RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

Archive for Juli, 2009

APAKAH ROMO HUDOYO BERPANDANGAN-SALAH/MENYIMPANG [?]

Posted by ratanakumaro pada Juli 26, 2009

[SADDHA SEORANG SOTAPANNA]

“ Para Bhikkhu, bila keyakinan seseorang telah ditanam, berakar, dan mantap di dalam Tathagata melalui alasan-alasan, istilah-istilah, dan frasa-frasa ini, dikatakan bahwa keyakinannya sudah ditopang oleh alasan, berakar di dalam visi, dan mantap; keyakinannya tak terkalahkan oleh petapa atau brahmana atau dewa atau Mara atau Brahma atau siapapun didunia ini. “

( Vimamsaka-Sutta ; Majjhima-Nikaya, Sutta ke-47 )

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattum (3X) )

Namatthu Buddhassa,

“BUKAN-BUDDHISME”. Demikianlah kesimpulan yang diberikan oleh banyak rekan-rekan ummat Buddha (khususnya yang tergabung dalam dhammacita.org ; meskipun beberapa rekan saya diluar dhammacitta.org juga berpendapat senada) terhadap ajaran yang tertuang dalam sebuah pelatihan “Meditasi Mengenal Diri” (MMD).

Adalah Dr.Hudoyo Hupudhio Mph., seorang Romo / Pandhita dari Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia ( Magabudhi ), yang menggagas pelatihan “Meditasi Mengenal Diri” (MMD), serta menyebarkan berbagai “ajaran”-nya kepada masyarakat luas, termasuk kedalam kalangan ummat Buddha.

Akan tetapi, sebagai seorang Romo, Dr.Hudoyo Hupudhio Mph., oleh banyak ummat Buddha telah dianggap banyak “membelokkan” ajaran Sang Buddha, terutama sehubungan dengan penolakannya terhadap pentingnya penembusan terhadap “Empat Kesunyataan Mulia” ( Cattari Ariya Saccani ) beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan” ( Ariya Atthangika Magga ). Romo Hudoyo Hupudhio juga menolak kebenaran isi Ti-Pitaka , baik Sutta-Pitaka maupun Abhidhamma-Pitaka serta Vinaya-Pitaka tentunya.

Dalam sebuah situs Buddhist resmi di Indonesia ( www.dhammacitta.org ) , pandangan-pandangan Dr.Hudoyo Hupudhio, Mph. yang tertuang dalam ajaran-ajaran “Meditasi Mengenal Diri” (MMD) tersebut, kini telah dikeluarkan dari kategori Buddha-Dhamma.

Berikut adalah cuplikan dari statement resmi Management situs   www.dhammacitta.org =


Dengan ini memutuskan:

1. Peraturan umum tentang diskusi Buddhis semua berdasarkan dua mahzab besar yang ada (Theravada & Mahayana (termasuk vajrayana)) yang meyakini Tiratana, Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulai Berunsur 8. Diluar itu akan dianggap agama/aliran/kepercayaan/keyakinan/filsafat lain. [karena belum ada tempat yang pas]

2. MMD dikategorikan bukan Buddhisme sesuai mahzab besar dan dipindahkan ke board Buddhisme dengan Agama, Kepercayaan, Tradisi dan Filsafat Lain


3. Diskusi tentang MMD diluar board yang seharusnya akan dihapus/edit atau dipindahkan ke board yang seharusnya.

Terima kasih atas perhatiannya.

………. ;

* bahwa DC adalah forum buddhis dan oleh karenanya harus memajukan Buddha Dhamma dengan cara memberikan informasi yang dapat meningkatkan keyakinan umat Buddha khususnya pemula dalam ber-Tisarana (mengambil 3 perlindungan pada Buddha  Dhamma Sangha).

………. ;

* Terlepas dari benar/salah-nya keputusan kami, yang mana tidak akan ada satu pihakpun yang dapat membenarkan/menyalahkan, kami telah berusaha mengambil keputusan sesuai dengan kapasitas dan kewenangan kami, demi kemajuan Agama Buddha dan DhammaCitta ini.

Demikianlah penjelasan ini kami umumkan, semoga semua pihak dapat memaklumi.

[ Sumber = http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,4351.0/wap2.html ]


Atas keputusan tersebut, Romo Hudoyo memberikan tanggapannya. Dan tanggapan beliau tersebut agaknya penting kita pertimbangkan juga untuk kita baca dan resapi :

hudoyo:
Oh, kalian menganggap MMD tidak berdasarkan Tiratana? … Tiratana yang mana maksud kalian? .. Apa artinya “dhammam saranam gacchami”? … Katakan saja terus terang “MMD tidak berdasarkan Kitab Tipitaka Pali tanpa reserve”. Jangan dibelok-belokkan menyangkut Tiratana segala … Itu lebih jujur. … Saya pun pembela Tiratana … Janganlah menjadi pahlawan pembela Tiratana yang merasa paling benar sendiri. … Itu persis seperti MUI yang mengkafirkan Ahmadiyah. …

Pelaporan mana yang kalian maksud? … Jelas SEMUA yang melaporkan adalah orang-orang yang tidak suka dengan MMD, yang patut dipertanyakan pemahamannya akan Buddha Dhamma … mereka yang setuju dengan MMD jelas tidak akan “melaporkan” … Jadi kalau konsiderans keputusan kalian didasarkan pada pelaporan semata-mata, jelas Anda telah berat sebelah. … Tidakkah kalian mempertimbangkan hasil polling tentang MMD baru-baru ini? …

OK … Rekan Sumedho mengundang saya untuk masuk ke forum DC ini … Sekarang kalian beramai-ramai memutuskan “MMD bukan Buddhisme” … Saya tidak terima diperlakukan sebagai sampah di forum ini. … Dengan ini saya menyatakan ABSEN dari forum ini.

Teman-teman Buddhis di forum ini yang ingin mendalami ajaran Sang Guru bersama saya silakan berlangganan forum : HOME / LOEKELOE / Forum Supranatural / Spiritual : Riwayat Agung Para Buddha — http:///showthread.php?t=878014
Saya akan menulis di sana.

Salam,
hudoyo

[ Sumber =

http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,4351.0/wap2.html ]

Dalam sebuah situs ( www.kaskus.us ), seorang rekan yang menggunakan ID “Kemenyan” menjelaskan apa duduk-perkaranya sehingga “ajaran-ajaran” Dr.Hudoyo Hupudhio Mph. ini dikategorikan sebagai “BUKAN BUDDHISME”. Berikut pernyataan rekan “Kemenyan” tersebut :

Hal ini tidak akan pernah ketemu,

Karena pak hudoyo ngotot kalau MMD tidak sejalan dengan

“Jalan mulia berunsur delapan”

yang sama-sama untuk mengakhiri dukkha

Pak hudoyo terlihat lebih memilih untuk tidak dimasukan kedalam kelompok manapun (tidak dilabeli)

Namun, Kami (dari pihak DhammaCitta) tidak mungkin mengunakan standard “perasaan” pribadi untuk memutuskan hal ini, Kami (dari pihak DhammaCitta) juga tidak ingin mengkelompokan thread-thread mengenai MMD sebelumnya,

Namun setelah kami melihat bagaimana “Marketing” MMD nyaris menyerbu seluruh thread, seluruh bagian forum,
Kami dipaksa untuk meng-rapikan.  dan dalam prosesnya…  Timbul pertanyaan… Kemanakah MMD?  yang berakhir pada ricuh-kisuh seperti ini

04-09-2008, 07:56 PM

Sumber =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=8

Di akhir perdebatannya dengan “Kemenyan”,  Romo Hudoyo memberikan tanggapannya sebagai berikut :

OK, Kemenyan … bodoh kalau saya melayani Anda terus … waktu saya sangat berharga untuk membimbing MMD … Sekali lagi, nasi sudah menjadi bubur … sekalipun Anda menghiba-hiba, saya tidak akan masuk ke DC lagi selama managementnya dikuasai oleh orang-orang reaksioner yang ingin memutar mundur jarum sejarah Buddhisme di Indonesia. …

Kita beradu di lapangan … Umat Buddha Indonesia akan menilai sendiri dalam waktu 10 tahun ini … Anda dan teman-teman Anda di DC-kah, atau saya dan teman-teman saya di MMD, yang benar-benar pewaris dari ajaran Sang Guru.

Salam,
hudoyo

[ Sumber =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=8 ]


Dari pandangan-pandangan Romo Hudoyo sendirilah, konflik antara beliau dengan management dhammacitta.org ini terjadi. Romo Hudoyo , sekarang membuka  thread yang ia sebut sebagai “Modern Buddhism” dengan tujuan mewadahi aspirasi para ummat Buddhist dan  non-Buddhist , untuk menampilkan, membahas, memperdebatkan pemikiran & pemahaman baru terhadap ajaran Buddha Gautama yang berkembang di dunia Buddhis internasional maupun lokal, tanpa terikat pada doktrin, mazhab, ritual klasik/tradisional yang ada ; demikian statement beliau. ( Sumber = http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1069163 )


Melihat fenomena yang cukup controversial ini, saya sebagai seorang ummat Buddha, merasa tergugah untuk melakukan research dan telaah kritis atas pandangan-pandangan Romo Hudoyo Hupudhio, yang oleh banyak ummat Buddha dinyatakan sebagai “penyimpangan” dari Buddhisme dan tidak selayaknya diajarkan pada ummat Buddha. Demi mendapatkan kepastian dan kebenarannyalah, artikel ini saya tulis. Mungkin tulisan ini bisa disebut sebagai sebuah “dokumentasi” atas suatu “konflik”  intern dalam tubuh ummat Buddha Indonesia yang pernah terjadi di awal abad ke-21 ini. Atau mungkin juga bisa disebut sebuah bentuk dokumentasi atas timbulnya sebuah “pandangan-salah” dalam diri / sekelompok ummat Buddha.

Setelah melakukan observasi dan proses collecting-data di lapangan atas statement-statement Romo Hudoyo, akhirnya saya mendapatkan beberapa point pandangan-pandangan Romo Hudoyo yang menyebabkan apa yang ia ajarkan dianggap oleh banyak ummat Buddha telah menyimpang dari Buddhisme. Setidaknya ada delapan (8) point pandangan Romo Hudoyo Hupudhio yang bisa kita jadikan bahan pertimbangan, bahwa apa yang diajarkan Romo Hudoyo bukanlah ajaran Buddha, tapi lebih kepada ajaran “Kepercayaan-Lain” yang mungkin memiliki benang-merah dengan Buddhisme, tapi bukan Buddhisme itu sendiri. Ke-delapan ( 8 ) point “pandangan-menyimpang” tersebut adalah :

  1. Penolakan terhadap Empat Kesunyataan Mulia dan Jalan Ariya Beruas Delapan
  2. Pelarangan bagi ummat Buddha untuk melakukan berbagai bentuk Puja ( Namaskara, pembacaan Paritta, dll. ) saat sedang mengikuti retret “MMD”.
  3. Tujuan “MMD” adalah  “berhentinya-pikiran” ( bukan Nibbana sebagaimana Sang Buddha menunjukkannya sebagai tujuan-sejati bagi ummat Buddha )
  4. Penegasan bahwa “MMD” adalah meditasi vipassana “Ala Krishnamurti” ; bukan vipassana ala Buddhisme umumnya.
  5. Penggunaan Bahiya-Sutta, Malunkyaputta-Sutta, dan Angulimala-Sutta sebagai sekedar “jembatan” untuk menghubungkan “MMD” ( yang berbasis ajaran J.Krishnamurti ) dengan ummat Buddha.
  6. Pandangan Romo Hudoyo akan adanya Buddha yang telah muncul di abad ke-20 ; yaitu J.Krishnamurti.
  7. Penolakan [ dengan halus ] Ajaran “Anatta”
  8. Penolakan terhadap Kebenaran isi Ti-Pitaka

Dari bebagai pandangannya, saya menyimpulkan, Saddha Romo Hudoyo terhadap Ti-Ratana, telah terkalahkan semenjak ia ber-“Saddha” kepada J.Krishnamurti. Dan, dengan menolak kesunyataan bahwa hidup adalah dukkha, adanya sebab dukkha, berakhirnya dukkha, dan Jalan menuju berakhirnya dukkha ( Empat Kesunyataan Mulia ) ; Dengan menyatakan adaya si “Aku” yang menjadi penggerak exsistensi manusia, dan  bahwa anatta sesungguhnya tidak bisa dialami oleh para meditator karena hanya merupakan konsepsi belaka,  maka menurut hemat saya, dengan begitu Romo Hudoyo memang benar telah dicengkeram “pandangan-salah” ( micha-ditthi ) yang akan membelenggu beliau serta para siswanya untuk merealisasi pembebasan-sempurna dari samsara.

Untuk mengetahui dengan  lebih jelas, marilah kita masuk pada pembahasan  kedelapan point “pandangan-menyimpang” Romo Hudoyo tersebut.

1. PENOLAKAN ROMO HUDOYO TERHADAP EMPAT KESUNYATAAN MULIA DAN JALAN ARIYA BERUAS DELAPAN

Saya akui, ketika saya menjabat Sekjen Mapanbudhi dulu, saya pernah ikut-ikutan terlibat dalam “pengganyangan” Nichiren Shoshu Indonesia (NSI) … tetapi sekarang saya sadari bahwa itu salah. …

Mengapa Anda bertahan dengan metode ortodoks seperti 4KM ( Empat Kesunyataan Mulia, – pen. ) / JMB8 ( Jalan Mulia Beruas Delapan,- pen. ) kalau itu hanya menyebabkan KETAKUTAN dan KEBINGUNGAN seperti Anda ungkapkan sendiri? …

[ Sumber =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=8 ]

Pertanyaan Romo Hudoyo mengenai mengapa ummat Buddha teguh berjalan ( dalam bahasa Romo Hudoyo = “bertahan-dengan-metode-ortodoks” ) di dalam Jalan Ariya Beruas Delapan dan Empat Kesunyataan Mulia, amat sangat janggal, mengingat pertanyaan ini diajukan oleh seorang Romo / Pandhita Buddhist dari mazhab Theravada.

Sebab, sebagai seorang Theravadin ( apalagi seorang Romo / Pandhita ), seharusnya beliau mengetahui, bahwa Empat Kesunyataan Mulia beserta Jalan Ariya Beruas Delapan adalah “intisari” dari seluruh ajaran Sang Buddha.

Akan berbeda halnya, bila pertanyaan itu diajukan oleh ummat agama lain yang memang tidak ber-Tisarana ( berlindung pada Buddha-Dhamma-Sangha ). Sah-sah saja bagi ummat agama lain untuk menolak Empat Kesunyataan Mulia ( ajaran bahwa : hidup adalah penderitaan, sebab penderitaan adalah nafsu-keinginan, berakhirnya-penderitaan ( bahwa penderitaan tersebut bisa berakhir, yakni saat merealisasi “Nibbana” ), dan adanya Jalan menuju berakhirnya penderitaan ( yaitu “Jalan Ariya Beruas Delapan” ) ).

Quote from: Sumedho on 29 July 2008, 01:29:14 PM

jadi kesimpulannya Pak Hud, apakah jalan mulia beruas 8 bisa membawa kebebasan tidak? kalau sudah disimpulkan, nanti buka thread lain aja supaya lebih rapih

Kalau Anda membaca dengan teliti thread ini, Anda akan melihat beberapa kali saya katakan:

Segala JALAN spiritual, termasuk JMB-8, tidak bisa membebaskan orang; untuk bebas batin harus berhenti, bukan berjalan.

Silakan kalau ada orang mau berpendapat lain.

Salam,

hudoyo

Quote from: ryu on 28 July 2008, 01:38:32 PM

14. “Bhagava, adakah jalan, adakah metode untuk mencapai hal-hal ini?” “Ada jalan, Mahali, ada metode.” [157] “Dan Bhagava, apakah jalan itu, apakah metode itu?”

“Yaitu, Jalan Mulia Berfaktor Delapan, yaitu, Pandangan Benar, Pikiran Benar; Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar; Usaha Benar, Perhatian Benar dan Konsentrasi Benar. Ini adalah jalan, ini adalah cara untuk mencapai hal-hal ini.”

http://dhammacitta.org/tipitaka/dn/dn.06.0.wlsh.html

hehe … ini kan cuma mengulang-ulang argumentasi lama: ada JALAN ajaran Sang Buddha, yakni JMB-8.

Itulah yang diajarkan dalam AGAMA Buddha, dalam Tipitaka Pali yang ditulis berabad-abad setelah Sang Buddha wafat. Saya tidak percaya itu datang dari mulut Sang Buddha.

Quote from: hudoyo on 26 July 2008, 06:36:26 AM

Quote from: nyanadhana on 25 July 2008, 04:11:41 PM

Ketika Sang Buddha memutar Dhammacakkapavattana….Beliau menjelaskan 2 Ekstrim yang dihancurkan melalui Jalan Tengah apakah Jalan Tengah itu ya 8 Jalan Ariya sehingga membawa orang menuju Nibbana. Yang dimaksud mungkin ketika kamu sedang berjuang mencapai Nibbana. gunakan 8 Jalan itu dan ketika sudah sampai maka ibarat rakit dilepas,lagian orang yang telah mencapai Nibbana atau kepadaman, ia tidak lagi memerlukan kemelekatan akan 8 Jalan itu sendiri melainkan telah terintegrasi dalam setiap ucapan,perbuatan dan pikiran.

Ini saja yang saya tangkap ketika membaca Visuddhi Magga

Bagus-bagus saja umat Buddha berpendapat seperti Anda.

Yang saya katakan adalah umat non-Buddhis pun bisa saja mencapai pembebasan (nibbana) tanpa melalui JMB-8, tanpa melalui konsep “pantai seberang”, tanpa melalui konsep “rakit”.

Itulah yang saya pahami dari pengalaman sadar sampai sejauh ini.


Permasalahannya disini saya melihat Romo Hudoyo sangat meragukan kebenaran isi Ti-Pitaka dan menganggap Empat Kesunyataan Mulia beserta Jalan Ariya Beruas Delapan hanyalah merupakan formulasi para Bhikkhu setelah Sang Buddha Parinibbana. Ini yang dilematis, dan tentu bila Romo sudah tidak-yakin, penjelasan seperti apapun juga susah untuk Romo akui. Namun tetap, dibawah ini nanti, saya akan mengulas kembali “sejarah-penyusunan” Ti-Pitaka yang disusun oleh para Arahanta tiga (3) bulan setelah Sang Buddha Parinibbana.

Sesungguhnya banyak sekali Sang Buddha mengkhotbahkan ajaran tersebut dari mulut Beliau sendiri. Meski mungkin Romo Hudoyo anggap sutta ini pun hasil “rekayasa”, tapi saya tetap hendak menuliskannya disini khusus saya sajikan untuk ummat Buddha umumnya yang masih memiliki saddha yang kuat terhadap Ti-Ratana ; bukan untuk yang tidak-yakin / tidak ber-Saddha.  Berikut adalah beberapa khotbah yang bisa menunjukkan bahwa “Empat Kesunyataan Mulia” beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan”, merupakan ajaran langsung dari Sang Buddha Gotama.

” Dan juga, para Bhikkhu, Aku melihat Jalan setapak tua, Jalan-Purba yang ditempuh oleh para Buddha dimasa lampau. Dan apakah jalan setapak tua itu,  Jalan Purba itu ? Jalan itu adalah Jalan Ariya Beruas Delapan : Pandangan-Benar, Pikiran-Benar, Ucapan-Benar, Perbuatan-Benar, Mata-Pencaharian-Benar, Usaha-Benar, Perhatian-Benar, dan Konsentrasi-Benar.” [ Samyutta-Nikaya , 12 : 65 ]

“ ‘Jalan-Tengah yang ditemukan oleh Tathagata menghindari kedua ekstrim itu ; karena memberikan visi, memberikan pengetahuan, Jalan ini membawa menuju kedamaian, menuju pengetahuan-langsung, menuju pencerahan, menuju Nibbana.’ Demikian dikatakan. Dan dengan mengacu pada apa maka hal ini dikatakan ? Itulah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini ; yaitu, Pandangan Benar, Niat Benar, Ucapan Benar, Tindakan Benar, Penghidupan Benar, Usaha Benar, Kewaspadaan Benar, dan Konsentrasi Benar. Jadi, mengacu pada hal inilah maka dikatakan : ‘ Jalan-Tengah yang ditemukan oleh Tathagata menghindari kedua ekstrim itu… menuju Nibbana.” [ Aranavibhanga-Sutta ; Majjhima-Nikaya, Sutta ke-139  ; Khotbah ini disampaikan oleh Sang Buddha pada para Bhikkhu di Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anathapindika ].


“… Nah, Cunda, disini penghapusan harus dipraktekkan olehmu :

…. ;

‘Orang-orang lain akan memiliki pandangan-salah; disini kita akan memiliki “Pandangan-Benar” ; penghapusan harus dipraktekkan-demikian.

‘Orang-orang lain akan memiliki niat-yang-salah ; disini kita akan memiliki ‘Niat-yang-Benar’ ; penghapusan harus dipraktekkan demikian.

‘Orang-orang lain akan akan berbicara-salah ; disini kita akan memiliki “Pembicaraan-yang-Benar” ; penghapusan harus diprakatekkan demikian.

‘ Orang-orang lain akan melakukan tindakan-yang-salah ; disini kita akan memiliki “Tindakan-yang-Benar” ; penghapusan harus dipraktekkan demikian.

‘Orang-orang lain akan memiliki penghidupan-yang-salah ; disini kita akan memiliki “Penghidupan-yang-Benar” ; penghapusan harus dipraktekkan demikian.

‘Orang-orang lain akan memiliki usaha-yang-salah ; disini  kita akan memiliki “Usaha-yang-Benar” ; penghapusan harus dipraktekkan demikian.’

‘ Orang-orang lain akan memiliki kewaspadaan-yang-salah ; disini kita akan memiliki “Kewaspadaan-yang-Benar” ; penghapusan harus dipraktekkan demikian.

‘ Orang-orang lain akan memiliki konsentrasi-yang-salah ; disini kita akan memiliki “Konsentrasi-yang-Benar” ; penghapusan harus dipraktekkan demikian.’

… .”  [ Sallekha-Sutta ; Majjhima-Nikaya, Sutta ke-8 ; Khotbah ini disampaikan oleh Sang Buddha pad Y.M.Maha Cunda ketika Sang Buddha sedang berdiam di Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anathapindika ]


“Ketika pikiranku yang terkonsentrasi telah demikian termurnikan, terang, tak-ternoda, bebas dari ketidaksempurnaan, dapat diolah, lentur, mantap, dan mencapai keadaan tak-terganggu, aku mengarahkannya pada pengetahuan-tentang hancurnya noda-noda (asavakhayanana). Secara langsung aku mengetahui sebagaimana adanya : ‘Inilah Penderitaan’…’Inilah Asal Mula Penderitaan’…’Inilah Berhentinya Penderitaan’…’Inilah Jalan menuju Berhentinya Penderitaan’… [ Bhayabherava-Sutta ; Majjhima-Nikaya, Sutta ke-4 ; Khotbah ini disampaikan oleh Sang Buddha pada Brahmana Janussoni, di Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anatapindika ].


Sesungguhnya, masih banyak Sutta-sutta yang menunjukkan bahwa “Empat Kesunyataan Mulia” beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan” adalah memang ajaran yang dinyatakan dari mulut Sang Buddha sendiri. Seharusnya Romo Hudoyo, sebagai seorang Pandhita, mengetahui hal ini. Bagaimana mungkin seorang Romo tidak mengetahui hal-hal seperti ini.

Tanya = Menurut Pak Hud jalan mulia beruas 8 itu bisa membawa kebebasan tidak? (cuma nanya, jadi mau tahu gimana pandangan Pak Hud mengenai jalan beruas 8 )


Jawab = Menurut hemat saya, kalau orang melekat pada Jalan Mulia Berunsur Delapan ia akan tetap terbelenggu.
Karena sesungguhnya tidak ada jalan … tidak ada tujuan … tidak ada pantai seberang.
Nibbana itu sendiri berarti padam.

Salam,
Hudoyo

[ Sumber =

http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=3718.0 ]


Membaca kalimat Romo Hudoyo,”…sesungguhnya tidak ada jalan…tidak ada tujuan…tidak ada pantai seberang…” tersebut jujur saja, awalnya saya terpesona. Untaian kalimat tersebut sangat indah, bagaikan pernyataan seorang “filsuf”.

Tapi, bila dikaji secara kritis, maka sebenarnya pernyataan tersebut sesungguhnya sangat bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Sang Buddha ( yang seharusnya adalah Guru-Agung bagi pak Hudoyo ; jika ia memang seorang Buddhist ).  Kenyataannya, Sang Buddha sendiri menyatakan “… ada Nirvana, tetapi tak seorangpun yang memasukinya; Ada jalan, tetapi tak seorang pengunjungpun yang melewatinya. “ (Visuddhi Magga. XVI). Dalam Dhammapada, Magga Vagga : 20-1, juga dinyatakan, “ Diantara semua Jalan, Jalan Suci yang beruas delapan adalah yang terbaik. Diantara semua Kebenaran, Empat Kesunyataan Mulia adalah yang termulia; Diantara semua keadaan batin, Nibbana adalah yang tertinggi ;  Diantara semua makhluk yang berkaki dua dan dapat melihat, Sang Buddha adalah yang ter-Agung.

Penolakan Romo Hudoyo terhadap “Empat Kesunyataan Mulia” beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan” ini sepertinya menjadi “semangat-central” dalam setiap diskusi-diskusinya, dalam setiap statement-statementnya. Berikut adalah hasil penelusuran saya atas statement-statement beliau di berbagai situs dan milist di internet :

… apa lagi ini: Jalan Mulia Berunsur Delapan? … Seorang Muslim atau Keristen tidak kenal itu … tapi kalau ia mengikuti MMD ia akan mengakhiri dukkha, sebagaimana dinyatakan oleh Sang Buddha dalam Bahiya-sutta, tanpa perlu menghafal Jalan Mulia Berunsur Delapan sama sekali.

[ Sumber =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=8 ]

“Kalau seseorang mengikuti “MMD” ia akan mengakhiri dukkha”. Demikian dengan penuh percaya diri Romo Hudoyo menyatakan. Agaknya memang Romo Hudoyo ini tidak memahami ( atau barangkali “lupa” ) makna dari “berakhirnya-dukkha”.

Secara sederhana saja, apakah Romo dan para peserta MMD telah berhasil mencabut ketiga-api yang membakar dunia ini ; keserakahan akan keindriyaan (lobha), kemarahan/kebencian (dosa) dan kebodohan batin ( moha ; kebodohan batin adalah, kebodohan karena tidak bisa melihat dengan jelas bahwa hidup ini adalah penderitaan, adanya sebab penderitaan, berakhirnya penderitaan, dan Jalan menuju berakhirnya penderitaan )  ?  .

Apakah ada diantara peserta MMD yang telah tidak dicengkeram “tanha” ( nafsu-keinginan ) ? Ini saja pertanyaan sederhana untuk mengukur sampai sejauh mana kebenaran pernyataan “siapapun yang mengikuti MMD ia akan mengakhiri dukkha”.

Quote from: dilbert on 23 July 2008, 09:17:15 AM

‘Jalan Tengah’ (Madhyama Pratipad) yang diajarkan oleh Sang Buddha itu sendiri tidak relevan di dalam MMD! Tentu Anda kaget mendengar ini.



‘Jalan Tengah’ mengajarkan ‘Sila’ (Moralitas), ‘Samadhi’ (Meditasi), & ‘Prajna’ (Kearifan). Ketiga kategori latihan itu tidak relevan lagi dalam MMD, di mana hanya ada diam dalam sadar/eling pada saat kini.

‘Jalan Tengah’ merupakan “jalan” untuk mencapai suatu tujuan di masa depan, yakni “Lenyapnya Dukkha” (Duhkha-Nirodha). Di dalam MMD tidak diajarkan “jalan” apa pun untuk mencapai tujuan apa pun, melainkan justru dilatih untuk diam pada saat kini.

[ Sumber =

http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan–Apa-ajaran-Sang-Buddha-tentang-sadar-eling-pada-saat-kini–td16575427.html ]


Dari statement diatas ( serangkaian penolakan Romo Hudoyo tehadap Empat Kesunyataan Mulia dan Jalan Ariya Beruas Delapan ), yang menjadi menarik untuk dipelajari adalah, apa yang menjadi latar belakang pemikiran Romo Hudoyo untuk dengan sedemikian keras menolak “Jalan Ariya Beruas Delapan” tersebut ?

Dari hasil penelusuran saya, ternyata pemikiran Romo Hudoyo tersebut berasal dari ajaran J.Krishnamurti. Seseorang bernama ( atau menggunakan ID nama ) Daniel, memposting dialog BBC dengan J.Krishnamurti ( date : July 14, 2006, 03:17 ) yang diterjemahkan oleh Romo Hudoyo Hupudhio. Dari dialog tersebutlah saya jadi mengerti bagaimana awal-mula “pola-pikir” Romo Hudoyo tersebut terbentuk ; yang ternyata banyak diwarnai dari “doktrin” J.Krishnamurti.

Berikut adalah cuplikan dialog tersebut :

JK: Jadi, melihat bahaya — jika Anda melihat
bahaya dari konflik, misalnya, bahaya psikologis
dari seorang manusia yang terus-menerus berada
dalam konflik–ia mungkin bermeditasi, ia mungkin
berbuat apa saja, tetapi konfliknya akan berjalan
terus–tetapi jika ia melihat bahayanya, seperti
bahaya sebuah racun, maka ia akan menghentikannya. Itulah akhirnya.


Sebelum saya lanjutkan dialog antara BBC dengan J.Krishnamurti ini, saya hendak mengkritisi mengenai ajaran “penghentian-konflik” ini. Sebenarnya, ajaran ini sudah sangat tidak asing lagi bagi ummat Buddha ; seperti umumnya ajaran J.Krishnamurti yang memang sudah sangat tidak asing lagi bagi ummat Buddha ( lihat dan baca di pembahasan pandangan-menyimpang keenam (6) dari Romo Hudoyo ; disana saya cuplikkan dialog Walpola Rahula dengan J.Krishnamurti ; statement dari Walpola Rahula, “Bukankah Anda hanya mengulang apa yang disabdakan Buddha”. )

Dalam Aranavibhanga Sutta ( Majjhima-Nikaya ;  Sutta ke-139 ), Sang Buddha secara terperinci membahas tentang “Tanpa-Konflik”. Khotbah dalam sutta ini sangat mendetail tentang hal-hal yang menimbulkan konflik dan hal-hal yang menjauhkan konflik. Berikut adalah petikan sutta tersebut :

“ Para Bhikkhu, akan kuajarkan kepada kalian penjelasan rinci tentang tanpa-konflik. Dengarkan dan perhatikan dengan seksama apa yang akan kukatakan” – “ Ya, Bhante”, jawab para Bhikkhu. Yang Terberkahi mengatakan hal ini :

“ Orang seharusnya tidak mengejar kesenangan indera, yang bersifat rendah, norak, kasar, tidak mulia, dan tidak bermanfaat ; dan orang seharusnya tidak mengejar penyiksaan-diri, yang bersifat menyakitkan, tidak mulia, dan tidak bermanfaat. Jalan-Tengah yang ditemukan oleh Tathagata menghindari kedua ekstrim itu ; karena memberikan visi, memberikan pengetahuan, Jalan ini membawa menuju kedamaian, menuju pengetahuan-langsung, menuju pencerahan, menuju Nibbana.Orang harus mengetahui apa yang harus dijunjung tinggi dan apa yang harus dicela, dan karena mengetahui keduanya, dia seharusnya tidak meninggikan atau mencela melainkan seharusnya mengajarkan hanya Dhamma saja. Orang seharusnya mengetahui bagaimana mendefinisikan kesenangan, dan karena mengetahui hal itu, dia seharusnya mengejar kesenangan di dalam diri sendiri. Orang seharusnya tidak mengeluarkan ucapan tersamar, dan dia seharusnya tidak mengeluarkan ucapan terang-terangan yang tajam. Orang seharusnya berbicara pelan, bukan tergesa-gesa. Orang seharusnya tidak bersikeras dengan bahasa local, dan dia seharusnya tidak mengesampingkan penggunaan normal. Inilah ringkasan penjelasan rinci tentang “Tanpa-Konflik”. “ [ Aranavibhanga-Sutta ; Majjhima-Nikaya, Sutta ke-139 ]


Demikianlah, sehingga ajaran central dari J.Krishnamurti mengenai “tanpa-konflik” itu, bagi ummat Buddha dimanapun juga, bukanlah hal baru dan “asing” lagi.

P: Dari apa yang Anda katakan, tampaknya TIDAK ADA JALAN menuju ke situ.

JK: TIDAK .

P: Lalu bagaimana kita bisa sampai ke situ? Untuk
sampai ke suatu tempat tanpa suatu jalan apa pun,
menurut saya bukan suatu ide yang baik.

JK: Begini — Jalan ini ditetapkan oleh
pikiran–bukan? Seluruh jalan pembebasan Hindu,
Buddhis, Islam, Kristen — Kebenaran bukanlah
suatu titik tertentu yang menetap [fixed]. Jadi manakah jalan ke situ?

[ Sumber http://forum.wgaul.com/archive/thread/t-50991-Ajaran-J-Krishnamurti.html ]

Sedikit pertanyaan dari saya, jika kebenaran bukanlah sesuatu yang “tetap” ( abadi ), bagaimana mungkin ia bisa disebut sebagai “kebenaran” ? Sesuatu kebenaran yang tidak tetap ( tidak abadi ), bukanlah “kebenaran-mutlak” ( paramatha-sacca ). Sebab “kebenaran-mutlak” itu bersifat : benar, tidak terikat oleh waktu, dan tidak terikat oleh ruang. Sejati dan abadi, inilah kebenaran-mutlak. Dan sesungguhnya memang ada “kebenaran-mutlak” tersebut. Dan jika yang ditemukan J.Krishnamurti adalah kebenaran yang masih “tidak-tetap”, berarti J.Krishnamurti belum menemukan adanya kebenaran yang “abadi” dan sejati ( Paramatha-Dhamma ).

Namun seperti apapun makna dari kata2 J.Krishnamurti, agaknya ajaran J.Krishnamurti tersebutlah yang kemudian diimani oleh Romo Hudoyo dan menyebabkan beliau selalu menolak “Jalan Ariya Beruas Delapan”. Beliau selalu menganjurkan untuk “melepaskan” Jalan tersebut, dan menyarankan, “Cukup berhenti saja!”.

Kepada umat Buddha yang merasa berjalan di atas “Jalan Utama Berfaktor Delapan” (Arya-Ashtangika-Marga), kita patut mengingatkan ucapan Sang Buddha kepada Angulimala: “… Kamulah yang terus berlari. Apa yang kamu cari? Berhentilah!”

[ Sumber = http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan–Apa-ajaran-Sang-Buddha-tentang-sadar-eling-pada-saat-kini–td16575427.html ]

Lewat pernyataan diatas, apakah Romo Hudoyo bermaksud menghimbau ummat Buddha yang berjalan di “Jalan Ariya Beruas Delapan” untuk “Berhenti” menempuh Jalan tersebut dengan dasar adanya seruan Sang Buddha pada Angulimala seperti tersebut diatas ( Berhentilah ! ) ?

Sebagai seorang Romo, Bp.Hudoyo tentunya sangat mengerti kisah Angulimala yang dimaksud. Namun , bagaimana bisa Romo Hudoyo menggunakan kisah Angulimala tersebut dalam pengertian yang berbeda untuk tujuan mencari pembenaran / korelasi antara ajaran “berhentinya-pikiran” (ala J.Krishnamurti) dengan ajaran Buddha ? Sebab, Sabda Sang Buddha tersebut bukan bermaksud menyuruh Angulimala untuk “menghentikan” langkahnya dalam menempuh “Jalan Ariya Beruas Delapan” , bahkan Angulimala saat itu pun sama-sekali tidak mengenal apa itu “Jalan Ariya Beruas Delapan”.

Untuk ummat Buddha yang belum mengetahui kisah Angulimala sang pembunuh ini, berikut ini saya sajikan petikan sutta yang menggambarkan kisahnya :

“ … Pada suatu ketika Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anathapindika.

Pada saat itu ada seorang bandit bernama Angulimala di wilayah Raja Pasenadi dari Kosala. Bandit ini membunuh, bertangan-berlumur-darah, terbiasa memukul dan suka kekerasan, tak kenal ampun kepada makhluk hidup. Berbagai desa, kota, dan daerah dihancurkan olehnya. Dia terus saja membunuh orang dan jari-jari korban digunakannya sebagai untaian kalung.

Suatu pagi, Yang Terberkahi berpakaian, mengambil mangkuk dan jubah luar Beliau, lalu pergi ke Savatthi untuk mengumpulkan dana makanan. Setelah Beliau berkelana untuk mengumpulkan dana makanan di Savatthi dan telah kembali, setelah selesai makan Beliau merapikan tempat istirahatnya, mengambil mangkuk dan jubah luar-Nya, lalu berangkat menuju jalan yang mengarah pada Angulimala. Para penggembala sapi, penggembala kambing, dan pembajak sawah yang lewat melihat Yang Terberkahi berjalan menuju Angulimala dan memberitahu Yang Terberkahi : “Jangan mengambil jalan ini, petapa. Di jalan ini ada bandit Angulimala, membunuh, bertangan-berlumur-darah, terbiasa memukul dan suka kekerasan, tak kenal ampun kepada makhluk hidup. Berbagai desa, kota, dan daerah dihancurkan olehnya. Dia terus saja membunuh orang dan jari-jari korban digunakannya sebagai untaian kalung. Orang-orang lewat jalan ini dalam kelompok sepluh, dua puluh, tiga puluh, dan bahkan empat puluh, tetapi tetap saja mereka menjadi korban tangan Angulimala.” Ketika hal ini disampaikan, Yang Terberkahi meneruskan perjalanan-Nya dengan diam.

Untuk kedua kalinya…untuk ketiga kalinya para penggembala sapi, penggembala kambing, dan pembajak sawah memberitahukan hal ini kepada Yang Terberkahi, tetapi tetap saja Yang Terberkahi meneruskan perjalanan-Nya dengan diam.

Bandit Angulimala melihat Yang Terberkahi datang dari kejauhan. Ketika melihat Beliau, dia berpikir : “Ini bagus, ini luar biasa! Orang-orang melewati jalan ini dalam kelompok sepuluh, dua puluh, tiga puluh, dan bahkan empat puluh, dan tetap saja mereka menjadi korban tanganku. Dan sekarang petapa ini datang sendiri, tidak ditemani, seolah-olah didorong oleh nasib. Mengapa aku tidak membunuh petapa ini saja ?” Angulimala kemudian mengambil pedang dan tamengnya, memasang busur dan tempat anak panahnya, dan mengikuti dari dekat di belakang Yang Terberkahi.

Maka Yang Terberkahi menunjukkan kekuatan supranormal yang sedemikian rupa sehingga bandit Angulimala, walaupun berjalan secepat yang dia bisa, tidak sanggup mengejar Yang Terberkahi yang berjalan dengan kecepatan normal. Kemudian bandit Angulimala berpikir : “Ini hebat, ini luar biasa!  Aku bisa mengejar bahkan gajah yang cepat dan menangkap-Nya ; aku bisa mengejar bahkan kuda yang cepat dan menangkapnya; aku bisa mengejar bahkan kereta yang cepat dan menangkapnya; aku bisa mengejar bahkan rusa yang cepat dan menangkapnya ; tetapi sekarang, walaupun aku berjalan secepat yang aku bisa, aku tidak sanggup mengejar petapa yang berjalan dengan kecepatan normal ini!” Dia pun berhenti dan berteriak kepada Yang Terberkahi :” Berhenti, petapa! Berhenti, petapa!”

“Aku telah berhenti, Angulimala,engkau pun berhentilah juga.”

Kemudian bandit Angulimala berpikir : “Petapa-petapa ini, putra-putra Sakya, berbicara kebenaran, menegaskan kebenaran ; tetapi walaupun petapa ini masih berjalan, dia mengatakan : ‘ Aku telah berhenti, Angulimala, engkau pun berhentilah juga.’ Sebaiknya kutanyai petapa ini.”

Maka bandit Angulimala berkata kepada Yang Terberkahi dalam bait-bait demikian :

“Sementara Engkau sedang berjalan, petapa, Kau katakan padaku Engkau telah berhenti ;

Tetapi sekarang, ketika aku telah berhenti, Kau katakan aku belum berhenti.

Aku bertanya kepada-Mu kini, O Petapa, tentang artinya :

Bagaimana bisa Engkau telah berhenti dan aku belum ?”

“ Angulimala, Aku telah berhenti selamanya,

Aku bebas dari kekerasan terhadap makhluk hidup;

Tetapi engkau tidak punya pengendalian diri terhadap makhluk-makhluk hidup;

Itulah sebabnya Aku telah berhenti dan engkau belum.”

“ Oh, akhirnya petapa ini, orang suci yang dihormati, telah datang ke hutan besar ini demi aku. Setelah mendengar bait-Mu yang mengajarkan Dhamma kepadaku, aku benar-benar akan meninggalkan kejahatan selamanya.”

Setelah berkata demikian, bandit itu mengambil pedang dan senjatanya dan melemparkannya ke kedalaman jurang yang menganga ; Si Bandit menyembah di kaki Yang Tertinggi, dan saat itu dan disana juga memohon pentahbisan.

Yang Tercerahkan, Manusia Suci dengan Kasih Sayang yang Besar, Sang Guru dunia dengan [semua] dewanya, berkata kepadanya dengan kata-kata ini, “Datanglah, Bhikkhu.” Dan demikianlah dia [Angulimala] menjadi bhikkhu.

Kemudian Yang Terberkahi mulai berkelana kembali ke Savatthi dengan Angulimala sebagai pelayan Beliau. Berkelana secara bertahap, Beliau akhirnya tiba di Savatthi, dan disana Beliau berdiam di Hutan Jeta, Taman Anathapindika. ( …dst. ; Angulimala-Sutta ; Majjhima-Nikaya, Sutta ke-86 )

Jadi, perintah” Berhentilah! “ dari Sang Buddha kepada Angulimala tersebut adalah perintah untuk menghentikan semua bentuk kejahatan, untuk menyingkirkan pedang dari kehidupan Angulimala, bukan perintah kepada seseorang yang sedang melangkah dalam “Jalan Ariya Beruas Delapan” untuk menghentikan penempuhan Jalan yang “sia-sia” sebagaimana Romo Hudoyo maksudkan. Justru kemudian, setelah Sang Buddha menyuruh Angulimala untuk berhenti dari semua kejahatannya, ia mulai menempuh latihan bertahap, menempuh “Jalan Ariya Beruas Delapan”. Romo Hudoyo agaknya perlu lebih bijaksana dalam mengutip sutta, supaya tidak terjadi distorsi makna.

Dalam banyak kesempatan, Romo Hudoyo menganggap, ummat Buddha yang masih berjalan menempuh “Jalan Ariya Beruas Delapan” adalah belum mampu melihat hakikat “Dhamma”. Ummat Buddha dianggapnya sekedar memegang konsep belaka. Dan apakah Romo dengan demikian tidak memegang “konsep” dari J.Krishnamurti ?

Dan, Romo Hudoyo, Empat-Kesunyataan-Mulia, itu adalah “Dhamma” yang ditembus oleh Sang Buddha sendiri melalui pencerahan-Nya. Empat pandangan cerah inilah tanda pencerahan ( Bodhi ) yang Sang Buddha capai. Dan, hal ini pulalah yang telah ditembus oleh banyak Arahanta serta para Ariya lainnya, sehingga mereka semua akhirnya bisa membebaskan diri dari samsara. Kebodohan-batin ( moha )-lah yang menyebabkan seseorang tidak bisa melihat bahwa : hidup ini sejatinya adalah dukkha, sebab dukkha adalah nafsu-keinginan, berakhirnya-dukkha ( dengan ter-realisasinya Nibbana ), dan adanya Jalan menuju berakhirnya-dukkha ( Jalan Ariya Beruas Delapan ).


Dalam sebuah diskusi antara Romo Hudoyo dengan rekan Wei dan Adri =

Tampaknya Anda berdua masih melekat pada konsep (Jalan Mulia Berfaktor Delapan), terutama rekan Wei. 🙂

Begini ya, Anda harus dapat membedakan antara konsep dan kebenaran. Konsep adalah pikiran, sedangkan kebenaran berada di luar pikiran. Kebenaran itu bisa diungkapkan dengan berbagai konsep, kata-kata, paradigma dsb, tergantung pembelajaran & keterkondisian pikiran masing-masing orang. Tapi kata-kata tidak bisa menggantikan kebenaran. The word is not the thing.

[ Sumber =

http://groups.yahoo.com/group/semedi/message/17515 ]


Lagi-lagi, kata2 “The Word is not The Thing” itu merujuk pada “Sabda” yang diucapkan oleh Jiddu Krishnamurti =

“Let us look at fear in a different direction. There is the word, and there is the thing. The word tree is not the tree. We will keep it very simple. We will use only one symbol : the word tree is not the actual tree. But for us, the word is the tree. So we must be able to see clearly that THE WORD IS NOT THE THING. This is important to go into the question of fear.”

[ The Collected Works of J. Krishnamurti: 1962-1963, A psychological revolution

Oleh Jiddu Krishnamurti ]


Mengenai “Dhamma”. Romo Hudoyo agaknya perlu diingatkan bahwa “Dhamma” Sang Buddha ini memang unique. Karenanya, Sang Buddha sendiri kemudian berani menyatakan khotbah “Raungan-Singa”-Nya, menyatakan Beliau adalah “Yang-Tertinggi”, dan hanya di dalam “Dhamma”-Nya saja terdapat kehidupan suci, tidak ada di dalam “Dhamma” diluar ajaran Beliau. Janganlah Romo kemudian beranggapan bahwa, Dhamma artinya adalah semua ajaran yang menuju pada suatu “puncak-spiritual” yang diajarkan banyak Guru diluar Sang Buddha, sebab bila demikian, maka akhirnya bahkan tidak ada bedanya Dhamma Sang Buddha dengan “Dhamma” para petapa dan kelana sekte-lain dijaman Sang Buddha, dimana kenyataannya memang jauh berbeda.

Untuk sekedar mengingatkan kita semua, berikut ini adalah Sabda Sang Buddha =

“Pada suatu ketika Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anathapindika. Disana Beliau berkata kepada para Bhikkhu demikian : “Para Bhikkhu” – “Bhante”, jawab mereka. Yang Terberkahi berkata demikian :

Para Bhikkhu, hanya di sinilah terdapat seorang petapa, hanya disinilah petapa kedua, hanya disinilah petapa ketiga, hanya disinilah petapa keempat. Doktrin-doktrin yang lain kosong akan petapa : demikianlah kalian seharusnya mengaumkan raungan singa kalian dengan benar.”

“Mungkin saja, para Bhikkhu, para kelana sekte lain bertanya : “Tetapi dengan kekuatan [argumen] apa, atau dengan penopang [keabsahan] apa maka para mulia berkata demikian ?”… dst.

” Para kelana sekte lain yang bertanya demikian bisa dijawab dengan cara ini : “Kalau demikian, para sahabat, bagaimana tujuannya, apakah satu atau banyak ?” Bila menjawab dengan benar, para kelana sekte lain akan menjawab demikian : “Para sahabat, tujuannya adalah satu, bukan banyak.”

Dalam penjelasan, diterangkan, frasa “hanya-disini” berarti hanya di dalam ajaran Buddha. Empat petapa (samana) yang diacu disini merupakan empat tingkat siswa-agung, yaitu : Pemasuk-Arus, Yang-Kembali-Sekali-Lagi, Yang-tidak-kembali-lagi, dan Arahat. Khotbah “Raungan-Singa” (sihanada) ini merupakan raungan-keunggulan tanpa ketakutan yang diucapkan Sang Buddha.

Para pengikut sekte lain, semuanya akan mengatakan bahwa tujuannya adalah “Kesempurnaan-Spiritual”.
Walaupun demikian, mereka tidak bertujuan mencapai ke-Arahata-an. Ke-Arahata-an, dicapai saat merealisasi “NIBBANA” ; kondisi-batin diatas duniawi, sebagai hasil pemadaman dari ketiga-api ( Lobha,Dosa,Moha ).

Umumnya sekte lain ( selain Buddha-Dhamma ) menunjukkan pencapaian-pencapaian lain sebagai tujuannya, sesuai dengan pandangan-pandangan mereka.

Para Brahmana menyatakan bahwa “Penyatuan-Atman-dan-Brahman” adalah tujuannya. Dengan anggapan bahwa “Maha-Brahma” adalah “Sang-Pencipta, Awal-Mula-Segala-Sesuatu, Maha-Kuasa, Tujuan-Semua-Makhluk,dll.”. Namun oleh Sang Buddha, telah berulangkali dijelaskan, bahwa pendapat adanya “Sang-Pencipta” seperti ini adalah kekeliruan semata ( Brahmajala-Sutta ).

Para petapa lain, akan menyatakan bahwa para Dewa dengan “cahaya-gemerlap”-lah yang menjadi tujuannya.Para kelana menyatakan tujuannya adalah para Dewa dengan “Keagungan-yang-Memancar”. Sedangkan para pengikut sekte Ajivaka akan menyatakan bahwa “Pikiran-yang-Tak-Terbatas”-lah yang akan menjadi tujuannya.

Dengan demikian, jelas terdapat perbedaan mendasar, apa yang menjadi tujuan ajaran lain dengan apa yang menjadi tujuan kehidupan spiritual menurut ajaran Buddha.

” Tetapi, para sahabat, apakah tujuan itu untuk orang yang dipengaruhi oleh nafsu atau yang bebas dari nafsu ? Bila menjawab dengan benar, para kelana sekte lain akan menjawab demikian : “Para sahabat, tujuan itu adalah untuk orang yang bebas dari nafsu, bukan untuk yang dipengaruhi oleh nafsu.” —

“Tetapi para sahabat, apakah tujuan itu, untuk orang yang dipengaruhi oleh kebencian atau yang bebas dari kebencian ?” Bila menjawab dengan benar, mereka akan menjawab : “Para sahabat, tujuan itu adalah untuk orang yang bebas dari kebencian, bukan untuk yang dipengaruhi oleh kebencian.” —

“Tetapi para sahabat, apakah tujuan itu untuk orang yang dipengaruhi oleh kebodohan batin atau yang bebas dari kebodohan batin ? Bila menjawab dengan benar, mereka akan menjawab : “Para sahabat, tujuan itu adalah untuk yang bebas dari kebodohan batin, bukan untuk yang dipengaruhi oleh kebodohan batin.” –

“Tetapi para sahabat, apakah tujuan itu untuk orang yang dipengaruhi nafsu-keserakahan atau yang bebas dari nafsu-keserakahan ?” Bila menjawab dengan benar, mereka akan menjawab :”Para sahabat, tujuan itu adalah untuk orang yang bebas dari nafsu keserakahan, bukan untuk yang dipengaruhi oleh nafsu keserakahan.” –

“Tetapi para sahabat, apakah tujuan itu untuk orang yang dipengaruhi oleh kemelekatan atau yang bebas dari kemelekatan?” Bila menjawab dengan benar, mereka akan mengatakan : “Para sahabat, tujuan itu adalah untuk orang yang bebas dari kemelekatan, bukan untuk yang dipengaruhi oleh kemelekatan.”–

“Tetapi para sahabat, apakah tujuan itu untuk orang yang memiliki visi atau yang tanpa visi ?” Bila menjawab dengan benar, mereka akan mengatakan : “Para sahabat, tujuan itu adalah untuk orang yang memiliki visi, bukan untuk orang yang tanpa visi.” –

“Tetapi para sahabat, apakah tujuan itu untuk orang yang menyukai dan menolak, atau untuk orang yang tidak menyukai dan menolak? ” Kalau menjawab dengan benar, mereka akan mengatakan : “Para sahabat, tujuan itu adalah untuk orang yang tidak menyukai dan tidak menolak, bukan untuk orang yang menyukai dan menolak.” –

Tetapi sahabat, apakah tujuan itu untuk orang yang bergembira di dalam pengembangan dan menikmatinya, atau untuk orang yang tidak bergembira di dalam pengembangan dan menikmatinya? ” Bila menjawab dengan benar, mereka akan mengatakan : “Para sahabat, tujuan itu adalah untuk orang yang tidak bergembira di dalam pengembangan dan tidak menikmatinya, bukan bagi orang yang bergembira dan menikmati pengembangan.”

Mari kita bahas cuplikan khotbah diatas terlebih dahulu, sebelum kita lanjutkan pada khotbah berikutnya.

Mengenai kalimat “Menyukai dan Menolak” ( anurudhapativirodha ) berarti bereaksi dengan rasa-tertarik melalui nafsu, dan dengan penolakan melalui kebencian.

Kata “Pengembangan” ( Papanca ), disini merupakan aktivitas mental yang dikuasai oleh keserakahan dan pandangan-pandangan.

“Para Bhikkhu, ada dua pandangan ini : pandangan mengenai dumadi dan pandangan mengenai tanpa-dumadi. Petapa atau brahmana mana pun yang bergantung pada pandangan dumadi, mengambil pandangan dumadi, menerima pandangan dumadi, akan menolak pandangan tanpa-dumadi. Para petapa atau brahmana mana pun yang bergantung pada pandangan tanpa-dumadi, mengambil pandangan tanpa-dumadi, menerima pandangan tanpa-dumadi, akan meolak pandangan dumadi.”

Pandangan mengenai dumadi ( bhavaditthi ) merupakan eternalisme, kepercayaan pada suatu diri yang abadi ; pandangan tanpa-dumadi ( vibhavaditthi ) merupakan paham pembinasaan, yaitu penyangkalan terhadap prinsip kesinambungan apa pun sebagai suatu landasan kelahiran-ulang dan retribusi karma. Mengambil satu pandangan dan menolak yang lain berarti melumpuhkan pernyataan sebelumnya bahwa tujuan itu adalah bagi orang yang tidak menyukai dan tidak-menolak.

“Petapa atau brahmana mana pun yang tidak memahami seperti apa adanya asal-mulanya, lenyapnya, pemuasannya, bahayanya, dan jalan keluarnya dalam hal dua pandangan ini akan DIPENGARUHI OLEH NAFSU, DIPENGARUHI OLEH KEBENCIAN, DIPENGARUHI OLEH KEBODOHAN BATIN, dipengaruhi oleh nafsu-keserakahan, dipengaruhi oleh kemelekatan, tanpa visi, cenderung lebih menyukai dan menolak, serta mereka akan bergembira dan menimati pengembangan. Mereka tidak terbebas dari kelahiran , usia-tua, dan kematian ; dari dukacita, ratap-tangis, rasa-sakit, kesedihan, dan keputusasaan; mereka tidak terbebas dari penderitaan, demikian Ku-katakan.”


Penjelasan dalam Majjhima-Nikaya adalah sebagai berikut :

Sebagai asal-mula ( samudaya ) dari pandangan-pandangan ini, disebutkan ada delapan kondisi :

– Panca-khanda

– Ketidaktahuan (avijja).

– Kontak,

– Persepsi

– Pemikiran,

– Perhatian yang tidak bijaksana,

– Teman-teman yang buruk [ yang tidak mengerti dan menempuh jalan-suci ]

– Suara orang lain.

Kelenyapannya ( atthangama ) merupakan Jalan Pemasuk-Arus yang menghapus semua pandangan salah.

Pemuasannya ( assada ) bisa dipahami sebagai pemuasan kebutuhan psikologis yang diberikan ; bahayanya ( adinava ) merupakan ikatan terus-menerus yang dibawanya ; jalan-keluar ( nissarana ) dari hal-hal tersebut adalah NIBBANA.


“Petapa atau Brahmana manapun yang memahami seperti apa-adanya asal-mulanya, lenyapnya, pemuasannya, bahayanya, dan jalan keluarnya dalam hal dua pandangan ini akan tidak memiliki nafsu, tanpa-kebencian, tanpa-kebodohan-batin, tanpa nafsu keserakahan, tanpa-kemelekatan, memiliki visi, tidak cenderung menyukai dan tidak menolak, serta mereka tidak bergembira dan tidak menikmati pengembangan. Mereka terbebas dari kelahiran, usia-tua, dan kematian ; dari dukacita, ratap-tangis, rasa-sakit, kesedihan, dan keputusasaan; mereka terbebas dari penderitaan, demikian Ku-katakan.”

Sehingga demikianlah, Dhamma Sang Buddha ini memang “unique” dan jauh berbeda dengan “dhamma”2 yang lain diluar ajaran Sang Buddha. Hendaknya Romo dan ummat Buddha umumnya memahami hal ini.

Kembali mengenai J.Krishnamurti. Sebenarnya, “sabda” dari Jiddhu Krishnamurti sebagaimana tersebut diatas bukanlah hal baru. Tidak unique dan original. Sebab, kalimat tersebut sudah pernah disabdakan oleh Sang Buddha dengan gaya bahasa Beliau bahwa kata-kata manusia yang serba terbatas, “Bagaikan jari menunjuk bulan, bukan bulan itu sendiri…” . Kalimah-sakti itulah ~ the word is not the thing ~ yang seringkali digunakan oleh Romo Hudoyo untuk “membujuk” ummat Buddha melepaskan “kemelekatan” ( demikian istilah Romo Hudoyo ) terhadap Jalan Ariya Beruas Delapan. Namun, tanpa ia sadari, Romo Hudoyo justru telah melekat terhadap “Jalan” yang ditunjukkan oleh J.Krishnamurti ini.

Meskipun tampaknya J.Krishnamurti ini sangat istimewa dimata Romo Hudoyo, namun sebenarnya bila dicermati, pernyataan “Tidak Ada Jalan” tersebut kemudian mau tidak mau harus disanggah oleh J.Krishnamurti sendiri

P: Tetapi tentu ada jalan, saya harap ada jalan,  menuju pengakhiran dari konflik.

JK; ADA — bukan jalan, tetapi ada pengakhiran
konflik, kesedihan, dan sebagainya, bila orang
menyadari–ebih baik saya katakan begini–bila
terdapat aktualitas keelingan yang peka tentang
apa adanya diri kita, tanpa pendistorsian sedikit
pun, menyadarinya, tanpa pilihan apa pun; dan
dari situlah terdapat pengakhiran dari semua kekacauan ini.

[ Sumber http://forum.wgaul.com/archive/thread/t-50991-Ajaran-J-Krishnamurti.html ]

Sampai pada pernyataan ini, saya menjadi bertanya-tanya, apakah sesungguhnya yang istimewa dari pernyataan J.Krishnamurti ini, sehingga membuat Romo Hudoyo lebih mengimaninya daripada ber-saddha pada Sang Buddha ( sehingga kemudian menganggap “Jalan Ariya Beruas Delapan” tidaklah penting lagi ) ? Ummat Buddha sedunia juga tahu, bahwa apa yang dinyatakan tersebut tidak berbeda dengan metode Vipassana umumnya ( perbedaannya hanyalah pada kebingungan J.Krishnamurti tentang “Ada” atau “Tidak-Ada” Jalan. Dan Romo Hudoyo lebih memilih meng-amin-i “Tidak-Ada-Jalan”, terutama “Jalan-Ariya-Beruas-Delapan” ).

Secara umum, vipassana adalah meditasi dengan melakukan perenungan / mengamati fenomena jasmani dan batin yang diketahui sebagai ‘upadanakkhandha’, dan yang secara jelas muncul di dalam “diri”-nya. Fenomena-fenomena ini secara berkesinambungan direnungkan pada setiap saat kemunculannya. Upadanakkhandha adalah semua yang secara jelas dicerap pada saat melihat, mendengar, mencium bau, mengecap, mengalami kontak badan/sentuhan dan memikirkan ide/gagasan dan seterusnya. Singkatnya, sadar setiap saat ( eling ; begitu istilah yang sering dirujuk Romo Hudoyo , mengambil “idiom” dari kalangan Kejawen ) , penuh perhatian ( samma-sati ) mengamati setiap fenomena batin dan jasmani yang muncul tanpa memilah / memilih. Disini sepertinya saya menangkap suatu kerancuan jawaban yang diberikan oleh J.Krishnamurti ( pertama menyatakan “Tidak-Ada-Jalan”, kemudian membalik , dengan “terpaksa” menyatakan “Ada-Jalan” ). Yang tertangkap dari maksud tersimpan dari ajaran J.Krisnamurti ini ketika menyatakan “Tidak-Ada-Jalan” , maka sesungguhnya justru ada “Jalan” yang menjadi alternative “keselamatan”, yaitu ajaran “Tanpa-Jalan” dari J.Krishamurti itu sendiri.

2. PELARANGAN ROMO HUDOYO KEPADA UMMAT BUDDHA UNTUK MELAKUKAN BERBAGAI BENTUK PUJA ( NAMASKARA, PEMBACAAN PARITTA, DLL ) SAAT SEDANG MENGIKUTI RETRET “MMD”.


Di dalam MMD, sekalipun retret dilakukan di dalam Dharmasala (Ruang Kebaktian) sebuah vihara, selama retret berlangsung peserta sangat dianjurkan untuk tidak melakukan ritual agama Buddha apa pun, seperti bersujud (namaskara) kepada arca Buddha (buddharupam) yang ada di sana, membaca paritta, dan sebagainya.

Sedangkan bagi peserta retret MMD yang beragama Islam, mereka tetap dibenarkan melakukan ibadah sholat yang wajib menurut ajaran agamanya.

[ Sumber :

http://meditasi-mengenal-diri.org/mmd_apaitu.html ]

Pernyataan Romo Hudoyo diatas sangat-sangat janggal. Mengapa Romo Hudoyo tidak memperkenankan ( ummat Buddha tentunya ) untuk melakukan namaskara pada Buddharupam, tidak memperkenankan pembacaan paritta, dan lain-lain bentuk bakti ummat Buddha kepada Guru-Agung mereka, Sang Buddha Gotama, sementara Romo Hudoyo membenarkan peserta retret yang beragama Islam untuk tetap melakukan ibadah sholat ?  Bukankah seharusnya lebih bijak bila kedua ummat yang berbeda agama tersebut diperkenankan untuk melakukan kebiasaannya masing-masing ? Atau, mungkin kebalikannya,  melarang kedua ummat melakukan bentuk-bentuk “ritual” dalam ajaran agamanya masing-masing, bukankah hal tersebut lebih bijak ?

Jikalau alasan Romo Hudoyo adalah supaya ummat Buddha mematahkan belenggu “silabatta-paramasa” ( kemelekatan pada ritual-ritual yang tidak perlu ), maka menurut saya itu salah-kaprah. Sebab, ritual-ritual yang tidak perlu itu adalah yang berkaitan dengan ketakhayulan bahwa dengan ritual seseorang bisa “mendapat-berkah” dan “keselamatan” dari sosok “Maha-Dewa” tertentu. Ritual seperti itulah yang harus ditinggalkan ; itulah yang dimaksud dengan mematahkan belenggu “silabataparamasa”.

Sedangkan apa yang dilakukan ummat Buddha, bukanlah ritual “takhayul” yang mengharapkan berkah dan keselamatan dari “Maha-Dewa” seperti itu. Agaknya Romo Hudoyo lupa akan pengertian-benar dari “Puja-Bhakti” di dalam Buddhisme yang sesungguhnya hanyalah merupakan wujud “penghormatan” seorang siswa pada Guru-Agungnya. Atau, jangan-jangan Romo Hudoyo melarang ummat Buddha bernamaskara pada Buddharupam, namun membenarkan ummat Buddha ber-anjali ( bahkan bernamaskara ) pada beliau ? Ini yang saya tidak tahu.

3. ROMO HUDOYO :  TUJUAN “MMD” ADALAH “BERHENTINYA-PIKIRAN” ( Bukan Nibbana sebagaimana Sang Buddha menunjukkanya sebagai tujuan-sejati bagi ummat Buddha )


Dalam berbagai kesempatan, Romo Hudoyo senantiasa menyatakan, bahwa apa yang menjadi tujuan dari praktik “MMD” adalah “berhentinya-pikiran” .

Memang saya bilang, DALAM KESADARAN SEHARI-HARI pikiran itu merupakan bagian dari batin, tapi saya tidak mengatakan “tidak bisa dipisahkan”. Justru ‘tujuan’ MMD adalah berhentinya pikiran pada saaat kini. Dengan kata lain, pikiran bisa berhenti, sementara kesadaran (batin) jalan terus.

[Sumber =

http://groups.yahoo.com/group/milis-spiritual/message/20890]

Dari pernyataan tersebut diatas, hal yang sepatutnya kita kaji secara kritis adalah pada bagian “pikiran bisa dipisahkan dari kesadaran (batin)” dan bahwa “pikiran-bisa-berhenti”.

Apa yang disebut dengan “Nama” ( Batin ; atau masyarakat umum menyebutnya “ROH” ), adalah merupakan formulasi dari :  vedana-khanda ( perasaan-perasaan ), sanna-khanda ( pencerapan ; pengenalan terhadap objek ) , sankhara-khanda ( bentuk-bentuk pikiran ), dan, vinnana-khanda ( kesadaran yang timbul akibat kontak dengan objek ). Keempat “bagian-fungsional” dari batin ini sesungguhnya satu, dan bukannya jajaran unsur-unsur yang berdiri sendiri. Sehingga, tidak akan mungkin memisahkan “pikiran” dari “kesadaran (batin)” sebagaimana yang diajarkan oleh Romo Hudoyo tersebut.

Sebagaimana Y.M. Sariputta pernah berkata pada Y.M. Maha Kotthita dalam Mahavedalla-Sutta ( Majjhima-Nikaya ; Sutta ke-43 ), bahwa antara Kesadaran dan pemahaman akan sesuatu hal ( kebijaksanaan ), tidaklah dapat dipisahkan satu sama lain. Tidaklah mungkin memisahkan masing-masing keadaan ini satu sama lain untuk menjelaskan perbedaan diantara keduanya. Karena apa yang telah menjadi pemahaman seseorang, itu pula yang disadarinya ; dan apa yang disadari seseorang, itu pula yang dipahaminya dengan bijaksana. Itulah sebabnya mengapa keadaan-keadaan ini menyatu, bukannya terpisah, dan tidaklah mungkin memisahkan masing-masing keadaan ini satu sama lain untuk menjelaskan perbedaan diantara keduanya.

“…dan saya tetap berpendapat bahwa
pikiran bisa berhenti.”

[ Sumber =

http://groups.yahoo.com/group/milis-spiritual/message/20890 ]

Romo Hudoyo telah mengajar selama bertahun-tahun , dan menegaskan bahwa “pikiran-bisa-berhenti”, namun , apakah setelah bertahun-tahun mengajar, pikiran Romo telah “berhenti” ? Sebab, bila “pikiran-telah-berhenti”, tidak mungkin Romo masih “berpikir” hingga sekarang ini. Masih melakukan serangkaian sharing, diskusi, hingga perdebatan-perdebatan / beradu argumentasi dengan banyak pihak ( terutama ummat Buddha yang Romo anggap “orthodox” ).

Apa yang sesungguhnya bisa “dicabut” ( atau “dihentikan” , jika menggunakan terminology Romo Hudoyo ), adalah kekotoran-kekotoran batin yang berupa nafsu-keserakahan ( lobha ), kemarahan/kebencian ( dosa ), dan kebodohan-batin ( moha ) yang merupakan “pembuat-ukuran” ( pamanakarana ) , karena ketiganya menentukan batasan-batasan pada jangkauan kedalaman-pikiran, dalam artian bahwa kekotoran-kekotoran batin memungkinkan  orang untuk mengukur dan membedakan seseorang yang masih sebagai “manusia-biasa” ( putthujana ) dengan yang telah bisa dikategorikan sebagai “Ariya” , yaitu : Pemasuk-Arus ( Sottapanna ), Yang-Kembali-Sekali-Lagi ( Sakadagami ), atau Yang-Tidak-Kembali-Lagi ( Anagami ), dan yang telah-sempurna ; Arahat.  Dan, para Arahat serta para Buddha pun, setelah mencabut ketiga-akar kejahatan ( Lobha,Dosa,Moha ), pikiran para Beliau tersebut masih tetap terus berjalan selama belum Parinibbana ( padamnya pancakhanda ). Buktinya, para Buddha dan para Arahat, tetap terus berpikir dan mengajar. Bedanya, pikiran para Buddha dan Arahat tidak lagi menghasilkan kamma-kamma yang baru, tidak lagi tumbuh tunas kelahiran kembali-Nya.

tapi kalau ia mengikuti MMD ia akan mengakhiri dukkha...”

[ Dr.Hudoyo Hupudhio Mph ;

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=8 ]

Apakah tujuan MMD? Tujuan MMD mengandung sebuah paradoks. Di satu sisi, tujuan MMD adalah berakhirnya aku/diri secara radikal, yang berarti berakhirnya penderitaan (dukkha) sepenuhnya—secara teoretis, tentu saja hal ini akan tercapai di masa depan. Di sisi lain, secara praksis aktual, tujuan MMD ini tidak dilihat sebagai berada di masa depan, melainkan harus terjadi pada saat kini, sebagai suatu transformasi batin yang hanya bisa didekati melalui saat ini. Dalam praksis aktual, tujuan MMD adalah sadar/eling sedalam-dalamnya dan terus-menerus terhadap gerak-gerik jasmani dan batin ini pada saat munculnya, dari saat ke saat, sekarang dan di sini.

[ Sumber :

http://meditasi-mengenal-diri.org/mmd_apaitu.html ]

Mengingat dan menimbang betapa seringnya Romo Hudoyo menekankan doktrin “penghentian-pikiran” ini, saya kemudian tertarik melakukan review atas proses belajar saya terhadap Buddha-Dhamma. Saya jadi bertanya, apakah saya yang telah “melewatkan” salah satu ajaran Buddha mengenai “pikiran-bisa-berhenti” ini, atau, mungkin Romo Hudoyo memang mengambil ajaran lain diluar Buddha-Dhamma.

Ternyata kemudian, ajaran “penghentian-pikiran” ini akhirnya justru bisa saya temukan dalam “Sabda-sabda” J.Krishnamurti. Salah satu dari sekian banyak sabda J.Krishnamurti yang mengajarkan mengenai “penghentian-pikiran” adalah sebagai berikut :

[ Dalam sebuah wawancara antara BBC dengan J.Krishnamurti ]

JK: Begini, masalah meditasi adalah rumit …
<berdiam diri lama> … kalau kita tidak lebih
dulu membereskan rumah, yang berarti tidak ada
ketakutan, memahami kenikmatan, mengakhiri
kesedihan, dari situ muncul welas asih,
kecerdasan; dan proses menuju ke situ–kalau
boleh saya namakan ‘proses’ untuk
sementara–adalah bagian dari meditasi. Lalu,
menemukan apakah PIKIRAN BISA BERHENTI, yang
adalah waktu, HARUS BERHENTI. Lalu, dari situ
muncullah keheningan besar. Dan di dalam
keheningan itulah akan ditemukan apa yang suci.

[ Sumber :

http://forum.wgaul.com/archive/thread/t-50991-Ajaran-J-Krishnamurti.html ]

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah “berhentinya-pikiran” sama dengan “berakhirnya-dukkha” sebagaimana yang diajarkan Sang Buddha ? Ini yang perlu kita kaji bersama secara kritis.

Berakhirnya-dukkha ( Dukkha-nirodha-sacca ) ialah sama dengan “Nibbana” / “Nirvana”. Sebelum membahas “berakhirnya-dukkha”, kita harus tahu, apakah “dukkha” itu sendiri ? Sang Buddha bersabda =

“Para Bhikkhu, apakah yang disebut Dukkha itu? Itu bukan lain adalah kelima kelompok kegernaran (Panca-Khandha), …. “ ( Samyutta Nikaya, Khandha Samyutta, 104)

Dukkha adalah kelima kelompok kegemaran ( Panca-Khanda), dan berakhirnya dukkha berarti berakhirnya kombinasi dari “panca-khanda” tersebut.. Pertanyaan selanjutnya, apakah “Panca-Khanda” itu ?

Panca Khanda atau lima agregat atau lima kelompok kegemaran , ialah :

1. Rupa-khanda, yaitu kelompok objek fisik atau jasmani yang oleh Sang Buddha diurai lagi menjadi empat bentuk elemen (Catur Maha Bhuta) yaitu: elemen padat (Pathavi Dhatu) yang bersifat menempati ruang dan mempertahankan posisi serta memberikan sifat kaku pada setiap materi; elemen cair (Apo-Dhatu) yang memberikan gaya rekat atau tarik menarik antara materi; elemen panas atau energi (Tejo-Dhatu) yang memiliki sifat maha bhuta yang lain tetapi dalam dimensi yang lebih kecil; dan elemen gerak atau getaran (Vayo-Dhatu) yang bila berada dalam kesetimbangan dengan apo-dhatu akan menampakkan eksistensi patthavi materi yang bersangkutan. Termasuk kelompok Rupa-khanda ini juga terdapat turunan-turunan dari empat Maha Bhuta tadi yaitu mencakup organ-organ indera (pasada-rupa) beserta objek-objeknya (arammana) misalnya bentuk dan warna sebagai objek penglihatan oleh mata; bunyi dan suara sebagai objek pendengaran telinga; bau-bauan sebagai objek penciuman oleh indera pencium; cita rasa sebagai objek pengecapan oleh lidah; benda-benda dengan berbagai variasi bentuk, temperatur, permukaan kasar atau licin, keras atau lembut, sebagai objek perabaan oleh indera peraba; dan objek- objek mental seperti pikiran, ingatan, konsep dan ide-ide sebagai objek pemikiran oleh indera mental kita. Jadi Rupa-khanda sebenarnya mencakup obyek-obyek di dalam maupun di luar diri kita beserta indera-indera yang dapat berkontak dengannya.

2. Vedana-khanda, yaitu perasaan-perasaan yang timbul akibat adanya kontak antara obyek-obyek indera dengan indera-indera kita. Perasaan-perasaan yang timbul itu bisa berupa perasaan senang, tidak senang, atau netral. Perasaan-perasaan ini timbul sebagai reaksi kontak yang dihubungkan dengan ingatan-ingatan, baik yang berbentuk insting bawaan ataupun yang didapat dari pengalaman-pengalaman.

3. Sanna-khanda, yaitu pencerapan atau pengenalan objek yang terjadi setelah terjadinya kontak dan setelah terjadinya kesadaran akan adanya obyek tersebut. Pencerapan atau pengenalan objek tersebut juga terjadi akibat adanya memori atau ingatan-ingatan, terutama yang berhubungan dengan pengalaman-pengalaman.

4. Sankhara-khanda, yaitu bentuk-bentuk pikiran yang berupa segala kehendak (cetana) yang terjadi setelah timbul perasaan-perasaan akibat kontak yang terjadi. Kehendak-kehendak (cetana) yang terjadi inilah yang kelak akan membuahkan karma berupa perbuatan-perbuatan yang dilakukan, baik yang dilakukan dengan badan jasmani, ucapan, maupun dengan pikiran, yang mengarah kepada perbuatan baik, jahat atau netral.

5. Vinnana-khanda, yaitu kesadaran yang timbul akibat indera mengadakan kontak dengan. obyek yang sesuai. Kesadaran ini timbul sebelum terjadinya proses pencerapan atau pengenalan obyek yang kemudian menimbulkan perasaan-perasaan yang kemudian bisa berakhir dengan reaksi mental berupa kehendak untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan obyek tersebut.

Jelmaan yang terbentuk oleh kombinasi kelima khanda itulah yang tak lain merupakan Dukkha itu sendiri, Dukkha yang mempunyai arti yang lebih luas dari sekedar duka atau penderitaan: Dukkha yang mencakup segala kefanaan, perubahan dan ketidak kekalan. Berakhirnya jelmaan dari “Panca-Khanda” inilah berakhirnya dukkha. Inilah “Nibbana”.

Sehingga, bila Romo Hudoyo mengatakan “berhentinya-pikiran”, “pikiran” yang mana ( dari “unsur-unsur” Nama ) yang anda maksud ?  Apakah vedana-khanda ( perasaan-perasaan ), ataukah sanna-khanda ( pencerapan ; pengenalan terhadap objek ) , atau sankhara-khanda ( bentuk-bentuk pikiran ), atau vinnana-khanda ( kesadaran yang timbul akibat kontak dengan objek ) ? Yang mana ?   Dan, berakhirnya-pikiran itu seperti apa ? Bagaimanakah “proses”-nya sehingga “berhentinya-pikiran” kemudian bisa mengakhiri dukkha secara absolute ( yang berarti mengakhiri jelmaan dari “Panca-Khanda” ) ?

Tertarik dan penasaran dengan arti “Berhentinya-Pikiran” sesuai ajaran Romo Hudoyo ini, saya mencoba menelusur lagi setiap “jejak” statement-statement Romo Hudoyo di berbagai situs dan milist. Dan akhirnya, ketemulah sudah apa yang saya cari itu. Romo Hudoyo menjelaskan :

Yang saya maksud dengan ‘berhentinya pikiran/aku’ di sini adalah ‘khanika-samadhi’ yang bisa dicapai relatif mudah oleh setiap orang yang mau ber-vipassana untuk melepaskan kelekatan kepada pikiran/aku.

Sumber =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=8

Pencerahan yang tertinggi (terdalam) ialah khanika-samadhi, runtuhnya pikiran & si aku untuk waktu yang relatif lama (bukan hanya beberapa momen). … Khanika-samadhi ini yang kelak akan menghasilkan pembebasan permanen, yang adalah pencerahan sempurna; tapi sejak orang masuk ke dalam khanika-samadhi dirinya dan pikirannya (perasaannya, kehendaknya dsb) tidak ada lagi (kecuali ia keluar lagi dari khanika-samadhi).

Salam,
hudoyo

[ Sumber =

http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=3803.660;wap2]

Jika khanika-samadhi inilah yang dimaksudkan oleh Romo Hudoyo sebagai pencapaian “berhentinya-pikiran”, maka setahu saya, khanika-samadhi, adalah kondisi “konsentrasi-pikiran” yang bersifat “sesaat”, tidak permanent, pada berbagai fenomena yang muncul dan lenyap berulang-ulang. Memang benar khanika-samadhi inilah yang kemudian digunakan untuk ber-vipassana ; konsentrasi-pikiran yang melihat lakkhana (anicca,dukkha dan anatta) atau karakteristik batin dan jasmani yang muncul dan lenyap kembali (khanika). Tapi, bukankah dalam khanika-samadhi, “pikiran” itu justru sedang “bergerak” mengamati muncul dan lenyapnya segala fenomena, sesaat mengamati suatu fenomena muncul, disaat yang lain mengamati fenomena tersebut lenyap, saat yang lain lagi mengamati adanya fenomena yang lain muncul kembali, dan kemudian mengamati fenomena lain tersebut melenyap. Demikian seterusnya. Jadi, bukankah keliru kalau dikatakan saat itu “pikiran-berhenti” ?

Lagipula Romo Hudoyo yang terhormat, “Khanika-Samadhi” itu bukanlah tanda-tanda “Pencerahan-Sempurna”. Khanika-samadhi hanyalah sebuah tahapan konsentrasi batin yang bersifat sesaat ( belum memasuki konsentrasi tercerap / Jhana ) yang digunakan untuk mengamati segala fenomena batin dan jasmani dengan apa-adanya. Bahkan, saat khanika-samadhi itu berbagai “Nana” ( pengetahuan-pandangan-cerah ) belum diperoleh oleh yogi. Baru, kemudian setelah ia ber-“Perhatian-Benar” terhadap fenomena batin dan jasmaninya ( dengan menggunakan kekuatan khanika-samadhinya ), yogi tersebut akan mulai memperoleh berbagai pengetahuan pandangan-cerah ( Nana ).

Kembali membahas mengenai “dukkha”. Sang Buddha mengajarkan, sebab dari dukkha adalah dikarenakan “nafsu-keinginan” (tanha) . Lenyapnya tanha ini pula, berarti penderitaan ( sebagai akibat tanha ) ikut berakhir. Apakah dengan “MMD”, telah terbukti ada yang mampu melenyapkan “tanha” ? Apakah ada, yang telah terbukti tercabut ketiga-akar : Lobha ( keserakahan ), Dosa ( Kemarahan ), dan Kegelapan-Batin ( Moha ) -nya ?



4. PENEGASAN OLEH ROMO HUDOYO BAHWA “MMD” ADALAH MEDITASI VIPASSANA “ALA KRISHNAMURTI” ; BUKAN VIPASSANA ALA BUDDHISME UMUMNYA.


Dari pengakuan Romo Hudoyo sendiri di berbagai tempat, “MMD” adalah meditasi yang berpedoman pada ajaran-ajaran J.Krishnamurti. Hal ini perlu dimengerti terlebih dahulu oleh masyarakat, baik Buddhis maupun non-Buddhis, terutama bagi ummat Buddha yang masih awam dan pemula.

Perlu saya kemukakan bahwa pendekatan MMD ini saya pelajari dari J.Krishnamurti,

yang menurut hemat saya adalah seorang yang telah mencapai pencerahan & pembebasan sempurna

dalam hidupnya di abad ke-20 lalu, entah apapun namanya : arahat,  buddha, insan kamil,

hidup di dalam Allah, apa pun,

[ Sumber =

http://www.usenet.com/newsgroups/soc.culture.indonesia/msg03344.html ]


Bagi Romo Hudoyo, semua meditasi vipassana Buddhist telah bergeser jauh dari apa yang sesungguhnya dimaksud oleh Sang Buddha. Lagi-lagi, dasar justifikasi yang dia gunakan adalah “Sabda” dari J.Krishnamurti.

Pemahaman bahwa praktik meditasi vipassana yang banyak diajarkan pada dewasa ini telah bergeser jauh dari apa yang sesungguhnya dimaksud oleh Sang Buddha diilhami oleh praktik meditasi yang diajarkan J. Krishnamurti pada abad ke-20. J. Krishnamurti mengritik kebanyakan teknik meditasi yang semuanya mengutamakan konsentrasi, usaha dan teknik meditasi. Dalam hal ini termasuk pula banyak teknik vipassana Buddhis.

Bagi J. Krishnamurti, teknik meditasi apa pun sama sekali tidak membebaskan, tidak mentransformasikan batin manusia; alih-alih, malah membuat batin lebih dalam terjerat dalam keterkondisian dan keterbatasannya. Teknik konsentrasi apa pun hanya membawa praktisinya ke dalam suatu keadaan pemusatan batin yang kuat, yang mungkin memberikan suatu rasa nikmat dan bahagia yang intens, sehingga mudah disangka sebagai kebebasan, tetapi sesungguhnya menjerat batin dalam keterkondisian dan ketidakbebasan yang lebih halus.

[Sumber :

http://meditasi-mengenal-diri.org/mmd_apaitu.html]


Versi asli “sabda” J.Krishnamurti tersebut adalah sebagai berikut :

P: Meditasi yang benar — apakah meditasi yang
benar itu? Anda menyiratkan ada meditasi yang salah.

JK: Ah, semua meditasi yang ditawarkan oleh
berbagai Guru pada dewasa ini adalah nonsens.

P: Mengapa?

JK: Oleh karena lebih dulu Anda harus membereskan rumah.

P: Apakah itu bukan jalan untuk membereskan rumah?

JK: Ah, itu pemikiran yang keliru. Mereka mengira bahwa dengan meditasi mereka dapat membereskan rumah.

P: Ya. Tidakkah begitu?

JK: Tidak.

P: Bukankah begitu?

JK: Tidak. Justru sebaliknya, Anda harus membereskan rumah, diri Anda, lebih dulu. Kalau  tidak, meditasi akan menjadi pelarian.

[ Sumber :

http://forum.wgaul.com/archive/thread/t-50991-Ajaran-J-Krishnamurti.html ]


Dari pernyataan J.Krishnamurti tersebut, bukankah sebenarnya ia sendiri berpendapat, bahwa sebelum seseorang bermeditasi, ia harus terebih dahulu membereskan rumah, diri sendiri terlebih dahulu, sebab kalau tidak meditasi akan menjadi pelarian ?  Membereskan rumah itu, tentunya melalui berbagai langkah-langkah pensucian. Dan inilah tujuh-tahap-pensucian diri yang dijabarkan dengan jelas dalam visuddhi-magga oleh Bhadantacariya Buddhaghosa :

I)                    Pemurnian-Sila (sila-visuddhi)

II)                   Pemurnian-Pikiran (citta-visuddhi)

III)                 Pemurnian-Pandangan (ditthi-visuddhi)-

IV)               Pemurnian-melalui-hancurnya-keraguan (kankhāvitarana-visuddhi)

V)                Pemurnian pengetahuan dan pandangan tentang jalan dan bukan jalan (maggāmagga-ñānadassana-visuddhi)

VI)               Pemurnian pengetahuan dan pandangan tenteng kemajuan dalam latihan (patipadā-ñānadassana-visuddhi)

VII)             Pemurniann pengetahuan dan pandangan (ñānadassana-visuddhi)

Tapi anehnya, mengapa J.Krishnamurti sendiri kemudian menolak berbagai tindakan untuk “membersihkan-rumah” ( seperti latihan Sila, Disiplin, dan lain-lain ). Namun karena sudah terlanjur melekat pada doktrin J.Krishnamurti tentang “Tidak-Ada-Jalan”, Romo Hudoyo menegaskan bahwa “Tidak-Ada-Metode” apapun yang bisa digunakan untuk mencapai keadaan “sadar” dan “diam” pada saat kini. Dan ia pun telah menegaskan tidak lagi diperlukannya penembusan akan “Empat Kesunyataan Mulia” beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan”, dengan alasan itu semua hanyalah sekedar konsep belaka.

KEADAAN SADAR DAN DIAM PADA
SAAT KINI TIDAK BISA DICAPAI DENGAN METODE APA PUN.

[ Sumber =

http://groups.yahoo.com/group/milis-spiritual/message/20890 ]


Jika tidak dapat dicapai dengan metode apa pun juga, untuk apa Romo mengajarkan “metode” dari “Meditasi-Mengenal-Diri” ? Formulasi ajaran dalam kemasan “MMD” itu sendiri sudah merupakan metode. Demikian sepatutnya hal ini dipikirkan dengan kritis dan seksama.

Menyadari hal itu, pikiran dan si ‘aku’ akan diam, tidak berulah lagi. Itulah MMD. Untuk itu tidak perlu
dan tidak mungkin ada metode apa pun. Dalam MMD, langkah pertama adalah langkah terakhir! Yang penting: sadar (eling).

[ Sumber =

http://groups.yahoo.com/group/milis-spiritual/message/20890 ]


Dengan statement tersebut diatas, Romo Hudoyo tetap bersikukuh menolak “Jalan” apapun juga, meskipun J.Krishnamurti sendiri ( sebagai inspirator RomoHudoyo  ), ketika dikejar mengenai kepastian adanya “Jalan”, akhirnya menjawab ,” ADA — bukan jalan, tetapi ada pengakhiran  konflik, kesedihan, dan sebagainya, bila orang  menyadari–ebih baik saya katakan begini–bila  terdapat aktualitas keelingan yang peka tentang  apa adanya diri kita, tanpa pendistorsian sedikit  pun, menyadarinya, tanpa pilihan apa pun; dan  dari situlah terdapat pengakhiran dari semua kekacauan ini. [ Sumber http://forum.wgaul.com/archive/thread/t-50991-Ajaran-J Krishnamurti.html ] . Itulah “Jalan”, itulah “metode”. Sesungguhnya, tidak ada apapun yang tanpa “metode”, tanpa “cara” , tanpa “Jalan”. Bahkan orang makan itu pun ada “cara”-nya, orang duduk ada “cara”-nya, dan orang buang air juga ada “cara”-nya. Dan sekali lagi, bila tidak perlu metode apapun, maka sebenarnya secara otomatis, “MMD” itu sendiri pun tidak perlu ada dan tidak perlu diajarkan pada masyarakat luas.

Meditasi Mengenal Diri (MMD) adalah versi meditasi vipassana yang selama beberapa tahun terakhir telah dikembangkan dari vipassana yang diajarkan secara “tradisional”. Dalam MMD, meditasi vipassana “tradisional” telah banyak dimodifikasi berdasarkan ajaran J. Krishnamurti tentang sadar/eling secara pasif atau sadar/eling tanpa memilih, yang sesungguhnya adalah kembali pada sifat-sifat praktik meditasi vipassana murni ajaran Sang Buddha sendiri.  Dengan demikian, ada beberapa perbedaan penting antara meditasi vipassana versi MMD dan meditasi vipassana “tradisional”:

Sumber :

http://meditasi-mengenal-diri.org/mmd_apaitu.html


Ketika management dhammacitta.org menempatkan “MMD” kedalam kategori “BUKAN-BUDDHISME”, Romo Hudoyo pun sedikit marah / tersinggung. Dan mengeluarkan statement, termasuk didalamnya menyatakan bahwa ummat Buddha Indonesia berpuas diri dengan teori-teori, doktrin-doktrin, dan praktek meditasi yang tidak lagi efektif dalam “mengakhiri-dukkha” ( Pertanyaannya, dengan kemarahan tersebut, Romo sendiri sudah mengakhiri-dukkha- kah ? ) :

“Jelas sekali bahwa Management DC yang sekarang dikuasai oleh orang-orang yang tidak mau melihat umat Buddha Indonesia mengembangkan wawasan dengan pemahaman-pemahaman baru mengenai ajaran Sang Guru, sejalan dengan perkembangan pemikiran Buddhis di dunia internasional … Mereka mau memasung kebebasan berpikir umat Buddha Indonesia, dan berpuas diri dengan teori-teori, doktrin-doktrin, dan praktik meditasi yang tidak lagi efektif dalam mengakhiri dukkha.”

[ sumber dari =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=7 ]

Romo Hudoyo, apakah MMD sendiri efektif untuk mengakhiri dukkha ? Bila “YA”, mengapa Romo sendiri masih ber-dukkha ? Bukankah ketika Romo menjadi marah karena peristiwa perpecahan Romo dengan pihak Dhammacitta, kemudian timbul perasaan tidak senang karena berpisah dari yang disenangi / dilekati, merasa tidak dihargai, tidak lagi dihormati, itu semua adalah bentuk-bentuk “Dukkha” ? Atau mungkin Romo Hudoyo lupa akan apa makna dari “Dukkha” itu sendiri ?

Pendekatan tradisional masih berpegang pada TEORI Agama Buddha (Jalan Suci Berunsur Delapan, Empat Kebenaran Suci, Satipatthana, Nibbana dsb), dan berpegang pada persepsi bahwa pembebasan (nibbana) dicapai pada suatu waku di MASA DEPAN, berpegang pada paradigma adanya ‘waktu’ dan ‘usaha’. Pendekatan JK tidak memakai teori apa pun, berpegang bahwa pembebasan tercapai pada SAAT KINI, sehingga seluruh latihannya adalah latihan “berada pada saat kini”; kalau orang bisa berada pada saat kini, maka waktu dan usaha tidak relevan lagi.

[ Sumber :

http://groups.yahoo.com/group/semedi/message/6952 ]

Romo, “berada-pada-saat-kini” itu sendiri adalah berada dalam batasan “waktu” ( yaitu “saat-kini” ). Dan pengkondisian untuk “berada-pada-saat-kini” itu sendiri mengandung unsur-unsur “daya-upaya” untuk “berada-pada-saat-kini”. Saya melihat , ini semua hanyalah permainan kata-kata, atau mungkin Romo sedang bingung untuk memahami sesuatu hal, semoga saja tidak demikian.

Sebenarnya sah-sah saja seseorang dengan niat baik ingin berkarya melalui pemberian bimbingan / pelatihan meditasi bagi semua pihak yang ingin mengenal meditasi. Dan juga sah-sah saja setiap orang mempunyai cirri-khas-nya sendiri dalam memberikan pelatihan. Dalam hal ini, saya pribadi sebagai ummat Buddha, sangat menghargai dan tidak akan mempermasalahkannya. Namun yang menjadi masalah adalah ketika dalam berbagai kesempatan, Romo Hudoyo seakan “mengajak” ummat Buddha untuk tidak lagi menempuh “Jalan Ariya Beruas Delapan” dan meninggalkan “Empat Kesunyataan Mulia”. Hal ini sangat janggal dilakukan oleh seorang Romo. Akan jauh lebih baik bila Romo tidak mengusung bendera Buddhisme, tidak lagi menggunakan gelar “Romo”, lalu mengajarkan “MMD” ke masyarakat luas, sehingga dengan demikian tidak ada lagi sangkut pautnya dengan Buddha-Dhamma. Tapi, bila Romo menyatakan diri seorang “Pandhita” Buddhist, namun di sisi lain menganjurkan ummat Buddha untuk “meninggalkan” Empat Kesunyataan Mulia beserta Jalan Ariya Beruas Delapan, maka selamanya Romo akan berada pada kondisi berbenturan dengan kebanyakan ummat Buddha.

Sungguh ironis ketika Romo Hudoyo ( yang notabene secara resmi tercatat sebagai ummat Buddha, bahkan bergelar “Romo” / “Pandhita” ) banyak menolak ajaran Buddha ( terutama pada inti ajaran Buddha : Empat Kesunyataan Mulia beserta Jalan Ariya Beruas Delapan ) yang telah terbukti mampu mengantarkan banyak manusia mencapai tataran “Arahat” /  “Tercerahkan” ( seperti misalnya pada abad ini salah satunya adalah “Ajahn Chah” yang diakui sebagai “Arahat-Abad-Ini” ) sementara ia dengan sekuat “iman” menerima ajaran J.Krishnamurti yang ternyata J.Krishnamurti sendiri mengeluh selama enam-puluh (60) tahun ia mengajar “tidak seorang pun mengalami transformasi batiniah, sebagaimana diharapkannya.” (Hudoyo,  Dari: http://www.kaskus.us -> Forum: Supranatural -> Subforum: Spiritual -> Thread: MMD (Meditasi Mengenal Diri) ;  http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan–Perbedaan-Krishnamurti—Buddha-td16375574.html )



5. PENGGUNAAN BAHIYA-SUTTA, MALUNKYAPUTTA, DAN ANGULIMALA SUTTA, OLEH ROMO HUDOYO SEBAGAI SEKEDAR “JEMBATAN” UNTUK MENGHUBUNGKAN “MMD” ( YANG BERBASIS AJARAN J.KRISHNAMURTI ) DENGAN UMMAT BUDDHA

[ Notes : Pembahasan mengenai digunakannya Angulimala-Sutta oleh Romo Hudoyo untuk melakukan pembenaran atas pandanganya dan menghubungkan pandangannya tersebut dengan Buddha-Dhamma, telah saya bahas pada point pandangan menyimpang pertama diatas ]

Setelah berkali-kali Romo Hudoyo menegaskan penolakannya terhadap “Jalan-Ariya-Beruas-Delapan” dan “Empat-Kesunyataan-Mulia” serta berbagai ajaran Buddha ( yang ia anggap sekedar teori, dogma, dll. ) , pada suatu titik tertentu, Romo Hudoyo mencari “jembatan” penghubung antara “MMD”  ( dengan J.Krishnamurti-nya ) dengan komunitas Buddhist ( baik di Indonesia maupun di luar Indonesia ; sebab, ketika saya membuka situs MMD, disana digunakan bi-lingual, tentunya dengan tujuan menggaet pangsa-pasar luar-negeri )

Nah, mungkin Anda akan bertanya: bagaimana hubungan MMD dengan ajaran Sang Buddha?

Bagaimana ajaran Sang Buddha tentang sadar/eling pada saat kini? …

Sekali peristiwa ada seorang pertapa, namanya Bahiya. Ia BUKAN bhikkhu murid Sang Buddha. Dengan kata lain, ia tidak pernah tahu ajaran Sang Buddha, tidak pernah mendengar Empat Kebenaran Mulia (Catvari Arya Satyani), tidak pernah mendengar Jalan Mulia Berfaktor Delapan (Arya Asthangika Marga), dsb dsb. Bahkan mendengar nama Sang Buddha pun Bahiya belum pernah.

Pada suatu hari ia diberi tahu bahwa di dunia ini ada seorang yang telah bebas sempurna, bernama Gotama (Buddha Gautama), tinggal di Sravasti. Bahiya ingin bertemu dengan Sang Buddha, ingin mendapat tuntunan meditasi untuk mencapai pembebasan.

Nah, setelah bertemu dengan Sang Buddha, Sang Buddha tidak mengajarkan Empat Kebenaran Mulia, tidak mengajarkan Jalan Mulia Berfaktor Delapan, dsb dsb; pendeknya Sang Buddha tidak mengajarkan apa yang belakangan dikenal sebagai “Agama Buddha”.

Mengapa? … Karena semua ajaran “Agama” Buddha itu tidak cocok bagi seorang yang bermeditasi! Alih-alih, inilah ajaran singkat Sang Buddha kepada Bahiya:

“Bahiya, lakukan ini: Di dalam apa yang terlihat, hanya ada yang terlihat; di dalam apa yang terdengar, hanya ada yang terdengar; di dalam apa yang tercerap (perceived) oleh indra-indra yang lain, hanya ada yang tercerap; di dalam apa yang muncul sebagai ingatan, hanya ada ingatan. Kalau kamu bisa melakukan itu, maka KAMU TIDAK ADA. Dan itulah, hanya itulah, akhir dari Dukkha.”

[ Sumber =

http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan–Apa-ajaran-Sang-Buddha-tentang-sadar-eling-pada-saat-kini–td16575427.html ]


Bagi seorang pembaca yang kurang cermat ( terutama bagi seorang Non-Buddhis ), statement Romo Hudoyo diatas nampak tidak janggal sedikitpun. Namun, bila kita cermati dengan seksama, ada satu kalimat yang sesungguhnya sangat tidak tepat menggambarkan alasan mengapa Sang Buddha hanya mengajarkan petunjuk singkat pada Bahiya. Kalimat Romo Hudoyo yang saya maksudkan adalah,  “ … pendeknya Sang Buddha tidak mengajarkan apa yang belakangan dikenal sebagai “Agama Buddha”.  Mengapa? … Karena semua ajaran “Agama” Buddha itu tidak cocok bagi seorang yang bermeditasi! “.

Apakah benar alasan Sang Buddha tidak mengajarkan “Empat Kesunyataan Mulia”  termasuk “Jalan Ariya Beruas Delapan” pada Bahiya adalah karena “Semua ajaran “Agama” Buddha itu TIDAK COCOK BAGI SEORANG YANG BERMEDITASI!” ? Disini terlihat adanya upaya “pembiasan” yang dilakukan oleh Romo Hudoyo. Sebab, ummat Buddha yang telah membaca Bahiya-Sutta ( Udana I.10 ) pasti akan mengetahui kisah selengkapnya dari kisah petapa Bahiya tersebut. Alasan mengapa Sang Buddha “tidak-sempat” mengajarkan “Empat Kesunyataan Mulia” beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan”-Nya adalah karena, saat itu Sang Buddha bersama para Bhikkhu sedang sibuk menerima dana makan. Begini kisah selengkapnya :

“…Ketika melihat Sang Bhagava, dia mendekat, bersujud, dengan kepala di kaki Sang Bhagava dan berkata, “ Ajarilah saya Dhamma,, Sang Bhagava ; ajarilah saya Dhamma, Sugata, demi kebaikan dan kebahagiaan saya sendiri untuk waktu yang lama.”

Ketika diajak berbicara demikian, Sang Bhagava berkata kepada Bahiya yang berpakaian kulit kayu, “ Ini bukan waktu yang tepat, Bahiya, kami akan pergi menerima dana makan.”

Kedua kalinya Bahiya berkata kepada Sang Bhagava,”Sulit untuk tahu dengan pasti, Sang Bhagava, berapa lama Sang Bhagava akan hidup atau berapa lama saya akan hidup. Ajarilah saya Dhamma, Sang Bhagava ; ajarilah saya Dhamma, Sugata, demi untuk kebaikan dan kebahagiaan saya sendiri untuk waktu yang lama.” “

Bahiya kemudian mendesak Sang Buddha dengan mengulangi pertanyaannya tesebut ( sama persis dengan pertanyaan kedua ) ketiga kalinya. Akhirnya, Sang Buddha ( setelah didesak oleh permohonan Bahiya yang diajukan sampai tiga-kali ) berkenan menerangkan Dhamma, yang berupa petunjuk latihan singkat.

“Dalam hal ini, Bahiya, kamu harus melatih dirimu sendiri : di dalam apa yang dilihat hanya ada apa yang dilihat ; di dalam apa yang didengar hanya ada apa yang didengar; didalam apa yang dirasakan hanya ada apa yang dirasakan;  di dalam apa yang diketahui hanya ada apa yang diketahui. Dengan cara ini kamu harus melatih dirimu sendiri, Bahiya.

Jika, Bahiya, di dalam apa yang dilihat hanya ada apa yang dilihat,…., didalam yang diketahui hanya ada apa yang diketahui, maka Bahiya, kamu tidak akan “besama-itu”; bila Bahiya kamu tidak lagi “bersama-itu”, kamu tidak akan berada di dalam itu; bila Bahiya, kamu tidak ada di dalam itu, maka Bahiya, kamu tidak akan berada disini maupun disana tidak juga diantara keduanya. Inilah akhir penderitaan.”

Melalui ajaran Dhamma yang singkat dari Sang Bhagava ini, pikiran Bahiya yang bepakaian kulit kayu segera terbebas dari kekotoran tanpa kemelekatan. Kemudian , sesudah mengajar Bahiya dengan petunjuk ringkas itu, Sang Bhagava pergi melanjutkan perjalanan-Nya bersama para Bhikkhu untuk menerima dana makanan.

Cukup jelas bukan, bahwa alasan mengapa Sang Buddha hanya mengajarkan Dhamma singkat tersebut pada Bahiya ( dan mengapa tidak mengajarkan Dhamma yang lengkap ; “Empat Kesunyataan Mulia” beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan” ) adalah karena Beliau sedang dalam perjalanan pergi menerima dana makanan, dan itu bukan waktu yang tepat untuk mengajarkan Dhamma ; “ Ini bukan waktu yang tepat, Bahiya, kami akan pergi menerima dana makan.”. Jadi, bukan karena  semua ajaran “Agama” Buddha itu tidak cocok bagi seorang yang bermeditasi! “ seperti yang dikatakan Romo Hudoyo.

Dan penyimpulan secara sepihak oleh Romo Hudoyo ini ( tanpa didasari kebenaran yang tersurat dan tersirat dalam Bahiya-Sutta tersebut ), kemudian ia jadikan justifikasi untuk membenarkan “ajaran”-nya dalam “MMD” yang menolak “Empat Kesunyataan Mulia” beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan”.

Itulah MMD. – Ketika mendengar itu, pada saat itu juga, langsung Bahiya tercerahkan sempurna (menjadi Arahat), dengan melompati ketiga tingkat kesucian di bawahnya.

Di dalam khotbah singkat kepada Bahiya itu, Sang Buddha tidak bicara tentang “baik” vs “buruk”, tentang “Usaha Benar”, yakni meningkatkan yang baik dan mengurangi yang buruk, tentang Sila, tentang Pandangan Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Konsentrasi Benar dsb dsb, pendeknya Sang Buddha tidak mengajarkan tentang segala yang “Benar” (samma-) versus segala yang “Salah” (miccha-).

Bahiya-sutta itulah yang menjadi dasar bagi saya mengajarkan MMD kepada umat Buddha. Ajaran singkat Sang Buddha kepada Bahiya itu persis sama dengan yang diajarkan oleh Krishnamurti 2500 tahun kemudian, yang ditemukannya kembali dan diajarkan oleh K selama 60 tahun ia mengajar masyarakat di dunia modern.

Salam,
semar

[ Sumber =

http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan–Apa-ajaran-Sang-Buddha-tentang-sadar-eling-pada-saat-kini–td16575427.html ]


Dan, ajaran J.Krishnamurti yang diadopsi oleh Romo Hudoyo dan secara sepihak ia klaim “sesuai” / “persis-sama” dengan ajaran Sang Buddha pada Bahiya ( yang bila dicermati secara kontekstual ternyata sesungguhnya jauh berbeda secara esensial ) tersebut, sesungguhnya oleh J.Krishnamurti sendiri telah diakui cukup membuatnya tidak lega ( atau “kecewa” ) dengan mengeluhkan bahwa selama enam-puluh (60) tahun ia mengajar “tidak seorang pun mengalami transformasi batiniah, sebagaimana diharapkannya.” (Hudoyo,  Dari: http://www.kaskus.us -> Forum: Supranatural -> Subforum: Spiritual -> Thread: MMD (Meditasi Mengenal Diri) ;  http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan–Perbedaan-Krishnamurti—Buddha-td16375574.html ) . dan dengan begitu, Romo Hudoyomasih “keukeuh” mengklaim bahwa  siapapun ( ummat agama apapun ) yang  “ mengikuti MMD ia akan mengakhiri dukkha...”
[ Dr.Hudoyo Hupudhio Mph ; http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=8 ].

Expektasi yang sangat “tinggi-nun-jauh-disana”, bahkan, apakah Romo Hudoyo sendiri telah “mengakhiri-dukkha” / merealisasi “Nibbana” ? atau, telah menjadi seorang Arahanta ?

Agar kita semua menjadi lebih jelas lagi duduk perkaranya, mari kita membahas lebih dalam lagi mengenai Bahiya-Sutta.

Setelah Bahiya , petapa berkulit kayu, mendengarkan ajaran singkat dari Sang Buddha, ia langsung “tercerahkan”. Membaca kisah “fantastis” ini tentunya sangat menarik hati bagi para pembaca yang ingin segera menjadi seorang “Arahat”, bukan begitu. Tapi, setelah anda yang “tergoda” menjalankan ajaran singkat ini, apakah telah ada diantara anda yang mencapai “Pencerahan-Sempurna” dengan sekedar menjalankan instruksi singkat Sang Buddha pada Bahiya tersebut ? ( Romo Hudoyo sendiri, bagaimana, sudah merealisasi Arahata-Magga-Phala-kah ? )

Kita semua, para ummat Buddha khususnya, dan rekan-rekan non-Buddhis umumnya, seyogyanya lebih bijak dalam mempelajari sebuah Sutta dari Sang Buddha. Sesungguhnya, ada kisah yang panjang dibalik Bahiya-Sutta yang relative pendek tersebut. Kisah lengkap dari petapa Bahiya ini ada di dalam Apadana ( kisah kehidupan lampau para Arahanta ) dan dalam kitab-kitab komentar.

Di dalam salah satu kehidupan lampaunya, Bahiya adalah seorang Bhikkhu , siswa dari Buddha-Kassapa. Ketika itu, karena ingin sekali mencapai kebebasan dengan cepat, ia bersama-sama dengan enam Bhikkhu yang lain, memanjat sebuah gunung curam ke atas sebuah karang besar. Lalu mereka semua membuang tangga, dan meneguhkan diri untuk bermeditasi dan tetap berada diatas karang besar itu sampai mereka tercerahkan atau mati. Yang tertua diantara ke-tujuh Bhikkhu tersebut berhasil merealisasi Arahata-Magga-Phala, dan seorang Bhikkhu tertua yang lain merealisasi Anagami-Magga-Phala, tetapi lima Bhikkhu lainnya, yang menolak makan makanan yang diperoleh oleh dua Bhikkhu tertua yang disebut terdahulu melalui kekuatan batin mereka, meninggal dunia setelah tujuh-hari. Bahiya adalah salah satu dari lima Bhikkhu yang meninggal tersebut. Bhikkhu yang berhasil merealisasi Anagami-Magga-Phala kemudian  dilahirkan kembali di dalam alam Brahma dan kelak ( dimasa kehidupan terakhir Bahiya ) muncul di hadapan Bahiya sebagai “familinya yang dulu”. Kelima Bhikkhu yang meninggal dunia, setelah bertumimbal lahir di alam surga, lahir kembali sebagai manusia pada masa Buddha Gotama, salah satunya adalah Bahiya tersebut ( keempat Bhikkhu yang lainnya, terlahir kembali dimasa Buddha Gotama sebagai : Pukkusati, Sabhiya, Kumarakassapa, dan Dabba si orang Malli ).

Dalam kehidupan terakhirnya, Bahiya adalah seorang pelaut, yang sukses menyeberangi lautan sebanyak tujuh kali. Pada perjalanan kedelapan, kapalnya karam, tetapi ia berhasil selamat ke pantai dengan mengapung di atas kayu gelondongan. Karena kehilangan seluruh pakaiannya, dia membuat pakaian sementara dari kulit kayu, dan pergi untuk meminta makanan di Kampung Supparaka. Penduduk kampong setempat kemudian terkesan dengan penampulannya, dan oleh karenanya mempersembahkan makanan, penghormatan, dan bahkan seperangkat jubah mahal kepada Bahiya. Ketika Bahiya menolak baju baru itu, para penduduk justru semakin menyanjungnya. Bahiya mendapatkan kehidupan yang nyaman, dan dengan begitu dia tidak kembali ke laut. Banyak orang kemudian menganggap Bahiya adalah seorang Arahanta, dan Bahiya pun dengan salah-kaprah menganggap bahwa ia adalah seorang Arahanta.

Disaat itulah kemudian , sesosok Brahma membaca pikiran keliru dari Bahiya dan menegur Bahiya, karena terdorong rasa welas-asih. Brahma tersebut tidak lain adalah salah satu dari ketujuh Bhikkhu yang saat itu merealisasi Anagami-Magga-Phala.Kemudian Brahma Anagami tersebut memberitahu Bahiya bahwa ada seorang Arahanta yang sejati, ialah Buddha Gotama, yang hidup di masa itu, tinggal di sisi lain India, tepatnya di Savatthi.

Setelah diberitahu oleh Brahma Anagami tersebut, Bahiya  segera meninggalkan Supparaka ( sekarang Supparaka adalah Sopara, di utara Mumbai ), dan tiba di Savatthi ( tujuh-belas (17) KM sebelah barat Balrumpur ) dalam waktu semalam saja. Kisah selanjutnya adalah seperti yang sudah saya tuliskan diatas, yaitu penyampaian permohonan Bahiya ( sampai tiga (3) kali )  pada Sang Buddha agar Sang Buddha berkenan memberikan pengajaran Dhamma pada Bahiya. Beberapa waktu setelah Bahiya berhasil merealisasi Arahata-Magga-Phala melalui ajaran singkat Sang Buddha, Bahiya meninggal terbunuh oleh seekor lembu betina yang sedang bersama anaknya ( demikian menurut ungkapan Gavi Tarunavaccha ).

Dari latar-beakang tersebut, bisa kita ketahui bersama bahwa Bahiya adalah seorang manusia luar-biasa. Pada masa Buddha-Kassapa, ia mempunyai tekad luar biasa untuk bermeditasi diatas gunung, lebih baik mati dan tidak akan meninggalkan tempat di atas gunung sebelum ia tercerahkan-sempurna. Dengan kekuatan tekadnya pula, ia saat itu (beserta keempat bhikkhu lainnya) menolak makan makanan dari dua Bhikkhu tertua yang berasal dari kekuatan batin kedua bhikkhu tersebut.

Dalam kehidupan terakhirnya sebelum bertemu Sang Buddha, ia mampu mendengar suara Brahma Anagami yang berbicara padanya, dan dia juga mampu menempuh perjalanan dari Supparaka menuju Savatthi – dengan kecepatan 1.300 Km/per-jam , seperti seorang penerbang masa kini – hanya dalam semalam.

Melihat kisah latar-belakang tersebut, bisa dipastikan bahwa Bahiya adalah seorang petapa yang memiliki “Abhinna” sebagai hasil pencapaian Jhana-Jhana-nya. Dari masa Buddha-Kassapa, ia ber-aditthana dengan kuat untuk bertapa merealisasi pembebasan. Di masa kehidupan terakhir sebelum bertemu Sang Buddha, ia telah memiliki “dibbasotta” / “telinga-dewa” sehingga mampu mendengarkan suara Brahma. Dan, kemampuan ia untuk menempuh perjalanan dari Supparaka menuju Savatthi hanya dalam waktu semalam, semakin memastikan bahwa ia telah meraih Jhana-Jhana melalui samadhinya. Dan barangkali, karena “kemampuan” istimewanya tersebutlah, Bahiya keliru beranggapan bahwa ia adalah seorang Arahanta.

Sehingga karena latar-belakang itu semualah, kita semua bisa memaklumi / tidak heran jika Bahiya yang hanya diberi khotbah Dhamma yang singkat oleh Sang Buddha mampu dengan segera merealisasi Arahata-Magga-Phala.

Tanya = menurut pak hudoyo, yang mana yang ajaran SANG BUDDHA ?? tolong kita kita “dicerahkan” ??


Jawab = Saya tidak berniat mencerahkan siapa pun, tapi menurut saya pribadi, ajaran Sang Buddha adalah vipassana yang diajarkan dalam Bahiya-sutta & Malunkyaputta-sutta.
ITU CUKUP, yang lain-lain tidak perlu sama sekali.

[ Sumber =

http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,3718.15.html ]


Romo Hudoyo merujuk sutta yang lain lagi, Malunkyaputta-Sutta ( Samyutta Nikaya 35.95 ). Sebenarnya, sebelum Malunkyaputta diberi pengajaran yang sama pada Bahiya, Sang Buddha mengajarkan perlunya pencapaian paling tidak salah satu dari Jhana-Jhana ( hal ini diajarkan setelah Sang Buddha menegur Malunkyaputta yang berpadangan-salah saat itu ) guna menghancurkan kelima belenggu yang pertama, dan dengan begitu bisa meraih tingkatan persis di bawah Arahanta, yaitu Anagami-Magga-Phala. Sang Buddha berkata kepada Malunkyaputta bahwa adalah mustahil meraih Anagami-Magga-Phala, apalagi Arahata-Magga-Phala, tanpa sebuah Jhana.

Setelah berhasil merealisasi Anagami-Magga-Phala, dan kemudian mendengarkan ajaran yang persis-sama yang diberikan pada Bahiya, Malunkyaputta lalu “tinggal menyendiri, menyepi, tekun , gigih, dan teguh”, dan tak lama kemudian ia menjadi seorang Arahanta.

Penafsiran Romo Hudoyo atas Bahiya-Sutta dan Malunkyaputta-Sutta yang “dipersingkat”-nya itulah yang membuat jalan-pikiran Romo Hudoyo kemudian menjadi “keliru” ; dan semakin keliru ketika mengajarkan pada murid-muridnya untuk membuang “Empat Kesunyataan Mulia” beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan”.

Jadi, Romo Hudoyo dalam hal ini terlalu menggampangkan persoalan. Seolah-olah “pencerahan” adalah sesederhana itu. Bila sesederhana itu, maka seorang pencuri pun bisa memperoleh pencerahan tanpa harus memperbaiki moralitasnya ;  ia bisa disebut meraih “pencerahan-sempurna” sementara ia tetap terus mencuri, merampok, dan bertindak asusila lainnya ; asalkan ,”…di dalam apa yang dilihat hanya ada apa yang dilihat ; di dalam apa yang didengar hanya ada apa yang didengar ;  di dalam apa yang dirasakan hanya ada apa yang dirasakan; di dalam apa yang diketahui hanya ada apa yang diketahui….dst.”

Seorang pembunuh pun bisa terus mengumbar kemarahan/kebenciannya, tanpa harus mengembangkan cinta-kasih dan kasih-sayang , dan ia tetap memperoleh “pencerahan-sempurna” selama ia menjalankan instruksi, ,”…di dalam apa yang dilihat hanya ada apa yang dilihat ; di dalam apa yang didengar hanya ada apa yang didengar ;  didalam apa yang dirasakan hanya ada apa yang dirasakan; di dalam apa yang diketahui hanya ada apa yang diketahui….dst.”

Jalan Ariya Beruas Delapan, merupakan “Jalan-Visi” dan “Jalan-Transformasi”. Diawali dengan “Pengertian-Benar” ( Samma-ditthi ) seseorang akan memandang alam-semesta seisinya ini dengan apa-adanya, mampu melihat hakekat-sejati, bahwa hidup ini adalah dukkha, dan sebab dukkha adalah nafsu-keinginan (tanha) yang berkobar-kobar, bahwa dukkha ini pun bisa berakhir ( saat merealisasi Nibbana ), dan berakhirnya dukkha tersebut melalui sebuah Jalan, ialah “Jalan Ariya Beruas Delapan” itu sendiri. Inilah ( Pengertian-Benar / Samma-ditthi )  “Jalan-Visi”. Dengan diawali oleh “Jalan-Visi” tersebut, kemudian seseorang mentransformasikan “Visi”-nya tersebut dalam seluruh aspek kehidupannya.  Dengan “Pengertian-Benar”, yang bersih, jernih, selanjutnya ia akan memiliki “Pikiran-Benar” ( Samma-Samkappa ), mulai meninggalkan pikiran-pikiran yang jahat, buruk, dan melangkah untuk membersihkan pikirannya, melalui pemupukan “sepuluh-kesempurnaan” / “dasa-paramita” ( sad-paramita dan catur-paramita ). Dan seterusnya, dan seterusnya, sehingga secara integral , jalan itu terangkum dalam rumusan “Jalan Ariya Beruas Delapan” ( 1. Pengertian Benar ( Samma-ditthi ) ; 2. Pikiran-Benar ( Samma-Samkappa ) ; 3. Ucapan-Benar ( Samma-Vaca ) ; 4. Perbuatan-Benar ( Samma-Kammanta ) ; 5. Mata Pencaharian benar (Samma-Ajiva) ; 6. Usaha-Benar ( Samma-Vayama ) ; 7. Perhatian-Benar (Samma-Sati) ; 8. Konsentrasi-Benar ( Samma-Samadhi ) ) ; dan ini adalah satu-satunya “Jalan” yang harus ditempuh para makhluk demi pencapaian kesucian, demi pembebasan dari arus samsara. Jalan ini adalah “Tunggal” , artinya kedelapan ruas itu adalah satu-kesatuan ; tidak bisa bila hanya ditempuh tujuh (7), atau enam (6), apalagi hanya satu (1) ruas saja. Dan khotbah singkat Sang Buddha pada Bahiya itu hanyalah menggambarkan satu ruas saja dari “Jalan Ariya Beruas Delapan” tersebut, ialah ruas “Perhatian-Benar” ( Samma-Sati ) ; itupun penggambaran yang terlampau singkat bagi umumnya ummat manusia “yang matanya masih ditutupi debu”. Permasalahannya kemudian, apakah  kita yakin, bahwa setiap praktisi ( dalam hal ini, praktisi MMD khususunya ) yang hanya menjalankan instruksi singkat Sang Buddha tersebut telah termasuk golongan “yang matanya hanya ditutupi sedikit debu” seperti Bahiya sehingga dengan sekedar instruksi singkat tersebut, seseorang kemudian menjadi “tercerahkan-sempurna” seperti Bahiya ?

6. PENGAKUAN ROMO HUDOYO ADANYA BUDDHA YANG TELAH MUNCUL DI ABAD KE-20 ; YAITU J.KRISHNAMURTI


“…J.Krishnamurti,yang menurut hemat saya adalah seorang yang telah mencapai

pencerahan & pembebasan sempurna dalam hidupnya di abad ke-20 lalu-

entah apa pun namanya : arahat, buddha, insan kamil, hidup di dalam Allah,

apa pun”.

[ Sumber =

http://www.usenet.com/newsgroups/soc.culture.indonesia/msg03344.html ]


Statement Romo Hudoyo mengenai “pencerahan” atau / “pembebasan-sempurna” yang dicapai oleh J.Krishnamurti ini sepertinya dikeluarkan tanpa memahami terlebih dahulu , apakah itu “pencerahan”, apa itu “pembebasan-sempurna” , kemudian lebih rancu lagi ketika Romo Hudoyo meng-generalisir / mempersamakan pengertian-pengertian dari : Arahat, Buddha, Insan-Kamil, dan “Hidup-di-dalam-Allah”.

Mengenai “pencerahan”, saya akan ambil definisi menurut Buddhisme. Mungkin Romo Hudoyo akan menganggap saya “textbook-thinking” seperti biasanya Romo lontarkan pada umumnya ummat Buddha yang beradu argumentasi dengan Romo. Akan tetapi, definisi melalui sebuah rumusan yang ada, setidaknya lebih “berdasar”, ketimbang definisi yang tidak jelas dan bias, yang akan menjadi “ranah-abu-abu” untuk bermain dengan kata-kata indah yang sebenarnya kosong makna. Berikut ini adalah definisi pencerahan (Bodhi) yang saya ambil dari kitab “Riwayat Agung Para Buddha” karya Tipitakadhara Mingun Sayadaw.

Empat pengetahuan Pandangan Cerah (Jalan menuju lenyapnya penderitaan, yang berbentuk faktor terakhir dari Empat Kebenaran Mulia yang terdiri dari delapan faktor: (1) pandangan benar (sammà ditthi), (2) pemikiran benar (sammà samkappa), (3) perkataan benar (sammà vàcà), (4) perbuatan benar (sammà kammanta), (5) penghidupan benar (sammà àjiva),  (6) usaha benar (sammà vàyàma), (7) perhatian benar (sammà sati), dan (8) pemusatan benar (sammà samàdhi). Dua pertama adalah kebijaksanaan (pannà), tiga berikutnya adalah moralitas (sila), dan tiga terakhir adalah konsentrasi (samàdhi).) ) mengenai Jalan (Magga Nana) dengan atau tanpa disertai kemahatahuan (Sabbannuta Nana  ;  Sabbannuta Nàna terdiri dari kata “sabbannuta” dan “Nàna”. Kata pertama “sabbannuta” artinya adalah “mahatahu”. Seseorang yang memiliki sabbannuta atau Sabbannuta Nàna adalah “Sabbannu” ; “Yang-Mahatahu”, bukan berarti ia selalu mengetahui segalanya, tetapi ia dapat mengetahui segalanya jka ia menghendakinya.) disebut Pencerahan (Bodhi). Pencerahan ada tiga jenis:

(1)         Sammà-Sambodhi: Pencerahan berupa empat pengetahuan Pandangan Cerah mengenai Jalan yang disertai kemahatahuan. Empat pengetahuan mengenai Jalan adalah pemahaman atas Empat Kebenaran Mulia oleh diri sendiri tanpa bantuan guru, dan memiliki kekuatan untuk melenyapkan kotoran batin, juga kebiasaan-kebiasaan (vàsanà) dari kehidupan-kehidupan sebelumnya; Kemahatahuan adalah pemahaman atas semua prinsip yang perlu diketahui.

(2)         Pacceka-Bodhi: Pencerahan berupa empat pengetahuan Pandangan Cerah mengenai Jalan, yaitu pemahaman atas Empat Kebenaran Mulia oleh diri sendiri tanpa bantuan guru.

(3)         Sàvaka-Bodhi: Pencerahan berupa empat pengetahuan Pandangan Cerah mengenai Jalan, yaitu pemahaman atas Empat Kebenaran Mulia oleh diri sendiri dengan bantuan guru.

Nah, menilik definisi tersebut diatas, pencerahan (Bodhi) yang manakah yang telah diraih oleh J.Krishnamurti ? Bukankah J.Krishamurti sendiri menolak adanya “Jalan” sebagai hasil pengetahuan-pandangan-cerah ( meskipun akhirnya setelah dikejar oleh pewawancara dari BBC ia berkata “Ada” ) ?

Atau setidaknya, jika “pengakhiran-dukkha” yang digunakan untuk mendefinisikan dari “pencerahan” / “pembebasan-sempurna” , apakah J.Krishamurti telah mencabut ketiga-akar : keserakahan / nafsu-indriya ( lobha ), kemarahan/kebencian (dosa), dan kebodohan batin ( moha ) ? Bukankah apa yang “dicapai” oleh J.Krishnamurti hanyalah “berhentinya-pikiran” yang itupun masih “rancu” untuk didefinisikan ?

Tapi saya sendiri, berangkat dari sudut pandang Buddhisme yang saya pahami,
secara pribadi menganggap ajaran K adalah ajaran Buddha yang paling murni,
tanpa embel-embel atau bendera apa pun. Ajaran K, seperti ajaran Buddha,
adalah ibarat daun Simsapa yang ada di dalam genggaman tangan–bukan daun
Simsapa yang ada di hutan–sedikit tapi cukup untuk membawa pada pembebasan. — Bahkan menurut hemat saya, dari sudut pandang Buddhis yang saya pahami, K adalah seorang Buddha/arahat pada abad ke-20.

Salam,
Hudoyo

[ Sumber =


http://groups.yahoo.com/group/samaggiphala/message/5582 ]


Pernyataan bahwa J.Krishnamurti adalah seorang “Buddha” di abad ke-20 yang lalu, menurut saya sangatlah tidak berdasar. Buddha yang mana yang dimaksudkan oleh Romo Hudoyo ? Bila yang dimaksud adalah “Samma-Sambuddha” ( Seperti Sang Buddha Gotama ), maka setidaknya ada dua hal yang membuat J.Krishnamurti tidak bisa disebut seorang “Samma-Sambuddha”.

Pertama, sebagaimana semua ummat Buddha tahu, bahwa selama ajaran seorang Samma-Sambuddha masih ada dan diikuti oleh ummat manusia, maka tidak akan mungkin muncul Samma-Sambuddha yang baru. Sebab, semua Buddha mengajarkan Dhamma yang sama, persis-sama tiada beda. Saat ini, Dhamma Sang Buddha masih berkembang dan diikuti oleh setidaknya 500 juta ummat manusia sedunia, Ti-Pitaka yang menguraikan Dhamma Sang Buddha juga masih tersebar luas, bisa dibaca oleh siapapun, bagaimana mungkin disaat seperti itu muncul seorang Samma-Sambuddha ( yang mencapai pencerahan-sempurna tanpa bantuan seorang Guru pun ) ?  Sebab, Dhamma yang ia babarkan dengan demikian PASTI tidak ORIGINAL, karena ia bisa mengakses pelajaran-pelajaran Dhamma, ia bisa membaca berbagai buku dan membaca Ti-Pitaka yang menguraikan tentang Dhamma.

Kedua, Seorang Samma-Sambuddha disebut dengan istilah “Tarayitu” , yang artinya “Ia yang menyeberangkan makhluk-makhluk lain”. Yang-Teragung  , Beliau telah menyeberangi samsara, dan menyelamatkan makhluk-makhluk lain dari samsara. Nah, sementara, J.Krishnamurti sendiri mengeluhkan bahwa selama enam-puluh (60) tahun ia mengajar “tidak seorang pun mengalami transformasi batiniah, sebagaimana diharapkannya.” (Hudoyo,  Dari: http://www.kaskus.us -> Forum: Supranatural -> Subforum: Spiritual -> Thread: MMD (Meditasi Mengenal Diri) ;  http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan–Perbedaan-Krishnamurti—Buddha-td16375574.html ) . Sebuah pengakuan yang jujur ini menunjukkan, bahwa J.Krishnamurti belum pernah “berhasil-membawa” ummat manusia mencapai “pencerahan” seperti yang diharapkannya [!], sehingga bagaimana mungkin pula ia dinobatkan sebagai seorang “Samma-Sambuddha” [?].

Jika yang dimaksud Romo Hudoyo adalah J.Krishnamurti seorang Pacceka Buddha, maka itu juga tidak mungkin. Paceka-Buddha ( Buddha-pribadi ) disebut sebagai “Tarita”, makhluk mulia yang telah menyeberangi lautan samsàra oleh dirinya sendiri namun tidak dapat menyelamatkan makhluk lain dari bahaya saÿsàra. Seorang Pacceka Buddha tidak muncul pada saat kemunculan Buddha Yang Mahatahu. Mereka hanya muncul dalam periode antara kemunculan Dua Samma-Sambuddha dimana ketika itu tidak ada seorang Samma-Sambuddha dan tidak terdengar lagi “Dhamma” dari seorang Samma-Sambuddha. Pacceka Buddha juga memahami Empat Kebenaran Mulia oleh diri sendiri namun tidak mampu mengajarkannya kepada makhluk lain. Setelah mencapai Jalan dan Buahnya, Nibbàna (pativedha, secara harfiah berarti penembusan, merupakan satu dari tiga aspek ajaran Buddha; dua yang pertama adalah pariyatti dan pañipatti, memelajari kitab dan mempraktikkan), Ia tidak dapat menceritakan pengalaman pribadi atas pencapaiannya karena ia tidak memiliki terminologi yang tepat menjelaskan hukum spiritual ini. Oleh karena itu, pengetahuan seorang Pacceka Buddha akan Empat Kebenaran (Dhammàbhisamaya) oleh para komentator diumpamakan sebagai mimpi si dungu atau seorang petani bodoh yang mengalami kehidupan di kota besar yang tidak mampu ia ceritakan kembali. Pacceka Buddha (makhluk Tarita) adalah mereka yang telah menyeberangi samsàra oleh diri sendiri, tetapi tidak dapat membantu makhluk lain menyeberang. Dan, bila muncul seorang Pacekka-Buddha pada masa masih berkembangnya “Dhamma” seorang Samma-Sambuddha, maka ia akan bergabung dalam komunitas para suciwan ( Sangha ) dan merealisasi Arahata-Magga-Phala. Menilik criteria-kriteria seorang Pacceka-Buddha tersebut, maka tidak mungkin pula J.Krishnamurti bisa diakui sebagai seorang Pacceka-Buddha.

Atau mungkin yang dimaksud Romo Hudoyo, J.Krishnamurti adalah seorang Siswa Mulia atau Sàvaka-Buddha ? Sàvaka-Buddha disebut juga makhluk Tàrita karena telah dibantu menyeberangi lautan samsàra oleh Buddha Yang Mahatahu.  ajaran seorang siswa Buddha berasal dari seorang Buddha; bukan berasal dari siswa itu sendiri. Ia tidak dapat memberikan khotbah yang berasal dari diri sendiri tanpa bantuan dan petunjuk dari ajaran Buddha. Oleh karena itu siswa demikian disebut makhluk Tàrita, bukan makhluk Tarayitu, karena mereka tidak mungkin menembus Empat Kebenaran Mulia tanpa seorang guru; dan penembusan mereka atas Jalan dan Buahnya hanya dapat terjadi dengan adanya bantuan dan petunjuk dari guru. Menilik hal ini, maka J.Krishnamurti juga tidak mungkin dikategorikan sebagai seorang Savaka-Buddha, sebab ia sendiri menolak mengakui sebagai “ummat” Buddha ( berarti menolak mengakui dirinya telah “berguru” pada Sang Buddha ). Meskipun ini sesungguhnya controversial, sebab, sebagaimana Romo Hudoyo sendiri mengatakan bahwa J.Krishnamurti sewaktu muda banyak membahas mengenai ajaran Sang Buddha Gotama didalam sebuah kelompok kecil :

Di masa mudanya, sebelum tercerahkan pada th 1922, K suka membahas tentang Buddha Gautama dengan para sahabatnya dalam kelompok kecil. Ia sering mengidungkan bait-bait dari “The Light of Asia” karya Sir Edwin Arnold, sebuah buku tentang riwayat hidup Buddha Gautama dalam bentuk syair. Juga ia sering mengutip dari kitab Dhammapada.

[ Sumber :

http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan–Perbedaan-Krishnamurti—Buddha-td16375574.html ]


Dalam sebuah dialog antara J.Krishnamurti dengan Walpola Rahula ( pakar Buddhisme internasional asal Srilanka, dan penulis “Buddhisme” dalam Encyclopaedia Britannica, juga penulis buku yang sangat terkenal,’What The Buddha Taught” ) J.Krishnamurti sedikit “tidak-suka” ketika Walpola Rahula mengungkapkan dengan penuh kekaguman bahwa apa yang diajarkan J.Krishnamurti sangat tidak berbeda dengan apa yang diajarkan Buddha,, yang membedakan hanyalah kemasan dan gaya-bahasa yang dipakai. Berikut adalah petikan dialog antara Walpola Rahula dengan J.Krishnamurti tersebut :

“BUKANKAH ANDA MENGULANG APA KATA BUDDHA?”

WALPOLA RAHULA (WR): Saya telah mengikuti ajaran Anda–kalau boleh saya pakai kata itu–sejak masa muda saya. Saya telah membaca buku-buku Anda dengan penuh minat, dan saya telah menginginkan diskusi dengan Anda ini sejak lama.

Bagi seseorang yang mengenal ajaran Buddha cukup baik, ajaran Anda bukan hal asing, bukan hal baru baginya. Apa yang diajarkan Buddha 2.500 tahun lalu Anda ajarkan sekarang dengan idiom baru, gaya baru, pakaian baru. Ketika saya baca buku-buku Anda, saya sering membuat catatan-catatan di pinggir halamannya, membandingkan apa yang Anda katakan dengan Buddha, kadang-kadang saya bahkan mengutip bab dan ayat, atau teks–bukan hanya ajaran asli Buddha, tetapi juga ide-ide dari para filsuf Buddhis belakangan–itu juga Anda sampaikan dengan cara yang praktis sama. Saya heran, betapa baik dan indahnya Anda mengutarakannya.

Pertama-tama, saya ingin menyebutkan dengan singkat beberapa poin yang sama antara ajaran Buddha dan ajaran Anda. Misalnya, Buddha tidak menerima pengertian suatu Tuhan Pencipta yang berkuasa di dunia ini dan mengganjar atau menghukum manusia atas perbuatan mereka. Anda juga tidak, saya rasa. Buddha tidak menerima ide Weda, Brahmana kuno tentang adanya suatu roh atau ‘atman’ yang kekal, abadi, tak berubah selama-lamanya–Buddha menolak ini. Saya rasa, Anda juga tidak menerima pengertian ini.

Buddha mengawali ajarannya dengan premis bahwa kehidupan manusia merupakan masalah, penderitaan, konflik, kesedihan. Dan buku-buku Anda selalu menekankan itu. Dan Buddha juga mengatakan bahwa yang menyebabkan konflik, penderitaan ini adalah sikap mementingkan diri sendiri yang diciptakan oleh ide keliru tentang diriku, ‘atman’-ku. Saya rasa Anda berkata begitu juga.

Buddha berkata bahwa jika orang bebas dari keinginan, kelekatan, kepada diri, ia bebas dari penderitaan dan konflik. Dan saya ingat, Anda berkata dalam sebuah buku, bahwa pembebasan berarti pembebasan dari semua kelekatan–tidak dibedakan kelekatan baik dan kelekatan buruk–tentu saja ada perbedaan itu dalam kehidupan praktis sehari-hari, tapi pada akhirnya tidak ada pembagian seperti itu.

Lalu ada melihat kebenaran, merealisasikan kebenaran, artinya, melihat segala sesuatu seperti apa adanya; bila Anda lakukan itu, Anda melihat realitas, Anda melihat kebenaran dan bebas dari konflik. Saya rasa, Anda mengatakan ini sering sekali; misalnya dalam buku “Truth and Actuality”. Ini dikenal baik dalam pemikiran Buddhis sebagai ‘samvrti-satya’ dan ‘paramartha-satya’: ‘samvrti-satya’ adalah kebenaran konvensional, dan ‘paramartha-satya’ adalah kebenaran absolut atau tertinggi. Dan orang tidak bisa melihat kebenaran tertinggi dan absolut tanpa melihat kebenaran konvensional atau relatif. Itulah sikap Buddhis. Saya rasa, Anda mengatakan hal yang sama.

Pada tingkat yang lebih populer, tetapi sangat penting, Anda selalu berkata bahwa orang tidak boleh bergantung pada otoritas–otoritas siapa pun, ajaran siapa pun. Anda harus merealisasikannya sendiri, melihatnya sendiri. Ini ajaran yang sangat terkenal dalam Buddhisme. Buddha berkata, jangan menerima apa pun hanya oleh karena itu dikatakan oleh agama atau kitab suci, atau oleh seorang guru atau guru spiritual, terimalah hanya apabila Anda melihat sendiri bahwa itu benar, jika Anda melihat bahwa itu salah atau buruk tolaklah.

Dalam diskusi yang sangat menarik antara Anda dan Swami Venkatesananda, ia bertanya tentang pentingnya guru, dan jawaban Anda selalu: apa yang bisa diperbuat oleh seorang guru? Tergantung Andalah untuk melakukannya, seorang guru tidak bisa menyelamatkan Anda. Ini justru sikap Buddhis–bahwa Anda tidak seharusnya menerima otoritas. Setelah membaca seluruh diskusi itu dalam buku “The Awakening of Intelligence”, saya menulis bahwa Buddha pun pernah mengatakan hal-hal ini juga, dan meringkaskannya dalam dua baris dalam kitab Dhammapada: Andalah yang harus berusaha, para Buddha hanya mengajar. Ini tercantum dalam kitab Dhammapada, yang pernah Anda baca jauh di masa silam ketika Anda masih muda.

Salah satu hal yang sangat penting ialah penekanan Anda pada keadaan sadar [awareness], atau perhatian penuh [mindfulness]. Ini sesuatu yang teramat penting dalam ajaran Buddha, penuh perhatian. Saya sendiri heran ketika saya baca dalam Mahaparinibbana-sutta, suatu khotbah tentang bulan terakhir dalam kehidupannya, bahwa di mana pun ia berhenti dan berbicara kepada para muridnya, ia selalu berkata: sadarlah, kembangkanlah keadaan sadar, perhatian penuh. Itu disebut hadirnya perhatian penuh [the presence of mindfulness]. Ini juga poin amat kuat dalam ajaran Anda, yang sangat saya hargai dan ikuti.

Lalu, hal menarik lainnya ialah penekanan Anda terus-menerus pada ketidakkekalan. Ini salah satu hal mendasar dalam ajaran Buddha, segala sesuatu tidak kekal, tidak ada apa pun yang kekal. Dan di dalam buku “Freedom from the Known”, bahwa melihat tidak ada sesuatu yang kekal adalah luar biasa penting–oleh karena hanya di situ batin bebas. Ini sesuai sepenuhnya dengan Empat Kebenaran Mulia dari Buddha.

Ada satu poin lagi yang menunjukkan kesamaan antara ajaran Anda dan ajaran Buddha. Saya rasa di dalam buku “Freedom from the Known”, Anda berkata bahwa pengendalian diri dan disiplin lahiriah bukanlah jalannya, tetapi hidup tanpa disiplin juga tidak bermanfaat. Ketika saya baca ini, saya tulis di pinggir halaman, seorang Brahmana bertanya kepada Buddha, bagaimana Anda mencapai ketinggian spiritual ini, dengan cara bagaimana, dengan disiplin apa, dengan pengetahuan apa? Kata Buddha, bukan dengan pengetahuan, bukan dengan disiplin, bukan dengan cara, bukan pula tanpa hal-hal itu. Itu yang penting: bukan dengan hal-hal itu, tetapi juga bukan tanpa hal-hal itu. Itu persis apa yang Anda katakan: Anda mengutuk perbudakan pada disiplin, tetapi tanpa disiplin hidup tidak punya nilai. Itu persis seperti dalam Buddhisme Zen–tidak ada Buddhisme Zen, Zen adalah Buddhisme. Dalam Zen, perbudakan pada disiplin dilihat sebagai kelekatan, dan itu sangat dikutuk, tetapi tidak ada sekte Buddhis apa pun di dunia di mana disiplin begitu ditekankan [seperti Zen].

Ada banyak hal yang bisa kita bicarakan, tetapi pertama-tama saya ingin mengatakan ada kesesuaian fundamental dalam hal-hal ini, dan tidak ada konflik antara Anda dan Buddha. Tentu saja, Anda bukan Buddhis, seperti Anda bilang.

Krishnamurti (JK): Tidak, Pak.

WR: Dan saya sendiri tidak tahu saya ini apa, itu tidak penting. Tetapi hampir tidak ada perbedaan antara ajaran Anda dan ajaran Buddha. Soalnya hanya Anda mengatakan hal yang sama dengan cara yang memukau bagi manusia masa kini, dan bagi manusia masa depan. Dan sekarang saya ingin tahu, bagaimana pendapat Anda tentang semua ini.

JK: Bolehkah saya bertanya, Pak, dengan segala hormat, mengapa Anda membanding-bandingkan?

Walpola Rahula (WR): Itu disebabkan karena ketika saya membaca buku-buku Anda sebagai seorang sarjana Buddhis, sebagai seorang yang telah mempelajari kitab-kitab Buddhis, saya selalu melihat bahwa itu hal yang sama.

K: Ya, Pak; tapi kalau boleh saya bertanya, apa perlunya membanding-bandingkan?

WR: Tidak ada perlunya.

K: Jika Anda bukan sarjana dalam Buddhisme serta semua sutra-sutra dan ucapan-ucapan Buddha, jika Anda tidak menyelami Buddhisme dengan sangat dalam, bagaimana kesan Anda ketika membaca buku-buku ini, tanpa latar belakang semua itu?

… dst. “

[ Sumber =

http://www.kaskus.us/showpost.php?p=44998135 ]


Terlihat adanya rasa ke-“tidak-suka”-an yang muncul dalam diri J.Krishnamurti ketika ajaran-ajarannya dikenali sebagai identik dengan ajaran Buddha oleh Walpola Rahula, seorang sarjana Buddhist. Menjawab pertanyaan terakhir dari J.Krishnamurti tersebut diatas, “ Jika anda tidak menyelami Buddhisme dengan sangat dalam, bagaimana kesan Anda ketika membaca buku-buku ini, tanpa latar belakang semua itu ? “ Jawaban dari saya adalah : SAYA PASTI AKAN SANGAT TERKESAN DAN BERDECAK KAGUM [!].

TAPI, bagi seorang Buddhist, maka akan sangat wajar jika kesan yang muncul adalah sama seperti yang muncul dalam diri Walpola Rahula. Mengapa J.Krishnamurti harus menunjukkan ke-“tidak-suka”-an akan hal itu ? Bukankah sebenarnya memang J.Krishnamurti sendiri sewaktu muda banyak membaca ajaran Buddha dan membahasnya dalam sebuah kelompok kecil seperti yang dinyatakan sendiri oleh Romo Hudoyo ?

K & Buddha sama-sama tidak menikah, hidup berkelana (tidak punya tempat tinggal tetap), kebutuhan fisiknya bergantung pada orang lain, dan yang terpenting, pencerahannya tidak diperoleh dari seorang guru, dan sama-sama menghabiskan kehidupannya untuk mengajarkan pembebasan kepada orang lain.

[ Sumber = http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan–Perbedaan-Krishnamurti—Buddha-td16375574.html ]


Jika standard-standard diatas yang digunakan oleh Romo Hudoyo untuk kemudian menobatkan J.Krishnamurti sebagai seorang Buddha abad ke-20, maka sebenarnya diluar Sang Buddha Gotama tidak hanya J.Krishnamurti saja yang hidup tidak menikah, berkelana, kebutuhan fisiknya bergantung pada orang lain. Jaman Sang Buddha sendiri terdapat ratusan petapa-kelana yang memenuhi standard-standard itu, namun mereka semua itupun bukanlah seorang “Buddha”. Berkelana, tidak menikah, dan mengajarkan suatu “ajaran” bukanlah menunjukkan bahwa orang tersebut seorang “Buddha”.

Sedikit mengingatkan pada Romo Hudoyo, sepertinya Romo harus mengulangi lagi “Buddhanussati” sehingga bisa memahami , kualitas-kualitas seperti apakah yang harus dimiliki oleh seseorang sehingga ia bisa diakui sebagai seorang Buddha.

“Iti pi so Bhagava : Araham, Sammasambuddho, Vijjacaranasampano, Sugato, Lokavido, Anuttaropurisadhammasarati, Sattha Devamanussanam, Buddho, Bhagava’ti. “


a). Araham

Ia yang mencapai Pencerahan-Sempurna adalah “Araham”, karena :

Pertama, ia adalah Arahat ( Araham, Arahanta ), karena ia jauh ( araka ) dari semua kejahatan, ia telah menghancurkan semua kejahatan bersama-sama akarnya beserta kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik ( vasana ) yang dimiliki-Nya sebelum mencapai Pencerahan-Sempurna dengan jalan Ariya yang membawa-Nya pada tingkat ke-Buddha-an.

Kedua, Beliau adalah Arahat karena telah memusnahkan (han) musuh-musuh (ari) yaitu : keserakahan ( lobha ), kebencian ( dosa ), dan kegelapan-batin ( moha ), dan lain-lain dengan mengembangkan Jalan-Ariya.

Ketiga, Beliau adalah Arahat karena telah memotong (hata) ruji-ruji (Ara) dari roda samsara, yang lingkaran pusatnya terbuat dari ketidaktahuan dan keinginan hidup duniawi, yang jari-jarinya adalah sankhara, yang bingkainya adalah usia-tua dan kematian, yang sumbunya adalah asava-asava dan badannya terdiri dari tiga rangkaian kehidupan (ti-bhava). Di bawah pohon Bodhi dengan kekuatan kebajikan dan pengetahuan Beliau hancurkan semua ruji-ruji roda ini. Karena itu Beliau disebut seorang Arahat.

Keempat, Beliau adalah Arahat karena pantas dihormati dengan persembahan-persembahan yang terbaik, patut dihormati dengan penghormatan yang paling mulia. Jadi, Beliau adalah Arahat karena kemuliaan kesucian-Nya yang benar-benar layak untuk diberi sebutan “Araham”.

Kelima, Beliau adalah Arahat karena Beliau tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat apapun, sekalipun di tempat yang rahasia ( raha ), tidak seperti mereka yang menyatakan diri mereka suci, tetapi melakukan perbuatan-perbuatan jahat di tempat-tempat rahasia karena takut akan diketahui. Karena itu Beliau disebut “Araham” denga pengertian “A-raha”, bebas dari perbuatan jahat di tempat rahasia.

Jadi, seorang “Arahat”, Beliau yang jauh (araka) dari kejahatan, yang telah menghancurkan musuh-musuh yang berupa kejahatan (ari-hat), yang tidak melakukan kejahatan-kejahatan, sekalipun di tempat rahasia ( a-raha ). Oleh karena itu Beliau adalah : ARAHAM.

b). Sammasambuddho

Sammasambuddho adalah seorang yang telah mencapai pencerahan-sempurna disertai “Ke-Mahatahu-an” ( Sabbannuta ) atas usaha sendiri dan mengajarkan orang lain untuk merealisasi keadaan yang sama, yang pada waktu itu tidak ada lagi Dhamma di bumi.

c). Vijjacaranasampano

Ia telah sempurna ( Sampanno ) dalam pengetahuan luar biasa ( Vijja ) dan laku-lampah ( Carano ). Dalam Ambatha Sutta, Majjhima NikayaI.100, Vijja merupakan :

– Pandangan-terang ( Vipassana-nana )

– Memiliki berbagai kesaktian ( Iddhi-viddhi ) ; seperti menggandakan dirinya dari satu menjadi banyak, kemudian kembali dari banyak menjadi satu, kemampuan berjalan diatas air, kemampuan melayang di udara, kemampuan mendatangkan hujan di tempat yang gersang, kemampuan menyelam dalam bumi, kemampuan berdiam dalam bongkahan batu, kemampuan melunakkan bebatuan, mendatangkan angin, menciptakan sinar , melihat tembus ruang-waktu, menciptakan sesuatu ( seperti ketika Sang Buddha menciptakan perempuan cantik didepan Ratu Khema istri Raja Bimbisara dihadapan para Bhikkhu yang sedang diberi ceramah Dhamma oleh Sang Buddha ) , dan yang terutama, memiliki “Keajaiban-Ganda” ( Yamaka-Patihariya ) , yaitu menciptakan fenomena kembar ( pori-pori tubuh bagian atas menyemburkan api, pori-pori tubuh bagian bawah mennyemburkan air, dan begitu juga sebaliknya ), serta lain-lain kesaktian

– Telinga Dewa ( Dibba-sota )

– Membaca pikiran orang lain ( Cetopariya-nana )

– Mengetahui kehidupan-kehidupan yang lampau ( PUbbenivasanussati-nana )

– Mata-Dewa ( Dibbacakkhu )

– Melenyapkan semua kekotoran batin ( Asavakhaya-nana )

Kedelapan (8) pengetahuan luar biasa Sang Buddha tersebut diatas disebut “Vijja”, dengan pengertian menghancurkan (Vidavidarane ; memecahkan) existensi fenomenal, atau mengalami ( Veda-vide-vida ) “Nibbana”.

“Carana” terdiri atas lima-belas (15) unsure :

1. Kesempurnaan Sila ( Sila-Sampada )

2. Pengendalian Indria ( Indria Samvara )

3. Makan secukupnya ( Bhojanamattannuta )

4. Waspada dan menjaga diri dalam tiga waktu ( Jaganiyanuyoga )

5. Keyakinan ( Saddha )

6. Malu melakukan perbuatan jahat ( Hiri )

7. Takut akibat-akibat perbuatan jahat ( Ottapa )

8. Berpengetahuan luas ( Bahusacca )

9. Semangat ( Viriya )

10. Sadar ( Sati )

11. Bijaksana ( Panna )

12. Jhana pertama ( Pathama Jhana )

13. Jhana kedua ( Dutiya Jhana )

14. Jhana ketiga ( Tatiya Jhana )

15. Jhana keempat ( Catuttha Jhana )


Dengan lima belas unsure-unsur tersebut, seseorang dapat merealisasi Nibbana. Oleh karena itu unsure-unsur itu disebut “laku-lampah”. Di dalam Majjhima Nikaya (I.355) dijelaskan secara terinci sebagai jalan untuk merealisasi Nibbana. Diresapi oleh pengetahuan dan laku lampah yang demikian, maka Sang Buddha dikatakan sebagai “Vijja-carana-sampanno”.

Lebih lanjut, kesempurnaan Pengetahuan membawa Sang Buddha kepada “Ke-Mahatahu-an” ( Sabbannuta-nana ) dan kesempurnaan laku-lampah kepada Maha-Karuna.

Dengan Vijja-sampanno, Ia mampu untuk mengerti keadaan dari semua makhluk. Kasih-sayang-NYa yang besar mendorong-Nya untuk memajukan mereka kedalam jalan yang berfaedah. Oleh sebab itu pengikut-pengikut Sang Buddha terbimbing dengan benar, tidak tersesat seperti siswa-siswa dari petapa-petapa / suciwan-suciwan lainnya, karena kurangnya pengetahuan (Vijja) dan laku-lampah (Carana) mereka.

d). Sugato

Setelah melalui jalan yang benar, Bhagava merealisasi Nibbana, karena itu Beliau disebut “SUGATA”, yang secara harafiah berarti “Yang-Telah-Merealisasi”. Ia telah pergi dengan bahagia sepanjang jalan itu, yaitu Jalan Mulia ( Ariya Magga ). Tanpa ragu-ragu Beliau telah melaluinya ke tempat yang aman. Jadi ia telah sampai dengan sempurna “pada tempat yang benar, keadaan tanpa kematian, “Amata” / “Amerta”.


e).Lokavidu

Sang Bhagava mengetahui alam semesta dalam semua segi, maka ia disebut “Pengenal Alam Semesta “ (Lokavidu) . Loka berarti alam-semesta. Alam semesta ini dikelompokkan menjadi :

a. Alam Benda ( Sankhara Loka )

b. Alam Makhluk Hidup ( Satta Loka )

c. Alam Tempat ( Okasa Loka )

Sang Bhagava mengetahui semua alam tersebut dengan segala isinya seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, manussa, deva, dan brahma, dengan segala kecenderungan, perbuatan dan kehendak mereka.

f). Anuttaropurisadhammasarati

Tidak ada makhluk lain di ala mini yang lebih suci darpiada Sang Buddha. Karena itu Sang Buddha diberi gelar “Tidak-ada-bandingnya” ( Anuttaro ). Beliau menuntukn (Sarathi) makhluk yang harus dijinakkan ( purisadhamma ) melatih mereka ( vinati ) dan menundukkan ( dameti ) seperti kusir ( sarata ) melatih kuda.

Disini “purisadhamma” berarti mereka ( manusia atau bukan ) yang belum dilatih dan yang pantas dilatih.

Ia juga mendidik mereka yang telah mendapat latihan, menerangkan pada mereka tentang Samadhi dan pencapaian-pencapaian lainnya, menganjurkan mereka menempuh jalan untuk kemajuan, menuntun mereka mencapai Arahat.

Oleh sebab itu Bhagava disebut “Kusir-yang-tidak-ada-bandingnya” atau “Pemimpin-mereka-yang-menuntun” ( Anuttaro Purisadhamma Sarati ).

g).Satta Devamanussanam

Beliau melatih makhluk-makhluk sesuai dengan watak mereka, melihat apa yang baik bagi mereka di dalam kehidupan ini dan akan datang.

Sebagai seorang Guru ( Sattha ), beliau bagaikan pemimpin kafilah ( Sattha vaha ), yang memimpin kafilah menyeberangi padang pasir, melalui sarang-sarang penyamun, melalui hutan-hutan yang didiami binatang-binatang liar, melalui daerah yang tidak berair membawa mereka ke tempat yang aman.

Demikian pula Bhagava membawa makhluk-makhluk ( dewa maupun manusia ) menyeberangi padang pasir samsara, melewati kelahiran, usia tua, kelapukan dan kematian. Serta membawa mereka dengan selamat ke Nibbana. Oleh sebab itu Beliau adalah Guru para Deva dan Manussa.

h).Buddho

Buddha adalah seseorang yang telah merealisasi “Pencerahan-Sempurna”. Sebutan bagi mereka yang telah menyadari kebebasan-Nya ( dari samsara ). Ia telah bangun dan membangunkan orang lain. Ia telah mencapai Pencerahan-Sempurna di bawah pohon Bodhi disertai “Ke-Mahatahu-an” (Sabbannuta-nana ). Jadi, Ia adalah BUDDHA, mencapai pencerahan-sempurna atas usahanya sendiri dan menjadikan orang lain merealisasi juga Pencerahan-Sempurna.

i). Bhagava

“Bhagava” adalah sebutan untuk menghormati dan memuji mereka yang paling mulia diantara semua makhluk, yang paling tinggi dalam kesucian.

Bhagava bukanlah suatu nama yang diberikan oleh orang tua atau keluarga tetapi diberikan pada BUDDHA, mereka yang telah mencapai Pencerahan-Sempurna, dengan “Ke-Mahatahu-an” di bawah pohon Bodhi. Bhagava menunjukkan telah berhasil dalam merealisasi sifat-sifat di atas makhluk biasa.

Kemudian, selain hal-hal yang sudah disebutkan diatas,  Seorang Samma-Sambuddha memiliki beberapa “ciri-ciri” yang lainnya, yaitu :

I. Dasabalabana (10 Kemampuan Pandangan Terang) :

1. Pandangan Terang tentang kemungkinan-kemungkinan dan ketidakmungkinan (thanathananana).
2. Pandangan Terang tentang akibat-akibat karma (vipakanana).
3. Pandangan Terang tentang praktik-praktik yang membawa pada bermacam-macam alam kehidupan (sabbatthagaminipatipadanana).
4. Pandangan Terang tentang susunan unsur-unsur kehidupan (banadhatunana).
5. Pandangan Terang tentang perbedaan kecenderungan-kecenderungan (nana-dhimuttikanana).
6. Pandangan Terang tentang perkembangan kemampuan-kemampuan makhluk (indriyaparopariyattinana).
7. Pandangan Terang tentang pencapaian Jhana dan kemundurannya karena ke-kotoran-kekotoran batin (jhanasankilesadinana).
8. Pandangan Terang tentang kelahiran-kelahiran sebelumnya (pubbenivasanus-satinana).
9. Pandangan Terang tentang kelahiran dan kematian makhluk-makhluk berda-sarkan perbedaan karma mereka (cutupapatanana).
10. Pandangan Terang yang menghancurkan kekotoran-kekotoran batin untuk se-ketika dan untuk selama-lamanya (asavakkhayanana).

II. Seorang Samma-Sambuddha memiliki 32 Tanda Istimewa Manusia Agung (Maha Purisa Lakkhana) sebagai berikut :

1. Telapak kaki rata (suppatitthita-pado).
2. Di telapak kaki terdapat lingkaran dengan seribu ruji, dengan bentuk lingkar dan pusat sempurna.
3. Bentuk tumit bagus (ayatapanhi).
4. Jari – jari panjang (dighanguli).
5. Tangan dan kaki : lembut dan halus (mudu-taluna).
6. Tangan dan kaki bagaikan jala (jala-hattha-pado).
7. Tulang pergelangan kaki seperti kulit kerang (ussankha-pado).
8. Kaki bagaikan kaki kijang (enijanghi).
9. Bila berdiri tanpa membungkukkan badan, dengan kedua tangan-Nya dapat menyentuh atau menggosok kedua lutut-Nya.
10. Alat kelamin terbungkus oleh selaput (kosohita-vatthaguyho).
11. Warna kulit bagaikan perunggu berwarna emas.
12. Kulit sangat licin sehingga tidak debu yang dapat melekat di tubuh-Nya.
13. Pada setiap pori-pori di kulit-Nya tumbuh sehelai bulu.
14. Rambut berwarna biru kehitan-hitaman tumbuh keriting ke atas berbentuk ling-karan kecil dengan arah berputar ke kanan.
15. Potongan tubuh yang agung (brahmujju-gatta).
16. Tujuh otot yang kuat (sattusado).
17. Dada bagaikan dada singa (sihapubbaddha-kayo).
18. Di kedua bahu tidak ada lekukan.
19. Potongan tubuh bagaikan pohon nigrodha (beringin). Tinggi tubuh-Nya sama dengan rentangan kedua tangan-Nya, begitu pula sebaliknya.
20. Bahu yang sama lebar (sama-vattakkhandho).
21. Indera perasa sangat peka (rasaggasaggi).
22. Rahang bagaikan rahang singa (sihabanu).
23. Gigi : empat puluh buah.
24. Gigi yang sama (sama-danto).
25. Gigi yang tetap (avivara-danto).
26. Gigi putih bersih.
27. Lidah panjang (pahuta-jivha).
28. Suara bagaikan suara brahma yang seperti suara burung karavika.
29. Mata biru.
30. Bulu mata bagaikan mata sapi (gopakhumo).
31. Di antara alis mata tumbuh (sehelai) rambut halus, putih bagaikan kapas yang halus.
32. Kepala bagaikan kepala berserban (unhisasiso).

III. Seorang Samma-Sambuddha mencapai dan membabarkan pengetahuan yang tidak pernah didengar sebelumnya ( berarti, sebelum munculnya seorang Buddha, ajaran tersebut belum pernah diajarkan siapapun ; ORIGINAL ).
Dalam Dhammacakkappavattana Sutta, pada saat membabarkan Empat Kebenaran Mulia ( Cattari Ariya-Saccani ), masing-masing dinyatakan sebagai berikut :

“Inilah Kebenaran Mulia tentang Dukkha. Demikianlah, o para bhikkhu, me-ngenai segala sesuatu (Dhamma) yang belum pernah saya dengar (pubbe ananussutesu) menjadi terang dan jelas ; timbullah pandangan, timbullah pe-ngetahuan, timbullah kebijaksanaan, timbullah penembusan, timbullah cahaya, … “.

IV. Semua Samma-Sambuddha mengajarkan Dhamma yang sama. Oleh sebab itu, maka sebelum ajaran seorang Samma-Sambuddha lenyap dari muka bumi ( dilupakan oleh semua manusia ), tidak akan mungkin muncul Sammasambuddha baru.


Saya rasa, Romo Hudoyo patut memperhatikan hal-hal tersebut diatas sebelum mengambil kesimpulan bahwa seseorang, dalam hal ini J.Krishnamurti, adalah seorang “BUDDHA”.

7. PENOLAKAN ROMO HUDOYO [ dengan halus ] AKAN AJARAN “ANATTA”

Secara halus, Romo Hudoyo menolak doktrin “Anatta” yang merupakan cirri-khas Buddha-Dhamma. Sebab ada “Atta” yang selalu muncul sebagai pikiran, keinginan, harapan, ketidaksenangan, dan lain sebagainya. Menurut Romo Hudoyo, Anatta tidak bisa dialami saat meditasi. Anatta hanyalah konsep belaka, begitu menurut Romo Hudoyo. Dan Romo Hudoyo sendiri menegaskan, disitulah ( penolakan Anatta ) perbedaan “ajaran” Romo Hudoyo dengan Ti-Lakkhana dalam ajaran Sang Buddha Gotama.

Itulah sebabnya dalam retret MMD saya tidak pernah mengajarkan ‘anatta’ lagi … Saya mengajarkan karakteristik yang dalam agama Buddha disebut ‘anicca’ & ‘dukkha’ … lalu ‘atta’ yang selalu muncul sebagai pikiran, keinginan, harapan, ketidaksenangan dsb. … ‘Atta’ ini yang melekat kepada segala sesuatu yang ‘anicca’ sehingga terjadilah ‘dukkha’. … (Sudah tentu saya tidak menggunakan kata-kata Pali itu kalau pesertanya non-Buddhis.) …

Saya tidak pernah lagi mengajarkan tilakkhana sebagai kombinasi ‘anicca, dukkha, anatta’ … alih-alih, saya mengajarkan ‘anicca, dukkha, atta’ karena hanya inilah yang bisa kita alami dalam meditasi. …

‘Anatta’ tidak bisa kita alami dalam meditasi, ‘anatta’ cuma konsep dari ingatan/pikiran yang mencampuri meditasi sehingga orang tidak melihat ‘anicca, dukkha & atta’ seperti apa adanya. … Selanjutnya, ‘anicca, dukkha & atta’ itu akan lenyap bila pikiran & aku berhenti (khanika-samadhi), sekalipun cuma untuk sementara. … DI SINILAH PERBEDAAN AJARAN SAYA DENGAN KONSEP TILAKKHANA yang pervasif di dalam Tipitaka Pali … ini perbedaan pengertian seorang praktisi MMD dengan praktisi vipassana tradisional atau umat Buddha yang hanya menghafal konsep tilakkhana.

Salam,
hudoyo

[ Sumber =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=6 ]


Ketika seorang ummat Buddha berdiskusi dengan Romo Hudoyo, dan menyatakan saat bervipassana ia melihat Ti-Lakkhana, Romo Hudoyo kembali menegaskan bahwa itu hanyalah tafsiran dari pikiran ummat Buddha tersebut.

Tetapi ketika Anda berkata “… disitulah saya memahami anicca, dukha dan anatta …”, itu tidak lain adalah tafsiran pikiran yang muncul kembali yang menggunakan konsep tilakkhana … terutama tentang ‘anatta’, karena menurut hemat saya, tidak seorang pun puthujjana bisa melihat ‘anatta’ secara otentik; hanya seorang arahat bisa mengalami anatta. …

Itu tentang ‘anicca’ & ‘dukkha’. … Lain lagi dengan ‘anatta’ … tidak ada pencerahan tentang ‘anatta’. … ‘Anatta’ hanya dialami oleh seorang arahat. … Karena Anda belum arahat, maka dalam meditasi Anda tidak mungkin Anda mengalami ‘anatta’. …

Sumber =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=6


Mungkin statement yang terakhir ini ~”Anatta” hanya dialami oleh seorang Arahat~ lebih “lentur” dibandingkan statement yang pertama diatas ketika Romo Hudoyo dengan tegas menolak konsep “Anatta” dan dengan itu meyakinkan bahwa disitulah letak perbedaan “ajaran” beliau dengan ajaran Buddha-Dhamma umumnya. Tetapi, meskipun terlihat lebih “lentur”, statement tersebut tetap mengandung “cacat” dan menunjukkan perbedaannya dengan apa  yang diajarkan dalam Buddha-Dhamma.

Di satu sisi saya setuju dengan Romo Hudoyo, bahwa seorang puthujjana, atau menurut saya lebih tepatnya adalah seorang “assutava puthujjana” ( manusia biasa yang tidak belajar ) / manusia-duniawi-biasa, yang tidak memiliki pencapaian spiritual maupun pembelajaran di dalam Buddha-Dhamma, ia dikuasai oleh berbagai macam kekotoran batin dan pandangan-pandangan salah. Dan assutava-puthujjana seperti ini memang tidak bisa melihat “anatta” ( ke-tanpa-diri-an atau / tidak-adanya-AKU ).

Namun , disisi lain saya tidak sependapat dengan Romo Hudoyo yang menyatakan bahwa HANYA seorang Arahat saja yang bisa mengalami “Anatta”. Sebab, ketika seseorang telah merealisasikan tingkat kesucian yang pertama, yaitu Sotapatti-Magga-Phala, maka disaat itu dia telah “melihat” / “mengalami” Anatta, karena ia pun saat itu telah mencabut / mematahkan ketiga belenggu pertama :

1. Sakkaya-ditthi ; Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa, atau “AKU” yang kekal , anggapan tentang adanya “Diri”, “Pribadi”, “Aku”.

2. Vicikiccha ; Keragu-raguan yang skeptis pada Sang-Ti-Ratana : Buddha, Dhamma, Sangha.

3. Silabbata-paramasa ; Kemelekatan pada suatu kepercayaan bahwa hanya dengan melaksanakan aturan-aturan dan upacara keagamaan seseorang dapat mencapai kebebasan.

Seorang praktisi vipassana, setelah mencapai ketiga-kesucian :

I.Sila Visuddhi ( Kesucian-Sila )

II.Citta-Visuddhi ( Kesucian-Pikiran )

III. Ditthi-Visuddhi ( Kesucian-Pandangan )

Akan mencapai pengetahuan / “insight” yang disebut dengan “Nama-Rupa Pariccheda Nana”, yaitu diraihnya pengertian secara langsung mengenai perbedaan nama ( batin ) dan rupa ( jasmani ). Disaat itu, baik nama ( batin ) maupun rupa ( jasmani ) akan ia lihat dengan jelas sebagai nama (batin) dan rupa (jasmani) saja, tanpa adanya lagi konsep “roh” didalamnya .

Setelah mencapai “Kesucian dengan Mengatasi Keraguan” ( Kankhavitaranavisuddhi ) yang dicapai setelah diperolehnya “Paccaya Pariggaha Nana”, maka sebelum mencapai “Kesucian dengan Pengetahuan dan Pandangan mengenai Jalan dan Bukan Jalan” ( Maggamaggananadassanavisudhi ), seorang praktisi vipassana akan mencapai “Sammasana Nana” ( Pengetahuan dengan pemahaman ), yaitu melihat ti-lakkhana ( anicca,dukkha, anatta ) dengan jelas.

Sehingga, bahkan ketika seorang praktisi vipassana belum merealisasi Sotapatti-Magga-Phala sekalipun, namun ia telah mencapai “Kesucian dengan Mengatasi Keraguan “ ( ( Kankhavitaranavisuddhi ) , ia akan mendapatkan “insight” berupa pengetahuan dengan pemahaman mengenai tiga-corak-umum : Anicca-Dukkha-Anatta. Seharusnya sebagai seorang “Guru” Vipassana dan seorang Romo / Pandhita, Romo Hudoyo memahami hal ini.

Originally Posted by semar00

Lihat saya apa yang tampak melalui pancaindra, bukan hanya apa yang ada diluar, tetapi yang lebih penting ialah apa yang ada di dalam batin. …

Nanti akan terlihat jelas si aku itu sebagai penggerak utama dari eksistensi Anda …

Salam,
hudoyo

Sumber :

http://www.kaskus.us/showthread.php?p=43677304

Apakah ketika Romo Hudoyo menyatakan adanya “Aku” sebagai penggerak-utama dari eksistensi makhluk-manusia ini, Romo Hudoyo sedang “khilaf” ? Saya harap demikian. Sebab, bila pernyataan itu dilakukan dengan sadar dan memang sungguh demikianlah pandangan Romo, maka dengan demikian bisa disimpulkan bahwa Romo Hudoyo telah “memisahkan-diri” dari ajaran “Dhamma” Sang Buddha. Mengapa ? sebab, satu hal yang membuat Buddha-Dhamma “UNIQUE” sehingga berbeda dengan ajaran-ajaran lain adalah karena penolakannya terhadap semua doktrin mengenai diri. Sang Buddha bersabda :

“ Walaupun seorang petapa atau brahmana menyatakan mengemukakan pemahaman penuh mengenai semua jenis kemelekatan, namun mereka tidak sepenuhnya menggambarkan pemahaman penuh mengenai semua jenis kemelekatan. Mereka menggambarkan pemahaman penuh mengenai kemelekatan terhadap kesenangan indera, kemelekatan terhadap peraturan dan pantangan, namun tanpa menggambarkan pemahaman penuh mengenai kemelekatan terhadap doktrin tentang diri. Mereka tidak memahami satu jenis kemelekatan ini seperti apa adanya. Maka dari itu, mereka menggambarkan hanya pemahaman penuh mengenai kemelekatan terhadap kesenangan indera, kemelekatan terhadap pandangan-pandangan, kemelekatan terhadap peraturan dan pantangan, namun tanpa menggambarkan pemahaman penuh mengenai KEMELEKATAN TERHADAP DOKTRIN TENTANG DIRI.” [ Culasihanada Sutta ; Majjhima-Nikaya, sutta ke-11 ]

Sabda Sang Buddha tersebut diatas  dengan jelas menyatakan bahwa factor-kritis yang membedakan ajaran Sang Buddha dari semua pandangan keagamaan dan filsafat lain adalah “pemahaman penuh Beliau mengenai kemelekatan terhadap doktrin tentang diri.” Akibatnya, hal ini berarti bahwa hanya Sang Buddha sendiri yang dapat menunjukkan bagaimana cara menanggulangi semua pandangan tentang diri lewat pengembangan penembusan kebenaran akan tanpa-diri. Karena guru-guru spiritual lain tidak memiliki pemahaman mengenai “tanpa-diri” ( Anatta ) ini, maka pernyataan-pernyataan bahwa mereka telah sepenuhnya memahami tiga jenis kemelekatan yang lainnya ( kemelekatan terhadap kesenangan indera, kemelekatan terhadap pandangan-pandangan, kemelekatan terhadap peraturan dan pantangan ) juga menjadi meragukan.

Romo Hudoyo, siapakah yang anda maksudkan dengan “Si AKU” yang menjadi penggerak “makhluk” manusia itu ?  Romo sebagai seorang ummat Buddha mazhab Theravada seharusnya sudah memahami, bahwa tidak ada “actor” / “individu” apapun yang bisa disebut sebagai “Aku”, sebagai “pelaku”. Kehendak ( cetana ) itu sendirilah si pelaku. Kecuali keadaan murni mental ( suddhadkamma ) ini tidaklah ada seorangpun yang menjadi “actor”.

Yang Ariya Bhikkhu Buddhaghosa menulis dalam Visudhi-Magga :

“ Tak ada pelaku yang menjalankan perbuatan,

Ataupun seseorang merasakan buahnya,

Hanyalah suku cadang penunjang yang bergulir terus,

Inilah sesungguhnya yang betul.”

[ dikutip dari “Sang Buddha dan Ajaran-ajaran-Nya” , penulis Bhante Narada Mahathera ]

Sebagaimana Sang Buddha menyatakan “Hanya Dukkha yang terjelma, tiada seorang penderita pun yang berada; segala perubahan terjadi, tetapi pembuat perubahan itu tidak tertemukan; ada Nirvana, tetapi tak seorangpun yang memasukinya; Ada jalan, tetapi tak seorang pengunjungpun yang melewatinya. “
(Visuddhi Magga. XVI).
Jadi dengan ini sangat jelas bahwa Sang Buddha mengajarkan tidak-adanya “Si AKU” yang menggerakkan eksistensi makhluk-manusia ( dan makhluk-makhluk lainnya ).

8. PENOLAKAN ROMO HUDOYO TERHADAP KEBENARAN  ISI TI-PITAKA

Dalam sebuah disksusi antara Hendra Susanto dengan Hudoyo di situs Kaskus :

Originally Posted by Hendra Susanto

gunakan pikiran mu ;D apakah sahih atau tidak menyangkal salah satu sutta, jgn kita ehipassiko keblinger yg akhirnya sok tau

Sutta-sutta yang ditulis empat ratus tahun setelah Sang Buddha wafat, di sana-sini patut dipertanyakan isinya yang bertentangan dengan pemahaman seorang pemeditasi … apakah tidak kemasukan opini bhikkhu-bhikkhu penghafal Tipitaka sebelum sutta itu dituliskan.

[ Sumber =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=6 ]

Originally Posted by Kelana

Nah ini dia Sdr. Kainyn_Kutho, salah satu pihak tidak ingin membahas materi-materi secara objektif tapi justru membiaskannya dengan pengalaman pribadi (subyektif), contohnya dalam forum Sutta yang seharusnya objektif.

Apa yang Anda maksud dengan “obyektif”? Apakah “sutta dalam keadaannya harus diimani sebagai berasal dari mulut Sang Buddha”? … Tidah usah, ya.

[ Sumber =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=6]

Alasan penolakan Romo Hudoyo terhadap kebenaran sutta-sutta, adalah karena menurut Romo Hudoyo sutta-sutta dalam Ti-Pitaka ditulis empat-ratus (400) tahun setelah Sang Buddha parinibbana. Sehingga menurut Romo Hudoyo, isi sutta-sutta tersebut patut dipertanyakan kebenarannya.

Yang aneh, dilain kesempatan Romo Hudoyo mengatakan bahwa Ti-Pitaka “ditulis-orang” tiga-ratus (300) tahun setelah Sang Buddha Parinibbana.

Kitab Tipitaka Pali bukanlah hasil rekaman verbatim dari kaset atau stenografi khotbah Sang Buddha, melainkan ditulis orang 300 tahun setelah
wafatnya Buddha
dari penuturan lisan yang dihafalkan turun-temurun, sehingga dalam Sutta-pitaka terjadilah bentuk-bentuk khotbah yang kaku,
penuh pengulangan dan ganjil, yang jelas bukanlah cara Sang Buddha berkhotbah sesungguhnya.

Sumber =

http://groups.yahoo.com/group/milis-spiritual/message/20890

Yang harus diluruskan terlebih dahulu adalah, pernyataan “ditulis-orang” serta kata “wafat” yang digunakan untuk menunjuk “Parinibbana” Sang Buddha

Frasa “orang” sebagai kata penunjuk subjek “penulis” Ti-Pitaka sangat bias, karena, “orang” bisa berarti : juru-tulis, tukang-kayu, nelayan, petani, pelajar, bangsawan, dan lain-lain “orang”. Dalam hal penyusunan Ti-Pitaka, Romo Hudoyo tentunya tahu, bahwa yang menyusun Ti-Pitaka ini adalah para “Arahat” ; yang telah merealisasi kesucian-tertinggi. Penggunaan kata “Arahat” ini penting ditekankan, untuk menunjukkan bahwa penyusun Ti-Pitaka tersebut bukan “orang” dalam pengertian : juru-tulis, tukang-ketik, tukang-kayu, dan lain-lain “orang” yang belum meralisasi kesucian tertinggi.

Mengenai kata “wafat” ; benarkah Sang Buddha “wafat”. Kata wafat digunakan untuk manusia kebanyakan, yang meskipun kata ini digunakan untuk orang yang dihormati ( sehingga tidak digunakan kata “mati”, “mampus”, “meninggal” ), namun memiliki pengertian yang sangat berbeda dengan “Parinibbana” ( Nibbana-Sempurna ) yang seyogyanya digunakan untuk menunjukkan “Wafat”-nya seorang Buddha ( dalam hal ini Buddha Gotama ), dimana ketika tubuh-fisik tersebut “padam”, maka batin sekaligus dibebaskan dari penderitaan-jasmaniah, ini disebut dengan “Anupadisesa-Nibbana”.

Atau mungkin, sebenarnya Romo Hudoyo memahami terminology Buddhist ini , tapi lebih memilih menggunakan kata “orang” untuk menggantikan para “Arahanta” yang menyusun Ti-Pitaka, dan menggunakan sekedar kata “wafat” untuk menunjukkan “Parinibbana” Sang Buddha ? Ini yang sebaiknya diklarifikasi oleh Romo Hudoyo.

Riwayat penyusunan Ti-Pitaka ini pun seharusnya Romo sudah mengetahuinya. Lalu , bagaimana bisa Romo “bingung” atau “lupa”, tepatnya kapan Ti-Pitaka itu disusun oleh “orang” yang Romo maksud tersebut ; pertama-tama Romo Hudoyo menyatakan Ti-Pitaka ditulis “orang” setelah 400 tahun Sang Buddha “wafat”, dilain kesempatan berubah lagi dan menyatakan Ti-Pitaka ditulis “orang” 300 tahun setelah Sang Buddha “wafat”.

Ada beberapa bagian dari Tipitaka Pali yang saya ragukan kebenarannya. … Yang paling mencolok adalah di dalam Mahaparinibbana-sutta, di mana Sang
Buddha dikisahkan bersabda, bahwa di dalam ajaran mana pun yang tidak mengandung Jalan Mulia Berfaktor Delapan tidak mungkin ada pembebasan. …
Dengan kata lain, di situ ditampilkan Sang Buddha mengklaim bahwa hanya di dalam ajarannya sendiri mungkin tercapai pembebasan, di luar ajaran Buddha
tidak mungkin ada pembebasan: ajaranku paling benar, semua ajaran lain salah.

Saya tidak percaya itu.

Salam,

hudoyo

Sumber =

http://groups.yahoo.com/group/semedi/message/17515

Menurut hemat saya, “sabda Sang Buddha” dalam Mahaparinibbana-sutta tsb disisipkan oleh bhikkhu-bhikkhu penghafal Tipitaka sebelum kitab suci itu
dituliskan ratusan tahun kemudian.
Maksudnya sih baik, menjunjung tinggi ajaran Sang Guru, tapi tidak cocok dengan pencerahan zaman sekarang.

Salam,

hudoyo

[ Sumber =

http://groups.yahoo.com/group/semedi/message/17515 ]

Selain menolak kebenaran isi sutta-sutta dalam Ti-Pitaka, Romo Hudoyo juga selalu menolak pentingya “Abhidhamma” untuk dipelajari. Baginya, Abhidhamma tidak relevan bagi seorang praktisi vipassana, sebagaimana tidak pentingnya sutta-sutta Sang Buddha seperti yang sudah ia nyatakan diatas.

“ Tapi dalam kesadaran vipassana, Abhidhamma-pitaka tidak relevan, sebagaimana seluruh kitab-kitab suci lainnya tidak relevan.”


Sumber =

http://groups.yahoo.com/group/semedi/message/5509

Syukurlah jika Abhidhamma bisa “mengikis kebiasaan2 buruk Anda”. … Saya sendiri tidak mendapat manfaat apa-apa sama sekali dari Abhidhamma yang pernah saya hafalkan beberapa puluh tahun lalu (Abhidhammattha-sangaha); bagi saya, Abhidhamma hanya merupakan pengetahuan pikiran (knowledge) yang menghalangi vipassana, yang justru mengamati pikiran dengan segala isinya sampai pikiran itu berhenti dengan sendirinya. … Anda melakukan meditasi rutin? Meditasi apa, kalau boleh saya tahu? …

[ Sumber =

http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=3803.0;wap2 ]

Pengalaman saya justru sebaliknya: Abhidhamma tidak kompatibel sama sekali dengan vipassana. Yang satu menggunakan pikiran sebagai instrumennya, yang lain justru mengamati pikiran itu sampai berhenti dengan sendirinya. Menurut saya, tidak mungkin orang mempelajari Abhidhamma dan menjalankan vipassana sekaligus; dia harus memilih salah satu.

[ Sumber =

http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=3803.0;wap2 ]

Menimbang kuatnya keraguan Romo Hudoyo terhadap kebenaran isi Ti-Pitaka, dan kerancuan pengertian Romo Hudoyo mengenai sejarah tersusunnya Ti-Pitaka, ada baiknya kita mengulang pelajaran sejarah disusunnya Ti-Pitaka. Dibawah ini saya sajikan sejarah penyusunan Ti-Pitaka, yang saya ambil dari sumber = http://www.secangkirteh.com/forum/index.php?topic=1555.0;wap2

Beberapa minggu setelah Sang Buddha wafat (483 SM) seorang Bhikkhu tua yang tidak disiplin bernama Subhaddha berkata : “Janganlah bersedih kawan-kawan, janganlah meratap, sekarang kita terbebas dari Pertapa Agung yang tidak akan lagi memberitahu kita apa yang sesuai untuk dilakukan dan apa yang tidak, yang membuat hidup kita menderita, tetapi sekarang kita dapat berbuat apa pun yang kita senangi dan tidak berbuat apa yang tidak kita senangi” (Vinaya Pitaka II,284). Maha Kassapa Thera setelah mendengar kata-kata itu memutuskan untuk mengadakan Pesamuan Agung (Konsili) di Rajagaha.

Dengan bantuan Raja Ajatasattu dari Magadha, [ tiga (3) bulan setelah Sang Buddha Parinibbana~pen. ] 500 orang Arahat berkumpul di Gua Sattapanni dekat Rajagaha untuk mengumpulkan ajaran Sang Buddha yang telah dibabarkan selama ini dan menyusunnya secara sistematis. Yang Ariya Ananda, siswa terdekat Sang Buddha, mendapat kehormatan untuk mengulang kembali kotbah-kotbah Sang Buddha dan Yang Ariya Upali mengulang Vinaya (peraturan-peraturan). Dalam Pesamuan Agung Pertama inilah dikumpulkan seluruh ajaran yang kini dikenal sebagai Kitab Suci Tipitaka (Pali). Mereka yang mengikuti ajaran Sang Buddha seperti tersebut dalam Kitab Suci Tipitaka (Pali) disebut Pemeliharaan Kemurnian Ajaran sebagaimana sabda Sang Buddha yang terakhir: “Jadikanlah Dhamma dan Vinaya sebagai pelita dan pelindung bagi dirimu”.

Pada mulanya Tipitaka (Pali) ini diwariskan secara lisan dari satu generasi ke genarasi berikutnya. Satu abad kemudian terdapat sekelompok Bhikkhu yang berniat hendak mengubah Vinaya. Menghadapi usaha ini, para Bhikkhu yang ingin mempertahankan Dhamma – Vinaya sebagaimana diwariskan oleh Sang Buddha Gotama menyelenggarakan Pesamuan Agung Kedua dengan bantuan Raja Kalasoka di Vesali, di mana isi Kitab Suci Tipitaka (Pali) diucapkan ulang oleh 700 orang Arahat. Kelompok Bhikkhu yang memegang teguh kemurnian Dhamma – Vinaya ini menamakan diri Sthaviravada, yang kelak disebut Theravada. Sedangkan kelompok Bhikkhu yang ingin mengubah Vinaya menamakan diri Mahasanghika, yang kelak berkembang menjadi mazhab Mahayana. Jadi, seabad setelah Sang Buddha Gotama wafat, Agama Buddha terbagi menjadi 2 mazhab besar Theravada dan Mahayana.

Pesamuan Agung Ketiga diadakan di Pattaliputta (Patna) pada abad ketiga sesudah Sang Buddha wafat (249 SM) dengan pemerintahan di bawah Kaisar Asoka Wardhana. Kaisar ini memeluk Agama Buddha dan dengan pengaruhnya banyak membantu penyebarkan Dhamma ke suluruh wilayah kerajaan. Pada masa itu, ribuan gadungan (penyelundup ajaran gelap) masuk ke dalam Sangha dangan maksud meyebarkan ajaran-ajaran mereka sendiri untuk meyesatkan umat. Untuk mengakhiri keadaan ini, Kaisar menyelenggarakan Pesamuan Agung dan membersihkan tubuh Sangha dari penyelundup-penyelundup serta merencanakan pengiriman para Duta Dhamma ke negeri-negeri lain.

Dalam Pesamuan Agung Ketiga ini 100 orang Arahat mengulang kembali pembacaan Kitab Suci Tipitaka (Pali) selama sembilan bulan. Dari titik tolak Pesamuaan inilah Agama Buddha dapat tersebar ke suluruh penjuru dunia dan terhindar lenyap dari bumi asalnya.

Pesamuan Agung keempat diadakan di Aluvihara (Srilanka) di bawah lindungan Raja Vattagamani Abhaya pada permulaan abad keenam sesudah Sang Buddha wafat (83 SM). Pada kesempatan itu Kitab Suci Tipitaka (Pali) dituliskan untuk pertama kalinya. Tujuan penulisan ini adalah agar semua orang mengetahui kemurnian Dhamma Vinaya.

Selanjutnya Pesamuan Agung Kelima diadakan di Mandalay (Burma) pada permulaan abad 25 sesudah Sang Buddha wafat (1871) dengan bantuan Raja Mindon. Kejadian penting pada waktu itu adalah Kitab Suci Titpitaka (Pali) diprasastikan pada 727 buah lempengan marmer (batu pualam) dan diletakkan di bukit Mandalay.

Persamuan Agung keenam diadakan di Rangoon pada hari Visakha Puja tahun Buddhis 2498 dan berakhir pada tahun Buddhis 2500 (tahun Masehi 1956). Sejak saat itu penterjemahan Kitab Suci Tipitaka (Pali) dilakukan ke dalam beberapa bahasa Barat.

Sebagai tambahan pengetahuan dapat dikemukakan bahwa pada abad pertama sesudah Masehi, Raja Kaniska dari Afganistan mengadakan Pesamuan Agung yang tidak dihadiri oleh kelompok Theravada. Bertitik tolak pada Pesamuaan ini, Agama Buddha mazhab Mahayana berkembang di India dan kemudian meyebar ke negeri Tibet dan Tiongkok. Pada Pasamuan ini disepakati adanya kitab-kitab suci Buddhis dalam Bahasa Sansekerta dengan banyak tambahan sutra-sutra baru yang tidak terdapat dalam Kitab Suci Tipitaka (Pali).

Dengan demikian, Agama Buddha mazhab Theravada dalam pertumbuhannya sejak pertama sampai sekarang, termasuk di Indonesia, tetap mendasarkan penghayatan dan pembabaran Dhamma – Vinaya pada kemurnian Kitab suci tipitaka (Pali) sehingga dengan demikian tidak ada perbedaan dalam hal ajaran antara Theravada di Indonesia dengan Theravada di Thailand, Srilanka, Burma maupun di negara-negara lain.

Sampai abad ketiga setelah Sang Buddha wafat mazhab Sthaviravada terpecah menjadi 18 sub mazhab, antara lain: Sarvastivada, Kasyapiya, Mahisasaka, Theravada dan sebagainya. Pada dewasa ini 17 sub mazhab Sthaviravada itu telah lenyap. Yang masih berkembang sampai sekarang hanyalah mazhab Theravada (ajaran para sesepuh). Dengan demikian nama Sthaviravada tidak ada lagi. Mazhab Theravada inilah yang kini dianut oleh negara-negara Srilanka, Burma, Thailand, dan kemudian berkembang di Indonesia dan negara-negara lain.

[ Disusun oleh: Dhamma Study Group Bogor ]

Romo Hudoyo sebagai seorang ummat Buddha mazhab Theravada selalu menolak kebenaran isi Ti-Pitaka ( termasuk dengan tegas menolak “Empat Kesunyataan Mulia” beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan” ), tetapi anehnya justru di berbagai kesempatan senantiasa membela “kebenaran” buku-buku yang berisi sabda J.Krishnamurti, seperti misalnya pernyataannya dibawah ini :

Salah satu ajaran JK ialah bahwa kebenaran tidak dapat ditangkap oleh kata-kata. "Kata bukanlah bendanya."

Ajaran ini perlu dipelihara kelestariannya. Cara memelihara kelestariannya ialah dengan mempertahankan agar ajaran ini tetap terungkap dengan kata-kata aslinya sebagaimana diucapkan oleh JK. Bukan berarti bahwa kata-katanya itu sakral dsb--"kata bukanlah bendanya"--melainkan keaslian ini dipertahankan agar setiap orang dapat menimba sendiri dari sumber aslinya, dan menginterpretasikannya sendiri sesuai dengan pengalaman batinnya sendiri. -- Di zaman sekarang dengan adanya alat perekam, itu bukan suatu kemustahilan.

Jadi, kata-kata JK sama sekali tidak bisa mentransformasikan. Yang mentransformasikan adalah kesadaran orang itu sendiri. Sedangkan kata-kata JK hanyalah cermin kosong yang bisa dipakai oleh orang itu untuk melihat ke dalam batinnya sendiri. Cermin JK bisa dipakai; atau orang bisa memakai cermin lain, asal betul-betul cermin yang polos (bukan cermin yang sudah ada gambarannya) untuk melihat ke dalam batin sendiri.

Kita telah melihat apa yang terjadi dengan sabda-sabda Sang Buddha. Tahukah kita sekarang, mana yang asli dan mana yang tafsiran? Jelas tidak, karena jelas sutta-sutta itu bukan rekaman verbatim dari apa yang dikatakan oleh Buddha. Jadi, mungkin saja dalam menghafalkan dan membakukan (stilisasi) suta-sutta telah terjadi penekanan-penekanan ke arah tertentu, apalagi kalau menyentuh sudut pandang metafisikal. -- Mungkin itu pula yang menyebabkan munculnya Mahayana, sebagai reaksi terhadap penafsiran kearah tertentu dari pihak Sthaviravada (Theravada) di zaman dulu.

sumber =


http://www.usenet.com/newsgroups/soc.culture.indonesia/msg03344.html


Sebagai catatan dari saya, sebenarnya, setiap orang berhak memiliki pandangan spiritualnya masing-masing. Namun, bila seorang Romo Buddhist menganjurkan para ummat Buddha untuk tidak lagi menganggap penting ajaran-ajaran Buddha ( terutama ajaran utama yang berupa “Empat Kesunyataan Mulia” dan “Jalan Ariya Beruas Delapan” ) dan secara langsung maupun tidak langsung “menganjurkan” ummat Buddha untuk meninggalkan ajaran-ajaran yang tidak lagi dianggap penting tersebut, maka jelas ini akan menjadi persoalan yang tidak bisa diterima oleh kalangan Buddhist manapun juga. Akan jauh berbeda pesoalannya, bila yang menyatakan / menganjurkan hal-hal tersebut adalah pemuka agama lain diluar Buddha-Dhamma atau ummat agama lain, maka ummat Buddha pasti tidak akan mempermasalahkannya, karena setiap orang berhak memiliki pandangan-pandangan spiritualnya sendiri.

KESIMPULAN

Dari review atas delapan (8) point pandangan-menyimpang Romo Hudoyo tersebut, maka saya tidak menyalahkan rekan-rekan Buddhis yang tergabung dalam management Dhammacitta.org khususnya dan banyak ummat Buddha lainnya yang kemudian mengambil garis-batas pemisah antara ajaran Romo Hudoyo dengan Buddha-Dhamma. Melihat memang betapa menyimpangnya pandangan-pandangan Romo Hudoyo tersebut, saya juga sepakat, bahwa apa yang Romo Hudoyo ajarkan, bukanlah ajaran Buddha.

Dan juga, dengan meninjau buah-pikir Romo Hudoyo yang sedemikian, maka saya menyimpulkan Romo Hudoyo memang telah ber-“Pandangan-Salah” ( micha-ditthi ) . Kesimpulan ini setidaknya berdasarkan kedua hal berikut ini  :

1. Dengan menolak “Empat-Kesunyataan-Mulia”, maka Romo-Hudoyo menolak bahwa hidup ini adalah dukkha, menolak bahwa nafsu-keinginan (tanha) akan menyebabkan dukkha, menolak bahwa Nibbana merupakan akhir dari dukkkha ( bahkan Romo Hudoyo menegaskan “berhentinya-pikiran” seperti yang diajarkan J.Krishnamurti adalah “akhir-dukkha” ), dan menolak bahwa Jalan Ariya Beruas Delapan mengantarkan semua makhluk pada pembebasan-sempurna dari samsara / akhir dari dukkha. Dan ini semua adalah “pandangan-salah”.

2. Dengan menyatakan bahwa “Anatta” hanyalah konsep pikiran semata, dan tidak bisa dialami oleh para yogi, serta kemudian mengajarkan para yogi untuk tidak lagi mengamati Ti-Lakkhana : Anicca, Dukkha, Anatta, namun sebaliknya sangat menganjurkan para yogi untuk mengamati : Anicca, Dukkha, dan, ATTA ( adanya si “Aku” yang menggerakkan existensi manusia, demikian kata Romo Hudoyo ). Ini adalah pandangan-salah ( sebab menganggap adanya “Aku” yang menjadi “actor” dalam diri, dimana pandangan ini akan membelenggu manusia untuk merealisasi pembebasan-sempurna dari samsara  ).

Apa yang diajarkan oleh Romo Hudoyo, lebih tepat disebut sebagai ajaran J.Krishnamurti ketimbang ajaran Buddha-Dhamma ( meskipun dalam sejarahnya, J.Krishnamurti sendiri semasa mudanya mempelajari Buddha-Dhamma , sehingga tidak mengherankan bahwa semua isi ajarannya menjadi sangat “identik” dengan Buddha-Dhamma, walau ia menolak mengakuinya ).  Hal ini ( pengajaran ajaran J.Krishnamurti ) sesungguhnya tidak menjadi masalah, jika Romo Hudoyo bukanlah seorang Pandhitta Buddhist atau setidaknya tidak membawa bendera dan atribut Buddhisme apapun juga dalam setiap gerak-langkahnya menyebarkan ajaran praktik “MMD” yang diusung-usungnya tersebut. Namun, karena Dr.Hudoyo Hupudhio Mph., menggunakan atribut Buddhisme ( seperti misalnya pemakaian gelar Romo / Pandhita ) dalam menyebarkan ajarannya maka ia kemudian menjadi  sering menghadapi benturan-benturan dengan ummat Buddha sendiri, missal = dianggap menyebarkan ajaran “menyimpang”, atau yang lebih parah dianggap ingin “merusak” kemurnian ajaran Buddha.

Solusi terbaik yang bisa ditawarkan adalah, Dr.Hudoyo Hupudhio Mph. melepaskan segala atribut Buddhisme  yang ia bawa dan kaitkan dengan ajaran “MMD”-nya. Dengan demikian, semakin lebih terlihat bahwa itu memang “pure” ajaran J.Krishnamurti, yang mungkin memang terdapat kesamaan-kesamaan dengan ajaran-ajaran Buddha dalam setiap pandangan-pandangan J.Krishnamurti ( sebagaimana J.Krishnamurti sendiri mengakui, bahwa diantara semua Guru, ia merasa paling dekat dengan Sang Buddha Gotama ). Menurut saya, ini adalah langkah paling aman dan tidak bermasalah yang bisa ditempuh Romo Hudoyo.

Semoga pembahasan wacana ini bermanfaat bagi kita semua. Semoga semua ummat Buddha bisa memahami Dhamma Sang Buddha dengan benar dan baik, dengan tetap penuh kewaspadaan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Minggu, 26 Juli  2009

Posted in BUDDHA, Dhamma dan Adhamma, Diskusi Ummat Buddha, Dr.Hudoyo Hupudhio Mph., Meditasi Mengenal Diri, MMD, Penyimpangan Ajaran Buddha, Romo Hudoyo, Siapakah Romo Hudoyo Hupudhio | 106 Comments »

HUKUM KARMA ( Kamma-Niyama )

Posted by ratanakumaro pada Juli 5, 2009

“ KAMMASSAKOMHI,

[Aku adalah pemilik perbuatanku sendiri,]

KAMMADAYADO,

[Terwarisi oleh perbuatanku sendiri,]

KAMMAYONI,

[Lahir dari perbuatanku sendiri,]

KAMMABANDHU,

[Berkerabat dengan perbuatanku sendiri,]

KAMMAPATISARANO.

[Tergantung pada perbuatanku sendiri,]

YAM KAMMAM KARISSAMI

[Perbuatan apa pun yang akan kulakukan,]

KALYANAM VA PAPAKAM VA,

[Baik atau pun buruk,]

TASSA DAYADO BHAVISSAMI.

[Perbuatan itulah yang akan kuwarisi.]

EVAM AMHEHI ABHINHAM PACCAVEKKHITABBAM.”

[Demikian hendaknya kerap kali kita renungkan.] “

……………………………………………………………………………………………………………………………..

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”

[tikkhattum ; 3x]

( Tulisan ini merupakan resume mengenai pelajaran Hukum-Karma dari buku-buku : [1.] “Intisari Agama Buddha”, penulis Bhante Narada Mahathera ;   [ 2.]  “Sang Buddha dan Ajaran-ajaran-Nya”, bag.2, penulis : Bhante Naradha Mahathera ;     [3.]  Abhidhammatthasangaha, disusun oleh Pandit J.Kaharuddin ;    [4.]   Kajian Tematis Agama Kristen dan Agama Buddha ; penulis Djoko Mulyono,Petrus Santoso dan Kristiyanto Liman. )


Namatthu Buddhassa

Seorang pemuda pencari kebenaran bernama Subha yang bimbang oleh sesuatu yang tampaknya tak dapat diterangkan mengenai perbedaan yang ada diantara umat manusia, menghadap Sang Buddha dan bertanya tentang hal itu :

“ Apakah alasannya, apakah sebabnya, O Guru, kita jumpai di antara ummat manusia yang berumur pendek ( appayuka ) dan berumur panjang ( dighayuka ), berpenyakit ( bavhabadha ) dan sehat ( appabadha ), jelek ( dubbanna ) dan rupawan ( vannavanta ), tak berpengaruh ( appesakka ) dan berpengaruh ( mahesakka ), miskin ( appabhoga ) dan kaya ( mahabhoga ), hina ( nicakulina ) dan mulia ( uccakulina ), dungu ( duppanna ) dan bijaksana ( pannavanta ) ?”

Sang Buddha menjawab :

“Semua makhluk hidup mempunyai kehendak/perbuatan ( kamma ) sebagai milik mereka, warisan mereka, sebab awal mereka, kerabat mereka, pelindung mereka, Kamma-lah yang membedakan makhluk hidup dalam keadaan rendah atau tinggi.”

[ Majjhima Nikaya, CUllakammavibhanga Sutta, No.135  ]


APAKAH SEMUA KARENA “MAHA-DEWA” ?

Huxley menulis :  “  Apakah kita berpendapat bahwa ada seseorang atau sesuatu yang mengatur keadaan alam semesta yang menakjubkan ini, maka dalam pengertianku ia tidak dapat disebut murah hati dan adil, melainkan kejam dan tidak adil. “

Menurut Albert Einstein : “ Bila makhluk adikodrati ini Maha Kuasa, maka setiap kejadian, termasuk setiap perbuatan, pikiran, perasaan dan aspirasi manusia juga merupakan karyanya ;  lalu bagaimana manusia harus bertanggungjawab atas perbuatan-perbuatan dan pemikiran-pemikiran mereka dihadapan makhluk maha kuasa seperti itu  ? “

“ Sewaktu memberi hukuman dan anugerah, ia sedikit banyak juga harus mengadili dirinya sendiri. Lalu bagaimana hal ini dapat dikaitkan dengan kebajikan dan keadilan yang dianggap berasal dari dirinya ? “

“ Menurut asas-asas Theologi, manusia diciptakan bukan atas dasar keinginannya sendiri, dan untuk selamanya ia mulia atau celaka. Dengan begitu, sejak awal dalam proses penciptaan fisiknya sampai saat kematiannya, manusia itu dapat baik atau jahat, beruntung atau celaka, mulia atau hina, tanpa menghiraukan akan keinginan-keinginan, harapan-harapan, cita-cita, usaha-usaha ataupun doa sujudnya. Inilah fatalisme theology.” ( Spencer Lewis ).

Sebagaimana Charles Bradlaugh mengatakan : “ Adanya keburukan merupakan suatu penghalang yang menakutkan bagi ajaran Theis. Penderitaan, kesengsaraan, kejahatan, kemiskinan, bertolak belakang dengan penganjur kebaikan abadi dan berlawanan dengan pernyataannya akan kemampuan dirinya sebagai dewa serba baik, serba bijaksana, dan serba kuasa. “

Menurut Schopenhauer “ Barangsiapa menganggap dirinya berasal dari ketiadaan, maka ia juga harus berpikir bahwa ia akan kembali ke ketiadaan itu lagi ;  Suatu kekekalan telah lewat sebelum ia ada dan kekekalan kedua telah dimulai, yang melaluinya ia tidak akan pernah berakhir adalah suatu pemikiran yang menakutkan. “

“ Bila kelahiran adalah permulaan yang mutlak, maka kematian seharusnya akhir yang mutlak pula. Anggapan bahwa manusia berasal dari ketiadaan pasti akan membawa pada anggapan bahwa kematian adalah akhir yang mutlak. “

Memberikan komentar terhadap penderitaan manusia dan dewa pencipta, Prof.J.B.S. Haldane menulis :  “ Kalau bukan penderitaan yang diperlukan untuk menyempurnakan sifat manusia, tentu dewa pencipta itu tidak maha kuasa. Teori yang pertama tidak sesuai dengan kenyataan bahwa, sebagian orang yang hanya sedikit sekali menderita namun beruntung dalam keturunan dan pendidikan terbukti mempunyai sifat yang baik. Keberatan terhadap teori yang kedua adalah bahwa hal itu hanya berkenaan dengan alam semesta secara keseluruhan dan bahwasannya terdapat suatu kekosongan intelektual yang harus diisi dengan mengendalikan seorang dewa. Dan barangkali seorang pencipta dapat menciptakan apa saja yang dia inginkan. “

Lord Russell menyatakan : “ Sebagaimana diceritakan kepada kita, dunia diciptakan oleh seorang dewa yang baik dan maha kuasa. Sebelum dia menciptakan dunia, ia telah melihat seluruh penderitaan dan kesengsaraan yang akan terjadi didalamnya. Karenanya, ia bertanggungjawab atas segala sesuatunya. Adalah suatu hal yang sia-sia memperdebatkan bahwa penderitaan dalam dunia disebabkan oleh dosa. Bila dewa pencipta itu telah mengetahui sebelumnya akan dosa yang bakal dilakukan umat manusia, maka jelas ia bertanggungjawab akan akibat-akibat dosa itu.



FAKTOR KETURUNAN ??

Mungkinkah segala perbedaan yang ada pada manusia ini disebabkan oleh factor keturunan dan lingkungan ?  Kita harus mengakui bahwa semua fenomena fisik-kimiawi yang diungkapkan oleh para ilmuwan, sebagian adalah sebagai factor pembantu, tetapi tidak seluruhnya mutlak bertanggungjawab atas perbedaan-perbedaan besar yang terdapat di antara individu-individu. Lalu mengapa ada anak kembar yang memiliki tubuh serupa, mewarisi gen yang sejenis, menikmati kesempatan asuhan yang sama, seringkali memiliki watak, moral dan kecerdasan yang sangat berbeda ?

Keturunan saja tidak dapat menyebabkan perbedaan-perbedaan yang besar ini. Sesungguhnya, factor keturunan lebih masuk akal atas persamaan-persamaan mereka daripada atas perbedaan-perbedaan mereka. Benih fisik kimiawi dengan panjangnya kira-kira sepertiga puluh inci yang diwarisi dari orang tua, hanya menerangkan satu bagian dari manusia, yaitu dasar fisiknya. Mengenai perbedaan-perbedaan batin, intelektual dan moral yang jauh lebih kompleks dan halus itu diperlukan penerangan batin yang lebih dalam. Teori keturunan tidak dapat memberikan suatu jawaban yang memuaskan tentang lahirnya seorang criminal dalam sebuah keluarga yang mempunyai leluhur terhormat atau kelahiran seorang suci atau mulia dalam sebuah keluarga yang memiliki reputasi jelek dan tentang lahirnya seorang tolol, manusia genius dan guru-guru besar.

Menurut agama Buddha, perbedaan-perbedaan ini tidak hanya disebabkan oleh factor keturunan dan lingkungan, tetapi juga disebabkan oleh kamma kita sendiri, atau dengan kata lain, disebabkan oleh akibat dari perbuatan lampau kita dan perbuatan-perbuatan kita sekarang. Kita sendiri yang harus bertanggungjawab atas perbuatan-perbuatan kita. Kita membangun penjara kita sendiri. Kita adalah arsitek dari nasib kita sendiri. Singkatnya, diri kita merupakan akibat dari kamma kita sendiri.

Bagaimana kita bisa mempercayai semua ini, dengan perbedaan berdasarkan hukum sebab-akibat atau sebagai hasil dari bibit kammanya sendiri. Sang Buddha tidak pernah menyuruh seseorang untuk mempercayai segala apa yang diajarkan-Nya. Beliau selalu meminta, “ Datang, lihat, dan buktikan!”, yang dikenal sebagai prinsip EHI PASSIKO.

Beliau bagaikan seorang ilmuwan / penemu. Beliau menerangkan hal-hal mengenai alam-semesta dan kehidupan, seperti seorang ilmuwan menerangkan adanya bakteri, virus, galaksi, bintang, dan lain sebagainya. Kita bisa membuktikan adanya bakteri, virus, dengan melihat dan menyaksikan sendiri melalui mikroskop electron. Kalau kita ingin melihat dengan mata daging ini, sudah pasti Hukum Kamma seakan begitu sulit dan rumit, susah dilihat. Tetapi semua ini telah dibuktikan kebenarannya oleh para suciwan. Seseorang yang senantiasa tekun melatih diri dalam Sila dan Samadhi, dengan kekuatan batin yang tenang didalam Jhana IV, mampu melihat dan membuktikannya, hingga menembus ke kehidupan-kehidupan lampaunya.

Dari sudut pandang agama Buddha, perbedaan-perbedaan batin, intelektual, moral dan watak kita sekarang, pada prinsipnya disebabkan oleh perbuatan-perbuatan kita sendiri yang dilakukan diwaktu lampau dan di waktu sekarang.

Secara harafiah, Kamma berarti perbuatan, tetapi, dalam pengertian mutlaknya kamma berarti kehendak. Kamma ada yang baik ( Kusala Cetana ) dan yang buruk ( Akusala Cetana ). Perbuatan baik akan membuahkan kebaikan. Perbuatan jahat akan membuahkan kesedihan. Inilah Hukum Kamma.

Kita memetik apa yang kita tanam. Kita adalah akibat dari apa yang kita lakukan diwaktu lampau; kita akan menjadi akibat dari apa yang kita lakukan sekarang, tetapi kita tidak mutlak hanya merupakan akibat dari apa yang kita lakukan diwaktu lampau; kita tidak mutlak hanya menjadi akibat dari apa yang kita lakukan sekarang. Misalnya seorang criminal mungkin saja dapat menjadi orang suci dikemudian hari, atau sebaliknya.

APAKAH KAMMA ITU ?

Sesungguhnya, apakah “Kamma” itu ? Dalam Anguttara Nikaya III, 415 Sang Buddha bersabda:

”Cetanaham bhikkhave kammam vadami”

[“O, para bhikkhu, kehendak untuk berbuat (cetana) itulah yang Aku namakan kamma”]

Segala macam tindakan yang disengaja baik batin, ucapan, maupun jasmani/perbuatan dipandang sebagai Kamma. Dengan pengertian umum, Kamma berarti semua kehendak baik dan buruk (kusala akusala cetana). Tindakan yang tidak didasari niat, dilakukan tanpa-sadar, tidak disengaja, walaupun secara teknis merupakan perbuatan, tidak membentuk Kamma, karena didalam tindakan tersebut tidak terdapat “kehendak” ( cetana ), factor terpenting dalam menentukan Kamma.

Ada pengecualian dalam kasus para Buddha dan Arahat karena mereka telah melampaui baik dan buruk. Mereka telah menghancurkan baik ketidak-tahuan maupun nafsu keinginan akar-akar Kamma.

“ Telah sirna perbuatannya yang lampau.

Tiada pula perbuatannya yang baru.

Mereka, yang bijaksana, bebas dari kelahiran kembali,

Telah musnah benih-benih perbuatannya.

Tak tumbuh lagi tunas kelahiran kembalinya. “

[ Ratana-Sutta ]

Kata “perbuatan” didalam sutta tersebut, mengacu pada perbuatan yang dilandasi oleh tanha ( nafsu-keinginan ). Kata “Mereka” yang dimaksud adalah para Arahanta Khinasava.

Bukan berarti para Buddha dan Arahat  itu pasif. Para Buddha dan Arahat dengan tanpa mengenal lelah bekerja secara aktif untuk kesejahteraan dan kebahagiaan-sejati bagi semua pihak. Perbuatan mereka, yang biasa diterima sebagai baik atau bermoral, tidak memberikan kekuatan untuk mereka sendiri. Dengan memahami segala sesuatu sebagai apa adanya, mereka akhirnya telah menghancurkan belenggu duniawi mereka, rantai sebab-akibat.

Kamma, tidak harus berarti perbuatan masa lalu. Kamma mencakup perbuatan masa lalu maupun saat ini. Jadi, pada satu sisi, kita merupakan hasil dari apa yang telah kita lalkukan, kita akan menerima hasil dari apa yang kita lakukan saat ini. Pada sisi lain, harus ditambahkan kita tidak seluruhnya merupakan hasil dari apa yang telah kita lakukan, kita tidak sepenuhnya merupakan hasil dari apa yang kita lakukan saat ini. Saat ini tidak diragukan lagi adalah buah dari masa lalu dan asal-usul dari masa  yang akan datang, tetapi saat ini tidak selalu merupakan petunjuk baik dari masa lalu maupu masa yang akan datang. Seorang penjahat di hari ini, dapat menjadi seorang mulia besok harinya, seseorang yang baik kemarin dapat menjadi seorang yang kejam hari ini.


KAMMA DAN VIPAKA

Kamma adalah perbuatan, dan Vipaka, buah atau hasil, merupakan reaksinya. Kamma, diibaratkan sebagai sebuah “benih”. Dan buah yang tumbuh dari pohon, merupakan “vipaka” ; akibat atau hasil. Kamma, bisa berupa kehendak-baik bisa juga berupa kehendak-buruk, oleh karena itu buahnya pun ( vipaka ) bisa berupa buah-kehendak-baik maupun buah-kehendak-buruk.

Kamma adalah “mental”, demikian pula, vipaka adalah “mental” ; ia dirasakan sebagai kebahagiaan atau berkah, ketidak-bahagiaan atau penderitaan sesuai dengan sifat benih Kamma. Anisamsa merupakan keuntungan keadaan materi yang seiring, seperti kesejahteraan, kesehatan dan usia panjang.

Jika vipaka ( buah-kamma ) diikuti dengan keadaan materi yang tidak menguntungkan, mereka dikenal sebagai adinava ( akibat buruk ), dan muncul sebagai kemiskinan, kejelekan, penyakit, pendek usia dan sebagainya. Yang dimaksudkan dengan Kamma adalah bentuk kesadaran duniawi yang baik dan buruk ( kusala akusala lokiya citta ), serta Vipaka berarti hasil bentuk kesadaran duniawi ( lokiya vipakacitta ).

Di dalam Kamma ada kecenderungan menghasilkan akibat yang sesuai. Sebab menghasilkan akibat, dan akibat menerangkan sebab. Biji menghasilkan buah, dan buah menerangkan biji, begitulah hubungan mereka. Akibat, telah berkembang di dalam sebabnya.

SEBAB KAMMA

Ketidaktahuan/kebodohan-batin ( avijja ) atau tidak memahami segala sesuatu sebagaimana mereka adanya, merpakan sebab utama. Bergantung pada ketidaktahuan timbul kegiatan Kamma ( avijja paccaya samkhara ), merupakan hal yang dinyatakan oleh Sang Buddha dalam Paticcasamuppada ( hukum-sebab-musabab-yang-saling-bergantungan ).

PELAKU KAMMA

Kehendak ( cetana ) itu sendirilah si pelaku. Dan perasaan ( vedana )  itu sendirilah si penerima buah kamma. Kecuali keadaan murni mental ( suddhadkamma ) ini tidaklah ada seorangpun yang menabur dan tidak ada seorangpun yang memetik.

Yang Ariya Bhikkhu Buddhaghosa menulis dalam Visudhi-Magga :

“ Tak ada pelaku yang menjalankan perbuatan,

Ataupun seseorang merasakan buahnya,

Hanyalah suku cadang penunjang yang bergulir terus,

Inilah sesungguhnya yang betul.”

[ dikutip dari “Sang Buddha dan Ajaran-ajaran-Nya” , penulis Bhante Narada Mahathera ]


Yang Ariya Bikkhu Buddhaghosa berkata, tepat seperti dalam hal unsur materi yang diberi nama pohon, segera kapan pun setelah buah muncul, ia kemudian dikatakan “pohon menghasilkan buah” atau “jadi pohon itu  berbuah”, demikian juga dalam hal “kelompok-kehidupan” ( panca-khanda ) yang ada pada nama Dewa ataupun manusia, jika kapanpun hasil kebahagiaan atau penderitaan muncul, lalu dikatakan “bahwa Dewa atau manusia bahagia atau menderita.”

DIMANAKAH KAMMA DISIMPAN ?

Pertanyaan ini pernah diajukan oleh Raja Milinda kepada Y.A. Bhikkhu Nagasena :

“Dimanakah, Y.A. Guru, Kamma itu?” Tanya Sang Raja pada Y.A. Bhikkhu Nagasena.

“ O, Maharaja”, jawab Y.A.Bhikkhu Nagasena, “Kamma tidak dapat dikatakan disimpan di suatu tempat dalam kesadaran yang mengalir atau pada bagian tubuh ini, tetapi bergantung pada pikiran dan materi ia bersandar untuk mewujudkan diri pada sat yang tepat, seperti mangga, tak dapat dikatakan disimpan di suatu tempat dalam pohon mangga, tetapi bergantung pada pohon magga mereka berbuah pada musim yang tepat.”

Angin maupun api tidaklah disimpan dalam tempat tertentu, demikian pula Kamma tidak disimpan di manapun baik didalam atau diluar tubuh.

Seorang psikoanalis berpendapat, “Disimpan dalam jiwa, tetapi biasanya tidak dapat dicapai dan hanya biasa dijangkau oleh beberapa orang saja, adalah seluruh catatan, tanpa kecuali, dari setiap pengalaman yang sudah dilalui seseorang, setiap pengaruh dirasakan, setiap kesan diterima. Pikiran bawah sadar bukan hanya suat catatan pengalaman milik seseorang yang tak dapat dihapus tetapi juga menerima kesan awal dan kecenderungan, yang jauh dari pada dikuasai seperti anggapan orang terhadap mereka, dalam manusia beradab aktif secara di bawah sadar yang mungkin muncul dengan kekuatan yang membingungkan pada saat yang tidak diharapkan.” [ Sang Buddha dan Ajaran-ajarannya, Bhante Narada Mahathera, hal.69 ].

Secara ringkas, seluruh kekuatan Kamma bergantung pada aliran-batin yang selalu bergerak ( citta-santati ) yang selalu siap mewujudkan diri dalam berbagai perwujudan pada saat muncul kesempatan.



SIFAT KAMMA

“Sebagai benih yang kau tabur demikian pula akan kau petik buahnya”

[ Samyutta Nikaya ]

“Jika seseorang mengatakan bahwa orang harus memetik sesuai dengan yang dilakukannya, dalam hal itu tak terdapat kehidupan beragama ataupun kesempatan untuk menghasilkan berhentinya penderitaan secara menyeluruh. Tetapi jika barangsiapa mengatakan bahwa apa yang dipetik seseorang sesuai dengan perbuatannya, dalam hal itu ada kehidupan beragama dan kesempatan untuk menghasilkan berhentinya penderitaan secara menyeluruh.” [ Anguttara Nikaya, bag.I, 249]

Oleh karena itu, ada dan sangat dimungkinkan untuk membentuk kehidupannya yang baru sesuai kammanya sendiri.

Meskipun disebutkan bahwa “ tidak di langit, tidak pula di tengah lautan ataupun memasuki gua di gunung, dimana orang dapat bersembunyi dari akibat suatu perbuatan jahat” , tetapi orang tidak perlu membayar semua tunggakan karma lampau.” [Dhammapada V.127], tapi orang tidak perlu membayar semua tunggakan kamma lampau.

Jika begitu keadaannya, kebebasan akan menjadi sesuatu yang tidak mungkin. Penderitaan abadi akan menjadi hasil yang tidak menguntungkan.

Orang bukanlah majikan atau pembantu dari Kamma. Bahkan orang yang paling jahat pun dengan usahanya sendiri dapat menjadi orang yang paling saleh.

Kita selalu menjadi sesuatu dan sesuatu itu tergantung pada tindakan kita sendiri. Kapan saja kita dapat berubah jadi lebih baik atau lebih buruk. Didunia ini tidak ada  “ produk akhir “, semua adalah proses “ menjadi “.

Bahkan orang yang paling kejam sekalipun tidak seharusnya patah semangat atau berputus asa melihat sifatnya yang jahat. Ia seharusnya dikasihani, karena mereka yang mencelanya mungkin juga pernah dalam keadaan yang sama pada tingkat tertentu.

Seperti mereka yang telah berubah lebih baik, ia juga dapat berubah, mungkin lebih cepat dari mereka. Siapa yang tahu Kamma baik yang telah ia timbun untuk dirinya ? Siapa yang tahu kemampuan kebaikannya ?

Dimasa hidup Sang Buddha Gotama, ada seorang perampok jalanan dan pembunuh lebih dari seribu orang yang bernama Angulimala berhasil mencapai tingkat kesucian tertinggi serta menghapus semua perbuatan jahat / buruknya dimasa lalu.

Alavaka, setan yang kejam yang memakan daging manusia, menghentikan kebiasaannya memakan daging dan mencapai tingkat kesucian pertama.

Raja Asoka yang terkenal hingga sekarang, dulunya adalah seorang yang kejam dalam meluaskan Kekaisarannya, berubah menjadi Dharmasoka, atau Asoka yang Saleh, dan mengubah perjalanan hidupnya sedemikian hebat sehingga saat ini, seorang ahli sejarah dari barat , H.G.Wells, berkomentar – “ Diantara puluhan ribu nama kerajaan yang memenuhi lembaran sejarah, diantara keagungan dan keanggunan, ketenangan dan kemuliaan serta yang sejenis, nama Asoka bersinar, dan bersinar sendiri saja, bagaikan satu bintang “.

Contoh-contoh diatas merupakan contoh mencolok yang menunjukkan bagaimana perbaikan pembawaan yang menyeluruh dapat terjadi dengan keputusan yang mantap.

Dapat terjadi bahwa dalam beberapa hal kejahatan yang ringan dapat menghasilkan akibat yang selaras, sedangkan akibat dari kejahatan yang lebih berat dapat diperkecil.

Sang Buddha Gotama bersabda, “Oh para Bhikkhu, orang tertentu tidak berdisiplin dalam jasmani, dalam moralitas, dalam pikiran, dalam kebijaksanaan, memiliki sedikit kebaikan dan kurang saleh, serta hidup menderita sebagai akibat buruk dari perbuatan tidak baiknya. Bahkan satu perbuatan kecil yang dilakukan orang seperti itu akan membawanya pada keadaan yang menyedihkan.

Oh para Bhikkhu, orang tertentu berdisiplin dalam jasmani, dalam moralitas, dalam pikiran, berbuat banyak kebaikan, luhur, dan hidup dengan kasih sayang tanpa batas untuk semua. Kejahatan sama yang dilakukan oleh orang seperti itu berakibat dalam kehidupan ini saja dan bahkan akibat yang kecil pun tidak mewujudkan diri ( setelah kematian ), apalagi yang berat.

Itu bagaikan orang yang memasukkan sebongkah garam kedalam secangkir kecil air. Apa yang kalian pikir, oh para Bhikkhu ? Apakah sekarang air yang sedikit dalam cangkir itu menjadi asin dan tidak dapat diminum ?”

“Ya, Bhante.“

“Mengapa ?”

“Karena, Bhante, disana hanya ada sedikit air dalam cangkir, oleh karena itu menjadi asin dan tak dapat diminum karena sebongkah garam itu. “

“ Seandainya seorang memasukkan sebongkah garam ke dalam sungai Gangga. Bagaimana pendapat kalian, o, para Bhikkhu ? Apakah sekarang sungai Gangga menjadi asin dan tidak dapat diminum karena sebongkah garam tadi ?”

“Tentu tidak, Bhante.”

“Dan mengapa tidak ?”

“Karena Bhante, jumlah air di sungai Gangga banyak, dan karena itu tidak akan menjadi asin dan tidak dapat diminum.”

“Sama seperti itu, kita mungkin mendapatkan kasus seorang yang melakukan sedikit kejahatan yang membawanya ke dalam keadaan menderita, atau, sekali lagi, kita mungkin mendapatkan kasus orang yang melakukan kejahatan sepele yang sama, namun ia membayarnya dalam kehidupan ini. Bahkan akibat yang kecil pun tidak mewujudkan diri ( setelah kematian ), apalagi yang lebih berat. “

“Kita mungkin mendapatkan kasus seorang yang dimasukkan penjara karena mencuri setengah sen, satu sen, atau seratus sen, atau lagi, kita mungkin mendapatkan seorang yang tidak dimasukkan ke penjara karena mencuri setengah sen, satu sen, atau seratus sen.”

“Siapakah yang dimasukkan penjara untuk setengah sen, untuk satu sen, atau untuk seratus sen ?”

“Barangsiapa yang miskin, membutuhkan bantuan dan fakir miskin, ia dimasukkan penjara untuk setengah sen, untuk satu sen, atau untuk seratus sen.”

“Siapakah yang tidak dimasukkan penjara untuk setengah sen dolar, untuk satu sen dolar, atau untuk seratus sen dolar ? “

“Barangsiapa yang kaya, berharta dan makmur, ia tidak dimasukkan penjara untuk setengah sen dolar, untuk satu sen dolar, untuk seratus sen dolar.”

“Sama halnya adalah bahwa, kita dapat menjumpai kasus seorang yang melakukan kejahatan ringan yang membawanya pada keadaan menyedihkan, atau, kita dapat menjumpai kasus orang lain yang melakukan kejahatan sepele yang sama, dan membayarnya dalam kehidupan ini. Bahkan akibat yang kecil pun tidak mewujudkan diri ( setelah kematiannya ), apalagi yang lebih berat. “ [ Anguttara Nikaya, Bag. I, hal.249 ]



Penyebab Hasil Yang Menghalangi

Kebaikan memperoleh kebaikan, tetapi penyesalan apapun dari pihak pelaku yang muncul kemudian terhadap kebaikan yang dilakukan, menyebabkan kehilangan hasil yang menyenangkan.

Ada satu contoh yang sangat bagus yang bisa menggambarkan hal ini :

Pada suatu ketika Raja Pasenadi dari Kosala menghadap Sang Buddha dan berkata, “ Bhante, di Savatthi seorang jutawan perumah tangga telah meninggal. Ia tidak mempunyai putra, dan sekarang saya kemari, setelah memberikan kekayaannya ke istana, Bhante. Sepuluh juta rupee emas, tidak ada yang perak. Tetapi jutawan ini biasa makan sisa makanan yang basi dan bubur yang tidak enak. Dan bagaimana ia berpakaian ? Untuk baju ia mengenakan jubah rami yang kasar, dan untuk kereta, ia mengendarai gerobak rusak yang dilengkapi tenda daun.”

Kemudian Sang Buddha berkata,

“Demikianlah, o Raja, demikianlah. Dalam kehidupan lampau, o Raja, jutawan perumah tangga ini mempersembahkan makanan untuk seorang Pacceka Buddha yang bernama Tagarasikhi. Selanjutnya, ia menyesal telah memberi makanan, berkata pada diri sendiri,” Lebih baik jika pembantu dan pekerjaku memakan makanan yang kuberikan untuk persembahan.” Dan disamping itu ia membunuh putra tunggal kakaknya demi harta benda. Dan karena jutawan perumah tangga ini mempersembahkan makanan untuk Sang Pacceka Buddha Tagarasikhi, sebagai balasan perbuatan itu, ia bertumimbal lahir tujuh kali di alam surga yang menyenangkan. Dan dengan sisa kecil perbuatan yang sama, ia menjadi jutawan di Savathi sebanyak tujuh kali.

“ Dan karena jutawan perumah tangga ini menyesali telah memberi persembahan, dengan mengatakan pada diri sendiri,”Akan lebih baik jika pembantu dan pekerjaku memakan makanan itu.” Oleh karena itu sebagai akibat perbuatannya ia tidak dapat menghargai makanan sehat, tidak menghargai pakaian indah, tidak dapat menghargai kendaraan bagus, tidak menghargai kenikmatan panca indria.

“ Dan karena jutawan perumah tangga ini membunuh putra tunggal kakaknya demi kekayaan, sebagai akibat perbuatan ini, ia harus menderita bertahun-tahun,beratus tahun,beribu tahun, beratus ribu tahun dalam keadaan menyakitkan. Dan dengan sisa perbuatan yang sama, ia tidak berputra selama tujuh kali, dan sebagai akibatnya, harus meninggalkan kekayaannya untuk kas kerajaan.”[ Samyutta Nikaya, bag.I, hal.91 ]

Jutawan ini mendapatkan keberuntungan besar sebagai akibat perbuatan baik yang dilakukan dalam kehidupan lalu, tetapi karena ia menyesali perbuatan baiknya, ia tidak dapat sepenuhnya menikmati kesenangan orang kaya yang disediakan Kamma untuknya.



Kekuatan Yang Bermanfaat dan Merugikan

Dalam bekerjanya kamma harus dipahami bahwa terdapat kekuatan yang bermanfaat dan merugikan untuk menangkal dan menunjang hukum yang bekerja sendiri ini. Kelahiran ( gati ), waktu atau keadaan ( kala ), kepribadian atau penampilan ( upadhi ) dan usaha ( payoga ) merupakan pembantu dan penghalang bagi berbuahnya Kamma.

Misalnya jika seseorang dilahirkan dalam keluarga mulia atau dalam keadaan bahagia, keberuntungan kelahirannya kadang kala akan merintangi berbuahnya Kamma jahatnya.

Sebaliknya, jika ia dilahirkan dalam keadaan menderita atau dalam keluarga tidak beruntung, kelahiran yang tidak menguntungkan ini akan menyediakan suatu kemudahan bagi Kamma jahatnya untuk bekerja.

Kedua hal ini dikenal sebagai Gati Sampatti ( kelahiran yang menyenangkan ) dan Gati Vipatti ( kelahiran yang tidak menyenangkan ).

Sangat mungkin terjadi, seseorang yang tidak cerdas, yang karena kamma baiknya,dilahirkan dalam keluarga kerajaan dan karena keturunannya yang mulia, ia dihormati orang. Jika orang yang sama mempunyai kelahiran yang kurang menguntungkan, ia tidak akan diperlakukan seperti itu.

Contoh dari hal ini misalnya kisah Raja Dutthagamani dari Sri Lanka. Ia menimbun kamma buruk dengan mengobarkan perang terhadap warga Tamil, serta kamma baik dengan berbagai kegiatan keagamaan dan sosialnya. Karena kamma penghasilnya yang baik, ia bertumimbal lahir di alam surga  yang menyenangkan. Tradisi mengatakan bahwa ia akan memiliki kelahiran terakhir pada masa Buddha Metteyya yang akan datang. Oleh karena itu kamma buruknya tidak dapat bekerja sepenuhnya karena kelahiran yang menguntungkan.

Kecantikan ( Upadhi Sampatti ) dan kejelekan ( Upadhi Vipatti ) merupakan dua faktor yang menghalangi dan menyuburkan bekerjanya Kamma.

Jika, dengan beberapa kamma baik, seseorang mencapai kelahiran yang bahagia tetapi malang bercacat fisik, ia tidak akan dapat sepenuhnya menikmati manfaat hasil kamma baiknya. Bahkan seorang pewaris tahta kerajaan mungkin tidak akan dinaikkan pada kedudukan terhormat itu jika ia mengalami cacat jasmani.

Keindahan, sebaliknya, akan menjadi modal bagi pemiliknya. Seorang putri berparas cantik dari keluarga miskin dapat menarik pria kaya dan dapat menjadikannya terkenal melalui pengaruhnya.

Waktu atau kesempatan yang menguntungkan ( kala sampatti ) dan waktu atau kesempatan yang tidak menguntungkan ( kala vipatti ), merupakan dua faktor lain yang mempengaruhi bekerjanya kamma, yang satu membantu, yang berikutnya merintangi.

Dalam kasus bencana kelaparan semua tanpa kecuali akan terdorong menderita nasib yang sama. Disini keadaan yang tidak menguntungkan membuka kesempatan bekerjanya kamma buruk. Sebaliknya keadaan yang menguntungkan akan mencegah bekerjanya kamma buruk.

Dari semua kekuatan yang bermanfaat dan merugikan ini yang terpenting adalah usaha ( Payoga ). Dalam bekerjanya kamma, usaha atau kurang berusaha memainkan peranan penting. Dengan usaha saat ini orang dapat membuat karma baru, lingkungan baru, suasana baru, dan bahkan dunia baru.

Walaupun berada pada keadaan paling menguntungkan dan dibekali dengan semua kemudahan, jika orang tidak melakukan usaha yang tekun, orang tidak hanya kehilangan kesempatan emas, tetapi juga dapat menghancurkan diri sendiri. Usaha pribadi sangat penting bagi kemajuan duniawi maupun spiritual.

Jika seseorang tidak berusaha menyembuhkan diri sendiri dari penyakit atau untuk menyelamatkan diri sendiri dari kesulitan, atau untuk berjuang dengan tekun demi kemajuannya, kamma buruknya akan menemukan kesempatan baik untuk menghasilkan akibat yant sesuai.

Jika sebaliknya, ia berusaha sendiri untuk mengatasi kesukarannya, untuk memperbaiki keadaannya, untuk menggunakan sebaik mungkin kesempatan yang langka ini, untuk berjuang dengan gigih demi kemajuannya. Kamma baiknya akan datang membantu.

Ketika kapal karam di tengah laut, Sang Bodhisatta Maha Janaka melakukan usaha gigih untuk menyelamatkan diri, sedangkan yang lain berdoa kepada para dewa dan menggantungkan nasib mereka di tangan para dewa “Yang Maha Kuasa”. Hasilnya, Sang Bodhisatta tertolong sedang yang lain tenggelam.

Dua faktor penting terakhir ini dikenal sebagi Payoga Sampatti dan Payoga Vipatti.

Kita bukanlah mutlak majikan atau pelayan dari kamma kita, terbukti dari faktor yang meniadakan dan menunjang; bahwa berbuahnya kamma sampai batas-batas tertentu dipengaruhi oleh keadaan luar, lingkungan, kepribadian, usaha pribadi, dan sebagainya.

Hukum Kamma inilah yang dapat menjelaskan semua fenomena kelahiran, perbedaan, ketidaksetaraan, nasib, kejadian yang menimpa diri seseorang. Dan hukum kamma inilah yang memberikan penghiburan, pengharapan, kepercayaan, dan gairah moral pada setiap orang yang mengerti, mengenal, meresapi, mengikuti Jalan Kebenaran Sejati ( Dhamma ).

Ketika yang tidak diharapkan terjadi, kesulitan, kegagalan, dan ketidak beruntungan menghadangnya, seorang yang telah mengetahui akan menyadari bahwa ia sedang memetik apa yang telah ditaburkannya, dan sedang membayar hutang masa lalu. Daripada mengundurkan diri sendiri, menyerahkan semua pada kamma, ia melakukan usaha yang gigih untuk mencabut pengganggu dan menabur benih yang berguna di tempatnya, karena masa yang akan datang berada ditangannya.

Ia yang mengerti hukum Kamma, tidak mencela orang yang paling jahat sekalipun karena mereka memiliki kesempatan untuk membentuk diri mereka sendiri kapan saja. Walaupun terikat untuk menderita dialam menyedihkan, mereka mempunyai harapan untuk mencapai kedamaian yang abadi.

Dengan perbuatan mereka sendiri mereka membentuk neraka mereka sendiri, dan dengan perbuatan mereka sendiri, mereka membentuk surga mereka sendiri.

Seseorang yang telah mengerti hukum Kamma secara mutlak, tidak akan berdoa pada pihak lain untuk diselamatkan tetapi dengan yakin bergantung pada diri sendiri untuk kebebasannya. Daripada membuat berbagai penyerahan, atau menyetujui berbagai perantara istimewa, ia akan bergantung pada kekuatan kemauannya dan bekerja tiada hentinya demi kesejahteraan dan kebahagiaan semua.

Kepercayaan pada hukum Kamma akan membenarkan usahanya dan menyalakan semangatnya, karena hukum Kamma mengajarkan tanggung jawab pribadi.

Untuk seorang awam, Kamma bertindak sebagai penangkis, tetapi untuk seorang cendekiawan ia bertindak sebagai perangsang untuk  berbuat baik.

Hukum kamma ini menerangkan persoalan penderitaan, misteri dari sesuatu yang disebut nasib dan takdir dalam beberapa agama, diatas semuanya adalah ketidak-samaan umat manusia.

Kita adalah arsitek  hidup dan nasib kita sendiri. Kita adalah pembentuk diri kita sendiri. Kita adalah penghancur diri kita sendiri. Kita membangun surga kita sendiri. Kita juga membangun neraka kita sendiri.

Apa yang kita pikirkan, ucapkan dan lakukan menjadi milik kita. Buah pikiran, perkataan dan perbuatan inilah yang membentuk sebutan Kamma dan berjalan dari kehidupan ke kehidupan, memuliakan dan merendahkan kita, dalam rentang pengembaraan kita dalam Samsara.

Sang Buddha bersabda,

“ Kebajikan dan kejahatan manusia yang ia telah tempa disini, itulah yang ia miliki, yang membawanya mulai sekarang, yang menguji langkahnya, seperti bayangan mengejar. Oleh karena itu biarlah ia membuat timbunan kebaikan untuk kehidupan yang lain, dasar yang pasti dalam berbagai dunia yang akan datang. Hadiah kebaikan menunggu makhluk yang baik. “[Kindred Sayings,I hal.98]



KATEGORISASI KARMA DAN CARA KERJA KARMA

Tabel Kategorisasi Karma

DASAR PENGELOMPOKAN

JENIS KARMA

I. Menurut Jangka Waktunya ( Pakakalacatukka )
  1. Yang Berlaku Segera (Ditthadhammavedaniya Kamma)
  2. Yang Berlaku Sesudahnya (Upapajjavedaniya Kamma)
  3. Yang Berlaku Untuk Jangka Waktu Tidak Terbatas (Aparapariyavedaniya Kamma)
  4. Yang  Kadaluwarsa (Ahosi Kamma )
II. Menurut Sifat Bekerjanya (Kiccacatuka)
  1. Penghasil (Janaka Kamma).
  2. Penunjang (Upatthambaka Kamma).
  3. Pelemah (Upapidaka Kamma).
  4. Penghancur (Upaghataka Kamma).
III. Menurut Sifat hasilnya (Pakadanapariyayacatuka)
  1. Yang Berat / Serius (Garuka Kamma).
  2. Menjelang Kematian (Asanna Kamma).
  3. Kebiasaan (Acinna Kamma).
  4. Yang Bertimbun (Katatta Kamma).
IV. Menurut Kedudukannya

( Pakatthanacatukka )

  1. Perbuatan Buruk (Akusala) yang akan masak di alam keindriaan (kamaloka).
  2. Perbuatan Baik (Kusala) yang akan masak di alam keindriaan (kamaloka).
  3. Perbuatan Baik (Kusala) yang akan masak di alam berbentuk (rupaloka).
  4. Perbuatan baik (Kusala) yang akan masak di alam tidak berbentuk (arupaloka).

PENJELASAN MENGENAI JENIS-JENIS KARMA

1. Kelompok Karma menurut Jangka Waktunya ( Pakakalacatukka )

1.1. Karma/kamma yang memberikan hasil/akibat dalam kehidupan sekarang ini ( Ditthadhammavedaniya Kamma ) :

Ditthadhammavedaniya Kamma ini terbagi menjadi dua (2) macam yaitu :

a). Paripakka Dittha Dhammavedaniya-Kamma ; adalah Kamma yang memberikan hasil/akibat dalam kehidupan sekarang ini, termasuk yang sudah masak betul.

b). Aparipakka Dittha Dhammavedaniya-Kamma ; adalah Kamma yang memberikan hasil/akibat dalam kehidupan sekarang ini, belum termasuk yang masak betul.

1.2. Kamma yang memberikan hasil/akibat dalam kehidupan yang akan datang, yaitu dalam kehidupan setelah kehidupan yang ini [Uppajjavedaniya-Kamma]

1.3. Kamma yang memberikan hasil/akibat dalam kehidupan yang akan datang, yaitu dalam kehidupan berikutnya berturut-turut, yaitu dalam kehidupan yang ke-3 ( setelah yang sekarang ini ) dan seterusnya [ Aparaparavedaniya-Kamma ]

1.4. Kamma yang tidak menimbulkan akibat sama-sekali [ Ahosi-Kamma ]

2. Kelompok Karma menurut Sifat Bekerjanya ( Kiccacatuka )

2.1 Karma/kamma penghasil ( Janaka Kamma ) :

Adalah hukum yang menyebabkan timbulnya syarat untuk terlahirnya kembali suatu makhluk. Kamma ini menimbulkan nama-khanda (kelompok-batin) dan kammaja-rupa ( materi/jasmani ). Oleh sebab itu, kamma ini disebut janaka-kamma. Kamma ini terdiri dari akusala-kamma 12 dan lokiyakusala-kamma 17 ( kamavacarakusala-kamma 8, rupavacarakusala-kamma 5 dan arupavacarakusala-kamma 4 ). Janaka-kamma ini bertugas melahirkan makhluk-makhluk di ke-31 alam kehidupan ( bhumi 31 ).

2.2 Karma/kamma penunjang ( Upatthambaka Kamma ): Adalah hukum kekuatan yang mendorong terpeliharanya satu akibat dari sebab (kamma) yang telah timbul. Kamma ini membantu janaka-kamma dalam tiga (3) hal :

  1. a. Membantu Janaka-Kamma yang belum mempunyai waktu menimbulkan hasil/akibat, memberikan waktu menimbulkan hasil/akibat.
  2. b. Membantu Janaka-Kamma yang sedang mempunyai waktu menimbulkan hasil/akibat, memberikan kekuatan untuk menimbulkan hasil/akibat secara sempurna.
  3. c. Membantu Rupa-Nama ( Lahir-Bathin ) yang dilahirkan oleh Janaka-Kamma menjadi maju dan bertahan lama.

2.3 Upapilaka-Kamma ;

Adalah hukum kekuatan yang menekan, mengolah, dan menyelaraskan satu akibat dari satu sebab. Jadi upapilaka-kamma adalah kamma yang menekan, yaitu :

1. Menekan janaka-kamma yang mempunyai keadaan yang bertentangan. Upapilaka kamma yang menekan janaka-kamma yang mempunyai keadaan bertentangan ini, terbadi menjadi dua (2) lagi :

a. Menekan janaka-kamma yang mempunyai waktu menimbulkan hasil/akibat, supaya mempunyai kekuatan menurun dan menimbulkan hasil/akibat tidak sepenuhnya.

b. Menekan nama-rupa yang dilahirkan oleh janaka-kamma.

Oleh karena itu, ‘peekanan’ dari Upapilaka-Kamma terbagi menjadi tiga (3) macam yaitu :

1. Upapilaka-Kamma yang menekan Janaka-Kamma supaya tidak ada waktu menimbulkan hasil/akibat.

2. Upapilaka-Kamma yang menekan Janaka-Kamma yang mempunyai waktu menimbulkan hasil/akibat, supaya mempunyai kekuatan menurun.

3. Upapilaka-kamma yang menekan nama-rupa yang dilahirkan oleh Janaka-Kamma.

2.4 Upaghataka-Kamma : adalah hukum yang meniadakan kekuatan dan akibat dari satu sebab yang telah terjadi dan sebaliknya menyuburkan berkembangnya karma-baru.

Jadi, Upaghataka-Kamma adalah kamma yang memotong Kamma lainnya dan hasil dari Kamma lainnya secara menyeluruh.

Pemotongan dari Upaghataka-Kamma ada dua (2) macam yaitu :

a. Memotong janaka-kamma supaya tidak ada waktu menimbulkan hasil/akibat untuk selamanya ( kammantara-upaghataka ).

b. Memotong nama-rupa yang dilahirkan oleh Janaka-Kamma sampai rusak ( kammanibbattakhandhasantana-upaghataka ).

3. Kelompok Karma Menurut Sifat Hasilnya (Pakadanapariyayacatuka)

3.1. Kamma yang Berat / Serius ( Garuka Kamma ).

Perbuatan yang berat atau serius / Garuka Kamma, disebut begitu karena kamma ini pasti menghasilkan akibat dalam kehidupan ini atau yang berikutnya.

Dari segi yang baik, perbuatan berbobot adalah Jhana atau kegembiraan yang luar biasa ( yang dicapai bersamaan dengan pemurnian diri melalui pengembangan Sila dan Samadhi ).

Sedangkan dari segi yang tidak baik adalah kebengisan yang berakibat sesudahnya ( Anantariya Kamma ), yaitu :

1). Membunuh ibu,

2). Membunuh ayah,

3). Membunuh Orang Suci, Yang Tercerahkan,

4). Melukai Seorang Buddha,

5).Menimbulkan perpecahan dalam persaudaraan para suci / Sangha.

Jika, seandainya seseorang mengembangkan Jhana dan kemudian melakukan salah satu dari kebengisan tersebut, kamma baiknya akan dihapuskan oleh kamma jahat yang sangat kuat itu. Kelahiran berikutnya akan terbentuk oleh kamma jahat walaupun sebelumnya ia sudah mencapai Jhana.

Garukakamma merupakan bentuk kejahatan yang paling berat. Janganlah melakukannya dalam keadaan apapun. Ini akan menghalangi seseorang mencapai Nirvana ( Anguttara Nikaya III,146 ).

3.2. Kamma Menjelang Kematian ( Asanna Kamma )

Jika tidak ada kamma yang berat untuk membentuk kelahiran berikutnya, maka Kamma menjelang kematian ( asanna ) akan bekerja. Ini adalah perbuatan yang dilakukannya atau diingatnya sesaat sebelum ia meninggal. Karena kemampuannya dalam menentukan kelahiran berikutnya, kebiasaan untuk mengingatkan orang yang akan meninggal terhadap perbuatan baiknya serta membuatnya melakukan kebaikan menjelang kematiannya adalah hal yang sangat perlu dilakukan.

Kadang-kadang orang jahat dapat mati dengan bahagia dan menerima kelahiran yang baik jika ia beruntung mengingat atau melakukan perbuatan baik pada saat-saat terakhir. Ini bukan berarti bahwa karena ia menikmati kelahiran yang baik ia akan bebas dari akibat perbuatan jahat yang ia timbun selama hidupnya.

Sebaliknya, kadangkala orang yang baik meninggal dengan tidak bahagia karena ingatan yang tiba-tiba pada tindakan jahat atau dengan membayangkan suatu pikiran buruk, karena terdorong oleh keadaan yang tidak menguntungkan.

3.3. Kamma Kebiasaan ( Acinna Kamma )

Kamma kebiasaan ( accina ) merupakan kamma yang berikutnya dalam urut-urutan berakibat. Ia merupakan kamma yang secara terus-menerus dilakukan dan diingat seseorang serta padanya ia mempunyai kemelekatan yang kuat. Jika garukakamma dan asannakamma tidak ada, maka acinnakamma yang akan menentukan kondisi-kondisi kelahiran berikutnya.

Kebiasaan yang baik ataupun buruk menjadi sifat yang kedua. Mereka sedikit banyak cenderung membentuk sifat seseorang. Pada waktu luang kita kerap kali menyibukkan diri dalam kebiasaan pikiran dan perbuatan. Dalam cara yang sama pada saat-saat kematian, kecuali dipengaruhi oleh keadaan-keadaan lain, sesuai dengan hukum, kita mengingat kembali kebiasaan pikiran dan perbuatan kita.

3.4. Kamma yang Bertimbun ( Katatta Kamma )

Yang terakhir dalam golongan ini adalah Kamma yang bertimbun     ( katatta ) yang mencakup semua yang tidak dapat dimasukkan kedalam tiga jenis terdahulu. Ini bagaikan dana cadangan dari makhluk tertentu ; karma-karma sisa utama yang belum dihabiskan.

4. Kelompok Karma Berdasarkan Kedudukannya ( Pakatthanacatukka ) :

4.1. Akusala-Kamma : Perbuatan buruk yang akan masak di alam keindriaan

Ada sepuluh ( 10 ) tindakan jahat yang disebabkan oleh perbuatan badan jasmani, ucapan dan pikiran yang menghasilkan Kamma jahat. Akar dari tindakan jahat ini adalah keserakahan ( lobha ) akan keindriyaan, kebencian ( dosa ), dan kebodohan batin ( moha ).

Sepuluh (10) tindakah jahat tersebut adalah sebagai berikut :

(a). Tiga dilakukan perbuatan jasmani ( Akusala-Kaya-Kamma ), yaitu : 1). Membunuh ( panatipata), 2). Mencuri ( adinnadana ), 3). Perbuatan sex yang tidak pada tempatnya dan tidak sepatutnya ( kamesu micchacara ).

(b). Empat dilakukan oleh ucapan (Akusala-Vadi-Kamma), yaitu : 1). Berbohong ( musavada ), 2). Memfitnah ( pisunavaca ), 3). Kata-kata kasar ( pharusavaca ), dan, 4). Bergunjing ( samphappalapa ).

(c). Tiga dilakukan oleh pikiran (Akusala-Mano-Kamma), yaitu : 1). Ketamakan ( abhijjha ), 2). Keinginan Jahat ( Vyapada ), 3). Pandangan Salah ( Micchaditthi ).

4.1.1.Membunuh ( panatipata )

Membunuh ( panatipata ), berarti dengan sengaja melenyapkan nyawa makhluk hidup apapun. Kata “Pana” dari bahasa  Pali dengan tegas berarti “ kehidupan batin – jasmani mengenai keberadaan makhluk tertentu “. Penghancuran secara kejam dari kekuatan kehidupan ini, tanpa mengijinkannya untuk bergerak sesuai dengan waktu hidupnya sendiri, berarti “ panatipata “.

“ Makhluk Hidup “ disini berarti termasuk dunia hewan, tetapi tanaman tidak termasuk karena mereka tidak mempunyai pikiran, perasaan, persepsi, dan kesadaran apapun ( “ jiwa “ ). Namun meskipun demikian, para petapa suci, diharuskan untuk tidak menghancurkan kehidupan tanam-tanaman sekalipun. Hukum ini tidak ditujukan untuk orang biasa yang hidup berumah-tangga.

Lima keadaan dibawah ini diperlukan untuk terjadinya kejahatan membunuh : i. Makhluk hidup, ii. Pengetahuan bahwa ia makhluk hidup, iii. Kehendak untuk membunuh, iv. Usaha untuk membunuh, v. Adanya kematian.

Bobot kejahatan tergantung pada kebaikan dan besarnya makhluk yang bersangkutan. Pembunuhan terhadap seorang saleh atau seekor hewan besar ( gajah, lembu, kerbau, dll. ) dipandang lebih kejam daripada pembunuhan terhadap seorang yang keji, bengis, jahat ataupun seekor hewan kecil ( nyamuk, semut, kecoa, ulat, dll. ). Hal itu dianggap demikian karena usaha lebih besar diperlukan untuk melakukan kejahatan itu dan kehilangan yang ditimbulkan dipandang lebih besar.

Buah karma buruk dari membunuh adalah : i. Umur pendek, ii. Kesehatan yang buruk, iii. Selalu berduka karena perpisahan dari mereka yang dicintai, dan, iv. Selalu ketakutan.

4.1.2.Mencuri ( adinnadana )

Lima ( 5 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kejahatan mencuri, yaitu : i. Harta milik orang lain, ii. Pengetahuan bahwa harta itu memang milik orang lain, iii. Kehendak untuk mencuri, iv. Usaha untuk mencuri, v. Pemindahan yang sesungguhnya.

Buah karma buruk dari mencuri adalah : i. Kemiskinan, ii. Penderitaan, iii. Kekecewaan, iv. Kehidupan yang bergantung pada pihak lain.

4.1.3.Pelanggaran Susila ( kamesu micchacara )

Empat ( 4 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kejahatan pelanggaran susila : i. Pikiran untuk menikmati, ii. Usaha ke arah itu, iii. Cara untuk memuaskan, iv. Pemuasan.

Buah karma buruk dari pelanggaran susila  yang tak dapat dielakkan yaitu : i. Mempunyai banyak musuh, ii. Mendapat suami atau istri yang tidak diinginkan, iii. Lahir sebagai perempuan; orang kasim ; banci atau /  waria.

4.1.4. Berbohong ( musavada )

Empat ( 4 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kejahatan berbohong, yaitu : i. Sesuatu yang tidak benar, ii. Kehendak untuk berbohong, iii. Pengungkapan, iv. Penipuan yang sesungguhnya.

Buah karma buruk dari berbohong yang tak dapat dielakkan yaitu : i. Menjadi sasaran caci maki dan fitnah, ii. Tidak dipercaya, dan, iii. Mulut yang berbau.

4.1.5. Memfitnah ( pisunavaca )

Empat ( 4 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kejahatan memfitnah, yaitu : i. Orang-orang yang akan dipisahkan, ii. Kehendak untuk memisahkan mereka atau keinginan untuk mendekatkan diri sendiri kepada orang lain, iii. Usaha ke arah itu, iv. Penyampaian.

Buah karma buruk dari memfitnah yang tak dapat dielakkan adalah pecahnya persahabatan tanpa sebab apapun yang memadai.

4.1.6. Kata-kata Kasar ( pharusavaca )

Tiga ( 3 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kata-kata kasar, yaitu : i. Seseorang untuk dimaki, ii. Pikiran yang marah, dan, iii. Makian yang sesungguhnya.

Buah karma buruk dari kata-kata kasar yang tak dapat dielakkan yaitu : i. Dibenci oleh pihak lain walaupun mutlak tak bersalah, dan, ii. Memiliki suara parau.

4.1.7. Pergunjingan ( samphappalapa )

Dua ( 2 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya pergunjingan, yaitu : i. Keinginan untuk bergunjing, ii. Penyampaian hal itu.

Buah karma buruk dari bergunjing adalah : i. Cacat alat tubuh, ii. Pembicaraan yang tidak masuk akal.

4.1.8. Rasa Tamak ( abhijjha )

Dua ( 2 ) keadaan diperlukan untuk adanya rasa tamak, yaitu : i. Milik pihak lain, ii.memperhatikannya dengan berpikir, “ seandainya ini milikku “.

Buah karma buruk dari ketamakan yang tidak dapat dielakkan adalah : pengharapan-pengharapan yang tidak bisa terpenuhi.

4.1.9. Keinginan Jahat ( Vyapada )

Dua ( 2 ) keadaan diperlukan untuk adanya keinginan jahat, yaitu : i. Orang lain, ii. Pikiran untuk berbuat jahat.

Buah karma buruk dari keinginan jahat yang tak dapat dielakkan adalah : i. Berwajah jelek, ii. Menderita berbagai penyakit, iii. Pembawaan yang menjijikkan.

4.1.10. Pandangan Salah ( Micchaditthi )

Pandangan salah adalah melihat benda/objek secara salah. Kepercayaan yang salah seperti penolakan terhadap manfaat perbuatan baik termasuk dalam kejahatan ini.

Dua ( 2) keadaan diperlukan untuk adanya pandangan salah ini, yaitu : i. Cara yang salah dalam menanggapi objek, ii. Pengertian terhadap objek itu sesuai dengan gagasan yang salah.

Buah karma buruk dari pandangan salah yang tak dapat dielakkan adalah : i. Keinginan rendah, ii. Kurang bijaksana, iii. Akal yang tumpul, iii. Berbagai penyakit menahun, iv. Gagasan yang tercela.

Ada sepuluh ( 10 ) pandangan salah yang banyak dianut manusia :

i. Tidak ada kebajikan seperti kedermawanan ( dinnam );

ii. Tidak ada kebajikan seperti banyak memberi dana ( ittham ) atau

iii. Tidak ada kebajikan dari memberi hadiah untuk para tamu ( hutam );

iv. Tidak ada buah ataupun akibat dari perbuatan baik dan buruk,

v. Tidak percaya pada “ dunia ini” atau,

vi. Tidak percaya pada “dunia setelah ini “, yaitu  mereka yang dilahirkan tidak menerima keberadaan pada masa lalu, dan mereka yang hidup disini tidak menerima suatu kehidupan yang akan datang,

vii. Tidak ada ibu,

viii. Tidak ada ayah,

ix. Tidak ada makhluk yang mati dan bertumimbal lahir       ( opapatika ),

x. Tidak ada petapa yang berbudi dan bertata-tertib baik serta para brahmana, yang dengan kecerdasan istimewa mereka sendiri telah memahami dunia ini dan dunia setelah ini, dan menjelaskan hal itu.

4.2 Kamavacarakusala-Kamma : Kamma baik yang akan masak di alam keindriaan :

Kamavacarakusala-kamma terbagi menjadi tiga (3) macam , yaitu :

  1. Kusala-Kaya-Kamma ( perbuatan baik melalui jasmani ).
  2. Kusala-Vaci-Kamma ( perbuatan baik melalui perkataan ).
  3. Kusala-Mano-Kamma ( perbuatan baik melalui pikiran ).

Penghindaran dari sepuluh tindakan jahat diatas  disebut “ sepuluh (10) perbuatan bajik “, yang diterangkan secara rinci dalam Sevitabba-asevitabba-sutta, bagian dari Majjhima Nikaya.

Disamping itu, dalam agama Buddha dikenal “Sepuluh Karma Bajik” yang mencakup sepuluh perbuatan bajik disertai perbuatan bajik lainnya, yaitu yang terangkum dalam tabel berikut ini :

JENIS KARMA BAIK AKIBAT / BUAH KARMA
Kedermawanan ( Dana ) :

  1. Materi
  2. Memberikan keberanian, rasa nyaman, dan hiburan bagi orang yang terguncang jiwanya.
  3. Memberikan nasihat dan saran.
  1. Kekayaan Materi.
  2. Banyak teman dan jodoh afinitas.
  3. Mempunyai pengaruh kuat di lingkungan.
Moralitas ( Sila ) Kelahiran dalam keluarga mulia dan dalam keluarga bahagia.
Meditasi ( Bhavana ) Membawa kelahiran di alam berbentuk dan alam tidak berbentuk, serta membantu untuk memperoleh pengetahuan lebih tinggi dan kebebasan.
Penghormatan (apacayana) Memiliki keturunan mulia ; dihormati.
Pengabdian ( veyyavacca ) Menghasilkan banyak pengikut, asisten yang loyal, teman yang setia.
Mengirim jasa ( pattidana ) Memiliki harta berlimpah dalam kelahiran yang akan datang.
Berbahagia atas perbuatan baik pihak lain ( anumodana ) Kegembiraan dimanapun ia dilahirkan kelak.
Mendengarkan ajaran(dhammasavana ) Bijaksana, pandai, dan berpengetahuan luas.
Membabarkan ajaran ( dhammadesana ) Bijaksana, pandai, dan berpengetahuan luas.
Meluruskan pandangan hidup ( ditthijjukamma ). Bijaksana dan pandai.

Menurut agama Buddha, seseorang akan diberkati dengan kekayaan dan kebangsawanan bila ia melakukan empat hal :

1. Memberi pada waktu yang tepat.

2. Memberi tanpa sikap menghina atau angkuh.

3. Memberi dengan tulus hati.

4. Tidak mengharap balasan.

( Sutra Pertanyaan Sumati, Sutra 30 dari Maharatnakuta ).

Seorang umat awam ditekankan untuk melaksanakan tiga karma bajik pertama, yaitu : 1). Berdana ( dana ), 2). Moralitas ( Sila ), 3). Pengembangan Mental / Meditasi ( Bhavana ).

4.3 Kamma baik yang akan masak di alam berbentuk :

Inilah lima macam kegembiraan luar biasa ( Rupa Jhana ) yang semata-mata bersifat mental, yang diperoleh melalui pemurnian batin dengan menjaga Sila dan Samadhi yang terus-menerus :

i. Jhana pertama, kesadaran moral yang terdiri dari penerapan awal ( vitakka ), penerapan terus menerus ( vicara ), perhatian yang menyenangkan ( piti ), kebahagiaan ( sukha ), dan pemusatan perhatian ( ekaggata ),

ii. Jhana kedua, kesadaran moral yang terdiri dari penerapan terus menerus (vicara), perhatian yang menyenangkan (piti), kebahagiaan (sukha) dan pemusatan perhatian (ekaggata).

iii. Jhana ketiga, kesadaran moral yang terdiri dari perhatian yang menyenangkan (piti), kebahagiaan, dan pemusatan perhatian (ekaggata).

iv. Jhana keempat, kesadaran moral yang terdiri dari kebahagiaan (sukha) dan pemusatan perhatian (ekaggata), dan

v. Jhana kelima, kesadaran moral yang terdiri dari keseimbangan ( upekkha ) dan pemusatan perhatian (ekaggata). Jhana-jhana ini mempunyai akibat yang sesuai di Alam Berbentuk.

4. 4 Kamma baik yang akan masak di Alam Tak Berbentuk :

Inilah empat Arupa Jhana yang mempunyai akibat yang selaras di Alam Tak Berbentuk, yaitu :

i. Kesadaran moral yang berada di “ Ruang yang Tidak Terbatas “ ( Akasanancayatana ),

ii. Kesadaran moral yang berada di “ Kesadaran yang Tidak Terbatas “,

iii. Kesadaran moral yang berada di “ Kehampaan “ ( Akincannayatana ), dan,

iv. Kesadaran moral dimana Tidak Ada Pemahaman bukan pula Ada Pemahaman ( N’eva sanna ‘asannayatana ).



CARA KERJA KARMA

Pertama-tama marilah kita mempelajari proses-pikiran ( cittavithi ). Pikiran, kesadaran, dua unsur dari “jiwa” makhluk hidup, memainkan peranan sangat penting dalam perlengkapan manusia yang rumit. Jika seseorang tidur lelap dan dalam keadaan tidak bermimpi, ia merasakan sejenis kesadaran yang lebih kurang bersifat pasif daripada aktif. Perasaan ini seperti kesadaran yang dirasakan seseorang pada saat pembuahan dan wafat. Hal ini disebut sebagai Bhavanga yang berarti “ faktor kehidupan “, atau sebab, atau kondisi keberadaan yang sangat diperlukan.

Timbul dan lenyap setiap saat, pikiran & kesadaran mengalir bagaikan arus yang tidak pernah sama walaupun dengan selang waktu yang sedikit. Kita merasakan bentuk kesadaran ini tidak hanya pada saat tidak bermimpi, tetapi juga pada saat terjaga. Dalam kehidupan kita, kita merasakan saat-pikiran Bhavanga lebih banyak daripada bentuk kesadaran lain. Beberapa ahli psikologi modern menyatakan ‘bhavanga’ sama dengan bawah sadar, yaitu suatu bagian pikiran yang berada dibawah ambang batas kesadaran.

‘Bhavanga’ disebut sebagai faktor kehidupan karena ia merupakan keadaan penting untuk meneruskan keberadaan. Rangkaian kehidupan yang berkesinambungan tampaknya merupakan padanan kalimat terdekat untuk menggantikan istilah/kata “bhavanga”.

Kesadaran bhavanga ini, yang selalu dirasakan seseorang sepanjang tidak terganggu oleh rangsangan dari luar, bergetar selama satu saat-pikiran dan lenyap ketika suatu objek jasmani atau batin memasuki pikiran. Misalnya, objek yang memasuki pikiran adalah objek jasmani, maka proses yang terjadi adalah sebagai berikut : Saat terganggu objek jasmani, aliran kesadaran bhavanga tertahan, kemudian kesadaran pintu indria ( pancadvaravajjana ) yang fungsinya mengarahkan kesadaran menuju objek, muncul dan lenyap. Segera setelah itu muncullah kesadaran penglihatan ( cakkuvinnana ) yang melihat objek, tetapi tidak mengetahui lebih lanjut tentang objek tersebut. Bekerjanya indria penglihatan ini diikuti oleh saat penerimaan dari objek yang dilihat ( sampaticchana ). Selanjutnya muncullah saat pikiran yang menyelidiki ( santirana ) yang secara sesaat memeriksa objek yang dilihat. Ini diikuti oleh saat-pikiran yang menentukan ( votthapana ) ketika pembedaan dilakukan dan kehendak bebas memainkan peranannya. Javana, yaitu keadaan penting selanjutnya yang menurut ilmu jiwa bergantung pada keadaan tersebut. Pada keadaan itulah,pada keadaan Javana, suatu perbuatan dinilai, apakah baik atau buruk. Dan, Karma/kamma berlangsung pada keadaan tersebut. Jika ditanggapi dengan benar ( yonisomanasikara ), ia menjadi baik; jika ditanggapi dengan salah ( ayonisomanasikara ), jadi buruk.

Terlepas dari objek yang diingini atau tidak diingini yang tersajikan dalam pikiran, sungguh memungkinkan bagi seseorang untuk menjadikan proses Javana baik atau buruk. Jika misalnya seseorang bertemu dengan musuh, kemarahan akan muncul dengan sendirinya. Sebaliknya orang yang bijaksana dengan pengendalian diri sendiri, akan memancarkan pikiran cinta kasih kepadanya.

Faktor eksternal mungkin merupakan faktor ‘masukan’, tetapi akhirnya diri kita sendirilah yang menentukan untuk ‘bersikap’, yang secara langsung bertanggungjawab atas tindakan yang kita lakukan. Karmalah yang memungkinkan bagi kita untuk mengatasi pengaruh luar dan menghasilkan pikiran baik dan buruk dengan menggunakan kehendak bebas kita.

Istilah modern ‘apersepsi’ (tanpa-persepsi) mungkin bisa dipadankan dengan Javana. Javana, secara harafiah berarti ‘berlari’ . Disebut begitu karena dalam rentang suatu proses pikiran, ia berlari sebanyak tujuh saat pikiran, atau pada saat kematian, sebanyak lima saat-pikiran dengan objek yang sama. Keadaan mental yang muncul dalam semua saat-pikiran ini adalah sama, tapi kekuatannya berbeda.

Seluruh proses-pikiran ini yang berlangsung dalam waktu sangat singkat berakhir dengan kesadaran yang merekam ( tadalambana ) yang terjadi dalam waktu dua saat-pikiran.

Ada perumpamaan mengenai proses pikiran ini. Seseorang tidur nyenyak di kaki pohon mangga dengan kepala ditutupi. Angin menggerakkan cabang-cabang dan buah mangga jatuh di samping kepala orang yang tidur. Ia menyingkirkan penutup kepalanya, dan menoleh kearah objek. Ia melihatnya lalu mengambilnya. Ia memperhatikannya, dan yakin bahwa itu adalah sebuah mangga yang ranum. Ia memakannya, dan menelan serpihan dengan air liur, lalu ia membaringkan diri untuk tidur.

Tidur dengan tidak bermimpi menunjukkan aliran Bhavanga yang tidak terganggu. Hembusan angin pada pohon menunjukkan Bhavanga masa lalu dan goyangan cabang-cabang menunjukkan getaran Bhavanga. Jatuhnya buah mangga menunjuk Bhavanga yang tertahan / terganggu. Menoleh ke arah objek menunjuk kesadaran pintu-indria, penglihatan pada objek menunjuk pemahaman, mengambil menunjuk kesadaran penerima, memperhatikan menunjuk kesadaran penguji, meyakinkan diri bahwa itu buah mangga yang ranum menunjuk kesadaran penentu. Saat memakan menggambarkan proses Javana, dan menelan potongan menunjukkan ingatan. Kembali tidur  menggambarkan surutnya pikiran menuju Bhavanga lagi.

Dari tujuh saat-pikiran seperti yang disebutkan diatas, akibat dari saat pikiran pertama, yang terlemah dalam kemampuan, orang mungkin memetik buahnya ( buah karma/kamma, atau vipaka ) dalam kehidupan ini juga. Ini disebut “ karma/kamma yang berlaku segera “ ( ditthammavedaniya ). Jika ia tidak bekerja dalam kehidupan ini, ia menjadi kadaluwarsa ( ahosi ).

Urutan terlemah kedua  adalah yang ke-7 dari saat-pikiran. Akibat dari karma ini akan dipetik/dialami dalam kehidupan berikutnya. Oleh karena itu ia disebut “ Karma/kamma yang berlaku sesudah itu “ ( upapajjavedaniya ), yang juga, langsung menjadi kadaluwarsa jika ia tidak bekerja pada kehidupan yang kedua.

Akibat dari lanjutan saat-pikiran mungkin terjadi kapan saja dalam rentang pengembaraan seseorang dalam Samsara sampai akhir Kebebasan. Karma/kamma jenis ini disebut “ berlaku untuk jangka waktu yang tak terbatas “ ( aparapariyavedaniya ).



TIDAK SEMUA KARENA KAMMA

Terdapatlah pandangan salah yang menyatakan bahwa, “Apapun kebahagiaan, penderitaan atau perasaan netral yang dirasakan, semuanya bergantung pada perbuatan masa lalu ( pubbekatahetu )”. Mengenai pandangan-salah ini, Sang Buddha bersabda, “ Jika begitu, karena perbuatan masa lalu orang menjadi pembunuh, pencuri, tak bersusila, pembohong, pemfitnah, pengoceh, tamak, dengki dan jahat. Jadi pada mereka yang bersandar pada perbuatan masa lalu sebagai alasan utama, disana tak ada keinginan untuk berbuat, atau perlu melakukan perbuatan ini atau tidak melakukan perbuatan itu.” [ Anguttara-Nikaya – I.173 ; Gradual Sayings. I.157 ; dikutip dari buku “Sang Buddha dan Ajaran-ajaran-Nya”, penulis Bhante Narada Mahathera, hal.58 ]

Agama Buddha menerangkan semua perbedaan dan ketidak-adilan didunia ini dengan hukum Karma, tetapi tidak menyatakan bahwa segala sesuatu disebabkan oleh Kamma saja. Apabila segala sesuatu disebabkan oleh Kamma, maka seorang penjahat akan selamanya menjadi jahat, karena kammanya yang menjadikan dirinya jahat. Orang tidak perlu memeriksakan dirinya ke dokter untuk disembuhkan penyakitnya, karena bila kammanya memang harus demikian ia akan sembuh dengan sendirinya. Jika kehidupan saat ini sepenuhnya terbentuk atau dikendalikan seluruhnya oleh perbuatan masa lalu kita, maka Kamma tentunya sama saja dengan fatalisme deterministic / atau “Takdir”.

Seseorang bebas untuk membentuk masa sekarang atau masa yang akan datang. Jika fatalisme-deterministic itu betul, maka kehendak-bebas (freewill ) akan menjadi suatu kemustahilan. Kehidupan akan bergerak secara mekanis, tak berbeda dengan mesin. Ajaran fatalisme-deterministik seperti ini bukanlah hukum-Kamma yang diajarkan Sang Buddha.

PANCA-NIYAMA

Menurut agama Buddha, terdapat lima aturan / proses alamiah ( niyama ) yang berlaku dalam alam mental dan fisik, yaitu  :

1. Kamma Niyama ( Sanskrit : Karma )

Yaitu hukum sebab akibat ; perbuatan baik dan buruk menghasilkan akibat-akibat yang sesuai.

2. Bija Niyama,

Hukum Benih ( hukum fisik organic ) ; beras dihasilkan dari padi, gula dihasilkan dari tebut atau madu, dan lain-lain. Teori ilmiah tentang sel-sel dan gen-gen ( plasma pembawa sifat ) dan kemiripan fisik anak kembar diterangkan melalui hukum ini.

3. Utu Niyama,

Hukum fisik ( inorganic ), yaitu fenomena angin dan hujan, musim-musim yang timbul di alam-semesta.

4. Citta Niyama,

Hukum pikiran / batin ( hukum psikis ), yaitu proses-proses kesadaran ( citta-vitthi ), kekuatan pikiran, kemampuan batin, membaca pikiran, kewaskitaan, mengingat kehidupan lampau diri sendiri dan orang lain, dan lain-lainnya.

5. Dhamma Niyama

Hukum alam, yaitu misalnya fenomena alam pada saat kedatangan Bodhisatta pada kelahiran terakhirnya, gravitasi bumi, dan lain-lain sebagainya.

Setiap fenomena mental dan fisik dapat diterangkan dengan lima hukum serba-lengkap ini. Dan hukum alam tersebut berlaku, berjalan sendiri, tanpa peran serta Hakim Agung atau Penguasa tertentu yang mengaturnya.

Tidak ada yang memutuskan bahwa api itu harus membakar. Tidak ada yang memerintahkan bahwa air harus mencari permukaan yang rendah. Tak ada ilmuwan yang memerintahkan bahwa air harus terdiri dari H20 dan sifat dingin harus menjadi salah satu sifatnya. Kamma bukanlah nasib atau takdir yang ditimpakan pada kita oleh kekuatan misterius yang tak dikenal, kepada siapa kita harus menyerahkan diri kita tanpa daya. Perbuatan seseorang sendirilah yang memberi akibat pada dirinya, sehingga dengan demikian ia mempunyai suatu kemungkinan untuk membelokkan jalannya kamma sampai taraf tertentu. Berapa jauh ia dapat membelokkannya, hal itu tergantung pada usaha dirinya sendiri.

……………………………………………………………………………………………………………………….

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )


RATANA KUMARO

Semarang-Barat, Minggu, 5 Juli 2009.

Posted in BUDDHA, Hukum Karma | 26 Comments »