RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

ACARA RAPAT TRIWULANAN GABUNGAN PD & PC MAGABUDHI WILAYAH JAWA-TENGAH

Posted by ratanakumaro pada Oktober 26, 2009

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattum (3X) )

Namatthu Buddhassa,

Pembukaan ; Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

Pembukaan ; Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

Salam hangat untuk rekan-rekan se-Dhamma di manapun anda berada. Sungguh merupakan suatu kebahagiaan berjumpa lagi dengan anda-anda semua. Kali ini, saya menyapa anda-anda semua dengan sebuah artikel laporan acara “Rapat Triwulanan Gabungan PD & PC MAGABUDHI ( Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia )  Wilayah Jawa-Tengah” yang diselenggarakan pada hari Minggu, tanggal 25 Oktober 2009 di kantor Pengurus Daerah MAGABUDHI Wilayah Jawa-Tengah di Vihara Tanah-Putih Semarang.

pembukaan2

Khusyuk membaca Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

Acara ini dihadiri oleh perwakilan Romo dan Ramani ( Romo Wanita ) dari seluruh wilayah Jawa-Tengah ; yang terdiri dari para Upacarika, Pandhita Muda dan para Pandhita Madya.  Saya sendiri, hadir mewakili PC MAGABUDHI Vihara Tanah-Putih Semarang bersama dengan rekan saya, Romo Vijayo. Keanggotaan saya dalam jajaran Romo-Romo MAGABUDHI secara resmi telah disahkan oleh Pengurus Pusat (PP) MAGABUDHI semenjak tanggal 02 Agustus 2009, dengan nomor keanggotaan : 2768/JTG/Upc/2009 , dengan jabatan : Upacarika ( dengan wewenang untuk memimpin Upacara Kebaktian, dan Upacara Keagamaan lainnya ).

Total peserta yang hadir dan mengikuti acara hingga selesai kurang-lebih adalah 20 orang yang terdiri dari Romo dan Ramani Magabudhi wilayah Jawa-Tengah.

pembukaan3

menguncarkan Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

Topik yang dibahas dalam Rapat Triwulanan Gabungan PD & PC MAGABUDHI Wilayah Jawa-Tengah kali ini adalah =

1. Evaluasi Program Kerja Pelatihan Pembacaan Palivacana.

2. Sosialisasi tentang Tata-cara Perkawinan dalam Agama Buddha dan Sosialisasi UU. No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan PP No.9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan.

3. Agenda Program Kerja tahun 2010 : Diskursus tentang Arti dan Penggunaan Paritta, yang akan dibimbing oleh YM. Bhante Dhammadiro Maha-Thera.

Acara Rapat MAGABUDHI ini, dimulai jam 10.30 WIB. Sebenarnya, dalam undangan yang disebarkan, rapat akan dimulai pada pukul 09.00 WIB, namun dikarenakan para pengurus cabang dari daerah-daerah mengalami kendala dalam tranpsortasi, sehingga acara menjadi diundur dan dimulai jam 10.30 WIB. Meski, pada jam tersebut, masih banyak pula pengurus-pengurus cabang Magabudhi wilayah Jawa-Tengah yang belum hadir.

Romo Warto & Romo Sugianto

Romo Warto (kiri) & Romo Sugianto (kanan)

MAGABUDHI Wilayah Jawa-Tengah terdiri dari tiga-puluh (30) Pengurus Cabang. Hampir seluruh wilayah Kabupaten / Kota bisa ditemukan pengurus cabang Magabudhi ; kecuali di wilayah Purbalingga, Sragen, dan Pemalang yang hingga kini belum ada perwakilan Magabudhi disana.

SESI PERTAMA

Sesi ini diisi dengan topik Evaluasi Program Kerja Pelatihan Palivacana yang telah diselenggarakan oleh Pengurus Magabudhi beserta seluruh elemen “Keluarga Buddhis Theravada Indonesia” ( KBTI ) selama tahun 2009 ini.

Sesi ini menjadi cukup seru, karena diawali dengan penjelasan dari Romo Sugianto , bahwa di lapangan sering dijumpai hal-hal “mistis” sehubungan dengan pembacaan Paritta, terutama Paritta “DEVATA-ARADHANA” .

Romo Sugianto

Romo Sugianto

Paritta “DEVATA-ARADHANA” ini , memang merupakan paritta khusus yang diuncarkan untuk mengundang seluruh Dewa dari segala penjuru alam-semesta, termasuk para Brahma, para dewa yang bersemayam di surga, yang berdiam di alam kamadhatu, juga para Dewa Bumi yang bersemayam di vimana atau di puncak gunung, di jurang, di angkasa, di pulau, di kota, di desa, di pepohonan, di hutan belukar, di sekitar rumah, atau di sawah-ladang, juga mengundang para Yakkha, Gandhabba, dan Naga yang bersemayam di perairan, di daratan, atau pun di perbukitan ; mereka semua di undang dengan tujuan untuk bersama-sama dengan khusyuk mengikuti jalannya Puja-Bhakti dan mendengarkan Dhamma yang dibabarkan Sang Buddha demi berkah kesejahteraan dan keselamatan bersama.

sessi I ; sharing dan tanya-jawab seputar Paritta

sessi I ; sharing dan tanya-jawab seputar Paritta

Masing-masing Romo dan Ramani mulai menceritakan kisah-kisah pengalaman mistisnya masing-masing. Saya sendiri memilih untuk menjadi pendengar yang baik saja 😉  ,   sembari terkadang menjawab pertanyaan dari rekan saya dari PC MAGABUDHI Vihara Tanah-Putih Semarang, yaitu Romo Vijayo.

Satu pertanyaan yang sempat muncul adalah, bila dengan Devata-Aradhana kita semua mengundang para Dewa dan Brahma , maka, bagaimana cara mempersilakan pulang kepada para Dewa dan Brahma, bila  acara puja-bhakti / atau acara keagamaan lainnya yang dilangsungkan tersebut telah selesai dilaksanakan ? Dalam kesempatan ini, saya berkesempatan menjawab pertanyaan tersebut, dengan menunjukkan adanya satu Gatha ( dimana jawaban saya tersebut semakin ditegaskan / dikonfirmasikan pula oleh Romo Pdt.Mdy. Warto ( Wakil Ketua Magabudhi PD Jawa-Tengah )  yang menunjukkan Gatha tersebut dalam Paritta ) yang sebaiknya dibaca untuk mempersilakan para Dewa, Brahma, Yakkha, Gandhabba, Naga, untuk kembali ke alamnya masing-masing.  Gatha yang baik dibaca untuk keperluan ini adalah “DEVATA-UYYOJANA GATHA”. Dalam terjemahan Gatha tersebut, ada satu kalimat yang dengan explisit menyatakan , “.. Para dewa yang telah datang dipersilakan kembali!” .  Dan setelah dibacakan “Devata-Uyyojana Gatha” tersebut, para Dewa, Brahma, termasuk para Dewa-Bumi, Yakkha, Gandhabba, Naga, akan berurutan kembali ke alam mereka masing-masing.

Romo Vijayo PC Magabudhi Vihara Tanah Putih Semarang

Romo Vijayo PC Magabudhi Vihara Tanah Putih Semarang

SESI II

Acara sharing mengenai pengalaman membaca Paritta ini terus bergulir cukup lama, hingga kurang lebih jam 11.45 WIB topik baru berganti ke topik berikutnya, yaitu membahas mengenai ” Sosialisasi tentang Tata-cara Perkawinan dalam Agama Buddha dan Sosialisasi UU. No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan PP No.9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan” .

Romo Sugiyanto menerangkan tentang Surat Keterangan Nikah dari Magabudhi

Romo Sugianto menerangkan tentang Surat Keterangan Nikah dari Magabudhi

Disini Romo Sugianto memberi penjelasan, bahwa di masa lalu banyak terjadi kesalahan, yaitu pasangan suami-istri Buddhis yang setelah menikah tidak dicatat di dalam Kantor Pencatatan-Sipil, tetapi hanya sekedar dinikahkan oleh Pandhita. Sehingga, mereka tidak mempunyai keterangan resmi dari negara bahwa mereka adalah pasangan yang telah benar-benar menikah dan sah secara negara ; artinya mereka hanya sah secara agama.

Untuk itulah, Romo Sugianto mensosialisasikan, bahwa mengenai hak bagi ummat Buddha yang menikah untuk dicatat dalam Kantor Pencatatan Sipil Pemda setempat, telah diatur dalam UU No.1 tahun 1974 dan PP No.9 tahun 1975.

Romo Sugiyanto mensosialisasikan Surat Keterangan Nikah yang diterbitkan Magabudhi

Romo Sugianto mensosialisasikan Surat Keterangan Nikah yang diterbitkan Magabudhi

Dikarenakan telah terlanjur banyak pasangan suami-istri Buddhis yang menikah dan beranak-cucu tetapi belum dicatat dalam Kantor Pencatatan-Sipil Pemda setempat, maka, Magabudhi Jawa-Tengah berencana membuat program “Kawin-Massal” bagi para pasangan suami-istri dari puluhan tahun yang lalu yang telah beranak-cucu namun belum mendapat surat keterangan resmi dari negara.

Dalam kesempatan ini pula, Romo Sugianto mensosialisasikan adanya Akta khusus yang akan diterbitkan oleh pengurus-pengurus cabang Magabudhi bagi para pasangan suami-istri yang menikah. Akta ini sah dan resmi secara agama, sebab resmi dikeluarkan oleh Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia ( MAGABUDHI ), dimana di dalam akta tersebut secara resmi pula diketahui oleh Pandhita yang menikahkan dan ditandatangani oleh Pengurus Cabang setempat.

SESI III

Setelah selesai membahas topik II ini, acara berlanjut kepada pembahasan topik III , yaitu ” Agenda Program Kerja tahun 2010 : Diskursus tentang Arti dan Penggunaan Paritta, yang akan dibimbing oleh YM. Bhante Dhammadiro Maha-Thera “ yang memang ahli dalam bahasa Pali ( Beliau menempuh pendidikannya di Thailand hingga level 7 ).

Program kerja tersebut merupakan kelanjutan dari program kerja yang sebelumnya ( Pelatihan Pembacaan Palivacana ).  Pelatihan-pelatihan seperti ini merupakan keuntungan bagi ummat Buddha, sebab dengan begini ummat Buddha bisa mengetahui bagaimana cara membaca Paritta dengan baik dan benar sesuai yang seharusnya serta mengetahui manfaat-manfaat dari masing-masing khotbah Sang Buddha yang dibaca / atau diuncarkan tersebut.

ISTIRAHAT MAKAN SIANG DAN PENUTUPAN

Selesai pembahasan ketiga topik rapat tersebut, barulah masuk pada sesi istirahat dan makan siang, kurang lebih jam 13.00 WIB.

Istirahat dan Makan Siang jam 13.00 WIB

Istirahat dan Makan Siang jam 13.00 WIB

Selesai makan, acara memasuki sesi penutupan, dengan mereview pokok-pokok yang telah dibahas selama rapat berlangsung. Dalam kesempatan ini juga diambil kesepakatan bersama mengenai format Surat Keterangan Perkawinan yang akan diterbitkan oleh pengurus Magabudhi bagi para pasangan suami-istri Buddhis ; dimana format akta yang sebelumnya hanya berisi tanda-tangan dari Pandhita yang menikahkan saja, semenjak hari Minggu 25 Oktober 2009 tersebut disepakati akan ditambahkan pembubuhan tanda-tangan / atau diketahui oleh pengurus cabang Magabudhi setempat.

Acara rapat triwulanan gabungan PD & PC MAGABUDHI Wilayah Jawa-Tengah ini ditutup dengan menguncarkan Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara yang dipimpin oleh Romo Pandhita Madya Sugianto.

Akhir Acara ; Menguncarkan Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

Akhir Acara ; Menguncarkan Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

SEKILAS MAGABUDHI

Sedikit saya tambahkan disini, bagi ummat Buddha yang berminat untuk bergabung dalam Magabudhi, bisa menghubungi kepengurusan cabang setempat dan mendaftarkan diri. Segala informasi bisa diperoleh dari pengurus cabang setempat. Setelah bergabung, maka proses / tingkatan-tingkatan yang akan ditempuh adalah :

1). Menjadi seorang Upacarika ( dengan syarat bahwa sebelumnya ia telah di-wisudi sebagai Upasaka / Upasika ) dengan wewenang memimpin Upacara Kebaktian dan Upacara Keagamaan lainnya. Jabatan ini harus dijalani selama 2 tahun, sebelum akhirnya nanti mengikuti “up-grading” menjadi Pandhita Muda.

2). Setelah melalui masa jabatan sebagai Upacarika dan mengikuti Up-grading dengan pelatihan-pelatihan formal yang diselenggarakan oleh Magabudhi, maka seorang Romo akan naik tingkat menjadi Pandhita Muda. Jabatan sebagai Pandhita Muda ini akan ditempuh selama 5 (lima) tahun masa jabatan.

3). Setelah 5 (lima) tahun menjabat sebagai Pandhita Muda, maka seorang Romo bisa menaiki jenjang berikutnya menjadi seorang Pandhita Madya, tentunya melalui proses “up-grading” berikutnya yang diadakan secara formal dan resmi oleh Magabudhi.

4). Setelah 5 (lima) tahun menjabat sebagai Pandhita Madya, maka seorang Romo bisa menaiki jenjang berikutnya menjadi seorang Pandhita ( penuh ).

Organisasi Magabudhi ini adalah organisasi tempat ummat Buddha mengabdi pada Buddha-Dhamma-Sangha ; menjadi seorang Dhammadutta. Menurut keterangan dari Romo Pandhita Madya Sugianto ( Ketua PD MAGABUDHI Jawa-Tengah ),  bahwa yang bisa secara resmi disebut sebagai Pemuka Agama Buddha Theravada dalam kaitannya dengan hubungan-masyarakat, dan hubungannya dengan Pemerintah, adalah para Romo dan Ramani ( Romo perempuan ) yang telah secara resmi tergabung dalam Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia ( MAGABUDHI ) ini. Tugas para Romo dan Ramani ini adalah membantu para Bhikkhu dalam membina ummat dan hubungan kemasyarakatan legal-formal ; para Bhikkhu, meskipun terutama sebagai “ujung-tombak” dari ummat Buddha dan Buddha-Dhamma itu sendiri, namun tentunya sudah tidak pada porsinya untuk terlalu disibukkan dengan urusan-urusan administratif  yang bersifat keduniawian.  Kurang lebih, demikian yang saya tangkap dari pemaparan Romo Pandhita Madya Sugianto.

Demikianlah, laporan yang bisa saya tuliskan berkaitan dengan acara Rapat Triwulanan Gabungan PD & PC MAGABUDHI Wilayah Jawa-Tengah yang diadakan pada hari Minggu 25 Oktober 2009 kemarin. Semoga, laporan acara ini bermanfaat bagi ummat Buddha dimanapun anda berada.

_________________________________________________

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )


Upacarika RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Senin, 26 Oktober 2009

Iklan

11 Tanggapan to “ACARA RAPAT TRIWULANAN GABUNGAN PD & PC MAGABUDHI WILAYAH JAWA-TENGAH”

  1. Namo Buddhaya,

    Dear All 😉

    Pada hari Sabtu 24 Oktober 2009, saya berkesempatan berbincang-bincang dengan Bhante Khemacaro dari Sangha Agung Indonesia ( SAGIN ). Pada kesempatan itu, saya bertanya, “Bhante , apakah ada data statistik yang diterbitkan resmi yang menunjukkan jumlah ummat Buddha Indonesia saat ini ? “

    Bhante Khemacaro menjawab, “Menurut Badan Pusat Statistik ( BPS ) , data yang terakhir di akses menunjukkan jumlah ummat Buddha di Indonesia saat ini berkisar sebanyak 11.000.000 ( sebelas juta )- an ummat ; khusus wilayah Jawa-Tengah jumlah ummat Buddha sekitar 624.000-an ummat… “

    Mendengar fakta dari data BPS ini sungguh sangat menggemberikan hati saya. Berarti, bahwa perjuangan para Bhikkhu, terutama sejak Bhante Narada Mahathera ( dari Sri Lanka), kemudian Ashin Jinarakhita ( atau yang lebih dikenal dengan nama “Sukong” ), hingga para Bhikkhu yang sekarang, beserta seluruh exponen ummat Buddha Indonesia, tidaklah sia-sia. Masih banyak manusia Indonesia yang ternyata bisa mendengarkan dan mencerna Dhamma , melepaskan diri dari belenggu penderitaan, mencicipi manisnya cita-rasa Dhamma yang membebaskan dan membahagiakan 😉

    Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia,

    Sadhu,Sadhu,Sadhu.

    • Mas Ratna, pernah gak terpikir tentang Bhikkhu SAGIN yang Theravada, mengenai:
      1. Apakah mereka dapat disebut Bhikkhu?
      2. Apakah kelompok Bhikkhu (SAGIN-Theravada) bila berkumpul adalah Sangha?
      3. Apakah mereka masih dapat dikatakan SAKYA-PUTTA?

      Mengapa hal demikian terbesit dalam pikiran saya:
      1. Saya pernah bertanya kepada Bhikkhu Saddhanyano, bahwa pentahbisan beliau di Indonesia dan tidak memakai aliran dari Dhammayutikkha ataupu Mahanikaya atau apapun bentuknya…hanya ditahbis menurut tradisi SAGIN saja.

      Saya akui saya tidak berani bertanya langsung kepada anggota petapa SAGIN dari golongan atau tradisi Buddhist yang ada di sana. Takut tersinggung.

      Apakah Mas Ratna bisa menjawab pertanyaan saya, atau Mas Ratna pernah bertanya langsung kepada anggota petapa SAGIN?

      JAWABAN MAS RATNA SANGAT SAYA BUTUHKAN KARENA HAL INI MENYANGKUT KEBENARAN DAN KEUTUHAN SANGHA YANG SAYA AMBIL SEBAGAI NAUNGAN PERLINDUNGAN.

      🙂

      WARM REGARDS,
      WLS
      _____________________________
      Namo Buddhaya,

      Dear bro Wen Lung Shan 😉

      Wah, saya gak bisa menjawab pertanyaan anda.

      Paling saya hanya bisa bilang, kalau Bhante Khemacaro (SAGIN) yang saya temui itu dulunya Beliau diupasampada di Thailand, ikut tradisi Dhamayuttika dan juga Mahanikaya ; begitu yang Beliau paparkan.

      Kemudian, Ashin Jinarakhita sendiri ( pencetus “Buddhayana” ; Bhikkhu pertama di Indonesia yang menjadi sesepuh SAGIN ),sejarahnya Beliau di tahbiskan sebagai Sramanera dalam tradisi Mahayana di bawah bimbingan Y.A. Sanghanata Arya Mulya Mahabhiksu (Pen Ching Lau Ho Sang). Namun,
      Pada tanggal 23 Januari 1954 Sramanera Ti Chen ditahbiskan sekali lagi menjadi seorang samanera menurut tradisi Theravada, dan pada sore harinya diupasampada menjadi seorang bhikkhu. Y.A. Agga Maha Pandita U Ashin Sobhana Mahathera, atau yang lebih terkenal dengan nama Mahasi Sayadaw menjadi guru spiritual utamanya (Upajjhaya). Gurunya pula yang memberi nama Jinarakkhita.

      Demikian Bro.. , mengenai pertanyaan2 anda, saya tidak bisa menjawabnya. Mungkin kita harus mencari informasi lebih lanjut.

      Mettacittena
      Warm Regards,
      Ratana Kumaro.

  2. To: Mas Ratna

    Mas, kita khan gak nyari umat, tapi pelatihan dari dalam batin.
    Dengan kata lain kalo saya sebagai Dhamma Duta berprinsip tidak mencari kuantitas tapi mencari kualitas batin umat.

    Dengan demikian Dhamma akan tetap exist di dunia.

    🙂

    Sukhi Hotu
    Wen Lung Shan

  3. Namo Buddhaya,

    Dear Bro Wen Lung Shan.. 😉

    Iya Bro, anda benar, kita memang tidak pernah mencari ummat.. 😉

    Namun, yang saya gembirakan adalah.., bahwa ternyata Dhamma Sang Buddha ini.., yang saya sendiri sebagai ummat Buddha ketika membaca, mempelajari, mencerna, masih sering mengalami kesulitan ( terutama mengenai Abhidhamma ) , ternyata banyak juga manusia2 Indonesia yang bisa mencernanya… .

    Memang kita tidak pernah mementingkan kuantitas.., tapi setidaknya dengan adanya penambahan kuantitas pemeluk Buddha-Dhamma, maka bertambah pula kuantitas manusia Indonesia yang mulai mengkultivasikan batinnya untuk secara tahap demi tahap meraih peningkatan kualitas batin.. semisal, dari yang tadinya suka membunuh (makhluk hidup apapun juga,termasuk para hewan), suka mengambil barang yang tidak diberikan, suka melakukan perbuatan sexual yang tidak benar, suka berbohong / berdusta, suka meminum minuman keras atau mengkonsumsi barang madat yang menyebabkan lemahnya kesadaran ; kemudian dengan sungguh2 melaksanakan Pancasila Buddhis, ia menjadi sadar dan tidak lagi mengulang perbuatan tidak-baiknya tersebut… .

    Kira2 begitu Bro… 😉

    Anumodana atas perhatian Anda 😉

    Sukhi Hotu,
    Ratana Kumaro.

  4. CY~RE said

    Bro Ratna, pernahkah terpikir kalo data statistik ttg jumlah umat Buddha di Indonesia tersebut masih data brutto? Mengingat kemungkinan saat sensus juga terdapat umat Tridharma yg tentu saja dimasukkan dlm kategori Buddhis. 🙂
    _____________________________________
    Dear Bro CY,

    Data itu pun saya juga belum tahu, data bulan apa di tahun berapa ( 2008 atau 2009 , waktu itu karena sedang ada acara tidak sempat menanyakan lebih lanjut ).

    Saya berencana hendak ke BPS untuk mengakses data terkini.

    Mengenai dimasukkannya ummat Tri-Dharma dalam kategori ummat Buddha, ya gak apa2 lah Bro, khan Tri-Dharma sendiri terdiri dari Tiga Ajaran : Tao-Buddha-Kong Hu Cu , benar kan ?

    Salam Metta & Karuna,
    Ratana Kumaro.

  5. Tedy~RE said

    Dear bro Ratana,

    Wah…wah… sekarang aktivitasnya tambah padat aja nih. Tapi ngk apa2 lah, demi kemajuan dan kelestarian Buddha Dhamma. Maju terus pantang mundur!

    Salam viriya,
    Tedy
    ______________________________________
    Dear bro Tedy,

    Salam Virya!

    With Metta 😉
    R.K.

  6. tomy~RE said

    Salam wahai Dhammamitta
    Terima kasih atas pembabaran Dhamma-nya
    Saya memulai perjalanan dengan merubuhkan semua bangunan yang telah didirikan sejak aku lahir
    Melepas segala pengertian yang telah didoktrinasikan kepadaku untuk membacanya ulang
    Semoga karma kita mempertemukan kita dalam sebuah perjamuan penuh kasih agar saya dapat nggolek banyu bening

    Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu
    _________________________________
    Dear Mas Tommy ,

    Semoga kita semua menjadi manusia-manusia yang sukses / berhasil merealisasi “Pencerahan-Sejati”.

    Sadhu,Sadhu,Sadhu.

    Peace & Love 😉

  7. suprayitno said

    Dear mas Ratnakumaro,

    Mas ratna yang baik, ijinkanlah saya menorehkan tulisan saya di blog panjenengan, semoga bermanfaat.

    Tulisan ini sudah lama banget ada dalam file saya. Saya pernah mengumpulkan semua tulisan saya yang tidak mungkin bisa dipublikasikan lewat media, untuk bisa dibuat menjadi sebuah buku.

    Judul buku itu “Ephistemologi Agama dan Politik” tapi sayang gak ada satu penerbit pun yang mau menerbitkan. Dalam buku tersebut, intinya, saya mengupas tentang agama dan politik dari sisi ilmu pengetahuan (ephistemologi), sehingga pandangan-pandangan saya relatif tidak terkontaminir oleh vested interest agama tertentu, karena saya sudah mengikrakan pada diri saya bahwa saya ingin menjadi manusia tanpa ciri, yakni “bebas dari agama”.

    Terima kasih mas ratna, silakan diberi catatan-catatan sekiranya ada yang tidak pas.

    BENARKAH TUHAN MAHA KUASA?
    Oleh : Suprayitno

    Pada suatu kesempatan, saya terlibat diskusi cukup seru dengan teman-teman mengenai benarkah Tuhan maha kuasa? Tanpa perlu sedikit pun berpikir, teman-teman saya langsung setuju, “Benar, Tuhan memang maha kuasa, apalagi yang perlu diragukan?” kata teman-teman saya. Saya mencoba bertanya, bagaimana contohnya?
    “Oh banyak contohnya “ jawab teman saya.
    “Misalnya, ada seseorang yang divonis mati karena penyakit oleh dokter, kemudian karena kekuasaan dari Tuhan orang tersebut tetap hidup dan sembuh dari penyakitnya. Ada lagi orang yang berjalan di atas bara api, tetapi orang tersebut sama sekali tidak menderita luka sedikit pun, itu semua juga karena kekuasaan Tuhan. Tuhan maha kuasa untuk berbuat apa pun “ lanjut teman saya.
    “Bisakah Tuhan menghidupkan orang mati?” tanya saya lagi.
    “Jika Tuhan berkehendak, pasti bisa. Karena Tuhan jugalah yang menyebabkan orang bisa hidup. Di dalam Al Kitab, nabi Isa juga diberi mujizat untuk bisa menghidupkan orang yang sudah mati” jawabnya. Kemudian pertanyaan saya lanjutkan lagi.
    “Bisakah Tuhan menetaskan telur asin, atau bisakah Tuhan menghidupkan biji-bijian yang telah dimatikan misalnya biji-bijian yang telah digoreng atau direbus? Atau bisakah Tuhan menghidupkan atau menciptakan lagi binatang-binatang yang telah punah seperti menghidupkan lagi dinosaurus? “ tanya saya.
    “Ya nggak bisa, bagaimana mungkin menetaskan telur asin dan menumbuhkan biji-bijian yang telah dogoreng atau menghidupkan dinosaurus yang telah menjadi fosil? Pertanyaanmu tidak masuk akal” jawabnya.
    “Bukankah Tuhan menghidupkan orang yang sudah mati juga tidak masuk akal? mengapa Tuhan tidak kuasa menetaskan telur asin? Katanya Tuhan maha kuasa dan maha pencipta? Masa cuma menetaskan telur asin saja tidak bisa “ jawab saya.
    Benarkah Tuhan maha kuasa dan maha pencipta? Jika benar, mengapa tuhan tidak bisa menciptakan kembali sesuatu yang telah punah dan tuhan tidak kuasa menghidupkan kembali yang sudah mati semisal menetaskan telur asin? Meliputi apa saja sebenarnya kekuasaan tuhan?
    Tuhan sebenarnya tidak maha kuasa, sebab pada keanyataannya (faktanya) kekuasaan Tuhan sangat dibatasi dan dipengaruhi oleh interaksi hukum alam. Hukum alam itu sendiri berjalan sesuai dengan sebab akibat, aksi reaksi dan pro kontra. Tuhan tidak bisa ikut menentukan dalam proses sebab akibat itu. Contoh, disebabkan kita telah membunuh seluruh sel kehidupan dari telur asin itu, maka berakibat Tuhan tidak kuasa pada pembentukan sel kehidupan yang baru yaitu tidak mungkin telur bisa menetas. Contoh lain, disebabkan kondisi di bulan tidak ada oksigen maka berakibat Tuhan tidak kuasa mencipta kehidupan.
    Syarat-syarat kehidupan diantaranya harus ada oksigen (udara /O2), hydrogen (air/ H2O), cahaya, tanah, dan mungkin ditambah satu lagi yaitu api (suhu ideal bagi kehidupan). Ke lima unsur itulah diantaranya yang menyebabkan terjadinya kehidupan. Lalu, apakah ke lima unsur tersebut juga merupakan ciptaan Tuhan? Sekali lagi, ke lima unsur tersebut terbentuk melalui proses yang sangat rumit dan memerlukan waktu yang sangat panjang berdasarkan hukum sebab akibat, kait mengkait satu dengan lainnya. Contohnya, tak ada hujan tanpa uap. Darimana asal air? Jawabannya tidak sesederhana di alkitab yaitu “dari Tuhan” dengan sabda “jadilah”.
    Kalau begitu, dimanakah Engkau Tuhan? Tuhan berada di angan-angan kita. Semakin kuat kita mengangan-angankannya (yakin dan percaya) maka semakin kuat pula keberadaannya pada tubuh kita. Mari kita rasakan. Jika kita mengangankan Tuhan itu baik dan sayang kepada kita, maka secara psiskis jiwa kita akan tenteram dan damai. Sebaliknya jika kita mengangankan Tuhan akan marah dan akan memasukkan ke dalam api neraka bagi orang-orang yang menentang perintah-perintahnya, maka kita pun akan ketakutan dan akhirnya akan menjalankan perintah-perintahNya. (Smg.Mei 2006)

    RUANG KOSONG
    Oleh : Suprayitno

    Tuhan adalah “ruang kosong”
    Ruang kosong itu adalah
    Kanvas khayalan tiada batas
    Tiada awal tiada akhir
    Ada dalam tiada
    Di atas kanvas kosong itulah
    Para nabi merajut impian
    Melukis dan mengukir sejuta bayang-bayang
    Wajah tuhan
    Yang tak pernah bisa disentuh oleh siapa pun
    Lukisan itu hanya dapat terlihat
    Ketika kita membayangkan
    Lukisan itu “ada”
    Lukisan di atas kanvas kosong
    Telah memenuhi dan menguasai
    Segenap sudut ruang imajinasi
    Di sana ada sejuta bayangan
    Yang hanya bisa dikunjungi
    Lewat mimpi-mimpi
    0h mimpi yang sangat menakjubkan
    Yang dapat membunuh
    Sel-sel syaraf rasional
    Di atas ruang kosong itulah
    Mimpi-mimpi itu terus dipacu dan mengembara
    Menembus langit ke tujuh
    Membawa dan menaburkan
    Sejuta cerita mistis
    Yang dibalut dengan “kain wahyu”
    Melalui ruang kosong itulah
    Tuhan, dewa-dewi, malaikat, syaitan dan jin,
    Kerajaan surga dan wajah neraka
    Dilahirkan oleh para nabi
    Kemudian agar ciptaannya hidup
    Ditiupkanlah “ROH” dengan seribu satu versi
    Mereka menyembahnya dan memujanya
    Menangis, tertawa dan segala permohonan
    Ia ajukan kepadanya
    Akhirnya manusia telah menyembah
    Rekayasa pikirannya sendiri
    Memuji-muji khayalannya sampai mati
    Ada lagi pemuja berhala
    Berhala lahir dari sang pemahat
    Wajah berhala adalah wajah para dewa
    Yang bermula dari jelajah alam maya
    Alam maya yang tak pernah tidur sedetik pun
    Selalu mengusik dan memanggil
    “Ayo, dekatkan dirimu padaKu”
    Di tangan pemahat
    Jarak jauh itu direkatkan
    Dalam bentuk wajah berhala (patung)
    Terbentanglah jembatan komunikasi
    Sekarang…..
    Pemuja itu dapat merapat
    Tertawa, menangis, memohon kepada para dewa
    Dewa itu dekat dihadapannya
    Dewa itu dibentuknya sendiri

    Semarang, 17 Mei 2003
    Untuk anak-anakku :
    Andrei Febrian dan Bintang Alam Mahardhika, silakan kalian baca juga nak.

    Catatan :
    Patung atau berhala hanyalah jembatan utuk melewati dan mempermudah penyatuan antara dimensi riil dengan dimensi abstrak. Tanpa kehadiran patung/berhala seolah-olah mereka kehilangan pegangan. Hal ini menyebabkan terjadinya dualisme dalam diri patung karena disatu sisi dia berfungsi sebagai jembatan untuk menuju alam abstrak (imajinasi), namun di sisi lain sekaligus dipersonifikasikan sebagai sosok riil yang benar-benar memiliki power. Sehingga terjadilah sakralisasi terhadap wujud patung yaitu adanya rasa takut dan hormat bahkan kadang diberi persembahan berupa sesaji makanan, minuman atau yang lainnya.
    Sedang bagi pemuja yang tidak membutuhkan media perantara, mereka lebih kuat pada gagasan (konsep), pikiran dan perasaan. Sehingga bagi pemuja jenis ini lebih mengandalkan kepada khayalan tentang sosok yang mereka sembah, artinya khayalan itu tidak harus diwujudkan dalam bentuk patung/berhala. Mereka bisa menyembah dengan “konstruksi” khayalannya sendiri. Tuhan ada dimana-mana namun tidak berwajah. Tuhan mereka bisa memberikan petunjuk-petunjuk yaitu melalui “wahyu” yang diterima oleh para pemimpinnya. Akhirnya setelah kumpulan wahyu itu dicatat dan diterbitkan menjadi sebuah al kitab, maka terjadilah sakralisasi terhadap wujud buku tersebut. Sehingga untuk menyentuh dan membacanya ada persyaratan khusus dan disediakan pahala bagi yang membacanya. Pada akhirnya al kitab itu menjelma menjadi “berhala” juga, hanya beda wujud saja yang satu berupa “berhala patung” yang satunya lagi berupa berhala lembaran-lembaran tulisan yang disusun menjadi buku/kitab.

    CATATAN UNTUK RUANG KOSONG
    Oleh : Suprayitno

    Saya tidak tahu bagaimana tanggapan pembaca atas tulisan saya yang berjudul ruang kosong tersebut. Reaksi spontan dan emosional boleh jadi pembaca akan melihat saya sebagai penganut atheisme atau penganut aliran sesat. Tentu saya bisa memahami. Namun, perlu saya ingatkan bahwa “segala sesuatu bisa terjadi karena adanya ruang kosong, jadi jangan sekali-kali kita anggap remeh ruang kosong”. Tidak mungkin ada kehidupan tanpa adanya ruang kosong. Tidak mungkin ada satu gagasan pun yang lahir tanpa adanya ruang kosong. Sama seperti tidak mungkin kita makan jika tidak ada ruang kosong untuk menyimpan makanan. Yang menjadi masalah dengan cara bagaimana kita isi ruang kosong tersebut, sehingga yang semula “tidak ada” menjadi “ada”, yang semula kosong menjadi terisi.
    Hamparan lahan ruang kosong sungguh tak terbatas. Karena, ia adalah serupa dengan pikiran dan angan-angan kita. Kita bisa menggambari ruang kosong dengan berbagai macam citra. Oleh karena itu jika ruang kosong kita gambari “wajah Tuhan” maka seketika Tuhan pasti ada/hadir sesuai dengan bagaimana kita mendesainnya (sesuai dengan citra yang kita bentuk). Kemudian Tuhan segera menjelma, menjadi kekuatan yang maha dahsyat akibat dari konstruksi pemikiran kita. Di sinilah misteri manusia dengan angan-angannya. Sebab dari angan-angan ini akan dapat menimbulkan suatu tenaga dari dalam yang sangat besar.
    Tuhan benar-benar ada sesuai dengan bagaimana kita memikirkannya. Tuhan dan “hantu” memang tidak sama, namun keduanya adalah obyek “abstrak” yang bisa hadir sesuai dengan bagaimana kita mencitrakannya. Citra adalah sebuah produk yang tidak lepas dari faktor “kultur” sehingga persepsi “hantunya” Amerika tentu berbeda dengan citra “hantu” orang Indonesia pada umumnya. Hantu Amerika sering digambarkan sebagai vampir yaitu sosok yang mempunyai gigi taring menyeramkan, sedang hantu versi Indonesia selalu digambarkan dengan sosok “pocongan”. Perbedaan kedua citra ini karena latar belakang kultur yang berbeda antara Amerika dengan Indonesia.
    Jika kita lebih banyak belajar antropologi budaya bangsa-bangsa lain di dunia, kita pasti bisa menemukan perbedaan-perbedaan citra Tuhan. Yang sering menjadikan pertanyaan adalah mana yang paling benar dari sekian banyak interpretasi (citra) tentang Tuhan? Jika jawabannya mengacu pada kriteria “materialisme” maka “Tidak ada jawaban yang benar!!” namun jika mengacu pada pendekatan “spiritualisme” maka semua jawaban bisa “benar”.
    Sehubungan dengan “materialisme (obyektifitas)” dan “spiritualisme (subyektifitas)” marilah kita coba bahas mengenai “ada” (penjelmaan ini). Ada sebuah contoh kongkrit yang dapat kita buktikan yaitu tentang perasaan takut, stres, depresi dan berbagai macam kecemasan akibat dari pemikiran kita. Maksudnya jika ruang kosong yang ada dalam kepala kita (pikiran kita), kita biarkan tetap kosong maka sebenarnya tidak mungkin kita merasa takut, tidak mungkin ada stres,tidak mungkin ada depresi.Takut, stres, dan depresi adalah sebuah respon psikologis karena ruang kosong yang ada di dalam kepala kita, telah kita ciptakan sebagai “medan tempur” dan ladang pembantaian dari seluruh pikiran maka akhirnya kita akan dibantai oleh pikiran sendiri. Contoh lain, ketika kita biarkan ruang kosong itu apa adanya sebenarnya “libido” kita tidak akan terangsang, tetapi ketika ruang kosong itu telah di isi dengan fantasi sex (angan-angan) maka segera libido kita akan terangsang dan bangkit.
    Kesimpulan saya, pada awalnya sebenarnya Tuhan tidak ada, dia menjadi ada ketika “ruang kosong yang ada di kepala kita” kita gambar citra Tuhan dengan berbagai sifat yang maha sempurna. Segala sesuatu jika dibiarkan “kosong” sebenarnya tidak akan lahir apa pun, sebab kosong dan isi, ada dan tiada tergantung pada angan-angan dan pikiran kita.
    Angan-angan atau citra tentang kesempurnaan Tuhan sebenarnya hanya satu, tetapi penafsirannya bisa beragam tergantung dari latar belakang kultur,pendidikan, dan sosial penafsirnya.
    Oleh karena itu fakta menunjukkan bahwa banyak karakter Tuhan, Dewa, Malaikat, Syaitan, hantu, atau jin yang dapat kita peroleh dari para “juru gambar” atau juru dakwah dari waktu ke waktu dari abad ke abad dari dulu hingga hari ini.
    Citra itu banyak diwarnai oleh kultur setempat, contoh dalam Islam diperbolehkan adanya polygami. Polygami ini diklaim sebagai mendapat restu dari Tuhan karena tertuang dalam ayat Al Qur’an QS 4 : 3 (An-Nisa ayat 3) atau lihat juga surat Al Ahzab (QS33 : 50 dan 51). Ingat bahwa pada saat itu poligami adalah hal yang wajar dalam budaya Arab sehingga Tuhan pun tidak risih untuk menyampaikan masalah poligami kepada nabinya (legalitas ini dikabarkan sebagai pesan atau wahyu dari Tuhan, Tuhan menurut versi orang Arab tentunya). Sedangkan citra Tuhan untuk suku pedalaman di Irian tentu lain dengan suku pedalaman di Kalimantan, lain pula dengan citra Tuhan beserta dewa-dewanya bagi warga China, Yahudi, Arab atau India dalam hal hubungan jender ini. Kemudian dalam ritual persembahan pun digambarkan ada dewa yang menyukai “kepala kerbau” , ada dewa yang menyukai babi panggang dan sebaginya.
    Pemahaman tuhan universal (yang sama atau yang satu) terletak pada mereka percaya bahwa “Tuhan maha sempurna“ Tuhan maha superioritas atas segalanya. Semua agama atau kepercayaan apa pun pasti menempatkan Tuhan pada posisi yang maha tinggi melebihi ketinggian apa pun.
    Namun akhirnya, derivat kata sempurna dan superioritas serta maha tinggi bisa dimaknai dan berkembang sampai kemana-mana. Misalnya menjadi Tuhan maha perkasa, maha pengasih, maha penyayang, maha pencipta, maha besar, maha tahu, maha esa, maha kaya, maha kuasa dan sebagainya. Inilah yang dikatakan bahwa pemahaman tentang Tuhan sebenarnya memiliki citra universal yaitu “Tuhan Hanya Satu” yang berbeda dalam mengembangkan kata “Tuhan maha sempurna, superior dan maha tinggi.” Seperti apa sebenarnya superioritas, maha tinggi dan kesempurnaan yang dimiliki oleh Tuhan itu? Disinilah “bursa” pemikiran tentang Tuhan menjadi sangat riuh rendah dari dulu hingga hari ini. Para nabi berlomba-lomba “mendesain” tuhan dengan segala macam sifat dan kegemaranNya.
    Citra bisa saja diubah untuk kepentingan politik menjadi “WAHYU” dari Tuhan. Nah, seberapa dahsyat “desain atau citra” itu tergantung dari seberapa hebat sang arsitek (nabi) dalam mengemas dan mewartakannya. Semakin hebat sang arsitek (biasanya ditandai oleh kemampuan ilmu magis) tentu hasil citranya akan sangat mengagumkan bagi yang percaya.
    Kembali ke ruang kosong, jika pikiran kita tidak pernah menggambari “citra diri” maka kita tidak akan pernah mengetahui apakah kita ada atau tiada. Ada atau tiadanya kita tergantung kepada pemikirannya, contoh kongkritnya adalah jika kesadaran seseorang telah dimatikan atau dibius total, maka yang ada dalam dirinya hanyalah “ruang kosong tiada batas.”
    Dengan demikian orang tersebut pasti tidak akan mengetahui lagi apakah dirinya “ada” atau “tiada.” Penyakit alzhaimer (kerusakan sel otak) yang parah akan membuat seseorang benar-benar tidak mengerti apa pun termasuk keberadaan dirinya. Amnesia juga bisa menyebabkan seseorang mengalami disorientasi, menjadi tidak mengenal dirinya dan lingkungannya.
    Sisi lain yang menarik dari persoalan ini adalah “Apakah kematian berarti menuju ruang kosong?” Jawabannya, jika mati berarti “musnahnya” atau hilang total semua tingkat kesadaran dan perasaan maka mati hanyalah titik nol alias kembali ke alam kosong tanpa batas.
    Jiwa, roh, dan tubuh adalah tiga serangkai yang masing-masing tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Ketiganya merupakan mata rantai yang saling terhubung secara aktif. Jiwa adalah permukaan yang dapat dikenali (ibaratnya sinar dari pijaran lampu bohlam) sedang pijar yang ada di dalam bohlam itu sendiri adalah “pikiran dan perasaan”.
    Dari gejolak pikiran dan perasaan inilah lahir sikap hidup yang berupa gejolak jiwa (bandingkan dengan nyala bohlam listrik, sinar redup atau terang adalah merupakan jiwa dari bohlam sedang titik pijarnya atau pikirannya ada di titik pusat bohlam itu sendiri).
    Dengan demikian, jiwa adalah merupakan produk dari pemikiran, perasaan dan sikap. Jiwa selalu mengikuti pikiran dan perasaan. Kalau pikirannya sakit dengan sendirinya jiwanya pasti sakit, kalau pikirannya kacau, jiwanya pasti ikut kacau, jiwa yang sakit menunjukkan pikiran yang sakit begitu sebaliknya.
    Jiwa dan pikiran ibarat dua sisi dari satu keping mata uang, satu tetapi dua dan dua tetapi satu. Jiwa bisa berkembang, sehingga ada jiwa anak-anak atau jiwa orang dewasa. Jiwa juga memiliki karakter sehingga jiwa laki-laki pada umumnya berbeda dengan jiwa perempuan. Tetapi “ROH” tidak bisa berkembang, roh tidak memiliki perasaan,karena roh hanyalah merupakan “setrum/energi” kehidupan.
    Adakah “roh yang menderita sakit?” apakah kita pernah mendengar sakit roh? Yang kita kenal “sakit jiwa” bukan? Roh dalam pandangan saya, tidak bisa sakit dan tidak bisa mati karena roh adalah semacam energi listrik untuk membangkitkan tenaga. Roh atau arwah tidak bisa salah, roh tidak bisa dihukum, roh tidak bisa berpikir, roh tidak memiliki wujud,roh juga tidak memiliki jenis kelamin dan roh selalu berada dalam kekinian yang abadi oleh sebab itu roh tidak mengenal umur. Roh adalah bagian tak terpisahkan dari segala sesuatu yang hidup secara biologis.
    Jadi tidak ada bedanya antara roh bayi dengan anak-anak, roh orang dewasa dengan roh kakek-kakek juga tidak ada bedanya antara roh manusia dengan roh binatang, roh bakteri dan roh gajah. Mengapa bisa begitu? karena roh hanyalah satuan energi. Energi tentu tidak bisa sakit dan tidak bisa habis (mati) tetapi bisa berpindah menjadi bentuk energi lain, misalnya energi listrik yang berubah menjadi energi cahaya (lampu). Namun roh atau energi bisa tidak berfungsi manakala keberadaannya tidak ditunjang oleh infrastruktur (kondisi jaringan tubuh) yang sehat. Roh itu secara otomatis akan menyatu kembali dengan alam tak terbatas manakala media keberadaannya (yaitu badan kita) telah rusak atau mati. Energi/roh itu seterusnya akan bergabung dengan kehidupan baru lagi dalam bentuknya yang lain, tidak pernah putus dan berhenti sampai kapanpun, sebab energi tak pernah habis. Tempat roh hanyalah badan (jaringan tubuh yang baik) dia sama sekali tidak memerlukan tempat lain. Roh tidak butuh tempat seperti surga apalagi neraka. Pertanyaannya apakah pengertian roh sama dengan nyawa? Harusnya sama hanya beda istilah saja.
    Uraian di atas hanyalah untuk melengkapi pertanyaan tentang “Apakah kematian berarti menuju ruang kosong?” Saya sadar bagi golongan orang-orang yang beragama atau beriman pasti akan menyanggah dan menolak mentah-mentah pendapat saya tersebut. Mungkin mereka akan berkata “Apa gunanya kita beribadah kepada Tuhan misalnya menyembah (sholat), memuji, berpuasa dan berbagai macam ibadah lainnya jika ternyata tidak ada surga ? Kalau begitu tidak adil, enak menjadi penjahat saja dari pada menjadi orang baik jika setelah mati kelak tidak ada punish and reward (hukuman atau ganjaran, surga atau neraka) dari Tuhan.”
    Benarkah menjadi “orang jahat” itu enak? Hanya orang gila atau yang “jiwanya sakitlah” yang secara sadar memilih “hidupnya” dalam kegelapan atau kejahatan. Maling pun saya kira tidak pernah “secara sadar” bercita-cita dirinya ingin menjadi maling.
    Saya pribadi sekalipun tidak percaya adanya “surga dan neraka” tetap memilih jalan hidup “kebaikan bagi sesama”. Sebab, nalar sehat selalu berpikir bahwa kebaikan lebih menguntungkan untuk kita semua, sedang kejahatan akan menimbulkan kerusakan, dendam dan malapetaka baik bagi pelakunya maupun orang lain. Jadi motivasi berbuat baik bukanlah untuk mencari ganjaran dari tuhan berupa surga, tetapi demi kedamaian dan ketentraman bersama. Ini bukan fantasi melainkan tujuan riil kehidupan. Tujuan hidup adalah untuk kebaikan bersama. Apakah ada agama yang menolak pendapat ini, sekalipun pendapat ini berasal dari kafirisme?
    Surga bermula hanyalah dari “imajinasi” orang-orang yang gagal (miskin dan lemah baik secara sosial maupun intelektual), padahal hidup memerlukan solusi kongkrit bukan angan-angan tanpa batas. Orang lapar butuh makan, orang haus butuh minum, orang salah “harus dihukum sesuai dengan kesalahannya” bukan dipasrahkan kepada Tuhan supaya kelak dihukum di neraka.
    Hidup adalah realita dimana masing-masing akan menjadi “survival of the fittest” hanya yang kuat dan bisa berevolusi (menyesuaikan keadaan) yang bisa bertahan hidup.
    Bagi yang lemah dan tidak bisa menyesuaikan diri, dengan sendirinya secara alamiah akan mati, tersingkir atau terpinggirkan. Hal ini tidak ada kaitannya dengan “kejahatan” sebab setiap makhluk hidup apa pun jenisnya entah itu virus, bakteri, tumbuh-tumbuhan, binatang atau pun manusia selalu akan berjuang untuk mempertahankan hidupnya masing-masing dengan berbagai cara. Ini adalah tujuan pertama/dasar dari kehidupan, yaitu mempertahankan kehidupan yang telah ada pada dirinya. Sehingga tikus makan tanaman padi sampai ludes bukanlah kejahatan, walaupun manusia membencinya.
    Manusia memiliki kepekaan terhadap lingkungan hidup untuk saling bekerja sama bukan saling membunuh, oleh karena itu spirit survival of the fittest yang ada pada manusia seharusnya tetap pada bingkai kasih dan kemanusiaan yang adil dan beradab. Jika tidak dilandasi semangat persaudaraan dan persamaan, maka kekejaman manusia dalam mempertahankan hidup dan hegemoninya sungguh sangat dahsyat karena manusia bisa membunuh sesama secara massal dalam seketika dengan cara yang sangat kejam menggunakan weapons of mass destruction (WMD).
    Lihat pembunuhan yang bercorak sentimen “suku” atau ras yang terjadi antara suku Dayak dengan suku Madura di Kalimantan, juga peperangan yang terjadi antar negara (lihat ganasnya perang dunia I atau perang dunia II dan berbagai macam perang yang hingga hari ini terus berkobar).
    Sekali lagi pertentangan atau kontroversi mengenai surga-neraka menunjukkan bahwa “ada atau tiada sebenarnya tergantung dari pikiran kita.” Jika pikiran kita sejak awal sudah dikonstruksikan “ada” maka dengan sendirinya orang yang beriman berpikir bahwa setelah mati roh akan ditempatkan di surga atau neraka tergantung pada tingkah laku semasa hidupnya.
    Namun, daripada berdebat tentang sesuatu yang belum jelas kebenarannya, sekarang bagaimana cara mencapai kebenaran terhadap sesuatu hal yang abstrak? Tuhan adalah sesuatu yang sangat abstrak, dia dikatakan ada namun dimanakah keberadaannya? Tiap hari kita menyembah Tuhan, namun tahukah dimanakah Dia berada? Apakah Tuhan berada disuatu tempat?
    Tempat Tuhan hanyalah berada di angan-angan, sebab keberadaannya tidak bisa digapai oleh apa pun kecuali oleh “angan-angan” itu sendiri. Orang-orang yang sedang khusuk melakukan ritual agama adalah orang-orang yang penuh dengan angan-angan di kepalanya. Angan-angan bahwa Tuhan akan berkenan untuk memberikan petunjuk, angan-angan agar Tuhan berkenan untuk mengabulkan berbagai macam keinginan dan harapan, angan-angan agar Tuhan berkenan melimpahkan rezeki dan seterusnya. Tuhan adalah ruang kosong tak terbatas, yang hanya bisa didekati melalui angan-angan, imajinasi dan mimpi-mimpi. Salahkah orang yang berimajinasi tentang Tuhan? Salahkah orang yang berangan-angan bahwa Tuhan akan memberi petunjuk-petunjuk? Tidak ada satu orang pun bahkan “negara” sekali pun yang bisa menyalahkan, mengadili atau membatasi angan-angan.
    Semua orang berhak “bermimpi dan berimajinasi” tentang Tuhan, sebab bermimpi dan bercengkerama dengan Tuhan bagi sebagian orang merupakan suatu kenikmatan yang sangat indah (sesuai dengan apa yang kita angan-angankan). Yang menjadi masalah dan menjadi salah adalah ketika mimpi-mimpi itu diangkat sebagai “fakta” (menjadi agama) yang kemudian diajarkan secara baku kepada orang lain. Sebagaimana kita berkhayal tentang “cinta” dan hidup yang bahagia, berkhayallah sepuasnya sepanjang khayalan itu untuk kepentingan dan kenikmatan pribadi, jangan paksakan orang lain untuk mempercayai dan ikut menikmati khayalan tersebut.

    Jika kita mengatakan Tuhan itu “ada” maka apakah sebenarnya “ada” itu? Bagaimana cara membuktikan ada? Jika “ada” tidak bisa dibuktikan keberADAannya, bisakah kita mengatakan “ada”? Lawan dari ada adalah “tiada” bisakah sesuatu yang tiada kita katakan ada?

    Mari kita berpikir apakah itu “ada” dan apa itu “tiada” Apa itu yang disebut “benar” apakah benar itu ada pengetahuannya? Apa yang disebut pengetahuan yang benar dan apa yang disebut pengetahuan yang sesat?
    Bagaimana cara mengetahui pengetahuan yang benar dan bagaimana pengetahuan yang sesat? Apakah kebenaran selalu menuntut bukti? Bagaimana jika tidak bisa dibuktikan, bisakah disebut benar? Bagaimana cara membuktikan “bukti yang benar dan bukti yang salah atau bukti yang sesat”?
    Jangan anggap remeh ruang kosong sebab ketika dia sudah di isi, pengaruhnya terhadap seseorang bisa sangat luar biasa. Dia bisa membuat seseorang menjadi teroris, menjadi sedih, gembira, brutal, sadis, penuh kasih, dendam, atau apa pun bisa terjadi termasuk membunuh orang yang tidak berdosa. Ingat betapa banyak perampokan, perkosaan yang menimpa anak-anak, dan betapa banyak bom yang diledakkan untuk membunuh orang-orang tak berdosa. Semua tindakan itu berawal dari pikiran yang kacau. Pikiran kacau bisa datang karena ruang kosong yang ada dalam diri seseorang telah di isi atau dihipnotik dengan pengetahuan yang sesat atau oleh doktrin yang sesat demi motivasi pribadi atau demi perjuangan golongan (primordialisme dan tribalisme).
    Oleh karena itu hati-hatilah para guru, para pemimpin atau para pedagang dalam mengisi ruang kosong kepada kepala atau otak orang lain, sebab akibatnya bisa sangat fatal dan lepas kendali. Bisa saja seseorang merasa “paling benar” meskipun sebenarnya dia salah, bisa saja seseorang menganggap dirinya pahlawan meskipun sebenarnya dia penjahat, bisa saja seseorang merasa pintar meskipun sebenaranya dia “bodoh” bisa saja seseorang menjadi begitu yakin bahwa hanya dialah yang paling “berhak masuk surga” paling sholeh,paling beragama paling suci dan seterusnya meskipun jalan yang dia tempuh sebenarnya merusak kehidupan.
    Cobalah segala sesuatu kita pikir secara ilmu pengetahuan yang berbasis fakta dan diolah melalui logika bukan dengan pendekatan mistik dan kepercayaan yang diolah melalui “emosi/iman” saja. Hidup ini terlalu berarti jika hanya diisi dengan “fantasi” kebenaran dan berbagai mitos.
    Narkoba, minuman keras, tontonan dan bacaan porno, serta doktrin yang sesat, termasuk bebarapa faktor yang dapat mengisi ruang kosong menjadi angan-angan yang membahayakan baik untuk jiwa, badan dirinya maupun orang lain. Lebih berbahaya lagi ketika angan-angan itu berubah wujud menjadi tindakan brutal (terorism). Otak yang sudah terisi (baik atau pun buruk isinya) akan terus meluncur bagai bola salju. Sulit dicegah namun bisa dikendalikan dengan ilmu pengetahuan, bagi orang yang beragama sering berkata “bisa dikendalikan dengan iman”. Itulah mengapa aku tulis tema “RUANG KOSONG” ini. Sebuah ruang yang tak terpisahkan dengan sebongkah otak yang dibalut tulang keras pada kepala kita.

    Semarang, 17 Mei 2003
    Untuk anak-anakku tersayang
    Andrei Febrian dan Bintang Alam Mahardhika, silakan kalian baca juga nak, mudah-mudahan bisa mengerti dan memahami.

  8. D. Henry Basuki said

    Namo Buddhaya,
    Sorry, saya koreksi. Anda bukan anggota MAGABUDHI Vihara Tanah Putih, tapi anggota MAGABUDHI Cabang Kota Semarang karena ada berdomicili di Kota Semarang. Keanggotaan Magabudhi berdasarkan domicili sesuai dengan regional negara, bukan vihara.
    Dalam Magabudhi anda dalam pembinaan siapa ?
    Sabbe satta avera hontu.

  9. lovepassword said

    MEt Tahun Baru Mas Ratna

  10. mampir nich dari Jaksel…
    saya suka blog anda jasa pengamanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: