RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

PERAYAAN WAISAK 2553 BUDDHIST ERA [BE] DI VIHARA WATUGONG SEMARANG

Posted by ratanakumaro pada Mei 10, 2009

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”

( tikkhattum ; 3X )

Nammatthu Buddhassa,

Gbr.1

Hari Sabtu, tanggal 09 Mei 2009 , seluruh ummat Buddha merayakan hari raya Tri Suci Waisak 2553 Buddhist Era [BE] / 2009 Masehi. Hari raya Tri Suci Waisak merupakan hari peringatan akan tiga peristiwa Agung berkenaan dengan Sang Buddha Gotama. Ketiga peristiwa Agung ini [sama-sama] terjadi tepat pada bulan Purnama-Siddhi, bulan kelima (5) pada penanggalan Lunar. Ketiga peristiwa termaksud, yaitu :

  1. Lahirnya Boddhisatta Siddhatta Gotama ke dunia kurang lebih 620 tahun sebelum Masehi,
  2. Saat Siddhatta Gotama mencapai Pencerahan Sempurna di bawah pohon Boddhi, di usia-Nya yang ke-35 tahun.
  3. Saat Sang Buddha parinibbana di usia Beliau yang ke-80 tahun.

Gbr.2

Saya sendiri, pada hari Sabtu kemarin, mengikuti seluruh jalannya prosesi perayaan Waisak 2553 BE / 2009 M di Vihara Watugong, Semarang. Berikut adalah liputan saya atas acara perayaan tersebut. Sebagian besar foto-foto masih belum bisa saya upload [koneksi sedang ‘lelet’], namun nanti tetap akan saya susulkan. Selamat menikmati😉

RANGKAIAN ACARA

Gbr.3

Acara dimulai jam 10.00 WIB, dengan agenda pertama adalah Pindapatta. Para Bhikkhu berjalan berurutan beriringan, menerima dana makanan dari para ummat. Pindapatta ini berlangsung hingga pukul 10.45 WIB.

Setelah itu, dilanjutkan dengan acara menyambut detik-detik Waisak, yang dimulai jam 10.45 WIB s/d jam 12.00 WIB. Detik-detik Waisak disambut puja-bhakti yang dipimpin oleh Bhante dengan penguncaran Paritta-suci, dilanjutkan dengan bhavana / Samadhi bersama selama kurang lebih 30 menit.

Gbr.6

Agenda selanjutnya, yang ketiga, adalah makan siang bersama. Ummat awam menikmati hidangan yang telah disediakan oleh panitia, dayaka-sabbha, secara gratis / Cuma-Cuma. Suasana yang sangat meriah. Peringatan waisak di Watugong kali ini dihadiri oleh ratusan ummat Buddha dari Semarang, Salatiga, dan sekitarnya.

Gbr.7

Jika dibanding perayaan serupa di Watugong tahun 2006 silam, maka perayaan tahun 2009 ini menurut saya agak ‘sepi’, mungkin karena ummat sebagian besar juga banyak yang menghadiri upacara peringatan Waisak di Mendut, Barabudur, dan di vihara-vihara local / setempat [kota masing-masing].

Gbr.8

Para Bhikkhu juga menikmati makan siang hasil dari Pindapatta mereka. Nampak Bhante Surattano sebagai Bhikkhu senior memimpin acara.

Gbr.10

Setelah makan siang selesai, sekitar jam 13.00 – 13.30 WIB, dimulai acara Pradaksina, yang diadakan di lokasi Pohon-Boddhi di vihara Watugong Semarang, di depan Pagoda Avalokitesvara.

Gbr.16

Pradaksina adalah upacara mengitari Buddha-rupam searah jarum jam sebanyak tiga (3) kali. Prosesi ini dipimpin oleh Bhante Cattamano [ Beliau datang terlambat, karena sebelumnya berada di Jakarta ]. Pradaksina dilakukan untuk menghormat Sang Ti-ratana [ Tiga-permata ; Buddha, Dhamma, dan Sangha ].

Gbr.20

Selesai Pradaksina, para Bhikkhu Sangha memimpin arak-arakan / kirab [napak-tilas], berjalan dari lokasi pohon Boddhi menuju dhammasala. Acara kirab yang diikuti ratusan ummat Buddha dari berbagai daerah dan etnis ini nampak meriah.

Gbr.22

Akhir acara, Bhante memberikan dhammadesana di dalam dhammasala, menyampaikan pesan Waisak 2553 BE / 2009 Masehi. Mengharapkan ummat Buddha dapat hidup damai, berbakti pada agama, bangsa dan Negara. Mengingatkan ummat Buddha untuk semakin memperdalam praktek-dhamma, memiliki rasa malu untuk berbuat jahat ( hiri ) dan takut akan akibat perbuatan jahat ( otappa ), memperbanyak sedekah ( dana ), memperteguh moralitas ( sila ), dan memperdalam Samadhi.

Gbr.26

Setelah dhammadesana selesai, kembali diuncarkan paritta-suci. Acara ditutup dengan pembagian “Air-Berkah-Waisak”.

Gbr.12

Acara ini bisa disebut sebagai “GONG”-nya dalam acara perayaan hari raya Waisak di vihara Watugong ini. “Air-Berkah-Waisak”, adalah air-minum yang telah disiapkan, yang sebelumnya diletakkan diatas meja Puja-Bhakti selama prosesi peringatan waisak, dan tentunya ter-influense daya penguncaran Paritta-suci.

Gbr.29

Air yang dipersiapkan ini dipercaya membawa berbagai macam berkah, seperti berkah kesehatan, kesuksesan, dan lain-lain, sebab telah mendapat daya dari penguncaran paritta-suci yang diuncarkan oleh Bhikkhu Sangha serta para ummat, didukung oleh kekuatan bhavana yang dilakukan selama upacara berlangsung.

TEMA WAISAK 2553 BUDDHIST ERA [BE] / 2009 MASEHI

Tema Waisak tahun ini adalah, “Kehadiran Buddha Sumber Keharmonisan dan Keutuhan Bangsa”.

Berikut ini kami cuplikkan tema waisak 2553 Buddhist Era [BE] / 2009 Masehi sebagaimana yang dipublikasikan oleh Sangha Theravada Indonesia :

Gbr.24

SANGHA THERAVADA INDONESIA

Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya,

Jl. Agung Permai XV/12, Jakarta 14350.

Telp (021) 64716739. Faks (021) 6450206.

Vihara Mendut, Kotakpos 111,

Kota Mungkid 56501, Magelang.

Telp (0293) 788236. Faks (0293) 788404.
PESAN WAISAK 2553/2009

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Samagga Sakhila Hotha

Hendaklah saling rukun dan berbaik hati

(Apadà na II)
Samagganang Tapo Sukho

Upaya kelompok orang yang bersatu menimbulkan kebahagiaan

(Dhammapada 194)
Tanggal 9 Mei 2009, umat Buddha memperingati Tiga Peristiwa Suci Waisak; saat Kelahiran, Pencerahan Sempurna, dan Kemangkatan Guru Agung Buddha Gotama. Kelahiran Buddha adalah kemunculan seorang manusia luhur yang kelak mampu memahami Kebenaran Dhamma, Pencerahan Sempurna merupakan penembusan Kebenaran Dhamma secara sempurna oleh seorang Buddha, serta Kemangkatan Buddha adalah perealisasian Kebenaran Dhamma tertinggi atau Parinibbà na. Meskipun guru agung Buddha Gotama telah mangkat dua ribu lima ratus lima puluh tiga tahun yang lampau, tetapi ajaran Kebenaran Dhamma masih tetap dipergunakan sebagai pandangan hidup sebagian umat manusia di dunia dewasa ini, khususnya umat Buddha; karena keberadaan Kebenaran Dhamma melintasi batas ruang dan waktu.
Sangha Theravà da Indonesia mengangkat tema Peringatan Hari Raya Waisak 2553/2009: Kehadiran Buddha Sumber Keharmonisan dan Keutuhan Bangsa. Tema tersebut mengingatkan umat Buddha sekalian bahwa peringatan hari raya Waisak adalah memperingati kehadiran Buddha di tengah-tengah dunia ini. Kehadiran Buddha yang sangat jarang terjadi sungguh merupakan suatu peristiwa yang sangat diagungkan bagi kita, karena kehadiran Buddha sama halnya dengan kehadiran penyebab kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Buddha mengingatkan kepada kita: bangun, jangan lengah, tempuhlah kehidupan benar, siapapun yang menempuh hidup sesuai Kebenaran Dhamma, ia akan berbahagia di dunia ini maupun di dunia selanjutnya.
Ditengah-tengah kehidupan yang senantiasa berubah, segala bentuk perubahan dapat saja terjadi, harapan kita tentu perubahan yang terjadi akan menimbulkan kegembiraan, tetapi tidak jarang terjadi perubahan yang berdampak kesedihan, krisis ekonomi global merupakan salah satu bentuk perubahan dalam kehidupan perekonomian yang menimbulkan kesulitan hidup. Kesulitan akibat krisis ekonomi global itu tidak akan teratasi dengan penyesalan, ketidakberdayaan, bahkan putus asa. Sikap kita yang tepat adalah mempunyai harapan hidup lebih baik untuk mencegah terjadinya penyesalan, memiliki kecerdasan berupaya sebagai pengganti dari ketidakberdayaan, dan mempunyai semangat hidup agar tidak terjadi keputus-asaan. Oleh karena itu sebaiknya umat Buddha sekalian menyikapi perubahan hidup akibat krisis ekonomi global ini dengan sikap mental pantang menyerah, terus berupaya dengan cerdas, mencari jalan keluar sesuai Kebenaran Dhamma.
Tahun 2009 bangsa Indonesia menyelenggarakan pesta demokrasi berupa Pemilihan Umum. Rakyat mempunyai kedaulatan untuk memilih calon legislatif yang akan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat serta Dewan Perwakilan Daerah, dan calon presiden/wakil presiden yang akan menjadi Presiden serta Wakil Presiden selama lima tahun ke depan. Meskipun pilihan umat Buddha sekalian bisa berbeda-beda, tetapi jangan sampai perbedaan pilihan itu menjadi kondisi bagi ketidakrukunan satu sama lain. Karena perbedaan pilihan itu adalah suatu hal yang wajar dalam hidup berdemokrasi, masing-masing orang memiliki kebebasan berpendapat untuk menentukan pilihannya. Kebebasan perlu dilandasi pertanggungjawaban yang jelas. Kebebasan tanpa dibarengi dengan tanggung jawab sosial sama halnya dengan kebebasan yang akan menghancurkan masa depan kehidupan sosial masyarakat. Sebaliknya kebebasan yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab tentu akan memajukan kehidupan sosial masyarakat. Tanggung jawab perlu diterapkan terhadap pilihan kebebasan yang telah dilakukan, dan pilihan kebebasan yang akan dilakukan. Kebebasan tanpa disertai pertanggungjawaban sama halnya dengan perilaku semena-mena untuk memenuhi kepentingan “ego†pribadi ataupun kelompok. Keharmonisan dapat tumbuh berkembang apabila tanggung jawab sosial atau tanggung jawab bersama menjadi perhatian utama diawal perilaku kebebasan yang dipilih. Tanggung jawab sosial dapat terjadi apabila manusia mengembangkan kebijaksanaan dan cintakasih dalam kehidupan bermasyarakat. Bijaksana dalam kehidupan individual dan cintakasih dalam kehidupan sosial, yang kedua-duanya mempunyai tujuan jelas dalam rangka pengembangan Kebenaran Dhamma.

Keutuhan bangsa merupakan hasil upaya mereka yang berjuang bagi kebersamaan meskipun dalam keadaan berbeda-beda. Komitmen kebersamaan perlu dibangun dalam kehidupan berbangsa. Komitmen kebersamaan ini dapat terwujud apabila pemerintah dan rakyat memperhatikan ajaran Buddha yang terdapat dalam Mahà Parinibbà na Suttanta. Kemuliaan suatu bangsa tergantung pada tujuh hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah dan rakyatnya, yaitu: sering mengadakan pertemuan dengan dihadiri banyak peserta, mengakhiri pertemuan dengan hasil kesepakatan bersama, menaati peraturan dan undang-undang yang berlaku, memperhatikan dan menghargai pengalaman orang-orang yang lebih cakap, memperhatikan dan menghargai harkat martabat perempuan, membangun dan menjaga tempat-tempat ibadah di dalam maupun luar kota serta menyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan di tempat-tempat ibadah, dan melindungi orang-orang yang menjalani hidup suci. Kemajuan suatu bangsa bisa diharapkan, bukan keruntuhan, demikian penjelasan Buddha.
Marilah umat Buddha sekalian menghormati Guru Agung Buddha Gotama, baik dalam bentuk ucapan, tingkah laku, dan pikiran. Hendaknya bersikap hormat saat membicarakan Buddha, saat memperlakukan Buddha, dan saat memikirkan Buddha.

Selamat Hari Raya Waisak 2553/2009. Berkah Waisak senantiasa melimpah dalam kehidupan Bapak, Ibu, Saudara, Saudari beserta keluarga, Pemerintah, Bangsa dan Negara Indonesia. Harapan kami agar keharmonisan dan keutuhan bangsa tetap terjaga dan berkembang makin baik.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa, Tiratana, selalu melindungi.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia
Kota Mungkid, 9 Mei 2009
SANGHA THERAVADA INDONESIA

Bhikkhu Jotidhammo, Mahathera

Ketua Umum / Sanghanayaka

SEJARAH SINGKAT VIHARA BUDDHAGAYA WATUGONG, SEMARANG

Vihara Buddhagaya Watugong, Semarang, Jawa-Tengah, merupakan vihara yang pertama berdiri di Indonesia semenjak hancurnya Majapahit dan musnahnya Buddha-Dhamma serta lenyapnya ummat Buddha di Nusantara.

Gbr.13

Berawal dari kedatangan Bhante Naradha Mahathera dari Srilanka di sekitar tahun 1930 Masehi, yang menjadi missionaries Buddhis pertama setelah 500 tahun pasca Majapahit. Menurut sejarah, vihara Buddhagaya Watugong ini resmi didirikan pada tahun 1957.

Watugong tampak depan

Di lokasi vihara ini ditanam “Pohon-Boddhi” [ Pohon yang ‘berjasa’ kepada Sang-Buddha Gotama pada saat mencapai Pencerahan Sempurna ], dan yang menanam tersebut adalah Bhante Naradha Mahathera.

Gbr.15

Dahulu kala, vihara ini tidaklah sebesar dan semegah yang sekarang ini.  Vihara Buddhagaya yang sekarang ini merupakan hasil kerjasama ummat Buddha, terutama disokong oleh para dermawan, donator-donatur yang bajik, dengan niat tulus demi perkembangan Buddha-Dhamma, merenovasi vihara Watugong menjadi sebuah Vihara yang sangat besar, indah, megah.

Pagoda kwan Im1

Dimulai dari tahun 2001, perenovasian itu sudah mulai menunjukkan hasil awalnya yang ditandai dengan diresmikannya Gedung Dhammasala oleh Gubernur Jawa Tengah H. Mardiyanto serta peletakan batu pertama pembangunan Patung Buddha setinggi 36 m oleh Menteri Agama Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawar, MA pada 3 November 2002 lalu.

Selembar daun pohon Boddhi di depan Pagoda ; Vihara Buddhagaya Watugong, Semarang

Selembar daun pohon Boddhi di depan Pagoda ; Vihara Buddhagaya Watugong, Semarang

Gedung Dhammasala yang berdiri di atas lokasi Dhammasala yang lama itu terdiri dari dua lantai setinggi 22 meter dengan ukuran 27 meter kali 27 meter. Lantai I untuk kegiatan pertemuan dan lantai II yang memiliki tinggi sekitar 15 meter digunakan untuk upacara keagamaan. Di lantai II terdapat Rupam Sang Buddha dengan posisi duduk dan ber-mudra ‘memutar roda-dhamma’ yang merupakan duplikasi dari Buddha-rupam di Candi Mendut.

Gbr.14

Meskipun luasnya sudah jauh lebih besar dari Dhammasala yang dulu, namun tetap saja masih tersedia banyak lahan kosong mengingat total luas area yang tersedia sebesar 2,5 hektar. Dana yang digunakan untuk pembangunan Gedung Dhammasala dan sarana penunjangnya yang dimulai sejak Februari 2001 tersebut mencapai 3 milyar rupiah yang membengkak dari anggaran awal karena harga barang-barang naik.

Gbr.31

Sayangnya, vihara Buddhagaya Watugong sekarang ini lebih sebagai objek wisata ketimbang tempat ibadah ummat Buddha. Vihara ini adalah milik “pribadi” Yayasan, dan belum diserahkan kepada Sangha. Oleh karena itu, tidak ada Bhikkhu yang berdiam di Vihara Buddhagaya Watugong, kecuali hanya pada saat-saat ada acara-acara keagamaan, seperti acara puja-Bhakti tertentu, upacara perayaan Katthina, Magha-Puja, dan Waisaka-Puja seperti sekarang ini.

Demikian, laporan pandangan mata perayaan Waisak 2553 BE / 2009 M di vihara Watugong Semarang yang bisa saya sharingkan disini.

Tak lupa, saya mengucapkan, “Selamat merayakan hari raya Tri-Suci Waisak 2553 BE / 2009 M. Semoga, Sang Ti-ratana senantiasa melimpahkan berkah kepada kita semua. Dengan Kehadiran Sang Buddha, damai dan tenteramlah semua makhluk di bumi. Sadhu…sadhu…sadhu… .”

Salam Damai dan Cinta Kasih…,

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajja hontu, Anigha Hontu, Sukhi attanam Pariharantu “

( “Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari penderitaan, bebas dari kebencian/permusuhan/pertentangan/niat jahat, bebas dari kesakitan, bebas dari kesukaran, semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaan mereka masing-masing” )

~ RATANA KUMARO ~

SEMARANG, 10 Mei 2009.

16 Tanggapan to “PERAYAAN WAISAK 2553 BUDDHIST ERA [BE] DI VIHARA WATUGONG SEMARANG”

  1. Selamat merayakan hari raya Tri Suci Waisak
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear Kang Nurdayat😉

    Selamat datang, salam kenal dan persahabatan dari saya😉

    Terimakasih atas atensi anda, semoga anda senantiasa berbahagia😉

    Sadhu 3x…😉

  2. Saya pernah melihat Vihara Watugong ketika lewat menuju Banaran.
    Salam Damai dan Berbahagia.

  3. tomy~RED said

    Salam sih katresnan Mas Ratana
    Selamat Hari raya Waisak
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear mas Tommy😉
    Terimakasih atas atensi anda nggih mas😉

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Kemarin saya jadi ke Magelang, namun suasananya tak serame tahun2 dulu dimana warga setempat ada yangt anggapan wayang kulit.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Iya Mas, ,memang biasanya, menurut pendapat / pengamatan saya pribadi, kalau yang mengadakan acara Walubi memang kurang “greget”.
    Tahun depan giliran KASI ( Konferensi Agung Sangha Indonesia ) yang mandegani acara di Barabudur, mudah2an bisa “ramai” seperti tahun-tahun sebelumnya.

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Begini Mas ratana ada perihal penting yang saya ingin mohonkan bimbingannya
    Saat sembahyang disana saya bertemu para Sangha yang memberikan gambaran bunga teratai dengan symbol swastika ditengahnya & dawuh untuk tidak nglirwakake wajib atau melalaikan kewajiban
    Untuk itu sudilah kiranya Mas Ratana membabarkannya kepada saya
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Mas Tommy, perkenankan saya menjawab makna “penglihatan” mas Tommy tersebut.

    I. SANGHA =

    Sangha, dalam Ti-ratana, yaitu adalah “Pesamuhan-Empat-Pasang-Makhluk”, yang terdiri dari “Delapan-Jenis-Makhluk-Suci” ( Sotapanna-Magga & Phala, Sakadagami Magga- & Phala, Anagami-Magga & Phala, Arahatta-Magga & Phala ).

    Ariya-Sangha, adalah para makhluk-suci yang telah mencapai jalan yang baik ( Supatipanno ), berarti telah mencapai jalan yang benar, jalan yang tidak menyimpang dari tujuan, lurus sesuai dengan Dhamma. Jalan ini adalah “lurus” ( uju), tidak bengkok, disebut sebagai “Jalan-Kebenaran-Yang-Mulia” (Naya). Oleh karena sesuai dengan Dhamma, maka disebut “patuh pada Dhamma” ( Samici ).

    Mereka “berjalan” karena mereka melaksanakan Jalan-Tengah [Majjhima-Patippada] yang bebas dari pemuasan hawa-nafsu yang berlebih-lebihan dan penyiksaan diri yang menyakitkan serta tidak berguna, bebas dari perbuatan ketidak-jujuran dalam perbuatan, ucapan, dan pikiran. Mereka “Benar” , karena mereka telah menuju Nibbana dan juga disebut “Jalan-Kebenaran-Yang-Mulia”. Mereka “patuh”, karena mereka telah mengatur perilaku mereka sesuai dengan Dhamma, sehingga mereka dapat dikatakan “patuh pada Dhamma”. Perilaku itu sesuai dengan kedudukan mereka sebagai panutan dan mendapat penghormatan yang layak dari ummat yang bertata-susila baik.

    Jika memang mas Tommy dalam ber-samadhi bertemu dengan Ariya-Sangha, maka tentunya ini adalah hal yang luar-biasa baik. Ariya-Sangha, biasanya hanya akan menemui para suciwan [ siswa-siswa Sang Buddha yang khusyuk dan berjalan di jalan yang benar ]. Ada sebuah kisah di abad ke-21 ini, seorang Bhikkhu *saya lupa namanya, maaf ya… Tapi coba di search di Google, karena saya bacanya juga di internet* yang dalam per-tapa-annya di dalam Goa, senantiasa di”rawuhi” para Arahanta dan para Buddha. Kisah ini cukup kontroversial. Dalam ke-rawuh-an ( ke-datang-an ) -Nya tersebut, para Buddha dan para Arahanta menunjukkan Jalan kepada Bhikkhu tersebut, memberi pengajaran secara langsung, penembusan langsung terhadap Dhamma, sehingga Bhikkhu tesebut maju pesat dalam pencapaian magga & phala.

    Nah, tentunya, maksud ke”rawuh”an Ariya-Sangha dalam samadhi mas Tommy adalah dalam tujuan yang sama, menunjukkan Jalan pencapaian kesucian dan kebenaran.

    II. BUNGA TERATAI
    Bunga teratai melambangkan MEREKAHNYA KESUCIAN. Coba mas Tommy perhatikan, meskipun bunga teratai tumbuh didalam lumpur, namun Bunga-teratai tak pernah ternodai oleh kotornya lumpur. Lambang sakral ini dalam Buddhisme maknanya sangat dalam, yakni, untuk senantiasa mengingatkan kita supaya meskipun kita hidup dalam dunia samsara dan hidup secara duniawi sekalipun, namun hati dan batin kita haruslah senantiasa kita arahkan kedalam kehidupan suci, yang bebas dari lobha ( keserakahan akan keindriyaan ), dosa ( kemarahan / kebencian ), dan moha ( kebodohan / kegelapan batin ) ; bagaikan bunga teratai, meskipun akarnya tenggelam dalam lumpur-noda, namun bunganya merekah bersih tak bernoda [suci].

    III. SWASTIKA
    Di dalam kebudayaan Cina Swastika dikenal dengan nama Wan Zi, sedangkan di Jepang dengan nama Man Ji, di Tibet disebut Gyung-Drung atau Geg-Gsang. Secara etimologis kata Swastika berasal dari bahasa sansekerta yang berarti “keadaan yang baik”, “semuannya baik”.

    Swastika merepresentasikan matahari yang berputar, api atau kehidupan. Dalam Buddhisme, Swastika merepresentasikan pengunduran diri dari keduniawian. Biasanya ditemukan pada Rupa Buddha yaitu di dadaNya, di telapak tanganNya, dan di telapak kakiNya.

    **********************************

    Nah, mas Tommy yang terkasih. Jika memang benar lambang-lambang tersebut hadir di dalam samadhi anda, sesungguhnya maknanya sangat dalam, dan konsekwensinya berat bagi si penerima kehadiran “lambang”2 ini. Karena, bila kita bersungguh-sungguh mengikuti “petunjuk” tersebut, kita akan dibimbing dan terbimbing untuk menembus kebenaran yang sejati, dibimbing dan terbimbing untuk menempuh Jalan Kesucian, Jalan yang meninggalkan semua hal keduniawian.

    Tinggal kita menanyakan pada diri kita sendiri, “SIAPKAH KITA UNTUK ITU SEMUA ? ”

    MAKNA UNTUK SEMUA MAKHLUK PADA ERA KEHIDUPAN SEKARANG INI
    Mas Tommy, yang saya paparkan tadi terutama tertuju untuk mas Tommy yang “menerima” kehadiran simbol2 tersebut dalam samadhi.

    Makna luasnya, bagi semua makhluk yang hidup di era kehidupan sekarang ini, di abad millenium ini [menurut saya] adalah :

    SEYOGYANYA SEMUA MAKHLUK KEMBALI KEPADA JALAN KEBENARAN, MENEMPUH KESUCIAN YANG SEJATI, DEMI TERCAPAINYA KEHIDUPAN YANG TENTERAM, DAMAI, PENUH CINTA-KASIH DI ANTARA SEMUA MAKHLUK SEMESTA. SUPAYA TERJADI KEHIDUPAN YANG HARMONIS ANTARA PARA MAKHLUK DAN ALAM SEMESTA TEMPAT PARA MAKHLUK “MENGADA” DAN “BERADA”.

    KEMBALI KEPADA JALAN KEBENARAN, JALAN KESUCIAN YANG SEBENARNYA, PARA DEWA TURUT BERSUKA-CITA, ALAM KEMBALI TENANG, TENTERAM, DAMAI, TIDAK ADA LAGI BENCANA-ALAM , TIDAK ADA LAGI DUKKHA-CITTA, MASYARAKAT HIDUP DAMAI, AMAN, SENTAUSA, “GEMAH RIPAH LOH JINAWI, TATA TENTREM KERTA RAHARJA”.

    Lambang-lambang tersebut mengingatkan, supaya para makhluk jangan salah memilih “Jalan”.
    Banyak tawaran “Jalan”, namun selama ini kehidupan ke-agama-an tersebut telah terdistorsi menjadi sebuah kehidupan “pemuasan-nafsu” yang dibungkus kehidupan ke-agama-an.

    Ingat pangeling-eling para leluhur Jawa, “Njabane putih, njerone dudu” [luarnya nampak putih-putih, tapi sesungguhnya yang didalam [hati/batin]-nya tidaklah putih ] ; “sucine palsu” [ kesuciannya semu, palsu, fatamorgana semata ]. Betapa banyak kan mas , orang2 yang mengaku-ngaku seorang saleh , mewartakan agama, tapi sesungguhnya dirinya tersebut tidak suci ? dirinya belum terbebas dari nafsu keindriyaan, kegelapan / kebodohan batin [ kegelapan batin adalah tidak bisa melihat hakekat sebagaimana adanya, sehingga masih tergiur oleh keduniawian, kebendaan ; tidak mampu menembus bahwa semua hakekatnya “kosong”, tidak layak diinginkan ( anicca, dukkha, anatta ) ].

    Jadi, begitulah makna “lambang”2 yang muncul dalam samadhi mas Tommy ; ( menurut saya).😉

    Semoga bermanfaat untuk mas Tommy pribadi, dan bermanfaat bagi para pengunjung blog ini, serta bermanfaat bagi semua makhluk semesta😉
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Sadhu…Sadhu…Sadhu…😉

    Anumodana atas perhatiannya, atas kesediaan meluangkan waktu untuk mengikuti perayaan Tri Suci Waisak di Barabudur.

    Semoga mas Tommy senantiasa berbahagia, damai, tenteram, sentausa😉

  4. tomy~RED said

    Matur nuwun sekali Mas atas pembabarannya

    Waduh Mas apalah saya ini, orang yang masih suka YAKHUL FULUS Miyak Dengkul Fufu Mulus:mrgreen:
    Sepertinya saya tak dalam tataran kehidupan yang cukup baik untuk menerima karunia itu, Semoga gambaran tsb tidak bersifat pribadi/ego saya tapi lebih untuk semua makhluk di kehidupan ini… Amin
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear mas Tommy, hidup adalah perjalanan pembelajaran [yoga-bhumi].
    Saya juga bukanlah seorang dalam tataran para Arahanta dan para Buddha…, saya hanyalah seorang siswa Sang Buddha yang belajar sebaik-baik saya bisa, menempuh jalan sebaik-baik saya bisa😉

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Namun ada satu lagi yang belum saya ceritakan bahwa saat sembahyang tersebut saya diberi jubah biksu yang dipakaikan kepada saya & diciprati air memakai tumbuhan seperti rumput atau padi2an, kebetulan saat itu agak mendung & ada beberapa tetes air mengenai tubuh.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Wah..wah.., lambang2 yang anda peroleh semuanya “berat”2 mas…😉 Tapi perkenankan saya tetap menjawab / sharing dengan panjenengan ya mas😉

    Jubah adalah pelindung, dan lambang seorang “petapa”.

    Pemakai jubah Bhikkhu memiliki konsekwensi yang berat , ia harus memiliki “laku-lampah” [carana] yang sempurna [sampanno]. Diikat oleh peraturan-peraturan yang sangat ketat : PENGUNDURAN DIRI DARI KEDUNIAWIAN. Tidak menonton TV, tidak menonton pertunjukan apapun, tidak mendengarkan musik2, lagu2, tidak menyanyi, tidak bersiul, tidak berhubungan sexual, dan lain2.

    Secara ringkas, maka setidaknya ada “Carana” yang harus dipelihara dan dikembangkan oleh para Bhikkhu, terdiri atas lima-belas (15) unsure :
    1. Kesempurnaan Sila / moralitas ( Sila-Sampada ). [ Sila Ke-Bhikkhu-an adalah 227 Sila Patimokkha (versi Theravada ) ; terutama yang paling jelas yang bisa dilihat oleh orang awam, seorang Bhikkhu haruslah tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak-suci [abrahmacariya], seperti berhubungan sex, masturbasi, dll. ]
    2. Pengendalian Indria ( Indria Samvara ). Ketika melihat bentuk, mendengar suara, mencecap rasa,dan lain2 keindriyaan, tidak tergoda akan kenikmatannya.
    3. Makan secukupnya / secara madya ( Bhojanamattannuta ). Sang Buddha sering menganjurkan para siswa-Nya untuk makan sekali sehari.
    4. Waspada dan menjaga diri dalam tiga waktu ( Jaganiyanuyoga )
    5. Keyakinan ( Saddha )
    6. Malu melakukan perbuatan jahat ( Hiri )
    7. Takut akibat-akibat perbuatan jahat ( Ottapa )
    8. Berpengetahuan luas ( Bahusacca )
    9. Semangat ( Viriya )
    10. Sadar ( Sati )
    11. Bijaksana ( Panna )
    12. Jhana pertama ( Pathama Jhana )
    13. Jhana kedua ( Dutiya Jhana )
    14. Jhana ketiga ( Tatiya Jhana )
    15. Jhana keempat ( Catuttha Jhana )

    Mengenakan Jubah Bhikkhu, konsekwensinya sangat berat mas. Makanya saya juga hingga detik ini belum sanggup untuk mengenakannya. Dan itu sebabnya seorang Bhikkhu layak diberi penghormatan, diberi persembahan.

    Pernah ada orang menyindir, bahwa ummat Buddha dengan mudah ditipu oleh bentuk luar, yaitu ketika ada seorang Bhikkhu, ia beranjali dan ber-namaskara [sujud]. Ia bilang, bagaikan seorang yang ‘silau’ melihat seorang berpakaian polisi, tentara, pakaian Kyai, dan lain2. Orang yang menyindir ini tidak tahu, bahwa mengenakan Jubah-Bhikkhu, mempunyai konsekwensi yang berat : PELEPASAN KEDUNIAWIAN SEUTUHNYA [!].

    Hal inilah yang dihormati ummat Buddha, BUKAN JUBAHNYA [!]. Sedangkan beberapa “pakaian-lain”, tidak memiliki “kode-etik” seketat Jubah-Bhikkhu ini.

    Mengenai pemercikan “Air”, hal ini melambangkan pemberkatan , ‘pembersihan’ dari kekotoran. Ini berarti mas Tommy menerima berkah yang tak terkira, apalagi diberikan oleh Ariya-Sangha.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Saya tak tahu apa ini benar, bahwa kehidupan itu sendiri adalah suci bahkan hidup seekor laba2 yang terjerat dalam jaringnya sendiri.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Hihihihi… Kehidupan terjadi karena ketidak-sucian, berawal dari ketidak-sucian… Pengakhiran dari [arus] nya, itulah kesucian😉 .

    Kehidupan terkondisi oleh “kebodohan-batin” ,hiihihihi…😉 Bingung ya mas ? berlawanan dengan pandangan umumnya ya mas ? hihihi😉
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Maka dalam kesucian, hidup tak boleh dikotak-kotakkan & agama adalah ageming aji maka sayapun dipandang bisa saja berjubah biksu
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Agama adalah “sarana”, yang paling penting adalah dengan agama itu, bisakah kita terbebas ? Bisakah kita mencapai Kebahagiaan-Mutlak ? Bisakah kita merealisasi yang Adi-Duniawi ?
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dan bila memang benar seperti yang dijelaskan Mas Ratana, saya sadar bahwa setiap pencapaian & karunia memang membawa konsekwensi besar yaitu tuntutan untuk mengimplementasikannya sedang saya orang yang suka ‘semaya’, menghindari kewajiban & mencari dalih.
    Oleh karena itu dengan ketulusan hati saya mohon bimbingan Mas Ratna untuk dapat bersungguh-sungguh menempuh Jalan
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Mas Tommy, yang bisa memberi bimbingan hanyalah Buddha, Dhamma, dan Ariya-Sangha [Ti-Ratana].
    Saya hanyalah seorang siswa dari : Sang Buddha,Dhamma dan Sangha.
    Saya bukanlah “TI-RATANA”, tapi saya hanyalah “RATANA” mas *ihihihihihihi*😀:mrgreen:

    Tentunya lebih tepat memohon bimbingan pada Sang Ti-Ratana ini mas😉 ( Bukan kepada “Ratana” 😀:mrgreen: )

    Mas, banyak saya melihat, seseorang yang belum “suci” telah berani memberi bimbingan menuju Jalan-Kesucian, bukankah ini bagaikan orang-buta menuntun orang-buta ? Dan saya tidak berani untuk menjadi seperti itu mas.

    Saya hanya bisa sekedar sharing , sebagai sesama manusia yang berjalan menapaki “Jalan”. Betul begitu kan mas ?😉

    Ada pula yang berpendapat, kita tidak perlu menjadi orang-suci, tidak perlu melepaskan keduniawian.
    Tergantung apa yang kita tuju ? Jika realisasi Nibbana (nirvana), realisasi kebahagiaan-sejati, realisasi puncak spiritual yang Adi-Duniawi, maka mutlak pelepasan keduniawian-lah syaratnya mas.

    Ini saya juga hanya menyampaikan lho mas, saya sendiri belum “mutlak-melepaskan-keduniawian”, buktinya meskipun saya hidup-selibat (tidak menikah), saya masih tetap bekerja-keras mencari nafkah , masih suka nonton televisi, masih belum sempurna dalam “laku-lampah” (carana)
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Salam sih katresnan
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Salam Sih Katresnan , Mas Tommy😉

    Semoga Anda Sekeluarga senantiasa berbahagia, bebas dari penderitaan, bebas dari niat jahat dan pertentangan, mampu meraih kesejahteraan dan mempertahankan kesejahteraan tersebut😉

    Sadhu..sadhu..sadhu…😉

  5. tomy~RED said

    Mohon penjelasan lebih lanjut Mas,😀
    bila kehidupan ada karena ketidaksucian lalu mengapa ada kehidupan? Rumput yang bergoyang dihembus angin, pengalaman empiris yang dicerap indra kita?
    Apa mungkin maksudnya kita lahir dari ‘keinginan’ orang tua yang ingin menyatukan diri? Atau adanya kesadaran diri yang melahirkan bermacam2 keinginan?

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Mengapa ada kehidupan ?

    Karena ada lobha (keserakahan akan keindriyaan ), karena ada dosa ( kemarahan/kebencian ), dan karena ada moha ( kegelapan / kebodohan batin ).

    “Kelahiran (Jati) merupakan akibat yang tak dapat dielakkan dari Kamma atau perbuatan masa lalu, yang dibentuk oleh kemelekatan karena adanya napsu keinginan. Napsu keinginan muncul jika ada perasaan (vedana) . Perasaan merupakan hasil sentuhan indria dengan objeknya (Phassa).
    Adanya alat indria yang tak mungkin ada jika tidak terdapat batin dan jasmani (nama & rupa ). Batin berakar dari kesadaran tumimbal lahir ( pattisandi-vinnana ) , yang dibentuk oleh perbuatan-perbuatan (samkhara), karena tidak mengetahui segala sesuatu sebagaimana adanya (avijja). “

    Ketidaktahuan ( avijja ) tentang kesunyataan adanya penderitaan, sebab, akhir, dan jalan untuk mengakhiri, merupakan sebab utama yang menggerakkan roda kehidupan semua makhluk. Avijja, adalah ketidaktahuan akan “sesuatu” sebagai mana adanya, atau diri sendiri ( “Aku” / “Atman” ) sebagai mana adanya. Ketidaktahuan ini merupakan “kegelapan-batin”, bagaikan kabut pekat yang menyelimuti batin semua makhluk, menghalau pemahaman terhadap semua pengertian benar.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Satu lagi waktu sembahyang ada bisikan dalam hati yang saya tak tahu arti & maksudnya tapi baru tahu setelah membaca postingan Mas Ratana yaitu pradaksina. Apa sebetulnya yang harus saya lakukan?

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Pasti mas Tommy bisa mengetahuinya sendiri, di dalam diri kita sudah ada jawabannya , betul begitu kan mas ?😉
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Ya kita saling berbagi saja Mas Ratana kalo panjenengan tidak mau saya angkat guru:mrgreen: saya angkat jadi suheng saja ya Mas
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Tidak sebagai Guru, tidak sebagai Suheng, tapi sebagai : Dhammamitta😉, sebagai, Kalyanamitta😉
    Saya akan berusaha sebaik2nya, sahabat😉

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Salam sayang & hormat dari saudara muda
    Sadhu.. Sadhu.. Sadhu..
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Maturnuwun mas Tommy atas keterbukaannya dan ke-mau-annya untuk sharing disini😉

    Semoga Anda senantiasa Berbahagia😉
    Sadhu..sadhu…sadhu…😉

  6. Halo Mas Ratana,

    selamat hari raya WAisak ya
    semoga cepat mencapai Nibbana😀
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear Zentao.ba😉
    Terimakasih , sama-sama, selamat merayakan Hari Raya Tri-Suci Waisak 2553 BE .
    Semoga, dengan kehadiran Buddha di hati kita, mampu menunjukkan jalan terang, kearah kedamaian, ketenangan, kebahagiaan-sejati😉

    Semoga Semua Makhluk Telah Tiba saatnya Merealisasi Nibbana😉
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    oh ya, saya ada pertanyaan.

    Misalnya kalo saya mendonorkan darah,
    apakah itu akan berpengaruh buruk dalam meditasi ?
    soalnya baca di web, kalo donor darah, tubuh jadi lemah ><

    mas Ratana juga pernah donor darah ga ?
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Apakah donor darah berpengaruh buruk pada meditasi ? Menurut saya tidak.
    Memang, setelah donor-darah, tubuh kita terasa agak ‘lemah’.
    Dan, dalam meditasi, setiap bentuk kesakitan apapun memang akan mengganggu ketenangan dan kemampuan kita untuk berkonsentrasi. Tetapi, rasa ‘lemah’ setelah donor-darah tersebut tidak BERPENGARUH BURUK terhadap latihan meditasi kita.

    Justru, bila kita merenungkan niat baik kita saat akan berdonor darah, ketika proses berdonor darah, dan setelah berdonor darah, maka, niat-baik / kamma-baik ini akan menumbuhkan perasaan ‘senang’, ‘bahagia’, dan ini akan mempermudah kita mencapai ketenangan dan konsentrasi.

    Setiap kamma-baik , setiap parami , yang kita pupuk, akan semakin mempermudah pencapaian ketenangan dan konsentrasi dalam meditasi.😉
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    makasih atas pencerahannya ^^

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Terimaksih kembali😉

    Sukkhi hottu,
    mettacittena😉

  7. mas ratnakumara sahabatku.

    Selamat Hari Waisak dan salam karahayon.
    SEMOGA DAMAI DIHATI,DAMAI DIBUMI
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear Yang Kung…😉

    Maturnuwun , atas perhatiannya, dan terimakasih sudah sudi mampir ke blog ini😉

    Semoga Hati kita Semua Senantiasa Damai😉

  8. hadi wirojati~RED said

    pamuji rahayu..

    kangmas ratana..

    mohon maaf saya terlambat mengucapkan, hari Tri suci waisak 2553 BE, ” SELAMAT WAISAK 2553 BE ” kangmas semoga kangmas semakin menjadi orang yang telah mencapai penerangan yang sempurna, berjuang dengan penuh kesadaran dan semakin menghayati dan mengamalkan dharma, salam kasih sayang dan saling mengasihi..

    salam sihkatresnan

    rahayu…
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Salam Pamuji Rahayu…😉

    Kangmas Hadi wirojati yang terhormat,
    Maturnuwun atas perhatian panjenengan, sungguh suatu kebahagiaan bagi saya panjenengan mempunyai atensi terhadap perayaan hari raya Tri Suci Waisak 2553 BE bagi seluruh ummat Buddha.

    Mas, sepertinya ada yang harus saya koreksi😉 ,
    Mas, saya bukanlah seorang yang telah mencapai pencerahan-sempurna ; tetapi berjuang menuju tercapainya pencerahan😉

    Maturnuwun sekali lagi,
    Semoga Panjenengan sekeluarga senantiasa berbahagia, bebas dari segala penderitaan, bebas dari segala niat jahat, mampu meraih kesejahteraan dan mampu mempertahankan kesejahteraan tersebut😉

    Sadhu,sadhu,sadhu…😉

  9. Tedy said

    Wah…wah… ternyata pemandangan di vihara watugong sangat indah ya! Terutama pagoda Avalokistesvara. Tapi sebenarnya yg lebih indah adalah ajaran Buddha, dhamma. Salam hangat🙂

  10. iwana said

    SELAMAT “WAICAK2553″
    BAGI YANG MERAYAKAN:

    ” SABBE SATTA BHAWANTU SUKHI THATA ”

    ” SADHU, SADHU, SADHU”

    http://www.myhpf.co.uk/banner.asp?Friend=175741
    Denpasar / Bali
    metta2@yahoo.co.id

  11. Ni mas atau mbak ya…

    hebat banget bagi bagi dhamma lewat ….jalur udara…

    gmna ya …kasih pengertian yang benar terhadap temen2 yang ngaku beragama buddha tapi yang dia anut tu…gak da ajarannya yang sesuai dengan cara pandang buddhis sesungguhnya…

    kayak Maitreya,,.gtu..
    mereka tu gak ngerti buddha dhamma…kalo di tanya disekolah.. oleh guru agama ..diem semua…

    kevihara ya tapi gak ngerti buddha dhamma tu gimana…?

  12. vina said

    enggak ngerti aku……….

    ya iyalah, aku islam kok masuk ke sini ya???

    aku mau tanya…ada artikel berbahasa Inggris (saya lupa alamat websitenya) mengatakan Isa Al-Masih adalah reinkarnasi dari Budha.

    Ada juga katanya beberapa ayat dari kitab kalian (budha) ada menyebutkan ramalan-ramalan tentang nabi Muhammad (saya lupa juga websitenya, silahkan cari di google).

  13. To: Mbak Vina

    Mbak Vina yg terkasih, mbak gak salah kok nulis disini juga, benar gak Mas ratano?

    Dalam ajaran Buddha tidak dikenal adanya REINKARNASI yg ada adalah Punabbhava/Punarbhava.

    Untuk penulisan Buddha, haruslah memakai huruf kembar d. Bukan Budha, namun Buddha.

    Buddha berarti Pencerahan/Penerangan Sempurna.
    Agama Buddha berarti ajaran yg mengajarkan cara untuk merealisasi Pencerahan/Penerangan Sempurna.

    Bukan agama Budha yg artinya ajaran hari ketiga. Budha artinya hari ketiga.

    Untuk artikel tentang Isa Almasih adalah Reinkarnasi Budha, coba ditanyakan sama Mas ratano sebab dia adalah Juragan kita disini….

    Salam kenal dari Murid Buddha yg berdomisili di Pamulang Ciputat.
    Best regards,
    Ali, SAB/Wen Lung Shan

  14. Blog yang informatif. Bagus dan bermanfaat untuk dibaca. Kunjungi juga Semua Tentang Pakpak di GETA_PAKPAK.COM
    http://boeangsaoet.wordpress.com

  15. Elermeply said

    i closed that mellifluous unsealed today beats yeah that was pastime today

  16. Great article! We will be linking to this particularly great
    content on our site. Keep up the good writing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: