RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

KONTROVERSI BUDDHA-BAR

Posted by ratanakumaro pada April 17, 2009

BUDDHA BAR & KAPITALISME

Oleh: Ponijan Liaw

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”

( tikkhattum ; 3X )

Nammatthu Buddhassa,

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Berikut ini adalah tulisan dari Bp. Ponijan Liaw, seorang ummat Buddha yang sudah sangat terkenal di kalangan Buddhis. Artikel ini merupakan kiriman seorang sahabat baik, seorang kalyanamitta, bagi rekan-rekan blogger yang sudah lama berkecimpung di dunia maya ini sudah pasti kenal, namun tidak bisa saya sebutkan namanya, karena saya belum minta ijin pada Beliau.

Tulisan ini menyikapi perkembangan kontroversi dari keberadaan Buddha Bar, yang menggunakan simbol-simbol agama Buddha bagi kepentingan bisnis, dan bisnis tersebut adalah bisnis tempat “hiburan”, yang sarat minuman keras, dan hal-hal lain, yang bertentangan dengan nilai-nilai Buddhisme.

Semoga postingan wacana dari Bp. Ponijan Liaw ini, yang telah saya percantik dengan foto-foto sebagai ilustrasi, bisa membawa manfaat. Selamat Membaca 😉 .

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ratusan mahasiswa dari dari Aliansi Mahasiswa Buddhis menyegel Buddha Bar di Jl. Jalan Teuku Umar, Jakarta, Kamis (5/3). Mereka mengecam keberadaan Bar itu

Massa yang tergabung dalam Persatuan Budhis Banten menggelar aksi penuntutan penutupan Buddha Bar di pintu barat Monas, Jakarta Pusat, Senin (16/3).


Kecewa, tersinggung dan marah. Itu barangkali yang paling pas menggambarkan situasi yang menguras energi kognisi dan afeksi satu elemen warga bangsa ini: umat Buddha karena eksistensi Buddha Bar di kawasan elit Jakarta. Kehadiran bar ini berhasil menggelorakan dan merekatkan semangat persatuan seluruh komponen Buddhis dari berbagai tradisi dan lokasi. Suatu pertanda bahwa ada sebuah peristiwa yang luar biasa tengah berlangsung di panggung kehidupan ini.

Terminologi ’Buddha’ yang mengandung multimakna sakral: tokoh panutan, yang tercerahkan, dan tujuan akhir kemana umat menuju, telah diabrasi dan dinistakan oleh kapitalisme global di kancah nasional. Kapitalisme machiavelistis semacam ini tentu tidak dapat dijadikan tradisi apalagi transaksi. Disana ada simbol-simbol suci yang dihormati dan diagungkan.

Dunia telah mencatat betapa praktik semacam ini telah mengalami badai protes yang tiada pernah akan surut. Lihat saja, bagaimana ketika di pusat bisnis Mid Town Man Heaton di New York, akan dibangun sebuah bar dengan nama Apple Mecca, yang bagi keyakinan muslim, nama ini tentu tidak asing berarti Ka’bah Macca/Mecca. Apalagi dengan desain eksterior depan yang menyerupai ka’bah. Berbagai kecaman datang menghujani sang kapitalis, Apple Computer. Perusahaan yang terkenal dengan produk iPod-nya itu dituduh telah menghina Islam dengan pendirian bar dimaksud. Apa pasalnya? Sebagaimana lazimnya bar, bar ini dapat dipastikan menyajikan minuman beralkohol, anggur (wine) maupun minuman yang memabukkan lainya. Masyarakat Muslim New York melakukan penekanan kepada pemerintah setempat untuk tidak memberi lisensi bar ini. Dan, akhirnya proyek itu tidak berjalan sebagaimana direncanakan.

Massa yang tergabung dalam Persatuan Budhis Banten menggelar aksi penuntutan penutupan Buddha Bar di pintu barat Monas, Jakarta Pusat, Senin (16/3).

Ratusan mahasiswa dari dari Aliansi Mahasiswa Buddhis menyegel Buddha Bar di Jl. Jalan Teuku Umar, Jakarta, Kamis (5/3). Mereka mengecam keberadaan Bar itu

Di Inggris ada sebuah contoh lain soal ini. Ada sebuah ajuan proposal untuk membuka sebuah korporasi dengan nama Yesus. Perdebatan panjang pun terjadi antara sang pemohon dan badan pencatatan hak merek dagang. Padahal tempat itu bukanlah bar yang dilarang oleh hampir semua agama dan produk yang akan dijual di toko itu bukan pula alkohol dan sejenisnya. Yang akan didagangkan disana adalah sabun, parfum, alat-alat optik, logam mulia, kulit, tekstil, garmen, dan lain-lain. Sang pemohon lisensi berdalih bahwa nama Yesus adalah nama depan banyak orang di Inggris. Buktinya, ada terdapat sedikitnya 27 nama Yesus dalam London Telephone Directory. Namun, pejabat perijinan tetap bersikukuh bahwa nama itu lebih identik dengan nabi pembawa agama ketimbang nama pribadi masyarakat awam. Apalagi komunitas Inggris, mayoritas kristen.

Alasan penolakan lainnya adalah Konvensi Paris 1883 tentang Perlindungan Kekayaan Industri yang ditandatangani juga oleh negara kerajaan itu. Dalam pasal 6 konvensi itu jelas dinyatakan bahwa sebuah proposal harus ditolak jika dianggap bertentangan dengan moralitas dan tatanan kehidupan masyarakat. Akhirnya nama Yesus sebagai korporasi komersial tidak dicatatkan di negara liberal tersebut.

Kembali ke persoalan domestik: Buddha Bar. Ada sebuah ironi fundamental yang fatal disini. Bagaimana merek dagang restoran waralaba ini bisa terdaftar di Perancis pada 26 Juli 1999, sementara negara ini menjadi tuan rumah Konvensi Paris 1883 yang memuat substansi penghormatan terhadap moral dan norma-norma kehidupan? Disini, ada cacat sejarah dan prosedur pencatatan merek global ini di negara asalnya. Melalui negara-negara anggotanya, baik yang menandatanganinya di konvensi awal mau pun yang meratifikasinya kemudian (termasuk Indonesia), perlu kiranya melakukan peninjauan kembali atas semua itu.

Sekitar 200 umat Budha dari Majelis Agama Budha Theravadda Indonesia (Magabudhi) berdemo di depan Budha Bar di Jl Teuku Umar, Jakpus

Sekitar 200 umat Budha dari Majelis Agama Budha Theravadda Indonesia (Magabudhi) berdemo di depan Budha Bar di Jl Teuku Umar, Jakpus


Dalam lingkup Indonesia, eksistensi Buddha Bar, paling sedikit bersinggungan dengan beberapa aspek: legal, moral dan spiritual. Pertama, secara legal, jelas sekali ia bertentangan dengan UU No. 15/2001 tentang Merek. Di pasal 5 jelas dinyatakan bahwa merek tidak dapat didaftar apabila merek tersebut mengandung salah satu unsur di bawah ini: bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, moralitas agama, kesusilaan, atau ketertiban umum. Artinya, apa yang boleh dibangun di luar, dengan berlindung di bawah payung waralaba, tidak serta-merta bisa didirikan disini. Apabila merek dimaksud bertentangan dengan nilai-nilai sosial-religius masyarakat lokal.

Ambil contoh, judi. Di Malaysia ada Genting Highlands, tempat resmi untuk berjudi. Apakah Indonesia bisa mengikutinya? Tentu tidak! Karena ada undang-undang yang memberikan koridor atas apa yang boleh dijadikan usaha dan tidak. Ada limitasi konstitusi disini. Jika mengacu pada logika sederhana tersebut, jelas kehadiran Buddha Bar dapat dipahami sebagai sebuah irisan tajam ke ulu hati para penganut agama ini.

Thailand, Singapura dan Malaysia saja dengan tegas telah menolak kehadiran bar macam ini. Bagaimana negeri ini bisa mengamini pendiriannya? Produk hukum berikut yang dilanggar oleh pendirian bar ini adalah kesepakatan Konvensi Paris 1883 yang telah diratifikasi dengan Keputusan Presiden RI No. 15 tahun 1997. Disana dengan jelas diuraikan bahwa hal-hal yang bertentangan dengan moral dan tatanan kehidupan masyarakat tidak boleh mendapatkan ijin. Lebih jauh lagi, UU No 1/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, khususnya pasal 156 juga mengatur hal senada. Dan, yang paling anyar dipublikasikan ke masyarakat adalah soal tempat Buddha Bar itu sendiri, yakni gedung kuno eks kantor imigrasi Belanda. Ada UU No 5 tahun 1992 tentang cagar budaya yang mengaturnya disana.

"Kesatuan Umat Beragama Tolak Buddha-Bar dan Penistaan Agama" ; Demo didepan Gedung Departemen Pariwisata, Senin 30 Maret 2009, 13.00 WIB /sd sore

"Kesatuan Umat Beragama Tolak Buddha-Bar dan Penistaan Agama" ; Demo didepan Gedung Departemen Pariwisata, Senin 30 Maret 2009, 13.00 WIB /sd sore

Menurut pasal 19 ayat 2 (b) dijelaskan bahwa pemanfaatan benda cagar budaya tidak dapat dilakukan semata-mata untuk kepentingan pribadi dan/atau golongan. Kemudian juga dalam konteks kepariwisataan, pemanfaatan peninggalan purbakala, peninggalan sejarah, seni budaya menurut pasal 6 UU No 9 tahun 1990, harus memperhatikan nilai-nilai agama, adat-istiadat, serta pandangan dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Mengapa kedua UU ini tidak menjadi acuan legal-formal ketika perijinan pendirian bar itu akan dieksekusi? Ada kesenjangan pemahaman publik dan masyarakat soal ini. Namun, untuk poin terakhir ini (UU No 5 tahun 1992), khalayak perlu bersyukur karena KPK akan segera menelusurinya. Kedua, kontradiksi pendirian Buddha Bar bersinggungan dengan moralitas.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, bar adalah tempat minum-minum (biasanya minuman keras, seperti anggur, bir, wiski). Jelas dan terang. Mau kemana nasib anak bangsa (terutama generasi mudanya yang mencapai 80 juta jiwa) ini akan dibawa jika lisensi bar semacam itu terus diberi? Ini menjadi tugas KPK berikutnya untuk meneliti proses transaksi lisensi negeri ini yang katanya paling tidak transparan sedunia. Ketiga, secara spiritual, jelas penggunaan simbol-simbol suci keagamaan mana pun oleh para kapitalis pasti akan terus mendapatkan kecaman dan tentangan sepanjang sejarah kehidupan manusia. Tengok saja bagaimana fluktuasi emosi massa mengemuka ketika simbol-simbol agama dipakai secara tidak semestinya di Denmark (kasus kartun Nabi Muhammad) dan cover Tempo beberapa waktu lalu tentang ’The Last Supper’ itu muncul. Deretan kasus lainnya: cover album Iwan Fals ’Manusia 1/2 Dewa’ harus berurusan dengan umat Hindu, termasuk juga cover buku Supernova, Dewi Lestari yang memuat simbol/huruf AUM yang merupakan simbol suci umat Bali itu. Termasuk juga suatu kali desain poster film Amerika ”Hollywood Buddha” dengan seorang pria duduk di atas pundak patung Buddha dengan alat vitalnya menyentuh tengkuk Buddha. Reaksi keras dari dunia pun bertubi-tubi menghampiri.

Sejarah telah mengajarkan kepada kita, berhati-hatilah dengan penggunaan simbol keagamaan. Simbol tidak tepat menimbulkan kontroversi yang hanya menguras energi kognisi dan afeksi sehingga menumpulkan simpul-simpul humanitas alami. Kondisi ini, jika tidak segera diatasi akan menjadi bom waktu dalam jangka panjang. Untuk itu, alangkah bijaksana jika sederet peraturan (pusat & daerah) dan undang-undang selalu dijadikan acuan sebelum sebuah lisensi dieksekusi. Sistem komputerisasi peraturan harus mampu mengakses aturan yang menjadi syarat sebuah lisensi bisa dieksekusi. Hal ini bukan hanya untuk menjaga wibawa lembaga melainkan juga memberikan ketentraman lahir dan batin bagi komunitas yang akan terikat olehnya.

Sebagai penutup, kiranya hasil konferensi agama-agama monoteis yang disponsori Arab Saudi di Madrid Spanyol, Juli 2008 lalu perlu didukung. Konferensi itu menghasilkan sebuah komunike bersama yang isinya antara lain menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-banga (PBB) agar segera membuat kesepakatan internasional yang menyatakan bahwa menghina atau melecehkan agama lain merupakan tindakan kriminal, serta kesepakatan tentang upaya melawan terorisme. Lebih lanjut, konferensi yang dihadiri oleh 200 peserta dari berbagai latar belakang agama itu memutuskan perlu adanya kesepahaman tentang pentingnya saling menghormati setiap agama dan simbol-simbol keagamaan, dan bagi siapa pun yang melanggarnya dianggap telah melakukan tindakan kriminal. Sebuah keputusan bajik dan bijak.

Semoga dengan mengedepankan hati nurani, para penggiat di PBB akan segera mengadopsi nilai-nilai intrinsik mulia itu sehingga tidak akan ada lagi praktik kapitalisme barbar di muka bumi ini. Semoga.

__________________

“Jangan menipu orang lain, atau menghina siapa saja; Jangan karena marah dan benci, mengharap orang lain celaka.”

( Karaniyamettasutta ; Palivacana )

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

40 Tanggapan to “KONTROVERSI BUDDHA-BAR”

  1. CY said

    Bisa jadi itu semacam trik marketing agar bisa populer tanpa mengeluarkan biaya iklan terlalu besar hehehe…

  2. Tedy said

    Salam damai dan sejahtera utk semua makhluk!

    Klo dari pandangan saya sih, biasa2 aja tuh. Maksudnya kehadiran buddha bar, mengandung sukha dan dukkha. Tergantung sudut pandang yg dilihat. Dukkha-nya yaitu saya sedih melihat Buddha-Rupam dijadikan simbol kenikmatan inderawi. Sukha-nya yaitu berarti Arahat Sammasambuddha Metteya semakin cepat muncul, karena moral manusia merosot. Asyik kan bisa mendengar dhamma langsung dari Sammasambuddha! Makanya semua Buddhis rajin-rajinlah menanam kebajikan agar dapat terlahir pada masa kehidupan Beliau dan merealisasi nibbana! 🙂

    Semoga semua makhluk berbahagia!

  3. 3yoga said

    @ Tedy
    wah pemikiran yang moderat ….

  4. Hidayat said

    rahayu
    dari kejadian tersebut diatas, saya melihat benar-benar bahwa umat buddha benar-benar mencintai agamanya, umat buddha bukan umat penakut, dan para kaum pemecah belah sudah memberikan aksi dan melihat reaksinya bahawa kerukunan umat beragama di Indonesia tidak bisa begitu mudah di diadu domba. memang kadang untuk melihat situasi tidak bisa dilihat apa adanya, harus memberikan aksi….
    umat buddha bukan umat yang cuek atas apa yang terjadi. Bahkan Islam pun mengecam kejadian nama Bar itu.
    kita semua harus peka rasa, jaga itu kerukunan, tetap bersatu… jayalah buddha jayalah Indonesia
    wass wb

  5. lovepassword said

    Saya rasa yang ngasih ijin tuh yang bermasalah. Tapi mengapa bisa dikasih ijin – tanda tanya ???

  6. dinivian said

    Itu tandenye kiamet dah deketttt…

    Manusia telah “kehilangan jati diri”nya. Dan hanya “lenyap”lah yang mungkin akan menjawab itu semua…

    Mari kita lebih banyak “berbenah diri”…

  7. Kalau saya sebagai ummat Buddha,
    Tentunya sangat tidak setuju dengan keberadaan Buddha-Bar.

    Karena, Buddha-Rupam adalah simbol yang sangat sakral bagi ummat dunia Buddhisme.

    Semoga, para penggagas keberadaan Buddha-Bar segera menyadari kesalahannya dan menutup Bar tersebut, atau setidaknya jangan memakai simbol2 sakral dari Buddhisme, termasuk namanya harus diganti.

    Hanya, kita juga harus bersikap yang bijak saja, jangan dengan aksi massa yang penuh kekerasan, lantas merusak Bar tersebut apalagi sampai menganiaya secara fisik terhadap para penggagas Buddha Bar.

    Salam 😉

  8. @Lovepassword,

    Iya tuh, yang beri ijin yang keterlaluan.

    Mmm…, perkembangan terakhir, katanya sedang dalam proses tutup atau ganti nama gitu.
    Saya ada berita2nya, kiriman dari seorang sahabat yang sangat baik 😉

    Thanks atas atensimu, sobat 😉

    Salam,

  9. Ini ada berita-berita perkembangan mengenai Buddha Bar, pemberian dari seorang sahabat yang sangat baik :

    Pada hari Kamis, tgl 02 April 2009 yg lalu, sekitar 750 org massa dari FABB (Forum Anti Buddha Bar) berunjuk rasa ke Ditjen.HaKI (Hak dan Kekayaan Intelektual)

    Ditjen.HaKI mengaku TELAH LALAI memberikan merek night club Buddha Bar (BB) krn mereka sendiri dari awalnya tlh melanggar UU No.15 Tahun 2001, tentang Merek, psl 5 huruf merek tidak dpt dilakukan pendaftaran apabila bertentangan dgn MORALITAS AGAMA, kesusilaan dan ketertiban umum, dan huruf (c) nama yang telah menjadi milik umum tidak dapat didaftarkan.

    sebagai contoh : Bakmi Gajah Mada di Jakarta terpaksa mengganti nama menjadi Bakmi GM, oleh karena nama Gajah Mada sdh menjadi milik umum, sehingga tidak boleh dipakai sebagai merek usaha.

    untuk itu Ditjen.HaKI berjanji kepada FABB akan mengupayakan pembatalan merek night club BB dlm tempo 14 hari terhitung mulai tgl 2/4-09.

    dlm unjuk rasa ini, Ditjen.HaKI menyuguhkan makanan dan minuman (makan siang) kpd seluruh pengunjuk rasa, apakah krn merasa bersalah? hanya mereka saja yg tahu, yg pasti FABB menanggapinya secara positif saja.

    Pemilik night club BB (Buddha-bar) ini adalah : Haji Djan Faridz, kebetulan jadi Caleg DPD DKI Jakarta No.Urut.17. seorg pengusaha yg dekat dgn kekuasaan. Beliau tidak mau berdialog dgn FABB walaupun tlh diundang utk mencari jln keluar atas kasus night club BB ini.

     Night Club BB ini juga telah melanggar Konvensi Paris 1883, kemudian KUHP pasal 156 penistaan dan penodaan agama, Keppres No.15 tahun 1997, dan UU NO.42 tahun 2009, tentang Waralab

    organisasi yg tergabung didalam FABB antara lain :

    SAGIN (SANGHA AGUNG INDONESIA )
    STI ( SANGHA THERAVADA INDONESIA )
    SMI (SANGHA MAHAYANA INDONESIA )
    WALUBI (PERWAKILAN UMAT BUDDHA INDONESIA )
    MBI (MAJELIS BUDDHAYANA INDONESIA )
    MAGABUDHI (MAJELIS AGAMA BUDDHA THERAVADA INDONESIA )
    MAJABUMI (MAJELIS AGAMA BUDDHA MAHAYANA INDONESIA )
    MAJELIS AGAMA BUDDHA TRIDHARMA
    HIKMABUDHI (HIMPUNAN MAHASISWA BUDDHIS INDONESIA )
    SIDDHI (SARJANA DAN PROFESIONAL BUDDHIS INDONESIA )
    SEKBER PMVBI
    ADOPTABI:

  10. SURAT DARI SANGHA THERAVADA INDONESIA BERKAITAN DENGAN BUDDHA BAR
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    SANGHA THERAVĀDA INDONESIA
    Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya, Jl. Agung Permai XV/12,
    Jakarta 14350. Telp (021) 64716739. Faks (021) 6450206.
    Vihara Mendut, Kotakpos 111, Kota Mungkid 56501,
    Magelang. Telp (0293) 788236. Faks (0293) 788404.

    Nomor : 003/STI/III/2009 Kota Mungkid, 4 Maret 2009
    Hal : Petunjuk Moral

    Kepada
    Y.M. Para Bhikkhu Anggota Sangha Theravàda Indonesia
    di tempat

    Namo Buddhaya

    Sehubungan dengan munculnya berbagai pertanyaan perihal penggunaan nama Buddha dan penempatan patung Buddha di “Buddha-bar”, Jakarta; berikut ini kami menyampaikan beberapa petunjuk moral untuk menyikapi hal tersebut di atas.

    1.
    Penggunaan nama Buddha dan penempatan patung Buddha di “Buddha-bar”, Jakarta, dipandang tidak etis bagi kehidupan sosial masyarakat Buddhis.
    mul t: 2.
    Kami harap Bhante/Avuso memberi nasihat kepada umat Buddha agar tidak merespon hal tersebut di atas dengan tingkahlaku yang tidak sesuai nilai-nilai Dhamma, karena tingkahlaku itu justru akan merendahkan / mengorbankan kemuliaan Buddhadhamma yang kita junjung tinggi di atas segala-galanya. Sikap tepat bagi umat Buddha untuk menyelesaikan hal tersebut hendaknya dengan cara yang mengutamakan pikiran bijak, bermoral, dan kejernihan batin sesuai dengan nilai-nilai kemuliaan Buddhadhamma.

    Semoga Bhante/Avuso dapat menjalankan tugas pengabdian Dhamma dengan tetap bersemangat dan tenang batin. Semoga Tiratana selalu melindungi.

    SANGHA THERAVADA INDONESIA

    Bhikkhu Jotidhammo, Mahathera
    Ketua Umum / Sanghanayaka

    Tembusan :

    1.
    Yth. PP Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi), Jakarta
    2.
    Yth. PP Wanita Theravada Indonesia (Wandani), Jakarta
    3.
    Yth. DPP Pemuda Theravada Indonesia (Patria), Jakarta

  11. Jakarta – Protes terhadap Buddha Bar masih terus berlanjut. Sekitar 100 mahasiswa Buddha mendemo bar tersebut. Mereka menuntut bar yang memakai simbol agama Buddha itu ditutup.

    Aksi itu digelar mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiwa Buddhies di depan Buddha Bar, Jl Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (5/3/2009).

    Dalam aksinya, selain berorasi mahasiswa juga membakar dupa, dan membawa bunga. Mereka membacakan doa-doa agama Buddha.

    Selain itu mereka membawa aneka poster yang bernada protes kepada Buddha Bar. Poster itu antara lain berbunyi ‘Buddha Bar Melecehkan Agama Buddha’ dan ‘Buddha Bar Menggangu Kerukunan Umat’.

    Menurut koordinator aksi Eko Nurgroho, pihaknya memberikan batas waktu seminggu bagi Pemprov DKI dan kepolisian untuk menyegel Buddha Bar.

  12. Jakarta – Setelah menuai sejumlah protes, PT Nerata, pemilik Buddha Bar sedang mengupayakan untuk mengubah nama waralaba dari Paris tersebut. Buddha Bar dipastikan tidak akan disegel.

    “Oh tidak (disegel). Nanti baru kita omongkan dengan PT Nereta. PT Nereta sedang menghubungi Paris untuk meminta izin perubahan nama,” kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto.

    Hal itu disampaikan Prijanto usai menerima perwakilan dari Forum Anti-Buddha Bar di Balaikota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (2/3/2009). Sebelumnya forum tersebut curhat ke PKB.

    Prijanto memaparkan maksud kedatangan Forum Anti-Buddha Bar.
    Intinya, tidak setuju nama Buddha dipakai untuk nama-nama bisnis. Kedua, tidak setuju akseksoris patung Buddha dipakai di cafe tersebut.

    Namun, kata dia, ada 2 permintaan dari forum tersebut yang salah alamat. Pertama, meminta PT Nereta untuk meminta maaf kepada umat Buddha. Kedua, meminta label Buddha Bar dilarang masuk ke Indonesia .

    “Tetapi menurut kita, untuk label Buddha Bar itu bukan porsi kita karena itu urusannya HaKI,” ujar eks Asisten Teritorial KSAD ini.

    Izin

    Prijanto juga membeberkan latar belakang Dinas Pariwisata mengeluarkan izin penggunaan nama Buddha Bar..

    Dikatakan dia, ada 3 surat yang diterima Dinas Pariwisata yang menyetujui penggunaan nama Buddha Bar. Surat itu dikirim dari Forum Komunikasi Buddha Indonesia. Kedua, DPP Buddha Mahayana Majabumi, dan DPP Generasi Budhis Indonesia.

    “Ketiga organisasi itu sekarang ini sudah demisioner dan tidak ada,” ujarnya.

    Kok bisa keluar izinnya? “Saat itu, 3 organisasi ini datang memberikan persetujuan lewat surat yang masuk ke Dinas Pariwisata. Sedangkan dari Walubi belum ada jawaban sehingga Dinas Pariwisata mengeluarkan izin,” beber dia.

    Pemilik yang mempunyai saham di Buddha Bar disebut-sebut adalah Puan Maharani, Renny Sutiyoso, Djan Farid dan Peter F Sondakh. (aan/iy)

  13. Rabu, 18/03/2009 14:47 WIB
    Depag Minta Buddha Bar Cepat Ganti Nama
    Manda Ferdina – detikNews

    Buddha Bar Menuai Protes Jakarta – Setelah mendapat protes, akhirnya manajemen Buddha Bar di Indonesia menyanggupi untuk mengganti nama usahanya. Namun pelaksanaannya masih dikonfirmasikan pada Buddha Bar di Prancis.. Depag meminta agar pergantian ini dilakukan secepatnya.

    “Bapak JS sanggup untuk menginformasikan keadaan ini kepada pihak pemilik franchise Buddha Bar di Paris serta Bapak JS juga telah merencanakan nama lain sebagai pengganti Buddha Bar,” ujar Dirjen Bimbingan Masyarakat Buddha Depag Budi Setiawan.

    Hal itu disampaikan Budi dalam jumpa pers di kantor Depag, Jl Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Rabu (18/3/2009).

    Budi berharap agar pergantian nama Buddha Bar dilakukan secepat mungkin. Budi juga menyatakan pihaknya telah meminta bantuan kepada Dubes RI di Paris untuk mengeluarkan surat edaran yang menginformasikan bahwa PT NFC akan mengganti nama Buddha Bar..

    Surat edaran bernomor DJ VI/2/BA.00/202/2009 tertangal 12 Maret 2009 ditujukan kepada para sangha, pandita, cendekiawan, pemuda, wanita, dan mahasiswa Indonesia.

    Budi menolak menyebutkan kepanjangan PT NFC maupun inisial JS.

    Budi juga meminta umat Buddha agar tetap tenang dan dapat menjaga kerukunan hidup beragama selama proses pergantian nama dilakukan.

    Buddha Bar di Indonesia terletak di Jl Teuku Umar No 1 Menteng. Bar waralaba dari Prancis ini diprotes karena menggunakan simbol-simbol agama Buddha.
    (nik/nrl)

  14. Senin, 06/04/2009 12:32 WIB
    Pertemuan Tripartit Buddha Bar Ricuh
    Muhammad Taufiqqurahman – detikNews

    Jakarta – Dirjen Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) Depkum HAM Andi N Sommeng mengadakan pertemuan dengan konsultan Buddha Bar, PT Nireta, Forum Antibuddha Bar, dan Dinas Pariwisata Pemprov DKI Jakarta. Pertemuan tersebut berlangsung tegang dan panas.

    Pertemuan berlangsung di Kantor Ditjen HAKI, Tangerang, Banten, Senin (6/4/2009).

    Dalam pertemuan tersebut, tiba-tiba saja pendukung Buddha Bar, Gema Buddhi, Lius Sungkarisma masuk ke ruangan pertemuan. Saat masuk, perwakilan Forum Antibuddha Bar mempertanyakan kehadiran Lius.

    “Ini Anda dari perwakilan mana? Ini yang datang hanya undangan. Anda mewakili undangan siapa?,” kata perwakilan Antibuddha Bar, Ponijan sambil mengacungkan salah satu jarinya ke Lius.

    Spontan para perwakilan Forum Antibuddha Bar di dalam ruangan berteriak, “Biang kerok!! Provokator datang! Tolong diusir keluar!”.

    Lius pun mengatakan, keberatannya atas pertemuan tersebut. Menurut Lius, pertemuan tersebut tidak steril dan berpihak. Pendukung Buddha Bar justru banyak sekali.

    “Saya mempertanyakan kenetralan dari forum ini yang tidak berpihak dan sangat berpihak kepada kelompok yang lain. Saya bisa tunjukkan bahwa orang Buddha Bar akan datang lebih banyak yang mendukung dan akan saya tunjukkan yang banyak,” tukas Lius.

    Mendengar pernyataan Lius itu, 20-an orang Forum Antibuddha Bar menyambut,”Hayo tunjukkan!!”.

    Sebagai pimpinan pertemuan, Dirjen HAKI Andi N Sommeng pun kewalahan. Pertemuan pun diisi dengan banyaknya debat dengan suasana panas.

    (gus/nwk)

  15. 卓俊樺 said

    Hi mas Ratana,

    menurut mas, karma buruk apa yang akan diterima oleh si Lius ini ? 😀

  16. Hmm…. hampir 90% pengunjung Puan Maharani, Renny Sutiyoso dan Caleg DPD Djan Fariz Miliki Buddha Bar memiliki pendapat yang serupa yakni tidak etis menggunakan nama/simbol agama untuk bisnis terlebih bisnis yang merusak moralitas.
    Mendukung atau menolak merupakan fenomena bathin yang akan memunculkan “jejak”. Jika menolak dalam artian tidak mendukung dan menyerukan secara hukum ataupun diplomatis agar manajemen Buddha Bar mengundurkan niatnya dengan bathin yang sabar dan motivasi baik, tentu ini merupakan suatu latihan. Namun, jika menolak dengan kemarahan, tentu akan mengotori “jejak” bathin.
    Pembahasan yang dilakukan Mr. Ponijian sudah bagus, dalam artian tidak memancing emosi yang tidak terkontrol.

  17. Semoga kita bisa menyikapinya dengan bijak.
    Semoga permasalahan ini segera menemukan solusinya 😉

    Sadhu…Sadhu…Sadhu… 😉

  18. @Zen Tao Ba 😉

    karma buruk apa yang dilakukan Lius dan buahnya apa?

    jawabannya : KEGELAPAN BATIN 😀 , dan buah karma buruknya berupa : KEBODOHAN ( ! ) :mrgreen:

  19. To : All

    Menurut saya, semua ini karena ada sebabnya bila tak ada sebab mana mungkin ada akibat yg kayak gini….

    Ingatkah kita pada candi Borobudur yg akan dijadikan tempat untuk perdagangan bebas diseluruh dunia???

    Siapa yg protes?? Umat Muslim Muhammadiyah!!!

    Mana umat Buddha??? Ada sih, tapi dikit banget!!!!

    Sekarang ada lagi Buddha Bar, ini karena umat Buddha yg peduli dengan agamanya sangat sedikit!!!! Maka dari itu banyak org geblek yg punya pikiran gak waras buat bisnis ngaco kayak gitu. Maka dari itu, aktif dan sebarkan ajaran Buddha kepada keluarga anda sendiri masing-masing sebelum anggota keluarga anda diberikan biti-bibit ajaran lain!!!

    Ini bukan pemaksaan ajaran, tapi mengajak sanak saudara kita yg beragama Buddha untuk mengerti Dhamma. Bukan mengajak sanak keluarga yg telah memiliki keyakinan lain. Hal ini dinamakan pendidikan sejak dini.

    Bangun, Sadar, Aktif, untuk Buddha Dhamma!!!!

    Salam Viriya!!!
    Ali

  20. Dear WLS / Sasana Putra 😉

    Salam Viriya!! 😉

    Peace & Love

  21. budhi said

    itu bukannya bermaksud menghina agama buddha kali mas,namanya orang cari duit,mana sempet kepikiran agama apalagi soal kebuddhaan.
    karena kalo yg dikejer itu duit,menurut bahasa mahayananya bodhicittanya itu tidur,jadi patut diberi maaf aja soalnya emang ga punya buddhi,tentu cenderung khilaf dan ga mempunyai kesadaran untuk menimbang semua laku perbuatannya itu benar atau salah,yg penting kan dapet duit,pake nama yg semenarik mungkin supaya orang2 bisa lebih mudah digasak duitnya he he he…..
    jadi menurut ogut sih ga ada maksud buat menghina,dan sekalipun bermaksud menghina,kan bisa diumpamakan meludahi matahari….mesti balik ke wajahnya sendiri,so gua sih cuek bebek aja boss… 😀

  22. budhi said

    di bandung sini malah ada “ayam goreng” Semar,udah gitu ga enak lagi ayamnya,tapi tetep aja ogut sih ga kesinggung, soalnya ogut kerasa emang ga ada maksud ngejek atau ngehina selain cari duit n untung yg banyak melalui sarana ngejual makanan…..

    nanti gua mau bikin lah,es dawet kristus sama batagor mahdi he he he…..

    Salam 😀

  23. budhi said

    btw,kalo ke bandung sini,jgn lupa,makan di RAJA RASA,daerah setrasari sana,kepiting keratonnya enak banget boss….

  24. To : Bro Budhi

    Bro Budhi, anda jangan terlalu sering mengumbar kama raga lewat salayatana, nanti yg timbul akan selalu tanha dan lebih bahaya lagi bila udah jadi upadana maka akan semakin merosot kualitas batin anda.

    Sebagai siswa Buddha saya ajak anda untuk mengenal pancakkhandhan anda sendiri dengan praktik majjhimapatipada.

    Kalo gak paham apa yg saya ketik anda bisa tanyakan sama yg empunya blog ini.

    Semoga anda paham Jalan Tengah yg luhur dari Sang Buddha ini.

    Anumodana.

    Ali Sasana Putra

  25. Tedy said

    To : Bro Wen Lung Shan

    Boleh tau ngk salayatana artinya apa sih? Tq.

    Mettacitena

  26. 卓俊樺 said

    kalo ga salah, salayatana artinya 6 indra yaitu telinga, mata, hidung, lidah, badan dan pikiran 🙂

    sebenarnya karena ada upadana, makanya kita sekarang menjelma jadi manusia. ^^”

  27. Dear All 😉
    Salam Damai dan Cinta Kasih,
    Salam Hormat saya untuk Anda semuanya 😉

    Apa yang diutarakan brother Ali, sesungguhnya merupakan suatu proses yang menerangkan hukum Paticcasamuppada [betul begitu ya ? Kalau keliru, mohon koreksinya 😉 ] . Sebagai seorang Guru Agama, wawasan dan pengetahuan Brother Ali memang sungguh luar biasa, sangat mencerminkan kualitas seorang Guru Agama Buddha 😉 .

    Paticcasamuppada terdiri dari dua belas mata rantai. Secara ringkas, maka hukum paticcasamuppada tersebut dapat diterangkan sebagai berikut :

    “Dengan adanya ini, adalah itu, dengan timbulnya ini timbullah itu. Dengan tidak adanya ini, tidak adalah itu, dengan lenyapnya ini, lenyaplah itu”.

    Penjabarannya adalahsebagai berikut :

    1. Avijja paccaya sankhara : Dengan adanya Avijja (kebodohan bathin) maka muncullah Sankhara (bentuk-bentuk karma).
    2. Sankhara paccaya vinnanam : Dengan adanya Sankhara (bentuk-bentuk karma) maka muncullah Vinnana (kesadaran).
    3. Vinnana paccaya nama-rupam : Dengan adanya Vinnana (kesadaran) maka muncullah Nama-Rupa (bathin jasmani).
    4. Nama-Rupa paccaya salayatanam : Dengan adanya Nama-Rupa (bathin-jasmani) maka muncullah Salayatana (enam landasan indera).
    5. Salayatana paccaya phasso : Dengan adanya Salayatana (enam landasan indera) maka muncullah Phassa (kesan-kesan/kontak).
    6. Phassa paccaya vedana : Dengan adanya Phassa (kesan-kesan kontak) maka muncullah Vedana (perasaan).
    7. Vedana paccaya tanha : Dengan adanya Vedana (perasaan) maka muncullah Tanha (keinginan rendah).
    8. Tanha paccaya upadanam : Dengan adanya Tanha (keinginan rendah), maka muncullah Upadana (kemelekatan)
    9. Upadanna paccaya bhavo : Dengan adanya Upadana (kemelekatan) maka muncullah Bhava (penjadian).
    10. Bhava paccaya jati : Dengan adanya Bhava (penjadian) maka muncullah Jati (kelahiran).
    11. Jati paccaya jara-maranam : Dengan adanya Jati (kelahiran) maka muncullah Jara (ketuaan) dan Marana (kematian).

    Demikianlah hukum Paticcasamuppada tersebut berlaku. Semoga penjelasan singkat ini bermanfaat. Bila ada kekeliruan , mohon koreksinya. 😉

    Peace & Love

  28. Buddhi said

    Memang bener saudara wen lung san,terima kasih atas anjurannya,karena sekali lagi,sungguh benar sekali lebih baik merasakan,menyadari,sukur2 jikalau sampai bisa mengamati serta mampu melihat gerak gerik,pembawaan serta sifat2 ,sukur2 lagi jikalau sampai bisa melihat asal mula adanya dari pancakhandanya sendiri,dengan begitu HUKUM bisa sungguh2 kita hayati, disini,sekarang ini,bukan kemaren atau nanti sehingga pengertian yg kita miliki itu bukan lagi pengertian yang masih meraba-raba.pengertian yg masih diliputi oleh keraguan2 dan dirundung rasa gelisah serta khawatir, melainkan pengertian yang memang tumbuh didalam diri kita sendiri,tidaklah terpisah dari diri kita sendiri,tumbuh secara alamiah dari pengalaman kita sendiri.Itu mungkin bedanya NYANA dengan Teori pengetahuan biasa.

    Iki lan saiki iki iku kasunyatan,jika tidak,berarti masih berupa khayalan.Khayalan itu mainannya anak kecil,khayalan itu pekerjaannya orang yang miskin pengalaman hidupnya,semakin miskin pengalaman tentu seseorang semakin muluk pula angan2 serta khayalannya.Karenanya bisa dibilang,asal mula adanya Tuhan serta ilmu2 spiritual itu digagas oleh angan2 manusia yg apes serta cilaka hidupnya.

    Tapi memang ga ada manusia yang bisa langsung tumbuh menjadi dewasa,ga ada orang yg bisa kaya tanpa pernah bertindak dan berusaha,dan ga ada juga pohon yang belum dewasa mampu menjatuhkan buahnya, begitupula dalam DHAMMA SANG BUDDHA,DHAMMA yang ga bisa dioyo-oyo pertumbuhannya,ga bisa dipikir2 perkembangannya,karenanya cuma sekedar bisa dipraktekkan.

    Terima kasih anjurannya bro wen lung san,

    Peace n Love too

  29. To : All

    Terima kasih atas sanjungan Mas Ratana dan respon dari saudara Budhi.

    Kita semua yg belum terbebas dari dukkha, namun kita masih dapat berlatih dengan giat.

    Untuk Mas Ratana, masih kurang 1 rantainya yaitu: Jara Maranam Paccaya Avijja (Dengan adanya Kelapukan dan Kematian, maka menimbulkan Kebodohan Batin). Rantai yg dibabarkan oleh Mas Ratana itu merupakan rantai untuk makhluk Putthujjana. Nanti berbeda rantainya bila membahas makhluk-makhkluk Ariya Puggala.

    Kembali kepada putthujjana, bahwa kita sebagai makhluk putthujjana setiap detik dicengkram oleh 108 Tanha. Akan saya jelaskan. mohon koreksi bila tidak pas dengan analisa saudara se-Dhamma.

    INDERA OBYEKNYA
    MATA ………….BENTUK/WARNA
    TELINGA ………….SUARA
    HIDUNG ………….AROMA
    LIDAH ………….RASA
    JASMANI ………….SENTUHAN
    BATIN/PIKIRAN ………….GAGASAN/IDE

    *SALAYATANA (6 INDERA) DIBELENGGU OLEH 3 JENIS TANHA: KAMA TANHA, BHAVA TANHA, VIBAHAVA TANHA. JUMLAHNYA 6 x 3 = 18 TANHA

    *ARAMMANA (OBYEK INDERA) DIBELENGGU OLEH 3 JENIS TANHA: KAMA TANHA, BHAVA TANHA, VIBAHAVA TANHA. JUMLAHNYA 6 x 3 = 18 TANHA

    *SALAYATANA 18 + ARAMMANA 18 = MENGKONDISIKAN 36 TANHA.

    *36 TANHA x 3 MASA/WAKTU (LAMPAU, SAAT INI, AKAN DATANG) = 108 TANHA.

    INILAH ANALISA TENTANG 108 TANHA YG MEMBELENGGU DIRI KITA. UNTUK ITU MUNGKIN UMAT MAHAYANA MEMAKAI TASBIH BERJUMLAH 108 BIJI DAN DGANTUNGKAN DILEHERNYA AGAR SELALU MENGINGAT 108 TANHA YG MEMBELENGGU KITA SETIAP MOMENT (APAKAH BENAR? ITU MERUPAKAN LAMBANG SAJA!)

    Sebagai renungan apakah kita setiap detik menyadari dan berlatih, saat 6 indera kita kontak dengan obyeknya apakah masih timbul 3 jenis Tanha? atau sudah mampu menimbulkan Panna (kebijaksanaan). Mungkin kita masih lalai. Dengan mengatakan bahwa, “Waduh setiap kali saya lalai nih, selalu produksi Tanha!”.

    Itu berarti anda sudah sadar, itu lebih baik berarti anda mau dan akan terus berlatih hingga tercapai ‘Pantai Seberang’. Namun adapula orang yang gak tahu dan gak mau tahu tentang kualitas dirinya.

    Buddha sendiri dalam Dhammapada Bala Vagga 64 berkata:
    “Orang dungu yang menyadari kedunguannya masihlah terhitung bijaksana; sedangkan si dungu yang menganggap dirinya bijaksana itulah yang disebut orang yang benar-benar dungu.”

    Jadi kita masih dapat disebut orang bijak yg mampu melihat kekurangan kita. Selanjutnya marilah kita terus berjuang untuk bener-bener menjadi Bijak seperti yg Buddha tunjukkan.

    Semoga bermanfaat
    Ali Orang Yg Masih ‘Bodoh’

  30. Ruangan Masih Bertabur Ornamen Buddha

    VIVAnews – Meski telah berganti nama menjadi Bataviasche Kunstkring, Buddha Bar tetap membiarkan ruangannya dipenuhi ornamen Buddha.

    Manager Operasional Buddha Bar, Henry Marheroso, beranggapan ornamen tersebut bagian dari keindahan ruang usahanya. “Kami belum ada rencana mengubah ornamen yang sudah terpasang di sini,” ujarnya, Selasa 21 April 2009.

    Lagipula, kata Henry, untuk melepas patung-patung Buddha dan ornamen yang telah terpasang membutuhkan izin dari pemegang lisensi Buddha Bar di Prancis. “Kami masih menunggu keputusan dari mereka (pemegang lisensi),” ujarnya.

    Pantauan VIVAnews, satu patung Buddha berukuran besar masih terpajang di salah satu sudut di lantai 2. Sedangkan patung dengan ukuran kecil bertaburan menghiasi dinding.

    Mengenai pergantian nama, manajemen Buddha Bar di Indonesia sebenarnya juga masih harus menunggu keputusan dari Prancis. Namun, hal itu mendesak dilakukan untuk meredam gejolak di tanah air. Lagipula izin usahanya juga telah dicabur Dirjen HaKI pada 15 April lalu.

    Ketua Umum Generasi Muda (Gema) Buddhis, Ronny Hermawan, meminta kaum Buddha menyelesaikan masalah ornamen dengan musyawarah. Ia menyarankan masalah itu diselesaikan dalam Konferensi Agung Sangha Indonesia. “Karena masalah ornamen berkaitan dengan masalah akidah agama Buddha,” ujarnya.

    Buddha Bar merupakan usaha waralaba yang berpusat di Prancis. Di Jakarta, lisensinya dipegang PT Nireta Vista Creative. Bar mewah itu juga ada di sejumlah kota besar dunia seperti Dubai, Kiev, Dublin, New York, dan New York.
    • VIVAnews
    Pipiet Tri Noorastuti, Zaky Al-Yamani

    Sumber:
    http://metro.vivanews.com/news/read/51138-ruangan_masih_bertabur_ornamen_buddha

  31. CY said

    Saya ada usulan teruntuk manajemen buddha bar pusat di Perancis :

    Gimana kalau di dinding2 ruangan sekalian dipahat Sutta2 dari Tripitaka berikut terjemahannya dlm bahasa masing2 negara tempat buddha bar tersebut berada?? :mrgreen:

    Paling tidak para pengunjung yg membacanya ada sebagian yg tercerahkan utk mengikuti “way of Buddha”.

  32. To: All

    Setuju sekali sama usulan Bro CY. Saya juga ada usul gimana kalo setiap minggu di adain Kebaktian (Puja Bhakti), saya siap jadi pemimpin upacaranya dan saya siap buat nganterin Bhikkhu yg mau ceramah kesono, dan saya juga siap untuk jadi guru Dhammaclass disono Free gak butuh bayaran dari pemegang saham waralaba Francis, mau Dhammaclass setiap malem 2 jam saya jabanin!!!!!!!

    Anumodana
    Ali

  33. Dear All 😉

    Wuahhh…, enak ya kalau seluruh Buddha Bar menyetujui usulannya Ko CY and Bro Ali .. 😉

    Ikutan setuju deh 😀 :mrgreen:

    Peace & Love

  34. sumantoro~RE said

    menurut saya kasus Buddha bar menunjukkan kebobrokkan agama Buddha di indonesia. Hal ini terungakap ketika makin ditelusuri lebih jauh ternyata yang ada di belakang berdirinya Buddha bar adalah orang-orang yang sebenarnya dianggap besar dan dihormati oleh umat Buddha. Saya tidak akan meninjau apakah ini bernuansa politik atau bukan karena saya sendiri bukan orang yang berpengalaman dalam hal itu.
    Yang saya sayangkan, kenapa orang yang sebenarnya tahu Dhamma dan kadang dianggap umat Buddha sebagai Dhammaduta ternyata dia sendiri yang mencoreng eksistensi agama Buddha di Indonesia.
    Dulu saya menganggap bahwa mereka yang ada di belakang kasus ini adalah orang besar dalam tatanan ssosial agama Buddha. Dan memang anggapan tersebut tidak salah kalau dulu saya mengartikan sebagai orang yang berjiwa besar sedangkan sekarang saya mengartikan mereka sebagai orang yang mempunyai keserakahan yang besar karena menganggap bahwa Buddha bar adalah ladang yang subur dalam memperbaiki ekonomi dirinya atau keluarganya.

    Ada beberapa tokoh yang terlibat bahwa protes umat Buddha terhadap keberadaan kasus Buddha bar tidak sesuai dengan ajaran Agama Buddha. yang menjadi pertanyaan “sebenarnya yang sesuai agama Buddha itu seperti apa?” mereka sangat mudah mengatakan hal seperti itu, karena mereka menganggap karena tindakan mereka itu benar.
    memang sangat ironis, Gajah-gajah dalam lingkup agama Buddha. selalu merasa benar dan menganggap bahwa umat Buddha semut kecil yang gampang diatur dan di-adu.
    saya hanya berharap bahwa orang-orang yang mempunyai pengaruh dan dianggap besar dalam agama Buddha yang ada di balik kasus Buddha bar segera dirinya masing-masing dan bila masih menganggap bahwa keberadaan Buddha bar itu etis menurut agama Buddha tolong jelaskan letak ke-etis-anya. apakah etis di tutup dipaksa ataukah ditutup dengan baik-baik setelah mereka menyadari (Jika menyadari) akan pentingnya eksistensi umat Buddha di Indonesia.
    SEJAUH INI SAYA MELIHAT TERNYATA LEBIH BAIK ORANG KECIL YANG TAHU SEDIKIT DHAMMA DAN MEMPRAKTEKKANYA, WALAUPUN HANYA BISA MEMBEDAKAN MANA YANG BAIK DAN MANA YANG KURANG BAIK; DARIPADA ORANG BESAR YANG TAHU BANYAK DHAMMA DAN MENJADIKANNYA SEBAGAI SUMBER PENGHASILAN, SUMBER KETENARAN, DAN SUMBER PENGARUH.
    “SEMOGA BUDDHA BAR SEGERA DITUTUP”
    ………………………………………………………………………………………..
    Namo Buddhaya,

    Selamat datang sdr. Sumantoro,
    Salam kenal dan salam persahabatan dari saya.

    ” Meskipun hanya membaca sedikit kitab suci, namun ia melaksanakan Ajaran Dhamma dengan sungguh-sungguh, melenyapkan pandangan keliru, nafsu raga dan kebencian, tidak melekat pada apapun dalam kehidupan ini maupun dalam kehidupan yang akan datang, maka ia akan mendapat manfaat dari kehidupan dalam pasamuan para Bhikkhu/petapa.”
    [ Dhammapada ; Yamaka-Vagga, 1 : 20 ]

    Terimakasih atas sumbangan komentar anda disini yah…,

    Semoga Anda Senantiasa Selamat Sejahtera,
    Sadhu,Sadhu,Sadhu… .

  35. yudi said

    Buddha bar itu adalah pelanggaran hukum baik internasional maupun nasional…
    sepertinya ada KKN Korupsi,Kolusi dan Nepotisme di badan PEMDA DKI JAKARTA yang telah mengeluarkan uang sebesar Rp.100 milyard http://www.antikorupsi.org dan http://www.kpk.go.id (saya rasa harus diselediki lebih lanjut tentang KKN nya Pak, jangan sampe gubernur dan dinas pariwisata tambah tebal kumisnya)untuk renovasi dan ternyata di buat tempat club malam untuk menghina agama orang lain.
    Apakah ini yang dinamakan pemerintahan berasaskan pancasila dan UUD 1945???
    NKRI berlandaskan hukum. Bukan hukum yang cuma dibuat untuk GERTAK SAMBEL…
    seperti Polisi yang ingin menegakkan hukum tapi dia juga suka memberikan contoh pelanggaran hukum.
    Atau hukum berlaku diskriminatif hanya berlaku untuk non-muslim, Contoh selain Buddha Bar ternyata Polisi juga takut menangkap orang-orang yang keluar tanpa menggunakan helm dan mengibarkan sebuah bendera majelis dalam agama Islam atau satu organisasi yang pakaiannya mirip abang jampang, saya punya bukti kuat bahwa organisasi abang jampang itu mendukung Buddha Bar.
    Yang lucunya lagi pemerintah Indonesia sendiri tidak peduli terhadap hal-hal seperti ini tidak usah jauh-jauh dalam sumpah pemuda telah disebutkan tentang kedudukan bahasa Indonesia, tapi orang pemerintahan tidak becus memberi contoh pemakaian bahasa Indonesia dengan baik. Sangat disayangkan bangsa yang besar memiliki ORANG-ORANG YANG BOBROK MORALNYA… SELAMAT HARI ANTI KORUPSI…

  36. MILITAN BUDDHIS INDONESIA said

    SALAM PERJUANGAN
    UNTUK SELURUH UMAT BUDDHA…
    JANGAN PASIF, INI ADALAH MOMENTUM DIMANA BUDDHIS ADA DI INDONESIA. LIHAT DONG SEJARAH NEGERI INI. WALAU MEMANG ADA YANG INGIN MENGHILANGKAN SEJARAH AGAMA BUDDHA DI NEGERI INI. MAKANYA JANGAN PASIF…
    AYO BANGKIT BANGKIT BANGKIT…

  37. Adrian Adi said

    Saya sependapat kalau masalahnya bahwa hal ini kurang etis.

    Tapi mohon renungkan pemikiran saya ini… sebagai umat Buddha, kita tentu sudah mengenal Kamma, perbuatan benar-salah, baik-buruk, kenapa tidak kita serahkan saja sepenuhnya pada kekuatan Kamma ini ?

    Protes boleh saja.. tapi kalau sampai marah karena merasa terhina, saya berpikir , apa pantas sebagai siswa Sang Buddha masih marah-marah ?

    Yang penting umat Buddha harus kompak dalam memboikot BB..

    Mettacitena,
    Namo Buddhaya

  38. wiwin said

    Setuju…. Hukum Karma akan berjalan terus tanpa memandang bulu……

  39. What’s up Dear, are you actually visiting this website regularly, if so after that you will absolutely take nice know-how.

  40. Hi to every body, it’s my first go to see of
    this website; this webpage consists of amazing and genuinely fine stuff for readers.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: