RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

BUDDHA

BUDDHA-DHAMMA


Sering dipertanyakan,apakah Buddha-Dharma merupakan suatu agama ? Untuk itu kita perlu mengerti, apakah yang disebut ‘agama’ itu. Kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “tradisi” sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah ‘religi’ yang berasal dari bahasa Latin dan berasal dari kata kerja “re-ligare” yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan. Agama adalah kosa-kata dari bahasa Sansekerta (yaitu bahasa agama Brahma pertama yang berkitab Veda) ,ialah peraturan menurut konsep Veda (dikutip dari keterangan Dr. Muhammad Ghalib). Dalam bahasa Arab, ada yang mirip artinya dengan kata ‘Agama’ ( Sanskerta ) tersebut, yaitu ‘Din’, yang artinya : taat, takut dan setia, paksaan, tekanan, penghambaan, perendahan diri, pemerintahan, kekuasaan, siasat, balasan, adat, pengalaman hidup perhitungan amal, hujan yang tidak tetap turunnya,dan lain-lain.

Sekarang mengenai agama-Buddha. Ajaran Buddha disebut melampaui “Agama” , karena Buddhisme tidak dibangun berdasarkan ‘tradisi’ semata, tidak dibangun atas kepercayaan membuta terhadap tradisi yang ada ,tapi dibangun atas kecerdasan ‘Budi’ ,dalam Buddhisme juga tidak ada ‘ikatan’ terhadap Tuhan, janji kepada Tuhan untuk setia, tidak dibangun atas ketakutan, paksaan, tekanan, penghambaan, perendahan diri, adat, dan lain-lain arti kata yang sesuai / senada / sejalan dengan definisi ‘Din’.

Disisi lain, Ajaran Sang Buddha bisa, dan memang demikian halnya, disebut agama, sepanjang Agama itu berarti hubungan manusia dengan Yang Maha Suci yang dinyatakan dalam bentuk suci pula dan sikap hidup berdasarkan doktrin tertentu (definisi agama menurut Drs. Sidi Gazalba) , juga bisa disebut filsafat, juga bisa disebut ilmu psikologi, juga bisa disebut ilmu-alam, dan yang pasti , sangat sejalan dengan hukum-alam dan ilmu-pengetahuan-alam modern, bahkan melampauinya.

Ajaran Buddha berkaitan dengan kecerdasan, dengan bathin, dengan yang mengetahui, yang berarti dengan Budi, sebab, mengapa disebut Buddha, karena “Tercerahkan Budinya “.Kata ‘Budi’, seperti sudah dijelaskan terdahulu, berasal dari kosakata bahasa Sanskerta “BUDDHI’, dimana bentuk asli kata “BUDDHI” tersebut adalah : “BUDDH’, yang artinya ‘untuk-mengetahui’. Sebutan bagi seorang rohaniwan yang maju, yang mencapai pencerahan ‘Buddhi’ disebut ‘BUDDHA’ (Bahasa Sansekerta: बुद्ध berarti , Mereka yang Sadar, Yang mencapai pencerahan sejati. dari perkataan Sansekerta: “Budh” = untuk mengetahui).

Sedangkan “Dharma”, mempunyai banyak arti. Dalam arti umum, dharma adalah “doktrin” atau “ajaran”. Namun inti sari dari arti “Dharma” adalah “sifat dari sananya” seluruh jagad raya / alam semesta, mencakup sifat seluruh makhluk penghuni alam semesta termasuk fenomena nama ( aspek mental ) dan rupa ( aspek fisik / tubuh jasmani ). Menurut Dharma, didalam kenyataannya yang sejati, tidak ada sesuatu apapun yang secara objektif sebagai : sebuah rumah, sebuah pohon, atau seorang lelaki. Jika kita melihat kesemuanya itu dengan lebih dekat, jika kita memeriksa dan menganalisanya, mereka menjadi tanpa substansi ( inti ). Jika dianalisis terus menerus, pada puncaknya kesemua hal tersebut diatas akan tereduksi menjadi sebuah fluks, continuum dinamis / aliran dari elemen-elemen pemebentuknya yang sangat kecil dan tidak bisa direduksi lebih lanjut, yang impersonal dan tanpa substansi, suatu proses psiko-fisikal. Inilah yang disebut DHARMA.

Dijaman Kali-Yuga ini, yang menggemakan ajaran Pencerahan – Buddha-Dharma – ini adalah Sang Buddha Gotama. Sebelum menjadi Buddha, ia adalah seorang Pangeran dari suku Sakya di India ( tepatnya kini dikenal sebagai Nepal ) bernama Pangeran Siddhatta Gotama. Ia dilahirkan 623 SM di Taman Lumbini. Ayahnya adalah Sri Baginda Raja Suddhodana dan ibunya adalah Sri Ratu Maha Maya Dewi. Ibunda dari Pangeran Siddhatta meninggal dunia setelah tujuh hari melahirkan-Nya. Setelah meninggal, Ibunda Siddhatta Gotama terlahir di alam Surga Tusita. Sejak itu yang merawat Pangeran Siddhatta adalah Maha Pajapati, adik Sang Sri Ratu Maha Maya Dewi, yang juga menjadi istri Raja Suddhodana.

Oleh para petapa dibawah pimpinan Asita Kaladewala diramalkan, bahwa Pangeran Siddhatta kelak akan menjadi Maharaja-diraja didunia yang memimpin kerajaan dengan luar biasa sempurna, atau jika tidak, kebalikannya ia akan menjadi Buddha. Ayahanda Sang Pangeran sangat tidak menyukai ide anaknya menjadi Buddha, dimana ia hidup bertapa melepaskan ikatan keduniawian. Sang Ayahanda lebih suka bila anaknya kelak menjadi Maharaja-diraja didunia yang meneruskan tahtanya. Atas pertanyaan Sang Raja, akhirnya para petapa menjelaskan, jika tidak menginginkan Pangeran Siddhatta menjadi Buddha, maka seyogyanya Sang Pangeran jangan sampai melihat empat peristiwa, yaitu :

1. Orang Tua

2. Orang Sakit

3. Orang Mati

4. Seorang Petapa

Semenjak itu, Sang Pangeran selalu dijaga, hidup dalam kemewahan. Ia dilayani oleh pelayan-pelayan yang masih muda dan cantik rupawan di istana yang megah dan indah.

Dalam usia 16 tahun Pangeran Siddhatta menikah dengan puteri Yasodhara yang dipersuntingya setelah memenangkan sayembara. Namun ternyata akhirnya Sang Pangeran melihat empat peristiwa yang oleh Ayahandanya selalu diupayakan untuk tidak dilihatnya. Setelah melihat keempat peristiwa itu Pangeran Siddhatta tampak murung dan kecewa melihat kenyataan hidup yang penuh derita ini.

Ketika berusia 29 tahun, putera pertama-Nya lahir dan diberi nama Rahula, yang artinya = belenggu. Setelah itu Pangeran Siddhatta dengan tekad yang mantap memutuskan untuk meninggalkan istana, keluarga, kemewahan, untuk pergi berguru mencari ilmu sejati yang dapat membebaskan manusia dari ikatan dunia material yang penuh duka, membebaskan dari kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian.

Petapa Siddhatta berguru pada Alara Kalama dan kemudian Uddhaka Ramaputra, tetapi tidak merasa puas, karena tidak memperoleh yang diharapkannya. Kemudian beliau bertapa menyiksa diri dengan ditemani lima petapa. Akhirnya beliau juga meninggalkan cara yang ekstrim itu dan bermeditasi seorang diri.

Dalam usia 35 tahun petapa Siddhatta memperoleh Penerangan Agung dan menjadi Buddha sewaktu bermeditasi dibawah pohon Assatha ( yang kemudian hari dikenal sebagai pohon Boddhi ), ditepi sungai Neranjara di Buddha Gaya ( dekat GAya di Bihar ).

Munculnya Sidharta Gautama sebagai Buddha diawali oleh adanya dua aliran Hindu yaitu Tithiyas dan Carwakas. Aliran Tithiyas dan Carwakas sama-sama meyakini bahwa penderitaan itu karena keterikatan manusia pada kehidupan duniawi yang tidak langgeng ini. Mereka berbeda dalam hal cara mengatasi keterikatan nafsu tersebut.

Carwakas memandang agar nafsu tidak mengikat maka nafsu itu harus dituangkan bagaikan menuangkan air di gelas. Dengan nafsu itu terus dipenuhi sesuai dengan gejolaknya maka nafsu itu akan habis dan lenyap maka manusia pun akan bebas dari ikatan hawa nafsu. Sebaliknya aliran Tithyas berpendapat bahwa nafsu itu harus dimatikan dengan menghentikan fungsi alat-alatnya. Agar mata tidak ingin melihat yang baik-baik dan indah-indah saja maka mata dibuat buta dengan cara melihat mata hari yang sedang terik. Lidah dibuat sampai tidak berfungsi. Ada yang sampai membakar kemaluannya agar nafsu seksnya hilang.

Kedua aliran itu membuat umat menderita. Dalam keadaan seperti itulah muncul Sidharta Gautama yang telah mencapai alam Buddha memberikan pentunjuk praktis beragama. Ajarannya adalah Sila, Prajna dan Samadhi. Sila berbuat baik sesuai dengan suara hati nurani. Suara hati nurani ini adalah yang disebut ‘Budi”. ‘Budi’, yakni yang untuk mengetahui, oleh ummat Hindu biasa disebut sebagai ‘Kusir-Kereta’ ; “ buddhim tu sarathim viddhi “ (Katha Upanisad 1.3.3 dan 4 ). Teknis berbuat baik itu didasarkan pada Prajna artinya Kebijaksanaan. Dalam berbuat baik hendaknya bersikap konsisten dengan konsentrasi yang sempurna. Itulah Samadhi. Inilah inti wacana dari Sidharta Gautama, Sang Buddha, dalam menyelamatkan umat dari perbedaan yang dipertentangkan itu.

Setelah seratus tahun Sidhatta-Gotama, Sang-Buddha, Parinibbana, barulah wacana sucinya itu dikumpulkan menjadi tiga keranjang sehingga bernama Tri Pitaka ( Pali : Tipitaka ).

Ajaran Sang Buddha Gotama teringkas dalam Fourth Noble Truth, atau Empat Kesunyataan Mulia :

1). Hidup ( dalam bentuk apapun ) adalah dukkha, misalnya ; dilahirkan, usia tua, dan mati adalah penderitaan, berhubungan dengan orang yang tidak disukai adalah penderitaan, ditinggalkan oleh orang yang dicintai adalah penderitaan, tidak memperoleh yang dicita-citakan adalah penderitaan, dicela, tidak dikenal, adalah penderitaan.

2). Sebab dukkha, yaitu Tanha, atau nafsu keinginan yang tiada habisnya.

3). Berakhirnya dukkha, yaitu saat seseorang mampu melenyapkan segala bentuk nafsu keinginan. Keadaan ini dinamakan Nirvana / Nibbana.

4). Jalan menuju berakhirnya dukkha, yaitu Jalan Tengah , atau yang juga dikenal sebagai Jalan Mulia Beruas Delapan ( Ariya Atthangika Magga ), yang terdiri dari :

1). Panna :

1.a). Pengertian Benar ( Samma-ditthi ),

1.b). Pikiran Benar ( Samma-sankappa ), ;

2).Sila :

2.a). Ucapan Benar ( Samma-vaca ),

2.b).Perbuatan Benar ( Samma-kammanta ),

2.c). Pencaharian Benar ( Samma-ajiva ). ;

3). Samadhi :

3.a). Daya-upaya Benar ( Samma-vayama ),

3.b).Perhatian Benar ( samma-sati ),

3.c). Konsentrasi Benar ( Samma-samadhi ).

— RATANA KUMARO/ RATNA KUMARA

Semarang, 07 Juni 2007

Iklan

30 Tanggapan to “BUDDHA”

  1. tomy said

    dalam pengajarannya Sang Budha menjelaskan tentang TANHA, kemelekatan dan penolakan, bisa berbagi di blog saya tentang surga dan ajaran Syekh Siti Jenar Mas Ratnakumara? saya coba mendekonstruksi pengharapan manusia tentang surga di tulisan terbaru saya :mrgreen:
    ———————————
    Sharingnya nanti dulu nggih Mas , nanti di bulan April, karena ini saya sedang di luar pulau Jawa. Saya kalau Januari s/d April sibuk SPT-an, hehe… :mrgreen:

    Nuwun… .

  2. irwan said

    dear Mas Ratna Kumara,
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear Mas Irwan,
    Salam Hormat untuk Anda 😉

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Bagaimana penjelasan Mas Ratna mengenai Ajaran Fa Lun Gong
    karena menurut foundernya yang mengklaim salah satu aliran Fa Buddha,yang menyatakan sudah lewat era Buddha sidharta,sedangkan Buddha sidharta sendiri Buddha yang masih mencapai tingkat Tathagata !
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Dewasa ini banyak orang2 memakai “MERK” Buddhisme… ,

    Bahkan tak jarang, banyak pula individu-individu yang mengaku dirinya ummat Buddha, tetapi pola pikirnya sama sekali tidak Buddhistik.

    Saya saat ini belum ingin membahas aliran-aliran Buddhis, tetapi lebih kepada point-point pokok yang harus kita perhatikan sebagai ummat Buddha.

    KAPANKAH ERA BUDDHA-DHAMMA SELESAI ?
    Suatu saat nanti, tidak akan ada lagi Dhamma di bumi ini. Tidak ada lagi Tipitaka, tidak ada lagi, Bhikkhu, tidak ada lagi Bhikkhuni, tidak ada lagi Sangha Siswa Sang Bhagava, tidak ada lagi Upasaka-Upasika, tidak ada lagi ummat awam Buddhis, tidak ada lagi para “Penjaga Dhamma”, singkatnya, Buddha-Dhamma benar-benar lenyap dari bumi manusia!
    Di saat itu , banyak sekali berkembang pandangan-pandangan salah yang a-dhamma ( untuk lebih jelas mengenai munculnya pandangan2 salah, baca lagi baca “KIAMAT SUDAH DEKAT(kah?)!” di blog ini juga ).

    Nah, pada masa tidak adanya lagi Buddha-Dhamma itulah, kelak akan lahirlah Sang Boddhisatta METTEYA ( Maitreya ), yang akan terlahir di JAMBUDWIPA, di dalam keluarga KSATRIYA ( anak Raja ), dan akan mencapai tingkat Ke-BUDDHA-an , Samma-Sambuddha, dan mengajarkan kembali Buddha-Dhamma kepada semua makhluk, demi terbebasnya semua makhluk ( minimal ) dari empat alam menyengsarakan ( neraka, binatang, asura, peta ) dan juga supaya semua makhluk terbebas dari SAMSARA, merealisasi Nibbana, pembebasan sempurna.

    APAKAH SEKARANG ERA BUDDHA-DHAMMA TELAH BERAKHIR ?
    Dari uraian singkat diatas, tentu saja, jawabannya, saat ini era Buddha-Dhamma belum berakhir. Sebab, Dhamma Sang Buddha masih tersebar luas, masih banyak masyarakat yang bisa mempelajari, mempraktikkan, dan memetik manfaat dari pengajaran Sang Buddha tersebut.

    Tipitaka masih beredar luas, Sangha Siswa Sang Bhagava masih tegak berdiri, Upasaka-Upasika masih dengan teguh dan SADDHA ( keyakinan ) yang penuh menjalankan ajaran Sang Buddha, para “Penjaga-Dhamma” masih berdiri tegar di bumi dan mewartakan Dhamma Sang Buddha. Ini semua, bukti bahwa era Buddha-Dhamma belumlah berakhir. Buddha-Dhamma masih menggema di bumi, masih bisa didengar, dilihat, dipelajari, dipraktekkan, direalisasi, dan dipetik manfaatnya.

    JADI, jika sekarang ada yang menyatakan telah MUNCUL SEORANG BUDDHA yang BARU, maka, itu benar-benar suatu kesalahan.

    Lagipula, SEMUA BUDDHA, MENGAJARKAN HAL YANG SAMA, PERSIS SAMA. Apakah saja Dhamma dari Sang Buddha tersebut ?
    1). Empat Kesunyataan Mulia ( Cattari Ariya Sacca ), yang didalamnya termasuk Ariya Atthangika Magga ( Jalan Ariya Beruas Delapan ).
    2). Paticcasamuppada ( Hukum saling ketergantungan / 12 mata rantai kehidupan ).
    3). Kamma-Niyama.
    4). Tiga-Corak Keberadaan ( Anicca, Dukkha, Anatta ).
    5). Dll ( Baca “PEMERSATU THERAVADA DAN MAHAYANA” di blog ini juga ).

    Jadi, jika ada seorang Buddha mengajarkan hal-hal diluar hal-hal tersebut diatas, maka, ia bukanlah seorang Buddha.

    KESIMPULAN
    Sdr. Irwan bisa menarik kesimpulan sendiri, apakah benar sekarang sudah waktunya kemunculan seorang Samma-Sambuddha yang baru atau belum. Lalu jika ada suatu aliran Buddhis, tinggal kita lihat, apakah didalamnya terdapat pokok2 Dhamma-Sang Buddha atau tidak.

    TATAGATHA
    Tatagatha, kalau tidak salah ingat ( nanti coba saya check lagi di kitab-suci 😉 di Majjhima-Nikaya ada kok ) artinya adalah “Yang-Telah-Pergi”. Nah, maksud kalimat itu kurang-lebih adalah bahwa seorang Tatagatha adalah seorang yang Telah-Pergi dari kondisi nafsu-nafsu dan penderitaan, serta telah merealisasi Nibbana, mencapai tingkat kesucian tertinggi. Ini merupakan pencapaian tertinggi dari semua Samma-Sambuddha, tidak ada lagi yang lebih tinggi dari ini.

    Kurang lebih begitu , sdr.Irwan. Untk rekan-rekan se-Dhamma, jika ada kekeliruan dari penjelasan saya, mohon dikoreksi 😉
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Dari Iwan
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Mettacitena,
    Sukkhi Attanam Pariharantu,

    RATANA KUMARO… .

  3. irwan said

    Mas Ratna Kumara kalau situ tidak keberatan,bagaimana mengulas mengenai Fa Lun Gong /Fa Lun dafa yang Foundernya Mr Li Hong Xie

    Dari IWAN
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear mas Iwan…,

    Baik, nanti ya, suatu saat akan saya bahas mengenai Fa Lun Da Fa ini.

    Intinya, pendapat-pendapat, munculnya aliran-aliran yang menyatakan telah muncul seorang Buddha yang baru, tidaklah benar… . Setau saya, Paceka-Buddha pun muncul dalam masa tidak adanya seorang Samma-Sambuddha, mereka merealisasi ke-Buddha-an sendiri dan tidak mampu memberikan pengajaran Dhamma secara mendetail. Pada masa seorang Samma-Sambuddha, maka Paceka Buddha ini akan bergabung dalam Sangha, menjadi seorang Arahanta. Begitu kira-kira.

    Mettacitena 😉

  4. phang said

    kalo kita terjemahkan secara arti dari fa lun dafa ya kelihatan seperti ajaran Buddha… Fa lun dafa = kekuatan roda dharma, kalo tidak salah..

    tetapi dari websitenya mengatakan:

    Falun Dafa (Falun Gong) adalah suatu kultivasi peringkat atas yang berupa suatu sistem perangkat latihan yang benar-benar secara nyata dapat memperbaiki dan meningkatkan moral, tubuh dan spiritual seseorang menuju ke tingkat yang lebih tinggi. Melalui latihan Falun Gong, para praktisi dapat memperoleh kemajuan yang sangat pesat dalam kesehatan jiwa dan raga, demikian juga dapat menghilangkan stress.

    Untuk semua Ajaran Buddha pasti akan mengandung hal-hal seperti yang disebutkan oleh sodara Ratna Kumara diatas.

    Saat ini Dhamma Buddha Gotama masih dapat ditemukan dan juga masih banyak bhikku yang dapat mencapai Arya dengan mengikuti Ajaran Buddha Gotama…jd untuk kemunculan samma-sambuddha kayaknya masih belum saatnya….

    Untuk kemunculan samma-sammbuddha metteya…disaat dhamma gotama sudah lenyap dan juga umur manusia mampu hidup sampai 84.000 tahun…. tetapi sebelum masa itu sampai…umur manusia akan makin berkurang sampai 10 tahun kerana kemorosotan moral… skr kita lagi menuju kearah sana kelihatannya dimana umur manusia semakin lama semakin pendek…. nah nanti akan ada sebagian manusia yang akan menyingkir dari kondisi tersebut dan mereka akan meningkatkan moralitas sehingga umur manusia makin bertambah.. sampai mencapai 84.000…. nah sampai pada saat ini baru akan muncul samma-sambuddha baru yaitu metteya (maitreya)..

    Mgkn kita perlu berhati-hati dengan praktek CULT yang marak ada dimasyarakat sekarang….\
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~`
    Dear Brother Phang…,
    Terimakasih atas tambahan penjelasannya… ,

    Emmm…., by the way, kalau melihat praktik-praktik aliran yang banyak menitikberatkan pada olah-jasmani, bisa-bisa malah menuju pada “Miccha-Samadhi” loh…. ; yaitu “Konsentrasi-yang-Salah”.

    Sebab, mereka memusatkan perhatian bukan pada apa yang harus diperhatikan ( misalnya, pokok2 yang dijelaskan dalam Satipathana-Sutta, juga Kammatthana2 yang menuju pada “pembebasan” ), namun malah jadi seperti meditasi-kesehatan, pembangkitan cakra-cakra, dan lain-lain sebagainya.

    Hanya sekedar sharing, jika ada kekeliruan, mohon koreksinya … 😉

    Saya sendiri tidak mengerti mengenai Fa Lun Da Fa. Jadi tidak bisa berkomentar banyak, daripada salah-salah 😉

    Mungkin jika ada sahabat yang memperdalam Fa Lun Da Fa ini, sudi berbagi mengenai apakah Fa Lun Da Fa ini. Di milist Persaudaraan Universal ada mas Jesse Joie Rotinsulu Jr. yang memperdalamnya. Mungkin bisa berbagi, coba nanti kalau bisa saya undang kesini 😉 .

    Mettacitena 😉

  5. ke2 said

    MAS RATANA,

    MO NANYA NIH …. KALAU SAYA AMATI, KENAPA YA PARA BIKSU DAN PANJENENGAN KOK MENGHINDARI “KENIKMATAN” DUNIA, PADAHAL KENIKMATAN TERSEBUT BISA DIPEROLEH DENGAN CARA LEGAL / HALAL.
    SEOLAH MEMANG TIDAK MENGINGINKAN PRODUK DUNIA INI …. APAKAH HIDUP DIDUNIA INI MEMANG HARUS MENDERITA / MENGHINDARI KENIKMATAN DUNIA ???, ATAU HANYA SEBAGAI UPAYA BIAR BISA MENGENDALIKAN RASA / KEINGINAN / NAFSU ….

    APA ADA YANG SALAH DENGAN PRODUK DUNIA INI ….

    MATUR NUWUN MAS RATANA ….

    SEMOGA SEMUA MAKHLUK DAPAT MENCAPAI PENCERAHAN SEJATI
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear Mbak Ke2, eh Mas Ke2 😉 *hihihihi* 😀

    Untuk para Bhikkhu , memang Beliau2 semua melepaskan ikatan keduniawian…, untuk merealisasi kebahagiaan-adi-duniawi ( ini akan sangat panjang bila dibahas mendetail ), yah … , mungkin masyarakat awam umumnya mengenal sebagai kebahagiaan rohani, kebahagiaan spiritual.

    Namun, bukan berarti semua siswa Sang Buddha, ummat Buddha , DIHARUSKAN melepaskan keduniawian.

    Tidak begitu… ,

    Karena, bahkan ummat awam yang masih hidup duniawi, menikah, berketurunan, memupuk harta, masih dapat mencapai tingkat-tingkat kesucian / pencerahan meski hanya pada taraf-taraf tertentu , misal pada tingkat Sotapanna dan Sakadagami ( Anda bisa baca lagi artikel “TANDA-TANDA PENCERAHAN” di blog ini juga ).

    Namun, untuk para siswa yang memang telah menyadari segala sesuatu itu : Tidak-KEkal, Dukha, dan “Tanpa-Aku”, tidak layak diinginkan dan dikejar-kejar, maka , secara alamiah mereka mulai melepaskan satu demi satu hal-hal yang sifatnya keduniawian.

    Pelepasan ini tidak bisa dipaksa, diri sendiri juga tidak bisa memaksa dirinya sendiri. Semua berjalan alamiah, seturut kesadarannya sendiri.

    Memang, Sang Buddha mengajarkan, bahwa hakekat sejati dari hidup adalah dukkha ; ketidak-puasan, derita. Dan hal ini hanya akan disadari oleh mereka-mereka yang memang sudah saatnya menyadari. Bagi yang belum, juga tidak mengapa, dan masih bisa meraih tingkat kesucian dan pencerahan ( seperti yang saya uraikan diatas ).

    Kira-kira begitu, mas Ke2… ,

    Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia 😉

  6. Eh, Mas Wire jeKE mana yah ?? 😀 :mrgreen: 😛

  7. ke2 said

    😀
    😀
    :mrgreen:

  8. phang said

    Saya mencoba menambahkan…

    Hampir semua makhluk melakukan sesuatu adalah demi kenikmatan duniawi ini… dan memang hal ini yang paling menarik didalam hidup ini… tetapi kalo kita telah menyadari bahwa hakekat sejati hidup ini adalah Anicca (ketidakkekalan), dukkha(ketidak-puasan), dan an-atta(tiada inti diri)… saya rasa pelan-pelan dengan sendirinya bathin ini akan tidak tertarik dengan kenikmatan duniawi yang ditawarkan oleh dunia ini… dan ada hal lainnya yang lebih bernilai daripada ini…

    Semakin kita tertarik (melekat) pada kenikmatan dunia rasanya akan semakin membuat bathin kita sengasara (derita)…misalkan kita ingin mengapai sesuatu setelah tergapai kita menghendaki yang lainnya lagi… bila kita selalu dilandasi oleh Lobha (keserakahan), dosa (kebencian), dan moha (kebodohan bathin) tentu kita tidak akan pernah puas dengan apa yang telah dicapai…

    Hidup kita ini singkat sekali dan apa yang telah kita capai dlm hal duniawi misalkan harta, dsb pun harus kita ikhlaskan untuk pergi meninggalkan kita bila sudah saat sampai… dan bila kita melekat padanya mgkn kita akan terlahir sebagai makhluk di alam derita krn kemelekatan akan harta benda kita…

    Bagi makhluk yang telah menyadari hal ini pasti akan melepaskan kenikmatan duniawi ini krn sudah mengetahui hakekat sejati dari hidup ini…dan pasti akan mencari sesuatu yang lebih bernilai daripada kenikmatan dunia…

  9. “Bagaikan remaja , yang meninggalkan permainan anak-anak,
    Itulah pelepasan… .

    Bagaikan orang tua, yang meninggalkan kenakalan remaja,
    Itulah pelepasan…. .

    Ia yang memiliki, akan bersedih,
    Bersedih karena kehilangan… .

    Ia yang bertemu, akan bersedih,
    Bersedih karena perpisahan… .

    Ia yang telah mengerti, akan melepaskan semuanya… .

    Di dunia ini, tidak ada milik”Ku”
    Tidak ada Diri”Ku”,
    Tidak ada “Aku”…. .

    Ia yang masih berpikir akan adanya milik”Ku”
    Adanya Diri”Ku”
    Adanya “Aku”… ,
    Akan selalu bergelut dengan kesedihan-kesedihan,
    Dengan segala rasa resah gundah dan kemarahan… .

    Ia yang melepas, tak melekat pada apapun,
    Tak meratapi kehilangan, tak tergoncang akan kehancuran,
    Karena telah menyadari “Anicca” ( Tidak-kekal ) , “Dukkha” ( Penderitaan ), dan “Anatta” ( Tidak-ada “AKu” ),
    adalah ORANG-ORANG YANG BERBAHAGIA …. .”

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    RATANA KUMARO
    ( Ratna Kumara )

    “Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia, Terbebas dari Segala Bentuk Penderitaan dan Pertentangan!”

  10. ke2 said

    mas Ratana ….
    maaf nih masih penasaran 😀

    hal ini menyangkut tentang kesenangan duniawi (yang legal dan halal, non korupsi), yang katanya bisa diumpamakan surga duniawi, yang “mungkin” bisa diraih oleh seseorang karena potensi dia saat ini, memungkinkan untuk memiliki hal itu …. tetapi apakah harus dilepas karena percaya akan adi duniawi yang lain ???

    atau aku juga melihat ada seorang pengusaha papan atas yang berhasil, tetapi juga menjadi pengururs teras agama buddha, apakah tidak bertolak belakang dengan prinsip tersebut ???

    apakah hanya takut tidak bisa melepaskan lobha, dosa dan moha sehingga harus memilih menjauhi kesenangan dunia ini ….???
    kalau seseorang sudah mampu membedakan kemelekatan dunia, dan juga bisa membedakan derita didunia …. apakah tetap harus menjauhi kesenangan dunia ???
    karena seolah bagi saya kehidupan umat buddha identik dengan laku prihatin ….

    sebenarnya bila memang dari awal bisa mengenal kesadaran tentang hal itu, lebih baik …. tetapi rasanya kalau hal itu dilakukan sejak awal mula, maka kemajuan dunia ini tidak diperlukan … karena hanya akan menjadikan kita dekat dengan kemelekatan.

    baik mas Ratana, saya tunggu pencerahannya.

    semoga semua makhluk hidup mencapai pencerahan sejati,
    salam,

  11. phang said

    Kualitas bathin masing-masing makhluk itu berbeda…ada yang sudah tipis debunya dan juga ada yang masih penuh dengan debu tebal di bathinnya…

    Didalam ajaran Buddha tidak ada paksaan bahwa kita harus melepaskan duniawi ato tidak sebagai perumahtangga kecuali seorang Bikkhu.. dengan berkembangnya bathin seseorang maka dengan sendirinya seseorang itu akan melepaskan duniawi secara alami dengan sendirinya…

    Kalo dalam lamrin dikenal dengan adanya 3 aspirasi:
    – Aspirasi kecil – yaitu ingin terlahir dialam yang lebih baik seperti terlahir alam surga ato alam brahma
    – Aspirasi menengah – yaitu untuk mencapai pembebasan (nibbana) dengan usaha sendiri..
    – Aspirasi Agung – yaitu menjalani jalur bodhisattva untuk membantu membebaskan semua makhluk dari samsara.

    Apa yang dilakukan seseorang tergantung aspirasi dari orang tersebut…kl menurut saya kebanyakan umat buddha perumahtangga hanya memilih untuk menjalankan aspirasi kecil yaitu ingin terlahir dialam bahagia (alam surga dan brahma) dan berusaha agar tidak terjatuh kealam menderita..
    tentu hal ini tidak terlepas dari tebal-tipisnya debu dibathin makhluk tersebut.. Untuk menjalankan aspirasi kecil ini sepertinya cukup dengan berbuat kebajikan… dengan banyak berbuat kebajikan akan mendukung untuk terlahir di alam bahagia…

    Apabila seseorang sudah mempunyai aspirasi menengah atau agung..tentu bathin untuk makhluk ini sudah tidak tertarik lagi sama kenikmatan duniawi… saya rasa bukan karena takut akan lobha, dosa, dan moha…ketiga hal ini akan selalu ada dibathin kita selama belum merealisasikan nibbana..tetapi sudah menyadari bahwa kenikmatan duniawi yang dikejar tidak akan memberikan manfaat bagi perkembangan bathinnya… dan akhirnya akan sia-sia juga…. lebih baik waktu yang dipunyai digunakan untuk merealisasikan tujuan tertingginya… dan kita tidak tahu bahwa dikehidupan mendatang akan mempunyai kesempatan yang sama…

    Kita tahu bahwa didunia ini ada begitu banyak makhluk dengan berbagai level kualitas bathin..biarkanlah semua ini berjalan apa adanya… makhluk-makhluk dengan debu yang tebal tentu masih memerlukan kemajuan dunia ini dan mereka akan terus melakukan hal-hal untuk mendukung kehidupannya… dengan berjalan dengan waktu dan menyadari hakekat sejati kehidupannya, maka makhluk-makhluk ini pun nantinya akan meninggalkan kenikmatan duniawi.

    Bagi bathin yang sudah tipis debunya, dia tidak akan mempermasalahkan lagi kemajuan duniawi…karena hal ini sudah tidak mengganggu bathinya lagi… Alangkah idealnya kalo semua makhluk bisa menyadari bahwa hakekat kehidupan adalah Anicca, Dukkha, dan An-atta… sehingga semua makhluk akan berjuang untuk membebaskan bathinya…

    yang perlu diingat yang menyalahkan kenikmatan duniawi…heheh… Obyek adalah netral… yang penting itu dalah bagaimana response bathin kita…

    Semoga membantu…

    Semoga semua makhluk berbahagia…

  12. Komentar oleh ke2 | April 7, 2009 |

    mas Ratana ….
    maaf nih masih penasaran 😀

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Ndak apa-apa mas “Cut” ( 😀 :mrgreen: ) Ke2 … 😀 😛
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~

    hal ini menyangkut tentang kesenangan duniawi (yang legal dan halal, non korupsi), yang katanya bisa diumpamakan surga duniawi, yang “mungkin” bisa diraih oleh seseorang karena potensi dia saat ini, memungkinkan untuk memiliki hal itu …. tetapi apakah harus dilepas karena percaya akan adi duniawi yang lain ???
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Tidak harus dilepas mas… ,

    Kesenangan duniawi, atau surga dunia tersebut, adalah berharga bagi manusia yang hidup dunia. Sebab, banyak sekali manusia yang hidup duniawi, tidak bisa memperolehnya ( dikarenakan karma buruknya sendiri ).

    Jika seorang awam hidup duniawi, dan telah berhasil memupuk kekayaan , harta benda , maka itu sangatlah baik , karma baik baginya. Asal dalam memupuk harta itu, dilakukan dengan benar, tidak lewat cara-cara yang tidak-benar.

    Sang Buddha mengajarkan cara2 mencari pencaharian ( kekayaan ) :

    Lima mata-pencaharian salah yang harus dihindari ( M.117 ), yaitu :
    a. Penipuan.
    b. Ketidak-setiaan.
    c. Penujuman.
    d. Kecurangan.
    e. Memungut bunga yang tinggi ( praktek lintah darat )

    [ Mengenai point “c” diatas, yaitu menghindari “Penujuman”, itu yang menyebabkan mengapa dalam kalangan Buddhis tidak terdapat seorang “DUKUN” pun. Bukan dikarenakan tidak ada siswa-siswa Sang Buddha yang memiliki kemampuan batin yang seperti itu, justru sebaliknya, amat banyak sekali siswa2 Sang Buddha yang mempunyai kemampuan-kemampuan batin ( Abhinna ), terutama para Ariya ( baik Bhikkhu maupun non-Bhikkhu ), namun karena “PENUJUMAN” adalah hal yang dilarang Sang Buddha ( karena suatu alasan tertentu, termasuk karena termasuk hal yang bersifat “rendah” ), maka tidak ada seorang siswa Sang-Buddha ( yang-benar ) yang akan mempraktekkan praktek2 perdukunan. 😉 ]

    Disamping itu, seorang siswa harus pula menghindari lima macam perdagangan, yaitu :
    f. Berdagang alat senjata ( pisau, pedang, belati, pistol, martil, dan lain2 bentuk senjata ).
    g. Berdagang makhluk hidup
    h. Berdagang daging ( atau segala sesuatu yang berasal dari penganiyayaan makhluk-makhluk hidup ).
    i. Berdagang minum-minuman yang memabukkan atau yang dapat menimbulkan kecanduan.
    j. Berdagang racun.

    Nah, yang akan melepaskan semua hal keduniawian itu, adalah yang memang sudah masak buah karmanya untuk kesana. Dalam tradisi Hindu, yang boleh seperti ini hanyalah orang-orang yang sudah berusia tua, sudah berkeluarga, dan sudah selesai semua kewajibannya.

    Namun, dalam Buddhisme, usia berapapun itu, jika memang sudah masak buah karmanya, yaitu jika ia memang sudah dengan “lila-legawa” melepaskan keduniawian, maka ia berhak melakukannya. Bahkan dikisahkan, pada masa Sang Buddha, ada seorang Bhikkhu berusia 7 tahun yang telah berhasil merealisasi tingkat-kesucian yang tertinggi ( ARAHAT ).
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    atau aku juga melihat ada seorang pengusaha papan atas yang berhasil, tetapi juga menjadi pengururs teras agama buddha, apakah tidak bertolak belakang dengan prinsip tersebut ???

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Saya kira sudah dijelaskan diatas. 😉

    Ummat Buddha sangat boleh memupuk kekayaan, asal di jalan yang benar. Bagi yang sudah siap “melepas” saja yang akan “melepas” dengan sendirinya. 😉

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    apakah hanya takut tidak bisa melepaskan lobha, dosa dan moha sehingga harus memilih menjauhi kesenangan dunia ini ….???

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Tidak ada “KETAKUTAN” dalam agama Buddha.

    Sebab, kita tidak pernah mengakui adanya TUHAN yang akan MENGHUKUM setiap makhluk yang tidak melaksanakan PERINTAHNYA dan menjauhi LARANGANNYA.

    Semua didasarkan atas KESADARAN diri sendiri. 😉
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    kalau seseorang sudah mampu membedakan kemelekatan dunia, dan juga bisa membedakan derita didunia …. apakah tetap harus menjauhi kesenangan dunia ???
    karena seolah bagi saya kehidupan umat buddha identik dengan laku prihatin ….

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Hehe…Sekali lagi, tidak harus… .

    Penuh laku prihatin ? Memang benar, tapi hanya bagi yang sudah masak buah karmanya ke arah tersebut. Ia akan dengan sendirinya melepaskan satu demi satu kemelekatan, kesenangan indriya.

    Bagi yang belum masak buah karmanya, ya sangat di”bebas”kan, “merdeka”, untuk memilih jalan hidup secara duniawi. Buktinya banyak ummat Buddha yang kaya raya, beristrikan perempuan cantik-cantik dan seksi-seksi, yang wanita bersuamikan laki-laki terhormat dan kaya-raya. Banyak juga, bukan mas Keke ? 😉
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    sebenarnya bila memang dari awal bisa mengenal kesadaran tentang hal itu, lebih baik …. tetapi rasanya kalau hal itu dilakukan sejak awal mula, maka kemajuan dunia ini tidak diperlukan … karena hanya akan menjadikan kita dekat dengan kemelekatan.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    TIDAK AKAN MUNGKIN, semua makhluk mencapai TINGKAT KESUCIAN yang sama.

    Tidak akan mungkin, semua makhluk akan dalam waktu yang sama, di tempat yang sama, sama-sama MELEPASKAN KEDUNIAWIAN.

    Sebab, hanya akan ada sedikit saja dari ratusan milyar makhluk, yang akan melakukan hal tersebut dengan sukarela.

    Jadi, yang belum sampai pada tataran tersebut ( melepas ), merekalah yang akan berperan secara aktif memajukan dunia. Sedang bagi yang sudah tidak-melekat pada dunia, maka mereka lebih enjoy dengan pelepasannya 😀 :mrgreen:.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    baik mas Ratana, saya tunggu pencerahannya.

    semoga semua makhluk hidup mencapai pencerahan sejati,
    salam,

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Baik, mas Ke2…,

    Semoga penjelasan dari saya tersebut bermanfaat… ,
    May All Beings Attain Enlightenmet… 😉

    Salam Penuh Cinta 😉

  13. phang said

    Mas Ke2,

    Didalam ajaran Buddha tidak mengenal adanya Tuhan yang maha pengatur… Buddha menjelaskan bahwa Alam semesta ini diatur oleh hukum-hukum yang pasti, yang biasa disebut dengan 5 Niyama (hukum):

    1. UTU NIYAMA

    Hukum yang mengatur hal-hal yang berkaitan dengan fisiko-kimia.
    Contoh: peristiwa terjadinya hujan, halilintar, gempa bumi, peredaran planet-planet dan bintang-bintang, elektron, dan lain-lain.

    2. BIJA NIYAMA

    Hukum yang mengatur hal-hal yang berkaitan dengan genetika (biologi).
    Contoh: pewarisan sifat makhluk hidup, perkembang-biakan makhluk hidup, dan lain-lain.

    3. CITTA NIYAMA

    Hukum yang mengatur hal-hal yang berkaitan dengan psikologi.
    Contoh: proses bekerjanya pikiran, sifat-sifat batin, dan lain-lain.

    4. KARMA NIYAMA

    Hukum yang mengatur hal-hal yang berkaitan dengan etika.
    Contoh: adanya hukum sebab-akibat perbuatan.

    5. DHAMMA NIYAMA

    Hukum yang mengatur hal-hal yang berkaitan dengan kebenaran semesta.
    Contoh: gejala-gejala alam yang muncul pada saat kelahiran makhluk suci disebabkan oleh Dhamma Niyama, bukan Utu Niyama.

    Mengenai siapa yang mencatat perbuatan kita?…tidak ada yang mencatatnya…tetapi kalo tidak salah sudah tersimpan didalam trend bathin kita… bila kondisinya mendukung maka dia akan munculkan akibat… Hukum karma adalah hukum mengatur perbuatan kita bila kita berbuat kebajikan maka akan membuahkan hal-hal yang baik didalam hidup kita… ato bisa disebut…kita menuai apa yang kita tanam… dan Hukum karma termasuk salah satu hal yang tidak dapat selami oleh pikiran puthujana (accinteyya)…

    Mengenai kenapa setiap orang tidak bisa mengingat kehidupan lampaunya adalah karena konsentrasinya tidak cukup kalo menurut saya… dan menurut sebagian pakar abbhidhamma mengatakan bahwa karena manusia dikandung didalam kandungan selama 9 bulan itu yang membuat konsentrasinya melemah sehingga tidak mampu mengingat kehidupan lampau… kalo kita bandingkan dengan makhluk yang langsung terlahir dewasa sepeti alam peta yang mampu mengingat kehidupan lampuanya…

    Semoga semua makhluk berbahagia…

  14. ke2 said

    @saudara Phang,
    terima kasih atas jawabannya, tapi maaf, saya masih belum ngeh mengenai cara bekerjanya ke 5 hukum dan hukum karma tersebut.

    pola pikir saya sebagai manusia … apakah hukum2 tersebut ada yang menciptakan atau ada dengan sendirinya ???
    apakah hukum2 tersebut tidak pernah salah / error 😀 ??? dan siapa yang mengawasi hukum2 tersebut agar tetap berjalan sebagaimana mestinya (mirip komputer yang on line terus)

    saya pernah denger bahwa untuk mengetahui masa lalunya bisa melalui hipnotis … apa betul ???

    terima kasih, semoga tidak bosen …
    semoga semua makhluk hidup mencapai pencerahan sejati,
    salam,

  15. Komentar oleh ke2 | April 7, 2009 |

    saya pernah denger bahwa untuk mengetahui masa lalunya bisa melalui hipnotis … apa betul ???
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Iya mas Ke2, bener sekali.

    Tapi, kalau mas Ke2 mau, bisa mengingat kehidupan lampau kita sendiri.

    Caranya, dengan tekun bersamadhi.

    Jika kita sudah seringkali melatih batin kita, hingga mampu meraih tingkat samadhi yang sangat dalam, maka, setelah selesai dari samadhi itu, kita bisa “meletakkan” batin kita pada tataran Upacara-Samadhi, dan kemudian kita bisa arahkan batin yang telah “kuat, lentur, mantap, tenang, terpusat, jernih, seimbang ” itu pada ingatan-ingatan kehidupan lampau kita.

    Hal ini memang hanya bisa dilakukan setelah kita mampu meraih samadhi yang terdalam.

    Tanpa samadhi, kita tidak bisa mengingatnya.

    Misal, saat kita sedang bekerja, atau sibuk pada jam-jam kerja, maka kinerja “indera-keenam” tersebut akan melemah, sebab batin kita dalam kondisi “tidak-lentur, tidak-tenang, tidak-jernih, tidak-kuat, tidak-terpusat”. Nah, pada saat ini, kita kurang bisa maximal untuk menggunakan batin kita untuk keperluan-keperluan yang sifatnya “spiritual”, seperti misalnya salah satu contoh saja, ya untuk mengingat kehidupan lampau.

    Jadi, silakan mas, berlatih samadhi dengan tekun, jika sudah kuat, maka anda bisa mengingat kehidupan lampau anda sendiri.

    Salam,

  16. ke2 said

    @mbak Ratna Kumala …
    salam kenal juga …. eh masa sih mas Ratana punya saudara kembar ???

    terima kasih atas penjelasannya,

    wah sepertinya mas Ratana engga percaya ya kalau saya temannya pak Jaka, yah engga apa … tapi rasanya mas Ratana bisa buktiin dengan ilmu raga sukma / teropong untuk melihat saya ini siapa … (eh tapi kalau mau lihat, pas jam kantor ya mas, juga jangan pas aku ke kamar mandi) 😛

    selama ini akulah yang membuka komputer beliau setiap hari, baik membuka email perusahaan maupun pribadi … karena itu memang tugas aku, beliau datang sudah harus on line
    beliau masuk lagi mulai senin minggu depan.

    mas, masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab, yaitu siapa yang mengawasi kinerjanya sistem2 tersebut agar tidak error ? dan apakah sistem2 tersebut ada dengan sendirinya ??

    kalau aku menyimpulkannya bahwa Tuhan tidak ada, karena segala sesuatu sudah ada sistemnya sendiri …., alamlah yang menjadikannya seperti ini … betulkah ???
    maaf mas, karena aku berangkat dari faham monotheisme, juga dari baca2 kitab perjanjian lama, sehingga untuk tune in ke pola pikir penjelasan mas masih tercampur baur .. maaf ya ??

    ohya untuk penganut / siswa buddha, sebetulnya pakemnya bagaimana ??? apakah harus ke vihara pada hari tertentu (seperti ke gereja tiap minggu, atau juma’tan bagi muslim) atau bagaimana, karena selama ini aku melihat tidak seperti itu ???

    makasih ya mas
    semoga semua makhluk hidup mencapai pencerahan sejati,
    salam,

  17. Oiya mas Ke2, titip salam untuk Pak Jaka ( Pak Jaka siapa sih ? )

    Ngomong2, emang pernah keluar pernyataan dari mulut Ratana Kumaro, kalau mas Ke2 itu adalah Pak Jaka ?

    Karena, Ratana Kumaro sendiri sudah menghayati Anatta, lalu, mana ada Pak Jaka ? Mana ada mas Ke2 ? Kedua-duanya, TIDAK-ADA, Ratana Kumaro juga TIDAK-ADA 😉 😀 :mrgreen:

    *hahahaha*, ya sudah, nanti tambah bingung, sampai disini dulu deh mas Ke2… 😉

    Semoga Anda Senantiasa Berbahagia,
    Sehat , Sejahtera, Damai, Sentausa… 😉

  18. ke2 said

    @mas Ratana,
    terima kasih atas penjelasannya yang panjang lebar ….

    eh barusan mas Ratana neropong saya ya ??? kok tadi saat di toilet ada bayangan orang gendut … tapi kok setelah saya buka pintunya … eh enggak ada orangnya. … hiks malu aku.

    salam untuk pak jaka sudah saya sampaikan … dia titip pesan katanya mas Ratana masih berhutang kepadanya … ohh hutang apakah itu ???

    ohh jadi buddha bukan merupakan suatu agama ya mas ? jadi tidak ada syariat yang harus dijalani ??? eh lalu tujuan manusia diciptakan apa bukan untuk manembah ???

    hahaha … pasti mas Ratana mulai bosen sama ke2 dengan pertanyaan yang konyol ini ya ???

    ya sudah saya tak pamit dulu …

    terima kasih,
    semoga semua makhluk hidup mencapai pencerahan sejati,

    salam,

  19. Dear mas Ke2… ,

    Yang tahu hutang apakah itu ya mas Ke2 sendiri kok 😉

    Buddha itu justru agama pertama di dunia mas. Sebab, waktu itu bahkan Hindu belum ada. Dan Sang Buddha mendirikan kehidupan monastik yang pertama, jauh sebelum adanya pesamuan para rohaniwan… 😉

    Syariat yang bagaimana mas ? Kita ada vinaya2 , peraturan2, dan ada ajaran2 yang dijalani.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    eh lalu tujuan manusia diciptakan apa bukan untuk manembah ???
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Mas, yang bilang manusia diciptakan oleh suatu “XXX” diluar dirinya kan bukan saya, bukan pula Sang Buddha mas. Lha itu anda sendiri 😉

    Oh, tidak bosan kok mas Ke2… Mengenai hutangnya itu, sebaiknya justru belajar sendiri saja mas, bagaimana cara melunasinya 😉 Nanti kan malah lega mas, daripada saya bantu melunasi hutangnya… 😀 :mrgreen:

  20. Mas Ke2, mengenai hutang itu,
    Alangkah baiknya belajar samadhi sendiri,
    Menempuhnya, nanti mengerti sendiri jawabannya …. ,
    Kan malah mengasyikkan tuh, bisa mengerti semua jawabannya… .

    Nuwun, mas Ke2.. 😉

  21. ke2 said

    inggih sami2 mbak Ratna 😀 :mrgreen:

  22. 3yoga said

    mas Ratana …. sebagai umat buddha, bagaimanakah mendoakan orang yang sedang sakit, atau hendak menghadapi ujian ???

    sebagai orang yang menghindari pedukunan …. bagaimanakah caranya minghindari kiriman santet dari orang lain ???

    terima kasih,
    semoga semua makhluk hidup mencapai pencerahan sejati,
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear mas 3yoga….,

    Ada caranya mas, meskipun bukan dalam pengertian “DOA” yang mas mengerti atau umumnya masyarakat mengerti.

    Namun, ada sabda2 Sang Buddha yang bila diuncarkan ( dengan daya samadhi ) secara sungguh2 akan membawa penyembuhan bagi suatu penyakit, membawa manfaat untuk tolak-bala , membawa ketentraman, kedamaian, kesejahteraan, keselamatan.

    Logika-spiritualnya begini :
    Sang Buddha adalah “Guru-Jagad”, Guru para Dewa dan Manusia, Yang Termulia diantara semua makhluk baik dewa maupun manusia, dewa-dewa dibelahan bumi manapun, dari alam Kammadhatu sampai Arupaloka, semua menghormat kepada Sang Buddha. Termasuk makhluk-makhluk Peta ( hantu ) dan asura ( jin dan raksasa ) . Ini secara spiritual bisa dibuktikan.

    Nah, hingga kini, mereka semua senantiasa menghormati Buddha,Dhamma, dan Sangha ( Ti-Ratana ; Tiga-Permata ).
    Jika mereka mendengar sabda yang diucapkan langsung oleh Sang Bhagava, dan diulangi oleh siswa-siswa Sang Buddha yang “benar”, maka mereka akan menghormati sabda tersebut.

    Mungkin ada yang bertanya, “Sang Buddha kan sudah 2500 tahun lebih Parinibbana , bagaimana mungkin semua makhluk , para Dewa, hantu2, raksasa, masih menghormati Beliau ?? “

    2500 tahun itu waktu yang sangat singkat mas, itu hanya beberapa hari, atau hanya beberapa jam bagi makhluk2 Dewa ( tergantung lingkup tempat tinggalnya, baca lagi artikel ini untuk lebih jelasnya )

    Sabda-sabda tersebut, yang bermanfaat untuk berbagai hal, terdapat dalam “Paritta” / Palivacana.

    Jika dibaca dengan sungguh-sungguh, dengan daya samadhi dan didukung timbunan karma-karma baik si pembaca, maka Paritta itu akan membawa manfaat yang luar biasa.

    Kekuatan Paritta itu, membangkitkan tiga-daya :
    1. Daya Sang Buddha.
    2. Daya dari Dhamma yang melingkupi semesta.
    3. Daya dari Ariya-Sangha ( Pesamuan para Bhikkhu sejak jaman Sang BUddha hingga kini, para Bhikkhu yang telah tiada maupun masih ada, yang telah parinibbana maupun yang belum parinibbana ).

    Dan tiga-daya ini, sangat dihormati oleh makhluk2 semesta, para dewa di alam manapun.
    ( Suatu saat akan saya paparkan juga kisah2 tentang, makhluk2 yang menentang Buddha, Dhamma dan Sangha pasti mengalami kehancuran, baik dalam kehidupannya sekarang maupun setelah mati ; dan setelah mati pasti akan terlahir dalam alam2 menderita ( neraka ) Mungkin ada beberapa orang tidak mempercayai hal ini. Tapi coba saja, jika ada yang berani menghina Buddha, Dhamma , dan Sangha, saya jamin anda dalam kehidupan sekarang ini juga akan segera menemui berbagai macam penderitaan dan kelak terlahir di alam kesengsaraan 😉 😀 ).

    Jadi, atas daya Ti-Ratana, dan dengan penghormatan dari para Dewa terhadap Sabda Sang Bhagava ini, kesembuhan, keselamatan dari berbagai hal yang buruk dan tidak baik, kesejahteraan, kedamaian, ketentraman, bisa kita peroleh.

    Begitu mas 3yoga… 😉

    Salam,
    Semoga Anda Senantiasa Selamat Sejahtera ,
    Sadhu…Sadhu…Sadhu… 😉

  23. 卓俊樺 said

    Halo Mas Ratana,

    maaf saya bertanya lagi ><

    Mas Ratana menulis kalo ada yang berani menghina Buddha, Dhamma dan Sangha dijamin akan segera menemui bermacam penderitaan.

    Kenyataannya,banyak rekan2 kita dari agama sebelah yang menghina Buddha,Dhamma dan Sangha,
    tapi hidup mereka sampai sekarang masih bahagia dan kaya raya.
    Kenapa ya?

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Kaya-raya akan materi tidak berarti bahagia… ,

    Saya sementara ini tidak akan merujuk pada Kitab Tipitaka, namun lebih kepada “pengalaman” pribadi ;

    Seseorang yang menghina seorang SUCI, bagaikan BUMI meludahi LANGIT… ,
    Setiap niat jahat seseorang tersebut, setiap cacian, rasa dengki yang timbul, yang ditujukan kepada seorang Buddha akan berbalik kepada dirinya sendiri.

    Banyak kisah , dimana seseorang, sebut saja si “A” melatih diri dalam moralitas, kebaikan , kedermawanan, samadhi, dan ada seseorang yang lain, sebut saja si “B”, yang iri melihatnya lalu menyebarkan pandangan-pandangan tak sedap akan dirinya, tak selang berapa lama, niat-buruk itu kembali kepada si”B” sendiri.

    Ini sebuah kisah nyata dari berbagai pengamatan saya. Si “B” yang iri, dan ingin menjatuhkan si “A”, tak berapa lama kemudian berbagai hal buruk menimpa dirinya. Sementara, si “A” tidak pernah membalas perbuatan si “B” kepada dirinya.

    Si “B”, kemudian justru mendapat celaan dari rekan-rekan yang lain yang semula kepada merekalah si “B” mencela-cela si”A”. Selain itu, tak berapa lama, si “B” mengalami kecelakaan di jalan-raya hingga harus mengalami operasi besar. Tidak sampai disitu, anaknya kemudian mengalami masalah dengan teman sekolahnya. Ibaratnya, Sudah jatuh, tertimpa tangga, tertindih reruntuhan tembok pula.

    Contoh ini bisa kita lihat di berbagai tempat, tidak hanya seorang saja.

    Niat buruk si “B” yang ditujukan pada si “A”, bagaikan senjata makan tuan. Batinnya yang keruh tersebut, kemudian justru menyebabkan masaknya karma-karma buruknya sendiri, sehingga berbagai kemalangan datang bertubi-tubi.

    Alkisah, akhirnya si “B” bersikap baik kembali kepada si “A”. Dan si “A” tetap membalasnya dengan kebaikan. Lalu hubungan mereka baik kembali. Dan si “A” tetap terus memberikan pengharapan baik kepada si “B”, “Semoga “B” senantiasa selamat sejahtera, bahagia, tenteram, damai, sentausa”. Dan permasalahan-permasalahan si “B” pun berangsur-angsur memudar. Di lingkungan si “B” kembali bisa diterima, dan aktivitas sosial pun kembali berjalan harmonis.

    Inilah hukum karma.

    Siapapun yang menghina Buddha, Dhamma, dan Sangha , pasti akan mengalami hal yang jauh lebih buruk. Hal-hal ini menurut hemat saya yang bisa menimpa dirinya :

    1. Terlibat dalam pergunjingan2 yang tidak perlu.
    2. Dihinggapi mimpi-mimpi buruk, setelah itu, berangsur-angsur ;
    3. Akan mengalami suatu masa dimana ia menjadi orang yang tidak dipercaya.
    4. Putus hubungan dengan sahabat-sahabat dekatnya, dengan orang-orang yang dicintainya.
    5. Berbagai penyakit dalam tubuhnya akan satu-persatu muncul dan berkembang ( seperti sakit ginjal, lever, empedu, tumor, dan lain2 ).
    6. Kemalangan datang satu-per-satu dalam dirinya dan sanak-keluarganya.
    7. Kelak mengalami kebangkrutan dalam usahanya.
    8. Dan karena terakumulasi, batinnya akan semakin menanggung beban yang berat dari permasalahannya.

    Kelak, ketika ia meninggal, ia akan terlahir dalam alam penderitaan ( yang ini membutuhkan penjelasan lebih jauh lagi, lebih dalam lagi. Yang pasti, berkaitan dengan proses tumimbal lahir. Jika anda memahami proses tumimbal lahir, anda pasti akan memahaminya ).

    Ini adalah hasil pengamatan saya terhadap beberapa orang ( sampling ). Dan yang saya tulis itu adalah apa yang sudah menimpa beberapa orang yang menghina Buddha, Dhamma dan Sangha. Beberapa dari orang-orang didekat saya sendiri, yang tidak beragama Buddha.

    Ada beberapa orang dekat saya, pernah mencela Buddha, anti kepada Dhamma. Saya diam saja. Ketika kemalangan satu-per-satu menimpa keluarganya, Beliau2 malah mendekat pada saya, minta bantuan yang “aneh-aneh”. ( dalam hati saya, “Lha memang, saya ini dukun apa ?” 😀 :mrgreen: ) . Saya membantunya dengan harapan-harapan dan niat-niat baik saya terhadap dirinya dan keluarganya.

    Kemudian, buah karma buruk juga akan masak termasuk bagi para perusak Buddha-rupam dan perusak vihara. Anda bisa amati mengenai hal ini. Karena, para Dewa sesungguhnya pernah berjanji ( Ada itu, Dewa yang berjanji, saya lupa nama dewa tersebut. Jika ada rekan se-Dhamma yang tahu, silakan membantu 😉 ), untuk melindungi Buddha-rupam, dan barangsiapa yang berani merusaknya, akan mengalami penderitaan dalam hidupnya. Meskipun ia hidup , seakan-akan tidak mengalami apa-apa, tapi karma-buruk itu terus mengikutinya bagaikan bayang-bayang hitam mengikuti orang tersebut.

    Yang nge-bom Borobudur, sederhana saja, juga mengalami hukuman dipenjara, masyarakat juga kemudian banyak yang tidak menyukainya. Belum lagi berbagai penyakit yang menimpanya 😉 Kelak setelah mati, ia akan terlahir di alam yang tidak menyenangkan 😉

    Disamping penjelasan saya tersebut diatas , dari pengamatan saya pribadi, sebenarnya dalam kitab Tipitaka sebenarnya dijelaskan dengan lebih akurat dan mendetail. Namun saya tidak “hapal”, silakan dilihat sendiri kitab Ti-pitaka-nya, baik begitu ? 😉

    **
    Lha kalau orang tidak beragama Buddha, tapi bisa kaya-raya, ya itu tidak ada hubungannya dengan “penghinaan” kepada Buddha. Karena, orang beragama itu pada dasarnya adalah karena “Kecocokan” saja.

    Kita beragama Buddha karena kita “cocok” dengan Buddha, Dhamma dan Sangha. Orang lain mungkin tidak cocok, jadi mereka beragama yang lain. Dan itu sah-sah saja.

    Namun, jangan sampai menghina Buddha, Dhamma, dan Sangha, anda sendiri yang akan mengalami hal yang tidak mengenakkan.

    Sang Buddha sendiri, dalam karaniyamettasutta mengingatkan,

    ” Tidak menghina siapapun dimana juga…, jangan karena marah dan benci, mengharapkan orang lain celaka… “.

    Kita, juga tidak boleh menghina siapapun juga, karena, hanya akan menambah karma buruk kita sendiri. Baik begitu ??

    Salam Damai dan Cinta Kasih,
    Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia dan terbebas dari semua penderitaan… .

  24. mrsabdopalon said

    Salam Kasih dan Damai untuk kita semua…

    Mas,… blog anda artikelnya bagus2… sukses ya…
    semoga kita semua dapat berkarya dan dapat memberikan yang terbaik
    guna menebarkan cinta kasih dan kebaikan kepada apa dan siapa saja…

    Mari saling Asah, Asih dan Asuh…

    salam.

    http://mrsabdopalon.wordpress.com

  25. Iya mas, terimakasih, sama2… ,

    Salam Kenal dari saya…,

    Semoga Anda sukses selalu, dan berhasil meraih semua cita-cita Anda 😉

  26. NANANG ADJI said

    SALAM KENAL MAWON SAKING DALEM INGKANG NUWUN LAN BADHE NGANGSU DATENG KAKANG2 SEKALIAN….

  27. Reno said

    Mas bagus sekali artikel2nya..

    Mas tentang penghinaan terhadap Buddha kalau seseorang melakukannya atas dasar ketidaktahuan dan bukan karena benar benar membenci Buddha lalau benar benar menyesal, apakah hal itu akan memperingan karma buruk?

    Bagaimana cara memperbaiki tindakan terlanjur menghina Buddha?

    terima kasih

  28. Reno said

    Mas artikelnya bagus-bagus

    Bagaimana cara memperbaiki karma buruk menghina Buddha?

    apa yang harus dilakukan?

    apabila menyesal apakah buah yang kelak diterima tidak begitu buruk?

    Terima kasih

  29. Sedikit meralat.
    Agama:
    a = tidak
    gam = pergi
    Agama = sesuatu yang tidak pergi (sesuatu yang kekal atau abadi)
    Agama ≠ tradisi
    Dharma ≠ doktrin
    Dharma = kebenaran atau kebijaksanaan
    Hindu = ???
    Nama asli ajaran Veda adalah = Sanatana Dharma
    Sanatana Dharma = kebenaran abadi
    Dasar atau pondasi utama Sanatana Dharma = Tattwa
    Tattwa = filsafat
    Filsafat = mencintai kebijaksanaan
    Dharma ≠ Dogma
    Dharma = siap diuji, ditanya
    Sanatana Dharma ≠ kepercayaan
    Sanatana Dharma = jalan mencapai pembebasan
    Bagaimana mencapai pembebasan? Adalah dengan Vidya.
    Vidya (dibaca= Widya) = pengetahuan
    ((Sang Hyang Widhi = Tuhan Yang Maha mengetahui))
    Dari mana mendapat Vidya?
    Dari Veda.
    Veda, berasal dari urat kata vid
    Vid = tahu, mengetahui
    Veda = ilmu pengetahuan

  30. […] dari https://ratnakumara.wordpress.com/buddha dengan perbaikan dan penambahan seperlunya. Share this:TwitterFacebookLike this:SukaBe the first […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: