RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

ARTI DOA [ Menurut Buddhisme ]

Posted by ratanakumaro pada Juni 28, 2009

“Sesuai dengan benih yang kita tabur, begitulah buah yang akan kita petik. Pembuat kebajikan akan memperoleh kebahagiaan dan pembuat kejahatan akan memperoleh penderitaan.”

[Samyutta Nikaya I, 227]

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattum (3X) )

Namatthu Buddhassa,

Saya pernah mendapat pertanyaan dari seorang non-Buddhis berkaitan dengan “doa” . Begini pertanyaannya, Jika sosok “Yang-Maha-Kuasa” dan “Yang-Maha-Pencipta”  ditolak keberadaannya oleh Sang Buddha, lalu, kepada siapakah ummat Buddha berdoa ? Saya melihat ummat Buddha banyak yang kaya-raya, makmur, darimanakah itu bila bukan dari “Yang-Maha” ? Ataukah itu dari Sang Buddha ? “

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin menyitir ungkapan yang sangat terkenal dari Descartes, Bapa filsafat idealisme. “Cogito Ergo Sum”, yang artinya, “Aku berpikir, maka Aku Ada”, demikian Descartes berkata. Psikologi modern  juga menyatakan bahwa kita adalah buah pikiran kita sendiri, sebuah temuan ilmiah yang sangat selaras dengan apa yang diajarkan Sang Buddha lebih dari 2.550 tahun yang lalu. Ketika seseorang berdoa, maka sebenarnya ia sedang melakukan proses “sugesti” dan “afirmasi” bagi dirinya sendiri. Dan kemudian ia mendapatkan kelegaan serta keteguhan dari “doa” yang ia ucapkan pada suatu sosok “Yang-Maha-Segala”. Kelegaan dan keteguhan itu sesungguhnya hanyalah efek psikologis semata dari hasil “sugesti” dan “afirmasi” yang ia tanamkan dalam “jiwa” melalui untaian kata-kata indah yang terangkum dalam doa tersebut, bukan berasal dari “sentuhan-tangan-Yang-Maha-Kuasa” . Inilah efek yang diciptakan oleh pikiran melalui “iman” dan “devosi” umumnya ummat manusia.

Dalam satu kesempatan, Sang Buddha bersabda, “Tumhehi kiccam atappam akkhataro Tathagata”, yang artinya, Usaha harus dikerjakan oleh dirimu sendiri. Para Tathagata hanyalah Guru.” ~ Dhammapada v.276.

Sang Buddha tidak pernah mengajarkan para siswa-Nya untuk berdoa dan berserah diri pada “Maha-Dewa” siapapun namanya, termasuk kepada Sang Buddha sendiri. Kebalikan dari ajaran “berserah-diri” tersebut,  Sang Buddha justru mengajarkan para siswa-Nya untuk berusaha, berdaya-upaya dengan kemampuan dirinya sendiri, dengan segenap-tenaga, hingga meraih kesuksesan. Untuk itulah, Sang Buddha memberikan rumusan bagi para siswa-Nya supaya berhasil dengan sukses meraih apa yang dicita-citakan, yang disebut dengan “Panca-Bala” :

“Pañcimāni, bhikkhave, balāni. Katamāni pañca? Saddhābalaŋ, vīriyabalaŋ, satibalaŋ, samādhibalaŋ, paññābalaŋ. “

Inilah o para Bhikkhu, lima kekuatan. Apakah lima kekuatan itu? Kekuatan keyakinan (Saddhābalaŋ), Kekuatan ketekunan/ semangat (vīriyabalaŋ), Kekuatan perhatian (satibalaŋ), Kekuatan samādhi/konsentrasi (samādhibalaŋ), Kekuatan Kebijaksanaan (paññābalaŋ).


Inilah kunci  bagi siapapun yang ingin meraih kesuksesan menggapai cita-citanya. Di dalam berusaha mencapai cita-cita, alih-alih menyibukkan diri dengan uncaran doa-doa berjam- jam, kita hendaknya selalu penuh keyakinan, ketekunan/semangat, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan, dalam berusaha dan berdaya-upaya meraih cita-cita, hingga apa yang kita cita-citakan itu berhasil.

Pada suatu kesempatan, Sang Buddha bersabda pada hartawan Anathapindika:

Oh, perumah tangga, di dunia ini ada lima hal yang diinginkan, menarik dan menyenangkan. Apakah kelima hal itu? Tidak lain adalah usia panjang, kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran dan kelahiran kembali di alam-alam Surga. Akan tetapi, oh, perumah tangga, Saya tidak pernah mengajarkan bahwa lima hal tersebut dapat diperoleh dengan doa (acayana) ataupun dengan kaul/nadar (patthana). Jika seandainya dapat diperoleh dengan doa atau kaul/nadar, [maka] siapakah yang tidak akan melakukannya?

Bagi seorang siswa mulia, oh, perumah tangga, yang mendambakan usia panjang, kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran, dan kelahiran kembali di alam-alam Surga; sangatlah tidak tepat apabila ia berdoa atau merasa senang dalam usaha seperti itu. Sebaliknya, ia selayaknya menempuh jalan kehidupan yang mengakibatkan usia panjang, kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran dan kelahiran kembali di alam-alam Surga. Hanya dengan berbuat demikianlah ia dapat memperoleh apa yang diinginkan, menarik dan menyenangkan.


TIDAK PERLU BERDOA, TETAPI KENDALIKANLAH PIKIRAN KITA

Jika Pikiran tidak terjaga,  tindakan jasmani tidak terjaga, ucapan juga tak terjaga, buah pikiran juga tak terjaga. Jika pikiran terjaga, tindakan jasmani terjaga, ucapan juga terjaga, dan buah-pikiran juga terjaga. [ Atthasalini hal.68. The Expositor,Bag.I,halm91 ]

Dalam Dhammapada, terdapatlah kata-kata mutiara Sang Buddha, yang mengingatkan kita semua untuk senantiasa mengendalikan pikiran kita, karena, pikiran adalah pemimpin, karena pikiran kita sendirilah kita bahagia dan  karena pikiran kita sendirilah kita menderita.

“Pikiran itu sangat sulit dikendalikan, Bergerak sangat cepat, Menuju kemana ia mau pergi. Melatih pikiran adalah baik, Pikiran yang terkendali akan membawa kebahagiaan.” [ Dhammapada ; Citta-Vagga 3:4 ]

“Pikiran itu sangat sulit untuk diawasi dan sangat halus, Bergerak kemana ia mau pergi, Orang bijaksana seharusnya mengendalikan pikirannya; Pikiran yang terkendali akan membawa kebahagiaan.” [ Dhammapada ; Citta-Vagga 3:4 ]

“Seseorang yang pikirannya tidak ternoda oleh nafsu, Terbebas dari kebencian, Dapat mengatasi baik dan buruk, Maka tidak ada lagi perasaan takut.” [ Dhammapada ; Citta-Vagga 3:7 ]

Seperti orang menabur benih padi, maka akan tumbuh tanaman padi, demikian pula, benih-benih pikiran baik akan menyebabkan tumbuhnya pohon yang berbuah kebajikan yang bermanfaat bagi si pembuat kebajikan, dan demikianlah sebaliknya. Hukum-alam seperti ini ( Hukum-Alam, sesungguhnya ada lima, yaitu  : utu-niyama, bija-niyama, kamma-niyama, ctta-niyama, dhamma-niyama ), tidak dapat direkayasa dengan “Doa”.

Rahasia kesuksesan dan kegagalan, semua terletak pada, bagaimana kita menggunakan pikiran [mind-set] kita, bagaimana kita mengendalikan pikiran, dan kemana pikiran kita arahkan, bukan pada “kalimah-sakti” yang terangkai dalam sebuah “doa”. Hendaknya hal ini senantiasa kita pahami dengan bijaksana.

KISAH NYATA ; SESEORANG  YANG  BERSANDAR PADA MUJIZAT “YANG-MAHA-KUASA”

Ada sebuah kisah nyata, dari kehidupan di sekitar saya sendiri. Seorang perumah tangga, mempunyai anak tiga. Semenjak menikah, ia tidak pernah mempunyai pekerjaan tetap. Sekian lama tidak terdengar kabar, pada suatu ketika, saya bertemu dengannya. Cukup kagum, karena ia saat itu naik mobil Mercedes Benz, dan bekerja mandiri sebagai seorang kontraktor. Kemudian, setelah bercakap-cakap, barulah saya ketahui, semua modalnya dia peroleh dari pinjaman uang ke “lintah-darat”, dan saat bertemu dengan saya itu sebenarnya dia terlilit hutang yang sangat besar. Untuk membayar hutang-hutangnya kepada “lintah-darat”, dia membuat banyak kartu-kredit. Ia saat itu berkelakar,

” Jika kita punya hutang yang banyak, kita tidak perlu pusing-pusing memikirkannya, biarkan yang meminjamkan uang pada kita itulah yang pusing memikirkan bagaimana menagih uangnya yang kita pinjam, ha ha ha..! “


Seiring berjalannya waktu, kehidupannya semakin “suram”. Mulailah debt-collector bermunculan, karena ia tak mampu membayar angsuran bulanan lagi. Hutangnya ketika itu sudah mencapai 700 juta rupiah. Pada suatu saat, ia menyatakan sesuatu hal pada saya sebagai obat penghalau “pesimisme”-nya sendiri :

“Seseorang pernah memberikan kesaksian di rumah-ibadah tempat istri saya kesana, disana orang tersebut berkata,”Jika didepan saya tidak terdapat satu jalanpun kecuali hanya sebuah dinding tembok, maka sayapun mau untuk lari menabrak dinding tembok didepan saya, karena saya yakin itulah kehendak Tuhan. Dan Tuhan pasti telah menyiapkan rencana indahnya ketika saya lari menabrakkan diri ke dinding tembok tersebut! “

Berdasarkan kesaksian seseorang di sebuah rumah-ibadah itulah, kemudian, pada perjalanan hidupnya selanjutnya, ia benar-benar melakukan hal yang bodoh. Karena merasa sudah tidak ada jalan lagi, maka ia mulai mempunyai pikiran buruk. Ia mulai menipu ke beberapa teman, saudara, dan akhirnya menipu banyak orang. Padahal, terakhir bertemu saya ( yaitu ketika ia menceritakan kisah “kesaksian” diatas ), ia pun telah terbelit pada hutang kartu kredit dan hutang yang lainnya hingga 700 juta rupiah.

Ketika ia merasa terpojok, ia dan istrinya memutuskan bercerai. Namun dengan perjanjian, bahwa ia tetap tinggal dirumahnya. Perceraian ini hanya rekayasa, supaya istri dan anak-anaknya terbebas dari kejaran para debt collector dan juga para polisi  ( sebab, semua kreditur telah melaporkan dirinya pada pihak yang berwajib, polisi ). Alangkah malangnya, kabar terakhir yang saya dengar, ketika sang suami bersusah payah menyembunyikan diri dari kejaran polisi dan debt collector, si istri asyik-masyuk berselingkuh dengan laki-laki lain yang lebih kaya. Hancurlah ia, meraung-raung, ia tak menyangka semua akan menjadi begitu. Ia meronta, “Dimana keadilan Tuhan, bukankah selama inipun aku rajin beribadah ? Berdoa ? Mengapa doaku tak pernah didengarnya ? Mengapa Tuhan melakukan ini semua padaku ?  “

Nah, saudara-saudari, apakah yang bisa kita petik dari kisah ini ?  Hukum-alam, berjalan dengan pasti. Alam tidak pernah memihak. Alam tidak bisa disanjung dengan doa. Jika kita berbuat jahat, maka buah kejahatan telah mulai berkembang dan menunggu untuk waktu-masak, dimana kita siap memetiknya.

Mengenai hal ini, ada beberapa kata-kata mutiara Sang Buddha, yang patut kita renungkan bersama :

“Apabila buah dari perbuatan buruk belum masak, orang bodoh menganggap hidupnya manis seperti madu; namun apabila buah dari perbuatan buruknya telah masak, maka orang bodoh itu akan merasakan pahitnya penderitaan.” [Dhammapada ; Bala-Vagga 5:10 ]

“Akibat dari perbuatan buruk tidak segera berbuah, seperti susu yang perlahan-lahan menjadi asam setelah diperah; demikian pula penderitaan akan membakar orang bodoh seperti bara api yang tertutup oleh arang.” [ Dhammapada ; Bala-Vagga 5:12 ]

“Janganlah menganggap remeh kejahatan yang ringan dengan berpikir : “Perbuatan keliru yang tidak berarti ini tidak akan berakibat buruk pada diriku.” Karena seperti air yang mengisi tempayan tetes demi tetes, demikian pula orang bodoh memenuhi dirinya dengan perbuatan jahat Sedikit demi sedikit.” [ Dhammapada ; Papa-Vagga 9:6 ]

“Selama akibat dari perbuatan jahat belum masak, si pembuat kejahatan menganggap perbuatan jahatnya sebagai hal yang menguntungkan. Tetapi setelah akibat dari perbuatan jahatnya sudah masak, ia akan menyadari kerugian dari perbuatan jahat tersebut.” [ Dhammapada ; Papa-Vagga 9:4 ]


KISAH SANG BUDDHA MEMANFAATKAN KEKUATAN TAKHAYUL DARI “PERSEMBAHAN-KORBAN” DAN “DOA”

Ada sebuah kisah dari kehidupan lampau Sang Buddha, yang menggambarkan bagaimana Sang Boddhisatta ( calon-Buddha ) memanfaatkan kekuatan takhayul berupa “persembahan-korban-binatang” dan “doa” yang mencengkeram rakyat Benares waktu itu. Sang Boddhisatta sangat kasihan mengapa rakyat Benares dicengkeram kepercayaan takhayul semacam itu. Karena itu, Sang Boddhisatta kemudian mencari cara / “akal” bagaimana caranya membelokkan praktik takhayul tersebut menjadi sebuah praktik latihan lima moralitas ( Pancasila ) yang jauh lebih bermanfaat dari “persembahan-korban-binatang” dan “doa” pada “Maha-Dewa”.

Dahulu kala, Raja Brahmadatta memerintah di Benares, India Utara. Sang Bodhisatta, Makhluk yang akan mencapai Penerangan, terlahir sebagai pangeran di negara itu. Karena pintarnya, ia telah menyelesaikan seluruh pendidikannya kala ia berusia 16 tahun. Jadi pada usia yang sangat muda ayahnya telah menjadikan ia sebagai orang kedua dalam pemerintahannya.

Pada hari-hari itu, kebanyakan orang Benares memuja dewa-dewa. Mereka sangatlah percaya tahayul. Mereka berpikir bahwa para dewalah yang menyebabkan terjadinya sesuatu pada diri mereka, dan bukannya hasil dari perbuatan mereka sendiri. Jadi mereka akan berdoa kepada para dewa ini dan minta pertolongan. Mereka akan meminta pernikahan yang menguntungkan, atau kelahiran seorang anak, atau kekayaan, ketenaran.

Mereka akan berjanji kepada para dewa bahwa, jika doa mereka terkabul mereka akan membayar pada dewa tersebut dengan persembahan. Sebagai tambahan selain bunga dan wewangian, mereka membayangkan bahwa para dewa tersebut menginginkan persembahan korban binatang. Jadi bila mereka berpikir bahwa para dewa telah membantu, mereka akan membunuh banyak binatang-binatang – kambing, lembu, ayam, babi, dsb.

Pangeran tersebut melihat semua ini dan berpikir, “Binatang-binatang yang tak berdaya ini juga merupakan sasaran sang raja, jadi aku harus melindungi mereka. Orang-orang melakukan perbuatan tidak benar ini karena kebodohan dan kepercayaan terhadap tahayul. Ini bukanlah agama yang sebenarnya. Karena agama yang sebenarnnya menawarkan kehidupan seperti apa adannya, bukan pembunuhan. Agama yang benar menawarkan kedamaian bukan pembunuhan.

“Aku takut orang-orang ini terlalu mempercayai tahayul sehingga sukar bagi mereka untuk meninggalkannya. Betapa menyedihkan. Tetapi mungkin paling tidak kepercayaan mereka ini dapat diubah menjadi sesuatu yang berguna. Suatu hari nanti aku akan menjadi raja, Jadi aku harus membuat rencana agar tahayul ini dapat membantu mereka. Jika mereka harus memberikan persembahan biarlah mereka membunuh ketamakan dan kebencian mereka sendiri dan bukannya membunuh binatang-binatang yang tidak berdaya ini! Dengan demikian seluruh kerajaan akan mendapatkan manfaat”.

Jadi pangeran yang pandai tersebut membuat rencana jangka panjang. Sering ia akan mengedarai keretannya menuju satu pohon banyan yagn terkenal tepat di luar kota. Pohon itu sangat besar, banyak orang berdoa dan memberikan persembahan kepada dewa yang mereka kira hidup di pohon itu. Pangeran itu turun dari keretanya dan memberikan persembahan yang sama – dupa, bunga, wewangian dan air – tetapi bukan persembahan binatang.

Dengan cara demikian dia membuat suatu tontonan besar, dan kabar tentang persembahan yang dilakukannya itu dengan segera tersebar luas. Segera, orang mengira bahwa ia juga adalah salah satu pengikut dewa pohon banyan tersebut.

Pada saatnya raja Brahmadatta meninggal dan pangeran tersebut menjadi raja yang baru. Ia memimpin sebagai seorang raja yang adil dan semua rakyatnya mendapatkan manfaat. Jadi semua rakyat percaya dan menghormatinya sebagai seorang raja yang adil dan bijaksana.

Kemudian pada suatu hari, ia memutuskan bahwa telah tiba saatnya yang tepat untuk melaksanakan rencananya. Jadi ia memanggil seluruh jajaran pemimpin rakyat Benares ke aula kerajaan. Ia bertanya kepada mereka, “Para menteri dan rakyatku yang setia, tahukah kalian bagaimana aku mampu memastikan bahwa nantinya aku akan menjadi raja?” Tidak ada seoarngpun dapat menjawab.

Ia berkata, “Ingatkah kalian bahwa aku sering memberikan persembahan yang manis-manis dan baik kepada dewa pohon banyan?” “Ya, tuanku”, kata mereka.

Raja melanjutkan, “Pada tiap-tiap saat itu, aku berjanji pada dewa pohon banyan yang hebat itu, Aku berdoa, ‘Oh dewa yang hebat, jika anda membuatku menjadi raja di Benares, aku akan memberikan persembahan yang khusus, lebih hebat dari bunga dan wewanggian'”.

“Karena sekarang aku telah menjadi raja, anda semua dapat melihat sendiri bahwa dewa telah mengabulkan doaku. Jadi sekarang aku harus memenuhi janjiku dan memberian pesembahan khusus.”

Semua yang berada dalam aula tersebut menyetujuinya. Mereka berkata, “Kita harus mempersiapkan persembahan ini dengan segera. Binatang apa yang hendak paduka bunuh?”

Sang Raja berkata, “Para pengikutku, aku bahagia kalian semua mau bekerjasama. Aku berjanji pada dewa pohon banyan bahwa aku akan mempersembahkan siapa saja yang gagal berlatih Lima Langkah Latihan (Panca Sila). Yaitu, mereka yang menghancurkan kehidupan, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan kesalahan dalam hal seksual, berbicara bohong, atau kehilangan akal sehatnya karena alkohol. Aku berjanji, bahwa jika ada yang melakukan hal ini, aku akan mempersembahkan nyali, daging, dan darah mereka pada altar dewa yang hebat tersebut!”

Karena begitu percayanya akan tahayul, semua yang berada diaula menyetujuinya bahwa hal ini harus dilakukan, atau dewa tentunya akan menghukum raja dan semua yang ada dalam kerajaan itu.

Sang raja berpikir, “Ah, begitu hebatnya kekuatan tahayul sampai-sampai semua orang kehilangan akal sehatnya! Mereka tidak dapat melihat bahwa latihan pertama adalah jangan membunuh. Jika aku mengorbankan salah satu dari mereka, akulah yang akan berada di altar! Dan dengan kekuatan seperti itu aku dapat membuat janji semscam itu, dan tidak harus melakukannya!”

Jadi, dengan keyakinan penuh pada kekuatan tahayul, sang Raja berkata kepada para pimpinan rakyat, “Pergilah ke seluruh bagian kerajaan dan umumkanlah janji yang telah kubuat kepada dewa pohon banyan. Kemudian umumkanlah bahwa seribu orang pertama yang melanggar langkah-langkah latihan akan mendapatkan kehormatan untuk menjadi persembahan, untuk memenuhi janji raja.”

Demikianlah dan terjadilah, orang-orang di Benares menjadi terkenal karena mereka berhati-hati melatih Lima Latihan  Moralitas (Panca Sila). Dan raja yang baik tersebut, yang mengenal dengan baik pengikutnya, tidak mengorbankan siapapun.

[ Sumber :    http://www.geocities.com/Athens/Stage/5255/dhamma/jataka/pangerantahayul.htm      ]


JANGAN BERBUAT JAHAT, PERBANYAK KEBAJIKAN, SUCIKAN HATI DAN PIKIRAN

Sesungguhnya, pada ketiga syair ( jangan berbuat jahat, perbanyak kebajikan, sucikan hati dan pikiran ) tersebutlah, inti kebahagiaan hidup. Sebagaimana kita lihat pada contoh kisah-nyata diatas, seseorang yang mengharapkan “mujizat-keselamatan-dan-ksejahteraan” melalui penguncaran doa-doa sementara ia sendiri senantiasa berbuat jahat, sesungguhnya telah menjerumuskan dirinya sendiri kearah jurang-kehancuran.

Dalam hal ini, kata-kata mutiara Sang Buddha, patut kita renungkan bersama :

“Dalam kehidupan ini ia menderita, dalam kehidupan yang akan datang ia juga akan menderita. Dalam kedua alam kehidupan si pembuat kejahatan menderita. Ia menderita dan bersedih menyaksikan buah dari perbuatannya yang buruk.” [ Dhammapada ; Yamaka-Vaga 1:15 ]

“Dalam kehidupan ini ia berbahagia, dalam kehidupan yang akan datang ia juga berbahagia. Dalam kedua alam kehidupan si pembuat jasa kebaikan berbahagia, Ia bergembira dan berbahagia menyaksikan buah dari perbuatannya yang baik.” [ Dhammapada ; Yamaka-Vagga 1:16 ]

“Si pembuat kejahatan menyesal dalam kehidupan ini, Ia juga menyesal dalam kehidupan yang akan datang. Ia menyesal di kedua alam kehidupan, Ia sangat menyesal ketika merenungkan perbuatan jahatnya. Dan ia akan lebih menderita lagi setelah terlahir di alam sengsara.” [ Dhammapada ; Yamaka-Vagga 1:17 ]

“Si pembuat kebajikan berbahagia dalam kehidupan ini, Ia juga berbahagia dalam kehidupan yang akan datang.  Ia berbahagia di kedua alam kehidupan, Ia sangat berbahagia ketika merenungkan perbuatan bajiknya. Dan ia akan lebih bahagia lagi setelah terlahir di alam surga/bahagia.” [ Dhammapada ; Yamaka-Vagga 1:18 ]

“Jangan terhanyut dalam kelengahan, tidak melekat pada kenikmatan indriya. Orang yang sadar dan selalu waspada, akan memperoleh kebahagiaan yang tidak terbatas.” [ Dhammapada ; Appamada-Vagga 2:7 ]

“Seseorang yang pikirannya tidak ternoda oleh nafsu, terbebas dari kebencian. Dapat mengatasi baik dan buruk, maka tidak ada lagi perasaan takut.” [ Dhammapada ; Citta-Vagga 3:7 ]

“Apabila seseorang telah melakukan perbuatan baik, Ia hendaknya mengulangi perbuatan baik tersebut. Ia merasa berbahagia dengan perbuatan baik, oleh karena kebaikan akan membawa kebahagiaan.” [ Dhammapada ; Papa-Vagga 9:3 ]

“Selama akibat dari perbuatan baik belum masak, si pembuat kebaikan menganggap perbuatan baiknya sebagai hal yang merugikan. Tetapi setelah akibat dari perbuatan baiknya sudah masak, Ia akan menyadari manfaat dari perbuatan baik tersebut.” [ Dhammapada ; Papa-Vagga 9:5 ]

“Janganlah menganggap remeh perbuatan baik yang ringan dengan berpikir : “ Perbuatan baik yang tidak berarti ini tidak akan membawa kebaikan pada diriku” Karena seperti air yang mengisi tempayan tetes demi tetes, Demikian pula orang bijaksana memenuhi dirinya dengan perbuatan baik Sedikit demi sedikit.” [ Dhammapada ; Papa-Vagga 9:7 ]

Nah, saudara-saudari semuanya dan khususnya ummat Buddha, sesungguhnya, mantra dan doa yang “melambung-tinggi” itu tidaklah berharga bila dibandingkan dengan  sebuah usaha yang penuh keyakinan (saddha), ketekunan/semangat ( viriya ), perhatian ( sati ), konsentrasi ( Samadhi ), dan kebijaksanaan ( panna ). Doa, hanya membantu “batin” untuk memperoleh suatu kelegaan dan keteguhan tekad, yang sesungguhnya itu hanyalah proses psikologis semata ( hasil dari “sugesti” dan “afirmasi” yang dilakukan ).

Hindarilah kejahatan, perbanyaklah kebajikan, sucikan hati dan pikiran, inilah kunci kebahagiaan, inilah kunci “surga” pada kehidupan saat ini dan kehidupan setelah kematian nanti ( pada kelahiran-kembali kelak ). Bagaimana kita menghindari kejahatan ? Dengan memperteguh diri dalam “Latihan Lima Moralitas” ( Pancasila ), maka kita telah menghindarkan diri dari kejahatan. Dengan mengembangkan kedermawanan ( Dana ), cinta-kasih ( Metta ), Kasih-Sayang ( Karuna ), rasa simpati ( Mudita ), dan keseimbangan-batin ( Upekkha ),  maka kita telah mengembangkan dan memperbanyak kebajikan.

Seorang penyair Buddhis, Dr.Tagore, pernah membuat sebuah syair yang berusaha menggambarkan bagaimana seorang Boddhisatta ( makhluk yang bercita-cita mencapai pencerahan-sempurna/menjadi Buddha demi keselamatan semua makhluk ) membentuk batin-Nya untuk tujuan pencapaian “pembebasan”-nya. Dengan bersandar pada kekuatan sendiri, dengan usahanya sendiri, seorang Boddhisatta akan membentuk pikirannya seperti ini :

“ Biarlah aku tidak berdoa untuk dilindungi dari bahaya, tetapi untuk tidak takut dalam menghadapi mereka.

Biarlah aku tidak meminta untuk disembuhkan dari penyakitku, tetapi demi ketabahan untuk mengatasinya.

Biarlah aku tidak berharap dalam kecemasan untuk diselamatkan, tetapi berharap demi kesabaran untuk memenangkan kebebasanku. “

Sungguh sebuah syair yang sangat indah, bertujuan untuk memajukan perkembangan spiritual, jauh dari ke-takhayul-an dan “fantasi” akan turunnya “invisible-hand” dari sosok “Maha-Kuasa”. Dan justru “Doa” yang bersifat “afirmasi-positif” seperti inilah sesungguhnya yang sepatutnya mulai kita praktikkan demi manfaat pencapaian perkembangan spiritual kita bersama, bukan “doa” yang diselimuti  kabut “takhayul” akan harapan datangnya “keajaiban” dari “kekuatan-ghaib” diatas  sana.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Minggu, 29 Juni 2009

22 Tanggapan to “ARTI DOA [ Menurut Buddhisme ]”

  1. badal~RE said

    Salam damai,

    contoh kasus, doa diucapkan dan terkabulkan dalam sekejab seperti doa meminta hujan, apakah terjadi karena karma yg tlah matang, atau doa ini semacam , sehingga terjadilah hujan.

    mohon maaf ats pertanyaan yg bodoh ini.
    …………………………………………………………………………………
    Dear, Badal..,
    Salam kenal dari saya, dan selamat datang 😉

    “…meminta hujan, apakah terjadi karena karma yg tlah matang, atau doa ini semacam pengkondisian pikiran dan energi pikiran ini akan menjangkau sampai hukum2 alam yg bekerja pada awan, sehingga terjadilah hujan.”

    Pertanyaan dan komentar yang menarik. Dan sesungguhnya itu juga sudah bisa terjawab melalui pernyataan anda tersebut diatas.

    Badal,sebagaimana ummat Buddha telah ketahui bersama, di alam ini ada satu hukum alam yang disebut “Citta-Niyama”.

    Hukum ini berkaitan dengan hukum “pikiran”. Hal-hal “supranatural”, seperti kekuatan-pikiran, telepati, kemampuan membaca pikiran orang lain, kemampuan “mencipta”/”mematerialkan” benda ( ada seebuah contoh , yaitu ketika Sang Buddha menciptakan seorang perempuan cantik yang berdiri disamping-Nya, mengipasi Beliau
    , dengan tujuan untuk membuka mata isteri Raja Bimbisara yang bernama Khema yang mempunyai pandangan tertentu kepada Sang Buddha. Dan disitu, perempuan ciptaan Sang Buddha, usianya dipercepat, dari muda, lalu setengah tua, dan menjadi tua, sampai akhirnya jatuh ke tanah dengan gigi yang rusak, rambut kelabu dan kulit yang keriput. Pemandangan ini menimbulkan suatu “kesadaran” pada diri Khema, isteri Raja Bimbisara. Kisah ini sangat panjang, jadi saya singkat disini saja )

    Dengan terlatih dalam tata-susila dan konsentrasi, pikiran kita ini menjadi “lentur”, “lunak”, “mudah-diarahkan”.
    Oleh karenanya, kemudian terciptalah kekuatan “adi-daya” dari pikiran yang bisa kita manfaatkan untuk beberapa hal, yaitu =

    1. Iddhividdhi : Berbagai jenis kekuatan batin , seperti : menciptakan diri sendiri menjadi banyak dalam rupa yang sama dan merubah diri kembali dari banyak menjadi satu, berjalan diatas air, berjalan di udara, melayang di udara, melunakkan batu, mendatangkan hujan di daerah tandus / kemarau panjang, menciptakan api, menciptakan sinar untuk melihat dalam gelap, melihat jarak jauh siang maupun malam, menghangatkan cuaca di tempat yang dingin, meringankan tubuh sehingga dapat mengikuti arus angin, mendatangkan angin ditempat yang ‘kurang-angin’, melihat benda-benda yang terhalang oleh sekat seperti tembok, melihat barang-barang yang ditutupi dalam suatu tempat ( penglihatan tembus ruang ), dan lain-lainnya.

    2. Dibbasota : Mendengar suara dari jarak jauh, tidak terhalang batas ruang dan waktu, termasuk mendengar suara-suara dari alam lain, baik alam surga maupun neraka.

    3. Cutupata Nana : Mengetahui kelahiran dan kematian semua makhluk hidup.

    4. Cetopariya
    Nana
    : Dapat membaca pikiran / hati orang dan makhluk lain.

    5. Pubbenivasanu
    -ssati
    : Mengingat kehidupan lampau.

    6. Asavakhayanana :kemampuan mengikis habis/mencabut kekotoran batin.

    Nah, kemampuan mendatangkan hujan itu sendiri, ada yang benar-benar dari kemampuan batinnya sendiri ( bila berasal dari kekuatan-batin sendiri, maka itu tepat seperti yang anda nyatakan diatas, “pengkondisian pikiran dan energi pikiran ini akan menjangkau sampai hukum2 alam yg bekerja pada awan” ) . Namun ada pula yang disebabkan “hubungan” dengan “makhluk-makhluk-ghaib” ( seperti pada “Dewa” ), yaitu dengan meminta bantuan para makhluk tersebut untuk membantu mendatangkan hujan.

    Hal tersebut memang sangat mungkin ( ditunjang kekuatan batin, dan dengan adanya konektivitas dengan “dewa” ). Akan tetapi, yang diajarkan Sang Buddha adalah, bahwa sesungguhnya, “doa-doa” tersebut sesungguhnya sangat tidak diperlukan, bila kita dengan segenap daya-upaya kita sendiri, mengarahkan hidup kita ke arah yang lebih baik, dan juga mengarahkan hidup ke arah kehidupan suci demi pembebasan dan pencerahan-sempurna, maka itu akan terjadi, tanpa perlu dibantu dengan doa2.

    Sebab, dalam alam semesta ini bekerja suatu “Hukum-Alam” yang bekerja dengan sendirinya. Dan hukum-alam ini tidak bisa di”rayu” dengan do’a2.

    Hukum alam itu adalah :

    1. Utu-niyama : hukum energi menyangkut tatanan fisik inorganic, seperti cuaca, angin, dan hujan. Tatanan musim, sifat panas, perubahan iklim yang menyertai perubahan musim, termasuk dalam kelompok ini.
    2. Bija-niyama : hukum hereditas menyangkut tatanan biologi atau alam organic, seperti beras yang diproduksi dari padi, rasa manis dari tebu atau madu, karakteristik dari buah-buahan tertentu, dll. Teori sel, gen dan kemiripan kembar juga termasuk dalam kelompok ini.
    3. Kamma-niyama : hukum karma menyangkut tatanan sebab dan akibat.
    4. Citta-niyama : hukum keteraturan alam batiniah menyangkut tatanan pikiran, seperti proses kesadaran, kemunculan dan kemusnahan kesadaran, komponen kesadaran, dan kekuatan pikiran. Berbagai Iddhividhi ( kesaktian ), telepati, kemampuan membaca pikiran orang lain, kemampuan memprediksi, dan hal-hal lain yang tak bisa dijelaskan dalam sains, termasuk dalam kelompok ini.
    5. Dhamma-niyama : hukum kodrat menyangkut tatanan sifat-dasar fenomena, seperti naluri, gaya gravitasi dan hukum fisika lainnya.

    Jadi, begitulah rekan badal.
    Bahwa, sebenarnya, pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu. Karena pikiran kita sendiri, kebahagiaan terjadi. Karena pikiran kita sendiri, penderitaan terjadi. Bahkan, pikiran yang telah terlatih dalam tata-susila dan konsentrasi (samadhi), akan mampu menghasilkan suatu kekuatan “adi-daya”, termasuk salah satunya yang anda sampaikan itu ; mendatangkan-hujan.

    Terimakasih atas komentar dan pertanyaan anda yang menarik.
    Semoga Anda Senantiasa Selamat Sejahtera. 😉

    • Pembaca said

      Coba anda jelaskan secara rinci mengenai Hukum Utu-niyama, terutama proses terjadinya Hujan, apakah sang Budha pernah menyatakan ttg proses tsb sebagaimana yg telah dibuktikan IPTEK? Tolong jelaskan dgn dasar2 perkataan Budha, bukan atas pendapat orang lain.

      Jgn spt yg anda nyatakan : Nah, kemampuan mendatangkan hujan itu sendiri, ada yang benar-benar dari kemampuan batinnya sendiri ( bila berasal dari kekuatan-batin sendiri, maka itu tepat seperti yang anda nyatakan diatas, “pengkondisian pikiran dan energi pikiran ini akan menjangkau sampai hukum2 alam yg bekerja pada awan” ) . Namun ada pula yang disebabkan “hubungan” dengan “makhluk-makhluk-ghaib” ( seperti pada “Dewa” ), yaitu dengan meminta bantuan para makhluk tersebut untuk membantu mendatangkan hujan.

      Krn IPTEK dan MISTIK tdk akan pernah ketemu, kecuali hal MISTIK tsb dpt dbuktikan secara nalar atau logika.

      Tenkyu……..

  2. badal~RE said

    Smoga anda berbahagia slalu.
    trima ksh ats jabarannya yg komplit. meskipun hrs dicerna perlahan2 ats jwbn yg kompleks.
    ada lgi yg ingin ditanyakan.
    jika kita memiliki mslh A dan mrasa ada kebuntuan, maka utk tdk terus berputar2 dlm kebuntuan itu mka mslh A didiamkan dulu, kemudian kita banyak berbuat kebajikan, mengumpulkan karma baik. apakh nantinya mslh A akan dpt kita temukan jalan keluarnya, sedang kita menyibukkan diri pd kebajikan2. lantas apakah ada hubungannya dgn doa kita utk memohon penyelesaian masalah A tsb. apkh dgn tanpa berdoa. mhon pembabarannya.

    ………………………………………………………………………………………………………………………………..
    Namaste Suvatthi Hotu..,

    Dear Badal,
    Terimakasih atas pertanyaan anda yang sangat menarik mengenai Dhamma..,

    Bila saya rumuskan kembali, kira2 pertanyaan anda akan menjadi seperti ini :

    1. Jika kita memiliki masalah A dan merasa ada kebuntuan, maka apakah masalah A didiamkan dulu ?
    2. Sembari didiamkan , kita menyibukkan diri mengumpulkan kebajikan2 ?
    3. Apakah ada doa yang bisa kita uncarkan untuk memohon penyelesaian masalah A tersebut ? Ataukah tanpa berdoa ? ”

    JAWABAN =

    1. Jika kita memiliki masalah A dan merasa menemukan kebuntuan, maka sangatlah tidak bijaksana bila kita mendiamkan masalah tersebut hingga terbengkalai.
    Setiap permasalahan yang timbul dan menerpa hidup kita, sesungguhnya adalah perbuatan kita sendiri yang bereaksi pada diri sendiri, dan oleh karena itu SESEORANG MEMPUNYAI KEKUATAN DAN KESEMPATAN UNTUK MEMBELOKKAN JALANNYA KAMMA HINGGA BATAS-BATAS TERTENTU.
    Mari kita ingat kembali, bahwa sesungguhnya ada suatu “kekuatan yang bermanfaat dan merugikan” yang bisa untuk menangkal dan menunjang hukum Kamma yang bekerja sendiri ini. Kekuatan bermanfaat dan merugikan tersebut adalah :

    a. Kelahiran (gati)
    b. Waktu atau keadaan ( kala )
    c. Kepribadian atau penampilan ( Upadhi )
    d. Usaha ( Payoga )

    Dari keempat faktor kekuatan yang bermanfaat dan merugikan tersebut diatas, faktor yang terpenting adalah usaha (Payoga).

    Ketika hukum Kamma bekerja, semisal kita tertimpa kemalangan sebagai buah kamma-buruk kita sendiri di waktu lalu, maka faktor USAHA ( Payoga ) memainkan peranan kunci.
    Dengan usaha pada detik dan saat ini, seseorang dapat membuat Kamma baru, lingkungan baru, suasana baru, kehidupan yang baru, dan dunia yang baru.

    Kemudian, yang tidak boleh dilupakan, adalah faktor kesabaran (khanti).
    Dalam menghadapi keadaan sulit, kita harus sabar, sangat sabar, dengan penuh pengertian , bahwa , tidak-ada yang kekal, termasuk “penderitaan”. Semua pasti berlalu. 😉

    2. Mengumpulkan kebajikan ; YA. Jelas. Tetapi , bukan dengan mendiamkan masalah, sebaliknya, kita harus berusaha menyelesaikan masalah sembari terus memupuk kebajikan. Masalah harus dihadapi, bukan dihindari. Sejauh mana kita bisa menghindar dari masalah ?

    Semisal, contoh kasus. Seorang penipu, karena merasa tidak ada jalan keluar, lalu ia melarikan diri dari masalahnya. Pergi berputar-putar tanpa tujuan, pindah dari kota-ke-kota. Namun, apakah ia terbebas dari masalahnya ? Dari hutang kamma-nya ? Tidak. Masalah harus dihadapi dan diselesaikan, sekecil dan sebesar apapun masalah itu. Sebab, bila tidak diselesaikan, kamma akan berbuah, jika tidak di kehidupan sekarang, maka pada kehidupan mendatang, dan kelahiran yang berikut-berikutnya lagi.

    ” Tidak di angkasa atau di dalam laut,
    Juga tidak di dalam gua atau di atas gunung,
    Tidak ada tempat di dunia ini yang dapat dipakai sebagai tempat bersembunyi
    dimana seseorang dapat terbebas dari buah perbuatan jahatnya ”
    [Dhammapada ; Papa-Vaga 9:12 ]

    3. Apakah ada doa yang dapat menyelamatkan ? Atau tidak perlu / tanpa berdoa ?

    Ada sebuah kisah kehidupan lampau dari Sang Buddha Gotama yang sangat menarik. Kisah itu terlukis dalam “Maha Janaka Jataka”. Suatu ketika, Sang Boddhisatta menaiki sebuah kapal. Kapal tersebut karam di tengah lautan. Ketika karam, para penumpang yang lain sibuk berdoa kepada Dewa-Dewa dan menggantungkan nasib di tangan mereka. Akhirnya mereka tenggelam. Apa yang dilakukan Sang Boddhisatta ? Alih-alih berdoa, Sang Boddhisatta dengan usaha sendiri dengan penuh keyakinan, perhatian, semangat/ketekunan, konsentrasi, dan kebijaksanaan, berjuang untuk menyeberangi lautan. Sang Boddhisatta berenang selama tujuh hari dengan gigih. Hasilnya, Sang Boddhisatta selamat di seberang lautan, berhasil menyeberang, sedangkan yang lain, seperti sudah disebutkan, tewas tenggelam di tengah lautan.

    Demikian , rekan Badal 😉

    Semoga membantu, semoga menjawab, semoga menjelaskan, semoga ; Bermanfaat. 😉

    Sukkhi attanam pariharantu,
    Sotthi te hottu sabbada,
    Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta,
    Sadhu, sadhu, sadhu… .

  3. Tedy~RE said

    Dear Bro Ratana,

    Saya setuju dgn pendapat anda bahwa “doa” hanya menimbulkan efek psikologis sbg hasil dari sugesti dan afirmasi. Walaupun kadang2 ada umat tertentu yg mengklaim bahwa “doa” yg dia panjatkan sesuai dgn keinginan. Jika sudah begini, saya jadi teringat dgn pembabaran dari dosen agama Buddha sewaktu kuliah, yaitu mengenai perdebatan antara ortodoks, heterodoks, dan independen. Klo tidak salah sudah pernah dibahas oleh sodara Wen Lung Shan pada blog ini.

    With metta,
    Tedy
    ………………………………………………………………………………………………….
    Dear Tedy 😉

    Iya, demikianlah… .

    Anumodana,
    Mettacittena.
    Ratana Kumaro

  4. ” Seperti orang menabur benih padi, maka akan tumbuh tanaman padi, demikian pula, benih-benih pikiran baik akan menyebabkan tumbuhnya pohon yang berbuah”…..bagi saya kata2 ini sangat mencerahkan.

    saya teringat kisah seorang penabur dalam ajaran kristiani :
    Ketika benih ditaburkan, kemungkinan akan jatuh di tanah tapi penuh bebatuan.Ia tetap tumbuh namun tidak memiliki akar yg kuat dan mati, yg kedua jatuh disemak belukar, terinjak2 orang dan mati. yang terakhir jatuh ditanah yang baik dan subur, maka ia berakar,bertumbuh dan berbuah.

    Salam sejahtera dan bahagia untuk mu
    ………………………………………………………………………………………………….
    Dear, rekan Pambudi Nugroho 😉

    Selamat datang, salam kenal dari saya… ,

    Iya, dalam ajaran Kristus, memang diajarkan mengenai hukum tabur-tuai.
    Kami mengetahui itu.
    Dan, sungguh sangat berbahagia bila ummat Kristus pun meyakini hal tersebut.

    Salam Sejahtera dan Bahagia untuk mu, saudaraku yang baik 😉
    Peace & Love

  5. shenxyz~RE said

    bro ratana kumara,
    kalo bole saia izin post link ini di fesbuk saya yah ^_^

    thanks, nice article..
    ………………………………………………………………………………………………
    Dear Shenxyz,

    Salam kenal dari saya,
    Salam hangat dan salam persahabatan.

    Suatu kehormatan dari saya jika anda berminat menautkan / post link artikel ini di facebook anda.
    Dan saya pun sangat berbahagia, bila memang artikel2 disini ( terutama “ARTI DOA” ini ) bermanfaat bagi semuanya.

    Anumodana,
    With A lot of Metta ( Dengan penuh cinta kasih )
    Ratana Kumaro.

  6. Tedy~RE said

    Dear Bro Ratana,

    Ada satu kata2 mutiara yg pas untuk kondisi saya yaitu, “Biarlah aku tidak meminta untuk disembuhkan dari penyakitku, tetapi demi ketabahan untuk mengatasinya”. Sangat inspiratif dan mempertebal kekuatan saya. Jika ada harta karun lagi, mohon bagi2 ke saya ya. Anumodana atas dhammadesana anda.

    With metta,
    Tedy
    …………………………………………………………………………………………………………
    Dear Tedy,

    Saya senang jika itu bermanfaat untuk semuanya, khusunya untuk anda.

    Semoga Anda senantiasa Selamat Sejahera, Berbahagia, Bebas dari Semua Penderitaan.
    Sadhu,Sadhu,Sadhu.

  7. badal~RE said

    Trima kasih, smoga anda senantiasa berbahagia.

    telah saya simak, dan dicerna perlahan-lahan.
    yg bisa sy petik bahwa, doa memang semacam afirmasi utk keteguhan hati. dlm keteguhan selayaknya didapatkan kekuatan, kesabaran, kearifan, pengharapan yg tdk mudah luntur. dan doa bisa dijadikan alas diri dlm melakukan usaha agar nilai kekuatan, kesabaran, kearifan, pengharapan yg tdk mudah luntur bersinergi dlm usaha itu.
    tapi apakah salah jika kita berdoa dan dgn keyakinan bahwa ada yg menciptakan diri ini, dan kita hidup dalam alam yang berjalan dengan rumus2 alam atas ciptaanNya. sepertihalnya saya berterima kasih kepada anda karena merasa anda dpt memberikan hal-hal baik yang bisa saya petik. begitupun saya yang hadir didunia ini atas kemurahan hati Tuhan dan tentu dengan membawa hasil dari perbuatan saya yang akan berhadapan dengan rumus-rumus Tuhan yang diwejawantahkan dalam alam ini.
    Trima kasih sebelumnya, atas babarannya nanti.
    ………………………………………………………………………………………………….
    Dear Badal,
    Salam Sejahtera, Semoga Anda dalam Kebahagiaan 😉

    tapi apakah salah jika kita berdoa dan dgn keyakinan bahwa ada yg menciptakan diri ini, dan kita hidup dalam alam yang berjalan dengan rumus2 alam atas ciptaanNya. sepertihalnya saya berterima kasih kepada anda karena merasa anda dpt memberikan hal-hal baik yang bisa saya petik. begitupun saya yang hadir didunia ini atas kemurahan hati Tuhan dan tentu dengan membawa hasil dari perbuatan saya yang akan berhadapan dengan rumus-rumus Tuhan yang diwejawantahkan dalam alam ini.

    Badal, bila memang anda berkeyakinan begitu, dan itu membawa manfaat untuk anda, maka tidaklah mengapa.
    Asalkan, jangan sampai kita terjerumus dalam ke”takhayul”an ( setidaknya anda bisa menangkap maksud saya dengan membaca2 kembali tulisan dan komentar saya ).

    My dearest Badal, perkenankan saya memberikan penjelasan dari sudut pandang seorang Buddhis yah ;

    Begini…,ketika pemahaman pencerahan kita peroleh, maka akhirnya kita tahu, bahwa kita sebenarnya tidak membutuhkan “sosok” tersebut.

    Alam semesta, serta semua makhluk, sesungguhnya, tidaklah diciptakan oleh suatu “sosok” “Tuhan-Yang-Maha-Pencipta” dalam nama apapun juga.
    Sebagaimana saya pernah menjelaskan, semua terjadi karena hukum-hukum alam semata yang bekerja di alam semesta dengan sendirinya. Dan, hukum inipun tidak ada yang menciptakan.

    Pembahasan ini, sebenarnya memang sulit, sebab sudah masuk dalam lingkup “Dhamma” yang halus, dalam, tidak bisa di logika, namun baru bisa dimengerti dengan kebijaksanaan kita, melalui “samma-samadhi” dan “samma-sati”.

    ……………..
    Saya teringat sewaktu saya masih kecil. ( Ini maaf ya, saya sekedar flashback dengan sebuah kisah di masa lalu, tanpa ada tendensi2 tertentu 😉 )
    Pernah suatu ketika, ketika saya masih TK ( Taman Kanak-Kanak ).
    Saya dijahili oleh anak2 kampung di sekitar perumahan saya.
    Lalu saya berkelahi.

    Beberapa dari “milik” saya, ada yang hilang.
    Saya marah, dendam, dan akhirnya, menangis.

    Ibu saya menasehati, “Sudah, gak usah nangis, gak usah marah, gak usah dendam… . Nanti pasti ada yang membalasnya.”
    Saya bertanya, “Siapa yang membalas ?”, ibu saya menjawab, “Tuhan… Tuhan yang akan membalasnya.”
    “Apakah Tuhan akan membalaskan ? Benarkah, kapan ? Tapi mengapa Tuhan tidak membantu saya saat saya dijahili ? ” Begitu tanya saya, mengejar.

    Singkat cerita, saya jadi bisa “berhenti-menangis”, meskipun belumlah lega hati saya.
    Apa yang bisa dipetik ? Bagi anak-kecil seusia saya saat itu, maka, dengan mempercayai akan adanya “Tuhan” yang akan membalaskan kezaliman yang saya alami, itu akan cukup memberi kelegaan. Dan, tidak-ada yang salah dengan itu. Dalam hal itu, ibu saya berusaha menenangkan saya, dan ingin memberitahukan bahwa “barangsiapa menabur, dia pasti menuai” ( Ibu saya orang Jawa-Kejawen, jadi menganut prinsip “Ngundhuh wohing pakarti”. ). Namun, untk mempermudah proses “menjelaskan” kepada saya, maka hukum itu lalu diterangkan sebagai sesosok “Tuhan” yang dengan tangan2nya akan bekerja membalaskan “sakit-hati” saya. Sebab, bila diterangkan akan adanya “hukum” itu, mana mungkin saya yang saat itu hanya seorang anak2 ( TK ) mampu memahami ?

    PERIHAL SANG BUDDHA.
    Ketika di jaman-Nya banyak orang menganut kepercayaan adanya sosok “Maha-Pencipta” yang “Tunggal”. Alih-alih sekedar “percaya” dan “beriman”, Beliau memilih untuk menempuh jalan “menyelidiki”.

    Proses “menyelidiki” ini pun jika kita bahas, juga akan panjang ( kecuali anda seorang Buddhis ).
    Pada intinya, Sang Buddha kemudian mencapai “Pencerahan-Sempurna” ; Samma-Sambuddha ; mencapai suatu tataran pengetahuan Ke-Maha-Tahu-an ( Sabbanuta-nana ).

    Beliau menemukan, bahwa makhluk2 dan alam semesta “mengada” , hanyalah karena suatu “proses” hukum-hukum alam semata, tanpa ditemukannya ada suatu “Pencipta” dalam dan dengan nama siapapun juga.

    Proses-proses makhluk “mengada”, Beliau terangkan dengan hukum sebab-musabab-yang-saling-bergantungan ( Paticcasamuppada ).

    Kemudian, seluruh proses2 alamiah, Beliau terangkan dengan adanya Lima-Hukum-Alam ( Panca-Niyama ; untuk lebih jelasnya, klik artikel ini ).

    Tidak ada “aktor” , tidak ada “Pencipta”, tidak ada “Penguasa” yang mengatur alam semesta, namun yang ada hanyalah hukum ini.

    Kemudian, “penyimpulan” pribadi bahwa sesungguhnya ada “aktor” yang disebut sebagai “Tuhan-Yang-Maha-Pencipta”, sesungguhnya hanyalah bersifat “spekulatif” semata.
    Mengapa disebut “Spekulatif” ? Sebab, kesimpulan itu diambil TANPA-DIKETAHUI-KEBENARANNYA.
    Hanyalah penyimpulan, “Mungkin ada suatu sosok “Pencipta”… Ah, atau…, Berarti memang ada “Pencipta” ! “.
    Inilah pandangan “spekulatif”.

    Dan pandangan spekulatif seperti ini, telah berulang-kali Sang Buddha tolak ( anda bisa baca2 artikel TUHAN “YANG-MAHA…” DIMATA SEORANG BUDDHA )

    Dan “Maha-Dewa” yang menganggap dirinya adalah “Sang-Pencipta”, “Sang-Penguasa”, dahulu telah ditegur oleh Sang Buddha. Dan Sang Buddha pun menjelaskan duduk perkaranya, mengapa sampai ada “Maha-Dewa” yang beranggapan-salah seperti itu. Juga Sang Buddha menerangkan proses munculnya kepercayaan akan adanya “Tuhan-Yang-Maha” tersebut.

    Nah, Badal… ,
    Akan tetapi, kembali pada sudut-pandang anda.

    Bila memang anda merasa perlu adanya sosok “Tuhan-Yang-Maha” tersebut, maka tidaklah mengapa. Silakan. Itu hak privasi anda untuk mempunyai suatu kepercayaan.

    Sekedar sharing saja dari saya.., suatu saat, jika kita telah berjalan dan sampai pada pemahaman, bahwa sesungguhnya sosok “Maha-Kuasa” tersebut benar2 tidak ada, maka disaat itu baru kita bisa “lega” dan mengerti, serta meninggalkan kepercayaan itu dengan tanpa ragu2 dan tanpa ketakutan akan adanya “Dosa”.
    Sebab, akhirnya kita mengerti, bahwa ternyata yang bekerja hanyalah “hukum-hukum” semata, yang mengada di alam “delusif”, tanpa diciptakan oleh siapapun juga. Saat itu, sosok “Tuhan” sudah benar2 tidak dibutuhkan lagi.

    Demikian, semoga “sharing” dari saya ini bermanfaat untuk anda.

    Semoga Anda Senantiasa Selamat Sejahtera.

    Sadhu,sadhu,sadhu… .

  8. badal~RE said

    Slam hormat. Smoga anda slalu teguh dalam kebahagiaan
    …………………………………………………………………………..
    Dear Badal,

    Salah Hormat dari saya pula.
    Semoga Anda selalu teguh dalam kebahagiaan..

    …………………………………………………………………………..
    dgn keterbatasan saya, saya sdh coba menyimak 12 proses Anumola (Proses Kemunculan yang saling bergantungan)adanya tahap2an sehingga terjadinya proses berulang2 dari kehidupan, sedikitnya bisa dipahami. semua berlangsung krn adanya hukum2 yang mengikat masing2 proses, tanpa bantuan Yang Maha atau lainnya.

    Tapi tetap saja saya beranggapan, hukum2 yang menyebabkan proses2 berlangsung dgn sendirinya itu adalah ada yg menciptakan. dan setelah hukum2 alam tersebut diciptakan maka selanjutnya maka hukum2 alam tsb yg bekerja dgn sendirinya sehingga menghasilkan proses kehidupan / kematian yg kompleks. atau mungkin saya keliru.

    jadi sejak kapan anda telah meyakini karena mengalami bahwa, ya …. memang tidak ada sang pencipta awal. dalam bentuk pengalaman yg bagaimana sehingga apa yang dikatakan Sang Buddha, benar anda alami.
    ……………………………………………………………………………………………
    My dearest Badal…,

    Mengenai pertanyaan anda pada saya, sebenarnya justru saya khususnya dan kami umumnya ummat Buddha yang seharusnya bertanya sebaliknya pada anda ;

    “Sejak kapan anda telah meyakini karena mengalami bahwa, ya …. memang ada sang pencipta awal ? “

    Bagaimana anda bisa menyimpulkan bahwa hukum-hukum tersebut diciptakan oleh “Sang-Maha-Pencipta” ? Atas dasar apa ?

    Karena, sebenarnya tanpa harus menjelaskan pengalaman kerohanian kami dalam Buddha-Dhamma sehingga kami mempunyai saddha kepada Sang Buddha-Dhamma-Sangha, kami adalah pihak yang mengikuti ajaran Sang Buddha yang menjelaskan semua hukum tersebut yang sekarang sedang kita ( saya, semua rekan, dan anda sendiri khususnya sebagai seorang non-Buddhis ) pelajari bersama dan kita ( saya, semua rekan, dan anda sendiri khususnya sebagai seorang non-Buddhis ) petik manfaatnya, dan dengan menerangkan hukum tersebut, Sang Buddha menegasi pandangan masyarakat umum ( kaum Brahmana ) yang menyatakan terdapatnya “aktor” yang menciptakan semua ini, yang disebut dengan “Maha-Brahma” ; Maha-Kuasa, Maha-Agung, Maha-Pencipta.

    Sehingga, justru sekali lagi, kamilah yang harus bertanya =

    “Sejak kapan anda telah meyakini karena mengalami bahwa memang ada sang pencipta awal ? Sejak kapan anda mengetahui bahwa semua hukum yang diterangkan oleh Sang Buddha secara mendetail tersebut diciptakan oleh “Sang-Maha-Pencipta” sementara Sang Buddha sendiri tidak menyatakan demikian ? “

    Benar begitu kan, rekan Badal ?

    Oiya, sekedar bertanya, apakah anda seorang penghayat Kejawen ?
    …………………………………………………………………………………….
    Salam damai dan bahagia
    …………………………………………………………………………………….
    Salam Damai dan Bahagia juga untukmu, sahabat 😉

    Semoga Anda Senantiasa Selamat Sejahtera,
    Sadhu,sadhu,sadhu.

  9. badal~RE said

    Salam damai.

    saya dilahirkan dlm keluarga bragama mayoritas. namun lika-liku perjalan hingga saat ini menyebabkan saya utk tdk terpaku. saya brusaha mengamati dgn keterbatasan saya, terutama mengenai keberagaman agama dan kepercayaan. yang slalu terpatri dalam hati ini bahwa Tuhan Maha Adil, Maha Kuasa, dan beragama salah satu ujian bagi manusia utk tdk terjebak dalam sangkar masing-masing. banyak nilai2 kebaikan yg diajarkan diluar kita.

    saya mencoba blajar dari blog anda dan teman2 anda dari penghayat kejawen. kejawen dengan kehalusannya, dan Buddha dgn kompleksitasnya namun slalu ada garis lurus diantara keduanya dan saya berusaha utk tidak menutup pikiran utk mencoba menganalisa. saya masih tahap dasar dari blajar, jadi blm sampai pada anda dan teman2 anda. beberapa hari ini setelah menyimak tulisan anda, saya coba berpikir dan menganalisa, apakah Tuhan atau apapun yg disebut sebagai sebab awal adalah tidak ada…. namun tetap saja hati ini belum bisa yakin bahwa ya … Tuhan itu tdk ada. (pasti tidak mudah spt membalikkan tangan atau apa sebenarnya …. )

    Mengenai merasa bahwa kadang hidup ini tidak adil, mrasa tlah berbuat kebajikan tetapi tetap saja ada kejatuhan2. Saya meminta tapi tidak mendapat jawaban. tapi hal ini belum bisa saya simpulkan bahwa Tuhan tidak ada. ya ajaran karma yg selanjutnya saya yakini dan saya yakini juga bahwa hukum2 karma ini berjalan dengan sendirinya setelah ada yang menciptakannya sebelumnya.

    saya bertanya pada anda ttg pengalaman anda karena saya mrasa dari tulisan2 dan jawaban anda maka anda pernah mengalami pengalaman yg sehingga ya …. Tuhan / penyebab awal adalah tdk ada.

    Salam hormat.
    ………………………………………………………………………………………………………
    Dear Badal,
    Salam Hormat dari saya untuk Anda
    Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

    Menjawab pertanyaan anda, hanya bisa saya lakukan dengan dua cara.

    Cara pertama, adalah cara menggunakan analisa-logika dan ilmiah.
    Cara kedua, dengan cara mengajak anda untuk “membuktikan”-nya sendiri.

    PENJELASAN PERTAMA = ANALISA LOGIKA-ILMIAH
    Bila menggunakan analisa-logika-ilmiah, maka ini biasanya bisa menjadi sebuah perdebatan yang tak ada habisnya. Karena pasti akan banyak yang berargumen,“Pastilah ada hal2 yang tidak bisa di logika”.
    Memang benar demikian. Karena itulah penjelasan dengan analisa-logika saja, sebenarnya sangat terbatas untuk mampu menjelaskannya. Namun, tetap tidak ada salahnya kita menelaahnya menggunakan analisa-logika dan ilmiah.

    Sebenarnya, TIDAK-ADA awal yang benar-benar merupakan awal.
    Karena, apa yang menjadi sebab awal, juga telah merupakan akibat dari sebab yang sebelumnya. Sebab dan akibat saling ikut-mengikuti.

    Setidaknya dalam kehidupan yang sekarang ini saja.
    Bila kita melakukan suatu prosedur “Tarik-Mundur”, dari detik ini, ke detik sebelumnya, jam ke jam sebelumnya, hingga hari sebelumnya, minggu sebelumnya, bulan sebelumnya, tahun sebelumnya, windu sebelumnya, abad sebelumnya, millenium sebelumnya, terus kita lakukan prosedur tarik mundur. Maka, kita hanya akan melihat proses sebab-akibat yang tidak pernah berakhir.

    Akibat, telah terkandung dalam sebab.
    Sebab, merupakan akibat dari sebab yang sebelumnya.

    Begitu seterusnya.

    Memang, adalah agak susah untuk merenungkan dengan seksama suatu masa yang benar-benar tidak berawal, dan agak susah untuk merenungkan dengan seksama akhir yang bukan benar2 akhir.

    Akan tetapi, jauh lebih sulit untuk merenungkan dengan seksama suatu masa dimana itu tidak ada WAKTU dan itu menjadi sebab awal. Karena, lalu, darimana terjadinya sebab-awal itu ? Sebelum sebab-awal itu mengawali, ia diawali oleh suatu sebab apa ? Tidak mungkin bukan, sesuatu terjadi secara kebetulan, dan itu menjadi suatu sebab awal ?

    Bahkan, setidaknya ilmu pengetahuan dewasa ini telah membantah segala teori “PENCIPTAAN” alam semesta versi agama2 theistik.

    Jika saya diperkenankan mengutip kisah awal-mula penciptaan alam semesta, maka saya akan mencoba mengkisahkannya ( namun mohon ini jangan lantas disikapi dengan perdebatan, saya harap kita tetap dalam diskusi yang sejuk, teduh, bening, jernih, okey ? 😉 ) =

    Langit dan bumi digabungkan pada awalnya, lalu kemudian dipisah. Setelah terpisah, mereka tiba pada kondisi sekarang setelah melalui tahap saat mereka mirip asap. Proses penciptaan ini terjadi selama 6 hari. Setelah itu Tuhan kembali ke singgasananya, yang dipanggul oleh 8 malaikat dan berada di atas air.
    Dikisahkan kalau Tuhan menciptakan alam semesta, membuat semua mahluk yang berjalan, berenang, merayap dan terbang di muka bumi dari air. Ia membuat malaikat, matahari, bulan dan bintang untuk tinggal di alam semesta. Ia menurunkan hujan, dan menghidupkan bumi dengan menumbuhkan kurma, anggur dan tanaman lain.
    Tuhan memakai tanah liat, air dan debu dan membentuk manusia di surga. Manusia pertama adalah laki-laki . Ia bertahun-tahun tinggal sendiri hingga suatu hari, Tuhan menciptakan perempuan dari tulang rusuknya. Mereka berdua lalu dilarang mendekati pohon Khuldi. Tapi setan menggoda mereka sehingga mereka mendekati pohon khuldi itu. Tuhan marah dan mengusir mereka dan setan ke bumi. Jadilah mereka leluhur umat manusia di bumi.

    Dari pengkisahan tersebut, marilah kita mencoba menghitung-hitung, dari manusia pertama itu hingga sampai kepada kita sekarang ini, maka berapa ribu tahunkah usia alam semesta menurut kisah penciptaan itu ?
    Paling lama, hanya dalam hitungan ratusan ribu tahun, atau setidaknya kita toleransi hingga jutaan tahun. Karena, tidak akan mungkin melebihi angka tersebut, jika memang manusia pertama tersebut adalah Nabi Adam dan total semua nabi jumlahnya ada dua-puluh-lima (25 ).

    Kemudian, mari kita bandingkan dengan penemuan2 ilmuwan dewasa ini.

    Dewasa ini, ditemukan sebuah fosil berbentuk seperti berudu yang diyakini sebagai fosil hewan bertulang belakang paling tua yang pernah ditemukan, yang ditemukan/tergali oleh seorang petani di wilayah perbukitan sebelah selatan Australia. Fosil sepanjang 2,56 inci yang berasal dari hewan sebangsa ikan itu diduga berumur sekitar 560 juta tahun, atau lebih tua 30 juta tahun dibanding rekor fosil tertua sebelumnya.

    ( Sumber = http://www2.kompas.com/teknologi/news/0310/23/231803.htm )

    Usia alam semesta yang disepakati oleh para astronom saat ini adalah 13,7 milyar tahun. ( coba anda googling ).

    Nah, sdr.Badal, bukankah ini jauh lebih tua dari apa yang dikisahkan oleh “Tuhan” lewat para “wakil”2nya di bumi ?

    Dengan temuan2 ilmiah sederhana ( jika hendak dibilang sederhana ) itu setidaknya bisa kita gunakan sebagai sebuah langkah “kritis-dialektis” untuk menelaah kebenaran atau ketidakbenaran dari suatu cerita adanya “Pencipta” yang awal-mulanya menciptakan alam semesta ini.

    Inilah, rekan Badal, ya inilah ( pandangan mengenai adanya Tuhan yang menciptakan dan mengatur segala sesuatu di alam semesta ini ) yang oleh Sang Buddha dianggap sebagai “Pandangan-Spekulatif”, hanya imajinasi belaka, yang semua tidak ada dasar kebenarannya.

    Karena itu, Sang Buddha menerangkan, tidak ada masa yang benar2 awal, karena pada hakekatnya, sebab awal hanyalah merupakan akibat dari sebab awal yang mendahuluinya, begitu seterusnya.

    Akibat terkandung dalam sebab, sebab terlahir sebagai akibat dari sebab sebelumnya.

    Dan jika segala sesuatu harus ada Penciptanya, lalu, “Siapakah Yang Menciptakan Sang Pencipta” ?
    Bukankah pernyataan para penganut “Prima-Causa” itu kemudian menjadi tergugurkan oleh pernyataannya sendiri , oleh dirinya sendiri ?

    PENJELASAN KEDUA ; MENGALAMI
    Mengenai hal ini, saya hanya bisa mengajak anda untuk “menyelami”-nya sendiri, “mengalami”-nya sendiri.
    Sesuatu hal yang asing, bila diceritakan, hanya akan menimbulkan perdebatan, karena si pendengar cerita, tidak tahu dengan pasti kebenaran cerita dari si pencerita.

    Jika seseorang mengatakan, di dalam sebuah Goa terdapat harta karun peninggalan Ir.Soekarno (Presiden I RI ) , maka kemungkinan reaksi anda : 1. Percaya ( karena anda terlalu baik sehingga begitu saja percaya pada orang tersebut 😉 ) ; 2. Tidak-percaya, sangsi, ragu2, dan parahnya, akan menganggap orang itu menipu.

    Langkah terbaik apakah yang bisa kita ambil ?
    Langkah terbaiknya, marilah kita membuktikan, apakah di dalam goa tersebut memang terdapat harta karun Presiden RI I tersebut, atau tidak.

    Nah, langkah2 pembuktian ini, telah dengan sangat mendetail ditunjukkan oleh Sang Buddha, yaitu melalui “Ariya-Atthangika-Magga” ( Jalan Ariya Beruas Delapan ).
    Didalamnya, terdapatlah “Samma-Samadhi” ( Samadhi-Benar ), yang berfungsi untuk membangkitkan kekuatan-batin dan kesadaran adi-daya.

    Ketika kekuatan batin dan kesadaran adi-daya tersebut sudah didapatkan, kekuatan itulah yang bisa digunakan untuk menyelidiki semua hal yang ingin kita ketahui.
    Dengan menempuh jalan itulah, Sang Buddha akhirnya mencapai Pencerahan-Sempurna, mencapai taraf ke-Maha-Tahu-an ( Sabannuta ). Dan akhirnya bisa mengajarkan Dhamma yang indah pada awalnya, indah pada pertengahan, dan indah pada pengakhirannya.

    Dhamma ini, berada sangat dekat ( dekat dengan diri kita sendiri ), tak lapuk oleh waktu, mengundang UNTUK DIBUKTIKAN ( Ehi Passiko ), patut diarahkan kedalam batin, dapat dihayati oleh para bijaksana dalam batin masing2.

    Karena itu, saya seringkali, jika seseorang bertanya, maka jawaban saya,”Marilah, datanglah kesini, mari kita buktikan.” Karena, percuma jika dijawab melalui untaian kata2 seindah apapun juga. Benar begitu kan ?

    Perkenankan pula saya mengajak, “Marilah, datanglah kemari rekan Badal, lihatlah, dan Buktikanlah Dhamma ini oleh diri anda sendiri” 😉

    Saya rasa, itu jawaban paling tepat yang bisa saya berikan pada anda.

    Oiya, mengenai pernyataan anda yang ini =

    namun tetap saja hati ini belum bisa yakin bahwa ya … Tuhan itu tdk ada. (pasti tidak mudah spt membalikkan tangan atau apa sebenarnya …. )

    Benar, anda benar… .Memang untuk bisa sampai pada pemahaman akan hal tersebut, kesimpulan akhir seperti itu, tidaklah semudah seperti membalikkan telapak tangan.
    Saya memahami hal tersebut. Tidak ada seorangpun yang dengan mudah mencapai hal tersebut, tapi bukan berarti tidak bisa dan tidak ada… 😉

    Demikian, saudaraku Badal yang terkasih dan saya hormati.
    Semoga membantu, semoga bermanfaat.
    Semoga Anda Senantiasa Selamat Sejahtera.
    Sadhu,Sadhu,Sadhu.

    • Tedy said

      Dear Bro Badal dan Bro Ratana,

      Bagus… bagus… pertanyaan yg cerdas dan jawaban yg cerdas, sehingga saya sebagai pembaca menjadi ikut cerdas. Terima kasih.

      With metta,
      Tedy

  10. CY said

    @Sdr Badal
    Kalau anda merasa bahwa kadang hidup ini tidak adil, mrasa tlah berbuat kebajikan tetapi tetap saja ada kejatuhan2. Kalau berkenan anda boleh singgah di blog saya utk membaca Artikel saya berjudul “Cara Paling Jitu utk Merubah Nasib Buruk”. Itulah jawaban utk pertanyaan anda. Saya dulu juga bertanya seperti itu.

    *Salam persahabatan*

  11. badal said

    Salam hormat dan kasih, rekan Ratana.

    saya salut kpd anda, yg seusia dgn saya tlah mencoba dan menempuh jalan2 yg sempit utk mencapai ruang tanpa batas. berkelana dalam dunia2 baru. setidaknya saya tlah dikenalkan dgn jalan2 itu, tergantung tekad saya, utk mencoba atau apalah nantinya … smoga karma saya akan membawa pada pada cita2 saya ….
    Rekan CY, sy sdh menyimak tulisan anda… ksmplannya … jgn berbuat jahat, perbanyak kebajikan, sucikan hati dan pikiran. sederat kalimat yg mudah diucapkan … smoga.

    Salam damai, sejahtera dan bahagia.

  12. suprayitno said

    Hidup itu harus dinikmati.Wong hidup cuma sekali kok dibuat susah, dengan meditasi dengan puasa and so on. Bila merasa lapar maka makanlah, bila merasa haus maka minumlah, bila ngantuk ya tidurlah. Santai aja men!!

    Makan jangan sembarang makan supaya tidak menjadi penyakit, makan itu seperlunya aja. Jangan over dosis dan yang enak-enak juga belum tentu menyehatkan kadang malah mematikan maka hati-hati dalam menentukan makanan/menu.

    Minum juga jangan sembarangan minum, sebab banyak minuman yang mematikan.Bila ngantuk ya tidurlah, tetapi jangan sembarangan tidur.Sebab, tidur di kantor nanti pasti dimarahin bos, tidur di kelas dimarahin guru, tidur diterminal bisa-bisa nanti barang-barang bawaan hilang semua, tidur terlalu lama bisa bikin pusing,tidur bangunnya kesiangan bisa berabe. Jadi aturlah waktu tidurmu dengan sebaik-baiknya.

    Bila libido sedang datang, ya salurkan yang benar.Jangan ngawur apa lagi sampai memperkosa atau meniduri bini atau suami orang, nanti bisa hancur-hancuran dan bunuh-bunuhan.

    Jika semua bisa kita kendalikan dengan akal budi dan pikiran -sebagai manusia-, maka hidup ini kok enak banget ya? gak usah dibikin susah lah. Patokannya hanya satu, jangan merugikan orang lain dan diri anda sendiri.

    Jadi perlu gak berdoa? ya jelas perlu karena dalam doa itu kan ada “harapan” barang siapa yang berdoa pasti karena masih ada rasa optimistis. Cuma, doa yang baik ya tetap sambil bekerja sambil berdoa.Bukan banyak berdoa/berharap sedikit usaha. ini mah namanya pemalas.tul gak?

  13. Adrian Adi said

    Sugeng Rahayu lan Namo Buddhaya,

    Saya mau tanya begini, ketika kita mengucapkan “Sabbe Satha Bhavantu Sukhitatha”, maka apakah ini afirmasi bagi diri kita untuk berusaha menciptakan kebahagiaan pada semua makhluk, atau merupakan limpahan jasa kita.. bagaimanakah ini ?

    Terima Kasih
    Anumodanna..
    Mettacittena,

  14. hendry said

    Mohon doa doa dan mantra Buddha,bagi yang suka berdoa tolong dong kata2 doa doa dan mantranya thank,s

  15. supangat said

    Sory, saya terlambat gabung. Salam sejahtera untuk semuanya

  16. kazuya said

    pak saya mau bertobat pak
    bagaimana

  17. dsjh said

    z@jg

  18. Sungguh tidak masuk akal, seakan-akan dunia terjadi seperti teori big bang tanpa ada suatu Pribadi yang mengaturnya. Jika ada hukum Karma(Kamma)pasti ada suatu Pribadi yang menetapkannya. Bagaimana manusia bisa tahu ada kejahatan jika mereka tidak mengetahui adanya kebenaran? Bagaimana manusia bisa tahu adanya hukum jika tidak ada suatu Pribad yang menetapkannya? Arti “doa” adalah komunikasi antar 2 pribadi yang berinteraksi. Doa artinya bercakap-cakap. Jadi kalau doa dalam pengertian ajaran Buddha tidak berarti karena pribadi tersebut berbicara pada “diri sendiri” artinya orang berdoa itu kurang waras, karna berbicara pada diri sendiri???. Itu yang biasa paham ateist yang menyatakannya, apakah ajaran Buddha juga menyetujuinya?. Jika demikian buat apa kita melakukan semadi/ fokus pada hal yang baik, toh itu juga bermuara pada diri sendiri.??? Artinya orang melakukan itu bisa disebut gila???

  19. VANDANA

    Namo Sanghyang Adi-Buddhaya (3x)
    Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa (3x)
    Namo Sabbe Bodhisattvaya Mahasattvaya (3x)

    Terpujilah Tuhan Yang Maha Esa.
    Terpujilah Hyang Bhagava Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna
    Terpujilah para Bodhisattva – Mahasattva, Makhluk Suci Nan Luhur Budinya.

    Ti-Sarana

    Buddham Saranam Gacchâmi.
    Dhammam Saranam Gacchâmi.
    Sangham Saranam Gacchâmi.
    Dutiyampi Buddham Saranam Gacchâmi.
    Dutiyampi Dhammam Saranam Gacchâmi.
    Dutiyampi Sangham Saranam Gacchâmi.
    Tatiyampi Buddham Saranarn Gacchâmi.
    Tatiyampi Dhammam Saranam Gacchâmi.
    Tatiyampi Sangham Saranam Gacchâmi.

    Maaf beribu maaf katanya tidak percaya pada adanya Tuhan Yang Maha Esa
    Terus Sanghyang Ai Buddhaya ternyata disebut sebagai Tuhan Yang Maha Esa kok tidak konsisten ?
    kenapa umat Budha masih meminta perlndungan kepada Budha Dharma dan Sangha ?
    Pada hal perlindungan dan keselamatan serta pencapaian kebebasan tumimbal lahir ( Nirvana )
    adalah hasil segala bentuk usaha dari masing2 individu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: