RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

Archive for the ‘Isu Nasional dan Internasional’ Category

KEPRIHATINAN ATAS RENCANA PENDETA TERRY JONES MEMBAKAR AL-QURAN

Posted by ratanakumaro pada September 9, 2010

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattung (3X) )


Namatthu Buddhassa,

Pengeboman WTC 11 September 2001 oleh Al-Qaeda

Pengeboman WTC 11 September 2001 oleh Al-Qaeda

Para sahabat dan saudara/i terkasih…, pagi ini saya cukup dikagetkan dengan sebuah berita di koran Suara Merdeka, Kamis 9 September 2010, yang menyatakan adanya rencana pembakaran Al-Quran oleh Pendeta Terry Jones dari Gereja Evanjelis Dove World Outreach Center untuk memperingati tragedi serangan bom oleh teroris tanggal 11 September 2001 yang menewaskan 2.752 ummat manusia.

Foto Osama Bin Laden , Pemimpin Al-Qaeda

Foto Osama Bin Laden, Pemimpin Al-Qaeda

Banyak tokoh dunia yang telah mengecam rencana tersebut, mulai dari Menlu AS Hillary Clinton, Ketua Masyarakat Islam Amerika Utara, hingga Panglima Militer AS di Afghanistan. Vatican pun mengecam rencana pembakaran Al-Quran tersebut. Dalam sebuah statemen yang dikeluarkan hari Rabu, 08 September 2010, Vatikan menyatakan keprihatinan yang sangat mendalam,” Tindak kekerasan yang tercela sebenarnya tidak perlu dibalas dengan sikap yang justru memalukan seperti pembakaran kitab suci agama tertentu”, demikian bunyi pernyataan tersebut sebagaimana dirilis di harian Suara Merdeka, Kamis 9 September 2010.

PESAN DAMAI DARI UMMAT BUDDHA

Saya , sebagai ummat Buddha, menyampaikan pesan damai sebagaimana yang diajarkan oleh Sang Buddha. Ummat Buddha harus senantiasa memegang teguh prinsip “Avihimsa” atau “Tanpa-Kekerasan” dan senantiasa memancarkan “Metta-Karuna” atau “Cinta-Kasih dan Kasih-Sayang” terhadap semua makhluk hidup baik yang tampak maupun tak tampak. Dan untuk itu , sebagai sesama makhluk hidup, saya menyatakan keprihatinan yang sangat mendalam dan ikut menyesalkan sikap Pendeta Terry Jones yang berencana hendak membakar Al-Quran dalam rangka memperingati tragedi WTC.

Segala fenomena adalah bersifat “Netral”. Batin-lah yang mengolah dan menyaring segala informasi dan fenomena diluar, sehingga menimbulkan persepsi dan sikap. “Kejahatan tidak akan berakhir bila dibalas dengan kejahatan, kejahatan hanya akan berakhir bila dibalas dengan cinta-kasih”, demikian Sang Buddha bersabda dalam Dhammapada.

Kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh teroris internasional yang menggunakan simbol-simbol agama Islam tidak seharusnya direspon dengan merusak, membakar, dan melakukan tindakan-tindakan lain yang sangat buruk dan tidak dilandasi sikap tidak menghargai atau menghormati keyakinan ummat Islam, sebab tidak semua ummat Islam menyetujui cara pandang dan jalan hidup yang ditempuh para teroris ( atau yang oleh sebagian orang disebut sebagai “mujahiddin” ) tersebut meskipun…sekalipun…, para teroris tersebut menyatakan bahwa segala tindakan yang mereka ambil adalah bersumber dan sesuai dengan ajaran Islam sebagaimana tertuang di dalam Al-Quran dan segala sumber-sumber sahih bagi ummat Islam dan meskipun alasan para teroris tersebut adalah untuk berjuang membela dan menegakkan agama mereka.

Segala sikap yang melecehkan, merendahkan, seperti rencana pembakaran Al-Quran tersebut hanya akan memicu konflik berkepanjangan yang akan sulit diredakan ; untuk itu, jangan sampai ada ummat Buddha atau ummat agama apa pun juga yang mempunyai niat tidak terpuji seperti itu.

Himbauan untuk Pendeta Terry Jones, sebaiknya beliau membatalkan niat buruknya tersebut dan meminta maaf kepada ummat Islam sedunia yang pasti sudah merasa terluka dan terhina karena sikapnya.

TERORISME DI INDONESIA

Indonesia sendiri, negara tercinta tempat kita tinggal hidup dan mencari nafkah, juga dilanda permasalahan yang sama. Terorisme internasional, disinyalir kuat telah masuk ke Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Imam Samudera

Foto Nurdin M Top

Dalam perkembangannya, banyak gembong teroris yang telah ditangkap, diadili, maupun tewas dalam proses penangkapannya yang dilakukan oleh Densus 88.

Foto Jenazah Noordin M Top

Baru-baru ini, adalah giliran Ustadz Abu Bakar Ba’asyir , pemimpin Jamaah Anshorut Tauhid (yang juga mantan pimpinan Jamaah Islamiyah) ,yang ditangkap oleh POLRI dengan dugaan sebagai dalang / otak dan penyandang dana bagi aktivitas terorisme di Indonesia, demikian sesuai yang dinyatakan oleh Kadiv Humas POLRI Irjen Edward Aritonang dalam sebuah konferensi pers.

Abu Bakar Ba'asyir

Pesan dari saya sebagai ummat Buddha adalah :

1. Keadilan dapat ditegakkan tanpa harus membalas kejahatan dengan kejahatan. Siapapun juga yang secara hukum yuridis formal terbukti sebagai pelaku kejahatan kemanusiaan yang dengan sadar dan sengaja mengakibatkan tewasnya nyawa orang lain, wajib mendapat hukuman yang sepadan secara hukum, TAPI TIDAK DENGAN HUKUMAN MATI. Sebagaimana Sila Pertama dalam Pancasila Buddhis mengajarkan untuk tidak membunuh makhluk hidup apapun juga, maka hukum pun dapat ditegakkan tanpa harus membalas pembunuhan dengan pembunuhan. Alternatif yang dapat dipilih adalah HUKUMAN PENJARA SEUMUR HIDUP di dalam Lembaga Pemasyarakatan. Dengan pengawasan yang ketat, siapapun terdakwa kasus kejahatan kemanusiaan, bisa tetap memperoleh hak hidup yang layak dan merehabilitasi diri dan cara pandang hidupnya.

2. Proses penegakan hukum atas pelaku kejahatan kemanusiaan, dalam hal ini terorisme berazazkan dalil-dalil agama, harus mengedepankan dan menjunjung tinggi Hak-hak Azazi Manusia (HAM). Semua manusia Indonesia adalah setara dimata hukum, mempunyai hak dan kewajiban yang sama, maka biarkanlah para tersangka pelaku kejahatan kemanusiaan tersebut memperoleh hak dan memenuhi kewajiban hukumnya dengan sebaik-baiknya.

3. Segala bentuk terorisme dan kejahatan kemanusiaan harus dilenyapkan dari muka bumi. Pemerintah dan semua pemuka agama wajib memberi penerangan kepada semua ummat beragama untuk tidak mengedepankan jalan peperangan dalam mencari penyelesaian masalah-masalah keagamaan dan kemasyarakatan umumnya. Peperangan dan pembunuhan hanya akan menghadirkan tragedi dan traumatik kejiwaan bagi ummat manusia dan semua makhluk hidup alam semesta hingga generasi-generasi berikutnya. Kepada ummat Buddha khususnya, semenjak kehadiran Sang Buddha di muka bumi, beliau tidak pernah mengajarkan dan menempuh jalan-jalan peperangan dalam membabarkan ajaran-Nya kepada semua makhluk hidup. Meskipun Beliau, sebagai pemimpin kerohanian kenamaan di masa hidup-Nya juga senantiasa mengalami masa-masa sulit, mengalami masa-masa percobaan pembunuhan oleh para pemuka-pemuka kerohanian yang lain ( yang tentunya merupakan usaha sia-sia, sebab tidak ada satu makhluk pun di penjuru alam semesta ini yang bisa membunuh seorang Buddha dan terbukti demikian ), namun Beliau tidak pernah sekalipun mengajarkan jalan kekerasan. “Avihimsa” atau “tanpa kekerasan” dan “Metta-Karuna” atau “Cinta-Kasih dan Kasih-Sayang” adalah apa yang senantiasa Sang Buddha ajarkan kepada kita. Oleh karena itu, tidak ada celah bagi terorisme dalam Buddhisme. Semenjak awal mula kelahiran ajaran Buddha hingga detik ini, tidak ada satu masa pun yang dihiasi dengan darah dan pedang hingga bom dan senjata modern serta peperangan agama atas nama penyebaran “BUDDHA-DHAMMA”, sebab dalam Ti-Pitaka tidak ditemukan satupun dalil tentang keabsahan peperangan atas nama agama. Untuk itu, sebagai ummat Buddha, siswa-siswa Sang Sugatha, kita harus terus senantiasa melestarikan ajaran Buddha yang Agung dan Luhur tersebut, dengan tidak menodainya melalui tindakan-tindakan yang tidak terpuji yang tidak pernah diajarkan oleh Sang Buddha.

Demikian sebaiknya kita semua, masyarakat bangsa Indonesia umumnya dan ummat Buddha khususnya, senantiasa mengedepankan persaudaraan dan perdamaian, cinta-kasih tanpa batas kepada semua makhluk.

Sebagai penutup, biarlah saya mengulang kembali pesan/sabda Sang Buddha untuk kita semua, bahwa kejahatan tidak akan berakhir bila dibalas dengan kejahatan, kejahatan akan berakhir bila dibalas dengan cinta-kasih. Ini adalah hukum universal, hukum alam, yang bila diterapkan akan membawa keselamatan bagi kita semua, makhluk hidup semesta alam.

Dunia tidak menciptakan kita.., tetapi KITA LAH YANG MENCIPTAKAN DUNIA. Segalanya berawal dari pikiran, oleh pikiran kita sendirilah kehidupan di dunia ini menjadi baik, dan oleh pikiran kita sendirilah kehidupan di dunia ini menjadi sangat buruk.

Sekarang ini adalah jaman Kaliyuga. Sebagaimana Sang Buddha hadir ke dunia untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran dan kebinasaan, seperti itu pulalah seharusnya kita semua, siswa-siswa Sang Buddha hadir ke dunia, untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran dan kebinasaan, untuk menyelamatkan dunia dari segala kemarahan, kebencian, dan kejahatan.

________________________________________

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

Upacarika RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Kamis, 09 September 2010

Iklan

Posted in Isu Nasional dan Internasional | 15 Comments »