RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

Archive for Maret, 2009

BOROBUDUR SELAYANG PANDANG

Posted by ratanakumaro pada Maret 27, 2009

Perayaan Waisak Mei 2008

Perayaan Waisak Mei 2008

Barabudur adalah nama sebuah situs Buddha purba yang terletak di Barabudur, –Magelang, Jawa Tengah, yang didesain oleh Arsitek tersohor pada abad ke-8 Masehi, Gunadharma . Dibangun oleh para penganut Buddha-Dhamma mazhab Mahayana pada masa pemerintahan Wangsa Syailendra.

Penyebutan Barabudur sebagai “Candi” sebenarnya tidaklah tepat. Kata “Candi” berasal dari kata “Candika”, yaitu nama lain dari Dewi Durga. Candi digunakan sebagai tempat pemujaan Dewa – Dewi dalam tradisi Hindu.

Di India, bangunan yang berhubungan dengan agama Buddha disebut “Stupa”, ialah bangunan yang berbentuk kubah berdiri di atas sebuah lapik dan diberi payung diatasnya. Adapun arti dari “Stupa” itu sendiri adalah :

Tempat penyimpanan “relic” ( peninggalan-peninggalan dari Sang Buddha, Arahat dan para Bhikkhu terkemuka, semisal : tulang-belulang Sang Buddha, Jubah Sang Buddha, dll. ). Dinamakan juga “Dhatu Garbha”.

Sebagai tempat penghormatan kepada Sang Buddha sebagai Guru Agung.

Sebagai sebuah symbol suci bagi ummat Buddha.

waisak-mei-2008-2

Lokasi situs ini adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta, dari kota Magelang terletak di sebelah selatan kurang lebih 15 Km dalam jarak lurus, di dataran Kedu. Dataran Kedu yang berbukit, hampir seluruhnya dilingkari pegunungan. Gunung yang melingkari candi Borobudur antara lain :

Sebelah timur terdapat gunung Merbabu dan Gunung Merapi.

Barat laut terdapat Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro.

Di sebelah Utara terdapat Gunung Tidar ( dikenal sebagai “PAKU-ning TANAH JAWA” )

Sebelah selatan terdapat pegunungan Menoreh.

Dari kesemua gunung tersebut, hanya Gunung Merapi yang masih aktif sebagai Gunung Berapi.

Disebelah timur Borobudur terdapat Candi Pawon dan Candi Mendut.

napak-tilaw-waisak-mei-2008

Napak Tilas ~ Waisak Mei 2008

Candi Pawon mempunyai bilik, didalamnya tak terdapat satu patungpun juga, tidak diketahui guna dari bilik ini, tidak jelas juga untuk tempat pemujaan Dewa atau apa, oleh karena itu tidak dapat dipastikan apa fungsi Candi Pawon dalam hubungannya dengan candi Borobudur. Dimungkinkan candi Pawon sebagai tempat istirahat dalam perjalanan ziarah, karena letak candi ini di antara candi Mendud dan Candi Borobudur.

puja-bhakti-waisak-di-mendut-2008

Puja Bhakti di Mendud, sebelum arak-arakan Mendud-Barabudur ( Waisak,Mei 2008 )

Candi Mendud, sebagai tempat Puja Bhakti. Di dalam biliknya terdapat sebuah Buddha Rupam ( besar ) yang menggambarkan Sang Buddha sedang duduk di atas singgasana, sikap tangan menggambarkan saat ia pertama kali memberikan wejangan di taman Rusa. Buddha Rupam ini diapit oleh Avalokitesvara dan Vajrapani.

Bhikkhu Sangha Menuruni Podium di Mendut - Waisak 2008

Bhikkhu Sangha Menuruni Podium di Mendut - Waisak 2008

Borobudur terletak paling barat di antara candi-candi tersebut.

Asal Mula Nama Borobudur

Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi Borobudur. Menurut Drs.Soediman dalam bukunya “Borobudur salah satu Keajaiban Dunia” dijelaskan antara lain bahwa nama BARABUDUR berasal dari dua suku kata ;

1. BARA , yang berasal dari kosakata Sanskerta “VIHARA” atau “BIHARA”.

2. BUDUR, dalam bahasa Bali “BEDUHUR” yang artinya “ATAS”.

Jadi, BARABUDUR artinya Bihara yang terletak di atas bukit.

Memang, di halaman barat laut dari Barabudur sewaktu diadakan penggalian ditemukan sisa-sisa bekas sebuah bangunan yang dimungkinkan bangunan bihara. Pendapat lain dikemukan oleh J.G de Casparis berdasarkan prasasti “SRI KAHULUNAN” ( 842 M ). Di dalam prasasti tersebut terdapat nama sebuah kuil “BHUMISAMBHARA”. Menurut Casparis, nama dalam prasasti Sri Kahulunan itu tidak lengkap, agaknya masih ada lagi sepatah kata untuk “Gunung” dibelakangnya, sehingga nama seluruhnya seharusnya “Bhumisambhara Buddhara”. Dari kata-kata inilah akhirnya terjadi nama BARABUDUR.

J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan, pendiri Borobudur adalah raja dari dinasti Syailendra bernama Samaratungga sekitar 824 M. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad.

Struktur Bangunan Barabudur

Bangunan Barabudur dibangun menggunakan batu andesit sebanya 55.000 m3. Bangunan ini berbentuk limas yang berundak-undak dengan tangga naik pada keempat sisinya ( timur, selatan, barat dan utara ). Bentuk limas berundak-undak merupakan pengaruh dari budaya asli Jawa ( punden berundak ), sedangkan relief cerita dan Stupanya merupakan asli Buddhis.

Pada bangunan Stupa Barabudur tidak ada ruangan dimana orang bisa masuk seperti umumnya candi-candi Hindu, melainkan orang hanya bisa naik sampai ke teras puncak.

Latar bangunan Stupa Barabudur = 123 m.

Panjang bangunan Stupa Barabudur = 123 m

Pada sudut yang membelok = 113 m.

Tinggi bangunan Stupa = 34,5 m.

Pada kaki bangunan Stupa ditutup dengan batu sebanyak 12.750 m3, sebagai selasar dan undaknya.

Bangunan Stupa Barabudur merupakan penggambaran dari Alam-Semesta, Kehidupan dan Alam-Kehidupan, yang terbagi dalam “Tiga-Alam” ( Triloka ) :

Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau “nafsu rendah”. Kamadhatu terdiri dari : Alam neraka, alam binatang, alam hantu, alam manusia, dan alam para dewa-dewa lingkup keindriaan. Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita Kammawibhangga. Sebagian kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.

Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya menggambarkan alam berikutnya, yaitu Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Ala mini adalah alam para Brahma dan Maha Brahma ( Tuhan ). Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar.

Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Pada bagian Arupadhatu, Patung-patung Buddha digambarkan “Tidak Berkepala” dan ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar.

Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud / nir-wujud / Arupa-Jhana dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi ( Stupa Induk ) . Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini, diduga dulu ada sebuah patung penggambaran Adibuddha. Patung yang diduga berasal dari stupa terbesar ini kini diletakkan dalam sebuah museum arkeologi, beberapa ratus meter dari candi Borobudur. Patung ini dikenal dengan nama unfinished Buddha. Stupa Induk ini sesungguhnya merupakan penggambaran dari N’eva Sanna Nasannayatana Alam Tiada Pemahaman maupun Tiadanya Tiada Pemahaman, yaitu alam tertinggi dari “Arupa-Jhana”. Para makhluk di alam ini berdiam dalam batin yang “padam”, tiada pikiran, batin yang tidak bergerak sama sekali. Yang terlahir disini adalah makhluk suci yang berhasil meraih samadhi tingkat catuttha-arupajhana yang berobjek pada “bukan-ingatan-bukan-pula-tanpa-ingatan”. Usia makhluk di alam ini mencapai 84.000 Maha Kappa. Akan tetapi, ada pula para ahli yang menyatakan bahwa Stupa Induk ini merupakan penggambaran dari “Nibbana” / “Nirvana”.

Buddha Rupam ( Rupa Buddha, atau “Patung-Buddha” ) di bangunan Stupa Barabudur semuanya berjumlah 504 buah, dengan uraian sebagai berikut :

Buddha Rupam yang berada pada relung-relung = 432 buah

Pada teras I, II, dan III = 72 buah

TOTAL = 504 buah

Di masa lalu, beberapa patung Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang dikirimkan kepada Raja Thailand, Chulalongkorn yang mengunjungi Hindia Belanda (kini Indonesia) pada tahun 1896 sebagai hadiah dari pemerintah Hindia Belanda ketika itu.

Secara sekilas, ke-504 Buddha-rupam tersebut sepertinya tampak serupa semuanya, tetapi sesungguhnya ada juga perbedaan-perbedaannya. Perbedaan yang sangat jelas membedakan satu patung dengan yang lainnya adalah sikap tangannya, yang disebut sebagai “Mudra” dan merupakan ciri khas untuk setiap patung. Jumlah Mudra yang pookom ada lima ( 5 ) :

1. BUMISPHARA – MUDRA

Sikap tangan ini melambangkan saat Sang Buddha memanggil Dewi Bumi untuk menjadi saksi saat ia menangkis semua serangan Iblis Mara. Patung-patung dengan mudra ini menghadap ke timur langkan I – IV.

2. WARA MUDRA

Sikap tangan ini melambangkan pemberian amal, memberi anugerah atau berkah. Mudra ini adalah khas bagi Dhyani Buddha Ratnasambhawa. Patung-patung dengan mudra ini menghadap ke selatan langkan I – IV.

3. DHYANA MUDRA

Sikap tangan ini melambangkan sedang Samadhi. Mudra ini merupakan cirri khas bagi Dhyani Buddha Amitabha. Patung-patung dengan mudra ini menghadap ke barat langkan I – IV.

4. ABHAYA MUDRA

Sikap tangan ini melambangkan sedang menenangkan, mudra atau sikap tangan ini merupakan tanda khusus bagi Dhyani Buddha Amoghasidi. Patung-patung dengan mudra ini menghadap ke utara langkan I – IV.

5. DHARMACAKRA MUDRA

Sikap tangan ini melambangkan ketika Sang Buddha pertama kali memutar Roda Dhamma. Mudra ini menjadi cirri khas bagi Dhyani Buddha Wairocana. Khusus di Stupa Barabudur Wairocana ini digambarkan dengan sikap tangan yang disebut Witarka Mudra.

Barabudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi Stupa tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.

Struktur Barabudur bila dilihat dari atas membentuk struktur mandala.

Struktur Barabudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock yaitu seperti balok-balok Lego yang bisa menempel tanpa lem.


Relief di Dinding Bangunan Barabudur

Di setiap tingkatan dipahat relief-relief pada dinding-dinding bangunan. Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sansekerta daksina yang artinya ialah timur. Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain ada relief-relief tentang wiracarita Ramayana. Ada pula relief-relief cerita jātaka.

Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur disetiap tingkatnya, mulainya disebelah kiri dan berakhir disebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.

Adapun susunan dan pembagian relief cerita pada dinding dan langkan candi , adalah sbb :

Bagan Relief

Tingkat

Posisi/letak

Cerita Relief

Jumlah Pigura

Kaki bangunan asli

—–

Karmawibhangga

160 pigura

Tingkat I

– dinding

a. Latitawistara

120 pigura

——-

– —–

b. jataka/awadana

120 pigura

——-

– langkan

a. jataka/awadana

372 pigura

——-

– —–

b. jataka/awadana

128 pigura

Tingkat II

– dinding

Gandawyuha

128 pigura

——–

– langkan

jataka/awadana

100 pigura

Tingkat III

– dinding

Gandawyuha

88 pigura

——–

– langkan

Gandawyuha

88 pigura

Tingkat IV

– dinding

Gandawyuha

84 pigura

——–

– langkan

Gandawyuha

72 pigura

——–

Jumlah

——–

1460 pigura

Secara runtutan , maka cerita pada relief bangunan secara singkat bermakna sebagai berikut :

Karmawibhangga

Salah satu ukiran Karmawibhangga di dinding bangunan Barabudur (lantai 0 sudut tenggara)

Sesuai dengan makna simbolis pada kaki banguna, relief yang menghiasi dinding batu yang terselubung tersebut, menggambarkan hukum karma. Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri ( serial ), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai korelasi sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan buah-perbuatan yang akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala / buah perbuatan baiknya. Secara keseluruhan merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir – hidup – mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan diakhiri untuk menuju kesempurnaan.

Lalitawistara

Merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap ) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari Surga Tusita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke 27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di surga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti “hukum” ,sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.

Jataka dan Awadana

Jataka adalah cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan baik, yang membedakan Sang Bodhisattwa dari mahluk lain manapun juga. Sesungguhnya, pengumpulan jasa / perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an.

Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur jataka dan awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura dan jang hidup dalam abad ke-4 Masehi.

Gandawyuha

Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke 2,adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.


Tahap-tahap Pembangunan Barabudur m/ para Ahli

* Tahap pertama

Masa pembangunan Barabudur tidak diketahui pasti (diperkirakan antara 750 dan 850 M). Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak. tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar.

* Tahap kedua

Pondasi Borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung diberikan stupa induk besar.

* Tahap ketiga

Undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya.

* Tahap keempat

Ada perubahan kecil seperti pembuatan relief perubahan tangga dan lengkung atas pintu.


Proses Pemugaran Bangunan Barabudur

* 1814Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa, mendengar adanya penemuan benda purbakala di desa Barabudur. Raffles memerintahkan H.C. Cornelius untuk menyelidiki lokasi penemuan, berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.

* 1873 – monografi pertama tentang candi diterbitkan.

* 1900 – pemerintahan Hindia Belanda menetapkan sebuah panitia pemugaran dan perawatan bangunan Stupa Barabudur.

* 1907Theodoor van Erp memimpin pemugaran hingga tahun 1911.

* 1926 – Barabudur dipugar kembali, tapi terhenti pada tahun 1940 akibat krisis malaise dan Perang Dunia II.

* 1956 – pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO. Prof. Dr. C. Coremans datang ke Indonesia dari Belgia untuk meneliti sebab-sebab kerusakan Barabudur.

* 1963 – pemerintah Indonesia mengeluarkan surat keputusan untuk memugar Barabudur, tapi berantakan setelah terjadi peristiwa G-30-S tahun 1965.

* 1968 – pada konferensi-15 di Perancis, UNESCO setuju untuk memberi bantuan untuk menyelamatkan Barabudur.

* 1971 – pemerintah Indonesia membentuk badan pemugaran Barabudur yang diketuai Prof.Ir.Roosseno.

* 1972International Consultative Committee dibentuk dengan melibatkan berbagai negara dan Roosseno sebagai ketuanya. Komite yang disponsori UNESCO menyediakan 5 juta dolar Amerika Serikat dari biaya pemugaran 7.750 juta dolar Amerika Serikat. Sisanya ditanggung Indonesia.

* 10 Agustus 1973 – Presiden Soeharto meresmikan dimulainya pemugaran Borobudur; pemugaran selesai pada tahun 1984

* 21 Januari 1985 – terjadi serangan bom yang merusakkan beberapa stupa pada Candi Borobudur yang kemudian segera diperbaiki kembali. Serangan dilakukan oleh kelompok Islam ekstrem yang dipimpin Habib Husein Ali Alhabsyi.

* 1991 – Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.

Iklan

Posted in WISATA | 14 Comments »

PEMERSATU THERAVADA DAN MAHAYANA

Posted by ratanakumaro pada Maret 24, 2009

PEMERSATU THERAVADA DAN MAHAYANA


Pendahuluan

( Artikel ini merupakan artikel yang sudah umum bagi ummat Buddha. Di internet, di berbagai blog, sudah banyak yang memposting. Namun, disini saya mengcopy dari http://cetiyamahasampatti.wordpress.com dan saya sunting-postingkan di blog saya sendiri. Selamat menikmati )


Dalam suatu faham, kepercayaan ataupun agama tentunya memiliki ciri khas dalam ide, konsep ataupun ajarannya yang membedakannya satu dengan yang lain. Meskipun dalam suatu faham, kepercayaan ataupun agama tersebut memiliki aliran atau mazab atau tradisi yang beraneka ragam, namun pastilah memiliki ciri khas, kesamaan beberapa konsep ajaran yang mendasar yang menghubungan satu dengan yang lain sehingga aliran-aliran tersebut masih dapat digolongkan dalam faham, kepercayaan ataupun agama induknya.

Buddhisme merupakan agama yang juga tidak lepas dari keberagaman aliran ataupun tradisi. Mayoritas, terdapat dua aliran atau tradisi dalam Buddhisme, yaitu Theravada dan Mahayana (dengan mempertimbangkan Vajrayana merupakan bagian dari Mahayana). Digolongkannya aliran Theravada maupun Mahayana sebagai bagian dari Buddhisme tidak lepas dari adanya kesamaan yang mendasar dalam beberapa konsep ajaran yang merupakan inti sari dari Buddha Dhamma.

Dalam tulisan kali ini, kita disuguhkan persamaan pokok-pokok dasar yang terdapat dua aliran besar dalam Buddhisme yang menjadi pemersatu keduanya. Pokok-pokok dasar pemersatu ini terdapat dalam rumusan-rumusan yang sebelumnya telah dipelajari, disusun, dan diterima oleh para rohaniawan khususnya yang tergabung dalam Dewan Sangha Buddhis Sedunia.

Rumusan Oleh Dewan Sangha Buddhis Sedunia

Pada tahun 1966, Dewan Sangha Buddhis Sedunia atau World Buddhist Sangha Council (WBSC) terbentuk di Colombo, Sri Lanka pada bulan Mei. WBSC merupakan organisasi internasional non-pemerintah yang keanggotaannya terdiri dari sangha-sangha dari seluruh dunia.

WBSC memiliki perwakilan dari tradisi Theravada, Mahayana, dan Vajrayana, yang berasal dari berbagai negara yaitu: Australia, Bangladesh, Kanada, Denmark, Perancis, Jerman, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Korea, Macao, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Nepal, New Zealand, Philipina, Singapura, Sri Lanka, Sweden, Taiwan, Thailand, Inggris dan Amerika Serikat.

Pada Kongres WBSC Pertama, salah satu pendirinya, Sekretaris-jendral, almarhum Y.M. Pandita Pimbure Sorata Thera meminta Y.M. Walpola Rahula untuk memberikan rumusan ringkas untuk mempersatukan tradisi-tradisi yang berbeda, yang kemudian secara bulat disetujui oleh Dewan. Inilah sembilan “Pokok-Pokok Dasar Pemersatu Theravada dan Mahayana”:

1. Buddha hanyalah satu-satunya Guru dan Penunjuk Jalan.

2. Kami berlindung dalam Tiratana (Buddha, Dhamma, dan Sangha).[1]

3. Kami tidak mempercayai dunia ini diciptakan dan diatur oleh Tuhan.[2]

4. Kami mengingat bahwa tujuan hidup adalah mengembangkan belas kasih untuk semua makhluk tanpa diskriminasi dan berusaha untuk kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian mereka; dan untuk mengembangkan kebijaksanaan yang mengarah pada perealisasian Kebenaran Tertinggi.Kami menerima Empat Kebenaran Ariya, yaitu dukkha, penyebab timbulnya dukkha, padamnya dukkha, dan jalan menuju pada padamnya dukkha; dan menerima hukum sebab dan akibat (Paticcasamuppada/ Pratityasamutpada).

5. Segala sesuatu yang berkondisi (sankhara / samskara) adalah tidak kekal (anicca / anitya) dan dukkha, dan segala sesuatu yang berkondisi dan yang tidak berkondisi (dhamma) adalah tanpa inti, bukan diri sejati (anatta / anatma).

6. Kami menerima Tiga puluh Tujuh (37) kualitas yang membantu menuju Pencerahan (Bodhipakkhika Dhamma / Bodhipaksa Dharma) sebagai segi-segi yang berbeda dari Jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha yang mengarah pada Pencerahan.

7. Ada tiga jalan mencapai bodhi atau Pencerahan: yaitu sebagai Savakabuddha / Sravakabuddha, sebagai Paccekabuddha / Pratyekabuddha, dan sebagai Sammasambuddha / Samyaksambuddha. Kami menerimanya sebagai yang tertinggi, termulia dan terheroik untuk mengikuti karir Bodhisattva dan untuk menjadi seorang Sammasambuddha dalam rangka menyelamatkan makhluk lain. [3]

8. Kami mengakui bahwa di negara yang berbeda terdapat perbedaan pandangan kepercayaan-kepercayaan dan praktik Buddhis. Bentuk dan ekspresi luar ini seharusnya tidak boleh dicampuradukkan/dikelirukan (perlu dipisahkan) dengan esensi/inti ajaran-ajaran Buddha.

Perluasan Rumusan

Pada tahun 1981 Y.M. Walpola Sri Rahula mengajukan alternatif rumusan yang mengacu pada 9 dasar dalam rumusan terdahulu. Rumusan tersebut berisi:

1. Apapun aliran, kelompok atau sistem kami, sebagai Buddhis kami semua menerima Buddha sebagai Guru kami yang memberikan kami ajaran-Nya.

2. Kami semua berlindung pada Tiga Permata (Tiratana): Buddha, Guru kami; Dhamma, ajaran-Nya; dan Sangha, Komunitas para Arya (suciwan). Dengan kata lain, kami berlindung pada Pengajar, Pengajaran, dan Hasil Pengajaran.

3. Baik Theravada ataupun Mahayana, kami tidak mempercayai bahwa dunia ini diciptakan dan diatur oleh Tuhan atas kehendaknya.

4. Mengikuti keteladanan Buddha, Guru kami yang merupakan perwujudan dari Belas kasih Agung (Maha Karuna) dan Kebijaksanaan Agung (Maha Prajna), kami menyadari bahwa tujuan dari hidup adalah untuk mengembangkan belas kasih bagi semua makhluk hidup tanpa diskriminasi dan untuk bekerja untuk kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian mereka; dan untuk mengembangkan kebijaksanaan yang mengarah pada realisasi Kebenaran Tertinggi.

5. Kami menerima Empat Kebenaran Mulia yang diajarkan oleh Sang Buddha, yaitu, Dukkha, kebenaran bahwa keberadaan kita di dunia ini berada dalam kesukaran, tidak kekal, tidak sempurna, tidak memuaskan, penuh dengan konflik; Samudaya, kebenaran bahwa kondisi-kondisi ini merupakan hasil dari sifat egois kita yang mementingkan diri sendiri berdasarkan pada ide yang salah mengenai diri; Niroda, kebenaran bahwa adanya kepastian akan kemungkinan pelepasan, pembebasan, kemerdekaan dari kesukaran ini dengan pemberantasan secara total sifat egois yang mementingkan diri sendiri; dan Magga, kebenaran bahwa pembebasan ini dapat dicapai melalui Jalan Tengah yang terdiri dari delapan faktor, yang mendorong ke arah kesempurnaan akan kemoralan (sila), disiplin mental (samadhi), dan kebijaksanaan (panna).

6. Kami menerima hukum semesta sebab akibat yang terdapat dalam Paticcasamuppada (Skt. Pratityasamutpada, Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan), dan oleh karena itu kami menerima bahwa segala sesuatu bersifat relatif, saling berhubungan, saling berkaitan dan tidak ada yang mutlak, tetap, dan kekal di alam semesta ini.

7. Kami memahami, berdasarkan pada ajaran Buddha, bahwa segala sesuatu yang berkondisi (sankhara) adalah tidak kekal (anicca), tidak sempurna dan tidak memuaskan (dukkha), dan segala sesuatu yang berkondisi dan tidak berkondisi (dhamma) adalah bukan diri/ tanpa inti (anatta).

8. Kami menerima Tigapuluh Tujuh kualitas yang berguna bagi pencapaian Pencerahan (Bodhipakkhiya Dhamma) sebagai beragam aspek yang berbeda dari Jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha yang mendorong ke arah Pencerahan, yaitu:

1. Empat Bentuk Landasan Perhatian Benar (Pali: satipatthana; Skt. smrtyupasthana);

2. Empat Daya Upaya Benar (Pali. sammappadhana; Skt. samyakpradhana);

3. Empat Dasar Kekuatan Batin (Pali. iddhipada; Skt. rddhipada);

4. Lima Macam Kemampuan (indriya: Pali. saddha, viriya, sati, samadhi, panna; Skt. sraddha, virya, smrti, samadhi, prajna);

5. Lima Macam Kekuatan (bala: saddha, viriya, sati, samadhi, panna; Skt. sraddha, virya, smrti, samadhi, prajna);

6. Tujuh Faktor Pencerahan Agung (Pali. bojjhanga; Skt. bodhianga);

7. Delapan Ruas pada Jalan Mulia (Pali. ariyamagga; Skt. aryamarga).

9. Ada tiga jalan untuk mencapai Bodhi atau Pencerahan Agung berdasarkan pada kemampuan/kecakapan dan kapasitas dari masing-masing individu, yaitu: sebagai seorang Sravaka (Yang melaksanakan ajaran Sammasambuddha ), sebagai seorang Pratyekabuddha (Buddha Yang tidak memberikan pengajaran) dan sebagai seorang Samyaksambuddha (Buddha Yang Sempurna). Kami menerima jika mengikuti karir seorang Boddhisattva adalah untuk menjadi seorang Samyaksambuddha dalam rangka menyelamatkan yang lain, merupakan sesuatu yang tertinggi, mulia dan paling heroik. Tetapi ketiga kondisi ini berada dalam Jalan yang sama, tidak berada dalam jalan yang berbeda. Sesungguhnya, Sandhinirmocana Sutra, salah satu sutra Mahayana yang penting, secara jelas dan tegas mengatakan bahwa mereka yang mengikuti garis Sravaka-yana (Wahana Sravaka) atau garis Pratyekabuddha-yana (Wahana Pratyekabuddha) atau garis Para Tathagata (Mahayana) mencapai Nibbana tertinggi dengan Jalan yang sama, dan oleh karena itu bagi mereka semua hanya ada satu Jalan Pemurnian (visuddhi-marga) dan hanya satu Pemurnian (visuddhi) dan tidak ada yang lain, dan oleh karena itu mereka bukanlah jalan yang berbeda dan pemurnian yang berbeda, dan oleh karena itu Sravakayana dan Mahayana merupakan Satu Wahana, Satu Yana (eka-yana) dan bukanlah wahana atau yana yang berbeda.

10. Kami mengakui bahwa dalam negara-negara yang berbeda ada perbedaan mengenai tata cara hidup dari para biarawan Buddhis, kepercayaan dan praktik, upacara dan ritual-ritual, seremonial, adat istiadat dan kebiasaan umat Buddha yang bersifat umum. Bentuk eksternal (luar) dan ekspresi ini semestinya tidak boleh dicampuradukkan/dikelirukan (perlu dipisahkan) dengan esensi/inti ajaran-ajaran Sang Buddha.

Rumusan Lain

Ada beberapa tokoh ataupun sarjana Buddhis yang juga merumuskan persamaan ajaran antara Theravada dan Mahayana yang isinya sebagian besar sama dengan rumusan WBSC.

Y.M. K. Sri Dhammananda memberikan rumusan seperti berikut:

1. Kedua aliran menerima Buddha Sakyamuni sebagai Guru.

2. Empat Kebenaran Arya adalah sama persis dikedua aliran.

3. Jalan Utama Berunsur Delapan adalah sama persis dikedua aliran.

4. Paticcasamuppada atau ajaran akan Sebab-Musabab Yang Bergantungan adalah sama persis dikedua aliran.

5. Kedua aliran menolak ide akan “makhluk tertinggi” yang menciptakan dan mengatur dunia ini.

6. Kedua aliran menerima Anicca, Dukkha, Anatta dan Sila, Samadhi, Panna tanpa adanya perbedaan.

Rumusan dari Oo Maung:

1. Kesamaan dalam menerima Empat Kebenaran Ariya.

2. Kesamaan dalam menerima Jalan Utama Berunsur Delapan.

3. Kesamaan dalam menerima Paticcasamuppada atau Sebab-Musabab Yang Bergantungan.

4. Kesamaan dalam menerima Anicca, Dukkha, Anatta.

5. Kesamaan dalam menerima Sila, Samadhi, Panna.

6. Kesamaan dalam menolak konsep tuhan tertinggi.

Rumusan dari Tan Swee Eng:

1. Buddha Sakyamuni merupakan pendiri Buddhisme yang asli dan berdasarkan sejarah.

2. Tiga Corak Universal (Dukkha, Anica, dan Anatta), Empat Kebenaran Arya, Jalan Utama Berunsur Delapan, dan 12 rantai Sebab-Musabab Yang Bergantungan, merupakan fondasi dasar bagi seluruh aliran Buddhisme termasuk aliran Tibet dari Vajrayana.

3. Tiga unsur latihan yaitu Kemoralan (sila), Meditasi (samadhi) dan Kebijaksanaan (prajna) adalah hal yang universal bagi semua aliran.

4. Pengorganisasian Ajaran Buddha / Dharma terbagi menjadi tiga klasifikasi (Sutra/Sutta, Vinaya, dan sastra) terdapat pada kanon Buddhis di berbagai negara.

5. Konsep pikiran melampaui materi. Pikiran sebagai hal yang mendasar dari penjinakan dan kontrol adalah hal yang fundamental bagi semua aliran.

Penutup

Dengan rumusan pokok-pokok dasar pemersatu ini, diharapkan kita dapat memahami ciri khas ajaran yang ada dalam Buddhisme yang membedakan agama besar ini dengan agama atau kepercayaan lainnya yang ada di dunia. Kita dapat memahami bahwa meskipun terdapat perbedaan antar aliran ( dalam Buddha-Dhamma ), namun memiliki ajaran pokok yang sama yang apabila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dapat mengarahkan kita pada akhir penderitaan, Nibbana / Nirvana.

–End–

Catatan:

1. Berlindung dalam Tiratana bukan berarti berserah diri. Buddha dalam pengertian Guru pembimbing, dimana Sakyamuni Buddha adalah Buddha Sejarah. Dan Buddha dalam pengertian Kesadaran. Dhamma dalam pengertian Kebenaran ataupun Ajaran Buddha. Sangha dalam pengertian persaudaraan / perkumpulan para Bhikkhu Ariya.

2. tuhan yang dimaksud adalah yang memiliki definisi: berpersonal, pencipta semesta, prima causa, ayah/ibu dari semua makhluk, paramatman, yang maha segalanya.

3. Savakabuddha: pencapaian Pencerahan melalui mendengar ajaran dari Sammasambuddha. Paccekabuddha: pencapaian Pencerahan dengan usaha sendiri tanpa mengajar. Sammasambuddha: pencapaian pencerahan dengan usaha sendiri dan mengajar.

Literatur:

1. The Heritage of the Bhikkhu; Walpola Rahula; New York, Grove Press, 1974; hal. 100, 137-138.

2. Two Main Schools of Buddhism; K. Sri Dhammananda; Brickfields, Kuala Lumpur.

3. Common Ground Between Theravada and Mahayana Buddhism; Tan Swee Eng; http://www.buddhanet.net

4. Theravada Versus Mahayana; Oo Maung, 2006

Posted in BUDDHA | 9 Comments »

TAMASYA KE PALEMBANG

Posted by ratanakumaro pada Maret 19, 2009

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa “

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Para sahabat yang tercinta, dibawah ini adalah foto-foto perjalanan saya ke Palembang selama tugas audit disana, pada tanggal 16 Februari s/d 28 Februari 2009 kemarin.

Ada dua objek wisata yang cukup menarik yang sempat saya kunjungi ditengah-tengah pekerjaan yang cukup ‘penat’, yaitu :

1. Pulau Kemaro / Kemarau ( yang melegenda )

2. Jembatan AMPERA dan Sungai MUSI

Berikut liputan tamasya kali ini ke kota Palembang, bersama saya, Upasaka Ratana Kumaro.

1. LEGENDA PULAU KEMARO

Pulau Kemaro dari Seberang Sungai Musi

Pulau Kemaro dari Seberang Sungai Musi

Pulau ini terletak di tengah2 sungai Musi, tepatnya lima (5) Km dari Benteng Kuto Besak. Bentuk pulau ini mirip sebuah kapal ( yah, kalau di pas-pas-in mirip juga sih, hihihi … 😉  ) . Kata beberapa tokoh masyarakat, Pulau itu memang terbentuk dari kapal yang dipakai Tan Boen An kala itu. Disebut “Kemarau”, karena, meskipun arus air pasang-naik , seberapapun tingginya, pulau ini tak pernah tenggelam, meskipun daerah-daerah di pinggir sungai Musi sebagian terendam air pasang naik tersebut.

Alkisah, beberapa ratus tahun yang lampau ( kabarnya sih di jaman kerajaan Sriwijaya Palembang, tapi entahlah, tetap masih simpang siur hingga sekarang ) , hiduplah seorang bernama Tan Boen An dan Siti Fatimah.

SRIWIJAYA PALEMBANG

SRIWIJAYA PALEMBANG

Tan Boen An adalah anak saudagar kaya etnis Tiong Hoa, yang beragama Buddha ( Buddha atau Kong Hu Cu ? Nggak jelas juga. Tapi melihat tradisi yang berkembang di pulau kemaro sana sih, lebih condong ke  Tri-Dharma, sebab ada kelenteng dan patung-patung Dewa. Kalau Buddha, seharusnya sebuah vihara dan tanpa patung-patung Dewa ). Sedangkan Siti Fatimah, adalah seorang perempuan asli Palembang, dan memeluk agama Islam. Siti Fatimah dikisahkan seorang anak raja kala itu ( kerajaan apa ? tidak jelas juga… 😉  ).

SELAMAT DATANG "MAKMUR SEJAHTERA"!

SELAMAT DATANG "MAKMUR SEJAHTERA"!

Tan Boen An dan Siti Fatimah saling jatuh cinta. Namun malang, cinta mereka ditentang oleh kedua orang tua mereka masing-masing. Dikisahkan, ayah Siti Fatimah mengajukan syarat yang berat kepada kedua orang tua Tan Boen An, yaitu keharusan disediakannya sembilan buah Guci besar berisi emas murni. Keluarga Tan Boen An , demi cinta-kasihnya kepada anak bungsu mereka tersebut ( Tan Boen An ), akhirnya menyetujuinya. Orang tua Tan Boen An kemudian mengirimkan kapal berisi sembilan guci besar berisi emas-emas murni dari Jawa menuju Pa Lie Bang ( Palembang ; Legenda menyatakan keluarga Tan Boen An tinggal di Jawa ). Demi menjaga keselamatan guci-guci yang berisi emas tersebut, dari para perompak / bajak laut, maka orang-tua Tan Boen An menutupi kesembilan guci itu dengan berbagai macam sayur-sayuran.

Setibanya kapal pengangkut kesembilan guci itu di Palembang, Tan Boen An segera memeriksa guci-guci itu. Betapa terkejutnya, Tan Boen An yang tidak mengerti itu, ternyata hanya menemukan sayur-sayuran di atas guci-guci dan di sebagian dalam guci2 tersebut. Karena marah, Tan Boen An membuang kesembilan guci itu kedalam sungai Musi. Ketika akhirnya ia mengetahui bahwa Guci-guci itu benar-benar berisi emas, maka menyesallah ia, dan Tan Boen An pun menceburkan diri ke dalam sungai Musi untuk mengambil emas-emas itu dengan tujuan akan diberikan kepada orang tua Siti Fatimah sebagai “peningset” atau mahar untuk melamar anak mereka. Melihat Tan Boen An menceburkan dirinya kedalam sungai Musi, Siti Fatimah pun tak tahan diri dan ikut menceburkan diri kedalam sungai Musi yang dalam. Konon, sebelum tenggelam, Siti Fatimah berkata,” Jika nanti suatu ketika timbul tanah di tengah sungai ini, maka itulah makam kami berdua”. Dan semenjak itu, Tan Boen An serta Siti Fatimah tak pernah ditemukan.

Makam Tan Boen An dan Siti Fatimah ; bersandingan

Makam Tan Boen An dan Siti Fatimah ; bersandingan

Dan hingga kini, jasad mereka berdua, dipercaya bersemayam di Pulau Kemarau tersebut, sebuah delta yang menyembul di tengah-tengah Sungai Musi. Yang menyebabkan Pulau ini melegenda, karena, konon diatas makam kedua “mempelai” tersebut secara ajaib menyembul batu karang alami, sementara di mana-mana di lokasi Pulau Kemarau yang lain, tidak terdapat batu karang tersebut.

Karang di Pedupaan ; Dipercaya sebagai Kepala Naga

Karang di Pedupaan ; Dipercaya sebagai Kepala Naga

Mitos-mitos menyatakan, batu karang itu merupakan “tanda” yang dibuat oleh “Dewa Naga” yang menguasai pulau tersebut. Oleh karena itu, masyarakat Tiong Hoa yang menganut Kong Hu Cu dan Tao-isme disana, mendirikan kelenteng untuk memuja Dewa Naga dan beberapa Dewa lainnya. Dibawah ini adalah foto salah satu patung dewa di dalam kelenteng yang berhasil saya foto. Foto ini saya ambil diam-diam alias mencuri, karena sebenarnya para pengunjung tidak diperbolehkan untuk mengambil foto-foto terhadap objek-objek apapun di dalam kelenteng. Foto karang diatas ( yang dianggap kepala naga ) dan foto patung dewa ini saya ambil sambil mengendap-endap, hehehe… .

Patung Dewaw di dalam Kelenteng ; Tidak boleh dipotret!!

Patung Dewaw di dalam Kelenteng ; Tidak boleh dipotret!!

Sedangkan foto yang dibawah ini, adalah “POHON CINTA”. Konon, siapaun yang belum bertemu jodoh / pasangannya, tinggal mengukirkan namanya di pohon tersebut, dan tak lama lagi jodoh pun menghampiri. Atau, untuk pasangan yang berniat mengikat cinta sehidup semati, dianjurkan menuliskan nama mereka berdua di cabang-cabang pohon tersebut, konon dijamin awet, langgeng seumur hidup. Mengenai kebenaran mitos ini, terserah bagaimana anda semua menyikapinya 😉

POHON CINTA ; Hayoo, siapa yang pengin ketemu Jodoh ?? ;)

POHON CINTA ; Hayoo, siapa yang pengin ketemu Jodoh ?? 😉

Pulau Kemarau, kini lebih merupakan tempat peribadatan bagi pemeluk Tri-Dharma, dan tidak tepat jika dikatakan tempat ini merupakan objek wisata Buddhis, meskipun terdapat sebuah Pagoda dari tradisi Buddha-Mahayana.

Pagoda tradisi Mahayana di Pulau Kemarau

Pagoda tradisi Mahayana di Pulau Kemarau

Saya , bersama rekan-rekan sekantor, menyempatkan untuk berkeliling sungai Musi di sekitar Pulau Kemarau menggunakan sebuah perahu motor. Dan banyak panorama-panorama alam yang saya potret waktu itu,seperti misalnya, foto dibawah ini saya ambil sembari menaiki perahu motor mengelilingi pulau kemaro. Pagoda tampak megah berdiri dikelilingi perairan sungai Musi.

Keliling naik Perahu ; potret dulu ah pagodanya! :D :mrgreen:

Keliling naik Perahu ; potret dulu ah pagodanya! 😀 :mrgreen:

Sedangkan yang berikut ini, setelah kami berkeliling, sampailah kembali di “dermaga” pulau kemaro.

Abis keliling naik perahu, sampai lagi deh di dermaga ;)

Abis keliling naik perahu, sampai lagi deh di dermaga 😉

2. JEMBATAN AMPERA dan SUNGAI MUSI

Sedangkan yang ini, adalah foto-foto saya di atas Jembatan Ampera, sembari naik mobil, diantar oleh sopir klien / perusahaan yang saya audit.

Jembatan AMPERA

Jembatan AMPERA

Jembatan AMPERA, menurut cerita orang-orang Palembang, merupakan hadiah dari pemerintahan Jepang pada tahun 1960-an, sebagai tanda balas-jasa dan permintaan maaf atas penjajahan yang mereka lakukan terhadap bangsa Indonesia.

Meskipun dibangun pada tahun 1960, namun, jembatan ini sangat kokoh dan megah, tidak kalah dengan ( atau bahkan melebihi ) jembatan-jembatan yang dibangun insinyur Indonesia masa kini.

Seringkali, kapal-kapal pengangkut barang yang melewati kolong jembatan ini menabrak jembatan Ampera karena tingginya melebihi ukuran seharusnya. Namun, jembatan ini tetap kokoh berdiri.

Musi dari atas Ampera

Musi dari atas Ampera

Sedangkan sungai Musi, siapa yang tak pernah mendengarnya ? Sungai Musi, adalah sungai terbesar / terlebar di Indonesia, dengan panjang 750 Km. Untuk sungai yang berada di bawah jembatan Ampera ini saja, lebarnya sekitar 10 kali lebar sungai Banjir-Kanal di Semarang. Padahal, di daerah sungai yang lain, lebarnya, hampir bagaikan sebuah lautan, sangat luas. Pemandangan ini saya ambil dari dalam mobil di atas jembatan Ampera.

Musi dari Atas Ampera

Musi dari Atas Ampera

Sungai Musi membelah kota Palembang menjadi dua. Seberang Ilir di bagian utara, dan Seberang Ulu di bagian selatan. Sejak jaman Sriwijaya, Sungai Musi telah menjadi sarana utama transportasi masyarakat.

Musi dari atas Ampera

Musi dari atas Ampera

Demikian liputan perjalanan tamasya saya di Palembang. Semoga membawa sepercik manfaat bagi penyegaran batin ( refreshing ).

Salam Damai dan Cinta Kasih…,

“ Sabbe Satta Avera Hontu, Abyapajja hontu, Anigha Hontu, Sukhi attanam Pariharantu “

( “Semoga semua makhluk bebas dari permusuhan, kemauan jahat, dan terlepas dari penderitaan, semoga semua makhluk dapat mempertahankan kebahagiaannya sendiri tersebut )

Upa. RATANA KUMARO ( Ratya Mardika Tata K. )

–SEMARANG, 19  MARET 2009 –

Posted in WISATA | 29 Comments »

TANDA-TANDA PENCERAHAN

Posted by ratanakumaro pada Maret 3, 2009

TANDA-TANDA PENCERAHAN

“ Maggan’ atthangiko settho

Saccanam caturo pada

Virago setho dhammanam

Dipadananca cakkhuma

( Dhammapada, Magga Vagga ; 20:1 )

Arti :

Diantara semua Jalan, Jalan Suci yang beruas delapan

adalah yang terbaik.

Diantara semua Kebenaran, Empat Kesunyataan Mulia adalah yang termulia;

Dantara semua keadaan batin, Nibbana adalah yang tertinggi;

Diantara semua makhluk yang berkaki dua dan dapat melihat,

Sang Buddha adalah yang Teragung “

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa “


Salam Damai dan Cinta Kasih … ,


PERUMPAMAAN IKAN-IKAN DI LAUT


Bagaikan ikan-ikan yang mengapung-apung di lautan, terombang-ambing kekanan dan kekiri, timbul, tenggelam, lahir, hidup, mencecap sedikit kesenangan, kemudian menelan kepahitan-kepahitan, menderita sakit, penuaan, dan akhirnya mati, inilah lautan kehidupan yang kita semua, para makhluk, telah arungi sekian lama, dalam masa yang sudah tak dapat terbayangkan dan terhitung lagi. Inilah “Samsara”.

Saya akan membuat perumpamaan samsara sebagai lautan dan para manusia sebagai ikan-ikan di laut, disertai semua makhluk yang ada di dalam lautan tersebut.

Alkisah, hiduplah seekor ikan yang mengorbankan kehidupannya demi mencari jawaban akan “misteri” besar dari kehidupan para ikan ini, “dari mana” dan “akan kemana” ? Bagaimanakah kebahagiaan itu ? Dimanakah kebahagiaan itu berada ? Seekor ikan tersebut lalu merumuskan suatu penjelasan, bahwa kehidupan ini diciptakan dan dirancang oleh sekelompok DEWAN IKAN yang hidup dan tinggal di ATAS, di alam SURGA, yang masing-masing mempunyai tugasnya sendiri-sendiri untuk membawa keteraturan bagi kehidupan para ikan.

Dijelaskan olehnya, bahwa ada DEWAN IKAN yang bertugas mencurahkan air hujan. Ada juga DEWAN IKAN yang bertugas menyalakan petir, bintang, dan rembulan. Ada DEWAN IKAN yang bertugas menjadi bidan bagi kelahiran telur-telur ikan, dan dijelaskan olehnya ada banyak DEWAN-DEWAN IKAN yang lain, yang mempunyai tugas masing-masing.

Atas penjelasan ikan tersebut, lalu diadakanlah hari-hari khusus untuk memuja dan menyembah DEWAN-DEWAN IKAN yang tinggal di segenap penjuru alam semesta ini, disertai upacara-upacara kurban hewan, yang disembelih khusus untuk para dewan ikan ini, disertai penguncaran doa-doa tertentu, dan sesajian-sesajian lainnya. Tujuan dari ritual-ritual ini semua adalah,supaya kelak, setelah kematian para ikan, mereka dapat terlahir di alam SURGA tempat para DEWAN IKAN berada, yang konon tempat ini adalah kekal-abadi, akhir dari segala penderitaan di dunia para ikan.

Namun, sebanyak apapun sesajian diberikan kepada dewan-dewan ikan ini, sebesar apapun daging dan darah kurban dipersembahkan kepada mereka, sesering apapun doa-doa diuncarkan pada dewan ikan ini, para ikan tetap tidak terbebas dari penderitaan samsara. Setelah kematian para ikan ini, sebagian memang ada yang terlahir di surga karena timbunan pikiran dan perbuatan bajiknya, sebagian lagi kembali ke alam para ikan, sebagian merosot turun ke alam-alam rendah, seperti alam para hantu ikan, dan alam neraka yang penuh penderitaan.

Lalu, suatu ketika, terlahirlah seekor ikan lainnya, yang demi kebahagiaan para ikan lainnya, mengorbankan hidupnya untuk mencari jawaban-jawaban hakiki akan arti kehidupan, meraba-raba sepercik kebenaran. Akhirnya ia membuat pengajaran, bahwa, “Kita ini diciptakan oleh IKAN YANG MAHA KUASA, YANG TUNGGAL, YANG MAHA ESA, yang meskipun tidak mampu kita lihat, tidak mampu kita dengar, namun kita dapat MELIHAT KARYA-NYA, MERASAKAN KEHADIRANNYA lewat alam tempat kita hidup ini!” . Lalu ikan yang cukup bijak ini, mengajarkan untuk mulai mengadakan ritual-ritual memuja IKAN YANG MAHA KUASA, YANG MAHA ESA ini. Sembahyang-sembahyang mulai ia ajarkan. Ikan ini juga mempertunjukkan keajaiban-keajaiban yang membuat ikan-ikan yang lain takjub, seperti meloncat-loncat terbang di atas laut, menyembuhkan ikan-ikan lain yang sekarat, meliuk-liuk di atas ombak, berdiri dengan tenang dalam pusaran air, dan lain-lain. Semua hal yang ia lakukan ini , bertujuan untuk meyakinkan, bahwa jalan keluar dari semua penderitaan didalam “lautan-kehidupan-para-ikan” adalah dengan memuja dan menyembah IKAN YANG MAHA ESA ini, supaya kelak setelah mati para ikan dapat kembali dan diterima di sisi-NYA, di alam SURGA, yang konon kekal-abadi, akhir dari penderitaan dialam dunia para ikan.

Namun , pengajaran dari ikan yang baik hati ini pun, ternyata tidak terbukti kebenarannya. Sebab, meskipun berdoa, menyembah, memuji sesosok IKAN YANG MAHA KUASA yang tidak jelas keberadaannya ini, para ikan-ikan tersebut hingga sekarang masih dilingkupi penderitaan samsara. Mujizat-mujizat selalu dinantikan oleh ikan-ikan pemuja IKAN YANG MAHA KUASA tersebut, hingga nampaknya takhayul menjadi hal yang akrab dengan mereka, mitos-mitos tercipta karena kepercayaan ini. Setelah kematian para ikan tersebut, sebagian memang terlahir di alam surga, sebagian kembali lagi ke-alam para ikan, sebagian lainnya merosot turun ke-alam para hantu ikan dan alam neraka.

Setelah sekian lama, para ikan yang terlahir di alam surga, juga yang telah berada cukup lama di alam para hantu dan alam neraka, dan yang sebelumnya selalu terlahir menjadi ikan-ikan lagi, kini berkumpul kembali. Sebagian ada yang melanjutkan tradisinya memuja dewan-dewan ikan, dan ada juga yang memilih menyembah “Ikan Yang Maha Esa”. Namun, sebanyak apapun perbuatan-perbuatan baik mereka kumpulkan, sesering apapun mereka menguncarkan doa-doa kepada para Dewan Ikan maupun kepada Ikan Yang Maha Tunggal, siklus lahir dan mati tidak juga berakhir.

Dari para ikan tersebut, ada yang kemudian menyadari, bahwa kehidupan dan alam kehidupan, TIDAK-KEKAL, termasuk alam surga sekalipun. Para ikan yang bijak ini kemudian mulai mencari jawaban akan hakekat kehidupan dan alam kehidupan, bagaimanakah caranya, supaya siklus lahir dan mati dalam “samsara” ini dihentikan? Inilah awal dari pandangan-benar yang memantik terbitnya sinar-terang bagi terpecahkannya semua ilusi dunia ; inilah awal dari sebuah : PENCERAHAN.


LAHIRNYA SAMMA-SAMBUDDHA


Demi menolong para makhluk dari samsara sebagaimana ilustrasi diatas, maka, telah terlahirlah para Buddha ; para SAMMA-SAMBUDDHA, di alam manusia ini, yang sebelumnya selama empat (4) asankkheyya-kappa dan seratus-ribu ( 100.000 ) kappa menyempurnakan kesepuluh-kesempurnaan ( Dasa Paramitha : 1. Dana-Paramitha ; kesempurnaan kemurahan hati / pemberian, 2. Sila-paramitha ; kesempurnaan moralitas dan kebajikan , 3. Sacca-Paramitha ; kesempurnaan kebenaran, 4. Viriya-paramitha ; kesempurnaan usaha yang penuh semangat demi pencapaian pencerahan sempurna, 5. Nekkhamma ; kesempurnaan pelepasan “diri” dari ikatan keduniawian, 6. Panna-Paramitha ; kesempurnaan kebijaksanaan, yaitu kemampuan untuk memahami hakekat kehidupan, menembus semua ilusi dunia, 7. Khanti-Paramitha ; kesempurnaan kesabaran dan ketabahan dalam menahan penderitaan, juga kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi serangan nafsu-nafsu indriya, kemarahan, kerinduan, 8. Metta-Paramitha ; kesempurnaan cinta-kasih tanpa batas kepada semua makhluk-makhluk di alam semesta, 9. Aditthana-Paramitha ; kesempurnaan tekad demi tercapainya pencerahan sempurna, 10. Upekkha-Paramitha ; kesempurnaan keseimbangan batin dalam menghadapi deraan badai sukha dan dukha dari keduniawian ) demi terpupuknya “kekuatan-adidaya” untuk menembus semua ilusi, memecahkan “penjara” yang memerangkap semua makhluk dalam samsara.

Atas jasa para Buddha ini, maka akhirnya para manusia “YANG-TELAH-MATANG” ( atau ikan-ikan yang telah menyadari bahwa kehidupan dan semua alam kehidupan adalah tidak kekal,sebagaimana contoh kelompok ikan terakhir dalam paragraph terakhir perumpamaan para ikan diatas ) mampu memahami dengan jelas, bahwa dalam dunia ini sesungguhnya tersimpan “EMPAT-KESUNYATAAN-MULIA” ( Cattari-Ariya-Saccani ), yaitu bahwa :


1. Hidup itu adalah penderitaan ( dukha-sacca ; kebenaran suci tentang penderitaan sebagai hakekat dari kehidupan )

2. Sebab penderitaan adalah nafsu-keinginan ( samudaya-sacca ; kebenaran suci tentang penyebab lahirnya penderitaan )

3. Lenyap / berakhirnya penderitaan ; NIBBANA ( Nirodha-sacca ; kebenaran suci tentang padamnya penderitaan saat pencapaian “Nibbana” )

4. Jalan menuju berakhirnya penderitan ; Ariya-Atthangika-Magga ( Magga-sacca ; kebenaran suci tentang satu-satunya “Jalan” yang mengantar pada pengakhiran penderitaan, pengakhiran dari siklus kelahiran dan kematian dalam samsara )


Untuk menjelaskan mengenai “dukkha-sacca”, maka Sang-Buddha membabarkan “ti-lakkhana” ; tiga corak dunia , ialah :


1. Sabbe sankhara anicca ; segala sesuatu yang tercipta / terbentuk / tersusun dari unsur-unsur adalah TIDAK-KEKAL.

2. Sabbe sankhara dukkha : segala sesuatu yang tercipta / terbentuk / tersusun dari unsur-unsur adalah PENDERITAAN.

3. Sabbe Dhamma Anatta : segala sesuatu , baik yang tercipta maupun yang tidak tercipta / tidak terbentuk / tidak tersusun dari unsur-unsur, adalah : TANPA-AKU, TANPA-DIRI ; Anatta berarti : tidak-ada AKU, tidak-ada PRIBADI.


Empat Kesunyataan Mulia serta Ti-lakkhana , bukanlah ciptaan para Buddha. Namun, kedua hal itu adalah kesunyataan, hokum abadi yang ada di dalam samsara. Hanya saja, sebelum terlahirnya seorang Samma-Sambuddha, kesunyataan tersebut bagaikan tertutup reruntuhan dan ilalang, sehingga para makhluk tidak mampu mengenalinya.

Penembusan terhadap keempat “Kesunyataan-Mulia” tersebut diatas, itulah PENCERAHAN.

Seorang penjudi, sebelum mencapai “pencerahan”, akan selalu tergila-gila dengan kehidupan perjudiannya. Ia merasa ketagihan, tergiur, meskipun sudah berkali-kali merasakan dan mengetahui, bahwa perjudian yang ia geluti semakin hari hanyalah semakin menjerumuskan hidupnya pada kehancuran, pada penderitaan. Ia tahu, bahwa dengan bergelut dalam dunia perjudian, pada akhirnya, apa yang akan ia temukan hanyalah : KEHANCURAN, KEMATIAN.

Suatu ketika, ia mencapai Pencerahan, dan ia-pun menyadari “Empat-Kesunyataan-Mulia” dari kehidupan perjudian tersebut :

1. Perjudian adalah Penderitaan.

2. Sebab penderitaan adalah nafsu keinginan untuk terus berjudi.

3. Lenyapnya penderitaan dari perjudian

4. Jalan menuju lenyapnya penderitaan dari perjudian

Disaat penembusan ini, ia membebaskan dirinya dari jerat-jerat perjudian lagi. Ia menyadari, bahwa perjudian adalah KOSONG, kosong dari kebahagiaan sejati. Ia kini telah menjadi seseorang yang “tercerahkan” ; ia telah menjadi seseorang yang merealisasi NIBBANA!


PENCERAHAN DALAM JALAN BUDDHA,

” Eso’va maggo nath’anno

Dassanassa visuddhiya

Etahmhi tumhe patipajjatha

Marass’etam pamohanam

( Dhammapada, Magga Vagga ; 20:2 )

ARTI :

Hanyalah melalui Jalan ini, bukan yang lain,

yang dapat menyucikan seseorang.

Ikutilah Jalan ini dan melenyapkan semua kejahatan

tanpa sisa. “

Keselamatan, telah dipahami orang-orang sesuai persepsinya sendiri-sendiri. Dalam artikel terdahulu, telah saya uraikan mengenai dua jenis keselamatan ; 1. Keselamatan relatif, 2. Keselamatan absolut.  Keselamatan relatif, adalah keselamatan yang menyatakan , kelak setelah mati, kita kembali di sisi Tuhan, di alam surga, dan hidup penuh kesenangan, menikmati hak bidadari-bidadari cantik, dan lain-lainnya lagi.  Keselamatan seperti ini, sesungguhnya adalah keselamatan relatif, karena, alam surga sesungguhnya tidak kekal-abadi. Kelak, setelah masa hidup di alam surga ini habis, katakanlah 1.000.000 tahun, setelah itu, makhluk2 di alam surga itu akan terlontar kembali, terseret arus samsara, bisa naik ( ke alam-alam para Brahma ), atau, bisa juga turun ke alam-alam bawah.

Keselamatan-absolut adalah, keselamatan dari siklus lahir dan mati, keselamatan dari samsara. Dan keselamatan-absolut seperti ini, sepanjang yang saya ketahui, dari hasil belajar berbagai ajaran ataupun sistem filsafat, hanya Sang Buddha-lah yang mampu menunjukkan Jalannya ; jalan pengakhiran dari samsara.

Hanya seorang SAMMA-SAMBUDDHA yang mampu menemukan Empat-Kesunyataan-Mulia. Ti-lakkhana ( Anicca-Dukkha-Anatta ) juga hanya bisa ditembus oleh seorang Samma-Sambuddha, ditembus oleh seorang Arahanta. Tidak ada seorang guru-guru kerohanian dan pemimpin aliran-aliran ajaran lain yang mampu memahami ini ; baik “Empat-Kesunyataan-Mulia” maupun “Anicca, Dukkha, Anatta”. Oleh karena itu, Pencerahan-Sempurna hanya mampu diraih oleh seorang Samma-Sambuddha ( Samma-Sambuddha memiliki arti, Buddha-Sempurna yang mencapai pencerahan tanpa bantuan seorang Guru, atau entitas apapun diluar diri-Nya ), dan Samma-Sambuddha ini yang mampu menunjukkan pada semua makhluk jalan mencapai pencerahan , menuju berakhirnya penderitaan. Hanya dengan menempuh jalan yang ditunjukkan oleh Samma-Sambuddha-lah semua makhluk akan mampu mengakhiri siklus lahir dan mati yang penuh penderitaan didalam samsara, yang berarti meraih : PENCERAHAN.

Kebanyakan guru-guru ‘spiritual’ selain Sang Buddha, [ terutama di jaman Sang Buddha ] , umumnya hanya mengajarkan bagaimana menyembah sesosok “Dewa” Yang Maha-Kuasa, yang hidup di alam surga yang “dianggap”-nya kekal-abadi ; . Guru-guru kerohanian yang ada tersebut, lebih banyak mengajarkan peraturan-peraturan hidup keduniawian dan kerohanian, bagaimana melakukan ritual-ritual religi, persembahan korban-korban suci, sebagaimana dilakukan brahmana-brahmana di jaman Sang Buddha .

Para guru-guru kerohanian dan para pembabar aliran-aliran spiritual tersebut juga ada yang memiliki “kesaktian”, dan mampu mengajarkan pencapaian kesaktian. Namun, yang patut kita ingat, KESAKTIAN BUKAN TANDA DARI PENCERAHAN. Kesaktian, hanyalah “kekayaan-duniawi”, sedangkan PENCERAHAN, adalah DIATAS DUNIAWI ; Adi-Duniawi. Pencerahan adalah saat dimana kita mampu membongkar semua ilusi dunia ( anicca, dukkha, anatta ) dan mengakhiri siklus lahir dan mati, mengatasi semua mitos-mitos dan takhayul-takhayul.



TAHAP-TAHAP TERCAPAINYA PENCERAHAN

Kita semua, para manusia dan semua makhluk, belum bisa mengakhiri siklus lahir dan mati yang penuh penderitaan dalam samsara, karena kita masih belum bisa memecahkan belenggu-belenggu yang menjerat kita di alam samsara ini. Para makhluk yang belum mencapai pencerahan, disebut sebagai “Putujhana” , yang meskipun ada yang termasuk “nice-person”, dan telah “Alobha ( tidak-serakah ), Adosa ( tidak-mempunyai-kebencian ), dan Amoha ( tidak-gelap-batin / batinnya-telah-terang-oleh-Dhamma )”, namun belumlah menjadi seorang “ARIYA”, yang telah mencapai tingkat kesucian / pencerahan.

Belenggu-belenggu tersebut diatas yang harus kita patahkan, untuk mengakhiri penderitaan dalam samsara dan mencapai pencerahan, ada sepuluh belenggu banyaknya ; ialah “Dasa samyojana” ( Sepuluh belenggu ). Dasa-samyojana ini terbagai menjadi dua ; 1). Lima belenggu yang pertama adalah “Orambhagiya”, atau belenggu-belenggu rendah, 2). Sedang Lima belenggu berikutnya, merupakan “Uddhambhagiya”, atau belenggu-belenggu tingkat tinggi .

Kesepuluh-belenggu tersebut adalah sebagai berikut :

1. Sakkaya-ditthi ; Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa, atau “AKU” yang kekal , anggapan tentang adanya “Diri”, “Pribadi”, “Aku”.

Pada era pertangahan perkembangan Buddhis di India, sebuah debat public yang tersohor tentang ‘TIADA-DIRI” terjadi antara seorang Bhikkhu terpelajar dan Mahadeva, sebagai berikut ini :

Bhikkhu terpelajar ( B ) : “Selamat pagi, siapakah kamu ? “

Mahadeva ( M ) : “Mahadeva”

(B) : “ Siapakah “Mahadeva” ? “

(M) : “ Aku “.

(B) : “ Siapakah “AKU” ? “

(M) : “ Anjing “.

(B) : “ Siapakah “ANJING” ? “

(M) : “ KAMU!”

(B) : “ Siapakah “KAMU” ? “

(M) : “ Mahadeva ”

(B) : “ Siapakah “MAHADEVA” ? “

(M) : “ Aku “

(B) : “ Siapakah “AKU” ? “

(M) : “ Anjing “.

(B) : “ Siapakah “ANJING” ? “

(M) : “ KAMU!”

Demikianlah debat tersebut berlangsung berulang-ulang hingga terciptalah ledak tawa para pemirsa yang akhirnya memberikan pandangan-cerah kepada si Bhikkhu terpelajar itu, ia menyadari bahwa ia telah membiarkan dirinya beberapa kali disebut sebagai “ANJING” oleh Mahadeva yang cerdik itu.

Hal serupa ini juga terjadi di tanah Jawa, yaitu dalam kisah pertentangan antara SIDI JINAR ( Syekh Siti Jenar ) dengan WALI-SEMBILAN ( Sembilan Wali ummat Islam di tanah Jawa ). Berkali-kali Syaikh Sidi Jinar menyatakan, kira-kira sebagai berikut :

“ SIDI JINAR ( Syekh Siti Jenar ) tidak ada, yang ada Ingsun ( Aku )“, “Ingsun ( Aku ) tidak ada , yang ada ALLAH”, “ ALLAH TIDAK ADA, yang ada INGSUN ( Aku ) “, “INGSUN ( AKU ) tidak ada, yang ada SIDI JINAR ( Syekh Siti Jenar ) ” …dst. “

Sidi Jinar ( Syekh Siti Jenar ), oleh ummat Islam dipercaya sebagai muslim yang menganut Al-Hallaj, namun beberapa fakta sejarah yang “tidak-dipopulerkan”, menunjukkan bahwa SIDI JINAR ( Syekh Siti Jenar ) sesungguhnya sisa-sisa rohaniwan Buddha, yang dianggap oleh Wali-Sanga mengadakan “perlawanan” terhadap hegemoni Islam terhadap rakyat Jawa kala transformasi radikal besar-besaran dari Majapahit ke Demak. Itu sebabnya, debat tersebut diatas sangat bernuansa Buddhis ; ANATTA, itulah yang ingin disampaikan Sidi Jinar .

2. Vicikiccha ; Keragu-raguan yang skeptis pada Sang-Ti-Ratana : Buddha, Dhamma, Sangha. Disaat kita meragukan kebenaran Sang Buddha, Dhamma dan Sangha, apakah benar Sang Ti-Ratana tersebut menunjukkan jalan pembebasan, akhir dari siklus lahir dan mati yang penuh penderitaan di ke-31 alam kehidupan, ini adalah bentuk dari “Vicikiccha”. Keraguan tentang adanya kehidupan yang lampau dan kehidupan yang akan datang ( tumimbal-lahir ), juga keraguan kepada hukum sebab-akibat yang saling bergantungan ( hukum kamma dan paticca-samupada ), adalah juga bentuk dari “vicikiccha”.

Segera setelah menyadari anicca,dukkha, anatta dan saat itu kita telah mengenal Sang Buddha, maka, kita kemudian akhirnya akan dengan mantap mengikuti Jalan Sang Buddha. Setelah melihat, menghayati, dan membuktikan bahwa Jalan yang disingkapkan oleh Sang Buddha ini benar adanya dan merupakan satu-satunya jalan menuju “Nibbana” ( Skt. : Nirvana ; Nirvana bukanlah “surga”. Alam-alam surga, masih dalam lingkup “samsara”, sedangkan “Nibbana” , adalah diluar itu. Baca artikel “Empat-Kesunyataan-Mulia” dib log ini juga ). Dengan saddha ( keyakinan ) penuh terhadap Sang Ti-Ratana : Buddha, Dhamma, dan Sangha, dan senantiasa bertekun dalam Jalan yang ditunjukkan oleh Sang Buddha, anda kini telah mematahkan belenggu Vicikiccha.

3. Silabbata-paramasa ; Kemelekatan pada suatu kepercayaan bahwa hanya dengan melaksanakan aturan-aturan dan upacara keagamaan seseorang dapat mencapai kebebasan.


A. SOTAPATTI-MAGGA-PHALA

Siapapun kita, baik seorang Bhikkhu maupun ummat awam ( upasaka/upasika ), yang setelah bertekun dalam Dhamma , menempuh “Jalan Ariya Beruas Delapan” dan kemudian telah mampu memecahkan ketiga belenggu tersebut diatas ini, maka anda adalah seorang “Sotapatti-Magga-Phala” ; anda adalah seorang “PEMENANG-ARUS”.

Setelah tahap Sotapatti tercapai, kita telah benar-benar mampu melenyapkan pandangan sesat tentang adanya “ATTA” / “AKU” / “PRIBADI”. Kini, dukkha-sacca ( kebenaran mulia tentang penderitaan sebagai hakekat dunia ) akan dengan sangat jelas terlihat dan mampu kita tembus. Sebelum tahap sotapatti ini, maka dukkha-sacca akan sangat sulit untuk ditembus. Seseorang rohaniwan yang menolak dukkha-sacca ini menandakan ia benar-benar orang yang belum mencapai pencerahan, apalagi jika ia belum bisa menembus “Ti-lakkhana” : Anicca, Dukkha, Anatta, semakin tampaklah bahwa ia belum berhasil menembus tingkat pertama dari “Pencerahan” ; Sotapatti-Magga dan Phala.

Sotapanna / Sotapatti-Magga dan Phala adalah makhluk suci, yang paling banyak tujuh ( 7 ) kali akan terlahir kembali sebagai manusia , dan setelah itu PASTI ia akan mampu melenyapkan kesepuluh belenggu ( sebagai kesinambungan dari latihannya semenjak tercapainya tingkat kesucian / pencerahan yang pertama kali ) pada kelahiran terakhirnya sebagai manusia dan akan mencapai Arahatta-Magga dan Phala ( tingkat pencerahan tertinggi ; saat kesepuluh belenggu terpecahkan dan kita mencapai pembebasan sempurna dari samsara ).


4. Kamacchanda / Kamaraga ; Keinginan terhadap pemenuhan nafsu-nafsu indriya. Jika anda masih berangan-angan akan kesenangan sexual, dengan dalih apapun, baik dalih pemenuhan kebutuhan biologis maupun untuk berketurunan, meneruskan garis silsilah,  maka, itu semua sesungguhnya adalah bentuk-bentuk dimana anda belum bisa mematahkan “Kamacchanda / Kamaraga ”.

5. Byapada ; Dendam dan dengki. Jika anda menyimpan dendam terhadap seseorang, karena ia menyakiti anda di masa lalu, atau jika anda membawa dendam dari kehidupan lampau anda ; atau juga dimana setiap kali anda mudah tersinggung atas ucapan, pikiran, dan perlakuan orang lain, maka ini adalah bentuk-bentuk dimana anda belum bisa mematahkan belenggu “Byapada”.


B. SAKADAGAMI-MAGGA-PHALA

Siapapun kita, baik seorang Bhikkhu maupun ummat awam ( upasaka/upasika ), yang setelah bertekun dalam Dhamma , menempuh “Jalan Ariya Beruas Delapan” dan kemudian telah mampu memecahkan ketiga belenggu tersebut diatas (1) sakkaya-ditthi, (2) vicikicchã, dan (3) silabbata-parãmãsa, ditambah telah melemahkan kedua belenggu berikutnya, yaitu : (4) kãma-rãga dan (5) vyãpãda, maka anda adalah seorang “Sakadagami-Magga-Phala” ; anda adalah seorang “YANG KEMBALI SEKALI LAGI”. Disebut “Yang-Kembali-Sekali-Lagi”, karena kita paling banyak akan terlahir satu (1) kali lagi sebagai manusia untuk menuntaskan mematahkan kesepuluh belenggu ( sebagai kesinambungan jalan yang kita tempuh ) dan mencapai pembebasan-sempurna dari samsara, mencapai tingkat “Arahatta-Magga-Phala”.


C. ANAGAMI-MAGGA-PHALA

Ini adalah tingkat pencerahan yang ketiga. Siapapun kita , baik seorang Bhikkhu maupun ummat awam ( Upasaka / Upasika ) yang telah mampu melenyapkan / mematakah kelima belenggu tersebut diatas ( dari belenggu kesatu sampai dengan kelima ), akan mencapai tingkat pencerahan ini. Seorang Anagami disebut juga sebagai “YANG-TAK-KEMBALI-LAGI”, sebab, disaat kita telah mencapai tingkat Anagami, kita tidak akan pernah terlahir lagi sebagai seorang manusia, juga tidak akan sekedar terlahir di alam surga-surga kammadhatu, namun, kita akan langsung menuju “SUDDHAVASA”, yaitu dalam lingkup alam RUPA-JHANA, tepatnya JHANA IV ( Baca lagi artikel “Alam Semesta III : Kosmologi Buddhis” di blog ini juga ).

Di alam Suddhavasa ini, kita akan menyempurnakan diri untuk mematahkan sisa-sisa belenggu dari kesepuluh belenggu ( dasa-samyojana ) dan akhirnya setelah berhasil mematahkan semua belenggu, kita akan mencapai tingkat pencerahan tertinggi, Arahatta-Magga-Phala.


6. Rupa-Raga ; Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk. Alam bentuk ( rupa-raga ) dicapai oleh seseorang apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan Samadhi dan telah mencapai Jhana I, Jhana II, Jhana III, atau Jhana IV. Bila anda melekat pada Jhana-Jhana yang anda capai sebagai hasil Samadhi mendalam anda, dan menganggap ini adalah puncak dari segala pencapaian, menganggap bahwa ini adalah pembebasan, maka ini adalah bentuk dari belum mampunya anda mematahkan belenggu “Rupa-raga”.

7. Arupa-Raga ; kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa bentuk. Alam tanpa bentuk ( arupa-raga ) dicapai oleh seseorang apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan samadhi telah mencapai Arupa Jhana I, II, III, dan Arupa Jhana IV. Jika anda menganggap bahwa Arupa-raga ( pencapaian Arupa-Jhana ) merupakan pencapaian tertinggi, merupakan kesaktian yang luar biasa yang mampu membebaskan anda dari samsara / keduniawian, maka ini menandakan bahwa anda belum mampu mematahkan belenggu “Arupa-raga”.

8. Mana ; Kesombongan atau Ego, Perasaan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Kesombongan atas Kasta, menganggap diri sendiri lebih tinggi daripada orang lain, maka ini adalah pertanda anda belum mampu mematahkan belenggu “Mana”.

9. Uddhaca ; Kegelisahan. Suatu kondisi batin yang haus sekali akan dosa ( kebencian ), lobha ( keserakahan akan keindriyaan ), dan moha ( kebodohan / kegelapan batin ), karena yang bersangkutan belum mencapai tingkat kebebasan sempurna ( ARAHAT ) ; adalah pertanda bahwa anda belum mampu mematahkan belenggu “Uddhaca”.

10. Avijja ; Kebodohan atau ketidaktahuan. Kebodohan atau ketidaktahuan ini menunjukkan seseorang yang tidak mengerti mana “Jalan”, mana yang “Bukan-Jalan”. Seseorang yang masih terbakar oleh “tiga-api” ( Keserakahan akan keindriyaan, Kebencian, dan, Kegelapan batin ) termasuk dalam golongan orang yang mengalami ‘ketidaktahuan’. Jika kita masih beranggapan bahwa harta keduniawian adalah sumber kebahagiaan, menganggap bahwa dengan memiliki benda-benda tertentu ( baik benda-benda duniawi, seperti mobil, motor, rumah, HP, dll ; maupun benda-benda surgawi , seperti jimat, benda-benda pusaka ; keris, tombak, pedang sakti, baju zirah milik Dewa, dan lain-lain ) menyebabkan tercapainya kebahagiaan, maka ini suatu pertanda bahwa kita belum mampu mematahkan belenggu “Avijja”.


D. ARAHATTA-MAGGA-PHALA.

Orang suci yang telah menyelesaikan semua usahanya untuk melenyapkan semua belenggu yang mengikatnya. Bila ia meninggal dunia, ia tidak akan terlahir di alam mana pun. Ia akan parinibbana.

Arahat telah melenyapkan sepuluh belenggu (1 – 10).

Terdapat empat macam arahat:

1. Sukhavipassako Arahat.

Arahat yang tidak memiliki jhana/abhinna, hanya mencapai kesucian dengan melaksanakan vipassana bhavana.

2.Tevijjo Arahat.

Arahat yang memiliki tiga pengetahuan (vijja):

a. Pubbenivasanussati Nana; memiliki kesadaran akan kelahirannya yang lampaU.

b. Dibbacakkhu Nana; memiliki “mata dewa” sehingga dapat mengetahui kelahiran makhluk di alam dewa atau peta setelah meninggal.
c. Asavakhaya Nana; memiliki pengetahuan bagaimana cara melenyapkan asava (kekotoran batin yang paling dalam).


3. Chalabhino Arahat :

a sampai c seperti di atas ditambah dengan tiga kemampuan lain, yaitu:


d. Cetopariya Nana (paracitta vijja Nana); dapat membaca atau mengetahui pikiran makhluk lain.

e. Dibbasota Nana (telinga dewa); dapat mendengar percakapan suara dari alam dewa, brahma, dan apaya.

f. Iddhividha Nana, yang terdiri dari:

1. Adhitthana Iddhi, kekuatan kehendak mengubah tubuh dari satu menjadi banyak, dari banyak menjadi satu lagi.

2. Vikubbana Iddhi, kemampuan `menyalin rupa’ menjadi anak kecil, raksasa, rupa buruk, menjadi tak tampak.

3. Manomaya Iddhi. Kemampuan `mencipta’ dengan kekuatan pikiran. Misalnya: mencipta istana, taman, binatang. Lamanya ciptaan itu tergantung dari kekuatan pikiran.

4. Nana vipphara Iddhi. Pengetahuan menembus ajaran yang sulit.

5. Samadhivipphara Iddhi. Kekuatan konsentrasi untuk:

i. menembus dinding

ii. meyelam ke dalam bumi seperti di air

iii. berjalan di atas air seperti di tanah datar

iv. masuk ke dalam api tanpa hangus

v. terbang seperti burung

4. Patisambhidappatto Arahat.

Arahat yang memiliki empat patisambhida (pengetahuan sempurna):

a) Atthapatisambhida.

Pengertian mengenai arti/maksud ajaran dan dapat memberi penerangan secara rinci, hampir seperti Sang Buddha.


b) Dhammapatisambhida.

Pengertian mengenai intisari dari ajaran dan mampu mengajukan pertanyaan ajaran yang mendalam.


c) Niruttipatisambhida.

Pengertian mengenai bahasa dan mampu menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti oleh pendengar.


d) Patibhanapatisambhida.

Pengertian mengenai kebijaksanaan dan mampu menjawab spontan bila ada pertanyaan mendadak


Orambhãgiya-samyojana ( belenggu kesatu s/d kelima ) dan Uddhambhãgiya-samyojana ( belenggu keenam s/d kesepuluh ) telah dimusnahkan oleh seorang Arahat.


PENCERAHAN DAPAT DIREALISASI SAAT INI JUGA

Pencerahan, bukanlah sesuatu yang hanya bisa dinikmati setelah kematian. Pencerahan, bukan pula dicapai setelah dinyatakan oleh suatu “makhluk-AdiKuasa” bahwa kita telah mencapainya. Pandangan tersebut adalah pandangan spekulatif. Pencerahan dapat dicapai dalam kehidupan kita sebagai manusia, dan pencerahan inipun diketahui oleh orang yang bersangkutan pula.

Disaat kita telah bertekun sekian lama dalam Dhamma, maka kita sendiri akan bisa merasakan, telah sampai dimanakah “Tingkat-Pencerahan” kita, sebagaimana disabdakan oleh Sang Buddha dalam Parinibbana Sutta, berkenaan dengan Bhikkhu Salba :


“ Mengenai Bhikkhu Salba, O, Ananda, dengan melenyapkan kekotoran-kekotoran batinnya selama hidupnya itu, maka ia telah memperoleh kebebasan batiniah dari noda, telah mendapatkan kebebasan melalui kebijaksanaan, dan hal itu telah dipahami dan disadarinya sendiri. “


Demikianlah tahapan-tahapan dari pencapaian PENCERAHAN. Siapapun yang bertekun dalam Dhamma, pasti akan mampu merealisasikan keempat tingkat pencerahan ini. Dhamma yang luhur ini dapat dibuktikan, dipuji para bijaksana, dan patut kita arahkan kedalam batin kita masing-masing, demi tercapainya pembebasan sempurna dari penderitaan samsara.


Salam Damai dan Cinta Kasih…,


“ Sabbe Satta Avera Hontu, Abyapajja hontu, Anigha Hontu, Sukhi attanam Pariharantu “


( “Semoga semua makhluk bebas dari permusuhan, kemauan jahat, dan terlepas dari penderitaan, semoga semua makhluk dapat mempertahankan kebahagiaannya sendiri tersebut )

RATANA KUMARO

–SEMARANG, 03 MARET 2009 –

Posted in BUDDHA | 27 Comments »