RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

Archive for the ‘BUDDHA’ Category

PĀŢHA UNTUK UPACARA MANGGALA ( Upacara Memperoleh Berkah )

Posted by ratanakumaro pada Oktober 31, 2009

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattung (3X) )

Namatthu Buddhassa,

pemercikan air suci

pemercikan air suci

Rekan-rekan se-Dhamma yang berbahagia. Kita semua sebagai ummat Buddha mengetahui, bahwa Paritta (Pali) atau Paritrana (Sansekerta) dan pirit atau pirith menurut pengucapannya dalam bahasa Singhala merupakan suatu Perlindungan ( sesuai dengan makna dari kata “Paritta” itu sendiri ) bagi yang menguncarkannya dengan baik dan benar.

Paritta adalah khotbah Sang Buddha yang merupakan suatu perlindungan yang kuat bilamana bisa dihapal. Pada saat pengulangan Paritta, pikiran harus ditujukan, dipusatkan pada makna paritta tersebut sehingga pada saat itu kesadaran ( sati-sampajjana ) menjadi kuat, pikiran ( citta ) bersatu dengan kebajikan, bersih dari kilesa, penuh dengan cinta-kasih (metta) dan kebenaran (sacca). Mengulangi paritta menjadi sebuah pengkondisian untuk mempercepat masaknya buah kamma baik ( kusala-kamma-vipaka ) yang telah dibuat, sebaliknya buah kamma tidak baik ( akusala-kamma-vipaka ) akan terhambat masaknya, kecuali akusala-garuka-kamma-vipaka ( kamma buruk yang berat ; seperti membunuh orang tua, orang suci, dll. ). Inilah yang dimaksudkan dengan perlindungan dalam Paritta.

meja puja yang telah siap untuk Upacara

meja puja yang telah siap untuk Upacara

Kekuatan mengulangi Paritta atau membaca Paritta sangat tergantung adanya faktor berikut ini :

  1. Saddha, keyakinan yang kuat  terhadap Dhamma.
  2. Sila, memiliki moral yang baik.
  3. Metta, cinta kasih universal yang berkembang.
  4. Sacca, kebenaran dalam mengucapkan Dhamma.
  5. Vaca, pengucapan yang tepat dan hapal dengan baik.

Berkaitan dengan faktor yang kelima, yaitu “Vaca”, maka seseorang yang membaca Paritta seharusnya terlebih dahulu belajar / mempelajari cara-cara pengucapan paritta dengan baik dan benar. Sangatlah penting arti sebuah kata bahasa Pali pada saat pengucapannya, kata yang sama bila diucapkan dengan berbeda suara / penekanan akan menjadi lain sekali artinya.

Bila kelima faktor tersebut diatas dipenuhi, maka pembacaan dan penguncaran Paritta sesuai dengan maksud tujuan-tujuan tertentu, akan memberikan manfaat yang luar-biasa. Sebab, penguncaran Paritta merupakan ‘pemantik’ bagi bangkitnya tiga kekuatan besar dan tiada bandingnya di seluruh penjuru alam-semesta ini, yaitu kekuatan “Tiga-Mustika” (Ti-Ratana ) : Buddha-Dhamma-Sangha.  Tiada permata ataupun kekuatan apapun yang mampu menandingi Ti-Ratana, Tathagata yang dipuja oleh para manusia, dewa, naga, yakkha, gandhabba, dan juga bahkan para Brahma.

PĀŢHA UNTUK UPACARA MAŃGALA ( Upacara Memperoleh Berkah )

Pada kesempatan ini, saya hendak menyajikan Patha khusus yang sebaiknya dibaca pada saat upacara memperoleh berkah ; seperti misalnya  ketika membuka usaha / bidang-bisnis baru, kantor baru, demi berkah kejayaan, kebahagiaan, kesehatan, paras bagus, kekayaan, kekuatan, dan berbagai macam keberhasilan serta demi tujuan melenyapkan berbagai bentuk rintangan, halangan, gangguan ( baik yang tampak mata maupun tak tampak ), penderitaan, kesedihan, dan lain-lain sebagainya.

Saya sendiri sudah sering melakukan penguncaran Patha khusus untuk memperoleh berkah ini. Terakhir, pada hari Kamis 29 Oktober 2009 jam 19.00 WIB s/d 20.45 WIB kemarin, dalam acara upacara memperoleh berkah bagi kesuksesan dan keberhasilan sebuah usaha pabrikasi yang baru saja didirikan. Upacara seperti ini biasanya berlangsung selama kurang-lebih 1,5 jam hingga 2 jam .

meja puja untuk Upacara

meja puja untuk Upacara

Setelah mempersiapkan meja Puja-Bhakti, serta dimana ruangan dan para peserta (hadirin) yang hendak mengikuti Upacara telah siap-sedia, kita bisa memulai Upacara.

Patha khusus yang pertama kali harus dibaca adalah DEVATĀ – ĀRĀDHANĀ” , yang bertujuan untuk mengundang para dewa yang berada di segenap penjuru alam semesta , para yakkha, gandhabba, naga dan juga Brahma untuk hadir mengikuti jalannya upacara keagamaan ; mendengarkan Dhamma / Ajaran Sang Buddha.

Pembacaan Paritta

Pembacaan Paritta

Setelah penguncaran devata-aradhana tersebut selesai, maka terus menerus kita menguncarkan paritta-paritta khusus untuk tujuan perolehan berkah – saya lampirkan dibawah – dan setelah selesai  penguncaran Paritta, pemimpin upacara keagamaan memercikkan air-suci yang telah diuncari Paritta-Paritta khusus tersebut kepada para peserta upacara dan ke sekeliling tempat yang dimaksudkan untuk diberkati.

Dibawah ini adalah Patha-Patha khusus yang saya maksudkan untuk upacara ini, terdiri dari 22 Paritta / Patha / Gatha yang saya ambil dari sumber “PARITTA SUCI” terbitan Sangha Theravada Indonesia ( STI ), edisi II Pembaruan cetakan kedua (2008) , dicetak oleh Percetakan Bocah Marga Jaya, Bekasi.

Semoga Paritta / Patha /Gatha dibawah ini bermanfaat bagi anda semuanya. Selamat belajar dan berpraktek demi kebahagiaan dan kesejahteraan anda masing-masing. Sadhu , Sadhu, Sadhu. 😉

_____________________________________________

1. DEVATĀ – ĀRĀDHANĀ

Samantā cakkavālesu atrāgacchantu devatā, saddhamang munirājassa suņantu saggamokkhadang, sagge kāme ca rūpe girisikharataţe cantalikkhe vimāne, dīpe raţţhe ca gāme taruvana-gahane gehavatthumhi khette, bhummā cāyantu devā jalathala-visame yakkha-gandhabba-nāgā, tiţţhantā santike yang munivara-vacanang sādhavo me suņantu,

Dhammassavanakālo ayambhadantā,

Dhammassavanakālo ayambhadantā,

Dhammassavanakālo ayambhadantā.


Semoga para dewa yang berada di segenap alam semesta datang ke sini mendengarkan Ajaran Kebenaran Sang Buddha, Raja para bijaksanawan, yang membimbing ke surga dan ke kebebasan. Datanglah para dewa yang bersemayam di  surga, yang berada di tingkat alam nafsu atau pun di tingkat alam berbentuk; juga para dewa bumi yang bersemayam di vimāna ( tempat menyenangkan , tempat para dewa bersemayam ), atau di puncak gunung, di jurang, di angkasa, di pulau, di kota, di desa, di pepohonan, di hutan belukar, di sekitar rumah, atau di sawah-ladang ; juga para yakkha, gandhabba, dan naga yang bersemayam di perairan, daratan, atau pun di perbukitan. Silakan mereka yang berada di sekitar ini mendengarkan Sabda Sang Buddha, Raja para bijaksanawan, seperti berikut ini.

Para Budiman, sekarang tiba saatnya mendengarkan Dhamma,

Para Budiman, sekarang tiba saatnya mendengarkan Dhamma,

Para Budiman, sekarang tiba saatnya mendengarkan Dhamma

_____________________________________________

2. PUBBABHAGANAMAKARA


Namo tassa bhagavato arahato sammasambuddhassa.

(tikkhattung ; 3X )

Terpujilah Sang Bhagava, Yang Mahasuci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna.

_________________________________________________

3. SARAŅAGAMANA PATHA


Buddhang saranang gacchami

Dhammang saranang gacchami

Sanghang saranang gacchami



Dutiyampi Buddhang saranang gacchami

Dutiyampi Dhammang saranang gacchami

Dutiyampi Sanghang saranang gacchami



Tatiyampi Buddhang saranang gacchami

Tatiyampi Dhammang saranang gacchami

Tatiyampi Sanghang saranang gacchami


Aku berlindung kepada Buddha

Aku berlindung kepada Dhamma

Aku berlindung kepada Sanggha


Kedua kalinya aku berlindung kepada Buddha

Kedua kalinya aku berlindung kepada Dhamma

Kedua kalinya aku berlindung kepada Sanggha


Ketiga kalinya aku berlindung kepada Buddha

Ketiga kalinya aku berlindung kepada Dhamma

Ketiga kalinya aku berlindung kepada Sanggha

_________________________________________________

4. NAMAKĀRASIDDHI GĀTHA


Yo cakkhumā mohamalāpakattho

Sāmangva buddho sugato vimutto

Mārassa pāsā vinimocayanto

Pāpesi khemang janatang vineyyang.

Buddhang varantang sirasā namāmi

Lokassa nāthañca vināyakañca

Tantejasā te jayasiddhi hotu

Sabbantarāyā ca vināsamentu

Dhammo dhajo yo viya tassa satthu

Dassesi lokassa visuddhimaggang

Niyyāniko dhammadharassa dhārī

Sātāvaho santikaro suciņņo.

Dhammang varantang sirasā namami

Mohappadālang upasantadāhang

Tantejasā te jayasiddhi hotu

Sabbantarāyā ca vināsamentu.

Saddhammasenā sugatānugo yo.

Lokassa pāpūpakilesajetā

Santo sayang santiniyojako ca

Svaākkhāta-dhammang viditang karoti.

Sańghang varantang sirasā namāmi

Buddhānubuddhang samasīladiţţhing

Tantejasā te jayasiddhi hotu

Sabbantarāyā ca vināsamentu.


Sang Penglihat yang telah melenyapkan kegelapan,

Sebagai seorang Sambuddha, Sugata, yang telah bebas;

Membebaskan makhluk vineyya ( yang telah siap dibimbing untuk menuju ke kebebasan sejati ) dari jerat Mara si jahat, mengantarkan ke keselamaatan.

Aku bersujud kepada Sang Buddha nan mulia,

Sang Pelindung dan Pembimbing Dunia.

Berkat kekuatan ini, semoga kejayaan ada pada Anda,

Dan semoga segala rintangan lenyap adanya.

Dhamma bagaikan panji Sang Guru

Menunjukkan jalan kesucian kepada dunia,

Pengantar ke kebebasan, pelindung pelaksana Dhamma ;

Bila dilaksanakan, mendatangkan kebahagiaan dan kedamaian.

Aku bersujud kepada Dhamma nan mulia,

Pelenyap kebodohan, penakluk kobaran api nafsu (keserakahan dan kebencian)

Berkat kekuatan ini, semoga kejayaan ada pada Anda,

Dan semoga segala rintangan lenyap adanya.

Sanggha, laskar Dhamma, siswa Sang Sugata,

Penakluk keburukan si penoda makhluk dunia.

Mereka sendiri telah damai dan membimbing orang ke kedamaian.

Menunjukkan Dhamma yang telah dibabarkan oleh Sang Guru.

Aku bersujud kepada Sanggha nan mulia,

Yang telah mencapai penerangan setelah Sang Buddha,

Yang setaraf Sila dan pandangan-Nya.

Berkat kekuatan ini, semoga kejayaan ada pada Anda

Dan semoga segala rintangann lenyap adanya.

_________________________________________________

5. SACCAKIRIYA GĀTHĀ


Natthi me saranang annang,  Buddho me saranang varang

Etena saccavajjena,                      Sotthi te hotu sabbada.


Natthi me saranang annang,  Dhammo me saranang varang

Etena saccavajjena,                       Sotthi te hotu sabbada.


Natthi me saranang annang,  Sanggho me saranang varang

Etena saccavajjena,                       Sotthi te hotu sabbada.


Tiada perlindungan lain bagiku,

Sang Buddha-lah pelindungku nan luhur.

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga setiap saat Anda selamat sejahtera


Tiada perlindungan lain bagiku,

Dhamma-lah pelindungku nan luhur,

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga setiap saat Anda selamat sejahtera


Tiada perlindungan lain bagiku,

Sanggha-lah pelindungku nan luhur,

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga setiap saat Anda selamat sejahtera

_________________________________________________

6. MAHĀKĀRUŅIKONĀTHOTIĀDI GĀTHĀ


Mahākāruņiko nātho     Atthāya sabbapāņinang

Pūretvā pāramī sabba    Patto sambodhimuttamang

Etena saccavajjena          Mā hontu sabbupaddavā

Mahākāruniko nātho     Hitāya sabbapāņinang

Pūretvā pārami sabbā    Patto sambodhimuttamang

Etena saccavajjena          Mā hontu sabbupaddavā

Mahākāruniko nātho     Sukhāya sabbapāņinang

Pūretvā pāramī sabbā    Patto sambodhimuttamang

Etena saccavajjena          Mā hontu sabbupaddavā


Sang Pelindung yang mahawelas asih,

Setelah menyempurnakan semua paramita,

Mencapai Bodhi nan luhur atas usaha sendiri

Demi kepentingan semua makhluk.

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga semua musibah lenyap adanya.

Sang Pelindung yang mahawelas asih,

Setelah menyempurnakan semua paramita,

Mencapai Bodhi nan luhur atas usaha sendiri

Demi manfaat semua makhluk.

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga semua musibah lenyap adanya.

Sang Pelindung yang mahawelas asih,

Setelah menyempurnakan semua paramita,

Mencapai Bodhi nan luhur atas usaha sendiri

Demi kebahagiaan semua makhluk.

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga semua musibah lenyap adanya.

_______________________________________________

7. NAMOKĀRAŢŢHAKA GĀTHĀ


Namo arahato sammā-                  Sambuddhassa mahesino

Namo uttamadhammassa            Svākkhātasseva tenidha

Namo mahāsangghasssāpi          Visuddhasīladiţţhino

Namo omātyāraddhassa               Ratanatayassa sādhukang

Namo omakātītassa                        Tassa vatthuttayassapi

Namokārappabhāvena                  Vigacchantu upaddavā

Namokārānubhāvena                    Suvatthi hotu sabbadā

Namokārassa tejena                      Vidhimhi homi tejava


Sujudku pada Sang Arahanta,

Sammasambuddha, Penemu Kebajikan Maha-agung.

Sujudku pada Dhamma nan utama

yang telah dengan sempurna dibabarkan di dunia.


Sujudku pada Mahasangha,

yang ber-Sila dan berpandangan murni.

Semoga sujudku pada Ti-Ratana,

yang berawal dengan kata “AUM” mendatangkan keberhasilan.


Sujudku pada Ti-Ratana, yang terbebas dari kenistaan.

Dengan daya kata “AUM”, semoga semua rintangan lenyap.


Dengan kuasa kata “AUM”, semoga sejahtera selalu.

Dengan kekuatan kata “AUM”, semoga kekuatan saya ada pada upacara ini.

___________________________________________

8. MANGGALA SUTTA


Evamme sutang.

Ekang samayang bhgavā,

Sāvatthiyang viharati,

Jetavane anathapindikassa, ārāme.

 


Atha kho aññatara devatā,

Abhikantāya rattiyā abhikkantavannā,

Kevalakappang jetavanang obhasetvā

Yena bhagavā tenupassangkami.

 


Upasangkamitvā bhagavantang abhivādetvā

Ekamantang aţţhāsi.

Ekamantang ţhitā kho sā devatā

Bhagavantang gāthāya ajjhabhāsi :


Bahū devā manussā ca                  Mańgalani acintayung

Ākangkhamānā sotthānang           Brūhi mańgalamuttamang.

 


Asevanā ca bālānang                      Panditānañca sevanā

Pūjā ca pūjanīyānang                     Etammańgalamuttamang

 


Paţirūpadesavāso ca                      Pubbe ca katapuññatā

Attasammāpaņidhi ca                    Etammańgalamuttamang

 


Bāhusaccañca sippañca                 Vinayo ca susikkhito

Subhāsitā ca yā vācā                       Etamańgalamuttamang

 


Mātāpitu-upaţţhānang                 Puttadārassa sańgaho

Anākulā ca kammantā                   Etamańgalamuttamang

 


Dānañca dhammacariyā ca          Ñātakānañca sańgaho

Anavajjāni kammāni                      Etammańgalamuttamang

 


Āratī viratī pāpā                               Majjapānā ca saññamo

Appamādo ca dhammesu            Etammańgalamuttamang

 


Gāravo ca nivāto ca                         Santuţţhi ca kataññuta

Kālena dhammasavanang            Etamańgalamuttamang

 


Khanti ca sovacassatā                    Samaņānañca dassanang

Kālena dhammasākacchā             Etammańgalamuttamang

 


Tapo ca brahmacariyañca             Ariyasaccāna dassanang

Nibbānasacchikiriyā ca                  Etammańgalamuttamang

 


Phuţţhassa lokadhammehi         Cittang yassa na kampati

Asokang virajang khemang         Etammańgalamuttamang

 


Etādisani katvāna                            Sabbatthamaparājitā

Sabbattha sotthing gacchanti     Tantesang mańgalamuttamanti

 


Demikian telah saya dengar.

Pada suatu ketika Sang Bhagava

Berdiam di Jetavana,

Arama milik hartawan Anathapindika,

Di dekat kota Savatthi.


Saat itulah sesosok dewa, ketika hari menjelang pagi,

Dengan bercahaya cemerlang menerangi seluruh Jetavana,

Mengunjungi Sang Bhagava.

Setelah datang, menghormat Sang Bhagava,

Ia berdiri di satu sisi yang layak.


Dengan berdiri di satu sisi yang layak itulah,

Ia memohon Sang Bhagava dengan syair berikut ini :


Banyak dewa dan manusia

Yang mengharapkan kebahagiaan,

Mempersoalkan tentang berkah.

Mohon uraikan, apakah berkah utama itu.


Tak bergaul dengan orang-orang dungu,

Bergaul dengan para bijaksanawan,

Dan menghormat yang patut dihormat,

Itulah berkah utama.


Bertempat tinggal di tempat yang sesuai,

Memiliki timbunan kebajikan di masa lampau,

Dan membimbing diri dengan benar,

Itulah berkah utama.


Berpengetahuan luas, berketerampilan,

Terlatih baik dalam tata susila,

Dan bertutur kata dengan baik,

Itulah berkah utama.


Membantu ayah dan ibu,

Menunjang anak dan istri,

Dan bekerja dengan sungguh-sungguh,

Itulah berkah utama.


Berdana, melakukan kebajikan,

Menyokong sanak saudara,

Dan tidak melakukan pekerjaan tercela,

Itulah berkah utama.


Menjauhi, menghindari perbuatan buruk,

Menahan diri dari minuman keras,

Dan tak lengah melaksanakan Dhamma,

Itulah berkah utama.


Memiliki rasa hormat, berendah hati,

Merasa puas dengan yang dimiliki, ingat budi baik orang,

Dan mendengarkan Dhamma pada waktu yang sesuai,

Itulah berkah utama.


Sabar, mudah dinasehati,

Mengunjungi para petapa,

Dan membahas Dhamma pada waktu yang sesuai,

Itulah berkah utama.


Bersemangat dalam mengikis kilesa ( pengotor-batin ), menjalankan hidup suci,

Menembus Empat Kebenaran Mulia,

Dan mencapai Nibbana,

Itulah berkah utama.


Meski disinggung oleh hal-hal duniawi

Batin tak tergoyahkan,

Tiada sedih, tanpa noda, dan penuh damai,

Itulah berkah utama.


Setelah melaksanakan hal-hal seperti itu,

Para dewa dan manusia tak akan terkalahkan dimana pun,

Mencapai kebahagiaan dimana pun berada.

Itulah berkah utama bagi para dewa dan manusia.

___________________________________________________

9. RATANA SUTTA ( tiga bait terakhir saja )


Yānidha bhūtani samāgatani

Bhummāni vā yāniva antalikkhe.

Tathāgatang devamanussa-pūjitang

Buddhang namassāma suvatthi hotu

Yānidha bhūtani samāgatani

Bhummāni vā yāniva antalikkhe.

Tathāgatang devamanussa-pūjitang

Dhammang namassāma suvatthi hotu

Yānidha bhūtani samāgatani

Bhummāni vā yāniva antalikkhe.

Tathāgatang devamanussa-pūjitang

Sańghang namassāma suvatthi hotu


Makhluk apa pun yang berkumpul di sini,

Baik yang berada di bumi atau pun di angkasa ;

Marilah bersama-sama menghormat Sang Buddha,

Tathagata, yang dipuja para dewa dan manusia.

Makhluk apa pun yang berkumpul di sini,

Baik yang berada di bumi atau pun di angkasa ;

Marilah bersama-sama menghormat Dhamma,

Tathagata, yang dipuja para dewa dan manusia.

Makhluk apa pun yang berkumpul di sini,

Baik yang berada di bumi atau pun di angkasa ;

Marilah bersama-sama menghormat Sańgha

Tathagata, yang dipuja para dewa dan manusia.

_______________________________________________

10. KARAŅĪYAMETTA SUTTA


Karaņīyamatthakusalena

Yantang santang padang abhisamecca :

Sakko ujū ca suhujū ca

Suvaco cassa mudu anatimāni.

Santussako ca subharo ca

Appakicco ca sallahukavutti

Santindriyo ca nipako ca

Appagabbho kulesu ananugiddho.

Na ca khuddang samācare kiñci

Yena viññū pare upavadeyyung

Sukhino vā khemino hontu

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.

Ye keci pāņabhūtatthi

Tasā vā thāvarā vā anavasesā

Dīghā vā ye mahantā vā

Majjhimā rassakā aņukathūlā.

Diţţha vā ye ca adiţţhā

Ye ca dūre vasanti avidūre

Bhūtā vā sambhavesī vā

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.

Na paro parang nikubbetha

Nātimaññetha katthaci nang kañci

Byārosanā paţīghasaññā

Nāññamaññassa dukkhamiccheyya.

Mātā yathā niyang puttang

Āyusā ekaputtamanurakkhe.

Evampi sabbabhūtesu

Mānasambhāvaye aparimāņang.

Mettañca sabbalokasming

Mānasambhāvaye aparimānang

Uddhang adho ca tiriyañca

Asambādhang averang asapattang.

Tiţţhañcarang nisino vā

Sayāno vā yāvatassa vigatamiddho

Etang sating adhittheyya

Brahmametang vihārang idhamāhu.

Diţţhiñca anupagamma

Silavā dassanena sampanno

Kāmesu vineyya gedhang

Nahi jātu gabbhaseyyang punaretīti.


Inilah yang patut dikerjakan

Oleh ia yang tangkas dalam hal yang berguna,

Yang mengantar ke jalan kedamaian:

Sebagai orang yang cakap, jujur, tulus,

Mudah dinasehati, lemah-lembut, tidak sombong.

Merasa puas atas yang dimiliki, mudah dirawat,

Tidak repot, bersahaja hidupnya,

Berindria tenang, penuh pertimbangan,

Sopan, tak melekat pada keluarga-keluarga ;

Tidak berbuat kesalahan walaupun kecil

Yang dapat dicela oleh para bijaksanawan,

Senantiasa bersiaga dengan ujaran cinta kasih:

“Semoga semua makhluk berbahagia dan tenteram.

Semoga semua makhluk hidup bahagia.”

Makhluk hidup apa pun yang ada ;

Yang goyah ( yang gampang tergoyah oleh keinginan dan ketakutan )

Dan yang kokoh ( yang terkendali keinginan dan ketakutannya )

Tanpa kecuali

Yang panjang atau yang besar,

Yang sedang, pendek, kecil, kurus atau pun yang gemuk ;

Yang tampak atau pun yang tak tampak,

Yang berada jauh atau pun dekat,

Yang telah menjadi atau pun yang belum menjadi,

Semoga mereka semua hidup bahagia.

Tak sepatutnya yang satu menipu yang lainnya,

Tidak menghina siapa pun di mana juga ;

Dan, tak selayaknya karena marah dan benci

Mengharap yang lain celaka.

Sebagaimana seorang Ibu mempertaruhkan jiwa

Melindungi putra tunggalnya ;

Demikianlah terhadap semua makhluk,

Kembangkan pikiran cinta kasih tanpa batas.

Cinta kasih terhadap makhluk di segenap alam,

Patut dikembangkan tanpa batas dalam batin

Baik ke arah atas, bawah, dan diantaranya ( alam arupa, alam nafsu, dan diantaranya ( alam rupa ) ) ;

Tidak sempit, tanpa kedengkian, tanpa permusuhan.

Selagi berdiri, berjalan atau duduk

Ataupun berbaring, sebelum terlelap ;

Sepatutnya ia memusatkan perhatian ini

Yang disebut sebagai “berdiam dalam Brahma”.

Ia yang mengembangkan metta, tak berpandangan salah ( tak berpandangan salah terhadap nama-rupa ),

Teguh dalam Sila dan berpengetahuan sempurna,

Dan melenyapkan kesenangan nafsu indriya ;

Tak akan lahir dalam rahim lagi.

_______________________________________________

11. KHANDHA PARITTA


Virupakkhehi me mettang           Mettang erapathehi me

Chabyaputtehi me mettang        Mettang kanhagotamakehi ca.

 


Apadakehi me mettang                                Mettang dipadakehi me

Catuppadehi me mettang            Mettang bahuppadehi me

 


Ma mang apadako hingsi              Ma mang hingsi dipadako

Ma mang catuppado hingsi          Ma mang hingsi bahuppado

 


Sabbe satta sabbe pana                                Sabbe bhuta ca kevala

Sabbe bhadrani passantu             Ma kinci papamagama.

 


Appamāņo buddho

Appamāņo dhammo

Appamāņo sańgho

 


Pamanavantani siringsapani

Ahi vicchika satapadi unnanabhi sarabu musika.

Kata me rakkha kata me paritta

Patikkamantu bhutani.

 


Sohang namo bhagavato

Namo sattannang sammasambuddhanang.


Cinta kasihku pada suku ular Virupakkha.

Cinta kasihku pada suku ular Erapatha.

Cinta kasihku pada suku ular Chabyaputta.

Cinta kasihku pada suku ular Kanhagotamaka.

Cinta kasihku pada makhluk-makhluk tanpa kaki.

Cinta kasihku pada makhluk-makhluk berkaki dua.

Cinta kasihku pada makhluk-makhluk berkaki empat.

Cinta kasihku pada makhluk-makhluk berkaki banyak.

Semoga makhluk-makhluk tanpa kaki tak menyakitiku.

Semoga makhluk-makhluk berkaki dua tak menyakitiku.

Semoga makhluk-makhluk berkaki empat tak menyakitiku.

Semoga makhluk-makhluk berkaki banyak tak menyakitiku.

Segala makhluk, segala kehidupan,

Segala yang terlahir tanpa kecuali ;

Semoga semuanya mendapatkan kebaikan;

Janganlah ada dosa ( Pali : kesalahan, keburukan ; perbuatan jahat, kebencian, cacat )

Apa pun pada mereka.

Tak terbatas daya Sang Buddha!

Tak terbatas daya Dhamma!

Tak terbatas daya Sangha!

Segala makhluk melata, seperti :

Ular, ketungging, lipan, laba-laba, tokek, dan

Tikus adalah terbatas daya mereka.

Telah kubangun penjagaan. Telah kubangun perlindungan.

Silakan makhluk-makhluk menyingkir dengan damai!

Aku ini pemuja Sang Bhagava,

Pemuja Tujuh Sammasambuddha.

______________________________________________

12. VAŢŢAKA PARITTA


Atthi loke sīlaguno                         Saccang soceyyanuddayā

Tena saccena kāhāmi                     Saccakiriyama-nuttarang.

Āvajjitvā dhammabalang             Saritvā pubbake jine

Saccabalama-vassāya                     Saccakiriyama-kāsahang.

Santi pakkhā apattanā                   Santi pādā avañcanā

Mātā pitā ca nikkhantā                  Jātaveda paţikkama.

Saha sacce kate mayhang             Mahāpajjalito sikhī

Vajjesi solasa karīsāni                   Udakang patvā yathā sikkhī

Saccena me samo natthi               Esā me saccapāramiti


Di alam ini terdapat berkah Sila,

Berkah kebenaran, berkah kesucian, dan berkah kasih sayang.

Berdasarkan atas kebenaran ini,

Aku melakukan sumpah nan luhur.

Setelah merenungkan kekuatan Dhamma,

Mengenang para Penakluk di waktu lampau,

Dan mendasarkan pada kekuatan kebenaran ;

Aku bersumpah :

“Aku bersayap namun tak mampu terbang.

Aku berkaki tetapi tak dapat berjalan.

Ayah bundaku pun telah pergi.

Wahai Api Hutan, kembalilah!”

Di saat setelah aku membuat sumpah,

Kobaran jilatan api yang ganas

Seluas 16 karissa ( 1 karissa = 125 lengan; 1 lengan = 0,5 meter )

Berhenti serentak,

Bagaikan api yang tersiram air.

Tiada sesuatu apa pun yang setara dengan sumpahku.

Inilah sacca-paramita-ku.

_______________________________________________

13. BUDDHĀNUSSATI

 


Itipi so bhagava arahang sammasambuddho,

Vijjacarana-sampanno sugato lokavidu,

Anuttaro purisadhammasarathi,

Sattha devamanussanang, buddho bhagavati.


Karena itulah Sang Bhagava, Beliau adalah Yang Mahasuci, Yang telah Mencapai Penerangan Sempurna, Sempurna Pengetahuan serta Tindak-tanduk-Nya, Sempurna Menempuh Jalan ke Nibbana, Pengetahu Segenap Alam, Pembimbing Manusia yang Tiada Taranya, Guru para Dewa dan Manusia, Yang Sadar, Yang Patut Dimuliakan.

______________________________________________

14. DHAMMĀNUSSATI


Svakkhato bhagavata dhammo,

Sanditthiko akaliko ehipassiko,

Opanayiko paccattang veditabbo vinnuhiti.


Dhamma telah sempurna dibabarkan  oleh Sang Bhagava, terlihat amat jelas, tak bersela waktu, mengundang untuk dibuktikan, patut diarahkan ke dalam batin, dapat dihayati oleh para bijaksanawan dalam batin masing-masing.

_______________________________________________

15. SAŃGHĀNUSSATI



Supaţipanno bhagavato sāvakasańgho,

Ujupaţipanno bhagavato sāvakasańgho,

Ñayapatipanno bhagavato savakasańgho,

Sāmīcipaţipanno bhagavato sāvakasańgho,

Yadidang cattāri purisayugāni aţţhapurisapuggalā,

Esa bhagavato sāvakasańgho,

Āhuneyyo pāhuneyyo dakkhineyyo añjalikaraņiyo,

Anuttarang puññakhettang lokassāti.


Sangha siswa Sang Bhagava telah bertindak baik,

Sangha siswa Sang Bhagava telah bertindak lurus,

Sangha siswa Sang Bhagava telah bertindak benar,

Sangha siswa Sang Bhagava telah bertindak patut,

Mereka adalah empat pasang makhluk , terdiri dari delapan jenis makhluk suci (Ariya-Sangha)

Itulah Sangha Siswa Sang Bhagava ;

Patut menerima pujaan, patut menerima sambutan,

Patut menerima persembahan, patut menerima penghormatan;

Ladang menanam jasa yang tiada taranya bagi makhluk dunia.

_______________________________________________

16. BOJJHAŃGA PARITTA



Bojjhańgo satisańkhāto                                Dhammānang vicayo tathā

Viriyampīti-passadhi-                    Bojjhańgā ca tathāpare.

Samādhupekkhabojjhańgā          Sattete sabbadassinā

Muninā sammadakkhātā              Bhāvitā bahulīkatā.

Sangvattanti abhiññaya                Nibbānāya ca bodhiyā

Etena saccavajjena                          Sotthi te hotu sabbadā.

 


Ekasming samaye nātho               Moggallānañca kassapang

Gilāne dukkhite disvā                   Bojjhańge satta desayi

Te ca tang abhinanditvā                Rogā muccingsu tangkhaņe

Etena saccavajjena                          Sotthi te hotu sabbadā.

 


Ekadā dhammarājāpi                     Gelaññenābhipīlito

Cundattherena taññeva               Bhaņāpetvāna sādarang.

Sammoditvā ca ābādhā                 Tamha vuţţhāsi ţhānaso

Etena saccavajjena                          Sotthi te hotu sabbadā.

 


Pahīnā te ca ābādhā                       Tiņņannampi mahesinang

Maggāhatakilesā va                        Pattānuppatti-dhammatang

Etena saccavajjena                          Sotthi te hotu sabbadā.


Faktor-faktor untuk mencapai Penerangan adalah :

Sati, dahmmavicaya,

Virya, piti, dan passaddhi.

Faktor lainnya lagi adalah :

Samadhi dan upekkha.

Ketujuh faktor ini telah diajarkan dengan jelas

Oleh Sang Maha Muni, Yang Mahatahu.

Bila dikembangkan dan dilatih

Menghasilkan pengetahuan luhur, kepadaman kilesa

Dan Penerangan Sempurna.

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga Anda sejahtera selalu.

Pada suatu ketika, Sang Pelindung

Menjenguk Yang Ariya Moggallana dan Yang Ariya Kassapa

Yang sedang menderita sakit.

Beliau membabarkan Tujuh Faktor Pencapaian Penerangan.

Beliau berdua merasa gembira atas pembabaran itu

Dan sembuh dari sakit di saat itu pula.

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga Anda sejahtera selalu.

Suatu ketika, Sang Dhammaraja sendiri

Menderita sakit,

Meminta Yang Ariya Cunda Thera

Mengulang Sutta itu dengan seksama

Beliau merasa gembira

Dan sembuh dari sakit itu.

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga Anda sejahtera selalu.

Penyakit telah dimusnahkan

Oleh ketiga petapa agung tersebut,

Yang telah mencapai ketidak-munculan secara tetap ;

Bagai kilesa yang telah dimusnahkan oleh Sang Jalan.

Berkat pernyataan kebenaran ini,

Semoga Anda sejahtera selalu.

_______________________________________________

17. ĀŢĀNĀŢIYA PARITTA



Vipassissa namatthu                      Cakkhumantassa sirimato.

Sikhissapi namatthu                       Sabbabhūtā-nukampino.

Vessabhussa namatthu                 Nhātakassa tapassino.

Namatthu kakusandhassa            Mārasenap-pamaddino.

Konāgamanassa namatthu          Brāhmanassa vusīmato.

Kassapassa namatthu                    Vippamuttassa sabbadhi.

Ańgirasassa namatthu                   Sakyaputtassa sirīmato

Yo imang dhmmamadesesi         Sabbadukkhā-panūdanang.

Ye cāpi nibbutā loke                      Yathābhūtang vipassisung

Te janā apisunā                                                Mahantā vītasāradā.

Hitang devamanussānang           Yang namassanti gotamang

Vijjācaraņa-sampannang              Mahantang vītasāradang

Vijjācaraņa-sampannang              Buddhang vandāma gotamanti


Sujudku kepada Sang Buddha Vipassi,

Pemilik penglihatan dan keagungan.

Sujudku kepada Sang Buddha Sikhi,

Pengasih semua makhluk.

Sujudku kepada Sang Buddha Vessabhu,

Pembersih noda, pelaksana tapa.

Sujudku kepada Sang Buddha Kakusandha,

Penghancur Mara beserta bala tentaranya.

Sujudku kepada Sang Buddha Konagamana,

Penghanyut keburukan, pencapai kesucian.

Sujudku kepada Sang Buddha Kassapa,

Yang terbebas dari segala kilesa.

Sujudku kepada Sang Buddha Angirasa,

Putra Sakya nang Agung,

Yang telah membabarkan Dhamma ini,

Untuk melenyapkan semua dukkha.

Mereka-mereka yang mencapai padamnya kilesa di dunia ini,

Melihat dengan jelas Dhamma sebagaimana adanya;

Adalah orang-orang yang bukan penghasut,

Sebagai manusia besar, yang matang dalam kebijaksanaan.

Demi manfaat,

Para dewa dan manusia memuji Sang Buddha Gotama,

Yang sempurna pengetahuan dan tindak-tanduk-Nya,

Sebagai manusia besar yang matang dalam kebijaksanaan.

Kami bersujud kepada Sang Buddha Gotama,

Yang sempurna pengetahuan dan tindak-tanduk-Nya.

_______________________________________________

18. JAYA PARITTA


Jayanto bodhiyā mūle                   Sakyānang nandivaddhano

Evang tvang vijayo hohi              Jayassu jayamańgale

Aparājitapallańke                             Sīse paţhavipokkhare

Abhiseke sabbabuddhānang     Aggappatto pamodati.

Sunakkhattang sumańgalang   Supabhātang suhuţţhitang

Sukhaņo sumuhutto ca                 Suyiţţhang brahmacārisu.

Padakkhiņang kāyakammang  Vācākammang padakkhinang

Padakkhiņang manokammang  Paņidhi te padakkhinā

Padakkhiņāni katvāna                     Labhantatthe padakkhiņe.


Semoga Anda memperoleh berkah kejayaan ;

Sebagaimana Mahabijaksanawan

Yang berjaya atas Mara di bawah poho Bodhi,

Mencapai kejayaan yang unggul di antara para Buddha,

Yang berbahagia di atas tahta nan mulia dan tak terkalahkan,

Yang perkasa di maha pertiwi, pembawa suka-cita kaum Sakya.

Saat berbuat baik ; itulah neptu yang baik, berkah yang baik,

Fajar yang terang, bangun tidur yang ceria,

Waktu yang baik, saat yang baik,

Dan disebut telah memuja para suciwan dengan baik.

Setelah melakukan kebaikan-kebaikan , yaitu :

Bertindak baik,

Berucap baik,

Berpikir baik,

Berpengharapan baik,

Pahala-pahala baiklah yang akan diperoleh.

_______________________________________________

19. ABHAYA PARITTA



Yandunnimittang avamańgalañca,

Yo cāmanāpo sakuņassa saddo,

Pāpaggaho dussupinang akantang,

Buddhānubhāvena vināsamentu.

Yandunnimittang avamangalañca,

Yo cāmanāpo sakuņassa saddo

Pāpaggaho dussupinang akantang

Dhammānubhāvena vināsamentu.

Yandunnimittang avamangalañca

Yo cāmanāpo sakuņassa saddo

Pāpaggaho dussupinang akantang

Sańghānubhāvena vināsamentu.


Tanda-tanda jelek dan hal yang tak menyenangkan apa pun,

Juga suara-suara burung yang tak mengenakkan hati,

Si pembawa malapetaka, dan mimpi buruk yang tak dikehendaki ;

Berkat kekuatan Buddha, semoga semuanya lenyap.

Tanda-tanda jelek dan hal yang tak menyenangkan apa pun,

Juga suara-suara burung yang tak mengenakkan hati,

Si pembawa malapetaka, dan mimpi buruk yang tak dikehendaki ;

Berkat kekuatan Dhamma, semoga semuanya lenyap.

Tanda-tanda jelek dan hal yang tak menyenangkan apa pun,

Juga suara-suara burung yang tak mengenakkan hati,

Si pembawa malapetaka, dan mimpi buruk yang tak dikehendaki ;

Berkat kekuatan Sangha, semoga semuanya lenyap.

_______________________________________________

20. DEVATĀ-UYYOJANA GĀTHĀ



Dukkhappattā ca niddukkhā       Bhayappattā ca nibbhayā

Sokappattā ca nissokā                   Hontu sabbepi pāņino.

Ettāvatā ca amhehi                         Sambhatang puññasampadang

Sabbe devānumodantu                                Sabbasampatti-siddhiyā.

Dānang dadantu saddhāya          Silang rakkhantu sabbadā

Bhāvanābhirata hontu                   Gacchantu devatāgatā

Sabbe buddhā balappattā            Paccekānañca yang balang

Arahantānañca tejena                   Rakkhang bandhāmi sabbaso.


Semoga semua makhluk

Yang tertimpa duka terlepas dari duka ;

Yang tercekam ketakutan terbebas dari ketakutan ;

Yang terundung kesedihan terhindar dari kesedihan.

Semoga para dewa turut bersukacita

Atas timbunan kebajikan

Yang telah kami timbun sebanyak ini

Demi keberuntungan dan keberhasilan.

Berdanalah dengan penuh keyakinan!

Rawatlah Sila setiap saat!

Gemarlah mengembangkan batin!

Para dewa yang telah datang dipersilakan kembali!

Dengan kekuatan para Buddha

Beserta kekuatan para Pacceka Buddha,

Dan dengan daya para Arahanta seluruhnya ;

Aku membuat perlindungan.

________________________________________________

21. BUDDHAJAYAMAŃGALA GĀTHĀ



Bahung sahassama-bhinimmita-sāvudhantang

Grīmekhalang uditaghora-sasenamārang

Dānādi-dhammavidhinā jitavā munindo

Tantejasā bhavatu te jayamańgalāni.


Mārātirekama-bhiyujjhita-sabbaratting

Goram-panālavakamak-khamathaddha-yakhang

Khantīsudanta-vidhinā jitavā munindo

Tantejasā bhavatu te jayamangalāni.


Nālāgiring gajavarang atimattabhūtang

Dāvaggi-cakkamasanīva sudāruņantang

Mettambu-sekavidhinā jitavā munindo

Tantejasā bhavatu te jayamańgalāni.


Ukkhitta-khaggamatihattha-sudāruņantang

Dhāvan-tiyojana-pathańguli-mālavantang

Iddhī-bhisańkhata-mano jitavā munindo

Tantejasā bhavatu te jayamangalāni.


Katvāna kaţţhamu-darang iva gabbhinīyā

Ciñcāya duţţhavacanang janakāya-majjhe

Santena somavidhinā jitavā munindo

Tantejasā bhavatu te jayamańgalāni.


Saccang vihāya matisaccaka-vādaketung

Vādābhiropita-manang atiandha-bhūtang

Paññapadipa-jalito jitavā munindo

Tantejasā bhavatu te jayamańgalāni.


Nandopananda-bhujagang vibudhang mahiddhing

Puttena therabhujagena damāpayanto

Iddhūpadesa-vidhinā jitavā munindo

Tantejasā bhavatu te jayamańgalani.


Duggāha-diţţhi-bhujagena sudaţţha-hatthang

Brahmang visuddhi-jutimiddhi-bakābhidhānang

Ñāņāgadena vidhinā jitavā munindo

Tantejasā bhavatu te jayamańgalāni.


Etāpi buddha-jayamańgala-aţţhagāthā

Yo vācano dinadine sarate matandi

Hitvānaneka-vividhāni cupaddavāni

Mokkhang sukkhang adhigameyya naro sappañño.


Dengan seribu tangan yang masing-masing memegang senjata,

Dengan menunggang gajah Girimekhala ; Mara bersama pasukannya meraung menakutkan.

Raja para Bijaksanawan menaklukkannya dengan kebajikan,

Dana-paramita.

Dengan kekuatan ini semoga Anda mendapat berkah Kejayaan.

Lebih dari Mara yang membuat onar sepanjang malam

Adalah Yakkha Alavaka yang menakutkan, bengis dan beringas.

Raja para Bijaksanawan menaklukkannya dengan kesabaran.

Dengan kekuatan ini, semoga Anda mendapat berkah kejayaan.

Nalagiri, gajah mulia yang menjadi mabuk dan garang,

Sangat kejam bagaikan api hutan, bagai senjata cakra dan bak halilintar.

Raja para Bijaksanawan menaklukkannya dengan percikan cinta-kasih.

Dengan kekuatan ini semoga Anda mendapat berkah kejayaan.

Dengan pedang terhunus di tangan yang kokoh kuat,

Angulimala yang kejam, dengan berkalung untaian jari berlari mengejar sepanjang jalan tiga yojana.

Raja para Bijaksanawan menaklukkannya dengan kemampuan pikiran sakti yang mengagumkan.

Dengan kekuatan ini semoga Anda mendapat berkah Kejayaan.

Setelah memperbesar perutnya dengan potongan kayu laksana wanita hamil, Cinca memfitnah di tengah-tengah banyak orang.

Raja para Bijaksanawan menaklukkannya dengan keteguhan nan luhur, yakni kedamaian batin.

Dengan kekuatan ini, semoga Anda mendapat berkah kejayaan.

Saccaka, terbiasa berkata menyimpang dari kebenaran,

Dengan pikiran buta, mengibarkan pahamnya laksana panji.

Raja para Bijaksanawan menaklukkannya dengan terangnya pelita kebijaksanaan.

Dengan kekuatan ini, semoga Anda mendapat berkah kejayaan.

Nandopananda, naga berkesaktian tinggi berpengertian salah.

Raja para Bijaksanawan menaklukkannya dengan petunjuk kekuatan sakti kepada Moggalana Thera, menyuruh Sang Putra menjelma menjadi naga menjinakkannya.

Dengan kekuatan ini semoga Anda mendapat berkah kejayaan.

Bagaikan ular yang melilit lengan, demikian pandangan salah dimiliki oleh Brahma Baka yang sakti,

Yang beranggap diri bersinar cemerlang karena kescuian.

Raja para Bijaksanawan menaklukkannya dengan pengetahuan.

Dengan kekuatan ini semoga Anda mendapat berkah kejayaan.

Inilah delapan syair kemenangan sempurna Sang Buddha,

Yang patut dibaca dan direnungkan setiap hari tanpa rasa malas.

Setelah mengatasi aneka macam rintangan,

Orang bijaksana mencapai kebebasan dan kebahagiaan.

_______________________________________________

22. CULAMAŃGALACAKKAVĀLA GĀTHĀ



Sabbabuddhā-nubhāvena

Sabbadhammā-nubhāvena

Sabbasańghā-nubhāvena


Buddharatanang

Dhammaratanang

Sangharatanang

Tiņņang ratanānang ānubhāvena


Caturāsīti-sahassa-dhammakkhandhā-nubhāvena

Piţakattayānubbhavena

Jinasavakanubhāvena


Sabbe te rogā

Sabbe te bhayā

Sabbe te antarāyā

Sabbe te upaddavā

Sabbe te dunnimitā

Sabbe te avamańgalā vinassantu.


Āyuvaddhako

Dhanavaddhako

Sirivaddhako

Yasavaddhako

Balavaddhako

Vannavaddhako

Sukhavaddhako

Hotu sabbadā.


Dukkharogabhayā verā                 Sokā sattu cupaddavā

Anekā antarāyāpi                            Vinassantu ca tejasā.


Jayasiddhi dhanang lābhang       Sotthi bhāgyang sukhang balang

Siri āyu ca vanno ca                         Bhogang vuddhī ca yasavā

Satavassā ca āyū ca                         Jīvasiddhī bhavantu te.


Bhavatu sabbamańgalang            Rakkhantu sabbadevatā.

Sabbabuddhā-nubhāvena           Sadā sotthī bhavantu te.


Bhavatu sabbamańgalang            Rakkhantu sabbadevatā

Sabbadhammā-nubhāvena         Sadā sotthi bhavantu te.


Bhavatu sabbamańgalang            Rakkhantu sabbadevatā

Sabbasańgha-nubhāvena             Sadā sotthī bhavantu te.



Dengan kekuatan semua Buddha,

Dengan kekuatan semua Dhamma,

Dengan kekuatan semua Sangha ;

Dengan kekuatan ketiga Mustika :

Mustika Buddha,

Mustika Dhamma,

Mustika Sangha ;

Dengan kekuatan delapanpuluh empat ribu kelompok Dhamma,

Dengan kekuatan Tipitaka,

Dengan kekuatan siswa-siswa Sang Pemenang ;

Semoga semua penyakit,

Semua ketakutan,

Semua rintangan,

Semua musibah,

Semua tanda-tanda jelek,

Semua malapetaka Anda ;

Menjadi lenyap adanya.

Semoga Anda senantiasa berusia panjang,

Berkekayaan melimpah,

Berkemuliaan luhur,

Berkedudukan terhormat,

Berkekuatan besar,

Berparas bagus, dan

Berkebahagiaan dalam.

Semoga penderitaan, penyakit, rasa takut, permusuhan,

Kesedihan, seteru, musibah,

Serta segala macam rintangan apa pun ;

Semua lenyap berkat kekuatan ini.

Semoga kemenangan, keberhasilan, harta, keuntungan,

Keselamatan, keberuntungan, kebahagiaan, kekuatan,

Kemakmuran, panjang umur, paras bagus,

Kesejahteraan, kemajuan, kedudukan,

Usia seratus tahun, dan keberhasilan hidup ;

Ada pada Anda.

Semoga jadilah semua berkah kebaikan.

Semoga semua dewa melindungi.

Dan, dengan kekuatan semua Buddha,

Semoga kesejahteraan selalu ada pada Anda.

Semoga jadilah semua berkah kebaikan.

Semoga semua dewa melindungi.

Dan, dengan kekuatan semua Dhamma,

Semoga kesejahteraan selalu ada pada Anda.

Semoga jadilah semua berkah kebaikan.

Semoga semua dewa melindungi.

Dan, dengan kekuatan semua Sangha,

Semoga kesejahteraan selalu ada pada Anda.

__________________________________________

Demikianlah, saudara-saudari se-Dhamma. Marilah kita mempraktikkan Dhamma dengan sebaik-baiknya. Menguncarkan Paritta dengan baik dan benar adalah merupakan salah satu praktik Dhamma yang menunjang ketenangan dan kejernihan batin kita , mengkondisikan bagi berbuahnya kamma-kamma baik masa lampau dan menghambat bagi berbuahnya kamma-kamma buruk kita di waktu lalu.

Semoga Membawa Manfaat 😉

______________________________________________

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )


Upacarika RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Sabtu, 31 Oktober 2009

Posted in Acara Ummat Buddha, Berita Buddhis, BUDDHA, Upacara Keagamaan | 10 Comments »

ACARA RAPAT TRIWULANAN GABUNGAN PD & PC MAGABUDHI WILAYAH JAWA-TENGAH

Posted by ratanakumaro pada Oktober 26, 2009

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattum (3X) )

Namatthu Buddhassa,

Pembukaan ; Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

Pembukaan ; Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

Salam hangat untuk rekan-rekan se-Dhamma di manapun anda berada. Sungguh merupakan suatu kebahagiaan berjumpa lagi dengan anda-anda semua. Kali ini, saya menyapa anda-anda semua dengan sebuah artikel laporan acara “Rapat Triwulanan Gabungan PD & PC MAGABUDHI ( Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia )  Wilayah Jawa-Tengah” yang diselenggarakan pada hari Minggu, tanggal 25 Oktober 2009 di kantor Pengurus Daerah MAGABUDHI Wilayah Jawa-Tengah di Vihara Tanah-Putih Semarang.

pembukaan2

Khusyuk membaca Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

Acara ini dihadiri oleh perwakilan Romo dan Ramani ( Romo Wanita ) dari seluruh wilayah Jawa-Tengah ; yang terdiri dari para Upacarika, Pandhita Muda dan para Pandhita Madya.  Saya sendiri, hadir mewakili PC MAGABUDHI Vihara Tanah-Putih Semarang bersama dengan rekan saya, Romo Vijayo. Keanggotaan saya dalam jajaran Romo-Romo MAGABUDHI secara resmi telah disahkan oleh Pengurus Pusat (PP) MAGABUDHI semenjak tanggal 02 Agustus 2009, dengan nomor keanggotaan : 2768/JTG/Upc/2009 , dengan jabatan : Upacarika ( dengan wewenang untuk memimpin Upacara Kebaktian, dan Upacara Keagamaan lainnya ).

Total peserta yang hadir dan mengikuti acara hingga selesai kurang-lebih adalah 20 orang yang terdiri dari Romo dan Ramani Magabudhi wilayah Jawa-Tengah.

pembukaan3

menguncarkan Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

Topik yang dibahas dalam Rapat Triwulanan Gabungan PD & PC MAGABUDHI Wilayah Jawa-Tengah kali ini adalah =

1. Evaluasi Program Kerja Pelatihan Pembacaan Palivacana.

2. Sosialisasi tentang Tata-cara Perkawinan dalam Agama Buddha dan Sosialisasi UU. No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan PP No.9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan.

3. Agenda Program Kerja tahun 2010 : Diskursus tentang Arti dan Penggunaan Paritta, yang akan dibimbing oleh YM. Bhante Dhammadiro Maha-Thera.

Acara Rapat MAGABUDHI ini, dimulai jam 10.30 WIB. Sebenarnya, dalam undangan yang disebarkan, rapat akan dimulai pada pukul 09.00 WIB, namun dikarenakan para pengurus cabang dari daerah-daerah mengalami kendala dalam tranpsortasi, sehingga acara menjadi diundur dan dimulai jam 10.30 WIB. Meski, pada jam tersebut, masih banyak pula pengurus-pengurus cabang Magabudhi wilayah Jawa-Tengah yang belum hadir.

Romo Warto & Romo Sugianto

Romo Warto (kiri) & Romo Sugianto (kanan)

MAGABUDHI Wilayah Jawa-Tengah terdiri dari tiga-puluh (30) Pengurus Cabang. Hampir seluruh wilayah Kabupaten / Kota bisa ditemukan pengurus cabang Magabudhi ; kecuali di wilayah Purbalingga, Sragen, dan Pemalang yang hingga kini belum ada perwakilan Magabudhi disana.

SESI PERTAMA

Sesi ini diisi dengan topik Evaluasi Program Kerja Pelatihan Palivacana yang telah diselenggarakan oleh Pengurus Magabudhi beserta seluruh elemen “Keluarga Buddhis Theravada Indonesia” ( KBTI ) selama tahun 2009 ini.

Sesi ini menjadi cukup seru, karena diawali dengan penjelasan dari Romo Sugianto , bahwa di lapangan sering dijumpai hal-hal “mistis” sehubungan dengan pembacaan Paritta, terutama Paritta “DEVATA-ARADHANA” .

Romo Sugianto

Romo Sugianto

Paritta “DEVATA-ARADHANA” ini , memang merupakan paritta khusus yang diuncarkan untuk mengundang seluruh Dewa dari segala penjuru alam-semesta, termasuk para Brahma, para dewa yang bersemayam di surga, yang berdiam di alam kamadhatu, juga para Dewa Bumi yang bersemayam di vimana atau di puncak gunung, di jurang, di angkasa, di pulau, di kota, di desa, di pepohonan, di hutan belukar, di sekitar rumah, atau di sawah-ladang, juga mengundang para Yakkha, Gandhabba, dan Naga yang bersemayam di perairan, di daratan, atau pun di perbukitan ; mereka semua di undang dengan tujuan untuk bersama-sama dengan khusyuk mengikuti jalannya Puja-Bhakti dan mendengarkan Dhamma yang dibabarkan Sang Buddha demi berkah kesejahteraan dan keselamatan bersama.

sessi I ; sharing dan tanya-jawab seputar Paritta

sessi I ; sharing dan tanya-jawab seputar Paritta

Masing-masing Romo dan Ramani mulai menceritakan kisah-kisah pengalaman mistisnya masing-masing. Saya sendiri memilih untuk menjadi pendengar yang baik saja 😉  ,   sembari terkadang menjawab pertanyaan dari rekan saya dari PC MAGABUDHI Vihara Tanah-Putih Semarang, yaitu Romo Vijayo.

Satu pertanyaan yang sempat muncul adalah, bila dengan Devata-Aradhana kita semua mengundang para Dewa dan Brahma , maka, bagaimana cara mempersilakan pulang kepada para Dewa dan Brahma, bila  acara puja-bhakti / atau acara keagamaan lainnya yang dilangsungkan tersebut telah selesai dilaksanakan ? Dalam kesempatan ini, saya berkesempatan menjawab pertanyaan tersebut, dengan menunjukkan adanya satu Gatha ( dimana jawaban saya tersebut semakin ditegaskan / dikonfirmasikan pula oleh Romo Pdt.Mdy. Warto ( Wakil Ketua Magabudhi PD Jawa-Tengah )  yang menunjukkan Gatha tersebut dalam Paritta ) yang sebaiknya dibaca untuk mempersilakan para Dewa, Brahma, Yakkha, Gandhabba, Naga, untuk kembali ke alamnya masing-masing.  Gatha yang baik dibaca untuk keperluan ini adalah “DEVATA-UYYOJANA GATHA”. Dalam terjemahan Gatha tersebut, ada satu kalimat yang dengan explisit menyatakan , “.. Para dewa yang telah datang dipersilakan kembali!” .  Dan setelah dibacakan “Devata-Uyyojana Gatha” tersebut, para Dewa, Brahma, termasuk para Dewa-Bumi, Yakkha, Gandhabba, Naga, akan berurutan kembali ke alam mereka masing-masing.

Romo Vijayo PC Magabudhi Vihara Tanah Putih Semarang

Romo Vijayo PC Magabudhi Vihara Tanah Putih Semarang

SESI II

Acara sharing mengenai pengalaman membaca Paritta ini terus bergulir cukup lama, hingga kurang lebih jam 11.45 WIB topik baru berganti ke topik berikutnya, yaitu membahas mengenai ” Sosialisasi tentang Tata-cara Perkawinan dalam Agama Buddha dan Sosialisasi UU. No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan PP No.9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan” .

Romo Sugiyanto menerangkan tentang Surat Keterangan Nikah dari Magabudhi

Romo Sugianto menerangkan tentang Surat Keterangan Nikah dari Magabudhi

Disini Romo Sugianto memberi penjelasan, bahwa di masa lalu banyak terjadi kesalahan, yaitu pasangan suami-istri Buddhis yang setelah menikah tidak dicatat di dalam Kantor Pencatatan-Sipil, tetapi hanya sekedar dinikahkan oleh Pandhita. Sehingga, mereka tidak mempunyai keterangan resmi dari negara bahwa mereka adalah pasangan yang telah benar-benar menikah dan sah secara negara ; artinya mereka hanya sah secara agama.

Untuk itulah, Romo Sugianto mensosialisasikan, bahwa mengenai hak bagi ummat Buddha yang menikah untuk dicatat dalam Kantor Pencatatan Sipil Pemda setempat, telah diatur dalam UU No.1 tahun 1974 dan PP No.9 tahun 1975.

Romo Sugiyanto mensosialisasikan Surat Keterangan Nikah yang diterbitkan Magabudhi

Romo Sugianto mensosialisasikan Surat Keterangan Nikah yang diterbitkan Magabudhi

Dikarenakan telah terlanjur banyak pasangan suami-istri Buddhis yang menikah dan beranak-cucu tetapi belum dicatat dalam Kantor Pencatatan-Sipil Pemda setempat, maka, Magabudhi Jawa-Tengah berencana membuat program “Kawin-Massal” bagi para pasangan suami-istri dari puluhan tahun yang lalu yang telah beranak-cucu namun belum mendapat surat keterangan resmi dari negara.

Dalam kesempatan ini pula, Romo Sugianto mensosialisasikan adanya Akta khusus yang akan diterbitkan oleh pengurus-pengurus cabang Magabudhi bagi para pasangan suami-istri yang menikah. Akta ini sah dan resmi secara agama, sebab resmi dikeluarkan oleh Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia ( MAGABUDHI ), dimana di dalam akta tersebut secara resmi pula diketahui oleh Pandhita yang menikahkan dan ditandatangani oleh Pengurus Cabang setempat.

SESI III

Setelah selesai membahas topik II ini, acara berlanjut kepada pembahasan topik III , yaitu ” Agenda Program Kerja tahun 2010 : Diskursus tentang Arti dan Penggunaan Paritta, yang akan dibimbing oleh YM. Bhante Dhammadiro Maha-Thera “ yang memang ahli dalam bahasa Pali ( Beliau menempuh pendidikannya di Thailand hingga level 7 ).

Program kerja tersebut merupakan kelanjutan dari program kerja yang sebelumnya ( Pelatihan Pembacaan Palivacana ).  Pelatihan-pelatihan seperti ini merupakan keuntungan bagi ummat Buddha, sebab dengan begini ummat Buddha bisa mengetahui bagaimana cara membaca Paritta dengan baik dan benar sesuai yang seharusnya serta mengetahui manfaat-manfaat dari masing-masing khotbah Sang Buddha yang dibaca / atau diuncarkan tersebut.

ISTIRAHAT MAKAN SIANG DAN PENUTUPAN

Selesai pembahasan ketiga topik rapat tersebut, barulah masuk pada sesi istirahat dan makan siang, kurang lebih jam 13.00 WIB.

Istirahat dan Makan Siang jam 13.00 WIB

Istirahat dan Makan Siang jam 13.00 WIB

Selesai makan, acara memasuki sesi penutupan, dengan mereview pokok-pokok yang telah dibahas selama rapat berlangsung. Dalam kesempatan ini juga diambil kesepakatan bersama mengenai format Surat Keterangan Perkawinan yang akan diterbitkan oleh pengurus Magabudhi bagi para pasangan suami-istri Buddhis ; dimana format akta yang sebelumnya hanya berisi tanda-tangan dari Pandhita yang menikahkan saja, semenjak hari Minggu 25 Oktober 2009 tersebut disepakati akan ditambahkan pembubuhan tanda-tangan / atau diketahui oleh pengurus cabang Magabudhi setempat.

Acara rapat triwulanan gabungan PD & PC MAGABUDHI Wilayah Jawa-Tengah ini ditutup dengan menguncarkan Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara yang dipimpin oleh Romo Pandhita Madya Sugianto.

Akhir Acara ; Menguncarkan Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

Akhir Acara ; Menguncarkan Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

SEKILAS MAGABUDHI

Sedikit saya tambahkan disini, bagi ummat Buddha yang berminat untuk bergabung dalam Magabudhi, bisa menghubungi kepengurusan cabang setempat dan mendaftarkan diri. Segala informasi bisa diperoleh dari pengurus cabang setempat. Setelah bergabung, maka proses / tingkatan-tingkatan yang akan ditempuh adalah :

1). Menjadi seorang Upacarika ( dengan syarat bahwa sebelumnya ia telah di-wisudi sebagai Upasaka / Upasika ) dengan wewenang memimpin Upacara Kebaktian dan Upacara Keagamaan lainnya. Jabatan ini harus dijalani selama 2 tahun, sebelum akhirnya nanti mengikuti “up-grading” menjadi Pandhita Muda.

2). Setelah melalui masa jabatan sebagai Upacarika dan mengikuti Up-grading dengan pelatihan-pelatihan formal yang diselenggarakan oleh Magabudhi, maka seorang Romo akan naik tingkat menjadi Pandhita Muda. Jabatan sebagai Pandhita Muda ini akan ditempuh selama 5 (lima) tahun masa jabatan.

3). Setelah 5 (lima) tahun menjabat sebagai Pandhita Muda, maka seorang Romo bisa menaiki jenjang berikutnya menjadi seorang Pandhita Madya, tentunya melalui proses “up-grading” berikutnya yang diadakan secara formal dan resmi oleh Magabudhi.

4). Setelah 5 (lima) tahun menjabat sebagai Pandhita Madya, maka seorang Romo bisa menaiki jenjang berikutnya menjadi seorang Pandhita ( penuh ).

Organisasi Magabudhi ini adalah organisasi tempat ummat Buddha mengabdi pada Buddha-Dhamma-Sangha ; menjadi seorang Dhammadutta. Menurut keterangan dari Romo Pandhita Madya Sugianto ( Ketua PD MAGABUDHI Jawa-Tengah ),  bahwa yang bisa secara resmi disebut sebagai Pemuka Agama Buddha Theravada dalam kaitannya dengan hubungan-masyarakat, dan hubungannya dengan Pemerintah, adalah para Romo dan Ramani ( Romo perempuan ) yang telah secara resmi tergabung dalam Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia ( MAGABUDHI ) ini. Tugas para Romo dan Ramani ini adalah membantu para Bhikkhu dalam membina ummat dan hubungan kemasyarakatan legal-formal ; para Bhikkhu, meskipun terutama sebagai “ujung-tombak” dari ummat Buddha dan Buddha-Dhamma itu sendiri, namun tentunya sudah tidak pada porsinya untuk terlalu disibukkan dengan urusan-urusan administratif  yang bersifat keduniawian.  Kurang lebih, demikian yang saya tangkap dari pemaparan Romo Pandhita Madya Sugianto.

Demikianlah, laporan yang bisa saya tuliskan berkaitan dengan acara Rapat Triwulanan Gabungan PD & PC MAGABUDHI Wilayah Jawa-Tengah yang diadakan pada hari Minggu 25 Oktober 2009 kemarin. Semoga, laporan acara ini bermanfaat bagi ummat Buddha dimanapun anda berada.

_________________________________________________

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )


Upacarika RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Senin, 26 Oktober 2009

Posted in Acara Ummat Buddha, Berita Buddhis, BUDDHA, Diskusi Ummat Buddha | 11 Comments »

KADO ULTAH KE-1 DARI LOVEPASSWORD : E-BOOK BLOG RATNA KUMARA

Posted by ratanakumaro pada September 28, 2009

Namo Buddhaya,

Dear All,

Terimakasih saya ucapkan kepada sahabat Lovepassword, atas kebaikannya mau meluangkan waktu untuk membuat sebuah E-Book yang berisi  artikel2 di blog Ratna Kumara ini dari bulan september 2008 s/d artikel “Lamanya Waktu yang Dibutuhkan untuk Menjadi Seorang Buddha”, plus beserta komentar2 pengunjung. ( sehingga, artikel2 setelah “Lamanya Waktu yang Dibutuhkan…dst.” belumlah terinput dalam E-Book tersebut ).

Sungguh sebuah hadiah ulang-tahun yang sangat indah bagi blog Ratna Kumara yang kurang lebih sekarang ini sudah berusia 1 tahun.

Untuk rekan2 yang berminat, bisa mendownload E-Book tersebut di alamat ini =

E-BOOK BLOG RATNA-KUMARA

Semoga, isi tulisa2n didalam E-Book tersebut bermanfaat bagi setiap pembaca yang berminat mempelajari Buddha-Dhamma mazhab Theravada.

Selain E-BOOK tersebut diatas, masih ada DUA E-BOOK lagi yang sebaiknya anda miliki juga.

Yang pertama merupakan e-book berisi sumbangan pengetahuan dari sahabat lovepassword yang pasti akan sangat bermanfaat untuk kita semua 😉    :

E-BOOK :  CARA MEMBUAT E-BOOK

Dan, yang kedua adalah sebuah e-book berisi edisi revisi dari artikel “Tuhan “Yang-Maha…” dimata Seorang Buddha” dari blog Ratna-Kumara ini juga  ( artikel ini di-revisi setelah E-Book blog Ratna-Kumara jadi, sehingga di dalam E-book blog Ratna Kumara tersebut artikkel edisi revisi ini belum dimasukkan kedalamnya. Sebaiknya anda juga memiliki e-book artikel ini 😉   ) :

“E-BOOK :  TUHAN “YANG-MAHA…” DIMATA SEORANG BUDDHA” [Edisi Revisi]

Pada kesempatan ini juga, saya, selaku penulis / peng-upload artikel2 tersebut, mohon maaf bila banyak informasi yang kurang memuaskan. Terkadang, karena kurangnya pengalaman dalam menulis, saya lupa mencantumkan sumber pustaka.Namun, untuk artikel2 bulan2 / tahun terakhir, sudah senantiasa saya sertai dengan sumber-pustaka.

Sekali lagi, tak lupa saya ucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada sahabat Lovepassword atas kebaikannya ini. Semoga, karma baiknya ini mengkondisikan bagi berbuahnya karma-karma baiknya diwaktu lalu.

Salam Metta ( Cinta-kasih ) dan Karuna ( Kasih-sayang ),

Ratana Kumaro.

Posted in BUDDHA | 21 Comments »

SIDDHATTHA GOTAMA : Kelahiran, Remaja, dan Titik Balik Kehidupan-Nya

Posted by ratanakumaro pada September 25, 2009

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa”

( Tikkhattum ; 3x )

____________________________________________

<< Sebelumnya ( Baca Artikel Pertama ini)

<< Sebelumnya ( Baca Artikel Kedua ini)

[ Sumber : Riwayat Agung Para Buddha (The Great Chronicle of Buddhas), karya Tipitakadhara Mingun Sayadaw (Myanmar) ; Ehipassiko Collection dan Girimangala publications]

DEWA SETAKETU : BODDHISATTA KITA

Boddhisatta Dewa Setaketu

Boddhisatta Dewa Setaketu

Setelah melengkapi dirinya dengan Dasa-Paramita ( Sepuluh Kesempurnaan ) pada kehidupan terakhirnya sebagai (seorang manusia ) Pangeran Wessantara, Boddhisatta kita terlahir di alam surga Tusita bernama Dewa Setaketu. Dewa Setaketu, Bakal Buddha Gotama kita, menikmati kebahagiaan surgawi di surga Tusita selama 4.000 tahun surgawi yang sama dengan 576.000.000 ( lima ratus tujuh puluh enam juta ) tahun manusia. Kemudian, 1.000 tahun manusia sebelum kehidupannya di Surga Tusita berakhir, para Brahma dari alam Suddhavassas berseru,”Teman-teman! Seribu tahun dari sekarang, akan muncul seorang Buddha di alam manusia!”

Mendengar seruan yang memberitakan tentang akan munculnya seorang Buddha, semua raja dewa dari sepuluh ribu alam semesta, seperti Catummaharajika, Sakka, Suyama, Santusita, Sunimitta, Vasavatti dan semua Maha-Brahma berkumpul di suatu alam tertentu untuk mendiskusikan mengenai Bakal-Buddha yang usianya tinggal tujuh hari lagi, dan yang sedang mendekati ajalnya dan telah melihat lima tanda-tanda ( pubbanimitta ). Kemudian mereka semua mendatangi Dewa Setaketu dengan beranjali dan memohon :

“O, Boddhisatta Dewa, Engkau telah memenuhi Sepuluh Kesempurnaan, bukan untuk memberoleh kebahagiaan Sakka, Mara, Brahma, atau Raja Dunia. Engkau memenuhi Kesempurnaan ini dengan cita-cita hanya untuk mencapai Ke-Buddha-an, agar memperoleh Kebebasan, juga untuk membebaskan makhluk-makhluk lain, manusia, dewa dan Brahma. O, Boddhisatta dewa, ini adalah waktu yang paling tepat bagi-Mu untuk menjadi Buddha, inib enar-benar waktu yang tepat untuk menjadi Buddha! Oleh karena itu, sudilah Engkau masuk ke rahim ibu-Mu di alam manusia. Setelah mencapai Pencerahan-Sempurna, semoga Engkau juga membebaskan manusia, dewa, dan Brahma dari samsara dengan mengajarkan Dhamma Keabadian, Nibbana.”

Dewa Setaketu tidak segera menyetujui permohonan para Dewa tersebut, namun melakukan penyelidikan atas kelima hal sebagaimana juga dilakukan oleh para Boddhisatta-Dewa terdahulu, yaitu :

  1. Waktu yang tepat bagi munculnya seorang Buddha.
  2. Benua yang cocok bagi munculnya seorang Buddha.
  3. Negeri yang tepat bagi munculnya seorang Buddha.
  4. Keluarga dimana Boddhisatta (dalam kelahiran terakhirnya) akan dilahirkan, dan
  5. Umur kehidupan dari bakal ibu Boddhisatta.

Setelah menyelidiki kelima hal tersebut, Boddhisatta Dewa Setaketu memutuskan,”Aku akan turun ke alam manusia dan menjadi Buddha.” Kemudian, Boddhisatta melanjutkan pernyataannya,”O,Dewa dan Brahma, sekarang adalah saatnya bagi-Ku untuk menjadi Buddha seperti permohonan kalian, Anda sekalian boleh pergi sekarang ; Aku akan turun ke alam manusia untuk mencapai ke-Buddha-an.”

Setelah menyatakan hal itu, Boddhisatta Dewa Setaketu melangkah masuk ke Taman Nandavana ( sebuah taman surgawi yang sangat megah dan menyenangkan ). Setelah memasuki Taman Nandavana, para pengikutnya, para dewa laki-laki dan perempuan berkata kepadanya,”Setelah meninggal dari alam dewa ini, semoga Engkau terlahir di alam yang baik, tempat tujuan makhluk-makhluk yang memiliki banyak kebajikan!” Demikian, para dewa menyertai Boddhisatta Dewa Setaketu di Taman Nandavana sembari meminta-Nya untuk merenungkan kebajikan-kebajikan yang pernah dilakukannya pada masa lalu. Mereka mengelilingi Boddhisatta. Ketika Boddhisatta sedang berkeliling di Taman diiringi oleh para Dewa , saat kematian-Nya tiba.

MIMPI RATU MAHAMAYA : CALON IBUNDA BODDHISATTA KITA

Mimpi ratu Mahamaya

Mimpi ratu Mahamaya

Bersamaan dengan saat kematian Boddhisatta Dewa Setaketu, Siri Mahamaya, permaisuri Raja Suddhodana dari kerajaan Kapilavatthu sedang menikmati kebahagiaan istana. Saat Permaisuri sedang menjalankan Delapan Sila dan berbaring di atas dipan yang indah, pada jaga terakhir di malam purnama itu, Siri Mahamaya jatuh tertidur dan bermimpi, yang merupakan pertanda masuknya Boddhisatta kedalam rahimnya. Mimpinya adalah sebagai berikut :

“Empat Dewa Catummaharajika mengangkat dan membawanya bersama tempat tidurnya ke Danau Anotatta di Pengunungan Himalaya. Kemudian ia dibaringkan di atas batu datar berukuran enam puluh yojana di bawah keteduhan pohon Sala yang tingginya tujuh Yojana.

Setelah itu, para permaisuri dari Empat Raja Dewa tersebut datang dan membawa ratu ke danau dan memandikannya sebersih mungkin. Kemudian mereka memakaikan pakaian surgawi kepadanya serta mendandaninya dengan kosmetik surgawi; mereka juga meriasnya dengan bunga-bunga surgawi. Kemudian ia dibaringkan dengan kepalanya menghadap ke timur di dalam sebuah kamar dari sebuah istana emas di dalam gunung perak tidak jauh dari danau tersebut.

Pada saat itu dalam mimpinya, ia melihat seekor gajah putih bersih sedang berjalan-jalan di gunung emas tidak jauh dari gunung perak dimana ia berada di dalam istana emasnya. Kemudian gajah putih tersebut turun dari gunung emas, naik ke gunung perak dan memasuki istana emas. Gajah putih tersebut kemudian mengelilingi ratu ke arah kanan dan kemudian masuk ke rahimnya dari sebelah kanan.”

Pada saat sedang bermimpi, Boddhisatta Dewa Setaketu sedang berkeliling di Taman Nandavana di Surga Tusita, menikmati pemandangan dan suara yang indah; pada saat itulah Bliau meninggal dunia dari Alam Tusita dengan penuh kesadaran. Pada saat itu juga Boddhisatta masuk ke rahim yang mirip teratai  milik Permaisuri Ratu Mahamaya , dengan kesadaran agung. Peristiwa ini terjadi pada hari Kamis pagi pada hari purnama di bulan Asalha tahun 67 Maha Era, penanggalan yang ditetapkan oleh Raja Anjana, kakek Boddhisatta. Peristiwa ini ditandai dengan peristiwa bulan dan bintang Uttarasalha berada dalam posisi segaris ( Tanggal dan tahun memasuki rahim dan kelahiran Boddhisatta yang disebutkan disini disesuaikan dengan perhitungan ilmu astrologi dan ilmu sejarah raja-raja. )

Bersamaan dengan saat Boddhisatta memasuki rahim, terjadi gempa bumi dahsyat. Sepuluh ribu alam-semesta berguncang dalam enam arah :

  1. Belahan bumi di timur naik dan di barat turun
  2. Belahan bumi di barat naik dan di timur turun
  3. Belahan bumi di utara naik dan di selatan turun
  4. Belahan bumi di selatan naik dan di utara turun
  5. Belahan bumi di tengah naik dan di sekeliling turun
  6. Belahan bumi di sekeliling naik dan di tengah turun

Selanjutnya, juga terjadi tiga-puluh-dua (32) fenomena ghaib yang biasanya terjadi saat Boddhisatta memasuki rahim dalam kehidupan terakhirnya , yaitu diantaranya ; 1). Cahaya gilang-gemilang bersinar di sepuluh ribu alam-semesta, 2) Mereka yang buta menjadi dapat melihat saat itu juga jika mereka ingin melihat keagungan Boddhisatta, 3). Mereka yang tuli dapat mendengar pada saat itu juga, 4).  Kuda-kuda meringkik dengan suara yang menyenangkan, 5). Hujan turun dengan derasnya, 6). Segala penjuru dipenuhi dengan bunga-bunga teratai dalam tiga warna, dan lain-lainnya.

Sewaktu Ratu Siri Mahamaya bangun, ia menceritakan mimpinya kepada Raja Suddhodana. Keesokan paginya, Raja Suddhodana memanggil enam-puluh-empat (64) Brahmana pandai. Setelah melayani mereka dengan makanan dan lain-lain dan memberikan penghormatan pada mereka, Raja Suddhodana menceritakan mimpi ratu kepada para Brahmana dan bertanya,”Apakah arti mimpi tersebut? Baik atau buruk? Pelajari dan katakan padaku pendapatmu.”

Para Brahmana menjawab,”Raja besar, jangan cemas. Ratu sekarang telah hamil. Janin di dalam rahimnya adalah anak laki-laki bukan perempuan. Engkau akan memiliki seorang putra. Jika ia memutuskan untuk menjalani kehidupan kerajaan, ia akan menjadi raja dunia yang menguasai empat benua. Jika ia meninggalkan kehidupan rumah-tangga dan menjadi petapa, ia akan menjadi Buddha yang menghancurkan akar kotoran batin di tiga alam.”

Demikianlah, dan Ratu Mahamaya pun kemudian dijaga/dilindungi oleh para Dewa Catummaharajika, yaitu Vessavana serta yang lainnya yang hidup di alam semesta ini, memasuki kamar agung Ratu Siri Mahamaya dan memberikan perlindungan siang dan malam.

KELAHIRAN BODDHISATTA

Lahirnya Boddhisatta

Lahirnya Boddhisatta

Usia kehamilan bagi perempuan selain Ibu seorang Boddhisatta, umumnya tidak pasti, bisa kurang dari sepuluh bulan ( 9 bulan 10 hari ), bisa juga lebih dari sepuluh bulan. Juga, mereka tidak tahu pasti kapan bayinya akan terlahir. Bayi mereka akan terlahir pada waktu yang tidak terduga dalam satu dari empat postur, berbaring, duduk, berdiri atau berjalan.

Namun tidak demikian dengan Ratu Mahamaya yang mengandung seorang Boddhisatta. Masa kehamilannya tepat sepuluh bulan atau 295 hari sejak hari pertama kehamilan. Seorang Boddhisatta terlahir sewaktu ibu sedang dalam postur berdiri. Ketika terlahir, ia bersih tanpa noda bagaikan batu delima yang diletakkan di atas kain tenunan dari Kasi.

Ketika Ratu Mahamaya sampai pada tahap akhir dari kehamilannya, Ratu merasakan keinginannya untuk mengunjungi Devadaha, tempat tinggal sanak saudara kerajaannya. Ia memohon restu dari Raja Suddhodana dan Raja pun merestuinya.

Raja melakukan persiapan dengan megah. Setelah persiapan selesai,Raja mendudukkan Sang Ratu di dalam tandu emas baru yang diangkat oleh seribu prajurit istana, dengan dikawal oleh para pengawal dan pelayan untuk melakukan berbagai tugas selama dalam perjalanan. Dengan kemegahan dan kemuliaan demikian, Sang Ratu berangkat menuju Kota Devadaha.

Di antara Kapilavatthu dan Devadaha, terdapat hutan pohon Sala yang dinamakan Taman Lumbini, yang merupakan tempat rekreasi bagi orang-orang dari kedua kerajaan. Ketika Mahamaya Dewi sampai disana, semua pohon Sala di hutan itu berbunga dari bawah pohon hingga pucuknya. Menyaksikan taman Lumbini dengan segala keindahannya Mahamaya Dewi merasakan keinginan untuk bersantai dan beristirahat di dalamnya. Raja Suddhodana pun mengabulkan permohonan Sang Ratu.

Pada saat Mahamaya Dewi memasuki taman, semua dewa berseru yang gemanya menembus sepuluh ribu alam semesta, “Hari ini Boddhisatta akan terlahir dari kamar teratai rahim ibu-Nya.” Para dewa dan Brahma dari sepuluh ribu alam semesta berkumpul di alam semesta ini, mereka membawa berbagai macam harta benda yang indah sebagai penghormatan dalam kelahiran boddhisatta. Langit surga ditutupi oleh payung putih surgawi dan terompet kulit kerang pun ditiup.

Segera setelah Mahamaya Dewi memasuki Taman Lumbini, ia merasakan desakan untuk meraih dahan sebatang pohon Sala yang sedang mekar penuh, batangnya bulat dan lurus.Seolah-olah bergerak, dahan tersebut merunduk dengan sendirinya seperti tongkat rotan yang lunak karena dipanaskan, sehingga dahan tersebut menyentuh telapak tangan Ratu, sebuah peristiwa ghaib yang menggemparkan.

Dengan berpegangan pada dahan pohon Sala, Ratu Mahamaya berdiri dengan anggun dengan berpakaian dari bahan kain broklat berbenang emas dan selendang bersulamkan hiasan-hiasan indah berwarna putih yang mirip mata ikan yang menutupi sampai ujung jari kakinya. Pada saat itu ia merasakan tanda-tanda kelahiran. Para pelayannya buru-buru membentuk lingkaran dan menutupi area tersebut dengan tirai.

Pada saat itu, tiba-tiba sepuluh ribu alam semesta bersama-sama dengan samudera raya bergolak, berguncang dan berputar bagaikan roda pembuat tembikar. Dewa dan Brahma berseru gembira dan menyiramkan bunga-bunga dari angkasa; segala alat musik secara otomatis memainkan lagu-lagu yang indah dan merdu. Seluruh alam semesta menjadi terlihat cerah dan jernih tanpa halangan di semua arah. Fenomena-fenomena ajaib ini yang seluruhnya berjumlah tiga-puluh-dua (32) terjadi menyambut kelahiran Boddhisatta.

Bagaikan permata indah yang melayang keluar dari puncak Gunung Vepulla, melayang-layang kemudian turun perlahan-lahan di atas tempat yang telah dipersiapkan, demikianlan Boddhisatta yang berhiaskan tanda-tanda fisik besar dan kecil dilahirkan bersih dan suci dari rahim teratai yang mirip stupa milik Mahamaya Dewi, pada hari Jumat, malam purnama di bulan Vesakha, bulan musim panas di tahun 68 Maha Era, ketika bulan dalam posisi segaris dengan bintang Visakha.

Pada saat kelahiran Boddhisatta, dua mata air, hangat dan dingin mengalir dari angkasa dan jatuh di tubuh Boddhisatta yang memang telah bersih dan suci dan tubuh ibunya sebagai penghormatan, mereka dapat menyesuaikan panas dan dingin dari air tersebut yang jatuh ke tubuh mereka.

Empat Maha-Brahma yang telah bebas dari nafsu indriya adalah yang pertama menerima Boddhisatta di atas sebuah jaring emas pada saat kelahiran. Kemudian mereka meletakkannya di depan sang ibu dan berkata,”Ratu, bergembiralah, seorang putra yang penuh kekuasaan telah engkau lahirkan.”

Kemudian empat raja dewa menerima Boddhisatta dari tangan empat Maha-Brahma di atas sehelai kulit rusa hitam seolah-olah benda yang sangat berharga. Kemudian manusia menerima Boddhisatta dari tangan empat raja dewa di atas sehelai kain putih.

BAYI SIDDHATTA GOTAMA BERJALAN TUJUH LANGKAH DAN MENGUCAPKAN SERUAN BERANI

Kemudian, setelah turun dari tanan manusia, Boddhisatta berdiri tegak di atas kedua kaki-Nya yang seolah-olah mengenakan sepatu emas, dan menginjak tanah dengan mantap, Ia memandang timur dan pada saat itu, ribuan alam semesta di sebelah timur terlihat jelas dalam posisi segaris tanpa ada halangan apa pun diantaranya. Para Dewa dan manusia di sebelah timur memberi hormat pada Boddhisatta dengan wangi-wangian, bunga dan lain-lain dan berkata,”O, Manusia Mulia, tidak ada makhluk apa pun di sebelah timur yang dapat menyamai-Mu. Mungkinkah ada yang melebihi Engkau?”

Kemudian, Boddhisatta berturut-turut memandang sembilan arah lainnya – delapan arah mata angin, ke atas dan kebawah – Ia melihat tidak ada yang dapat menandingi-Nya di segala arah. Selanjutnya, Ia menghadap ke arah utara dari tempat Ia berdiri, kemudian ia berjalan maju tujuh langkah.

Boddhisatta diikuti oleh Mahabrahma, Raja Brahma, yang memayungi-Nya dengan payung putih dan Dewa Suyama memegang pengusir serangga terbuat dari ekor yak. Para dewa lain membawa seluruh atribut kerajaan seperti sepatu, pedang, dan mahkota mengikuti dari belakang. Profesi makhluk surgawi ini tidak terlihat oleh para manusia disana , mereka hanya melihat tanda-tanda kebesaran mereka saja.

Ketika berjalan, Boddhisatta berjalan biasa di atas tanah seperti manusia biasa, tetapi yang terlihat oleh manusia disana, Boddhisatta berjalan di udara.Pada saat berjalan, Boddhisatta dalam keadaan telanjang tanpa mengenakan pakaian apa pun, namun yang terlihat oleh manusia, Ia berpakaian lengkap. Boddhisatta adalah bayi yang baru lahir yang sedang berjalan, namun oleh mata manusia, Ia terlihat seperti anak berumur enam-belas tahun.

Sewaktu Boddhisatta berjalan, Maha-Brahma mengikuti dan memayungi-Nya dengan payung putih berukuran tiga-yojana, demikian pula dengan para Maha-Brahma dari alam-semesta lannya dengan payung berukuran sama. Sehingga seluruh semesta ditutupi oleh payung putih bagaikan karangan bunga berwarna putih.

Sepuluh ribu Dewa Suyama dari sepuluh ribu alam semesta memegang pengusir serangga terbuat dari ekor yak. Para dewa dari sepuluh ribu Surga Tusita berdiri memegang kipas yang bertatahkan batu delima, semuanya mengayun-ayunkan kipas dan pengusir serangga yang mencapai puncak-puncak gunung di tepi semesta.

Demikian pula, sepuluh ribu Dewa Sakka dari sepuluh-ribu alam semesta, meniupkan sepuluh ribu terompet dari kulit kerang. Semua dewa-dewa lain juga berbaris memberi hormat, beberapa membawa bunga-bunga emas, sementara yang lain membawa bunga-bunga asli atau bunga-bunga kristal yang menyilaukan; beberapa membawa spanduk, sementara yang lain membawa benda-benda bertatahkan permata sebagai persembahan. Dewi-dewi dengan berbagai persembahan di tangan mereka juga berbaris memenuhi seluruh alam semesta.

Ketika pertunjukan pemujaan yang menakjubkan sedang berlangsung, Boddhisatta berhenti setelah berjalan tujuh-langkah ke arah utara. Pada saat itu semua Brahma, Dewa, dan manusia seketika diam, menunggu sambil berharap dengan pikiran,”Apakah yang akan dikatakan oleh Boddhisatta?”

Boddhisatta lalu menyerukan seruan berani yang terdengar oleh semua makhluk di seluruh sepuluh ribu alam semesta :

“Aggo’ham asmi lokassa!”

(Akulah yang tertinggi di antara semua makhluk di tiga alam)

“Jettho’ham asmi lokassa!”

(Akulah yang terbesar di antara semua makhluk di tiga alam)

“Settho’ham asmi lokassa!”

(Akulah yang termulia di antara semua makhluk di tiga alam)

“Ayam antima Jati!”

(Inilah kelahiran-Ku yang terakhir)

“Natthi dani punabhavo!”

(Tidak ada kelahiran ulang bagik-Ku)

Sewaktu Boddhisatta menyerukan seruan ini, tidak ada seorang pun yang dapat membantahnya; seluruh Brahma, Dewa, dan manusia mengucapkan selamat.

Pada waktu yang bersamaan dengan kelahiran Boddhisatta, tujuh pendamping berikut juga terlahir :

  1. Putri Yasodhara, calon istri Pangeran Siddhatta Gotama dan Ibunda Pangeran Rahula.
  2. Pangeran Ananda
  3. Menteri Channa
  4. Menteri Kaludayi
  5. Kuda istana Kanthaka
  6. Mahabodhi atau Pohon Boddhi Assattha, dan
  7. Empat kendi emas

Para penduduk dari kedua kota – Kapilavatthu dan Devadaha – mengiringi Ratu Mahamaya dan putranya, Boddhisatta mulia kembali ke Kota Kapilavatthu.

PETAPA KALADEVILA TERTAWA DAN MENANGIS MENGETAHUI KELAHIRAN BODDHISATTA

Pada hari Boddhisatta dan ibu-Nya dibawa ke kota Kapilavatthu, para dewa Tavatimsa yang dipimpin oleh Sakka bergembira mengetahui bahwa “Seorang putra dari Raja Suddhodana telah terlahir di kota Kapilavatthu” dan bahwa “Putra mulia ini pasti mencapai Pencerahan-Sempurna di tanah kemenangan di bawah pohon Boddhi Assattha” , dan mereka melemparkan pakaian mereka ke angkasa, menepuk lengan dengan telapak tangan, dan bersuka ria.

Waktu itu, Petapa Kaladevila yang telah mencapai lima kemampuan batin tinggi dan delapan Jhana dan yang mempunyai kebiasaan mengunjungi istana Raja Suddhodana sedang makan siang disana seperti biasa, dan kemudian naik ke surga Tavatimsa untuk melewatkan hari itu di alam surga.

Ia duduk di atas singgasana permata di dalam istana permata, menikmati kebahagiaan Jhana. Sewaktu ia keluar dari Jhana, berdiri di depan pintu gerbang istana dan melihat kesana-kemari, ia melihat Sakka dan para dewa lainnya yang bergembira melempar-lemparkan penutup kepala dan jubah mereka dan memuji kebajikan Boddhisatta di jalan-jalan utama di alam surga sepanjang enam puluh Yojana. Kemudian Sang Petapa bertanya,”O dewa, apa yang membuatmu demikian bergembira? Katakanlah ada apa gerangan”.

Kemudian para dewa menjawab,”Yang Mulia Petapa, hari ini putra mulia dari Raja Suddhodana telah lahir. Putra mulia ini, duduk bersila di bawah pohon Boddhi assattha di tempat yang maha suci, di tengah-tengah alam semesta, akan mencapai Pencerahan-Sempurna, menjadi Buddha. Beliau akan membabarkan khotbah – Roda Dhamma. Kami akan mendapatkan kesempatan emas menyaksikan kemuliaan Buddha yang tidak terbatas dan mendengarkan khotbah Dhamma yang teragung. Itulah sebabnya kami bersuka-ria.”

Mendengar jawaban para dewa tersebut, Petapa Kaladevila segera turun dari surga Tavatimsa dan duduk di tempat yang telah dipersiapkan untuknya di dalam istana Raja Suddhodana. Setelah saling menyapa dengan Raja, Kaladevila berkata,”O, Raja, aku mendengar bahwa Putramu telah lahir, aku ingin melihatnya.”

Kemudian Raja membawa putranya yang telah mengenakan pakaian lengkap, kemudian membawanya kepada sang petapa untuk memberi hormat kepada guru istana. Ketika Boddhisatta dibawa, kedua kaki Boddhisatta terbang tinggi dan turun di atas rambut sang petapa. (Tidak seorang pun yang cukup layak menerima penghormatan dari seorang Boddhisatta dalam kelahiran terakhirnya. Jika seseorang, yang tidak mengetahui hal ini, memaksakan kepala Boddhisatta untuk menyentuh kaki sang petapa, kepala sang petapa akan pecah menjadi tujuh keping).

Petapa Kaladevila, menyaksikan peristiwa yang mengherankan dan luar biasa dari keagungan dan kekuatan Boddhisatta, memutuskan, “Aku tidak akan menghancurkan diriku.” Kemudian ia bangkit dari tempat duduknya dan bersujud didepan boddhisatta dengan tangan dirangkapkan. Menyaksikan pemandangan menakjubkan ini, Raja Sudhodana juga bersujud di depan anaknya.

Kaladevila, yang telah mencapai lima kemampuan batin dan delapan Jhana, dapat mengingat peristiwa-peristiwa yang lampau sampai 40 Kalpa yang lalu dan dapat melihat masa depan sampai 40 Kalpa kedepan. Dengan demikian ia dapat mengetahui dan melihat peristiwa-peristiwa selama delapan puluh kalpa.

Setelah mengamati karakteristik besar dan kecil dari Boddhisatta Pangeran, ia mengetahui dan meramalkan bahwa Pangeran akan menjadi Buddha. Mengetahui bahwa “Anak ini adalah manusia luar biasa”, Sang Petapa tertawa penuh kegembiraan.

Kemudian , Sang petapa merenungkan apakah ia dapat menyaksikan Pagneran mencapai ke-Buddha-an. Ia mengetahui bahwa sebelum Pangeran mencapai ke-Buddha-an, ia akan sudah meninggal dunia dan terlahir di alam Arupa-Brahma dimana tak seorang pun yang dapat mendengarkan Dhamma abadi disana, meskipun muncul ratusan atau ribuan Buddha untuk mengajarkan Dhamma. “Aku tidak akan berkesempatan untuk menyaksikan dan memberikan penghormatan kepada manusia menakjubkan ini yang memiliki Kesempurnaan kebajikan. Ini adalah kerugian terbesar bagiku.” Setelah berkata demikian Kaladevila bersedih dan menangis.

Ketika orang-orang yang hadir disana menyaksikan sang petapa tertawa dan kemudian menangis, mereka terheran-heran,”Yang-Mulia Petapa pertama-tama tertawa dan kemudian menangis, betapa anehnya.” Kemudian mereka bertanya, “Yang Mulia, apakah ada sesuatu yang berbahaya terhadap putra raja kami?”

“Tidak ada bahaya sama sekali, malah sebenarnya Beliau akan menjadi Buddha”.

“Kalau begitu, mengapa engkau bersedih?” tanya orang-orang itu lagi.

“Karena aku tidak akan dapat menyaksikan pencapaian Pencerahan-Sempurna oleh manusia luar biasa ini yang memiliki kualitas-kualitas yang menakjubkan. Ini adalah kerugian besar bagiku. Karena itulah aku bersedih”, jawab sang petapa.

Kemudian, Kaladevila sang petapa merenungkan, “Walaupun aku tidak berskesempatan untuk menyaksikan Pangeran mencapai ke-Buddha-an, aku ingin tahu apakah ada di antara sanak-saudaraku yang berkesempatan untuk menyaksikannya.” Kemudian dia meilihat keponakannya, Nalaka, yang memiliki kesempatan tersebut. Jadi ia pergi mengunjungi rumah adiknya dan memanggil keponakannya dan menyuruhnya dengan berkata :

“Keponakanku Nalaka, seorang putra telah lahir di istana Raja Suddhodana. Beliau adalah seorang Boddhisatta. Beliau akan mencapai ke-Buddha-an setelah berusia tiga-puluh-lima tahun. Engkau, keponakanku, adalah seorang yang layak melihat Buddha. Oleh karena itu, engkau lebih baik menjadi petapa, hari ini juga.”

Meskipun lahir dari orangtua yang memiliki kekayaan delapan puluh tujuh crore, pemuda Nalaka percaya kepada pamannya, dan berpikir,”Pamanku tidak akan menyuruhku melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat. Ia mengatakan hal ini tentu demi kebaikanku.” Dengan pendapat ini, ia membeli jubah dan mangkuk dari pasar. Mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah, dan berkata kepada dirinya sendiri, ”Aku akan mejadi petapa untuk mengabdi pada Buddha, pribadi yang termulia diseluruh dunia.“


RAMALAN DARI TANDA-TANDA YANG TERDAPAT PADA BODDHISATTA SAAT UPACARA MEMBASUH KEPALA DAN PEMBERIAN NAMA

Pada hari kelima setelah kelahiran Boddhisatta mulia, ayah-Nya, Raja Suddhodana mengadakan upacara membasuh kepala. Dan dengan rencana untuk memberi nama pada putranya, ia menaburi istananya dengan empat jenis bubuk harum , yaitu : 1). Tagara (Tabernaemontana coronaria), 2). Lavanga (Cloves, Syzygiumm aromaticum), 3). Kunkuma (safron, crocus sativus),dan, 4). Tamala (Xanthochymus pictorius), dan menaburi lima jenis rempah yaitu : 1). Saddhala (sejenis rumput), 2).Padi, 3). Biji mostar, 4).Kuncup melati, 5). Beras. Ia juga mempersiapkan nasi susu murni yang tidak dicampur air, dan mengundang seratus delapan Brahmana pandai yang menguasai Tiga-Veda, ia menyediakan tempat duduk yang baik dan bersih kepada mereka di dalam istana dan melayani mereka dengan nasi susu yang lezat.

Setelah memberi makanan kepada mereka, Raja memberi penghormatan pada mereka, memberikan persembahan kepada mereka dan dari 108 (seratus delapan) Brahmana tersebut, dipilih delapan Brahmana untuk diminta meramalkan masa depan Pangeran berdasarkan tanda-tanda fisik Boddhisatta.

Di antara 8 (delapan) Brahmana yang terpilih, tujuh orang, yaitu : Rama, Dhaja, Lakkhana, Jotimanta, Yanna, Subhoja, dan Suyama, setelah memeriksa tanda-tanda fisik Boddhisatta Pangeran mengacungkan dua jari dan memberikan dua ramalan tanpa kepastian sebagai berikut,Jika anakmu yang memiliki tanda-tanda ini memilih untuk hidup berumah-tangga, Beliau akan menjadi Raja dunia yang menguasai empat benua, tetapi jika Beliau menjadi petapa, Beliau akan mencapai ke-Buddha-an.”

Tetapi Sudatta, Brahmana dari suku Kondanna, yang termuda di antara mereka, setelah dengan seksama memeriksa tanda-tanda manusia luar biasa pada tubuh Boddhisatta, hanya mengacungkan satu jari dan dengan penuh keyakinan meramalkan,”Tidak ada alasan bagi Pangeran untuk hidup berumah-tangga. Beliau pasti akan menjadi Buddha yang menghancurkan akar kotoran batin.”

Ramalan Brahmana muda Sudatta ini akhirnya diterima oleh para Brahmana pandai lainnya.

Setelah dengan seksama memeriksa tiga-puluh-dua tanda manusia agung ( Mahapurissa ), kemudian mereka berdiskusi untuk mencari nama yang tepat bagi Pangeran. Kemudian mereka memberi nama Siddhatta sebagai pertanda yang menunjukkan bahwa Beliau akan berhasil menyelesaikan tugas-tugasnya demi kesejahteraan seluruh dunia.

RAJA SUDDHODANA MENGAMBIL LANGKAH PENCEGAHAN SUPAYA BODDHISATTA TIDAK MELIHAT EMPAT PERTANDA

Setelah Raja Suddhodana menerima hasil ramalan sehubungan dengan putranya, ia diberitahu oleh para Brahmana bahwa, “Sang Pangeran akan melepaskan keduniawiand an menjadi Petapa.” Ia bertanya,”Apa yang dilihat putraku sehingga ia pergi melepaskan keduniawian?”

“Saat melihat empat pertanda – orang tua, orang sakit, orang mati, dan seorang petapa – putramu akan melepaskan keduniawian dan menjadi petapa”, jawab para Brahmana dengan suara bulat.

Mendengar jawaban para Brahmana, Raja Suddhodana memerintahkan,”Jika putraku akan pergi melepaskan keduniawian setelah melihat empat pertanda ini, mulai saat ini, mereka yang berusia tua, sakit, mati ataupun petapa tidak boleh bertemu dengan putraku; karena mereka akan menyebabkan samvega dalam diri-Nya dan membuat-Nya pergi melepaskan keduniawian. Aku tidak ingin anakku menjadi Buddha. Aku ingin melihat-Nya menjadi Raja Dunia yang memerintah di empat Benua dan dua ribu pula di sekelilingnya dan berjalan di angkasa dengan mengendarai roda pusaka diiringi oleh pengikut yang berbaris hingga tiga-puluh enam yojana.”

Selanjutnya sejumlah pengawal ditempatkan di segala penjuru dalam setiap jarak satu gavuta untuk memastikan tidak-adanya orang-tua, orang sakit, orang mati, dan petapa dalam jarak pandang Boddhisatta.

Saat upacara membasuh kepala berlangsung dimana 80.000 kerabat hadir dan berdiskusi,”Apakah Pangeran akan menjadi Buddha atau menjadi Raja Dunia, masing-masing dari kita akan menyediakan seorang putra untuk melayaninya. Jika Beliau akan menjadi Buddha, Beliau akan berkelana dengan disertai para petapa yang berdarah bangsawan. Atau, jika ia menjadi Raja Dunia, Beliau akan melakukan perjalanan kerajaan dengan diiringi oleh 80 pangeran.” Kemudian masing-masing berjanji untuk menyerahkan putranya kepada Boddhisatta.

WAFATNYA IBU BODDHISATTA MAHAMAYA DEVI DAN TERLAHIR DI ALAM SURGA TUSITA

Mahapajapati Gotami

Mahapajapati Gotami

Tujuh hari setelah kelahiran Boddhisatta Pangeran, Ibunya Mahamaya Devi, sampai pada akhir kehidupannya, meninggal dunia dan terlahir kembali di Surga Tusita sebagai Dewa bernama Santusita. Sang ibu meninggal bukan karena melahirkan Boddhisatta, tetapi karena kehidupannya telah berakhir. Kita ingat, sewaktu Dewa Setaketu melakukan lima-penyelidikan, Mahamaya hanya memiliki sisa kehidupan selama 10 bulan 7 hari.

Setelah kematian Ratu Mahamaya, adik Ratu Mahamaya yang bernama Mahapapajapati Gotami, dipersunting Raja Suddhodana dan kemudian ialah yang menjadi ibu sambung bagi bayi Siddhattha Gotama.

PENUNJUKKAN PARA PELAYAN BODDHISATTA

Untuk Putranya, Pangeran Siddhatta, Raja Suddhodana memilih dan menunjuk 240 pelayan perempuan yang bersih dan cantik, yang terampil dalam melakukan tugas-tugas mereka seperti menyusui, memberikan susu manis bebas dari rasa pedas, asin, dan semua rasa yang tidak enak, memandikan, mengasuh, dan merawat.

Raja juga menunjuk 60 pelayan laki-laki untuk membantu pelayan perempuan dan juga menunjuk 60 pengawas yang bertugas mengawasi tugas-tugas para pelayan laki-laki dan perempuan ini.

Dari 240 pelayan perempuan ini, 60 orang bertguas untuk menyusui Pangeran; 60 orang bertugas untuk memandikan dengan air harum dan memakaikan pakaiannya; 60 orang bertugas mengasuh, menggendong dan menepuk-nepukkan tangannya, atau memangkunya dan seterusnya; dan 60 orang lagi bergantian melakukan tugas-tugas ini jika yang lain berhalangan.

RAJA SUDDHODANA MENGADAKAN UPACARA PEMBAJAKAN SAWAH DAN BERSUJUD PADA BODDHISATTA UNTUK KEDUA KALINYA

Tibalah harinya bagi Raja Suddhodana untuk mengadakan upacara pembajakan sawah yang merupakan upacara rutin yang diadakan tiap tahun. Pada hari itu, seluruh Kota Kapilavatthu dihias sehingga menyerupai alam dewa. Semua penduduk kota termasuk para pekerja mengenakan pakaiannya yang terbaik dengan wangi-wangian dan hiasan bunga. Kemudian mereka berkumpul di lapangan istana. Di tempat di mana upacara pembajakan akan dilakukan, seribu (1.000) buah alat bajak telah disiapkan, delapan ratus (800) buah akan digunakan oleh raja dan para menterinya. Tujuh ratus sembilan puluh sembilan (799) kereta bajak yang akan dipakai oleh para menteri dihias dengan hiasan perak dilengkapi dengan mata bajak, sapi, dan tongkat kemudinya. Kereta bajak yang akan dipakai oleh raja dihias dengan hiasan merah emas.

Ketika Raja Suddhodana meninggalkan kota kerajaan dengan para menteri, penasehat, pengawal, dan para pengikut lainnya, ia membawa serta putranya, Boddhisatta, ke lapangan upacara tersebut dan meletakkannya di bawah keteduhan pohon jambu (Eugenia Jambolana) yang rindang. Tanah dibawah pohon tersebut dilapisi dengan kain beludru di mana Pangeran duduk di atasnya. Dan diatasnya dibuatkan sebuah kanopi dari beludru merah-tua dengan hiasan bintang-bintang emas dan perak, seluruh tempat itu dikelilingi oleh tirai yang tebal dan ditempatkan beberapa pengawal untuk menjaga keamanan Pangeran Siddhatta. Raja kemudian mengenakan pakaian kebesaran yang biasanya dipakai khusus untuk upacara ini dan kemudian dengan disertai oleh para menteri memasuki arena dimana upacara akan diadakan.

Boddhisatta Pangeran mencapai Anapana Jhana Pertama

Anapana Jhana I yang pertama kalinya

Anapana Jhana I yang pertama kalinya

Sementara itu, Boddhisatta setelah melihat sekeliling dan tidak melihat seorang pun, segera mengambil posisi duduk bersila dengan tenang. Kemudian Beliau mempraktikkan meditasi anapana, berkonsentrasi pada napas masuk dan keluar, dan segera mencapai rupavacara Jhana Pertama.

Para perawat yang meninggalkan tugasnya berkeliaran ke sana kemari di meja-meja dan bersenang-senang sebentar. Semua pohon-pohon kecuali pohon jambu tempat Boddhisatta duduk, memiliki bayangan alami sesuai pergerakan matahari, pada sore hari, bayangan pohon akan berada di sebelah timur. Namun, bayangan pohon jambu tempat dimana Boddhisatta duduk tidak bergerak sesuai posisi matahari, bahkan di tengah hari, aneh, bayangan pohon itu tetap seperti semula, besar dan bundar, dan tidak berpindah.

Para perawat, tiba-tiba teringat,”Oh, putra junjungan kita tertinggal dibelakang sendirian”. Mereka bergegas kembali dan masuk ke tirai, melihat dengan takjub, Boddhisatta Pangeran duduk bersila dalam kemuliaan, dan juga melihat keajaiban (patihariya) dari bayangan pohon yang tetap berada di posisi dan bentuk yang sama, tidak berpindah. Mereka berlari menuju Raja dan melaporkannya. Raja dengan tenang mendatangi Boddhisatta dan mengamati, melihat dengan mata kepala sendiri dua keajaiban tersebut, ia mengucapkan,”O, Putra Mulia, ini adalah kedua kalinya bahwa, aku, ayah-Mu, bersujud pada-Mu”, kemudian bersujud di depan anaknya dengan penuh cinta dan penuh hormat.

Sakka, Raja Dewa, Memerintahkan Dewa Visukamma untuk Membuat Danau Istana yang Indah untuk Boddhisatta

Ketika Boddhisatta Pangeran menginjak usia tujuh tahun, tumbuh, dan penuh kegembiraan di tengah-tengah kemewahan bagaikan dewa, Raja Suddhodana suatu hari bertanya kepada para penasehatnya jenis olahraga apa yang disenangi anak seumurnya. Ketika para penasehatnya menjawab bahwa Pangeran Siddhatta senang bermain-main di air, Raja Suddhodana memerintahkan para seniman pengrajin untuk memilih lahan yang tepat dan menggali sebuah danau istana yang indah.

Sakka, Raja Dewa, mengetahui melalui perenungan bahwa, mereka sedang dalam tahap memilih lahan, ia berpikir,”Tidaklah layak bagi semua Boddhisatta untuk menggunakan danau yang dibangun oleh manusia, hanya danau yang dibangun oleh dewa yang layak baginya.”

Sakka lalu memanggil Dewa Visukamma dan menugaskannya untuk menggali danau itu, ia berkata,”Pergilah sekarang, ke alam manusia, O Dewa, dan buatkan sebuah danau yang layak untuk Boddhisatta bermain-main”. Atas pertanyaan,”Danau seperti apa yang harus kubuat?” Sakka menjawab,”Danau yang engkau buat harus bebas dari lumpur dan kotoran, dasarnya harus dilapisi dengan batu delima, mutiara dan koral, harus dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari tujuh jenis batu-batu berharga, tangga yang menuju danau harus terbuat dari papan emas, perak, dan batu delima, pegangan tangan harus terbuat dari batu delima, dan jerujinya yang menyangga pegangan tangan harus dilapisi oleh koral. Di tengah-tengah danau itu, untuk Boddhisatta bermain melempar air, buatkan sebuah perahu emas y ang lengkap dengan kursi perak, perahu perak dengan kursi emas, perahu batu delima dengan kursi koral, dan perahu koral dengan kursi batu delima. Juga harus dilengkapi dengan mangkuk emas, mangkuk perak, mangkuk batu delima, dan mangkuk koral untuk melempar air. Danau tersebut harus indah dipenuhi dengan lima jenis bunga teratai.”

Dewa Visukamma, setelah menyanggupi, turun ke alam manusia malam itu juga, dan membuat sebuah danau, lengkap dengan rincian yang diperintahkan oleh Sakka, di tanah yang telah dipilih oleh Raja Suddhodana.

Keesokan paginya, ribuan penduduk melihat danau yang menakjubkan tersebut, mereka berseru gembira,”Danau ini pasti telah diciptakan oleh Sakka dan dewa-dewa untuk Pangeran yang mulia!” dan dengan penuh kegembiraan mereka melaporkan hal tersebut pada Raja Suddhodana.

Raja Suddhodana disertai oleh banyak pengikut pergi melihat danau tersebut, ketika melihat keindahan dan kemegahan danau itu, ia berseru gembira,”Danau ini pasti ciptaan para Dewa karena kekuasaan dan keagungan anakku!”

Setelah itu, Boddhisatta Pangeran bermain-main di air danau yang merupakan kebutuhan dan kenikmatan surgawi.

Raja Suddhodana membangun Tiga Istana untuk Kesenangan Boddhisatta

Ketika menginjak usia 16 tahun, Raja Suddhodana berpikir, “Sekarang waktunya untuk membangun istana untuk putraku”. Kemudian ia memerintahkan agar para arsitek, tukang kayu, tukang batu, pemahat, dan pelukis yang ahli dipanggil ke istana untuk diberi instruksi. Ia kemudian memberikan perintah untuk membangun tiga istana yang diberi nama Istana Emas Ramma, Istana Emas Suramma, dan Istana Emas Subha, yang dirancang khusus sesuai kondisi tiga musim ; dingin, panas, dan hujan.

MENYELAMATKAN BURUNG BELIBIS

Cinta-Kasih Boddhisatta ;  Selamatkan Belibis yang terluka

Cinta-Kasih Boddhisatta ; Selamatkan Belibis yang terluka

Suatu kali Pangeran Siddhattha berjalan-jalan di taman dengan Devadatta, saudara sepupunya. Devadatta yang membawa busur dan anak panah melihat serombongan burun belibis terbang. Devadatta membidikkan anak-panahnya. Seekor belibis terkena dan terjatuh ke tanah. Pangeran Siddhatta bergebas menghampiri belibis yang terluka itu. Dengan penuh kasih-sayang diobatinya luka pada sayap belibis dengan daun-daun yang diremas.

Devadatta meminta belibis itu. Pangeran Siddhattha tidak mau memberikannya. Menurut Pangeran Siddhattha, bila belibis itu mati maka ia menjadi milik Devadatta. Tetapi karena belibis itu masih hidup maka ia menjadi milik dari orang yang menyelamatkan hidupnya. Akhirnya keduanya pergi ke Dewan Para Bijaksana untuk mendapat keputusan.

Dewan memutuskan bahwa hidup adalah milik dari orang yang mencoba menyelamatkannya dan bukan milik yang mencoba menghancurkannya. Dengan demikian maka belibis itu adalah milik Pangeran Siddhattha yang menyelamatkan hidupnya. Setelah sembuh belibis itu dilepas kembali oleh Pangeran Siddhattha. Demikianlah kasih sayang Pangeran Siddhattha terhadap sesama makhluk hidup.

PERTUNJUKAN MEMANAH

Setelah sang ayah, Raja Suddhodana, membangun tiga istana untuk anaknya yang demikian indah dan megahnya, yang belum pernah dinikmati oleh raja-raja sebelumnya, ia berpikir,”Anakku telah berumur enam belas tahun, setelah menganugerahkan mahkota kerajaan dengan membuka payung putih, aku akan menyaksikannya menikmati kemewahan dan kemuliaan sebagai Raja”.

Kemudian ia memerintahkan untuk mengirim pesan kepada 80.000 sanak-saudaranya, keluarga Sakya, ”Para Pengeran Sakya, Putraku telah berumur enam belas tahun sekarang. Aku akan menjadikannya Raja. Semua Pangeran Sakya harap membawa putrinya, yang telah cukup umur, ke istanaku”.

Ketika para Pangeran Sakya menerima pesan dari Raja Suddhodana, mereka menolak permintaannya, menjawab dengan nada menghina, “Pangeran Siddhattha kurang berpendidikan, meskipun ia memiliki penampilan yang menarik. Tidak memiliki ketrampilan dalam menjalani kehidupan, ia tidak akan mampu menjalani kewajibannya sebagai kepala keluarga. Jadi kami tidak dapat mengabulkan permintaan Raja Suddhodana untuk menyerahkan putri kami”.

Menerima jawaban dari para Pangeran Sakya – ayah dari para putri – Raja Suddhodana mendatangi Boddhisatta Pangeran dan menjelaskan masalah ini. Kemudian Boddhisatta berkata,”Ayahku, Aku tidak harus mempelajari apapun. Ketrampilan apa yang engkau mau Kuperlihatkan ? “ Raja Suddhodana menjawab, “Anakku, Engkau harus memperlihatkan kepada para sanak saudara ketrampilan memanah dengan busur yang hanya dapat ditarik dengan kekuatan seribu pala.” Pangeran kemudian berkata,”Kalau begitu, Ayah, umumkan dengan tabuhan genderang di seluruh kerajaan bahwa 7 hari lagi, Aku akan mengadakan pertunjukan memanah”. Kemudian Raja Suddhodana mengumumkan ke seluruh kerajaan Kapilavatthu diiringi tabuhan genderang.

Setelah membuat pengumuman yang diiringi oleh tabuhan genderang, persiapan dilakukan untuk mempersiapkan arena bagi Boddhisatta Pangeran memperlihatkan ketrampilan memanahnya juga membangun panggung-panggung penonton bagi para menteri, para putri, pengikut, para pelayan, prajurit, dan kerabat lainnya. Pada hari ketujuh, setelah semua persiapan selesai dilakukan, raja dan para menterinya, para jenderal dan tamu-tamu semua duduk di tempat yang telah disediakan ; Boddhisatta telah mengambil tempat duduk di singgasana bertatahkan permata di tengah-tengah arena, mengambil busur yang diserahkan oleh para pelayan kerajaan. ( Busur yang memerlukan tenaga seribu atau dua ribu unit berat pala untuk menariknya ).

Duduk bersila di atas singgasana, Pangeran memegang busur dengan tangan kirinya, memelintir tali busur di jari-Nya hingga talinya menegang; kemudian Ia memetik-metik tali busur itu dengan tangan kanan-Nya untuk menyesuaikan. Suara getaran yang ditimbulkan oleh tali busur tersebut begitu kerasnya hingga gemanya terdengar di seluruh wilayah kerajaan Kapilavatthu seolah-olah terbang di angkasa.

Beberapa orang bertanya-tanya, “Suara apakah itu?” dan dijawab oleh yang lainnya, “Itu adalah suara petir yang menggelegar”. Yang lain lagi berkata,”Oh, tidak tahukah engkau; itu bukan suara petir; itu adalah suara yang dihasilkan ketika Pangeran Sakya Siddhattha, yang dengan anggun dan penuh keagungan, menarik busur yang memerlukan seribu orang ( atau dua ribu unit berat pala ), untuk menariknya dan memetik tali busurnya”.

Seluruh delapan puluh ribu Pangeran Sakya dan kerabat istana merasa gembira menyaksikan pertunjukkan yang luar biasa dari Boddhisatta yang memetik dan menyesuaikan tali busur.

Setelah itu, Pangeran Siddhatta mempertunjukkan berbagai variasi keahlian memanah yang membuat para penonton berdecak kagum.

Demikianlah, Boddhisatta Pangeran memperlihatkan keahliannya dalam memanah untuk menaklukkan rasa tidak percaya, penghinaan, fitnahan, dan celaan atas dirinya oleh para kerabat kerajaan – sebuah prestasi yang di atas rata-rata, sangat menakjubkan, dan jarang terlihat. Setelah peristiwa itu, semua kerabat kerajaan, yang keraguannya telah lenyap dengan bergembira berseru,”Belum pernah dalam dinasti Sakya menyaksikan sebuah keahlian seperti yang kita saksikan sekarang”, menghujani Boddhisatta dengan puji-pujian.

Kecantikan Ratu Yasodhara

Di antara empat-puluh ribu (40.000) Putri Sakya, yang paling terkemuka adalah Putri Yasodhara yang memiliki nama gadis Bhaddakaccana.

Yasodhara Dewi, seperti telah dijelaskan sebelumnya, adalah salah satu pendamping kelahiran Boddhisatta. Ia terlahir dari salah satu raja Sakya bernama Suppabuddha, putra dari kakek Boddhisatta, Raja Anjana dari kerajaan Devadaha, Ibu Putri Yasodhara adalah Putri Amitta, yang adalah saudara perempuan Raja Suddhodana. Putri diberi nama Yasodhara karena memiliki reputasi baik dan pengikut yang banyak ( Yaso = banyak pengikut dan ber-reputasi baik; dhara = pembawa; demikianlah putri adalah ia yang memiliki banyak pengikut dan ber-reputasi baik ).

Ia cantik dan berkulit emas bagaikan patung yang dibalut dengan emas murni atau seolah-olah daging dan tubunya terbuat dari emas murni. Dengan tubuh yang proporsional dan tanpa cacat,ia memancarkan pesona, ia tidak tertandingi dalam hal kecantikan dan tingkah laku bagaikan bendera kemenangan yang dinaikkan di jalan-jalan raya di taman bermain Kilamandala milik Raja Mara bernama Manobhu.

Upacara Pelantikan

Delapan puluh ribu kerabat kerajaan yang dipimpin oleh raja Suddhodana, ayah Boddhisatta, berkumpul di ruang pertemuan yang besar dan megah untuk merayakan penobatan Boddhisatta Pangeran Siddhatta yang dilengkapi dengan dinaikkannya payung putih kerajaan di atas kepalanya, pancuran air dingin (abhiseka) dan secara resmi naik tahta.

Dari empat puluh ribu putri yang diserahkan oleh para kerabat Sakya, 10.000 putri ditugaskan untuk melayani Yasodhara Dewi. 30.000 sisanya ditugaskan sebagai pelayan di tiga istana, masing-masing 10.000.

MELIHAT EMPAT PERTANDA

Berkunjung ke Taman Kerajaan

Melihat Empat Pertanda

Melihat Empat Pertanda

Demikianlah, Boddhisatta Pangeran Siddhatta menjadi raja di Kapilavatthu pada usia 16 tahun; ketika Beliau menginjak usia 29 tahun, setelah menikmati kehidupan mewah sebagai raja dunia, dilayani oleh 40.000 putri yang dipimpin oleh istrinya, Ratu Yasodhara, suatu hari muncul keinginannya mengunjungi taman istana. Demikian Beliau memerintahkan kusirnya,” Kusir, siapkan kereta, Aku akan berkunjung ke taman kerajaan”.

“Baiklah”, jawab si kusir segera menyiapkan kereta yang mewah untuk pribadi mulia. Kereta itu ditarik oleh empat ekor kuda berdarah murni berwarna putih bersih bagaikan bulan purnama atau bunga teratai kumuda, dan kecepatannya bagaikan burung garuda, raja segala burung. Ketika diberitahu oleh si kusir bahwa kereta sudah siap, Boddhisatta Pangeran naik ke atas kereta yang indah bagaikan istana surga dan pergi menuju taman kerajaan dalam sebuah arak-arakan besar.

(1) Melihat Pertanda Orang Tua

Ketika Bodhisatta Pangeran sedang berada dalam perjalanan menuju taman kerajaan, para dewa berunding, “Waktunya bagi Pangeran Siddhattha untuk menjadi Buddha semakin dekat. Mari kita memperlihatkan pertanda kepadanya yang akan membuatnya melepaskan keduniawian dan menjadi petapa.” Mereka menyuruh salah satu dewa menyamar sebagai orang tua, berambut putih, tidak bergigi, punggung yang bungkuk, berjalan gemetaran menggunakan tongkat. Pertanda orang tua ini yang adalah penjelmaan dewa tidak dapat dilihat orang lain selain Bodhisatta dan kusirnya.

Saat melihat orang tua, Bodhisatta Pangeran bertanya kepada kusir, “O kusir, rambut orang itu tidak seperti orang lain, rambutnya semua putih. Badannya juga tidak seperti badan orang lain; giginya tidak ada; hanya ada sedikit daging (di tubuhnya); punggungnya bungkuk ia gemetaran. Disebut apakah orang itu?” Si kusir menjawab, “Yang Mulia, orang seperti itu disebut orang tua.”

Sang Bodhisatta Pangeran yang belum pernah mendengar kata ‘orang tua’ apalagi melihatnya, bertanya lagi kepada si kusir, “O kusir, belum pernah aku melihat yang seperti ini, yang rambutnya putih, tidak bergigi, begitu kurus dan gemetaran dengan punggung bungkuk. Apakah artinya orang tua?” Si Kusir menjawab, “Yang Mulia, orang yang tidak hidup lama lagi disebut orang tua (orang tua adalah orang yang memiliki waktu hidup yang pendek).”

Sang Bodhisatta kemudian bertanya, “O kusir, bagaimana itu? Apakah Aku juga akan menjadi orang tua? Apakah Aku tidak dapat mengatasi usia tua?” Si kusir menjawab, “Yang Mulia, semua kita, termasuk Anda, juga saya, akan mengalami usia tua; tidak seorang pun yang dapat mengatasi usia tua.” Bodhisatta Pangeran berkata, “O kusir, jika semua manusia, semua dari mereka tidak dapat mengatasi usia tua, Aku, yang akan mengalami usia tua, tidak ingin lagi pergi ke taman kerajaan dan bersenang-senang di sana. Berbaliklah dari tempat di mana orang tua tadi terlihat dan pulang ke istana.”

“Baiklah Yang Mulia,” jawab si kusir yang segera berputar di tempat di mana orang tua tadi terlihat dan kembali ke istana emas.

Samvega Bodhisatta

Adalah sifat seekor singa, jika ditembak dengan anak panah, tidak berusaha mencabut anak panah yang menjadi penyebab penderitaannya, tetapi mencari musuhnya, si pemburu yang telah memanahnya dan yang menjadi penyebab utama dari anak panah tersebut. Dari dua fenomena ini, sebab dan akibat, para Buddha juga tidak mencari cara untuk menghilangkan akibat yang seperti anak panah tersebut, melainkan mereka mencari dengan kebijaksanaannya penyebab yang menjadi musuh seperti pemburu yang menembakkan anak panah tersebut. Oleh karena itu, para Buddha seperti singa. Si kusir hanya menjelaskan sifat duniawi dari usia tua (jarà) sejauh yang ia pahami, tetapi Bodhisatta Pangeran yang berkeinginan untuk menjadi Buddha mengetahui dengan jelas melalui perenungan bahwa kelahiran (jàti) adalah penyebab utama dari proses ketuaan (jarà). Setelah kembali ke istana emas, Bodhisatta Pangeran merenungkan dengan saÿvega penembusan, “Oh, kelahiran adalah benar-benar menjijikkan. Siapa saja yang mengalami kelahiran, pasti mengalami ketuaan.” Setelah merenungkan demikian, Beliau menjadi bersedih dan murung, muram, dan patah hati.

Raja Suddhodana memperkuat penjagaan

Raja Suddhodana memanggil Si kusir dan bertanya, “O kusir, mengapa anakku tergesa-gesa kembali sebelum sampai di taman?” Si Kusir menjawab, “Yang Mulia, anak Anda telah melihat orang tua, sehingga Beliau tergesa-gesa pulang.” Raja Suddhodana berpikir, “Anakku akan menjadi raja negeri ini. Beliau tidak boleh melepaskan keduniawian dan menjadi petapa. Ramalan para brahmana yang mengatakan bahwa Beliau akan melepaskan keduniawian dan menjadi petapa harus terbukti salah. O kusir, mengapa engkau mengacaukan rencanaku? Secepatnya atur lebih banyak pengawal istana dari sebelumnya; kemudian sediakan lebih banyak pelayan perempuan dan penari-penari perempuan mengelilingi anakku, selagi menikmati lima kenikmatan indria, Beliau tidak akan memikirkan untuk menjadi petapa lagi.”

Setelah berkata demikian, beliau memerintahkan untuk menambah jumlah pengawal di sekeliling istana dalam jarak setengah yojanà (dua gàvuta) di empat penjuru.

(2) Melihat Pertanda Orang Sakit

Penari2 yang disediakan Raja Suddhodana berusaha keras menyenangkan Pangeran Siddhattha

Penari2 yang disediakan Raja Suddhodana berusaha keras menyenangkan Pangeran Siddhattha

Tertipu dan tertarik oleh lima kenikmatan indria yang diatur oleh ayah-Nya, Raja Suddhodana, untuk menghalang-halanginya melepaskan keduniawian dan menjadi petapa, Pangeran Siddhattha menghabiskan waktunya menikmati kenikmatan dan kemewahan istana; desakan perasaan religius-Nya, yang dipicu oleh kebencian terhadap kelahiran dan usia tua, perlahan-lahan menghilang.

Setelah empat bulan berlalu dalam kemewahan hidup, Bodhisatta Pangeran pergi lagi mengunjungi taman kerajaan dengan mengendarai kereta yang ditarik oleh kuda berdarah murni seperti sebelumnya. Dalam perjalanan itu, Pangeran melihat pertanda yang diciptakan oleh para dewa untuk kedua kalinya; orang itu sangat kesakitan diserang penyakit, dan hanya dapat duduk dan berbaring jika dibantu oleh orang lain; ia berbaring lemah di tempat tidurnya dengan ditutupi oleh kotorannya sendiri.

Sang Pangeran bertanya kepada kusirnya,O kusir, mata orang itu tidak seperti mata orang lain; terlihat lemah dan goyah. Suaranya juga tidak seperti orang lain; ia terus-menerus menangis melengking. Tubuhnya juga tidak seperti tubuh orang lain. Terlihat seperti kelelahan. Disebut apakah orang seperti itu?” Si kusir menjawab, “Yang Mulia, orang seperti itu disebut ‘orang sakit.’”

Sang Bodhisatta yang belum pernah melihat orang sakit sebelumnya, bahkan mendengar kata ‘orang sakit’ saja belum pernah bertanya lagi kepada kusirnya, “O kusir, Aku belum pernah melihat orang seperti itu, yang duduk dan berbaring harus dibantu oleh orang lain, yang tidur ditumpukan kotorannya sendiri dan terus-menerus menjerit. Apakah orang sakit itu? Jelaskanlah kepada-Ku.” Si Kusir menjawab, “Yang Mulia, orang sakit adalah orang yang tidak mengetahui apakah ia akan sembuh atau tidak dari penyakit yang dideritanya saat ini.”

Sang Bodhisatta bertanya lagi, “O kusir, bagaimana ini? Apakah Aku juga bisa sakit? Apakah Aku tidak dapat mengatasi penyakit?” Si kusir menjawab, “Yang Mulia, kita semua, termasuk Anda, juga saya, akan menderita sakit; tidak seorang pun yang dapat mengatasi penyakit.” Bodhisatta berkata, “O kusir, jika semua manusia, semua dari mereka tidak dapat mengatasi penyakit, Aku, yang akan menderita sakit, tidak ingin lagi pergi ke taman kerajaan dan bersenang-senang di sana. Berbaliklah dari tempat di mana orang sakit tadi terlihat dan pulang ke istana.”

“Baiklah Yang Mulia,” jawab si kusir yang segera berputar di tempat di mana orang sakit tadi terlihat dan kembali ke istana emas.

Samvega Bodhisatta

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, meskipun si kusir sekadar menjawab sakitnya yang tidak tertahankan sebagai sifat duniawi suatu penyakit (vyàdhi), sejauh yang ia pahami, Bodhisatta yang berkeinginan menjadi Buddha, mengetahui dengan jelas melalui perenungan bahwa kelahiran adalah penyebab utama bagi penyakit, dan usia tua yang telah dijelaskan sebelumnya. Kembali ke istana emas, Bodhisatta merenungkan dengan saÿvega penembusan, “Oh, kelahiran adalah benar-benar menjijikkan. Siapa saja yang mengalami kelahiran, pasti mengalami ketuaan, pasti mengalami sakit.” Setelah merenungkan demikian, Beliau menjadi bersedih dan murung, muram, dan patah hati.

Raja Suddhodana memperkuat penjagaan

Raja Suddhodana memanggil Si kusir dan bertanya, “O kusir, mengapa anakku tergesa-gesa kembali sebelum sampai di taman?” Si kusir menjawab, “Yang Mulia, anak Anda tergesa-gesa pulang, karena Beliau telah melihat orang sakit.” Raja Suddhodana berpikir sama seperti sebelumnya, dan kemudian memerintahkan untuk memperkuat penjagaan dan menambah jumlah pengawal yang ditempatkan dalam jarak tiga gàvuta di empat penjuru; ia juga menambah jumlah pelayan istana dan gadis-gadis penari.

(3) Melihat Pertanda Orang Mati

Tertipu dan tertarik oleh lima kenikmatan indria yang diatur oleh ayah-Nya, Raja Suddhodana, untuk menghalang-halanginya melepaskan keduniawian dan menjadi petapa, Pangeran Siddhattha menghabiskan waktunya menikmati kenikmatan dan kemewahan istana; desakan perasaan religius-Nya, yang dipicu oleh kebencian terhadap kelahiran, usia tua, dan penyakit, perlahan-lahan menghilang.

Setelah empat bulan berlalu dalam kemewahan hidup, Bodhisatta Pangeran pergi lagi mengunjungi taman kerajaan dengan mengendarai kereta yang ditarik oleh kuda berdarah murni seperti sebelumnya. Dalam perjalanan itu, Pangeran melihat pertanda yang diciptakan oleh para dewa untuk ketiga kalinya, yaitu, banyak orang berkumpul dan ada tandu jenazah yang berhiaskan kain berwarna-warni yang untuk ketiga kalinya diciptakan oleh para dewa; Pangeran bertanya kepada kusirnya, “Kusir, mengapa orang-orang ini berkumpul? Mengapa mereka mempersiapkan tandu yang dihias kain berwarna-warni?” Si kusir menjawab, “Yang Mulia, orang-orang itu berkumpul dan mempersiapkan sebuah tandu karena ada seseorang yang mati.”

(Ia belum pernah melihat tandu jenazah sebelumnya; hanya pernah melihat tandu biasa. Oleh karena itu ia bertanya, “Mengapa orang-orang ini berkumpul dan mempersiapkan tandu?”)

bahkan mendengar kata ‘orang mati’ saja belum pernah bertanya lagi kepada kusirnya, “O kusir, jika mereka berkumpul dan mempersiapkan sebuah tandu, antarkan Aku ke tempat orang mati itu.” Si kusir menjawab, “Baiklah, Yang Mulia,” dan mengarahkan keretanya menuju tempat orang mati itu berbaring. Ketika Bodhisatta melihat orang mati itu, ia bertanya, “O kusir, apakah orang mati itu?” Si kusir menjawab, “Yang Mulia, jika seseorang mati, sanak saudaranya tidak akan dapat bertemu dengannya lagi, dan ia juga tidak dapat bertemu dengan sanak saudaranya juga.”

Sang Bodhisatta bertanya lagi, “O kusir, bagaimana ini? Apakah Aku juga bisa mati seperti orang itu? Apakah Aku tidak dapat mengatasi kematian? Apakah ayah-Ku, ibu-Ku, dan sanak saudara-Ku tidak dapat bertemu dengan-Ku lagi suatu hari nanti? Apakah Aku juga tidak akan bisa bertemu dengan mereka lagi suatu hari nanti?” Si kusir menjwab, “Yang Mulia, kita semua, termasuk Anda, juga saya pasti mengalami kematian; tidak seorang pun yang dapat mengatasi kematian.” Bodhisatta berkata, “O kusir, jika semua manusia, semua dari mereka tidak dapat mengatasi kematian, Aku, yang akan mengalami kematian, tidak ingin lagi pergi ke taman kerajaan dan bersenang-senang di sana. Berbaliklah dari tempat di mana orang mati tadi terlihat dan pulang ke istana.”

“Baiklah Yang Mulia,” jawab si kusir yang segera berputar di tempat di mana orang mati tadi terlihat dan kembali ke istana emas.

Samvega Bodhisatta

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, meskipun si kusir sekadar menjawab sifat-sifat duniawi dari kematian (marana) sejauh yang ia pahami tentang orang yang mengalami kematian, sanak saudara yang ditinggalkan tidak akan dapat bertemu dengannya lagi; juga si orang mati juga tidak dapat bertemu dengan sanak saudaranya lagi; Bodhisatta yang berkeinginan menjadi Buddha, mengetahui dengan jelas melalui perenungan bahwa kelahiran adalah penyebab utama bagi tiga fenomena: kematian, penyakit, dan usia tua yang telah dijelaskan sebelumnya. Kembali ke istana emas, Bodhisatta merenungkan dengan samvega penembusan, “Oh, kelahiran adalah benar-benar menjijikkan. Siapa saja yang mengalami kelahiran, pasti mengalami ketuaan, pasti mengalami sakit, pasti mengalami kematian.” Setelah merenungkan demikian, Beliau menjadi bersedih dan murung, muram, dan patah hati.

Raja Suddhodana memperkuat penjagaan

Raja Suddhodana memanggil si kusir dan bertanya seperti sebelumnya, si kusir menjawab, “Yang Mulia, anakmu tergesa-gesa pulang, karena Beliau telah melihat orang mati.” Raja Suddhodana berpikir sama seperti sebelumnya, dan kemudian memerintahkan untuk memperkuat penjagaan dan menambah jumlah pengawal yang ditempatkan dalam jarak satu yojanà di empat penjuru; ia juga menambah jumlah pelayan istana dan gadis-gadis penari.

(4) Melihat Pertanda Seorang Petapa

Tertipu dan tertarik oleh lima kenikmatan indria yang diatur oleh ayah-Nya, Raja Suddhodana, untuk menghalang-halanginya melepaskan keduniawian dan menjadi petapa, Pangeran Siddhattha menghabiskan waktunya menikmati kenikmatan dan kemewahan istana; desakan perasaan religiusnya, yang dipicu oleh kebencian terhadap kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian, perlahan-lahan menghilang.

Setelah empat bulan berlalu dalam kemewahan hidup, Bodhisatta Pangeran pergi lagi mengunjungi taman kerajaan dengan mengendarai kereta yang ditarik oleh kuda berdarah murni seperti sebelumnya. Dalam perjalanan itu, Pangeran melihat pertanda yang diciptakan oleh para dewa untuk keempat kalinya, seorang petapa dengan kepala gundul dan janggut dicukur, mengenakan jubah berwarna kulit kayu; O kusir,” Pangeran berkata, “Kepala orang ini tidak seperti kepala orang-orang lain; kepalanya dicukur bersih dan janggutnya juga tidak ada. Pakaiannya juga tidak seperti pakaian orang-orang lain, berwarna seperti kulit kayu. Disebut apakah orang seperti itu?” Si kusir menjawab, “Yang Mulia, ia adalah petapa.”

Sang Bodhisatta bertanya lagi, “O kusir, apakah ‘petapa’ itu? Jelaskanlah kepadaku.” Si kusir menjawab, “Yang Mulia, petapa adalah seseorang yang, berpendapat bahwa lebih baik melatih sepuluh kebajikan (kusalakammapatha), yang dimulai dari kedermawanan (dàna), telah melepaskan keduniawian dan mengenakan jubah berwarna kulit kayu; ia adalah seorang yang berpendapat bahwa lebih baik melatih sepuluh perbuatan-perbuatan baik yang sesuai kebenaran, yang bebas dari noda, yang suci dan murni, telah melepaskan keduniawian dan mengenakan jubah berwarna kulit kayu; ia adalah seorang yang berpendapat bahwa lebih baik tidak melakukan perbuatan yang dapat menyakiti makhluk lain, berusaha untuk menyejahterakan makhluk lain, telah melepaskan keduniawian dan mengenakan jubah berwarna kulit kayu.”

(Di sini, meskipun si kusir tidak memiliki pengetahuan mengenai pertapaan atau kebajikan-kebajikan karena saat itu belum muncul seorang Buddha dan ajarannya, ia mengatakan hal itu karena kekuasaan para dewa, bahwa orang itu adalah petapa, dan menjelaskan kebajikan-kebajikan seorang petapa. Penjelasan ini dikutip dari Komentar Buddhavaÿsa dan Subkomentar Jinàla¤kàra).

(Para Bodhisatta lain yang memiliki umur kehidupan yang lebih panjang, melihat empat pertanda ini dengan waktu yang berselang beberapa ratus tahun antara satu dengan yang lainnya. Namun, dalam hal Bodhisatta kita, yang umur kehidupannya jauh lebih pendek, empat pertanda ini muncul dalam selang waktu yang lebih pendek, hanya empat bulan. Menurut pelafal Dãgha Nikàya, bahkan disebutkan bahwa Bodhisatta melihat empat pertanda ini seluruhnya dalam waktu satu hari. Komentar Buddhavamsa).

Setelah itu, Bodhisatta berkata kepada kusir, “Orang ini benar-benar mengagumkan dan mulia karena telah melepaskan keduniawian, berpendapat bahwa lebih baik mempraktikkan sepuluh perbuatan-perbuatan baik yang sesuai dengan kebenaran, yang bebas dari noda, yang suci dan murni. Orang ini benar-benar mengagumkan dan mulia karena telah melepaskan keduniawian, berpendapat bahwa lebih baik tidak melakukan perbuatan yang dapat menyakiti makhluk lain, berusaha untuk menyejahterakan makhluk lain. Karena ia benar-benar mengagumkan dan mulia, kusir, antarkan Aku ke tempat petapa tadi.” Si kusir menjawab, “Baiklah, Yang Mulia.”

Si kusir membawa keretanya menuju si petapa. Sesampainya di sana, Bodhisatta bertanya kepada si petapa, jelmaan dewa, “O Sahabat, apa yang sedang engkau lakukan? Kepalamu tidak sama dengan kepala orang-orang lain; pakaianmu juga tidak sama dengan pakaian orang-orang lain.” Si petapa menjawab, “Yang Mulia, aku dikenal sebagai petapa.” Bodhisatta bertanya lagi, “Apakah yang engkau maksudkan dengan petapa?” Si petapa, jelmaan dewa melalui kekuatan batin (Iddhipada), menjawab, “Yang Mulia, aku adalah orang yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga, mencukur rambut dan janggutku dan mengenakan jubah berwarna kulit kayu, dan berpendapat, lebih baik mempraktikkan sepuluh kebajikan yang dimulai dari kedermawanan, yang juga dikenal dalam empat julukan. Dhamma berarti kebenaran, Sama berarti sesuai dengan kebenaran, Kusala berarti tidak ternoda dan Pu¤¤a berarti suci dan murni baik sebab maupun akibatnya; dan juga berpendapat bahwa lebih baik tidak melakukan perbuatan yang dapat menyakiti makhluk lain dan berusaha untuk menyejahterakan makhluk lain.”

Bodhisatta Pangeran menyatakan persetujuannya, “Engkau benar-benar mengagumkan dan mulia. Engkau telah meninggalkan kehidupan rumah tangga, mencukur rambut dan janggutmu, dan mengenakan jubah berwarna kulit kayu, dan berpendapat bahwa lebih baik mempraktikkan sepuluh perbuatan-perbuatan baik yang memiliki julukan istimewa Dhamma, Sama, Kusala, dan Pu¤¤a dan juga berpendapat bahwa lebih baik tidak melakukan perbuatan yang dapat menyakiti makhluk lain, berusaha untuk menyejahterakan makhluk lain”.


Hari Bodhisatta Melepaskan Keduniawian

Sebelum Beliau melepaskan keduniawian dengan meninggalkan kehidupan rumah tangga, Bodhisatta melakukan empat kali kunjungan ke taman kerajaan. Dalam kunjungannya ke taman kerajaan dengan mengendarai kereta yang ditarik oleh kuda berdarah murni pada hari purnama di bulan âsàëha (Juni-Juli) di tahun 96 Mahà Era, Beliau melihat pertanda pertama, seorang tua. Melihat pertanda ini, Beliau menyingkirkan kesombongan yang ditimbulkan oleh kebahagiaan usia muda (yobbana manna).

Kemudian, ketika Bodhisatta berkunjung lagi ke taman kerajaan seperti sebelumnya pada hari purnama di bulan Kattikà (Oktober-November). Dalam perjalanan itu Beliau melihat pertanda kedua, orang sakit, melihat pertanda ini, Beliau menyingkirkan kesombongan yang ditimbulkan oleh kebahagiaan karena memperoleh kesehatan (àrogya màna).

Kemudian, ketika Bodhisatta berkunjung lagi ke taman kerajaan seperti sebelumnya pada hari purnama di bulan Phagguna (Februari-Maret). Dalam perjalanan itu Beliau melihat pertanda ketiga, orang mati, melihat pertanda ini, Beliau menyingkirkan kesombongan yang ditimbulkan oleh kebahagiaan karena memperoleh kehidupan (jivita màna).

Kemudian lagi, pada hari purnama di bulan Âsàlha, tahun 67 Mahà Era, Bodhisatta mengunjungi taman kerajaan lagi. Dalam perjalanan itu Beliau melihat pertanda keempat, seorang petapa. Pemandangan ini menyadarkan-Nya akan hidup bertapa, dan bertekad, “Aku akan menjadi petapa hari ini juga,” Beliau melanjutkan perjalanan-Nya menuju taman kerajaan pada hari itu.

(Dari empat pertanda yang telah dijelaskan, tiga yang pertama disebut samvega nimitta, yang memunculkan desakan perasaan religius. Karena, jika kelahiran terjadi, pasti terjadi ketuaan, sakit,  dan kematian. Karena munculnya kelahiran, muncul pula usia tua, sakit, dan kematian. Tidak mungkin lari dari usia tua, sakit, dan kematian bagi mereka yang terlahir. Bagi mereka yang melihat fenomena ini sebagai sesuatu yang bahaya yang menakutkan, kejam, dan mengerikan, mereka akan memunculkan penyebab bagi munculnya rasa takut dan peringatan dalam diri mereka. Pertanda terakhir, seorang petapa, adalah perwujudan yang bertujuan untuk mendorong praktik Dhamma, sebagai jalan untuk terhindar dari bahaya-bahaya yang disebutkan sebelumnya, yaitu: usia tua, sakit, dan kematian. Oleh karena itu disebut padhana nimitta, pertanda yang memunculkan usaha )


Kelahiran Rahula, Seorang Putra

Pelayan memberitahu Pangeran Siddhatta bahwa Putri Yasodhara melahirkan seorang putra

Pelayan memberitahu Pangeran Siddhatta bahwa Putri Yasodhara melahirkan seorang putra

Pada waktu itu, Raja Suddhodana, ayah-Nya menerima informasi bahwa permaisuri Bodhisatta, Yasodharà telah melahirkan seorang putra. Jadi, ia mengirim kurir untuk menyampaikan pesan kepada Bodhisatta, dengan penuh kegembiraan, “Pergilah sampaikan berita gembira ini kepada putraku.” Ketika Bodhisatta Pangeran mendengar berita ini, bahwa seorang putra telah lahir, Beliau berkata, dengan perasaan religius yang mendalam, “Asura Ràhu yang akan merampas kebebasan dan menawan-Ku telah lahir; ia yang akan memperbudak-Ku telah lahir!”

Ketika ditanya oleh Raja Suddhodana, “Apa yang dikatakan oleh putraku?” Si kurir mengatakan apa yang dikatakan oleh Bodhisatta Pangeran, dan oleh karena itu, Raja Suddhodana memberi nama dan gelar bagi cucunya, “Sejak saat ini, cucuku dikenal dengan nama Pangeran Ràhula.”

Seruan Gembira Kissà Gotami, Seorang Putri Sakya

Sang Bodhisatta memasuki kota raja Kapilavatthu, mengendarai kereta diiringi oleh banyak pengikut dengan keagungan seorang raja. Saat memasuki kota raja, seorang putri Sakya bernama Kisà Gotami yang memiliki kecantikan dan daya tarik, yang bukan berasal dari keturunan yang rendah namun dari silsilah keluarga yang tinggi, menyaksikan fisik (rupakàya) Bodhisatta Pangeran dari teras istananya, dan merasa berbahagia, dan mengungkapkan perasaan gembiranya sebagai berikut:

Nibbutà nåna sà màta

Nibbutà nåna so pità

Nibbutà nåna sà nàri

Yassà’yaÿ idiso pati

Kedamaian dan kebahagiaan bagi batin seorang ibu yang telah melahirkan putra seperti itu yang memiliki keagungan bagaikan matahari terbit, putra luar biasa dari keturunan mulia, sangat tampan, gagah, cerdas. Merenungkan dengan saksama dua sifat dan ketampanan dari putranya, kegembiraannya setiap hari, akan membawa kedamaian bagi batinnya.

Kedamaian dan kebahagiaan bagi batin seorang ayah yang telah membesarkan putra seperti itu yang memiliki keagungan bagaikan matahari terbit, putra luar biasa dari keturunan mulia, sangat tampan, gagah, cerdas. Merenungkan dengan saksama dua sifat dan ketampanan dari putranya, kegembiraannya setiap hari, akan membawa kedamaian bagi batinnya.

Kedamaian dan kebahagiaan bagi batin seorang perempuan yang beruntung dapat menjadi istri dari suami seperti itu yang memiliki keagungan bagaikan matahari terbit, suami luar biasa dari keturunan mulia, sangat tampan, jantan, gagah, cerdas. Merenungkan dengan saksama dua sifat dan ketampanan dari suaminya, kegembiraannya setiap hari, akan membawa kedamaian bagi batinnya.

Mendengar ungkapan kegembiraan dari putri Sakya, Kisà Gotami, Bodhisatta Pangeran merenungkan, “Saudara sepupu-Ku, putri Sakya, Kisà Gotami, telah mengucapkan kata-kata gembira karena melihat pribadi yang seperti ini (attabhàva) yang membawa kegembiraan dan kedamaian kepada ibu, ayah, dan istri. Tetapi, bila telah padam, apakah yang akan membawa kedamaian sejati bagi batin?” Kemudian Bodhisatta, yang batin-Nya telah terbebas dari kotoran (kilesa), mengetahui, “Kedamaian sejati akan muncul hanya jika api nafsu (ràga) dipadamkan; kedamaian sejati akan muncul hanya jika api kebencian (dosa) dipadamkan; kedamaian sejati akan muncul hanya jika api kebodohan (moha) dipadamkan; kedamaian sejati akan muncul hanya jika panasnya kotoran seperti keangkuhan (màna), pandangan salah (diññhi), dan lain-lain disingkirkan. Putri Kisà Gotamã telah mengucapkan kata-kata indah tentang kedamaian. Dan, Aku yang akan mencari Nibbàna, kebenaran tertinggi, pemadaman yang sebenarnya dari segala penderitaan. Bahkan hari ini juga, Aku harus melepaskan keduniawian dengan menjadi petapa di dalam hutan untuk mencari Nibbàna, Kebenaran sejati.”

Pangeran Siddhatta memberikan kalung permata pada Kissa Gotami

Pangeran Siddhatta memberikan kalung permata pada Kissa Gotami

Dengan pikiran untuk melepaskan keduniawian yang muncul terus-menerus dalam diri-Nya, Bodhisatta Pangeran berkata, “Kalung mutiara ini akan menjadi imbalan bagi ajaran yang diberikan oleh Putri Kisà Gotami yang mengingatkan-Ku untuk mencari unsur pemadaman, Nibbuti,” melepas kalung mutiara-Nya yang bernilai satu lakh dari leher-Nya dan mengirimkannya kepada Kisà Gotami. Putri sangat gembira dan berpikir, “Sepupuku, Pangeran Siddhattha, telah mengirimkan hadiah untukku karena pikirannya tertuju padaku.”

Sang Bodhisatta Pangeran pergi menuju istana tempat tinggal-Nya yang megah, indah, dan menakjubkan sebagai tempat tinggal yang nyaman, dan berbaring di dipan istana-Nya. Saat Beliau berbaring, semua palayan perempuan serta para gadis penari yang memiliki kecantikan bagaikan bidadari dan memiliki kulit yang bersih yang memiliki kemampuan menyanyi, menari, dan bermain musik, berkumpul di sekeliling-Nya dengan lima jenis alat musik di tangan mereka dan mulai bermain musik, menari serta menyanyi, untuk memberikan lima kenikmatan indria. Tetapi, karena merasa muak dan letih dengan kegiatan tersebut yang dapat mengobarkan api kotoran batin-Nya, Ia tidak lagi dapat menikmati hiburan berupa nyanyian, tarian, dan musik, Beliau jatuh tertidur pada saat itu juga.

Pada saat Bodhisatta Pangeran tertidur, para pelayan istana perempuan dan para penari berpikir, “Kami menari, menyanyi, dan bermain musik untuk Pangeran; tetapi Beliau tertidur. Untuk apa kami melelahkan diri?” Dan mereka juga tidur dengan alat musik tertimpa di bawah tubuh mereka. Lampu minyak yang mengeluarkan bau harum terus menyala di dalam istana emas memberikan cahayanya yang cemerlang.

________________________________________________

(BERSAMBUNG) –>>


[ Sumber foto ilustrasi  :

http://www.cambodianbuddhist.org/eng…ha/desc13a.htm

http://home.swipnet.se/ratnashri/buddhalife.htm

http://www.mahidol.ac.th/budsir/E_hist62.htm    ]

Posted in BUDDHA, Kronologi Hidup Buddha, Riwayat Hidup Buddha | 15 Comments »

APA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK MENJADI SEORANG BUDDHA

Posted by ratanakumaro pada September 23, 2009

Buddhopi buddhassa bhaneyya vannam, Kappam pi ce aññam abhasamāno, Khiyetha kappo cira digham antare, Vanno na khiyetha tathāgatassa

[ Begitu banyaknya tanda-tanda seorang Buddha sehingga seorang Buddha lain, yang menggunakan semua waktu seumur hidupnya untuk menjelaskan kemuliaan seorang Buddha, tidak akan dapat menyelesaikan pekerjaannya ]

____________________________________________________________

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa”

( Tikkhattum ; 3x )

Nammatthu Buddhassa,

Petapa Sumedha (Boddhisatta) Mengorabankan diri , menjadi jembatan bagi Buddha Dipankara dan para Arahat

Petapa Sumedha (Boddhisatta) Mengorabankan diri , menjadi jembatan bagi Buddha Dipankara dan para Arahat ( sumber : http://wirajhana-eka.blogspot.com )

Saudara-saudari se-Dhamma, pada artikel terdahulu kita telah membahas mengenai “lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menjadi seorang Buddha”. Pada artikel selanjutnya ini, kita akan membahas, “apakah yang harus dilakukan untuk menjadi seorang Buddha”.  Yang harus dilakukan oleh seorang manusia yang bercita-cita menjadi Buddha, setelah ia mendapatkan ramalan pasti dari seorang Samma-Sambuddha, yaitu adalah menyempurnakan “Dasa-Paramita” ( Sepuluh Kesempurnaan ).

Artikel ini akan dimulai dengan kisah Petapa-Sumedha ( Boddhisatta kita, yang kelak menjadi Buddha Gotama ) yang bertemu dengan Buddha-Dipankara dan mendapatkan ramalan pasti dari Beliau pada Empat Asankheyya-Kappa + 100.000 Maha-Kappa yang lampau. Kemudian, artikel ini dilanjutkan dengan membahas beberapa kisah pilihan dari Jataka ( kisah kehidupan lampau Sang Buddha Gotama ) yang berkaitan dengan penyempurnaan Dasa-Paramita yang dilakukan oleh Boddhisatta kita yang kelak menjadi Buddha-Gotama.

I. PETAPA SUMEDHA SANG BODDHISATTA ( CALON BUDDHA )

Empat Asankkheyya-Kappa + 100.000 Maha-Kappa yang sangat lama dimasa lampau telah berlalu, terdapat sebuah kota yang makmur bernama Amaravati. Sebuah kota yang sempurna dalam segala hal , indah dan menyenangkan. Dikelilingi oleh pohon-pohon hijau dan taman yang indah, memiliki persediaan makanan dan barang-barang kebutuhan yang cukup. Kaya akan barang-barang berharga untuk dinikmati oleh masyarakatnya. Kota ini menghangatkan hati para dewa dan manusia.

Di kota Amaravati ini hiduplah seorang Brahmana bernama Sumedha. Ibunya adalah keturunan Brahmana dari keluarga Brahmana dari generasi ke generasi, demikian pula dengan ayahnya. Sehingga ia adalah seorang Brahmana murni karena kelahiran, baik dari pihak ayah maupun pihak ibu.. Ia terlahir dari seorang ibu yang kaya-raya dan baik. Ia tidak dapat dicemooh karena kelahirannya dengan mengatakan, “Orang ini lahir dari golongan rendah sampai tujuh generasi leluhurnya.” Ia adalah orang yang tak dapat diremehkan atau dicela. Ia adalah seorang dengan darah Brahmana murni dengan fisik yang menarik perhatian setiap orang.

Sehubungan dengan kekayaannya : Ia memiliki harta yang tersimpan dalam gudang harta dalam jumlah yang sangat besar dan sejumlah besar hasil panen serta barang-barang kebutuhan untuk hidup sehari-hari. Ia mempelajari tiga Kitab-Veda : Iru, Yaju,dan Sama. Menguasai kitab-kitab ini dan dapat menghafalnya tanpa cacat.

Orang tua Sumedha meninggal dunia sewaktu ia masih sangat muda.Penjaga harta keluarga membawa daftar harta, membuka gudang harta yang penuh dengan emas, perak, batu-delima, mutiara, dan lain-lain dan memberitahukan pada Sumedha tentang kekayaan yang diwarisinya dari tujuh generasi leluhurnya tersebut serta menyerahkannya pada Sumdedha.

Setelah melalui perenungan yang mendalam, Sumedha memutuskan untuk meninggalkan keduniawian dan pergi hidup bertapa.

Sebelum pergi menjadi petapa, Sumedha melakukan Mahadana. Dengan tabuhan genderang besar, ia mengumumkan di seluruh kota Amaravati, “Kepada siapa pun yang menginginkan kekayaanku, silakan datang dan ambil.” Dan ia mendanakan kekayaannya dalam suatu mahadana kepada semua orang tanpa membedakan status miskin atau kaya. Setelah melakukan Mahadana, Sumedha sang calon Buddha masa depan, melepaskan keduniawian dan pergi menuju Pegunungan Himalaya dengan tujuan Gunung Dhammika pada hari itu juga. Dewa Sakka melihat Sumedha mendekati pegunungan Himalaya, memerintahkan dewa yang bernama Vissukamma untuk mempersiapkan sebuah tempat tinggal bagi Sumedha yang nantinya digunakan Sumedha untuk menetap sementara, karena akhirnya Sumedha memutuskan untuk meninggalkan gubuk yang dipersiapkan Dewa Sakka dan anak buahnya tersebut, dan memilih untuk tinggal di bawah pohon.

Setelah menemukan pohon yang sesuai untuk didiami, Sumedha tinggal dibawah pohon tersebut. Sumedha hidup hanya dari memakan buah-buahan yang jatuh dari pohon. Tanpa berbaring sama sekali, ia berlatih meditasi terus-menerus tanpa putus hanya dalam tiga postur : duduk, berdiri, dan berjalan, hingga pada hari ketujuh, ia mencapai Delapan pencapaian tingkat Jhana ( Empat Rupa-Jhana dan Empat Arupa-Jhana ) dan lima kekuatan batin tinggi ( Abhinna ).

Munculnya Buddha-Dipankara

Setelah petapa Sumedha berhasil dalam pertapaan-Nya, mencapai delapan tingkat pencapaian Jhana dan lima kekuatan batin tinggi seperti telah disebutkan sebelumnya, di dunia ini muncul seorang Buddha yang bernama Dipankara, Raja dari Tri-Loka ( Kamadhatu, Rupadhatu, Arupadhatu ).

Disertai empat ratus ribu Arahanta, Buddha-Dipankara mengunjungi kota Rammavati dan berdiam di Vihara Sudassana. Sementara itu Sumedha sedang menikmati kebahagiaan Jhana di dalam hutan dan sama sekali tidak mengetahui kemunculan Buddha-Dipankara di dunia ini.

Mengetahui kedatangan Buddha Dipankara di vihara Sudassana, penduduk Rammavati, setelah makan pagi, datang membawa barang-barang untuk keperluan pengobatan seperti mentega, ghee, dan lain-lain, juga bunga dan dupa untuk dipersembahkan kepada Buddha Dipankara. Pada akhir khotbah tersebut, mereka mengundang Buddha beserta murid-muridNya untuk makan keesokan harinya.

Sumedha Terbang di Angkasa

Esoknya penduduk Rammavati melakukan persiapan seksama untuk melakukan dana besar-besaran ( asadisa-mahadana ). Sebuah paviliun dibangun, bunga teratai biru yang bersih dan lembut bertebaran di dalam paviliun ; udara segar diberi wewangian empat jenis pengharum, dan  berbagai macam persiapan lainnya.

Ketika persiapan selesai dilakukan di dalam kota, para penduduk mulai dengan pekerjaan memperbaiki jalan yang akan dilalui Buddha untuk memasuki kota. Dengan tanah mereka menambal lubang-lubang yang disebabkan oleh banjir dan meratakan tanah yang berlumpur dan tidak rata. Mereka juga melapisi permukaan jalan dengan pasir putih bagaikan mutiara, menebar bunga dan beras dan menanam pohon pisang lengkap dengan tandan buahnya di sepanjang jalan itu.

Pada waktu itu, Sumedha Sang Petapa meninggalkan pertapaanNya dan ketika ia melakukan perjalanan angkasa, ia melihat penduduk Rammavati berkumpul dan bergembira dalam pekerjaan memperbaiki dan menghias jalan. Merasa ingin tahu apa yang sedang terjadi dibawah, ia turun dari angkasa dan berdiri sementara para penduduk memperhatikannya

Kemudian Petapa Sumedha bertanya pada penduduk, untuk apa mereka melakukan persiapan besar-besaran tersebut, dan para penduduk menjawab, “Yang Mulia Sumedha, telah muncul didunia Buddha Dipankara yang tiada bandingnya, yang telah menaklukkan lima kejahatan Mara, Ia adalah Raja terbesar di seluruh dunia, kami memperbaiki jalan ini untuk-Nya.”

Petapa Sumedha merasa gembira mendengar kata “Buddha” yang diucapkan penduduk Rammavati. Ia mengalami kebahagiaan batin yang luar biasa dan mengulang-ulang kata “Buddha, Buddha” ia tidak dapat mengendalikan kebahagiaan yang luar biasa itu muncul dalam dirinya.

Karena kebahagiaan dan perasaan religius yang mendalam, Petapa Sumedha kemudian merenungkan dalam-dalam,”Aku akan menanam benih kebajikan yang baik di tanah yang subur yaitu Buddha Dipankara ini, untuk melakukan perbuatan baik, yang sulit dan sangat jarang dapat dilakukan, juga untuk menyaksikan saat-saat bahagia munculnya seorang Buddha. Saat-saat bahagia itu sekarang telah datang kepadaku. Aku tidak akan menyia-nyiakannya.”

Dengan pikiran seperti itu, Sumedha meminta kepada para penduduk untuk memberi bagian sedikit jalan untuk petapa Sumedha, sebab ia ingin berpartisipasi dalam pekerjaan memperbaiki jalan tersebut. Kemudian, penduduk dewa memberinya satu ruas jalan yang panjang, becek dan sangat tidak rata yang sangat sulit diperbaiki. Hal ini dikarenakan para penduduk percaya, bahwa Petapa Sumedha adalah Petapa yang sakti yang pasti mampu menyelesaikan pekerjaan yang sulit tersebut. Dan Sumedha pun dengan bahagia menerima bagian jalan yang harus dikerjakannya tersebut.

Sebelum Sumedha menyelesaikan pekerjaannya, Buddha Dipankara tiba diiringi 400.000 Arahanta, yang semuanya telah memiliki enam kemampuan batin-tinggi (Abhinna).

Sumedha mengorbankan dirinya

Sumedha menatap tanpa berkedip pada sosok Buddha, yang dianugerahi dengan 32 tanda besar seorang manusia luar-biasa ( Mahapurissa ), dan 80 tanda-tanda kecil lainnya. Ia menyaksikan sosok Buddha yang indah dan bercahaya, seperti terbuat dari emas-murni, dengan aura terang di sekeliling-Nya dan enam sinar memancar dari tubuh-Nya, seperti kilat di langit biru.

Kemudian Sumedha memutuskan sebagai berikut, “Hari ini, aku akan mengorbankan diriku untuk Buddha. Agar Ia tidak menginjak lumpur dan mengalami ketidaknyamanan, biarlah Buddha beserta 400.000 Arahanta menginjak punggungku dan seolah-olah berjalan di atas jembatan kayu berwarna batu delima. Dengan menggunakan tubuhku sebagai jembatan oleh Buddha dan para Arahanta, aku pasti akan mendapat kesejahteraan dan kebahagiaan dalam jangka waktu yang lama.”

Setelah mengambil keputusan demikian, ia melepaskan sabuknya, menggelar matras kulit macan dan jubahnya di atas tanah becek kemudian berbaring tiarap diatasnya, bagaikan jembatan yang terbuat dari kayu berwarna batu delima.

Aspirasi Sumedha untuk mencapai Ke-Buddha-an

Sumedha, yang sedang bertiarap, seketika muncul keinginan untuk menjadi Buddha, “Jika aku menghendaki, hari ini juga aku dapat menjadi Arahanta yang mana asava dipadamkan dan kotoran batin lenyap. Tapi, apa untungnya ? Seorang manusia luar biasa sepertiku merealisasi Buah Arahatta dan Nibbana sebagai murid yang tidak berguna dari Buddha Dipankara ? Aku akan berusaha sekuat mungkin untuk mencapai ke-Buddha-an.”

“Apa gunanya, secara egois keluar dari lingkaran kelahiran sendirian, padahal aku adalah seorang manusia luar biasa yang memiliki kebijaksanaan, keyakinan, dan usaha. Aku akan berusaha mencapai ke-Buddha-an dan membebaskan semua makhluk termasuk para dewa dari lingkaran kelahiran yang merupakan lautan penderitaan.”

“Setelah mencapai ke-Buddha-an sebagai hasi dari perbuatanku yang tiada bandingnya dengan bertiarap dan menjadi jembatan untuk Buddha Dipankara, aku akan menolong banyak makhluk keluar dari lingkaran kelahiran yang merupakan lautan penderitaan.”

“ Setelah menyeberangi sungai samsara dan meninggalkan tiga alam kehiduapn, aku akan menaiki rakit Dhamma Jalan Mulia Berfaktor Delapan dan pergi menyelamatkan semua makhluk termasuk dewa.” Demikianlah pikirannya bercita-cita untuk menjadi Buddha.

Sumitta , Kelak Menjadi Yasodhara

Sewaktu Sumdedha sedang memikirkan cita-cita untuk mencapai ke-Buddha-an, seorang Brahmana perempuan muda bernama Sumitta bergabung dengan para penduduk menyambut Buddha. Ia membawa delapan kuntum bunga teratai untuk dipersembahkan pada Buddha Dipankara. Sewaktu ia sampai di tengah-tengah keramaian dan begitu matanya menatap Sumedha, ia terpesona dan seketika jatuh cinta kepadanya. Ia ingin mempersembahkan sesuatu pada Sumedha, tapi ia tidak memiliki apa-apa kecuali delapan kuntum teratai. Kemudian ia berkata kepada Sumedha, “Yang Mulia petapa, aku berikan padamu lima kuntum bunga teratai, agar engkau dapat mempersembahkannya sendiri kepada Buddha. Sisa tiga kuntum ini adalah sebagai persembahanku kepada Buddha”. Kemudian ia menyerahkan lima kuntum bunga teratai itu kepada Sumedha, kemudian menyampaikan keinginannya, “ Yang Mulia Petapa, selama waktu yang akan engkau jalani dalam mencapai Ke-Buddha-an ; semoga aku dapat selalu menjadi pendampingmu.”

Sumedha menerima bunga teratai dari Sumitta dan di tengah-tengah keramaian, mempersembahkannya kepada Buddha-Dipankara, yang datang menghampirinya.

Ramalan Pasti dari Buddha Dipankara : Sumedha kelak akan menjadi Buddha

Mengamati apa yang sedang terjadi antara Sumedha dan Sumitta, Buddha membuat ramalan di tengah-tengah keramaian :

“ O… Sumedha, perempuan ini Sumitta, akan menjadi pendampingmu dalam berbagi hidup, membantumu dengan semangat dan perbuatan yang sama dalam usahamu mencapai ke-Buddha-an, ia akan membahagiakanmu dalam setiap pikiran, perkataan dan perbuatannya, ia akan berpenampilan cantik dan menyenangkan, manis tutur katanya dan baik hati. Dalam usahamu mencapai ke-Buddha-an, dalam kelahiranmu yang terakhir, ia akan menjadi murid perempuan yang akan menerima warisan spiritual darimu, menjadi seorang Arahanta, lengkap dengan kemampuan batin tinggi.”

Pada saat Buddha-Dipankara menyatakan hal tersebut diatas, Petapa Sumedha memang telah memenuhi kedelapan faktor yang diperlukan untuk menerima ramalan kepastian bahwa kelak ia akan menjadi Buddha. Kedelapan faktor tersebut adalah :

  1. Ia adalah manusia
  2. Ia adalah laki-laki
  3. Telah memenuhi semua kondisi seperti Kesempurnaan yang diperlukan untuk meraih tingkat ke-Arahatta-an dalam kehidupan itu juga
  4. Dia harus bertemu muka dengan muka dengan seorang Buddha yang hidup.
  5. Dia harus menjadi seorang Petapa yang percaya hukum karma (Kammavadi) atau pernah menjadi anggota Sangha dalam masa kehidupan seorang Buddha.
  6. 6. Dia harus memiliki kekuatan-batin / mencapai keempat Rupa-Jhana dan keempat Arupa-Jhana ( yang dikenal sebagai “Attha-Samapatti-Jhana-Labhi” ).
  7. Berusaha keras untuk mengembangkan kesempurnaan tanpa memperdulikan hidupnya .
  8. Dia harus memiliki kebulatan tekad yang kuat untuk menjadi seorang Buddha meskipun dia tahu bahwa dia akan menanggung penderitaan sebagai binatang, setan, dan lain-lain di dunia yang menyedihkan. Dengan kata lain, dia harus mencegah dirinya untuk mencapai tingkat Arahat, dengan tekad bulat dan tetap berdiam di dalam samsara untuk kepentingan ummat manusia dan para dewa.

Mengetahui bahwa Sumedha memiliki persyaratan ini, Buddha Dipankara menghampiri Sumedha dan berdiri di dekat kepalanya, selagi ia masih bertiarap, dengan kekuatan batin-Nya, melihat jauh ke masa depan untuk mengetahui apakah Sumedha, yang sedang berbaring tiarap di atas lumpur, yang berkeinginan untuk menjadi Buddha, dapat tercapai keinginannya atau tidak.

Buddha Dipankara mengetahui semua tentang masa depan Sumedha, dan berkata,” Sumedha akan menjadi Buddha, bernama Gotama, setelah 4 Asankkheyya-Kappa dan 100.000 Kappa sejak saat ini.”

Setelah mendengar ramalan Buddha Dipankara yang tiada bandingnya di tiga alam, dewa dan manusia bersorak gembira, “Dikatakan Sumedha Sang petapa, adalah benar-benar seorang Bakal Buddha.” Mereka menepuk lengan kiri atas mereka dalam kegembiraan ( pada masa itu mereka tidak bertepuk tangan untuk menyatakan kegembiraan, tapi menepuk lengan kiri dengan telapak tangan kanan ). Dewa dan Brahma yang datang dari sepuluh ribu alam semesta bersama-sama dengan manusia mengangkat tangan memberi penghormatan.

Mereka juga mengungkapkannya lewat pengharapan,” Meskipun sekarang kami gagal dalam melatih ajaran Buddha Dipankara, raja dunia, kami akan bertemu lagi dengan petapa mulia ini yang kelak akan menjadi Buddha; saat itu kami akan sungguh-sungguh berusaha keras untuk mencapai pengetahuan Dhamma yang lebih tinggi.”

Setelah Buddha Dipankara membuat ramalan, Ia pergi dengan menginjakkan kaki  kanan-Nya di sebelah Sumedha. Keempat ratus ribu Arahanta juga meninggalkan tempat  dengan Sumedha di sisi kanan mereka ( setelah mempersembahkan bunga dan dupa ). Demikian pula dengan manusia, para Naga, musisi Surgawi ( Gandhabba ) meninggalkan tempat setelah memberi penghormatan kepada Sumedha dan mempersembahkan bunga dan dupa.

Setelah Buddha Dipankara dan keempat ratus ribu Arahanta menghilang dari pandangan, Sumedha bangun dengan gembira dari posisi tiarapnya, dan dengan pikiran dipenuhi kegembiraan dan kebahagiaan, ia duduk bersila diaas tumpukan bunga-bunga yang ditebarkan untuk menghormatinya oleh para dewa dan manusia, kemudian merenungkan :

“ Aku telah berhasil mencapai Jhana dan lima kemampuan batin. Di sepuluh ribu alam semesta, tidak ada petapa yang menyamaiku. Aku tidak melihat seorang pun yang sama denganku dalam hal kekuatan batin.” Dan Sumedhapun merasakan kegembiraan dan kebahagiaan luar biasa.

II. MENYEMPURNAKAN DASA-PARAMITA

Selama Empat Asankkheyya Kappa + 100.000 Maha-Kappa ( siklus dunia ) yang tak terhitung lamanya, Boddhisatta Gotama berjuang untuk menyempurnakan sepuluh kesempurnaan (Dasa-Paramita) yaitu :

  1. Kesempurnaan Kemurahan-Hati ( Dana-Paramita )
  2. Kesempurnaan Moralitas ( Sila-Paramita )
  3. Kesempurnaan Pelepasan-Keduniawian ( Nekkhama-Paramita )
  4. Kesempurnaan Kebijaksanaan ( Panna-Paramita )
  5. Kesempurnaan Semangat ( Viriya-Paramita )
  6. Kesempurnaan Kesabaran ( Khanti-Paramita )
  7. Kesempurnaan Kebenaran ( Sacca-Paramita )
  8. Kesempurnaan Kebulatan-Tekad ( Adhitthana-Paramita )
  9. Kesempurnaan Cinta-Kasih ( Metta-Paramita )
  10. Kesempurnaan Keseimbangan-Batin ( Upekkha-Paramita )

Dibawah ini dituturkan kisah-kisah kehidupan lampau yang menjelaskan bagaimana Boddhisatta Gotama mencapai kesempurnaan dalam masing-masing dari sepuluh kebajikan itu. Harus dimengerti bahwa Boddhisatta mempraktikkan masing-masing dari sepuluh kesempurnaan itu dalam banyak kelahiran yang tak terhitung, dan hingga tingkat yang tidak hanya mencakup pemberian kekayaan dan kerajaannya untuk kebaikan dunia. Kemurahan hatinya juga mencakup pemberian anggota-anggota tubuhnya, kehidupannya, dan terutama, anak-anak dan istrinya yang tercinta, hingga mencapai kesempurnaan dalam kemurahan hati. Sepanjang sekian banyak kalpa Boddhisatta bekerja dengan tak kenal lelah, dengan kebulatan tekad dan ketekunannya, untuk menyempurnakan setiap Paramita.

1. Kesempurnaan Kemurahan-Hati ( Dana-Paramita )

Kisah berikut ini diambil dari Wessantara Jataka. Sekian waktu yang lalu di negara yang sekarang kita kenal sebagai India, ada sebuah kota bernama Jetuttara. Jetuttara diperinta oleh seorang Raja yang berbelas –kasih dan berkebajikan bernama Sanjaya, yang memiliki anak bernama Wessantara. Pangeran Wessantara, yang tak lain adalah Boddhisatta kita, adalah seorang yang sangat mengagumkan dalam kebajikan dan terpelajar. Dia bukan hanya memiliki segala kualitas yang dibutuhkan untuk dapat menjadi seorang ahli waris, dia juga berbelas-kasih dan terkenal karena praktiknya dalam kemurahan hati.

Kemasyhuran Wessantara karena kemurahan hatinya menyebar ke segenap penjuru negeri. Seorang raja tetangga yang iri hati, yang mendengar bahwa pangeran tak pernah menolak seorang pun, mengirimkan orang-orangnya yang berpakaian Brahmana untuk meminta gajah istananya yang amat besar. Pada waktu itu gajah istana kerajaan bukan hanya sebuah simbol status yang tinggi yang dipilih dengan hati-hati, ia juga suatu defensi yang berguna pada zaman perang. Pangeran Wessantara, yang kaget mendengar bahwa seorang Brahmana membutuhkan gajah kerajaan, mencurigai bahwa itu merupakan taktik dari esorang raja yang iri hati. Karena belum pernah menolak apapun yang diminta, dia menekan pikirannya dengan berefleksi pada kebajikan-kebajikan dari kemurahan hati sehingga memberikan gajah istana bukan taktik politis. Dengan mengangkat kendi emasnya tinggi-tinggi, beliau mencurahkan air sebagai tanda pemberian ke tangan si Brahmana selaku adat pada waktu itu, dan menyerahkan gajah istana yang dirias dengan semarak.

Ketika rakyat mendengar hadiah Pangeran Wessantara, mereka menjadi sangat marah. Dengan mengklaim bahwa Beliau telah menyimpang terlalu jauh dalam praktik amalnya, mereka meminta agar Beliau dihukum karena tindakannya yang tidak sejalan dengan kebijaksanaan politis. Pangeran Wessantara dibuang ke hutan belantara di Gunung Wanka.

Ketika mendengar hukumannya, Pangeran Wessantara berseru, “Para menteri tidak mengerti kebajikan dalam kemurahan hati. Mereka tidak mengerti bahwa aku akan memberikan mataku, kepalaku, hidupku, untuk kebaikan orang lain.” Kemudian perlahan-lahan, dalam kesedihannya, dia berjalan ke arah ayah dan istrinya – Putri Maddi – untuk mengucapkan selamat tinggal. Bagaimanapun juga, Putri Maddi merasa bahwa hidup tanpa suaminya akan lebih buruk daripada kematian. Dengan membawa kedua anak mereka, Jaliya dan Krishnajina, dia bersiap pergi ke hutan belantara bersama dengan Pangeran.

Setelah memberikan segala sesuatu yang mereka miliki kepada orang-orang miskin, Pangeran dan Putri dan anak mereka masuk ke hutan dengan pakaian sederhana seperti pakaian yang dikenakan oleh para petapa. Mereka hidup dari buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan di hutan dan hidup dalam harmoni dengan burung-burung dan binatang-binatang. Anak-anak bermain-main di antara bunga-bunga nan indah dan menceburkan diri di sungai-sungai kecil. Sang Putri mengumpulkan buah-buahan dan kacang-kacangan untuk makanan mereka, sementara Sang Pangeran menghabiskan waktunya dalam meditasi. Mereka hidup dalam kebahagiaan meskipun kekurangan kekayaan dan kenyamanan yang biasa mereka nikmati.

Suatu hari Putri Maddi pergi ke hutan untuk mengumpulkan buah dan pangeran beserta dua anaknya yang kecil sedang bermain di tengah bunga-bunga dengan riangnya, ketika seorang Brahmana tua yang tubuhnya kotor akibat melakukan perjalanan mendekati Sang Pangeran. Menyatakan bahwa istrinya telah tua dan membutuhkan pelayanan seorang yang lebih muda, dia meminta anak-anak bangsawan itu. Kata-kata tersebut laksana sebuah tikaman yang menembus ke jantung Sang Pangeran. Namun, ketika merenungkan cita-citanya untuk mencapai ke-Buddha-an, dan perlunya menyempurnakan kemurahan hati, dengan berat hati dia memenuhi permintaan Sang Brahmana.

Melihat kesedihan di mata anak-anaknya, Pangeran meminta agar Brahmana itu menunggu kembalinya Sang Putri supaya anak-anak dapat mengucapkan selamat berpisah kepada ibu mereka. Brahmana itu menolak, khawatir Pangeran akan berubah pikiran jika ada istrinya. Meskipun Pangeran menjamin bahwa Sang Putri adalah istrinya yang taat, dan akan mendukung keputusannya – meskipun itu menyedihkan hatinya – Brahmana itu tidak mengubah tuntutannya.

Dengan airmata yang berlingan Sang Pangeran menyerahkan kedua anaknya dengan mencurahkan air sebagai tanda pemberian ke tangan Brahmana. Anak-anak yang selalu taat itu perlahan-lahan meninggalkan ayah mereka setelah ber-namaskara dan ber-anjali. Pangeran diliputi kesedihan yang dalam ketika melihat anak-anaknya menerima keputusannya dengan tenang. Perpisahan dari anak-anaknya sangat memedihkan hatinya. Kepalanya berdenyut-denyut dan terasa sakit seakan seribu pisau menikam tenggorokannya. Dengan tujuan ke-Buddha-an di dalam pikirannya, Pangeran menaklukkan kesakitannya dan menahan diri dari menyesali pemberiannya.

Ketika Putri Maddi kembali dari hutan, tangannya penuh dengan buah-buahan, dia mengetahui ada sesuatu yang tidak wajar. Dia tidak mendengar teriakan sukacita dan tawa anak-anaknya. Mereka tidak berlari kepadanya dan memeluknya seperti yang biasa mereka lakukan. Kemudian dia melihat Pangeran, kepalanya menunduk dengan kedukaan yang dalam, wajahnya diliputi dengan ketegaran untuk mempertahankan ketetapan hatinya dengan tanpa penyesalan. Dengan berlari ke arah pangeran, Sang putri menanyakan anak-anak mereka. Namun Pangeran tidak dapat berbicara. Dia menatap istrinya dengan tatapan sedih tetapi tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya.

Sang Putri yang bingung dan putus-asa berlari memanggil anak-anaknya, kemudian jatuh pingsan karena kesedihan yang dalam. Boddhisatta mengangkat tubuhnya dengan lembut dan membasahi wajahnya dengan air dingin. Kemudian dia berbicara dengan penderitaan berat karena pengorbanan tertinggi dalam kemurahan hati yang dibuat untuk kepentingan ummat manusia. Sang Putri menenangkan diri sendiri dan memegang tangan Pangeran, berlutut dan berdoa memohon bantuan para dewa untuk kesejahteraan anak-anak mereka. Setelah berjanji untuk menjadi istrinya selama berkalpa-kalpa, Sang  Putri mengerti tindakan kemurahan hati yang tertinggi ini dan merenung, bahwa dia tidak mengeluh seandainya suaminya memberikan dirinya – sesuai dengan permintaannya – demi mencapai ke-Maha-Tahu-an ( Sabbannutta-Nana ).

Dunia bergetar dan aneka bunga yang menyebarkan aroma-wangi menghujani Sang Pangeran. Suara musik surgawi bergema di udara karena Sakka, Raja para dewa, menatap dengan perasaan terpesona dan mengelu-elukannya sebagai Buddha yang akan datang. Kemudian karena ingin mengujinya lebih lanjut, Sakka menyamar sebagai seorang tua dan berkata, “Aku telah mendengar kemurahan hatimu yang luar biasa. Kemarin kamu telah memberikan kedua anakmu. Sekarang aku meminta istrimu yang berdiri di sampingmu, yang seperti bidadari surgawi.”

Pangeran menatap sang istri yang tenang ketika dia berjalan mendekatinya. Kemudian menggandeng tangannya dan menyatukannya dengan tangan laki-laki tua itu. Dia mencurahkan air pemberian. Tidak ada kemarahan atau keluhan yang terdengar dari Sang Putri, karena dia tahu pikiran suaminya. Dengan linangan air mata dia memandang suaminya dengan ungkapan cinta, dengan sikap berterimakasih bahwa dia mampu membantu suaminya dalam usaha mencari kesempurnaan batin.

Sebuah cahaya cemerlang yang melebihi pancaran para dewa menerangi bumi, ketika Sakka mendapatkan kembali bentuknya sebagai Raja di alam-alam surga, dan para Dewa turn ke bumi untuk mengagungkan Buddha yang akan datang. Dengan menggandeng tangan sang putri, Raja alam-alam surga dengan lembut mengembalikan dia kepada Pangeran sambil berkata,  “ Hanya mereka-mereka yang suci hatinya akan mengerti perbuatan yang mengagumkan ini. Demi kesejahteraan umat manusia, untuk mendapatkan kesempurnaan dalam kemurahan hati, beliau telah mempraktikkan ketidakterikatan hingga tingkatanya yang paling penuh. Hormat pada Buddha yang akan datang”. Setelah memberitahu bahwa Pangeran dan istrinya akan bersatu kembali dengan anak-anak mereka dan Raja Sanjaya, Sakka – Raja alam surgawi – naik kembali ke tempat kediamannya di surga.

Kemurahan-hati ( Dana Paramita ) adalah yang pertama dari sepuluh kesempurnaan ( Dasa Paramita ), namun ini adalah kebajikan terakhir yang dilengkapi Boddhisatta. Ketika melengkapi kebajikan terakhir – kemurahan hati – Pangeran Wessantara berseru dengan sukha-citta :

“Dunia ini tidak menyadari meskipun dia (Putri Maddi) ada, dan tidak tahu tentang sukkha-citta atau dukkha-cittanya, Kemudian dia pun merasakan kekuatan dahsyat dari pemberian, dan bergetar dan bergoncang penuh hingga tujuh kali.”

Setelah bersatu kembali dengan Raja Sanjaya dan anak-anaknya, Pangeran Wessantara memerintah atas kerajaan Jetuttara dengan belas kasih dan kebenaran. Sekarang dia melengkapi sepuluh kebajikan yang dibutuhkan untuk mencapai ke-Buddha-an. Setelah meninggal Pangeran Wessantara dilahirkan di Surga Tusita sebagai Dewa Setaketu, untuk menunggu waktu yang tepat bagi kelahirannya yang terakhir sebagai Samma-Sambuddha.

2. Kesempurnaan Moralitas ( Sila-Paramita )

Kisah berikut ini diceritakan dalam Sankhapala Jataka. Pada masa lalu yang jauh, kerajaan Rajagaha diperintah oleh seorang raja yang berkebajikan bernama Magadha. Ketika anaknya, Pangeran Duriyodha telah cukup usia, Raja Magadha menyerahkan kerajaan kepadanya. Kemudian dia menjalani kehidupan sebagai seorang petapa dan tinggal di sebuah petapaan di halaman tertutup dalam lingkungan istana.

Pangeran Duriyodha, yang sangat cinta pada ayahnya, mengunjungi sang ayah 3-4 x sehari dan menghujani dia dengan pemberian-pemberian dan barang-barang mewah. Merasa bahwa kehidupan seorang petapa sejati tidak mungkin selama tinggal di lingkungan istana, Raja tua meninggalkannya. Dia berpindah ke sebuah kota yang jauh yang bernama Mahinsaka dan tinggal di sebuah gua batu di sisi sebuah danau indah bernama Sankhapala.

Tak lama kemudian raja tua yang dihormati oleh semua orang menjadi seorang guru besar. Satu makhluk Raja Naga yang tinggal di sebuah kerajaan yang indah dan mewah, yang tak jauh dari tempat itu sering mengunjungi raja tua itu untuk mendengarkan ajarannya. Suatu hari, ketika Pangeran Duriyodha mengunjungi ayahnya, beliau berjumpa dengan Raja Naga dan para pengikutnya. Setelah menerima undangan Raja Naga, Pangeran mengunjungi kerajaannya yang indah. Sebuah keinginan yang kuat untuk hidup di dalam kerajaan yang indah itu muncul di dalam dirinya. Setelah kematiannya Pangeran Duriyodha dilahirkan kembali di dalam kerajaan Naga sebagai seorang raja dengan nama Sankhapala.

Raja Sankhapala (Boddhisatta) sering mengenakan jubah yang sederhana dan bermeditasi di hutan yang dekat. Suatu hari yang indah, Raja Sankhapala menanggalkan pakaian kebesarannya dan berdandan sebagai seorang petapa yang sederhana. Dia kemudian melakukan perjalanan jauh ke dalam hutan, untuk bermeditasi di tengah-tengah aneka bunga yang bermekaran di dekat danau Sankhapala nan indah.

Beberapa pemburu, yang telah berburu selama berhari-hari tanpa hasil, mendekati raja yang sedang tenggelam di dalam kedalaman meditasi. Karena tidak mengenal Raja, mereka memutuskan untuk membunuh Beliau dan menyantap dagingnya karena mereka tidak mendapatkan makanan selama berhari-hari. Setelah menusuk beliau dengan tombak-tombak mereka yang tajam, mereka memperlakukan Beliau sebagai tawanan. Kemudian mereka mengikat kaki dan tangan beliau, dan menggantung beliau pada sebuah tongkat panjang dengan kaki diatas. Dengan menempatkan tongkat di pundak mereka, mereka membawa Beliau ke camp mereka.

Kepala Raja, yang ditarik di tengah-tengah batu-batu dan semak-semak, memar dan mengalami luka-luka. Tubuh beliau, yang dilukai dengan pisau-pisau dan tombak pemburu mereka, mengalami kesakitan yang hebat. Mengetahui bahwa mereka tidak mengenal dirinya, dan itu merupakan sebuah tindakan yang dilakukan karena mereka sangat lapar. Boddhisatta tetap tenang. Dengan memancarkan belas-kasih dan cinta-kasih kepada lawan-lawannya Beliau menerima kesakitannya dengan tenang, tidak mengucapkan sepatah kata pun yang menyatakan kebencian atau kemauan jahat.

Pada saat itu seorang pedagang bernama Alara, yang sedang menempuh perjalanan melewati hutan itu dengan kereta-kereta dan lembu-lembunya, melihat Boddhisatta. Dipenuhi dengan belas kasihan ketika melihat ‘petapa’ yang tenang meskipun terluka, Alara memberikan emas dan barang-barang dagangan kepada para pemburu itu untuk kebebasan beliau. Alara yang kemudian menerima Beliau dengan lembut, membersihkan dan mengobati luka-lukanya. Raja kemudian menerangkan bahwa dirinya tak lain adalah Raja Sankhapala dan membawanya kembali ke kerajaan Naga untuk memberikan ganjaran kepadanya atas kebaikan hati dan belas-kasihnya. Dalam menaati peraturan-peraturan selama mengalami siksaan, yang menunjukkan tidak adanya kemarahan atau dendam (kemauan jahat), Boddhisatta melengkapi kesempurnaan dalam moralitas, kemudian dengan sukacita Beliau berseru :

“Mereka melukai aku dengan tombak-tombak yang lancip. Mereka menganiaya aku dengan pisau-pisau pemburu mereka. Aku tidak marah, tidak menyimpannya di dalam hati, tetapi mempertahankan peraturan-peraturan untuk mencapai kesempurnaan.”

3. Kesempurnaan Pelepasan-Keduniawian ( Nekkhama-Paramita )

Kisah berikut ini diceritakan dalam Cula Sutasoma Jataka. Pada masa lampau yang jauh di kota Sudassana memerintah seorang raja bernama Brahmadatta. Boddhisatta kita dilahirkan sebagai anak laki-lakinya dan bernama Somanassa. Pangeran Somanassa terkenal karena cintanya pada pelajaran, kebijaksanaannya dan kebajikannya. Ketika Pangeran cukup usia, dia menikahi seorang putri ayu bernama Chanda Dewi Jauh sebelum raja mewariskan kerajaan kepada anaknya itu, yang memenangkan hati rakyatnya melalui kebaikan hati dan kebajikannya. Pangeran , yang sangat cinta pada pelajaran, segera ditunjuk sebagai Raja Sutasoma, nama yang sering digunakan untuk menunjuk pada seorang yang sangat terpelajar.

Raja Sutasoma (boddhisatta kita) memutuskan bahwa beliau akan memfokuskan bagian pertama dari kehidupannya untuk kesejahteraan rakyat dan kerajaannya, tahun-tahun berikutnya untuk perkembangan spiritual. Dengan pikiran ini, Beliau meminta tukang cukur istana untuk memberitahu kepadanya tentang rambut abu-abu pertama yang muncul di kepalanya. Suatu hari ketika Raja memotong rambutnya, tukang cukur itu mendapat sehelai rambut abu-abu. Memotongnya dengan hati-hati dia menunjukkan pada Raja, yang kemudian memutuskan bahwa itu adalah saat bagi dia untuk meninggalkan kerajaannya, dan mulai mempraktikkan perkembangan spiritual. Setelah mengoperkan kerajaan kepada adiknya yang laki-laki, Pangeran Somadatta, Raja Sutasoma meninggalkan kerajaannya dan kekayaannya lalu menjalani kehidupan sebagai seorang petapa.

Pangeran Somadatta, Putri Chanda Dewi dan rakyat kerajaan meminta raja yang populer itu untuk tetap tinggal. Namun sang raja, yang sekarang telah membulatkan hati untuk menjalani kehidupan spiritual, menolak untuk mengubah pikirannya.

Pangeran Somadatta enggan mengambil-alih kerajaan dan tugas-tugas istana kerajaan. Namun berbagai hal sungguh tidak sama. Sang pangeran muda merindukan kakaknya, yang dicintainya dan yang kepadanya dia bergantung. Rakyat kerajaan, meskipun mencintai Pangeran Somadatta, sering membicarakan Raja bajik yang telah meninggalkan keduniawian itu. Mereka memutuskan untuk mencoba Beliau pada suatu waktu untuk memikat hati Raja dengan aneka kesukaan duniawi. Pangeran, Ratu Chanda Dewi, para menteri dan banyak rakyat mengunjungi tempat petapaan di hutan dimana Raja berdiam. Meskipun mengenakan pakaian sederhana, Raja tampak cerah dan damai, ketika dia duduk dalam meditasi di tengah-tengah aneka bunga yang bermekaran di petapaannya. Dengan menghormat di depan Raja, yang sekarang mengenakan pakaian petapa yang sederhana, mereka mempersembahkan kerajaan kepadanya.

Raja mendengarkan mereka dengan sabar, kemudian mengajarkan kepada mereka kebajikan dari kehidupan suci. Setelah mendengar ceramah beliau, Ratu dan rakyat yang menyertainya memutuskan untuk meninggalkan kesenangan-kesenangan duniawi guna mengembangkan kehidupan spiritual mereka. Setelah diberi nasehat dan dorongan oleh Raja, Pangeran Muda dan para menterinya kembali ke istana untuk memerintah rakyat disana. Ketika menyempurnakan kebajikan dalam pelepasan keduniawian Boddhisatta berseru demikian :

“Sebuah kerajaan jatuh ke dalam tanganku. Seperti air liur yang menjijikkan aku biarkan ia jatuh. Karena tidak merasakan keinginan sedikitpun, dan dengan demikian pelepasan keduniawian tercapai.”

4. Kesempurnaan Kebijaksanaan ( Panna-Paramita )

Kisah berikut ini diceritakan dalam Sattubhatta Jataka. Pada masa lampau yang jauh Boddhisatta dilahirkan sebagai seorang Pandhita yang amat bijaksana dengan nama Pandhita Senaka. Raja menunjuk Beliau sebagai menteri dan tak lama kemudian beliau sangat termasyhur, karena kebijaksanaan dan keadilannya ketika menangani berbagai problem dan konflik, di antara rakyat yang berada di bawah dominasinya. Kemasyhurannya tersebar ke kota sehingga orang-orang yang mengalami problem datang kepadanya dari segala penjuru negeri, untuk mencari keadilan dan jalan keluar yang tepat.

Di kota itu tinggal seorang Brahmana yang memiliki istri muda yang sangat ayu. Tanpa setahu Sang Brahmana dia bercinta dengan banyak laki-laki, dan sering menjamu para tamu laki-lakinya ketika suaminya tidak ada. Pada suatu hari perempuan muda itu meminta agar suaminya mencari pekerjaan supaya dia dapat mengumpulkan emas, untuk menyediakan para pelayan bagi mereka dan menabung untuk masa depan mereka. Kemudian, setelah mengemas makanan-makanan yang lezat untuk bekal di perjalanan, dia menyuruh suaminya pergi.

Brahmana tua itu bekerja keras dan berusaha sungguh-sungguh mengumpulkan emas, guna menyediakan dua pelayan dan menabung untuk masa depan mereka. Kemudian, ketika ingat makanan yang dipaket istrinya, dia berhenti di sisi jalan untuk menyantap makanan-makanan lezat yang dibuat istrinya. Tanpa setahu dia, seekor ular beracun merayap ke dalam tas terbuka yang berisi makanan itu, karena tertarik pada aromanya yang sedap. Setelah memakan isinya dia menutup tas itu, dan melanjutkan perjalanan pulang tanpa menyadari bahwa seekor ular ada di dalam tas yang berisi makanan yang tersisa.

Satu dewa pohon, ketika melihat bahaya mengancam laki-laki itu, menampakkan diri di hadapan Sang Brahmana dan berseru,”Jika kamu kembali ke rumah, istri kau akan mati ; jika kamu berhenti lagi di sisi jalan, kamu akan mati.” Brahmana tua itu terkejut dan khawatir. Karena tidak dapat mengerti kata-kata dewa itu, dia terbelenggu dalam kedukaan. Dalam perjalanan itu dia tertarik oleh sebuah rombongan besar yang datang untuk mengunjungi Pandhita Senaka, guna mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepadanya. Brahmana itu juga mendekati Pandhita tersebut, dan setelah menceritakan riwayatnya, dia meminta kepada Pandhita untuk menerangkan kata-kata Dewa itu.

Setelah merenungkan kata-kata itu selama beberapa waktu Pandhita Senaka meminta, kepada Sang Brahmana untuk melepaskan ikatan di sekitar tas makanan itu dengan hati-hati. Dia mengatakan kepada Brahmana itu bahwa ia curiga ada ular beracun di dalam tas. Dia kemudian menerangkan kata-kata Dewa  itu dengan mengatakan bahwa jika Sang Brahmana pulang, maka istrinya akan mati karena tidak menyadari adanya ular itu, dia akan memasukkan tangannya ke dalam tas itu untuk mengeluarkan makanan yang tersisa, danjika dia berhenti dalam perjalanan untuk istirahat lagi, dia akan mati, karena dia akan memasukkan tangannya ke dalam tas untuk mengambil makanan. Sesuai petunjuk, Brahmana tua itu membuka tas dengan hati-hati. Seekor ular kecil tetapi beracun merayap keluar dan masuk kedalam semak-semak.

Laki-laki tua itu merasa sangat berterimakasih kepada Pandhita itu, yang telah menyelamatkan hidupnya. Dia mempersembahkan 700 coin emas, yang dia peroleh kepada Pandhita. Pandhita Senaka, yang terkejut ketika melihat begitu banyak uang yang dimiliki laki-laki tua yang lelah, akibat melakukan perjalanan itu, menanyakan kepadanya bagaimana dia bisa memiliki begitu banyak uang, dan meminta dia untuk menuturkan kejadian beberapa hari yang lalu dengan lengkap.

Merasa kasihan pada laki-laki tua yang telah bekerja keras, Pandhita menolak hadiah itu dan memberi dia 300 coin emas supaya dia memiliki 1.000 coin emas untuk masa depan dia dan istrinya. Namun, karena mencurigai perempuan muda itu berkhianat, dia meminta kepada Brahmana itu untuk tidak memberitahu istrinya tentang tabungannya. Dia menyediakan dua pelayan untuk istrinya sesuai permintaannya dan memendam seluruh hartanya di taman mereka dengan setahu istrinya.

Beberapa hari kemudian dia terkejut menemukan seluruh emasnya telah lenyap. Dalam bingungnya, dia mengunjungi Pandhita Senaka yang bijaksana dengan berharap mendapatkan solusi untuk masalahnya. Boddhisatta mendengarkan kasus itu, dan mencurigai pengkhianatan perempuan muda itu, menasehati Brahmana tua itu untuk menjami 14 orang tamu selama 7 hari. Tujuh tamu dipilih oleh istrinya dan tujuh tamu lain dia sendiri yang memilih. Setiap hari secara berturut-turut, masing-masing mengeliminasi satu tamu supaya pada hari ketujuh hanya ada dua tamu, yang mana satu tamu dipilih oleh istrinya dan satu lagi dipilih oleh dia sendiri. Dia kemudian meminta agar Brahmana itu datang kembali dan memberitahukan identitas tamu terakhir yang dipilih istrinya.

Brahmana itu mengikuti instruksi Sang Bijaksana dan mengidentifikasi tamu terakhir istrinya – tamu yang dipilih perempuan itu untuk mengikuti perjamuan selama tujuh hari penuh. Boddhisatta kemudian mengirim orang-orangnya untuk menyelidiki rumah tamu terakhir itu dan menemukan emas yang dicuri.

Ketika ditangkap laki-laki itu mengakui kesalahannya dan hubungannya dengan perempuan muda itu. Boddhisatta itu menanyakan kepada Sang Brahmana apakah dia bersedia memaafkan istrinya dan tetap bersama dia. Setelah diberitahu bahwa dia masih mencintai istrinya dan ingin tetap bersama dia, Boddhisatta menasehati perempuan muda itu tentang bahaya dan kebodohan dari tingkah-lakunya dan akibat-akibat dari pelanggaran sexual. Ketika mendengar kebijaksanaan Boddhisatta, perempuan muda itu bersedia untuk mengubah tingkah-lakunya. Brahmana dan istrinya pulang dengan damai.

Boddhisatta telah sering kali mempraktikkan kebajikan dalam bentuk kebijaksanaan selama banyak kelahiran. Ummaga-Jataka melukiskan banyak problem yang beliua pecahkan dalam upayanya mencari kebijaksanaan. Dengan memecahkan problem ini, Boddhisatta melengkapi kebajikan dalam bentuk kebijaksnaan. Beliau berseru dalam kebahagiaan :

“Dengan kebijaksanaan aku menyelidiki kasus ini dan membebaskan sang brahmana dari kesedihan yang dalam. Dalam kebijaksanaan tak seorang pun yang menyamai aku, aku telah mencapai kesempurnaan dalam kebijaksanaan.”

5. Kesempurnaan Semangat / Usaha ( Viriya-Paramita )

Kisah berikut ini diceritakan dalam Maha Janaka Jataka. Pada masa lampau yang jauh, kerajaan Mithila di negara yang sekarang dikenal sebagai India, diperintah oleh seorang raja bernama Maha Janaka. Beliau memiliki dua anak laki-laki bernama Arittha Janaka dan Pola Janaka. Ketika anak yang lebih tua, Arittha, telah cukup umur, Raja Maha Janaka menunjuk dia sebagai raja baru (penggantinya) dan beliau sendiri pensiun. Beliau juga menunjuk anaknya yang lebih muda bernama Pola, sebagai perdana menteri.

Tak lama kemudian raja tua mangkat. Kedua kakak beradik memerintah kerajaan dengan ramah dan bijaksana. Seorang menteri yang iri hati pada keramahan dan perhatian yang raja berikan kepada perdana menteri, merencanakan untuk menghancurkan Pangeran Pola. Dia mulai meracuni pikiran Raja Arittha dengan tuduhan yang salah tentang saudaranya. Raja, yang percaya pada menterinya, segera mulai berpikir bahwa Pangeran Pola merencanakan untuk membunuhnya dan merebut kerajaannya. Dia memerintahkan agar saudaranya itu dirantai dan dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah istana.

Pangeran Pola, yang sebenarnya seorang pangeran yang baik, kaget. Dia tahu bahwa dirinya tidak pernah melakukan suatu perbuatan tercela dengan pikiran, ucapan atau tindakan. Dengan menggunakan kekuatan Kebenaran dia beraspirasi demikian, Aku tidak pernah melakukan suatu perbuatan yang tercela baik dengan pikiran, ucapan maupun tindakan. Dengan kekuatan Kebenaran, semoga rantai yang membelengguku hancur.” Dengan kekuatan Kebenaran belenggu itu pun terhancurkan. Pangeran muda itu melarikan diri ke sebuah kerajaan tetangga dan hidup dalam penyamaran bersama orang-orang desa.

Pangeran Pola, yang memiliki karakter dan kualitas seorang pemimpin, mendapat dukungan dari rakyat desa. Dia mengirim pesan yang meminta abangnya menyerahkan kerajaan kepada dirinya karena tindakannya yang keliru dengan menghukum seorang yang tidak bersalah. Raja Arittha menolak. Dengan membentuk suatu pasukan, Pangeran Pola bersiap menyerang kakaknya yang menghukum dirinya karena kecerobohan.

Raja Arittha menyadari bahwa dirinya bisa mati di medan perang. Dia menyerahkan berbagai permata kepada istrinya yang sedang hamil anak pertama. Dia meminta kepada istrinya untuk melarikan diri dari kerajaan, demi keselamatannya jika dia mati di medan perang. Raja Arittha tewas di pertempuran dan Pangeran Pola mengambil alih kerajaan Mitthila sebagai Raja.

Ratu, dengan bantuan sebuah kereta perang yang bergerak cepat, menempuh perjalanan ke kota Kala Champa dan disana hidup di antara orang-orang miskin, di sebuah rumah untuk para tuna wisma. Suatu hari, seorang brahmana bersama para siswa pengikutnya yang sedang dalam perjalanan, mereka menuju sebuah danau untuk mandi melewati rumah itu. Melihat ratu berparas ayu yang sedang mengandung, dia merasa kasihan. Membawa pulang dia ke ruamh, dia minta istrinya memperhatikan kebutuhan-kebutuhannya karena dia adalah seorang perempuan yang lebih muda. Tak lama kemudian ratu melahirkan seorang bayi laki-laki yang tak lain adalah Boddhisatta kita. Dia menamai bayi itu Maha-Janaka seperti kakeknya.

Pangeran bayi itu tumbuh menjadi seorang siswa yang baik. Dia juga menjadi seorang olahragawan yang kuat. Namun, dia sering diolok-olok oleh teman-teman sebayanya sebagai seorang miskin yang tidak berayah. Karena ingin mengetahui ayahnya yang sejati, Pangeran bertanya kepada ibunya. Ketika mendengar bahwa dirinya anak seorang raja dan bahwa ibunya masih menyimpan permata-permata kerajaan, dia memutuskan untuk mencoba keberuntungannya.

Saat itu pangeran berusia enam-belas tahun. Ketika akan meninggalkan ibunya, Pangeran Maha-Janaka minta izin untuk pergi berlayar sebagai pedagang di kapal. Ibunya memberi dia satu bagian dari permata-permata kerajaan, dan mengucapkan padanya selamat jalan dan mendoakan kesuksesannya. Tujuh hari kemudian perahu itu menghadapi kesulitan. Laut yang bergelora mengamuk kapal itu dan menyebabkannya terombang-ambing ke kiri dan ke kanan. Anak buah kapal yang berani mencoba untuk mengontrol kapal ketika mereka melihat bahwa ia dikelilingi oleh beberapa kura-kura raksasa. Para anak buah kapal ketakutan tak berdaya menghadapi pemandangan makhluk-makhluk raksasa yang tidak lazim itu. Karena ketakutan mereka mulai berdoa kepada para Dewa untuk menyelamatkan mereka.

Apa yang dilakukan oleh Pangeran Maha-Janaka adalah berkebalikan dengan anak buah kapal lainnya yang memilih untuk berdoa meminta keselamatan kepada Dewa. Pangeran Maha-Janaka menyadari bahwa kapal akan segera terbalik. Dia mendesak sesama crew untuk mengikuti dirinya, dia menggunakan ghee (minyak) pada tubuhnya dan menyantap makanan untuk mempertahankan dirinya. Kemudian, setelah memanjat tiang kapal, dia terjun ke dalam air dan berenang. Setiap otot pada tubuhnya sakit dan bibirnya kering. Angin , panas dan air telah menyiksa kulitnya yang halus. Air asin menimbulkan kepedihan sementara panas matahari yang sedang meninggi membakar kulitnya. Tujuh hari telah lewat – tujuh hari dalam kesulitan dan usaha yang berat tetapi dia masih belum melihat daratan. Melihat seekor camar laut pada suatu jarak tertentu beliau melakukan usaha keras, akhirnya dia ingat bahwa dia sedang membawa tubuhnya yang terluka ke sebuah teluk kecil yang tersembunyi.

Pada saat yang hampir sama, Raja Pola dari Kota Mithila sedang menghembuskan nafasnya yang terakhir. Raja tua wafat setelah meninggalkan pesan bahwa raja berikutnya adalah laki-laki yang dipilih oleh anak perempuannya, Putri Siwali, sebagai suaminya. Calon demi calon, yaitu para pangeran dari negeri tetangga, dibawa ke hadapan sang putri untuk diterima. Tetapi sang putri menolak mentah-mentah mereka semua. Para menteri yang merasa prihatin mulai menjelajahi seluruh negeri untuk mencari satu pemuda yang cocok.

Pangeran Maha Janaka, yang telah dibesarkan oleh seorang petani yang penuh perhatian, sedang beristirahat di sebuah taman yang dekat. Setelah beristirahat dan sembuh, dia berjalan perlahan di antara bunga-bunga cantik ketika para menteri  yang naik kuda kerajaan mendekatinya. Ketika mengetahui bahwa dia adalah putra Raja Arittha, mereka mendandani Beliau dengan pakaian kerajaan dan membawanya ke istana. Putri Siwali terpesona ketika memandang Pangeran Maha Janaka. Dia berlari ke arah Sang Pangeran dan memegang tangannya dan menarik dia masuk ke dalam istana.

Dalam usaha mempertahankan hidup selama tujuh hari dengan keberanian dalam menghadapi cobaan berat akibat kecelakaan kapal, Boddhisatta menyempurnakan kebajikan dalam daya upaya. Setelah menyempurnakan kebajikan yang satu ini, Beliau berseru dengan sukhacitta :

“Kami jauh dari memandang daratan, semua crew mati tak lain karena ketakutan, namun pikiranku tetap tidak kacau, aku telah mencapai kesempurnaan dalam keberanian.”

6. Kesempurnaan Kesabaran ( Khanti-Paramita )

Kisah berikut ini diceritakan dalam Khantiwada Jataka. Pada zaman lampau yang jauh, sepanjang Kaya-Panidhana-Kala, Boddhisatta kita dilahirkan di dalam keluarga Pandhita, dan setelah meninggalkan kesenangan hidup yang dinikmati hari lepas hari, Beliau menjalai kehidupan sebagai seorang petapa. Beliau terkenal karena praktik kesabarannya, kebaikan dan belas kasihnya, dan juga karena ketrampilannya dalam mengajar orang lain. Nama aslinya segera dilupakan dan beliau menjadi dikenal sebagai Khantiwada, guru kesabaran. Boddhisatta tinggal di sebuah grotto (gua) nan indah disebuah hutan, di dekat sebuah kolam nan jernih yang disemarakkan dengan wangi bunga teratai biru dan putih.

Suatu hari di musim panas yang menyengat, raja dan para istrinya dan para pengikutnya memutuskan untuk mengunjungi hutan dimana Boddhisatta tingga. Disana, diantara aneka kembang nan indah raja menikmati nyanyian, tarian dan kegembiraan para istrinya yang  cantik. Terpikat oleh keindahan tempat dan aroma aneka bunga, raja merebahkan diri untuk bersantai dan menikmati nyanyian dan tarian para istrinya. Sebentar saja dia terlelap dalam tidur, terbuai oleh musik nan lembut dan hangatnya mentari.

Para istri raja, yang melihat junjungan mereka tertidur, berjalan-jalan di hutan untuk mencari kesenangan yang menyegarkan. Terpikat oleh keindahan hutan, mereka menjelajah lebih dalam dan semakin dalam untuk mencari aneka bunga  yang menawan. Tak lama kemudian mereka tiba di gua berbau wangi dimana Boddhisatta duduk dalam meditasi. Ketika melihat petapa yang tenang dan tak terusik mereka mengelilingi dia dan meminta beliau membagikan kebijaksanaannya kepada mereka.

Tak lama setelah bangun, raja menemukan para istri dan dayang-dayangnya tidak kelihatan. Dengan mengikuti jejak yang ditandai dengan bunga-bunga dan kelopak-kelopak bunga, yang dipetik oleh para istrinya raja tiba ditempat petapa yang tenang dan lembut yang dikelilingi oleh para istrinya. Dia menjadi terbakar oleh iri hati. Kemarahanya tak terkendali, di amencaci-maki Boddhisatta dengan kata-kata yang tidak patut,”Orang ini telah mempengaruhi istri-istriku. Dia hanya mengkhotbahkan kesabaran dan belas-kasih. Dia seorang yang munafik.” Dia meloloskan pedangnya dan bermaksud membunuh Boddhisatta.

Para istri raja itu kemudian memberikan alasan kepadanya, dengan mengatakan bahwa petapa itu tidak melakukan apa-apa selain mengkhotbahkan kepada mereka kebajikan dalam pengendalian nafsu dan kesabaran. Namun hal ini membuat raja semakin gusar. Dikuasai pikiran gila bahwa para istrinya sekarang membela sang petapa, dia berteriak,”Mari tunjukkan praktik pengendalian dirimu!” Dengan mengayunkan pedangnya dia menebas putus tangan sang petapa. Kemduain, melihat ekspresi yang tenang danlembut di mata sang petapa, dia menebas lagi dan lagi, menebas putus lengannya, hidungnya, telinganya, dan kakinya. Dara mengucur dari tubuh Boddhisatta dan membentuk sebuah kubangan darah di sekelilingnya. Namun tidak ada sepatah kata pun kemarahan  yang meluncur dari bibirnya. Belas kasih dan rasa kasihan kepada raja yang bodoh itu memenuhi hati sang Boddhisatta. Mengetahui dirinya akan meninggal, Boddhisatta memaafkan sang raja dengan ketenangan dan kesabaran dengan mengatakan :

“Semoga panjang umur raja yang tangannya kejam, yang karenanya tubuhku menjadi rusak. Perbuatan-perbuatan seperti itu menyucikan batin seperti batinku, yang menghadapinya dengan tanpa kemarahan.”

Namun raja yang kejam itu harus menerima akibat dari perbuatannya yang biada itu. Sebuah gempa bumi yang dahsyat dan suara gemuruh yang menakutkan membelah udara ketika tanah terbuka dan menelan dia. Dia mati dalam siksaan yang ditimbulkan oleh api kebenciannya.

Meskipun kesakitan jasmani dibawah pedang raja yang kejam itu tak tertahankan, Boddhisatta mempertahankan ketenangan dan kesabarannya dan tidak merasakan kemarahan atau kebencian kepada raja itu. Dan dengan berbuat demikian, setelah sekian lama mempraktikkan kesabaran, Beliau melengkapi kebajikan dalam kesabaran.

7. Kesempurnaan Kebenaran ( Sacca-Paramita )

Kisah ini diceritakan dalam Maha Sutasoma Jataka ( Sutasoma Jataka yang lebih besar ). Pada zaman lampau yang jauh , di negara yang sekarang kita kenal sebagai India, Boddhisatta dilahirkan di dalam keluarga istana dari suku Kaurawa. Karena wajah tampannya yang luar biasa dia dinamakan Sutasoma, yang berarti “Soma yang tampan seindah rembulan”. Pangeran Sutasoma sangat unggul dalam pelajaran dan terkenal karena praktiknya dalam agama. Tak lama kemudian beliau melampaui ayahnya dalam kebijaksanaan dan kebajikan, kemudian raja menyerahkan separuh dari kerajaannya kepada anaknya dan menjadikan dia ahli warisnya. Kerajaan diperintah dengan baik oleh ayah dan anak dan rakyat hidup dalam kebahagiaan dan kepuasan.

Suatu hari yang indah di bulan Mei. Aneka bunga bermekaran, memperindah pohon-pohon dengan wara-warninya yang cemerlang. Aroma wangi mereka dan keriangan para putri menarik Pangeran yang melangkah keluar dari istana ke taman istana. Di sana, beristirahat di bawah sebatang pohon yang teduh, Beliau menikmati ketenangan dan keheningan taman. Seorang Brahmana, yang telah mendengar tentang cinta Pangeran pada pelajaran religius, mendekati Beliau dan meminta izinnya untuk membacakan beberapa syair yang ia rasa Pangeran akan menikmatinya. Dengan ramah pangeran mengundang Brahmana itu untuk mengambil tempat duduk di sisinya.

Di hadapannya sang Brahmana dapat membicarakan kedamaian siang yang teduh. Para penjaga yang khawatir menerobos masuk untuk memberitahukan, bahwa Kamashapada si pemakan manusia sedang menjelajahi kota, untuk mencari seratus pangeran. Kamashapada, raja sebuah kerajaan kecil, pernah mengalami nasib malang dengan mencicipi daging manusia. Dia sangat menyukai rasa itu sehingga dia terus menurutui keinginannya dengan membunuh dan menyantap rakyatnya. Rakyat yang marah bersama-sama menghujat dan bersumpah untuk menghancurkan raja itu. Raja itu berlari ke dalam hutan dan meminta perlindungan kepada para Raksha, satu suku yang memakan manusia, dengan imbalan seratus pangeran. Kamashada sekarang sedang mengganas, mencari para pangeran untuk menepati janjinya.

Boddhisatta menyadari bahwa senjata-senjata tidak akan menaklukkan seseorang yang telah merendahkan martabatnya sedemikian rendah dengan membunuh rakyatnya sendiri untuk memuaskan keinginannya yang kuat pada daging manusia. Sebagai gantinya, Beliau memutuskan untuk menyerahkan dirinya dan mencoba menundukkan Kamashapada melalui kebajikan. Pangeran Sutasoma berjalan dengan tenang ke arah si pemakan manusia dan berkata, “Inilah aku. Ambillah aku dan tinggalkan rakyatku yang miskin tanpa mengganggunya.” Melihat pangeran yang tanpa pengawal dan hanya sendiri, Kamashapada menyambar dia, dan menyampirkannya ke atas punggungnya, membawa dia ke dalam hutan.

Kamashapada menurunkan Boddhisatta di sarangnya di tengah-tengah gundukan mayat dan tengkorak yang pecah. Tempat kematian yang berbau sangat busuk. Kamashapada yang duduk bersandar mengagumi keindahan dan kelembutan Pangeran Sutasoma.

Pada saat itu Pangeran sedang merenungkan kesempatan belajar yang hilang dengan sedih, dan memandangnya sebagai bencana yang menimpa, karena baru saja Sang Brahmana akan berbagi kebijaksanaan denga dirinya. Ketika mendengar keluhan Pangeran, Kamashapada tertawa dan bertanya apakah beliau sedang berdukkha-citta karena kehilangan kerajaannya, kekayaannya, atau keluarganya. Kemudian Boddhisatta memberitahu dia bahwa beliau bersedih bukan karena kekayaan atau keluarga tetapi karena kehilangan kesempatan untuk belajar. Beliau kemudian mohon diri untuk kembali guna mendengar kata-kata Sang Brahmana dan berjanji akan kembali ke sarang Kamashapada tanpa pengawal.

Kamashapada tertawa dan berkata,” Apa motifmu untuk kembali lagi kesini ? Jika aku membebaskanmu, aku akan kehilangan kamu.” Keingintahuan si pemakan manusia pun muncul. Dia telah menangkap seratus pangeran dan dapat memenuhi janjinya seandainya dia kehilangan pangeran ini.  Dia setuju dan membebaskan Boddhisatta.

Rakyat kerajaan itu sangat bersukha-citta ketika mereka melihat Pangeran berjalan kembali dengan selamat dan tidak kurang suatu apa pun. Beliau mengundang Brahmana itu dan setelah mendengar kebijaksanaannya Beliau siap kembali ke sarang Kamashapada. Raja ketakutan dan menolak mengizinkan dia berangkat, tetapi Pangeran bersikeras. Kemudian raja mengumpulkan tentara dan meminta agar mereka menemani Pangeran ke dalam hutan. Namun Pangeran menolak pengawalan dengan berkata,”Aku telah berjanji. Aku harus pergi seorang diri tanpa pengawalan.” Diiringi air mata dan rasa keberatan dari keluarga dan rakyatnya, Pangeran kembali ke sarang si pemakan manusia.

Ketika Kamashapada melihat Pangeran berjalan ke arahnya seorang diri dan tanpa pengawal dia kaget dan kagum. Rasa ingin tahunya muncul dan dia berkata,” Aku tidak usah repot-repot untuk membunuhmu. Kayu api pembakaran masih menyala. Daging manusia terasa paling lezat jika dibakar diatas bara api yang menyala-nyala. Jadi, ceritakanlah kepadaku, apa yang sangat penting yang telah kamu pelajari dari Brahmana itu ?”

Kemudian Pangeran bertanya kepadanya, “apa guna kebijaksanaan bagi orang yang hanya percaya pada kejahatan?” Si pemakan manusia yang marah itu kemudian mengejek Pangeran sebagai orang yang tidak punya kebijaksanaan politis sehingga datang kembali, katanya,”Hanya seorang yang tolol yang kembali setelah diberi kebebasan.” Namun Pangeran menghadapi komentarnya dengan mengatakan, bahwa yang lebih penting daripada kebijaksanaan politis adalah kejujuran. “Aku telah berjanji kepadamu. Bagiku, menepati janji itu lebih penting daripada mempertahankan kerajaan.”

Kamashapada yang telah ditundukkan dan menjadi rendah hati itu kemudian duduk di sisi Boddhisatta dan meminta beliau untuk mengajarkan kepadanya kebijaksanaan yang telah beliau peroleh. Boddhisatta bersedia mengajar dia, katanya,”Bahwa melalui pembebasanmu aku mendapatkan kebahagiaan dengan mendengarkan kebijaksanaan ini.” Kemudian beliau mengulangi kata-kata Brahmana itu:

“Tetapi sekali berjumpa dengan seorang yang berkebajikan, itu sudah cukup untuk membentuk suatu persahabatan yang abadi, jangan menunggu pertemuan-pertemuan berikutnya. Jagalah jangan sampai diri Anda terpisah dari orang yang berkebajikan, tetapi ikutilah dan hormatilah mereka senantiasa. Dia yang dekat dengan mereka tidak akan gagal untuk menjadi seperti mereka.

Orang-orang tersebut laksana debu bunga yang memancarkan aroma wangi dari kata-kata dan perbuatan-perbuatan mulia tanpa mengetahuinya. Telinga para raja dengan aneka permata dan emas hilang bersama keindahan permata-permata mereka, menjadi layu!

Sedemikian kuat cinta dalam orang-orang saleh yang memiliki kebajikan yang tidak pernah memudarkan kebajikan tetapi hidup untuk memberikan berkah.”

Ketika mendengar kata-kata ini, hati si pemakan manusia dipenuhi dengan kebahagiaan, dan dia mempersembahkan empat boon (anugerah) kepada Pangeran. Kemudian Boddhisatta meminta keempat boon berikut :

  1. Berjanji untuk hidup dalam kebenaran
  2. Berhenti menyakiti makhluk-makhluk hidup
  3. Membebaskan semua tawanan
  4. Tidak pernah lagi menyantap daging manusia

Sedangkan Kamashapada berkata,”Anda dapat memiliki tiga yang pertama, tetapi yang keempat, aku tidak dapat memberikannya. Aku tidak dapat berhenti menyantap daging manusia. Bagaimana aku dapat menghentikan rasa itu yang karenanya aku kehilangan kerajaanku?” Boddhisatta kemudian menerangkan bahwa jika tidak dapat melakukan yang keempat, maka dia juga tidak dapat melakukan tiga yang lain. Karena setelah menjanjikan sebuah boon lalu menolak menepati janjinya, maka janji itu sendiri bukan kebenaran.

Dengan bantuan Boddhisatta, Kamashapada menjadi seorang yang terubahkan (insyaf). Dia membebaskan seratus pangeran dan hidup dibawah pengaruh baik Pangeran Sutasoma. Tak lama kemudian ia kembali ke kerajaannya dan memerintah disana. Dengan menepati janjinya untuk kembali, Boddhisatta melengkapi kebajikan dalam kebenaran. Inilah yang beliau katakan dengan sukha-citta setelah melengkapi kebajikan dalam kebenaran :

“Aku menjaga janji yang aku ucapkan dan memberikan hidupku untuk dikorbankan. Seratus prajurit siap membebaskan aku. Sesungguhnya aku telah mencapai kesempurnaan.”

Harus dikatakan bahwa kebajikan dalam Kebenaran adalah yang tertinggi dari sepuluh kebajikan karena ia adalah satu kebajikan yang dijaga oleh Boddhisatta sepanjang Kaya-Panidhana-Kala. Selama periode ini adalah mungkin seorang Boddhisatta untuk melakukan kesalahan, karena dia masih seorang duniawi (belum mencapai tingkat kesucian apapun) dan merupakan subjek bagi perbuatna salah. Namun, dia tidak melanggar peraturan Kebenaran. Pencari Kebenaran, kandidat Buddha, mempertahankan peraturan kebenaran sepanjang periode yang amat lama itu, menjadikan Kebenaran sebagai yang paling penting di antara sepuluh kebajikan.

8. Kesempurnaan Kebulatan-Tekad ( Adhitthana-Paramita )

Kisah berikut ini diambil dari Mughapakkha Jataka. Pada masa lampau yang jauh, kota Benares diperintah oleh seorang raja dari kasta Mughapakkha, bernama Kasi. Sebagaimana kebiasaan pada waktu itu, raja memiliki seorang permaisuri dan banyak selir di istananya. Tak satu pun dari istrinya melahirkan anak. Fakta ini menimbulkan kesedihan yang mendalam pada hati raja dan para menterinya, karena tidak ada satu pun yang melanjutkan garis keturunan (silsilah) kerajaan.

Permaisuri Chandra, seorang ratu yang sangat bajik dan murah hati, memutuskan bahwa dia akan melakukan banyak perbuatan bajik dan berdoa, agar dia mendapatkan seorang anak laki-laki sebagai akibat dari perbuatan-perbuatannya yang bajik. Dia mulai bersungguh-sungguh melakukan perbuatan dalam kemurahan-hati, dan belas-kasih kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Kemudian dia beraspirasi untuk mendapatkan seorang anak laki-laki, sebagai akibat dari perbuatan-perbuatannya yang bajik itu.

Tak lama kemudian Ratu Chadra melahirkan seorang bayi laki-laki yang rupawan, yaitu Boddhisatta kita. Raja yang bersuka-cita memberi nama Pangeran itu Temiya dan memberikan anugerah kepada ratu karena telah melahirkan bayi laki-laki untknya. Ratu yang sangat bersuka-cita, yang berpendapat bahwa denganmemiliki seorang anak laki-laki dia mendapatkan segala yang dia perlukan, bertanya kepada raja apakah ia dapat memperoleh anugerahnya pada suatu hari nanti.

Sejak balita bayi ini tampaknya berbeda dari bayi-bayi lainnya. Dia tampaknya mengamati dan memahami semua yang terjadi di sekelilingnya. Ayahnya yang bangga membawa anak itu kemana-mana, dengan demikian Pangeran muda menyaksikan siksaan dari hukuman atas empat orang yang dituduh, diyakini melakukan perampokan.

Pangeran Temiya, sebagai orang muda menyadari bahwa suatu hari, sebagai raja, beliau juga diharapkan menghukum orang-orang yang bersalah dengan cara ini. Saat itu terlintas dalam ingatannya suatu kelahirannya yang lampau ; ketika menjadi seorang raja dia sering menyiksa orang-orang yang bersalah, hingga mengakibatkan kelahiran di alam menyedihkan dan menjalani siksaan selama 80.000 tahun. Dia tahu bahwa dirinya tidak ingin menjadi raja, namun sebagai satu-satunya pewaris tahta beliau tidak melihat jalan keluar.

Merenung demikian, Pangeran memutuskan bahwa dia harus bertindak dengan suatu cara sedemikian rupa agar tahta tidak diberikan kepada dirinya. Pangeran mengubah tingkah-lakunya dengan berpura-pura menjadi bisu, tuli, dan cacat-mental. Raja Kasi pun mulai meragukan kepantasan Puteranya sebagai ahli waris. Anak ini telah berubah. Kini , dia bukan seorang yang luar biasa cerdas dan bijaksana seperti yang pernah dipikirkannya. Di mata raja, sekarang dia seorang bisu yang bodoh.

Ratu memperhatikan anaknya dengan lemah-lembut, mencurahkan seluruh cintanya kepada anak-kecil yang malang itu, yang tidak dapat bicara maupun mendengar. Dia memandikan anak itu dan memberinya makan, karena tampaknya Pangeran Temiya seorang anak yang tidak dapat merawat dirinya sendiri.

Bagaimanapun juga, raja merasa malu terhadap anaknya. Apa gunanya anak yang tidak dapat menjadi raja ini ? Dia memanggil saisnya, Sunanda, memerintahkan untuk membawa anak itu, yang telah berusia 16 tahun, ke kuburan. “Bunuh dia”, perintah raja yang kejam itu, “Bunuh dia dan kuburkan tubuhnya. Kemudian bawalah pulang permata kerajaan yang dia kenakan.”

Ratu Chandra hancur hatinya ketika mendengar kata-katanya. Dengan air mata berlinang dia mengingatkan raja akan anugerah yang dia janjikan padanya pada hari kelahiran anak mereka.”Biarkan dia hidup”, pinta sang ratu dengan memelas,”Aku akan merawat dia, mohon biarkan dia hidup”. Di tengah-tengah permohonan sang ratu, pangeran muda itu dibawa ke kuburan untuk menerima kematiannya.

Setelah menghentikan kereta di tempat yang tepat, Sunanda mulai menggali sebuah kuburan untuk mempersiapkan kematian Pangeran Temiya. Pangeran Temiya kemudian muncul dari tempat duduknya dan berjalan dengan kalem ke arah Sunanda. Ketika mendengar suara langkah-langkah kaki, Sunanda meletakkan sekopnya dan berpaling, menatap Pangeran yang mukanya sangat cerah dan bercahaya,”Aku bukan seorang yang bisu tuli”, kata sang Pangeran,”Aku telah melakukan cara ini, karena ayahku tidak akan setuju membiarkan aku menempuh kehidupan suci. Inilah satu-satunya cara agar aku dapat menolak warisan kerajaan. Ambillah pusaka-pusaka kerajaan ini dan kembalikanlah kepada raja dan ratu. Biarlah mereka mengetahui bahwa anak laki-laki mereka telah menempuh kehidupan suci sebagai petapa. Kemudian bawalah mereka kembali ke lapangan di tengah hutan dimana aku akan tinggal.”

Sebagaimana diminta, Sunanda mengembalikan permata-permata itu dan menghibur sang ratu yang berdukkha-citta dengan menuturkan fakta itu. Raja dan ratu mengunjungi putra mereka yang telah berbuat dengan keyakinan dan kebulatan tekad yang sedemikian rupa, untuk menghindari perbuatan-perbuatan yang tidak trampil (buruk), yang harus dia lakukan selaku seorang raja. Ketika putra mereka berbicara tentang akibat-akibat dari perbuatan-perbuatan yang salah dan berbagai ekstreem, yang telah dia jalani untuk menghindari perbuatan yang salah, raja mengubah cara-caranya. Dia memutuskan untuk memerintah kerajaannya dengan kebenran, dan memberi izin kepada pangeran muda itu untuk bertahan dalam kehidupan suci. Ketika melengkapi kebajikan dalam ketetapan hati, Boddhisatta menyatakan :

“Bahwa aku tidak membenci orang-tuaku , bahwa aku tidak membenci kemuliaan,  namun karena aku menjunjung tinggi Kemahatahuan, maka aku mempertahankan tekadku yang kuat.”

9. Kesempurnaan Cinta-Kasih ( Metta-Paramita )

Kisah berikut ini diceritakan dalam Ekaraja-Jataka. Pada masa lampau yang jauh, di kerajaan Kosala, di sana memerintah seorang raja bernama Dabbamalla. Di istananya ada seorang menteri yang dipercaya, karena kesalahapahaman yang lalu, sangat iri hati pada raja tetangga bernama Ekaraja. Menteri itu merencanakan untuk menghancurkan Raja Ekaraja melalui kelicikan dan tipuan. Perlahan-lahan dia mulai meracuni pikiran Raja Dabbamala dengan menyebarkan berita yang salah tentang Raja Ekaraja. Tak lama kemudian Raja Dabbamala percaya bahwa Raja Ekaraja adalah seorang raja yang serakah dan zalim (bengis), yang bermaksud mengambil alih kerajaannya. Raja Dabbamala mengumpulkan seluruh tentaranya untuk menghancurkan Raja Ekaraja dan merebut kerajaannya.

Boddhisatta, yang lahir sebagai Raja Ekaraja, adalah seorang raja yang lemah lembut dan jujur yang memerintah kerajaannya dengan cinta-kasih, keadilan dan belas-kasih ; dia sering menggunakan waktu luangnya di tengah hutan untuk bermeditasi. Sebagai hasilnya, beliau telah mencapai tingkat-tingkat spiritual yang lebih tinggi, yang dikenal sebagai Jhana-Jhana. Orang-orang dalam kerajaan-Nya adalah orang-orang yang sangat bahagia dan lembut, mereka benar-benar tidak siap untuk bertempur. Karena itu dengan sangat mudah Raja Dabbamala menaklukkan kerajaan itu dan menangkap Raja Ekaraja.

Dengan kemarahan dan kebencian di dalam hatinya akibat tuduhan palsu dari menterinya, Raja Dabbamala mengikat kaki dan tangan Raja Ekaraja dan menggantung beliau dengan kakinya di pohon, dimana dia meninggalkan Beliau untuk mengalami suatu kematian yang perlahan dan menyakitkan. Hari berikutnya dia kembali untuk melihat dan menyaksikan momen-momen terakhir kematian Raja Ekaraja.

Raja berharap menemukan Raja Ekaraja yang ditaklukkan dan disiksa itu memohon belas-kasihan. Sebaliknya, dia menemukan seorang Raja yang tenang dan damai dalam meditasi yang dalam. Raja Ekaraja sedang bermeditasi beberapa kaki diatas tanah dan memancarkan kedamaian danketenangan. Raja Dabbamalla terkejut lantas bertanya kepada Raja Ekaraja tentang bagaimana Beliau keluar dari keadaan itu. Raja Ekaraja kemudian menjelaskan kepadanya kebajikan-kebajikan dalam cinta-kasih dan belas-kasih, dan bagaimana beliau sering tinggal di hutan dan bermediasi di antara binatang-binatang buas yang tidak pernah mengganggu beliau karena belas-kasih yang beliau pancarkan. Ketika mendengar kebenaran itu, Raja Dabbamalla mengembalikan Raja Ekaraja ke istananya dan meminta maaf. Dia kemudian menjatuhkan hukuman berat kepada menterinya atas kelicikannya itu.

Dengan mempraktikkan belas-kasih kepada semua makhluk hidup dengan sepenuh hati, Raja Ekaraja , Sang Boddhisatta, melengkapi kebajikan dalam belas-kasih. Setelah melengkapi kebajikan dalam belas kasih ini, Beliau berseru dengan sukkha-citta :

“Tidak ada ketakutan yang orang miliki terhadap aku, Aku pun tidak takut pada siapa pun. Dengan kemauanku yang baik kepada semua makhluk, aku percaya pada hutan-hutan sunyi dan suka tinggal disana.”

10. Kesempurnaan Keseimbangan-Batin ( Upekkha-Paramita )

Kisah berikut ini diceritakan di dalam Lomahangsa Jataka. Selama Kaya-Panidhana-Kala, Boddhisatta kita yang masih seorang duniawi melakukan banyak perbuatan yang tidak terampil yang mana dua belas diantaranya berakibat cukup serius, bahkan dialami setelah beliau menjadi Buddha. Empat diantaranya berkenaan dengan penghinaan kepada seorang Pacceka-Buddha.

Boddhisatta, yang berjuang mencapai kesempurnaan dan tingkat Buddha, telah merendahkan atau menghina Pacceka-Buddha karena iri-hati.Teks itu tidak secara khusus dihubungkan dengan keempat insiden tersebut. Namun sebagai akibat dari salah satu perbuatan yang tidak terampil ini Boddhisatta kita dilahirkan sebagai seorang asketik (petapa) yang mempraktikkan bentuk asketisme yang ekstrim. Para asketik dari sekte tidur di kuburan-kuburan di antara tulang-belulang dan tengkorak-tengkorak dari tubuh orang mati, yang telah ditinggalkan hingga membusuk, dan hampir tidak mengenakan pakaian.

Boddhisatta, yang selama periode ini percaya pada bentuk asketisme (petapaan) ekstrim ini, mempraktikkan kepercayaan tersebut sepenuhnya sehingga para pengikut sekte ini memuji Beliau dan menghormatinya karena ketekunan dan dedikasinya. Banyak orang yang tidak percaya pada bentuk petapaan ekstrem ini mengejek beliau karena praktik pertapaannya ini.

Sepanjang periode ini,Boddhisata yang mencoba menyempurnakan kebajikan dalam keseimbangan batin, mempertahankan sebuah pikiran yang seimbang dengan tidak bereaksi terhadap pujian maupun celaan yang beliau terima setiap hari. Dengan keseimbangan batin itu, Beliau mengamati berbagai sensasi yang muncul di dalam dirinya ketika Beliau dipuji, dan meredakan reaksi dari keinginan atau keterikatan pada sensasi yang menyenangkan, dengan merenungkan ketidakabadian. Dengan cara yang sama, dengan keseimbangan batin, Beliau mengamati sensasi-sensasi yang muncul ketika beliau diejek dan dihina, dan meredakan aversi (rasa tidak suka) dan repulsi (rasa-jijik) pada sensasi yang tidak menyenangkan dengan merenungkan ketidakabadian. Dengan berbuat demikian, Boddhisatta yang telah mempraktikkan keseimbangan batin selama sekian banyak kelahiran yang lampau, mencapai kesempurnaan dalam keseimbangan batin dan menyatakan demikian :

“Aku telah menempatkan diriku di antara orang mati, kubuat tulang-tulang mereka sebagai bantal, sementara orang-orang berdatangan, sebagian mengejek, dan sebagian memuji.”

Kemudian Boddhisatta menyadari, bahwa bentuk pertapaan ini tidak kondusif bagi usahanya untuk mencapai Pencerahan-Sempurna. Dia meninggalkan sekte ini dan menjalani asketisme yang dipraktikkan oleh sekte-sekte yang lebih moderat, dimana meditasi dan perkembangan spiritual merupakan tujuannya.

_______________________________________________

Dengan melengkapi kesempurnaan dalam kemurahan-hati ( Dana-Paramita ) dalam kelahirannya sebagai Pangeran Wessantara ( baca kisah Pangeran Wessantara ini pada point no.1 “Kesempurnaan Kemurahan-Hati (Dana-Paramita)” diatas ) , Boddhisatta kita melengkapi kesepuluh kesempurnaan.

Setelah wafatnya Pangeran Wessantara, Ia dilahirkan di Surga TusitaDewa Setaketu sebagai dewa bernama . Dan disanalah beliau tinggal hingga saat yang tepat untuk kelahirannya yang terakhir sebagai Buddha Gotama.

Nah, saudara-saudari se-Dhamma, marilah kita meneladani perjuangan Boddhisatta kita dalam memenuhi kesepuluh kesempurnaan selama Empat Asankkheyya-Kappa + 100.000 Maha-Kappa sebelum kelak dilahirkan menjadi Pangeran Siddhatta-Gotama dan akhirnya menjadi Buddha.

Kesempurnaan seorang Buddha adalah tiada bandingnya. Dibawah ini, ada tiga bait syair yang diucapkan oleh Suruci Sang Petapa yang kelak menjadi Yang-Mulia Sariputta sebagai penghormatan kepada Buddha-Anomadassi.

“Sakkā samudde udakam, Pametum ālhakena vā, Na tveva tava sabbaññu, Ñāņam sakkā pametave”

[ Adalah mungkin untuk mengukur banyaknya air di samudera besar menggunakan alat ukur; tetapi o Buddha, tak seorang pun apakah dewa atau manusia yang dapat mengukur dalamnya kebijaksanaan yang dimiliki oleh Yang-Teragung ]

“ Dhāretum pathavim sakkā thapetva tulamandale, Na tveva tava sabbaññu Ñāņam sakkā dharetave “

[ Adalah mungkin mengukur beratnya bumi ini dengan timbangan; tetapi, O Buddha, tak seorang pun apakah dewa atau manusia yang dapat mengukur dalamnya kebijaksanaan yang dimiliki oleh Yang Teragung ]

“Ākāso minitum sakkā rajjuyā angulena vā, Na tveva tava sabbaññu Ñāņam sakkā pametave”

[ Adalah mungkin mengukur luasnya angkasa dengan alat-ukur; tetapi, O Buddha, tak seorang pun apakah dewa atau manusia yang dapat mengukur dalamnya kebijaksanaan yang dimiliki oleh Yang Teragung ]

Sumber Pustaka :

1. Praktik Dhamma menuju Nibbana , Radhika Abeyesekera, Penerbit Sri Manggala 2008.

2. Riwayat Agung Para Buddha ( The Great Chronicle of Buddhas ) , Tipitakadhara Mingun Sayadaw, Myanmar ; Terbitan Ehipassiko collection , Girimangala Publications.

_________________________________________________

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Rabu, 23 September 2009

Posted in BUDDHA, Kronologi Hidup Buddha, Riwayat Hidup Buddha | 6 Comments »

LAMANYA WAKTU YANG DIBUTUHKAN UNTUK MENJADI SEORANG BUDDHA

Posted by ratanakumaro pada September 19, 2009

“Kelahiran sebagai manusia itu jarang, Kehidupan manusia itu sulit, Mendengar Kebenaran Mulia itu sulit, Munculnya seorang Buddha itu jarang.”

[ Dhammapada 182 ]

______________________________________

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa”

( Tikkhattum ; 3x )

Memahami Istilah-istilah :  Satu Siklus Dunia ( 1 Maha-Kappa ), Satu Periode Dunia ( 1 Asankkheyya-Kappa ), dan Antara-Kappa

Kebanyakan orang yang membaca riwayat hidup Buddha akan berpikir, bahwa Petapa Gotama membutuhkan waktu enam tahun untuk menjadi Buddha. Fakta yang sesungguhnya adalah bahwa Buddha Gotama membutuhkan waktu  selama 300.000 siklus dunia  ( atau = 300.000 Maha-Kappa ) plus (+) 20 periode ( 20 Asankheyya-Kappa ; atau / sama dengan 400 antara-kappa ) yang tak terhitung lamanya untuk mencapai Pencerahan batin Sempurna dan menjadi seorang Buddha. Hampir tidak mungkin membayangkan panjangnya waktu tersebut. ( Praktik Dhamma menuju Nibbana ; Radhika Abeyesekera, Srimanggala 2008 )

Menurut Radhika Abeyesekera, dalam bukunya “Praktik Dhamma Menuju Nibbana” ( Srimanggala 2008) , selama waktu perjalanan tersebut, Boddhisatta kita , telah bertemu dengan para Buddha di masa lampau , yaitu bila saya jumlahkan total kesemuanya adalah sebanyak  163.727 Samma-Sambuddha , dengan perincian sebagai berikut : 125.000 Samma-Sambuddha ( Era Mano-Panidhana-Kala ; diawali pertemuan Boddhisatta dengan Buddha Brahma-Dewa) + 38.700 Samma-Sambuddha ( Era Waci-Panidhana-Kala ; diawali pertemuan Boddhisatta dengan Buddha Gotama-Purana ) + 3 Samma-Sambuddha ( Buddha Tanhangkara, Buddha Medhangkara, Buddha Saranangkara ) + 24  Samma-Sambuddha ( Era Kaya-Panidhana-Kala ; Dimulai pertemuan Boddhisatta dengan Buddha Dipankara ( Buddha pertama yang memberi ramalan kepastian pencapaian ke-Buddha-an Boddhisatta kita ) dan diakhiri pertemuan dengan Buddha Kassapa ( Buddha ke-24 yang memberi ramalan kepastian pencapaian ke-Buddha-an Boddhisatta kita ) .

Sebagian masyarakat Buddhis juga ada yang berpikiran bahwa Sang Buddha hanya membutuhkan waktu selama Empat (4) Asankkheyya-Kappa ( atau = satu (1) Maha-Kappa / 1 siklus dunia saja ) ditambah (+) seratus ribu (100.000) Maha-Kappa untuk merealisasi ke-Buddha-an. Pengertian ini hanyalah penggambaran untuk periode semenjak Boddhisatta ( calon-Buddha ) mendapat ramalan-pasti dari seorang Samma-Sambuddha ; dalam kasus ini, adalah sejak Petapa-Sumedha mendapat ramalan pasti dari Buddha-Dipankara bahwa kelak ia akan terlahir dalam keluarga Sakya berkasta Ksatriya, bernama Siddhatta-Gotama dan akan mencapai tingkat Samma-Sambuddha. Periode Empat A.K + 100.000 Kappa ini hanyalah menggambarkan periode dimana Boddhisatta menyempurnakan ke-sepuluh Kesempurnaan ( Dasa-Paramitha ), yang dikenal sebagai masa “Kaya-Panidhana-Kala”.  Lagipula, waktu selama Empat (4) Asankkheyya-Kappa ( atau = satu (1) Maha-Kappa / 1 siklus dunia saja ) ditambah (+) seratus ribu (100.000) Maha-Kappa untuk merealisasi ke-Buddha-an hanya berlaku bagi Boddhisatta Pannadhika ( calon Buddha dengan faktor kebijaksanaan kuat ) , sedangkan untuk Boddhisatta Saddhadhika ( calon Buddha dengan faktor keyakinannya yang lebih kuat ) akan membutuhkan waktu 8 A.K + 100.000 Maha-Kappa ; dan bagi Boddhisatta Viriyadhika ( calon Buddha dengan faktor usahanya yang lebih kuat ) membutuhkan waktu 16 A.K + 100.000 Maha-Kappa.

Untuk mengerti bagian ini perlu memahami satuan-waktu dalam bahasa Pali yang digunakan untuk menerangkan hal ini. Mereka adalah :

–          Maha Kappa [Maha-Kalpa] atau siklus dunia.

–          Asankkheyya-Kappa atau periode yang tak dapat dihitung lamanya.

–          Antara-Kappa ( Anto-Kappa )

Dalam rentang perjalanan manusia, (sesungguhnya) terdapat suatu masa dimana seluruh ummat manusia hanya akan mempunyai batas waktu umur rata-rata hingga 10 tahun. Masa ini terjadi ketika moralitas ummat manusia sedemikian merosotnya, sehingga umurnya hanya akan bertahan hingga 10 tahun, sesudah itu mati. Masa selang antara batas usia manusia rata-rata 10 tahun lalu naik sampai usia yang panjang sekali hingga mencapai delapan puluh ribu ( 80.000 ) tahun, lalu turun kembali hingga batas usia rata-rata menjadi 10 tahun kembali, itu adalah rentang waktu 1 “Antara-Kappa” ( Antara satu kappa ke Kappa berikutnya, itulah “Antara-Kappa” ).

Satu ( 1 ) Asankheyya Kappa adalah sama dengan 20 Antara Kappa. Satu ( 1 ) Asankheyya Kappa, oleh beberapa sarjana ( sekali lagi, hal ini dinyatakan oeh beberapa sarjana, sebab ada pula para sarjana lainnya yang menyebutkan angka waktu yang berbeda ) dinyatakan, bila dialjabarkan sama dengan 10 pangkat 14 ( angka satu ( 1 ) diikuti empat belas (14)  angka nol),  sehingga lamanya mencapai kurang lebih 100 trilyun tahun. Dan Satu ( 1 ) Maha Kappa adalah sama dengan empat ( 4 ) Asankheyya Kappa, sehingga 1 Maha Kappa lamanya mencapai kurang lebih 400 trilyun tahun.

Sang Buddha menjelaskan siklus dunia sebagai berikut : Banyak, banyak tahun dari zaman sekarang suatu hujan deras yang destruktif (menghancurkan) akan terjadi, dan sebagai akibatnya sistem dunia akan berakhir. Kemudian, setelah satu waktu yang lama, dunia akan berkembang kembali. Dan kemudian, setelah satu periode yang lama, hujan lebat yang destruktif lainnya akan terjadi dan menghancurkan sistem dunia. Periode antara dua hujan yang destruktif adalah satu siklus dunia. Buddha telah membagi satu (1) siklus dunia menjadi empat (4) periode :

–          Samwata-kappa

–          Samwattatthayi-Kappa

–          Wiwata-kappa

–          Wiwatattathayi-kappa

Samwatta-kappa : Periode pertama dari siklus dunia yang dikenal sebagai Samwatta-kappa merupakan periode yang sangat panjang antara hujan besar yang menghancurkan dan munculnya tujuh matahari, yang mana pada waktu itu seluruh sistem dunia terbakar habis. Period ini dikenal sebagai periode kekacauan atau periode tahap pembubaran.

Samwattathayi-Kappa : Periode kedua dari siklus dunia, yang dikenal sebagai Sawattatthayi, adalah ketika langit dan berbagai surga (cakrawala) yang diatas dan dibawah dunia ditutupi dengan debu tebal dan kegelapan. Periode yang lama ini dikenal sebagai periode berlangsungnya kekacauan, atau periode berlangsungnya tahap pembubaran.

Wiwatta-kappa : Periode ketiga, yang dikenal sebagai witatta-kappa, dimulai dengan hujan deras yang produktif, dan terus berlangsung hingga matahari dan bulan mulai muncul. Periode ini dikenal sebagai periode perkembangan yang panjang.

Wiwattatthayi-Kappa : Periode keempat, yang dimulai ketika matahari dan bulan muncul melalui debu, yang dikenal sebagai wiwattatthayi, kelangsungan evolusi, dan berlangsung hingga hujan besar berikutnya yang menghancurkan.

Masing-masing fase dari keempat fase tersebut diatas dibagi menjadi 20 anto-kappa (64 menurut beberapa teks).

Masing-masing fase tersebut disebut “Kappa-Menengah” / Asankkheyya-Kappa. Kappa-menengah terdiri dari dua-puluh ( 20 ) kappa-kecil / anto-kappa. Kappa-kecil /anto-kappa pertama disebut kappa-turun, dan kappa-kecil terakhir ( yang ke-20 ) disebut kappa naik.

Delapan-belas ( 18 ) kappa-kecil di antara kappa-turun dan kappa-naik merupakan siklus yang terdiri atas paruh-pertama naik dan paruh-kedua turun.

Sehingga, yang dimaksud dengan satu siklus dunia adalah dari Samwatta-Kappa , lalu melewati Samwattathayi-Kappa, melewati Wiwatta-Kappa, melewati Wiwattatthayi-Kappa, kemudian kembali lagi pada era Samwatta-Kappa ; demikianlah sehingga dinyatakan bahwa satu siklus dunia adalah periode antara dua hujan yang destruktif. Lamanya satu siklus dunia adalah sama-dengan satu (1) Maha-Kappa ( atau = empat (4) Asankkheyya-Kappa ).

Sedangkan yang dimaksud dengan satu (1) periode adalah satu periode dari keempat periode dalam satu siklus dunia tersebut ( yaitu : Samwatta-Kappa , Samwattathayi-Kappa, Wiwatta-Kappa, Wiwattatthayi-Kappa ). Lamanya satu periode adalah sama dengan satu (1) Asankkheyya-Kappa ( atau = dua puluh (20) Antara-Kappa / Anto-Kappa )

Kita sekarang berada di salah satu dari dua puluh anto-kappa dalam periode yang dikenal sebagai Wiwattatthayi, kelangsungan evolusi. Dalam setiap anto-kappa jangka hidup seseorang naik hingga satu periode yang sangat panjang, dan menurun lagi hingga kira-kira sepuluh tahun. Kita sekarang berada dalam periode yang sangat menguntungkan. Lima Buddha dilahirkan dalam siklus dunia ini ( karenanya dikenal sebagai Maha Baddha Kappa). Empat Buddha telah muncul. Era (zaman) Buddha Metteya (Maitreya) belum datang.

Waktu yang diperlukan untuk terbentuk dan hancurnya suatu sistem dunia sangatlah panjang; diperlukan sangat banyak kappa ( sebagai satuan waktu ) untuk itu. Sewaktu Sang Buddha ditanya tentang panjang kurun waktu satu kappa, Beliau menjawab :

“ Sangat panjang kurun waktu satu kappa. Tak dapat diperhitungkan dengan tahun, abad ataupun ribuan abad.”

“ Bila demikian, Guru, dapatkah dengan menggunakan perumpamaan?”

“Dapat,. Bayangkan bongkahan suatu gunung besar, tanpa retak, tanpa celah, padat, berukuran panjang 1 mil, lebar 1 mil dan tingginya juga 1 mil. Lalu bayangkan setiap seratus tahun ada orang datang menggosoknya dengan sepotong sutra Benares. Maka, akan lebih cepat bukit itu habis tergosok daripada suatu masa kappa berlalu. Pula ketahuilah, lebih dari satu, lebih dari ribuan, lebih dari ratusan ribu kappa, sebenarnya telah berlalu.”

Tentu saja selendang sutra akan habis sebelum batu itu terkikis habis. Buddha memberikan perumpamaan yang indah itu untuk memberikan sebuah gagasan pikiran kepada kita, bahwa satu siklus dunia atau maha Kappa itu sungguh-sungguh teramat sangat lama.

Sang Buddha menjelaskan, bahwa alam-semesta ini telah mengalami siklus “daur-ulang” berulang-kali, sehingga kiamat dalam Buddha-Dhamma tidaklah dianggap sebagai “akhir-dunia”, karena setelah kiamat, maka alam-semesta ini akan mengalami proses siklus pembentukan kembali.   Oleh karena itulah dinyatakan bahwa Sang Buddha membutuhkan waktu selama 300.000 siklus dunia  ( atau = 300.000 Maha-Kappa ) plus (+) 20 periode ( 20 Asankheyya-Kappa ; atau / sama dengan 400 antara-kappa )  yang tak terhitung lamanya untuk mencapai Pencerahan batin Sempurna dan menjadi seorang Buddha.

Jika kita bisa memahami, mengimajinasikan betapa sangat lamanya jangka waktu yang dibutuhkan untuk merealisasi ke-Buddha-an ini, maka kita tidak akan hanya mengagumi tugas mulia seorang Boddhisatta, tetapi juga ketabahan dan keuletan serte keteguhan-hati-Nya untuk mencapai ke-Buddha-an yang Tertinggi (Samma-Sambuddha).

ERA PRA MANO-PANIDHANA KALA

( Era Sebelum Aspirasi Mental)

Era ini adalah era ketika Sang Buddha Gotama pertama kali bercita-cita untuk mencapai ke-Buddha-an. Ini adalah sebuah masa yang sudah sangat lama sekali, lebih dari 300.000 siklus dunia yang lampau ( seperti sudah kita pahami, satu siklus dunia adalah satu siklus dari masa hujan destruktif di masa penghancuran alam semesta, kemudian sampai kepada pembentukan dan evolusi seperti masa kita hidup di abad ke-21 sekarang ini, hingga kelak saat masa kiamat / penghancuran datang kembali ; itulah satu siklus dunia ) , dan ditambah 20 periode yang tidak terhitung yang telah berlalu.

Pada saat itu, Buddha kita dilahirkan di dalam sebuah keluarga miskin. Setelah ayahnya meninggal, dia menghidupi ibunya penuh kesulitan dengan menjual kayu bakar dan sayuran. Karena sulit untuk bertahan hidup dengan penghasilannya itu, dia memutuskan untuk menumpang sebuah kapal dagang dalam perjalanannya menuju Suwanna-Bhumi. Tetapi ibunya berat hati untuk membiarkan dia pergi sendiri. Untuk menyenangkan ibunya, dia membawa serta ibunya di kapal itu. Suatu hari, kurang lebih seminggu setelah kapal berangkat, sebuah badai mengamuk dan kapal terbalik. Sebagian besar penumpangnya tenggelam. Lelaki miskin itu berenang dengan berani untuk mencari ibunya. Kemudian, dengan mempertaruhkan hidupnya, dia menggendong ibunya di punggnungnya dan dengan susah payah dia berenang ke daratan.

Ibunya yang berterimakasih memberkahi anaknya dengan mengatakan, “Karena kamu menyelamatkan aku dari tenggelam di laut, maka suatu hari kamu akan mampu menyelamatkan orang-orang lain dari segala penderitaan mereka ( menjadi seorang Buddha ) “.

Diilhami oleh kata-kata ibunya orang miskin itu membuat aspirasi mental yang pertama muncul untuk mencapai ke-Buddha-an. Dia berpikir, “Semoga pada suatu hari aku dapat menyelamatkan makhluk-makhluk hidup, dengan menunjukkan kepada mereka jalan untuk meghancurkan penderitaan.”

Sejak saat itu dan seterusnya, dia dikenal sebagai “Boddhisatta” ( Skt. : Boddhisattva ) ~ seseorang yang berada di Jalan menuju Kesempurnaan ; atau orang yang bercita-cita untuk mencapai tingkat Buddha. Boddhisatta kemudian memulai tugas yang berat untuk menyempurnakan diri-Nya dengan mengikuti praktik yang dikenal sebagai “Dasa-Paramita” ( Sepuluh-Kesempurnaan ) :

  1. Kesempurnaan Kemurahan-Hati ( Dana-Paramita )
  2. Kesempurnaan Moralitas ( Sila-Paramita )
  3. Kesempurnaan Pelepasan-Keduniawian ( Nekkhama-Paramita )
  4. Kesempurnaan Kebijaksanaan ( Panna-Paramita )
  5. Kesempurnaan Semangat ( Viriya-Paramita )
  6. Kesempurnaan Kesabaran ( Khanti-Paramita )
  7. Kesempurnaan Kebenaran ( Sacca-Paramita )
  8. Kesempurnaan Kebulatan-Tekad ( Adhitthana-Paramita )
  9. Kesempurnaan Cinta-Kasih ( Metta-Paramita )
  10. Kesempurnaan Keseimbangan-Batin ( Upekkha-Paramita )

Ada dua kisah Jataka ( kisah kehidupan lampau Sang Buddha Gotama ) yang berhubungan dengan saat antara aspirasi mental pertama ini , dengan aspirasi mental pertama yang dibuat oleh Boddhisatta bernama Sumedha di hadapan seorang Samma-Sambuddha ( yaitu dihadapan Buddha-Dipankara ).

Pada titik waktu tersebut, ketika Boddhisatta pertama kali membuat aspirasi mental untuk mencapai ke-Buddha-an di hadapan seorang Samma-Sambuddha, periode Mano-Panidhana Kala dimulai.

Kisah pertama menceritakan saat Boddhisatta dilahirkan sebagai anak laki-laki Raja Benares. Dia kemudian dikenal sebagai Sattutapa. Setelah ayahnya meninggal, dia naik tahta sebagai Raja. Raja memiliki seekor gajah yang terlatih dan indah. Ketika mendengar bahwa salah satu taman-Nya dihancurkan oleh gajah-gajah liar, raja berangkat dengan menunggang gajahnya yang terlatih untuk memeriksa kerusakan. Sementara dia memeriksa tingkat kerusakan dan berkata kepada menterinya, gajahnya yang terlatih mencium bau gajah betina yang hadir di malam sebelumnya. Gajah yang terlatih itu melepaskan diri dan meninggalkan pawangnya, dan berlari ke dalam hutan mengejar gajah betina itu. Beberapa hari kemudian, gajah itu kembali dan pawangnya menjelaskan kepada raja bahwa, gajah yang biasanya taat itu telah berubah dan pergi karena nafsu birahinya kepada gajah betina itu.

Raja merenungkan informasi itu,  dan, karena merasa jijik pada akibat nafsu birahi pada gajahnya yang tenang, jinak dan terlatih, Beliau memutuskan untuk meninggalkan aneka kesenangan sensual dan menjadi seorang petapa. Dia meninggalkan milik-milik duniawinya dan kerajaannya, lalu menjalani kehidupan sebagai orang suci. Meskipun periode Kaya-Panidhana-Kala baru saja berlangsung, Boddhisatta telah melengkapi kesempurnaan dalam pelepasan. Dia mulai mempraktikkan kesempurnaan dalam hal ini.

Kisah kedua, mengisahkan bagaimana Boddhisatta dilahirkan sebagai seorang Brahmana bernama Brahma-Kumara. Pada usia ke-16 tahun dia menyelesaikan pendidikannya dan menjalani kehidupan sebagai seorang petapa. Dia bermeditasi di kaki Gunung Munda dengan murid-muridnya, dimana murid utamanya adalah Buddha masa depan : Metteya ( Maitreya ). Suatu hari, ketika mereka pergi mencari buah-buahan untuk dimakan, Boddhisatta melihat induk harimau yang kelaparan yang baru saja melahirkan yang berada di dasar sebuah jurang yang terjal. Melihat induk harimau yang kelaparan itu hampir memangsa bayi-bayinya, dia memanggil muridnya yang utama dan meminta dia untuk mencari bangkai binatang yang mati, untuk diberikan kepada induk harimau itu. Akan tetapi, sebelum muridnya kembali, Boddhisatta melihat induk harimau itu mulai menerkam bayi-bayinya. Untuk menjalankan cita-cita luhur ke-Buddha-an, dia melompat dari jurang terjal dan membiarkan induk harimau yang kelaparan itu menyantap dirinya, dengan demikian dia menyelamatkan kehidupan bayi-bayi harimau. Sebagian orang berpikir, bahwa kematian ini yang menyebabkan Buddha-Gotama mencapai ke-Buddha-an terlebih-dahulu sebelum Maitreya mencapai ke-Buddha-an kelak. Lebih dari 300.000 siklus dunia dan 20 periode yang tak terhitung yang lalu Boddhisatta telah memulai mempraktikkan kemurahan-hati. Sekian tahun kemudian, selama Kaya-Panidhana-Kala, Beliau telah mencapai kesempurnaan dalam kemurahan-hati (dana).

ERA MANO-PANIDHANA KALA

( Era Aspirasi Mental )

Era ini masih dalam hitungan waktu 300.000 siklus dunia + 20 periode yang tak terhitung lamanya diwaktu yang lampau. Era Mano-Panidhana-Kala ini dilalui selama 100.000 siklus dunia diselingi dengan tujuh periode yang tak terhitung lamanya.

Era Mano-Panidhana-Kala ini dilalui selama 100.000 siklus dunia diselingi dengan tujuh periode yang tak terhitung lamanya. Selama ini Boddhisatta menyatakan cita-cita luhur untuk mencapai ke-Buddha-an di hadapan seorang Buddha yang lain.

Boddhisatta Gotama saat itu dikenal sebagai Raja Atidewa. Samma-Sambuddha yang ada saat masa hidupnya Raja Atidewa ini adalah Buddha Brahma-Dewa.

Pada suatu ketika, Raja Atidewa sedang melihat keluar dari balkonnya di istana ketika dia melihat Buddha Brahma-Dewa. Raja segera mendekati Buddha, memujanya dengan bunga-bunga melati dan menyatakan cita-cita luhurnya untuk mencapai ke-Buddha-an. Dia kemudian membangun vihara besar untuk Buddha dan menyediakan segala kebutuhan untuk Beliau dan para Bhikkhu-Nya.

Selama periode Mano-Panidhana-Kala ini, terdapat 125.000 Samma-Sambuddha. Boddhisatta kita menjumpai semua Buddha tersebut dan menyatakan cita-cita luhurnya untuk mencapai ke-Buddha-an di hadapan setiap Buddha setelah melakukan berbagai perbuatan yang bajik.

Kemudian melalui satu periode dengan banyak siklus dunia dimana selama itu tidak ada seorang Samma-Sambuddha. Boddhisatta dilahirkan sebagai seorang yang mencapai Jhana, dan dilahirkan di alam Brahma.

ERA WACI-PANIDHANA-KALA

(Era Aspirasi Verbal)

Era ini terjadi pada 200.000 siklus dunia + 13 periode yang lampau yang tak terhitung lamanya. Era Waci-Panidhana-Kala ini dilalui selama 100.000 siklus dunia + 9 periode yang tak terhitung lamanya.

Selama era ini, Boddhisatta Gotama menyatakan aspirasi verbal di hadapan Buddha yang lain.

Periode ini dimulai pada zaman Buddha Purana-Gotama.

Sebagaimana dikisahkan, pada akhir era Mano-Panidhana-Kala, Boddhisatta terlahir kembali di alam Brahma. Setelah masa hidupnya di alam Brahma dijalani sepenuhnya, Boddhisatta dilahirkan sebagai Pangeran Sagara di dalam keluarga istana di kota Dhannawati. Setelah menyelesaikan pendidikannya dia dinobatkan sebagai seorang penguasa dunia.

Pada zaman itu ada seorang raja bernama Yasaniwasa dann seorang ratu bernama Wimala yang memerintah kota Siriniwasa. Anak laki-laki mereka meninggalkan kehidupan istana untuk mencapai ke-Buddha-an, dan 14 hari kemudian mencapai Pencerahan-Sempurna. Dia kemudian dikenal sebagai Buddha-Gotama, yang sekarang ini disebut sebagai Buddha Gotama-Purana ( Sesepuh ; Buddha Gotama-Purana ini bukan Buddha-Gotama kita yang terakhir hidup sebagai Pangeran Siddhatta Gotama ). Ketika Pangeran Sagara ( Calon Buddha kita ) mendengar bahwa Buddha Gotama-Purana sedang mengunjungi Dhanawati, dia tertarik dan meninggalkan istana dan pergi memberikan penghormatan kepada Buddha. Kemudian, setelah membangun vihara besar untuk Buddha dan menyediakan segala keperluan Beliau, dia kemudian menyatakan cita-citanya untuk mencapai ke-Buddha-an.

Pangeran Sagara, Boddhisatta kita, berkata, “Yang-Mulia, dengan perbuatan-perbuatan bajik ini, semoga aku, seperti halnya Anda, dilahirkan di dalam keluarga yang dikenal sebagai kaum Sakya dan dikenal sebagai Gotama, seperti Anda, dan semoga saya mencapai ke-Buddha-an pada suatu hari di masa depan.”

Buddha Gotama-Purana kemudian meramalkan,”Jika kamu memenuhi semua kesempurnaan, kamu pasti akan mencapai keinginanmu dan mencapai ke-Buddha-an.”

Demikianlah Boddhisatta kita menyatakan aspirasi verbal yang pertama, dan menerima ramalan pertama yang tidak spesifik (dari segi tempat, waktu, dll.)  ini. Kemudian dia meninggalkan kerajaannya dan menjadi murid Buddha Purana-Gotama.

Selama periode ini, ada 38.700 Buddha dan Boddhisatta kita menjumpai setiap Buddha itu dan menyatakan aspirasi verbalnya di hadapan mereka, dan menerima ramalan yang tidak spesifik dari setiap Buddha.

Bertemu dengan  Buddha-Tanhangkara

Periode berikutnya dari era Waci-Panidhana-Kala adalah pada masa Buddha-Tanhangkara. Ini terjadi pada masa 100.000 siklus dunia + empat periode yang lampau yang tak terhitung lamanya.

Sepanjang periode ini, berlangsunglah Maha-Kappa dari Waci-Panidhana-Kala. Selama Maha-Kappa dari Waci-Panidhana-Kala berlangsung, di kota Pupphawati, memerintah Raja bernama Sunanda dan Ratu bernama Sunanda-Dewi.

Mereka memiliki anak laki-laki bernama Tanhangkara yang meninggalkan kerajaannya, dan setelah mempraktikkan berbagai kebajikan selama satu minggu, mencapai Pencerahan-Sempurna. Pada waktu itu, Boddhisatta kita dilahirkan sebagai Raja dunia bernama Sudassana di kota Surindawati. Melihat Buddha-Tanhangkara, Raja Sudassana melakukan banyak perbuatan bajik dan menyatakan aspirasi verbal untuk mencapai ke-Buddha-an. Kembali Boddhisatta kita menerima ramalan tidak spesifik. Dia kemudian meninggalkan kerajaannya dan menjadi murid Buddha-Tanhangkara.

Bertemu dengan Buddha-Medhangkara

Periode berikutnya dari era Waci-Panidhana-Kala adalah pada masa Buddha-Medhangkara. Ini terjadi pada masa 100.000 siklus dunia + empat periode yang lampau yang tak terhitung lamanya.

Sepanjang periode ini, berlangsunglah Maha-Kappa dari Waci-Panidhana-Kala. Dalam anto-kappa ini, di kota Mekhala, memerintah seorang Raja bernama Sudewa dan ratu bernama Yasodhara. Mereka memiliki seorang anak laki-laki bernama Medhangkara yang meninggalkan kerajaannya, dan mempraktikan berbagai kebajikan dan mencapai Pencerahan-Sempurna.

Pada masa itu Boddhisatta kita dilahirkan di dalam keluarga seorang Brahmana, dan dia bernama Somanassa menurut nama kota dimana dia tinggal. Somanassa mempersembahkan berbagai dana kepada Buddha-Medhangkara dan membangun beberapa ruangan untuk meditasi, kemudian bergabung sebagai murid Buddha-Medhangkara. Kembali Boddhisatta kita menyatakan aspirasi verbal untuk mencapai ke-Buddha-an dan menerima ramalan yang tidak spesifik.

Bertemu dengan Buddha-Saranangkara

Periode berikutnya dari era Waci-Panidhana-Kala adalah pada masa Buddha-Sarangkara. Ini terjadi pada masa 100.000 siklus dunia + empat periode yang lampau yang tak terhitung lamanya.

Sepanjang periode ini, berlangsunglah Maha-Kappa dari Waci-Panidhana-Kala. Dalam anto-kappa berikutnya, di kota Wipula, memerintah seorang Raja bernama Sumanggala dan Ratu Yasawathi. Mereka memiliki anak laki-laki bernama Saranangkara yang meninggalkan kerajaannya, dan mempraktikkan berbagai kebajikan dan mencapai Pencerahan-Sempurna. Pada zaman itu Boddhisatta dilahirkan dalam keluarga seorang Brahmana bernama Yasawanta. Dia membangun banyak vihara dan menyediakan nasi susu dan kebutuhan lain untuk Buddha. Dia kemudian menyatakan aspirasi verbal dan kembali menerima ramalan yang tidak spesifik. Dia kemudian bergabung dengan Sangha para Bhikkhu, merealisasi Jhana, dan dilahirkan di alam Brahma.

Hingga bertemu Buddha-Saranangkara, Boddhisatta kita belum memenuhi berbagai kebutuhan yang diperlukan untuk menerima Pernyataan yang Pasti. Semua yang Beliau terima dari para Buddha tersebut hanyalah pernyataan yang tidak spesifik.

Setelah bertemu dengan ketiga Buddha ini : Buddha Tanhangkara, Buddha Medhangkara, Buddha Saranangkara ; Boddhisatta kita akan mulai mendapat ramalan pasti saat nanti bertemu dengan Buddha-Dipangkara dan hingga ke-23 Buddha lainnya berikutnya setelah Buddha-Dipangkara. Era dimana Boddhisatta kita mendapat ramalan pasti bahwa kelak Beliau akan mencapai ke-Buddha-an, disebut dengan era “Kaya-Pinidhana-Kala”.

ERA KAYA-PANIDHANA-KALA

(Era Tindakan)

Era ini terjadi pada 100.000 siklus dunia + 4 periode yang lampau yang tak terhitung lamanya. Era Kaya-Pinidhana-Kala ini dilalui selama 100.000 siklus dunia ( 100.000 Maha Kappa ) + 4 periode ( 4 Asankkheyya Kappa ) yang tak terhitung lamanya.

Periode ini dimulai pada zaman Buddha-Dipankara. Boddhisatta kita saat itu dikenal sebagai Petapa Sumedha.

Periode yang dilalui selama 4 Asankkheyya Kappa + 100.000 Maha-Kappa / Siklus dunia ini, adalah periode dimana Boddhisatta menerima ramalan yang pasti (spesifik) dari Samma-Sambuddha yang lain.

Pada saat itu, Boddhisatta kita dilahirkan di dalam satu keluarga Brahmana dan bernama Sumedha. Dia telah mendistribusikan seluruh kekayaannya di antara kaum miskin dan menjalani kehidupan sebagai seorang petapa.

Pada saat yang sama ada seorang Raja bernama Sumedha, dan seorang Ratu bernama Sumedha yang memerintah kota Rammawati. Anak laki-laki mereka meninggalkan kehidupan istana dan mencapai Pencerahan-Sempurna. Beliau dikenal sebagai Buddha Dipankara. Ketika mendengar bahwa Buddha-Dipankara sedang berkunjung, Petapa Sumedha mulai menghiasi satu jalur jalan yang akan dilalui Beliau. Akan tetapi, Buddha Dipankara tiba sebelum petapa Sumedha selesai menyiapkan jalan itu. Sejangkauan jalan di hadapan Buddha berlumpur. Dengan merebahkan tubuh melintang di bidang yang berlumpur itu, Sumedha meminta agar Buddha-Dipankara dan para pengikut-Nya meniti dirinya supaya kakinya tidak kotor. Kemudian Boddhisatta kita menyatakan tekadnya untuk mencapai ke-Buddha-an. Buddha-Dipankara memberinya delapan genggam bunga melati-putih yang melambangkan “Jalan-Ariya-Beruas-Delapan” yang direalisasi semua Buddha.

Buddha-Dipankara kemudian memberikan ramalan secara pasti (spesifik), dengan bersabda, “ Di masa depan yang jauh, kamu akan dilahirkan sebagai orang dari suku Sakya, dan akan mencapai Pencerahan-Sempurna sebagai Buddha-Gotama.” Sejak menerima ramalan pasti ini, Boddhisatta  mulai berjuang untuk menyempurnakan “Dasa-Paramaita” ( Sepuluh-Kesempurnaan ).

Delapan kondisi harus dimiliki untuk menerima ramalan (proklamasi) yang pasti (spesifik). Kedelapan kondisi tersebut adalah :

  1. Ia adalah manusia
  2. Ia adalah laki-laki
  3. Telah memenuhi semua kondisi seperti Kesempurnaan yang diperlukan untuk meraih tingkat ke-Arahatta-an dalam kehidupan itu juga
  4. Dia harus bertemu muka dengan muka dengan seorang Buddha yang hidup.
  5. Dia harus menjadi seorang Petapa yang percaya hukum karma (Kammavadi) atau pernah menjadi anggota Sangha dalam masa kehidupan seorang Buddha.
  6. 6. Dia harus memiliki kekuatan-batin / mencapai keempat Rupa-Jhana dan keempat Arupa-Jhana ( yang dikenal sebagai “Attha-Samapatti-Jhana-Labhi” ).
  7. Berusaha keras untuk mengembangkan kesempurnaan tanpa memperdulikan hidupnya .
  8. Dia harus memiliki kebulatan tekad yang kuat untuk menjadi seorang Buddha meskipun dia tahu bahwa dia akan menanggung penderitaan sebagai binatang, setan, dan lain-lain di dunia yang menyedihkan. Dengan kata lain, dia harus mencegah dirinya untuk mencapai tingkat Arahat, dengan tekad bulat dan tetap berdiam di dalam samsara untuk kepentingan ummat manusia dan para dewa.

Pada zaman Buddha-Dipankara, lebih dari 200.000 siklus dunia + 16 periode yang tak terhitung lamanya setelah Beliau menyatakan aspirasi mentalnya yang pertama, Boddhisatta kita menemukan delapan perolehan dan menerima ramalan yang pasti (spesifik).

Cita-cita Boddhisatta untuk menjadi seorang Buddha kini telah pasti. Tetapi pada tingkat ini pun, setelah sekian tahun yang tak terhitung lamanya mempraktikkan kemurahan hati (Dana), moralitas (Sila), pelepasan (Nekkhama), Kebenaran (Sacca), dan lain-lain, Boddhisatta kita masih seorang duniawi (puthujjana). Yaitu, bahwa dia tidak mencapai kesucian, bahkan belum pula merealisasi tingkat kesucian yang pertama ; Sottapanna.

Tetapi jika Boddhisatta saat itu menghendaki, saat itu juga ia dapat memenangkan kebebasan-Nya dengan merealisasi tingkat Arahat. Pada tahapan ini dia menahan pencapaian ini, dengan kebulatan tekad dan terus di dalam samsara untuk menyempurnakan Dasa-Paramita demi kebaikan ummat-manusia. Pada hari yang bersejarah di saat ia menerima ramalan pasti dari Buddha-Dipankara, petapa Sumedha membuat pernyataan sebagai berikut :

“Hari ini jika keinginanku demikian, Pelanggaran-pelanggaranku  akan memakan aku.

Tetapi untuk apa buah Ajaran menyelamatkan aku sebelum Aku mencapai Kemahatahuan                ( Sabbanuta-Nana ) ?

Aku akan mencapai Kemahatahuan lebih dahulu,

Dan menjadi Buddha di dunia.

Tetapi buat apa aku, seorang manusia yang berani,

Mencari lautan untuk menyeberang seorang diri ?

Kemahatahuan harus aku capai lebih dahulu,

Dan ummat manusia dan para dewa beramai-ramai menyeberang.

Boddhisatta mengetahui bahwa ada banyak perangkap antara waktu itu dengan waktu ketika Beliau ingin mencapai ke-Buddha-an Tertinggi, mengetahui bahwa, di dalam samsara Beliau ~ melalui tindakannya ~ dapat dilahirkan di dalam salah satu alam yang tidak bahagia, mengetahui dirinya memiliki kemampuan untuk mencapai keselamatan, Boddhisatta Sumedha menghindarinya demi kita. Beliau menghindarinya untuk kebaikan ummat manusia dan para dewa.

Selama periode ini, yang dikenal sebagai Kaya-Panidhana-Kala, Boddhisatta menyempurnakan dirinya ( menyempurnakan “Dasa-Pamaita” / Sepuluh-Kesempurnaan ) dan mempertahankan kebulatan tekad dan cita-citanya untuk mencapai ke-Buddha-an. Pada era Kaya-Panidhana-Kala inilah keseluruhan dari Dasa-Paramita selesai disempurnakan oleh Boddhisatta, dan kelak akan terlahir terakhir kalinya sebagai manusia bernama Pangeran Siddhatta Gotama.

Pada era Kaya-Panidhana-Kala ini, Boddhisatta kita menerima ramalan pasti dari ke-24 Samma-Sambuddha yang lain. Ke-24 Samma-Sambuddha tersebut adalah sebagai berikut :

1. Buddha Dipankara ~ Boddhisatta dilahirkan sebagai Petapa Sumedha dan menerima ramalan yang pasti (spesifik).

Setelah berlalu satu periode yang lamanya 1 Asankkheyya-Kappa , kemudian muncullah Samma-Sambuddha yang berikutnya, yaitu Buddha Kondanna.

2. Buddha Kondanna ~ Boddhisatta kita terlahir sebagai manusia dan menjadi seorang Raja Cakkavatti bernama Vijjitavi.

Setelah berlalu satu periode yang lamanya 1 Asankkheyya-Kappa, kemudian muncullah Samma-Sambuddha yang berikutnya, yaitu Buddha Manggala.

3. Buddha-Manggala ~ Boddhisatta terlahir sebagai manusia dan menjadi seorang Brahmana bernama Suruci.

4. Buddha Sumana ~ Boddhisatta kita terlahir sebagai seekor naga dan menjadi Raja Naga bernama Atula.

5. Buddha Rewata ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia dan menjadi Brahmana bernama Atideva.

6. Buddha Sobhita ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia dan menjadi Brahmana bernama Ajita.

Setelah berlalu satu periode yang lamanya 1 Asankkheyya-Kappa, kemudian muncullah Samma-Sambuddha yang berikutnya, yaitu Buddha Anomadassi.

7. Buddha Anomadassi ~ Boddhisatta kita terlahir sebagai makhluk setan dan menjadi pemimpin para Asura.

8. Buddha Paduma ~ Boddhisatta kita terlahir sebagai seekor singa.

9. Buddha Narada ~ Boddhisatta kita terlahir sebagai seorang manusia dan menjadi seorang petapa bernama Jatila.

Setelah berlalu satu periode yang lamanya 1 Asankkheyya-Kappa kemudian muncullah Samma-Sambuddha yang berikutnya, yaitu Buddha Padumuttara.

10. Buddha Padumuttara ~ Boddhisatta kita terlahir menjadi seorang laki-laki yang kaya-raya bernama Jatila. Periode ini terjadi pada 100.000 Maha-Kappa sebelum kelahiran kembali Boddhisatta kita yang terakhir kalinya sebagai seorang manusia dan menjadi Pangeran Siddhatta Gotama yang kelak merealisasi ke-Buddha-an menjadi Buddha-Gotama.

Setelah berlalu satu periode yang lamanya 70.000 Maha-Kappa ( 70.000 siklus dunia ) kemudian muncullah Samma-Sambuddha yang berikutnya, yaitu Buddha Sumedha.

11. Buddha Sumedha ~ Boddhisatta kita terlahir sebagai manusia dan menjadi seorang Brahmana bernama Uttara ; yang nantinya akan menjadi Bhikkhu.

Periode ini terjadi pada 30.000 Maha-Kappa ( 30.000 siklus dunia ) sebelum kelahiran kembali Boddhisatta kita yang terakhir kalinya sebagai seorang manusia dan menjadi Pangeran Siddhatta Gotama yang kelak merealisasi ke-Buddha-an menjadi Buddha-Gotama.

Setelah berlalu satu periode yang lamanya 12.000 Maha-Kappa ( 12.000 siklus dunia )  kemudian muncullah Samma-Sambuddha yang berikutnya, yaitu Buddha Sujata.

12. Buddha Sujata ~ Boddhisatta kita terlahir menjadi seorang manusia dan menjadi seorang Raja bernama Raja Cakkavatti.

Periode ini terjadi pada 18.000 Maha Kappa ( 18.000 siklus-dunia ) sebelum kelahiran kembali Boddhisatta kita yang terakhir kalinya sebagai seorang manusia dan menjadi Pangeran Siddhatta Gotama yang kelak merealisasi ke-Buddha-an menjadi Buddha-Gotama.

13. Buddha Piyadassi ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia dan menjadi Brahmana bernama Kassapa.

14. Buddha Atthadassi ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia dan menjadi petapa bernama Susima.

15. Buddha Dhammadassi ~ Boddhiasatta kita terlahir kembali sebagai seorang raja Dewa , yaitu sebagai Dewa Sakka.

16. Buddha Siddhatta ~ Boddhisatta kita terlahir menjadi seorang manusia dan menjadi petapa bernama Manggala.

17. Buddha Tissa ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia dan menjadi seorang raja bernama Sujata yang kemudan menjadi seorang petapa.

Periode ini adalah 92 Maha-Kappa ( 92 siklus dunia ) sebelum kelahiran kembali Boddhisatta kita yang terakhir kalinya sebagai seorang manusia dan menjadi Pangeran Siddhatta Gotama yang kelak merealisasi ke-Buddha-an menjadi Buddha-Gotama.

18. Buddha Phussa ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia menjadi seorang Raja bernama Vijitavi yang kemudian menjadi seorang Bhikkhu.

19. Buddha Vipassi ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seekor naga dan menjadi Raja Naga yang bernama Atula. Ini adalah kedua kalinya Boddhisatta kita menjadi Raja Naga bernama Atula, setelah sebelumnya pernah pula terlahir sebagai Naga dan menjadi Raja Naga bernama Atula pada masa Buddha Sumana ( lihat pada point no.4 )

20. Buddha Sikkhi ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia dan menjadi Raja bernama Arindama.

Periode ini adalah 31 Maha-Kappa ( 31 siklus dunia ) sebelum kelahiran kembali Boddhisatta kita yang terakhir kalinya sebagai seorang manusia dan menjadi Pangeran Siddhatta Gotama yang kelak merealisasi ke-Buddha-an menjadi Buddha-Gotama.

21. Buddha Vessabhu ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia dan menjadi Raja bernama Sudassana yang kemudian menjadi Bhikkhu.

Periode ini adalah 1 Maha-Kappa ( 1 siklus dunia ) sebelum kelahiran kembali Boddhisatta kita yang terakhir kalinya sebagai seorang manusia dan menjadi Pangeran Siddhatta Gotama yang kelak merealisasi ke-Buddha-an menjadi Buddha-Gotama.

22. Buddha Kakusandha ~ Boddhisatta kita terlahir kembali menjadi seorang Raja bernama Khema.

Periode ini ada dalam Maha-Kappa ( satu siklus dunia ) yang sama seperti periode Buddha Gotama. Artinya, ada dalam periode siklus dunia yang sekarang ini juga ).

23. Buddha Konagamana ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia dan menjadi Raja bernama Pabbata yang kemudian menjadi seorang Bhikkhu.

Periode ini ada dalam Maha-Kappa ( satu siklus dunia ) yang sama seperti periode Buddha Gotama. Artinya, ada dalam periode siklus dunia yang sekarang ini juga ).

24. Buddha Kassapa ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia dan menjadi Brahmana bernama Jotipala.

Periode ini ada dalam Maha-Kappa ( satu siklus dunia ) yang sama seperti periode Buddha Gotama. Artinya, ada dalam periode siklus dunia yang sekarang ini juga ).

Terdapat 24 Buddha di antara waktu Petapa Sumedha menerima ramalan yang pasti (spesifik) terhitung dari semenjak Buddha Dipankara hingga Buddha Gotama kita. Boddhisatta kita menjumpai setiap Buddha dan mendapatkan ramalan yang pasti dari setiap Buddha.

Selama periode antara Buddha Sobhita dan Buddha Anomadassi, dalam periode kegelapan selama 1 Asankkheyya-Kappa ketika tidak ada Dhamma, Boddhisatta kita pernah melakukan perbuatan salah [ Diantara banyak perbuatan yang tidak bermanfaat yang Boddhisatta lakukan selama Kaya-Panidhana-Kala ada 12 ( dua-belas ) dan akibat-akibat perbuatannya dialami bahkan ketika Beliau menjadi Buddha. Ti-Pitaka tidak menjelaskan kedua-belas perbuatan yang dilakukan selama periode ini. Diduga itu adalah pembunuhan terhadap saudaranya laki-laki, karena ini adalah salah satu perbuatan buruk yang lebih serius, dan juga karena Buddha mengatakan bahwa itu adalah periode kegelapan tanpa seorang Samma-Sambuddha. Tujuh dari perbuatan tidak terampil lainnya adalah meliputi penghinaan terhadap seorang Buddha atau murid seorang Buddha. Mungkin pula itu adalah perbuatan tidak-baik yang tidak diceritakan yang habis seluruhnya selama Kaya-Panidhana-Kala ].   Boddhisatta membunuh saudaranya laki-laki untuk mewarisi kekayaan keluarganya. Alasan dia melakukan kesalahan adalah bahwa dia masih seorang duniawi  – seorang Boddhisatta yang telah mempraktikkan “Dasa-Paramita”  ( Sepuluh-Kesempurnaan )  selama berkalpa-kalpa tetapi masih sebagai seorang duniawi, dengan 1.500 Kilesa ( kotoran-batin ) dan nafsu keinginan dan keserakahan seorang duniawi.

Itulah sebabnya pada zaman Buddha Anomadassi Beliau menjadi pemimpin para Asura.

Itulah sebabnya Beliau menjadi seekor singa pada zaman Buddha Paduma.

Itulah sebabnya dia harus menjalani kehidupan di alam binatang dan baru kembali ke bentuk manusia.

Itulah sebabnya ada banyak cerita Jataka dimana Boddhisatta menjadi binatang.

Dan buah-kamma terakhir dari kamma-buruk masa lampau-Nya menyebabkan kaki Sang Buddha terluka ketika Devadatta menggelindingkan batu besar di Gijjhakula dengan tujuan untuk membunuh Sang Buddha. Setelah memberikan anggota-anggota badannya dan hidupnya dalam kelahiran-kelahiran yang tak terhitung, seorang Buddha telah mencapai titik “saturasi” ( puncak, tertinggi ) dalam kemurahan hati dan tidak dapat dibunuh. Tetapi  akibat kamma-buruk masa-lampaunya, meski gelindingan batu besar yang diarahkan Devadatta mengenai Sang Buddha dengan tujuan untuk membunuh Sang Buddha tersebut tidak  mampu menyebabkan terbunuhnya Sang Buddha , namun kaki-Nya tetap terluka dan cukup membuat rasa sakit bagi Sang Buddha.

Dengan membaca kisah-kisah kehidupan lampau Sang Buddha Gotama, kita bisa memetik pelajaran, bahwa betapa berbahayanya dilahirkan di zaman dimana tidak ada Dhamma di dunia. Kita bisa begitu gampangnya berbuat buruk pada zaman dimana perbuatan tidak bermoral dipandang sebagai perbuatan yang wajar.

Dengan memahami kisah perjalanan kehidupan lampau Sang Buddha, kita juga bisa menjadi melihat betapa Boddhisatta membutuhkan waktu yang sangat lama, untuk mendapatkan kembali kelahiran sebagai manusia. Boddhisatta hidup di alam-alam penuh penderitaan sekian tahun yang tak terhitung lamanya.  Dalam Bàlapandita Sutta, Sunnàata Vagga dari Uparipannàsa (Majjhima Nikàya) ada perumpamaan mengenai seekor kura-kura buta sehubungan dengan kalimat, “Manussattabhavo dullabho,” “Sulitnya terlahir menjadi manusia.” Misalnya ada seseorang yang melemparkan sebuah pelampung yang berlubang di tengahnya ke tengah lautan. Pelampung tersebut akan mengapung dan hanyut ke barat jika tertiup angin timur dan ke hanyut ke timur jika tertiup angin barat; hanyut ke selatan jika tertiup angin utara dan hanyut ke utara jika tertiup angin selatan. Dalam lautan tersebut, ada seekor kura-kura buta yang naik ke permukaan air seratus tahun sekali. Kemungkinan kepala kura-kura tersebut dapat masuk ke dalam lubang pelampung yang hanyut tersebut adalah jarang sekali. Sebagai makhluk yang telah mengalami penderitaan di alam sengsara dalam salah satu kehidupannya, adalah seratus kali lebih sulit terlahir menjadi manusia. Banyak teks-teks lain dalam Tipitaka yang menjelaskan sulitnya terlahir menjadi manusia.

Sekarang kita semua menjadi mengerti betapa sangat lamanya perjuangan seorang manusia untuk menjadi Samma-Sambuddha, bagaimana dia harus membulatkan tekad dan bertekun untuk menyempurnakan tugasnya. Bagi kita yang mengetahui kisah-kisah kehidupan lampau Sang Buddha Gotama sebagaimana diuraikan dalam kitab Jataka, kita mengetahui usaha yang diperlukan untuk menyempurnakan kesepuluh “Paramita” ; bagaimana Boddhisatta meninggalkan kekayaan, kehidupannya yang mewah, dan terutama sekali istri dan anaknya, untuk melekngkapi kesempurnaan dalam kemurahan hati; berapa kali Boddhisatta harus menyerahkan kerajaan-Nya untuk mencapai kesempurnaan dalam pelepasan-keduniawian ( Nekkhama ) ; betapa sulit Boddhisatta menyempurnakan kesempurnaan dalam Kebenaran ( Sacca ), Kesabaran ( Khanti ) , dan kesempurnaan ( Paramita ) yang lain-lainnya.

Jikalau kita membandingkan kesempurnaan spiritual Boddhisatta ketika zaman Buddha Dipankara dengan zaman Beliau merealisasi tingkat Samma-Sambuddha, adalah seperti membandingkan sebutir pasir dengan sebuah pegunungan yang lebih besar daripada Himalaya ; namun pada saat masa Buddha Dipankara, Boddhisatta kita telah mencapai Empat Rupa-Jhana dan Empat-Arupa-Jhana ( Attha Samapatti Jhana-Labhi ) dan mampu mencapai kekuatan-kekuatan gaib serta mampu merealisasi ke-Arahatta-an.

Nah, saudara-saudari se-Dhamma semuanya, teramat-lama waktu perjuangan yang harus ditempuh bagi seorang manusia untuk berhasil merealisasi ke-Buddha-an. Apakah ada diantara saudara-saudari se-Dhamma yang berminat untuk merealisasi tingkat Samma-Sambuddha pada suatu saat di masa depan yang jauh nanti ? Bila ada, saudara-saudari se-Dhamma bisa belajar dari perjalanan Buddha kita , Buddha Gotama, dalam usaha-Nya menyempurnakan diri hingga akhirnya merealisasi tingkat Anuttara Samma-Samboddhi ; menjadi Buddha yang Tiada-Banding, Guru para Dewa dan Manusia.

Sumber Pustaka :

1. Praktik Dhamma menuju Nibbana , Radhika Abeyesekera, Penerbit Sri Manggala 2008.

2. Riwayat Agung Para Buddha ( The Great Chronicle of Buddhas ) , Tipitakadhara Mingun Sayadaw, Myanmar ; Terbitan Ehipassiko collection, Girimangala Publications.

_________________________________________________

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Sabtu, 19 September 2009

Posted in BUDDHA, Kronologi Hidup Buddha, Riwayat Hidup Buddha | 21 Comments »

MAKNA BER-NAMASKARA

Posted by ratanakumaro pada September 14, 2009

“Araham Sammasambuddho  Bhagava, Buddham bhagavantam abhivademi”

( Sang Bhagava, Yang Mahasuci, Yang telah Mencapai Penerangan Sempurna ;  Aku bersujud di hadapan Sang Buddha, Sang Bhagava )

“Svakkhato bhagavata dhammo, Dhammam namassami”

( Dhamma telah sempurna dibabarkan oleh Sang Bhagava ; Aku bersujud di hadapan Dhamma )

“Supatipanno bhagavato savakasangho ; Sangham namami”

( Sangha Siswa Sang Bhagava telah bertindak sempurna ; Aku bersujud di hadapan Sangha )

____________________________________________________

“Namo tassa bhagavato arahato sammasambuddhassa”

(tikkhattum)

Namatthu Buddhassa,

“Namakara” atau “Namaskara” , dalam bahasa Indonesia artinya adalah “penghormatan” atau “persujudan”.  Sikap namaskara / sujud ini yang benar adalah dengan : 1) lutut , 2) jari kaki , 3) dahi, 4) siku, 5) telapak tangan ; semuanya menyentuh lantai.

Dalam masyarakat Jawa ada sebuah tradisi yang  disebut dengan “sembah-sungkem”. Sungkeman ini mirip dengan Namakara dalam tradisi Buddha-Dhamma. Tujuannya adalah , memberikan penghormatan kepada yang patut dihormat.

Ratana Kumaro : Di hadapan Bhante Khemacaro Nyana Subalo ( Sangha Agung Indonesia )

Ratana Kumaro memberi penghormatan pada Bhante Khemacaro Nyana Subalo ( Sangha Agung Indonesia )

Sebagai seorang siswa Sang Buddha, sesungguhnya kita setiap hari wajib ber-Namakara kepada Buddha-Dhamma-Sangha. Dengan demikian, hati kita, tekad kita, semakin mengarah pada praktik Dhamma yang lebih dalam dan pada akhirnya kelak berhasil merealisasi Jalan-Kesucian ( Magga ) dan Buah dari Jalan-Kesucian ( Phala ) sesuai yang ditunjukkan oleh Sang Ti-Ratana. Selain hal itu, dengan ber-Namakara akar kebajikan di dalam diri kita semakin berkembang.

Bila Namakara ini dilakukan dengan baik dan benar, dengan penuh konsentrasi, keheningan, dengan penuh kesadaran pengembangan spiritual,  setelah meninggal seorang ummat-awam dapat berharap untuk terlahirkan kembali ke alam-alam surga atau setidaknya dilahirkan di dalam keluarga yang ber-Sila  yang beragama Buddha.

Ratana Kumaro didepan Sangha Agung Indonesia

Ratana Kumaro didepan Sangha Agung Indonesia

Mengapa para siswa Sang Buddha bersujud dan menghormat kepada Sang Buddha adalah karena Sang Buddha adalah Guru-Agung bagi para siswa dan ummat-awam, pembimbing  kita semua menuju berakhirnya  penderitaan samsara dan terealisasinya kebahagiaan-sejati : Nibbana.

Mengapa para siswa Sang Buddha bersujud dan menghormat kepada Dhamma adalah karena Dhamma adalah satu-satunya ajaran yang menuntun kita  semua kepada berakhirnya penderitaan samsara. Dhamma Sang Buddha adalah ajaran yang nyata, Dhamma Sang Buddha adalah kebenaran-sejati  yang tidak dapat dibantah oleh siapapun juga kebenarannya dan dapat dibuktikan oleh siapapun.

Mengapa para siswa Sang Buddha bersujud dan menghormat kepada Sangha adalah karena Sangha merupakan pesamuhan-agung dari para suciwan semenjak jaman para Buddha yang pertama ( Buddha-Dipankara ; Buddha yang pertama dari keseluruhan 28 Samma-Sambuddha yang memberi ramalan pasti kepada boddhisatta Sumedha ( calon Buddha Gotama ) akan pencapaian ke-Buddha-an boddhisatta Sumedha ; serta jutaan Buddha lainnya sebelum ke-28 Samma-Sambuddha tersebut ) hingga Sang Buddha Gotama yang menjaga dan mengajarkan Dhamma kepada ummat manusia ;  Sangha adalah pembimbing ummat manusia dalam upaya untuk memahami Dhamma setelah Sang Buddha parinibbana.

Bersujud kepada Buddha ~ Dhamma ~ dan Sangha adalah yang terbaik ; sebab merupakan wujud penghormatan dan penghargaan yang tertinggi kepada yang memang patut dihormat dan dihargai. Bersujud kepada Buddha~ Dhamma ~ dan Sangha adalah perbuatan luhur yang akan membuahkan kebahagiaan, umur panjang, kesehatan dan kekuatan jasmani maupun rohani. Ketulusan dalam ber-Namakara, merupakan salah satu ciri fisik yang dapat dilihat yang menunjukkan telah lenyapnya keragu-raguan skeptis terhadap Sang Ti-Ratana.

Foto Kiriman Bp.Karim-Jakarta (DPSS) : Buddha-Rupam di Ayuthaya ( Thailand )

Foto Kiriman Bp.Karim-Jakarta (DPSS) : Buddha-Rupam di Ayuthaya ( Thailand )

REFLEKSI NAMAKARA BAGI KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Refleksi dari Namakara ini dalam kehidupan sehari-hari adalah sikap kerendah-hatian, kelemah-lembutan, melenyapnya “ego” yang menjadi sumber dari banyak penderitaan.

Selain itu, ummat Buddha juga diharapkan dapat memberikan penghormatan kepada kedua-orang tua dengan sedalam-dalamnya / setinggi-tingginya. Sang Buddha senantiasa menganjurkan para ummat untuk berbakti kepada kedua-orang tuanya. Sebab, tanpa kedua-orang tua kita, kita tidak akan mungkin menjadi seperti yang sekarang ini ; terlahir ke alam manusia, tumbuh dan berkembang menjadi dewasa, mendapat kasih-sayang, menikmati pendidikan formal dengan baik, dan lain-sebagainya. Mengenai kewajiban kita berbakti kepada kedua orang-tua kita, Sang Buddha pernah bersabda sebagai berikut :

Kunyatakan, O para bhikkhu, ada dua orang yang tidak pernah dapat dibalas budinya oleh seseorang. Apakah yang dua itu?

Ibu dan Ayah

Bahkan seandainya saja seseorang memikul ibunya ke mana-mana di satu bahunya dan memikul ayahnya di bahu yang lain, dan ketika melakukan ini dia hidup seratus tahun, mencapai usia seratus tahun; dan seandainya saja dia melayani ibu dan ayahnya dengan meminyaki mereka, memijit, memandikan, dan menggosok kaki tangan mereka, serta membersihkan kotoran mereka di sana—bahkan perbuatan itu pun belum cukup, dia belum dapat membalas budi ibu dan ayahnya. Bahkan seandainya saja dia mengangkat orang tuanya sebagai raja dan penguasa besar di bumi ini, yang sangat kaya dalam tujuh macam harta, dia belum berbuat cukup untuk mereka, dia belum dapat membalas budi mereka. Apakah alasan untuk hal ini? Orang tua berbuat banyak untuk anak mereka: mereka membesarkannya , memberi makan dan membimbingnya melalui dunia ini.
….”

(Anguttara Nikaya II, iv,2)

Di dalam Sigalaka Sutta, Digha Nikaya 31.28 , Sang Buddha juga menguraikan kewajiban anak kepada orang tuanya sebagai berikut :
1. Menyokong mereka
2. Menjalankan kewajiban mereka
3. Menjaga tradisi keluarga
4. Berupaya melakukan sesuatu yang berharga bagi keluarga
5. Melakukan penghormatan terhadap mereka ketika meninggal (penghormatan terhadap leluhur)

Nah, marilah, saudara-saudari se-Dhamma, kita praktikkan Namakara dan menguncarkan Namakara-Patha ( kalimat-persujudan ) kepada Buddha-Dhamma-Sangha, demi pengembangan spiritual kita masing-masing, demi berkah-berkah kebahagiaan bagi hidup kita masing-masing. Juga, tidak ketinggalan, kita wajib memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada kedua orang-tua kita, sebagaimana Sang Buddha telah mengajarkannya kepada kita semua.

______________________________________________

Oh iya, ini saya ada tambahan foto menarik yang diambil di SUngai Mekong ~ Thailand, kiriman dari Bp.Karim ( PT. DPSS ) ~ Jakarta ,  dikirim sekitar  bulan-bulan akhir tahun  2008.

Foto sungai Mekong ini menarik, karena meskipun diambil dengan kamera yang berbeda ( tentunya jauh lebih canggih daripada kamera digital saya yang hanya sekitar 7,2  megapixel ), diambil dari lokasi yang berbeda ( foto saya saat bernamakara kepada Bhikkhu Sangha diambil di Vihara Mahabodhi Seroja, Semarang, sedangkan foto Bp. Karim diambil di Thailand  ) , dan dalam waktu yang berbeda ( foto saya diambil 06 September 2009, sedang foto Bp.Karim diambil sekitar tahun 2008 ) , namun foto-foto tersebut sama-sama menangkap fenomena alamiah ; yakni adanya “bola-bola-bercahaya” ; fenomena alamiah ini tidak perlu dimaknai dengan “aneh-aneh”, karena mungkin saja bola-bola bercahaya  itu maenannya si Dora-Emon, Nobita dan Giant, he he he… ^_^

Kiriman Bp.Karim~Jakarta (DPSS) : Sungai Mekong di malam hari

Kiriman Bp.Karim~Jakarta (DPSS) : Sungai Mekong di malam hari

_______________________________________________________

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

– RATANA-KUMARO –

Semarang-Barat,Senin, 14 September  2009

Posted in Arti Namaskara, BUDDHA, Makna ber-Namaskara, pentingnya namaskara | 13 Comments »

PENDALAMAN TATA CARA PALIVACANA

Posted by ratanakumaro pada September 1, 2009

Samagga Sakhila Hotha

Hendaklah saling rukun dan berbaik hati

(Apadà na II)


Samagganang Tapo Sukho

Upaya kelompok orang yang bersatu menimbulkan kebahagiaan

(Dhammapada 194)

________________________________________________________

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattum (3X) )

Namatthu Buddhassa,

Rekan-rekan sedhamma semuanya, pada hari Sabtu tanggal 29 Agustus 2009 s/d hari Minggu tanggal 30 Agustus 2009, Keluarga Buddhis Indonesia wilayah Jawa Tengah, mengadakan acara pendalaman tatacara penguncaran Pali Wacana.

Susunan Acaranya adalah sebagai berikut :

  1. Sabtu, 29 Agustus 2009
    1. Jam 17.00 WIB s/d 18.00 WIB      : Daftar Ulang
    2. Jam 18.30 WIB s/d 20.00 WIB      : Session I
    3. Jam 20.00 WIB s/d 20.15 WIB      : Break
    4. Jam 20.15 WIB s/d 22.00 WIB      : Session II
    5. Jam 22.00 WIB s/d 04.45 WIB      : Istirahat
  1. Minggu, 30 Agustus 2009
    1. Jam 04.45 WIB s/d 06.00 WIB      : Chanting Pagi
    2. Jam 06.30 WIB s/d 07.30 WIB      : MCK dan Makan Pagi
    3. Jam 07.30 WIB s/d 09.00 WIB      : Session III
    4. Jam 09.00 WIB s/d 09.15 WIB      : Break
    5. Jam 09.15 WIB s/d 11.00 WIB      : Session IV
    6. Jam 11.00 WIB s/d SELESAI           : Penutupan dan Makan Siang

Panitia acara ini dimotori oleh Dayakasabha Vihara Tanah Putih Semarang , Magabudhi Wilayah Jawa-Tengah dan Cabang Semarang, dan seluruh keluarga Buddhis Theravada Jawa-Tengah.

Acara ini dihadiri oleh perwakilan dari vihara maupun organisasi-organisasi Buddhis Theravada dari seluruh cabang di Jawa-Tengah, berikut adalah daftar peserta yang hadir.

CABANG Jumlah Perwakilan
Kebumen 12
Banyumas 8
Kudus 9
Salatiga 6
Kota Tegal 1
Blora 1
Solo 2
Klaten 1
Kota Semarang 19
Kabupaten Semarang 2
Grobogan 11
Jepara 12
Wonosobo 8
Wonogiri 2
Pati 32
Rembang 2
Kab. Magelang 4
Purwerejo 3
Temanggung 3
Candhakirana Semarang 9
Dhammameta Pati 10
Dhammapannya Temanggung 10
TOTAL PESERTA 167

HARI PERTAMA

persiapan

Sabtu, 29 Agustus 2009 ; Pukul 17.00 WIB . Perwakilan ummat Buddha dari berbagai cabang / kabupaten di Jawa-Tengah mulai berdatangan.  Ada yang kemudian duduk di ruang tempat acara diselenggarakan, ada yang memilih duduk-duduk diluar sembari menikmati hidangan makanan dan minuman yang sudah disediakan.

Romo Sugianto membuka

Romo Sugianto

Sabtu, 29 Agustus 2009 ; Pukul 18.00 WIB. Ummat Buddha yang hadir semuanya mulai berkumpul di dalam ruangan. Romo Sugianto ( dari Magabudhi ) memberikan sedikit kalimat pembuka. Romo Sugianto memberikan semangat kepada ummat Buddha yang hadir untuk semakin memperkuat saddha kepada Sang Buddha. Dan Romo Sugianto prihatin kepada ummat Buddha yang karena pengetahuannya mengenai Buddha-Dhamma sangat minim suatu saat menjadi berpindah agama karena sesuatu hal.

Bhante Suratano

Sabtu, 29 Agustus 2009 ; Pukul 18.30 WIB. Bhante Suratano, sebagai pengajar materi pendalaman Palivacana, memasuki ruangan. Seluruh ummat beranjali.

Bhante Suratano mulai memberikan materi pelajaran. Dimulai dengan menjelaskan jumlah huruf dalam aksara Pali. Total jumlah huruf dalam aksaraPali adalah 41 huruf, terdiri dari 8 huruf vokal dan 33 huruf konsonan. Delapan (8) buah huruf vokal dalam aksara Pali yaitu :

A I U E O + Ā Ī Ū

Huruf vokal yang diberi tanda garis “strip” diatasnya, dibaca lebih panjang daripada huruf vokal yang tanpa garis “strip” diatasnya.

Dan 33 buah huruf konsonan dalam aksara Pali adalah seperti yang terlihat dalam foto yang saya abadikan dibawah ini :

Bhante Suratano

Setelah menjelaskan ke-41 huruf aksara Pali ( yang ditulis dalam huruf latin tersebut ), Bhante Suratano menjelaskan cara pelafadzan / pengucapannya. Kemudian setelah itu, Bhante Suratano mengajak ummat untuk berpraktek membaca Paritta.

Bhante Suratano

Situasi berjalan dengan sangat relaks, santai. Tak jarang diisi dengan lelucon-lelucon dari Bhante Suratano. Dengan berjalannya waktu pelatihan, ummat Buddha yang hadir jadi mengerti, bahwa selama ini masih banyak yang kurang tepat dalam mengucapkan Sutta-Sutta dalam Paritta, dan ini menjadi lelucon tersendiri yang memancing tawa-canda.

Session II selesai

Sabtu 29 Agustus 2009, pukul 22.00 WIB. Tak terasa, setelah melalui break dan dilanjutkan dengan session II, acara untuk hari Sabtu pun selesai. Sebagian ummat yang dari kota Semarang pulang kerumah masing-masing, beberapa ada yang tidur di vihara bersama-sama ummat Buddha yang dari luar kota Semarang. Saya sendiri, menyempatkan diri ber-samadhi di Dhammasala di depan Buddha-Rupam hingga pukul 24.00 WIB,  lalu menyempatkan memotret Pagoda Kwan Im di kegelapan malam dari jarak sejauh 100 meter-an ( kurang lebih ), karena kamera kurang bagus jadi yang nampak hanya lampu-lampu lampion dan sinar bulan , setelah itu saya  pulang kerumah.

Pagoda Kwan Im di malam hari

HARI KEDUA

Minggu, 30 Agustus 2009,pukul 09.00 WIB. Saya datang terlambat, melewatkan acara chanting pukul 04.45 WIB s/d 06.00 WIB , kemudian acara MCK ( Mandi , Cuci, Kakus ) dan makan pagi jam 06.30 WIB s/d 07.30 WIB, dan melewatkan acara Session III dari pelatihan Palivacana jam 07.30 WIB s.d 09.00 WIB. Saya hadir jam 09.00 WIB , disaat peserta pelatihan sedang break istirahat menikmati hidangan yang disajikan oleh panitia.

Session III pagi

Minggu, 30 Agustus 2009, pukul  09.15 WIB s.d 11.00 WIB. Pada session IV ini, Bhante Suratano melanjutkan pelatihan membaca Paritta. Semua ummat menyimak dengan antusias, sembari melakukan otto-kritik atas kesalahan-kesalahan selama ini dalam pengucapan / penguncaran Paritta.

Session III pagi

Hari Minggu 30 Agustus 2009 pukul 11.00 WIB. acara pelatihan Palivacana selesai. Para peserta kemudian duduk santai. Romo Sugiarto mengisi dengan kalimat-kalimat penutup.

Session IV pagi

Selesai

Selesai

Sesi Sharing antar ummat

Kemudian ada sesi SHARING dari peserta. Ada seorang peserta laki-laki yang maju ke depan, dan menyampaikan sharingnya, bahwa banyak ummat Buddha di sekitarnya yang kurang memiliki Saddha yang kuat terhadap Ti-Ratana , sehingga ketika tiba saatnya menikah dan mendapatkan pasangan yang non-Buddhis, mereka meninggalkan agama Buddha dan bersalin agama lain. Kemudian, peserta yang sharing tentang hal ini, mengusulkan supaya ummat Buddha yang hadir lebih saling mengenal, siapa tahu ada yang jodoh dan bisa berlangsung ke pernikahan ( he he, begitu sih memang inginnya si mas kayaknya… 😉   )

Tuntunan Puja Bhakti

CD Pelatihan Palivacana

Pembagian Buku & CD

Setelah acara sharing selesai, dilanjutkan dengan pembagian “TUNTUNAN PUJA BHAKTI” dan “CD PELATIHAN PALIVACANA” ( tiga seri ) oleh Bhante Dhammadiro. Semua perwakilan dari cabang / kabupaten di Jawa-Tengah memperolehnya dengan Cuma-Cuma.

Padesa Nayaka B.Cattamano menutup acara

Minggu, 30 Agustus 2009, pukul 12.30 WIB. Bhante Cattamano sebagai Padesa-Nayaka wilayah Jawa-Tengah, dan juga beserta Bhante Suratano, menutup acara dengan diawali Namakara-Patha pada Sang Buddha.

Dalam ceramahnya, Bhante Cattamano menyatakan kegembiraannya atas acara yang diselenggarakan oleh Keluarga Buddhis Indonesia wilayah Jawa-Tengah. Harapan Bhante Cattamano, semoga kedepan nantinya, ummat Buddha sudah mahir menguncarkan Paritta suci.

Namakara penutupan

Setelah selesai memberikan ceramah, Bhante Cattamano menutup dengan Namakara-patha yang ditujukan pada Sang Buddha.

Demikianlah jalannya keseluruhan acara Pendalaman Tata Cara Palivacana yang diselenggarakan oleh Keluarga Buddhis Indonesia wilayah Jawa-Tengah. Para peserta yang mengikuti acara pendalaman ini, nantinya  jika berminat akan melanjutkan ke jenjang berikutnya yaitu mengikuti ujian untuk mendapatkan sertifikasi dari Sangha sebagai tanda bukti bahwa ia telah mengikuti serangkaian pelatihan Palivacana dan lulus menempuh ujian pendalaman Palivacana.

Semoga berita ini bermanfaat bagi ummat Buddha Jawa-Tengah khususnya dan ummat Buddha dimanapun anda berada umumnya.

____________________________________________

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

— RATANA-KUMARO —

Semarang-Barat,Selasa, 1 September  2009

Posted in Acara Ummat Buddha, Berita Buddhis, BUDDHA | 2 Comments »

PANCASILA DAN ATTHANGASILA

Posted by ratanakumaro pada Agustus 30, 2009

“Ia yang memiliki Sila yang kuat dan mantap, memiliki kebijaksanaan dan konsentrasi, serta bersemangat dan rajin, akan dapat menyeberangi arus yang sukar diseberangi.” ( Samyutta Nikaya i.53 )

“Dengan perbuatan, pengertian, dan kebajikan, dengan Sila serta hidup suci – Dengan cara inilah orang-orang menjadi suci, dan bukan karena keturunan dan harta kekayaan” ( Majjhima Nikaya iii.262 )

“Bukan karena kelahiran orang menjadi sampah. Bukan karena kelahiran pula orang menjadi Brahmana (mulia). Oleh karena perbuatanlah orang menjadi sampah. Oleh karena perbuatan pula orang menjadi Brahmana.”

( Vasala-Sutta ( Khotbah tentang “Manusia-Sampah (Spiritual)” ; Sutta-Nipata, Sutta ke-7 )

___________________________________________________________

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattum (3X) )

Namatthu Buddhassa,

Dhamma indah pada permulaan, pada pertengahan, dan indah pada pengakhirannya ; demikian seringkali dinyatakan. Apa yang indah pada permulaan adalah moralitas ( Sila );  apa yang indah pada pertengahan adalah ketenangan ( samatha ) dan pandangan-terang ( vipassana ) serta Jalan ( Magga ) ; dan apa yang indah pada pengakhirannya adalah Buah ( Phala ) serta Nibbana .

Dalam Visuddhi-Magga karya Bhadantacariya Buddhaghosa disebutkan ada sembilan (9) manfaat dan kegunaan dari SILA :

  1. Serangkai “Tiga-Latihan”, Sila menunjang Samadhi ; dan Samadhi yang ditunjang Sila, akan menghasilkan akhir yang indah : Panna ( Kebijaksanaan Penembusan ).
  2. Disebutkan bahwa Sila menunjukkan manfaat awal dari Dhamma. Ada disebutkan ; “Dan apakah awal dari hal-hal yang bermanfaat ? Sila yang benar-benar murni” (Samyutta Nikaya v.143 ), “Tidak melakukan kejahatan” (Dhammapada 183 ) adalah Sila yang merupakan awal dari Ajaran. Dan itu adalah baik, sebab ia menghasilkan kualitas istimewa, yakni ketidak menyesalan ( Seseorang yang ber-Sila tidak akan menyesal ).
  3. Syarat-syarat yang diperlukan untuk tiga macam pengetahuan-batin (tevijja) ditunjukkan oleh Sila ; Karena ditunjang oleh Sila yang sempurna, seseorang mencapai tiga macam pengetahuan-batin ( Tevijjo ; 1). Pubbenivasanussati-nana : mengetahui kehidupan-kehidupannya yang lampau (tumimbal-lahir) , 2). Cutupapata-nana : mengetahui tumimbal lahir dari semua makhluk hidup, darimana sebelum dilahirkan dan akan terlahir kemana setelah kematiannya, 3). Asavakhaya-nana : mengetahui jalan melenyapkan nafsu kekotoran batin ) .
  4. Sila juga bermanfaat untuk penghindaran terhadap ekstrem pemuasan nafsu-nafsu keinginan.
  5. Demikian pula cara-cara untuk mengatasi keadaan yang merugikan ditunjukkan dengan Sila.
  6. Penglepasan kekotoran batin, dengan menggantikannya dengan sifat-sifat yang berlawanan dari kekotoran batin ditunjukkan dengan Sila.
  7. Pencegahan terhadap pelanggaran yang disebabkan oleh kekotoran batin, ditunjukkan dengan Sila.
  8. Pembersihan dari kekotoran tingkah-laku ditunjukkan dengan Sila.
  9. Demikian pula, syarat-syarat untuk tercapainya tingkat “Pemasuk-Arus” ( Sotapatti ) dan tingkat “Yang-Kembali-Sekali-Lagi” ( Sakadagami ) ditunjukkan dengan Sila.  Seorang “Pemasuk-Arus” ( Sotapanna ) disebut sebagai yang “Telah Sempurna dalam Sila”, demikian pula dengan “Yang-Kembali-Sekali-Lagi” ( Sakadagami ).  Tetapi bagi “Yang-Tidak-Kembali-Lagi” ( Anagami ) disebut “Telah Sempurna dalam Konsentrasi” ; dan Arahat disebut “Telah Sempurna dalam Kebijaksanaan”.

Ajaran Buddha adalah ajaran tentang pengakhiran penderitaan samsara melalui sebuah “Jalan” yang indah pada permulaan, pertengahan, dan pengakhirannya sebagaimana tersebut diatas.  Inilah “Tiga-Rangkaian-Latihan” : SILA -> SAMADHI -> PANNA. Dan pada kesempatan ini, kita akan membahas mengenai “SILA” , atau praktik latihan pemurnian-moralitas , yang merupakan awal dari sebuah kehidupan-suci.

PRAKTIK LATIHAN MORALITAS ( SILA ) DALAM SEJARAH BUDDHIS

Ajaran tentang praktik Sila ini diucapkan oleh Sang Buddha, pertama kalinya ketika Sang Buddha membabarkan Empat-Kesunyataan-Mulia pada kelima petapa :   Assaji, Vappa, Bhadiya, Kondanna dan Mahanama. Khotbah ini adalah khotbah pertama Sang Buddha setelah mencapai pencerahan-sempurna, dan khotbah ini kemudian dikenal sebagai “Dhammacakkapavatthana-Sutta”. Dalam Khotbah inilah Sang Buddha menyebutkan adanya Jalan untuk menuju berakhirnya Dukkha, ialah “Ariya-Atthangika-Magga” ( Jalan Ariya Beruas Delapan ), yang didalamnya terdapat ruas-ruas : Ucapan-Benar (Samma-Vaca), Perbuatan-Benar (Samma-Kamanta), Mata-Pencaharian-Benar (Samma-Ajiva) yang menunjuk pada “SILA”.

Meskipun demikian, sesungguhnya praktik “Sila” ini sudah dikenal sejak jaman para Buddha yang terdahulu, sebelum Sang Buddha Gotama. Di dalam Jataka ( kisah-kisah kehidupan lampau Siddhatta Gotama ) banyak sekali disebutkan kisah mengenai praktik “PANCASILA” ( Lima Aturan Moralitas )  dan “ATTHANGASILA” ( Delapan Aturan Moralitas ) pada saat hari Uposattha ; yang keduanya (Pancasila dan Atthangasila) ditujukan untuk dilatih oleh ummat awam. Sehingga, setidaknya praktik “PANCASILA” dan “ATTHANGASILA” ini telah dikenal dalam dunia Buddhis sejak empat (4) Asankkheyya-Kappa + seratus ribu ( 100.000 ) Kappa yang lampau  ( Sejak masa Buddha Dipankara, Buddha yang pertama kali yang tercatat  dalam khasanah Buddhisme ); dalam masa yang sangat jauh / lama sekali sebelum Siddhatta-Gotama terlahir kembali sebagai manusia sebagai Pangeran Kapilavatthu dan kemudian merealisasi ke-Buddha-an. Hal ini adalah wajar, sebab memang ajaran semua Buddha adalah sama, tiada beda.

Dalam “Jalan Ariya Beruas Delapan” ( Ariya Atthangika Magga ), “SILA” ini merupakan ruas dari : Ucapan-Benar (Samma-Vaca), Perbuatan-Benar (Samma-Kamanta), Mata-Pencaharian-Benar (Samma-Ajiva) . Dalam Cullavedala-Sutta dinyatakan :

–          Ucapan Benar (Samma-Vaca) yang manapun, Perbuatan Benar ( Samma-Kamanta) yang manapun, dan Mata Pencaharian Benar ( Samma-Ajiva ) yang manapun, kesemuanya disusun dalam kelompok Aturan Moralitas (Sila ).

–          Usaha Benar ( Samma- Vayama ) yang manapun, Perhatian Benar ( Samma-Sati ) yang manapun, dan Konsentrasi ( Samma-Samadhi ) yang manapun, kesemuanya disusun dalam kelompok Semedi ( Samadhi ).

–          Pengertian Benar (Samma-Ditthi ) yang manapun dan Pikiran Benar ( Samma-Sankappa ) yang manapun, kesemuanya disusun dalam kelompok Kebijaksanaan ( Panna ).

Dalam Visuddhi-Magga, Acariya Buddhaghosa menerangkan “Tujuh-Tingkat-Pemurnian” ( Satta-Visuddhi ). Sejalan dengan pencapaian masing-masing tingkat ini, berbagai pengetahuan pandangan-cerah / insight ( Nyana ) akan berkembang, menuju tingkat Pembebasan / Kesucian Tertinggi.  Tahap pemurnian yang pertama adalah “Pemurnian-Perilaku” atau “Pemurnian-Moralitas” ( Sila-Visuddhi ).

Lebih lanjut Acariya Buddhaghosa mendeskripsikan “Aturan-Moralitas-Buddhis” sebagai berikut :

–          Menunjukkan sikap batin atau kehendak.

–          Menunjukkan penghindaran  yang merupakan unsur batin.

–          Menunjukkan pengendalian diri.

–          Menunjukkan tiada pelanggaran peraturan yang telah ditetapkan.

MANFAAT DARI PRAKTIK “SILA”

Mengapa “SILA” ini merupakan awal dari tiga-rangkaian-latihan ( Sila -> Samadhi -> Panna ) ? Karena, Sila ini bermanfaat memberikan “Ketiadaan-Rasa-Sesal”. Dengan begitu, batin menjadi tenang, damai, karena terkondisikan dalam perbuatan-perbuatan yang bajik, benar, lurus, dan oleh karenanya tiada lagi penyesalan atas tindakan-tindakan salah ( sebab telah dihindari / tidak dilakukan ).

Praktik “SILA” juga merupakan cara untuk mengendalikan diri dari segala bentuk-bentuk pikiran yang tidak baik atau merupakan usaha untuk membebaskan diri dari lobha (keserakahan/nafsu-indriya), dosa (kemarahan/kebencian), moha (kebodohan-batin).

Dalam Mahaparinibbana-Sutta ( Diggha-Nikaya ) , Sang Buddha bersabda pada ummat perumah-tangga mengenai manfaat yang akan diperoleh dari dilaksanakannya praktik latihan moralitas ( Sila ) :

–          Menyebabkan seseorang memiliki harta kekayaan yang melimpah.

–          Mendatangkan nama baik.

–          Menimbulkan rasa percaya diri dalam lingkungan pergaulan dengan golongan sosial manapun.

–          Menyebabkan kelahiran-kembali ke alam-alam surga.

DASAR TIMBULNYA PRAKTIK “SILA”

Munculnya “SILA” ini didasari adanya :

–          Hiri : Rasa malu untuk berbuat jahat.

–          Otappa : Rasa takut akan akibat perbuatan jahat.

Hiri dan Ottapa ini disebut sebagai “pelindung-dunia” ( Lokapaladhamma ). Tanpa adanya “Hiri” dan “Otappa” , maka dunia ini akan dicengkeram kejahatan, para makhluk menjadi “tidak-aman” untuk berdiam dalam bumi ini ; karena manusia akan bertindak tanpa merenungkan konsekuensi dari tindakannya. “Hiri” dan “Otappa” ini pula yang akan digunakan oleh seseorang untuk melindungi praktik Sila-nya.

PRAKTIK PENSUCIAN-SILA : AKAR KEHIDUPAN SUCI

Matara Sri Nanarama Mahathera, dalam bukunya “Tujuh Tingkat Kesucian & Pengertian Langsung” (Yayasan Penerbit Karaniya, Juli 2003 ) menyatakan, yang paling pertama dan paling mendasar dari kehidupan meditasi adalah “Kesucian-Sila” yang terdiri dari pengertian dan mempertahankan pengendalian, yaitu :

  1. Mematuhi janji pelaksanaan Sila yang telah diucapkan dan melindunginya seperti melindungi kehidupannya sendiri.
  2. Menjaga enam pintu indera dan tidak membiarkan timbulnya noda.
  3. Mempertahankan kehidupan yang benar.
  4. Menggunakan keperluan hidup dengan bijaksana.

Seorang yogi yang hidup menuruti keempat cara pengendalian tersebut akan memperoleh ketidakterikatan terhadap sesuatu atau pun penolakan terhadap sesuatu. Dengan demikian yogi tersebut memiliki kehidupan yang “Terang”, ringan jasmani dan puas dalam batin, bebas dari beban kepemilikian apa pun juga di dunia ini.

Setiap siswa Sang Buddha hendaknya memiliki Sila yang baku yang ditujukan pada realisasi Nibbana. Bagi para Bhikkhu dan Bhikkhuni diharapkan mematuhi peraturan yang diberikan dalam dua disiplin moral sesuai dengan tanggung jawab mereka dalam Patimokkha. Samanera dan Samaneri harus memperhatikan “DASASILA” sebagai standar Sila mereka.

Sedangkan bagi para upasaka dan upasika hendaknya memegang teguh PANCASILA sebagai standar Sila mereka dalam kehidupan sehari-hari ; dan ATTHANGASILA ( Delapan Sila ) dianjurkan sebagai Sila khusus untuk hari-hari Uposatha.

Seorang Upasaka / sika yang tertarik untuk lebih memperdalam spiritualitas dan semakin dalam melepaskan kemelekatan-kemelekatan, dapat menjadi seorang ANAGARIKA / ANAGARINI yang memegang teguh praktik ATTHANGASILA ( Delapan Sila ), atau pun juga mempraktekkan DASASILA dalam kehidupan sehari-hari dalam kehidupannya bermasyarakat.

Lebih lanjut, Matara Sri Nanarama Mahathera, dalam bukunya “Tujuh Tingkat Kesucian & Pengertian Langsung” (Yayasan Penerbit Karaniya, Juli 2003 ) menyatakan, untuk mencapai Jalan Suci ( Magga ) dan Buahnya ( Phala ), baik Bhikkhu maupun ummat awam keduanya harus mengembangkan Sila pengendalian indera. Sila pengendalian indera ini adalah menjaga dengan penuh perhatian keenam pintu indera : mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran. Dengan penuh kesadaran ia harus mencegah munculnya noda-noda yang dicetuskan dari kesan-kesan indera – semua bentuk keinginan – keruwetan yang kecil maupun yang besar, atau pun juga kesombongan yang sangat halus, yang berakar pada “kepalsuan-diri” , dan kebodohan. “Kepalsuan-diri” ( Atta ) adalah sesuatu yang sangat sukar dipahami. Tetapi dengan penuh kesadaran, seseorang mencatat dalam batin setiap objek yang “muncul” pada keenam indera, maka orang tersebut akan dapat membembaskan diri dari “kepalsuan-diri” ( atta ). Ketidaktahuan mengenai yang seharusnya diketahui adalah sama dengan pengertian yang salah mengenai diri ( atta ).

Bila gagal untuk mencatat dalam batin atas timbulnya suatu perasaan yang menyenangkan maka hal itu akan memberi kesempatan bagi keserakahan ( lobha ) untuk muncul. Kegagalan mencatat dalam batin terhadap perasaan yang tidak menyenangkan dapat menjadi kesempatan bagi timbulnya kebencian (dosa), sedangkan kegagalan mencatat dalam batin terhadap perasaan yang bukan-menyenangkan-maupun-bukan-tidak-menyenangkan memberikan kesempatan bagi kepalsuan, pengertian yang salah, atau pun kebodohan untuk muncul. Karena itu latihan untuk mencatat dalam batin terhadap setiap objek yang muncul pada keenam indera akan sangat menolong dalam mengusir kecenderungan terhadap kebodohan yang sudah ada secara laten.

Sang Buddha bersabda, “ Dalam hal perasaan yang menyenangkan, Visakha, kecenderungan laten dari kemelekatan (lobha) harus dihancurkan. Dalam hal perasaan yang menyakitkan, kecenderungan laten dari kebencian (dosa) harus dihancurkan. Dalam hal perasaan yang bukan-menyenangkan-maupun-tidak-menyenangkan, kecenderungan laten dari kebodohan (moha) harus dihancurkan.” ( M.I 303 ; Culavedalla Sutta ).


I. PANCASILA

Dibawah ini adalah kelima Sila dari Pancasila yang telah dijalankan oleh ummat Buddha setidaknya sejak jaman Sang Buddha Gotama ( kurang lebih 600 tahun sebelum Masehi ) :

1. Pāņatipātā veramaņī sikkhāpadam samadiyami

( Aku bertekad melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup )

2. Adinnadana veramani sikkhapadam samadiyami

( Aku bertekad melatih diri menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan )

3. Kamesumicchacara veramani sikkhapadam samadiyami

( Aku bertekad meatih diri menghindari perbuatan asusila, tindakan sexual yang tidak benar )

4. Musavada veramani sikkhapadam samadiyami

( Aku bertekad melatih diri menghindari ucapan tidak-benar / dusta )

5. Surameraya majjapamadatthana veramani sikkhapadam samadiyami

( Aku bertekad melatih diri menghindari meminum minuman keras, mengkonsumsi barang madat hasil peragian yang menyebabkan lemahnya kesadaran )

Dalam pelaksanaan latihan moralitas / Sila tidak ada unsur paksaan, karena itulah semua Sila tersebut senantiasa diawali dengan kalimat “ Aku bertekad melatih diri…dst.”. Aturan moralitas ini bukanlah “Perintah-Tuhan” ; namun sebuah praktik yang didasari atas kesadaran dan kehendak baik yang telah timbul di dalam diri seorang siswa Sang Buddha. Dengan didasari kesadaran dan kehendak baik inilah, maka pelaksanaan Sila ini diliputi dengan kebijaksanaan, dan seorang siswa Sang Buddha yang telah menyadari pentingnya praktek latihan Sila ini, tidak akan melanggar latihan ini, sebab mengetahui bahwa setiap bentuk pelanggaran atas masing-masing Sila ini memiliki akibat / konsekuensi bagi dirinya sendiri berupa vipaka ( buah-karma ).

1. SILA PERTAMA PANCASILA BUDDHIST

“Panatipata veramani sikkhapadam samadiyami”. Kata “Panatipata” terdiri dari dua kata : Pana dan atipata. Kata “Pana” dalam bahasa Pali secara tegas berarti “kehidupan batin-jasmani mengenai keberadaan makhluk tertentu”, sedangkan “atipata” secara harafiah berarti “berakhir” atau “lepas dengan cepat”. Penghancuran secara kejam dari kekuatan kehidupan ini, tanpa mengijinkannya untuk bergerak sesuai dengan waktu hidupnya sendiri, itulah makna dari “Panatipata”.

“ Makhluk Hidup “ disini berarti termasuk dunia hewan, tetapi tanaman tidak termasuk karena mereka tidak mempunyai pikiran, perasaan, persepsi, dan kesadaran apapun ( “ jiwa “ ). Namun meskipun demikian, para Bhikkhu, diharuskan untuk tidak menghancurkan kehidupan tanam-tanaman sekalipun. Hukum ini tidak ditujukan untuk orang biasa yang hidup berumah-tangga.

Dasar dari Sila Pertama dari Pancasila Buddhis ini adalah praktik Kesempurnaan Cinta-Kasih ( Metta-Parami ) dan Kesempurnaan Kasih-Sayang ( Karuna-Parami ).

Sang Buddha pernah bersabda :

“Meletakkan senjata kekerasan, berhenti membunuh makhluk apa pun, berhenti menyebabkan orang lain membunuh makhluk apa pun ; inilah arti “Brahmana”.” (629) [Vasettha-Sutta ; Sutta-Nipata , Bab III : Bab-Besar, Sutta ke-9 ]

“Dia yang tidak menunjukkan kemarahan terhadap mereka yang marah, yang damai terhadap mereka yang menggunakan kekerasan, yang tidak tamak di antara mereka yang cenderung tamak, adalah orang yang kusebut Brahmana.” (630). [Vasettha-Sutta; Sutta-Nipata, Bab III : Bab-Besar, Sutta ke-9]

Lima keadaan dibawah ini diperlukan untuk terjadinya kejahatan membunuh :

  1. Makhluk hidup,
  2. Pengetahuan bahwa ia makhluk hidup,
  3. Kehendak untuk membunuh,
  4. Usaha untuk membunuh,
  5. Adanya kematian.

Ciri dari makhluk hidup yang dimaksudkan disini adalah :

  1. Memiliki pikiran dan atau kesadaran.
  2. Memerlukan makanan.
  3. Dapat bergerak.
  4. Dapat melakukan suatu kegiatan atau perbuatan.
  5. Terlihat oleh mata.

Objek dari pembunuhan makhluk hidup yang dimaksud dibedakan menjadi :

1.   Manusia
2.   Binatang

  1. Binatang yang berguna
  2. Binatang yang tidak berguna
  3. Binatang yang merugikan
  4. Binatang yang tidak merugikan

Faktor Kehendak (Cetana) yang berperan dalam pembunuhan tersebut dibedakan menjadi :

1.   Direncanakan/disengaja/dikehendaki . Contoh dari hal ini adalah pembunuhan berencana yang dilandasi kebencian / pembalasan dendam ( seperti misalnya yang dilakukan oleh gerombolan teroris, kawanan perampok, atau perorangan yang memendam kebencian/rasa dendam terhadap orang/kelompok orang lainnya ).

2.   Tidak di kehendaki

  1. Dorongan sesaat (mendadak) , misalnya kemarahan seorang ayah terhadap anaknya ketika si anak melakukan sesuatu hal yang membuat ayah tersebut naik-pitam dan tanpa disadari kemarahan ayahnya yang meledak itu akhirnya menyebabkan tewasnya si anak tersebut. Demikian sebaliknya ; dan juga berlaku untuk kasus-kasus serupa lainnya.
  2. Mempertahankan diri, misalnya suatu negara diserang oleh negara lainnya dalam peperangan. Tak bisa dihindari, maka tentara dan rakyat negara tersebut yang terlibat dalam upaya mempertahankan kedaulatan akan sangat mungkin melakukan pembunuhan terhadap pasukan negara asing yang menyerang.
  3. Kecelakaan, misalnya seorang pengendara motor yang  mengalami kecelakaan sehingga menyebabkan seseorang yang diboncengkan olehnya meninggal dunia.

Faktor Usaha yang berperan dalam pembunuhan tersebut dibedakan menjadi :
1.   Secara Langsung, yaitu misalnya pembunuhan yang dilakukan oleh orang tersebut dengan tangannya sendiri.
2.   Secara tidak Langsung, yaitu misalnya seseorang yang berniat membunuh orang lain dengan cara menyuruh atau menyewa orang yang lain lagi untuk melakukan pembunuhan tersebut atas nama si penyuruh dan atas persetujuan si penyuruh.

Secara luas, makna dari Sila I Pancasila Buddhis “Panatipata veramani sikkhapadam samadiyami” ini mencakup tekad diri sendiri untuk menghindari penyiksaan dan atau penganiyayaan terhadap makhluk hidup seperti misalnya :

1.   Membiarkan manusia dan binatang kelaparan
2.   Mencambuk/memukul / menyakiti bagian tubuh manusia dan binatang
3.   Menganggu/mengusik manusia dan binatang yg tidak bersalah
4.   Mengadu manusia dan binatang untuk kesenangan
5.   Menjadikan binatang sebagai umpan untuk menangkap binatang lainnya

Bobot kejahatan tergantung pada kebaikan dan besarnya makhluk yang bersangkutan. Pembunuhan terhadap seorang saleh atau seekor hewan besar ( gajah, lembu, kerbau, dll. ) dipandang lebih kejam daripada pembunuhan terhadap seorang yang keji, bengis, jahat ataupun seekor hewan kecil ( nyamuk, semut, kecoa, ulat, dll. ). Hal itu dianggap demikian karena usaha lebih besar diperlukan untuk melakukan kejahatan itu dan kehilangan yang ditimbulkan dipandang lebih besar.

Buah karma buruk dari membunuh adalah :

  1. Umur pendek,
  2. Kesehatan yang buruk,
  3. Selalu berduka karena perpisahan dari mereka yang dicintai, dan,
  4. Selalu ketakutan.

Tindakan pembunuhan dan atau penganiayaan ini merupakan kelompok kamma yang disebut dengan “akusala-kaya-kamma” ; perbuatan buruk yang akan masak di alam keindriyaan (kamadhatu) yang dilakukan melalui tindakan jasmani.  Akusala-kaya-kamma ini dalam kategorisasi kamma termask dalam kategori “kamma berdasarkan kedudukannya” ( Pakatthanacatukka ).

Ada pula pembunuhan dan atau penganiyayaan yang berakibat sangat berat, yaitu yang termasuk dalam golongan “Garuka-Kamma” ( kamma yang berat/serius ), yaitu :


1). Membunuh ibu,

2). Membunuh ayah,

3). Membunuh Orang Suci, Yang Tercerahkan,

4). Melukai Seorang Buddha,

5).Menimbulkan perpecahan dalam persaudaraan para suci / Sangha.

Jika, seandainya seseorang mengembangkan Jhana dan kemudian melakukan salah satu dari kebengisan tersebut, kamma baiknya akan dihapuskan oleh kamma jahat yang sangat kuat itu. Kelahiran berikutnya akan terbentuk oleh kamma jahat walaupun sebelumnya ia sudah mencapai Jhana.

Garukakamma merupakan bentuk kejahatan yang paling berat. Janganlah melakukannya dalam keadaan apapun. Ini akan menghalangi seseorang mencapai Nirvana ( Anguttara Nikaya III,146 ).

Kasus-Kasus tertentu yang tidak Melanggar Sila I Pancasila Buddhis

Ada beberapa kasus yang tidak dianggap melanggar Sila I Pancasila Buddhis.

1. Kasus Perebusan Air untuk diminum

Dalam kasus perebusan air untuk diminum, hal ini bagi ummat awam dianggap tidak melanggar Sila I Pancasila Buddhis. Sebab, bakteri yang terdapat dalam air tersebut tidak terlihat oleh mata manusia awam yang membutuhkan air untuk diminum tersebut ( ingat ciri-ciri makhluk hidup tersebut diatas, salah satunya “terlihat-oleh-mata” ). Namun, meskipun demikian, dianjurkan ( dan dipraktekkan bagi para Bhikkhu ), bahwa sebelum meminum air, maka air tersebut haruslah disaring terlebih dahulu dan dipastikan tidak ada makhluk hidup apapun juga yang terlihat oleh mata di dalam air tersebut sebelum meminum / merebusnya. Sehingga, bila ternyata setelah diteliti melalui uji laboratorium dan mikroskopik terdapat bakteri-bakteri disana, maka tetaplah tidak ada karma buruk yang akan berbuah. Ingat, bahwa faktor utama sesuatu tindakan dapat disebut sebagai “Kamma” adalah adanya niat/kehendak ( Cetana ) ; Sang Buddha pernah bersabda, “O, para Bhikkhu, Cetana itulah yang Aku sebut Kamma.”

2. Penggunaan obat-obatan untuk menyembuhkan orang sakit

Tidak terhindarkan, semua manusia pasti mengalami sakit-penyakit. Dalam hal ini, maka kita diperbolehkan menggunakan obat-obatan untuk menyembuhkan derita sakit jasmani yang kita alami, baik berupa obat luar, maupun berupa obat dalam. Sang Buddha sendiri, pernah suatu ketika mengalami sakit jasmani, kemudian mengijinkan tabib-Nya yang bernama Jivakakomarabhaca untuk menggunakan obat luar dan obat dalam dalam rangka membantu kesembuhan Sang Buddha.

Secara alamiah , banyak bakteri dan virus yang masuk kedalam tubuh manusia, dan tubuh manusia akan secara defensif membuat antibodi untuk melawannya. Sehingga, dalam hal ini, usaha-usaha yang dilakukan untuk mengobati tubuh manusia yang menderita akibat serangan bakteri/virus dianggap sama dengan reaksi alami tubuh manusia ketika membuat antibodi untuk melawannya. Lagipula, upaya mengkonsumsi obat untuk kesembuhan diri dilandasi niat untuk pemulihan dan kesehatan, bukan niat untuk melakukan “pembunuhan-massal”.

Kasus Bunuh Diri : Contoh Lain dari Pembunuhan Makhluk Hidup

Tindakan bunuh diri didasari oleh adanya kebodohan-batin (Moha).  Seseorang yang melakukan tindakan bunuh-diri tidak mengerti, bahwa tindakannya itu tidak mengakhiri masalah / penderitaan yang dialaminya, karena setelah tubuh fisiknya mati, ia akan melanjutkan kehidupannya (tumimbal-lahir) dalam bentuk dan alam yang lainnya lagi sesuai kamma-kamma-nya sendiri.

Berbeda dengan kasus pembunuhan yang dilakukan tanpa sengaja ( seperti misalnya ketika merebus air, berjalan menginjak semut atau binatang2 kecil lainnya, dan lain-lain ), maka kasus bunuh-diri ini jelas melanggar Sila I Pancasila Buddhis.

Penganiayaan dan Pembunuhan terhadap Hewan

Banyak orang beranggapan, bahwa melakukan penganiyayaan dan pembunuhan terhadap binatang tidaklah merupakan suatu bentuk kekejaman. Bahkan bagi orang-orang tertentu dengan suatu kepercayaan tertentu, melakukan pembunuhan massal terhadap beberapa jenis binatang sebagai bagian dari perangkat kepercayaannya. Bagi orang-orang ini, binatang “diciptakan” untuk dikuasai oleh manusia, dan diperlakukan sesuai kehendak manusia.

Namun dalam ajaran Buddha, manusia hendaknya tidak melakukan kekerasan, penganiyayaan dan atau pembunuhan terhadap makhluk-hidup apapun juga, termasuk binatang. Binatang, entah bagaimanapun manusia umumnya memandang, sesungguhnya memiliki “perasaan” sebagaimana manusia memilikinya. Binatangpun bisa berpikir hingga batas-batas tertentu. Binatang pun memiliki kesadaran sebagaimana manusia memilikinya. Binatang juga tidak rela jika hak hidupnya dirampas. Hewan-hewan yang akan disembelih, seringkali meneteskan air mata dengan menghiba. Karena memiliki pikiran, perasaan, pencerapan, dan kesadaran, maka binatang dalam Buddhisme dikelompokkan sebagai makhluk-hidup, dan penganiayayan serta pembunuhan terhadap binatang, akan mengakibatkan buah-kamma ( vipaka ) buruk di kemudian hari.

Penganiyayaan dan pembunuhan terhadap binatang, akan memiliki dampak psikologis bagi si pelaku penganiyayaan / pembunuhan. Dan, negara pun mempunyai hukum-hukum yang jelas berkaitan dengan penganiyayaan dan pembunuhan binatang tersebut.

Rekan saya pernah bercerita. Di negeri Belanda, bahkan mengangkut ayam menggunakan kendaraan pun harus dilakukan dengan penuh welas-asih : tidak boleh seenaknya, tidak boleh kepalanya terbalik / tergantung. Ayam yang diangkut dengan kendaraan harus didudukkan dengan benar, atau menggunakan kandang. Jika seseorang tertangkap mata membawa ayam dengan posisi seenaknya, ia akah dikenakan hukuman. Kata salah seorang teman saya dari negeri Belanda, hal ini didasari alasan bahwa ayam itu sudah menderita sebab hendak disembelih, sehingga seyogyanya ketika mengangkutnya dari peternakan ke tempat penyembelihan tidaklah dilakukan dengan kasar dan seenaknya, untuk menghargai arti sebuah kehidupan bagi ayam tersebut.

2. SILA KEDUA PANCASILA BUDDHIST

Adinnadana veramani sikkhapadam samadiyami. Kata Adinnadana” dalam bahasa Pali berasal dari kata “A”, “Dinna”, dan “Adana”. Kata “A” berarti tidak. Kata “Dinna” berarti barang yang diberikan oleh pemiliknya. Dan, kata “Adana” bearti mengambil barang atau merampas.  Sehingga, makna dari “Adinnadana” adalah mengambil barang yang tidak diberikan ; atau dalam bahasa umumnya disebut dengan mencuri.

Lima ( 5 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kejahatan mencuri, yaitu :

i. Harta milik orang lain,

ii. Pengetahuan bahwa harta itu memang milik orang lain,

iii. Kehendak untuk mencuri,

iv. Usaha untuk mencuri,

v. Pemindahan yang sesungguhnya.

Buah karma buruk dari mencuri adalah :

  1. Kemiskinan,
  2. Penderitaan,
  3. Kekecewaan,
  4. Kehidupan yang bergantung pada pihak lain.

Objek dari tindak pencurian adalah :

  1. Segala harta benda milik orang lain
  2. Segala harta benda / fasilitas milik umum / masyarakat.

Pencurian, dibagi menjadi :

  1. Pencurian secara langsung a. Mencuri

Contoh-contoh dari tindakan mencuri sangat banyak. Seorang karyawan yang mengambil aktiva perusahaan dengan diam-diam dan tanpa seijin pemilik, kemudian untuk digunakan bagi kepentingan pribadinya, ini juga merupakan salah satu contoh tindakan mencuri. Perumah-tangga yang mengambil tambahan tegangan listrik dengan cara men-setting aliran listrik perumahan, ini juga merupakan contoh tindakan mencuri. Seorang maling yang masuk ke rumah orang dan mengambil barang-barang berharga milik pemilik rumah, juga merupakan contoh tindakan mencuri. Dan masih banyak lagi contoh yang lainnya.

b. Merampas / Merampok

Mengambil dengan paksa, dengan atau tanpa melukai pemilik harta-benda tersebut, ini disebut merampas dan atau / merampok. Bila pemilik harta-benda melawan, maka bisa terjadi kemungkinan perampas/perampok melukai pemilik harta-benda tersebut.

c. Memeras

Pungutan liar yang diambil oleh oknum-oknum pemerintah pada masyarakat, atau yang dilakukan oleh preman jalanan, atau juga yang dilakukan seorang penculik anak-anak terhadap orang tua dari anak-anak yang diculiknya, ini semua mreupakan contoh dari memeras.

d. Menipu

Pedagang yang mengatur timbangannya untuk menunjukkan berat-timbangan yang tidak sesuai  dengan berat aslinya, ini adalah contoh mencuri dengan cara menipu.

e. Memalsukan

Memalsukan check, atau memalsukan tanda-tangan, memalsukan produk-produk dagangan tertentu, ini semua merupakan contoh dari memalsukan.

f. Korupsi

Pejabat yang mengambil uang-negara untuk kepentingan pribadi dan keluarganya, ini contoh dari tindak korupsi.

g. Mengingkari janji

Peminjam barang yang mengingkari janjinya untuk mengembalikan barang tersebut tepat-pada waktunya, merupakan contoh mencuri melalui mengingkari-janji.

h. Menukar barang

Seorang penjual yang menukar barang pembeli, misal dari kualitas A namun ketika diserahkan digantikan dengan kualitas B, ini juga merupakan contoh mencuri dengan cara menukar barang.

i. Menyelundupkan barang

Memindahkan barang dagangan dari satu tempat ke tempat lainnya, dengan sembunyi-sembunyi, dengan tujuan menghindari pengenaan pajak, ini merupakan contoh dari mencuri dengan cara menyelundupkan barang.

2. Pencurian secara tidak langsung

a. Menjadi tukang tadah

Membantu para pencuri dengan menjadi tukang tadah curiannya, menyimpankannya, kemudian menjualkan barang-barang hasil curian tersebut, ini adalah contoh dari mencuri dengan cara menjadi tukang tadah.

b. Merayu

Hal ini bisa ditemukan dalam pasangan yang kasmaran yang didasari oleh niat buruk untuk menguras kekayaan pasangannya. Misalkan , seorang perempuan cantik mendekati laki-laki yang kaya raya, kemudian merayu dan memikatnya, lalu mulai menguras harta-benda dari laki-laki tersebut, setelah tercukupi/terpuaskan, perempuan cantik tersebut pergi meninggalkan laki-laki kaya itu. Inilah salah satu contoh mencuri dengan merayu.

c. Mempengaruhi orang lain untuk menipu orang yang lainnya

Meskipun tindakan penipuan ini melalui perantara, namun tetaplah merupakan tindakan pencurian melalui penipuan.  Selain merugikan orang lain (pihak ketiga) yang ditipu, kita juga telah memaksa seseorang ( pihak kedua ) untuk melakukan tindak penipuan.

d. Menerima suap

Seorang hakim yang menerima suap dari seorang terdakwa demi membebaskan sang terdakwa dari hukuman negara, ini merupakan salah satu contoh tindakan mencuri dengan cara menerima suap.

Perbuatan Tidak Terpuji Lainnya yang Setara dengan Pencurian


  1. Menghancurkan barang milik orang lain dengan sengaja

Tindakan ini merugikan, karena barang milik orang lain yang rusak dan hancur, adalah sama dengan menghilangkan barang milik orang tersebut. Semisal seseorang dengan sengaja menghancurkan komputer milik orang lain, maka si pemilik tidak lagi bisa menikmati fasilitas komputer yang dimilikinya.

2. Menggunakan barang yang bukan miliknya sendiri dengan seenaknya / tanpa tanggung-jawab

Contohnya adalah seseorang yang meminjam sepeda motor milik orang lain, namun menggunakannya dengan tanpa kehati-hatian, tanpa tanggung-jawab, sehingga menyebabkan beberapa komponen sepeda motor itu rusak, dan ia mengembalikan sepeda motor itu dalam kondisi yang buruk / tidak seperti sediakala ketika ia meminjamnya.

Mencuri dengan berbagai variannya , seperti yang sudah dicontohkan dan diterangkan diatas, adalah merupakan tindakan buruk.  Mencuri, dalam kategorisasi kamma termasuk dalam tindakan-jahat yang dilakukan melalui tubuh ( akusala-kaya-kamma ). Buah dari kamma buruk jenis ini akan masak di alam keindriyaan ( kamadhatu ).

Oleh karena itulah, Sang Buddha mengajarkan para siswa-Nya untuk ber-Mata-Pencaharian-Benar ( Samma-Ajiva ), tidak melalui cara-cara pencurian dan segala tindakan-jahat untuk memperoleh nafkah.  Ada kebahagiaan yang akan diperoleh oleh seseorang yang mencari nafkah dengan benar, yaitu :

  1. Rasa bangga karena memiliki harta-kekayaan secara sah.
  2. Bebas dari rasa takut/khawatir, dan akan merasa aman untuk pergi kemanapun juga.
  3. Dapat menggunakan harta yang dimiliki dengan tanpa kerisauan / segala bentuk tekanan batin ; karena harta tersebut diperoleh dengan benar dan sah, sehingga tidak ada perasaan bersalah dalam batinnya.
  4. Memperkuat kemampuan dalam menghindari perbuatan-perbuatan jahat.

Berat ringannya buah kamma yang didapatkan seorang pencuri, tergantung pada :

  1. Jenis barang yang dicuri beserta nilai barang tersebut
  2. Motif pencurian tersebut
  3. Usaha yang dilakukan

Umumnya mencuri dilandasi motif keserakahan (lobha), namun tak jarang pula pencurian dilandasi oleh motif kebencian (dosa). Menurut hukum kamma, tindakan yang dilandasi kebencian (dosa) memiliki buah kamma buruk yang lebih berat dibandingkan tindakan yang dilandasi oleh keserakahan (lobha). Contohnya, pencurian yang dilandasi kebencian adalah dengan menghancurkan berbagai asset dari seseorang yang dibencinya, bahkan bisa hingga disertai pembunuhan terhadap seseorang yang dibencinya tersebut. Tentu buah kamma buruk ini jauh lebih berat bila dibandingkan dengan seorang pencuri yang hanya mencuri barang-barang saja tanpa dengan tindakan penghancuran dan pembunuhan.

3. SILA KETIGA PANCASILA BUDDHIS

Kamesumicchacara veramani sikkhapadam samadiyami. Kata “Kamesumicchacara” dalam bahasa Pali berasal dari tiga suku kata : Kama, miccha, dan cara.

“Kamesu” dalam bahasa Pali merupakan bentuk jamak dari kata “kama” yang berarti kesenangan indriya, atau nafsu-seksualitas. Hasrat indriya ini berlandaskan kelima indriya ( penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, perasa ) dan satu indra pikiran.

“Miccha” artinya adalah : Salah , ini merupakan lawan dari kata “Samma” yang artinya : Benar.

“Cara” artinya adalah pelaksanaan atau tingkah-laku.

Sehingga, kamesumicchacara diartikan sebagai “perbuatan/perilaku sex yang tidak benar”.

Empat ( 4 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kejahatan pelanggaran susila :

  1. Pikiran untuk menikmati,
  2. Usaha ke arah itu,
  3. Cara untuk memuaskan,
  4. Pemuasan.

Buah karma buruk dari pelanggaran susila  yang tak dapat dielakkan yaitu :

  1. Mempunyai banyak musuh,
  2. Mendapat suami atau istri yang tidak diinginkan,
  3. Lahir sebagai perempuan; orang kasim ; banci atau /  waria.

Objek yang merupakan pelanggaran Sila III Pancasila Buddhist bagi seorang laki-laki adalah :

1. Wanita yang telah menikah atau akan menikah

Yang dimaksudkan adalah semua wanita yang telah menikah dan atau akan menikah dengan orang lain tanpa memandang latar belakang status sosial dan motivasi pernikahannya.

  1. Wanita yang sudah bertunangan
  2. Wanita yang sudah dibeli atau digadaikan oleh orang-tuanya
  3. Wanita yang tinggal dengan lelaki yang dicintainya
  4. Wanita yang sudah menikah menurut adat-istiadat dan tradisi agama tertentu
  5. Wanita yang dinikahi oleh laki-laki dalam jangka waktu tertentu ( misalnya dalam kasus kawin kontrak )

2. Wanita yang masih dalam Pengawasan Keluarga atau Asuhan Wali

Meliputi semua wanita yang belum menikah yang masih dalam pengawasan keluarga dan atau asuhan wali. Pelanggaran terhadap hal ini biasanya berupa kawin-lari.

3. Wanita yang dilarang untuk disetubuhi menurut adat-istiadat, aturan agama atau peraturan negara.

a. Wanita yang masih dalam satu garis keturunan ; artinya wanita yang masih dalam hubungan keluarga / kekerabatan. Contoh pelanggaran misalnya adalah seorang kakak laki-laki yang menyetubuhi adik perempuannya sendiri ; atau perkawinan inses. Hubungan sedarah telah terbukti menghasilkan keturunan yang lemah, baik secara biologis maupun mental, bahkan hingga bersifat mematikan.

b. Wanita yang dalam perlindungan Dhamma ; contohnya adalah para Upasika Atthasila ( Anagarini ), para Samaneri, dan para Bhikkhuni.

c. Wanita yang menjadi selir raja atau orang yang berkuasa ; ini menjadi terlarang karena adanya hukum kerajaan yang berlaku.

Objek yang merupakan pelanggaran Sila III Pancasila Buddhist bagi seorang perempuan adalah :

  1. Laki-laki yang telah menikah.
  2. Laki-laki yang dilarang untuk disetubuhi karena peraturan agama , misalnya : Upasaka Atthasila ( Anagarika ), Samanera, dan Bhikkhu.

Terjadinya pelanggaran Sila III Pancasila Buddhis adalah ketika :

  1. Seorang wanita/alki-laki yang berbuat asusila dengan laki-laki/wanita yang terlarang baginya, telah melakukan perzinahan
  2. Seorang wanita yg masih di bawah asuhan melakukan perbuatan asusila dengan laki-laki yang tidak merupakan objek terlarang baginya, tidak melanggar sila ini. Tetapi, wanita tersebut dapat dikatakan melanggar Dhamma karena menodai dirinya sendiri, dan menjatuhkan nama baiknya dalam masyarakat.

Hal-hal lain yang dikategorikan pelanggaran sila ketiga yang harus juga kita hindari :

1.   Berzinah (melakukan hubungan kelamin bukan dengan suami/istrinya)
2.   Berciuman dengan lain jenis kelamin yang disertai nafsu birahi
3.   Menyenggol, mencolek & sejenisnya yang disertai nafsu birahi

Catatan :
Tujuan sila ketiga ini adalah untuk mencegah perceraian, dan membina keharmonisan serta kepercayaan timbale balik antara suami istri

4. SILA KEEMPAT PANCASILA BUDDHIS

Musavada veramani sikkhapadam samadiyami. Kata Musavada terdiri dari dua kosakata, yaitu “Musa” dan “Vada”. Kata “Musa” berarti sesuatu yang tidak benar, sedangkan kata “Vada” berarti ucapan. Jadi, arti dari “Musavada” adalah ucapan yang tidak benar ; biasanya diartikan sebagai berbohong ataupun berdusta, meskipun makna yang sesungguhnya dari ucapan tidak benar adalah  lebih luas daripada sekedar berbohong / berdusta.

Mengenai ucapan-benar ( samma-vaca ) ini Sang Buddha bersabda :

“Tetapi jika secara alami dia terlalu banyak bicara, dan senang menyakiti yang lain secara kasar, kehidupan orang seperti ini menjadi tidak bermanfaat dan kekotoran batinnya meningkat.” (275) [Dhammacariya-Sutta ; Sutta-Nipata, Bab II : Bab Minor , Sutta ke-6 ]

“Hendaklah bhikkhu itu menghindari fitnah dan meninggalkan kemarahan dan keserakahan. Dan setelah terbebas dari keterikatan dan penolakan, dia akan menjalani kehidupan tak-berumah secara benar.” (362) [ Sammaparibbajaniya-Sutta ; Sutta-Nipata Bab II : Bab Minor, Sutta ke-13]

“Menjadi orang yang tidak memusuhi siapa pun, yang baik lewat kata-kata, pikiran maupun perbuatan, yang memahami Ajaran dengan benar, yang bercita-cita mencapai keadaan Nibbana, dia akan menjalani kehidupan tak-berumah secara benar.” (365) [ Sammaparibbajaniya-Sutta;Sutta-Nipata Bab II : Bab Minor, Sutta ke-13 ]

“Ucapan yang memiliki empat ciri adalah ucapan yang disampaikan dengan baik, tidak salah dan tidak dicela oleh para bijaksana; yaitu ucapan seorang bhikkhu yang berbicara hanya yang bermanfaat dan bukan yang tidak bermanfaat, yang berbicara hanya yang berharga dan bukan yang tidak berharga, yang berbicara hanya yang menyenangkan dan bukan yang tidak menyenangkan, yang berbicara hanya yang benar dan bukan yang tidak benar. Ucapan yang bercirikan empat faktor ini adalah ucapan benar dan bukan ucapan buruk, tidak salah dan tidak dicela oleh para bijaksana”… [ Subhasita-Sutta ; Sutta-Nipata Bab III : Bab Besar, Sutta ke-3 ].

Dia yang mengucapkan kata-kata yang tidak kasar, kata-kata yang benar serta penuh makna, kata-kata yang tidak menyebabkan kemarahan orang lain, adalah orang yang kusebut Brahmana. [ Vasettha Sutta ; Sutta-Nipata Bab III ; Bab-Besar, Sutta ke-9 ]

Suatu ucapan bisa disebut sebagai ucapan benar bila memenuhi keempat syarat :

  1. Ucapan itu BENAR
  2. Ucapan itu BERALASAN
  3. Ucapan itu BERFAEDAH
  4. Ucapan itu TEPAT PADA WAKTUNYA.

Ucapan-Benar (Samma-Vaca) ini merupakan ruas ketiga dari “Jalan Ariya Beruas Delapan” (Ariya Atthangika Magga ). Vaca secara sederhana  berarti ucapan atau ungkapan dalam suatu pengertian yang cukup literal, sedangkan samma, tidak hanya berarti “Benar” sebagai lawan dari “Salah” – seperti dalam terjemahan umumnya – tetapi benar yang bersifat menyeluruh, lengkap, integral, berkembang sepenuhnya, sempurna. Karena itu, Samma-vaca adalah perkataan benar, perkataan yang sesungguhnya, perkataan yang sungguh berarti, perkataan sempurna.

Kata-kata adalah komunikasi verbal yang mau tak mau kita sebagai manusia harus terlibat didalamnya. Anda bisa saja menghindari samadhi, bermalas-malasan dalam bersamadhi, tapi jika tiba gilirannya untuk berkata-kata, sukarlah bagi anda untuk menghindarinya. Suka atau tidak suka, dalam setiap hari-hari yang anda jalani, anda harus berbicara, berkomunikasi. Anda tidak bisa diam terus meskipun anda menghendakinya. Dalam banyak kasus bahkan kita pada umumnya tidak mau diam untuk waktu yang lama. Karenanya tak terhindarkan bahwa masalah ‘perkataan’ harus mendapat perhatian yang sistematis dalam latihan dan budaya spiritual. Perkataan / ucapan harus diletakkan dibawah pengaruh atau kendali kehidupan spiritual sehingga harus mendapatkan tempat dan perhatian.

Bagaimanakah ucapan yang benar itu ? Untuk memahami bagaimanakah ucapan yang benar itu, maka kita harus tahu bagaimanakah pembicaraan yang tidak benar. Bicara yang tidak benar, contoh konkritnya yaitu : 1). Bicara bohong untuk menipu orang lain, 2). Mengucapkan kata-kata kasar untuk menyakiti hati orang lain, 3). Bicara yang bersifat memfitnah dan menyerang orang lain dari belakang, 4). Omong-omong yang tidak berguna, bergosip. Semua itu adalah bicara yang tidak benar. Jika kita tidak melakukan hal-hal tersebut, maka yang tersisa dalam diri kita adalah : BICARA BENAR.

Jujur, bisa dipercaya, tidak berbohong, tidak memfitnah, selalu membicarakan kebaikan-kebaikan orang lain, bukan keburukannya, tidak mencela dan memecah-belah sesamanya, berbicara indah dan menyenangkan untuk didengarkan, inilah yang disebut : BICARA BENAR.

Ucapan tidak benar ( Musavada ) ini termasuk Perbuatan buruk yang akan masak di alam keindriyaan ( Akusala-Kamma ) , tepatnya adalah perbuatan buruk yang dilakukan melalui ucapan ( Akusala Vadi Kamma ) :

  1. Berbohong ( musavada ),
  2. Memfitnah ( pisunavaca ),
  3. Kata-kata kasar ( pharusavaca ), dan,
  4. Bergunjing ( samphappalapa ).

a. Berbohong ( Musavada )

Empat ( 4 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kejahatan berbohong, yaitu : i. Sesuatu yang tidak benar, ii. Kehendak untuk berbohong, iii. Pengungkapan, iv. Penipuan yang sesungguhnya.

Buah karma buruk dari berbohong yang tak dapat dielakkan yaitu : i. Menjadi sasaran caci maki dan fitnah, ii. Tidak dipercaya, dan, iii. Mulut yang berbau.

b. Memfitnah ( pisunavaca )

Empat ( 4 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kejahatan memfitnah, yaitu : i. Orang-orang yang akan dipisahkan, ii. Kehendak untuk memisahkan mereka atau keinginan untuk mendekatkan diri sendiri kepada orang lain, iii. Usaha ke arah itu, iv. Penyampaian.

Buah karma buruk dari memfitnah yang tak dapat dielakkan adalah pecahnya persahabatan tanpa sebab apapun yang memadai.

c. Kata-Kata Kasar ( pharusavaca )

Tiga ( 3 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kata-kata kasar, yaitu : i. Seseorang untuk dimaki, ii. Pikiran yang marah, dan, iii. Makian yang sesungguhnya.

Buah karma buruk dari kata-kata kasar yang tak dapat dielakkan yaitu : i. Dibenci oleh pihak lain walaupun mutlak tak bersalah, dan, ii. Memiliki suara parau.

d. Pergunjingan ( Samphappalapa )

Dua ( 2 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya pergunjingan, yaitu : i. Keinginan untuk bergunjing, ii. Penyampaian hal itu.

Buah karma buruk dari bergunjing adalah : i. Cacat alat tubuh, ii. Pembicaraan yang tidak masuk akal.

5. Sila Kelima Pancasila Buddhist

Surā-meraya Majja-pamādaţţhānā veramaņī sikkhapadam samadiyami. Kata “Surameraya majjapamadatthana” terdiri dari empat kosakata , yaitu : Sura, Meraya, Majja, dan Pamadatthana.

“Meraya” mengacu pada minuman keras yang diperoleh dari bahan yang diragikan dan dapat menyebabkan orang yang meminumnya tak sadarkan diri, bila kadarnya tinggi maka disebut “Sura” yaitu hasil penyulingan yang mempunyai kekuatan untuk membius. Kata “majja” dapat diartikan berbagai jenis ganja, morfin, heroin, dan lain sebagainya.

“Pamadatthana” terdiri dari dua kata yaitu “Pamado” yang berarti kelengahan, kecerobohan, kelalaian, dan “tthana” yang berarti landasan atau basis.  Sehingga “pamadatthana” berarti yang menjadi dasar/landasan timbulnya kelengahan, kecerobohan, kelalaian.

Dari pengertian masing-masing kosakata tersebut, maka kata “Surā-meraya Majja-pamādaţţhānā” berarti mengkonsumsi atau memakai/menggunakan sesuatu ( khususnya minuman keras dan obat-obatan terlarang ) yang dapat memabukkan dan membuat tidak sadarkan diri yang menjadi dasar/landasan timbulnya kelengahan, kecerobohan, kelalaian.

Banyak fakta menunjukkan, orang-orang yang mengkonsumsi minuman keras dan obat-obatan terlarang menjadi tidak sadarkan diri, sehingga menjadi lengah hingga dapat melakukan perbuatan-perbuatan jahat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Ada empat faktor yang menyebabkan terjadinya pelanggaran Sila kelima ini :

1.   Ada sesuatu yang merupakan “Sura”, “Meraya” atau “majja” yaitu sesuatu yang membuat nekat, mabuk, tak sadarkan diri, yang menjadi dasar dari kelengahan dan kecerobohan
2.   Mempunyai keinginan untuk menggunakannya.
3.   Menggunakannya
4.   Timbul gejala mabuk atau sudah menggunakannya (meminumnya) hingga masuk melalui tenggorokan

Tujuan dari aturan moralitas ini adalah untuk menjaga kondisi batin supaya terhindar dari ketidaksadaran diri yang memabukkan sehingga menjadi landasan bagi segala bentuk kelalaian, kelengahan yang menyebabkan timbulnya berbagai kejahatan ; juga lebih jauh lagi, dengan menjalankan aturan moralitas ini, kita dapat selalu menjaga konsentrasi-benar ( samma-samadhi ) dan perhatian-benar ( samma-sati ).

Objek yang dapat menyebabkan pelanggaran Sila kelima Pancasila Buddhis ini adalah :

  1. Semua jenis minuman yang memabukkan
  2. Barang cair, padat maupun gas yang bila digunakan/dimasukkan ke dalam tubuh bisa membuat lemahnya kesadaran, dan yang bisa menimbulkan ketagihan

II. ATTHANGASILA

Selain “Pancasila”, Sang Buddha juga mengajarkan pelaksanaan “Atthangasila” bagi ummat non-Bhikkhu.  Dalam Atthangasila, Sila ketiga Pancasila diubah menjadi “menghindari perbuatan tidak suci (sexual)”. Lebih lengkapnya, Atthangasila tersebut adalah :

1. Panatipata veramani sikkhapadam samadiyami.

( Aku bertekad melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup )

2. Adinnadana veramani sikkhapadam samadiyami.

( Aku bertekad melatih diri menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan )

3. Abrahmacariya veramani sikkhapadam samadiyami.

( Aku bertekad melatih diri menghindari perbuatan tidak suci )

4. Musavada veramani sikkhapadam samadiyami.

( Aku bertekad melatih diri menghindari ucapan bohon )

5. Sura-meraya-majja-pamadatthana veramani sikkhapaadam samadiyami.

( Aku bertekad melatih diri menghindari minuman memabukkan hasil penyulingan atau peragian yang menyebabkan lemahnya kesadaran )

6. Vikala-bhojana veramani sikkhapadam samadiyami.

( Aku bertekad melatih diri menghindari makan makanan setelah tengah hari )

7. Naccagita-vadita-visukadassana malagandha-vilepana-dharana-mandana-vibhusanatthana veramani sikkhapadam samadiyami .

(Aku bertekad melatih diri menghindari menari, menyanyi, bermain musik, dan pergi melihat pertunjukan; memakai, berhias dengan bebungaan, wewangian, dan barang olesan (kosmetik) dengan tujuan untuk mempercantik tubuh)

8. Uccasayana-mahasayana veramani sikkhapadam samadiyami.

( Aku bertekad melatih diri menghindari penggunaan tempat tidur dan tempat duduk yang tinggi dan besar (mewah) )

Didalam “Dhammika-Sutta” ( Sutta-Nipata, Bab I : Bab Tentang Ular ; Sutta ke-14 ), Sang Buddha menjelaskan mengenai pelaksanaan praktik latihan “Delapan-Sila-Yang-Agung” ( Atthanga-Sila ). Sabda Sang Buddha tersebut adalah sebagai berikut :

Sekarang akan kuberitahukan peraturan perilaku untuk perumah tangga. Jika menjalaninya, dia akan menjadi siswa yang baik. Jika ada kewajiban kebhikkhuan yang harus dijalankan, kewajiban itu tidak akan dapat dipenuhi oleh dia yang memiliki kekayaan rumah tangga. (393)

Hendaknya dia tidak menghancurkan kehidupan, jangan pula dia menyebabkan orang lain menghancurkan kehidupan ataupun menyetujui pembunuhan yang dilakukan orang lain. Hendaknya ia menjauhkan diri dari perbuatan menindas semua makhluk hidup di dunia ini, baik yang kuat maupun lemah. (394)

Kemudian, karena mengetahui bahwa itu milik orang lain, maka mencuri apa pun dari mana pun harus dihindari. Janganlah dia menyebabkan pencurian, jangan juga menyetujui orang lain mencuri. Semua pencurian harus dihindari. (395)

Orang bijaksana harus menghindari kehidupan tidak selibat, seolah-olah kehidupan semacam itu adalah lubang bara api yang menganga. Jika dia tidak mampu menjalani kehidupan selibat total, janganlah dia berselingkuh dengan orang lain. (396)

Apakah dia di tengah pertemuan atau di tempat umum, janganlah dia menceritakan kebohongan kepada yang lain. Janganlah dia menyebabkan orang lain berbohong maupun menyetujui orang lain berbohong. (397)

Perumahtangga yang bergembira dalam mengendalikan diri, karena mengetahui bahwa meneguk minuman keras atau mengkonsumsi segala yang bersifat meracuni adalah merugikan, tidak akan memanjakan diri dalam minuman keras dan lain-lain. Tidak juga dia menyebabkan orang lain meminumnya atau menyetujui orang lain melakukan itu. (398)

Orang-orang dungu melakukan tindakan-tindakan jahat karena mabuk. Dia juga menyebabkan orang lain – yang lengah – ikut bertindak seperti itu. Orang harus menghindari lingkup perbuatan jahat ini, kegilaan ini, kebodohan batin ini, yang merupakan kesenangan-kesenangan orang dungu. (399)

(i) Manusia seharusnya tidak menghancurkan kehidupan ;

(ii) Seharusnya tidak mengambil apa yang tidak diberikan;

(iii) Seharusnya tidak berbohong;

(iv) Seharusnya tidak menjadi peminum;

(v) Seharusnya menjauhi segala ketidak murnian;

(vi) Seharusnya tidak makan di malam hari pada saat yang tidak tepat. (400)

(vii) Manusia seharusnya tidak memakai hiasan, tidak juga menggunakan wangi-wangian;

(viii) Seharusnya berbaring di tikar yang dibentangkan di atas tanah. Inilah yang disebut menjalani “Delapan-Sila-Yang-Agung” , yang dijelaskan oleh Buddha yang datang untuk mengakhiri kesedihan. (401)

Dengan pikiran yang bahagia, orang harus menjalani keluhuran “Delapan-Sila” pada hari ke-14, ke-15, dan ke-8 setiap masa dua minggu perhitungan bulan [ dan selama Patihariyapakkha – tiga bulan musim hujan bersama dengan bulan-bulan sebelumnya dan sesudah musim ini, jadi seluruhnya lima bulan ]. ( 402)

Kemudian pada pagi berikutnya, orang bijaksana yang telah menjalankan Delapan-Sila ini dengan gembira harus menyediakan makanan dan minuman bagi Bhikkhu Sangha dengan cara yang sesuai. (403)

Hendaknya dia menyokong ayah dan ibunya dengan sepantasnya, serta memiliki pekerjaan yang tak tercela. Perumahtangga yang menjalankan kewajiban-kewajiban ini dengan rajin, akan terlahir di alam makhluk “bersinar”. (404)

Menurut Bhikkhu Dhammavuddho Maha Thera dalam bukunya “Message of the Buddha”, Atthangasila ini dilaksanakan setiap tanggal 8, 15, 23, dan hari terakhir penanggalan Lunar, yakni kira-kira sekali dalam seminggu. Pelaksanaan Atthangasila ini membawakan banyak berkah yang dapat menyebabkan kelahiran kembali di alam-alam surga.

Biasanya, ada juga ummat yang menjalankan Atthangasila ini sebagai Sila-nya yang bersifat permanen, sehingga ia hidup selibat ( tidak menikah dan menghindari perbuatan sexual ).

Sang Buddha memuji kehidupan Brhamacariya seperti ini. “Orang yang memiliki kekuatan kebijaksanaan, yang terlahir dari peraturan-peraturan moralitas serta pengendalian diri, yang tenang pikirannya dan bergembira di dalam meditasi,  yang penuh perhatian, bebas dari kemelekatan, bebas dari pikiran yang tak terlatih, dan bebas dari apa yang meracuni, disebut orang suci oleh para bijaksana.” (212) [ Muni-Sutta ; Sutta-Nipata, Bab I : Bab Tentang Ular ; Suta ke-12 ]

“Orang yang memiliki pengendalian diri dan tidak melakukan kejahatan, orang bijaksana seperti itu, tak peduli apakah masih muda atau setengah baya, yang pikirannya terkendali dengan baik, yang tidak tergoda dan tidak menggoda yang lain, disebut orang suci oleh para bijaksana.” (216) [Muni-Sutta; Sutta-Nipata, Bab I : Bab Tentang Ular ; Sutta ke-12 ]

“Orang bijak yang berkelana sendiri, yang tidak melakukan keintiman sexual, yang bahkan pada masa mudanya tidak terikat pada apa pun, yang telah menjauhkan diri dari kesombongan dan kemalasan, disebut orang suci oleh para bijaksana.” (218) [Muni-Sutta;Sutta-Nipata, Bab I : Bab Tentang Ular ; Sutta ke-12]

“Setelah meninggalkan tindakan yang merugikan makhluk-hidup, serta tidak menyiksa bahkan satu makhluk hidup pun, biarlah orang tidak menginginkan anak, apalagi teman! Hendaknya orang hidup sendiri bagaikan sebuah cula Unicorn.”  ( Khaggavisana-Sutta ; Sutta-Nipata, Bab I : Bab Tentang Ular ; sutta ke-3; ayat/paragraf ke-1  ).

“Bagaikan rusa hutan yang tidak terbelenggu berkelana dan makan dengan santai, biarlah orang bijaksana menjunjung tinggi kebebasannya hidup sendiri bagaikan sebuah cula Unicorn.” ( Khaggavisana-Sutta ; Sutta-Nipata, Bab I : Bab Tentang Ular ; sutta ke-3; ayat/paragraf ke-5  ).

“Orang yang tidak menyukai olah-raga, hiburan dan kesenangan-kesenangan duniawi, yang menghindari kehidupan yang mengagungkan diri, yang berbicara kebenaran, hendaknya orang hidup sendiri bagaikan sebuah cula Unicorn.” ( Khaggavisana-Sutta ; Sutta-Nipata, Bab I : Bab Tentang Ular ; sutta ke-3; ayat/paragraf ke-25 ).

“ Kemelekatan terhadap benda merupakan belenggu. Dalam hal semacam itu, kebahagiaan yang ada hanyalah sementara dan penderitaannya lebih besar sedangkan kenikmatannya lebih sedikit. Orang bijaksana yang mengetahui bahwa hal ini seperti kait pancing di tenggorokan, akan hidup sendiri bagaikan sebuah cula Unicorn.”  ( Khaggavisana-Sutta ; Sutta-Nipata, sutta ke-3; ayat/paragraf ke-27 ).

“Bagaikan singa yang tidak takut oleh suara, bagaikan angin yang tidak tertangkap jaring, bagaikan teratai yang tidak terkotori oleh air,  hendaknya orang hidup sendiri bagaikan sebuah cula Unicorn.” ( Khaggavisana-Sutta ; Sutta-Nipata, Bab I : Bab Tentang Ular ; sutta ke-3; ayat/paragraf ke-37 ).

“Dia yang walaupun kaya namun tidak menyokong ayah ibunya yang sudah tua dan lemah – inilah penyebab keruntuhan seseorang.” ( Parabhava-Sutta; Sutta-Nipata, sutta ke-6 )

“Setelah meneguk manisnya kesendirian dan juga manisnya ketenangan, orang menjadi terbebas dari rasa takut dan tindakan yang salah, dan sekaligus dia menikmati manisnya suka cita kebenaran.” (257) [Hiri-Sutta ; Sutta-Nipata , Bab II :  Bab Minor, Sutta ke-3]


MANFAAT MENJALANKAN SILA

Jasa kebajikan dari menjalankan Sila tergantung kepada tingkat pemurnian kepada tingkat pemurnian dari latihan kita. Sang Buddha menjabarkan lima manfaat dari menjalankan Sila ( Anguttara Nikaya 5.213 ) :

(i)                  Kekayaan terjaga

Seseorang yang tidak menjalankan Sila, besar kemungkinan akan menghabiskan kekayaannya dengan sering mengunjungi klub malam dan tempat pelacuran, berjudi, mabuk-mabukan, dll., yang tidak akan dilakukan oleh seseorang yang bermoral.

(ii)                Reputasi Baik

Seseorang yang bermoral yang tidak membunuh, mencuri, berasusila, berbohong dan mabuk maka secara nyata akan dihargai orang lain.

(iii)               Berani berhadapan dengan orang ramai

Seseorang yang bermoral tidak mempunyai alasan untuk merasa malu atau bersalah dan tidak akan memiliki rasa takut ketika dipanggil untuk berhadapan atau bersapa dengan orang ramai.

(iv)              Meninggal dengan pikiran jernih

Menjelang saat kematian, seseorang yang bermoral tidak takut karena pikirannya yang murni memberinya kepercayaan diri yang besar dan kegembiraan.

Akan tetapi, banyak orang meninggal dengan ketakutan yang besar dan teror karena telah menjalani kehidupan yang tidak bermoral, terutama mereka yang melanggar salah satu dari sila-sila dalam tingkatan yang cukup berat seperti seorang penjagal.

(v)                Kelahiran kembali yang baik

Seseorang yang telah menjalankan Sila telah menjalani kehidupan yang tidak membahayakan makhluk dan pasti memperoleh kelahiran kembali yang baik.

Sang Buddha berkata bahwa seseorang yang memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan terhadap Buddha, Dhamma, Sangha ( Ti-Ratana, pen- ) , yang bajik, terkendali dalam Sila ; dapat menyatakan dengan pasti bahwa dia telah memenangkan tahap “Pemasuk-Arus”, yang pasti menuju pencerahan. Dia tidak akan pernah jatuh lagi ke alam kelahiran kembali yang menyedihkan yakni alam hantu, binatang, dan neraka [ Samyutta Nikaya 55.2 ] .

V I R A T T I

( Sumber :  http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,418.0.html )

Sampatti Viratti ( Pantangan seketika ) :

Pantangan mendadak, tanpa suatu rencana yang telah dibuat terlebih dahulu.
Samapatti viratti adalah pantangan untuk melanggar Pancasila meskipun mempunyai banyak kesmepatan untuk melakukannya.

Hal demikian dapat terjadi karena seseorang mempunyai anggapan bahwa perbuatan tersebut tidak pantas bagi seseorang dengan kelahiran, pangkat atau kedudukan seperti dirinya. Walaupun kelihatannya tidak begitu mantap, jenis pantangan ini cukup baik daripada melalaikannya – melanggar sila.

Samadana viratti ( pantangan karena janji ) :

Pantangan yang di rencanakan terlebih dahulu, biasanya di awali dengan suatu janji keagamaan.
Pantangan jenis ini dapat dilakukan dengan melalui :

1.   Pentahbisan, contoh : Samanera/samaneri, Bhikkhu/Bhikkhuni
2.   Pengambilan  keputusan/bertekad, baik di hadapan orang lain maupun pada diri sendiri, baik untuk jangka waktu tertentu saja maupun untuk selamanya

Samuccheda Viratti :

Pantangan secara mutlak, yang di pertahankan tanpa syarat dan setiap saat.
Samuccheda Viratti adalah pantangan melalui penghancuran semua sebab yg akan membawa pada pelanggaran sila.

Pantangan secara mutlak ini hanya dimiliki oleh seseorang yang telah mencapai Penerangan Sempurna, seperti para Arahat & Buddha.

KEMURNIAN BUKAN DARI MAKANAN-VEGETARIAN, TAPI DARI PRAKTIK MORALITAS (SILA)

Dalam “Amagandha-Sutta” [ Sutta-Nipata, Bab II : Bab Minor ; Sutta ke-2 ], terdapat dialog antara Buddha Kassapa dengan Petapa-Tissa. Petapa-Tissa mengkritik Buddha-Kassapa yang tidak mempraktikkan vegetarianisme dan memakan makanan jenis apapun ( baik sayuran maupun daging-dagingan ) yang disediakan oleh para ummat-awam dan karena itu menurut petapa Tissa, Buddha Kasapa memakan bau-busuk, setelah sebelumnya ia memuji praktek vegetarianisme yang akan membuat seseorang tidak berbohong karena kesenangan indera.

Buddha Kassapa kemudian menjelaskan, bahwa “bau-busuk” bukan berasal dari makanan ( daging-dagingan ) , tetapi berasal dari perbuatan yang tidak bermoral. Lebih jauh, Buddha Kassapa juga menyatakan, bahwa praktik ritual keagamaan seperti upacara kurban binatang, puasa musiman, dan lain-lain, hanyalah bermanfaat bagi orang-orang yang belum mengatasi keragu-raguannya.  Berikut ini adalah kisah selengkapnya :

Petapa-Tissa berkata kepada Buddha Kassapa :

  1. Orang bajik yang makan padi-padian, buncis dan kacang-kacangan, dedaunan dan akar-akaran yang dapat dimakan, serta buah dari tanaman rambat apa pun yang diperoleh dengan benar, tidak akan berbohong karena kesenangan indera.
  2. O, Kassapa, engkau makan makanan apa pun yang diberikan orang lain, yang disiapkan dengan baik, diatur dengan indah, bersih dan menarik; dia yang menikmati makanan seperti itu, yang terbuat dari nasi, berarti makan [daging yang membusuk, yang mengeluarkan]bau busuk.
  3. O, Brahmana, walaupun engkau mengatakan bahwa serangan bau busuk itu tidak berlaku bagimu sementara kamu makan nasi dengan unggas yang disiapkan dengan baik, tetapi aku bertanya padamu apa arti ini : “Seperti apa yang Kau sebut bau busuk itu?”

Buddha Kassapa [menjawab] :

  1. Mengambil kehidupan, memukul, melukai, mengikat, mencuri, berbohong, menipu, pengetahuan yang tak berharga, berselingkuh; inilah bau busuk. Bukan makan daging.
  2. Di dunia ini, para individu yang tidak terkendali dalam kesenangan indera, yang serakah terhadap yang manis-manis, yang berhubungan dengan tindakan-tindakan yang tidak murni, yang memiliki pandangan nihilisme, yang jahat, yang sulit diikuti; inilah bau busuk. Bukan makan daging.
  3. Di dunia ini, mereka yang kasar, sombong, memfitnah, berkhianat, tidak ramah, sangat egois, pelit, dan tidak memberi apa pun kepada siapa pun, inilah bau busuk. Bukan makan daging.
  4. Kemarahan, kesombongan, kekeraskepalaan, permusuhan, penipuan, kedengkian, suka membual, egoisme yang berlebihan, bergaul dengan yang tidak bermoral ; inilah bau busuk. Bukan makan daging.
  5. Mereka yang memiliki moral yang buruk, menolak membayar utang, suka memfitnah, tidak jujur dalam usaha mereka, suka berpura-pura, mereka yang didunia ini menjadi orang yang teramat keji dan melakukan hal-hal salah seperti itu; inilah bau busuk. Bukan makan daging.
  6. Mereka yang didunia ini tidak terkendali terhadap makhluk hidup, yang cenderung melukai setelah mengambil harta milik mereka, yang tidak bermoral, kejam, kasar, tidak memiliki rasa hormat; inilah bau busuk. Bukan makan daging.
  7. Mereka yang menyerang makhluk hidup karena keserakahan atau rasa permusuhan dan selalu cenderung jahat, akan menuju ke kegelapan setelah kematian dan jatuh terpuruk ke dalam alam-alam yang menyedihkan; inilah bau busuk. Bukan makan daging.
  8. Menjauhkan diri dari ikan dan daging, bugil, mencukur kepala, berambut gembel, melumuri diri dengan abu, memakai kulit rusa yang kasar, menjaga api kurban; tak satu pun dari berbagai penebusan dosa di dunia yang dilakukan untuk tujuan yang tidak sehat – termasuk jampi-jampi, persembahan keagamaan, pemberian korban maupun puasa musiman—akan menyucikan seseorang yang belum mengatasi keragu-raguannya [ terhadap Buddha-Dhamma-Sangha].
  9. Dia yang hidup dengan indera yang terjaga dan terkendali, serta telah mantap di dalam Dhamma, akan bergembira dengan kehidupan yang lurus dan lemah-lembut; yang sudah melampaui kemelekatan dan mengatasi kesengsaraan; orang bijaksana itu tidak melekat pada apa yang dilihat dan didengar.


Demikianlah Buddha Kassapa mengkhotbahkan hal ini berulang-ulang. Petapa yang pandai dalam syair-syair (Veda) itu memahaminya. Orang suci yang telah terbebas dari kekotoran batin, tidak melekat dan sulit diikuti, menyampaikan (khotbah) ini dalam bait-bait yang indah.

Maka, setelah mendengarkan kata-kata indah yang mengakhiri semua penderitaan, yang diucapkan oleh Sang Buddha yang telah terbebas dari kekotoran batin, dia (petapa-Tissa) memuja Sang Tathagata dengan segala kerendahan hati dan memohon untuk diterima masuk ke dalam Sangha di tempat itu juga.


MANUSIA SAMPAH

Dalam “Vasala-Sutta” [ Sutta-Nipata, Bab I : Bab Tentang Ular ;  Suta ke-7 ] terdapat sebuah kisah menarik ketika Sang Buddha masih hidup. Pada saat itu, Sang Buddha berdiam di dekat Savatthi di Hutan Jeta di vihara Anathapindika. Ketika hari menjelang siang, setelah mengenakan jubah dan mengambil mangkuk, Sang Buddha pergi ke Savatthi untuk mengumpulkan makanan. Pada waktu itu, di rumah Brahmana pemuja-api yang bernama Aggika-Bharadvaja, api dinyalakan dan benda-benda untuk kurban telah disiapkan.

Kemudian Sang Buddha, yang berjalan dari rumah ke rumah, sampai ke tempat tinggal Brahmana itu. Melihat Sang Buddha mendekat, dia berteriak : “Berhentilah di situ, hai petapa Gundul! Berhentilah disitu, hai petapa. Berhentilah disitu, hai manusia sampah!”

Sang Buddha [dengan tenang menjawab] : “O, Brahmana, dapatkah engkau mengenali manusia sampah ? Dapatkah engkau mengetahui hal-hal yang membuat seseorang menjadi sampah ? “

“ Memang tidak, O Tuan Gotama, saya tidak dapat mengenali manusia sampah, dan saya tidak mengetahui hal-hal yang membuat seseorang menjadi sampah. Karena itu,  Tuan Gotama, akan amat bagus bila engkaui menjelaskan padaku mengenai hal ini.”

Sang Buddha [meneruskan] : “Baiklah, wahai Brahmana, dengarkan baik-baik dan camkanlah kata-kata-Ku ini :

  1. Siapapun yang marah, yang memiliki niat-buruk, yang berpikiran jahat dan iri hati; yang berpandangan-salah, yang penuh tipu muslihat, dialah yang disebut sampah.”
  2. Siapapun yang menghancurkan kehidupan, baik burung atau binatang, serangga atau ikan, yang tidak memiliki kasih sayang terhadap kehidupan, dialah yang disebut manusia sampah.
  3. Siapapun yang merusak atau agressif (suka-menyerang) di kota dan di desa dan dikenal sebagai perusak atau penjahat yang kejam, dialah yang disebut manusia sampah.
  4. Siapapun yang mencuri apa yang dianggap milik orang lain, baik yang ada di desa atau hutan, dialah yang disebut manusia sampah.
  5. Siapapun yang setelah berhutang lalu menyangkal ketika ditaguh, dan menjawab pedas : “Aku tidak berhutang padamu!” , dialah yang disebut manusia sampah.
  6. Siapapun yang berkeinginan mencuri walaupun benda tidak berharga, lalu mengambil barang itu setelah membunuh orang dijalan, dialah yang disebut manusia sampah.
  7. Siapapun yang memberikan sumpah palsu untuk kepentingannya sendiri, untuk kepentingan orang lain, atau untuk mendapat keuntungan, dialah yang disebut manusia sampah.
  8. Siapapun yang mempunyai hubungan gelap dengan istri famili atau temannya, baik dengan paksaan atau karena suka sama suka, dialah yang disebut manusia sampah.
  9. Siapapun yang tidak menyokong ayah-ibunya, yang sudah tua dan lemah, padahal dia hidup dalam keadaan berkecukupan, dialah yang disebut manusia sampah.
  10. Siapapun yang menyerang atau mencaci-maki ayah, ibu, saudara kandung, atau ibu-mertua, dialah yang disebut manusia sampah.
  11. Siapapun yang dimintai nasehat yang baik tetapi malah mengajarkan apa yang menyesatkan atau berbicara dengan tidak jelas, dialah yang disebut manusia sampah.
  12. Siapapun yang munafik, yang setelah melakukan pelanggaran kemudian ingin menyembunyikan dari orang-orang lain, dialah yang disebut manusia sampah.
  13. Siapapun yang setelah berkunjung kerumah orang lain dan menerima keramah-tamahan disana, tidak membalasnya dengan sikap serupa, dialah yang disebut manusia sampah.
  14. Siapapun yang menipu petapa, bhikkhu atau guru spiritual lain, dialah yang disebut manusia sampah.
  15. Siapapun yang mencaci-maki dan tidak melayani petapa atau Bhikkhu yang datang untuk makan, dialah yang disebut manusia sampah.
  16. Siapapun, yang karena terperangkap di dalam kebodohan, memberikan ramalan yang tidak benar demi keuntungan yang sebenarnya tidak berharga, dialah yang disebut manusia sampah.
  17. Siapapun yang meninggikan dirinya sendiri dan merendahkan orang lain, pongah dalam kesombongannya, dialah yang disebut manusia sampah.
  18. Siapapun yang suka memicu pertengkaran, yang kikir, memiliki keinginan-keinginan jahat, iri hati, tidak tahu malu dan tidak menyesal kalau melakukan kejahatan, dialah yang disebut manusia sampah.
  19. Siapapun yang menghina Sang Buddha atau siswa-siswa-Nya, baik yang telah meninggalkan keduniawian maupun perumah-tangga biasa, dialah yang disebut manusia sampah.
  20. Siapapun yang berpura-pura Arahat padahal sebenarnya bukan, dia benar-benar penipu hina terbesar di dunia ini, sampah terendah dari semuanya. Demikian telah Kujelaskan siapa yang merupakan sampah.
  21. Bukan karena kelahiran orang menjadi sampah. Bukan karena kelahiran pula orang menjadi Brahmana (mulia). Oleh karena perbuatanlah orang menjadi sampah. Oleh karena perbuatan pula orang menjadi Brahmana.

Demikianlah, saudara-saudari, uraian mengenai praktik latihan moralitas (Sila ) sebagai langkah awal dalam mempraktikkan kehidupan suci. Marilah, kita memperteguh diri kita masing-masing dalam praktik “Tiga-Serangkai-Latihan” : SILA –>  SAMADHI –>  PANNA , hingga berhasil merealisasi pencerahan dan pembebasan-sempurna dari samsara.

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Minggu, 30 Agustus  2009

______________________________________

Sumber  Pustaka :

  1. Bhadantacariya Buddhaghosa, Visuddhi-Magga ; terjemahan dari bahasa Pali oleh Nanamoli.
  2. Sutta-Nipata ; terjemahan dari bahasa Pali oleh H.Saddhatissa
  3. Majjhima Nikaya ; terjemahan Bhikkhu Nanamoli dan Bhikkhu Bodhi
  4. Diggha-Nikaya ; Dhammacitta.press 2009
  5. Matara Sri Nanarama Mahathera, Tujuh Tingkat Kesucian & Pengertian Langsung ; Yayasan Penerbit Karaniya Juli 2003.
  6. Dhammavuddho Maha Thera, Bhikkhu , Message of The Buddha ; cetakan pertama Maret 2008
  7. Ronald Satya Surya, Lima Aturan Moralitas Buddhis ; Insight Vidyasena Production 2009

Posted in ATTHANGASILA, BRAHMACARIYA, BUDDHA, PANCASILA, SILA | 21 Comments »

APAKAH ROMO HUDOYO BERPANDANGAN-SALAH/MENYIMPANG [?]

Posted by ratanakumaro pada Juli 26, 2009

[SADDHA SEORANG SOTAPANNA]

“ Para Bhikkhu, bila keyakinan seseorang telah ditanam, berakar, dan mantap di dalam Tathagata melalui alasan-alasan, istilah-istilah, dan frasa-frasa ini, dikatakan bahwa keyakinannya sudah ditopang oleh alasan, berakar di dalam visi, dan mantap; keyakinannya tak terkalahkan oleh petapa atau brahmana atau dewa atau Mara atau Brahma atau siapapun didunia ini. “

( Vimamsaka-Sutta ; Majjhima-Nikaya, Sutta ke-47 )

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattum (3X) )

Namatthu Buddhassa,

“BUKAN-BUDDHISME”. Demikianlah kesimpulan yang diberikan oleh banyak rekan-rekan ummat Buddha (khususnya yang tergabung dalam dhammacita.org ; meskipun beberapa rekan saya diluar dhammacitta.org juga berpendapat senada) terhadap ajaran yang tertuang dalam sebuah pelatihan “Meditasi Mengenal Diri” (MMD).

Adalah Dr.Hudoyo Hupudhio Mph., seorang Romo / Pandhita dari Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia ( Magabudhi ), yang menggagas pelatihan “Meditasi Mengenal Diri” (MMD), serta menyebarkan berbagai “ajaran”-nya kepada masyarakat luas, termasuk kedalam kalangan ummat Buddha.

Akan tetapi, sebagai seorang Romo, Dr.Hudoyo Hupudhio Mph., oleh banyak ummat Buddha telah dianggap banyak “membelokkan” ajaran Sang Buddha, terutama sehubungan dengan penolakannya terhadap pentingnya penembusan terhadap “Empat Kesunyataan Mulia” ( Cattari Ariya Saccani ) beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan” ( Ariya Atthangika Magga ). Romo Hudoyo Hupudhio juga menolak kebenaran isi Ti-Pitaka , baik Sutta-Pitaka maupun Abhidhamma-Pitaka serta Vinaya-Pitaka tentunya.

Dalam sebuah situs Buddhist resmi di Indonesia ( www.dhammacitta.org ) , pandangan-pandangan Dr.Hudoyo Hupudhio, Mph. yang tertuang dalam ajaran-ajaran “Meditasi Mengenal Diri” (MMD) tersebut, kini telah dikeluarkan dari kategori Buddha-Dhamma.

Berikut adalah cuplikan dari statement resmi Management situs   www.dhammacitta.org =


Dengan ini memutuskan:

1. Peraturan umum tentang diskusi Buddhis semua berdasarkan dua mahzab besar yang ada (Theravada & Mahayana (termasuk vajrayana)) yang meyakini Tiratana, Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulai Berunsur 8. Diluar itu akan dianggap agama/aliran/kepercayaan/keyakinan/filsafat lain. [karena belum ada tempat yang pas]

2. MMD dikategorikan bukan Buddhisme sesuai mahzab besar dan dipindahkan ke board Buddhisme dengan Agama, Kepercayaan, Tradisi dan Filsafat Lain


3. Diskusi tentang MMD diluar board yang seharusnya akan dihapus/edit atau dipindahkan ke board yang seharusnya.

Terima kasih atas perhatiannya.

………. ;

* bahwa DC adalah forum buddhis dan oleh karenanya harus memajukan Buddha Dhamma dengan cara memberikan informasi yang dapat meningkatkan keyakinan umat Buddha khususnya pemula dalam ber-Tisarana (mengambil 3 perlindungan pada Buddha  Dhamma Sangha).

………. ;

* Terlepas dari benar/salah-nya keputusan kami, yang mana tidak akan ada satu pihakpun yang dapat membenarkan/menyalahkan, kami telah berusaha mengambil keputusan sesuai dengan kapasitas dan kewenangan kami, demi kemajuan Agama Buddha dan DhammaCitta ini.

Demikianlah penjelasan ini kami umumkan, semoga semua pihak dapat memaklumi.

[ Sumber = http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,4351.0/wap2.html ]


Atas keputusan tersebut, Romo Hudoyo memberikan tanggapannya. Dan tanggapan beliau tersebut agaknya penting kita pertimbangkan juga untuk kita baca dan resapi :

hudoyo:
Oh, kalian menganggap MMD tidak berdasarkan Tiratana? … Tiratana yang mana maksud kalian? .. Apa artinya “dhammam saranam gacchami”? … Katakan saja terus terang “MMD tidak berdasarkan Kitab Tipitaka Pali tanpa reserve”. Jangan dibelok-belokkan menyangkut Tiratana segala … Itu lebih jujur. … Saya pun pembela Tiratana … Janganlah menjadi pahlawan pembela Tiratana yang merasa paling benar sendiri. … Itu persis seperti MUI yang mengkafirkan Ahmadiyah. …

Pelaporan mana yang kalian maksud? … Jelas SEMUA yang melaporkan adalah orang-orang yang tidak suka dengan MMD, yang patut dipertanyakan pemahamannya akan Buddha Dhamma … mereka yang setuju dengan MMD jelas tidak akan “melaporkan” … Jadi kalau konsiderans keputusan kalian didasarkan pada pelaporan semata-mata, jelas Anda telah berat sebelah. … Tidakkah kalian mempertimbangkan hasil polling tentang MMD baru-baru ini? …

OK … Rekan Sumedho mengundang saya untuk masuk ke forum DC ini … Sekarang kalian beramai-ramai memutuskan “MMD bukan Buddhisme” … Saya tidak terima diperlakukan sebagai sampah di forum ini. … Dengan ini saya menyatakan ABSEN dari forum ini.

Teman-teman Buddhis di forum ini yang ingin mendalami ajaran Sang Guru bersama saya silakan berlangganan forum : HOME / LOEKELOE / Forum Supranatural / Spiritual : Riwayat Agung Para Buddha — http:///showthread.php?t=878014
Saya akan menulis di sana.

Salam,
hudoyo

[ Sumber =

http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,4351.0/wap2.html ]

Dalam sebuah situs ( www.kaskus.us ), seorang rekan yang menggunakan ID “Kemenyan” menjelaskan apa duduk-perkaranya sehingga “ajaran-ajaran” Dr.Hudoyo Hupudhio Mph. ini dikategorikan sebagai “BUKAN BUDDHISME”. Berikut pernyataan rekan “Kemenyan” tersebut :

Hal ini tidak akan pernah ketemu,

Karena pak hudoyo ngotot kalau MMD tidak sejalan dengan

“Jalan mulia berunsur delapan”

yang sama-sama untuk mengakhiri dukkha

Pak hudoyo terlihat lebih memilih untuk tidak dimasukan kedalam kelompok manapun (tidak dilabeli)

Namun, Kami (dari pihak DhammaCitta) tidak mungkin mengunakan standard “perasaan” pribadi untuk memutuskan hal ini, Kami (dari pihak DhammaCitta) juga tidak ingin mengkelompokan thread-thread mengenai MMD sebelumnya,

Namun setelah kami melihat bagaimana “Marketing” MMD nyaris menyerbu seluruh thread, seluruh bagian forum,
Kami dipaksa untuk meng-rapikan.  dan dalam prosesnya…  Timbul pertanyaan… Kemanakah MMD?  yang berakhir pada ricuh-kisuh seperti ini

04-09-2008, 07:56 PM

Sumber =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=8

Di akhir perdebatannya dengan “Kemenyan”,  Romo Hudoyo memberikan tanggapannya sebagai berikut :

OK, Kemenyan … bodoh kalau saya melayani Anda terus … waktu saya sangat berharga untuk membimbing MMD … Sekali lagi, nasi sudah menjadi bubur … sekalipun Anda menghiba-hiba, saya tidak akan masuk ke DC lagi selama managementnya dikuasai oleh orang-orang reaksioner yang ingin memutar mundur jarum sejarah Buddhisme di Indonesia. …

Kita beradu di lapangan … Umat Buddha Indonesia akan menilai sendiri dalam waktu 10 tahun ini … Anda dan teman-teman Anda di DC-kah, atau saya dan teman-teman saya di MMD, yang benar-benar pewaris dari ajaran Sang Guru.

Salam,
hudoyo

[ Sumber =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=8 ]


Dari pandangan-pandangan Romo Hudoyo sendirilah, konflik antara beliau dengan management dhammacitta.org ini terjadi. Romo Hudoyo , sekarang membuka  thread yang ia sebut sebagai “Modern Buddhism” dengan tujuan mewadahi aspirasi para ummat Buddhist dan  non-Buddhist , untuk menampilkan, membahas, memperdebatkan pemikiran & pemahaman baru terhadap ajaran Buddha Gautama yang berkembang di dunia Buddhis internasional maupun lokal, tanpa terikat pada doktrin, mazhab, ritual klasik/tradisional yang ada ; demikian statement beliau. ( Sumber = http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1069163 )


Melihat fenomena yang cukup controversial ini, saya sebagai seorang ummat Buddha, merasa tergugah untuk melakukan research dan telaah kritis atas pandangan-pandangan Romo Hudoyo Hupudhio, yang oleh banyak ummat Buddha dinyatakan sebagai “penyimpangan” dari Buddhisme dan tidak selayaknya diajarkan pada ummat Buddha. Demi mendapatkan kepastian dan kebenarannyalah, artikel ini saya tulis. Mungkin tulisan ini bisa disebut sebagai sebuah “dokumentasi” atas suatu “konflik”  intern dalam tubuh ummat Buddha Indonesia yang pernah terjadi di awal abad ke-21 ini. Atau mungkin juga bisa disebut sebuah bentuk dokumentasi atas timbulnya sebuah “pandangan-salah” dalam diri / sekelompok ummat Buddha.

Setelah melakukan observasi dan proses collecting-data di lapangan atas statement-statement Romo Hudoyo, akhirnya saya mendapatkan beberapa point pandangan-pandangan Romo Hudoyo yang menyebabkan apa yang ia ajarkan dianggap oleh banyak ummat Buddha telah menyimpang dari Buddhisme. Setidaknya ada delapan (8) point pandangan Romo Hudoyo Hupudhio yang bisa kita jadikan bahan pertimbangan, bahwa apa yang diajarkan Romo Hudoyo bukanlah ajaran Buddha, tapi lebih kepada ajaran “Kepercayaan-Lain” yang mungkin memiliki benang-merah dengan Buddhisme, tapi bukan Buddhisme itu sendiri. Ke-delapan ( 8 ) point “pandangan-menyimpang” tersebut adalah :

  1. Penolakan terhadap Empat Kesunyataan Mulia dan Jalan Ariya Beruas Delapan
  2. Pelarangan bagi ummat Buddha untuk melakukan berbagai bentuk Puja ( Namaskara, pembacaan Paritta, dll. ) saat sedang mengikuti retret “MMD”.
  3. Tujuan “MMD” adalah  “berhentinya-pikiran” ( bukan Nibbana sebagaimana Sang Buddha menunjukkannya sebagai tujuan-sejati bagi ummat Buddha )
  4. Penegasan bahwa “MMD” adalah meditasi vipassana “Ala Krishnamurti” ; bukan vipassana ala Buddhisme umumnya.
  5. Penggunaan Bahiya-Sutta, Malunkyaputta-Sutta, dan Angulimala-Sutta sebagai sekedar “jembatan” untuk menghubungkan “MMD” ( yang berbasis ajaran J.Krishnamurti ) dengan ummat Buddha.
  6. Pandangan Romo Hudoyo akan adanya Buddha yang telah muncul di abad ke-20 ; yaitu J.Krishnamurti.
  7. Penolakan [ dengan halus ] Ajaran “Anatta”
  8. Penolakan terhadap Kebenaran isi Ti-Pitaka

Dari bebagai pandangannya, saya menyimpulkan, Saddha Romo Hudoyo terhadap Ti-Ratana, telah terkalahkan semenjak ia ber-“Saddha” kepada J.Krishnamurti. Dan, dengan menolak kesunyataan bahwa hidup adalah dukkha, adanya sebab dukkha, berakhirnya dukkha, dan Jalan menuju berakhirnya dukkha ( Empat Kesunyataan Mulia ) ; Dengan menyatakan adaya si “Aku” yang menjadi penggerak exsistensi manusia, dan  bahwa anatta sesungguhnya tidak bisa dialami oleh para meditator karena hanya merupakan konsepsi belaka,  maka menurut hemat saya, dengan begitu Romo Hudoyo memang benar telah dicengkeram “pandangan-salah” ( micha-ditthi ) yang akan membelenggu beliau serta para siswanya untuk merealisasi pembebasan-sempurna dari samsara.

Untuk mengetahui dengan  lebih jelas, marilah kita masuk pada pembahasan  kedelapan point “pandangan-menyimpang” Romo Hudoyo tersebut.

1. PENOLAKAN ROMO HUDOYO TERHADAP EMPAT KESUNYATAAN MULIA DAN JALAN ARIYA BERUAS DELAPAN

Saya akui, ketika saya menjabat Sekjen Mapanbudhi dulu, saya pernah ikut-ikutan terlibat dalam “pengganyangan” Nichiren Shoshu Indonesia (NSI) … tetapi sekarang saya sadari bahwa itu salah. …

Mengapa Anda bertahan dengan metode ortodoks seperti 4KM ( Empat Kesunyataan Mulia, – pen. ) / JMB8 ( Jalan Mulia Beruas Delapan,- pen. ) kalau itu hanya menyebabkan KETAKUTAN dan KEBINGUNGAN seperti Anda ungkapkan sendiri? …

[ Sumber =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=8 ]

Pertanyaan Romo Hudoyo mengenai mengapa ummat Buddha teguh berjalan ( dalam bahasa Romo Hudoyo = “bertahan-dengan-metode-ortodoks” ) di dalam Jalan Ariya Beruas Delapan dan Empat Kesunyataan Mulia, amat sangat janggal, mengingat pertanyaan ini diajukan oleh seorang Romo / Pandhita Buddhist dari mazhab Theravada.

Sebab, sebagai seorang Theravadin ( apalagi seorang Romo / Pandhita ), seharusnya beliau mengetahui, bahwa Empat Kesunyataan Mulia beserta Jalan Ariya Beruas Delapan adalah “intisari” dari seluruh ajaran Sang Buddha.

Akan berbeda halnya, bila pertanyaan itu diajukan oleh ummat agama lain yang memang tidak ber-Tisarana ( berlindung pada Buddha-Dhamma-Sangha ). Sah-sah saja bagi ummat agama lain untuk menolak Empat Kesunyataan Mulia ( ajaran bahwa : hidup adalah penderitaan, sebab penderitaan adalah nafsu-keinginan, berakhirnya-penderitaan ( bahwa penderitaan tersebut bisa berakhir, yakni saat merealisasi “Nibbana” ), dan adanya Jalan menuju berakhirnya penderitaan ( yaitu “Jalan Ariya Beruas Delapan” ) ).

Quote from: Sumedho on 29 July 2008, 01:29:14 PM

jadi kesimpulannya Pak Hud, apakah jalan mulia beruas 8 bisa membawa kebebasan tidak? kalau sudah disimpulkan, nanti buka thread lain aja supaya lebih rapih

Kalau Anda membaca dengan teliti thread ini, Anda akan melihat beberapa kali saya katakan:

Segala JALAN spiritual, termasuk JMB-8, tidak bisa membebaskan orang; untuk bebas batin harus berhenti, bukan berjalan.

Silakan kalau ada orang mau berpendapat lain.

Salam,

hudoyo

Quote from: ryu on 28 July 2008, 01:38:32 PM

14. “Bhagava, adakah jalan, adakah metode untuk mencapai hal-hal ini?” “Ada jalan, Mahali, ada metode.” [157] “Dan Bhagava, apakah jalan itu, apakah metode itu?”

“Yaitu, Jalan Mulia Berfaktor Delapan, yaitu, Pandangan Benar, Pikiran Benar; Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar; Usaha Benar, Perhatian Benar dan Konsentrasi Benar. Ini adalah jalan, ini adalah cara untuk mencapai hal-hal ini.”

http://dhammacitta.org/tipitaka/dn/dn.06.0.wlsh.html

hehe … ini kan cuma mengulang-ulang argumentasi lama: ada JALAN ajaran Sang Buddha, yakni JMB-8.

Itulah yang diajarkan dalam AGAMA Buddha, dalam Tipitaka Pali yang ditulis berabad-abad setelah Sang Buddha wafat. Saya tidak percaya itu datang dari mulut Sang Buddha.

Quote from: hudoyo on 26 July 2008, 06:36:26 AM

Quote from: nyanadhana on 25 July 2008, 04:11:41 PM

Ketika Sang Buddha memutar Dhammacakkapavattana….Beliau menjelaskan 2 Ekstrim yang dihancurkan melalui Jalan Tengah apakah Jalan Tengah itu ya 8 Jalan Ariya sehingga membawa orang menuju Nibbana. Yang dimaksud mungkin ketika kamu sedang berjuang mencapai Nibbana. gunakan 8 Jalan itu dan ketika sudah sampai maka ibarat rakit dilepas,lagian orang yang telah mencapai Nibbana atau kepadaman, ia tidak lagi memerlukan kemelekatan akan 8 Jalan itu sendiri melainkan telah terintegrasi dalam setiap ucapan,perbuatan dan pikiran.

Ini saja yang saya tangkap ketika membaca Visuddhi Magga

Bagus-bagus saja umat Buddha berpendapat seperti Anda.

Yang saya katakan adalah umat non-Buddhis pun bisa saja mencapai pembebasan (nibbana) tanpa melalui JMB-8, tanpa melalui konsep “pantai seberang”, tanpa melalui konsep “rakit”.

Itulah yang saya pahami dari pengalaman sadar sampai sejauh ini.


Permasalahannya disini saya melihat Romo Hudoyo sangat meragukan kebenaran isi Ti-Pitaka dan menganggap Empat Kesunyataan Mulia beserta Jalan Ariya Beruas Delapan hanyalah merupakan formulasi para Bhikkhu setelah Sang Buddha Parinibbana. Ini yang dilematis, dan tentu bila Romo sudah tidak-yakin, penjelasan seperti apapun juga susah untuk Romo akui. Namun tetap, dibawah ini nanti, saya akan mengulas kembali “sejarah-penyusunan” Ti-Pitaka yang disusun oleh para Arahanta tiga (3) bulan setelah Sang Buddha Parinibbana.

Sesungguhnya banyak sekali Sang Buddha mengkhotbahkan ajaran tersebut dari mulut Beliau sendiri. Meski mungkin Romo Hudoyo anggap sutta ini pun hasil “rekayasa”, tapi saya tetap hendak menuliskannya disini khusus saya sajikan untuk ummat Buddha umumnya yang masih memiliki saddha yang kuat terhadap Ti-Ratana ; bukan untuk yang tidak-yakin / tidak ber-Saddha.  Berikut adalah beberapa khotbah yang bisa menunjukkan bahwa “Empat Kesunyataan Mulia” beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan”, merupakan ajaran langsung dari Sang Buddha Gotama.

” Dan juga, para Bhikkhu, Aku melihat Jalan setapak tua, Jalan-Purba yang ditempuh oleh para Buddha dimasa lampau. Dan apakah jalan setapak tua itu,  Jalan Purba itu ? Jalan itu adalah Jalan Ariya Beruas Delapan : Pandangan-Benar, Pikiran-Benar, Ucapan-Benar, Perbuatan-Benar, Mata-Pencaharian-Benar, Usaha-Benar, Perhatian-Benar, dan Konsentrasi-Benar.” [ Samyutta-Nikaya , 12 : 65 ]

“ ‘Jalan-Tengah yang ditemukan oleh Tathagata menghindari kedua ekstrim itu ; karena memberikan visi, memberikan pengetahuan, Jalan ini membawa menuju kedamaian, menuju pengetahuan-langsung, menuju pencerahan, menuju Nibbana.’ Demikian dikatakan. Dan dengan mengacu pada apa maka hal ini dikatakan ? Itulah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini ; yaitu, Pandangan Benar, Niat Benar, Ucapan Benar, Tindakan Benar, Penghidupan Benar, Usaha Benar, Kewaspadaan Benar, dan Konsentrasi Benar. Jadi, mengacu pada hal inilah maka dikatakan : ‘ Jalan-Tengah yang ditemukan oleh Tathagata menghindari kedua ekstrim itu… menuju Nibbana.” [ Aranavibhanga-Sutta ; Majjhima-Nikaya, Sutta ke-139  ; Khotbah ini disampaikan oleh Sang Buddha pada para Bhikkhu di Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anathapindika ].


“… Nah, Cunda, disini penghapusan harus dipraktekkan olehmu :

…. ;

‘Orang-orang lain akan memiliki pandangan-salah; disini kita akan memiliki “Pandangan-Benar” ; penghapusan harus dipraktekkan-demikian.

‘Orang-orang lain akan memiliki niat-yang-salah ; disini kita akan memiliki ‘Niat-yang-Benar’ ; penghapusan harus dipraktekkan demikian.

‘Orang-orang lain akan akan berbicara-salah ; disini kita akan memiliki “Pembicaraan-yang-Benar” ; penghapusan harus diprakatekkan demikian.

‘ Orang-orang lain akan melakukan tindakan-yang-salah ; disini kita akan memiliki “Tindakan-yang-Benar” ; penghapusan harus dipraktekkan demikian.

‘Orang-orang lain akan memiliki penghidupan-yang-salah ; disini kita akan memiliki “Penghidupan-yang-Benar” ; penghapusan harus dipraktekkan demikian.

‘Orang-orang lain akan memiliki usaha-yang-salah ; disini  kita akan memiliki “Usaha-yang-Benar” ; penghapusan harus dipraktekkan demikian.’

‘ Orang-orang lain akan memiliki kewaspadaan-yang-salah ; disini kita akan memiliki “Kewaspadaan-yang-Benar” ; penghapusan harus dipraktekkan demikian.

‘ Orang-orang lain akan memiliki konsentrasi-yang-salah ; disini kita akan memiliki “Konsentrasi-yang-Benar” ; penghapusan harus dipraktekkan demikian.’

… .”  [ Sallekha-Sutta ; Majjhima-Nikaya, Sutta ke-8 ; Khotbah ini disampaikan oleh Sang Buddha pad Y.M.Maha Cunda ketika Sang Buddha sedang berdiam di Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anathapindika ]


“Ketika pikiranku yang terkonsentrasi telah demikian termurnikan, terang, tak-ternoda, bebas dari ketidaksempurnaan, dapat diolah, lentur, mantap, dan mencapai keadaan tak-terganggu, aku mengarahkannya pada pengetahuan-tentang hancurnya noda-noda (asavakhayanana). Secara langsung aku mengetahui sebagaimana adanya : ‘Inilah Penderitaan’…’Inilah Asal Mula Penderitaan’…’Inilah Berhentinya Penderitaan’…’Inilah Jalan menuju Berhentinya Penderitaan’… [ Bhayabherava-Sutta ; Majjhima-Nikaya, Sutta ke-4 ; Khotbah ini disampaikan oleh Sang Buddha pada Brahmana Janussoni, di Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anatapindika ].


Sesungguhnya, masih banyak Sutta-sutta yang menunjukkan bahwa “Empat Kesunyataan Mulia” beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan” adalah memang ajaran yang dinyatakan dari mulut Sang Buddha sendiri. Seharusnya Romo Hudoyo, sebagai seorang Pandhita, mengetahui hal ini. Bagaimana mungkin seorang Romo tidak mengetahui hal-hal seperti ini.

Tanya = Menurut Pak Hud jalan mulia beruas 8 itu bisa membawa kebebasan tidak? (cuma nanya, jadi mau tahu gimana pandangan Pak Hud mengenai jalan beruas 8 )


Jawab = Menurut hemat saya, kalau orang melekat pada Jalan Mulia Berunsur Delapan ia akan tetap terbelenggu.
Karena sesungguhnya tidak ada jalan … tidak ada tujuan … tidak ada pantai seberang.
Nibbana itu sendiri berarti padam.

Salam,
Hudoyo

[ Sumber =

http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=3718.0 ]


Membaca kalimat Romo Hudoyo,”…sesungguhnya tidak ada jalan…tidak ada tujuan…tidak ada pantai seberang…” tersebut jujur saja, awalnya saya terpesona. Untaian kalimat tersebut sangat indah, bagaikan pernyataan seorang “filsuf”.

Tapi, bila dikaji secara kritis, maka sebenarnya pernyataan tersebut sesungguhnya sangat bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Sang Buddha ( yang seharusnya adalah Guru-Agung bagi pak Hudoyo ; jika ia memang seorang Buddhist ).  Kenyataannya, Sang Buddha sendiri menyatakan “… ada Nirvana, tetapi tak seorangpun yang memasukinya; Ada jalan, tetapi tak seorang pengunjungpun yang melewatinya. “ (Visuddhi Magga. XVI). Dalam Dhammapada, Magga Vagga : 20-1, juga dinyatakan, “ Diantara semua Jalan, Jalan Suci yang beruas delapan adalah yang terbaik. Diantara semua Kebenaran, Empat Kesunyataan Mulia adalah yang termulia; Diantara semua keadaan batin, Nibbana adalah yang tertinggi ;  Diantara semua makhluk yang berkaki dua dan dapat melihat, Sang Buddha adalah yang ter-Agung.

Penolakan Romo Hudoyo terhadap “Empat Kesunyataan Mulia” beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan” ini sepertinya menjadi “semangat-central” dalam setiap diskusi-diskusinya, dalam setiap statement-statementnya. Berikut adalah hasil penelusuran saya atas statement-statement beliau di berbagai situs dan milist di internet :

… apa lagi ini: Jalan Mulia Berunsur Delapan? … Seorang Muslim atau Keristen tidak kenal itu … tapi kalau ia mengikuti MMD ia akan mengakhiri dukkha, sebagaimana dinyatakan oleh Sang Buddha dalam Bahiya-sutta, tanpa perlu menghafal Jalan Mulia Berunsur Delapan sama sekali.

[ Sumber =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=8 ]

“Kalau seseorang mengikuti “MMD” ia akan mengakhiri dukkha”. Demikian dengan penuh percaya diri Romo Hudoyo menyatakan. Agaknya memang Romo Hudoyo ini tidak memahami ( atau barangkali “lupa” ) makna dari “berakhirnya-dukkha”.

Secara sederhana saja, apakah Romo dan para peserta MMD telah berhasil mencabut ketiga-api yang membakar dunia ini ; keserakahan akan keindriyaan (lobha), kemarahan/kebencian (dosa) dan kebodohan batin ( moha ; kebodohan batin adalah, kebodohan karena tidak bisa melihat dengan jelas bahwa hidup ini adalah penderitaan, adanya sebab penderitaan, berakhirnya penderitaan, dan Jalan menuju berakhirnya penderitaan )  ?  .

Apakah ada diantara peserta MMD yang telah tidak dicengkeram “tanha” ( nafsu-keinginan ) ? Ini saja pertanyaan sederhana untuk mengukur sampai sejauh mana kebenaran pernyataan “siapapun yang mengikuti MMD ia akan mengakhiri dukkha”.

Quote from: dilbert on 23 July 2008, 09:17:15 AM

‘Jalan Tengah’ (Madhyama Pratipad) yang diajarkan oleh Sang Buddha itu sendiri tidak relevan di dalam MMD! Tentu Anda kaget mendengar ini.



‘Jalan Tengah’ mengajarkan ‘Sila’ (Moralitas), ‘Samadhi’ (Meditasi), & ‘Prajna’ (Kearifan). Ketiga kategori latihan itu tidak relevan lagi dalam MMD, di mana hanya ada diam dalam sadar/eling pada saat kini.

‘Jalan Tengah’ merupakan “jalan” untuk mencapai suatu tujuan di masa depan, yakni “Lenyapnya Dukkha” (Duhkha-Nirodha). Di dalam MMD tidak diajarkan “jalan” apa pun untuk mencapai tujuan apa pun, melainkan justru dilatih untuk diam pada saat kini.

[ Sumber =

http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan–Apa-ajaran-Sang-Buddha-tentang-sadar-eling-pada-saat-kini–td16575427.html ]


Dari statement diatas ( serangkaian penolakan Romo Hudoyo tehadap Empat Kesunyataan Mulia dan Jalan Ariya Beruas Delapan ), yang menjadi menarik untuk dipelajari adalah, apa yang menjadi latar belakang pemikiran Romo Hudoyo untuk dengan sedemikian keras menolak “Jalan Ariya Beruas Delapan” tersebut ?

Dari hasil penelusuran saya, ternyata pemikiran Romo Hudoyo tersebut berasal dari ajaran J.Krishnamurti. Seseorang bernama ( atau menggunakan ID nama ) Daniel, memposting dialog BBC dengan J.Krishnamurti ( date : July 14, 2006, 03:17 ) yang diterjemahkan oleh Romo Hudoyo Hupudhio. Dari dialog tersebutlah saya jadi mengerti bagaimana awal-mula “pola-pikir” Romo Hudoyo tersebut terbentuk ; yang ternyata banyak diwarnai dari “doktrin” J.Krishnamurti.

Berikut adalah cuplikan dialog tersebut :

JK: Jadi, melihat bahaya — jika Anda melihat
bahaya dari konflik, misalnya, bahaya psikologis
dari seorang manusia yang terus-menerus berada
dalam konflik–ia mungkin bermeditasi, ia mungkin
berbuat apa saja, tetapi konfliknya akan berjalan
terus–tetapi jika ia melihat bahayanya, seperti
bahaya sebuah racun, maka ia akan menghentikannya. Itulah akhirnya.


Sebelum saya lanjutkan dialog antara BBC dengan J.Krishnamurti ini, saya hendak mengkritisi mengenai ajaran “penghentian-konflik” ini. Sebenarnya, ajaran ini sudah sangat tidak asing lagi bagi ummat Buddha ; seperti umumnya ajaran J.Krishnamurti yang memang sudah sangat tidak asing lagi bagi ummat Buddha ( lihat dan baca di pembahasan pandangan-menyimpang keenam (6) dari Romo Hudoyo ; disana saya cuplikkan dialog Walpola Rahula dengan J.Krishnamurti ; statement dari Walpola Rahula, “Bukankah Anda hanya mengulang apa yang disabdakan Buddha”. )

Dalam Aranavibhanga Sutta ( Majjhima-Nikaya ;  Sutta ke-139 ), Sang Buddha secara terperinci membahas tentang “Tanpa-Konflik”. Khotbah dalam sutta ini sangat mendetail tentang hal-hal yang menimbulkan konflik dan hal-hal yang menjauhkan konflik. Berikut adalah petikan sutta tersebut :

“ Para Bhikkhu, akan kuajarkan kepada kalian penjelasan rinci tentang tanpa-konflik. Dengarkan dan perhatikan dengan seksama apa yang akan kukatakan” – “ Ya, Bhante”, jawab para Bhikkhu. Yang Terberkahi mengatakan hal ini :

“ Orang seharusnya tidak mengejar kesenangan indera, yang bersifat rendah, norak, kasar, tidak mulia, dan tidak bermanfaat ; dan orang seharusnya tidak mengejar penyiksaan-diri, yang bersifat menyakitkan, tidak mulia, dan tidak bermanfaat. Jalan-Tengah yang ditemukan oleh Tathagata menghindari kedua ekstrim itu ; karena memberikan visi, memberikan pengetahuan, Jalan ini membawa menuju kedamaian, menuju pengetahuan-langsung, menuju pencerahan, menuju Nibbana.Orang harus mengetahui apa yang harus dijunjung tinggi dan apa yang harus dicela, dan karena mengetahui keduanya, dia seharusnya tidak meninggikan atau mencela melainkan seharusnya mengajarkan hanya Dhamma saja. Orang seharusnya mengetahui bagaimana mendefinisikan kesenangan, dan karena mengetahui hal itu, dia seharusnya mengejar kesenangan di dalam diri sendiri. Orang seharusnya tidak mengeluarkan ucapan tersamar, dan dia seharusnya tidak mengeluarkan ucapan terang-terangan yang tajam. Orang seharusnya berbicara pelan, bukan tergesa-gesa. Orang seharusnya tidak bersikeras dengan bahasa local, dan dia seharusnya tidak mengesampingkan penggunaan normal. Inilah ringkasan penjelasan rinci tentang “Tanpa-Konflik”. “ [ Aranavibhanga-Sutta ; Majjhima-Nikaya, Sutta ke-139 ]


Demikianlah, sehingga ajaran central dari J.Krishnamurti mengenai “tanpa-konflik” itu, bagi ummat Buddha dimanapun juga, bukanlah hal baru dan “asing” lagi.

P: Dari apa yang Anda katakan, tampaknya TIDAK ADA JALAN menuju ke situ.

JK: TIDAK .

P: Lalu bagaimana kita bisa sampai ke situ? Untuk
sampai ke suatu tempat tanpa suatu jalan apa pun,
menurut saya bukan suatu ide yang baik.

JK: Begini — Jalan ini ditetapkan oleh
pikiran–bukan? Seluruh jalan pembebasan Hindu,
Buddhis, Islam, Kristen — Kebenaran bukanlah
suatu titik tertentu yang menetap [fixed]. Jadi manakah jalan ke situ?

[ Sumber http://forum.wgaul.com/archive/thread/t-50991-Ajaran-J-Krishnamurti.html ]

Sedikit pertanyaan dari saya, jika kebenaran bukanlah sesuatu yang “tetap” ( abadi ), bagaimana mungkin ia bisa disebut sebagai “kebenaran” ? Sesuatu kebenaran yang tidak tetap ( tidak abadi ), bukanlah “kebenaran-mutlak” ( paramatha-sacca ). Sebab “kebenaran-mutlak” itu bersifat : benar, tidak terikat oleh waktu, dan tidak terikat oleh ruang. Sejati dan abadi, inilah kebenaran-mutlak. Dan sesungguhnya memang ada “kebenaran-mutlak” tersebut. Dan jika yang ditemukan J.Krishnamurti adalah kebenaran yang masih “tidak-tetap”, berarti J.Krishnamurti belum menemukan adanya kebenaran yang “abadi” dan sejati ( Paramatha-Dhamma ).

Namun seperti apapun makna dari kata2 J.Krishnamurti, agaknya ajaran J.Krishnamurti tersebutlah yang kemudian diimani oleh Romo Hudoyo dan menyebabkan beliau selalu menolak “Jalan Ariya Beruas Delapan”. Beliau selalu menganjurkan untuk “melepaskan” Jalan tersebut, dan menyarankan, “Cukup berhenti saja!”.

Kepada umat Buddha yang merasa berjalan di atas “Jalan Utama Berfaktor Delapan” (Arya-Ashtangika-Marga), kita patut mengingatkan ucapan Sang Buddha kepada Angulimala: “… Kamulah yang terus berlari. Apa yang kamu cari? Berhentilah!”

[ Sumber = http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan–Apa-ajaran-Sang-Buddha-tentang-sadar-eling-pada-saat-kini–td16575427.html ]

Lewat pernyataan diatas, apakah Romo Hudoyo bermaksud menghimbau ummat Buddha yang berjalan di “Jalan Ariya Beruas Delapan” untuk “Berhenti” menempuh Jalan tersebut dengan dasar adanya seruan Sang Buddha pada Angulimala seperti tersebut diatas ( Berhentilah ! ) ?

Sebagai seorang Romo, Bp.Hudoyo tentunya sangat mengerti kisah Angulimala yang dimaksud. Namun , bagaimana bisa Romo Hudoyo menggunakan kisah Angulimala tersebut dalam pengertian yang berbeda untuk tujuan mencari pembenaran / korelasi antara ajaran “berhentinya-pikiran” (ala J.Krishnamurti) dengan ajaran Buddha ? Sebab, Sabda Sang Buddha tersebut bukan bermaksud menyuruh Angulimala untuk “menghentikan” langkahnya dalam menempuh “Jalan Ariya Beruas Delapan” , bahkan Angulimala saat itu pun sama-sekali tidak mengenal apa itu “Jalan Ariya Beruas Delapan”.

Untuk ummat Buddha yang belum mengetahui kisah Angulimala sang pembunuh ini, berikut ini saya sajikan petikan sutta yang menggambarkan kisahnya :

“ … Pada suatu ketika Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anathapindika.

Pada saat itu ada seorang bandit bernama Angulimala di wilayah Raja Pasenadi dari Kosala. Bandit ini membunuh, bertangan-berlumur-darah, terbiasa memukul dan suka kekerasan, tak kenal ampun kepada makhluk hidup. Berbagai desa, kota, dan daerah dihancurkan olehnya. Dia terus saja membunuh orang dan jari-jari korban digunakannya sebagai untaian kalung.

Suatu pagi, Yang Terberkahi berpakaian, mengambil mangkuk dan jubah luar Beliau, lalu pergi ke Savatthi untuk mengumpulkan dana makanan. Setelah Beliau berkelana untuk mengumpulkan dana makanan di Savatthi dan telah kembali, setelah selesai makan Beliau merapikan tempat istirahatnya, mengambil mangkuk dan jubah luar-Nya, lalu berangkat menuju jalan yang mengarah pada Angulimala. Para penggembala sapi, penggembala kambing, dan pembajak sawah yang lewat melihat Yang Terberkahi berjalan menuju Angulimala dan memberitahu Yang Terberkahi : “Jangan mengambil jalan ini, petapa. Di jalan ini ada bandit Angulimala, membunuh, bertangan-berlumur-darah, terbiasa memukul dan suka kekerasan, tak kenal ampun kepada makhluk hidup. Berbagai desa, kota, dan daerah dihancurkan olehnya. Dia terus saja membunuh orang dan jari-jari korban digunakannya sebagai untaian kalung. Orang-orang lewat jalan ini dalam kelompok sepluh, dua puluh, tiga puluh, dan bahkan empat puluh, tetapi tetap saja mereka menjadi korban tangan Angulimala.” Ketika hal ini disampaikan, Yang Terberkahi meneruskan perjalanan-Nya dengan diam.

Untuk kedua kalinya…untuk ketiga kalinya para penggembala sapi, penggembala kambing, dan pembajak sawah memberitahukan hal ini kepada Yang Terberkahi, tetapi tetap saja Yang Terberkahi meneruskan perjalanan-Nya dengan diam.

Bandit Angulimala melihat Yang Terberkahi datang dari kejauhan. Ketika melihat Beliau, dia berpikir : “Ini bagus, ini luar biasa! Orang-orang melewati jalan ini dalam kelompok sepuluh, dua puluh, tiga puluh, dan bahkan empat puluh, dan tetap saja mereka menjadi korban tanganku. Dan sekarang petapa ini datang sendiri, tidak ditemani, seolah-olah didorong oleh nasib. Mengapa aku tidak membunuh petapa ini saja ?” Angulimala kemudian mengambil pedang dan tamengnya, memasang busur dan tempat anak panahnya, dan mengikuti dari dekat di belakang Yang Terberkahi.

Maka Yang Terberkahi menunjukkan kekuatan supranormal yang sedemikian rupa sehingga bandit Angulimala, walaupun berjalan secepat yang dia bisa, tidak sanggup mengejar Yang Terberkahi yang berjalan dengan kecepatan normal. Kemudian bandit Angulimala berpikir : “Ini hebat, ini luar biasa!  Aku bisa mengejar bahkan gajah yang cepat dan menangkap-Nya ; aku bisa mengejar bahkan kuda yang cepat dan menangkapnya; aku bisa mengejar bahkan kereta yang cepat dan menangkapnya; aku bisa mengejar bahkan rusa yang cepat dan menangkapnya ; tetapi sekarang, walaupun aku berjalan secepat yang aku bisa, aku tidak sanggup mengejar petapa yang berjalan dengan kecepatan normal ini!” Dia pun berhenti dan berteriak kepada Yang Terberkahi :” Berhenti, petapa! Berhenti, petapa!”

“Aku telah berhenti, Angulimala,engkau pun berhentilah juga.”

Kemudian bandit Angulimala berpikir : “Petapa-petapa ini, putra-putra Sakya, berbicara kebenaran, menegaskan kebenaran ; tetapi walaupun petapa ini masih berjalan, dia mengatakan : ‘ Aku telah berhenti, Angulimala, engkau pun berhentilah juga.’ Sebaiknya kutanyai petapa ini.”

Maka bandit Angulimala berkata kepada Yang Terberkahi dalam bait-bait demikian :

“Sementara Engkau sedang berjalan, petapa, Kau katakan padaku Engkau telah berhenti ;

Tetapi sekarang, ketika aku telah berhenti, Kau katakan aku belum berhenti.

Aku bertanya kepada-Mu kini, O Petapa, tentang artinya :

Bagaimana bisa Engkau telah berhenti dan aku belum ?”

“ Angulimala, Aku telah berhenti selamanya,

Aku bebas dari kekerasan terhadap makhluk hidup;

Tetapi engkau tidak punya pengendalian diri terhadap makhluk-makhluk hidup;

Itulah sebabnya Aku telah berhenti dan engkau belum.”

“ Oh, akhirnya petapa ini, orang suci yang dihormati, telah datang ke hutan besar ini demi aku. Setelah mendengar bait-Mu yang mengajarkan Dhamma kepadaku, aku benar-benar akan meninggalkan kejahatan selamanya.”

Setelah berkata demikian, bandit itu mengambil pedang dan senjatanya dan melemparkannya ke kedalaman jurang yang menganga ; Si Bandit menyembah di kaki Yang Tertinggi, dan saat itu dan disana juga memohon pentahbisan.

Yang Tercerahkan, Manusia Suci dengan Kasih Sayang yang Besar, Sang Guru dunia dengan [semua] dewanya, berkata kepadanya dengan kata-kata ini, “Datanglah, Bhikkhu.” Dan demikianlah dia [Angulimala] menjadi bhikkhu.

Kemudian Yang Terberkahi mulai berkelana kembali ke Savatthi dengan Angulimala sebagai pelayan Beliau. Berkelana secara bertahap, Beliau akhirnya tiba di Savatthi, dan disana Beliau berdiam di Hutan Jeta, Taman Anathapindika. ( …dst. ; Angulimala-Sutta ; Majjhima-Nikaya, Sutta ke-86 )

Jadi, perintah” Berhentilah! “ dari Sang Buddha kepada Angulimala tersebut adalah perintah untuk menghentikan semua bentuk kejahatan, untuk menyingkirkan pedang dari kehidupan Angulimala, bukan perintah kepada seseorang yang sedang melangkah dalam “Jalan Ariya Beruas Delapan” untuk menghentikan penempuhan Jalan yang “sia-sia” sebagaimana Romo Hudoyo maksudkan. Justru kemudian, setelah Sang Buddha menyuruh Angulimala untuk berhenti dari semua kejahatannya, ia mulai menempuh latihan bertahap, menempuh “Jalan Ariya Beruas Delapan”. Romo Hudoyo agaknya perlu lebih bijaksana dalam mengutip sutta, supaya tidak terjadi distorsi makna.

Dalam banyak kesempatan, Romo Hudoyo menganggap, ummat Buddha yang masih berjalan menempuh “Jalan Ariya Beruas Delapan” adalah belum mampu melihat hakikat “Dhamma”. Ummat Buddha dianggapnya sekedar memegang konsep belaka. Dan apakah Romo dengan demikian tidak memegang “konsep” dari J.Krishnamurti ?

Dan, Romo Hudoyo, Empat-Kesunyataan-Mulia, itu adalah “Dhamma” yang ditembus oleh Sang Buddha sendiri melalui pencerahan-Nya. Empat pandangan cerah inilah tanda pencerahan ( Bodhi ) yang Sang Buddha capai. Dan, hal ini pulalah yang telah ditembus oleh banyak Arahanta serta para Ariya lainnya, sehingga mereka semua akhirnya bisa membebaskan diri dari samsara. Kebodohan-batin ( moha )-lah yang menyebabkan seseorang tidak bisa melihat bahwa : hidup ini sejatinya adalah dukkha, sebab dukkha adalah nafsu-keinginan, berakhirnya-dukkha ( dengan ter-realisasinya Nibbana ), dan adanya Jalan menuju berakhirnya-dukkha ( Jalan Ariya Beruas Delapan ).


Dalam sebuah diskusi antara Romo Hudoyo dengan rekan Wei dan Adri =

Tampaknya Anda berdua masih melekat pada konsep (Jalan Mulia Berfaktor Delapan), terutama rekan Wei. 🙂

Begini ya, Anda harus dapat membedakan antara konsep dan kebenaran. Konsep adalah pikiran, sedangkan kebenaran berada di luar pikiran. Kebenaran itu bisa diungkapkan dengan berbagai konsep, kata-kata, paradigma dsb, tergantung pembelajaran & keterkondisian pikiran masing-masing orang. Tapi kata-kata tidak bisa menggantikan kebenaran. The word is not the thing.

[ Sumber =

http://groups.yahoo.com/group/semedi/message/17515 ]


Lagi-lagi, kata2 “The Word is not The Thing” itu merujuk pada “Sabda” yang diucapkan oleh Jiddu Krishnamurti =

“Let us look at fear in a different direction. There is the word, and there is the thing. The word tree is not the tree. We will keep it very simple. We will use only one symbol : the word tree is not the actual tree. But for us, the word is the tree. So we must be able to see clearly that THE WORD IS NOT THE THING. This is important to go into the question of fear.”

[ The Collected Works of J. Krishnamurti: 1962-1963, A psychological revolution

Oleh Jiddu Krishnamurti ]


Mengenai “Dhamma”. Romo Hudoyo agaknya perlu diingatkan bahwa “Dhamma” Sang Buddha ini memang unique. Karenanya, Sang Buddha sendiri kemudian berani menyatakan khotbah “Raungan-Singa”-Nya, menyatakan Beliau adalah “Yang-Tertinggi”, dan hanya di dalam “Dhamma”-Nya saja terdapat kehidupan suci, tidak ada di dalam “Dhamma” diluar ajaran Beliau. Janganlah Romo kemudian beranggapan bahwa, Dhamma artinya adalah semua ajaran yang menuju pada suatu “puncak-spiritual” yang diajarkan banyak Guru diluar Sang Buddha, sebab bila demikian, maka akhirnya bahkan tidak ada bedanya Dhamma Sang Buddha dengan “Dhamma” para petapa dan kelana sekte-lain dijaman Sang Buddha, dimana kenyataannya memang jauh berbeda.

Untuk sekedar mengingatkan kita semua, berikut ini adalah Sabda Sang Buddha =

“Pada suatu ketika Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anathapindika. Disana Beliau berkata kepada para Bhikkhu demikian : “Para Bhikkhu” – “Bhante”, jawab mereka. Yang Terberkahi berkata demikian :

Para Bhikkhu, hanya di sinilah terdapat seorang petapa, hanya disinilah petapa kedua, hanya disinilah petapa ketiga, hanya disinilah petapa keempat. Doktrin-doktrin yang lain kosong akan petapa : demikianlah kalian seharusnya mengaumkan raungan singa kalian dengan benar.”

“Mungkin saja, para Bhikkhu, para kelana sekte lain bertanya : “Tetapi dengan kekuatan [argumen] apa, atau dengan penopang [keabsahan] apa maka para mulia berkata demikian ?”… dst.

” Para kelana sekte lain yang bertanya demikian bisa dijawab dengan cara ini : “Kalau demikian, para sahabat, bagaimana tujuannya, apakah satu atau banyak ?” Bila menjawab dengan benar, para kelana sekte lain akan menjawab demikian : “Para sahabat, tujuannya adalah satu, bukan banyak.”

Dalam penjelasan, diterangkan, frasa “hanya-disini” berarti hanya di dalam ajaran Buddha. Empat petapa (samana) yang diacu disini merupakan empat tingkat siswa-agung, yaitu : Pemasuk-Arus, Yang-Kembali-Sekali-Lagi, Yang-tidak-kembali-lagi, dan Arahat. Khotbah “Raungan-Singa” (sihanada) ini merupakan raungan-keunggulan tanpa ketakutan yang diucapkan Sang Buddha.

Para pengikut sekte lain, semuanya akan mengatakan bahwa tujuannya adalah “Kesempurnaan-Spiritual”.
Walaupun demikian, mereka tidak bertujuan mencapai ke-Arahata-an. Ke-Arahata-an, dicapai saat merealisasi “NIBBANA” ; kondisi-batin diatas duniawi, sebagai hasil pemadaman dari ketiga-api ( Lobha,Dosa,Moha ).

Umumnya sekte lain ( selain Buddha-Dhamma ) menunjukkan pencapaian-pencapaian lain sebagai tujuannya, sesuai dengan pandangan-pandangan mereka.

Para Brahmana menyatakan bahwa “Penyatuan-Atman-dan-Brahman” adalah tujuannya. Dengan anggapan bahwa “Maha-Brahma” adalah “Sang-Pencipta, Awal-Mula-Segala-Sesuatu, Maha-Kuasa, Tujuan-Semua-Makhluk,dll.”. Namun oleh Sang Buddha, telah berulangkali dijelaskan, bahwa pendapat adanya “Sang-Pencipta” seperti ini adalah kekeliruan semata ( Brahmajala-Sutta ).

Para petapa lain, akan menyatakan bahwa para Dewa dengan “cahaya-gemerlap”-lah yang menjadi tujuannya.Para kelana menyatakan tujuannya adalah para Dewa dengan “Keagungan-yang-Memancar”. Sedangkan para pengikut sekte Ajivaka akan menyatakan bahwa “Pikiran-yang-Tak-Terbatas”-lah yang akan menjadi tujuannya.

Dengan demikian, jelas terdapat perbedaan mendasar, apa yang menjadi tujuan ajaran lain dengan apa yang menjadi tujuan kehidupan spiritual menurut ajaran Buddha.

” Tetapi, para sahabat, apakah tujuan itu untuk orang yang dipengaruhi oleh nafsu atau yang bebas dari nafsu ? Bila menjawab dengan benar, para kelana sekte lain akan menjawab demikian : “Para sahabat, tujuan itu adalah untuk orang yang bebas dari nafsu, bukan untuk yang dipengaruhi oleh nafsu.” —

“Tetapi para sahabat, apakah tujuan itu, untuk orang yang dipengaruhi oleh kebencian atau yang bebas dari kebencian ?” Bila menjawab dengan benar, mereka akan menjawab : “Para sahabat, tujuan itu adalah untuk orang yang bebas dari kebencian, bukan untuk yang dipengaruhi oleh kebencian.” —

“Tetapi para sahabat, apakah tujuan itu untuk orang yang dipengaruhi oleh kebodohan batin atau yang bebas dari kebodohan batin ? Bila menjawab dengan benar, mereka akan menjawab : “Para sahabat, tujuan itu adalah untuk yang bebas dari kebodohan batin, bukan untuk yang dipengaruhi oleh kebodohan batin.” –

“Tetapi para sahabat, apakah tujuan itu untuk orang yang dipengaruhi nafsu-keserakahan atau yang bebas dari nafsu-keserakahan ?” Bila menjawab dengan benar, mereka akan menjawab :”Para sahabat, tujuan itu adalah untuk orang yang bebas dari nafsu keserakahan, bukan untuk yang dipengaruhi oleh nafsu keserakahan.” –

“Tetapi para sahabat, apakah tujuan itu untuk orang yang dipengaruhi oleh kemelekatan atau yang bebas dari kemelekatan?” Bila menjawab dengan benar, mereka akan mengatakan : “Para sahabat, tujuan itu adalah untuk orang yang bebas dari kemelekatan, bukan untuk yang dipengaruhi oleh kemelekatan.”–

“Tetapi para sahabat, apakah tujuan itu untuk orang yang memiliki visi atau yang tanpa visi ?” Bila menjawab dengan benar, mereka akan mengatakan : “Para sahabat, tujuan itu adalah untuk orang yang memiliki visi, bukan untuk orang yang tanpa visi.” –

“Tetapi para sahabat, apakah tujuan itu untuk orang yang menyukai dan menolak, atau untuk orang yang tidak menyukai dan menolak? ” Kalau menjawab dengan benar, mereka akan mengatakan : “Para sahabat, tujuan itu adalah untuk orang yang tidak menyukai dan tidak menolak, bukan untuk orang yang menyukai dan menolak.” –

Tetapi sahabat, apakah tujuan itu untuk orang yang bergembira di dalam pengembangan dan menikmatinya, atau untuk orang yang tidak bergembira di dalam pengembangan dan menikmatinya? ” Bila menjawab dengan benar, mereka akan mengatakan : “Para sahabat, tujuan itu adalah untuk orang yang tidak bergembira di dalam pengembangan dan tidak menikmatinya, bukan bagi orang yang bergembira dan menikmati pengembangan.”

Mari kita bahas cuplikan khotbah diatas terlebih dahulu, sebelum kita lanjutkan pada khotbah berikutnya.

Mengenai kalimat “Menyukai dan Menolak” ( anurudhapativirodha ) berarti bereaksi dengan rasa-tertarik melalui nafsu, dan dengan penolakan melalui kebencian.

Kata “Pengembangan” ( Papanca ), disini merupakan aktivitas mental yang dikuasai oleh keserakahan dan pandangan-pandangan.

“Para Bhikkhu, ada dua pandangan ini : pandangan mengenai dumadi dan pandangan mengenai tanpa-dumadi. Petapa atau brahmana mana pun yang bergantung pada pandangan dumadi, mengambil pandangan dumadi, menerima pandangan dumadi, akan menolak pandangan tanpa-dumadi. Para petapa atau brahmana mana pun yang bergantung pada pandangan tanpa-dumadi, mengambil pandangan tanpa-dumadi, menerima pandangan tanpa-dumadi, akan meolak pandangan dumadi.”

Pandangan mengenai dumadi ( bhavaditthi ) merupakan eternalisme, kepercayaan pada suatu diri yang abadi ; pandangan tanpa-dumadi ( vibhavaditthi ) merupakan paham pembinasaan, yaitu penyangkalan terhadap prinsip kesinambungan apa pun sebagai suatu landasan kelahiran-ulang dan retribusi karma. Mengambil satu pandangan dan menolak yang lain berarti melumpuhkan pernyataan sebelumnya bahwa tujuan itu adalah bagi orang yang tidak menyukai dan tidak-menolak.

“Petapa atau brahmana mana pun yang tidak memahami seperti apa adanya asal-mulanya, lenyapnya, pemuasannya, bahayanya, dan jalan keluarnya dalam hal dua pandangan ini akan DIPENGARUHI OLEH NAFSU, DIPENGARUHI OLEH KEBENCIAN, DIPENGARUHI OLEH KEBODOHAN BATIN, dipengaruhi oleh nafsu-keserakahan, dipengaruhi oleh kemelekatan, tanpa visi, cenderung lebih menyukai dan menolak, serta mereka akan bergembira dan menimati pengembangan. Mereka tidak terbebas dari kelahiran , usia-tua, dan kematian ; dari dukacita, ratap-tangis, rasa-sakit, kesedihan, dan keputusasaan; mereka tidak terbebas dari penderitaan, demikian Ku-katakan.”


Penjelasan dalam Majjhima-Nikaya adalah sebagai berikut :

Sebagai asal-mula ( samudaya ) dari pandangan-pandangan ini, disebutkan ada delapan kondisi :

– Panca-khanda

– Ketidaktahuan (avijja).

– Kontak,

– Persepsi

– Pemikiran,

– Perhatian yang tidak bijaksana,

– Teman-teman yang buruk [ yang tidak mengerti dan menempuh jalan-suci ]

– Suara orang lain.

Kelenyapannya ( atthangama ) merupakan Jalan Pemasuk-Arus yang menghapus semua pandangan salah.

Pemuasannya ( assada ) bisa dipahami sebagai pemuasan kebutuhan psikologis yang diberikan ; bahayanya ( adinava ) merupakan ikatan terus-menerus yang dibawanya ; jalan-keluar ( nissarana ) dari hal-hal tersebut adalah NIBBANA.


“Petapa atau Brahmana manapun yang memahami seperti apa-adanya asal-mulanya, lenyapnya, pemuasannya, bahayanya, dan jalan keluarnya dalam hal dua pandangan ini akan tidak memiliki nafsu, tanpa-kebencian, tanpa-kebodohan-batin, tanpa nafsu keserakahan, tanpa-kemelekatan, memiliki visi, tidak cenderung menyukai dan tidak menolak, serta mereka tidak bergembira dan tidak menikmati pengembangan. Mereka terbebas dari kelahiran, usia-tua, dan kematian ; dari dukacita, ratap-tangis, rasa-sakit, kesedihan, dan keputusasaan; mereka terbebas dari penderitaan, demikian Ku-katakan.”

Sehingga demikianlah, Dhamma Sang Buddha ini memang “unique” dan jauh berbeda dengan “dhamma”2 yang lain diluar ajaran Sang Buddha. Hendaknya Romo dan ummat Buddha umumnya memahami hal ini.

Kembali mengenai J.Krishnamurti. Sebenarnya, “sabda” dari Jiddhu Krishnamurti sebagaimana tersebut diatas bukanlah hal baru. Tidak unique dan original. Sebab, kalimat tersebut sudah pernah disabdakan oleh Sang Buddha dengan gaya bahasa Beliau bahwa kata-kata manusia yang serba terbatas, “Bagaikan jari menunjuk bulan, bukan bulan itu sendiri…” . Kalimah-sakti itulah ~ the word is not the thing ~ yang seringkali digunakan oleh Romo Hudoyo untuk “membujuk” ummat Buddha melepaskan “kemelekatan” ( demikian istilah Romo Hudoyo ) terhadap Jalan Ariya Beruas Delapan. Namun, tanpa ia sadari, Romo Hudoyo justru telah melekat terhadap “Jalan” yang ditunjukkan oleh J.Krishnamurti ini.

Meskipun tampaknya J.Krishnamurti ini sangat istimewa dimata Romo Hudoyo, namun sebenarnya bila dicermati, pernyataan “Tidak Ada Jalan” tersebut kemudian mau tidak mau harus disanggah oleh J.Krishnamurti sendiri

P: Tetapi tentu ada jalan, saya harap ada jalan,  menuju pengakhiran dari konflik.

JK; ADA — bukan jalan, tetapi ada pengakhiran
konflik, kesedihan, dan sebagainya, bila orang
menyadari–ebih baik saya katakan begini–bila
terdapat aktualitas keelingan yang peka tentang
apa adanya diri kita, tanpa pendistorsian sedikit
pun, menyadarinya, tanpa pilihan apa pun; dan
dari situlah terdapat pengakhiran dari semua kekacauan ini.

[ Sumber http://forum.wgaul.com/archive/thread/t-50991-Ajaran-J-Krishnamurti.html ]

Sampai pada pernyataan ini, saya menjadi bertanya-tanya, apakah sesungguhnya yang istimewa dari pernyataan J.Krishnamurti ini, sehingga membuat Romo Hudoyo lebih mengimaninya daripada ber-saddha pada Sang Buddha ( sehingga kemudian menganggap “Jalan Ariya Beruas Delapan” tidaklah penting lagi ) ? Ummat Buddha sedunia juga tahu, bahwa apa yang dinyatakan tersebut tidak berbeda dengan metode Vipassana umumnya ( perbedaannya hanyalah pada kebingungan J.Krishnamurti tentang “Ada” atau “Tidak-Ada” Jalan. Dan Romo Hudoyo lebih memilih meng-amin-i “Tidak-Ada-Jalan”, terutama “Jalan-Ariya-Beruas-Delapan” ).

Secara umum, vipassana adalah meditasi dengan melakukan perenungan / mengamati fenomena jasmani dan batin yang diketahui sebagai ‘upadanakkhandha’, dan yang secara jelas muncul di dalam “diri”-nya. Fenomena-fenomena ini secara berkesinambungan direnungkan pada setiap saat kemunculannya. Upadanakkhandha adalah semua yang secara jelas dicerap pada saat melihat, mendengar, mencium bau, mengecap, mengalami kontak badan/sentuhan dan memikirkan ide/gagasan dan seterusnya. Singkatnya, sadar setiap saat ( eling ; begitu istilah yang sering dirujuk Romo Hudoyo , mengambil “idiom” dari kalangan Kejawen ) , penuh perhatian ( samma-sati ) mengamati setiap fenomena batin dan jasmani yang muncul tanpa memilah / memilih. Disini sepertinya saya menangkap suatu kerancuan jawaban yang diberikan oleh J.Krishnamurti ( pertama menyatakan “Tidak-Ada-Jalan”, kemudian membalik , dengan “terpaksa” menyatakan “Ada-Jalan” ). Yang tertangkap dari maksud tersimpan dari ajaran J.Krisnamurti ini ketika menyatakan “Tidak-Ada-Jalan” , maka sesungguhnya justru ada “Jalan” yang menjadi alternative “keselamatan”, yaitu ajaran “Tanpa-Jalan” dari J.Krishamurti itu sendiri.

2. PELARANGAN ROMO HUDOYO KEPADA UMMAT BUDDHA UNTUK MELAKUKAN BERBAGAI BENTUK PUJA ( NAMASKARA, PEMBACAAN PARITTA, DLL ) SAAT SEDANG MENGIKUTI RETRET “MMD”.


Di dalam MMD, sekalipun retret dilakukan di dalam Dharmasala (Ruang Kebaktian) sebuah vihara, selama retret berlangsung peserta sangat dianjurkan untuk tidak melakukan ritual agama Buddha apa pun, seperti bersujud (namaskara) kepada arca Buddha (buddharupam) yang ada di sana, membaca paritta, dan sebagainya.

Sedangkan bagi peserta retret MMD yang beragama Islam, mereka tetap dibenarkan melakukan ibadah sholat yang wajib menurut ajaran agamanya.

[ Sumber :

http://meditasi-mengenal-diri.org/mmd_apaitu.html ]

Pernyataan Romo Hudoyo diatas sangat-sangat janggal. Mengapa Romo Hudoyo tidak memperkenankan ( ummat Buddha tentunya ) untuk melakukan namaskara pada Buddharupam, tidak memperkenankan pembacaan paritta, dan lain-lain bentuk bakti ummat Buddha kepada Guru-Agung mereka, Sang Buddha Gotama, sementara Romo Hudoyo membenarkan peserta retret yang beragama Islam untuk tetap melakukan ibadah sholat ?  Bukankah seharusnya lebih bijak bila kedua ummat yang berbeda agama tersebut diperkenankan untuk melakukan kebiasaannya masing-masing ? Atau, mungkin kebalikannya,  melarang kedua ummat melakukan bentuk-bentuk “ritual” dalam ajaran agamanya masing-masing, bukankah hal tersebut lebih bijak ?

Jikalau alasan Romo Hudoyo adalah supaya ummat Buddha mematahkan belenggu “silabatta-paramasa” ( kemelekatan pada ritual-ritual yang tidak perlu ), maka menurut saya itu salah-kaprah. Sebab, ritual-ritual yang tidak perlu itu adalah yang berkaitan dengan ketakhayulan bahwa dengan ritual seseorang bisa “mendapat-berkah” dan “keselamatan” dari sosok “Maha-Dewa” tertentu. Ritual seperti itulah yang harus ditinggalkan ; itulah yang dimaksud dengan mematahkan belenggu “silabataparamasa”.

Sedangkan apa yang dilakukan ummat Buddha, bukanlah ritual “takhayul” yang mengharapkan berkah dan keselamatan dari “Maha-Dewa” seperti itu. Agaknya Romo Hudoyo lupa akan pengertian-benar dari “Puja-Bhakti” di dalam Buddhisme yang sesungguhnya hanyalah merupakan wujud “penghormatan” seorang siswa pada Guru-Agungnya. Atau, jangan-jangan Romo Hudoyo melarang ummat Buddha bernamaskara pada Buddharupam, namun membenarkan ummat Buddha ber-anjali ( bahkan bernamaskara ) pada beliau ? Ini yang saya tidak tahu.

3. ROMO HUDOYO :  TUJUAN “MMD” ADALAH “BERHENTINYA-PIKIRAN” ( Bukan Nibbana sebagaimana Sang Buddha menunjukkanya sebagai tujuan-sejati bagi ummat Buddha )


Dalam berbagai kesempatan, Romo Hudoyo senantiasa menyatakan, bahwa apa yang menjadi tujuan dari praktik “MMD” adalah “berhentinya-pikiran” .

Memang saya bilang, DALAM KESADARAN SEHARI-HARI pikiran itu merupakan bagian dari batin, tapi saya tidak mengatakan “tidak bisa dipisahkan”. Justru ‘tujuan’ MMD adalah berhentinya pikiran pada saaat kini. Dengan kata lain, pikiran bisa berhenti, sementara kesadaran (batin) jalan terus.

[Sumber =

http://groups.yahoo.com/group/milis-spiritual/message/20890]

Dari pernyataan tersebut diatas, hal yang sepatutnya kita kaji secara kritis adalah pada bagian “pikiran bisa dipisahkan dari kesadaran (batin)” dan bahwa “pikiran-bisa-berhenti”.

Apa yang disebut dengan “Nama” ( Batin ; atau masyarakat umum menyebutnya “ROH” ), adalah merupakan formulasi dari :  vedana-khanda ( perasaan-perasaan ), sanna-khanda ( pencerapan ; pengenalan terhadap objek ) , sankhara-khanda ( bentuk-bentuk pikiran ), dan, vinnana-khanda ( kesadaran yang timbul akibat kontak dengan objek ). Keempat “bagian-fungsional” dari batin ini sesungguhnya satu, dan bukannya jajaran unsur-unsur yang berdiri sendiri. Sehingga, tidak akan mungkin memisahkan “pikiran” dari “kesadaran (batin)” sebagaimana yang diajarkan oleh Romo Hudoyo tersebut.

Sebagaimana Y.M. Sariputta pernah berkata pada Y.M. Maha Kotthita dalam Mahavedalla-Sutta ( Majjhima-Nikaya ; Sutta ke-43 ), bahwa antara Kesadaran dan pemahaman akan sesuatu hal ( kebijaksanaan ), tidaklah dapat dipisahkan satu sama lain. Tidaklah mungkin memisahkan masing-masing keadaan ini satu sama lain untuk menjelaskan perbedaan diantara keduanya. Karena apa yang telah menjadi pemahaman seseorang, itu pula yang disadarinya ; dan apa yang disadari seseorang, itu pula yang dipahaminya dengan bijaksana. Itulah sebabnya mengapa keadaan-keadaan ini menyatu, bukannya terpisah, dan tidaklah mungkin memisahkan masing-masing keadaan ini satu sama lain untuk menjelaskan perbedaan diantara keduanya.

“…dan saya tetap berpendapat bahwa
pikiran bisa berhenti.”

[ Sumber =

http://groups.yahoo.com/group/milis-spiritual/message/20890 ]

Romo Hudoyo telah mengajar selama bertahun-tahun , dan menegaskan bahwa “pikiran-bisa-berhenti”, namun , apakah setelah bertahun-tahun mengajar, pikiran Romo telah “berhenti” ? Sebab, bila “pikiran-telah-berhenti”, tidak mungkin Romo masih “berpikir” hingga sekarang ini. Masih melakukan serangkaian sharing, diskusi, hingga perdebatan-perdebatan / beradu argumentasi dengan banyak pihak ( terutama ummat Buddha yang Romo anggap “orthodox” ).

Apa yang sesungguhnya bisa “dicabut” ( atau “dihentikan” , jika menggunakan terminology Romo Hudoyo ), adalah kekotoran-kekotoran batin yang berupa nafsu-keserakahan ( lobha ), kemarahan/kebencian ( dosa ), dan kebodohan-batin ( moha ) yang merupakan “pembuat-ukuran” ( pamanakarana ) , karena ketiganya menentukan batasan-batasan pada jangkauan kedalaman-pikiran, dalam artian bahwa kekotoran-kekotoran batin memungkinkan  orang untuk mengukur dan membedakan seseorang yang masih sebagai “manusia-biasa” ( putthujana ) dengan yang telah bisa dikategorikan sebagai “Ariya” , yaitu : Pemasuk-Arus ( Sottapanna ), Yang-Kembali-Sekali-Lagi ( Sakadagami ), atau Yang-Tidak-Kembali-Lagi ( Anagami ), dan yang telah-sempurna ; Arahat.  Dan, para Arahat serta para Buddha pun, setelah mencabut ketiga-akar kejahatan ( Lobha,Dosa,Moha ), pikiran para Beliau tersebut masih tetap terus berjalan selama belum Parinibbana ( padamnya pancakhanda ). Buktinya, para Buddha dan para Arahat, tetap terus berpikir dan mengajar. Bedanya, pikiran para Buddha dan Arahat tidak lagi menghasilkan kamma-kamma yang baru, tidak lagi tumbuh tunas kelahiran kembali-Nya.

tapi kalau ia mengikuti MMD ia akan mengakhiri dukkha...”

[ Dr.Hudoyo Hupudhio Mph ;

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=8 ]

Apakah tujuan MMD? Tujuan MMD mengandung sebuah paradoks. Di satu sisi, tujuan MMD adalah berakhirnya aku/diri secara radikal, yang berarti berakhirnya penderitaan (dukkha) sepenuhnya—secara teoretis, tentu saja hal ini akan tercapai di masa depan. Di sisi lain, secara praksis aktual, tujuan MMD ini tidak dilihat sebagai berada di masa depan, melainkan harus terjadi pada saat kini, sebagai suatu transformasi batin yang hanya bisa didekati melalui saat ini. Dalam praksis aktual, tujuan MMD adalah sadar/eling sedalam-dalamnya dan terus-menerus terhadap gerak-gerik jasmani dan batin ini pada saat munculnya, dari saat ke saat, sekarang dan di sini.

[ Sumber :

http://meditasi-mengenal-diri.org/mmd_apaitu.html ]

Mengingat dan menimbang betapa seringnya Romo Hudoyo menekankan doktrin “penghentian-pikiran” ini, saya kemudian tertarik melakukan review atas proses belajar saya terhadap Buddha-Dhamma. Saya jadi bertanya, apakah saya yang telah “melewatkan” salah satu ajaran Buddha mengenai “pikiran-bisa-berhenti” ini, atau, mungkin Romo Hudoyo memang mengambil ajaran lain diluar Buddha-Dhamma.

Ternyata kemudian, ajaran “penghentian-pikiran” ini akhirnya justru bisa saya temukan dalam “Sabda-sabda” J.Krishnamurti. Salah satu dari sekian banyak sabda J.Krishnamurti yang mengajarkan mengenai “penghentian-pikiran” adalah sebagai berikut :

[ Dalam sebuah wawancara antara BBC dengan J.Krishnamurti ]

JK: Begini, masalah meditasi adalah rumit …
<berdiam diri lama> … kalau kita tidak lebih
dulu membereskan rumah, yang berarti tidak ada
ketakutan, memahami kenikmatan, mengakhiri
kesedihan, dari situ muncul welas asih,
kecerdasan; dan proses menuju ke situ–kalau
boleh saya namakan ‘proses’ untuk
sementara–adalah bagian dari meditasi. Lalu,
menemukan apakah PIKIRAN BISA BERHENTI, yang
adalah waktu, HARUS BERHENTI. Lalu, dari situ
muncullah keheningan besar. Dan di dalam
keheningan itulah akan ditemukan apa yang suci.

[ Sumber :

http://forum.wgaul.com/archive/thread/t-50991-Ajaran-J-Krishnamurti.html ]

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah “berhentinya-pikiran” sama dengan “berakhirnya-dukkha” sebagaimana yang diajarkan Sang Buddha ? Ini yang perlu kita kaji bersama secara kritis.

Berakhirnya-dukkha ( Dukkha-nirodha-sacca ) ialah sama dengan “Nibbana” / “Nirvana”. Sebelum membahas “berakhirnya-dukkha”, kita harus tahu, apakah “dukkha” itu sendiri ? Sang Buddha bersabda =

“Para Bhikkhu, apakah yang disebut Dukkha itu? Itu bukan lain adalah kelima kelompok kegernaran (Panca-Khandha), …. “ ( Samyutta Nikaya, Khandha Samyutta, 104)

Dukkha adalah kelima kelompok kegemaran ( Panca-Khanda), dan berakhirnya dukkha berarti berakhirnya kombinasi dari “panca-khanda” tersebut.. Pertanyaan selanjutnya, apakah “Panca-Khanda” itu ?

Panca Khanda atau lima agregat atau lima kelompok kegemaran , ialah :

1. Rupa-khanda, yaitu kelompok objek fisik atau jasmani yang oleh Sang Buddha diurai lagi menjadi empat bentuk elemen (Catur Maha Bhuta) yaitu: elemen padat (Pathavi Dhatu) yang bersifat menempati ruang dan mempertahankan posisi serta memberikan sifat kaku pada setiap materi; elemen cair (Apo-Dhatu) yang memberikan gaya rekat atau tarik menarik antara materi; elemen panas atau energi (Tejo-Dhatu) yang memiliki sifat maha bhuta yang lain tetapi dalam dimensi yang lebih kecil; dan elemen gerak atau getaran (Vayo-Dhatu) yang bila berada dalam kesetimbangan dengan apo-dhatu akan menampakkan eksistensi patthavi materi yang bersangkutan. Termasuk kelompok Rupa-khanda ini juga terdapat turunan-turunan dari empat Maha Bhuta tadi yaitu mencakup organ-organ indera (pasada-rupa) beserta objek-objeknya (arammana) misalnya bentuk dan warna sebagai objek penglihatan oleh mata; bunyi dan suara sebagai objek pendengaran telinga; bau-bauan sebagai objek penciuman oleh indera pencium; cita rasa sebagai objek pengecapan oleh lidah; benda-benda dengan berbagai variasi bentuk, temperatur, permukaan kasar atau licin, keras atau lembut, sebagai objek perabaan oleh indera peraba; dan objek- objek mental seperti pikiran, ingatan, konsep dan ide-ide sebagai objek pemikiran oleh indera mental kita. Jadi Rupa-khanda sebenarnya mencakup obyek-obyek di dalam maupun di luar diri kita beserta indera-indera yang dapat berkontak dengannya.

2. Vedana-khanda, yaitu perasaan-perasaan yang timbul akibat adanya kontak antara obyek-obyek indera dengan indera-indera kita. Perasaan-perasaan yang timbul itu bisa berupa perasaan senang, tidak senang, atau netral. Perasaan-perasaan ini timbul sebagai reaksi kontak yang dihubungkan dengan ingatan-ingatan, baik yang berbentuk insting bawaan ataupun yang didapat dari pengalaman-pengalaman.

3. Sanna-khanda, yaitu pencerapan atau pengenalan objek yang terjadi setelah terjadinya kontak dan setelah terjadinya kesadaran akan adanya obyek tersebut. Pencerapan atau pengenalan objek tersebut juga terjadi akibat adanya memori atau ingatan-ingatan, terutama yang berhubungan dengan pengalaman-pengalaman.

4. Sankhara-khanda, yaitu bentuk-bentuk pikiran yang berupa segala kehendak (cetana) yang terjadi setelah timbul perasaan-perasaan akibat kontak yang terjadi. Kehendak-kehendak (cetana) yang terjadi inilah yang kelak akan membuahkan karma berupa perbuatan-perbuatan yang dilakukan, baik yang dilakukan dengan badan jasmani, ucapan, maupun dengan pikiran, yang mengarah kepada perbuatan baik, jahat atau netral.

5. Vinnana-khanda, yaitu kesadaran yang timbul akibat indera mengadakan kontak dengan. obyek yang sesuai. Kesadaran ini timbul sebelum terjadinya proses pencerapan atau pengenalan obyek yang kemudian menimbulkan perasaan-perasaan yang kemudian bisa berakhir dengan reaksi mental berupa kehendak untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan obyek tersebut.

Jelmaan yang terbentuk oleh kombinasi kelima khanda itulah yang tak lain merupakan Dukkha itu sendiri, Dukkha yang mempunyai arti yang lebih luas dari sekedar duka atau penderitaan: Dukkha yang mencakup segala kefanaan, perubahan dan ketidak kekalan. Berakhirnya jelmaan dari “Panca-Khanda” inilah berakhirnya dukkha. Inilah “Nibbana”.

Sehingga, bila Romo Hudoyo mengatakan “berhentinya-pikiran”, “pikiran” yang mana ( dari “unsur-unsur” Nama ) yang anda maksud ?  Apakah vedana-khanda ( perasaan-perasaan ), ataukah sanna-khanda ( pencerapan ; pengenalan terhadap objek ) , atau sankhara-khanda ( bentuk-bentuk pikiran ), atau vinnana-khanda ( kesadaran yang timbul akibat kontak dengan objek ) ? Yang mana ?   Dan, berakhirnya-pikiran itu seperti apa ? Bagaimanakah “proses”-nya sehingga “berhentinya-pikiran” kemudian bisa mengakhiri dukkha secara absolute ( yang berarti mengakhiri jelmaan dari “Panca-Khanda” ) ?

Tertarik dan penasaran dengan arti “Berhentinya-Pikiran” sesuai ajaran Romo Hudoyo ini, saya mencoba menelusur lagi setiap “jejak” statement-statement Romo Hudoyo di berbagai situs dan milist. Dan akhirnya, ketemulah sudah apa yang saya cari itu. Romo Hudoyo menjelaskan :

Yang saya maksud dengan ‘berhentinya pikiran/aku’ di sini adalah ‘khanika-samadhi’ yang bisa dicapai relatif mudah oleh setiap orang yang mau ber-vipassana untuk melepaskan kelekatan kepada pikiran/aku.

Sumber =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=8

Pencerahan yang tertinggi (terdalam) ialah khanika-samadhi, runtuhnya pikiran & si aku untuk waktu yang relatif lama (bukan hanya beberapa momen). … Khanika-samadhi ini yang kelak akan menghasilkan pembebasan permanen, yang adalah pencerahan sempurna; tapi sejak orang masuk ke dalam khanika-samadhi dirinya dan pikirannya (perasaannya, kehendaknya dsb) tidak ada lagi (kecuali ia keluar lagi dari khanika-samadhi).

Salam,
hudoyo

[ Sumber =

http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=3803.660;wap2]

Jika khanika-samadhi inilah yang dimaksudkan oleh Romo Hudoyo sebagai pencapaian “berhentinya-pikiran”, maka setahu saya, khanika-samadhi, adalah kondisi “konsentrasi-pikiran” yang bersifat “sesaat”, tidak permanent, pada berbagai fenomena yang muncul dan lenyap berulang-ulang. Memang benar khanika-samadhi inilah yang kemudian digunakan untuk ber-vipassana ; konsentrasi-pikiran yang melihat lakkhana (anicca,dukkha dan anatta) atau karakteristik batin dan jasmani yang muncul dan lenyap kembali (khanika). Tapi, bukankah dalam khanika-samadhi, “pikiran” itu justru sedang “bergerak” mengamati muncul dan lenyapnya segala fenomena, sesaat mengamati suatu fenomena muncul, disaat yang lain mengamati fenomena tersebut lenyap, saat yang lain lagi mengamati adanya fenomena yang lain muncul kembali, dan kemudian mengamati fenomena lain tersebut melenyap. Demikian seterusnya. Jadi, bukankah keliru kalau dikatakan saat itu “pikiran-berhenti” ?

Lagipula Romo Hudoyo yang terhormat, “Khanika-Samadhi” itu bukanlah tanda-tanda “Pencerahan-Sempurna”. Khanika-samadhi hanyalah sebuah tahapan konsentrasi batin yang bersifat sesaat ( belum memasuki konsentrasi tercerap / Jhana ) yang digunakan untuk mengamati segala fenomena batin dan jasmani dengan apa-adanya. Bahkan, saat khanika-samadhi itu berbagai “Nana” ( pengetahuan-pandangan-cerah ) belum diperoleh oleh yogi. Baru, kemudian setelah ia ber-“Perhatian-Benar” terhadap fenomena batin dan jasmaninya ( dengan menggunakan kekuatan khanika-samadhinya ), yogi tersebut akan mulai memperoleh berbagai pengetahuan pandangan-cerah ( Nana ).

Kembali membahas mengenai “dukkha”. Sang Buddha mengajarkan, sebab dari dukkha adalah dikarenakan “nafsu-keinginan” (tanha) . Lenyapnya tanha ini pula, berarti penderitaan ( sebagai akibat tanha ) ikut berakhir. Apakah dengan “MMD”, telah terbukti ada yang mampu melenyapkan “tanha” ? Apakah ada, yang telah terbukti tercabut ketiga-akar : Lobha ( keserakahan ), Dosa ( Kemarahan ), dan Kegelapan-Batin ( Moha ) -nya ?



4. PENEGASAN OLEH ROMO HUDOYO BAHWA “MMD” ADALAH MEDITASI VIPASSANA “ALA KRISHNAMURTI” ; BUKAN VIPASSANA ALA BUDDHISME UMUMNYA.


Dari pengakuan Romo Hudoyo sendiri di berbagai tempat, “MMD” adalah meditasi yang berpedoman pada ajaran-ajaran J.Krishnamurti. Hal ini perlu dimengerti terlebih dahulu oleh masyarakat, baik Buddhis maupun non-Buddhis, terutama bagi ummat Buddha yang masih awam dan pemula.

Perlu saya kemukakan bahwa pendekatan MMD ini saya pelajari dari J.Krishnamurti,

yang menurut hemat saya adalah seorang yang telah mencapai pencerahan & pembebasan sempurna

dalam hidupnya di abad ke-20 lalu, entah apapun namanya : arahat,  buddha, insan kamil,

hidup di dalam Allah, apa pun,

[ Sumber =

http://www.usenet.com/newsgroups/soc.culture.indonesia/msg03344.html ]


Bagi Romo Hudoyo, semua meditasi vipassana Buddhist telah bergeser jauh dari apa yang sesungguhnya dimaksud oleh Sang Buddha. Lagi-lagi, dasar justifikasi yang dia gunakan adalah “Sabda” dari J.Krishnamurti.

Pemahaman bahwa praktik meditasi vipassana yang banyak diajarkan pada dewasa ini telah bergeser jauh dari apa yang sesungguhnya dimaksud oleh Sang Buddha diilhami oleh praktik meditasi yang diajarkan J. Krishnamurti pada abad ke-20. J. Krishnamurti mengritik kebanyakan teknik meditasi yang semuanya mengutamakan konsentrasi, usaha dan teknik meditasi. Dalam hal ini termasuk pula banyak teknik vipassana Buddhis.

Bagi J. Krishnamurti, teknik meditasi apa pun sama sekali tidak membebaskan, tidak mentransformasikan batin manusia; alih-alih, malah membuat batin lebih dalam terjerat dalam keterkondisian dan keterbatasannya. Teknik konsentrasi apa pun hanya membawa praktisinya ke dalam suatu keadaan pemusatan batin yang kuat, yang mungkin memberikan suatu rasa nikmat dan bahagia yang intens, sehingga mudah disangka sebagai kebebasan, tetapi sesungguhnya menjerat batin dalam keterkondisian dan ketidakbebasan yang lebih halus.

[Sumber :

http://meditasi-mengenal-diri.org/mmd_apaitu.html]


Versi asli “sabda” J.Krishnamurti tersebut adalah sebagai berikut :

P: Meditasi yang benar — apakah meditasi yang
benar itu? Anda menyiratkan ada meditasi yang salah.

JK: Ah, semua meditasi yang ditawarkan oleh
berbagai Guru pada dewasa ini adalah nonsens.

P: Mengapa?

JK: Oleh karena lebih dulu Anda harus membereskan rumah.

P: Apakah itu bukan jalan untuk membereskan rumah?

JK: Ah, itu pemikiran yang keliru. Mereka mengira bahwa dengan meditasi mereka dapat membereskan rumah.

P: Ya. Tidakkah begitu?

JK: Tidak.

P: Bukankah begitu?

JK: Tidak. Justru sebaliknya, Anda harus membereskan rumah, diri Anda, lebih dulu. Kalau  tidak, meditasi akan menjadi pelarian.

[ Sumber :

http://forum.wgaul.com/archive/thread/t-50991-Ajaran-J-Krishnamurti.html ]


Dari pernyataan J.Krishnamurti tersebut, bukankah sebenarnya ia sendiri berpendapat, bahwa sebelum seseorang bermeditasi, ia harus terebih dahulu membereskan rumah, diri sendiri terlebih dahulu, sebab kalau tidak meditasi akan menjadi pelarian ?  Membereskan rumah itu, tentunya melalui berbagai langkah-langkah pensucian. Dan inilah tujuh-tahap-pensucian diri yang dijabarkan dengan jelas dalam visuddhi-magga oleh Bhadantacariya Buddhaghosa :

I)                    Pemurnian-Sila (sila-visuddhi)

II)                   Pemurnian-Pikiran (citta-visuddhi)

III)                 Pemurnian-Pandangan (ditthi-visuddhi)-

IV)               Pemurnian-melalui-hancurnya-keraguan (kankhāvitarana-visuddhi)

V)                Pemurnian pengetahuan dan pandangan tentang jalan dan bukan jalan (maggāmagga-ñānadassana-visuddhi)

VI)               Pemurnian pengetahuan dan pandangan tenteng kemajuan dalam latihan (patipadā-ñānadassana-visuddhi)

VII)             Pemurniann pengetahuan dan pandangan (ñānadassana-visuddhi)

Tapi anehnya, mengapa J.Krishnamurti sendiri kemudian menolak berbagai tindakan untuk “membersihkan-rumah” ( seperti latihan Sila, Disiplin, dan lain-lain ). Namun karena sudah terlanjur melekat pada doktrin J.Krishnamurti tentang “Tidak-Ada-Jalan”, Romo Hudoyo menegaskan bahwa “Tidak-Ada-Metode” apapun yang bisa digunakan untuk mencapai keadaan “sadar” dan “diam” pada saat kini. Dan ia pun telah menegaskan tidak lagi diperlukannya penembusan akan “Empat Kesunyataan Mulia” beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan”, dengan alasan itu semua hanyalah sekedar konsep belaka.

KEADAAN SADAR DAN DIAM PADA
SAAT KINI TIDAK BISA DICAPAI DENGAN METODE APA PUN.

[ Sumber =

http://groups.yahoo.com/group/milis-spiritual/message/20890 ]


Jika tidak dapat dicapai dengan metode apa pun juga, untuk apa Romo mengajarkan “metode” dari “Meditasi-Mengenal-Diri” ? Formulasi ajaran dalam kemasan “MMD” itu sendiri sudah merupakan metode. Demikian sepatutnya hal ini dipikirkan dengan kritis dan seksama.

Menyadari hal itu, pikiran dan si ‘aku’ akan diam, tidak berulah lagi. Itulah MMD. Untuk itu tidak perlu
dan tidak mungkin ada metode apa pun. Dalam MMD, langkah pertama adalah langkah terakhir! Yang penting: sadar (eling).

[ Sumber =

http://groups.yahoo.com/group/milis-spiritual/message/20890 ]


Dengan statement tersebut diatas, Romo Hudoyo tetap bersikukuh menolak “Jalan” apapun juga, meskipun J.Krishnamurti sendiri ( sebagai inspirator RomoHudoyo  ), ketika dikejar mengenai kepastian adanya “Jalan”, akhirnya menjawab ,” ADA — bukan jalan, tetapi ada pengakhiran  konflik, kesedihan, dan sebagainya, bila orang  menyadari–ebih baik saya katakan begini–bila  terdapat aktualitas keelingan yang peka tentang  apa adanya diri kita, tanpa pendistorsian sedikit  pun, menyadarinya, tanpa pilihan apa pun; dan  dari situlah terdapat pengakhiran dari semua kekacauan ini. [ Sumber http://forum.wgaul.com/archive/thread/t-50991-Ajaran-J Krishnamurti.html ] . Itulah “Jalan”, itulah “metode”. Sesungguhnya, tidak ada apapun yang tanpa “metode”, tanpa “cara” , tanpa “Jalan”. Bahkan orang makan itu pun ada “cara”-nya, orang duduk ada “cara”-nya, dan orang buang air juga ada “cara”-nya. Dan sekali lagi, bila tidak perlu metode apapun, maka sebenarnya secara otomatis, “MMD” itu sendiri pun tidak perlu ada dan tidak perlu diajarkan pada masyarakat luas.

Meditasi Mengenal Diri (MMD) adalah versi meditasi vipassana yang selama beberapa tahun terakhir telah dikembangkan dari vipassana yang diajarkan secara “tradisional”. Dalam MMD, meditasi vipassana “tradisional” telah banyak dimodifikasi berdasarkan ajaran J. Krishnamurti tentang sadar/eling secara pasif atau sadar/eling tanpa memilih, yang sesungguhnya adalah kembali pada sifat-sifat praktik meditasi vipassana murni ajaran Sang Buddha sendiri.  Dengan demikian, ada beberapa perbedaan penting antara meditasi vipassana versi MMD dan meditasi vipassana “tradisional”:

Sumber :

http://meditasi-mengenal-diri.org/mmd_apaitu.html


Ketika management dhammacitta.org menempatkan “MMD” kedalam kategori “BUKAN-BUDDHISME”, Romo Hudoyo pun sedikit marah / tersinggung. Dan mengeluarkan statement, termasuk didalamnya menyatakan bahwa ummat Buddha Indonesia berpuas diri dengan teori-teori, doktrin-doktrin, dan praktek meditasi yang tidak lagi efektif dalam “mengakhiri-dukkha” ( Pertanyaannya, dengan kemarahan tersebut, Romo sendiri sudah mengakhiri-dukkha- kah ? ) :

“Jelas sekali bahwa Management DC yang sekarang dikuasai oleh orang-orang yang tidak mau melihat umat Buddha Indonesia mengembangkan wawasan dengan pemahaman-pemahaman baru mengenai ajaran Sang Guru, sejalan dengan perkembangan pemikiran Buddhis di dunia internasional … Mereka mau memasung kebebasan berpikir umat Buddha Indonesia, dan berpuas diri dengan teori-teori, doktrin-doktrin, dan praktik meditasi yang tidak lagi efektif dalam mengakhiri dukkha.”

[ sumber dari =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=7 ]

Romo Hudoyo, apakah MMD sendiri efektif untuk mengakhiri dukkha ? Bila “YA”, mengapa Romo sendiri masih ber-dukkha ? Bukankah ketika Romo menjadi marah karena peristiwa perpecahan Romo dengan pihak Dhammacitta, kemudian timbul perasaan tidak senang karena berpisah dari yang disenangi / dilekati, merasa tidak dihargai, tidak lagi dihormati, itu semua adalah bentuk-bentuk “Dukkha” ? Atau mungkin Romo Hudoyo lupa akan apa makna dari “Dukkha” itu sendiri ?

Pendekatan tradisional masih berpegang pada TEORI Agama Buddha (Jalan Suci Berunsur Delapan, Empat Kebenaran Suci, Satipatthana, Nibbana dsb), dan berpegang pada persepsi bahwa pembebasan (nibbana) dicapai pada suatu waku di MASA DEPAN, berpegang pada paradigma adanya ‘waktu’ dan ‘usaha’. Pendekatan JK tidak memakai teori apa pun, berpegang bahwa pembebasan tercapai pada SAAT KINI, sehingga seluruh latihannya adalah latihan “berada pada saat kini”; kalau orang bisa berada pada saat kini, maka waktu dan usaha tidak relevan lagi.

[ Sumber :

http://groups.yahoo.com/group/semedi/message/6952 ]

Romo, “berada-pada-saat-kini” itu sendiri adalah berada dalam batasan “waktu” ( yaitu “saat-kini” ). Dan pengkondisian untuk “berada-pada-saat-kini” itu sendiri mengandung unsur-unsur “daya-upaya” untuk “berada-pada-saat-kini”. Saya melihat , ini semua hanyalah permainan kata-kata, atau mungkin Romo sedang bingung untuk memahami sesuatu hal, semoga saja tidak demikian.

Sebenarnya sah-sah saja seseorang dengan niat baik ingin berkarya melalui pemberian bimbingan / pelatihan meditasi bagi semua pihak yang ingin mengenal meditasi. Dan juga sah-sah saja setiap orang mempunyai cirri-khas-nya sendiri dalam memberikan pelatihan. Dalam hal ini, saya pribadi sebagai ummat Buddha, sangat menghargai dan tidak akan mempermasalahkannya. Namun yang menjadi masalah adalah ketika dalam berbagai kesempatan, Romo Hudoyo seakan “mengajak” ummat Buddha untuk tidak lagi menempuh “Jalan Ariya Beruas Delapan” dan meninggalkan “Empat Kesunyataan Mulia”. Hal ini sangat janggal dilakukan oleh seorang Romo. Akan jauh lebih baik bila Romo tidak mengusung bendera Buddhisme, tidak lagi menggunakan gelar “Romo”, lalu mengajarkan “MMD” ke masyarakat luas, sehingga dengan demikian tidak ada lagi sangkut pautnya dengan Buddha-Dhamma. Tapi, bila Romo menyatakan diri seorang “Pandhita” Buddhist, namun di sisi lain menganjurkan ummat Buddha untuk “meninggalkan” Empat Kesunyataan Mulia beserta Jalan Ariya Beruas Delapan, maka selamanya Romo akan berada pada kondisi berbenturan dengan kebanyakan ummat Buddha.

Sungguh ironis ketika Romo Hudoyo ( yang notabene secara resmi tercatat sebagai ummat Buddha, bahkan bergelar “Romo” / “Pandhita” ) banyak menolak ajaran Buddha ( terutama pada inti ajaran Buddha : Empat Kesunyataan Mulia beserta Jalan Ariya Beruas Delapan ) yang telah terbukti mampu mengantarkan banyak manusia mencapai tataran “Arahat” /  “Tercerahkan” ( seperti misalnya pada abad ini salah satunya adalah “Ajahn Chah” yang diakui sebagai “Arahat-Abad-Ini” ) sementara ia dengan sekuat “iman” menerima ajaran J.Krishnamurti yang ternyata J.Krishnamurti sendiri mengeluh selama enam-puluh (60) tahun ia mengajar “tidak seorang pun mengalami transformasi batiniah, sebagaimana diharapkannya.” (Hudoyo,  Dari: http://www.kaskus.us -> Forum: Supranatural -> Subforum: Spiritual -> Thread: MMD (Meditasi Mengenal Diri) ;  http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan–Perbedaan-Krishnamurti—Buddha-td16375574.html )



5. PENGGUNAAN BAHIYA-SUTTA, MALUNKYAPUTTA, DAN ANGULIMALA SUTTA, OLEH ROMO HUDOYO SEBAGAI SEKEDAR “JEMBATAN” UNTUK MENGHUBUNGKAN “MMD” ( YANG BERBASIS AJARAN J.KRISHNAMURTI ) DENGAN UMMAT BUDDHA

[ Notes : Pembahasan mengenai digunakannya Angulimala-Sutta oleh Romo Hudoyo untuk melakukan pembenaran atas pandanganya dan menghubungkan pandangannya tersebut dengan Buddha-Dhamma, telah saya bahas pada point pandangan menyimpang pertama diatas ]

Setelah berkali-kali Romo Hudoyo menegaskan penolakannya terhadap “Jalan-Ariya-Beruas-Delapan” dan “Empat-Kesunyataan-Mulia” serta berbagai ajaran Buddha ( yang ia anggap sekedar teori, dogma, dll. ) , pada suatu titik tertentu, Romo Hudoyo mencari “jembatan” penghubung antara “MMD”  ( dengan J.Krishnamurti-nya ) dengan komunitas Buddhist ( baik di Indonesia maupun di luar Indonesia ; sebab, ketika saya membuka situs MMD, disana digunakan bi-lingual, tentunya dengan tujuan menggaet pangsa-pasar luar-negeri )

Nah, mungkin Anda akan bertanya: bagaimana hubungan MMD dengan ajaran Sang Buddha?

Bagaimana ajaran Sang Buddha tentang sadar/eling pada saat kini? …

Sekali peristiwa ada seorang pertapa, namanya Bahiya. Ia BUKAN bhikkhu murid Sang Buddha. Dengan kata lain, ia tidak pernah tahu ajaran Sang Buddha, tidak pernah mendengar Empat Kebenaran Mulia (Catvari Arya Satyani), tidak pernah mendengar Jalan Mulia Berfaktor Delapan (Arya Asthangika Marga), dsb dsb. Bahkan mendengar nama Sang Buddha pun Bahiya belum pernah.

Pada suatu hari ia diberi tahu bahwa di dunia ini ada seorang yang telah bebas sempurna, bernama Gotama (Buddha Gautama), tinggal di Sravasti. Bahiya ingin bertemu dengan Sang Buddha, ingin mendapat tuntunan meditasi untuk mencapai pembebasan.

Nah, setelah bertemu dengan Sang Buddha, Sang Buddha tidak mengajarkan Empat Kebenaran Mulia, tidak mengajarkan Jalan Mulia Berfaktor Delapan, dsb dsb; pendeknya Sang Buddha tidak mengajarkan apa yang belakangan dikenal sebagai “Agama Buddha”.

Mengapa? … Karena semua ajaran “Agama” Buddha itu tidak cocok bagi seorang yang bermeditasi! Alih-alih, inilah ajaran singkat Sang Buddha kepada Bahiya:

“Bahiya, lakukan ini: Di dalam apa yang terlihat, hanya ada yang terlihat; di dalam apa yang terdengar, hanya ada yang terdengar; di dalam apa yang tercerap (perceived) oleh indra-indra yang lain, hanya ada yang tercerap; di dalam apa yang muncul sebagai ingatan, hanya ada ingatan. Kalau kamu bisa melakukan itu, maka KAMU TIDAK ADA. Dan itulah, hanya itulah, akhir dari Dukkha.”

[ Sumber =

http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan–Apa-ajaran-Sang-Buddha-tentang-sadar-eling-pada-saat-kini–td16575427.html ]


Bagi seorang pembaca yang kurang cermat ( terutama bagi seorang Non-Buddhis ), statement Romo Hudoyo diatas nampak tidak janggal sedikitpun. Namun, bila kita cermati dengan seksama, ada satu kalimat yang sesungguhnya sangat tidak tepat menggambarkan alasan mengapa Sang Buddha hanya mengajarkan petunjuk singkat pada Bahiya. Kalimat Romo Hudoyo yang saya maksudkan adalah,  “ … pendeknya Sang Buddha tidak mengajarkan apa yang belakangan dikenal sebagai “Agama Buddha”.  Mengapa? … Karena semua ajaran “Agama” Buddha itu tidak cocok bagi seorang yang bermeditasi! “.

Apakah benar alasan Sang Buddha tidak mengajarkan “Empat Kesunyataan Mulia”  termasuk “Jalan Ariya Beruas Delapan” pada Bahiya adalah karena “Semua ajaran “Agama” Buddha itu TIDAK COCOK BAGI SEORANG YANG BERMEDITASI!” ? Disini terlihat adanya upaya “pembiasan” yang dilakukan oleh Romo Hudoyo. Sebab, ummat Buddha yang telah membaca Bahiya-Sutta ( Udana I.10 ) pasti akan mengetahui kisah selengkapnya dari kisah petapa Bahiya tersebut. Alasan mengapa Sang Buddha “tidak-sempat” mengajarkan “Empat Kesunyataan Mulia” beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan”-Nya adalah karena, saat itu Sang Buddha bersama para Bhikkhu sedang sibuk menerima dana makan. Begini kisah selengkapnya :

“…Ketika melihat Sang Bhagava, dia mendekat, bersujud, dengan kepala di kaki Sang Bhagava dan berkata, “ Ajarilah saya Dhamma,, Sang Bhagava ; ajarilah saya Dhamma, Sugata, demi kebaikan dan kebahagiaan saya sendiri untuk waktu yang lama.”

Ketika diajak berbicara demikian, Sang Bhagava berkata kepada Bahiya yang berpakaian kulit kayu, “ Ini bukan waktu yang tepat, Bahiya, kami akan pergi menerima dana makan.”

Kedua kalinya Bahiya berkata kepada Sang Bhagava,”Sulit untuk tahu dengan pasti, Sang Bhagava, berapa lama Sang Bhagava akan hidup atau berapa lama saya akan hidup. Ajarilah saya Dhamma, Sang Bhagava ; ajarilah saya Dhamma, Sugata, demi untuk kebaikan dan kebahagiaan saya sendiri untuk waktu yang lama.” “

Bahiya kemudian mendesak Sang Buddha dengan mengulangi pertanyaannya tesebut ( sama persis dengan pertanyaan kedua ) ketiga kalinya. Akhirnya, Sang Buddha ( setelah didesak oleh permohonan Bahiya yang diajukan sampai tiga-kali ) berkenan menerangkan Dhamma, yang berupa petunjuk latihan singkat.

“Dalam hal ini, Bahiya, kamu harus melatih dirimu sendiri : di dalam apa yang dilihat hanya ada apa yang dilihat ; di dalam apa yang didengar hanya ada apa yang didengar; didalam apa yang dirasakan hanya ada apa yang dirasakan;  di dalam apa yang diketahui hanya ada apa yang diketahui. Dengan cara ini kamu harus melatih dirimu sendiri, Bahiya.

Jika, Bahiya, di dalam apa yang dilihat hanya ada apa yang dilihat,…., didalam yang diketahui hanya ada apa yang diketahui, maka Bahiya, kamu tidak akan “besama-itu”; bila Bahiya kamu tidak lagi “bersama-itu”, kamu tidak akan berada di dalam itu; bila Bahiya, kamu tidak ada di dalam itu, maka Bahiya, kamu tidak akan berada disini maupun disana tidak juga diantara keduanya. Inilah akhir penderitaan.”

Melalui ajaran Dhamma yang singkat dari Sang Bhagava ini, pikiran Bahiya yang bepakaian kulit kayu segera terbebas dari kekotoran tanpa kemelekatan. Kemudian , sesudah mengajar Bahiya dengan petunjuk ringkas itu, Sang Bhagava pergi melanjutkan perjalanan-Nya bersama para Bhikkhu untuk menerima dana makanan.

Cukup jelas bukan, bahwa alasan mengapa Sang Buddha hanya mengajarkan Dhamma singkat tersebut pada Bahiya ( dan mengapa tidak mengajarkan Dhamma yang lengkap ; “Empat Kesunyataan Mulia” beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan” ) adalah karena Beliau sedang dalam perjalanan pergi menerima dana makanan, dan itu bukan waktu yang tepat untuk mengajarkan Dhamma ; “ Ini bukan waktu yang tepat, Bahiya, kami akan pergi menerima dana makan.”. Jadi, bukan karena  semua ajaran “Agama” Buddha itu tidak cocok bagi seorang yang bermeditasi! “ seperti yang dikatakan Romo Hudoyo.

Dan penyimpulan secara sepihak oleh Romo Hudoyo ini ( tanpa didasari kebenaran yang tersurat dan tersirat dalam Bahiya-Sutta tersebut ), kemudian ia jadikan justifikasi untuk membenarkan “ajaran”-nya dalam “MMD” yang menolak “Empat Kesunyataan Mulia” beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan”.

Itulah MMD. – Ketika mendengar itu, pada saat itu juga, langsung Bahiya tercerahkan sempurna (menjadi Arahat), dengan melompati ketiga tingkat kesucian di bawahnya.

Di dalam khotbah singkat kepada Bahiya itu, Sang Buddha tidak bicara tentang “baik” vs “buruk”, tentang “Usaha Benar”, yakni meningkatkan yang baik dan mengurangi yang buruk, tentang Sila, tentang Pandangan Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Konsentrasi Benar dsb dsb, pendeknya Sang Buddha tidak mengajarkan tentang segala yang “Benar” (samma-) versus segala yang “Salah” (miccha-).

Bahiya-sutta itulah yang menjadi dasar bagi saya mengajarkan MMD kepada umat Buddha. Ajaran singkat Sang Buddha kepada Bahiya itu persis sama dengan yang diajarkan oleh Krishnamurti 2500 tahun kemudian, yang ditemukannya kembali dan diajarkan oleh K selama 60 tahun ia mengajar masyarakat di dunia modern.

Salam,
semar

[ Sumber =

http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan–Apa-ajaran-Sang-Buddha-tentang-sadar-eling-pada-saat-kini–td16575427.html ]


Dan, ajaran J.Krishnamurti yang diadopsi oleh Romo Hudoyo dan secara sepihak ia klaim “sesuai” / “persis-sama” dengan ajaran Sang Buddha pada Bahiya ( yang bila dicermati secara kontekstual ternyata sesungguhnya jauh berbeda secara esensial ) tersebut, sesungguhnya oleh J.Krishnamurti sendiri telah diakui cukup membuatnya tidak lega ( atau “kecewa” ) dengan mengeluhkan bahwa selama enam-puluh (60) tahun ia mengajar “tidak seorang pun mengalami transformasi batiniah, sebagaimana diharapkannya.” (Hudoyo,  Dari: http://www.kaskus.us -> Forum: Supranatural -> Subforum: Spiritual -> Thread: MMD (Meditasi Mengenal Diri) ;  http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan–Perbedaan-Krishnamurti—Buddha-td16375574.html ) . dan dengan begitu, Romo Hudoyomasih “keukeuh” mengklaim bahwa  siapapun ( ummat agama apapun ) yang  “ mengikuti MMD ia akan mengakhiri dukkha...”
[ Dr.Hudoyo Hupudhio Mph ; http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=8 ].

Expektasi yang sangat “tinggi-nun-jauh-disana”, bahkan, apakah Romo Hudoyo sendiri telah “mengakhiri-dukkha” / merealisasi “Nibbana” ? atau, telah menjadi seorang Arahanta ?

Agar kita semua menjadi lebih jelas lagi duduk perkaranya, mari kita membahas lebih dalam lagi mengenai Bahiya-Sutta.

Setelah Bahiya , petapa berkulit kayu, mendengarkan ajaran singkat dari Sang Buddha, ia langsung “tercerahkan”. Membaca kisah “fantastis” ini tentunya sangat menarik hati bagi para pembaca yang ingin segera menjadi seorang “Arahat”, bukan begitu. Tapi, setelah anda yang “tergoda” menjalankan ajaran singkat ini, apakah telah ada diantara anda yang mencapai “Pencerahan-Sempurna” dengan sekedar menjalankan instruksi singkat Sang Buddha pada Bahiya tersebut ? ( Romo Hudoyo sendiri, bagaimana, sudah merealisasi Arahata-Magga-Phala-kah ? )

Kita semua, para ummat Buddha khususnya, dan rekan-rekan non-Buddhis umumnya, seyogyanya lebih bijak dalam mempelajari sebuah Sutta dari Sang Buddha. Sesungguhnya, ada kisah yang panjang dibalik Bahiya-Sutta yang relative pendek tersebut. Kisah lengkap dari petapa Bahiya ini ada di dalam Apadana ( kisah kehidupan lampau para Arahanta ) dan dalam kitab-kitab komentar.

Di dalam salah satu kehidupan lampaunya, Bahiya adalah seorang Bhikkhu , siswa dari Buddha-Kassapa. Ketika itu, karena ingin sekali mencapai kebebasan dengan cepat, ia bersama-sama dengan enam Bhikkhu yang lain, memanjat sebuah gunung curam ke atas sebuah karang besar. Lalu mereka semua membuang tangga, dan meneguhkan diri untuk bermeditasi dan tetap berada diatas karang besar itu sampai mereka tercerahkan atau mati. Yang tertua diantara ke-tujuh Bhikkhu tersebut berhasil merealisasi Arahata-Magga-Phala, dan seorang Bhikkhu tertua yang lain merealisasi Anagami-Magga-Phala, tetapi lima Bhikkhu lainnya, yang menolak makan makanan yang diperoleh oleh dua Bhikkhu tertua yang disebut terdahulu melalui kekuatan batin mereka, meninggal dunia setelah tujuh-hari. Bahiya adalah salah satu dari lima Bhikkhu yang meninggal tersebut. Bhikkhu yang berhasil merealisasi Anagami-Magga-Phala kemudian  dilahirkan kembali di dalam alam Brahma dan kelak ( dimasa kehidupan terakhir Bahiya ) muncul di hadapan Bahiya sebagai “familinya yang dulu”. Kelima Bhikkhu yang meninggal dunia, setelah bertumimbal lahir di alam surga, lahir kembali sebagai manusia pada masa Buddha Gotama, salah satunya adalah Bahiya tersebut ( keempat Bhikkhu yang lainnya, terlahir kembali dimasa Buddha Gotama sebagai : Pukkusati, Sabhiya, Kumarakassapa, dan Dabba si orang Malli ).

Dalam kehidupan terakhirnya, Bahiya adalah seorang pelaut, yang sukses menyeberangi lautan sebanyak tujuh kali. Pada perjalanan kedelapan, kapalnya karam, tetapi ia berhasil selamat ke pantai dengan mengapung di atas kayu gelondongan. Karena kehilangan seluruh pakaiannya, dia membuat pakaian sementara dari kulit kayu, dan pergi untuk meminta makanan di Kampung Supparaka. Penduduk kampong setempat kemudian terkesan dengan penampulannya, dan oleh karenanya mempersembahkan makanan, penghormatan, dan bahkan seperangkat jubah mahal kepada Bahiya. Ketika Bahiya menolak baju baru itu, para penduduk justru semakin menyanjungnya. Bahiya mendapatkan kehidupan yang nyaman, dan dengan begitu dia tidak kembali ke laut. Banyak orang kemudian menganggap Bahiya adalah seorang Arahanta, dan Bahiya pun dengan salah-kaprah menganggap bahwa ia adalah seorang Arahanta.

Disaat itulah kemudian , sesosok Brahma membaca pikiran keliru dari Bahiya dan menegur Bahiya, karena terdorong rasa welas-asih. Brahma tersebut tidak lain adalah salah satu dari ketujuh Bhikkhu yang saat itu merealisasi Anagami-Magga-Phala.Kemudian Brahma Anagami tersebut memberitahu Bahiya bahwa ada seorang Arahanta yang sejati, ialah Buddha Gotama, yang hidup di masa itu, tinggal di sisi lain India, tepatnya di Savatthi.

Setelah diberitahu oleh Brahma Anagami tersebut, Bahiya  segera meninggalkan Supparaka ( sekarang Supparaka adalah Sopara, di utara Mumbai ), dan tiba di Savatthi ( tujuh-belas (17) KM sebelah barat Balrumpur ) dalam waktu semalam saja. Kisah selanjutnya adalah seperti yang sudah saya tuliskan diatas, yaitu penyampaian permohonan Bahiya ( sampai tiga (3) kali )  pada Sang Buddha agar Sang Buddha berkenan memberikan pengajaran Dhamma pada Bahiya. Beberapa waktu setelah Bahiya berhasil merealisasi Arahata-Magga-Phala melalui ajaran singkat Sang Buddha, Bahiya meninggal terbunuh oleh seekor lembu betina yang sedang bersama anaknya ( demikian menurut ungkapan Gavi Tarunavaccha ).

Dari latar-beakang tersebut, bisa kita ketahui bersama bahwa Bahiya adalah seorang manusia luar-biasa. Pada masa Buddha-Kassapa, ia mempunyai tekad luar biasa untuk bermeditasi diatas gunung, lebih baik mati dan tidak akan meninggalkan tempat di atas gunung sebelum ia tercerahkan-sempurna. Dengan kekuatan tekadnya pula, ia saat itu (beserta keempat bhikkhu lainnya) menolak makan makanan dari dua Bhikkhu tertua yang berasal dari kekuatan batin kedua bhikkhu tersebut.

Dalam kehidupan terakhirnya sebelum bertemu Sang Buddha, ia mampu mendengar suara Brahma Anagami yang berbicara padanya, dan dia juga mampu menempuh perjalanan dari Supparaka menuju Savatthi – dengan kecepatan 1.300 Km/per-jam , seperti seorang penerbang masa kini – hanya dalam semalam.

Melihat kisah latar-belakang tersebut, bisa dipastikan bahwa Bahiya adalah seorang petapa yang memiliki “Abhinna” sebagai hasil pencapaian Jhana-Jhana-nya. Dari masa Buddha-Kassapa, ia ber-aditthana dengan kuat untuk bertapa merealisasi pembebasan. Di masa kehidupan terakhir sebelum bertemu Sang Buddha, ia telah memiliki “dibbasotta” / “telinga-dewa” sehingga mampu mendengarkan suara Brahma. Dan, kemampuan ia untuk menempuh perjalanan dari Supparaka menuju Savatthi hanya dalam waktu semalam, semakin memastikan bahwa ia telah meraih Jhana-Jhana melalui samadhinya. Dan barangkali, karena “kemampuan” istimewanya tersebutlah, Bahiya keliru beranggapan bahwa ia adalah seorang Arahanta.

Sehingga karena latar-belakang itu semualah, kita semua bisa memaklumi / tidak heran jika Bahiya yang hanya diberi khotbah Dhamma yang singkat oleh Sang Buddha mampu dengan segera merealisasi Arahata-Magga-Phala.

Tanya = menurut pak hudoyo, yang mana yang ajaran SANG BUDDHA ?? tolong kita kita “dicerahkan” ??


Jawab = Saya tidak berniat mencerahkan siapa pun, tapi menurut saya pribadi, ajaran Sang Buddha adalah vipassana yang diajarkan dalam Bahiya-sutta & Malunkyaputta-sutta.
ITU CUKUP, yang lain-lain tidak perlu sama sekali.

[ Sumber =

http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,3718.15.html ]


Romo Hudoyo merujuk sutta yang lain lagi, Malunkyaputta-Sutta ( Samyutta Nikaya 35.95 ). Sebenarnya, sebelum Malunkyaputta diberi pengajaran yang sama pada Bahiya, Sang Buddha mengajarkan perlunya pencapaian paling tidak salah satu dari Jhana-Jhana ( hal ini diajarkan setelah Sang Buddha menegur Malunkyaputta yang berpadangan-salah saat itu ) guna menghancurkan kelima belenggu yang pertama, dan dengan begitu bisa meraih tingkatan persis di bawah Arahanta, yaitu Anagami-Magga-Phala. Sang Buddha berkata kepada Malunkyaputta bahwa adalah mustahil meraih Anagami-Magga-Phala, apalagi Arahata-Magga-Phala, tanpa sebuah Jhana.

Setelah berhasil merealisasi Anagami-Magga-Phala, dan kemudian mendengarkan ajaran yang persis-sama yang diberikan pada Bahiya, Malunkyaputta lalu “tinggal menyendiri, menyepi, tekun , gigih, dan teguh”, dan tak lama kemudian ia menjadi seorang Arahanta.

Penafsiran Romo Hudoyo atas Bahiya-Sutta dan Malunkyaputta-Sutta yang “dipersingkat”-nya itulah yang membuat jalan-pikiran Romo Hudoyo kemudian menjadi “keliru” ; dan semakin keliru ketika mengajarkan pada murid-muridnya untuk membuang “Empat Kesunyataan Mulia” beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan”.

Jadi, Romo Hudoyo dalam hal ini terlalu menggampangkan persoalan. Seolah-olah “pencerahan” adalah sesederhana itu. Bila sesederhana itu, maka seorang pencuri pun bisa memperoleh pencerahan tanpa harus memperbaiki moralitasnya ;  ia bisa disebut meraih “pencerahan-sempurna” sementara ia tetap terus mencuri, merampok, dan bertindak asusila lainnya ; asalkan ,”…di dalam apa yang dilihat hanya ada apa yang dilihat ; di dalam apa yang didengar hanya ada apa yang didengar ;  di dalam apa yang dirasakan hanya ada apa yang dirasakan; di dalam apa yang diketahui hanya ada apa yang diketahui….dst.”

Seorang pembunuh pun bisa terus mengumbar kemarahan/kebenciannya, tanpa harus mengembangkan cinta-kasih dan kasih-sayang , dan ia tetap memperoleh “pencerahan-sempurna” selama ia menjalankan instruksi, ,”…di dalam apa yang dilihat hanya ada apa yang dilihat ; di dalam apa yang didengar hanya ada apa yang didengar ;  didalam apa yang dirasakan hanya ada apa yang dirasakan; di dalam apa yang diketahui hanya ada apa yang diketahui….dst.”

Jalan Ariya Beruas Delapan, merupakan “Jalan-Visi” dan “Jalan-Transformasi”. Diawali dengan “Pengertian-Benar” ( Samma-ditthi ) seseorang akan memandang alam-semesta seisinya ini dengan apa-adanya, mampu melihat hakekat-sejati, bahwa hidup ini adalah dukkha, dan sebab dukkha adalah nafsu-keinginan (tanha) yang berkobar-kobar, bahwa dukkha ini pun bisa berakhir ( saat merealisasi Nibbana ), dan berakhirnya dukkha tersebut melalui sebuah Jalan, ialah “Jalan Ariya Beruas Delapan” itu sendiri. Inilah ( Pengertian-Benar / Samma-ditthi )  “Jalan-Visi”. Dengan diawali oleh “Jalan-Visi” tersebut, kemudian seseorang mentransformasikan “Visi”-nya tersebut dalam seluruh aspek kehidupannya.  Dengan “Pengertian-Benar”, yang bersih, jernih, selanjutnya ia akan memiliki “Pikiran-Benar” ( Samma-Samkappa ), mulai meninggalkan pikiran-pikiran yang jahat, buruk, dan melangkah untuk membersihkan pikirannya, melalui pemupukan “sepuluh-kesempurnaan” / “dasa-paramita” ( sad-paramita dan catur-paramita ). Dan seterusnya, dan seterusnya, sehingga secara integral , jalan itu terangkum dalam rumusan “Jalan Ariya Beruas Delapan” ( 1. Pengertian Benar ( Samma-ditthi ) ; 2. Pikiran-Benar ( Samma-Samkappa ) ; 3. Ucapan-Benar ( Samma-Vaca ) ; 4. Perbuatan-Benar ( Samma-Kammanta ) ; 5. Mata Pencaharian benar (Samma-Ajiva) ; 6. Usaha-Benar ( Samma-Vayama ) ; 7. Perhatian-Benar (Samma-Sati) ; 8. Konsentrasi-Benar ( Samma-Samadhi ) ) ; dan ini adalah satu-satunya “Jalan” yang harus ditempuh para makhluk demi pencapaian kesucian, demi pembebasan dari arus samsara. Jalan ini adalah “Tunggal” , artinya kedelapan ruas itu adalah satu-kesatuan ; tidak bisa bila hanya ditempuh tujuh (7), atau enam (6), apalagi hanya satu (1) ruas saja. Dan khotbah singkat Sang Buddha pada Bahiya itu hanyalah menggambarkan satu ruas saja dari “Jalan Ariya Beruas Delapan” tersebut, ialah ruas “Perhatian-Benar” ( Samma-Sati ) ; itupun penggambaran yang terlampau singkat bagi umumnya ummat manusia “yang matanya masih ditutupi debu”. Permasalahannya kemudian, apakah  kita yakin, bahwa setiap praktisi ( dalam hal ini, praktisi MMD khususunya ) yang hanya menjalankan instruksi singkat Sang Buddha tersebut telah termasuk golongan “yang matanya hanya ditutupi sedikit debu” seperti Bahiya sehingga dengan sekedar instruksi singkat tersebut, seseorang kemudian menjadi “tercerahkan-sempurna” seperti Bahiya ?

6. PENGAKUAN ROMO HUDOYO ADANYA BUDDHA YANG TELAH MUNCUL DI ABAD KE-20 ; YAITU J.KRISHNAMURTI


“…J.Krishnamurti,yang menurut hemat saya adalah seorang yang telah mencapai

pencerahan & pembebasan sempurna dalam hidupnya di abad ke-20 lalu-

entah apa pun namanya : arahat, buddha, insan kamil, hidup di dalam Allah,

apa pun”.

[ Sumber =

http://www.usenet.com/newsgroups/soc.culture.indonesia/msg03344.html ]


Statement Romo Hudoyo mengenai “pencerahan” atau / “pembebasan-sempurna” yang dicapai oleh J.Krishnamurti ini sepertinya dikeluarkan tanpa memahami terlebih dahulu , apakah itu “pencerahan”, apa itu “pembebasan-sempurna” , kemudian lebih rancu lagi ketika Romo Hudoyo meng-generalisir / mempersamakan pengertian-pengertian dari : Arahat, Buddha, Insan-Kamil, dan “Hidup-di-dalam-Allah”.

Mengenai “pencerahan”, saya akan ambil definisi menurut Buddhisme. Mungkin Romo Hudoyo akan menganggap saya “textbook-thinking” seperti biasanya Romo lontarkan pada umumnya ummat Buddha yang beradu argumentasi dengan Romo. Akan tetapi, definisi melalui sebuah rumusan yang ada, setidaknya lebih “berdasar”, ketimbang definisi yang tidak jelas dan bias, yang akan menjadi “ranah-abu-abu” untuk bermain dengan kata-kata indah yang sebenarnya kosong makna. Berikut ini adalah definisi pencerahan (Bodhi) yang saya ambil dari kitab “Riwayat Agung Para Buddha” karya Tipitakadhara Mingun Sayadaw.

Empat pengetahuan Pandangan Cerah (Jalan menuju lenyapnya penderitaan, yang berbentuk faktor terakhir dari Empat Kebenaran Mulia yang terdiri dari delapan faktor: (1) pandangan benar (sammà ditthi), (2) pemikiran benar (sammà samkappa), (3) perkataan benar (sammà vàcà), (4) perbuatan benar (sammà kammanta), (5) penghidupan benar (sammà àjiva),  (6) usaha benar (sammà vàyàma), (7) perhatian benar (sammà sati), dan (8) pemusatan benar (sammà samàdhi). Dua pertama adalah kebijaksanaan (pannà), tiga berikutnya adalah moralitas (sila), dan tiga terakhir adalah konsentrasi (samàdhi).) ) mengenai Jalan (Magga Nana) dengan atau tanpa disertai kemahatahuan (Sabbannuta Nana  ;  Sabbannuta Nàna terdiri dari kata “sabbannuta” dan “Nàna”. Kata pertama “sabbannuta” artinya adalah “mahatahu”. Seseorang yang memiliki sabbannuta atau Sabbannuta Nàna adalah “Sabbannu” ; “Yang-Mahatahu”, bukan berarti ia selalu mengetahui segalanya, tetapi ia dapat mengetahui segalanya jka ia menghendakinya.) disebut Pencerahan (Bodhi). Pencerahan ada tiga jenis:

(1)         Sammà-Sambodhi: Pencerahan berupa empat pengetahuan Pandangan Cerah mengenai Jalan yang disertai kemahatahuan. Empat pengetahuan mengenai Jalan adalah pemahaman atas Empat Kebenaran Mulia oleh diri sendiri tanpa bantuan guru, dan memiliki kekuatan untuk melenyapkan kotoran batin, juga kebiasaan-kebiasaan (vàsanà) dari kehidupan-kehidupan sebelumnya; Kemahatahuan adalah pemahaman atas semua prinsip yang perlu diketahui.

(2)         Pacceka-Bodhi: Pencerahan berupa empat pengetahuan Pandangan Cerah mengenai Jalan, yaitu pemahaman atas Empat Kebenaran Mulia oleh diri sendiri tanpa bantuan guru.

(3)         Sàvaka-Bodhi: Pencerahan berupa empat pengetahuan Pandangan Cerah mengenai Jalan, yaitu pemahaman atas Empat Kebenaran Mulia oleh diri sendiri dengan bantuan guru.

Nah, menilik definisi tersebut diatas, pencerahan (Bodhi) yang manakah yang telah diraih oleh J.Krishnamurti ? Bukankah J.Krishamurti sendiri menolak adanya “Jalan” sebagai hasil pengetahuan-pandangan-cerah ( meskipun akhirnya setelah dikejar oleh pewawancara dari BBC ia berkata “Ada” ) ?

Atau setidaknya, jika “pengakhiran-dukkha” yang digunakan untuk mendefinisikan dari “pencerahan” / “pembebasan-sempurna” , apakah J.Krishamurti telah mencabut ketiga-akar : keserakahan / nafsu-indriya ( lobha ), kemarahan/kebencian (dosa), dan kebodohan batin ( moha ) ? Bukankah apa yang “dicapai” oleh J.Krishnamurti hanyalah “berhentinya-pikiran” yang itupun masih “rancu” untuk didefinisikan ?

Tapi saya sendiri, berangkat dari sudut pandang Buddhisme yang saya pahami,
secara pribadi menganggap ajaran K adalah ajaran Buddha yang paling murni,
tanpa embel-embel atau bendera apa pun. Ajaran K, seperti ajaran Buddha,
adalah ibarat daun Simsapa yang ada di dalam genggaman tangan–bukan daun
Simsapa yang ada di hutan–sedikit tapi cukup untuk membawa pada pembebasan. — Bahkan menurut hemat saya, dari sudut pandang Buddhis yang saya pahami, K adalah seorang Buddha/arahat pada abad ke-20.

Salam,
Hudoyo

[ Sumber =


http://groups.yahoo.com/group/samaggiphala/message/5582 ]


Pernyataan bahwa J.Krishnamurti adalah seorang “Buddha” di abad ke-20 yang lalu, menurut saya sangatlah tidak berdasar. Buddha yang mana yang dimaksudkan oleh Romo Hudoyo ? Bila yang dimaksud adalah “Samma-Sambuddha” ( Seperti Sang Buddha Gotama ), maka setidaknya ada dua hal yang membuat J.Krishnamurti tidak bisa disebut seorang “Samma-Sambuddha”.

Pertama, sebagaimana semua ummat Buddha tahu, bahwa selama ajaran seorang Samma-Sambuddha masih ada dan diikuti oleh ummat manusia, maka tidak akan mungkin muncul Samma-Sambuddha yang baru. Sebab, semua Buddha mengajarkan Dhamma yang sama, persis-sama tiada beda. Saat ini, Dhamma Sang Buddha masih berkembang dan diikuti oleh setidaknya 500 juta ummat manusia sedunia, Ti-Pitaka yang menguraikan Dhamma Sang Buddha juga masih tersebar luas, bisa dibaca oleh siapapun, bagaimana mungkin disaat seperti itu muncul seorang Samma-Sambuddha ( yang mencapai pencerahan-sempurna tanpa bantuan seorang Guru pun ) ?  Sebab, Dhamma yang ia babarkan dengan demikian PASTI tidak ORIGINAL, karena ia bisa mengakses pelajaran-pelajaran Dhamma, ia bisa membaca berbagai buku dan membaca Ti-Pitaka yang menguraikan tentang Dhamma.

Kedua, Seorang Samma-Sambuddha disebut dengan istilah “Tarayitu” , yang artinya “Ia yang menyeberangkan makhluk-makhluk lain”. Yang-Teragung  , Beliau telah menyeberangi samsara, dan menyelamatkan makhluk-makhluk lain dari samsara. Nah, sementara, J.Krishnamurti sendiri mengeluhkan bahwa selama enam-puluh (60) tahun ia mengajar “tidak seorang pun mengalami transformasi batiniah, sebagaimana diharapkannya.” (Hudoyo,  Dari: http://www.kaskus.us -> Forum: Supranatural -> Subforum: Spiritual -> Thread: MMD (Meditasi Mengenal Diri) ;  http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan–Perbedaan-Krishnamurti—Buddha-td16375574.html ) . Sebuah pengakuan yang jujur ini menunjukkan, bahwa J.Krishnamurti belum pernah “berhasil-membawa” ummat manusia mencapai “pencerahan” seperti yang diharapkannya [!], sehingga bagaimana mungkin pula ia dinobatkan sebagai seorang “Samma-Sambuddha” [?].

Jika yang dimaksud Romo Hudoyo adalah J.Krishnamurti seorang Pacceka Buddha, maka itu juga tidak mungkin. Paceka-Buddha ( Buddha-pribadi ) disebut sebagai “Tarita”, makhluk mulia yang telah menyeberangi lautan samsàra oleh dirinya sendiri namun tidak dapat menyelamatkan makhluk lain dari bahaya saÿsàra. Seorang Pacceka Buddha tidak muncul pada saat kemunculan Buddha Yang Mahatahu. Mereka hanya muncul dalam periode antara kemunculan Dua Samma-Sambuddha dimana ketika itu tidak ada seorang Samma-Sambuddha dan tidak terdengar lagi “Dhamma” dari seorang Samma-Sambuddha. Pacceka Buddha juga memahami Empat Kebenaran Mulia oleh diri sendiri namun tidak mampu mengajarkannya kepada makhluk lain. Setelah mencapai Jalan dan Buahnya, Nibbàna (pativedha, secara harfiah berarti penembusan, merupakan satu dari tiga aspek ajaran Buddha; dua yang pertama adalah pariyatti dan pañipatti, memelajari kitab dan mempraktikkan), Ia tidak dapat menceritakan pengalaman pribadi atas pencapaiannya karena ia tidak memiliki terminologi yang tepat menjelaskan hukum spiritual ini. Oleh karena itu, pengetahuan seorang Pacceka Buddha akan Empat Kebenaran (Dhammàbhisamaya) oleh para komentator diumpamakan sebagai mimpi si dungu atau seorang petani bodoh yang mengalami kehidupan di kota besar yang tidak mampu ia ceritakan kembali. Pacceka Buddha (makhluk Tarita) adalah mereka yang telah menyeberangi samsàra oleh diri sendiri, tetapi tidak dapat membantu makhluk lain menyeberang. Dan, bila muncul seorang Pacekka-Buddha pada masa masih berkembangnya “Dhamma” seorang Samma-Sambuddha, maka ia akan bergabung dalam komunitas para suciwan ( Sangha ) dan merealisasi Arahata-Magga-Phala. Menilik criteria-kriteria seorang Pacceka-Buddha tersebut, maka tidak mungkin pula J.Krishnamurti bisa diakui sebagai seorang Pacceka-Buddha.

Atau mungkin yang dimaksud Romo Hudoyo, J.Krishnamurti adalah seorang Siswa Mulia atau Sàvaka-Buddha ? Sàvaka-Buddha disebut juga makhluk Tàrita karena telah dibantu menyeberangi lautan samsàra oleh Buddha Yang Mahatahu.  ajaran seorang siswa Buddha berasal dari seorang Buddha; bukan berasal dari siswa itu sendiri. Ia tidak dapat memberikan khotbah yang berasal dari diri sendiri tanpa bantuan dan petunjuk dari ajaran Buddha. Oleh karena itu siswa demikian disebut makhluk Tàrita, bukan makhluk Tarayitu, karena mereka tidak mungkin menembus Empat Kebenaran Mulia tanpa seorang guru; dan penembusan mereka atas Jalan dan Buahnya hanya dapat terjadi dengan adanya bantuan dan petunjuk dari guru. Menilik hal ini, maka J.Krishnamurti juga tidak mungkin dikategorikan sebagai seorang Savaka-Buddha, sebab ia sendiri menolak mengakui sebagai “ummat” Buddha ( berarti menolak mengakui dirinya telah “berguru” pada Sang Buddha ). Meskipun ini sesungguhnya controversial, sebab, sebagaimana Romo Hudoyo sendiri mengatakan bahwa J.Krishnamurti sewaktu muda banyak membahas mengenai ajaran Sang Buddha Gotama didalam sebuah kelompok kecil :

Di masa mudanya, sebelum tercerahkan pada th 1922, K suka membahas tentang Buddha Gautama dengan para sahabatnya dalam kelompok kecil. Ia sering mengidungkan bait-bait dari “The Light of Asia” karya Sir Edwin Arnold, sebuah buku tentang riwayat hidup Buddha Gautama dalam bentuk syair. Juga ia sering mengutip dari kitab Dhammapada.

[ Sumber :

http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan–Perbedaan-Krishnamurti—Buddha-td16375574.html ]


Dalam sebuah dialog antara J.Krishnamurti dengan Walpola Rahula ( pakar Buddhisme internasional asal Srilanka, dan penulis “Buddhisme” dalam Encyclopaedia Britannica, juga penulis buku yang sangat terkenal,’What The Buddha Taught” ) J.Krishnamurti sedikit “tidak-suka” ketika Walpola Rahula mengungkapkan dengan penuh kekaguman bahwa apa yang diajarkan J.Krishnamurti sangat tidak berbeda dengan apa yang diajarkan Buddha,, yang membedakan hanyalah kemasan dan gaya-bahasa yang dipakai. Berikut adalah petikan dialog antara Walpola Rahula dengan J.Krishnamurti tersebut :

“BUKANKAH ANDA MENGULANG APA KATA BUDDHA?”

WALPOLA RAHULA (WR): Saya telah mengikuti ajaran Anda–kalau boleh saya pakai kata itu–sejak masa muda saya. Saya telah membaca buku-buku Anda dengan penuh minat, dan saya telah menginginkan diskusi dengan Anda ini sejak lama.

Bagi seseorang yang mengenal ajaran Buddha cukup baik, ajaran Anda bukan hal asing, bukan hal baru baginya. Apa yang diajarkan Buddha 2.500 tahun lalu Anda ajarkan sekarang dengan idiom baru, gaya baru, pakaian baru. Ketika saya baca buku-buku Anda, saya sering membuat catatan-catatan di pinggir halamannya, membandingkan apa yang Anda katakan dengan Buddha, kadang-kadang saya bahkan mengutip bab dan ayat, atau teks–bukan hanya ajaran asli Buddha, tetapi juga ide-ide dari para filsuf Buddhis belakangan–itu juga Anda sampaikan dengan cara yang praktis sama. Saya heran, betapa baik dan indahnya Anda mengutarakannya.

Pertama-tama, saya ingin menyebutkan dengan singkat beberapa poin yang sama antara ajaran Buddha dan ajaran Anda. Misalnya, Buddha tidak menerima pengertian suatu Tuhan Pencipta yang berkuasa di dunia ini dan mengganjar atau menghukum manusia atas perbuatan mereka. Anda juga tidak, saya rasa. Buddha tidak menerima ide Weda, Brahmana kuno tentang adanya suatu roh atau ‘atman’ yang kekal, abadi, tak berubah selama-lamanya–Buddha menolak ini. Saya rasa, Anda juga tidak menerima pengertian ini.

Buddha mengawali ajarannya dengan premis bahwa kehidupan manusia merupakan masalah, penderitaan, konflik, kesedihan. Dan buku-buku Anda selalu menekankan itu. Dan Buddha juga mengatakan bahwa yang menyebabkan konflik, penderitaan ini adalah sikap mementingkan diri sendiri yang diciptakan oleh ide keliru tentang diriku, ‘atman’-ku. Saya rasa Anda berkata begitu juga.

Buddha berkata bahwa jika orang bebas dari keinginan, kelekatan, kepada diri, ia bebas dari penderitaan dan konflik. Dan saya ingat, Anda berkata dalam sebuah buku, bahwa pembebasan berarti pembebasan dari semua kelekatan–tidak dibedakan kelekatan baik dan kelekatan buruk–tentu saja ada perbedaan itu dalam kehidupan praktis sehari-hari, tapi pada akhirnya tidak ada pembagian seperti itu.

Lalu ada melihat kebenaran, merealisasikan kebenaran, artinya, melihat segala sesuatu seperti apa adanya; bila Anda lakukan itu, Anda melihat realitas, Anda melihat kebenaran dan bebas dari konflik. Saya rasa, Anda mengatakan ini sering sekali; misalnya dalam buku “Truth and Actuality”. Ini dikenal baik dalam pemikiran Buddhis sebagai ‘samvrti-satya’ dan ‘paramartha-satya’: ‘samvrti-satya’ adalah kebenaran konvensional, dan ‘paramartha-satya’ adalah kebenaran absolut atau tertinggi. Dan orang tidak bisa melihat kebenaran tertinggi dan absolut tanpa melihat kebenaran konvensional atau relatif. Itulah sikap Buddhis. Saya rasa, Anda mengatakan hal yang sama.

Pada tingkat yang lebih populer, tetapi sangat penting, Anda selalu berkata bahwa orang tidak boleh bergantung pada otoritas–otoritas siapa pun, ajaran siapa pun. Anda harus merealisasikannya sendiri, melihatnya sendiri. Ini ajaran yang sangat terkenal dalam Buddhisme. Buddha berkata, jangan menerima apa pun hanya oleh karena itu dikatakan oleh agama atau kitab suci, atau oleh seorang guru atau guru spiritual, terimalah hanya apabila Anda melihat sendiri bahwa itu benar, jika Anda melihat bahwa itu salah atau buruk tolaklah.

Dalam diskusi yang sangat menarik antara Anda dan Swami Venkatesananda, ia bertanya tentang pentingnya guru, dan jawaban Anda selalu: apa yang bisa diperbuat oleh seorang guru? Tergantung Andalah untuk melakukannya, seorang guru tidak bisa menyelamatkan Anda. Ini justru sikap Buddhis–bahwa Anda tidak seharusnya menerima otoritas. Setelah membaca seluruh diskusi itu dalam buku “The Awakening of Intelligence”, saya menulis bahwa Buddha pun pernah mengatakan hal-hal ini juga, dan meringkaskannya dalam dua baris dalam kitab Dhammapada: Andalah yang harus berusaha, para Buddha hanya mengajar. Ini tercantum dalam kitab Dhammapada, yang pernah Anda baca jauh di masa silam ketika Anda masih muda.

Salah satu hal yang sangat penting ialah penekanan Anda pada keadaan sadar [awareness], atau perhatian penuh [mindfulness]. Ini sesuatu yang teramat penting dalam ajaran Buddha, penuh perhatian. Saya sendiri heran ketika saya baca dalam Mahaparinibbana-sutta, suatu khotbah tentang bulan terakhir dalam kehidupannya, bahwa di mana pun ia berhenti dan berbicara kepada para muridnya, ia selalu berkata: sadarlah, kembangkanlah keadaan sadar, perhatian penuh. Itu disebut hadirnya perhatian penuh [the presence of mindfulness]. Ini juga poin amat kuat dalam ajaran Anda, yang sangat saya hargai dan ikuti.

Lalu, hal menarik lainnya ialah penekanan Anda terus-menerus pada ketidakkekalan. Ini salah satu hal mendasar dalam ajaran Buddha, segala sesuatu tidak kekal, tidak ada apa pun yang kekal. Dan di dalam buku “Freedom from the Known”, bahwa melihat tidak ada sesuatu yang kekal adalah luar biasa penting–oleh karena hanya di situ batin bebas. Ini sesuai sepenuhnya dengan Empat Kebenaran Mulia dari Buddha.

Ada satu poin lagi yang menunjukkan kesamaan antara ajaran Anda dan ajaran Buddha. Saya rasa di dalam buku “Freedom from the Known”, Anda berkata bahwa pengendalian diri dan disiplin lahiriah bukanlah jalannya, tetapi hidup tanpa disiplin juga tidak bermanfaat. Ketika saya baca ini, saya tulis di pinggir halaman, seorang Brahmana bertanya kepada Buddha, bagaimana Anda mencapai ketinggian spiritual ini, dengan cara bagaimana, dengan disiplin apa, dengan pengetahuan apa? Kata Buddha, bukan dengan pengetahuan, bukan dengan disiplin, bukan dengan cara, bukan pula tanpa hal-hal itu. Itu yang penting: bukan dengan hal-hal itu, tetapi juga bukan tanpa hal-hal itu. Itu persis apa yang Anda katakan: Anda mengutuk perbudakan pada disiplin, tetapi tanpa disiplin hidup tidak punya nilai. Itu persis seperti dalam Buddhisme Zen–tidak ada Buddhisme Zen, Zen adalah Buddhisme. Dalam Zen, perbudakan pada disiplin dilihat sebagai kelekatan, dan itu sangat dikutuk, tetapi tidak ada sekte Buddhis apa pun di dunia di mana disiplin begitu ditekankan [seperti Zen].

Ada banyak hal yang bisa kita bicarakan, tetapi pertama-tama saya ingin mengatakan ada kesesuaian fundamental dalam hal-hal ini, dan tidak ada konflik antara Anda dan Buddha. Tentu saja, Anda bukan Buddhis, seperti Anda bilang.

Krishnamurti (JK): Tidak, Pak.

WR: Dan saya sendiri tidak tahu saya ini apa, itu tidak penting. Tetapi hampir tidak ada perbedaan antara ajaran Anda dan ajaran Buddha. Soalnya hanya Anda mengatakan hal yang sama dengan cara yang memukau bagi manusia masa kini, dan bagi manusia masa depan. Dan sekarang saya ingin tahu, bagaimana pendapat Anda tentang semua ini.

JK: Bolehkah saya bertanya, Pak, dengan segala hormat, mengapa Anda membanding-bandingkan?

Walpola Rahula (WR): Itu disebabkan karena ketika saya membaca buku-buku Anda sebagai seorang sarjana Buddhis, sebagai seorang yang telah mempelajari kitab-kitab Buddhis, saya selalu melihat bahwa itu hal yang sama.

K: Ya, Pak; tapi kalau boleh saya bertanya, apa perlunya membanding-bandingkan?

WR: Tidak ada perlunya.

K: Jika Anda bukan sarjana dalam Buddhisme serta semua sutra-sutra dan ucapan-ucapan Buddha, jika Anda tidak menyelami Buddhisme dengan sangat dalam, bagaimana kesan Anda ketika membaca buku-buku ini, tanpa latar belakang semua itu?

… dst. “

[ Sumber =

http://www.kaskus.us/showpost.php?p=44998135 ]


Terlihat adanya rasa ke-“tidak-suka”-an yang muncul dalam diri J.Krishnamurti ketika ajaran-ajarannya dikenali sebagai identik dengan ajaran Buddha oleh Walpola Rahula, seorang sarjana Buddhist. Menjawab pertanyaan terakhir dari J.Krishnamurti tersebut diatas, “ Jika anda tidak menyelami Buddhisme dengan sangat dalam, bagaimana kesan Anda ketika membaca buku-buku ini, tanpa latar belakang semua itu ? “ Jawaban dari saya adalah : SAYA PASTI AKAN SANGAT TERKESAN DAN BERDECAK KAGUM [!].

TAPI, bagi seorang Buddhist, maka akan sangat wajar jika kesan yang muncul adalah sama seperti yang muncul dalam diri Walpola Rahula. Mengapa J.Krishnamurti harus menunjukkan ke-“tidak-suka”-an akan hal itu ? Bukankah sebenarnya memang J.Krishnamurti sendiri sewaktu muda banyak membaca ajaran Buddha dan membahasnya dalam sebuah kelompok kecil seperti yang dinyatakan sendiri oleh Romo Hudoyo ?

K & Buddha sama-sama tidak menikah, hidup berkelana (tidak punya tempat tinggal tetap), kebutuhan fisiknya bergantung pada orang lain, dan yang terpenting, pencerahannya tidak diperoleh dari seorang guru, dan sama-sama menghabiskan kehidupannya untuk mengajarkan pembebasan kepada orang lain.

[ Sumber = http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan–Perbedaan-Krishnamurti—Buddha-td16375574.html ]


Jika standard-standard diatas yang digunakan oleh Romo Hudoyo untuk kemudian menobatkan J.Krishnamurti sebagai seorang Buddha abad ke-20, maka sebenarnya diluar Sang Buddha Gotama tidak hanya J.Krishnamurti saja yang hidup tidak menikah, berkelana, kebutuhan fisiknya bergantung pada orang lain. Jaman Sang Buddha sendiri terdapat ratusan petapa-kelana yang memenuhi standard-standard itu, namun mereka semua itupun bukanlah seorang “Buddha”. Berkelana, tidak menikah, dan mengajarkan suatu “ajaran” bukanlah menunjukkan bahwa orang tersebut seorang “Buddha”.

Sedikit mengingatkan pada Romo Hudoyo, sepertinya Romo harus mengulangi lagi “Buddhanussati” sehingga bisa memahami , kualitas-kualitas seperti apakah yang harus dimiliki oleh seseorang sehingga ia bisa diakui sebagai seorang Buddha.

“Iti pi so Bhagava : Araham, Sammasambuddho, Vijjacaranasampano, Sugato, Lokavido, Anuttaropurisadhammasarati, Sattha Devamanussanam, Buddho, Bhagava’ti. “


a). Araham

Ia yang mencapai Pencerahan-Sempurna adalah “Araham”, karena :

Pertama, ia adalah Arahat ( Araham, Arahanta ), karena ia jauh ( araka ) dari semua kejahatan, ia telah menghancurkan semua kejahatan bersama-sama akarnya beserta kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik ( vasana ) yang dimiliki-Nya sebelum mencapai Pencerahan-Sempurna dengan jalan Ariya yang membawa-Nya pada tingkat ke-Buddha-an.

Kedua, Beliau adalah Arahat karena telah memusnahkan (han) musuh-musuh (ari) yaitu : keserakahan ( lobha ), kebencian ( dosa ), dan kegelapan-batin ( moha ), dan lain-lain dengan mengembangkan Jalan-Ariya.

Ketiga, Beliau adalah Arahat karena telah memotong (hata) ruji-ruji (Ara) dari roda samsara, yang lingkaran pusatnya terbuat dari ketidaktahuan dan keinginan hidup duniawi, yang jari-jarinya adalah sankhara, yang bingkainya adalah usia-tua dan kematian, yang sumbunya adalah asava-asava dan badannya terdiri dari tiga rangkaian kehidupan (ti-bhava). Di bawah pohon Bodhi dengan kekuatan kebajikan dan pengetahuan Beliau hancurkan semua ruji-ruji roda ini. Karena itu Beliau disebut seorang Arahat.

Keempat, Beliau adalah Arahat karena pantas dihormati dengan persembahan-persembahan yang terbaik, patut dihormati dengan penghormatan yang paling mulia. Jadi, Beliau adalah Arahat karena kemuliaan kesucian-Nya yang benar-benar layak untuk diberi sebutan “Araham”.

Kelima, Beliau adalah Arahat karena Beliau tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat apapun, sekalipun di tempat yang rahasia ( raha ), tidak seperti mereka yang menyatakan diri mereka suci, tetapi melakukan perbuatan-perbuatan jahat di tempat-tempat rahasia karena takut akan diketahui. Karena itu Beliau disebut “Araham” denga pengertian “A-raha”, bebas dari perbuatan jahat di tempat rahasia.

Jadi, seorang “Arahat”, Beliau yang jauh (araka) dari kejahatan, yang telah menghancurkan musuh-musuh yang berupa kejahatan (ari-hat), yang tidak melakukan kejahatan-kejahatan, sekalipun di tempat rahasia ( a-raha ). Oleh karena itu Beliau adalah : ARAHAM.

b). Sammasambuddho

Sammasambuddho adalah seorang yang telah mencapai pencerahan-sempurna disertai “Ke-Mahatahu-an” ( Sabbannuta ) atas usaha sendiri dan mengajarkan orang lain untuk merealisasi keadaan yang sama, yang pada waktu itu tidak ada lagi Dhamma di bumi.

c). Vijjacaranasampano

Ia telah sempurna ( Sampanno ) dalam pengetahuan luar biasa ( Vijja ) dan laku-lampah ( Carano ). Dalam Ambatha Sutta, Majjhima NikayaI.100, Vijja merupakan :

– Pandangan-terang ( Vipassana-nana )

– Memiliki berbagai kesaktian ( Iddhi-viddhi ) ; seperti menggandakan dirinya dari satu menjadi banyak, kemudian kembali dari banyak menjadi satu, kemampuan berjalan diatas air, kemampuan melayang di udara, kemampuan mendatangkan hujan di tempat yang gersang, kemampuan menyelam dalam bumi, kemampuan berdiam dalam bongkahan batu, kemampuan melunakkan bebatuan, mendatangkan angin, menciptakan sinar , melihat tembus ruang-waktu, menciptakan sesuatu ( seperti ketika Sang Buddha menciptakan perempuan cantik didepan Ratu Khema istri Raja Bimbisara dihadapan para Bhikkhu yang sedang diberi ceramah Dhamma oleh Sang Buddha ) , dan yang terutama, memiliki “Keajaiban-Ganda” ( Yamaka-Patihariya ) , yaitu menciptakan fenomena kembar ( pori-pori tubuh bagian atas menyemburkan api, pori-pori tubuh bagian bawah mennyemburkan air, dan begitu juga sebaliknya ), serta lain-lain kesaktian

– Telinga Dewa ( Dibba-sota )

– Membaca pikiran orang lain ( Cetopariya-nana )

– Mengetahui kehidupan-kehidupan yang lampau ( PUbbenivasanussati-nana )

– Mata-Dewa ( Dibbacakkhu )

– Melenyapkan semua kekotoran batin ( Asavakhaya-nana )

Kedelapan (8) pengetahuan luar biasa Sang Buddha tersebut diatas disebut “Vijja”, dengan pengertian menghancurkan (Vidavidarane ; memecahkan) existensi fenomenal, atau mengalami ( Veda-vide-vida ) “Nibbana”.

“Carana” terdiri atas lima-belas (15) unsure :

1. Kesempurnaan Sila ( Sila-Sampada )

2. Pengendalian Indria ( Indria Samvara )

3. Makan secukupnya ( Bhojanamattannuta )

4. Waspada dan menjaga diri dalam tiga waktu ( Jaganiyanuyoga )

5. Keyakinan ( Saddha )

6. Malu melakukan perbuatan jahat ( Hiri )

7. Takut akibat-akibat perbuatan jahat ( Ottapa )

8. Berpengetahuan luas ( Bahusacca )

9. Semangat ( Viriya )

10. Sadar ( Sati )

11. Bijaksana ( Panna )

12. Jhana pertama ( Pathama Jhana )

13. Jhana kedua ( Dutiya Jhana )

14. Jhana ketiga ( Tatiya Jhana )

15. Jhana keempat ( Catuttha Jhana )


Dengan lima belas unsure-unsur tersebut, seseorang dapat merealisasi Nibbana. Oleh karena itu unsure-unsur itu disebut “laku-lampah”. Di dalam Majjhima Nikaya (I.355) dijelaskan secara terinci sebagai jalan untuk merealisasi Nibbana. Diresapi oleh pengetahuan dan laku lampah yang demikian, maka Sang Buddha dikatakan sebagai “Vijja-carana-sampanno”.

Lebih lanjut, kesempurnaan Pengetahuan membawa Sang Buddha kepada “Ke-Mahatahu-an” ( Sabbannuta-nana ) dan kesempurnaan laku-lampah kepada Maha-Karuna.

Dengan Vijja-sampanno, Ia mampu untuk mengerti keadaan dari semua makhluk. Kasih-sayang-NYa yang besar mendorong-Nya untuk memajukan mereka kedalam jalan yang berfaedah. Oleh sebab itu pengikut-pengikut Sang Buddha terbimbing dengan benar, tidak tersesat seperti siswa-siswa dari petapa-petapa / suciwan-suciwan lainnya, karena kurangnya pengetahuan (Vijja) dan laku-lampah (Carana) mereka.

d). Sugato

Setelah melalui jalan yang benar, Bhagava merealisasi Nibbana, karena itu Beliau disebut “SUGATA”, yang secara harafiah berarti “Yang-Telah-Merealisasi”. Ia telah pergi dengan bahagia sepanjang jalan itu, yaitu Jalan Mulia ( Ariya Magga ). Tanpa ragu-ragu Beliau telah melaluinya ke tempat yang aman. Jadi ia telah sampai dengan sempurna “pada tempat yang benar, keadaan tanpa kematian, “Amata” / “Amerta”.


e).Lokavidu

Sang Bhagava mengetahui alam semesta dalam semua segi, maka ia disebut “Pengenal Alam Semesta “ (Lokavidu) . Loka berarti alam-semesta. Alam semesta ini dikelompokkan menjadi :

a. Alam Benda ( Sankhara Loka )

b. Alam Makhluk Hidup ( Satta Loka )

c. Alam Tempat ( Okasa Loka )

Sang Bhagava mengetahui semua alam tersebut dengan segala isinya seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, manussa, deva, dan brahma, dengan segala kecenderungan, perbuatan dan kehendak mereka.

f). Anuttaropurisadhammasarati

Tidak ada makhluk lain di ala mini yang lebih suci darpiada Sang Buddha. Karena itu Sang Buddha diberi gelar “Tidak-ada-bandingnya” ( Anuttaro ). Beliau menuntukn (Sarathi) makhluk yang harus dijinakkan ( purisadhamma ) melatih mereka ( vinati ) dan menundukkan ( dameti ) seperti kusir ( sarata ) melatih kuda.

Disini “purisadhamma” berarti mereka ( manusia atau bukan ) yang belum dilatih dan yang pantas dilatih.

Ia juga mendidik mereka yang telah mendapat latihan, menerangkan pada mereka tentang Samadhi dan pencapaian-pencapaian lainnya, menganjurkan mereka menempuh jalan untuk kemajuan, menuntun mereka mencapai Arahat.

Oleh sebab itu Bhagava disebut “Kusir-yang-tidak-ada-bandingnya” atau “Pemimpin-mereka-yang-menuntun” ( Anuttaro Purisadhamma Sarati ).

g).Satta Devamanussanam

Beliau melatih makhluk-makhluk sesuai dengan watak mereka, melihat apa yang baik bagi mereka di dalam kehidupan ini dan akan datang.

Sebagai seorang Guru ( Sattha ), beliau bagaikan pemimpin kafilah ( Sattha vaha ), yang memimpin kafilah menyeberangi padang pasir, melalui sarang-sarang penyamun, melalui hutan-hutan yang didiami binatang-binatang liar, melalui daerah yang tidak berair membawa mereka ke tempat yang aman.

Demikian pula Bhagava membawa makhluk-makhluk ( dewa maupun manusia ) menyeberangi padang pasir samsara, melewati kelahiran, usia tua, kelapukan dan kematian. Serta membawa mereka dengan selamat ke Nibbana. Oleh sebab itu Beliau adalah Guru para Deva dan Manussa.

h).Buddho

Buddha adalah seseorang yang telah merealisasi “Pencerahan-Sempurna”. Sebutan bagi mereka yang telah menyadari kebebasan-Nya ( dari samsara ). Ia telah bangun dan membangunkan orang lain. Ia telah mencapai Pencerahan-Sempurna di bawah pohon Bodhi disertai “Ke-Mahatahu-an” (Sabbannuta-nana ). Jadi, Ia adalah BUDDHA, mencapai pencerahan-sempurna atas usahanya sendiri dan menjadikan orang lain merealisasi juga Pencerahan-Sempurna.

i). Bhagava

“Bhagava” adalah sebutan untuk menghormati dan memuji mereka yang paling mulia diantara semua makhluk, yang paling tinggi dalam kesucian.

Bhagava bukanlah suatu nama yang diberikan oleh orang tua atau keluarga tetapi diberikan pada BUDDHA, mereka yang telah mencapai Pencerahan-Sempurna, dengan “Ke-Mahatahu-an” di bawah pohon Bodhi. Bhagava menunjukkan telah berhasil dalam merealisasi sifat-sifat di atas makhluk biasa.

Kemudian, selain hal-hal yang sudah disebutkan diatas,  Seorang Samma-Sambuddha memiliki beberapa “ciri-ciri” yang lainnya, yaitu :

I. Dasabalabana (10 Kemampuan Pandangan Terang) :

1. Pandangan Terang tentang kemungkinan-kemungkinan dan ketidakmungkinan (thanathananana).
2. Pandangan Terang tentang akibat-akibat karma (vipakanana).
3. Pandangan Terang tentang praktik-praktik yang membawa pada bermacam-macam alam kehidupan (sabbatthagaminipatipadanana).
4. Pandangan Terang tentang susunan unsur-unsur kehidupan (banadhatunana).
5. Pandangan Terang tentang perbedaan kecenderungan-kecenderungan (nana-dhimuttikanana).
6. Pandangan Terang tentang perkembangan kemampuan-kemampuan makhluk (indriyaparopariyattinana).
7. Pandangan Terang tentang pencapaian Jhana dan kemundurannya karena ke-kotoran-kekotoran batin (jhanasankilesadinana).
8. Pandangan Terang tentang kelahiran-kelahiran sebelumnya (pubbenivasanus-satinana).
9. Pandangan Terang tentang kelahiran dan kematian makhluk-makhluk berda-sarkan perbedaan karma mereka (cutupapatanana).
10. Pandangan Terang yang menghancurkan kekotoran-kekotoran batin untuk se-ketika dan untuk selama-lamanya (asavakkhayanana).

II. Seorang Samma-Sambuddha memiliki 32 Tanda Istimewa Manusia Agung (Maha Purisa Lakkhana) sebagai berikut :

1. Telapak kaki rata (suppatitthita-pado).
2. Di telapak kaki terdapat lingkaran dengan seribu ruji, dengan bentuk lingkar dan pusat sempurna.
3. Bentuk tumit bagus (ayatapanhi).
4. Jari – jari panjang (dighanguli).
5. Tangan dan kaki : lembut dan halus (mudu-taluna).
6. Tangan dan kaki bagaikan jala (jala-hattha-pado).
7. Tulang pergelangan kaki seperti kulit kerang (ussankha-pado).
8. Kaki bagaikan kaki kijang (enijanghi).
9. Bila berdiri tanpa membungkukkan badan, dengan kedua tangan-Nya dapat menyentuh atau menggosok kedua lutut-Nya.
10. Alat kelamin terbungkus oleh selaput (kosohita-vatthaguyho).
11. Warna kulit bagaikan perunggu berwarna emas.
12. Kulit sangat licin sehingga tidak debu yang dapat melekat di tubuh-Nya.
13. Pada setiap pori-pori di kulit-Nya tumbuh sehelai bulu.
14. Rambut berwarna biru kehitan-hitaman tumbuh keriting ke atas berbentuk ling-karan kecil dengan arah berputar ke kanan.
15. Potongan tubuh yang agung (brahmujju-gatta).
16. Tujuh otot yang kuat (sattusado).
17. Dada bagaikan dada singa (sihapubbaddha-kayo).
18. Di kedua bahu tidak ada lekukan.
19. Potongan tubuh bagaikan pohon nigrodha (beringin). Tinggi tubuh-Nya sama dengan rentangan kedua tangan-Nya, begitu pula sebaliknya.
20. Bahu yang sama lebar (sama-vattakkhandho).
21. Indera perasa sangat peka (rasaggasaggi).
22. Rahang bagaikan rahang singa (sihabanu).
23. Gigi : empat puluh buah.
24. Gigi yang sama (sama-danto).
25. Gigi yang tetap (avivara-danto).
26. Gigi putih bersih.
27. Lidah panjang (pahuta-jivha).
28. Suara bagaikan suara brahma yang seperti suara burung karavika.
29. Mata biru.
30. Bulu mata bagaikan mata sapi (gopakhumo).
31. Di antara alis mata tumbuh (sehelai) rambut halus, putih bagaikan kapas yang halus.
32. Kepala bagaikan kepala berserban (unhisasiso).

III. Seorang Samma-Sambuddha mencapai dan membabarkan pengetahuan yang tidak pernah didengar sebelumnya ( berarti, sebelum munculnya seorang Buddha, ajaran tersebut belum pernah diajarkan siapapun ; ORIGINAL ).
Dalam Dhammacakkappavattana Sutta, pada saat membabarkan Empat Kebenaran Mulia ( Cattari Ariya-Saccani ), masing-masing dinyatakan sebagai berikut :

“Inilah Kebenaran Mulia tentang Dukkha. Demikianlah, o para bhikkhu, me-ngenai segala sesuatu (Dhamma) yang belum pernah saya dengar (pubbe ananussutesu) menjadi terang dan jelas ; timbullah pandangan, timbullah pe-ngetahuan, timbullah kebijaksanaan, timbullah penembusan, timbullah cahaya, … “.

IV. Semua Samma-Sambuddha mengajarkan Dhamma yang sama. Oleh sebab itu, maka sebelum ajaran seorang Samma-Sambuddha lenyap dari muka bumi ( dilupakan oleh semua manusia ), tidak akan mungkin muncul Sammasambuddha baru.


Saya rasa, Romo Hudoyo patut memperhatikan hal-hal tersebut diatas sebelum mengambil kesimpulan bahwa seseorang, dalam hal ini J.Krishnamurti, adalah seorang “BUDDHA”.

7. PENOLAKAN ROMO HUDOYO [ dengan halus ] AKAN AJARAN “ANATTA”

Secara halus, Romo Hudoyo menolak doktrin “Anatta” yang merupakan cirri-khas Buddha-Dhamma. Sebab ada “Atta” yang selalu muncul sebagai pikiran, keinginan, harapan, ketidaksenangan, dan lain sebagainya. Menurut Romo Hudoyo, Anatta tidak bisa dialami saat meditasi. Anatta hanyalah konsep belaka, begitu menurut Romo Hudoyo. Dan Romo Hudoyo sendiri menegaskan, disitulah ( penolakan Anatta ) perbedaan “ajaran” Romo Hudoyo dengan Ti-Lakkhana dalam ajaran Sang Buddha Gotama.

Itulah sebabnya dalam retret MMD saya tidak pernah mengajarkan ‘anatta’ lagi … Saya mengajarkan karakteristik yang dalam agama Buddha disebut ‘anicca’ & ‘dukkha’ … lalu ‘atta’ yang selalu muncul sebagai pikiran, keinginan, harapan, ketidaksenangan dsb. … ‘Atta’ ini yang melekat kepada segala sesuatu yang ‘anicca’ sehingga terjadilah ‘dukkha’. … (Sudah tentu saya tidak menggunakan kata-kata Pali itu kalau pesertanya non-Buddhis.) …

Saya tidak pernah lagi mengajarkan tilakkhana sebagai kombinasi ‘anicca, dukkha, anatta’ … alih-alih, saya mengajarkan ‘anicca, dukkha, atta’ karena hanya inilah yang bisa kita alami dalam meditasi. …

‘Anatta’ tidak bisa kita alami dalam meditasi, ‘anatta’ cuma konsep dari ingatan/pikiran yang mencampuri meditasi sehingga orang tidak melihat ‘anicca, dukkha & atta’ seperti apa adanya. … Selanjutnya, ‘anicca, dukkha & atta’ itu akan lenyap bila pikiran & aku berhenti (khanika-samadhi), sekalipun cuma untuk sementara. … DI SINILAH PERBEDAAN AJARAN SAYA DENGAN KONSEP TILAKKHANA yang pervasif di dalam Tipitaka Pali … ini perbedaan pengertian seorang praktisi MMD dengan praktisi vipassana tradisional atau umat Buddha yang hanya menghafal konsep tilakkhana.

Salam,
hudoyo

[ Sumber =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=6 ]


Ketika seorang ummat Buddha berdiskusi dengan Romo Hudoyo, dan menyatakan saat bervipassana ia melihat Ti-Lakkhana, Romo Hudoyo kembali menegaskan bahwa itu hanyalah tafsiran dari pikiran ummat Buddha tersebut.

Tetapi ketika Anda berkata “… disitulah saya memahami anicca, dukha dan anatta …”, itu tidak lain adalah tafsiran pikiran yang muncul kembali yang menggunakan konsep tilakkhana … terutama tentang ‘anatta’, karena menurut hemat saya, tidak seorang pun puthujjana bisa melihat ‘anatta’ secara otentik; hanya seorang arahat bisa mengalami anatta. …

Itu tentang ‘anicca’ & ‘dukkha’. … Lain lagi dengan ‘anatta’ … tidak ada pencerahan tentang ‘anatta’. … ‘Anatta’ hanya dialami oleh seorang arahat. … Karena Anda belum arahat, maka dalam meditasi Anda tidak mungkin Anda mengalami ‘anatta’. …

Sumber =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=6


Mungkin statement yang terakhir ini ~”Anatta” hanya dialami oleh seorang Arahat~ lebih “lentur” dibandingkan statement yang pertama diatas ketika Romo Hudoyo dengan tegas menolak konsep “Anatta” dan dengan itu meyakinkan bahwa disitulah letak perbedaan “ajaran” beliau dengan ajaran Buddha-Dhamma umumnya. Tetapi, meskipun terlihat lebih “lentur”, statement tersebut tetap mengandung “cacat” dan menunjukkan perbedaannya dengan apa  yang diajarkan dalam Buddha-Dhamma.

Di satu sisi saya setuju dengan Romo Hudoyo, bahwa seorang puthujjana, atau menurut saya lebih tepatnya adalah seorang “assutava puthujjana” ( manusia biasa yang tidak belajar ) / manusia-duniawi-biasa, yang tidak memiliki pencapaian spiritual maupun pembelajaran di dalam Buddha-Dhamma, ia dikuasai oleh berbagai macam kekotoran batin dan pandangan-pandangan salah. Dan assutava-puthujjana seperti ini memang tidak bisa melihat “anatta” ( ke-tanpa-diri-an atau / tidak-adanya-AKU ).

Namun , disisi lain saya tidak sependapat dengan Romo Hudoyo yang menyatakan bahwa HANYA seorang Arahat saja yang bisa mengalami “Anatta”. Sebab, ketika seseorang telah merealisasikan tingkat kesucian yang pertama, yaitu Sotapatti-Magga-Phala, maka disaat itu dia telah “melihat” / “mengalami” Anatta, karena ia pun saat itu telah mencabut / mematahkan ketiga belenggu pertama :

1. Sakkaya-ditthi ; Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa, atau “AKU” yang kekal , anggapan tentang adanya “Diri”, “Pribadi”, “Aku”.

2. Vicikiccha ; Keragu-raguan yang skeptis pada Sang-Ti-Ratana : Buddha, Dhamma, Sangha.

3. Silabbata-paramasa ; Kemelekatan pada suatu kepercayaan bahwa hanya dengan melaksanakan aturan-aturan dan upacara keagamaan seseorang dapat mencapai kebebasan.

Seorang praktisi vipassana, setelah mencapai ketiga-kesucian :

I.Sila Visuddhi ( Kesucian-Sila )

II.Citta-Visuddhi ( Kesucian-Pikiran )

III. Ditthi-Visuddhi ( Kesucian-Pandangan )

Akan mencapai pengetahuan / “insight” yang disebut dengan “Nama-Rupa Pariccheda Nana”, yaitu diraihnya pengertian secara langsung mengenai perbedaan nama ( batin ) dan rupa ( jasmani ). Disaat itu, baik nama ( batin ) maupun rupa ( jasmani ) akan ia lihat dengan jelas sebagai nama (batin) dan rupa (jasmani) saja, tanpa adanya lagi konsep “roh” didalamnya .

Setelah mencapai “Kesucian dengan Mengatasi Keraguan” ( Kankhavitaranavisuddhi ) yang dicapai setelah diperolehnya “Paccaya Pariggaha Nana”, maka sebelum mencapai “Kesucian dengan Pengetahuan dan Pandangan mengenai Jalan dan Bukan Jalan” ( Maggamaggananadassanavisudhi ), seorang praktisi vipassana akan mencapai “Sammasana Nana” ( Pengetahuan dengan pemahaman ), yaitu melihat ti-lakkhana ( anicca,dukkha, anatta ) dengan jelas.

Sehingga, bahkan ketika seorang praktisi vipassana belum merealisasi Sotapatti-Magga-Phala sekalipun, namun ia telah mencapai “Kesucian dengan Mengatasi Keraguan “ ( ( Kankhavitaranavisuddhi ) , ia akan mendapatkan “insight” berupa pengetahuan dengan pemahaman mengenai tiga-corak-umum : Anicca-Dukkha-Anatta. Seharusnya sebagai seorang “Guru” Vipassana dan seorang Romo / Pandhita, Romo Hudoyo memahami hal ini.

Originally Posted by semar00

Lihat saya apa yang tampak melalui pancaindra, bukan hanya apa yang ada diluar, tetapi yang lebih penting ialah apa yang ada di dalam batin. …

Nanti akan terlihat jelas si aku itu sebagai penggerak utama dari eksistensi Anda …

Salam,
hudoyo

Sumber :

http://www.kaskus.us/showthread.php?p=43677304

Apakah ketika Romo Hudoyo menyatakan adanya “Aku” sebagai penggerak-utama dari eksistensi makhluk-manusia ini, Romo Hudoyo sedang “khilaf” ? Saya harap demikian. Sebab, bila pernyataan itu dilakukan dengan sadar dan memang sungguh demikianlah pandangan Romo, maka dengan demikian bisa disimpulkan bahwa Romo Hudoyo telah “memisahkan-diri” dari ajaran “Dhamma” Sang Buddha. Mengapa ? sebab, satu hal yang membuat Buddha-Dhamma “UNIQUE” sehingga berbeda dengan ajaran-ajaran lain adalah karena penolakannya terhadap semua doktrin mengenai diri. Sang Buddha bersabda :

“ Walaupun seorang petapa atau brahmana menyatakan mengemukakan pemahaman penuh mengenai semua jenis kemelekatan, namun mereka tidak sepenuhnya menggambarkan pemahaman penuh mengenai semua jenis kemelekatan. Mereka menggambarkan pemahaman penuh mengenai kemelekatan terhadap kesenangan indera, kemelekatan terhadap peraturan dan pantangan, namun tanpa menggambarkan pemahaman penuh mengenai kemelekatan terhadap doktrin tentang diri. Mereka tidak memahami satu jenis kemelekatan ini seperti apa adanya. Maka dari itu, mereka menggambarkan hanya pemahaman penuh mengenai kemelekatan terhadap kesenangan indera, kemelekatan terhadap pandangan-pandangan, kemelekatan terhadap peraturan dan pantangan, namun tanpa menggambarkan pemahaman penuh mengenai KEMELEKATAN TERHADAP DOKTRIN TENTANG DIRI.” [ Culasihanada Sutta ; Majjhima-Nikaya, sutta ke-11 ]

Sabda Sang Buddha tersebut diatas  dengan jelas menyatakan bahwa factor-kritis yang membedakan ajaran Sang Buddha dari semua pandangan keagamaan dan filsafat lain adalah “pemahaman penuh Beliau mengenai kemelekatan terhadap doktrin tentang diri.” Akibatnya, hal ini berarti bahwa hanya Sang Buddha sendiri yang dapat menunjukkan bagaimana cara menanggulangi semua pandangan tentang diri lewat pengembangan penembusan kebenaran akan tanpa-diri. Karena guru-guru spiritual lain tidak memiliki pemahaman mengenai “tanpa-diri” ( Anatta ) ini, maka pernyataan-pernyataan bahwa mereka telah sepenuhnya memahami tiga jenis kemelekatan yang lainnya ( kemelekatan terhadap kesenangan indera, kemelekatan terhadap pandangan-pandangan, kemelekatan terhadap peraturan dan pantangan ) juga menjadi meragukan.

Romo Hudoyo, siapakah yang anda maksudkan dengan “Si AKU” yang menjadi penggerak “makhluk” manusia itu ?  Romo sebagai seorang ummat Buddha mazhab Theravada seharusnya sudah memahami, bahwa tidak ada “actor” / “individu” apapun yang bisa disebut sebagai “Aku”, sebagai “pelaku”. Kehendak ( cetana ) itu sendirilah si pelaku. Kecuali keadaan murni mental ( suddhadkamma ) ini tidaklah ada seorangpun yang menjadi “actor”.

Yang Ariya Bhikkhu Buddhaghosa menulis dalam Visudhi-Magga :

“ Tak ada pelaku yang menjalankan perbuatan,

Ataupun seseorang merasakan buahnya,

Hanyalah suku cadang penunjang yang bergulir terus,

Inilah sesungguhnya yang betul.”

[ dikutip dari “Sang Buddha dan Ajaran-ajaran-Nya” , penulis Bhante Narada Mahathera ]

Sebagaimana Sang Buddha menyatakan “Hanya Dukkha yang terjelma, tiada seorang penderita pun yang berada; segala perubahan terjadi, tetapi pembuat perubahan itu tidak tertemukan; ada Nirvana, tetapi tak seorangpun yang memasukinya; Ada jalan, tetapi tak seorang pengunjungpun yang melewatinya. “
(Visuddhi Magga. XVI).
Jadi dengan ini sangat jelas bahwa Sang Buddha mengajarkan tidak-adanya “Si AKU” yang menggerakkan eksistensi makhluk-manusia ( dan makhluk-makhluk lainnya ).

8. PENOLAKAN ROMO HUDOYO TERHADAP KEBENARAN  ISI TI-PITAKA

Dalam sebuah disksusi antara Hendra Susanto dengan Hudoyo di situs Kaskus :

Originally Posted by Hendra Susanto

gunakan pikiran mu ;D apakah sahih atau tidak menyangkal salah satu sutta, jgn kita ehipassiko keblinger yg akhirnya sok tau

Sutta-sutta yang ditulis empat ratus tahun setelah Sang Buddha wafat, di sana-sini patut dipertanyakan isinya yang bertentangan dengan pemahaman seorang pemeditasi … apakah tidak kemasukan opini bhikkhu-bhikkhu penghafal Tipitaka sebelum sutta itu dituliskan.

[ Sumber =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=6 ]

Originally Posted by Kelana

Nah ini dia Sdr. Kainyn_Kutho, salah satu pihak tidak ingin membahas materi-materi secara objektif tapi justru membiaskannya dengan pengalaman pribadi (subyektif), contohnya dalam forum Sutta yang seharusnya objektif.

Apa yang Anda maksud dengan “obyektif”? Apakah “sutta dalam keadaannya harus diimani sebagai berasal dari mulut Sang Buddha”? … Tidah usah, ya.

[ Sumber =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=6]

Alasan penolakan Romo Hudoyo terhadap kebenaran sutta-sutta, adalah karena menurut Romo Hudoyo sutta-sutta dalam Ti-Pitaka ditulis empat-ratus (400) tahun setelah Sang Buddha parinibbana. Sehingga menurut Romo Hudoyo, isi sutta-sutta tersebut patut dipertanyakan kebenarannya.

Yang aneh, dilain kesempatan Romo Hudoyo mengatakan bahwa Ti-Pitaka “ditulis-orang” tiga-ratus (300) tahun setelah Sang Buddha Parinibbana.

Kitab Tipitaka Pali bukanlah hasil rekaman verbatim dari kaset atau stenografi khotbah Sang Buddha, melainkan ditulis orang 300 tahun setelah
wafatnya Buddha
dari penuturan lisan yang dihafalkan turun-temurun, sehingga dalam Sutta-pitaka terjadilah bentuk-bentuk khotbah yang kaku,
penuh pengulangan dan ganjil, yang jelas bukanlah cara Sang Buddha berkhotbah sesungguhnya.

Sumber =

http://groups.yahoo.com/group/milis-spiritual/message/20890

Yang harus diluruskan terlebih dahulu adalah, pernyataan “ditulis-orang” serta kata “wafat” yang digunakan untuk menunjuk “Parinibbana” Sang Buddha

Frasa “orang” sebagai kata penunjuk subjek “penulis” Ti-Pitaka sangat bias, karena, “orang” bisa berarti : juru-tulis, tukang-kayu, nelayan, petani, pelajar, bangsawan, dan lain-lain “orang”. Dalam hal penyusunan Ti-Pitaka, Romo Hudoyo tentunya tahu, bahwa yang menyusun Ti-Pitaka ini adalah para “Arahat” ; yang telah merealisasi kesucian-tertinggi. Penggunaan kata “Arahat” ini penting ditekankan, untuk menunjukkan bahwa penyusun Ti-Pitaka tersebut bukan “orang” dalam pengertian : juru-tulis, tukang-ketik, tukang-kayu, dan lain-lain “orang” yang belum meralisasi kesucian tertinggi.

Mengenai kata “wafat” ; benarkah Sang Buddha “wafat”. Kata wafat digunakan untuk manusia kebanyakan, yang meskipun kata ini digunakan untuk orang yang dihormati ( sehingga tidak digunakan kata “mati”, “mampus”, “meninggal” ), namun memiliki pengertian yang sangat berbeda dengan “Parinibbana” ( Nibbana-Sempurna ) yang seyogyanya digunakan untuk menunjukkan “Wafat”-nya seorang Buddha ( dalam hal ini Buddha Gotama ), dimana ketika tubuh-fisik tersebut “padam”, maka batin sekaligus dibebaskan dari penderitaan-jasmaniah, ini disebut dengan “Anupadisesa-Nibbana”.

Atau mungkin, sebenarnya Romo Hudoyo memahami terminology Buddhist ini , tapi lebih memilih menggunakan kata “orang” untuk menggantikan para “Arahanta” yang menyusun Ti-Pitaka, dan menggunakan sekedar kata “wafat” untuk menunjukkan “Parinibbana” Sang Buddha ? Ini yang sebaiknya diklarifikasi oleh Romo Hudoyo.

Riwayat penyusunan Ti-Pitaka ini pun seharusnya Romo sudah mengetahuinya. Lalu , bagaimana bisa Romo “bingung” atau “lupa”, tepatnya kapan Ti-Pitaka itu disusun oleh “orang” yang Romo maksud tersebut ; pertama-tama Romo Hudoyo menyatakan Ti-Pitaka ditulis “orang” setelah 400 tahun Sang Buddha “wafat”, dilain kesempatan berubah lagi dan menyatakan Ti-Pitaka ditulis “orang” 300 tahun setelah Sang Buddha “wafat”.

Ada beberapa bagian dari Tipitaka Pali yang saya ragukan kebenarannya. … Yang paling mencolok adalah di dalam Mahaparinibbana-sutta, di mana Sang
Buddha dikisahkan bersabda, bahwa di dalam ajaran mana pun yang tidak mengandung Jalan Mulia Berfaktor Delapan tidak mungkin ada pembebasan. …
Dengan kata lain, di situ ditampilkan Sang Buddha mengklaim bahwa hanya di dalam ajarannya sendiri mungkin tercapai pembebasan, di luar ajaran Buddha
tidak mungkin ada pembebasan: ajaranku paling benar, semua ajaran lain salah.

Saya tidak percaya itu.

Salam,

hudoyo

Sumber =

http://groups.yahoo.com/group/semedi/message/17515

Menurut hemat saya, “sabda Sang Buddha” dalam Mahaparinibbana-sutta tsb disisipkan oleh bhikkhu-bhikkhu penghafal Tipitaka sebelum kitab suci itu
dituliskan ratusan tahun kemudian.
Maksudnya sih baik, menjunjung tinggi ajaran Sang Guru, tapi tidak cocok dengan pencerahan zaman sekarang.

Salam,

hudoyo

[ Sumber =

http://groups.yahoo.com/group/semedi/message/17515 ]

Selain menolak kebenaran isi sutta-sutta dalam Ti-Pitaka, Romo Hudoyo juga selalu menolak pentingya “Abhidhamma” untuk dipelajari. Baginya, Abhidhamma tidak relevan bagi seorang praktisi vipassana, sebagaimana tidak pentingnya sutta-sutta Sang Buddha seperti yang sudah ia nyatakan diatas.

“ Tapi dalam kesadaran vipassana, Abhidhamma-pitaka tidak relevan, sebagaimana seluruh kitab-kitab suci lainnya tidak relevan.”


Sumber =

http://groups.yahoo.com/group/semedi/message/5509

Syukurlah jika Abhidhamma bisa “mengikis kebiasaan2 buruk Anda”. … Saya sendiri tidak mendapat manfaat apa-apa sama sekali dari Abhidhamma yang pernah saya hafalkan beberapa puluh tahun lalu (Abhidhammattha-sangaha); bagi saya, Abhidhamma hanya merupakan pengetahuan pikiran (knowledge) yang menghalangi vipassana, yang justru mengamati pikiran dengan segala isinya sampai pikiran itu berhenti dengan sendirinya. … Anda melakukan meditasi rutin? Meditasi apa, kalau boleh saya tahu? …

[ Sumber =

http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=3803.0;wap2 ]

Pengalaman saya justru sebaliknya: Abhidhamma tidak kompatibel sama sekali dengan vipassana. Yang satu menggunakan pikiran sebagai instrumennya, yang lain justru mengamati pikiran itu sampai berhenti dengan sendirinya. Menurut saya, tidak mungkin orang mempelajari Abhidhamma dan menjalankan vipassana sekaligus; dia harus memilih salah satu.

[ Sumber =

http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=3803.0;wap2 ]

Menimbang kuatnya keraguan Romo Hudoyo terhadap kebenaran isi Ti-Pitaka, dan kerancuan pengertian Romo Hudoyo mengenai sejarah tersusunnya Ti-Pitaka, ada baiknya kita mengulang pelajaran sejarah disusunnya Ti-Pitaka. Dibawah ini saya sajikan sejarah penyusunan Ti-Pitaka, yang saya ambil dari sumber = http://www.secangkirteh.com/forum/index.php?topic=1555.0;wap2

Beberapa minggu setelah Sang Buddha wafat (483 SM) seorang Bhikkhu tua yang tidak disiplin bernama Subhaddha berkata : “Janganlah bersedih kawan-kawan, janganlah meratap, sekarang kita terbebas dari Pertapa Agung yang tidak akan lagi memberitahu kita apa yang sesuai untuk dilakukan dan apa yang tidak, yang membuat hidup kita menderita, tetapi sekarang kita dapat berbuat apa pun yang kita senangi dan tidak berbuat apa yang tidak kita senangi” (Vinaya Pitaka II,284). Maha Kassapa Thera setelah mendengar kata-kata itu memutuskan untuk mengadakan Pesamuan Agung (Konsili) di Rajagaha.

Dengan bantuan Raja Ajatasattu dari Magadha, [ tiga (3) bulan setelah Sang Buddha Parinibbana~pen. ] 500 orang Arahat berkumpul di Gua Sattapanni dekat Rajagaha untuk mengumpulkan ajaran Sang Buddha yang telah dibabarkan selama ini dan menyusunnya secara sistematis. Yang Ariya Ananda, siswa terdekat Sang Buddha, mendapat kehormatan untuk mengulang kembali kotbah-kotbah Sang Buddha dan Yang Ariya Upali mengulang Vinaya (peraturan-peraturan). Dalam Pesamuan Agung Pertama inilah dikumpulkan seluruh ajaran yang kini dikenal sebagai Kitab Suci Tipitaka (Pali). Mereka yang mengikuti ajaran Sang Buddha seperti tersebut dalam Kitab Suci Tipitaka (Pali) disebut Pemeliharaan Kemurnian Ajaran sebagaimana sabda Sang Buddha yang terakhir: “Jadikanlah Dhamma dan Vinaya sebagai pelita dan pelindung bagi dirimu”.

Pada mulanya Tipitaka (Pali) ini diwariskan secara lisan dari satu generasi ke genarasi berikutnya. Satu abad kemudian terdapat sekelompok Bhikkhu yang berniat hendak mengubah Vinaya. Menghadapi usaha ini, para Bhikkhu yang ingin mempertahankan Dhamma – Vinaya sebagaimana diwariskan oleh Sang Buddha Gotama menyelenggarakan Pesamuan Agung Kedua dengan bantuan Raja Kalasoka di Vesali, di mana isi Kitab Suci Tipitaka (Pali) diucapkan ulang oleh 700 orang Arahat. Kelompok Bhikkhu yang memegang teguh kemurnian Dhamma – Vinaya ini menamakan diri Sthaviravada, yang kelak disebut Theravada. Sedangkan kelompok Bhikkhu yang ingin mengubah Vinaya menamakan diri Mahasanghika, yang kelak berkembang menjadi mazhab Mahayana. Jadi, seabad setelah Sang Buddha Gotama wafat, Agama Buddha terbagi menjadi 2 mazhab besar Theravada dan Mahayana.

Pesamuan Agung Ketiga diadakan di Pattaliputta (Patna) pada abad ketiga sesudah Sang Buddha wafat (249 SM) dengan pemerintahan di bawah Kaisar Asoka Wardhana. Kaisar ini memeluk Agama Buddha dan dengan pengaruhnya banyak membantu penyebarkan Dhamma ke suluruh wilayah kerajaan. Pada masa itu, ribuan gadungan (penyelundup ajaran gelap) masuk ke dalam Sangha dangan maksud meyebarkan ajaran-ajaran mereka sendiri untuk meyesatkan umat. Untuk mengakhiri keadaan ini, Kaisar menyelenggarakan Pesamuan Agung dan membersihkan tubuh Sangha dari penyelundup-penyelundup serta merencanakan pengiriman para Duta Dhamma ke negeri-negeri lain.

Dalam Pesamuan Agung Ketiga ini 100 orang Arahat mengulang kembali pembacaan Kitab Suci Tipitaka (Pali) selama sembilan bulan. Dari titik tolak Pesamuaan inilah Agama Buddha dapat tersebar ke suluruh penjuru dunia dan terhindar lenyap dari bumi asalnya.

Pesamuan Agung keempat diadakan di Aluvihara (Srilanka) di bawah lindungan Raja Vattagamani Abhaya pada permulaan abad keenam sesudah Sang Buddha wafat (83 SM). Pada kesempatan itu Kitab Suci Tipitaka (Pali) dituliskan untuk pertama kalinya. Tujuan penulisan ini adalah agar semua orang mengetahui kemurnian Dhamma Vinaya.

Selanjutnya Pesamuan Agung Kelima diadakan di Mandalay (Burma) pada permulaan abad 25 sesudah Sang Buddha wafat (1871) dengan bantuan Raja Mindon. Kejadian penting pada waktu itu adalah Kitab Suci Titpitaka (Pali) diprasastikan pada 727 buah lempengan marmer (batu pualam) dan diletakkan di bukit Mandalay.

Persamuan Agung keenam diadakan di Rangoon pada hari Visakha Puja tahun Buddhis 2498 dan berakhir pada tahun Buddhis 2500 (tahun Masehi 1956). Sejak saat itu penterjemahan Kitab Suci Tipitaka (Pali) dilakukan ke dalam beberapa bahasa Barat.

Sebagai tambahan pengetahuan dapat dikemukakan bahwa pada abad pertama sesudah Masehi, Raja Kaniska dari Afganistan mengadakan Pesamuan Agung yang tidak dihadiri oleh kelompok Theravada. Bertitik tolak pada Pesamuaan ini, Agama Buddha mazhab Mahayana berkembang di India dan kemudian meyebar ke negeri Tibet dan Tiongkok. Pada Pasamuan ini disepakati adanya kitab-kitab suci Buddhis dalam Bahasa Sansekerta dengan banyak tambahan sutra-sutra baru yang tidak terdapat dalam Kitab Suci Tipitaka (Pali).

Dengan demikian, Agama Buddha mazhab Theravada dalam pertumbuhannya sejak pertama sampai sekarang, termasuk di Indonesia, tetap mendasarkan penghayatan dan pembabaran Dhamma – Vinaya pada kemurnian Kitab suci tipitaka (Pali) sehingga dengan demikian tidak ada perbedaan dalam hal ajaran antara Theravada di Indonesia dengan Theravada di Thailand, Srilanka, Burma maupun di negara-negara lain.

Sampai abad ketiga setelah Sang Buddha wafat mazhab Sthaviravada terpecah menjadi 18 sub mazhab, antara lain: Sarvastivada, Kasyapiya, Mahisasaka, Theravada dan sebagainya. Pada dewasa ini 17 sub mazhab Sthaviravada itu telah lenyap. Yang masih berkembang sampai sekarang hanyalah mazhab Theravada (ajaran para sesepuh). Dengan demikian nama Sthaviravada tidak ada lagi. Mazhab Theravada inilah yang kini dianut oleh negara-negara Srilanka, Burma, Thailand, dan kemudian berkembang di Indonesia dan negara-negara lain.

[ Disusun oleh: Dhamma Study Group Bogor ]

Romo Hudoyo sebagai seorang ummat Buddha mazhab Theravada selalu menolak kebenaran isi Ti-Pitaka ( termasuk dengan tegas menolak “Empat Kesunyataan Mulia” beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan” ), tetapi anehnya justru di berbagai kesempatan senantiasa membela “kebenaran” buku-buku yang berisi sabda J.Krishnamurti, seperti misalnya pernyataannya dibawah ini :

Salah satu ajaran JK ialah bahwa kebenaran tidak dapat ditangkap oleh kata-kata. "Kata bukanlah bendanya."

Ajaran ini perlu dipelihara kelestariannya. Cara memelihara kelestariannya ialah dengan mempertahankan agar ajaran ini tetap terungkap dengan kata-kata aslinya sebagaimana diucapkan oleh JK. Bukan berarti bahwa kata-katanya itu sakral dsb--"kata bukanlah bendanya"--melainkan keaslian ini dipertahankan agar setiap orang dapat menimba sendiri dari sumber aslinya, dan menginterpretasikannya sendiri sesuai dengan pengalaman batinnya sendiri. -- Di zaman sekarang dengan adanya alat perekam, itu bukan suatu kemustahilan.

Jadi, kata-kata JK sama sekali tidak bisa mentransformasikan. Yang mentransformasikan adalah kesadaran orang itu sendiri. Sedangkan kata-kata JK hanyalah cermin kosong yang bisa dipakai oleh orang itu untuk melihat ke dalam batinnya sendiri. Cermin JK bisa dipakai; atau orang bisa memakai cermin lain, asal betul-betul cermin yang polos (bukan cermin yang sudah ada gambarannya) untuk melihat ke dalam batin sendiri.

Kita telah melihat apa yang terjadi dengan sabda-sabda Sang Buddha. Tahukah kita sekarang, mana yang asli dan mana yang tafsiran? Jelas tidak, karena jelas sutta-sutta itu bukan rekaman verbatim dari apa yang dikatakan oleh Buddha. Jadi, mungkin saja dalam menghafalkan dan membakukan (stilisasi) suta-sutta telah terjadi penekanan-penekanan ke arah tertentu, apalagi kalau menyentuh sudut pandang metafisikal. -- Mungkin itu pula yang menyebabkan munculnya Mahayana, sebagai reaksi terhadap penafsiran kearah tertentu dari pihak Sthaviravada (Theravada) di zaman dulu.

sumber =


http://www.usenet.com/newsgroups/soc.culture.indonesia/msg03344.html


Sebagai catatan dari saya, sebenarnya, setiap orang berhak memiliki pandangan spiritualnya masing-masing. Namun, bila seorang Romo Buddhist menganjurkan para ummat Buddha untuk tidak lagi menganggap penting ajaran-ajaran Buddha ( terutama ajaran utama yang berupa “Empat Kesunyataan Mulia” dan “Jalan Ariya Beruas Delapan” ) dan secara langsung maupun tidak langsung “menganjurkan” ummat Buddha untuk meninggalkan ajaran-ajaran yang tidak lagi dianggap penting tersebut, maka jelas ini akan menjadi persoalan yang tidak bisa diterima oleh kalangan Buddhist manapun juga. Akan jauh berbeda pesoalannya, bila yang menyatakan / menganjurkan hal-hal tersebut adalah pemuka agama lain diluar Buddha-Dhamma atau ummat agama lain, maka ummat Buddha pasti tidak akan mempermasalahkannya, karena setiap orang berhak memiliki pandangan-pandangan spiritualnya sendiri.

KESIMPULAN

Dari review atas delapan (8) point pandangan-menyimpang Romo Hudoyo tersebut, maka saya tidak menyalahkan rekan-rekan Buddhis yang tergabung dalam management Dhammacitta.org khususnya dan banyak ummat Buddha lainnya yang kemudian mengambil garis-batas pemisah antara ajaran Romo Hudoyo dengan Buddha-Dhamma. Melihat memang betapa menyimpangnya pandangan-pandangan Romo Hudoyo tersebut, saya juga sepakat, bahwa apa yang Romo Hudoyo ajarkan, bukanlah ajaran Buddha.

Dan juga, dengan meninjau buah-pikir Romo Hudoyo yang sedemikian, maka saya menyimpulkan Romo Hudoyo memang telah ber-“Pandangan-Salah” ( micha-ditthi ) . Kesimpulan ini setidaknya berdasarkan kedua hal berikut ini  :

1. Dengan menolak “Empat-Kesunyataan-Mulia”, maka Romo-Hudoyo menolak bahwa hidup ini adalah dukkha, menolak bahwa nafsu-keinginan (tanha) akan menyebabkan dukkha, menolak bahwa Nibbana merupakan akhir dari dukkkha ( bahkan Romo Hudoyo menegaskan “berhentinya-pikiran” seperti yang diajarkan J.Krishnamurti adalah “akhir-dukkha” ), dan menolak bahwa Jalan Ariya Beruas Delapan mengantarkan semua makhluk pada pembebasan-sempurna dari samsara / akhir dari dukkha. Dan ini semua adalah “pandangan-salah”.

2. Dengan menyatakan bahwa “Anatta” hanyalah konsep pikiran semata, dan tidak bisa dialami oleh para yogi, serta kemudian mengajarkan para yogi untuk tidak lagi mengamati Ti-Lakkhana : Anicca, Dukkha, Anatta, namun sebaliknya sangat menganjurkan para yogi untuk mengamati : Anicca, Dukkha, dan, ATTA ( adanya si “Aku” yang menggerakkan existensi manusia, demikian kata Romo Hudoyo ). Ini adalah pandangan-salah ( sebab menganggap adanya “Aku” yang menjadi “actor” dalam diri, dimana pandangan ini akan membelenggu manusia untuk merealisasi pembebasan-sempurna dari samsara  ).

Apa yang diajarkan oleh Romo Hudoyo, lebih tepat disebut sebagai ajaran J.Krishnamurti ketimbang ajaran Buddha-Dhamma ( meskipun dalam sejarahnya, J.Krishnamurti sendiri semasa mudanya mempelajari Buddha-Dhamma , sehingga tidak mengherankan bahwa semua isi ajarannya menjadi sangat “identik” dengan Buddha-Dhamma, walau ia menolak mengakuinya ).  Hal ini ( pengajaran ajaran J.Krishnamurti ) sesungguhnya tidak menjadi masalah, jika Romo Hudoyo bukanlah seorang Pandhitta Buddhist atau setidaknya tidak membawa bendera dan atribut Buddhisme apapun juga dalam setiap gerak-langkahnya menyebarkan ajaran praktik “MMD” yang diusung-usungnya tersebut. Namun, karena Dr.Hudoyo Hupudhio Mph., menggunakan atribut Buddhisme ( seperti misalnya pemakaian gelar Romo / Pandhita ) dalam menyebarkan ajarannya maka ia kemudian menjadi  sering menghadapi benturan-benturan dengan ummat Buddha sendiri, missal = dianggap menyebarkan ajaran “menyimpang”, atau yang lebih parah dianggap ingin “merusak” kemurnian ajaran Buddha.

Solusi terbaik yang bisa ditawarkan adalah, Dr.Hudoyo Hupudhio Mph. melepaskan segala atribut Buddhisme  yang ia bawa dan kaitkan dengan ajaran “MMD”-nya. Dengan demikian, semakin lebih terlihat bahwa itu memang “pure” ajaran J.Krishnamurti, yang mungkin memang terdapat kesamaan-kesamaan dengan ajaran-ajaran Buddha dalam setiap pandangan-pandangan J.Krishnamurti ( sebagaimana J.Krishnamurti sendiri mengakui, bahwa diantara semua Guru, ia merasa paling dekat dengan Sang Buddha Gotama ). Menurut saya, ini adalah langkah paling aman dan tidak bermasalah yang bisa ditempuh Romo Hudoyo.

Semoga pembahasan wacana ini bermanfaat bagi kita semua. Semoga semua ummat Buddha bisa memahami Dhamma Sang Buddha dengan benar dan baik, dengan tetap penuh kewaspadaan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Minggu, 26 Juli  2009

Posted in BUDDHA, Dhamma dan Adhamma, Diskusi Ummat Buddha, Dr.Hudoyo Hupudhio Mph., Meditasi Mengenal Diri, MMD, Penyimpangan Ajaran Buddha, Romo Hudoyo, Siapakah Romo Hudoyo Hupudhio | 106 Comments »