RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

Archive for Mei 10th, 2009

PERAYAAN WAISAK 2553 BUDDHIST ERA [BE] DI VIHARA WATUGONG SEMARANG

Posted by ratanakumaro pada Mei 10, 2009

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”

( tikkhattum ; 3X )

Nammatthu Buddhassa,

Gbr.1

Hari Sabtu, tanggal 09 Mei 2009 , seluruh ummat Buddha merayakan hari raya Tri Suci Waisak 2553 Buddhist Era [BE] / 2009 Masehi. Hari raya Tri Suci Waisak merupakan hari peringatan akan tiga peristiwa Agung berkenaan dengan Sang Buddha Gotama. Ketiga peristiwa Agung ini [sama-sama] terjadi tepat pada bulan Purnama-Siddhi, bulan kelima (5) pada penanggalan Lunar. Ketiga peristiwa termaksud, yaitu :

  1. Lahirnya Boddhisatta Siddhatta Gotama ke dunia kurang lebih 620 tahun sebelum Masehi,
  2. Saat Siddhatta Gotama mencapai Pencerahan Sempurna di bawah pohon Boddhi, di usia-Nya yang ke-35 tahun.
  3. Saat Sang Buddha parinibbana di usia Beliau yang ke-80 tahun.

Gbr.2

Saya sendiri, pada hari Sabtu kemarin, mengikuti seluruh jalannya prosesi perayaan Waisak 2553 BE / 2009 M di Vihara Watugong, Semarang. Berikut adalah liputan saya atas acara perayaan tersebut. Sebagian besar foto-foto masih belum bisa saya upload [koneksi sedang ‘lelet’], namun nanti tetap akan saya susulkan. Selamat menikmati 😉

RANGKAIAN ACARA

Gbr.3

Acara dimulai jam 10.00 WIB, dengan agenda pertama adalah Pindapatta. Para Bhikkhu berjalan berurutan beriringan, menerima dana makanan dari para ummat. Pindapatta ini berlangsung hingga pukul 10.45 WIB.

Setelah itu, dilanjutkan dengan acara menyambut detik-detik Waisak, yang dimulai jam 10.45 WIB s/d jam 12.00 WIB. Detik-detik Waisak disambut puja-bhakti yang dipimpin oleh Bhante dengan penguncaran Paritta-suci, dilanjutkan dengan bhavana / Samadhi bersama selama kurang lebih 30 menit.

Gbr.6

Agenda selanjutnya, yang ketiga, adalah makan siang bersama. Ummat awam menikmati hidangan yang telah disediakan oleh panitia, dayaka-sabbha, secara gratis / Cuma-Cuma. Suasana yang sangat meriah. Peringatan waisak di Watugong kali ini dihadiri oleh ratusan ummat Buddha dari Semarang, Salatiga, dan sekitarnya.

Gbr.7

Jika dibanding perayaan serupa di Watugong tahun 2006 silam, maka perayaan tahun 2009 ini menurut saya agak ‘sepi’, mungkin karena ummat sebagian besar juga banyak yang menghadiri upacara peringatan Waisak di Mendut, Barabudur, dan di vihara-vihara local / setempat [kota masing-masing].

Gbr.8

Para Bhikkhu juga menikmati makan siang hasil dari Pindapatta mereka. Nampak Bhante Surattano sebagai Bhikkhu senior memimpin acara.

Gbr.10

Setelah makan siang selesai, sekitar jam 13.00 – 13.30 WIB, dimulai acara Pradaksina, yang diadakan di lokasi Pohon-Boddhi di vihara Watugong Semarang, di depan Pagoda Avalokitesvara.

Gbr.16

Pradaksina adalah upacara mengitari Buddha-rupam searah jarum jam sebanyak tiga (3) kali. Prosesi ini dipimpin oleh Bhante Cattamano [ Beliau datang terlambat, karena sebelumnya berada di Jakarta ]. Pradaksina dilakukan untuk menghormat Sang Ti-ratana [ Tiga-permata ; Buddha, Dhamma, dan Sangha ].

Gbr.20

Selesai Pradaksina, para Bhikkhu Sangha memimpin arak-arakan / kirab [napak-tilas], berjalan dari lokasi pohon Boddhi menuju dhammasala. Acara kirab yang diikuti ratusan ummat Buddha dari berbagai daerah dan etnis ini nampak meriah.

Gbr.22

Akhir acara, Bhante memberikan dhammadesana di dalam dhammasala, menyampaikan pesan Waisak 2553 BE / 2009 Masehi. Mengharapkan ummat Buddha dapat hidup damai, berbakti pada agama, bangsa dan Negara. Mengingatkan ummat Buddha untuk semakin memperdalam praktek-dhamma, memiliki rasa malu untuk berbuat jahat ( hiri ) dan takut akan akibat perbuatan jahat ( otappa ), memperbanyak sedekah ( dana ), memperteguh moralitas ( sila ), dan memperdalam Samadhi.

Gbr.26

Setelah dhammadesana selesai, kembali diuncarkan paritta-suci. Acara ditutup dengan pembagian “Air-Berkah-Waisak”.

Gbr.12

Acara ini bisa disebut sebagai “GONG”-nya dalam acara perayaan hari raya Waisak di vihara Watugong ini. “Air-Berkah-Waisak”, adalah air-minum yang telah disiapkan, yang sebelumnya diletakkan diatas meja Puja-Bhakti selama prosesi peringatan waisak, dan tentunya ter-influense daya penguncaran Paritta-suci.

Gbr.29

Air yang dipersiapkan ini dipercaya membawa berbagai macam berkah, seperti berkah kesehatan, kesuksesan, dan lain-lain, sebab telah mendapat daya dari penguncaran paritta-suci yang diuncarkan oleh Bhikkhu Sangha serta para ummat, didukung oleh kekuatan bhavana yang dilakukan selama upacara berlangsung.

TEMA WAISAK 2553 BUDDHIST ERA [BE] / 2009 MASEHI

Tema Waisak tahun ini adalah, “Kehadiran Buddha Sumber Keharmonisan dan Keutuhan Bangsa”.

Berikut ini kami cuplikkan tema waisak 2553 Buddhist Era [BE] / 2009 Masehi sebagaimana yang dipublikasikan oleh Sangha Theravada Indonesia :

Gbr.24

SANGHA THERAVADA INDONESIA

Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya,

Jl. Agung Permai XV/12, Jakarta 14350.

Telp (021) 64716739. Faks (021) 6450206.

Vihara Mendut, Kotakpos 111,

Kota Mungkid 56501, Magelang.

Telp (0293) 788236. Faks (0293) 788404.
PESAN WAISAK 2553/2009

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Samagga Sakhila Hotha

Hendaklah saling rukun dan berbaik hati

(Apadà na II)
Samagganang Tapo Sukho

Upaya kelompok orang yang bersatu menimbulkan kebahagiaan

(Dhammapada 194)
Tanggal 9 Mei 2009, umat Buddha memperingati Tiga Peristiwa Suci Waisak; saat Kelahiran, Pencerahan Sempurna, dan Kemangkatan Guru Agung Buddha Gotama. Kelahiran Buddha adalah kemunculan seorang manusia luhur yang kelak mampu memahami Kebenaran Dhamma, Pencerahan Sempurna merupakan penembusan Kebenaran Dhamma secara sempurna oleh seorang Buddha, serta Kemangkatan Buddha adalah perealisasian Kebenaran Dhamma tertinggi atau Parinibbà na. Meskipun guru agung Buddha Gotama telah mangkat dua ribu lima ratus lima puluh tiga tahun yang lampau, tetapi ajaran Kebenaran Dhamma masih tetap dipergunakan sebagai pandangan hidup sebagian umat manusia di dunia dewasa ini, khususnya umat Buddha; karena keberadaan Kebenaran Dhamma melintasi batas ruang dan waktu.
Sangha Theravà da Indonesia mengangkat tema Peringatan Hari Raya Waisak 2553/2009: Kehadiran Buddha Sumber Keharmonisan dan Keutuhan Bangsa. Tema tersebut mengingatkan umat Buddha sekalian bahwa peringatan hari raya Waisak adalah memperingati kehadiran Buddha di tengah-tengah dunia ini. Kehadiran Buddha yang sangat jarang terjadi sungguh merupakan suatu peristiwa yang sangat diagungkan bagi kita, karena kehadiran Buddha sama halnya dengan kehadiran penyebab kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Buddha mengingatkan kepada kita: bangun, jangan lengah, tempuhlah kehidupan benar, siapapun yang menempuh hidup sesuai Kebenaran Dhamma, ia akan berbahagia di dunia ini maupun di dunia selanjutnya.
Ditengah-tengah kehidupan yang senantiasa berubah, segala bentuk perubahan dapat saja terjadi, harapan kita tentu perubahan yang terjadi akan menimbulkan kegembiraan, tetapi tidak jarang terjadi perubahan yang berdampak kesedihan, krisis ekonomi global merupakan salah satu bentuk perubahan dalam kehidupan perekonomian yang menimbulkan kesulitan hidup. Kesulitan akibat krisis ekonomi global itu tidak akan teratasi dengan penyesalan, ketidakberdayaan, bahkan putus asa. Sikap kita yang tepat adalah mempunyai harapan hidup lebih baik untuk mencegah terjadinya penyesalan, memiliki kecerdasan berupaya sebagai pengganti dari ketidakberdayaan, dan mempunyai semangat hidup agar tidak terjadi keputus-asaan. Oleh karena itu sebaiknya umat Buddha sekalian menyikapi perubahan hidup akibat krisis ekonomi global ini dengan sikap mental pantang menyerah, terus berupaya dengan cerdas, mencari jalan keluar sesuai Kebenaran Dhamma.
Tahun 2009 bangsa Indonesia menyelenggarakan pesta demokrasi berupa Pemilihan Umum. Rakyat mempunyai kedaulatan untuk memilih calon legislatif yang akan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat serta Dewan Perwakilan Daerah, dan calon presiden/wakil presiden yang akan menjadi Presiden serta Wakil Presiden selama lima tahun ke depan. Meskipun pilihan umat Buddha sekalian bisa berbeda-beda, tetapi jangan sampai perbedaan pilihan itu menjadi kondisi bagi ketidakrukunan satu sama lain. Karena perbedaan pilihan itu adalah suatu hal yang wajar dalam hidup berdemokrasi, masing-masing orang memiliki kebebasan berpendapat untuk menentukan pilihannya. Kebebasan perlu dilandasi pertanggungjawaban yang jelas. Kebebasan tanpa dibarengi dengan tanggung jawab sosial sama halnya dengan kebebasan yang akan menghancurkan masa depan kehidupan sosial masyarakat. Sebaliknya kebebasan yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab tentu akan memajukan kehidupan sosial masyarakat. Tanggung jawab perlu diterapkan terhadap pilihan kebebasan yang telah dilakukan, dan pilihan kebebasan yang akan dilakukan. Kebebasan tanpa disertai pertanggungjawaban sama halnya dengan perilaku semena-mena untuk memenuhi kepentingan “ego†pribadi ataupun kelompok. Keharmonisan dapat tumbuh berkembang apabila tanggung jawab sosial atau tanggung jawab bersama menjadi perhatian utama diawal perilaku kebebasan yang dipilih. Tanggung jawab sosial dapat terjadi apabila manusia mengembangkan kebijaksanaan dan cintakasih dalam kehidupan bermasyarakat. Bijaksana dalam kehidupan individual dan cintakasih dalam kehidupan sosial, yang kedua-duanya mempunyai tujuan jelas dalam rangka pengembangan Kebenaran Dhamma.

Keutuhan bangsa merupakan hasil upaya mereka yang berjuang bagi kebersamaan meskipun dalam keadaan berbeda-beda. Komitmen kebersamaan perlu dibangun dalam kehidupan berbangsa. Komitmen kebersamaan ini dapat terwujud apabila pemerintah dan rakyat memperhatikan ajaran Buddha yang terdapat dalam Mahà Parinibbà na Suttanta. Kemuliaan suatu bangsa tergantung pada tujuh hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah dan rakyatnya, yaitu: sering mengadakan pertemuan dengan dihadiri banyak peserta, mengakhiri pertemuan dengan hasil kesepakatan bersama, menaati peraturan dan undang-undang yang berlaku, memperhatikan dan menghargai pengalaman orang-orang yang lebih cakap, memperhatikan dan menghargai harkat martabat perempuan, membangun dan menjaga tempat-tempat ibadah di dalam maupun luar kota serta menyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan di tempat-tempat ibadah, dan melindungi orang-orang yang menjalani hidup suci. Kemajuan suatu bangsa bisa diharapkan, bukan keruntuhan, demikian penjelasan Buddha.
Marilah umat Buddha sekalian menghormati Guru Agung Buddha Gotama, baik dalam bentuk ucapan, tingkah laku, dan pikiran. Hendaknya bersikap hormat saat membicarakan Buddha, saat memperlakukan Buddha, dan saat memikirkan Buddha.

Selamat Hari Raya Waisak 2553/2009. Berkah Waisak senantiasa melimpah dalam kehidupan Bapak, Ibu, Saudara, Saudari beserta keluarga, Pemerintah, Bangsa dan Negara Indonesia. Harapan kami agar keharmonisan dan keutuhan bangsa tetap terjaga dan berkembang makin baik.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa, Tiratana, selalu melindungi.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia
Kota Mungkid, 9 Mei 2009
SANGHA THERAVADA INDONESIA

Bhikkhu Jotidhammo, Mahathera

Ketua Umum / Sanghanayaka

SEJARAH SINGKAT VIHARA BUDDHAGAYA WATUGONG, SEMARANG

Vihara Buddhagaya Watugong, Semarang, Jawa-Tengah, merupakan vihara yang pertama berdiri di Indonesia semenjak hancurnya Majapahit dan musnahnya Buddha-Dhamma serta lenyapnya ummat Buddha di Nusantara.

Gbr.13

Berawal dari kedatangan Bhante Naradha Mahathera dari Srilanka di sekitar tahun 1930 Masehi, yang menjadi missionaries Buddhis pertama setelah 500 tahun pasca Majapahit. Menurut sejarah, vihara Buddhagaya Watugong ini resmi didirikan pada tahun 1957.

Watugong tampak depan

Di lokasi vihara ini ditanam “Pohon-Boddhi” [ Pohon yang ‘berjasa’ kepada Sang-Buddha Gotama pada saat mencapai Pencerahan Sempurna ], dan yang menanam tersebut adalah Bhante Naradha Mahathera.

Gbr.15

Dahulu kala, vihara ini tidaklah sebesar dan semegah yang sekarang ini.  Vihara Buddhagaya yang sekarang ini merupakan hasil kerjasama ummat Buddha, terutama disokong oleh para dermawan, donator-donatur yang bajik, dengan niat tulus demi perkembangan Buddha-Dhamma, merenovasi vihara Watugong menjadi sebuah Vihara yang sangat besar, indah, megah.

Pagoda kwan Im1

Dimulai dari tahun 2001, perenovasian itu sudah mulai menunjukkan hasil awalnya yang ditandai dengan diresmikannya Gedung Dhammasala oleh Gubernur Jawa Tengah H. Mardiyanto serta peletakan batu pertama pembangunan Patung Buddha setinggi 36 m oleh Menteri Agama Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawar, MA pada 3 November 2002 lalu.

Selembar daun pohon Boddhi di depan Pagoda ; Vihara Buddhagaya Watugong, Semarang

Selembar daun pohon Boddhi di depan Pagoda ; Vihara Buddhagaya Watugong, Semarang

Gedung Dhammasala yang berdiri di atas lokasi Dhammasala yang lama itu terdiri dari dua lantai setinggi 22 meter dengan ukuran 27 meter kali 27 meter. Lantai I untuk kegiatan pertemuan dan lantai II yang memiliki tinggi sekitar 15 meter digunakan untuk upacara keagamaan. Di lantai II terdapat Rupam Sang Buddha dengan posisi duduk dan ber-mudra ‘memutar roda-dhamma’ yang merupakan duplikasi dari Buddha-rupam di Candi Mendut.

Gbr.14

Meskipun luasnya sudah jauh lebih besar dari Dhammasala yang dulu, namun tetap saja masih tersedia banyak lahan kosong mengingat total luas area yang tersedia sebesar 2,5 hektar. Dana yang digunakan untuk pembangunan Gedung Dhammasala dan sarana penunjangnya yang dimulai sejak Februari 2001 tersebut mencapai 3 milyar rupiah yang membengkak dari anggaran awal karena harga barang-barang naik.

Gbr.31

Sayangnya, vihara Buddhagaya Watugong sekarang ini lebih sebagai objek wisata ketimbang tempat ibadah ummat Buddha. Vihara ini adalah milik “pribadi” Yayasan, dan belum diserahkan kepada Sangha. Oleh karena itu, tidak ada Bhikkhu yang berdiam di Vihara Buddhagaya Watugong, kecuali hanya pada saat-saat ada acara-acara keagamaan, seperti acara puja-Bhakti tertentu, upacara perayaan Katthina, Magha-Puja, dan Waisaka-Puja seperti sekarang ini.

Demikian, laporan pandangan mata perayaan Waisak 2553 BE / 2009 M di vihara Watugong Semarang yang bisa saya sharingkan disini.

Tak lupa, saya mengucapkan, “Selamat merayakan hari raya Tri-Suci Waisak 2553 BE / 2009 M. Semoga, Sang Ti-ratana senantiasa melimpahkan berkah kepada kita semua. Dengan Kehadiran Sang Buddha, damai dan tenteramlah semua makhluk di bumi. Sadhu…sadhu…sadhu… .”

Salam Damai dan Cinta Kasih…,

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajja hontu, Anigha Hontu, Sukhi attanam Pariharantu “

( “Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari penderitaan, bebas dari kebencian/permusuhan/pertentangan/niat jahat, bebas dari kesakitan, bebas dari kesukaran, semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaan mereka masing-masing” )

~ RATANA KUMARO ~

SEMARANG, 10 Mei 2009.

Posted in BUDDHA | 16 Comments »