RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

MEMAKNAI AGAMA DENGAN BENAR

Posted by ratanakumaro pada April 30, 2009

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”

( tikkhattum ; 3X )

Nammatthu Buddhassa,

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Agama adalah sebuah "RAKIT", digunakan untuk menyeberang, bukan untuk diusung-usung dan untuk Berbenturan dengan Batu Karang ;)

Agama adalah sebuah "RAKIT", digunakan untuk menyeberang, bukan untuk diusung-usung dan untuk Berbenturan dengan Batu Karang 😉

Saudara-saudari, para sahabat yang tercinta, pada kesempatan ini saya ingin mengajak kita semua untuk membahas mengenai arti penting dari sebuah agama.

Seringkali, kita keliru memaknai guna dari agama, dan terjebak dalam perdebatan-perdebatan dan pertentangan agama.Perdebatan-perdebatan ini, seakan-akan mengasyikkan, namun sebenarnya, dengan terlibat dalam perdebatan semacam ini, kita justru semakin jauh dari manfaat yang seharusnya bisa kita peroleh dari sebuah agama itu sendiri.

Sang Buddha, pernah menjelaskan mengenai tidak bermanfaatnya pertentangan / perdebatan agama ini, serta menjelaskan bagaimana semestinya agama digunakan / dimanfaatkan. Penjelasan tersebut terdapat dalam Alagaddupama Sutta, Majjhima Nikaya, melalui “perumpamaan ular” dan “perumpamaan rakit”. Perumpamaan ular digunakan Sang Buddha untuk menggambarkan orang yang salah jalan dalam mempelajari Dhamma, dan perumpamaan rakit menggambarkan bagaimana seharusnya Dhamma itu digunakan, yakni sebagai sebuah rakit untuk menyeberangi banjir penderitaan, dan setelah tiba dengan selamat di pantai seberang, kita harus melepaskan rakit itu. Ya, kita harus melepaskan AGAMA pada akhirnya! Demikian Sang Buddha mengajarkan.


PERUMPAMAAN ULAR

Agama adalah "Ular", jika salah menangkap, menyebabkan penderitaan berkepanjangan hingga kematian

Agama adalah "Ular", jika salah menangkap, menyebabkan penderitaan berkepanjangan hingga kematian

Berikut adalah perumpamaan ular yang digunakan Sang Buddha untuk menunjukkan orang yang salah jalan dalam mempelajari Dhamma :


“10. Disini, para Bhikkhu, beberapa manusia yang salah jalan mempelajari Dhamma ~ Khotbah, bait, penjelasan, syair, ungkapan, peribahasa, cerita kelahiran, keajaiban, dan jawaban pertanyaan ~ tetapi setelah mempelajari Dhamma, mereka tidak memeriksa arti dari ajaran-ajaran itu dengan Kebijaksanaan. Karena tidak memeriksa arti dari ajaran-ajaran itu dengan kebijaksanaan, mereka tidak memperoleh penerimaan perenungan dari ajaran-ajaran itu.

Sebaliknya, mereka justru mempelajari Dhamma hanya untuk mengkritik orang lain dan untuk memenangkan perdebatan, sehingga mereka pun tidak mengalami manfaat dari belajar Dhamma. Karena ditangkap secara salah oleh mereka, ajaran-ajaran itu menimbulkan kerugian dan penderitaan bagi mereka untuk waktu yang lama.”


Dengan pernyataan tersebut, Sang Buddha menunjukkan kesalahan yang dilakukan oleh orang yang mempelajari Dhamma namun didasari motivasi intelektual semata, yang pada akhirnya menjadi lubang perangkap bagi siswa tersebut karena akan terjebak pada perdebatan-perdebatan dan pertentangan-pertentangan dengan paham lainnya.

ular

“Andaikan saja ada orang yang membutuhkan ular, mencari ular, berkelana mencari ular. Ketika melihat seekor ular besar, dia menangkap belitannya atau ekornya. Maka ular itu akan membalik padanya dan menggigit tangan atau lengannya atau salah satu bagian tubuhnya, dan  karena itu dia mungkin lalu mati atau mengalami penderitaan yang mematikan.

Mengapa demikian ? Karena dia menangkap ular itu secara salah.

Demikian pula, disini beberapa orang yang salah jalan mempelajari Dhamma…, Ajaran-ajaran itu, karena ditangkap secara salah oleh mereka, menimbulkan kerugian dan penderitaan bagi mereka untuk waktu yang lama.”

“11. Disini, para Bhikkhu, beberapa anggota kelompok mempelajari Dhamma ~ khotbah…jawaban pertanyaan ~ dan setelah mempelajari Dhamma itu, mereka memeriksa arti dari ajaran-ajaran itu dengan kebijaksanaan, mereka memperoleh penerimaan perenungan dari ajaran-ajaran itu. Mereka tidak mempelajari Dhamma untuk mengkritik orang lain atau memenangkan perdebatan, sehingga mereka mengalami manfaat dari belajar Dhamma. Karena ditangkap secara benar oleh mereka, ajaran-ajaran itu menimbulkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi mereka untuk waktu yang lama.”

“Andaikan saja ada orang yang membutuhkan ular, mencari ular, berkelana mencari ular. Ketika melihat ular besar dia menangkapnya secara benar dengan tongkat yang berbelah.

Setelah itu, dia memegangnya secara benar di lehernya.

Kemudian walaupun ular itu mungkin melingkarkan tubuhnya di sekitar tangan atau lengan atau bagian-bagian tubuh orant itu, tetap saja dia tidak akan mati atau mengalami penderitaan yang mematikan karena hal itu.

Mengapa demikian? Karena dia menangkap ular itu secara benar.

Demikian pula, disini beberapa anggota kelompok mempelajari Dhamma…Ajaran-ajaran itu, karena ditangkap secara benar oleh mereka menimbulkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi mereka untuk waktu yang lama.

Oleh karenanya, para Bhikkhu, bila kalian memahami arti pernyataan-pernyataan-Ku,ingatlah hal itu secara benar, dan bila engkau tidak memahami arti dari pernyataan-pernyataan-Ku, maka bertanyalah tentang hal itu kepada-Ku atau kepada para Bhikkhu yang bijaksana.”


Demikianlah, Sang Buddha mengingatkan kita supaya mempelajari Dhamma dengan bijaksana, bukan demi motivasi intelektual semata, namun benar-benar memeriksa arti dari ajaran-ajaran Sang Buddha dengan bijaksana, dan melakukan perenungan-perenungan dengan benar demi tercapainya manfaat sejati dari Dhamma Sang Buddha.


PERUMPAMAAN RAKIT

rakit

Setelah Sang Buddha mengingatkan para siswa-Nya supaya tidak salah jalan dalam memperdalam Dhamma, Sang Buddha melanjutkan pengajaran-Nya kepada para siswa, bahwa Dhamma hanyalah “rakit”, digunakan untuk menyeberang, dan harus dilepaskan / ditinggalkan setelah para siswa berhasil menyeberang, tidak perlu diusung-usung diatas kepala.


“ 13. Para Bhikkhu, aku akan menunjukkan kepadamu bagaimana Dhamma mirip dengan rakit, yang bertujuan untuk menyeberang, bukan dengan tujuan untuk menggenggam. Dengarkan dan perhatikan dengan seksama apa yang akan kukatakan.” – “Ya, Yang Mulia Bhante”, jawab para Bhikkhu.


“Perumpamaan rakit” yang terkenal ini melanjutkan argument yang sama untuk melawan salah penggunaan dari pembelajaran yang diperkenalkan oleh perumpamaan ular sebelumnya. Orang yang gemar menggunakan Dhamma untuk membangkitkan kontroversi dan memenangkan debat berarti mengusung Dhamma ke mana-mana diatas kepalanya, dan bukannya menggunakan Dhamma untuk menyeberangi banjir.


Yang Terberkahi [ Sang Buddha ] berkata demikian :

“ Para Bhikkhu, andaikan saja ada orang yang melakukan perjalanan. Dia melihat suatu hamparan air yang luas. Pantai di dekatnya berbahaya dan mengerikan, sedangkan pantai di seberang itu aman dan tidak menakutkan. Tetapi tidak ada perahu pengangkut atau jembatan menuju pantai seberang. Kemudian dia berpikir; “ Ada hamparan air yang luas ini. Pantai di sebelah sini berbahaya dan mengerikan, sedangkan pantai di seberang sana aman dan tidak menakutkan. Tetapi tidak ada perahu pengangkut atau jembatan menuju pantai seberang. Sebaiknya aku mengumpulkan rumput, ranting, cabang, dan daun, lalu mengikatnya untuk dijadikan rakit, kemudian dengan ditopang rakit itu aku bisa mengerahkan usaha dengan tangan dan kakiku, dan aku bisa sampai dengan selamat di pantai seberang.”

Maka orang tersebut mengumpulkan rumput, ranting, cabang, dan daun, lalu mengikatnya untuk dijadikan rakit; kemudian dengan ditopang rakit itu dia mengerahkan usaha dengan tangan dan kakinya, dan dia sampai dengan selamat di pantai seberang.

Kemudian, ketika telah menyeberang dan tiba di pantai seberang, dia mungkin berpikir demikian; “Rakit ini telah sangat membantuku, karena dengan ditopang olehnya aku bisa mengerahkan usaha dengan tangan dan kakiku, dan aku bisa sampai dengan selamat di pantai seberang. Sebaiknya aku menjunjung rakit ini di kepalaku atau memanggulnya di bahuku, dan kemudian pergi kemanapun aku suka.”

Nah, para Bhikkhu, bagaimana pendapat kalian ? Dengan melakukan hal itu, apakah orang itu melakukan apa yang seharusnya dilakukan dengan rakit tersebut ?”

“Tidak, Yang Mulia Bhante” [ jawab para Bhikkhu]

berakit

“ Dengan melakukan apa maka orang itu melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan terhadap rakit itu?

Disini, para Bhikkhu, ketika telah menyeberang dan tiba di pantai seberang, dia mungkin berpikir demikian : “Rakit ini telah sangat membantuku, karena dengan ditopang olehnya aku bisa mengerahkan usaha dengan tangan dan kakiku, dan aku bisa sampai dengan selamat di pantai seberang. Sebaiknya aku menariknya ke tanah kering atau membiarkannya mengapung di air, dan kemudian pergi kemanapun aku suka.”

Nah, para Bhikkhu, dengan melakukan hal inilah maka orang itu melakukan apa yang seharusnya dilakukan dengan rakit tersebut. Demikian telah kutunjukkan kepadamu bagaimana Dhamma mirip dengan rakit, yang bertujuan untuk menyeberang, bukan dengan tujuan untuk menggenggam.

“Para Bhikkhu, ketika kalian mengetahui bahwa Dhamma mirip dengan rakit, bahkan keadaan-keadaan yang baik pun seharusnya kalian tinggalkan, apalagi keadaan-keadaan yang buruk.”


Nah, demikianlah saudara-saudari, para sahabat yang tercinta, bagaimana Sang Buddha menunjukkan kepada kita cara meggunakan Dhamma dan memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dari Dhamma.

Keterangan dalam Majjhima Nikaya memberikan penjelasan lebih jauh mengenai akhir dari khotbah diatas, “Para Bhikkhu, Aku mengajarkan untuk bahkan meninggalkan nafsu keinginan dan kemelekatan dan keadaan-keadaan yang damai dan tinggi ~ ketenangan ( samatha ) dan pandangan terang ( vipassana ) ~ apalagi pada hal yang rendah, vulgar, menjijikkan, kasar, dan kotor… [ kesenangan-kesenangan indria, terlibat dalam hubungan sex ]“.

berakit-rakit-ke-hulu

Dengan khotbah ini, Sang Buddha menjelaskan bahwa kemelekatan pada keadaan-keadaan yang baik itulah yang harus ditinggalkan, bukannya keadaan-keadaan yang baik itu sendiri. Bagaimanapun, kemelekatan ( upadana ) pada hal apapun, adalah penyebab timbulnya penjadian ( bhavo ).


PENTINGNYA MEMELUK AGAMA

Dewasa ini, seringkali penulis menemukan orang-orang yang berpendapat bahwa kita tidak perlu beragama, yang penting belajar semua ajaran kebajikan dan merangkumnya jadi satu, menjadikannya pedoman tersendiri yang cocok bagi dirinya.

Upacara Peringatan Magha Puja, bentuk ketaatan ummat Beragama ( Buddha )

Upacara Peringatan Magha Puja, bentuk ketaatan ummat Beragama ( Buddha )

Sesungguhnya, langkah ini tidak salah, namun mempunyai kelemahan. Mengapa ? Sebab, dengan demikian kita tidak akan mempunyai satu pegangan hidup yang jelas, dan arah hidup yang jelas. Umumnya, orang-orang yang memilih jalan ini ( tidak beragama ), pada akhirnya menemui kegagalan dalam orientasi spiritualnya.

Setiap agama, pada dasarnya adalah baik, sebab memiliki rambu-rambu yang harus dipatuhi oleh para ummatnya yang menunjukkan hal-hal yang tidak boleh dilakukan dan hal-hal yang sebaiknya dilakukan. Namun, agama-agama tersebut, memiliki nilai-nilai dasar, nilai-nilai filosofis yang masing-masing berbeda satu sama lain. Ketika seseorang mencoba mencampurnya menjadi satu, maka itu bagaikan usaha mencampur berbagai macam masakan sayuran menjadi satu ; lodeh, sayur-bening, oseng-oseng kacang panjang, sayur tahu-terik, sayur rambak-pedas, asinan-petai, Cah Brokoli, soup Tom Yam, dan macam-macam masakan sayuran lainnya menjadi satu. Bukannya suatu cita-rasa nikmat nan sempurna yang didapatkan, namun justru rasa “eneg” ( Jawa : Mblenger ) yang didapatnya.

Atau juga , sinkretisme semacam ini bagaikan usaha seorang politikus mempersatukan berbagai ideology dalam satu campuran ; Komunisme, Agama, Kapitalisme, Nasionalisme, dijadikan satu. Bukan satu persatuan-harmonis yang didapat, namun pertentangan-pertentangan yang akan diperolehnya.

Atau, usaha sinkretisme tersebut , bagaikan seseorang yang kedua kakinya berdiri di dua perahu, bukannya selamat sampai pantai seberang, namun resiko terjatuh dan tenggelamlah yang didapatnya.

Perayaan Waisak di Mendut (2008) ; Bentuk ketaatan ummat Beragama

Perayaan Waisak di Mendut (2008) ; Bentuk ketaatan ummat Beragama

Untuk itu, saudara-saudari, para sahabat yang tercinta, untuk memahami tujuan hidup yang sebenarnya, penulis sangat menyarankan saudara-saudari, para sahabat yang tercinta, untuk memilih dan mengikuti system etika moral [ agama ] tertentu yang memang benar-benar cocok bagi anda. Setelah memeluk suatu agama yang cocok bagi anda, maka kemudian praktekkanlah ajaran agama anda dengan sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya.

Mungkin anda suatu saat merasa perlu mempelajari agama-agama lain sebagai “materi-pengayaan”, sebagai “study-banding”. Hal ini tidak akan menjadi masalah, ketika anda melakukannya setelah anda memeluk suatu agama dan meyakininya. Sehingga, dengan demikian, batin anda tidak akan terombang-ambing, dan orientasi-spiritual anda tetap terjaga.

Dengan mempelajari agama lain, bukannya menjadikan lemah keyakinan ( saddha ) anda, namun justru bertujuan untuk memperteguh keyakinan ( saddha ) anda pada ajaran agama yang telah anda peluk. Study-banding ini, bukan bertujuan untuk melakukan perdebatan-perdebatan, namun untuk menemukan nilai-nilai lebih dan keunggulan ajaran yang anda yakini yang bermanfaat bagi diri anda pribadi, bagi kemajuan pencapaian spiritual anda.

Demikanlah, para sahabat yang tercinta, Agama akan menuntun kita menuju penyadaran diri. Agama memiliki kekuatan moril-spirituil untuk mengubah perangai seseorang dari perangai buruk menjadi bajik, dari tidak mulia menjadi mulia, dari egois menjadi tidak egois, dari kesombongan menuju kerendahan hati, ketamakan menjadi kemurahan-hati, kekejaman menjadi kewelas-asihan dan kelembutan, subjektivitas menjadi objektivitas. Agama akan mengantarkan kita pada pencapaian tingkat spiritual yang lebih tinggi,dan tertinggi, pada pembebasan sempurna dari arus samsara. Dan kelak, setelah tujuan kita tercapai, maka agama ini pun harus kita “lepas”-kan, yaitu bukan untuk diusung-usung diatas kepala untuk diperdebatkan dan dipertentangkan, namun kita lepaskan kemelekatan kita kepada “agama” tersebut supaya kita bebas melangkah kemanapun juga di pantai seberang sana, supaya tidak menyebabkan kita berbentusan dengan pihak lainnya, yang sungguh-sungguh tidak bermanfaat dan membawa kemerosotan pencapaian spiritual seorang ummat beragama. 😉


[ Sumber Kepustakaan : Majjhima-Nikaya, Kitab Suci Agama Buddha, jilid II, Penerbit : Vihara Bodhivamsa, Wisma Dhammaguna, edisi pertama, cetakan pertama, Kathina 2549, Oktober 2005.   Sumber foto-foto :  http://www.ilpks.gov.my/galeri/displayimage.php?album=6&pos=0  ,    http://wenkul.files.wordpress.com/2008/01/snake.jpg  ]

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Salam Damai dan Cinta Kasih…,

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajja hontu, Anigha Hontu, Sukhi attanam Pariharantu “

( “Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari penderitaan, bebas dari kebencian/permusuhan/pertentangan/niat jahat, bebas dari kesakitan, bebas dari kesukaran, semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaan mereka masing-masing” )

~ RATANA KUMARO ~

SEMARANG, 30 APRIL 2009.

86 Tanggapan to “MEMAKNAI AGAMA DENGAN BENAR”

  1. Agama, bagaikan sebuah rakit, membantu ummat manusia untuk menyeberang… ,
    Agama, bukan untuk digenggam dan dihantamkan kesana-kesini… ,
    Agama, untuk dipraktekkan, bukan untuk diperdebatkan 😉

    Peace & Love

  2. Memeluk suatu agama ( beragama ) adalah suatu kebutuhan.
    Agama apapun, pilihlah sesuai hati nurani anda.
    Memeluk agama adalah perkara kecocokan hati.

    Jangan sampai kita tidak beragama.
    Seseorang yang memilih tidak beragama namun membaca semua ajaran yang bajik-bajik lalu mencampur-adukkan ajaran itu, memahaminya sendiri, tidak mengikuti sesuai garis ajaran yang sesungguhnya, tidak akan pernah mendapatkan manfaat dari agama tersebut. Ia bagaikan seseorang pengkhayal yang memimpikan telah mengerti dan mengenal surga, tanpa pernah menapaki jalan ke surga itu sendiri.

    Peace & Love

  3. lovepassword said

    Wah pasti susah jadi pertamax di sini 🙂 . Habis yang pertamax malah penulis blognya. 🙂

    Agama, untuk dipraktekkan, bukan untuk diperdebatkan.

    Lho debat itu juga termasuk praktek lho Mas Ratna ( melet mode on)…-

    (Lagi berusaha mancing-mancing Mas Ratna untuk ngomong…hi hi hi 🙂 )

  4. Dear Lovepassword 😉

    Hehehe 😉

    Susah jadi pertamax ya ?

    Debat agama, mengurusi tingkah laku orang lain, mengkritik dan menghantam yang lain, semuanya adalah perbuatan sia2, membuang2 energi, membuang2 waktu, dan semakin menjerumuskan kita “kebawah”.

    Bukannya pencapaian spiritual yang semakin maju, tapi pikiran tambah sesak dipenuhi hal2 yang tidak berguna.

    Peace & Love

  5. wira jaka said

    loh mas Ratana …. jadi enggak boleh ya diambilin yang bagus2 …. dan tidak diamalkan yang kurang berkenan ???

    wah padahal saya mulai seperti itu …. bagaimana yahhh ?

    karena saya masih merasa kurang puas dengan satu agama saja 😀

    salam,

  6. rahayu.. rahayu…rahayu..
    shanti shanti oom shanti,

    matur sembah nuuwun kangmas ratanakumaro.. atas undangan panjenengan .. wah tambah sedulur sinom…, ngapunten kangmas… saya juga dah bolak balik thilik blog panjenengan . weladalah.. sampun ketinggalan jauh.. dan para kadhang… dah cangkrukan duluan,saya telat mau masuk rikuh perkewuh.. mangke malah ngganggu…, hehehe… kangmas pripun kabare…? wilujeng niring sambekala nggih .. , mugi sedaya mahluk tansah pinaringan karaharjan…, dalam kasih sayang yang tulus lus..lus…lus…, pokoknya kanthi juerrruuuu…, hehehe… , lhaa biasanya berbanyolan sama kangboed… , niki malah kita ditinggalll.., wah ndak bakalan ENDANGDUTAN LAGI NIH… HEHEHE…,

    salam sihkatresnan kangmas..

    nuwun..

    rahayu…

  7. Rahayu3x,

    Sugeng rawuh mas Hadi Wirojati.. .

    Saya juga tambah saudara sepuh ini.

    Maturnuwun mas, sampun kersa rawuh wonten gubug kula 😉

    Salam sihkatresnan kangmas,
    Nuwun,
    Rahayu 😉

  8. CY said

    @Wira Jaka
    Kalau gitu mesti berhenti dulu di tempat dan merenung, “apa saja” yg bisa membuat kita puas. Setelah dapat, baru tentukan langkah2 utk mencarinya. Tapi setelah dapat pasti akan tambah penasaran dan tidak puas lagi. Bukankah ada pepatah “Makin banyak yg kita tau makin banyak pula yg kita tidak tau” :mrgreen:

  9. Tedy said

    Semoga semua makhluk berbahagia!

    Dear Bro Ratana Kumaro, numpang nanya nih. Apakah jika ada seseorang yg mengklaim bahwa ajaran agama yg dia anut adalah yg paling benar sedangkan ajaran lain kurang benar/tidak benar, maka dia dapat disebut orang yg taat atau orang yg fanatik? Bagaimana membedakan benang tipis antara orang yg taat dengan orang yg fanatik? Terima kasih 🙂

    Semoga semua makhluk terbebas dari pertentangan!

  10. Dear Teddy 😉

    Bro, sesungguhnya semua agama mengklaim bahwa agamanya adalah yang paling benar.

    Misal, dalam Kristen diajarkan, tidak ada yang bisa sampai kepada Allah-Bapa kecuali melalui Yesus Kristus [ jika keliru, mohon dikoreksi 😉 ]
    Dalam Islam, dikatakan bahwa Islam adalah agama paling sempurna, penyempurna semua agama, agama penutup.
    Sang Buddha menyatakan, bahwa Beliau adalah Yang Tertinggi, Yang Tertua di antara Semuanya, dan Satu-satunya Jalan untuk merealisasi Nibbana hanyalah melalui “Ariya Atthangika Magga” yang dibabarkan oleh Beliau.

    Nah, manakah yang benar ? EHI PASSIKO ; DATANG, LIHAT/PERIKSA, dan , BUKTIKAN.

    Jangan begitu saja mempercayai pernyataan2, termasuk pernyataan Sang Buddha sendiri. Kita harus memeriksa, harus membuktikan, benarkah bahwa ajaran Sang Buddha ini merupakan satu-satunya Jalan untuk merealisasi Nibbana ?

    Bedanya orang yang bersaddha [keyakinan] teguh dengan orang yang fanatik, hanyalah pada letak kebijaksanaannya. Orang yang fanatik, meskipun mempunyai saddha yang kuat, namun salah dalam menangkap ajaran [ seperti yang dinyatakan Sang Buddha dengan perumpamaan ular pada artikel diatas ].

    Kita semua, belajar, berproses, merangkak, berjalan. Dalam suatu waktu, kita pasti pernah [meski tanpa kita sadari] terjatuh dalam lobang perangkap [fanatisme] tersebut. Namun, kita bisa belajar, menganalisa [ kritik oto kritik ], mengambil pelajaran berharga, lalu melangkah lagi dengan lebih baik.

    Yah, selama ke-fanatik-an itu tidak mengarah pada tindakan2 merusak yang merugikan makhluk2 lain, karma buruknya tidak begitu berat lah Bro {meski tetap merupakan karma buruk dan pasti akan berbuah karma buruk).

    Tapi, jika sudah sampai merusak, dikarenakan merasa yang paling benar, lalu mendiskreditkan yang lain, memaksa yang lain masuk agamanya, merusak, menganiaya, lha itu yang bahaya. Pastinya, ummat Buddha tidak boleh begitu, dan setahu saya, se-fanatik-fanatiknya ummat Buddha, belum pernah [ sejak tahun 0 Buddhist Era hingga sekarang ini ] sampai ada yang merusak, menganiaya, membunuh. Pun demikian, jika timbul fanatisme, kita harus cepat2 menyadari, merefleksikan dalam diri, dan segera menghapus fanatisme itu dari diri kita. Fanatisme, sesungguhnya expressi dari dosa (kemarahan/kebencian), lobha ( keserakahan ), dan moha ( kegelapan/kebodohan batin ).

    Peace & Love

  11. Tedy said

    To : My Brother Ratana Kumaro

    Akhirnya saya ketemu juga jawaban atas pertanyaan yg sangat dilematis (perbedaan orang yg taat dgn orang yg fanatik). Ternyata jawabannya sangat simple dan sederhana yaitu KEBIJAKSANAAN. Terima kasih atas pendapat yg mencerahkan.

    With metta,
    Tedy

  12. Dear Teddy 😉

    Semoga bermanfaat 😉

    Semoga, kita semua terbebas dari segala niat jahat, termasuk ‘fanatisme’ tersebut… 😉

    Peace & Love

  13. kangBoed said

    @Broooot…herku sayang
    Agama adalah sebuah “RAKIT”, digunakan untuk menyeberang, bukan untuk diusung-usung dan untuk Berbenturan dengan Batu Karang
    —————————————————————–
    Panceeeen oyeee… Toop Markotoop… yayaya… persiapkan perahu itu dengan baik, doronglaaah ke tengaaaah… lalu dayunglaaah sekuat tenaga sekencang kencangnya… jangan hiraukan pemandangan dan keindahan apapun sepanjang perjalanan.. apa lagi berhenti sejenak… sampai engkau sampai di tujuanmu.. Huuuuuwaaaaaaakakakak… hahaha… laju terus perahuku… mari kita berlayar bersamaaa brooooot..herku sayaaang..
    Thanks Brooo.. sampeyan yang pertama berkunjung…
    Salam Sayang..

  14. Dear Brother KangBoed… 😉

    Siiip bro.. 😉

    Mari dayung sampan sampai ke seberang… 😉

    Wujud persaudaraanku, maka aku datang pertama sebagai pengunjung di blogmu, ehehhh hehehehehhh… 😉

    Peace & Love

  15. tomy said

    Bila Bhikku terus berdebat yang manakah yang bergerak :
    dirinya, rakit yang ditumpangi, aliran air atau hembus angin…
    akankah ia sampai ke pantai seberang?

    salam damai & cinta kasih
    Waisak nanti saya ke Borobudur
    akankah kubertemu dengan dirimu wahai kawanku?

    teman saya sekeluraga pernah ke Borobudur bertemu juru kunci yang menunjukkan & membawa mereka masuk ke bawah candi ke sebuah ruangan bawah tanah dimana ada patung besar Budha
    bisa antar kami kesana Mas karena teman saya lupa pintu masuknya & juru kuncinya tidak pernah ketemu lagi

    Salam damai & cinta kasih sekali lagi & berulang kali :mrgreen:

  16. kangBoed said

    Sampai suatu saat bertemu dengan batas pertemuan dua lautaaan… hmm… bolong dong perahunya… weleeh weleeeeh… berenang ya.. menyelaaam… sendiriaaan.. gak bawa apa apaaa… hehehe..
    Salam Sayang Broooot…herku chuaayaaaank..

  17. hehehe… kangmas tomy…? nggangsir kangmas…? hhehehe…, saudara U.ratana kumaro jangan diantar nanti kangmas tomy mau ambil itu patung.. hehehe.., biar dicari sendiri.. wong udah tau kok….,

    ## ya naik sampan, rakit, perahu, kapal,menuju kepulau…, adakalanya menemui hambatan…, parahu bocor, sampan terguling, rakit lepas talinya sehingga berpencar bambunya, kapal.. kehabisan BBM… belum sampai ke pulau tujuan.. masih ditengah terombang ambing ombak…, sehingga kita butuh keyakinan penuh .. akankah kita sampai pulau tujuan . dengan apa..? semua alat ternyata mengalami kerusakan..? kita tinggal mengandalkan apa yang ada pada diri kita..demi mencapai pulau tujuan…, kompal kampul ing madyaning jalanidhi…?????.

    salam sihkatresnan buat semua saudaraku.. semoag semua mahluk berbahagia…,

    rahayu…,

  18. To: Bro wira jaka
    Saya coba ambil sisi lain. Kebetulan saya “gemar” mempelajari banyak ajaran dan khusus dalam Buddhisme dikenal 3 aliran utama, pada kulitnya tampak bertabrakan, pada isinya tampak ada yang lebih “better” dan pada intinya “no same, no difference”.
    Dalam hal spiritual, saya analogikan seperti kita menempuh pendidikan. Di tk dasar kita mempelajari hal-hal yang ringan, di tingkat menengah kita belajar semuanya baik sains,sosial maupun bahasa. Di tingkat sarjana kita fokus dalam suatu jurusan. Sedangkan tingkat master atau doktoral, kita fokus pada satu objek.
    Jadi, apakah kita sedang di tk SD, Menengah, Sarjana atau doktoral, dapat kita ukur sendiri serta kita tanyakan kepada orang yang lebih master. Dalam spiritualitas, sangat penting untuk bertanya dan mendapat “arahan”.
    Jika posisi kita masih “SD” atau “Menengah”, maka mengambil yang baik dari “pelajaran 1,2,3” benar [baca: agama 1,2,3],lalu jauhi “pelajaran 1,2,3” salah [baca: agama 1,2,3]. Menurut saya itu tidak masalah, namun perlu diingat bahwa tujuan akhir spiritual kita sebaiknya adalah “Tahap DOktoral”. Jangan berhenti merasa nyaman dengan “gado-gado” dan tidak pernah dievaluasi. Untuk evaluasi, selain dari “kebijaksanaan lokiya” yang kita miliki, butuh referensi guru/master/ajaran spiritual yang lebih tinggi. Ingat, cari orang yg master dan open-mind.
    Perlu diperhatikan bahwa selama mengeksplorasi “pelajaran2 agama”, perlu “ke-elingan” dan praktik, lalu berbagi kepada yang lain serta investigasi.
    Saya pikir, apa yang disampaikan oleh Bro Ratana sudah tepat dalam tataran pembicaraan seorang penjalan spiritualitas (tingkat sarjana), bukan lagi tingkat menengah/dasar.
    Semoga Menjawab.

    May All You Be Happiness, and be free from suffering and dangerous.
    Bow with love.

  19. lovepassword said

    Bila Bhikku terus berdebat yang manakah yang bergerak :
    dirinya, rakit yang ditumpangi, aliran air atau hembus angin…
    akankah ia sampai ke pantai seberang?

    Menurut Zen ala Huineng : pikiranlah yang bergerak. 🙂

    Agama mau jadi rakit mau jadi air mau jadi ular adalah produk pikiran. Lha pikiran adalah produk dari apa?

  20. lovepassword said

    Bila Bhikku terus berdebat yang manakah yang bergerak :
    dirinya, rakit yang ditumpangi, aliran air atau hembus angin…
    akankah ia sampai ke pantai seberang?

    Ya sampai juga sih. Asalkan yang mendayung bukan mereka. Asalkan nahkodanya nggak ikut-ikutan debat. 🙂 Asalkan yang berdebat itu bukan para pendayung dan pengemudi kapalnya ya nggak papa untuk mengusir kejenuhan. Jadi dalam posisi bukan pengemudi siapapun itu : Diam atau bergerak mungkin nggak ada bedanya bagi kapal. Pada sisi sebaliknya pengemudi kapal siapapun dia lha memang mestinya lebih konsentrasi mengemudikan kapal dengan baik.

    Lha karena itulah manusia2 yang dalam posisi pengemudi seperti Mas Ratna ini harus lebih hati-hati. Kalo aku sih sambil makan kwaci sambil jungkir balik juga nggak punya pengaruh terlalu besar. 🙂

    SALAM

  21. Ngabehi said

    Dear Kangboed
    Panceeeen oyeee… Toop Markotoop… yayaya… persiapkan perahu itu dengan baik, doronglaaah ke tengaaaah… lalu dayunglaaah sekuat tenaga sekencang kencangnya… jangan hiraukan pemandangan dan keindahan apapun sepanjang perjalanan.. apa lagi berhenti sejenak… sampai engkau sampai di tujuanmu.. Huuuuuwaaaaaaakakakak… hahaha… laju terus perahuku… mari kita berlayar bersamaaa brooooot..herku sayaaang..
    Thanks Brooo.. sampeyan yang pertama berkunjung…
    Salam Sayang.., Sampai suatu saat bertemu dengan batas pertemuan dua lautaaan… hmm… bolong dong perahunya… weleeh weleeeeh… berenang ya.. menyelaaam… sendiriaaan.. gak bawa apa apaaa… hehehe..
    Salam Sayang Broooot…herku chuaayaaaank..
    =================================================================
    Tapi sayang kangboed kalu ada pemandangan indah dipinggir kali ga disamperin he he…
    Ada cewek cantik umbah2 dipinggir kali ya berhenti dulu, ada orang mancing ya berhenti dulu siapa tau di kasih ikannya, ada orang mandiin kebo ya ikut mandiin kebo, ha yang repot ketika ngelihat gadis lagi mandi akhirnya terpesona dan berhenti di situ dan lupa ma tujuannya, he he…..akhirnya ya ga sampai batas pertemuan dua lautan apalagi sampai acara mbolongi perahu…..ha ha ah.KangBoed pancen oye……

  22. @Lovepassword :

    Buddha bersabda dalam Mahasatipatthanasutta ; “JALAN INI JALAN TUNGGAL”. Artinya adalah Jalan ini tidak bisa ditempuh DENGAN BERBONCENGAN.

    Suci dan tidak suci adalah dari diri sendiri. Selamat dan tidak selamat adalah karena dari diri sendiri. Kita tidak bisa berharap pada suatu “sosok” yang akan menjadi nahkoda dan mengantar kita pada keselamatan, termasuk kepada Buddha sendiripun. Kita sendiri yang harus menempuhnya, kita sendiri yang harus mengemudikan rakit kita. “Jadikanlah dirimu sendiri sebagai pulau perlindungan”, demikian Buddha bersabda.

    @ mas Ngabehi… 😉

    Yah, dalam perjalanan, boleh2 saja berhenti mas, mampir2, atau ingin mengenal mbak2 cantik yang lagi umbah2 di pinggir kali. Bedanya, yang terus berjalan tanpa menoleh dan berhenti, akan segera tiba di pantai seberang, sedangkan yang berhenti2 akan tiba lebih lama… Yang berhenti itu, pada akhirnya juga harus meninggalkan alasan ia berhenti mas. Artinya, kita akan tiba pada pilihan, berhenti sampai disini, atau meneruskan perjalanan hingga ke pantai seberang.

    Saya sendiri, juga masih memiliki hambatan2 yang belum bisa terpatahkan tuntas dalam berjalan kok mas. Wajar lah ya, dalam mendayung rakit, tentunya kita akan bertemu banyak hambatan, entah patahan2 ranting di tengah lautan yang mengganggu perjalanan, atau mungkin ada tali-temali pengikat rakit yang putus, atau mungkin gayung yang patah, dan sebagainya, ehehehh hehehehhhh 😉

    Mohon koreksi saudara2 sekalian bila ada kekeliruan dalam penyampaian ini yak 😉 Tidak ada niat menggurui, dan semoga tidak terasa demikian. Hanya sekedar sharing dalam proses belajar bersama 😉

    Peace & Love

  23. dodo said

    Rahayu ..
    Kulonuwun..

    Nderek Nyimak nggeh Sederek sedanten ….Mas Ratana , Mas Wira , Mas Endang…..mas Hadi ..nderek ikut bersyukur utk semuanya

    Salam Sejahtera

  24. Rahayu… ,

    Sugeng rawuh mas Dodo,
    juga untuk saudara2 yang lain, mas Ngabehi, mas Hadi Wirojati, mas Wirajaka, Lovepassword, Brother Nusantaraku, KangBoed, mas Tommy, dan lain2 saudara…, selamat datang.. 😉

    Maturnuwun mas Dodo, atas atensinya dan sudi berkunjung ke rumah saya ini.

    Semoga, bisa saling belajar, asah-asih-asuh.

    Mohon maaf jika ada kelancangan dari saya sebagai tuan rumah, dan atas segala ucapan ~ perbuatan yang kurang berkenan, mohon dimaafkan.

    @ Mas Tommy ;
    Mas, saya besok gak ikut ke Borobudur, karena, penyelenggara perayaan Waisak di Borobudur ( Mei 2009 ) tahun ini adalah WALUBI, sehingga, untuk Sangha Theravadda Indonesia, beserta para ummat Buddha-Theravadda, tidak ikut hadir disana. Kami, ummat Buddha-Theravadda, mempunyai acara sendiri. Untuk Jawa-Tengah, dipusatkan di Vihara Watugong Semarang. Begitu mas… 😉

    Maturnuwun, terimakasih.

    Salam Damai dan Cinta Kasih.

  25. hadi wirojati berkata
    Mei 4, 2009 pada 8:20 pm

    hehehe… kangmas tomy…? nggangsir kangmas…? hhehehe…, saudara U.ratana kumaro jangan diantar nanti kangmas tomy mau ambil itu patung.. hehehe.., biar dicari sendiri.. wong udah tau kok….,

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Hehehehehehhh…ehek…ehekk… Iya mas Hadi wirojati, gak akan tak anter deh itu mas Tommy, nanti ndak malah ambilin Buddha-rupang disana. By the way, lha pas juga tahun ini saya gak ke Barabudur, cuman di lokal aja, vihara Watugong Semarang. 😉

    Maturnuwun mas Hadi wirojati 😉

    Peace & Love to All Beings

  26. Ngabehi said

    Mas Ratana…yang cuantik
    nek berhenti dengan senang karena kepencut itu yang ndak boleh mas, karena akhirnya keenakan dan lupa sama laut tadi. Tapi kalau harus berhenti untuk mbetulin rakit, mempelajari lebih teliti peta didepan dan lain lain kan beda to.Lha kalu yang berhenti kepencut perawan umbah2 dan lain lain itu yang berbahaya tapi sering dianggep sepele ha ha ha…apalagi terus bilang2″ perjalananku itu sudah jauh lho.., buktinya aku entuk prawan neng pinggir kali, lho bener kan dho gumun, he he..terus akhirnya dijadikan patokan bahwasanya siapa yang berenang kelaut harus bisa menunjukan oleh- oleh yang berupa prawan tadi, ngerti wong ngguyang sapi, ngerti wong njala dan lain2, sehingga banyak orang yang beralasan pengen menuju laut tapi dalam hatinya sebetule pengen melihat cah Ayu sing dho umbah2 tadi dll,nulari baik tapi kurang pas gitu lho,ini yang saya temui dimana mana lho mas, Nek sampeyan aku yakin ora kok, suwer kewer kewer…kelihatan dari sini kok he he, buktine sampeyan nek ngomong opo anane.
    salam cayank
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Hehehehhh…Salam Persaudaraan mas Ngabehi,
    Salam Damai dan Cinta Kasih… 😉

  27. To: Bro Hadi Wirajati, Kang Boed, Dodo, dan Upasakaratanakumaro.

    Saya mau kasih komentar sedikit:
    Agar jangan terlalu sering memakai bahasa daerah…karena yang baca bukan hanya dari 1 daerah saja. Contohnya saya, saya hanya bisa berbahasa Indonesia, Sunda, dan Inggris. Terima kasih
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Dear Bro Wen Lung Shan 😉

    Ihihihihikks…, iya nih Bro, maklum , saya juga punya temen2 dari Non-Buddhis dan mereka dari berbagai etnis, jadi komentarnya pakai macam2 bahasa. Mereka temen2 lama sejak saya bikin blog ini Bro. Mohon dimaklumi saja.

    Dan mungkin sudut pandangnya juga tidak Buddhistik. Yah, kan jadi warna-warni Bro, kayak brother KangBoed bilang,“Pelangi-pelangi, alangkah indahmu, merah kuning hijau, dilangit yang biru… “ :mrgreen:

    Dinikmati aja ya Bro, komentar2 dari para tamu kita, hehehe…. “BHINEKA TUNGGAL IKA”.

    Oiya Bro, mohon sudi memberi pemaparan mengenai “lagu” dan “menyanyi” adalah bentuk “lobha” Bro, saya dan rekan2 Buddhis disini tertarik untuk mendengar pemaparan dari Anda.

    Anumodana,
    Sukhi hottu,
    Mettacittena 😉

  28. hehehe…. kang wen lung shan … pan supados tiasa berbagai bahasa dangerah akan membuat tambah wawasan tentang berbagai bahasa dangerah, lebih enak, dan nanti kan ujung ujungnya tiasa ngahiji sareng para saderek sadaya… kan kita ini terdiri dari berbagai entik dan bahasa nanging sadayana teh ngan Hiji nyaeta Nusantara… hehehe…, lha kalau bahsa nginggris… pandeuri wae nya…, eta mah bahasa kangge urang sadunya… heuaaaawaakkkaaakk.. , kangboeeeeeeeeeeeeeeddddd..kumaha ..,kepripun kangmas U.ratana, kangmas dodo, kangmas ngabehiiii,…. untuk saudaraku Wen lung Shan… mohon maaf selain berbahasa persatuan kami juga kadang menggunakan bahasa daerah…, akan kami perbaiki untuk komentar selanjutnya, terima kasih.

    salam kasih sayang ( Sihkatresnan )

    rahayu..,
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Salam Pamuji Rahayu mas Hadi wirojati… 😉

    Tapi usulan Bro Wen Lung Shan juga ada benarnya kok. Soalnya, yang mengakses internet adalah penduduk bumi sedunia, kalau untuk Indonesia ya terutama se-Indonesia, jadi memang ada benarnya juga tuh kalau kita banyak2 memakai bahasa Indonesia, bahasa Persatuan. 😉

    Tapi sesekali pakai bahasa daerah, tak apalah ya mas 😉

    Peace & Love

  29. welhadalaaaah…. kangmas ngabehi.., kalau dalam perjalanan untuk menuju ketempat 7an.. pas ditengah ndalan ada cah ayu umbah umbah terus cucul cucul busana mau jeguran ( cleguk ngulu idhu ihik…) … ya jangan dilewatkan itu kan warnanya perjalanan .. dilanjut KRUBYUK KRUBYUK SENGOK dulu tho…? ( emang yu yu kang kang = lho mbakyu dan kakang ) hueheeheheeee…,
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear mas Hadi wirojati 😉

    Aduh mas, “KRUBYUK KRUBYUK SENGOK” itu apa to mas artinya ??
    Weleh2, ada2 saja istilah anda itu mas 😀

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    lha nek ada cah ayu umbah umbah terus udar busana mau mandi gur dilirik saja .. eman eman.. karena dalam hati pasti nyesel…, mau balik lagi dah kadung maju .., muter lagi mbalik awal.. wahh… rugi kangmas.. hehhe.., rampung.. malah pun jarikan rapiii… lha rak rugi dua kali tho… ? hehehe…,
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Yah kalau masih punya keinginan “itu” ya nyesel thok dong mas , ehehehh hehehehh…ehekk…ehekk… :D: :mrgreen:
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    atau sekalian sipat kuping.. mata peteng kuping ora mireng bablas terussss…, keblasuk malah mlebu pusaran air… mumet dan ndak bisa keluar.. lha mlakune sipat kuping… hehehe.. bener panjnengan kangmas.. mampir rumiyin lha disuguhi pemandangan paling indah sejagad bawana je…,lha nek pun rampung nembe lanjut .. ati marem… mata adem kuping jenjem…cangkem mingkem… lha jebulannya cuma segitu tho ampiran itu…,hehehe…
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Iya deh mas, terkadang memang kita2 manusia masih butuh mampir2 dulu ya mas, dalam berjalan menempuh perjalanan ini… *Ebiet G.Ade sings,”Perjalanan ini, terasa sangat meletihkan…”(bener gak ya teksnya?? 😀 :mrgreen: )*
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    nyuwun gunging pangaksami kangmas…, dan para saudaraku terkasih dan tersayang….maaf kangmas U. Ratana Kumaro…
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Uwalllahh…, gak perlu minta maaf segala to mas, gak usah sungkan2 mas, mari berbagi pendapat disini…, ajib-ajib mas 😀 :mrgreen:
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    salam sihkatresnan

    rahayu…,
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Salam sihkatresnan kangmas Hadi wirojati 😉
    Rahayu… 😉

  30. Buddhi said

    kalo udah “tsunami”,kadang rakit ga ada gunanya lagi loh he he he…

    btw,setuju2 aja deh sama mas ratana,sing penting,jalan terus….

    Salam 😀
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear Mas Budi.. 😉

    Yang penting, tidak perlu bertentangan, bermusuhan, berperang, dalam nama apapun juga, apalagi dalam nama agama. Karena, hal2 itu hanya akan semakin menjauhkan kita dari kedamaian, ketenangan, kebahagiaan sejati. Leres nggih mas ? Ini hanya sekedar pendapat saya saja lho mas, semoga ada baiknya 😉

    Terimakasih mas, sudah mau mampir kesini… 😉

    Peace & Love

  31. Buddhi said

    malam waisakan aku mau di bambang lipuro ah he he he……mas ratana ga ke borobudur?.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear Mas Buddhi,
    Enggak mas, saya gak ke Barabudur.
    Saya pengin mengabadikan moment2 Waisaka-Puja di Vihara Watugong saja, nanti saya usahakan tulis laporan pandangan matanya di blog ini mas. Semoga bermanfaat ya mas 😉

    Peace & Love

  32. wira jaka said

    @bro CY dan bro Nusantaraku
    terima kasih sekali atas penjelasan kalian, yang mengena …

    @mas herjuno :
    “Tapi sayang kangboed kalu ada pemandangan indah dipinggir kali ga disamperin he he…
    Ada cewek cantik umbah2 dipinggir kali ya berhenti dulu, ada orang mancing ya berhenti dulu siapa tau di kasih ikannya, ada orang mandiin kebo ya ikut mandiin kebo, ha yang repot ketika ngelihat gadis lagi mandi akhirnya terpesona dan berhenti di situ dan lupa ma tujuannya, he he…..akhirnya ya ga sampai batas pertemuan dua lautan apalagi sampai acara mbolongi perahu…..ha ha ah.KangBoed pancen oye……”
    ——
    wah … kok berhenti karena “prawan ayu” yang dibahas ya, mbok yao caddy yang muanis mentes itu …. 😀

    tapi bageni mas Herjuno, berhenti karena ngewangi mandiin kebo …. ato membantu nelayan menarik jaring ikannya yang dibahas … ato juga mungkin ada orang yang gak bisa berenang dan kebetulan hampir tenggelam dibantu entah dibawa atau sekedar ditolong dipinggirkan..

    pertanyaannya … lebih mulia (pahala) mana sampai duluan karena tidak noleh kiri kanan …. atau agak terlambat karena harus nolong orang disekitar sungai tersebut ??? (tapi diluar prawan dan caddy loh ya …) 😛
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear mas Wira Jaka… 😉

    Mas, perkenankan saya memberi jawaban ya mas. Saudara2 yang lain tentunya juga berhak memberikan jawaban, sumbang-saran, dari sudut pandang masing2, sesuai latar-belakang masing2.

    Mas, jika panjenengan mengerti ajaran SEPULUH/DASA (10) KESEMPURNAAN ( PARAMITHA ), anda tentunya akan bisa menjawab hal ini.

    Karena, dalam ajaran Buddha, setiap makhluk harus menyempurnakan ke-10 paramitha ini. Praktek kesepuluh paramitha ini dibagi dua, yaitu Sad-paramitha dan Catur-paramitha :

    1. Sadparamita
    Sad ( enam ), Paramita ( Kesempurnaan ). Keenam kesempurnaan / Sadparamita itu adalah sebagai berikut :
    a. Dana Paramita – Kesempurnaan Kemurahan Hati
    b. Cila / Sila Paramita – Kesempurnaan Moralitas / Tata-susila
    c. Ksanti / Khanti Paramitha – Kesempurnaan Kesabaran
    d. Wiryya / Viriya Paramitha – Kesempurnaan Ketekunan Mental
    e. Dhyana / Jhana Paramitha – Kesempurnaan Pemusatan Perhatian ( samadhi )
    f. Prajna Paramitha – Kesempurnaan Kebijaksanaan

    2. Catur Paramita
    Catur ( Empat ) Paramita itu adalah sebagai berikut :
    a. Maitri / Metta – Cinta-kasih
    b. Karuna – Kasih-sayang
    c. Mudita – Simpati
    d. Upeksa / Upekkha – Keseimbangan atau Ketenangan

    Apa yang mas Wira-Jaka pertanyakan, terjawab melalui praktek kesepuluh kesempurnaan ini. Sepuluh Paramitha ini dipraktekkan oleh para Boddhisatta, yakni , siapapun dia, siswa Sang Buddha, yang beraspirasi untuk mencapai Pencerahan Sempurna pada akhir putaran samsaranya, demi menolong semua makhluk di alam semesta, supaya terbebas dari : 1. Setidaknya empat alam menyedihkan ( alam neraka, alam hantu gentayangan, alam binatang, dan alam para Jin/Asura ). 2. Mencapai pembebasan sempurna dari arus samsara ; terlepas dari arus tumimbal-lahir.

    Khusus saya akan bahas disini mengenai Dana-Paramitha.

    Macam-macam bentuk dana / kemurahan hati adalah :
    1. Dana berupa materi / berbagai benda-benda bermanfaat yang kita miliki, baik makanan, minuman, pakaian, uang, dan sebagainya. Pada masa lalu jenis dana ini sangat penting, dan sekarang meski pun mungkin sudah tidak terlalu penting namun masih tidak bisa diabaikan. Orang-orang timur mencoba melakukan dana materi setiap hari, entah makanan untuk pengemis, sejumlah kecil uang, atau hanya secangkir teh, sehingga setidaknya setiap hari ada sesuatu yang diberikan, atau dinikmati bersama orang lain.
    2.Dana berupa waktu, energi, dan pemikiran. Waktu merupakan sesuatu yang sangat berharga, sehingga bila kita menyisihkannya sebagian untuk orang lain, untuk menolong mereka, juga merupakan suatu bentuk dana.
    3. Dana berupa pengetahuan atau pendidikan. Ilmu pengetahuan bukan sesuatu untuk digenggam sendiri, melainkan untuk dinikmati bersama. Semua makhluk harus dapat mengambil manfaat darinya.
    4. Dana perlindungan atau memberi kebebasan dari rasa takut. Dana ini berbentuk berbagi rasa percaya diri kita dengan orang lain. Kita dapat menciptakan perasaan bebas dari rasa takut, atau perasaan aman pada diri orang lain, hanya dengan kehadiran dan sikap anda.
    5. Bentuk dana lainnya adalah memberikan nyawa dan anggota tubuh. Demi kepentingan orang lain, demi kebaikan semua makhluk hidup, atau demi kepentingan Dharma, seseorang harus siap untuk mengorbankan tubuhnya bahkan nyawanya sendiri.
    6. Akhirnya, dana yang melampaui pemberian nyawa dan anggota tubuh sekalipun adalah pemberian dalam bentuk dharma ; memberikan Kebenaran, memberikan pengetahuan, atau pengertian, tentang Jalan menuju ke Pencerahan, Pembebasan, Ke-Buddha-an, atau Nirvana. Pemberian pengetahuan ini melampaui segala pemberian lainnya.

    Keenam jenis Dana diatas adalah Dana yang “pakem” dalam ajaran Buddhis (Theravadda ).

    Namun, selalin keenam jenis DANA diatas, ada lagi klasifikasi DANA-PARAMITHA, menurut mazhab Mahayana.
    Dalam Kitab “SANG HYANG KAMAHAYANIKAN”, sebuah kitab suci agama Buddha kuna ( mazhab Mahayana ) yang tumbuh di Jawa, di Nusantara ini ( Kitab ini hanya dikenal di Jawa/Nusantara ), diperkenalkan/diajarkan adanya tiga jenis DANA, yaitu sebagai berikut :

    1. Dana
    “ Dana ngaranya : ananca panam kanakadiratnam dhananca wastram cayanasananca rajacriyam swam nararanca datwa wijaya teneya wadanti danam “ ( Sang Hyang Kamahayanikan, Ayat 56 ).
    Terjemahannya kedalam bahasa Indonesia adalah ; yang disebut dana, semua hal yang memberi rasa nikmat terhadap semua makhluk, seperti misalnya nasi enak, minuman air putih, maupun teh, kopi, dan sirup, semua itu pantas anda berikan kepada siapa saja yang membutuhkan, bahkan sampai harta benda, seperti misalnya emas, intan, pakaian halus, abdi ( jaman sekarang semacam “batur” (bhs.Jawa) / pembantu rumah tangga ), anak buah bala kereta, hewan peliharaan, gajah, kuda, bahkan kerajaan sekalipun berikanlah terhadap siapa saja yang membutuhkan jika ada yang memintanya dan anda jangan mengharapkan kembalian / balasan. Hanya dari tekad, sikap, perbuatan anda yang penuh cinta-kasih terhadap semua makhluk, itu yang menyebabkan rasa ikhlas, menyerahkan semuanya terhadap yang membutuhkan. Melalui sarana tutur-kata anda yang menyenangkan, tindak-tanduk yang jujur, dan hati tulus-ikhlas, itulah dana.

    2. Atidana
    “ Atidana ngaranya : Sancapi bharyyan tanayam priyanca datwa parebhyah na cokacittam pramanumatram dwijapatenewa wadanti danam “ ( Sang Hyang Kamahayanikan, Ayat 57 ).
    Artinya : Yang disebut atidana adalah , anak perempuan dan keluarga juga anak anda pribadi, istri yang anda cintai ikhlaskanlah jika ada yang minta terhadap anda seperti halnya makhluk utama yang mengikhlaskan istrinya, keluarganya, anaknya terhadap salah satu Brahmana yang meminta terhadap dirinya. Sebab ikatan ( harta-benda-duniawi ) yang mengikat erat itu menyebabkan halangan menuju kesempurnaan. Putuskanlah ikatan yang lengket terhadap anda, janganlah sedih. Rasa ikhlas seperti itu mewujudkan upaya didalam melangkah menuju ke-Buddha-an. Ikhlasnya hati anda terhadap bentuk dana seperti itu disebut ‘atidana’.

    3. Mahatidana
    “ Mahatidana ngaranya : Datwa swamangcam rudhiram parebhyah jitwasurendram hrdyam cariram dayanibhawat nawaduh-khamayat mahatidanam prawadanti santah “ ( Sang Hyang Kamahayanikan, Ayat 58 ) .
    Artinya : Mahatidana artinya ; seperti halnya salah-satu makhluk yang merelakan daging-darahnya-matanya, juga raganya, tanpa ada yang di “eman” ( bhs.Jawa ) / di “lekati”, disebabkan oleh karena saking dalamnya cinta-kasih terhadap semua makhluk yang pada hakikatnya menderita ( karena hidupnya ). Entah itu raksasa, macan, burung elang / garuda, diikhlaskannya dagingnya, darahnya, matanya dipersembahkan terhadap brahmana yang sudah pikun dan buta, yang selalu bersedia mmengikhlaskan batinnya, hatinya diikhlaskan terhadap banyak yang lumpuh, sengsara karena kelaparan, dan bahkan pribadinya diikhlaskan untuk keperluan umum tanpa dikeramatkan. Tindakan seperti itu disebut ‘mahatidana’.

    Ketiga jenis dana inilah yang diajarkan dalam kitab Sang Hyang Kamahayanikan.

    Demikian mas Wira Jaka.

    Jadi, dalam mendayung rakit ke pantai seberang, bukan berarti jika kita menemui makhluk2 yang sengsara, lantas kita cuek dan diam saja, mementingkan keselamatan diri sendiri. Tidak begitu, dan pandangan egois seperti itu jelas2 bukan pandangan Buddhistik, Sang Buddha tidak pernah mengajarkan hal seperti itu ( ke-egoisan ) ( Sang Buddha justru mengajarkan “An-atta” ( tidak-ada-Aku ) sebagai sebuah terobosan yang menembus pandangan Ego-istisch masyarakat umumnya ).

    Baik, Mas Wira Jaka, semoga uraian saya ini memberikan jawaban atas apa yang menjadi pertanyaan panjenengan. Nyuwun pangapunten, mohon maaf bila ada kesalahan kata. Ini hanya sekedar sharing pengetahuan saja lho mas 😉

    Untuk rekan2 se-Dhamma, dan saudara2 yang lain juga, mohon koreksinya bila saya ada kekeliruan 😉

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    monggo para kadhang … mas Hadi, mas Dodo, mas Buddhi, mas Kangboed, ko CY, ko Wen LS, Nusantaraku, mas Tedy, Lovepassword, bang Tomy, mas Ngabehi …. eh mas Hidayat mana kok engga kelihatan … dan para kadhang lainnya … dapat urun rembug.

    matur nuwun mas Ratana,
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Terimakasih kembali mas Wira Jaka 😉
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    salam,
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Salam Persaudaraan Mas,
    Salam Damai dan Cinta Kasih 😉

  33. Ngabehi said

    dilanjut KRUBYUK KRUBYUK SENGOK dulu tho…? ( emang yu yu kang kang = lho mbakyu dan kakang ) hueheeheheeee…,
    =================================================
    aha…Mas Hadi emange aku yuyu kangkang.. ha ha, ini mah bidangnya Mas Ratana, karena kalu yang nyebrangin dia pasti aman, lha kalu sampeyan berbahana.. ha ha

    wah … kok berhenti karena “prawan ayu” yang dibahas ya, mbok yao caddy yang muanis mentes itu …
    ============================================================
    Mas wira jaka, sekarang emang lagi musim….caddy, tapi hati hati kalu main golf yang dimasukin bolanya jangan sticknya, juga lubangnya yang dilapangan saja, he he

    pertanyaannya … lebih mulia (pahala) mana sampai duluan karena tidak noleh kiri kanan …. atau agak terlambat karena harus nolong orang disekitar sungai tersebut ??? (tapi diluar prawan dan caddy loh ya
    ==================================================================
    tepatnya bukan masalah mulia tidak mulia, tapi lebih utama mana gitu loch…
    Menurut saya lebih utama yang langsung sampai duluan, karena sepulang dari sana langsung bisa jadi penunjuk arah atau pemandu, karena sudah hafal petanya.
    Kalau yang mampir2 gimana, ya itu sich…baik aja…

  34. 3yoga said

    @mas Ngabehi,
    “Menurut saya lebih utama yang langsung sampai duluan, karena sepulang dari sana langsung bisa jadi penunjuk arah atau pemandu, karena sudah hafal petanya.”
    ————————-
    mas Ngabehi, mungkin saya salah penangkapan ….. karena pengertian saya diatas … perjalanan tersebut adalah perjalanan yang bersifat “one way ticket” sehingga yang bersangkutan pergi tidak untuk kembali lagi …. sehingga pengalamannya hanya bisa di pek dhewe.

    salam,

  35. To: Bro Wira Jaka
    Saya menangkap pertanyaan saudara yang terakhir yakni mana lebih fokus pada perjalanan atau berjalan sambil menolong ini adalah : Jalan Bodhisatva vs Jalan Arahat.
    Ini sulit dijelaskan secara “mengena”, karena para ‘master’ yang saya temui pun masih menganggap ini yang baik dan ini kurang baik. Sulit menemukan titik temunya.
    Masing-masing jalan memiliki keunikan dan kelebihan tersendiri.
    ***
    Perbedaanya mendasar antara jalann Bodhisatva dan Arahat yakni latihan utama bodhisatva adalah menumbuh kembangkan bodhicitta. Sedangkan latihan utama Arahat adalah meditasi pada shunyata. Kedua-keduanya dapat membawa kepada tujuan akhir yakni “kondisi yang tidak berkondisi – nibbana”. Namun demikian,bodhicitta pada prinsipnya tetap membutuhkan meditasi shunyata.
    Persamaan dari keduanya adalah sama-sama membutuhkan berbagai jenis latihan pendahuluan seperti sila.

    Kedua jalan ini tidak hanya berbicara pada tataran pahala semata, namun berbicara tentang aspirasi dan proses mencapai tujuan akhir. Para praktisi Jalan Bodhisatva memiliki landasan bahwa “Demi kebahagiaan semua makhluk, aku harus mencapai pencerahan sempurna (Buddha).” Sedangkan para praktisi Arahat lebih menekankan “Dunia dan kehidupan adalah anicca, an-atta dan penuh dukkha, maka kita harus keluar dari mimpi ini untuk tidak lagi masuk dalam samsara dan harus secepat mungkin mencapai Nibbana”. Dari sini terlihat bahwa motivasi pendorong berbeda. Namun, untuk mencapai pantai seberang, para praktisi Arahat membutuhkan “bahan dasar rakit” yang salah satunya adalah praktik paramitha.
    Dari segi aspirasi tampak jalan bodhisatva lebih “indah”.
    Namun dari segi waktu, maka jalan arahat lebih “cepat”.
    Mau cepat atau indah, sama-sama baik.
    Namun perlu diingat bahwa seorang arahat tidak bisa mencapai kearahatan jika ia belum memiliki parami yang cukup [jadi secara umum : seorang calon arahat harus menjalankan praktik sila yang tinggi (menolong orang di pulau ini), lalu secara fokus menuju pulau seberang (bukannya selat/laut tersebut merupakan kumpulan orang berlatih]. Jadi, jalur arahat tidak fokus membantu para praktisi yang sedang menyeberang jalan. Namun pada awalnya ia membantu orang-orang untuk sama-sama mau menyebrang.
    Jadi sebelum masuk arus Sotapanna, maka ia juga harus merampung parami yang cukup. Motif parami antara jalur bodhisatva dan arahat secara mendasar ada perbedaan.
    Mau pilih yang mana, terserah…karena sama-sama memiliki keunggulan sendiri.

    May All You Be Happiness, and be free from suffering and dangerous.
    Bow with love.

  36. Tambahan
    Saya tidak membahas pahala, karena dalam ajaran Buddha yang saya pahami, kita melakukan sesuatu kebajikan bukan semata-mata untuk mendapat pahala. Pahala itu pasti mengiringi tindakan bajik (bak bayangan atau jejak roda pedati).
    Satu lagi, saya pikir pembahasan kita terlalu dalam jika kita masih praktisi pemula. Yang menjadi pertanyaan, apakah sudah memiliki “modal” untuk mengumpulkan bahan dan teknik untuk membuat “rakit”?
    Jika kita sudah tahu memmbuat rakit, namun bahan rakit belum kita kumpulin, bagaimana kita bisa menyebrang?
    Jadi, jika berbicara untuk membuat rakit, maka pilihan yang pertama yakni mengumpulkan parami diringi samadhi.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Saya sependapat dengan anda Bro… , iya, pembahasan mengenai lebih mulia manakah, saat menyeberang tidak menoleh kesana-kesini hingga lebih cepat sampai, atau terlambat sampai ke seberang karena saat menyeberang sembari menolong makhluk2 dari kesengsaraan…, rasa2nya terlalu jauh dan dalam untuk dibahas bagi para praktisi pemula.

    Alangkah lebih baik kita mengumpulkan parami sebanyak2nya diiringi dengan samadhi. 😉
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Trims

    Sarvamanggalam
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Anumodana atas pemaparannya Bro, sangat bermanfaat 😉
    Sarvamanggalam

  37. Akhir
    Maaf, jika dalam diskusi ini, ternyata rekan-rekan sudah memiliki “rakit” yang kokoh dan sudah dalam “penyeberangan” di tengah “lautan”.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear Bro Nusantaraku… 😉

    Bro, rakit yang dibahas didalam Alagaddupama Sutta diatas adalah “Dhamma” itu sendiri Bro.
    Jadi, Dhamma sebagai rakit, adalah, bila kita telah mengenal Dhamma, maka segeralah gunakan Dhamma itu untuk menyeberang, menjadi seorang pemenang-arus ( sotapanna ), yang-kembali-sekali-lagi ( sakadagami ), yang-tidak-kembali ( anagami ), maupun yang telah sempurna ( Arahat ).

    Mungkin Bro mempunyai interpretasi yang lain ? Mungkin saja, interpretasi Brother Nusantaraku, kita baru mempunyai rakit setelah tersempurnakannya parami. Eh, Bro…, sekedar sharing saja ya, jangan dianggap sebagai perdebatan. Pandangan yang menyatakan bahwa tingkat kesucian saat ini sudah tidak bisa diraih, kecuali kita menyempurnakan parami dalam beberapa kehidupan ini, kalau tidak salah, termasuk miccha-dhamma loh Bro… . Pandangan bahwa yang ada sekarang ini hanyalah makhluk dvi-hetuka ( a-lobha, dan a-dosa ) yang kekurangan Panna ( tanpa a-moha ), juga termasuk miccha-dhamma.

    MMm…, sepertinya menarik untuk kita diskusikan nih Bro… Mari, rekan2 se-Dhamma, dan juga rekan2 dari latar belakang agama & kepercayaan yang lain, silakan memberikan sumbang-sarannya untuk kami semua disini. 😉
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Maklum, saya masih “newbie” dan baru mencoba membuat rakitnya.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Rantai kehidupan ini telah sangat panjang, sehingga awal-mulanya saja tidak kita ketahui Bro. Sesungguhnya, kita tidak benar-benar “newbie” Bro 😉

    ihikks..hiks…hikss…Mari..mari…, kita lanjutkan diskusinya, ini nampaknya makin menarik nih Bro… .

    Mohon koreksi dari saudara2 semua bila ada kekeliruan saya dalam menyampaikan pendapat 😉

    _/\_ Deep Bow

    Mettacittena 😉

  38. 3yoga said

    @mas Ngabehi …
    maaf mas, saya punya penangkapan mengenai perjalanan diatas tersebut sebagai perjalanan yang “one way ticket”, perjalanan yang tidak bisa diulangi oleh yang bersangkutan, sehingga gambaran / peta yang dibuat oleh yang bersangkutan hanya bisa dibaca dan dimiliki oleh dirinya sendiri.

    jadi bila sudah sampai … yah sudah selesai tugasnya didunia ini … ini yang jadi penangkapan saya.

    salam,

  39. @mas Ngabehi …
    maaf mas, saya punya penangkapan mengenai perjalanan diatas tersebut sebagai perjalanan yang “one way ticket”, perjalanan yang tidak bisa diulangi oleh yang bersangkutan, sehingga gambaran / peta yang dibuat oleh yang bersangkutan hanya bisa dibaca dan dimiliki oleh dirinya sendiri.

    jadi bila sudah sampai … yah sudah selesai tugasnya didunia ini … ini yang jadi penangkapan saya.

    salam,
    ================================================
    Oooo pantesan kok rada beda…. he he, yach mas namanya juga lewat tulisan jadi ga bisa pas banget.. he he..

    buat mas Ratana yang ahli bahasa pali/sansekerta mau minta tolong.., ini artinya apa mas…

    Panamaranata, judanara,tamayaka,kridatama,madraya,kunawa krida, kacana, arammaka,sailendra drupa, jawuwuka eka(natagama, aswatama)kusasamuka krida kacana duwuwujana..

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear Mas Ngabehi… ,

    Waduh mas, saya gak tahu arti kata2 itu semua… 😉 Saya ini bukan ahli bahasa Sanskerta & Pali, hanya seorang pelajar Buddhis, mempelajari Buddha-Dhamma sebaik-baik saya bisa mas… 😉

    Coba saja dicari di kamus Sanskerta-Indonesia mas 😉

    Maaf ya mas, gak bisa bantu nih 😥 😉

    Peace & Love

  40. <To: Bro Ratana
    Mungkin saya klarifikasi.
    Rakit disini saya interpretasikan sebagai intisari dharma [dharma ajaran, dharma praktik, dharma akumulasi].
    Saya berpendapat bahwa rakit itu harus dikondisikan, tidak bisa sudah terbentuk begitu saja.
    Tahu dharma saja, belum menjadi rakit (pengetahuan tentang/membuat rakit). Butuh kondisi/modalitas “baik” secara berkesinambung agar rakit terbentuk secara kokoh. Pengetahuan rakit akan memiliki interpretasi yang sangat berbeda dari tiap orang. Mereka yang mengembangkan kebajikan, akan lebih mudah membuat rakit yang kokoh untuk mulai penyeberangan. Interpretasi penyeberangan saya disini adalah latihan inti : samadhi (menghasilkan kualitas sila-prajna lebih tinggi terutama ‘purifikasi pikiran dan pandangan”). Sebelum mengarung lautan bebas, “kata Pa Auk Sayadaw”, butuh purification of virtue. Disinilah, jika memiliki parami, maka purifikasi kebajikan lebih cepat terwujud.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~`
    Dear Bro “nusantaraku” 😉
    Mmm…., anda benar…, anda benar… .

    Dhamma :
    1. Pariyati Dhamma : Teori, ajaran2 Sang Buddha
    2. Patipatti Dhamma : Dhamma sebagai praktik sesungguhnya [SILA, SAMADHI, PANNA]
    Pariyati dan Patipatti ditujukan untuk mencapai tujuan akhir, yang ditempuh melalui sembilan tahap ; empat (4) tahap jalan suci, empat (4) tahap buah dari jalan suci, dan akhirnya :Nibbana. Kesembilannya adalah lokuttara-dhamma yang dicapai dengan bantuan pariyati dan patipatti-dhamma. Kesembilannya ini disebut : Pativedha-Dhamma

    Tapi, sepertinya perlu saya ceritakan latar belakang sutta tersebut.

    Sutta tersebut “keluar”, karena saat itu ada salah seorang Bhikkhu*namanya nanti saya susulkan* yang setelah mempelajari Dhamma, tidak melanjutkannya dalam praktek (patipatti-dhamma), namun justru untuk berdebat, termasuk dengan Sang Buddha sendiri.

    Karena itulah Sang Buddha bersabda dalam Sutta tersebut dengan menggunakan perumpamaan ular dan perumpamaan rakit.

    Juga dalam penjelasan Majjhima Nikaya digambarkan, bahwa Bhikkhu tersebut belajar “pariyati-dhamma” ( ~ Khotbah, bait, penjelasan, syair, ungkapan, peribahasa, cerita kelahiran, keajaiban, dan jawaban pertanyaan ~ ), namun tidak melanjutkannya dalam patipatti-dhamma sehingga tidak mendapatkan manfaat hingga ke pantai seberang ( pativedha-dhamma ).

    Jadi, Brother Nusantaraku, kami menangkap yang dimaksud dalam Sutta ini adalah “Pariyati Dhamma”, belum sampai patipatti-dhamma apalagi pativeddha-dhamma.

    Ini sekedar sharing Bro, saya juga masih dalam belajar. Mohon saudara2 se-Dhamma lainnya sudi memberikan pendapat. Terutama juga sdr.Wen Lung Shan, sebagai seorang guru agama Buddha, tentunya mempunyai sudut pandang profesional-nya 😉

    _/\_ 😉
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Bro Ratana yang baik, jika tidak khilaf, saya mengatakan butuh “cukup parami”, bukan menyempurnakan parami. Kita tahu bahwa menyempurnakan parami adalah latihan para Bodhisatva. Sedangkan jalur Arahat, tidak membutuhkan penyempurnaan parami. Namun, jika kita melatih sedikit parami (cukup), arahatanship akan jauh lebih mudah, terutama dalam tahap samadhi.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Terimakasih atas klarifikasi dan koreksinya 😉
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Sebagai contoh: seorang yang gemar membersihkan toilet vihara, tempat umum, membersihkan kali, memberi keceriaan pada anak-anak jalanan, maka ketika ia meditasi, maka ia akan lebih mudah konsentrasi dan ‘eling – sadar’. Jika tidak, butuh waktu dan energi ekstra untuk masuk konsentrasi terutama bagi mereka yang mempraktikkan “7 Stages of Purification”.
    Hal ini pernah diceritakan Lord Buddha tentang Bahiya Daruciriya yang hidup di masa Buddha Kassapa,meskipun ia telah berlatih selama 20.000 tahun Samatha-Vipassana, ia tidak mencapai “ariya puggala”. Salah satu sebanya adalah “parami belum cukup”.
    Tentu saja, jika ia terus berlatih, pada akhirnya ia dapat mencapai Arahat, mungkin 1000, 2000 atau 10.000 tahun lagi.
    Namun, dengan adanya faktor parami,hal ini dapat mempercepat.
    ****
    Apakah saat ini bisa mencapai salah satu tingkat dari 8 Ariya Puggala, saya mendapat jawaban dari Sayalay Dipankara : “depend on you practice samatha-vippasana and paramis”.
    Jadi, mungkin saja kita pernah mengumpulkan parami masa lalu dan cukup (bukan berarti penyempurnaan parami),maka pada kehidupan ini kita dapat mencapai “ariya puggala”.
    Hanya saja, apakah kita yakin kehidupan lampau kita telah cukup lama berlatih serta memiliki parami yang cukup? Who knows?
    ****
    Mengenai istilah “newbie’, terima kasih atas ulasannya. Dan saya sependapat, mengapa kita harus berdebat Dharma, yang lebih penting apakah kita sudah “makan” dan jika ada “makanan” sisa boleh donk berbagi… 🙂

    Mungkin, sekian dulu ceritera pendapat saya.
    Mohon koreksi dan masukan dari rekan-rekan bila ada kekeliruan saya dalam menyampaikan pendapat, tidak terkecuali Bro WLS.

    Deep Bow and thanks,
    Sarvamanggalam.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Deep Bow and thanks a lot,
    Sarvamanggalam 😉

    May All Beings Be Happy

  41. Untuk komentar 35, terima kasih atas koreksi.
    Arahantship yang saya tulis yang membutuhkan parami merupakan teknik dalam “Visudhi Magga”.
    Seorang praktisi Arahantship normal/biasa, ia memang tidak membutuhkan parami untuk mencapai nibbana.
    Namun, dalam berbagai literatur, dikatakan bahwa cukup sulit untuk mencapai tahap “Ariya-Puggala” dengan Arahantship normal/biasa setelah Buddha Gautama parinibbana. Dalam hal ini, dikatakan lebih cepat jika menggunakan teknik “7 Stage of Purification” dalam Visudhi Magga, dalam hal ini membutuhkan cukup parami (bukan penyempurnaan paramita).
    Terima kasih Bro Ratana.

    Deep Bow and thanks,
    Sarvamanggalam.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Anumodana atas pemaparan yang syarat dengan tambahan pengetahuan Bro.

    Kami semua disini membutuhkan tukar-pengetahuan dan tukar-pengalaman sebagai sarana pengembangan spiritual masing2.

    Mettacittena,
    Sabbe satta bhavantu sukkhitatta 😉
    Sadhu..sadhu..sadhu…

  42. kangBoed said

    Salam Persahabatan
    hmm… intinya semua adalah keseimbangan… yayaya.. tercapainya keseimbangan dalam diri dan dengan alam semesta.. terlalu banyak jebakan dan tipuan bagi para pejalan yang harus diabaikan.. karena setiap manusia mempunyai kelemahan kelemahan yang berbeda beda… dan respon alam yang berbeda pula.. begitupun meliputi dimensi lainnya.. sehingga.. banyak yang terpaku disuatu titik perjalanan dan terjebak disana akhirnya berhenti.. sayang sungguh sayang sekali.. makanya.. abaikan semua itu.. hehehe..
    persiapkan perahu itu dengan baik, doronglaaah ke tengaaaah… lalu dayunglaaah sekuat tenaga sekencang kencangnya… jangan hiraukan pemandangan dan keindahan apapun sepanjang perjalanan.. apa lagi berhenti sejenak… sampai engkau sampai di tujuanmu.. Sampai suatu saat bertemu dengan batas pertemuan dua lautaaan… hmm… bolong dong perahunya… weleeh weleeeeh… berenang ya.. menyelaaam… sendiriaaan.. gak bawa apa apaaa… hehehe.. dan akhirnya juga tidak bertemu apa apa… hanya beroleh kesadaran sejati… yaaa kesadaran diri sejati.. untuk menyatu dengan sesama dan alam semesta… memayu hayuning bawono…
    hmm… salah yaaa brooo… hehehe.. maklum OON sur OON…
    Salam Sayang
    Salam Sejati

  43. Tedy said

    Semoga semua makhluk berbahagia!

    Menarik juga nih kontroversi jalur Boddhisatta Vs jalur Arahat. Klo saya pilih yg mana yah…??? Hmm… bingung juga nih. Ahh… saya ngk pengin muluk2. Cukup mencapai pemasuk arus, selebihnya tinggal menunggu arus menghanyutkan lalu mengantarkan saya ke pantai seberang. Ha…ha…ha…

    With metta,
    Tedy

  44. Dear All 😉

    @Brother Nusantaraku ; itu saya ada tambahan komentar untuk anda. Diskusi ini menarik, sangat menarik sekali. Dan banyak manfaat yang bisa kami semua petik dari diskusi ini. Jangan berhenti untuk terus memupuk kamma baik dengan membagikan pengetahuan / pariyati-dhamma Bro 😉

    @Brother Wen Lung Shan ; mohon pencerahannya. Kami semua menunggu pendapat brother Wen Lung Shan sebagai seorang guru agama Buddha. 😉

    @mas Wira Jaka ; bagaimana mas, apakah pertanyaan panjenengan sudah menemukan jawaban, setelah diskusi ini bergulir ? Mohon sharing pendapatnya mas 😉

    @Brother KangBoed, Ngabehi K.M. dan Teddy ; terimakasih atas sharing2nya

    @Saudara2 yang lain ; kami menunggu komentarnya, sharing2nya.

    Peace & Love to All Beings

  45. tomy said

    Wah Budha juga ada macam2 jadinya saya gak bisa ketemuan ma broot..her nih 😥
    Saya ke Borobudur emang pengin nggangsir Mas Hadi tau aja 😳

    Kualitas hidup manusia menurut saya dinilai dari keberaniannya mengambil tanggung jawab penuh atas hidupnya & memBUAT keputusan
    Jalan memang masih sangat panjang, namun kesempurnaan tidaklah egois, seperti kita semua yang sedang berlayar menuju pantai seberang melihat Ibu Pertiwi yang sedang menangis.

    Ariyadana, sumbangan paling mulia apa yang bisa kita berikan. Terus berjalan segera mencapai tujuan untuk menyalakan mercusuar atau berhenti sejenak memberikan yang terbaik dari kita?
    Apapun yang dipilih kebernilaian terletak pada pembuatan keputusan *bukan sekedar mencomot katanya orang* & tanggung jawab penuh atas hidup 😉
    Salam damai & cinta kasih Saudara semua

  46. wira jaka said

    iya mas ….. sudah diwedar oleh bro Nusantaraku, terima kasih banya buat semuanya yang ikut sharing ….

    salam,

  47. nusantaraku berkata
    Mei 6, 2009 pada 1:18 pm e

    Tambahan
    Saya tidak membahas pahala, karena dalam ajaran Buddha yang saya pahami, kita melakukan sesuatu kebajikan bukan semata-mata untuk mendapat pahala. Pahala itu pasti mengiringi tindakan bajik (bak bayangan atau jejak roda pedati).
    Satu lagi, saya pikir pembahasan kita terlalu dalam jika kita masih praktisi pemula. Yang menjadi pertanyaan, apakah sudah memiliki “modal” untuk mengumpulkan bahan dan teknik untuk membuat “rakit”?
    Jika kita sudah tahu memmbuat rakit, namun bahan rakit belum kita kumpulin, bagaimana kita bisa menyebrang?
    Jadi, jika berbicara untuk membuat rakit, maka pilihan yang pertama yakni mengumpulkan parami diringi samadhi.
    Trims

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Saya sependapat dengan anda Bro… ,

    Jika kita berbicara tentang rakit, kemudian membuat rakit, maka pilihan utama kita adalah mengumpulkan parami sebanyak-banyaknya.

    Jika kita belum cukup mempunyai parami, maka memang terlalu jauh untuk membahas hal ini :

    Lebih mulia mana, terus menyeberang tanpa menoleh [jalan arahanta] atau menunda penyeberangan karena menolong banyak makhluk [jalan boddhisatta] ?

    Kesimpulannya, marilah, saudara-saudari, kita semua memupuk dasa – paramitha ( sepuluh – kesempurnaan ) ; “jangan berbuat jahat, perbanyak kebajikan, sucikan hati dan pikiran”.

    Pariyati-dhamma ( dhamma dalam makna ajaran / teori ) sangat dibutuhkan, haruslah kita ‘mampat’kan, kemudian kita teguhkan praktik kita ( patipatti-dhamma ), hingga akhirnya suatu saat akan melewati sembilan tahap ( 4 tahap jalan suci, 4 tahap buah jalan suci, dan Nibbana ), mencapai pembebasan sempurna.

    Anumodana Bro “Nusantaraku”.
    Semoga Mas Wirajaka semakin jelas dengan pemaparan ini, dengan diskusi2 ini.

    Sabbe satta bhavantu sukkhitatta 😉
    Sadhu..sadhu..sadhu… .

    Sarvamanggalam

  48. To: Ratana dan Wira
    Terima kasih atas artikelnya juga, jadi bisa saling belajar dan membangkitkan motivasi.
    Maaf, dalam menyampaikan opini saya lebih suka menggunakan analogi dan bahasa umum, dan jarang menggunakan istilah Pali maupun Sankskrit.
    Seperti kata “modal”= sila (dan/atau paramitha), dharma pengetahuan (pariyatidhamma), dharma praktik (patipattidhamma), dharma akumulasi (pativedha dhamma).
    ****
    Benar Bro Ratana, pemahaman dharma ketika kita telah “trial” dengan tanpa pernah mencoba memiliki pemahamam berbeda. Ketika memahami memberi (dana) sebelum praktik dengan hanya membaca, pemahaman berbeda. Samadhi tanpa Sila akan pincang. “Tanpa sila, latihan samadhi dan panna tidak dapat dilakukan” Sayadaw U Pandita.
    Sila, Samadhi, Prajna (Pemahaman Realita) merupakan salah satu kesatuan.
    Umumnya kita terikat oleh “kebesaran” dualisme dunia, mengetahui dharma bisa membawa pembebasan lalu merasa itu sudah cukup membawa pembebasan. Padahal, untuk mengerti dharma yang lebih tajam, butuh tindakan “bodoh” [membantu orang, lingkungan dll], diiringi praktik berkesinambungan.

    Hanya sedikit diantara manusia yang dapat menyeberang sampai ke pantai seberang, sebagian besar manusia hanya berlari-lari di pantai sebelah sini. {red. meskipun sudah mendengar, membaca dharma] (Dh.85).
    Akan tetapi mereka yang melaksankan Dhamma yang dibabarakan dengan jelas, akan menyeberangi alam kematian yang sukar diseberangi, menuju pantai seberang (Dh.86).
    “Dhammapada VI”

    Sila, Samadhi, Insight(Prajna) selalu berjalan berbarengan.
    Tidak mungkin membicarakan satu tapan dua lainnya. Sila, Samadhi, Insight bersifat “inter-are” (saling menjadikan). Berlatih Sila akan menimbulkan konsentrasi dan konsentrasi dibutuhkan untuk mendapat insight. Perhatian penuh (mindfulness) adalah fondasi untuk konsentrasi (samadhi), samadhi memungkinkan kita untuk melihat secara mendalam (Vippasana), dan insight (prajna) adalah buah dari melihat secara mendalam. Ketika kita berkesadaran, kita dapat melihat bahwa dengan menahan diri untuk melakukan “hal ini”, maka kita telah mencegah “hal itu” terjadi”
    “Ven. Thich Nhat Hanh – The Five-Fold Steps of Training”

    Terima kasih.
    Semoga selalu damai dan berbahagia.
    Sarvamanggalam.

  49. Kadang mas Kumaro,

    Asi jiaaaannn COCOK GALICOK MARKOCOK haaaaaaaaa…
    Agama jangan dijadikan sebagai SARANA untuk MENGHAKIMI sesama makhluk, apatah lagi digunakan sebagai alat PENGGILAS~PENGGERUS kelompok keagamaan tertentu.

    Yupzzz…pada dasarnya AGAMA ( TOTO KAHANAN ) memiliki kesamaan PRINSIP yakni KEBAIKAN~KEBIJAKAN walaupun sangat mungkin dipengaruhi oleh Kultur di amana agama tesebut ada dan muncul. Yang terpenting adalah sejauhmana kita sebagai pemeluk dapat memahami dan mejalankannya dengan BENER lan PENER. Lalu mengapa sih di dunia ini kok banyak AGAMA..???.

    Maaf Kadang Mas Kumaro saya tak niru-niru apa yang tertulis dalam teks book Kitab GARING AQ ” Sekiranya Allah menghendaki niscaya kamu dijadikanNya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberiannya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat ” KEBAJIKAN “. Hanya kepada Allah kembali kamu semuanya. Lalu diberitahukannya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.(Al-Maidah 48).

    Refleksinya adalah :
    1. Agama itu berbeda-beda dari segi aturan hidupnya (syariat) dan
    pandangan hidupnya (aqidah). Karena itu, ” PLURALISME ” sama sekali tidak berati
    semua agama itu sama. Perbedaan label formalitas, warna dan methode pelaksanaannya sudah menjadi ” KENYATAAN ” yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

    2. Tuhan tidak menghendaki kamu semua menganut agama yang tunggal. Keragaman agama itu dimaksudkan untuk menguji kita semua. Ujiannnya adalah seberapa banyak kita memberikan kontribusi kebaikan kepada umat manusia.
    Setiap agama disuruh bersaing dengan agama yang lain dalam memberikan kontribusi kepada kemanusiaan (al-khayrat) berupa AKSI, TINDAKAN dan PERBUATAN dalam WUJUD KARYA NYATA dalam hal berlomba-lomba merealisasikan KEBAIKAN dan KEBAJIKAN serta CINTA KASIH hingga terciptanya KEDAMAIAN dan KEEJAHTERAAN bagi sesama makhluk dan Alam Semesta.

    3. Semua agama itu kembalinya kepada Allah pencipta Langit dan Bumi. Islam, Hindu, Budha, Nashrani, Yahudi kembalinya kepada Allah. Adalah tugas dan wewenang Tuhan untuk menyelesaikan perbedaan di antara berbagai
    agama. Kita tidak boleh mengambil alih ” HAK PREROGARTIF ” Tuhan untuk menyelesaikan perbedaan agama dengan cara
    apa pun, termasuk dengan fatwa mengatas namakan salah satu Agama sekalipun untuk MENGGERUS keyakinan orang/agama lain…..!!
    Yang perlu kita PAHAMI dan camkan baik-baik adalah ” AGAMA BUKANLAH sarana untuk MENGHAKIMI sesama manusia…!.

    DAMAI DIHATI…DAMAI DIBUMI…

    Salam…Salim…Rahayu…
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear Kakang-Mas Santri Gundhul 😉

    Maturnuwun, terimakasih sudah kersa [sudi] mampir ke blog ini mas… 😉

    Iya mas, semoga, kita semua bisa memaknai agama dengan benar. Seringkali, agama menjadi sumber kejahatan, peperangan, pembunuhan, dan lain2 hal. Semoga, kita bisa menggunakan agama ini sebagai sarana pembebasan diri dari segala bentuk penderitaan. Semoga semua makhluk hidup damai, tenteram, tenang hatinya… 😉

    Salam sihkatresnan kangmas 😉

    Terimakasih sedalam2nya 😉

  50. buddhi~RED said

    kalo buat saya pribadi,adalah benar jikalau,lagu dan menyanyi memang bisa termasuk lobha,karena tanpa sadar bisa membuat seseorang berbangga diri oleh sebab di gunakan dengan pangkal niat yg salah,yaitu untuk sarana “menunjukkan kebisaan dan kebanggaan diri” kepada sesamanya demi memperoleh “sanjungan” serta “pujian” dari orang banyak.

    Tapi di jaman sekarang,bukan “lagu” dan “menyanyi” saja loh yg bisa membuat seseorang dicengkeram lobha,coba di teliti dan dititeni oleh masing2 pribadi….monggo 🙂

    Salam 😀

    “Some plays golf,I Play Guitar” 😀
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear mas Buddhi 😉

    Wah, mas, kalau maen Guitar juga ada caddy-nya gak ? 😀 :mrgreen:

  51. To : All

    Naca gita vadita visukadassana malagandha vilepana dharana mandana vibhusanatthana veramani sikkhapadam samadiyami

    artinya:

    Saya akan bertekad melatih diri untuk menghindari menari, menyanyi, bermain musik, melihat pertunjukkan, memakai bunga2an, wangi-wangian, pomade dan perhiasan2 bersolek lannya.

    (Kamus Buddha Dharma Pandit J Kaharuddin halaman 242)

    Peraturan tersebut bukanlah untuk para bhikkhu/ni, namun peraturan tersebut merupakan peraturan untuk umat perumah tangga yg ingin melatih dirinya pada saat uposattha (masuk kedalam latihan).

    Untuk itu Sang Buddha menunjukkan bahwa bernyanyi ..(seperti di atas) merupakan salah satu perbuatan lobha. Untuk lebih jelas lagi perbuatan lobha terdiri dari 8 jenis yg ada di dalam kitab Abhidhammatasangaha. Nanti setelah saya mengajar dulu.

    Anumodana telah diberikan kesempatan untuk berbuat baik.

    Mettacittena
    Ali Sasana Putra

  52. Dear All Brother & Sisters 😉

    Anumodana, terimakasih yang sedalam-dalamnya atas peran serta aktif dalam berbagi pengetahuan di blog ini 😉

    Tak lupa, saya, Upasaka Ratana Kumaro / Ratna Kumara, mengucapkan :

    Selamat Hari Raya Tri Suci Waisak 2553 Buddhist Era [BE] / 2009 Masehi [M]. Semoga berkah Waisak senantiasa melimpah dalam kehidupan Bapak, Ibu, Saudara, Saudari, dan para sahabat tercinta beserta seluruh sanak-keluarga dan kerabat, Pemerintah, Bangsa dan Negara Indonesia.

    Mari kita berharap agar keharmonisan dan keutuhan bangsa tetap terjaga dan berkembang makin baik ; sesuai tema Waisak kita pada tahun ini, : “Kehadiran Buddha Sumber Keharmonisan dan Keutuhan Bangsa”

    Marilah, Bapak, Ibu, saudara, saudari, para sahabat tercinta beserta seluruh sanak-keluarga dan kerabat, memanfaatkan momentum peringatan hari raya Waisak 2553 BE / 2009 Masehi ini, sebagai titik-tolak kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis, aman, damai , sejahtera, dan sentausa.

    Sabbe Satta Bhavantu Sukkhitatta
    Sadhu…sadhu…sadhu…

    [ NB : dua hari ini, saya , belum bisa meng-upload artikel2 baru, karena ada sedikit trouble pada wordpress-admin saya. Ingin rasanya menyapa saudara-saudara, para sahabat tercinta dengan pembahasan dhamma yang berikutnya. Namun dikarenakan ada sedikit masalah ini, semoga kita tetap bisa berkumpul disini bersama2 belajar dan membahas Dhamma. Mettacittetna. 😉 ]

  53. To : All

    Untuk kita renungi menyambut hari Tri Suci Waisak.
    Lobhamula Citta 8:

    1. Kesadaran yg timbul tanpa ajakan, disertai kesenangan, bersekutu dengan pandangan salah.
    Contohnya: Ada orang yg bernyanyi dengan penuh kesenangan, dilakukan terus menerus tanpa mengetahui bahwa hal tersebut adalah menambah lobha.

    2. Kesadaran yg timbul dengan ajakan, disertai kesenangan, bersekutu dengan pandangan salah.
    Contohnya: Ada orang yg bernyanyi dengan penuh kesenangan, dilakukan terus menerus tanpa mengetahui bahwa hal tersebut adalah menambah lobha namun diajak oleh orang lain.

    3. Kesadaran yg timbul tanpa ajakan, disertai kesenangan, tidak bersekutu dengan pandangan salah.
    Contohnya: Ada orang yg bernyanyi dengan penuh kesenangan, ia mengetahui bahwa bernyanyi dapat menambah lobha.

    4. Kesadaran yg timbul dengan ajakan, disertai kesenangan, tidak bersekutu dengan pandangan salah.
    Contoh: Ada orang yg bernyanyi dengan penuh kesenangan, ia mengetahui bahwa bernyanyi dapat menambah lobha namun diajak oleh orang lain.

    5. Kesadaran yg timbul tanpa ajakan, disertai masa bodoh, bersekutu dengan pandangan salah.
    Contoh: Ada orang yg bernyanyi dengan tidak terlalu penuh kesenangan, dilakukan terus menerus, ia tidak mengetahui bahwa bernyanyi dapat menambah lobha.

    6. Kesadaran yg timbul dengan ajakan, disertai masa bodoh, bersekutu dengan pandangan salah.
    Contohnya: Ada orang yg bernyanyi dengan tidak terlalu penuh kesenangan, dilakukan terus menerus, ia tidak mengetahui bahwa bernyanyi dapat menambah lobha, namun ia melakukan hal itu dengan ajakan.

    7. Kesadaran yg timbul tanpa ajakan, disertai masa bodoh, tidak bersekutu dengan pandangan salah.
    Contohnya: Ada orang yg bernyanyi dengan tidak terlalu penuh kesenangan, ia mengetahui bahwa bernyanyi dapat menambah lobha.

    8. Kesadaran yg timbul dengan ajakan, disertai masa bodoh, tidak bersekutu dengan pandangan salah.
    Contoh: Ada orang yg bernyanyi dengan tidak terlalu penuh kesenangan, ia mengetahui bahwa bernyanyi dapat menambah lobha, namun ia melakukan hal tersebut karena diajak.

    YG manakah lobha setiap hari yg sering anda lakukan???
    Untuk no. 3, 4, 7 & 8. Bila anda lakukan lobha pada no tsb, maka lobha anda akan sedikit demi sedikit terkikis! Mengapa karena disitu terdapat ditthigatavippayutta (tidak bersekutu dengan pandangan salah). Sehingga kita tidak mau mengulangi perbuatan lobha lagi. Namun, bila ditthigatasampayutta (bersekutu dgn pandangan salah), kemungkinan besar maka kita akan terus melakukan lobha setiap moment!!!

    Saran saya bila anda harus terpaksa melakukan lobha, paling tidak lakukanlah lobha no. 8.

    Apakah respon indera kita bila kontak dengan obyeknya???

    Mettacittena
    Ali

  54. To: All
    Selamat Tri Suci Waisak, Semoga Semua Makhluk Berlatih Kesadaran menuju Kebahagiaan.
    ***
    Dear Bro WLS
    Apakah semua bentuk “nyanyian” hingga yang “berbau” dharma adalah didasari oleh 8 akusala cittani yang didasari oleh lobha?
    Karena menurut saya, ada sebagian kecil orang yang kesadarannya bangkit justru terbantu karena bantuan “nyanyian”. Misalnya di Plum Village, peserta retreat Mindfulness Living juga menyanyikan lagu selalu menguatkan motivasi agar jika setiap kesempatan (aware), mereka dapat berlatih mindfulness:

    Breathing in, breathing out,
    Breathing in, breathing out,
    I am blooming as a flower,
    I am fresh as the dew.
    I am solid as a mountain,
    I am firm as the earth.
    I am free.

    Breathing in, breathing out.
    Breathing in, breathing out.
    I am water, reflecting
    What is real, what is true.
    And I feel there is space,
    Deep inside of me.
    I am free, I am free, I am free.

    *** bernada, tanpa musik

    Setiap orang memiliki metode/cara yang berbeda dalam menangkap pelajaran, ada secara audio (pendengaran), visual, kinestik ataupun gabungan dari dua atau tiganya.
    Saya sependapat jika nyanyian dengan musik yang berkonten “mengurangin kesadaran” ataupun “memunculkan hasrat berlebihan/terlena”, maka itu akan menurunkan kesadaran yang berlanjut pada pelanggaran sila.
    Saya pikir, konteks nyanyi di kala Buddha Gautama dengan saat ini mengalami perubahan. Hal yang sama pada aturan seperti di dalam
    Patimokha Sikkhapada ke-106 (Surapana Vagga) :
    Bathing at Intervals of less than a fortnight, unless on certain occasions, is a pacittiya offence
    Dalam sila ini, dijelaskan bahwa seorang bikkhu hanya boleh mandi sekali dalam 2 minggu, kecuali ada hal yang mendesak (urgent). Namun, pada akhirnya hal ini hanya diberlakukan khusus untuk wilayah India yang kekeringan air (Majjhima Desa).
    Hal serupa bahwa penggunaan HP. Bolehkan seorang Bikkhu menggunakan HP? 10 tahun yang lalu, HP merupakan barang mewah dan kebutuhan (needs) belum setinggi saat ini. Namun, saat ini HP telah menjadi barang biasa, dan tentu penggunaan HP harus sesuai kebutuhan. Jika kita terpaku dan melihat suatu aturan hanya 1 sisi, maka penggunaan HP, penggunaan pesawat terbang, tentu melanggar aturan.
    Saya pikir, yang cukup penting apakah motivasi dari semua itu untuk meningkatkan kesadaran spiritual bagi diri sendiri dan orang lain atau hanya kesengan semata
    Pendapat ini bukan berarti “melegalkan” semua jenis nyanyian, namun kita lihat apakah nyanyian tersebut memiliki konten yang baik atau tidak.
    Bukankah bagi orang “non-Buddhis” membaca paritta tidak jauh berbeda dengan “nyanyi”? Karena ada intonasi ketika membaca sutta.
    Jika kondisinya seperti diatas, bukankah tidak semua tindakan menggunakan lagu (objek) untuk nyanyi (prediket) belum tentu didasarkan oleh Akusala Cittani? Dan mungkin sebaliknya bisa termasuk satu dari Attha Kamavacara Kusala Cittani?
    ***
    Nyanyi (KBBI) : mengeluarkan suara bernada, berlagu (dgn lirik atau tidak).

    Terima kasih,sekadar sharing.
    Mohon dikoreksi jika ada yang salah.

    Deep bow,
    Sarvamanggalam.

  55. To: Bro Ratana
    Tidak bisa maksud admin atau tidak bisa posting?
    Semoga cepat-cepat “sembuh”, ditunggu artikel menariknya terutama liputan Watugong.

  56. Dear All 😉

    @Bro Wen Lung Shan , anumodana atas pemaparannya. By the way, saya dulu penyanyi lo Bro, malah sempet rekaman lagu Buddhis segala. Tapi sudah dua (2) tahun ini, praktis aktivitas menyanyi dalam bentuk apapun juga saya hentikan. Juga, segala koleksi lagu2 MP3 , CD , dll, telah saya singkirkan. Mencoba berpraktik Sila saja Bro 😉

    @Nusantaraku. Pemaparan anda juga sangat menarik. Wah3x…, ini para ahli Abhidhamma sudah kumpul nih ceritanya, baiklah kalau begitu,” murid ikut menyimak guru!” 😀

    Kami semua siap mendengarkan dengan seksama loh pemaparan bro Wen Lung Shan dan Bro Nusantaraku 😉

    Bro Nusantaraku, sudah dua hari ini, kalau saya posting artikel, settingannya berubah. Biasanya, saya ketik dulu di microsoft word, saya atur font size, font colour, dll. Setelah itu tinggal copy-paste ke dalam wordpress. Tapi, dua hari ini, setiap saya copy paste, maka font size dan font colour serta settingan yang lain ( indentasi, spasi ) jadi berubah tidak sesuai yang telah saya atur. Juga, ketika mau upload foto2 sebagai ilustrasi, admin / mesin wordpress tidak bekerja seperti biasanya ( tidak merespon ).

    Wah2x…, padahal saya sudah menyiapkan setidaknya dua artikel baru nih 😉 Belum lagi besok liputan detik2 Waisaka-Puja di vihara Watugong Semarang. Mungkin Bro Nusantaraku pernah mengalami hal yang sama ? Jika iya , mungkin anda punya solusinya untuk saya ? 😀

    Terimakasih banyak untuk anda semua , para pengunjung blog ini yang sudi berbagi pengetahuan. Juga untuk Brother Wen Lung Shan dan Nusantaraku yang sudi memberikan tetesan sejuk “embun” Dhamma Sang Buddha yang menyegarkan kami semua 😉

    Dhamma, sungguh dalam luar biasa 😉 Pembicaraan Dhamma adalah pembicaraan yang bermanfaat 😉

    Mettacittena,
    _/\_ Hormat saya untuk anda semuanya
    😉

  57. TO: ALL

    MAY ALL GET ENLIGHTENMENT IN EVERY MOMENT ….KEEPT AWARE IN OUR MIND….

    HAPPY WAISAK DAY….
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Namatthu Buddhassa 😉

    Dear Bro Wen Lung Shan,

    Terimakasih atas dhamma-dana yang anda lakukan selama ini.

    “DHAMMA DANAM JINATI”

    Happy Vesakh Day, Bro 😉

    Peace & Love

  58. mulyono~RED said

    Untuk yang merayakan : saya ucapkan Selamat hari Tri Suci Waisak.
    Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

    btw , ada artikel dari Gede Prama, yang ingin saya bagikan disini.
    Mungkin ada yang sudah pernah mendengar atau membacanya, semoga bermanfaat.

    Burung Dengan Sebelah Sayap
    Oleh : Gede Prama

    Seorang SAHABAT dengan potensi tinggi, mengeluh berat setelah pindah-pindah kerja di lebih dari lima tempat
    Tadinya, saya fikir ia mencari penghasilan yang lebih tinggi.
    Setelah berganti istri sejumlah tiga kali, dengan berbagai alasan yang berbau tidak cocok, ia kemudian merasa capek dengan kegiatan berganti-ganti pasangan ini.
    Digabung menjadi satu,
    Bercermin dari semua inilah, maka sering kali saya ungkapkan di depan lebih dari ratusan forum,
    Sayangnya,
    Padahal,
    Anda boleh berpendapat lain, namun pengalaman, pergaulan
    dan bacaan saya menunjukkan dukungan yang amat kuat terhadap pengandaian burung bersayap sebelah terakhir.
    hampir tidak pernah saya bertemu pemimpin berhasil tanpa kemampuan bekerja sama dengan orang lain.
    tidak pernah saya temukan keluarga bahagia tanpa kesediaan sengaja untuk ‘berpelukan’ dengan anggota keluarga yang lain.
    orang sehebat Nelson Mandela dan Kim Dae Jung bahkan mau ……… berpelukan bersama orang yang dulu pernah menyiksanya
    Ia tidak saja merubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, mentransformasikan kegagalan menjadi keberhasilan, namun juga membuat semuanya tampak indah dan menyenangkan
    Rugi besarlah manusia yang selama hidupnya tidak pernah mengenal cinta
    Ini semua, mendidik saya untuk hidup dengan pelukan cinta.
    Di pagi hari ketika baru bangun dan membuka jendela, saya senantiasa berterimakasih akan pagi yang indah. Dan mencari-cari lambang cinta yang bisa saya peluk. Entah itu pohon bonsai di halaman rumah, ikan koi di kolam, atau suara anak yang rajin menonton film kartun. Begitu keluar dari kamar tidur, akan indah sekali hidup ini rasanya kalau saya mencium anak, atau istri.

    Melihat burung gereja yang memakan nasi yang sengaja diletakkam di pinggir kali , juga menghasilkan pelukan cinta tersendiri. Demikian juga dengan di kantor, godaan memang ada banyak sekali. Dari marah, stres, frustrasi, egois sampai dengan nafsu untuk memecat orang.

    Demikian juga dengan di kantor, godaan memang ada banyak sekali. Dari marah, stres, frustrasi, egois sampai dengan nafsu untuk memecat orang.

    Namun, begitu saya ingat karyawan dan karyawati bawah yang bekerja penuh ketulusan, dan menghitung jumlah perut yang tergantung pada kelangsungan hidup perusahaan, energi pelukan cinta entah datang dari mana.

    Tuhan memang tidak pernah melahirkan manusia yang sempurna.
    Mau belajar, berjuang, berdoa, bermeditasi atau sebesar dan sehebat apapun usaha kita, semuanya akan diakhiri dengan jumlah sayap yang hanya sebelah.

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear Mas Mulyono 😉

    Cerita yang sangat menyentuh, membangkitkan kesadaran untuk memenuhi hati kita semua dengan cinta-kasih 😉

    Selamat merayakan hari raya Tri Suci Waisak 2553 Buddhis Era [BE] / 2009 Masehi untuk mas Mulyono sekeluarga 😉

    Sabbe satta sukhita hontu, nidukha hontu, avera hontu, abyapaja hontu, anigha hontu, sukkhi attanam pariharantu 😉

    Mettacittena 😉

  59. Tedy~RED said

    To : All dan rekan2 se-dhamma

    NAMO TASSA BHAGAVATO ARAHATO SAMMASAMBUDDHASSA…

    SELAMAT HARI RAYA TRISUCI WAISAK!
    SEMOGA TIRATANA SENANTIASA MEMBERKAHI SEMUA MAKHLUK!

    With metta,
    Tedy
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear Tedy 😉

    Saya ucapkan juga ,“Selamat merayakan hari raya Tri Suci Waisak 2553 Buddhis Era [BE] / 2009 Masehi. Semoga Sang Ti-ratana senantiasa memberkahi Tedy sekeluarga, dan kita semuanya 😉 “

    Sabbe satta bhavantu sukkhitatta! 😉
    Mettacittena 😉

  60. kangBoed said

    Untuk semua umat Budha :
    Salam Cinta dan Damai dalam Kasih Sayang Abadi..

    SELAMAT HARI RAYA TRISUCI WAISAK !!!

    Sudah saatnya.. kita menikmati indahnya Kebersamaan dalam Perbedaan… sungguh satu kehidupan yang ruaaar biasa… sesuai dengan prinsip “Bhineka Tunggal Ika”.. walau berbeda.. pada hakikatnya tetap bias yang SATU.. ESA tiada berbagi..

    Salam Sayang
    Salam Hormat
    Salam Taklim..

  61. To: Bro Ratana
    Namaste svatihottu, Selamat Tri Suci Waisak.
    1. Komentar nomor 48 saya dihapus saja, karena duplikasi di 49
    2. Maaf, saya sama sekali bukan ahli Abhidhamma. Murni cuman “newbie” saja. Pasti Pak WLS jauh lebih expert dalam hal ini.
    3. Kemungkinan besar karena wordpress (WP) lagi memperbaiki sistem statistik blognya. Dulu saya seperti Bro mengetik dulu di word lalu copy paste. Namun, kini saya lebih suka pake sistem default dari WP via ketik di notepad, lalu atur tata warna dari menu WP. Tampilan dari Ms.Word sangat mungkin kacau jika Bro ntar ganti Thema.

    Salam hormat,
    Sarvamanggalam.

  62. Tedy said

    Semoga semua makhluk berbahagia!

    Sobat2ku se-dhamma, ngomong2 mengenai abhidhamma, saya pernah mendengar opini bahwa kitab abhidhamma pernah “dicuri” oleh para dewa. Benarkah opini tersebut? Atau hanya rumor belaka? Jika memang benar, utk alasan apa para dewa mengambilnya?

    Mohon sharing dari sobat2 se-dhamma, jika ada yg pernah mendengar informasi tersebut. Anumodana atas sharing-nya.

    With metta,
    Tedy

  63. To: Bro Tedy
    Semoga Selalu Damai dan Bahagia.
    Saya belum pernah mendengar opini seperti itu. Emang ceriteranya seperti apa?
    Sepengetahuan saya, pada awalnya Abhidhamma tidak mendapat “prioritas” utama dalam Konsili I dan II dimana masih membahas Vinaya dan Sutta. Abhidhamma merupakan ajaran intelektualitas dan pemahaman tinggi, Buddha hanya mengajarkan kepada para Dewa yang terjadi beberapa saat setelah Buddha mencapai Nibbana di Surga Tavatimsa. Ajaran-ajarannya ini kemudian disampaikan hanya kepada Sariputra. Untuk Vinaya-Sutta bersama Abhiddhama baru sempat ditulis setelah sekitar 500-an tahun Buddha Parinibbanna yakni pada Konsili ke-4 di Ceylon (Abad 1 M). Jadi, jika opininya dikatakan dicuri kurun waktu sebelum abad 1 Masehi,maka itu mustahil.
    Dari 3 tradisi utama : Theravada, Mahayana, Vajrayana, ada perbedaan dalam konten Abhiddhamma. Sedangkan Vinaya dan Sutta bisa dikatakan sama 99%. Sedangkan Abhidhamma terutama skrip Theravada sedikit berbeda dengan skrip Sarvastivada-Mahayana (yang kemudian berkembang menjadi Madhyamika) yang mengabungkan aspek shunyata (Mahayana) dan relatif (Saravativada).
    Salah satu perbedaan mendasar dari Abhidhamma antara Theravada dan Mahayana Umum (Mahayan dan Vajrayana) adalah konsep ontologi.
    *****
    Maaf, cuma sharing mengenai ini saja (analisis waktu dan analis versi). Dan meninggalkan pertanyaan untuk Bro Tedy kembali, yakni Abhiddhama yang mana Dewa curi, waktunya kapan (Abad ke berapa)?

    • Tedy said

      To : Brother Nusantaraku

      Salam hormat utk anda. Saya juga tidak tahu pastinya, hanya mendengar rumor saja, justru itu saya menanyakan kepastiannya.

      Saya mau nanya Bro, dari kutipan tulisan anda.

      “Abhidhamma merupakan ajaran intelektualitas dan pemahaman tinggi, Buddha hanya mengajarkan kepada para Dewa yang terjadi beberapa saat setelah Buddha mencapai Nibbana di Surga Tavatimsa”

      Apakah benar setelah Buddha mencapai nibbana, Beliau masih mengajarkan abhidhamma kepada para Dewa di surga tavatimsa? Anumodana atas sharing anda.

      With metta,
      Tedy

    • Bro Tedy
      Maaf, Nibbana artinya mencapai penerangan sempurna, mencapai kondisi yang bebas dari kondisi, atau mencapai kebuddhaan. Jadi, dalam konteks ini, Nibbana dapat dicapai selama masih hidup.Jika sudah mati, namanya parinibbana.
      Mengenai Abhidhamma sendiri sebenarnya ada perbedaan pendapat, apakah YA Sariputra sempat mengajar dengan lengkap apa yang disampaikan Buddha Gautama ketika Buddha mengajar di Tavatimsa.
      Namun, versi khususnya Theravadin, disebutkan bahwa setelah massa vassa (tahun) ke-7 mencapai kebuddhaan, Buddha Gautama mengajarkan Abhiddhama di atas singgasana di Tavatimsa, siang dan malam. Yang hadir saat itu adalah para dewa termasuk Ibundanya, Dewi Maya yang turun dari Tusita.

      Dikatakan pula bahwa kecepatan kata-kata yang terucap dari Buddha adalah 128 kali lebih cepat, dan Buddha dapat mengajar semua Abhiddhama dengan komplit. Yang menariknya adalah, selama 3 bulan Buddha mengajarkan Abhiddhama di Tavatimsa, namun ia masih menjalankan kehidupan sebagai “manusia tercerahkan” di bumi pada pagi harinya. Jadi, pada paginya Buddha tetap melakukan pindapata, namun siangnya kembali ke Tavatimsa. Disisi lain, dikatakan Buddha mengajarkan Abhiddhama siang-malam non-stop. Ternyata, ketika Buddha turun ke dunia, Buddh mengembangkan kekuatan bathinnya membentuk Buddha tiruan di Tavatimsa.
      Ketika turun di dunia, setiap hari Buddha menyampaikan intisari ajaran Abhidhamma yang disampaikan di Tavatimsa kepada Y.A Sariputra. Lalu, disebutkan bahwa apa yang disampaikan Buddha kepada Sariputra, kemudian Y.A Sariputra mengajar kembali kepada 500 Bhikkhu bimbingannya. Tentunya, apa yang diajarkan tidak selengkap seperti Buddha sampaikan kepada YA. Sariputra. Dan menariknya juga adalah 500 bhikkhu tersebut ternyata pernah mendengar ceramah Abhiddhamma di masa Buddha Kassapa, namun pada saat itu mereka hidup sebagai kelelawar. Karena adanya “karmic link” dan akumulasi karmanya, maka ke-500 buku tersebut berjodoh mendapat ajaran Abhiddhamma. Namun, ini hanya salah satu versi. Versi lain, karena Abhiddhamma tidak totally diajarkan oleh Y.A Sariputra, maka lalu philosophy Abhiddhama berkembang melalui satu generasi ke generasi lain. Hal ini cukup dominan dalam philosophy Vajrayana.

      Demikian penjelasan sedikit lebih panjang.
      Terima kasih.
      ****
      Bro Ratana
      Terima kasih sudah desain yang lebih “oke” blognya.
      Salam Metta.

      ****

      Sarvamanggalam.

  64. halo mas Ratana,

    saya mau numpang nanya lagi hehe 😀

    seperti yang kita ketahui,
    bahwa dikatakan Sang Buddha pergi ke alam dewa untuk mengajar Abhidhamma kepada para Dewa.
    Apakah ini berarti pada masa itu sang Buddha bisa pergi ke semua 31 alam kehidupan?

    Bila sang Buddha bisa pergi ke semua 31 alam kehidupan, kenapa Sang Buddha tidak pergi ke alam Arupa Bhumi (Arupaloka) untuk mengajarkan Dhamma kepada Alara Kalama dan Udaka Ramaputta ?

    mohon petunjuk dari mas Ratana 😀
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear zentao.ba 😉

    Sepanjang yang saya ketahui, alam Arupaloka adalah alam tak-berbentuk. Para Arupa-Brahma, mempunyai batin yang “tidak-bergerak”. Jadi, beliau-beliau ini tidak akan bisa menerima pelajaran dan pengajaran mengenai Dhamma. Bagaimana mungkin bisa menerima pelajaran dan pengajaran mengenai Dhamma jika batin tidak bergeming ?

    Untuk saudara-saudara se-Dhamma yang lain, mohon sudi memberikan pandangannya mengenai perkara ini 😉

    Peace & Love

  65. To: Bro Zentao.ba

    Artikel anda:
    Bila sang Buddha bisa pergi ke semua 31 alam kehidupan, kenapa Sang Buddha tidak pergi ke alam Arupa Bhumi (Arupaloka) untuk mengajarkan Dhamma kepada Alara Kalama dan Udaka Ramaputta ?

    Penjelasan:
    Sesungguhnya alam-alam kehidupan merupakan vipaka dari makhluk-makhluk sesuai dengan perbuatannya.

    Alam Arupa Brahma merupakan alam yg makhluknya telah meraih Jhana dengan menggunakan obyek tak berbentuk sehingga mereka memperoleh Arupa Jhana. Dan mereka terlahir kembali dengan kekuatan Arupa Jhana tanpa memiliki jasmani.

    Sesungguhnya bagi mereka yg telah meraih Arupa Jhana dan memang sudah terbiasa berVipassana, maka kemungkinan besar mereka akan meraih Magga dan Phala disana (arupa loka) sesuai dgn parami mereka.

    Namun permasalahannya, apabila mereka tidak pernah tahu praktik dan teori untuk bervipassana maka mereka akan ‘diam’ pada Arupa Jhananya yg akan menjadi Nimmita saat cuti citta nanti. Dan pikiran mereka berproses sehingga mampu menyebabkan kondisi baru (sankhara).

    Maaf untuk Bro Ratna Kumaro. Saya baru kali ini membaca konsep tentang Arupa Brahma yaitu:

    Sepanjang yang saya ketahui, alam Arupaloka adalah alam tak-berbentuk. Para Arupa-Brahma, mempunyai batin yang “tidak-bergerak”. Jadi, beliau-beliau ini tidak akan bisa menerima pelajaran dan pengajaran mengenai Dhamma. Bagaimana mungkin bisa menerima pelajaran dan pengajaran mengenai Dhamma jika batin tidak bergeming ?

    Mohon penjelasannya tentang TAK BERGEMING.

    Apakah bila tidak salah konsep tersebut lebih tepatnya digunakan untuk makhluk Asannasatta Bhumi. Karena mereka bertumimbal lahir dengan kekuatan Patisandhi Rupa karena mereka hanya memiliki Rupa Jhana 5 (menurut Abhidhamma)dan memiliki konsep miccha ditthi tentang batin lah yg menyebabkan dukkha sehingga saat mereka akan cuti citta mereka menggunakan Rupa Jhana 5 nya dengan menekan batinnya agar tidak timbul sehingga mereka terlahir dalam keadaan tak berbatin. Lihat Bhumi dan Puggala.

    Asannasatta Bhumi ini hidup karena kekuatan vipaka saja tanpa membuat kamma baru sebagai sebab. Di alam ini mereka tidak memiliki batin, namun hanya memiliki jasmani (rupa). Jasmani mereka bukan seperti gunung/batu. Ini merupakan salah kaprah dari penjelasan sebagian orang. Seperti yg kita ketahui bahwa alam Rupa Brahma dijelaskan bahwa jasmani mereka berbentuk sinar. Untuk 1 makhluk Brahma memiliki sinar yg lebih terang dari matahari. Mereka yg hidup di alam Asannasatta tidak dapat bervipassana).

    Untuk itu dalam Patidana mereka dikatakan makhluk yg memiliki 1 gugusan (hanya rupa/jasmani). Untuk Arupa Brahma dalam patidana mereka disebut makhluk yg memiliki 4 gugusan (batin/nama.

    Untuk mampu bervipassana dengan baik kita harus mampu mengamati gerak-gerik batin dan jasmani.

    Contoh :

    Batin mengamati jasmani, batin mengamati batin. Apa yg diamati? Adalah sankhara yg muncul yg selalu berubah, tidak memuaskan, dan tanpa inti/diri.

    Mohon dikoreksi bila tulisan saya tidak sesuai dengan Dhamma.

    Anumodana
    Ali

    • Namo Buddhaya 😉
      Dear Bro Wen Lung Shan 😉

      Terimakasih atas ulasan Dhammanya.
      Dan terimakasih juga untuk koreksi atas kekeliruan saya.

      Ya, anda benar, apa yang saya terangkan adalah “Asannasatta” ~ Alam para makhluk tanpa pikiran. Dan alam ini masih dalam lingkup Rupa-Brahma.

      Sedikit menambahkan penjelasan Asannasatta :

      Dalam alam ini sama sekali tidak ada unsur batiniah. Kelahiran di alam ini terjadi karena pengembangan perenungan yang memuncak terhadap unsur batiniah yang menjijikkan sehingga makhluk ini tak menginginkannya lagi (saññâvirâgabhâvanâ). Usia makhluk di alam sama dengan alam Vehapphala, yakni mencapai 500 Maha Kappa. Dialam Asannasatta ini makhluk-makhluk dilahirkan tanpa suatu kesadaran.Disini hanya terjadi perubahan jasmaniah secara terus menerus. Pikiran untuk sementara dihentikan ketika kekuatan Jhana berlangsung. Karena tidak dilengkapi dengan unsur-unsur batiniah, di alam ini sama sekali tidak ada kesempatan untuk mengembangkan kebajikan. Makhluk-makhluk yang terlahirkan secara jasmaniah hanya sekadar menghabiskan akibat perbuatan lampaunya.

      Bro, mohon penjelasan lebih lanjut, mengapa Sang Buddha tidak mengajarkan Dhamma kepada Alara Kalama dan Udaka Ramaputta ?

      Mohon rekan-rekan se-Dhamma sudi berbagi pengetahuan untuk kami semua.

      Anumodana,
      Mettacittena,
      Ratana Kumaro 😉

      • Namatthu Buddhassa 😉
        Dear All, ingin sedikit menambahkan kisah sesaat setelah Sang Buddha mencapai Pencerahan Sempurna.

        Saat itu Maha-Brahma Sahampati ( salah satu Dewa-Brahma ) bersujud kepada Sang Buddha dan memohon agar Sang Buddha sudi membabarkan Dhamma. Kisah ini saya kutipkan dari buku “Riwayat Agung Para Buddha”, karya Tipitakadhara , Mingun Sayadaw ( Myanmar ) :

        Setelah Mahàbrahmà Sahampati meninggalkan tempat itu, Buddha merenungkan, “Kepada siapakah Aku akan mengajarkan Dhamma pertama kali? Siapakah yang dapat dengan cepat memahami Dhamma yang Kuajarkan?” Kemudian Beliau berpikir, “Pemimpin aliran âlàra dari suku Kalama memiliki tiga pannà, yaitu: pengetahuan akan kelahiran (jàti-pannà), pengetahuan meditasi (bhàvanà-pannà), dan pengetahuan melestarikan (pàrihàrika-pannà). Ia juga seorang yang mata kebijaksanaannya telah bebas dari debu kilesa (upparajakkha puggala) dalam waktu yang sangat lama. Baik sekali jika Aku mengajarkan Dhamma kepadanya pertama kali. Ia akan melihat jelas Dhamma yang Kuajarkan.”
        Setelah itu, dewa datang tanpa menampakkan dirinya dan berkata, “Buddha yang mulia, hari ini telah lewat tujuh hari sejak pemimpin aliran âëàra dari suku Kalama meninggal dunia.” Buddha, yang tidak menyangka akan mendengar kata-kata dewa tersebut, melihat melalui Sabbannuta Nàna dan mengetahui bahwa âlàra sungguh telah meninggal dunia tujuh hari yang lalu seperti disebutkan oleh dewa tersebut dan telah terlahir di Alam Arupa Brahmà âkincannàyatana, Alam Brahmà Arupa Ketiga.

        Setelah merenungkan, “Kerugian besar bagi pemimpin aliran âlàra Kalama kehilangan kesempatan menembus Magga-Phala yang layak ia dapatkan; jika ia dapat mendengarkan Dhamma yang Kuajarkan, ia akan dengan cepat melihat Empat Kebenaran Mulia.” Buddha kemudian merenungkan lebih jauh, “Kepada siapakah Aku akan mengajarkan Dhamma pertama kali? Siapakah yang dapat dengan cepat memahami Dhamma yang Kuajarkan?” Kemudian Beliau berpikir, “pemimpin aliran Udaka, putra Rama, adalah seorang yang seperti âlàra, memiliki tiga Pannà. Ia juga seorang apparajakkha puggala. Mata kebijaksanaannya bebas dari debu kilesa dalam waktu yang sangat lama. Baik sekali jika Aku mengajarkan Dhamma kepadanya pertama kali. Ia akan melihat jelas Dhamma yang Kuajarkan.”
        Setelah itu, dewa yang lain datang tanpa menampakkan dirinya dan berkata, “Buddha yang mulia, pemimpin aliran Udaka, putra Rama telah meninggal dunia tengah malam kemarin.” Buddha, yang tidak menyangka akan mendengar kata-kata dewa tersebut, melihat melalui Sabbannuta Nàna dan mengetahui bahwa pemimpin aliran Udaka sungguh telah meninggal tengah malam sebelumnya seperti yang disebutkan oleh dewa tersebut dan telah terlahir di Alam Arupa Brahmà Nevasannàvàsannàyatana, Alam Brahmà Arupa keempat (disebut juga Bhavagga) dari empat Alam Aråpa Brahmà.

        Setelah itu, (merenungkan), “Kerugian besar bagi pemimpin aliran Udaka, putra Rama, kehilangan kesempatan menembus Magga-Phala yang layak ia dapatkan; jika ia dapat mendengarkan Dhamma yang Kuajarkan, ia akan dengan cepat melihat Empat Kebenaran Mulia.”

        Sedikit penjelasan mengenai alam Arupa-Brahma tingkat tiga (3) dan tingkat empat (4) =

        Tingkat 3 : Akincannayatana – Alam Kekosongan.
        Disini para makhluk berdiam dalam “kekosongan” akan semua hal, jauh lebih halus daripada dua alam Arupadhatu dibawahnya. Makhluk yang terlahir disini adalah makhluk suci yang berhasil meraih samadhi tingkat tatiya-arupajhana yang berobjek pada kehampaan / kekosongan. Usia para makhluk dialam ini mencapai 60.000 Maha Kappa.

        Tingkat 4 : N’eva Sanna Nasannayatana – Alam Tiada Pemahaman maupun Tiadanya Tiada Pemahaman.
        Para makhluk di alam ini berdiam dalam batin yang “padam”, tiada pikiran, batin yang tidak bergerak sama sekali. Yang terlahir disini adalah makhluk suci yang berhasil meraih samadhi tingkat catuttha-arupajhana yang berobjek pada “bukan-ingatan-bukan-pula-tanpa-ingatan”. Usia makhluk di alam ini mencapai 84.000 Maha Kappa.

        Nah, untuk Bro Wen Lung Shan, kemarin saya menggunakan istilah “TIDAK-BERGEMING”, kurang lebih juga menjelaskan mengenai keadaan-batin makhluk Arupa-Brahma tingkat empat ini ( N’eva Sanna Nasannayatana ). Penjelasan ini, jika tidak salah ingat, saya dapatkan dari buku “Sang Buddha dan Ajaran-ajaran-Nya’ karya Bhante Narada Mahathera.

        Demikian, rekan2 se-Dhamma.

        Jika ada keliru penyampaian dari saya yang tidak sesuai dengan Dhamma Sang Buddha, mohon koreksi anda-anda semua.

        Anumodana,
        Mettacittena,
        Ratana Kumaro.</strong

  66. To: All

    Pertanyaan di atas:

    Bro, mohon penjelasan lebih lanjut, mengapa Sang Buddha tidak mengajarkan Dhamma kepada Alara Kalama dan Udaka Ramaputta ?

    Penjelasan:
    Pada saat itu Petapa Alarakalama telah terlahir kembali di alam Arupa Brahma tingkat 3 dan Petapa Uddaka Ramaputta telah terlahir kembali di alama Arupa Brahma tingkat 4.

    Dan saat itu belum terurai dengan jelas cara-cara bervipassana. Hanya Petapa Gotama yg telah bervipassana lalu meraih Sammasambuddha. Alara Kalama dan Uddaka Ramaputta hanya tahu cara menyatukan batin dengan obyek meditasi (dalam hal ini arupa jhana).

    Sang Buddha tahu bahwa Dhamma pada ujungnya adalah melatih vipassana sehingga menuju penembusan/hasil dari magga dan phala.

    Sementara mereka sudah paham benar apa yg dimaksud dengan Dhamma dalam bentuk lokiya contohnya: Pancabala (5 kekuatan) yg berpotensi menuju Samatha Bhavana (ketenangan).

    Kita yang hidup saat ini dapat membaca tentang berbagai macam Dhamma yg telah diuraikan oleh Sang Bhagava. Dan sangat tidak perlu mencari Dhamma di luar dari ‘Jalan’. Tinggal praktik dan pasti akan mendapatkan hasilnya, sedikit maupun banyak di dalam batin kita masing-masing agar merasakan ‘rasa’ Dhamma yg luhur di dalam batin.

    Sesuai dengan tema Waisak tahun ini:
    “Buddha merupakan sumber kebahagian setiap makhluk”
    Untuk itu mari kita pakai Jalan yg telah ditunjukkan oleh Buddha menuju kebahagiaan sejati itu.

    Anumodana
    Ali

    • Kita yang hidup saat ini dapat membaca tentang berbagai macam Dhamma yg telah diuraikan oleh Sang Bhagava. Dan sangat tidak perlu mencari Dhamma di luar dari ‘Jalan’. Tinggal praktik dan pasti akan mendapatkan hasilnya, sedikit maupun banyak di dalam batin kita masing-masing agar merasakan ‘rasa’ Dhamma yg luhur di dalam batin.

      Sesuai dengan tema Waisak tahun ini:
      “Buddha merupakan sumber kebahagian setiap makhluk”
      Untuk itu mari kita pakai Jalan yg telah ditunjukkan oleh Buddha menuju kebahagiaan sejati itu.

      ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
      Bro. Ali, saya sependapat dengan anda 😉

      Entah dengan rekan-rekan yang lain 😉

      Mohon, senantiasa sempatkan untuk mengunjungi blog ini dan sudi memberi pelajaran Dhamma kepada kami semua disini.

      Anumodana,
      Mettacittena 😉

      • 卓俊樺 said

        saya juga merasa beruntung karena terlahir sebagai manusia di abad 21 ini 🙂
        kita bisa dengan mudah belajar dhamma, meditasi, ajaran sang Buddha dari berbagai sumber.
        bahkan di indonesia, kita bisa mempelajari semua itu tanpa mengeluarkan biaya 😀
        berbahagialah orang yang tinggal di Indonesia .^^”

        semoga mas Ratana dan bro WLS tidak pernah merasa bosen untuk selalu membagikan pengetahuan dhammanya 🙂

  67. Hmmm,,,…
    Duduk selonjoran di pojok teras sambil MENYIMAK….koment Kadang Wen Lun Shan. Nambah wawasan buat saya….terutama berbagai Istilah dalam Budha.

    Matur nuwun Kadang sinorowedi…

    DAMAI DIHATI…DAMAI DIBUMI….

  68. kangBoed said

    Hihihihi.. *lirik kanan atas*.. ooo.. perasaan ada yang hilang.. *manggut manggut*.. hmm.. mudah mudahan tidak sama saja.. *geleng geleng*.. hehehe.. kadang kadang.. aaah gak jadi.. nanti sajalah.. hihihi.. bingung dah.. mau ngomong apa.. yang penting ikutan absen aja.. maklum brooot..her kita.. lagi kolokaaaan.. hahaha.. sama sajaaaaaa..
    *dah kurusan ya*.. smoga.. hehehe..
    Salam Sayang
    Salam Kangen
    Salam Hormat..

  69. pamuji rahayu…

    clingak clinguk nyariin yang punya rumah.. mau kulonuwun ga ada yang empunya…, mau ngetuk pintu, pintunya dibuka… , ya dah.. ,
    ** ngamen lagi aja .. siapa tahu yang punya rumah bangun, dan ngasih recehan…,

    kangboed… lagunya apa nih..,
    dari ebiet G. Ade aja ya..: tapi diplesetin, hehehe..

    Perjalanan ini terasa sangat melelahkan..
    sayang engkau tak ada disampingku kawan.., banyak cerita darimu kawan.. yang aku tunggu tak kunjung datang…, dst..

    ayooo kangboed, kangmas Gun.., wis malah ra nggenah.. nunggu yang punya rumah… malah do uedhaaaannn…, huehehehehe….,

    salam sihkatresnan

    rahayu…

  70. Pamuji Rahayu 😉

    Selamat datang, Kangmas Santri Gundhul,
    Selamat dateng brother sejatiku, Kang Boed(jegerrrr 😀 )
    Selamat datang Kangmas Hadi wirojati 😉

    @Kangmas Santri Gundhul 😉

    Sumangga, silakan mas… Iya, itu Brother Wen Lung Shan adalah seorang Guru Agama Buddha. Beliau tentunya mempunyai segudang ilmu-pengetahuan tentang Buddha-Dhamma yang bisa dibagikan disini dan sangat pantas bagi kita-kita semua menyimaknya dengan baik2. Bila panjenengan yang non-Buddhis saja menyimak, apalagi kami2 yang ummat Buddha, tentunya haruslah menyimaknya dengan baik2… 😉

    @Brotherku Kang Boed 😉
    Sebentar ya Bro, saya sedang melakukan settingan.
    Sebab, semakin hari, semakin kesini, Blog saya ini menjadi semakin Buddhis.
    Jika dulu saya membuat blog dengan nuansa “campur”2, yaitu ketambahan dengan nuansa2 Jawa, maka, dengan berjalannya waktu, sekarang ini blog saya menemukan warnanya yang khas, yaitu warna Buddhistik. Jadi, semuanya sedang dalam pengaturan, didasari paltform Buddhistik. Semoga anda bisa memahaminya Bro 😉

    @Kangmas Hadi wirojati 😉
    Lagu2 yang panjenengan nyanyikan ( juga bersama brother KangBoed ) mempunyai makna tertentu yang tentunya bisa dipahami oleh kita semua yang telah mengerti 😉
    Maturnuwun Kangmas karena panjenengan senantiasa memberi perhatian, menjalin persaudaraan, memberikan rasa persahabatan-sejati untuk kami semua.

    Semoga Anda Semuanya Senantiasa Berbahagia, jauh dari segala bentuk duka, jauh dari pertentangan, jauh dari segala niat jahat, mampu meraih kesejahteraan dan mampu mempertahankan kesejahteraan yang telah Anda2 semua raih 😉

    Sadhu,sadhu,sadhu… 😉

    Mettacittena 😉
    Ratana Kumaro

  71. @Kangmas Santri Gundhul

    Sumangga, silakan mas… Iya, itu Brother Wen Lung Shan adalah seorang Guru Agama Buddha. Beliau tentunya mempunyai segudang ilmu-pengetahuan tentang Buddha-Dhamma yang bisa dibagikan disini dan sangat pantas bagi kita-kita semua menyimaknya dengan baik2. Bila panjenengan yang non-Buddhis saja menyimak, apalagi kami2 yang ummat Buddha, tentunya haruslah menyimaknya dengan baik2…

    To: All

    Saya hanya dapat berteori saja…untuk praktik pengendalian diri mungkin sodara sederek…lebih ahlinya….

    Terima kasih atas pujiannya….

    Punteun bade ngagunakeun basa sunda, basa urang Jawa Barat.

    Muhun dihampura, upami abdi leuwih ka Buddhis pikeun neraskeun dina iyeu artikel…ngan saukur eta pengetahuan abdi dina Dharma Bhatara Guru Buddha/ Sanghayang Buddha.

    Anumodana
    Ali

    • Dear Brother Ali 😉

      Itu saya kemarin mengajukan koreksi untuk anda mengenai Lobha sebagai salah satu bentuk dari Asobhana-cetasika. Coba anda search di komentar saya untuk anda Bro.

      Saya kutipkan disini saja [karena pola komentar bersarang yang saya pakai, agaknya menyulitkan pencarian 😉 ]. Komentar2 ini terdapat pada artikel “BERAKHIRNYA ERA GOTAMA & MUNCULNYA MAITREYA” =

      ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
      upasakaratanakumaro berkata
      Mei 17, 2009 pada 8:21 pm e

      Namatthu Buddhassa 😉
      Dear Bro Wen Lung Shan 😉
      Dear Bro Tedy 😉

      Bro Wen Lung Shan, perkenankan saya mengajukan sedikit koreksi untuk anda.
      Diatas , anda menyatakan :

      Namun bila lobha merupakan salah satu dari bentuk Asobhana Cetasika yg berarti kondisi batin yg buruk/tidak indah yg dapat membawa kita pada penderitaan.

      Bro, berdasarkan kitab Abhidhammatthasangaha ( dan tentunya anda sebagai Guru Agama Buddha telah sangat akrab dengan kitab tersebut, maka perkenankan jika saya yang bukan seorang Guru Agama Buddha ini juga mengutip kitab tersebut ) , Bab III mengenai “Cetasika 52″, maka Cetasika 52 dibagi menjadi tiga (3) bagian , yaitu :

      1). Annasamana-cetasika 13
      2). Akusala-cetasika 14
      3). Sobhana-cetasika 25.

      Sobhana-cetasika 25 terdiri dari :
      a). Sobhanasadharana-cetasika 19,
      b). Virati-cetasika 3
      c). Appamanna-cetasika 2
      d). Pannindriya-cetasika 1

      SADDHA ( Keyakinan ), merupakan salah satu dari ke-sembillan-belas (19) Sobhannasadharana-cetasika 19.

      Nah, yang mau saya ajukan koreksi adalah, dalam kitab Abhidhammatthasangaha, saya tidak menemukan pernyataan bahwa Lobha merupakan bagian dari Asobhana-cetasika.

      Penjelasan yang saya dapatkan adalah bahwa Lobha (keserakahan akan keindriyaan) merupakan salah satu bentuk dari Akusala-cetasika 14.

      Lebih rincinya, Akusala-cetasika 14 terdiri dari :
      a). Mocatuka-cetasika 4 ; yaitu empat (4) macam bentuk-bentuk batin yang Moha-cetasika menjadi pemimpin.
      b). Lotika-cetasika 3 ; tiga (3) macam bentuk-bentuk batin yang Lobha-cetasika menjadi pemimpin.
      c). Docatuka-cetasika 4 ; empat (4) macam bentuk-bentuk batin yang Dosa-cetasika menjadi pemimpin.
      d). Thiduka-cetasika 2 ; dua (2) macam bentuk-bentuk batin yang Thina-cetasika menjadi pemimpin.
      e). Vicikiccha-cetasika 1 ; satu (1) macam bentuk batin yaitu Vicikiccha-cetasika.

      Lotika-cetasika 3, yaitu tiga macam bentuk2 batin dimana lobha-cetasika menjadi pemimpinnya, terdiri dari :

      1). Lobha : Ketamakan / keserakahan akan keindriyaan.
      2). Ditthi : Kekeliruan atau kepalsuan.
      3). Mana : Kesombongan.

      Demikian, Rekan Ali Sasana Putra / Wen Lung Shan yang baik.

      Berdasarkan hasil yang saya pelajari dari Kitab Abhidhammatthasangaha, saya tidak menemukan penjelasan mengenai Lobha sebagai salah satu bentuk dari Asobhana-cetasika.

      Mungkin saja, ada sesuatu pelajaran yang saya lewatkan ? Jika iya, mohon rekan Ali sudi memberikan penjelasannya.

      By the way, anyway…, terimakasih atas dhamma-dana anda. Saya sangat beruntung mempunyai rekan seperti anda. Dengan begini, kita semua bisa belajar Dhamma bersama-sama. Dan kami mendapat banyak pelajaran dari anda 😉

      Anumodana,
      Mettacittena 😉

      Ratana Kumaro.
      ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

      Kemudian, saya juga berikan jawaban untuk Brother Zentao.ba , sbb. :

      ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
      ratanakumaro berkata
      Mei 17, 2009 pada 9:39 pm e

      Namatthu Buddhassa 😉
      Dear Bro Zen Tao Ba 😉

      Perkenankan saya ikut menjawab pertanyaan anda :

      Menurut kitab Abhidhammatthasangaha, jika kesadaran/pikiran (citta) dihitung secara terperinci, maka ada 89-121 macam. Dalam jumlah tersebut, citta dibagi menjadi empat (4) bagian :

      1). Kamavacara – citta 54.
      2). Rupavacara – citta 15
      3). Arupavacara – citta 12
      4). Lokuttara – citta 8 atau 40.
      Total = 89 atau 121 macam.

      Istilah “Kamavacara-citta” artinya =
      Kama = Kesenangan dan kemelekatan terhadap 6 objek ( Aramana 6 ).
      Avacara = berkelana / berdiam.
      Citta = Kesadaran / pikiran.

      Jadi, Kamavacara-citta adalah kesadaran/pikiran yang berkelana di Kama-Bhumi atau Kama-Loka 11 ; ialah :

      1. Empat Dugati-Bhumi : a). Niraya ( Sanskrit : NARAKA / NERAKA ), b). Tiracchanayoni, c).Petayoni, d). Asurayoni.

      2). Manussa / Alam Manusia.
      3). Enam (6) Devaloka : Catummaharajika, Tavatimsa, Yama, Tussita, Nimmanarati, Paranimmitavasavatti.

      Kamavacara-citta 54 dibagi menjadi tiga-kelompok :
      a). Akusala-citta 12
      b). Ahetuka-citta 18
      c). Kamavacarasobhana-citta 24

      TOTAL = 54

      Nah, miccha-ditthi (pandangan-salah), merupakan bagian dari Akusala-citta 12 ( dua-belas bentuk pikiran/kesadaran yang tidak-baik ). Seseorang yang mempunyai miccha-ditthi akan berkelana dalam Kama-loka 11 ( Kesebelas alam dari dugati, hingga devaloka ).

      ANALISA =

      Jika seseorang senantiasa mempraktikkan Pancasila / Lima-moralitas ( tidak membunuh, tidak mengambil barang yang tidak diberikan, tidak berbuat sex yang tidak benar, tidak berucap dusta, tidak meminum minuman keras yang menyebabkan lemahnya kesadaran ), namun ia bersekutu dengan miccha-ditthi, maka kemungkinan yang akan terjadi pada tumimbal-lahirnya =

      1). Dikarenakan praktek Pancasilanya, maka ia akan mempunyai kesempatan untuk bertumimbal-lahir di alam manusia.( salah satu dari kama-loka 11 ).
      2). Karena bersekutu dengan miccha-ditthi, maka ia juga akan mempunyai kesempatan untuk bertumimbal-lahir di alam manusia ( salah satu dari kama-loka 11 ).

      Dalam buku “SAMMA-SAMADHI” yang ditulis oleh Mahavirothavaro Mahathera, disebutkan bahwa, seseorang akan terlahir dalam alam surga ( Deva-loka ) bila ia senantiasa memiliki hiri atau rasa malu untuk berbuat jahat, dan ottapa> takut akan akibat perbuatan jahat [ Hiri dan Ottapa inilah yang utama mengantar pada alam surga] ; serta juga bisa ditambah =

      senantiasa mengarahkan batinnya disertai doa-doa pada sesosok Dewa / Tuhan yang dipujanya

      Namun penguncaran doa pada Dewa / Tuhan ini bukanlah hal prinsip, karena, tanpa menguncarkan doa-doa, tanpa menjadi pengikut “Tuhan” atau “Dewa” tertentu, asalkan memiliki hiri dan ottapa, seseorang pasti akan terlahir di alam surga.

      Jadi, menurut saya, rekan-rekan kita yang belum mengenal Buddha-Dhamma, namun menjaga kelima moralitas tersebut diatas dengan sebaik2nya dan telah memiliki hiri dan ottapa serta memuja sesosok “Tuhan” tertentu ( meskipun ini termasuk miccha-ditthi / pandangan-salah ), tidak akan terlahir di alam binatang , namun minimal ia akan bertumimbal-lahir di alam manusia, dan maximal terlahir di alam surga, terutama di tempat Tuhan-nya berada.

      Beda kasusnya kalau, rekan2 yang belum mengenal Dhamma,lalu rajin memuja Tuhan tertentu tapi tidak menjaga moralitasnya [yaitu minimal Pancasila], maka ia akan terjerembab hingga ke alam neraka, karena perilaku [karma] – nya sendiri. Menyembah “Tuhan” tertentu bukanlah hal yang mutlak, dan justru ini miccha-ditthi (pandangan salah).

      Demikian analisa dari saya.
      Untuk rekan-rekan se-Dhamma, jika ada kesalahan dalam analisa yang saya ajukan, mohon koreksinya. Sekali lagi, saling memberikan analisa adalah baik, karena kita sama-sama sedang belajar Dhamma.

      Anumodana,
      Mettacittena,
      Ratana Kumaro

      ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

      Untuk Bro WLS, dan juga Zentao.ba, Mohon tanggapannya.
      Saya senang berdiskusi dengan anda2 semua, sehingga saya pun bisa belajar. Apalagi Bro WLS kan guru Sekolah Tinggi Agama Buddha, jika anda mengajar disini, berarti kan kami tidak perlu masuk ke STIAB 😀 :mrgreen:

      Anumodana,
      Mettacittena 😉

  72. …tidak akan terlahir di alam binatang , namun minimal ia akan bertumimbal-lahir di alam manusia, dan maximal terlahir di alam surga, terutama di tempat Tuhan-nya berada.

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~`

    Menambahkan keterangan ; alam surga yang termaksud diatas adalah alam SURGA KAMA-DHATU ( Catummaharajika, Tavatimsa, Yama, Tussita, Nimmanarati, Paranimmitavasavatti. ) , dan tidak mungkin sampai ke RUPA-DHATU ( RUPA-BRAHMA ) sangat tidak mungkin hingga ARUPA-DHATU ( ARUPA-BRAHMA ) , apalagi, semakin amat sangat tidak akan pernah mencapai Nibbana / Nirvana.

    Lokuttara-citta [kesadaran diluar atau diatas ketiga dunia/alam ( Tri-Loka : kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu ) , mempunyai objek diluar dari ketiga dunia/ alam tersebut] yang akan mengantar pada Nibbana. Lokuttara-citta adalah kesadaran yang mempunyai objek diluar dari “timbul dan padam”, tidak mengalami perubahan dan kecacatan, keadaan yang tidak bersyarat, tidak dilahirkan, tidak termusnah ; Asankhata-Dhamma.

    Inilah, makanya, jalan menuju SURGA memang sangat banyak, namun hanya ADA SATU JALAN MENUJU NIBBANA / NIRVANA, yang telah lepas dari ke-31 alam kehidupan.

    Demikian tambahan dari saya, mohon rekan-rekan se-Dhamma memberikan koreksi jika ada kekeliruan dalam penyampaian saya.

    Anumodana,
    Mettacittena… 😉

    Sabbe satta bhavantu sukhitatta 😉
    Sadhu3x… .

  73. To: Bro Ratna Kumaro

    Terima kasih atas koreksinya tentang asobhana cetasika tentang lobha.

    Memang dalam Abhidhammatthasangaha tidak di tuliskan tentang lobha sebagai asobhana, namun hanya dituliskan akusala cetasika 14.

    Menurut bahasa saya, akusala cetasika 14 itu adalah asobhana cetasika yg lebih sedikit dari sobhana cetasika yg terdiri dari 25 jenis.

    Untuk itu marilah kita kembangkan cetasika 25 tersebut.

    Anumodana
    Ali

  74. Tedy said

    To : Bro Ratana dan Bro WLS

    Pemaparan anda berdua sangat menarik, bahkan saya tidak cukup hanya membaca sekali, harus berkali-kali, maklum download otak saya agak lelet…

    He..he..

    Anumodana atas dhammadesana anda berdua

    With metta,
    Tedy

  75. CY said

    Ijinkan saya yg lelet ini bertanya, Abhidamma itu apa ya brother sekalian?

    • Dear Ko CY 😉

      ABHI = Halus, tinggi, luas
      DHAMMA = Ajaran Sang Buddha ( atau bisa juga berarti “kasunyatan”, “hakekat” )

      ABHIDHAMMA-PITAKA ; salah satu dari Ti-Pitaka ( Tiga-Keranjang ), berisi uraian mengenai filsafat, metafisika, dan ilmu jiwa Buddha-Dhamma, terdiri atas 42.000 Dhammakkhanda (pokok dhamma), dibagi menjadi tujuh kitab [dhammasangani, vibhanga, dhatukatha, puggalapannatto, kathavatthu, yamaka, patthana ].

      Bagi ummat Buddha yang ingin mempelajari dan memahami Abhidhamma-Pitaka, terlebih dahulu harus mempelajari dan memahami ABHIDHAMMATTHASANGAHA ( sebuah kitab yang ditulis Ven.Anuruddha-cariya Maha-Thera, kurang lebih pada tahun 357 M ( 900 Buddhist Era ).

      ABHIDHAMMATTHASANGAHA, artinya =
      ABHI = [baca keterangan diatas]
      DHAMMA = [baca keterangan diatas]
      ATTHA = inti-sari
      SAN = singkatan
      GAHA = gabungan.

      Isi dari Abhidhammatthasangaha adalah penjelasan mengenai :
      CITTA [Kesadaran/pikiran] yang bila diurai ada 89 s/d 121 macam
      CETASIKA [bentuk2 batin] yang bila diurai ada 52 macam,
      RUPA [Materi] yang bila diurai ada 28 macam
      dan, NIBBANA.

      Ummat Buddha harus dengan cermat, sabar, dan penuh perenungan mempelajari Abhidhammatthasangaha. Dengan begitu, ia akan mampu memahami Abhidhamma-Pitaka.

      Seseorang yang memahami Abhidhamma dengan baik, akan dapat mengerti dengan sepenuhnya Sabda-sabda Sang Buddha.

      Penjelasan ini saya dapat dari buku Abhidhammatthasangaha. Mudah-mudahan bermanfaat. Mari belajar Abhidhamma bersama-sama Ko 😉

      Peace & Love

      • CY said

        Terimakasih untuk infonya bro. saya juga pengen belajar, tapi jgn ngebut ya ntar saya yg lelet ini ketinggalan kereta hehehe

  76. Tedy said

    Salam damai dan sejahtera utk semua makhluk!

    Wow… abhidhamma ternyata dalam dan luas yah. Yg saya tau rupa terdiri dari 4 unsur aja, yaitu unsur air, api, tanah, dan angin. Ternyata di abhidhamma rupa diurai lg menjadi 28 macam. Hmm… menarik sekali, Brother2-ku yg pintar dan baik, maukah kalian semua menguraikan buat saya…??? Anumodana atas dhammadesana kalian.

    Semoga semua makhluk berbahagia!

    With metta,
    Tedy

  77. mamo supriatmo~RE said

    Setuju, pada akhirnya maka agama memang harus dilepas. Agama hanya menjadi jurang pemisah hubungan antar manusia yang berlainan agama, dan nyatanya agama apapun didunia ini tidak ada yang menjamin umatnya masuk sorga, sorga neraka ditentukan oleh amal ibadahnya (perbuatannya).
    Terima kasih
    ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
    Dear Mamo,

    Selamat datang.. 😉

    Iya, pada akhirnya agama harus dilepaskan, setelah kita berhasil menyeberangi “samsara” ; demikian istilah Buddhisme.

    Benar juga, agama apapun didunia ini, TIDAK ADA yang menjamin ummatnya PASTI masuk surga ; ini sangat benar, dan inilah yang diajarkan dalam Buddhisme.
    Ummat Buddha, juga tidak ada yang TERJAMIN pasti masuk surga, semua harus dari dirinya sendiri, bagaimana ia memupuk kedermawanan ( Dana-Paramitha ), memperbaiki dan memperteguh moralitasnya dengan sebaik-baiknya ( Sila-Paramitha ), dan membersihkan-pikirannya dari rintangan-rintangan batin ( Dhyana-Paramitha ), dan lain2 “laku” demi tercapainya pembebasan sempurna dari samsara.

    Dalam Buddhisme, Sang Buddha hanyalah GURU yang menunjukkan jalan, para siswa-Nya sendiri yang harus dengan teguh dan penuh semangat berjalan hingga akhirnya “terbebas”.

    Demikian, mas Mamo,
    Semoga Anda Berbahagia Selalu,
    Sadhu,Sadhu,Sadhu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: