RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

Archive for the ‘BUDDHA’ Category

HUKUM KARMA ( Kamma-Niyama )

Posted by ratanakumaro pada Juli 5, 2009

“ KAMMASSAKOMHI,

[Aku adalah pemilik perbuatanku sendiri,]

KAMMADAYADO,

[Terwarisi oleh perbuatanku sendiri,]

KAMMAYONI,

[Lahir dari perbuatanku sendiri,]

KAMMABANDHU,

[Berkerabat dengan perbuatanku sendiri,]

KAMMAPATISARANO.

[Tergantung pada perbuatanku sendiri,]

YAM KAMMAM KARISSAMI

[Perbuatan apa pun yang akan kulakukan,]

KALYANAM VA PAPAKAM VA,

[Baik atau pun buruk,]

TASSA DAYADO BHAVISSAMI.

[Perbuatan itulah yang akan kuwarisi.]

EVAM AMHEHI ABHINHAM PACCAVEKKHITABBAM.”

[Demikian hendaknya kerap kali kita renungkan.] “

……………………………………………………………………………………………………………………………..

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”

[tikkhattum ; 3x]

( Tulisan ini merupakan resume mengenai pelajaran Hukum-Karma dari buku-buku : [1.] “Intisari Agama Buddha”, penulis Bhante Narada Mahathera ;   [ 2.]  “Sang Buddha dan Ajaran-ajaran-Nya”, bag.2, penulis : Bhante Naradha Mahathera ;     [3.]  Abhidhammatthasangaha, disusun oleh Pandit J.Kaharuddin ;    [4.]   Kajian Tematis Agama Kristen dan Agama Buddha ; penulis Djoko Mulyono,Petrus Santoso dan Kristiyanto Liman. )


Namatthu Buddhassa

Seorang pemuda pencari kebenaran bernama Subha yang bimbang oleh sesuatu yang tampaknya tak dapat diterangkan mengenai perbedaan yang ada diantara umat manusia, menghadap Sang Buddha dan bertanya tentang hal itu :

“ Apakah alasannya, apakah sebabnya, O Guru, kita jumpai di antara ummat manusia yang berumur pendek ( appayuka ) dan berumur panjang ( dighayuka ), berpenyakit ( bavhabadha ) dan sehat ( appabadha ), jelek ( dubbanna ) dan rupawan ( vannavanta ), tak berpengaruh ( appesakka ) dan berpengaruh ( mahesakka ), miskin ( appabhoga ) dan kaya ( mahabhoga ), hina ( nicakulina ) dan mulia ( uccakulina ), dungu ( duppanna ) dan bijaksana ( pannavanta ) ?”

Sang Buddha menjawab :

“Semua makhluk hidup mempunyai kehendak/perbuatan ( kamma ) sebagai milik mereka, warisan mereka, sebab awal mereka, kerabat mereka, pelindung mereka, Kamma-lah yang membedakan makhluk hidup dalam keadaan rendah atau tinggi.”

[ Majjhima Nikaya, CUllakammavibhanga Sutta, No.135  ]


APAKAH SEMUA KARENA “MAHA-DEWA” ?

Huxley menulis :  “  Apakah kita berpendapat bahwa ada seseorang atau sesuatu yang mengatur keadaan alam semesta yang menakjubkan ini, maka dalam pengertianku ia tidak dapat disebut murah hati dan adil, melainkan kejam dan tidak adil. “

Menurut Albert Einstein : “ Bila makhluk adikodrati ini Maha Kuasa, maka setiap kejadian, termasuk setiap perbuatan, pikiran, perasaan dan aspirasi manusia juga merupakan karyanya ;  lalu bagaimana manusia harus bertanggungjawab atas perbuatan-perbuatan dan pemikiran-pemikiran mereka dihadapan makhluk maha kuasa seperti itu  ? “

“ Sewaktu memberi hukuman dan anugerah, ia sedikit banyak juga harus mengadili dirinya sendiri. Lalu bagaimana hal ini dapat dikaitkan dengan kebajikan dan keadilan yang dianggap berasal dari dirinya ? “

“ Menurut asas-asas Theologi, manusia diciptakan bukan atas dasar keinginannya sendiri, dan untuk selamanya ia mulia atau celaka. Dengan begitu, sejak awal dalam proses penciptaan fisiknya sampai saat kematiannya, manusia itu dapat baik atau jahat, beruntung atau celaka, mulia atau hina, tanpa menghiraukan akan keinginan-keinginan, harapan-harapan, cita-cita, usaha-usaha ataupun doa sujudnya. Inilah fatalisme theology.” ( Spencer Lewis ).

Sebagaimana Charles Bradlaugh mengatakan : “ Adanya keburukan merupakan suatu penghalang yang menakutkan bagi ajaran Theis. Penderitaan, kesengsaraan, kejahatan, kemiskinan, bertolak belakang dengan penganjur kebaikan abadi dan berlawanan dengan pernyataannya akan kemampuan dirinya sebagai dewa serba baik, serba bijaksana, dan serba kuasa. “

Menurut Schopenhauer “ Barangsiapa menganggap dirinya berasal dari ketiadaan, maka ia juga harus berpikir bahwa ia akan kembali ke ketiadaan itu lagi ;  Suatu kekekalan telah lewat sebelum ia ada dan kekekalan kedua telah dimulai, yang melaluinya ia tidak akan pernah berakhir adalah suatu pemikiran yang menakutkan. “

“ Bila kelahiran adalah permulaan yang mutlak, maka kematian seharusnya akhir yang mutlak pula. Anggapan bahwa manusia berasal dari ketiadaan pasti akan membawa pada anggapan bahwa kematian adalah akhir yang mutlak. “

Memberikan komentar terhadap penderitaan manusia dan dewa pencipta, Prof.J.B.S. Haldane menulis :  “ Kalau bukan penderitaan yang diperlukan untuk menyempurnakan sifat manusia, tentu dewa pencipta itu tidak maha kuasa. Teori yang pertama tidak sesuai dengan kenyataan bahwa, sebagian orang yang hanya sedikit sekali menderita namun beruntung dalam keturunan dan pendidikan terbukti mempunyai sifat yang baik. Keberatan terhadap teori yang kedua adalah bahwa hal itu hanya berkenaan dengan alam semesta secara keseluruhan dan bahwasannya terdapat suatu kekosongan intelektual yang harus diisi dengan mengendalikan seorang dewa. Dan barangkali seorang pencipta dapat menciptakan apa saja yang dia inginkan. “

Lord Russell menyatakan : “ Sebagaimana diceritakan kepada kita, dunia diciptakan oleh seorang dewa yang baik dan maha kuasa. Sebelum dia menciptakan dunia, ia telah melihat seluruh penderitaan dan kesengsaraan yang akan terjadi didalamnya. Karenanya, ia bertanggungjawab atas segala sesuatunya. Adalah suatu hal yang sia-sia memperdebatkan bahwa penderitaan dalam dunia disebabkan oleh dosa. Bila dewa pencipta itu telah mengetahui sebelumnya akan dosa yang bakal dilakukan umat manusia, maka jelas ia bertanggungjawab akan akibat-akibat dosa itu.



FAKTOR KETURUNAN ??

Mungkinkah segala perbedaan yang ada pada manusia ini disebabkan oleh factor keturunan dan lingkungan ?  Kita harus mengakui bahwa semua fenomena fisik-kimiawi yang diungkapkan oleh para ilmuwan, sebagian adalah sebagai factor pembantu, tetapi tidak seluruhnya mutlak bertanggungjawab atas perbedaan-perbedaan besar yang terdapat di antara individu-individu. Lalu mengapa ada anak kembar yang memiliki tubuh serupa, mewarisi gen yang sejenis, menikmati kesempatan asuhan yang sama, seringkali memiliki watak, moral dan kecerdasan yang sangat berbeda ?

Keturunan saja tidak dapat menyebabkan perbedaan-perbedaan yang besar ini. Sesungguhnya, factor keturunan lebih masuk akal atas persamaan-persamaan mereka daripada atas perbedaan-perbedaan mereka. Benih fisik kimiawi dengan panjangnya kira-kira sepertiga puluh inci yang diwarisi dari orang tua, hanya menerangkan satu bagian dari manusia, yaitu dasar fisiknya. Mengenai perbedaan-perbedaan batin, intelektual dan moral yang jauh lebih kompleks dan halus itu diperlukan penerangan batin yang lebih dalam. Teori keturunan tidak dapat memberikan suatu jawaban yang memuaskan tentang lahirnya seorang criminal dalam sebuah keluarga yang mempunyai leluhur terhormat atau kelahiran seorang suci atau mulia dalam sebuah keluarga yang memiliki reputasi jelek dan tentang lahirnya seorang tolol, manusia genius dan guru-guru besar.

Menurut agama Buddha, perbedaan-perbedaan ini tidak hanya disebabkan oleh factor keturunan dan lingkungan, tetapi juga disebabkan oleh kamma kita sendiri, atau dengan kata lain, disebabkan oleh akibat dari perbuatan lampau kita dan perbuatan-perbuatan kita sekarang. Kita sendiri yang harus bertanggungjawab atas perbuatan-perbuatan kita. Kita membangun penjara kita sendiri. Kita adalah arsitek dari nasib kita sendiri. Singkatnya, diri kita merupakan akibat dari kamma kita sendiri.

Bagaimana kita bisa mempercayai semua ini, dengan perbedaan berdasarkan hukum sebab-akibat atau sebagai hasil dari bibit kammanya sendiri. Sang Buddha tidak pernah menyuruh seseorang untuk mempercayai segala apa yang diajarkan-Nya. Beliau selalu meminta, “ Datang, lihat, dan buktikan!”, yang dikenal sebagai prinsip EHI PASSIKO.

Beliau bagaikan seorang ilmuwan / penemu. Beliau menerangkan hal-hal mengenai alam-semesta dan kehidupan, seperti seorang ilmuwan menerangkan adanya bakteri, virus, galaksi, bintang, dan lain sebagainya. Kita bisa membuktikan adanya bakteri, virus, dengan melihat dan menyaksikan sendiri melalui mikroskop electron. Kalau kita ingin melihat dengan mata daging ini, sudah pasti Hukum Kamma seakan begitu sulit dan rumit, susah dilihat. Tetapi semua ini telah dibuktikan kebenarannya oleh para suciwan. Seseorang yang senantiasa tekun melatih diri dalam Sila dan Samadhi, dengan kekuatan batin yang tenang didalam Jhana IV, mampu melihat dan membuktikannya, hingga menembus ke kehidupan-kehidupan lampaunya.

Dari sudut pandang agama Buddha, perbedaan-perbedaan batin, intelektual, moral dan watak kita sekarang, pada prinsipnya disebabkan oleh perbuatan-perbuatan kita sendiri yang dilakukan diwaktu lampau dan di waktu sekarang.

Secara harafiah, Kamma berarti perbuatan, tetapi, dalam pengertian mutlaknya kamma berarti kehendak. Kamma ada yang baik ( Kusala Cetana ) dan yang buruk ( Akusala Cetana ). Perbuatan baik akan membuahkan kebaikan. Perbuatan jahat akan membuahkan kesedihan. Inilah Hukum Kamma.

Kita memetik apa yang kita tanam. Kita adalah akibat dari apa yang kita lakukan diwaktu lampau; kita akan menjadi akibat dari apa yang kita lakukan sekarang, tetapi kita tidak mutlak hanya merupakan akibat dari apa yang kita lakukan diwaktu lampau; kita tidak mutlak hanya menjadi akibat dari apa yang kita lakukan sekarang. Misalnya seorang criminal mungkin saja dapat menjadi orang suci dikemudian hari, atau sebaliknya.

APAKAH KAMMA ITU ?

Sesungguhnya, apakah “Kamma” itu ? Dalam Anguttara Nikaya III, 415 Sang Buddha bersabda:

”Cetanaham bhikkhave kammam vadami”

[“O, para bhikkhu, kehendak untuk berbuat (cetana) itulah yang Aku namakan kamma”]

Segala macam tindakan yang disengaja baik batin, ucapan, maupun jasmani/perbuatan dipandang sebagai Kamma. Dengan pengertian umum, Kamma berarti semua kehendak baik dan buruk (kusala akusala cetana). Tindakan yang tidak didasari niat, dilakukan tanpa-sadar, tidak disengaja, walaupun secara teknis merupakan perbuatan, tidak membentuk Kamma, karena didalam tindakan tersebut tidak terdapat “kehendak” ( cetana ), factor terpenting dalam menentukan Kamma.

Ada pengecualian dalam kasus para Buddha dan Arahat karena mereka telah melampaui baik dan buruk. Mereka telah menghancurkan baik ketidak-tahuan maupun nafsu keinginan akar-akar Kamma.

“ Telah sirna perbuatannya yang lampau.

Tiada pula perbuatannya yang baru.

Mereka, yang bijaksana, bebas dari kelahiran kembali,

Telah musnah benih-benih perbuatannya.

Tak tumbuh lagi tunas kelahiran kembalinya. “

[ Ratana-Sutta ]

Kata “perbuatan” didalam sutta tersebut, mengacu pada perbuatan yang dilandasi oleh tanha ( nafsu-keinginan ). Kata “Mereka” yang dimaksud adalah para Arahanta Khinasava.

Bukan berarti para Buddha dan Arahat  itu pasif. Para Buddha dan Arahat dengan tanpa mengenal lelah bekerja secara aktif untuk kesejahteraan dan kebahagiaan-sejati bagi semua pihak. Perbuatan mereka, yang biasa diterima sebagai baik atau bermoral, tidak memberikan kekuatan untuk mereka sendiri. Dengan memahami segala sesuatu sebagai apa adanya, mereka akhirnya telah menghancurkan belenggu duniawi mereka, rantai sebab-akibat.

Kamma, tidak harus berarti perbuatan masa lalu. Kamma mencakup perbuatan masa lalu maupun saat ini. Jadi, pada satu sisi, kita merupakan hasil dari apa yang telah kita lalkukan, kita akan menerima hasil dari apa yang kita lakukan saat ini. Pada sisi lain, harus ditambahkan kita tidak seluruhnya merupakan hasil dari apa yang telah kita lakukan, kita tidak sepenuhnya merupakan hasil dari apa yang kita lakukan saat ini. Saat ini tidak diragukan lagi adalah buah dari masa lalu dan asal-usul dari masa  yang akan datang, tetapi saat ini tidak selalu merupakan petunjuk baik dari masa lalu maupu masa yang akan datang. Seorang penjahat di hari ini, dapat menjadi seorang mulia besok harinya, seseorang yang baik kemarin dapat menjadi seorang yang kejam hari ini.


KAMMA DAN VIPAKA

Kamma adalah perbuatan, dan Vipaka, buah atau hasil, merupakan reaksinya. Kamma, diibaratkan sebagai sebuah “benih”. Dan buah yang tumbuh dari pohon, merupakan “vipaka” ; akibat atau hasil. Kamma, bisa berupa kehendak-baik bisa juga berupa kehendak-buruk, oleh karena itu buahnya pun ( vipaka ) bisa berupa buah-kehendak-baik maupun buah-kehendak-buruk.

Kamma adalah “mental”, demikian pula, vipaka adalah “mental” ; ia dirasakan sebagai kebahagiaan atau berkah, ketidak-bahagiaan atau penderitaan sesuai dengan sifat benih Kamma. Anisamsa merupakan keuntungan keadaan materi yang seiring, seperti kesejahteraan, kesehatan dan usia panjang.

Jika vipaka ( buah-kamma ) diikuti dengan keadaan materi yang tidak menguntungkan, mereka dikenal sebagai adinava ( akibat buruk ), dan muncul sebagai kemiskinan, kejelekan, penyakit, pendek usia dan sebagainya. Yang dimaksudkan dengan Kamma adalah bentuk kesadaran duniawi yang baik dan buruk ( kusala akusala lokiya citta ), serta Vipaka berarti hasil bentuk kesadaran duniawi ( lokiya vipakacitta ).

Di dalam Kamma ada kecenderungan menghasilkan akibat yang sesuai. Sebab menghasilkan akibat, dan akibat menerangkan sebab. Biji menghasilkan buah, dan buah menerangkan biji, begitulah hubungan mereka. Akibat, telah berkembang di dalam sebabnya.

SEBAB KAMMA

Ketidaktahuan/kebodohan-batin ( avijja ) atau tidak memahami segala sesuatu sebagaimana mereka adanya, merpakan sebab utama. Bergantung pada ketidaktahuan timbul kegiatan Kamma ( avijja paccaya samkhara ), merupakan hal yang dinyatakan oleh Sang Buddha dalam Paticcasamuppada ( hukum-sebab-musabab-yang-saling-bergantungan ).

PELAKU KAMMA

Kehendak ( cetana ) itu sendirilah si pelaku. Dan perasaan ( vedana )  itu sendirilah si penerima buah kamma. Kecuali keadaan murni mental ( suddhadkamma ) ini tidaklah ada seorangpun yang menabur dan tidak ada seorangpun yang memetik.

Yang Ariya Bhikkhu Buddhaghosa menulis dalam Visudhi-Magga :

“ Tak ada pelaku yang menjalankan perbuatan,

Ataupun seseorang merasakan buahnya,

Hanyalah suku cadang penunjang yang bergulir terus,

Inilah sesungguhnya yang betul.”

[ dikutip dari “Sang Buddha dan Ajaran-ajaran-Nya” , penulis Bhante Narada Mahathera ]


Yang Ariya Bikkhu Buddhaghosa berkata, tepat seperti dalam hal unsur materi yang diberi nama pohon, segera kapan pun setelah buah muncul, ia kemudian dikatakan “pohon menghasilkan buah” atau “jadi pohon itu  berbuah”, demikian juga dalam hal “kelompok-kehidupan” ( panca-khanda ) yang ada pada nama Dewa ataupun manusia, jika kapanpun hasil kebahagiaan atau penderitaan muncul, lalu dikatakan “bahwa Dewa atau manusia bahagia atau menderita.”

DIMANAKAH KAMMA DISIMPAN ?

Pertanyaan ini pernah diajukan oleh Raja Milinda kepada Y.A. Bhikkhu Nagasena :

“Dimanakah, Y.A. Guru, Kamma itu?” Tanya Sang Raja pada Y.A. Bhikkhu Nagasena.

“ O, Maharaja”, jawab Y.A.Bhikkhu Nagasena, “Kamma tidak dapat dikatakan disimpan di suatu tempat dalam kesadaran yang mengalir atau pada bagian tubuh ini, tetapi bergantung pada pikiran dan materi ia bersandar untuk mewujudkan diri pada sat yang tepat, seperti mangga, tak dapat dikatakan disimpan di suatu tempat dalam pohon mangga, tetapi bergantung pada pohon magga mereka berbuah pada musim yang tepat.”

Angin maupun api tidaklah disimpan dalam tempat tertentu, demikian pula Kamma tidak disimpan di manapun baik didalam atau diluar tubuh.

Seorang psikoanalis berpendapat, “Disimpan dalam jiwa, tetapi biasanya tidak dapat dicapai dan hanya biasa dijangkau oleh beberapa orang saja, adalah seluruh catatan, tanpa kecuali, dari setiap pengalaman yang sudah dilalui seseorang, setiap pengaruh dirasakan, setiap kesan diterima. Pikiran bawah sadar bukan hanya suat catatan pengalaman milik seseorang yang tak dapat dihapus tetapi juga menerima kesan awal dan kecenderungan, yang jauh dari pada dikuasai seperti anggapan orang terhadap mereka, dalam manusia beradab aktif secara di bawah sadar yang mungkin muncul dengan kekuatan yang membingungkan pada saat yang tidak diharapkan.” [ Sang Buddha dan Ajaran-ajarannya, Bhante Narada Mahathera, hal.69 ].

Secara ringkas, seluruh kekuatan Kamma bergantung pada aliran-batin yang selalu bergerak ( citta-santati ) yang selalu siap mewujudkan diri dalam berbagai perwujudan pada saat muncul kesempatan.



SIFAT KAMMA

“Sebagai benih yang kau tabur demikian pula akan kau petik buahnya”

[ Samyutta Nikaya ]

“Jika seseorang mengatakan bahwa orang harus memetik sesuai dengan yang dilakukannya, dalam hal itu tak terdapat kehidupan beragama ataupun kesempatan untuk menghasilkan berhentinya penderitaan secara menyeluruh. Tetapi jika barangsiapa mengatakan bahwa apa yang dipetik seseorang sesuai dengan perbuatannya, dalam hal itu ada kehidupan beragama dan kesempatan untuk menghasilkan berhentinya penderitaan secara menyeluruh.” [ Anguttara Nikaya, bag.I, 249]

Oleh karena itu, ada dan sangat dimungkinkan untuk membentuk kehidupannya yang baru sesuai kammanya sendiri.

Meskipun disebutkan bahwa “ tidak di langit, tidak pula di tengah lautan ataupun memasuki gua di gunung, dimana orang dapat bersembunyi dari akibat suatu perbuatan jahat” , tetapi orang tidak perlu membayar semua tunggakan karma lampau.” [Dhammapada V.127], tapi orang tidak perlu membayar semua tunggakan kamma lampau.

Jika begitu keadaannya, kebebasan akan menjadi sesuatu yang tidak mungkin. Penderitaan abadi akan menjadi hasil yang tidak menguntungkan.

Orang bukanlah majikan atau pembantu dari Kamma. Bahkan orang yang paling jahat pun dengan usahanya sendiri dapat menjadi orang yang paling saleh.

Kita selalu menjadi sesuatu dan sesuatu itu tergantung pada tindakan kita sendiri. Kapan saja kita dapat berubah jadi lebih baik atau lebih buruk. Didunia ini tidak ada  “ produk akhir “, semua adalah proses “ menjadi “.

Bahkan orang yang paling kejam sekalipun tidak seharusnya patah semangat atau berputus asa melihat sifatnya yang jahat. Ia seharusnya dikasihani, karena mereka yang mencelanya mungkin juga pernah dalam keadaan yang sama pada tingkat tertentu.

Seperti mereka yang telah berubah lebih baik, ia juga dapat berubah, mungkin lebih cepat dari mereka. Siapa yang tahu Kamma baik yang telah ia timbun untuk dirinya ? Siapa yang tahu kemampuan kebaikannya ?

Dimasa hidup Sang Buddha Gotama, ada seorang perampok jalanan dan pembunuh lebih dari seribu orang yang bernama Angulimala berhasil mencapai tingkat kesucian tertinggi serta menghapus semua perbuatan jahat / buruknya dimasa lalu.

Alavaka, setan yang kejam yang memakan daging manusia, menghentikan kebiasaannya memakan daging dan mencapai tingkat kesucian pertama.

Raja Asoka yang terkenal hingga sekarang, dulunya adalah seorang yang kejam dalam meluaskan Kekaisarannya, berubah menjadi Dharmasoka, atau Asoka yang Saleh, dan mengubah perjalanan hidupnya sedemikian hebat sehingga saat ini, seorang ahli sejarah dari barat , H.G.Wells, berkomentar – “ Diantara puluhan ribu nama kerajaan yang memenuhi lembaran sejarah, diantara keagungan dan keanggunan, ketenangan dan kemuliaan serta yang sejenis, nama Asoka bersinar, dan bersinar sendiri saja, bagaikan satu bintang “.

Contoh-contoh diatas merupakan contoh mencolok yang menunjukkan bagaimana perbaikan pembawaan yang menyeluruh dapat terjadi dengan keputusan yang mantap.

Dapat terjadi bahwa dalam beberapa hal kejahatan yang ringan dapat menghasilkan akibat yang selaras, sedangkan akibat dari kejahatan yang lebih berat dapat diperkecil.

Sang Buddha Gotama bersabda, “Oh para Bhikkhu, orang tertentu tidak berdisiplin dalam jasmani, dalam moralitas, dalam pikiran, dalam kebijaksanaan, memiliki sedikit kebaikan dan kurang saleh, serta hidup menderita sebagai akibat buruk dari perbuatan tidak baiknya. Bahkan satu perbuatan kecil yang dilakukan orang seperti itu akan membawanya pada keadaan yang menyedihkan.

Oh para Bhikkhu, orang tertentu berdisiplin dalam jasmani, dalam moralitas, dalam pikiran, berbuat banyak kebaikan, luhur, dan hidup dengan kasih sayang tanpa batas untuk semua. Kejahatan sama yang dilakukan oleh orang seperti itu berakibat dalam kehidupan ini saja dan bahkan akibat yang kecil pun tidak mewujudkan diri ( setelah kematian ), apalagi yang berat.

Itu bagaikan orang yang memasukkan sebongkah garam kedalam secangkir kecil air. Apa yang kalian pikir, oh para Bhikkhu ? Apakah sekarang air yang sedikit dalam cangkir itu menjadi asin dan tidak dapat diminum ?”

“Ya, Bhante.“

“Mengapa ?”

“Karena, Bhante, disana hanya ada sedikit air dalam cangkir, oleh karena itu menjadi asin dan tak dapat diminum karena sebongkah garam itu. “

“ Seandainya seorang memasukkan sebongkah garam ke dalam sungai Gangga. Bagaimana pendapat kalian, o, para Bhikkhu ? Apakah sekarang sungai Gangga menjadi asin dan tidak dapat diminum karena sebongkah garam tadi ?”

“Tentu tidak, Bhante.”

“Dan mengapa tidak ?”

“Karena Bhante, jumlah air di sungai Gangga banyak, dan karena itu tidak akan menjadi asin dan tidak dapat diminum.”

“Sama seperti itu, kita mungkin mendapatkan kasus seorang yang melakukan sedikit kejahatan yang membawanya ke dalam keadaan menderita, atau, sekali lagi, kita mungkin mendapatkan kasus orang yang melakukan kejahatan sepele yang sama, namun ia membayarnya dalam kehidupan ini. Bahkan akibat yang kecil pun tidak mewujudkan diri ( setelah kematian ), apalagi yang lebih berat. “

“Kita mungkin mendapatkan kasus seorang yang dimasukkan penjara karena mencuri setengah sen, satu sen, atau seratus sen, atau lagi, kita mungkin mendapatkan seorang yang tidak dimasukkan ke penjara karena mencuri setengah sen, satu sen, atau seratus sen.”

“Siapakah yang dimasukkan penjara untuk setengah sen, untuk satu sen, atau untuk seratus sen ?”

“Barangsiapa yang miskin, membutuhkan bantuan dan fakir miskin, ia dimasukkan penjara untuk setengah sen, untuk satu sen, atau untuk seratus sen.”

“Siapakah yang tidak dimasukkan penjara untuk setengah sen dolar, untuk satu sen dolar, atau untuk seratus sen dolar ? “

“Barangsiapa yang kaya, berharta dan makmur, ia tidak dimasukkan penjara untuk setengah sen dolar, untuk satu sen dolar, untuk seratus sen dolar.”

“Sama halnya adalah bahwa, kita dapat menjumpai kasus seorang yang melakukan kejahatan ringan yang membawanya pada keadaan menyedihkan, atau, kita dapat menjumpai kasus orang lain yang melakukan kejahatan sepele yang sama, dan membayarnya dalam kehidupan ini. Bahkan akibat yang kecil pun tidak mewujudkan diri ( setelah kematiannya ), apalagi yang lebih berat. “ [ Anguttara Nikaya, Bag. I, hal.249 ]



Penyebab Hasil Yang Menghalangi

Kebaikan memperoleh kebaikan, tetapi penyesalan apapun dari pihak pelaku yang muncul kemudian terhadap kebaikan yang dilakukan, menyebabkan kehilangan hasil yang menyenangkan.

Ada satu contoh yang sangat bagus yang bisa menggambarkan hal ini :

Pada suatu ketika Raja Pasenadi dari Kosala menghadap Sang Buddha dan berkata, “ Bhante, di Savatthi seorang jutawan perumah tangga telah meninggal. Ia tidak mempunyai putra, dan sekarang saya kemari, setelah memberikan kekayaannya ke istana, Bhante. Sepuluh juta rupee emas, tidak ada yang perak. Tetapi jutawan ini biasa makan sisa makanan yang basi dan bubur yang tidak enak. Dan bagaimana ia berpakaian ? Untuk baju ia mengenakan jubah rami yang kasar, dan untuk kereta, ia mengendarai gerobak rusak yang dilengkapi tenda daun.”

Kemudian Sang Buddha berkata,

“Demikianlah, o Raja, demikianlah. Dalam kehidupan lampau, o Raja, jutawan perumah tangga ini mempersembahkan makanan untuk seorang Pacceka Buddha yang bernama Tagarasikhi. Selanjutnya, ia menyesal telah memberi makanan, berkata pada diri sendiri,” Lebih baik jika pembantu dan pekerjaku memakan makanan yang kuberikan untuk persembahan.” Dan disamping itu ia membunuh putra tunggal kakaknya demi harta benda. Dan karena jutawan perumah tangga ini mempersembahkan makanan untuk Sang Pacceka Buddha Tagarasikhi, sebagai balasan perbuatan itu, ia bertumimbal lahir tujuh kali di alam surga yang menyenangkan. Dan dengan sisa kecil perbuatan yang sama, ia menjadi jutawan di Savathi sebanyak tujuh kali.

“ Dan karena jutawan perumah tangga ini menyesali telah memberi persembahan, dengan mengatakan pada diri sendiri,”Akan lebih baik jika pembantu dan pekerjaku memakan makanan itu.” Oleh karena itu sebagai akibat perbuatannya ia tidak dapat menghargai makanan sehat, tidak menghargai pakaian indah, tidak dapat menghargai kendaraan bagus, tidak menghargai kenikmatan panca indria.

“ Dan karena jutawan perumah tangga ini membunuh putra tunggal kakaknya demi kekayaan, sebagai akibat perbuatan ini, ia harus menderita bertahun-tahun,beratus tahun,beribu tahun, beratus ribu tahun dalam keadaan menyakitkan. Dan dengan sisa perbuatan yang sama, ia tidak berputra selama tujuh kali, dan sebagai akibatnya, harus meninggalkan kekayaannya untuk kas kerajaan.”[ Samyutta Nikaya, bag.I, hal.91 ]

Jutawan ini mendapatkan keberuntungan besar sebagai akibat perbuatan baik yang dilakukan dalam kehidupan lalu, tetapi karena ia menyesali perbuatan baiknya, ia tidak dapat sepenuhnya menikmati kesenangan orang kaya yang disediakan Kamma untuknya.



Kekuatan Yang Bermanfaat dan Merugikan

Dalam bekerjanya kamma harus dipahami bahwa terdapat kekuatan yang bermanfaat dan merugikan untuk menangkal dan menunjang hukum yang bekerja sendiri ini. Kelahiran ( gati ), waktu atau keadaan ( kala ), kepribadian atau penampilan ( upadhi ) dan usaha ( payoga ) merupakan pembantu dan penghalang bagi berbuahnya Kamma.

Misalnya jika seseorang dilahirkan dalam keluarga mulia atau dalam keadaan bahagia, keberuntungan kelahirannya kadang kala akan merintangi berbuahnya Kamma jahatnya.

Sebaliknya, jika ia dilahirkan dalam keadaan menderita atau dalam keluarga tidak beruntung, kelahiran yang tidak menguntungkan ini akan menyediakan suatu kemudahan bagi Kamma jahatnya untuk bekerja.

Kedua hal ini dikenal sebagai Gati Sampatti ( kelahiran yang menyenangkan ) dan Gati Vipatti ( kelahiran yang tidak menyenangkan ).

Sangat mungkin terjadi, seseorang yang tidak cerdas, yang karena kamma baiknya,dilahirkan dalam keluarga kerajaan dan karena keturunannya yang mulia, ia dihormati orang. Jika orang yang sama mempunyai kelahiran yang kurang menguntungkan, ia tidak akan diperlakukan seperti itu.

Contoh dari hal ini misalnya kisah Raja Dutthagamani dari Sri Lanka. Ia menimbun kamma buruk dengan mengobarkan perang terhadap warga Tamil, serta kamma baik dengan berbagai kegiatan keagamaan dan sosialnya. Karena kamma penghasilnya yang baik, ia bertumimbal lahir di alam surga  yang menyenangkan. Tradisi mengatakan bahwa ia akan memiliki kelahiran terakhir pada masa Buddha Metteyya yang akan datang. Oleh karena itu kamma buruknya tidak dapat bekerja sepenuhnya karena kelahiran yang menguntungkan.

Kecantikan ( Upadhi Sampatti ) dan kejelekan ( Upadhi Vipatti ) merupakan dua faktor yang menghalangi dan menyuburkan bekerjanya Kamma.

Jika, dengan beberapa kamma baik, seseorang mencapai kelahiran yang bahagia tetapi malang bercacat fisik, ia tidak akan dapat sepenuhnya menikmati manfaat hasil kamma baiknya. Bahkan seorang pewaris tahta kerajaan mungkin tidak akan dinaikkan pada kedudukan terhormat itu jika ia mengalami cacat jasmani.

Keindahan, sebaliknya, akan menjadi modal bagi pemiliknya. Seorang putri berparas cantik dari keluarga miskin dapat menarik pria kaya dan dapat menjadikannya terkenal melalui pengaruhnya.

Waktu atau kesempatan yang menguntungkan ( kala sampatti ) dan waktu atau kesempatan yang tidak menguntungkan ( kala vipatti ), merupakan dua faktor lain yang mempengaruhi bekerjanya kamma, yang satu membantu, yang berikutnya merintangi.

Dalam kasus bencana kelaparan semua tanpa kecuali akan terdorong menderita nasib yang sama. Disini keadaan yang tidak menguntungkan membuka kesempatan bekerjanya kamma buruk. Sebaliknya keadaan yang menguntungkan akan mencegah bekerjanya kamma buruk.

Dari semua kekuatan yang bermanfaat dan merugikan ini yang terpenting adalah usaha ( Payoga ). Dalam bekerjanya kamma, usaha atau kurang berusaha memainkan peranan penting. Dengan usaha saat ini orang dapat membuat karma baru, lingkungan baru, suasana baru, dan bahkan dunia baru.

Walaupun berada pada keadaan paling menguntungkan dan dibekali dengan semua kemudahan, jika orang tidak melakukan usaha yang tekun, orang tidak hanya kehilangan kesempatan emas, tetapi juga dapat menghancurkan diri sendiri. Usaha pribadi sangat penting bagi kemajuan duniawi maupun spiritual.

Jika seseorang tidak berusaha menyembuhkan diri sendiri dari penyakit atau untuk menyelamatkan diri sendiri dari kesulitan, atau untuk berjuang dengan tekun demi kemajuannya, kamma buruknya akan menemukan kesempatan baik untuk menghasilkan akibat yant sesuai.

Jika sebaliknya, ia berusaha sendiri untuk mengatasi kesukarannya, untuk memperbaiki keadaannya, untuk menggunakan sebaik mungkin kesempatan yang langka ini, untuk berjuang dengan gigih demi kemajuannya. Kamma baiknya akan datang membantu.

Ketika kapal karam di tengah laut, Sang Bodhisatta Maha Janaka melakukan usaha gigih untuk menyelamatkan diri, sedangkan yang lain berdoa kepada para dewa dan menggantungkan nasib mereka di tangan para dewa “Yang Maha Kuasa”. Hasilnya, Sang Bodhisatta tertolong sedang yang lain tenggelam.

Dua faktor penting terakhir ini dikenal sebagi Payoga Sampatti dan Payoga Vipatti.

Kita bukanlah mutlak majikan atau pelayan dari kamma kita, terbukti dari faktor yang meniadakan dan menunjang; bahwa berbuahnya kamma sampai batas-batas tertentu dipengaruhi oleh keadaan luar, lingkungan, kepribadian, usaha pribadi, dan sebagainya.

Hukum Kamma inilah yang dapat menjelaskan semua fenomena kelahiran, perbedaan, ketidaksetaraan, nasib, kejadian yang menimpa diri seseorang. Dan hukum kamma inilah yang memberikan penghiburan, pengharapan, kepercayaan, dan gairah moral pada setiap orang yang mengerti, mengenal, meresapi, mengikuti Jalan Kebenaran Sejati ( Dhamma ).

Ketika yang tidak diharapkan terjadi, kesulitan, kegagalan, dan ketidak beruntungan menghadangnya, seorang yang telah mengetahui akan menyadari bahwa ia sedang memetik apa yang telah ditaburkannya, dan sedang membayar hutang masa lalu. Daripada mengundurkan diri sendiri, menyerahkan semua pada kamma, ia melakukan usaha yang gigih untuk mencabut pengganggu dan menabur benih yang berguna di tempatnya, karena masa yang akan datang berada ditangannya.

Ia yang mengerti hukum Kamma, tidak mencela orang yang paling jahat sekalipun karena mereka memiliki kesempatan untuk membentuk diri mereka sendiri kapan saja. Walaupun terikat untuk menderita dialam menyedihkan, mereka mempunyai harapan untuk mencapai kedamaian yang abadi.

Dengan perbuatan mereka sendiri mereka membentuk neraka mereka sendiri, dan dengan perbuatan mereka sendiri, mereka membentuk surga mereka sendiri.

Seseorang yang telah mengerti hukum Kamma secara mutlak, tidak akan berdoa pada pihak lain untuk diselamatkan tetapi dengan yakin bergantung pada diri sendiri untuk kebebasannya. Daripada membuat berbagai penyerahan, atau menyetujui berbagai perantara istimewa, ia akan bergantung pada kekuatan kemauannya dan bekerja tiada hentinya demi kesejahteraan dan kebahagiaan semua.

Kepercayaan pada hukum Kamma akan membenarkan usahanya dan menyalakan semangatnya, karena hukum Kamma mengajarkan tanggung jawab pribadi.

Untuk seorang awam, Kamma bertindak sebagai penangkis, tetapi untuk seorang cendekiawan ia bertindak sebagai perangsang untuk  berbuat baik.

Hukum kamma ini menerangkan persoalan penderitaan, misteri dari sesuatu yang disebut nasib dan takdir dalam beberapa agama, diatas semuanya adalah ketidak-samaan umat manusia.

Kita adalah arsitek  hidup dan nasib kita sendiri. Kita adalah pembentuk diri kita sendiri. Kita adalah penghancur diri kita sendiri. Kita membangun surga kita sendiri. Kita juga membangun neraka kita sendiri.

Apa yang kita pikirkan, ucapkan dan lakukan menjadi milik kita. Buah pikiran, perkataan dan perbuatan inilah yang membentuk sebutan Kamma dan berjalan dari kehidupan ke kehidupan, memuliakan dan merendahkan kita, dalam rentang pengembaraan kita dalam Samsara.

Sang Buddha bersabda,

“ Kebajikan dan kejahatan manusia yang ia telah tempa disini, itulah yang ia miliki, yang membawanya mulai sekarang, yang menguji langkahnya, seperti bayangan mengejar. Oleh karena itu biarlah ia membuat timbunan kebaikan untuk kehidupan yang lain, dasar yang pasti dalam berbagai dunia yang akan datang. Hadiah kebaikan menunggu makhluk yang baik. “[Kindred Sayings,I hal.98]



KATEGORISASI KARMA DAN CARA KERJA KARMA

Tabel Kategorisasi Karma

DASAR PENGELOMPOKAN

JENIS KARMA

I. Menurut Jangka Waktunya ( Pakakalacatukka )
  1. Yang Berlaku Segera (Ditthadhammavedaniya Kamma)
  2. Yang Berlaku Sesudahnya (Upapajjavedaniya Kamma)
  3. Yang Berlaku Untuk Jangka Waktu Tidak Terbatas (Aparapariyavedaniya Kamma)
  4. Yang  Kadaluwarsa (Ahosi Kamma )
II. Menurut Sifat Bekerjanya (Kiccacatuka)
  1. Penghasil (Janaka Kamma).
  2. Penunjang (Upatthambaka Kamma).
  3. Pelemah (Upapidaka Kamma).
  4. Penghancur (Upaghataka Kamma).
III. Menurut Sifat hasilnya (Pakadanapariyayacatuka)
  1. Yang Berat / Serius (Garuka Kamma).
  2. Menjelang Kematian (Asanna Kamma).
  3. Kebiasaan (Acinna Kamma).
  4. Yang Bertimbun (Katatta Kamma).
IV. Menurut Kedudukannya

( Pakatthanacatukka )

  1. Perbuatan Buruk (Akusala) yang akan masak di alam keindriaan (kamaloka).
  2. Perbuatan Baik (Kusala) yang akan masak di alam keindriaan (kamaloka).
  3. Perbuatan Baik (Kusala) yang akan masak di alam berbentuk (rupaloka).
  4. Perbuatan baik (Kusala) yang akan masak di alam tidak berbentuk (arupaloka).

PENJELASAN MENGENAI JENIS-JENIS KARMA

1. Kelompok Karma menurut Jangka Waktunya ( Pakakalacatukka )

1.1. Karma/kamma yang memberikan hasil/akibat dalam kehidupan sekarang ini ( Ditthadhammavedaniya Kamma ) :

Ditthadhammavedaniya Kamma ini terbagi menjadi dua (2) macam yaitu :

a). Paripakka Dittha Dhammavedaniya-Kamma ; adalah Kamma yang memberikan hasil/akibat dalam kehidupan sekarang ini, termasuk yang sudah masak betul.

b). Aparipakka Dittha Dhammavedaniya-Kamma ; adalah Kamma yang memberikan hasil/akibat dalam kehidupan sekarang ini, belum termasuk yang masak betul.

1.2. Kamma yang memberikan hasil/akibat dalam kehidupan yang akan datang, yaitu dalam kehidupan setelah kehidupan yang ini [Uppajjavedaniya-Kamma]

1.3. Kamma yang memberikan hasil/akibat dalam kehidupan yang akan datang, yaitu dalam kehidupan berikutnya berturut-turut, yaitu dalam kehidupan yang ke-3 ( setelah yang sekarang ini ) dan seterusnya [ Aparaparavedaniya-Kamma ]

1.4. Kamma yang tidak menimbulkan akibat sama-sekali [ Ahosi-Kamma ]

2. Kelompok Karma menurut Sifat Bekerjanya ( Kiccacatuka )

2.1 Karma/kamma penghasil ( Janaka Kamma ) :

Adalah hukum yang menyebabkan timbulnya syarat untuk terlahirnya kembali suatu makhluk. Kamma ini menimbulkan nama-khanda (kelompok-batin) dan kammaja-rupa ( materi/jasmani ). Oleh sebab itu, kamma ini disebut janaka-kamma. Kamma ini terdiri dari akusala-kamma 12 dan lokiyakusala-kamma 17 ( kamavacarakusala-kamma 8, rupavacarakusala-kamma 5 dan arupavacarakusala-kamma 4 ). Janaka-kamma ini bertugas melahirkan makhluk-makhluk di ke-31 alam kehidupan ( bhumi 31 ).

2.2 Karma/kamma penunjang ( Upatthambaka Kamma ): Adalah hukum kekuatan yang mendorong terpeliharanya satu akibat dari sebab (kamma) yang telah timbul. Kamma ini membantu janaka-kamma dalam tiga (3) hal :

  1. a. Membantu Janaka-Kamma yang belum mempunyai waktu menimbulkan hasil/akibat, memberikan waktu menimbulkan hasil/akibat.
  2. b. Membantu Janaka-Kamma yang sedang mempunyai waktu menimbulkan hasil/akibat, memberikan kekuatan untuk menimbulkan hasil/akibat secara sempurna.
  3. c. Membantu Rupa-Nama ( Lahir-Bathin ) yang dilahirkan oleh Janaka-Kamma menjadi maju dan bertahan lama.

2.3 Upapilaka-Kamma ;

Adalah hukum kekuatan yang menekan, mengolah, dan menyelaraskan satu akibat dari satu sebab. Jadi upapilaka-kamma adalah kamma yang menekan, yaitu :

1. Menekan janaka-kamma yang mempunyai keadaan yang bertentangan. Upapilaka kamma yang menekan janaka-kamma yang mempunyai keadaan bertentangan ini, terbadi menjadi dua (2) lagi :

a. Menekan janaka-kamma yang mempunyai waktu menimbulkan hasil/akibat, supaya mempunyai kekuatan menurun dan menimbulkan hasil/akibat tidak sepenuhnya.

b. Menekan nama-rupa yang dilahirkan oleh janaka-kamma.

Oleh karena itu, ‘peekanan’ dari Upapilaka-Kamma terbagi menjadi tiga (3) macam yaitu :

1. Upapilaka-Kamma yang menekan Janaka-Kamma supaya tidak ada waktu menimbulkan hasil/akibat.

2. Upapilaka-Kamma yang menekan Janaka-Kamma yang mempunyai waktu menimbulkan hasil/akibat, supaya mempunyai kekuatan menurun.

3. Upapilaka-kamma yang menekan nama-rupa yang dilahirkan oleh Janaka-Kamma.

2.4 Upaghataka-Kamma : adalah hukum yang meniadakan kekuatan dan akibat dari satu sebab yang telah terjadi dan sebaliknya menyuburkan berkembangnya karma-baru.

Jadi, Upaghataka-Kamma adalah kamma yang memotong Kamma lainnya dan hasil dari Kamma lainnya secara menyeluruh.

Pemotongan dari Upaghataka-Kamma ada dua (2) macam yaitu :

a. Memotong janaka-kamma supaya tidak ada waktu menimbulkan hasil/akibat untuk selamanya ( kammantara-upaghataka ).

b. Memotong nama-rupa yang dilahirkan oleh Janaka-Kamma sampai rusak ( kammanibbattakhandhasantana-upaghataka ).

3. Kelompok Karma Menurut Sifat Hasilnya (Pakadanapariyayacatuka)

3.1. Kamma yang Berat / Serius ( Garuka Kamma ).

Perbuatan yang berat atau serius / Garuka Kamma, disebut begitu karena kamma ini pasti menghasilkan akibat dalam kehidupan ini atau yang berikutnya.

Dari segi yang baik, perbuatan berbobot adalah Jhana atau kegembiraan yang luar biasa ( yang dicapai bersamaan dengan pemurnian diri melalui pengembangan Sila dan Samadhi ).

Sedangkan dari segi yang tidak baik adalah kebengisan yang berakibat sesudahnya ( Anantariya Kamma ), yaitu :

1). Membunuh ibu,

2). Membunuh ayah,

3). Membunuh Orang Suci, Yang Tercerahkan,

4). Melukai Seorang Buddha,

5).Menimbulkan perpecahan dalam persaudaraan para suci / Sangha.

Jika, seandainya seseorang mengembangkan Jhana dan kemudian melakukan salah satu dari kebengisan tersebut, kamma baiknya akan dihapuskan oleh kamma jahat yang sangat kuat itu. Kelahiran berikutnya akan terbentuk oleh kamma jahat walaupun sebelumnya ia sudah mencapai Jhana.

Garukakamma merupakan bentuk kejahatan yang paling berat. Janganlah melakukannya dalam keadaan apapun. Ini akan menghalangi seseorang mencapai Nirvana ( Anguttara Nikaya III,146 ).

3.2. Kamma Menjelang Kematian ( Asanna Kamma )

Jika tidak ada kamma yang berat untuk membentuk kelahiran berikutnya, maka Kamma menjelang kematian ( asanna ) akan bekerja. Ini adalah perbuatan yang dilakukannya atau diingatnya sesaat sebelum ia meninggal. Karena kemampuannya dalam menentukan kelahiran berikutnya, kebiasaan untuk mengingatkan orang yang akan meninggal terhadap perbuatan baiknya serta membuatnya melakukan kebaikan menjelang kematiannya adalah hal yang sangat perlu dilakukan.

Kadang-kadang orang jahat dapat mati dengan bahagia dan menerima kelahiran yang baik jika ia beruntung mengingat atau melakukan perbuatan baik pada saat-saat terakhir. Ini bukan berarti bahwa karena ia menikmati kelahiran yang baik ia akan bebas dari akibat perbuatan jahat yang ia timbun selama hidupnya.

Sebaliknya, kadangkala orang yang baik meninggal dengan tidak bahagia karena ingatan yang tiba-tiba pada tindakan jahat atau dengan membayangkan suatu pikiran buruk, karena terdorong oleh keadaan yang tidak menguntungkan.

3.3. Kamma Kebiasaan ( Acinna Kamma )

Kamma kebiasaan ( accina ) merupakan kamma yang berikutnya dalam urut-urutan berakibat. Ia merupakan kamma yang secara terus-menerus dilakukan dan diingat seseorang serta padanya ia mempunyai kemelekatan yang kuat. Jika garukakamma dan asannakamma tidak ada, maka acinnakamma yang akan menentukan kondisi-kondisi kelahiran berikutnya.

Kebiasaan yang baik ataupun buruk menjadi sifat yang kedua. Mereka sedikit banyak cenderung membentuk sifat seseorang. Pada waktu luang kita kerap kali menyibukkan diri dalam kebiasaan pikiran dan perbuatan. Dalam cara yang sama pada saat-saat kematian, kecuali dipengaruhi oleh keadaan-keadaan lain, sesuai dengan hukum, kita mengingat kembali kebiasaan pikiran dan perbuatan kita.

3.4. Kamma yang Bertimbun ( Katatta Kamma )

Yang terakhir dalam golongan ini adalah Kamma yang bertimbun     ( katatta ) yang mencakup semua yang tidak dapat dimasukkan kedalam tiga jenis terdahulu. Ini bagaikan dana cadangan dari makhluk tertentu ; karma-karma sisa utama yang belum dihabiskan.

4. Kelompok Karma Berdasarkan Kedudukannya ( Pakatthanacatukka ) :

4.1. Akusala-Kamma : Perbuatan buruk yang akan masak di alam keindriaan

Ada sepuluh ( 10 ) tindakan jahat yang disebabkan oleh perbuatan badan jasmani, ucapan dan pikiran yang menghasilkan Kamma jahat. Akar dari tindakan jahat ini adalah keserakahan ( lobha ) akan keindriyaan, kebencian ( dosa ), dan kebodohan batin ( moha ).

Sepuluh (10) tindakah jahat tersebut adalah sebagai berikut :

(a). Tiga dilakukan perbuatan jasmani ( Akusala-Kaya-Kamma ), yaitu : 1). Membunuh ( panatipata), 2). Mencuri ( adinnadana ), 3). Perbuatan sex yang tidak pada tempatnya dan tidak sepatutnya ( kamesu micchacara ).

(b). Empat dilakukan oleh ucapan (Akusala-Vadi-Kamma), yaitu : 1). Berbohong ( musavada ), 2). Memfitnah ( pisunavaca ), 3). Kata-kata kasar ( pharusavaca ), dan, 4). Bergunjing ( samphappalapa ).

(c). Tiga dilakukan oleh pikiran (Akusala-Mano-Kamma), yaitu : 1). Ketamakan ( abhijjha ), 2). Keinginan Jahat ( Vyapada ), 3). Pandangan Salah ( Micchaditthi ).

4.1.1.Membunuh ( panatipata )

Membunuh ( panatipata ), berarti dengan sengaja melenyapkan nyawa makhluk hidup apapun. Kata “Pana” dari bahasa  Pali dengan tegas berarti “ kehidupan batin – jasmani mengenai keberadaan makhluk tertentu “. Penghancuran secara kejam dari kekuatan kehidupan ini, tanpa mengijinkannya untuk bergerak sesuai dengan waktu hidupnya sendiri, berarti “ panatipata “.

“ Makhluk Hidup “ disini berarti termasuk dunia hewan, tetapi tanaman tidak termasuk karena mereka tidak mempunyai pikiran, perasaan, persepsi, dan kesadaran apapun ( “ jiwa “ ). Namun meskipun demikian, para petapa suci, diharuskan untuk tidak menghancurkan kehidupan tanam-tanaman sekalipun. Hukum ini tidak ditujukan untuk orang biasa yang hidup berumah-tangga.

Lima keadaan dibawah ini diperlukan untuk terjadinya kejahatan membunuh : i. Makhluk hidup, ii. Pengetahuan bahwa ia makhluk hidup, iii. Kehendak untuk membunuh, iv. Usaha untuk membunuh, v. Adanya kematian.

Bobot kejahatan tergantung pada kebaikan dan besarnya makhluk yang bersangkutan. Pembunuhan terhadap seorang saleh atau seekor hewan besar ( gajah, lembu, kerbau, dll. ) dipandang lebih kejam daripada pembunuhan terhadap seorang yang keji, bengis, jahat ataupun seekor hewan kecil ( nyamuk, semut, kecoa, ulat, dll. ). Hal itu dianggap demikian karena usaha lebih besar diperlukan untuk melakukan kejahatan itu dan kehilangan yang ditimbulkan dipandang lebih besar.

Buah karma buruk dari membunuh adalah : i. Umur pendek, ii. Kesehatan yang buruk, iii. Selalu berduka karena perpisahan dari mereka yang dicintai, dan, iv. Selalu ketakutan.

4.1.2.Mencuri ( adinnadana )

Lima ( 5 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kejahatan mencuri, yaitu : i. Harta milik orang lain, ii. Pengetahuan bahwa harta itu memang milik orang lain, iii. Kehendak untuk mencuri, iv. Usaha untuk mencuri, v. Pemindahan yang sesungguhnya.

Buah karma buruk dari mencuri adalah : i. Kemiskinan, ii. Penderitaan, iii. Kekecewaan, iv. Kehidupan yang bergantung pada pihak lain.

4.1.3.Pelanggaran Susila ( kamesu micchacara )

Empat ( 4 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kejahatan pelanggaran susila : i. Pikiran untuk menikmati, ii. Usaha ke arah itu, iii. Cara untuk memuaskan, iv. Pemuasan.

Buah karma buruk dari pelanggaran susila  yang tak dapat dielakkan yaitu : i. Mempunyai banyak musuh, ii. Mendapat suami atau istri yang tidak diinginkan, iii. Lahir sebagai perempuan; orang kasim ; banci atau /  waria.

4.1.4. Berbohong ( musavada )

Empat ( 4 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kejahatan berbohong, yaitu : i. Sesuatu yang tidak benar, ii. Kehendak untuk berbohong, iii. Pengungkapan, iv. Penipuan yang sesungguhnya.

Buah karma buruk dari berbohong yang tak dapat dielakkan yaitu : i. Menjadi sasaran caci maki dan fitnah, ii. Tidak dipercaya, dan, iii. Mulut yang berbau.

4.1.5. Memfitnah ( pisunavaca )

Empat ( 4 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kejahatan memfitnah, yaitu : i. Orang-orang yang akan dipisahkan, ii. Kehendak untuk memisahkan mereka atau keinginan untuk mendekatkan diri sendiri kepada orang lain, iii. Usaha ke arah itu, iv. Penyampaian.

Buah karma buruk dari memfitnah yang tak dapat dielakkan adalah pecahnya persahabatan tanpa sebab apapun yang memadai.

4.1.6. Kata-kata Kasar ( pharusavaca )

Tiga ( 3 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kata-kata kasar, yaitu : i. Seseorang untuk dimaki, ii. Pikiran yang marah, dan, iii. Makian yang sesungguhnya.

Buah karma buruk dari kata-kata kasar yang tak dapat dielakkan yaitu : i. Dibenci oleh pihak lain walaupun mutlak tak bersalah, dan, ii. Memiliki suara parau.

4.1.7. Pergunjingan ( samphappalapa )

Dua ( 2 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya pergunjingan, yaitu : i. Keinginan untuk bergunjing, ii. Penyampaian hal itu.

Buah karma buruk dari bergunjing adalah : i. Cacat alat tubuh, ii. Pembicaraan yang tidak masuk akal.

4.1.8. Rasa Tamak ( abhijjha )

Dua ( 2 ) keadaan diperlukan untuk adanya rasa tamak, yaitu : i. Milik pihak lain, ii.memperhatikannya dengan berpikir, “ seandainya ini milikku “.

Buah karma buruk dari ketamakan yang tidak dapat dielakkan adalah : pengharapan-pengharapan yang tidak bisa terpenuhi.

4.1.9. Keinginan Jahat ( Vyapada )

Dua ( 2 ) keadaan diperlukan untuk adanya keinginan jahat, yaitu : i. Orang lain, ii. Pikiran untuk berbuat jahat.

Buah karma buruk dari keinginan jahat yang tak dapat dielakkan adalah : i. Berwajah jelek, ii. Menderita berbagai penyakit, iii. Pembawaan yang menjijikkan.

4.1.10. Pandangan Salah ( Micchaditthi )

Pandangan salah adalah melihat benda/objek secara salah. Kepercayaan yang salah seperti penolakan terhadap manfaat perbuatan baik termasuk dalam kejahatan ini.

Dua ( 2) keadaan diperlukan untuk adanya pandangan salah ini, yaitu : i. Cara yang salah dalam menanggapi objek, ii. Pengertian terhadap objek itu sesuai dengan gagasan yang salah.

Buah karma buruk dari pandangan salah yang tak dapat dielakkan adalah : i. Keinginan rendah, ii. Kurang bijaksana, iii. Akal yang tumpul, iii. Berbagai penyakit menahun, iv. Gagasan yang tercela.

Ada sepuluh ( 10 ) pandangan salah yang banyak dianut manusia :

i. Tidak ada kebajikan seperti kedermawanan ( dinnam );

ii. Tidak ada kebajikan seperti banyak memberi dana ( ittham ) atau

iii. Tidak ada kebajikan dari memberi hadiah untuk para tamu ( hutam );

iv. Tidak ada buah ataupun akibat dari perbuatan baik dan buruk,

v. Tidak percaya pada “ dunia ini” atau,

vi. Tidak percaya pada “dunia setelah ini “, yaitu  mereka yang dilahirkan tidak menerima keberadaan pada masa lalu, dan mereka yang hidup disini tidak menerima suatu kehidupan yang akan datang,

vii. Tidak ada ibu,

viii. Tidak ada ayah,

ix. Tidak ada makhluk yang mati dan bertumimbal lahir       ( opapatika ),

x. Tidak ada petapa yang berbudi dan bertata-tertib baik serta para brahmana, yang dengan kecerdasan istimewa mereka sendiri telah memahami dunia ini dan dunia setelah ini, dan menjelaskan hal itu.

4.2 Kamavacarakusala-Kamma : Kamma baik yang akan masak di alam keindriaan :

Kamavacarakusala-kamma terbagi menjadi tiga (3) macam , yaitu :

  1. Kusala-Kaya-Kamma ( perbuatan baik melalui jasmani ).
  2. Kusala-Vaci-Kamma ( perbuatan baik melalui perkataan ).
  3. Kusala-Mano-Kamma ( perbuatan baik melalui pikiran ).

Penghindaran dari sepuluh tindakan jahat diatas  disebut “ sepuluh (10) perbuatan bajik “, yang diterangkan secara rinci dalam Sevitabba-asevitabba-sutta, bagian dari Majjhima Nikaya.

Disamping itu, dalam agama Buddha dikenal “Sepuluh Karma Bajik” yang mencakup sepuluh perbuatan bajik disertai perbuatan bajik lainnya, yaitu yang terangkum dalam tabel berikut ini :

JENIS KARMA BAIK AKIBAT / BUAH KARMA
Kedermawanan ( Dana ) :

  1. Materi
  2. Memberikan keberanian, rasa nyaman, dan hiburan bagi orang yang terguncang jiwanya.
  3. Memberikan nasihat dan saran.
  1. Kekayaan Materi.
  2. Banyak teman dan jodoh afinitas.
  3. Mempunyai pengaruh kuat di lingkungan.
Moralitas ( Sila ) Kelahiran dalam keluarga mulia dan dalam keluarga bahagia.
Meditasi ( Bhavana ) Membawa kelahiran di alam berbentuk dan alam tidak berbentuk, serta membantu untuk memperoleh pengetahuan lebih tinggi dan kebebasan.
Penghormatan (apacayana) Memiliki keturunan mulia ; dihormati.
Pengabdian ( veyyavacca ) Menghasilkan banyak pengikut, asisten yang loyal, teman yang setia.
Mengirim jasa ( pattidana ) Memiliki harta berlimpah dalam kelahiran yang akan datang.
Berbahagia atas perbuatan baik pihak lain ( anumodana ) Kegembiraan dimanapun ia dilahirkan kelak.
Mendengarkan ajaran(dhammasavana ) Bijaksana, pandai, dan berpengetahuan luas.
Membabarkan ajaran ( dhammadesana ) Bijaksana, pandai, dan berpengetahuan luas.
Meluruskan pandangan hidup ( ditthijjukamma ). Bijaksana dan pandai.

Menurut agama Buddha, seseorang akan diberkati dengan kekayaan dan kebangsawanan bila ia melakukan empat hal :

1. Memberi pada waktu yang tepat.

2. Memberi tanpa sikap menghina atau angkuh.

3. Memberi dengan tulus hati.

4. Tidak mengharap balasan.

( Sutra Pertanyaan Sumati, Sutra 30 dari Maharatnakuta ).

Seorang umat awam ditekankan untuk melaksanakan tiga karma bajik pertama, yaitu : 1). Berdana ( dana ), 2). Moralitas ( Sila ), 3). Pengembangan Mental / Meditasi ( Bhavana ).

4.3 Kamma baik yang akan masak di alam berbentuk :

Inilah lima macam kegembiraan luar biasa ( Rupa Jhana ) yang semata-mata bersifat mental, yang diperoleh melalui pemurnian batin dengan menjaga Sila dan Samadhi yang terus-menerus :

i. Jhana pertama, kesadaran moral yang terdiri dari penerapan awal ( vitakka ), penerapan terus menerus ( vicara ), perhatian yang menyenangkan ( piti ), kebahagiaan ( sukha ), dan pemusatan perhatian ( ekaggata ),

ii. Jhana kedua, kesadaran moral yang terdiri dari penerapan terus menerus (vicara), perhatian yang menyenangkan (piti), kebahagiaan (sukha) dan pemusatan perhatian (ekaggata).

iii. Jhana ketiga, kesadaran moral yang terdiri dari perhatian yang menyenangkan (piti), kebahagiaan, dan pemusatan perhatian (ekaggata).

iv. Jhana keempat, kesadaran moral yang terdiri dari kebahagiaan (sukha) dan pemusatan perhatian (ekaggata), dan

v. Jhana kelima, kesadaran moral yang terdiri dari keseimbangan ( upekkha ) dan pemusatan perhatian (ekaggata). Jhana-jhana ini mempunyai akibat yang sesuai di Alam Berbentuk.

4. 4 Kamma baik yang akan masak di Alam Tak Berbentuk :

Inilah empat Arupa Jhana yang mempunyai akibat yang selaras di Alam Tak Berbentuk, yaitu :

i. Kesadaran moral yang berada di “ Ruang yang Tidak Terbatas “ ( Akasanancayatana ),

ii. Kesadaran moral yang berada di “ Kesadaran yang Tidak Terbatas “,

iii. Kesadaran moral yang berada di “ Kehampaan “ ( Akincannayatana ), dan,

iv. Kesadaran moral dimana Tidak Ada Pemahaman bukan pula Ada Pemahaman ( N’eva sanna ‘asannayatana ).



CARA KERJA KARMA

Pertama-tama marilah kita mempelajari proses-pikiran ( cittavithi ). Pikiran, kesadaran, dua unsur dari “jiwa” makhluk hidup, memainkan peranan sangat penting dalam perlengkapan manusia yang rumit. Jika seseorang tidur lelap dan dalam keadaan tidak bermimpi, ia merasakan sejenis kesadaran yang lebih kurang bersifat pasif daripada aktif. Perasaan ini seperti kesadaran yang dirasakan seseorang pada saat pembuahan dan wafat. Hal ini disebut sebagai Bhavanga yang berarti “ faktor kehidupan “, atau sebab, atau kondisi keberadaan yang sangat diperlukan.

Timbul dan lenyap setiap saat, pikiran & kesadaran mengalir bagaikan arus yang tidak pernah sama walaupun dengan selang waktu yang sedikit. Kita merasakan bentuk kesadaran ini tidak hanya pada saat tidak bermimpi, tetapi juga pada saat terjaga. Dalam kehidupan kita, kita merasakan saat-pikiran Bhavanga lebih banyak daripada bentuk kesadaran lain. Beberapa ahli psikologi modern menyatakan ‘bhavanga’ sama dengan bawah sadar, yaitu suatu bagian pikiran yang berada dibawah ambang batas kesadaran.

‘Bhavanga’ disebut sebagai faktor kehidupan karena ia merupakan keadaan penting untuk meneruskan keberadaan. Rangkaian kehidupan yang berkesinambungan tampaknya merupakan padanan kalimat terdekat untuk menggantikan istilah/kata “bhavanga”.

Kesadaran bhavanga ini, yang selalu dirasakan seseorang sepanjang tidak terganggu oleh rangsangan dari luar, bergetar selama satu saat-pikiran dan lenyap ketika suatu objek jasmani atau batin memasuki pikiran. Misalnya, objek yang memasuki pikiran adalah objek jasmani, maka proses yang terjadi adalah sebagai berikut : Saat terganggu objek jasmani, aliran kesadaran bhavanga tertahan, kemudian kesadaran pintu indria ( pancadvaravajjana ) yang fungsinya mengarahkan kesadaran menuju objek, muncul dan lenyap. Segera setelah itu muncullah kesadaran penglihatan ( cakkuvinnana ) yang melihat objek, tetapi tidak mengetahui lebih lanjut tentang objek tersebut. Bekerjanya indria penglihatan ini diikuti oleh saat penerimaan dari objek yang dilihat ( sampaticchana ). Selanjutnya muncullah saat pikiran yang menyelidiki ( santirana ) yang secara sesaat memeriksa objek yang dilihat. Ini diikuti oleh saat-pikiran yang menentukan ( votthapana ) ketika pembedaan dilakukan dan kehendak bebas memainkan peranannya. Javana, yaitu keadaan penting selanjutnya yang menurut ilmu jiwa bergantung pada keadaan tersebut. Pada keadaan itulah,pada keadaan Javana, suatu perbuatan dinilai, apakah baik atau buruk. Dan, Karma/kamma berlangsung pada keadaan tersebut. Jika ditanggapi dengan benar ( yonisomanasikara ), ia menjadi baik; jika ditanggapi dengan salah ( ayonisomanasikara ), jadi buruk.

Terlepas dari objek yang diingini atau tidak diingini yang tersajikan dalam pikiran, sungguh memungkinkan bagi seseorang untuk menjadikan proses Javana baik atau buruk. Jika misalnya seseorang bertemu dengan musuh, kemarahan akan muncul dengan sendirinya. Sebaliknya orang yang bijaksana dengan pengendalian diri sendiri, akan memancarkan pikiran cinta kasih kepadanya.

Faktor eksternal mungkin merupakan faktor ‘masukan’, tetapi akhirnya diri kita sendirilah yang menentukan untuk ‘bersikap’, yang secara langsung bertanggungjawab atas tindakan yang kita lakukan. Karmalah yang memungkinkan bagi kita untuk mengatasi pengaruh luar dan menghasilkan pikiran baik dan buruk dengan menggunakan kehendak bebas kita.

Istilah modern ‘apersepsi’ (tanpa-persepsi) mungkin bisa dipadankan dengan Javana. Javana, secara harafiah berarti ‘berlari’ . Disebut begitu karena dalam rentang suatu proses pikiran, ia berlari sebanyak tujuh saat pikiran, atau pada saat kematian, sebanyak lima saat-pikiran dengan objek yang sama. Keadaan mental yang muncul dalam semua saat-pikiran ini adalah sama, tapi kekuatannya berbeda.

Seluruh proses-pikiran ini yang berlangsung dalam waktu sangat singkat berakhir dengan kesadaran yang merekam ( tadalambana ) yang terjadi dalam waktu dua saat-pikiran.

Ada perumpamaan mengenai proses pikiran ini. Seseorang tidur nyenyak di kaki pohon mangga dengan kepala ditutupi. Angin menggerakkan cabang-cabang dan buah mangga jatuh di samping kepala orang yang tidur. Ia menyingkirkan penutup kepalanya, dan menoleh kearah objek. Ia melihatnya lalu mengambilnya. Ia memperhatikannya, dan yakin bahwa itu adalah sebuah mangga yang ranum. Ia memakannya, dan menelan serpihan dengan air liur, lalu ia membaringkan diri untuk tidur.

Tidur dengan tidak bermimpi menunjukkan aliran Bhavanga yang tidak terganggu. Hembusan angin pada pohon menunjukkan Bhavanga masa lalu dan goyangan cabang-cabang menunjukkan getaran Bhavanga. Jatuhnya buah mangga menunjuk Bhavanga yang tertahan / terganggu. Menoleh ke arah objek menunjuk kesadaran pintu-indria, penglihatan pada objek menunjuk pemahaman, mengambil menunjuk kesadaran penerima, memperhatikan menunjuk kesadaran penguji, meyakinkan diri bahwa itu buah mangga yang ranum menunjuk kesadaran penentu. Saat memakan menggambarkan proses Javana, dan menelan potongan menunjukkan ingatan. Kembali tidur  menggambarkan surutnya pikiran menuju Bhavanga lagi.

Dari tujuh saat-pikiran seperti yang disebutkan diatas, akibat dari saat pikiran pertama, yang terlemah dalam kemampuan, orang mungkin memetik buahnya ( buah karma/kamma, atau vipaka ) dalam kehidupan ini juga. Ini disebut “ karma/kamma yang berlaku segera “ ( ditthammavedaniya ). Jika ia tidak bekerja dalam kehidupan ini, ia menjadi kadaluwarsa ( ahosi ).

Urutan terlemah kedua  adalah yang ke-7 dari saat-pikiran. Akibat dari karma ini akan dipetik/dialami dalam kehidupan berikutnya. Oleh karena itu ia disebut “ Karma/kamma yang berlaku sesudah itu “ ( upapajjavedaniya ), yang juga, langsung menjadi kadaluwarsa jika ia tidak bekerja pada kehidupan yang kedua.

Akibat dari lanjutan saat-pikiran mungkin terjadi kapan saja dalam rentang pengembaraan seseorang dalam Samsara sampai akhir Kebebasan. Karma/kamma jenis ini disebut “ berlaku untuk jangka waktu yang tak terbatas “ ( aparapariyavedaniya ).



TIDAK SEMUA KARENA KAMMA

Terdapatlah pandangan salah yang menyatakan bahwa, “Apapun kebahagiaan, penderitaan atau perasaan netral yang dirasakan, semuanya bergantung pada perbuatan masa lalu ( pubbekatahetu )”. Mengenai pandangan-salah ini, Sang Buddha bersabda, “ Jika begitu, karena perbuatan masa lalu orang menjadi pembunuh, pencuri, tak bersusila, pembohong, pemfitnah, pengoceh, tamak, dengki dan jahat. Jadi pada mereka yang bersandar pada perbuatan masa lalu sebagai alasan utama, disana tak ada keinginan untuk berbuat, atau perlu melakukan perbuatan ini atau tidak melakukan perbuatan itu.” [ Anguttara-Nikaya – I.173 ; Gradual Sayings. I.157 ; dikutip dari buku “Sang Buddha dan Ajaran-ajaran-Nya”, penulis Bhante Narada Mahathera, hal.58 ]

Agama Buddha menerangkan semua perbedaan dan ketidak-adilan didunia ini dengan hukum Karma, tetapi tidak menyatakan bahwa segala sesuatu disebabkan oleh Kamma saja. Apabila segala sesuatu disebabkan oleh Kamma, maka seorang penjahat akan selamanya menjadi jahat, karena kammanya yang menjadikan dirinya jahat. Orang tidak perlu memeriksakan dirinya ke dokter untuk disembuhkan penyakitnya, karena bila kammanya memang harus demikian ia akan sembuh dengan sendirinya. Jika kehidupan saat ini sepenuhnya terbentuk atau dikendalikan seluruhnya oleh perbuatan masa lalu kita, maka Kamma tentunya sama saja dengan fatalisme deterministic / atau “Takdir”.

Seseorang bebas untuk membentuk masa sekarang atau masa yang akan datang. Jika fatalisme-deterministic itu betul, maka kehendak-bebas (freewill ) akan menjadi suatu kemustahilan. Kehidupan akan bergerak secara mekanis, tak berbeda dengan mesin. Ajaran fatalisme-deterministik seperti ini bukanlah hukum-Kamma yang diajarkan Sang Buddha.

PANCA-NIYAMA

Menurut agama Buddha, terdapat lima aturan / proses alamiah ( niyama ) yang berlaku dalam alam mental dan fisik, yaitu  :

1. Kamma Niyama ( Sanskrit : Karma )

Yaitu hukum sebab akibat ; perbuatan baik dan buruk menghasilkan akibat-akibat yang sesuai.

2. Bija Niyama,

Hukum Benih ( hukum fisik organic ) ; beras dihasilkan dari padi, gula dihasilkan dari tebut atau madu, dan lain-lain. Teori ilmiah tentang sel-sel dan gen-gen ( plasma pembawa sifat ) dan kemiripan fisik anak kembar diterangkan melalui hukum ini.

3. Utu Niyama,

Hukum fisik ( inorganic ), yaitu fenomena angin dan hujan, musim-musim yang timbul di alam-semesta.

4. Citta Niyama,

Hukum pikiran / batin ( hukum psikis ), yaitu proses-proses kesadaran ( citta-vitthi ), kekuatan pikiran, kemampuan batin, membaca pikiran, kewaskitaan, mengingat kehidupan lampau diri sendiri dan orang lain, dan lain-lainnya.

5. Dhamma Niyama

Hukum alam, yaitu misalnya fenomena alam pada saat kedatangan Bodhisatta pada kelahiran terakhirnya, gravitasi bumi, dan lain-lain sebagainya.

Setiap fenomena mental dan fisik dapat diterangkan dengan lima hukum serba-lengkap ini. Dan hukum alam tersebut berlaku, berjalan sendiri, tanpa peran serta Hakim Agung atau Penguasa tertentu yang mengaturnya.

Tidak ada yang memutuskan bahwa api itu harus membakar. Tidak ada yang memerintahkan bahwa air harus mencari permukaan yang rendah. Tak ada ilmuwan yang memerintahkan bahwa air harus terdiri dari H20 dan sifat dingin harus menjadi salah satu sifatnya. Kamma bukanlah nasib atau takdir yang ditimpakan pada kita oleh kekuatan misterius yang tak dikenal, kepada siapa kita harus menyerahkan diri kita tanpa daya. Perbuatan seseorang sendirilah yang memberi akibat pada dirinya, sehingga dengan demikian ia mempunyai suatu kemungkinan untuk membelokkan jalannya kamma sampai taraf tertentu. Berapa jauh ia dapat membelokkannya, hal itu tergantung pada usaha dirinya sendiri.

……………………………………………………………………………………………………………………….

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )


RATANA KUMARO

Semarang-Barat, Minggu, 5 Juli 2009.

Posted in BUDDHA, Hukum Karma | 26 Comments »

ARTI DOA [ Menurut Buddhisme ]

Posted by ratanakumaro pada Juni 28, 2009

“Sesuai dengan benih yang kita tabur, begitulah buah yang akan kita petik. Pembuat kebajikan akan memperoleh kebahagiaan dan pembuat kejahatan akan memperoleh penderitaan.”

[Samyutta Nikaya I, 227]

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattum (3X) )

Namatthu Buddhassa,

Saya pernah mendapat pertanyaan dari seorang non-Buddhis berkaitan dengan “doa” . Begini pertanyaannya, Jika sosok “Yang-Maha-Kuasa” dan “Yang-Maha-Pencipta”  ditolak keberadaannya oleh Sang Buddha, lalu, kepada siapakah ummat Buddha berdoa ? Saya melihat ummat Buddha banyak yang kaya-raya, makmur, darimanakah itu bila bukan dari “Yang-Maha” ? Ataukah itu dari Sang Buddha ? “

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin menyitir ungkapan yang sangat terkenal dari Descartes, Bapa filsafat idealisme. “Cogito Ergo Sum”, yang artinya, “Aku berpikir, maka Aku Ada”, demikian Descartes berkata. Psikologi modern  juga menyatakan bahwa kita adalah buah pikiran kita sendiri, sebuah temuan ilmiah yang sangat selaras dengan apa yang diajarkan Sang Buddha lebih dari 2.550 tahun yang lalu. Ketika seseorang berdoa, maka sebenarnya ia sedang melakukan proses “sugesti” dan “afirmasi” bagi dirinya sendiri. Dan kemudian ia mendapatkan kelegaan serta keteguhan dari “doa” yang ia ucapkan pada suatu sosok “Yang-Maha-Segala”. Kelegaan dan keteguhan itu sesungguhnya hanyalah efek psikologis semata dari hasil “sugesti” dan “afirmasi” yang ia tanamkan dalam “jiwa” melalui untaian kata-kata indah yang terangkum dalam doa tersebut, bukan berasal dari “sentuhan-tangan-Yang-Maha-Kuasa” . Inilah efek yang diciptakan oleh pikiran melalui “iman” dan “devosi” umumnya ummat manusia.

Dalam satu kesempatan, Sang Buddha bersabda, “Tumhehi kiccam atappam akkhataro Tathagata”, yang artinya, Usaha harus dikerjakan oleh dirimu sendiri. Para Tathagata hanyalah Guru.” ~ Dhammapada v.276.

Sang Buddha tidak pernah mengajarkan para siswa-Nya untuk berdoa dan berserah diri pada “Maha-Dewa” siapapun namanya, termasuk kepada Sang Buddha sendiri. Kebalikan dari ajaran “berserah-diri” tersebut,  Sang Buddha justru mengajarkan para siswa-Nya untuk berusaha, berdaya-upaya dengan kemampuan dirinya sendiri, dengan segenap-tenaga, hingga meraih kesuksesan. Untuk itulah, Sang Buddha memberikan rumusan bagi para siswa-Nya supaya berhasil dengan sukses meraih apa yang dicita-citakan, yang disebut dengan “Panca-Bala” :

“Pañcimāni, bhikkhave, balāni. Katamāni pañca? Saddhābalaŋ, vīriyabalaŋ, satibalaŋ, samādhibalaŋ, paññābalaŋ. “

Inilah o para Bhikkhu, lima kekuatan. Apakah lima kekuatan itu? Kekuatan keyakinan (Saddhābalaŋ), Kekuatan ketekunan/ semangat (vīriyabalaŋ), Kekuatan perhatian (satibalaŋ), Kekuatan samādhi/konsentrasi (samādhibalaŋ), Kekuatan Kebijaksanaan (paññābalaŋ).


Inilah kunci  bagi siapapun yang ingin meraih kesuksesan menggapai cita-citanya. Di dalam berusaha mencapai cita-cita, alih-alih menyibukkan diri dengan uncaran doa-doa berjam- jam, kita hendaknya selalu penuh keyakinan, ketekunan/semangat, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan, dalam berusaha dan berdaya-upaya meraih cita-cita, hingga apa yang kita cita-citakan itu berhasil.

Pada suatu kesempatan, Sang Buddha bersabda pada hartawan Anathapindika:

Oh, perumah tangga, di dunia ini ada lima hal yang diinginkan, menarik dan menyenangkan. Apakah kelima hal itu? Tidak lain adalah usia panjang, kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran dan kelahiran kembali di alam-alam Surga. Akan tetapi, oh, perumah tangga, Saya tidak pernah mengajarkan bahwa lima hal tersebut dapat diperoleh dengan doa (acayana) ataupun dengan kaul/nadar (patthana). Jika seandainya dapat diperoleh dengan doa atau kaul/nadar, [maka] siapakah yang tidak akan melakukannya?

Bagi seorang siswa mulia, oh, perumah tangga, yang mendambakan usia panjang, kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran, dan kelahiran kembali di alam-alam Surga; sangatlah tidak tepat apabila ia berdoa atau merasa senang dalam usaha seperti itu. Sebaliknya, ia selayaknya menempuh jalan kehidupan yang mengakibatkan usia panjang, kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran dan kelahiran kembali di alam-alam Surga. Hanya dengan berbuat demikianlah ia dapat memperoleh apa yang diinginkan, menarik dan menyenangkan.


TIDAK PERLU BERDOA, TETAPI KENDALIKANLAH PIKIRAN KITA

Jika Pikiran tidak terjaga,  tindakan jasmani tidak terjaga, ucapan juga tak terjaga, buah pikiran juga tak terjaga. Jika pikiran terjaga, tindakan jasmani terjaga, ucapan juga terjaga, dan buah-pikiran juga terjaga. [ Atthasalini hal.68. The Expositor,Bag.I,halm91 ]

Dalam Dhammapada, terdapatlah kata-kata mutiara Sang Buddha, yang mengingatkan kita semua untuk senantiasa mengendalikan pikiran kita, karena, pikiran adalah pemimpin, karena pikiran kita sendirilah kita bahagia dan  karena pikiran kita sendirilah kita menderita.

“Pikiran itu sangat sulit dikendalikan, Bergerak sangat cepat, Menuju kemana ia mau pergi. Melatih pikiran adalah baik, Pikiran yang terkendali akan membawa kebahagiaan.” [ Dhammapada ; Citta-Vagga 3:4 ]

“Pikiran itu sangat sulit untuk diawasi dan sangat halus, Bergerak kemana ia mau pergi, Orang bijaksana seharusnya mengendalikan pikirannya; Pikiran yang terkendali akan membawa kebahagiaan.” [ Dhammapada ; Citta-Vagga 3:4 ]

“Seseorang yang pikirannya tidak ternoda oleh nafsu, Terbebas dari kebencian, Dapat mengatasi baik dan buruk, Maka tidak ada lagi perasaan takut.” [ Dhammapada ; Citta-Vagga 3:7 ]

Seperti orang menabur benih padi, maka akan tumbuh tanaman padi, demikian pula, benih-benih pikiran baik akan menyebabkan tumbuhnya pohon yang berbuah kebajikan yang bermanfaat bagi si pembuat kebajikan, dan demikianlah sebaliknya. Hukum-alam seperti ini ( Hukum-Alam, sesungguhnya ada lima, yaitu  : utu-niyama, bija-niyama, kamma-niyama, ctta-niyama, dhamma-niyama ), tidak dapat direkayasa dengan “Doa”.

Rahasia kesuksesan dan kegagalan, semua terletak pada, bagaimana kita menggunakan pikiran [mind-set] kita, bagaimana kita mengendalikan pikiran, dan kemana pikiran kita arahkan, bukan pada “kalimah-sakti” yang terangkai dalam sebuah “doa”. Hendaknya hal ini senantiasa kita pahami dengan bijaksana.

KISAH NYATA ; SESEORANG  YANG  BERSANDAR PADA MUJIZAT “YANG-MAHA-KUASA”

Ada sebuah kisah nyata, dari kehidupan di sekitar saya sendiri. Seorang perumah tangga, mempunyai anak tiga. Semenjak menikah, ia tidak pernah mempunyai pekerjaan tetap. Sekian lama tidak terdengar kabar, pada suatu ketika, saya bertemu dengannya. Cukup kagum, karena ia saat itu naik mobil Mercedes Benz, dan bekerja mandiri sebagai seorang kontraktor. Kemudian, setelah bercakap-cakap, barulah saya ketahui, semua modalnya dia peroleh dari pinjaman uang ke “lintah-darat”, dan saat bertemu dengan saya itu sebenarnya dia terlilit hutang yang sangat besar. Untuk membayar hutang-hutangnya kepada “lintah-darat”, dia membuat banyak kartu-kredit. Ia saat itu berkelakar,

” Jika kita punya hutang yang banyak, kita tidak perlu pusing-pusing memikirkannya, biarkan yang meminjamkan uang pada kita itulah yang pusing memikirkan bagaimana menagih uangnya yang kita pinjam, ha ha ha..! “


Seiring berjalannya waktu, kehidupannya semakin “suram”. Mulailah debt-collector bermunculan, karena ia tak mampu membayar angsuran bulanan lagi. Hutangnya ketika itu sudah mencapai 700 juta rupiah. Pada suatu saat, ia menyatakan sesuatu hal pada saya sebagai obat penghalau “pesimisme”-nya sendiri :

“Seseorang pernah memberikan kesaksian di rumah-ibadah tempat istri saya kesana, disana orang tersebut berkata,”Jika didepan saya tidak terdapat satu jalanpun kecuali hanya sebuah dinding tembok, maka sayapun mau untuk lari menabrak dinding tembok didepan saya, karena saya yakin itulah kehendak Tuhan. Dan Tuhan pasti telah menyiapkan rencana indahnya ketika saya lari menabrakkan diri ke dinding tembok tersebut! “

Berdasarkan kesaksian seseorang di sebuah rumah-ibadah itulah, kemudian, pada perjalanan hidupnya selanjutnya, ia benar-benar melakukan hal yang bodoh. Karena merasa sudah tidak ada jalan lagi, maka ia mulai mempunyai pikiran buruk. Ia mulai menipu ke beberapa teman, saudara, dan akhirnya menipu banyak orang. Padahal, terakhir bertemu saya ( yaitu ketika ia menceritakan kisah “kesaksian” diatas ), ia pun telah terbelit pada hutang kartu kredit dan hutang yang lainnya hingga 700 juta rupiah.

Ketika ia merasa terpojok, ia dan istrinya memutuskan bercerai. Namun dengan perjanjian, bahwa ia tetap tinggal dirumahnya. Perceraian ini hanya rekayasa, supaya istri dan anak-anaknya terbebas dari kejaran para debt collector dan juga para polisi  ( sebab, semua kreditur telah melaporkan dirinya pada pihak yang berwajib, polisi ). Alangkah malangnya, kabar terakhir yang saya dengar, ketika sang suami bersusah payah menyembunyikan diri dari kejaran polisi dan debt collector, si istri asyik-masyuk berselingkuh dengan laki-laki lain yang lebih kaya. Hancurlah ia, meraung-raung, ia tak menyangka semua akan menjadi begitu. Ia meronta, “Dimana keadilan Tuhan, bukankah selama inipun aku rajin beribadah ? Berdoa ? Mengapa doaku tak pernah didengarnya ? Mengapa Tuhan melakukan ini semua padaku ?  “

Nah, saudara-saudari, apakah yang bisa kita petik dari kisah ini ?  Hukum-alam, berjalan dengan pasti. Alam tidak pernah memihak. Alam tidak bisa disanjung dengan doa. Jika kita berbuat jahat, maka buah kejahatan telah mulai berkembang dan menunggu untuk waktu-masak, dimana kita siap memetiknya.

Mengenai hal ini, ada beberapa kata-kata mutiara Sang Buddha, yang patut kita renungkan bersama :

“Apabila buah dari perbuatan buruk belum masak, orang bodoh menganggap hidupnya manis seperti madu; namun apabila buah dari perbuatan buruknya telah masak, maka orang bodoh itu akan merasakan pahitnya penderitaan.” [Dhammapada ; Bala-Vagga 5:10 ]

“Akibat dari perbuatan buruk tidak segera berbuah, seperti susu yang perlahan-lahan menjadi asam setelah diperah; demikian pula penderitaan akan membakar orang bodoh seperti bara api yang tertutup oleh arang.” [ Dhammapada ; Bala-Vagga 5:12 ]

“Janganlah menganggap remeh kejahatan yang ringan dengan berpikir : “Perbuatan keliru yang tidak berarti ini tidak akan berakibat buruk pada diriku.” Karena seperti air yang mengisi tempayan tetes demi tetes, demikian pula orang bodoh memenuhi dirinya dengan perbuatan jahat Sedikit demi sedikit.” [ Dhammapada ; Papa-Vagga 9:6 ]

“Selama akibat dari perbuatan jahat belum masak, si pembuat kejahatan menganggap perbuatan jahatnya sebagai hal yang menguntungkan. Tetapi setelah akibat dari perbuatan jahatnya sudah masak, ia akan menyadari kerugian dari perbuatan jahat tersebut.” [ Dhammapada ; Papa-Vagga 9:4 ]


KISAH SANG BUDDHA MEMANFAATKAN KEKUATAN TAKHAYUL DARI “PERSEMBAHAN-KORBAN” DAN “DOA”

Ada sebuah kisah dari kehidupan lampau Sang Buddha, yang menggambarkan bagaimana Sang Boddhisatta ( calon-Buddha ) memanfaatkan kekuatan takhayul berupa “persembahan-korban-binatang” dan “doa” yang mencengkeram rakyat Benares waktu itu. Sang Boddhisatta sangat kasihan mengapa rakyat Benares dicengkeram kepercayaan takhayul semacam itu. Karena itu, Sang Boddhisatta kemudian mencari cara / “akal” bagaimana caranya membelokkan praktik takhayul tersebut menjadi sebuah praktik latihan lima moralitas ( Pancasila ) yang jauh lebih bermanfaat dari “persembahan-korban-binatang” dan “doa” pada “Maha-Dewa”.

Dahulu kala, Raja Brahmadatta memerintah di Benares, India Utara. Sang Bodhisatta, Makhluk yang akan mencapai Penerangan, terlahir sebagai pangeran di negara itu. Karena pintarnya, ia telah menyelesaikan seluruh pendidikannya kala ia berusia 16 tahun. Jadi pada usia yang sangat muda ayahnya telah menjadikan ia sebagai orang kedua dalam pemerintahannya.

Pada hari-hari itu, kebanyakan orang Benares memuja dewa-dewa. Mereka sangatlah percaya tahayul. Mereka berpikir bahwa para dewalah yang menyebabkan terjadinya sesuatu pada diri mereka, dan bukannya hasil dari perbuatan mereka sendiri. Jadi mereka akan berdoa kepada para dewa ini dan minta pertolongan. Mereka akan meminta pernikahan yang menguntungkan, atau kelahiran seorang anak, atau kekayaan, ketenaran.

Mereka akan berjanji kepada para dewa bahwa, jika doa mereka terkabul mereka akan membayar pada dewa tersebut dengan persembahan. Sebagai tambahan selain bunga dan wewangian, mereka membayangkan bahwa para dewa tersebut menginginkan persembahan korban binatang. Jadi bila mereka berpikir bahwa para dewa telah membantu, mereka akan membunuh banyak binatang-binatang – kambing, lembu, ayam, babi, dsb.

Pangeran tersebut melihat semua ini dan berpikir, “Binatang-binatang yang tak berdaya ini juga merupakan sasaran sang raja, jadi aku harus melindungi mereka. Orang-orang melakukan perbuatan tidak benar ini karena kebodohan dan kepercayaan terhadap tahayul. Ini bukanlah agama yang sebenarnya. Karena agama yang sebenarnnya menawarkan kehidupan seperti apa adannya, bukan pembunuhan. Agama yang benar menawarkan kedamaian bukan pembunuhan.

“Aku takut orang-orang ini terlalu mempercayai tahayul sehingga sukar bagi mereka untuk meninggalkannya. Betapa menyedihkan. Tetapi mungkin paling tidak kepercayaan mereka ini dapat diubah menjadi sesuatu yang berguna. Suatu hari nanti aku akan menjadi raja, Jadi aku harus membuat rencana agar tahayul ini dapat membantu mereka. Jika mereka harus memberikan persembahan biarlah mereka membunuh ketamakan dan kebencian mereka sendiri dan bukannya membunuh binatang-binatang yang tidak berdaya ini! Dengan demikian seluruh kerajaan akan mendapatkan manfaat”.

Jadi pangeran yang pandai tersebut membuat rencana jangka panjang. Sering ia akan mengedarai keretannya menuju satu pohon banyan yagn terkenal tepat di luar kota. Pohon itu sangat besar, banyak orang berdoa dan memberikan persembahan kepada dewa yang mereka kira hidup di pohon itu. Pangeran itu turun dari keretanya dan memberikan persembahan yang sama – dupa, bunga, wewangian dan air – tetapi bukan persembahan binatang.

Dengan cara demikian dia membuat suatu tontonan besar, dan kabar tentang persembahan yang dilakukannya itu dengan segera tersebar luas. Segera, orang mengira bahwa ia juga adalah salah satu pengikut dewa pohon banyan tersebut.

Pada saatnya raja Brahmadatta meninggal dan pangeran tersebut menjadi raja yang baru. Ia memimpin sebagai seorang raja yang adil dan semua rakyatnya mendapatkan manfaat. Jadi semua rakyat percaya dan menghormatinya sebagai seorang raja yang adil dan bijaksana.

Kemudian pada suatu hari, ia memutuskan bahwa telah tiba saatnya yang tepat untuk melaksanakan rencananya. Jadi ia memanggil seluruh jajaran pemimpin rakyat Benares ke aula kerajaan. Ia bertanya kepada mereka, “Para menteri dan rakyatku yang setia, tahukah kalian bagaimana aku mampu memastikan bahwa nantinya aku akan menjadi raja?” Tidak ada seoarngpun dapat menjawab.

Ia berkata, “Ingatkah kalian bahwa aku sering memberikan persembahan yang manis-manis dan baik kepada dewa pohon banyan?” “Ya, tuanku”, kata mereka.

Raja melanjutkan, “Pada tiap-tiap saat itu, aku berjanji pada dewa pohon banyan yang hebat itu, Aku berdoa, ‘Oh dewa yang hebat, jika anda membuatku menjadi raja di Benares, aku akan memberikan persembahan yang khusus, lebih hebat dari bunga dan wewanggian'”.

“Karena sekarang aku telah menjadi raja, anda semua dapat melihat sendiri bahwa dewa telah mengabulkan doaku. Jadi sekarang aku harus memenuhi janjiku dan memberian pesembahan khusus.”

Semua yang berada dalam aula tersebut menyetujuinya. Mereka berkata, “Kita harus mempersiapkan persembahan ini dengan segera. Binatang apa yang hendak paduka bunuh?”

Sang Raja berkata, “Para pengikutku, aku bahagia kalian semua mau bekerjasama. Aku berjanji pada dewa pohon banyan bahwa aku akan mempersembahkan siapa saja yang gagal berlatih Lima Langkah Latihan (Panca Sila). Yaitu, mereka yang menghancurkan kehidupan, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan kesalahan dalam hal seksual, berbicara bohong, atau kehilangan akal sehatnya karena alkohol. Aku berjanji, bahwa jika ada yang melakukan hal ini, aku akan mempersembahkan nyali, daging, dan darah mereka pada altar dewa yang hebat tersebut!”

Karena begitu percayanya akan tahayul, semua yang berada diaula menyetujuinya bahwa hal ini harus dilakukan, atau dewa tentunya akan menghukum raja dan semua yang ada dalam kerajaan itu.

Sang raja berpikir, “Ah, begitu hebatnya kekuatan tahayul sampai-sampai semua orang kehilangan akal sehatnya! Mereka tidak dapat melihat bahwa latihan pertama adalah jangan membunuh. Jika aku mengorbankan salah satu dari mereka, akulah yang akan berada di altar! Dan dengan kekuatan seperti itu aku dapat membuat janji semscam itu, dan tidak harus melakukannya!”

Jadi, dengan keyakinan penuh pada kekuatan tahayul, sang Raja berkata kepada para pimpinan rakyat, “Pergilah ke seluruh bagian kerajaan dan umumkanlah janji yang telah kubuat kepada dewa pohon banyan. Kemudian umumkanlah bahwa seribu orang pertama yang melanggar langkah-langkah latihan akan mendapatkan kehormatan untuk menjadi persembahan, untuk memenuhi janji raja.”

Demikianlah dan terjadilah, orang-orang di Benares menjadi terkenal karena mereka berhati-hati melatih Lima Latihan  Moralitas (Panca Sila). Dan raja yang baik tersebut, yang mengenal dengan baik pengikutnya, tidak mengorbankan siapapun.

[ Sumber :    http://www.geocities.com/Athens/Stage/5255/dhamma/jataka/pangerantahayul.htm      ]


JANGAN BERBUAT JAHAT, PERBANYAK KEBAJIKAN, SUCIKAN HATI DAN PIKIRAN

Sesungguhnya, pada ketiga syair ( jangan berbuat jahat, perbanyak kebajikan, sucikan hati dan pikiran ) tersebutlah, inti kebahagiaan hidup. Sebagaimana kita lihat pada contoh kisah-nyata diatas, seseorang yang mengharapkan “mujizat-keselamatan-dan-ksejahteraan” melalui penguncaran doa-doa sementara ia sendiri senantiasa berbuat jahat, sesungguhnya telah menjerumuskan dirinya sendiri kearah jurang-kehancuran.

Dalam hal ini, kata-kata mutiara Sang Buddha, patut kita renungkan bersama :

“Dalam kehidupan ini ia menderita, dalam kehidupan yang akan datang ia juga akan menderita. Dalam kedua alam kehidupan si pembuat kejahatan menderita. Ia menderita dan bersedih menyaksikan buah dari perbuatannya yang buruk.” [ Dhammapada ; Yamaka-Vaga 1:15 ]

“Dalam kehidupan ini ia berbahagia, dalam kehidupan yang akan datang ia juga berbahagia. Dalam kedua alam kehidupan si pembuat jasa kebaikan berbahagia, Ia bergembira dan berbahagia menyaksikan buah dari perbuatannya yang baik.” [ Dhammapada ; Yamaka-Vagga 1:16 ]

“Si pembuat kejahatan menyesal dalam kehidupan ini, Ia juga menyesal dalam kehidupan yang akan datang. Ia menyesal di kedua alam kehidupan, Ia sangat menyesal ketika merenungkan perbuatan jahatnya. Dan ia akan lebih menderita lagi setelah terlahir di alam sengsara.” [ Dhammapada ; Yamaka-Vagga 1:17 ]

“Si pembuat kebajikan berbahagia dalam kehidupan ini, Ia juga berbahagia dalam kehidupan yang akan datang.  Ia berbahagia di kedua alam kehidupan, Ia sangat berbahagia ketika merenungkan perbuatan bajiknya. Dan ia akan lebih bahagia lagi setelah terlahir di alam surga/bahagia.” [ Dhammapada ; Yamaka-Vagga 1:18 ]

“Jangan terhanyut dalam kelengahan, tidak melekat pada kenikmatan indriya. Orang yang sadar dan selalu waspada, akan memperoleh kebahagiaan yang tidak terbatas.” [ Dhammapada ; Appamada-Vagga 2:7 ]

“Seseorang yang pikirannya tidak ternoda oleh nafsu, terbebas dari kebencian. Dapat mengatasi baik dan buruk, maka tidak ada lagi perasaan takut.” [ Dhammapada ; Citta-Vagga 3:7 ]

“Apabila seseorang telah melakukan perbuatan baik, Ia hendaknya mengulangi perbuatan baik tersebut. Ia merasa berbahagia dengan perbuatan baik, oleh karena kebaikan akan membawa kebahagiaan.” [ Dhammapada ; Papa-Vagga 9:3 ]

“Selama akibat dari perbuatan baik belum masak, si pembuat kebaikan menganggap perbuatan baiknya sebagai hal yang merugikan. Tetapi setelah akibat dari perbuatan baiknya sudah masak, Ia akan menyadari manfaat dari perbuatan baik tersebut.” [ Dhammapada ; Papa-Vagga 9:5 ]

“Janganlah menganggap remeh perbuatan baik yang ringan dengan berpikir : “ Perbuatan baik yang tidak berarti ini tidak akan membawa kebaikan pada diriku” Karena seperti air yang mengisi tempayan tetes demi tetes, Demikian pula orang bijaksana memenuhi dirinya dengan perbuatan baik Sedikit demi sedikit.” [ Dhammapada ; Papa-Vagga 9:7 ]

Nah, saudara-saudari semuanya dan khususnya ummat Buddha, sesungguhnya, mantra dan doa yang “melambung-tinggi” itu tidaklah berharga bila dibandingkan dengan  sebuah usaha yang penuh keyakinan (saddha), ketekunan/semangat ( viriya ), perhatian ( sati ), konsentrasi ( Samadhi ), dan kebijaksanaan ( panna ). Doa, hanya membantu “batin” untuk memperoleh suatu kelegaan dan keteguhan tekad, yang sesungguhnya itu hanyalah proses psikologis semata ( hasil dari “sugesti” dan “afirmasi” yang dilakukan ).

Hindarilah kejahatan, perbanyaklah kebajikan, sucikan hati dan pikiran, inilah kunci kebahagiaan, inilah kunci “surga” pada kehidupan saat ini dan kehidupan setelah kematian nanti ( pada kelahiran-kembali kelak ). Bagaimana kita menghindari kejahatan ? Dengan memperteguh diri dalam “Latihan Lima Moralitas” ( Pancasila ), maka kita telah menghindarkan diri dari kejahatan. Dengan mengembangkan kedermawanan ( Dana ), cinta-kasih ( Metta ), Kasih-Sayang ( Karuna ), rasa simpati ( Mudita ), dan keseimbangan-batin ( Upekkha ),  maka kita telah mengembangkan dan memperbanyak kebajikan.

Seorang penyair Buddhis, Dr.Tagore, pernah membuat sebuah syair yang berusaha menggambarkan bagaimana seorang Boddhisatta ( makhluk yang bercita-cita mencapai pencerahan-sempurna/menjadi Buddha demi keselamatan semua makhluk ) membentuk batin-Nya untuk tujuan pencapaian “pembebasan”-nya. Dengan bersandar pada kekuatan sendiri, dengan usahanya sendiri, seorang Boddhisatta akan membentuk pikirannya seperti ini :

“ Biarlah aku tidak berdoa untuk dilindungi dari bahaya, tetapi untuk tidak takut dalam menghadapi mereka.

Biarlah aku tidak meminta untuk disembuhkan dari penyakitku, tetapi demi ketabahan untuk mengatasinya.

Biarlah aku tidak berharap dalam kecemasan untuk diselamatkan, tetapi berharap demi kesabaran untuk memenangkan kebebasanku. “

Sungguh sebuah syair yang sangat indah, bertujuan untuk memajukan perkembangan spiritual, jauh dari ke-takhayul-an dan “fantasi” akan turunnya “invisible-hand” dari sosok “Maha-Kuasa”. Dan justru “Doa” yang bersifat “afirmasi-positif” seperti inilah sesungguhnya yang sepatutnya mulai kita praktikkan demi manfaat pencapaian perkembangan spiritual kita bersama, bukan “doa” yang diselimuti  kabut “takhayul” akan harapan datangnya “keajaiban” dari “kekuatan-ghaib” diatas  sana.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Minggu, 29 Juni 2009

Posted in BUDDHA, Doa, Rahasia Doa | 22 Comments »

TUHAN “YANG-MAHA…” DIMATA SEORANG BUDDHA

Posted by ratanakumaro pada Juni 22, 2009

”Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan; Mengapa Brahma  itu tidak menciptakan secara baik? Bila kekuatannya demikian tak terbatas, mengapa tangannya begitu jarang memberkati? Mengapa dia tidak memberi kebahagiaan semata? Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela? Mengapa memenangkan kepalsuan, sedangkan kebenaran dan keadilan gagal? SAYA MENGANGGAP, BRAHMA  ADALAH KETIDAK-ADILAN . Yang membuat dunia yang diatur keliru.” [Bhuridatta Jataka, Jataka 543]

Apabila, O para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami penderitaan dan kebahagiaan sebagai hasil atau sebab dari ciptaan Tuhan (Issaranimmanahetu), maka para petapa telanjang ini tentu juga diciptakan oleh satu Tuhan yang jahat/nakal (Papakena Issara), karena mereka kini mengalami penderitaan yang sangat mengerikan.

[Devadaha Sutta, Majjhima Nikaya 101]

Bila ada Sang Maha Kuasa yang dapat mendatangkan bagi setiap mahluk ciptaanya kebahagiaan atau penderitaan, perbuatan baik maupun jahat, maka yang maha kuasa itu diliputi dosa, sedangkan manusia hanya menjalankan perintahnya saja.

( Mahabodhi Jataka No.528 )

___________________________________________________

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattum (3X) )

Namatthu Buddhassa,


Akhir-akhir ini, saya sering mendapat pernyataan dari orang-orang non-Buddhis, bahwa setelah Sang Buddha Parinibbana, Beliau mencapai suatu tataran spiritual  “Menyatunya-Atman-Dengan-Brahman” ( Jawa : Manunggaling-Kawula-Lan-Gusti), pernyataan masyarakat non-Buddhis itu tidaklah-benar. Tidaklah benar pula bila dinyatakan bahwa Sang Buddha adalah salah satu Nabi utusan Tuhan dari sekian banyak Nabi yang tidak dipopulerkan dalam lingkup tradisi agama-agama theistik tertentu.

Pada kenyataannya, Sang Buddha justru menolak teori / pandangan adanya sosok “Maha-Pencipta” dan “Maha-Kuasa” dalam bentuk apapun;  menolak adanya “Atman” dan menolak ke-Maha-Kuasa-an “Brahman”.  Dan Sang Buddha itu sendiripun bukan seorang Tuhan “Yang-Maha…” sebagaimana anggapan orang-orang non-Buddhis. Sang Buddha adalah “Guru-Agung” yang telah mencapai Pencerahan-Sempurna dan kemudian menunjukkan hakekat segala-sesuatu, serta menunjukkan “Jalan-Keselamatan” bagi semua makhluk supaya bisa terbebas dari samsara.

Alam semesta dan makhluk hidup mengada, karena proses hukum alam semata yang tertutup kabut seiring perjalanan waktu semesta yang memang sebenarnya telah berusia sangat tua, sehingga para makhluk tidak mampu menguak misterinya. Dan misteri hukum alam  ini, kemudian telah disingkapkan dengan kehadiran Sang Buddha Gotama ke muka bumi ini.

Setelah pencerahan-Nya, Sang Buddha kemudian menembus dan memahami, bahwa sosok-sosok “Maha-Dewa-Yang-Maha” yang sebelumnya banyak dipuja-puji oleh banyak aliran spiritual sebelum Beliau hadir dan ketika Beliau masih hidup, ternyata hanyalah sekumpulan Dewa, dari surga Kamadhatu, Rupadhatu, hingga Arupadhatu. Untuk Dewa lingkup Kamadhatu, watak Dewa disana masih memiliki nafsu dan emosi, sehingga pantas beberapa “Maha-Dewa” yang diyakini sebagai pemilik “kuasa” memiliki watak seperti itu ( pendendam, pemarah, pencemburu, suka berperang, bangga akan “kekuatan” dan “kekuasaan ). Dan Dewa-dewa dari lingkup kamadhatu ini, selain dikenali dari wataknya, dapat dikenali dari satuan hitungan waktu ( missal, sehari semalam disana = 800 tahun waktu manusia, atau sehari semalam disana = 1.600 tahun waktu manusia, maka Tuhan tersebut berarti hidup di alam surga Kamadhatu, tepatnya di alam Nimmanarati dan Paranimmittavasavatti ).

Pada alam kamadhatu inilah,  seperti yang dikisahkan dalam banyak kitab-kitab Buddhis, kelak siapapun yang masuk ke surga ini, akan mendapatkan jatah ratusan bidadari cantik berkaki merah muda, mendapatkan istana2 megah, istana2 emas, dan lain2 sebagainya.

Gambaran diatas adalah gambaran alam surga Kamadhatu. Berbeda lagi kondisinya bila yang dibicarakan adalah surga Rupa-Dhatu, disana (Rupa-Dhatu) sudah mulai tidak terdapat nafsu. Tidak ada lagi perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan. Ini adalah alam para Brahma. “Maha-Brahma” yang disembah para Brahmana, hidup dalam alam Rupa-Dhatu tepatnya di alam Jhana I. “Maha-Brahma” adalah pemimpin dari keenam surga kamadhatu dibawahnya, dan juga pemimpin para dewan dan menteri Brahma. Usia Maha-Brahma mencapai 1 Asankkheyya-Kappa ( 100.000.000.000.000 tahun waktu manusia ).

Dengan pembagian surga-surga tersebut, Sang Buddha bertujuan memberikan “pencerahan” kepada semua makhluk, bahwa sesungguhnya, apa yang disebut sebagai “Maha-Kuasa” yang “Tunggal”, sesungguhnya tidak ada. Sebab, yang ada hanyalah kumpulan dari para Dewa yang jumlahnya sangat banyak. Dan Sang Buddha, kemudian menunjukkan, bahwa pembebasan dari lautan samsara, bukanlah untuk terlahir di alam-alam “Tuhan” tersebut, tetapi pelenyapan dari keserakahan/nafsu-indriya ( lobha ), kemarahan/kebencian (dosa), dan kebodohan/kegelapan batin ( moha ), ialah saat kita merealisasi   N I B B A N A.

Karena penolakan terhadap adanya “Maha-Pencipta” dan “Maha-Kuasa” dalam bentuk dan nama apapun, maka banyak masyarakat kemudian memandang Buddhisme sebagai sebuah ajaran “Atheistik”. Oleh ilmuwan barat, dan para filosof, penolakan tersebut justru dipandang sebagai hal yang positif dan dianggap sangat sesuai dengan pemikiran modern dan sangat ilmiah. Namun, untuk orang-orang dan tempat tertentu seperti di Indonesia, hal ini menjadi sesuatu hal yang negative , karena seringkali penolakan terhadap adanya “Tuhan-Yang-Maha…” dikaitkan dengan faham “atheist-materialistisch” dan “komunisme”.

Apa yang lebih tepat disematkan pada Buddhisme adalah suatu ajaran “NON-THEISTIK”. Sang Buddha memang menolak adanya suatu sosok “Maha-Pencipta” dan “Maha-Kuasa”. Alih-alih terjebak dalam pandangan spekulatif tentang sosok “Maha..” tersebut, Sang Buddha menerangkan panca-niyama ( lima-hukum-alam ) yang bekerja dengan sendirinya tanpa ada sosok “Maha-Kuasa” dalam bentuk apapun yang menggerakkan, serta bekerjanya hukum-sebab-musabab-yang-saling-bergantungan ( paticcasamuppada ), yang kesemuanya itu Beliau peroleh sebagai hasil Pencerahan-Nya.

Meskipun Sang Buddha menolak adanya sosok “Pencipta”, “Maha-Kuasa”, namun, Sang Buddha menunjukkan suatu “Tujuan-Sejati” bagi kehidupan spiritual/rohani yang jauh lebih dalam dan luas daripada sekedar menuju “Penyatuan-Atman-Brahman” ( Jawa : “Manunggaling-Kawula-Lan-Gusti” )  sebagaimana banyak ajaran spiritual mengajarkannya . Apa yang menjadi tujuan-sejati dalam Buddha-Dhamma itu, adalah suatu kondisi batin sebagai hasil realisasi-pembebasan sempurna dari proses tumimbal-lahir, pembebasan dari samsara, yaitu :  N I B B A N A.

Realisasi pembebasan dan kesucian tertinggi ini, jelas jauh berbeda dan sangat bertentangan dengan pandangan “Atheis-materialistik”. Sebab, kaum materialis berpendapat, bahwa hidup ini tidak mempunyai tujuan apapun setelah kematian nanti, karena setelah kematian, maka “kemusnahan-total” dari fisik-material-lah yang terjadi, sementara Buddha-Dhamma mengajarkan setelah mati, maka “batin” akan melanjutkan potensi-kamma-nya ke kehidupan selanjutnya (tumimbal-lahir). Sehingga, kehidupan-suci yang merupakan tujuan kehidupan spiritual sangat ditolak oleh kaum materialist, sementara Buddha-Dhamma sangat mengagungkan kehidupan-suci. Kaum materialist juga menolak keberadaan “batin”, sebab bagi kaum materialist, apa yang disebut “batin” hanyalah residu dari kumpulan-material penyusun otak saja, yang disebut “Fosfor”, sementara Buddha-Dhamma menerangkan bahwa selain “Rupa” ( tubuh-materi ) terdapat “Nama” ( batin ).

Kaum materialist memandang tidak ada yang lebih tinggi daripada dunia inderawi ini dan oleh karena itu mementingkan hidup untuk bersenang-senang, memuaskan nafsu indriya, mencari kesejahteraan material. Sedangkan Buddha-Dhamma, justru berkebalikan darinya, karena Buddha-Dhamma mengajarkan ummatnya untuk mengejar suatu kebahagiaan-diatas-duniawi, yaitu kebahagiaan-spiritual, realisasi kesucian-tertinggi demi pembebasan sempurna dari samsara. Dalam hal ini, Buddha-Dhamma mempunyai “benang-merah” dengan pandangan ajaran-ajaran yang lain, yaitu bahwa kebahagiaan-tertinggi tidak terdapat pada kehidupan duniawi ini, meskipun dengan tujuan yang berbeda ( Agama lain menuju “Surga” tempat dimana Tuhan bertahta dan hidup berdiam bersama para malaikat dan ummat-ummat pilihannya, sedangkan Buddha-Dhamma menuju pada pengakhiran, pelepasan-Agung ; N I B B A N A ).

Sehingga, menilik hal-hal tersebut diatas, jelas Buddha-Dhamma jauh berbeda dan bahkan sangat bertentangan dengan “Atheisme” kaum materialist, dan oleh karenanya, sangat tidak tepat bila Buddha-Dhamma disebut ajaran yang “Atheistik”.

Diatas dua pandangan : Atheisme-materialistisch dan Theisme-idealistisch, disitulah Buddha-Dhamma berada; mengatasi kedua pandangan “keliru” tersebut. Dan inilah puncak dari semua pengetahuan dan pencarian manusia.

PIKIRAN ITU SENDIRILAH “SANG-MAHA-PENCIPTA”

Menurut Sang Buddha, tidak ada siapapun juga yang menjadi “Creator” atas diri kita, kecuali itu adalah pikiran kita sendiri.

“1. Pikiran mendahului semua kondisi batin, pikiran adalah pemimpin, SEGALANYA DICIPTAKAN OLEH PIKIRAN. Apabila dengan pikiran yang jahat seseorang berbicara  atau berbuat dengan jasmani, maka penderitaan akan mengikuti si pelaku karenanya, seperti roda kereta yang mengikuti jejak kaki lembu jantan yang menariknya.

2. Pikiran mendahului semua kondisi batin, pikiran adalah pemimpin, SEGALANYA DICIPTAKAN OLEH PIKIRAN. Apabila dengan pikiran yang bersih/suci seseorang berbicara atau berbuat dengan jasmani, maka kebahagiaan akan mengikuti si pelaku karenanya, seperti bayangan yang tidak pernah meninggalkan tubuh seseorang.

[ Dhammapada 1; Yamaka-Vagga ; 1-2 ]

Salah satu dari Mahayana Sutra, yaitu Lankavatara Sutra, menyatakan konsep Tuhan yang berdaulat, ataupun atman adalah imajinasi belaka atau perwujudan dari pikiran dan bisa menjadi halangan menuju kesempurnaan karena ini membuat kita menjadi terikat dengan konsep Tuhan Maha Pencipta:

“ Semua konsep seperti sebab, pelanjutan, atom, unsur-unsur dasar, yang membuat kepribadian, jiwa pribadi, roh sakti, Tuhan yang berdaulat, pencipta, adalah imajinasi belaka dan perwujudan dari pemikiran manusia. “

Tidak, Mahamati, doktrin Tathágata dari rahim ke-Tathágata-an tidaklah sama dengan filosofi Atman.

[ Dikutip dari :

http://id.wikipedia.org/wiki/Tuhan_dalam_agama_Buddha ]


HUKUM SEBAB-MUSABAB YANG SALING BERGANTUNGAN (PATICCASAMUPPADA )

DAN LIMA-HUKUM-ALAM ( PANCA-NIYAMA )

Untuk menerangkan terjadinya semua makhluk, Sang Buddha menerangkan bekerjanya “hukum-sebab-akibat-yang-saling-bergantungan” ( Paticcasamuppada ; untuk lebih jelasnya, klik tautan ini ). Sebelum kemunculan seorang Samma-Sambuddha, hukum Paticcasamuppada belum pernah terdengar , dalam system-ajaran manapun juga . Paticcasamuppada adalah hukum yang dilihat Sang Buddha pada detik-detik menjelang Beliau mencapai Pencerahan-Sempurna.

Secara singkat, hukum paticcasamuppada dapat dirumuskan sebagai berikut :

“ Imasming Sati Idang Hoti,

Imassuppada Idang Uppajjati,

Imasming Asati Idang Na Hoti,

Imassa Nirodha Idang Nirsujjati “

Artinya =

“ Dengan adanya ini, maka adalah itu,

Dengan timbulnya ini, maka timbullah itu,

Dengan tidak adanya ini, maka tidak adalah itu,

Dengan padamnya ini, maka padamlah itu.”

Disamping itu, untuk menerangkan segala fenomena alam, maka Sang Buddha menyatakan bahwa hal tersebut semuanya berjalan sesuai hukum-alam yang bekerja dengan sendirinya, tanpa ada campur tangan siapapun juga yang bisa disebut sebagai “Maha-Kuasa”.

“Sesuai dengan benih yang kita tabur, begitulah buah yang akan kita petik. Pembuat kebajikan akan memperoleh kebahagiaan dan pembuat kejahatan akan memperoleh penderitaan.” [Samyutta Nikaya I, 227]

Di dalam Abhidhamma Vatara 54, dan Digha Nikaya Atthakatha II-432 dijelaskan bahwa Hukum Kamma hanya merupakan satu dari dua puluh empat sebab (paccaya 24) atau salah satu dari Panca Niyama (Lima Hukum) yang bekerja di alam Semesta ini, dan masing-masing merupakan hukum sendiri yang saling berhubungan.

Dalam Abhidhamma diterangkan adanya lima jenis hukum-alam ( panca-niyama ) yang mengatur semua fenomena alam-semesta ini , yaitu :

  1. Utu-niyama : hukum energi menyangkut tatanan fisik inorganic, seperti cuaca, angin, dan hujan. Tatanan musim, sifat panas, perubahan iklim yang menyertai perubahan musim, termasuk dalam kelompok ini.
  2. Bija-niyama : hukum hereditas menyangkut tatanan biologi atau alam organic, seperti beras yang diproduksi dari padi, rasa manis dari tebu atau madu, karakteristik dari buah-buahan tertentu, dll. Teori sel, gen dan kemiripan kembar juga termasuk dalam kelompok ini.
  3. Kamma-niyama : hukum karma menyangkut tatanan sebab dan akibat.
  4. Citta-niyama : hukum keteraturan alam batiniah menyangkut tatanan pikiran, seperti proses kesadaran, kemunculan dan kemusnahan kesadaran, komponen kesadaran, dan kekuatan pikiran. Telepati, kemampuan membaca pikiran orang lain, kemampuan memprediksi, dan hal-hal lain yang tak bisa dijelaskan dalam sains, termasuk dalam kelompok ini.
  5. Dhamma-niyama : hukum kodrat menyangkut tatanan sifat-dasar fenomena, seperti naluri, gaya gravitasi dan hukum fisika lainnya.

Kelima niyama tersebut tidak terpisahkan satu sama lain. Istilah niyama hanya bertujuan untuk membantu manusia memahami aturan yang bekerja di alam semesta ini. Panca-niyama secara integrative menunjuk satu realitas, beroperasi dalam satu kesatuan, terkait dan saling bergantungan satu sama lainnya. Terminologi yang diberikan untuk menunjuk keterkaitan tersebut adalah ; interdependensi. Konsep interdependensi menempati peranan sentral dalam Avatamsaka-sutra, yang merupakan salah satu teks utama Buddhisme mazhab Mahayana.

PANDANGAN  SANG BUDDHA TENTANG “SANG-MAHA-PENCIPTA/KUASA”

Berbagai literature Buddhis yang pernah ada semenjak pertama kali Sang Buddha memutar roda-Dhamma hingga sekarang, tidak pernah menyatakan sebuah kepercayaan terhadap adanya “Sang-Maha-Pencipta/Kuasa” seperti yang diusung-usung dalam system ajaran yang lain ( dimana mereka (selain Buddha-Dhamma) lebih bersifat pada sebuah sistem-kepercayaan ). Dan justru inilah hal terutama yang menyebabkan Buddhisme menjadi ajaran yang “UNIQUE”, dan jauh berbeda dengan system ajaran yang lain.

Jikalau Tuhan adalah penyebab dari semua yang terjadi, apalah gunanya usaha keras/pengorbanan manusia? [Asvaghosa, Buddha-carita 9, 53] .

Dewa / “Tuhan” , memang ada, namun “Dewa-Yang-Maha…”, tidak pernah ada. Sebagaimana bahwa “Brahma”, memang ada, dan dia hidup di alam Rupa-Dhatu, namun “Brahma” , dan siapapun yang dinyatakan dan menyatakan dirinya “Tuhan”, bukanlah “Maha…”, karena “Maha…” tersebut tidak pernah ada.

Untuk memahami ajaran Sang Buddha berkaitan dengan penolakan terhadap kepercayaan masyarakat kepada “Sang-Maha…”, tentunya kita harus merujuk kepada sutta-sutta ( khotbah-khotbah ) yang diucapkan oleh Sang Buddha sendiri dan telah dirawat dan diwariskan secara turun-temurun, dalam sebuah kitab yang disebut : Ti-Pitaka ( Pali-Pitaka ; kitab suci bagi ummat Buddha-Theravada ). Sutra-sutra yang tersebar dalam Tri-Pitaka ( Kitab suci ummat Buddha-Mahayana ) juga patut kita perhatikan. Sebab selama ini orang-orang yang tidak mengerti Buddhisme banyak keliru mengartikan, bahwa Buddhisme mazhab Mahayana berseberangan dengan Buddhisme mazhab Theravada dalam memandang kepercayaan kepada “Sang-Maha…” ; dalam kenyataannya, kedua mazhab bersumber dari ajaran yang sama, ialah ajaran Sakyamuni-Buddha sebagai Buddha-historis.

Dari khotbah-khotbah Sang Buddha sendiri, maka kita bisa temukan bahwa Sang Buddha menolak sebuah kepercayaan kepada “Sang-Maha…”. “Maha-Dewa”  yang ditolak Sang Buddha dan dengan begitu tidak di-”imani” oleh ummat Buddha adalah :

–    “Yang-Maha-Pencipta” yang merujuk pada “Makhluk-Adi-Kuasa-Personal” yang dianggap “Kekal-Abadi” dan memiliki kuasa yang “Maha-Tak-Terbatas”

–    “Tuhan-Impersonal” ( Tuhan yang bukan makhluk, tidak terpersonifikasikan ) dengan berbagai deskripsi / atribut seperti : “Roh-Kekal”, “Asal-Muasal-Semesta”, “Sangkan-Paraning-Dumadi”, “Absolut-Idea”, “Roh-Dunia”, “Roh-Absolut”, dan lain sebagainya. Tuhan-impersonal ini sering dipersamakan dengan “Anatta” dalam ajaran Buddha, padahal antara “Roh-Absolut” sebagai “Tuhan-Impersonal” dengan “Anatta” ( Tidak-Ada-Roh ; Ke-Tanpa-Diri-an ) jelas-jelas hal yang sangat bertentangan.

Dalam teks-teks Buddhis, kepercayaan akan seorang “Tuhan-Yang-Maha-Pencipta”, “The-Creator-God” ( issaranimmana-vada ) sering dibahas dan sekaligus ditolak secara bersamaan dalam usaha pembahasan mengenai asal-muasal-dunia, “roh-dunia” (pradhana), waktu ( time ), alam ( nature ), dan sebagainya.

Ajaran Buddha disatu sisi menolak anggapan bahwa kehidupan manusia dan keberadaan alam adalah suatu kebetulan belaka ( Adhiccasamuppanika ; pandangan yang mengajarkan bahwa  asal mula sesuatu terjadi secara kebetulan) , dipihak lain juga menolak ajaran “Absolute-determinisme” ( ajaran yang mengajarkan bahwa hidup manusia sudah ditentukan secara absolute, tidak bisa diubah-ubah lagi ). Pandangan-pandangan seperti ini dinyatakan sebagai pandangan yang bersifat merusak, mempunyai akibat-akibat yang buruk ( niyata-micchaditthi ) yang disebabkan karena efeknya atas tindakan-tindakan moral etika.

Dalam sistem kepercayaan terhadap “Tuhan-Yang-Maha…”, meskipun juga meyakini adanya kelahiran-kembali dalam hal tertentu ( yakni, setelah manusia mati, maka manusia akan dihadapkan pada dua pilihan, surga-kekal-abadi, atau sebaliknya, neraka-jahanam-kekal-abadi ) namun kepercayaan ini jauh berbeda dengan Dhamma yang diajarkan Sang Buddha. Kelahiran kembali yang didasarkan atas kepercayaan pada “Tuhan Yang Maha…” seperti tersebut diatas adalah termasuk jenis pandangan eternalisme ( sassata-ditthi ) dimana pandangan eternalisme ini  dalam Brahmajala-Sutta telah ditolak oleh Sang Buddha. Eternalisme seperti ini adalah penghalang bagi pembebasan-sejati dari samsara. Eternalisme, adalah ekspresi dari keterikatan akan keberlangsungan kehidupan ( bhava-tanha ; nafsu keinginan untuk hidup ), dan eternalisme ini juga merupakan salah satu dari sepuluh-belunggu ( dasa-samyojana ) yang mengikat makhluk-makhluk dalam samsara, sebab ;

–     Theisme ( faham Ke-Tuhan-an ), secara khusus tunduk pada kepercayaan akan adanya “Diri” ( “Diri-sejati”, “Atman” )

–     Theisme, menuntut keterikatan pada Ritual dan Upacara keagamaan

–     Theisme, mendasari pembenaran terhadap nafsu-keinginan untuk kehidupan Materi-Halus ( yaitu, alam-alam surga lingkup keindriyaan ( kamadhatu ) sebagaimana yang sering dijanjikan oleh “Tuhan” sendiri )


AWAL-MULA MUNCULNYA KONSEP “SANG-MAHA-PENCIPTA/KUASA”

“Yang-Maha-Kuasa” dan “Maha-Pencipta”, dalam jaman Sang Buddha, oleh para Brahmana dikenal dengan sebutan Maha-Brahma. Maha-Brahma ini mempunyai pandangan-salah, karena ia secara keliru menganggap dirinya sebagai “Bapa-Alam-Semesta” ( dalam kenyataannya, tidak ada siapapun yang disebut “Bapa-Alam-Semesta”, tidak Maha-Brahma, tidak pula “Tuhan”2 yang lain ). Pandangan-salah ini ditunjang dengan kenyataan bahwa Maha-Brahma ini adalah makhluk-mulia, pemimpin para Dewa dari seluruh surga Kammadhatu ( keenam lapisan surga diatas alam manusia ) dan pemimpin para Dewan dan Menteri Brahma.

Brahmajala Sutta didalam Digha Nikaya mengisahkan mengapa Maha-Brahma sampai memiliki pandangan-salah semacam itu.

Para bhikkhu, pada suatu masa yang lampau setelah berlangsungnya suatu masa yang lama sekali, ‘bumi ini belum ada’. Ketika itu umumnya makhluk-makhluk hidup di alam dewa Abhassara, di situ mereka hidup ditunjang oleh kekuatan pikiran, diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya dan melayang-layang di angkasa hidup diliputi kemegahan, mereka hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

Demikianlah, pada suatu waktu yang lampau ketika berakhirnya suatu yang lama sekali, bumi ini mulai berevolusi dalam pembentuk, ketika hal ini terjadi alam Brahma  kelihatan dan masih kosong. Ada makhluk dari alam dewa Abhassara yang ‘masa hidupnya atau ‘pahala kamma baiknya’  untuk hidup di alam itu telah habis, ia meninggal dari alam Abhassara itu dan terlahir kembali di alam Brahma. Disini, ia hidup ditunjang pula oleh kekuatan pikirannya diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya-cahaya yang melayang-layang di angkasa, hidup diliputi kemegahan, ia hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

Karena terlalu lama ia hidup sendirian di situ, maka dalam dirinya muncullah rasa ketidak puasan, juga muncul suatu keinginan, ‘O, semoga ada makhluk lain yang datang dan hidup bersama saya di sini! Pada saat itu ada makhluk lain yang disebabkan oleh masa usianya atau pahala kamma baiknya telah habis, mereka meninggal di alam Abhassara dan terlahir kembali di alam Brahma sebagai pengikutnya, tetapi dalam banyak hal sama dengan dia.

Para bhikkhu, berdasarkan itu, maka makhluk pertama yang terlahir di alam Brahma berpendapat : “Saya Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan Dari Semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada). Semua makhluk ini adalah ciptaanku”. Mengapa demikian? Baru saja saya berpikir, ‘semoga mereka datang’, dan berdasarkan pada keinginanku itu maka makhluk-makhluk ini muncul. Makhluk-makhluk itu pun berpikir, ‘dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada. Kita semua adalah ciptaannya. Mengapa? Sebab, setahu kita, dialah yang lebih dahulu berada di sini, sedangkan kita muncul sesudahnya”.

“Para bhikkhu, dalam hal ini makhluk pertama yang berada di situ memiliki usia yang lebih panjang, lebih mulia, lebih berkuasa daripada makhluk-makhluk yang datang sesudahnya.
Para bhikkhu, selanjutnya ada beberapa makhluk yang meninggal di alam tersebut dan terlahir kembali di bumi. Setelah berada di bumi ia meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menjadi pertapa. Karena hidup sebagai pertapa, maka dengan bersemangat, tekad, waspada dan kesungguhan bermeditasi, pikirannya terpusat, batinnya menjadi tenang dan memiliki kemampuan untuk mengingat kembali satu kehidupannya yang lampau, tetapi tidak lebih dari itu.

Mereka berkata : “Dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Masa Kuasa, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada. Dialah yang menciptakan kami, ia tetap kekal dan keadaannya tidak berubah, ia akan tetap kekal selamanya, tetapi kami yang diciptakannya dan datang ke sini adalah tidak kekal, berubah dan memiliki usia yang terbatas.”

Dikutip dari  :

http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka_dtl.php?cont_id=167&hal=3&path=tipitaka/sutta/digha&hmid=


Dari sutta tersebut, kita bisa memetik apa yang diajarkan Sang Buddha. Sang Buddha mengajarkan bahwa dunia yang kita tempati sekarang ini beserta surga-surga kammadhatu akan mengalami pembentukan dan kehancuran secara berkala.  Pada saat terjadinya kehancuran bumi kita ini , yang oleh ajaran agama-agama samawi disebut sebagai “kiamat”, para makhluk yang berdiam di alam yang lebih rendah akan terlahir kembali di alam Surga Abhassara ( Sanskrit : Abhasvara ), surga tertinggi di Jhana II ( surga ke-12 bila dihitung dari surga tingkat pertama di alam Kammadhatu ).

Setelah berlalunya waktu yang sangat lama sekali, tiga surga di alam Jhana I muncul kembali, dan seorang dewa Abhassara mati serta terlahir kembali di alam ini sebagai Maha-Brahma ( surga ke-9 bila dihitung dari surga tingkat pertama di alam Kammadhatu ).

Karena lamanya ia sendirian disana, ia merasa kesepian dan menginginkan kehadiran makhluk lain. Tak lama kemudian, harapannya terpenuhi, semata-mata hanya karena para dewa Abhassara lainnya mati dan terlahir kembali di alam Brahma, karena karma-karma mereka sendiri, dan kemudian menjadi para Menteri dan Dewan Brahma.

Karena Maha-Brahma tidak mengingat kehidupannya yang sebelumnya, maka ia berpikir, “ Aku adalah Brahma, Maha-Brahma,… Maha-Tahu, Pengendali, Tuhan, Pembuat, Pencipta… makhluk lainnya yang ada disini adalah ciptaan-Ku.”. Para Menteri dan Dewan Brahma serta para  pengikutnya setuju dengan kesimpulan yang keliru ini.

Dan ketika beberapa di antara mereka mati dan terlahir kembali sebagai manusia, ada beberapa banyak dari mereka yang meninggalkan kehidupan perumah tangga, dan menempuh hidup sebagai Petapa / seorang Brahmana, lalu mereka mengembangkan kemampuannya untuk mengingat kehidupan sebelumnya, dan karenanya mengajarkan bahwa Maha-Brahma adalah Pencipta yang kekal dari semua makhluk.

TEGURAN SANG BUDDHA TERHADAP “SANG-MAHA-PENCIPTA/KUASA”

Dalam sutta-sutta Buddha ditunjukkan bahwa Sang Buddha pernah memberi “teguran”, menunjukkan kekeliruan para Brahma yang keliru memahami dirinya sebagai “Awal-Mula, Pencipta-Langit-dan-Bumi, Yang-Maha-Kuasa “. Dalam Samyutta-Nikaya, Bab Buku dengan Syair ( Sagathavagga ), bagian Brahmasamyutta, dikisahkan Sang Buddha mengingatkan kekeliruan pandangan salah seorang Brahma yang menganggap bahwa alam Brahma sebagai “ Yang-Kekal-Abadi, Yang-Mutlak, Tiada-Kematian, dll. “. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anathapindika. Pada saat itu, muncul suatu pandangan-salah , pandangan spekulatif dalam benak salah seorang Brahma, yang bernama Brahma-Baka ;

“ Ini adalah kekal, Ini adalah stabil, ini abadi, ini Mutlak, ini tidak bisa hancur. Sungguh, inilah tempat orang tidak terlahir, tidak menjadi tua, tidak mati, tidak berlalu, dan tidak terlahir kembali ;  dan tidak ada jalan keluar yang lebih tinggi daripada ini. “


Setelah mengetahui isi hati Brahma Baka dan pandangan-salah yang muncul tersebut, dalam sekejap mata Sang Buddha lenyap dari hutan Jeta dan muncul kembali di alam Brahma. Brahma-Baka melihat Sang Buddha datang dari kejauhan dan berkata kepada Beliau ;

“ Mari Yang Mulia ! Selamat datang, Yang Mulia ! Sudah lama sekali, Yang Mulia, sejak engkau menyempatkan datang kemari. Sungguh, Yang Mulia, INI ADALAH KEKAL, INI STABIL, INI ABADI, INI LENGKAP, INI TIDAK BISA HANCUR. SUNGGUH , INILAH TEMPAT ORANG TIDAK-TERLAHIR, TIDAK MENJADI TUA, TIDAK MATI , TIDAK BERLALU, DAN TIDAK TERLAHIR KEMBALI ; DAN TIDAK ADA JALAN KELUAR YANG LEBIH TINGGI DARIPADA INI. “

“ Sayang, tuan, Brahma Baka terbenam di dalam ketidak-tahuan ! Sayang, tuan, Brahma Baka terbenam di dalam ketidak-tahuan !  Sepanjang dia akan mengatakan apa yang sebenarnya tidak kekal sebagai kekal , dan akan mengatakan apa yang sebenarnya tidak stabil sebagai stabil , dan akan mengatakan apa yang sebenarnya tidak abadi sebagai abadi ,  dan akan mengatakan apa yang sebenarnya tidak lengkap sebagai lengkap , dan akan mengatakan apa yang sebenarnya bisa hancur sebagai tidak bisa hancur , dan dengan mengacu pada [suatu alam] di mana orang terlahir, menjadi tua, mati, berlalu, dan terlahir kembali, akan mengatakan demikian : “ Sungguh, inilah tempat orang tidak terlahir, tidak menjadi tua, tidak mati, tidak berlalu, dan tidak terlahir kembali” ;  dan ketika ada jalan keluar yang lebih tinggi dari ini, akan mengatakan , “ Tidak ada jalan keluar yang lebih tinggi daripada ini. “


Lalu terjadilah dialog panjang antara Brahma-Baka dengan Sang-Buddha. Brahma-Baka meminta Sang Buddha untuk menjelaskan duduk perkaranya, dan menjelaskan bagaimana hal-ihwal Brahma-Baka bisa sampai di alam itu, yang ia anggap sebagai alam “Yang-Kekal-Abadi, Tanpa-Kematian , Yang-Mutlak “. Sang Buddha lalu menjelaskan semuanya dengan mendetail, sebab-sebab apa Brahma-Baka kini terlahir dialam “Ketuhanan” tersebut, dan akan berapa lama ia tinggal disitu, siapakah dulunya Brahma-Baka ini, dan apa hubungannya Brahma-Baka ini dengan Sang Buddha pada kehidupan lampaunya, Sang Buddha juga mampu mengetahui kehidupan masa kini Brahma Baka tersebut. Karena penjelasan Sang Buddha yang sangat dalam dan luas , mendetail itu, Brahma-Baka akhirnya mengakui kebenaran Sang Buddha dan berkata :

“ Pastilah Engkau tahu rentang kehidupanku ini ; Yang lain-lain engkau pun tahu, jadi Engkau adalah  SANG-BUDDHA. Demikianlah keagunganmu yang terang benderang ini menyinari bahkan  alam Brahma. “


Kemudian, kisah yang lain adalah kisah dimana Sang Buddha beserta keempat muridnya, Y.M. Mahamoggallana, Y.M. Mahakassapa, Y.M. Mahakappina, Y.M. Anuruddha, menaklukan satu Brahma yang lain yang penuh kesombongan karena menganggap dirinya lebih tinggi daripada yang lain. Di Savatthi, pada waktu itu muncul pandangan-salah yang sangat spekulatif pada satu Brahma :

“ Tidak ada petapa atau Brahmana yang bisa datang kemari ! “


Dengan kekuatan batinnya Sang Buddha mengerti isi hati satu Brahma itu, dan dalam sekejap Sang Buddha lenyap dari hutan Jeta dan muncul kembali di alam Brahma. Sang Buddha duduk bersila di udara diatas Brahma itu, setelah masuk kedalam samadhi dengan pokok-pemusatan perhatian ; api.

Pada saat itu Y.M. Mahamoggallana bertanya-tanya, “ Dimanakah Sang Buddha berdiam pada saat ini ? “ Dengan kemampuan mata-dewa, Y.M. Mahamoggallana melihat Sang Buddha sedang duduk bersila di udara di atas Brahma itu, setelah masuk ke dalam samadhi objek api. Mengetahui hal ini, Y.M. Mahamoggallana segera menyusul Sang Buddha, lenyap dari hutan Jeta, dan muncul di alam Brahma, kemudian menempatkan diri di bagian timur dan duduk bersila di udara di atas Brahma itu – walaupun lebih rendah dari Sang Buddha -, setelah sebelumnya masuk samadhi dengan objek api juga.

Selanjutnya disusul oleh Y.M. Mahakassapa yang menempatkan diri di bagian selatan, Y.M. Mahakappina yang menempatkan diri di bagian barat, Y.M. Anuruddha yang menempatkan diri di bagian utara. Kesemuanya duduk bersila lebih rendah dari Sang Buddha.

Y.M. Magamoggallana pun lalu menegur Brahma tersebut dengan syair berikut :

“ Hari ini , sahabat, apakah engkau masih memegang pandangan itu, Pandangan yang tadinya kamu pegang ? Apakah engkau melihat kecermelangan Yang Melampaui kecemerlangan di alam Brahma ? “


Brahma tersebut menjawab :

“ Saya tidak lagi memegang pandangan itu Yang Mulia, Pandangan yang tadinya saya pegang. Memang saya melihat kecemerlangan yang melampaui kecemerlangan di alam Brahma. Hari ini bagaimana munkin saya mempertahankan, “ AKU ADALAH KEKAL ABADI ? “


Setelah membangkitkan rasa kemendesakan pada Brahma itu, kemudian dalam sekejap Sang Buddha lenyap dari alam Brahma tersebut dan kembali di hutan Jeta.

Lalu Brahma itu berbicara kepada satu anggota kelompoknya ;

“ Ayo, tuan, datangilah Y.M. Mahamoggallana dan katakan kepadanya : “ Tuan Mahamoggallana , adakah siswa Sang Buddha lainnya yang sekuat dan sehebat Tuan Moggallana, Kassapa, Kappina dan Anuruddha ? “


Anggota kelompok Brahma itu menurutinya dan lalu mendatangi Y.M. Mahamoggallana. Y.M. Mahamoggallana kemudian berkata kepada anggota kelompok Brahma itu dengan syair :

“ Sungguh banyak siswa Sang Buddha yang merupakan Arahat dengan noda-noda yang telah hancur, pemilik tiga-pengetahuan dengan kekuatan-kekuatan batin, yang terampil dalam jalan pikiran orang lain. “


Mendengar jawaban tersebut, para Brahma itu terkagum-kagum dan turut bersuka-cita karenanya.

Dan sesungguhnya, disamping kisah-kisah dalam sutta-sutta tersebut, masih banyak lagi kisah-kisah bagaimana Sang Buddha membimbing para Brahma yang memiliki pandangan salah yang menganggap dirinya adalah “Yang-Mutlak, Pencipta-Alam-Semesta, Yang-Maha-Kuasa “. Dan atas bimbingan Sang Buddha, para Brahma yang berpandangan-salah itupun akhirnya memahami kekeliruannya.

KISAH KONYOL TENTANG “SANG-MAHA-PENCIPTA”

Didalam Kevaddha Sutta ( Sutta ke-11 dari Digha Nikaya ), Sang Buddha menceritakan sebuah kisah kepada Upasaka Kevaddha yang memberikan gambaran tentang keterbatasan-keterbatasan “Sang-Maha-Pencipta” yang oleh kaum Brahmana disebut “Maha-Brahma” ini.

Pada suatu ketika di antara para bhikkhu sangha terdapat seorang bhikkhu yang menjadi ragu-ragu sebagai berikut:

“Kemanakah empat unsure (mahabhutarupa) padat, cair, panas dan udara pergi, mengapa tanpa meninggalkan bekas.”

Bhikkhu itu mengembangkan batinnya dengan melakukan meditasi hingga ia memiliki kemampuan batin untuk mengunjungi dan berkomunikasi dengan para dewa.

Kemudian bhikkhu itu pergi ke alam dewa Catumaharajika menanyakan tentang kemana perginya empat unsur itu, namun para dewa tak dapat memberikan jawaban dan menyuruh bhikkhu itu untuk bertemu dengan Empat Raja Dewa yang lebih tinggi dan berkuasa daripada mereka.

Ia pergi menghadap Empat Raja Dewa dan menanyakan pertanyaan itu, namun Empat Raja Dewa tidak dapat menjawabnya dan menyuruhnya untuk pergi ke alam Tavatimsa.

Di alam Tavatimsa para dewa tak dapat menjawab pertanyaannya dan ia disuruh menghadap Sakka / Dewa Indra, raja alam dewa Tavatimsa. Sakka / Dewa Indra, juga tak dapat menjawab pertanyaannya.

Sakka menyuruhnya ke alam Yama, tapi para dewa alam Yama menyuruhnya menghadap Suyama, raja alam dewa Yama. Suyama tak dapat menjawab juga, maka ia ke alam dewa Tusita, menghadap Santusita; ke alam dewa Nimmanarati, menghadap Sunimmita, raja alam Nimmanarati; ke alam Parinimmita Vasavatti, menghadap Vasavatti, raja alam Parinimmita Vasavatti, yang tak dapat menjawab pertanyaannya juga.

Kemudian Ia disuruh pergi ke alam dewa Brahma, tetapi para dewa pengikut Brahma tak dapat menjawab pertanyaannya itu. Lalu para dewa pengikut Brahma ini menyuruhnya untuk menghadap dewa Maha Brahma “Yang Maha Kuasa”, “Maha Tinggi”, “Maha Tahu”, junjungan dari semua, “Pencipta”, “Pengatur”, “Asal Mula Segala Sesuatu” ( Sangkan-Paraning-Dumadi ), “Ayah dari Semua yang Ada dan yang akan Ada”.  Oleh para dewa Brhama, Maha-Brahma dinyatakan lebih tinggi dan berkuasa daripada mereka.
Ia pergi menghadap “Tuhan” / “Maha Brahma” dan bertanya:

“Kemanakah empat unsur (mahabhuta), padat, cair, panas dan udara- pergi, mengapa tanpa bekas?”


Setelah Bhikkhu itu berkata, Maha Brahma menjawab:

“Bhikkhu, saya adalah dewa brahma yang maha kuasa, maha tinggi, maha tahu, junjungan dari semua, pencipta, pengatur, asal mula segala sesuatu, ayah dari yang ada dan yang akan ada.”


Kemudian bhikkhu itu berkata kepada Brahma:

“Saya tidak bertanya siapa anda, apakah anda itu benar seperti yang anda katakan. Tetapi yang saya tanya adalah kemanakah empat unsur itu pergi, mengapa tanpa bekas?”


Sampai tiga kali bhikkhu itu bertanya, namun Brahma tetap menjawab yang sama. Kemudian Brahma menarik bhikkhu itu ke sampingnya dan berkata:

“Para dewa pengikut Brahma ini berpendapat bahwa tidak ada sesuatu yang tidak saya tidak tahu, saya tahu semua, saya mengerti semua, tidak ada yang saya tidak realisasikan. Maka saya tidak menjawab di depan mereka. Bhikkhu saya tidak tahu jawaban ke mana empat unsur itu pergi, lenyap tanpa bekas. Bhikkhu, anda telah berbuat salah, telah bertindak salah karena anda telah melupakan Sang Buddha, anda telah bersusah payah mencari tahu hal ini, mencari jawaban untuk pertanyaanmu. Pergilah menghadap kepada Sang Bhagava. Terimalah jawaban apa pun yang akan diberikannya.”


Bhikkhu itu dalam sekejap lenyap dari alam Brahma dan muncul di hadapan saya, ia memberi hormat dan duduk. Setelah duduk ia bertanya kepada saya:

“Bhante, ke manakah empat unsur pergi, lenyap tanpa bekas?”

Saya menjawab: “Bhikkhu, pertanyaan itu jangan tanyakan seperti yang kau katakan. Tetapi sebaliknya anda harus bertanya,


‘Di manakah unsur padat, cair, panas dan udara,

Panjang dan pendek, halus dan kasar,

bersih dan tak bersih, tidak di temukan?

Di manakah jasmani dan batin dari orang meninggal,

pergi tanpa bekas?’


Jawabannya:


‘Kebijakan Arahat, yang tak tampak, yang tanpa akhir, yang dapat dicapai dari beberapa sisi Di situlah unsur padat, cair, panas dan udara, Panjang dan pendek, kasar dan halus, bersih dan tak bersih, tidak ditemukan. Di situlah jasmani dan batin dari orang yang meninggal pergi tanpa bekas. Bilamana kesadaran lenyap, hal-hal itu pun lenyap.


Di akhir dari khotbah, Upasaka Kevaddha menjadi senang dan gembira.

PEMBUAL YANG MEMBICARAKAN HAL YANG DIA SENDIRI TIDAK MENGERTI

Dalam Majjhima Nikaya No. 79: Cula Sakuludayi Sutta, terdapat dialog antara Sang Buddha dengan Udayi, dimana Sang Buddha menunjukkan, pembicaraan mengenai “Kemegahan-Tertinggi”,  ” yang tak dapat dipahami”, hanyalah pembicaraan bualan-bualan semata.

“Baiklah kalau begitu, Udayi, apakah doktrin dari gurumu sendiri?”

“Doktrin guru kami sendiri, tuan yang terhormat, berkata demikian:

‘Ini adalah kemegahan tertinggi! Ini adalah kemegahan tertinggi!'”

“Tetapi apakah yang kemegahan tertinggi itu, Udayi, yang mana doktrin   gurumu katakan?”

“Hal itu adalah, tuan yang terhormat, suatu kemegahan yang lebih hebat   dan megah dari segalanya. Hal itu adalah Kemegahan Tertinggi.”

“Tetapi, Udayi, apakah kemegahan yang lebih hebat dan megah dari   segalanya itu?”

“Hal itu, tuan yang terhormat, bahwa Kemegahan Tertinggi lebih hebat   dan megah dari segalanya.”

“Selama waktu yang lama, Udayi, engkau bisa melanjutkan berkata dengan   cara ini, seraya mengatakan,’Suatu kemegahan yang lebih hebat  dan   megah dari segalanya adalah Kemegahan Tertinggi’. Tetapi  tetaplah kau   tidak akan sudah menjelaskan kemegahan itu. Anggaplah seseorang berkata:’Saya mencintai dan mengingini
wanita   tercantik di daratan ini’, dan lantas ia ditanya: ‘Tuan yang  baik,   wanita yang tercantik yang engkau cintai dan ingini itu,
tahukah   engkau apakah ia adalah seorang wanita dari kaum ningrat atau  dari   suatu keluarga Brahmana atau dari kasta pedagang atau Sudra?’ dan ia   menjawab ‘tidak’.—‘Lantas, tuan yang baik, tahukah Anda
namanya dan   nama marganya? Atau apakah ia itu tinggi, pendek, atau  sedang-sedang   tingginya, apakah ia itu berkulit legam, coklat atau keemasan,  atau di   desa atau daerah atau kota  mana ia berdiam?’ dan ia menjawab  ‘tidak’.   Dan lantas ia ditanyai:’Kalau demikian, tuan yang baik, engkau   mencintai dan mengingini sesuatu yang engkau sendiri tidak tahu  pun   melihatnya?’ dan ia menjawab ‘ya’. —Apakah yang kau pikir,  Udayi,   bahwa dengan menjadi demikian, bukankah perkataan orang itu  penuh   dengan bualan (nonsense)?”

“Tentulah, tuan yang terhormat, bahwa dengan menjadi demikian,  perkataan orang itu penuh dengan bualan.”

“Tetapi dengan cara yang sama, kamu, Udayi, berkata, ‘ Suatu kemegahan   yang lebih hebat dan megah daripada segalanya, hal itu adalah   Kemegahan Tertinggi’, dan namun engkau sendiri belumlah  menjelaskan   kemegahan itu.”



KEPERCAYAAN / IMAN MEM-“BUTA”  PARA PENGANUT “MAHA-DEWA” yang  “MAHA-PENCIPTA/KUASA”

Dalam sebuah dialog antara Sang Buddha dengan Vasettha dimana Sang Buddha menunjukkan bahwa kepercayaan / iman  kepada”Maha-Dewa” yang “Maha-Pencipta/Kuasa” hanyalah merupakan khayalan dan kepercayaan / iman “membuta” semata.

“Apakah ada, Vasettha, satu dari para Brahmana yang benar-benar  mengetahui Tiga Veda yang sudah pernah bertemu Brahma muka  dengan   muka?”

“Tidaklah demikian, sesungguhnya, Gotama.”

“Atau adakah kalau begitu, Vasettha, satu dari para guru dari para   Brahmana yang benar-benar mengetahui Tiga Veda, yang sudah  bertemu  Brahma muka dengan muka?”

“Tidaklah demikian, sesungguhnya, Gotama.”

“Atau adakah, Vasettha, satu dari murid-murid dari para guru dari para  Brahmana yang benar-benar mengetahui Tiga Veda yang sudah bertemu Brahma muka dengan muka?”

“Tidaklah demikian, sesungguhnya, Gotama.”

“Atau adakah kalau demikian, Vasettha, satu dari para Brahmana itu  sampai pada tujuh generasi yang sudah bertemu Brahma muka
dengan   muka?”

“Tidaklah demikian, sesungguhnya, Gotama.”

“Baiklah kalau begitu, Vasettha, Rishi-rishi purba dari para  Brahmana   itu yang benar-benar mengetahui Tiga Veda, para penulis dari   syair-syair itu, pengucap-pengucap dari syair-syair itu, yang   kata-kata dalam bentuk kuno/purbanya begitu dilafalkan,  diucapkan atau   digubah, yang mana para Brahmana zaman sekarang melafalkan lagi dan   mengulangi; melagukan atau menghafalpersis seperti apa yang  sudah   dilagukan dandihafalkan—yang dengan lucunya, Atthaka…dan  Bhagu,   lakukan bahkan mereka berkata demikian:”Kami mengetahuinya,  kami sudah   melihatnya, dimana Brahma berada, darimana Brahma adanya,  kemana   Brahma adanya?”

“Tidaklah demikian, sesungguhnya, Gotama.”

“Lantas engkau berkata, Vasettha, bahwa tidak seorangpun dari  para   Brahmana itu, ataupun guru-guru mereka, atau murid-murid
mereka,   bahkan sampai ke generasi ketujuhpun, sudah pernah melihat  Brahma muka   dengan muka. Dan bahkan Rishi-rishi purba, penulis dan para  pengucap   dari syair-syair itu, yang kata-kata dalam bentuk kunonya  begitu   berhati-hatinya dilagukan dan dihafal oleh para Brahmana  sekarang   setepat mungkin seperti yang sudah diturunkan-bahkan mereka  tidak   berpura-pura untuk mengetahui atau sudah melihat dimana atau  darimana   dan kemana Brahma adanya. Jadi para Brahmana yang benar-benar   mengetahui Tiga Veda sudah sesungguhnya mengatakan demikian:
‘Apa yang   kami tidak tahu, apa yang kami belum lihat, atas keselarasan  dengan   itu kami dapat menunjukkan jalan, dan dapat berkata: ‘Ini  adalah jalan   yang lurus, ini adalah jalan yang langsung menuju pada  keselamatan,   dan membimbing mereka yang bertindak sesuai dengannya, pada   persekutuan dengan dengan Brahma.’

“Sekarang apa yang kau pikir, Vasettha? Bukankah hal itu  mengikuti,   hal ini dengan menjadi demikian, bahwa perkataan para Brahmana  yang   benar-benar mengetahui  Tiga Veda, kemudian menjadi suatu  percakapan   yang bodoh/tidak bermanfaat?”

“Sesungguhnya, Gotama, bahwa dengan menjadi demikian, berlanjutbahwa   perkataan dari para Brahmana yang mengetahui dengan benar Tiga  Veda   itu adalah perkataan yang bodoh/tak berguna adanya.”


SEKUMPULAN ORANG BUTA

“Dengan sesungguhnya, Vasettha, para Brahmana yang benar benar   mengetahui Tiga Veda itu seharusnya sanggup untuk menunjukkan  jalan   menuju persekutuan dengan sesuatu yang mereka tidak tahu, pun  belum   melihat—keadaan dari hal-hal demikian itu tidaklah bisa  adanya!

“Sama halnya, Vasettha, seperti ketika sekumpulan orang buta   bergandengan satu sama lain, bukanlah yang terdepan yang bisa
melihat,   pun bukannya yang di tengah, pun bukanlah yang di belakang  tersembunyi   yang bisa melihat — seperti demikianlah, kiranya, Vasettha,  percakapan   para Brahmana yang mengetahui dengan baik Tiga Veda itu adalah   percakapan buta: yang pertama tak melihat apapun, pun yang  ditengah,   pun yang terakhir. Percakapan dari para Brahmana yang  mengetahui   dengan baik Tiga Veda ini lantas menjadi tidak masuk akal,  kata-kata   belaka, suatu hal yang kosong dan gagal!


TANGGA YANG MENUJU KE – TIDAK MANAPUN JUGA

…”Sama halnya, Vasettha, seperti jika seseorang harus membuat
suatu   tangga di dalam suatu tempat dimana 4 jalan bersilangan, untuk  menaiki   suatu rumah yang besar. Dan orang-orang berkata
padanya,’Baiklah,   teman yang baik, rumah yang besar ini, pada mana engkau membuat  tangga   untuk menaikinya, tahukah kamu apakah rumah itu berada di  timur, atau   di selatan, atau di barat, atau di utara? Apakah rumah itu  tinggi atau   rendah atau sedang-sedang saja ukurannya?’

“Dan ketika ditanya demikian dia menjawab: Tidak. — Dan  orang-orang   berkata padanya,’Tetapi kalau begitu, teman yang baik, engkau  sedang   membuat suatu tangga yang menaiki sesuatu — sebagai contoh  sebuah   rumah besar— yang mana, sejenak yang lalu, engkau tidak   mengetahuinya, bahkan pun belum melihatnya.'”…..

BERDOA DEMI ALAM BAKA

“Lagi, Vasettha, jikalau seandainya sungai Aciravati ini penuh
dengan air bahkan sampai ke tepi sungai, dan meluap. Dan seseorang
dengan pekerjaan/bisnis pada tepi yang satunya, dalam perjalanan ke
tepi yang satunya, berusaha menuju ke tepi yang satunya, ingin tiba, dan
mau menyeberang. Dan ia, sambil berdiri pada tepi yang sebelah
sini, memohon dengan khusuk pada tepi yang jauh itu, dan
berkata,’Datanglah kesini, O tepi yang jauh!datanglah ke tepi sini!’

“Sekarang apakah yang engkau pikir, Vasettha?Akankah tepi yang
jauh itu dari sungai Aciravati, oleh sebab permohonan khusuk dari
orang itu dan doanya dan pengharapannya dan pemujaannya, datang ke tepi
yang ini?”

“Tentulah tidak, Gotama.”

“Dengan cara yang sama pula, Vasettha, para Brahmana yang
mengetahui dengan baik Tiga Veda lakukan—menelantarkan praktek-praktek
dengan kualitas yang benar-benar membuat seseorang menjadi seorang
Brahmana, dan mengadopsi praktek-praktek yang kualitasnya membuat
seseorang menjadi Non-Brahmana—berkata demikian: ‘Indra kami memanggil,
Soma kami memanggil, Varuna, Isana, Pajapati, Brahma, Mahiddhi, Yama
kami memanggil.’

“Dengan sesungguhnya, Vasettha, bahwa para Brahmana yang
mengetahui dengan baik Tiga Veda—menelantarkan praktek-praktek dengan
kualitas yang benar-benar membuat orang menjadi seorang Brahmana,
mengadopsi praktek-praktek dengan kualitas yang membuat yang benar-benar
membuat orang Non-Brahmana—boleh, karena alasan  permohonan khusuk
dan doa dan pengharapan dan pemujaan mereka, setelah meninggalkan tubuh
ini, setelah kematian, mencapai persatuan dengan Brahma, kondisi
hal-hal demikian adalah tidak akan bisa.”

[ Digha Nikaya No. 13:Tevijja Sutta (“Tiga Veda”) terjemahan
oleh Prof. Rhys Davids]


KRITIK SANG BUDDHA TERHADAP TIGA PANDANGAN KELIRU ( Anguttara-Nikaya ; III,61 )

Para bhikkhu, ada tiga pendapat sektarian yang, jika sepenuhnya diperiksa, diteliti dan dibahas, akan berakhir pada suatu doktrin tanpa tindakan, sekalipun sudah diterapkan karena tradisi. 36Apakah tiga pendapat ini?

Para bhikkhu, ada beberapa petapa dan brahmana yang mengajar dan memegang pandangan ini: “Apapun yang dialami seseorang, apakah itu perasaan menyenangkan, menyakitkan atau perasaan netral, semua itu disebabkan oleh tindakan lampau.” Ada lainnya yang mengajar dan memegang pandangan ini: “Apapun yang dialami seseorang… semua itu disebabkan oleh ciptaan Tuhan.” Dan masih ada petapa dan brahmana lain yang mengajar dan memegang pandangan ini: “Apapun yang dialami seseorang… tidak ada sebabnya dan tidak dikondisikan.”37

(1) Para bhikkhu, aku telah menemui para petapa dan brahmana ini (yang memegang pandangan pertama) dan berkata kepada mereka: “Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajar dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang… semua itu disebabkan oleh tindakan lampau?” Ketika mereka mengatakan “Ya”, aku katakan kepada mereka: “Jika demikian halnya, yang mulia, maka tindakan masa lampau (yang dilakukan dalam suatu kehidupan lampau) itulah yang menyebabkan orang membunuh, mencuri, terlibat dalam perilaku seksual yang salah; yang membuat mereka berbohong, mengucapkan kata-kata yang jahat, berbicara kasar dan suka berbicara yang tak ada gunanya; yang menyebabkan mereka menginginkan milik orang lain, dengki, dan jahat serta memiliki pandangan salah.38 Maka mereka yang menganggap tindakan lampau sebagai faktor penentu tidak akan memiliki semangat dan usaha untuk melakukan ini atau tidak melakukan itu. Karena mereka tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan, istilah ‘petapa’ tidak sesuai untuk mereka, karena mereka hidup tanpa kewaspadaan dan pengendalian diri.”

Para bhikkhu, inilah teguran pertamaku – yang diakui kebenarannya – kepada para petapa dan brahmana yang mengajarkan dan memegang pandangan seperti itu.

(2) Sekali lagi, para bhikkhu, aku menemui para petapa dan brahmana (yang memegang pandangan kedua) dan berkata kepada mereka: “Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajar dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang… semua itu disebabkan oleh ciptaan Tuhan?” Ketika mereka mengatakan “Ya”, kukatakan kepada mereka: “Jika demikian halnya, yang mulia, maka ciptaan Tuhan itulah yang membuat orang-orang membunuh… dan memiliki pandangan salah. Maka mereka yang menganggap ciptaan Tuhan sebagai faktor penentu tidak akan memiliki semangat dan usaha untuk melakukan ini atau tidak melakukan itu. Karena mereka tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan, istilah ‘petapa’ tidak sesuai untuk mereka, karena mereka hidup tanpa kewaspadaan dan pengendalian diri.”

Para bhikkhu, inilah teguran keduaku – yang diakui kebenarannya – kepada para petapa dan brahmana yang mengajar dan memegang pandangan seperti itu.

(3) Sekali lagi, para bhikkhu, aku menemui para petapa dan brahmana (yang memegang pandangan ketiga) dan berkata kepada mereka: “Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajarkan dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang… semua itu tidak ada sebabnya dan tidak dikondisikan?” Ketika mereka mengatakan “Ya”, kukatakan pada mereka: “Jika demikian halnya, yang mulia, maka tidak ada sebab dan kondisi yang membuat orang membunuh… dan memiliki pandangan salah. Maka mereka yang menganggap bahwa (urutan peristiwa) yang tanpa sebab dan kondisi sebagai faktor penentu tidak akan memiliki semangat dan usaha untuk melakukan ini atau tidak melakukan itu. Karena mereka tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan, istilah ‘petapa’ tidak sesuai untuk mereka, karena mereka hidup tanpa kewaspadaan dan pengendalian diri.”

Para bhikkhu, inilah teguran ketigaku – yang diakui kebenarannya – kepada para petapa dan brahmana yang mengajar dan memegang pandangan seperti itu.

Demikianlah, para bhikkhu, tiga pendapat sektarian yang, jika sepenuhnya diperiksa, diteliti dan dibahas, akan berakhir pada suatu doktrin tanpa-tindakan, sekalipun jika dipakai karena tradisi.

Sumber:

http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka_dtl.php?cont_id=738&hal=2&path=tipitaka/sutta/anguttara/anguttara1&hmid

Lebih jauh, atas pandangan tersebut diatas, Sang  Buddha mengatakan,

Jadi, karena diciptakan oleh seorang Tuhan Yang Maha Tinggi, maka manusia akan menjadi pembunuh, pencuri, penjahat, pembohong, pemfitnah, penghina, pembual, pencemburu, pemarah, pendendam, dan orang yang keras kepala“.

Oleh sebab itu, bagi mereka yang berpandangan segala sesuatu adalah ciptaan seorang Tuhan, maka mereka tidak akan lagi mempunyai keinginan, ikhtiar ataupun keperluan untuk melakukan suatu perbuatan ataupun untuk menghindar dari perbuatan lain.” (Majjhima Nikaya ii, Sutta No.101)


SIFAT KETUHANAN YANG TIDAK KEKAL

Sejauh mana matahari-matahari dan bulan-bulan berevolusi dan
penjuru-penjuru langit bersinar dengan cemerlangnya, sejauh
mencakup Seribu-kali lipat sistem-Dunia. Dalam Seribu-kali lipat Sistem
Dunia itu, ada seribu bulan, seribu matahari, seribu Semeru, gunung
dari gunung-gunung, seribu dari keempat benua, seribu dari keempat
samudera, seribu dari dunia-dunia surgawi dari alam inderawi,
dan seribu dari dunia Brahma. Sejauh mencakup Seribu-kali lipat
Sistem Dunia ini, sejauh itu adalah Maha Brahma dianggap yang
tertinggi disana.

Tetapi bahkan pada Maha Brahma, O para bhikkhu, terdapatlah
transformasi, terdapatlah perubahan. Melihat hal ini, O para
bhikkhu,
seorang murid yang terlatih baik merasa muak bahkan dengan hal
itu.
Dengan menjadi muak dengan hal itu, lunturlah keterikatannya
bahkan
sampai yang tertinggi, apalagi pada yang rendah!

[Anguttara Nikaya, Dasaka Nipata, No. 29]

KEKECEWAAN DARI PARA DEWA

Sekarang muncullah di dunia ini seorang Tathagata, yang Suci,
yang
telah mencapai Penerangan Sempurna, sempurna pengetahuan dan
tindak
tandukNya, yang Mulia/Luhur, Pengenal segenap Alam, Pembimbing
manusia
yang tiada taranya, Guru para dewa dan manusia, yang patut
dimuliakan.

Ia lantas mengajarkan Dhamma:”Ini adalah
kepribadian(personality); ini
adalah asal dari kepribadian; ini adalah akhir dari
kepribadian; ini
adalah jalan menuju akhir dari kepribadian.”

Dan dewa-dewa itu yang berumur panjang, yang bergemerlapan
dengan
kecantikan, yang berdiam dengan penuh kesenangan dan untuk
waktu yang
lama berada dalam rumah-rumah surgawi yang megah, bahkan
mereka,
setelah mendengar Sang Bhagava  mengajarkan Dhamma, tertimpa
ketakutan, kegelisahan dan tergetar:

“Aduh celaka, kita yang, sebenarnya, tidak permanen, percaya
bahwa
kita adalah permanen! Kita yang, sebenarnya, rapuh, percaya
bahwa kita
berkesinambungan!Kita yang, sebenarnya, tidak kekal, percaya
bahwa
kita kekal adanya!Tetapi, yang benar adalah bahwa, kita adalah
tidak
permanen, rapuh, tidak kekal, terpikat dalam kepribadian!”

[Anguttara Nikaya, Cattuka nipata, No. 33]


PENCIPTAAN DAN SEBAB

Asumsi bahwa suatu Tuhan (isvara) adalah penyebab, dan lain sebagainya,
bersandar atas kepercayaan salah dalam suatu diri yang kekal;
tetapi
kepercayaan itu haruslah ditinggalkan, jikalau seseorang sudah
dengan
jelas mengerti bahwa segala sesuatu adalah  tunduk pada penderitaan.

[Vasubhandu, Abhidharmakosa, 5, 8 (vol. IV, p. 19); Sphutartha
p. 445,
26.]


Sekolah-sekolah tertentu memegang pandangan bahwa ada suatu
Tuhan
Mahesvara yang adalah absolut, ada/hadir dimana-mana, dan
kekal; dan
bahwa ia adalah pencipta dari semua Dharma.

Teori ini adalah tidak logis. Dan mengapa?
(a) Bahwa yang menciptakan tidaklah kekal; yang tidak kekal
tidaklah
hadir dimana-mana; yang tidak hadir dimana-mana tidaklah
absolut.
(b) Oleh karena ia adalah kekal dan hadir dimana-mana, dan
komplet
dengan semua kemampuan; ia seharusnya, dalam segala masa dan di
semua
tempat, menghasilkan secara tiba-tiba semua Dharma (fenomena).
(c) (Jikalau mereka katakan)bahwa ciptaannya bergantung pada
nafsu dan
kondisi-kondisi, kalau begitu mereka bertentangan dengan
doktrin
mereka sendiri tentang “sebab yang unik”. Atau dengan kata
lain, kita
boleh katakan bahwa nafsu dan kondisi-kondisi seharusnya juga
secara
tiba-tiba muncul semua, karena sebab (yang menghasilkan mereka)
selalu
ada disitu.

[Vijnaptimatrata Siddhi Sastra (suatu karya standar dari
sekolah
Buddhis Idealistik) terjemahan dari versi Chinese oleh Wong Mow
Lam
(“The Chinese Buddhist”, Vol. II, No. 2; Shanghai 1932) ]


Demikianlah, saudara-saudari, bagaimana Sang Buddha memandang ajaran tentang adanya sosok “Maha-Dewa” yang disebut sebagai “Yang-Maha…”  tersebut. Adalah salah jika dikatakan bahwa Buddha-Dhamma agama yang Theistik, namun juga keliru besar jika Buddha-Dhamma adalah agama yang bersifat “Atheis-Materialistik”. “Tujuan-Sejati” dalam kehidupan spiritual Buddha-Dhamma adalah menuju pada apa yang dalam bahasa Pali disebut dengan :

“Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang”


Yang artinya  :

“Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak”.


Dan itu adalah : N I B B A N A, pemadaman dari ketiga api : keserakahan / nafsu-indriya ( lobha ), kemarahan/kebencian ( dosa ), dan kebodohan/kegelapan batin ( moha ). Nibbana ini lepas dari “Tuhan”, Nibbana ini pun bukan “Tuhan-Yang-Maha” .

Nibbana ini, sering dipersamakan dengan Tuhan dalam agama2 lain. Padahal, sesungguhnya jauh berbeda. Sebab, Nibbana ini bukanlah pencipta alam-semesta seisinya ( termasuk pencipta semua makhluk ).

Nibbana adalah KONDISI-BATIN, yang telah bebas dari kekotoran batin, bebas dari keserakahan / nafsu-indriya (lobha), bebas dari kemarahan/kebencian (dosa), dan bebas dari kebodohan-batin (moha).

Dalam bahasa Sanskerta, NIBBANA ini disebut dengan NIRVANA. Nirvana, berasal dari dua kata, yaitu ; 1). NIR , yang artinya = TANPA ( sifat negasi ), dan, 2). VANA , yang artinya jalinan nafsu keinginan. Sehingga, Nirvana adalah kondisi batin yang telah terbebas dari ikatan/jeratan jalinan nafsu keinginan sebagai penyebab semua makhluk bertumimbal lahir, mengarungi alam sangsara.

Nibbana ini pun  lepas dari alam surga, bukan surga tempat para bidadari-bidadari cantik yang telah tersediakan bagi para ummat-soleh ( ber-Sila ) dan para “pejuang” agama-agama tertentu.  Surga yang termaksud , yang berisi bidadari-bidadari cantik dan istana2 megah tersebut,  barulah lingkup “Kamadhatu”, yaitu “alam-kesenangan-lingkup-keindriyaan” dan ini masih dalam lingkup keberadaan dan duniawi (lokiya). Sedangkan Nibbana, adalah diatas-duniawi ( lokuttara ), tidak dalam lingkup-keindriyaan, tidak dalam lingkup alam Rupa-Jhana, tidak pula dalam lingkup Arupa-Jhana. Tak terjejaki lagi, akhir dari samsara.

_________________________________________________

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Minggu, 21 Juni 2009

Posted in BUDDHA | 182 Comments »

NAFSU INDRIYA ; PENGHALANG YANG HARUS DILENYAPKAN

Posted by ratanakumaro pada Mei 26, 2009

“ Appamado amatapadam. Pamado maccuno padam . Appamatta na miyanti Ye pamatta yatha mata.”

[ Arti : Kewaspadaan adalah Jalan menuju KEKEKALAN, Kelengahan adalah Jalan menuju KEMATIAN.  Mereka yang sadar tidak akan mati, mereka yang tidak sadar seperti orang mati ( Dhammapada , Appamada Vagga ;  2:1 ) ]

“ Etam visesato natva. Appamadamhi Pandita.  Appamadi pamodanti Ariyanam gocare rata.”

[ Arti : Orang yang bijaksana, setelah memahami hal tersebut, mengembangkan kesadarannya, Ia berbahagia menjalani KEHIDUPAN SUCI ( Dhammapada, Appamada Vagga ; 2:2 ) ]

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”

( tikkhattum ; 3X )

Nammatthu Buddhassa,

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Saudara-saudari , para sahabat yang tercinta, sejak jaman Sang Buddha, telah banyak bermunculan guru kerohanian-guru kerohanian yang menunjukkan jalan yang salah kepada kelompok-kelompok orang. Guru-guru ‘sesat’ ini mengajarkan, bahwa pemuasan kesenangan indera, terutama keterlibatan dalam hubungan sexual, tidaklah akan menghalangi seseorang mencapai Pencerahan (?!) .

Hingga kini, banyak orang yang belum mengenal Dhamma, masih mempertahankan pandangan yang sama, bahwa,” Nafsu tidak harus dihapuskan, tetapi cukup dikendalikan. Tanpa nafsu, kita tidak hidup, sama dengan mati. Setelah mati nanti kita akan dengan sendirinya mengalami lenyapnya nafsu.” Suatu pandangan yang sangat terasa “Anti-Kehidupan-Suci”, dan ini sebenarnya pandangan yang salah bilamana berkaitan dengan pembebasan makhluk-makhluk dari samsara.


MENGAPA NAFSU KEINDRIYAAN HARUS DILENYAPKAN ?

Saudara-saudari, pertama-tama, kita harus memahami tahap-tahap pengetahuan “Pencerahan” saat kita berhasil menembus hakekat segala sesuatu.

Pada hakekatnya, dunia ini adalah “Dukkha” ; rendah dan kosong , kosong dari kekekalan, kosong dari keabadian, kosong dari kebahagiaan sejati, karena itulah dunia ini adalah penderitaan. Memang, bagi kebanyakan orang, menembus kesunyataan mulia mengenai dukkha ini tidaklah mudah. Karena itulah Sang Buddha menyatakan :

“Dhamma yang telah kucapai ini sungguh dalam, sungguh sulit untuk dilihat dan dipahami, damai dan tinggi, tak dapat dicapai hanya lewat penalaran, halus, harus dialami oleh para bijaksana.

Sedangkan generasi [sekarang] ini bergembira di dalam keduniawian, bersenang-senang di dalam keduniawian, bersukacita di dalam keduniawian. Generasi seperti ini sungguh sulit untuk melihat kebenaran ini, yaitu, pengkondisian khusus, asal mula yang saling bergantungan. Dan sungguh sulit untuk melihat kebenaran ini, yaitu, berhentinya semua bentukan, lepasnya semua kemelekatan, hancurnya semua keserakahan, HANCURNYA NAFSU, penghentian, Nibbana. “

[ Majjhima Nikaya ; Ariyapariyesana Sutta ; ay.19 ]


Ketika kita telah melihat ketidak-kekalan [anicca], melihat dengan penembusan spiritual, bukan melalui kacamata intelektual semata, maka barulah kita akan memahami, bahwa dunia ini, pengembaraan dalam samsara ini adalah “Dukkha”. Dan sejak saat itu, kita akan berjuang menuju realisasi kebahagiaan-sejati, yang kekal, yang tidak terserang kelapukan, tanpa-kematian [amerta ; nama lain dari Nibbana / Nirvana].

Penembusan terhadap “dukkha-sacca”, adalah penembusan terhadap kesunyataan mulia yang pertama dari “Cattari-Ariya-Saccani” / Empat Kesunyataan Mulia. Penembusan ini baru bisa diperoleh melalui “Samma-Samadhi” [Samadhi-Benar] dan “Samma-Sati” [Perhatian-Benar]. Ketika samadhi kita telah sedemikian kuat, maka kekuatan samadhi itu dapat kita gunakan untuk menembus kesunyataan tentang “dukkha” tersebut.

Setelah itu, penembusan akan berlanjut pada tahap berikutnya, “Apakah sebab dukkha?” . Apakah sukha dan dukha disebabkan oleh suatu sosok “Adi-Kuasa” tertentu ? Jika jawabannya “ya” , maka seharusnya dukkha bisa dilenyapkan dengan sikap ramah-tamah, penghormatan, pemujaan, kepada sosok “Adi-Kuasa” tersebut ; dan seharusnya sukha senantiasa hadir kepada para “hamba” yang setiap hari tak lelah berdoa kepada sosok tersebut.

Namun, ternyata jawabannya adalah “tidak”, dan segala apapun yang terjadi pada diri kita, bukanlah disebabkan oleh “Prima-Causa” yang berupa sosok “Adi-Kuasa” yang “tidak-terlihat” dan “tidak-tahu-entah-dimana” tersebut. Sebanyak apapun kita meminta perlindungan pada sosok “Adi-Kuasa” tersebut supaya jangan mengalami ‘ketidak-kekalan’, jangan mengalami kesedihan, keputus-asaan, supaya tidak mengalami penderitaan, ternyata tetaplah ‘ketidak-kekalan’ dan ‘dukkha’ tersebut menjadi corak utama yang tidak pernah lepas dari seluruh sejarah perjalanan hidup.

Lalu setelah itu, kita kemudian berhasil menembus, bahwa sebab dari dukkha adalah, karena batin / pikiran kita selama menempuh rentang pengembaraan tumimbal-lahir senantiasa terikat oleh kelima tali kesenangan indera, inilah nafsu-keinginan [tanha] . Disinilah kita menemukan penyebabnya, nafsu-keinginan yang menyala-nyala didalam pikiran kita itulah penyebab dari dukkha [dukkha-samudaya-sacca].

Tahap selanjutnya dari penembusan / pencerahan kita adalah, kita mengetahui, bahwa penderitaan [dukkha] tersebut dapat berakhir. Setelah melampaui massa yang sangat panjang dalam samsara dengan segenap keputus-asaan yang menyertainya, berbagai kegagalan, kesedihan, ratap-tangis yang memenuhi sejarah perjalanan hidupnya, pada titik-titik puncak pencerahannya, manusia akhirnya mengetahui , bahwa ada jalan-keluar dari samsara ini, penderitaan bisa berakhir! Inilah saat ia mengetahui NIBBANA / NIRVANA [nirodha-sacca]. Dan pada tahap terakhir, ia menembus pengetahuan akan adanya “Jalan-Menuju-Berakhirnya-Penderitaan” [ Magga-sacca ] , yaitu “Jalan-Ariya-Beruas-Delapan” [ Ariya-Atthangika-Magga ].


Sedikit kepuasan, banyak penderitaan. Saudara-saudari, bila kita belum bisa menembus dengan jauh [hingga ke beberapa kehidupan lampau kita] hakekat dukkha yang diakibatkan oleh nafsu-indriya, maka, kita setidaknya bisa me”review” perjalanan hidup kita yang sekarang ini. Dalam Alagaddupama Sutta , Majjhima Nikaya, Sang Buddha menyatakan bahwa kesenangan-kesenangan indera memberikan sedikit saja pemuasan, namun di sisi lain justru memberikan banyak penderitaan, banyak keputus-asaan, dan betapa besar bahaya di dalam hal-hal tersebut [pemuasan indera dan akibat-akibatnya ].

Ketika nafsu-indriya muncul, ia sudah menimbulkan penderitaan, karena ia “mencambuk-cambuk” batin kita, seakan-akan mengendalikan batin kita [bagi manusia-manusia biasa yang masih belum terbebas dari nafsu indriya] supaya segera mencari jalan menemukan pemuasan nafsu-indriya tersebut.

Ketika “objek” pemuasan nafsu indriya ini muncul, kita kembali ber”dukkha”. Sebab, saat mendapatkannya, kita khawatir suatu saat kehilangan. Kita khawatir “objek” ini kelak dicuri orang lain, kita khawatir bila sampai kita berpisah dari “objek” ini. Juga, ternyata setelah kita “menggenggam” objek pemuasan indriya ini, ternyata tidak seindah yang dibayangkan dulu kala saat mulai munculnya nafsu indriya. Ternyata, “objek” tersebut tidak juga sempurna memberikan kebahagiaan sejati bagi batin kita.

Terakhir, dukkha akan semakin menjadi-jadi saat kita benar-benar berpisah dengan “objek” pemuasan nafsu-indriya kita. Karena kemelekatan kita yang begitu kuat, kita bersedih telah kehilangan”nya”. Mengenai keresahan-keresahan yang disebabkan objek-objek indriya ini, Sang Buddha bersabda :

“… seseorang berpikir demikian : “Aduh, dulu aku memilikinya! Aduh, kini aku tidak memilikinya lagi! Aduh, semoga aku memilikinya! Aduh, aku tidak mempunyainya sekarang!” Maka dia bersedih hati, menangis, dan meratap. Dia meraung-raung memukuli dadanya dan menjadi putus-asa. … .” [Alagaddupama Sutta ; Majjhima Nikaya ]

Keterikatan kita terhadap nafsu-indriya [ tanha ] inilah, yang menyebabkan kita senantiasa bertumimbal-lahir. Kehausan kita terhadap nafsu-indriya dan pemuasannya, inilah “Avijja” ; Ketidak-tahuan, ini pulalah “Moha” ; Kebodohan-batin. Avijja ini sebab utama kita senantiasa bertumimbal lahir, berkelana dalam samsara. Karena kita tidak bisa melihat adanya ; 1. Dukkha, 2.Sebab dari Dukkha, 3.Berakhirnya Dukkha, dan, 4. Jalan menuju berakhirnya dukkha, maka dari itu kita benar-benar “BODOH”. Inilah yang dimaksud dengan Avijja.

Kebodohan batin ini semacam ketololan seorang penjudi yang tidak bisa melihat bahaya dari perjudian, betapa besar penderitaan yang diakibatkan dari perjudian tersebut. Kebodohan batin ini juga semacam ketololan seorang laki-laki yang tergila-gila kepada seorang perempuan penzinah yang menguras harta kekayaannya dan berselingkuh dibelakangnya. Meskipun banyak orang telah memberitahukan kepada laki-laki ini perihal perempuan penzinah tersebut, namun ia tidak peduli, karena hatinya telah dibutakan oleh kecantikan dan kemolekan tubuh perempuan tersebut. Inilah kebodohan-batin ; batin yang tidak bisa melihat dan menembus hakekat sejati dari segala sesuatu apa-adanya, batin yang terperdaya oleh perangkap-perangkap yang penuh penderitaan.

HANYALAH GURU BODOH YANG MENGAJARKAN KETERLIBATAN DENGAN DUNIA NAFSU-INDRIYA

Guru-guru yang mengajarkan para muridnya untuk tetap terlibat dengan nafsu-indriya sembari berjalan menempuh Jalan-Pembebasan adalah guru-guru yang “tidak-mengerti” mana “Jalan” dan mana “bukan-Jalan” ;  guru seperti ini benar-benar bodoh. Sang Buddha bersabda ;

“Sehubungan dengan para petapa dan brahmana yang terikat pada lima tali kesenangan indera ini, tergila-gila padanya dan sepenuhnya terlibat di dalamnya, dan yang menggunakannya tanpa melihat bahaya di dalamnya atau memahami jalan keluar darinya, mengenai mereka hal ini dapat dipahami :

‘Mereka telah bertemu dengan malapetaka, telah bertemu dengan bencana, “Si Jahat” dapat melakukan kepada mereka semaunya.’ [ Ariyapariyesana Sutta ; Majjhima Nikaya ]


Guru-guru yang “belum-cerah” tersebut berargumen, bahwa kita dapat tetap terbebas dari kekotoran “nafsu-indriya” sementara kita tetap “mencicipi” ( bersenang-senang ) dalam kenikmatan nafsu-indriya. Mengenai kebodohan ini, Sang Buddha bersabda :

9. “ Para Bhikkhu, bahwa manusia dapat terlibat di dalam kesenangan-kesenangan indera tanpa nafsu indera, tanpa persepsi nafsu indera, tanpa pemikiran-pemikiran nafsu indera – hal itu tidaklah mungkin.” [Alagaddupama-Sutta ; Majjhima Nikaya ]


Pada sabda Sang Buddha di ayat 9 ini, dengan tegas Sang Buddha menyatakan ketidak-mungkinan bagi manusia untuk terlibat di dalam kesenangan-kesenangan indrera, objek-objek kenikmatan indera, tanpa memiliki “gejolak-gejolak” hasrat nafsu indera. Frasa yang lain bagi kesenangan-indera ini, dalam Bahasa Pali mengacu pada kekotoran batin subjektif yang berhubungan dengan sensualitas, yaitu nafsu keinginan indera ; hubungan sexual, tindakan-tindakan fisik lain yang mengexpresikan keinginan sexual ~ seperti memeluk dan mengelus ~ termasuk dalam pengertian “Kesenangan-indera”.

“Para Bhikkhu, ketika kalian mengetahui bahwa Dhamma mirip dengan rakit, bahkan keadaan-keadaan yang baik pun seharusnya kalian tinggalkan, apalagi keadaan-keadaan yang buruk.” [ Alagaddupama Sutta ]


Keterangan dalam Majjhima Nikaya memberikan penjelasan lebih jauh mengenai akhir dari khotbah diatas, “Para Bhikkhu, Aku mengajarkan untuk bahkan meninggalkan nafsu keinginan dan kemelekatan pada keadaan-keadaan yang damai dan tinggi ~ ketenangan ( samatha ) dan pandangan terang ( vipassana ) ~ apalagi pada hal yang rendah, vulgar, menjijikkan, kasar, dan kotor… [ kesenangan-kesenangan indria, terlibat dalam hubungan sex ]“.

Guru-guru yang “sesat” tersebut belum memahami segala-sesuatu sebagaimana adanya. Ia masih melihat bahwa apa-apa didunia ini semuanya “nyata” dan layak diinginkan. Ia tidak bisa melihat dengan jelas, bahwa semua yang terlihat didunia ini hanyalah “paduan-unsur-unsur” , yang tidak-kekal, tidak layak diinginkan, dan tidak ada “inti-diri” [ Aku ] disana.  Karena ia melihat bahwa ada “diri”, bahwa itu adalah “kekal”, maka ia terpikat, tertarik, mengikuti “keinginan” untuk memilikinya. Mengenai pandangan-pandangan keliru para manusia yang belum tercerahkan dan tidak terlatih dalam Dhamma nan Agung ini, Sang Buddha bersabda :

15.”Para bhikkhu, ada enam pendirian untuk pandangan-pandangan. Apakah yang enam itu ?

Disini, para bhikkhu, seorang biasa yang tidak belajar , yang tidak memiliki rasa hormat bagi orang-orang luhur dan tidak terampil serta tidak disiplin di dalam Dhamma mereka, yang tidak memiliki rasa hormat bagi manusia-manusia sejati dan tidak terampil serta tidak disiplin di dalam Dhamma mereka, menganggap :

– bentuk-bentuk materi demikian ; “ Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku.”

– Dia menganggap perasaan demikian ; “ Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku.”

– Dia menganggap persepsi demikian : “Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku.”

– Dia menganggap bentukan-bentukan demikian ; “ Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku.”

– Dia menganggap apa yang terlihat, terdengar, terasa, terkognisi, ditemui, dicari, direnungkan secara mental demikian ; “Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku.”

– Dan pendirian untuk pandangan-pandangan ini, yaitu ; ‘ Ini adalah diri, ini adalah dunia ; setelah kematian aku akan abadi, langgeng, kekal, tidak terkena perubahan ; aku akan bertahan kekal selama keabadian’ ~ hal inipun juga dianggap demikian ; “ Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku. “


Didalam penjelasan Majjhima-Nikaya disebutkan, bahwa pengertian :

1). “ Ini adalah milikku “ ; disebabkan oleh nafsu keserakahan [ lobha ]

2). “ Ini Aku “ ; disebabkan oleh kesombongan [ mana ]

3). “ Ini adalah diriku “ ; disebabkan oleh pandangan salah [ miccha-ditthi ].

Tiga hal ini, ~ yaitu nafsu keserakahan, kesombongan, dan pandangan salah ~ disebut tiga obsesi (gaha ). Ketiganya ini juga merupakan pendorong utama di balik pemahaman dan pengembangan mental. Pandangan mengenai “kelanggengan ; setelah kematian aku akan memasuki pintu keabadian “ , sesungguhnya pandangan itu sendiri justru menjadi objek nafsu keserakahan, kesombongan, dan pandangan salah tentang diri.

Sang Buddha berkali-kali menegaskan ke-tanpa-diri-an dalam segala sesuatu di dunia ini. Objek apapun di depan kita, semua kosong dari “diri”, bahkan kita sendiri pun kosong dari “diri” ;  TANPA-DIRI ! Anicca ( tidak-kekal ), Dukkha ( derita ), dan Anatta ( Tanpa-Diri ;  Tidak-Ada-Aku ) , itulah sejatinya segala sesuatu hal. Dan nafsu indriya yang menggebu-gebu terhadap segala sesuatu yang sesungguhnya hanyalah “fluks” [ tidak-kekal, derita, dan tanpa “Aku” ], jelas-jelas merupakan kebodohan-batin. Mengenai ketidak-kekalan dan  ke-tanpa-diri-an ini, Sang Buddha bersabda :

22. “Para Bhikkhu, kalian bisa saja [berpikir untuk] memperoleh kepemilikan yang kekal, langgeng, abadi, tidak terkena perubahan, dan yang mungkin bertahan kekal selama keabadian. Tetapi, apakah kalian melihat ada kepemilikan semacam itu, para Bhikkhu ? – “Tidak, Yang Mulia Bhante”. – “ Bagus, para bhikkhu. Aku pun tidak melihat kepemilikan apa pun yang kekal, langgeng, abadi, tidak terkena perubahan, dan yang bisa bertahan kekal selama keabadian.

23. “Para Bhikkhu, engkau bisa saja melekati doktrin tentang diri yang tidak akan menimbulkan kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, penderitaan, dan keputus-asaan di dalam diri orang yang melekatinya. Tetapi apakah kalian melihat ada doktrin tentang diri semacam itu?” – “ Tidak, yang Mulia Bhante”. “Bagus, para bhikkhu. Aku pun tidak melihat doktrin apa pun tentang diri yang tidak akan menimbulkan kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, penderitaan, dan keputus-asaan di dalam diri orang yang melekati padanya.”

25. “ Para bhikkhu, seandainya diri itu memang ada, apakah ada sesuatu yang menjadi milik diriku?” – “ Ya, Yang Mulia Bahnte” – “Atau seandainya saja ada sesuatu yang menjadi milik suatu diri, apakah diriku ada?” – “Ya, Yang Mulia Bhante” – “Para bhikkhu, karena suatu diri dan apa yang menjadi milik suatu diri tidaklah dipahami sebagai yang benar dan terbentuk, maka pendirian untuk pandangan-pandangan ini, yaitu, “ Ini adalah diri , ini adalah dunia ;  setelah kematian aku akan abadi, langgeng, kekal, tidak terkena perubahan ; aku akan bertahan kekal selama keabadian.’ – tidakkah itu merupakan suatu ajaran yang sungguh sepenuhnya tolol ?”

“Tak bisa lain, Yang Mulia Bhante. Pandangan itu merupakan ajaran yang sungguh sepenuhnya tolol.”

26. “Para bhikkhu, bagaimana pendapat kalian? Apakah bentuk materi itu kekal atau tidak kekal?” – “Tidak kekal, Yang Mulia Bhante” – “Apakah sesuatu yang tidak kekal merupakan penderitaan atau kebahagiaan?” – “Penderitaan, Yang Mulia Bhante.” – “Apakah sesuatu yang tidak kekal, penderitaan, dan terkena perubahan, itu pantas dianggap demikian : ‘ Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku?” – “ Tidak, Yang Mulia Bhante”.

“Para Bhikkhu, bagaimana pendapat kalian? Apakah perasaan…apakah persepsi… apakah bentukan-bentukan… apakah kesadaran itu kekal atau tidak kekal?” – “Tidak kekal , Yang Mulia Bhante.” – “Apakah sesuatu yang tidak kekal merupakan penderitaan atau kebahagiaan ? “ – “Penderitaan, Yang Mulia Bhante.” – “Apakah sesuatu yang tidak kekal, penderitaan, dan terkena perubahan, itu pantas dianggap demikian : “Ini adalah milikku, ini adlah aku, ini adalah diriku?” – “Tidak, Yang Mulia Bhante.”

27. “Oleh karenanya, para bhikkhu, jenis bentuk materi apapun – apakah dari masa lalu, masa mendatang, atau masa kini, internal atau eksternal, kasar atau halus, rendah atau tinggi, jauh atau dekat – semua bentuk materi harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan yang benar demikian : “Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.” Jenis perasaaan apapun… jenis persepsi apapun… jenis bentukan-bentukan apa pun… jenis kesadaran apa pun – apakah dari masa lalu, masa mendatang, atau masa kini, internal atau eksternal, kasar atau halus, rendah atau tinggi, jauh atau dekat – semua kesadaran harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan yang benar demikian : ” Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.”

28. ”Dengan melihat demikian, para bhikkhu, seorang siswa  agung yang belajar dengan baik menjadi tidak terpikat oleh bentuk materi, tidak terpikat oleh perasaan, tidak terpikat oleh persepsi , tidak terpikat oleh bentukan-bentukan, tidak terpikat oleh kesadaran.

29. “Karena tidak terpikat, dia menjadi tidak bernafsu. Melalu tiadanya nafsu, [pikirannya] terbebas. Ketika pikiran terbebas, disitu muncul pengetahuan : ‘Pikiran telah terbebas’. Dia memahami : ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi kelahiran pada keadaan dumadi apa pun.”


Ketidaktertarikan ( nibbida ;  yang juga diterjemahkan “reaksi mendadak” atau “kemuakan” ) menunjukkan tingkat puncak kebijaksanaan, hilangnya nafsu (viraga), pencapaian jalan supra-duniawi, dan pembebasan (vimutti), buahnya. Pengetahuan Arahat yang memeriksa (paccavekkhananana) ditunjukkan oleh frasa “disana muncullah pengetahuan “ dan “dia memahami : Kelahiran telah dihancurkan…dst.’ “.

38. “Para bhikkhu, baik dahulu maupun sekarang, apa yang kuajarkan adalah penderitaan dan berhentinya penderitaan.”


Tuduhan yang menyatakan bahwa Sang Buddha mengajarkan penyangkalan, penghancuran, pembasmian dari makhluk yang ada adalah suatu kekeliruan dan pemikiran yang didasari ketidaktahuan.

Sang Buddha menyatakan, bahwa suatu makhluk hidup bukanlah suatu “Diri”, melainkan hanya kumpulan banyak faktor, peristiwa materi dan mental, yang berhubungan di dalam suatu proses yang pada hakekatnya bersifat dukkha, dan bahwa Nibbana, berhentinya penderitaan, bukanlah pemusnahan suatu makhluk melainkan berhentinya proses ketidak-puasan itu sendiri. Seseorang yang telah memiliki pandangan benar, yang telah membuang semua doktrin tentang diri, melihat bahwa apa pun yang muncul hanyalah munculnya dukkha, dan apapun yang lenyap hanyalah lenyapnya dukkha.

LEPASKANLAH GENGGAMANMU PADA DUNIA!

Dalam bagian akhir-akhir khotbah Sang Buddha di dalam Alagaddupama Sutta, Sang Buddha menegaskan kepada para siswa-siswa terpelajar-Nya, untuk meninggalkan apapun di dunia ini, sebab itu bukanlah diri”mu”, bukanlah milik”mu”. Bagi anda yang telah bisa memahami, mengapa “pelepasan” ini adalah hal mutlak, maka anda akan dengan sukarela melepaskan genggaman erat anda pada dunia ini, sebab semua hanyalah “kosong”, “rendah”, “derita”, “tidak-kekal”, dan “tanpa-diri”.

40. “Maka, para bhikkhu, apa pun yang bukan milikmu, tinggalkanlah ; bila kalian telah meinggalkannya, hal itu akan membawa menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kalian untuk waktu yang lama. Apakah yang bukan milikmu itu ?  Bentuk materi bukan milikmu. Tinggalkanlah. Bila kalian telah meninggalkannya, hal itu akan membawa menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kalian untuk waktu yang lama. Perasaan bukan milikmu. Tinggalkanlah. Bila kalian telah meninggalkannya, hal itu akan membawa menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kalian untuk waktu yang lama. Persepsi bukan milikmu. Tinggalkanlah. Bila kalian telah meninggalkannya, hal itu akan membawa menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kalian untuk waktu yang lama. Bentukan-bentukan bukan milikmu. Tinggalkanlah. Bila kalian telah meninggalkannya, hal itu akan membawa menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kalian untuk waktu yang lama. Kesadaran bukan milikmu. Tinggalkanlah. Bila kalian telah meninggalkannya, hal itu akan membawa menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kalian untuk waktu yang lama.”


Dengan sabda ini, Sang Buddha menunjukkan bahwa yang harus ditinggalkan adalah kemelekatan pada lima kelompok kehidupan [ Panca-Khanda ] ; kelompok-kelompok kehidupan itu sendiri tidak dapat dipisahkan atau dicabut.

Demikianlah saudara-saudari, mengapa kita harus melepaskan keduniawian, melenyapkan nafsu-indriya. Karena, ketika kita senantiasa mentoleransi bagi berkembangnya nafsu-indriya di dalam diri kita, serta memberikan pemuasan-pemuasannya, sesungguhnya kita adalah orang-orang “bodoh” yang tidak menyadari bahaya dari nafsu-indriya, perangkap yang disediakan olehnya hanyalah penderitaan, dan suatu masa penderitaan yang panjang akan diakibatkan oleh pemuasan nafsu indriya tersebut, yakni terlahirnya kita berulang-ulang di dalam alam-alam keberadaan ; di dalam SAMSARA.

Salam Damai dan Cinta Kasih…,

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajja hontu, Anigha Hontu, Sukhi attanam Pariharantu “

( “Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari penderitaan, bebas dari kebencian/permusuhan/pertentangan/niat jahat, bebas dari kesakitan, bebas dari kesukaran, semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaan mereka masing-masing” )

~ RATANA KUMARO ~

SEMARANG, 25 MEI 2009.

Posted in BUDDHA | 78 Comments »

PERAYAAN WAISAK 2553 BUDDHIST ERA [BE] DI VIHARA WATUGONG SEMARANG

Posted by ratanakumaro pada Mei 10, 2009

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”

( tikkhattum ; 3X )

Nammatthu Buddhassa,

Gbr.1

Hari Sabtu, tanggal 09 Mei 2009 , seluruh ummat Buddha merayakan hari raya Tri Suci Waisak 2553 Buddhist Era [BE] / 2009 Masehi. Hari raya Tri Suci Waisak merupakan hari peringatan akan tiga peristiwa Agung berkenaan dengan Sang Buddha Gotama. Ketiga peristiwa Agung ini [sama-sama] terjadi tepat pada bulan Purnama-Siddhi, bulan kelima (5) pada penanggalan Lunar. Ketiga peristiwa termaksud, yaitu :

  1. Lahirnya Boddhisatta Siddhatta Gotama ke dunia kurang lebih 620 tahun sebelum Masehi,
  2. Saat Siddhatta Gotama mencapai Pencerahan Sempurna di bawah pohon Boddhi, di usia-Nya yang ke-35 tahun.
  3. Saat Sang Buddha parinibbana di usia Beliau yang ke-80 tahun.

Gbr.2

Saya sendiri, pada hari Sabtu kemarin, mengikuti seluruh jalannya prosesi perayaan Waisak 2553 BE / 2009 M di Vihara Watugong, Semarang. Berikut adalah liputan saya atas acara perayaan tersebut. Sebagian besar foto-foto masih belum bisa saya upload [koneksi sedang ‘lelet’], namun nanti tetap akan saya susulkan. Selamat menikmati 😉

RANGKAIAN ACARA

Gbr.3

Acara dimulai jam 10.00 WIB, dengan agenda pertama adalah Pindapatta. Para Bhikkhu berjalan berurutan beriringan, menerima dana makanan dari para ummat. Pindapatta ini berlangsung hingga pukul 10.45 WIB.

Setelah itu, dilanjutkan dengan acara menyambut detik-detik Waisak, yang dimulai jam 10.45 WIB s/d jam 12.00 WIB. Detik-detik Waisak disambut puja-bhakti yang dipimpin oleh Bhante dengan penguncaran Paritta-suci, dilanjutkan dengan bhavana / Samadhi bersama selama kurang lebih 30 menit.

Gbr.6

Agenda selanjutnya, yang ketiga, adalah makan siang bersama. Ummat awam menikmati hidangan yang telah disediakan oleh panitia, dayaka-sabbha, secara gratis / Cuma-Cuma. Suasana yang sangat meriah. Peringatan waisak di Watugong kali ini dihadiri oleh ratusan ummat Buddha dari Semarang, Salatiga, dan sekitarnya.

Gbr.7

Jika dibanding perayaan serupa di Watugong tahun 2006 silam, maka perayaan tahun 2009 ini menurut saya agak ‘sepi’, mungkin karena ummat sebagian besar juga banyak yang menghadiri upacara peringatan Waisak di Mendut, Barabudur, dan di vihara-vihara local / setempat [kota masing-masing].

Gbr.8

Para Bhikkhu juga menikmati makan siang hasil dari Pindapatta mereka. Nampak Bhante Surattano sebagai Bhikkhu senior memimpin acara.

Gbr.10

Setelah makan siang selesai, sekitar jam 13.00 – 13.30 WIB, dimulai acara Pradaksina, yang diadakan di lokasi Pohon-Boddhi di vihara Watugong Semarang, di depan Pagoda Avalokitesvara.

Gbr.16

Pradaksina adalah upacara mengitari Buddha-rupam searah jarum jam sebanyak tiga (3) kali. Prosesi ini dipimpin oleh Bhante Cattamano [ Beliau datang terlambat, karena sebelumnya berada di Jakarta ]. Pradaksina dilakukan untuk menghormat Sang Ti-ratana [ Tiga-permata ; Buddha, Dhamma, dan Sangha ].

Gbr.20

Selesai Pradaksina, para Bhikkhu Sangha memimpin arak-arakan / kirab [napak-tilas], berjalan dari lokasi pohon Boddhi menuju dhammasala. Acara kirab yang diikuti ratusan ummat Buddha dari berbagai daerah dan etnis ini nampak meriah.

Gbr.22

Akhir acara, Bhante memberikan dhammadesana di dalam dhammasala, menyampaikan pesan Waisak 2553 BE / 2009 Masehi. Mengharapkan ummat Buddha dapat hidup damai, berbakti pada agama, bangsa dan Negara. Mengingatkan ummat Buddha untuk semakin memperdalam praktek-dhamma, memiliki rasa malu untuk berbuat jahat ( hiri ) dan takut akan akibat perbuatan jahat ( otappa ), memperbanyak sedekah ( dana ), memperteguh moralitas ( sila ), dan memperdalam Samadhi.

Gbr.26

Setelah dhammadesana selesai, kembali diuncarkan paritta-suci. Acara ditutup dengan pembagian “Air-Berkah-Waisak”.

Gbr.12

Acara ini bisa disebut sebagai “GONG”-nya dalam acara perayaan hari raya Waisak di vihara Watugong ini. “Air-Berkah-Waisak”, adalah air-minum yang telah disiapkan, yang sebelumnya diletakkan diatas meja Puja-Bhakti selama prosesi peringatan waisak, dan tentunya ter-influense daya penguncaran Paritta-suci.

Gbr.29

Air yang dipersiapkan ini dipercaya membawa berbagai macam berkah, seperti berkah kesehatan, kesuksesan, dan lain-lain, sebab telah mendapat daya dari penguncaran paritta-suci yang diuncarkan oleh Bhikkhu Sangha serta para ummat, didukung oleh kekuatan bhavana yang dilakukan selama upacara berlangsung.

TEMA WAISAK 2553 BUDDHIST ERA [BE] / 2009 MASEHI

Tema Waisak tahun ini adalah, “Kehadiran Buddha Sumber Keharmonisan dan Keutuhan Bangsa”.

Berikut ini kami cuplikkan tema waisak 2553 Buddhist Era [BE] / 2009 Masehi sebagaimana yang dipublikasikan oleh Sangha Theravada Indonesia :

Gbr.24

SANGHA THERAVADA INDONESIA

Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya,

Jl. Agung Permai XV/12, Jakarta 14350.

Telp (021) 64716739. Faks (021) 6450206.

Vihara Mendut, Kotakpos 111,

Kota Mungkid 56501, Magelang.

Telp (0293) 788236. Faks (0293) 788404.
PESAN WAISAK 2553/2009

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Samagga Sakhila Hotha

Hendaklah saling rukun dan berbaik hati

(Apadà na II)
Samagganang Tapo Sukho

Upaya kelompok orang yang bersatu menimbulkan kebahagiaan

(Dhammapada 194)
Tanggal 9 Mei 2009, umat Buddha memperingati Tiga Peristiwa Suci Waisak; saat Kelahiran, Pencerahan Sempurna, dan Kemangkatan Guru Agung Buddha Gotama. Kelahiran Buddha adalah kemunculan seorang manusia luhur yang kelak mampu memahami Kebenaran Dhamma, Pencerahan Sempurna merupakan penembusan Kebenaran Dhamma secara sempurna oleh seorang Buddha, serta Kemangkatan Buddha adalah perealisasian Kebenaran Dhamma tertinggi atau Parinibbà na. Meskipun guru agung Buddha Gotama telah mangkat dua ribu lima ratus lima puluh tiga tahun yang lampau, tetapi ajaran Kebenaran Dhamma masih tetap dipergunakan sebagai pandangan hidup sebagian umat manusia di dunia dewasa ini, khususnya umat Buddha; karena keberadaan Kebenaran Dhamma melintasi batas ruang dan waktu.
Sangha Theravà da Indonesia mengangkat tema Peringatan Hari Raya Waisak 2553/2009: Kehadiran Buddha Sumber Keharmonisan dan Keutuhan Bangsa. Tema tersebut mengingatkan umat Buddha sekalian bahwa peringatan hari raya Waisak adalah memperingati kehadiran Buddha di tengah-tengah dunia ini. Kehadiran Buddha yang sangat jarang terjadi sungguh merupakan suatu peristiwa yang sangat diagungkan bagi kita, karena kehadiran Buddha sama halnya dengan kehadiran penyebab kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Buddha mengingatkan kepada kita: bangun, jangan lengah, tempuhlah kehidupan benar, siapapun yang menempuh hidup sesuai Kebenaran Dhamma, ia akan berbahagia di dunia ini maupun di dunia selanjutnya.
Ditengah-tengah kehidupan yang senantiasa berubah, segala bentuk perubahan dapat saja terjadi, harapan kita tentu perubahan yang terjadi akan menimbulkan kegembiraan, tetapi tidak jarang terjadi perubahan yang berdampak kesedihan, krisis ekonomi global merupakan salah satu bentuk perubahan dalam kehidupan perekonomian yang menimbulkan kesulitan hidup. Kesulitan akibat krisis ekonomi global itu tidak akan teratasi dengan penyesalan, ketidakberdayaan, bahkan putus asa. Sikap kita yang tepat adalah mempunyai harapan hidup lebih baik untuk mencegah terjadinya penyesalan, memiliki kecerdasan berupaya sebagai pengganti dari ketidakberdayaan, dan mempunyai semangat hidup agar tidak terjadi keputus-asaan. Oleh karena itu sebaiknya umat Buddha sekalian menyikapi perubahan hidup akibat krisis ekonomi global ini dengan sikap mental pantang menyerah, terus berupaya dengan cerdas, mencari jalan keluar sesuai Kebenaran Dhamma.
Tahun 2009 bangsa Indonesia menyelenggarakan pesta demokrasi berupa Pemilihan Umum. Rakyat mempunyai kedaulatan untuk memilih calon legislatif yang akan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat serta Dewan Perwakilan Daerah, dan calon presiden/wakil presiden yang akan menjadi Presiden serta Wakil Presiden selama lima tahun ke depan. Meskipun pilihan umat Buddha sekalian bisa berbeda-beda, tetapi jangan sampai perbedaan pilihan itu menjadi kondisi bagi ketidakrukunan satu sama lain. Karena perbedaan pilihan itu adalah suatu hal yang wajar dalam hidup berdemokrasi, masing-masing orang memiliki kebebasan berpendapat untuk menentukan pilihannya. Kebebasan perlu dilandasi pertanggungjawaban yang jelas. Kebebasan tanpa dibarengi dengan tanggung jawab sosial sama halnya dengan kebebasan yang akan menghancurkan masa depan kehidupan sosial masyarakat. Sebaliknya kebebasan yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab tentu akan memajukan kehidupan sosial masyarakat. Tanggung jawab perlu diterapkan terhadap pilihan kebebasan yang telah dilakukan, dan pilihan kebebasan yang akan dilakukan. Kebebasan tanpa disertai pertanggungjawaban sama halnya dengan perilaku semena-mena untuk memenuhi kepentingan “ego†pribadi ataupun kelompok. Keharmonisan dapat tumbuh berkembang apabila tanggung jawab sosial atau tanggung jawab bersama menjadi perhatian utama diawal perilaku kebebasan yang dipilih. Tanggung jawab sosial dapat terjadi apabila manusia mengembangkan kebijaksanaan dan cintakasih dalam kehidupan bermasyarakat. Bijaksana dalam kehidupan individual dan cintakasih dalam kehidupan sosial, yang kedua-duanya mempunyai tujuan jelas dalam rangka pengembangan Kebenaran Dhamma.

Keutuhan bangsa merupakan hasil upaya mereka yang berjuang bagi kebersamaan meskipun dalam keadaan berbeda-beda. Komitmen kebersamaan perlu dibangun dalam kehidupan berbangsa. Komitmen kebersamaan ini dapat terwujud apabila pemerintah dan rakyat memperhatikan ajaran Buddha yang terdapat dalam Mahà Parinibbà na Suttanta. Kemuliaan suatu bangsa tergantung pada tujuh hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah dan rakyatnya, yaitu: sering mengadakan pertemuan dengan dihadiri banyak peserta, mengakhiri pertemuan dengan hasil kesepakatan bersama, menaati peraturan dan undang-undang yang berlaku, memperhatikan dan menghargai pengalaman orang-orang yang lebih cakap, memperhatikan dan menghargai harkat martabat perempuan, membangun dan menjaga tempat-tempat ibadah di dalam maupun luar kota serta menyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan di tempat-tempat ibadah, dan melindungi orang-orang yang menjalani hidup suci. Kemajuan suatu bangsa bisa diharapkan, bukan keruntuhan, demikian penjelasan Buddha.
Marilah umat Buddha sekalian menghormati Guru Agung Buddha Gotama, baik dalam bentuk ucapan, tingkah laku, dan pikiran. Hendaknya bersikap hormat saat membicarakan Buddha, saat memperlakukan Buddha, dan saat memikirkan Buddha.

Selamat Hari Raya Waisak 2553/2009. Berkah Waisak senantiasa melimpah dalam kehidupan Bapak, Ibu, Saudara, Saudari beserta keluarga, Pemerintah, Bangsa dan Negara Indonesia. Harapan kami agar keharmonisan dan keutuhan bangsa tetap terjaga dan berkembang makin baik.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa, Tiratana, selalu melindungi.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia
Kota Mungkid, 9 Mei 2009
SANGHA THERAVADA INDONESIA

Bhikkhu Jotidhammo, Mahathera

Ketua Umum / Sanghanayaka

SEJARAH SINGKAT VIHARA BUDDHAGAYA WATUGONG, SEMARANG

Vihara Buddhagaya Watugong, Semarang, Jawa-Tengah, merupakan vihara yang pertama berdiri di Indonesia semenjak hancurnya Majapahit dan musnahnya Buddha-Dhamma serta lenyapnya ummat Buddha di Nusantara.

Gbr.13

Berawal dari kedatangan Bhante Naradha Mahathera dari Srilanka di sekitar tahun 1930 Masehi, yang menjadi missionaries Buddhis pertama setelah 500 tahun pasca Majapahit. Menurut sejarah, vihara Buddhagaya Watugong ini resmi didirikan pada tahun 1957.

Watugong tampak depan

Di lokasi vihara ini ditanam “Pohon-Boddhi” [ Pohon yang ‘berjasa’ kepada Sang-Buddha Gotama pada saat mencapai Pencerahan Sempurna ], dan yang menanam tersebut adalah Bhante Naradha Mahathera.

Gbr.15

Dahulu kala, vihara ini tidaklah sebesar dan semegah yang sekarang ini.  Vihara Buddhagaya yang sekarang ini merupakan hasil kerjasama ummat Buddha, terutama disokong oleh para dermawan, donator-donatur yang bajik, dengan niat tulus demi perkembangan Buddha-Dhamma, merenovasi vihara Watugong menjadi sebuah Vihara yang sangat besar, indah, megah.

Pagoda kwan Im1

Dimulai dari tahun 2001, perenovasian itu sudah mulai menunjukkan hasil awalnya yang ditandai dengan diresmikannya Gedung Dhammasala oleh Gubernur Jawa Tengah H. Mardiyanto serta peletakan batu pertama pembangunan Patung Buddha setinggi 36 m oleh Menteri Agama Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawar, MA pada 3 November 2002 lalu.

Selembar daun pohon Boddhi di depan Pagoda ; Vihara Buddhagaya Watugong, Semarang

Selembar daun pohon Boddhi di depan Pagoda ; Vihara Buddhagaya Watugong, Semarang

Gedung Dhammasala yang berdiri di atas lokasi Dhammasala yang lama itu terdiri dari dua lantai setinggi 22 meter dengan ukuran 27 meter kali 27 meter. Lantai I untuk kegiatan pertemuan dan lantai II yang memiliki tinggi sekitar 15 meter digunakan untuk upacara keagamaan. Di lantai II terdapat Rupam Sang Buddha dengan posisi duduk dan ber-mudra ‘memutar roda-dhamma’ yang merupakan duplikasi dari Buddha-rupam di Candi Mendut.

Gbr.14

Meskipun luasnya sudah jauh lebih besar dari Dhammasala yang dulu, namun tetap saja masih tersedia banyak lahan kosong mengingat total luas area yang tersedia sebesar 2,5 hektar. Dana yang digunakan untuk pembangunan Gedung Dhammasala dan sarana penunjangnya yang dimulai sejak Februari 2001 tersebut mencapai 3 milyar rupiah yang membengkak dari anggaran awal karena harga barang-barang naik.

Gbr.31

Sayangnya, vihara Buddhagaya Watugong sekarang ini lebih sebagai objek wisata ketimbang tempat ibadah ummat Buddha. Vihara ini adalah milik “pribadi” Yayasan, dan belum diserahkan kepada Sangha. Oleh karena itu, tidak ada Bhikkhu yang berdiam di Vihara Buddhagaya Watugong, kecuali hanya pada saat-saat ada acara-acara keagamaan, seperti acara puja-Bhakti tertentu, upacara perayaan Katthina, Magha-Puja, dan Waisaka-Puja seperti sekarang ini.

Demikian, laporan pandangan mata perayaan Waisak 2553 BE / 2009 M di vihara Watugong Semarang yang bisa saya sharingkan disini.

Tak lupa, saya mengucapkan, “Selamat merayakan hari raya Tri-Suci Waisak 2553 BE / 2009 M. Semoga, Sang Ti-ratana senantiasa melimpahkan berkah kepada kita semua. Dengan Kehadiran Sang Buddha, damai dan tenteramlah semua makhluk di bumi. Sadhu…sadhu…sadhu… .”

Salam Damai dan Cinta Kasih…,

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajja hontu, Anigha Hontu, Sukhi attanam Pariharantu “

( “Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari penderitaan, bebas dari kebencian/permusuhan/pertentangan/niat jahat, bebas dari kesakitan, bebas dari kesukaran, semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaan mereka masing-masing” )

~ RATANA KUMARO ~

SEMARANG, 10 Mei 2009.

Posted in BUDDHA | 16 Comments »

MEMAKNAI AGAMA DENGAN BENAR

Posted by ratanakumaro pada April 30, 2009

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”

( tikkhattum ; 3X )

Nammatthu Buddhassa,

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Agama adalah sebuah "RAKIT", digunakan untuk menyeberang, bukan untuk diusung-usung dan untuk Berbenturan dengan Batu Karang ;)

Agama adalah sebuah "RAKIT", digunakan untuk menyeberang, bukan untuk diusung-usung dan untuk Berbenturan dengan Batu Karang 😉

Saudara-saudari, para sahabat yang tercinta, pada kesempatan ini saya ingin mengajak kita semua untuk membahas mengenai arti penting dari sebuah agama.

Seringkali, kita keliru memaknai guna dari agama, dan terjebak dalam perdebatan-perdebatan dan pertentangan agama.Perdebatan-perdebatan ini, seakan-akan mengasyikkan, namun sebenarnya, dengan terlibat dalam perdebatan semacam ini, kita justru semakin jauh dari manfaat yang seharusnya bisa kita peroleh dari sebuah agama itu sendiri.

Sang Buddha, pernah menjelaskan mengenai tidak bermanfaatnya pertentangan / perdebatan agama ini, serta menjelaskan bagaimana semestinya agama digunakan / dimanfaatkan. Penjelasan tersebut terdapat dalam Alagaddupama Sutta, Majjhima Nikaya, melalui “perumpamaan ular” dan “perumpamaan rakit”. Perumpamaan ular digunakan Sang Buddha untuk menggambarkan orang yang salah jalan dalam mempelajari Dhamma, dan perumpamaan rakit menggambarkan bagaimana seharusnya Dhamma itu digunakan, yakni sebagai sebuah rakit untuk menyeberangi banjir penderitaan, dan setelah tiba dengan selamat di pantai seberang, kita harus melepaskan rakit itu. Ya, kita harus melepaskan AGAMA pada akhirnya! Demikian Sang Buddha mengajarkan.


PERUMPAMAAN ULAR

Agama adalah "Ular", jika salah menangkap, menyebabkan penderitaan berkepanjangan hingga kematian

Agama adalah "Ular", jika salah menangkap, menyebabkan penderitaan berkepanjangan hingga kematian

Berikut adalah perumpamaan ular yang digunakan Sang Buddha untuk menunjukkan orang yang salah jalan dalam mempelajari Dhamma :


“10. Disini, para Bhikkhu, beberapa manusia yang salah jalan mempelajari Dhamma ~ Khotbah, bait, penjelasan, syair, ungkapan, peribahasa, cerita kelahiran, keajaiban, dan jawaban pertanyaan ~ tetapi setelah mempelajari Dhamma, mereka tidak memeriksa arti dari ajaran-ajaran itu dengan Kebijaksanaan. Karena tidak memeriksa arti dari ajaran-ajaran itu dengan kebijaksanaan, mereka tidak memperoleh penerimaan perenungan dari ajaran-ajaran itu.

Sebaliknya, mereka justru mempelajari Dhamma hanya untuk mengkritik orang lain dan untuk memenangkan perdebatan, sehingga mereka pun tidak mengalami manfaat dari belajar Dhamma. Karena ditangkap secara salah oleh mereka, ajaran-ajaran itu menimbulkan kerugian dan penderitaan bagi mereka untuk waktu yang lama.”


Dengan pernyataan tersebut, Sang Buddha menunjukkan kesalahan yang dilakukan oleh orang yang mempelajari Dhamma namun didasari motivasi intelektual semata, yang pada akhirnya menjadi lubang perangkap bagi siswa tersebut karena akan terjebak pada perdebatan-perdebatan dan pertentangan-pertentangan dengan paham lainnya.

ular

“Andaikan saja ada orang yang membutuhkan ular, mencari ular, berkelana mencari ular. Ketika melihat seekor ular besar, dia menangkap belitannya atau ekornya. Maka ular itu akan membalik padanya dan menggigit tangan atau lengannya atau salah satu bagian tubuhnya, dan  karena itu dia mungkin lalu mati atau mengalami penderitaan yang mematikan.

Mengapa demikian ? Karena dia menangkap ular itu secara salah.

Demikian pula, disini beberapa orang yang salah jalan mempelajari Dhamma…, Ajaran-ajaran itu, karena ditangkap secara salah oleh mereka, menimbulkan kerugian dan penderitaan bagi mereka untuk waktu yang lama.”

“11. Disini, para Bhikkhu, beberapa anggota kelompok mempelajari Dhamma ~ khotbah…jawaban pertanyaan ~ dan setelah mempelajari Dhamma itu, mereka memeriksa arti dari ajaran-ajaran itu dengan kebijaksanaan, mereka memperoleh penerimaan perenungan dari ajaran-ajaran itu. Mereka tidak mempelajari Dhamma untuk mengkritik orang lain atau memenangkan perdebatan, sehingga mereka mengalami manfaat dari belajar Dhamma. Karena ditangkap secara benar oleh mereka, ajaran-ajaran itu menimbulkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi mereka untuk waktu yang lama.”

“Andaikan saja ada orang yang membutuhkan ular, mencari ular, berkelana mencari ular. Ketika melihat ular besar dia menangkapnya secara benar dengan tongkat yang berbelah.

Setelah itu, dia memegangnya secara benar di lehernya.

Kemudian walaupun ular itu mungkin melingkarkan tubuhnya di sekitar tangan atau lengan atau bagian-bagian tubuh orant itu, tetap saja dia tidak akan mati atau mengalami penderitaan yang mematikan karena hal itu.

Mengapa demikian? Karena dia menangkap ular itu secara benar.

Demikian pula, disini beberapa anggota kelompok mempelajari Dhamma…Ajaran-ajaran itu, karena ditangkap secara benar oleh mereka menimbulkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi mereka untuk waktu yang lama.

Oleh karenanya, para Bhikkhu, bila kalian memahami arti pernyataan-pernyataan-Ku,ingatlah hal itu secara benar, dan bila engkau tidak memahami arti dari pernyataan-pernyataan-Ku, maka bertanyalah tentang hal itu kepada-Ku atau kepada para Bhikkhu yang bijaksana.”


Demikianlah, Sang Buddha mengingatkan kita supaya mempelajari Dhamma dengan bijaksana, bukan demi motivasi intelektual semata, namun benar-benar memeriksa arti dari ajaran-ajaran Sang Buddha dengan bijaksana, dan melakukan perenungan-perenungan dengan benar demi tercapainya manfaat sejati dari Dhamma Sang Buddha.


PERUMPAMAAN RAKIT

rakit

Setelah Sang Buddha mengingatkan para siswa-Nya supaya tidak salah jalan dalam memperdalam Dhamma, Sang Buddha melanjutkan pengajaran-Nya kepada para siswa, bahwa Dhamma hanyalah “rakit”, digunakan untuk menyeberang, dan harus dilepaskan / ditinggalkan setelah para siswa berhasil menyeberang, tidak perlu diusung-usung diatas kepala.


“ 13. Para Bhikkhu, aku akan menunjukkan kepadamu bagaimana Dhamma mirip dengan rakit, yang bertujuan untuk menyeberang, bukan dengan tujuan untuk menggenggam. Dengarkan dan perhatikan dengan seksama apa yang akan kukatakan.” – “Ya, Yang Mulia Bhante”, jawab para Bhikkhu.


“Perumpamaan rakit” yang terkenal ini melanjutkan argument yang sama untuk melawan salah penggunaan dari pembelajaran yang diperkenalkan oleh perumpamaan ular sebelumnya. Orang yang gemar menggunakan Dhamma untuk membangkitkan kontroversi dan memenangkan debat berarti mengusung Dhamma ke mana-mana diatas kepalanya, dan bukannya menggunakan Dhamma untuk menyeberangi banjir.


Yang Terberkahi [ Sang Buddha ] berkata demikian :

“ Para Bhikkhu, andaikan saja ada orang yang melakukan perjalanan. Dia melihat suatu hamparan air yang luas. Pantai di dekatnya berbahaya dan mengerikan, sedangkan pantai di seberang itu aman dan tidak menakutkan. Tetapi tidak ada perahu pengangkut atau jembatan menuju pantai seberang. Kemudian dia berpikir; “ Ada hamparan air yang luas ini. Pantai di sebelah sini berbahaya dan mengerikan, sedangkan pantai di seberang sana aman dan tidak menakutkan. Tetapi tidak ada perahu pengangkut atau jembatan menuju pantai seberang. Sebaiknya aku mengumpulkan rumput, ranting, cabang, dan daun, lalu mengikatnya untuk dijadikan rakit, kemudian dengan ditopang rakit itu aku bisa mengerahkan usaha dengan tangan dan kakiku, dan aku bisa sampai dengan selamat di pantai seberang.”

Maka orang tersebut mengumpulkan rumput, ranting, cabang, dan daun, lalu mengikatnya untuk dijadikan rakit; kemudian dengan ditopang rakit itu dia mengerahkan usaha dengan tangan dan kakinya, dan dia sampai dengan selamat di pantai seberang.

Kemudian, ketika telah menyeberang dan tiba di pantai seberang, dia mungkin berpikir demikian; “Rakit ini telah sangat membantuku, karena dengan ditopang olehnya aku bisa mengerahkan usaha dengan tangan dan kakiku, dan aku bisa sampai dengan selamat di pantai seberang. Sebaiknya aku menjunjung rakit ini di kepalaku atau memanggulnya di bahuku, dan kemudian pergi kemanapun aku suka.”

Nah, para Bhikkhu, bagaimana pendapat kalian ? Dengan melakukan hal itu, apakah orang itu melakukan apa yang seharusnya dilakukan dengan rakit tersebut ?”

“Tidak, Yang Mulia Bhante” [ jawab para Bhikkhu]

berakit

“ Dengan melakukan apa maka orang itu melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan terhadap rakit itu?

Disini, para Bhikkhu, ketika telah menyeberang dan tiba di pantai seberang, dia mungkin berpikir demikian : “Rakit ini telah sangat membantuku, karena dengan ditopang olehnya aku bisa mengerahkan usaha dengan tangan dan kakiku, dan aku bisa sampai dengan selamat di pantai seberang. Sebaiknya aku menariknya ke tanah kering atau membiarkannya mengapung di air, dan kemudian pergi kemanapun aku suka.”

Nah, para Bhikkhu, dengan melakukan hal inilah maka orang itu melakukan apa yang seharusnya dilakukan dengan rakit tersebut. Demikian telah kutunjukkan kepadamu bagaimana Dhamma mirip dengan rakit, yang bertujuan untuk menyeberang, bukan dengan tujuan untuk menggenggam.

“Para Bhikkhu, ketika kalian mengetahui bahwa Dhamma mirip dengan rakit, bahkan keadaan-keadaan yang baik pun seharusnya kalian tinggalkan, apalagi keadaan-keadaan yang buruk.”


Nah, demikianlah saudara-saudari, para sahabat yang tercinta, bagaimana Sang Buddha menunjukkan kepada kita cara meggunakan Dhamma dan memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dari Dhamma.

Keterangan dalam Majjhima Nikaya memberikan penjelasan lebih jauh mengenai akhir dari khotbah diatas, “Para Bhikkhu, Aku mengajarkan untuk bahkan meninggalkan nafsu keinginan dan kemelekatan dan keadaan-keadaan yang damai dan tinggi ~ ketenangan ( samatha ) dan pandangan terang ( vipassana ) ~ apalagi pada hal yang rendah, vulgar, menjijikkan, kasar, dan kotor… [ kesenangan-kesenangan indria, terlibat dalam hubungan sex ]“.

berakit-rakit-ke-hulu

Dengan khotbah ini, Sang Buddha menjelaskan bahwa kemelekatan pada keadaan-keadaan yang baik itulah yang harus ditinggalkan, bukannya keadaan-keadaan yang baik itu sendiri. Bagaimanapun, kemelekatan ( upadana ) pada hal apapun, adalah penyebab timbulnya penjadian ( bhavo ).


PENTINGNYA MEMELUK AGAMA

Dewasa ini, seringkali penulis menemukan orang-orang yang berpendapat bahwa kita tidak perlu beragama, yang penting belajar semua ajaran kebajikan dan merangkumnya jadi satu, menjadikannya pedoman tersendiri yang cocok bagi dirinya.

Upacara Peringatan Magha Puja, bentuk ketaatan ummat Beragama ( Buddha )

Upacara Peringatan Magha Puja, bentuk ketaatan ummat Beragama ( Buddha )

Sesungguhnya, langkah ini tidak salah, namun mempunyai kelemahan. Mengapa ? Sebab, dengan demikian kita tidak akan mempunyai satu pegangan hidup yang jelas, dan arah hidup yang jelas. Umumnya, orang-orang yang memilih jalan ini ( tidak beragama ), pada akhirnya menemui kegagalan dalam orientasi spiritualnya.

Setiap agama, pada dasarnya adalah baik, sebab memiliki rambu-rambu yang harus dipatuhi oleh para ummatnya yang menunjukkan hal-hal yang tidak boleh dilakukan dan hal-hal yang sebaiknya dilakukan. Namun, agama-agama tersebut, memiliki nilai-nilai dasar, nilai-nilai filosofis yang masing-masing berbeda satu sama lain. Ketika seseorang mencoba mencampurnya menjadi satu, maka itu bagaikan usaha mencampur berbagai macam masakan sayuran menjadi satu ; lodeh, sayur-bening, oseng-oseng kacang panjang, sayur tahu-terik, sayur rambak-pedas, asinan-petai, Cah Brokoli, soup Tom Yam, dan macam-macam masakan sayuran lainnya menjadi satu. Bukannya suatu cita-rasa nikmat nan sempurna yang didapatkan, namun justru rasa “eneg” ( Jawa : Mblenger ) yang didapatnya.

Atau juga , sinkretisme semacam ini bagaikan usaha seorang politikus mempersatukan berbagai ideology dalam satu campuran ; Komunisme, Agama, Kapitalisme, Nasionalisme, dijadikan satu. Bukan satu persatuan-harmonis yang didapat, namun pertentangan-pertentangan yang akan diperolehnya.

Atau, usaha sinkretisme tersebut , bagaikan seseorang yang kedua kakinya berdiri di dua perahu, bukannya selamat sampai pantai seberang, namun resiko terjatuh dan tenggelamlah yang didapatnya.

Perayaan Waisak di Mendut (2008) ; Bentuk ketaatan ummat Beragama

Perayaan Waisak di Mendut (2008) ; Bentuk ketaatan ummat Beragama

Untuk itu, saudara-saudari, para sahabat yang tercinta, untuk memahami tujuan hidup yang sebenarnya, penulis sangat menyarankan saudara-saudari, para sahabat yang tercinta, untuk memilih dan mengikuti system etika moral [ agama ] tertentu yang memang benar-benar cocok bagi anda. Setelah memeluk suatu agama yang cocok bagi anda, maka kemudian praktekkanlah ajaran agama anda dengan sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya.

Mungkin anda suatu saat merasa perlu mempelajari agama-agama lain sebagai “materi-pengayaan”, sebagai “study-banding”. Hal ini tidak akan menjadi masalah, ketika anda melakukannya setelah anda memeluk suatu agama dan meyakininya. Sehingga, dengan demikian, batin anda tidak akan terombang-ambing, dan orientasi-spiritual anda tetap terjaga.

Dengan mempelajari agama lain, bukannya menjadikan lemah keyakinan ( saddha ) anda, namun justru bertujuan untuk memperteguh keyakinan ( saddha ) anda pada ajaran agama yang telah anda peluk. Study-banding ini, bukan bertujuan untuk melakukan perdebatan-perdebatan, namun untuk menemukan nilai-nilai lebih dan keunggulan ajaran yang anda yakini yang bermanfaat bagi diri anda pribadi, bagi kemajuan pencapaian spiritual anda.

Demikanlah, para sahabat yang tercinta, Agama akan menuntun kita menuju penyadaran diri. Agama memiliki kekuatan moril-spirituil untuk mengubah perangai seseorang dari perangai buruk menjadi bajik, dari tidak mulia menjadi mulia, dari egois menjadi tidak egois, dari kesombongan menuju kerendahan hati, ketamakan menjadi kemurahan-hati, kekejaman menjadi kewelas-asihan dan kelembutan, subjektivitas menjadi objektivitas. Agama akan mengantarkan kita pada pencapaian tingkat spiritual yang lebih tinggi,dan tertinggi, pada pembebasan sempurna dari arus samsara. Dan kelak, setelah tujuan kita tercapai, maka agama ini pun harus kita “lepas”-kan, yaitu bukan untuk diusung-usung diatas kepala untuk diperdebatkan dan dipertentangkan, namun kita lepaskan kemelekatan kita kepada “agama” tersebut supaya kita bebas melangkah kemanapun juga di pantai seberang sana, supaya tidak menyebabkan kita berbentusan dengan pihak lainnya, yang sungguh-sungguh tidak bermanfaat dan membawa kemerosotan pencapaian spiritual seorang ummat beragama. 😉


[ Sumber Kepustakaan : Majjhima-Nikaya, Kitab Suci Agama Buddha, jilid II, Penerbit : Vihara Bodhivamsa, Wisma Dhammaguna, edisi pertama, cetakan pertama, Kathina 2549, Oktober 2005.   Sumber foto-foto :  http://www.ilpks.gov.my/galeri/displayimage.php?album=6&pos=0  ,    http://wenkul.files.wordpress.com/2008/01/snake.jpg  ]

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Salam Damai dan Cinta Kasih…,

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajja hontu, Anigha Hontu, Sukhi attanam Pariharantu “

( “Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari penderitaan, bebas dari kebencian/permusuhan/pertentangan/niat jahat, bebas dari kesakitan, bebas dari kesukaran, semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaan mereka masing-masing” )

~ RATANA KUMARO ~

SEMARANG, 30 APRIL 2009.

Posted in BUDDHA | 86 Comments »

BERAKHIRNYA ERA GOTAMA & MUNCULNYA MAITREYA

Posted by ratanakumaro pada April 19, 2009

BERAKHIRNYA BUDDHISME

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”

( tikkhattum ; 3X )


Nammatthu Buddhassa,

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Rupa Boddhisatta-Metteya ( Kushinagar India ; foto diambil dari Wikipedia Indonesia )

Rupa Boddhisatta-Metteya ( Kushinagar India ; foto diambil dari Wikipedia Indonesia )

Sang Buddha pernah bersabda, bahwa era Ajaran Beliau ( Buddha-Dhamma ) hanya akan bertahan selama lima-ribu ( 5.000 ) tahun, yang bila dihitung sejak era Buddhis pertama kali, yakni kurang lebih 500 tahun SM, maka sekarang Dhamma telah menempuh perjalanan selama kurang lebih 2.500 tahun, dan itu berarti Dhamma hanya akan bertahan 2.500 tahun lagi.

Berakhirnya era Dhamma Sang Buddha Gotama adalah wajar. Sama seperti Buddha-Buddha yang terdahulu, Sang Buddha Gotama juga menjalani siklus yang serupa, yaitu : dimulai dari berjuang menyempurnakan Parami selama empat (4) Asankkheyya-Kappa dan Seratus-ribu ( 100.000 ) Kappa, kemudian dilahirkan kembali sebagai manusia untuk terakhir kalinya, kemudian mencapai Pencerahan-Sempurna, setelah itu lalu memutar-roda Dhamma, membabarkan Dhamma nan mulia kepada makhluk-dunia, akhirnya Parinibbana. Setelah Sang Buddha Parinibbana, maka Dhamma adalah Guru bagi para siswanya untuk dipraktikkan. Seiring waktu berjalan, maka akan terjadilah kemerosotan kwalitas dan kwantitas praktik Dhamma yang semakin lama semakin parah dan suatu saat nanti, Dhamma akan dilupakan sama sekali. Dan kelak, sebelum bumi ini mengalami kehancuran kembali, akan muncul Buddha yang terakhir pada masa Maha-Badda-Kappa ini, ialah Buddha-Metteya.

Rupam Boddhisatta Metteya

Rupam Boddhisatta Metteya


PROSES HANCURNYA BUDDHA-DHAMMA

Sejak masa menjelang akhir era Dhamma Sang Buddha Gotama, dan sampai masa setelah berakhirnya era Sang Buddha Gotama, usia manusia akan semakin pendek yang beriringan dengan kwalitas hidup yang juga semakin menurun, kehidupan manusia dan bermasyarakat semakin kacau, dan merosotnya moralitas menuju ambang batas terendah.

Meskipun demikian, pada masa itu, tetap ada beberapa kelompok manusia yang memilih untuk menyingkir dari kebodohan massal tersebut. Mereka memilih untuk tetap menjaga praktik moralitas dan kebajikan.

Kemudian, dari generasi ke generasi, keturunan manusia akan mulai bertambah usianya seiring dengan kesinambungan praktik moralitas dan kebajikan. Sebagai akibat praktik-praktik moralitas dan kebajikan itulah, usia manusia naik kembali, dari yang semula rata-rata hanya sepuluh (10) tahun , meningkat, terus meningkat, hingga mencapai batas delapan-puluh-ribu ( 80.000 ) tahun. Pada masa usia manusia rata-rata delapan puluh ribu ( 80.000 ) tahun ini, terdapatlah kemakmuran dan kesejahteraan bagi manusia.

Rupam Boddhisatta Metteya

Rupam Boddhisatta Metteya

Setelah itu, kehidupan manusia akan mengalami “fase-turun” ( utkarsa ). Dan pada fase turun inilah, kelak akan muncul Samma-Sambuddha yang berikutnya, yaitu Buddha-Metteya ( Sanskrit : Maitreya ), yang akan mengajarkan kembali Dhamma yang persis sama dengan yang diajarkan para Buddha sebelumnya, membimbing para Dewa dan manusia supaya mereka bisa merealisasikan akhir dari dukkha : NIBBANA.

[ Buddha hanya akan muncul pada fase turun, tapi tidak muncul saat jangka kehidupan manusia telah jatuh dibawah titik jangka kehidupan kritis, saat sikap dan mental manusia sangat inferior sehingga tidak bisa menerima ajaran Buddha. Jangka kehidupan kritis ditafsirkan beraneka ragam, ada yang menafsirkannya sebagai seratus ( 100 ) tahun, delapan-puluh ( 80 ) tahun, bahkan tiga-puluh ( 30 ) tahun. Zaman dibawah jangka kehidupan kritis disebut zaman kegelapan, yang dalam agama lain disebut “Akhir-Zaman”. ]


Dalam Maha-badda-kappa ini, muncul lima Samma-Sambuddha. Sebelumnya, telah muncul tiga Samma-Sambuddha sebelum Sang Buddha Gotama, dan berarti total empat (4) Samma Sambuddha dengan Sang Buddha Gotama. Tiga (3) Buddha sebelum Buddha Gotama tersebut adalah :


1. Buddha Kakusandha,

2. Buddha Konagamana,

3. Buddha Kassapa.

Rupam Boddhisatta Metteya

Rupam Boddhisatta Metteya

Setelah Buddha Gotama, kelak ( sesuai proses yang diterangkan diatas ), maka akan muncullah Samma-Sambuddha berikutnya ( Buddha yang kelima dalam Maha-Badda-Kappa ini ) , ialah Buddha Metteya. Buddha Metteya akan menjadi Buddha yang terakhir dalam siklus kehidupan kita yang sekarang ini, sebelum bumi ini kembali hancur-terurai, mengalami apa yang disebut sebagai “kiamat”.

Pada zaman-zaman Buddha yang lampau , sebelum Buddha Gotama, seringkali terjadi masa kosong yang amat sangat lama sekali dimana dunia ini kosong dari Ajaran-Buddha yang berlangsung antara masa setelah berakhirnya era Buddha terdahulu dengan masa munculnya Buddha yang selanjutnya. Masa kosong itu tak terhitung lamanya. Dalam masa kegelapan itu peradaban manusia telah muncul dan musnah silih berganti.


PROSES MEMUDAR DAN LENYAPNYA DHAMMA SANG BUDDHA GOTAMA


Pada suatu hari ketika Sang Buddha Gotama sedang berdiam di hutan Banyan di Kapilavatthu, Y.A. Sariputta mendekati Beliau dan bertanya tentang Buddha yang berikutnya setelah Sang Buddha Gotama. Kemudian Sang Buddha bersabda, :


“ … Masa dunia kita ini adalah masa yang istimewa. Telah muncul tiga pemimpin dunia, yaitu : Buddha Kakusandha, Buddha Konagamana, dan Buddha Kassapa. Aku sekarang adalah Samma-Sambuddha. Dan akan muncul juga Buddha Metteya sebelum masa dunia ini berakhir. Samma-Sambuddha ini namanya Metteya, Pemimpin Dunia.”

The Next Future Buddha ~ Boddhisatta Ajita Metteya

The Next Future Buddha ~ Boddhisatta Ajita Metteya

Sang Buddha kemudian meneruskan penjelasan tentang bagaimana proses terjadinya kemunduran Buddha-Dhamma hingga kelak kemunculan Buddha-Metteya, yang ditandai dengan adanya lima-kelenyapan :


“ Setelah Aku Parinibbana, akan ada terlebih dahulu lima (5) Kelenyapan. Apakah yang lima (5) itu ? Lenyapnya pencapaian tingkat kesucian ( Sottapana, Sakadagami, Anagami, dan , Arahat ), lenyapnya pelaksanaan benar, lenyapnya Ajaran (Dhamma), lenyapnya simbol/bentuk luar, lenyapnya Relik. Inilah lima kelenyapan yang akan terjadi.


i). LENYAPNYA PENCAPAIAN TINGKAT KESUCIAN


Disini, lenyapnya pencapaian [tingkat-kesucian] berarti bahwa hanya selama seribu ( 1.000 ) tahun setelah Aku Parinibbana, para Bhikkhu masih dapat mencapai Pengetahuan-Analitis ( Patisambhida ) atau tingkat Arahat. Sejalan dengan waktu, para siswa-Ku adalah [hanya] Anagami , Sakadagami, dan Sotapanna. Tingkat pencapaian ini tidak akan lenyap sampai Sotapanna terakhir meninggal. Setelah itu, pencapaian tingkat kesucian pun turut lenyap.

Inilah , Sariputta, lenyapnya tingkat kesucian.”


ii). LENYAPNYA PELAKSANAAN-BENAR


“Lenyapnya pelaksanaan-benar, berarti bahwa : tidak [ ada yang ] mencapai Jhana, pandangan terang, Jalan dan Buah ( Magga dan Phala ), mereka hanay akan menjaga empat (4) kemurnian perilaku ( catuparisuddhi-Sila ), yaitu : Patimokkha-samvara-Sila ( Sila-Kebhikkhuan ), Indriya-Samvara-Sila ( yang berhubungan dengan pengendalian indriya ), ajiva-parisudhi-Sila ( kemurnian-penghidupan ), paccaya-sannissita-Sila ( yang berhubungan dengan empat-kebutuhan-pokok ).

Seiring berjalannya waktu, mereka hanya akan menjaga empat pelanggaran-berat ( parajika ) : menahan diri dari hubungan seksual, mencuri, membunuh, menyatakan diri telah mencapai tingkat kesucian.

Selama masih ada ratusan, atau, ribuan Bhikkhu yang menjaga dan mengingat empat pelanggaran berat , maka pelaksanaan benar belum lenyap. Dengan terjadinya pelanggaran berat oleh Bhikkhu terakhir atau dengan meninggalnya Bhikkhu tersebut, maka pelaksanaan benar juga turut lenyap.

Inilah Sariputta,lenyapnya pelaksanaan-Benar.”


iii). LENYAPNYA AJARAN-BENAR


“ Lenyapnya Ajaran-Benar berarti bahwa selama teks Ti-Pitaka : Vinaya, Sutta , dan Abhidhamma yang merangkum kata-kata Sang Buddha masih tersedia, maka Ajaran belum lenyap. Seiring dengan waktu akan muncul raja-raja / pemimpin-pemimpin negara yang bukan pelaksana Dhamma, pejabat-pejabat di pemerintahan juga bukan manusia [ pengikut ] Dhamma, dan akibatnya warga negaranya juga mengikuti [ tidak menjadi penganut Dhamma ].

Karena itulah [ akibat dari tidak diikutinya lagi Jalan-Dhamma ] , HUJAN TIDAK TURUN SEBAGAIMANA MESTINYA, akan ada GAGAL PANEN, KELANGKAAN BAHAN MAKANAN, dan akibatnya masyarakat tidak mampu lagi menyediakan kebutuhan pokok untuk para Bhikkhu. Akhirnya para Bhikkhu tidak lagi menerima anggota baru, tidak ada lagi orang masuk Sangha. Ajaran secara perlahan lenyap.

Dalam prosesnya, Abhidhamma dahulu yang pertama lenyap, dimulai dengan lenyapnya Patthana, Yamaka, Kattha-vatthu, Puggala-pannati, Dhatu-Kattha, dan seterusnya.

Setelah Abhidhamma lenyap, maka Sutta-Pitaka juga turut lenyap. Pertama, Anguttara Nikaya lenyap, kemudian Samyutta-Nikaya, Majjhima Nikaya, Digha Nikaya, dan seterusnya. Hanya tinggal kisah Jataka dan Vinaya Pitaka yang akan diingat. Hanya Bhikkhu yang teliti yang akan mengingat Vinaya-Pitaka. Kemudian Jataka juga akan lenyap, pertama Vessantara-Jataka, kemudian Apannaka-Jataka, demikian seterusnya sampai seluruh Jataka terlupakan. Kemudian hanya Vinaya-Pitaka yang akan diingat. Seiring berjalannya waktu, Vinaya Pitaka juga akhirnya lenyap.

Selama “empat-bait-syair-Dhamma” masih ada di antara manusia, maka Ajaran belum lenyap. [ Keempat bait syair yang dimaksud adalah : “ Tidak Berbuat Jahat, Perbanyak kebajikan, Sucikan hati dan pikiran, Inilah Ajaran Para Buddha” ]

Ketika Raja yang memiliki keyakinan dalam Dhamma menawarkan satu kantong emas yang diletakkan di punggung gajah, dan menabuh genderang ke seluruh kota sampai dua atau tiga kali, dengan mengumumkan, “ Barangsiapa dapat menyebutkankan syair dari Sang Buddha, biarlah ia mendapat seluruh koin emas ini beserta gajah kerajaan ini”, tetapi ketika tiada seorangpun yang mengetahui keempat bait syair Dhamma tersebut sampai akhirnya kantong koin emas itu harus kembali ke dalam istana lagi, maka itulah lenyapnya Ajaran.”

Inilah Sariputta, lenyapnya Ajaran.”


iv). LENYAPNYA SIMBOL-LUAR


“Seiring berjalannya waktu, masing-masing dari para Bhikkhu dan ‘angkatan’ terakhir membawa jubahnya, mangkuknya, dan tusuk gigi, mengambil buah labu botol dan menjadikannya mangkuk untuk meminta makanan, akan berjalan kesana-kemari dengan labu tersebut di tangannya atau digantung dengan tali. Seiring dengan waktu, mereka berpikir , “ Apa gunanya jubah kuning ini ? “ , dan [lalu] mereka mengguntingnya menjadi potongan kecil kemudian menempelkannya di hidung, kuping, atau rambut. Mereka berkelana sambil menunjang anak dan isteri dengan cara bertani, berdagang dan sejenisnya. Seiring berjalannya waktu, mereka berpikir, “ Apa gunanya ini semua ? “ kemudian setelah membuang potongan jubah kuning, mereka akan mulai berburu binatang dan burung di hutang. Ketika ini terjadi, maka simbol / bentuk luar [pun] lenyap.

Inilah Sariputta, yang dimaksud lenyapnya simbol / bentuk luar.”


v). LENYAPNYA RELIK SANG BUDDHA


“ Kemudian ketika Ajaran Buddha telah berumur lima-ribu (5.000) tahun, Relik-relik Buddha, yang tidak lagi dihormati dan dipuja, akan pergi ke tempat-tempat dimana masih ada penghormatan dan pemujaan. Seiring berjalannya waktu, di semua tempat tidak lagi ditemukan adanya penghormatan dan pemujaan terhadap Relik [Sang-Buddha]. Pada masa itu, ketika Ajaran berangsur terlupakan, semua Relik datang dari berbagai tempat, dari kediaman naga dan alam dewa serta alam Brahma, berkumpul di sekitar pohon Boddhi di Buddha Gaya di mana Sang Buddha mencapai Pencerahan-Sempurna, dan melakukan keajaiban seperti “Keajaiban-Kembar”, kemudian akan mengajarkan Dhamma. Tidak akan ditemukan manusia di tempat itu. Semua dewa dari sepuluh-ribu ( 10.000 ) sistem dunia berkumpul bersama untuk mendengarkan Dhamma dan ribuan jumlah dari mereka akan merealisasikan Ajaran. Mereka akan menangis keras dan berkata, “ Wahai para Dewa, satu minggu dari hari ini Pemilik sepuluh (10) Kekuatan Tathagata akan memasuki Parinibbana.” Dengan terisak mereka berkata: “Mulai saat itu, kita semua berada dalam kegelapan.” Kemudian Relik akan memanas dan terbakar habis tanpa sisa.

Inilah Sariputta, yang dimaksud lenyapnya Relik. “


Demikianlah proses memudar dan lenyapnya Dhamma Sang Buddha Gotama, dalam jangka waktu 5.000 tahun, atau kurang dari 2.500 tahun terhitung sejak hari ini, Buddhasasana dari Sang Buddha Gotama akan berakhir, lenyap sama sekali tanpa sisa.


PENJELASAN MENGENAI KEMEROSOTAN MORAL DAN MEMENDEKNYA USIA MANUSIA

Boddhisatta Ajita Metteya

Boddhisatta Ajita Metteya

Hubungan antara kemerosotan moral dan memendeknya usia manusia, dapat disimak dalam ringkasan khotbah Cakkavattishanada Sutta :


“ Wahai Raja, rakyatmu yang raja perintah berdasarkan ide dan caramu sendiri yang berbeda dengan cara-cara yang mereka ikuti dahulu, tidak sukses seperti apa yang mereka biasa capai di masa raja-raja terdahulu yang melaksanakan kewajiban maharaja yang suci… .

Karena raja tidak berdana kepada orang-orang miskin maka kemelaratan bertambah… dengan demikian pencurian main mewabah… kekerasan meluas dengan cepat, pembunuhan menjadi biasa.

Karena pembunuhan terjadi maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan pada masa itu adalah 80.000 tahun akan tetapi usia kehidupan anak-anak mereka hanya 40.000 tahun.

Demikianlah karena kemelaratan meluas…pembunuhan…hingga berdusta menjadi biasa…usia kehidupan mereka hanya 20.000 tahun. Kemudian kemelaratan meluas… berdusta… hingga memfitnah berkembang… usia kehidupan anak-anak mereka hanya 10.000 tahun. Kemelaratan meluas…memfitnah… berzinah… kata0kata kasar dan membual… iri hati dan dendam berkembang… pandangan sesat… berzinah dengan saudara sendiri, keserakahan, pemuasan nafsu… kurang berbakti kepada orangtua, kurang hormat pada samana, dan petapa, serta kurang patuh pada pimpinan masyarakat berkembang dan meluas. Karena hal ini berkembang meluas maka batas usia kehidupan dan kecantikan berkurang, sehingga batas usia kehidupan pada masa itu adalah 250 tahun akan tetapi batas usia anak-anak mereka hanya 100 tahun.

… Akan tiba suatu masa ketika keturunan dari manusia itu akan mempunyai usia kehidupan hanya 10 tahun… umur 5 tahun bagi wanita merupakan usia perkawinan. Pada masa kehidupan orang-orang ini, makanan seperti padi , susu, mentega, minyak, tila, gula, garam , akan lenyap. Bagi mereka biji-bijian kudrusa akan merupakan makanan terbaik… Pada masa orang-orang itu sepuluh macam cara melakukan perbuatan jahat akan berkembang cepat.

… Di antara mereka tidak ada lagi rasa berbakti kepada orangtua, tidak ada lagi rasa menghormat kepada para samana dan petapa, serta tidak ada lagi kepatuhan kepada pimpinan masyarakat… tidak ada lagi [pikiran yang membatasi] untuk kawin dengan ibu, bibi… Dunia diisi oleh cara bersetubuh dengan siapa saja, bagaikan domba, kambing, burung, babi, anjing, serigala.

Boddhisatta Metteya

Boddhisatta Metteya

… Akan tiba suatu masa, yaitu munculnya pedang selama seminggu. Selama masa ini mereka akan melihat individu lain sebagai binatang liar… dengan pedang mereka akan saling bunuh.

Sementara itu ada orang-orang tertentu berpikir, “Sebaiknya kita jangan membunuh atau kita tidak membiarkan orang lain membunuh kita. Marilah kita menyembunyikan diri kedalam belukar… Marilah kita berbuat kebajikan-kebajikan”. Mereka akan berusaha untuk tidak membunuh… Karena melaksanakan kebajikan ini maka akibatnya batas usia dan kecantikan bertambah. Bagi mereka yang batas usia kehidupannya hanya 10 tahun, akan tetapi batas usia anak-anak mereka mencapai 20 tahun.

“…Marilah kita berusaha untuk tidak mencuri….tidak berzinah…tidak mengucapkan kata-kata kasar…tidak membual…tidak serakah…tidak membenci…tidak berpandangan sesat…tidak bersetubuh dengan keluarga sendiri… tidak tamak dan tidak memuaskan nafsu. Marilah kita berbakti kepada orangtua kita , menghormat kepada para samana dan petapa, serta patuh kepada pemimpin bangsa.”

Karena mereka melaksanakan kebajikan-kebajikan…sehingga bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya 20 tahun…anak-anak mereka mencapai 40 tahun…80 tahun…4.000 tahun…20.000 tahun…40.000 tahun…anak-anak mereka mencapai batas usia kehidupan 80.000 tahun… .

…Dalam masa kehidupan orang-orang ini, di dunia akan muncul seorang Bhagava-Arahat-Sammasambuddha bernama Metteya…Dhamma, Kebenaran…akan dibabarkan…kehidupan suci akan dibina dan dipaparkan…seperti yang Aku lakukan sekarang. Beliau akan diikuti oleh beberapa ribu Bhikkhu, seperti Aku sekarang ini.”

Demikianlah penjelasan mengenai kaitan antara proses merosotnya moralitas dengan menurunnya batas usia kehidupan manusia.


MUNCULNYA AJARAN SALAH


Menjelang berakhirnya era Buddha-Gotama, akan banya muncul ajaran salah dan Dhamma palsu yang muncul dimana-mana dengan berbagai label dan gaya.

Ajaran salah ( miccha-dhamma ) , ialah :


1. semua jenis ajaran dan praktik keagamaan yang pada intinya tidak mampu untuk melihat bahaya dari “samsara” ( lingkaran kelahiran dan kematian ),

2. Kepercayaan bahwa dalam masa sekarang ini magga dan phala ( tingkat-kesucian ) sudah tidak mungkin dicapai lagi, kecenderungan untuk menunda-nunda praktik Sila, Samadhi, dan Panna karena menunggu masaknya Parami,

3. Kepercayaan bahwa orang-orang di masa sekarang ini semuanya hanyalah makhluk “dvi-hetuka” ( hanya punya dua kondisi akar yagn baik, yaitu : a-lobha dan a-dosa ), dan tidak memiliki akar a-moha , sehingga tidak munkin mencapai kesucian dalam kehidupan yang sekarang ini.

4. Kepercayaan bahwa Guru-guru suci di zaman dahulu tidak pernah ada, dan berbagai kepercayaan lain-lain. Semua ini berpotensi menciptakan kerusakan pada Dhamma ( dhammantarayo ).

Pu Tai He Sang ( Bhiksu Berkantong Kain ) ~ Pada abad ke-10, Sekte Maitreya meyakininya sebagai reinkarnasi dari Boddhisatta Metteya ; BENARKAH ?? ( Kontroversial )

Pu Tai He Sang ( Bhiksu Berkantong Kain ) ~ Pada abad ke-10, Sekte Maitreya meyakininya sebagai reinkarnasi dari Boddhisatta Metteya ; BENARKAH ?? ( Kontroversial )

Mengenai kepercayaan akan terdapatnya makhluk dvi-hetuka saja pada masa sekarang, maka , sesungguhnya, meskipun kita adalah dvi-hetuka, asalkan kita berupaya melatih diri dalam dhamma maka dalam kelahiran selanjutnya kita bisa menjadi ti-hetuka. Sebaliknya, bila kita sendiri malas untuk melatih diri, maka kita sangat mungkin terperosok ke tingkat a-hetuka ( tanpa kondisi akar yang baik ) dalam kehidupan selanjutnya.


Ada tiga jenis / golongan manusia, yang berkaitan dengan hal ini :


1. Padaparama

2. yang lebih unggul ; Neyya

3. yang terunggul : Niyata-vyakarana


Yang dimaksud dengan golongan Padaparama ialah, ibarat orang sakit yang tidak mungkin sembuh, dan pasti mati akibat sakitnya walau bagaimanapun ia berupaya berobat. Ini menggambarkan orang yang tidak mungkin mencapai kesucian dalam kehidupan sekarang, tetapi masih punya kesempatan dalam kelahiran selanjutnya baik di alam manusia ataupun alam dewa, masih di era Buddhasasana yang sekarang ataupun pada era Buddha selanjutnya tergantung kesempurnaan Parami dan upaya yang bersangkutan.

Jenis manusia yang lebih unggul adalah Nevya, yang diumpamakan sebagai orang sakit yang akan sembuh bila makan obat yang tepat, tetapi mungkin juga tidak sembuh dan mati bila gagal mendapat pengobatan yang tepat. Artinya, ia masih mungkin dapat mencapai kesucian dalam masa kehidupannya yang sekarang ini juga jika ia melaksanakan dan melatih apa yang seharusnya demi mencapai tujuan mulia tersebut. Bila galgal dalam kehidupan yang sekarang maka ia masih punya kesempatan di kelahiran selanjutnya.

Pu Tai He Sang ; Sekte Maitreya Abad X menjulukinya sebagai "BUDDHA-KETAWA", "BUDDHA-MI LE", "JU LAI FO" ( Buddha yang akan datang ) ; BENARKAH ?? ( Kontroversial )

Pu Tai He Sang ; Sekte Maitreya Abad X menjulukinya sebagai "BUDDHA-KETAWA", "BUDDHA-MI LE", "JU LAI FO" ( Buddha yang akan datang ) ; BENARKAH ?? ( Kontroversial )

Jenis manusia yang ketiga adalah yang terunggul, ialah Niyata-vyakarana, yaitu manusia yang telah mendapat kata-kepastian bahwa kelak ia akan menjadi Buddha dari Buddha yang lampau.Yang terakhir ini adalah jenis dari para Boddhisatta atau calon Samma-Sambuddha.

Nah, kita kebanyakan adalah golongan Nevya, sehingga, sebaiknya dalam era Buddhasasana sekarang ini terus mengumpulkan benih carana ( perbuatan benar ) dengan cara mempraktikkan :


1. Dana,

2. Sila,

3. Samadhi.


Sedangkan untuk golongan Padaparama dihimbau untuk mengumpulkan benih carana supaya kelak terlahir di era Buddhasasana yang akan datang sekaligus mencapai pembebasan dari dukkha pada saat itu juga.


Sarat yang harus dipenuhi bagi golongan Padaparama adalah :


1. Dana,

2. Uposatha-Sila, dan

3. Tujuh Sad-Dhamma


Sad-Dhamma tersebut adalah :


1. Saddha ( keyakinan )

2. Sati ( perhatian-murni )

3. Hiri ( malu berbuat salah )

4. Ottapa ( takut akibat perbuatan jahat )

5. Bahusacca ( Belajar-Dhamma )

6. Viriya ( Semangat dan ketekunan )

7. Panna ( kebijaksanaan ).


Semua praktik ini adalah bagian dari akumulasi menuju kesempurnaan Parami.


Hanya jika seorang Padaparama telah memiliki benih vijja kebijaksanaan / kelompok Panna ) dan benih carana ( perbuatan benar / kelompok Sila dan Samadhi ) yang cukup barulah ia dapat mencapai pembebasan dari dukkha dalam kelahiran selanjutnya. Vijja bagaikan sepasang mata untuk melihat, dan Carana bagaikan kaki untuk berjalan ataupun sayap untuk terbang. Keduanya saling melengkapi dan menguatkan.

VERSI TIONGKOK : Pu Tai He Sang ~ Maitreya ? BENARKAH ???

VERSI TIONGKOK : Pu Tai He Sang ~ Maitreya ? BENARKAH ???


KESIMPULAN


Kita yang hidup sekarang ini, seharusnya bersyukur, karena kita hidup dalam era Buddhasasana, ialah era Dhamma Sang Buddha Gotama. Adalah keliru jika masa Buddha-Gotama telah berakhir, sebab, masa berakhirnya Buddha-Gotama [sesuai sabda Sang Buddha sendiri, dan melihat berbagai prasayarat-pengkondisian / fakta-fakta] masih 2.500-an tahun lagi.

Dengan demikian, Buddha-Metteya, belumlah muncul pada masa sekarang ini.  Meskipun demikian, semua ummat Buddha tentunya menghormati Beliau, yang saat ini sedang berada di alam surga Tusita ( Tusitabhumi ), tingkat kelima dari alam Sugati ( surga Kammadhatu ) . Buddha-Metteya akan muncul [ terlahir di alam manusia ] kelak saat Utkarsa / fase-turun, setelah manusia mencapai ambang batas usia 80.000 tahun, namun tidak saat jangka kehidupan manusia telah jatuh dibawah titik jangka kehidupan kritis, saat sikap dan mental manusia sangat inferior sehingga tidak bisa menerima ajaran Buddha.

Karena itulah, di masa Buddhasasana yang sekarang, hendaknya kita tekun melatih diri dalam Dhamma yang dibabarkan Sang Buddha, demi tercapainya kebahagiaan dan pembebasan dari arus samsara.

( Sumber Pustaka : Majalah Dhammacakka ; Jakarta, 2006 )

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

RATANA-KUMARO ( Ratna Kumara )

Semarang-Barat,Minggu, 19 April 2009

Posted in BUDDHA | 113 Comments »

KONTROVERSI BUDDHA-BAR

Posted by ratanakumaro pada April 17, 2009

BUDDHA BAR & KAPITALISME

Oleh: Ponijan Liaw

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”

( tikkhattum ; 3X )

Nammatthu Buddhassa,

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Berikut ini adalah tulisan dari Bp. Ponijan Liaw, seorang ummat Buddha yang sudah sangat terkenal di kalangan Buddhis. Artikel ini merupakan kiriman seorang sahabat baik, seorang kalyanamitta, bagi rekan-rekan blogger yang sudah lama berkecimpung di dunia maya ini sudah pasti kenal, namun tidak bisa saya sebutkan namanya, karena saya belum minta ijin pada Beliau.

Tulisan ini menyikapi perkembangan kontroversi dari keberadaan Buddha Bar, yang menggunakan simbol-simbol agama Buddha bagi kepentingan bisnis, dan bisnis tersebut adalah bisnis tempat “hiburan”, yang sarat minuman keras, dan hal-hal lain, yang bertentangan dengan nilai-nilai Buddhisme.

Semoga postingan wacana dari Bp. Ponijan Liaw ini, yang telah saya percantik dengan foto-foto sebagai ilustrasi, bisa membawa manfaat. Selamat Membaca 😉 .

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ratusan mahasiswa dari dari Aliansi Mahasiswa Buddhis menyegel Buddha Bar di Jl. Jalan Teuku Umar, Jakarta, Kamis (5/3). Mereka mengecam keberadaan Bar itu

Massa yang tergabung dalam Persatuan Budhis Banten menggelar aksi penuntutan penutupan Buddha Bar di pintu barat Monas, Jakarta Pusat, Senin (16/3).


Kecewa, tersinggung dan marah. Itu barangkali yang paling pas menggambarkan situasi yang menguras energi kognisi dan afeksi satu elemen warga bangsa ini: umat Buddha karena eksistensi Buddha Bar di kawasan elit Jakarta. Kehadiran bar ini berhasil menggelorakan dan merekatkan semangat persatuan seluruh komponen Buddhis dari berbagai tradisi dan lokasi. Suatu pertanda bahwa ada sebuah peristiwa yang luar biasa tengah berlangsung di panggung kehidupan ini.

Terminologi ’Buddha’ yang mengandung multimakna sakral: tokoh panutan, yang tercerahkan, dan tujuan akhir kemana umat menuju, telah diabrasi dan dinistakan oleh kapitalisme global di kancah nasional. Kapitalisme machiavelistis semacam ini tentu tidak dapat dijadikan tradisi apalagi transaksi. Disana ada simbol-simbol suci yang dihormati dan diagungkan.

Dunia telah mencatat betapa praktik semacam ini telah mengalami badai protes yang tiada pernah akan surut. Lihat saja, bagaimana ketika di pusat bisnis Mid Town Man Heaton di New York, akan dibangun sebuah bar dengan nama Apple Mecca, yang bagi keyakinan muslim, nama ini tentu tidak asing berarti Ka’bah Macca/Mecca. Apalagi dengan desain eksterior depan yang menyerupai ka’bah. Berbagai kecaman datang menghujani sang kapitalis, Apple Computer. Perusahaan yang terkenal dengan produk iPod-nya itu dituduh telah menghina Islam dengan pendirian bar dimaksud. Apa pasalnya? Sebagaimana lazimnya bar, bar ini dapat dipastikan menyajikan minuman beralkohol, anggur (wine) maupun minuman yang memabukkan lainya. Masyarakat Muslim New York melakukan penekanan kepada pemerintah setempat untuk tidak memberi lisensi bar ini. Dan, akhirnya proyek itu tidak berjalan sebagaimana direncanakan.

Massa yang tergabung dalam Persatuan Budhis Banten menggelar aksi penuntutan penutupan Buddha Bar di pintu barat Monas, Jakarta Pusat, Senin (16/3).

Ratusan mahasiswa dari dari Aliansi Mahasiswa Buddhis menyegel Buddha Bar di Jl. Jalan Teuku Umar, Jakarta, Kamis (5/3). Mereka mengecam keberadaan Bar itu

Di Inggris ada sebuah contoh lain soal ini. Ada sebuah ajuan proposal untuk membuka sebuah korporasi dengan nama Yesus. Perdebatan panjang pun terjadi antara sang pemohon dan badan pencatatan hak merek dagang. Padahal tempat itu bukanlah bar yang dilarang oleh hampir semua agama dan produk yang akan dijual di toko itu bukan pula alkohol dan sejenisnya. Yang akan didagangkan disana adalah sabun, parfum, alat-alat optik, logam mulia, kulit, tekstil, garmen, dan lain-lain. Sang pemohon lisensi berdalih bahwa nama Yesus adalah nama depan banyak orang di Inggris. Buktinya, ada terdapat sedikitnya 27 nama Yesus dalam London Telephone Directory. Namun, pejabat perijinan tetap bersikukuh bahwa nama itu lebih identik dengan nabi pembawa agama ketimbang nama pribadi masyarakat awam. Apalagi komunitas Inggris, mayoritas kristen.

Alasan penolakan lainnya adalah Konvensi Paris 1883 tentang Perlindungan Kekayaan Industri yang ditandatangani juga oleh negara kerajaan itu. Dalam pasal 6 konvensi itu jelas dinyatakan bahwa sebuah proposal harus ditolak jika dianggap bertentangan dengan moralitas dan tatanan kehidupan masyarakat. Akhirnya nama Yesus sebagai korporasi komersial tidak dicatatkan di negara liberal tersebut.

Kembali ke persoalan domestik: Buddha Bar. Ada sebuah ironi fundamental yang fatal disini. Bagaimana merek dagang restoran waralaba ini bisa terdaftar di Perancis pada 26 Juli 1999, sementara negara ini menjadi tuan rumah Konvensi Paris 1883 yang memuat substansi penghormatan terhadap moral dan norma-norma kehidupan? Disini, ada cacat sejarah dan prosedur pencatatan merek global ini di negara asalnya. Melalui negara-negara anggotanya, baik yang menandatanganinya di konvensi awal mau pun yang meratifikasinya kemudian (termasuk Indonesia), perlu kiranya melakukan peninjauan kembali atas semua itu.

Sekitar 200 umat Budha dari Majelis Agama Budha Theravadda Indonesia (Magabudhi) berdemo di depan Budha Bar di Jl Teuku Umar, Jakpus

Sekitar 200 umat Budha dari Majelis Agama Budha Theravadda Indonesia (Magabudhi) berdemo di depan Budha Bar di Jl Teuku Umar, Jakpus


Dalam lingkup Indonesia, eksistensi Buddha Bar, paling sedikit bersinggungan dengan beberapa aspek: legal, moral dan spiritual. Pertama, secara legal, jelas sekali ia bertentangan dengan UU No. 15/2001 tentang Merek. Di pasal 5 jelas dinyatakan bahwa merek tidak dapat didaftar apabila merek tersebut mengandung salah satu unsur di bawah ini: bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, moralitas agama, kesusilaan, atau ketertiban umum. Artinya, apa yang boleh dibangun di luar, dengan berlindung di bawah payung waralaba, tidak serta-merta bisa didirikan disini. Apabila merek dimaksud bertentangan dengan nilai-nilai sosial-religius masyarakat lokal.

Ambil contoh, judi. Di Malaysia ada Genting Highlands, tempat resmi untuk berjudi. Apakah Indonesia bisa mengikutinya? Tentu tidak! Karena ada undang-undang yang memberikan koridor atas apa yang boleh dijadikan usaha dan tidak. Ada limitasi konstitusi disini. Jika mengacu pada logika sederhana tersebut, jelas kehadiran Buddha Bar dapat dipahami sebagai sebuah irisan tajam ke ulu hati para penganut agama ini.

Thailand, Singapura dan Malaysia saja dengan tegas telah menolak kehadiran bar macam ini. Bagaimana negeri ini bisa mengamini pendiriannya? Produk hukum berikut yang dilanggar oleh pendirian bar ini adalah kesepakatan Konvensi Paris 1883 yang telah diratifikasi dengan Keputusan Presiden RI No. 15 tahun 1997. Disana dengan jelas diuraikan bahwa hal-hal yang bertentangan dengan moral dan tatanan kehidupan masyarakat tidak boleh mendapatkan ijin. Lebih jauh lagi, UU No 1/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, khususnya pasal 156 juga mengatur hal senada. Dan, yang paling anyar dipublikasikan ke masyarakat adalah soal tempat Buddha Bar itu sendiri, yakni gedung kuno eks kantor imigrasi Belanda. Ada UU No 5 tahun 1992 tentang cagar budaya yang mengaturnya disana.

"Kesatuan Umat Beragama Tolak Buddha-Bar dan Penistaan Agama" ; Demo didepan Gedung Departemen Pariwisata, Senin 30 Maret 2009, 13.00 WIB /sd sore

"Kesatuan Umat Beragama Tolak Buddha-Bar dan Penistaan Agama" ; Demo didepan Gedung Departemen Pariwisata, Senin 30 Maret 2009, 13.00 WIB /sd sore

Menurut pasal 19 ayat 2 (b) dijelaskan bahwa pemanfaatan benda cagar budaya tidak dapat dilakukan semata-mata untuk kepentingan pribadi dan/atau golongan. Kemudian juga dalam konteks kepariwisataan, pemanfaatan peninggalan purbakala, peninggalan sejarah, seni budaya menurut pasal 6 UU No 9 tahun 1990, harus memperhatikan nilai-nilai agama, adat-istiadat, serta pandangan dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Mengapa kedua UU ini tidak menjadi acuan legal-formal ketika perijinan pendirian bar itu akan dieksekusi? Ada kesenjangan pemahaman publik dan masyarakat soal ini. Namun, untuk poin terakhir ini (UU No 5 tahun 1992), khalayak perlu bersyukur karena KPK akan segera menelusurinya. Kedua, kontradiksi pendirian Buddha Bar bersinggungan dengan moralitas.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, bar adalah tempat minum-minum (biasanya minuman keras, seperti anggur, bir, wiski). Jelas dan terang. Mau kemana nasib anak bangsa (terutama generasi mudanya yang mencapai 80 juta jiwa) ini akan dibawa jika lisensi bar semacam itu terus diberi? Ini menjadi tugas KPK berikutnya untuk meneliti proses transaksi lisensi negeri ini yang katanya paling tidak transparan sedunia. Ketiga, secara spiritual, jelas penggunaan simbol-simbol suci keagamaan mana pun oleh para kapitalis pasti akan terus mendapatkan kecaman dan tentangan sepanjang sejarah kehidupan manusia. Tengok saja bagaimana fluktuasi emosi massa mengemuka ketika simbol-simbol agama dipakai secara tidak semestinya di Denmark (kasus kartun Nabi Muhammad) dan cover Tempo beberapa waktu lalu tentang ’The Last Supper’ itu muncul. Deretan kasus lainnya: cover album Iwan Fals ’Manusia 1/2 Dewa’ harus berurusan dengan umat Hindu, termasuk juga cover buku Supernova, Dewi Lestari yang memuat simbol/huruf AUM yang merupakan simbol suci umat Bali itu. Termasuk juga suatu kali desain poster film Amerika ”Hollywood Buddha” dengan seorang pria duduk di atas pundak patung Buddha dengan alat vitalnya menyentuh tengkuk Buddha. Reaksi keras dari dunia pun bertubi-tubi menghampiri.

Sejarah telah mengajarkan kepada kita, berhati-hatilah dengan penggunaan simbol keagamaan. Simbol tidak tepat menimbulkan kontroversi yang hanya menguras energi kognisi dan afeksi sehingga menumpulkan simpul-simpul humanitas alami. Kondisi ini, jika tidak segera diatasi akan menjadi bom waktu dalam jangka panjang. Untuk itu, alangkah bijaksana jika sederet peraturan (pusat & daerah) dan undang-undang selalu dijadikan acuan sebelum sebuah lisensi dieksekusi. Sistem komputerisasi peraturan harus mampu mengakses aturan yang menjadi syarat sebuah lisensi bisa dieksekusi. Hal ini bukan hanya untuk menjaga wibawa lembaga melainkan juga memberikan ketentraman lahir dan batin bagi komunitas yang akan terikat olehnya.

Sebagai penutup, kiranya hasil konferensi agama-agama monoteis yang disponsori Arab Saudi di Madrid Spanyol, Juli 2008 lalu perlu didukung. Konferensi itu menghasilkan sebuah komunike bersama yang isinya antara lain menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-banga (PBB) agar segera membuat kesepakatan internasional yang menyatakan bahwa menghina atau melecehkan agama lain merupakan tindakan kriminal, serta kesepakatan tentang upaya melawan terorisme. Lebih lanjut, konferensi yang dihadiri oleh 200 peserta dari berbagai latar belakang agama itu memutuskan perlu adanya kesepahaman tentang pentingnya saling menghormati setiap agama dan simbol-simbol keagamaan, dan bagi siapa pun yang melanggarnya dianggap telah melakukan tindakan kriminal. Sebuah keputusan bajik dan bijak.

Semoga dengan mengedepankan hati nurani, para penggiat di PBB akan segera mengadopsi nilai-nilai intrinsik mulia itu sehingga tidak akan ada lagi praktik kapitalisme barbar di muka bumi ini. Semoga.

__________________

“Jangan menipu orang lain, atau menghina siapa saja; Jangan karena marah dan benci, mengharap orang lain celaka.”

( Karaniyamettasutta ; Palivacana )

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

Posted in BUDDHA | 40 Comments »

PENYEMBAH BERHALA ?!

Posted by ratanakumaro pada April 9, 2009

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”

( tikkhattum ; 3X )

Nammatthu Buddhassa,

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,


Artikel ini saya buat untuk menjawab banyak tudingan-tudingan dari masyarakat kebanyakan, yang menyatakan bahwa ummat Buddha adalah penyembah berhala. Artikel ini juga bertujuan mengingatkan, sebelum anda mencap suatu praktik keagamaan, sebaiknya anda pelajari dulu, anda mengerti dulu, apa yang dipraktikkan tersebut.

Bagaimanapun, tudingan-tudingan yang menyudutkan bahwa orang lain mempraktekkan penyembahan berhala, adalah tudingan yang cukup menyakitkan hati bagi orang-orang yang disudutkan tersebut. Semoga, dengan artikel ini, tidak ada lagi yang saling menuding bahwa seseorang penganut kepercayaan yang berbeda dengan dirinya, sebagai penyembah berhala, hanya karena terdapatnya simbol-simbol keagamaan mereka.


MEJA PUJA

Meja Puja di rumah

Meja Puja di rumah

Diatas itu , adalah Meja-Puja yang ada dirumah tempat tinggal saya. Di ruangan tersebut, didepan meja-puja itu, saya biasa menghabiskan waktu selama 3-4 jam, sekitar jam 20.00 WIB s/d 24.00 WIB , untuk melakukan Puja-Bhakti setiap harinya. Rutinitas saya , adalah chanting / membaca Paritta selama satu jam, kemudian melakukan Bhavana ( pengembangan batin ) / samadhi selama 3 jam sisanya. Atau, terkadang tanpa chanting, hanya vandana, namakara-gatha, puja-gatha, Pubbabhaganamakara, dan Tisarana, kemudian saya lanjutkan dengan samadhi selama 3-4 jam.

Buddha-rupam ( Rupam = rupa, wajah, image ; Buddha-rupam = Image Sang Buddha ) yang di meja teratas, adalah Buddha-rupam dari Thailand, berlapis emas. Buddha-rupam itu menggambarkan posisi Sang Buddha sesaat setelah mencapai Pencerahan Sempurna, Beliau berdiam di tepi danau Muccalinda selama tujuh hari dan kemudian Raja Naga yang tinggal di dasar danau tersebut ingin melakukan persembahan yang berharga pada Sang Buddha, dengan melingkari tubuh Sang Buddha sebanyak tujuh lingkaran dan menaungi Sang Buddha dengan tujuh-kepalanya, dengan tujuan melindungi Sang Buddha dari hujan lebat selama tujuh hari berturut-turut ( hujan ini hanya terjadi pada dua peristiwa ; 1. Saat munculnya Raja-Dunia ; 2. Saat munculnya seorang Samma-Sambuddha ).

Bantalan untuk duduk Samadhi di Ruang Puja-'ku' ;)

Bantalan untuk duduk Samadhi di Ruang Puja-'ku' 😉

Buddha-rupam tersebut ( juga yang kecil, yang di meja lebih rendah. Buddha-rupam yang kecil itu berasal dari India ), merupakan pemberian seorang bijak dan bajik, sebagai hadiah untuk saya, sebagai cindera mata Beliau dari negeri Thailand dan India. Yah, semacam oleh-oleh… 😉 Daripada oleh-oleh berupa benda-benda yang tidak bermanfaat, maka saya memilih oleh-oleh berupa Buddha-Rupam yang berguna dan menunjang rutinitas saya berpuja-bhakti dan samadhi setiap harinya. 😉

Pernak-pernik di atas meja Puja itu bukannya tanpa makna, semuanya memiliki makna sendiri-sendiri. Ada tiga elemen utama dalam meja-puja, yaitu : Nyala-api, Bunga, dan Dupa.

1). Nyala api lilin, melambangkan kebijaksanaan, pencerahan, yang melenyapkan kebodohan batin, kegelapan. Sembari menyalakan api lilin, siswa Sang Buddha bertekad dalam hati, untuk mampu melenyapkan kebodohan batin dan mencapai Pencerahan-Sempurna.

2). Bunga ; Bunga melambangkan harta dunia yang diinginkan para makhluk, sebab nampak indah, menyenangkan indera, berbentuk indah, berbau harum, bertekstur halus / lembut, dan mempunyai sari-sari bunga yang manis. Melalui bunga tersebut, siswa merenungkan dalam batin, bahwa meskipun bunga ( keduniawian ) nampak indah dan menyenangkan, namun patut direnungkan dengan bijaksana, bahwa semua hal di dunia ini, sesungguhnya bersifat tidak-kekal ( anicca ), dan karena tidak kekal maka menyebabkan timbulnya derita, kesedihan ( dukkha ), dan tiadanya inti-diri yang abadi disana ( An-atta ). Saat meletakkan bunga-bunga di meja Puja, siswa Sang Buddha merenungkan ketiga hal tersebut, “Anicca, Dukkha, Anatta”.

3). Dupa ; Dupa ini melambangkan harumnya kebajikan, moralitas, pengendalian batin / pikiran, dan kebijaksanaan yang mempesona dan menyebar kemana-mana. Para Bijaksana, dikenal, dikenang, tak terbatas ruang dan waktu, selama berabad-abad, diseluruh penjuru dunia, kebajikan-moralitas-pengendalian batin-kebijaksanaannya, dipuji oleh para makhluk. Mengenai hal ini, Sang Buddha menggambarkannya dalam syair berikut ini :

“ Appamatto ayam gandho,

Yayam tagaracandani

Yo ca silavatam gandho,

Vatti devesu uttamo.

( Dhammapada; IV-13 ; Puppha-Vagga ) “

Arti :

“ Tak seberapa harumnya bunga melati dan kayu cendana,

Jauh lebih harum mereka yang memiliki Sila ( Moralitas, kebajikan ),

Nama harum mereka tersebar diantara para Dewa di alam Surga. “


APAKAH UMMAT BUDDHA PENYEMBAH BERHALA ?

Maggha-Puja di Vihara Watu Gong

Maggha-Puja di Vihara Watu Gong

“Penyembah-Berhala!”, kalimat ini selama berabad-abad telah menjadi senjata yang ampuh untuk mendiskreditkan suatu agama tertentu beserta para penganutnya.  Bukan hanya agama Buddha dan para ummatnya yang sering mendapat ‘tudingan’ kejam seperti ini, tetapi agama-agama yang lainnya pun banyak juga ( misal ; agama Katholik, Hindu, dan lain-lainnya ). Agaknya kita harus dengan kepala dingin dan hati yang terbuka, menelaah secara kritis akan hal ini.

Pemujaan terhadap “berhala” yang dimaksudkan tersebut ( yang sering dituding-tudingkan ) , secara umum berarti, pemujaan terhadap sebuah benda ( patung, tugu-batu, batu-batu bertuah, dan segala bentuk benda yang lainnya ) dalam berbagai bentuk dan ukuran dan berdoa secara langsung terhadap benda-benda tersebut seolah-olah benda tersebut adalah Tuhan Yang-Maha-Kuasa itu sendiri. Doa-doa yang diuncarkan itu berisi permohonan, ratapan, keluh-kesah, yang ditujukan terhadap “Tuhan” yang termanifestasi dalam benda itu, dengan harapan semua permohonan itu dikabulkan.

Nah, apakah Buddha-Rupam adalah berhala ? Melihat pengertian pemujaan berhala tersebut, maka, Buddha-Rupam BUKAN – BERHALA, dan puja kepada Buddha-Rupam, bukanlah suatu bentuk pemujaan kepada Berhala, sebab ;

1. Buddha-Rupam, bukanlah benda / image yang menggambarkan sosok TUHAN.

2. Tidak ada DOA-DOA yang berisi permohonan, ratapan, keluh-kesah, yang ditujukan pada Buddha-Rupam tersebut.

Poster di ruang Puja di rumah saya

Poster di ruang Puja di rumah saya

Mungkin anda ada yang bertanya, “ Lalu, apakah isi Sutta-sutta yang diuncarkan waktu ber-Puja-Bhakti ?”.

Yang harus diketahui, Sutta, BUKANKAH DOA. Sutta, berbeda dengan DOA.

Sutta, artinya adalah “Khotbah”, ia merupakan Sabda Sang Buddha yang berisi ajaran-ajaran Sang Buddha selama 45 tahun Beliau mengabdi pada semua makhluk demi menunjukkan jalan untuk terbebas dari ( minimal ) empat-alam menyedihkan ( yaitu ; neraka, binatang, alam para hantu ( peta ), dan alam para Jin dan raksasa ( Asura ) ) , dan ( maksimal ) demi tercapainya realisasi Nibbana, pembebasan sempurna dari samsara, terbebas dari arus tumimbal lahir di alam manapun juga. Pembacaan Sutta ini, mempunyai tujuan, untuk semakin menghayati ajaran Sang Buddha, bukan untuk meratap dan memohon permohonan-permohonan seperti rejeki, jodoh, dan lain-lain hal duniawi.

Misalkan saja, Karaniyametta-Sutta. Ini adalah Khotbah tentang Kewajiban dan Cinta Kasih. Berisi anjuran-anjuran Sang Buddha tentang apa yang harus dikerjakan oleh mereka yang tangkas dalam kebaikan, untuk mencapai ketenangan. Anjuran ini sangat jelas terlihat dari awal khotbah tentang kewajiban dan cinta-kasih ini :

“ Inilah yang harus dikerjakan,

Oleh ia yang tangkas, dalam hal yang berguna,

Yang mengantar ke jalan pencapaian ketenangan,

Ia harus mampu, jujur, sungguh jujur,

Rendah hati, lemah-lembut, tiada sombong… ,

Merasa puas, mudah dilayani,

Tiada sibuk, sederhana hidupnya,

Tenang inderanya, berhati-hati,

Tahu malu, tak melekat pada keluarga-keluarga.

Tak berbuat kesalahan walaupun kecil,

Yang dapat dicela oleh Para Bijaksana,

Hendaklah ia berpikir :

“Semoga Semua Makhluk Berbahagia dan Tenteram,

Semoga Semua Makhluk Berbahagia!”

Nah, dari cuplikan Karaniyametta-Sutta tersebut, jelas terlihat tidak ada ratapan-ratapan dan permohonan yang ditujukan kepada Buddha-rupam dan Sang Buddha, bukan ? Demikian pula dengan semua Sutta-sutta dalam kitab agama Buddha. Semua berisi ajaran-ajaran Sang Buddha, dalam bahasa Pali, dibaca untuk diresapi, dihayati, ditemukan manfaat sari pati ajarannya untuk dipraktekkan.

Sekarang, mari kita bandingkan isi SUTTA tersebut dengan DOA, yang umumnya masyarakat non-Buddhis mengenalnya. Umumnya, doa akan berbunyi dan berisi hal-hal seperti dibawah ini :

“ Ya Tuhan Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang… ,

Segala Puji Bagi – Mu , Tuhan, Penguasa Alam Semesta,

Hanya pada-Mu kami menyembah, dan hanya padamu kami MEMOHON PERTOLONGAN, Ya Tuhan Yang Maha Perkasa..,

Ya, Tuhan, Yang Maha Agung..,

Tunjukkanlah kami Jalan kenikmatan yang engkau berikan pada mereka yang Engkau kasihi, bukan jalan kecelakaan yang Engkau berikan terhadap mereka yang Engkau MURKAI… .

Ya Tuhan, bukakanlah pintu Rejeki untuk Kami,

Pertemukanlah kami dengan jodoh-jodoh kami

Yang telah Engkau siapkan, Ya Tuhan…,

Ampunilah kesalahan kami,

Terimalah seluruh amal perbuatan baik kami, Ya Tuhan..,

dst.”

Doa, selalu didahului dengan puja dan puji kepada Tuhan, lalu diikuti oleh berbagai bentuk ratapan dan permohonan, permintaan tolong, harapan untuk dibantu memperoleh jalan keluar, dan lain-lain sebagainya. Sedangkan Sutta , yang diuncarkan para siswa Sang Buddha, berisi tentang pokok-pokok pelajaran yang diberikan oleh Sang Buddha, untuk dihayati, semakin diperdalam, demi tercapainya kemajuan spiritual.

Karena masyarakat umumnya terbiasa diajari doa-doa, yang isinya adalah ratapan-ratapan kepada Tuhan, lantas menyamaratakan bahwa apa yang dibaca dalam Paritta / Kitab-Kitab agama Buddha [terutama ketika ber-Puja Bhakti di depan meja Puja ] adalah sama dengan apa yang mereka baca.


FUNGSI BUDDHA-RUPAM

Meja Puja Bhakti di Rumah

Meja Puja Bhakti di Rumah

Buddha-Rupam, atau image-Buddha, berfungsi sebagai alat bantu visual yang membantu seseorang mengingat Sang Buddha dan sifat-sifat luhur-Nya yang menginspirasi milyaran makhluk dari generasi ke generasi berikutnya sepanjang sejarah peradaban dunia.

Buddha-Rupam juga berfungsi sebagai objek-samadhi, yaitu saat melakukan samadhi dengan objek Buddhanussati. Meditasi dengan objek keluhuran dan sifat serta Guna dari Sang Buddha, akan semakin memperteguh semangat untuk menempuh kehidupan suci, dengan meneladani Sang Guru Agung itu sendiri, yang menunjukkan Jalan menuju kesucian dan pembebasan.


PATUNG-PATUNG DALAM AGAMA-AGAMA DILUAR BUDDHA-DHAMMA

Sesungguhnya, diluar agama Buddha, semua agama menggunakan suatu objek benda sebagai suatu sarana visual dan material untuk ber-religi, termasuk untuk melakukan ritual penguncaran doa-doa. Dan hal ini, menurut hemat kami, adalah wajar-wajar saja. Sebab, manusia mempunyai akal-pikiran, dan objek-objek tersebut merupakan bentuk ekspresi manusia terhadap sesuatu yang ia sebut “sakral”.

Di dalam agama Hindu, banyak terdapat patung Dewa, baik Dewa Brahma, Wisnu, maupun Siwa. Dan masih banyak lagi patung-patung. Semua patung-patung itu, merupakan simbol dari Tuhan, manifestasi dari Tuhan itu sendiri.

Di dalam agama Katholik, banyak terdapat patung-patung, seperti patung Tuhan Yesus Kristus, patung Bunda Maria, serta patung para suciwan lainnya.

Didalam agama Kristen, meskipun di”haram”kan adanya patung-patung, namun mereka mempunyai lambang “Salib” , sebagai objek / image dari kekudusan, kerohanian, atau sesuatu yang “absolut” itu sendiri.

Di dalam Islam, agama yang sangat mengharamkan adanya objek-objek pemujaan, mempunyai sebuah objek lambang-suci mereka , yaitu Ka’Bah, atau rumah-Tuhan. Menurut sejarahnya, di dalam Ka’Bah dulunya terdapat tiga ratus enam puluh (360 ) patung, dan sudah disingkirkan semua oleh Nabi Muhammad SAW.  Diluar Ka’Bah terdapat Batu Hajar Aswat , yang dipercaya sebagai batu bertuah dari surga. Hingga kini, ummat Islam sedunia, bila sholat , dan juga saat-saat berdoa, memohon suatu berkah, selalu menghadap KIBLAT, yaitu arah menuju rumah-Tuhan itu, Ka’Bah, di Mekah di tanah-Arab. Selain itu, juga terdapat seni Kaligrafi yang menggambarkan religiusitas mereka, dan seni ini sangat terkenal dan digemari karena keelokannya.

Di dalam Agama TAO, terdapat patung-patung Dewa, seperti Dewa Bumi, Dewa Langit, Dewa Naga, Dewa Kekayaan, Dewa Kesehatan, dan lain-lain patung Dewa, yang kesemuanya berfungsi sebagai sarana untuk mengajukan permohonan kepadanya.

Di dalam Kejawen, terdapat Keris-Keris, batu-batu bertuah, jimat-jimat, beberapa jenis patung, lukisan-lukisan Dewa tertentu, seperti Semar, Ratu Kidul, dan lain-lain. Ummat Kejawen, juga melakukan doa-doa serta ritual-ritual kepada Tuhan , karena mereka merupakan “Aliran Kepercayaan Kepada Tuhan YME ” . ( Misal, dengan doa-doa seperti, “Duh Gusti Ingkang Maha Agung, Ingkang Murbeng Dumadi, Ingkang Maha Kuwaos…, Kula Nyuwun Gunging Pangapunten, Gunging Pangaksami… , Nyuwun Sih Pitulungan Panjenengan , duh Gusti Pengeran…dst.” ).

Melihat betapa universalnya tradisi patung-patung / objek-objek suci bagi ritual sebuah agama di berbagai agama tersebut , lalu, adakah yang salah ? Tentu tidak. Adakah yang paling benar ? Artinya, bahwa hanya ada satu patung saja yang boleh disembah, sedang yang lain harus dihancurkan ? Egois sekali bila begitu.

Jika ada ummat Buddha yang melakukan hal memalukan tersebut ( menghancurkan patung-patung diluar Buddha-Rupam ), maka ia bukanlah seorang pengikut Sang Buddha, karena ia ‘egois’, ‘biadab’, menghancurkan suatu ‘keindahan’ , keelokan, ragam budaya dari pihak lain ( agama lain ) , yang sesungguhnya memperkaya khazanah peradaban dunia. Orang-orang seperti ini, ( yang suka  menghancurkan patung-patung dari agama lain, dan menganggap hanya patung dalam agamanya sajalah yang boleh ada dan boleh disembah ) layaknya disadarkan, bahwa patung miliknya ( bagi ummat Buddha, tentu saja yang dimaksud adalah Buddha-Rupam ), bukanlah satu-satunya patung yang boleh ada, yang boleh dipuja, dan yang harus menjadi satu-satunya didunia yang di”sakral”kan. 😉


SIAPA YANG SELAMA INI MENYEMBAH BERHALA ??

Persiapan Magha Puja di Vihara Watugong

Persiapan Magha Puja di Vihara Watugong

Dengan menelaah hal-hal diatas, lalu, kita sekarang bisa bertanya,  “Siapakah sesungguhnya yang selama ini MENYEMBAH BERHALA ?? “ Predikat “pemuja-berhala” sangatlah tidak tepat diberikan kepada ummat Buddha, dan tidak tepat pula diberikan pada ummat agama apapun. Pemberian predikat seperti itu sangatlah kejam, tidak manusiawi, melukai hati nurani setiap ummat yang memegang teguh kepercayaannya.

Sesungguhnya, semua agama sama-sama mempunyai objek / simbol religinya masing-masing, bahkan hampir semuanya memiliki suatu “objek” visual pemujaannya sendiri-sendiri, yang patut dihormati oleh semua pihak, baik ummat agama tersebut maupun ummat agama lainnya. Bagi kami, ummat Buddha, itu semua bukanlah masalah, dan bukan hak kami untuk menghakimi dengan tudingan-tudingan yang menyakitkan seperti yang umumnya dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Semoga dengan artikel ini, tidak ada lagi tuding-menuding yang berjudul “Penyembah-Berhala” tersebut,sadhu…sadhu…sadhu… .


“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

RATANA-KUMARO ( Ratna Kumara )

Semarang-Barat,Kamis, 09 April 2009

Posted in BUDDHA | 40 Comments »

PEMERSATU THERAVADA DAN MAHAYANA

Posted by ratanakumaro pada Maret 24, 2009

PEMERSATU THERAVADA DAN MAHAYANA


Pendahuluan

( Artikel ini merupakan artikel yang sudah umum bagi ummat Buddha. Di internet, di berbagai blog, sudah banyak yang memposting. Namun, disini saya mengcopy dari http://cetiyamahasampatti.wordpress.com dan saya sunting-postingkan di blog saya sendiri. Selamat menikmati )


Dalam suatu faham, kepercayaan ataupun agama tentunya memiliki ciri khas dalam ide, konsep ataupun ajarannya yang membedakannya satu dengan yang lain. Meskipun dalam suatu faham, kepercayaan ataupun agama tersebut memiliki aliran atau mazab atau tradisi yang beraneka ragam, namun pastilah memiliki ciri khas, kesamaan beberapa konsep ajaran yang mendasar yang menghubungan satu dengan yang lain sehingga aliran-aliran tersebut masih dapat digolongkan dalam faham, kepercayaan ataupun agama induknya.

Buddhisme merupakan agama yang juga tidak lepas dari keberagaman aliran ataupun tradisi. Mayoritas, terdapat dua aliran atau tradisi dalam Buddhisme, yaitu Theravada dan Mahayana (dengan mempertimbangkan Vajrayana merupakan bagian dari Mahayana). Digolongkannya aliran Theravada maupun Mahayana sebagai bagian dari Buddhisme tidak lepas dari adanya kesamaan yang mendasar dalam beberapa konsep ajaran yang merupakan inti sari dari Buddha Dhamma.

Dalam tulisan kali ini, kita disuguhkan persamaan pokok-pokok dasar yang terdapat dua aliran besar dalam Buddhisme yang menjadi pemersatu keduanya. Pokok-pokok dasar pemersatu ini terdapat dalam rumusan-rumusan yang sebelumnya telah dipelajari, disusun, dan diterima oleh para rohaniawan khususnya yang tergabung dalam Dewan Sangha Buddhis Sedunia.

Rumusan Oleh Dewan Sangha Buddhis Sedunia

Pada tahun 1966, Dewan Sangha Buddhis Sedunia atau World Buddhist Sangha Council (WBSC) terbentuk di Colombo, Sri Lanka pada bulan Mei. WBSC merupakan organisasi internasional non-pemerintah yang keanggotaannya terdiri dari sangha-sangha dari seluruh dunia.

WBSC memiliki perwakilan dari tradisi Theravada, Mahayana, dan Vajrayana, yang berasal dari berbagai negara yaitu: Australia, Bangladesh, Kanada, Denmark, Perancis, Jerman, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Korea, Macao, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Nepal, New Zealand, Philipina, Singapura, Sri Lanka, Sweden, Taiwan, Thailand, Inggris dan Amerika Serikat.

Pada Kongres WBSC Pertama, salah satu pendirinya, Sekretaris-jendral, almarhum Y.M. Pandita Pimbure Sorata Thera meminta Y.M. Walpola Rahula untuk memberikan rumusan ringkas untuk mempersatukan tradisi-tradisi yang berbeda, yang kemudian secara bulat disetujui oleh Dewan. Inilah sembilan “Pokok-Pokok Dasar Pemersatu Theravada dan Mahayana”:

1. Buddha hanyalah satu-satunya Guru dan Penunjuk Jalan.

2. Kami berlindung dalam Tiratana (Buddha, Dhamma, dan Sangha).[1]

3. Kami tidak mempercayai dunia ini diciptakan dan diatur oleh Tuhan.[2]

4. Kami mengingat bahwa tujuan hidup adalah mengembangkan belas kasih untuk semua makhluk tanpa diskriminasi dan berusaha untuk kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian mereka; dan untuk mengembangkan kebijaksanaan yang mengarah pada perealisasian Kebenaran Tertinggi.Kami menerima Empat Kebenaran Ariya, yaitu dukkha, penyebab timbulnya dukkha, padamnya dukkha, dan jalan menuju pada padamnya dukkha; dan menerima hukum sebab dan akibat (Paticcasamuppada/ Pratityasamutpada).

5. Segala sesuatu yang berkondisi (sankhara / samskara) adalah tidak kekal (anicca / anitya) dan dukkha, dan segala sesuatu yang berkondisi dan yang tidak berkondisi (dhamma) adalah tanpa inti, bukan diri sejati (anatta / anatma).

6. Kami menerima Tiga puluh Tujuh (37) kualitas yang membantu menuju Pencerahan (Bodhipakkhika Dhamma / Bodhipaksa Dharma) sebagai segi-segi yang berbeda dari Jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha yang mengarah pada Pencerahan.

7. Ada tiga jalan mencapai bodhi atau Pencerahan: yaitu sebagai Savakabuddha / Sravakabuddha, sebagai Paccekabuddha / Pratyekabuddha, dan sebagai Sammasambuddha / Samyaksambuddha. Kami menerimanya sebagai yang tertinggi, termulia dan terheroik untuk mengikuti karir Bodhisattva dan untuk menjadi seorang Sammasambuddha dalam rangka menyelamatkan makhluk lain. [3]

8. Kami mengakui bahwa di negara yang berbeda terdapat perbedaan pandangan kepercayaan-kepercayaan dan praktik Buddhis. Bentuk dan ekspresi luar ini seharusnya tidak boleh dicampuradukkan/dikelirukan (perlu dipisahkan) dengan esensi/inti ajaran-ajaran Buddha.

Perluasan Rumusan

Pada tahun 1981 Y.M. Walpola Sri Rahula mengajukan alternatif rumusan yang mengacu pada 9 dasar dalam rumusan terdahulu. Rumusan tersebut berisi:

1. Apapun aliran, kelompok atau sistem kami, sebagai Buddhis kami semua menerima Buddha sebagai Guru kami yang memberikan kami ajaran-Nya.

2. Kami semua berlindung pada Tiga Permata (Tiratana): Buddha, Guru kami; Dhamma, ajaran-Nya; dan Sangha, Komunitas para Arya (suciwan). Dengan kata lain, kami berlindung pada Pengajar, Pengajaran, dan Hasil Pengajaran.

3. Baik Theravada ataupun Mahayana, kami tidak mempercayai bahwa dunia ini diciptakan dan diatur oleh Tuhan atas kehendaknya.

4. Mengikuti keteladanan Buddha, Guru kami yang merupakan perwujudan dari Belas kasih Agung (Maha Karuna) dan Kebijaksanaan Agung (Maha Prajna), kami menyadari bahwa tujuan dari hidup adalah untuk mengembangkan belas kasih bagi semua makhluk hidup tanpa diskriminasi dan untuk bekerja untuk kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian mereka; dan untuk mengembangkan kebijaksanaan yang mengarah pada realisasi Kebenaran Tertinggi.

5. Kami menerima Empat Kebenaran Mulia yang diajarkan oleh Sang Buddha, yaitu, Dukkha, kebenaran bahwa keberadaan kita di dunia ini berada dalam kesukaran, tidak kekal, tidak sempurna, tidak memuaskan, penuh dengan konflik; Samudaya, kebenaran bahwa kondisi-kondisi ini merupakan hasil dari sifat egois kita yang mementingkan diri sendiri berdasarkan pada ide yang salah mengenai diri; Niroda, kebenaran bahwa adanya kepastian akan kemungkinan pelepasan, pembebasan, kemerdekaan dari kesukaran ini dengan pemberantasan secara total sifat egois yang mementingkan diri sendiri; dan Magga, kebenaran bahwa pembebasan ini dapat dicapai melalui Jalan Tengah yang terdiri dari delapan faktor, yang mendorong ke arah kesempurnaan akan kemoralan (sila), disiplin mental (samadhi), dan kebijaksanaan (panna).

6. Kami menerima hukum semesta sebab akibat yang terdapat dalam Paticcasamuppada (Skt. Pratityasamutpada, Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan), dan oleh karena itu kami menerima bahwa segala sesuatu bersifat relatif, saling berhubungan, saling berkaitan dan tidak ada yang mutlak, tetap, dan kekal di alam semesta ini.

7. Kami memahami, berdasarkan pada ajaran Buddha, bahwa segala sesuatu yang berkondisi (sankhara) adalah tidak kekal (anicca), tidak sempurna dan tidak memuaskan (dukkha), dan segala sesuatu yang berkondisi dan tidak berkondisi (dhamma) adalah bukan diri/ tanpa inti (anatta).

8. Kami menerima Tigapuluh Tujuh kualitas yang berguna bagi pencapaian Pencerahan (Bodhipakkhiya Dhamma) sebagai beragam aspek yang berbeda dari Jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha yang mendorong ke arah Pencerahan, yaitu:

1. Empat Bentuk Landasan Perhatian Benar (Pali: satipatthana; Skt. smrtyupasthana);

2. Empat Daya Upaya Benar (Pali. sammappadhana; Skt. samyakpradhana);

3. Empat Dasar Kekuatan Batin (Pali. iddhipada; Skt. rddhipada);

4. Lima Macam Kemampuan (indriya: Pali. saddha, viriya, sati, samadhi, panna; Skt. sraddha, virya, smrti, samadhi, prajna);

5. Lima Macam Kekuatan (bala: saddha, viriya, sati, samadhi, panna; Skt. sraddha, virya, smrti, samadhi, prajna);

6. Tujuh Faktor Pencerahan Agung (Pali. bojjhanga; Skt. bodhianga);

7. Delapan Ruas pada Jalan Mulia (Pali. ariyamagga; Skt. aryamarga).

9. Ada tiga jalan untuk mencapai Bodhi atau Pencerahan Agung berdasarkan pada kemampuan/kecakapan dan kapasitas dari masing-masing individu, yaitu: sebagai seorang Sravaka (Yang melaksanakan ajaran Sammasambuddha ), sebagai seorang Pratyekabuddha (Buddha Yang tidak memberikan pengajaran) dan sebagai seorang Samyaksambuddha (Buddha Yang Sempurna). Kami menerima jika mengikuti karir seorang Boddhisattva adalah untuk menjadi seorang Samyaksambuddha dalam rangka menyelamatkan yang lain, merupakan sesuatu yang tertinggi, mulia dan paling heroik. Tetapi ketiga kondisi ini berada dalam Jalan yang sama, tidak berada dalam jalan yang berbeda. Sesungguhnya, Sandhinirmocana Sutra, salah satu sutra Mahayana yang penting, secara jelas dan tegas mengatakan bahwa mereka yang mengikuti garis Sravaka-yana (Wahana Sravaka) atau garis Pratyekabuddha-yana (Wahana Pratyekabuddha) atau garis Para Tathagata (Mahayana) mencapai Nibbana tertinggi dengan Jalan yang sama, dan oleh karena itu bagi mereka semua hanya ada satu Jalan Pemurnian (visuddhi-marga) dan hanya satu Pemurnian (visuddhi) dan tidak ada yang lain, dan oleh karena itu mereka bukanlah jalan yang berbeda dan pemurnian yang berbeda, dan oleh karena itu Sravakayana dan Mahayana merupakan Satu Wahana, Satu Yana (eka-yana) dan bukanlah wahana atau yana yang berbeda.

10. Kami mengakui bahwa dalam negara-negara yang berbeda ada perbedaan mengenai tata cara hidup dari para biarawan Buddhis, kepercayaan dan praktik, upacara dan ritual-ritual, seremonial, adat istiadat dan kebiasaan umat Buddha yang bersifat umum. Bentuk eksternal (luar) dan ekspresi ini semestinya tidak boleh dicampuradukkan/dikelirukan (perlu dipisahkan) dengan esensi/inti ajaran-ajaran Sang Buddha.

Rumusan Lain

Ada beberapa tokoh ataupun sarjana Buddhis yang juga merumuskan persamaan ajaran antara Theravada dan Mahayana yang isinya sebagian besar sama dengan rumusan WBSC.

Y.M. K. Sri Dhammananda memberikan rumusan seperti berikut:

1. Kedua aliran menerima Buddha Sakyamuni sebagai Guru.

2. Empat Kebenaran Arya adalah sama persis dikedua aliran.

3. Jalan Utama Berunsur Delapan adalah sama persis dikedua aliran.

4. Paticcasamuppada atau ajaran akan Sebab-Musabab Yang Bergantungan adalah sama persis dikedua aliran.

5. Kedua aliran menolak ide akan “makhluk tertinggi” yang menciptakan dan mengatur dunia ini.

6. Kedua aliran menerima Anicca, Dukkha, Anatta dan Sila, Samadhi, Panna tanpa adanya perbedaan.

Rumusan dari Oo Maung:

1. Kesamaan dalam menerima Empat Kebenaran Ariya.

2. Kesamaan dalam menerima Jalan Utama Berunsur Delapan.

3. Kesamaan dalam menerima Paticcasamuppada atau Sebab-Musabab Yang Bergantungan.

4. Kesamaan dalam menerima Anicca, Dukkha, Anatta.

5. Kesamaan dalam menerima Sila, Samadhi, Panna.

6. Kesamaan dalam menolak konsep tuhan tertinggi.

Rumusan dari Tan Swee Eng:

1. Buddha Sakyamuni merupakan pendiri Buddhisme yang asli dan berdasarkan sejarah.

2. Tiga Corak Universal (Dukkha, Anica, dan Anatta), Empat Kebenaran Arya, Jalan Utama Berunsur Delapan, dan 12 rantai Sebab-Musabab Yang Bergantungan, merupakan fondasi dasar bagi seluruh aliran Buddhisme termasuk aliran Tibet dari Vajrayana.

3. Tiga unsur latihan yaitu Kemoralan (sila), Meditasi (samadhi) dan Kebijaksanaan (prajna) adalah hal yang universal bagi semua aliran.

4. Pengorganisasian Ajaran Buddha / Dharma terbagi menjadi tiga klasifikasi (Sutra/Sutta, Vinaya, dan sastra) terdapat pada kanon Buddhis di berbagai negara.

5. Konsep pikiran melampaui materi. Pikiran sebagai hal yang mendasar dari penjinakan dan kontrol adalah hal yang fundamental bagi semua aliran.

Penutup

Dengan rumusan pokok-pokok dasar pemersatu ini, diharapkan kita dapat memahami ciri khas ajaran yang ada dalam Buddhisme yang membedakan agama besar ini dengan agama atau kepercayaan lainnya yang ada di dunia. Kita dapat memahami bahwa meskipun terdapat perbedaan antar aliran ( dalam Buddha-Dhamma ), namun memiliki ajaran pokok yang sama yang apabila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dapat mengarahkan kita pada akhir penderitaan, Nibbana / Nirvana.

–End–

Catatan:

1. Berlindung dalam Tiratana bukan berarti berserah diri. Buddha dalam pengertian Guru pembimbing, dimana Sakyamuni Buddha adalah Buddha Sejarah. Dan Buddha dalam pengertian Kesadaran. Dhamma dalam pengertian Kebenaran ataupun Ajaran Buddha. Sangha dalam pengertian persaudaraan / perkumpulan para Bhikkhu Ariya.

2. tuhan yang dimaksud adalah yang memiliki definisi: berpersonal, pencipta semesta, prima causa, ayah/ibu dari semua makhluk, paramatman, yang maha segalanya.

3. Savakabuddha: pencapaian Pencerahan melalui mendengar ajaran dari Sammasambuddha. Paccekabuddha: pencapaian Pencerahan dengan usaha sendiri tanpa mengajar. Sammasambuddha: pencapaian pencerahan dengan usaha sendiri dan mengajar.

Literatur:

1. The Heritage of the Bhikkhu; Walpola Rahula; New York, Grove Press, 1974; hal. 100, 137-138.

2. Two Main Schools of Buddhism; K. Sri Dhammananda; Brickfields, Kuala Lumpur.

3. Common Ground Between Theravada and Mahayana Buddhism; Tan Swee Eng; http://www.buddhanet.net

4. Theravada Versus Mahayana; Oo Maung, 2006

Posted in BUDDHA | 9 Comments »