RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

PEMERSATU THERAVADA DAN MAHAYANA

Posted by ratanakumaro pada Maret 24, 2009

PEMERSATU THERAVADA DAN MAHAYANA


Pendahuluan

( Artikel ini merupakan artikel yang sudah umum bagi ummat Buddha. Di internet, di berbagai blog, sudah banyak yang memposting. Namun, disini saya mengcopy dari http://cetiyamahasampatti.wordpress.com dan saya sunting-postingkan di blog saya sendiri. Selamat menikmati )


Dalam suatu faham, kepercayaan ataupun agama tentunya memiliki ciri khas dalam ide, konsep ataupun ajarannya yang membedakannya satu dengan yang lain. Meskipun dalam suatu faham, kepercayaan ataupun agama tersebut memiliki aliran atau mazab atau tradisi yang beraneka ragam, namun pastilah memiliki ciri khas, kesamaan beberapa konsep ajaran yang mendasar yang menghubungan satu dengan yang lain sehingga aliran-aliran tersebut masih dapat digolongkan dalam faham, kepercayaan ataupun agama induknya.

Buddhisme merupakan agama yang juga tidak lepas dari keberagaman aliran ataupun tradisi. Mayoritas, terdapat dua aliran atau tradisi dalam Buddhisme, yaitu Theravada dan Mahayana (dengan mempertimbangkan Vajrayana merupakan bagian dari Mahayana). Digolongkannya aliran Theravada maupun Mahayana sebagai bagian dari Buddhisme tidak lepas dari adanya kesamaan yang mendasar dalam beberapa konsep ajaran yang merupakan inti sari dari Buddha Dhamma.

Dalam tulisan kali ini, kita disuguhkan persamaan pokok-pokok dasar yang terdapat dua aliran besar dalam Buddhisme yang menjadi pemersatu keduanya. Pokok-pokok dasar pemersatu ini terdapat dalam rumusan-rumusan yang sebelumnya telah dipelajari, disusun, dan diterima oleh para rohaniawan khususnya yang tergabung dalam Dewan Sangha Buddhis Sedunia.

Rumusan Oleh Dewan Sangha Buddhis Sedunia

Pada tahun 1966, Dewan Sangha Buddhis Sedunia atau World Buddhist Sangha Council (WBSC) terbentuk di Colombo, Sri Lanka pada bulan Mei. WBSC merupakan organisasi internasional non-pemerintah yang keanggotaannya terdiri dari sangha-sangha dari seluruh dunia.

WBSC memiliki perwakilan dari tradisi Theravada, Mahayana, dan Vajrayana, yang berasal dari berbagai negara yaitu: Australia, Bangladesh, Kanada, Denmark, Perancis, Jerman, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Korea, Macao, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Nepal, New Zealand, Philipina, Singapura, Sri Lanka, Sweden, Taiwan, Thailand, Inggris dan Amerika Serikat.

Pada Kongres WBSC Pertama, salah satu pendirinya, Sekretaris-jendral, almarhum Y.M. Pandita Pimbure Sorata Thera meminta Y.M. Walpola Rahula untuk memberikan rumusan ringkas untuk mempersatukan tradisi-tradisi yang berbeda, yang kemudian secara bulat disetujui oleh Dewan. Inilah sembilan “Pokok-Pokok Dasar Pemersatu Theravada dan Mahayana”:

1. Buddha hanyalah satu-satunya Guru dan Penunjuk Jalan.

2. Kami berlindung dalam Tiratana (Buddha, Dhamma, dan Sangha).[1]

3. Kami tidak mempercayai dunia ini diciptakan dan diatur oleh Tuhan.[2]

4. Kami mengingat bahwa tujuan hidup adalah mengembangkan belas kasih untuk semua makhluk tanpa diskriminasi dan berusaha untuk kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian mereka; dan untuk mengembangkan kebijaksanaan yang mengarah pada perealisasian Kebenaran Tertinggi.Kami menerima Empat Kebenaran Ariya, yaitu dukkha, penyebab timbulnya dukkha, padamnya dukkha, dan jalan menuju pada padamnya dukkha; dan menerima hukum sebab dan akibat (Paticcasamuppada/ Pratityasamutpada).

5. Segala sesuatu yang berkondisi (sankhara / samskara) adalah tidak kekal (anicca / anitya) dan dukkha, dan segala sesuatu yang berkondisi dan yang tidak berkondisi (dhamma) adalah tanpa inti, bukan diri sejati (anatta / anatma).

6. Kami menerima Tiga puluh Tujuh (37) kualitas yang membantu menuju Pencerahan (Bodhipakkhika Dhamma / Bodhipaksa Dharma) sebagai segi-segi yang berbeda dari Jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha yang mengarah pada Pencerahan.

7. Ada tiga jalan mencapai bodhi atau Pencerahan: yaitu sebagai Savakabuddha / Sravakabuddha, sebagai Paccekabuddha / Pratyekabuddha, dan sebagai Sammasambuddha / Samyaksambuddha. Kami menerimanya sebagai yang tertinggi, termulia dan terheroik untuk mengikuti karir Bodhisattva dan untuk menjadi seorang Sammasambuddha dalam rangka menyelamatkan makhluk lain. [3]

8. Kami mengakui bahwa di negara yang berbeda terdapat perbedaan pandangan kepercayaan-kepercayaan dan praktik Buddhis. Bentuk dan ekspresi luar ini seharusnya tidak boleh dicampuradukkan/dikelirukan (perlu dipisahkan) dengan esensi/inti ajaran-ajaran Buddha.

Perluasan Rumusan

Pada tahun 1981 Y.M. Walpola Sri Rahula mengajukan alternatif rumusan yang mengacu pada 9 dasar dalam rumusan terdahulu. Rumusan tersebut berisi:

1. Apapun aliran, kelompok atau sistem kami, sebagai Buddhis kami semua menerima Buddha sebagai Guru kami yang memberikan kami ajaran-Nya.

2. Kami semua berlindung pada Tiga Permata (Tiratana): Buddha, Guru kami; Dhamma, ajaran-Nya; dan Sangha, Komunitas para Arya (suciwan). Dengan kata lain, kami berlindung pada Pengajar, Pengajaran, dan Hasil Pengajaran.

3. Baik Theravada ataupun Mahayana, kami tidak mempercayai bahwa dunia ini diciptakan dan diatur oleh Tuhan atas kehendaknya.

4. Mengikuti keteladanan Buddha, Guru kami yang merupakan perwujudan dari Belas kasih Agung (Maha Karuna) dan Kebijaksanaan Agung (Maha Prajna), kami menyadari bahwa tujuan dari hidup adalah untuk mengembangkan belas kasih bagi semua makhluk hidup tanpa diskriminasi dan untuk bekerja untuk kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian mereka; dan untuk mengembangkan kebijaksanaan yang mengarah pada realisasi Kebenaran Tertinggi.

5. Kami menerima Empat Kebenaran Mulia yang diajarkan oleh Sang Buddha, yaitu, Dukkha, kebenaran bahwa keberadaan kita di dunia ini berada dalam kesukaran, tidak kekal, tidak sempurna, tidak memuaskan, penuh dengan konflik; Samudaya, kebenaran bahwa kondisi-kondisi ini merupakan hasil dari sifat egois kita yang mementingkan diri sendiri berdasarkan pada ide yang salah mengenai diri; Niroda, kebenaran bahwa adanya kepastian akan kemungkinan pelepasan, pembebasan, kemerdekaan dari kesukaran ini dengan pemberantasan secara total sifat egois yang mementingkan diri sendiri; dan Magga, kebenaran bahwa pembebasan ini dapat dicapai melalui Jalan Tengah yang terdiri dari delapan faktor, yang mendorong ke arah kesempurnaan akan kemoralan (sila), disiplin mental (samadhi), dan kebijaksanaan (panna).

6. Kami menerima hukum semesta sebab akibat yang terdapat dalam Paticcasamuppada (Skt. Pratityasamutpada, Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan), dan oleh karena itu kami menerima bahwa segala sesuatu bersifat relatif, saling berhubungan, saling berkaitan dan tidak ada yang mutlak, tetap, dan kekal di alam semesta ini.

7. Kami memahami, berdasarkan pada ajaran Buddha, bahwa segala sesuatu yang berkondisi (sankhara) adalah tidak kekal (anicca), tidak sempurna dan tidak memuaskan (dukkha), dan segala sesuatu yang berkondisi dan tidak berkondisi (dhamma) adalah bukan diri/ tanpa inti (anatta).

8. Kami menerima Tigapuluh Tujuh kualitas yang berguna bagi pencapaian Pencerahan (Bodhipakkhiya Dhamma) sebagai beragam aspek yang berbeda dari Jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha yang mendorong ke arah Pencerahan, yaitu:

1. Empat Bentuk Landasan Perhatian Benar (Pali: satipatthana; Skt. smrtyupasthana);

2. Empat Daya Upaya Benar (Pali. sammappadhana; Skt. samyakpradhana);

3. Empat Dasar Kekuatan Batin (Pali. iddhipada; Skt. rddhipada);

4. Lima Macam Kemampuan (indriya: Pali. saddha, viriya, sati, samadhi, panna; Skt. sraddha, virya, smrti, samadhi, prajna);

5. Lima Macam Kekuatan (bala: saddha, viriya, sati, samadhi, panna; Skt. sraddha, virya, smrti, samadhi, prajna);

6. Tujuh Faktor Pencerahan Agung (Pali. bojjhanga; Skt. bodhianga);

7. Delapan Ruas pada Jalan Mulia (Pali. ariyamagga; Skt. aryamarga).

9. Ada tiga jalan untuk mencapai Bodhi atau Pencerahan Agung berdasarkan pada kemampuan/kecakapan dan kapasitas dari masing-masing individu, yaitu: sebagai seorang Sravaka (Yang melaksanakan ajaran Sammasambuddha ), sebagai seorang Pratyekabuddha (Buddha Yang tidak memberikan pengajaran) dan sebagai seorang Samyaksambuddha (Buddha Yang Sempurna). Kami menerima jika mengikuti karir seorang Boddhisattva adalah untuk menjadi seorang Samyaksambuddha dalam rangka menyelamatkan yang lain, merupakan sesuatu yang tertinggi, mulia dan paling heroik. Tetapi ketiga kondisi ini berada dalam Jalan yang sama, tidak berada dalam jalan yang berbeda. Sesungguhnya, Sandhinirmocana Sutra, salah satu sutra Mahayana yang penting, secara jelas dan tegas mengatakan bahwa mereka yang mengikuti garis Sravaka-yana (Wahana Sravaka) atau garis Pratyekabuddha-yana (Wahana Pratyekabuddha) atau garis Para Tathagata (Mahayana) mencapai Nibbana tertinggi dengan Jalan yang sama, dan oleh karena itu bagi mereka semua hanya ada satu Jalan Pemurnian (visuddhi-marga) dan hanya satu Pemurnian (visuddhi) dan tidak ada yang lain, dan oleh karena itu mereka bukanlah jalan yang berbeda dan pemurnian yang berbeda, dan oleh karena itu Sravakayana dan Mahayana merupakan Satu Wahana, Satu Yana (eka-yana) dan bukanlah wahana atau yana yang berbeda.

10. Kami mengakui bahwa dalam negara-negara yang berbeda ada perbedaan mengenai tata cara hidup dari para biarawan Buddhis, kepercayaan dan praktik, upacara dan ritual-ritual, seremonial, adat istiadat dan kebiasaan umat Buddha yang bersifat umum. Bentuk eksternal (luar) dan ekspresi ini semestinya tidak boleh dicampuradukkan/dikelirukan (perlu dipisahkan) dengan esensi/inti ajaran-ajaran Sang Buddha.

Rumusan Lain

Ada beberapa tokoh ataupun sarjana Buddhis yang juga merumuskan persamaan ajaran antara Theravada dan Mahayana yang isinya sebagian besar sama dengan rumusan WBSC.

Y.M. K. Sri Dhammananda memberikan rumusan seperti berikut:

1. Kedua aliran menerima Buddha Sakyamuni sebagai Guru.

2. Empat Kebenaran Arya adalah sama persis dikedua aliran.

3. Jalan Utama Berunsur Delapan adalah sama persis dikedua aliran.

4. Paticcasamuppada atau ajaran akan Sebab-Musabab Yang Bergantungan adalah sama persis dikedua aliran.

5. Kedua aliran menolak ide akan “makhluk tertinggi” yang menciptakan dan mengatur dunia ini.

6. Kedua aliran menerima Anicca, Dukkha, Anatta dan Sila, Samadhi, Panna tanpa adanya perbedaan.

Rumusan dari Oo Maung:

1. Kesamaan dalam menerima Empat Kebenaran Ariya.

2. Kesamaan dalam menerima Jalan Utama Berunsur Delapan.

3. Kesamaan dalam menerima Paticcasamuppada atau Sebab-Musabab Yang Bergantungan.

4. Kesamaan dalam menerima Anicca, Dukkha, Anatta.

5. Kesamaan dalam menerima Sila, Samadhi, Panna.

6. Kesamaan dalam menolak konsep tuhan tertinggi.

Rumusan dari Tan Swee Eng:

1. Buddha Sakyamuni merupakan pendiri Buddhisme yang asli dan berdasarkan sejarah.

2. Tiga Corak Universal (Dukkha, Anica, dan Anatta), Empat Kebenaran Arya, Jalan Utama Berunsur Delapan, dan 12 rantai Sebab-Musabab Yang Bergantungan, merupakan fondasi dasar bagi seluruh aliran Buddhisme termasuk aliran Tibet dari Vajrayana.

3. Tiga unsur latihan yaitu Kemoralan (sila), Meditasi (samadhi) dan Kebijaksanaan (prajna) adalah hal yang universal bagi semua aliran.

4. Pengorganisasian Ajaran Buddha / Dharma terbagi menjadi tiga klasifikasi (Sutra/Sutta, Vinaya, dan sastra) terdapat pada kanon Buddhis di berbagai negara.

5. Konsep pikiran melampaui materi. Pikiran sebagai hal yang mendasar dari penjinakan dan kontrol adalah hal yang fundamental bagi semua aliran.

Penutup

Dengan rumusan pokok-pokok dasar pemersatu ini, diharapkan kita dapat memahami ciri khas ajaran yang ada dalam Buddhisme yang membedakan agama besar ini dengan agama atau kepercayaan lainnya yang ada di dunia. Kita dapat memahami bahwa meskipun terdapat perbedaan antar aliran ( dalam Buddha-Dhamma ), namun memiliki ajaran pokok yang sama yang apabila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dapat mengarahkan kita pada akhir penderitaan, Nibbana / Nirvana.

–End–

Catatan:

1. Berlindung dalam Tiratana bukan berarti berserah diri. Buddha dalam pengertian Guru pembimbing, dimana Sakyamuni Buddha adalah Buddha Sejarah. Dan Buddha dalam pengertian Kesadaran. Dhamma dalam pengertian Kebenaran ataupun Ajaran Buddha. Sangha dalam pengertian persaudaraan / perkumpulan para Bhikkhu Ariya.

2. tuhan yang dimaksud adalah yang memiliki definisi: berpersonal, pencipta semesta, prima causa, ayah/ibu dari semua makhluk, paramatman, yang maha segalanya.

3. Savakabuddha: pencapaian Pencerahan melalui mendengar ajaran dari Sammasambuddha. Paccekabuddha: pencapaian Pencerahan dengan usaha sendiri tanpa mengajar. Sammasambuddha: pencapaian pencerahan dengan usaha sendiri dan mengajar.

Literatur:

1. The Heritage of the Bhikkhu; Walpola Rahula; New York, Grove Press, 1974; hal. 100, 137-138.

2. Two Main Schools of Buddhism; K. Sri Dhammananda; Brickfields, Kuala Lumpur.

3. Common Ground Between Theravada and Mahayana Buddhism; Tan Swee Eng; http://www.buddhanet.net

4. Theravada Versus Mahayana; Oo Maung, 2006

9 Tanggapan to “PEMERSATU THERAVADA DAN MAHAYANA”

  1. 卓俊樺 said

    Halo Bung Ratna,

    terimakasih udah mampir ke blog saya 🙂

    tulisan di sana memakai kanji jepang.
    kalo yang muncul angka2/ kotak2, berarti browser mas Ratna tidak bisa membaca huruf kanji ^^”
    ———————————
    Ooo…, begitu to…, iya nih, browser saya gak canggih sih 😉
    ———————————
    di atas ada orang nyasar lagi ya hehe
    ———————————
    Enggak kok, saudara lovepassword itu rekan baik saya, saya juga sering berkunjung ke tempatnya tapi gak pernah bisa koment, karena gak tau caranya , katrok banget *hahahaha* . Lha abis punya dia blogspot tampilannya beda, tak cari2 tempat koment gak ada.

    Lovepassword memang selalu mampir kesini kok, dan dia memang orangnya kritis, suatu pola pikir yang sangat bagus. EHI PASSIKO, datang, lihat, dan buktikan sendiri. Itu yang ia terapkan 😉

    “Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia!”

  2. lovepassword said

    Wah aku ini memang cuma ingin tahu bukan ngajak debat. Hi Hi Hi. Yang ngomong itu anda apa bukan ya? kalo aku nggak salah ingat omonganku itu asalnya dari buku zen budhisme, entar tak carikan sumbernya ya? lha aku tanyakan ke anda karena anda kan lebih mudeng gicu loh. Bukannya mau ngajak berkelahi lho ini. Ha ha ha.

    Masalah meditasi untuk mencapai pencerahan ini juga menarik.
    Ada kisah seperti ini dalam Zen : Alkisah saya lupa namanya anggap saja X menegur Y gurunya karena nggak meditasi. Y kemudian mengambil tanah liat lalu menggosoknya.
    Sang Murid tanya : Mengapa guru menggosok tanah? gurunya menjawab : Untuk dibuat cermin. Muridnya bingung. Gurunya kemudian ngomong : Kamu berharap meditasi untuk mencapai pencerahan, ya mirip sama menggosok tanah untuk menjadikan tanah jadi cermin :).

    Asli Mas Ratna saya cuma ngajak diskusi lho. Hi hi hi.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Oke Lovepassword… ,

    May U Always Be Happy 😉

  3. lovepassword said

    Lha abis punya dia blogspot tampilannya beda, tak cari2 tempat koment gak ada.

    Waduh jadi belon bisa komen tho? Comennya di sebelah Nama dan jam itu lho di bawah tulisan. Ada tulisannya comments (terus diikuti jumlah komentar). SALAM – “Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia!”

  4. Tedy said

    Salam Damai dan sejahtera utk semua makhluk!

    Utk sodara lovepassword, menurut saya ada atau tidak ada Tuhan bukan menjadi masalah. Seandainya ada kita tetap tdk bisa membuktikan, seandainya tdk ada… yah tdk apa2. Kita msh tetap bisa bernafas toh.

    Esensi yg penting menurut saya, kembangkan diri terus menerus utk kebaikan dan pada akhirnya dapat memahami yg disebut dgn “Tuhan”.

    Semoga anda senantiasa berbahagia!

  5. lovepassword said

    Yup Yup…SALAM Semuanya.

  6. CY said

    Bro, setelah dibuat pemersatunya tolong buatin postingan lagi ttg perbedaan Mahayana dan Theravada. Biar kita2 yg awam jadi paham dan yg paham jadi khatam (walah.. istilahnya itu…) 😆

  7. Denny Wong said

    Agama Buddha itu dogma, contoh “Sabbe Sankhara Anicca” = segala sesuatu adalah tidak kekal, pernyataan itu adalah Dogma. Makanya Ehippasiko = mengundang untuk dibuktikan.

    Jangan sembunyi di balik bahwa “Agama buddha bukan dogma”, jadi apa saja menurut kamu baik adalah Buddha Dhamma. Dengan selalu berpresepsi dan sembunyi dibalik DOGMA bahwa “Agama buddha bukan dogma”. SEHINGGA jika menurut presepsi kamu benar APA SAJA BISA JADI BUDDHA DHAMMA, hanya dengan berpedoman (Dogma) agama Buddha bukan dogma ?

    ~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear Denny Wong… ,
    Selamat Datang… 😉

    Wah, tambahan pengetahuan yang sangat menarik 😉

    Dogma ( dari bahasa Yunani, bentuk jamak dalam bahasa Yunani dan Inggris kadangkala dogmata ) adalah kepercayaan atau doktrin yang tidak dapat ( baca : tidak boleh ) dibantah, yang dipegang oleh sebuah agama atau organisasi yang sejenis untuk bisa lebih otoritatif. Bukti, analisis, atau fakta mungkin digunakan, mungkin tidak, tergantung penggunaan.

    Dogma juga bersifat sangat mendasar (misalkan, dogma bahwa ‘Tuhan itu ada’) namun juga mencakup himpunan yang lebih besar dari kesimpulan yang membentuk bidang pikiran (keagamaan) (misalkan, ‘Tuhan menciptakan alam semesta’).

    Mungkin, yang sedikit berbeda dengan Buddhisme adalah, Buddhisme berakar pada kehidupan manusia itu sendiri, yakni : adanya penderitaan, sebab penderitaan, akhir penderitaan , jalan menuju berakhirnya penderitaan.

    Dan “dogma” inilah yang harus dibuktikan sendiri oleh para pengikutnya.

    Terimakasih atas tambahan pengetahuannya diatas 😉

    ~~~~~~~~~~~~~~~~
    Sang Buddha telah mencapai penerangan sempurna, Sempurna pengetahuan, Sempurna tindak tanduknya, Sempurna menempuh jalan ke Nibbhana, pengenal segenap alam, pembimbing nanusia yang tiada taranya, guru para Deva dan manusia, yang patut di muliakan, ITU DALAH DOGMA, keyakinan (Saddha) pada Buddha

    kemudian keyakinan pada Dhamma, yaitu dhamma berada sangat dekat, tak lapuk oleh waktu (Akaliko), mengundang untuk dibuktikan, menuntun kedalam batin oleh para BIJAKSANA dalam batin masing masing, dan juga keyakinan pada Sangha….

    manusia tanpa keyakinan adalah miskin…

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Ya, saya setuju … 😉

    Keyakinan yang beralasan, bukan keyakinan yang hanya “ikut-ikutan”.
    Inilah keyakinan yang timbul setelah membuktikan sendiri manfaat Buddha-Dhamma.

    Sepakat, sepakat… 😉
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Seperti dikatakan Sang Buddha pada tahun ke 16 beliau mengajar Dhamma, di kota Alavi kepada Yakkha Alavaka yang menteror kota Alavi, Tipitaka (SN.I-10)
    Banyak pertanyaan Yakkha pada saat itu, antara lain adalah “ Apakah harta termulia bagi seorang manusia dalam dunia ini ?”, dan jawaban Sang Tathagata sebagai berikut “ KEYAKINAN merupakan HARTA TERMULIA bagi mausia dalam dunia ini “

    KEYAKINAN pada agama Buddha mendatangkan HARTA yang mulia. Keyakinan di dalam agama Buddha disebut Saddha yang dibangun karena belajar. Kita belajar hukum kamma, 4 kesunyataan mulia, patticasamupada, vippasana bhavana /satipatthana (perhatian murni) dll dsb, kemudian buktikan ajaran Buddha tsb dengan membandingkan dengan ajaran agama/ aliran lain. Itulah saddha, keyakinan dibangun karena belajar.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    emmm…, yang ini yang terkadang agak rawan 😀 :mrgreen:

    Namun perbandingan untuk diri kita sendiri sangat penting, hanya bila sudah sampai keluar, biasanya yang terjadi salah-paham :mrgreen:
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Belajarlah pada guru atau buku yang mengajarkan kita kuat pada keyakinan pada buddhasasana, jangan belajar pada orang pinter bicara, yang pinter berdebat tetapi miskin pada keyakinan.

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Didalam Kalama-Sutta, Sang Buddha bersabda :

    Oleh karena itu, warga suku Kalama, janganlah percaya begitu saja berita yang disampaikan kepadamu, atau oleh karena sesuatu yang sudah merupakan tradisi, atau sesuatu yang didesas-desuskan. Janganlah percaya begitu saja apa yang tertulis di dalam kitab-kitab suci; JUGA APA YANG DIKATAKAN SESUAI DENGAN LOGIKA ATAU KESIMPULAN BELAKA ; juga apa yang katanya telah direnungkan dengan seksama; juga apa yang kelihatannya cocok dengan pandanganmu; atau karena ingin menghormat seorang pertapa yang menjadi gurumu.
    Tetapi, warga suku Kalama, kalau setelah diselidiki sendiri, kamu mengetahui, ‘Hal ini tidak berguna, hal ini tercela, hal ini tidak dibenarkan oleh para Bijaksana, hal ini kalau terus dilakukan akan mengakibatkan kerugian dan penderitaan, maka sudah selayaknya kamu menolak hal-hal tersebut.”

    Saya kira, dalam belajar, pesan2 Sang Buddha tersebut diatas pantas kita renungkan, kita ambil sebagai pedoman 😉
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Jangan kita mati tanpa keyakinan

    Saat menjelang ajal, tanpa sesal dan dengan penuh keyakinan kita mengucap :
    Buddham saranam gacchami
    Dhammam saranam gacchami
    Sangham saranam gacchami…. (nafas putus / death !)
    Aku berlindung pada Buddha, Dhamma, dan Sangha.

    Setelah mati kita terlahir lagi, sebagai mahluk yang penuh keyakinan pada Buddhasasana, sehingga kita tidak pernah miskin karena memiliki harta termulia.

    Sadhu, sadhu, sadhu.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Sadhu…Sadhu….Sadhu… 😉
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Denny Wong
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Peace & Love 😉

    Ratana Kumaro 😉

  8. To: Bro Denny Wong

    Tisarana itu bukanlah mantra untuk mampu menimbulkan keyakinan. Keyakinan bukanlah sesuatu yg timbul sekonyong-konyong. Namun dengan mengerti makna dari Tisarana dan mempraktikkan Dhamma Sang Buddha sehingga mampu meraih/merealisasi makhluk Ariya saat Gotrabhu, itulah inti dari Tisarana bro, bukan begitu Mas ratana?

    Best regards,
    Ali

  9. pamuji rahayu..,

    kangmas ratana .. matur sembah nuwun atas emailnya.., saya coba buka dan untuk masuk ke multiply kok ndak bisa .., apa saya yang tongo ya alias tolol dongo… hehehe…, saya juga dah kirim koment tapi via multiply.. lha kok ndak masuk juga.., malah balik masuk email sendiri.. weladhalah.., dan di multiply panjenengan juga koment tapi ndak masuk juga…, dah coba buat untuk login namun ya kembali lagi ndak mau…, gimana ya mas .., dan mohon maaf kangmas saya telat balas email panjenengan..,
    semoga semua mahluk berbahagia, dan senantiasa terhindar dari lobha,dosa dan moha.., semua tansah rahayu karaharjan..

    salam sihkatresnan, damai penuh cinta kasih.
    rahayu…
    ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
    Salam Pamuji Rahayu, mas Hadi Wirojati

    Mengenai “multiply” itu, saya juga iseng2 kok mas.
    Soalnya, waktu itu saya mau ngisi komentar di salah satu situs, tapi disyaratkan untuk log-in terlebih dahulu.
    Nah, sekalian saja saya buat situs disitu, meskipun sementara ini tidak akan saya fungsikan.

    Maturnuwun atas atensi panjenengan mas,
    salam sih katresnan.
    Rahayu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: