RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

Archive for Mei, 2009

NAFSU INDRIYA ; PENGHALANG YANG HARUS DILENYAPKAN

Posted by ratanakumaro pada Mei 26, 2009

“ Appamado amatapadam. Pamado maccuno padam . Appamatta na miyanti Ye pamatta yatha mata.”

[ Arti : Kewaspadaan adalah Jalan menuju KEKEKALAN, Kelengahan adalah Jalan menuju KEMATIAN.  Mereka yang sadar tidak akan mati, mereka yang tidak sadar seperti orang mati ( Dhammapada , Appamada Vagga ;  2:1 ) ]

“ Etam visesato natva. Appamadamhi Pandita.  Appamadi pamodanti Ariyanam gocare rata.”

[ Arti : Orang yang bijaksana, setelah memahami hal tersebut, mengembangkan kesadarannya, Ia berbahagia menjalani KEHIDUPAN SUCI ( Dhammapada, Appamada Vagga ; 2:2 ) ]

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”

( tikkhattum ; 3X )

Nammatthu Buddhassa,

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Saudara-saudari , para sahabat yang tercinta, sejak jaman Sang Buddha, telah banyak bermunculan guru kerohanian-guru kerohanian yang menunjukkan jalan yang salah kepada kelompok-kelompok orang. Guru-guru ‘sesat’ ini mengajarkan, bahwa pemuasan kesenangan indera, terutama keterlibatan dalam hubungan sexual, tidaklah akan menghalangi seseorang mencapai Pencerahan (?!) .

Hingga kini, banyak orang yang belum mengenal Dhamma, masih mempertahankan pandangan yang sama, bahwa,” Nafsu tidak harus dihapuskan, tetapi cukup dikendalikan. Tanpa nafsu, kita tidak hidup, sama dengan mati. Setelah mati nanti kita akan dengan sendirinya mengalami lenyapnya nafsu.” Suatu pandangan yang sangat terasa “Anti-Kehidupan-Suci”, dan ini sebenarnya pandangan yang salah bilamana berkaitan dengan pembebasan makhluk-makhluk dari samsara.


MENGAPA NAFSU KEINDRIYAAN HARUS DILENYAPKAN ?

Saudara-saudari, pertama-tama, kita harus memahami tahap-tahap pengetahuan “Pencerahan” saat kita berhasil menembus hakekat segala sesuatu.

Pada hakekatnya, dunia ini adalah “Dukkha” ; rendah dan kosong , kosong dari kekekalan, kosong dari keabadian, kosong dari kebahagiaan sejati, karena itulah dunia ini adalah penderitaan. Memang, bagi kebanyakan orang, menembus kesunyataan mulia mengenai dukkha ini tidaklah mudah. Karena itulah Sang Buddha menyatakan :

“Dhamma yang telah kucapai ini sungguh dalam, sungguh sulit untuk dilihat dan dipahami, damai dan tinggi, tak dapat dicapai hanya lewat penalaran, halus, harus dialami oleh para bijaksana.

Sedangkan generasi [sekarang] ini bergembira di dalam keduniawian, bersenang-senang di dalam keduniawian, bersukacita di dalam keduniawian. Generasi seperti ini sungguh sulit untuk melihat kebenaran ini, yaitu, pengkondisian khusus, asal mula yang saling bergantungan. Dan sungguh sulit untuk melihat kebenaran ini, yaitu, berhentinya semua bentukan, lepasnya semua kemelekatan, hancurnya semua keserakahan, HANCURNYA NAFSU, penghentian, Nibbana. “

[ Majjhima Nikaya ; Ariyapariyesana Sutta ; ay.19 ]


Ketika kita telah melihat ketidak-kekalan [anicca], melihat dengan penembusan spiritual, bukan melalui kacamata intelektual semata, maka barulah kita akan memahami, bahwa dunia ini, pengembaraan dalam samsara ini adalah “Dukkha”. Dan sejak saat itu, kita akan berjuang menuju realisasi kebahagiaan-sejati, yang kekal, yang tidak terserang kelapukan, tanpa-kematian [amerta ; nama lain dari Nibbana / Nirvana].

Penembusan terhadap “dukkha-sacca”, adalah penembusan terhadap kesunyataan mulia yang pertama dari “Cattari-Ariya-Saccani” / Empat Kesunyataan Mulia. Penembusan ini baru bisa diperoleh melalui “Samma-Samadhi” [Samadhi-Benar] dan “Samma-Sati” [Perhatian-Benar]. Ketika samadhi kita telah sedemikian kuat, maka kekuatan samadhi itu dapat kita gunakan untuk menembus kesunyataan tentang “dukkha” tersebut.

Setelah itu, penembusan akan berlanjut pada tahap berikutnya, “Apakah sebab dukkha?” . Apakah sukha dan dukha disebabkan oleh suatu sosok “Adi-Kuasa” tertentu ? Jika jawabannya “ya” , maka seharusnya dukkha bisa dilenyapkan dengan sikap ramah-tamah, penghormatan, pemujaan, kepada sosok “Adi-Kuasa” tersebut ; dan seharusnya sukha senantiasa hadir kepada para “hamba” yang setiap hari tak lelah berdoa kepada sosok tersebut.

Namun, ternyata jawabannya adalah “tidak”, dan segala apapun yang terjadi pada diri kita, bukanlah disebabkan oleh “Prima-Causa” yang berupa sosok “Adi-Kuasa” yang “tidak-terlihat” dan “tidak-tahu-entah-dimana” tersebut. Sebanyak apapun kita meminta perlindungan pada sosok “Adi-Kuasa” tersebut supaya jangan mengalami ‘ketidak-kekalan’, jangan mengalami kesedihan, keputus-asaan, supaya tidak mengalami penderitaan, ternyata tetaplah ‘ketidak-kekalan’ dan ‘dukkha’ tersebut menjadi corak utama yang tidak pernah lepas dari seluruh sejarah perjalanan hidup.

Lalu setelah itu, kita kemudian berhasil menembus, bahwa sebab dari dukkha adalah, karena batin / pikiran kita selama menempuh rentang pengembaraan tumimbal-lahir senantiasa terikat oleh kelima tali kesenangan indera, inilah nafsu-keinginan [tanha] . Disinilah kita menemukan penyebabnya, nafsu-keinginan yang menyala-nyala didalam pikiran kita itulah penyebab dari dukkha [dukkha-samudaya-sacca].

Tahap selanjutnya dari penembusan / pencerahan kita adalah, kita mengetahui, bahwa penderitaan [dukkha] tersebut dapat berakhir. Setelah melampaui massa yang sangat panjang dalam samsara dengan segenap keputus-asaan yang menyertainya, berbagai kegagalan, kesedihan, ratap-tangis yang memenuhi sejarah perjalanan hidupnya, pada titik-titik puncak pencerahannya, manusia akhirnya mengetahui , bahwa ada jalan-keluar dari samsara ini, penderitaan bisa berakhir! Inilah saat ia mengetahui NIBBANA / NIRVANA [nirodha-sacca]. Dan pada tahap terakhir, ia menembus pengetahuan akan adanya “Jalan-Menuju-Berakhirnya-Penderitaan” [ Magga-sacca ] , yaitu “Jalan-Ariya-Beruas-Delapan” [ Ariya-Atthangika-Magga ].


Sedikit kepuasan, banyak penderitaan. Saudara-saudari, bila kita belum bisa menembus dengan jauh [hingga ke beberapa kehidupan lampau kita] hakekat dukkha yang diakibatkan oleh nafsu-indriya, maka, kita setidaknya bisa me”review” perjalanan hidup kita yang sekarang ini. Dalam Alagaddupama Sutta , Majjhima Nikaya, Sang Buddha menyatakan bahwa kesenangan-kesenangan indera memberikan sedikit saja pemuasan, namun di sisi lain justru memberikan banyak penderitaan, banyak keputus-asaan, dan betapa besar bahaya di dalam hal-hal tersebut [pemuasan indera dan akibat-akibatnya ].

Ketika nafsu-indriya muncul, ia sudah menimbulkan penderitaan, karena ia “mencambuk-cambuk” batin kita, seakan-akan mengendalikan batin kita [bagi manusia-manusia biasa yang masih belum terbebas dari nafsu indriya] supaya segera mencari jalan menemukan pemuasan nafsu-indriya tersebut.

Ketika “objek” pemuasan nafsu indriya ini muncul, kita kembali ber”dukkha”. Sebab, saat mendapatkannya, kita khawatir suatu saat kehilangan. Kita khawatir “objek” ini kelak dicuri orang lain, kita khawatir bila sampai kita berpisah dari “objek” ini. Juga, ternyata setelah kita “menggenggam” objek pemuasan indriya ini, ternyata tidak seindah yang dibayangkan dulu kala saat mulai munculnya nafsu indriya. Ternyata, “objek” tersebut tidak juga sempurna memberikan kebahagiaan sejati bagi batin kita.

Terakhir, dukkha akan semakin menjadi-jadi saat kita benar-benar berpisah dengan “objek” pemuasan nafsu-indriya kita. Karena kemelekatan kita yang begitu kuat, kita bersedih telah kehilangan”nya”. Mengenai keresahan-keresahan yang disebabkan objek-objek indriya ini, Sang Buddha bersabda :

“… seseorang berpikir demikian : “Aduh, dulu aku memilikinya! Aduh, kini aku tidak memilikinya lagi! Aduh, semoga aku memilikinya! Aduh, aku tidak mempunyainya sekarang!” Maka dia bersedih hati, menangis, dan meratap. Dia meraung-raung memukuli dadanya dan menjadi putus-asa. … .” [Alagaddupama Sutta ; Majjhima Nikaya ]

Keterikatan kita terhadap nafsu-indriya [ tanha ] inilah, yang menyebabkan kita senantiasa bertumimbal-lahir. Kehausan kita terhadap nafsu-indriya dan pemuasannya, inilah “Avijja” ; Ketidak-tahuan, ini pulalah “Moha” ; Kebodohan-batin. Avijja ini sebab utama kita senantiasa bertumimbal lahir, berkelana dalam samsara. Karena kita tidak bisa melihat adanya ; 1. Dukkha, 2.Sebab dari Dukkha, 3.Berakhirnya Dukkha, dan, 4. Jalan menuju berakhirnya dukkha, maka dari itu kita benar-benar “BODOH”. Inilah yang dimaksud dengan Avijja.

Kebodohan batin ini semacam ketololan seorang penjudi yang tidak bisa melihat bahaya dari perjudian, betapa besar penderitaan yang diakibatkan dari perjudian tersebut. Kebodohan batin ini juga semacam ketololan seorang laki-laki yang tergila-gila kepada seorang perempuan penzinah yang menguras harta kekayaannya dan berselingkuh dibelakangnya. Meskipun banyak orang telah memberitahukan kepada laki-laki ini perihal perempuan penzinah tersebut, namun ia tidak peduli, karena hatinya telah dibutakan oleh kecantikan dan kemolekan tubuh perempuan tersebut. Inilah kebodohan-batin ; batin yang tidak bisa melihat dan menembus hakekat sejati dari segala sesuatu apa-adanya, batin yang terperdaya oleh perangkap-perangkap yang penuh penderitaan.

HANYALAH GURU BODOH YANG MENGAJARKAN KETERLIBATAN DENGAN DUNIA NAFSU-INDRIYA

Guru-guru yang mengajarkan para muridnya untuk tetap terlibat dengan nafsu-indriya sembari berjalan menempuh Jalan-Pembebasan adalah guru-guru yang “tidak-mengerti” mana “Jalan” dan mana “bukan-Jalan” ;  guru seperti ini benar-benar bodoh. Sang Buddha bersabda ;

“Sehubungan dengan para petapa dan brahmana yang terikat pada lima tali kesenangan indera ini, tergila-gila padanya dan sepenuhnya terlibat di dalamnya, dan yang menggunakannya tanpa melihat bahaya di dalamnya atau memahami jalan keluar darinya, mengenai mereka hal ini dapat dipahami :

‘Mereka telah bertemu dengan malapetaka, telah bertemu dengan bencana, “Si Jahat” dapat melakukan kepada mereka semaunya.’ [ Ariyapariyesana Sutta ; Majjhima Nikaya ]


Guru-guru yang “belum-cerah” tersebut berargumen, bahwa kita dapat tetap terbebas dari kekotoran “nafsu-indriya” sementara kita tetap “mencicipi” ( bersenang-senang ) dalam kenikmatan nafsu-indriya. Mengenai kebodohan ini, Sang Buddha bersabda :

9. “ Para Bhikkhu, bahwa manusia dapat terlibat di dalam kesenangan-kesenangan indera tanpa nafsu indera, tanpa persepsi nafsu indera, tanpa pemikiran-pemikiran nafsu indera – hal itu tidaklah mungkin.” [Alagaddupama-Sutta ; Majjhima Nikaya ]


Pada sabda Sang Buddha di ayat 9 ini, dengan tegas Sang Buddha menyatakan ketidak-mungkinan bagi manusia untuk terlibat di dalam kesenangan-kesenangan indrera, objek-objek kenikmatan indera, tanpa memiliki “gejolak-gejolak” hasrat nafsu indera. Frasa yang lain bagi kesenangan-indera ini, dalam Bahasa Pali mengacu pada kekotoran batin subjektif yang berhubungan dengan sensualitas, yaitu nafsu keinginan indera ; hubungan sexual, tindakan-tindakan fisik lain yang mengexpresikan keinginan sexual ~ seperti memeluk dan mengelus ~ termasuk dalam pengertian “Kesenangan-indera”.

“Para Bhikkhu, ketika kalian mengetahui bahwa Dhamma mirip dengan rakit, bahkan keadaan-keadaan yang baik pun seharusnya kalian tinggalkan, apalagi keadaan-keadaan yang buruk.” [ Alagaddupama Sutta ]


Keterangan dalam Majjhima Nikaya memberikan penjelasan lebih jauh mengenai akhir dari khotbah diatas, “Para Bhikkhu, Aku mengajarkan untuk bahkan meninggalkan nafsu keinginan dan kemelekatan pada keadaan-keadaan yang damai dan tinggi ~ ketenangan ( samatha ) dan pandangan terang ( vipassana ) ~ apalagi pada hal yang rendah, vulgar, menjijikkan, kasar, dan kotor… [ kesenangan-kesenangan indria, terlibat dalam hubungan sex ]“.

Guru-guru yang “sesat” tersebut belum memahami segala-sesuatu sebagaimana adanya. Ia masih melihat bahwa apa-apa didunia ini semuanya “nyata” dan layak diinginkan. Ia tidak bisa melihat dengan jelas, bahwa semua yang terlihat didunia ini hanyalah “paduan-unsur-unsur” , yang tidak-kekal, tidak layak diinginkan, dan tidak ada “inti-diri” [ Aku ] disana.  Karena ia melihat bahwa ada “diri”, bahwa itu adalah “kekal”, maka ia terpikat, tertarik, mengikuti “keinginan” untuk memilikinya. Mengenai pandangan-pandangan keliru para manusia yang belum tercerahkan dan tidak terlatih dalam Dhamma nan Agung ini, Sang Buddha bersabda :

15.”Para bhikkhu, ada enam pendirian untuk pandangan-pandangan. Apakah yang enam itu ?

Disini, para bhikkhu, seorang biasa yang tidak belajar , yang tidak memiliki rasa hormat bagi orang-orang luhur dan tidak terampil serta tidak disiplin di dalam Dhamma mereka, yang tidak memiliki rasa hormat bagi manusia-manusia sejati dan tidak terampil serta tidak disiplin di dalam Dhamma mereka, menganggap :

– bentuk-bentuk materi demikian ; “ Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku.”

– Dia menganggap perasaan demikian ; “ Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku.”

– Dia menganggap persepsi demikian : “Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku.”

– Dia menganggap bentukan-bentukan demikian ; “ Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku.”

– Dia menganggap apa yang terlihat, terdengar, terasa, terkognisi, ditemui, dicari, direnungkan secara mental demikian ; “Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku.”

– Dan pendirian untuk pandangan-pandangan ini, yaitu ; ‘ Ini adalah diri, ini adalah dunia ; setelah kematian aku akan abadi, langgeng, kekal, tidak terkena perubahan ; aku akan bertahan kekal selama keabadian’ ~ hal inipun juga dianggap demikian ; “ Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku. “


Didalam penjelasan Majjhima-Nikaya disebutkan, bahwa pengertian :

1). “ Ini adalah milikku “ ; disebabkan oleh nafsu keserakahan [ lobha ]

2). “ Ini Aku “ ; disebabkan oleh kesombongan [ mana ]

3). “ Ini adalah diriku “ ; disebabkan oleh pandangan salah [ miccha-ditthi ].

Tiga hal ini, ~ yaitu nafsu keserakahan, kesombongan, dan pandangan salah ~ disebut tiga obsesi (gaha ). Ketiganya ini juga merupakan pendorong utama di balik pemahaman dan pengembangan mental. Pandangan mengenai “kelanggengan ; setelah kematian aku akan memasuki pintu keabadian “ , sesungguhnya pandangan itu sendiri justru menjadi objek nafsu keserakahan, kesombongan, dan pandangan salah tentang diri.

Sang Buddha berkali-kali menegaskan ke-tanpa-diri-an dalam segala sesuatu di dunia ini. Objek apapun di depan kita, semua kosong dari “diri”, bahkan kita sendiri pun kosong dari “diri” ;  TANPA-DIRI ! Anicca ( tidak-kekal ), Dukkha ( derita ), dan Anatta ( Tanpa-Diri ;  Tidak-Ada-Aku ) , itulah sejatinya segala sesuatu hal. Dan nafsu indriya yang menggebu-gebu terhadap segala sesuatu yang sesungguhnya hanyalah “fluks” [ tidak-kekal, derita, dan tanpa “Aku” ], jelas-jelas merupakan kebodohan-batin. Mengenai ketidak-kekalan dan  ke-tanpa-diri-an ini, Sang Buddha bersabda :

22. “Para Bhikkhu, kalian bisa saja [berpikir untuk] memperoleh kepemilikan yang kekal, langgeng, abadi, tidak terkena perubahan, dan yang mungkin bertahan kekal selama keabadian. Tetapi, apakah kalian melihat ada kepemilikan semacam itu, para Bhikkhu ? – “Tidak, Yang Mulia Bhante”. – “ Bagus, para bhikkhu. Aku pun tidak melihat kepemilikan apa pun yang kekal, langgeng, abadi, tidak terkena perubahan, dan yang bisa bertahan kekal selama keabadian.

23. “Para Bhikkhu, engkau bisa saja melekati doktrin tentang diri yang tidak akan menimbulkan kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, penderitaan, dan keputus-asaan di dalam diri orang yang melekatinya. Tetapi apakah kalian melihat ada doktrin tentang diri semacam itu?” – “ Tidak, yang Mulia Bhante”. “Bagus, para bhikkhu. Aku pun tidak melihat doktrin apa pun tentang diri yang tidak akan menimbulkan kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, penderitaan, dan keputus-asaan di dalam diri orang yang melekati padanya.”

25. “ Para bhikkhu, seandainya diri itu memang ada, apakah ada sesuatu yang menjadi milik diriku?” – “ Ya, Yang Mulia Bahnte” – “Atau seandainya saja ada sesuatu yang menjadi milik suatu diri, apakah diriku ada?” – “Ya, Yang Mulia Bhante” – “Para bhikkhu, karena suatu diri dan apa yang menjadi milik suatu diri tidaklah dipahami sebagai yang benar dan terbentuk, maka pendirian untuk pandangan-pandangan ini, yaitu, “ Ini adalah diri , ini adalah dunia ;  setelah kematian aku akan abadi, langgeng, kekal, tidak terkena perubahan ; aku akan bertahan kekal selama keabadian.’ – tidakkah itu merupakan suatu ajaran yang sungguh sepenuhnya tolol ?”

“Tak bisa lain, Yang Mulia Bhante. Pandangan itu merupakan ajaran yang sungguh sepenuhnya tolol.”

26. “Para bhikkhu, bagaimana pendapat kalian? Apakah bentuk materi itu kekal atau tidak kekal?” – “Tidak kekal, Yang Mulia Bhante” – “Apakah sesuatu yang tidak kekal merupakan penderitaan atau kebahagiaan?” – “Penderitaan, Yang Mulia Bhante.” – “Apakah sesuatu yang tidak kekal, penderitaan, dan terkena perubahan, itu pantas dianggap demikian : ‘ Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku?” – “ Tidak, Yang Mulia Bhante”.

“Para Bhikkhu, bagaimana pendapat kalian? Apakah perasaan…apakah persepsi… apakah bentukan-bentukan… apakah kesadaran itu kekal atau tidak kekal?” – “Tidak kekal , Yang Mulia Bhante.” – “Apakah sesuatu yang tidak kekal merupakan penderitaan atau kebahagiaan ? “ – “Penderitaan, Yang Mulia Bhante.” – “Apakah sesuatu yang tidak kekal, penderitaan, dan terkena perubahan, itu pantas dianggap demikian : “Ini adalah milikku, ini adlah aku, ini adalah diriku?” – “Tidak, Yang Mulia Bhante.”

27. “Oleh karenanya, para bhikkhu, jenis bentuk materi apapun – apakah dari masa lalu, masa mendatang, atau masa kini, internal atau eksternal, kasar atau halus, rendah atau tinggi, jauh atau dekat – semua bentuk materi harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan yang benar demikian : “Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.” Jenis perasaaan apapun… jenis persepsi apapun… jenis bentukan-bentukan apa pun… jenis kesadaran apa pun – apakah dari masa lalu, masa mendatang, atau masa kini, internal atau eksternal, kasar atau halus, rendah atau tinggi, jauh atau dekat – semua kesadaran harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan yang benar demikian : ” Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.”

28. ”Dengan melihat demikian, para bhikkhu, seorang siswa  agung yang belajar dengan baik menjadi tidak terpikat oleh bentuk materi, tidak terpikat oleh perasaan, tidak terpikat oleh persepsi , tidak terpikat oleh bentukan-bentukan, tidak terpikat oleh kesadaran.

29. “Karena tidak terpikat, dia menjadi tidak bernafsu. Melalu tiadanya nafsu, [pikirannya] terbebas. Ketika pikiran terbebas, disitu muncul pengetahuan : ‘Pikiran telah terbebas’. Dia memahami : ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi kelahiran pada keadaan dumadi apa pun.”


Ketidaktertarikan ( nibbida ;  yang juga diterjemahkan “reaksi mendadak” atau “kemuakan” ) menunjukkan tingkat puncak kebijaksanaan, hilangnya nafsu (viraga), pencapaian jalan supra-duniawi, dan pembebasan (vimutti), buahnya. Pengetahuan Arahat yang memeriksa (paccavekkhananana) ditunjukkan oleh frasa “disana muncullah pengetahuan “ dan “dia memahami : Kelahiran telah dihancurkan…dst.’ “.

38. “Para bhikkhu, baik dahulu maupun sekarang, apa yang kuajarkan adalah penderitaan dan berhentinya penderitaan.”


Tuduhan yang menyatakan bahwa Sang Buddha mengajarkan penyangkalan, penghancuran, pembasmian dari makhluk yang ada adalah suatu kekeliruan dan pemikiran yang didasari ketidaktahuan.

Sang Buddha menyatakan, bahwa suatu makhluk hidup bukanlah suatu “Diri”, melainkan hanya kumpulan banyak faktor, peristiwa materi dan mental, yang berhubungan di dalam suatu proses yang pada hakekatnya bersifat dukkha, dan bahwa Nibbana, berhentinya penderitaan, bukanlah pemusnahan suatu makhluk melainkan berhentinya proses ketidak-puasan itu sendiri. Seseorang yang telah memiliki pandangan benar, yang telah membuang semua doktrin tentang diri, melihat bahwa apa pun yang muncul hanyalah munculnya dukkha, dan apapun yang lenyap hanyalah lenyapnya dukkha.

LEPASKANLAH GENGGAMANMU PADA DUNIA!

Dalam bagian akhir-akhir khotbah Sang Buddha di dalam Alagaddupama Sutta, Sang Buddha menegaskan kepada para siswa-siswa terpelajar-Nya, untuk meninggalkan apapun di dunia ini, sebab itu bukanlah diri”mu”, bukanlah milik”mu”. Bagi anda yang telah bisa memahami, mengapa “pelepasan” ini adalah hal mutlak, maka anda akan dengan sukarela melepaskan genggaman erat anda pada dunia ini, sebab semua hanyalah “kosong”, “rendah”, “derita”, “tidak-kekal”, dan “tanpa-diri”.

40. “Maka, para bhikkhu, apa pun yang bukan milikmu, tinggalkanlah ; bila kalian telah meinggalkannya, hal itu akan membawa menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kalian untuk waktu yang lama. Apakah yang bukan milikmu itu ?  Bentuk materi bukan milikmu. Tinggalkanlah. Bila kalian telah meninggalkannya, hal itu akan membawa menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kalian untuk waktu yang lama. Perasaan bukan milikmu. Tinggalkanlah. Bila kalian telah meninggalkannya, hal itu akan membawa menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kalian untuk waktu yang lama. Persepsi bukan milikmu. Tinggalkanlah. Bila kalian telah meninggalkannya, hal itu akan membawa menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kalian untuk waktu yang lama. Bentukan-bentukan bukan milikmu. Tinggalkanlah. Bila kalian telah meninggalkannya, hal itu akan membawa menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kalian untuk waktu yang lama. Kesadaran bukan milikmu. Tinggalkanlah. Bila kalian telah meninggalkannya, hal itu akan membawa menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kalian untuk waktu yang lama.”


Dengan sabda ini, Sang Buddha menunjukkan bahwa yang harus ditinggalkan adalah kemelekatan pada lima kelompok kehidupan [ Panca-Khanda ] ; kelompok-kelompok kehidupan itu sendiri tidak dapat dipisahkan atau dicabut.

Demikianlah saudara-saudari, mengapa kita harus melepaskan keduniawian, melenyapkan nafsu-indriya. Karena, ketika kita senantiasa mentoleransi bagi berkembangnya nafsu-indriya di dalam diri kita, serta memberikan pemuasan-pemuasannya, sesungguhnya kita adalah orang-orang “bodoh” yang tidak menyadari bahaya dari nafsu-indriya, perangkap yang disediakan olehnya hanyalah penderitaan, dan suatu masa penderitaan yang panjang akan diakibatkan oleh pemuasan nafsu indriya tersebut, yakni terlahirnya kita berulang-ulang di dalam alam-alam keberadaan ; di dalam SAMSARA.

Salam Damai dan Cinta Kasih…,

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajja hontu, Anigha Hontu, Sukhi attanam Pariharantu “

( “Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari penderitaan, bebas dari kebencian/permusuhan/pertentangan/niat jahat, bebas dari kesakitan, bebas dari kesukaran, semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaan mereka masing-masing” )

~ RATANA KUMARO ~

SEMARANG, 25 MEI 2009.

Iklan

Posted in BUDDHA | 76 Comments »

PERAYAAN WAISAK 2553 BUDDHIST ERA [BE] DI VIHARA WATUGONG SEMARANG

Posted by ratanakumaro pada Mei 10, 2009

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”

( tikkhattum ; 3X )

Nammatthu Buddhassa,

Gbr.1

Hari Sabtu, tanggal 09 Mei 2009 , seluruh ummat Buddha merayakan hari raya Tri Suci Waisak 2553 Buddhist Era [BE] / 2009 Masehi. Hari raya Tri Suci Waisak merupakan hari peringatan akan tiga peristiwa Agung berkenaan dengan Sang Buddha Gotama. Ketiga peristiwa Agung ini [sama-sama] terjadi tepat pada bulan Purnama-Siddhi, bulan kelima (5) pada penanggalan Lunar. Ketiga peristiwa termaksud, yaitu :

  1. Lahirnya Boddhisatta Siddhatta Gotama ke dunia kurang lebih 620 tahun sebelum Masehi,
  2. Saat Siddhatta Gotama mencapai Pencerahan Sempurna di bawah pohon Boddhi, di usia-Nya yang ke-35 tahun.
  3. Saat Sang Buddha parinibbana di usia Beliau yang ke-80 tahun.

Gbr.2

Saya sendiri, pada hari Sabtu kemarin, mengikuti seluruh jalannya prosesi perayaan Waisak 2553 BE / 2009 M di Vihara Watugong, Semarang. Berikut adalah liputan saya atas acara perayaan tersebut. Sebagian besar foto-foto masih belum bisa saya upload [koneksi sedang ‘lelet’], namun nanti tetap akan saya susulkan. Selamat menikmati 😉

RANGKAIAN ACARA

Gbr.3

Acara dimulai jam 10.00 WIB, dengan agenda pertama adalah Pindapatta. Para Bhikkhu berjalan berurutan beriringan, menerima dana makanan dari para ummat. Pindapatta ini berlangsung hingga pukul 10.45 WIB.

Setelah itu, dilanjutkan dengan acara menyambut detik-detik Waisak, yang dimulai jam 10.45 WIB s/d jam 12.00 WIB. Detik-detik Waisak disambut puja-bhakti yang dipimpin oleh Bhante dengan penguncaran Paritta-suci, dilanjutkan dengan bhavana / Samadhi bersama selama kurang lebih 30 menit.

Gbr.6

Agenda selanjutnya, yang ketiga, adalah makan siang bersama. Ummat awam menikmati hidangan yang telah disediakan oleh panitia, dayaka-sabbha, secara gratis / Cuma-Cuma. Suasana yang sangat meriah. Peringatan waisak di Watugong kali ini dihadiri oleh ratusan ummat Buddha dari Semarang, Salatiga, dan sekitarnya.

Gbr.7

Jika dibanding perayaan serupa di Watugong tahun 2006 silam, maka perayaan tahun 2009 ini menurut saya agak ‘sepi’, mungkin karena ummat sebagian besar juga banyak yang menghadiri upacara peringatan Waisak di Mendut, Barabudur, dan di vihara-vihara local / setempat [kota masing-masing].

Gbr.8

Para Bhikkhu juga menikmati makan siang hasil dari Pindapatta mereka. Nampak Bhante Surattano sebagai Bhikkhu senior memimpin acara.

Gbr.10

Setelah makan siang selesai, sekitar jam 13.00 – 13.30 WIB, dimulai acara Pradaksina, yang diadakan di lokasi Pohon-Boddhi di vihara Watugong Semarang, di depan Pagoda Avalokitesvara.

Gbr.16

Pradaksina adalah upacara mengitari Buddha-rupam searah jarum jam sebanyak tiga (3) kali. Prosesi ini dipimpin oleh Bhante Cattamano [ Beliau datang terlambat, karena sebelumnya berada di Jakarta ]. Pradaksina dilakukan untuk menghormat Sang Ti-ratana [ Tiga-permata ; Buddha, Dhamma, dan Sangha ].

Gbr.20

Selesai Pradaksina, para Bhikkhu Sangha memimpin arak-arakan / kirab [napak-tilas], berjalan dari lokasi pohon Boddhi menuju dhammasala. Acara kirab yang diikuti ratusan ummat Buddha dari berbagai daerah dan etnis ini nampak meriah.

Gbr.22

Akhir acara, Bhante memberikan dhammadesana di dalam dhammasala, menyampaikan pesan Waisak 2553 BE / 2009 Masehi. Mengharapkan ummat Buddha dapat hidup damai, berbakti pada agama, bangsa dan Negara. Mengingatkan ummat Buddha untuk semakin memperdalam praktek-dhamma, memiliki rasa malu untuk berbuat jahat ( hiri ) dan takut akan akibat perbuatan jahat ( otappa ), memperbanyak sedekah ( dana ), memperteguh moralitas ( sila ), dan memperdalam Samadhi.

Gbr.26

Setelah dhammadesana selesai, kembali diuncarkan paritta-suci. Acara ditutup dengan pembagian “Air-Berkah-Waisak”.

Gbr.12

Acara ini bisa disebut sebagai “GONG”-nya dalam acara perayaan hari raya Waisak di vihara Watugong ini. “Air-Berkah-Waisak”, adalah air-minum yang telah disiapkan, yang sebelumnya diletakkan diatas meja Puja-Bhakti selama prosesi peringatan waisak, dan tentunya ter-influense daya penguncaran Paritta-suci.

Gbr.29

Air yang dipersiapkan ini dipercaya membawa berbagai macam berkah, seperti berkah kesehatan, kesuksesan, dan lain-lain, sebab telah mendapat daya dari penguncaran paritta-suci yang diuncarkan oleh Bhikkhu Sangha serta para ummat, didukung oleh kekuatan bhavana yang dilakukan selama upacara berlangsung.

TEMA WAISAK 2553 BUDDHIST ERA [BE] / 2009 MASEHI

Tema Waisak tahun ini adalah, “Kehadiran Buddha Sumber Keharmonisan dan Keutuhan Bangsa”.

Berikut ini kami cuplikkan tema waisak 2553 Buddhist Era [BE] / 2009 Masehi sebagaimana yang dipublikasikan oleh Sangha Theravada Indonesia :

Gbr.24

SANGHA THERAVADA INDONESIA

Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya,

Jl. Agung Permai XV/12, Jakarta 14350.

Telp (021) 64716739. Faks (021) 6450206.

Vihara Mendut, Kotakpos 111,

Kota Mungkid 56501, Magelang.

Telp (0293) 788236. Faks (0293) 788404.
PESAN WAISAK 2553/2009

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Samagga Sakhila Hotha

Hendaklah saling rukun dan berbaik hati

(Apadà na II)
Samagganang Tapo Sukho

Upaya kelompok orang yang bersatu menimbulkan kebahagiaan

(Dhammapada 194)
Tanggal 9 Mei 2009, umat Buddha memperingati Tiga Peristiwa Suci Waisak; saat Kelahiran, Pencerahan Sempurna, dan Kemangkatan Guru Agung Buddha Gotama. Kelahiran Buddha adalah kemunculan seorang manusia luhur yang kelak mampu memahami Kebenaran Dhamma, Pencerahan Sempurna merupakan penembusan Kebenaran Dhamma secara sempurna oleh seorang Buddha, serta Kemangkatan Buddha adalah perealisasian Kebenaran Dhamma tertinggi atau Parinibbà na. Meskipun guru agung Buddha Gotama telah mangkat dua ribu lima ratus lima puluh tiga tahun yang lampau, tetapi ajaran Kebenaran Dhamma masih tetap dipergunakan sebagai pandangan hidup sebagian umat manusia di dunia dewasa ini, khususnya umat Buddha; karena keberadaan Kebenaran Dhamma melintasi batas ruang dan waktu.
Sangha Theravà da Indonesia mengangkat tema Peringatan Hari Raya Waisak 2553/2009: Kehadiran Buddha Sumber Keharmonisan dan Keutuhan Bangsa. Tema tersebut mengingatkan umat Buddha sekalian bahwa peringatan hari raya Waisak adalah memperingati kehadiran Buddha di tengah-tengah dunia ini. Kehadiran Buddha yang sangat jarang terjadi sungguh merupakan suatu peristiwa yang sangat diagungkan bagi kita, karena kehadiran Buddha sama halnya dengan kehadiran penyebab kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Buddha mengingatkan kepada kita: bangun, jangan lengah, tempuhlah kehidupan benar, siapapun yang menempuh hidup sesuai Kebenaran Dhamma, ia akan berbahagia di dunia ini maupun di dunia selanjutnya.
Ditengah-tengah kehidupan yang senantiasa berubah, segala bentuk perubahan dapat saja terjadi, harapan kita tentu perubahan yang terjadi akan menimbulkan kegembiraan, tetapi tidak jarang terjadi perubahan yang berdampak kesedihan, krisis ekonomi global merupakan salah satu bentuk perubahan dalam kehidupan perekonomian yang menimbulkan kesulitan hidup. Kesulitan akibat krisis ekonomi global itu tidak akan teratasi dengan penyesalan, ketidakberdayaan, bahkan putus asa. Sikap kita yang tepat adalah mempunyai harapan hidup lebih baik untuk mencegah terjadinya penyesalan, memiliki kecerdasan berupaya sebagai pengganti dari ketidakberdayaan, dan mempunyai semangat hidup agar tidak terjadi keputus-asaan. Oleh karena itu sebaiknya umat Buddha sekalian menyikapi perubahan hidup akibat krisis ekonomi global ini dengan sikap mental pantang menyerah, terus berupaya dengan cerdas, mencari jalan keluar sesuai Kebenaran Dhamma.
Tahun 2009 bangsa Indonesia menyelenggarakan pesta demokrasi berupa Pemilihan Umum. Rakyat mempunyai kedaulatan untuk memilih calon legislatif yang akan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat serta Dewan Perwakilan Daerah, dan calon presiden/wakil presiden yang akan menjadi Presiden serta Wakil Presiden selama lima tahun ke depan. Meskipun pilihan umat Buddha sekalian bisa berbeda-beda, tetapi jangan sampai perbedaan pilihan itu menjadi kondisi bagi ketidakrukunan satu sama lain. Karena perbedaan pilihan itu adalah suatu hal yang wajar dalam hidup berdemokrasi, masing-masing orang memiliki kebebasan berpendapat untuk menentukan pilihannya. Kebebasan perlu dilandasi pertanggungjawaban yang jelas. Kebebasan tanpa dibarengi dengan tanggung jawab sosial sama halnya dengan kebebasan yang akan menghancurkan masa depan kehidupan sosial masyarakat. Sebaliknya kebebasan yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab tentu akan memajukan kehidupan sosial masyarakat. Tanggung jawab perlu diterapkan terhadap pilihan kebebasan yang telah dilakukan, dan pilihan kebebasan yang akan dilakukan. Kebebasan tanpa disertai pertanggungjawaban sama halnya dengan perilaku semena-mena untuk memenuhi kepentingan “ego†pribadi ataupun kelompok. Keharmonisan dapat tumbuh berkembang apabila tanggung jawab sosial atau tanggung jawab bersama menjadi perhatian utama diawal perilaku kebebasan yang dipilih. Tanggung jawab sosial dapat terjadi apabila manusia mengembangkan kebijaksanaan dan cintakasih dalam kehidupan bermasyarakat. Bijaksana dalam kehidupan individual dan cintakasih dalam kehidupan sosial, yang kedua-duanya mempunyai tujuan jelas dalam rangka pengembangan Kebenaran Dhamma.

Keutuhan bangsa merupakan hasil upaya mereka yang berjuang bagi kebersamaan meskipun dalam keadaan berbeda-beda. Komitmen kebersamaan perlu dibangun dalam kehidupan berbangsa. Komitmen kebersamaan ini dapat terwujud apabila pemerintah dan rakyat memperhatikan ajaran Buddha yang terdapat dalam Mahà Parinibbà na Suttanta. Kemuliaan suatu bangsa tergantung pada tujuh hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah dan rakyatnya, yaitu: sering mengadakan pertemuan dengan dihadiri banyak peserta, mengakhiri pertemuan dengan hasil kesepakatan bersama, menaati peraturan dan undang-undang yang berlaku, memperhatikan dan menghargai pengalaman orang-orang yang lebih cakap, memperhatikan dan menghargai harkat martabat perempuan, membangun dan menjaga tempat-tempat ibadah di dalam maupun luar kota serta menyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan di tempat-tempat ibadah, dan melindungi orang-orang yang menjalani hidup suci. Kemajuan suatu bangsa bisa diharapkan, bukan keruntuhan, demikian penjelasan Buddha.
Marilah umat Buddha sekalian menghormati Guru Agung Buddha Gotama, baik dalam bentuk ucapan, tingkah laku, dan pikiran. Hendaknya bersikap hormat saat membicarakan Buddha, saat memperlakukan Buddha, dan saat memikirkan Buddha.

Selamat Hari Raya Waisak 2553/2009. Berkah Waisak senantiasa melimpah dalam kehidupan Bapak, Ibu, Saudara, Saudari beserta keluarga, Pemerintah, Bangsa dan Negara Indonesia. Harapan kami agar keharmonisan dan keutuhan bangsa tetap terjaga dan berkembang makin baik.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa, Tiratana, selalu melindungi.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia
Kota Mungkid, 9 Mei 2009
SANGHA THERAVADA INDONESIA

Bhikkhu Jotidhammo, Mahathera

Ketua Umum / Sanghanayaka

SEJARAH SINGKAT VIHARA BUDDHAGAYA WATUGONG, SEMARANG

Vihara Buddhagaya Watugong, Semarang, Jawa-Tengah, merupakan vihara yang pertama berdiri di Indonesia semenjak hancurnya Majapahit dan musnahnya Buddha-Dhamma serta lenyapnya ummat Buddha di Nusantara.

Gbr.13

Berawal dari kedatangan Bhante Naradha Mahathera dari Srilanka di sekitar tahun 1930 Masehi, yang menjadi missionaries Buddhis pertama setelah 500 tahun pasca Majapahit. Menurut sejarah, vihara Buddhagaya Watugong ini resmi didirikan pada tahun 1957.

Watugong tampak depan

Di lokasi vihara ini ditanam “Pohon-Boddhi” [ Pohon yang ‘berjasa’ kepada Sang-Buddha Gotama pada saat mencapai Pencerahan Sempurna ], dan yang menanam tersebut adalah Bhante Naradha Mahathera.

Gbr.15

Dahulu kala, vihara ini tidaklah sebesar dan semegah yang sekarang ini.  Vihara Buddhagaya yang sekarang ini merupakan hasil kerjasama ummat Buddha, terutama disokong oleh para dermawan, donator-donatur yang bajik, dengan niat tulus demi perkembangan Buddha-Dhamma, merenovasi vihara Watugong menjadi sebuah Vihara yang sangat besar, indah, megah.

Pagoda kwan Im1

Dimulai dari tahun 2001, perenovasian itu sudah mulai menunjukkan hasil awalnya yang ditandai dengan diresmikannya Gedung Dhammasala oleh Gubernur Jawa Tengah H. Mardiyanto serta peletakan batu pertama pembangunan Patung Buddha setinggi 36 m oleh Menteri Agama Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawar, MA pada 3 November 2002 lalu.

Selembar daun pohon Boddhi di depan Pagoda ; Vihara Buddhagaya Watugong, Semarang

Selembar daun pohon Boddhi di depan Pagoda ; Vihara Buddhagaya Watugong, Semarang

Gedung Dhammasala yang berdiri di atas lokasi Dhammasala yang lama itu terdiri dari dua lantai setinggi 22 meter dengan ukuran 27 meter kali 27 meter. Lantai I untuk kegiatan pertemuan dan lantai II yang memiliki tinggi sekitar 15 meter digunakan untuk upacara keagamaan. Di lantai II terdapat Rupam Sang Buddha dengan posisi duduk dan ber-mudra ‘memutar roda-dhamma’ yang merupakan duplikasi dari Buddha-rupam di Candi Mendut.

Gbr.14

Meskipun luasnya sudah jauh lebih besar dari Dhammasala yang dulu, namun tetap saja masih tersedia banyak lahan kosong mengingat total luas area yang tersedia sebesar 2,5 hektar. Dana yang digunakan untuk pembangunan Gedung Dhammasala dan sarana penunjangnya yang dimulai sejak Februari 2001 tersebut mencapai 3 milyar rupiah yang membengkak dari anggaran awal karena harga barang-barang naik.

Gbr.31

Sayangnya, vihara Buddhagaya Watugong sekarang ini lebih sebagai objek wisata ketimbang tempat ibadah ummat Buddha. Vihara ini adalah milik “pribadi” Yayasan, dan belum diserahkan kepada Sangha. Oleh karena itu, tidak ada Bhikkhu yang berdiam di Vihara Buddhagaya Watugong, kecuali hanya pada saat-saat ada acara-acara keagamaan, seperti acara puja-Bhakti tertentu, upacara perayaan Katthina, Magha-Puja, dan Waisaka-Puja seperti sekarang ini.

Demikian, laporan pandangan mata perayaan Waisak 2553 BE / 2009 M di vihara Watugong Semarang yang bisa saya sharingkan disini.

Tak lupa, saya mengucapkan, “Selamat merayakan hari raya Tri-Suci Waisak 2553 BE / 2009 M. Semoga, Sang Ti-ratana senantiasa melimpahkan berkah kepada kita semua. Dengan Kehadiran Sang Buddha, damai dan tenteramlah semua makhluk di bumi. Sadhu…sadhu…sadhu… .”

Salam Damai dan Cinta Kasih…,

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajja hontu, Anigha Hontu, Sukhi attanam Pariharantu “

( “Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari penderitaan, bebas dari kebencian/permusuhan/pertentangan/niat jahat, bebas dari kesakitan, bebas dari kesukaran, semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaan mereka masing-masing” )

~ RATANA KUMARO ~

SEMARANG, 10 Mei 2009.

Posted in BUDDHA | 16 Comments »