RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

NAFSU INDRIYA ; PENGHALANG YANG HARUS DILENYAPKAN

Posted by ratanakumaro pada Mei 26, 2009

“ Appamado amatapadam. Pamado maccuno padam . Appamatta na miyanti Ye pamatta yatha mata.”

[ Arti : Kewaspadaan adalah Jalan menuju KEKEKALAN, Kelengahan adalah Jalan menuju KEMATIAN.  Mereka yang sadar tidak akan mati, mereka yang tidak sadar seperti orang mati ( Dhammapada , Appamada Vagga ;  2:1 ) ]

“ Etam visesato natva. Appamadamhi Pandita.  Appamadi pamodanti Ariyanam gocare rata.”

[ Arti : Orang yang bijaksana, setelah memahami hal tersebut, mengembangkan kesadarannya, Ia berbahagia menjalani KEHIDUPAN SUCI ( Dhammapada, Appamada Vagga ; 2:2 ) ]

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”

( tikkhattum ; 3X )

Nammatthu Buddhassa,

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Saudara-saudari , para sahabat yang tercinta, sejak jaman Sang Buddha, telah banyak bermunculan guru kerohanian-guru kerohanian yang menunjukkan jalan yang salah kepada kelompok-kelompok orang. Guru-guru ‘sesat’ ini mengajarkan, bahwa pemuasan kesenangan indera, terutama keterlibatan dalam hubungan sexual, tidaklah akan menghalangi seseorang mencapai Pencerahan (?!) .

Hingga kini, banyak orang yang belum mengenal Dhamma, masih mempertahankan pandangan yang sama, bahwa,” Nafsu tidak harus dihapuskan, tetapi cukup dikendalikan. Tanpa nafsu, kita tidak hidup, sama dengan mati. Setelah mati nanti kita akan dengan sendirinya mengalami lenyapnya nafsu.” Suatu pandangan yang sangat terasa “Anti-Kehidupan-Suci”, dan ini sebenarnya pandangan yang salah bilamana berkaitan dengan pembebasan makhluk-makhluk dari samsara.


MENGAPA NAFSU KEINDRIYAAN HARUS DILENYAPKAN ?

Saudara-saudari, pertama-tama, kita harus memahami tahap-tahap pengetahuan “Pencerahan” saat kita berhasil menembus hakekat segala sesuatu.

Pada hakekatnya, dunia ini adalah “Dukkha” ; rendah dan kosong , kosong dari kekekalan, kosong dari keabadian, kosong dari kebahagiaan sejati, karena itulah dunia ini adalah penderitaan. Memang, bagi kebanyakan orang, menembus kesunyataan mulia mengenai dukkha ini tidaklah mudah. Karena itulah Sang Buddha menyatakan :

“Dhamma yang telah kucapai ini sungguh dalam, sungguh sulit untuk dilihat dan dipahami, damai dan tinggi, tak dapat dicapai hanya lewat penalaran, halus, harus dialami oleh para bijaksana.

Sedangkan generasi [sekarang] ini bergembira di dalam keduniawian, bersenang-senang di dalam keduniawian, bersukacita di dalam keduniawian. Generasi seperti ini sungguh sulit untuk melihat kebenaran ini, yaitu, pengkondisian khusus, asal mula yang saling bergantungan. Dan sungguh sulit untuk melihat kebenaran ini, yaitu, berhentinya semua bentukan, lepasnya semua kemelekatan, hancurnya semua keserakahan, HANCURNYA NAFSU, penghentian, Nibbana. “

[ Majjhima Nikaya ; Ariyapariyesana Sutta ; ay.19 ]


Ketika kita telah melihat ketidak-kekalan [anicca], melihat dengan penembusan spiritual, bukan melalui kacamata intelektual semata, maka barulah kita akan memahami, bahwa dunia ini, pengembaraan dalam samsara ini adalah “Dukkha”. Dan sejak saat itu, kita akan berjuang menuju realisasi kebahagiaan-sejati, yang kekal, yang tidak terserang kelapukan, tanpa-kematian [amerta ; nama lain dari Nibbana / Nirvana].

Penembusan terhadap “dukkha-sacca”, adalah penembusan terhadap kesunyataan mulia yang pertama dari “Cattari-Ariya-Saccani” / Empat Kesunyataan Mulia. Penembusan ini baru bisa diperoleh melalui “Samma-Samadhi” [Samadhi-Benar] dan “Samma-Sati” [Perhatian-Benar]. Ketika samadhi kita telah sedemikian kuat, maka kekuatan samadhi itu dapat kita gunakan untuk menembus kesunyataan tentang “dukkha” tersebut.

Setelah itu, penembusan akan berlanjut pada tahap berikutnya, “Apakah sebab dukkha?” . Apakah sukha dan dukha disebabkan oleh suatu sosok “Adi-Kuasa” tertentu ? Jika jawabannya “ya” , maka seharusnya dukkha bisa dilenyapkan dengan sikap ramah-tamah, penghormatan, pemujaan, kepada sosok “Adi-Kuasa” tersebut ; dan seharusnya sukha senantiasa hadir kepada para “hamba” yang setiap hari tak lelah berdoa kepada sosok tersebut.

Namun, ternyata jawabannya adalah “tidak”, dan segala apapun yang terjadi pada diri kita, bukanlah disebabkan oleh “Prima-Causa” yang berupa sosok “Adi-Kuasa” yang “tidak-terlihat” dan “tidak-tahu-entah-dimana” tersebut. Sebanyak apapun kita meminta perlindungan pada sosok “Adi-Kuasa” tersebut supaya jangan mengalami ‘ketidak-kekalan’, jangan mengalami kesedihan, keputus-asaan, supaya tidak mengalami penderitaan, ternyata tetaplah ‘ketidak-kekalan’ dan ‘dukkha’ tersebut menjadi corak utama yang tidak pernah lepas dari seluruh sejarah perjalanan hidup.

Lalu setelah itu, kita kemudian berhasil menembus, bahwa sebab dari dukkha adalah, karena batin / pikiran kita selama menempuh rentang pengembaraan tumimbal-lahir senantiasa terikat oleh kelima tali kesenangan indera, inilah nafsu-keinginan [tanha] . Disinilah kita menemukan penyebabnya, nafsu-keinginan yang menyala-nyala didalam pikiran kita itulah penyebab dari dukkha [dukkha-samudaya-sacca].

Tahap selanjutnya dari penembusan / pencerahan kita adalah, kita mengetahui, bahwa penderitaan [dukkha] tersebut dapat berakhir. Setelah melampaui massa yang sangat panjang dalam samsara dengan segenap keputus-asaan yang menyertainya, berbagai kegagalan, kesedihan, ratap-tangis yang memenuhi sejarah perjalanan hidupnya, pada titik-titik puncak pencerahannya, manusia akhirnya mengetahui , bahwa ada jalan-keluar dari samsara ini, penderitaan bisa berakhir! Inilah saat ia mengetahui NIBBANA / NIRVANA [nirodha-sacca]. Dan pada tahap terakhir, ia menembus pengetahuan akan adanya “Jalan-Menuju-Berakhirnya-Penderitaan” [ Magga-sacca ] , yaitu “Jalan-Ariya-Beruas-Delapan” [ Ariya-Atthangika-Magga ].


Sedikit kepuasan, banyak penderitaan. Saudara-saudari, bila kita belum bisa menembus dengan jauh [hingga ke beberapa kehidupan lampau kita] hakekat dukkha yang diakibatkan oleh nafsu-indriya, maka, kita setidaknya bisa me”review” perjalanan hidup kita yang sekarang ini. Dalam Alagaddupama Sutta , Majjhima Nikaya, Sang Buddha menyatakan bahwa kesenangan-kesenangan indera memberikan sedikit saja pemuasan, namun di sisi lain justru memberikan banyak penderitaan, banyak keputus-asaan, dan betapa besar bahaya di dalam hal-hal tersebut [pemuasan indera dan akibat-akibatnya ].

Ketika nafsu-indriya muncul, ia sudah menimbulkan penderitaan, karena ia “mencambuk-cambuk” batin kita, seakan-akan mengendalikan batin kita [bagi manusia-manusia biasa yang masih belum terbebas dari nafsu indriya] supaya segera mencari jalan menemukan pemuasan nafsu-indriya tersebut.

Ketika “objek” pemuasan nafsu indriya ini muncul, kita kembali ber”dukkha”. Sebab, saat mendapatkannya, kita khawatir suatu saat kehilangan. Kita khawatir “objek” ini kelak dicuri orang lain, kita khawatir bila sampai kita berpisah dari “objek” ini. Juga, ternyata setelah kita “menggenggam” objek pemuasan indriya ini, ternyata tidak seindah yang dibayangkan dulu kala saat mulai munculnya nafsu indriya. Ternyata, “objek” tersebut tidak juga sempurna memberikan kebahagiaan sejati bagi batin kita.

Terakhir, dukkha akan semakin menjadi-jadi saat kita benar-benar berpisah dengan “objek” pemuasan nafsu-indriya kita. Karena kemelekatan kita yang begitu kuat, kita bersedih telah kehilangan”nya”. Mengenai keresahan-keresahan yang disebabkan objek-objek indriya ini, Sang Buddha bersabda :

“… seseorang berpikir demikian : “Aduh, dulu aku memilikinya! Aduh, kini aku tidak memilikinya lagi! Aduh, semoga aku memilikinya! Aduh, aku tidak mempunyainya sekarang!” Maka dia bersedih hati, menangis, dan meratap. Dia meraung-raung memukuli dadanya dan menjadi putus-asa. … .” [Alagaddupama Sutta ; Majjhima Nikaya ]

Keterikatan kita terhadap nafsu-indriya [ tanha ] inilah, yang menyebabkan kita senantiasa bertumimbal-lahir. Kehausan kita terhadap nafsu-indriya dan pemuasannya, inilah “Avijja” ; Ketidak-tahuan, ini pulalah “Moha” ; Kebodohan-batin. Avijja ini sebab utama kita senantiasa bertumimbal lahir, berkelana dalam samsara. Karena kita tidak bisa melihat adanya ; 1. Dukkha, 2.Sebab dari Dukkha, 3.Berakhirnya Dukkha, dan, 4. Jalan menuju berakhirnya dukkha, maka dari itu kita benar-benar “BODOH”. Inilah yang dimaksud dengan Avijja.

Kebodohan batin ini semacam ketololan seorang penjudi yang tidak bisa melihat bahaya dari perjudian, betapa besar penderitaan yang diakibatkan dari perjudian tersebut. Kebodohan batin ini juga semacam ketololan seorang laki-laki yang tergila-gila kepada seorang perempuan penzinah yang menguras harta kekayaannya dan berselingkuh dibelakangnya. Meskipun banyak orang telah memberitahukan kepada laki-laki ini perihal perempuan penzinah tersebut, namun ia tidak peduli, karena hatinya telah dibutakan oleh kecantikan dan kemolekan tubuh perempuan tersebut. Inilah kebodohan-batin ; batin yang tidak bisa melihat dan menembus hakekat sejati dari segala sesuatu apa-adanya, batin yang terperdaya oleh perangkap-perangkap yang penuh penderitaan.

HANYALAH GURU BODOH YANG MENGAJARKAN KETERLIBATAN DENGAN DUNIA NAFSU-INDRIYA

Guru-guru yang mengajarkan para muridnya untuk tetap terlibat dengan nafsu-indriya sembari berjalan menempuh Jalan-Pembebasan adalah guru-guru yang “tidak-mengerti” mana “Jalan” dan mana “bukan-Jalan” ;  guru seperti ini benar-benar bodoh. Sang Buddha bersabda ;

“Sehubungan dengan para petapa dan brahmana yang terikat pada lima tali kesenangan indera ini, tergila-gila padanya dan sepenuhnya terlibat di dalamnya, dan yang menggunakannya tanpa melihat bahaya di dalamnya atau memahami jalan keluar darinya, mengenai mereka hal ini dapat dipahami :

‘Mereka telah bertemu dengan malapetaka, telah bertemu dengan bencana, “Si Jahat” dapat melakukan kepada mereka semaunya.’ [ Ariyapariyesana Sutta ; Majjhima Nikaya ]


Guru-guru yang “belum-cerah” tersebut berargumen, bahwa kita dapat tetap terbebas dari kekotoran “nafsu-indriya” sementara kita tetap “mencicipi” ( bersenang-senang ) dalam kenikmatan nafsu-indriya. Mengenai kebodohan ini, Sang Buddha bersabda :

9. “ Para Bhikkhu, bahwa manusia dapat terlibat di dalam kesenangan-kesenangan indera tanpa nafsu indera, tanpa persepsi nafsu indera, tanpa pemikiran-pemikiran nafsu indera – hal itu tidaklah mungkin.” [Alagaddupama-Sutta ; Majjhima Nikaya ]


Pada sabda Sang Buddha di ayat 9 ini, dengan tegas Sang Buddha menyatakan ketidak-mungkinan bagi manusia untuk terlibat di dalam kesenangan-kesenangan indrera, objek-objek kenikmatan indera, tanpa memiliki “gejolak-gejolak” hasrat nafsu indera. Frasa yang lain bagi kesenangan-indera ini, dalam Bahasa Pali mengacu pada kekotoran batin subjektif yang berhubungan dengan sensualitas, yaitu nafsu keinginan indera ; hubungan sexual, tindakan-tindakan fisik lain yang mengexpresikan keinginan sexual ~ seperti memeluk dan mengelus ~ termasuk dalam pengertian “Kesenangan-indera”.

“Para Bhikkhu, ketika kalian mengetahui bahwa Dhamma mirip dengan rakit, bahkan keadaan-keadaan yang baik pun seharusnya kalian tinggalkan, apalagi keadaan-keadaan yang buruk.” [ Alagaddupama Sutta ]


Keterangan dalam Majjhima Nikaya memberikan penjelasan lebih jauh mengenai akhir dari khotbah diatas, “Para Bhikkhu, Aku mengajarkan untuk bahkan meninggalkan nafsu keinginan dan kemelekatan pada keadaan-keadaan yang damai dan tinggi ~ ketenangan ( samatha ) dan pandangan terang ( vipassana ) ~ apalagi pada hal yang rendah, vulgar, menjijikkan, kasar, dan kotor… [ kesenangan-kesenangan indria, terlibat dalam hubungan sex ]“.

Guru-guru yang “sesat” tersebut belum memahami segala-sesuatu sebagaimana adanya. Ia masih melihat bahwa apa-apa didunia ini semuanya “nyata” dan layak diinginkan. Ia tidak bisa melihat dengan jelas, bahwa semua yang terlihat didunia ini hanyalah “paduan-unsur-unsur” , yang tidak-kekal, tidak layak diinginkan, dan tidak ada “inti-diri” [ Aku ] disana.  Karena ia melihat bahwa ada “diri”, bahwa itu adalah “kekal”, maka ia terpikat, tertarik, mengikuti “keinginan” untuk memilikinya. Mengenai pandangan-pandangan keliru para manusia yang belum tercerahkan dan tidak terlatih dalam Dhamma nan Agung ini, Sang Buddha bersabda :

15.”Para bhikkhu, ada enam pendirian untuk pandangan-pandangan. Apakah yang enam itu ?

Disini, para bhikkhu, seorang biasa yang tidak belajar , yang tidak memiliki rasa hormat bagi orang-orang luhur dan tidak terampil serta tidak disiplin di dalam Dhamma mereka, yang tidak memiliki rasa hormat bagi manusia-manusia sejati dan tidak terampil serta tidak disiplin di dalam Dhamma mereka, menganggap :

– bentuk-bentuk materi demikian ; “ Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku.”

– Dia menganggap perasaan demikian ; “ Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku.”

– Dia menganggap persepsi demikian : “Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku.”

– Dia menganggap bentukan-bentukan demikian ; “ Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku.”

– Dia menganggap apa yang terlihat, terdengar, terasa, terkognisi, ditemui, dicari, direnungkan secara mental demikian ; “Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku.”

– Dan pendirian untuk pandangan-pandangan ini, yaitu ; ‘ Ini adalah diri, ini adalah dunia ; setelah kematian aku akan abadi, langgeng, kekal, tidak terkena perubahan ; aku akan bertahan kekal selama keabadian’ ~ hal inipun juga dianggap demikian ; “ Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku. “


Didalam penjelasan Majjhima-Nikaya disebutkan, bahwa pengertian :

1). “ Ini adalah milikku “ ; disebabkan oleh nafsu keserakahan [ lobha ]

2). “ Ini Aku “ ; disebabkan oleh kesombongan [ mana ]

3). “ Ini adalah diriku “ ; disebabkan oleh pandangan salah [ miccha-ditthi ].

Tiga hal ini, ~ yaitu nafsu keserakahan, kesombongan, dan pandangan salah ~ disebut tiga obsesi (gaha ). Ketiganya ini juga merupakan pendorong utama di balik pemahaman dan pengembangan mental. Pandangan mengenai “kelanggengan ; setelah kematian aku akan memasuki pintu keabadian “ , sesungguhnya pandangan itu sendiri justru menjadi objek nafsu keserakahan, kesombongan, dan pandangan salah tentang diri.

Sang Buddha berkali-kali menegaskan ke-tanpa-diri-an dalam segala sesuatu di dunia ini. Objek apapun di depan kita, semua kosong dari “diri”, bahkan kita sendiri pun kosong dari “diri” ;  TANPA-DIRI ! Anicca ( tidak-kekal ), Dukkha ( derita ), dan Anatta ( Tanpa-Diri ;  Tidak-Ada-Aku ) , itulah sejatinya segala sesuatu hal. Dan nafsu indriya yang menggebu-gebu terhadap segala sesuatu yang sesungguhnya hanyalah “fluks” [ tidak-kekal, derita, dan tanpa “Aku” ], jelas-jelas merupakan kebodohan-batin. Mengenai ketidak-kekalan dan  ke-tanpa-diri-an ini, Sang Buddha bersabda :

22. “Para Bhikkhu, kalian bisa saja [berpikir untuk] memperoleh kepemilikan yang kekal, langgeng, abadi, tidak terkena perubahan, dan yang mungkin bertahan kekal selama keabadian. Tetapi, apakah kalian melihat ada kepemilikan semacam itu, para Bhikkhu ? – “Tidak, Yang Mulia Bhante”. – “ Bagus, para bhikkhu. Aku pun tidak melihat kepemilikan apa pun yang kekal, langgeng, abadi, tidak terkena perubahan, dan yang bisa bertahan kekal selama keabadian.

23. “Para Bhikkhu, engkau bisa saja melekati doktrin tentang diri yang tidak akan menimbulkan kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, penderitaan, dan keputus-asaan di dalam diri orang yang melekatinya. Tetapi apakah kalian melihat ada doktrin tentang diri semacam itu?” – “ Tidak, yang Mulia Bhante”. “Bagus, para bhikkhu. Aku pun tidak melihat doktrin apa pun tentang diri yang tidak akan menimbulkan kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, penderitaan, dan keputus-asaan di dalam diri orang yang melekati padanya.”

25. “ Para bhikkhu, seandainya diri itu memang ada, apakah ada sesuatu yang menjadi milik diriku?” – “ Ya, Yang Mulia Bahnte” – “Atau seandainya saja ada sesuatu yang menjadi milik suatu diri, apakah diriku ada?” – “Ya, Yang Mulia Bhante” – “Para bhikkhu, karena suatu diri dan apa yang menjadi milik suatu diri tidaklah dipahami sebagai yang benar dan terbentuk, maka pendirian untuk pandangan-pandangan ini, yaitu, “ Ini adalah diri , ini adalah dunia ;  setelah kematian aku akan abadi, langgeng, kekal, tidak terkena perubahan ; aku akan bertahan kekal selama keabadian.’ – tidakkah itu merupakan suatu ajaran yang sungguh sepenuhnya tolol ?”

“Tak bisa lain, Yang Mulia Bhante. Pandangan itu merupakan ajaran yang sungguh sepenuhnya tolol.”

26. “Para bhikkhu, bagaimana pendapat kalian? Apakah bentuk materi itu kekal atau tidak kekal?” – “Tidak kekal, Yang Mulia Bhante” – “Apakah sesuatu yang tidak kekal merupakan penderitaan atau kebahagiaan?” – “Penderitaan, Yang Mulia Bhante.” – “Apakah sesuatu yang tidak kekal, penderitaan, dan terkena perubahan, itu pantas dianggap demikian : ‘ Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku?” – “ Tidak, Yang Mulia Bhante”.

“Para Bhikkhu, bagaimana pendapat kalian? Apakah perasaan…apakah persepsi… apakah bentukan-bentukan… apakah kesadaran itu kekal atau tidak kekal?” – “Tidak kekal , Yang Mulia Bhante.” – “Apakah sesuatu yang tidak kekal merupakan penderitaan atau kebahagiaan ? “ – “Penderitaan, Yang Mulia Bhante.” – “Apakah sesuatu yang tidak kekal, penderitaan, dan terkena perubahan, itu pantas dianggap demikian : “Ini adalah milikku, ini adlah aku, ini adalah diriku?” – “Tidak, Yang Mulia Bhante.”

27. “Oleh karenanya, para bhikkhu, jenis bentuk materi apapun – apakah dari masa lalu, masa mendatang, atau masa kini, internal atau eksternal, kasar atau halus, rendah atau tinggi, jauh atau dekat – semua bentuk materi harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan yang benar demikian : “Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.” Jenis perasaaan apapun… jenis persepsi apapun… jenis bentukan-bentukan apa pun… jenis kesadaran apa pun – apakah dari masa lalu, masa mendatang, atau masa kini, internal atau eksternal, kasar atau halus, rendah atau tinggi, jauh atau dekat – semua kesadaran harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan yang benar demikian : ” Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.”

28. ”Dengan melihat demikian, para bhikkhu, seorang siswa  agung yang belajar dengan baik menjadi tidak terpikat oleh bentuk materi, tidak terpikat oleh perasaan, tidak terpikat oleh persepsi , tidak terpikat oleh bentukan-bentukan, tidak terpikat oleh kesadaran.

29. “Karena tidak terpikat, dia menjadi tidak bernafsu. Melalu tiadanya nafsu, [pikirannya] terbebas. Ketika pikiran terbebas, disitu muncul pengetahuan : ‘Pikiran telah terbebas’. Dia memahami : ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi kelahiran pada keadaan dumadi apa pun.”


Ketidaktertarikan ( nibbida ;  yang juga diterjemahkan “reaksi mendadak” atau “kemuakan” ) menunjukkan tingkat puncak kebijaksanaan, hilangnya nafsu (viraga), pencapaian jalan supra-duniawi, dan pembebasan (vimutti), buahnya. Pengetahuan Arahat yang memeriksa (paccavekkhananana) ditunjukkan oleh frasa “disana muncullah pengetahuan “ dan “dia memahami : Kelahiran telah dihancurkan…dst.’ “.

38. “Para bhikkhu, baik dahulu maupun sekarang, apa yang kuajarkan adalah penderitaan dan berhentinya penderitaan.”


Tuduhan yang menyatakan bahwa Sang Buddha mengajarkan penyangkalan, penghancuran, pembasmian dari makhluk yang ada adalah suatu kekeliruan dan pemikiran yang didasari ketidaktahuan.

Sang Buddha menyatakan, bahwa suatu makhluk hidup bukanlah suatu “Diri”, melainkan hanya kumpulan banyak faktor, peristiwa materi dan mental, yang berhubungan di dalam suatu proses yang pada hakekatnya bersifat dukkha, dan bahwa Nibbana, berhentinya penderitaan, bukanlah pemusnahan suatu makhluk melainkan berhentinya proses ketidak-puasan itu sendiri. Seseorang yang telah memiliki pandangan benar, yang telah membuang semua doktrin tentang diri, melihat bahwa apa pun yang muncul hanyalah munculnya dukkha, dan apapun yang lenyap hanyalah lenyapnya dukkha.

LEPASKANLAH GENGGAMANMU PADA DUNIA!

Dalam bagian akhir-akhir khotbah Sang Buddha di dalam Alagaddupama Sutta, Sang Buddha menegaskan kepada para siswa-siswa terpelajar-Nya, untuk meninggalkan apapun di dunia ini, sebab itu bukanlah diri”mu”, bukanlah milik”mu”. Bagi anda yang telah bisa memahami, mengapa “pelepasan” ini adalah hal mutlak, maka anda akan dengan sukarela melepaskan genggaman erat anda pada dunia ini, sebab semua hanyalah “kosong”, “rendah”, “derita”, “tidak-kekal”, dan “tanpa-diri”.

40. “Maka, para bhikkhu, apa pun yang bukan milikmu, tinggalkanlah ; bila kalian telah meinggalkannya, hal itu akan membawa menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kalian untuk waktu yang lama. Apakah yang bukan milikmu itu ?  Bentuk materi bukan milikmu. Tinggalkanlah. Bila kalian telah meninggalkannya, hal itu akan membawa menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kalian untuk waktu yang lama. Perasaan bukan milikmu. Tinggalkanlah. Bila kalian telah meninggalkannya, hal itu akan membawa menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kalian untuk waktu yang lama. Persepsi bukan milikmu. Tinggalkanlah. Bila kalian telah meninggalkannya, hal itu akan membawa menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kalian untuk waktu yang lama. Bentukan-bentukan bukan milikmu. Tinggalkanlah. Bila kalian telah meninggalkannya, hal itu akan membawa menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kalian untuk waktu yang lama. Kesadaran bukan milikmu. Tinggalkanlah. Bila kalian telah meninggalkannya, hal itu akan membawa menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kalian untuk waktu yang lama.”


Dengan sabda ini, Sang Buddha menunjukkan bahwa yang harus ditinggalkan adalah kemelekatan pada lima kelompok kehidupan [ Panca-Khanda ] ; kelompok-kelompok kehidupan itu sendiri tidak dapat dipisahkan atau dicabut.

Demikianlah saudara-saudari, mengapa kita harus melepaskan keduniawian, melenyapkan nafsu-indriya. Karena, ketika kita senantiasa mentoleransi bagi berkembangnya nafsu-indriya di dalam diri kita, serta memberikan pemuasan-pemuasannya, sesungguhnya kita adalah orang-orang “bodoh” yang tidak menyadari bahaya dari nafsu-indriya, perangkap yang disediakan olehnya hanyalah penderitaan, dan suatu masa penderitaan yang panjang akan diakibatkan oleh pemuasan nafsu indriya tersebut, yakni terlahirnya kita berulang-ulang di dalam alam-alam keberadaan ; di dalam SAMSARA.

Salam Damai dan Cinta Kasih…,

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajja hontu, Anigha Hontu, Sukhi attanam Pariharantu “

( “Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari penderitaan, bebas dari kebencian/permusuhan/pertentangan/niat jahat, bebas dari kesakitan, bebas dari kesukaran, semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaan mereka masing-masing” )

~ RATANA KUMARO ~

SEMARANG, 25 MEI 2009.

Iklan

76 Tanggapan to “NAFSU INDRIYA ; PENGHALANG YANG HARUS DILENYAPKAN”

  1. To: Bro Ratnakumaro

    Saya sangat terkesan dengan artikel anda tentang Nafsu indera, Penghalang yang harus dilenyapkan.

    Memang sebagai Buddhis kita sudah menyadari bahayanya nafsu indera yg merupakan salah satu dari kilesa. Namun hal ini merupakan perbuatan yang sungguh sulit. Bila dilakukan ia adalah orang yg sangat beruntung, terpuji dan luhur.

    Nafsu indera berkembang dan akrab dengan kebiasaan hidup kita. Contoh: pada waktu kita bermeditasi 1 – 2 jam terasa semutan, pegal, dll. Itu merupakan reaksi dari batin dan jasmani karena Pancakkhandha telah melekat pada nafsu indera.

    Dalam agama Buddha, Sang Buddha menasehati kita untuk tidak melekat pada nafsu indera apapun dan tidak menimbulkan cetasika buruk. Hal ini bertujuan agar tidak mengkondisikan munculnya sankhara.

    Namun ada beberapa pertanyaan dari mereka yg tidak setuju dengan konsep tersebut. lalu mereka bertanya, kok Buddha tidak mengkondisikan munculnya batin dan jasmani di masa yg akan datang, sehingga Beliau tidak dilahirkan kembali, maka konsep Buddha adalah konsep PENGHANCURAN DIRI!!!

    Mereka tersesat lagi dalam pandangan diri!!!

    Lalu sesungguhnya, apakah ada yang dinamakan DIRI????

    Menurut Dhamma, yg dinamakan DIRI itu memang tidak ada.

    Bro, saya kok sepertinya kurang sreg bila penggunaan kata ‘KOSONG’ yg anda tuliskan diatas.

    Artikel anda:
    Bagi anda yang telah bisa memahami, mengapa “pelepasan” ini adalah hal mutlak, maka anda akan dengan sukarela melepaskan genggaman erat anda pada dunia ini, sebab semua hanyalah “kosong”, “rendah”, “derita”, “tidak-kekal”, dan “tanpa-diri”.

    Mengapa? Karena kosong sepertinya mengarah pada salah satu alam yaitu Akincannayatana Bhumi (Alam Kekosongan tanpa batas)

    Saya punya perbandingan:
    Hukum Kesunyataan atau Kasunyataan?

    Penjelasan:
    1. Hukum Kesunyataan berarti Hukum Kekosongan. Karena Sunya berarti KOSONG.
    Bila kosong, bukankah hukum tersebut ada?
    Menurut saya, KOSONG itu isinya adalah KEKOSONGAN itu sendiri. Jadi tidak ada yg kosong.

    2. Hukum Kasunyataan berarti hukum yang bersifat tanpa inti. Mengapa? Karena Nibbana merupakan Tanpa Inti/Aku, bukan KOSONG.
    Nibbana itu ada Bro.

    Perumpamaan Nibbana itu ada:
    a. Ada sesuatu yg gelap. Mengapa kita tahu bahwa hal itu gelap? Karena kita tahu ada sesuatu yg terang.
    b. Ada sesuatu yg menderita. Mengapa? Karena kita tahu ada yg terbebas dari Penderitaan.
    c. Ada sesuatu yg berkondisi (sankhata). Berati ada sesuatu yg tidak berkondisi (ashankata).
    d. Ada sesutu yg disebut duniawi (lokiya) berarti ada sesuatu yg diatas duniawi (lokuttara/Nibbana).

    Bagaimana respon anda?

    Anumodana
    Ali

  2. tomy said

    postingan yang bagus Mas Ratana

    sungguh suatu yang sangat sulit untuk bisa saya terapkan hanya berhenti pada pemahaman 😥

  3. tomy said

    postingan yang menjawab pertanyaan saya di halaman MENGENAI SAYA

  4. Dear Bro WLS ,

    Bro, penggunaan kosakata KOSONG saya pakai, karena mengacu pada penjelasan Bhante Narada Mahathera dalam bukunya “Sang Buddha dan Ajaran-ajaran-Nya”. Disana dijelaskan bahwa arti DUKKHA adalah =

    DU = rendah
    KHA = kosong.

    Jadi, dunia ini adalah Dukkha, karena rendah, dan kosong dari keabadian, kosong dari kebahagiaan sejati ( disamping tentunya penjelasan dukkha sebagai “ketidakpuasan”, “derita”, dan lain2 ).

    Tapi terimakasih atas masukannya Bro. Saya sangat senang jika ada yang mengoreksi tulisan2 saya bila memang ada kekeliruan.

    Mengenai Nibbana itu ADA. Bagaimana dengan penjelasan Sang Buddha, bahwa Nibbana itu tidak dapat dikatakan ? “Ada” tidak tepat, “Tidak-Ada” juga tidak tepat ?

    Namun, jika dalam pengertian Nibbana itu ADA sebagai Jalan Keluar dari samsara, saya sependapat Bro. Juga penjelasan anda diatas ( ada sesuatu yang duniawi, berarti ada sesuatu yang diatas duniawi [Nibbana] ), saya sangat sependapat. Jika Nibbana tidak-ada, maka tidak ada jalan keluar dari samsara ini.

    @mas Tomy ,
    Semoga postingan diatas bermanfaat Mas, bagi perkembangan spiritual kita bersama.

    Peace & Love

  5. Nderek ngaji di sini..waah adem, tentrem, ayem. Terimakasih mas Ratana. Di sini penuh nilai universal. Boleh dikatakan semua agama adalah sama, mengajarkan kebaikan dan bagaimana manusia meraih kemuliaan hidup dunia dan setelah ajal tiba. Bukankah “surga” dan “neraka” tidak ditentukan oleh bagaimana manusia menamai tuhan, bagaimana menyebut tuhan. Melainkan bagaimana dan apa yang dilakukan/diperbuat oleh manusia kepada sesama, kepada alam semesta dan kepada seluruh makhluk. Bila manusia bingung memilih mana yang benar, maka cukup berbuatlah kebaikan kepada sesama. Dan mengendalikan nafsu negatif adalah salah satu dari kebaikan itu.

    salam asih asah asuh

    • Dear Mas Sabda 😉

      Mas Sabda, jika belum bisa melenyapkan total , ya memang bener seperti pandangan njenengan, sebaiknya dikendalikan dengan baik mas 😉

      Mas Sabda, Sang Buddha bersabda, ada tiga jenis teratai =

      “ … beberapa teratai yang terlahir dan tumbuh di dalam air itu [1] terendam di dalam air tanpa bisa muncul keluar dari air ; dan beberapa teratai lain yang rerlahir dan tumbuh di dalam air itu [2] muncul menempel ke permukaan air ; sedangkan beberapa teratai lain yang terlahir dan tumbuh di air itu [3] muncul keluar dari air dan berdiri tegak, tak basah oleh air.” [Ariyaperiyesana Sutta ; Majjhima Nikaya ]

      Dalam kaitan dengan pelenyapan nafsu, maka hal itu menggambarkan tiga jenis manusia, yang pertama menggambarkan manusia yang masih mengumbar hawa nafsu, yang jenis kedua menggambarkan yang mulai belajar mengendalikan hawa nafsu, yang jenis ketiga adalah jenis yang begitu mendengar Sabda Sang Buddha untuk melenyapkan nafsu, dia akan seketika itu juga bisa melenyapkan nafsu indriya bagaikan membasmi kuman hingga ke benih-benihnya.

      Mas Sabda, yang penting, jangan menjadi manusia yang diliputi kebodohan batin dengan memegang pandangan

      Nafsu indriya bukanlah penghalang pencapaian pembebasan. Manusia yang melenyapkan nafsu indriya sama saja dengan manusia mati, tidak hidup. Kita bisa menikmati kepuasan nafsu indriya tanpa terikat kepadanya. Setelah mati nanti baru kita bebas dari nafsu

      ( Setelah mati nanti baru kita bebas dari nafsu ? Pernyataan seorang pengkhayal 😉 Setelah mati, semua makhluk bertumimbal lahir kembali, sesuai dengan kamma-nya masing-masing. Yang penuh nafsu, ya terlahir di alam kamadhatu, bisa di neraka, binatang, alam hantu, setan, jika kamma baik mencukupi bisa lahir di alam manusia, bahkan bisa hingga ke alam-alam surga kamadhatu, yang penuh bidadari2 cantik, air susu mengalir di sungai-sungainya. )

      Mas, banyak orang memposisikan dirinya Guru spiritual, tapi berpandangan seperti tersebut diatas mas. Sesungguhnya, seorang guru yang seperti ini, ketika ia menuntun murid-muridnya, bagaikan orang buta menuntun orang buta . Orang yang sama-sama buta akan jalan-keselamatan, menuntun orang-orang yang sama butanya. Orang yang belum “terang”, mana mungkin memberi “penerangan” kepada makhluk-makhluk yang masih di dalam “kegelapan” ? 😉

      Semoga, kita semua tidak termasuk golongan-golongan ini ya mas 😉

      Maturnuwun 😉

      Peace & Love mas Sabda

  6. CY said

    Melepaskan Genggaman Pada Dunia menurut saya harus dipersiapkan di tiga masa, yaitu sebelumnya – sesudah – yang akan datang. Kenapa begitu? Misalnya kehidupan sekarang ini kita adalah perumah-tangga, dimana bentuk tanggung jawab kita terhadap keluarga dan anak-anak bisa kita tinggalkan begitu saja utk menuju Nibbana??

    Itu sebabnya menurut saya harus dipersiapkan, jgn sampai ada yg menderita krn kita lepaskan begitu saja “genggaman” kita.

    ##Salam Damai##

    • Dear Ko CY 😉

      Iya Ko, itu sebabnya, diri kita sendiri ini adalah AJANG BERLATIH ( Yoga-Bhumi ).

      Pencerahan Sempurna, Pembebasan dari samsara, tidak bisa kita tempuh dengan mudah bagaikan menjentikkan jari. Jika dalam kehidupan sekarang ini belum bisa terbebas dengan sempurna , maka kita lanjutkan latihan kita pada kehidupan berikutnya.

      Pencerahan bukan masalah pencapaian kemampuan batin yang kesemuanya tidak berharga, namun pencerahan adalah bagaimana kita menembus semua kasunyataan, hingga kita benar-benar bisa lepas-bebas dari kungkungan arus samsara. Hancurnya nafsu, kebencian, dan kebodohan batin. Merealisasi yang Adi-Duniawi, Yang-Tidak-Tercipta, Tanpa-Kematian, Kebahagiaan-Sejati ; NIBBANA.

      Peace & Love Ko CY

  7. pamuji rahayu..,

    terima kasih atas pencerahannya kangmas Ratana… ternyata menjadikan kita orang yang tidak mau shamsara sulit ya…, harus benar – benar tidak punya hasrat duniawi…, benar benar orang yang harus meloloskan semua simbol keakuan..kepentingan diri pribadi.

    Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari penderitaan, bebas dari kebencian/permusuhan/pertentangan/niat jahat, bebas dari kesakitan, bebas dari kesukaran, semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaan mereka masing-masing” )

    salam sihkatresnan

    rahayu..,

    • Pamuji Rahayu, Kangmas Hadi Wirojati 😉

      Maturnuwun atas harapan2 bagi semua makhluk yang anda uncarkan.

      Semoga artikel saya kali ini bermanfaat bagi perkembangan spiritual kita bersama.
      Semoga, kita semua terbebas dari kebodohan batin , semoga kita semua bisa mengenali dan menghindari bahaya-bahaya dari nafsu indriya dan pemuasannya, yang hanya akan mengikat erat kita di dalam samsara mas.

      Salam Sihkatresnan,
      Rahayu… .

  8. m4stono said

    salam kenal
    wah menarik sekali blog ini, saya juga pingin mempertemukan ajaran islam yg saya anut dgn ajaran budha, pada dasarnya sama cuma sudut pandangnya yg beda

    wasalam

    • Dear Mas M4stono 😉

      Terimakasih sudah mampir ke blog saya mas.

      Wah, saya juga tertarik dengan pandangan anda mas, mempertemukan ajaran islam yang anda anut dengan ajaran Sang Buddha. Mari mas, silakan di share disini mas. 😉

      Peace & Love

    • To: M4stono

      Kalau boleh saya koreksi sedikit tentang kata Budha…

      Bro ngetik Buddha pakai double d (dd) sebab kalo Budha artinya hari ke 3. Masa agama Hari Ke Tiga.

      Yg benar adalah Buddha yg artinya, Pencerahan.

      Thank’s
      Ali

  9. KangBoed said

    hehehe… brooooot.. her ku chayank.. kangeeeen neeeh.. jadi pengen nyanyi.. lagu jaduel baiiis.. kita mesti telanjang dan benar benar bersih.. suci di dalam lahir dan batin.. *by Ebiet G Ade*..
    Salam Sayang
    Salam Kangen
    Salam Rindu.. untukmu.. 😆

    *nyengir keledai* :mrgreen:
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear Brother KangBoed 😉

    Iya, lama gak mampir2 kesini bro.

    Aduh, tapi jangan telanjang disini bro, nanti kena UU Pornografi , hehehe… 😉

    Peace & Love Brother… 😉

  10. Sedikit kepuasan, banyak penderitaan. Saudara-saudari, bila kita belum bisa menembus dengan jauh [hingga ke beberapa kehidupan lampau kita] hakekat dukkha yang diakibatkan oleh nafsu-indriya, maka, kita setidaknya bisa me”review” perjalanan hidup kita yang sekarang ini. Dalam Alagaddupama Sutta , Majjhima Nikaya, Sang Buddha menyatakan bahwa kesenangan-kesenangan indera memberikan sedikit saja pemuasan, namun di sisi lain justru memberikan banyak penderitaan, banyak keputus-asaan, dan betapa besar bahaya di dalam hal-hal tersebut [pemuasan indera dan akibat-akibatnya ].

    Ketika nafsu-indriya muncul, ia sudah menimbulkan penderitaan, karena ia “mencambuk-cambuk” batin kita, seakan-akan mengendalikan batin kita [bagi manusia-manusia biasa yang masih belum terbebas dari nafsu indriya] supaya segera mencari jalan menemukan pemuasan nafsu-indriya tersebut.

    Ketika “objek” pemuasan nafsu indriya ini muncul, kita kembali ber”dukkha”. Sebab, saat mendapatkannya, kita khawatir suatu saat kehilangan. Kita khawatir “objek” ini kelak dicuri orang lain, kita khawatir bila sampai kita berpisah dari “objek” ini. Juga, ternyata setelah kita “menggenggam” objek pemuasan indriya ini, ternyata tidak seindah yang dibayangkan dulu kala saat mulai munculnya nafsu indriya. Ternyata, “objek” tersebut tidak juga sempurna memberikan kebahagiaan sejati bagi batin kita.

    Terakhir, dukkha akan semakin menjadi-jadi saat kita benar-benar berpisah dengan “objek” pemuasan nafsu-indriya kita. Karena kemelekatan kita yang begitu kuat, kita bersedih telah kehilangan”nya”. Mengenai keresahan-keresahan yang disebabkan objek-objek indriya ini, Sang Buddha bersabda :

    “… seseorang berpikir demikian : “Aduh, dulu aku memilikinya! Aduh, kini aku tidak memilikinya lagi! Aduh, semoga aku memilikinya! Aduh, aku tidak mempunyainya sekarang!” Maka dia bersedih hati, menangis, dan meratap. Dia meraung-raung memukuli dadanya dan menjadi putus-asa. … .” [Alagaddupama Sutta ; Majjhima Nikaya ]

    Keterikatan kita terhadap nafsu-indriya [ tanha ] inilah, yang menyebabkan kita senantiasa bertumimbal-lahir. Kehausan kita terhadap nafsu-indriya dan pemuasannya, inilah “Avijja” ; Kebodohan-batin. Avijja ini sebab utama kita senantiasa bertumimbal lahir, berkelana dalam samsara. Karena kita tidak bisa melihat adanya ; 1. Dukkha, 2.Sebab dari Dukkha, 3.Berakhirnya Dukkha, dan, 4. Jalan menuju berakhirnya dukkha, maka dari itu kita benar-benar “BODOH”. Inilah yang dimaksud dengan Avijja.

  11. Kebodohan batin ini semacam ketololan seorang penjudi yang tidak bisa melihat bahaya dari perjudian, betapa besar penderitaan yang diakibatkan dari perjudian tersebut. Kebodohan batin ini juga semacam ketololan seorang laki-laki yang tergila-gila kepada seorang perempuan penzinah yang menguras harta kekayaannya dan berselingkuh dibelakangnya. Meskipun banyak orang telah memberitahukan kepada laki-laki ini perihal perempuan penzinah tersebut, namun ia tidak peduli, karena hatinya telah dibutakan oleh kecantikan dan kemolekan tubuh perempuan tersebut. Inilah kebodohan-batin ; batin yang tidak bisa melihat dan menembus hakekat sejati dari segala sesuatu apa-adanya, batin yang terperdaya oleh perangkap-perangkap yang penuh penderitaan.

  12. Tedy said

    Salam damai dan sejahtera utk semua makhluk!

    To : Rekan2 se-dhamma

    Mohon maaf sebelumnya atas pertanyaan saya. Apakah perbedaan antara Lama dgn Rinpoche? Dalam tradisi Buddhis Tantrayana (tibet), apakah benar seorang Lama masih boleh melakukan hubungan seksual atau bahkan memiliki istri…??? Jika benar, mengapa demikian? Bukankah “semakin banyak yg dilepas, maka semakin bebas dan bahagia”. Terima kasih

    Semoga semua makhluk berbahagia!
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear Tedy 😉

    Wah , adakah rekan2 yang bisa bantu memberi jawaban ? Saya kurang memahami tradisi Buddhis-Tantrayana, daripada nanti salah jawab 😉

    Anumodana,
    _/\_

    • Tedy said

      To : Bro Ratana

      Menurut anda, mana yg harus dilenyapkan terlebih dahulu, 10 belenggu atau nafsu indiya…??? Anumodana

      With metta,
      Tedy _/\_
      ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
      Dear Teddy 😉

      Nafsu indriya, adalah termasuk dalam sepuluh (10) belenggu / dasa-samyojana ; yaitu pada belenggu keempat : KAMACCHANDA / KAMARAGA [keinginan terhadap pemenuhan/pemuasan nafsu-nafsu indriya].

      Jadi, dengan mematahkan kesepuluh belenggu, otomatis kita sudah termasuk melenyapkan nafsu indriya.

      Siapapun kita, baik seorang Bhikkhu maupun upasaka/upasika , yang setelah bertekun dalam Dhamma , menempuh “Jalan Ariya Beruas Delapan” dan kemudian telah mampu memecahkan ketiga belenggu tersebut diatas (1) sakkaya-ditthi, (2) vicikicchã, dan (3) silabbata-parãmãsa, ditambah telah melemahkan kedua belenggu berikutnya, yaitu : (4) kãma-rãga dan (5) vyãpãda, maka anda adalah seorang “Sakadagami-Magga-Phala” ; anda adalah seorang “YANG KEMBALI SEKALI LAGI”. Disebut “Yang-Kembali-Sekali-Lagi”, karena kita paling banyak akan terlahir satu (1) kali lagi sebagai manusia untuk menuntaskan mematahkan kesepuluh belenggu ( sebagai kesinambungan jalan yang kita tempuh ) dan mencapai pembebasan-sempurna dari samsara, mencapai tingkat “Arahatta-Magga-Phala”.

      Penjelasan lebih lengkap lihat di artikel ini ; “TANDA-TANDA PENCERAHAN”

      Untuk rekan-rekan se-Dhamma, jika ada kesalahan dalam penyampaian saya, mohon koreksinya.

      With Metta 😉

  13. KangBoed said

    hehehe… broooot..herku chayaaaaank.. makanya para SUFI ,e,ilih jalan fakir.. fakir bukan berarti miskin tetapi.. menyimpan dunia di bawah telapak kakinya.. sedangkan hatinya tertuju pada Tuhan saja.. merasa cukup dengan Tuhannya..
    Salam Sayang..
    Salam Rindu untukmu.. 😆 :mrgreen: 😆
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Salam Damai untukmu, Brother 😉

  14. buddhi said

    Kita memang ga bisa mengabdi kepada dua tuan,manusia yg wajar,ga akan bisa mempunyai rasa ingkar mengingkari dalam hatinya di waktu yg tepat bersamaan.Hidup harus memilih,kesana atau kesini.Tetapi sekalipun begitu,tetap saja di awal perjalanan kita,dimana kita,(yg sekalipun sudah membaca dongeng tentang TERANG,lalu mengangan-agankan TERANG itu dengan gambaran angan2 kita masing2 ) masih diliputi oleh kegelapan dan ketidak mengertian,karenanya masih bisa dipermaklumkan jikalau masih senantiasa “sanggup” berjalan di dua jalan yg bertentangan.Kita masih menghidupi 2 hal yg sesungguhnya ingkar mengingkari dalam kenyataannya,dimana apa yang kita pikirkan,kita ucapkan dan kita jadikan ideal hidup kita itu masih bertentangan jauh dengan apa yg kita perbuat dalam hidup nyata sehari-hari.Di awal jalan,kita masih tega untuk berlaku munafik yaitu berkata hendak kesana,berpikir hendak merdeka tapi kenyataan hidupnya masih terbuai oleh keadaan disini dan disadari atau tidak,diakui atau tidak,masih terus mengikatkan diri semakin erat lagi dengan sarwojanmabandana/segenap bebandan (belenggu keterikatan).

    Tetapi memang,manusia memiliki 2 kaki terkecuali bagi mereka2 yang sudah sampai batas kepala,tidak ada dua pusat ubun2 kepala.Mau tidak mau,pada akhirnya kelak,kita semua harus berani memilih untuk tertuju kepada SATU,”ini ya ini,ga bisa yang itu juga mau “,entah di waktu kapan dan dimana.

    Salam
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Dear mas Buddhi ,

    Maka dari itu, Mas Buddhi, Sang Buddha mengajarkan satu rangkaian latihan :
    SILA –> SAMADHI –> PANNA

    Pertama-tama kita harus melatih SILA.
    Sila untuk ummat awam hingga para Upasaka/Upasika, seperti umumnya ummat Buddha sudah tahu, adalah PANCASILA.

    Tapi, alangkah sebaiknya memang ummat awam hingga para Upasaka/Upasika meningkatkan latihan sila-nya hingga ATTHANGASILA atau DASASILA.

    Saya sendiri, SILA saya adalah PANCASILA, namun dengan “modifikasi”, yaitu SILA ke-tiga dari PANCASILA itu saya “teguh”kan , saya ganti dengan sila ke-tiga dari ATTHANGASILA , yaitu :

    “ABRAHMACARIYA VERAMANI SIKKHAPADAM SAMADIYAMI”
    [ Aku bertekad melatih diri menghindari perbuatan tidak suci ]

    Sehingga, dengan sila itu saya merawat dan menjaga kehidupan selibat mas, sebaik-baiknya saya arahkan senantiasa pada kehidupan-suci.

    Pada hari uposatha, baru saya melaksanakan atthangasila dengan lengkap.

    Peace & Love , mas Buddhi

  15. Dear All 😉

    Penembusan akan empat kesunyataan mulia ( dukkha, sebab dari dukkha, berakhirnya dukkha, dan jalan menuju berakhirnya dukkha ) , dan saat seseorang mulai “melihat” Nibbana, akan menyebabkan orang yang menembus dan melihat itu mulai berjuang melenyapkan penderitaan dan meraih kebahagiaan sejati ; kebahagiaan-adi-duniawi ; Berjuang mengikis kilesa.

    Pengetahuan dan kebahagiaan yang ia peroleh, akan ia rasakan sendiri, tanpa ada orang lain yang [perlu] mengetahui. Hanyalah manusia-manusia yang lebih tinggi darinya, orang-orang suci yang berada di tingkat diatasnya yang telah mengerti, apakah seseorang telah “melepas” dan “mendapat-manfaat-dari-melepas” atau belum.

    Mettacittena,
    _/\_

  16. wira jaka said

    Salam mas Ratana ….

    wah saya sampai ga bisa koment, sudah di wakili oleh ko CY, sama persis dengan yang ada di pikiranku …

    yah, pantesan mas Ratana sudah ga tertarik sama macan tutul ….

    terima kasih atas pencerahannya.

    salam,

  17. Dear mas Wira Jaka 😉

    Berlatih melenyapkan nafsu indriya mas, itu yang saya lakukan ; didasari kesadaran, suatu masa penderitaan yang panjang akibat terombang-ambing nafsu dan pemuasannya.

    Terimakasih sudah sudi mampir disini ya mas 😉

    May All Beings Be Happy

  18. CY said

    @WiraJaka
    Ha..? Macan tutul? Manis-cantik bentul-bentul apa gimana bro? hahaha…

    **pura-pura naif** :mrgreen:

  19. Hmmm…
    Harus pelan-pelan membaca pembelajaran dari kang Kumaro ini.
    Alon-alon ning KELKON…haaaaaaaa…

    Lungguh ndheprok…sambil mencermati…

    Kang Boed ojo ganggu aku dhisik yoh Kang, lagi menyimak wejangane Kang Kumaro….haks..haks..

    Muantep tenan iki

    Salam…Salim…Rahayu…
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear Mas Santri Gundhul 😉

    Selamat datang mas, sumangga… Semua wacana disini, bertujuan mengajak kita semua untuk mencapai “Pembebasan-Sejati” dari samsara 😉

    Peace & Love, mas Santri Gundhul

  20. KangBoed said

    Banyak sekali manusia manusia hidup melupakan ketenangan Jiwa.. padahal ketenangan Jiwa adalah pembuka pintu ketuhanan.. Mari jangan terjebak.. raihlah Jiwa Jiwa yang tenang.. eeeeeeee.. ngomong apa yaaaa brooooooot..herku sayaaaaaaaaaang.. mudah mudahan my braaa..thar setuju…
    Salam Sayang
    Salam Rindu untukmu :mrgreen:

    http://kangboed.wordpress.com/2009/06/04/zombie-mayat-hidup/

  21. zal said

    ::mohon maaf Mas Ratanakumaro, mohon izin berkomentar ya.., mengenai pendiskreditan atas judi dan wanita dalam bentuk jahat, dan melepaskannya merupakan perpindahan dari bentuk jahat ke bentuk baik menurut pandang kita, benar dalam bentuk kasar namun “good not enaugh” demikian sebauh kalimat populer..
    Bagi Pejalan menuju buddha, maka makna kias meski ada wujud permainannya mestinya tidak sekedar terbaca dalam bentuk, judi adalah suatu permainan peruntungan, jika beruntung maka untungnya sangat besar tergantung keberaniannya dalam mempertaruhkan sesuatu, atau bisa jadi dengan modal kecil tiba-tiba beroleh jack pot…horeee, demikian juga bentuk jalan, sering dalam sebuah film silat kuno digambarkan seorang melangkah padahal dihadapannya jurang menganga, hanya dengan tekad bulat tiba-tiba terbentang jembatan ghaib dikakinya dan diapun berjalan dengan enteng menuju seberang, tidakkah terbaca bentuk judi dilangkahnya.

    sedang wanita adalah lambang keindahan dan kelembutan, jika pergi kepada wanita Tuna susila, maka hanya short time tanpa kasih yang berlangsung, namun jika hadir kasih dalam dirinya, dan memadu kasih yang terjalin akan akan ditemukan kelembutan disana, demi sebuah dunia baru yang bernama rumah tangga dan keturunan yang elok…, segala sesuatu Tuhan ciptakan untuk menemukan petunjuk menujuNYA, segala sesuatu juga hidup pada saat petunjuk ditebarkannya, dan segala sesuatu mati jika adanya tak memberi kesan apapun…

    mohon maaf sekali lagi, jika seseorang atau sekumpulan orang mdipertemukan jalan cahaya, tiada lagi batas jarak antaranya bak PBB yang dapat masuk kemanapun sebab mereka berada diatas segala negara..bukan begitu..?

    • Dear mas Zal 😉

      Perkenankan pula saya menjawab/menanggapi komentar anda ya mas 😉

      Mas Zal , Berjudi, adalah expresi/realisasi dari bentuk-bentuk pikiran yang tidak baik ( akusala-cetasika ), yang didasari oleh keserakahan (lobha )dan kebodohan-batin (moha).

      Sebagaimana diketahui secara umum oleh semua siswa-siswa Sang Buddha, tujuan dari seorang siswa Sang Buddha adalah mengikis / melenyapkan Lobha (keserakahan), Dosa (kebencian/kemarahan), dan Moha ( kegelapan/kebodohan-batin ).

      Sehingga, perjudian pun [mutlak] harus disingkirkan dari kehidupan seorang siswa Sang Buddha.

      Mengenai perempuan/wanita. Hal ini memang sangat susah dijelaskan mas.
      Jika membahas hukum Kamma [karma], maka seseorang terlahir sebagai manusia berjenis kelamin wanita/perempuan itu karena memiliki sebab-sebab kamma tertentu [tidak saya bahas dulu, karena akan terlalu panjang].

      Kemudian, jika membahas ti-lakhana ; ANICCA (tidak-kekal), DUKKHA ( derita ), ANATTA ( tanpa-diri ), maka semua hal di dunia ini, di dalam samsara ini, adalah anicca, dukkha, anatta. Dan segala hal yang seperti ini, tidak layak diinginkan, tidak layak dimiliki.

      Namun pelenyapan nafsu indriya terhadap kenikmatan hubungan sexual dengan lawan jenis memang hal yang sangat susah dipahami / diterima mas Zal. Saya pahami itu, dan membahas hal ini menurut saya, bahkan tidak akan cukup jika dibahas dalam hitungan TAHUN, 70 tahun sekalipun tidak akan cukup, kecuali seseorang telah memiliki benih-benih kamma untuk menempuh kehidupan-suci yang lepas-bebas dari nafsu-indriya.

      SHARING:

      Mas Zal, sayapun, dulu ketika remaja, pernah BERPACARAN. Bahkan saya telah berpacaran sebanyak TUJUH-KALI dengan TUJUH PEREMPUAN yang berbeda-beda, dan semuanya cantik-cantik + seksi-seksi mas ( sesuai standard ukuran penilaian anak2 remaja borju/gaul saat itu) . 😉

      Namun, pada titik-kulminasi saya, saya teringat pada tekad saya ketika berusia 13 tahun, untuk hidup selibat dalam kehidupan yang sekarang ini. Dan, selama [sebanyak] tujuh-kali pacaran, justru semakin saya menyimpulkan, KESENANGAN-INDRIYA tidaklah-kekal, bersifat sementara, dan karena itu dukkha, dan pada akhirnya : AN-ATTA. Dari situ, saya pun semakin yakin, bahwa KEBAHAGIAAN-SEJATI tidak akan pernah bisa kita dapatkan dari semua hal duniawi apapun juga. KEBAHAGIAAN-SEJATI ini bersifat ADI-DUNIAWI, DILUAR-DUNIAWI, DIATAS-DUNIAWI. Sejak saat itu saya semakin teguh menempuh jalan kehidupan spiritual , hidup selibat hingga sekarang ini.

      Mas Zal, seperti yang mas Zal sudah ketahui sendiri, bahwa :

      Pencerahan bukan ditandai dengan KEMAMPUAN MELIHAT AURA.
      Pencerahan bukan ditandai dengan PENGETAHUAN NEPTU / HARI-HARI BAIK.
      Pencerahan bukan ditandai dengan KEPEMILIKAN BENDA-BENDA GHAIB.
      Pencerahan bukan ditandai dengan KEMAMPUAN MELIHAT HANTU atau PARA DEWA

      Tapi pencerahan adalah ketika kita menembus semua kegelapan, menembus hakekat segala sesuatu, membongkar ilusi, dan mengakhiri penderitaan berkepanjangan dalam samsara ; pembebasan-sempurna

      Bener begitu kan mas Zal ?.

      Emm…, Saya juga bukan seseorang yang telah mencapai pencerahan-sempurna, tapi sedang berjuang menuju kearah-sana mas.

      Jadi, yah , ini sekedar sharing dari sesama pejalan-spiritual, mekaten to mas 😉

      Semoga diskusi ini bermanfaat bagi kita semua, didasari dengan niat yang baik, dengan tujuan menemukan pemahaman bersama.

      Maturnuwun sanget mas Zal, atas komentar anda di blog ini, yang memicu sebuah diskusi mendalam dan sangat menarik 😉

      Peace & Love, Mas Zal

  22. KangBoed said

    waaaaah.. menarik neeee.. diskusinya poro mBaaah.. biar ci botol kosong ikutan nongkrong yaaaaa.. walau cuma bisa dengerin mudah mudahan kebagian ilmu dari poro mbaaaah..
    tanya mbaaaah Ratana Kumara..
    Tapi pencerahan adalah ketika kita menembus semua kegelapan, menembus hakekat segala sesuatu, membongkar ilusi, dan mengakhiri penderitaan berkepanjangan dalam samsara ; pembebasan-sempurna

    Nah apakah -pembebasan sempurna itu MOKSA.. atau ada sebutan lainnya.. terus bagaimanakah caranya soalnya saya masih senang gelap gelapan di kamar.. :mrgreen:

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang

    • Dear Brother Boed 😉

      Selamat-datang brother…,selamat datang…, silakan duduk yang nyaman 😉

      Pembebasan-sempurna itu adalah saat merealisasi NIBBANA / NIRVANA. Dan realisasi Nibbana/Nirvana ini berbeda dengan MOKSA sebagaimana diajarkan oleh kaum Brahmana [Ajaran Brahmanisme] dan berbeda juga dengan ajaran Hindu-Dharma.

      Penjelasan singkatnya begini :

      1. MOKSA
      Moksa adalah suatu kepercayaan adanya kebebasan yaitu bersatunya antara atman dengan brahman. Kata kuncinya, ada “ATMAN” ( Jiwa/Roh-Kekal ) , dan ada “BRAHMAN” ( Sang-Maha-Pencipta, Sang-Maha-Kuasa ).

      2.NIBBANA/NIRVANA
      Nirvana, berasal dari dua suku kata :
      a). NI, berarti negasi / negatif, tanpa ;
      b). VANA, berarti jalinan nafsu keinginan.

      Sehingga NIRVANA , secara harafiah adalah : TANPA-NAFSU-KEINGINAN. Nirvana ini lokuttara-dhamma ( diluar-duniawi ).

      Arti luas dari Nirvana adalah suatu kondisi batin diluar duniawi ( lokuttara dhamma ) yang penuh kebahagiaan sejati, kekal abadi, dan tanpa jalinan nafsu keinginan yang mendera.

      Bila semua bentuk keinginan dibasmi, daya kemampuan Kamma/Karma berhenti bekerja, dan seseorang telah mencapai Nirvana / Nibbana ini, maka ia terlepas dari lingkaran kelahiran dan kematian.
      Nirvana / Nibbana diterangkan sebagai pemadaman api keserakahan ( Lobha ) akan keindriyaan, kebencian ( Dosa ), dan Khayalan / kebodohan-batin ( Moha ).

      PERBEDAAN :

      Dalam MOKSA, dimengerti adanya ATMAN dan BRAHMAN. Brahman, dalam hal ini adalah MAHA-BRAHMA, yaitu yang disebut sebagai Tuhan Yang ” Maha….”.

      Maha-Brahma ini hidup di alam Rupa-Dhatu. Dia adalah pemimpin dari semua Dewa alam Kamadhatu ( alam surga yang penuh kesenangan indriya ) dan pemimpin Dewan serta para Menteri Brahma. Usia Maha-Brahma ini adalah 1 Asankheyya-Kappa [ Satu ( 1 ) Asankheyya Kappa, oleh para sarjana dinyatakan, bila dialjabarkan sama dengan 10 pangkat 14 ]

      Nah, dari sini terlihat, bahwa MOKSA yang dituju adalah MENYATUNYA-ATMAN-BRAHMAN, atau dalam masyarakat Jawa dikenal dengan “MANUNGGALING-KAWULA-LAN-GUSTI”.

      Maka, ini jelas berbeda dengan realisasi NIBBANA dalam Buddhisme. Karena, realisasi NIBBANA, BUKAN MERUPAKAN MANIFESTASI DARI MENYATUNYA-ATMAN-DENGAN BRAHMAN. Tetapi PENGHENTIAN dari Lobha ( keserakahan akan keindriyaan ), Dosa ( kebencian/kemarahan ), Moha ( kebodohan/kegelapan batin ). NIBBANA, sudah lepas dari 31 alam kehidupan, sedangkan MOKSA , masih dalam alam penjadian, alam keberadaan, belum pada penghentian.

      Karena, “Gusti” ( yang dituju dalam MENYATUNYA-ATMAN-DENGAN-BRAHMAN [Manunggaling-Kawula-Lan-Gusti ] ) ini masih hidup di salah satu dari ke-31 alam kehidupan, tepatnya di alam Jhana I ( Rupa-Dhatu ).

      Perbedaan pertama dan utama, NIBBANA ini bersifat : AN-ATMAN ; TANPA-DIRI, BUKAN-ROH-KEKAL.
      Sedangkan MOKSA, bersifat : ATMAN, dan menuju penyatuan dengan BRAHMAN ( Maha-Pencipta ).

      “Ada Jalan, tapi tidak ada yang menempuhnya ; Ada Nibbana, tapi TIDAK-ADA yang memasukinya”, Demikian sabda Sang Buddha.

      NIBBANA, adalah lokuttara-Dhamma, yaitu seperti yang sudah saya nyatakan tadi, diluar 31-alam kehidupan ( Untuk lebih jelas mengenai 31-alam kehidupan, silakan baca di artikel ini.

      MOKSA, masih dalam lingkup KEBERADAAN.
      NIBBANA, diluar ADA dan TIDAK-ADA. ( ADA, tidak tepat, TIDAK-ADA juga tidak tepat. )

      Sang Buddha bersabda :

      “ Tak dapat dinilai mereka yang telah pergi, yang oleh seseorang mungkin dikatakan sebagai Tidak Ada Lagi.
      Ketika semua fenomena telah tiada, semua cara untuk menggambarkannya juga tiada.

      MOKSA, masih BERKONDISI ( Samkhata ); karena masih berada dalam lingkup 31 alam kehidupan.
      Sedang NIBBANA, sudah TIDAK-BERKONDISI ( Asamkhata ), karena lepas dari 31 alam kehidupan.

      Demikian secara singkat Brother, untuk menjelaskan perbedaan MOKSA menurut ajaran kaum Brahmana dengan realisasi Nibbana/Nirvana dalam ajaran Buddha.
      ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

      terus bagaimanakah caranya soalnya saya masih senang gelap gelapan di kamar.. :mrgreen:

      JAWAB :

      Nirvana / Nibbana diterangkan sebagai pemadaman api keserakahan ( Lobha ) akan keindriyaan, kebencian ( Dosa ), dan Kegelapan / kebodohan-batin ( Moha ).

      “ Seluruh dunia terbakar,” Kata Sang Buddha. “ Dengan api apa dunia tersebut dinyalakan ? Dengan api nafsu keinginan, kebencian dan khayalan; dengan api kelahiran, usia tua, kematian, penderitaan, keluhan, kesakitan, kesedihan dan keputus-asaan dunia dinyalakan”.

      Nibbana, dalam satu segi, diterjemahkan sebagai pemadaman dari api-api ini ( Lobha, Dosa, Moha ). Nibbana bukanlah “ tidak ada apa-apa “, melainkan pemadaman dari kesemua api tersebut diatas.Pemadaman dari api-api ini adalah cara satu-satunya, jalan tunggal, untuk mencapai Nirvana / Nibbana. Pemadaman api-api itu hanya bisa dilakukan dengan menapaki Jalan “Ariya-Atthangika-Magga” / “Jalan-Ariya-Beruas-Delapan” yang ditunjukkan Sang Buddha.

      Demikian Brother Boed.

      Hmmm… ini saya berikan menu special Brother ;). Nggak apa2 kan Bro ? Mungkin sedikit ada pahit2nya, tapi enak kok, heheh.. 😉

      Sekali-sekali Brother, merasakan “suguhan” dari rumah makan “Ratna-Kumara” ini yang bersajikan racikan dari resep2 Sang Buddha 🙂

      Thank You brother, atas atensi anda, dan atas sebuah diskusi yang menarik dan cantik ini 😉

      Peace & Love, brother Boed

    • KangBoed~RE said

      hehehe.. my brathaaaaaaaar ada beberapa pertanyaan yaaa :
      1. Tuhan Yang ” Maha….”.Maha-Brahma ini hidup di alam Rupa-Dhatu. Dia adalah pemimpin dari semua Dewa alam Kamadhatu .. berarti di ibaratkan Gusti Allah itu ibarat Rajanya para Dewa yang duduk disinggasana.. kalau dalam pewayangan.. Brahman ini adalah batara Guru.. disana masih ada Sang Hyang Ismaya.. dan begitu banyak Sang Hyang yang mengisi dimensi ke tujuh.. dan mereka menggambarkan Gusti Allah meliputi semuanya yang berwujud dan tiada berwujud.. bahkan dalam tata cara berdoa dari Sang Hyang.. menghormati adaaab.. nah dari beberapa yang saya ketahui kok ada keganjilan dengan yang dijabarkan.. mengenai sang brahman.. yang disebut Tuhan Yang Maha.. sementara Rajanya para dewa saja selalu menunggu petala langit.. tolong dijelaskan broooooo..


      DIJAWAB =

      Dear Brother Boed… 😉

      Bro, selama ini , masyarakat selalu mencampur-adukkan pengertian.
      Apa yang tidak mutlak, dinyatakan sebagai yang-mutlak.

      Coba brother Boed, menilik kembali kitab-kitab agama-agama Tuhan ( agama langit ). Dan coba , dirangkum semua ciri2 Tuhan yang dinyatakan tersebut.

      Secara ringkas, ciri2 Tuhan, sesuai kitab-kitab agama Tuhan , adalah =
      1. Bisa bicara. Dengan bukti, bisa memberikan wahyu, petunjuk, dll.
      2. Bisa marah. Banyak kitab2 menuliskan, bagaimana Tuhan “MURKA”, karena kelakuan seorang anak manusia.
      3. Mempunyai dendam. Banyak dituliskan, bahwa Tuhan itu dendam kepada ummat-ummat yang berkelakuan tidak sesuai harapannya.
      4. Pencemburu. Tuhan cemburu jika manusia berpaling darinya dan menyembah Tuhan yang lain.
      5. Mempunyai waktu/usia-hidup. Dalam salah satu kitab agama Tuhan, dinyatakan bahwa =

      ” Sesungguhnya SATU HARI SATU MALAM DISISI TUHANMU, SAMA DENGAN SERIBU TAHUN MENURUT PERHITUNGAN MANUSIA “

      Coba , brother selidiki, di alam manakah itu ?
      6. Mempunyai singgasana. Dalam sebuah kitab agama Tuhan, dinyatakan bahwa kelak seorang “utusan” yang dikasihinya, ketika meninggal akan duduk di sisi kanan Tuhan.

      NAH, brother Boed, setidaknya keenam ciri inilah yang menggambarkan TUHAN.
      Sementara, di JAWA ini, dulu tumbuh ajaran BUDDHA yang mengajarkan tentang NIBBANA yang dijelaskan sebagai :

      “Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. … ”

      Lalu disamakanlah oleh orang2 yang tidak mengerti, bahwa TUHAN = NIBBANA ; NIBBANA = TUHAN.
      Padahal, antara TUHAN dengan NIBBANA adalah dua “hal” yang jauh berbeda [!].

      Tuhan itu ya persis seperti keenam ciri2 [minimal] tersebut diatas, yang kesemuanya menunjukkan bahwa TUHAN itu :

      1. Person.
      2. Berwujud.
      3. Punya usia.
      4. Tinggal di suatu alam kehidupan.

      Tuhan masih bisa MARAH, bisa DENDAM, punya rasa CEMBURU, itu artinya dia sendiri : BELUM SUCI ; TIDAK-SUCI. Yang telah suci, sudah bebas dari : keserakahan akan keindriyaan, kemarahan/kebencian, dan kebodohan batin.

      TUHAN TIDAK HANYA SATU, TUHAN LEBIH DARI SATU
      Oleh Sang Buddha, ditegaskan, bahwa pengertian kaum Brahmanisme yang menyatakan bahwa “Maha-Pencipta, Maha-Kuasa…dst.” adalah TUNGGAL, atau SATU, adalah SALAH.

      Sebab, yang dia kira sebagai “MAHA…dst.” sesungguhnya adalah sekumpulan DEWA-DEWA di sebuah alam disana.

      Itu sebabnya, seperti brother gambarkan, ada Bathara Guru, masih ada Sang Hyang Ismaya, dan lain-lain. Nah, GUSTI ” … ” yang brother maksudkan itu, ya termasuk dari salah satunya itu Bro. 😉
      ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

      2. terus bagaimanakah caranya soalnya saya masih senang gelap gelapan di kamar.. :mrgreen:.. hehehe.. jawabannya fiktor brooo.. hihihi.. gelap gelapan di kamar artinya mungkin bisa saja samadhi..

      DIJAWAB =
      Saya rasa, saya gak jawab dan gak menganggap brother fiktor. Coba brother baca lagi jawaban saya. Itulah memang satu-satunya jalan untuk merealisasi pembebasan-sempurna, yaitu melenyapkan / memadamkan lobha ( keserakahan/nafsu-indriya ), dosa ( kemarahan/kebencian ), dan moha ( kebodohan batin ).

      ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

      3. terus mengenai samadhi.. saya mau tanya mengenai loncatan waktu.. apakah kondisi gelap.. hilang semua kesadaran.. entah masih bernafas entah tidak.. seperti pingsan tapi masih duduk tegak.. entah ketiduran 😆 tapi yang jelas badan tiada jatuh.. disebutkan menemukan apa.. tiada menemukan apa apa.. wong engga ingat apa apa.. kondisi apakah itu my brathaaaaaaar.. dikau paling ahli dalam menjelaskan.. pleaseeeee..

      DIJAWAB =

      Seharusnya, bila kita telah mencapai konsentrasi-tercerap ( Jhana ), maka kita bukannya =

      1. Hilang kesadaran, ( tapi justru sangat-sadar, sangat terkonsentrasi ).
      2. Ketiduran, ( karena justru saat itu kesadaran dan konsentrasi kita kian memuncak ).
      3. Tidak ingat apa-apa, ( karena justru saat terkonsentrasi, memori/daya ingat kita sangat prima. Setelah keluar dari konsentrasi-tercerap, kita ingat, bahwa tadi mengalami “sesuatu” hal tertentu (seperti misal rasa kebahagiaan spiritual yang dalam, kegiuran pada objek meditasi, batin terpusat pada objek meditasi, dll. )

      Frekuensi otak manusia saat mencapai konsentrasi-tercerap ini, kata para ilmuwan adalah frekuensi gelombang TETHA ( 10 – 14 Hz ).

      Nah, sepertinya , dari ciri-ciri yang brother sampaikan, [saya khawatir] brother terpeleset pada gelombang DELTA ( 5-9 Hz ).

      Frekuensi Tetha dan Delta hampir sama, yaitu =

      1. Sama-sama tenang,
      2. Sama-sama hening,
      3. Sama-sama damai.

      Bedanya, jika TETHA, kita SANGAT-SADAR, kita tahu sedang apa, batin kita sedang terkonsentrasi-sempurna pada apa, tapi , frekuensi DELTA, kita mengalami kondisi semacam “hilang-kesadaran”, seperti “pingsan/tertidur”, meskipun badan kita tetap dalam posisi meditasi, tidak terjatuh. Frekuensi Delta ini mirip dengan frekuensi otak manusia saat TIDUR TANPA BERMIMPI.

      Nah, silakan Brother Boed melacak lebih jauh, menganalisa lebih jauh, pada frekuensi manakah anda saat itu. Tentunya brother akan bisa menemukan jawabannya sendiri yang lebih pas sesuai yang brother alami saat meditasi. Oke brother ? 😉
      ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
      Thanks my brathaaaaaaaaaaar
      Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang

      DIJAWAB =
      Terimakasih kembali, brother Boed… 😉
      Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang… .

    • KangBoed~RE said

      hehehe.. cape deeeh.. biarlah saya tutup diskusi mengenai ketuhanan.. karena panjaaaaaaaang dan lebaaaaar.. tiada akhir.. biarlah kita kembali kepada pemahaman masing masing.. hehehe.. walau dulu saya pernah panjang bicara dengan pendeta budha.. kok nyambung.. hehehe..

      DIJAWAB =
      Dear Brother Boed.. ,

      Pendeta Buddha yang mana ? Aliran apa ? Siapa namanya ?
      Beberapa ummat Buddha, ketika membicarakan mengenai “Tuhan”, mengambil sikap untuk tidak terlalu terbuka. Karena, pasti yang non-Buddhis akan susah menerima pemahaman ini.

      Di lain pihak, banyak pula, yang memilih sikap “terbuka”, yaitu sesuai apa adanya ajaran Buddha. Karena, bila tidak begitu, sama saja menyetujui sesuatu yang secara “Dhamma” tidak tepat. Dan saya, termasuk golongan yang ini.

      Ya brother, maka saya bilang pada sdr.pengembarajiwa, untuk teruskan saja kepercayaan anda kepada sosok “…” tersebut, karena jika saya harus menjelaskan juga tidak akan mungkin bisa dipahami dengan mudah. 😉
      So, brother Boed pun silakan teruskan keyakinan anda yang seperti itu. 😉

      ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
      dan mengenai samadhi.. saya sendiri tak mengerti dan menurut saya bukan tidur karena waktu itu ditemani oleh …….., dimana batas lenyap sudah kosong tiada apa apa.. bahkan kesadaranpun sudah hilang.. mati mungkin yaaaaaa.. hehehe.. denyut nadi tiada..
      Salam Sayang my Brathaaaaaaaaaaaaar

      DIJAWAB =
      Silakan mencari bro.
      Karena, belum tentu apa yang saya sampaikan bisa sesuai dengan maksud brother Boed, belum tentu sesuai dengan pikiran Brother Boed sendiri. Oleh diri sendiri brother saja brother mencari, supaya ketemu jawaban yang sebenarnya. Kejujuran itu kunci utama kemajuan perkembangan spiritual, itu menurut saya. 😉

      :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
      Oh.. yaaaa ini serius.. ada titipan pesan dari SANG HYANG ISMAYA dia tidak pernah merasa jadi “Tuhan Yang Maha”.. begitu juga para Sang Hyang lainnya.. mereka menghormati dan tunduk kepada YANG MAHA ADA.. Gusti ALLAH.. hehehe.. bahkan saking tunduknya beliau tidak mau menatap keatas.. selalu bungkuk.. katanya hati hati bahas ketuhanan.. jangan sampai salah dan menyesatkan.. akan sangat berbahaya.. begitu pesan beliau !!!!!!!!

      DIJAWAB =
      Wah, senangnya, brother bisa komunikasi dengan sang hyang ismaya dan sang hyang-sang hyang lainnya… ,
      Berarti brother telah maju pesat dalam spiritualitas, dan semoga semakin maju pesat hingga terkikisnya lobha (keserakahan/nafsu-indriya), dosa ( kemarahan/kebencian ), dan moha ( kebodohan batin ).

      Selamat ya brother, ikut senang, ikut bersuka-cita. 😉

      Peace & Love Brother 😉

    • KangBoed~RE said

      ooo.. lhoooooooo.. koook belum dijawaaaab broooooo..
      Salam Sayang
      :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
      Dear Brother Boed 😉

      Sudah dijawab brother.. 😉

    • KangBoed~RE said

      Ratna Kumaro says :
      Pendeta Buddha yang mana ? Aliran apa ? Siapa namanya ?
      Beberapa ummat Buddha, ketika membicarakan mengenai “Tuhan”, mengambil sikap untuk tidak terlalu terbuka. Karena, pasti yang non-Buddhis akan susah menerima pemahaman ini.
      =============================================================
      KangBoed say :
      huuuwaaaaakaakaakak.. santaaaaaaaai broo.. santaaaaai.. katanya dah sempurna baru begitu dah maraaaaaaah.. kalau saya kasih tahu namanya memang mau diapakan brathaaaar.. jangan jangan nanti dipukulin yaaa.. jangan dunk sabaar..

      DIJAWAB =

      Saya tidak marah. Jika saya tidak TERTAWA TERBAHAK-BAHAK seperti yang biasa brother lakukan, dan jika saya juga senantiasa DATAR , itu bukan MARAH. Marah jika saya MELEDAK-LEDAK, MELEDEK, dst.

      Marah, tertawa terbahak-bahak, menangis, mutung jika dikerjain orang, ngambeg, itu hanya bagi yang masih dicengkeram dengan kuat oleh keserakahan ( lobha ), kemarahan/kebencian (Dosa), Kebodohan/kegelapan batin (Moha).

      By The Way. Brother WEN LUNG SHAN ( tahu kan bro, yang sering komentar disini ), Beliau dari MAJELIS AGAMA BUDDHA THERAVADDA INDONESIA ( Berarti seharusnya seorang Pandhita ). Dan Beliau sering membaca komentar2 kang Boed juga disini. Coba saja baca komentar beliau di halaman ini
      ============================================================
      Ratna kumara says :
      TUHAN TIDAK HANYA SATU, TUHAN LEBIH DARI SATU
      Oleh Sang Buddha, ditegaskan, bahwa pengertian kaum Brahmanisme yang menyatakan bahwa “Maha-Pencipta, Maha-Kuasa…dst.” adalah TUNGGAL, atau SATU, adalah SALAH.
      Sebab, yang dia kira sebagai “MAHA…dst.” sesungguhnya adalah sekumpulan DEWA-DEWA di sebuah alam disana.
      Itu sebabnya, seperti brother gambarkan, ada Bathara Guru, masih ada Sang Hyang Ismaya, dan lain-lain. Nah, GUSTI ” … ” yang brother maksudkan itu, ya termasuk dari salah satunya itu
      ============================================================
      KangBoed says :
      Nah ini tadi belum dijawab Oh.. yaaaa ini serius.. ada titipan pesan dari SANG HYANG ISMAYA dia tidak pernah merasa jadi “Tuhan Yang Maha”.. begitu juga para Sang Hyang lainnya.. mereka menghormati dan tunduk kepada YANG MAHA ADA.. Gusti ALLAH.. hehehe.. bahkan saking tunduknya beliau tidak mau menatap keatas.. selalu bungkuk.. katanya hati hati bahas ketuhanan.. jangan sampai salah dan menyesatkan.. akan sangat berbahaya.. begitu pesan beliau !!!!!!!!

      DIJAWAB =

      Silakan lanjutkan kepercayaan brother Boed, dan tidak perlu memaksakan kepercayaan itu kepada orang lain.

      Semoga brother Boed mendapatkan manfaat dari kepercayaan brother.
      ============================================================

      Dan pertanyaan terakhir.. jikalau tiada “YANG MAHA ADA”.. bagaimana mas Ratana Kumaro bisa bergerak ?.. menghirup nafas ?.. merasakan Nikmat ?.. karena kekuatan siapakah ?.. dan diliputi siapakah ?.. dan mas Ratana berasal dari Yang Maha Ada atau bukan ?..

      Salam Sayang
      Salam Hormat
      Salam Taklim

      DIJAWAB =

      Jawaban saya, bukan karena “Yang Maha…” yang anda yakini dan percayai itu.
      Tapi tidak usahlah ini menjadi bahan perdebatan. Silakan lanjutkan kepercayaan brother saja.

      :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

      TAMBAHAN =

      Brother Boed,

      Jika anda mau berdiskusi, ikutilah pola mas Sabdalangit.

      Yang anda lakukan ini bukan berdiskusi.

      Saya tidak ingin berdebat. Bagi yang ingin berdebat, yang akan dia dapat hanya kekecewaan dan kemarahan.

      Karena itu, sebaiknya brother sudahi saja.. .

      • KangBoed said

        Weleh weleeeeeh.. kalau saya mau berdebat tentu saya mengeluarkan dalil nyang banyak.. hehehe.. makanya saya menghadapinya sampeyan entu hanya pake jurus guyon dan godain sampeyan aja.. karena saya mengerti sekali masalah ketuhanan tidak akan habis diperdebatkan.. bahkan ketika kita mencapai dimensi para Sang Hyang.. dan mungkin diatasnya lagi.. hehehe.. Huuuuwaaaakaakakakak.. saya masih dalam posisi netral brooooooo.. belum tentu jika pandangan anda mengenai GUSTI ALLAH ini terbaca kelompok ISLAM lainnya.. hihihi.. entah apa jadinya..
        Salam Sayang
        Salam Rindu untukmu.. 😆

  23. Tedy~RE said

    To : Bro Ratana

    Jika sering humor, lelucon, tertawa terbahak-bahak, apa termasuk mengumbar nafsu indriya…??? Anumodana atas dhammadesana anda.

    with metta,
    Tedy
    :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
    Dear Tedy 😉

    Hmm… Coba mengenai hal ini, mari kita dengarkan pendapat Sdr.Ali Sasana Putra.

    Sebagai Guru Agama Buddha, tentunya beliau cukup memahami hal ini, dan saya sangat ingin mendengar pendapatnya.

    Peace & Love

    • Tedy said

      To : Bro WLS

      Jika begitu, sbg “jalan tengah”, menurut anda humor ala Buddhis itu seperti apa? Anumodana

      With metta,
      Tedy

  24. zal~RE said

    ::Mas Ratana, terima kasih atas diskusinya, waaah ada KangBoed juga toh…,

    “Mas Zal , Berjudi, adalah expresi/realisasi dari bentuk-bentuk pikiran yang tidak baik ( akusala-cetasika ), yang didasari oleh keserakahan (lobha )”
    ————–
    yang panjenenagan sebutkan itu perbuatan, kalau perbuatan memang impactnya seperti yg disebutkan,

    sepertinya hal itu masih dlm tataran pandangan dunia, inilah faktor penyebabnya “dan kebodohan-batin (moha)” dimana sektor ini sdh memasuki tataran non dunia/ akhirat,
    logis saja, jika kebodohan batin terjadi maka perbuatan-perbuatan dunia akan berlangsung tanpa disadari sudah memeilih fikiran yg tidak baik, sebab disini fikiran masih dalam kegelapan, untuk itulah diperlukan adanya laku/ perjalanan yg dimaksud buddha itu

    trmasuk yang Mas Ratana maksud dengan hubungan dengan wanita, itu juga dalam tindakan, dalam kegiatan materi.

    Seorang pejalan mestinya melihat dunia sebagai umpama, dimana maksud/makna terletak disebalik perbuatan itu sendiri.

    —————–
    Batin adalah bagian ghaib, dan merupakan arah yang hendak dituju, jika membicarakan hal ini jangan bercampur aduk dengan pandangan dunia, maka lihatlah batin dari dunia/ donya itu, maka akan terlihat batin bertemu batin. kalau main jackpot maka harus sama gambar-gambar yg tersaji.
    Bukankah sudah panjenengan tulis seperti ini “Tapi pencerahan adalah ketika kita menembus semua kegelapan, menembus hakekat segala sesuatu, membongkar ilusi, dan mengakhiri penderitaan berkepanjangan dalam samsara ; pembebasan-sempurna ” perbuatan itu bukan hakikat, bahkan keserakahan itu bukan hakikat. itu baru pendorang sebab kenapa dilakukan.
    kegelapan itu adalah kebodohan batin, ilusi itu adalah angan-angan yang akan mengantar ke hakikat, dan ujung kalimat itu adalah impact yang terjadi jika pembebasan terjadi.
    :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
    Dijawab :

    Dear Mas Zal yang terkasih… 😉

    Mohon penjelasan, apakah maksud dari kalimat anda diatas, tidaklah masalah bagi seseorang pejalan-spiritual yang ingin mencapai pembebasan-sejati untuk tetap terlibat dalam keduniawian ? Bila memang demikian, maka inilah jawaban saya atas komentar anda tersebut mas Zal :

    Bisa saja mas Zal, bisa saja… Namun pada akhirnya, seseorang harus melepaskan diri dari ikatan-keduniawian untuk benar2 mampu merealisasi NIBBANA [Nirvana ; tanpa-jalinan-nafsu-keinginan]. Tidak akan mungkin seseorang bisa berhasil merealisasi Nibbana jika ia masih terlibat keduniawian.

    Itulah sebabnya, seorang ANAGAMI [makhluk suci tingkat ketiga diatas Sotapanna dan Sakadagami], yang telah melenyapkan nafsu-indriya [meski masih memiliki kesombongan (mana) sebagai sebuah kekotoran batin] akan hidup SELIBAT ; meski mungkin ia masih hidup bermasyarakat [jika ia bukan seorang Bhikkhu]. Dan seorang ARAHAT [makhluk yang telah merealisasi tingkat kesucian tertinggi], pasti harus mengambil bentuk kehidupan sebagai seorang Bhikkhu yang benar2 murni, melepaskan segala ikatan keduniawian.

    Bagi seorang Sotapanna [makhluk suci tingkat pertama, seorang pemasuk arus dalam “Dhamma” dan yang telah melihat Nibbana , sehingga ia telah berjuang melepaskan ikatan keduniawiannya], masih mungkin untuk hidup secara duniawi dan menikah [ jika ia bukan seorang Bhikkhu ]. Bagi Sakadagami, yang telah MELEMAHKAN NAFSU INDRIYA, biasanya mulai memilih bentuk kehidupan SELIBAT, meski ada pula yang berumah-tangga [jika ia bukanlah seorang Bhikkhu].

    NAMUN, mengenai perjudian, bahkan bagi seorang ummat awam hingga Upasaka/Upasika yang belum meraih tingkat kesucian pertama-pun, tetap mutlak harus dihindari ; tidak ada toleransi untuk ini. Jika ada seorang ummat-awam Buddhis yang mentolerir perjudian, maka menurut saya, dia telah gagal membimbing dirinya ke arah kehidupan yang benar. Untuk rekan-rekan se-Dhamma, mohon koreksinya jika saya keliru.

    ”Cetanham bhikkhave kammam vadami”
    [ Arti : “O, para bhikkhu, kehendak untuk berbuat (cetana) itulah yang Aku namakan kamma” ; Anguttara Nikaya III, 415 ]

    Jadi, mas Zal, bahkan masih dalam bentuk KEHENDAK [belum ter-realisasi dalam ucapan dan perbuatan], itu sudah merupakan KAMMA/KARMA yang akan mengasilkan buah-karma [kamma-vipaka]. Apalagi jika sudah ter-realisasi dalam perbuatan [perbuatan yang disertai kehendak tersebut] maka pasti akan berbuah. Selama seorang pejalan spiritual masih penuh keindriyaan, terlibat dalam dunia keindriyaan, jika batinnya telah penuh dengan kamma-baik, maka PASTI ia hanya akan terlahir kembali di alam-alam surga, dan belum bisa merealisasi NIBBANA. Mengapa ? Karena kondisi-batinnya sendiri yang masih dalam lingkup keindriyaan ; sedangkan NIBBANA itu TANPA-NAFSU-KEINDRIYAAN.

    Sehingga, mengenai HUBUNGAN-SEX dalam kehidupan asmara laki-laki & perempuan, apakah itu menjadi penghalang bagi seorang pejalan spiritual ?

    Jika kita adalah penempuh Jalan-Buddha yang bertujuan merealisasi NIBBANA/NIRVANA, maka jelas nafsu-indriya adalah penghalang yang harus kita lenyapkan.

    Namun, jika tujuan kita hanyalah supaya bisa TERLAHIR KEMBALI DI ALAM SURGA, maka, nafsu indriya bukanlah nafsu penghalang. Sebab, surga itu sendiri masih dalam lingkup KEINDRIYAAN. Itu sebabnya, surga selalu digambarkan dalam berbagai agama dengan :

    – Tersediakannya ratusan BIDADARI-BIDADARI CANTIK
    – Tercukupinya sandang,pangan, papan.
    – Tersediakannya istana-istana yang megah,
    – Terdapat sungai yang didalamnya mengalir air susu.
    – dll.

    Memang demikianlah SURGA, tapi itu bukan NIRVANA.

    SURGA, tidaklah KEKAL-ABADI, meski para makhluk-surga memiliki jangka-waktu / usia yang panjang [hingga milyaran tahun]. Karena itu, dalam Buddha-Dhamma, surga hanyalah merupakan KESELAMATAN-RELATIF.
    NIBBANA, adalah KEKAL-ABADI, tak terserang kelapukan, tanpa-kematian [amerta], kebahagiaan-tertinggi [paramam-sukkham], penghancuran-keingininan-rendah [tanhakkhaya], tak-berkondisi [asamkhata];dll . Karena itulah, dalam Buddha-Dhamma, NIBBANA adalah KESELAMATAN-ABSOLUT.

    Saya kira demikian mas, relevansi antara jalan pelenyapan-nafsu indriya dan jalan yang masih memperkenankan pemuasan nafsu-indriya ; terkait dengan komentar2 panjenengan [yang saya tangkap] yang menyatakan bahwa kehidupan duniawi, keindriyaan, tidak akan menjadi penghalang bagi seorang pejalan spiritual. Sebab, bagi anda, perbuatan keduniawian adalah bentuk-materi saja, yang tidak ada relevansinya dengan batin [spirit] yang dalam istilah anda bersifat “ghoib”. Tetap ada kaitannya mas, karena “PIKIRAN ADALAH PEMIMPIN” demikian Sang Buddha bersabda dalam Dhammapada. Perbuatan, didahului oleh Pikiran.

    :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

    pembebasan ini, sepanjang dalam masih menyatunya roh dan tubuh fisik, ya masih tetap dalam alam 31, yang terfahamkan di saya 31 ini adalah three in one, silahkan cek, sebab sayapun hanya terfahamkan tidak tahu apakah ini sudah sesuai atau belum.

    :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
    Sang Buddha mengajarkan, bahwa ROH itu TIDAK-ADA mas : AN-ATTA [Tanpa-Diri]. Tubuh fisik ini hanyalah “Rupa-Khanda”; paduan empat unsur alam semesta.

    Untuk lebih jelas mengenai ke-31 [ tiga-puluh-satu ; jadi bukan THREE-IN-ONE ] alam-kehidupan, silakan mas Zal membaca artikel ini ; ALAM-SEMESTA (III)” .
    ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

    —————–
    Mohon maaf, jika pandangan mengenai klas Moksa dan Nibanna dalam diskusi Panjenengan dengan KangBoed penjenengan benar, Moksa itu adalah tahap awal, itulah yang disedari Sekh Siti Jenar dalam awal kesadarannya, dan dalam Islam dikenal dengan “Awaluddin ma’rifatullah” artinya mula beragama adalah mengenal Allah, dari pengenalan ini maka manusia mengenal dirinya itu apa, dimana disitu Manusia seharusnya sudah difahamkan bahwa dirinya itu tiada atau Nirvanna, dan terus berjalan pada itu yaitu kekosongan diri sebab seluruhnya sudah terserah pada Allah.
    :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

    Mohon maaf, saya koreksi sedikit ya mas Zal.
    Mengenai saat realisasi Nibbana maka yang terjadi adalah “seluruhnya sudah terserah pada Allah”, ini bukan ajaran Buddha. Karena, jika masih menggantungkan diri pada sosok-sosok “Maha…” dalam bentuk apapun , berarti kita masih belum berhasil merealisasi Nibbana.

    Inilah bedanya ajaran Buddha dengan ajaran-ajaran lain.

    Dalam Majjhima-Nikaya, Sang Buddha bersabda,“Hanya disinilah terdapat petapa. Petapa 1,2,3,4 [ maksudnya makhluk suci dari tingkat pertama (sotapanna), kedua (sakadagami), ketiga (anagami), hingga yang tertinggi/keempat (Arahat) ] hanya berada dalam Dhamma ini. Diluar ini, tidak ada petapa-petapa”.

    Banyak alasan yang dikemukakan Sang Buddha, salah satunya terletak pada PERBEDAAN-TUJUAN.

    ” Apakah tujuannya ? Jika mereka menjawab dengan benar, maka tujuannya adalah NIBBANA. “ Dalam Majjhima Nikaya dijelaskan, bahwa banyak aliran2 spiritual, namun arah-yang-dituju bukanlah Nibbana, tapi yang dituju adalah suatu sosok “MAHA…” ; ada yang bertujuan pada alam surga, alam “Kekosongan”, ataupun alam “Tuhan” yang penuh CAHAYA kemilau.

    Nah, tujuan dari perjalanan seorang siswa Sang Buddha bukan kesana mas, tapi pada NIBBANA.
    Nibbana ini bukan “PENCIPTA”, bukan sosok “MAHA-KUASA” dengan nama dan sebutan apapun ; NIBBANA ini AN-ATTA. Nibbana ini berbeda denga sosok “MAHA…” yang bisa memberikan petunjuk, wahyu, wangsit, tuntunan, dan lain2 sebagainya yang digambarkan umumnya / atau yang mas Zal maksudkan tersebut.

    :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
    ——————
    Mengenai diskusi kita di postingan panjenengan yang mengetangahkan akhli sulap itu, yang namanya sulap jika didengarkan dalam bahasa jawa bisa bermakna kabur/gelap, maka bisa jadi itu trik, namun sebagai orang yang berjalan dalam ghaib ya kudhu titen lan waspada, titen itu agar segala seuatu diperhatikan, agar ada pengetahuan tentangnya, umpamanya jika seseorang belum pernah mengetahui bentuk abjad A,B,C, maka dia tidak pernah mengenali akan itu, meski sering keluar dari mulutnya namun tiada pengenalan akan wujudnya, mustahil orang ini mampu menuliskannya, dan waspada adalah buah dari perjalanan dimana informasi mengenai pengetahuan akan dipandangkan dan difahamkan melalui segala sesuatu, bisa yg diduga namun semakin halus maka seringnya tersampaikan dalam keadaan tidak diduga, ya Tuhan senang dengan sesuatu yang surprise, sebab hasilnya sangat indah dan tak terlupakan, makanya orang bercinta sering melakukan surprise-surprise buat kekasihnya.
    ———
    mohon maaf, atas ulasan yang gak ada bagus-bagusnya ini…

    ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

    Terimakasih mas Zal.
    Jangan sungkan-sungkan mas. Hanya memang, jika membahas Buddha-Dhamma tidak bisa dicampur-adukkan dengan pengertian-pengertian dari ajaran lain, sebab akan menjadi keliru-keliru mas. Untuk itu, saya ada beberapa koreksi untuk komentar2 anda. Tujuannya, supaya kita semua mengerti, seperti apakah Buddha-Dhamma itu, yang mana “Dhamma”, dan yang mana “A-Dhamma” / bukan-Dhamma. Semoga diskusi ini bermanfaat untuk kita semua mas Zal.. .

    Peace & Love, May U Always Be Happy and Free from Suffering 😉

    • zal~RE said

      Mas Ratana yang baik, terima kasih..

      Mohon penjelasan, apakah maksud dari kalimat anda diatas, tidaklah masalah bagi seseorang pejalan-spiritual yang ingin mencapai pembebasan-sejati untuk tetap terlibat dalam keduniawian ? Bila memang demikian.

      ::saya maksudkan, setiap perbuatan itu, ada unsur dunianya, dan unsur batin,
      contoh diatas disebutkan berjudi dan melakukan hubungan sex, ini perbuatan, tindakan, adalah unsur dunia, dan unsur dunia ini ada unsur pelajaran:

      memang seorang pejalan harus berkorban untuk tidak melakukan ini, namun jika berbicara hakikat, maka judi itu ada hakikatnya yang mengandung pelajaran-pelajaran berguna, demikian pula apa yang dapat dipelajari dari hubungan sex, disini juga ada hakikatnya, perumpamaannya adalah seperti, jika berhubungan laki-perempuan akan ada hasil buah hati, jika antar laki-laki atau antar perempuan tidak membuahkan apa-apa, jika dengan perempuan komersial, tidak menghasilkan cinta..

      Nah perhatian terhadap hal ini, tidak berarti melakukannya kan..? yang saya maksudkan petiklah maksud disini bukan terbatas pada effect buruknya..namun pada hakekat yang mengarahkan pada petunjuk dalam perjalanan…

      Jadi sepertinya saya tidak membenarkan perbuatannya, namun kajilah perbuatan itu untuk mendapatkan buah fikiran yang baik.

      DIJAWAB =

      Baik mas Zal.
      Sedangkan saya juga hanya menjelaskan , bahwa dalam ajaran Buddha, Sang Buddha sendiri tidak pernah mengajarkan para siswanya untuk terlibat dalam hubungan sexual, berkelamin ( hal2 tersebut menurut Sang Buddha adalah “rendah” dan “kasar” ) , berkeluarga.

      Sang Buddha mengajarkan untuk “tidak-melekat-pada-keluarga-keluarga” ( Karaniyamettasutta ).
      Sang Buddha mengajarkan untuk “meninggalkan-nafsu-indriya”, “melenyapkan-nafsu-sexual” ( Alagaddupamasutta ).

      Jadi, silakan mas Zal mempunyai pemahaman tersebut. Dan saya sebagai penyaji ajaran Buddha disini, menyajikan apa yang sesuai Buddha-Dhamma saja.

      :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
      ———-

      Mengenai perbedaan maksud misalnya maksud Roh dengan an atta, semestinya sesorang yang meski belum sempurna pencerahannya, itu bukan suatu penghalang bertemunya kesefahaman mengenai maknanya, ambil sebuah perumpamaan dia bernyanyi tanpa penjiwaan, Bug Karno, jika berpidato selalu saja kat-katanya memiliki roh, jadi sesuatu itu ada yang menjiwai, seperti mesin mobil ya jiwanya ada pada angin air dan api, jika ini tak ada maka mobil tak hidup, demikian tubuh ini, mengenai apa unsur ruh itu…itu cerita lain kan…

      —————
      mengenai 31 itu, kan yang saya sampaikan ada yang terfahamkan kepada saya secara spontan, bukan dari membaca buku literatur kan..

      DIJAWAB =
      Silakan mas Zal. Tugas saya menyampaikan apa yang menurut Buddha-Dhamma.
      Dan saya juga sama seperti mas Zal, tidak sekedar membaca buku literature.
      Banyak orang “alergi” membaca buku literature.
      Padahal, Buddha sendiri mengajarkan hal itu. Ini disebut “Pariyatti-Dhamma” ; belajar Dhamma secara teori terlebih dahulu, sebelum memulai praktek Dhamma dan akhirnya mendapatkan hasil-dari-praktek-Dhamma.

      Sama seperti mas Zal, hingga sekarang juga pasti terus membaca buku literature ke-islam-an bukan ? Al-Quran, dan lain-lain sebagainya. Correct ?

      :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
      —————
      ::”Nah, tujuan dari perjalanan seorang siswa Sang Buddha bukan kesana mas, tapi pada NIBBANA.
      Nibbana ini bukan “PENCIPTA”, bukan sosok “MAHA-KUASA” dengan nama dan sebutan apapun ; NIBBANA ini AN-ATTA. Nibbana ini berbeda denga sosok “MAHA…” yang bisa memberikan petunjuk, wahyu, wangsit, tuntunan, dan lain2 sebagainya yang digambarkan umumnya / atau yang mas Zal maksudkan tersebut.

      ::ya…ya…saya fahami ini, itulah makanya dicomment pertama saya hasilnya ini “Orang yang bijaksana, setelah memahami hal tersebut, mengembangkan kesadarannya, Ia berbahagia menjalani KEHIDUPAN SUCI ( Dhammapada, Appamada Vagga ; 2:2 )”

      ——
      Mas Ratana kita bukan memperdebatkan literatur kan…, jika kita sama-sama berjalan di daerah monas…minimal secara garis besar kita bisa membicarakan keadaannya, meski tak ada literatur yang kita baca kan…
      namun jika salah satu dari dua orang mengenal daerah monas dari literatur, maka jadi akan terjadi miss, sebab yang membaca literatur, akan melihat keadaan saat literatur itu dituliskan, dan bahkan mungkin tak dapat membayangkan keadaan riilnya…


      DIJAWAB =
      Upaya mengenal Dhamma melalui pengembangan-batin kita sendiri ( melalui laku, samadhi, dll ), itu sangat baik, dan justru itulah puncaknya. Semua siswa Sang Buddha mempraktekkannya. Jadi jangan khawatir mas Zal, seorang siswa Sang Buddha yang benar, tidak hanya memahami “Pariyati-Dhamma” ( Dhamma secara teori sesuai yang diajarkan Buddha sendiri ), tapi juga telah mahir dalam “Patipati-Dhamma” ( Dhamma yang dipraktekkan dengan sungguh-sungguh , yaitu praktek SILA –> SAMADHI –> PANNA ), dan dari Patipatti-Dhamma ini dia akhirnya berhasil membuktikan beberapa, sebagian, atau keseluruhan Dhamma yang diajarkan Sang Buddha ( termasuk diantaranya, seperti misalnya, sebagaimana yang mas Zal maksud dengan ke-31 alam kehidupan tersebut ), hingga akhirnya , sebagai hasil akumulasi dari “Pariyati-Dhamma” dan “Patipatti-Dhamma”, seseorang mencapai “Pativedha-Dhamma”, yakni memetik “4 Magga” ( empat tahap Sang Jalan ) dan “4 Phala” ( empat tahap buah dari Sang Jalan ), merealisasi tingkat-tingkat tertentu dari kesucian dan pencerahan.

      Jangan khawatir mas Zal.

      Banyak kok, orang, yang merasa ummat Buddha itu “tidak-seberapa”, “keciiil”, begitu katanya… . 😉
      Hanya karena ummat Buddha tidak menceritakan pengalaman-pengalaman spiritualnya dan lebih cenderung pada pembabaran Dhamma ( terutama Pariyatti_Dhamma ; Dhamma secara teori sesuai yang diajarkan Sang Buddha )

      ——-

      Terima kasih untuk diskusi yang baik ini.. salam.

      DIJAWAB =
      Terimakasih kembali mas Zal.
      Jangan sungkan-sungkan, semoga tidak enggan-enggan untuk mengunjungi blog ini kembali dan mengajak diskusi tentang sesuatu hal.
      Pintu selalu terbuka untuk siapa saja.

      Peace & Love, mas Zal 😉

  25. Dear All 😉

    Tergantung tujuan kita.

    Jika yang dituju adalah SURGA, maka tidak perlu melepaskan keduniawian, tidak perlu melepaskan keindriyaan dan pemuasannya. Jika yang dituju SURGA dan TUHAN, maka menikah, berkeluarga, berketurunan, akan tetap bisa mencapai SURGA dan menuju TUHAN [ manunggal-dengan-Gusti ].

    Tapi, jika yang dituju NIBBANA, maka mutlak harus melepaskan keduniawian [pada akhir perjalanan].
    Mutlak harus melenyapkan keindriyaan dan pemuasannya.

    Inilah yang sulit dipahami. Umumnya masyarakat non-Buddhis menyamakan SURGA beserta TUHAN-nya dengan NIBBANA. Padahal, antara SURGA dengan NIBBANA, adalah dua hal yang sangat jauh berbeda.

    Peace & Love

  26. Mas Ratana Yang Saya Hormati

    Perkenankan saya beranikan diri memaparkan ketidaktahuan saya, semua itu mungkin karena keterbatasan pengetahuan saya pribadi.

    Mengenai nafsu:
    Menurut apa yg saya pahami selama ini, nafsu asal kata dari nafs, masih bernilai netral, artinya bisa bersifat baik bisa pula berubah menjadi buruk, jahat dan sangat merusak diri maupun lingkungan. Nafsu akan menimbulkan segala macam hasrat dan keinginan. namun demikian nafsu akan memunculkan dua kemungkinan, dan hal itu merupakan pilihan bagi masing2 orang. dua kemungknan/kecenderungan tsb adalah :
    1. nafsu menjadi buruk manakala lepas kendali, dan tidak berjalan sebagaimana dalam batas wajar. timbulah hasrat, harapan, keinginan, dan niat yg buruk, merugikan, mencelakai diri sendiri, orang lain, atau alam semesta dan seluruh makhluk.
    2. nafsu menjadi baik, manakala nafsu bekerja secara wajar, sebagaimana rumus alam/hukum alam yang tergelar di jagad raya.Misalnya hasrat menjadi manusia yg baik dan mulia, manusia yg menjaga alam semesta, manusia yg menghargai dan menghormati seluruh makhluk. Kecenderungan baik inilah masuk dalam konsep manusia yg menyatukan diri dengan hukum alam, kodrat alam/rumus Tuhan. Adalah tidak terelakkan bahwa nafsu atau hasrat positif ini pula yg dapat melestarikan segala kehidupan di planet bumi. Suatu kemestian, bila seluruh makhluk hidup tanpa hasrat melangsungkan regenerasinya maka akan terjadi kepunahan massal kehidupan di planet bumi ini. Karena yg akan terjadi hanyalah penghentian proses kelahiran saja, sementara tidak terjadi penghentian proses kematian.

    Mungkin di sini hanya ada sedikit perbedaan dalam mendefinisikan nafsu ya Mas ?! Saya memilah nafsu antara negatif dan positif. Sementara ada pula yg menganggap semua nafsu adalah negatif, lalu saya sering tanyakan, apakah yg menggerakkan hasrat dan keinginan kita untuk berbuat baik ? Termasuk pada saat kita merasa lapar, lantas bernafsu untuk mengisi perut dengan makanan.
    Sementara itu, dalam khasanah Kejawen, mendefinisikan pilihan nafsu, dengan dua macam tolok ukur yang kontradiktif yakni “nuruti kareping rasa (positif), dan nuruti rasaning karep (negatif)”. Yg negatif berkeblat pada keinginan jasad, yg positif berkeblat pada kehendak rahsa sejati (unsur Tuhan dalam diri manusia). Nah, nuruti kareping rahsa inilah yg saya sebutkan sebagai manunggal dengan “kehendak”/kodrat alam/rumus Tuhan.
    Mungkin, konsep selibat adalah pilihan nuruti kareping rahsa. Namun saya ulangi lagi, ada perbedaan dalam mendefinisikan nafsu seks.

    Oleh karena itu, saya sangat berharap curahan ilmu dari panjenengan mengenai pendefinisiannya, yg mungkin akan sangat panjang lebar di bahas, yah..jika tdk keberatan mungkin setidaknya garis besarnya saja. Apapun paparannya tentu saya tdk akan memberikan judment, atau vonis, malah saya akan mencoba berimpati, saya hanya ingin merasakan bagaimana berdiri dalam pemahaman panjenengan. Tanpa mencoba impati, saya rasa wawasan saya tdk akan bertambah dan tdk akan tahu sampai di mana saat ini kesadaran saya berdiri.

    Sebelumnya saya aucapkan terimakasih yg sebesarnya
    salam asih asah asuh
    semua makhluk berbahagia
    Rahayu

    ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
    Dijawab =

    Mas Sabdalangit yang Saya Hormati,

    Terimakasih atas minat panjenengan untuk berdiskusi perihal “Dhamma” bersama saya.
    Sangat BIJAKSANA sekali.., sangat bijaksana sekali… Dengan tidak mematok diri pada PENGERTIAN-AWAL yang sudah terpatri dalam batin panjenengan, anda mau mengajak berdiskusi perihal “Dhamma” yang memang Agung, Dalam, Halus, dan hanya bisa dipahami oleh para Bijaksana.

    MENGENAI NAFSU
    Membahas mengenai NAFSU, tentunya sangat terkait dengan KESADARAN/PIKIRAN ( Citta ).
    Untuk itu, mas Sabda, disini sebagai pijakan awal, saya ingin mengulas secara ringkas [ Meskipun ringkasan ini tetaplah masih sangat panjang dan luas ] mengenai JENIS-JENIS KESADARAN/PIKIRAN ( Citta ).

    PIKIRAN ADALAH PEMIMPIN, PIKIRAN ADALAH PELOPOR. Tumimbal-Lahir, atau Kelahiran-Kembali, sangat ditentukan oleh faktor PIKIRAN/KESADARAN. Pada saat seseorang meninggal, muncul suatu karma yang disebut sebagai KAMMA-NIMITTA. Kamma-nimitta ini adalah pikiran/perbuatan baik maupun buruk selama hidupnya, atau persis saat kematian tiba. Kamma-nimitta inilah LAMBANG-TUJUAN kemana ia akan terlahir kembali persis setelah TUBUH-nya mati, dan “batin”-nya “naik-keatas” (uddhamgami ) dan meneruskan perjalanannya.

    Oleh karena itulah, disini saya merasa harus membahas mengenai KESADARAN/PIKIRAN ketika anda menanyakan perihal NAFSU dan pelenyapannya. Mari kita masuk pada pembahasan mengenai KESADARAN/PIKIRAN ini mas.

    Dalam Abhidhammatthasangaha, Pikiran/kesadaran (citta)tersebut terbagi menjadi berbagai macam jenis (kelas-kesadaran) , sesuai “keadaan yang diketahui” dan “bagian yang diketahui” :

    1. Pikiran yang mengetahui nafsu keinginan yang baik dan yang tidak baik (jahat).
    2. Pikiran yang mengetahui Rupa-Jhana ( Jhana bermateri atau tingkat ketenangan batin bermateri ).
    3. Pikiran yang mengetahui Arupa-Jhana ( Jhana tidak bermateri, atau tingkat ketenangan batin tidak bermateri ).
    4. Pikiran yang mengetahui NIBBANA.

    Bila diurai secara terperinci, maka kesadaran / pikiran (citta) itu ada 89 – 121 bulatan ; dalam jumlah tersebut, pikiran dibagi menjadi empat (4) bagian :

    1. Kamavacara Citta – ada 54 bulatan
    2. Rupavacara Citta – ada 15 bulatan.
    3. Arupavacara Citta – ada 12 bulatan.
    4. Lokuttara Citta – ada 8 atau 40 bulatan.
    ( Jumlah total = 89 s/d 121 bulatan )

    1. Kamavacara Citta
    Pikiran yang penuh kemelekatan terhadap nafsu keindriyaan, itulah yang dinamakan dengan Kamavacara Citta 54. Kamavacara-Citta, terdiri dari tiga suku kata :

    1. Kama ; berarti kesenangan dan kemelekatan hati terhadap 6 objek ( Aramana 6 ), yaitu :

    a. Objek warna/bentuk ( Ruparammana ), yang dicerap oleh indriya mata, dan menimbulkan kesadaran penglihatan.
    b. Objek suara ( saddarammana ) yang dicerap oleh indriya telinga, dan menimbulkan kesadaran mendengar.
    c. Objek bau ( gandharammana ), yang dicerap oleh indriya hidung, dan menimbulkan kesadaran mencium.
    d. Objek rasa (rasammana), yang dicerap oleh indriya lidah, dan menimbulkan kesadaran mencicip.
    e. Objek sentuhan (photthabbarammana), yang dicerap oleh indriya badan, dan menimbulkan kesadaran rasa sentuhan.
    f. Objek hati ( dhammarammana), yang dicerap oleh indriya pikiran, dan menimbulkan kesadaran batin.

    Arti lain dari Kama ini adalah, keadaan yang mempunyai keinginan terhadap objek kesenangan dan kemelekatan hati, atau keadaan yang senang dengan nafsu indriya, keadaan ini disebut Kama.

    2. Avacara ; berarti berkelana atau berdiam.
    3. Citta ; berarti kesadaran atau pikiran.

    Jadi, kamavacara-citta berarti kesadaran/pikiran yang berkelana di Kama-Bhumi/ Kama-Dhatu 11.

    Pada tataran inilah , para spiritualis umumnya berada. Para spiritualis, yang telah bertekun dalam kehidupan kerohanian, namun masih terlibat dalam nafsu keindriyaan, juga bila terkadang masih memiliki kemarahan, dan masih memiliki kebodohan-batin ( karena belum bisa melihat dukkha, sebab dari dukkha, berakhirnya dukkha, dan jalan menuju berakhirnya dukkha ), maka kesadaran/batinnya masih tergolong pada bagian Kamavacara-citta ini.

    Spiritualis yang seperti ini, asalkan dia memiliki hiri ( malu berbuat jahat ) dan ottapa ( takut akan akibat perbuatan jahat ), maka akan memiliki kesempatan terlahir di keenam alam surga Kamadhatu, atau minimal terlahir kembali di alam manusia. Keenam alam surga Kamadhatu itu adalah :

    1. Catummaharajika ( Usia rata-rata penghuni surga ini adalah 500 Tahun Surgawi, atau setara 9 juta tahun manusia. Satu hari satu malam di alam surga ini = 50 tahun waktu manusia )
    2. Tavatimsa ( usia rata-rata penghuni surga ini adalah 1.000 Tahun Surgawi, atau setara dengan 36 juta tahun manusia. Satu hari satu malam di alam surga ini = 100 tahun manusia )
    3. Yama ( Usia rata-ratanya 2.000 Tahun Surgawi, atau setara dengan 142 juta tahun manusia. Satu hari satu malam = 200 tahun waktu manusia )
    4. Tusita ( Usia rata-rata 4.000 Tahun Surgawi, atau setara dengan 567 juta tahun manusia. Satu hari satu malam di alam surga ini = 400 tahun waktu manusia )
    5. Nimmanarati ( Usia rata-rata 8.000 Tahun Surgawi, atau setara dengan 2.304 Juta tahun manusia. Satu hari satu malam di alam surga ini = 800 tahun waktu manusia )
    6. Paranimmitavasavati ( Usia rata-rata 16.000 Tahun Surgawi, atau setara dengan 9.216 juta tahun manusia. Satu hari satu malam di alam surga ini = 1.600 tahun waktu manusia ).

    Mas Sabda, sesungguhnya, dalam suatu agama yang menyatakan bahwa TUHAN tinggal di sebuah alam, dimana SATU HARI SATU MALAM disana = 1.000 tahun waktu manusia, maka itu kurang lebih menunjuk pada alam Nimmanarati maupun Paranimiitavasavati. Coba mas Sabda cross-check ke Kitab-Kitab agama-agama yang dinyatakan sebagai WAHYU dari TUHAN, disana akan didapat keterangan mengenai TUHAN yang dimaksudkannya. Dan itu masih dalam lingkup alam-surga Kamadhatu ini.

    KEBALIKANNYA, bagi seorang manusia, yang tidak bertekun dalam spiritualitas, tidak menjaga moralitasnya dengan baik ( gemar menganiaya makhluk hidup, suka mencuri/mengambil barang yang tidak diberikan padanya, mengumbar nafsu sexual berlebihan, berucap dusta, dan suka meminum minuman keras ), maka manusia seperti ini kelak akan terlahir kembali di empat alam menyedihkan, yaitu :

    1. Niraya/Neraka
    2. Tiracchanayoni ( Alam Binatang )
    3. Petayoni ( Alam Hantu )
    4. Asurayoni ( Alam Jin )

    Untuk lebih jelasnya mengenai hal ini, silakan baca di artikel ini ; ALAM SEMESTA (III)

    KEMUDIAN, suatu saat , seorang pejalan spiritual, setelah menemukan cacat dari nafsu-keindriyaan, mulai meninggalkan keduniawian. Meskipun belum berhasil melenyapkannya, namun ia berhasil menekan nafsu keindriyaan tersebut. Spiritualis seperti ini, “NAIK-KELAS” dari kesadaran yang berupa Kamavacara-Citta , menuju Rupavacara-Citta dan Arupavacara-Citta. Kesadaran seperti ini, meskipun mengalami kedamaian dan ketenangan batin yang dalam, namun belumlah mencapai pembebasan-sempurna, sebab, masih dalam lingkup kesadaran yang berkondisi, tidak-kekal. Penjelasan mengenai Rupavacara-Citta dan Arupavacara-Citta ada dibawah ini.

    2. Rupavacara Citta
    Pikiran yang setelah menekan/membasmi nafsu keindriyaan, kemudian pikiran tersebut melekat kuat terhadap objek Kammatthana ( objek Samadhi ) yang berbentuk (Rupa) / terkonsentrasi pada objek berbentuk (Rupa ) dengan kekuatan Apanna-Samadhi ( terkonsentrasi pada objek dengan kuat ), inilah yang dinamakan Rupavacara-Citta 15. Pikiran jenis ini berkelana dalam Rupa-Bhumi ( Rupa-Dhatu ).

    Pada Rupa-Dhatu inilah, tepatnya di alam Jhana I, hiduplah MAHA-BRAHMA. MAHA-BRAHMA ini, oleh kaum Brahmanisme ( dan juga ummat Hindu ) disebut sebagai “Maha-Pencipta, Maha-Kuasa, Awal-dan-Akhir”. MAHA-BRAHMA ini, adalah pemimpin para Dewa ( mungkin dalam istilah mas Sabdalangit adalah MALAIKAT ) yang tinggal di KEENAM ALAM SURGA KAMADHATU dibawahnya. Maha-Brahma ini juga memimpin para Dewan dan Menteri Brahma. Usia Maha-Brahma ini memang sangat panjang, yakni 1 Asankkheyya-Kappa, atau 10 pangkat 14 tahun ( 100.000.000.000.000 tahun ). Karena panjangnya usia inilah maka Maha-Brahma menganggap, “Aku Kekal Abadi, Akulah Awal dan Akhir, Akulah Pencipta, Penguasa, BAPA dari Semua Makhluk” ( Lihat secara lengkap dalam BRAHMAJALA-SUTTA ; Khotbah Sang Buddha mengenai Apa yang Bukan Ajaran ).

    Di alam RUPA-DHATU ini sudah mulai TIDAK-ADA-NAFSU. Sebab, seseorang bisa terlahir di alam Rupa-Dhatu ( hingga Arupa-Dhatu ) adalah setelah ia melihat cacat dari keindriyaan, lalu ia menyendiri, berbahagia dalam kesendiriannya, dan mencapai JHANA-JHANA dengan suatu objek2 “Rupa” tertentu, misal dengan objek NYALA API, TANAH, AIR, UDARA, dan lain-lain. Dari sini ia mengalami CETTOVIMUTTHI, atau kebebasan-batin, kedamaian yang dalam. Jadi, di alam ini, KELAS-KESADARAN berada diatas kelas-kesadaran alam KAMADHATU ( kamavacara-citta ). Alam Rupa-Dhatu ini adalah alam bagi KELAS-KESADARAN para petapa yang berhasil meraih RUPA-JHANA. Jadi, tidak mungkin bagi orang-orang/para spiritualis yang terlibat kuat [melekat] dengan keindriyaan dan belum berhasil mengembangkan RUPA-JHANA bisa terlahir kembali [setelah kematiannya] di alam RUPA-DHATU ini.

    Untuk lebih jelasnya mengenai hal ini, silakan baca di artikel ini ; ALAM SEMESTA (III)

    3. Arupavacara Citta
    Kesadaran/pikiran yang mencapai objek samadhi dari Arupa-Jhana ( Jhana tidak berbentuk; pikiran yang terkonsentrasi kuat pada objek Samadhi yang tidak-berbentuk ), inilah yang dinamakan Arupavacara-Citta 12. Pikiran jenis ini berkelana di Arupa-Bhumi ( Arupa-Dhatu ).

    Mirip dengan Rupa-Dhatu, maka alam Arupa-Dhatu adalah alam bagi KELAS-KESADARAN para petapa, yang berbahagia dalam kesendiriannya, dan berhasil mengembangkan ARUPA-JHANA. Tidak mungkin bagi seorang spiritualis yang masih melekat kuat terhadap keindriyaan, apalagi belum berhasil mengembangkan ARUPA-JHANA untuk bisa terlahir kembali di alam ini.

    Untuk lebih jelasnya mengenai hal ini, silakan baca di artikel ini ; ALAM SEMESTA (III)

    4. Lokuttara Citta

    Kesadaran/Pikiran yang berada diluar atau diatas ketiga alam yang tersebut diatas ( Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu ), itulah kesadaran yang disebut sebagai “Lokuttara-Citta 8-40 “. Lokuttara-citta mempunyai NIBBANA sebagai tujuannya.

    Lokuttara-citta berasal dari tiga suku kata :

    1. Loka ; berarti Ti-Loka ( tiga-loka ) ; yaitu Kama-Loka 11 ( Kama-Bhumi ), Rupa-Loka 16 ( Rupa-Bhumi ), dan Arupa-Loka 4 (Arupa-Bhumi). Loka juga berarti sesuatu yang harus timbul-padam dan hancur, terkena kelapukan.
    2. Uttara ; berarti Utara, atau diluar, atau diatas.
    3. Citta ; berarti Kesadaran.

    Lokuttara-citta , yang tertinggi ini, ada 8 yaitu lokuttarakusala citta yang disebut dengan bagian Magga ( Jalan ) ada 4 dan lokuttaravipaka citta yang disebut dengan bagian Phala ( buah ) ada 4.

    Lokuttarakusala-citta dan Lokuttaraphala-citta 4 ini yaitu adalah empat (4) tahap Jalan Suci ( Sotappati, Sakadagami, Anagami, dan Arahatta ) dan empat (4) tahap buah dari Jalan Suci ( Sotappati, Sakadagami, Anagami dan Arahatta ). Rinciannya sbb. =

    Lokuttarakusala-citta 4 =
    1. Sotapatti-magga-citam
    2. Sakadagami-magga-cittam
    3. Anagami-magga-cittam
    4. Arahatta-magga-cittam

    Lokuttaraphala-citta 4 =
    1. Sotapatti-phala-citam
    2. Sakadagami-phala-cittam
    3. Anagami-phala-cittam
    4. Arahatta-phala-cittam

    Istilah “Lokuttara-Dhamma”, yang dimaksudkan adalah Maggacitta 4, Phala-citta 4, dan Nibbana 1, jumlah total dari Lokuttara-Dhamma = 9.

    Lokuttara-Citta 8, meskipun menjadi Lokuttara-Dhamma, masih disebut Sankhata-Dhamma (sebab kesadaran tersebut timbul padam, timbul padam ). Hanya Nibbana yang menjadi Lokuttara-Dhamma yang disebut Asankhata-Dhamma.

    MENGENAI “PEMBASMIAN-KILESA” (Kekotoran Batin)

    Kilesa berarti kekotoran batin. Dalam Abhidhamma, kilesa ada tiga (3) tingkatan =

    1. Vitikama-Kilesa, yaitu kilesa yang kasar; Kilesa kelompok ini dapat keluar melalui jasmani dan perkataan, yaitu dapat melakukan kejahatan melalui jasmani dan perkataan. Kilesa kelompok ini dapat dibasmi dengan SILA, yaitu selama kita melaksanakan SILA maka pembasmian kilesa yang kasar ini terus berlangsung. Pembasmian cara ini disebut “Tadanga-Pahana”.
    2. Pariyutthana-Kilesa, yaitu kilesa kelas menengah; kilesa kelompok ini timbul dalam pikiran saja, tidak keluar melalui jasmani dan perkataan. Kilesa kelompok ini dapat dibasmi melalui Samadhi yaitu saat pencapaian Jhana. Selama masih ada kekuatan Jhana, kilesa kelompok ini dapat dikendalikan. Pembasmian cara ini disebut “Vikkhambana-Pahana”.
    3. Anusaya-Kilesa, yaitu kekotoran batin yang halus, yang tidur dalam batin. Tidak ada orang yang mampu mengetahui, kecuali Guru Agung Junjungan kita semua, Sang Buddha. Kilesa kelompok ini harus dibasmi dengan Panna yaitu Magga-citta; dan Magga-citta ini mampu membasmi kilesa sampai ke akar-akarnya dan tidak akan timbul lagi. Pembasmian cara ini disebut “Samuccheda-Pahana”.

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    NAH, MAS SABDALANGIT yang saya hormati.., setelah mengetahui KELAS-KELAS KESADARAN seperti terurai diatas, seharusnya kini kita bisa mengetahui :

    ” DIMANA “AKU” SEKARANG INI ? MAU KEMANA “AKU” SETELAH INI ? “

    Untuk orang-orang, yang setelah dalam batinnya timbul PENGERTIAN BENAR ( SAMMA-DITTHI ), yaitu saat ia bisa melihat DUNIA INI DENGAN APA ADANYA, menembus semua ilusi kesenangan-indriya ( yang Tidak-Kekal, Dukkha, dan Tanpa-Diri ), maka ia dengan segera mulai berjuang untuk merealisasi KEBAHAGIAAN-SEJATI; inilah NIBBANA.

    Oleh karena itu, ia mulai berjuang denga keras mengikis kilesa, MELENYAPKAN NAFSU.

    Dalam Buddha-Dhamma, diterangkan ada tiga jenis nafsu :

    Kama-tanha, yaitu nafsu keinginan akan kenikmatan indria.
    Bhava-tanha, yaitu nafsu keinginan akan kelangsungan atau kelahiran kembali
    Vibhava-tanha, yaitu nafsu keinginan akan pemusnahan diri

    Mungkin kemudian mas Sabdalangit dan rekan-rekan lainnya bertanya :

    Tapi, apabila nafsu-keinginan adalah salah satu penyebab dari penderitaan ( dimana penyebab lainnya adalah ketidak-tahuan / keserakahan ), bukankah seharusnya kita tidak usah berdaya-upaya untuk hal apapun juga ?

    Adalah penting untuk menyadari bahwa Sang Buddha mengajarkan perbedaan antara keinginan yang tumbuh dari ketidaktahuan dan keinginan yang timbul atas dasar pengertian.

    Sang Buddha sering mengatakan, bahwa kita seharusnya senantiasa bergairah ( adithana ), kita senantiasa bertekad ( tiibacchanda ), juga senantiasa mempunyai cita-cita yang kuat untuk mencapai Nibbana ( chandajato anakkate ). Keinginan seperti inilah yang benar dan harus dipupuk. Keinginan seperti ini timbul atas dasar pengertian, bahwa tidak-ada-kebahagiaan-sejati dalam ALAM-PENJADIAN, baik dalam Kamadhatu, Rupadhatu, maupun Arupadhatu.

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~`

    Kemudian, mengenai hal ini =

    nuruti kareping rasa (positif)

    Mas Sabdalangit, ketika seseorang berjuang untuk merealisasi Nibbana, bahkan ia berjuang untuk tidak “memiliki” kehendak/kamma-baik ( Kusala-Kamma ) maupun kehendak/kamma-buruk (Akusala-Kamma ). Sebab, Kamma adalah “energi” bagi kelahiran kembali, kamma adalah “TUNAS” bagi kelahiran kembali.

    Seorang ARAHAT ,yaitu yang telah menyelesaikan semuanya, mencabut semua akar-kelahiran-kembali, saat ia berbuat sesuatu hal yang “BAIK”, hal itu tidaklah lagi merupakan “KAMMA-BAIK” yang hanya akan menjadikan tunas-bagi-kelahiran-kembalinya. Ketika seorang manusia biasa melakukan kebajikan, seperti menolong orang miskin, maka ia melakukan ini untuk MEMUPUK KAMMA-BAIK, namun berbeda ketika yang melakukannya seorang ARAHAT, sebab apa yang Ia lakukan bukanlah untuk memupuk Kamma-Baik yang hanya akan menjadi sebuah “Tunas” bagi kelahiran kembali.

    Sehingga, keinginan untuk menjadi orang-tua-yang-baik, warga-negara-yang baik, menjadi pemimpin politik yang arif-bijaksana, semuanya itu sah-sah saja, namun semua hal itu masih bersifat keduniawian. Apakah kelak orang-orang yang mempunyai keinginan seperti ini bisa masuk SURGA dan menyatu dengan TUHAN ? BISA, bisa saja… tergantung banyaknya kamma-baik yang ia timbun, tergantung moralitas dia. Jika sedikit kamma-baik, namun lebih banyak kamma-buruk, dan tidak menjaga moralitas dengan baik, ya setelah mati bisa turun derajad , lahir ke-empat alam menyedihkan ( neraka, alam binatang, alam hantu, dan alam Jin ).

    Oleh karena itu juga, seseorang yang telah “MEMASUKI-ARUS” , ia mulai mengarahkan batinnya pada NIBBANA, mengikis kekotoran batin, dan mengurangi sedikit-demi-sedikit segala jenis nafsu keinginannya, termasuk keinginan duniawi seperti tersebut diatas;hingga akhirnya ia berhasil melemahkan dan melenyapkan nafsu-indiriya ; melenyapkan keserakahan ( Lobha ), kemarahan/kebencian (Dosa), dan kebodohan-batin (Moha ; batin yang tanpa “Panna”, tanpa Kebijaksanaan-Benar dalam memandang dunia dengan apa-adanya ).

    TIDAK MUNGKIN SEMUA MAKHLUK MENCAPAI TINGKAT KESUCIAN DALAM WAKTU BERSAMAAN DI TEMPAT YANG SAMA
    Mengenai pertanyaan/pernyataan mas Sabdalangit mengenai “Pemusnahan-Massal” yang akan terjadi jika semua orang melenyapkan nafsu dan menghentikan regenerasi ; hal ini adalah TIDAK-MUNGKIN. Sebab, setiap makhluk memiliki KARMA-nya sendiri-sendiri. Ada yang masih terjerumus kenistaan, ada yang sudah mulai hidup ber-rohani meskipun masih pada tataran kesadaran yang terikat keindriyaan ( masih hidup keduniawian ) sehingga kelak maksimal hanya akan terlahir di alam SURGA-LINGKUP-KEINDRIYAAN ( Kamadhatu ) yang penuh bidadari2 cantik, air susu mengalir di dalam sungai, istana2 megah, dan lain2.
    Ada yang mulai melepaskan keduniawian, tetapi melekat pada Rupa-Jhana dan Arupa-Jhana ( sehingga kelak hanya akan terlahir di Rupa-Dhatu maupun Arupa-Dhatu ). Dan yang tertinggi, adalah yang TELAH-MELIHAT-NIBBANA, dan mulai menapaki Jalan-Suci ( Magga ) dan mendapat buah dari Jalan-Suci ( Phala ) hingga akhirnya merealisasi Nibbana.

    Demikian mas SABDALANGIT, uraian dari saya yang sangat panjang ini ( meskipun ini sudah merupakan upaya penguraian-ringkas ). Semoga bermanfaat bagi panjenengan dan rekan-rekan yang lain.
    Bagi rekan-rekan se-Dhamma, bila ada kekeliruan dalam uraian/penyampaian saya, mohon koreksinya. Anumodana.

    Maturnuwun mas Sabdalangit,
    Salam Hormat dari Saya,
    Ratana Kumaro.

  27. mas8nur~RE said

    Maaf mas Ratana…..Sejauh ini yang saya pahami hanya sebatas apa yang diuraikan mas Sabdalangit, jadi baru tahu kalau ada lagi tingkatan Nibbana yang tidak bersandar pada Surga dan Yang Maha…..
    Jadi mungkin saya ingin bertanya, kemanakah tujuan akhir dari Nibbana tersebut?
    Maaf kalau masih dangkal pemahaman saya, jangan ditertawakan ya……….
    Salam Sejahtera selalu………

    ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
    Dear mas8nur 😉

    Selamat datang mas…,selamat datang… 😉
    Silakan duduk yang nyaman mas, dan mari kita bertukar pikiran disini 😉

    Kemanakah tujuan akhir dari Nibbana ?

    Jawab :
    Tidak kemana-mana. Nibbana itulah tujuan akhir.
    Nibbana, adalah PENGHENTIAN.
    Penghentian dari apa ? Dari dukkha ( derita ). Perjalanan kehidupan kita, perjalanan tumimbal-lahir ( umumnya orang menyebutnya “reinkarnasi” ), yang bagaikan Tak-Berawal ini, sesungguhnya penuh dukkha. Jangankan seluruh perjalanan tumimbal lahir, kehidupan kita yang sekarang ini, bila kita mau jujur, kita menemukan banyak dukkha, bukan ?

    Pemadaman dari Lobha (keserakahan akan keindriyaan), Dosa (kemarahan/atau kebencian) dan Moha (Kebodohan batin ; batin yang tidak Bijaksana dalam memandang dunia dengan apa adanya ( tidak bisa melihat Dukkha, sebab dari Dukkha, Berakhirnya Dukkha, Jalan Menuju Berakhirnya Dukkha ).

    Istilah lain untuk menyebut NIBBANA/NIRVANA ini adalah =

    – Kelanggengan ( Amata / Amerta )
    – Pernaungan Yang Aman ( Khema )
    – Kedamaian ( Santa )
    – Perlindungan ( Tana )
    – Kebahagiaan Tertinggi ( Paramam Sukkham )
    – Penghancuran Keinginan Rendah ( tanhakkhaya )
    – Keabadian ( Dhura )
    – Tanpa Batas ( Ananta )
    – Tak Berkondisi ( Asamkhata )
    – Yang Tidak Ada Bandingannya ( Anupameya )
    – Yang Termulia ( Anuttara )
    – Yang Tertinggi ( Para )
    – Kebahagiaan ( Siva )
    – Kesucian Mutlak ( Visuddha )
    – Kebebasan ( Muti )
    – Perdamaian ( Santi )
    – Diluar Keduniawian ( Lokuttara )
    – Dan lain-lain.

    Dimanakah Nibbana ini ?

    Nibbana, tidak bisa ditunjukkan. Yang telah merealisasi Nibbana, tak dapat DIJEJAKI lagi. Batinnya telah terbebas. Tidak lagi berada di alam surga2 keindriyaan ( tempat bidadari2 cantik, sungai air susu, dan istana2 megah ), tidak lagi di alam Maha-Brahma ( “Maha Pencipta, Maha Kuasa, dll.. ” ) di tataran Rupa-Brahma, tidak pula di Arupa-Brahma.

    NIBBANA, ini kekal-abadi, terlepas dari segala KEBERADAAN dan KEJADIAN. Tidak-berkondisi.
    Sedangkan Surga, itu tidak-kekal. Masih dalam alam KEBERADAAN, bisa dijejaki, bisa ditunjukkan, dan berkondisi.

    Mas Nur bisa lihat batas-waktu/usia makhluk2 di surga sesuai yang saya tuliskan dalam jawaban saya kepada mas Sabdalangit.

    Mungkin ada yang berkata,”Memang bisa dibuktikan, bahwa surga tidak-kekal ?”

    Jawabannya : BISA.

    Telah banyak siswa Sang Buddha yang membuktikannya.
    Melalui apa pembuktian tersebut ? melalui SAMADHI.

    Dengan terlatih dalam samadhi, maka kita dapat membuktikan ajaran Sang Buddha, termasuk mengenai ke-31 alam kehidupan. Siswa-siswa Sang Buddha yang telah maju kerohaniannya BANYAK yang telah membuktikannya sendiri.

    Saya kira cukup sekian dulu mas Nur.

    Saya sangat senang jika ada seseorang mengajak berdiskusi DHAMMA.

    Kebanyakan orang, merasa telah mengerti DHAMMA, karena menganggap SAMA-SAJA dengan pengertian awal yang telah ia miliki dan yakini. Jika begitu, ia tidak akan mempunyai tambahan wawasan, karena berhenti pada pengertian-awal yang ia genggam tersebut.

    Maturnuwun,
    Semoga Mas Nur sekeluarga Senantiasa Berbahagia, Bebas dari Segala Penderitaan, Damai, Sejahtera, Sentausa.

    😉 Ratana Kumaro

  28. To: Tedy Re

    Anumodana atas kondisi baik yg diberikan oleh Mas Ratano untuk menjelaskan Dhamma pada Bro Tedy Re tentang:

    “Jika sering humor, lelucon, tertawa terbahak-bahak, apa termasuk mengumbar nafsu indriya…???…”

    Jawab:
    Ya, sangat mengumbar nafsu…

    6 Indera kontak dengan 6 obyeknya selalu semasa kita masih hidup.

    Bila 6 indera kontak dengan 6 obyeknya kita melekat pada obyek yg menyenangkan, maka kesadaran yg timbul adalah lobha.

    Bila 6 indera kontak dengan 6 obyeknya kita menolak terhadap obyek yg tdk menyenangkan, maka kesadaran yg timbul adalah dosa.

    Bila 6 indera kontak dengan 6 obyeknya kita terajak untuk ikut-ikutan namun tak mengerti apa yg dilakukan, maka kesadaran yg timbul adalah moha.

    Humor, lelucon, tertawa terbahak-bahak merupakan perbuatan melalui ucapan (Vaci Kamma).

    Untuk ucapan perlu kita ketahui bahwa ada 4 hal perkataan tersebut benar, yaitu:
    1. Perkataan itu DATANYA BENAR
    2. Perkataan itu BERMANFAAT
    3. Perkataan itu BERALASAN
    4. Perkataan itu TEPAT PADA WAKTUNYA

    Jadi bila tidak mengandung dari 4 hal tersebut maka dapat dipastikan perkataan tersebut mengandung Lobha, Dosa, dan Moha.

    Hal ini bukan berarti kita menjadi cemberut, tidak peka, kurang senyum, bukan seperti itu. Namun mengarah pada Samvara (Pengendalian Diri).

    Mungkin dapat saya gambarkan.
    Pada saat anda telah melakukan meditasi mendalam dalam hal bervipassana, setelah itu anda membuka mata anda.

    Dan anda berbicara dengan oranglain maka akan terdengar perlahan, tidak terburu-buru, tepat, berpikir dengan jernih bila ingin berkata. Namun apabila perkataan tersebut tidak bermanfaat maka kita tidak mau berkata/menimpali. Hal ini disebut dengan Nana Samvara (Pengendalian Diri Berdasarkan Pengetahuan/Pengertian Benar).

    Memang saya akui perbuatan yg sangat sulit untuk dikendalikan adalah perbuatan melalui ucapan. Namun apabila kita telah mampu menguasai ucapan, maka selanjutnya akan mampu menguasai pikiran yg muncul lalu mengamati agar tidak ‘tercebur’ dalam lumpur lobha, dosa, dan moha.

    Mungkin itu saja yg dapat saya ketik.
    Anumodana
    Ali, SAB.

  29. Terimakasih Mas Ratana Yth
    Saya agak tertatih mengikuti penjelasan panjenengan. Namun kata-demi kata saya berusaha untuk memahaminya. Banyak pertanyaan saya yg kini sudah terjawab, dan saya semakin memahami bagaimana panjenengan memandang suatu nilai, nafsu, kebaikan dan kesadaran.
    Terutama sekian banyak lapisan kesadaran manusia. Memang setiap orang haruslah menggantungkan cita-cita atau target setinggi-tingginya. Ibaratnya kita target agar mendapat nilai 10 (tertinggi) karena probabilitas untuk mendapat skor di bawah 10 akan lebih besar ketimbang dapat 10. Kalau kita targetkan hanya nilai 7 kita hanya akan mndapat nilai max 7. kemungkinan besar hanya dapat nilai di bawah 7. Kalau target lima kemungkinan besar dapat nilai di bawah lima.
    Dan saya pahami DHAMMA adalah upaya meraih skor tertinggi. Walau hasilnya akan sangat variatif pada setiap orang.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Maturnuwun mas Sabdalangit yang terhormat 😉

    Apa yang mas Sabdalangit perbuat saat ini adalah sangat bijaksana, yakni membuka diri untuk mau mengerti tentang “Dhamma”, yang saya yakin merupakan sesuatu “hal-baru” bagi mas Sabdalangit, leres boten mas ? Karena, “Dhamma” yang ditembus Sang Buddha ini sungguh dalam luar biasa. Apa-apa yang dianggap oleh spiritualis/ tokoh-tokoh agama selain Sang Buddha sebagai “Yang-Tertinggi, Yang-Mutlak, Pencipta, Maha-Kuasa…dst”, ternyata masihlah dalam tataran yang bukan sebagai yang tertinggi, bukan sebagai “Yang-Mutlak”. Dan ada tataran-tataran lain diatasnya lagi, hingga puncaknya adalah : NIBBANA ; lokuttara-Dhamma.

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Mengenai konsep: “terlahir kembali di empat alam menyedihkan:
    1. Niraya/Neraka
    2. Tiracchanayoni ( Alam Binatang )
    3. Petayoni ( Alam Hantu )
    4. Asurayoni ( Alam Jin )
    beberapa di antaranya (alam binatangd an hantu, jin) saya sudah menyaksikan sendiri.

    Sebenarnya banyak sekali yg ingin saya ketahui, namun kiranya dalam media ini waktu dan ruang sangat terbatas. Mudah-mudahan suatu saat nanti kita bisa berkesempatan untuk bertatap muka langsung.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Ya mas Sabdalangit, semoga, suatu saat, kita bisa berjumpa 😉
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Mungkin saya hanya mengemukakan satu pertanyaan yg paling utama, dengan alasan pengetahuan saya yg minim.

    Mohon ijin menyadur ya Mas : ….Sebagaimana Sang Buddha sering mengatakan, bahwa kita seharusnya senantiasa bergairah ( adithana ), kita senantiasa bertekad ( tiibacchanda ), juga senantiasa mempunyai cita-cita yang kuat untuk mencapai Nibbana ( chandajato anakkate ). Keinginan seperti inilah yang benar dan harus dipupuk. Keinginan seperti ini timbul atas dasar pengertian, bahwa tidak-ada-kebahagiaan-sejati dalam ALAM-PENJADIAN, baik dalam Kamadhatu, Rupadhatu, maupun Arupadhatu.

    Pertanyaan Saya :
    1. Apakah dalam kehidupan Dhamma dan Vibhava-tanha seseorang harus berpaling dari segala kehiduan dunia ?

    2. Bagi orang yang sudah hidup berada dalam Dhamma, atau dalam tataran Vibhava-tanha, yaitu nafsu keinginan akan pemusnahan diri, bagaimana caranya hamemayu hayuning bawana, atau bagaimana caranya menjaga dan melestarikan kehidupan dunia agar semua berjalan sesuai hukum alam semesta yang harmonis, sistematis, dan sinergis antara “jagad alit” dengan “jagad ageng” ?
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Sepertinya ada salah pemahaman dari mas Sabdalangit. Sepertinya mas Sabdalangit keliru menangkap atas apa yang saya utarakan/sampaikan.

    PERTANYAAN PERTAMA =
    Mas Sabdalangit, vibhava-tanha, merupakan salah satu dari jenis nafsu-keinginan yang harus dilenyapkan.
    Jenis nafsu keinginan adalah =

    – Kama-tanha, yaitu nafsu keinginan akan kenikmatan indria.
    – Bhava-tanha, yaitu nafsu keinginan akan kelangsungan atau kelahiran kembali
    – Vibhava-tanha, yaitu nafsu keinginan akan pemusnahan diri

    Ketiga nafsu itersebut diatas harus dilenyapkan.
    Nampaknya mas Sabdalangit masih terpengaruh konsep MOKSA dalam Hindu, sehingga menganggap dalam Buddhisme, bahwa nafsu keinginan akan pemusnahan diri ini adalah yang tertinggi dan tidak dilenyapkan tapi justru harus diupayakan. KELIRU, mas Sabdalangit, panjenengan keliru… .

    Nafsu keinginan akan pemusnahan diri ini misalnya adalah, niat untuk bunuh-diri. Atau juga pemusnahan-diri yang berupa konsep “moksa” itupun juga tidak diperkenankan. Nafsu keinginan pelenyapan diri ini, harus dibasmi.

    Apakah yang bertekun dalam Dhamma HARUS MENINGGALKAN KEHIDUPAN DUNIA ?
    Pada akhirnya : YA. Ya mas Sabda, pada akhirnya harus meninggalkan kehidupan duniawi.
    Namun, ketika masih dalam tahap-tahap tertentu dalam perjalanan, masih bisa hidup duniawi mas.

    Ummat-awam, hingga para Upasaka/Upasika seperti saya, masih hidup bermasyarakat, bekerja mencari nafkah.
    Meskipun demikian, apakah para Upasaka/Upasika yang hidup bermasyarakat dan belum menjadi Bhikkhu, tidak bisa meraih dan merealisasi tingkat-tingkat kesucian ?
    Jawabannya = BISA, sangat bisa mas. Mas Sabda saya persilakan membaca artikel ini ; “TANDA-TANDA PENCERAHAN”

    Namun, tingkat kesucian tertinggi, yaitu ARAHAT, hanya bisa direalisasi lewat hidup ke-Bhikkhu-an, mas Sabda.

    PERTANYAAN KEDUA =
    Pertanyaan ini juga tidak relevan dengan Buddhisme. Karna, justru nafsu keinginan pelenyapan diri (vibhava tanha) itu sendiri juga harus dibasmi, seperti yang sudah saya jelaskan diatas.

    Mengenai, “Bagaimana caranya menjaga dan melestarikan kehidupan dunia agar semua berjalan sesuai hukum alam semesta yang harmonis, sistematis, dan sinergis antara “jagad alit” dengan “jagad ageng” ?

    Tentunya pertanyaan ini spesifik mengarah pada para Bhikkhu ya mas ?

    Atau secara spesifik, “Apakah seorang Bhikkhu bermanfaat bagi kehidupan masyarakat ? “

    Pertanyaan mas Sabdalangit mirip dengan pertanyaan Raja Ajatasattu dari Magadha kepada Sang Buddha ( Samanaphala Sutta )
    Jawaban Sang Buddha atas pertanyaan tersebut, secara ringkas adalah sbb. =
    1. Bagi seseorang, yang karena karma-karma kehidupan lampaunya sendiri, pada kehidupan sekarang ini memetik buah karma yang kurang baik, maka ia bisa menjadi Bhikkhu, untuk meninggalkan kehidupan keluarga, menempuh kehidupan petapa, mengendalikan diri dalam ucapan, perbuatan,dan pikiran, merasa puas dengan makanan dan tempat tinggal yang diperoleh dari hasil dana orang lain, berbahagia hidup di tempat-tempat yang sunyi. Ini adalah salah satu faedah nyata bagi orang-orang yang menempuh hidup ke-Bhikkhu-an yang bisa dipetik sekarang ini juga.
    2. Para Bhikkhu, dapat membimbing masyarakat ke jalan hidup yang benar. Mereka adalah Pembimbing yang benar, sebab mereka sendiri telah berjalan di jalan yang benar, telah terlatih dalam SILA/ Moralitas yang sempurna, begini Sang Buddha menjelaskan :

    43. “Bagaimanakah, O Baginda, seorang bhikkhu yang sempurna silanya ? Dalam hal ini, O Baginda, seorang bhikkhu menjauhi pembunuhan, menahan diri dari pembunuhan mahluk-mahluk. Setelah membuang alat pemukul dan pedang, malu dengan perbuatan-kasar; ia hidup dengan penuh cinta-kasih, kasih sayang dan bajik terhadap semua mahluk, semua yang hidup. Inilah sila yang dimilikinya.”
    ‘Menjauhi pencurian, menahan diri dari memiliki apa yang tidak diberikan; ia hanya mengambil apa yang diberikan dan tergantung pada pemberian; ia hidup jujur dan suci. Inilah sila yang dimilikinya.’
    ‘Menjauhi hubungan kelamin, menjalankan Brahmacariya (tidak kawin); ia menahan diri dari perbuatan-perbuatan rendah dan hubungan kelamin. Inilah sila yang dimilikinya.’
    44. ‘Menjauhi kedustaan, menahan diri dari dusta, ia berbicara benar, tidak menyimpang dari kebenaran, jujur dan dapat dipercaya, serta tidak mengingkari kata-katanya sendiri di dunia.’
    ‘Menjauhi ucapan fitnah, menahan diri dari memfitnah; apa yang ia dengar di sini tidak akan diceritakannya di tempat lain sehingga menyebabkan pertentangan dengan orang-orang di sini. Apa yang ia dengar di tempat lain tidak akan diceritakannya di sini sehingga menyebabkan pertentangan dengan orang-orang di sana. Ia hidup menyatukan mereka yang terpecah-belah, pemersatu, mencintai persatuan, mendambakan persatuan; persatuan merupakan tujuan pembicaraannya. Inilah sila yang dimilikinya.’
    ‘Menjauhi ucapan kasar, menahan diri dari penggunaan kata-kata kasar; ia hanya mengucapkan kata-kata yang tidak tercela, menyenangkan, menarik, berkenan di hati, sopan, enak didengar dan disenangi orang. Inilah sila yang dimilikinya.’
    ‘Menjauhi pembicaraan sia-sia, menahan diri dari percakapan yang tidak bermanfaat; ia berbicara pada saat yang tepat, sesuai dengan kenyataan, berguna, tentang Dhamma dan Vinaya. Pada saat yang tepat, ia mengucapkan kata-kata yang berharga untuk didengar, penuh dengan gambaran yang tepat, memberikan uraian yang jelas dan tidak berbelit-belit. Inilah sila yang dimilikinya.’
    45. ‘Ia menahan diri untuk tidak merusak benih-benih dan tumbuh-tumbuhan. Ia makan sehari sekali, tidak makan setelah tengah hari. Ia menahan diri dari menonton pertunjukan-pertunjukan, tari-tarian, nyanyian dan musik. Ia menahan diri dari penggunaan alat-alat kosmetik, karangan-karangan bunga, wangi-wangian dan perhiasan-perhiasan. Ia menahan diri dari penggunaan tempat tidur yang besar dan mewah. Ia menahan diri dari menerima emas dan perak. Ia menahan diri dari menerima gandum (padi) yang belum dimasak. Ia menahan diri dari menerima daging yang belum dimasak. Ia menahan diri dari menerima wanita dan perempuan-perempuan muda. Ia menahan diri dari menerima budak-belian lelaki dan budak-belian perempuan. Ia menahan diri dari menerima biri-biri atau kambing. Ia menahan diri dari menerima babi dan unggas. Ia menahan diri dari menerima gajah, sapi dan kuda. Ia menahan diri dari menerima tanah-tanah pertanian. Ia menahan diri dari berlaku sebagai duta atau pesuruh. Ia menahan diri dari membeli dan menjual. Ia menahan diri dari menipu dengan timbangan, mata uang maupun ukuran-ukuran. Ia menahan diri dari perbuatan menyogok, menipu dan penggelapan. Ia menahan diri dari perbuatan melukai, membunuh, memperbudak, merampok, menodong dan menganiaya. Inilah sila yang dimilikinya.’

    Seorang Bhikkhu, juga mempunyai penjagaan yang sempurna atas pintu-pintu indriyanya =

    64. ‘Bagaimanakah, O Baginda, seorang bhikkhu memiliki penjagaan atas pintu-pintu indrianya? O Baginda, bilamana seorang bhikkhu melihat suatu obyek dengan matanya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik atau buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indria pengelihatannya. Ia menjaga indria pengelihatannya, dan memiliki pengendalian terhadap indria pengelihatannya.
    Bilamana ia mendengar suara dengan telinganya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indria pendengarnya. Ia menjaga indria pendengarannya, dan memiliki pengendalian terhadap indria pendengarannya.
    Bilamana ia mencium bau dengan hidungnya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indria penciumannya. Ia menjaga indria penciumannya, dan memiliki pengendalian terhadap indria penciumannya.
    Bilamana ia mengecap rasa dengan lidahnya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indria pengecapannya. Ia menjaga indria pengecapannya, dan memiliki pengendalian terhadap indria pengecapannya.
    Bilamana ia merasakan suatu sentuhan dengan tubuhnya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk-perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian terhadap indria perabanya. Ia menjaga indria perabanya, dan memiliki pengendalian terhadap indria perabanya.
    Bilamana ia mengetahui sesuatu (dhamma) dengan pikirannya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk; keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian terhadap indria pikirannya. Ia menjaga indria pikirannya, dan memiliki pengendalian terhadap indria pikirannya.
    Dengan memiliki pengendalian diri yang mulia ini terhadap indria-indrianya, ia merasakan suatu kebahagiaan yang tidak dapat diterobos oleh noda apa pun. Demikianlah, O Baginda, seorang bhikkhu yang memiliki pengendalian atas pintu-pintu indrianya.’

    Dan lain-lain, dan seterusnya, yang menyebabkan para Bhikkhu adalah panutan yang utama bagi masyarakat manusia. Sehingga, para Bhikkhu dengan ini bermanfaat bagi masyarakat, karena menjadi panutan masyarakat dalam menjalani kehidupan dengan benar dan baik.

    Karena itu, dikatakan, bahwa Sangha para Bhikkhu =

    “ Telah mencapai jalan yang baik ( Supatipanno ), berarti telah mencapai jalan yang benar, jalan yang tidak menyimpang dari tujuan, lurus sesuai dengan Dhamma. Jalan ini adalah “lurus” ( uju), tidak bengkok, disebut sebagai “Jalan-Kebenaran-Yang-Mulia” (Naya). Oleh karena sesuai dengan Dhamma, maka disebut “patuh pada Dhamma” ( Samici ). Oleh sebab itu Sangha siswa Sang Bhagava yang telah mencapai jalan ini disebut : Supatipanno, ujupatipanno, nayapatipanno, samicipatipanno.

    Siswa-siswa yang telah mencapai jalan (Magga) adalah “telah mencapai jalan yang baik”, telah sempurna praktek Silanya dan memiliki laku lampah yang baik, karena pencapaian dengan pelaksanaan Sila dan perilaku yang baik. Lebih lanjut, mereka “telah mencapai jalan yang baik”, karena berlaku sesuai dengan jalan Dhamma-Vinaya yang telah dibabarkan dengan baik.

    Hal-hal itulah yang menjadi manfaat dari kehidupan ke-Bhikkhu-an.
    Bagi dirinya sendiri, seorang Bhikkhu mampu menempuh jalan pembebasan-sempurna dari samsara, mencapai pencerahan, kemudian setelah itu, para Bhikkhu bermanfaat bagi masyarakat, karena mampu membimbing masyarakat kearah kehidupan yang baik dan benar.

    Ingat perumpamaan “ORANG BUTA MENUNTUN ORANG BUTA” kan mas Sabda ? Orang-orang yang belum SUCI dan belum CERAH, tidak akan pernah bisa menjadi pembimbing yang baik dan benar bagi masyarakat. Sebab, sebelum membersihkan hal yang diluar, seseorang harus membersihkan didalam dirinya sendiri terlebih dahulu.

    Begitu mas Sabdalangit.

    Untuk yang belum memiliki karma baik menempuh ke-Bhikkhu-an , bisa tetap bermasyarakat, berkarya bagi Nusa dan Bangsa, serta menyebarkan Dhamma kepada masyarakat luas. Inilah, porsi kegunaan/manfaat dari para ummat awam, hingga Upasaka/Upasika.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Mohon pencerahan Mas Ratana yg budiman.
    Sekiranya ada kalimat yg kurang berkenan saya mohon maaf yg sebesarnya, semua karena ketidaktahuan saya pribadi.

    salam asah asih asuh
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Terimakasih mas Sabdalangit atas diskusi ini,
    Semoga pemaparan saya ini bermanfaat bagi anda, dan kita semuanya.
    Bila masih ada yang ingin didiskusikan, silakan mas, saya senang hati menerimanya.

    Salam asah asih asuh 😉

  30. Mas Ratana Yth,
    barusan saya menulis comment, dan mengajukan pertanyaan kepada Panjenengan, tetapi tdk terjadi up load, mungkin masuk ke spam ? mohon dikoreksi. Matur sembah nuwun
    salam asah asih asuh

  31. Salam….untuk Mas Ratna Kumara dan juga saudara2 yang lain.. Semoga senantiasa dalam kedamaian Sejati…
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    RK =
    Salam untuk mas pengembarajiwa, selamat datang mas…, senang hati saya menerima anda sebagai tamu disini 😉

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Mas Ratna Kumara…perkenankanlah saya untuk sedikit bertanya, karena saya ini masih berada dalam pengembaraan dan tidak tahu kapankah pengembaraan ini berakhir. Semoga Mas Ratna Kumara tidak keberatan dan senang untuk memberikan pencerahan-pencerahan kepada pengembara yang gembel ini.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    RK =
    Silakan mas pengembara jiwa, saya senang bila saya bisa membantu menemukan jawabannya.. .
    Anda dalam pengembaraan dan tidak tahu kapankah pengembaraan anda berakhir ? Saya sedang dalam perjalanan mengakhiri mas 😉 Tapi sama-sama sedang dalam perjalanan.. 😉

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Yang ingin saya tanyakan adalah, apa2 yang sudah kita maklumi bersama dalam Hidup di dunia yang tiada kekal ini yaitu :

    Di setiap Harinya, siang dan malam tentunya…Manusia itu tidak terlepas dari yang namanya “TIDUR”. Apakah Tidur di Siang Hari ataupun tidur di Malam Hari, bahkan ada juga yang senangnya tiduuuur terus.

    pertanyaannya adalah…:
    Pada saat seseorang tidur tentunya ia tiada mengetahui akan dirinya dan tiada mengetahui akan Tuhannya bahkan Dunia pun ia tidak mengetahuinya. Tidak hanya itu saja…..bahkan ia tiada mengetahui siapa yang ada disampingnya dan apa saja yang ada disekelilingnya dll…dll…dll. Lalu…jika semuanya tiada diketahui, Siapakah yang ada itu..???
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    RK =
    Tidak bisa disamakan tidurnya seorang yang terlatih dalam kerohanian dengan tidurnya manusia biasa ( yang masih dibelenggu keserakahan/nafsu-indriya, kemarahan dan/atau kebencian, kebodohan/kegelapan batin ).

    Apalagi pastinya bagi seorang Ariya ( yang telah merealisasi kesucian ( 4 magga dan 4 phala ) ), kualitas tidurnya akan jauh berbeda dengan manusia biasa. Karena kualitas batinnya jauh berbeda.

    Seorang rohaniwan-biasa (yang bukan seorang Ariya) yang terlatih dalam spiritualitas yang “masak”, saat tertidur ia =

    1. Ia tertidur dengan bahagia
    2. Ia bangun dengan bahagia
    3. Ia tidak bermimpi hal-hal yang buruk

    Bahkan, tak jarang orang2 yang bertekun dalam spiritualitas (meski bukan seorang Ariya) menyatakan bahwa saat ia TIDUR, ia SADAR, ia mengetahui tubuhnya sedang tidur, ia mengetahui disampingnya ada apa dan siapa, dan ia tahu, saat sadar dalam tidur itu, ia kemana [!] .

    Siapakah yang ada itu ?? TIDAK-ADA-SIAPA-SIAPA. Mengenai jawaban saya ini, anda akan bisa mengerti bila anda telah terlatih dalam SAMMA-SAMADHI (konsentrasi yang benar ) dan SAMA-SATI ( perhatian-benar ; terlatih dalam vipassana-bhavana ). Setidaknya, anda bisa mencari wacana mengenai ANATTA dan PANCA-KHANDA ; yang akan menerangkan semua aspek mengenai apa yang oleh masyarakat umumnya disebut sebagai “ROH” dan “TUBUH”.

    Tidak-ada siapa-siapa mas.. Itu jawaban saya, singkat, tapi itu sudah menerangkan semuanya yang bila saya tulis bisa menggunakan ribuan kata.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Anggaplah…pada saat tidur itu ia pun tidak mengalami mimpi, bahkan setelah BANGUNpun terasa sangat…sangat… singkat sekali ia alami seperti hanya beberapa saat/beberapa detik saja berlalu, padahal Jam sudah berputar antara 6-8 jam dalam perjalanan tidur itu. Apakah makna dan hakikatnya ini…???. Lalu…, seandainya pada saat tidur itu ia mengalami mimpi dengan berbagai macam apa saja yang dilihatnya dalam mimpi itu, yang masuk akal ataupun yang tidak masuk akal juga dialami dalam mimpi itu, yang mustahil dan yang tidak mustahil juga berlaku dalam mimpi itu. Dan apa2 yang dialami dalam mimpi itu terasa seperti nyata sekali dialami, ada kesukaan ada kedukaan, ada bahagia ada kesengsaraan, ada keberanian ada ketakutan dll…..dll………dll. Dan itu dialami sangat nyata sekali.. dan terasa sekali (*tapiii….itu dalam mimpi*). Dan begitu terbangun….besok paginya, hanya termenung dan mengingat, “ternyata apa2 yang ku alami tadi..semua itu hanya mimpi”). Mana…makanan yang sangat leeezat dan nikmat sewaktu kumakan dalam mimpi itu, mana….kedukaan yang kuhadapi itu, mana….orang yang mengejar-ngejarku dengan membawa sebilah pedang itu, mana…. harta yang banyak yang kupunya itu,mana…..mobil mewah yang kupunya itu, mana….. rumah tingkat 5 yang seperti istana itu, mana….wanita/pria yang cantik/gagah yang menjadi istri/suamiku itu, mana…mana…mana…semuanya tidak ada, semuanya hanya mimpi belaka. Apakah Makna dan hakikat mimpi yang dialami itu…????
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    RK =
    Pertanyaan anda, akan saya jawab dengan menerangkan mengenai fenomena TIDUR dan MIMPI, karena ini akan menjawab semua pertanyaan anda yang tersebut diatas =

    PERTAMA, perjalanan hidup kita dalam samsara ini pun MIMPI semata mas. Mimpi yang tak kunjung usai, berpindah-pindah setting suasana, berganti-ganti tema, tragedi, melodrama, komedi, berganti-ganti peran utama dan peran pembantu, dll. Setelah tubuh mati, pindah tempat lagi, bersinambung lagi, begitu seterusnya sampai akhirnya disudahi melalui realisasi Nibbana/Nirvana. Hanya para Buddha saja yang sudah tidak bermimpi, karena itu mereka disebut sebagai “Yang-Sadar”.

    KEDUA, menurut psikologi Buddhis, mimpi adalah proses pikiran ; terjadi sebagai aktivitas pikiran. Peristiwa mimpi sangat-erat hubungannya dengan peristiwa tidur, dan peristiwa tidur ini terdiri dari lima tahap:

    Tahap mengantuk
    Tahap tidur ringan (tidur ayam)
    Tahap tidur lelap (pulas)
    Tahap tidur ringan (tidur ayam)
    Tahap bangun tidur.

    Di dalam kitab ‘Milinda Panha’ atau ‘Pertanyaan-pertanyaan Raja Milinda’. Bhante Nagasena menjelaskan bahwa penyebab mimpi ada enam macam,

    a). Tiga di antara yang pertama ialah angin, air empedu dan lendir/dahak.
    b). Yang keempat adalah campur tangan kekuatan gaib;
    c). Yang kelima ialah bangkitnya pengalaman-pengalaman lampau, dan
    d). Yang keenam adalah pengaruh peristiwa-peristiwa yang akan terjadi (akan datang).

    Dijelaskan bahwa mimpi hanya terjadi pada tahap ‘tidur ringan’, yang dikatakan ‘mirip tidurnya kera’. Di antara keenam penyebab yang diterangkan oleh Bhikkhu Nagasena, dijelaskan bahwa jenis mimpi yang terakhir merupakan mimpi yang mengandung ramalan dan paling penting, sedangkan yang lainnya relatif tidak berarti.

    Mengenai campur tangan kekuatan ghaib, ini datangnya dari para Dewa ( mungkin istilah muslim adalah para malaikat ). Tapi, dewa terkadang ada yang memiliki “niat-jahat”; sehingga terkadang memasuki alam tidur kita dan memberikan mimpi-mimpi buruk dan bersifat palsu, dengan tujuan mempermainkan seseorang. Misal memberi mimpi bahwa istrinya sekarang sedang “tidur” dengan laki-laki lain, padahal istrinya saat itu sedang menginap dirumah orang-tuanya sendiri. Terkadang, Dewa ada pula yang memiliki “niat-baik”, misal dengan memberitahukan apa-apa yang sedang terjadi, memberi tanda-tanda/signal akan sesuatu hal yang akan datang/menimpa dia, entah hal baik maupun buruk.

    Mimpi adalah kegiatan-kegiatan pikiran ; dan kita semua tahu, pikiran merupakan salah satu unsur dari sesuatu yang oleh masyarakat awam/umum sebagai “ROH” . Semua manusia pasti pernah bermimpi, walaupun beberapa di antaranya tidak ingat.

    Buddha Dhamma mengajarkan , mimpi tersebut mempunyai arti psikologi. Enam sebab yang disebutkan di atas dapat di golongkan ke dalam empat cara sebagai berikut :

    I. Jenis mimpi sebagai akibat kesan-kesan pikiran yang kuat / dalam. Setiap satu pemikiran yang muncul ikut terkesan di dalam pikiran bawah sadar dan beberapa di antaranya dengan kuat mempengaruhi pikiran, tergantung keinginan kita. Ketika kita sedang tidur, beberapa pemikiran ini terangsang dan muncul sebagai ‘gambar-gambar’ yang bergerak di hadapan kita. Hal ini terjadi karena selama tidur: kelima indria yang merupakan penghubung kontak kita dengan dunia luar, tertahan sementara. Lalu kesan bawah sadar bebas untuk menjadi dominant dan mengulangi pemikiran-pemikiran yang tertimbun.

    CONTOH = Ketika seseorang mengalami PATAH-HATI, ditinggal pergi kekasihnya, maka, ini akan menjadi sebuah KESAN pikiran yang sangat kuat tertanam dalam bawah sadar dan mempengaruhi pikiran. Ketika ia tidur, seringkali ia memimpikan kekasihnya yang pergi itu, entah dulu ketika masih bersama, ataupun berkhayal seakan-akan bertemu kembali dan merajut kasih kembali. Tak jarang, ini akan mengakibatkan depresi, halusinasi, dll.

    Mimpi jenis pertama ini bermanfaat bagi para ahli penyakit jiwa, namun tak dapat digolongkan ke dalam mimpi yang mengandung ramalan. Mimpi-mimpi ini semata-mata cerminan pikiran/batin pada saat kita sedang beristirahat.

    II. Berikutnya, adalah jenis mimpi yang disebabkan oleh gangguan luar (eksternal) dan gangguan dalam (internal) yang menimbulkan sebuah ‘rangkaian pemikiran yang dapat dilihat’, yang ‘dilihat’ oleh pikiran ketika kita sedang istirahat. Faktor-faktor internal adalah faktor yang menganggu tubuh (misalnya sebuah makanan berat yang menyebabkan seseorang tidak dapat tidur enak atau tak seimbang dan gesekan antara unsur-unsur pembentuk tubuh). Gangguan eksternal adalah terganggunya pikiran (walaupun orang yang tidur mungkin tidak menyadarinya) oleh gejala-gejala alamiah seperti cuaca, angin, rasa dingin, hujan, gemerisik dedaunan, bunyi berderaknya jendela. Pikiran bawah sadar bereaksi terhadap gangguan tersebut dan menciptakan gambar-gambar untuk ‘menghilangkan’ gangguan tersebut. Pikiran tampaknya menyesuaikan diri terhadap gangguan tersebut melalui suatu cara tertentu sehingga orang yang bermimpi (pemimpi) dapat meneruskan tidurnya dengan enak (tak terganggu). Mimpi jenis ini tidak bermanfaat dan tidak bisa ditafsirkan.

    III. Ketiga, jenis mimpi yang mengandung ramalan. Mimpi ini jarang di alami, dan terjadi apabila terdapat peristiwa mendatang yang sangat berkaitan dengan orang yang bermmpi. Buddha Dhamma mengajarkan bahwa di samping dunia kehidupan-manusia yang kita alami sekarang ini, terdapat alam para dewa yang , atau juga para hantu yang berkelana di bumi manusia ini, dimana manusia bisasa tidak dapat melihat semuanya itu. Beberapa diantara mereka sangat mungkin dulunya adalah leluhur kita, kerabat-keluarga kita, atau sahabat-sahabat kita yang telah meninggal dunia dan telah dilahirkan kembali sebagai makhluk-makhluk tersebut. Mereka memelihara hubungan batinnya yang lampau dan melekat kepada kita.

    Ketika umat Buddha melimpahkan jasa kepada para dewa atau orang-orang yang telah meninggal dunia, ummat tersebut ingat dan mengundang makhluk-makhluk tersebut untuk turut merasa gembira di dalam kebaikan atau jasa tersebut. Jadi ia menumbuhkan satu hubungan batin kepada mereka yang telah meninggal dunia. Sebagai akibatnya para dewa merasa gembira dan mereka tetap memperhatikan kita , mereka menunjukkan sesuatu melalui mimpi andaikata kita menghadapi suatu masalah besar dan mereka mencoba melindungi kita dari bahaya. Dengan demikian, apabila terdapat sesuatu yang penting yang akan terjadi dalam kehidupan kita, mereka menggerakkan energi batin tertentu ke dalam pikiran-pikiran kita, yang terlihat sebagai mimpi. Mimpi-mimpi ini dapat memperingatkan kita dari bahaya yang akan terjadi atau bahkan agar kita bersiap-siap menghadapi kabar baik yang sangat besar. Pesan ini diberikan dalam bentuk simbol (kebanyakan seperti film negatif) dan harus ditafsirkan dengan menggunakan kecerdasan (intelegensia). Sayangnya, kebanyakan orang salah anggapan terhadap dua jenis mimpi pertama diatas tadi dengan jenis mimpi yang ketiga ini, dan akhirnya membuang-buang energi, waktu dan uang, untuk berkonsultasi kepada para penafsir mimpi dan para dukun palsu. Sang Buddha menyadari bahwa penafsiran mimpi , konsultasi cenayang, dll. hal ini dapat dimanfaatkan untuk keuntungan pribadi, oleh karena itu Beliau memperingatkan para Bhikkhu agar jangan melakukan praktek-praktek menujum, meramal dan menafsirkan mimpi-mimpi.

    IV. Jenis mimpi yang keempat ; Pikiran kita adalah gudang dari semua arus-energi perbuatan (kamma/karma ) yang tertumpuk semenjak berjuta kehidupan lampau kita sendiri. Ketika sebuah karma/kamma akan masak, pikiran yang sedang istirahat selama tidur, dapat menciptakan ‘gambar’ apa yang akan terjadi. Yang lain lagi, perbuatan-perbuatan yang akan datang menjadi sangat penting dan akan terkesan dengan kuat, lalu pikiran ‘melepaskan’ tenaga ekstra dalam bentuk sebuah mimpi yang “hidup”, seakan-akan nyata [!]. Cuma, mimpi ini munculnya jarang dan hanya pada orang tertentu yang batinnya terlatih. Simbol-simbol dari hasil kamma-kamma tertentu juga muncul dalam pikiran-pikiran kita pada saat-saat terakhir ketika kita akan meninggalkan dunia ini.

    MIMPI SEBAGAI SEBUAH MEDIA TELEPATI
    Pikiran yang sedang beristirahat, merupakan kondisi yang ideal untuk menerima pesan-pesan “batin” dari orang lain. Jika seseorang ingin berkomunikasi, atau menyampaikan suatu pesan kepada seseorang lainnya, maka ia dapat menggunakan konsentrasinya, lalu ia memusatkan perhatian pada seseorang yang dituju dan mengirimkan pesan kepadanya. Subjek yang dituju, ketika pikirannya sedang beristirahat ( misal sedang tidur ), biasanya akan menerima kiriman simbol-simbol/pesan dari si pengirim tadi berupa MIMPI.

    Biasanya, mimpi yang merupakan telepati ini, hanya terjadi satu saat pikiran, dan pikiran penerima tidak kuat untuk menerima dalam jangka waktu yang panjang.

    CONTOH = Ketika kita sedang akan beristirahat, baru saja mau tidur, tiba-tiba muncul sebuah “film”, yang menggambarkan seseorang yang sangat dekat dengan kita sedang MENANGIS, tertelungkup. Mimpi ini sangat nyata, lengkap dengan audio-visual yang jernih, suaranya pun stereo.

    Ini bisa digolongkan sebagai mimpi jenis telepati. Dan ternyata benar, saat itu, seseorang yang dekat dengan kita tersebut sedang dirundung masalah, hatinya sedih sekali. Banyak orang yang mengalami hal ini.

    HANYA PARA BUDDHA DAN ARAHAT YANG TIDAK LAGI BERMIMPI
    Para Buddha dan Arahat tidak pernah bermimpi. Tiga jenis mimpi pertama tidak akan pernah muncul di dalam pikiran mereka, karena pikiran mereka telah tenang dan tak dapat dirangsang untuk bermimpi. Jenis mimpi keempat tak akan terjadi pada mereka karena mereka telah menghancurkan tenaga keserakahan dengan sempurna, dan tak ada lagi tenaga kebencian yang tersisa, juga tak ada lagi hasrat yang tidak terpuasi yang dapat merangsang pikiran untuk bermimpi. Buddha dikenal juga sebagai ‘Orang Yang Sadar’ karena cara Beliau ‘mengendurkan’ badan fisiknya tidaklah sama dengan cara kita tidur yang menghasilkan mimpi.

    ( Sumber rujukan : Dhammananda, K.S. 1987. What Buddhists Believe (Expanded and Revised Edition). Buddhist Missionary Society, Kuala Lumpur , 328p. )

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Dan ternyata…walau dengan mengalami mimpi berbagai macam yang dilihat, tetap saja ia tidak mengetahui pada saat tidur itu kalau ia sedang tidur dan tidak mengetahui kalau itu hanya mimpi, tidak tahu akan dirinya dan tidak tahu akan Tuhannya, siapa di sampingnya dan apa saja yang ada disekelilingnya. Siapakah yang ada itu..???. Setelah terbangun/terjaga dari tidur barulah ia tahu, kalau tadi ia sedang tidur dan bermimpi macam2.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Pertanyaan ini sudah sekaligus terjawab melalui jawaban-jawaban saya diatas/sebelumnya
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Mohon pencerahannya ya mas…??? terutama kalimat2 yang DITEBALKAN itu.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Sudah saya jawab mas.
    Bila masih ada yang mas pengembarajiwa hendak tanyakan atau diskusikan lagi, silakan mas.. saya sangat senang hati.. Diskusi Dhamma adalah hal terbaik 😉 , daripada membicarakan hal-hal yang tidak penting dan tidak bermanfaat bagi perkembangan spiritual kita, ya kan mas ?

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Terimakasih…
    Salam Hormat
    Salam Cinta Kasih dan Damai selalu…

    Pengembara Jiwa
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Terimakasih kembali mas..,
    Salam Hormat dari Saya,
    Salam Cinta Kasih dan Damai selalu…,
    Ratana Kumaro

    • Terimakasih banyak kepada Mas Ratna Kumara yang telah memberikan pencerahan2 dengan begitu mendetail dan sangat berarti sekali baik bagi saya pribadi dan juga untuk saudara2 yang lain yang ada disini yang juga ikut menyimak dari apa2 yang Mas Ratna Kumara paparkan. Terimakasih sekali lagi.

      Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Mas Ratna Kumara yang begitu tulusnya dan begitu sabarnya untuk memberikan pencerahan2 kepada siapa saja yang menginginkan pencerahan, maka perkenankanlah…saya untuk menanyakan kembali dari apa2 yang telah di uraikan di atas. Sebagai penyempurna dari pada pemahaman2 yang saya petik dari uraian2 Mas Ratna Kumara. Tentu dengan sempurna apa2 yang dipahami akan mempermudah jalan untuk menemukan Hakikat yang ada di balik sesuatu dan akhirnya sebagai suatu sarana dalam Dhamma.
      Apalagi Mas Ratna mengatakan bahwa sedang dalam perjalanan mengakhiri, tetunya hanya beberapa langkah lagi mas Ratna Kumara akan sampai kepada tujuan Akhir pengembaraan. Semoga saya yang berada di belakang Mas Ratna bisa mengikuti dan akhirnya sampai juga pada pencapaian Akhir tsb.

      ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

      Mas Ratna yang bijak dan baik budi…

      RK =
      Tidak bisa disamakan tidurnya seorang yang terlatih dalam kerohanian dengan tidurnya manusia biasa ( yang masih dibelenggu keserakahan/nafsu-indriya, kemarahan dan/atau kebencian, kebodohan/kegelapan batin ).

      Apalagi pastinya bagi seorang Ariya ( yang telah merealisasi kesucian ( 4 magga dan 4 phala ) ), kualitas tidurnya akan jauh berbeda dengan manusia biasa. Karena kualitas batinnya jauh berbeda.

      Seorang rohaniwan-biasa (yang bukan seorang Ariya) yang terlatih dalam spiritualitas yang “masak”, saat tertidur ia =

      1. Ia tertidur dengan bahagia
      2. Ia bangun dengan bahagia
      3. Ia tidak bermimpi hal-hal yang buruk

      Bahkan, tak jarang orang2 yang bertekun dalam spiritualitas (meski bukan seorang Ariya) menyatakan bahwa saat ia TIDUR, ia SADAR, ia mengetahui tubuhnya sedang tidur, ia mengetahui disampingnya ada apa dan siapa, dan ia tahu, saat sadar dalam tidur itu, ia kemana [!].

      ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
      PJ =
      Saya sangat setuju dengan uraian Anda diatas….,

      ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

      RK =
      PERTAMA, perjalanan hidup kita dalam samsara ini pun MIMPI semata mas. Mimpi yang tak kunjung usai, berpindah-pindah setting suasana, berganti-ganti tema, tragedi, melodrama, komedi, berganti-ganti peran utama dan peran pembantu, dll. Setelah tubuh mati, pindah tempat lagi, bersinambung lagi, begitu seterusnya sampai akhirnya disudahi melalui realisasi Nibbana/Nirvana. Hanya para Buddha saja yang sudah tidak bermimpi, karena itu mereka disebut sebagai “Yang-Sadar”.

      ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
      PJ=
      Jika memang dalam samsara ini pun MIMPI semata, mimpi yang tak kunjung selesai dll..dll..dll..sebagaimana yang Mas Ratna uraikan di atas. Berarti….yang namanya MIMPI itu adalah sesuatu yang tidak nyata, sesuatu yang Fatamorgana, Ilusi, Bayangan, Semu dan hakikatnya TIDAK ADA. Dan tentunya….jika ada yang “TIDAK ADA” maka Pasti ada yang “ADA”, begitukan Mas Ratna…???. Dan kepada yang “ADA” itulah semuanya Kembali, semuanya menghadap, semuanya mengabdi, semuanya menyembah walau dengan berbagai macam cara penyembahan2 yang mungkin berbeda satu dengan yang lain menurut kepercayaan dan keyakinan masing2 Agama. Bahkan apa saja ritual maupun pengabdian dan bahkan bermacam2 Agama yang ada itupun termasuk dalam samsara ini yang Mas Ratna katakan tadi adalah MIMPI.
      ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
      DIJAWAB =

      Dear mas pengembarajiwa 😉

      Mas pengembarajiwa, jika anda menyimak tataran kesadaran yang saya uraikan untuk mas Sabdalangit, anda pasti mengerti, bahwa sesuatu yang anda nyatakan “ADA” sebagai “Yang-Maha…” tersebut, dalam ajaran Buddha-Dhamma, masih dalam tataran kesadaran “kamavacara-citta” maupun “rupavacara-citta”. Memang ini hal yang susah dipahami mas, tapi, karena kita sedang berdiskusi lintas pemahaman, maka perkenankan saya memperkenalkan hal ini dan semoga anda membuka wawasan anda. Jika mas pengembarajiwa mempercayai akan kekuasaan dia, itu terserah mas pengembarajiwa.

      Sedangkan Sang Buddha, dengan tegas menyatakan, bahwa kepercayaan akan adanya sesuatu “Yang-Maha…” sebagai “Pencipta, Penguasa”, dimana kepadanya kita harus MENGHAMBA, MENYEMBAH, itu suatu kesalahan.

      Mas, memang, Buddha-Dhamma tidak semudah itu jika harus dibahas. Jika anda menggenggam pengertian anda yang sudah tertanam begitu kuat tersebut, maka akan sia-sia kita membahas Dhamma. Saya menjelaskan seperti apapun, anda tidak akan memahami.

      Lebih baik anda teruskan kepercayaan anda itu,saya hormati, dan teruskan pengembaraan-jiwa anda, Semoga suatu saat nanti, di suatu kelahiran kembali anda yang tertentu, anda bisa mengenali dan memahami serta merealisasi Dhamma Sang Buddha 😉

      Mengenai MIMPI. Ya, mimpi saat tidur adalah suatu kelanjutan dari mimpi kita saat tidak tidur 😉
      ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
      Dan Jika para Budha saja yang sudah tidak bermimpi, ma’af saya sadur tulisan Mas Ratna ya…

      HANYA PARA BUDDHA DAN ARAHAT YANG TIDAK LAGI BERMIMPI
      Para Buddha dan Arahat tidak pernah bermimpi. Tiga jenis mimpi pertama tidak akan pernah muncul di dalam pikiran mereka, karena pikiran mereka telah tenang dan tak dapat dirangsang untuk bermimpi. Jenis mimpi keempat tak akan terjadi pada mereka karena mereka telah menghancurkan tenaga keserakahan dengan sempurna, dan tak ada lagi tenaga kebencian yang tersisa, juga tak ada lagi hasrat yang tidak terpuasi yang dapat merangsang pikiran untuk bermimpi. Buddha dikenal juga sebagai ‘Orang Yang Sadar’ karena cara Beliau ‘mengendurkan’ badan fisiknya tidaklah sama dengan cara kita tidur yang menghasilkan mimpi.

      apakah ada selain penganut Ajaran Budha yang dalam tidurnya ia tidak bermimpi lagi…??? dan apakah orang tsb bisa dikatakan mereka juga para BUDHA..???. Karena saya pernah bertemu dengan seseorang yang dia bukan penganut Ajaran Budha, dan ia adalah kawan karib bahkan sangat dekat sekali dengan saya…setiap tidur dia mengatakan bahwa ia tidak pernah bermimpi dan bahkan sangat singkat…sekali tidur yang dialami, hanya bberapa saat saja/beberapa detik saja tau2 begitu bangun ternyata sudah pagi dan dilihat jam sudah berputar 6-8 jam. Setiap tidur ia mengalami hal demikian.
      Bagaimana menurut mas Ratna…????
      :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
      DIJAWAB =

      mas pengembarajiwa, sepertinya sudah saya jelaskan diatas :

      Seorang rohaniwan-biasa (yang bukan seorang Ariya) yang terlatih dalam spiritualitas yang “masak”, saat tertidur ia =

      1. Ia tertidur dengan bahagia
      2. Ia bangun dengan bahagia
      3. Ia tidak bermimpi hal-hal yang buruk

      Bahkan, tak jarang orang2 yang bertekun dalam spiritualitas (meski bukan seorang Ariya) menyatakan bahwa saat ia TIDUR, ia SADAR, ia mengetahui tubuhnya sedang tidur, ia mengetahui disampingnya ada apa dan siapa, dan ia tahu, saat sadar dalam tidur itu, ia kemana [!].

      Jadi, diluar para BUDDHA dan ARAHAT, ada yang mengalami hal yang serupa tapi TAK SAMA, secara kualitas.
      Tapi, inipun juga akan susah jika saya menjelaskan. Silakan lanjutkan pemahaman anda mas .. 😉

      ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

      Dan Jika Para Budha itupun bisa tidur walau tidak bermimpi, berarti di balik diri para BUDHA, ada yang membuat diri(para budha) itu tidur/yang menghendaki para budha tidur. Tentunya ada lagi “YANG MAHA ADA” dibalik diri para Budha. Lalu siapakah sebenarnya TUHAN itu….??? Ma’af!!, apakah BUDHA ataukah yang “YANG MAHA ADA” dibalik BUDHA..??? Dan yang “YANG MAHA ADA” itu pasti tidak banyak dan tidak berbilang, tetapi disebut dengan “ESA”, bukan satu, dua, tiga, empat, lima dst…


      DIJAWAB =
      Sepertinya sudah saya jelaskan diatas, bahwa cara seorang Buddha mengendurkan tubuhnya BERBEDA dengan cara manusia biasa beristirahat (tidur).

      Mas pengembarajiwa sudah membuktikan sendiri pernyataan2 mas pengembarajiwa tersebut diatas?
      Jika sudah, itu baik mas, saya hargai dan hormati.. . Karena, saya sendiri bisa meyakini Buddha-Dhamma karena saya sudah membuktikan banyak hal dari Buddha-Dhamma sehingga saya berani sarankan / ucapkan, sejauh bisa saya buktikan, saya baru yakin.

      Tidur bagi para manusia adalah sebuah fenomena fisik biasa. Kebodohan batinlah yang menyangkut-pautkan tidur dengan sosok “MAHA-KUASA…” yang mengajak tidur. 😉
      :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
      ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

      RK=
      Diskusi Dhamma adalah hal terbaik, daripada membicarakan hal-hal yang tidak penting dan tidak bermanfaat bagi perkembangan spiritual kita

      ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
      PJ=
      Setuju mas…!!!!
      Tetapi..tentunya dengan mengetahui akan asal usul sesuatu, akan mempermudah diri untuk menganalisa dan memperbaiki diri….agar benar2 di dalam Dhamma yang di lakukan, bukan karena dorongan Nafsu-nafsu yang merugikan. Tetapi dikarenakan dirinya telah mendapatkan Pemeliharaan sehingga berbuatlah ia akan Dhamma dengan sepenuh Ikhlas tanpa pamrih.
      Saya yakin…jika ada yang berbuat Dhamma (entah dia beragama apapun) tetapi belum sepenuhnya mengetahui akan asal usul Dhamma tsb, pasti di hatinya masih ada “gretek-gretek” ke “AKU”an, yang sebenarnya itu merugikan dirinya sendiri.

      DIJAWAB =
      Mas pengembarajiwa sudah mengetahui asal-usul yang mas maksud tersebut ? Hebat mas, hebat, saya salut.. .

      Oiya, mas pengembarajiwa sudah mengerti arti Dhamma yang dimaksud ? Karena Dhamma itu sangat dalam untuk diartikan lho mas, dan kata “Dhamma” itu sendiri selalu menunjuk pada ajaran Sang Buddha, tidak pada ajaran2 diluar Sang Buddha. Jadi, jika yang dimaksud mas pengembarajiwa berbeda dengan “Dhamma” ajaran Sang Buddha, saran saya, sebaiknya mas menggunakan kosakata yang lain saja.

      Kemudian, berkaitan dengan pernyataan mas pengembarajiwa mengenai nafsu-negatif yang merugikan ; mas pengembarajiwa juga harus berhati-hati, ketika mengajukan diskusi yang seperti ini, apakah mas sendiri sudah terbebas dari NAFSU-NAFSU yang merugikan ? Sejauh mana mas pengembarajiwa berlatih melenyapkan NAFSU ? Apakah mas pengembarajiwa sudah tidak pernah marah dalam kurun waktu yang cukup lama/signifikan ? Apakah mas pengembarajiwa sudah tidak pernah MASTURBASI ? Apakah mas pengembarajiwa sudah tidak tergerak nafsu indriyanya ketika melihat perempuan cantik dan menarik ? Ini sebuah test yang baik untuk kita lakukan, untuk menguji, sejauh mana kita telah melatih diri melenyapkan nafsu negatif, sehingga setiap yang kita lakukan tidak dikarenakan terdorong nafsu negatif tersebut.

      Saya sendiri sangat sering mengajukan uji test pertanyaan tersebut ke diri saya 😉

      :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

      Terimakasih Mas Ratna Kumara yang sangat perhatian kepada seluruh Makhluk
      Dan semoga seluruh Makhluk berbahagia
      Salam Cinta Kasih Damai Selalu

      Pengembara Jiwa
      ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
      DIJAWAB =
      Terimakasih kembali Mas Pengembarajiwa yang cukup mempunyai rasa ingin tahu mengenai Dhamma.
      Semoga, mas pengembarajiwa segera tiba pada saatnya untuk memahami Dhamma yang Agung, Dalam, dan Halus ini… .
      Hormat saya 😉
      Ratana Kumaro.

      • Waaaaaaah…..sungguh luar biasa penjabaran Mas Ratna Kumara, sangat mendetail dan terperinci sampai ke akar-akarnya….Saya jadi salut dengan Anda yang begitu…mudahnya bisa memaparkan segala Hakikat-hakikat kehidupan mulai dari sudut pandang mana saja. Dan saya sangat berterimakasih sekali…untuk yang ke dua kalinya….atas segala perhatian Anda kepada pertanyaan2 saya. Dan tentunya jawaban-jawaban Anda sangat berbobot dan dalam sekali…penuh Makna yang tak sekedar kata melainkan jauh sekali dari kata-kata, bahkan sampai menembus kepada kata-kata yang tiada berkata-kata, huruf yang tiada berhuruf…..

        Ternyata apa yang Anda katakan bahwa diri saya hebat dan membuat Anda Salut, itu semua tertuju bukan pada diri saya melainkan tertuju pada diri Anda sendiri. Karena bagaimana mungkin perkataan itu tertuju kepada saya…sedangkan saya berada pada kebodohan Batin seperti mereka-mereka yang Anda katakan berada dalam kebodohan Batin. Jangan kan batin saya diliputi oleh kebodohan, bahkan karena terlalu bodohnya batin saya ini, membuat saya tidak tahu siapa diri saya ini, siapa aku ini dan siapa di depan saya ini, siapa yang dikatakan Tuhan itu dan siapa sih…Manusia itu. Bahkan Dhamma pun saya tidak mengetahui…

        Saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa dan bahkan tidak ada, tetapi Mas Ratna Kumara tanpa saya minta telah mengungkapkan diri Anda sendiri tentang jati diri Anda…siapa Anda sesungguhnya dan dimana kedudukan Anda, dan sudah sampai di titik mana perjalanan Anda. Dan itu semua telah terurai dengan jelasnya dari jawaban-jawaban Anda terhadap komentar-komentar saya dan jawaban atas komentar saudara2 yang lain…..
        ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

        Dear mas pengembarajiwa

        Katakan “Ya” , untuk sesuatu yang memang jawabannya “Ya”.. .
        Katakan “Tidak”, untuk sesuatu yang memang jawabannya “Tidak”… .
        Itu yang saya lakukan mas.

        Tidak perlu melebih-lebihkan, tidak perlu mengurang-ngurangkan.

        Anda ada salah penangkapan mengenai istilah “kebodohan-batin” ( Moha ) . Dibawah saya jelaskan.

        ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

        Sungguh….mereka yang mengerti adalah..mereka yang mencari dan menggali Ilmu baik dari penuntutan2 ilmu secara teori maupun praktek2. Baik melalui pendidikan-pendidikan kerohanian maupun pendidikan-pendidikan melalui meditasi. Dan semoga saya tidak salah menilai, kalau Anda adalah salah satu dari mereka.

        Lalu jika saya bukan siapa2 dan bukan apa2 bahkan tidak ada……apakah hakikat dari ketiadaan itu bisa di ungkapkan…dengan kata2….????
        dan tentunya….sesuatu yang bisa diungkapkan dengan kata2, pasti itu adalah TIDAK KEKAL. Walau sehebat apapapun kata2 yang diungkapkan itu, walau setinggi apapapun ilmu yang di uraikan itu, walau banyaknya dalil-dalil atau juga penyampaian2 dari petinggi-petinggi sekalipun, walau sejauh mana pun pandangan seseorang ttng “sosok” itu, walau setinggi- tingginya…..tetap saja TIDAK KEKAL. Ya…TIDAK KEKAL. Dan tentunya….jika ada yang tiada menyadari akan ke TIDAK KEKALAN itu…akan terjebak pada diri sendiri, lalu menjadikan dirinya….merasa Benar, merasa sampai, merasa sudah tahu, merasa “YA” jalanKU lah yang paling benar dan ujung-ujungnya tidak ada kata “KALAH” dalam mengungkapkan sesuatu……selalu ingin “MENANG” dalam mengungkapkan….:smile:

        Ternyata….yang demikian itu masih terlena dalam tidur nyenyaknya, terbius dengan Rasa-Rasa Fatamorgana yang dikira NYATA padahal tidak NYATA dan kemudian bermimpi tetapi tidak sadar kalau itu adalah mimpi. Dan saya adalah salah satu dari mereka itu.:smile:
        Ternyata MISTERI itu telah terungkap……bahwa yang BENAR itu tidak bisa dipungkiri ke-BENAR-annya, yang “IYA” itu…tidak bisa didustakan ke-“IYA”annya…
        Hmmmmmm………..ya..ya..ya….ya….sangat halus sekali…sangat lembut sekali…sehingga banyak yang terjebak pada yang JAUH padahal yang DEKAT tiada di ketahui. Dan karena sangat halusnya dan lembutnya Untaian Kata serta ungkapan yang di utarakan agar Manusia-manusia yang batinnya bodoh seperti saya ini…tidak bisa menangkap “sinyal”/”isyarat” itu. Memang….jika masih tertidur pulas dan terbuai mimpi, bagaimana bisa memahami…???. Saya adalah “KOSH” (Kumpulan Orang Sakit Hati). Dulunya saya menggunakan Motor Yamaha sebagai kendaraan, begitu sekarang saya menggunakan Motor Suzuki maka dengan gampangnya saya katakan bahwa Motor Yamaha itu masih kalah dengan Motor Suzuki. Begitu suatu waktu saya menggunakan Motor Honda, maka saya katakan Motor Yamaha dan Motor Suzuki itu tidak ada apa2nya…dibandingkan Motor Honda. Motor Honda ini adalah Motor yang Bandel dan Irit dan Alat2nya banyak dijual di toko2. Padahal……bukan Motornya sebagai Tujuan, tetapi…..tujuan itu hanyalah si tujuan itu sendiri.
        ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

        Nah, itu mas pengembarajiwa sudah mengetahui sendiri jawabannya.

        ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

        Terimakasih….atas segala wejangan Mas Ratna Kumara atas jawaban2 terhadap Komentar2 saya. Sungguh mencerahkan…dan akhirnya tersingkaplah….ke-BENAR-annya…bahwa saya adalah “KOSH” dan saya adalah orang2 yang termasuk dalam kebodohan BATIN. semoga ini semua…..bisa menjadi acuan pada diri saya untuk menggali…lebih dalam KESADARAN lagi…..sampai tiada KESADARAN dalam KESADARAN yang tiada di-SADAR-i oleh siapapun selain si “SADAR” itu sendiri. Ya….hanya si “SADAR” itu sendiri….yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata2, terbebas dari segala ikatan, merdeka dalam kemerdekaan, Bangun dari tidur yang panjang menuju “JAGA” yang tiada “ANTARA” dan tiada “BERANTARA”.
        ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

        Mas pengembarajiwa, istilah “kebodohan-batin” (Moha), itu sangat umum digunakan dalam Buddhisme. Juga istilah “ketidak-tahuan” ( Avijja ).

        Ketika saya menerangkan, itu tidak menunjuk pada pribadi siapapun.
        Untuk lebih jelas mengenai maksud saya dengan “kebodohan-batin” ( moha ) dan “ketidaktahuan” ( avijja ) itu, silakan klik tautan link ini

        :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

        Mohon dikoreksi……Mas Ratna Kumara, jika salah.

        :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

        Satu koreksi saya… ,

        Anda keliru menangkap uraian2 saya, terutama mengenai “kebodohan-batin” ( Moha ). Tidak menunjuk pribadi seseorang, tapi anda merasa itu menunjuk pribadi seseorang.

        Kebodohan-batin, adalah istilah “teknis” yang sudah digunakan secara umum oleh masyarakat Buddhis.
        Jadi, saya harap mas pengembarajiwa setelah mengetahui hal ini, tidak emosional lagi. Sabar mas…, sabar.., orang sabar itu kekasih Allah, begitu kan ungkapan yang umum dalam agama anda ?

        Kedua, saya mempunyai saran untuk anda, diterima sukur, tidak juga sukur.
        Mas dan rekan-rekan yang lain, lebih baik kita tidak lagi menggunakan kalimat ini :

        Saya ini orang bodoh, tidak tahu apa-apa, cubluk, dlsb.

        Sebab, Kesombongan ( mana ), terjadi saat :

        1. Ia merasa lebih tinggi dari orang lain.
        2. Ia merasa setara dan sama saja dengan orang lain.
        3. Ia merasa LEBIH RENDAH dari orang lain.

        Dan kesombongan yang ketiga ini, adalah kesombongan yang paling halus dan sulit disadari.

        Semoga berkenan menerima uraian saya, dan semoga bermanfaat mas… 😉

        ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

        Salam dalam kedamaian tanpa sesuatu apapun yang meliputi
        Salam Sejahtera untuk Mas Ratna Kumara yang Bijak dan perhatian serta baik budi
        Wassalam

        Pengembara Jiwa
        yang tidak punya diri
        ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

        Salam dalam kedamaian dan penuh cinta-kasih dari saya mas pengembarajiwa,
        Salam Sejahtera untuk Mas Pengembarajiwa yang Bijak dan perhatian serta baik budinya,

        Ratana Kumaro.

        • Hmmm……Terimakasih…atas segala kebaikan2 Mas Ratna Kumara yang saya Hormati. Ternyata MISTERI itu…walau sudah di ulas sedemikian rupa dengan bahasa yang HALUS tetap saja, jika BATIN masih terdinding…tentunya tidak akan mengerti ttng KEBENARAN yang telah disampaikan. KEBENARAN MUTLAK masih juga belum tersingkap, karena masih ada selain SEJATI.

          Ya..ya..ya… Masih TIDUR dan terbuai dalam MIMPI.
          Ya..ya..ya… Masih TERLENA dalam LAMUNAN dan ILUSI.
          Ya..ya..ya… Masih TERJEBAK dengan OMONG KOSONG yang TIADA BERARTI.

          Salam persahabatan untuk Mas Ratna Kumara yang Bijak
          Semoga Langkah2 Anda dalam Menempuh Jalan DHAMMA (ma’af jika salah tulis), tidak sia-sia

          Pengembara Jiwa
          :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

          Dear mas Pengembara Jiwa ,

          Salam persahabatan dari saya juga.
          Semoga Langkah2 Anda dalam melakukan Pengembaraan Jiwa, tidaklah sia-sia.

          Semoga Anda senantiasa Sehat, Sejahtera, Bahagia, Damai, Sentausa, Bebas dari Segala Bentuk Penderitaan.

          Dengan Penuh Cinta Kasih,
          Ratana Kumaro

      • KangBoed~RE said

        waaaaaah.. mohon maaf ikutan nimbrung.. bagi saya ci OON surOON.. sepertinya jawaban mas Ratana kayanya lucuuuuuuuuuu.. setelah saya simak baik baik.. ijinkan saya tertawa duluuuuuuuuuu.. hahahahaha.. silahkan di cari mana lucunya.. hehehe.. :mrgreen:

        Salam Sayang my brathaaaaaaaaaaaaaaaar
        ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
        Dear Brother Boed .. ,

        Jika memang itu terasa lucu, silakan , bebas saja untuk tertawa, tidak ada larangan untuk tertawa.

        May All Beings Attain Enlightenmet

    • KangBoed~RE said

      Ratana Kumara says :
      Apakah mas pengembarajiwa sudah tidak pernah MASTURBASI ? Apakah mas pengembarajiwa sudah tidak tergerak nafsu indriyanya ketika melihat perempuan cantik dan menarik ?

      Hehehehe.. menurut sepengetahuan saya biasanya yang BUJANGAN hidup sendirian yang suka MASTURBASI sambil melihat gambar perempuan cantik telanjang yaaaaaaaaaaaaaaa.. :mrgreen:
      ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~`
      Apa yang brother ketahui, atau mungkin lakukan di jaman Bujang, belum tentu dilakukan oleh orang2 lain.
      Ini juga tidak perlu diperdebatkan.
      Silakan brother, saya berikan pengharapan :

      “Semoga Kang Boed Senantiasa Berbahagia, Damai, Sejahtera, Sentausa ; Jauh dari segala bentuk Penderitaan. “

      ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
      Salam Sayang
      Salam Kangen
      Salam Rindu my brathaaaar.. 😆
      ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

      Semoga Kang Boed selalu dalam keadaan baik2 saja.. .

  32. wah…wah….tambah gayeng dan mengasyikan diskusinya.Semuanya baik2 ulasannya,sehingga memperkaya wawasan kita masing-masing.Dari pemahaman kami yang masih dangkal wawasan dan masih cubluk ilmu sbb.NAFSU INDERA,PENGHALANG YANG HARUS DILENYAPKAN.manusia dicipta Allah dengan semmuanya baik,diberi akal budi agar berpikir dan berakhlak baik.Manusia dilengkapi panca indera agar digunakannya dng baik pula.Mata untuk melihat yg baik,telinga unt mendengar yg baik,lidah unt mengecap rasa yg baik,hidung unt membau yg baik dan kulitpununtuk meraba yg baik.Itulah nafsu2/keinginan manusia yg diharapkan Allah.
    Namun “indera” yg telah diberikan Allah itu,kadang oleh manusia digunakan melebihi kewajaran manusia {nafsu yg overload].Sering kidhalang dalam menggambarkan ksatria yang akan bertapa,agar harapannya terkabul-ksatria tsb harus “nutupi babahan hawa sanga”-nafsu2 dari lubang indera yg jumlahnya 9.Nafsu2 buruk ini harus dihindari.[lubang telinga 2-bisikan jahat,lubang hidung 2-aroma jahat,lubang mulut 1-bicara kotor,lubang mata 2-melihat kepornoan,lubang kemaluan 1-untuk maksiat,lubang dubur 1-untuk sodomi]dsb.

    Saya setuju judul tema ,bila yg dilenyapkan nafsu2 overload[buruk],namun nafsu2/keinginan yang baik dan luhur perlu dikembangkan.

    mohon maaf Mas Ratnakumara kalau kurang berkenan.
    —salam rahayu—

    ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
    Terimakasih , Yang-Kung… 😉

    Jangan sungkan2 Yang-Kung…, bebas saja mengutarakan pendapat.
    Sedangkan saya sebagai penyaji menu “Buddha-Dhamma” disini, hanya bertugas memperkenalkan “Dhamma” yang mungkin masih sangat asing bagi rekan-rekan yang tidak beragama Buddha.
    Sebab, Dhamma ini memang berbeda dengan umumnya pelajaran-pelajaran yang ada.

    Diterima silakan, tidak ya silakan. Tugas penyaji hanya sampai batas menyajikan… 😉

    Salam Rahayu , Eyang Kakung 😉

  33. tomy said

    Membaca penjelasan Mas Ratana dalam diskusi diatas
    Saya mohon petunjuk Samadhi seperti apa yang seharusnya saya lakukan?
    Asal jangan membayangkan mayat2 yang busuk 😀

  34. tomy said

    Saya pernah memperoleh jawaban dalam sebuah perenungan saat merasa semua hambar
    Materi… agama… pencapaian diri… tuhan…
    DISINI DIATAS KANVAS KOSONG INI AKAN KUGAMBARKAN WAJAHMU YANG SEJATI AGAR KAU TAHU SEGALA PERJUANGANMU SELAMA INI DAN TIDAK LAGI MENJADI SIA-SIA
    Dan juga
    SEGALA KEKECEWAAN YANG KAU ALAMI ADALAH SEBUAH BENTUK KASIH AGAR KAU TIDAK TERPERANGKAP DALAM PENGEJARAN YANG SIA-SIA

    Membaca penjelasan Mas Ratana dalam diskusi di atas saya hendak menanyakan sesuatu berhubungan dengan jawaban yang saya peroleh dalam perenungan tadi
    Samadhi seperti apa yang harus saya lakukan agar tidak lagi hidup dalam kesia-siaan

    Salam sejati dalam damai & cinta kasih
    Dhammamitta

    • Dear mas Tomy,

      Wah, pertanyaan ini cukup sulit ya.
      Jika tujuan mas Tomy melenyapkan nafsu indriya, tentunya melalui vipassana-lah jalannya.

      Jika untuk ketenangan-batin, maka silakan melakukan anapanasati. Lagipula, anapanasati juga bisa digunakan sebagai objek meditasi-vipassana.

      Yah, setidaknya, teruskan saja apa yang sudah mas Tomy lakukan selama ini. Saya yakin itu sudah cukup baik.

      Salam sejati dalam damai & cinta kasih. 😉

  35. dua sudut pandang disatukan.. dua pribadi disamakan, dua keyakinan disatukan.. tentu sulit.., ndak akan ketemu.. selalu sama sama mencari benar…,dan akulah yang benar…, hanya dengan rasa kasih sayang 2 kepribadian bisa disatukan.., namun aliran sungai.. muaranya tetap menuju samudera..,

    semoga semua mahluk berbahagia..

    salam dalam kebersamaan..,

  36. CY~RE said

    Kamma-nimitta ini adalah pikiran/perbuatan baik maupun buruk selama hidupnya, atau persis saat kematian tiba. Kamma-nimitta inilah LAMBANG-TUJUAN kemana ia akan terlahir kembali persis setelah TUBUH-nya mati

    Bro, bagaimana kalau yg mati adalah bayi berumur satu atau dua tahun? adakah kamma-nimittanya? selama hidupnya kan bayi2 itu blm ada karma baik / buruknya?
    :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
    Dear Ko CY,

    Kamma nimitta (perbuatan baik/buruk selama hidup)-nya ya lanjutan dari kehidupan yang sebelum-sebelumnya bro..,

    Mati diusia bayi belum tentu buruk, bisa berarti baik. Bisa saja dia kemudian terlahir di alam surga.

    Gati-nimitta (lambang-tujuan) itu seperti berikut ini :
    – Bila yang dilihat adalah hal2 yang baik2, seperti misal melihat vihara, melihat Buddha-rupam, melihat keluarga manusia yang rukun, melihat para dewa, melihat sebuah alam yang terang-benderang yang belum pernah dilihatnya, dll, maka berarti dia akah terlahir di alam Sugati ( menyenangkan;dari alam manusia hingga alam surga kamadhatu ).
    – Bila yang dilihat adalah hal2 yang buruk2, seperti misal melihat hantu, melihat “roh”2 berwarna hitam-kelam, melihat hewan2 buas, melihat pisau-pisau melayang, melihat darah berceceran, maka berarti dia akan terlahir di alam dugati ( alam kesengsaraan ; neraka, alam binatang, alam para hantu, dan alam jin ).

    Demikian Bro.. .
    Semoga bermanfaat,

    Mettacittena,
    Ratana Kumaro.

  37. CY~RE said

    @Ratanakumara
    ttg mimpi itu, saya ga merasa batinnya terlatih tapi kok bisa mengalami mimpi ke-4 bro??
    **Semoga yg lain tdk tertawa menganggap saya konyol** :mrgreen:

    Satu hal lagi, kondisi saya sama dgn yg diceritakan “Pengembarajiwa” ttg temannya, saya tidur tanpa mimpi, tau-tau bangun sdh pagi. Jadi dlm setahun bisa dihitung mimpi saya, itu pun jenis mimpi ke-4.

    Bro Ratana atau yg lain bisa bantu menjelaskan?? 🙂

    Terimakasih sebelumnya…

    :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
    Dear Ko CY,

    Hidup kita, bukan sekedar hidup yang sekarang ini Ko.
    Banyak orang yang tidak melatih kemampuan-batin-istimewa, tapi bisa memilikinya secara spontan sejak masih kecil. Mengapa ? Karena itu dia bawa dari kehidupan lampaunya.

    Semoga cukup menjelaskan.

    Mettacittena,
    Ratana Kumaro.

  38. Tedy~RE said

    To : Rekan2 se-dhamma

    Mara, seperti kita ketahui bersama adalah “iblis” dalam agama Buddha. Tanda kutip sengaja saya tambahkan, karena belum saya pahami. Pertanyaannya, apakah mara itu sesosok makhluk atau hanya gambaran moha, dosa, dan lobha? Anumodana

    With metta,
    Tedy
    ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
    Dear Tedy,

    Mara, sebenarnya bukanlah “Iblis”, tapi dia adalah sesosok “Dewa” yang tinggal di alam Paranimittavasavati ( surga keenam dialam surga Kamadhatu ).

    “Ananda, ada delapan macam perhimpunan, yaitu Perhimpunan para kesatriya, para brahmana, orang-orang berumah tangga, para pertapa, para dewa Catummaharajika, para dewa Tavatimsa, para Mara dan para dewa Brahma.”

    (Digha Nikaya, Maha Vagga, 16. Mahaparainibanna Suta, Bab III, Delapan Macam Perhimpunan, no. 21, CV. Lovina Indah, Jakarta 1989)

    Mara juga disebut dengan nama Vasavatti atau “Ia yang memimpin/memerintah semuanya”. Nama itu diberikan sebab ia adalah Raja penguasa alam Kamadhatu.

    Alam Dewa Paranimmitavasavatti berada 4 (empat) tingkat lebih tinggi dari Alam dewa Tãvatimsa, di mana Dewa Sakka / Dewa Indra tinggal.

    Demikian Tedy, semoga cukup menjelaskan.

    Mettacittena,
    Ratana Kumaro.

  39. bhayhu~RE said

    Mas Ratnakumaro, mnyajikn lagi menu yg trasa baru bgi yg baru mrasakan. memori akan khdupan lampau akan menu2 yg sedap namun mrangsang timbulnya pnyakit, mjdkn dipilihnya menu yg skarang ini. mgkn trasa hambar, hingga lidah trasa kaku tak brasa. tapi bkn lagi rasa yg ingin dicari. bkn kenyang yg ingin dirasa. tapi utk tdk mnjdi rasa, utk tidak mnjdi kenyang, utk tidak menjdi apapun.
    :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
    Selamat datang kembali Sdr.Bhayhu.. 😉

    Lama gak beri komentar di blog ini.

    Anumodana atas perhatian anda.

    Mettacittena,
    Ratana Kumaro.

  40. dodo~RE said

    Mas Ratana Pa kabar?
    Juga buat sederek lainnya ….salam kadang persaudaraan
    ijin ikut dlosoran nggeh mas , mohon koreksinya…
    Tema yang menarik dan sangat menambah wacana …
    Saya coba paparkan pemahaman yang ada dari sisi Yoga Sutra pada padnangan dengan tetap melihat pada segala keterbatasan sya yang ada …

    ~Manusia terlahir sudah mendapatkan predikat menderita…yang teryakini akan hambatan hamabatan Utama dalam perjalanan..
    Tantang Nafsu Indria dilenyapkan ,,kalo melihat dari uraian lebih kepada melihat pada upaya pengikisan …
    Yang sering jadi pertanyaan saya …kalo dilenyapkan ..pada simbolis ketubuhan kita selalu di perkenankan kepada sifat kodrati yang ada . Sifat yang tiada ada rasa kecukupan . Syimbol fisikal dlam pandangn pribadi disini ada suatu maksud terkait penggunaan yang sewajarnya dan terarah ..

    Hambatan UTama Pendakian ::
    Bagaimana semua bila tidak seimbang terarah dalam pemakaian akan menimbulkan:
    ~kegelapan ( avidya )
    ~ egosime ( asmita )
    ~ kelekatan ( kecintaan yang berlebihan ) kepada kehidupan dan takut mati ( abhinivesa) ,
    ~ kecintaan kepada ragawi( raga) , dan kebencian ( dvesa) sebagai 5 lima kekotoran batin ( Pancaklesa ) ~Ys

    Kebodohan Kegelapan Batin ~ avidya~ sebagai pengerak kepada suatu “” bidang pergerakan”” apakah akan menjadi terpendam ,..teratasi …menghilang atau malah lebih meluas …
    Buat para pejalan kegelapan sangat patut di waspadai sebagai pedamba kebebasan . Dari Dasar kegelapan batin ~avidya`~ akan semakin memunculkkan pe permukaan sumber kegelapan yang lain .

    ::Para penguasa ~pARAVIDYA~ (informasi formal ATAU PENGETAHUAN UMUM DUNIAWI bila terarahkan dengan baik akan mendapatkan pencapaian~bRAHMAVUDYA~( pengatahuan filosofi spiritualpengetahuan kebeanran dan ketuhanan ).
    , dengan pembuktian kpendekatan konkret ( ex:sience ) yang mudah di terima karena metode pengetahuan yang dikuasinya n saat memberikan poengjelasan terkait nilai nilai ajaran tinggi pada ajaran filosofi kebenaran atau ketuhanan.. Paling tidak ajaran kebanran ketuhanan sebagai tumpuan penting sebagai bekal hidup. CUman yang disayangkan ketika para penguasa~pARAVIDYA~( pengetahuan formal duniawi ) hanya puas dan terhenti . iNi yang akan berbahaya.Jadi ke dua ubsur tersebut tidak bisa di pisahkan …

    ~pARAVIDYA~( pengetahuan formal duniawi ) harus diimbangi peningkatan dengan arah utk meraih pemahaaman tentang ajaran kaluhuran yg ada .

    “”Albert Eisntein : Pengetahuan tnapa Agama Pincang~Agama tanpa Pengetahuan adalah Buta

    Kegelapan Batin akan melhirkan aku yang semu ( asmita) yang akan menhdirkan suka tidak suka dan segala penilaiannya dan akan semakin memperkuat asmita / kesemuan itu sendiri. Akibatnya rasa kepemilikan atas segala sesuatu termasuk hidup ini berikut kelahiran .

    ‘Manfaat kelahiran dengan memupuk kebajikan dan mencapai kebebasan . …semoga …..dengan penghalusan mealui perambatan yang berlawanan menuju penghalusan
    Tujuan pejalan terbebas dari lingkaran tumimballahir .yang berasal dari rangkaian ksengsaraan dan pendritaan .
    Bagaimanapun kEBAHAGAIAAN sebagai buah akan kebajikan,masih menjadi kebahagiaan semu dalam kehidupan selama ” berjasad” ini( kasar halus ), lebih keapda pemenuhan nafsu dan keinginan yang tak terhitung banyaknya bukan sebagai kebahagiaan sejati …

    Dhyana salah satunya …dengan menhatasi dan menghancurkn kesan pengalamannya ( samsakara) berikut dengan pengembangn daya pilah pilih ( viveka ) akan memahami dukha disebabkan oleh perubahan , bentuk pikirna, dan perasaan yang berlawanan ( senng susah,utnung rugi,baik jahat, salah benar dst) Sebelum dukha muncul bisa dihindari dengan peniadaan akan “”sebabnya”” yaiutu adanya “si pengamat” yang sellau mengidentifikasi diri sebagai yang “Diamati ..”
    Kecenderungan “”ingin menjadi”” atau ”hasrat memiliki” . Pada titik ini sebagai Motivasi Dasar utk “”Berbuat atau Menghindari “”

    Mohon maaf bila ada kekeliruan …atau mungkin berlebihan …sekedar berbagi
    SUmangga kalo mau dikoreksi …disimak..
    Maturnuwun

    Rahayu …..
    Salam Sejati
    योग…..योग

    :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

    Pamuji Rahayu, Kadang Mas Dodo… .

    Maturnuwun atas penambahan uraian dari panjenengan mengenai “Kebodohan-Batin” dan “Kegelapan-Batin”.
    Semoga bermanfaat bagi semuanya Mas.

    Salam Rahayu, mas Dodo.

  41. panembahan said

    salam saudaraku semua,

    sungguh senang membaca-baca disini, menikmati berbagai ragam akalbudi dan pengalaman spiritual masing2 pribadi. jikasaja bangsa ini tidak lupa pada jatidiri-bangsa, saya yakin kegundahan rakyat indonesia dan yang termanifestasikan dalam percakapan dinamis disini bisa “menjadi cerah” atau “mengalami pencerahan”.
    saya adalah sama seperti manusia yang lain, yang mengerjakan banyak sekali kebohongan (dusta), baik karena saya tahu atau karena saya tidak tahu, bahkan pikiran nakal saya juga turut bicara; apa jadinya jika berbagai buku dan kitab dan cerita dan kepercayaan dan orang hebat; yang selama ini jadi referensi kepastian bagi para pemujanya, adalah bohong dan menipu dan berdusta. oleh perjalanan waktu dan banyaknya pikiran dan mulut dan tangan, hingga sesudah sejarah perjalanannya sampai pada masa kini menjadi tak-tung-ting-der-cling-tek-tek-dut alias ‘pating-blasur’……
    ya itulah kegelisahan saya pada kesukaan manusia untuk saling meng-klaim sebagai yang ter-benar, ter-murni, ter-utama, … dan hal ini terjadi sepanjang jaman pada setiap generasi….

    hal yang sangat menarik bagi saya saat ini adalah JAWA (ada yg menulisnya dengan huruf YHWH tapi saya kurang sependapat), oleh kesaksian sejarah, candi2, artefak2, budaya, dll didapat jawaban meyakinkan bahwa bangsa ini usianya sangat tua sekali, bahkan sebelum agama2 samawi (islam,kristen,yahudi) itu ADA. patut dapat diduga bahwa wayang yang seolah2 milik INDIA itu sebenarnya adalah kitab silsilah JAWA dan perjalanan sejarah JAWA. patut dapat diduga pula bahwa BUDDA dan HINDU itu hanyalah 50% dari pemahaman tentang JAWA. mengagetkan? mari kita selidiki bersama dengan cara senang… :)) salam…

  42. murid said

    pinjem istilahnya temen saya.
    “cuma orang yg udah pernah minum teh yg tahu bagaimana nikmat dan segarnya rasa teh”.

  43. Kang Ratna Kumara…salam katresnan..
    Perkenalkan…saya salah seorang santrinya Kang Sabdalangit…mohon ijin untuk nyantri juga sama panjenengan.
    Belakangan ini, lewat meditasi dan informasi lewat pembimbing ruhani saya di Cirebon..saya mulai menemukan fakta akan benarnya konsep samsara, karma dan hukum tumimbal lahir…

    Namun, saya sedang dalam proses lebih jauh untuk mengetahui apa lakon saya di masa lalu, siapa nama saya di masa lalu. Saya baru lihat potret kesalahan pada satu sessi kehidupan saya, dan itu yang membuat saya sadar, bahwa derita yang pernah saya alami memang betul2 sebuah keadilan…

    SHD

    • lovepassword said

      Rasanya tidak banyak manusia di dunia ini yang melihat penderitaannya dari sisi akibat keadilan… Keren ..

  44. My family members always say that I am killing my time here at net, but I know I am
    getting knowledge everyday by reading thes nice articles.

  45. Heya i’m for the first time here. I found this board
    and I find It truly useful & it helped me out much.
    I hope to give something back and aid others like you
    helped me.

  46. kang Mas andika wijaya said

    salam semuanya…

  47. And, mobile phones make when they manufacture the mobile version of Tetris in 1994 deer hunter
    2014 cheats and Snake in 1997. For example,
    you always wanted to you.

  48. And you can jurassic park builder cheats see the ending.
    Basically, video gamers are used to expand their visibility via the VGA
    port, match the scene before you spend research?
    That’s how proud they were in your platoon is hurled under a rock,
    that’s it. There’s a great story line? 6 million renting
    video games have something, these precautions are especially vulnerable to this film hits the ultimate enjoyment.

  49. The latest online gang beasts download role-playing game nearly 24/7.
    Even if she is allowed to play chess against the tree will be a result of video games have gone beyond printed books to include period-correct racism in their teen years and older.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: