RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

Archive for April 30th, 2009

MEMAKNAI AGAMA DENGAN BENAR

Posted by ratanakumaro pada April 30, 2009

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”

( tikkhattum ; 3X )

Nammatthu Buddhassa,

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Agama adalah sebuah "RAKIT", digunakan untuk menyeberang, bukan untuk diusung-usung dan untuk Berbenturan dengan Batu Karang ;)

Agama adalah sebuah "RAKIT", digunakan untuk menyeberang, bukan untuk diusung-usung dan untuk Berbenturan dengan Batu Karang 😉

Saudara-saudari, para sahabat yang tercinta, pada kesempatan ini saya ingin mengajak kita semua untuk membahas mengenai arti penting dari sebuah agama.

Seringkali, kita keliru memaknai guna dari agama, dan terjebak dalam perdebatan-perdebatan dan pertentangan agama.Perdebatan-perdebatan ini, seakan-akan mengasyikkan, namun sebenarnya, dengan terlibat dalam perdebatan semacam ini, kita justru semakin jauh dari manfaat yang seharusnya bisa kita peroleh dari sebuah agama itu sendiri.

Sang Buddha, pernah menjelaskan mengenai tidak bermanfaatnya pertentangan / perdebatan agama ini, serta menjelaskan bagaimana semestinya agama digunakan / dimanfaatkan. Penjelasan tersebut terdapat dalam Alagaddupama Sutta, Majjhima Nikaya, melalui “perumpamaan ular” dan “perumpamaan rakit”. Perumpamaan ular digunakan Sang Buddha untuk menggambarkan orang yang salah jalan dalam mempelajari Dhamma, dan perumpamaan rakit menggambarkan bagaimana seharusnya Dhamma itu digunakan, yakni sebagai sebuah rakit untuk menyeberangi banjir penderitaan, dan setelah tiba dengan selamat di pantai seberang, kita harus melepaskan rakit itu. Ya, kita harus melepaskan AGAMA pada akhirnya! Demikian Sang Buddha mengajarkan.


PERUMPAMAAN ULAR

Agama adalah "Ular", jika salah menangkap, menyebabkan penderitaan berkepanjangan hingga kematian

Agama adalah "Ular", jika salah menangkap, menyebabkan penderitaan berkepanjangan hingga kematian

Berikut adalah perumpamaan ular yang digunakan Sang Buddha untuk menunjukkan orang yang salah jalan dalam mempelajari Dhamma :


“10. Disini, para Bhikkhu, beberapa manusia yang salah jalan mempelajari Dhamma ~ Khotbah, bait, penjelasan, syair, ungkapan, peribahasa, cerita kelahiran, keajaiban, dan jawaban pertanyaan ~ tetapi setelah mempelajari Dhamma, mereka tidak memeriksa arti dari ajaran-ajaran itu dengan Kebijaksanaan. Karena tidak memeriksa arti dari ajaran-ajaran itu dengan kebijaksanaan, mereka tidak memperoleh penerimaan perenungan dari ajaran-ajaran itu.

Sebaliknya, mereka justru mempelajari Dhamma hanya untuk mengkritik orang lain dan untuk memenangkan perdebatan, sehingga mereka pun tidak mengalami manfaat dari belajar Dhamma. Karena ditangkap secara salah oleh mereka, ajaran-ajaran itu menimbulkan kerugian dan penderitaan bagi mereka untuk waktu yang lama.”


Dengan pernyataan tersebut, Sang Buddha menunjukkan kesalahan yang dilakukan oleh orang yang mempelajari Dhamma namun didasari motivasi intelektual semata, yang pada akhirnya menjadi lubang perangkap bagi siswa tersebut karena akan terjebak pada perdebatan-perdebatan dan pertentangan-pertentangan dengan paham lainnya.

ular

“Andaikan saja ada orang yang membutuhkan ular, mencari ular, berkelana mencari ular. Ketika melihat seekor ular besar, dia menangkap belitannya atau ekornya. Maka ular itu akan membalik padanya dan menggigit tangan atau lengannya atau salah satu bagian tubuhnya, dan  karena itu dia mungkin lalu mati atau mengalami penderitaan yang mematikan.

Mengapa demikian ? Karena dia menangkap ular itu secara salah.

Demikian pula, disini beberapa orang yang salah jalan mempelajari Dhamma…, Ajaran-ajaran itu, karena ditangkap secara salah oleh mereka, menimbulkan kerugian dan penderitaan bagi mereka untuk waktu yang lama.”

“11. Disini, para Bhikkhu, beberapa anggota kelompok mempelajari Dhamma ~ khotbah…jawaban pertanyaan ~ dan setelah mempelajari Dhamma itu, mereka memeriksa arti dari ajaran-ajaran itu dengan kebijaksanaan, mereka memperoleh penerimaan perenungan dari ajaran-ajaran itu. Mereka tidak mempelajari Dhamma untuk mengkritik orang lain atau memenangkan perdebatan, sehingga mereka mengalami manfaat dari belajar Dhamma. Karena ditangkap secara benar oleh mereka, ajaran-ajaran itu menimbulkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi mereka untuk waktu yang lama.”

“Andaikan saja ada orang yang membutuhkan ular, mencari ular, berkelana mencari ular. Ketika melihat ular besar dia menangkapnya secara benar dengan tongkat yang berbelah.

Setelah itu, dia memegangnya secara benar di lehernya.

Kemudian walaupun ular itu mungkin melingkarkan tubuhnya di sekitar tangan atau lengan atau bagian-bagian tubuh orant itu, tetap saja dia tidak akan mati atau mengalami penderitaan yang mematikan karena hal itu.

Mengapa demikian? Karena dia menangkap ular itu secara benar.

Demikian pula, disini beberapa anggota kelompok mempelajari Dhamma…Ajaran-ajaran itu, karena ditangkap secara benar oleh mereka menimbulkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi mereka untuk waktu yang lama.

Oleh karenanya, para Bhikkhu, bila kalian memahami arti pernyataan-pernyataan-Ku,ingatlah hal itu secara benar, dan bila engkau tidak memahami arti dari pernyataan-pernyataan-Ku, maka bertanyalah tentang hal itu kepada-Ku atau kepada para Bhikkhu yang bijaksana.”


Demikianlah, Sang Buddha mengingatkan kita supaya mempelajari Dhamma dengan bijaksana, bukan demi motivasi intelektual semata, namun benar-benar memeriksa arti dari ajaran-ajaran Sang Buddha dengan bijaksana, dan melakukan perenungan-perenungan dengan benar demi tercapainya manfaat sejati dari Dhamma Sang Buddha.


PERUMPAMAAN RAKIT

rakit

Setelah Sang Buddha mengingatkan para siswa-Nya supaya tidak salah jalan dalam memperdalam Dhamma, Sang Buddha melanjutkan pengajaran-Nya kepada para siswa, bahwa Dhamma hanyalah “rakit”, digunakan untuk menyeberang, dan harus dilepaskan / ditinggalkan setelah para siswa berhasil menyeberang, tidak perlu diusung-usung diatas kepala.


“ 13. Para Bhikkhu, aku akan menunjukkan kepadamu bagaimana Dhamma mirip dengan rakit, yang bertujuan untuk menyeberang, bukan dengan tujuan untuk menggenggam. Dengarkan dan perhatikan dengan seksama apa yang akan kukatakan.” – “Ya, Yang Mulia Bhante”, jawab para Bhikkhu.


“Perumpamaan rakit” yang terkenal ini melanjutkan argument yang sama untuk melawan salah penggunaan dari pembelajaran yang diperkenalkan oleh perumpamaan ular sebelumnya. Orang yang gemar menggunakan Dhamma untuk membangkitkan kontroversi dan memenangkan debat berarti mengusung Dhamma ke mana-mana diatas kepalanya, dan bukannya menggunakan Dhamma untuk menyeberangi banjir.


Yang Terberkahi [ Sang Buddha ] berkata demikian :

“ Para Bhikkhu, andaikan saja ada orang yang melakukan perjalanan. Dia melihat suatu hamparan air yang luas. Pantai di dekatnya berbahaya dan mengerikan, sedangkan pantai di seberang itu aman dan tidak menakutkan. Tetapi tidak ada perahu pengangkut atau jembatan menuju pantai seberang. Kemudian dia berpikir; “ Ada hamparan air yang luas ini. Pantai di sebelah sini berbahaya dan mengerikan, sedangkan pantai di seberang sana aman dan tidak menakutkan. Tetapi tidak ada perahu pengangkut atau jembatan menuju pantai seberang. Sebaiknya aku mengumpulkan rumput, ranting, cabang, dan daun, lalu mengikatnya untuk dijadikan rakit, kemudian dengan ditopang rakit itu aku bisa mengerahkan usaha dengan tangan dan kakiku, dan aku bisa sampai dengan selamat di pantai seberang.”

Maka orang tersebut mengumpulkan rumput, ranting, cabang, dan daun, lalu mengikatnya untuk dijadikan rakit; kemudian dengan ditopang rakit itu dia mengerahkan usaha dengan tangan dan kakinya, dan dia sampai dengan selamat di pantai seberang.

Kemudian, ketika telah menyeberang dan tiba di pantai seberang, dia mungkin berpikir demikian; “Rakit ini telah sangat membantuku, karena dengan ditopang olehnya aku bisa mengerahkan usaha dengan tangan dan kakiku, dan aku bisa sampai dengan selamat di pantai seberang. Sebaiknya aku menjunjung rakit ini di kepalaku atau memanggulnya di bahuku, dan kemudian pergi kemanapun aku suka.”

Nah, para Bhikkhu, bagaimana pendapat kalian ? Dengan melakukan hal itu, apakah orang itu melakukan apa yang seharusnya dilakukan dengan rakit tersebut ?”

“Tidak, Yang Mulia Bhante” [ jawab para Bhikkhu]

berakit

“ Dengan melakukan apa maka orang itu melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan terhadap rakit itu?

Disini, para Bhikkhu, ketika telah menyeberang dan tiba di pantai seberang, dia mungkin berpikir demikian : “Rakit ini telah sangat membantuku, karena dengan ditopang olehnya aku bisa mengerahkan usaha dengan tangan dan kakiku, dan aku bisa sampai dengan selamat di pantai seberang. Sebaiknya aku menariknya ke tanah kering atau membiarkannya mengapung di air, dan kemudian pergi kemanapun aku suka.”

Nah, para Bhikkhu, dengan melakukan hal inilah maka orang itu melakukan apa yang seharusnya dilakukan dengan rakit tersebut. Demikian telah kutunjukkan kepadamu bagaimana Dhamma mirip dengan rakit, yang bertujuan untuk menyeberang, bukan dengan tujuan untuk menggenggam.

“Para Bhikkhu, ketika kalian mengetahui bahwa Dhamma mirip dengan rakit, bahkan keadaan-keadaan yang baik pun seharusnya kalian tinggalkan, apalagi keadaan-keadaan yang buruk.”


Nah, demikianlah saudara-saudari, para sahabat yang tercinta, bagaimana Sang Buddha menunjukkan kepada kita cara meggunakan Dhamma dan memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dari Dhamma.

Keterangan dalam Majjhima Nikaya memberikan penjelasan lebih jauh mengenai akhir dari khotbah diatas, “Para Bhikkhu, Aku mengajarkan untuk bahkan meninggalkan nafsu keinginan dan kemelekatan dan keadaan-keadaan yang damai dan tinggi ~ ketenangan ( samatha ) dan pandangan terang ( vipassana ) ~ apalagi pada hal yang rendah, vulgar, menjijikkan, kasar, dan kotor… [ kesenangan-kesenangan indria, terlibat dalam hubungan sex ]“.

berakit-rakit-ke-hulu

Dengan khotbah ini, Sang Buddha menjelaskan bahwa kemelekatan pada keadaan-keadaan yang baik itulah yang harus ditinggalkan, bukannya keadaan-keadaan yang baik itu sendiri. Bagaimanapun, kemelekatan ( upadana ) pada hal apapun, adalah penyebab timbulnya penjadian ( bhavo ).


PENTINGNYA MEMELUK AGAMA

Dewasa ini, seringkali penulis menemukan orang-orang yang berpendapat bahwa kita tidak perlu beragama, yang penting belajar semua ajaran kebajikan dan merangkumnya jadi satu, menjadikannya pedoman tersendiri yang cocok bagi dirinya.

Upacara Peringatan Magha Puja, bentuk ketaatan ummat Beragama ( Buddha )

Upacara Peringatan Magha Puja, bentuk ketaatan ummat Beragama ( Buddha )

Sesungguhnya, langkah ini tidak salah, namun mempunyai kelemahan. Mengapa ? Sebab, dengan demikian kita tidak akan mempunyai satu pegangan hidup yang jelas, dan arah hidup yang jelas. Umumnya, orang-orang yang memilih jalan ini ( tidak beragama ), pada akhirnya menemui kegagalan dalam orientasi spiritualnya.

Setiap agama, pada dasarnya adalah baik, sebab memiliki rambu-rambu yang harus dipatuhi oleh para ummatnya yang menunjukkan hal-hal yang tidak boleh dilakukan dan hal-hal yang sebaiknya dilakukan. Namun, agama-agama tersebut, memiliki nilai-nilai dasar, nilai-nilai filosofis yang masing-masing berbeda satu sama lain. Ketika seseorang mencoba mencampurnya menjadi satu, maka itu bagaikan usaha mencampur berbagai macam masakan sayuran menjadi satu ; lodeh, sayur-bening, oseng-oseng kacang panjang, sayur tahu-terik, sayur rambak-pedas, asinan-petai, Cah Brokoli, soup Tom Yam, dan macam-macam masakan sayuran lainnya menjadi satu. Bukannya suatu cita-rasa nikmat nan sempurna yang didapatkan, namun justru rasa “eneg” ( Jawa : Mblenger ) yang didapatnya.

Atau juga , sinkretisme semacam ini bagaikan usaha seorang politikus mempersatukan berbagai ideology dalam satu campuran ; Komunisme, Agama, Kapitalisme, Nasionalisme, dijadikan satu. Bukan satu persatuan-harmonis yang didapat, namun pertentangan-pertentangan yang akan diperolehnya.

Atau, usaha sinkretisme tersebut , bagaikan seseorang yang kedua kakinya berdiri di dua perahu, bukannya selamat sampai pantai seberang, namun resiko terjatuh dan tenggelamlah yang didapatnya.

Perayaan Waisak di Mendut (2008) ; Bentuk ketaatan ummat Beragama

Perayaan Waisak di Mendut (2008) ; Bentuk ketaatan ummat Beragama

Untuk itu, saudara-saudari, para sahabat yang tercinta, untuk memahami tujuan hidup yang sebenarnya, penulis sangat menyarankan saudara-saudari, para sahabat yang tercinta, untuk memilih dan mengikuti system etika moral [ agama ] tertentu yang memang benar-benar cocok bagi anda. Setelah memeluk suatu agama yang cocok bagi anda, maka kemudian praktekkanlah ajaran agama anda dengan sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya.

Mungkin anda suatu saat merasa perlu mempelajari agama-agama lain sebagai “materi-pengayaan”, sebagai “study-banding”. Hal ini tidak akan menjadi masalah, ketika anda melakukannya setelah anda memeluk suatu agama dan meyakininya. Sehingga, dengan demikian, batin anda tidak akan terombang-ambing, dan orientasi-spiritual anda tetap terjaga.

Dengan mempelajari agama lain, bukannya menjadikan lemah keyakinan ( saddha ) anda, namun justru bertujuan untuk memperteguh keyakinan ( saddha ) anda pada ajaran agama yang telah anda peluk. Study-banding ini, bukan bertujuan untuk melakukan perdebatan-perdebatan, namun untuk menemukan nilai-nilai lebih dan keunggulan ajaran yang anda yakini yang bermanfaat bagi diri anda pribadi, bagi kemajuan pencapaian spiritual anda.

Demikanlah, para sahabat yang tercinta, Agama akan menuntun kita menuju penyadaran diri. Agama memiliki kekuatan moril-spirituil untuk mengubah perangai seseorang dari perangai buruk menjadi bajik, dari tidak mulia menjadi mulia, dari egois menjadi tidak egois, dari kesombongan menuju kerendahan hati, ketamakan menjadi kemurahan-hati, kekejaman menjadi kewelas-asihan dan kelembutan, subjektivitas menjadi objektivitas. Agama akan mengantarkan kita pada pencapaian tingkat spiritual yang lebih tinggi,dan tertinggi, pada pembebasan sempurna dari arus samsara. Dan kelak, setelah tujuan kita tercapai, maka agama ini pun harus kita “lepas”-kan, yaitu bukan untuk diusung-usung diatas kepala untuk diperdebatkan dan dipertentangkan, namun kita lepaskan kemelekatan kita kepada “agama” tersebut supaya kita bebas melangkah kemanapun juga di pantai seberang sana, supaya tidak menyebabkan kita berbentusan dengan pihak lainnya, yang sungguh-sungguh tidak bermanfaat dan membawa kemerosotan pencapaian spiritual seorang ummat beragama. 😉


[ Sumber Kepustakaan : Majjhima-Nikaya, Kitab Suci Agama Buddha, jilid II, Penerbit : Vihara Bodhivamsa, Wisma Dhammaguna, edisi pertama, cetakan pertama, Kathina 2549, Oktober 2005.   Sumber foto-foto :  http://www.ilpks.gov.my/galeri/displayimage.php?album=6&pos=0  ,    http://wenkul.files.wordpress.com/2008/01/snake.jpg  ]

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Salam Damai dan Cinta Kasih…,

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajja hontu, Anigha Hontu, Sukhi attanam Pariharantu “

( “Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari penderitaan, bebas dari kebencian/permusuhan/pertentangan/niat jahat, bebas dari kesakitan, bebas dari kesukaran, semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaan mereka masing-masing” )

~ RATANA KUMARO ~

SEMARANG, 30 APRIL 2009.

Posted in BUDDHA | 86 Comments »