RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

Archive for September 19th, 2009

LAMANYA WAKTU YANG DIBUTUHKAN UNTUK MENJADI SEORANG BUDDHA

Posted by ratanakumaro pada September 19, 2009

“Kelahiran sebagai manusia itu jarang, Kehidupan manusia itu sulit, Mendengar Kebenaran Mulia itu sulit, Munculnya seorang Buddha itu jarang.”

[ Dhammapada 182 ]

______________________________________

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa”

( Tikkhattum ; 3x )

Memahami Istilah-istilah :  Satu Siklus Dunia ( 1 Maha-Kappa ), Satu Periode Dunia ( 1 Asankkheyya-Kappa ), dan Antara-Kappa

Kebanyakan orang yang membaca riwayat hidup Buddha akan berpikir, bahwa Petapa Gotama membutuhkan waktu enam tahun untuk menjadi Buddha. Fakta yang sesungguhnya adalah bahwa Buddha Gotama membutuhkan waktu  selama 300.000 siklus dunia  ( atau = 300.000 Maha-Kappa ) plus (+) 20 periode ( 20 Asankheyya-Kappa ; atau / sama dengan 400 antara-kappa ) yang tak terhitung lamanya untuk mencapai Pencerahan batin Sempurna dan menjadi seorang Buddha. Hampir tidak mungkin membayangkan panjangnya waktu tersebut. ( Praktik Dhamma menuju Nibbana ; Radhika Abeyesekera, Srimanggala 2008 )

Menurut Radhika Abeyesekera, dalam bukunya “Praktik Dhamma Menuju Nibbana” ( Srimanggala 2008) , selama waktu perjalanan tersebut, Boddhisatta kita , telah bertemu dengan para Buddha di masa lampau , yaitu bila saya jumlahkan total kesemuanya adalah sebanyak  163.727 Samma-Sambuddha , dengan perincian sebagai berikut : 125.000 Samma-Sambuddha ( Era Mano-Panidhana-Kala ; diawali pertemuan Boddhisatta dengan Buddha Brahma-Dewa) + 38.700 Samma-Sambuddha ( Era Waci-Panidhana-Kala ; diawali pertemuan Boddhisatta dengan Buddha Gotama-Purana ) + 3 Samma-Sambuddha ( Buddha Tanhangkara, Buddha Medhangkara, Buddha Saranangkara ) + 24  Samma-Sambuddha ( Era Kaya-Panidhana-Kala ; Dimulai pertemuan Boddhisatta dengan Buddha Dipankara ( Buddha pertama yang memberi ramalan kepastian pencapaian ke-Buddha-an Boddhisatta kita ) dan diakhiri pertemuan dengan Buddha Kassapa ( Buddha ke-24 yang memberi ramalan kepastian pencapaian ke-Buddha-an Boddhisatta kita ) .

Sebagian masyarakat Buddhis juga ada yang berpikiran bahwa Sang Buddha hanya membutuhkan waktu selama Empat (4) Asankkheyya-Kappa ( atau = satu (1) Maha-Kappa / 1 siklus dunia saja ) ditambah (+) seratus ribu (100.000) Maha-Kappa untuk merealisasi ke-Buddha-an. Pengertian ini hanyalah penggambaran untuk periode semenjak Boddhisatta ( calon-Buddha ) mendapat ramalan-pasti dari seorang Samma-Sambuddha ; dalam kasus ini, adalah sejak Petapa-Sumedha mendapat ramalan pasti dari Buddha-Dipankara bahwa kelak ia akan terlahir dalam keluarga Sakya berkasta Ksatriya, bernama Siddhatta-Gotama dan akan mencapai tingkat Samma-Sambuddha. Periode Empat A.K + 100.000 Kappa ini hanyalah menggambarkan periode dimana Boddhisatta menyempurnakan ke-sepuluh Kesempurnaan ( Dasa-Paramitha ), yang dikenal sebagai masa “Kaya-Panidhana-Kala”.  Lagipula, waktu selama Empat (4) Asankkheyya-Kappa ( atau = satu (1) Maha-Kappa / 1 siklus dunia saja ) ditambah (+) seratus ribu (100.000) Maha-Kappa untuk merealisasi ke-Buddha-an hanya berlaku bagi Boddhisatta Pannadhika ( calon Buddha dengan faktor kebijaksanaan kuat ) , sedangkan untuk Boddhisatta Saddhadhika ( calon Buddha dengan faktor keyakinannya yang lebih kuat ) akan membutuhkan waktu 8 A.K + 100.000 Maha-Kappa ; dan bagi Boddhisatta Viriyadhika ( calon Buddha dengan faktor usahanya yang lebih kuat ) membutuhkan waktu 16 A.K + 100.000 Maha-Kappa.

Untuk mengerti bagian ini perlu memahami satuan-waktu dalam bahasa Pali yang digunakan untuk menerangkan hal ini. Mereka adalah :

–          Maha Kappa [Maha-Kalpa] atau siklus dunia.

–          Asankkheyya-Kappa atau periode yang tak dapat dihitung lamanya.

–          Antara-Kappa ( Anto-Kappa )

Dalam rentang perjalanan manusia, (sesungguhnya) terdapat suatu masa dimana seluruh ummat manusia hanya akan mempunyai batas waktu umur rata-rata hingga 10 tahun. Masa ini terjadi ketika moralitas ummat manusia sedemikian merosotnya, sehingga umurnya hanya akan bertahan hingga 10 tahun, sesudah itu mati. Masa selang antara batas usia manusia rata-rata 10 tahun lalu naik sampai usia yang panjang sekali hingga mencapai delapan puluh ribu ( 80.000 ) tahun, lalu turun kembali hingga batas usia rata-rata menjadi 10 tahun kembali, itu adalah rentang waktu 1 “Antara-Kappa” ( Antara satu kappa ke Kappa berikutnya, itulah “Antara-Kappa” ).

Satu ( 1 ) Asankheyya Kappa adalah sama dengan 20 Antara Kappa. Satu ( 1 ) Asankheyya Kappa, oleh beberapa sarjana ( sekali lagi, hal ini dinyatakan oeh beberapa sarjana, sebab ada pula para sarjana lainnya yang menyebutkan angka waktu yang berbeda ) dinyatakan, bila dialjabarkan sama dengan 10 pangkat 14 ( angka satu ( 1 ) diikuti empat belas (14)  angka nol),  sehingga lamanya mencapai kurang lebih 100 trilyun tahun. Dan Satu ( 1 ) Maha Kappa adalah sama dengan empat ( 4 ) Asankheyya Kappa, sehingga 1 Maha Kappa lamanya mencapai kurang lebih 400 trilyun tahun.

Sang Buddha menjelaskan siklus dunia sebagai berikut : Banyak, banyak tahun dari zaman sekarang suatu hujan deras yang destruktif (menghancurkan) akan terjadi, dan sebagai akibatnya sistem dunia akan berakhir. Kemudian, setelah satu waktu yang lama, dunia akan berkembang kembali. Dan kemudian, setelah satu periode yang lama, hujan lebat yang destruktif lainnya akan terjadi dan menghancurkan sistem dunia. Periode antara dua hujan yang destruktif adalah satu siklus dunia. Buddha telah membagi satu (1) siklus dunia menjadi empat (4) periode :

–          Samwata-kappa

–          Samwattatthayi-Kappa

–          Wiwata-kappa

–          Wiwatattathayi-kappa

Samwatta-kappa : Periode pertama dari siklus dunia yang dikenal sebagai Samwatta-kappa merupakan periode yang sangat panjang antara hujan besar yang menghancurkan dan munculnya tujuh matahari, yang mana pada waktu itu seluruh sistem dunia terbakar habis. Period ini dikenal sebagai periode kekacauan atau periode tahap pembubaran.

Samwattathayi-Kappa : Periode kedua dari siklus dunia, yang dikenal sebagai Sawattatthayi, adalah ketika langit dan berbagai surga (cakrawala) yang diatas dan dibawah dunia ditutupi dengan debu tebal dan kegelapan. Periode yang lama ini dikenal sebagai periode berlangsungnya kekacauan, atau periode berlangsungnya tahap pembubaran.

Wiwatta-kappa : Periode ketiga, yang dikenal sebagai witatta-kappa, dimulai dengan hujan deras yang produktif, dan terus berlangsung hingga matahari dan bulan mulai muncul. Periode ini dikenal sebagai periode perkembangan yang panjang.

Wiwattatthayi-Kappa : Periode keempat, yang dimulai ketika matahari dan bulan muncul melalui debu, yang dikenal sebagai wiwattatthayi, kelangsungan evolusi, dan berlangsung hingga hujan besar berikutnya yang menghancurkan.

Masing-masing fase dari keempat fase tersebut diatas dibagi menjadi 20 anto-kappa (64 menurut beberapa teks).

Masing-masing fase tersebut disebut “Kappa-Menengah” / Asankkheyya-Kappa. Kappa-menengah terdiri dari dua-puluh ( 20 ) kappa-kecil / anto-kappa. Kappa-kecil /anto-kappa pertama disebut kappa-turun, dan kappa-kecil terakhir ( yang ke-20 ) disebut kappa naik.

Delapan-belas ( 18 ) kappa-kecil di antara kappa-turun dan kappa-naik merupakan siklus yang terdiri atas paruh-pertama naik dan paruh-kedua turun.

Sehingga, yang dimaksud dengan satu siklus dunia adalah dari Samwatta-Kappa , lalu melewati Samwattathayi-Kappa, melewati Wiwatta-Kappa, melewati Wiwattatthayi-Kappa, kemudian kembali lagi pada era Samwatta-Kappa ; demikianlah sehingga dinyatakan bahwa satu siklus dunia adalah periode antara dua hujan yang destruktif. Lamanya satu siklus dunia adalah sama-dengan satu (1) Maha-Kappa ( atau = empat (4) Asankkheyya-Kappa ).

Sedangkan yang dimaksud dengan satu (1) periode adalah satu periode dari keempat periode dalam satu siklus dunia tersebut ( yaitu : Samwatta-Kappa , Samwattathayi-Kappa, Wiwatta-Kappa, Wiwattatthayi-Kappa ). Lamanya satu periode adalah sama dengan satu (1) Asankkheyya-Kappa ( atau = dua puluh (20) Antara-Kappa / Anto-Kappa )

Kita sekarang berada di salah satu dari dua puluh anto-kappa dalam periode yang dikenal sebagai Wiwattatthayi, kelangsungan evolusi. Dalam setiap anto-kappa jangka hidup seseorang naik hingga satu periode yang sangat panjang, dan menurun lagi hingga kira-kira sepuluh tahun. Kita sekarang berada dalam periode yang sangat menguntungkan. Lima Buddha dilahirkan dalam siklus dunia ini ( karenanya dikenal sebagai Maha Baddha Kappa). Empat Buddha telah muncul. Era (zaman) Buddha Metteya (Maitreya) belum datang.

Waktu yang diperlukan untuk terbentuk dan hancurnya suatu sistem dunia sangatlah panjang; diperlukan sangat banyak kappa ( sebagai satuan waktu ) untuk itu. Sewaktu Sang Buddha ditanya tentang panjang kurun waktu satu kappa, Beliau menjawab :

“ Sangat panjang kurun waktu satu kappa. Tak dapat diperhitungkan dengan tahun, abad ataupun ribuan abad.”

“ Bila demikian, Guru, dapatkah dengan menggunakan perumpamaan?”

“Dapat,. Bayangkan bongkahan suatu gunung besar, tanpa retak, tanpa celah, padat, berukuran panjang 1 mil, lebar 1 mil dan tingginya juga 1 mil. Lalu bayangkan setiap seratus tahun ada orang datang menggosoknya dengan sepotong sutra Benares. Maka, akan lebih cepat bukit itu habis tergosok daripada suatu masa kappa berlalu. Pula ketahuilah, lebih dari satu, lebih dari ribuan, lebih dari ratusan ribu kappa, sebenarnya telah berlalu.”

Tentu saja selendang sutra akan habis sebelum batu itu terkikis habis. Buddha memberikan perumpamaan yang indah itu untuk memberikan sebuah gagasan pikiran kepada kita, bahwa satu siklus dunia atau maha Kappa itu sungguh-sungguh teramat sangat lama.

Sang Buddha menjelaskan, bahwa alam-semesta ini telah mengalami siklus “daur-ulang” berulang-kali, sehingga kiamat dalam Buddha-Dhamma tidaklah dianggap sebagai “akhir-dunia”, karena setelah kiamat, maka alam-semesta ini akan mengalami proses siklus pembentukan kembali.   Oleh karena itulah dinyatakan bahwa Sang Buddha membutuhkan waktu selama 300.000 siklus dunia  ( atau = 300.000 Maha-Kappa ) plus (+) 20 periode ( 20 Asankheyya-Kappa ; atau / sama dengan 400 antara-kappa )  yang tak terhitung lamanya untuk mencapai Pencerahan batin Sempurna dan menjadi seorang Buddha.

Jika kita bisa memahami, mengimajinasikan betapa sangat lamanya jangka waktu yang dibutuhkan untuk merealisasi ke-Buddha-an ini, maka kita tidak akan hanya mengagumi tugas mulia seorang Boddhisatta, tetapi juga ketabahan dan keuletan serte keteguhan-hati-Nya untuk mencapai ke-Buddha-an yang Tertinggi (Samma-Sambuddha).

ERA PRA MANO-PANIDHANA KALA

( Era Sebelum Aspirasi Mental)

Era ini adalah era ketika Sang Buddha Gotama pertama kali bercita-cita untuk mencapai ke-Buddha-an. Ini adalah sebuah masa yang sudah sangat lama sekali, lebih dari 300.000 siklus dunia yang lampau ( seperti sudah kita pahami, satu siklus dunia adalah satu siklus dari masa hujan destruktif di masa penghancuran alam semesta, kemudian sampai kepada pembentukan dan evolusi seperti masa kita hidup di abad ke-21 sekarang ini, hingga kelak saat masa kiamat / penghancuran datang kembali ; itulah satu siklus dunia ) , dan ditambah 20 periode yang tidak terhitung yang telah berlalu.

Pada saat itu, Buddha kita dilahirkan di dalam sebuah keluarga miskin. Setelah ayahnya meninggal, dia menghidupi ibunya penuh kesulitan dengan menjual kayu bakar dan sayuran. Karena sulit untuk bertahan hidup dengan penghasilannya itu, dia memutuskan untuk menumpang sebuah kapal dagang dalam perjalanannya menuju Suwanna-Bhumi. Tetapi ibunya berat hati untuk membiarkan dia pergi sendiri. Untuk menyenangkan ibunya, dia membawa serta ibunya di kapal itu. Suatu hari, kurang lebih seminggu setelah kapal berangkat, sebuah badai mengamuk dan kapal terbalik. Sebagian besar penumpangnya tenggelam. Lelaki miskin itu berenang dengan berani untuk mencari ibunya. Kemudian, dengan mempertaruhkan hidupnya, dia menggendong ibunya di punggnungnya dan dengan susah payah dia berenang ke daratan.

Ibunya yang berterimakasih memberkahi anaknya dengan mengatakan, “Karena kamu menyelamatkan aku dari tenggelam di laut, maka suatu hari kamu akan mampu menyelamatkan orang-orang lain dari segala penderitaan mereka ( menjadi seorang Buddha ) “.

Diilhami oleh kata-kata ibunya orang miskin itu membuat aspirasi mental yang pertama muncul untuk mencapai ke-Buddha-an. Dia berpikir, “Semoga pada suatu hari aku dapat menyelamatkan makhluk-makhluk hidup, dengan menunjukkan kepada mereka jalan untuk meghancurkan penderitaan.”

Sejak saat itu dan seterusnya, dia dikenal sebagai “Boddhisatta” ( Skt. : Boddhisattva ) ~ seseorang yang berada di Jalan menuju Kesempurnaan ; atau orang yang bercita-cita untuk mencapai tingkat Buddha. Boddhisatta kemudian memulai tugas yang berat untuk menyempurnakan diri-Nya dengan mengikuti praktik yang dikenal sebagai “Dasa-Paramita” ( Sepuluh-Kesempurnaan ) :

  1. Kesempurnaan Kemurahan-Hati ( Dana-Paramita )
  2. Kesempurnaan Moralitas ( Sila-Paramita )
  3. Kesempurnaan Pelepasan-Keduniawian ( Nekkhama-Paramita )
  4. Kesempurnaan Kebijaksanaan ( Panna-Paramita )
  5. Kesempurnaan Semangat ( Viriya-Paramita )
  6. Kesempurnaan Kesabaran ( Khanti-Paramita )
  7. Kesempurnaan Kebenaran ( Sacca-Paramita )
  8. Kesempurnaan Kebulatan-Tekad ( Adhitthana-Paramita )
  9. Kesempurnaan Cinta-Kasih ( Metta-Paramita )
  10. Kesempurnaan Keseimbangan-Batin ( Upekkha-Paramita )

Ada dua kisah Jataka ( kisah kehidupan lampau Sang Buddha Gotama ) yang berhubungan dengan saat antara aspirasi mental pertama ini , dengan aspirasi mental pertama yang dibuat oleh Boddhisatta bernama Sumedha di hadapan seorang Samma-Sambuddha ( yaitu dihadapan Buddha-Dipankara ).

Pada titik waktu tersebut, ketika Boddhisatta pertama kali membuat aspirasi mental untuk mencapai ke-Buddha-an di hadapan seorang Samma-Sambuddha, periode Mano-Panidhana Kala dimulai.

Kisah pertama menceritakan saat Boddhisatta dilahirkan sebagai anak laki-laki Raja Benares. Dia kemudian dikenal sebagai Sattutapa. Setelah ayahnya meninggal, dia naik tahta sebagai Raja. Raja memiliki seekor gajah yang terlatih dan indah. Ketika mendengar bahwa salah satu taman-Nya dihancurkan oleh gajah-gajah liar, raja berangkat dengan menunggang gajahnya yang terlatih untuk memeriksa kerusakan. Sementara dia memeriksa tingkat kerusakan dan berkata kepada menterinya, gajahnya yang terlatih mencium bau gajah betina yang hadir di malam sebelumnya. Gajah yang terlatih itu melepaskan diri dan meninggalkan pawangnya, dan berlari ke dalam hutan mengejar gajah betina itu. Beberapa hari kemudian, gajah itu kembali dan pawangnya menjelaskan kepada raja bahwa, gajah yang biasanya taat itu telah berubah dan pergi karena nafsu birahinya kepada gajah betina itu.

Raja merenungkan informasi itu,  dan, karena merasa jijik pada akibat nafsu birahi pada gajahnya yang tenang, jinak dan terlatih, Beliau memutuskan untuk meninggalkan aneka kesenangan sensual dan menjadi seorang petapa. Dia meninggalkan milik-milik duniawinya dan kerajaannya, lalu menjalani kehidupan sebagai orang suci. Meskipun periode Kaya-Panidhana-Kala baru saja berlangsung, Boddhisatta telah melengkapi kesempurnaan dalam pelepasan. Dia mulai mempraktikkan kesempurnaan dalam hal ini.

Kisah kedua, mengisahkan bagaimana Boddhisatta dilahirkan sebagai seorang Brahmana bernama Brahma-Kumara. Pada usia ke-16 tahun dia menyelesaikan pendidikannya dan menjalani kehidupan sebagai seorang petapa. Dia bermeditasi di kaki Gunung Munda dengan murid-muridnya, dimana murid utamanya adalah Buddha masa depan : Metteya ( Maitreya ). Suatu hari, ketika mereka pergi mencari buah-buahan untuk dimakan, Boddhisatta melihat induk harimau yang kelaparan yang baru saja melahirkan yang berada di dasar sebuah jurang yang terjal. Melihat induk harimau yang kelaparan itu hampir memangsa bayi-bayinya, dia memanggil muridnya yang utama dan meminta dia untuk mencari bangkai binatang yang mati, untuk diberikan kepada induk harimau itu. Akan tetapi, sebelum muridnya kembali, Boddhisatta melihat induk harimau itu mulai menerkam bayi-bayinya. Untuk menjalankan cita-cita luhur ke-Buddha-an, dia melompat dari jurang terjal dan membiarkan induk harimau yang kelaparan itu menyantap dirinya, dengan demikian dia menyelamatkan kehidupan bayi-bayi harimau. Sebagian orang berpikir, bahwa kematian ini yang menyebabkan Buddha-Gotama mencapai ke-Buddha-an terlebih-dahulu sebelum Maitreya mencapai ke-Buddha-an kelak. Lebih dari 300.000 siklus dunia dan 20 periode yang tak terhitung yang lalu Boddhisatta telah memulai mempraktikkan kemurahan-hati. Sekian tahun kemudian, selama Kaya-Panidhana-Kala, Beliau telah mencapai kesempurnaan dalam kemurahan-hati (dana).

ERA MANO-PANIDHANA KALA

( Era Aspirasi Mental )

Era ini masih dalam hitungan waktu 300.000 siklus dunia + 20 periode yang tak terhitung lamanya diwaktu yang lampau. Era Mano-Panidhana-Kala ini dilalui selama 100.000 siklus dunia diselingi dengan tujuh periode yang tak terhitung lamanya.

Era Mano-Panidhana-Kala ini dilalui selama 100.000 siklus dunia diselingi dengan tujuh periode yang tak terhitung lamanya. Selama ini Boddhisatta menyatakan cita-cita luhur untuk mencapai ke-Buddha-an di hadapan seorang Buddha yang lain.

Boddhisatta Gotama saat itu dikenal sebagai Raja Atidewa. Samma-Sambuddha yang ada saat masa hidupnya Raja Atidewa ini adalah Buddha Brahma-Dewa.

Pada suatu ketika, Raja Atidewa sedang melihat keluar dari balkonnya di istana ketika dia melihat Buddha Brahma-Dewa. Raja segera mendekati Buddha, memujanya dengan bunga-bunga melati dan menyatakan cita-cita luhurnya untuk mencapai ke-Buddha-an. Dia kemudian membangun vihara besar untuk Buddha dan menyediakan segala kebutuhan untuk Beliau dan para Bhikkhu-Nya.

Selama periode Mano-Panidhana-Kala ini, terdapat 125.000 Samma-Sambuddha. Boddhisatta kita menjumpai semua Buddha tersebut dan menyatakan cita-cita luhurnya untuk mencapai ke-Buddha-an di hadapan setiap Buddha setelah melakukan berbagai perbuatan yang bajik.

Kemudian melalui satu periode dengan banyak siklus dunia dimana selama itu tidak ada seorang Samma-Sambuddha. Boddhisatta dilahirkan sebagai seorang yang mencapai Jhana, dan dilahirkan di alam Brahma.

ERA WACI-PANIDHANA-KALA

(Era Aspirasi Verbal)

Era ini terjadi pada 200.000 siklus dunia + 13 periode yang lampau yang tak terhitung lamanya. Era Waci-Panidhana-Kala ini dilalui selama 100.000 siklus dunia + 9 periode yang tak terhitung lamanya.

Selama era ini, Boddhisatta Gotama menyatakan aspirasi verbal di hadapan Buddha yang lain.

Periode ini dimulai pada zaman Buddha Purana-Gotama.

Sebagaimana dikisahkan, pada akhir era Mano-Panidhana-Kala, Boddhisatta terlahir kembali di alam Brahma. Setelah masa hidupnya di alam Brahma dijalani sepenuhnya, Boddhisatta dilahirkan sebagai Pangeran Sagara di dalam keluarga istana di kota Dhannawati. Setelah menyelesaikan pendidikannya dia dinobatkan sebagai seorang penguasa dunia.

Pada zaman itu ada seorang raja bernama Yasaniwasa dann seorang ratu bernama Wimala yang memerintah kota Siriniwasa. Anak laki-laki mereka meninggalkan kehidupan istana untuk mencapai ke-Buddha-an, dan 14 hari kemudian mencapai Pencerahan-Sempurna. Dia kemudian dikenal sebagai Buddha-Gotama, yang sekarang ini disebut sebagai Buddha Gotama-Purana ( Sesepuh ; Buddha Gotama-Purana ini bukan Buddha-Gotama kita yang terakhir hidup sebagai Pangeran Siddhatta Gotama ). Ketika Pangeran Sagara ( Calon Buddha kita ) mendengar bahwa Buddha Gotama-Purana sedang mengunjungi Dhanawati, dia tertarik dan meninggalkan istana dan pergi memberikan penghormatan kepada Buddha. Kemudian, setelah membangun vihara besar untuk Buddha dan menyediakan segala keperluan Beliau, dia kemudian menyatakan cita-citanya untuk mencapai ke-Buddha-an.

Pangeran Sagara, Boddhisatta kita, berkata, “Yang-Mulia, dengan perbuatan-perbuatan bajik ini, semoga aku, seperti halnya Anda, dilahirkan di dalam keluarga yang dikenal sebagai kaum Sakya dan dikenal sebagai Gotama, seperti Anda, dan semoga saya mencapai ke-Buddha-an pada suatu hari di masa depan.”

Buddha Gotama-Purana kemudian meramalkan,”Jika kamu memenuhi semua kesempurnaan, kamu pasti akan mencapai keinginanmu dan mencapai ke-Buddha-an.”

Demikianlah Boddhisatta kita menyatakan aspirasi verbal yang pertama, dan menerima ramalan pertama yang tidak spesifik (dari segi tempat, waktu, dll.)  ini. Kemudian dia meninggalkan kerajaannya dan menjadi murid Buddha Purana-Gotama.

Selama periode ini, ada 38.700 Buddha dan Boddhisatta kita menjumpai setiap Buddha itu dan menyatakan aspirasi verbalnya di hadapan mereka, dan menerima ramalan yang tidak spesifik dari setiap Buddha.

Bertemu dengan  Buddha-Tanhangkara

Periode berikutnya dari era Waci-Panidhana-Kala adalah pada masa Buddha-Tanhangkara. Ini terjadi pada masa 100.000 siklus dunia + empat periode yang lampau yang tak terhitung lamanya.

Sepanjang periode ini, berlangsunglah Maha-Kappa dari Waci-Panidhana-Kala. Selama Maha-Kappa dari Waci-Panidhana-Kala berlangsung, di kota Pupphawati, memerintah Raja bernama Sunanda dan Ratu bernama Sunanda-Dewi.

Mereka memiliki anak laki-laki bernama Tanhangkara yang meninggalkan kerajaannya, dan setelah mempraktikkan berbagai kebajikan selama satu minggu, mencapai Pencerahan-Sempurna. Pada waktu itu, Boddhisatta kita dilahirkan sebagai Raja dunia bernama Sudassana di kota Surindawati. Melihat Buddha-Tanhangkara, Raja Sudassana melakukan banyak perbuatan bajik dan menyatakan aspirasi verbal untuk mencapai ke-Buddha-an. Kembali Boddhisatta kita menerima ramalan tidak spesifik. Dia kemudian meninggalkan kerajaannya dan menjadi murid Buddha-Tanhangkara.

Bertemu dengan Buddha-Medhangkara

Periode berikutnya dari era Waci-Panidhana-Kala adalah pada masa Buddha-Medhangkara. Ini terjadi pada masa 100.000 siklus dunia + empat periode yang lampau yang tak terhitung lamanya.

Sepanjang periode ini, berlangsunglah Maha-Kappa dari Waci-Panidhana-Kala. Dalam anto-kappa ini, di kota Mekhala, memerintah seorang Raja bernama Sudewa dan ratu bernama Yasodhara. Mereka memiliki seorang anak laki-laki bernama Medhangkara yang meninggalkan kerajaannya, dan mempraktikan berbagai kebajikan dan mencapai Pencerahan-Sempurna.

Pada masa itu Boddhisatta kita dilahirkan di dalam keluarga seorang Brahmana, dan dia bernama Somanassa menurut nama kota dimana dia tinggal. Somanassa mempersembahkan berbagai dana kepada Buddha-Medhangkara dan membangun beberapa ruangan untuk meditasi, kemudian bergabung sebagai murid Buddha-Medhangkara. Kembali Boddhisatta kita menyatakan aspirasi verbal untuk mencapai ke-Buddha-an dan menerima ramalan yang tidak spesifik.

Bertemu dengan Buddha-Saranangkara

Periode berikutnya dari era Waci-Panidhana-Kala adalah pada masa Buddha-Sarangkara. Ini terjadi pada masa 100.000 siklus dunia + empat periode yang lampau yang tak terhitung lamanya.

Sepanjang periode ini, berlangsunglah Maha-Kappa dari Waci-Panidhana-Kala. Dalam anto-kappa berikutnya, di kota Wipula, memerintah seorang Raja bernama Sumanggala dan Ratu Yasawathi. Mereka memiliki anak laki-laki bernama Saranangkara yang meninggalkan kerajaannya, dan mempraktikkan berbagai kebajikan dan mencapai Pencerahan-Sempurna. Pada zaman itu Boddhisatta dilahirkan dalam keluarga seorang Brahmana bernama Yasawanta. Dia membangun banyak vihara dan menyediakan nasi susu dan kebutuhan lain untuk Buddha. Dia kemudian menyatakan aspirasi verbal dan kembali menerima ramalan yang tidak spesifik. Dia kemudian bergabung dengan Sangha para Bhikkhu, merealisasi Jhana, dan dilahirkan di alam Brahma.

Hingga bertemu Buddha-Saranangkara, Boddhisatta kita belum memenuhi berbagai kebutuhan yang diperlukan untuk menerima Pernyataan yang Pasti. Semua yang Beliau terima dari para Buddha tersebut hanyalah pernyataan yang tidak spesifik.

Setelah bertemu dengan ketiga Buddha ini : Buddha Tanhangkara, Buddha Medhangkara, Buddha Saranangkara ; Boddhisatta kita akan mulai mendapat ramalan pasti saat nanti bertemu dengan Buddha-Dipangkara dan hingga ke-23 Buddha lainnya berikutnya setelah Buddha-Dipangkara. Era dimana Boddhisatta kita mendapat ramalan pasti bahwa kelak Beliau akan mencapai ke-Buddha-an, disebut dengan era “Kaya-Pinidhana-Kala”.

ERA KAYA-PANIDHANA-KALA

(Era Tindakan)

Era ini terjadi pada 100.000 siklus dunia + 4 periode yang lampau yang tak terhitung lamanya. Era Kaya-Pinidhana-Kala ini dilalui selama 100.000 siklus dunia ( 100.000 Maha Kappa ) + 4 periode ( 4 Asankkheyya Kappa ) yang tak terhitung lamanya.

Periode ini dimulai pada zaman Buddha-Dipankara. Boddhisatta kita saat itu dikenal sebagai Petapa Sumedha.

Periode yang dilalui selama 4 Asankkheyya Kappa + 100.000 Maha-Kappa / Siklus dunia ini, adalah periode dimana Boddhisatta menerima ramalan yang pasti (spesifik) dari Samma-Sambuddha yang lain.

Pada saat itu, Boddhisatta kita dilahirkan di dalam satu keluarga Brahmana dan bernama Sumedha. Dia telah mendistribusikan seluruh kekayaannya di antara kaum miskin dan menjalani kehidupan sebagai seorang petapa.

Pada saat yang sama ada seorang Raja bernama Sumedha, dan seorang Ratu bernama Sumedha yang memerintah kota Rammawati. Anak laki-laki mereka meninggalkan kehidupan istana dan mencapai Pencerahan-Sempurna. Beliau dikenal sebagai Buddha Dipankara. Ketika mendengar bahwa Buddha-Dipankara sedang berkunjung, Petapa Sumedha mulai menghiasi satu jalur jalan yang akan dilalui Beliau. Akan tetapi, Buddha Dipankara tiba sebelum petapa Sumedha selesai menyiapkan jalan itu. Sejangkauan jalan di hadapan Buddha berlumpur. Dengan merebahkan tubuh melintang di bidang yang berlumpur itu, Sumedha meminta agar Buddha-Dipankara dan para pengikut-Nya meniti dirinya supaya kakinya tidak kotor. Kemudian Boddhisatta kita menyatakan tekadnya untuk mencapai ke-Buddha-an. Buddha-Dipankara memberinya delapan genggam bunga melati-putih yang melambangkan “Jalan-Ariya-Beruas-Delapan” yang direalisasi semua Buddha.

Buddha-Dipankara kemudian memberikan ramalan secara pasti (spesifik), dengan bersabda, “ Di masa depan yang jauh, kamu akan dilahirkan sebagai orang dari suku Sakya, dan akan mencapai Pencerahan-Sempurna sebagai Buddha-Gotama.” Sejak menerima ramalan pasti ini, Boddhisatta  mulai berjuang untuk menyempurnakan “Dasa-Paramaita” ( Sepuluh-Kesempurnaan ).

Delapan kondisi harus dimiliki untuk menerima ramalan (proklamasi) yang pasti (spesifik). Kedelapan kondisi tersebut adalah :

  1. Ia adalah manusia
  2. Ia adalah laki-laki
  3. Telah memenuhi semua kondisi seperti Kesempurnaan yang diperlukan untuk meraih tingkat ke-Arahatta-an dalam kehidupan itu juga
  4. Dia harus bertemu muka dengan muka dengan seorang Buddha yang hidup.
  5. Dia harus menjadi seorang Petapa yang percaya hukum karma (Kammavadi) atau pernah menjadi anggota Sangha dalam masa kehidupan seorang Buddha.
  6. 6. Dia harus memiliki kekuatan-batin / mencapai keempat Rupa-Jhana dan keempat Arupa-Jhana ( yang dikenal sebagai “Attha-Samapatti-Jhana-Labhi” ).
  7. Berusaha keras untuk mengembangkan kesempurnaan tanpa memperdulikan hidupnya .
  8. Dia harus memiliki kebulatan tekad yang kuat untuk menjadi seorang Buddha meskipun dia tahu bahwa dia akan menanggung penderitaan sebagai binatang, setan, dan lain-lain di dunia yang menyedihkan. Dengan kata lain, dia harus mencegah dirinya untuk mencapai tingkat Arahat, dengan tekad bulat dan tetap berdiam di dalam samsara untuk kepentingan ummat manusia dan para dewa.

Pada zaman Buddha-Dipankara, lebih dari 200.000 siklus dunia + 16 periode yang tak terhitung lamanya setelah Beliau menyatakan aspirasi mentalnya yang pertama, Boddhisatta kita menemukan delapan perolehan dan menerima ramalan yang pasti (spesifik).

Cita-cita Boddhisatta untuk menjadi seorang Buddha kini telah pasti. Tetapi pada tingkat ini pun, setelah sekian tahun yang tak terhitung lamanya mempraktikkan kemurahan hati (Dana), moralitas (Sila), pelepasan (Nekkhama), Kebenaran (Sacca), dan lain-lain, Boddhisatta kita masih seorang duniawi (puthujjana). Yaitu, bahwa dia tidak mencapai kesucian, bahkan belum pula merealisasi tingkat kesucian yang pertama ; Sottapanna.

Tetapi jika Boddhisatta saat itu menghendaki, saat itu juga ia dapat memenangkan kebebasan-Nya dengan merealisasi tingkat Arahat. Pada tahapan ini dia menahan pencapaian ini, dengan kebulatan tekad dan terus di dalam samsara untuk menyempurnakan Dasa-Paramita demi kebaikan ummat-manusia. Pada hari yang bersejarah di saat ia menerima ramalan pasti dari Buddha-Dipankara, petapa Sumedha membuat pernyataan sebagai berikut :

“Hari ini jika keinginanku demikian, Pelanggaran-pelanggaranku  akan memakan aku.

Tetapi untuk apa buah Ajaran menyelamatkan aku sebelum Aku mencapai Kemahatahuan                ( Sabbanuta-Nana ) ?

Aku akan mencapai Kemahatahuan lebih dahulu,

Dan menjadi Buddha di dunia.

Tetapi buat apa aku, seorang manusia yang berani,

Mencari lautan untuk menyeberang seorang diri ?

Kemahatahuan harus aku capai lebih dahulu,

Dan ummat manusia dan para dewa beramai-ramai menyeberang.

Boddhisatta mengetahui bahwa ada banyak perangkap antara waktu itu dengan waktu ketika Beliau ingin mencapai ke-Buddha-an Tertinggi, mengetahui bahwa, di dalam samsara Beliau ~ melalui tindakannya ~ dapat dilahirkan di dalam salah satu alam yang tidak bahagia, mengetahui dirinya memiliki kemampuan untuk mencapai keselamatan, Boddhisatta Sumedha menghindarinya demi kita. Beliau menghindarinya untuk kebaikan ummat manusia dan para dewa.

Selama periode ini, yang dikenal sebagai Kaya-Panidhana-Kala, Boddhisatta menyempurnakan dirinya ( menyempurnakan “Dasa-Pamaita” / Sepuluh-Kesempurnaan ) dan mempertahankan kebulatan tekad dan cita-citanya untuk mencapai ke-Buddha-an. Pada era Kaya-Panidhana-Kala inilah keseluruhan dari Dasa-Paramita selesai disempurnakan oleh Boddhisatta, dan kelak akan terlahir terakhir kalinya sebagai manusia bernama Pangeran Siddhatta Gotama.

Pada era Kaya-Panidhana-Kala ini, Boddhisatta kita menerima ramalan pasti dari ke-24 Samma-Sambuddha yang lain. Ke-24 Samma-Sambuddha tersebut adalah sebagai berikut :

1. Buddha Dipankara ~ Boddhisatta dilahirkan sebagai Petapa Sumedha dan menerima ramalan yang pasti (spesifik).

Setelah berlalu satu periode yang lamanya 1 Asankkheyya-Kappa , kemudian muncullah Samma-Sambuddha yang berikutnya, yaitu Buddha Kondanna.

2. Buddha Kondanna ~ Boddhisatta kita terlahir sebagai manusia dan menjadi seorang Raja Cakkavatti bernama Vijjitavi.

Setelah berlalu satu periode yang lamanya 1 Asankkheyya-Kappa, kemudian muncullah Samma-Sambuddha yang berikutnya, yaitu Buddha Manggala.

3. Buddha-Manggala ~ Boddhisatta terlahir sebagai manusia dan menjadi seorang Brahmana bernama Suruci.

4. Buddha Sumana ~ Boddhisatta kita terlahir sebagai seekor naga dan menjadi Raja Naga bernama Atula.

5. Buddha Rewata ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia dan menjadi Brahmana bernama Atideva.

6. Buddha Sobhita ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia dan menjadi Brahmana bernama Ajita.

Setelah berlalu satu periode yang lamanya 1 Asankkheyya-Kappa, kemudian muncullah Samma-Sambuddha yang berikutnya, yaitu Buddha Anomadassi.

7. Buddha Anomadassi ~ Boddhisatta kita terlahir sebagai makhluk setan dan menjadi pemimpin para Asura.

8. Buddha Paduma ~ Boddhisatta kita terlahir sebagai seekor singa.

9. Buddha Narada ~ Boddhisatta kita terlahir sebagai seorang manusia dan menjadi seorang petapa bernama Jatila.

Setelah berlalu satu periode yang lamanya 1 Asankkheyya-Kappa kemudian muncullah Samma-Sambuddha yang berikutnya, yaitu Buddha Padumuttara.

10. Buddha Padumuttara ~ Boddhisatta kita terlahir menjadi seorang laki-laki yang kaya-raya bernama Jatila. Periode ini terjadi pada 100.000 Maha-Kappa sebelum kelahiran kembali Boddhisatta kita yang terakhir kalinya sebagai seorang manusia dan menjadi Pangeran Siddhatta Gotama yang kelak merealisasi ke-Buddha-an menjadi Buddha-Gotama.

Setelah berlalu satu periode yang lamanya 70.000 Maha-Kappa ( 70.000 siklus dunia ) kemudian muncullah Samma-Sambuddha yang berikutnya, yaitu Buddha Sumedha.

11. Buddha Sumedha ~ Boddhisatta kita terlahir sebagai manusia dan menjadi seorang Brahmana bernama Uttara ; yang nantinya akan menjadi Bhikkhu.

Periode ini terjadi pada 30.000 Maha-Kappa ( 30.000 siklus dunia ) sebelum kelahiran kembali Boddhisatta kita yang terakhir kalinya sebagai seorang manusia dan menjadi Pangeran Siddhatta Gotama yang kelak merealisasi ke-Buddha-an menjadi Buddha-Gotama.

Setelah berlalu satu periode yang lamanya 12.000 Maha-Kappa ( 12.000 siklus dunia )  kemudian muncullah Samma-Sambuddha yang berikutnya, yaitu Buddha Sujata.

12. Buddha Sujata ~ Boddhisatta kita terlahir menjadi seorang manusia dan menjadi seorang Raja bernama Raja Cakkavatti.

Periode ini terjadi pada 18.000 Maha Kappa ( 18.000 siklus-dunia ) sebelum kelahiran kembali Boddhisatta kita yang terakhir kalinya sebagai seorang manusia dan menjadi Pangeran Siddhatta Gotama yang kelak merealisasi ke-Buddha-an menjadi Buddha-Gotama.

13. Buddha Piyadassi ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia dan menjadi Brahmana bernama Kassapa.

14. Buddha Atthadassi ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia dan menjadi petapa bernama Susima.

15. Buddha Dhammadassi ~ Boddhiasatta kita terlahir kembali sebagai seorang raja Dewa , yaitu sebagai Dewa Sakka.

16. Buddha Siddhatta ~ Boddhisatta kita terlahir menjadi seorang manusia dan menjadi petapa bernama Manggala.

17. Buddha Tissa ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia dan menjadi seorang raja bernama Sujata yang kemudan menjadi seorang petapa.

Periode ini adalah 92 Maha-Kappa ( 92 siklus dunia ) sebelum kelahiran kembali Boddhisatta kita yang terakhir kalinya sebagai seorang manusia dan menjadi Pangeran Siddhatta Gotama yang kelak merealisasi ke-Buddha-an menjadi Buddha-Gotama.

18. Buddha Phussa ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia menjadi seorang Raja bernama Vijitavi yang kemudian menjadi seorang Bhikkhu.

19. Buddha Vipassi ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seekor naga dan menjadi Raja Naga yang bernama Atula. Ini adalah kedua kalinya Boddhisatta kita menjadi Raja Naga bernama Atula, setelah sebelumnya pernah pula terlahir sebagai Naga dan menjadi Raja Naga bernama Atula pada masa Buddha Sumana ( lihat pada point no.4 )

20. Buddha Sikkhi ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia dan menjadi Raja bernama Arindama.

Periode ini adalah 31 Maha-Kappa ( 31 siklus dunia ) sebelum kelahiran kembali Boddhisatta kita yang terakhir kalinya sebagai seorang manusia dan menjadi Pangeran Siddhatta Gotama yang kelak merealisasi ke-Buddha-an menjadi Buddha-Gotama.

21. Buddha Vessabhu ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia dan menjadi Raja bernama Sudassana yang kemudian menjadi Bhikkhu.

Periode ini adalah 1 Maha-Kappa ( 1 siklus dunia ) sebelum kelahiran kembali Boddhisatta kita yang terakhir kalinya sebagai seorang manusia dan menjadi Pangeran Siddhatta Gotama yang kelak merealisasi ke-Buddha-an menjadi Buddha-Gotama.

22. Buddha Kakusandha ~ Boddhisatta kita terlahir kembali menjadi seorang Raja bernama Khema.

Periode ini ada dalam Maha-Kappa ( satu siklus dunia ) yang sama seperti periode Buddha Gotama. Artinya, ada dalam periode siklus dunia yang sekarang ini juga ).

23. Buddha Konagamana ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia dan menjadi Raja bernama Pabbata yang kemudian menjadi seorang Bhikkhu.

Periode ini ada dalam Maha-Kappa ( satu siklus dunia ) yang sama seperti periode Buddha Gotama. Artinya, ada dalam periode siklus dunia yang sekarang ini juga ).

24. Buddha Kassapa ~ Boddhisatta kita terlahir kembali sebagai seorang manusia dan menjadi Brahmana bernama Jotipala.

Periode ini ada dalam Maha-Kappa ( satu siklus dunia ) yang sama seperti periode Buddha Gotama. Artinya, ada dalam periode siklus dunia yang sekarang ini juga ).

Terdapat 24 Buddha di antara waktu Petapa Sumedha menerima ramalan yang pasti (spesifik) terhitung dari semenjak Buddha Dipankara hingga Buddha Gotama kita. Boddhisatta kita menjumpai setiap Buddha dan mendapatkan ramalan yang pasti dari setiap Buddha.

Selama periode antara Buddha Sobhita dan Buddha Anomadassi, dalam periode kegelapan selama 1 Asankkheyya-Kappa ketika tidak ada Dhamma, Boddhisatta kita pernah melakukan perbuatan salah [ Diantara banyak perbuatan yang tidak bermanfaat yang Boddhisatta lakukan selama Kaya-Panidhana-Kala ada 12 ( dua-belas ) dan akibat-akibat perbuatannya dialami bahkan ketika Beliau menjadi Buddha. Ti-Pitaka tidak menjelaskan kedua-belas perbuatan yang dilakukan selama periode ini. Diduga itu adalah pembunuhan terhadap saudaranya laki-laki, karena ini adalah salah satu perbuatan buruk yang lebih serius, dan juga karena Buddha mengatakan bahwa itu adalah periode kegelapan tanpa seorang Samma-Sambuddha. Tujuh dari perbuatan tidak terampil lainnya adalah meliputi penghinaan terhadap seorang Buddha atau murid seorang Buddha. Mungkin pula itu adalah perbuatan tidak-baik yang tidak diceritakan yang habis seluruhnya selama Kaya-Panidhana-Kala ].   Boddhisatta membunuh saudaranya laki-laki untuk mewarisi kekayaan keluarganya. Alasan dia melakukan kesalahan adalah bahwa dia masih seorang duniawi  – seorang Boddhisatta yang telah mempraktikkan “Dasa-Paramita”  ( Sepuluh-Kesempurnaan )  selama berkalpa-kalpa tetapi masih sebagai seorang duniawi, dengan 1.500 Kilesa ( kotoran-batin ) dan nafsu keinginan dan keserakahan seorang duniawi.

Itulah sebabnya pada zaman Buddha Anomadassi Beliau menjadi pemimpin para Asura.

Itulah sebabnya Beliau menjadi seekor singa pada zaman Buddha Paduma.

Itulah sebabnya dia harus menjalani kehidupan di alam binatang dan baru kembali ke bentuk manusia.

Itulah sebabnya ada banyak cerita Jataka dimana Boddhisatta menjadi binatang.

Dan buah-kamma terakhir dari kamma-buruk masa lampau-Nya menyebabkan kaki Sang Buddha terluka ketika Devadatta menggelindingkan batu besar di Gijjhakula dengan tujuan untuk membunuh Sang Buddha. Setelah memberikan anggota-anggota badannya dan hidupnya dalam kelahiran-kelahiran yang tak terhitung, seorang Buddha telah mencapai titik “saturasi” ( puncak, tertinggi ) dalam kemurahan hati dan tidak dapat dibunuh. Tetapi  akibat kamma-buruk masa-lampaunya, meski gelindingan batu besar yang diarahkan Devadatta mengenai Sang Buddha dengan tujuan untuk membunuh Sang Buddha tersebut tidak  mampu menyebabkan terbunuhnya Sang Buddha , namun kaki-Nya tetap terluka dan cukup membuat rasa sakit bagi Sang Buddha.

Dengan membaca kisah-kisah kehidupan lampau Sang Buddha Gotama, kita bisa memetik pelajaran, bahwa betapa berbahayanya dilahirkan di zaman dimana tidak ada Dhamma di dunia. Kita bisa begitu gampangnya berbuat buruk pada zaman dimana perbuatan tidak bermoral dipandang sebagai perbuatan yang wajar.

Dengan memahami kisah perjalanan kehidupan lampau Sang Buddha, kita juga bisa menjadi melihat betapa Boddhisatta membutuhkan waktu yang sangat lama, untuk mendapatkan kembali kelahiran sebagai manusia. Boddhisatta hidup di alam-alam penuh penderitaan sekian tahun yang tak terhitung lamanya.  Dalam Bàlapandita Sutta, Sunnàata Vagga dari Uparipannàsa (Majjhima Nikàya) ada perumpamaan mengenai seekor kura-kura buta sehubungan dengan kalimat, “Manussattabhavo dullabho,” “Sulitnya terlahir menjadi manusia.” Misalnya ada seseorang yang melemparkan sebuah pelampung yang berlubang di tengahnya ke tengah lautan. Pelampung tersebut akan mengapung dan hanyut ke barat jika tertiup angin timur dan ke hanyut ke timur jika tertiup angin barat; hanyut ke selatan jika tertiup angin utara dan hanyut ke utara jika tertiup angin selatan. Dalam lautan tersebut, ada seekor kura-kura buta yang naik ke permukaan air seratus tahun sekali. Kemungkinan kepala kura-kura tersebut dapat masuk ke dalam lubang pelampung yang hanyut tersebut adalah jarang sekali. Sebagai makhluk yang telah mengalami penderitaan di alam sengsara dalam salah satu kehidupannya, adalah seratus kali lebih sulit terlahir menjadi manusia. Banyak teks-teks lain dalam Tipitaka yang menjelaskan sulitnya terlahir menjadi manusia.

Sekarang kita semua menjadi mengerti betapa sangat lamanya perjuangan seorang manusia untuk menjadi Samma-Sambuddha, bagaimana dia harus membulatkan tekad dan bertekun untuk menyempurnakan tugasnya. Bagi kita yang mengetahui kisah-kisah kehidupan lampau Sang Buddha Gotama sebagaimana diuraikan dalam kitab Jataka, kita mengetahui usaha yang diperlukan untuk menyempurnakan kesepuluh “Paramita” ; bagaimana Boddhisatta meninggalkan kekayaan, kehidupannya yang mewah, dan terutama sekali istri dan anaknya, untuk melekngkapi kesempurnaan dalam kemurahan hati; berapa kali Boddhisatta harus menyerahkan kerajaan-Nya untuk mencapai kesempurnaan dalam pelepasan-keduniawian ( Nekkhama ) ; betapa sulit Boddhisatta menyempurnakan kesempurnaan dalam Kebenaran ( Sacca ), Kesabaran ( Khanti ) , dan kesempurnaan ( Paramita ) yang lain-lainnya.

Jikalau kita membandingkan kesempurnaan spiritual Boddhisatta ketika zaman Buddha Dipankara dengan zaman Beliau merealisasi tingkat Samma-Sambuddha, adalah seperti membandingkan sebutir pasir dengan sebuah pegunungan yang lebih besar daripada Himalaya ; namun pada saat masa Buddha Dipankara, Boddhisatta kita telah mencapai Empat Rupa-Jhana dan Empat-Arupa-Jhana ( Attha Samapatti Jhana-Labhi ) dan mampu mencapai kekuatan-kekuatan gaib serta mampu merealisasi ke-Arahatta-an.

Nah, saudara-saudari se-Dhamma semuanya, teramat-lama waktu perjuangan yang harus ditempuh bagi seorang manusia untuk berhasil merealisasi ke-Buddha-an. Apakah ada diantara saudara-saudari se-Dhamma yang berminat untuk merealisasi tingkat Samma-Sambuddha pada suatu saat di masa depan yang jauh nanti ? Bila ada, saudara-saudari se-Dhamma bisa belajar dari perjalanan Buddha kita , Buddha Gotama, dalam usaha-Nya menyempurnakan diri hingga akhirnya merealisasi tingkat Anuttara Samma-Samboddhi ; menjadi Buddha yang Tiada-Banding, Guru para Dewa dan Manusia.

Sumber Pustaka :

1. Praktik Dhamma menuju Nibbana , Radhika Abeyesekera, Penerbit Sri Manggala 2008.

2. Riwayat Agung Para Buddha ( The Great Chronicle of Buddhas ) , Tipitakadhara Mingun Sayadaw, Myanmar ; Terbitan Ehipassiko collection, Girimangala Publications.

_________________________________________________

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Sabtu, 19 September 2009

Posted in BUDDHA, Kronologi Hidup Buddha, Riwayat Hidup Buddha | 22 Comments »