RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

Archive for Juni 28th, 2009

ARTI DOA [ Menurut Buddhisme ]

Posted by ratanakumaro pada Juni 28, 2009

“Sesuai dengan benih yang kita tabur, begitulah buah yang akan kita petik. Pembuat kebajikan akan memperoleh kebahagiaan dan pembuat kejahatan akan memperoleh penderitaan.”

[Samyutta Nikaya I, 227]

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattum (3X) )

Namatthu Buddhassa,

Saya pernah mendapat pertanyaan dari seorang non-Buddhis berkaitan dengan “doa” . Begini pertanyaannya, Jika sosok “Yang-Maha-Kuasa” dan “Yang-Maha-Pencipta”  ditolak keberadaannya oleh Sang Buddha, lalu, kepada siapakah ummat Buddha berdoa ? Saya melihat ummat Buddha banyak yang kaya-raya, makmur, darimanakah itu bila bukan dari “Yang-Maha” ? Ataukah itu dari Sang Buddha ? “

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin menyitir ungkapan yang sangat terkenal dari Descartes, Bapa filsafat idealisme. “Cogito Ergo Sum”, yang artinya, “Aku berpikir, maka Aku Ada”, demikian Descartes berkata. Psikologi modern  juga menyatakan bahwa kita adalah buah pikiran kita sendiri, sebuah temuan ilmiah yang sangat selaras dengan apa yang diajarkan Sang Buddha lebih dari 2.550 tahun yang lalu. Ketika seseorang berdoa, maka sebenarnya ia sedang melakukan proses “sugesti” dan “afirmasi” bagi dirinya sendiri. Dan kemudian ia mendapatkan kelegaan serta keteguhan dari “doa” yang ia ucapkan pada suatu sosok “Yang-Maha-Segala”. Kelegaan dan keteguhan itu sesungguhnya hanyalah efek psikologis semata dari hasil “sugesti” dan “afirmasi” yang ia tanamkan dalam “jiwa” melalui untaian kata-kata indah yang terangkum dalam doa tersebut, bukan berasal dari “sentuhan-tangan-Yang-Maha-Kuasa” . Inilah efek yang diciptakan oleh pikiran melalui “iman” dan “devosi” umumnya ummat manusia.

Dalam satu kesempatan, Sang Buddha bersabda, “Tumhehi kiccam atappam akkhataro Tathagata”, yang artinya, Usaha harus dikerjakan oleh dirimu sendiri. Para Tathagata hanyalah Guru.” ~ Dhammapada v.276.

Sang Buddha tidak pernah mengajarkan para siswa-Nya untuk berdoa dan berserah diri pada “Maha-Dewa” siapapun namanya, termasuk kepada Sang Buddha sendiri. Kebalikan dari ajaran “berserah-diri” tersebut,  Sang Buddha justru mengajarkan para siswa-Nya untuk berusaha, berdaya-upaya dengan kemampuan dirinya sendiri, dengan segenap-tenaga, hingga meraih kesuksesan. Untuk itulah, Sang Buddha memberikan rumusan bagi para siswa-Nya supaya berhasil dengan sukses meraih apa yang dicita-citakan, yang disebut dengan “Panca-Bala” :

“Pañcimāni, bhikkhave, balāni. Katamāni pañca? Saddhābalaŋ, vīriyabalaŋ, satibalaŋ, samādhibalaŋ, paññābalaŋ. “

Inilah o para Bhikkhu, lima kekuatan. Apakah lima kekuatan itu? Kekuatan keyakinan (Saddhābalaŋ), Kekuatan ketekunan/ semangat (vīriyabalaŋ), Kekuatan perhatian (satibalaŋ), Kekuatan samādhi/konsentrasi (samādhibalaŋ), Kekuatan Kebijaksanaan (paññābalaŋ).


Inilah kunci  bagi siapapun yang ingin meraih kesuksesan menggapai cita-citanya. Di dalam berusaha mencapai cita-cita, alih-alih menyibukkan diri dengan uncaran doa-doa berjam- jam, kita hendaknya selalu penuh keyakinan, ketekunan/semangat, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan, dalam berusaha dan berdaya-upaya meraih cita-cita, hingga apa yang kita cita-citakan itu berhasil.

Pada suatu kesempatan, Sang Buddha bersabda pada hartawan Anathapindika:

Oh, perumah tangga, di dunia ini ada lima hal yang diinginkan, menarik dan menyenangkan. Apakah kelima hal itu? Tidak lain adalah usia panjang, kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran dan kelahiran kembali di alam-alam Surga. Akan tetapi, oh, perumah tangga, Saya tidak pernah mengajarkan bahwa lima hal tersebut dapat diperoleh dengan doa (acayana) ataupun dengan kaul/nadar (patthana). Jika seandainya dapat diperoleh dengan doa atau kaul/nadar, [maka] siapakah yang tidak akan melakukannya?

Bagi seorang siswa mulia, oh, perumah tangga, yang mendambakan usia panjang, kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran, dan kelahiran kembali di alam-alam Surga; sangatlah tidak tepat apabila ia berdoa atau merasa senang dalam usaha seperti itu. Sebaliknya, ia selayaknya menempuh jalan kehidupan yang mengakibatkan usia panjang, kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran dan kelahiran kembali di alam-alam Surga. Hanya dengan berbuat demikianlah ia dapat memperoleh apa yang diinginkan, menarik dan menyenangkan.


TIDAK PERLU BERDOA, TETAPI KENDALIKANLAH PIKIRAN KITA

Jika Pikiran tidak terjaga,  tindakan jasmani tidak terjaga, ucapan juga tak terjaga, buah pikiran juga tak terjaga. Jika pikiran terjaga, tindakan jasmani terjaga, ucapan juga terjaga, dan buah-pikiran juga terjaga. [ Atthasalini hal.68. The Expositor,Bag.I,halm91 ]

Dalam Dhammapada, terdapatlah kata-kata mutiara Sang Buddha, yang mengingatkan kita semua untuk senantiasa mengendalikan pikiran kita, karena, pikiran adalah pemimpin, karena pikiran kita sendirilah kita bahagia dan  karena pikiran kita sendirilah kita menderita.

“Pikiran itu sangat sulit dikendalikan, Bergerak sangat cepat, Menuju kemana ia mau pergi. Melatih pikiran adalah baik, Pikiran yang terkendali akan membawa kebahagiaan.” [ Dhammapada ; Citta-Vagga 3:4 ]

“Pikiran itu sangat sulit untuk diawasi dan sangat halus, Bergerak kemana ia mau pergi, Orang bijaksana seharusnya mengendalikan pikirannya; Pikiran yang terkendali akan membawa kebahagiaan.” [ Dhammapada ; Citta-Vagga 3:4 ]

“Seseorang yang pikirannya tidak ternoda oleh nafsu, Terbebas dari kebencian, Dapat mengatasi baik dan buruk, Maka tidak ada lagi perasaan takut.” [ Dhammapada ; Citta-Vagga 3:7 ]

Seperti orang menabur benih padi, maka akan tumbuh tanaman padi, demikian pula, benih-benih pikiran baik akan menyebabkan tumbuhnya pohon yang berbuah kebajikan yang bermanfaat bagi si pembuat kebajikan, dan demikianlah sebaliknya. Hukum-alam seperti ini ( Hukum-Alam, sesungguhnya ada lima, yaitu  : utu-niyama, bija-niyama, kamma-niyama, ctta-niyama, dhamma-niyama ), tidak dapat direkayasa dengan “Doa”.

Rahasia kesuksesan dan kegagalan, semua terletak pada, bagaimana kita menggunakan pikiran [mind-set] kita, bagaimana kita mengendalikan pikiran, dan kemana pikiran kita arahkan, bukan pada “kalimah-sakti” yang terangkai dalam sebuah “doa”. Hendaknya hal ini senantiasa kita pahami dengan bijaksana.

KISAH NYATA ; SESEORANG  YANG  BERSANDAR PADA MUJIZAT “YANG-MAHA-KUASA”

Ada sebuah kisah nyata, dari kehidupan di sekitar saya sendiri. Seorang perumah tangga, mempunyai anak tiga. Semenjak menikah, ia tidak pernah mempunyai pekerjaan tetap. Sekian lama tidak terdengar kabar, pada suatu ketika, saya bertemu dengannya. Cukup kagum, karena ia saat itu naik mobil Mercedes Benz, dan bekerja mandiri sebagai seorang kontraktor. Kemudian, setelah bercakap-cakap, barulah saya ketahui, semua modalnya dia peroleh dari pinjaman uang ke “lintah-darat”, dan saat bertemu dengan saya itu sebenarnya dia terlilit hutang yang sangat besar. Untuk membayar hutang-hutangnya kepada “lintah-darat”, dia membuat banyak kartu-kredit. Ia saat itu berkelakar,

” Jika kita punya hutang yang banyak, kita tidak perlu pusing-pusing memikirkannya, biarkan yang meminjamkan uang pada kita itulah yang pusing memikirkan bagaimana menagih uangnya yang kita pinjam, ha ha ha..! “


Seiring berjalannya waktu, kehidupannya semakin “suram”. Mulailah debt-collector bermunculan, karena ia tak mampu membayar angsuran bulanan lagi. Hutangnya ketika itu sudah mencapai 700 juta rupiah. Pada suatu saat, ia menyatakan sesuatu hal pada saya sebagai obat penghalau “pesimisme”-nya sendiri :

“Seseorang pernah memberikan kesaksian di rumah-ibadah tempat istri saya kesana, disana orang tersebut berkata,”Jika didepan saya tidak terdapat satu jalanpun kecuali hanya sebuah dinding tembok, maka sayapun mau untuk lari menabrak dinding tembok didepan saya, karena saya yakin itulah kehendak Tuhan. Dan Tuhan pasti telah menyiapkan rencana indahnya ketika saya lari menabrakkan diri ke dinding tembok tersebut! “

Berdasarkan kesaksian seseorang di sebuah rumah-ibadah itulah, kemudian, pada perjalanan hidupnya selanjutnya, ia benar-benar melakukan hal yang bodoh. Karena merasa sudah tidak ada jalan lagi, maka ia mulai mempunyai pikiran buruk. Ia mulai menipu ke beberapa teman, saudara, dan akhirnya menipu banyak orang. Padahal, terakhir bertemu saya ( yaitu ketika ia menceritakan kisah “kesaksian” diatas ), ia pun telah terbelit pada hutang kartu kredit dan hutang yang lainnya hingga 700 juta rupiah.

Ketika ia merasa terpojok, ia dan istrinya memutuskan bercerai. Namun dengan perjanjian, bahwa ia tetap tinggal dirumahnya. Perceraian ini hanya rekayasa, supaya istri dan anak-anaknya terbebas dari kejaran para debt collector dan juga para polisi  ( sebab, semua kreditur telah melaporkan dirinya pada pihak yang berwajib, polisi ). Alangkah malangnya, kabar terakhir yang saya dengar, ketika sang suami bersusah payah menyembunyikan diri dari kejaran polisi dan debt collector, si istri asyik-masyuk berselingkuh dengan laki-laki lain yang lebih kaya. Hancurlah ia, meraung-raung, ia tak menyangka semua akan menjadi begitu. Ia meronta, “Dimana keadilan Tuhan, bukankah selama inipun aku rajin beribadah ? Berdoa ? Mengapa doaku tak pernah didengarnya ? Mengapa Tuhan melakukan ini semua padaku ?  “

Nah, saudara-saudari, apakah yang bisa kita petik dari kisah ini ?  Hukum-alam, berjalan dengan pasti. Alam tidak pernah memihak. Alam tidak bisa disanjung dengan doa. Jika kita berbuat jahat, maka buah kejahatan telah mulai berkembang dan menunggu untuk waktu-masak, dimana kita siap memetiknya.

Mengenai hal ini, ada beberapa kata-kata mutiara Sang Buddha, yang patut kita renungkan bersama :

“Apabila buah dari perbuatan buruk belum masak, orang bodoh menganggap hidupnya manis seperti madu; namun apabila buah dari perbuatan buruknya telah masak, maka orang bodoh itu akan merasakan pahitnya penderitaan.” [Dhammapada ; Bala-Vagga 5:10 ]

“Akibat dari perbuatan buruk tidak segera berbuah, seperti susu yang perlahan-lahan menjadi asam setelah diperah; demikian pula penderitaan akan membakar orang bodoh seperti bara api yang tertutup oleh arang.” [ Dhammapada ; Bala-Vagga 5:12 ]

“Janganlah menganggap remeh kejahatan yang ringan dengan berpikir : “Perbuatan keliru yang tidak berarti ini tidak akan berakibat buruk pada diriku.” Karena seperti air yang mengisi tempayan tetes demi tetes, demikian pula orang bodoh memenuhi dirinya dengan perbuatan jahat Sedikit demi sedikit.” [ Dhammapada ; Papa-Vagga 9:6 ]

“Selama akibat dari perbuatan jahat belum masak, si pembuat kejahatan menganggap perbuatan jahatnya sebagai hal yang menguntungkan. Tetapi setelah akibat dari perbuatan jahatnya sudah masak, ia akan menyadari kerugian dari perbuatan jahat tersebut.” [ Dhammapada ; Papa-Vagga 9:4 ]


KISAH SANG BUDDHA MEMANFAATKAN KEKUATAN TAKHAYUL DARI “PERSEMBAHAN-KORBAN” DAN “DOA”

Ada sebuah kisah dari kehidupan lampau Sang Buddha, yang menggambarkan bagaimana Sang Boddhisatta ( calon-Buddha ) memanfaatkan kekuatan takhayul berupa “persembahan-korban-binatang” dan “doa” yang mencengkeram rakyat Benares waktu itu. Sang Boddhisatta sangat kasihan mengapa rakyat Benares dicengkeram kepercayaan takhayul semacam itu. Karena itu, Sang Boddhisatta kemudian mencari cara / “akal” bagaimana caranya membelokkan praktik takhayul tersebut menjadi sebuah praktik latihan lima moralitas ( Pancasila ) yang jauh lebih bermanfaat dari “persembahan-korban-binatang” dan “doa” pada “Maha-Dewa”.

Dahulu kala, Raja Brahmadatta memerintah di Benares, India Utara. Sang Bodhisatta, Makhluk yang akan mencapai Penerangan, terlahir sebagai pangeran di negara itu. Karena pintarnya, ia telah menyelesaikan seluruh pendidikannya kala ia berusia 16 tahun. Jadi pada usia yang sangat muda ayahnya telah menjadikan ia sebagai orang kedua dalam pemerintahannya.

Pada hari-hari itu, kebanyakan orang Benares memuja dewa-dewa. Mereka sangatlah percaya tahayul. Mereka berpikir bahwa para dewalah yang menyebabkan terjadinya sesuatu pada diri mereka, dan bukannya hasil dari perbuatan mereka sendiri. Jadi mereka akan berdoa kepada para dewa ini dan minta pertolongan. Mereka akan meminta pernikahan yang menguntungkan, atau kelahiran seorang anak, atau kekayaan, ketenaran.

Mereka akan berjanji kepada para dewa bahwa, jika doa mereka terkabul mereka akan membayar pada dewa tersebut dengan persembahan. Sebagai tambahan selain bunga dan wewangian, mereka membayangkan bahwa para dewa tersebut menginginkan persembahan korban binatang. Jadi bila mereka berpikir bahwa para dewa telah membantu, mereka akan membunuh banyak binatang-binatang – kambing, lembu, ayam, babi, dsb.

Pangeran tersebut melihat semua ini dan berpikir, “Binatang-binatang yang tak berdaya ini juga merupakan sasaran sang raja, jadi aku harus melindungi mereka. Orang-orang melakukan perbuatan tidak benar ini karena kebodohan dan kepercayaan terhadap tahayul. Ini bukanlah agama yang sebenarnya. Karena agama yang sebenarnnya menawarkan kehidupan seperti apa adannya, bukan pembunuhan. Agama yang benar menawarkan kedamaian bukan pembunuhan.

“Aku takut orang-orang ini terlalu mempercayai tahayul sehingga sukar bagi mereka untuk meninggalkannya. Betapa menyedihkan. Tetapi mungkin paling tidak kepercayaan mereka ini dapat diubah menjadi sesuatu yang berguna. Suatu hari nanti aku akan menjadi raja, Jadi aku harus membuat rencana agar tahayul ini dapat membantu mereka. Jika mereka harus memberikan persembahan biarlah mereka membunuh ketamakan dan kebencian mereka sendiri dan bukannya membunuh binatang-binatang yang tidak berdaya ini! Dengan demikian seluruh kerajaan akan mendapatkan manfaat”.

Jadi pangeran yang pandai tersebut membuat rencana jangka panjang. Sering ia akan mengedarai keretannya menuju satu pohon banyan yagn terkenal tepat di luar kota. Pohon itu sangat besar, banyak orang berdoa dan memberikan persembahan kepada dewa yang mereka kira hidup di pohon itu. Pangeran itu turun dari keretanya dan memberikan persembahan yang sama – dupa, bunga, wewangian dan air – tetapi bukan persembahan binatang.

Dengan cara demikian dia membuat suatu tontonan besar, dan kabar tentang persembahan yang dilakukannya itu dengan segera tersebar luas. Segera, orang mengira bahwa ia juga adalah salah satu pengikut dewa pohon banyan tersebut.

Pada saatnya raja Brahmadatta meninggal dan pangeran tersebut menjadi raja yang baru. Ia memimpin sebagai seorang raja yang adil dan semua rakyatnya mendapatkan manfaat. Jadi semua rakyat percaya dan menghormatinya sebagai seorang raja yang adil dan bijaksana.

Kemudian pada suatu hari, ia memutuskan bahwa telah tiba saatnya yang tepat untuk melaksanakan rencananya. Jadi ia memanggil seluruh jajaran pemimpin rakyat Benares ke aula kerajaan. Ia bertanya kepada mereka, “Para menteri dan rakyatku yang setia, tahukah kalian bagaimana aku mampu memastikan bahwa nantinya aku akan menjadi raja?” Tidak ada seoarngpun dapat menjawab.

Ia berkata, “Ingatkah kalian bahwa aku sering memberikan persembahan yang manis-manis dan baik kepada dewa pohon banyan?” “Ya, tuanku”, kata mereka.

Raja melanjutkan, “Pada tiap-tiap saat itu, aku berjanji pada dewa pohon banyan yang hebat itu, Aku berdoa, ‘Oh dewa yang hebat, jika anda membuatku menjadi raja di Benares, aku akan memberikan persembahan yang khusus, lebih hebat dari bunga dan wewanggian'”.

“Karena sekarang aku telah menjadi raja, anda semua dapat melihat sendiri bahwa dewa telah mengabulkan doaku. Jadi sekarang aku harus memenuhi janjiku dan memberian pesembahan khusus.”

Semua yang berada dalam aula tersebut menyetujuinya. Mereka berkata, “Kita harus mempersiapkan persembahan ini dengan segera. Binatang apa yang hendak paduka bunuh?”

Sang Raja berkata, “Para pengikutku, aku bahagia kalian semua mau bekerjasama. Aku berjanji pada dewa pohon banyan bahwa aku akan mempersembahkan siapa saja yang gagal berlatih Lima Langkah Latihan (Panca Sila). Yaitu, mereka yang menghancurkan kehidupan, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan kesalahan dalam hal seksual, berbicara bohong, atau kehilangan akal sehatnya karena alkohol. Aku berjanji, bahwa jika ada yang melakukan hal ini, aku akan mempersembahkan nyali, daging, dan darah mereka pada altar dewa yang hebat tersebut!”

Karena begitu percayanya akan tahayul, semua yang berada diaula menyetujuinya bahwa hal ini harus dilakukan, atau dewa tentunya akan menghukum raja dan semua yang ada dalam kerajaan itu.

Sang raja berpikir, “Ah, begitu hebatnya kekuatan tahayul sampai-sampai semua orang kehilangan akal sehatnya! Mereka tidak dapat melihat bahwa latihan pertama adalah jangan membunuh. Jika aku mengorbankan salah satu dari mereka, akulah yang akan berada di altar! Dan dengan kekuatan seperti itu aku dapat membuat janji semscam itu, dan tidak harus melakukannya!”

Jadi, dengan keyakinan penuh pada kekuatan tahayul, sang Raja berkata kepada para pimpinan rakyat, “Pergilah ke seluruh bagian kerajaan dan umumkanlah janji yang telah kubuat kepada dewa pohon banyan. Kemudian umumkanlah bahwa seribu orang pertama yang melanggar langkah-langkah latihan akan mendapatkan kehormatan untuk menjadi persembahan, untuk memenuhi janji raja.”

Demikianlah dan terjadilah, orang-orang di Benares menjadi terkenal karena mereka berhati-hati melatih Lima Latihan  Moralitas (Panca Sila). Dan raja yang baik tersebut, yang mengenal dengan baik pengikutnya, tidak mengorbankan siapapun.

[ Sumber :    http://www.geocities.com/Athens/Stage/5255/dhamma/jataka/pangerantahayul.htm      ]


JANGAN BERBUAT JAHAT, PERBANYAK KEBAJIKAN, SUCIKAN HATI DAN PIKIRAN

Sesungguhnya, pada ketiga syair ( jangan berbuat jahat, perbanyak kebajikan, sucikan hati dan pikiran ) tersebutlah, inti kebahagiaan hidup. Sebagaimana kita lihat pada contoh kisah-nyata diatas, seseorang yang mengharapkan “mujizat-keselamatan-dan-ksejahteraan” melalui penguncaran doa-doa sementara ia sendiri senantiasa berbuat jahat, sesungguhnya telah menjerumuskan dirinya sendiri kearah jurang-kehancuran.

Dalam hal ini, kata-kata mutiara Sang Buddha, patut kita renungkan bersama :

“Dalam kehidupan ini ia menderita, dalam kehidupan yang akan datang ia juga akan menderita. Dalam kedua alam kehidupan si pembuat kejahatan menderita. Ia menderita dan bersedih menyaksikan buah dari perbuatannya yang buruk.” [ Dhammapada ; Yamaka-Vaga 1:15 ]

“Dalam kehidupan ini ia berbahagia, dalam kehidupan yang akan datang ia juga berbahagia. Dalam kedua alam kehidupan si pembuat jasa kebaikan berbahagia, Ia bergembira dan berbahagia menyaksikan buah dari perbuatannya yang baik.” [ Dhammapada ; Yamaka-Vagga 1:16 ]

“Si pembuat kejahatan menyesal dalam kehidupan ini, Ia juga menyesal dalam kehidupan yang akan datang. Ia menyesal di kedua alam kehidupan, Ia sangat menyesal ketika merenungkan perbuatan jahatnya. Dan ia akan lebih menderita lagi setelah terlahir di alam sengsara.” [ Dhammapada ; Yamaka-Vagga 1:17 ]

“Si pembuat kebajikan berbahagia dalam kehidupan ini, Ia juga berbahagia dalam kehidupan yang akan datang.  Ia berbahagia di kedua alam kehidupan, Ia sangat berbahagia ketika merenungkan perbuatan bajiknya. Dan ia akan lebih bahagia lagi setelah terlahir di alam surga/bahagia.” [ Dhammapada ; Yamaka-Vagga 1:18 ]

“Jangan terhanyut dalam kelengahan, tidak melekat pada kenikmatan indriya. Orang yang sadar dan selalu waspada, akan memperoleh kebahagiaan yang tidak terbatas.” [ Dhammapada ; Appamada-Vagga 2:7 ]

“Seseorang yang pikirannya tidak ternoda oleh nafsu, terbebas dari kebencian. Dapat mengatasi baik dan buruk, maka tidak ada lagi perasaan takut.” [ Dhammapada ; Citta-Vagga 3:7 ]

“Apabila seseorang telah melakukan perbuatan baik, Ia hendaknya mengulangi perbuatan baik tersebut. Ia merasa berbahagia dengan perbuatan baik, oleh karena kebaikan akan membawa kebahagiaan.” [ Dhammapada ; Papa-Vagga 9:3 ]

“Selama akibat dari perbuatan baik belum masak, si pembuat kebaikan menganggap perbuatan baiknya sebagai hal yang merugikan. Tetapi setelah akibat dari perbuatan baiknya sudah masak, Ia akan menyadari manfaat dari perbuatan baik tersebut.” [ Dhammapada ; Papa-Vagga 9:5 ]

“Janganlah menganggap remeh perbuatan baik yang ringan dengan berpikir : “ Perbuatan baik yang tidak berarti ini tidak akan membawa kebaikan pada diriku” Karena seperti air yang mengisi tempayan tetes demi tetes, Demikian pula orang bijaksana memenuhi dirinya dengan perbuatan baik Sedikit demi sedikit.” [ Dhammapada ; Papa-Vagga 9:7 ]

Nah, saudara-saudari semuanya dan khususnya ummat Buddha, sesungguhnya, mantra dan doa yang “melambung-tinggi” itu tidaklah berharga bila dibandingkan dengan  sebuah usaha yang penuh keyakinan (saddha), ketekunan/semangat ( viriya ), perhatian ( sati ), konsentrasi ( Samadhi ), dan kebijaksanaan ( panna ). Doa, hanya membantu “batin” untuk memperoleh suatu kelegaan dan keteguhan tekad, yang sesungguhnya itu hanyalah proses psikologis semata ( hasil dari “sugesti” dan “afirmasi” yang dilakukan ).

Hindarilah kejahatan, perbanyaklah kebajikan, sucikan hati dan pikiran, inilah kunci kebahagiaan, inilah kunci “surga” pada kehidupan saat ini dan kehidupan setelah kematian nanti ( pada kelahiran-kembali kelak ). Bagaimana kita menghindari kejahatan ? Dengan memperteguh diri dalam “Latihan Lima Moralitas” ( Pancasila ), maka kita telah menghindarkan diri dari kejahatan. Dengan mengembangkan kedermawanan ( Dana ), cinta-kasih ( Metta ), Kasih-Sayang ( Karuna ), rasa simpati ( Mudita ), dan keseimbangan-batin ( Upekkha ),  maka kita telah mengembangkan dan memperbanyak kebajikan.

Seorang penyair Buddhis, Dr.Tagore, pernah membuat sebuah syair yang berusaha menggambarkan bagaimana seorang Boddhisatta ( makhluk yang bercita-cita mencapai pencerahan-sempurna/menjadi Buddha demi keselamatan semua makhluk ) membentuk batin-Nya untuk tujuan pencapaian “pembebasan”-nya. Dengan bersandar pada kekuatan sendiri, dengan usahanya sendiri, seorang Boddhisatta akan membentuk pikirannya seperti ini :

“ Biarlah aku tidak berdoa untuk dilindungi dari bahaya, tetapi untuk tidak takut dalam menghadapi mereka.

Biarlah aku tidak meminta untuk disembuhkan dari penyakitku, tetapi demi ketabahan untuk mengatasinya.

Biarlah aku tidak berharap dalam kecemasan untuk diselamatkan, tetapi berharap demi kesabaran untuk memenangkan kebebasanku. “

Sungguh sebuah syair yang sangat indah, bertujuan untuk memajukan perkembangan spiritual, jauh dari ke-takhayul-an dan “fantasi” akan turunnya “invisible-hand” dari sosok “Maha-Kuasa”. Dan justru “Doa” yang bersifat “afirmasi-positif” seperti inilah sesungguhnya yang sepatutnya mulai kita praktikkan demi manfaat pencapaian perkembangan spiritual kita bersama, bukan “doa” yang diselimuti  kabut “takhayul” akan harapan datangnya “keajaiban” dari “kekuatan-ghaib” diatas  sana.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Minggu, 29 Juni 2009

Posted in BUDDHA, Doa, Rahasia Doa | 22 Comments »