RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

Archive for April, 2009

MEMAKNAI AGAMA DENGAN BENAR

Posted by ratanakumaro pada April 30, 2009

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”

( tikkhattum ; 3X )

Nammatthu Buddhassa,

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Agama adalah sebuah "RAKIT", digunakan untuk menyeberang, bukan untuk diusung-usung dan untuk Berbenturan dengan Batu Karang ;)

Agama adalah sebuah "RAKIT", digunakan untuk menyeberang, bukan untuk diusung-usung dan untuk Berbenturan dengan Batu Karang 😉

Saudara-saudari, para sahabat yang tercinta, pada kesempatan ini saya ingin mengajak kita semua untuk membahas mengenai arti penting dari sebuah agama.

Seringkali, kita keliru memaknai guna dari agama, dan terjebak dalam perdebatan-perdebatan dan pertentangan agama.Perdebatan-perdebatan ini, seakan-akan mengasyikkan, namun sebenarnya, dengan terlibat dalam perdebatan semacam ini, kita justru semakin jauh dari manfaat yang seharusnya bisa kita peroleh dari sebuah agama itu sendiri.

Sang Buddha, pernah menjelaskan mengenai tidak bermanfaatnya pertentangan / perdebatan agama ini, serta menjelaskan bagaimana semestinya agama digunakan / dimanfaatkan. Penjelasan tersebut terdapat dalam Alagaddupama Sutta, Majjhima Nikaya, melalui “perumpamaan ular” dan “perumpamaan rakit”. Perumpamaan ular digunakan Sang Buddha untuk menggambarkan orang yang salah jalan dalam mempelajari Dhamma, dan perumpamaan rakit menggambarkan bagaimana seharusnya Dhamma itu digunakan, yakni sebagai sebuah rakit untuk menyeberangi banjir penderitaan, dan setelah tiba dengan selamat di pantai seberang, kita harus melepaskan rakit itu. Ya, kita harus melepaskan AGAMA pada akhirnya! Demikian Sang Buddha mengajarkan.


PERUMPAMAAN ULAR

Agama adalah "Ular", jika salah menangkap, menyebabkan penderitaan berkepanjangan hingga kematian

Agama adalah "Ular", jika salah menangkap, menyebabkan penderitaan berkepanjangan hingga kematian

Berikut adalah perumpamaan ular yang digunakan Sang Buddha untuk menunjukkan orang yang salah jalan dalam mempelajari Dhamma :


“10. Disini, para Bhikkhu, beberapa manusia yang salah jalan mempelajari Dhamma ~ Khotbah, bait, penjelasan, syair, ungkapan, peribahasa, cerita kelahiran, keajaiban, dan jawaban pertanyaan ~ tetapi setelah mempelajari Dhamma, mereka tidak memeriksa arti dari ajaran-ajaran itu dengan Kebijaksanaan. Karena tidak memeriksa arti dari ajaran-ajaran itu dengan kebijaksanaan, mereka tidak memperoleh penerimaan perenungan dari ajaran-ajaran itu.

Sebaliknya, mereka justru mempelajari Dhamma hanya untuk mengkritik orang lain dan untuk memenangkan perdebatan, sehingga mereka pun tidak mengalami manfaat dari belajar Dhamma. Karena ditangkap secara salah oleh mereka, ajaran-ajaran itu menimbulkan kerugian dan penderitaan bagi mereka untuk waktu yang lama.”


Dengan pernyataan tersebut, Sang Buddha menunjukkan kesalahan yang dilakukan oleh orang yang mempelajari Dhamma namun didasari motivasi intelektual semata, yang pada akhirnya menjadi lubang perangkap bagi siswa tersebut karena akan terjebak pada perdebatan-perdebatan dan pertentangan-pertentangan dengan paham lainnya.

ular

“Andaikan saja ada orang yang membutuhkan ular, mencari ular, berkelana mencari ular. Ketika melihat seekor ular besar, dia menangkap belitannya atau ekornya. Maka ular itu akan membalik padanya dan menggigit tangan atau lengannya atau salah satu bagian tubuhnya, dan  karena itu dia mungkin lalu mati atau mengalami penderitaan yang mematikan.

Mengapa demikian ? Karena dia menangkap ular itu secara salah.

Demikian pula, disini beberapa orang yang salah jalan mempelajari Dhamma…, Ajaran-ajaran itu, karena ditangkap secara salah oleh mereka, menimbulkan kerugian dan penderitaan bagi mereka untuk waktu yang lama.”

“11. Disini, para Bhikkhu, beberapa anggota kelompok mempelajari Dhamma ~ khotbah…jawaban pertanyaan ~ dan setelah mempelajari Dhamma itu, mereka memeriksa arti dari ajaran-ajaran itu dengan kebijaksanaan, mereka memperoleh penerimaan perenungan dari ajaran-ajaran itu. Mereka tidak mempelajari Dhamma untuk mengkritik orang lain atau memenangkan perdebatan, sehingga mereka mengalami manfaat dari belajar Dhamma. Karena ditangkap secara benar oleh mereka, ajaran-ajaran itu menimbulkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi mereka untuk waktu yang lama.”

“Andaikan saja ada orang yang membutuhkan ular, mencari ular, berkelana mencari ular. Ketika melihat ular besar dia menangkapnya secara benar dengan tongkat yang berbelah.

Setelah itu, dia memegangnya secara benar di lehernya.

Kemudian walaupun ular itu mungkin melingkarkan tubuhnya di sekitar tangan atau lengan atau bagian-bagian tubuh orant itu, tetap saja dia tidak akan mati atau mengalami penderitaan yang mematikan karena hal itu.

Mengapa demikian? Karena dia menangkap ular itu secara benar.

Demikian pula, disini beberapa anggota kelompok mempelajari Dhamma…Ajaran-ajaran itu, karena ditangkap secara benar oleh mereka menimbulkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi mereka untuk waktu yang lama.

Oleh karenanya, para Bhikkhu, bila kalian memahami arti pernyataan-pernyataan-Ku,ingatlah hal itu secara benar, dan bila engkau tidak memahami arti dari pernyataan-pernyataan-Ku, maka bertanyalah tentang hal itu kepada-Ku atau kepada para Bhikkhu yang bijaksana.”


Demikianlah, Sang Buddha mengingatkan kita supaya mempelajari Dhamma dengan bijaksana, bukan demi motivasi intelektual semata, namun benar-benar memeriksa arti dari ajaran-ajaran Sang Buddha dengan bijaksana, dan melakukan perenungan-perenungan dengan benar demi tercapainya manfaat sejati dari Dhamma Sang Buddha.


PERUMPAMAAN RAKIT

rakit

Setelah Sang Buddha mengingatkan para siswa-Nya supaya tidak salah jalan dalam memperdalam Dhamma, Sang Buddha melanjutkan pengajaran-Nya kepada para siswa, bahwa Dhamma hanyalah “rakit”, digunakan untuk menyeberang, dan harus dilepaskan / ditinggalkan setelah para siswa berhasil menyeberang, tidak perlu diusung-usung diatas kepala.


“ 13. Para Bhikkhu, aku akan menunjukkan kepadamu bagaimana Dhamma mirip dengan rakit, yang bertujuan untuk menyeberang, bukan dengan tujuan untuk menggenggam. Dengarkan dan perhatikan dengan seksama apa yang akan kukatakan.” – “Ya, Yang Mulia Bhante”, jawab para Bhikkhu.


“Perumpamaan rakit” yang terkenal ini melanjutkan argument yang sama untuk melawan salah penggunaan dari pembelajaran yang diperkenalkan oleh perumpamaan ular sebelumnya. Orang yang gemar menggunakan Dhamma untuk membangkitkan kontroversi dan memenangkan debat berarti mengusung Dhamma ke mana-mana diatas kepalanya, dan bukannya menggunakan Dhamma untuk menyeberangi banjir.


Yang Terberkahi [ Sang Buddha ] berkata demikian :

“ Para Bhikkhu, andaikan saja ada orang yang melakukan perjalanan. Dia melihat suatu hamparan air yang luas. Pantai di dekatnya berbahaya dan mengerikan, sedangkan pantai di seberang itu aman dan tidak menakutkan. Tetapi tidak ada perahu pengangkut atau jembatan menuju pantai seberang. Kemudian dia berpikir; “ Ada hamparan air yang luas ini. Pantai di sebelah sini berbahaya dan mengerikan, sedangkan pantai di seberang sana aman dan tidak menakutkan. Tetapi tidak ada perahu pengangkut atau jembatan menuju pantai seberang. Sebaiknya aku mengumpulkan rumput, ranting, cabang, dan daun, lalu mengikatnya untuk dijadikan rakit, kemudian dengan ditopang rakit itu aku bisa mengerahkan usaha dengan tangan dan kakiku, dan aku bisa sampai dengan selamat di pantai seberang.”

Maka orang tersebut mengumpulkan rumput, ranting, cabang, dan daun, lalu mengikatnya untuk dijadikan rakit; kemudian dengan ditopang rakit itu dia mengerahkan usaha dengan tangan dan kakinya, dan dia sampai dengan selamat di pantai seberang.

Kemudian, ketika telah menyeberang dan tiba di pantai seberang, dia mungkin berpikir demikian; “Rakit ini telah sangat membantuku, karena dengan ditopang olehnya aku bisa mengerahkan usaha dengan tangan dan kakiku, dan aku bisa sampai dengan selamat di pantai seberang. Sebaiknya aku menjunjung rakit ini di kepalaku atau memanggulnya di bahuku, dan kemudian pergi kemanapun aku suka.”

Nah, para Bhikkhu, bagaimana pendapat kalian ? Dengan melakukan hal itu, apakah orang itu melakukan apa yang seharusnya dilakukan dengan rakit tersebut ?”

“Tidak, Yang Mulia Bhante” [ jawab para Bhikkhu]

berakit

“ Dengan melakukan apa maka orang itu melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan terhadap rakit itu?

Disini, para Bhikkhu, ketika telah menyeberang dan tiba di pantai seberang, dia mungkin berpikir demikian : “Rakit ini telah sangat membantuku, karena dengan ditopang olehnya aku bisa mengerahkan usaha dengan tangan dan kakiku, dan aku bisa sampai dengan selamat di pantai seberang. Sebaiknya aku menariknya ke tanah kering atau membiarkannya mengapung di air, dan kemudian pergi kemanapun aku suka.”

Nah, para Bhikkhu, dengan melakukan hal inilah maka orang itu melakukan apa yang seharusnya dilakukan dengan rakit tersebut. Demikian telah kutunjukkan kepadamu bagaimana Dhamma mirip dengan rakit, yang bertujuan untuk menyeberang, bukan dengan tujuan untuk menggenggam.

“Para Bhikkhu, ketika kalian mengetahui bahwa Dhamma mirip dengan rakit, bahkan keadaan-keadaan yang baik pun seharusnya kalian tinggalkan, apalagi keadaan-keadaan yang buruk.”


Nah, demikianlah saudara-saudari, para sahabat yang tercinta, bagaimana Sang Buddha menunjukkan kepada kita cara meggunakan Dhamma dan memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dari Dhamma.

Keterangan dalam Majjhima Nikaya memberikan penjelasan lebih jauh mengenai akhir dari khotbah diatas, “Para Bhikkhu, Aku mengajarkan untuk bahkan meninggalkan nafsu keinginan dan kemelekatan dan keadaan-keadaan yang damai dan tinggi ~ ketenangan ( samatha ) dan pandangan terang ( vipassana ) ~ apalagi pada hal yang rendah, vulgar, menjijikkan, kasar, dan kotor… [ kesenangan-kesenangan indria, terlibat dalam hubungan sex ]“.

berakit-rakit-ke-hulu

Dengan khotbah ini, Sang Buddha menjelaskan bahwa kemelekatan pada keadaan-keadaan yang baik itulah yang harus ditinggalkan, bukannya keadaan-keadaan yang baik itu sendiri. Bagaimanapun, kemelekatan ( upadana ) pada hal apapun, adalah penyebab timbulnya penjadian ( bhavo ).


PENTINGNYA MEMELUK AGAMA

Dewasa ini, seringkali penulis menemukan orang-orang yang berpendapat bahwa kita tidak perlu beragama, yang penting belajar semua ajaran kebajikan dan merangkumnya jadi satu, menjadikannya pedoman tersendiri yang cocok bagi dirinya.

Upacara Peringatan Magha Puja, bentuk ketaatan ummat Beragama ( Buddha )

Upacara Peringatan Magha Puja, bentuk ketaatan ummat Beragama ( Buddha )

Sesungguhnya, langkah ini tidak salah, namun mempunyai kelemahan. Mengapa ? Sebab, dengan demikian kita tidak akan mempunyai satu pegangan hidup yang jelas, dan arah hidup yang jelas. Umumnya, orang-orang yang memilih jalan ini ( tidak beragama ), pada akhirnya menemui kegagalan dalam orientasi spiritualnya.

Setiap agama, pada dasarnya adalah baik, sebab memiliki rambu-rambu yang harus dipatuhi oleh para ummatnya yang menunjukkan hal-hal yang tidak boleh dilakukan dan hal-hal yang sebaiknya dilakukan. Namun, agama-agama tersebut, memiliki nilai-nilai dasar, nilai-nilai filosofis yang masing-masing berbeda satu sama lain. Ketika seseorang mencoba mencampurnya menjadi satu, maka itu bagaikan usaha mencampur berbagai macam masakan sayuran menjadi satu ; lodeh, sayur-bening, oseng-oseng kacang panjang, sayur tahu-terik, sayur rambak-pedas, asinan-petai, Cah Brokoli, soup Tom Yam, dan macam-macam masakan sayuran lainnya menjadi satu. Bukannya suatu cita-rasa nikmat nan sempurna yang didapatkan, namun justru rasa “eneg” ( Jawa : Mblenger ) yang didapatnya.

Atau juga , sinkretisme semacam ini bagaikan usaha seorang politikus mempersatukan berbagai ideology dalam satu campuran ; Komunisme, Agama, Kapitalisme, Nasionalisme, dijadikan satu. Bukan satu persatuan-harmonis yang didapat, namun pertentangan-pertentangan yang akan diperolehnya.

Atau, usaha sinkretisme tersebut , bagaikan seseorang yang kedua kakinya berdiri di dua perahu, bukannya selamat sampai pantai seberang, namun resiko terjatuh dan tenggelamlah yang didapatnya.

Perayaan Waisak di Mendut (2008) ; Bentuk ketaatan ummat Beragama

Perayaan Waisak di Mendut (2008) ; Bentuk ketaatan ummat Beragama

Untuk itu, saudara-saudari, para sahabat yang tercinta, untuk memahami tujuan hidup yang sebenarnya, penulis sangat menyarankan saudara-saudari, para sahabat yang tercinta, untuk memilih dan mengikuti system etika moral [ agama ] tertentu yang memang benar-benar cocok bagi anda. Setelah memeluk suatu agama yang cocok bagi anda, maka kemudian praktekkanlah ajaran agama anda dengan sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya.

Mungkin anda suatu saat merasa perlu mempelajari agama-agama lain sebagai “materi-pengayaan”, sebagai “study-banding”. Hal ini tidak akan menjadi masalah, ketika anda melakukannya setelah anda memeluk suatu agama dan meyakininya. Sehingga, dengan demikian, batin anda tidak akan terombang-ambing, dan orientasi-spiritual anda tetap terjaga.

Dengan mempelajari agama lain, bukannya menjadikan lemah keyakinan ( saddha ) anda, namun justru bertujuan untuk memperteguh keyakinan ( saddha ) anda pada ajaran agama yang telah anda peluk. Study-banding ini, bukan bertujuan untuk melakukan perdebatan-perdebatan, namun untuk menemukan nilai-nilai lebih dan keunggulan ajaran yang anda yakini yang bermanfaat bagi diri anda pribadi, bagi kemajuan pencapaian spiritual anda.

Demikanlah, para sahabat yang tercinta, Agama akan menuntun kita menuju penyadaran diri. Agama memiliki kekuatan moril-spirituil untuk mengubah perangai seseorang dari perangai buruk menjadi bajik, dari tidak mulia menjadi mulia, dari egois menjadi tidak egois, dari kesombongan menuju kerendahan hati, ketamakan menjadi kemurahan-hati, kekejaman menjadi kewelas-asihan dan kelembutan, subjektivitas menjadi objektivitas. Agama akan mengantarkan kita pada pencapaian tingkat spiritual yang lebih tinggi,dan tertinggi, pada pembebasan sempurna dari arus samsara. Dan kelak, setelah tujuan kita tercapai, maka agama ini pun harus kita “lepas”-kan, yaitu bukan untuk diusung-usung diatas kepala untuk diperdebatkan dan dipertentangkan, namun kita lepaskan kemelekatan kita kepada “agama” tersebut supaya kita bebas melangkah kemanapun juga di pantai seberang sana, supaya tidak menyebabkan kita berbentusan dengan pihak lainnya, yang sungguh-sungguh tidak bermanfaat dan membawa kemerosotan pencapaian spiritual seorang ummat beragama. 😉


[ Sumber Kepustakaan : Majjhima-Nikaya, Kitab Suci Agama Buddha, jilid II, Penerbit : Vihara Bodhivamsa, Wisma Dhammaguna, edisi pertama, cetakan pertama, Kathina 2549, Oktober 2005.   Sumber foto-foto :  http://www.ilpks.gov.my/galeri/displayimage.php?album=6&pos=0  ,    http://wenkul.files.wordpress.com/2008/01/snake.jpg  ]

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Salam Damai dan Cinta Kasih…,

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajja hontu, Anigha Hontu, Sukhi attanam Pariharantu “

( “Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari penderitaan, bebas dari kebencian/permusuhan/pertentangan/niat jahat, bebas dari kesakitan, bebas dari kesukaran, semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaan mereka masing-masing” )

~ RATANA KUMARO ~

SEMARANG, 30 APRIL 2009.

Iklan

Posted in BUDDHA | 86 Comments »

BERAKHIRNYA ERA GOTAMA & MUNCULNYA MAITREYA

Posted by ratanakumaro pada April 19, 2009

BERAKHIRNYA BUDDHISME

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”

( tikkhattum ; 3X )


Nammatthu Buddhassa,

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Rupa Boddhisatta-Metteya ( Kushinagar India ; foto diambil dari Wikipedia Indonesia )

Rupa Boddhisatta-Metteya ( Kushinagar India ; foto diambil dari Wikipedia Indonesia )

Sang Buddha pernah bersabda, bahwa era Ajaran Beliau ( Buddha-Dhamma ) hanya akan bertahan selama lima-ribu ( 5.000 ) tahun, yang bila dihitung sejak era Buddhis pertama kali, yakni kurang lebih 500 tahun SM, maka sekarang Dhamma telah menempuh perjalanan selama kurang lebih 2.500 tahun, dan itu berarti Dhamma hanya akan bertahan 2.500 tahun lagi.

Berakhirnya era Dhamma Sang Buddha Gotama adalah wajar. Sama seperti Buddha-Buddha yang terdahulu, Sang Buddha Gotama juga menjalani siklus yang serupa, yaitu : dimulai dari berjuang menyempurnakan Parami selama empat (4) Asankkheyya-Kappa dan Seratus-ribu ( 100.000 ) Kappa, kemudian dilahirkan kembali sebagai manusia untuk terakhir kalinya, kemudian mencapai Pencerahan-Sempurna, setelah itu lalu memutar-roda Dhamma, membabarkan Dhamma nan mulia kepada makhluk-dunia, akhirnya Parinibbana. Setelah Sang Buddha Parinibbana, maka Dhamma adalah Guru bagi para siswanya untuk dipraktikkan. Seiring waktu berjalan, maka akan terjadilah kemerosotan kwalitas dan kwantitas praktik Dhamma yang semakin lama semakin parah dan suatu saat nanti, Dhamma akan dilupakan sama sekali. Dan kelak, sebelum bumi ini mengalami kehancuran kembali, akan muncul Buddha yang terakhir pada masa Maha-Badda-Kappa ini, ialah Buddha-Metteya.

Rupam Boddhisatta Metteya

Rupam Boddhisatta Metteya


PROSES HANCURNYA BUDDHA-DHAMMA

Sejak masa menjelang akhir era Dhamma Sang Buddha Gotama, dan sampai masa setelah berakhirnya era Sang Buddha Gotama, usia manusia akan semakin pendek yang beriringan dengan kwalitas hidup yang juga semakin menurun, kehidupan manusia dan bermasyarakat semakin kacau, dan merosotnya moralitas menuju ambang batas terendah.

Meskipun demikian, pada masa itu, tetap ada beberapa kelompok manusia yang memilih untuk menyingkir dari kebodohan massal tersebut. Mereka memilih untuk tetap menjaga praktik moralitas dan kebajikan.

Kemudian, dari generasi ke generasi, keturunan manusia akan mulai bertambah usianya seiring dengan kesinambungan praktik moralitas dan kebajikan. Sebagai akibat praktik-praktik moralitas dan kebajikan itulah, usia manusia naik kembali, dari yang semula rata-rata hanya sepuluh (10) tahun , meningkat, terus meningkat, hingga mencapai batas delapan-puluh-ribu ( 80.000 ) tahun. Pada masa usia manusia rata-rata delapan puluh ribu ( 80.000 ) tahun ini, terdapatlah kemakmuran dan kesejahteraan bagi manusia.

Rupam Boddhisatta Metteya

Rupam Boddhisatta Metteya

Setelah itu, kehidupan manusia akan mengalami “fase-turun” ( utkarsa ). Dan pada fase turun inilah, kelak akan muncul Samma-Sambuddha yang berikutnya, yaitu Buddha-Metteya ( Sanskrit : Maitreya ), yang akan mengajarkan kembali Dhamma yang persis sama dengan yang diajarkan para Buddha sebelumnya, membimbing para Dewa dan manusia supaya mereka bisa merealisasikan akhir dari dukkha : NIBBANA.

[ Buddha hanya akan muncul pada fase turun, tapi tidak muncul saat jangka kehidupan manusia telah jatuh dibawah titik jangka kehidupan kritis, saat sikap dan mental manusia sangat inferior sehingga tidak bisa menerima ajaran Buddha. Jangka kehidupan kritis ditafsirkan beraneka ragam, ada yang menafsirkannya sebagai seratus ( 100 ) tahun, delapan-puluh ( 80 ) tahun, bahkan tiga-puluh ( 30 ) tahun. Zaman dibawah jangka kehidupan kritis disebut zaman kegelapan, yang dalam agama lain disebut “Akhir-Zaman”. ]


Dalam Maha-badda-kappa ini, muncul lima Samma-Sambuddha. Sebelumnya, telah muncul tiga Samma-Sambuddha sebelum Sang Buddha Gotama, dan berarti total empat (4) Samma Sambuddha dengan Sang Buddha Gotama. Tiga (3) Buddha sebelum Buddha Gotama tersebut adalah :


1. Buddha Kakusandha,

2. Buddha Konagamana,

3. Buddha Kassapa.

Rupam Boddhisatta Metteya

Rupam Boddhisatta Metteya

Setelah Buddha Gotama, kelak ( sesuai proses yang diterangkan diatas ), maka akan muncullah Samma-Sambuddha berikutnya ( Buddha yang kelima dalam Maha-Badda-Kappa ini ) , ialah Buddha Metteya. Buddha Metteya akan menjadi Buddha yang terakhir dalam siklus kehidupan kita yang sekarang ini, sebelum bumi ini kembali hancur-terurai, mengalami apa yang disebut sebagai “kiamat”.

Pada zaman-zaman Buddha yang lampau , sebelum Buddha Gotama, seringkali terjadi masa kosong yang amat sangat lama sekali dimana dunia ini kosong dari Ajaran-Buddha yang berlangsung antara masa setelah berakhirnya era Buddha terdahulu dengan masa munculnya Buddha yang selanjutnya. Masa kosong itu tak terhitung lamanya. Dalam masa kegelapan itu peradaban manusia telah muncul dan musnah silih berganti.


PROSES MEMUDAR DAN LENYAPNYA DHAMMA SANG BUDDHA GOTAMA


Pada suatu hari ketika Sang Buddha Gotama sedang berdiam di hutan Banyan di Kapilavatthu, Y.A. Sariputta mendekati Beliau dan bertanya tentang Buddha yang berikutnya setelah Sang Buddha Gotama. Kemudian Sang Buddha bersabda, :


“ … Masa dunia kita ini adalah masa yang istimewa. Telah muncul tiga pemimpin dunia, yaitu : Buddha Kakusandha, Buddha Konagamana, dan Buddha Kassapa. Aku sekarang adalah Samma-Sambuddha. Dan akan muncul juga Buddha Metteya sebelum masa dunia ini berakhir. Samma-Sambuddha ini namanya Metteya, Pemimpin Dunia.”

The Next Future Buddha ~ Boddhisatta Ajita Metteya

The Next Future Buddha ~ Boddhisatta Ajita Metteya

Sang Buddha kemudian meneruskan penjelasan tentang bagaimana proses terjadinya kemunduran Buddha-Dhamma hingga kelak kemunculan Buddha-Metteya, yang ditandai dengan adanya lima-kelenyapan :


“ Setelah Aku Parinibbana, akan ada terlebih dahulu lima (5) Kelenyapan. Apakah yang lima (5) itu ? Lenyapnya pencapaian tingkat kesucian ( Sottapana, Sakadagami, Anagami, dan , Arahat ), lenyapnya pelaksanaan benar, lenyapnya Ajaran (Dhamma), lenyapnya simbol/bentuk luar, lenyapnya Relik. Inilah lima kelenyapan yang akan terjadi.


i). LENYAPNYA PENCAPAIAN TINGKAT KESUCIAN


Disini, lenyapnya pencapaian [tingkat-kesucian] berarti bahwa hanya selama seribu ( 1.000 ) tahun setelah Aku Parinibbana, para Bhikkhu masih dapat mencapai Pengetahuan-Analitis ( Patisambhida ) atau tingkat Arahat. Sejalan dengan waktu, para siswa-Ku adalah [hanya] Anagami , Sakadagami, dan Sotapanna. Tingkat pencapaian ini tidak akan lenyap sampai Sotapanna terakhir meninggal. Setelah itu, pencapaian tingkat kesucian pun turut lenyap.

Inilah , Sariputta, lenyapnya tingkat kesucian.”


ii). LENYAPNYA PELAKSANAAN-BENAR


“Lenyapnya pelaksanaan-benar, berarti bahwa : tidak [ ada yang ] mencapai Jhana, pandangan terang, Jalan dan Buah ( Magga dan Phala ), mereka hanay akan menjaga empat (4) kemurnian perilaku ( catuparisuddhi-Sila ), yaitu : Patimokkha-samvara-Sila ( Sila-Kebhikkhuan ), Indriya-Samvara-Sila ( yang berhubungan dengan pengendalian indriya ), ajiva-parisudhi-Sila ( kemurnian-penghidupan ), paccaya-sannissita-Sila ( yang berhubungan dengan empat-kebutuhan-pokok ).

Seiring berjalannya waktu, mereka hanya akan menjaga empat pelanggaran-berat ( parajika ) : menahan diri dari hubungan seksual, mencuri, membunuh, menyatakan diri telah mencapai tingkat kesucian.

Selama masih ada ratusan, atau, ribuan Bhikkhu yang menjaga dan mengingat empat pelanggaran berat , maka pelaksanaan benar belum lenyap. Dengan terjadinya pelanggaran berat oleh Bhikkhu terakhir atau dengan meninggalnya Bhikkhu tersebut, maka pelaksanaan benar juga turut lenyap.

Inilah Sariputta,lenyapnya pelaksanaan-Benar.”


iii). LENYAPNYA AJARAN-BENAR


“ Lenyapnya Ajaran-Benar berarti bahwa selama teks Ti-Pitaka : Vinaya, Sutta , dan Abhidhamma yang merangkum kata-kata Sang Buddha masih tersedia, maka Ajaran belum lenyap. Seiring dengan waktu akan muncul raja-raja / pemimpin-pemimpin negara yang bukan pelaksana Dhamma, pejabat-pejabat di pemerintahan juga bukan manusia [ pengikut ] Dhamma, dan akibatnya warga negaranya juga mengikuti [ tidak menjadi penganut Dhamma ].

Karena itulah [ akibat dari tidak diikutinya lagi Jalan-Dhamma ] , HUJAN TIDAK TURUN SEBAGAIMANA MESTINYA, akan ada GAGAL PANEN, KELANGKAAN BAHAN MAKANAN, dan akibatnya masyarakat tidak mampu lagi menyediakan kebutuhan pokok untuk para Bhikkhu. Akhirnya para Bhikkhu tidak lagi menerima anggota baru, tidak ada lagi orang masuk Sangha. Ajaran secara perlahan lenyap.

Dalam prosesnya, Abhidhamma dahulu yang pertama lenyap, dimulai dengan lenyapnya Patthana, Yamaka, Kattha-vatthu, Puggala-pannati, Dhatu-Kattha, dan seterusnya.

Setelah Abhidhamma lenyap, maka Sutta-Pitaka juga turut lenyap. Pertama, Anguttara Nikaya lenyap, kemudian Samyutta-Nikaya, Majjhima Nikaya, Digha Nikaya, dan seterusnya. Hanya tinggal kisah Jataka dan Vinaya Pitaka yang akan diingat. Hanya Bhikkhu yang teliti yang akan mengingat Vinaya-Pitaka. Kemudian Jataka juga akan lenyap, pertama Vessantara-Jataka, kemudian Apannaka-Jataka, demikian seterusnya sampai seluruh Jataka terlupakan. Kemudian hanya Vinaya-Pitaka yang akan diingat. Seiring berjalannya waktu, Vinaya Pitaka juga akhirnya lenyap.

Selama “empat-bait-syair-Dhamma” masih ada di antara manusia, maka Ajaran belum lenyap. [ Keempat bait syair yang dimaksud adalah : “ Tidak Berbuat Jahat, Perbanyak kebajikan, Sucikan hati dan pikiran, Inilah Ajaran Para Buddha” ]

Ketika Raja yang memiliki keyakinan dalam Dhamma menawarkan satu kantong emas yang diletakkan di punggung gajah, dan menabuh genderang ke seluruh kota sampai dua atau tiga kali, dengan mengumumkan, “ Barangsiapa dapat menyebutkankan syair dari Sang Buddha, biarlah ia mendapat seluruh koin emas ini beserta gajah kerajaan ini”, tetapi ketika tiada seorangpun yang mengetahui keempat bait syair Dhamma tersebut sampai akhirnya kantong koin emas itu harus kembali ke dalam istana lagi, maka itulah lenyapnya Ajaran.”

Inilah Sariputta, lenyapnya Ajaran.”


iv). LENYAPNYA SIMBOL-LUAR


“Seiring berjalannya waktu, masing-masing dari para Bhikkhu dan ‘angkatan’ terakhir membawa jubahnya, mangkuknya, dan tusuk gigi, mengambil buah labu botol dan menjadikannya mangkuk untuk meminta makanan, akan berjalan kesana-kemari dengan labu tersebut di tangannya atau digantung dengan tali. Seiring dengan waktu, mereka berpikir , “ Apa gunanya jubah kuning ini ? “ , dan [lalu] mereka mengguntingnya menjadi potongan kecil kemudian menempelkannya di hidung, kuping, atau rambut. Mereka berkelana sambil menunjang anak dan isteri dengan cara bertani, berdagang dan sejenisnya. Seiring berjalannya waktu, mereka berpikir, “ Apa gunanya ini semua ? “ kemudian setelah membuang potongan jubah kuning, mereka akan mulai berburu binatang dan burung di hutang. Ketika ini terjadi, maka simbol / bentuk luar [pun] lenyap.

Inilah Sariputta, yang dimaksud lenyapnya simbol / bentuk luar.”


v). LENYAPNYA RELIK SANG BUDDHA


“ Kemudian ketika Ajaran Buddha telah berumur lima-ribu (5.000) tahun, Relik-relik Buddha, yang tidak lagi dihormati dan dipuja, akan pergi ke tempat-tempat dimana masih ada penghormatan dan pemujaan. Seiring berjalannya waktu, di semua tempat tidak lagi ditemukan adanya penghormatan dan pemujaan terhadap Relik [Sang-Buddha]. Pada masa itu, ketika Ajaran berangsur terlupakan, semua Relik datang dari berbagai tempat, dari kediaman naga dan alam dewa serta alam Brahma, berkumpul di sekitar pohon Boddhi di Buddha Gaya di mana Sang Buddha mencapai Pencerahan-Sempurna, dan melakukan keajaiban seperti “Keajaiban-Kembar”, kemudian akan mengajarkan Dhamma. Tidak akan ditemukan manusia di tempat itu. Semua dewa dari sepuluh-ribu ( 10.000 ) sistem dunia berkumpul bersama untuk mendengarkan Dhamma dan ribuan jumlah dari mereka akan merealisasikan Ajaran. Mereka akan menangis keras dan berkata, “ Wahai para Dewa, satu minggu dari hari ini Pemilik sepuluh (10) Kekuatan Tathagata akan memasuki Parinibbana.” Dengan terisak mereka berkata: “Mulai saat itu, kita semua berada dalam kegelapan.” Kemudian Relik akan memanas dan terbakar habis tanpa sisa.

Inilah Sariputta, yang dimaksud lenyapnya Relik. “


Demikianlah proses memudar dan lenyapnya Dhamma Sang Buddha Gotama, dalam jangka waktu 5.000 tahun, atau kurang dari 2.500 tahun terhitung sejak hari ini, Buddhasasana dari Sang Buddha Gotama akan berakhir, lenyap sama sekali tanpa sisa.


PENJELASAN MENGENAI KEMEROSOTAN MORAL DAN MEMENDEKNYA USIA MANUSIA

Boddhisatta Ajita Metteya

Boddhisatta Ajita Metteya

Hubungan antara kemerosotan moral dan memendeknya usia manusia, dapat disimak dalam ringkasan khotbah Cakkavattishanada Sutta :


“ Wahai Raja, rakyatmu yang raja perintah berdasarkan ide dan caramu sendiri yang berbeda dengan cara-cara yang mereka ikuti dahulu, tidak sukses seperti apa yang mereka biasa capai di masa raja-raja terdahulu yang melaksanakan kewajiban maharaja yang suci… .

Karena raja tidak berdana kepada orang-orang miskin maka kemelaratan bertambah… dengan demikian pencurian main mewabah… kekerasan meluas dengan cepat, pembunuhan menjadi biasa.

Karena pembunuhan terjadi maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan pada masa itu adalah 80.000 tahun akan tetapi usia kehidupan anak-anak mereka hanya 40.000 tahun.

Demikianlah karena kemelaratan meluas…pembunuhan…hingga berdusta menjadi biasa…usia kehidupan mereka hanya 20.000 tahun. Kemudian kemelaratan meluas… berdusta… hingga memfitnah berkembang… usia kehidupan anak-anak mereka hanya 10.000 tahun. Kemelaratan meluas…memfitnah… berzinah… kata0kata kasar dan membual… iri hati dan dendam berkembang… pandangan sesat… berzinah dengan saudara sendiri, keserakahan, pemuasan nafsu… kurang berbakti kepada orangtua, kurang hormat pada samana, dan petapa, serta kurang patuh pada pimpinan masyarakat berkembang dan meluas. Karena hal ini berkembang meluas maka batas usia kehidupan dan kecantikan berkurang, sehingga batas usia kehidupan pada masa itu adalah 250 tahun akan tetapi batas usia anak-anak mereka hanya 100 tahun.

… Akan tiba suatu masa ketika keturunan dari manusia itu akan mempunyai usia kehidupan hanya 10 tahun… umur 5 tahun bagi wanita merupakan usia perkawinan. Pada masa kehidupan orang-orang ini, makanan seperti padi , susu, mentega, minyak, tila, gula, garam , akan lenyap. Bagi mereka biji-bijian kudrusa akan merupakan makanan terbaik… Pada masa orang-orang itu sepuluh macam cara melakukan perbuatan jahat akan berkembang cepat.

… Di antara mereka tidak ada lagi rasa berbakti kepada orangtua, tidak ada lagi rasa menghormat kepada para samana dan petapa, serta tidak ada lagi kepatuhan kepada pimpinan masyarakat… tidak ada lagi [pikiran yang membatasi] untuk kawin dengan ibu, bibi… Dunia diisi oleh cara bersetubuh dengan siapa saja, bagaikan domba, kambing, burung, babi, anjing, serigala.

Boddhisatta Metteya

Boddhisatta Metteya

… Akan tiba suatu masa, yaitu munculnya pedang selama seminggu. Selama masa ini mereka akan melihat individu lain sebagai binatang liar… dengan pedang mereka akan saling bunuh.

Sementara itu ada orang-orang tertentu berpikir, “Sebaiknya kita jangan membunuh atau kita tidak membiarkan orang lain membunuh kita. Marilah kita menyembunyikan diri kedalam belukar… Marilah kita berbuat kebajikan-kebajikan”. Mereka akan berusaha untuk tidak membunuh… Karena melaksanakan kebajikan ini maka akibatnya batas usia dan kecantikan bertambah. Bagi mereka yang batas usia kehidupannya hanya 10 tahun, akan tetapi batas usia anak-anak mereka mencapai 20 tahun.

“…Marilah kita berusaha untuk tidak mencuri….tidak berzinah…tidak mengucapkan kata-kata kasar…tidak membual…tidak serakah…tidak membenci…tidak berpandangan sesat…tidak bersetubuh dengan keluarga sendiri… tidak tamak dan tidak memuaskan nafsu. Marilah kita berbakti kepada orangtua kita , menghormat kepada para samana dan petapa, serta patuh kepada pemimpin bangsa.”

Karena mereka melaksanakan kebajikan-kebajikan…sehingga bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya 20 tahun…anak-anak mereka mencapai 40 tahun…80 tahun…4.000 tahun…20.000 tahun…40.000 tahun…anak-anak mereka mencapai batas usia kehidupan 80.000 tahun… .

…Dalam masa kehidupan orang-orang ini, di dunia akan muncul seorang Bhagava-Arahat-Sammasambuddha bernama Metteya…Dhamma, Kebenaran…akan dibabarkan…kehidupan suci akan dibina dan dipaparkan…seperti yang Aku lakukan sekarang. Beliau akan diikuti oleh beberapa ribu Bhikkhu, seperti Aku sekarang ini.”

Demikianlah penjelasan mengenai kaitan antara proses merosotnya moralitas dengan menurunnya batas usia kehidupan manusia.


MUNCULNYA AJARAN SALAH


Menjelang berakhirnya era Buddha-Gotama, akan banya muncul ajaran salah dan Dhamma palsu yang muncul dimana-mana dengan berbagai label dan gaya.

Ajaran salah ( miccha-dhamma ) , ialah :


1. semua jenis ajaran dan praktik keagamaan yang pada intinya tidak mampu untuk melihat bahaya dari “samsara” ( lingkaran kelahiran dan kematian ),

2. Kepercayaan bahwa dalam masa sekarang ini magga dan phala ( tingkat-kesucian ) sudah tidak mungkin dicapai lagi, kecenderungan untuk menunda-nunda praktik Sila, Samadhi, dan Panna karena menunggu masaknya Parami,

3. Kepercayaan bahwa orang-orang di masa sekarang ini semuanya hanyalah makhluk “dvi-hetuka” ( hanya punya dua kondisi akar yagn baik, yaitu : a-lobha dan a-dosa ), dan tidak memiliki akar a-moha , sehingga tidak munkin mencapai kesucian dalam kehidupan yang sekarang ini.

4. Kepercayaan bahwa Guru-guru suci di zaman dahulu tidak pernah ada, dan berbagai kepercayaan lain-lain. Semua ini berpotensi menciptakan kerusakan pada Dhamma ( dhammantarayo ).

Pu Tai He Sang ( Bhiksu Berkantong Kain ) ~ Pada abad ke-10, Sekte Maitreya meyakininya sebagai reinkarnasi dari Boddhisatta Metteya ; BENARKAH ?? ( Kontroversial )

Pu Tai He Sang ( Bhiksu Berkantong Kain ) ~ Pada abad ke-10, Sekte Maitreya meyakininya sebagai reinkarnasi dari Boddhisatta Metteya ; BENARKAH ?? ( Kontroversial )

Mengenai kepercayaan akan terdapatnya makhluk dvi-hetuka saja pada masa sekarang, maka , sesungguhnya, meskipun kita adalah dvi-hetuka, asalkan kita berupaya melatih diri dalam dhamma maka dalam kelahiran selanjutnya kita bisa menjadi ti-hetuka. Sebaliknya, bila kita sendiri malas untuk melatih diri, maka kita sangat mungkin terperosok ke tingkat a-hetuka ( tanpa kondisi akar yang baik ) dalam kehidupan selanjutnya.


Ada tiga jenis / golongan manusia, yang berkaitan dengan hal ini :


1. Padaparama

2. yang lebih unggul ; Neyya

3. yang terunggul : Niyata-vyakarana


Yang dimaksud dengan golongan Padaparama ialah, ibarat orang sakit yang tidak mungkin sembuh, dan pasti mati akibat sakitnya walau bagaimanapun ia berupaya berobat. Ini menggambarkan orang yang tidak mungkin mencapai kesucian dalam kehidupan sekarang, tetapi masih punya kesempatan dalam kelahiran selanjutnya baik di alam manusia ataupun alam dewa, masih di era Buddhasasana yang sekarang ataupun pada era Buddha selanjutnya tergantung kesempurnaan Parami dan upaya yang bersangkutan.

Jenis manusia yang lebih unggul adalah Nevya, yang diumpamakan sebagai orang sakit yang akan sembuh bila makan obat yang tepat, tetapi mungkin juga tidak sembuh dan mati bila gagal mendapat pengobatan yang tepat. Artinya, ia masih mungkin dapat mencapai kesucian dalam masa kehidupannya yang sekarang ini juga jika ia melaksanakan dan melatih apa yang seharusnya demi mencapai tujuan mulia tersebut. Bila galgal dalam kehidupan yang sekarang maka ia masih punya kesempatan di kelahiran selanjutnya.

Pu Tai He Sang ; Sekte Maitreya Abad X menjulukinya sebagai "BUDDHA-KETAWA", "BUDDHA-MI LE", "JU LAI FO" ( Buddha yang akan datang ) ; BENARKAH ?? ( Kontroversial )

Pu Tai He Sang ; Sekte Maitreya Abad X menjulukinya sebagai "BUDDHA-KETAWA", "BUDDHA-MI LE", "JU LAI FO" ( Buddha yang akan datang ) ; BENARKAH ?? ( Kontroversial )

Jenis manusia yang ketiga adalah yang terunggul, ialah Niyata-vyakarana, yaitu manusia yang telah mendapat kata-kepastian bahwa kelak ia akan menjadi Buddha dari Buddha yang lampau.Yang terakhir ini adalah jenis dari para Boddhisatta atau calon Samma-Sambuddha.

Nah, kita kebanyakan adalah golongan Nevya, sehingga, sebaiknya dalam era Buddhasasana sekarang ini terus mengumpulkan benih carana ( perbuatan benar ) dengan cara mempraktikkan :


1. Dana,

2. Sila,

3. Samadhi.


Sedangkan untuk golongan Padaparama dihimbau untuk mengumpulkan benih carana supaya kelak terlahir di era Buddhasasana yang akan datang sekaligus mencapai pembebasan dari dukkha pada saat itu juga.


Sarat yang harus dipenuhi bagi golongan Padaparama adalah :


1. Dana,

2. Uposatha-Sila, dan

3. Tujuh Sad-Dhamma


Sad-Dhamma tersebut adalah :


1. Saddha ( keyakinan )

2. Sati ( perhatian-murni )

3. Hiri ( malu berbuat salah )

4. Ottapa ( takut akibat perbuatan jahat )

5. Bahusacca ( Belajar-Dhamma )

6. Viriya ( Semangat dan ketekunan )

7. Panna ( kebijaksanaan ).


Semua praktik ini adalah bagian dari akumulasi menuju kesempurnaan Parami.


Hanya jika seorang Padaparama telah memiliki benih vijja kebijaksanaan / kelompok Panna ) dan benih carana ( perbuatan benar / kelompok Sila dan Samadhi ) yang cukup barulah ia dapat mencapai pembebasan dari dukkha dalam kelahiran selanjutnya. Vijja bagaikan sepasang mata untuk melihat, dan Carana bagaikan kaki untuk berjalan ataupun sayap untuk terbang. Keduanya saling melengkapi dan menguatkan.

VERSI TIONGKOK : Pu Tai He Sang ~ Maitreya ? BENARKAH ???

VERSI TIONGKOK : Pu Tai He Sang ~ Maitreya ? BENARKAH ???


KESIMPULAN


Kita yang hidup sekarang ini, seharusnya bersyukur, karena kita hidup dalam era Buddhasasana, ialah era Dhamma Sang Buddha Gotama. Adalah keliru jika masa Buddha-Gotama telah berakhir, sebab, masa berakhirnya Buddha-Gotama [sesuai sabda Sang Buddha sendiri, dan melihat berbagai prasayarat-pengkondisian / fakta-fakta] masih 2.500-an tahun lagi.

Dengan demikian, Buddha-Metteya, belumlah muncul pada masa sekarang ini.  Meskipun demikian, semua ummat Buddha tentunya menghormati Beliau, yang saat ini sedang berada di alam surga Tusita ( Tusitabhumi ), tingkat kelima dari alam Sugati ( surga Kammadhatu ) . Buddha-Metteya akan muncul [ terlahir di alam manusia ] kelak saat Utkarsa / fase-turun, setelah manusia mencapai ambang batas usia 80.000 tahun, namun tidak saat jangka kehidupan manusia telah jatuh dibawah titik jangka kehidupan kritis, saat sikap dan mental manusia sangat inferior sehingga tidak bisa menerima ajaran Buddha.

Karena itulah, di masa Buddhasasana yang sekarang, hendaknya kita tekun melatih diri dalam Dhamma yang dibabarkan Sang Buddha, demi tercapainya kebahagiaan dan pembebasan dari arus samsara.

( Sumber Pustaka : Majalah Dhammacakka ; Jakarta, 2006 )

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

RATANA-KUMARO ( Ratna Kumara )

Semarang-Barat,Minggu, 19 April 2009

Posted in BUDDHA | 112 Comments »

KONTROVERSI BUDDHA-BAR

Posted by ratanakumaro pada April 17, 2009

BUDDHA BAR & KAPITALISME

Oleh: Ponijan Liaw

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”

( tikkhattum ; 3X )

Nammatthu Buddhassa,

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Berikut ini adalah tulisan dari Bp. Ponijan Liaw, seorang ummat Buddha yang sudah sangat terkenal di kalangan Buddhis. Artikel ini merupakan kiriman seorang sahabat baik, seorang kalyanamitta, bagi rekan-rekan blogger yang sudah lama berkecimpung di dunia maya ini sudah pasti kenal, namun tidak bisa saya sebutkan namanya, karena saya belum minta ijin pada Beliau.

Tulisan ini menyikapi perkembangan kontroversi dari keberadaan Buddha Bar, yang menggunakan simbol-simbol agama Buddha bagi kepentingan bisnis, dan bisnis tersebut adalah bisnis tempat “hiburan”, yang sarat minuman keras, dan hal-hal lain, yang bertentangan dengan nilai-nilai Buddhisme.

Semoga postingan wacana dari Bp. Ponijan Liaw ini, yang telah saya percantik dengan foto-foto sebagai ilustrasi, bisa membawa manfaat. Selamat Membaca 😉 .

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ratusan mahasiswa dari dari Aliansi Mahasiswa Buddhis menyegel Buddha Bar di Jl. Jalan Teuku Umar, Jakarta, Kamis (5/3). Mereka mengecam keberadaan Bar itu

Massa yang tergabung dalam Persatuan Budhis Banten menggelar aksi penuntutan penutupan Buddha Bar di pintu barat Monas, Jakarta Pusat, Senin (16/3).


Kecewa, tersinggung dan marah. Itu barangkali yang paling pas menggambarkan situasi yang menguras energi kognisi dan afeksi satu elemen warga bangsa ini: umat Buddha karena eksistensi Buddha Bar di kawasan elit Jakarta. Kehadiran bar ini berhasil menggelorakan dan merekatkan semangat persatuan seluruh komponen Buddhis dari berbagai tradisi dan lokasi. Suatu pertanda bahwa ada sebuah peristiwa yang luar biasa tengah berlangsung di panggung kehidupan ini.

Terminologi ’Buddha’ yang mengandung multimakna sakral: tokoh panutan, yang tercerahkan, dan tujuan akhir kemana umat menuju, telah diabrasi dan dinistakan oleh kapitalisme global di kancah nasional. Kapitalisme machiavelistis semacam ini tentu tidak dapat dijadikan tradisi apalagi transaksi. Disana ada simbol-simbol suci yang dihormati dan diagungkan.

Dunia telah mencatat betapa praktik semacam ini telah mengalami badai protes yang tiada pernah akan surut. Lihat saja, bagaimana ketika di pusat bisnis Mid Town Man Heaton di New York, akan dibangun sebuah bar dengan nama Apple Mecca, yang bagi keyakinan muslim, nama ini tentu tidak asing berarti Ka’bah Macca/Mecca. Apalagi dengan desain eksterior depan yang menyerupai ka’bah. Berbagai kecaman datang menghujani sang kapitalis, Apple Computer. Perusahaan yang terkenal dengan produk iPod-nya itu dituduh telah menghina Islam dengan pendirian bar dimaksud. Apa pasalnya? Sebagaimana lazimnya bar, bar ini dapat dipastikan menyajikan minuman beralkohol, anggur (wine) maupun minuman yang memabukkan lainya. Masyarakat Muslim New York melakukan penekanan kepada pemerintah setempat untuk tidak memberi lisensi bar ini. Dan, akhirnya proyek itu tidak berjalan sebagaimana direncanakan.

Massa yang tergabung dalam Persatuan Budhis Banten menggelar aksi penuntutan penutupan Buddha Bar di pintu barat Monas, Jakarta Pusat, Senin (16/3).

Ratusan mahasiswa dari dari Aliansi Mahasiswa Buddhis menyegel Buddha Bar di Jl. Jalan Teuku Umar, Jakarta, Kamis (5/3). Mereka mengecam keberadaan Bar itu

Di Inggris ada sebuah contoh lain soal ini. Ada sebuah ajuan proposal untuk membuka sebuah korporasi dengan nama Yesus. Perdebatan panjang pun terjadi antara sang pemohon dan badan pencatatan hak merek dagang. Padahal tempat itu bukanlah bar yang dilarang oleh hampir semua agama dan produk yang akan dijual di toko itu bukan pula alkohol dan sejenisnya. Yang akan didagangkan disana adalah sabun, parfum, alat-alat optik, logam mulia, kulit, tekstil, garmen, dan lain-lain. Sang pemohon lisensi berdalih bahwa nama Yesus adalah nama depan banyak orang di Inggris. Buktinya, ada terdapat sedikitnya 27 nama Yesus dalam London Telephone Directory. Namun, pejabat perijinan tetap bersikukuh bahwa nama itu lebih identik dengan nabi pembawa agama ketimbang nama pribadi masyarakat awam. Apalagi komunitas Inggris, mayoritas kristen.

Alasan penolakan lainnya adalah Konvensi Paris 1883 tentang Perlindungan Kekayaan Industri yang ditandatangani juga oleh negara kerajaan itu. Dalam pasal 6 konvensi itu jelas dinyatakan bahwa sebuah proposal harus ditolak jika dianggap bertentangan dengan moralitas dan tatanan kehidupan masyarakat. Akhirnya nama Yesus sebagai korporasi komersial tidak dicatatkan di negara liberal tersebut.

Kembali ke persoalan domestik: Buddha Bar. Ada sebuah ironi fundamental yang fatal disini. Bagaimana merek dagang restoran waralaba ini bisa terdaftar di Perancis pada 26 Juli 1999, sementara negara ini menjadi tuan rumah Konvensi Paris 1883 yang memuat substansi penghormatan terhadap moral dan norma-norma kehidupan? Disini, ada cacat sejarah dan prosedur pencatatan merek global ini di negara asalnya. Melalui negara-negara anggotanya, baik yang menandatanganinya di konvensi awal mau pun yang meratifikasinya kemudian (termasuk Indonesia), perlu kiranya melakukan peninjauan kembali atas semua itu.

Sekitar 200 umat Budha dari Majelis Agama Budha Theravadda Indonesia (Magabudhi) berdemo di depan Budha Bar di Jl Teuku Umar, Jakpus

Sekitar 200 umat Budha dari Majelis Agama Budha Theravadda Indonesia (Magabudhi) berdemo di depan Budha Bar di Jl Teuku Umar, Jakpus


Dalam lingkup Indonesia, eksistensi Buddha Bar, paling sedikit bersinggungan dengan beberapa aspek: legal, moral dan spiritual. Pertama, secara legal, jelas sekali ia bertentangan dengan UU No. 15/2001 tentang Merek. Di pasal 5 jelas dinyatakan bahwa merek tidak dapat didaftar apabila merek tersebut mengandung salah satu unsur di bawah ini: bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, moralitas agama, kesusilaan, atau ketertiban umum. Artinya, apa yang boleh dibangun di luar, dengan berlindung di bawah payung waralaba, tidak serta-merta bisa didirikan disini. Apabila merek dimaksud bertentangan dengan nilai-nilai sosial-religius masyarakat lokal.

Ambil contoh, judi. Di Malaysia ada Genting Highlands, tempat resmi untuk berjudi. Apakah Indonesia bisa mengikutinya? Tentu tidak! Karena ada undang-undang yang memberikan koridor atas apa yang boleh dijadikan usaha dan tidak. Ada limitasi konstitusi disini. Jika mengacu pada logika sederhana tersebut, jelas kehadiran Buddha Bar dapat dipahami sebagai sebuah irisan tajam ke ulu hati para penganut agama ini.

Thailand, Singapura dan Malaysia saja dengan tegas telah menolak kehadiran bar macam ini. Bagaimana negeri ini bisa mengamini pendiriannya? Produk hukum berikut yang dilanggar oleh pendirian bar ini adalah kesepakatan Konvensi Paris 1883 yang telah diratifikasi dengan Keputusan Presiden RI No. 15 tahun 1997. Disana dengan jelas diuraikan bahwa hal-hal yang bertentangan dengan moral dan tatanan kehidupan masyarakat tidak boleh mendapatkan ijin. Lebih jauh lagi, UU No 1/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, khususnya pasal 156 juga mengatur hal senada. Dan, yang paling anyar dipublikasikan ke masyarakat adalah soal tempat Buddha Bar itu sendiri, yakni gedung kuno eks kantor imigrasi Belanda. Ada UU No 5 tahun 1992 tentang cagar budaya yang mengaturnya disana.

"Kesatuan Umat Beragama Tolak Buddha-Bar dan Penistaan Agama" ; Demo didepan Gedung Departemen Pariwisata, Senin 30 Maret 2009, 13.00 WIB /sd sore

"Kesatuan Umat Beragama Tolak Buddha-Bar dan Penistaan Agama" ; Demo didepan Gedung Departemen Pariwisata, Senin 30 Maret 2009, 13.00 WIB /sd sore

Menurut pasal 19 ayat 2 (b) dijelaskan bahwa pemanfaatan benda cagar budaya tidak dapat dilakukan semata-mata untuk kepentingan pribadi dan/atau golongan. Kemudian juga dalam konteks kepariwisataan, pemanfaatan peninggalan purbakala, peninggalan sejarah, seni budaya menurut pasal 6 UU No 9 tahun 1990, harus memperhatikan nilai-nilai agama, adat-istiadat, serta pandangan dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Mengapa kedua UU ini tidak menjadi acuan legal-formal ketika perijinan pendirian bar itu akan dieksekusi? Ada kesenjangan pemahaman publik dan masyarakat soal ini. Namun, untuk poin terakhir ini (UU No 5 tahun 1992), khalayak perlu bersyukur karena KPK akan segera menelusurinya. Kedua, kontradiksi pendirian Buddha Bar bersinggungan dengan moralitas.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, bar adalah tempat minum-minum (biasanya minuman keras, seperti anggur, bir, wiski). Jelas dan terang. Mau kemana nasib anak bangsa (terutama generasi mudanya yang mencapai 80 juta jiwa) ini akan dibawa jika lisensi bar semacam itu terus diberi? Ini menjadi tugas KPK berikutnya untuk meneliti proses transaksi lisensi negeri ini yang katanya paling tidak transparan sedunia. Ketiga, secara spiritual, jelas penggunaan simbol-simbol suci keagamaan mana pun oleh para kapitalis pasti akan terus mendapatkan kecaman dan tentangan sepanjang sejarah kehidupan manusia. Tengok saja bagaimana fluktuasi emosi massa mengemuka ketika simbol-simbol agama dipakai secara tidak semestinya di Denmark (kasus kartun Nabi Muhammad) dan cover Tempo beberapa waktu lalu tentang ’The Last Supper’ itu muncul. Deretan kasus lainnya: cover album Iwan Fals ’Manusia 1/2 Dewa’ harus berurusan dengan umat Hindu, termasuk juga cover buku Supernova, Dewi Lestari yang memuat simbol/huruf AUM yang merupakan simbol suci umat Bali itu. Termasuk juga suatu kali desain poster film Amerika ”Hollywood Buddha” dengan seorang pria duduk di atas pundak patung Buddha dengan alat vitalnya menyentuh tengkuk Buddha. Reaksi keras dari dunia pun bertubi-tubi menghampiri.

Sejarah telah mengajarkan kepada kita, berhati-hatilah dengan penggunaan simbol keagamaan. Simbol tidak tepat menimbulkan kontroversi yang hanya menguras energi kognisi dan afeksi sehingga menumpulkan simpul-simpul humanitas alami. Kondisi ini, jika tidak segera diatasi akan menjadi bom waktu dalam jangka panjang. Untuk itu, alangkah bijaksana jika sederet peraturan (pusat & daerah) dan undang-undang selalu dijadikan acuan sebelum sebuah lisensi dieksekusi. Sistem komputerisasi peraturan harus mampu mengakses aturan yang menjadi syarat sebuah lisensi bisa dieksekusi. Hal ini bukan hanya untuk menjaga wibawa lembaga melainkan juga memberikan ketentraman lahir dan batin bagi komunitas yang akan terikat olehnya.

Sebagai penutup, kiranya hasil konferensi agama-agama monoteis yang disponsori Arab Saudi di Madrid Spanyol, Juli 2008 lalu perlu didukung. Konferensi itu menghasilkan sebuah komunike bersama yang isinya antara lain menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-banga (PBB) agar segera membuat kesepakatan internasional yang menyatakan bahwa menghina atau melecehkan agama lain merupakan tindakan kriminal, serta kesepakatan tentang upaya melawan terorisme. Lebih lanjut, konferensi yang dihadiri oleh 200 peserta dari berbagai latar belakang agama itu memutuskan perlu adanya kesepahaman tentang pentingnya saling menghormati setiap agama dan simbol-simbol keagamaan, dan bagi siapa pun yang melanggarnya dianggap telah melakukan tindakan kriminal. Sebuah keputusan bajik dan bijak.

Semoga dengan mengedepankan hati nurani, para penggiat di PBB akan segera mengadopsi nilai-nilai intrinsik mulia itu sehingga tidak akan ada lagi praktik kapitalisme barbar di muka bumi ini. Semoga.

__________________

“Jangan menipu orang lain, atau menghina siapa saja; Jangan karena marah dan benci, mengharap orang lain celaka.”

( Karaniyamettasutta ; Palivacana )

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

Posted in BUDDHA | 40 Comments »

PENYEMBAH BERHALA ?!

Posted by ratanakumaro pada April 9, 2009

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”

( tikkhattum ; 3X )

Nammatthu Buddhassa,

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,


Artikel ini saya buat untuk menjawab banyak tudingan-tudingan dari masyarakat kebanyakan, yang menyatakan bahwa ummat Buddha adalah penyembah berhala. Artikel ini juga bertujuan mengingatkan, sebelum anda mencap suatu praktik keagamaan, sebaiknya anda pelajari dulu, anda mengerti dulu, apa yang dipraktikkan tersebut.

Bagaimanapun, tudingan-tudingan yang menyudutkan bahwa orang lain mempraktekkan penyembahan berhala, adalah tudingan yang cukup menyakitkan hati bagi orang-orang yang disudutkan tersebut. Semoga, dengan artikel ini, tidak ada lagi yang saling menuding bahwa seseorang penganut kepercayaan yang berbeda dengan dirinya, sebagai penyembah berhala, hanya karena terdapatnya simbol-simbol keagamaan mereka.


MEJA PUJA

Meja Puja di rumah

Meja Puja di rumah

Diatas itu , adalah Meja-Puja yang ada dirumah tempat tinggal saya. Di ruangan tersebut, didepan meja-puja itu, saya biasa menghabiskan waktu selama 3-4 jam, sekitar jam 20.00 WIB s/d 24.00 WIB , untuk melakukan Puja-Bhakti setiap harinya. Rutinitas saya , adalah chanting / membaca Paritta selama satu jam, kemudian melakukan Bhavana ( pengembangan batin ) / samadhi selama 3 jam sisanya. Atau, terkadang tanpa chanting, hanya vandana, namakara-gatha, puja-gatha, Pubbabhaganamakara, dan Tisarana, kemudian saya lanjutkan dengan samadhi selama 3-4 jam.

Buddha-rupam ( Rupam = rupa, wajah, image ; Buddha-rupam = Image Sang Buddha ) yang di meja teratas, adalah Buddha-rupam dari Thailand, berlapis emas. Buddha-rupam itu menggambarkan posisi Sang Buddha sesaat setelah mencapai Pencerahan Sempurna, Beliau berdiam di tepi danau Muccalinda selama tujuh hari dan kemudian Raja Naga yang tinggal di dasar danau tersebut ingin melakukan persembahan yang berharga pada Sang Buddha, dengan melingkari tubuh Sang Buddha sebanyak tujuh lingkaran dan menaungi Sang Buddha dengan tujuh-kepalanya, dengan tujuan melindungi Sang Buddha dari hujan lebat selama tujuh hari berturut-turut ( hujan ini hanya terjadi pada dua peristiwa ; 1. Saat munculnya Raja-Dunia ; 2. Saat munculnya seorang Samma-Sambuddha ).

Bantalan untuk duduk Samadhi di Ruang Puja-'ku' ;)

Bantalan untuk duduk Samadhi di Ruang Puja-'ku' 😉

Buddha-rupam tersebut ( juga yang kecil, yang di meja lebih rendah. Buddha-rupam yang kecil itu berasal dari India ), merupakan pemberian seorang bijak dan bajik, sebagai hadiah untuk saya, sebagai cindera mata Beliau dari negeri Thailand dan India. Yah, semacam oleh-oleh… 😉 Daripada oleh-oleh berupa benda-benda yang tidak bermanfaat, maka saya memilih oleh-oleh berupa Buddha-Rupam yang berguna dan menunjang rutinitas saya berpuja-bhakti dan samadhi setiap harinya. 😉

Pernak-pernik di atas meja Puja itu bukannya tanpa makna, semuanya memiliki makna sendiri-sendiri. Ada tiga elemen utama dalam meja-puja, yaitu : Nyala-api, Bunga, dan Dupa.

1). Nyala api lilin, melambangkan kebijaksanaan, pencerahan, yang melenyapkan kebodohan batin, kegelapan. Sembari menyalakan api lilin, siswa Sang Buddha bertekad dalam hati, untuk mampu melenyapkan kebodohan batin dan mencapai Pencerahan-Sempurna.

2). Bunga ; Bunga melambangkan harta dunia yang diinginkan para makhluk, sebab nampak indah, menyenangkan indera, berbentuk indah, berbau harum, bertekstur halus / lembut, dan mempunyai sari-sari bunga yang manis. Melalui bunga tersebut, siswa merenungkan dalam batin, bahwa meskipun bunga ( keduniawian ) nampak indah dan menyenangkan, namun patut direnungkan dengan bijaksana, bahwa semua hal di dunia ini, sesungguhnya bersifat tidak-kekal ( anicca ), dan karena tidak kekal maka menyebabkan timbulnya derita, kesedihan ( dukkha ), dan tiadanya inti-diri yang abadi disana ( An-atta ). Saat meletakkan bunga-bunga di meja Puja, siswa Sang Buddha merenungkan ketiga hal tersebut, “Anicca, Dukkha, Anatta”.

3). Dupa ; Dupa ini melambangkan harumnya kebajikan, moralitas, pengendalian batin / pikiran, dan kebijaksanaan yang mempesona dan menyebar kemana-mana. Para Bijaksana, dikenal, dikenang, tak terbatas ruang dan waktu, selama berabad-abad, diseluruh penjuru dunia, kebajikan-moralitas-pengendalian batin-kebijaksanaannya, dipuji oleh para makhluk. Mengenai hal ini, Sang Buddha menggambarkannya dalam syair berikut ini :

“ Appamatto ayam gandho,

Yayam tagaracandani

Yo ca silavatam gandho,

Vatti devesu uttamo.

( Dhammapada; IV-13 ; Puppha-Vagga ) “

Arti :

“ Tak seberapa harumnya bunga melati dan kayu cendana,

Jauh lebih harum mereka yang memiliki Sila ( Moralitas, kebajikan ),

Nama harum mereka tersebar diantara para Dewa di alam Surga. “


APAKAH UMMAT BUDDHA PENYEMBAH BERHALA ?

Maggha-Puja di Vihara Watu Gong

Maggha-Puja di Vihara Watu Gong

“Penyembah-Berhala!”, kalimat ini selama berabad-abad telah menjadi senjata yang ampuh untuk mendiskreditkan suatu agama tertentu beserta para penganutnya.  Bukan hanya agama Buddha dan para ummatnya yang sering mendapat ‘tudingan’ kejam seperti ini, tetapi agama-agama yang lainnya pun banyak juga ( misal ; agama Katholik, Hindu, dan lain-lainnya ). Agaknya kita harus dengan kepala dingin dan hati yang terbuka, menelaah secara kritis akan hal ini.

Pemujaan terhadap “berhala” yang dimaksudkan tersebut ( yang sering dituding-tudingkan ) , secara umum berarti, pemujaan terhadap sebuah benda ( patung, tugu-batu, batu-batu bertuah, dan segala bentuk benda yang lainnya ) dalam berbagai bentuk dan ukuran dan berdoa secara langsung terhadap benda-benda tersebut seolah-olah benda tersebut adalah Tuhan Yang-Maha-Kuasa itu sendiri. Doa-doa yang diuncarkan itu berisi permohonan, ratapan, keluh-kesah, yang ditujukan terhadap “Tuhan” yang termanifestasi dalam benda itu, dengan harapan semua permohonan itu dikabulkan.

Nah, apakah Buddha-Rupam adalah berhala ? Melihat pengertian pemujaan berhala tersebut, maka, Buddha-Rupam BUKAN – BERHALA, dan puja kepada Buddha-Rupam, bukanlah suatu bentuk pemujaan kepada Berhala, sebab ;

1. Buddha-Rupam, bukanlah benda / image yang menggambarkan sosok TUHAN.

2. Tidak ada DOA-DOA yang berisi permohonan, ratapan, keluh-kesah, yang ditujukan pada Buddha-Rupam tersebut.

Poster di ruang Puja di rumah saya

Poster di ruang Puja di rumah saya

Mungkin anda ada yang bertanya, “ Lalu, apakah isi Sutta-sutta yang diuncarkan waktu ber-Puja-Bhakti ?”.

Yang harus diketahui, Sutta, BUKANKAH DOA. Sutta, berbeda dengan DOA.

Sutta, artinya adalah “Khotbah”, ia merupakan Sabda Sang Buddha yang berisi ajaran-ajaran Sang Buddha selama 45 tahun Beliau mengabdi pada semua makhluk demi menunjukkan jalan untuk terbebas dari ( minimal ) empat-alam menyedihkan ( yaitu ; neraka, binatang, alam para hantu ( peta ), dan alam para Jin dan raksasa ( Asura ) ) , dan ( maksimal ) demi tercapainya realisasi Nibbana, pembebasan sempurna dari samsara, terbebas dari arus tumimbal lahir di alam manapun juga. Pembacaan Sutta ini, mempunyai tujuan, untuk semakin menghayati ajaran Sang Buddha, bukan untuk meratap dan memohon permohonan-permohonan seperti rejeki, jodoh, dan lain-lain hal duniawi.

Misalkan saja, Karaniyametta-Sutta. Ini adalah Khotbah tentang Kewajiban dan Cinta Kasih. Berisi anjuran-anjuran Sang Buddha tentang apa yang harus dikerjakan oleh mereka yang tangkas dalam kebaikan, untuk mencapai ketenangan. Anjuran ini sangat jelas terlihat dari awal khotbah tentang kewajiban dan cinta-kasih ini :

“ Inilah yang harus dikerjakan,

Oleh ia yang tangkas, dalam hal yang berguna,

Yang mengantar ke jalan pencapaian ketenangan,

Ia harus mampu, jujur, sungguh jujur,

Rendah hati, lemah-lembut, tiada sombong… ,

Merasa puas, mudah dilayani,

Tiada sibuk, sederhana hidupnya,

Tenang inderanya, berhati-hati,

Tahu malu, tak melekat pada keluarga-keluarga.

Tak berbuat kesalahan walaupun kecil,

Yang dapat dicela oleh Para Bijaksana,

Hendaklah ia berpikir :

“Semoga Semua Makhluk Berbahagia dan Tenteram,

Semoga Semua Makhluk Berbahagia!”

Nah, dari cuplikan Karaniyametta-Sutta tersebut, jelas terlihat tidak ada ratapan-ratapan dan permohonan yang ditujukan kepada Buddha-rupam dan Sang Buddha, bukan ? Demikian pula dengan semua Sutta-sutta dalam kitab agama Buddha. Semua berisi ajaran-ajaran Sang Buddha, dalam bahasa Pali, dibaca untuk diresapi, dihayati, ditemukan manfaat sari pati ajarannya untuk dipraktekkan.

Sekarang, mari kita bandingkan isi SUTTA tersebut dengan DOA, yang umumnya masyarakat non-Buddhis mengenalnya. Umumnya, doa akan berbunyi dan berisi hal-hal seperti dibawah ini :

“ Ya Tuhan Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang… ,

Segala Puji Bagi – Mu , Tuhan, Penguasa Alam Semesta,

Hanya pada-Mu kami menyembah, dan hanya padamu kami MEMOHON PERTOLONGAN, Ya Tuhan Yang Maha Perkasa..,

Ya, Tuhan, Yang Maha Agung..,

Tunjukkanlah kami Jalan kenikmatan yang engkau berikan pada mereka yang Engkau kasihi, bukan jalan kecelakaan yang Engkau berikan terhadap mereka yang Engkau MURKAI… .

Ya Tuhan, bukakanlah pintu Rejeki untuk Kami,

Pertemukanlah kami dengan jodoh-jodoh kami

Yang telah Engkau siapkan, Ya Tuhan…,

Ampunilah kesalahan kami,

Terimalah seluruh amal perbuatan baik kami, Ya Tuhan..,

dst.”

Doa, selalu didahului dengan puja dan puji kepada Tuhan, lalu diikuti oleh berbagai bentuk ratapan dan permohonan, permintaan tolong, harapan untuk dibantu memperoleh jalan keluar, dan lain-lain sebagainya. Sedangkan Sutta , yang diuncarkan para siswa Sang Buddha, berisi tentang pokok-pokok pelajaran yang diberikan oleh Sang Buddha, untuk dihayati, semakin diperdalam, demi tercapainya kemajuan spiritual.

Karena masyarakat umumnya terbiasa diajari doa-doa, yang isinya adalah ratapan-ratapan kepada Tuhan, lantas menyamaratakan bahwa apa yang dibaca dalam Paritta / Kitab-Kitab agama Buddha [terutama ketika ber-Puja Bhakti di depan meja Puja ] adalah sama dengan apa yang mereka baca.


FUNGSI BUDDHA-RUPAM

Meja Puja Bhakti di Rumah

Meja Puja Bhakti di Rumah

Buddha-Rupam, atau image-Buddha, berfungsi sebagai alat bantu visual yang membantu seseorang mengingat Sang Buddha dan sifat-sifat luhur-Nya yang menginspirasi milyaran makhluk dari generasi ke generasi berikutnya sepanjang sejarah peradaban dunia.

Buddha-Rupam juga berfungsi sebagai objek-samadhi, yaitu saat melakukan samadhi dengan objek Buddhanussati. Meditasi dengan objek keluhuran dan sifat serta Guna dari Sang Buddha, akan semakin memperteguh semangat untuk menempuh kehidupan suci, dengan meneladani Sang Guru Agung itu sendiri, yang menunjukkan Jalan menuju kesucian dan pembebasan.


PATUNG-PATUNG DALAM AGAMA-AGAMA DILUAR BUDDHA-DHAMMA

Sesungguhnya, diluar agama Buddha, semua agama menggunakan suatu objek benda sebagai suatu sarana visual dan material untuk ber-religi, termasuk untuk melakukan ritual penguncaran doa-doa. Dan hal ini, menurut hemat kami, adalah wajar-wajar saja. Sebab, manusia mempunyai akal-pikiran, dan objek-objek tersebut merupakan bentuk ekspresi manusia terhadap sesuatu yang ia sebut “sakral”.

Di dalam agama Hindu, banyak terdapat patung Dewa, baik Dewa Brahma, Wisnu, maupun Siwa. Dan masih banyak lagi patung-patung. Semua patung-patung itu, merupakan simbol dari Tuhan, manifestasi dari Tuhan itu sendiri.

Di dalam agama Katholik, banyak terdapat patung-patung, seperti patung Tuhan Yesus Kristus, patung Bunda Maria, serta patung para suciwan lainnya.

Didalam agama Kristen, meskipun di”haram”kan adanya patung-patung, namun mereka mempunyai lambang “Salib” , sebagai objek / image dari kekudusan, kerohanian, atau sesuatu yang “absolut” itu sendiri.

Di dalam Islam, agama yang sangat mengharamkan adanya objek-objek pemujaan, mempunyai sebuah objek lambang-suci mereka , yaitu Ka’Bah, atau rumah-Tuhan. Menurut sejarahnya, di dalam Ka’Bah dulunya terdapat tiga ratus enam puluh (360 ) patung, dan sudah disingkirkan semua oleh Nabi Muhammad SAW.  Diluar Ka’Bah terdapat Batu Hajar Aswat , yang dipercaya sebagai batu bertuah dari surga. Hingga kini, ummat Islam sedunia, bila sholat , dan juga saat-saat berdoa, memohon suatu berkah, selalu menghadap KIBLAT, yaitu arah menuju rumah-Tuhan itu, Ka’Bah, di Mekah di tanah-Arab. Selain itu, juga terdapat seni Kaligrafi yang menggambarkan religiusitas mereka, dan seni ini sangat terkenal dan digemari karena keelokannya.

Di dalam Agama TAO, terdapat patung-patung Dewa, seperti Dewa Bumi, Dewa Langit, Dewa Naga, Dewa Kekayaan, Dewa Kesehatan, dan lain-lain patung Dewa, yang kesemuanya berfungsi sebagai sarana untuk mengajukan permohonan kepadanya.

Di dalam Kejawen, terdapat Keris-Keris, batu-batu bertuah, jimat-jimat, beberapa jenis patung, lukisan-lukisan Dewa tertentu, seperti Semar, Ratu Kidul, dan lain-lain. Ummat Kejawen, juga melakukan doa-doa serta ritual-ritual kepada Tuhan , karena mereka merupakan “Aliran Kepercayaan Kepada Tuhan YME ” . ( Misal, dengan doa-doa seperti, “Duh Gusti Ingkang Maha Agung, Ingkang Murbeng Dumadi, Ingkang Maha Kuwaos…, Kula Nyuwun Gunging Pangapunten, Gunging Pangaksami… , Nyuwun Sih Pitulungan Panjenengan , duh Gusti Pengeran…dst.” ).

Melihat betapa universalnya tradisi patung-patung / objek-objek suci bagi ritual sebuah agama di berbagai agama tersebut , lalu, adakah yang salah ? Tentu tidak. Adakah yang paling benar ? Artinya, bahwa hanya ada satu patung saja yang boleh disembah, sedang yang lain harus dihancurkan ? Egois sekali bila begitu.

Jika ada ummat Buddha yang melakukan hal memalukan tersebut ( menghancurkan patung-patung diluar Buddha-Rupam ), maka ia bukanlah seorang pengikut Sang Buddha, karena ia ‘egois’, ‘biadab’, menghancurkan suatu ‘keindahan’ , keelokan, ragam budaya dari pihak lain ( agama lain ) , yang sesungguhnya memperkaya khazanah peradaban dunia. Orang-orang seperti ini, ( yang suka  menghancurkan patung-patung dari agama lain, dan menganggap hanya patung dalam agamanya sajalah yang boleh ada dan boleh disembah ) layaknya disadarkan, bahwa patung miliknya ( bagi ummat Buddha, tentu saja yang dimaksud adalah Buddha-Rupam ), bukanlah satu-satunya patung yang boleh ada, yang boleh dipuja, dan yang harus menjadi satu-satunya didunia yang di”sakral”kan. 😉


SIAPA YANG SELAMA INI MENYEMBAH BERHALA ??

Persiapan Magha Puja di Vihara Watugong

Persiapan Magha Puja di Vihara Watugong

Dengan menelaah hal-hal diatas, lalu, kita sekarang bisa bertanya,  “Siapakah sesungguhnya yang selama ini MENYEMBAH BERHALA ?? “ Predikat “pemuja-berhala” sangatlah tidak tepat diberikan kepada ummat Buddha, dan tidak tepat pula diberikan pada ummat agama apapun. Pemberian predikat seperti itu sangatlah kejam, tidak manusiawi, melukai hati nurani setiap ummat yang memegang teguh kepercayaannya.

Sesungguhnya, semua agama sama-sama mempunyai objek / simbol religinya masing-masing, bahkan hampir semuanya memiliki suatu “objek” visual pemujaannya sendiri-sendiri, yang patut dihormati oleh semua pihak, baik ummat agama tersebut maupun ummat agama lainnya. Bagi kami, ummat Buddha, itu semua bukanlah masalah, dan bukan hak kami untuk menghakimi dengan tudingan-tudingan yang menyakitkan seperti yang umumnya dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Semoga dengan artikel ini, tidak ada lagi tuding-menuding yang berjudul “Penyembah-Berhala” tersebut,sadhu…sadhu…sadhu… .


“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

RATANA-KUMARO ( Ratna Kumara )

Semarang-Barat,Kamis, 09 April 2009

Posted in BUDDHA | 40 Comments »