RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

KESELAMATAN DAN KEBEBASAN DALAM BUDDHISME

Posted by ratanakumaro pada November 11, 2008

KESELAMATAN & KEBEBASAN


DALAM BUDDHA-DHAMMA


“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa “


Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Dalam Buddha-Dhamma, tidak diajarkan adanya sosok juru-selamat yang hanya dengan beriman kepadanya dosa-dosa kita, ummat manusia, akan sepenuhnya terhapuskan, dan kita terjamin dalam kehidupan yang kekal-abadi karenanya.

Sang Buddha, Guru Agung kita semua, hanyalah penunjuk jalan, tetapi kita masing-masinglah yang harus menjalani “Jalan-Pembebasan” tersebut, seperti Sabda Beliau yang tertera dalam Dhamapada 160 =

“ Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri. Karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya ?

Setelah dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik, ia akan memperoleh perlindungan yang amat sukar dicari. “

Siapakah yang menjadikan seseorang menjadi suci ? Siapakah yang menjadikan seseorang menjadi tidak-suci ? Dengan demikian, siapakah yang menjadikan hidup kita selamat ? Siapakah yang menjerumuskan kehidupan kita dalam jurang kekelaman ? Tidak lain tidak bukan adalah : diri kita sendiri. Keselamatan dan kesucian tidak didapatkan dari suatu kekuatan eksternal, diluar diri kita sendiri. Dhamapada 165 menyatakan :

“ Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan,

Oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci.

Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri.

Tak seorang pun yang dapat mensucikan orang lain. “

Sang Bhagava pernah bersabda, “Jadikanlah dirimu pulau perlindungan bagi dirimu sendiri.” Demikianlah yang diajarkan Sang Buddha. Kita sendiri yang harus bertanggungjawab terhadap hidup kita, terhadap setiap bentuk ucapan, pikiran dan perbuatan kita. Kita tidak pernah bisa menyalahkan siapapun jika hidup kita terjerembab dalam kenistaan, dan kita tidak sepatutnya bermanja-manja meminta kerelaan siapapun untuk “menggendong” kita menuju keselamatan dan kebebasan dari semua bentuk penderitaan.

Dalam Buddha-Dhamma, “Keselamatan” dan “Kebebasan” bukanlah sesuatu yang hanya bisa dinikmati setelah kematian. Pandangan tersebut adalah pandangan spekulatif. Keselamatan dan kebebasan dapat dicapai dalam kehidupan kita sebagai manusia, dan kebebasan inipun diketahui oleh orang yang bersangkutan pula, sebagaimana disabdakan oleh Sang Buddha dalam Parinibbana Sutta, berkenaan dengan Bhikkhu Salba :

“ Mengenai Bhikkhu Salba, O, Ananda, dengan melenyapkan kekotoran-kekotoran batinnya selama hidupnya itu, maka ia telah memperoleh kebebasan batiniah dari noda, telah mendapatkan kebebasan melalui kebijaksanaan, dan hal itu telah dipahami dan disadarinya sendiri. “


REALISASI KEBUDDHAAN SEBAGAI BENTUK KESELAMATAN DAN KEBEBASAN

Sang Buddha tidak mengajarkan manusia untuk “menyembah-Nya”, tetapi justru mengajarkan untuk mencapai apa yang sudah berhasil dicapai-Nya, yakni merealisasi tataran BUDDHA, menjadi BUDDHA, merealisasi Ke-Buddha-an.

Dalam agama Buddha mazhab Mahayana, dikenal istilah “Tathagatagarbha”. Doktrin Tathagatagarbha ini menyatakan, setelah kebodohan / kegelapan batin ( moha ) dilenyapkan, benih ke-Buddha-an yang melekat ( inheren ) dalam setiap makhluk akan tersingkap. Tidak ada suatu makhluk / entitas diluar diri kita sendiri yang bisa menyelamatkan kita selain kita sendiri. Kita masing-masing pada dasarnya adalah Buddha yang belum terealisasikan, seperti yang dinyatakan Sang Buddha dalam Tathagatagarbha-sutra :


“ Aku melihat bahwa semua makhluk

Adalah seperti bayi-bayi dalam kesukaran

Didalam tubuh mereka adalah Tathagatagarbha,

Tetapi mereka tidak menyadarinya.

Maka Aku memberitahukan kepada para Bodhisatva,

“ Hati-hati, jangan sampai menganggap dirimu rendah dan hina, tubuh-tubuhmu adalah Tathagatagarbha ; mereka selalu mengandung Cahaya Keselamatan Dunia. “


Tidak seperti beberapa ajaran diluar Buddhisme, maka Jalan Keselamatan yang ditunjukkan oleh Sang Buddha bukanlah ekslusif untuk suatu suku-bangsa / ras / golongan tertentu saja, tapi untuk semua makhluk, seperti tercantum dalam Avatamsaka-sutra bab 10 =

“ Bagaikan awan hujan yang besar

Menjatuhkan hujan ke seluruh penjuru bumi ;

Curahan hujan tidak membeda-bedakan siapapun

Demikianlah kebenaran semua Buddha. “

Keselamatan dan Kebebasan bukanlah monopoli suatu agama. Tapi keselamatan dan kebebasan adalah monopoli orang-orang yang mensucikan dirinya, membimbing diri ke arah yang baik dan benar, lurus, tanpa noda, apapun agama orang itu.

DUA JENIS KESELAMATAN

Dalam Buddha-Dhamma dikenal dua jenis keselamatan, yaitu :

1). Keselamatan Relatif.

2). Keselamatan Absolut.

1). Keselamatan Relatif

Dalam kebanyakan ajaran-ajaran selain Buddha-Dhamma, dinyatakan bahwa bentuk “Keselamatan” adalah suatu jaminan kelak setelah kita mati kita akan terlahir disisi “Maha-Dewa”, hidup penuh kesenangan didalam sorga.

Jika jenis keselamatan ini yang dimaksudkan, maka bagi agama Buddha keselamatan jenis ini adalah keselamatan “relatif”, karena alam surga sesungguhnya TIDAK-KEKAL, masih dicengkeram kelapukan, karena masih berpijaknya empat unsur alam semesta disana ( air, tanah, api dan udara ), yang senantiasa menuju kehancuran. Alam surga juga bersifat relatif, karena masih terbelenggu oleh dimensi ruang dan waktu.

Sang Buddha tidak pernah mengajarkan untuk berdoa dan menyembah Dewa / Dewi penghuni surga, karena mereka sendiri masih diliputi kekotoran batin, yaitu nafsu-nafsu indria, dan juga masih dicengkeram oleh kelahiran dan kematian. Juga, para Dewa / Dewi masih bisa marah, masih bisa murka, menghukum, tidak senang, cemburu, dan lain-lain sifat-sifat buruk, sehingga bukanlah sosok yang tepat untuk dijadikan perlindungan ( perlindungan yang tepat adalah diri sendiri ).

Seperti yang sudah pernah saya sebutkan pada artikel terdahulu, yang menyebabkan suatu makhluk / seseorang terlahir di alam-alam surga / dewata di keenam alam dewa lingkup-keindriaan / Kamadhatu ( Catummaharajika, Tavatimsa, Yama, Tusita, Nimmanarati, Paranimmitavatti ), adalah hal2 berikut ini :

1. Mempunyai “hiri”, yaitu : Rasa malu untuk berbuat jahat.

2. Mempunyai “ottapa”, yaitu : Takut akan akibat perbuatan jahat.

Saat menjadi manusia, maka seseorang harus berlatih / mempraktekkan dhamma dengan baik, menjaga dan merawat SILA dengan baik, senantiasa berdana / berderma, maka ia akan terlahir di alam-alam Dewa lingkup-keindrian, ditunjang dengan hiri dan ottapa.

Hiri dan ottapa akan mengikis emosi-emosi negatif yang bersifat destruktif, yaitu : kebencian, kemarahan, keirihatian, kemelekatan, dan stress / depressi.

Alam surga bukanlah monopoli agama tertentu. Tetapi, alam surga memang hanya akan dihuni oleh orang-orang tertentu, menjadi monopoli orang-orang semacam itu. Orang-orang seperti apakah ? Orang-orang yang baik hatinya, yang rendah hati, yang penuh cinta kasih, yang mempunyai rasa malu untuk berbuat jahat dan mempunyai rasa takut akan akibat perbuatan jahat, yang selama hidup sebelumnya sangat gemar berderma, suka menolong semua makhluk yang mengalami penderitaan, dan lain-lain sifat dan watak yang positif. Kebajikan dan kebenaranlah yang akan menjamin seseorang masuk s u r g a , bukan agama yang menjamin seseorang masuk s u r g a .

2). Keselamatan Absolut

Buddha-Dhamma mengajarkan, bahwa surga bukanlah tujuan tertinggi bagi semua makhluk. Terbebas dari samsara adalah “Keselamatan-Absolut”, “Kebebasan-Mutlak”. Kebebasan ini diraih dengan merealisasi “Nibbana” ( Sanskerta : Nirvana ), keadaan tanpa-nafsu-keinginan, pemadaman semua kekotoran batin ( dalam ajaran Jawa dikenal dengan “Kahanan-Jati”, “Kang-Tanpa-Tanpa” ).

Musnahnya kekotoran batin, hancurnya nafsu yang abadi serta gemilang, inilah Keselamatan-Mutlak. Saat itulah semua makhluk akan terbebas dan berhasil keluar dari putaran arus kelahiran dan kematian.

Untuk merealisasi Nirvana ini, kita sendirilah yang harus menjalani, yaitu melalui “laku” / praktek : SILA ( moralitas-benar ), SAMADHI ( pemusatan-perhatian-benar ), dan PANNA ( kebijaksanaan-benar ).

Sila yang harus dikembangkan demi realisasi Nirvana ini adalah 227 Sila Pattimokha. Lima moralitas yang dijaga dan dirawat ummat awam ( Pancasila ), hanyalah menyebabkan seseorang terlahir kembali di alam manusia dan alam-alam surga lingkup Kammadhatu. Tapi jika berkehendak untuk merealisasi Nirvana, maka kita harus menjaga dan merawat 227 Sila Pattimokha, yaitu sila ke-Bhikkhu-an.

PENCERAHAN ADALAH PEMBEBASAN

Realisasi Nirvana inilah sesungguhnya pencapaian ke-Buddha-an, Buddhahood. Inilah “Pencerahan”. Banyak orang menyatakan mampu membawa seseorang pada pencapaian “Pencerahan”, tetapi tidak mengerti apa maksud dari “Pencerahan”. Istilah “Pencerahan” dikenal saat Sang Buddha berhasil mencapainya di bulan Vesakkha. Karena pencapaiannya inilah maka ia disebut “Yang-Tercerahkan-Sempurna” ; Samma-Sambuddha, karena mencapai Pencerahan dengan usaha sendiri tanpa bantuan seorang Guru / entitas diluar dirinya sendiri. Sebutan “Buddha” diberikan kepada seseorang yang mampu mencapai “Pencerahan-Buddhi”. Dan Istilah “Pencerahan” inilah yang sekarang ini menjadi banyak diperbincangkan, namun sayang telah terdirtorsi dari “api” sesungguhnya.

Pencerahan dicapai saat seseorang telah mampu menembus “Empat-Kesunyataan-Mulia”, yaitu hakekat hidup, kehidupan dan alam-semesta, ialah : 1). Dukkha ( penderitaan ), 2). Sebab Dukkha ( Tanha : Nafsu keinginan ), 3). Lenyap / Berhentinya dukkha ( Realisasi Nibbana / Nirvana ), dan, 4). Jalan menuju lenyapnya / berhentinya dukkha ( Jalan Mulia Beruas Delapan, yang diringkas : Sila, Samadhi, dan, Panna ).

Untuk menembus Empat Kesunyataan Mulia, maka seseorang perlu terlebih dahulu menembus tiga-corak dunia ( Tilakkhana ) ; 1). Anicca ( Sanskerta : Anitya ), yaitu : Tidak-Kekal, 2). Dukkha, yaitu : Penderitaan, dan, 3). Anatta ( Sanskerta : An-atman ), yaitu : Tidak-Ada AKU.

Pencerahan adalah tersingkapnya ilusi, ilusi keabadian, ilusi kesenangan yang ditawarkan di ke-31 alam kehidupan. Pencerahan dicapai bersamaan dengan padamnya nafsu-nafsu keinginan, terkikisnya keserakahan ( lobha ) akan keindriaan, kebencian ( dosa ), dan kebodohan / kegelapan batin ( moha ).

Kembali kepada realisasi Nibbana, pencapaian ke-Buddha-an. Hal ini sangat dimungkinkan untuk dicapai, karena semua makhluk pada dasarnya memiliki benih-benih ke-Buddha-an didalam dirinya. Disebabkan oleh kekotoran-kekotoran batin, maka ia senantiasa terjebak dalam ilusi-ilusi duniawi. Sebagaimana dinyatakan dalam Anguttara Nikaya I.10 :

“ Batin pada mulanya sesungguhnya adalah suci bersih, tetapi dicemari oleh kekotoran batin yang timbul kemudian, sehingga batin menjadi kotor.

Ummat awam tidak menyadari hal ini, sehingga mereka tidak melatih batinnya.

Akan tetapi batin dapat dibersihkan dari kotoran yang timbul, sehingga batin kembali suci.

Siswa Buddha menyadari hal itu sehingga mereka melatih batinnya. “

Keselamatan dan Kebebasan dalam Buddha-Dhamma menekankan pentingnya transformasi pikiran dibandingkan perbuatan jasmani dan ucapan, karena “ pikiran yang diarahkan dengan keliru, bahkan dapat mengakibatkan kerugian yang jauh lebih besar. “ ( Ud.4.3 ). Juga sebagaimana dinyatakan dalam Anguttara Nikaya II.143 :

“ Bisa ditemukan makhluk yang dapat terbebas dari menderita penyakit jasmaniah selama setahun, dua tahun, atau sepuluh tahun, atau bahkan mungkin seratus tahun.

Tetapi sulit menemukan makhluk yang dapat terbebas dari penyakit batiniah walau untuk sesaat saja, kecuali ia yang telah mengatasi kekotoran batinnya. “

Untuk mencapai “Kebebasan-Mutlak” ini, maka praktek Sila, Samadhi, dan Panna adalah merupakan satu-satunya jalan. Mengenai Sila telah diterangkan tersebut diatas. Mengenai Samadhi, sudah pernah disinggung. Samatha ( Ketenangan ) dan Vipassana ( Pandangan-Terang ), itulah yang diajarkan Sang-Buddha. Dan bagian dari itu ada suatu sutta yang sangat terkenal, yaitu “Mahasatipathana-Sutta”, yang didalamnya dinyatakan :

“Jalan ini, wahai para Bhikkhu, adalah jalan tunggal demi kesucian makhluk-makhluk, demi melampaui kesedihan dan ratap-tangis, demi kepadaman penderitaan dan kepiluan hati, demi mencapai hal yang benar, demi membuat pencerahan Nibbâna; Jalan itu adalah Empat Perkembangan Perhatian (satipathâna). “

Mengenai “Empat-Perkembangan-Perhatian” akan diterangkan lebih lanjut.

Demikianlah, sehingga Keselamatan dan Kebebasan dalam Buddha-Dhamma bukanlah hal sederhana sebagai pencapaian kehidupan di alam surga semata. Keselamatan dalam Buddha-Dhamma merupakan terbebasnya suatu makhluk dari putaran arus kelahiran dan kematian ( samsara ), yang penuh dukkha, kepiluan, dan ratap-tangis. Keselamatan sedemikian ini hanya akan dicapai saat suatu makhluk, dalam hal ini seseorang manusia, merealisasi Nibbana, mencapai Pencerahan, mencapai ke-Buddha-an.

Untuk merealisasi Nirvana ini, maka dalam agama Buddha dikenal tingkatan-tingkatan pencapaian kesucian, yang sudah pernah saya singgung pada artikel “Ketuhanan YME dalam Buddhisme ( I ) “ yang terdahulu. Untuk mengingat kembali, maka tingkatan-tingkatan kesucian tersebut adalah :

1. SOTAPANNA

Adalah manusia suci yang paling banyak akan terlahir tujuh kali lagi. Sotapanna telah melenyapkan tiga belenggu ( samyojana ), yaitu :

1. Sakkaya-ditthi,

2. Vicikiccha, dan,

3. Silabbata-paramasa.

2. SAKADAGAMI

Manusia suci yang paling banyak akan terlahir sekali lagi. Sakadagami telah melenyapkan tiga belenggu ( samyojana ), yaitu :

1. Sakkaya-ditthi,

2. Vicikiccha, dan,

3. Silabbata-paramasa.

Dan telah melemahkan belenggu :

4. Kama-raga, dan

5. Vyapada.

3. ANAGAMI

Manusia suci yang tidak akan terlahir lagi di alam manusia, tetapi langsung terlahir kembali di salah sebuah alam Suddhavasa ( penjelasan mengenai alam Suddhavasa ada dalam buku saya “ Sang Jalan, Ariya-Athangika-Magga… .). Dari salah sebuah alam Suddhavasa ini Anagami itu akan mencapai tingkat kesucian tertinggi sebagai Arahat dan akhirnya ia mencapai parinibbanna.

4. ARAHAT

Manusia suci yang telah menyelesaikan semua usahanya untuk melenyapkan semua belenggu yang mengikatnya. Bila ia meninggal dunia, ia tidak akan terlahir di alam manapun. Ia akan parinibbana.

Belenggu-belenggu yang disebutkan diatas, secara rinci ada sepuluh ( 10 ) belenggu sebagai berikut :

1. Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa, atau “AKU” yang kekal ( sakkaya-ditthi ).

2. Keragu-raguan yang skeptis pada Buddha, Dhamma, Sangha, dan tentang kehidupan yang lampau dan kehidupan yang akan datang, juga keraguan kepada hukum sebab-akibat ( vicikiccha ).

3. Kemelekatan pada suatu kepercayaan bahwa hanya dengan melaksanakan aturan-aturan dan upacara keagamaan seseorang dapat mencapai kebebasan ( silabbata-paramasa ).

4. Nafsu indriya ( kama-raga ).

5. Dendam dan dengki ( vyapada ).

6. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk ( rupa-raga ). Alam bentuk ( rupa-raga ) dicapai oleh seseorang apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan Samadhi dan telah mencapai Jhana I, Jhana II, Jhana III, atau Jhana IV.

7. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa bentuk ( arupa-raga ). Alam tanpa bentuk ( arupa-raga ) dicapai oleh seseorang apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan samadhi telah mencapai Arupa Jhana I, II, III, dan Arupa Jhana IV.

8. Perasaan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

9. Kegelisahan ( uddhaca ). Suatu kondisi batin yang haus sekali karena yang bersangkutan belum mencapai tingkat kebebasan sempurna ( ARAHAT ).

10. Kebodohan atau ketidaktahuan ( avijja ). Kebodohan atau ketidaktahuan ini menunjukkan seseorang yang tidak mengerti mana “Jalan”, mana yang “Bukan-Jalan”. Seseorang yang masih terbakar oleh “tiga-api” ( Nafsu keinginan, Kebencian, dan, Keserakahan ) termasuk dalam golongan orang yang mengalami ‘ketidaktahuan’. Ketidaktahuan akan adanya penderitaan ( dukkha ) dan jalan melenyapkan penderitaan inilah kebodohan. Ketidaktahuan bahwa semua di segenap semesta ini adalah tidak kekal ( anicca ), penderitaan ( dukkha ), dan tidak-ada AKU ( anatta ), adalah kebodohan.

Demikian wacana “Keselamatan dan Kebebasan dalam Buddhisme” telah saya uraikan. Semoga wacana ringkas ini bermanfaat bagi semua yang membacanya.

Salam Damai dan Cinta Kasih… .

Semoga Semua Makhluk Berbahagia dan Terbebas !

— RATANA KUMARO  —

Semarang Barat, Selasa, 23 September 2008

23 Tanggapan to “KESELAMATAN DAN KEBEBASAN DALAM BUDDHISME”

  1. simon said

    “DIRI SENDIRILAH JURU-SELAMAT BAGI DIRI SENDIRI”

    anda menjalankan ajaran Buddha itu berarti anda mengikuti sesuatu/seseorang, bukan diri sendiri.
    Kalau yang disebut “diri sendiri” anda tidak perlu suatu ajaran.
    ———————————-

    Sdr. Simon, maksudnya sebenarnya sudah jelas kok, dimana diri kita sendirilah yang bisa membawa diri kita ke jalan yang benar, dan diri kita sendiri pulalah yang bisa menenggelamkan kita dalam kesedihan, kehancuran… .

    Dengan demikian, iman kepada Sang Buddha saja tidak menyelamatkan, Sang Buddha hanya penunjuk jalan, tapi diri kita sendirilah yang harus menempuh jalan pembebasan tersebut, demi terbebasnya kita dari semua kesedihan, penderitaan, dan “kekelaman”… .

    —————————————-

    Mengenai ajaran “tiada AKU” ini kontradiktif dengan keinginan pencapaian Nibbana. Untuk apa Nibbana dicapai kalau AKU sudah tidak ada ? Begitu AKU hilang hilang semua rasa termasuk “perasaan” Pencerahan. Tidak ada AKU lagi yang bisa merasakan atau menikmati Pencerahan tsb, hilang lenyap, sunyata. Teori ini mirip dengan Nihilisme, bedanya nihilisme benar-benar lenyap tidak ada Nibbana ataupun Pencerahan. Orang penganut nihilisme percayaha hidupnya sekali di dunia ini saja, tidak ada embel-embelnya.
    —————————————

    Hmmm…yah, memang ANATTA dan NIBBANA inilah yang palin susah dipahami…,
    Ummat Buddha pun juga butuh waktu untuk memahami ANATTA ini ( buktinya, terkadang masih bisa tersinggung, hehe ( tersinggung karena merasa ada “Aku” ) )… .

    Yang ini menurut saya lebih pas jika diresapi, bukan dijabarkan dengan tumpukan kata-kata dan analisa… .
    ————————————-

    Salam
    simon

    ———————————

    Salam Damai dan Cinta Kasih, Sdr, Simon… .

    Salam
    simon

  2. simon said

    sdr ratana,
    betul, manusia sendirilah yang menyebabkan sebagian besar penderitaan. Pada jaman Siddharta 2300th yl, peradaban di india, sistem kasta dan pemeritahan monarki abosolut, menyebabkan rakyat jelata menderita. Sekarang sudah berkurang jauh dan dapat diatasi.

    Tapi ada penderitaan bukan disebabkan oleh manusia sendiri, seperti cacat lahir. Yesus memberikan contoh bagaimana penderitaan harus dijalani manusia termasuk diriNya. Kasih yang paling besar adalah penderitaan yang ditanggung untuk keselamatan/kebaikan orang lain. Penderitaan dan perjuangan anda untuk tetap selibat adalah bentuk pengorbanan bagi keselamatan/kebaikan dan keharmonisan manusia lain. Inilah yang disebut Kasih yang sebenarnya.

    Siddharta mencoba menghilangkan penderitaan dengan cara menghipnotis diri sendiri dengan teori “tiada AKU”
    Melarikan diri dari kenyataan penderitaan yang mengakibatkan kehilangan jiwa dan pribadi, suatu praktek euthanasia jiwa, mematikan jiwa secara perlahan-lahan dan kenyataanya jiwa tidak bisa ditiadakan.

    Bagi ajaran Kristen, AKU adalah pribadi yang unik dimata Pencipta. Anda adalah unik/satu-satunya tidak ada duanya dimata Pencipta, walaupun anda cacat, engkau adalah ciptaanNya yang selalu diperhatikanNya. Bahkan istimewa bagiNya, karena beban yang engkau tanggung lebih berat dari manusia normal.

    Kurbankan penderitaanmu bersama-sama dengan pengurbanan Yesus dikayu salib.
    Jika anda bisa memahami ini, niscaya anda akan menemukan pencerahan dan kasih yang sebenarnya dari penderitaan anda.

    salam & doa
    simon

  3. wira jaka said

    @ Simon
    “Kurbankan penderitaanmu bersama-sama dengan pengurbanan Yesus dikayu salib.
    Jika anda bisa memahami ini, niscaya anda akan menemukan pencerahan dan kasih yang sebenarnya dari penderitaan anda”.
    —————-
    saya tidak sependapat dengan anda ….
    pencerahan dan kasih bisa didapat dari mana saja, kuncinya adalah diri sendiri, terutama mau menyadari dan melaksanakan kebajikan, tidak melanggar hukum Tuhan maupun manusia, menjaga keseimbangan manusia dan alam …. serta tulus dalam menolong sesama dan makhluk hidup lainnya.
    pencerahan adalah kekosongan, tidak berharap akan imbalan, walaupun surga sekalipun …..

    salam,

  4. simon said

    @wira,

    tidak melanggar hukum Tuhan maupun manusia

    pernahkan anda melanggar hukum Tuhan ?
    kalau pernah, bagaimana caranya anda menebus pelanggaran tsb ?

    pencerahan adalah kekosongan,

    kalau kosong bangaimana anda merasakan pencerahan ?

    tidak berharap akan imbalan, walaupun surga sekalipun …..
    ……..kecuali pencerahan atau kekosongan itu sendiri.

    dalam ajaran kristen, manusia berdosa diselamatkan atas rahmat dan belas kasih Tuhan, Sola Gratia. Bukan perbuatan baik, jadi benar kata anda tidak mengharapkan imbalan surga.

    salam,
    Simon

  5. Great Job said

    Waduh-waduh, saya jadi merasa tidak sia-sia belajar Buddhis dr kecil, ternyata memang ‘capek deh’ menjelaskan pada pemeluk agama lain ttg Buddhis, cukup dipahami di hati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

  6. wira jaka said

    @ simon:
    “pernahkan anda melanggar hukum Tuhan ?
    kalau pernah, bagaimana caranya anda menebus pelanggaran tsb ?”
    ————-
    mas simon, rasanya saya adalah manusia biasa, yang tak lepas dari kesalahan, …. dulu saya pernah “mengaku dosa” pada pastur, apakah dengan itu lalu dosa saya bisa terhapus ???, maaf ya, sebenarnya aku tidak ingin mengorek masa lalu saya, tapi saya lebih sreg kalau menebus dosa / kesalahan itu dengan laku yang baik dan nyata, dan berani mempertanggung jawabkan segala kelakuan / perbuatan kita ini baik didunia maupun di akhirat.
    jadi apapun yang terjadi kini dan nanti adalah “ngunduh wohing pakarti” dan syukur2 kalau masih bisa diperbaiki.

    kata mas Ratana, amal baik diri kita adalah benteng pertahanan yang baik untuk menapaki jalan kesana ….

    betul mas simon …. saya tidak berfikir mengenai surga (surga bukan tujuan saya), tapi saya akan mendapatkan dengan sendirinya bila perilaku kita memang baik dan benar, yang sebenar-benarnya. baik didunia maupun di akhirat.

    salam.

  7. wira jaka said

    tambahan …
    saya akan menciptakan surga (untuk saya sendiri), saya adalah pemilik surga (saya sendiri), makanya saya harus beramal baik dengan laku nyata untuk bisa menggapai kebajikan.

  8. kangBoed said

    Hehehe
    ikutan nimbrung ah ya mas simon dan mas wira juga bro Ratna saudaraku yang cuantiiik hehehe
    Dalam kekeristenan sebenarnya ada dua langkah yang sambung menyambung tapi seing dilupakan, “TOBAT” dan “LAHIR BARU” , tobat dan pengampunan ya ya ya itu hanyalah wilayah Tuhan alias anugerah Tuhan atau masuk dalam kekosongan dan sebagai bukti pertobatannya itu yang disebut Lahir Baru membuat kehidupan yang jauh lebih baik dan lebih baik lagi sebagai bukti lahir dari pertobatan yang begitu mudah terucap dari mulut ini hehehe atau kekosongan telah meliputi yang isi.
    ya ya ya Jadilah garam, Jadilah Terang. Sebelum melangkah keluar dari diri alangkah lebih baiknya kita masuk dulu ke dalam diri kita masing masing ya ya ya
    Kekosongan adalah ujung dari semua jalan mau jalan nyang manapun yang dipakai yaitu tadi hanya sebuah jalan kembali pada manusianya sendiri mau berjalan atau tidak meretas jalan tersebut hingga menemukan kekosongan.
    O di putar, di balik, dijungkirkan teteeeeeeep OOOO
    Makasih saudaraku semua inilah kesejatian membias bias dari setiap warna, hehehe brooooo Ratna salam sayang selalu untuk kalian semua dari si botol kosong tukang omong kosong ini.

  9. kangBoed said

    He he he he
    @Mas Joko
    Salam kenal dariku si botol kosong yang suka cerewet dan banyak omong ini tolong simak baik baik dooong apakah pernyataan saya itu menyebarkan kebencian atau menunjuk yang lain salah hehehe Sabar mas yang menanamkan kebencian itu siapa hayooo hahahaha, lagian saya ini agamanya bukan kristen dan Budha alias tidak beragama teaaa hahahaha tenang mas sabar mas yayayaya
    @Brother Ratna
    Brooo brooo nangis ah saya dimarahin orang bro heeee heeee bro belain dong dooong sapa ya yang menebarkan kebencian ya hahaha waaaah my broo ku ikut marah sereeeeeeeeem ih, yaya mana oleh olehnya bro katanya dah dikirim tapi sampai sekarang belum nyampe apa engga salah alamat ngirimnya my brooo teh…
    wiiiiiiiiii gagah dan keren banget, seragam kerja ya broo, sampeyan iku super JAIM kalo lagi kerja banyak senyum doong hehehehe
    oh ya mengenai yang tiada sensasi itu lagi uenaaaak tiba tiba sepi hening suara nafaspun tak terdengar apalagi binatang malam hi tak berwujud tinggal penyaksian ah susah jelasinnya bro sampeyan kan langkung pinter terangin aja terserah sampeyan hehehe biasa bro oooooooonnya lagi kumat nih alias teu ngarti ngarti hehehe
    Salam Damai dan Kasih sayang
    Botol kosong
    ———————————–
    Dear mas kangBoed…,

    Pencapaian samadhi yang sangat baik mas, terus semangat berlatih! 😉

    Wah, jangan cepat tersinggung dengan setiap ucapan orang mas,
    Nanti cepet tua 😉

    Udah kenal sama mas Joko belum ? Hayo, ah, pasti sudah kenal tuh, cuman lupa … 😉

    Kenalan dulu , salaman dulu, biar semakin kenal dan hapal 😉

    Salam Damai dan Cinta Kasih
    “Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia!”

  10. wira jaka said

    @ JOKO ….. salam kenal
    nama kita hampir sama ….. cuma beda status (kalau aku wis ra joko) 😀

    sebenarnya mas Ratana membuat blog / rumah ini memang tujuannya untuk dipergunakan sebagai area diskusi dan saling berbagi kasih eh informasi, …. jadi pasti banyak perbedaan pendapat …. antara satu dan lainnya, (betul gak mas Ratana ?), jadi seperti mas Simon pun dipersilahkan untuk berpendapat walaupun kelihatan “seolah” menyerang bahkan dulu pernah ada yang mamaki dan menghina … tetapi tetap saja dimuat oleh bro Ratana.

    jadi menurutku, tidak apalah berbeda pendapat disini (dalam rangka diskusi dan njumbuhkan rasa), tinggal tergantung “gaya” masing2 tamu, ada yang meledak2, ada yang adhem ayem, juga ada yang bijak (seperti pak Sugimo, mas Herjuno), dan juga ada yang mbanyol walau ilmunya tinggi (hallo mas Hidayat, juga mas Doel eh.. Kangboed) dan lain2lah.

    jangan diambil hati mas Joko … juga Kangboed, jangan nangis ya …cup cup, tuh air matanya bisa diwadahi botol.

    hehehe … kok seolah aku makili mas Ratana ya … hehehe *sok tahu dan sok akrab*, tapi tak apalah … toh sebagai seorang bante sudah enggak boleh marah lagi, nanti batal loh…

    salam,
    ————————
    Dear mas Wira Jaka…,

    Maturnuwun , sudah menyirami api yang mulai menyala-nyala karena tiupan angin yang meresahkan 😉

    Maturnuwun sanget mas 😉

    Inggih mas, tamu itu memang bermacam-macam…, ada yang sopan, ada yang rendah hati, ada yang menyimpan kerikil di hati , ada yang suka marah2, ada yang pakai avatar lucu2, ada yang pakai id nama lucu2, ada yang pakai id nama tetep, ada pula yang suka gonta-ganti nama, ada yang gonta-ganti nama plus gonta-ganti e-mail dan gonta-ganti server internet, bermacam-macam… 😉

    Tapi semuanya sesungguhnya baik semua, hanya sedang menjalankan peran ( karma ) – nya masing2 😉
    ————————-
    Salam
    ————————-

    Salam Damai dan Cinta Kasih,
    “Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia!”

  11. ratanakumaro said

    Dear All Brothers and Sisters,
    Dear mas kangBoed,
    Dear mas Wira Jaka,
    Dear mas Joko,
    Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

    PERUMPAMAAN INDUK KUCING DAN SEEKOR HARIMAU :

    Di suatu pagi, induk kucing kehilangan anak-anaknya yang masih kecil2.

    Tak berapa lama, ia melihat anak2nya sedang bermain kejar2an tikus.. .

    Namun betapa terkejutnya ia, karena ia melihat disana hadir seekor harimau yang bermain bersama anak2nya.

    Induk itu segera memanggil anak2nya , “Nak, nak..kemari nak, datanglah pada ibu… .”

    Anak2 kucing itu, dengan setengah enggan, memenuhi panggilan induknya,
    “Ada apa ibu? Kami sedang bermain, kenapa ibu memanggil kami ? ” tanya si sulung

    “Ada bahaya di dekat kalian, anak2ku..”kata induk kucing itu.

    “Tapi, disana ada paman kucing, yang baik hati, meskipun tidak kenal kepada kami, tapi baik hati mau membantu bermain kejar2an menangkap tikus nakal itu bu… ” sahut si ragil

    ” Anak2ku, ketahuilah, ia bukan paman kucing, ia adalah seekor harimau, harimau yang jahat.. ” jelas induknya.

    ” Harimau ?? Apa itu harimau ?? Jahat ?? Tidak, ibu, paman kucing itu baik hatinya, ia telah membantu kami menakut-nakuti tikus nakal dengan eongan ( suara )-nya dan cakar2 lembutnya yang jauh lebih kuat dari kami… .” sahut salah seorang anak kucing yang lain.

    Lalu induk kucin itu berkata ;
    “Anak2ku, kalian semua masih kecil, mata kalian dibutakan oleh tipuan2 harimau jahat itu… Apa sajakah tipuannya ? Pertama, IA BUKAN KUCING, TAPI HARIMAU, YANG JAHAT SEKALI,
    Kedua, IA BUKAN MEMBANTU KALIAN MENAKUT-NAKUTI TIKUS JAHAT ITU, TAPI IA MENCARI KESEMPATAN YANG TEPAT UNTUK MENCABIK-CABIK DAGING KALIAN DAN LALU MENYANTAP KALIAN! ”

    Anak2 kucing itu terbelalak, mereka mulai ketakutan. Seakan masih tetap tak percaya, salah seorang anak kucing itu bertanya lagi pada ibunya ,
    “Ibu, paman itu adalah paman kucing, buktinya ia mempunyai bulu dengan warna dan corak serupa kita… Ia juga mempunyai suara seperti kita , “MEOOW…MEOOW..!”…. , Ia juga mempunyai kuku2 seperti kami, yang tentunya ia gunakan seperti kami menggunakannya, untuk saling bersenda-gurau dan membelai satu-sama lainnya… .”

    Induk kucing itu hampir kewalahan menjelaskan, namun ia tetap sabar,
    ” Nak…, ia memang mempunyai bulu yang serupa dengan kita, tapi ia bukan kita, ia adalah harimau yang jahat! Meski serupa, lihatlah, BULUNYA KASAR! TIDAK HALUS SEPERTI KITA!

    Lalu, perhatikan suaranya! IA BUKANNYA BERSUARA MENGEONG, ” MEOOW…MEOOW!”, TAPI IA BERSUARA BERAT DAN KASAR, IA MENGAUM, ” HMAOOOW….HMAOOOW!

    Dan, ia memang mempunyai kuku2 seperti kalian, tapi , IA TIDAK MENGGUNAKAN KUKU2 ITU SEPERTI BIASANYA KALIAN MENGGUNAKAN ( UNTUK BERSENDA GURAU DAN MEMBELAI ), TAPI KUKU2 TAJAM ITU IA GUNAKAN UNTUK MENCENGKERAM DAN MENCABIK2 DAGING2 SETIAP MANGSANYA SEBELUM IA KEMUDIAN MENYANTAPNYA! PERHATIKANLAH BAIK2 NAK, JANGAN KALIAN TERPERDAYA OLEHNYA!”

    Induk itu kali ini berkata dengan nada tinggi, seakan menegaskan setiap ucapan2nya , agar anak2nya waspada dan mengerti… .

    Barulah anak2nya mengerti, bahwa “PAMAN” itu bukanlah paman-kucing yang baik hati, namun ia adalah “PAMAN-HARIMAU” yang jahat hatinya, yang sedang menyamar sebagai seekor kucing, di dalam kawanan anak2 kucing, sebelum akhirnya ia akan memporak-porandakan sekumpulan anak2 kucing tersebut.

    Marilah, para saudara2ku yang terkasih semuanya…,
    Kita senantiasa “eling” lan “waspada”…,

    Jangan terpancing oleh isu2 yang tidak bertanggung-jawab, tetapi tetaplah pada tujuan, untuk mencapai hidup yang tenang, damai, bahagia, sejahtera, dan sentausa, lahir dan batin…. 😉

    Salam Damai dan Cinta Kasih,
    “Semoga Semua Makhluk Hidup Bebas dari rasa benci, rasa dengki, bebas dari pertentangan…, Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia!”

  12. ratanakumaro said

    Dear mas kangBoed,
    Dear mas Wira Jaka,
    Dear mas Joko…,
    Salam Damai dan Cinta Kasih…,

    @mas kangBoed dan mas wira jaka,
    siapakah sejatinya paman-harimau dalam kuis “cepat-tepat” saya episode perdana ini ?? darimanakah paman harimau ini berasal ?? Siapakah nama2 lainnya ( dalam banya kisah, seorang tokoh selalu mempunyai banyak nama, seperti para tokoh pewayangan misalnya ) 😉

    Kalau mas kangBoed bisa, berarti sudah berhasil Jhana I…, siapa hayoooo! hehe…. 😀 :mrgreen: ( ini kuis serius tapi santai loh! becandaan 😉 )

    Salam Damai dan Cinta Kasih,
    “Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia!”

  13. kangBoed said

    Hahahahaha
    Sampeyan itu bisa saja brooooooo orang guyon disebut tersinggung kalo engga ada guyonan nanti dibilang sepi hehehehe katanya dimana ada si botol kosong pasti ceria maka hadapilah dengan tawa hehehe dasar JAIM kalo lagi dinas yaaaaaa hehehehe Mas Joko hahahaha lagi ngapain tuuuh tatuuuut aaah hehehe salam sayang penuh cinta dan damai dalam ketawa terbahak bahak melihat nuansa kehidupan yang penuh warna warni hehehe
    Wah kuis apaan tuh hore hore hadiahnya apaaaaan bro hehehe hidup dimata anak kecil ity sungguh indah tiada lawan hahaha kepolosan keluguan dan begitu macam sifat fitrah diri yang indah mereka bisa tertawa dan menangis dengan begitu bebasnya, sampai sedikit demi sedikit kepalsuan itu masuk mempengaruhi dan mencemari dari luar bagaikan hard ware yang baru dan bersih sedikit demi sedikit dimasuki virus virus, sampailah dia menjadi dewasa yang JAIM senyum polosnya telah hilang tertawa lepasnya musnah di telan berbagai macam kepalsuan dan kepalsuan, sungguh kasihan jadi dewasa selalu hidup dalam topeng kepalsuan hahaha masa kecil adalah masa yang terindah yayaya kembalikan masa kecilku ya Allah dalam kedewasaanku ini, hahaha logika sok pintar sok akal pikiran wah wah wah mana hati nuraniku eee ketinggalan hahaha lepaaas bebaaaaas hehehe mari tertawa brot..her ku sayang sebelum tertawa itupun nanti dilarang yayayayaya
    Mengenai paman harimau siapakah dia yaaa??? bukan sampeyan yaa??? oo macan tutul apa macannya mas hidayat ??? hehehe ternyata semua hanya ilusi dan khayalan pikiran saja, inside out dari negeri antah berantah yang selalu membangkitkan nafsu negatif sang diri dan menyebabkan berbagai macam kekhawatiran dan keresahan dan tiada ketenangan hehehe hidup anak kecil !!! huebat tenaaan masa kecil tahunya maaaa neneeeeeeen hehehehe wahakakakaka namanya banyak mas bisa kangBoed, Bro ratna ah apa aja dah suka suka lagian saya engga pernah nonton wayang habis sekarang aja lagi jadi wayang sama sampeyan iku digerak gerakin terus sama sang dalangnya suruh eker ekeran godain sampeyan biar tambah manis enda JAIM hahahaha Tapi jujur saya sayang karo sampeyan Brot…..her Ratna Kumara yang cuaaaaantiiiiiiik
    Salam Damai penuh Cinta dan Kasih Sayang dari lubuk hatiku yang paling dalaaaaaaaaaaaaaaaaaaaam
    Botol kosong oon

  14. wira jaka said

    WAH …. jawaban sang GURU bener2 adhem dan bijak, mengenai kumis … eh kuis jawabannya ??? banyak mas … ada Ponari, ada Lia Eden dan lain2 😀

    tapi kalau yang nyangkut di pikiran saya … justru ada di postingan mas Sabdalangit di judul itu …. atau panjenengan juga pernah mempostingnya kok..
    (loh apa2an sih kok jawabannya malah ganti tebak2an … hehehe)
    yang pasti dia bukan harimau doreng …. tapi harimau (kambing) yang warnanya hitam, korban salah kaprah, korban salah pengertian … atau memang sengaja difitnah ???

    salam,

  15. kangBoed said

    eh katanya mo ngasih ijasah gimana nih guru besar pertanyaan nya dah dijawab eh pura pura engga dilihat lagi padahal aku sama mas wirajaka dah teriak teriak wah sampeyan iku iso wae hehehe nanti lagi saya diem lho hahahaha
    Mas Joko kalo salahku apa Yoooo ikut sampeyan marahin hehehe santai ya broo hahaha bro ratna entu tanggapannya dan jangan lupa pempek lenjer asli palembang hahahaha
    Salam damai dan cinta kasih
    cuuup cuuup cuuup
    Botole kosong

  16. Jonner said

    Haii..all..menarik membaca komentar maupun ajaran2 Budha..
    Saya mengakui ajaran-ajaran Budha maupun ajaran-ajaran agama lain mampu membawa kedamaian, tanpa harus beragama Budha pun, anda dapat melakukan pengajaran Budha…

    Klo dilihat dari segi sejarah, pemahaman dan pengajaran Budha lahir sebelum kedatangan Injil..dimana konsepnya adalah “Bagaimana memperoleh/mencari keselamatan dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri” oleh karena itu dari ajaran-ajaran Budha yang saya pahami, hampir semuanya mengarah kepada diri sendiri yang berujung pada egosentris (semua dilakukan demi kepentingan diri sendiri, agar selamat). Tuhan, tidak ingin membiarkan saudara-saudara bersusaah payah, Ia sangat mencintai Anda, sehingga Ia mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk memperkenalkan konsep keselamatan.

    Saya ingin bertanya, apakah kebaikan yang anda lakukan agar semata-mata anda memperoleh imbalan?
    Dari hal yang paling dasar saja, apakah anda bisa hidup tanpa orang lain?

    Jika ya, maka anda tidak memerlukan orang lain, jika anda tidak memerlukan orang lain, bagaimana anda bisa memperoleh pahala? Jadi pada intinya, manusia memerlukan orang lain untuk menolong hidupnya, mari kita lihat kebelakang ketika kita masih kecil…sekarang untuk sesuatu hal yang besar dan kekal “Keselamatan dan Surga” apakah kita tidak memerlukan pertolongan pihak lain untuk mencapainya? Jika tidak memerlukan, bagaimana caranya?

    Jika caranya dengan berbuat baik…dll…bukan itu sama saja kita memerlukan orang lain…dan kembali lagi…kita memerlukan sosok yang mampu membuat kita mencapai sesuatu..dan Jesus Kristus menawarkan pertolongan itu, IA lah sosok yang mampu menawarkan keselamatan dan surga yang Saudara cari…

    • Karim said

      Sdr. Jonner yang saya hormati, saya menghargai keyakinan anda yang begitu kuat akan keselematan yang dijanjikan oleh Jesus Kristus. Pertanyaan saya apakah anda pernah ketemu dengan Jesus Kristus? Anda pernah menyaksikan Jesus menyelamatkan umat-umatnya? Kalau tidak berarti keyakinan anda hanya dogma semata tanpa dasar dan bukti. Kalau hanya dengan dasar keyakinan kita kepada sosok Jesus lalu kita dapat diselamatkan maka akan banyak orang yang berbuat jahat, merampok, memperkosa, membunuh, menipu dll setelah merasa puas lalu bertobat dan mengabdikan sisa hidupnya kepada Jesus dan setelah mati dia akan diselamatkan.
      Apakah ini adil???? Bagaimana dgn bayi yang mati sementara dia masih begitu muda utk mengerti dan mempunyai keyakinan thdp Jesus? Apakah dia akan diselamatkan atau tidak?
      Pertanyaan saya berikutnya kalau anda yakin benar anda akan diselamatkan dan dijanjikan surga dan kehidupan yang jauh lebih baik disana setelah mati kenapa anda gak mati sekarang saja??? Semua orang kan ingin segera menuju ke keadaan yang lebih baik. Logikanya begini, kalau sekarang anda kerja dgn gaji Rp. 1 jt dan ada yang menawarkan kerjaan yang jauh lebih baik dengan gaji Rp. 10 jt dgn segala fasilitas bintang lima apakah anda akan bilang tunggu 10 thn lagi sampai saya bosan dulu dgn kerjaan saya sekarang ini atau anda akan langsung pindah ke kerjaan baru yg ditawarkan ini? Saya yakin anda pasti akan segera pindah ke kerjaan baru. Saya yakin sekarang anda masih takut mati, betul gak? Kenapa anda takut mati? Karena anda sendiri masih belum yakin anda akan kemana setelah mati. Iya kan?
      Saya juga ingin bertanya, menurut anda Tuhan itu seperti apa?
      Saya yakin jawaban anda Tuhan itu Maha Tahu, Maha Adil, Maha Sempurna dan segudang Maha lainnya. Iya kan? Sekarang saya tanya lagi, Kalau Tuhan ini begitu hebat dan sempurna kenapa Dia menciptakan manusia dengan segala ketidak sempurnaan??? Manusia dgn keserakahannya, dgn kemunafikannya, dgn kekejamannya dan banyak lagi kekurangan lainnya.
      Kenapa Tuhan tidak menciptakan manusia yang sempurna sehingga semua orang bisa hidup dengan damai di bumi ini, tanpa pertengkaran dan perperangan.
      Terus coba pakai logika anda apakah logis lantas Tuhan menghukum manusia karena kelemahan yang diciptakannya? Coba saya ingin dengar penjelasan yang logis dan masuk akal dari anda.
      Jangan anda ngeles dengan jawaban itu semua rencana Tuhan. Hebat benar anda bisa tahu apa rencana Tuhan.

  17. Hery said

    Trima Kasih Ratnakumara …. Saya Izin Kopas dari blog panjenengan….

    • Bhinneka Tunggal Ika said

      Salam kenal & damai sejahtera. Begitu sebuah pembahasan dengan tema agama mengarah kepada topik mengenai manakah yang terbenar & terbaik dari antara 4 agama besar dunia yaitu Islam, Kristen, Buddha, & Hindu, kita memasuki kondisi yang luar biasa & menarik. Sekilas sy lihat belum ada rekan kita yang beragama Islam & Hindu yang sharing pendapat di sini. Saya yakin alur pembicaraannya pasti akan lebih menarik lagi. Misal saja negara Indonesia hanya mengakui 1 agama saja yang boleh dianut oleh warganya, kondisinya akan lain tentunya & pastinya akan banyak yang masuk neraka, buat yang tidak bisa pindah ke negara lain untuk bisa menganut agama lain yang diyakininya akan membawa kepada keselamatan. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

  18. Ryan setiawan said

    Tuhan d ajaran buddha itu sendiri adalah sang buddha kn? Kalau tidak mengenal penciptaan, manusia lahir dari siapa? Bagaimana cara agar kita bisa lepas dari dosa? Kita mikir kotor tiba” namun kita tw itu salah maka dari itu kita tolak pemikiran itu dong tentunya. Nah itu saja dosa walau kita menolaknya. Gmn bsa 100% ilangin dosa yang bisa selamatkan diri kita sendiri kalau kita sendiri dengan kemauan yang tinggi saja selalu gagal utk tidak memikirkan dosa. Karena dosa udh ada d dalam daging kita

  19. Nomr said

    Saya tidak menemukan anguttara Nikaya I.10 yg saudara tulis. Sudah cari di suttacentral.net tapi isi sutta tidak sama dgn yg saudara tulis.

  20. Nome said

    Saya tidak menemukan anguttara Nikaya I.10 yg saudara tulis. Sudah cari di suttacentral.net tapi isi sutta tidak sama dgn yg saudara tulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: