RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

Archive for Maret 19th, 2009

TAMASYA KE PALEMBANG

Posted by ratanakumaro pada Maret 19, 2009

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa “

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Para sahabat yang tercinta, dibawah ini adalah foto-foto perjalanan saya ke Palembang selama tugas audit disana, pada tanggal 16 Februari s/d 28 Februari 2009 kemarin.

Ada dua objek wisata yang cukup menarik yang sempat saya kunjungi ditengah-tengah pekerjaan yang cukup ‘penat’, yaitu :

1. Pulau Kemaro / Kemarau ( yang melegenda )

2. Jembatan AMPERA dan Sungai MUSI

Berikut liputan tamasya kali ini ke kota Palembang, bersama saya, Upasaka Ratana Kumaro.

1. LEGENDA PULAU KEMARO

Pulau Kemaro dari Seberang Sungai Musi

Pulau Kemaro dari Seberang Sungai Musi

Pulau ini terletak di tengah2 sungai Musi, tepatnya lima (5) Km dari Benteng Kuto Besak. Bentuk pulau ini mirip sebuah kapal ( yah, kalau di pas-pas-in mirip juga sih, hihihi … 😉  ) . Kata beberapa tokoh masyarakat, Pulau itu memang terbentuk dari kapal yang dipakai Tan Boen An kala itu. Disebut “Kemarau”, karena, meskipun arus air pasang-naik , seberapapun tingginya, pulau ini tak pernah tenggelam, meskipun daerah-daerah di pinggir sungai Musi sebagian terendam air pasang naik tersebut.

Alkisah, beberapa ratus tahun yang lampau ( kabarnya sih di jaman kerajaan Sriwijaya Palembang, tapi entahlah, tetap masih simpang siur hingga sekarang ) , hiduplah seorang bernama Tan Boen An dan Siti Fatimah.

SRIWIJAYA PALEMBANG

SRIWIJAYA PALEMBANG

Tan Boen An adalah anak saudagar kaya etnis Tiong Hoa, yang beragama Buddha ( Buddha atau Kong Hu Cu ? Nggak jelas juga. Tapi melihat tradisi yang berkembang di pulau kemaro sana sih, lebih condong ke  Tri-Dharma, sebab ada kelenteng dan patung-patung Dewa. Kalau Buddha, seharusnya sebuah vihara dan tanpa patung-patung Dewa ). Sedangkan Siti Fatimah, adalah seorang perempuan asli Palembang, dan memeluk agama Islam. Siti Fatimah dikisahkan seorang anak raja kala itu ( kerajaan apa ? tidak jelas juga… 😉  ).

SELAMAT DATANG "MAKMUR SEJAHTERA"!

SELAMAT DATANG "MAKMUR SEJAHTERA"!

Tan Boen An dan Siti Fatimah saling jatuh cinta. Namun malang, cinta mereka ditentang oleh kedua orang tua mereka masing-masing. Dikisahkan, ayah Siti Fatimah mengajukan syarat yang berat kepada kedua orang tua Tan Boen An, yaitu keharusan disediakannya sembilan buah Guci besar berisi emas murni. Keluarga Tan Boen An , demi cinta-kasihnya kepada anak bungsu mereka tersebut ( Tan Boen An ), akhirnya menyetujuinya. Orang tua Tan Boen An kemudian mengirimkan kapal berisi sembilan guci besar berisi emas-emas murni dari Jawa menuju Pa Lie Bang ( Palembang ; Legenda menyatakan keluarga Tan Boen An tinggal di Jawa ). Demi menjaga keselamatan guci-guci yang berisi emas tersebut, dari para perompak / bajak laut, maka orang-tua Tan Boen An menutupi kesembilan guci itu dengan berbagai macam sayur-sayuran.

Setibanya kapal pengangkut kesembilan guci itu di Palembang, Tan Boen An segera memeriksa guci-guci itu. Betapa terkejutnya, Tan Boen An yang tidak mengerti itu, ternyata hanya menemukan sayur-sayuran di atas guci-guci dan di sebagian dalam guci2 tersebut. Karena marah, Tan Boen An membuang kesembilan guci itu kedalam sungai Musi. Ketika akhirnya ia mengetahui bahwa Guci-guci itu benar-benar berisi emas, maka menyesallah ia, dan Tan Boen An pun menceburkan diri ke dalam sungai Musi untuk mengambil emas-emas itu dengan tujuan akan diberikan kepada orang tua Siti Fatimah sebagai “peningset” atau mahar untuk melamar anak mereka. Melihat Tan Boen An menceburkan dirinya kedalam sungai Musi, Siti Fatimah pun tak tahan diri dan ikut menceburkan diri kedalam sungai Musi yang dalam. Konon, sebelum tenggelam, Siti Fatimah berkata,” Jika nanti suatu ketika timbul tanah di tengah sungai ini, maka itulah makam kami berdua”. Dan semenjak itu, Tan Boen An serta Siti Fatimah tak pernah ditemukan.

Makam Tan Boen An dan Siti Fatimah ; bersandingan

Makam Tan Boen An dan Siti Fatimah ; bersandingan

Dan hingga kini, jasad mereka berdua, dipercaya bersemayam di Pulau Kemarau tersebut, sebuah delta yang menyembul di tengah-tengah Sungai Musi. Yang menyebabkan Pulau ini melegenda, karena, konon diatas makam kedua “mempelai” tersebut secara ajaib menyembul batu karang alami, sementara di mana-mana di lokasi Pulau Kemarau yang lain, tidak terdapat batu karang tersebut.

Karang di Pedupaan ; Dipercaya sebagai Kepala Naga

Karang di Pedupaan ; Dipercaya sebagai Kepala Naga

Mitos-mitos menyatakan, batu karang itu merupakan “tanda” yang dibuat oleh “Dewa Naga” yang menguasai pulau tersebut. Oleh karena itu, masyarakat Tiong Hoa yang menganut Kong Hu Cu dan Tao-isme disana, mendirikan kelenteng untuk memuja Dewa Naga dan beberapa Dewa lainnya. Dibawah ini adalah foto salah satu patung dewa di dalam kelenteng yang berhasil saya foto. Foto ini saya ambil diam-diam alias mencuri, karena sebenarnya para pengunjung tidak diperbolehkan untuk mengambil foto-foto terhadap objek-objek apapun di dalam kelenteng. Foto karang diatas ( yang dianggap kepala naga ) dan foto patung dewa ini saya ambil sambil mengendap-endap, hehehe… .

Patung Dewaw di dalam Kelenteng ; Tidak boleh dipotret!!

Patung Dewaw di dalam Kelenteng ; Tidak boleh dipotret!!

Sedangkan foto yang dibawah ini, adalah “POHON CINTA”. Konon, siapaun yang belum bertemu jodoh / pasangannya, tinggal mengukirkan namanya di pohon tersebut, dan tak lama lagi jodoh pun menghampiri. Atau, untuk pasangan yang berniat mengikat cinta sehidup semati, dianjurkan menuliskan nama mereka berdua di cabang-cabang pohon tersebut, konon dijamin awet, langgeng seumur hidup. Mengenai kebenaran mitos ini, terserah bagaimana anda semua menyikapinya 😉

POHON CINTA ; Hayoo, siapa yang pengin ketemu Jodoh ?? ;)

POHON CINTA ; Hayoo, siapa yang pengin ketemu Jodoh ?? 😉

Pulau Kemarau, kini lebih merupakan tempat peribadatan bagi pemeluk Tri-Dharma, dan tidak tepat jika dikatakan tempat ini merupakan objek wisata Buddhis, meskipun terdapat sebuah Pagoda dari tradisi Buddha-Mahayana.

Pagoda tradisi Mahayana di Pulau Kemarau

Pagoda tradisi Mahayana di Pulau Kemarau

Saya , bersama rekan-rekan sekantor, menyempatkan untuk berkeliling sungai Musi di sekitar Pulau Kemarau menggunakan sebuah perahu motor. Dan banyak panorama-panorama alam yang saya potret waktu itu,seperti misalnya, foto dibawah ini saya ambil sembari menaiki perahu motor mengelilingi pulau kemaro. Pagoda tampak megah berdiri dikelilingi perairan sungai Musi.

Keliling naik Perahu ; potret dulu ah pagodanya! :D :mrgreen:

Keliling naik Perahu ; potret dulu ah pagodanya! 😀 :mrgreen:

Sedangkan yang berikut ini, setelah kami berkeliling, sampailah kembali di “dermaga” pulau kemaro.

Abis keliling naik perahu, sampai lagi deh di dermaga ;)

Abis keliling naik perahu, sampai lagi deh di dermaga 😉

2. JEMBATAN AMPERA dan SUNGAI MUSI

Sedangkan yang ini, adalah foto-foto saya di atas Jembatan Ampera, sembari naik mobil, diantar oleh sopir klien / perusahaan yang saya audit.

Jembatan AMPERA

Jembatan AMPERA

Jembatan AMPERA, menurut cerita orang-orang Palembang, merupakan hadiah dari pemerintahan Jepang pada tahun 1960-an, sebagai tanda balas-jasa dan permintaan maaf atas penjajahan yang mereka lakukan terhadap bangsa Indonesia.

Meskipun dibangun pada tahun 1960, namun, jembatan ini sangat kokoh dan megah, tidak kalah dengan ( atau bahkan melebihi ) jembatan-jembatan yang dibangun insinyur Indonesia masa kini.

Seringkali, kapal-kapal pengangkut barang yang melewati kolong jembatan ini menabrak jembatan Ampera karena tingginya melebihi ukuran seharusnya. Namun, jembatan ini tetap kokoh berdiri.

Musi dari atas Ampera

Musi dari atas Ampera

Sedangkan sungai Musi, siapa yang tak pernah mendengarnya ? Sungai Musi, adalah sungai terbesar / terlebar di Indonesia, dengan panjang 750 Km. Untuk sungai yang berada di bawah jembatan Ampera ini saja, lebarnya sekitar 10 kali lebar sungai Banjir-Kanal di Semarang. Padahal, di daerah sungai yang lain, lebarnya, hampir bagaikan sebuah lautan, sangat luas. Pemandangan ini saya ambil dari dalam mobil di atas jembatan Ampera.

Musi dari Atas Ampera

Musi dari Atas Ampera

Sungai Musi membelah kota Palembang menjadi dua. Seberang Ilir di bagian utara, dan Seberang Ulu di bagian selatan. Sejak jaman Sriwijaya, Sungai Musi telah menjadi sarana utama transportasi masyarakat.

Musi dari atas Ampera

Musi dari atas Ampera

Demikian liputan perjalanan tamasya saya di Palembang. Semoga membawa sepercik manfaat bagi penyegaran batin ( refreshing ).

Salam Damai dan Cinta Kasih…,

“ Sabbe Satta Avera Hontu, Abyapajja hontu, Anigha Hontu, Sukhi attanam Pariharantu “

( “Semoga semua makhluk bebas dari permusuhan, kemauan jahat, dan terlepas dari penderitaan, semoga semua makhluk dapat mempertahankan kebahagiaannya sendiri tersebut )

Upa. RATANA KUMARO ( Ratya Mardika Tata K. )

–SEMARANG, 19  MARET 2009 –

Posted in WISATA | 29 Comments »