RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

Archive for the ‘Kerukunan Ummat Beragama di Indonesia’ Category

Keprihatinan atas Tragedi Penganiayaan Pendeta Gereja HKBP Ciketing, Bekasi

Posted by ratanakumaro pada September 13, 2010

Among tigers, lions, leopards & bears I lived in the jungle.
No one was frightened of me, nor did I fear anyone.
Uplifted by such universal friendliness, I enjoyed the forest.
Finding great solace in such sweetly silenced solitude…

(Buddha Gotama ; Suvanna-sama Jataka 540)

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattung (3X) )

Namatthu Buddhassa,

Sahabat, saudara dan saudari, bahasa Inggris saya tidak begitu bagus, namun saya akan coba translate sabda Sang Buddha tersebut diatas kedalam bahasa Indonesia, kurang lebih begini artinya, “Diantara harimau, singa, macan tutul, dan beruang, Aku hidup didalam hutan belantara. Tidak satupun menakutkan bagi-Ku, atau Aku menakuti  mereka. Ditopang oleh keramah-tamahan/persahabatan universal, Aku menikmati hutan belantara itu. Menemukan penghiburan luar biasa didalam indahnya kesunyian yang hening.”


Sabda Sang Buddha tersebut sengaja saya pilih untuk menjadi tema  perenungan kita kali ini. Apa yang tersirat dari petuah Sang Buddha, adalah pentingnya “keramah-tamahan semesta”, “rasa persahabatan universal” dalam hidup bermasyarakat yang terdiri dari berbagai jenis masyarakat yang majemuk. Bila keramah-tamahan semesta, atau toleransi, memenuhi hati kita, tidak akan ada ketakutan yang akan menghantui hidup kita meskipun kita tinggal diantara berbagai jenis masyarakat yang berbeda-beda secara SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar-Golongan).

Perenungan dan peresapan atas rasa persahabatan unviersal ini saya pilih berkaitan dengan tragedi pelanggaran hak-asasi-manusia yang baru saja terjadi di negara kita tercinta, Republik Indonesia, yaitu tepatnya tragedi penganiayaan, penusukan dan pemukulan terhadap dua orang pendeta Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Ciketing, Bekasi, pada hari Minggu 12 September 2010, sekitar pukul 09.00 WIB kemarin.

Pendeta Sihombing

Pendeta Sihombing

KRONOLOGI KEJADIAN

Berdasarkan informasi dari Pendeta Leonard Nababan, gembala sidang di HKBP Bekasi, yang dihubungi Kompas.com, korban penusukan bernama Pendeta ST.Sihombing. Menurut Pdt.Nababan, Sihombing sedang berjalan kaki menuju ke gereja, sekitar pukul 08.30 WIB. Saat itulah penusukan terjadi. Pelaku menggunakan sepeda motor, dan langsung melarikan diri setelah melakukan penusukan.

Informasi pertama mengenai tindakan kekerasan ini pertama kali beredar luas di jejaring Twitter. Disebutkan , Pdt. Luspida Simandjuntak dipukuli dan satu pendeta lain, yaitu Pendeta ST. Sihombing ditusuk benda tajam menjelang ibadah, disebutkan juga, salah satu pendeta ini dilarikan ke rumah sakit Mitra Keluarga Bekasi, karena kritis akibat pendarahan.( http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5263374)

Pdt.Luspida Simanjuntak

Pdt.Luspida Simanjuntak

Menurut penuturan Pendeta Luspida Simanjuntak, ia mengenali salah satu orang yang memukulnya. “Saya dipukul dengan stick panjang dari depan di kepala. Kemudian dari belakang di leher dan di punggung”, demikian ia menyatakan. (http://sipayung-hoga.blogspot.com/2010/09/menikam-jemaat-dan-pukul-pendeta-hkbp.html)

Sejak Juli 2010 lalu, jemaat Gereja HKBP Pondok Timur Indah, Bekasi, tidak dapat beribadah semestinya dengan aman lantaran terjadi sejumlah kasus kekerasan. Seperti diketahui, saat ibadah setiap Minggu ratusan jemaat HKBP kerap ditunggui oleh pihak-pihak yang menentang diadakannya peribadatan Gereja HKBP di areal tanah di Desa Ciketing, Bekasi. Setelah bertahun-tahun sebelumnya, aktivitas peribadatan ini telah berlangsung tanpa masalah. (http://sipayung-hoga.blogspot.com/2010/09/menikam-jemaat-dan-pukul-pendeta-hkbp.html)

LATAR BELAKANG KEJADIAN

Tragedi kekerasan yang menimpa jemaat HKBP Pondok Timur Indah, Bekasi tersebut memang tidak baru kali ini saja terjadi. Sebelumnya, pada hari Minggu, 01 Agustus 2010, terjadi bentrok antara Ormas Islam dengan jemaat gereja HKBP. Tidak ada korban jiwa dalam musibah itu.

Anggota FPI

Anggota FPI

http://www.tempointeraktif.com/hg/kriminal/2010/08/08/brk,20100808-269588,id.html

Bentrok terjadi ketika sekitar 200 anggota Ormas Islam mendatangi lokasi kebaktian jemaat gerja di lahan kosong Kampung Ciketing Asem, Kecamatan Mustika Jaya, Kota Bekasi, Jawa Barat,  meminta bubar karena tidak mengantongi izin.

Jemaat HKBP Bekasi Terpaksa Beribadat Tanpa Gedung Gereja

Jemaat HKBP Bekasi Terpaksa Beribadat Tanpa Gedung Gereja

Koordinator ormas Islam Murhali Barda, mengatakan jemaat gereja HKBP tidak mentaati aturan. Murhali melihat, sikap jemaat HKBP yang bersikeras melakukan kebaktian meski tanpa memiliki izin merupakan aksi provokasi.

Koordinator FPI, Murhali Barda bersitegang dengan Pendeta Gereja HKBP, Minggu 1 Agustus 2010

Koordinator FPI, Murhali Barda bersitegang dengan Pendeta Gereja HKBP, Minggu 1 Agustus 2010

Tujuannya, agar umat Islam melakukan aksi anarkis sehingga jemaat gereja merasa didzolimi. “Ini provokasi, seakan-akan mereka didzolimi, dan itu yang dijual ke masyarakat luas,” kata Ketua Front Pembela Islam Bekasi Raya itu.

Massa Segel Gereja HKBP Ciketing, Bekasi

Massa Segel Gereja HKBP Ciketing, Bekasi

Pendeta Luspida, sebelumnya mengatakan lahan yang digunakan kebaktian adalah milik jemaat HKBP, sehingga mereka sah memakai lahan itu untuk kegiatan peribadatan. “Kami juga telah mengurus izin tetapi belum direspon,” katanya. (http://www.warta-ummat.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2134:ormas-islam-di-bekasi-harus-cerdas-menelaah-tragedi-hkbp&catid=105:umum&Itemid=518)

AJAKAN : MARI BERTENGGANG-RASA DI TENGAH PERBEDAAN

Ada pelajaran berharga yang bisa kita petik dari tragedi penganiayaan jemaat dan pendeta gereja HKBP tersebut diatas, yaitu pelajaran tentang pentingnya rasa keramah-tamahan/persahabatan universal, atau toleransi, atau tenggang-rasa yang sepertinya telah meluntur dari lubuk sanubari masyarakat Indonesia.

Ketika saya kecil, pelajaran PMP, atau “Pendidikan Moral Pancasila”, yang kemudian diubah menjadi mata pelajaran PPKn, atau “Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan”, berulangkali menekankan dan meresapkan pentingnya rasa tenggang-rasa, toleransi, atau keramah-tamahan dan persahabatan universal. Dan penekanan pelajaran tenggang-rasa tersebut memang sebenarnya sangat bermanfaat, terbukti waktu itu kehidupan beragama di Indonesia bisa terjaga dengan apik, harmonis, tanpa dihiasi kekerasan-kekerasan seperti yang sekarang ini terjadi, didukung dengan wibawa POLRI dan TNI yang mampu memberantas setiap gerakan radikal yang bernafaskan SARA.

Spanduk Ancaman terhadap Jemaat Gereja HKBP

Spanduk Ancaman terhadap Jemaat Gereja HKBP

Dalam gerakan reformasi tahun 1998, memang segala hal tentang Pancasila, termasuk pelajaran PMP atau/ PPKn ini ditentang oleh arus masyarakat kala itu. Segala bentuk Upacara Bendera ditentang. Tapi sekarang ini, saya rasa itu bukan aspirasi murni dari gerakan demonstrasi mahasiswa saat itu. Ketika melihat dan mendengarkan statement-statement dari pemimpin-pemimpin teroris yang akhir-akhir ini ditangkap oleh POLRI (seperti misalnya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir), yang menyatakan bahwa “Pancasila adalah Syirik”, “Demokrasi adalah Syirik”, “Penghormatan pada Bendera Merah-Putih adalah Syirik”, “Pluralisme adalah musyrik”, patut diduga dengan kuat, bahwa ketika reformasi 1998 berlangsung, aktivis-aktivis yang berhaluan atau berideologi terorisme — seperti ideologinya Ustadz  Abu Bakar Ba’asyir, Amrozi, Noordin M Top, dll. — ikut menunggangi gerakan reformasi yang dipelopori Mahasiswa waktu itu, sehingga salah satu “goal” yang ingin dicapai adalah dihapuskannya kurikulum yang berisikan pendidikan Pancasila (PMP atau/ PPKn) dan peniadaan upacara Bendera sesuai dengan ideologi fundamental yang mereka yakini dan hingga kini mereka serukan bahkan mereka implementasikan dalam sikap hidup mereka dan kelompoknya.

Untuk itu, saya mengajak mari kita kembali pada pelajaran tenggang-rasa yang pernah diresapkan ke dalam sanubari kita sejak kecil melalui kurikulum “Pendidikan Moral Pancasila” (PMP) waktu itu. Ummat beragama di Indonesia, agama apapun, baik itu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, Kong-Hucu, semuanya sejatinya memiliki sifat luhur “persahabatan-universal” ini. Ummat Islam Indonesia sendiri, yang akhir-akhir ini banyak dituding-tuding dan didiskreditkan sebagai ummat yang menyukai kekerasan, sesungguhnya tidaklah seperti yang ditudingkan tersebut, dan bila ada, itu hanya sebagian kecil saja dari ummat Islam ; TIDAK-SEMUANYA, sehingga tidak bisa digeneralisasikan . Ini semua akibat ulah teroris yang menyusup ke tengah-tengah masyarakat Islam Indonesia, dan berlindung dibalik simbol-simbol agama Islam.

HIMBAUAN PADA PEMERINTAH

Kepada Pemerintah Republik Indonesia, saya menghimbau :

1.     Memperhatikan UUD 1945, Bab XI mengenai Agama, Pasal 29 ayat (2) yang menyatakan,” Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Oleh karenanya, Pemerintah wajib menjalankan perintah UUD 1945 ini dengan melindungi segenap warga negara Indonesia untuk menjalankan peribadatannya sesuai agama dan kepercayaannya.

2.    Memperhatikan UUD 1945 / Amandemen, Pasal 28D ayat (1) yang menyatakan, “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.” Memperhatikan Pasal 28E, ayat (2) yang menyatakan,”Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.” Memperhatikan Pasal 28E ayat (3) yang menyatakan, “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”. Memperhatikan Pasal 28G yang menyatakan, “Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain.” Memperhatikan Pasal 28I ayat (1) yang menyatakan, “Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut, adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun.” Pasal 28I ayat (2) yang menyatakan, “Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.” Pasal 28I ayat (4) yang menyatakan,” Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah”.  Maka, dengan ini saya menghimbau kepada Pemerintah untuk bertanggung jawab atas peristiwa penganiayaan jemaat gereja dan Pendeta Gereja HKBP, Bekasi dan menyeret para pelaku penganiayaan ke hadapan hukum untuk diadili dan dihukum sesuai hukum yang berlaku demi memberikan rasa kepastian hukum , keadilan dan keamanan bagi para korban penganiayaan.

3.    Memperhatikan UUD 1945/Amandemen Pasal 28J ayat (1) yang menyatakan, “Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.” Memperhatikan Pasal 28J ayat (2) yang menyatakan, “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.” Maka dari itu, setiap manusia Indonesia, setiap warga negara Indonesia, baik secara pribadi maupun kelompok, segala organisasi massa berlandaskan ideologi atau agama apa pun, wajib menghormati hak asasi manusia setiap manusia Indonesia tanpa mencederainya dengan arogansi dan egoisme agama, dan menghimbau kepada Pemerintah untuk menindak tegas dan bila diperlukan membubarkan ormas-ormas yang berlandaskan ideologi apapun yang berhaluan keras dan radikal untuk menjamin terlaksananya dan terlindunginya Hak-Hak Asasi Manusia Indonesia.

Demikian, saudara-saudari, para sahabat semuanya. Mari kita menopang diri kita masing-masing dengan rasa keramah-tamahan / persahabatan universal, atau rasa tenggang-rasa, atau toleransi antar manusia yang berbeda jenis, golongan, suku, ras, dan keyakinan. Sebagaimana yang tersirat dari sabda Sang Buddha tersebut diatas, dengan ditopang rasa persahabatan universal, kita akan mampu merealisasikan “Freedom From Fear”, bebas merdeka dari rasa ketakutan meskipun kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang pluralistik, yang berbeda-beda baik secara Suku, Agama, Ras, maupun golongan-golongannya.

Saya sangat berharap, Pemerintah Indonesia khususnya mampu menegakkan wibawa Negara Kesatuan Republik Indonesia dan wibawa Hukum di hadapan masyarakat. Negara mempunyai hak untuk “memaksa”-kan penegakan hukum melalui perangkat-perangkat hukum, seperti POLRI dan segenap jajaran hukum lainnya. Bila POLRI dan segenap jajaran hukum bersikap “Pilih-Kasih” , apalagi “TAKUT”terhadap sekelompok atau segerombol manusia radikal yang menyukai kekerasan untuk memaksakan pendapat dan keyakinannya, maka jatuhlah wibawa POLRI dan segenap jajaran hukum, dan manusia Indonesia akan merasa tidak aman lagi untuk hidup menetap di Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan ini tentunya tidak diinginkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sendiri.

________________________________________

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

Upacarika RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Senin, 13 September 2010

Iklan

Posted in Kerukunan Ummat Beragama di Indonesia | 26 Comments »