RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

TAMASYA KE PALEMBANG

Posted by ratanakumaro pada Maret 19, 2009

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa “

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Para sahabat yang tercinta, dibawah ini adalah foto-foto perjalanan saya ke Palembang selama tugas audit disana, pada tanggal 16 Februari s/d 28 Februari 2009 kemarin.

Ada dua objek wisata yang cukup menarik yang sempat saya kunjungi ditengah-tengah pekerjaan yang cukup ‘penat’, yaitu :

1. Pulau Kemaro / Kemarau ( yang melegenda )

2. Jembatan AMPERA dan Sungai MUSI

Berikut liputan tamasya kali ini ke kota Palembang, bersama saya, Upasaka Ratana Kumaro.

1. LEGENDA PULAU KEMARO

Pulau Kemaro dari Seberang Sungai Musi

Pulau Kemaro dari Seberang Sungai Musi

Pulau ini terletak di tengah2 sungai Musi, tepatnya lima (5) Km dari Benteng Kuto Besak. Bentuk pulau ini mirip sebuah kapal ( yah, kalau di pas-pas-in mirip juga sih, hihihi … 😉  ) . Kata beberapa tokoh masyarakat, Pulau itu memang terbentuk dari kapal yang dipakai Tan Boen An kala itu. Disebut “Kemarau”, karena, meskipun arus air pasang-naik , seberapapun tingginya, pulau ini tak pernah tenggelam, meskipun daerah-daerah di pinggir sungai Musi sebagian terendam air pasang naik tersebut.

Alkisah, beberapa ratus tahun yang lampau ( kabarnya sih di jaman kerajaan Sriwijaya Palembang, tapi entahlah, tetap masih simpang siur hingga sekarang ) , hiduplah seorang bernama Tan Boen An dan Siti Fatimah.

SRIWIJAYA PALEMBANG

SRIWIJAYA PALEMBANG

Tan Boen An adalah anak saudagar kaya etnis Tiong Hoa, yang beragama Buddha ( Buddha atau Kong Hu Cu ? Nggak jelas juga. Tapi melihat tradisi yang berkembang di pulau kemaro sana sih, lebih condong ke  Tri-Dharma, sebab ada kelenteng dan patung-patung Dewa. Kalau Buddha, seharusnya sebuah vihara dan tanpa patung-patung Dewa ). Sedangkan Siti Fatimah, adalah seorang perempuan asli Palembang, dan memeluk agama Islam. Siti Fatimah dikisahkan seorang anak raja kala itu ( kerajaan apa ? tidak jelas juga… 😉  ).

SELAMAT DATANG "MAKMUR SEJAHTERA"!

SELAMAT DATANG "MAKMUR SEJAHTERA"!

Tan Boen An dan Siti Fatimah saling jatuh cinta. Namun malang, cinta mereka ditentang oleh kedua orang tua mereka masing-masing. Dikisahkan, ayah Siti Fatimah mengajukan syarat yang berat kepada kedua orang tua Tan Boen An, yaitu keharusan disediakannya sembilan buah Guci besar berisi emas murni. Keluarga Tan Boen An , demi cinta-kasihnya kepada anak bungsu mereka tersebut ( Tan Boen An ), akhirnya menyetujuinya. Orang tua Tan Boen An kemudian mengirimkan kapal berisi sembilan guci besar berisi emas-emas murni dari Jawa menuju Pa Lie Bang ( Palembang ; Legenda menyatakan keluarga Tan Boen An tinggal di Jawa ). Demi menjaga keselamatan guci-guci yang berisi emas tersebut, dari para perompak / bajak laut, maka orang-tua Tan Boen An menutupi kesembilan guci itu dengan berbagai macam sayur-sayuran.

Setibanya kapal pengangkut kesembilan guci itu di Palembang, Tan Boen An segera memeriksa guci-guci itu. Betapa terkejutnya, Tan Boen An yang tidak mengerti itu, ternyata hanya menemukan sayur-sayuran di atas guci-guci dan di sebagian dalam guci2 tersebut. Karena marah, Tan Boen An membuang kesembilan guci itu kedalam sungai Musi. Ketika akhirnya ia mengetahui bahwa Guci-guci itu benar-benar berisi emas, maka menyesallah ia, dan Tan Boen An pun menceburkan diri ke dalam sungai Musi untuk mengambil emas-emas itu dengan tujuan akan diberikan kepada orang tua Siti Fatimah sebagai “peningset” atau mahar untuk melamar anak mereka. Melihat Tan Boen An menceburkan dirinya kedalam sungai Musi, Siti Fatimah pun tak tahan diri dan ikut menceburkan diri kedalam sungai Musi yang dalam. Konon, sebelum tenggelam, Siti Fatimah berkata,” Jika nanti suatu ketika timbul tanah di tengah sungai ini, maka itulah makam kami berdua”. Dan semenjak itu, Tan Boen An serta Siti Fatimah tak pernah ditemukan.

Makam Tan Boen An dan Siti Fatimah ; bersandingan

Makam Tan Boen An dan Siti Fatimah ; bersandingan

Dan hingga kini, jasad mereka berdua, dipercaya bersemayam di Pulau Kemarau tersebut, sebuah delta yang menyembul di tengah-tengah Sungai Musi. Yang menyebabkan Pulau ini melegenda, karena, konon diatas makam kedua “mempelai” tersebut secara ajaib menyembul batu karang alami, sementara di mana-mana di lokasi Pulau Kemarau yang lain, tidak terdapat batu karang tersebut.

Karang di Pedupaan ; Dipercaya sebagai Kepala Naga

Karang di Pedupaan ; Dipercaya sebagai Kepala Naga

Mitos-mitos menyatakan, batu karang itu merupakan “tanda” yang dibuat oleh “Dewa Naga” yang menguasai pulau tersebut. Oleh karena itu, masyarakat Tiong Hoa yang menganut Kong Hu Cu dan Tao-isme disana, mendirikan kelenteng untuk memuja Dewa Naga dan beberapa Dewa lainnya. Dibawah ini adalah foto salah satu patung dewa di dalam kelenteng yang berhasil saya foto. Foto ini saya ambil diam-diam alias mencuri, karena sebenarnya para pengunjung tidak diperbolehkan untuk mengambil foto-foto terhadap objek-objek apapun di dalam kelenteng. Foto karang diatas ( yang dianggap kepala naga ) dan foto patung dewa ini saya ambil sambil mengendap-endap, hehehe… .

Patung Dewaw di dalam Kelenteng ; Tidak boleh dipotret!!

Patung Dewaw di dalam Kelenteng ; Tidak boleh dipotret!!

Sedangkan foto yang dibawah ini, adalah “POHON CINTA”. Konon, siapaun yang belum bertemu jodoh / pasangannya, tinggal mengukirkan namanya di pohon tersebut, dan tak lama lagi jodoh pun menghampiri. Atau, untuk pasangan yang berniat mengikat cinta sehidup semati, dianjurkan menuliskan nama mereka berdua di cabang-cabang pohon tersebut, konon dijamin awet, langgeng seumur hidup. Mengenai kebenaran mitos ini, terserah bagaimana anda semua menyikapinya 😉

POHON CINTA ; Hayoo, siapa yang pengin ketemu Jodoh ?? ;)

POHON CINTA ; Hayoo, siapa yang pengin ketemu Jodoh ?? 😉

Pulau Kemarau, kini lebih merupakan tempat peribadatan bagi pemeluk Tri-Dharma, dan tidak tepat jika dikatakan tempat ini merupakan objek wisata Buddhis, meskipun terdapat sebuah Pagoda dari tradisi Buddha-Mahayana.

Pagoda tradisi Mahayana di Pulau Kemarau

Pagoda tradisi Mahayana di Pulau Kemarau

Saya , bersama rekan-rekan sekantor, menyempatkan untuk berkeliling sungai Musi di sekitar Pulau Kemarau menggunakan sebuah perahu motor. Dan banyak panorama-panorama alam yang saya potret waktu itu,seperti misalnya, foto dibawah ini saya ambil sembari menaiki perahu motor mengelilingi pulau kemaro. Pagoda tampak megah berdiri dikelilingi perairan sungai Musi.

Keliling naik Perahu ; potret dulu ah pagodanya! :D :mrgreen:

Keliling naik Perahu ; potret dulu ah pagodanya! 😀 :mrgreen:

Sedangkan yang berikut ini, setelah kami berkeliling, sampailah kembali di “dermaga” pulau kemaro.

Abis keliling naik perahu, sampai lagi deh di dermaga ;)

Abis keliling naik perahu, sampai lagi deh di dermaga 😉

2. JEMBATAN AMPERA dan SUNGAI MUSI

Sedangkan yang ini, adalah foto-foto saya di atas Jembatan Ampera, sembari naik mobil, diantar oleh sopir klien / perusahaan yang saya audit.

Jembatan AMPERA

Jembatan AMPERA

Jembatan AMPERA, menurut cerita orang-orang Palembang, merupakan hadiah dari pemerintahan Jepang pada tahun 1960-an, sebagai tanda balas-jasa dan permintaan maaf atas penjajahan yang mereka lakukan terhadap bangsa Indonesia.

Meskipun dibangun pada tahun 1960, namun, jembatan ini sangat kokoh dan megah, tidak kalah dengan ( atau bahkan melebihi ) jembatan-jembatan yang dibangun insinyur Indonesia masa kini.

Seringkali, kapal-kapal pengangkut barang yang melewati kolong jembatan ini menabrak jembatan Ampera karena tingginya melebihi ukuran seharusnya. Namun, jembatan ini tetap kokoh berdiri.

Musi dari atas Ampera

Musi dari atas Ampera

Sedangkan sungai Musi, siapa yang tak pernah mendengarnya ? Sungai Musi, adalah sungai terbesar / terlebar di Indonesia, dengan panjang 750 Km. Untuk sungai yang berada di bawah jembatan Ampera ini saja, lebarnya sekitar 10 kali lebar sungai Banjir-Kanal di Semarang. Padahal, di daerah sungai yang lain, lebarnya, hampir bagaikan sebuah lautan, sangat luas. Pemandangan ini saya ambil dari dalam mobil di atas jembatan Ampera.

Musi dari Atas Ampera

Musi dari Atas Ampera

Sungai Musi membelah kota Palembang menjadi dua. Seberang Ilir di bagian utara, dan Seberang Ulu di bagian selatan. Sejak jaman Sriwijaya, Sungai Musi telah menjadi sarana utama transportasi masyarakat.

Musi dari atas Ampera

Musi dari atas Ampera

Demikian liputan perjalanan tamasya saya di Palembang. Semoga membawa sepercik manfaat bagi penyegaran batin ( refreshing ).

Salam Damai dan Cinta Kasih…,

“ Sabbe Satta Avera Hontu, Abyapajja hontu, Anigha Hontu, Sukhi attanam Pariharantu “

( “Semoga semua makhluk bebas dari permusuhan, kemauan jahat, dan terlepas dari penderitaan, semoga semua makhluk dapat mempertahankan kebahagiaannya sendiri tersebut )

Upa. RATANA KUMARO ( Ratya Mardika Tata K. )

–SEMARANG, 19  MARET 2009 –

29 Tanggapan to “TAMASYA KE PALEMBANG”

  1. wira jaka said

    wah betul mas … melihat air yang melimpah memang menyegarkan mata ….. tapi wajah mas Ratana lebih meneduhkan kok.
    +++++++++++++++++++++++++++++++++
    Dear mas Wira Jaka,
    Salam Hormat untuk Anda 😉
    Salam Damai dan Cinta Kasih…,

    Waduh, maturnuwun atas sanjungannya, mas Wira Jaka… ,
    Semoga hati kita semua selalu teduh 😉

    ++++++++++++++++++++++++++++++++++

    mas Ratna ikut nuliskan namanya di pohon cinta .. tidak ??? 😛
    ++++++++++++++++++++++++++++++++++
    Boten Mas… nanti ndhak dikinthili sama wewe yang nunggu pohon-cinta yang ratusan tahun gak dapet jodoh *wahahahaha….* 😀 :mrgreen:
    +++++++++++++++++++++++++++++++++++
    eh kalau yang sudah punya istri ikut nulis lagi boleh nggak ???
    +++++++++++++++++++++++++++++++++++
    Boleh saja mas, kan maximal empat (4) to mas?? *wakakakawikikiki* 😀 :mrgreen:
    +++++++++++++++++++++++++++++++++++
    maaf mas … itu Kangboed oleh2nya dimakan sendiri kita tidak dibagiin …. gantiin dong….
    +++++++++++++++++++++++++++++++++++
    Ya besok lagi ya mas, kalau ke Palembang lagi…

    Mudah2an oleh2 berupa cerita2 legenda ini dan foto2 bisa lebih memuaskan hati 😉

    Salam Damai dan Cinta Kasih,
    “Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia!”

  2. Ngabehi said

    waduh sampeyan tambah gemuk aja, subur, abis nyari sendiri dimakan sendiri sich, he he bercanda ah.
    +++++++++++++++++++++++++++++++++++++
    Dear mas Ngabehi…,
    Salam Hormat untuk Anda 😉
    Salam Damai dan Cinta Kasih…,

    Iya ya mas, tambah gemuk, jadi malu nih , hehehe… 😉

    Sebenarnya, kalimat yang ini : “nyari sendiri dimakan sendiri” agak keliru loh mas 😉

    Soalnya, ada keluarga yang saya ikut “nyangga” alias menanggung 😉

    +++++++++++++++++++++++++++++++

    Tapi kok ya bener ya, sampeyan itu mirip sang Buddha yang gemuk itu, namanya buddha siapa mas.

    +++++++++++++++++++++++++++++++
    Terimakasih atas puji-pujiannya 😉

    Tuh kan mas, apa saya bilang 😉
    Yang saya bilang di Gantharwa dulu itu tuh gak bo’ong2an mas…

    Saya di kantor, biasanya beberapa rekan memanggil saya dengan sebutan “Buddha”,
    Terkadang, klien memanggil “Maitreya Buddha” … Yaitu, yang sampeyan maksud dengan pertanyaan “Buddha siapa mas” , jawabannya : Buddha-Maitreya, atau “BUDDHA-JULAI”. Mengenai Maitreya ini , sebenarnya beliau belumlah seorang BUDDHA, karena beliau itu barulah seorang BODDHISATTVA, atau CALON BUDDHA ( Boddhi = pencerahan, sattva =makhluk ; jadi , arti Boddhisattva adalah makhluk yang beraspirasi mencapai pencerahan sempurna demi menyelamatkan semua makhluk dari arus samsara. Semua orang ( termasuk saya dan anda ) bisa menjadi Boddhisattva, beraspirasi dan bertekad mencapai tataran SAMMA-SAMBUDDHA )

    Tapi mirip sekedar mirip, karena saya belumlah menjadi seorang Buddha…,
    Kalau sudah menjadi Buddha, pasti tiap hari terbang sana-terbang sini beserta fisik2nya ( umumnya yang terbang kan cuma roh-nya ya mas, tapi Buddha tidak sekedar rohnya mas… ) , nengok mas Ngabehi dan rekan2 semuanya, termasuk mas Wira Jaka… , hehehehehe 😀 :mrgreen: .

    ++++++++++++++++++++++++++++++++
    salam
    ++++++++++++++++++++++++++++++++
    Salam Damai dan Cinta Kasih,
    “Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia!”

  3. wira jaka said

    Mas Ratana …. nanya nih, kalau kesaktian seperti bisa terbang … berjalan diatas air dll …. berasal dari mana ??? atau karena lelaku aja ???
    ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
    Dear Mas Wira Jaka,
    Salam Hormat untuk Anda… ,

    Kesaktian, bisa didapat dari dua jalan =
    1). Diperoleh atas bantuan “makhluk” lain, entah makhluk yang baik maupun yang jahat. Makhluk yang baik, misalnya = Para Brahma, Maha-Brahma ( Tuhan ).
    Makhluk yang jahat misalnya = Para Gandabha, raksasa.
    Seperti contoh seorang “PakDhe” yang saya ceritakan kemarin dulu, itu karena dibantu makhluk, yah, makhluk tataran Dewa lah.

    2). Diperoleh dari Laku, latihan, yaitu hasil pencapaian JHANA-JHANA. Yang seperti ini, adalah yang diajarkan oleh Sang Buddha, serta diikuti para siswa Sang Buddha hingga detik ini. Yang seperti ini, sebenarnya dalam bahasa Jawanya bisa diuraikan dengan kalimat : “DIGDAYA TANPA AJI”, “SAKTI MANDRAGUNA TANPA AJI-AJI”.

    Untuk itulah, saya menuliskan artikel2 SAMADHI, termasuk empat-puluh (40) Kammathana ( meskipun belum lengkap ). Tujuannya, supaya mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari Samadhi, baik “Pencerahan”, maupun berbagai bentuk kemampuan-batin.
    +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
    apakah setiap orang yang sudah lelaku pasti menemukan / mendapatkan kesaktian ???
    atau malah samadhi dan jhana pasti sakti ??? atau belum tentu juga …. ???
    +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

    Setiap orang bisa menempuh “Laku”, tapi tidak semua berhasil mendapatkan kesaktian dalam kehidupan ini juga. Mengapa ? Karena, karma setiap manusia itu sendiri2, timbunannya sendiri2. Mungkin, jika sekarang belum, pasti suatu saat kelak, pada suatu kehidupan nanti, bila ia terus-menerus bertekun dalam “laku”, ia akan berhasil memperoleh kesaktian itu. Makanya, orang-orang tua jaman dahulu ketika ditanya, “Saya kepengin seperti Eyang, bagaimana caranya?” pasti jawabannya, ” Nanti kan kamu bisa sendiri”. Saya dulu juga mendapat jawaban dari R.Rahajoe Dirdjasoebrata seperti itu. 😉

    Samadhi dan Jhana, PASTI akan mendatangkan kesaktian.

    Dalam tataran Upacara-Samadhi, seseorang sudah bisa merasakan tubuhnya “melayang” ( meski tidak semua yogi mengalami hal ini walau sama2 mencapai upacara-samadhi. Setiap yogi sensasinya sendiri2 ). Melayang, meski mungkin hanya beberapa milimeter, atau beberapa centimeter. Pengin tahu rasanya mas ? wiiiiiii…enak gila! 😀 :mrgreen: Itu sebabnya, saya percaya jika orang2 sakti tertentu ( terutama Sang Buddha ), bisa mempunyai kemampuan seperti terbang, menyelam dalam bumi, berjalan di atas air, berpindah ruang. Karena, setiap pencapaian JHANA yang sudah tuntas, PASTI akan menghasilkan kesaktian seperti itu 😉 .
    +++++++++++++++++++++++++++++++++++++

    karena yang saya amati … kok yang ilmu spiritualnya tinggi … biasanya kesaktiannya juga tinggi
    +++++++++++++++++++++++++++++++++++++

    Tetapi, KESAKTIAN , tidak menandakan pencapaian PENCERAHAN lo mas… .

    PEncerahan itu, adalah saat kita menembus semua hakekat ( seperti, ada tidaknya Tuhan, Aku, Materi, dan lain-lain ), memahami apa arti segala sesuatu tentang kehidupan ini, dan bagaimanakah mengakhiri penderitaan.

    Orang sakti, belum tentu menembus hal-hal itu. Banyak dewa yang sakti, banyak raksasa yang sakti, tapi mereka tidak tercerahkan, betul tidak mas ? 😉
    +++++++++++++++++++++++++++++++++++++

    maturnuwun mas,
    salam,
    +++++++++++++++++++++++++++++++++++++

    Maturnuwun ugi mas,
    Salam Damai dan Cinta Kasih,
    “Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia!”

  4. CY said

    Wah, pagodanya itu bagus banget bro… jadi berasa di Negeri Tiongkok 😀
    +++++++++++++++++++
    Dear Ko CY,

    Wah, berarti sudah pernah ke Tiongkok ya Ko ??
    Ajak-ajak dong, sesekali 😀 :mrgreen:

    “Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia!”

  5. tomy said

    weleh2 senenge bisa tamasya
    mbok ya’o kalo pas jeng-jeng saya digeret biar bisa ikut menikmati Mas
    tapi ya ndak papa sudah dilaporkan dengan detil cerita foto2nya
    bisa buat kulakan berita sama teman2 biar nggak dikira katro
    weh jebule tomy ya ngerti Palembang 😀
    ++++++++++++++++++++

    Siiip mas Tommy, siiiip… .;)

  6. kangBoed said

    Waduuuuuuuuh kinclooooong hahahaha….. jalan jalan terus sampe lupa kebanyakan makaaaaaaan hihihi…
    +++++++++++++++++
    Sebenernya gak juga kalau kebanyakan makan , mas KangBoed…,
    Saya memang gemuk, tapi lebih ke “gempal” ketimbang “gendhut” 😉

    +++++++++++++++++
    habis jatah kite kite sampeyan embaaaat juga sih weleh weleeeeeh jangankan badan buka blognya juga sampaaai beraaaaat begini daaah diulang berapa kaliii hihihi… banyak puasa maaas jangan tertarik ma inside out terus alias gembuuuuuuul jadinya hahahaha…….
    +++++++++++++++++

    Eh, yang paling penting sebenarnya puasa batin dari segala bentuk nafsu loh mas 😉
    Ya nafsu keserakahan, nafsu kemarahan, nafsu keinginan macem2, dan lain-lain… .

    Saya punya kenalan beberapa pecinta spiritualitas.
    Yang satu, kuat puasa 40 hari tidak makan hanya minum saja.
    Tapi, ia suka menampar istri, menelantarkan anak-anaknya, dan lain-lain sebagainya.

    Yang satu rajin puasa, termasuk puasa senin-kamis.
    Tapi, suka ngutil barang, suka pake duit kantor gak dikembalikan, dan lain-lain bentuk kejahatan.

    Nah, brother Ratna Kumara ini ,meski tidak berpuasa seperti itu, tapi puasa dari nafsu-nafsu loh mas, bahkan berusaha mengikisnya, mengikis semua bentuk kejahatan, segala bentuk kekotoran batin… 😉 😀 :mrgreen:
    +++++++++++++++++++++++++++++
    asyiiiiiiiik brooot…her ku sayang mirip Bobo Hook hiiiiiiii cuakep guanteng tuapan wajah konglomerat gak ada matinya apalagi susah hehehe…
    +++++++++++++++++++++++++++++

    Yah, sampeyan keliru mas…,
    Saya gak ada mirip2nya sama Bobo Ho… ,

    Tapi kalau sama BODHISATTVA MAITREYA ( Maitreya, Sang Calon Buddha berikutnya ), saya memang ada mirip2nya ( wah, kayaknya mulai narsis nih, hahahaha 😀 :mrgreen: )

    Wajah konglomerat ? Tapi rejekinya rejeki rakyat kebanyakan kok mas 😉
    +++++++++++++++++++++++++++++

    siiiiiiiip brooooot…her tersayang kapan balik niiiih hahaha….
    +++++++++++++++++++++++++++++

    Lha ini sudah balik semarang mas, tanggal 18 maret kemarin terbang dari Pontianak ke semarang 😉
    Sekarang sudah balik ke rutinitas di semarang 😉

    +++++++++++++++++++++++++++++
    dah kenalaaan ama JIN kalimantan katanya cantik cuantiiik dan guanaaaaaaaas hehehe… awas dimakan bro hehehehe…..
    +++++++++++++++++++++++++++++
    Sudah mas, sudah kenalan… ,
    Cantik-cantik sih, baik-baik juga sama saya 😉

    +++++++++++++++++++++++++++++
    jangan lupa oleh olehnya yaaaaa jangan cuma dongeeeeng hihihi………
    +++++++++++++++++++++++++++++
    Oke brother 😉
    +++++++++++++++++++++++++++++
    Salam Sayang Selalu
    cup cup cup
    +++++++++++++++++++++++++++++
    Salam Damai dan Cinta Kasih,
    “Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia!”

  7. djoko mulyono said

    dari foto anda, sy melihat Anda orang yang spiritualnya tinggi, terutama dari bentuk dahi dan mahkota, punya potensi jadi biku hebat atau petapa yang bgs. Hidung dan telinga juga memberikan nilai plus.
    ++++++++++++++++++++
    Dear mas Djoko Mulyono,
    Salam Hormat untuk Anda,
    Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

    Terimakasih atas segala puji-pujiannya…,
    Semoga Kita semua berhasil mencapai Pencerahan Sempurna 😉

    ++++++++++++++++++++

    Keep up the good work by writing more insightful articles.
    ++++++++++++++++++++

    Thank you so much, thanks for your kindness and attention 😉
    Tapi, kita semua musti ingat,
    “Sabbe sankhara anicca,
    Sabbe sankhara dukkha,
    Sabbe dhamma ANATTA”
    😉
    Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta 😉

  8. Kang Kumara kepiye kabare Kang??? wah suwe banget aku ra dolan rene.
    Wadhoooooooooooooowwwwwh….kok GUNDHULNYA Kang Kumara sama karo Ndhas Gundhulku yah???…kiks..kiks…
    Weeehhh…tambah makmur saja saiki rek..rek…LEMU GINUK~GINUK.
    +++++++++++++++++++++++++++++
    Dear mas Santri Gundhul,
    Salam Hormat untuk Anda ,
    Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

    Wah, anda juga suka cukur gundhul ya ??

    Semoga, termasuk juga gundhul hatinya…, gundhul-plonthos dari Dosa ( kebencian / kemarahan ), Lobha ( keserakahan / nafsu keindriyaan ), dan Moha ( kegelapan / kebodohan batin, batin yang a-dhamma ). 😉
    ++++++++++++++++++++++++++++++

    Weeee….kok ada yg nyinggung2 JIN Kalimantan barang.
    yah…Kang Boed lage..ini orang kayak KUTU LONCAT saja, menclok sana-menclok sini…kiks..kiks..
    Jin Kalimantan pancene AYU~AYU Kang Boed…opo meneh nek nggawe Long Dress Merah…wuaaahhh bakal KESENGSEM sampeyan nek weruh. Asli gak ngecap iki rek..

    Kang Kumara,
    ” Yantha garam due-channam vutthi na sammativijjathi,
    Evam subhavitam cittham rago na samativijjathi ”

    **Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa**
    ” TERPUJILAH YANG MAHA SUCI, SANG BUDHA YANG SEMPURNA KEBIJAKSANAANNYA ”
    +++++++++++++++++++++++++++++++++++++


    Sepertinya ada yang perlu dikoreksi nih Kang, dari kutipan anda :
    “Yatha garam SUCCHANNAM vutthi na samativijjhati
    Evam subhavitam cittam rago’na samativijjhati ( Dhammapada, Yamaka Vagga ; 1:14 ) ”
    ARTI :
    Seperti air hujan yang tidak dapat menembus atap jerami yang tebal,
    Demikianlah nafsu keinginan tidak dapat menembus batin yang kokoh ( terlatih baik ) ”

    ** Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa**
    ” TERPUJILAH SANG BHAGAVA, YANG MAHA SUCI, YANG TELAH MENCAPAI PENERANGAN SEMPURNA” 😉

    ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

    DAMAI DIHATI….DAMAI DIBUMI

    Wassalam
    ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

    Salam Damai dan Cinta Kasih,
    Damai di hati…damai di bumi… 😉

    Sukhi attanam Pariharantu 😉

  9. 卓俊樺 said

    Dear Mas Ratna,

    Salam kenal dari saya.
    +++++++++++++++++++++
    Dear Saudara…,
    Salam Kenal dari saya juga,
    Salam Persahabatan… 😉

    +++++++++++++++++++++
    Wajah anda sangat mirip dengan orang yang pertama kali mengajarkan meditasi dan seni kehidupan kepada saya semasa saya masih menjadi mahasiswa:)
    +++++++++++++++++++++
    Terimakasih telah menyejajarkan dengan “Guru” meditasi anda yang pertama kali…,
    Wajah ( Rupa ) dan batin ( Nama ), hanyalah “PANCA-KHANDA” 😉

    “Sabbe Dhamma Anatta”
    +++++++++++++++++++++
    Saya menjadi bertanya2, apakah semua orang yang berhasil dalam meditasinya memang akan berubah bentuk wajahnya? 😀
    +++++++++++++++++++++
    Saya justru bertanya-tanya, apakah setiap orang yang bertekun dalam Dhamma akan mempunyai wajah yang menuju SERUPA ?? 😉

    Karena, coba kita lihat wajah2 para Bodhisatta, antara Maitreya dan Ksitigarbha, wajah Beliau berdua itu juga serupa loh 😀

    Yah, yang pasti, dhamma membuat batin kita damai, sejuk, cerah 😉
    Dan bukankah, Rupa itu, terbentuk karena faktor Batin ( kamma ) kita sendiri ??

    +++++++++++++++++++++

    Terimakasih banyak atas artikel2 yang anda share di sini 🙂

    +++++++++++++++++++++
    Terimakasih kembali…,
    Sukhi attanam Pariharantu… .

  10. Tedy said

    Mas, kata org chinese anda mirip “JU LAI HUT”. Tp ngomong2 sapa tuh “PakDhe” mas?

    Semoga semua makhluk berbahagia
    +++++++++++++++++++++++++++++++++++
    Dear Teddy,

    Yup, benar… Rekan2ku yang Chinesse, kebanyakan memanggil-ku “JU LAI HUT” alias “BUDDHA JU LAI”.

    Mengenai “PakDhe” itu, coba baca komentar saya untuk mas Wira Jaka di “Tanda-Tanda Pencerahan”.

    Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta… .

  11. kweklina said

    wah..keren tempatnya…

    aduh, lupa titip pesan supaya menempelkan namaku dan suami di pohon cinta itu…hehehe

    Postingannya menarik…semoga bisa mendatangkan banyak pengunjung kesana.

    Salam…
    ++++++++++++++++++++++++
    Wah, iya, Aling kok gak nitip nama Aling and suami ? Jadi telat deh 😉

    May You Be Happy… .

  12. Yep said

    Salam kenal juga….friend 🙂
    Posting yang sangat menarik…
    +++++++++++++++++++++++++++

    Okey Yep 😉
    Thanks ya… 😉

  13. wach ..asyik donk tamsyanya…
    tawarannya…mengenai tuhan ada atau tidak ada…
    bukan saya nggak mau tapi dach capek…sambung aja yg ini :
    http://jockerkosong.wordpress.com/tentang-aku/

    intinya Pencipta itu ada…
    tinggal mau percaya apa tidak..
    kepercayaan….nggak mungkin di debat.
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dear Lovepassword…,
    Okay brother 😉

    May U Always Be Happy 😉

  14. hidayat said

    kalau di Palembang ada pohon cinta, kalau di Bandung ada Danau Cinta..letaknay di siteu Ciwidie barat Gunung Patuha ceritanya mirip juga dengan pulau Kemarau …… dimana mana cinta.
    😀
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Love Melulu *heheheheheh* …,
    Kayak acara TV dulu aja mas 😉

  15. CY said

    lebih condong ke Kong Hu Cu atau Tri-Dharma, sebab ada kelenteng dan patung-patung Dewa.

    Sedikit koreksi bro, sebenarnya agama Kong Hu Cu adalah monotheisme yg hanya percaya pada satu Tuhan tanpa dewa-dewi. Dan jauh berbeda dgn Tri-Dharma. 😀
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~`

    Dear Ko CY…,

    Oke Ko CY, thanks atas masukannya, akan segera saya perbaiki artikel diatas 😉

    May U be Happy.

  16. kangBoed said

    hihihi…. kangen ya saaayang… yayaya sesama bis kota ya sama sama endut tuuuh hahaha… makanya dari awal khan dah di bilang broooot…her ratna makanya saya bilang broother ya berarti kembaran ya minimal saudara seperjuangan dalam menurunkan berat badan hahaha…. sama sama orang gak punya pikiran makanya walaupun makannya sedikit teteeeeeeeeep jadi daging hehehe…. tenang sayang saya selalu ingat ko sama sampeyan.. cuma mau bicara suka bingung hehehe habis oon siih sementara yang dibahas disini wooow tinggi sekali perlu pemahaman lebih.. kapan ya satu saat kita juga bisa ketemu tapi janji yaaa aku boleh nyubit pipimu satu kali sajaaa hehehe gemes deeeh hihihi..
    Salam Sayang Selalu saudarakuuu
    cup cuup cuuup celepooooooooooooooooot

  17. kangBoed said

    Dasaaaaaaaar JAIM… hahaha… katanya kangen eee ngomongnya cuma sepatah kataaaa….. weleh weleeeeeeeh AYA AYA WAE…
    Salam Sayang

  18. Halo Brother KangBoed yang tercinta!

    Bukan Ja’im, tapi menarik kembali diri ini pada KEHENINGAN, karena kemaren sangking senengnya liat tubuh JIMBUN sampeyan, saya jadi kegirangan ( PITI ), pengin nyubitin sampai lebam-lebam, biru-biru 😀 :mrgreen:

    Brother, jangan sombong2 ah, masak beberapa waktu ini lupa mampir dan berkoment2 ria di blog Ratna Kumara 😉

    Peace and Love… 😉

  19. kangBoed said

    hahaha….. makanya brooooot…herku sayaaaang bagaimana kesadaran rasa sejati itu tetap pada tempatnya yaitu keheningan sementara kita jungkir balik dangdutan hehehe… hahaha… biarlah kesadaran diri sejati itu jangan pernah turun tetap dalam keheningan cipta dan rasa… dan biarlah ilmu yang bermain turun dan naik sebagai bukti bahwa ilmupun hidup.. hehehehe…. just joking brooot…
    Tapi bener lho aku juga kangen ma sampeyan… kayanya kita kembaran yaaa… sama sama endut hehehe…
    Salam Sayang Saudara Kembarku…

  20. kangBoed said

    hihihi… tuh mulai JAIM maaan my coment gak dianggap hahaha…. nanti saya pergi kangen lhooo… sapa lagi yang godain sampeyan dengan cara santun baik dan benar…. hehehe…. kacian dech looooe, mpe kaya gitunya yayaya jangan nangis aaah sabaaaar lagi digangguin yayaya… sama sapa tuuuh…. hmmm…. yayaya karmaaa
    Salam Sayang Selalu broooot…. herku tersay

  21. Dear Bro KangBoed…. ,

    Aduuuuuuh…, maap100X… !

    Iya ‘ik, sampe koment-nya brotherku gak tersentuh… 😳

    Nih, tak komment nih “NDHUTT” 😀 :mrgreen: 😛

    Heheheheheheh …

    Peace and Love, Brother 😉

  22. dinivian said

    Halo om… 😀 , numpang coret2 nieh..
    Eh..baedeweh,,,tuh ada mohon ampun gak (;)) waktu make nyuri segala… 😀
    \m/
    \:D/

    *sambil lewat… 😀 *

  23. Hehehehe…,

    Kelupaan tuh 😀 :mrgreeen:

    Peace & Love 😉

  24. Oiya, Dinivian , sudah pernahkah ke Pulo-Kemaro ?

    Kalau belum, kalau pas ke Palembang, cobain deh, menarik, verry interesting 😉

  25. virgianti said

    salam kenal.. saya orang palembang neh… hehehe… welcome to palembang, tolong sebarluaskan kalo palembang skrg dah aman sentosa ya pak :))

  26. Dear Virgianti 😉

    Selamat datang, salam kenal dari saya untuk anda 😉

    Wah, jilbabnya cantik mbak 😉

    By the way, memang Palembang pernah gak aman sentosa ya ( pernah terjadi kerusuhankah ? ) ? Kapankah itu ?

    Iya, Palembang menyenangkan kok. Saya setiap kesana cukup betah 😉

    Peace & Love

  27. virgianti said

    terima kasih pujiannya 🙂

    hehhee..soalnya orang-orang luar palembang banyak mencap palembang sbg kota yg banyak preman, orang nya kasar-kasar, trus kalau malam spt kota texas, dll banyak lah mas komen2 negatifnya..

    semoga dgn lbh banyak orang luar palembang yang jalan2 ke palembang, semakin positif citra nya 🙂

  28. Dear Virgianti 😉

    Oh, begitu ya.. 😉

    Padahal menurut aku Palembang tidak seperti yang digambarkan beberapa orang tersebut.

    Palembang itu tenang, orangnya ramah2, lucu2 dialeknya.

    Ada satu kosakata yang membuat kami tertawa, ketika saya dipanggil oleh salah seorang karyawan perusahaan yang saya audit, seorang perempuan yang usianya jauh dibawah saya ( sekitar 20 tahunan ). Saat saya mau keluar ruangan, dia menyeru pada saya,

    ” Eh, BUDAK (!) , ini sekalian titip untuk Ce “…. “( nama seorang manager keuangan disana~RED )

    Rekan2 saya tertawa.
    Nonik2 itu bukan bermaksud kasar, namun, memang panggilan untuk anak laki2 adalah “BUDAK”.

    Mungkin bagi orang2 lain hal ini tidak seberapa lucu, tapi bagi saya dan rekan2 dari Jawa cukup membuat tersenyum2, tertawa2, hehehe… 😀

    Okey Virgianti, semoga artikel saya ini cukup membantu promosi pariwisata bagi kota Palembang, kota tercintamu ya… 😉

    Peace & Love

  29. […] *eksternal pic : pagoda besar: Rainer Oktovianus, pohon cinta : Adrian Fajriansyah, makam : Ratna Kumara […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: