RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

Archive for Juli 5th, 2009

HUKUM KARMA ( Kamma-Niyama )

Posted by ratanakumaro pada Juli 5, 2009

“ KAMMASSAKOMHI,

[Aku adalah pemilik perbuatanku sendiri,]

KAMMADAYADO,

[Terwarisi oleh perbuatanku sendiri,]

KAMMAYONI,

[Lahir dari perbuatanku sendiri,]

KAMMABANDHU,

[Berkerabat dengan perbuatanku sendiri,]

KAMMAPATISARANO.

[Tergantung pada perbuatanku sendiri,]

YAM KAMMAM KARISSAMI

[Perbuatan apa pun yang akan kulakukan,]

KALYANAM VA PAPAKAM VA,

[Baik atau pun buruk,]

TASSA DAYADO BHAVISSAMI.

[Perbuatan itulah yang akan kuwarisi.]

EVAM AMHEHI ABHINHAM PACCAVEKKHITABBAM.”

[Demikian hendaknya kerap kali kita renungkan.] “

……………………………………………………………………………………………………………………………..

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”

[tikkhattum ; 3x]

( Tulisan ini merupakan resume mengenai pelajaran Hukum-Karma dari buku-buku : [1.] “Intisari Agama Buddha”, penulis Bhante Narada Mahathera ;   [ 2.]  “Sang Buddha dan Ajaran-ajaran-Nya”, bag.2, penulis : Bhante Naradha Mahathera ;     [3.]  Abhidhammatthasangaha, disusun oleh Pandit J.Kaharuddin ;    [4.]   Kajian Tematis Agama Kristen dan Agama Buddha ; penulis Djoko Mulyono,Petrus Santoso dan Kristiyanto Liman. )


Namatthu Buddhassa

Seorang pemuda pencari kebenaran bernama Subha yang bimbang oleh sesuatu yang tampaknya tak dapat diterangkan mengenai perbedaan yang ada diantara umat manusia, menghadap Sang Buddha dan bertanya tentang hal itu :

“ Apakah alasannya, apakah sebabnya, O Guru, kita jumpai di antara ummat manusia yang berumur pendek ( appayuka ) dan berumur panjang ( dighayuka ), berpenyakit ( bavhabadha ) dan sehat ( appabadha ), jelek ( dubbanna ) dan rupawan ( vannavanta ), tak berpengaruh ( appesakka ) dan berpengaruh ( mahesakka ), miskin ( appabhoga ) dan kaya ( mahabhoga ), hina ( nicakulina ) dan mulia ( uccakulina ), dungu ( duppanna ) dan bijaksana ( pannavanta ) ?”

Sang Buddha menjawab :

“Semua makhluk hidup mempunyai kehendak/perbuatan ( kamma ) sebagai milik mereka, warisan mereka, sebab awal mereka, kerabat mereka, pelindung mereka, Kamma-lah yang membedakan makhluk hidup dalam keadaan rendah atau tinggi.”

[ Majjhima Nikaya, CUllakammavibhanga Sutta, No.135  ]


APAKAH SEMUA KARENA “MAHA-DEWA” ?

Huxley menulis :  “  Apakah kita berpendapat bahwa ada seseorang atau sesuatu yang mengatur keadaan alam semesta yang menakjubkan ini, maka dalam pengertianku ia tidak dapat disebut murah hati dan adil, melainkan kejam dan tidak adil. “

Menurut Albert Einstein : “ Bila makhluk adikodrati ini Maha Kuasa, maka setiap kejadian, termasuk setiap perbuatan, pikiran, perasaan dan aspirasi manusia juga merupakan karyanya ;  lalu bagaimana manusia harus bertanggungjawab atas perbuatan-perbuatan dan pemikiran-pemikiran mereka dihadapan makhluk maha kuasa seperti itu  ? “

“ Sewaktu memberi hukuman dan anugerah, ia sedikit banyak juga harus mengadili dirinya sendiri. Lalu bagaimana hal ini dapat dikaitkan dengan kebajikan dan keadilan yang dianggap berasal dari dirinya ? “

“ Menurut asas-asas Theologi, manusia diciptakan bukan atas dasar keinginannya sendiri, dan untuk selamanya ia mulia atau celaka. Dengan begitu, sejak awal dalam proses penciptaan fisiknya sampai saat kematiannya, manusia itu dapat baik atau jahat, beruntung atau celaka, mulia atau hina, tanpa menghiraukan akan keinginan-keinginan, harapan-harapan, cita-cita, usaha-usaha ataupun doa sujudnya. Inilah fatalisme theology.” ( Spencer Lewis ).

Sebagaimana Charles Bradlaugh mengatakan : “ Adanya keburukan merupakan suatu penghalang yang menakutkan bagi ajaran Theis. Penderitaan, kesengsaraan, kejahatan, kemiskinan, bertolak belakang dengan penganjur kebaikan abadi dan berlawanan dengan pernyataannya akan kemampuan dirinya sebagai dewa serba baik, serba bijaksana, dan serba kuasa. “

Menurut Schopenhauer “ Barangsiapa menganggap dirinya berasal dari ketiadaan, maka ia juga harus berpikir bahwa ia akan kembali ke ketiadaan itu lagi ;  Suatu kekekalan telah lewat sebelum ia ada dan kekekalan kedua telah dimulai, yang melaluinya ia tidak akan pernah berakhir adalah suatu pemikiran yang menakutkan. “

“ Bila kelahiran adalah permulaan yang mutlak, maka kematian seharusnya akhir yang mutlak pula. Anggapan bahwa manusia berasal dari ketiadaan pasti akan membawa pada anggapan bahwa kematian adalah akhir yang mutlak. “

Memberikan komentar terhadap penderitaan manusia dan dewa pencipta, Prof.J.B.S. Haldane menulis :  “ Kalau bukan penderitaan yang diperlukan untuk menyempurnakan sifat manusia, tentu dewa pencipta itu tidak maha kuasa. Teori yang pertama tidak sesuai dengan kenyataan bahwa, sebagian orang yang hanya sedikit sekali menderita namun beruntung dalam keturunan dan pendidikan terbukti mempunyai sifat yang baik. Keberatan terhadap teori yang kedua adalah bahwa hal itu hanya berkenaan dengan alam semesta secara keseluruhan dan bahwasannya terdapat suatu kekosongan intelektual yang harus diisi dengan mengendalikan seorang dewa. Dan barangkali seorang pencipta dapat menciptakan apa saja yang dia inginkan. “

Lord Russell menyatakan : “ Sebagaimana diceritakan kepada kita, dunia diciptakan oleh seorang dewa yang baik dan maha kuasa. Sebelum dia menciptakan dunia, ia telah melihat seluruh penderitaan dan kesengsaraan yang akan terjadi didalamnya. Karenanya, ia bertanggungjawab atas segala sesuatunya. Adalah suatu hal yang sia-sia memperdebatkan bahwa penderitaan dalam dunia disebabkan oleh dosa. Bila dewa pencipta itu telah mengetahui sebelumnya akan dosa yang bakal dilakukan umat manusia, maka jelas ia bertanggungjawab akan akibat-akibat dosa itu.



FAKTOR KETURUNAN ??

Mungkinkah segala perbedaan yang ada pada manusia ini disebabkan oleh factor keturunan dan lingkungan ?  Kita harus mengakui bahwa semua fenomena fisik-kimiawi yang diungkapkan oleh para ilmuwan, sebagian adalah sebagai factor pembantu, tetapi tidak seluruhnya mutlak bertanggungjawab atas perbedaan-perbedaan besar yang terdapat di antara individu-individu. Lalu mengapa ada anak kembar yang memiliki tubuh serupa, mewarisi gen yang sejenis, menikmati kesempatan asuhan yang sama, seringkali memiliki watak, moral dan kecerdasan yang sangat berbeda ?

Keturunan saja tidak dapat menyebabkan perbedaan-perbedaan yang besar ini. Sesungguhnya, factor keturunan lebih masuk akal atas persamaan-persamaan mereka daripada atas perbedaan-perbedaan mereka. Benih fisik kimiawi dengan panjangnya kira-kira sepertiga puluh inci yang diwarisi dari orang tua, hanya menerangkan satu bagian dari manusia, yaitu dasar fisiknya. Mengenai perbedaan-perbedaan batin, intelektual dan moral yang jauh lebih kompleks dan halus itu diperlukan penerangan batin yang lebih dalam. Teori keturunan tidak dapat memberikan suatu jawaban yang memuaskan tentang lahirnya seorang criminal dalam sebuah keluarga yang mempunyai leluhur terhormat atau kelahiran seorang suci atau mulia dalam sebuah keluarga yang memiliki reputasi jelek dan tentang lahirnya seorang tolol, manusia genius dan guru-guru besar.

Menurut agama Buddha, perbedaan-perbedaan ini tidak hanya disebabkan oleh factor keturunan dan lingkungan, tetapi juga disebabkan oleh kamma kita sendiri, atau dengan kata lain, disebabkan oleh akibat dari perbuatan lampau kita dan perbuatan-perbuatan kita sekarang. Kita sendiri yang harus bertanggungjawab atas perbuatan-perbuatan kita. Kita membangun penjara kita sendiri. Kita adalah arsitek dari nasib kita sendiri. Singkatnya, diri kita merupakan akibat dari kamma kita sendiri.

Bagaimana kita bisa mempercayai semua ini, dengan perbedaan berdasarkan hukum sebab-akibat atau sebagai hasil dari bibit kammanya sendiri. Sang Buddha tidak pernah menyuruh seseorang untuk mempercayai segala apa yang diajarkan-Nya. Beliau selalu meminta, “ Datang, lihat, dan buktikan!”, yang dikenal sebagai prinsip EHI PASSIKO.

Beliau bagaikan seorang ilmuwan / penemu. Beliau menerangkan hal-hal mengenai alam-semesta dan kehidupan, seperti seorang ilmuwan menerangkan adanya bakteri, virus, galaksi, bintang, dan lain sebagainya. Kita bisa membuktikan adanya bakteri, virus, dengan melihat dan menyaksikan sendiri melalui mikroskop electron. Kalau kita ingin melihat dengan mata daging ini, sudah pasti Hukum Kamma seakan begitu sulit dan rumit, susah dilihat. Tetapi semua ini telah dibuktikan kebenarannya oleh para suciwan. Seseorang yang senantiasa tekun melatih diri dalam Sila dan Samadhi, dengan kekuatan batin yang tenang didalam Jhana IV, mampu melihat dan membuktikannya, hingga menembus ke kehidupan-kehidupan lampaunya.

Dari sudut pandang agama Buddha, perbedaan-perbedaan batin, intelektual, moral dan watak kita sekarang, pada prinsipnya disebabkan oleh perbuatan-perbuatan kita sendiri yang dilakukan diwaktu lampau dan di waktu sekarang.

Secara harafiah, Kamma berarti perbuatan, tetapi, dalam pengertian mutlaknya kamma berarti kehendak. Kamma ada yang baik ( Kusala Cetana ) dan yang buruk ( Akusala Cetana ). Perbuatan baik akan membuahkan kebaikan. Perbuatan jahat akan membuahkan kesedihan. Inilah Hukum Kamma.

Kita memetik apa yang kita tanam. Kita adalah akibat dari apa yang kita lakukan diwaktu lampau; kita akan menjadi akibat dari apa yang kita lakukan sekarang, tetapi kita tidak mutlak hanya merupakan akibat dari apa yang kita lakukan diwaktu lampau; kita tidak mutlak hanya menjadi akibat dari apa yang kita lakukan sekarang. Misalnya seorang criminal mungkin saja dapat menjadi orang suci dikemudian hari, atau sebaliknya.

APAKAH KAMMA ITU ?

Sesungguhnya, apakah “Kamma” itu ? Dalam Anguttara Nikaya III, 415 Sang Buddha bersabda:

”Cetanaham bhikkhave kammam vadami”

[“O, para bhikkhu, kehendak untuk berbuat (cetana) itulah yang Aku namakan kamma”]

Segala macam tindakan yang disengaja baik batin, ucapan, maupun jasmani/perbuatan dipandang sebagai Kamma. Dengan pengertian umum, Kamma berarti semua kehendak baik dan buruk (kusala akusala cetana). Tindakan yang tidak didasari niat, dilakukan tanpa-sadar, tidak disengaja, walaupun secara teknis merupakan perbuatan, tidak membentuk Kamma, karena didalam tindakan tersebut tidak terdapat “kehendak” ( cetana ), factor terpenting dalam menentukan Kamma.

Ada pengecualian dalam kasus para Buddha dan Arahat karena mereka telah melampaui baik dan buruk. Mereka telah menghancurkan baik ketidak-tahuan maupun nafsu keinginan akar-akar Kamma.

“ Telah sirna perbuatannya yang lampau.

Tiada pula perbuatannya yang baru.

Mereka, yang bijaksana, bebas dari kelahiran kembali,

Telah musnah benih-benih perbuatannya.

Tak tumbuh lagi tunas kelahiran kembalinya. “

[ Ratana-Sutta ]

Kata “perbuatan” didalam sutta tersebut, mengacu pada perbuatan yang dilandasi oleh tanha ( nafsu-keinginan ). Kata “Mereka” yang dimaksud adalah para Arahanta Khinasava.

Bukan berarti para Buddha dan Arahat  itu pasif. Para Buddha dan Arahat dengan tanpa mengenal lelah bekerja secara aktif untuk kesejahteraan dan kebahagiaan-sejati bagi semua pihak. Perbuatan mereka, yang biasa diterima sebagai baik atau bermoral, tidak memberikan kekuatan untuk mereka sendiri. Dengan memahami segala sesuatu sebagai apa adanya, mereka akhirnya telah menghancurkan belenggu duniawi mereka, rantai sebab-akibat.

Kamma, tidak harus berarti perbuatan masa lalu. Kamma mencakup perbuatan masa lalu maupun saat ini. Jadi, pada satu sisi, kita merupakan hasil dari apa yang telah kita lalkukan, kita akan menerima hasil dari apa yang kita lakukan saat ini. Pada sisi lain, harus ditambahkan kita tidak seluruhnya merupakan hasil dari apa yang telah kita lakukan, kita tidak sepenuhnya merupakan hasil dari apa yang kita lakukan saat ini. Saat ini tidak diragukan lagi adalah buah dari masa lalu dan asal-usul dari masa  yang akan datang, tetapi saat ini tidak selalu merupakan petunjuk baik dari masa lalu maupu masa yang akan datang. Seorang penjahat di hari ini, dapat menjadi seorang mulia besok harinya, seseorang yang baik kemarin dapat menjadi seorang yang kejam hari ini.


KAMMA DAN VIPAKA

Kamma adalah perbuatan, dan Vipaka, buah atau hasil, merupakan reaksinya. Kamma, diibaratkan sebagai sebuah “benih”. Dan buah yang tumbuh dari pohon, merupakan “vipaka” ; akibat atau hasil. Kamma, bisa berupa kehendak-baik bisa juga berupa kehendak-buruk, oleh karena itu buahnya pun ( vipaka ) bisa berupa buah-kehendak-baik maupun buah-kehendak-buruk.

Kamma adalah “mental”, demikian pula, vipaka adalah “mental” ; ia dirasakan sebagai kebahagiaan atau berkah, ketidak-bahagiaan atau penderitaan sesuai dengan sifat benih Kamma. Anisamsa merupakan keuntungan keadaan materi yang seiring, seperti kesejahteraan, kesehatan dan usia panjang.

Jika vipaka ( buah-kamma ) diikuti dengan keadaan materi yang tidak menguntungkan, mereka dikenal sebagai adinava ( akibat buruk ), dan muncul sebagai kemiskinan, kejelekan, penyakit, pendek usia dan sebagainya. Yang dimaksudkan dengan Kamma adalah bentuk kesadaran duniawi yang baik dan buruk ( kusala akusala lokiya citta ), serta Vipaka berarti hasil bentuk kesadaran duniawi ( lokiya vipakacitta ).

Di dalam Kamma ada kecenderungan menghasilkan akibat yang sesuai. Sebab menghasilkan akibat, dan akibat menerangkan sebab. Biji menghasilkan buah, dan buah menerangkan biji, begitulah hubungan mereka. Akibat, telah berkembang di dalam sebabnya.

SEBAB KAMMA

Ketidaktahuan/kebodohan-batin ( avijja ) atau tidak memahami segala sesuatu sebagaimana mereka adanya, merpakan sebab utama. Bergantung pada ketidaktahuan timbul kegiatan Kamma ( avijja paccaya samkhara ), merupakan hal yang dinyatakan oleh Sang Buddha dalam Paticcasamuppada ( hukum-sebab-musabab-yang-saling-bergantungan ).

PELAKU KAMMA

Kehendak ( cetana ) itu sendirilah si pelaku. Dan perasaan ( vedana )  itu sendirilah si penerima buah kamma. Kecuali keadaan murni mental ( suddhadkamma ) ini tidaklah ada seorangpun yang menabur dan tidak ada seorangpun yang memetik.

Yang Ariya Bhikkhu Buddhaghosa menulis dalam Visudhi-Magga :

“ Tak ada pelaku yang menjalankan perbuatan,

Ataupun seseorang merasakan buahnya,

Hanyalah suku cadang penunjang yang bergulir terus,

Inilah sesungguhnya yang betul.”

[ dikutip dari “Sang Buddha dan Ajaran-ajaran-Nya” , penulis Bhante Narada Mahathera ]


Yang Ariya Bikkhu Buddhaghosa berkata, tepat seperti dalam hal unsur materi yang diberi nama pohon, segera kapan pun setelah buah muncul, ia kemudian dikatakan “pohon menghasilkan buah” atau “jadi pohon itu  berbuah”, demikian juga dalam hal “kelompok-kehidupan” ( panca-khanda ) yang ada pada nama Dewa ataupun manusia, jika kapanpun hasil kebahagiaan atau penderitaan muncul, lalu dikatakan “bahwa Dewa atau manusia bahagia atau menderita.”

DIMANAKAH KAMMA DISIMPAN ?

Pertanyaan ini pernah diajukan oleh Raja Milinda kepada Y.A. Bhikkhu Nagasena :

“Dimanakah, Y.A. Guru, Kamma itu?” Tanya Sang Raja pada Y.A. Bhikkhu Nagasena.

“ O, Maharaja”, jawab Y.A.Bhikkhu Nagasena, “Kamma tidak dapat dikatakan disimpan di suatu tempat dalam kesadaran yang mengalir atau pada bagian tubuh ini, tetapi bergantung pada pikiran dan materi ia bersandar untuk mewujudkan diri pada sat yang tepat, seperti mangga, tak dapat dikatakan disimpan di suatu tempat dalam pohon mangga, tetapi bergantung pada pohon magga mereka berbuah pada musim yang tepat.”

Angin maupun api tidaklah disimpan dalam tempat tertentu, demikian pula Kamma tidak disimpan di manapun baik didalam atau diluar tubuh.

Seorang psikoanalis berpendapat, “Disimpan dalam jiwa, tetapi biasanya tidak dapat dicapai dan hanya biasa dijangkau oleh beberapa orang saja, adalah seluruh catatan, tanpa kecuali, dari setiap pengalaman yang sudah dilalui seseorang, setiap pengaruh dirasakan, setiap kesan diterima. Pikiran bawah sadar bukan hanya suat catatan pengalaman milik seseorang yang tak dapat dihapus tetapi juga menerima kesan awal dan kecenderungan, yang jauh dari pada dikuasai seperti anggapan orang terhadap mereka, dalam manusia beradab aktif secara di bawah sadar yang mungkin muncul dengan kekuatan yang membingungkan pada saat yang tidak diharapkan.” [ Sang Buddha dan Ajaran-ajarannya, Bhante Narada Mahathera, hal.69 ].

Secara ringkas, seluruh kekuatan Kamma bergantung pada aliran-batin yang selalu bergerak ( citta-santati ) yang selalu siap mewujudkan diri dalam berbagai perwujudan pada saat muncul kesempatan.



SIFAT KAMMA

“Sebagai benih yang kau tabur demikian pula akan kau petik buahnya”

[ Samyutta Nikaya ]

“Jika seseorang mengatakan bahwa orang harus memetik sesuai dengan yang dilakukannya, dalam hal itu tak terdapat kehidupan beragama ataupun kesempatan untuk menghasilkan berhentinya penderitaan secara menyeluruh. Tetapi jika barangsiapa mengatakan bahwa apa yang dipetik seseorang sesuai dengan perbuatannya, dalam hal itu ada kehidupan beragama dan kesempatan untuk menghasilkan berhentinya penderitaan secara menyeluruh.” [ Anguttara Nikaya, bag.I, 249]

Oleh karena itu, ada dan sangat dimungkinkan untuk membentuk kehidupannya yang baru sesuai kammanya sendiri.

Meskipun disebutkan bahwa “ tidak di langit, tidak pula di tengah lautan ataupun memasuki gua di gunung, dimana orang dapat bersembunyi dari akibat suatu perbuatan jahat” , tetapi orang tidak perlu membayar semua tunggakan karma lampau.” [Dhammapada V.127], tapi orang tidak perlu membayar semua tunggakan kamma lampau.

Jika begitu keadaannya, kebebasan akan menjadi sesuatu yang tidak mungkin. Penderitaan abadi akan menjadi hasil yang tidak menguntungkan.

Orang bukanlah majikan atau pembantu dari Kamma. Bahkan orang yang paling jahat pun dengan usahanya sendiri dapat menjadi orang yang paling saleh.

Kita selalu menjadi sesuatu dan sesuatu itu tergantung pada tindakan kita sendiri. Kapan saja kita dapat berubah jadi lebih baik atau lebih buruk. Didunia ini tidak ada  “ produk akhir “, semua adalah proses “ menjadi “.

Bahkan orang yang paling kejam sekalipun tidak seharusnya patah semangat atau berputus asa melihat sifatnya yang jahat. Ia seharusnya dikasihani, karena mereka yang mencelanya mungkin juga pernah dalam keadaan yang sama pada tingkat tertentu.

Seperti mereka yang telah berubah lebih baik, ia juga dapat berubah, mungkin lebih cepat dari mereka. Siapa yang tahu Kamma baik yang telah ia timbun untuk dirinya ? Siapa yang tahu kemampuan kebaikannya ?

Dimasa hidup Sang Buddha Gotama, ada seorang perampok jalanan dan pembunuh lebih dari seribu orang yang bernama Angulimala berhasil mencapai tingkat kesucian tertinggi serta menghapus semua perbuatan jahat / buruknya dimasa lalu.

Alavaka, setan yang kejam yang memakan daging manusia, menghentikan kebiasaannya memakan daging dan mencapai tingkat kesucian pertama.

Raja Asoka yang terkenal hingga sekarang, dulunya adalah seorang yang kejam dalam meluaskan Kekaisarannya, berubah menjadi Dharmasoka, atau Asoka yang Saleh, dan mengubah perjalanan hidupnya sedemikian hebat sehingga saat ini, seorang ahli sejarah dari barat , H.G.Wells, berkomentar – “ Diantara puluhan ribu nama kerajaan yang memenuhi lembaran sejarah, diantara keagungan dan keanggunan, ketenangan dan kemuliaan serta yang sejenis, nama Asoka bersinar, dan bersinar sendiri saja, bagaikan satu bintang “.

Contoh-contoh diatas merupakan contoh mencolok yang menunjukkan bagaimana perbaikan pembawaan yang menyeluruh dapat terjadi dengan keputusan yang mantap.

Dapat terjadi bahwa dalam beberapa hal kejahatan yang ringan dapat menghasilkan akibat yang selaras, sedangkan akibat dari kejahatan yang lebih berat dapat diperkecil.

Sang Buddha Gotama bersabda, “Oh para Bhikkhu, orang tertentu tidak berdisiplin dalam jasmani, dalam moralitas, dalam pikiran, dalam kebijaksanaan, memiliki sedikit kebaikan dan kurang saleh, serta hidup menderita sebagai akibat buruk dari perbuatan tidak baiknya. Bahkan satu perbuatan kecil yang dilakukan orang seperti itu akan membawanya pada keadaan yang menyedihkan.

Oh para Bhikkhu, orang tertentu berdisiplin dalam jasmani, dalam moralitas, dalam pikiran, berbuat banyak kebaikan, luhur, dan hidup dengan kasih sayang tanpa batas untuk semua. Kejahatan sama yang dilakukan oleh orang seperti itu berakibat dalam kehidupan ini saja dan bahkan akibat yang kecil pun tidak mewujudkan diri ( setelah kematian ), apalagi yang berat.

Itu bagaikan orang yang memasukkan sebongkah garam kedalam secangkir kecil air. Apa yang kalian pikir, oh para Bhikkhu ? Apakah sekarang air yang sedikit dalam cangkir itu menjadi asin dan tidak dapat diminum ?”

“Ya, Bhante.“

“Mengapa ?”

“Karena, Bhante, disana hanya ada sedikit air dalam cangkir, oleh karena itu menjadi asin dan tak dapat diminum karena sebongkah garam itu. “

“ Seandainya seorang memasukkan sebongkah garam ke dalam sungai Gangga. Bagaimana pendapat kalian, o, para Bhikkhu ? Apakah sekarang sungai Gangga menjadi asin dan tidak dapat diminum karena sebongkah garam tadi ?”

“Tentu tidak, Bhante.”

“Dan mengapa tidak ?”

“Karena Bhante, jumlah air di sungai Gangga banyak, dan karena itu tidak akan menjadi asin dan tidak dapat diminum.”

“Sama seperti itu, kita mungkin mendapatkan kasus seorang yang melakukan sedikit kejahatan yang membawanya ke dalam keadaan menderita, atau, sekali lagi, kita mungkin mendapatkan kasus orang yang melakukan kejahatan sepele yang sama, namun ia membayarnya dalam kehidupan ini. Bahkan akibat yang kecil pun tidak mewujudkan diri ( setelah kematian ), apalagi yang lebih berat. “

“Kita mungkin mendapatkan kasus seorang yang dimasukkan penjara karena mencuri setengah sen, satu sen, atau seratus sen, atau lagi, kita mungkin mendapatkan seorang yang tidak dimasukkan ke penjara karena mencuri setengah sen, satu sen, atau seratus sen.”

“Siapakah yang dimasukkan penjara untuk setengah sen, untuk satu sen, atau untuk seratus sen ?”

“Barangsiapa yang miskin, membutuhkan bantuan dan fakir miskin, ia dimasukkan penjara untuk setengah sen, untuk satu sen, atau untuk seratus sen.”

“Siapakah yang tidak dimasukkan penjara untuk setengah sen dolar, untuk satu sen dolar, atau untuk seratus sen dolar ? “

“Barangsiapa yang kaya, berharta dan makmur, ia tidak dimasukkan penjara untuk setengah sen dolar, untuk satu sen dolar, untuk seratus sen dolar.”

“Sama halnya adalah bahwa, kita dapat menjumpai kasus seorang yang melakukan kejahatan ringan yang membawanya pada keadaan menyedihkan, atau, kita dapat menjumpai kasus orang lain yang melakukan kejahatan sepele yang sama, dan membayarnya dalam kehidupan ini. Bahkan akibat yang kecil pun tidak mewujudkan diri ( setelah kematiannya ), apalagi yang lebih berat. “ [ Anguttara Nikaya, Bag. I, hal.249 ]



Penyebab Hasil Yang Menghalangi

Kebaikan memperoleh kebaikan, tetapi penyesalan apapun dari pihak pelaku yang muncul kemudian terhadap kebaikan yang dilakukan, menyebabkan kehilangan hasil yang menyenangkan.

Ada satu contoh yang sangat bagus yang bisa menggambarkan hal ini :

Pada suatu ketika Raja Pasenadi dari Kosala menghadap Sang Buddha dan berkata, “ Bhante, di Savatthi seorang jutawan perumah tangga telah meninggal. Ia tidak mempunyai putra, dan sekarang saya kemari, setelah memberikan kekayaannya ke istana, Bhante. Sepuluh juta rupee emas, tidak ada yang perak. Tetapi jutawan ini biasa makan sisa makanan yang basi dan bubur yang tidak enak. Dan bagaimana ia berpakaian ? Untuk baju ia mengenakan jubah rami yang kasar, dan untuk kereta, ia mengendarai gerobak rusak yang dilengkapi tenda daun.”

Kemudian Sang Buddha berkata,

“Demikianlah, o Raja, demikianlah. Dalam kehidupan lampau, o Raja, jutawan perumah tangga ini mempersembahkan makanan untuk seorang Pacceka Buddha yang bernama Tagarasikhi. Selanjutnya, ia menyesal telah memberi makanan, berkata pada diri sendiri,” Lebih baik jika pembantu dan pekerjaku memakan makanan yang kuberikan untuk persembahan.” Dan disamping itu ia membunuh putra tunggal kakaknya demi harta benda. Dan karena jutawan perumah tangga ini mempersembahkan makanan untuk Sang Pacceka Buddha Tagarasikhi, sebagai balasan perbuatan itu, ia bertumimbal lahir tujuh kali di alam surga yang menyenangkan. Dan dengan sisa kecil perbuatan yang sama, ia menjadi jutawan di Savathi sebanyak tujuh kali.

“ Dan karena jutawan perumah tangga ini menyesali telah memberi persembahan, dengan mengatakan pada diri sendiri,”Akan lebih baik jika pembantu dan pekerjaku memakan makanan itu.” Oleh karena itu sebagai akibat perbuatannya ia tidak dapat menghargai makanan sehat, tidak menghargai pakaian indah, tidak dapat menghargai kendaraan bagus, tidak menghargai kenikmatan panca indria.

“ Dan karena jutawan perumah tangga ini membunuh putra tunggal kakaknya demi kekayaan, sebagai akibat perbuatan ini, ia harus menderita bertahun-tahun,beratus tahun,beribu tahun, beratus ribu tahun dalam keadaan menyakitkan. Dan dengan sisa perbuatan yang sama, ia tidak berputra selama tujuh kali, dan sebagai akibatnya, harus meninggalkan kekayaannya untuk kas kerajaan.”[ Samyutta Nikaya, bag.I, hal.91 ]

Jutawan ini mendapatkan keberuntungan besar sebagai akibat perbuatan baik yang dilakukan dalam kehidupan lalu, tetapi karena ia menyesali perbuatan baiknya, ia tidak dapat sepenuhnya menikmati kesenangan orang kaya yang disediakan Kamma untuknya.



Kekuatan Yang Bermanfaat dan Merugikan

Dalam bekerjanya kamma harus dipahami bahwa terdapat kekuatan yang bermanfaat dan merugikan untuk menangkal dan menunjang hukum yang bekerja sendiri ini. Kelahiran ( gati ), waktu atau keadaan ( kala ), kepribadian atau penampilan ( upadhi ) dan usaha ( payoga ) merupakan pembantu dan penghalang bagi berbuahnya Kamma.

Misalnya jika seseorang dilahirkan dalam keluarga mulia atau dalam keadaan bahagia, keberuntungan kelahirannya kadang kala akan merintangi berbuahnya Kamma jahatnya.

Sebaliknya, jika ia dilahirkan dalam keadaan menderita atau dalam keluarga tidak beruntung, kelahiran yang tidak menguntungkan ini akan menyediakan suatu kemudahan bagi Kamma jahatnya untuk bekerja.

Kedua hal ini dikenal sebagai Gati Sampatti ( kelahiran yang menyenangkan ) dan Gati Vipatti ( kelahiran yang tidak menyenangkan ).

Sangat mungkin terjadi, seseorang yang tidak cerdas, yang karena kamma baiknya,dilahirkan dalam keluarga kerajaan dan karena keturunannya yang mulia, ia dihormati orang. Jika orang yang sama mempunyai kelahiran yang kurang menguntungkan, ia tidak akan diperlakukan seperti itu.

Contoh dari hal ini misalnya kisah Raja Dutthagamani dari Sri Lanka. Ia menimbun kamma buruk dengan mengobarkan perang terhadap warga Tamil, serta kamma baik dengan berbagai kegiatan keagamaan dan sosialnya. Karena kamma penghasilnya yang baik, ia bertumimbal lahir di alam surga  yang menyenangkan. Tradisi mengatakan bahwa ia akan memiliki kelahiran terakhir pada masa Buddha Metteyya yang akan datang. Oleh karena itu kamma buruknya tidak dapat bekerja sepenuhnya karena kelahiran yang menguntungkan.

Kecantikan ( Upadhi Sampatti ) dan kejelekan ( Upadhi Vipatti ) merupakan dua faktor yang menghalangi dan menyuburkan bekerjanya Kamma.

Jika, dengan beberapa kamma baik, seseorang mencapai kelahiran yang bahagia tetapi malang bercacat fisik, ia tidak akan dapat sepenuhnya menikmati manfaat hasil kamma baiknya. Bahkan seorang pewaris tahta kerajaan mungkin tidak akan dinaikkan pada kedudukan terhormat itu jika ia mengalami cacat jasmani.

Keindahan, sebaliknya, akan menjadi modal bagi pemiliknya. Seorang putri berparas cantik dari keluarga miskin dapat menarik pria kaya dan dapat menjadikannya terkenal melalui pengaruhnya.

Waktu atau kesempatan yang menguntungkan ( kala sampatti ) dan waktu atau kesempatan yang tidak menguntungkan ( kala vipatti ), merupakan dua faktor lain yang mempengaruhi bekerjanya kamma, yang satu membantu, yang berikutnya merintangi.

Dalam kasus bencana kelaparan semua tanpa kecuali akan terdorong menderita nasib yang sama. Disini keadaan yang tidak menguntungkan membuka kesempatan bekerjanya kamma buruk. Sebaliknya keadaan yang menguntungkan akan mencegah bekerjanya kamma buruk.

Dari semua kekuatan yang bermanfaat dan merugikan ini yang terpenting adalah usaha ( Payoga ). Dalam bekerjanya kamma, usaha atau kurang berusaha memainkan peranan penting. Dengan usaha saat ini orang dapat membuat karma baru, lingkungan baru, suasana baru, dan bahkan dunia baru.

Walaupun berada pada keadaan paling menguntungkan dan dibekali dengan semua kemudahan, jika orang tidak melakukan usaha yang tekun, orang tidak hanya kehilangan kesempatan emas, tetapi juga dapat menghancurkan diri sendiri. Usaha pribadi sangat penting bagi kemajuan duniawi maupun spiritual.

Jika seseorang tidak berusaha menyembuhkan diri sendiri dari penyakit atau untuk menyelamatkan diri sendiri dari kesulitan, atau untuk berjuang dengan tekun demi kemajuannya, kamma buruknya akan menemukan kesempatan baik untuk menghasilkan akibat yant sesuai.

Jika sebaliknya, ia berusaha sendiri untuk mengatasi kesukarannya, untuk memperbaiki keadaannya, untuk menggunakan sebaik mungkin kesempatan yang langka ini, untuk berjuang dengan gigih demi kemajuannya. Kamma baiknya akan datang membantu.

Ketika kapal karam di tengah laut, Sang Bodhisatta Maha Janaka melakukan usaha gigih untuk menyelamatkan diri, sedangkan yang lain berdoa kepada para dewa dan menggantungkan nasib mereka di tangan para dewa “Yang Maha Kuasa”. Hasilnya, Sang Bodhisatta tertolong sedang yang lain tenggelam.

Dua faktor penting terakhir ini dikenal sebagi Payoga Sampatti dan Payoga Vipatti.

Kita bukanlah mutlak majikan atau pelayan dari kamma kita, terbukti dari faktor yang meniadakan dan menunjang; bahwa berbuahnya kamma sampai batas-batas tertentu dipengaruhi oleh keadaan luar, lingkungan, kepribadian, usaha pribadi, dan sebagainya.

Hukum Kamma inilah yang dapat menjelaskan semua fenomena kelahiran, perbedaan, ketidaksetaraan, nasib, kejadian yang menimpa diri seseorang. Dan hukum kamma inilah yang memberikan penghiburan, pengharapan, kepercayaan, dan gairah moral pada setiap orang yang mengerti, mengenal, meresapi, mengikuti Jalan Kebenaran Sejati ( Dhamma ).

Ketika yang tidak diharapkan terjadi, kesulitan, kegagalan, dan ketidak beruntungan menghadangnya, seorang yang telah mengetahui akan menyadari bahwa ia sedang memetik apa yang telah ditaburkannya, dan sedang membayar hutang masa lalu. Daripada mengundurkan diri sendiri, menyerahkan semua pada kamma, ia melakukan usaha yang gigih untuk mencabut pengganggu dan menabur benih yang berguna di tempatnya, karena masa yang akan datang berada ditangannya.

Ia yang mengerti hukum Kamma, tidak mencela orang yang paling jahat sekalipun karena mereka memiliki kesempatan untuk membentuk diri mereka sendiri kapan saja. Walaupun terikat untuk menderita dialam menyedihkan, mereka mempunyai harapan untuk mencapai kedamaian yang abadi.

Dengan perbuatan mereka sendiri mereka membentuk neraka mereka sendiri, dan dengan perbuatan mereka sendiri, mereka membentuk surga mereka sendiri.

Seseorang yang telah mengerti hukum Kamma secara mutlak, tidak akan berdoa pada pihak lain untuk diselamatkan tetapi dengan yakin bergantung pada diri sendiri untuk kebebasannya. Daripada membuat berbagai penyerahan, atau menyetujui berbagai perantara istimewa, ia akan bergantung pada kekuatan kemauannya dan bekerja tiada hentinya demi kesejahteraan dan kebahagiaan semua.

Kepercayaan pada hukum Kamma akan membenarkan usahanya dan menyalakan semangatnya, karena hukum Kamma mengajarkan tanggung jawab pribadi.

Untuk seorang awam, Kamma bertindak sebagai penangkis, tetapi untuk seorang cendekiawan ia bertindak sebagai perangsang untuk  berbuat baik.

Hukum kamma ini menerangkan persoalan penderitaan, misteri dari sesuatu yang disebut nasib dan takdir dalam beberapa agama, diatas semuanya adalah ketidak-samaan umat manusia.

Kita adalah arsitek  hidup dan nasib kita sendiri. Kita adalah pembentuk diri kita sendiri. Kita adalah penghancur diri kita sendiri. Kita membangun surga kita sendiri. Kita juga membangun neraka kita sendiri.

Apa yang kita pikirkan, ucapkan dan lakukan menjadi milik kita. Buah pikiran, perkataan dan perbuatan inilah yang membentuk sebutan Kamma dan berjalan dari kehidupan ke kehidupan, memuliakan dan merendahkan kita, dalam rentang pengembaraan kita dalam Samsara.

Sang Buddha bersabda,

“ Kebajikan dan kejahatan manusia yang ia telah tempa disini, itulah yang ia miliki, yang membawanya mulai sekarang, yang menguji langkahnya, seperti bayangan mengejar. Oleh karena itu biarlah ia membuat timbunan kebaikan untuk kehidupan yang lain, dasar yang pasti dalam berbagai dunia yang akan datang. Hadiah kebaikan menunggu makhluk yang baik. “[Kindred Sayings,I hal.98]



KATEGORISASI KARMA DAN CARA KERJA KARMA

Tabel Kategorisasi Karma

DASAR PENGELOMPOKAN

JENIS KARMA

I. Menurut Jangka Waktunya ( Pakakalacatukka )
  1. Yang Berlaku Segera (Ditthadhammavedaniya Kamma)
  2. Yang Berlaku Sesudahnya (Upapajjavedaniya Kamma)
  3. Yang Berlaku Untuk Jangka Waktu Tidak Terbatas (Aparapariyavedaniya Kamma)
  4. Yang  Kadaluwarsa (Ahosi Kamma )
II. Menurut Sifat Bekerjanya (Kiccacatuka)
  1. Penghasil (Janaka Kamma).
  2. Penunjang (Upatthambaka Kamma).
  3. Pelemah (Upapidaka Kamma).
  4. Penghancur (Upaghataka Kamma).
III. Menurut Sifat hasilnya (Pakadanapariyayacatuka)
  1. Yang Berat / Serius (Garuka Kamma).
  2. Menjelang Kematian (Asanna Kamma).
  3. Kebiasaan (Acinna Kamma).
  4. Yang Bertimbun (Katatta Kamma).
IV. Menurut Kedudukannya

( Pakatthanacatukka )

  1. Perbuatan Buruk (Akusala) yang akan masak di alam keindriaan (kamaloka).
  2. Perbuatan Baik (Kusala) yang akan masak di alam keindriaan (kamaloka).
  3. Perbuatan Baik (Kusala) yang akan masak di alam berbentuk (rupaloka).
  4. Perbuatan baik (Kusala) yang akan masak di alam tidak berbentuk (arupaloka).

PENJELASAN MENGENAI JENIS-JENIS KARMA

1. Kelompok Karma menurut Jangka Waktunya ( Pakakalacatukka )

1.1. Karma/kamma yang memberikan hasil/akibat dalam kehidupan sekarang ini ( Ditthadhammavedaniya Kamma ) :

Ditthadhammavedaniya Kamma ini terbagi menjadi dua (2) macam yaitu :

a). Paripakka Dittha Dhammavedaniya-Kamma ; adalah Kamma yang memberikan hasil/akibat dalam kehidupan sekarang ini, termasuk yang sudah masak betul.

b). Aparipakka Dittha Dhammavedaniya-Kamma ; adalah Kamma yang memberikan hasil/akibat dalam kehidupan sekarang ini, belum termasuk yang masak betul.

1.2. Kamma yang memberikan hasil/akibat dalam kehidupan yang akan datang, yaitu dalam kehidupan setelah kehidupan yang ini [Uppajjavedaniya-Kamma]

1.3. Kamma yang memberikan hasil/akibat dalam kehidupan yang akan datang, yaitu dalam kehidupan berikutnya berturut-turut, yaitu dalam kehidupan yang ke-3 ( setelah yang sekarang ini ) dan seterusnya [ Aparaparavedaniya-Kamma ]

1.4. Kamma yang tidak menimbulkan akibat sama-sekali [ Ahosi-Kamma ]

2. Kelompok Karma menurut Sifat Bekerjanya ( Kiccacatuka )

2.1 Karma/kamma penghasil ( Janaka Kamma ) :

Adalah hukum yang menyebabkan timbulnya syarat untuk terlahirnya kembali suatu makhluk. Kamma ini menimbulkan nama-khanda (kelompok-batin) dan kammaja-rupa ( materi/jasmani ). Oleh sebab itu, kamma ini disebut janaka-kamma. Kamma ini terdiri dari akusala-kamma 12 dan lokiyakusala-kamma 17 ( kamavacarakusala-kamma 8, rupavacarakusala-kamma 5 dan arupavacarakusala-kamma 4 ). Janaka-kamma ini bertugas melahirkan makhluk-makhluk di ke-31 alam kehidupan ( bhumi 31 ).

2.2 Karma/kamma penunjang ( Upatthambaka Kamma ): Adalah hukum kekuatan yang mendorong terpeliharanya satu akibat dari sebab (kamma) yang telah timbul. Kamma ini membantu janaka-kamma dalam tiga (3) hal :

  1. a. Membantu Janaka-Kamma yang belum mempunyai waktu menimbulkan hasil/akibat, memberikan waktu menimbulkan hasil/akibat.
  2. b. Membantu Janaka-Kamma yang sedang mempunyai waktu menimbulkan hasil/akibat, memberikan kekuatan untuk menimbulkan hasil/akibat secara sempurna.
  3. c. Membantu Rupa-Nama ( Lahir-Bathin ) yang dilahirkan oleh Janaka-Kamma menjadi maju dan bertahan lama.

2.3 Upapilaka-Kamma ;

Adalah hukum kekuatan yang menekan, mengolah, dan menyelaraskan satu akibat dari satu sebab. Jadi upapilaka-kamma adalah kamma yang menekan, yaitu :

1. Menekan janaka-kamma yang mempunyai keadaan yang bertentangan. Upapilaka kamma yang menekan janaka-kamma yang mempunyai keadaan bertentangan ini, terbadi menjadi dua (2) lagi :

a. Menekan janaka-kamma yang mempunyai waktu menimbulkan hasil/akibat, supaya mempunyai kekuatan menurun dan menimbulkan hasil/akibat tidak sepenuhnya.

b. Menekan nama-rupa yang dilahirkan oleh janaka-kamma.

Oleh karena itu, ‘peekanan’ dari Upapilaka-Kamma terbagi menjadi tiga (3) macam yaitu :

1. Upapilaka-Kamma yang menekan Janaka-Kamma supaya tidak ada waktu menimbulkan hasil/akibat.

2. Upapilaka-Kamma yang menekan Janaka-Kamma yang mempunyai waktu menimbulkan hasil/akibat, supaya mempunyai kekuatan menurun.

3. Upapilaka-kamma yang menekan nama-rupa yang dilahirkan oleh Janaka-Kamma.

2.4 Upaghataka-Kamma : adalah hukum yang meniadakan kekuatan dan akibat dari satu sebab yang telah terjadi dan sebaliknya menyuburkan berkembangnya karma-baru.

Jadi, Upaghataka-Kamma adalah kamma yang memotong Kamma lainnya dan hasil dari Kamma lainnya secara menyeluruh.

Pemotongan dari Upaghataka-Kamma ada dua (2) macam yaitu :

a. Memotong janaka-kamma supaya tidak ada waktu menimbulkan hasil/akibat untuk selamanya ( kammantara-upaghataka ).

b. Memotong nama-rupa yang dilahirkan oleh Janaka-Kamma sampai rusak ( kammanibbattakhandhasantana-upaghataka ).

3. Kelompok Karma Menurut Sifat Hasilnya (Pakadanapariyayacatuka)

3.1. Kamma yang Berat / Serius ( Garuka Kamma ).

Perbuatan yang berat atau serius / Garuka Kamma, disebut begitu karena kamma ini pasti menghasilkan akibat dalam kehidupan ini atau yang berikutnya.

Dari segi yang baik, perbuatan berbobot adalah Jhana atau kegembiraan yang luar biasa ( yang dicapai bersamaan dengan pemurnian diri melalui pengembangan Sila dan Samadhi ).

Sedangkan dari segi yang tidak baik adalah kebengisan yang berakibat sesudahnya ( Anantariya Kamma ), yaitu :

1). Membunuh ibu,

2). Membunuh ayah,

3). Membunuh Orang Suci, Yang Tercerahkan,

4). Melukai Seorang Buddha,

5).Menimbulkan perpecahan dalam persaudaraan para suci / Sangha.

Jika, seandainya seseorang mengembangkan Jhana dan kemudian melakukan salah satu dari kebengisan tersebut, kamma baiknya akan dihapuskan oleh kamma jahat yang sangat kuat itu. Kelahiran berikutnya akan terbentuk oleh kamma jahat walaupun sebelumnya ia sudah mencapai Jhana.

Garukakamma merupakan bentuk kejahatan yang paling berat. Janganlah melakukannya dalam keadaan apapun. Ini akan menghalangi seseorang mencapai Nirvana ( Anguttara Nikaya III,146 ).

3.2. Kamma Menjelang Kematian ( Asanna Kamma )

Jika tidak ada kamma yang berat untuk membentuk kelahiran berikutnya, maka Kamma menjelang kematian ( asanna ) akan bekerja. Ini adalah perbuatan yang dilakukannya atau diingatnya sesaat sebelum ia meninggal. Karena kemampuannya dalam menentukan kelahiran berikutnya, kebiasaan untuk mengingatkan orang yang akan meninggal terhadap perbuatan baiknya serta membuatnya melakukan kebaikan menjelang kematiannya adalah hal yang sangat perlu dilakukan.

Kadang-kadang orang jahat dapat mati dengan bahagia dan menerima kelahiran yang baik jika ia beruntung mengingat atau melakukan perbuatan baik pada saat-saat terakhir. Ini bukan berarti bahwa karena ia menikmati kelahiran yang baik ia akan bebas dari akibat perbuatan jahat yang ia timbun selama hidupnya.

Sebaliknya, kadangkala orang yang baik meninggal dengan tidak bahagia karena ingatan yang tiba-tiba pada tindakan jahat atau dengan membayangkan suatu pikiran buruk, karena terdorong oleh keadaan yang tidak menguntungkan.

3.3. Kamma Kebiasaan ( Acinna Kamma )

Kamma kebiasaan ( accina ) merupakan kamma yang berikutnya dalam urut-urutan berakibat. Ia merupakan kamma yang secara terus-menerus dilakukan dan diingat seseorang serta padanya ia mempunyai kemelekatan yang kuat. Jika garukakamma dan asannakamma tidak ada, maka acinnakamma yang akan menentukan kondisi-kondisi kelahiran berikutnya.

Kebiasaan yang baik ataupun buruk menjadi sifat yang kedua. Mereka sedikit banyak cenderung membentuk sifat seseorang. Pada waktu luang kita kerap kali menyibukkan diri dalam kebiasaan pikiran dan perbuatan. Dalam cara yang sama pada saat-saat kematian, kecuali dipengaruhi oleh keadaan-keadaan lain, sesuai dengan hukum, kita mengingat kembali kebiasaan pikiran dan perbuatan kita.

3.4. Kamma yang Bertimbun ( Katatta Kamma )

Yang terakhir dalam golongan ini adalah Kamma yang bertimbun     ( katatta ) yang mencakup semua yang tidak dapat dimasukkan kedalam tiga jenis terdahulu. Ini bagaikan dana cadangan dari makhluk tertentu ; karma-karma sisa utama yang belum dihabiskan.

4. Kelompok Karma Berdasarkan Kedudukannya ( Pakatthanacatukka ) :

4.1. Akusala-Kamma : Perbuatan buruk yang akan masak di alam keindriaan

Ada sepuluh ( 10 ) tindakan jahat yang disebabkan oleh perbuatan badan jasmani, ucapan dan pikiran yang menghasilkan Kamma jahat. Akar dari tindakan jahat ini adalah keserakahan ( lobha ) akan keindriyaan, kebencian ( dosa ), dan kebodohan batin ( moha ).

Sepuluh (10) tindakah jahat tersebut adalah sebagai berikut :

(a). Tiga dilakukan perbuatan jasmani ( Akusala-Kaya-Kamma ), yaitu : 1). Membunuh ( panatipata), 2). Mencuri ( adinnadana ), 3). Perbuatan sex yang tidak pada tempatnya dan tidak sepatutnya ( kamesu micchacara ).

(b). Empat dilakukan oleh ucapan (Akusala-Vadi-Kamma), yaitu : 1). Berbohong ( musavada ), 2). Memfitnah ( pisunavaca ), 3). Kata-kata kasar ( pharusavaca ), dan, 4). Bergunjing ( samphappalapa ).

(c). Tiga dilakukan oleh pikiran (Akusala-Mano-Kamma), yaitu : 1). Ketamakan ( abhijjha ), 2). Keinginan Jahat ( Vyapada ), 3). Pandangan Salah ( Micchaditthi ).

4.1.1.Membunuh ( panatipata )

Membunuh ( panatipata ), berarti dengan sengaja melenyapkan nyawa makhluk hidup apapun. Kata “Pana” dari bahasa  Pali dengan tegas berarti “ kehidupan batin – jasmani mengenai keberadaan makhluk tertentu “. Penghancuran secara kejam dari kekuatan kehidupan ini, tanpa mengijinkannya untuk bergerak sesuai dengan waktu hidupnya sendiri, berarti “ panatipata “.

“ Makhluk Hidup “ disini berarti termasuk dunia hewan, tetapi tanaman tidak termasuk karena mereka tidak mempunyai pikiran, perasaan, persepsi, dan kesadaran apapun ( “ jiwa “ ). Namun meskipun demikian, para petapa suci, diharuskan untuk tidak menghancurkan kehidupan tanam-tanaman sekalipun. Hukum ini tidak ditujukan untuk orang biasa yang hidup berumah-tangga.

Lima keadaan dibawah ini diperlukan untuk terjadinya kejahatan membunuh : i. Makhluk hidup, ii. Pengetahuan bahwa ia makhluk hidup, iii. Kehendak untuk membunuh, iv. Usaha untuk membunuh, v. Adanya kematian.

Bobot kejahatan tergantung pada kebaikan dan besarnya makhluk yang bersangkutan. Pembunuhan terhadap seorang saleh atau seekor hewan besar ( gajah, lembu, kerbau, dll. ) dipandang lebih kejam daripada pembunuhan terhadap seorang yang keji, bengis, jahat ataupun seekor hewan kecil ( nyamuk, semut, kecoa, ulat, dll. ). Hal itu dianggap demikian karena usaha lebih besar diperlukan untuk melakukan kejahatan itu dan kehilangan yang ditimbulkan dipandang lebih besar.

Buah karma buruk dari membunuh adalah : i. Umur pendek, ii. Kesehatan yang buruk, iii. Selalu berduka karena perpisahan dari mereka yang dicintai, dan, iv. Selalu ketakutan.

4.1.2.Mencuri ( adinnadana )

Lima ( 5 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kejahatan mencuri, yaitu : i. Harta milik orang lain, ii. Pengetahuan bahwa harta itu memang milik orang lain, iii. Kehendak untuk mencuri, iv. Usaha untuk mencuri, v. Pemindahan yang sesungguhnya.

Buah karma buruk dari mencuri adalah : i. Kemiskinan, ii. Penderitaan, iii. Kekecewaan, iv. Kehidupan yang bergantung pada pihak lain.

4.1.3.Pelanggaran Susila ( kamesu micchacara )

Empat ( 4 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kejahatan pelanggaran susila : i. Pikiran untuk menikmati, ii. Usaha ke arah itu, iii. Cara untuk memuaskan, iv. Pemuasan.

Buah karma buruk dari pelanggaran susila  yang tak dapat dielakkan yaitu : i. Mempunyai banyak musuh, ii. Mendapat suami atau istri yang tidak diinginkan, iii. Lahir sebagai perempuan; orang kasim ; banci atau /  waria.

4.1.4. Berbohong ( musavada )

Empat ( 4 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kejahatan berbohong, yaitu : i. Sesuatu yang tidak benar, ii. Kehendak untuk berbohong, iii. Pengungkapan, iv. Penipuan yang sesungguhnya.

Buah karma buruk dari berbohong yang tak dapat dielakkan yaitu : i. Menjadi sasaran caci maki dan fitnah, ii. Tidak dipercaya, dan, iii. Mulut yang berbau.

4.1.5. Memfitnah ( pisunavaca )

Empat ( 4 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kejahatan memfitnah, yaitu : i. Orang-orang yang akan dipisahkan, ii. Kehendak untuk memisahkan mereka atau keinginan untuk mendekatkan diri sendiri kepada orang lain, iii. Usaha ke arah itu, iv. Penyampaian.

Buah karma buruk dari memfitnah yang tak dapat dielakkan adalah pecahnya persahabatan tanpa sebab apapun yang memadai.

4.1.6. Kata-kata Kasar ( pharusavaca )

Tiga ( 3 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kata-kata kasar, yaitu : i. Seseorang untuk dimaki, ii. Pikiran yang marah, dan, iii. Makian yang sesungguhnya.

Buah karma buruk dari kata-kata kasar yang tak dapat dielakkan yaitu : i. Dibenci oleh pihak lain walaupun mutlak tak bersalah, dan, ii. Memiliki suara parau.

4.1.7. Pergunjingan ( samphappalapa )

Dua ( 2 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya pergunjingan, yaitu : i. Keinginan untuk bergunjing, ii. Penyampaian hal itu.

Buah karma buruk dari bergunjing adalah : i. Cacat alat tubuh, ii. Pembicaraan yang tidak masuk akal.

4.1.8. Rasa Tamak ( abhijjha )

Dua ( 2 ) keadaan diperlukan untuk adanya rasa tamak, yaitu : i. Milik pihak lain, ii.memperhatikannya dengan berpikir, “ seandainya ini milikku “.

Buah karma buruk dari ketamakan yang tidak dapat dielakkan adalah : pengharapan-pengharapan yang tidak bisa terpenuhi.

4.1.9. Keinginan Jahat ( Vyapada )

Dua ( 2 ) keadaan diperlukan untuk adanya keinginan jahat, yaitu : i. Orang lain, ii. Pikiran untuk berbuat jahat.

Buah karma buruk dari keinginan jahat yang tak dapat dielakkan adalah : i. Berwajah jelek, ii. Menderita berbagai penyakit, iii. Pembawaan yang menjijikkan.

4.1.10. Pandangan Salah ( Micchaditthi )

Pandangan salah adalah melihat benda/objek secara salah. Kepercayaan yang salah seperti penolakan terhadap manfaat perbuatan baik termasuk dalam kejahatan ini.

Dua ( 2) keadaan diperlukan untuk adanya pandangan salah ini, yaitu : i. Cara yang salah dalam menanggapi objek, ii. Pengertian terhadap objek itu sesuai dengan gagasan yang salah.

Buah karma buruk dari pandangan salah yang tak dapat dielakkan adalah : i. Keinginan rendah, ii. Kurang bijaksana, iii. Akal yang tumpul, iii. Berbagai penyakit menahun, iv. Gagasan yang tercela.

Ada sepuluh ( 10 ) pandangan salah yang banyak dianut manusia :

i. Tidak ada kebajikan seperti kedermawanan ( dinnam );

ii. Tidak ada kebajikan seperti banyak memberi dana ( ittham ) atau

iii. Tidak ada kebajikan dari memberi hadiah untuk para tamu ( hutam );

iv. Tidak ada buah ataupun akibat dari perbuatan baik dan buruk,

v. Tidak percaya pada “ dunia ini” atau,

vi. Tidak percaya pada “dunia setelah ini “, yaitu  mereka yang dilahirkan tidak menerima keberadaan pada masa lalu, dan mereka yang hidup disini tidak menerima suatu kehidupan yang akan datang,

vii. Tidak ada ibu,

viii. Tidak ada ayah,

ix. Tidak ada makhluk yang mati dan bertumimbal lahir       ( opapatika ),

x. Tidak ada petapa yang berbudi dan bertata-tertib baik serta para brahmana, yang dengan kecerdasan istimewa mereka sendiri telah memahami dunia ini dan dunia setelah ini, dan menjelaskan hal itu.

4.2 Kamavacarakusala-Kamma : Kamma baik yang akan masak di alam keindriaan :

Kamavacarakusala-kamma terbagi menjadi tiga (3) macam , yaitu :

  1. Kusala-Kaya-Kamma ( perbuatan baik melalui jasmani ).
  2. Kusala-Vaci-Kamma ( perbuatan baik melalui perkataan ).
  3. Kusala-Mano-Kamma ( perbuatan baik melalui pikiran ).

Penghindaran dari sepuluh tindakan jahat diatas  disebut “ sepuluh (10) perbuatan bajik “, yang diterangkan secara rinci dalam Sevitabba-asevitabba-sutta, bagian dari Majjhima Nikaya.

Disamping itu, dalam agama Buddha dikenal “Sepuluh Karma Bajik” yang mencakup sepuluh perbuatan bajik disertai perbuatan bajik lainnya, yaitu yang terangkum dalam tabel berikut ini :

JENIS KARMA BAIK AKIBAT / BUAH KARMA
Kedermawanan ( Dana ) :

  1. Materi
  2. Memberikan keberanian, rasa nyaman, dan hiburan bagi orang yang terguncang jiwanya.
  3. Memberikan nasihat dan saran.
  1. Kekayaan Materi.
  2. Banyak teman dan jodoh afinitas.
  3. Mempunyai pengaruh kuat di lingkungan.
Moralitas ( Sila ) Kelahiran dalam keluarga mulia dan dalam keluarga bahagia.
Meditasi ( Bhavana ) Membawa kelahiran di alam berbentuk dan alam tidak berbentuk, serta membantu untuk memperoleh pengetahuan lebih tinggi dan kebebasan.
Penghormatan (apacayana) Memiliki keturunan mulia ; dihormati.
Pengabdian ( veyyavacca ) Menghasilkan banyak pengikut, asisten yang loyal, teman yang setia.
Mengirim jasa ( pattidana ) Memiliki harta berlimpah dalam kelahiran yang akan datang.
Berbahagia atas perbuatan baik pihak lain ( anumodana ) Kegembiraan dimanapun ia dilahirkan kelak.
Mendengarkan ajaran(dhammasavana ) Bijaksana, pandai, dan berpengetahuan luas.
Membabarkan ajaran ( dhammadesana ) Bijaksana, pandai, dan berpengetahuan luas.
Meluruskan pandangan hidup ( ditthijjukamma ). Bijaksana dan pandai.

Menurut agama Buddha, seseorang akan diberkati dengan kekayaan dan kebangsawanan bila ia melakukan empat hal :

1. Memberi pada waktu yang tepat.

2. Memberi tanpa sikap menghina atau angkuh.

3. Memberi dengan tulus hati.

4. Tidak mengharap balasan.

( Sutra Pertanyaan Sumati, Sutra 30 dari Maharatnakuta ).

Seorang umat awam ditekankan untuk melaksanakan tiga karma bajik pertama, yaitu : 1). Berdana ( dana ), 2). Moralitas ( Sila ), 3). Pengembangan Mental / Meditasi ( Bhavana ).

4.3 Kamma baik yang akan masak di alam berbentuk :

Inilah lima macam kegembiraan luar biasa ( Rupa Jhana ) yang semata-mata bersifat mental, yang diperoleh melalui pemurnian batin dengan menjaga Sila dan Samadhi yang terus-menerus :

i. Jhana pertama, kesadaran moral yang terdiri dari penerapan awal ( vitakka ), penerapan terus menerus ( vicara ), perhatian yang menyenangkan ( piti ), kebahagiaan ( sukha ), dan pemusatan perhatian ( ekaggata ),

ii. Jhana kedua, kesadaran moral yang terdiri dari penerapan terus menerus (vicara), perhatian yang menyenangkan (piti), kebahagiaan (sukha) dan pemusatan perhatian (ekaggata).

iii. Jhana ketiga, kesadaran moral yang terdiri dari perhatian yang menyenangkan (piti), kebahagiaan, dan pemusatan perhatian (ekaggata).

iv. Jhana keempat, kesadaran moral yang terdiri dari kebahagiaan (sukha) dan pemusatan perhatian (ekaggata), dan

v. Jhana kelima, kesadaran moral yang terdiri dari keseimbangan ( upekkha ) dan pemusatan perhatian (ekaggata). Jhana-jhana ini mempunyai akibat yang sesuai di Alam Berbentuk.

4. 4 Kamma baik yang akan masak di Alam Tak Berbentuk :

Inilah empat Arupa Jhana yang mempunyai akibat yang selaras di Alam Tak Berbentuk, yaitu :

i. Kesadaran moral yang berada di “ Ruang yang Tidak Terbatas “ ( Akasanancayatana ),

ii. Kesadaran moral yang berada di “ Kesadaran yang Tidak Terbatas “,

iii. Kesadaran moral yang berada di “ Kehampaan “ ( Akincannayatana ), dan,

iv. Kesadaran moral dimana Tidak Ada Pemahaman bukan pula Ada Pemahaman ( N’eva sanna ‘asannayatana ).



CARA KERJA KARMA

Pertama-tama marilah kita mempelajari proses-pikiran ( cittavithi ). Pikiran, kesadaran, dua unsur dari “jiwa” makhluk hidup, memainkan peranan sangat penting dalam perlengkapan manusia yang rumit. Jika seseorang tidur lelap dan dalam keadaan tidak bermimpi, ia merasakan sejenis kesadaran yang lebih kurang bersifat pasif daripada aktif. Perasaan ini seperti kesadaran yang dirasakan seseorang pada saat pembuahan dan wafat. Hal ini disebut sebagai Bhavanga yang berarti “ faktor kehidupan “, atau sebab, atau kondisi keberadaan yang sangat diperlukan.

Timbul dan lenyap setiap saat, pikiran & kesadaran mengalir bagaikan arus yang tidak pernah sama walaupun dengan selang waktu yang sedikit. Kita merasakan bentuk kesadaran ini tidak hanya pada saat tidak bermimpi, tetapi juga pada saat terjaga. Dalam kehidupan kita, kita merasakan saat-pikiran Bhavanga lebih banyak daripada bentuk kesadaran lain. Beberapa ahli psikologi modern menyatakan ‘bhavanga’ sama dengan bawah sadar, yaitu suatu bagian pikiran yang berada dibawah ambang batas kesadaran.

‘Bhavanga’ disebut sebagai faktor kehidupan karena ia merupakan keadaan penting untuk meneruskan keberadaan. Rangkaian kehidupan yang berkesinambungan tampaknya merupakan padanan kalimat terdekat untuk menggantikan istilah/kata “bhavanga”.

Kesadaran bhavanga ini, yang selalu dirasakan seseorang sepanjang tidak terganggu oleh rangsangan dari luar, bergetar selama satu saat-pikiran dan lenyap ketika suatu objek jasmani atau batin memasuki pikiran. Misalnya, objek yang memasuki pikiran adalah objek jasmani, maka proses yang terjadi adalah sebagai berikut : Saat terganggu objek jasmani, aliran kesadaran bhavanga tertahan, kemudian kesadaran pintu indria ( pancadvaravajjana ) yang fungsinya mengarahkan kesadaran menuju objek, muncul dan lenyap. Segera setelah itu muncullah kesadaran penglihatan ( cakkuvinnana ) yang melihat objek, tetapi tidak mengetahui lebih lanjut tentang objek tersebut. Bekerjanya indria penglihatan ini diikuti oleh saat penerimaan dari objek yang dilihat ( sampaticchana ). Selanjutnya muncullah saat pikiran yang menyelidiki ( santirana ) yang secara sesaat memeriksa objek yang dilihat. Ini diikuti oleh saat-pikiran yang menentukan ( votthapana ) ketika pembedaan dilakukan dan kehendak bebas memainkan peranannya. Javana, yaitu keadaan penting selanjutnya yang menurut ilmu jiwa bergantung pada keadaan tersebut. Pada keadaan itulah,pada keadaan Javana, suatu perbuatan dinilai, apakah baik atau buruk. Dan, Karma/kamma berlangsung pada keadaan tersebut. Jika ditanggapi dengan benar ( yonisomanasikara ), ia menjadi baik; jika ditanggapi dengan salah ( ayonisomanasikara ), jadi buruk.

Terlepas dari objek yang diingini atau tidak diingini yang tersajikan dalam pikiran, sungguh memungkinkan bagi seseorang untuk menjadikan proses Javana baik atau buruk. Jika misalnya seseorang bertemu dengan musuh, kemarahan akan muncul dengan sendirinya. Sebaliknya orang yang bijaksana dengan pengendalian diri sendiri, akan memancarkan pikiran cinta kasih kepadanya.

Faktor eksternal mungkin merupakan faktor ‘masukan’, tetapi akhirnya diri kita sendirilah yang menentukan untuk ‘bersikap’, yang secara langsung bertanggungjawab atas tindakan yang kita lakukan. Karmalah yang memungkinkan bagi kita untuk mengatasi pengaruh luar dan menghasilkan pikiran baik dan buruk dengan menggunakan kehendak bebas kita.

Istilah modern ‘apersepsi’ (tanpa-persepsi) mungkin bisa dipadankan dengan Javana. Javana, secara harafiah berarti ‘berlari’ . Disebut begitu karena dalam rentang suatu proses pikiran, ia berlari sebanyak tujuh saat pikiran, atau pada saat kematian, sebanyak lima saat-pikiran dengan objek yang sama. Keadaan mental yang muncul dalam semua saat-pikiran ini adalah sama, tapi kekuatannya berbeda.

Seluruh proses-pikiran ini yang berlangsung dalam waktu sangat singkat berakhir dengan kesadaran yang merekam ( tadalambana ) yang terjadi dalam waktu dua saat-pikiran.

Ada perumpamaan mengenai proses pikiran ini. Seseorang tidur nyenyak di kaki pohon mangga dengan kepala ditutupi. Angin menggerakkan cabang-cabang dan buah mangga jatuh di samping kepala orang yang tidur. Ia menyingkirkan penutup kepalanya, dan menoleh kearah objek. Ia melihatnya lalu mengambilnya. Ia memperhatikannya, dan yakin bahwa itu adalah sebuah mangga yang ranum. Ia memakannya, dan menelan serpihan dengan air liur, lalu ia membaringkan diri untuk tidur.

Tidur dengan tidak bermimpi menunjukkan aliran Bhavanga yang tidak terganggu. Hembusan angin pada pohon menunjukkan Bhavanga masa lalu dan goyangan cabang-cabang menunjukkan getaran Bhavanga. Jatuhnya buah mangga menunjuk Bhavanga yang tertahan / terganggu. Menoleh ke arah objek menunjuk kesadaran pintu-indria, penglihatan pada objek menunjuk pemahaman, mengambil menunjuk kesadaran penerima, memperhatikan menunjuk kesadaran penguji, meyakinkan diri bahwa itu buah mangga yang ranum menunjuk kesadaran penentu. Saat memakan menggambarkan proses Javana, dan menelan potongan menunjukkan ingatan. Kembali tidur  menggambarkan surutnya pikiran menuju Bhavanga lagi.

Dari tujuh saat-pikiran seperti yang disebutkan diatas, akibat dari saat pikiran pertama, yang terlemah dalam kemampuan, orang mungkin memetik buahnya ( buah karma/kamma, atau vipaka ) dalam kehidupan ini juga. Ini disebut “ karma/kamma yang berlaku segera “ ( ditthammavedaniya ). Jika ia tidak bekerja dalam kehidupan ini, ia menjadi kadaluwarsa ( ahosi ).

Urutan terlemah kedua  adalah yang ke-7 dari saat-pikiran. Akibat dari karma ini akan dipetik/dialami dalam kehidupan berikutnya. Oleh karena itu ia disebut “ Karma/kamma yang berlaku sesudah itu “ ( upapajjavedaniya ), yang juga, langsung menjadi kadaluwarsa jika ia tidak bekerja pada kehidupan yang kedua.

Akibat dari lanjutan saat-pikiran mungkin terjadi kapan saja dalam rentang pengembaraan seseorang dalam Samsara sampai akhir Kebebasan. Karma/kamma jenis ini disebut “ berlaku untuk jangka waktu yang tak terbatas “ ( aparapariyavedaniya ).



TIDAK SEMUA KARENA KAMMA

Terdapatlah pandangan salah yang menyatakan bahwa, “Apapun kebahagiaan, penderitaan atau perasaan netral yang dirasakan, semuanya bergantung pada perbuatan masa lalu ( pubbekatahetu )”. Mengenai pandangan-salah ini, Sang Buddha bersabda, “ Jika begitu, karena perbuatan masa lalu orang menjadi pembunuh, pencuri, tak bersusila, pembohong, pemfitnah, pengoceh, tamak, dengki dan jahat. Jadi pada mereka yang bersandar pada perbuatan masa lalu sebagai alasan utama, disana tak ada keinginan untuk berbuat, atau perlu melakukan perbuatan ini atau tidak melakukan perbuatan itu.” [ Anguttara-Nikaya – I.173 ; Gradual Sayings. I.157 ; dikutip dari buku “Sang Buddha dan Ajaran-ajaran-Nya”, penulis Bhante Narada Mahathera, hal.58 ]

Agama Buddha menerangkan semua perbedaan dan ketidak-adilan didunia ini dengan hukum Karma, tetapi tidak menyatakan bahwa segala sesuatu disebabkan oleh Kamma saja. Apabila segala sesuatu disebabkan oleh Kamma, maka seorang penjahat akan selamanya menjadi jahat, karena kammanya yang menjadikan dirinya jahat. Orang tidak perlu memeriksakan dirinya ke dokter untuk disembuhkan penyakitnya, karena bila kammanya memang harus demikian ia akan sembuh dengan sendirinya. Jika kehidupan saat ini sepenuhnya terbentuk atau dikendalikan seluruhnya oleh perbuatan masa lalu kita, maka Kamma tentunya sama saja dengan fatalisme deterministic / atau “Takdir”.

Seseorang bebas untuk membentuk masa sekarang atau masa yang akan datang. Jika fatalisme-deterministic itu betul, maka kehendak-bebas (freewill ) akan menjadi suatu kemustahilan. Kehidupan akan bergerak secara mekanis, tak berbeda dengan mesin. Ajaran fatalisme-deterministik seperti ini bukanlah hukum-Kamma yang diajarkan Sang Buddha.

PANCA-NIYAMA

Menurut agama Buddha, terdapat lima aturan / proses alamiah ( niyama ) yang berlaku dalam alam mental dan fisik, yaitu  :

1. Kamma Niyama ( Sanskrit : Karma )

Yaitu hukum sebab akibat ; perbuatan baik dan buruk menghasilkan akibat-akibat yang sesuai.

2. Bija Niyama,

Hukum Benih ( hukum fisik organic ) ; beras dihasilkan dari padi, gula dihasilkan dari tebut atau madu, dan lain-lain. Teori ilmiah tentang sel-sel dan gen-gen ( plasma pembawa sifat ) dan kemiripan fisik anak kembar diterangkan melalui hukum ini.

3. Utu Niyama,

Hukum fisik ( inorganic ), yaitu fenomena angin dan hujan, musim-musim yang timbul di alam-semesta.

4. Citta Niyama,

Hukum pikiran / batin ( hukum psikis ), yaitu proses-proses kesadaran ( citta-vitthi ), kekuatan pikiran, kemampuan batin, membaca pikiran, kewaskitaan, mengingat kehidupan lampau diri sendiri dan orang lain, dan lain-lainnya.

5. Dhamma Niyama

Hukum alam, yaitu misalnya fenomena alam pada saat kedatangan Bodhisatta pada kelahiran terakhirnya, gravitasi bumi, dan lain-lain sebagainya.

Setiap fenomena mental dan fisik dapat diterangkan dengan lima hukum serba-lengkap ini. Dan hukum alam tersebut berlaku, berjalan sendiri, tanpa peran serta Hakim Agung atau Penguasa tertentu yang mengaturnya.

Tidak ada yang memutuskan bahwa api itu harus membakar. Tidak ada yang memerintahkan bahwa air harus mencari permukaan yang rendah. Tak ada ilmuwan yang memerintahkan bahwa air harus terdiri dari H20 dan sifat dingin harus menjadi salah satu sifatnya. Kamma bukanlah nasib atau takdir yang ditimpakan pada kita oleh kekuatan misterius yang tak dikenal, kepada siapa kita harus menyerahkan diri kita tanpa daya. Perbuatan seseorang sendirilah yang memberi akibat pada dirinya, sehingga dengan demikian ia mempunyai suatu kemungkinan untuk membelokkan jalannya kamma sampai taraf tertentu. Berapa jauh ia dapat membelokkannya, hal itu tergantung pada usaha dirinya sendiri.

……………………………………………………………………………………………………………………….

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )


RATANA KUMARO

Semarang-Barat, Minggu, 5 Juli 2009.

Iklan

Posted in BUDDHA, Hukum Karma | 26 Comments »