RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

Archive for Januari, 2009

DILEMA : MENJADI BHIKKHU ATAU UMMAT AWAM ?

Posted by ratanakumaro pada Januari 23, 2009

DILEMA :


MENJADI BHIKKHU,


ATAU UMMAT AWAM ?

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”

Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

Tak jarang ummat Buddha yang mengalami kebimbangan, bingung menentukan pilihan hidup, apakah mau hidup berumah-tangga, atau menjadi Bhikkhu ? Dari kebimbangan itu, ada pula yang mempunyai solusi alternative, yaitu, menempuh kehidupan selibat ( tidak menikah dan berkeluarga ) namun tidak bergabung menjadi anggota Sangha.

Haruskah menjadi Bhikkhu ? Burukkah menjadi sekedar “ummat-awam” ? Bermanfaatkah menempuh hidup ke-Bhikkhu-an ? Adakah ummat awam yang berguna dan mampu meraih tingkat kesucian tertentu ? Artikel saya kali ini bertujuan untuk membantu menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Artikel ini, banyak saya sunting dari buku “RIWAYAT AGUNG PARA BUDDHA” ( The Great Chronicle of Buddhas ), sebuah Maha-karya dari Yang Mulia Tipitakadhara Mingun Sayadaw ( Myanmar ).

SULIT MEMPEROLEH KONDISI YANG MEMUNGKINKAN UNTUK MENJADI SEORANG BHIKKHU

Menjadi Bhikkhu, memang bukanlah hal yang mudah, ini yang harus pertama kali kita pahami dan mengerti. Menjadi Bhikkhu tidaklah semudah menjadi “Pendeta”. Dalam Buddhisme, seorang dapat menjadi Pendeta, atau Pandhita, dengan persyaratan tertentu, dengan aturan-aturan moralitas tertentu, namun masih dapat hidup secara duniawi dan berumah-tangga.

Sedangkan Bhikkhu, tidak dapat hidup dengan cara demikian ( duniawi dan berumah tangga ) apalagi hidup sembarangan, seorang Bhikkhu harus menjaga Sila ( moralitas ) yang sangat ketat yang terdiri dari 227 Sila Patimokha. Hal-hal sederhana yang membedakan Bhikkhu dengan ummat awam misalnya saja, seorang Bhikkhu tidak boleh menonton televisi, mendengarkan musik, menonton hiburan, berjalan-jalan ke mall, menggunakan wewangian, menghias diri, mencari uang / mengumpulkan kekayaan, dan lain-lain hal yang sifatnya keduniawian. Tidak memiliki apapun, bahkan melepaskan segala “kepemilikan”. Sebuah latihan yang “berat” bagi orang-orang yang masih memiliki sifat keduniawian setipis apapun.

Seseorang juga tidak begitu saja bisa memperoleh suatu kondisi yang mendukung baginya menjadi seorang Bhikkhu. Seorang anak, yang masih mempunyai kewajiban untuk merawat orang tuanya, membalas jasa kepada orang tuanya, belum tentu dapat menjadi Bhikkhu, bila orang-tuanya tidak mengijinkannya menjadi seorang Bhikkhu. Sang Buddha mengajarkan hal ini, setelah mempertimbangkan permohonan Raja Suddhodana( berkaitan dengan penahbisan Pangeran Nanda dan cucunda , Rahula ) ketika ia berkunjung ke Kapilavathu. Syair Sang Buddha mengenai hal ini adalah sebagai berikut :

“Na bhikkhave ananunnàto màtàpituhi putto pabbàjetabbo; yo pabbàjeyya àpatti dukkatassa.”

Para bhikkhu, seorang anak yang tidak mendapat persetujuan kedua orangtuanya tidak boleh ditahbiskan menjadi sàmaõera ataupun bhikkhu. Siapa pun yang menahbiskan anak ini, adalah pelanggaran.”

Bahkan makhluk luar biasa seperti Sang Buddha Gotama yang telah menerima ramalan yang pasti pada kehidupan-kehidupan lampaunya sejak masa Buddha Dipankarà hanya dapat bertemu dengan dua puluh empat Samma-Sambuddha ( setidaknya tercatat telah ada 27 Samma Sambuddha sebelum Sang Buddha Gotama ) yang amatlah sedikit jika dibandingkan dengan lamanya waktu yang Beliau jalani, dimana dalam dua puluh empat masa Buddha tersebut, Beliau hanya mempunyai kesemptan sebanyak sembilan kali kehidupan untuk menjadi seorang bhikkhu.

Sembilan kehidupan lampau beliau saat berkesempatan menjadi Bhikkhu adalah sebagai berikut :

(i) Sebagai Raja Dunia Vijitavi yang kemudian menjadi bhikkhu pada masa Buddha Kondanna,

(ii) Sebagai Brahmana Suruci dan kemudian menjadi bhikkhu pada masa Buddha Mangala,

(iii) Sebagai Brahmana Uttara dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha Sumedhà,

(iv) Sebagai raja dunia dan kemudian menjadi bhikkhu pada masa Buddha Sujàta,

(v) Sebagai Raja Vijitavi dan kemudian menjadi bhikkhu pada masa Buddha Phussa,

(vi) Sebagai Raja Sudassana dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha Vessabhu,

(vii) Sebagai Raja Khemà dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha Kakusandha,

(viii) Sebagai Raja Pabbata dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha Konàgamana,

(ix) Sebagai Jotipàla, si pemuda brahmana dan kemudian menjadi bhikkhu pada massa Buddha Kassapa.

Di sembilan kehidupan lampau ini, Bodhisatta menerima ramalan dari para Buddha di masanya bahwa kelak beliau akan menjadi seorang Samma-Sambuddha.

Selain kesembilan kehidupan beliau sebagai Bhikkhu tersebut, maka rincian kehidupan-kehidupan lampau beliau dimana beliau menyempurnakan parami untuk merealisasi ke-Buddha-an dan menerima ramalan dari para Buddha bahwa beliau kelak akan menjadi seorang Samma-Sambuddha adalah sebagai berikut :

Lima Kehidupan Sebagai Petapa

(i) Setelah menerima ramalan pertama dari Buddha Dipankarà, sewaktu Beliau adalah seorang petapa bernama Sumedhà, Beliau menerima ramalan yang sama sewaktu:

(ii) Sebagai Petapa Jatila pada masa Buddha Naradha,

(iii) Sebagai Petapa Susima pada masa Buddha Atthadassi,

(iv) Sebagai Petapa Maïgala pada masa Buddha Siddhattha,

(v) Sebagai Petapa Sujàta pada masa Buddha Tissa.

Demikianlah Beliau menerima ramalan dalam lima kehidupan sebagai petapa.

Lima Kehidupan Sebagai Umat Awam

(i) Sebagai umat awam, Brahmana Atideva, pada masa Buddha Revata,

(ii) Sebagai umat awam, Brahmana Ajita, pada masa Buddha Sobhita,

(iii) Sebagai umat awam, orang kaya bernama Jatila, pada masa Buddha Padumuttara,

(iv) Sebagai umat awam, pemuda Brahmana Kassapa, pada masa Buddha Piyadassi,

(v) Sebagai umat awam, Raja Arindama, pada masa Buddha Sikhi.

Demikianlah Beliau menerima ramalan dalam lima kehidupan sebagai umat awam.

Dua Kehidupan Sebagai Nàga

(i) Sebagai Atula, raja nàga, pada masa Buddha Sumanà,

(ii) Sebagai raja nàga lagi, juga bernama Atula, pada masa Buddha Vipassi.

Demikianlah Beliau menerima ramalan dalam dua kehidupan sebagai nàga.

Tiga Kehidupan Lainnya

(i) Dalam satu kehidupan sebagai Sakka, raja dewa, pada masa Buddha Dhammadassã,

(ii) Sebagai raja raksasa, pada masa Buddha Anomadassã, dan

(iii) Sebagai raja singa, pada masa Buddha Paduma.

Demikianlah Beliau menerima ramalan dalam tiga kehidupan lainnya.

Dengan memetik pelajaran dari kehidupan-kehidupan lampau Sang Bodhisatta, kita dapat melihat bahwa mempunyai kesempatan untuk menjadi seorang bhikkhu adalah sangat sulit, seperti yang tertulis dalam Kitab, “Pabbajitabhavo dullabo.” “Menjadi bhikkhu adalah sangat sulit dicapai.” Adalah sangat sulit menjadi bhikkhu bagi Bodhisatta yang telah menerima ramalan pasti, dan akan jauh lebih sulit lagi bagi orang-orang biasa, demikian tentunya.

Pernyataan “Adalah sulit untuk menjadi bhikkhu” mempunyai pengertian “Sulit sekali memperoleh kondisi yang memungkinkan terjadinya situasi tersebut”. Setiap kali Siddhatta Gotama, dalam kehidupan lampaunya berkesempatan bertemu Buddha, beliau jarang sekali berkesempatan untuk menjadi bhikkhu, karena situasi dan kondisinya tidak mendukung untuk menempuh jalan tersebut.

Jika menjadi Bhikkhu adalah sulit, mungkin kemudian timbul pertanyaan, “ mengapa banyak sekali jumlah Bhikkhu dan Arahanta pada masa munculnya seorang Buddha ? ” , misalnya saja pada masa Buddha Dipankara. Buddha Dipankara mengunjungi kota Rammavati disertai empat ratus ribu ( 400.000 ) Arahanta, dan berdiam di vihara Sudassana, saat Sumedha ( Sumedha adalah kehidupan lampau dari Sang Buddha Gotama di masa Buddha Dipankara ) sedang menikmati kebahagiaan Jhana di dalam hutan. Atau juga, pada masa Buddha Gotama. Suatu ketika, Buddha Gotama melakukan perjalanan ke Kapilavathu dengan diiringi dua puluh ribu ( 20.000 ) Arahanta. Jawabnya ( dari pertanyaan tersebut diatas ), yang menyebabkan banyaknya Arahanta pada masa kemunculan seorang Buddha ialah karena memiliki situasi yang mendukung, tidak saja untuk menjadi bhikkhu, tetapi juga untuk mencapai kesucian Arahatta. Dalam usaha apa pun, adalah sulit untuk mencapai hasil yang diharapkan jika situasinya tidak mendukung; sebaliknya jika situasinya mendukung, usaha apa pun akan memberikan hasil yang diharapkan.

Hanya karena mereka ( para Arahanta ) telah memiliki Kesempurnaan yang telah terpenuhi pada kehidupan-kehidupan lampau mereka, maka mereka tidak hanya dapat menjadi bhikkhu namun juga mencapai kesucian Arahatta.

HANYALAH SEORANG MANUSIA YANG DAPAT MENJADI BHIKKHU

Mereka yang memiliki dua faktor berikut adalah yang berkesempatan sangat besar untuk dapat menjadi bhikkhu:

(1) “terlahir dalam masa adanya ajaran Buddha dan menjadi “Buddh’uppàda dullabha” yang sangat jarang terjadi, dan

(2) “Kehidupan sebagai manusia yang sangat jarang terjadi,” manusatta dullabha.

Tidak mungkin menjadi bhikkhu pada masa tidak adanya ajaraan Buddha; juga tidak mungkin menjadi bhikkhu jika ia adalah dewa, sakka, brahmà atau makhluk di alam sengsara meskipun mereka terlahir dalam masa adanya ajaran Buddha.

Buddh’uppàda dullabha

Dari dua faktor ini, terlahir dalam masa adanya ajaran Buddha yang disebut Buddh’uppàda Navama adalah lebih sulit terjadi. Hanya jika muncul seorang Buddha, maka terdapat ajaran Buddha; dan untuk munculnya seorang Buddha, membutuhkan waktu paling sedikit empat asankhyeyya dan seratus ribu kappa sejak diterimanya ramalan bahwa seseorang tersebut pasti akan menjadi Buddha, dan dalam waktu yang sangat lama tersebut ia harus dengan tekun memenuhi Kesempurnaan dengan empat jenis pengembangan. Ketika akhirnya muncul seorang Buddha, dan ajarannya berkembang luas, jika seseorang tidak terlahir sebagai manusia, atau jika terlahir sebagai manusia namun menghadapi rintangan, ia tidak akan dapat menjadi bhikkhu.

Dengan pertimbangan ini, dapat dikatakan bahwa menjadi bhikkhu adalah lebih jarang terjadi daripada mendengarkan ajaran-ajaran Buddha di dunia ini.

Mereka yang karena jasa-jasa kebajikannya memiliki dua faktor ini dapat menerima ajaran Buddha dan terlahir menjadi manusia, yang dua-duanya sulit dicapai, tidak akan menemui kesulitan dalam usahanya menjadi bhikkhu yang dikondisikan oleh kedua faktor ini. Meskipun sepertinya mudah menjadi bhikkhu melihat banyaknya Arahanta pada masa Buddha Dipankarà yang memiliki dua faktor ini, yaitu terlahir pada masa yang terdapat ajaran Buddha dan terlahir sebagai manusia, namun sebenarnya sangatlah sulit untuk memiliki dua penyebab langsung yang mendukung untuk menjadi bhikkhu, oleh karena itu dikatakan, “Menjadi bhikkhu adalah sulit.”

Bodhisatta, Sumedhà Sang Petapa ( Sumedha adalah salah satu kehidupan lampau Sang Buddha Gotama, yaitu pada masa Buddha Dipankara ), sebelum bertemu dengan Buddha Dipankarà selama masa mudanya, telah melakukan kebajikan dengan mendanakan semua harta kekayaannya, meninggalkan kehidupan rumah tangga, dan menjadi petapa, menjalani peraturan pertapaan dan mempraktikkan meditasi samatha dan berusaha mencapai Jhàna dan Abhinnà; Setelah melakukan semua hal tersebut, Beliau menerima ramalan pasti dari Buddha Dipankarà dan kemudian Beliau merenungkan Sepuluh Kesempurnaan ( Parami ) dan berusaha memenuhi Kesempurnaan tersebut yang dimulai dari dàna selama empat asankhyeyya dan seratus ribu kappa sampai pada kehidupannya sebagai Pangeran Vessantara.

Kita, sebagai ummat Buddha yang telah mengerti dengan benar betapa beruntungnya dapat bertemu dengan Dhamma, maka sebaiknya kita dengan sungguh-sungguh dan segenap hati mempraktekkan dhamma ini dalam kehidupan sehari-hari, meskipun kita tidak memilih jalan hidup sebagai seorang Bhikkhu. Ini kita sadari betul, karena diluar waktu sekarang ini, dimana waktu itu tidak ada Dhamma dari seorang Samma-sambuddha, maka tidak ada lagi kesempatan mengenal dan mempraktekkan Dhamma dengan baik dan benar.

Sehubungan dengan hal ini, Atthaka Nipàta dari Angutara Nikàya menjelaskan delapan waktu atau kehidupan dalam samsàra yang disebut sebagai ‘waktu yang salah (waktu yang tidak menguntungkan)’ atau ‘kehidupan yang tidak beruntung.’ Di pihak lain, saat-saat munculnya Buddha disebut sebagai saat yang menguntungkan dari kehidupan yang beruntung.

Delapan kehidupan yang tidak beruntung adalah:

(1) Kehidupan di alam yang terus-menerus mengalami penderitaan (Niraya); ini tidak menguntungkan karena makhluk-makhluk di alam ini tidak dapat melakukan kebajikan karena mengalami penderitaan dan siksaan terus-menerus.

(2) Kehidupan di alam binatang; ini tidak menguntungkan karena makhluk-makhluk di alam ini selalu ketakutan sehingga tidak dapat melakukan kebajikan dan tidak dalam posisi yang dapat mengenali kebajikan dan kejahatan.

(3) Kehidupan di alam peta; ini tidak menguntungkan karena makhluk-makhluk di alam ini tidak dapat melakukan kebajikan karena selalu merasakan kepanasan dan kekeringan, dan menderita kelaparan dan kehausan terus-menerus.

(4) Kehidupan di alam brahmà yang tidak memiliki kesadaran (asannàsatta-bhumi): ini tidak menguntungkan karena makhluk-makhluk di alam ini tidak dapat mendengarkan Dhamma karena tidak memiliki indra pendengaran.

(5) Kehidupan di wilayah seberang dunia: ini tidak menguntungkan karena makhluk-makhluk di wilayah tersebut tidak dapat dikunjungi oleh para bhikkhu, bhikkhuni, dan siswa-siswa Buddha lainnya; ini adalah tempat bagi mereka yang memiliki tingkat kecerdasan yang rendah; makhluk-makhluk di sana tidak dapat mendengarkan Dhamma meskipun mereka memiliki indra pendengaran

(6) Kehidupan di mana seseorang menganut pandangan salah: ini tidak menguntungkan karena seseorang yang menganut pandangan salah tidak dapat mendengar dan mempraktikkan Dhamma meskipun ia hidup di Wilayah Tengah tempat munculnya Buddha dan gema Dhamma Buddha berkumandang di seluruh negeri tersebut.

(7) Terlahir dengan indra yang cacat: ini tidak menguntungkan karena sebagai akibat perbuatan buruk yang dilakukan di 27 kehidupan lampaunya, kesadaran kelahirannya tidak memiliki tiga akar yang baik, yaitu: ketidakserakahan, ketidakbencian, dan ketidakbodohan (ahetuka-patisandhika); oleh karena itu ia memiliki indra yang cacat seperti penglihatan, pendengaran, dan lain-lain. Dan dengan demikian tidak dapat melihat seorang Buddha dan mendengarkan ajarannya atau mempraktikkan Dhamma yang diajarkan meskipun ia terlahir di Wilayah Tengah dan tidak menganut pendangan salah.

(8) Kehidupan di mana tidak ada kemunculan Buddha: ini tidak menguntungkan karena pada saat itu seseorang tidak dapat berusaha mempraktikkan Tiga Latihan moralitas (sila), konsentrasi pikiran (samàdhi), dan kebijaksanaan (pannà) meskipun ia terlahir di Wilayah Tengah, memiliki indra yang baik dan menganut pandangan benar yaitu percaya akan hukum kamma.

Tidak seperti delapan kehidupan yang tidak menguntungkan ini (akkhana), ada kehidupan ke sembilan yang menguntungkan yang disebut “Buddh’uppàda-navamakkhana” , karena dalam kehidupan ini, muncul seorang Samma-sambuddha. Terlahir dalam waktu demikian dengan indra yang baik dan menganut pandangan benar memungkinkan seseorang untuk berusaha mempraktikkan Dhamma yang diajarkan Buddha. Kehidupan ke sembilan ini, di mana muncul seorang Buddha (Buddh’uppàda-navamakkhana) meliputi seumur hidup Buddha sejak ia mengajarkan Dhamma dan setelah Sang Buddha parinibbana, selama ajarannya masih tumbuh dan berkembang dengan subur.

Karena umat Buddha sekarang ini yang terlahir sebagai manusia dengan indra yang baik dan menganut pandangan benar hidup selagi Buddhadhamma masih berkembang, mereka telah bertemu dengan kesempatan yang sangat jarang ; Buddh’uppàda-navamakkhana. Terlepas dari kesempatan yang membahagiakan ini, jika mereka mengabaikan kebajikan mempraktikkan sila, samàdhi, dan pannà, mereka akan melewatkan kesempatan emas. Kesempatan untuk terlahir dalam delapan kehidupan yang tidak menguntungkan ini (akkhana) adalah sangat besar, sedangkan kesempatan terlahir pada masa berkembangnya ajaran Buddha adalah sangat kecil. Hanya sekali dalam sejumlah tidak terhitung banyaknya kappa yang sangat lama sekali seorang Buddha muncul dan kesempatan Buddh’uppàda-navamakkhana bagi mereka yang beruntung adalah sangat sulit diperoleh.

Dalam kesempatan yang sangat menguntungkan ; Buddh’uppàda-navamakkhana ini, mereka harus merenungkan dengan sunguh-sungguh, “Bagaimanakah kita dapat mengetahui ajaran Buddha? Kita tidak boleh melewatkan kesempatan emas Buddh’uppàda-navamakkhana ini. Jika terlewatkan, kita akan menderita dalam waktu yang lama di empat alam sengsara.”

Dengan memahami hal ini, sebagai makhluk yang beruntung yang telah bertemu dengan Buddh’uppàda-navamakkhana, suatu kesempatan yang sangat jarang terjadi ini, kita harus berusaha mengembangkan tiga kebajikan mulia sila, samàdhi, dan pannà yang diajarkan oleh Buddha sampai tercapainya Kearahattaan.

Manusatta dullabha ( Sulitnya terlahir menjadi Manusia )

Dalam Bàlapandita Sutta, Sunnàata Vagga dari Uparipannàsa (Majjhima Nikàya) ada perumpamaan mengenai seekor kura-kura buta sehubungan dengan kalimat, “Manussattabhavo dullabho,” “Sulitnya terlahir menjadi manusia.” Misalnya ada seseorang yang melemparkan sebuah pelampung yang berlubang di tengahnya ke tengah lautan. Pelampung tersebut akan mengapung dan hanyut ke barat jika tertiup angin timur dan ke hanyut ke timur jika tertiup angin barat; hanyut ke selatan jika tertiup angin utara dan hanyut ke utara jika tertiup angin selatan. Dalam lautan tersebut, ada seekor kura-kura buta yang naik ke permukaan air seratus tahun sekali. Kemungkinan kepala kura-kura tersebut dapat masuk ke dalam lubang pelampung yang hanyut tersebut adalah jarang sekali. Sebagai makhluk yang telah mengalami penderitaan di alam sengsara dalam salah satu kehidupannya, adalah seratus kali lebih sulit terlahir menjadi manusia. Banyak teks-teks lain dalam Tipitaka yang menjelaskan sulitnya terlahir menjadi manusia.

Di satu pihak, kelahiran sebagai manusia sulit dicapai seperti dijelaskan sebelumnya, namun di pihak lain, ada ajaran seperti di dalam kitab Apadana, Vimanavatthu, dan lain-lain, alam manusia dan dewa dapat dicapai dalam beberapa kehidupan bahkan hanya dengan satu kali berdana bunga; dan ini bisa dianggap bahwa “kelahiran sebagai manusia tidaklah sulit tetapi mudah.” Kitab Apadana dan yang sejenisnya ditujukan kepada mereka yang sulit terlahir sebagai manusia karena kurangnya persyaratan yang diperlukan; Kitab Balanpandita dan sejenisnya ditujukan kepada mereka yang mungkin terlahir sebagai manusia dalam beberapa kelahiran hanya dengan berdana bunga; sulitnya menjadi bhikkhu juga harus dipahami dengan cara yang sama.

Sehubungan dengan kelahiran sebagai manusia, walaupun dapat dianggap (jika seseorang tidak merenungkan dalam-dalam) bahwa tidaklah sulit terlahir menjadi manusia jika melihat bahwa populasi manusia di dunia malah bertambah hari demi hari, harus dimengerti bahwa populasi makhluk-makhluk di empat alam sengsara adalah jauh lebih banyak daripada manusia; ditambah lagi di alam binatang terdapat tidak terhitung banyaknya spesies; jika kita hitung jumlah semut saja, jika dibandingkan dengan menusia, semut sudah pasti jauh lebih banyak. Membandingkan jumlah manusia dan jumlah makhluk di empat alam sengsara, jelas bahwa terlahir sebagai manusia adalah suatu hal yang sangat jarang terjadi.

Demikian pula, adalah sulit sekali bergabung dalam Sangha dalam masa kehidupan seorang Buddha di dunia. Mereka yang potensial untuk menjadi bhikkhu dalam masa kehidupan seorang Buddha, tidak hanya sekadar bhikkhu namun juga potensial mencapai kesucian Arahatta; oleh karena itu jumlahnya juga agak sedikit. Namun bukan berarti bahwa adalah mudah untuk menjadi bhikkhu hanya karena bertemu dengan seorang Buddha dalam situasi yang mendukung.

Menyadari hal ini, maka umat Buddha yang baik sekarang ini memiliki dua berkah:

I. Berkah karena terlahir pada masa ajaran Buddha sedang berkembang di dunia, yang sangat jarang terjadi, dan,

II.Berkah lainnya adalah terlahir sebagai manusia yang memiliki pandangan benar.

Dan berkah inilah yang harus kita manfaatkan baik-baik, entah dengan cara hidup berumah-tangga, selibat-awam ( non-Bhikkhu ), maupun hidup mem-biara, menjadi seorang petapa-Buddhis / Bhikkhu.

Apakah Seorang Bhikkhu bermanfaat Bagi Masyarakat ?

Suatu ketika Sangarava si brahmana menghampiri Sang Buddha dan berbicara kepada Beliau demikian:

“Kami adalah kaum brahmana, Guru Gotama: kami mempersembahkan kurban dan mengajak yang lain untuk mempersembahkan kurban. Orang yang mempersembahkan kurban sendiri dan orang yang mengajak orang lain untuk melakukannya sama-sama terlibat dalam praktek yang berjasa, yaitu persembahan kurban yang dapat menyebar pada banyak orang. Namun anggota keluarga ini atau itu yang meninggalkan kehidupan berumah tangga, dia menjinakkan dirinya sendiri saja, menenangkan dirinya sendiri saja, mencapai Nibbana bagi dirinya sendiri saja. Jika memang demikian halnya, maka dia melakukan praktek berjasa, yaitu tindakan meninggalkan kehidupan rumah tangga, yang melibatkan hanya satu orang saja.”

“Brahmana, aku akan bertanya kepadamu dan engkau boleh menjawabnya menurut pendapatmu. Brahmana, bagaimana pendapatmu mengenai hal ini: Sang Tathagata muncul di dunia, Sang Arahat, Yang Telah Sepenuhnya Tercerahkan, yang trampil di dalam perilaku dan pengetahuan sejati, yang maha tinggi, pengenal dunia, pemimpin yang tak ada bandingnya bagi para manusia yang harus dijinakkan, guru bagi para dewa dan manusia, Yang Tercerahkan, Yang Terberkati. Beliau berkata demikian: ‘Datanglah! Inilah jalannya. Inilah jalan yang telah kutempuh, yang melaluinya aku telah secara langsung mengetahui dan mewujudkan penyempurnaan tertinggi dari kehidupan suci yang sekarang ini kunyatakan. Datanglah! engkau juga harus berlatih demikian, sehingga engkau juga, dengan usahamu sendiri, akan langsung mengetahui dan mewujudkan penyempurnaan tertinggi dari kehidupan suci ini dan berdiam di dalam pencapaian itu!’

“Maka guru ini menunjukkan Dhamma, dan yang lain pun berlatih dengan cara itu. Dan dari antara mereka yang melakukannya, ada ratusan, ribuan, ratusan ribu. Bagaimana pendapatmu, brahmana: karena memang demikian halnya, apakah tindakan meninggalkan kehidupan duniawi merupakan suatu praktek berjasa yang melibatkan hanya satu orang atau banyak orang?”

“Kalau demikian halnya, Guru Gotama, meninggalkan kehidupan duniawi merupakan suatu praktek yang berjasa yang menyebar pada banyak orang.”

Ketika hal itu telah dikatakan, YM Ananda berbicara kepada brahmana Sangarava demikian: “Dari kedua praktek ini, wahai brahmana, bagimu mana yang lebih menarik karena lebih sederhana dan lebih tidak merugikan, dan karena memberikan buah yang lebih kaya serta manfaat yang lebih besar?”

Maka brahmana Sangavara berkata kepada YM Ananda: “Saya harus menghormati dan memuji mereka yang seperti Guru Gotama dan Guru Ananda.”

Untuk kedua dan ketiga kalinya, YM Ananda berkata kepada brahmana itu: “Brahmana, saya tidak bertanya siapa yang engkau hormati dan puji, tetapi bagimu mana dari kedua praktek itu yang tampak lebih sederhana dan lebih tidak merugikan, dan yang memberikan buah yang lebih kaya serta bermanfaat lebih besar?”

Tetapi juga untuk kedua kalinya dan ketiga kalinya brahmana Sangarava menjawab: “Saya harus menghormati dan memuji mereka yang seperti Guru Gotama dan Guru Ananda.”

Kemudian Sang Buddha berpikir: “Bahkan untuk ketiga kalinya, ketika Ananda memberikan pertanyaan yang sama, brahmana Sangarava ini tetap menghindar dan tidak menjawab. Apakah tidak seharusnya kubebaskan dia dari situasi itu?” Maka Beliau berkata kepada brahmana itu: “Brahmana, apakah yang mungkin menjadi topik pembicaraan di antara anggota istana, seandainya saja mereka duduk bersama hari ini di istana kerajaan?”

“Beginilah topik pembicaraannya, Guru Gotama: ‘Dahulu ada lebih sedikit bhikkhu, tetapi lebih banyak yang mempertunjukkan mukjizat-mukjizat dari kekuatan supranormal yang melebihi manusia. Sebaliknya sekarang ada lebih banyak bhikkhu, tetapi lebih sedikit yang menunjukkan mukjizat kekuatan supranormal yang melebihi manusia itu.’ Itulah yang menjadi topik pembicaraan.”

“Ada tiga macam mukjizat, brahmana. Apakah yang tiga itu? Mukjizat kekuatan supranormal, mukjizat membaca pikiran, dan mukjizat pengajaran.

“Apakah yang merupakan mukjizat kekuatan supranormal? Ada orang yang menikmati berbagai macam kekuatan supranormal: setelah menjadi satu, dia berubah menjadi banyak; sesudah menjadi banyak, dia berubah menjadi satu; dia muncul dan lenyap; dia pergi tak terhalang menembus dinding, menembus benteng, menembus gunung seolah-olah melewati ruang; dia menyelam masuk dan keluar dari bumi seolah-olah itu adalah air; dia berjalan di atas air tanpa tenggelam seolah-olah itu adalah tanah; sementara duduk bersila dia pergi melalui udara bagaikan seekor burung; dengan tangannya dia menyentuh dan membelai matahari dan rembulan, begitu kuat dan berkuasa; dia menggunakan penguasaan atas tubuhnya bahkan sejauh alam-Brahma. Inilah, brahmana, yang disebut mukjizat kekuatan supranormal.

“Apakah yang merupakan mukjizat membaca pikiran? Ada orang yang, dengan sarana tanda, menyatakan: ‘Demikianlah pikiranmu, seperti inilah pikiranmu, demikianlah buah-pikirmu.’ Dan betapapun banyaknya pernyataan seperti itu yang dibuatnya, semua memang benar demikian dan tidak salah.

“Orang lain tidak membuat pernyataannya lewat sarana tanda, melainkan setelah mendengar suara manusia, suara makhluk halus atau dewa… atau dengan mendengarkan suara getaran-buah-pikir seseorang… atau secara mental menembus arah kecenderungan mentalnya ketika dia berada di dalam keadaan meditasi yang bebas dari buah-pikir. Dan betapapun banyaknya pernyataan seperti itu yang dibuatnya, semua memang benar demikian dan tidak salah. Inilah yang disebut mukjizat membaca pikiran.

“Dan brahmana, apakah mukjizat pengajaran? Ada orang yang mengajarkan demikian: ‘Engkau seharusnya berpikir dengan cara ini dan bukan berpikir dengan cara itu! Engkau seharusnya memperhatikan ini dan bukan itu! Engkau seharusnya meninggalkan ini dan harus berdiam di dalam pencapaian itu!’ Inilah yang disebut mukjizat pengajaran.

“Inilah, O brahmana, tiga jenis mukjizat. Dari tiga jenis mukjizat ini, yang manakah yang tampak bagimu sebagai yang paling bagus dan paling tinggi?”

“Mengenai mukjizat kekuatan supranormal dan pembacaan pikiran, Guru Gotama, hanya pelakunya saja yang akan mengalami hasilnya; hasilnya hanya dimiliki oleh orang yang melakukannya. Kedua mukjizat ini, Guru Gotama, bagi saya tampak memiliki sifat tipuan tukang sulap. Tetapi mengenai mukjizat pengajaran – inilah, Guru Gotama, yang bagi saya tampak sebagai yang paling bagus dan paling tinggi di antara ketiganya.

“Betapa luar biasa dan menakjubkannya hal ini telah disampaikan oleh Guru Gotama. Kami akan mengingat Guru Gotama sebagai orang yang memiliki tiga mukjizat ini. Guru Gotama menikmati berbagai jenis kekuatan supranormal. Beliau secara mental menembus dan mengetahui pikiran orang lain. Dan Guru Gotama mengajar orang lain demikian: ‘Engkau seharusnya berpikir dengan cara ini dan bukan cara itu! Engkau seharusnya memperhatikan ini dan bukan itu! Engkau seharusnya meninggalkan ini dan harus berdiam di dalam pencapaian itu!’ “

“Brahmana, sungguh-sungguh engkau telah menyampaikan kata-kata yang sangat sesuai. Maka juga akan kunyatakan bahwa aku menikmati berbagai jenis kekuatan supranormal… bahwa aku secara mental menembus dan mengetahui pikiran orang lain… dan bahwa aku mengajar orang lain bagaimana caranya mengarahkan pikiran.”

“Tetapi apakah ada bhikkhu lain, selain Guru Gotama, yang memiliki tiga mukjizat ini?”

“Ya, brahmana. Para bhikkhu yang memiliki ketiga mukjizat ini tidak hanya berjumlah seratus, atau dua ratus, tiga ratus, empat ratus, atau lima ratus, tetapi bahkan lebih banyak bhikkhu yang telah memilikinya.”

“Dan di manakah berdiamnya bhikkhu-bhikkhu ini, Guru Gotama?”

“Di dalam Sangha para bhikkhu ini juga, brahmana.”

“Luar biasa, Guru Gotama! Luar biasa, Guru Gotama! Sama seperti orang menegakkan apa yang terjungkir balik atau menguak apa yang tadinya tersembunyi, atau menunjukkan jalan bagi mereka yang tersesat, atau memegang lampu di dalam kegelapan sehingga mereka yang memiliki mata bisa melihat bentuk. Demikian pula Dhamma telah dibabarkan dengan berbagai cara oleh Guru Gotama. Saya sekarang pergi untuk berlindung pada Guru Gotama, pada Dhamma, dan pada Sangha para bhikkhu. Biarlah Guru Gotama menerima saya sebagai pengikut awam yang telah pergi untuk berlindung sejak saat ini sampai akhir hayat.”

Menjadi Ummat Awam ( hidup duniawi dan berumah tangga ) bukanlah suatu “aib”

Menjadi seorang Bhikkhu memang merupakan sebuah karma baik,bahkan bisa disebut sebagai “hal-terbaik” bagi seorang ummat Buddha, sebab menjadi Bhikkhu adalah hal bermanfaat, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi semua ummat manusia.

Akan tetapi, seseorang tidak dapat memaksakan diri menjadi Bhikkhu, jika itu belum menjadi buah karmanya. Sebab, bila ia memaksakan dirinya, maka, secara mental ia tidak akan “tahan” dalam menjalani hidup ke-Bhikkhu-an yang penuh dengan aturan-aturan ( vinaya ) yang sangat ketat, yang bertolak belakang dengan kehidupan sebagai ummat awam / perumah-tangga. Dan, untuk ummat yang memang belum masak buah karmanya seperti ini, maka ini bukanlah “aib”, dan bukan berarti ia berkarma buruk. Sebab, Sang Buddha, pada kehidupan-kehidupan lampaunya (seperti yang sudah saya jelaskan diatas ), bahkan hanya menjalani sembilan kali kehidupan sebagai Bhikkhu, dan lima kali sebagai petapa biasa ( non-Bhikkhu, tidak bergabung dalam Sangha ), dan kehidupan-kehidupan yang lain yang bersifat “duniawi”. Sehingga, menjadi ummat awam yang hidup duniawi pun, bukanlah merupakan sebuah karma buruk, asalkan kita tetap membimbing diri di jalan Dhamma.

Jika kita memilih untuk hidup sebagai ummat awam , maka kita bisa mencontoh suri tauladan Sang Buddha pada kehidupan-kehidupan lampau beliau, baik ketika menjadi Bhikkhu maupun di saat tidak berkesempatan menjadi seorang Bhikkhu.

Apa yang dilakukan Bodhisatta ( Bodhisatta = “Calon-Buddha” ) pada kehidupan-kehidupan lampaunya, baik ketika menjadi Bhikkhu, petapa, maupun diluar itu, adalah memenuhi tiga hal berikut ini :

1. Kesempurnaan (Pàrami ), yang terdiri dari “10 Kesempurnaan”.

2. Mengorbankan kehidupan dan bagian tubuh mereka sebagai dàna (càga) , dan,

3. Mengembangkan kebajikan melalui tindakan (cariya) sebagai sarana beliau mencapai kesempurnaan / pencerahan.

Karena itulah, seorang ummat Buddha awam, dapat pula mencontoh apa yang telah diteladankan oleh Sang Buddha pada kehidupan-kehidupan lampaunya dimana Beliau masih menjadi seorang Bodhisatta, yaitu memenuhi Parami, Caga, dan , Cariya dalam kehidupan sehari-harinya ( sesuai dengan kapasitas dan kamma kita sendiri-sendiri tentunya ), dengan tekad untuk menyempurnakan dirinya dalam setiap kelahiran demi kelahiran, hingga akhirnya terpenuhi ketiganya dan pada suatu kelahiran nanti dapat mencapai buah ke-Arahatta-an, merealisasi ke-Buddha-an, atau setidaknya dapat menemukan suatu kondisi yang tepat untuk dapat bergabung dalam Sangha / komunitas para Bhikkhu.

Dana ( kedermawanan ), Sila ( moralitas ), dan Samadhi ( konsentrasi pikiran dan pengembangan pandangan cerah ), adalah ketiga latihan yang hendaknya disempurnakan oleh setiap ummat awam, disamping berusaha memenuhi Parami, Caga, dan Cariya. Meskipun kualitas ini pun juga tetap dikembangkan oleh para Bhikkhu, tentunya.

Sehingga, seorang ummat Buddha tidak perlu malu-malu untuk hidup sebagai ummat awam jika memang karma dan buah karmanya belum matang untuk kesana. Karma dan buah karma ini, bisa dirasakan oleh pribadi masing-masing, jika memang ia telah dengan tekad kuat dan mempunyai pengertian benar dalam mengambil keputusan menempuh hidup Ke-Bhikkhu-an, dimana ia bertujuan untuk mencapai kesempurnaan dan setelah itu ia ingin membantu ummat manusia memahami “Jalan-Agung” demi tercapainya pembebasan, dan ia tidak memutuskan untuk menempuh hidup ke-Bhikkhu-an dengan kondisi “asal-asalan”, “gengsi”, atau dalam kondisi “marah” dan bertujuan melarikan diri dari kehidupan dunia, maka ia dikatakan telah masak buah karmanya untuk menjadi Bhikkhu. Namun, bila ia mengambil keputusan untuk hidup menjadi Bhikkhu dengan didasari pikiran yang penuh kemarahan, rasa “gengsi”, ingin dihormati, ingin melarikan diri dari kehidupan dan tanggung-jawab dunia, maka sesungguhnya buah karmanya belumlah masak untuk menuju pada pilihan hidup membiara / menjadi Bhikkhu. Bila seseorang menjadi Bhikkhu dengan tujuan yang tidak benar / sesuai seharusnya, maka sia-sialah kehidupan ke-Bhikkhu-annya itu, karena ia tidak mendapatkan manfaat sesungguhnya dari pilihan hidupnya sebagai seorang Bhikkhu.

Sebaliknya, seseorang yang sudah masak buah karmanya, tidak pula dapat dihalang-halangi tekadnya untuk menjadi Bhikkhu atau mencapai kesempurnaan. Pangeran Siddhatta Gotama, karena telah masaknya kesempurnaan yang beliau pupuk sejak empat (4) Asankheyya dan seratus ribu ( 100.000 ) Kappa yang lampau, tidak dapat dicegah oleh keluarganya saat beliau hendak pergi meninggalkan istana, tahta, harta, istri, selir-selir, dan semua kemewahan yang beliau miliki saat itu, demi merealisasi ke-Buddha-an.

Sebagai ummat Buddha (awam), kita boleh dan tetap bisa bekerja, memupuk kekayaan, mencapai taraf kesejahteraan. Asalkan, jalan yang ditempuh tidak bertentangan dengan Dhamma. Sang Buddha sudah menunjukkan Jalan dimana kita harus berjalan, ialah “Jalan Ariya Beruas Delapan” ( Ariya Atthangika Magga ).

Demikian, semoga wacana yang cukup panjang ini bisa menjadi tambahan wawasan bagi anda yang sedang “bimbang” menentukan jalan hidup, apakah mau menjadi seorang Bhikkhu, maupun sekedar ummat awam.

TINGKAT KESUCIAN TETAP BISA DIRAIH OLEH UMMAT AWAM

Meski seorang siswa Sang Buddha memilih untuk tidak bergabung dalam Sangha, karena belum masaknya buah karma baiknya, ia tetap bisa bertekun dalam Dhamma dan mencapai tingkat-tingkat kesucian tertentu.

Beberapa kisah mengenai ummat awam non-Bhikkhu di masa Sang Buddha yang telah mencapai tingkat kesucian dapat kita sebutkan disini. Bahkan seorang pemerintah / Raja, dengan kekuasaan dan harta berlimpahpun, jika ia bertekun dalam Dhamma, dengan tekad kuat senantiasa melatih diri untuk mengikis kekotoran batinnya, berusaha mencapai “pencerahan”, dapat pula mencapai tingkat kesucian tertentu. Contohnya adalah Raja Bimbisara, Raja Magadha. Raja Bimbisara mencapai Sotapatti-Magga-Phala bahkan sebelum ia menerima Ti-sarana ( Tiga perlindungan ; Buddha, Dhamma, dan Sangha ).

Raja Suddhodana, ayah dari Bodhisatta Gotama, mencapai tingkat kesucian ketiga : Anagami setelah mendengarkan khotbah “Maha Dhammapala Jataka” dari Sang Buddha. Sebelumnya, Raja Suddhodana telah mencapai Sotapatti-Magga-Phala dan Anagami-Magga-Phala.

Selain itu, ada pula kisah dua pedagang bersaudara, Tapussa dan Bhallika, yang keduanya mencapai tingkat kesucian tertentu. Tapussa dan Bhallika adalah dua siswa awam pertama yang menyatakan berlindung kepada Buddha dan Dhamma. Setelah mendapatkan khotbah Dhamma dari Sang Buddha ketika di Rajagaha, kakak Tapussa mencapai tingkat Pengetahuan Pemenang Arus dan buahnya, sedangkan adiknya menjadi Bhikkhu dan tak lama kemudian mencapai tingkat kesucian Arahatta yang memiliki enam kekuatan batin tinggi.

Masih banyak kisah-kisah ummat awam lain yang mampu meraih tingkat kesucian Sotapatti-Magga-Phala, Sakadagami, dan Anagami, namun kiranya cukup kisah-kisah tersebut diatas yang kita sebutkan disini. Demikian, sehingga, tingkat-tingkat kesucian ( kecuali tingkat kesucian Arahatta hanya dapat diraih dengan menempuh hidup ke-Bhikkhu-an ) dapat pula diraih oleh ummat awam yang mengenakan “Jubah-Putih” ( Para Bhikkhu mengenakan jubah berwarna tanah atau / daun layu, sedangkan ummat awam pada masa itu mengenakan jubah berwarna putih ).

Sekarang, kembali kepada diri kita sendiri, apakah karma baik kita telah mencukupi untuk menempuh kehidupan sebagai seorang Bhikkhu ? Atau belumlah masak untuk kesana ? Jika sudah, maka itu adalah karma baik bagi kita. Jikalaupun belum, tidaklah perlu risau, karena menjadi ummat awam bukanlah “aib” , bukan “dosa”. Dan, suatu persepsi yang keliru dari masyarakat non-Buddhis yang menyatakan bahwa menjadi ummat Buddha adalah berat, karena harus meninggalkan keduniawian , menjalani kehidupan penuh “ratap-tangis”. Justru kebalikannya, dengan menjadi seorang siswa Sang Buddha, kita menemukan Jalan menuju kebahagiaan sejati, karena telah mengerti “hakekat” sehingga dengan “cerah” memandang ke segala arah mata memandang!

“SABBE SATTA BHAVANTU SUKHITATTA!”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia! )

— RATANA KUMARO / RATNA KUMARA / RATYA MARDIKA —

Semarang Barat, Jumat Legi 23 Januari 2009

Iklan

Posted in BUDDHA | 6 Comments »