini akan datang tengah malam. Dengan berpakaian putih mereka mengajak serta anggota keluarganya.
  • 1989: Jeffrey Lundgren menyempal dari kelompok Kristen.
    Dia memimpin sekitar dua lusin anggota. Mereka berlatih paramiliter untuk menyerang gereja. Ketika ada anggotanya yang membantah, si pembantah dieksekusi. Lundgren kemudian divonis mati, sedangkan istri dan anaknya dipenjara
    dalam waktu lama.
  • 28 Februari 1993: Vernon Howell alias David Koresh,
    pemimpin sekte “Ranting Daud”, tewas bersama 75 anggotanya di Waco, Texas, ketika pasukan federal AS menyerbu gedung tempat Koresh “menyandera” anggotanya. Ini mengakhiri pengepungan 51 hari.
  • 1984-1995: Luc Jouret dari Prancis menggerakkan sekte
    sempalan Kristen, “Kuil Matahari” . Dia mempengaruhi para pengikutnya bahwa setelah mati mereka akan berkumpul di dekat bintang Sirius. Sepanjang sepak terjangnya, tercatat 74 nyawa anggotanya melayang akibat bunuh diri dan dibunuh.
  • 20 Maret 1995: Para pengikut sekte “Aum Shinrikyo” ,
    di bawah pimpinan Shoko Asahara yang buta, menyebarkan gas maut di lima kereta di Tokyo. Sebanyak 12 orang tewas, 5.500 lainnya luka-luka. Asahara mendoktrinkan segera datangnya Armageddon (kiamat) dan menyiapkan bunker
    antiperang nuklir.
  • 23 Maret 1997: Sebanyak 21 lelaki dan 18 perempuan
    anggota sekte “Gerbang Surga” bunuh diri. Marshall Herff Applewhite dan Bonnie “77′ Lu Trusdale Nettles, alias “The Two” menggerakkan sekte ini dari California, AS, dengan tujuan menanti datangnya makhluk angkasa luar yang dianggap mahkluk dari surga.
  • 17 Maret 2000: Kelompok “Gerakan Pembaruan Sepuluh
    Perintah Tuhan”
    yang dipimpin Joseph Kibweeteere membakar diri di gereja di Kanungu, Uganda. Di antara 530 pengikut yang membakar diri, ditemukan tengkoraknya sekitar 330. Dengan kejadian lain, diperkirakan total kematian itu mencapai lebih dari 1.000 orang.
  • 11 Juli 2000: Mo Haeng Ryong (66) pendiri sekte Chunjonhoe
    atau “Heaven’s Gathering” atau “Perkumpulan Surga”, bersama istrinya, Park Kui Dal (52) divonis penjara di Seoul, Korsel, karena menipu anggotanya. Mo menganjurkan para anggotanya mengumpulkan uang untuk mengungsi dari
    kiamat yang akan tiba. Total penipuan itu sekitar USD 35 juta (sekitar Rp 300 miliar).

RAMALAN-RAMALAN MERESAHKAN

Disamping kejadian-kejadian tragis dan meresahkan tersebut diatas, banyak sekali ramalan-ramalan yang menimbulkan keresahan bagi masyarakat manusia yang berkaitan dengan Kiamat yang sudah dekat ini. Contoh yang masih cukup ‘hangat’ adalah ramalan dari Kalender Bangsa Maya. Dalam Salah satu perhitungan kalender bangsa Maya itu menyebutkan bahwa tepat tanggal 21 Desember 2012, merupakan “End of Times”. Memang masih banyak yang memperdebatkan mengenai arti dari “End of Times” yang diramalkan oleh bangsa Maya tersebut, tapi yang paling popular adalah, “End of Times” menunjukkan akan terjadinya kiamat terhadap bumi dan seluruh penghuninya. Apakah benar, kiamat akan datang dalam waktu 1,2,3,4,5, atau 10,20,30,40 atau 1000, 2000, 3000 tahun ini ? Marilah kita membahas hal tersebut dari sudut pandang Buddha-Dhamma.

KIAMAT MENURUT BUDDHA-DHAMMA

Di dalam Buddha-Dhamma dikenal adanya dua siklus dunia tempat kita hidup :

1. Siklus naik , dan ,

2. Siklus turun.

Satu siklus kelahiran kembali dunia ( Mahakappa : Satu Kappa Besar ) dibagi menjadi empat ( 4 ) fase :

1. Fase Kekosongan,

2. Fase “ Penciptaan “ ,

3. Fase statis / kediaman ,

4. Fase Kerusakan ( Kiamat ).

Masing-masing fase tersebut disebut “Kappa-Menengah”. Kappa-menengah terdiri dari dua-puluh ( 20 ) kappa-kecil. Kappa-kecil pertama disebut kappa-turun, dan kappa-kecil terakhir ( yang ke-20 ) disebut kappa naik.

Delapan-belas ( 18 ) kappa-kecil di antara kappa-turun dan kappa-naik merupakan siklus yang terdiri atas paruh-pertama naik dan paruh-kedua turun.

Diperlukan waktu dua-puluh ( 20 ) kappa-kecil untuk fase kekosongan, dan 20 kappa kecil untuk fase “penciptaan” alam-semesta tempat kita hidup ini.

Waktu permulaan zaman dari fase kediaman, awal kemunculan manusia di bumi, jangka kehidupan mereka rata-rata adalah “tak-terhingga”,, lalu turun secara perlahan-lahan ( dimana sekarang ini rata-rata umur manusia adalah 70 tahun ) hingga suatu saat akan mencapai umur rata-rata hanya sepuluh ( 10 ) tahun, dan saat tercapainya ini adalah disebut dengan “utkarsa” : fase-turun, maka itu kappa-pertama disebut kappa-turun.

Setelah itu diikuti dengan delapan-belas ( 18 ) kappa-kecil dimana jangka kehidupan rata-rata manusia perlahan-lahan naik ke delapan-puluh-ribu ( 80.000 ) tahun , dan fase ini disebut “apakarsa” : fase-naik.

Lalu setelah apakarsa kemudian rata-rata kehidupan manusia akan turun lagi menjadi selama sepuluh ( 10 ) tahun ( kembali ke “utkarsa” ; fase-turun ). Maka dari itu delapan-belas ( 18 ) kappa kecil itu disebut kappa naik-turun.

Setelah jangka kehidupan rata-rata manusia mencapai sepuluh ( 10 ) tahun di akhir kappa kecil ke-19, jangka kehidupan manusia rata-rata naik kembali secara perlahan-lahan menjadi delapan-puluh-ribu ( 80.000 ) tahun , yaitu kembali pada “apakarsa” ; fase-naik.

Dalam beberapa teks Buddhis, kata “perlahan-lahan” artinya jangka kehidupan rata-rata manusia naik/turun 1 tahun setiap kurun waktu seratus ( 100 ) tahun, tergantung apakah zaman itu dalam fase naik atau fase turun.

Pada saat terjadi apakarsa ( fase-naik ), maka tidak akan ada kemunculan seorang BUDDHA, karena manusia hidup lebih lama di dunia yang relatif makmur sehingga mereka telah puas dan tak berminat mendengarkan ajaran Buddha.

Buddha hanya akan muncul pada fase turun, tapi tidak muncul saat jangka kehidupan manusia telah jatuh dibawah titik jangka kehidupan kritis, saat sikap dan mental manusia sangat inferior sehingga tidak bisa menerima ajaran Buddha. Jangka kehidupan kritis ditafsirkan beraneka ragam, ada yang menafsirkannya sebagai seratus ( 100 ) tahun, delapan-puluh ( 80 ) tahun, bahkan tiga-puluh ( 30 ) tahun. Zaman dibawah jangka kehidupan kritis disebut zaman kegelapan, yang dalam agama lain disebut “Akhir-Zaman”.

Tanda-Tanda Akhir Zaman

Tanda-tanda “Akhir-Zaman” menurut Buddha-Dhamma adalah saat timbulnya lima ( 5 ) macam kemerosotan ( kasaya ) :

1. Kemerosotan pandangan ( ditthi-sakaya ) : aneka ragam gagasan dan pandangan terbalik muncul di seluruh pelosok dunia dan menjadi dominan di dalam benak manusia.

2. Kemerosotan hawa-nafsu ( kilesa-kasaya ) : manusia hanya mengejar kesenangan dengan menghalalkan segala cara. Segala jenis kejahatan merajalela dan perbuatan tercela ( dengan menggunakan standar hidup kita sekarang ) dianggapnya sebagai norma-norma. Orang-orang yang melakukan kejahatan bahkan disanjung sebagai pahlawan dan dihormati di masyarakat.

3. Kemerosotan kondisi manusia ( sattva-kasaya ) : mayoritas manusia tidak mendapatkan kepuasan batin dan kebahagiaan dalam kehidupan. Saat itu, fisik dan mental manusia jauh lebih inferior daripada saat kita hidup sekarang ini.

4. Kemerosotan jangka kehidupan manusia ( ayus-kasaya ) : jangka kehidupan rata-rata manusia secara makro menurun hingga ke titik kritis.

5. Kemerosotan zaman-dunia ( kalpa-kasaya ) : peperangan, bencana-alam, wabah-penyakit, gagal-panen, dan kelaparan melanda dunia. Saat mengalami ini, lingkungan hidup ( ekosistem dan ekologi ) semakin memburuk.

Salah satu ciri dari fase turun adalah kejadian yang disebut dengan “Tiga-Bencana-Besar” :

1. Peperangan,

2. Wabah penyakit, dan ,

3. Kelaparan.

Ada tiga teori mengenai ciri-ciri dari fase turun tersebut. Teori pertama , menyatakan bahwa pada saat jangka kehidupan manusia mencapai rata-rata sepuluh ( 10 ) tahun, peperangan berlangsung selama tujuh ( 7 ) hari, dilanjutkan dengan wabah penyakit yang berlangsung selama tujuh ( 7 ) bulan plus tujuh ( 7 ) hari, dilanjutkan dengan kelaparan selama tujuh ( 7 ) tahun, tujuh ( 7 ) bulan, dan tujuh ( 7 ) hari.

Teori kedua , menyatakan bahwa hanya satu jenis bencana yang akan terjadi di setiap akhir kappa-kecil. Saat jangka kehidupan manusia mencapai sepuluh ( 10 ) tahun di kappa pertama, wabah penyakit muncul ; di kappa kedua api peperangan terjadi ; dan di kappa ketiga, kelaparan melanda. Pola ini berlanjut sampai sepanjang enam-belas ( 16 ) kappa berikutnya, dan setiap bencana berlangsung selama tujuh ( 7 ) hari. Menurut teori ini, kita sekarang berada di kappa kesembilan ( ke-9 ), pada fase menurun, dimana bencana kelaparan akan terjadi saat jangka kehidupan manusia rata-rata mencapai sepuluh ( 10 ) tahun.

Teori ketiga , menyatakan bahwa kala jangka kehidupan manusia mencapai tiga-tuluh ( 30 ) tahun, ada periode kelaparan selama tujuh ( 7 ) tahun, tujuh ( 7 ) bulan, tujuh ( 7 ) hari ; dikala umur rata-rata kehidupan manusia mencapai dua-puluh ( 20 ) tahun, ada periode wabah penyakit selama tujuh ( 7 ) bulan dan tujuh ( 7 ) hari ; kala umur rata-rata kehidupan manusia mencapai sepuluh ( 10 ) tahun, ada periode bencana peperangan selama tujuh ( 7 ) hari.

Terjadinya Kiamat

Pada kappa kedua-puluh ( ke-20 ), kappa terakhir, merupakan fase naik dan jangka kehidupan manusia mencapai delapan puluh ribu ( 80.000 ) tahun. Setelah itulah, kiamat mulai datang dalam bentuk penghancuran bumi melalui salah satu dari tiga unsur alam-semesta : api, air, dan angin. Ini adalah akhir dari sebuah siklus “Mahakappa”.

Siklus mahakappa pertama diakhiri dengan kiamat dari unsur api, dimana tujuh matahari muncul [ melintasi orbit tata surya kita ] dan mengeringkan samudera.

Siklus mahakappa kedua ( ke-2 ) hingga ketujuh juga diakhiri dengan cara kiamat yang serupa. Siklus mahakappa kedelapan ( ke-8 ) diakhiri dengan kiamat dari unsur air.

Pola kiamat api dan satu kiamat air berulang selama tujuh ( 7 ) kali, totalnya lima-puluh-enam ( 56 ) Mahakappa.

Selanjutnya dilanjutkan dengan tujuh kali kiamat api dan satu kiamat angin, sehingga total menjadi enam-puluh-empat ( 64 ) Mahakappa.

Periode enam-puluh-empat ( 64 ) Mahakappa merupakan satu siklus besar dari satu sistem dunia. Kiamat api menghancurkan mulai dari neraka hingga surga kesembilan ( ke-9 ), yaitu surga tempat Maha-Brahma hidup. Kiamat air menghancurkan mulai dari neraka hingga surga kedua-belas ( ke-12 ), yaitu alam makhluk cahaya ( Abhassara ), dan kiamat angin menghancurkan dari alam neraka hingga surga kelima-belas ( ke-15 ), yaitu alam Subhakinha ( Jhana III ).

Penggambaran kiamat dari siklus Mahakappa pertama hingga ketujuh, yaitu kiamat dengan unsur api digambarkan dalam Anguttara Nikaya, Sattakanipata adalah sebagai berikut :

“ Bhikkhu, akan tiba suatu masa setelah bertahun-tahun, ratusan tahun, ribuan tahun, atau ratusan ribu tahun, tidak ada hujan.

Ketika tidak ada hujan, maka semua bibit tanaman seperti bibit sayuran, pohon penghasil obat-obatan, pohon-pohon palem dan pohon-pohon besar di hutan menjadi layu, kering dan mati… .

Para Bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari kedua muncul. Ketika matahari kedua muncul, maka semua sungai kecil dan danau kecil surut, kering dan tiada… .

Para Bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu wakti di akhir yang lama, matahari ketiga muncul. Ketika matahari ketiga muncul, maka semua sungai besar, yaitu sungai Gangga, Yamuna, Acirawati, Sarabhu dan Mahi, surut, kering dan tiada… .

Para Bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu wakti di akhir masa yang lama, matahari keempat muncul. Ketika matahari keempat muncul, maka semua danau besar tempat bermuaranya sungai-sungai besar, yaitu danau Anotatta, Sihapapata, Rathakara, Kannamunda, Kunala, Chaddanta, dan Mandakini surut, kering dan tiada… .

Para Bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lamai, matahari kelima muncul. Ketika matahari kelima muncul, maka air maha samudera surut 100 Yojana, lalu surut 200 Yojana, 300 Yojana, 400 Yojana, 500 Yojana, 600 Yojana dan surut 700 Yojana. Air maha samudera tersisa sedalam tujuh pohon palem, enam , lima, empat, tiga, dua pohon palem, dan hanya sedalam sebatang pohon palem. Selanjutnya, air maha samudera tersisa sedalam tinggi tujuh orang, enam, lima, empat, tiga, dua, dan hanya sedalam seorang saja, lalu dalam airnya setinggi pinggang, setinggi lutut, hingga airnya surut sampai sedalam tiga mata kaki.

Para Bhikkhu, bagaikan di musim rontok, ketika terjadi hujan dengan tetes air hujan yang besar, mengakibatkan ada lumpur di bekas tapak-tapak sapi, demikianlah dimana-mana air yang tersisa dari maha-samudera hanya bagaikan lumpur yang ada di bekas tapak-tapak kaki sapi.

Para Bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari keenam muncul, Ketika matahari keenam muncul, maka bumi ini dengan gunung Sineru sebagai raja gunung-gunung, mengeluarkan , memuntahkan, dan menyemburkan asap. Para Bhikkhu, bagaikan tungku pembakaran periuk yang mengeluarkan, memuntahkan dan menyemburkan asap, begitulah yang terjadi dengan bumi ini.

Demikianlah para Bhikkhu, semua bentuk ( sankhara ) apa pun adalah tidak kekal, tidak abadi, atau tidak tetap. Janganlah kamu merasa puas dengan semua bentuk itu, itu menjijikkan, bebaskanlah diri kamu dari semua hal.

Para Bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir yang lama, matahari ketujuh muncul. Ketika matahari ketujuh muncul, maka bumi ini dengan gunung Sineru sebagai raja gunung-gunung terbakar, menyala berkobar-kobar, dan menjadi seperti bola api yang berpijar. Cahaya nyala kebakaran sampai terlihat di alam Brahma, demikian pula dengan debu asap dari bumi dengan gunung Sineru tertiup angin sampai ke alam Brahma.

Bagian-bagian dari puncak gunung Sineru setinggi 1, 2, 3, 4, 5 ratus Yojana terbakar menyala ditaklukkan oleh amukan nyala berkobar-kobar, hancur lebur. Disebabkan oleh nyala yang berkobar-kobar bumi dengan gunung Sineru hangus total tanpa ada bara maupun abu yang tersisa. Bagaikan mentega atau minyak yang terbakar hangus tanpa sisa.

Demikian pula bumi dengan gunung Sineru hangus terbakar hingga bara maupun debu tak tersisa sama sekali. “

MUNGKINKAH TERDAPAT TUJUH MATAHARI YANG AKAN MEMBAKAR BUMI ?

Penjelasan Kiamat menurut Sang Buddha tersebut diatas tentunya akan mengerutkan alis mata anda, khususnya yang belum mengenal Buddha-Dhamma. Anda yang tidak mengenal Buddha-Dhamma akan bertanya-tanya, “ Mana mungkin ada matahari lebih dari satu ? Mana mungkin terdapat tata-surya lebih dari satu ? Mana mungkin ada galaksi selain galaksi ini ? Mana mungkin ada “Alam-Kembar” seperti alam yang kita huni ini ? “

Sekedar mengingatkan kembali, Sang Buddha menyebutkan adanya tiga sistem dunia :

1. Sahassi Culanika Lokadhatu , yaitu Seribu ( 1.000 ) tata-surya kecil. Didalam Sahassi Culanika Lokadhatu terdapat seribut ( 1.000 ) matahari, seribu ( 1.000 ) bulan, seribu ( 1.000 ) Sineru, seribu ( 1.000 ) Jambudipa, dll.

2. Dvisahassi Majjhimanika lokadhatu, yaitu seribu kali Sahassi Culanika Lokadhatu. Dalam Dvisahassi Majjhimanika Lokadhatu terdapat 1.000 x 1.000 tata surya kecil = 1.000.000 tata surya kecil. Terdapat 1.000 x 1.000 matahari = 1.000.000 matahari, terdapat pula 1.000 x 1.000 bulan = 1.000.000 bulan, dan seterusnya.

3. Tisahassi Mahasahassi Lokadhatu terdapat 1.000.000 X 1.000 = 1.000.000.000 tata surya. Terdapat 1.000.000 x 1.000 matahari = 1.000.000.000 matahari, dan seterusnya.

Sesungguhnya, maksud dari Sabda Sang Buddha tersebut, jumlah tata-surya melampaui dari sekedar satu-milyar ( 1.000.000.000 ) tata-surya saja. Namun karena Sang Buddha mengajarkannya dengan menggunakan bahasa manusia ( saat Beliau hidup kala itu ), maka menggunakan kisaran angka ribuan, jutaan, milyaran. Ingat , seperti Sang Buddha sendiri pernah mengisyaratkan, bahwa bahasa manusia tidak mampu melukiskan sesuatu yang Transenden , “bagaikan jari menunjuk bulan, bukan bulan itu sendiri”.

Dalam kenyataannya, Sabda Sang Buddha mengenai Alam-Semesta, Awal Mula Terjadinya, hingga kelak “Kiamat”, mendapat dukungan dan mengundang decak-kagum fisikawan tersohor didunia, yaitu Dr.Albert Einstein, hingga dia mengeluarkan pernyataan ( seperti yang tertulis di awal artikel ini ) , bahwa “… Jika ada agama yang sejalan dengan kebutuhan Ilmu Pengetahuan Modern, maka itu adalah Ajaran BUDDHA.”

Dalam salah satu penggalan surat yang dilayangkan ke salah seorang rekannya di tahun 1944, Albert Einstein, sang penggagas Teori Relativitas berkata, “Apa yang kulihat di alam ini adalah sebuah struktur yang maha besar, namun yang dapat kita pahami baru sebagian kecil saja. Begitu pun sudah cukup membuat pusing.”

Mengenai jumlah galaksi yang lebih dari satu, juga telah dibenarkan oleh para ilmuwan. Setidaknya ada dua-ratus milyar galaksi yang sudah dikenali oleh para ilmuwan, diantaranya ( selain Bima-Sakti ), adalah : Galaksi Major Dwarf, Virgo Stellar Stream, Sagitarius Elips Kerdil, Awan Magellanik Besar, dan lain-lainnya.

Beth Willman, dari Center for Cosmology and Particle Physics, Universitas New York, baru-baru ini juga menemukan “Galaksi-Kerdil” didekat Bima-Sakti, yang ia sebut “Globular-Cluster”. Willman berkata, “Yang kami dapatkan kemudian adalah objek yang 200 kali lebih tidak bercahaya bila dibandingkan dengan galaksi-galaksi lain yang terlihat sebelumnya. “

Berbagai penemuan baru juga terus bermunculan dalam penyelidikan planet di luar Tata Surya, atau yang lebih dikenal sebagai eksoplanet. Salah satu planet ini – Gliese 581 – disebut sebagai Bumi Super (ukuran besar), disebut Bumi karena berbagai parameternya memperlihatkan planet ini layak huni, dan disebut Super karena ukurannya lebih besar melampaui bumi tempat kita hidup ini.

Matahari Lebih dari Satu

Dalam tulisannya di Kompas (8 Desember 2006) alumnus astronomi Taufiq menyinggung tata surya dengan matahari lebih dari satu. Salah satu contohnya adalah tata-surya dengan tiga matahari seperti yang ada pada matahari “HD188753” yang berada di Rasi Angsa (Cygnus). Pada sistem yang berjarak 149 tahun cahaya (1 tahun cahaya = 9.500 miliar km), matahari utama dikitari oleh dua matahari lain berukuran lebih kecil. Di luar itu masih ada sebuah planet gas berukuran lebih besar dari Yupiter mengorbit lebih dekat ke bintang induk dengan periode orbit 3,5 hari.

Pada sistem yang lain, ada pula planet yang ditemukan pada matahari ganda. Misalnya saja matahari ganda Gamma Cephei. Matahari utamanya yang bermassa 1,6 massa Matahari punya sebuah planet dengan massa 1,76 kali Yupiter yang mengorbit sejauh jarak Matahari-Mars (1,5 AU (Astronomical Unit) 1 AU = 150 juta km), dan punya matahari partner yang berukuran lebih kecil pada jarak sejauh Matahari-Uranus (19,2 AU).

Belum lama ini wahana teleskop antariksa Spitzer menemukan sistem yang memiliki “Empat Matahari Induk”. Spitzer dengan peralatan inframerahnya telah diarahkan untuk meneliti piringan debu yang mengelilingi sistem empat bintang HD 98800.

HD 98800 diperkirakan berumur 10 juta tahun, dan berada di Rasi TW Hydrae yang berjarak 150 tahun cahaya. Sebelum diteliti oleh Spitzer, astronom telah memiliki sejumlah informasi mengenai matahari ini dari pengamatan teleskop darat. Mereka sudah mengetahui, bahwa sistem ini punya empat matahari, dan keempat matahari yang ada berpasang-pasangan dalam sistem dua bintang (double, atau binary).

Matahari-matahari dalam sistem matahari ganda mengorbit satu terhadap yang lain, demikian pula dua pasang matahari ganda tersebut juga saling mengitari satu terhadap yang lain sebagaimana pasangan-pasangan penari balet. Salah satu pasangan matahari – yang disebut HD 98800B – memiliki piringan debu di sekelilingnnya, sementara pasangan satunya tidak.

Seperti dilaporkan oleh NASA, keempat matahari saling terikat oleh gravitasi dan jarak antara kedua pasang bintang tersebut adalah sekitar 50 AU, atau sedikit lebih jauh dibandingkan jarak Matahari –  Pluto yang sekitar 40 AU.

Dan temuan para ilmuwan tersebut diatas, baik mengenai matahari yang lebih dari satu, mengenai galaksi yang telah dikenali hingga 200 milyar banyaknya, serta “Parallel Universe” ( Alam-Kembar, yakni teori adanya alam-semesta lain selain tempat kita tinggal, akan kita bahas dalam topik selanjutnya ), merupakan suatu bentuk pengakuan terhadap ajaran Sang Buddha, yang menyatakan bahwa “Alam-Semesta” ini tidak hanya terdiri dari satu tata-surya saja, tidak hanya terdiri dari satu galaksi saja, bahkan jumlahnya sesungguhnya hingga milyaran tata-surya. Dan dengan demikian, pernyataan Sang Buddha mengenai terjadinya kiamat setelah berkumpulnya tujuh matahari menyinari bumi secara bersama-sama, sangatlah masuk akal, karena ternyata alam-semesta ini sungguh sangat luas tak terkira, dan terdiri dari ratusan milyar galaksi, serta juga milyaran matahari.

KESIMPULAN

Jadi, merujuk pada Sabda Sang Buddha, Sang Lokavidu – Pengenal Segenap Alam Semesta – , maka, kiamat dialam Bumi kita ini belum akan terjadi dalam waktu dekat ini, tidak dalam hitungan 1, 2, 3, 4, 5, 10, 100, 1.000, 10.000, 100.000 , 1.000.000, 10.000.000 tahun ini, karena :

1. Kita sekarang berada pada masa Kappa ke-9 ( sembilan ), fase turun dari masa / fase “Kediaman” / “Statis”, yaitu menuju turunnya jarak hidup / usia manusia, dimana nantinya manusia hanya akan berusia maksimal sepuluh ( 10 ) tahun. Untuk menyelesaikan masa/fase Kediaman / Statis, masih dibutuhkan 11 kappa lagi, baru kemudian bumi ini masuk pada fase “Kerusakan” / Kiamat. Padahal, Kiamat baru akan terjadi pada masa Kappa ke-20 ( dua-puluh ) kappa terakhir dari fase “Kerusakan” / “Kiamat”, yang merupakan fase naik dan jangka kehidupan manusia akan mencapai delapan puluh ribu ( 80.000 ) tahun. Sehingga, dari saat sekarang, masih dibutuhkan 11 + 20 Kappa = 31 Kappa lagi untuk mencapai masa “Kehancuran” / “kiamat”. Setelah kappa ke-20 dari fase Kehancuran itulah, kiamat baru mulai datang dalam bentuk penghancuran bumi melalui salah satu dari tiga unsur alam-semesta : api, air, dan angin. ( akhir dari sebuah siklus “Mahakappa” ). Dan kita ingat, 1 Kappa itu dilalui dalam waktu yang sangat panjang, lebih dari milyaran tahun. Sehingga, dari kappa ke-9 fase turun ini, untuk menuju kappa ke-20 fase naik dari fase “Kehancuran”, masih dibutuhkan waktu sangat panjang, melebihi trilyunan tahun lagi.

2. Kelima tanda akhir zaman belum muncul. Yang ada sekarang adalah bencana alam yang sangat wajar ( wajar, karena, bumi tidak akan pernah berlalu tanpa adanya bencana alam ) bila dibandingkan dengan apa yang dimaksudkan dengan tanda-tanda akhir zaman tersebut. Juga peperangan yang disebabkan egoisme SARA semata.

3. Kita belum mengalami dimana “ratusan ribu tahun” tidak ada hujan. Kita masih bisa menikmati musim dengan baik ( meskipun terjadi sedikit pergeseran musim, yang lebih disebabkan karena karma-karma buruk kita sendiri ( baca artikel Bencana Alam dalam Perspektif Buddha-Dhamma di weblog ini ) ).

4. Kita belum mengalami masa dimana matahari kedua munul dan menyinari bumi ini secara kontinyu. Kemudian belum mengalami kemunculan matahari ketiga, keempat, kelima, keenam, dan ketujuh muncul secara bersamaan. Dan kemunculan matahari-matahari tersebut, sangatlah membutuhkan waktu yang lama sekali, masih jutaan tahun lagi, bahkan lebih ( ingat sekali lagi, bahasa manusia yang delusiv dan relatif tak bisa dengan tepat menggambarkan sesuatu yang “Transenden” ).

5. Dan karena matahari-matahari itu belum muncul, air masih bisa kita nikmati, sungai kita masih tetap ada, lautan tetap ada, belum ada gunung yang mulai hancur , dan lain-lain tanda seperti yang disabdakan oleh Sang Buddha.

Demikian, sehingga kiamat bagi planet Bumi dan tata-surya kita ini sesungguhnya masih teramat sangat jauh. Usia bumi kita sekarang ini menurut beberapa ilmuwan baru lima ( 5 ) milyar tahun ( ini yang masih bisa diteliti, sesungguhnya, usia bumi sudah jauh lebih tua dari sekedar 5 milyar tahun ) , dan itu termasuk usia yang sangat muda bagi sebuah tata-surya di alam semesta. Karena itu, tidak ada alasan bagi timbulnya ketakutan akan terjadinya kiamat dalam waktu dekat ini, apalagi jika hanya dalam hitungan 1 hingga 10 tahun kedepan, bahkan 1 trilyun tahun kedepan saja belum akan kiamat, mengapa merisaukan akan terjadi tahun-tahun dekat ini ?

Demikian pembahasan kita mengenai Kiamat menurut yang diajarkan oleh Sang Bhagava, Sang Buddha, Sang-Lokavidu ; pengenal-segenap-alam-semesta.

Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

Semoga Semua Makhluk Berbahagia dan Terbebas… !

— RATANA KUMARO  —

Semarang Barat, Rabu, 08 Oktober 2008.

Posted in BUDDHA | 17 Comments »

ALAM SEMESTA (III)

Posted by ratanakumaro pada November 5, 2008

ALAM SEMESTA, KEHIDUPAN,

DAN ALAM KEHIDUPAN ( III ) ;

KOSMOLOGI BUDDHIS

“Agama Masa Depan adalah Agama Kosmik (berkenaan dengan Alam Semesta atau Jagad Raya). Melampaui Tuhan sebagai suatu pribadi serta menghindari Dogma dan Teologi (ilmu ketuhanan). Meliputi yang Alamiah maupun yang Spiritual, Agama yang seharusnya berdasarkan pada Pengertian yang timbul dari Pengalaman akan segala sesuatu yang Alamiah dan Perkembangan Rohani, berupa kesatuan yang penuh arti. Buddhism sesuai dengan Pemaparan ini. Jika ada agama yang sejalan dengan kebutuhan Ilmu Pengetahuan Modern, maka itu adalah Ajaran Buddha.”

( ALBERT EINSTEIN )

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa “


Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Ilmu Pengetahuan membagi kehidupan menurut susunan tubuhnya, sedang Sang Buddha membagi kehidupan menurut apa yang dialaminya. Sang Buddha menyatakan, ada 31 alam kehidupan didalam alam semesta ini. Ke-31 alam tersebut, dibagi dalam “Tiga-Alam-Kehidupan” ( Triloka ) yaitu ( Penjelasan lebih lengkap lihat di “Tabel Alam Kehidupan” ) :

1. Alam Nafsu Keinginan ( Kamaloka / Kamadhatu )

2. Alam Berbentuk ( Rupaloka / Rupadhatu )

3. Alam Tidak Berbentuk ( Arupaloka / Arupadhatu )

TABEL ALAM-ALAM KEHIDUPAN

ALAM – ALAM KEHIDUPAN

Batas Umur

4 – ARUPA LOKA
(Alam Tanpa Bentuk)

4. N’eva Saññã N’ãsaññãyatana
3. Akiñcaññãyatana
2. Viññãnañcãyatana
1. Ãkãsãnañcãyatana

84.000 M.K.
60.000 M.K.
40.000 M.K.
20.000 M.K.

16 – RUPALOKA
(Alam Bentuk)

Catuttha Jhãna Bhümi
Alam Jhãna IV

Suddhavassa >>

Akanittha
Sudassi
Sudassa
Atappa
Aviha
Asaññasatta
Vehapphala

16.000 M.K.
8.000 M.K.
4.000 M.K.
2.000 M.K.
1.000 M.K.
500 M.K.
500 M.K.

Tatiya Jhãna Bhümi
Alam Jhãna III

Subhakinha
Appamãnasubha
Parittasubha

64 M.K.
32 M.K.
16 M.K.

Dutiya Jhãna Bhümi
Alam Jhãna II

Patama Jhãna Bhümi
Alam Jhãna I

Abhassara
Appamãnabha
Parittabha

Maha Brahma

Brahma Purohita

Brahma Parisajja

8 A.K

4 A.K

2 A.K

1 A.K.

½ A.K.

1/3 A.K.

11 – KÃMALOKA
(Alam Nafsu)

7 – Sugati
(Alam Bahagia)

6 – Devaloka >>
(Alam Surga)

Paranimmitavasavatti
Nimmãnarati
Tusita
Yãma
Tãvatimsa
Cãtummahãrãjika

16.000 T.S.
8.000 T.S.
4.000 T.S.
2.000 T.S.
1.000 T.S.
500 T.S

Manussa – Alam Manusia

Tak Terbatas

4 – Dugati (Alam Menderita) >>

Asurayoni
Petayoni
Tiracchãnayoni
Niraya

Tak Terbatas
Tak Terbatas
Tak Terbatas
Tak Terbatas

Keterangan :
M.K. = Mahã Kappa
A.K. = Asangkheyya Kappa
T.S. = Tahun Surgawi

Ketiga alam tersebut, kesunyataannya, tidaklah kekal-abadi. Anggapan bahwa alam setelah manusia mati nanti, baik menuju ke alam menyedihkan maupun membahagiakan adalah kekal-abadi, mutlak keliru. Karena, masing-masing alam tersebut mempunyai masa / waktu hidup sendiri-sendiri, dan setelah masa waktu untuk hidup di salah satu alam tersebut habis, maka semua makhluk yang belum mencapai “Kebebasan-Sempurna” ( Nibbana ) akan melanjutkan hidupnya di alam-alam yang lain. Untuk itu, marilah kita pertama-tama membahas mengenai satuan waktu hidup dalam alam kehidupan kita ini. Kemudian, sesi ini kita hanya akan membahas bagian pertama dari alam Kamaloka, yakni alam-alam menyedihkan ( Dugati ).

DIMENSI WAKTU

1. Alam Kamaloka

Alam manusia, menggunakan ukuran tahun yang telah diciptakan dan disepakati secara bersama-sama oleh manusia sendiri hingga saat ini, dimana satu hari adalah 24 jam, satu minggu adalah tujuh (7) hari, satu bulan adalah 31 ( atau 30 ) hari, satu tahun adalah 12 bulan. Alam para hantu ( Niraya, Petayoni, dan Asurayoni ), umumnya berusia lebih panjang daripada usia manusia dan alam hewan ( Tiracchanayoni ), bahkan ada yang mencapai jutaan tahun menurut hitungan manusia.

Untuk alam surgawi, yakni alam para dewa yang hidup pada alam Kamaloka ini, maka dimensi waktu disana adalah sebagai-berikut :

a). 50 tahun manusia = 1 hari 1 malam bagi alam Dewa Catummaharajika

b). 100 tahun manusia = 1 hari 1 malam bagi alam Dewa Tavatimsa

c). 200 tahun manusia = 1 hari 1 malam bagi alam Dewa Yama

d). 400 tahun manusia = 1 hari 1 malam bagi alam Dewa Yusita

e). 800 tahun manusia = 1 hari 1 malam alam Dewa Nimmanarati

f). 1600 tahun manusia = 1 hari 1 malam alam Dewa Parinimmitavasavatti

Setelah kita mengetahui dimensi waktu pada masing-masing alam kehidupan pada ketiga-loka tersebut, maka marilah kita membahas masing-masing alam dalam ketiga-loka itu.

2. Alam Rupaloka dan Arupaloka

Pada bab “Alam-Semesta I” saya sudah pernah menyinggung mengenai dimensi waktu yang disebut dengan “Kappa” ( Baca lagi “Alam-Semesta I ).

Ada tiga macam Kappa, yaitu :

1. Antara Kappa.

2. Asankheyya Kappa.

3. Maha Kappa.

Dalam rentang perjalanan manusia, (sesungguhnya) terdapat suatu masa dimana seluruh ummat manusia hanya akan mempunyai batas waktu umur rata-rata hingga 10 tahun. Masa ini terjadi ketika moralitas ummat manusia sedemikian merosotnya, sehingga umurnya hanya akan bertahan hingga 10 tahun, sesudah itu mati. Masa selang antara batas usia manusia rata-rata 10 tahun lalu naik sampai usia yang panjang sekali hingga mencapai delapan puluh ribu ( 80.000 ) tahun, lalu turun kembali hingga batas usia rata-rata menjadi 10 tahun kembali, itu adalah rentang waktu 1 “Antara-Kappa” ( Antara satu kappa ke Kappa berikutnya, itulah “Antara-Kappa” ).

Satu ( 1 ) Asankheyya Kappa adalah sama dengan 20 Antara Kappa. Satu ( 1 ) Asankheyya Kappa, oleh para sarjana dinyatakan, bila dialjabarkan sama dengan 10 pangkat 14 ( angka satu ( 1 ) diikuti seratus empat puluh ( 140 ) angka nol, ( coba anda tuliskan sendiri, hehehe… ), sehingga lamanya melebihi jumlah jutaan-trilyun tahun. Dan Satu ( 1 ) Maha Kappa adalah sama dengan empat ( 4 ) Asankheyya Kappa, sehingga 1 Maha Kappa lamanya melebihi maha jutaan-trilyun tahun.

Dimensi waktu yang disebut “Kappa” inilah yang digunakan untuk mengukur umur rata-rata makhluk-makhluk yang terlahir dalam alam Rupaloka dan Arupaloka, yang kesemuanya bisa anda lihat pada “Tabel 31 Alam Kehidupan”.

I. KAMALOKA / KAMADHATU

Yakni alam nafsu-keinginan, tempat keberadaan makhluk-makhluk duniawi. Ada sebelas ( 11 ) alam kehidupan yang termasuk didalam Kamaloka ini, yang terbagi dalam dua alam, yaitu :

1).Dugati ( Alam-alam menyedihkan ), dan,

2).Sugati ( Alam Bahagia ).

1.) Dugati ( Alam-alam menyedihkan )

Dugati terdiri dari empat (4) alam yang kesemuanya merupakan tempat hidup “yang menyedihkan”. Alam ini disebut juga “Empat Alam Kemerosotan” (Apâyabhûmi). Istilah ‘apâyabhûmi’ terbentuk dari tiga kosakata, yakni ‘apa‘ yang berarti ‘tanpa, tidak ada’, ‘aya‘ yang berarti ‘kebajikan’, dan ‘bhûmi‘ yang berarti ‘alam tempat tinggal makhluk hidup’. Apâyabhûmi adalah suatu alam kehidupan yang tidak begitu ada kesempatan untuk berbuat kebajikan. Delapan jenis suciwan tidak akan terlahirkan di alam ini, dan tidak ada satu makhluk pun dalam alam ini yang mampu meraih kesucian dalam kehidupan sekarang. Alam ini juga sering disebut sebagai ‘dugga-tibhûmi‘.

Yang menyebabkan suatu makhluk terlahir di alam “Dugati” / empat alam menyedihkan ( disebut juga “apaya-bhumi” ) adalah karena :

1. Tidak pernah Berdana ( bersedekah )

2. Tidak menjaga Sila ( Moralitas : Setidaknya ada lima Sila yang harus dijaga, yaitu : 1. Tidak membunuh makhluk hidup apapun juga (termasuk binatang) , 2. Tidak mengambil barang yang tidak diberikan, 3. Tidak berbuat sex yang menyimpang / tidak seharusnya ( perilaku cabul, perzinahan, dll ). 4. Tidak berucap dusta, 5. Tidak meminum minuman / obat-obatan yang menyebabkan lemahnya kesadaran ( yang memabukkan, seperti narkoba, extasy, minuman keras / beralkohol, dll. ) )

3. Tidak pernah mempunyai rasa hormat kepada orang-orang lain.

‘Duggati’ terbentuk dari dua kosakata, yakni ‘du‘ yang berarti ‘jahat, buruk, sengsara’, dan ‘gati‘ yang berarti ‘alam tujuan bagi suatu makhluk yang akan bertumimbal lahir’. Duggatibhûmi adalah suatu alam kehidupan yang buruk, menyengsarakan. Walaupun kerap dipakai se-bagai suatu padanan, duggatibhûmi sesungguhnya tidaklah sama persis cakupannya dengan apâyabhûmi. Apâyabhûmi terdiri atas empat alam, yakni:

a). Niraya ( Ni + aya ; tanpa kebahagiaan )/ Neraka ( Sanskerta )

Yaitu alam keberadaan yang menyedihkan, tempat para makhluk menebus Kamma buruk mereka. Manusia yang dalam hidupnya cenderung kearah penganiayaan makhluk hidup, membunuh makhluk hidup apapun juga, dan senantiasa terjerembab dalam tindakan-tindakan jahat yang dilakukan baik oleh pikiran, ucapan, dan perbuatan, maka ia akan terlahir dialam Niraya ini.

Sesungguhnya, anggapan bahwa neraka adalah tempat hidup yang kekal abadi bagi semua makhluk yang selama masa hidup sebelumnya banyak berbuat karma buruk, adalah keliru. Tidak ada yang kekal-abadi, termasuk didalam neraka sekalipun. Setelah habisnya Kamma buruk yang menyebabkan mereka “tercebur” kedalam alam penuh derita ini ( sama-sekali tidak ada kesenangan, hanya derita yang ada ), makhluk-makkhluk yang hidup dialam ini akan lahir kembali dalam alam-alam lain sesuai timbunan kamma-kamma mereka sendiri, yang telah mereka pupuk selama ribuan tahun rentang pengembaraannya dalam samsara.

Dikisahkan bahwa Mallikâ, yang pernah melakukan perzinahan dengan seekor anjing, berada dalam alam neraka hanya dalam waktu tujuh hari. (Mallikâ adalah permaisuri kesayangan Raja Pasenadi Kosala). Atas kematiannya, raja bertanya kepada Sang Buddha ke alam manakah gerangan istrinya terlahirkan kembali. Beliau tidak menjawab meskipun ditanya setiap hari selama seminggu penuh karena khawatir kalau raja akan bersedih hati mengetahui penderitaan yang harus ditanggung oleh Mallikâ. Baru setelah Mallikâ keluar dari neraka Avîci dan terlahirkan kembali di Surga Tusita, Beliau memberikan jawaban. Tidaklah ‘adil’ untuk menjebloskan suatu makhluk sepanjang hidup (selamanya) dalam neraka hanya karena suatu kejahatan yang pernah dilakukannya dengan mengabaikan semua kebajikannya dan tanpa memberi peluang sedikit pun untuk memperbaiki kehidupannya. Neraka bukanlah suatu tempat pelampiasan kesewenang-wenangan suatu Pencipta Adikodrati yang murka karena diabaikan atau dikhianati oleh makhluk-makhluk ciptaannya.

Neraka terbagi menjadi dua bagian, yaitu:

1. Neraka Besar (Mahâ-niraya)

2. Neraka Kecil (Ussadaniraya).

Neraka besar terdiri atas delapan alam:

1. Sañjîva
Alam kehidupan bagi makhluk yang secara bertubi-tubi dibantai dengan pelbagai senjata; begitu mati langsung terlahirkan kembali di sana secara berulang-ulang hingga habisnya akibat kamma yang ditanggung. Mereka yang suka mempergunakan kekuasaan yang dimiliki untuk menyiksa makhluk lain yang lebih lemah atau rendah kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

2. Kâïasutta
Alam kehidupan bagi makhluk yang dicambuk dengan cemeti hitam dan kemudian dipenggal-penggal dengan parang, gergaji dan sebagainya. Mereka yang suka menganiaya atau membunuh bhikkhu, sâmaóera atau pertapa; atau para bhikkhu-sâmanera yang suka melanggar vinaya kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

3. Sanghâta
Alam kehidupan bagi makhluk yang ditindas hingga luluh lantak oleh bongkahan besi berapi. Mereka yang tugas atau pekerjaannya melibatkan penyiksaan terhadap makhluk-makhluk lain, misalnya pemburu, penjagal dan lain-lain kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

4. Dhûmaroruva
Alam kehidupan bagi makhluk yang disiksa oleh asap api melalui sembilan lubang dalam tubuh hingga menjerit-jerit kepengapan. Mereka yang membakar hutan tempat tinggal binatang; atau nelayan yang menangkap ikan dengan mempergunakan racun dan sebagainya kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

5. Jâlaroruva
Alam kehidupan bagi makhluk yang diberangus dengan api melalui sembilan lubang dalam tubuh hingga meraung-raung kepanasan. Mereka yang suka mencuri kekayaan orangtua atau barang milik bhikkhu, sâmaóera atau pertapa; atau mencoleng benda-benda yang dipakai untuk pemujaan kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

6. Tâpana
Alam kehidupan bagi makhluk yang dibentangkan di atas besi membara. Mereka yang membakar kota, vihâra, sekolahan dan sebagainya kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

7. Patâpana
Alam kehidupan bagi makhluk yang digiring menuju puncak bukit membara dan kemudian dihempaskan ke tombak-tombak terpancang di bawah. Mereka yang menganut pandangan sesat bahwa pemberian dâna tidak membuahkan pahala, pemujaan kepada Tiga Mestika tidak berguna, penghormatan kepada dewa tidak berakibat, tidak ada akibat dari perbuatan baik maupun buruk, ayah-ibu tidak berjasa, tidak ada kehidupan sekarang maupun mendatang, dan tidak ada makhluk yang terlahirkan dengan seketika kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

8. Avîci
Alam kehidupan bagi makhluk yang direntangkan dengan besi membara di empat sisi dan dibakar dengan api sepanjang waktu. Mereka yang pernah melakukan kejahatan terberat, yakni membunuh ayah, ibu atau Arahanta, melukai Sammâsambuddha, atau memecah-belah pasamuan Saõgha niscaya akan terlahirkan di alam ini. Avîci kerap diang-gap sebagai alam kehidupan yang paling rendah.

Neraka kecil terdiri atas delapan alam:

1. Angârakâsu: Alam neraka yang terpenuhi oleh bara api

2. Loharasa: Alam neraka yang terpenuhi oleh besi mencair

3. Kukkula: Alam neraka yang terpenuhi oleh abu bara

4. Aggisamohaka: Alam neraka yang terpenuhi oleh air panas

5. Lohakhumbhî: Alam neraka yang merupakan panci tembaga

6. Gûtha: Alam neraka yang terpenuhi oleh tahi membusuk

7. Simpalivana: Alam neraka yang merupakan hutan pohon ber-duri

8. Vettaranî: Alam neraka yang merupakan air garam berisi duri rotan

b).Tiracchana-yoni ( tiro=melintasi;acchana=pergi )

Ini adalah dunia para hewan. Makhluk-makhluk dilahirkan sebagai binatang-binatang karena Kamma buruk mereka. Setelah masa hidupnya habis, binatang-binatang ini akan lahir dialam-alam lain, misalnya di alam manusia, jika mereka mempunyai Kamma yang cukup untuk itu.

Dengan pengertian lain, binatang disebut Tiracchâna karena merintangi jalan menuju pencapaian Jalan dan Pahala. Binatang sesungguhnya tidak mempunyai alam khusus milik mereka sendiri melainkan hidup di alam manusia. Binatang memiliki hasrat untuk menikmati kesenangan inderawi serta berkembang-biak; naluri untuk mencari makan, bersarang, dan sebagainya; dan perasaan takut mati, mencintai kehidupannya. Binatang tidak mempunyai kemampuan untuk membedakan kebajikan dari kejahatan, kebenaran dari kesesatan, dan sebagainya (dhammasaññâ, conscience) kecuali kalau terlahirkan sebagai calon Buddha (bodhisatta) yang sedang memupuk kesempurnaan. Bodhisatta tidak akan terlahirkan sebagai binatang yang lebih kecil dari burung puyuh [semut misalnya] atau lebih besar dari gajah [dinosaurus misalnya].

Sebenarnya, Kamma yang mewujudkan dirinya dalam bentuk seorang manusia bisa juga mewujudkan dirinya dalam bentuk seekor binatang, demikian juga sebaliknya, sebagaimana halnya arus listrik yang dapat mewujudkan dirinya dalam bentuk : sinar, panas, dan gerakan secara berturutan; dalam hal ini, yang satu tidak perlu merupakan perkembangan lebih lanjut dari yang lainnya.

Sebagai contohnya, seorang manusia yang dalam masa hidupnya mengalami masa-masa dimana ia bertingkah laku bagaikan hewan, tidak mempunyai kebajikan, kesadaran / kecerdasan moral, hanya mengumbar hawa nafsu sexual dan nafsu-nafsu biadabnya, maka sesungguhnya ia tak ubahnya sebagai “binatang”, meski wujudnya saat itu adalah manusia. Kemudian karena kamma buruknya ia selama hidup memperoleh makanan dari mencuri, mengais-ngais ditempat sampah, saat itupun ia tak ubahnya bagai binatang. Bila kita mempunyai teman, saudara, yang mempunyai cara hidup demikian, sebaiknya kita membimbingnya kearah yang baik dan benar. Sesungguhnya, alam kehidupan itu adalah “kondisi-batin”. Tak perlu menunggu mati baru bisa tahu ia terlahir dimana, hanya dengan melihat kondisi batinnya, ia akan tahu, saat itu ia hidup dialam mana.

Binatang mempunyai banyak jenis yang tak terhitung jumlahnya, namun secara garis besarnya dapat dibedakan menjadi Empat Macam, yakni:

1. Yang tak berkaki seperti ular, ikan, cacing dan lain-lain (apada),

2. Yang berkaki dua seperti ayam, bebek, burung dan lain-lain (dvipada),

3. Yang berkaki empat seperti gajah, kuda, kerbau dan lain-lain (catuppada),

4. Yang berkaki banyak seperti kelabang, udang, kepiting dan lain-lain (bahuppada).

Dalam pandangan agama “Ketuhanan”, semua binatang akan musnah setelah kematian. Binatang dianggap tidak mempunyai roh. Binatang hanya diakui memiliki naluri (instinct), tanpa akal budi. Karena itu, mereka tidak perlu mempertanggung-jawabkan perbuatan mereka. Kebahagiaan maupun penderitaan yang dialami bukan ditentukan oleh perbuatan mereka baik dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan kehidupan yang lampau; melainkan merupakan wewenang serta kehendak Tuhan. Binatang diciptakan semata-mata untuk kepentingan umat manusia yang lebih luhur. Tidak ada surga maupun neraka bagi binatang.

c). Peta-yoni ( pa+ita ).

Secara harafiah, artinya adalah makhluk-makhluk yang telah meninggal, atau makhluk-makhluk yang sama sekali tanpa kebahagiaan. Mereka bukan arwah atau setan yang tidak berwujud. Mereka memiliki bentuk tubuh yang cacat yang besarnya bermacam-macam, pada umumnya tidak terlihat dengan mata telanjang. Mereka tidak memiliki alam sendiri, tetapi tinggal di hutan-hutan, lingkungan yang kotor, didalam rumah-rumah kosong, dan lain-lain.

Alam Setan ‘Peta‘ terbentuk atas dua kosakata, yaitu ‘pa‘ yang berarti ‘ke depan, menyeluruh’, dan ‘ita‘ yang berarti ‘telah pergi, telah meninggal’. Berbeda dengan makhluk yang berada di alam neraka yang menderita karena tersiksa, peta atau setan hidup sengsara karena kelaparan, kehausan dan kekurangan. Kejahatan yang membuat suatu makhluk terlahirkan sebagai setan ialah pencurian, dan karma-karma buruk lainnya. Seperti binatang, setan tidak mempunyai alam khusus milik mereka sendiri. Mereka berada di dunia ini dan bertinggal di tempat-tempat seperti hutan, gunung, tebing, lautan, kuburan, dan sebagainya. Beberapa jenis setan mempunyai kemampuan untuk menyalin rupa dalam wujud seperti dewa, manusia, pertapa, binatang, atau hanya menampakkan diri secara samar-samar seperti bayang-bayang gelap dan lain-lain.

Setan terbagi menjadi empat jenis, yakni:

1. Yang hidup bergantung pada makanan pemberian orang lain dengan cara penyaluran jasa dan sebagainya (paradattupajîvika),

2. Yang senantiasa kelaparan, kehausan dan kekurangan (khuppîpâsika),

3. Yang senantiasa terberangus (nijjhâmataóhika),

4. Yang tergolong sebagai iblis atau makhluk yang suram (kâlakañcika).

Jenis yang pertama itu dapat menerima pelimpahan jasa karena mereka bertempat tinggal di sekitar atau di dekat manusia, sehingga dapat mengetahui pemberian ini dan beranumodanâ [menyatakan kebahagiaan atas kebajikan yang diperbuat oleh makhluk lain]. Apabila mereka tidak tahu kalau ada pelimpahan jasa dan tidak beranumodanâ, pelimpahan jasa ini tidak dapat diterima. Orang yang pada saat-saat menjelang kematian mempunyai kemelekatan yang amat kuat pada kekayaan, harta benda, sanak-keluarga, dan sebagainya niscaya akan terlahirkan di alam setan ini.

Dalam Vinaya dan Lakkhaóa-samyutta, disebutkan adanya 21 macam setan, yaitu:

1. Yang hanya bertulang tanpa daging (aööhisaõkha-sika),

2. Yang hanya berdaging tanpa tulang (maõsapesika),

3. Yang berdaging benjol (maõsapióòa),

4. Yang tak berkulit (nicchavirisa),

5. Yang berbulu seperti pisau (asiloma),

6. Yang berbulu seperti tombak (sat-tiloma),

7. Yang berbulu seperti anak panah (usuloma),

8. Yang berbulu seperti jarum (sûciloma),

9. Yang berbulu seperti jarum jenis kedua (duti-yasûciloma),

10. Yang berpelir besar (kumbhaóòa),

11. Yang terbenam dalam tahi (gûthakûpanimugga),

12. Yang makan tahi (gûthakhâdaka),

13. Yang berjenis betina tanpa kulit (nicchavitaka),

14. Yang berbau busuk (duggandha),

15. Yang bertubuh bara api (ogilinî),

16. Yang tak berkepala (asîsa),

17. Yang berperawakan seperti bhikkhu,

18. Yang berperawakan seperti bhikkhunî,

19. Yang berperawakan seperti calon bhikkhunî (sikkhamâna),

20. Yang berperawakan seperti sâmanera,

21. Yang berperawakan seperti sâmanerî.

Sementara itu, Kitab Lokapaññatti serta Chagatidîpanî menyebutkan adanya 12 macam setan, yaitu:

1. Yang makan ludah, dahak dan muntahan (vantâsikâ),

2. Yang makan mayat manusia atau binatang (kuópâsa),

3. Yang makan tahi (gûthakhâdaka),

4. Yang berlidah api (ag-gijâlamukha),

5. Yang bermulut sekecil lubang jarum (sûcimukha),

6. Yang terdorong keinginan tiada habis (taóhaööita),

7. Yang bertubuh hitam pekat (sunijjhâmaka),

8. Yang berkuku panjang dan runcing (satthaõga),

9. Yang bertubuh sangat besar (pabbataõga),

10. Yang bertubuh seperti ular piton (ajagaraõga),

11. Yang menderita di siang hari tetapi menikmati kesenangan surgawi di malam hari (vemânika),

12. Yang memiliki kesaktian (mahiddhika).

d).Asura-yoni

Ini adalah Alam Iblis ‘Asurakâya‘.‘Asurakâya‘ terbentuk atas tiga kosakata, yaitu ‘a‘ yang merupakan unsur pembalik, ‘sura‘ yang berarti ‘cemerlang, gemilang’, dan ‘kâya‘ yang berarti ‘tubuh’. Namun, yang dimaksud dengan ‘tak cemerlang’ di sini bukanlah tidak adanya cahaya yang memancar dari tubuh, melainkan suatu kehidupan yang merana dan serba kekurangan sehingga membuat batin tidak berceria.

Istilah ‘asura’ juga berasal dari kisah kejatuhan dari Surga Tâvatimsa [terkalahkan oleh Sakka dan pengikutnya] akibat minuman memabukkan (surâ). Asurakaya adalah alam Iblis penentang Dewa. Mereka senantiasa menebarkan “peperangan” terhadap para Dewa. Karena sebelumnya pernah bertinggal di alam kedewaan, asurakâya kadangkala juga disebut sebagai ‘pubbadevâ‘.

Asurakâya atau iblis terbagi menjadi tiga macam, yaitu:

1. Iblis berupa dewa(deva-asurâ)

2. Iblis berupa setan (peti-asurâ),

3. Iblis berupa penghuni neraka (niraya-asurâ).

Deva-asurâ terdiri atas vepacitti, râhu, subali,pahâra, sambaratî, dan vinipâtika. Peti-asurâ terdiri atas kâlakañcika,vemânika, dan âvuddhika. Niraya-asurâ hanya terdiri atas satu jenis, yaitu yang menderita kelaparan dan hidupnya bergelantungan seperti kelelawar.

Demikian penjelasan mengenai alam-alam Dugati / Apayabhumi.

Pikiran terakhirlah yang akan menjadi “Gati-nimitta” ; lambang-tujuan alam kelahiran berikutnya. Para pembunuh, penjahat kemanusiaan / penyebar perang, penyiksa binatang-binatang, orang-orang yang bersifat aniaya, dan “kriminil-kriminil” lain terlahir di alam ini. Panjang atau pendek umurnya di alam niraya tergantung berat ringannya kamma-kamma buruk yang ia lakukan. Semakin berat, semakin lama ia akan “mendekam” di penjara ini.

Pada alam Peta dan Asura, makhluk-makhluknya senantiasa kekeringan, kehausan, kepanasan. Kuntilanak, makhluk2 cebol, setengah manusia setengah hewan, siluman, dan lain-lain sejenisnya, mereka hidup di alam ini.

Makhluk-makhluk alam kesengsaraan ini, baik yang dialam niraya/neraka maupun peta dan asura, paling suka dan akan sangat berterima kasih jika kita melakukan pelimpahan jasa kepadanya, seperti misal : mendoakan, memberi petunjuk jalan hidup yang benar, menentramkan hatinya. Saya, sebelum memulai samadhi, senantiasa melakukan ini, membacakan “paritta” untuk mereka, supaya hatinya tentram, tahu bagaimana memperbaiki diri, menuju kehidupan yang lebih baik dan bahagia.


2. Keadaan bahagia ( Sugati ).

Ada tujuh ( 7 ) tingkatan alam yang merupakan “Keberadaan-Yang-Penuh-Kesenangan”. Dalam terminology Islam, sepertinya , ini adalah yang disebut “langit-sab-tujuh”. Tujuh ( 7 ) Alam Sugati ini terdiri dari :

1. Satu Alam Manusia (manussabhûmi),

Yang menyebabkan suatu makhluk terlahir dialam manusia karena memegang teguh moralitas, yaitu melaksanakan PANCASILA :

1. Tidak membunuh makhluk hidup apapun juga. Tidak menyiksa dan menimbulkan penderitaan makhluk-makhluk apapun juga.

2. Tidak mencuri, tidak mengambil barang yang tidak diberikan.

3. Tidak berbuat sex yang menyimpang ( asusila ), menyetubuhi yang bukan haknya.

4. Tidak berbohong, memfitnah, omong kasar, memecah belah dan lain-lain.

5. Tidak meminum minuman keras yang menyebabkan lemahnya kesadaran ( memabukkan ).

2. Enam Alam Dewa (devabhûmi),

Yang menyebabkan suatu makhluk / seseorang terlahir di alam dewa di keenam alam dewa lingkup-keindriaan / Kamadhatu ( Catummaharajika, Tavatimsa, Yama, Tusita, Nimmanarati, Paranimmitavatti ), maka ia harus berlatih dan menjalani hal berikut :

1. Mempunyai “hiri”, yaitu : Rasa malu untuk berbuat jahat.

2. Mempunyai “ottapa”, yaitu : Takut akan akibat perbuatan jahat.

Saat menjadi manusia, maka seseorang harus berlatih / mempraktekkan dhamma dengan baik, maka ia akan terlahir di alam-alam Dewa lingkup-keindrian, ditunjang dengan hiri dan ottapa. Disamping hal-hal itu, dengan berdoa kepada Dewa tertentu, dengan merenungkannya setiap saat, maka seseorang akan terlahir di alam surga tempat dewa tersebut berada. Inilah yang menyebabkan lahirnya agama-agama yang “menyandarkan” diri kepada suatu sosok Dewa atau Maha-Dewa sebagai “Penolong”, atau “Juru-Selamat”nya. Bukan hal yang salah, tetapi hanya tidak akan pernah bisa membebaskan makhluk yang bersandar tersebut dari “samsara”, paling tinggi hanya akan terlahir di alam tempat Dewa tersebut saat ini berada.

Sesungguhnya ada tiga macam deva atau dewa, yaitu :

1. Upattideva: Dewa sebagai makhluk surgawi berdasarkan kelahirannya,

2. Sammutideva: Dewa berdasarkan persepakatan atau perandaian misalnya raja, permaisuri, pangeran dan sebagainya,

3. Visuddhideva: Dewa yang suci terbebas dari segala noda batin yang tidak lain ialah Arahanta.

Dewa yang dimaksud dalam pembahasan ini hanyalah merujuk pada pengertian yang pertama, Upattideva, yakni makhluk surgawi yang mengenyam kenikmatan inderawi. Makhluk surgawi pada hakekatnya adalah TIDAK-KEKAL ( Anicca ), sama dengan makhluk-makhluk lainnya di ke-31 alam kehidupan ini ( kecuali dialam Brahma ke-12, Suddhavasa, alam tempat tinggal para Anagami. Karena dialam ini para Anagami akan menyempurnakan dirinya untuk merealisasi Ke-Buddha-an / Ke-Arahat-an ).

Mereka bisa mati karena salah satu dari empat sebab:

1. Habisnya usia,

2. Habisnya kebajikan,

3. Terlena dalam kenikmatan hingga lupa makan,

4. Murka, cemburu / irihati.

Tuhan yang dipercayai sebagai Pencipta yang Maha Sempurna sendiri dikatakan (tetap) masih memiliki sifat ‘cemburu’, ‘irihati’, ‘murka’ dan sebagainya, pengkisahan karakter sedemikian ini bias anda temukan di kitab-kitab “agama Tuhan”. Sehingga, apa yang diajarkan oleh Sang Buddha bahwa makhluk-makhluk Surga, masih mempunyai sifat : marah/murka, cemburu/iri hati, adalah : BENAR. Menurut ajaran Sang Buddha, alam surga di mana para dewa-dewi bertempat tinggal dalam kurun waktu yang berbatas [tidak kekal, tidak selamanya] terbagi menjadi enam alam, yaitu:

1. Cãtummahãrãjika,

2. Tãvatimsa,

3. Yãma,

4. Tusita,

5. Nimmãnarati,

6. Paranimmitavasavatti

a). Alam Manusia ( Manussabhûmi ).

Alam manusia adalah suatu campuran dari rasa sakit dan kebahagiaan. Ini adalah alam saf pertama dari alam Sugati, tempat kita sekarang ini hidup dan menetap, untuk sementara, sebelum nanti kita mati. Di alam manusia ini, kita mengalami goncangan badai kekanan dan kekiri, yang dikenal dengan “delapan-kondisi-duniawi” ( Atthalokadhamma ), yaitu :

1. Untung ( labha ) dan Rugi ( alabha )

2. Terkenal ( yasa ) dan Tidak Dikenal ( ayasa )

3. Dipuji ( pasamsa ) dan Dicela ( Ninda )

4. Bahagia ( sukha ) dan Menderita ( Dukha )

Manussa’ terbentuk atas dua kosakata, yaitu ‘mano‘ yang berarti ‘pikiran, batin’ dan ‘ussa‘ yang berarti ‘tinggi, luhur, meningkat, berkembang’. Manussa atau manusia adalah suatu makhluk yang berkembang serta kukuh batinnya [mano ussanti etesanti=manussâ], yang tahu serta memahami sebab yang layak [kâranâkaranam manatijânâtîti=manusso], yang tahu serta memahami apa yang bermanfaat dan tak bermanfaat [atthânattam manati jânâtîti=manusso], yang tahu serta memahami apa yang merupakan kebajikan dan kejahatan [kusalâkusalam manati jânâtîti=manusso].

Manusia bertinggal di empat tempat, yaitu

1. Uttarakurudîpa,

2. Pubbavidehadîpa,

3. Aparagoyânadîpa, dan

4. Jambudîpa.

Umat manusia yang berada di Uttarakurudîpa berusia sampai seribu tahun, yang berada di Pubbavidehadîpa berusia sampai tujuh ratus tahun, yang berada di Aparagoyânadîpa berusia sampai lima ratus tahun, sedangkan yang berada di Jambudîpa berusia tidak menentu, tergantung kadar kebajikan serta kesilaan yang dimiliki. Pernah terjadi bahwa umat manusia tidak begitu mengindahkan kebajikan serta kesilaan sehingga usia rata-rata umat manusia menjadi sependek 10 tahun. Pada zaman Buddha Gotama, usia rata-rata umat manusia ialah 100 tahun. Diprakirakan bahwa setiap satu abad, usia manusia memendek selama satu tahun. Karena Buddha Gotama telah mangkat sejak dua puluh lima abad yang lampau, usia rata-rata umat manusia pada saat sekarang ini ialah 75 tahun ( dan ternyata teori itu benar bukan ? Karena, rata-rata umur manusia sekarang ini adalah tujuh-puluh-lima ( 75 ) tahun ).

Seorang Sammâsambuddha tidak akan muncul apabila usia rata-rata manusia lebih pendek dari 100 tahun karena kesempatan bagi kebanyakan orang untuk dapat memahami kebenaran Dhamma terlalu singkat, tetapi juga tidak akan muncul apabila lebih panjang dari 100,000 tahun karena kebanyakan orang akan merasa sulit untuk dapat menembus hakikat ketakkekalan atau kefanaan hidup. Beliau hanya terlahirkan di Jambudîpa, tidak pernah terlahirkan di tiga tempat lainnya apalagi di alam-alam kehidupan selain alam manusia.

Kitab Majjhima Nikâya bagian Mûlapannâsaka memberikan penjelasan secara terinci mengapa manusia mempunyai keadaan yang berbeda. Orang yang dalam kehidupan lampau suka membinasakan atau membunuh makhluk lain niscaya akan terlahirkan sebagai manusia dengan umur pendek; yang suka menganiaya atau menyiksa makhluk lain niscaya akan dihinggapi banyak penyakit; yang suka murkah atau marah niscaya akan berparas buruk; yang suka cemburu atau irihati nis-caya akan tak berwibawa; yang suka berdana atau murah hati niscaya akan memiliki kekayaan melimpah; yang suka bersikap angkuh atau sombong niscaya akan terlahirkan di keluarga yang rendah; yang tak gemar menimba ilmu pengetahuan atau memperdalam pengertian Dhamma niscaya akan terlahirkan dengan sedikit kebijaksanaan.

Demikian pula kebalikannya. Selaras dengan ilmu pengetahuan modern, dalam Aggañña Sutta disebutkan bahwa umat manusia di bumi ini adalah suatu hasil evolusi yang panjang. Manusia bukanlah suatu makhluk yang pada saat pertama kali muncul / lahir di dunia ini sudah berbentuk, berupa atau berwujud sebagaimana yang tertampak pada saat sekarang ini. Dalam wejangan tersebut juga dijelaskan bahwa bumi beserta isinya ini terbentuk dalam suatu proses yang amat panjang, bukan diciptakan secara gaib selama enam hari pada sekitar 6,000 tahun yang lampau sebagaimana yang ditafsirkan dari Alkitab.

Para Bodhisatta ( Calon Buddha ) lebih memilih alam manusia karena alam ini adalah tempat terbaik untuk mengabdi pada dunia dan memenuhi persyaratan ke-Buddhaan. Pada alam manusia ini seseorang benar-benar bisa mengenali sifat / hakekat sejati alam semesta dan alam kehidupan. Pada alam neraka, peta, asura, seorang makhluk hanya mengalami keadaan yang tidak menyenangkan, penderitaan, karena itu iapun tidak sempat mengenal / menembus hakekat, karena ia lebih memikirkan penderitaan demi penderitaan, dan oleh karenanya tidak sempat untuk mencapai alam Kebuddhaan / Nirvana. Pada alam surgawi, hanya ada kesenangan, tidak ada kesedihan / dukkha, sehingga mereka tidak mampu mengenali bahwa hakekat hidup ini adalah dukkha, dan pada alam ini pun para makhluk ( yakni para Dewa ) lebih suka menikmati kesenangan demi kesenangan daripada “nglakoni” untuk mencapai “Yang-Mutlak”. Oleh karenannyalah para Buddha selalu dilahirkan sebagai manusia.

b).Catummaharajika

Ini merupakan alam surga yang paling rendah, saf kedua dari alam sugati, tempat Dewa-dewa Pelindung dari empat sudut cakrawala bertempat tinggal dengan para pengikut mereka.

Alam Câtumahârâjikâ adalah suatu alam surgawi paling rendah yang berada dalam kekuasaan empat raja dewa, yakni:

1. Dhatarattha,

2. Virudhaka,

3. Virûpakkha, dan

4. Kuvera.

Empat raja dewa ini juga dipercayai sebagai pelindung alam manusia, dan karenanya dikenal dengan sebutan ‘Catulokapâla‘. Dalam Kitab Lokîyapakarattha, empat dewa pelindung dunia ini dipanggil sebagai

1. Inda ( Sanskrit : Indra ),

2. Yama,

3. Varuttha dan

4. Kuvera.

Berdasarkan tempat tinggalnya, para dewa-dewi tingkat Câtumahârâjikâ terbagi atas tiga, yaitu:

1. Yang berada di daratan (bhumattha),

2. Yang berada di pohon (rukkha).

Dalam Kitab Ulasan atas Dhammapada dan Buddhavamsa, para dewa-dewi yang hidup di pohon dimasukkan dalam kelompok bhummattha.

3. Yang berada di angkasa (âkâsattha).

Empat raja langit ini serta beberapa dewa lainnya mempunyai ‘istana’ (vimâna) khusus bagi diri mereka masing-masing. Bagi yang tak mempunyai istana secara khusus, maka gunung, sungai, lautan, pohon yang ditinggali itulah istana bagi mereka. Kehidupan di Câtumaharâjikâ berlangsung selama 500 tahun dewa atau kira-kira sembilan juta tahun manusia (Perbandingan usia di alam-alam surga tidaklah sama, tergantung tingkatannya. Satu hari di alam surga tertentu berbanding satu abad di alam manusia, dan ada pula yang lebih lama lagi).

Para dewa-dewi di tingkat Câtumahârâjikâ ada yang cenderung berhati jahat, yaitu:

1. Gandhabbo/Gandhabbî: yang berada di pohon-pohon berbau harum, yang belakangan mungkin dikenali oleh orang-orang Jawa sebagai ‘GANDARUWA’ / ‘GENDERUWA’. Makhluk halus ini sangat melekati tempat tinggalnya. Walaupun pohon tempat tinggalnya ditebang, ia masih tetap mengikuti ke mana pohon itu dipindahkan tidak seperti rukkhadeva lainnya, yang akan mengungsi ke pohon lain yang masih hidup,

2. Kumbhanno/Kumbhannî: penjaga harta pusaka, hutan, dan sebagainya,

3. Nâgo/Nâgî: naga yang memiliki kesaktian, yang mampu menyalin rupa dalam wujud makhluk lain seperti manusia, binatang dan sebagainya,

4. Yakkho/Yakkhinî: raksasa yang gemar menganiaya para penghuni neraka.

Segala macam Dewa / Dewi yang menguasai bumi, seperti Dewa / Dewi Penguasa / Penghuni Laut-Laut tertentu, Penguasa Gunung Tertentu, dan Penguasa Bumi, termasuk hidup di alam Catummaharajika ini.


c).Tavatimsa

Alam Tâvatimsa adalah alam surgawi tingkat kedua. Alam ini sebelumnya / dulunya merupakan tempat tinggal para asurakâya. Ini adalah alam Dewa saf berikutnya, saf ketiga dari alam Sugati. Secara harafiah berarti : tiga puluh tiga. Ini adalah alam surga dari tiga puluh tiga ( 33 ) Dewa dengan dewa Sakka sebagai rajanya. Asal-usul dari nama Tâvatimsatersebut berkaitan dengan sejarah tiga puluh tiga relawan yang tidak mementingkan diri sendiri, yang dipimpin oleh Magha ( nama lain dari Sakka ), karena perbuatan-perbuatan baik mereka berhasil menyingkirkan para asurakâya. , terlahir dialam surgawi iniDi dalam surga inilah Sang Buddha mengajarkan Abhidhamma kepada para Dewa selama tiga ( 3 ) bulan.

Para dewa-dewi di Tâvatimsa terbagi menjadi dua kelompok, yaitu

1. Bhummattha: Sakka beserta 32 dewa pembesar,

2. Âkâsattha: yang bertinggal dalam istana di angkasa.

Surga Tavatimsa ini terletak di atas puncak pegunungan Himalaya, di Gunung Sineru. Maka di tradisi Buddha Mahayana ada sutra-sutra yang isinya menguncarkan pujian terhadap Para Dewa yang tinggal di alam ini. Ibukota Tâvatimsa ialah Masakkasâra. Balai Sudhamma menjadi tempat bagi para dewa-dewi untuk memperbincangkan Kebenaran Dhamma di bawah asuhan Sakka (Beliau berhasil meraih kesucian tingkat Sotâpatti setelah mendengarkan Brahmajâla Sutta). Brahmâ Sanamkumâra kerap menjadi tamu pembabar Dhamma di sini. Buddha Gotama pernah berkunjung ke alam ini, dan bertinggal selama tiga bulan untuk mewejangkan Abhidhamma kepada ibunda-Nya, yang terlahirkan kembali sebagai putra dewa di alam Tusita. Moggallâna Thera juga pernah beberapa kali pergi ke alam ini, dan dari sejumlah penghuninya, beliau memperoleh kesaksian atas perbuatan-perbuatan bajik yang membawa mereka terlahirkan kembali di sini. Kebajikan ini antara lain ialah merawat ayah-ibu, menghormat sesepuh dalam keluarga, berbicara lemah lembut, menghindari penghasutan, mengikis kekikiran, bersifat jujur, menahan marah. Usia rata-rata para dewa-dewi yang terlahirkan di alam Tâvatimsa ialah 1,000 tahun dewa atau kira-kira 36 juta tahun manusia.

d).Yama ( Yâmâbhûmi )

Secara harafiah berarti “Alam para Dewa Yama”. Dewa Yama adalah dewa penghancur rasa sakit. Alam ini adalah saf keempat dari alam Sugati ( berarti alam surga tingkat ketiga ). Alam ini menjadi tempat bagi para dewa-dewi yang terbebas dari segala kesukaran, yang terberkahi dengan kebahagiaan surgawi. Pemegang kekuasaan dalam alam ini ialah Suyâma. Alam ini berada di angkasa. Dalam alam ini dan tingkat yang lebih tinggi, tidak ada dewa-dewi yang tergolong sebagai bhummattha yang bertinggal di daratan. Istana, harta serta tubuh para dewa-dewi di alam ini jauh lebih indah dan halus daripada yang bertinggal di Tâvatimsa. Rentang hidup mereka ialah 2,000 tahun dewa atau kira-kira 142 juta tahun manusia.

e).Tusita ( Tusitabhûmi ).

Secara harafiah berarti, penghuni yang berbahagia, adalah “Alam Kesenangan”. Para Boddhisatta yang telah memenuhi persyaratan-persyaratan Kebuddhaan bertempat tinggal di alam ini sampai saat yang tepat bagi mereka untuk muncul di alam manusia untuk mencapai Kebuddhaan. Tusitabhûmi adalah alam surgawi tingkat keempat. Para dewa-dewi yang hidup di alam ini senantiasa berceria atas keberadaan yang dimiliki. Semua Bodhisatta, sebelum turun ke dunia dan meraih Pencerahan Agung, terlahirkan di alam ini untuk menanti waktu yang tepat bagi kemunculan seorang Buddha. Demikian pula mereka yang akan menjadi orangtua serta Siswa Utama (Aggasâvaka). Sekarang ini, Bodhisatta Metteyya yang akan menjadi Sammâsambuddha setelah ajaran Buddha Gotama punah dari muka bumi ini sedang berada di alam ini. Usia rata-rata di alam ini ialah 4,000 tahun dewa atau kira-kira 567 juta tahun manusia.

Saat ini Bodhisatta Metteya tengah hidup dan bersemayam di alam ini. Alam ini adalah saf kelima dari alam Sugati.


f).Nimmanarati

Secara harafiah berarti “Alam Para Dewa yang Senang dalam Istana yang Diciptakan”. Para dewa di alam ini hidup dengan penuh kesenangan-kesenangan didalam istana yang mereka ciptakan sendiri. Layaknya bangsawan-bangsawan dan para saudagar di alam manusia, mereka hidup “mewah”, berkecukupan, berkelimpahan, mempunyai para pembantu / pelayan / pengikut. Para dewa/dewi di alam ini menikmati kepuasan inderawi sebagaimana yang mereka ciptakan sendiri. Rentang hidup para dewa/dewi di alam ini adalah 8.000 Tahun Surgawi (TS), atau kira-kira 2.304 juta tahun waktu manusia.

Ini adalah alam saf keenam dari alam Sugati.


g).Paranimmitavasavatti

Secara harafiah berarti “Alam Para Dewa yang membuat ciptaan pihak lain bermanfaat untuk tujuan-tujuan mereka sendiri”.  Para dewa/dewi yang hidup di alam ini menikmati kepuasan inderawi dari hasil ciptaan makhluk-makhluk lainnya yang mengerti kesenangan/kesukaan para dewa/dewi ini.Usia rata-rata para dewa/dewi di alam ini adalah 16.000 Tahun Surgawi (TS), atau kira-kira 9.216 juta tahun waktu manusia.

Ini adalah saf-ketujuh / langit ketujuh dari alam Sugati. Merupakan alam Surga / Dewa sekaligus alam Sugati yang tertinggi. Kedua saf tertinggi, Nimmanarati dan Paranimmitavatti inilah, yang  dianggap sebagai tempat berdiamnya “Sang-Pencipta-Semesta” ( terutama menurut versi Islam ( baca QS. Al Hajj supaya jelas ). Namun sejatinya, ini bukanlah alam “Yang-Mutlak”, bukan “Tujuan-Tertinggi” bagi semua makhluk. Sebab, alam ini pun masih tergolong rendah, sebab, diatasnya masih ada alam para Brahma yang hidup di alam RUPADHATU dan ARUPADHATU.

Enam ( 6 ), kecuali yang pertama adalah Alam Para Dewa yang bentuk tubuhnya lebih halus dan lembut dibandingkan dengan bentuk tubuh manusia dan tidak kelihatan dengan mata telanjang. Makhluk-makhluk Dewa ini juga tunduk pada kematian seperti halnya semua makhluk hidup. Alam Dewa ini dalam terminology agama samawi adalah alam-alam surga, tempat para manusia yang beramal-soleh, bajik, kelak akant terlahir, yang digambarkan seorang laki-laki akan mendapatkan hak bidadari-bidadari cantik sebagai istrinya, dan adanya aliran sungai yang dialiri air susu. Kurang lebih memang alam kesenangan ini demikian. Dalam beberapa hal, seperti keadaan jasmani,tempat tinggal, dan makanannya, mereka memang mengungguli manusia. Mereka lahir secara spontan, muncul seperti pemuda dan gadis berusia lima belas atau enam belas tahun.

Enam alam Deva ( Dewa ) ini adalah tempat tinggal sementara yang penuh kebahagiaan dimana para makhluk tampaknya hidup menikmati kesenangan indrianya yang sesungguhnya cepat berlalu.

Alam Sugati ini, seperti halnya alam-alam Dugati, juga terkena hukum alam ; tidak-kekal. Jika ada manusia yang terlahir di alam dewa ini dalam pangkuan seorang dewa / dewi tertentu, maka dia akan menjadi anak dari dewa / dewi tersebut. Para dewa / dewi lahir secara spontan, dengan usia berkisar antara 16 tahun, dan selama mereka hidup di alam surgawi tersebut memiliki rupa yang tampan / cantik.

Jika ada manusia yang terlahir di sebuah istana dewa / dewi tertentu, bukan di pangkuan sesosok dewa / dewi yang berkuasa tersebut, maka ia akan menjadi pelayan Sang Dewa / Dewi.

Para dewa di alam surga memiliki usia kehidupan yang sangat panjang, sehingga terkadang mereka lupa bahwa kehidupan itu tidak kekal. Tetapi meskipun kita sebagai manusia teramat sering mengeluh, meratap dalam menjalani kehidupan di alam manusia ini, sesungguhnya kehidupan manusia ini memiliki kelebihan yang tidak dimiliki para dewa di alam surgawi, dan tumimbal-lahir ke alam manusia, bagi para dewa dianggap sebagai tempat tujuan yang baik. Karena sebab-akibat, atau hukum karma, hampir tidak berlaku diantara para dewa, mereka memiliki hanya sangat sedikit kekuatan, atau bahkan tidak memiliki kekuatan, untuk memutus samsara, roda dumadi, bhavacakka, yang mengikat semua yang harus mati, walaupun ingatan mereka mengenai ajaran-ajaran Dhamma – yang tidak terdengar di alam dewa – tidak punah, seperti halnya dengan semua ciri lain dari kehidupan manusia mereka.


II. RUPALOKA ( Alam Berbentuk ) :

Ini adalah Alam Brahma, dewa tertinggi dari Brahmanisme awal, yang ( hingga kini ) dianggap sebagai “Sang-Pencipta-Alam-Semesta” dan dipuja oleh para Brahmana dengan berbagai kurban dan ritual ( itulah sebabnya, dalam setiap tradisi agama apapun, ada upacara persembahan “kurban” binatang ditujukan bagi “Sang-Pencipta”. Kepercayaan ini ditentang oleh Sang Buddha, karena merupakan suatu kekeliruan ) . Mengenai upacara kurban binatang yang dipersembahkan bagi “sosok” yang dianggap “Yang-Maha-Kuasa” ini, Sang Buddha bersabda :

“ Upacara mengorbankan kuda atau manusia, upacara minuman, upacara kemenangan, upacara melempar pasak,…dst. ; kesemua jenis upacara ini tidaklah sebanding dengan seperenambelas bagian sekalipun dari hati yang diliputi oleh Cinta-Kasih. Bagaikan pancaran rembulan yang mengalahkan cahaya bintang-bintang.”

Alam ini disebut juga Rûpabhûmi , merupakan suatu alam tempat kemunculan ‘rûpâvacaravipâkacitta‘ atau kesadaran akibat yang lazim berkelana dalam alam brahma berbentuk. Dengan perkataan lain, rûpabhûmi adalah suatu alam tempat kelahiran jasmaniah serta batiniah para brahma berbentuk. Yang dimaksud dengan brahma ialah makhluk hidup yang memiliki kebajikan khusus yaitu berhasil mencapai pencerapan Jhâna yang luhur. Jhâna dihasilkan dari pengembangan Samatha Kammatthâna meditasi pemusatan batin pada satu objek demi tercapainya ketenangan.

Alam brahma terdiri atas 16 alam, yakni:

1. Tiga alam bagi peraih Jhâna pertama (pathama),

2. Tiga alam bagi peraih Jhâna kedua (dutiya),

3. Tiga alam bagi peraih Jhâna ketiga (tatiya),

4. Dua alam bagi peraih Jhâna keempat(catuttha),

5. Dan lima alam Suddhâvâsa.

Sang Buddha, dalam rangka meluruskan pandangan kaum Brahmana, menginterpretasikan kembali pengertian mengenai “Brahma-Yang-Agung” ini, dari yang semula dianggap satu-dewa-tunggal “Yang-Maha-Kuasa” menjadi suatu kelompok dewa tinggi yang berdiam di alam berbentuk ( Rupadhatu / Rupaloka ), jauh diatas surga-surga alam sugati ( Kammadhatu ).

Kediaman Brahma ini disebut sebagai “Alam-Brahma”, yang ada banyak dengan berbagai dimensi dan tingkat kekuasaan. Didalam dunia mereka, para Brahma hidup secara berkelompok, dan “Mahabrahma” adalah penguasa para Brahma tersebut, lengkap denga para menteri dan dewan-dewan Brahma.

Seperti halnya semua makhluk hidup, para Brahma itupun tidak kekal, terkena hukum alam, dan juga bertumimbal lahir, meskipun terkadang diantara mereka melupakan hal ini dan menganggap bahwa mereka adalah “Yang-Mutlak”, “Jalan-Keluar-dan-Harapan”.

Para Brahma, dengan Maha Brahma sebagai pemimpinnya, memang memiliki kekuasaan yang besar. Mahabrahma dapat menolong ummatnya yang datang kepadanya, berdoa kepadanya, memohon ridlonya. Namun sesungguhnya, ia bukanlah “Sang-Pencipta”, bukanlah “Yang-Maha-Kuasa”, “Yang-Mutlak”.

Yang membuat Mahabrahma dan para Brahma beranggapan mereka adalah kekal-abadi, “Sang-Pencipta”, “Awal-dan-Akhir”, adalah karena usia mereka yang sangat panjang ( a. Brahma Parisajja / Dewan Brahma berusia 1/3 Asankheyya Kappa ; b. Brahma Purohita / Para Menteri Brahma berusia ½ Asankheyya Kappa ; dan, c). Maha Brahma berusia 1 Asankheyya Kappa. Ingat, 1 Asankeyya Kappa = 20 Antara Kappa, 1 Kappa adalah = 1 siklus daur-hidup alam-semesta ( dari big-bang s/d kiamat, dan menuju awal evolusi alam semesta kembali ) )

Sang Buddha tidak mengajarkan tiadanya “Yang-Mutlak”, karena justru Sang Buddhalah yang pertama kali didunia manusia ini yang menyatakan hal sebagai berikut “

“ O Bhikkhu, ada sesuatu Yang-Tidak-Dilahirkan, Yang-Tidak-Menjelma, Yang-Tidak-Tercipta, Yang-Mutlak. Jika seandainya saja, O, Bhikkhu, tidak ada Yang-Tidak-Dilahirkan, Yang-Tidak-Menjelma, Yang-Tidak-Diciptakan, Yang-Mutlak, maka tidak akan ada jalan keluar untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. … dst” ( Sutta-Pitaka, Udana VII : 3 )

Akan tetapi, yang ditolak dengan tegas oleh Sang-Buddha adalah, bahwa “Yang-Mutlak”, “Yang-Maha-Kuasa”, “Jalan-Keluar-dan-Harapan”, itu adalah : T U H A N / M A H A D E W A , yang oleh ummat Brahmanisme dikenal dengan nama Maha-Brahma. Sebab, para Brahma itu sendiri “berbentuk”, “tercipta”, oleh karenanya, bukan “Yang-Mutlak”. Yang disebut “Yang-Mutlak” ini dalam agama Buddha adalah tidak bisa dikatakan.

Pernyataan Sang Buddha mengenai kesalah-pahaman Maha-Brahma dalam mengidentifikasikan dirinya sebagai “Maha-Pencipta” , “Bapa-Semua-Makhluk”, bisa kita temui dalam Brahmajala-Sutta, yang bunyinya sebagai berikut :

“ Para Bhikkhu, pada suatu masa yang lampau, setelah berlangsungnya suatu masa yang lama sekali, “bumi ini belum ada”. Ketika itu umumnya makhluk-makhluk hidup di alam dewa Abhassara, disitu mereka hidup ditunjang oleh kekuatan pikiran, diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya dan melayang-layang di angkasa, hidup diliputi kemegahan, mereka hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

Demikianlah pada suatu waktu yang lampau, ketika berakhirnya suatu masa yang lama sekali, bumi ini mulai berevolusi dalam proses pembentukan, ketika hal ini terjadi alam Brahma kelihatan dan masih kosong. Ada makhluk dari alam dewa Abhassara yang masa hidupnya atau “pahala karma baiknya” untuk hidup di alam itu telah habis, ia meninggal dari alam Abhassara itu dan terlahir kembali di alam Brahma. Disini, ia hidp ditunjang pula oleh keuatan pikirannya, diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya-cahaya dan melayang-layang di angkasa, hidup diliputi kemegahan, ia hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

Karena terlalu lama ia hidup sendirian disitu, maka dalam dirinya muncullah rasa ketidakpuasan, juga muncul suatu keinginan, “O semoga ada makhluk lain yang datang dan hidup bersama aku disini!”

Pada saat itu ada makhluk lain yang disebabkan oleh masa usianya atau pahala karma baiknya telah habis, mereka meninggal di alam Abhassara dan terlahir kembali di alam Brahma sebagai pengikutnya, tetapi dalam banyak hal sama dengan dia.

Para Bhikkhu, berdasarkan itu, maka makhluk pertama yang terlahir di alam Brahma berpendapat : “Aku Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan Dari Semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu Tempat Bagi Semua Makhluk, Asal Mula Kehidupan, BAPA DARI YANG TELAH ADA DAN YANG AKAN ADA. SEMUA MAKHLUK INI ADALAH CIPTAANKU.”

Mengapa demikian ? Baru saja berpikir, semoga mereka datang, dan berdasarkan pada keinginanku itu maka makhluk-makhluk ini muncul.”

Makhluk-makhluk itu pun berpikir, “ Dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan Dari Semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu Tempat Bagi Semua Makhluk, Asal Mula Kehidupan, BAPA DARI YANG TELAH ADA DAN YANG AKAN ADA. KITA SEMUA ADALAH CIPTAANNYA”.

Mengapa ? Sebab, setahu kita, Dialah yang lebih dahulu berada disini, sedangkan kita muncul sesudah-Nya. “

Para Bhikkhu, dalam hal ini makhluk pertama yang berada disitu memiliki usia yang lebih panjang, lebih mulia, lebih berkuasa daripada makhluk-makhluk yang datang sesudahnya.

Para Bhikkhu, selanjutnya ada beberapa makhluk yang meninggal di alam tersebut dan terlahir kembali di bumi.

Setelah berada di bumi ia meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menjadi petapa. Karena hidup sebagai petapa, maka dengan bersemangat, tekad waspada dan kesungguhan bermeditasi, pikirannya terpusat, batinnya menjadi tenang dan memiliki kemampuan untuk mengingat kembali satu kehidupannya yang lampau, tetapi tidak lebih dari itu. Mereka berkata, “ Dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan Dari Semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu Tempat Bagi Semua Makhluk, Asal Mula Kehidupan, BAPA DARI YANG TELAH ADA DAN YANG AKAN ADA. Dialah yang menciptakan kami, ia tetap kekal selamanya, tetapi kami yang diciptakannya dan datang kesini adalah tidak kekal, berubah dan memiliki usia yang terbatas”.

Namun, para Brahma dan Maha-Brahma ini ,akhirnya, setelah mendapatkan penjelasan / pengajaran dari Sang Buddha, barulah ia memahami bahwa ia bukanlah “Awal-dan-Tujuan-Semua-Makhluk”, bukan “Sangkan-Paraning-Dumadi”. Penjelasan terperinci mengenai hal ini bisa dibaca di Samyutta-Nikaya.

Rupadhatu / Rupaloka ini adalah alam dimana makhluk-makhluk merasa senang karena kebahagiaan Jhana ( Kegembiraan Luar Biasa ), yang dicapai dengan melepaskan nafsu keinginan indria. Jika seseorang ingin terlahir dalam “Rupadhatu” atau “Rupabrahma”, maka ia harus melepaskan keduniawian, mengikis nafsu indria, dan kemudian hidup bertapa untuk mencapai “Jhana” :

1. Petapa yang berhasil mencapai Jhana I dan jika ia pertahankan hingga saat kematiannya ( ketika detik-detik meninggal ia tetap teguh dalam samadhi di Jhana I ), maka ia akan terlahir di alam Brahma tingkat 1, 2, dan 3.

2. Petapa yang berhasil mencapai Jhana II dan jika ia pertahankan hingga saat kematiannya ( ketika detik-detik meninggal ia tetap teguh dalam samadhi di Jhana II ), maka ia akan terlahir di alam Brahma tingkat 4, 5, dan 6.

3. Petapa yang berhasil mencapai Jhana III dan jika ia pertahankan hingga saat kematiannya ( ketika detik-detik meninggal ia tetap teguh dalam samadhi di Jhana III ), maka ia akan terlahir di alam Brahma tingkat 7, 8, dan 9.

4. Petapa yang berhasil mencapai Jhana IV dan jika ia pertahankan hingga saat kematiannya ( ketika detik-detik meninggal ia tetap teguh dalam samadhi di Jhana IV ), maka ia akan terlahir di alam Brahma tingkat 10, 11, dan 12 ( dimana alam Brahma ke-12 ini, dibagi lagi menjadi 5 alam , baca kembali “Rupadhatu” ).

Untuk alam Brahma ke-12, Suddhavasa ( beserta kelima alam turunannya ), yaitu “ Tempat Kediaman Sejati “, adalah alam khusus para Anagami ( Yang Tak Pernah Kembali, baca kembali “Ketuhanan Yang Maha Esa Dalam Buddhisme “ ), makhluk biasa tidak dilahirkan dalam keadaan ini. Sehingga, untuk bisa terlahir dialam ini harus mencapai Jhana keempat dan telah mendapat “magga” sampai anagami. Untuk mencapai Anagami, seseorang harus melenyapkan kelima belenggu sebagai berikut ini :

1. Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa, atau “AKU” yang kekal ( sakkaya-ditthi ).

2. Keragu-raguan yang skeptis pada Buddha, Dhamma, Sangha, dan tentang kehidupan yang lampau dan kehidupan yang akan datang, juga keraguan kepada hukum sebab-akibat ( vicikiccha ).

3. Kemelekatan pada suatu kepercayaan bahwa hanya dengan melaksanakan aturan-aturan dan upacara keagamaan seseorang dapat mencapai kebebasan ( silabbata-paramasa ).

4. Nafsu indriya ( kama-raga ).

5. Dendam dan dengki ( vyapada ).


CIRI-CIRI PARA “BRAHMA”

Para Brahma hidup di alam Rupadhatu. Yang membedakan dengan alam surga dilingkup-keindriaan / Kamadhatu adalah, bahwa dialam Rupadhatu bentuk-bentuk materi yang kasar telah lenyap, yang ada adalah bentuk-bentuk materi yang lebih halus, jauh lebih halus daripada dewa apapun yang terdapat di Kamadhatu.

Penghuni Rupadhatu juga merupakan dewa, hanya, untuk membedakan dengan para dewa Kamadhatu, mereka disebut : Brahma. Waktu hidup / umur para Brahma jauh lebih lama dibanding para dewa Kamadhatu. Di ala mini, nafsu-nafsu indria sudah mereda, termasuk nafsu sexual.

Di alam Rupadhatu ini sudah mulai tidak terdapat perbedaan jenis kelamin. Brahma, yang meskipun disebut sebagai “BAPA” Alam-Semesta, “BAPA” dari semua makhluk, tidaklah tepat jika dinyatakan berjenis kelamin laki-laki, karena dialam Brahma ini, sudah tidak terdapat laki-laki maupun perempuan. Ini sekaligus untuk menjawab kebingungan manusia pada umumnya, “Apakah jenis kelamin Bapa kita di surga ? Apakah Bapa seorang laki-laki, atau perempuan ? “ Jawabannya, “Bukan Laki-laki , bukan pula perempuan “.

Mengapa ummat manusia bisa salah paham sehingga menyebut ada “Bapa” dari segenap alam semesta ini ? Karena Brahma mempunyai usia yang panjang, dimana Maha Brahma tersebut berusia 1 Asankheyya Kappa, dimana 1 A.K tersebut = 20 Antara Kappa, dan 1 Kappa adalah satu siklus dunia, , dan usia Maha Brahma adalah sama dengan 20 kali siklus dunia. Beberapa sarjana menyatakan 1 Asankheyya Kappa ini jika ditulis dalam Aljabar maka sama dengan angka satu ( 1 ) diikuti 140 angka “nol” ( 0 ), atau 10 pangkat 14 ( Coba dituliskan sendiri, hehehehe… ). Jadi 1 A.K. adalah sepanjang 10 pangkat 14 tahun, jauh diatas hitungan “jutaan-trilyun” tahun.

Kemudian, seperti apakah Brahma ini ? Brahma memiliki tubuh yang sangat halus, tidak semua orang bisa bertemu Brahma, bisa meninjau alam Brahma. Hanya para rohaniwan yang telah mahir dalam Jhana-Jhana yang mampu membuktikan keberadaan Brahma ini.

Alam Rupaloka / Rupadhatu / Rupabhumi ini terdiri dari enam belas ( 16 ) alam menurut Jhana atau Kegembiraan Luar Biasa yang terlatih. Mereka adalah :

1. Tiga alam bagi peraih Jhâna pertama (pathama jhana bhumi),

2. Tiga alam bagi peraih Jhâna kedua (dutiya jhana bhumi),

3. Tiga alam bagi peraih Jhâna ketiga (tatiya jhana bhumi),

4. Dua alam bagi peraih Jhâna keempat (catuttha jhana bhumi),

5. Dan lima alam Suddhâvâsa.

a). Alam Jhana Pertama ( Pathama Jhana Bhumi );

1. Pârisajjâ: alam kehidupan bagi Brahma pengikut ( dewan-dewan Brahma ) , yang tidak memiliki kekuasaan khusus, usia mereka sepanjang 1/3 Asankkheyya Kappa.

2. Purohitâ: alam kehidupan bagi brahma penasihat ( para menteri Brahma ), yang berkedudukan tinggi sebagai pemimpin dalam kegiatan-kegiatan, usia mereka mencapai ½ Asankkheyya Kappa.

3. Mahâbrahmâ: alam kehidupan bagi Brahma yang memiliki kebajikan khusus yang besar. Usia mereka mencapai 1 Asankkheyya Kappa.

Yang tertinggi dari tiga pertama ini adalah : Maha Brahma. Maha Brahma ini memiliki muka empat, oleh karenannya masyarakat Tionghoa menyebutnya “Se Mien Fuo”, atau Buddha berwajah Empat, meskipun sesungguhnya Maha Brahma bukanlah seorang Buddha.

Disebut “Maha-Brahma: karena penghuni Alam Maha-Brahma ini melebihi yang lain dalam kebahagiaan, keindahan, dan batas usia karena kebaikan hakiki dari perkembangan batin mereka.

b).Alam Jhana Kedua ( Dutiya Jhana Bhumi );

4. Parittâbhâ: alam kehidupan bagi Brahma yang bercahaya lebih sedikit / kurang bercahaya daripada brahma yang berada di atasnya. Usia mereka mencapai 2 A.K.

5. Appamânabhâ: alam kehidupan bagi Brahma yang bercahaya cemerlang nirbatas ( tanpa batas ). Usia mereka mencapai 4 A.K.

6. Âbhassarâ: alam kehidupan bagi Brahma yang bersinar / bercahaya menyebar luas dari tubuhnya. Usia mereka mencapai 8 Maha Kappa.

c).Alam Jhana Ketiga ( Tatiya Jhana Bhumi ) ;

7. Parittasubhâ: alam kehidupan bagi Brahma yang bercahaya indah tapi lebih sedikit daripada brahma yang berada di atasnya. Usia mereka mencapai 16 Maha Kappa.

8. Appamânasubhâ: alam kehidupan bagi Brahma yang bercahaya indah nirbatas ( tanpa batas ). Usia mereka mencapai 32 Maha Kappa.

9. Subhakinhâ: alam kehidupan bagi Brahma yang bercahaya indah di sekujur tubuhnya, dengan cahaya yang tetap cemerlang tanpa sedetikpun surut. Usia mereka mencapai 64 Maha Kappa.

d).Alam Jhana keempat ( Catuttha Jhana Bhumi ) ;

10).Vehapphala – Alam para Brahma dengan pahala yang besar / sempurna, terbebas dari segala bahaya. Usia makhluk di alam ini mencapai 500 Maha Kappa.

11).Asannasatta – Alam para makhluk tanpa pikiran. Dalam alam ini sama sekali tidak ada unsur batiniah. Kelahiran di alam ini terjadi karena pengembangan perenungan yang memuncak terhadap unsur batiniah yang menjijikkan sehingga makhluk ini tak menginginkannya lagi (saññâvirâgabhâvanâ). Usia makhluk di alam sama dengan alam Vehapphala, yakni mencapai 500 Maha Kappa. Dialam Asannasatta ini makhluk-makhluk dilahirkan tanpa suatu kesadaran.Disini hanya terjadi perubahan jasmaniah secara terus menerus. Pikiran untuk sementara dihentikan ketika kekuatan Jhana berlangsung. Dengan kekuatan meditasi sangat mungkin untuk memisahkan jasmani dan pikiran seperti dalam alam ini. Karena tidak dilengkapi dengan unsur-unsur batiniah, di alam ini sama sekali tidak ada kesempatan untuk mengembangkan kebajikan. Makhluk-makhluk yang terlahirkan secara jasmaniah hanya sekadar menghabiskan akibat perbuatan lampaunya.

12).Suddhavasa – secara harafiah artinya, Tempat Kediaman Sejati. Suddhâvâsabhûmi adalah suatu alam kehidupan bagi mereka yang telah terbebas dari nafsu birahi (kâmarâga), keserakahan, kebencian, ikatan terhadap upacara-upacara keagamaan, dan lain sebagainya, yaitu para Anâgâmî ( Yang Tak Pernah Kembali ) yang berhasil meraih pencerapan Jhâna kelima. Makhluk-makhluk lain yang belum mencapai kesucian tingkat Anâgâmî, meskipun berhasil meraih pencerapan Jhâna kelima, tidak akan terlahirkan di alam ini. Di sinilah para Anâgâmî akan meraih kesucian tingkat Arahatta. Para Bodhisatta tidaklah pernah terlahirkan di alam ini sebab makhluk-makhluk yang terlahirkan di alam ini tidak akan terlahirkan kembali di alam-alam lain yang lebih rendah dari ala mini ( alam Jhana V sub-bagian dari alam Rupaloka ) . Kadangkala, ketika tidak ada Buddha yang muncul dalam kurun waktu yang lama, alam ini kosong melompong tanpa penghuni.

Alam ini lebih lanjut dibagi menjadi lima, yaitu :

i.Aviha – Alam yang dapat bertahan lama.

Para Brahma di alam ini tidak meninggalkan tempat tinggalnya hingga usia hidupnya habis. Para Anagami yang berkemampuan menonjol dalam bidang keyakinan ( saddhindriya ) akan terlahir disini. Usia para Brahma di alam ini mencapai 1.000 Maha Kappa.

ii.Atappa – Alam yang tenteram

Para Brahma di alam ini senantiasa hidup dalam ketentraman / ketenangan yang menyejukkan. Para Anagami yang berkemampuan menonjol dalam bidang semangat ( viriyindriya ) akan terlahir di alam ini. Usia para Brahma di alam ini mencapai 2.000 Maha Kappa.

iii.Sudassa – Alam yang indah

Para Brahma di alam ini memiliki tubuh indah yang sangat menawan hati. Para Anagami yang memiliki “Perhatian Penuh” / “Penyadaran Jeli” ( Satindriya ) akan terlahir di alam ini. Usia para Brahma di alam ini mencapai 4.000 Maha Kappa.

iv.Sudassi – Alam dengan penglihatan tajam

Jika para Brahma di alam Sudassa mempunyai “Perhatian Penuh” / “Penyadaran Jeli”, maka para Brahma di alam Sudassi mempunyai perhatian / penglihatan yang jauh lebih tajam bila dibandingkan dengan para Brahma dialam Sudassi. Para Anagami yang memiliki “Pemusatan Perhatian Sempurna” ( Samadhindriya ) akan terlahir di alam ini. Usia para Brahma di alam ini mencapai 8.000 Maha Kappa.

v.Akanittha – Alam yang Tertinggi.

Para Brahma disini dilengkapi dengan harta surgawi dan kebahagiaan yang tak tertandingi oleh makhluk di alam manapun juga yang berada dibawahnya. Para Anagami yang penuh “Kebijaksanaan” ( Pannindriya ) akan terlahir di alam ini. Usia para Brahma di alam ini mencapai 16.000 Maha Kappa.

Hanya mereka yang telah melatih Jhana atau Kegembiraan yang Luar Biasa ( Baca Lagi topik “Samadhi-Benar” / “Samma-Samadhi” ) yang dapat terlahir di Alam-alam yang lebih tinggi ini. Mereka yang telah mengembangkan Jhana pertama dilahirkan di alam Jhana pertama, yang kedua dan ketiga di alam Jhana kedua, yang keempat dan kelima dialam Jhana ketiga dan alam Jhana keempat.

III. ARUPALOKA / ARUPADHATU ( Alam Brahma Tak Berbentuk )

Adalah alam yang sama sekali tanpa jasmani. Baik dialam Rupaloka maupun Arupaloka tidaklah terdapat perbedaan jenis kelamin. Para makhluk di alam ini hanya terdiri dari batin semata, tanpa suatu landasan materi, karenanya bentuk jasmani / fisik di alam ini sepenuhnya telah lenyap. Banyak yang salah paham, menganggap ini adalah alam Para Buddha. Pandangan ini keliru, karena Arupadhatu ini bukanlah Nirvana, bukan “Yang-Kekal” / “Yang-Mutlak”. Arupadhatu / Arupabhumi adalah suatu alam tempat kelahiran batiniah para Brahma nirbentuk ( tanpa bentuk / rupa ). Meskipun disebut sebagai suatu alam ‘alam’ yang mengacu pada tempat atau bentuk, di sini sesungguhnya sama sekali tidak ada unsure jasmaniah sehalus apa pun dan dalam wujud apa pun. Sebutan ini terpaksa dipakai untuk dapat mengacu pada kemunculan serta keberadaan unsur-unsur batiniah tersebut. Kelahiran di alam brahma nirbentuk ini terjadi karena pengembangan perenungan yang memacak terhadap unsur jasmaniah yang menjijikkan sehingga tak menghasratinya (rûpavirâgabhâvanâ).

Arupaloka dibagi menjadi empat ( 4 ) alam menurut empat ( 4 ) Arupa Jhana, mereka adalah :

1.AkasanancayatanaAlam ruang yang tak terbatas.

Para makhluk di alam ini berdiam di dalam alam yang tidak berbatas, tidak ada sekat-sekat materi yang bisa dibayangkan seperti apapun juga, luas, sangat luas, tanpa batas. Makhluk yang terlahir disini adalah para makhluk suci yang telah berhasil meraih samadhi tingkat pathama-arupahhana yang berobjek pada angkasa yang nirbatas. Usia para makhluk disini mencapai 20.000 Maha Kappa.

2.VinnanancayatanaAlam kesadaran yang tak terbatas.

Para makhluk di alam ini berdiam dalam kesadaran / batin yang tidak terbatas, menembus segala bentuk batasan ruang dan waktu.Yang terlahir disini adalah para makhluk suci yang berhasil meraih samadhi tingkat dutiya-arupajhana yang berobjek pada kesadaran nirbatas. Usia para makhluk disini mencapai 40.000 Maha Kappa.

3.Akincannayatana Alam Kekosongan.

Disini para makhluk berdiam dalam “kekosongan” akan semua hal. Tidak ada “Aku”, tidak ada “Kamu”, jauh lebih halus daripada dua alam Arupadhatu dibawahnya. Makhluk yang terlahir disini adalah makhluk suci yang berhasil meraih samadhi tingkat tatiya-arupajhana yang berobjek pada kehampaan / kekosongan. Usia para makhluk dialam ini mencapai 60.000 Maha Kappa.

4.N’eva Sanna Nasannayatana Alam Tiada Pemahaman maupun Tiadanya Tiada Pemahaman.

Para makhluk di alam ini berdiam dalam batin yang “padam”, tiada pikiran, batin yang tidak bergerak sama sekali. Yang terlahir disini adalah makhluk suci yang berhasil meraih samadhi tingkat catuttha-arupajhana yang berobjek pada “bukan-ingatan-bukan-pula-tanpa-ingatan”. Usia makhluk di alam ini mencapai 84.000 Maha Kappa.

Demikianlah, ke-31 Alam Kehidupan yang terangkum dalam : 1. Kamadhatu, 2. Rupadhatu, dan, 3. Arupadhatu, telah selesai kita bahas.

DIMANAKAH “YANG-MUTLAK, YANG-TIDAK-TERCIPTA” ; “KANG-LANGGENG-TANPA-WANGENAN-TANPA-WEKASAN” BERADA ?

Pertanyaannya, “ Dimanakah letak “Yang-Mutlak, Yang-Tidak-Tercipta, Yang-Tidak-Terbentuk, Yang-Tidak-Terlahir”, “Jalan-Keluar” dari roda samsara itu berada ?” Jawabannya, “ Tidak di ke-31 Alam Kehidupan itu.”

Pada dahulu kala, para Brahmana, dan hingga kini pun ummat manusia umumnya, mengenal “Sangkan-Paraning-Dumadi” adalah sebagai “Brahma”, yaitu “Sang-Pencipta” , “Bapa-Semua-Makhluk-dan-Alam-Semesta”. Namun, pandangan keliru itu diluruskan oleh Sang Buddha. Karena meskipun para Brahma hidup dalam usia yang sangat panjang, bahkan para Brahma diatas Maha Brahma hidup hingga 16.000 Maha Kappa ( 1 Maha Kappa = 4 Asankheyya Kappa, 1 A.K = 20 Antara Kappa ( 1 pangkat 14 tahun ( angka 1 diikuti 140 angka nol ) , 1 Kappa = 1 “world-cycle”, 1 siklus hidup alam semesta ), namun mereka tetaplah : TIDAK-KEKAL. Karena merekapun kelak, ketika karma-karma baiknya yang menyebabkan mereka terlahir di alam tersebut telah habis, mereka akan bertumimbal lahir ke alam-alam lain diantara ke-31 alam kehidupan tersebut. Dan yang tidak-kekal, bukanlah “Yang-Mutlak”, karena “Yang-Mutlak”, adalah “Kekal-Abadi”.

Lalu, apakah “Yang-Mutlak” itu adalah di Arupadhatu ? Juga tidak. Karena, makhluk-makhluk Arupadhatu juga tidak-kekal, mereka kelak juga akan bertumimbal lahir di antara salah satu dari ke-31 alam kehidupan tersebut.

Ilusi mengenai kekekalan dan keabadian alam para Dewa dari alam Kamadhatu, hingga Rupadhatu dan Arupadhatu adalah karena usia mereka yang sangat panjang, terutama mulai Para Brahma dari Rupadhatu hingga Arupadhatu yang bisa melampaui jutaan-tilyun bahkan maha jutaan-trilyun tahun, sedangkan manusia paling lama hanya hidup dalam masa 100 tahun ( Untuk saat ini, akan tetapi, dalam suatu masa dimana moralitas terjaga dengan sangat baik, manusia mampu hidup hingga delapan puluh ribu ( 80.000 ) tahun ) . Karena manusia membandingkan usia mereka yang pendek dengan usia para Dewa apalagi jika dibandingkan dengan para Brahma dari Rupadhatu hingga Arupadhatu, maka manusia keliru menyimpulkan :

“ hidup dialam manusia tidak-kekal , “mung-mampir-ngombe”, tetapi hidup di surga adalah kekal, “Sungguh berbahagia bila kita bisa berada diatas pangkuan BAPA !” .

Sebegitu gelapnya pandangan manusia. Hingga suatu masa lahirlah seorang Samma-Sambuddha, yang mampu menembus semua hakekat, mampu menembus Kebenaran-Sejati, dan menyatakan, bahwa “Yang-Mutlak”, bukanlah di ke-31 alam kehidupan itu. “Yang-Mutlak” ini, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, karena saat semua fenomena telah lenyap, maka tidak ada satu katapun yang dapat mengungkapkannya. Itu adalah : NIRVANA ( Pali : Nibbana ).

Demikian wacana “Triloka” ( dari Kamadhatu, Rupadhatu, hingga Arupadhatu ) telah selesai kita bahas. Semoga memberikan “Pencerahan-Buddhi” bagi semua makhluk yang membacanya.

Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Terbebas, dan Tercerahkan Buddhinya… .

Salam Damai dan Cinta Kasih… .

( MAY ALL BEINGS ATTAIN ENLIGHTENMENT ! )

— RATANA KUMARO  —

Semarang-Barat, Kamis, 18 September 2008

Posted in BUDDHA | 4 Comments »

ALAM SEMESTA (II)

Posted by ratanakumaro pada November 5, 2008

ALAM SEMESTA, KEHIDUPAN,

DAN ALAM KEHIDUPAN ( II ) ;

KEHIDUPAN DAN ALAM KEHIDUPAN

“Agama Masa Depan adalah Agama Kosmik (berkenaan dengan Alam Semesta atau Jagad Raya). Melampaui Tuhan sebagai suatu pribadi serta menghindari Dogma dan Teologi (ilmu ketuhanan). Meliputi yang Alamiah maupun yang Spiritual, Agama yang seharusnya berdasarkan pada Pengertian yang timbul dari Pengalaman akan segala sesuatu yang Alamiah dan Perkembangan Rohani, berupa kesatuan yang penuh arti. Buddhism sesuai dengan Pemaparan ini. Jika ada agama yang sejalan dengan kebutuhan Ilmu Pengetahuan Modern, maka itu adalah Ajaran Buddha.”

( ALBERT EINSTEIN )

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa “

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Agama-agama apapun yang ada sekarang ini menyatakan bahwa Tuhan mereka masing-masinglah yang menciptakan kehidupan. Namun pernyataan demikian belum dapat menjawab pertanyaan bagaimana kehidupan dimulai. Sebab, bila Tuhan adalah makhluk hidup, yang digambarkan sebagai sesosok pribadi Adi-Kuasa ( ini sesungguhnya bertentangan dengan pernyataan ( koreksi/revisi 16/10/2009 ~ pen. ) bahwa “Tuhan” adalah “Tidak-Terpersonifikasikan”,”Yang-Mutlak”, “Yang-Tidak-Tercipta”, “Tan-Kena-Kinaya-Ngapa”, “Kang-Tanpa-Wangenan” ( Jawa ) ). Namun umumnya agama-agama yang ada masih mengkonsepkan “Yang-Mutlak” ( koreksi / revisi 16/10/2009 ~ pen. ) sebagai sosok pribadi Tuhan-Pencipta, yang bisa dicitrakan, terkadang dicitrakan mempunyai rambut warna tertentu, kulit warna tertentu, dan lain-lain, yang hidup “Di-Atas-Sana” ), maka dengan demikian harus sejalan dengan pemahaman bahwa ‘ hidup berasal dari hidup ‘, dan, dalam hal ini, belum dapat diterangkan bagaimana kehidupan Tuhan ( sebagai suatu pribadi ) yang dianggap sebagai “Yang-Mutlak” ( koreksi / revisi 16/10/2009 ) dimulai.


ASAL KEHIDUPAN MENURUT PARA ILMUWAN

Lepas dari legenda-legenda yang disiarkan agama-agama yang telah berkembang, sesungguhnya ada dua teori ilmiah yang mencoba menerangkan bagaimana kehidupan semua makhluk bermula didunia ini.

Teori pertama, adalah “Hipotesa-Haldane-Oparin”, diberi nama demikian sesuai dengan nama dua sarjana yang memperkenalkan hipotesa tersebut, Haldane dan Oparin, yang mengemukakan bahwa bahan organik berasal dari bahan anorganik. Menurut hipotesa kedua ilmuwan tersebut, pada jaman lampau, campuran dari gas anorganik yang sederhana larut dalam laut, kemudian berproses secara kimiawi, biologis, dan fisika, dengan energi matahari membentuk molekul prasejarah yang pertama; molekul ini kemudian merupakan prasyarat bermulanya kehidupan. Hipotesa ini adalah yang paling diterima dalam menerangkan asal kehidupan oleh masyarakat dewasa ini, terutama yang berpandangan ilmiah.

Kemudian, teori kedua adalah teori yang dikemukakan oleh Sir Fred Hoyle dan Prof.Chandra Wickramasinghe yang mengajukan hipotesa yang sangat berbeda. Mereka mengatakan bahwa bentuk kehidupan yang sederhana ber-evolusi di angkasa luar lalu terbawa ke bumi oleh meteor-meteor dan ekor komet yang sedang melintas.

Terlepas dari itu semua, baik dari legenda-legenda yang disiarkan agama-agama, maupun teori para ilmuwan, bagaimanapun juga caranya kehidupan dimulai, pada kenyataannya, para ilmuwan pernah menemukan bukti-bukti berupa fosil berbentuk batang yang menyerupai ganggang dan bakteri primitif kita saat ini, yang telah ada sejak 2,7 milyar tahun yang lalu. Hingga saat ini, hampir semua ilmuwan sependapat bahwa bentuk kehidupan awal berkembang di permukaan laut.

ASAL KEHIDUPAN SEMUA MAKHLUK MENURUT SANG BUDDHA

Sang Buddha Gotama mengajarkan, asal kehidupan tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia. Tapi meskipun demikian, Sang Buddha juga pernah bersabda bagaimana kehidupan berawal di bumi menurut hasil penelaahan yang diperoleh beliau dari “kemampuan-batin-luar-biasa”, yang ternyata senada dengan teori ilmu pengetahuan modern. Beliau menjelaskan, ketika alam-semesta mulai mengembang, alam yang ada barulah alam surga ( alam-dewa ). Berikut adalah Sabda Sang Buddha mengenai kejadian bumi dan manusia :

“Vasetha, terdapat suatu saat, cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini hancur. Dan ketika hal ini terjadi, umumnya makhluk-makhluk terlahir kembali di Abhassara ( alam cahaya ); disana mereka hidup dari ciptaan batin ( mano maya ), diliputi kegiuran, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa, hidup dalam kemegahan.

Mereka hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

Pada waktu itu ( bumi kita ini ) semuanya terdiri dari air, gelap gulita. Tidak ada matahari atau bulan yang nampak, tidak ada bintang-bintang maupun konstelasi-konstelasi yang kelihatan, siang maupun malam belum ada, laki-laki maupun wanita belum ada. Makhluk-makhluk hanya dikenal sebagai makhluk-makhluk saja.

Vasetha, cepat atau lambat setelah masa yang lama sekali bagi makhluk-makhluk tersebut, tanah dengan sarinya muncul keluar dari dalam air. Sama seperti bentuk-bentuk buih ( busa ) di permukaan nasi susu masak yang mendingin, demikianlah munculnya tanah itu.

Tanah itu memiliki warna, bau dan rasa. Sama seperti dadih susu atau mentega murni, demikianlah warna tanah itu; sama seperti madu tawon murni, demikianlah manis tanah itu.

Kemudian Vasetha, diantara makhluk-makhluk yang memiliki sifat serakah ( lolojatiko ) berkata : “O apakah ini ? “, dan mencicipi sari tanah itu dengan jarinya. Dengan mencicipinya, maka ia diliputi oleh sari itu, nafsu keinginan masuk dalam dirinya.

Makhluk-makhluk lainnya mengikuti contoh perbuatannya, mencicipi sari tanah itu, dengan jari-jari…makhluk-makhluk itu mulai makan sari tanah, memecahkan gumpalan-gumpalan sari tanah tersebut dengan tangan mereka.

Dan dengan melakukan hal ini, cahaya tubuh makhlk-makhluk itu lenyap. Dengan lenyapnya cahaya tubuh mereka, maka matahari, bulan, bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi nampak… siang dan malam terjadi.

Demikianlah Vasetha, sejauh itu bumi terbentuk kembali. Vasetha, selanjutnya makhluk-makhluk itu menikmati sari tanah, memakannya, hidup dengannya, dan berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali.

Berdasarkan atas takaran yang mereka makan itu, maka tubuh mereka menjadi padat, dan terwujudlah berbagai macam bentuk tubuh. Sebagian makhluk memiliki bentuk tubuh yang indah dan sebagian makhluk memiliki bentuk tubuh yang buruk.

Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh yang indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh yang buruk…maka sari tanah itupun lenyap…ketiksa sari tanah lenyap…muncullah tumbuhan dari tanah ( bhumipappatiko ).

Cara tumbuhnya seperti cendawan…mereka menikmati, mendapatkan makanan, hidup dengan tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali…( seperti diatas )

Sementara mereka bangga akan keindahan diri mereka, mereka menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan yang muncul dari tanah itupun lenyap.

Selanjutnya tumbuhan menjalar ( badalata ) muncul…warnanya seperti dadih susu atau mentega murni, manisnya seperti madu tawon murni. Mereka menikmati, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan menjalar itu…maka tubuh mereka menjadi lebih padat; dan perbedaan tubuh mereka nampak lebih jelas, sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk.

Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk…

Sementara mereka bangga akan keindahan tubuh mereka sehingga menjadi sombong dan congka, maka tumbuhan menjalar itupun lenyap.

Kemudian Vasetha, ketika tumbuhan menjalar lenyap…muncullah tumbuhan padi ( Sali ) yang masak di alam terbuka, tanpa dedak dan sekam, harum, dengan bulir-bulir yang bersih. Pada sore hari, mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan pada waktu malam, pada keesokan paginya padi itu telah tumbuh dan masak kembali. Bila pada pagi hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan siang, maka pada sore hari padi tersebut telah tumbuh dan masak kembali, demikian terus menerus padi itu muncul.

Vasetha, selanjutnya makhluk-makhluk itu menikmati padi ( masak ) dari alam terbuka, mendapatkan makanan itu dan hidup dengan tumbuhan padi tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali.

Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat, dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas. Bagi wanita nampak jelas kewanitaannya ( itthilinga ) dan bagi laki-laki nampak jelas kelaki-lakiannya ( purisalinga ).

Kemudian wanita sangat memperhatikan tentang keadaan laki-laki, dan laki-lakipun sangat memperhatikan keadaan wanita. Karena mereka saling memperhatikan keadaan diri satu sama lain terlalu banyak, maka timbullah nafsu indria yang membakar tubuh mereka. Dan sebagai akibat adanya nafsu indria tersebut, mereka melakukan hubungan kelamin.

Vasetha, ketika makhluk-makhluk lain melihat mereka melakukan hubungan kelamin…dst…dst… “.

Saat ini, setiap ilmuwan, siapapun juga, ermasuk Albert Einstein sekalipun, tak bisa memungkiri bahwa semua yang dijelaskan Sang Buddha adalah sama dengan temuan ilmiah tentang asal tata surya tersebut.

Para ilmuwan dengan temuan ilmiahnya dan Sang Buddha dengan ajaran-Nya yang dihasilkan dari “kemampuan-batin-luar-biasa” yang telah dikembangkan-Nya, kedua-duanya sepaham, bahwa permukaan bumi pada awalnya tertutup oleh air.

Para ilmuwan modern, dan juga Sang Buddha Gotama, keduanya sependapat bahwa kehidupan pertama mengembang diatas permukaan air, dimana mereka menyerap sari makanan.

Keduanya juga sepakat bahwa bentuk kehidupan pada awal-mulanya adalah “tidak-berjenis-kelamin” ( aseksual ), juga sependapat bahwa bentuk kehidupan berevolusi, dari bentuk yang sederhana ke bentuk kehidupan yang lebih kompleks, dan bahwa proses itu berlangsung dalam waktu yang sangat lama sekali.

Demikian wacana mengenai asal mula kehidupan ini saya paparkan. Semoga bermanfaat bagi “Pencerahan-Buddhi” semua yang membacanya.

( Sumber Pustaka : “Dasar Pandangan Agama Buddha”, Ven.S.Dhammika )

Salam Damai dan Cinta Kasih… .

( MAY ALL BEINGS ATTAIN ENLIGHTENMENT ! )

— RATANA KUMARO  —

Semarang Barat, 04 September 2008

Posted in BUDDHA | 5 Comments »