RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

BERAKHIRNYA ERA GOTAMA & MUNCULNYA MAITREYA

Posted by ratanakumaro pada April 19, 2009

BERAKHIRNYA BUDDHISME

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”

( tikkhattum ; 3X )


Nammatthu Buddhassa,

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Rupa Boddhisatta-Metteya ( Kushinagar India ; foto diambil dari Wikipedia Indonesia )

Rupa Boddhisatta-Metteya ( Kushinagar India ; foto diambil dari Wikipedia Indonesia )

Sang Buddha pernah bersabda, bahwa era Ajaran Beliau ( Buddha-Dhamma ) hanya akan bertahan selama lima-ribu ( 5.000 ) tahun, yang bila dihitung sejak era Buddhis pertama kali, yakni kurang lebih 500 tahun SM, maka sekarang Dhamma telah menempuh perjalanan selama kurang lebih 2.500 tahun, dan itu berarti Dhamma hanya akan bertahan 2.500 tahun lagi.

Berakhirnya era Dhamma Sang Buddha Gotama adalah wajar. Sama seperti Buddha-Buddha yang terdahulu, Sang Buddha Gotama juga menjalani siklus yang serupa, yaitu : dimulai dari berjuang menyempurnakan Parami selama empat (4) Asankkheyya-Kappa dan Seratus-ribu ( 100.000 ) Kappa, kemudian dilahirkan kembali sebagai manusia untuk terakhir kalinya, kemudian mencapai Pencerahan-Sempurna, setelah itu lalu memutar-roda Dhamma, membabarkan Dhamma nan mulia kepada makhluk-dunia, akhirnya Parinibbana. Setelah Sang Buddha Parinibbana, maka Dhamma adalah Guru bagi para siswanya untuk dipraktikkan. Seiring waktu berjalan, maka akan terjadilah kemerosotan kwalitas dan kwantitas praktik Dhamma yang semakin lama semakin parah dan suatu saat nanti, Dhamma akan dilupakan sama sekali. Dan kelak, sebelum bumi ini mengalami kehancuran kembali, akan muncul Buddha yang terakhir pada masa Maha-Badda-Kappa ini, ialah Buddha-Metteya.

Rupam Boddhisatta Metteya

Rupam Boddhisatta Metteya


PROSES HANCURNYA BUDDHA-DHAMMA

Sejak masa menjelang akhir era Dhamma Sang Buddha Gotama, dan sampai masa setelah berakhirnya era Sang Buddha Gotama, usia manusia akan semakin pendek yang beriringan dengan kwalitas hidup yang juga semakin menurun, kehidupan manusia dan bermasyarakat semakin kacau, dan merosotnya moralitas menuju ambang batas terendah.

Meskipun demikian, pada masa itu, tetap ada beberapa kelompok manusia yang memilih untuk menyingkir dari kebodohan massal tersebut. Mereka memilih untuk tetap menjaga praktik moralitas dan kebajikan.

Kemudian, dari generasi ke generasi, keturunan manusia akan mulai bertambah usianya seiring dengan kesinambungan praktik moralitas dan kebajikan. Sebagai akibat praktik-praktik moralitas dan kebajikan itulah, usia manusia naik kembali, dari yang semula rata-rata hanya sepuluh (10) tahun , meningkat, terus meningkat, hingga mencapai batas delapan-puluh-ribu ( 80.000 ) tahun. Pada masa usia manusia rata-rata delapan puluh ribu ( 80.000 ) tahun ini, terdapatlah kemakmuran dan kesejahteraan bagi manusia.

Rupam Boddhisatta Metteya

Rupam Boddhisatta Metteya

Setelah itu, kehidupan manusia akan mengalami “fase-turun” ( utkarsa ). Dan pada fase turun inilah, kelak akan muncul Samma-Sambuddha yang berikutnya, yaitu Buddha-Metteya ( Sanskrit : Maitreya ), yang akan mengajarkan kembali Dhamma yang persis sama dengan yang diajarkan para Buddha sebelumnya, membimbing para Dewa dan manusia supaya mereka bisa merealisasikan akhir dari dukkha : NIBBANA.

[ Buddha hanya akan muncul pada fase turun, tapi tidak muncul saat jangka kehidupan manusia telah jatuh dibawah titik jangka kehidupan kritis, saat sikap dan mental manusia sangat inferior sehingga tidak bisa menerima ajaran Buddha. Jangka kehidupan kritis ditafsirkan beraneka ragam, ada yang menafsirkannya sebagai seratus ( 100 ) tahun, delapan-puluh ( 80 ) tahun, bahkan tiga-puluh ( 30 ) tahun. Zaman dibawah jangka kehidupan kritis disebut zaman kegelapan, yang dalam agama lain disebut “Akhir-Zaman”. ]


Dalam Maha-badda-kappa ini, muncul lima Samma-Sambuddha. Sebelumnya, telah muncul tiga Samma-Sambuddha sebelum Sang Buddha Gotama, dan berarti total empat (4) Samma Sambuddha dengan Sang Buddha Gotama. Tiga (3) Buddha sebelum Buddha Gotama tersebut adalah :


1. Buddha Kakusandha,

2. Buddha Konagamana,

3. Buddha Kassapa.

Rupam Boddhisatta Metteya

Rupam Boddhisatta Metteya

Setelah Buddha Gotama, kelak ( sesuai proses yang diterangkan diatas ), maka akan muncullah Samma-Sambuddha berikutnya ( Buddha yang kelima dalam Maha-Badda-Kappa ini ) , ialah Buddha Metteya. Buddha Metteya akan menjadi Buddha yang terakhir dalam siklus kehidupan kita yang sekarang ini, sebelum bumi ini kembali hancur-terurai, mengalami apa yang disebut sebagai “kiamat”.

Pada zaman-zaman Buddha yang lampau , sebelum Buddha Gotama, seringkali terjadi masa kosong yang amat sangat lama sekali dimana dunia ini kosong dari Ajaran-Buddha yang berlangsung antara masa setelah berakhirnya era Buddha terdahulu dengan masa munculnya Buddha yang selanjutnya. Masa kosong itu tak terhitung lamanya. Dalam masa kegelapan itu peradaban manusia telah muncul dan musnah silih berganti.


PROSES MEMUDAR DAN LENYAPNYA DHAMMA SANG BUDDHA GOTAMA


Pada suatu hari ketika Sang Buddha Gotama sedang berdiam di hutan Banyan di Kapilavatthu, Y.A. Sariputta mendekati Beliau dan bertanya tentang Buddha yang berikutnya setelah Sang Buddha Gotama. Kemudian Sang Buddha bersabda, :


“ … Masa dunia kita ini adalah masa yang istimewa. Telah muncul tiga pemimpin dunia, yaitu : Buddha Kakusandha, Buddha Konagamana, dan Buddha Kassapa. Aku sekarang adalah Samma-Sambuddha. Dan akan muncul juga Buddha Metteya sebelum masa dunia ini berakhir. Samma-Sambuddha ini namanya Metteya, Pemimpin Dunia.”

The Next Future Buddha ~ Boddhisatta Ajita Metteya

The Next Future Buddha ~ Boddhisatta Ajita Metteya

Sang Buddha kemudian meneruskan penjelasan tentang bagaimana proses terjadinya kemunduran Buddha-Dhamma hingga kelak kemunculan Buddha-Metteya, yang ditandai dengan adanya lima-kelenyapan :


“ Setelah Aku Parinibbana, akan ada terlebih dahulu lima (5) Kelenyapan. Apakah yang lima (5) itu ? Lenyapnya pencapaian tingkat kesucian ( Sottapana, Sakadagami, Anagami, dan , Arahat ), lenyapnya pelaksanaan benar, lenyapnya Ajaran (Dhamma), lenyapnya simbol/bentuk luar, lenyapnya Relik. Inilah lima kelenyapan yang akan terjadi.


i). LENYAPNYA PENCAPAIAN TINGKAT KESUCIAN


Disini, lenyapnya pencapaian [tingkat-kesucian] berarti bahwa hanya selama seribu ( 1.000 ) tahun setelah Aku Parinibbana, para Bhikkhu masih dapat mencapai Pengetahuan-Analitis ( Patisambhida ) atau tingkat Arahat. Sejalan dengan waktu, para siswa-Ku adalah [hanya] Anagami , Sakadagami, dan Sotapanna. Tingkat pencapaian ini tidak akan lenyap sampai Sotapanna terakhir meninggal. Setelah itu, pencapaian tingkat kesucian pun turut lenyap.

Inilah , Sariputta, lenyapnya tingkat kesucian.”


ii). LENYAPNYA PELAKSANAAN-BENAR


“Lenyapnya pelaksanaan-benar, berarti bahwa : tidak [ ada yang ] mencapai Jhana, pandangan terang, Jalan dan Buah ( Magga dan Phala ), mereka hanay akan menjaga empat (4) kemurnian perilaku ( catuparisuddhi-Sila ), yaitu : Patimokkha-samvara-Sila ( Sila-Kebhikkhuan ), Indriya-Samvara-Sila ( yang berhubungan dengan pengendalian indriya ), ajiva-parisudhi-Sila ( kemurnian-penghidupan ), paccaya-sannissita-Sila ( yang berhubungan dengan empat-kebutuhan-pokok ).

Seiring berjalannya waktu, mereka hanya akan menjaga empat pelanggaran-berat ( parajika ) : menahan diri dari hubungan seksual, mencuri, membunuh, menyatakan diri telah mencapai tingkat kesucian.

Selama masih ada ratusan, atau, ribuan Bhikkhu yang menjaga dan mengingat empat pelanggaran berat , maka pelaksanaan benar belum lenyap. Dengan terjadinya pelanggaran berat oleh Bhikkhu terakhir atau dengan meninggalnya Bhikkhu tersebut, maka pelaksanaan benar juga turut lenyap.

Inilah Sariputta,lenyapnya pelaksanaan-Benar.”


iii). LENYAPNYA AJARAN-BENAR


“ Lenyapnya Ajaran-Benar berarti bahwa selama teks Ti-Pitaka : Vinaya, Sutta , dan Abhidhamma yang merangkum kata-kata Sang Buddha masih tersedia, maka Ajaran belum lenyap. Seiring dengan waktu akan muncul raja-raja / pemimpin-pemimpin negara yang bukan pelaksana Dhamma, pejabat-pejabat di pemerintahan juga bukan manusia [ pengikut ] Dhamma, dan akibatnya warga negaranya juga mengikuti [ tidak menjadi penganut Dhamma ].

Karena itulah [ akibat dari tidak diikutinya lagi Jalan-Dhamma ] , HUJAN TIDAK TURUN SEBAGAIMANA MESTINYA, akan ada GAGAL PANEN, KELANGKAAN BAHAN MAKANAN, dan akibatnya masyarakat tidak mampu lagi menyediakan kebutuhan pokok untuk para Bhikkhu. Akhirnya para Bhikkhu tidak lagi menerima anggota baru, tidak ada lagi orang masuk Sangha. Ajaran secara perlahan lenyap.

Dalam prosesnya, Abhidhamma dahulu yang pertama lenyap, dimulai dengan lenyapnya Patthana, Yamaka, Kattha-vatthu, Puggala-pannati, Dhatu-Kattha, dan seterusnya.

Setelah Abhidhamma lenyap, maka Sutta-Pitaka juga turut lenyap. Pertama, Anguttara Nikaya lenyap, kemudian Samyutta-Nikaya, Majjhima Nikaya, Digha Nikaya, dan seterusnya. Hanya tinggal kisah Jataka dan Vinaya Pitaka yang akan diingat. Hanya Bhikkhu yang teliti yang akan mengingat Vinaya-Pitaka. Kemudian Jataka juga akan lenyap, pertama Vessantara-Jataka, kemudian Apannaka-Jataka, demikian seterusnya sampai seluruh Jataka terlupakan. Kemudian hanya Vinaya-Pitaka yang akan diingat. Seiring berjalannya waktu, Vinaya Pitaka juga akhirnya lenyap.

Selama “empat-bait-syair-Dhamma” masih ada di antara manusia, maka Ajaran belum lenyap. [ Keempat bait syair yang dimaksud adalah : “ Tidak Berbuat Jahat, Perbanyak kebajikan, Sucikan hati dan pikiran, Inilah Ajaran Para Buddha” ]

Ketika Raja yang memiliki keyakinan dalam Dhamma menawarkan satu kantong emas yang diletakkan di punggung gajah, dan menabuh genderang ke seluruh kota sampai dua atau tiga kali, dengan mengumumkan, “ Barangsiapa dapat menyebutkankan syair dari Sang Buddha, biarlah ia mendapat seluruh koin emas ini beserta gajah kerajaan ini”, tetapi ketika tiada seorangpun yang mengetahui keempat bait syair Dhamma tersebut sampai akhirnya kantong koin emas itu harus kembali ke dalam istana lagi, maka itulah lenyapnya Ajaran.”

Inilah Sariputta, lenyapnya Ajaran.”


iv). LENYAPNYA SIMBOL-LUAR


“Seiring berjalannya waktu, masing-masing dari para Bhikkhu dan ‘angkatan’ terakhir membawa jubahnya, mangkuknya, dan tusuk gigi, mengambil buah labu botol dan menjadikannya mangkuk untuk meminta makanan, akan berjalan kesana-kemari dengan labu tersebut di tangannya atau digantung dengan tali. Seiring dengan waktu, mereka berpikir , “ Apa gunanya jubah kuning ini ? “ , dan [lalu] mereka mengguntingnya menjadi potongan kecil kemudian menempelkannya di hidung, kuping, atau rambut. Mereka berkelana sambil menunjang anak dan isteri dengan cara bertani, berdagang dan sejenisnya. Seiring berjalannya waktu, mereka berpikir, “ Apa gunanya ini semua ? “ kemudian setelah membuang potongan jubah kuning, mereka akan mulai berburu binatang dan burung di hutang. Ketika ini terjadi, maka simbol / bentuk luar [pun] lenyap.

Inilah Sariputta, yang dimaksud lenyapnya simbol / bentuk luar.”


v). LENYAPNYA RELIK SANG BUDDHA


“ Kemudian ketika Ajaran Buddha telah berumur lima-ribu (5.000) tahun, Relik-relik Buddha, yang tidak lagi dihormati dan dipuja, akan pergi ke tempat-tempat dimana masih ada penghormatan dan pemujaan. Seiring berjalannya waktu, di semua tempat tidak lagi ditemukan adanya penghormatan dan pemujaan terhadap Relik [Sang-Buddha]. Pada masa itu, ketika Ajaran berangsur terlupakan, semua Relik datang dari berbagai tempat, dari kediaman naga dan alam dewa serta alam Brahma, berkumpul di sekitar pohon Boddhi di Buddha Gaya di mana Sang Buddha mencapai Pencerahan-Sempurna, dan melakukan keajaiban seperti “Keajaiban-Kembar”, kemudian akan mengajarkan Dhamma. Tidak akan ditemukan manusia di tempat itu. Semua dewa dari sepuluh-ribu ( 10.000 ) sistem dunia berkumpul bersama untuk mendengarkan Dhamma dan ribuan jumlah dari mereka akan merealisasikan Ajaran. Mereka akan menangis keras dan berkata, “ Wahai para Dewa, satu minggu dari hari ini Pemilik sepuluh (10) Kekuatan Tathagata akan memasuki Parinibbana.” Dengan terisak mereka berkata: “Mulai saat itu, kita semua berada dalam kegelapan.” Kemudian Relik akan memanas dan terbakar habis tanpa sisa.

Inilah Sariputta, yang dimaksud lenyapnya Relik. “


Demikianlah proses memudar dan lenyapnya Dhamma Sang Buddha Gotama, dalam jangka waktu 5.000 tahun, atau kurang dari 2.500 tahun terhitung sejak hari ini, Buddhasasana dari Sang Buddha Gotama akan berakhir, lenyap sama sekali tanpa sisa.


PENJELASAN MENGENAI KEMEROSOTAN MORAL DAN MEMENDEKNYA USIA MANUSIA

Boddhisatta Ajita Metteya

Boddhisatta Ajita Metteya

Hubungan antara kemerosotan moral dan memendeknya usia manusia, dapat disimak dalam ringkasan khotbah Cakkavattishanada Sutta :


“ Wahai Raja, rakyatmu yang raja perintah berdasarkan ide dan caramu sendiri yang berbeda dengan cara-cara yang mereka ikuti dahulu, tidak sukses seperti apa yang mereka biasa capai di masa raja-raja terdahulu yang melaksanakan kewajiban maharaja yang suci… .

Karena raja tidak berdana kepada orang-orang miskin maka kemelaratan bertambah… dengan demikian pencurian main mewabah… kekerasan meluas dengan cepat, pembunuhan menjadi biasa.

Karena pembunuhan terjadi maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan pada masa itu adalah 80.000 tahun akan tetapi usia kehidupan anak-anak mereka hanya 40.000 tahun.

Demikianlah karena kemelaratan meluas…pembunuhan…hingga berdusta menjadi biasa…usia kehidupan mereka hanya 20.000 tahun. Kemudian kemelaratan meluas… berdusta… hingga memfitnah berkembang… usia kehidupan anak-anak mereka hanya 10.000 tahun. Kemelaratan meluas…memfitnah… berzinah… kata0kata kasar dan membual… iri hati dan dendam berkembang… pandangan sesat… berzinah dengan saudara sendiri, keserakahan, pemuasan nafsu… kurang berbakti kepada orangtua, kurang hormat pada samana, dan petapa, serta kurang patuh pada pimpinan masyarakat berkembang dan meluas. Karena hal ini berkembang meluas maka batas usia kehidupan dan kecantikan berkurang, sehingga batas usia kehidupan pada masa itu adalah 250 tahun akan tetapi batas usia anak-anak mereka hanya 100 tahun.

… Akan tiba suatu masa ketika keturunan dari manusia itu akan mempunyai usia kehidupan hanya 10 tahun… umur 5 tahun bagi wanita merupakan usia perkawinan. Pada masa kehidupan orang-orang ini, makanan seperti padi , susu, mentega, minyak, tila, gula, garam , akan lenyap. Bagi mereka biji-bijian kudrusa akan merupakan makanan terbaik… Pada masa orang-orang itu sepuluh macam cara melakukan perbuatan jahat akan berkembang cepat.

… Di antara mereka tidak ada lagi rasa berbakti kepada orangtua, tidak ada lagi rasa menghormat kepada para samana dan petapa, serta tidak ada lagi kepatuhan kepada pimpinan masyarakat… tidak ada lagi [pikiran yang membatasi] untuk kawin dengan ibu, bibi… Dunia diisi oleh cara bersetubuh dengan siapa saja, bagaikan domba, kambing, burung, babi, anjing, serigala.

Boddhisatta Metteya

Boddhisatta Metteya

… Akan tiba suatu masa, yaitu munculnya pedang selama seminggu. Selama masa ini mereka akan melihat individu lain sebagai binatang liar… dengan pedang mereka akan saling bunuh.

Sementara itu ada orang-orang tertentu berpikir, “Sebaiknya kita jangan membunuh atau kita tidak membiarkan orang lain membunuh kita. Marilah kita menyembunyikan diri kedalam belukar… Marilah kita berbuat kebajikan-kebajikan”. Mereka akan berusaha untuk tidak membunuh… Karena melaksanakan kebajikan ini maka akibatnya batas usia dan kecantikan bertambah. Bagi mereka yang batas usia kehidupannya hanya 10 tahun, akan tetapi batas usia anak-anak mereka mencapai 20 tahun.

“…Marilah kita berusaha untuk tidak mencuri….tidak berzinah…tidak mengucapkan kata-kata kasar…tidak membual…tidak serakah…tidak membenci…tidak berpandangan sesat…tidak bersetubuh dengan keluarga sendiri… tidak tamak dan tidak memuaskan nafsu. Marilah kita berbakti kepada orangtua kita , menghormat kepada para samana dan petapa, serta patuh kepada pemimpin bangsa.”

Karena mereka melaksanakan kebajikan-kebajikan…sehingga bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya 20 tahun…anak-anak mereka mencapai 40 tahun…80 tahun…4.000 tahun…20.000 tahun…40.000 tahun…anak-anak mereka mencapai batas usia kehidupan 80.000 tahun… .

…Dalam masa kehidupan orang-orang ini, di dunia akan muncul seorang Bhagava-Arahat-Sammasambuddha bernama Metteya…Dhamma, Kebenaran…akan dibabarkan…kehidupan suci akan dibina dan dipaparkan…seperti yang Aku lakukan sekarang. Beliau akan diikuti oleh beberapa ribu Bhikkhu, seperti Aku sekarang ini.”

Demikianlah penjelasan mengenai kaitan antara proses merosotnya moralitas dengan menurunnya batas usia kehidupan manusia.


MUNCULNYA AJARAN SALAH


Menjelang berakhirnya era Buddha-Gotama, akan banya muncul ajaran salah dan Dhamma palsu yang muncul dimana-mana dengan berbagai label dan gaya.

Ajaran salah ( miccha-dhamma ) , ialah :


1. semua jenis ajaran dan praktik keagamaan yang pada intinya tidak mampu untuk melihat bahaya dari “samsara” ( lingkaran kelahiran dan kematian ),

2. Kepercayaan bahwa dalam masa sekarang ini magga dan phala ( tingkat-kesucian ) sudah tidak mungkin dicapai lagi, kecenderungan untuk menunda-nunda praktik Sila, Samadhi, dan Panna karena menunggu masaknya Parami,

3. Kepercayaan bahwa orang-orang di masa sekarang ini semuanya hanyalah makhluk “dvi-hetuka” ( hanya punya dua kondisi akar yagn baik, yaitu : a-lobha dan a-dosa ), dan tidak memiliki akar a-moha , sehingga tidak munkin mencapai kesucian dalam kehidupan yang sekarang ini.

4. Kepercayaan bahwa Guru-guru suci di zaman dahulu tidak pernah ada, dan berbagai kepercayaan lain-lain. Semua ini berpotensi menciptakan kerusakan pada Dhamma ( dhammantarayo ).

Pu Tai He Sang ( Bhiksu Berkantong Kain ) ~ Pada abad ke-10, Sekte Maitreya meyakininya sebagai reinkarnasi dari Boddhisatta Metteya ; BENARKAH ?? ( Kontroversial )

Pu Tai He Sang ( Bhiksu Berkantong Kain ) ~ Pada abad ke-10, Sekte Maitreya meyakininya sebagai reinkarnasi dari Boddhisatta Metteya ; BENARKAH ?? ( Kontroversial )

Mengenai kepercayaan akan terdapatnya makhluk dvi-hetuka saja pada masa sekarang, maka , sesungguhnya, meskipun kita adalah dvi-hetuka, asalkan kita berupaya melatih diri dalam dhamma maka dalam kelahiran selanjutnya kita bisa menjadi ti-hetuka. Sebaliknya, bila kita sendiri malas untuk melatih diri, maka kita sangat mungkin terperosok ke tingkat a-hetuka ( tanpa kondisi akar yang baik ) dalam kehidupan selanjutnya.


Ada tiga jenis / golongan manusia, yang berkaitan dengan hal ini :


1. Padaparama

2. yang lebih unggul ; Neyya

3. yang terunggul : Niyata-vyakarana


Yang dimaksud dengan golongan Padaparama ialah, ibarat orang sakit yang tidak mungkin sembuh, dan pasti mati akibat sakitnya walau bagaimanapun ia berupaya berobat. Ini menggambarkan orang yang tidak mungkin mencapai kesucian dalam kehidupan sekarang, tetapi masih punya kesempatan dalam kelahiran selanjutnya baik di alam manusia ataupun alam dewa, masih di era Buddhasasana yang sekarang ataupun pada era Buddha selanjutnya tergantung kesempurnaan Parami dan upaya yang bersangkutan.

Jenis manusia yang lebih unggul adalah Nevya, yang diumpamakan sebagai orang sakit yang akan sembuh bila makan obat yang tepat, tetapi mungkin juga tidak sembuh dan mati bila gagal mendapat pengobatan yang tepat. Artinya, ia masih mungkin dapat mencapai kesucian dalam masa kehidupannya yang sekarang ini juga jika ia melaksanakan dan melatih apa yang seharusnya demi mencapai tujuan mulia tersebut. Bila galgal dalam kehidupan yang sekarang maka ia masih punya kesempatan di kelahiran selanjutnya.

Pu Tai He Sang ; Sekte Maitreya Abad X menjulukinya sebagai "BUDDHA-KETAWA", "BUDDHA-MI LE", "JU LAI FO" ( Buddha yang akan datang ) ; BENARKAH ?? ( Kontroversial )

Pu Tai He Sang ; Sekte Maitreya Abad X menjulukinya sebagai "BUDDHA-KETAWA", "BUDDHA-MI LE", "JU LAI FO" ( Buddha yang akan datang ) ; BENARKAH ?? ( Kontroversial )

Jenis manusia yang ketiga adalah yang terunggul, ialah Niyata-vyakarana, yaitu manusia yang telah mendapat kata-kepastian bahwa kelak ia akan menjadi Buddha dari Buddha yang lampau.Yang terakhir ini adalah jenis dari para Boddhisatta atau calon Samma-Sambuddha.

Nah, kita kebanyakan adalah golongan Nevya, sehingga, sebaiknya dalam era Buddhasasana sekarang ini terus mengumpulkan benih carana ( perbuatan benar ) dengan cara mempraktikkan :


1. Dana,

2. Sila,

3. Samadhi.


Sedangkan untuk golongan Padaparama dihimbau untuk mengumpulkan benih carana supaya kelak terlahir di era Buddhasasana yang akan datang sekaligus mencapai pembebasan dari dukkha pada saat itu juga.


Sarat yang harus dipenuhi bagi golongan Padaparama adalah :


1. Dana,

2. Uposatha-Sila, dan

3. Tujuh Sad-Dhamma


Sad-Dhamma tersebut adalah :


1. Saddha ( keyakinan )

2. Sati ( perhatian-murni )

3. Hiri ( malu berbuat salah )

4. Ottapa ( takut akibat perbuatan jahat )

5. Bahusacca ( Belajar-Dhamma )

6. Viriya ( Semangat dan ketekunan )

7. Panna ( kebijaksanaan ).


Semua praktik ini adalah bagian dari akumulasi menuju kesempurnaan Parami.


Hanya jika seorang Padaparama telah memiliki benih vijja kebijaksanaan / kelompok Panna ) dan benih carana ( perbuatan benar / kelompok Sila dan Samadhi ) yang cukup barulah ia dapat mencapai pembebasan dari dukkha dalam kelahiran selanjutnya. Vijja bagaikan sepasang mata untuk melihat, dan Carana bagaikan kaki untuk berjalan ataupun sayap untuk terbang. Keduanya saling melengkapi dan menguatkan.

VERSI TIONGKOK : Pu Tai He Sang ~ Maitreya ? BENARKAH ???

VERSI TIONGKOK : Pu Tai He Sang ~ Maitreya ? BENARKAH ???


KESIMPULAN


Kita yang hidup sekarang ini, seharusnya bersyukur, karena kita hidup dalam era Buddhasasana, ialah era Dhamma Sang Buddha Gotama. Adalah keliru jika masa Buddha-Gotama telah berakhir, sebab, masa berakhirnya Buddha-Gotama [sesuai sabda Sang Buddha sendiri, dan melihat berbagai prasayarat-pengkondisian / fakta-fakta] masih 2.500-an tahun lagi.

Dengan demikian, Buddha-Metteya, belumlah muncul pada masa sekarang ini.  Meskipun demikian, semua ummat Buddha tentunya menghormati Beliau, yang saat ini sedang berada di alam surga Tusita ( Tusitabhumi ), tingkat kelima dari alam Sugati ( surga Kammadhatu ) . Buddha-Metteya akan muncul [ terlahir di alam manusia ] kelak saat Utkarsa / fase-turun, setelah manusia mencapai ambang batas usia 80.000 tahun, namun tidak saat jangka kehidupan manusia telah jatuh dibawah titik jangka kehidupan kritis, saat sikap dan mental manusia sangat inferior sehingga tidak bisa menerima ajaran Buddha.

Karena itulah, di masa Buddhasasana yang sekarang, hendaknya kita tekun melatih diri dalam Dhamma yang dibabarkan Sang Buddha, demi tercapainya kebahagiaan dan pembebasan dari arus samsara.

( Sumber Pustaka : Majalah Dhammacakka ; Jakarta, 2006 )

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

RATANA-KUMARO ( Ratna Kumara )

Semarang-Barat,Minggu, 19 April 2009

Iklan

112 Tanggapan to “BERAKHIRNYA ERA GOTAMA & MUNCULNYA MAITREYA”

  1. Namo Buddhaya 😉

    Mari kita semua tekun melatih diri dalam Dhamma,

    Waktu bagi masa Buddhasasana sekarang tinggal [kurang-dari] 2.500 tahun,
    Alangkah sia-sianya kita jika tidak memanfaatkan kesempatan ketika terlahir sebagai manusia tidak mempraktikkan Dhamma yang telah dibabarkan oleh Sang Buddha Gotama.

    Apakah harus menunggu lahirnya Buddha-Maitreya ?

    Masa itu masih ratusan ribu tahun lagi.

    Hidup adalah saat ini, persis detik ini.
    Yang nyata adalah saat ini, persis detik ini.
    Masa depan masihlah berupa angan-angan,
    Masa lalu sudah tak bisa digapai, tempat kesedihan, penyesalan 😉

    “Appamadena-Sampadettha!”

    Sabbe Satta Bhavantu Sukkhitatta

  2. Dengan membaca postingan ini, semoga semua ummat Buddha, dan makhluk-makhluk yang telah siap mendengar Dhamma, tersadar, betapa ‘sulitnya terlahir menjadi manusia, sulitnya kemunculan seorang Buddha, sulitnya menghayati Dhamma!’

    Semoga Semua Makhluk Telah Tiba Saatnya Merealisasi Nibbana 😉

    Sadhu…Sadhu…Sadhu… 😉

  3. 卓俊樺 said

    Di atas, mas ratana menulis bahwa Sang Buddha berkata


    Dalam prosesnya, Abhidhamma dahulu yang pertama lenyap, dimulai dengan lenyapnya Patthana, Yamaka, Kattha-vatthu, Puggala-pannati, Dhatu-Kattha, dan seterusnya.

    Setelah Abhidhamma lenyap, maka Sutta-Pitaka juga turut lenyap. Pertama, Anguttara Nikaya lenyap, kemudian Samyutta-Nikaya, Majjhima Nikaya, Digha Nikaya, dan seterusnya.”

    nah, yang menjadi pertanyaan, Tripitaka disusun menjadi buku kan setelah Parinibbananya SAng Buddha. Jadi sebelum Buddha parinibbana, ga ada donk yang namanya Sutta Pitaka dsbnya.
    Koq bisa Sang Buddha memberikan khotbah bawah Sutta Pitaka akan lenyap, padahal waktu itu Sutta Pitaka kan belum disusun ? O_O

    • widia said

      Sma😊cm mungkin artlkl d atas d permudah aj
      fokus ambil baik na ajj

    • Mekel Wijaya said

      buddha gotama adalah Samma sambuddah, beliau saja bisa meramalkan jika ada sanggha bikkhuni maka Dhamma ajaran beliau hanya bertahan 5.000 tahun, jika tidak ada sangha bikkhuni maka Dhamma ajaran beliau akan bertahan 10.000 tahun

      jadi yg paling dekat juga pasti tau dong
      + seperti yg saya baca
      sang buddha sendiri juga telah mengelompokka ajaran Nya
      dikarenakan Buddha pernah ke alam dewa hanya untuk mengajarkan Abhidhamma

    • Itulah sang buddha disebut sebagai guru para dewa dan manusia yang sadar dan yang patut dimuliakan. Sang Buddha dapat mengetahui segalahal olehkarena itulah disebut guru agung, jadi sang budha sudah mengetahuinya, olaeh sebab itu dia menjelaskan nya kepada bikkhu sariputta, jika itu hanyalah bohongan maka beliautidak akan menjelaskannya karena cuman tebak tebakan saja, beliau hanya menjelaskan kebenaran dan kenyataan yang akan / telah terjadi

  4. Dear “ZenTaoBa” … 😉

    Nah , itu dia… 😉

    Mungkin begini, Ajaran Semua Buddha sejatinya sama…,

    Para Buddha semuanya mengajarkan Vinaya , peraturan-peraturan Ke-Bhikkhuan, Para Buddha pun ber-khotbah [ yang akhirnya akan dirangkum dalam Sutta-sutta ], dan Para Buddha pun mengajarkan Abhidhamma ( Dhamma yang lebih tinggi ). Tahukah, dalam salah satu sutta di Majjhima-Nikaya, Para Bhante terkemuka pun telah mengenal istilah “Abhidhamma” semasa Sang Buddha hidup ? Saya lupa Suttanya, nanti kalau memang butuh saya kutipkan :mrgreen:

    Pertanyaan yang bagus, saya sendiri kurang mengerti mengenai hal ini. Yuk, sama2 mencari informasi, kita tanyakan pada para Bhante 😉

    Peace & Love

  5. linggawardanasahajakers said

    seperti akan munculnya kalki awatara..
    dan munculnya….imam mahdi, satrio piningit, dan ratu adil..

  6. Dear mas Linggawardanasahajakers 😉
    Selamat datang mas 😉

    Ingatkah dengan diri ‘ku’ ?? 😀

    Yak, anda benar mas.

    Tahu gak mas, ada suatu “ramalan” Sang Buddha juga, yang isinya mirip dengan ramalan Sabdopalon& Nayagenggong, serta ramalan Jayabaya. Isinya mirip sekali 😉

    Untuk yang diatas saja sudah cukup mirip kok, coba perhatikan :

    Karena itulah [ akibat dari tidak diikutinya lagi Jalan-Dhamma ] , HUJAN TIDAK TURUN SEBAGAIMANA MESTINYA, akan ada GAGAL PANEN, KELANGKAAN BAHAN MAKANAN, dan akibatnya masyarakat tidak mampu lagi menyediakan kebutuhan pokok untuk para Bhikkhu. Akhirnya para Bhikkhu tidak lagi menerima anggota baru, tidak ada lagi orang masuk Sangha. Ajaran secara perlahan lenyap.

    Ada lagi ramalan Sang Buddha yang lain, yang jauh lebih mirip lagi dengan ramalan Sabdapalon-Nayagenggong. Cuman kepustakaan saya yang itu terselip, karena saya dapat dulu tahun 2003, setelah itu entah kemana. Nanti kalau ketemu, saya upload deh disini. 😉

    Peace & Love

  7. tomy said

    Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu

    Mengapa dengan diri saya yang mengalami kekotoran batin, kesukaran, duka, sengasara & fana masih selalu mencari-cari hal serupa? 😥

    Mas Ratana besuk Waisak saya & teman2 hendak ikut acara di Borobudur. Teman saya agamanya Budha yang ngajak.
    Nah saya khan termasuk mokaw tidak punya syariat, bisa ikut masuk ke Borobudur tidak ya?
    Saya mengenal Budha sejak remaja & boleh percaya boleh tidak sering saya mendapat pengajaran dari Budha
    Kalo bisa berangkat bareng Mas, saya nanti diajari samadhi ya

    Salam Cinta & Kasih
    ~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear Mas Tommy 😉

    Mas Tommy, silakan ikut ke Borobudur.
    Omong2 , siapa mas yang ngajak ? Dari vihara mana ?

    Bisa masuk lah mas, bebas saja kok 😉

    Okay, semoga kita besok bisa bertemu 😉

    Peace & Love 😉

  8. tomy said

    Agama adalah ilusi, kata Sigmund Freud
    Suatu kepercayaan bersifat ilusi, jika keinginan akan terjadinya apa yang diinginkan itu menjadi unsur utama dalam motivasinya
    Boleh jadi
    Seringkali kepercayaan akan Tuhan hanyalah manifestasi bentuk ketakutan kanak-kanak yang ingin membangun suatu perlindungan

    Sebuah benteng untuk bersembunyi dari kenyataan yang memang terlihat menakutkan
    Malangnya, ketika benteng terbentuk untuk pertahanan diri ketakutan tak kunjung berhenti
    Kenyataan tetap sebuah lubang gelap
    Sesama masih tetap menjadi serigala
    Lalu benteng itu mulai mempersenjatai diri
    Pertahanan diri memperoleh kekuatannya dalam invasi

    Sejarah ditulis kembali
    Sebagai trauma yang terus berulang

    http://tomyarjunanto.wordpress.com/2007/12/13/ilusi-agama/

  9. Namo Buddhaya,
    ~~~~~~~~~~~~~~~~
    Namo Buddhaya 😉
    ~~~~~~~~~~~~~~~~

    Halo Bro Ratana Kumaro. Saya hanya ingin bertanya tentang gambar orang gemuk tersebut.

    Pada artikel anda tentang Berakhirnya Buddhisme, mengapa anda tempel gambar orang gemuk, yang pakai baju kedodoran, dengan posisi tubuh yang mencerminkan seorang Buddha!!!

    Kalo boleh saya kasih komentar, jangan pakai atribut yang gak jelas Bro…

    nanti dikira orang bahwa itu adalah gambar Buddha Metteyya!!!

    Bro khan tau kalo Sammasambuddha itu memiliki 32 ciri khusus…please jangan buat umat salah pandang tentang Sammasambuddha!!!
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Iya Bro Wen Lung Shan… ,

    Saya tau ada kontroversi mengenai patung Boddhisatta-Metteya tersebut. Saya tahu… ,

    Hanya, yang saya juga perlu berdiskusi dengan anda [mohon sudi memberi masukan], bukankah Metteya masihlah seorang Boddhisatta ? Dan, apakah seorang Boddhisatta telah mempunyai [secara lengkap] 32 tanda / ciri Sammasambuddha ?

    Saya dalam hal ini benar2 kurang pengetahuan. Jadi, Bro WLS kiranya bisa membagi pengetahuannya.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Justru kita dari Magabudhi mau memberantas Buddha Rupam yg gak jelas juntrungannya!!!
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Waduh , Brother WLS, apakah harus sampai sejauh itu Bro ?

    Nanti bisa-bisa kita seperti tingkah-laku tetangga sebelah Bro, yang sedikit-sedikit memberi stempel ‘sesat’, ‘harus-diberantas’, dan lain-lain.

    Apakah program pemberantasan ini resmi dari Magabuddhi ? Saya kok baru mendengar dari anda ya Bro. Coba nanti saya tak konfirmasi pada Magabuddhi Semarang Bro, boleh kan ?
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Semoga komentar saya dapat tidak membuat Mas ratana kecewa….
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Tidak, sama sekali tidak… 😉

    Bro, di blog ini saya kan ingin berbagi informasi mengenai Buddhisme sebenar-benarnya, sebaik-baiknya.
    Jika memang dirasa ada yang kurang pas, saya sangat terbuka dan menerima kritik yang membangun Bro.

    Tentang Patung Boddhisatta-Metteya tersebut diatas, sementara belum saya delete dulu ya Bro.

    Nanti kalau Bro WLS bisa memberikan jawaban2nya, dan juga bisa memberikan bagaimana rupa Boddhisatta Metteya yang sebenarnya, saya akan ganti dengan rupa yang baru tersebut.

    Saya juga tahu, di Kushinagar ~ India, di bangun patung Boddhisatta Metteya ini, dan itu berbeda dengan penggambaran versi Tiongkok. Namun saya sendiri masih penasaran dengan kebenaran diantara kedua patung ini. Ada baiknya Bro WLS memberikan saya masukan yang tepat atas perkara ini.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Semoga semua makhluk hidup berbahagia.
    Sadhu.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Anumodana atas masukan anda 😉

    Sabbe Satta Bhavantu Sukkhitatta,
    Sadhu…Sadhu…Sadhu… 😉

    • ferry gunawan said

      Ferry Gunawan
      namo buddhaya
      saya hanya mau kasih pendapat sedikit saja , untuk kita semua ber ehipasiko , jangan suka menjudge suatu ajaran sesat
      kalau memang satu ajaran nga sepaham sama kita yaa kita tak usah ikutin, dan jangan juga memaksakan kehendak, sang buddha sendiri pernah bersabda ikuti ajaran nya kalau memang baik untuk kita tapi tanpa memusuhi atau melupakan guru lama, so guru agung kita saja bersabda seperti itu, masa ada umat yg mau menjudge itu salah or menyesatkan ,,, jangan sok merasa paling benar !!! , buat bro Bro Ratana Kumaro tetap semnagat menulis artikel dhamma ini bro saya dukung, untuk komen yg nga jelas dan sok paling benar nga usah di ladenin … atau kalau ada yang komen sok tahu suruh ikut pabbaja aja dulu bro .. heehehehe thank buat bro ratana semangat bro salam hormat…
      salam mettacitena

    • ferry gunawan said

      tambahan kalau benar mengatasnamakan magabudhi mau berantas buddha rupang yg nga jelas, saya orang pertama yang akan melaporkan magabudhi keranah hukum ….. hati hati anda buddha itu cinta damai , jangan sok pahlawan, apakah ada batasan buddha rupang yg nga jelas juntrungannya , jangan ngasal bos kalau ngomong ….,

    • Dede said

      Saya salut sama kebijaksanaan dan cara penulis menanggapi kritikan… dan berposisi sbg penulis yg sangat netral tidak brutal……

      walaupun sangat mengagungkan sakyamuni dan yakin dharma sakyamuni msh utuh tp tdk meremehkan dan meruntuhkan keyakianan dan pandangan yg lainnya walau kontroversial

      Salut……

  10. lovepassword said

    Saya rasa di daerah anda, Semarang Barat itu malah ada aliran Budha Maitreya. Di daerah Semarang Indah kalo nggak salah. Bagi umat Budha yang bukan Maitreya, kedatangan Maitreya itu hanya ada setelkah tidak disebut lagi nama Budha. (tul nggak). Tapi entah dari sudut pandang Budha Maitreya sendiri bagaimana? 🙂

  11. Dear Lovepassword… 😉

    Iya, anda benar. Di daerah Tanah Mas, ada vihara Maitreya, yang punya orang Taiwan.

    Menurut ummat Buddha Maitreya sendiri, Maitreya sekarang ini masih berada di surga Tusita. Dalam hal ini pandangan mereka sesuai dengan yang disabdakan Sang Buddha. Hanya, bagi mereka, era Buddha Gotama sudah selesai, dan sekarang masa-masa menanti kedatangan Maitreya, kalau tidak salah begitu.

    Tapi pandangan itu, jika merujuk pada sabda Sang Buddha sendiri, sangat tidak sesuai. Sekarang , era Buddha-Gotama belumlah usai. Dari segi waktu, masih kurang dari 2.500 tahun lagi, dari segi ajaran, sekarang masih terdapat ajaran Buddha Gotama, Buddhasasana masih ada tegak berdiri.

    Jika sekarang telah muncul Buddha yang baru, hal ini LUCU. Sebab, SAMMA-SAMBUDDHA adalah makhluk yang mencapai Pencerahan-Sempurna, tanpa bantuan entitas diluar diri-Nya. Pada masa itu, ajaran Buddha telah sirna, dan ia mencapai tataran ke-Buddha-an tersebut, menembus Dhamma dan membabarkan Dhamma. Kalau masa sekarang, Dhamma kan masih ada, tidak mungkinn ada Samma-Sambuddha, karena, tidak perlu susah2 berjuang, seseorang tersebut tinggal baca buku2 di perpustakaan Buddhis, mempelajari Ti-Pitaka, akhirnya ia bisa mempraktekkan Dhamma, meresapi Dhamma, dan akhirnya membabarkan Dhamma. Seseorang seperti ini tentunya bukanlah Samma-Sambuddha.

    Lagipula, Dhamma semua Buddha adalah tepat sama, sama persis. Jika ada aliran2 yang mengajarkan hal yang jauh berbeda, maka, kita harus berhati-hati, jangan-jangan ini salah satu tanda munculnya ‘miccha-dhamma’/ Ajaran-Salah.

    Demikian dulu 😉

    Thanks, Lovepassword, for your attention 😉

    Peace & Love 😉

  12. CY said

    Kalo dari penelusuran saya pribadi (saya pernah mengikuti kebaktian vihara Maitreya). Aliran Maitreya tidaklah bisa dikategorikan Buddhisme. Namun saya juga tak berani menyebut sesat karena ajaran2nya cukup bagus yaitu agar tidak menyakiti sesama makhluk hidup dan merawat bumi ini penuh kasih.

    Kenapa tidak bisa disebut Buddhisme?
    Point pertama dan paling penting adalah aliran Maitreya mempercayai adanya entitas tertinggi yg disebut Lao Mu/Bunda Semesta (Setaraf dgn Tuhan Yg Maha Esa dlm agama2 lain).

    Point kedua, dalam doa2 mereka mengharapkan pertolongan dari mara bahaya dan rejeki serta kesehatan dari Entitas tersebut.

    Yang mana dari kedua point tersebut jelas tidak diajarkan dan ditolak oleh Buddha akan keberadaan sebuah Entitas Maha kuasa yg mengatur semuanya.

    Demikian yg saya simpulkan dari hasil penelusuran saya. mohon dikoreksi kalo ada kesalahan.

    masalah sesat atau tidak menurut saya kata “berantas” tidaklah tepat. yg tepat adalah kita membabarkan pengetahuan yg sebenarnya kepada mereka. Karena kata “berantas” tak terdapat dlm kamus Dhamma. Kalo kita berantas, berarti kita juga telah melenceng dari jalan Buddha alias ikut sesat tanpa kita sadari.

  13. linggawardanasahajakers said

    dengan pikiran kemiripan itu…
    saya berpikir bahwa ajaran semua sama jika ditelaah kembali dengan hati masing2 per agama yang dianut…

    dan semua agama mengarah pada satu pembebasan…

    jaman itu sudah di ceritakan kembali ke jaman kertayuga…semua kembali ke agama masing2 dan menjalaninya…

    tidak ada lagi kejahatan di muka bumi..dan keadilan semakin merata…mudah2an..amin..

  14. Beri sedikit tanggapan.
    Saya pernah membaca literatur The Buddha and His Teaching (Ven.Narada MT) dan Milinda Panha yang menerangkan bahwa pada awalnya umur ajaran Dharma adalah 5*1000 tahun. Namun karena adanya nun ordination (pentabhisan Maha Prajapati Gotami), maka menjadi setengahnya 5*500 tahun yakni 2500 tahun.
    Kalau hal ini benar, maka bagaimana penjelasan mengenai hubungan masa dharma dengan masa sekarang ini (approx. 2500 tahun)?
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Dear Bro… 😉

    Dalam Milinda Panha memang ada penjelasan yang sangat menarik berkaitan dengan umur agama Buddha.
    Pada waktu itu , Raja Milinda bertanya pada Bhante Nagasena. Raja Milinda bertanya ;

    “Setelah penahbisan para wanita [menjadi Bhikkhuni], Sang Buddha berkata bahwa ajaran YANG MURNI itu hanya akan bertahan selama LIMA RATUS TAHUN.
    Tetapi pada Subbadha Beliau berkata,” Selama para Bhikkhu masih menjalani kehidupan suci yang sempurna maka dunia ini tidak akan kekurangan Arahat.”

    Raja Milinda merasa dua pernyataan tersebut kontradiktif.

    Lalu Bhante Nagasena Menjawab ;

    ” O, Baginda, Sang Buddha memang membuat kedua pernyataan itu, tetapi keduanya berbeda dalam inti dan arti. Pernyataan yang satu berhubungan dengan AJARAN yang MURNI, sedangkan pernyataan yang satunya lagi berhubungan dengan PRAKTIK DARI KEHIDUPAN AGAMA. Dan dua hal ini jelas sangat berbeda. Pada saat berkata tentang lima ratus tahun itu, Beliau memberikan batasan kepada agama.
    Akan tetapi, ketika berkata kepada Subbadha , Beliau menyatakan tentang apa yang terkandung di dalam agama. Jika murid-murid Sang Budddha terus berusaha sekuat-kuatnya di dalam lima faktor perjuangan, mempunyai keinginan murni untuk tiga latihan, menyempurnakan diri mereka di dalam tindakan dan nilai-nilai luhur; maka ajaran Sang Penakluk yang mulia itu akan bertahan lama dan akan semakin kuat dan kokoh dengan berjalannya waktu. Ajaran Sang Buddha, O, Baginda BERAKAR PADA PRAKTIK. Praktiklah intinya, dan ajaran akan tetap bertahan selama praktik tidak kendur”.

    Jadi, Bro…, memang kalau kita lihat, AJARAN MURNI Sang Buddha, benar-benar hanya bertahan selama lima ratus (500) tahun. Buktinya, setelah itu, banyak sekali bermunculan ajaran-ajaran yang MENGATASNAMAKAN BUDDHA-DHAMMA. Apalagi di abad milenium sekarang, banyak sekali yang mengaku bermerk BUDDHA-DHAMMA, bahkan ada yang menyatakan dirinya seorang BUDDHA. Padahal, kita semua tahu, seorang Buddha memiliki kualitas-kualitas tertentu, yang tidak bisa dipalsukan ( misalnya, 32 tanda-tanda manusia Agung / Mahapurissa ).

    Namun, meskipun ajaran-murni telah luntur, selama para siswa tekun berpraktek pada Dhamma yang Mulia, yang Murni, bumi ini tidak akan pernah kekurangan orang suci, termasuk Arahat sekalipun.

    Semoga, kita, para siswa Sang Buddha, mampu mempraktekkan Dhamma dengan sebaik-baiknya, dan mampu merealisasikan ‘pencerahan’, ‘kesucian’, meskipun hanya pada sebatas tingkat-tingkat Sotapanna, atau mungkin jika karma baik kita mencukupi, bisa hingga Sakadagami, atau bahkan jika memang luar biasa banyak timbunan karma baik kita, semoga bisa menambah jumlah koleksi siswa2 Arahat-nya Sang Buddha 😀 :mrgreen: 😛 😉
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Terima kasih atas penjelasannya.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Sama-sama, terimakasih kembali…. ,

    Mettacittena 😉

  15. Re: Wen Lung Shan
    Apa yang pernah saya baca dan pelajari, image Maitreya tersebut merupakan kelahiran Boddhisatva Ajita di China pada abad 10 yang mendapat “tempat” bagi praktisi Mahayana. Abad 19, “Ajaran Maitreya” muncul. Seperti para Buddha di tiga masa, maka Boddhisatva Ajita juga akan mengalami kelahiran kembali selama beratus kali guna menyempurnakan 10 parami.
    Ada kemungkinan bahwa Bhiksu Wu Tai (bhiksu dengan perawakan gendut dan murah tawa) adalah Bodhisatva Metteya. Andai saja ini benar, maka tindakan membenci (apalagi memberantas) suatu image/simbol inspirasi (cetana positif), saya pikir akan berdampak negatif (saya tidak berani mengatakan itu karma buruk). Bodhisatva bisa terlahir dalam berbagai macam wujud dan fisik, dengan tubuh yan berbeda bentuk bahkan menjadi seekor gajah ataupun kura-kura.
    Yang salah bukanlah image (Rupam) “Wu Tai He Sang” (yang dipercaya sebagai Bodhisatva Maitreya), tapi pikiran dan pandanganlah yang salah.
    ***
    Btw, apakah namanya sudah diganti oleh Sdr Ratana? Soalnya saat sekarang (8.37pm) saya hanya membaca keterangan setiap gambar hanyalah kata Maitreya atau frasa Boddhisatva Maitreya, dan tidak menemukan frasa Samma Sambuddha Maitreya pada gambarnya. Kayaknya cukup clear.
    ***

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Terimakasih atas tambahan pengetahuannya Bro… 😉

    Nama di foto2 tersebut sama sekali tidak saya ganti.

    Sebagai seorang Theravaddin, saya sangat mengerti bahwa Metteya / Maitreya , sekarang ini barulah seorang Boddhisatta ( Calon-Buddha ), jadi saya tidak akan pernah menyebutnya dengan nama “BUDDHA”.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Deep Bow.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Deep Bow _/\_
    Mettacittena 😉

  16. 3yoga~(RED) said

    ooohhhh …. begitu toh, ternyata di buddha juga ada aliran yang berbeda, pantesan aku punya teman (mengaku agama buddha) juga merasa ada satu entitas yang maha tersebut.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear mas 3Yoga… ,

    Saya kira penjelasan saya kepada “Nusantaraku” sudah bisa memberi jawaban untuk anda.

    Selama aliran itu masih dalam koridor : Theravada dan Mahayana, maka ajarannya pasti sama.

    Namun, jika sudah membahasa aliran MAITREYA, FA LUN DA FA, dan lain-lain aliran baru, maka itu menjadi agak susah.

    Yang pasti, kalau mau mengerti Buddhisme, pahami dan ikuti pakem ajaran Sang Buddha Gotama, karena Beliau-lah yang jelas dan pasti, sebagai Samma-Sambuddha hingga saat ini 😉

    Peace & Love

  17. Berdasarkan Milinda Panha, berarti angka-angka artikel diatas kurang tepat yah?
    Harusnya dihitung per 5 ratus tahun, bukan 1000 tahun kan?
    Yah…ada perbedaan umur inti “ajaran” dengan umur “praktik” ajaran.
    Trims

  18. To: Bro Nusantaraku

    Anumodana atas nasehatnya. Disini saya cuma menekankan bahwa hati2 menggunakan simbol agama yg tidak sesuai dengan Dhamma. Saya pikir Mahayana murni pun gak rela bila Samyaksambuddhanya kayak gitu!!!

    Kalau boleh saya menganalisa tentang pengertian Micchaditthi adalah bila simbol atau lambang agama Buddha mengandung Lobha, dosa, dan moha. Dan untuk kasus gambar Maitreya itu jelas mengandung moha. Coba anda lihat di candi Mendut bergaya Mahayana Buddhisme. Sewaktu saya masih menjadi samanera, Bhante Joti pernah menjelaskan pada saya bahwa calon Sammasambuddha, Bodhisatta Metteyya tidak bertubuh seperti gambar Mas ratana Kumaro yg ditaroh di atas artikel tersebut!

    Dalam pelajaran Hukum Kamma disebutkan bahwa ada perbuatan yg kualitasnya besar yaitu Akusala Garuka kamma bagian ke-2 yaitu: Niyatamicchaditthi kamma yg artinya Menyebarkan pandangan salah secara sadar dan terus menerus. Orang yg melakukan hal demikian maka akan terancam terlahir kembali dalam alam Mahatapana Naraka (Neraka tingkat 7).

    Saya menyayangkan blog ini. Pada dasarnya blog ini sudah bagus, dengan referensi yg dapat di pertanggung jawabkan. Namun mengapa di cantumkan gambar-gambar yg tidak bertanggung jawab yaitu gambar Maitreya!!!

    Mohon diralat gambarnya Mas.

    Semoga bermanfaat
    Sadhu.

    • herry said

      gambar/patung maitreya yg diletakkan itu hanyalah sebagai simbol utk umat budha……supaya kalian murah senyum,bajik,rendah hati,tidak ada dendam,lugu,polos,ramah,sopan,dansaling tolong menolong tanpa pamrih…..jgn lah kalian saling menuduh dan menyalahkan masing-masing kepercayaan dan pendapat….itu tidak akan menampakkan kebenaran didalam diri kita….justru yg muncul adalah sifat kita yg ego itu utk menang sendiri dalam berpendapat…….saya tidak ingin perpecahan lg pada umat budha….pada dasarnya umat budha harus saling mengalah bukan mau menang sendiri….terimakasih atas perhatian dari seluruh umat budha.kiranya bisa saling menghormati sesama umat.

  19. Dear Bro WLS 😉

    Anumodana atas masukan-masukannya.

    Dalam komentar anda no.9, saya sudah memberikan jawaban sbb. =

    Nanti kalau Bro WLS bisa memberikan jawaban2nya, dan juga bisa memberikan bagaimana rupa Boddhisatta Metteya yang sebenarnya, saya akan ganti dengan rupa yang baru tersebut.

    Saya juga tahu, di Kushinagar ~ India, di bangun patung Boddhisatta Metteya ini, dan itu berbeda dengan penggambaran versi Tiongkok. Namun saya sendiri masih penasaran dengan kebenaran diantara kedua patung ini. Ada baiknya Bro WLS memberikan saya masukan yang tepat atas perkara ini.

    Oke Bro, nanti saya pertimbangkan dan tindak lanjuti lebih jauh saran anda, semberi saya coba cari foto-foto Boddhisatta Metteya yang versi Kushinagar~India tersebut 😉

    Jangan sungkan2 memberi masukan Bro, sebagai sesama siswa Sang Buddha, patut saling memberikan masukan-masukan, kontribusi, yang membangun 😉 .

    Peace & Love 😉

  20. Mengenai asal mula Patung Maitreya versi Tiongkok, begini sejarahnya :

    Pada zaman dinasti Liang (tahun 502 – 550) daratan Tiongkok berada dalam keadaan kacau, perang saudara dan perebutan kekuasaaan. Sehingga para penganut Buddha mengharapkan datangnya Maitreya sebagai penyelamat. Karena itulah lahir sekte Maitreya. Gambar Maitreya sebagai pangeran India yang gagah menjelma sebagai bhiksu gendut yang selalu senyum. Buddha Maitreya dipercayai lahir di provinsi Zhejiang sebagai bhiksu gendut yang disebut Pu Tai He Sang atau Bhiksu Berkantong Kain. Legenda mengatakan bahwa bhiksu ini sering berkelana membawa kantong kain pada permulaan abad ke-10. Dia juga dijuluki Buddha Ketawa, Buddha Mi Le, atau Ju Lai Fo (Buddha yang akan datang). Beliau dipercayai sebagai reinkarnasi Maitreya karena saat meninggal beliau menulis syair:

    Maitreya, Maitreya yang asli. Manusia selalu mengharapkan kedatangannya. Dia selalu menjelma dalam berbagai bentuk, namun saat dia datang menjelma sebagai manusia, tidak ada yang mengenalnya.

    sumber : wikipedia

    Benar, atau tidak ?? Hmmm…,

    Semoga Bermanfaat 😉

    Peace & Love

    • Dede said

      Asal-usul Bhiksu BuDai
      Kaum tua di desa ChangTing (長汀) paling senang berkumpul bersama-sama di emperan teduh rumah untuk mendengarkan NingBoZouShu (nyanyian seriosa mengenai sejarah) tentang kisah Maitreya.

      Ketua Asosiasi Kaum Tua Desa ChangTing, Zhang JiaGuo (張嘉國), sangat dikagumi oleh kaum tua pecinta seriosa sejarah. Ia menyimpan pusaka paling berharga yakni Buku Keluarga Marga Zhang (1916 M), buku keluarga satu-satunya yang tersisa di desa ChangTing, didalamnya tercatat kisah Bodhisatva. Ketika masa Revolusi Budaya (1966-1976) oleh komunis, dengan bijaknya Zhang JiaGuo berhasil melindungi Buku Keluarga Marga Zhang. Sebelum tentara tiba menggeledah rumah, begitu mendapat kabar angin ini, Zhang JiaGuo spontan mendapat inspirasi untuk menyembunyikan Buku Silsilah Keluarga ke celah lantai papan, sehingga dapat bertahan hingga hari ini terhindar dari penghancuran petugas “bantai 4 kuno”.

      Pada Dinasti Tang, tahun 850 M bulan 9 hari 9, Panatua desa ChangTing, Zhang ChongTian (張重天), sepulang dari sembahyang di Kuil SongMingSi (松鳴寺), melihat ada sebuah baskom kayu yang terbawa arus hingga pesisir desa. Di dalamnya, duduk seorang bocah. Zhang ChongTian tergerak hati untuk mengadopsinya, seraya bertanya: “Bagaimana bila saya membawa kamu ke rumah saya sekarang?” Sang bocah mengangguk sambil tertawa. Panatua Zhang menjadikannya sebagai anak angkat dan memberikan nama QiCi (契此), karena tumbuh besar di desa ChangTing, bergelar Anak ChangTing (長汀子). [Pada tahun 2001 M, dekat tempat diketemukannya bocah QiCi oleh penduduk setempat didirikanlah Pavilon Maitreya di gerbang masuk dan sebuah pratima Maitreya batu bersisi dua]

      Konon, QiCi yang memberi usul pada kepala desa, jasa-pahala para pendahulu, perlu dilestarikan, Bahkan QiCi sendiri yang menulis Buku pertama Keluarga Zhang. Demikian pula ShiRenTang di desa ChangTing yang selama ini digunakan sebagai Balai PapanNama Leluhur, juga merupakan usulan QiCi.

      Ketika QiCi berusia 16 tahun, menjelang orangtua angkat mau menikahkannya, QiCi mohon restu untuk menjadi bhiksu. Tahun 867 M bulan 6 hari ke 6, ditahbiskan sebagai bhiksu di Kuil YueLinSi (岳林寺) yang sudah berusia 1400 tahun. Kuil aslinya telah hancur seiring dengan waktu, tidak eksis lagi. Yang terlihat oleh kita sekarang adalah kuil rekontruksi baru, yang dibangun pada tahun 536 M. Ketika itu bernama ChongFuYuan, pada tahun 848 M ganti nama menjadi YueLinSi. QiCi sangat berbakat, setelah membiara, mendapat perhatian dari pimpinan dan diberikan tugas bidang dana. Berkat jodoh bhiksu BuDai, Kuil YueLin berkembang dengan cepat. Pagoda Genta, Pagoda Bedug, Graha Sakyamuni dan ruangan lainnya, berhasil dibangun, para bhiksu kuil YueLin pun bertambah hingga 800-an orang.

      Pada tahun KaiPing Dinasti HouLiang (1100 tahun lalu), desa SiMing (四明) kota FengHua, di berbagai jalanan sering diketemui seorang bhiksu yang bergelagat luar biasa. Sering tawaria, perutnya gendut, memikul sebuah kantong kain. Ketemu dengan siapapun ia selalu mohon amal-sedekahnya, termasuk barang pun, mohon disumbangkan. Semua yang disumbangkan orang, ia memasukkannya ke dalam kantong kain. Siapakah bhiksu ini? Berasal dari manakah, masyarakat setempat juga tidak tahu. Karena tidak tahu namanya, ia yang selalu bawa sebuah kantong kain, julukan “BuDai HeShang” (布袋和尚 Bhiksu berkantong) pun populer sejak saat itu, juga karena Bhiksu ini suka ketawa, ada yang menjulukinya Bhiksu Tawaria, juga julukan Bodhisatva Sipit.

      Sekitar 30 km dari kuil YueLin di kota QiuChun, ada sebuah dusun ZhuangXia. 1000 tahun yang lalu, Bhiksu BuDai membangun Kuil kecil yang merupakan cabang dari YueLin. Sebelum kedatangan Bhiksu BuDai, Tempat ini tanah lumpur, sawah basah dan semak belukar. Dikisahkan dalam buku YueLinSiZhi, Bhiksu BuDai mengajak masyarakat setempat, dua kali menggarap pesisir jadi persawahan, untuk bercocok tanam. Para petani pun membangun rumah di sini, lama-kelamaan menjadi sebuah dusun. Ketika Bhiksu BuDai bercocok tanam, ia tidak lupa buat syair dharma, pegang benih semai di ladang berkah, tunduk kepala terlihat langit air, Enam indera bersih itulah Dharma, mundur langkah ternyata adalah maju. Hingga kini, syair ini tetap populer dan warga setempat adalah keturunan para petani yang dulu menggarap sawah bersama bhiksu BuDai. Di pekarangan rumah Wang YueEr, bertumpukan bebatuan tua, adalah perkakas olah pangan yang ditinggalkan oleh Bhiksu BuDai.

      Tahun 917 M bulan 3 hari 3, Bhiksu BuDai duduk moksa di batu trotoar timur kuil YueLinSi. Menjelang wafatnya Maitreya BuDai, sempat meninggalkan syair yang monumental: 彌勒真彌勒,化身千百億,時時示世人,世人自不識。 Maitreya, sungguh Maitreya! Emanasi dalam milyaran, Senantiasa mengungkapkan kepada manusia, Manusia sendiri yang tak mengenalnya. Melalui syair ini, orang menyadari bahwa Bhiksu BuDai adalah inkarnasi Bodhisatva Maitreya.

      Berawal dari afirmasi Buddha Sakyamuni terhadap Maitreya sebagai Next Coming Buddha, hingga inkarnasi Maitreya sebagai bhiksu BuDai, Keyakinan untuk terlahir di TanahSuci Maitreya (彌勒淨土信仰), sejak ini memasuki babak sejarah baru. Bulan 9 hari 9, bulan 6 hari 6, bulan 3 hari 3, tiga peristiwa penting bagi Bhiksu BuDai: diketemukan, menjadi bhiksu, wafat. Selama kurun 1000 tahun, mulai dari Kuil YueLinSi, satu per satu kuil di China menempatkan pratima Maitreya Berkantong (China): Image yang duduk mantap, perut gendut, tawaria, senyum sipit, secara perlahan-lahan lebih merakyat daripada image Maitreya Bermahkota (India).

      Di tengah kota FengHua, jalan ZhongTa, Menurut catatan YueLinSiZhi, Bhiksu BuDai sangat menyukai Gunung FengShan yang indah permai. Ia pun menghimbau saudagar Shi untuk sudi menyumbang sebidang tanah di gunung FengShan. Setelah wafatnya ingin dikebumikan di gunung FengShan. 
      Orang-orang belakangan hari membangunkan pagoda & pavilion Maitreya di sana. Di situs ini, juga terdapat prasasti yang diberikan (pada tahun 1098 M) oleh Raja Dinasti Song. Konon, setelah Bhiksu BuDai dikebumikan, di makamnya selalu memancarkan cahaya kemilau. Raja ZheZong menganugerahkan gelar Mahaguru DingYing. Bhiksu BuDai sebagai emanasi Bodhisatva Maitreya pun mendapat pengukuhan dari kerajaan.

  21. Tedy said

    NAMO TASSA BHAGAVATO ARAHATO SAMMASAMBUDDHASSA

    Maaf saudara2 ku semua, numpang tumpahin pemikiran ya. Menurut pendapat saya, Buddha tidak dilihat dari wujud fisik. “BARANGSIAPA YG MELIHAT DHAMMA MAKA IA MELIHAT BUDDHA”.

    Semoga semua makhluk berbahagia!

  22. Dear All… ,

    @Wen Lung Shan… ,

    Usulan anda akan segera saya realisasi. Ini waktu saya sedang padat, jadi nunggu waktu luang dulu ya. Oiya, apakah anda punya nama SASANA PUTRA ?

    @Teddy .

    “BARANGSIAPA MELIHAT AKU, DIA MELIHAT DHAMMA… ,
    BARANGSIAPA MELIHAT DHAMMA, DIA MELIHAT AKU… ”
    ~ BUDDHA ~

    Peace & Love

  23. Ngabehi said

    Tapi mas Ratana memang mirip sama buddha julay atau buda maitreya, jangan jngan mas Ratana nanti jadi Buddha Julay di Indonesia…

  24. @Mas Ngabehi.. 😉

    Do you believe in rebirth ? 😉

    Peace & Love

  25. @ Wen Lung Shan 😉

    Foto2 sudah saya perbaiki, dan saya lengkapi dengan Rupam Boddhisatta Metteya versi Theravadda, yang saya ambil dari sumber :

    http://what-buddha-said.net/library/DPPN/me_mu/metteyya.htm

    Rupa Pu Tai He Sang tetap saya lampirkan, tapi dengan tetap menuliskan label “Kontroversi”, yaitu Bhikshu Gendut dari Tiongkok ( Abad ke-10 ) yang berkelana kemana-mana membabarkan Dhamma, dan dijuluki dengan “BUDDHA-KETAWA”, “MI LE FO”, “JU LAI FO”, dan oleh sekte Maitreya diyakini sebagai reinkarnasi Boddhisatta Metteya. Akan tetapi, kita tidak tahu kebenarannya.

    Tetap saya beri label “Kontroversi”, jadi saya tidak menyatakan bahwa itulah Boddhisatta Metteya, namun ditampilkan sebab sedikit banyak menjadi bagian ‘polemik’ di kalangan ummat Buddha, dan wajah itu familiar, karena kekontroversial-annya itu sendiri 😉

    Kiranya tidak masalah bukan Bro ?

    Peace & Love

  26. To :Bro Wen Lung Shan

    Terima kasih juga atas penjelasannya.
    Btw, kalo saya lihat foto yang pertama tidak melihat hal tersebut (maaf) menjijikkan atau mengandung unsur moha di sana. Mungkin saja sang seniman tersebut membuat arca ataupun lukisan berdasarkan cerita yang beredar. Dan sebagian literatur Mahayanan China mempercayai (bukan meyakini) sebagai Bodhisatva (bukan Samma Sambuddha). Umat Mahayana meyakini bahwa Samma Sambuddha Maitreya belum lahir, namun bodhisatva Maitreya akan terlahir ratusan kali dalam berbagi bentuk dan wujud. Tidak ada orang bisa memastikan apakah yang benar. Namun, bagi sebagian besar orang dapat memanfaatkan image itu dan mendapatkan image itu dalam meningkatkan kualitas batin yang lebih baik, saya pikir itu tidak menjadi masalah.
    Yang masalah adalah jika image tersebut kita menganggap sebagai Samma Sambuddha lalu “menyerahkan diri” kepadanya.
    Bagi saya sendiri, saya tidak terlalu mempermasalahkan berbagai bentuk image. Karena setiap orang akan memiliki persepsi yang berbeda dengan suatu image. Image Buddha Sakyamuni pun memiliki bentuk yang berbeda baik jika dilihat dari negara asal pembuatnya yakni rupam Borobudur berbeda dengan Thailand berbeda Ceylon berbeda Myanmar, berbeda India, berbeda China, berbeda pula di Tibet. Namun dengan tetap berusaha menampilkan ciri-ciri seorang Buddha. Mana image yang benar, tidak ada yang bisa memastikan mana benar. Namun yg cukup penting adalah bagaimana reaksi/fenomena bathin kita muncul dan kita aware terhadap hal itu.
    Dan Sayalay Dipankara pernah mengatakan bahwa rupam Buddha Sakyamuni yang ada tidak sama dengan image-nya [btw…dari ceritanya yakni melihat past life….beliau pernah menjadi cucu Visakha di zaman Buddha so….pernah melihat face-nya Buddha….boleh percaya,boleh tidak).

    Sarvamanggalam

  27. To: All

    Sekali lagi anumodana atas respon teman-teman tentang image Sammasambuddha.

    Benar Mas Ratana, nama Samanera saya adalah Sasana Putra,sekarang dah lepas…dah nikah…nama tersebut pemberian Bhikkhu Cattamano…karena saya adalah Samanera yg suka protes dan agak ‘naughty’. Makanya oleh beliau saya dikasih nama Sasana Putra (Anak laki-laki yg harus banyak belajar).

    Nama Tionghoa saya adalah Wen Lung Shan yg artinya Naga Gunung.

    Dan nama asli saya adalah Ali, bukan bahasa arab!!! Tapi bahasa Sunda yg artinya Batu cincin. Karena waktu hari pertama mama saya hamil (untuk saya) dia mimpi diberi cincin sama nenek2, dan papa saya juga mimpi mendapatkan batu cincin berkepala manjangan…

    Untuk saudara Nusantaraku, anda termasuk umat Buddha yg memiliki sedikit debu dimata anda karena anda sudah mampu melihat Dhamma dengan baik. Namun bagaimana bagi umat Buddha yg memang sangat baru mengenal Dhamma?

    Bukankah Sang Buddha pernah menasehati kita dalam Mangala Sutta: “Puja ca puja neyyanam, etammanggalamuttamam” artinya: Menghormat kepada yang patut dihormat, itulah berkah utama. Sehingga kita terbebas dari takhyul, spekulasi, mitos, dll yg mengarah pada LDM.

    Sebagai perbandingan:

    Sewaktu di Nalanda saat belajar tentang Pokok-Pokok Dasar Agama Buddha, bagian Agama dan Tujuan Hidup, disana Dosen saya Pak Doddy Herwidanto, Sag., M.A. menguraikan tentang lobha…lalu saya bertanya tentang bernyanyi itu lobha tidak? di jawab: Ya. Bagaimana dengan bernyanyi lagu buddhis, lalu hasil dari penjualannya di danakan? Dijawab: perbuatan Lobha (berdana dengan bernyanyi lagu buddhis). Jadi jawaban yg pasti dulu itu adalah Lobha. Dan berdana itu adalah perbuatan baik (Punya). Sama dengan yg saya tegaskan tentang image next Buddha, yaitu itu bukan gambar next Buddha, mempelajari image next Buddha itu baik karena pariyati Dhamma!!!

    Selanjutnya pengertian Dhamma tentang next Buddha di pelajari lebih dalam lagi.

    Semoga Dhammasakkaca dan kalena Dhamma savanam dapat mengkondisikan mangalamuttamam (Berkah utama).

    Sadhu.

    Mettacitena
    Ali Sasana Putra
    (Wen Lung Shan)

  28. CY said

    @Ratnakumara & Wen Lung san & Nusantaraku
    ada pertanyaan : semua image2 Bodhisatta Metteya punya style dan gaya pakaian India. Kalau imagenya dan model pakaian & accesories tak boleh beda, apakah artinya Bodhisatta Metteya sdh di “predestiny” kan utk terlahir di India?? Tak mungkin lagikah Beliau terlahir di Tiongkok atau bahkan di Amerika?? 😀

  29. kangBoed said

    Ngabehi berkata
    Tapi mas Ratana memang mirip sama buddha julay atau buda maitreya, jangan jngan mas Ratana nanti jadi Buddha Julay di Indonesia…
    ratanakumaro berkata
    @Mas Ngabehi.. 😉
    Do you believe in rebirth ? 😉
    ———————————————————————————
    hahaha….. saya percaya broooot…her ku sayang yayaya….. hehehe…. banyaaaak makaaan yang bergizi ya brooot… biar makin cepat miripnyaaa… nanti kalau perutnya dah gombyor bulat keatas tinggal pake baju bledeeeh hehehe,…
    Salam Sayang Broooot….herku chayank

  30. Tedy said

    To : saudara Wen Lung Shan

    Salam kenal dari saya. Semoga anda sehat dan berbahagia. Dosen agama Buddha anda pak Doddy yg bertubuh gemuk ya? (Maaf bila keliru)
    Klo tdk salah beliau juga dosen mata kuliah agama Buddha saya di Trisakti School of Management. Thanks

  31. 卓俊樺 said

    Hai Mas Ratana,

    Menurutku kalo Maitreya mirip dengan mas Ratana, lebih enak dipandang deh hehe..

    semoga mas Ratana bisa cepat merealisasikan pencerahan.
    Kalo udah tercapai , ajarin saya ya mas 😀

  32. @CY ;

    Semua Buddha, telah di”ramal”kan oleh Buddha terdahulu. Seperti Sang Buddha Gotama, telah mendapat ramalan pasti dari Buddha Dipankara, dan kemudian menyempurnakan parami selama 4 AK + 100.000 Kappa. Dan semua Buddha, selalu terlahir di Jambudvipa, tidak di belahan bumi yang lain manapun juga, tidak terlahir di negara yang lain di manapun juga, entah di Jawa, di Cina, Burma, Tibet, Amerika, Afrika, Arab, Timur-Tengah, Benua Atlantik, dan lain2. [ Mohon koreksinya bila ada kekeliruan ] 😉

    Berikut ini penjelasan mengenai Boddhisatta Metteya, saya ambil dari

    http://what-buddha-said.net/library/DPPN/me_mu/metteyya.htm

    According to the Cakkavatti Sīhanāda Sutta, he will be born, when human beings will live to an age of eighty thousand years, in the city of Ketumatī (present Benares), whose king will be the Cakkavattī Sankha. Sankha will live in the fairy palace where once dwelt King Mahāpanadā, but later he will give the palace away and will himself become a follower of Metteyya Buddha (D.iii.75ff).

    The Anāgatavamsa (J.P.T.S.1886, pp.42, 46ff., 52; DhSA.415 gives the names of his parents) gives further particulars. Metteyya will be born in a very eminent brahmin family and his personal name will be Ajita. Metteyya is evidently the name of his gotta. For eight thousand years he will live the household life in four palaces Sirivaddha, Vaddhamāna, Siddhattha and Candaka – his chief wife being Candamukhī and his son Brahmavaddhana. Having seen the four signs while on his way to the park, he will be dissatisfied with household life and will spend one week in practicing austerities. Then he will leave home, travelling in his palace and accompanied by a fourfold army, at the head of which will be eighty-four thousand brahmins and eighty four thousand Khattiya maidens. Among his followers will be Isidatta and Pūrana, two brothers, Jātimitta, Vijaya, Suddhika and Suddhanā, Sangha and Sanghā, Saddhara, Sudatta, Yasavatī and Visākhā, each with eighty four thousand companions. Together they will leave the household and arrive on the same day at the Bodhi tree. After the Enlightenment the Buddha will preach in Nāgavana and King Sankha will, later, ordain himself under him. Metteyya’s father will be Subrahmā, chaplain to King Sankha, and his mother Brahmavatī. His chief disciples will be Asoka and Brahmadeva among monks, and Padumā and Sumanā among nuns. Sīha will be his personal attendant and his chief patrons Sumana, Sangha, Yasavatī and Sanghā. His Bodhi will be the Nāga tree. After the Buddha’s death, his teachings will continue for one hundred and eighty thousand years.

    According to the Mahāvamsa (Mhv.Xxxii.81f.; see Mil.159), Kākavannatissa and Vihāramahādevī, father and mother of Dutthagāmani, will be Metteyya’s parents, Dutthagāmani himself will be his chief disciple and Saddhātissa his second disciple, while Prince Sāli will be his son.

    At the present time the future Buddha is living in the Tusita deva-world (Mhv.Xxxii.73). There is a tradition that Nātha is the name of the future Buddha in the deva world.

    Semoga Bermanfaat ;

    Sadhu…Sadhu…Sadhu… 😉

  33. kangBoed berkata
    April 22, 2009 pada 8:44 pm :

    hahaha….. saya percaya broooot…her ku sayang yayaya….. hehehe…. banyaaaak makaaan yang bergizi ya brooot… biar makin cepat miripnyaaa… nanti kalau perutnya dah gombyor bulat keatas tinggal pake baju bledeeeh hehehe,…
    Salam Sayang Broooot….herku chayank

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~`

    Sepertinya kalau cuma masalah gembrot, bro KangBoed justru lebih cocok deh, kan badannya udah mbledah tu… Dicoba aja foto close-up, terus juga ukuran poscard full-body pake baju compang-camping, barangkali bisa mirip 😉

    Peace & Love

  34. 卓俊樺 berkata
    April 22, 2009 pada 11:21 pm

    Hai Mas Ratana,

    Menurutku kalo Maitreya mirip dengan mas Ratana, lebih enak dipandang deh hehe..

    semoga mas Ratana bisa cepat merealisasikan pencerahan.
    Kalo udah tercapai , ajarin saya ya mas 😀

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Jangan disamakan lah Bro 😉

    Sammasambuddha-Maitreya yang kelak muncul, harus [dan pasti] mempunyai bentuk fisik yang sangat luar biasa. Sebab, semua Buddha mempunyai 32 tanda-tanda fisik manusia Agung / Mahapurissa yang tidak bisa dipalsukan.

    “Bentuk fisik, ditentukan oleh kualitas batin”

    Ini makanya Bro, melalui wajah, seseorang bisa melihat karakter, kapasitas, dan kualitas2 tertentu, yang unik yang hanya dimiliki olehnya. Itu pula sebabnya , mengapa banyak bermunculan ilmu yang menafsirkan bentuk-bentuk wajah. Sebab, fisik itu dibentuk oleh Batin kita sendiri 😉

    Dan untuk Samma-Sambuddha, kita semua tahu, 32 tanda / ciri tersebut pastilah lengkap, dan karena itu ummat Buddha tidak bisa ditipu, manakala ada yang menyatakan dirinya adalah seorang Buddha, atau ada suatu ummat yang menyatakan bahwa pemukanya adalah Buddha. Disamping itu pula, yang jauh lebih penting, Buddha mempunyai kualitas2 Adi-Duniawi yang jauh diatas manusia dan Dewa, serta mempunya Ajaran yang UNIK, yang kualitasnya tidak bisa diperbandingkan dengan ajaran-ajaran manapun.

    Tanpa cacat, tanpa nafsu, tanpa kemarahan / kebencian, tanpa keserakahan. Sempurna 😉

    “ Iti pi so Bhagava : ARAHAM, SAMMASAMBUDDHO,VIJJACARANASAMPANO,SUGATO,LOKAVIDU, ANUTTAROPURISADHMMASARATI, SATTHA DEVAMANUSSANAM,BUDDHO, BHAGAVA’ TI. “

    [ Penjelasan maksud kalimat diatas silakan baca di halaman Anussati Bhavana bag.I di blog ini juga ]

    Semoga Bermanfaat 😉

    Peace & Love

  35. Wen Lung Shan berkata
    April 22, 2009 pada 3:01 pm

    To:

    Benar Mas Ratana, nama Samanera saya adalah Sasana Putra,sekarang dah lepas…dah nikah…nama tersebut pemberian Bhikkhu Cattamano…karena saya adalah Samanera yg suka protes dan agak ‘naughty’. Makanya oleh beliau saya dikasih nama Sasana Putra (Anak laki-laki yg harus banyak belajar).

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Hmmm…,ternyata begitu asal-mula nama “SASANA PUTRA” tersebut… 😉

    Berarti, anda sama dengan saya. Nama RATANA KUMARO , adalah pemberian Bhante Cattamano, saat saya diwisudi sebagai seorang Upasaka.

    Sabbe Satta Bhavantu Sukkhitatta,
    Sadhu…,Sadhu…,Sadhu… . 😉

  36. To : Bro Weng Lung San
    Anumodana telah memberi uraiannya.
    Btw, sepertinya topik lagu dan bernyanyi itu menarik untuk dibicarakan. Benar gak Sdr RK?

    To : Bro CY
    Berdasarkan penjelasan dan penuturan dalam Jataka serta kisah kehidupan 24 Samma Sambuddha dari Dipankara hingga Gautama, hampir seluruhnya “mengenyam” masa ke”bodhisatvaan”nya di Jambudwipa (India saat ini). Mengenai image yang ditampilkan, menurut pandangan pribadi saya itu juga bukan image Bodhisatva Maitreya sebagai Ajita yang sesungguhnya. Karena disana digambar dan rupamkan Bodhisatva Ajita memiliki ciri-ciri yang hampir sama dengan 32 tanda utama Samma Sambuddha.
    Apakah mungkin Bodhisatva lahir di tempat lain? Bagi praktisi Mahayana, hal ini dimungkinkan karena adanya konsep Tri-Kaya yang berhubungan dengan Buddha-Bodhisatva. Jika menggunakan analisis menggunakan Nirmanakaya, maka sangat mungkin seorang Bodhisatva muncul di belahan bumi lain, termasuk Afrika, China, Amerika, Tibet dan juga Indonesia. Dalam literatur Mahayana, dikatakan bahwa aspirasi besar dari Bodhisatva dan MahaBodhisatva dapat terus datang (hadir) bila diperlukan. Tentu penjelasan ini hanya relevan bagi yang penganut Mahayana. Sedangkan, dalam literatur Theravada, saya belum menemukan adanya probalility bahwa seorang Bodhisatva dapat lahir selain area (radius) Jambudwipa berdasarkan kisah Jataka dan Buddhavamsa.
    ***
    Terima kasih.
    Sarvamanggalam.

  37. Dear Nusantaraku …. 😉

    Penjelasan yang sangat menarik dari anda… 😉

    Sepertinya masuk akal. Selama seorang Boddhisatta menyempurnakan Parami-nya, ia dapat terlahir dimanapun juga. Inilah sudut pandang Mahayana yang cukup berbeda dengan Theravadda. Namun, permasalahannya, kelak, saat terlahir terakhir kali sebagai manusia dan akhirnya disaat kelahiran terakhirnya itu ia mencapai ke-Buddha-an, apakah mungkin diluar Jambudvipa ?? Mungkinkah Samma-Sambuddha muncul diluar Jambudvipa ? Berdasarkan riwayat para Buddha terdahulu, hal itu hampir tidak mungkin. Bhante Cattamano pernah menjelaskan demikian kepada saya [ para Buddha hanya muncul di Jambudvipa ]

    Mengenai image / rupam, saya rasa juga demikian. Image / rupam itu hanya berusaha menggambarkan, bagaikan telunjuk jari menunjuk bulan, tapi bukanlah bulan itu sendiri. Sebab, seorang Boddhisatta, tentunya belum mempunyai 32 tanda-tanda fisik seorang Samma-sambuddha secara lengkap. Paramitha-nya saja belum lengkap, bagaimana mungkin 32 tanda/ciri fisiknya sudah lengkap ? Lalu jika sama-sama lengkap, apa bedanya lagi Boddhisatta dengan Buddha ?

    @ Wen Lung Shan / Sasana Putra 😉

    Benar kata sdr.Nusantaraku, topik “lagu dan menyanyi adalah Lobha” sangat menarik untuk diuraikan. Kiranya anda sudi memberikan penjelasan kepada kami semua disini 😉

    Sabbe Satta Bhavantu Sukkhitatta,
    Sarvamanggalam 😉

  38. @ WLS 😉

    Benar Mas Ratana, nama Samanera saya adalah Sasana Putra,sekarang dah lepas
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Saya malah baru tau kalau itu nama samanera anda 😉

    Peace & Love

  39. CY said

    @Ratnakumara
    Bro, yg saya maksud itu semasa status Bodhisatva bukannya saat terakhir kali terlahir menjadi Samma Sambuddha. Semasa masih Bodhisatva apakah memungkinkan Beliau terlahir diberbagai belahan dunia?

    Mengenai Buddha hanya terlahir di India, wah sepertinya “ga fair” ya (sorry kalo istilahnya terkesan nakal). Apakah kwalitas lingkungan selain disana tidak memungkinkan utk parinibbana?

  40. budhi said

    Maitreya itukan artinya KASIH,dan jikalaupun muncul pada saat ini tentu belum saatnya untuk menjadi seorang arahat sammasambuddha dan menggapai penerangan sempurna,dan tentunya juga belum memiliki secara utuh tanda 32 mahapurusha,karena jika saat sekarang ini muncul,beliau baru sampai di tataran jagadguru.

    Tapi ga tau juga yah,btw,emang ada gitu jangka2 mengenai beliau akan muncul dijaman skrg ini?.

  41. To: Bro Ratana Kumaro
    Berdasarkan apa yang disampaikan Lord Buddha, semua Samma-Sambuddha akan terlahir di tanah “Jambudwipa” dikarenakan kondisi-kondisi yang memenuhi termasuk geografis tidak lain tidak bukan Jambudwipa.

    To: CY
    Saya dengar bahwa alasan bahwa para Samma Sambuddha akan terlahir di Jambudwipa karena banyak kondisi-kondisi yang memungkinkan kelahiran seorang calon Samma Sambuddha di daerah Jambudwipa. Beberapa hal tersebut diantaranya, daerah Jambudwipa (lereng pegunungan) sampai kapanpun selalu ada kaum samana atau pertapa. Ketika dunia mengalami masa kemorosotan (hayana kappa), dan akhirnya terjadi perang 7 hari, salah satu golongan yang dapat survive dan eksis dari kehancuran peradaban adalah kaum pertapa. Selain itu, dikarenakan bahwa para Buddha, Bodhisatva umumnya lahir di daerah Jambudwipa, dan kita tahu bahwa kelahiran seorang manusia di suatu tempat sangat tergantung “karma link” tempo dulunya. Begitu juga seorang Buddha akan muncul jika di tempat tersebut lahir orang-orang yang memiliki kebajikan dan jodoh karma yang baik dengan Buddha tersebut. Sehingga secara kekuatan energi karma, semua orang yang bajik dan berjodoh akan memiliki kondisi kelahiran di Jambudwipa dan bertemu dengan Buddha di sana.
    ***
    Untuk Bodhisatva, saya agak lebih percaya pada konsep aspirasi Bodhisatva yang dapat memiliki kondisi untuk dilahirkan dimana saja, ditempat mana saja, dimana disana terdapat makhluk yang menderita. Sebenarnya, banyak hal yang janggal (istilahnya “ga fair”) seperti bahasa yang akan digunakan para Samma Sambuddha adalah Bahasa Magadhi(Magadha). Disebutkan bahwa bahasa Magadhi (klan dari Pali) merupakan bahasa para Ariya. Sehingga bahasa Pali merupakan bahasa yang paling baik. Disini terjadi superior bahasa Magadha (klan Pali), dan bahasa lain bisa dikatakan lebih tidak baik. Hal-hal yang kontroversial lainnya, dapat kita telusuri dari tulisan dan hasil eksplorasi Bhante Mettanando dari Thailand. Search saja di search engine..
    Trims..

    Sarvamanggalam.

  42. Dear Bro “Nusantaraku” 😉

    Wah, pembahasannya menarik sekali, menambah wawasan kami semua disini.

    Thanks a lot Bro 😉

    Mettacittena 😉

    Sarvamanggalam.

  43. CY said

    @Nusantaraku
    Bro, terimakasih utk jawabannya yg sangat mencerahkan terutama bagian Karmic Link.

    Salam Damai dan Cinta kasih …  :)

  44. To: Bro Ratana Kumaro & Bro CY

    Terima kasih juga atas sharing-sharingnya.
    Semoga selalu damai dan berbahagia 🙂

    Sarvamanggalam.

  45. Tedy said

    To : semua sobat2 yg bijak

    Salam damai dan sejahtera utk semua makhluk!

    Bolehkah saya minta pendapat kalian semua, tolong ide mencerahkannya dong…

    Hmm… Bagaimana jika ada yg bertanya pada kalian, apakah semua agama baik?

    Pertanyaan tersebut menjadi dilema buat saya. Terima kasih.

    Semoga semua makhluk berbahagia!

  46. To : Bro Tedy

    Semoga selalu damai dan berbahagia
    Saya coba sharing berdasarkan sedikit pemahaman saya, sekadar opini, semoga tidak banyak kekeliruan opini saya.
    Sebelum menjawab pertanyaan apakah semua agama baik, maka kita perlu klarifikasi makna “baik” ditinjau dari sudut pandang apa?
    Karena paradigma baik dan buruk merupakan subjektifitas dari dualisme sifat, maka penilaian baik dan buruk menurut pandangan kita tentu akan terdistorsi oleh pandangan-pandangan dan persepsi kita yang masih “tertutup oleh awam non-dualisme”.
    Sehingga untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya coba meninjaunya dari 3 aspek yakni “relativitas-umum”, “relativitas-khusus”, dan absolut.
    ***
    Secara relavitias-umum, semua agama pada awalnya baik yakni menuntun manusia untuk bersikap (moralitas) yang lebih baik, mengubah sikap hidup manusia menuju kondisi lebih baik dan secara tidak langsung mempengaruhi budaya dan kehidupan masyarakat yang lebih bertanggung jawab, mengerti arti kehidupan dan sebagainya. Inilah salah satu tujuan agama pada awalnya yang artinya adalah “baik”. Sedangkan, dalam praktiknya, tidak sedikit oknum manusia salah menggunakan “rakit” agama, yakni membawa ketidakharmonisan, ketidaktenteraman, saling menyalahkan dan sebagainya. Secara umum, kita tidak menjudge mana yang lebih baik, namun pada hakikatnya (historis dan tujuan) semua agama adalah baik.
    ***
    Untuk relativitas-spesifik, kesimpulan ibarat kita menanyakan orang-orang yang berbeda yakni Batak, Melayu, Padang, Jawa, Chinese, Sunda, Bugis dengan pertanyaan : “mana makanan yang paling lezat atau favorit?” Tentu mereka akan cenderung menjawab pertanyaan yang berbeda. Baik menurut saya belum tentu baik untuk Anda dan begitu sebaliknya. Namun, poin paling penting adalah selama orang (umat) tersebut dapat memanfaatkan ajaran suatu agama yang membawa dia menjadi lebih baik, lebih damai, lebih tenang, lebih bercinta kasih, maka secara khusus dan spesifik semua agama yang dianut oleh masing-masing orang tersebut adalah baik. Jauh lebih baik jika seseorang (A) dari agama X, lalu pindah ke agama Y dan menjadi orang yang lebih baik. Begitu sebaliknya, agama X akan menjadi baik tatkala orang lain (B) pindah dari Y ke A lantaran dapat mengambil intisari agama si X (bagian baiknya). Ini dikarenakan si A atau si B tentu memiliki sebab-jodoh (tautan karma) yang berbeda terhadap suatu agama pada suatu kondisi tertentu. Jadi, baik secara spesifik ini sangatlah berkondisi.
    ***
    Secara absolut, agama yang baik tentunya mengutamakan umatnya untuk :
    1. Mengembangkan cinta kasih universal, tidak mengumbar kebencian.
    2. Mengembangkan kemurahan hati universal(non-dualisme), tidak memendamkan keserakahan dan berusaha melepaskan keegoisan diri dan pandangan.
    3. Berusaha mengajarkan realita ketidakabadian semua berbentuk yang jika melekat padanya akan menimbulkan penderitaan.
    4…..
    5…..
    ***
    Jika kita tidak mampu melampau realitas relatif, maka jawabannya adalah semua agama baik. Namun perlu diingat kembali, karena konsep kita masih dipenuhi dualisme, maka baik belum tentu benar, baik belum tentu membawa kebahagiaan sejati. Namun kebenaran yang dipraktikkanlah yang membawa kedamaian, keharmonisan, dan “penyatuan aku,engkau dan dia”.
    ***
    Maaf, sharing yang terlalu panjang.. Masih kurang bisa menjelaskan secara jelas.

    Deep Bow _/\_

  47. To: Bro Tedy

    Saya mencoba memberikan analisa untuk bro Tedy.

    Begini saya gak bisa katakan bila semua agama itu baik!!!
    Kenapa? Karena bila kita sudah mampu menganalisa dengan detail tentang agama2 yg ada disekitar kita maka kita akan merinding (kecuali Buddha Dhamma) dan akhirnya berusaha mengharmoniskan diri dengan lingkungan!!!

    Agama itu cocok-cocokan artinya saya memilih ajaran Buddha karena menurut saya ajaran itu lebih cocok dan bukan mengatakan agama yg lain jelek, dan bukan juga mengatakan semua agama itu baik!!!

    Ajaran agama itu dianut berdasarkan kondisi batin manusia saat itu.

    Didalam dunia ini ada 3 paham tentang kebenaran: Ortodox, heterodox, dan Independent.

    1. Ada manusia yg gak mau berpikir panjang tentang segala sesuatu maka dia berpikir bahwa segala sesuatu itu sudah ada yg tentuin maka ia mengambil ajaran Ortodox yaitu Tuhan yg menentukan/mentakdirkan manusia sesuai kehendakNya, dan manusia tinggal nurutin aja.

    2. Ada manusia yg percaya bahwa memang Tuhan yg nentuin manusia, namun hal itu dapat dirubah bila ada peranan langsung dari manusia itu sendiri. Artinya konsep manusia ini Heterodox. Tuhan yg menentukan namun manusia haruslah berusaha untuk merubah nasib dirinya.

    3. Ada juga kondisi batin manusia yg sudah matang. Artinya Manusialah yg menentukan segalanya untuk menuju kepada Konsep Ketuhanan (Kebahagian Mutlak). Sukses atau gagal, manusia itu sudah menyadarinya dan terus berusaha untuk meraih KEBAHAGIAN MUTLAK (Nibbana). Independent

    Maka dari itulah timbul agama-agama berdasarkan aliran Ortodox, Heterodox, dan Independent.

    Saya akan berikan 1 cerita nyata dan unik. Namun saya sayang waktu saya sempit, saya harus mengajar dahulu setelah itu saya akan berikan sedikit ilustrasi menarik.

    Semoga bermanfaat
    Ali Sasana Putra, SAB.

  48. To: All

    Sambungan:

    Pada suatu hari si Ortodox dan Heterodox berdiskusi tentang pandangan mereka masing-masing di rumah Ortodox. Mereka menyatakan bahwa pandangan salah satu dari merekalah yg paling benar. Sehingga Ortodox dan Heterodox tidak mendapatkan kesepakatan tentang pandangan siapakah yg paling benar.

    Akhirnya Heterodox pulang karena lelah sudah berhari-hari berdebat namun tidak mendapatkan kesimpulan yg berarti.

    Didalam perjalanannya Heterodox melihat seorang tukang mangga yg terjatuh dan buah mangganya berantakan. Lalu karena orang yang beragama Heterodox mau membantu tukang mangga tersebut.

    Sebagai ucapan terima kasihnya, tukang mangga memberikan 10 buah mangga yg manis dan ranum. Lalu terbesitlah di hati sanubari Heterodox untuk membuktikan pendapatnyalah yg paling benar.

    Lalu ia kembali lagi ke rumah Ortodox untuk membuktikan tentang pandangannyalah yg paling benar.

    Sesampainya di rumah Ortodox, Heterodox lalu menggedor pintu rumahnya Ortodox. Lalu Ortodox mempersilahkan masuk walaupun dia baru saja tertidur sebentar.

    Hreterodox berkata: “Hai Ortodox yg terhormat. Saya menemukan bukti bahwa ajaran Heterodoxlah yg paling benar. Karena pada waktu saya pulang saya melihat tukang mangga yg terjatuh lalu saya tolong, dan dia memberikan mangga yg kita makan bersama ini sebagai ucapan terima kasih.”

    Heterodox: “Benarkan? Memang Tuhanlah yg menentukan rejeki, namun kita jua yg harus berusaha!!!”.

    Ortodox: “Oh gitu yah, tapi, itu khan kamu, dari tadi saya cuma tidur, terus ada yg menggedor rumah saya, terus saya makan mangga!!!” Memang Tuhan sudah memberikan saya rejeki tanpa harus berusaha!!”

    Manakah yg paling benar? Menurut saya kedua2 nya benar!!!
    Mengapa? Karena Ortodox dan Heterodox merupakan proses dari berbuahnya Kamma (Vipaka Kamma).

    Ortodox banyak menanam perbuatan baik sehingga dia tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan sesuatu yg menyenangkan.

    Heterodox sedikit berbuat baik sehingga apabila ia mengiginkan sesuatu yg menyenangkan maka ia harus berjuang dulu untuk mendapatkan sesuatu yg menyenangkan.

    Terima kasih/Anumodana
    Ali Sasana Putra

  49. Dear Bro Ali 😉

    Anumodana atas penjelasan anda 😉

    Penggambaran yang sangat menarik sekali 😉

    Mettacittena 😉

  50. kangBoed said

    hihihihi… pa khabar broooot…her ku tersayang…. kangen niiih hehehehe…….
    Salam Sayang Selalu..

  51. Dear Bro KangBoed 😉
    Kabar saya baik bro 😉

    Bro, bikin blog kok gak bilang2 ? Tema blognya apa bro ? 😀 :mrgreen:

    Peace & Love

  52. kangBoed said

    hihihihi….. sampeyan dah berkunjung belum tuh… hahaha… AYA AYA WAE… gak ngerti ya orang koook begitu baik hatinya begicccuuuuu.wakakakakakkk………… lumayan buat arsip mas… yayaya…. arsip perjalanan di dunia maya keliling keliling…. sayangnya cuma sedikit tuh hehehehe….. bisa baca sambil ketawa sendiri… yayaya…. jarang jaraaaang tuuuh…
    Salam Sayang Saudaraku..

  53. Dear KangBoed 😉
    Waduh, itu avatarnya bro kangBoed kok serem bro 😉

  54. kangBoed said

    hmm…. avatar saya di isiin sama kangBoed yang asli brooooot…herku tersayang… maklum OON sur OON yayaya mungkin saya harus kembali ke lingkungan brrooo sebagai BoedJeger Kiaracondong… gelandangan… preman jalanan… biar nanti tuh kang boed yang asli suruh nerusin brooo hahahaha….
    Salam Sayang Selalu…

  55. Tedy said

    To : Bro Nusantara dan Bro Wen Lung Shan

    Terima kasih atas penjelasannya sbg tambahan pengetahuan sy.

    Anumodana dan mettacittena 🙂

  56. Tedy said

    To : Bro Wen Lung Shan

    Penjelasan anda mengenai “buah mangga” pernah sy dengar sewaktu kuliah, dijelaskan oleh dosen agama Buddha Pak Doddy Herwidanto. Dan sewaktu sy mendengar penjelasan tersebut, sy tertawa dlm hati dan senyum2 sendiri mirip orang sinting (bukan tertawa karena hina, tapi sangat mencerahkan). Sebelumnya sy belum pernah mengenal konsep ketuhanan dlm agama Buddha. Beliau-lah yg pertama kali membabarkan bahwa konsep ketuhanan dlm agama Buddha yaitu bersifat impersonal. Jasa beliau sangat besar utk sy, sejak saat itu sy perlahan-lahan membaca buku2 dhamma.

    Salam metta,
    Tedy

  57. To: Bro Tedy

    Memang beliau memiliki dedikasi yg tinggi utk Dhamma. Begitu juga saya telah memahami Dhamma melalui mata kuliah beliau.

    Dan banyak sekali teman-teman saya yg mampu menyerap Dhamma dengan baik karena jasa beliau + kamma vipaka lampau.

    Maju terus untuk Dhamma. Teori Dhamma telah kita dapatkan tinggal praktik, salah satunya praktik meditasi diperdalam selanjutnya tinggal penembusan. Semoga.

    Sadhu.
    Anumodana
    Ali

  58. KangBoed said

    Huuuuuuwwaaaaaaaaaakakakakak…. hmm… muncul lagi aaaaah… kangen niiiih…. sama saudara saudaraaaaku…. huuuuuueeeeeeeek… *sembunyinya dah ketahuan*…. Banyak penampakan manggilin *Narsis Mode ON*….. waaaaaaakakakak… hihihi…. Dunia sepiiiiiii yaaaaa…. Gak ada nyang nemeeenin jogeeeeetan… hehehe… hmm… atau mending ngilaaang lagiiiiiii aaaaahh…. Waaaaaakakakakakakakk…. Dasaaaaar wong ediiiiiiiiaaaaaaaaannnnn…. Hehehe…… Hidup lebih hidup, semakin hidup dan tambah hiduuuuuuuuup…… hahaha…..
    Salam Sayang Selalu Saudaraku

  59. Dear All 😉
    Dear Bro kangBoed 😉

    Akhirnya, kangBoed mau muncul lagi nih.
    Sudah gak ‘jengkel’ dan marah lagi kan Bro ?

    Wuahh.., pasti mas Hadi Wirojati, mas Ngabehi, mas Sabdalangit, mas Wira Jaka, dan rekan2 yang lain sangat senang dengan kedatangan kembali mas KangBoed ini 😉

    Selamat datang kembali mas, selamat menjelajah lagi di dunia maya 😉

    Peace & Love

  60. KangBoed said

    Hik.. hik.. hik.. “Hidup hanyalah sekedar SENDA GURAU belaka”, mari kita bentangkan Panggung Sandiwara dan Sinetron hahahaha… dengan bermain penuh penghayatan… huaaaaaaaakakakak… dalam arahan sang Sutradara dan keinginan sang produser tanpa kita merasa memiliki peran tersebut… yayayaya… padahal sesungguhnya kita hanya sebagai peran sementara saja… yayaya… mungkin hanya keroco… tukang sapu sapu… tukang bersih bersih… office boy… haahahahaha…..
    Salam Sayang Brooot…herku tersay…

  61. Dear Brother KangBoed… 😉

    Iya Bro, mari kita belajar sambil relax, santai, peace… 😉

    Semoga, kita semua terbebas dari semua pertentangan, dari setiap bentuk2 penderitaan 😉

    Semoga, segala niat jahat jauh dari kita 😉

    Peace & Love

  62. KangBoed said

    Dear brooot…herku Ratana Kumara,
    Dear Koo CY… ,
    Dear all brothers and sisters… ,

    Dimana ada brooot…her Ratana Kumara hadir, disitu suasana menjadi “heboh” dan ceria, tul gak ?… asal lagi gak datang JAIMnyaaaaa…. huuuuwaaaaaaaaakakakakak

    Salam Damai dan Cinta Kasih…,
    Damai di hati dan di bumi… ,

    “Semoga Semua Makhluk Segera Merealisasi Kebenaran dan Kebahagiaan Sejati”

    http://kangboed.wordpress.com/welcomedrink/

  63. KangBoed said

    brooo… salah alamatnya yaaa… nyang bener.. hihihi… meu bergaya kaya sampeyan masih tetap oon…
    http://kangboed.wordpress.com/welcome-drink%e2%80%a6/
    tulung edit ya ooom

  64. Dear Brother KangBoed 😉

    Hehehehehhh…asyiik, senengnya ya Bro, sekarang punya blog, diwarisi sama rekan yang baik itu ya ?
    😀 :mrgreen:

    Wuahhh…, saya nanti tak maen2 kesana deh, menjalin persaudaraan, mempererat tali silaturrahmi, tul gak bro ? 😉

    Selamat atas blog barunya ya Bro, nanti tak tautin ke blog saya ini deh 😉

    Peace & Love

  65. Dear Mas Ratana yang terkasih 😀

    saya ada baca komentar dari saudara Wen lung shan yang bunyinya seperti ini
    “Dalam pelajaran Hukum Kamma disebutkan bahwa ada perbuatan yg kualitasnya besar yaitu Akusala Garuka kamma bagian ke-2 yaitu: Niyatamicchaditthi kamma yg artinya Menyebarkan pandangan salah secara sadar dan terus menerus. Orang yg melakukan hal demikian maka akan terancam terlahir kembali dalam alam Mahatapana Naraka (Neraka tingkat 7).”

    Kalo hal ini memang benar, berarti saudara2 kita dari agama lain itu semuanya terancam dalam alam neraka tingkat 7 donk

    Sang Buddha sendiri kan ada berkhotbah bahwa pandangan tentang pencipta yang kekal yang bisa menyelamatkan manusia, pandangan ada nya jiwa yang kekal adalah pandangan yang salah.

    Demikian juga dengan saudara2 Buddhist kita dari aliran lain yang berpandangan bahwa seorang Buddha yang sudah parinibbana masiha di dunia ini, mereka juga terancam terlahir kembali dalam alam neraka tingka 7 donk ><

    kalo memang komentar dari saudara wen lung shan ini benar,
    menurut perhitungan saya, lebih dari 90 % umat manusia di dunia ini terancam terlahir di alam neraka tingkat 7

    bagaimana ini, mas Ratana?

    mohon pencerahannya 🙂
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear zentao.ba 😉

    Mmmm… Untuk hal ini, sebaiknya biar brother Wen Lung Shan yang menjawab ya…, kan Beliau yang mengutarakan hal tersebut 😉

    Pertanyaan zentao.ba ini cukup sensitif, membutuhkan jawaban dari berbagai sudut pandang.

    Saya hanya bisa memberi komentar atas pernyataan :

    1. pandangan tentang pencipta yang kekal yang bisa menyelamatkan manusia, pandangan ada nya jiwa yang kekal adalah pandangan yang salah.
    JAWAB = Iya , benar. Pandangan tentang adanya pencipta, “Maha-Kuasa” yang menjadi “Jalan-Keluar” dari semua makhluk, adalah pandangan-salah. Pandangan tentang adanya “roh” atau “jiwa” yang kekal-abadi juga ( sakkaya-ditthi ) adalah pandangan-salah. Pandangan-salah ini merupakan salah-satu dari Dasa-samyojana ( sepuluh-belenggu ) yang mengikat kita terus bertumimbal-lahir dalam samsara.

    2. Seorang Buddha yang sudah parinibbana masiha di dunia ini
    JAWAB =
    Suatu ketika, seorang bernama Upasiva bertanya kepada Sang Buddha : “ Mereka yang telah pergi ( ke Nibbana ), apakah mereka musnah keberadaannya, atau mereka tetap tak lekang selamanya ?

    “ Tak dapat dinilai mereka yang telah pergi, yang oleh seseorang mungkin dikatakan sebagai Tidak Ada Lagi.
    Ketika semua fenomena telah tiada, semua cara untuk menggambarkannya juga tiada.

    Sekali waktu, seorang pengembara bernama Vacchagota bertanya pada Sang Buddha tentang keberadaan mereka yang telah mencapai Nibbana, mereka timbul ( dengan kata lain, tetap keberadaannya ) atau tidak timbul ( dengan kata lain, hilang keberadaannya ). Sang Buddha menolak untuk memberi jawaban, dan menerangkan pada kita bahwa beliau menolak karena Nibbana adalah keadaan yang tak dapat diterangkan.

    Pada akhir dialog, Sang Buddha bersabda =

    “ Kesadaran Tathagata terbebas dari pengungkapan-pengungkapan; dia begitu dalam, tak terukur, tak diketahui dalamnya seperti lautan. “ Timbul “ tak terpakai, “ Tidak Timbul “ tak terpakai, “ Timbul dan juga Tidak Timbul “ tak terpakai, “ Tidak Timbul dan juga Tidak Tidak Timbul “ juga tidak terpakai. “

    Jadi, apakah seseorang yang telah Parinibbana “Ada” atau “Tidak-Ada” ?

    Jawabnya : “ADA” , tidak tepat, “TIDAK-ADA” juga tidak tepat.
    “ADA dan TIDAK-ADA” tidak tepat, “TIDAK-ADA dan juga TIDAK-TIDAK-ADA” juga tidak tepat.

    Begitu, zentao.ba 😉 Mudah-mudahan menjawab beberapa komentar anda. Untuk pertanyaan2 “khusus” tadi, saya persilakan bertanya pada sdr.Wen Lung Shan. Saya harap Sdr. Wen Lung Shan sudi menjawab pertanyaan ini. 😉

    Untuk saudara se-Dhamma yang lain, jika ada kekeliruan dalam penyampaian saya, mohon koreksinya dari anda semua 😉

    Peace & Love

    • 卓俊樺 said

      hi mas Ratana,

      akhirnya saya ada kesempatan nongkrong di dunia maya lagi 😀

      terimakasih banyak atas jawaban anda terhadap pertanyaan saya ^^”

      oh ya, kalo ga salah, saya pernah baca bahwa sang Buddha yang sudah parinibbana sudah berada di luar 31 alam kehidupan. Jadi beliau sudah tidak ada di dalam 31 alam kehidupan ini.

      apakah ini benar ? 😀

      semoga mas Ratana selalu berbahagia

      • Dear Zentao.ba 😉

        Iya, siapapun yang telah merealisasi Nibbana / Nirvana, sudah lepas dari ke-31 alam kehidupan ini.

        Nanti saya ingin menuliskan tentang citta, cetasika, nama, rupa, supaya bisa kita bahas lebih detail.

        Rekan2 se-Dhamma yang lain mohon juga ikut memberikan pendapat mengenai hal ini.

        Mettacittena;)

        • Dede said

          Asal-usul Bhiksu BuDai
          Kaum tua di desa ChangTing (長汀) paling senang berkumpul bersama-sama di emperan teduh rumah untuk mendengarkan NingBoZouShu (nyanyian seriosa mengenai sejarah) tentang kisah Maitreya.

          Ketua Asosiasi Kaum Tua Desa ChangTing, Zhang JiaGuo (張嘉國), sangat dikagumi oleh kaum tua pecinta seriosa sejarah. Ia menyimpan pusaka paling berharga yakni Buku Keluarga Marga Zhang (1916 M), buku keluarga satu-satunya yang tersisa di desa ChangTing, didalamnya tercatat kisah Bodhisatva. Ketika masa Revolusi Budaya (1966-1976) oleh komunis, dengan bijaknya Zhang JiaGuo berhasil melindungi Buku Keluarga Marga Zhang. Sebelum tentara tiba menggeledah rumah, begitu mendapat kabar angin ini, Zhang JiaGuo spontan mendapat inspirasi untuk menyembunyikan Buku Silsilah Keluarga ke celah lantai papan, sehingga dapat bertahan hingga hari ini terhindar dari penghancuran petugas “bantai 4 kuno”.

          Pada Dinasti Tang, tahun 850 M bulan 9 hari 9, Panatua desa ChangTing, Zhang ChongTian (張重天), sepulang dari sembahyang di Kuil SongMingSi (松鳴寺), melihat ada sebuah baskom kayu yang terbawa arus hingga pesisir desa. Di dalamnya, duduk seorang bocah. Zhang ChongTian tergerak hati untuk mengadopsinya, seraya bertanya: “Bagaimana bila saya membawa kamu ke rumah saya sekarang?” Sang bocah mengangguk sambil tertawa. Panatua Zhang menjadikannya sebagai anak angkat dan memberikan nama QiCi (契此), karena tumbuh besar di desa ChangTing, bergelar Anak ChangTing (長汀子). [Pada tahun 2001 M, dekat tempat diketemukannya bocah QiCi oleh penduduk setempat didirikanlah Pavilon Maitreya di gerbang masuk dan sebuah pratima Maitreya batu bersisi dua]

          Konon, QiCi yang memberi usul pada kepala desa, jasa-pahala para pendahulu, perlu dilestarikan, Bahkan QiCi sendiri yang menulis Buku pertama Keluarga Zhang. Demikian pula ShiRenTang di desa ChangTing yang selama ini digunakan sebagai Balai PapanNama Leluhur, juga merupakan usulan QiCi.

          Ketika QiCi berusia 16 tahun, menjelang orangtua angkat mau menikahkannya, QiCi mohon restu untuk menjadi bhiksu. Tahun 867 M bulan 6 hari ke 6, ditahbiskan sebagai bhiksu di Kuil YueLinSi (岳林寺) yang sudah berusia 1400 tahun. Kuil aslinya telah hancur seiring dengan waktu, tidak eksis lagi. Yang terlihat oleh kita sekarang adalah kuil rekontruksi baru, yang dibangun pada tahun 536 M. Ketika itu bernama ChongFuYuan, pada tahun 848 M ganti nama menjadi YueLinSi. QiCi sangat berbakat, setelah membiara, mendapat perhatian dari pimpinan dan diberikan tugas bidang dana. Berkat jodoh bhiksu BuDai, Kuil YueLin berkembang dengan cepat. Pagoda Genta, Pagoda Bedug, Graha Sakyamuni dan ruangan lainnya, berhasil dibangun, para bhiksu kuil YueLin pun bertambah hingga 800-an orang.

          Pada tahun KaiPing Dinasti HouLiang (1100 tahun lalu), desa SiMing (四明) kota FengHua, di berbagai jalanan sering diketemui seorang bhiksu yang bergelagat luar biasa. Sering tawaria, perutnya gendut, memikul sebuah kantong kain. Ketemu dengan siapapun ia selalu mohon amal-sedekahnya, termasuk barang pun, mohon disumbangkan. Semua yang disumbangkan orang, ia memasukkannya ke dalam kantong kain. Siapakah bhiksu ini? Berasal dari manakah, masyarakat setempat juga tidak tahu. Karena tidak tahu namanya, ia yang selalu bawa sebuah kantong kain, julukan “BuDai HeShang” (布袋和尚 Bhiksu berkantong) pun populer sejak saat itu, juga karena Bhiksu ini suka ketawa, ada yang menjulukinya Bhiksu Tawaria, juga julukan Bodhisatva Sipit.

          Sekitar 30 km dari kuil YueLin di kota QiuChun, ada sebuah dusun ZhuangXia. 1000 tahun yang lalu, Bhiksu BuDai membangun Kuil kecil yang merupakan cabang dari YueLin. Sebelum kedatangan Bhiksu BuDai, Tempat ini tanah lumpur, sawah basah dan semak belukar. Dikisahkan dalam buku YueLinSiZhi, Bhiksu BuDai mengajak masyarakat setempat, dua kali menggarap pesisir jadi persawahan, untuk bercocok tanam. Para petani pun membangun rumah di sini, lama-kelamaan menjadi sebuah dusun. Ketika Bhiksu BuDai bercocok tanam, ia tidak lupa buat syair dharma, pegang benih semai di ladang berkah, tunduk kepala terlihat langit air, Enam indera bersih itulah Dharma, mundur langkah ternyata adalah maju. Hingga kini, syair ini tetap populer dan warga setempat adalah keturunan para petani yang dulu menggarap sawah bersama bhiksu BuDai. Di pekarangan rumah Wang YueEr, bertumpukan bebatuan tua, adalah perkakas olah pangan yang ditinggalkan oleh Bhiksu BuDai.

          Tahun 917 M bulan 3 hari 3, Bhiksu BuDai duduk moksa di batu trotoar timur kuil YueLinSi. Menjelang wafatnya Maitreya BuDai, sempat meninggalkan syair yang monumental: 彌勒真彌勒,化身千百億,時時示世人,世人自不識。 Maitreya, sungguh Maitreya! Emanasi dalam milyaran, Senantiasa mengungkapkan kepada manusia, Manusia sendiri yang tak mengenalnya. Melalui syair ini, orang menyadari bahwa Bhiksu BuDai adalah inkarnasi Bodhisatva Maitreya.

          Berawal dari afirmasi Buddha Sakyamuni terhadap Maitreya sebagai Next Coming Buddha, hingga inkarnasi Maitreya sebagai bhiksu BuDai, Keyakinan untuk terlahir di TanahSuci Maitreya (彌勒淨土信仰), sejak ini memasuki babak sejarah baru. Bulan 9 hari 9, bulan 6 hari 6, bulan 3 hari 3, tiga peristiwa penting bagi Bhiksu BuDai: diketemukan, menjadi bhiksu, wafat. Selama kurun 1000 tahun, mulai dari Kuil YueLinSi, satu per satu kuil di China menempatkan pratima Maitreya Berkantong (China): Image yang duduk mantap, perut gendut, tawaria, senyum sipit, secara perlahan-lahan lebih merakyat daripada image Maitreya Bermahkota (India).

          Di tengah kota FengHua, jalan ZhongTa, Menurut catatan YueLinSiZhi, Bhiksu BuDai sangat menyukai Gunung FengShan yang indah permai. Ia pun menghimbau saudagar Shi untuk sudi menyumbang sebidang tanah di gunung FengShan. Setelah wafatnya ingin dikebumikan di gunung FengShan. 
          Orang-orang belakangan hari membangunkan pagoda & pavilion Maitreya di sana. Di situs ini, juga terdapat prasasti yang diberikan (pada tahun 1098 M) oleh Raja Dinasti Song. Konon, setelah Bhiksu BuDai dikebumikan, di makamnya selalu memancarkan cahaya kemilau. Raja ZheZong menganugerahkan gelar Mahaguru DingYing. Bhiksu BuDai sebagai emanasi Bodhisatva Maitreya pun mendapat pengukuhan dari kerajaan.

  66. Tedy said

    Semoga semua makhluk berbahagia!

    Wah…wah… pendapat dari Bro Zentao.Ba bagus sekali, saya juga penasaran sama jawaban Bro WLS. Klo dipikir2 saya sedih juga nih, kedua orang tua saya pada kehidupan saat ini, umumnya tidak mengenal konsep anatta. Bahkan tidak terpikirkan oleh mereka. Ibu saya umat kristiani dan Bapak saya boleh dibilang masih kuat kepercayaan dari leluhurnya (konfusius atau taois).

    With metta,
    Tedy

    Semua semua makhluk mencapai kebahagiaan dan kebebasan!

  67. To: Bro Tedy & Red

    Terima kasih anda telah merespon penjelasannya saya di atas.

    Kalo boleh saya akan petikan kembali tentang tulisan saya:

    “Dalam pelajaran Hukum Kamma disebutkan bahwa ada perbuatan yg kualitasnya besar yaitu Akusala Garuka kamma bagian ke-2 yaitu: Niyatamicchaditthi kamma yg artinya Menyebarkan pandangan salah secara sadar dan terus menerus. Orang yg melakukan hal demikian maka akan terancam terlahir kembali dalam alam Mahatapana Naraka (Neraka tingkat 7).”

    Pengetian secara sadar berarti, orang tersebut mengetahui dengan benar bahwa konsep tersebut memang salah dan mengandung lobha, dosa, dan moha. Namun hal demikian terus disebarkan.

    Bagaimana dengan mereka yg tidak paham ttg bahayanya lobha, dosa, dan moha?

    Mereka yg tidak paham tentang micchaditthi namun mereka masih menyebarkannya…kemungkinan besar mereka akan terlahirkan kembali di alam tiracchana (hewan). Mengapa? karena mereka selalu mengumbar moha….

    Mari kita simak dari kitab Abhidhammatthasangaha, halaman 25.

    Hasil atau akibat dari lobha, dosa, dan moha.

    1. Yebhuyyayena hi satta tanhaya pettivisayam uppajjanti. Artinya: Semua makhluk dilahirkan menjadi setan (peta) dan raksasa (asura) dengan kekuatan lobha.

    2. Yebhuyyayena hi candajatataya dosasadisam nirayam uppajjanti. Artinya: Semua makhluk dilahirkan di alam neraka dengan kekuatan dosa.

    3. Mohena hi niccasammulaham tiracchanayoniyam uppajjanti. Artinya: Semua makhluk dilahirkan menjadi binatang dengan kekuatan moha.

    Untuk itu marilah kita kikis lobha, dosa, dan moha kita. Apa pun keyakinan anda maupun tak memiliki keyakinan apapun.

    Dan bagi anda yg telah memiliki pengetahuan tentang bahayanya lobha, dosa, dan moha, maka sebaiknya kita sebarkan konsep untuk tidak mengumbar lobha, dosa, dan moha. Kita dapat mengajarkan kepada orang2 dekat kita seperti ortu kita, suami/istri kita, anak kita, tetangga kita. Tanpa mengajak mereka untuk pindah keyakinan menjadi Buddhis.

    Sang Buddha pernah berkhotbah dalam Uddumbara Sutta:

    “Aku tidak mengajar untuk menjadikanmu sebagai murid-Ku.
    Aku tidak tertarik untuk membuatmu menjadi murid-Ku.
    Aku tidak tertarik untuk memutuskan hubunganmu dengan gurumu yang lama.
    Aku bahkan tidak tertarik untuk mengubah tujuanmu, karena setiap orang ingin lepas dari penderitaan.
    Cobalah apa yang telah Kutemukan ini, dan nilailah oleh dirimu sendirimu sendiri.
    Jika itu baik bagimu, terimalah.
    Jika tidak, janganlah engkau terima.”

    Anumodana
    Ali

    • 卓俊樺 said

      Dear bro Wen Lung Shan,

      terimakasih banyak atas pencerahan Dhamma yang anda berikan 😀

      Bila lobha,dosa dan moha mengakibatkan kelahiran kembali di alam setan, neraka dan binatang,
      lalu apa yang menyebabkan kelahiran kembali ke alam manusia ?

      orang tidak paham tentang micchaditthi dan menyebarkan pandangan salah ,namun
      mereka selalu menjaga kelima sila serta selalu merenungkan sifat2 baik dan mulia dari Tuhan yang mereka yakini,apakah mereka pasti akan terlahir ke alam binatang

      semoga bro Wen Lung Shan selalu berbahagia 😀

      • jimmy said

        Siapapun dia apapun dia jika menjalankan sila dengan baik dan mengembangkan perbuatan baik …ia bisa terlahir di alam surga

  68. Tedy said

    To : Bro Wen Lung Shan

    Wah…wah… indah sekali khotbah Buddha Sakyamuni dalam Uddumbara Sutta! Menakjubkan sekali! Saya jadi makin terbenam saja nih dalam dhamma!

    Terima kasih Bro Wen Lung Shan! Saya baru pertama kali mendengarnya, jika ada “harta karun” lagi mohon bagi2 ke saya dan rekan2 yg lain ya. Anumodana.

    With metta,
    Tedy

  69. Tedy said

    To : Bro Wen Lung Shan

    Maaf, saya ketinggalan pertanyaan nih, apakah bila terbenam dalam dhamma (saddha) termasuk lobha? Mohon penjelasannya. Anumodana atas dhammadesana anda.

    With metta,
    Tedy

  70. To: Bro Tedy

    Saddha dan lobha merupakan 2 hal yg berbeda. Saddha berasal dari Sobhana Cetasika yg berarti kondisi batin yg indah yg dapat membawa kita pada kebahagiaan. Tentu saja keyakinan tersebut harus berdasarkan pada pengertian yg benar.

    Namun bila lobha merupakan salah satu dari bentuk Asobhana Cetasika yg berarti kondisi batin yg buruk/tidak indah yg dapat membawa kita pada penderitaan.

    Untuk istilah ‘terbenam’ mungkin hal tersebut hanya ungkapan Bro Tedy saja sebagai keagungan dari Dhamma Nan Mulia. Untuk saya sendiri saja saat ini saya sangat ‘jatuh cinta’ kepada Sang Buddha. Mengapa karena saya sering ‘berpacaran’ dengan Sang Buddha! Setiap hari saya berpacaran dengan beliau selama 1 jam dirumah melalui kembang kempisnya perut, lalu mengamati nama dan rupa. Itu merupakan ungkapan saya sendiri saja.

    Dhamma nan indah ini memiliki 1 rasa yaitu kedamaian, dan kebebasan. Untuk kedamaian sementara saya telah merasakannya, namun untuk yg kedua saya belum mendapatkannya.

    Anumodana
    Ali/WLS

    • Namatthu Buddhassa 😉
      Dear Bro Wen Lung Shan 😉
      Dear Bro Tedy 😉

      Bro Wen Lung Shan, perkenankan saya mengajukan sedikit koreksi untuk anda.
      Diatas , anda menyatakan :

      Namun bila lobha merupakan salah satu dari bentuk Asobhana Cetasika yg berarti kondisi batin yg buruk/tidak indah yg dapat membawa kita pada penderitaan.

      Bro, berdasarkan kitab Abhidhammatthasangaha ( dan tentunya anda sebagai Guru Agama Buddha telah sangat akrab dengan kitab tersebut, maka perkenankan jika saya yang bukan seorang Guru Agama Buddha ini juga mengutip kitab tersebut ) , Bab III mengenai “Cetasika 52”, maka Cetasika 52 dibagi menjadi tiga (3) bagian , yaitu :

      1). Annasamana-cetasika 13
      2). Akusala-cetasika 14
      3). Sobhana-cetasika 25.

      Sobhana-cetasika 25 terdiri dari :
      a). Sobhanasadharana-cetasika 19,
      b). Virati-cetasika 3
      c). Appamanna-cetasika 2
      d). Pannindriya-cetasika 1

      SADDHA ( Keyakinan ), merupakan salah satu dari ke-sembillan-belas (19) Sobhannasadharana-cetasika 19.

      Nah, yang mau saya ajukan koreksi adalah, dalam kitab Abhidhammatthasangaha, saya tidak menemukan pernyataan bahwa Lobha merupakan bagian dari Asobhana-cetasika.

      Penjelasan yang saya dapatkan adalah bahwa Lobha (keserakahan akan keindriyaan) merupakan salah satu bentuk dari Akusala-cetasika 14.

      Lebih rincinya, Akusala-cetasika 14 terdiri dari :
      a). Mocatuka-cetasika 4 ; yaitu empat (4) macam bentuk-bentuk batin yang Moha-cetasika menjadi pemimpin.
      b). Lotika-cetasika 3 ; tiga (3) macam bentuk-bentuk batin yang Lobha-cetasika menjadi pemimpin.
      c). Docatuka-cetasika 4 ; empat (4) macam bentuk-bentuk batin yang Dosa-cetasika menjadi pemimpin.
      d). Thiduka-cetasika 2 ; dua (2) macam bentuk-bentuk batin yang Thina-cetasika menjadi pemimpin.
      e). Vicikiccha-cetasika 1 ; satu (1) macam bentuk batin yaitu Vicikiccha-cetasika.

      Lotika-cetasika 3, yaitu tiga macam bentuk2 batin dimana lobha-cetasika menjadi pemimpinnya, terdiri dari :

      1). Lobha : Ketamakan / keserakahan akan keindriyaan.
      2). Ditthi : Kekeliruan atau kepalsuan.
      3). Mana : Kesombongan.

      Demikian, Rekan Ali Sasana Putra / Wen Lung Shan yang baik.

      Berdasarkan hasil yang saya pelajari dari Kitab Abhidhammatthasangaha, saya tidak menemukan penjelasan mengenai Lobha sebagai salah satu bentuk dari Asobhana-cetasika.

      Mungkin saja, ada sesuatu pelajaran yang saya lewatkan ? Jika iya, mohon rekan Ali sudi memberikan penjelasannya.

      By the way, anyway…, terimakasih atas dhamma-dana anda. Saya sangat beruntung mempunyai rekan seperti anda. Dengan begini, kita semua bisa belajar Dhamma bersama-sama. Dan kami mendapat banyak pelajaran dari anda 😉

      Anumodana,
      Mettacittena 😉

      Ratana Kumaro.

    • Dede said

      Asal-usul Bhiksu BuDai
      Kaum tua di desa ChangTing (長汀) paling senang berkumpul bersama-sama di emperan teduh rumah untuk mendengarkan NingBoZouShu (nyanyian seriosa mengenai sejarah) tentang kisah Maitreya.

      Ketua Asosiasi Kaum Tua Desa ChangTing, Zhang JiaGuo (張嘉國), sangat dikagumi oleh kaum tua pecinta seriosa sejarah. Ia menyimpan pusaka paling berharga yakni Buku Keluarga Marga Zhang (1916 M), buku keluarga satu-satunya yang tersisa di desa ChangTing, didalamnya tercatat kisah Bodhisatva. Ketika masa Revolusi Budaya (1966-1976) oleh komunis, dengan bijaknya Zhang JiaGuo berhasil melindungi Buku Keluarga Marga Zhang. Sebelum tentara tiba menggeledah rumah, begitu mendapat kabar angin ini, Zhang JiaGuo spontan mendapat inspirasi untuk menyembunyikan Buku Silsilah Keluarga ke celah lantai papan, sehingga dapat bertahan hingga hari ini terhindar dari penghancuran petugas “bantai 4 kuno”.

      Pada Dinasti Tang, tahun 850 M bulan 9 hari 9, Panatua desa ChangTing, Zhang ChongTian (張重天), sepulang dari sembahyang di Kuil SongMingSi (松鳴寺), melihat ada sebuah baskom kayu yang terbawa arus hingga pesisir desa. Di dalamnya, duduk seorang bocah. Zhang ChongTian tergerak hati untuk mengadopsinya, seraya bertanya: “Bagaimana bila saya membawa kamu ke rumah saya sekarang?” Sang bocah mengangguk sambil tertawa. Panatua Zhang menjadikannya sebagai anak angkat dan memberikan nama QiCi (契此), karena tumbuh besar di desa ChangTing, bergelar Anak ChangTing (長汀子). [Pada tahun 2001 M, dekat tempat diketemukannya bocah QiCi oleh penduduk setempat didirikanlah Pavilon Maitreya di gerbang masuk dan sebuah pratima Maitreya batu bersisi dua]

      Konon, QiCi yang memberi usul pada kepala desa, jasa-pahala para pendahulu, perlu dilestarikan, Bahkan QiCi sendiri yang menulis Buku pertama Keluarga Zhang. Demikian pula ShiRenTang di desa ChangTing yang selama ini digunakan sebagai Balai PapanNama Leluhur, juga merupakan usulan QiCi.

      Ketika QiCi berusia 16 tahun, menjelang orangtua angkat mau menikahkannya, QiCi mohon restu untuk menjadi bhiksu. Tahun 867 M bulan 6 hari ke 6, ditahbiskan sebagai bhiksu di Kuil YueLinSi (岳林寺) yang sudah berusia 1400 tahun. Kuil aslinya telah hancur seiring dengan waktu, tidak eksis lagi. Yang terlihat oleh kita sekarang adalah kuil rekontruksi baru, yang dibangun pada tahun 536 M. Ketika itu bernama ChongFuYuan, pada tahun 848 M ganti nama menjadi YueLinSi. QiCi sangat berbakat, setelah membiara, mendapat perhatian dari pimpinan dan diberikan tugas bidang dana. Berkat jodoh bhiksu BuDai, Kuil YueLin berkembang dengan cepat. Pagoda Genta, Pagoda Bedug, Graha Sakyamuni dan ruangan lainnya, berhasil dibangun, para bhiksu kuil YueLin pun bertambah hingga 800-an orang.

      Pada tahun KaiPing Dinasti HouLiang (1100 tahun lalu), desa SiMing (四明) kota FengHua, di berbagai jalanan sering diketemui seorang bhiksu yang bergelagat luar biasa. Sering tawaria, perutnya gendut, memikul sebuah kantong kain. Ketemu dengan siapapun ia selalu mohon amal-sedekahnya, termasuk barang pun, mohon disumbangkan. Semua yang disumbangkan orang, ia memasukkannya ke dalam kantong kain. Siapakah bhiksu ini? Berasal dari manakah, masyarakat setempat juga tidak tahu. Karena tidak tahu namanya, ia yang selalu bawa sebuah kantong kain, julukan “BuDai HeShang” (布袋和尚 Bhiksu berkantong) pun populer sejak saat itu, juga karena Bhiksu ini suka ketawa, ada yang menjulukinya Bhiksu Tawaria, juga julukan Bodhisatva Sipit.

      Sekitar 30 km dari kuil YueLin di kota QiuChun, ada sebuah dusun ZhuangXia. 1000 tahun yang lalu, Bhiksu BuDai membangun Kuil kecil yang merupakan cabang dari YueLin. Sebelum kedatangan Bhiksu BuDai, Tempat ini tanah lumpur, sawah basah dan semak belukar. Dikisahkan dalam buku YueLinSiZhi, Bhiksu BuDai mengajak masyarakat setempat, dua kali menggarap pesisir jadi persawahan, untuk bercocok tanam. Para petani pun membangun rumah di sini, lama-kelamaan menjadi sebuah dusun. Ketika Bhiksu BuDai bercocok tanam, ia tidak lupa buat syair dharma, pegang benih semai di ladang berkah, tunduk kepala terlihat langit air, Enam indera bersih itulah Dharma, mundur langkah ternyata adalah maju. Hingga kini, syair ini tetap populer dan warga setempat adalah keturunan para petani yang dulu menggarap sawah bersama bhiksu BuDai. Di pekarangan rumah Wang YueEr, bertumpukan bebatuan tua, adalah perkakas olah pangan yang ditinggalkan oleh Bhiksu BuDai.

      Tahun 917 M bulan 3 hari 3, Bhiksu BuDai duduk moksa di batu trotoar timur kuil YueLinSi. Menjelang wafatnya Maitreya BuDai, sempat meninggalkan syair yang monumental: 彌勒真彌勒,化身千百億,時時示世人,世人自不識。 Maitreya, sungguh Maitreya! Emanasi dalam milyaran, Senantiasa mengungkapkan kepada manusia, Manusia sendiri yang tak mengenalnya. Melalui syair ini, orang menyadari bahwa Bhiksu BuDai adalah inkarnasi Bodhisatva Maitreya.

      Berawal dari afirmasi Buddha Sakyamuni terhadap Maitreya sebagai Next Coming Buddha, hingga inkarnasi Maitreya sebagai bhiksu BuDai, Keyakinan untuk terlahir di TanahSuci Maitreya (彌勒淨土信仰), sejak ini memasuki babak sejarah baru. Bulan 9 hari 9, bulan 6 hari 6, bulan 3 hari 3, tiga peristiwa penting bagi Bhiksu BuDai: diketemukan, menjadi bhiksu, wafat. Selama kurun 1000 tahun, mulai dari Kuil YueLinSi, satu per satu kuil di China menempatkan pratima Maitreya Berkantong (China): Image yang duduk mantap, perut gendut, tawaria, senyum sipit, secara perlahan-lahan lebih merakyat daripada image Maitreya Bermahkota (India).

      Di tengah kota FengHua, jalan ZhongTa, Menurut catatan YueLinSiZhi, Bhiksu BuDai sangat menyukai Gunung FengShan yang indah permai. Ia pun menghimbau saudagar Shi untuk sudi menyumbang sebidang tanah di gunung FengShan. Setelah wafatnya ingin dikebumikan di gunung FengShan. 
      Orang-orang belakangan hari membangunkan pagoda & pavilion Maitreya di sana. Di situs ini, juga terdapat prasasti yang diberikan (pada tahun 1098 M) oleh Raja Dinasti Song. Konon, setelah Bhiksu BuDai dikebumikan, di makamnya selalu memancarkan cahaya kemilau. Raja ZheZong menganugerahkan gelar Mahaguru DingYing. Bhiksu BuDai sebagai emanasi Bodhisatva Maitreya pun mendapat pengukuhan dari kerajaan.

  71. pamuji rahayu..,
    kangmas ratana, apa khabar..? ndak ada beritanya , masih sibuk kangmas..? maaf saya masuk rumah panjenengan mau nyanyi.. hehehe.. lagunya memes :

    “… Seribu ragu yang kian menyerang, tapi diriku terlanjur sayang. Walau arah mata angin melawan, tapi kubertahan, dan kuberjalan. Santun berkata kau pun menanyakan, mengapa cinta dipertahankan, tetapi haruskah dipertanyakan, bila ku-terlanjur, ku-terlanjur sayang…” demikian lantunan suara merdu Memes.

    kalau kita sudah terlanjur sayang .. kanapa semua musti dipertanyakan … hehehe…,

    semoga kangmas selalu dalam kebaikan, sejahtera dan selalu dalam kasih sayang…

    matur nuwun,

    salam sihkatresnan

    rahayu…,

    • kangBoed said

      hehehe… Mas Hadi nyang baeeeek.. ayo nyanyinya barengan.. broooot..her ku chuayaaaanknya lagi puasa bicara.. *geleng geleng*.. mudah mudahan.. yayaya.. kita nyanyi aja maaas Hadi ayoooo..

      “… Seribu ragu yang kian menyerang, tapi diriku terlanjur sayang. Walau arah mata angin melawan, tapi kubertahan, dan kuberjalan. Santun berkata kau pun menanyakan, mengapa cinta dipertahankan, tetapi haruskah dipertanyakan, bila ku-terlanjur, ku-terlanjur sayang…” demikian lantunan suara merdu mas Hadi.. dan teriakan saya.. *Muka Melas ON*.. eee.. teriakan berduaaaaa..

      Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang

      • Dear Brother KangBoed 😉

        Nggak puasa bicara kok Bro 😉
        Wah, suaranya Brother Boed dan mas Hadi wirojati bener2 MERDUU!!
        hanya orang-orang yang beriman yang bisa mendengarkannya!! 😀 :mrgreen:

        Maturnuwun atas entertainmentnya yak 🙂

        Salam Damai dan Cinta Kasih 😉

  72. bodohsatva~RE said

    ha ha ha…
    ada hal2 yang agak dipertanyakan:

    sabda sang buddha setelah/sebelum Beliau Parinibbana? sedangkan tripitaka ada setelah Parinibbana Sang Buddha.. bagaimana mungkin beliau berkata berpesan pada sariputra tentang lenyapnya sutra ini dan itu?

    umur manusia 80.000 tahun namun hilangnya dharma sejati 5000 th?
    coba di pikir2 dulu… ha ha

    “Disini, lenyapnya pencapaian [tingkat-kesucian] berarti bahwa hanya selama seribu ( 1.000 ) tahun setelah Aku Parinibbana, para Bhikkhu masih dapat mencapai Pengetahuan-Analitis ( Patisambhida ) atau tingkat Arahat. Sejalan dengan waktu, para siswa-Ku adalah [hanya] Anagami , Sakadagami, dan Sotapanna. Tingkat pencapaian ini tidak akan lenyap sampai Sotapanna terakhir meninggal. Setelah itu, pencapaian tingkat kesucian pun turut lenyap. Inilah , Sariputta, lenyapnya tingkat kesucian.”

    jadi maha boa, acarya mun, ajhan chah, pa auk sayadaw???
    mereka di akui sebagai “arahat” loh???
    jadi ada kesimpang-siuran di sini

    ha ha ha…

    kadang2 istilah dharma dan dharma sejati mesti di perjelas bro…
    ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
    Dear Bodohsatva ,
    Selamat datang di blog Ratna Kumara ini ya… ,

    Jangan khawatir sahabat,

    Sang Buddha tidak pernah mengajarkan kita untuk ber-“iman-membuta” terhadap berbagai hal, termasuk kepada ajaran2-Nya sendiri.

    Nah, mengenai Ti-Pitaka, memang disusun setelah Sang Buddha Parinibbana, tepatnya dimulai sejak 3 bulan setelah Sang Buddha Parinibbana.

    Tidak bisa dipungkiri, pasti ada juga bagian dari Ti-Pitaka, terutama yang berkaitan dengan suatu “kisah”2 tertentu, terpengaruh dengan bumbu2 “legenda”.

    Nah, kita sebagai ummat Buddha juga patut untuk “kritis”, tidak hanya meng-“iya”-kan saja.

    Yang paling penting dari ajaran Sang Buddha adalah, ajaran untuk mengikis kekotoran batin ( keserakahan/nafsu-indriya, kemarahan/kebencian, kebodohan-batin ), dan merealisasikan kesucian serta pembebasan dari samsara. Ini yang paling penting.

    Ada suatu “standard” yang bisa kita terapkan untuk mengukur / menguji suatu ajaran, apakah itu ajaran Sang Buddha ataukah bukan. Sang Buddha menjelaskan “standard”2 uji berikut ini pada YM.Upāli 7, yaitu bila ajaran itu membawa manfaat2 sbb. :

    1. Ekantanibbidā: Tidak mudah kecewa dan tabah
    2. Virāga: Sikap yang tidak terpengaruh, tenang dan tanpa nafsu
    3. Nirodha: Kepadaman dari kekotoran batin dan derita
    4. Upasama: Ketenangan (ketenangan batin)
    5. Abhinnā: Kemampuan-batin istimewa / kesaktian.
    6. Sambodha: Penerangan, mencapai penerangan batin
    7. Nibbāna: Kebebasan mutlak, berakhir dari derita, terbebas dari kelahiran dan kematian

    Jika suatu ajaran mengarah kepada tercapainya hal-hal tersebut diatas maka ajaran tersebut adalah ajaran sang Buddha.
    (Anguttaranikāya IV. 143)

    Dan, Sang Buddha juga sering bersabda, bahwa selama masih ada manusia yang menjalankan Jalan Ariya Beruas Delapan, maka selama itu pula dunia tidak akan kosong dari makhluk-suci.

    Jadi, Maha Boa, Pa’auk Sayadaw, Ajahn Chah, dan lain2, dengan menerapkan standard uji kelayakan apakah seseorang pantas disebut seorang “Arahat” atau bukan, dan ketika diuji ternyata memang lulus standard uji kelayakan tersebut, jangan ragu lagi ( berkaitan dengan “ramalan”2 membingungkan akan lenyapnya pencapaian tingkat kesucian ), mereka benar telah merealisasi Arahata-Magga-Phala.

    Begitu, rekan Bodohsatva.

    Juga rekan2 yang lain.

    Kita , ummat Buddha, tidak pernah diajari untuk dogmatis, tetapi selalu diajari untuk bersikap kritis dan “pantang-percaya” sebelum membuktikan : Ehi-Passiko .

    Seperti Sabda Sang Buddha dalam Uddumbara-Sutta :

    “Aku tidak mengajar untuk menjadikanmu sebagai murid-Ku.
    Aku tidak tertarik untuk membuatmu menjadi murid-Ku.
    Aku tidak tertarik untuk memutuskan hubunganmu dengan gurumu yang lama.
    Aku bahkan tidak tertarik untuk mengubah tujuanmu, karena setiap orang ingin lepas dari penderitaan.
    Cobalah apa yang telah Kutemukan ini, dan nilailah oleh dirimu sendirimu sendiri.
    Jika itu baik bagimu, terimalah.
    Jika tidak, janganlah engkau terima.”

    Atau anjuran beliau kepada hartawan Upali untuk jangan mudah percaya meskipun itu diucapkan Sang Buddha sendiri, tapi telitilah, periksalah, bila memang sudah dibuktikan benar adanya dan membawa manfaat bagi perkembangan-batin, bagi ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan-sejati, maka baru kita percaya, itu adalah ajaran yang baik dan benar, dan itu adalah ajaran Buddha.

    May All beings b Happy,
    May All beings attain Enlightenment,
    Sadhu,Sadhu,Sadhu.

    • Sekelumit Obrolan Bocah Benteng dan maknya :
      Bocah : ” Mak menta duit ! buat ke warnet !!!!
      Emak : ” Nih gopek Bocah : ” kok gopek mak mana dapet !!!!
      Emak : ” mank jrapa duit sih ?!!!!!!!!!!!!! nih Goceng !!!!!!!!
      Bocah: ” kok Goceng mak mana dapet ? mak !!!!!!!!!!!!
      Emak: ” Buset ni anak makan dara bener bener ya ?!!!!!!!!
      Bocah: ” Buruan !!! mak !!!
      Emak : ” mank lo mau maen paan nak babee !!!!
      Bocah: ” mau maen PB mak ampek “SELESAI”
      Emak : ” itumah 500.000.000 dodol !!! nih liat char emak lu ama engkong luh udah Comander Bintang 5 semua tuh 2 Character berarti 1 M…

      Saya berkata : You wanna Play ? So Pay it Well then You will Be Finish it !! 5 / 500 / 5000 or More It is Always depend Your Will and Desire, If in This Planet Only can Reach 500 So Why Dont Try to go to Another Planet that They Still Have 5000 or More, It is Just Like Machinery at Your Own Computer if You Push 500 Therabyte at Pentium II ? Can We Read, There is No One that who can Read or Learn.

      Ingin merubah sejarah dari takdir 500 menjadi 500.000.000 bisa saja > asal Anda tau caranya semuanya dapat berubah tapi yang Pasti dimulai dari trigernya, misalnya ” JIKA SAYA BENAR BENAR DAPAT MENCAPAI TINGKATAN ARAHANTA MAKA SAYA TIDAK AKAN MEMILIH PARINIBBANA, SAYA AKAN MENAMBAH MANFAAT DUNIA INI MENJADI MEMILIKI BUDDHA DHAMMA HINGGA 500 JUTA TAHUN, DAN SAYA AKAN MENYINGKIRKAN DAN MENCEGAH SEMUA CALON JANIN MAHLUK SAMPAH YANG AKAN TERLAHIR SELAMA 500 JUTA TAHUN KEDEPAN, BAHKAN BILA DEWA SAKHA SANGGUP MEMIKIRKAN 1000 HAL DALAM i SAAT, MAKA SAYA ADALAH SESEORANG YANG LEBIH BERKUASA DARI DEWA SAKHA KARENA SETELAH MENJADI ARAHAT MAKA SAYA AKAN MENAMBAH MANFAAT DUNIA INI, WALAUPUN SAYA TAU IRONISNYA JIKA SUDAH MENJADI ARAHAT MAKA KEINGINAN INI AKAN IKUT SELESAI DENGAN SENDIRINYA NAMUN TEKAD DAN JANJI INI HARUS KUPENUHI, MESKIPUN ITU TAK MUNGKIN “…….. menyedihkan sekali

  73. alvatarz~RE said

    salam kasih.
    Saya umat kristen, tapi saya sgt prihatin dgn kenyataan2 saat ini.

    semua teori agama gak berguna dibahas dan ditafsirkan, malah menimbulkan kesalahan. Siapa yg bisa jamin klo penafsiran2 di atas benar ?

    Kalau semua merasa benar dgn pemikirannya mengapa ada perpecahan ?? Mengapa ada lebih dari satu agama???
    ________________________________________________

    Dear Alvatarz,

    Saya turut prihatin dengan keprihatinan anda.
    Semoga anda menemukan pemecahan masalah yang anda hadapi.

    ________________________________________________

    Ajaran budha sgt2 bagus, mengapa bukan ajarannya yg dilaksanakan.
    Mengapa manusia malah mencoba menjangkau fikiran budha ??? (kesalahan yg sama pd hindu, kristen)

    Lbh baik manusia bodoh ttng ayat2 agama, tapi baik tingkah lakunya dan tulus hatinya daripada manusia2 pintar tp menyesatkan.

    Bukankah itu yg terjadi dlm semua ajaran agama yg ad dimuka bumi ???
    ___________________________________________________
    Tidak semua agama demikian.. .
    ___________________________________________________

    Saya bertanya pd semua umat budha.
    Apa km yakin 100% dgn kepintaran km menafsiran perkataan budha, bahwa budha tdk mengakui adanya sang Pencipta ?
    ___________________________________________________
    Apakah arti “MENAFSIRKAN” ?

    Dalam Buddhisme, ajaran Buddha ( ingat “AJARAN BUDDHA” , bukan “SEJARAH / CERITA / TRADISI yang melingkupi perjalanan hidup Buddha. Pahami perbedaan ini dulu, karena bila tidak anda akan keliru memahami. ) , tidak perlu ditafsirkan. Karena, Sang Buddha tidak pernah menyembunyikan sesuatu. Sang Buddha senantiasa mengajarkan sesuatu, bila itu “A” , maka katakan “A”.

    Tidak ada perbedaan ajaran “esoterik” dan “eksoterik” dalam Buddhisme-Theravada ; semua Dhamma yang penting dan perlu untuk diajarkan, telah dibabarkan dengan jelas dan sempurna oleh Sang Buddha.

    Tidak ada suatu ajaran yang harus disembunyikan dan di”samar”kan dengan kalimat2 yang lain.

    Sang Buddha pernah berkata, Guru yang baik, tidak akan menyembunyikan apa pun dari muridnya. Tidak perlu men-samar-kan suatu ajaran dengan kalimat2 yang tidak bisa dipahami. Guru yang baik tidak pernah menyimpan ajaran-ajaran rahasia, apa yang harus diajarkan, maka diajarkan-Nya-lah hal itu.

    Kamu bisa membaca sendiri, apakah sutta-sutta yang dicantumkan dalam artikel tentang “Tuhan “Yang-Maha…” dimata seorang Buddha” itu adalah “penafsiran” atau benar-benar “apa-adanya”.

    Contoh suatu ayat penafsiran adalah :

    Bila dalam ayat suatu kitab agama dikatakan bahwa “BUMI ITU DATAR, DAN MATAHARI MENGELILINGI BUMI”, maka, ketika terkena serangan oleh ilmu pengetahuan yang menemukan fakta berbeda, ayat itu ditafsirkan menjadi ” Maksud dari ayat ini adalah, bahwa bumi itu datar bila dilihat dari muka bumi, dan matahari mengelilingi bumi bila dilihat dari muka bumi. Itulah maksud Tuhan.”

    Paham sekarang, pengertian dari penafsiran sebuah ayat ?
    ________________________________________________

    Apa tingkah laku sebagian besar umat budha udah benar dlm hal keagamaan, khususnya penghormatan pada budha, dewa dewi.?

    Saya mendapatkan fakta bhw byk umat budha membuat patung2 budha, dewi kwan im, dll di dalam atau di depan rumah.

    Pertanyaan saya :
    1. Umumnya patung2 tsb dibawa ke paranormal terlbh dahulu. Apakah itu benar menurut ajaran budha ??
    _________________________________________________
    Lihat Buddha-Rupam ( Patung-Buddha ) di rumah saya, yang saya cantumkan di artikel “PENYEMBAH BERHALA ?!” , apakah itu dibawa ke paranormal terlebih dahulu ? Jawabannya : TIDAK.

    Lagipula, Sang Buddha tidak pernah mengajarkan menyembah Dewa dan Dewi tertentu untuk mengharapkan berkah keselamatan dan penyelamatan.

    Sang Buddha melarang para siswa-Nya dan ummat-Nya melakukan praktik paranormal, apalagi pergi ke paranormal.

    Kalau ada ummat Buddha yang melakukan hal-hal tersebut diatas, itu berarti ummat Buddha yang keblinger.
    __________________________________________________________
    Menurut saya salah. Kalau dibuat pribadi2 dgn hati tulus dgn doa itu baru benar.
    __________________________________________________________
    Kamu benar.
    __________________________________________________________

    2. ketika saya tanya untuk apa patung2 itu gunanya ?
    Umumnya menjawab oh itu patung dewa untuk jaga rumah, itu untuk pelaris usaha, dsb.
    Apakah itu yg diajarkan para budha, dewi kwan im ?
    __________________________________________________________

    Buddhism di Indonesia, telah bercampur dengan tradisi-tradisi tertentu.

    Mengapa bisa terjadi ? Karena, Buddhism di Indonesia, adalah sebuah “agama yang baru terlahir kembali”, setelah 500 tahun musnah karena sebuah tragedi sosial-budaya-politik era kehancuran Majapahit, baru sekitar tahun 1930-an Buddhism datang kembali ke Indonesia dibawa oleh seorang missionaris dari Srilanka, bernama Bhante Narada-Mahathera. Dan, pada tahun 1978 Buddhisme baru diresmikan / secara resmi diakui sebagai agama negara.

    Karena perjalanan panjang itulah, maka masih banyak ummat Buddha yang belum benar2 menjalankan Buddha-Dhamma dengan benar sebab masih memegang tradisi2 mereka ; meskipun sudah tidak sedikit pula ummat Buddha yang telah benar2 murni menjalankan Buddha-Dhamma tanpa dicampur dengan tradisi-tradisi dan kepercayaan lain.
    ________________________________________________________

    Bukankah ajaran itu ajaran dukun/paranormal ?
    ________________________________________________________
    Anda bisa menilai sendiri.
    ________________________________________________________

    Apakah itu menghormati para budha atau menghina mereka ?

    Apa anda lupa dibumi ini selain ada kebaikan ada kejahatan, baik di dunia nyata maupun maya?
    ________________________________________________________

    Smile … 🙂 😉
    ________________________________________________________

    Kalau saudara ratanokumaro seorang pengikut budha yg benar, mengapa hanya bicara teori penafsiran yg gak perlu.
    Beranikah anda semua mengajarkan yg benar tentang hal tsb dan memperbaikinya ???
    ________________________________________________________

    Tentu saja semua Dhammaduta / missionaris Buddhis akan memberikan pengarahan pada ummat Buddha tentang Buddha-Dhamma yang benar.
    Anda tidak perlu khawatir.

    [ SEKEDAR SARAN :

    Daripada anda merasa gusar bila ada seorang Guru-Agung yang menyatakan tidak adanya Tuhan-Pencipta, maka , lebih baik anda berdiam dalam keheningan, masuk dalam diri anda, mulailah menyelidiki, mengenali diri-anda sendiri, semakin memperdalam spiritualitas, dan membuktikan sendiri, sesungguhnya,”apakah diriku ini diciptakan oleh suatu Pencipta tertentu diluar diriku, semacam Tuhan ? apakah alam-semesta tempat aku tinggal ini diciptakan oleh suatu Pencipta tertentu, semacam Tuhan yang ada di teori-teori Kitab-kitab agama itu ?”

    Menurut saya, hal ini lebih bermanfaat, daripada anda gusar bila ada statement bahwa Tuhan-Pencipta itu hanyalah teori yang timbul berdasarkan imajinasi manusia-manusia yang belum tercerahkan. ]

    May U Always b happy and Well,
    Ratana Kumaro.

  74. alvatarz said

    Thanks atas jawabannya yang sangat memuaskan saya.

    Saya senang Pertanyaan2 saya ditanggapi secara jujur, dengan Tanpa ada Perasaan Curiga dan berbeda, karena saya beragama kristen.

    Berbeda dengan umat kristen, Hindu yang menganggap saya gila dengan pernyataan dan pertanyaan saya.

    Mungkin jalan Hidup saya berbeda dengan orang2 kebanyakan.

    Saya Pribadi Mempercayai dan yakin 100% bahwa ajaran Hindu dan Budha adalah Kebenaran.

    Saya Hanya kecewa dan prihatin melihat Kenyataan, Bahwa saat ini Banyak Penyimpangan ajaran2 agama yang dilakukan banyak pimpinan Umat di semua agama.

    Mungkin sudah seharusnya terjadi demikian.
    Namun Saya yakin, Semua kebenaran akan kembali menerangi dunia.
    Ajaran kasih akan menyelamatkan umat manusia.

    Mengenai Tuhan itu apa dan Siapa, Saya tahu kebenaran Bahwa Tuhan Itu Hanya Satu.
    Person yang sama yang disembah semua manusia yang menjalankan ajaran kasih.

    Sesungguhnya. Dalam Ajaran Kristen Juga Tak ada Satu Umat Kristenpun yang dapat menjelaskan Tentang Ketuhanan. seperti juga umat budha.
    Prinsip Ketuhanan dalam ajaran Kristen adalah TRINITAS, tetapi tak ada juga umat kristen yang mengerti artinya.

    Suatu saat Kita akan sama2 tahu kebenaran maksud perkataan Budha.

    Yang jelas Ajaran Kasih Baik dari agama apapun adalah yang terbaik.
    Marilah kita menjalankan kasih dalam setiap kehidupan kita semua.

    Hormat saya pada sdr. Semoga kasih Tuhan, Ibu Dewi Kwan Im, para Budha, dewa, dewi menyertai kita semua.
    Amin
    __________________________
    😉

  75. namo buddhaya,
    menurut pendapat saya membuka vihara dekat taiwan itu sangat jauh karena kalau ad orng yg tnggl jauh maka tdk dpt prg ke vihara tsbt dan semoga disuatu hari vihara trsbt bs makin berkembang dan dpt mendirikan yg lbh bnyk vihara lg

  76. Jabon said

    yach…. semua makhluk pasti ingin yang namanya bahagia…

  77. Jabon said

    niat berkunjung aja nich dari sang petani jabon

  78. Jabon said

    niat berkunjung aja nich dari si petani jabon

    • achi said

      manusia adalah insan tertinggi di alam manusia.
      manusia juga memiliki kelebihan dan kekurangan masing2
      ajaran para buddha sangat mendalam dan tersirat.
      dengan di alam kondisi (lobha,dosa,moha)tentu akan keterbebasan dari manusia untuk memahami keadaan tdk berkondisi(alobha,adosa,amoha).maknya seorang sang buddha pun bisa ragu terhadap dirinya sendiri .dulu sewajtu sang gotama mencapai buddha beliau ragu untuk mengajarkan ajaranya ke dunia karena ajaran buddha adalah ajaran intisari untuk hal2 yang berkondisi menjadi tdk berkondisi sehingga sulit untuk di pahami oleh alam kondisi manusia.tapi waktu itu ada brahma sahampati yg terus memohan kepada sang buddha untuk tetap turunkan ajaran ke dunia akhirnya buddha pun setujui setelah ada permohonan dari brahma sahampati,,untuk itu kita yang masih di alam kondisi hendaknya selalu membenahi diri sendiri jangan menulis atau memberitakan atau memisukan sesuatu yang kita sendiri tdk tau secara pasti akan kebenarannya.jangan karena keterbatasan kebijaksaan kita inilah memupuk kebodohan akal pikiran(avijja).buddha dhamma begitu luas jalannya ada 84000.jangan hanya fokus satu salahkan 83999 yang lain.

  79. gunawan tjoea said

    Sekelumit Obrolan Bocah Benteng dan maknya : Bocah : ” Mak menta duit ! buat ke warnet !!!! Emak : ” Nih gopek Bocah : ” kok gopek mak mana dapet !!!!
    Emak : ” mank jrapa duit sih ?!!!!!!!!!!!!! nih Goceng !!!!!!!!
    Bocah: ” kok Goceng mak mana dapet ? mak !!!!!!!!!!!!
    Emak: ” Buset ni anak makan dara bener bener ya ?!!!!!!!!
    Bocah: ” Buruan !!! mak !!!
    Emak : ” mank lo mau maen paan nak babee !!!!
    Bocah: ” mau maen PB mak ampek “SELESAI”
    Emak : ” itumah 500.000.000 dodol !!! nih liat char emak lu ama engkong luh udah Comander Bintang 5 semua tuh 2 Character berarti 1 M…

    Saya berkata : You wanna Play ? So Pay it Well then You will Be Finish it !! 5 / 500 / 5000 or More It is Always depend Your Will and Desire, If in This Planet Only can Reach 500 So Why Dont Try to go to Another Planet that They Still Have 5000 or More, It is Just Like Machinery at Your Own Computer if You Push 500 Therabyte at Pentium II ? Can We Read, There is No One that who can Read or Learn.

    Ingin merubah sejarah dari takdir 500 menjadi 500.000.000 bisa saja > asal Anda tau caranya semuanya dapat berubah tapi yang Pasti dimulai dari trigernya, misalnya ” JIKA SAYA BENAR BENAR DAPAT MENCAPAI TINGKATAN ARAHANTA MAKA SAYA TIDAK AKAN MEMILIH PARINIBBANA, SAYA AKAN MENAMBAH MANFAAT DUNIA INI MENJADI MEMILIKI BUDDHA DHAMMA HINGGA 500 JUTA TAHUN, DAN SAYA AKAN MENYINGKIRKAN DAN MENCEGAH SEMUA CALON JANIN MAHLUK SAMPAH YANG AKAN TERLAHIR SELAMA 500 JUTA TAHUN KEDEPAN, BAHKAN BILA DEWA SAKHA SANGGUP MEMIKIRKAN 1000 HAL DALAM i SAAT, MAKA SAYA ADALAH SESEORANG YANG LEBIH BERKUASA DARI DEWA SAKHA KARENA SETELAH MENJADI ARAHAT MAKA SAYA AKAN MENAMBAH MANFAAT DUNIA INI, WALAUPUN SAYA TAU IRONISNYA JIKA SUDAH MENJADI ARAHAT MAKA KEINGINAN INI AKAN IKUT SELESAI DENGAN SENDIRINYA NAMUN TEKAD DAN JANJI INI HARUS KUPENUHI, MESKIPUN ITU TAK MUNGKIN “…….. menyedihkan sekali

  80. Chiki Dot said

    https://www.facebook.com/notes/%DB%9E-muallaf-%DB%9E/lim-pei-chan-dari-kong-hu-chu-dan-menyusuri-buddhahingga-menemukan-islam-sebagai/223801844315032

  81. play roulette games

    BERAKHIRNYA ERA GOTAMA & MUNCULNYA MAITREYA « RATNA KUMARA

  82. form free bingo

    BERAKHIRNYA ERA GOTAMA & MUNCULNYA MAITREYA « RATNA KUMARA

  83. harjo said

    Kok bingung sih, sederhananya saudara2, kalo mengikuti ajaran aliran meitreya sekarang ini berarti kita secara tidak langsung berandil mempercepat lenyapnya ajaran Buddha Gautama.kalo saja Maitreya belum muncul, ajarannya kok dah duluan ada?curi start nih yee…..

  84. hOTEY ADALAH bUDHA KETAWA DARI cHINA SEDANGKAN SEMAR ADALAH bUDHA kEAWA DARI jAWA

  85. Khan said

    Karena dunia tlah memasuki akhir Zaman maka Budha Maitreya diutus Tuhan sbg Budha Akhir Zaman….

  86. buddha maitreya sebenarnya sudah terlahir/reinkarnasi beberapa kali, bahkan pernah menjadi buddha ci kung, buddha maitreya adalah utusan LauMU (bunda ilahi atau tuhan), biar lebih tau masuk grup fb ‘ajaran buddha maitreya”

  87. goan said

    tes

  88. goan said

    para sahabat sahabat yang telah memposting tentang ajaran Maitreya yang saya pertanyakan adalah apa yang salah dari ajaran Maitreya yang mengajarkan tentang KASIH saya pikir semua agama yang ada pasti mengajarkan hal yg demikian dan umat maitreya dianjurkan utk tidak memakan daging karena perwujudan dari ajaran Maitreya tentang KASIH tg erhadap sesama bahkan binatang sekalipun bukan hanya kita berucap sebatas bibir danteori belaka tanpa melakukan perbuatan apalah artinya, saya jg sdh membaca artikel dari umat Buddha Gautama yg memojokkan umat Maitreya yang memberikan statement bahwa umat Maitreya yg telah bervegetarian merasa lebih suci daripada umat lain yg tidak vegetarian sebenarnya ini penafsiran yg keliru, umat Maitreya bervegetarian spt sudah saya katakan diatas karena KASIH dan inti ajaran Buddha Maitreya adalah DUNIA SATU KELUARGA tidak ada perbedaan diantara semua makhluk didunia ini karena kita bersumber dari yang SATU yaitu LAOMU (TUHAN) dimana tidak ada pena kita perbedaan agama, golongan, ras, warna kulit, dll karena kita semua adalah satu keluarga, apabila ada yang kurang jelasbisa langsung diskusikan jangan menyudutkan dan kami sebagai umat Maitreya siap untuk berargumen bagi teman-teman yang ingin mengetahui lebih jelas akan ajaran Buddha Maitreya, seluruh indonesia di 33 propinsi semuanya ada vihara Maitreya silahkan berdialog dan sekali lagi mohon tidak memposting kata-kata yang menyudutkan bagi umat Maitreya terima kasih

  89. Sylvia said

    Well, Tahtagata adalah Makhluk Yang Paling Sempurna. Jadi Buddha Maitreya ataupun Buddha Gaotama saya rasa mereka sama saja. Sekarang Masa Buddha Gaotama kelak Buddha Maitreya. Bumi kita tidak bisa punya 2 Samma Sambuddha yang muncul dalam waktu bersamaan. Mungkinkah ada 2 Raja Dunia????

    From MN 115:

    “It is impossible, it cannot happen that two Accomplished Ones, Fully Enlightened Ones, could arise contemporaneously in one world-system—there is no such possibility.”

    Mereka (para Buddha) tidak menciptakan hukum karma dsb, Mereka menemukan kembali. Jadi saya yakin apa yang diajarkan oleh Buddha yang terdahulu sampai Buddha keberapa pun adalah sama… Sampai sekarang masih banyak yang memuja Buddha Gaotama, relik relik Buddha dan Arahat seperti YM Sariputra dan YM Moggalana masih ada. Masih banyak yang mempraktekkan dharma yang di ajarkan Beliau. Mereka yang memuja Buddha Maitreya, menurut saya seperti sedang menjalin jodoh dengan Beliau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: