RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

Archive for Oktober 26th, 2009

ACARA RAPAT TRIWULANAN GABUNGAN PD & PC MAGABUDHI WILAYAH JAWA-TENGAH

Posted by ratanakumaro pada Oktober 26, 2009

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattum (3X) )

Namatthu Buddhassa,

Pembukaan ; Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

Pembukaan ; Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

Salam hangat untuk rekan-rekan se-Dhamma di manapun anda berada. Sungguh merupakan suatu kebahagiaan berjumpa lagi dengan anda-anda semua. Kali ini, saya menyapa anda-anda semua dengan sebuah artikel laporan acara “Rapat Triwulanan Gabungan PD & PC MAGABUDHI ( Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia )  Wilayah Jawa-Tengah” yang diselenggarakan pada hari Minggu, tanggal 25 Oktober 2009 di kantor Pengurus Daerah MAGABUDHI Wilayah Jawa-Tengah di Vihara Tanah-Putih Semarang.

pembukaan2

Khusyuk membaca Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

Acara ini dihadiri oleh perwakilan Romo dan Ramani ( Romo Wanita ) dari seluruh wilayah Jawa-Tengah ; yang terdiri dari para Upacarika, Pandhita Muda dan para Pandhita Madya.  Saya sendiri, hadir mewakili PC MAGABUDHI Vihara Tanah-Putih Semarang bersama dengan rekan saya, Romo Vijayo. Keanggotaan saya dalam jajaran Romo-Romo MAGABUDHI secara resmi telah disahkan oleh Pengurus Pusat (PP) MAGABUDHI semenjak tanggal 02 Agustus 2009, dengan nomor keanggotaan : 2768/JTG/Upc/2009 , dengan jabatan : Upacarika ( dengan wewenang untuk memimpin Upacara Kebaktian, dan Upacara Keagamaan lainnya ).

Total peserta yang hadir dan mengikuti acara hingga selesai kurang-lebih adalah 20 orang yang terdiri dari Romo dan Ramani Magabudhi wilayah Jawa-Tengah.

pembukaan3

menguncarkan Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

Topik yang dibahas dalam Rapat Triwulanan Gabungan PD & PC MAGABUDHI Wilayah Jawa-Tengah kali ini adalah =

1. Evaluasi Program Kerja Pelatihan Pembacaan Palivacana.

2. Sosialisasi tentang Tata-cara Perkawinan dalam Agama Buddha dan Sosialisasi UU. No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan PP No.9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan.

3. Agenda Program Kerja tahun 2010 : Diskursus tentang Arti dan Penggunaan Paritta, yang akan dibimbing oleh YM. Bhante Dhammadiro Maha-Thera.

Acara Rapat MAGABUDHI ini, dimulai jam 10.30 WIB. Sebenarnya, dalam undangan yang disebarkan, rapat akan dimulai pada pukul 09.00 WIB, namun dikarenakan para pengurus cabang dari daerah-daerah mengalami kendala dalam tranpsortasi, sehingga acara menjadi diundur dan dimulai jam 10.30 WIB. Meski, pada jam tersebut, masih banyak pula pengurus-pengurus cabang Magabudhi wilayah Jawa-Tengah yang belum hadir.

Romo Warto & Romo Sugianto

Romo Warto (kiri) & Romo Sugianto (kanan)

MAGABUDHI Wilayah Jawa-Tengah terdiri dari tiga-puluh (30) Pengurus Cabang. Hampir seluruh wilayah Kabupaten / Kota bisa ditemukan pengurus cabang Magabudhi ; kecuali di wilayah Purbalingga, Sragen, dan Pemalang yang hingga kini belum ada perwakilan Magabudhi disana.

SESI PERTAMA

Sesi ini diisi dengan topik Evaluasi Program Kerja Pelatihan Palivacana yang telah diselenggarakan oleh Pengurus Magabudhi beserta seluruh elemen “Keluarga Buddhis Theravada Indonesia” ( KBTI ) selama tahun 2009 ini.

Sesi ini menjadi cukup seru, karena diawali dengan penjelasan dari Romo Sugianto , bahwa di lapangan sering dijumpai hal-hal “mistis” sehubungan dengan pembacaan Paritta, terutama Paritta “DEVATA-ARADHANA” .

Romo Sugianto

Romo Sugianto

Paritta “DEVATA-ARADHANA” ini , memang merupakan paritta khusus yang diuncarkan untuk mengundang seluruh Dewa dari segala penjuru alam-semesta, termasuk para Brahma, para dewa yang bersemayam di surga, yang berdiam di alam kamadhatu, juga para Dewa Bumi yang bersemayam di vimana atau di puncak gunung, di jurang, di angkasa, di pulau, di kota, di desa, di pepohonan, di hutan belukar, di sekitar rumah, atau di sawah-ladang, juga mengundang para Yakkha, Gandhabba, dan Naga yang bersemayam di perairan, di daratan, atau pun di perbukitan ; mereka semua di undang dengan tujuan untuk bersama-sama dengan khusyuk mengikuti jalannya Puja-Bhakti dan mendengarkan Dhamma yang dibabarkan Sang Buddha demi berkah kesejahteraan dan keselamatan bersama.

sessi I ; sharing dan tanya-jawab seputar Paritta

sessi I ; sharing dan tanya-jawab seputar Paritta

Masing-masing Romo dan Ramani mulai menceritakan kisah-kisah pengalaman mistisnya masing-masing. Saya sendiri memilih untuk menjadi pendengar yang baik saja 😉  ,   sembari terkadang menjawab pertanyaan dari rekan saya dari PC MAGABUDHI Vihara Tanah-Putih Semarang, yaitu Romo Vijayo.

Satu pertanyaan yang sempat muncul adalah, bila dengan Devata-Aradhana kita semua mengundang para Dewa dan Brahma , maka, bagaimana cara mempersilakan pulang kepada para Dewa dan Brahma, bila  acara puja-bhakti / atau acara keagamaan lainnya yang dilangsungkan tersebut telah selesai dilaksanakan ? Dalam kesempatan ini, saya berkesempatan menjawab pertanyaan tersebut, dengan menunjukkan adanya satu Gatha ( dimana jawaban saya tersebut semakin ditegaskan / dikonfirmasikan pula oleh Romo Pdt.Mdy. Warto ( Wakil Ketua Magabudhi PD Jawa-Tengah )  yang menunjukkan Gatha tersebut dalam Paritta ) yang sebaiknya dibaca untuk mempersilakan para Dewa, Brahma, Yakkha, Gandhabba, Naga, untuk kembali ke alamnya masing-masing.  Gatha yang baik dibaca untuk keperluan ini adalah “DEVATA-UYYOJANA GATHA”. Dalam terjemahan Gatha tersebut, ada satu kalimat yang dengan explisit menyatakan , “.. Para dewa yang telah datang dipersilakan kembali!” .  Dan setelah dibacakan “Devata-Uyyojana Gatha” tersebut, para Dewa, Brahma, termasuk para Dewa-Bumi, Yakkha, Gandhabba, Naga, akan berurutan kembali ke alam mereka masing-masing.

Romo Vijayo PC Magabudhi Vihara Tanah Putih Semarang

Romo Vijayo PC Magabudhi Vihara Tanah Putih Semarang

SESI II

Acara sharing mengenai pengalaman membaca Paritta ini terus bergulir cukup lama, hingga kurang lebih jam 11.45 WIB topik baru berganti ke topik berikutnya, yaitu membahas mengenai ” Sosialisasi tentang Tata-cara Perkawinan dalam Agama Buddha dan Sosialisasi UU. No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan PP No.9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan” .

Romo Sugiyanto menerangkan tentang Surat Keterangan Nikah dari Magabudhi

Romo Sugianto menerangkan tentang Surat Keterangan Nikah dari Magabudhi

Disini Romo Sugianto memberi penjelasan, bahwa di masa lalu banyak terjadi kesalahan, yaitu pasangan suami-istri Buddhis yang setelah menikah tidak dicatat di dalam Kantor Pencatatan-Sipil, tetapi hanya sekedar dinikahkan oleh Pandhita. Sehingga, mereka tidak mempunyai keterangan resmi dari negara bahwa mereka adalah pasangan yang telah benar-benar menikah dan sah secara negara ; artinya mereka hanya sah secara agama.

Untuk itulah, Romo Sugianto mensosialisasikan, bahwa mengenai hak bagi ummat Buddha yang menikah untuk dicatat dalam Kantor Pencatatan Sipil Pemda setempat, telah diatur dalam UU No.1 tahun 1974 dan PP No.9 tahun 1975.

Romo Sugiyanto mensosialisasikan Surat Keterangan Nikah yang diterbitkan Magabudhi

Romo Sugianto mensosialisasikan Surat Keterangan Nikah yang diterbitkan Magabudhi

Dikarenakan telah terlanjur banyak pasangan suami-istri Buddhis yang menikah dan beranak-cucu tetapi belum dicatat dalam Kantor Pencatatan-Sipil Pemda setempat, maka, Magabudhi Jawa-Tengah berencana membuat program “Kawin-Massal” bagi para pasangan suami-istri dari puluhan tahun yang lalu yang telah beranak-cucu namun belum mendapat surat keterangan resmi dari negara.

Dalam kesempatan ini pula, Romo Sugianto mensosialisasikan adanya Akta khusus yang akan diterbitkan oleh pengurus-pengurus cabang Magabudhi bagi para pasangan suami-istri yang menikah. Akta ini sah dan resmi secara agama, sebab resmi dikeluarkan oleh Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia ( MAGABUDHI ), dimana di dalam akta tersebut secara resmi pula diketahui oleh Pandhita yang menikahkan dan ditandatangani oleh Pengurus Cabang setempat.

SESI III

Setelah selesai membahas topik II ini, acara berlanjut kepada pembahasan topik III , yaitu ” Agenda Program Kerja tahun 2010 : Diskursus tentang Arti dan Penggunaan Paritta, yang akan dibimbing oleh YM. Bhante Dhammadiro Maha-Thera “ yang memang ahli dalam bahasa Pali ( Beliau menempuh pendidikannya di Thailand hingga level 7 ).

Program kerja tersebut merupakan kelanjutan dari program kerja yang sebelumnya ( Pelatihan Pembacaan Palivacana ).  Pelatihan-pelatihan seperti ini merupakan keuntungan bagi ummat Buddha, sebab dengan begini ummat Buddha bisa mengetahui bagaimana cara membaca Paritta dengan baik dan benar sesuai yang seharusnya serta mengetahui manfaat-manfaat dari masing-masing khotbah Sang Buddha yang dibaca / atau diuncarkan tersebut.

ISTIRAHAT MAKAN SIANG DAN PENUTUPAN

Selesai pembahasan ketiga topik rapat tersebut, barulah masuk pada sesi istirahat dan makan siang, kurang lebih jam 13.00 WIB.

Istirahat dan Makan Siang jam 13.00 WIB

Istirahat dan Makan Siang jam 13.00 WIB

Selesai makan, acara memasuki sesi penutupan, dengan mereview pokok-pokok yang telah dibahas selama rapat berlangsung. Dalam kesempatan ini juga diambil kesepakatan bersama mengenai format Surat Keterangan Perkawinan yang akan diterbitkan oleh pengurus Magabudhi bagi para pasangan suami-istri Buddhis ; dimana format akta yang sebelumnya hanya berisi tanda-tangan dari Pandhita yang menikahkan saja, semenjak hari Minggu 25 Oktober 2009 tersebut disepakati akan ditambahkan pembubuhan tanda-tangan / atau diketahui oleh pengurus cabang Magabudhi setempat.

Acara rapat triwulanan gabungan PD & PC MAGABUDHI Wilayah Jawa-Tengah ini ditutup dengan menguncarkan Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara yang dipimpin oleh Romo Pandhita Madya Sugianto.

Akhir Acara ; Menguncarkan Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

Akhir Acara ; Menguncarkan Namakara-Patha dan Pubbabhaganamakara

SEKILAS MAGABUDHI

Sedikit saya tambahkan disini, bagi ummat Buddha yang berminat untuk bergabung dalam Magabudhi, bisa menghubungi kepengurusan cabang setempat dan mendaftarkan diri. Segala informasi bisa diperoleh dari pengurus cabang setempat. Setelah bergabung, maka proses / tingkatan-tingkatan yang akan ditempuh adalah :

1). Menjadi seorang Upacarika ( dengan syarat bahwa sebelumnya ia telah di-wisudi sebagai Upasaka / Upasika ) dengan wewenang memimpin Upacara Kebaktian dan Upacara Keagamaan lainnya. Jabatan ini harus dijalani selama 2 tahun, sebelum akhirnya nanti mengikuti “up-grading” menjadi Pandhita Muda.

2). Setelah melalui masa jabatan sebagai Upacarika dan mengikuti Up-grading dengan pelatihan-pelatihan formal yang diselenggarakan oleh Magabudhi, maka seorang Romo akan naik tingkat menjadi Pandhita Muda. Jabatan sebagai Pandhita Muda ini akan ditempuh selama 5 (lima) tahun masa jabatan.

3). Setelah 5 (lima) tahun menjabat sebagai Pandhita Muda, maka seorang Romo bisa menaiki jenjang berikutnya menjadi seorang Pandhita Madya, tentunya melalui proses “up-grading” berikutnya yang diadakan secara formal dan resmi oleh Magabudhi.

4). Setelah 5 (lima) tahun menjabat sebagai Pandhita Madya, maka seorang Romo bisa menaiki jenjang berikutnya menjadi seorang Pandhita ( penuh ).

Organisasi Magabudhi ini adalah organisasi tempat ummat Buddha mengabdi pada Buddha-Dhamma-Sangha ; menjadi seorang Dhammadutta. Menurut keterangan dari Romo Pandhita Madya Sugianto ( Ketua PD MAGABUDHI Jawa-Tengah ),  bahwa yang bisa secara resmi disebut sebagai Pemuka Agama Buddha Theravada dalam kaitannya dengan hubungan-masyarakat, dan hubungannya dengan Pemerintah, adalah para Romo dan Ramani ( Romo perempuan ) yang telah secara resmi tergabung dalam Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia ( MAGABUDHI ) ini. Tugas para Romo dan Ramani ini adalah membantu para Bhikkhu dalam membina ummat dan hubungan kemasyarakatan legal-formal ; para Bhikkhu, meskipun terutama sebagai “ujung-tombak” dari ummat Buddha dan Buddha-Dhamma itu sendiri, namun tentunya sudah tidak pada porsinya untuk terlalu disibukkan dengan urusan-urusan administratif  yang bersifat keduniawian.  Kurang lebih, demikian yang saya tangkap dari pemaparan Romo Pandhita Madya Sugianto.

Demikianlah, laporan yang bisa saya tuliskan berkaitan dengan acara Rapat Triwulanan Gabungan PD & PC MAGABUDHI Wilayah Jawa-Tengah yang diadakan pada hari Minggu 25 Oktober 2009 kemarin. Semoga, laporan acara ini bermanfaat bagi ummat Buddha dimanapun anda berada.

_________________________________________________

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )


Upacarika RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Senin, 26 Oktober 2009

Posted in Acara Ummat Buddha, Berita Buddhis, BUDDHA, Diskusi Ummat Buddha | 11 Comments »