RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

TANDA-TANDA PENCERAHAN

Posted by ratanakumaro pada Maret 3, 2009

TANDA-TANDA PENCERAHAN

“ Maggan’ atthangiko settho

Saccanam caturo pada

Virago setho dhammanam

Dipadananca cakkhuma

( Dhammapada, Magga Vagga ; 20:1 )

Arti :

Diantara semua Jalan, Jalan Suci yang beruas delapan

adalah yang terbaik.

Diantara semua Kebenaran, Empat Kesunyataan Mulia adalah yang termulia;

Dantara semua keadaan batin, Nibbana adalah yang tertinggi;

Diantara semua makhluk yang berkaki dua dan dapat melihat,

Sang Buddha adalah yang Teragung “

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa “


Salam Damai dan Cinta Kasih … ,


PERUMPAMAAN IKAN-IKAN DI LAUT


Bagaikan ikan-ikan yang mengapung-apung di lautan, terombang-ambing kekanan dan kekiri, timbul, tenggelam, lahir, hidup, mencecap sedikit kesenangan, kemudian menelan kepahitan-kepahitan, menderita sakit, penuaan, dan akhirnya mati, inilah lautan kehidupan yang kita semua, para makhluk, telah arungi sekian lama, dalam masa yang sudah tak dapat terbayangkan dan terhitung lagi. Inilah “Samsara”.

Saya akan membuat perumpamaan samsara sebagai lautan dan para manusia sebagai ikan-ikan di laut, disertai semua makhluk yang ada di dalam lautan tersebut.

Alkisah, hiduplah seekor ikan yang mengorbankan kehidupannya demi mencari jawaban akan “misteri” besar dari kehidupan para ikan ini, “dari mana” dan “akan kemana” ? Bagaimanakah kebahagiaan itu ? Dimanakah kebahagiaan itu berada ? Seekor ikan tersebut lalu merumuskan suatu penjelasan, bahwa kehidupan ini diciptakan dan dirancang oleh sekelompok DEWAN IKAN yang hidup dan tinggal di ATAS, di alam SURGA, yang masing-masing mempunyai tugasnya sendiri-sendiri untuk membawa keteraturan bagi kehidupan para ikan.

Dijelaskan olehnya, bahwa ada DEWAN IKAN yang bertugas mencurahkan air hujan. Ada juga DEWAN IKAN yang bertugas menyalakan petir, bintang, dan rembulan. Ada DEWAN IKAN yang bertugas menjadi bidan bagi kelahiran telur-telur ikan, dan dijelaskan olehnya ada banyak DEWAN-DEWAN IKAN yang lain, yang mempunyai tugas masing-masing.

Atas penjelasan ikan tersebut, lalu diadakanlah hari-hari khusus untuk memuja dan menyembah DEWAN-DEWAN IKAN yang tinggal di segenap penjuru alam semesta ini, disertai upacara-upacara kurban hewan, yang disembelih khusus untuk para dewan ikan ini, disertai penguncaran doa-doa tertentu, dan sesajian-sesajian lainnya. Tujuan dari ritual-ritual ini semua adalah,supaya kelak, setelah kematian para ikan, mereka dapat terlahir di alam SURGA tempat para DEWAN IKAN berada, yang konon tempat ini adalah kekal-abadi, akhir dari segala penderitaan di dunia para ikan.

Namun, sebanyak apapun sesajian diberikan kepada dewan-dewan ikan ini, sebesar apapun daging dan darah kurban dipersembahkan kepada mereka, sesering apapun doa-doa diuncarkan pada dewan ikan ini, para ikan tetap tidak terbebas dari penderitaan samsara. Setelah kematian para ikan ini, sebagian memang ada yang terlahir di surga karena timbunan pikiran dan perbuatan bajiknya, sebagian lagi kembali ke alam para ikan, sebagian merosot turun ke alam-alam rendah, seperti alam para hantu ikan, dan alam neraka yang penuh penderitaan.

Lalu, suatu ketika, terlahirlah seekor ikan lainnya, yang demi kebahagiaan para ikan lainnya, mengorbankan hidupnya untuk mencari jawaban-jawaban hakiki akan arti kehidupan, meraba-raba sepercik kebenaran. Akhirnya ia membuat pengajaran, bahwa, “Kita ini diciptakan oleh IKAN YANG MAHA KUASA, YANG TUNGGAL, YANG MAHA ESA, yang meskipun tidak mampu kita lihat, tidak mampu kita dengar, namun kita dapat MELIHAT KARYA-NYA, MERASAKAN KEHADIRANNYA lewat alam tempat kita hidup ini!” . Lalu ikan yang cukup bijak ini, mengajarkan untuk mulai mengadakan ritual-ritual memuja IKAN YANG MAHA KUASA, YANG MAHA ESA ini. Sembahyang-sembahyang mulai ia ajarkan. Ikan ini juga mempertunjukkan keajaiban-keajaiban yang membuat ikan-ikan yang lain takjub, seperti meloncat-loncat terbang di atas laut, menyembuhkan ikan-ikan lain yang sekarat, meliuk-liuk di atas ombak, berdiri dengan tenang dalam pusaran air, dan lain-lain. Semua hal yang ia lakukan ini , bertujuan untuk meyakinkan, bahwa jalan keluar dari semua penderitaan didalam “lautan-kehidupan-para-ikan” adalah dengan memuja dan menyembah IKAN YANG MAHA ESA ini, supaya kelak setelah mati para ikan dapat kembali dan diterima di sisi-NYA, di alam SURGA, yang konon kekal-abadi, akhir dari penderitaan dialam dunia para ikan.

Namun , pengajaran dari ikan yang baik hati ini pun, ternyata tidak terbukti kebenarannya. Sebab, meskipun berdoa, menyembah, memuji sesosok IKAN YANG MAHA KUASA yang tidak jelas keberadaannya ini, para ikan-ikan tersebut hingga sekarang masih dilingkupi penderitaan samsara. Mujizat-mujizat selalu dinantikan oleh ikan-ikan pemuja IKAN YANG MAHA KUASA tersebut, hingga nampaknya takhayul menjadi hal yang akrab dengan mereka, mitos-mitos tercipta karena kepercayaan ini. Setelah kematian para ikan tersebut, sebagian memang terlahir di alam surga, sebagian kembali lagi ke-alam para ikan, sebagian lainnya merosot turun ke-alam para hantu ikan dan alam neraka.

Setelah sekian lama, para ikan yang terlahir di alam surga, juga yang telah berada cukup lama di alam para hantu dan alam neraka, dan yang sebelumnya selalu terlahir menjadi ikan-ikan lagi, kini berkumpul kembali. Sebagian ada yang melanjutkan tradisinya memuja dewan-dewan ikan, dan ada juga yang memilih menyembah “Ikan Yang Maha Esa”. Namun, sebanyak apapun perbuatan-perbuatan baik mereka kumpulkan, sesering apapun mereka menguncarkan doa-doa kepada para Dewan Ikan maupun kepada Ikan Yang Maha Tunggal, siklus lahir dan mati tidak juga berakhir.

Dari para ikan tersebut, ada yang kemudian menyadari, bahwa kehidupan dan alam kehidupan, TIDAK-KEKAL, termasuk alam surga sekalipun. Para ikan yang bijak ini kemudian mulai mencari jawaban akan hakekat kehidupan dan alam kehidupan, bagaimanakah caranya, supaya siklus lahir dan mati dalam “samsara” ini dihentikan? Inilah awal dari pandangan-benar yang memantik terbitnya sinar-terang bagi terpecahkannya semua ilusi dunia ; inilah awal dari sebuah : PENCERAHAN.


LAHIRNYA SAMMA-SAMBUDDHA


Demi menolong para makhluk dari samsara sebagaimana ilustrasi diatas, maka, telah terlahirlah para Buddha ; para SAMMA-SAMBUDDHA, di alam manusia ini, yang sebelumnya selama empat (4) asankkheyya-kappa dan seratus-ribu ( 100.000 ) kappa menyempurnakan kesepuluh-kesempurnaan ( Dasa Paramitha : 1. Dana-Paramitha ; kesempurnaan kemurahan hati / pemberian, 2. Sila-paramitha ; kesempurnaan moralitas dan kebajikan , 3. Sacca-Paramitha ; kesempurnaan kebenaran, 4. Viriya-paramitha ; kesempurnaan usaha yang penuh semangat demi pencapaian pencerahan sempurna, 5. Nekkhamma ; kesempurnaan pelepasan “diri” dari ikatan keduniawian, 6. Panna-Paramitha ; kesempurnaan kebijaksanaan, yaitu kemampuan untuk memahami hakekat kehidupan, menembus semua ilusi dunia, 7. Khanti-Paramitha ; kesempurnaan kesabaran dan ketabahan dalam menahan penderitaan, juga kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi serangan nafsu-nafsu indriya, kemarahan, kerinduan, 8. Metta-Paramitha ; kesempurnaan cinta-kasih tanpa batas kepada semua makhluk-makhluk di alam semesta, 9. Aditthana-Paramitha ; kesempurnaan tekad demi tercapainya pencerahan sempurna, 10. Upekkha-Paramitha ; kesempurnaan keseimbangan batin dalam menghadapi deraan badai sukha dan dukha dari keduniawian ) demi terpupuknya “kekuatan-adidaya” untuk menembus semua ilusi, memecahkan “penjara” yang memerangkap semua makhluk dalam samsara.

Atas jasa para Buddha ini, maka akhirnya para manusia “YANG-TELAH-MATANG” ( atau ikan-ikan yang telah menyadari bahwa kehidupan dan semua alam kehidupan adalah tidak kekal,sebagaimana contoh kelompok ikan terakhir dalam paragraph terakhir perumpamaan para ikan diatas ) mampu memahami dengan jelas, bahwa dalam dunia ini sesungguhnya tersimpan “EMPAT-KESUNYATAAN-MULIA” ( Cattari-Ariya-Saccani ), yaitu bahwa :


1. Hidup itu adalah penderitaan ( dukha-sacca ; kebenaran suci tentang penderitaan sebagai hakekat dari kehidupan )

2. Sebab penderitaan adalah nafsu-keinginan ( samudaya-sacca ; kebenaran suci tentang penyebab lahirnya penderitaan )

3. Lenyap / berakhirnya penderitaan ; NIBBANA ( Nirodha-sacca ; kebenaran suci tentang padamnya penderitaan saat pencapaian “Nibbana” )

4. Jalan menuju berakhirnya penderitan ; Ariya-Atthangika-Magga ( Magga-sacca ; kebenaran suci tentang satu-satunya “Jalan” yang mengantar pada pengakhiran penderitaan, pengakhiran dari siklus kelahiran dan kematian dalam samsara )


Untuk menjelaskan mengenai “dukkha-sacca”, maka Sang-Buddha membabarkan “ti-lakkhana” ; tiga corak dunia , ialah :


1. Sabbe sankhara anicca ; segala sesuatu yang tercipta / terbentuk / tersusun dari unsur-unsur adalah TIDAK-KEKAL.

2. Sabbe sankhara dukkha : segala sesuatu yang tercipta / terbentuk / tersusun dari unsur-unsur adalah PENDERITAAN.

3. Sabbe Dhamma Anatta : segala sesuatu , baik yang tercipta maupun yang tidak tercipta / tidak terbentuk / tidak tersusun dari unsur-unsur, adalah : TANPA-AKU, TANPA-DIRI ; Anatta berarti : tidak-ada AKU, tidak-ada PRIBADI.


Empat Kesunyataan Mulia serta Ti-lakkhana , bukanlah ciptaan para Buddha. Namun, kedua hal itu adalah kesunyataan, hokum abadi yang ada di dalam samsara. Hanya saja, sebelum terlahirnya seorang Samma-Sambuddha, kesunyataan tersebut bagaikan tertutup reruntuhan dan ilalang, sehingga para makhluk tidak mampu mengenalinya.

Penembusan terhadap keempat “Kesunyataan-Mulia” tersebut diatas, itulah PENCERAHAN.

Seorang penjudi, sebelum mencapai “pencerahan”, akan selalu tergila-gila dengan kehidupan perjudiannya. Ia merasa ketagihan, tergiur, meskipun sudah berkali-kali merasakan dan mengetahui, bahwa perjudian yang ia geluti semakin hari hanyalah semakin menjerumuskan hidupnya pada kehancuran, pada penderitaan. Ia tahu, bahwa dengan bergelut dalam dunia perjudian, pada akhirnya, apa yang akan ia temukan hanyalah : KEHANCURAN, KEMATIAN.

Suatu ketika, ia mencapai Pencerahan, dan ia-pun menyadari “Empat-Kesunyataan-Mulia” dari kehidupan perjudian tersebut :

1. Perjudian adalah Penderitaan.

2. Sebab penderitaan adalah nafsu keinginan untuk terus berjudi.

3. Lenyapnya penderitaan dari perjudian

4. Jalan menuju lenyapnya penderitaan dari perjudian

Disaat penembusan ini, ia membebaskan dirinya dari jerat-jerat perjudian lagi. Ia menyadari, bahwa perjudian adalah KOSONG, kosong dari kebahagiaan sejati. Ia kini telah menjadi seseorang yang “tercerahkan” ; ia telah menjadi seseorang yang merealisasi NIBBANA!


PENCERAHAN DALAM JALAN BUDDHA,

” Eso’va maggo nath’anno

Dassanassa visuddhiya

Etahmhi tumhe patipajjatha

Marass’etam pamohanam

( Dhammapada, Magga Vagga ; 20:2 )

ARTI :

Hanyalah melalui Jalan ini, bukan yang lain,

yang dapat menyucikan seseorang.

Ikutilah Jalan ini dan melenyapkan semua kejahatan

tanpa sisa. “

Keselamatan, telah dipahami orang-orang sesuai persepsinya sendiri-sendiri. Dalam artikel terdahulu, telah saya uraikan mengenai dua jenis keselamatan ; 1. Keselamatan relatif, 2. Keselamatan absolut.  Keselamatan relatif, adalah keselamatan yang menyatakan , kelak setelah mati, kita kembali di sisi Tuhan, di alam surga, dan hidup penuh kesenangan, menikmati hak bidadari-bidadari cantik, dan lain-lainnya lagi.  Keselamatan seperti ini, sesungguhnya adalah keselamatan relatif, karena, alam surga sesungguhnya tidak kekal-abadi. Kelak, setelah masa hidup di alam surga ini habis, katakanlah 1.000.000 tahun, setelah itu, makhluk2 di alam surga itu akan terlontar kembali, terseret arus samsara, bisa naik ( ke alam-alam para Brahma ), atau, bisa juga turun ke alam-alam bawah.

Keselamatan-absolut adalah, keselamatan dari siklus lahir dan mati, keselamatan dari samsara. Dan keselamatan-absolut seperti ini, sepanjang yang saya ketahui, dari hasil belajar berbagai ajaran ataupun sistem filsafat, hanya Sang Buddha-lah yang mampu menunjukkan Jalannya ; jalan pengakhiran dari samsara.

Hanya seorang SAMMA-SAMBUDDHA yang mampu menemukan Empat-Kesunyataan-Mulia. Ti-lakkhana ( Anicca-Dukkha-Anatta ) juga hanya bisa ditembus oleh seorang Samma-Sambuddha, ditembus oleh seorang Arahanta. Tidak ada seorang guru-guru kerohanian dan pemimpin aliran-aliran ajaran lain yang mampu memahami ini ; baik “Empat-Kesunyataan-Mulia” maupun “Anicca, Dukkha, Anatta”. Oleh karena itu, Pencerahan-Sempurna hanya mampu diraih oleh seorang Samma-Sambuddha ( Samma-Sambuddha memiliki arti, Buddha-Sempurna yang mencapai pencerahan tanpa bantuan seorang Guru, atau entitas apapun diluar diri-Nya ), dan Samma-Sambuddha ini yang mampu menunjukkan pada semua makhluk jalan mencapai pencerahan , menuju berakhirnya penderitaan. Hanya dengan menempuh jalan yang ditunjukkan oleh Samma-Sambuddha-lah semua makhluk akan mampu mengakhiri siklus lahir dan mati yang penuh penderitaan didalam samsara, yang berarti meraih : PENCERAHAN.

Kebanyakan guru-guru ‘spiritual’ selain Sang Buddha, [ terutama di jaman Sang Buddha ] , umumnya hanya mengajarkan bagaimana menyembah sesosok “Dewa” Yang Maha-Kuasa, yang hidup di alam surga yang “dianggap”-nya kekal-abadi ; . Guru-guru kerohanian yang ada tersebut, lebih banyak mengajarkan peraturan-peraturan hidup keduniawian dan kerohanian, bagaimana melakukan ritual-ritual religi, persembahan korban-korban suci, sebagaimana dilakukan brahmana-brahmana di jaman Sang Buddha .

Para guru-guru kerohanian dan para pembabar aliran-aliran spiritual tersebut juga ada yang memiliki “kesaktian”, dan mampu mengajarkan pencapaian kesaktian. Namun, yang patut kita ingat, KESAKTIAN BUKAN TANDA DARI PENCERAHAN. Kesaktian, hanyalah “kekayaan-duniawi”, sedangkan PENCERAHAN, adalah DIATAS DUNIAWI ; Adi-Duniawi. Pencerahan adalah saat dimana kita mampu membongkar semua ilusi dunia ( anicca, dukkha, anatta ) dan mengakhiri siklus lahir dan mati, mengatasi semua mitos-mitos dan takhayul-takhayul.



TAHAP-TAHAP TERCAPAINYA PENCERAHAN

Kita semua, para manusia dan semua makhluk, belum bisa mengakhiri siklus lahir dan mati yang penuh penderitaan dalam samsara, karena kita masih belum bisa memecahkan belenggu-belenggu yang menjerat kita di alam samsara ini. Para makhluk yang belum mencapai pencerahan, disebut sebagai “Putujhana” , yang meskipun ada yang termasuk “nice-person”, dan telah “Alobha ( tidak-serakah ), Adosa ( tidak-mempunyai-kebencian ), dan Amoha ( tidak-gelap-batin / batinnya-telah-terang-oleh-Dhamma )”, namun belumlah menjadi seorang “ARIYA”, yang telah mencapai tingkat kesucian / pencerahan.

Belenggu-belenggu tersebut diatas yang harus kita patahkan, untuk mengakhiri penderitaan dalam samsara dan mencapai pencerahan, ada sepuluh belenggu banyaknya ; ialah “Dasa samyojana” ( Sepuluh belenggu ). Dasa-samyojana ini terbagai menjadi dua ; 1). Lima belenggu yang pertama adalah “Orambhagiya”, atau belenggu-belenggu rendah, 2). Sedang Lima belenggu berikutnya, merupakan “Uddhambhagiya”, atau belenggu-belenggu tingkat tinggi .

Kesepuluh-belenggu tersebut adalah sebagai berikut :

1. Sakkaya-ditthi ; Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa, atau “AKU” yang kekal , anggapan tentang adanya “Diri”, “Pribadi”, “Aku”.

Pada era pertangahan perkembangan Buddhis di India, sebuah debat public yang tersohor tentang ‘TIADA-DIRI” terjadi antara seorang Bhikkhu terpelajar dan Mahadeva, sebagai berikut ini :

Bhikkhu terpelajar ( B ) : “Selamat pagi, siapakah kamu ? “

Mahadeva ( M ) : “Mahadeva”

(B) : “ Siapakah “Mahadeva” ? “

(M) : “ Aku “.

(B) : “ Siapakah “AKU” ? “

(M) : “ Anjing “.

(B) : “ Siapakah “ANJING” ? “

(M) : “ KAMU!”

(B) : “ Siapakah “KAMU” ? “

(M) : “ Mahadeva ”

(B) : “ Siapakah “MAHADEVA” ? “

(M) : “ Aku “

(B) : “ Siapakah “AKU” ? “

(M) : “ Anjing “.

(B) : “ Siapakah “ANJING” ? “

(M) : “ KAMU!”

Demikianlah debat tersebut berlangsung berulang-ulang hingga terciptalah ledak tawa para pemirsa yang akhirnya memberikan pandangan-cerah kepada si Bhikkhu terpelajar itu, ia menyadari bahwa ia telah membiarkan dirinya beberapa kali disebut sebagai “ANJING” oleh Mahadeva yang cerdik itu.

Hal serupa ini juga terjadi di tanah Jawa, yaitu dalam kisah pertentangan antara SIDI JINAR ( Syekh Siti Jenar ) dengan WALI-SEMBILAN ( Sembilan Wali ummat Islam di tanah Jawa ). Berkali-kali Syaikh Sidi Jinar menyatakan, kira-kira sebagai berikut :

“ SIDI JINAR ( Syekh Siti Jenar ) tidak ada, yang ada Ingsun ( Aku )“, “Ingsun ( Aku ) tidak ada , yang ada ALLAH”, “ ALLAH TIDAK ADA, yang ada INGSUN ( Aku ) “, “INGSUN ( AKU ) tidak ada, yang ada SIDI JINAR ( Syekh Siti Jenar ) ” …dst. “

Sidi Jinar ( Syekh Siti Jenar ), oleh ummat Islam dipercaya sebagai muslim yang menganut Al-Hallaj, namun beberapa fakta sejarah yang “tidak-dipopulerkan”, menunjukkan bahwa SIDI JINAR ( Syekh Siti Jenar ) sesungguhnya sisa-sisa rohaniwan Buddha, yang dianggap oleh Wali-Sanga mengadakan “perlawanan” terhadap hegemoni Islam terhadap rakyat Jawa kala transformasi radikal besar-besaran dari Majapahit ke Demak. Itu sebabnya, debat tersebut diatas sangat bernuansa Buddhis ; ANATTA, itulah yang ingin disampaikan Sidi Jinar .

2. Vicikiccha ; Keragu-raguan yang skeptis pada Sang-Ti-Ratana : Buddha, Dhamma, Sangha. Disaat kita meragukan kebenaran Sang Buddha, Dhamma dan Sangha, apakah benar Sang Ti-Ratana tersebut menunjukkan jalan pembebasan, akhir dari siklus lahir dan mati yang penuh penderitaan di ke-31 alam kehidupan, ini adalah bentuk dari “Vicikiccha”. Keraguan tentang adanya kehidupan yang lampau dan kehidupan yang akan datang ( tumimbal-lahir ), juga keraguan kepada hukum sebab-akibat yang saling bergantungan ( hukum kamma dan paticca-samupada ), adalah juga bentuk dari “vicikiccha”.

Segera setelah menyadari anicca,dukkha, anatta dan saat itu kita telah mengenal Sang Buddha, maka, kita kemudian akhirnya akan dengan mantap mengikuti Jalan Sang Buddha. Setelah melihat, menghayati, dan membuktikan bahwa Jalan yang disingkapkan oleh Sang Buddha ini benar adanya dan merupakan satu-satunya jalan menuju “Nibbana” ( Skt. : Nirvana ; Nirvana bukanlah “surga”. Alam-alam surga, masih dalam lingkup “samsara”, sedangkan “Nibbana” , adalah diluar itu. Baca artikel “Empat-Kesunyataan-Mulia” dib log ini juga ). Dengan saddha ( keyakinan ) penuh terhadap Sang Ti-Ratana : Buddha, Dhamma, dan Sangha, dan senantiasa bertekun dalam Jalan yang ditunjukkan oleh Sang Buddha, anda kini telah mematahkan belenggu Vicikiccha.

3. Silabbata-paramasa ; Kemelekatan pada suatu kepercayaan bahwa hanya dengan melaksanakan aturan-aturan dan upacara keagamaan seseorang dapat mencapai kebebasan.


A. SOTAPATTI-MAGGA-PHALA

Siapapun kita, baik seorang Bhikkhu maupun ummat awam ( upasaka/upasika ), yang setelah bertekun dalam Dhamma , menempuh “Jalan Ariya Beruas Delapan” dan kemudian telah mampu memecahkan ketiga belenggu tersebut diatas ini, maka anda adalah seorang “Sotapatti-Magga-Phala” ; anda adalah seorang “PEMENANG-ARUS”.

Setelah tahap Sotapatti tercapai, kita telah benar-benar mampu melenyapkan pandangan sesat tentang adanya “ATTA” / “AKU” / “PRIBADI”. Kini, dukkha-sacca ( kebenaran mulia tentang penderitaan sebagai hakekat dunia ) akan dengan sangat jelas terlihat dan mampu kita tembus. Sebelum tahap sotapatti ini, maka dukkha-sacca akan sangat sulit untuk ditembus. Seseorang rohaniwan yang menolak dukkha-sacca ini menandakan ia benar-benar orang yang belum mencapai pencerahan, apalagi jika ia belum bisa menembus “Ti-lakkhana” : Anicca, Dukkha, Anatta, semakin tampaklah bahwa ia belum berhasil menembus tingkat pertama dari “Pencerahan” ; Sotapatti-Magga dan Phala.

Sotapanna / Sotapatti-Magga dan Phala adalah makhluk suci, yang paling banyak tujuh ( 7 ) kali akan terlahir kembali sebagai manusia , dan setelah itu PASTI ia akan mampu melenyapkan kesepuluh belenggu ( sebagai kesinambungan dari latihannya semenjak tercapainya tingkat kesucian / pencerahan yang pertama kali ) pada kelahiran terakhirnya sebagai manusia dan akan mencapai Arahatta-Magga dan Phala ( tingkat pencerahan tertinggi ; saat kesepuluh belenggu terpecahkan dan kita mencapai pembebasan sempurna dari samsara ).


4. Kamacchanda / Kamaraga ; Keinginan terhadap pemenuhan nafsu-nafsu indriya. Jika anda masih berangan-angan akan kesenangan sexual, dengan dalih apapun, baik dalih pemenuhan kebutuhan biologis maupun untuk berketurunan, meneruskan garis silsilah,  maka, itu semua sesungguhnya adalah bentuk-bentuk dimana anda belum bisa mematahkan “Kamacchanda / Kamaraga ”.

5. Byapada ; Dendam dan dengki. Jika anda menyimpan dendam terhadap seseorang, karena ia menyakiti anda di masa lalu, atau jika anda membawa dendam dari kehidupan lampau anda ; atau juga dimana setiap kali anda mudah tersinggung atas ucapan, pikiran, dan perlakuan orang lain, maka ini adalah bentuk-bentuk dimana anda belum bisa mematahkan belenggu “Byapada”.


B. SAKADAGAMI-MAGGA-PHALA

Siapapun kita, baik seorang Bhikkhu maupun ummat awam ( upasaka/upasika ), yang setelah bertekun dalam Dhamma , menempuh “Jalan Ariya Beruas Delapan” dan kemudian telah mampu memecahkan ketiga belenggu tersebut diatas (1) sakkaya-ditthi, (2) vicikicchã, dan (3) silabbata-parãmãsa, ditambah telah melemahkan kedua belenggu berikutnya, yaitu : (4) kãma-rãga dan (5) vyãpãda, maka anda adalah seorang “Sakadagami-Magga-Phala” ; anda adalah seorang “YANG KEMBALI SEKALI LAGI”. Disebut “Yang-Kembali-Sekali-Lagi”, karena kita paling banyak akan terlahir satu (1) kali lagi sebagai manusia untuk menuntaskan mematahkan kesepuluh belenggu ( sebagai kesinambungan jalan yang kita tempuh ) dan mencapai pembebasan-sempurna dari samsara, mencapai tingkat “Arahatta-Magga-Phala”.


C. ANAGAMI-MAGGA-PHALA

Ini adalah tingkat pencerahan yang ketiga. Siapapun kita , baik seorang Bhikkhu maupun ummat awam ( Upasaka / Upasika ) yang telah mampu melenyapkan / mematakah kelima belenggu tersebut diatas ( dari belenggu kesatu sampai dengan kelima ), akan mencapai tingkat pencerahan ini. Seorang Anagami disebut juga sebagai “YANG-TAK-KEMBALI-LAGI”, sebab, disaat kita telah mencapai tingkat Anagami, kita tidak akan pernah terlahir lagi sebagai seorang manusia, juga tidak akan sekedar terlahir di alam surga-surga kammadhatu, namun, kita akan langsung menuju “SUDDHAVASA”, yaitu dalam lingkup alam RUPA-JHANA, tepatnya JHANA IV ( Baca lagi artikel “Alam Semesta III : Kosmologi Buddhis” di blog ini juga ).

Di alam Suddhavasa ini, kita akan menyempurnakan diri untuk mematahkan sisa-sisa belenggu dari kesepuluh belenggu ( dasa-samyojana ) dan akhirnya setelah berhasil mematahkan semua belenggu, kita akan mencapai tingkat pencerahan tertinggi, Arahatta-Magga-Phala.


6. Rupa-Raga ; Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk. Alam bentuk ( rupa-raga ) dicapai oleh seseorang apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan Samadhi dan telah mencapai Jhana I, Jhana II, Jhana III, atau Jhana IV. Bila anda melekat pada Jhana-Jhana yang anda capai sebagai hasil Samadhi mendalam anda, dan menganggap ini adalah puncak dari segala pencapaian, menganggap bahwa ini adalah pembebasan, maka ini adalah bentuk dari belum mampunya anda mematahkan belenggu “Rupa-raga”.

7. Arupa-Raga ; kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa bentuk. Alam tanpa bentuk ( arupa-raga ) dicapai oleh seseorang apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan samadhi telah mencapai Arupa Jhana I, II, III, dan Arupa Jhana IV. Jika anda menganggap bahwa Arupa-raga ( pencapaian Arupa-Jhana ) merupakan pencapaian tertinggi, merupakan kesaktian yang luar biasa yang mampu membebaskan anda dari samsara / keduniawian, maka ini menandakan bahwa anda belum mampu mematahkan belenggu “Arupa-raga”.

8. Mana ; Kesombongan atau Ego, Perasaan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Kesombongan atas Kasta, menganggap diri sendiri lebih tinggi daripada orang lain, maka ini adalah pertanda anda belum mampu mematahkan belenggu “Mana”.

9. Uddhaca ; Kegelisahan. Suatu kondisi batin yang haus sekali akan dosa ( kebencian ), lobha ( keserakahan akan keindriyaan ), dan moha ( kebodohan / kegelapan batin ), karena yang bersangkutan belum mencapai tingkat kebebasan sempurna ( ARAHAT ) ; adalah pertanda bahwa anda belum mampu mematahkan belenggu “Uddhaca”.

10. Avijja ; Kebodohan atau ketidaktahuan. Kebodohan atau ketidaktahuan ini menunjukkan seseorang yang tidak mengerti mana “Jalan”, mana yang “Bukan-Jalan”. Seseorang yang masih terbakar oleh “tiga-api” ( Keserakahan akan keindriyaan, Kebencian, dan, Kegelapan batin ) termasuk dalam golongan orang yang mengalami ‘ketidaktahuan’. Jika kita masih beranggapan bahwa harta keduniawian adalah sumber kebahagiaan, menganggap bahwa dengan memiliki benda-benda tertentu ( baik benda-benda duniawi, seperti mobil, motor, rumah, HP, dll ; maupun benda-benda surgawi , seperti jimat, benda-benda pusaka ; keris, tombak, pedang sakti, baju zirah milik Dewa, dan lain-lain ) menyebabkan tercapainya kebahagiaan, maka ini suatu pertanda bahwa kita belum mampu mematahkan belenggu “Avijja”.


D. ARAHATTA-MAGGA-PHALA.

Orang suci yang telah menyelesaikan semua usahanya untuk melenyapkan semua belenggu yang mengikatnya. Bila ia meninggal dunia, ia tidak akan terlahir di alam mana pun. Ia akan parinibbana.

Arahat telah melenyapkan sepuluh belenggu (1 – 10).

Terdapat empat macam arahat:

1. Sukhavipassako Arahat.

Arahat yang tidak memiliki jhana/abhinna, hanya mencapai kesucian dengan melaksanakan vipassana bhavana.

2.Tevijjo Arahat.

Arahat yang memiliki tiga pengetahuan (vijja):

a. Pubbenivasanussati Nana; memiliki kesadaran akan kelahirannya yang lampaU.

b. Dibbacakkhu Nana; memiliki “mata dewa” sehingga dapat mengetahui kelahiran makhluk di alam dewa atau peta setelah meninggal.
c. Asavakhaya Nana; memiliki pengetahuan bagaimana cara melenyapkan asava (kekotoran batin yang paling dalam).


3. Chalabhino Arahat :

a sampai c seperti di atas ditambah dengan tiga kemampuan lain, yaitu:


d. Cetopariya Nana (paracitta vijja Nana); dapat membaca atau mengetahui pikiran makhluk lain.

e. Dibbasota Nana (telinga dewa); dapat mendengar percakapan suara dari alam dewa, brahma, dan apaya.

f. Iddhividha Nana, yang terdiri dari:

1. Adhitthana Iddhi, kekuatan kehendak mengubah tubuh dari satu menjadi banyak, dari banyak menjadi satu lagi.

2. Vikubbana Iddhi, kemampuan `menyalin rupa’ menjadi anak kecil, raksasa, rupa buruk, menjadi tak tampak.

3. Manomaya Iddhi. Kemampuan `mencipta’ dengan kekuatan pikiran. Misalnya: mencipta istana, taman, binatang. Lamanya ciptaan itu tergantung dari kekuatan pikiran.

4. Nana vipphara Iddhi. Pengetahuan menembus ajaran yang sulit.

5. Samadhivipphara Iddhi. Kekuatan konsentrasi untuk:

i. menembus dinding

ii. meyelam ke dalam bumi seperti di air

iii. berjalan di atas air seperti di tanah datar

iv. masuk ke dalam api tanpa hangus

v. terbang seperti burung

4. Patisambhidappatto Arahat.

Arahat yang memiliki empat patisambhida (pengetahuan sempurna):

a) Atthapatisambhida.

Pengertian mengenai arti/maksud ajaran dan dapat memberi penerangan secara rinci, hampir seperti Sang Buddha.


b) Dhammapatisambhida.

Pengertian mengenai intisari dari ajaran dan mampu mengajukan pertanyaan ajaran yang mendalam.


c) Niruttipatisambhida.

Pengertian mengenai bahasa dan mampu menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti oleh pendengar.


d) Patibhanapatisambhida.

Pengertian mengenai kebijaksanaan dan mampu menjawab spontan bila ada pertanyaan mendadak


Orambhãgiya-samyojana ( belenggu kesatu s/d kelima ) dan Uddhambhãgiya-samyojana ( belenggu keenam s/d kesepuluh ) telah dimusnahkan oleh seorang Arahat.


PENCERAHAN DAPAT DIREALISASI SAAT INI JUGA

Pencerahan, bukanlah sesuatu yang hanya bisa dinikmati setelah kematian. Pencerahan, bukan pula dicapai setelah dinyatakan oleh suatu “makhluk-AdiKuasa” bahwa kita telah mencapainya. Pandangan tersebut adalah pandangan spekulatif. Pencerahan dapat dicapai dalam kehidupan kita sebagai manusia, dan pencerahan inipun diketahui oleh orang yang bersangkutan pula.

Disaat kita telah bertekun sekian lama dalam Dhamma, maka kita sendiri akan bisa merasakan, telah sampai dimanakah “Tingkat-Pencerahan” kita, sebagaimana disabdakan oleh Sang Buddha dalam Parinibbana Sutta, berkenaan dengan Bhikkhu Salba :


“ Mengenai Bhikkhu Salba, O, Ananda, dengan melenyapkan kekotoran-kekotoran batinnya selama hidupnya itu, maka ia telah memperoleh kebebasan batiniah dari noda, telah mendapatkan kebebasan melalui kebijaksanaan, dan hal itu telah dipahami dan disadarinya sendiri. “


Demikianlah tahapan-tahapan dari pencapaian PENCERAHAN. Siapapun yang bertekun dalam Dhamma, pasti akan mampu merealisasikan keempat tingkat pencerahan ini. Dhamma yang luhur ini dapat dibuktikan, dipuji para bijaksana, dan patut kita arahkan kedalam batin kita masing-masing, demi tercapainya pembebasan sempurna dari penderitaan samsara.


Salam Damai dan Cinta Kasih…,


“ Sabbe Satta Avera Hontu, Abyapajja hontu, Anigha Hontu, Sukhi attanam Pariharantu “


( “Semoga semua makhluk bebas dari permusuhan, kemauan jahat, dan terlepas dari penderitaan, semoga semua makhluk dapat mempertahankan kebahagiaannya sendiri tersebut )

RATANA KUMARO

–SEMARANG, 03 MARET 2009 –

27 Tanggapan to “TANDA-TANDA PENCERAHAN”

  1. lovepassword said

    Hi Hi Hi, hallo. Aku nongol lagi nih. Tolong tanya sedikit ya Bos : Beribadah itu melampaui kata-kata. Tidak terikat kata dan tidak terikat pada frasa tidak terikat kata. Jika menurut agama Budha, Budha adalah satu-satunya jalan, bisa dijelaskan apakah frasa itu juga bukan merupakan sebuah bentuk ikatan tersendiri ? Keterikatan pada konsep pencerahan pada apa yang dinamakan sebagai jalan menuju pencerahan apakah itu juga bukan suatu ikatan tersendiri ??? SALAM SALAM
    ——————————————–

    Dear Lovepassword,
    Salam Hormat untuk Anda…,

    “Ada banyak jalan menuju surga…,
    Sebanyak keberadaan surga itu sendiri…,

    Ada banyak orang telah datang dan pergi dari surga,
    Sebanyak itu jalan menuju surga ditunjukkan…,

    Tapi,

    Hanya ada SATU JALAN ke NIBBANA,
    Karena tidak semua orang telah mampu MENITI JALAN KE NIBBANA ,
    dan TIBA DENGAN SELAMAT disana 😉 ”

    Coba anda perhatikan lagi deh kalimat2 saya dalam artikel ini,
    Kalau anda pernah membaca tulisan saya “ALAM SEMESTA III : KOSMOLOGI BUDDHIS “, anda pasti akan memahaminya… ,

    Nibbana / Nirvana lepas dari semua konsep, sedang surga masih terkonsepkan… .
    Nibbana / Nirvana tidak bisa ditunjukkan arah tempatnya, sedang surga masih bisa ditunjukkan arah tempatnya… .
    Nibbana / Nirvana adalah KEKAL ABADI, sedangkan surga adalah TIDAK KEKAL… .

    Hanya para BUDDHA yang telah tiba dengan selamat ke NIBBANA,
    Sedangkan trilyunan “roh” telah sampai dengan selamat ke SURGA,

    Jadi,

    Hanya ada SATU JALAN ke NIBBANA / NIRVANA,
    Namun, ada MILYARAN JALAN menuju SURGA, diantaranya ya lewat agama-agama diluar Buddhisme, aliran2 kepercayaan, dan atau tanpa agama namun senantiasa berbuat , berpikir, berucap yang baik2…, niscaya anda akan sampai ke SURGA… , sedangkan untuk ke NIBBANA, tidak sesederhana itu. Coba anda baca lagi artikel “ALAM SEMESTA III”, supaya tau perbedaan alam2 kehidupan termasuk alam2 surga, dibandingkan dengan NIBBANA 😉

    Semoga Bermanfaat 😉

    Salam Damai dan Cinta Kasih,
    “Semoga Semua Makhluk Telah Tiba Saatnya Meraih Kebahagiaan Sejati!”

  2. ratanakumaro said

    “Kenali NIBBANA, maka anda akan kenali JALANNYA”

    Salam Damai dan Cinta Kasih,
    “Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia!”

  3. 3yoga said

    mas Ratana ….
    wah sudah lama enggak nongol, jadi kangen juga nih …..
    —————————–
    Dear mas 3Yoga,
    Salam Hormat untuk Anda 😉

    Sama mas, kangen juga dengan panjenengan dan yang lainnya 😉
    —————————–

    eh mau tanya ….. mas Ratana, apakah tanda bahwa orang tersebut sudah tercerahkan itu kalau sudah bisa melihat alam lain, atau makhluk lain ??? atau juga sudah bisa melihat yang nun jauh disana (ilmu teropong)…???

    —————————–

    Boten mas, itu semua bukan tanda2 tercapainya pencerahan… ,

    Sebagai contoh, seorang Bhikkhu, sepupu Sang Buddha sendiri,bernama Devadatta, beliau mahir dengan Jhana2 dan memiliki berbagai macam kesaktian, namun, hatinya penuh kebencian, iri-hati. Kebencian dan iri-hati sesungguhnya bentuk dari kemelekatan, sedangkan kemelekatan merupakan tanda bahwa seseorang belum mencapai pencerahan. Bagaimana mungkin seseorang yang telah mencapai pencerahan masih mempunyai kemelekatan terhadap keduniawian ?

    Saya , pernah punya seseorang, bisa disebut “Pak Dhe”, meski tidak sedarah… ,

    Beliau, pada masa dulu ketika menjadi mahasiswa, adalah pemain REOG PONOROGO di UNDIP SEMARANG.

    Beliau, mempunyai perewangan MBAH BANTAR ANGIN.

    Kalau sedang “kemasukan”, saktinya luar biasa, bisa manjat dinding,
    bisa mindahin hiasan2 di dinding sesuka hatinya tanpa ada perekat dan paku2.

    Suatu ketika, selesai main reog, ketika beliau masih kerasukan,
    Teman2nya mengatakan, “O alah … YM ( inisial samaran, –red ) – YM.., wong kok kumat edane ”

    Padahal ketika itu YM ( sebut saja begitu ) sudah melaju dengan mobilnya, jauh tak kelihatan … , tiba2, 2 menitan kemudian dia sudah kembali , dengan mentheleng2, “Sopo mau sing ngrasani ?? Sopo mau sing ngonekke aku kumat edane ?? ”

    Beliau ini, juga seorang tabib alternatif, banyak orang dengan berbagai penyakit mampu beliau sembuhkan, termasuk orang2 yang sudah sekarat sekalipun. “Sakti”nya luar biasa… .

    Suatu hari, di usia senjanya, beliau meninggal dengan tragis, karena SHOCK menghadapi kenyataan pahit kehidupannya… Beliau meninggal di Jakarta, di dalam mobil, di pinggir jalan, meninggal karena depresi, tak bisa menerima kenyataan hidup.

    Nah, ini suatu contoh, bahwa kesaktian, tidak menandakan pencapaian PENCERAHAN.
    ——————————————

    atau cukup punya kepercayaan dan melakukan hal2 kebajikan (nglakoni, menghindari dosa, pengendalian diri, jujur, sabar dll ???

    ——————————————

    Mas 3Yoga, Pencerahan adalah dimana kita bisa lepas dari samsara.., sudah tidak akan terlahir lagi dimana2, termasuk di surga sekalipun,
    Sedangkan mempunyai suatu kepercayaan terhadap “Dewa Maha Esa” dan melakukan kebajikan2, nglakoni, menghindari dosa, pengendalian diri , jujur, sabar, dll, itu masih akan mengantar kita ke alam2 kebahagiaan ( surga2 ), itu artinya, kita masih belum terbebas dari samsara, karena kita masih terlahir lagi di alam keberadaan, meskipun itu surga, meskipun di sisi Tuhan sekalipun 😉

    ——————————————-

    terus terang sampai sekarang kalau mencoba untuk yoga atau dzikir maupun samadhi masih enggak bisa konsentrasi, sehingga rasanya mulai bosen juga … 😀

    ——————————————-

    Hehehe… Bosen itu termasuk salah satu belenggu dari kelima belenggu ( Panca-Nivarana, baca lagi di artikel SAMADHI ). Ayo mas, jangan bosen2, supaya mendapat manfaat yang sebesar2nya 😉 !
    ——————————————-

    saya tunggu pencerahannya dari panjenengan maupun sedulur2 lainnya …

    salam,
    ——————————————-

    Sementara itu dulu dari saya mas 3Yoga,
    Maturnuwun,

    Salam Tentrem Rahayu,
    Salam Damai dan Cinta Kasih,
    “Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia, Damai, Tentera, Sentausa, Sejahtera!”

  4. herjuno76 said

    “Bosen itu tandanya mau cerah, eh salah , mendung ding. Mendung itu tandanya mau cerah, tulisan ini saya contek dari milist tetangga sebelah. 😀
    Mas Ratna, saya tak terlahir di syurga saja ah, biar bisa kumpul ama ama bidadari2 yang cantik, sexy dan bahenol 😛
    ————————

    Dear mas Herjuno76,
    Salam Hormat untuk Anda,
    Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

    Iya terserah krenteg anda mas… 😉
    Semua makhluk memang mempunyai karmanya sendiri2,

    Semua Makhluk terlahir atas karmanya sendiri2,
    Berhubungan dengan karmanya sendiri2,
    Mewarisi karmanya sendiri2,
    Perbuatan baik maupun buruk yang akan dilakukan,
    Perbuatan ( karma ) itulah yang akan diwarisinya 😉

    Jika sudah pernah ke surga, mengapa kita harus ke surga lagi ?
    Jika sudah pernah mati, mengapa kita harus mengulangi mati lagi ?
    Pengulangan memperpanjang perjalanan dalam samsara ,
    Pengakhiran adalah pencapaian Kebahagiaan Sejati 😉

    Salam Damai dan Cinta Kasih,
    “Semoga Semua Makhluk Telah Tiba Saatnya Meraih Kebahagiaan Sejati!”

  5. 3yoga said

    @ mas Ratana,

    terima kasih atas penjelasan panjenengan, …. hehehe rasanya saya jadi tidak pingin punya kesaktian deh, …. biar tidak tahu apa2, biar tidak ingin apa2 ….. tapi menginginkan surga dunia … 😀 hehehe .. masih termasuk kemelekatan juga ya …???

    @ mas Herjuno,
    mas … apa boleh diantara bidadari2 tersebut saya tempil 2 aja untuk dijadikan garwo ampil di dunia ini 😛
    (minta panjer / uang muka dulu), nanti kalau saya sudah di surga saya kembalikan 2 kali lipatnya …. bolehkah ???

  6. ratanakumaro said

    Pada era pertangahan perkembangan Buddhis di India, sebuah debat public yang tersohor tentang ‘TIADA-DIRI” terjadi antara seorang Bhikkhu terpelajar dan Mahadeva, sebagai berikut ini :

    Bhikkhu terpelajar ( B ) : “Selamat pagi, siapakah kamu ? “

    Mahadeva ( M ) : “Mahadeva”

    (B) : “ Siapakah “Mahadeva” ? “

    (M) : “ Aku “.

    (B) : “ Siapakah “AKU” ? “

    (M) : “ Anjing “.

    (B) : “ Siapakah “ANJING” ? “

    (M) : “ KAMU!”

    (B) : “ Siapakah “KAMU” ? “

    (M) : “ Mahadeva ”

    (B) : “ Siapakah “MAHADEVA” ? “

    (M) : “ Aku “

    (B) : “ Siapakah “AKU” ? “

    (M) : “ Anjing “.

    (B) : “ Siapakah “ANJING” ? “

    (M) : “ KAMU!”

    Demikianlah debat tersebut berlangsung berulang-ulang hingga terciptalah ledak tawa para pemirsa yang akhirnya memberikan pandangan-cerah kepada si Bhikkhu terpelajar itu, ia menyadari bahwa ia telah membiarkan dirinya beberapa kali disebut sebagai “ANJING” oleh Mahadeva yang cerdik itu.

    Hal serupa ini juga terjadi di tanah Jawa, yaitu dalam kisah pertentangan antara SIDI JINAR ( Syekh Siti Jenar ) dengan WALI-SEMBILAN ( Sembilan Wali ummat Islam di tanah Jawa ). Berkali-kali Syaikh Sidi Jinar menyatakan, kira-kira sebagai berikut :

    “ SIDI JINAR ( Syekh Siti Jenar ) tidak ada, yang ada Ingsun ( Aku )“, “Ingsun ( Aku ) tidak ada , yang ada ALLAH”, “ ALLAH TIDAK ADA, yang ada INGSUN ( Aku ) “, “INGSUN ( AKU ) tidak ada, yang ada SIDI JINAR ( Syekh Siti Jenar ) ” …dst. “

    Sidi Jinar ( Syekh Siti Jenar ), oleh ummat Islam dipercaya sebagai muslim yang menganut Al-Hallaj, namun beberapa fakta sejarah yang “tidak-dipopulerkan”, menunjukkan bahwa SIDI JINAR ( Syekh Siti Jenar ) sesungguhnya sisa-sisa rohaniwan Buddha, yang dianggap oleh Wali-Sanga mengadakan “perlawanan” terhadap hegemoni Islam terhadap rakyat Jawa kala transformasi radikal besar-besaran dari Majapahit ke Demak. Itu sebabnya, debat tersebut diatas sangat bernuansa Buddhis ; ANATTA, itulah yang ingin disampaikan Sidi Jinar .

    ———————————

    Wah, dialog2 diatas itu menarik juga untuk bahan renungan kita 😉

    Salam Damai dan Cinta Kasih,
    “Semoga Semua Makhluk Hidup Telah Tiba Saatnya Meraih Kebahagiaan Sejati!”

  7. 3yoga said

    Mas Ratana ….
    maaf saya masih merasa OOT …. saya belum bisa menyimpulkan dialog antara Mahadeva dengan Bhikkhu tersebut diatas ….

    pengertian Mahadeva tersebut adalah golongan/kasta atau jabatan apa ?, kenapa kok dia tega “memaki” bhikkhu tersebut …. dan kesimpulan dari perdebatan tersebut apa …???
    ———————————-
    Dear mas 3yoga,
    Salam Hormat untuk Anda 😉

    Saya juga baru dengar kisah itu, setelah baca buku karya Ajahn Brahm, “Superpower Mindfulness”, buku yang sudah saya miliki sejak tahun 2007 tapi baru sempat saya baca2 3 hari-an yang lalu 😉 Dan saya sendiri belum tahu siapakah Mahadeva tersebut. Mungkin rekan2 se-Dhamma ada yang bisa menjelaskan siapakah Mahadeva itu ?

    Sedang maksud diskusi itu , yang saya tangkap…, di satu sisi, Bhikkhu tersebut mengejar Mahadeva untuk menemukan hakikat “Siapakah AKU” ? , dimana Mahadeva selalu menjawab dengan jawaban2 tersebut.

    Bhikkhu itu ingin mengajarkan tentang Anatta, namun oleh Mahadeva malah dijadikan bulan2an, ketika berkali2 disebutnya bahwa Sang Bhikkhu itu “Anjing” ( Siapakah Aku ? Jwb : Anjing, Siapakah Anjing ? Jwb : KAMU!! ).

    Pelajaran yang bisa kita petik, perdebatan tidaklah bermanfaat… Setiap orang mempunyai waktunya sendiri2 bagi masaknya buah karma untuk kemudian mengenal Dhamma, menghayati Dhamma, dan menempuh Jalan Pembebasan dari Samsara. Satu yang PASTI, pada akhirnya, semua makhluk akan mengenal Dhamma, menghayati Dhamma, dan menempuh Jalan Pembebasan dari Samsara dengan bantuan Buddha, Dhamma, dan Sangha 😉

    ————————————-

    nuwun sewu loh mas …. masih blank sama sekali … OOT betul.

    matur nuwun.
    ————————————-

    Boten punapa-punapa mas, sama2 belajar kok 😉

    Salam Damai dan Cinta Kasih,
    “Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia, Terbebas dari Semua Penderitaan!”

  8. sugimo said

    Yth, Saudara-Saudaraku,

    Maaf diluar topik yang tengah dibahs ini, saya mohon kiranya Saudara-Saudaraku berkenan memberikan bantuan spiritual/doa/laku dalam bentuk dan ragam apapun, berkenaan dengan musibah depresi mental yang luar biasa salah satu rekan/sahabat baik saya saya sehingga mengambil jalan pintas kemarin Selasa 3 Februari 2009 kira-kira jam 12.30 siang minum racun serangga. Untung beberapa menit kemudian ketahuan dan saat ini lagi berbaring di salah satu rumah sakit di Surabaya.

    Jika hanya sakit phisiknya saja 2 atau 3 hari mungkin sudah sembuh seperti sediakala, namun yang menjadi kekawatiran saya adalah penyembuhan mentalnya.

    Demikian saya sampaikan dan sekalilagi mohon maaf atas permintaan bantuan saya ini.

    Semoga seluruh makhluk berbahagia, mencapai pencerahan dan kebenaran sempurna.
    Terimakasih/Maturnuwun
    ——————————-

    Salam Hormat untuk Anda, Bp.Sugimo,

    Inggih, kami turut bersimpati dan berempati atas musibah tersebut, dan kami semua disini akan membantu semaximal , seoptimal mungkin yang bisa kami lakukan 😉

    Dengan bantuan panjenengan, saya yakin sahabat panjenengan itu akan mampu melewati masa2 kritisnya. dengan kebijaksanaan panjenengan, saya yakin sahabat panjenengan itu mampu lila-legawa menerima kenyataan hidup yang sedang dihadapinya, dan melepaskan segala bentuk2 cengkeraman, kesedihan, yang membuat beliau terpuruk.

    Rahayu…,

    Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia dan Terbebas dari Semua Penderitaan… .

  9. kangBoed said

    Hahahahaha…….. Broooot….her Ratna Kumara nyang baik hati terima kasih atas kiriman pempek palembangnya uiii ueenaaaak tenaaaan bro sayangnya kurang banyak bro tak goreng sekali entek blaaaas
    —————————-
    Dear Bro kangBoed…,
    Salam Hormat untuk Anda 😉

    Wah, anda kok serakah sekali 😀 :mrgreen: ,
    Kan saya sudah request supaya dibagi2 sama mas 3Yoga, mas Ngabehi, mas Tommy, mas Hidayat, dan lain2… Ntar dikira saya gak oleh2in mereka lagi 😉 😀 :mrgreen:

    —————————–

    hehehehe… wah sekarang dah pindah ke pontianak yaaaa awas kesengsem ame cowek cowek pontianak brooo hahaha,
    —————————–

    Ia yang berpandangan benar, penuh metta, tak tergoda lagi akan kesenangan nafsu indriya, tak akan terlahir lagi dalam rahim di alam manapun juga 😉 😀 :mrgreen:

    —————————–

    jangan lupa kirimin makanan khas sana yaaaaa hati hati dijalan ya brrooo kalau ada nyang gangguin sebut nama saya 3 kali jejak bumi mudah mudahan saya langsung hadir broooooot hehehe memangnya jin tomang atau jin kuprit hehehe

    —————————–

    Bukannya mas kangBoed itu JIN BOTOL ? BOTOLE KOSONG ? hehe… 😉 😀 :mrgreen:

    —————————–
    mas ngabehi sampeyan dah guanteeeng lagi gak kaya kemaren merengut teluuuus gara gara sariawan atawa kebanyakan minum jamu sari rapet kali yaaaa…
    Btw saudara saudaraku salam sejahtera selalu untuk kalian semua semoga kita semua tetap bersama hehehe melangkah menuju pencerahan sejati yayaya halllaaaaaaau
    —————————–
    Sadhu…Sadhu….Sadhu….,

    Semoga Semua Makhluk Segera Tiba Pada Waktunya untuk Meraih Kebebasan Sempurna dari Samsara… .
    —————————–

    hehehe… btw berarti saya masih tetep oon ya brooo ujian negaranya gagal kemaren dasar oon gak bisa jawab pertanyaan maha guru avatara brooo ratna kumara nyang guanteeng, baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung di….. wc hahahaha hiduup oooon hidupppp oon hehehehe dunia semakin indah dalam pandangan si oon yang gak punya pikiran brroootherku sayaaang……
    —————————–

    Gak o’on kok bro… 😉

    Paman harimau jahat itu kemarin ya orang yang berkomentar seakan2 baik, tetapi sesungguhnya hanya berniat membuat keruh suasana…, dan mas kangBoed sebenarnya ( seharusnya ) sudah kenal siapa orangnya itu kok 😀 :mrgreen:

    Dia sukanya ganti2 alamat email, ganti2 server internet, IP Address, dan ganti2 nama / ID, niatnya mengelabui mas Ratna Kumara dan semua tamu disini 😀 :mrgreen:

    ——————————–

    Salam chayank dan damai dalam cinta
    ciii OONsurOON

    ——————————–

    Salam Damai dan Cinta Kasih,
    “Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia dan Terbebas dari Semua Penderitaan!”

  10. ratanakumaro said

    Dear all brothers and sisters,
    Salam Hormat untuk Anda semuanya…,

    Saya ingin memberi tambahan penjelasan kepada Sdr. Lovepassword.

    Tanpa harus mengikuti suatu agama,
    Atau bahkan,
    Tanpa harus mengikuti Jalan Sang Buddha,

    Semua orang akan mampu masuk ke surga,

    Asalkan orang itu :
    1. Mempunyai rasa malu untuk berbuat jahat dan rasa takut akan akibat perbuatan jahat.
    2. Menjaga moralitasnya. Sang Buddha mengajarkan, ada lima moralitas pokok yang harus dirawat :
    a. Tidak membunuh makhluk hidup apapun juga.
    b. Tidak berucap dusta.
    c. Tidak mengambil barang yang tidak diberikan.
    d. Tidak melakukan perbuatan sex yang tidak benar.
    e. Tidak meminum minuman yang memabukkan, barang madat yang menyebabkan lemahnya kesadaran.

    Tapi, jika ingin mengakhiri siklus samsara, maka satu-satunya jalan adalah :Ariya Atthangika Magga ; Jalan Para Ariya, Jalan Para Buddha.

    Yang patut diketahui, Nibbana bukan Surga.

    Surga, adalah alam yang penuh kesenangan.
    Tempat dimana seseorang beramal baik mendapat upahnya disana. Banyak bidadari2 cantik disana, banyak musik2 merdu.
    Surga yang tertinggi, adalah tempat tinggal sesosok “Dewa” yang disebut sebagai “Yang Maha Esa”, “Yang Maha Kuasa”, pencipta langit dan bumi.

    Tapi, Nibbana bukanlah ALAM.
    Nibbana bukan tempat makhluk bersenang2 menikmati kepuasan indriya, menikmati bidadari2 cantik, menikmati musik2.

    Nibbana adalah KEBAHAGIAAN SEJATI, Kebahagiaan Adi-Duniawi, diatas kesenangan indriya.

    Nibbana bukan tempat dimana “Gusti” ingkang akarya jagad berada.
    Nibbana adalah ANATTA ; tanpa-diri, tanpa-aku, tidak ada “Aku”, tidak ada “Gusti” yang termaksud tersebut.

    Karena banyak orang menyamakan Nibbana dengan Surga, maka terjadilah banyak kesalah-pahaman, termasuk mengenai Jalan mana yang mengantar ke Surga, dan Jalan mana yang mengantar ke Nibbana.

    Ada banyak jalan ke Surga,
    Tapi hanya ada satu Jalan menuju pengakhiran roda samsara.

    Kenalilah Nibbana, maka akan anda kenali Jalan menuju Nibbana 😉

    Salam Damai dan Cinta Kasih,
    “Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia!”

  11. CY said

    Bro, apakah yg telah mencapai Nibbana masih bisa memunculkan diri kembali sesaat atau bbrp saat di dunia/alam tertentu??
    ————————-
    Dear Ko CY,
    Salam Hormat untuk Anda…,

    Jawabannya : Tidak Bro 😉

    Yang sudah merealisasi Nibbana, sudah “habis”…,
    Tidak ada lagi yang bisa disebut “Nama” dan “Rupa”.
    Nibbana, adalah berakhirnya / lenyapnya semua unsur2 pembentuk, termasuk empat unsur alam semesta, tidak ada disana, jadi “Rupa” / Tubuh pun sudah tidak ada lagi. 😉

    Ini yang sering keliru diartikan oleh ummat Buddha yang belum tahu, dimana diantara mereka kadang ada yang merasa ditemuin Sang Buddha 😉 😀 :mrgreen:.

    Salam Damai dan Cinta Kasih,
    Sukhi attanam pariharantu… .

  12. Budi said

    Karenanya jika kita sedikit banyak bisa “menangkap” bahwa yg diwedharkan oleh Pangeran Lemah Abang itu sesungguhnya adalah Ngelmu Sunyata ,satu rasa dengan yg sempat diwedharkan pulaoleh “Matahari Mahayana” yaitu Arya Nagarjuna,tetapi disesuaikan dan dibahasakan menurut kadar dan wadah pengertian dari orang2 di masanya,seharusnya kita juga jgn terlampau terikat dengan istilah2 tetapi tetap berpegangan kepada “rasanya” sehingga tidak mudah tertipu oleh kata2 sehingga menimbulkan salah pengertian

    Salam.
    —————————————-
    Dear mas Budi,
    Salam Hormat untuk anda…,

    Yah, memang begitu ya mas…,
    Maturnuwun atas tambahan pengetahuannya 😉

    Salam Damai dan Cinta Kasih,
    “Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia!”

  13. ratanakumaro said

    Dear all brothers and sisters,
    Salam Hormat untuk Anda Semuanya… ,

    KESELAMATAN, ada pada banyak JALAN,
    tergantung persepsi mengenai keselamatan itu… ,

    Seperti misalnya, seorang yang terpuruk jatuh miskin,
    Maka, ditengah pengharapannya, munculnya pekerjaan yang layak, penghidupan yang layak, tempat-tinggal yang layak, ini merupakan keselamatan, yang bisa diperoleh dari mana saja.

    Tetapi, PENCERAHAN yang saya bahas disini, adalah PENCERAHAN dalam hal pembebasan diri dari siklus samsara… .

    Mungkin, di dalam ajaran2 lain diajarkan mengenai PENCERAHAN, dimana yang dimaksud disana ( dalam pengajaran tersebut ) adalah pada bagaimana bisa mengenal Tuhan lebih baik, bagaimana bisa hidup duniawi maupun rohani lebih baik, bagaimana akhirnya setelah mati kita masuk surga. Hal ini tidak saya nafikan.

    Namun, jika itu yang dimaksud dengan pencerahan, hal ini masih pencerahan relatif, karena, meskipun kita masuk surga, kelak, setelah masa hidup selesai, misal setelah 500 tahun, 1000 tahun, 10.000 tahun selesai, kita masih akan terlahir lagi, ke alam2 lain, termasuk kembali ke alam manusia. Nah, ini adalah pencerahan relatif, keselamatan relatif.

    Sedangkan pencerahan absolut, adalah saat siklus lahir dan mati selesai, tidak terlahir lagi di alam manapun, tidak “menjadi” lagi.

    Maturnuwun… ,

    Salam Damai dan Cinta Kasih,
    “Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia!”

  14. ratanakumaro said

    “Jika ada ajaran yang mengajarkan Empat Kesunyataan Mulia, entah ajaran itu bernama ( Buddha-Dhamma )atau tidak bernama ( Buddha-Dhamma ), maka ikutilah ajaran itu, itu adalah ajaran Kebenaran”
    –Siddhatta Gotama, Sang Buddha–

  15. Tedy said

    Maturnuwun atas penjelasannya yg kemarin (tgl 5 mar) ttg sang pencipta (anatta)

    Ternyata sebelumnya (tgl 3 mar) anda sdh menulis di blog, maklum sy ngk mampir ke blog anda. he..he..

  16. sugimo said

    Yth, Saudara-Saudaraku,

    Bolehlah berandai-andai, jika pada suatu saat ataupun titik terjadi oikumene dan atau bahkan kristalisasi (pencerahan) dari seluruh ajaran yang ada (termasuk agama-agama di dalamnya)disuatu alam maupun bukan alam manapun, kemungkinan besar akan habis, tamat, finish episode kali ini disuatu alam maupun bukan alam tersebut.

    Mengingat hanya berandai-andai, sangatlah tidak mungkin pada satu titik tertentu terjadi pencerahan seluruh makhluk secara bersamaan, apalagi bagi yang meyakini dan atau memahami dengan benar akan adanya karma-karma baik karma masing-masing maupun karma kelompok.

    Yang sangat mungkin alam maupun bukan alam tidak akan pernah kehabisan waktu dan atau tempat untuk melanjutkan episode-episode berikutnya. Tidaklah perlu dikhawatirkan, mengingat keberadaannya linier dengan ilusi.

    Jika pemahaman start dan finish diletakan pada suatu garis lurus, maka ada kondisi yang tidak dapat diketahui atau kondisi tak terjawab, yakni kondisi sebelum start dan kondisi setelah finish.
    Namun jika pemahaman start dan finish diletakan pada suatu garis lingkaran, maka terjawab sudah semua kondisi.

    Semoga seluruh makhluk berbahagia, mencapai pencerahan dan kebenaran sempurna.
    Terimakasih / Maturnuwun
    ————————————

    Rahayu Bp. Sugimo,
    Salam Hormat untuk Anda… ,

    Perjalanan waktu, yang akan membawa makhluk2 mencapai kesadarannya, untuk mencapai penghentian dari arus samsara yang penuh penderitaan.

    Samsara, lebih merupakan penderitaan daripada kebahagiaan.
    Siapakah yang ingin selalu mengalami kesakitan ?
    Siapakah yang ingin selalu mengalami perpisahan ?
    Siapakah yang ingin selalu mengalami kematian yang menyakitkan ?

    Meski terlahir di surga 1.000.000 tahun, kelak ia pun akan terpental lagi dari sana, dan berpindah ke alam yang lain lagi, entah melonjak naik, atau turun kebawah-bawah… .

    Semoga Semua Makhluk Telah Tiba Pada Waktunya untuk Merealisasi Pembebasan… .

    Salam DAmai dan Cinta Kasih… .

  17. Budi said

    Yang sudah merealisasi Nibbana, sudah “habis”…,
    Tidak ada lagi yang bisa disebut “Nama” dan “Rupa”.
    Nibbana, adalah berakhirnya / lenyapnya semua unsur2 pembentuk, termasuk empat unsur alam semesta, tidak ada disana, jadi “Rupa” / Tubuh pun sudah tidak ada lagi. 😉

    *****************************************

    itu yang namanya Sunyata Nibbana kan mas?.,akibat dari kekuatan Panna dalam menghayati ngelmu Anatta/Anatman.Dan mungkin tidka semua orang bisa mencapai Sunyata Nibbana iya?.

    **********************************

    Ini yang sering keliru diartikan oleh ummat Buddha yang belum tahu, dimana diantara mereka kadang ada yang merasa ditemuin Sang Buddha 😉 😀 :mrgreen: .

    *******************************************

    He he he,sejatine ora ono opo2,kang ono iku dudu,tapi terkadang yah memang pada tahap awal manusia itu membutuhkan wujud gambaran/lambang supaya bisa menerima setahap demi setahap yg dinamakan HUKUM.Untung menerima DUKKHANIRODHA saja sukar…….

    seperti salah satu sahabat saya tuh,dia orang jambi,beragama Islam,lalu ketika untuk pertama kalinya menghayati Laku Semedi ala jawa,dia melihat ada patung buddha berwarna emas.
    Dan dia bingung,islam kok melihatnya buddha?.Sempat pula di datangi seorang wiku yg memerikannya sebuah Kitab,tetapi dia tolak,dia bilang intinya gini : “ogah ah,gua agamanya bukan buddha!” he he he karena akal pikiran dan hatinya masih bekerja,sehingga membeda-bedakan yang hakikatnya adalah SUNYATA.
    Tetapi dia mungkin lupa bukankah jambi itu dahulunya merupakan salah satu bagian dari kerajaan sriwijaya dimana merupakan juga salah satu tempat ngangsu kawruh Kebuddhaan, dimana Sang moho wiku Dharmakriti sempat hidup?. Dia juga lupa kehidupan di dunia ini bukan hanya sekali ini saja, masih ada kehidupan2 lalu yg sedikti banyak mempengaruhi juga kehidupan kita di masa kini dan masa mendatang.tetapi karena dia belum mampu untuk menerima semuanya itu,tidak menjadi baik jikalau dikarbit dengan kata2 propaganda atau paksaan,karena ada baiknya dibiarkan saja tumbuh satitahe, sebagaimana adanya,sampai suatu saat kelak dia sudah mampu menerimanya menurut rasapribadinya sendiri.

    Dan patung buddha dari emas itu merupakan lambang isi dirinya dan kamma2 lampaunya,yg dilambangkan dalam satu wujud sederhana tetapi jika dikupas,bisa menerangkan segala sesuatunya yg dia cari,tetapi sekalipun begitu itu,karena wujdu perlambangnya masih berupa patung,sekalipun itu dari emas juga tetap dia masih berada di dalam tataran kebendaan yaitu bodhisatwabhumi tingkat pertama karenanya ga heran jika setiap kali melakukan samadhi tentu rasanya seperti batu,keras.

    Thevada dan Mahayana itu SATU,syariat dan Hakikatnya,tetapi yang jadi salah jikalai hakikat di wedharkan layaknya ilmu syariat,yaitu ILMU MAHAYANA yg diwujudkan dalam sebuah kitab dan buku2 melalui mulut suhu2 dan guru2,sudah bukan mestinya lagi .
    Dan memang TIPITAKA sudah lebih dari cukup sebagai dasar untuk menghayati Buddha Dharmma,tidak perlu kitab lainnya, Karena jika sungguh2 dibaca dan diperdalam,satu kehidupan itu tidaklah cukup untuk membacanya dan mengertinya.Kecuali jika sudah dicicil dalam kehidupan2 lalunya he he he ………….

    Salam 😀

    ++++++++++++++++++++++++++++

    Dear Mas Budi,
    Salam Hormat Untuk Anda,
    Salam Perdamaian dan Cinta Kasih… ,

    Wah, maturnuwun atas pitutur2nya mas, sangat menambah wawasan kami semua disini 😉

    Kok akhir2 ini jarang keliatan di dunia maya mas ? Hanya sekali-sekali muncul… ;

    Salam Damai dan Cinta Kasih,
    “Semoga Semua Makhluk Telah Tiba pada Waktunya untuk Merealisasi Kebahagiaan Sejati!”

  18. Budi said

    iya nih,lagi banyak gawe di alam nyata he he he……….

    suka ketemu sama bhante Sri Pannavaro ga?.Atau mungkin Dhammasubbo?.

    Salam 😀

  19. Siti Jenar memang tokoh misterius antara ada dan tiada. Ada yg mengisahkan ia adalah putra Resi Bungsu dari kerajaan Cirebon. Ada yg mengatakan Resi Bungsu putera dari Kerajaan Pajajaran. Adapula yg mengatakan ia adalah tokoh imajiner, yg hebat adalah para leluhur pujangga nusantara masa lalu dalam upaya meredam faham syiah di nusantara dgn menampilkan tokoh fikif Siti Jenar. Ada pula yg percaya SSJ pernah disumpah ayahandanya Resi Bungsu menjadi cacing, lalu di sebdo oleh sunan Bonang menjadi manusia lagi. Ada pula yg bilang SSJ adalah putra seorang pendeta dari G Srandil. Malah yg lebih heboh SSJ dibilang berasal dari Persia, dari Arab, bahkan dibilang masih keturunan Nabi Muh SAW.

    Apalagi menyoal kematiannya, versi Islam mengatakan ia mati dibawah hukuman para wali. Versi Jawa SSJ adalah satu2nya wali yg mati dengan meraih kasampurnan (moksa/mokswa/mosca) krn ia menerapkan falsafah hidup Jawa (kejawen).

    Heboh sekali jika mengungkap sejatinya SSJ. Menjadi teka-teki (enigma) yg tak kunjung usai.

    rahayu

  20. tomy said

    Mas punya kisah versi lain dari Siti Jenar?
    mohon dibagi dong 😀
    kalo diluar topik boleh via email saja

    saya dulu pernah belajar Budha’s Palm *dapat sendiri tanpa guru*. alih2 dapat ilmu kesaktian buat ngalahin Kera Sakti malah cuma diajari untuk mencari penerangan sempurna dan menyebarkan kebajikan. akhirnya memnbaca-baca buku Budha & ketemu anda hehehe

    semoga semua makhluk berbahagia

    Sadhu sadhu sadhu

  21. Dear mas Tommy,

    Memang benar mas Tomy, saya membatasi bahasan topik2 di blog ini khusus yang bersangkut-paut dengan Buddha-Dhamma ; karena ini pembicaraan-benar dan bermanfaat.

    Kalau versi lain tentang syekh siti jenar saya memang ada, tapi nulisnya itu lho yang butuh waktu. Tapi di internet sudah pernah ada menulis hal yang serupa dengan yang saya ketahui tersebut ( versi lain syekh siti jenar, yang dinyatakan memiliki nama “Sidi Jinar” ). Coba mas Tomy search di google search engine mas. Maaf ya, hanya bisa membantu sampai disitu saja 😉

    Omong2, Buddha’s Palm mas ? Artinya apa tuh ? “Tapak-Buddha” ? Wah, saya kok malah baru denger hal ini mas. Sejarahnya anda sampai bisa mendapatkan pelajaran “Buddha’s Palm” itu gimana mas ? Di share disini mas, silakan… . Saya tunggu lho mas 😉

    Peace & Love , mas Tomy

  22. zal~RE said

    ::mohon maaf Mas Ratnokumaro, mengenai ini :
    5. Samadhivipphara Iddhi. Kekuatan konsentrasi untuk:

    i. menembus dinding

    ii. meyelam ke dalam bumi seperti di air

    iii. berjalan di atas air seperti di tanah datar

    iv. masuk ke dalam api tanpa hangus

    v. terbang seperti burun

    pernahkah menonton pesulap handal david coferfield melakukan hampir semuanya, sepertinya bukan itu inti tujuan Buddha, namun inti tujuan Buddha terbaca pada Orang yang bijaksana, setelah memahami hal tersebut, mengembangkan kesadarannya, Ia berbahagia menjalani KEHIDUPAN SUCI ( Dhammapada, Appamada Vagga ; 2:2 ) ]

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear mas Zal 😉

    Selamat datang mas,

    Mas Zal, yang anda nyatakan itu ada benarnya.

    Pada akhirnya, tujuan siswa-siswa Sang Buddha adalah, bagaimana melepaskan diri dari belenggu samsara [arus tumimbal lahir] yang seakan-akan tak pernah bisa diakhiri [ bagi yang belum mengetahui empat-kesunyataan-mulia ].

    Lewat jalan yang ditunjukkan Sang Buddha, semua makhluk bisa mengakhiri perjalanan samsaranya dan tidak terlahir di ke-31 alam kehidupan, termasuk di alam-alam surga sekalipun [ yang penuh bidadari2 cantik, tercukupi sandang-pangan-papan, air susu mengalir di sungai2, usia kehidupan yang panjang ( jutaan bahkan hingga milyaran tahun menurut hitungan manusia) ].

    Menjadi ARAHANTA ; YANG-SEMPURNA ; sempurna tindak-tanduknya, sempurna laku-lampahnya, sempurna pengetahuannya, menembus NIBBANA/NIRVANA, yang bertindak baik,benar, lurus, jujur, sesuai DHAMMA yang diajarkan Sang Buddha ; Mengakhiri arus-samsara. Inilah tujuan akhir para siswa-siswa Sang Buddha.

    Namun, ARAHANTA ini ada berbagai jenis, yaitu sesuai yang diterangkan dalam artikel tersebut :

    1. Sukhavipassako Arahat.
    Arahat yang tidak memiliki jhana/abhinna, hanya mencapai kesucian dengan melaksanakan vipassana bhavana.

    2.Tevijjo Arahat.
    Arahat yang memiliki tiga pengetahuan (vijja):
    a. Pubbenivasanussati Nana; memiliki kesadaran akan kelahirannya yang lampaU.
    b. Dibbacakkhu Nana; memiliki “mata dewa” sehingga dapat mengetahui kelahiran makhluk di alam dewa atau peta setelah meninggal.
    c. Asavakhaya Nana; memiliki pengetahuan bagaimana cara melenyapkan asava (kekotoran batin yang paling dalam).

    3. Chalabhino Arahat :
    a sampai c seperti di atas ditambah dengan tiga kemampuan lain, yaitu:

    d. Cetopariya Nana (paracitta vijja Nana); dapat membaca atau mengetahui pikiran makhluk lain.
    e. Dibbasota Nana (telinga dewa); dapat mendengar percakapan suara dari alam dewa, brahma, dan apaya.
    f. Iddhividha Nana, yang terdiri dari:

    1. Adhitthana Iddhi, kekuatan kehendak mengubah tubuh dari satu menjadi banyak, dari banyak menjadi satu lagi.
    2. Vikubbana Iddhi, kemampuan `menyalin rupa’ menjadi anak kecil, raksasa, rupa buruk, menjadi tak tampak.
    3. Manomaya Iddhi. Kemampuan `mencipta’ dengan kekuatan pikiran. Misalnya: mencipta istana, taman, binatang. Lamanya ciptaan itu tergantung dari kekuatan pikiran.
    4. Nana vipphara Iddhi. Pengetahuan menembus ajaran yang sulit.
    5. Samadhivipphara Iddhi. Kekuatan konsentrasi untuk:
    i. menembus dinding
    ii. meyelam ke dalam bumi seperti di air
    iii. berjalan di atas air seperti di tanah datar
    iv. masuk ke dalam api tanpa hangus
    v. terbang seperti burung

    4. Patisambhidappatto Arahat.
    Arahat yang memiliki empat patisambhida (pengetahuan sempurna):

    a) Atthapatisambhida.
    Pengertian mengenai arti/maksud ajaran dan dapat memberi penerangan secara rinci, hampir seperti Sang Buddha.

    b) Dhammapatisambhida.
    Pengertian mengenai intisari dari ajaran dan mampu mengajukan pertanyaan ajaran yang mendalam.
    c) Niruttipatisambhida.
    Pengertian mengenai bahasa dan mampu menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti oleh pendengar.
    d) Patibhanapatisambhida.
    Pengertian mengenai kebijaksanaan dan mampu menjawab spontan bila ada pertanyaan mendadak

    NAH, yang mas Zal maksud berarti adalah seorang Sukhavipassako Arahat , Arahanta jenis ini memang tidak mempunyai berbagai jenis kesaktian apapun, namun Beliau telah berhasil meraih pembebasan-sempurna, tingkat kesucian tertinggi, melalui vipassana-bhavana.

    ::::::::::::::::::::::::::::::::::

    MENGENAI DAVID COPPERFIELD ;
    Mas Zal, mungkin mas Zal belum tahu ya ? David Copperfield bukanlah seseorang yang BENAR-BENAR SAKTI.

    Semua sulap yang dia lakukan adalah TRIK.

    Anggapan masyarakat yang menyatakan david copperfield dibantu JIN IFFRID juga SALAH.

    Mas Zal mau bukti ?

    Silakan kunjungi alamat situs ini :

    http://unik77.blogspot.com/2009/04/video-rahasia-sulap-david-copperfield.html

    Atau kunjungi YOU-TUBE, lalu search “COPPERFIELD REVEALED”.

    Nanti akan mas Zal temui banyak fakta-fakta yang menerangkan secara ilmiah trik2 sulap david copperfield.

    Peace & Love mas Zal

  23. tomy said

    Dear Mas Ratana

    Pernah saya memberi komen bahwa dengan menggunakan kekuatan imajinasi seperti seorang anak kecil kita mampu menembus kenyataan2 yang melampaui imajinasi.

    Nah waktu muda saya termasuk orang yang banyak imajinasi 😳
    Dari berimajinasi ketemu teman yang juga senang berimajinasi hingga mendapat ilmu Patwa, ketemu dewa2 china seperti di mitologi Kera Sakti. Namun anehnya kalau teman saya bisa buat berantem dan tenaga dalam saya malah mendapat pelajaran dari Kwan Im bahwa tangan seribu tidak untuk kungfu mengalahkan lawan banyak tapi bentuk kasih yang ingin merengkuh banyak manusia menuju dhamma
    Dan pedang yang keluar secara gaib bila saya kehendaki yang dalam kacamata ilmu cina keluar dari mulut naga tunggangan Kwan Im namun oleh sementara orang dilihat sebagai pedang juga atau kadang sebagai toya sakti wesi kuning adalah sebuah ajaran
    Ajaran tersebut berkaitan dengan kisah Damarwulan & Menak Jingga *saya hidup dalam inkulturasi banyak budaya & agama*,
    Damarwulan mengalahkan Ongkot Buta & Angkat Buta senapati Menak Jingga bersenjata Pedang Sukayana & Gada Wesi Kuning
    Semua mengandung arti untuk mengalahkan Nafsu Indriya *Ongkot Buta & Angkat Buta* dengan ketajaman pikir *Samadhi?* pedang Sukayana & ketetapan hati Gada Wesi Kuning

    Dalam perjalanan selanjutnya pertanyaan saya adalah Apakah saya sungguh memiliki ilmu tsb? apakah semua itu nyata atau hanya ilusi?
    Saya mendapat jawaban bahwa saya mempunyai sekaligus tidak mempunyai. Yang maksudnya ilmu seperti itu memang ada & saya punya namun semua hanyalah sebuah pencapaian dalam suatu tingkat spiritual dan bila saya hanya terpancang dalam pencapaian tersebut saya sejatinya tidak punya apapun

    Mungkin begitu Mas Ratana sedikit cerita untuk berbagi
    Mohon petunjuk panjenengan sebagai Dhammamitta saya

    Salam cinta kasih

    • Dear mas Tomy 😉

      “Benar” atau “Tidak-Benar” , alangkah baiknya mas Tomy sendiri yang menemukan jawabannya. Bila memang jawabannya seperti yang mas tuliskan diatas, dan mas yakin itu, dan membawa manfaat untuk mas, ya diteruskan saja mas.

      Terimakasih atas tambahan kisah perjalanan-spiritual anda ya mas, semoga membawa manfaat bagi kita semua disini.

      Peace & Love, mas Tomy

  24. pamuji rahayu…,

    mohon maaf kangmas ratana.. saya baru sempat berkunjung ke blog panjenengan.. wah ternyata para kadhang sudah banyak hadir disini.., maklum ya kangmas…., mugya sedayanipun tansah karaharjan..,

    salam sihkatresnan

    rahayu.
    ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
    Pamuji Rahayu… 😉

    Maturnuwun sudah berkunjung ke sini mas Hadi Wirojati… 😉
    Mugya para kadhang sedaya tansah karaharjan mas…

    salam sihkatresnan

    rahayu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: