RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

MENGENAI SAYA

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”

( tikkhattum ; 3X )


Nammatthu Buddhassa,

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Upasaka Ratana Kumaro

“Apakah AKU ini ?”. Aku ini, TIDAK ADA. Hanyalah “Pancakhanda” , ya.., hanya sekedar kombinasi dari paduan unsur-unsur fisik dan mental yang senantiasa berubah-ubah setiap detiknya, inilah yang disebut-sebut “Aku”.

Pancakhanda ini, selama ini mempunyai sebutan yang dikenali, ialah : Ratana Kumaro.  Anda semua, para sahabat yang sering berkunjung ke blog ini, berinteraksi dengan saya, mengenali gumpalan “elemen-elemen” ini sebagai “Ratana Kumaro”.

Aku tidak pernah benar-benar ADA. Bentuk fisik yang terlihat ini, hanyalah gabungan dari unsure-unsur alam semesta ; Tanah ( Pali : Pathavi ; Jawa : Pertiwi ), Air ( Apo ), Api ( Tejo ), Angin / Udara ( Vayo ). Inilah “Rupa-Khanda”. Inilah “tubuh”-ku, Ini tidak kekal, dibatasi usia [Bathara-Kala] , dan ini bukan “Aku”.

Fisik ini, pada kehidupan sekarang ini, berjenis kelamin laki-laki, tinggi badan 170 cm, berat-badan “cukup-berat”  😀 :mrgreen:   . Kulit coklat kekuningan.  Terlahir bulan Agustus di tahun 1980,  dalam suku Jawa.

Yang berpikir, yang merasa, yang berbuat, yang menulis artikel, yang merawat blog ini, yang bertutur kata, yang menyapa anda-anda semua dengan banyak pemikiran dan perkataan-perkataan, kesemuanya : T I D A K   A D A .  Itu hanyalah vedana-khanda ( perasaan-perasaan ), sanna-khanda ( pencerapan ; pengenalan terhadap objek ) , sankhara-khanda ( bentuk-bentuk pikiran ), dan, vinnana-khanda ( kesadaran yang timbul akibat kontak dengan objek ).

“Robot yang dapat berpikir, robot yang mempunyai kesadaran”, itulah “Aku”. Sederhana bukan ? Sederhana pada akhirnya [yaitu ketika kita mampu menembusnya ; “Anatta” ] , tapi rumit ketika berproses untuk memahaminya / menembusnya.

IDENTITAS DIRI

bunga-teratai-merah-1

Upasaka, ya… seorang Upasaka. Dalam kehidupan sekarang ini, “aku” ini seorang Upasaka. Sejak tahun 2003, “aku” resmi memeluk agama Buddha dan mencantumkan “Buddha” dalam kolom “agama” di KTP-“ku”, menggantikan keyakinan yang lama [yang sebelumnya]. Ratana Kumaro, adalah nama yang diberikan Bhante Cattamano saat aku di wisudhi.

Dan, sejak tanggal 02 Agustus 2009 kemarin, saya resmi tergabung dalam Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia ( MAGABUDHI ),  dengan nomor keanggotaan : 2768/JTG/Upc/2009, dengan jabatan Upacarika ( dengan wewenang untuk memimpin Upacara Kebaktian dan Upacara Keagamaan lainnya ).

Sila apa sajakah yang aku latih semenjak memeluk Buddha-Dhamma [ sebagai seorang Upasaka ] ? Sesungguhnya, aku sangat ingin bisa melatih Delapan-Sila ( Atthangasila ) secara utuh, namun , berhubung aku masih bekerja dan hidup bermasyarakat, maka ada dua sila dari Atthangasila yang belum bisa aku penuhi, yaitu  :

“ Vikala-bhojana veramani sikkhapadam samadiyami”

[ Arti : Aku bertekad melatih diri menghindari makan makanan setelah tengah hari ; Sila keenam dari Atthangasila ]

Untuk sila keenam ini belum bisa kupenuhi, karena seringkali tugas-tugasku sebagai seorang auditor, menempatkanku pada situasi acara “makan-malam” bersama-sama. Lembur, kerja hingga jam makan malam, membuat situasi-kondisi “mengelilingi”-ku untuk akhirnya aku terlibat dalam acara “makan-malam” tersebut. Yah, mungkin juga ini karena “Lobha”-ku masih cukup kuat. Namun aku terlah bertekad, setiap hari Uposattha, aku akan melaksanakan Atthangasila secara penuh, seutuhnya.

“ Naccagita-vadita-visukadassana malagandha-vilepana-dharana-mandana-vibhusanatthana veramani sikkhapadam samadiyami ”

[ Arti : Aku bertekad melatih diri menghindari menari, menyanyi, bermain musik, dan pergi melihat pertunjukan; memakai, berhias dengan bebungaan, wewangian, dan barang olesan (kosmetik) dengan tujuan untuk mempercantik tubuh ; Sila ketujuh dari Atthangasila ]

Untuk sila ketujuh ini belum bisa kupenuhi, karena aku masih harus menggunakan wewangian tubuh. Dalam pergaulan social, hal ini cukup penting. Meskipun demikian, aku telah bisa melatih diri untuk tidak menari, menyanyi, dan bermain musik, walau seringkali masih menonton televise.

Walau kedua sila dari Atthangasila tersebut diatas belum bisa aku penuhi, namun aku telah melatih diri dalam sila ketiga dari Atthangasila, yaitu :

“ Abrahmacariya veramani sikkhapadam samadiyami”

[ Arti : Aku bertekad melatih diri menghindari perbuatan tidak suci ; Sila ketiga dari Atthangasila ]

Itulah sebabnya, mengapa aku tidak menikah, tidak menjalin hubungan cinta-kenafsuan seperti lazimnya laki-laki dan perempuan. SELIBAT ; ya, aku hidup SELIBAT, tidak hidup berpasangan, pun tidak terbersit keinginan untuk “meneruskan-keturunan”. Apakah aku akan bertahan dengan kehidupan selibat ini ? Aku bertekad demikian, tentunya aku harus sekuat tenaga mempertahankan tekadku ini hingga “cita-cita” pembebasan-“Ku” benar-benar ter-realisasi. Tekad (aditthana) ini telah aku ucapkan sejak usiaku masih tiga-belas (13) tahun, semoga tak akan pernah tergoyahkan oleh gangguan apapun juga.

Pada intinya, Sila yang saya jalankan setiap hari adalah PANCASILA, dan setiap hari Uposattha saya bertekad untuk menjalankan ATTHANGASILA secara lengkap. Pancasila tersebut adalah :

Panatipata Veramani Sikkhapadam Samadiyami

[Arti :  Aku bertekad melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup apapun juga]

Adinnadana Veramani Sikkhapadam Samadiyami

[Arti : Aku bertekad melatih diri menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan]

Kamesu Micchacara Veramani Sikkhapadam

[Arti : Aku bertekad melatih diri menghindari perbuatan asusila]

Musavada Veramani Sikkhapadam Samadiyami

[Arti : Aku bertekad melatih diri menghindari ucapan dusta / tidak benar]

Surameraya Majjapamadatthana Veramani Sikkhapadam Samadiyami

[Arti :  Aku bertekad melatih diri untuk menghindari [tidak meminum] minuman keras, barang madat  (hasil peragian) yang menyebabkan lemahnya kesadaran]

Sebagai seorang Buddhis, maka melatih diri dalam SILA, SAMADHI, dan PANNA, adalah hal yang wajib saya lakukan. Setiap malam, saya senantiasa berpuja-bhakti. Biasanya, waktu yang saya butuhkan adalah 3-4 jam, satu jam untuk berpuja-bhakti dan menguncarkan paritta-paritta suci, 2-3 jam sisanya saya gunakan untuk bersamadhi, melakukan bhavana : baik samatha maupun vipassana. ( Aktivitas religius saya sehari-hari bisa anda baca pada blog ini juga di artikel PENYEMBAH BERHALA ?! ) .


MATA PENCAHARIAN

avatar roda dhamma

Profesi secara resmi, adalah seorang Akuntan. Pernah mencecap pengalaman sebagai seorang Auditor dan konsultan-pajak, dan saat ini menjadi Manajer Akuntansi di sebuah perusahaan swasta, itulah mata-pencaharian “Ratana Kumaro” ini. Sepertinya, mencari nafkah melalui profesi akuntan ini, masih dalam koridor “Ariya Atthangika Magga”, yakni “Mata-Pencaharian-Benar” ( Samma-Ajiva ).

Demi tetap berjalan dalam “Jalan” yang ditunjukkan Sang Buddha tersebut ( Ariya-Atthangika-Magga ) , lima mata-pencaharian salah senantiasa saya hindari  ( M.117 ), yaitu :

  1. Penipuan.
  2. Ketidak-setiaan.
  3. Penujuman.
  4. Kecurangan.
  5. Memungut bunga yang tinggi ( praktek lintah darat )

Disamping itu, saya senantiasa menghindari lima macam perdagangan-salah, yaitu :

1. Berdagang alat senjata ( pisau, pedang, belati, pistol, martil, dan lain2 bentuk senjata ).

2.  Berdagang makhluk hidup

3. Berdagang daging ( atau segala sesuatu yang berasal dari penganiyayaan makhluk-makhluk hidup ).

4. Berdagang minum-minuman yang memabukkan atau yang dapat menimbulkan kecanduan.

5. Berdagang racun.

RIWAYAT HIDUP SINGKAT

Seperti manusia-manusia lain, lahir melalui rahim seorang Ibu, mempunyai seorang ayah, dan empat saudara kandung.

Mengenyam pendidikan formal dengan baik.

Pernah mengalami masa-masa ‘kenakalan-remaja’.

Pernah pula merasakan hubungan ‘cinta’ dengan perempuan-perempuan baik-baik, ber’pacar’an layaknya yang dialami anak-anak remaja .

Hal-hal yang dilakukan oleh umumnya manusia , tentunya pernah juga aku lakukan.

RIWAYAT PERKENALAN DENGAN AGAMA

Aku mengalami perkenalan dengan agama-agama yang ada di dunia ini, lebih dari satu agama yang pernah aku pelajari dan hayati. Pertama kali, aku cukup lama beragama Islam, hingga umur 23 tahun. Dalam masa 23 tahun itu, diantaranya aku mencoba mempelajari agama-agama yang lain, seperti Katholik, Kristen-Protestan, dan juga sempat sebentar mencoba mengenal Hindu.

Namun akhirnya di usia 24 tahun , aku bertemu ajaran Buddha, menjadi jatuh hati pada agama Buddha , dan hingga kini menghayati ajaran Buddha Gotama ,  mencoba mengikuti teladan kebajikan dan kebijaksanaan Sang Buddha.

CITA-CITA”KU”

white lotus

Agaknya, ketiga syair dalam buku “Riwayat Agung Para Buddha” karya Tipitakadhara, Mingun Sayadaw (Myanmar) ini sangat sesuai dengan cita-cita seorang Ratana Kumaro :

“ Tinnoham Tarayissami

Muttoham Mocayepare

Buddhoham Bodhayissami”

[ Arti : Aku ingin menyeberang, dan ingin yang lain menyeberang juga,

Aku ingin terbebas, dan ingin yang lain terbebas juga,

Aku ingin menjadi Buddha, dan ingin yang lain tersadarkan juga ]


Inilah satu-satunya cita-cita luhur yang aku tanamkan dalam kesadaranku selama menempuh perjalananku dalam samsara yang sangat panjang tak berawal [tak jelas awal mulanya]  ini. Semoga, cita-cita luhur ini bisa tercapai dengan baik pada akhir perjalanan samsaraku. Semoga, Ratana Kumaro ini berhasil menggapai cita-citanya.

Sadhu…Sadhu…Sadhu… 😉

Salam Damai dan Cinta Kasih…,

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajja hontu, Anigha Hontu, Sukhi attanam Pariharantu “

( “Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari penderitaan, bebas dari kebencian/permusuhan/pertentangan/niat jahat, bebas dari kesakitan, bebas dari kesukaran, semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaan mereka masing-masing” )

~ RATANA KUMARO ~

SEMARANG, 18 MEI 2009.

Iklan

108 Tanggapan to “MENGENAI SAYA”

  1. Agung Hupudhio said

    Rahayu Mas Ratnakumara (padahal kulo remen nimbali mas CB),
    —————————

    Rahayu ugi Mas Agung, sumangga, badhe nimbali CB / SB menapa RATNA KUMARA, sak kersa panjenengan kemawon… .
    —————————–

    Berarti panjenengan meniko trah saking mataram – Panembahan Senopati njih ?? menawi mekaten kito meniko sederek tunggal leluhur lho…
    ——————————-
    Wah, remen sanget, bungah, saged pinanggih sedherek tunggal leluhur. Lha mbok panjenengan email-aken urut-urutan silsilah panjenengan, kula kok pengin sumerep, menarik.. .

    Sanajan boten tunggal garis silsilah , sedaya manussa punika nggih sami ka-manussa-nipun, ingkang benten karma lan undhuh2anipun, hehehe… .
    —————————

    Salam Paseduluran,
    Agung
    ————————-

    Inggih , maturnuwun sanget, kula tampi kanthi suka ing manah… .

    Rahayu…. ,
    Mugi panjenengan sakaluarga tansah manjing ing Kabagyan, kasantosan, lan karahayon!

  2. Agung said

    Njih mas CB, mangke tak email-aken silsilah kulo..

    Mugi panjenengan tansah pinaringan kawilujengan lan karahayon !

    • mas sukma said

      kulo nuwun mas agung, kulo mas sukma saking kartasura. nuwun sewu menawi kepareng kulo badhe nyuwun alamat email ipun mas ratana kumaro. alamat griyonipun mas ratana kumaro wonten pundi nggih? matur nuwun sakderengipun.

  3. Agung said

    Pamuji Rahayu,

    Silsilah sampun kawulo email.. menopo sampun dibikak emailipun panjenengan ??

    Salam,
    Agung

  4. M said

    Salam,

    saya mau tanya, saudaranya ibu ratna bernama r.Harimurti, sepertinya saya pernah dengar.
    Apakah dia adalah sepuh yang memiliki perguruan pencak silat,
    atau mungkin mendirikan pencak silat di indonesia?

    Cmiiw.

  5. ratanakumaro said

    Salam “M”… ,
    Salam Hormat untuk Anda,
    Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

    Maaf baru jawab, terlambat ya ??

    mmm.., sepertinya anda keliru… .

    Bukan, R.Harimurti, paman saya, bukan pendiri perguruan pencak silat… .

    Terimakasih… .

    Salam Damai dan Cinta Kasih,
    “Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia!”

  6. Fendi said

    Namo Buddhaya
    —————————–
    Namo Buddhaya…,
    Dear Sdr.Fendi…,
    Salam Hormat untuk Anda…,
    Salam Damai dan Cinta Kasih…. ,

    —————————–
    Terima kasih atas balasannya. Cukup menarik very very low profile (bukan memuji) mas benar orang yg menjalankan kehidupan sesuai Dhamma.
    —————————–
    Kembali kasih 😉

    Saya hanya ‘belajar’ kok, belajar sebaik-baiknya mempraktekkan Dhamma yang mulia ini dalam kehidupan sehari-hari… .
    —————————–
    Betapa saya sangat merasa menjadi orang yg sangat tidak mengerti Dhamma. Maaf karena basicly saya Mahayana sehingga jarang melakukan meditasi kebanyakan ritual dan pembacaan Parrita/Kheng jadi banyak sekali yg saya masih awam dengan istilah-istilah dalam bahasa pali.
    —————————–
    Dhamma adalah “Kebenaran-Sejati”, istilah hanyalah sekedar istilah, sebuah kodifikasi untuk alat penyampaian / komunikasi dalam masyarakat manusia.

    Mahayana,Tantrayana, Vajrayana, Zen, semua bersumber pada satu ajaran, ialah ajaran Sang Buddha.

    Pembacaan Paritta ( bahasa mandarinnya apa ya ? ‘Liam-Kheng’ kah ?? ), atau bahasa sanskertanya “JAPAMALA” ( kalau dalam Islam disebut Dzikir ), juga cukup baik untuk membantu pencapaian ketenangan-batin / jiwa.

    Mungkin untuk meditasi, saya akah share melalui email.

    Mengenai istilah2 yang kemarin saya gunakan itu, pengertiannya adalah sebagai berikut :

    1. TILAKKHANA ( Ti = tiga , lakkhana = corak keberadaan ) ; adalah tiga corak keberadaan yang merupakan “hakekat” sejati dari segala sesuatu di dunia ini, yaitu :
    a). ANICCA = Tidak-kekal
    b). DUKKHA = Derita
    c). ANATTA = Tidak ada “AKU”.

    2. Tiga akar kejahatan =
    a). LOBHA = Keserakahan akan keindriyaan
    b). DOSA = Kebencian / kemarahan
    c). MOHA = Kegelapan batin ( Batin yang “gelap” adalah batin yang tidak mampu “melihat” atau “menembus” kasunyataan dunia, misalnya tidak mampu untuk menembus Ti-lakkhana ( tiga corak keberadaan ), tidak mampu melihat “Empat-Kesunyataan-Mulia”, tidak mampu memahami bekerjanya “Hukum-Karma”, tidak mampu menembus “Paticcasamupada” ( Roda-kehidupan ), dan “Dhamma” yang lain-lainnya. )

    Mungkin istilah-istilah ini yang kemarin anda kurang mengerti 😉
    Tidak mengapa, hanya masalah bahasa… 🙂

    ——————————————————-

    Mengenai relik saya tentunya sudah diterangkan tentang asal usul dari relik tersebut cuman konon kata orang disetiap relik mempunyai sesuatu getaran yg mana tentunya saya ingin pencerahan dari mas tentang hal tersebut atau dengan melakukan cara bagaimana saya bisa merasakannya?
    —————————————–

    Saya akan sharing melalui email 😉

    —————————————–

    Mengenai solo retreat saya juga mendengar dari orang kalau katanya buat pemula sebaiknya harus ada pembimbing karena kalau tidak akan banyak godaan muncul dan takut tidak dapat mengendalikannya? Bagaimana dengan meditasi Vippasana apakah cocok buat saya yg pemula?

    —————————————–

    Memang, sebaiknya kita mempunyai Guru pembimbing yang memang sudah berpengalaman dan sudah “menyelesaikan” latihan-latihan yang seharusnya ditempuh. Guru seperti ini seharusnya adalah para Ariya ( para Bhikkhu ).

    Namun, ada pula Guru meditasi yang non-Bhikkhu, tetapi pencapaian Beliau memang sudah hebat, misalnya saja , Sayalay-Dipankara. Beliau sudah tuntas Rupa-Jhana dan Arupa-Jhana, dengan empat-puluh (40) Kammatthana.

    Untuk meditasi vipassana, itu memang sangat cocok bagi rekan-rekan yang sangat sulit untuk melatih “Jhana”. Latihan “Jhana” hanya cocok bagi rekan-rekan yang tertarik membuktikan adanya “kemampuan-batin” ( kesaktian ).
    Metode vipassana ini juga dikenal dengan sebutan “Sukha-vipassako”. Ulasan mengenai hal ini sudah saya tulis di halaman “Samadhi”.

    Untuk melatih Vipassana, anda tidak memerlukan latihan-latihan “Jhana”. Tingkat konsentrasi yang anda perlukan hanyalah hingga “Upacara-Samadhi”.

    Dalam Vipassana ini , kita melatih , berusaha, untuk menembus “Ti-lakkhana” ; tidak-kekal ( anicca ), penderitaan ( dukkha ), dan tidak-ada-Aku ( Anatta ).

    Beberapa kammatthana , seperti “Asubha”, “Anapanasati”, jug bisa saya katakan termasuk dalam metode pengembangan batin untuk menembus tiga-corak-dunia ini.

    Dalam Vipassana, kita hanya bertugas untuk “menyadari”, dan “mengamati” segala sesuatu sensasi yang muncul. Semisal timbul rasa “lapar”, maka kita mengamati dan menyadari setiap moment tersebut, sembari mencatat dalam hati , “lapar”… , hingga nanti rasa lapar itu sendiri akan lenyap. Dari sana kita menjadi mengerti, bahwa “rasa” itu sendiri tidak-kekal, dan “rasa” itu , bukan “Aku”. Nanti selengkapnya saya share melalui email.

    Alangkah baiknya, bila anda mengikuti retreat-retreat meditasi yang diadakan vihara-vihara terdekat anda. Atau, bisa mengikuti latihan-latihan dari Pak Hudoyo, beliau adalah spesialist vipassana.

    Atau baca buku-buku dari S.N. Goenka, atau juga buku-buku dari Yang Mulia Mahassi Sayadaw, dan juga Ajahn Chah.

    Saya rasa, vipsassana sangat tepat untuk anda. 😉
    ———————————

    Terima kasih sekali lagi untuk waktunya. Senang bisa berbincang dengan anda. Salam Sejahterah dan Damai untuk Anda dan Keluarga juga.
    ———————————-

    Kembali kasih 😉
    Senang juga berbincang dan berkenalan dengan Anda…,
    Salam Sejahtera dan Damai untuk Anda sekeluarga… 😉

    ———————————–

    Hormat saya,
    Fendi
    ———————————–

    Hormat Saya untuk Anda, dari hati yang terdalam…
    Ratana Kumaro

    ———————————–

    Semoga semua Makhluk Hidup Berbahagia

    ———————————–

    Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta!
    Sukhi hottu,
    Mettacittena 😉

  7. Namo Buddhaya
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Namo Buddhaya….,
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Salam Kasih dan Damai….
    Perkenalkan saya Ali dari serpong Tangerang. Saya terkesan dengan artikel saudara.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Salam Damai dan Cinta Kasih… ,
    Terimakasih dan selamat datang, Sdr.Ali … 😉

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Namun ada beberapa konsep yg saya tidak setuju dengan anda.

    Contoh: KEADAAN NIBBANA.

    menurut saya Nibbana tidak dapat di jelaskan dengan keadaan, karena Nibbana terbebas dari keadaan (sankhara)!

    Keadaan menurut saya adalah proses yaitu: Timbul, Berlangsung, dan Padam. Bila Nibbana di artikan keadaan maka hal ini tidak sesuai dengan pemabahasan konsep Nibbana itu sendiri.

    Kalau boleh saya sarankan, pakai saja merealisasi Nibbana. Bukan mencapai keadaan Nibbana.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    WOW…, Terimakasih atas koreksi dari anda…, maafkan ketidak telitian saya 😉
    Baik, akan saya koreksi. Karena saya juga sependapat dengan anda, bahwa Nibbana bukanlah “keadaan”, bukan pula sebuah “alam”.

    Anumodana atas koreksinya yang sangat bernilai ini 😉
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Terim kasih.
    Anumodana.
    Ali
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Kembali Kasih…,
    Anumodana juga untuk anda… ,
    Ratana Kumaro… ,

    “Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta!”

  8. kangBoed said

    hmm.. *lirik kanan atas*.. nama saya belum ada yaa.. waah.. sabar sabaaar.. mudah mudahan gak usah daftar formulir.. hehehe.. padahal.. padahaaal..
    Salam Sayang

  9. Dear All 😉

    Salam Kenal dari saya, salam persahabatan… 😉

    Semoga halaman ini bisa cukup menjelaskan mengenai “Apakah Aku ini?” 😉

    Semoga Anda Semua Senantiasa Berbahagia 😉

    Sadhu3x 😉

    Mettacittena,
    Ratana Kumaro.

  10. tomy said

    Dear Mas Ratanakumara,
    salam persahabatan :wink

    kalo ‘Siapakah Aku Ini’ bisa mohon dijelaskan juga Mas

    semoga semua makhluk berbahagia
    sadhu…sadhu..sadhu

  11. wira jaka said

    mas Ratana ….

    setelah perubahan …. materinya semakin berat untuk dicerna oleh saya mas ….

    wkkka … mungkin karena aku ga naik kelas, jadi susah nerima pelajaran lebih jauh yah ???

    salam,

    • Dear mas Wira Jaka 😉

      Mas, pernahkah nonton film The Matrix ?

      Saya pernah liat sekali, entah seri yang mana juga lupa.

      Hanya ada penjelasan yang menarik dari si “Gundhul” kepada Keanu Reeves, saat Keanu tanya, apakah “semua ini nyata?”

      Si “Gundhul” menjawab :”Apakah yang NYATA itu? Apa yang kamu anggap nyata hanyalah impuls yang diterima dan diterjemahkan otakmu saja” .

      “Nothing is real ; it’s all just illussion”.

      Hidup kita , samsara kita ini, bagaikan sebuah permainan, Mas Wira Jaka.

      Berputar-putar, berkelana. Karena, kita selalu menganggap semuanya itu “Nyata”.

      Saat kita berhasil “MEMBONGKAR” bahwa semua hanya “ILUSI” semata, lalu kita “TIDAK-MENGINGINKANNYA-LAGI”, lalu kita “MELEPASKAN-DIRI” dari segala ikatan2 yang mengikat kita dalam samsara ini [ikatan tersebut adalah belenggu2 duniawi], barulah kita akan terbebas dari samsara, dan merealisasi NIBBANA / NIRVANA. Kebahagiaan-tertinggi ; bahkan lepas dari alam “TUHAN” sekalipun. 😉

      Semoga tidak bingung dengan penggambaran sederhana ini ya mas 😉

      Peace & Love

      • CY said

        Bro, saya pernah tonton trilogi Matriks itu. Sangat padat sekali berisi paham2 Buddhisme (bagi yg mengerti tentunya). Bahkan sampai pertempuran terakhir Keanu Reeves, unsur Buddhismenya masih sangat kental. Itu film, penulis naskahnya org Buddhis kali, atau setidaknya kelahiran terdahulu pernah hidup mem-bikkhu, hehehe…

  12. pamuji rahayu..

    kadhang kangmas Ratna .. apa khabar ..? apakah ada lagi tulisan panjenengan yng terbaru..? setiap kali dalm keseharian saya sering dan selalu menyempatkan buka rumah panjenengan.., bahkan sampai 3 – 4 kali dalam sehari.., tapi belum sempat koment,.. maaf kangmas…, semoga panjenengan tansah wilujeng niring sambekala …,mohon diupload tulisan panjenengan yang terbaru.., karena semua sudah saya pelajari sebagai pencerahan.., terima kasih atas kebaikan penjenengan,,,. saya tunggu…

    terima kasih

    salam sihkatresnan

    rahayu.., sadhu.. sadhu.. sadhu…,

    • Pamuji Rahayu, Kadang Kangmas Hadi Wirojati 😉

      Sedang saya persiapkan artikel selanjutnya mas. Semoga satu-dua hari ini sudah selesai.

      Maturnuwun atas perhatian panjenengan, dan bahagia hati saya bila tulisan2 di dalam blog ini bisa menjadi sumber “pencerahan” bagi siapa saja yang mencari kebahagiaan-sejati, yang mencari kesejatian 😉

      Salam sihkatresnan,

      Rahayu,
      Sadhu..sadhu…sadhu…
      😉

  13. KangBoed said

    TOK.. TOOK.. TOOOK..
    pada kemana yaaaaaaa… halllooo… spedaaaa…
    weleh weleeeeeeeh.. lagi samadhi….. 😆
    maaf ganggu brooooot..herku chayank
    Salam Sayang
    Salam Rindu untukmu.. :mrgreen:

  14. tomy~RE said

    Tubuh ini bukanlah milikmu, begitupun Engkau bukanlah milik tubuh ini. Bumi, Air, Udara, Api, dan Eter membentuk tubuh ini dan ke sini juga tubuh ini harus kembali. Tetapi Jiwa adalah Abadi, maka apakah gerangan Engkau ini?
    :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

    AKU ini TIDAK ADA
    JIWA ini TIDAK ADA
    Tidak ada yang abadi
    Jiwa ini, hanyalah sebuah aliran momentum..
    Tidak tetap, berubah-ubah, tidak-kekal-abadi..
    Hanya sebuah letupan saat-demi-saat

    Jiwa ini hanyalah adonan dari pikiran, perasaan, pencerapan, kesadaran,
    Tidak-kekal, dukkha… .
    Apakah sesuatu yang tidak-kekal, layak dinyatakan sebagai “Aku”, “Milikku”, “Diriku” ?
    Apakah sesuatu yang penuh dukkha, layak dinyatakan sebagai “Aku”, “Milikku”, “Diriku” ?

    AKU INI TIDAK PERNAH BENAR-BENAR ADA
    AKU ini hanyalah MENGADA !

    PROSES yang TIDAK PERNAH USAI
    Hanyalah penghentian dari proses melelahkan itu,
    PENGHENTIAN dari keserakahan, kemarahan, dan kebodohan,
    yang akan mengakhiri PROSES melelahkan yang seakan tak-berawal tak-bertepi… .

    😉 Ratana Kumaro,
    This is a Special Gift for you my beloved friend 😉

    • tomy~RE said

      Ada apa dengan diriku…
      Yang mengalami dukha, ketidakkekalan
      Masih selalu mencari hal-hal yang sama…..

      TUBUH INI BAGAI GUMPALAN BUSA
      PERASAAN BAGAIKAN GELEMBUNG UDARA
      PERSEPSI BAGAIKAN FATA MORGANA
      BENTUK MENTAL BAGAIKAN TANDAN PISANG
      DAN KESADARAN BAGAIKAN TIPU MUSLIHAT

      thank you my beloved friend
      :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
      Dear mas Tomy 😉

      Karena itulah, seharusnya yang akan mati mencari sesuatu yang tidak terserang kematian ,
      Yang tidak aman, seharusnya mencari sesuatu yang aman ,
      Yang tidak damai, seharusnya mencari sesuatu yang damai.. 😉

      Tapi, hampir semua makhluk, tahu bahwa ia terserang kematian, namun mencari sesuatu yang terserang kematian juga.
      Tahu bahwa ia tidak aman, mencari sesuatu yang tidak aman.

      Apakah sesuatu yang terserang kematian tapi mencari sesuatu yang juga terserang kematian ?
      Manusia mencari istri, mencari anak.., sama-sama terserang kematian 😀
      Mencari harta dengan rakusnya, padahal harta juga suatu saat musnah 😉

      Manusia, seharusnya mencari sesuatu yang KEKAL-ABADI,
      Mencari perlindungan yang aman 😉
      Mencari Kedamaian tertinggi 😉
      Mencari… N I B B A N A … 😉

      Peace & Love, my beloved friend 😉

  15. pamuji rahayu…

    kangmas ratana…, mohon maaf saya sedikit bercerita tentang saat saya masih tinggal disemarang,. saya SDN Simongan pada tahun 1977, dan SMP Domenico Savio tahun 1979, apakah panjenengan di semarang barat dan dimana ya semarang baratnya,.. saya dulu tinggal di kalisari.. Komtabes 091 dulu, sekarang jadi Polda Jateng mungkin, saya dah kangen sekali kota semarang.. ingin sekali rasanya mengunjungi saudara kerabat dan handai taulan disini, juga akan saya sempatkan mampir apabila jadi, kerumah panjenengan dan kangmas Tomy… kalau boleh lho…, saya juga ada budhe di kabluk..dan juga pernah tinggal disana, kangmas Tomy di Pedurungan kan..? dan kangmas Ratana … semarang baratnya dimana.. hehehe. selidik nih.. pengin tahu aja, banyak saudara kayaknya lebih enak .. kemana mana bisa nyambangi…,

    matur sembah nuwun..,
    rahayu..,
    ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

    Salam Pamuji Rahayu, mas Hadi Wirojati

    Wah, berarti panjenengan dengan saya satu almamater mas.
    Saya juga alumni SMP PL Domenico Savio Semarang, angkatan 1993/1994 – 1995/1996.

    Alamat rumah saya, nanti via email saja.
    Maturnuwun mas Hadi Wirojati.

    Mugi Rahayu ingkang sami pinanggih.

  16. LnddMiles said

    Great post! I’ll subscribe right now wth my feedreader software!

  17. lovepassword said

    Eh Mas Ratna, kamu nggak pengin nulis lagi. Aku padamu lho 😉

  18. Fietria said

    ada award dari saya.

  19. Fietria~RE said

    Kalau mas Ratna menari pasti lucu juga jadinya.
    😆
    :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
    Dear Fietria,

    Wah, wellcome back my beloved friend 😉

    He he, untungnya saya menjalankan aturan-moralitas Buddhist yang berupa menghindari menyanyi , menari, dan menonton pertunjukan.

    Hopefully U Always b Happy, my Dear… 😉
    Sadhu,Sadhu,Sadhu.

  20. Herry Dhapuka~RE said

    Selamat Ulang tahun saudara Ratana, semoga semua keinginan dan cita cita cepat terkabul sesuai dengan keinginan dan selalu semangat dalam Dhamma.

    Sadhu, sadhu, sadhu..
    :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
    Dear Sdr. Dhapuka,

    Anumodana, he he… ,
    Jadi ketahuan niy ulang tahun saya, he he… .

    Mettacittena,
    Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta,
    Sadhu,Sadhu,Sadhu.

  21. lovepassword~RE said

    Saya jadi penasaran : Tidak menyanyi itu apakah juga berarti tidak boleh menyanyikan paritta ??? Masalahnya temenku punya lagu Budha banyak. Itu juga nggak bolehkah ???
    :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
    Dear Lovepassword,

    Paritta, sebenarnya tidak di”nyanyikan”.
    Karena, bahasa Pali adalah bahasa tanpa “intonasi”, mendatar saja.
    Hanya ada penekanan2 tertentu, atau ada huruf vokal yang dibaca secara pendek atau lebih panjang.

    Seperti itu saja.

    Mengapa menyanyi, menonton pertunjukan, berkecimpung dalam dunia akting, dan lain2 dihindari oleh seseorang yang memang serius menempuh “Jalan-Pembebasan”, karena sesungguhnya kegiatan2 tersebut di”cengkeram” oleh akar2 kilesa ( kekotoran-batin ), yaitu : keserakahan (lobha) , kemarahan ( dosa ) dan kebodohan-batin ( moha ).

    Semisal orang menyanyi lagu tentang patah-hati, maka disaat itu batinnya dicengkeram “kemarahan”, kemarahan karena tidak-kekalnya hubungan asmara mereka, dicengkeram “keserakahan”, karena ingin terus menikmati “kenikmatan”2 saat hubungan asmara masih kuat, dan dicengkeram “kebodohan-batin”, karena ia tidak bisa melihat hakekat “dukkha” di dalam / di balik semua itu, tidak bisa melihat sebab “dukkha”, tidak bisa melihat “berakhirnya-dukkha”, dan tidak bisa melihat “Jalan menuju berakhirnya dukkha”.

    Yang terbaik adalah dalam kondisi “seimbang”. Tidak tercebur dalam kesedihan hati yang berderai air mata, dan tidak melonjak2 tertawa kegirangan seakan menemukan kebahagiaan-abadi. Karena keduanya itu, baik tangisan maupun tawa terbahak-bahak, kedua-duanya mengandung “dukkha”. Kedua-duanya sama-sama dicengkeram lobha, dosa, moha.

    Mungkin bagi ummat2 beragama, mendengarkan lagu2 rohani merupakan langkah awal untuk meninggalkan segala ketidak-baikan, meninggalkan “dukkha” secara sementara. Tapi pada akhirnya, bahkan lagu-lagu rohani itupun harus ditinggalkan juga. Seperti lovepassword sendiri pernah bilang dan mengetahui, bahwa pada saat seseorang merealisasi Nibbana, ia telah mengatasi “baik” dan “buruk”. Seperti seorang pembunuh, maka pada awalnya ia harus meninggalkan kejahatan2 , memperbaiki moralitasnya, mengembangkan cinta-kasih, kasih-sayang, rasa simpati pada semua makhluk, dan mengembangkan semua sifat2 bajik ; sebagai pintu untuk meninggalkan kejahatan. Tapi pada akhirnya, setelah ia berhasil “menyeberang” dan mengakhiri dukkha, maka pengembangan2 sifat bajik itupun akhirnya ia tinggalkan, ibarat seseorang penyeberang lautan yang telah sampai di tepi pantai, rakit pun ia tinggalkan.

    Kurang lebihnya begitu lovepassword.
    Untuk rekan2 se-Dhamma, bila ada kekeliruan mohon koreksi Anda, bila ada kekurangan mohon Anda sudi menambahkan.

    May All Beings b Happy,
    Sadhu,Sadhu,Sadhu.

  22. lovepassword~RE said

    Tapi pada akhirnya, bahkan lagu-lagu rohani itupun harus ditinggalkan juga.

    ===> He he he. Tapi itu kan pada akhirnya. Lha jalan masuk itu kan ya selalu ada. Kayaknya gicu sih.Aku juga sempat ngobrol sama Dhammaduta soal ini.

    Seperti masalah perahu kita kemarin. Sesampai di seberang perahu sebaiknya ditinggalkan karena ngapain membawa-bawa perahu. Perahu cuma memberatkan.

    Tetapi sebelum ke seberang? Kalo perahu belum apa-apa dibuang bagaimana kita bisa sampai ke seberang ? He he he.
    Masalah anda dengan Romo Hudoyo kalo dari pandanganku sih karena dia mengajarkan membuang perahu sedari awal. SALAM IYA
    ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
    Dear Lovepassword,

    Bukannya yang anda nyatakan itu sudah saya terangkan pada jawaban saya diatas atas komentar anda sebelumnya. Kalau ini merupakan sebuah “penegasan” untuk pemahaman anda sendiri atau teman2 yang lain, baik adanya. Tapi kalau untuk menjelaskan pada saya, khan saya malah sudah menjelaskan duluan, coba dicheck lagi 😉

    Mengenai pernyataan anda, “Lha jalan masuk itu kan ya selalu ada”, otomatis juga sudah tersirat dan tersurat lewat jawaban saya diatas atas komentar anda terdahulu. Bahkan , waktu yang lalu juga sudah saya terangkan, pada komentarmu ( tertanggal 9 Juli 2009 ) atas artikel “Tuhan “Yang-Maha” di Mata Seorang Buddha…”, coba check lagi, klik komentar ini .

    Mengenai pandangan2 pak Hudoyo, tidak sesederhana seperti yang anda kira.
    Selain membuang rakit, yang ia tujupun bukan “pantai-seberang” sebagaimana yang diajarkan Sang Buddha.

    Yang ia ajarkan adalah berhentinya-pikiran, dan itu hanya dialami saat meditasi. Sekeluar dari meditasi ala ajaran dia, seseorang masih dicengkeram kekotoran-batin : keserakahan, kemarahan, kebodohan-batin.

    Bahkan, berhentinya pikiran yang ia maksudkan pun bukanlah pikiran yang terbebas dari kekotoran-batin ( Lobha, dosa , moha ), tapi benar2 “berhenti”. Dimana hal itu tidaklah pernah mungkin , bahkan orang matipun pikiran/kesadarannya terus berjalan ( inilah tumimbal-lahir ).

    Jika kesadaran pasif ( bhavanga ) yang dimaksud Romo Hudoyo, maka itu bukan pencapaian pecerahan, karena itu suatu kondisi bagaikan orang “mengantuk”.

    Karena itulah, apa yang diajarkan Romo Hudoyo, bagi banyak ummat Buddha, bukanlah ajaran Buddha.
    Tapi lebih merupakan ajaran J.Krishnamurti. Padahal, J.Krishnamurti sendiri memberikan pengakuan, bahwa selama 60 tahun ia mengajar, ia belum pernah berhasil membawa manusia mencapai “transformasi-batin” yang oleh Romo Hudoyo disepadankan sebagai “Pencerahan” / “Pembebasan”.

    Kurang lebih begitu lovepassword.

    May U Always b Happy,
    Sadhu,Sadhu,Sadhu.

  23. lovepassword~RE said

    Justru itulah tepat maksudku. Hik hik hik. Mengapa belum apa-apa sudut pandangnya kok : Tapi pada akhirnya, bahkan lagu-lagu rohani itupun harus ditinggalkan juga. Mengapa tidak anda lihat bahwa lagu rohani itu bisa dianggap sebagai jalan masuk atau perahu – yang bolehlah dipakai meskipun ntar dibuang. He he he.
    :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
    Dear Lovepassword,

    Coba dibaca ulang, ini saya kutipkan lagi jawaban saya :

    Mungkin bagi ummat2 beragama, mendengarkan lagu2 rohani merupakan langkah awal untuk meninggalkan segala ketidak-baikan, meninggalkan “dukkha” secara sementara. Tapi pada akhirnya, bahkan lagu-lagu rohani itupun harus ditinggalkan juga.

    Jadi, saya sudah mengatakan, bahwa mendengarkan lagu2 rohanimerupakan “LANGKAH-AWAL” untuk meninggalkan segala ketidak-baikan, meninggalkan “dukkha” secara sementara.
    Biasanya , ummat2 beragama , yang mulai khusyuk mendengarkan lagu2 rohani, bisa hingga 90% dari koleksi lagunya merupakan lagu2 rohani semua. Baru, mungkin 10% sisanya ia masih “rindu” untuk mendengarkan lagu2 pop, rock, atau berbagai genre kesukaan dia.

    Saat ia masuk kedalam “kekhusyukan” mendengarkan lagu2 rohani, itu sebenarnya dia sedang memasuki “pintu” / “jalan” untuk mulai meninggalkan hal2 tidak baik yang dulunya menjadi kebiasaan dia. Ia mulai mengarahkan diri pada hal2 yang berbau spiritualisme.

    Nah, atas pertanyaan anda ;

    mengapa “belum apa-apa” sudut pandangnya kok : Tapi pada akhirnya, bahkan lagu-lagu rohani itupun harus ditinggalkan juga.

    Karena hal ini berkaitan dengan saya pribadi. Khan ini kaitannya dengan jawaban saya pada Fietria, dimana saya menjelaskan bahwa saya menjalankan latihan “Sila” untuk tidak mendengarkan lagu2, menonton hiburan/pertunjukan , tidak bernyanyi dan tidak berkecimpung dalam dunia entertainment. ( meskipun Sila ini belum juga bisa saya laksanakan dengan sempurna , karena dalam beberapa hal saya masih menonton televisi, terutama pada hal2 seputar berita )

    Mengapa ? Karena, saya sendiri dulu sudah melakukan yang pertama, yaitu memasuki “pintu” lewat lagu2 rohani. Saya dulu seorang penyanyi, dari awalnya penyanyi kafe, hingga terakhir menyanyikan lagu2 rohani Buddhist. Bahkan sempat rekaman dua kali.

    Nah, setelah melewati fase itu, sampailah saya pada titik sekarang ini, dimana bahkan lagu2 rohani pun sudah tidak saya “lekati” lagi. Bukan berarti saya telah merealisasi “Nibbana” sempurna dan telah sampai di pantai seberang , bukan begitu, sama sekali tidak begitu ; tapi yang tepat, saya sedang “berenang-melawan-arus-samsara” .

    Latihan saya ini merupakan tahap demi tahap dalam latihan mengikis kekotoran batin dan segala kemelekatan, dimana untuk hal yang kita bahas ini, saya sedang berlatih pada tahap dimana saya tidak mendengarkan musik/lagu, tidak melihat pertunjukan/hiburan, tidak menari, tidak menyanyi. Begitu lovepassword.
    ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
    Seperti seorang pembunuh, maka pada awalnya ia harus meninggalkan kejahatan2 , memperbaiki moralitasnya, mengembangkan cinta-kasih, kasih-sayang, rasa simpati pada semua makhluk, dan mengembangkan semua sifat2 bajik ; sebagai pintu untuk meninggalkan kejahatan. Tapi pada akhirnya, setelah ia berhasil “menyeberang” dan mengakhiri dukkha, maka pengembangan2 sifat bajik itupun akhirnya ia tinggalkan, ibarat seseorang penyeberang lautan yang telah sampai di tepi pantai, rakit pun ia tinggalkan. ===> Dalam soal Paritta itu – kayaknya anda malah sudah membuang rakit sedari awal meskipun belum sampai ke seberang. Apakah ada alasan lain ???
    ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

    Bagaimana to Lovepassword, antara “lagu-rohani” dengan “Paritta” itu dua hal yang berbeda lho.

    Paritta (Palivacana) itu berisi khotbah-khotbah Buddha dalam bahasa Pali.
    Dan itu sebenarnya memang tidak “diLAGUkan”.

    Paritta itu, diucapkan secara mendatar, tanpa nada. Hanya ada penekanan2 pada huruf konsonan tertentu, dan juga ada perbedaan panjang pendek pengucapan pada huruf2 vokal tertentu.

    Saya sendiri masih menguncarkan Paritta tersebut hampir setiap malam. Tapi, tidak di”nyanyi”kan. Itu yang sudah saya jawab kemarin.

    Okey lovepassword, semoga jawaban2 ini menjelaskan pertanyaan2mu.

    May Happiness Always b With U,
    Sadhu,Sadhu,Sadhu.

  24. Namo Buddhaya,

    Dear All Brothers and Sisters,

    Mohon ijin, setidaknya sampai dengan dua hari kedepan semenjak hari ini, saya akan off dulu dari dunia-maya. Sehingga, mungkin akan banyak komentar2 dan pertanyaan2 rekan2 yang tidak terjawab oleh saya.

    Bagi yang hendak tetap berdiskusi antar rekan2 sendiri, dipersilakan , asal tetap dalam suasana diskusi yang bebas dari Lobha, Dosa, Moha.

    May All Beings b Happy,
    May All Beings Attain Enlightenmet,
    Sadhu,Sadhu,Sadhu.

  25. Extenze said

    amazing stuff thanx 🙂

  26. lovepassword~RE said

    Kamu nggak pengin posting lagi Mas Ratana ???
    :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
    Dear Lovepassword 😉

    Sedang sibuk dengan pekerjaan kantor.
    Tentunya pengin posting 😉

    Nanti kalau sudah siap ya saya posting,
    “Semua akan menjadi indah tepat pada waktunya”
    he he.., begitu kan petuah ( kayaknya dari Alkitab tuh ) mengatakan 😉

    May Happiness Always b With U,
    Sadhu,Sadhu,Sadhu

  27. dharu said

    salam kenal @ratna kumara
    blognya bagus & informatif
    tks.

  28. bilikalbu said

    Salam persahabatan Ratana Kumaro

  29. salute said

    Salute :jempol:
    gw bukan budhis, tapi keknya gw musti angkat topi boat ratna kumara, salut abizz , dah maw cape2 ngasih pencerahan buat ogut
    good luck men!

  30. Namo Buddhaya,

    Selamat datang rekan2 semua ke blog Ratna Kumara ini.
    Salam Damai, Salam Persahabatan.. 😉

    Terimakasih atas supportnya yah, juga atas kritkan2 yang membangun terhadap blog ini.

    Maaf kalau saya terlambat merespon komentar2 anda, karena saya minggu2 ini sedang sibuk bolak-balik dinas luar kota, dan karena itu jadi tidak sempat membuka internet dikarenakan padatnya pekerjaan.

    Baiklah, selamat menikmati sajian disini, dan selamat berdiskusi.

    Semoga Anda Semua senantiasa Selamat, Sejahtera, Bahagia, Damai, Sentausa.

    Sadhu,Sadhu,Sadhu. _/\_

  31. Johan~RE said

    Hi..Ratana Kumaro jika boleh saya ingin minta setetes pencerahan tentang Doa. Temen dari agama lain jika berdoa selalu diawali dengan menyebut nama Tuhan. Seolah-olah Tuhan adalah Someone, tidak begitu kan dengan Buddhisme. Menurut Buddhisme dan saya pribadi, Tuhan tidak berwujud.
    _________________________________________________
    Dear Johan ,

    Menurut Buddhisme, Tuhan Pencipta yang “Maha-Kuasa” itu tidak ada.

    Anda bisa baca2 artikel Tuhan “Yang-Maha…” di mata Seorang Buddha di blog ini juga.
    _____________________________________________________

    Sang Buddha tidak pernah mengajarkan para siswa-Nya untuk berdoa dan berserah diri pada “Maha-Dewa” siapapun namanya, termasuk kepada Sang Buddha sendiri.

    Lalu seperti apakah bentuk Doa kita ?

    Bentuk Anda berdoa sendiri seperti apa ?
    _________________________________________________

    Saya tidak pernah ber-DOA ( menyebut nama “Tuhan”, meminta berkah keselamatan pada “Tuhan”, menyembah “Tuhan” )

    Anda tentunya sudah membaca artikel Arti Doa [Menurut Buddhisme] di blog ini juga khan.. Di dalam artikel itu sudah saya jelaskan semuanya kok, coba anda baca2 lagi deh 😉

    Sahabatku Johan,
    Letak semua permasalahan adalah pada pikiran kita sendiri.

    Kesuksesan maupun kegagalan,
    Kebahagiaan maupun penderitaan,
    Semua disebabkan oleh “mind-set” kita sendiri.

    Dengan mengetahui rumusan ini, kepercayaan tentang “Doa” yang bisa menyelamatkan sudah tidak diperlukan lagi.

    Jika ingin memperoleh hasil yang baik, berbuatlah yang terbaik.

    Senantiasalah berusaha dengan penuh :
    1. Saddha ( keyakinan )
    2. Viriya ( Semangat )
    3. Sati ( Perhatian )
    4. Samadhi ( Konsentrasi )
    5. Panna ( Kebijaksanaan )

    Dengan “Pancabala” ini, kita pasti mampu meraih semua cita-cita kita, tentunya berjalan sesuai hukum-alam, termasuk hukum karma..

    ________________________________________________

    Setiap doa kita sering diawali kata “Semoga” ? Apa maksudnya, apakah ada seseorang or sesuatu yang akan mendengarkan kita dan mengabulkannya.
    ________________________________________________

    “SEMOGA” yang diucapkan para siswa Sang Buddha, merupakan perwujudan bentuk pengharapan tulus dari niat batin para siswa.

    Dan niat itu merupakan niat yang baik, karena harapannya adalah “SEMUA MAKHLUK BERBAHAGIA”.

    Dan, ini bukanlah “Doa”.. lebih tepatnya sebuah pengharapan yang muncul dari batin kita yang tulus demi kebahagiaan semua makhluk / atau makhluk lainnya..

    Tidak ada “Seseorang” atau “Sesuatu” yang akan “mengabulkan”.
    Karena semua bekerja sesuai hukum alam.

    Taburan pikiran, ucapan, perbuatan yang buruk, akan berbuah buruk.
    Taburan pikiran, ucapan, perbuatan yang baik, akan berbuah baik.

    Tidak ada “Maha-Dewa” yang bisa melawan hukum alam seperti ini.

    Dewa , memang ada… dan bila seseorang memohon bantuan pada Dewa, memang bisa dan sangat mungkin Dewa memberikan bantuan ; sebagaimana halnya kita meminta bantuan sesama manusia.

    Tetapi, Dewa tidak akan bisa melawan hukum alam . Jika anda seorang Buddhis, tentunya anda sudah mengerti mengenai Lima Hukum Alam / Panca-Niyama khan.

    Hukum Alam ini, berjalan dengan sendirinya. Bukan ciptaan suatu “Dewa-Maha-Pencipta” tertentu, tidak pula digerakkan oleh kuasa tangan suatu “Dewa-Maha-Kuasa” tertentu.
    __________________________________________________

    Terima Kasih Untuk Waktu Nya
    __________________________________________________

    Iya Johan,
    Terimakasih pula untuk perhatian Anda 😉

    Semoga Anda senantiasa Berbahagia, Damai, Sejahtera, Sentausa,
    Sadhu,Sadhu,Sadhu.

  32. Andy Susanto said

    Salam metta..banthe RATANA KUMARA.Semoga kita semua dpt hidup “terbahagia” selalu.Dpt berkenalan dgn anda ini merupakan kebahagian tersendiri buat sy,sungguh!Melihat photo anda aja sekilas aja;”wah!ini wajah anak muda kog auranya cerah,bersih begitu…jgn2 pasti bikkhu.,n ternyata bener.Sy sujud kpd anda yg mempunyai niat luhur menjalani hidup mulia ini,semoga lbh banyak org yg dpt tercerahkan krn keputusanmu yg mulia ini.Perkenalkan diri:sy org tua paruh baya(54thn,BUDDHA)yg amat minim pengetahuan Buddhism,SY hrs banyak belajar dr anda ya…he,he,he…Semoga semua makhluk hidup berbahagi.

  33. Andy Susanto said

    tambahan dikit,mengapa “terbahagia”? begini;kemaren meluangkan banyak wkt menusuri posting2 buddhisme, eh!yg banyak ketemu debat2 mengarah panas selalu n perut ini terus terang dibuat sdkt mules!(munkin msh banyak kilese jd sy ga tahan)Tp akhirnya ketemu kangmas RATANA yg sejuk ini..n dlm hati sy akan coba cari tau lbh jauh sapa anak muda ini. Esoknya,PUCUK DICINTA ULAM TIBA..Hr ini dah muncul diruang hadapan sy.Inilah yg sy artikan kebahagian yg datang tiba2.he,he,..

  34. Namo Buddhaya,

    Dear Bp. Andy Susanto,

    Bp. Andy Susanto, saya belumlah menjadi Bhante, masih selalu melatih Pancasila dan Atthangasila.. nanti kalau sudah lulus baru Dasasila.. selanjutnya baru 227 Sila Patimokha / Sila ke-bhikkhuan 😉 Jadi, lebih tepatnya saya ini adalah “saudara se-Dhamma”. Saya akan senang bila bisa membantu Bp. Andy Susanto memahami sesuatu hal tentang Buddha-Dhamma.

    Saya juga sangat senang sekali bisa berkenalan dengan anda, sebelumnya bertegur sapa melalui Facebook, sekarang bertemu di ruang blog ini.

    Blog ini saya sediakan, bagi semua manusia yang ingin mengenal Buddha-Dhamma , yang ingin berkultivasi, melatih diri dalam :
    SILA –> SAMADHI –> PANNA .

    Dhamma Ratana ( Permata Dhamma ) ini sungguh sangat indah, melampaui permata apapun di alam-semesta ini.. Marilah, Bp. Andy Susanto, kita berlatih bersama-sama.., hingga mencapai pembebasan-sempurna dari samsara.. .

    Salam Hormat saya, _/\_

    Semoga Anda, Bp. Andy Susanto, Senantiasa Berbahagia, Damai, Sejahtera, Sentausa..,
    Sadhu,Sadhu,Sadhu. ^_^

  35. buyvigrx said

    You are a very smart person!

  36. Johan said

    Hi Ko Rratna Kumara 🙂

    Saya suka baca-baca artikel di blog ini. Penjelasan koko selalu panjang lebar. Jadi nya jelas dan terang.

    Sebenarnya arti hidup sederhana dalam buddhisme itu seperti apa ya ?

    Mungkin koko bisa buat artikel khusus hidup sederhana. Karena banyak orang yang berpikir hidup sederhana itu berarti gak boleh kaya and jangan banyak impian/keinginan.

    Mohon Setetes Pencerahannya.

    Thank You

    • Namo Buddhaya.. ,

      Dear Johan 😉

      Saya senang bila blog ini bermanfaat bagi informasi Dhamma untuk anda.

      Mengenai hidup sederhana, bukan berarti ummat Buddha tidak boleh kaya-raya.. .

      Asalkan, kita bermata-pencaharian benar, maka kekayaan yang diperoleh dari mata-pencaharian tersebut, adalah sah kita miliki.

      Lima mata-pencaharian salah yang harus dihindari yaitu :

      a. Penipuan.

      b. Ketidak-setiaan.

      c. Penujuman.

      d. Kecurangan.

      e. Memungut bunga yang tinggi ( praktek lintah darat )

      Disamping itu, kita harus pula menghindari lima macam perdagangan, yaitu :

      f. Berdagang alat senjata ( pisau, pedang, belati, pistol, martil, dan lain2 bentuk senjata ).

      g. Berdagang makhluk hidup

      h. Berdagang daging ( atau segala sesuatu yang berasal dari penganiyayaan makhluk-makhluk hidup ).

      i. Berdagang minum-minuman yang memabukkan atau yang dapat menimbulkan kecanduan.

      j. Berdagang racun.

      Dengan tetap terus berpegang pada PANCASILA dan ATTHANGASILA, sebagai Sila yang pokok bagi ummat awam, serta memperhatikan mata-pencaharian-benar ( Samma-Ajiva ), maka kita bisa dan berhak untuk hidup kaya, sejahtera, makmur, sentausa… .

      Mengenai keinginan dan impian, boleh2 saja. Asalkan itu berasal dari kehendak yang baik, dari bentuk2 pikiran yang baik, maka keinginan itu tentu boleh kita kejar.

      Bila kita berkeinginan kaya-raya untuk meningkatkan ego kita, atau mungkin kemudian untuk menyalurkan aspirasi ideologi dengan jalan yang salah ( seperti yang ditempuh para teroris misalnya ), maka itu bentuk keinginan yang tidak-baik, dan tidak boleh kita pelihara dan ikuti.

      Namun bila kita ingin kaya-raya, sejahtera, supaya bisa menunjang orang-tua kita, menghidupi keluarga kita, membantu orang-orang di sekitar kita, maka, itulah bentuk keinginan baik, dan itu jelas2 dianjurkan oleh Sang Buddha kepada ummat-ummat awam.

      Demikian penjelasan singkat dari saya, semoga bermanfaat yah.. 😉

      Mettacittena,
      May U Always b Happy,
      Sadhu,Sadhu,Sadhu

      • CY said

        Sekedar tambahan buat Johan, saya sudah membuktikannya dan berhasil. Dari mulai masuk kerja sebagai bawahan. Saya tidak pernah melakukan

        a. Penipuan.

        b. Ketidak-setiaan.

        c. Penujuman.

        d. Kecurangan.

        e. Memungut bunga yang tinggi ( praktek lintah darat )

        Sehingga berhasil mencapai jabatan setinggi sekarang (setingkat dibawah pemilik perusahaan).

        Diperusahaan lama dulu, saya sering markup biaya. Tapi hasilnya saya tetap saja berstatus bawahan dan penghasilan entah habis kemana, tabungan selalu menipis.

        Inilah yg sudah saya buktikan dari “bermata pencaharian benar”. Jadi sah-sah saja kalau umat Buddhis kaya raya kalau mata pencahariannya benar.

        Namun ada hal yg perlu kita kendalikan, yaitu power yg kita miliki krn sudah kaya raya. Jgn disalah gunakan utk hal-hal yg negatif. Intinya, hindari kemelekatan akan harta kekayaan dan kenikmatan indera.

        With Metta _/\_

  37. Lyta Liem said

    Salam kenal, Mas Ratna. Saya sering membaca tulisan2 Anda. Maaf kalau pertanyaan saya kurang sopan. Mengapa Mas Ratna tidak menjadi bhikkhu?

  38. Namo Buddhaya,

    Dear Lyta Liem… ,

    Terimakasih atas pertanyaan menarik dari Lyta Liem ini..,

    ” Mengapa saya tidak menjadi Bhikkhu ? “ , jawabannya adalah karena hingga detik ini saya berada dalam situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan berbuahnya kamma-baik saya untuk memasuki Sangha.

    Saya masih mempunyai kewajiban merawat kedua orang-tua saya yang sudah cukup tua ; Ayah saya saat ini berusia 76 tahun, sedangkan Ibu saya berusia 60 tahun. Kedua-duanya [sudah] tidak bekerja , karena itu kehidupan mereka disokong oleh anak-anaknya, termasuk oleh saya.

    Kedua orang-tua saya tersebut, mempunyai riwayat perjuangan yang gigih untuk membesarkan saya, mencurahkan cinta-kasih, memberikan kesempatan menikmati pendidikan-formal, dan lain-lain yang harus saya hargai jasa-jasanya yang sungguh luar biasa tersebut.

    Saya anak terakhir dari lima-bersaudara. Keempat kakak saya, semuanya sudah memilih jalan-hidupnya masing-masing dan otomatis tidak bisa dengan sepenuh-waktu merawat dan berada disamping orang-tua.

    Kakak saya yang pertama sudah menjadi Bhikkhu, di upasampada pada tahun 2002 di Myanmar, sekarang mengajar Abhidhamma (tetap menjadi Bhikkhu) di Singapore.

    Kemudian ketiga kakak saya lainnya, semuanya berkeluarga.

    Sehingga, tinggallah saya sendiri, yang bisa mempunyai banyak waktu berada di dekat orang-tua, merawat, dan sebisa mungkin mebahagiakan orang-tua saya. Karena, saya memang sudah berikrar hidup selibat, maka tentunya tinggal saya seorang yang bisa leluasa mendampingi orang-tua dibandingkan dengan ketiga kakak kandung saya yang semuanya hidup berkeluarga.

    Pada akhir tahun 2008, saya sudah pernah mengajukan permohonan untuk pergi menuntut ilmu ke Myanmar dan menjadi Bhikkhu mengikuti jejak kakak saya, namun orang-tua saya belum bisa mengizinkan dan melepaskan saya.

    Setelah itu saya merenung kembali, bahwa merawat kedua orang-tua pun merupakan kewajiban dan tanggung-jawab seorang manusia.. , Sang Buddha seringkali menegaskan hal ini kepada ummat-awam, yaitu supaya kita membantu ayah dan ibu, merawat mereka, menghormati mereka, membahagiakan mereka. Sampai kapan pun , bila kita berhitung-hitung, jasa orang-tua terhadap kita, sesungguhnya tidak akan lunas terbayarkan.

    Karena itu, meskipun saya belum memasuki kehidupan ke-Bhikkhu-an, namun saya telah bertekad bulat untuk mempraktikkan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari dengan sungguh-sungguh.. ,meski maximal SILA yang bisa saya laksanakan baru sebatas PANCASILA dan ATTHANGASILA ; belum mampu hingga DASASILA apalagi 227 SILA PATIMOKKHA.

    Namun, kehidupan SILA –> SAMADHI –> PANNA, senantiasa dengan sungguh-sungguh saya tempuh, dengan sebaik-baiknya.

    Dhamma Sang Buddha ini, sesungguhnya bisa kita praktikkan tanpa harus mengenakan jubah-Bhikkhu.

    Bila kita memang dengan sungguh2 mempunyai tekad / niat untuk menempuh dan merealisasikan Dhamma ; merealisasikan “Jalan-Suci” ( Magga ) dan “Buah-dari-Jalan-Suci” ( Phala ), maka dengan tetap hidup ber-rumah, bekerja mencari nafkah ( asal bermata-pencaharian Benar ), dan menyokong serta merawat kedua-orang-tua, maka itu semua tidaklah akan menjadi halangan bagi realisasi Dhamma.

    Bahkan, seorang Bhikkhu sekalipun, belum tentu berhasil merealisasikan “Magga” dan “Phala”, sementara tidak sedikit pula kita temukan kisah-kisah nyata sejak jaman Sang Buddha, bahwa seorang Upasaka-Upasika bisa berhasil merealisasikan “Ariya-Magga-dan-Phala” bahkan hingga tingkat “Anagami”.

    Maka, apakah kemudian kita harus berdalih karena sekedar menjadi Upasaka-Upasika maka kita tidak bisa mempraktikkan SILA –> SAMADHI –> PANNA dan merealisasikan “Dhamma” ? Jawabannya, tidak. Coba saja kita tanyakan pada para Bhante, pasti Beliau-Beliau akan menjawab demikian : tidak.

    Asalkan kita dengan tekad bulat, bersungguh-sungguh belajar dan mempraktikkan Dhamma hingga kita memetik manfaat nyata ; dan mengabdi pada ummat manusia dengan secara aktif ikut membabarkan Dhamma, maka, kita sesungguhnya pun telah masuk kedalam “arus” Dhamma.

    Demikian, sahabatku Lyta Liem.. ,

    Suatu saat, bila buah kamma-baik saya telah berbuah, saya pasti akan memasuki Sangha, menjadi seorang Bhikkhu. Semoga saja, tetap dalam kehidupan yang sekarang ini.

    Kusala-cetana ( kehendak-baik ) untuk menjadi Bhikkhu telah cukup kuat didalam diri saya, namun situasi dan kondisinya yang belum memungkinkan. Bukankah hukum karma mengajarkan, karma baru akan berbuah bila semua situasi dan kondisinya terpenuhi.. [?]

    Salam Metta-Karuna,
    May U Always b Happy and Well,
    Sadhu3x

    NB : Kedua orang tua saya adalah bukan penganut Buddhisme, sehingga masih belum bisa memahami makna seorang manusia menjadi Bhikkhu. Latar belakang pemahaman seperti ini pula yang menambah semakin kuatnya penolakan mereka akan keinginan saya menjadi Bhikkhu.

  39. Lyta Liem said

    Saya mengerti sekarang mengapa Mas Ratana tidak menjadi bhikkhu. Sebelumnya saya heran karena Mas Ratana ini begitu bersemangat belajar Dhamma, meditasi setiap hari, atthasila setiap hari, dsb. Kenapa nggak sekalian jadi bhikkhu? Ternyata ada alasan mulia di balik itu semua. Semoga cita-cita Anda tercapai.

    Oh ya saya juga baru tahu bhw kakak pertama Mas Ratana ternyata menjadi bhikkhu. Tadinya saya kira semua keluarga Mas Ratana itu beragama lain.

  40. Penghibur said

    @Ratna Kumara

    Salam Perkenalan dari saya.

    By, Penghibur

  41. Penghibur said

    @Ratano Kumaro

    http://penghibur114.wordpress.com/2009/10/04/konsep-tauhid-dalam-islam-kristian-dan-hindu/

    hikmatun.wordpress.com

    Bolehkah anda menjelaskan atas dasar apa 2 aliran besar dalam agama Buddha ini iaitu Theravada dan Mahayana TIDAK mempercayai Tuhan itu wujud?

    By, Penghibur

  42. Sesama Anak Negeri said

    Salam Persatuan Kepada Saudaraku Semua

    Kebanggaan Sebagai Anak Negeri. Jiwa Persatuan sebagai Bangsa Indonesia akan selalu tergurat di dalam diri. Tekad dan Harapan Menjadi Negeri Yang Besar tak akan pernah pudar oleh apapun. Semua berpadu menjadi sebuah Harapan yang bersandar pada Sosok Sang Pemimpin. Sang Pemimpin yang mampu mewujudkan semua itu. Sang Pemimpin Harapan Kita. Harapan Bangsa dan negeri Indonesia.
    Biarkanlah harapan itu selalu tersemai dengan indah. Dan akan kita wujudkan bersama satu saat nanti. Harapan itu pulalah yang mengiringi untaian kata-kata dalam tulisan dibawah ini yang terangkai dalam beberapa bagian. Bagian awal (BabI) akan ku sampaikan saat ini sedangkan bagian lainnya akan kusampaikan kemudian. Dan aku berharap saudaraku semua akan berbagi, menebarkan dan menyampaikannya pula kepada yang lain. Agar Kita dapat merasakan dan meyakini bahwa Harapan itu masih ada dan kelak … akan terwujud.

    KUTEMUKAN SOSOK
    … “SANG PEMIMPIN BESAR” …

    BAB I
    INDONESIA DAN SANG PEMIMPIN BESAR

    Indonesia bagaikan sebuah Permata Berkilau dalam jagat raya kehidupan. Sebuah Permata terindah yang sesungguhnya begitu mempesona, menawan mata hati dan jiwa siapapun yang memandang. Namun sayangnya Kilau Permata itu belumlah mampu memancar dengan sempurna. Sebagian kilaunya masihlah terpendam belum terpendar keindahan sesungguhnya.

    Itulah Indonesiaku negeri kebanggaanku. Negeri yang telah memberikan nafas kehidupan. Walaupun sebahagian kilaunya masih terpendam namun aku menyakini bahwa sebuah Permata tetaplah Permata sampai kapanpun. Dan pada saatnya nanti kilau keindahan sesungguhnya pasti akan memancar.

    Bila saat itu tiba maka siapapun yang memandang akan terpukau, mengagumi bahkan bergetar hatinya karena memandang keindahan dan kebesaran Indonesiaku yang sesungguhnya.

    Indonesia … Keindahannya tak akan pernah cukup untuk dilukiskan dengan berjuta untaian kata sekalipun.

    Indonesia … Kebesarannya tak akan terwakilkan dengan goresan tangan siapapun jua.

    Indonesia … Warna-warni Keragaman Pesona dan Budayanya tak akan mungkin tergantikan oleh sapuan kuas apapun.

    Indonesia Permata Beribu Pulau terpagari oleh tonggak-tonggak Kegagahan Anak-anak negerinya, terpoles Sempurna dengan Keindahan Artistik Alamnya.

    Dan sampai kapanpun Indonesiaku adalah Indonesia … Sang Permata Berkilau di semesta ini.

    Karena memang Indonesiaku adalah Guratan Sempurna. Maha Karya Terindah Guratan Tangan dari Sang Maha Kuasa.

    Itulah Indonesiaku … aliran darahku, helaan napasku, hakikat dan jiwaku sebagai Anak Negeri.

    Dan aku hanyalah salah satu dari anak-anak negeri Indonesia yang selalu berharap Maha Karya Terindah ini akan selalu terjaga sepanjang masa. Selalu berharap dan siap melakukan apapun demi untuk melihat Kilau Permata Indonesiaku tercinta selalu terpendar, tak akan pernah padam oleh siapapun atau apapun.

    Kilau Keindahan, Kilau Kebesaran yang akan selalu ditopang oleh setiap rakyat dan seluruh anak-anak negeri Indonesia yang tentunya berada dalam satu arahan, satu tuntunan dan satu rengkuhan yang akan selalu menaungi, menjaga hingga menghantarkan Perjalanan Sejarah Bangsa dan Negeri Indonesiaku ini. Dan itu akan berpuncak kepada satu figur Pemimpinnya.

    Dan aku hanyalah satu dari begitu banyak rakyat di negeri ini yang berharap menemukan dan memiliki sosok Pemimpin Terbaik. Pemimpin Terbaik yang mampu memimpin dalam arti sesungguhnya. Memimpin untuk dapat melajukan Kapal Kehidupan Negeri ini, menghindari karang-karang terjal ataupun menghadapi garangnya ombak kehidupan hingga kapal ini dapat terus melaju dan pada akhirnya mengembangkan Layar Kehormatan dan Kebanggaan sebagai Bangsa dan Negeri Indonesia.

    Seorang Pemimpin yang mampu menempatkan Bangsa dan Negeri ini untuk berdiri sama tegak bahkan melampaui bangsa-bangsa dan negeri lain.

    Seorang Pemimpin yang memiliki Kharisma Kepemimpinan yang sejati hingga mampu menerpa dan menyentuh setiap rakyatnya, menunjukkan kegagahan diantara pemimpi-pemimpin bangsa manapun hingga mampu menghantarkan bangsa ini ke Puncak Kehormatan, menggenggam Harkat dan Martabat sebagai Bangsa yang Besar.

    Pemimpin yang siap mempersembahkan segala hal terbaik yang dimiliki, berjuang dan mengabdi hanya untuk Sang Pertiwi. Berjuang tanpa pamrih hanya atas dasar tekad dan kesungguhannya sebagai Anak Negeri yang tengah memimpin Bangsa dan Negerinya.

    Pemimpin yang akan selalu dihormati dengan hati karena dirinya adalah Simbol Kebanggaan Rakyatnya.

    Dan untuk menjalankan kepemimpinan itu tentunya membutuhkan seorang
    Pemimpin yang memiliki dasar dan arahan langkah untuk berpijak, memiliki pengetahuan kehidupan, kemampuan untuk membimbing dan mengarahkan kepada satu tujuan besar.

    Karena hanya Pemimpin yang berkharisma, memiliki kemampuan dan dasar pijakan langkah yang kuat yang akan mampu membentuk dan melahirkan anak-anak Negeri yang gagah dan berkarakter yang akan membuat siapapun di negeri ini menepuk dada menunjuk dengan bangga sebagai Rakyat Indonesia.

    Sebuah Seruan Kegagahan yang “berisi” bukan hanya slogan semata. Sebuah seruan yang akan membahana di angkasa raya dan hanya mungkin terwujud dengan sentuhan tangan yang tepat dari Pemimpin Terbaik.

    Itulah harapanku, harapan saudaraku seluruh Rakyat Indonesia. Namun akankah sekeping harapan itu yang selalu berusaha untuk kita jaga akan bisa terwujud?

    Akankah harapan itu tetap mampu bersinar dan menggapai suatu hasil terbaik seperti yang kita harapkan?

    Mungkinkah kita dapat berjumpa dengan seorang Pemimpin yang memang memiliki sebuah tekad dan kesunggguhan untuk memimpin dengan sepenuh hati, berjuang tanpa pamrih, mempersembahkan dan mengorbankan segala kelebihan yang dimiliki hanya untuk Kebesaran dan Kehormatan Negeri Indonesia tercinta ini?

    Ach ……sepertinya semua itu bagaikan mimpi disiang hari, bagaikan pungguk merindukan bulan. Akankah menjadi nyata? Akankah semua itu hanya tetap berakhir menjadi impian kosong?

    Karena seiring waktu yang berputar, disadari atau tidak perlahan-lahan harapan itu seakan seperti memudar karena tak kunjung berjumpa sosok Pemimpin yang diharapkan.

    Siapapun bisa dan mampu duduk diatas kursi kepemimpinan namun tidak semuanya mampu menjadi seorang Pemimpin.

    Sering kali yang terlantun hanyalah bermanis kata, menunjukkan pesona bahkan perhatian tapi semua hanyalah sesaat demi meraih kepentingan dan keuntungan untuk diri mereka. Bukan untuk kita, bukan untuk Rakyat dan Negeri Indonesia.

    Rasanya lelah menanti, lelah berharap tanpa ada setitik cahaya yang memungkinkan semua itu bisa terwujud. Dan disaat sisa-sisa helaan nafas harapan semakin menipis, disaat keinginan dan cita-cita seakan begitu jauh untuk digapai, disaat rasa lelah menyergap begitu kuat dihati ini. Dan disaat kepiluan semakin menyengat ketika memandang satu demi satu Kebesaran Negeri ini meredup, terenggut, terampas tanpa mampu berbuat apapun.

    Kebesaran Negeri yang tak dipandang atau bahkan sengaja dicoreng oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab.

    kebesaran Negeri yang dinodai, terampas dan terenggut oleh keculasan bangsa dan negeri lain, yang semuanya bermula atau sebenarnya didasari karena tidak mampu menerima, berlapang dada memandang Kebesaran, Keindahan ataupun Kemakmuran bangsa dan negeri ini hingga dengan berbagai cara menginginkan pula untuk mampu memiliki dengan meninggalkan goresan tajam kepahitan untuk bangsa dan negeri ini.

    Mereka yang bukan apa-apa, bukan siapa-siapa tapi berlagak seolah mengetahui dan lebih memiliki kuasa untuk menentukan sesuatu atas diri bangsa dan negeri ini.

    Apakah Kebesaran Bangsa dan Negeri ini yang terlalu melimpah? Hingga kita tak mampu menjaganya dengan baik?.

    Ataukah para sosok-sosok yang seharusnya menjaga dan menjadi rantai rantai pengokoh, menaungi dengan kegagahan namun tak mampu menjaga Kebesaran Bangsa dan Negeri ini dengan sepenuh hati?
    Atau apakah karena memang tak mampu untuk melakukannya?

    Belum lagi Kebesaran Bangsa dan Negeri ini yang turut tercoreng, yang diredupkan oleh sesama anak negeri sendiri, sesama saudara sejiwa yang seharusnya saling menjaga, tapi karena ego dan kepentingan sendiri melupakan bahwa kehidupan yang mengalir didalam dirinya adalah merupakan pemberian dari Sang Bumi Pertiwi.

    Hingga disengaja ataupun tidak justru ada sesama anak negeri yang menancapkan sembilu duka pada Sang Pertiwi.

    Bila kebesaran tak mampu lagi memancar, maka harga diri dan martabat pun turutlah redup karena terinjak-injak oleh tangan-tangan dari bangsa bangsa lain yang memandang sebelah mata, menganggap seolah tak berarti bahkan nyatanya ada pandangan yang menganggap kita sebagai bangsa pecundang.

    Siapakah yang seharusnya maju dan berdiri didepan menghadapi semua hal yang datang untuk meredupkan Kebesaran Negeri ini?

    Rakyatnya yang tak mampu bersatu ataukah Pemimpinnya yang tak mampu menyatukan?

    Rakyatnya yang kehilangan arah ataukah Pemimpinnya yang tak mampu menuntun, menunjukkan hingga menghantarkan apa yang harus dilakukan untuk tetap menjaga dan membuat Kilau Kebesaran itu selalu terpancar.

    Bagaimanapun sebagai rakyat maka langkah-langkah kaki anak negeri Indonesia ini akan mengarah dan mengikuti jejak langkah yang ditunjukkan oleh sang Pemimpinnya.

    Lalu bagaimana jadinya bila sosok yang dijadikan panutan, sosok yang memimpin, namun dirinya sendiri tidaklah mengetahui arah mana yang harus dituju atau langkah apa yang tepat yang harus dilakukan.

    Maka akan menuju kemanakah Kapal Kehidupan Bangsa ini? Terus melaju ataukah terpuruk?

    Lalu apakah kita diam melihat semua itu? Akankah kita biarkan Kebesaran dan Kejayaan yang seharusnya bersinar, pudar, hilang dan terenggut begitu saja?

    Relakah kita melihat Bangsa dan Negeri yang kita cintai, para generasi-generasi penerus yang kita kasihi hanya mendapatkan sisa-sisa dari kehormatan yang seharusnya semakin lama semakin mencapai puncak, dan pada akhirnya hanya akan dianggap menjadi bangsa dari generasi yang tanpa arti.

    Yach …..jawabnya tidak!!! Dan siapapun kita sebagai Rakyat Indonesia tidak akan pernah rela bila harga diri diinjak apalagi dianggap sebagai bangsa pecundang.

    Kita pasti akan siap berdiri gagah menghadapi siapapun atau apapun. Kita pasti akan siap berdiri gagah, mengepalkan tangan bahkan menunjuk hidung, menghadapi siapapun atau apapun yang hendak mencabik harga diri sebagai Bangsa Indonesia.

    Kita siap mencucurkan peluh, mencurahkan segala daya, mewarnai dengan Aliran Darah Keberanian dan Kesucian Hati, demi untuk memandang Sang Merah Putih selalu Berkibar dengan Gagah.

    Kita adalah Ksatria Negeri, yang selalu siap menyatukan jiwa, mempersembahkan segala hal yang terbaik, menggemakan dengan lantang Kehormatan Sang Pertiwi.

    Namun sekali lagi semua harapan itu, semua semangat dan tekad itu seolah bagaikan berlalu begitu saja.

    Tekad, Keinginan dan Semangat Berkobar. Namun tanpa ada satu sentuhan dari seorang Pemimpin yang tepat, yang mengarahkan langkah kita maka kita bagaikan kehilangan arah, terpecah sendiri, bagai kehilangan Satu Tujuan Hidup Berbangsa dan Bernegara yang seharusnya selalu kita junjung.

    Sekali lagi, pada akhirnya semuanya akan berujung dan bergantung kepada satu sosok yaitu sosok Sang Pemimpin. Dan jelas tentunya bukanlah seorang Pemimpin yang hanya memiliki pesona belaka, menjadi sosok yang beruntung karena duduk disinggasana. Tapi yang kita butuhkan sosok Seorang Pemimpin Besar.

    Pemimpin Terbaik karena memiliki pengetahuan dan kemampuan serta segala hal lainnya. Memiliki daya dan karya untuk membimbing kita semua mengarahkan, menuntun, menghantarkan hingga memastikan langkah Bangsa Indonesia akan sampai disatu Puncak Tujuan Tertinggi.

    Seorang Pemimpin yang mampu menjadi Teladan Sejati karena memang telah memahami makna dan hakikat sebenarnya sebagai seorang Anak Negeri dan bagaimana menjalankan peran terbaik itu.

    Seorang Pemimpin yang berjuang tanpa pamrih karena setiap perjuangannya, setiap gema kegagahannya memimpin bangsa ini adalah merupakan wujud nyata, persembahan bakti tertinggi seorang Anak Negeri kepada Ibu Pertiwinya.

    Wujud nyata yang membuat kita pasti dapat menilai dan mengukur sebuah ketulusan sejati. Melihat dengan jelas dan nyata sebuah bentuk pengabdian dari Seorang Pemimpin.

    Bakti tertinggi, pengabdian yang tulus dari Seorang Pemimpin tentunya tak akan pernah mengharapkan pamrih atau imbalan apapun. Bahkan sebuah pembayaran atau bahkan gaji sekalipun. Karena memang pastilah sosok Pemimpin itu memahami benar bahwa dirinya sedang menjalankan Peran Terbaik sebagai seorang Anak Negeri, bukan tengah berniaga dengan Negerinya apalagi mengharapkan upah atas Kepemimpinannya.

    Seorang Pemimpin Sejati yang akan menjadi Motivator Terbesar, Pembangkit Semangat Nasionalisme yang akan mampu menyatukan kita semua menggapai masa depan Bangsa dan Negara yang lebih baik.

    Selalu siap menyuarakan kegagahan, berjuang sebagai sosok Anak Negeri yang membela harga diri Ibu Pertiwinya.

    Wahai saudaraku Rakyat Indonesia. Tentunya gema harapan itu yang berkecamuk didalam dada kita tapi sekaligus bercampur antara keyakinan dan kehilangan keyakinan.

    Karena sepertinya tidaklah mungkin menemukan Sosok Pemimpin seperti yang kita butuhkan. Dan kita pun terkadang bimbang seperti apakah sebenarnya sosok Sang Pemimpin Besar yang kita butuhkan itu?

    Adakah sebuah tolak ukur atau landasan yang menjadi penguat keyakinan kita bahwa itulah sosok Seorang Pemimpin yang sesungguhnya?

    Tentunya pertanyaan itu pun akan terus menjadi pertanyaan tanpa akhir, tanpa kunjung mendapat jawaban bila kita hanya berdiam diri atau termangu saja.

    Bagaimana mungkin kita berharap menemukan sesuatu yang terbaik bila kita hanya berdiam dan menunggu saja. Menanti entah berapa lama, menanti entah sampai kapan. Dan apakah pada akhirnya penantian itu akan menghantarkan bertemu sesuatu yang terbaik bagi kehidupan kita.

    Untuk mendapatkan hal yang terbaik secara pribadi saja maka kita harus mengerahkan segenap kemampuan, segala upaya untuk bisa mendapatkannya. Apalagi ketika berbicara tentang Bangsa dan Negara, tentang peran kita sebagai Rakyat sekaligus Anak Negeri, maka sudah tentu kita pun harus bersiap diri, melakukan segala hal, melakukan apapun untuk memberikan sebuah sumbangsih tersendiri kepada Negeri ini.

    Mulai dari saat ini, mulai dari hal yang terkecil, dimulai dari diri sendiri mencoba menata, mengkondisikan, menyatukan persepsi, menyamakan tujuan dengan menyadari dan menanamkan bahwa segala sesuatu yang ada di Negeri ini, apapun yang terjadi pada Bangsa ini, maka semua itu akan kembali dan berpulang kepada diri kita sendiri.

    Melakukan kebaikan, menjaga dengan kemampuan yang ada, mengerahkan potensi yang dimiliki, hanya dan untuk atas nama Bangsa dan Negeri Indonesia. Sekecil apapun adalah jauh lebih baik dari pada berdiam diri atau bahkan berbuat keburukan.

    Membuka wawasan dan cakrawala berpikir, memandang jauh kedepan untuk menjadi pribadi-pribadi Rakyat sekaligus Anak Negeri yang terbaik. Membekali diri dengan pengetahuan, potensi dan kemampuan untuk kita satukan pada saatnya nanti.

    Dan diujung langkah perjuangan kita sebagai pribadi Anak-anak Negeri maka adalah mempertajam pandangan, memandang dan mendengarkan dengan hati, memberikan penilaian obyektif, memilah dan menetapkan dengan suara hati terdalam hingga langkah kaki kita semua akan sampai disebuah perjalanan, dan pada akhirnya dapat menemukan sosok Pemimpin Terbaik bagi kita semua.

    Pada akhirnya aku berharap apapun yang kita lakukan, apapun pengalaman dan hal-hal berharga yang kita dapatkan. Teruslah berupaya dengan segenap kemampuan agar pada akhirnya kita dapat saling berbagi, mengingatkan, menyampaikan dan saling bersama membulatkan tekad untuk mulai menapak lebih baik, berbuat hal yang nyata untuk Rakyat dan Bangsa Indonesia karena sesungguhnya semua itu adalah untuk diri kita pula.

    Wahai saudaraku … semaikanlah dan biarkan tumbuh dengan kuat Keyakinan dan Kebanggaan sebagai Anak Indonesia. Agar pada saatnya nanti bersama kita gemakan kesegenap penjuru semesta.

    Akulah Anak Indonesia. Akan Kubuat Sang Pertiwi tersenyum Bangga. Akan Kuhiasi Angkasa Raya dengan Kibaran Kegagahan Sang Merah Putih.

    Akan kubuat setiap hembusan angin hanya menebarkan Keharuman Nama Bangsa dan Negeri Indonesia.

    Indonesiaku yang Bersinar bagai Permata Terindah di Jagat Kehidupan.

    Indonesiaku Nan Permai Guratan Maha Karya Sempurna.

    Indonesiaku Yang Gagah dengan Rantai Pengokoh Ikrar Setia Anak-anak Negeri.

    Indonesiaku Yang Bermartabat, menggetarkan siapapun dalam Genggaman dan Pancaran Kharisma Sang Pemimpin Besar.

    Demi Kebanggaan sebagai Rakyat Indonesia.

    Demi Kebesaran Bangsa. Demi Kebesaran Negeri Indonesia yang Berkilau di Puncak Kehormatan Tertinggi yang akan mampu kita wujudkan hanya dengan sentuhan sosok Sang Pemimpin Besar.

    Sang Pemimpin Besar Yang Memimpin dengan Pengetahuan dan Kemampuannya.

    Sang Pemimpin Besar yang Menuntun dengan Daya dan Karyanya.

    Sang Pemimpin Besar yang Menyentuh dengan Ketulusan dan Kebesaran Hatinya.

    Sang Pemimpin Besar … Sang Pemimpin Sejati … Yang akan membuat Bangsa ini Menepuk Dada Menunjuk dengan Bangga sebagai Rakyat Indonesia.

    Hingga pada akhirnya setiap Rakyat, seluruh Anak-anak Negeri akan selalu menggemakan dengan lantang …

    “Aku adalah Kegagahan.”

    “Aku adalah Rantai Pengokoh Sang Pertiwi.”

    “Aku adalah Pengibar dan Penjaga Sang Merah Putih.”

    “Dan aku adalah … INDONESIA.”

    Jadi Mari Kita Bulatkan Tekad dan Kuatkan Keyakinan selalu Bersandar pada Hati, Tegar hadapi apapun.

    Bersama kita Berharap, Mencari … dan terus Melangkah … hingga kita berjumpa dengan … Sang Pemimpin Besar.

    Sang Pemimpin Besar yang akan membuat setiap Bangsa dan Negeri manapun hanya akan memandang …

    “Indonesia adalah Kegagahan” … “Indonesia adalah Kejayaan” … “Indonesia adalah Bangsa dan Negeri Yang Besar.”

    Indonesia Yang Gagah Butuh Sang Pemimpin Berkharisma
    Indonesia Yang Jaya Butuh Sang Pemimpin Sejati
    Dan Indonesia Yang Besar Butuh … Sang Pemimpin Besar.

    Jadi berarti Untuk Mampu Berdiri Gagah, Memancarkan Kilau Kejayaan,
    Menjadi Bangsa dan Negeri Yang Besar maka yang Kita Butuhkan adalah

    … “ Sang Pemimpin Besar ” …

    Salam Persatuan dan Kebanggaan sebagai Sesama Anak Negeri Indonesia.

  43. D. Henry Basuki said

    Namo Buddhaya,
    Selamat dan sukses ! Web anda bagus dan menarik.
    Semoga anda makin maju dalam dhamma.
    Sabbe Satta Bhavantu Sukkhitatta.

  44. Pigken said

    halo mr.ratana, pa kabar,,, ^.^ semoga kelak mr.ratana bisa mencapai penerangan sempurna. salam bahagia.

  45. Levitra said

    To start earning money with your blog, initially use Google Adsense but gradually as your traffic increases, keep adding more and more money making programs to your site.

    rH3uYcBX

  46. Red said

    salam kenal

  47. wilchan said

    Mohon izin mengutip isi blog ini untuk Majalah kami di http://www.kolamteratai.net/opensocial/ningapps/show?appUrl=http%3A%2F%2Fwww.feedly.com%2Fmix%2F00722394151733682407%2Fktn%3Fning-app-status%3Dnetwork&owner=213n8xo6kmxle

    Anumodana.

  48. supangat said

    namo buddhaya, mas Ratna Kumara yang budiman
    salam kenal dari saya sekeluarga di pontianak.
    sangat menarik tulisan-tulisannya, saya jadi malu nich dari kecil saya terlahir buddhis tapi …seperti katak dlm tempurung
    bagaimana praktek meditasi yang sederhana bagi saya yang masih seneng kenikmatan ini..? TQ

  49. Adamm said

    hey, I have I’ve sent a 2 questions by email, and appreciate your getting right back to me.
    I’d like to see what other people are asking as well.
    Is this a good place to post, or is there a forum somewhere else?
    Thanks

  50. Salam kenal. Semoga kelak kita bisa berdiskusi.

  51. iteler said

    z

  52. Your smile is as necessary as any piece of clothing you put on. Citizens observe your smile primary and foremost. A delightful smile could possibly be all you may to produce that impression you’ve worked so tough to make. Corona Del Mar Dentist

  53. rahayu mas …

    salam kenal dan maaf banyak mengcopas pelajarannya …untuk bisa di baca saat senggang

    /lulu syahputri

    • Salam Tentrem Rahayu…,

      Salam kenal, Lulu Syahputri…, Terimakasih sudah mampir ke blog saya yang sudah setahun ini tidak saya rawat… 🙂

      Salam hangat untuk saudara-saudara yang lain ;
      – Ko CY
      – Jabon
      – Farisa
      – Rama Putra Isvara
      – dan, yang terhormat Bapak Sugimo ,

      Sekalian saja komentar balasan saya sampaikan / gabung jadi satu disini.

      Sudah setahun ini, saya absen dari dunia maya, sebab ada sesuatu hal di dunia “nyata” yang cukup menyita waktu, yang butuh konsentrasi penuh dari saya disana.

      Hiruk pikuk, suka duka, dan potensi keterpurukan dalam dunia yang serba tidak kekal dan berubah-ubah, serta potensi berbagai bentuk kamma-buruk yang ada di sekitar maupun di dalam diri saya sendiri, semuanya sangat menyita perhatian saya, mengharuskan penyelesaian serius dari saya sendiri. Pada intinya adalah, karena adanya ancaman dalam dunia kerja yang sangat serius yang berpotensi merusak SILA yang telah saya rawat, maka saya harus mengkhususkan diri untuk menangani permasalahan tersebut.

      Kini saya sudah terbebas.. dan bisa kembali menata kehidupan Sila-Samadhi-Panna saya sesuai jalur yang seharusnya.., karena itulah saya bisa mulai sedikit demi sedikit aktif di dunia maya ini..bertegur sapa saling mengisi dengan saudara-saudari sekalian disini… 🙂

      Salam Hangat,
      Salam Tentram, Damai, Sentausa.. ,

      Sadhu,Sadhu,Sadhu.

      • mas sukma said

        salam damai, badhe ndherek tepang mas ratana kumaro, kulo mas sukma saking kartasura,sukoharjo. Kulo remen sanget seratan-seratan panjenengan. Sejatosipun kulo nembe sinau agami Budo (Budha). Kulo kepengen saged kepanggih panjenengan, amargi kulo badhe ngangsu kawruh. Dangu sanget anggenipun kulo pados guru utawi tiyang engkang kulo raos saged maringi kawruh engkang pas dhateng manah. Kulo tenggo walesanipun. Matur nuwun.

  54. Cool website I enjoyed reading your information

    birthday supplies

  55. test

  56. tomy said

    salam bertemu kembali Mas

  57. jatidarmo said

    moga apa yang dicita2kan tercapai.

  58. Terasi said

    Salam kenal Mas Ratana.

  59. punakawan bayuaji said

    Ananda RK, kenapa beberapa kali kirim komentar koq nggak muncul, WHY

  60. Hoey Beng said

    Nammo Buddhaya,
    Salam kenal mas Ratna Kumara.Artikelnya ok banget.Maju terus dalam Dhamma.

  61. You you should edit the page subject title MENGENAI SAYA RATNA KUMARA to more specific for your subject you make. I enjoyed the post all the same.

  62. salam mas Ratna ….

    saya masih menunggu tulisan yang lain mas ..
    untuk pelajaran diri, mengingat dalam tahun ini saya hampir banyak kehilangan

    /lu2

  63. Karim said

    @Lulu, coba baca buku “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya” tulisan Ajahn Brahm yang di publish oleh Ehipassiko Foundation. Saya yakin akan banyak memberikan inspirasi dan pembelajaran buat anda.
    Buku dapat dibeli di Toko Buku Gramedia.

    Salam metta, Karim

  64. Krisna said

    luar biasa sekali situsnya… saya secara resmi bukan Buddhis, tp sedang berusaha belajar dan hidup secara Buddhis… situs ini sangat membantu sekali dalam mengenal meditasi Buddhis secara lebih mendalam^^
    terimakasih banyak karena sudah membagikan pengetahuan anda dalam situs ini ^^

    Semoga semua mahluk berbahagia ^^

  65. Pannanandi said

    saya seneng sekali bisa bertemu situs ini.
    saya seorang umat yang kesehariannya menjalankan 8 sila atau atthasila.
    sekarang saya ada di Malang.
    salam kenal dari saya. Atthasilani Pannanandi.
    saya senang membaca situs ini, yah walaupun baru tahu.
    tetap semangat dalam menyebarkan dhamma dan mempraktekkannya.
    selamat SPD.
    thanks

  66. dhammaduta said

    Happy Vesak Bro Ratna _/\_

  67. Sinhonoto said

    Namo Buddhaya,
    Saya ada usul Romo,
    Bagaimana kalau di web Romo ini dibuat satu bagian khusus untuk diskusi ? Jadi tanya jawab berbagai pertanyaan terkumpul menjadi satu dan terdokumentasi dengan rapi dengan berbagai topik dan judul sehingga setiap pengunjung web bisa saling sharing dan mendapat bimbingan dari Romo. Juga bisa menjadi bahan bacaan jika kebetulan kita mempunyai pertanyaan atau persoalan yang sama.
    Mohon dipertimbangkan. Anumodana.

    Mettacittena,
    Sinhonoto Rathakaya

  68. cinsong said

    slam kenal juga….
    wah akhirnya bisa ktmu ama kalyana mitta juga…

  69. tan tjeng bok said

    raut wajah anda, bentuk wajah, kepala, telinga, mata, hitung, mulut, seperti para bijak, para suci, para Budha digambarkan.

  70. Frederick said

    Om Swastiastu Namo Buddhaya !
    Salam sejahtera untuk semua rekan2 di forum ini !. Nama saya Frederick, usia 60 tahun, pensiunan pelaut. Ada 2 kitab yang selalu mendampingi saya sejak 35 tahun terakhir ini, Bhagavad Gita dan Dhammapada. Bagi saya bukan bentuk fisik kitabnya, namun isi dari kedua kitab ini selalu memberi semangat dan ketenangan bagi saya dalam mengarungi samudra Samsara yang maha luas ini.
    Salam sejahtera !
    Frederick, kapitaen999@yahoo.co.id

    • tan tjeng bok said

      manfaatkan kehidupan ini semaksimal mungkin om Frederick, karena kehidupan kita dimasa yang akan datang ditentukan oleh apa yang kita perbuat pada kehidupan sekarang ini.

      sering berdana terutama kepada para suci, jaga sila dan rutin samadhi,

      semoga om berbahagia selalu,
      semoga semua mahluk berbahagia selalu

  71. stevanus derry eka prasetya said

    saya derry 17 tahun saya seorang kristiani.saya ingin menceritakan sedikit tentang perasaan yang saya alami.akhir-akhir ini saya sering sekali dilanda kebingungan karena setiap saya mendengar lagu” dari agama buddha sering muncul perasaan aneh dalam hati saya disisi lain saya juga ingin mempelajari agama buddha.apakah saya harus berpindah agama?? karena saya belum berani bicara pada orang tua saya. ( saat ini saya mempelahari agama buddha tanpa sepengetahuan orang tua saya )
    mohon bimbingannya.
    terima kasih

  72. stevanus derry eka prasetya said

    saya derry 17 tahun saya seorang kristiani.saya ingin menceritakan sedikit tentang perasaan yang saya alami.akhir-akhir ini saya sering sekali dilanda kebingungan karena setiap saya mendengar lagu” dari agama buddha sering muncul perasaan aneh dalam hati saya disisi lain saya juga ingin mempelajari agama buddha.apakah saya harus berpindah agama?? karena saya belum berani bicara pada orang tua saya. ( saat ini saya mempelajari agama buddha tanpa sepengetahuan orang tua saya )
    mohon bimbingannya.
    terima kasih

  73. stevanus derry eka prasetya said

    saya derry 17 tahun saya seorang kristiani.saya ingin menceritakan sedikit tentang perasaan yang saya alami.akhir-akhir ini saya sering sekali dilanda kebingungan karena setiap saya mendengar lagu” dari agama buddha sering muncul perasaan aneh dalam hati saya disisi lain saya juga ingin mempelajari agama buddha.apakah saya harus berpindah agama?? karena saya belum berani bicara pada orang tua saya. ( saat ini saya mempelajari agama buddha tanpa sepengetahuan orang tua saya )
    mohon bimbingannya. terima kasih

  74. Namo Buddhaya _/\_

    @ Stevanus Derry Eka Prasetya,

    Sang Buddha pernah berkata kurang-lebih demikian,”Aku mengajar tidak untuk menarikmu menjadi murid-Ku, Aku mengajar tidak untuk membuatmu menjadi pengikut-Ku, tapi bila ini bermanfaat bagi hidupmu, ambillah…dst.”

    Bila Stevanus menemukan kedamaian, kebahagiaan, dan kebenaran dalam Buddha-Dhamma, itu tidak berarti Stevanus harus berpindah agama secara administratif negara (mengganti isian kolom “Agama” dalam KTP). Apa yang lebih penting adalah bahwa dengan mempelajari Buddha-Dhamma, Stevanus bisa mendapatkan manfaat positif bagi perkembangan batin dan kualitas kehidupan seutuhnya.

    Demikian, semoga bermanfaat.

    Salam Cinta-Kasih _/\_

  75. namastie budha,,,amongg budha,,,ssungguhnya tak da kekutan yg bsar selain kekuatan pada dr sendri yg trlandas oleh sang budha……..semoga welas asih budha mnyertai kita semua n seluruhh mahlukk di bumi…

  76. Mas.. aku islam tp kepingin masuk budha… Kalo boleh saya bisa kontek mas di mana???
    Beneran mas saya asli jawa, kepingini banget belajar agama budha..

  77. Namo Buddhaya _/\_

    Yang saya suka adalah dari agama Buddha adalah “Aku mengajar tidak untuk menarikmu menjadi murid-Ku, Aku mengajar tidak untuk membuatmu menjadi pengikut-Ku, tapi bila ini bermanfaat bagi hidupmu, ambillah”(ehhipashiko)

    blog ini benar2 memberi saya pengetahuan lebih jauh tentang agama Buddha. Tolong terus diupdate. 🙂 Mungkin pertanyaan ini sedikit melenceng, tapi apakah pada saat anda lahir dan ketika sudah remaja telinga anda seperti yang ada difoto. (Telinganya agak panjang ke bawah, sperti yang ada pada gambar para Buddha pada umumnya…. )

    apakah anda sudah berhasil mencapai Jhana?

    terima kasih

  78. zehidayat said

    Salam Hormat Mas Ratanakumaro,

  79. andy said

    mas ratana….

  80. andy said

    namo buddhaya .salam kenal…. bro boleh minta petunjuknya gak? saya berkeinginan menjadi seorang samana(samanera) tapi gal tau harus mulai darimana dan dimana. mohon share infonya… makasih

  81. Hart said

    hallo….salam kenal….

    namanya mas ratna kumara yah….?

    sy mau tanya nih…..sekarang kan lg musim facebook….apakah anda yg bikin grup fb dibawah ini….?

    https://www.facebook.com/groups/PamelaGeller/1462771613993639/?ref=notif&notif_t=group_comment_reply

    mohon jawabannya…

    terimakasih

    Hart.

  82. TJOAN IE said

    Semoga Banyak Hal Baik Menghampiri Kita Semua…
    _/!\_ Namo Amithofo

  83. Bambang said

    Salam Kenal, Semoga Blog ini terus berlanjut

  84. audrey halim said

    Namobuddhaya Bapak Ratana Kumaro.. Pembahasan Dhamma nya sangat luar biasa kerenn dan detail.. Apakah saya bisa meminta kontek number/ watsapp ? biar bisa banyak diskusi dhamma dengan anda.. Ini alamat email saya di audreyhalim9@gmail.com ,, Saya harap bapak Ratana bersedia bertukar pikiran dengan saya.. Saya tunggu email dari Bapak Ratana..

    Buddha memberkati

  85. angelin said

    Namo Buddhaya…
    Semoga cita cita saudara menjadi Budd di kemudian hari maupun di kehidupan akan datang dapat terwujud… sadhu sadhu sadhu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: