RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

Archive for Maret 3rd, 2009

TANDA-TANDA PENCERAHAN

Posted by ratanakumaro pada Maret 3, 2009

TANDA-TANDA PENCERAHAN

“ Maggan’ atthangiko settho

Saccanam caturo pada

Virago setho dhammanam

Dipadananca cakkhuma

( Dhammapada, Magga Vagga ; 20:1 )

Arti :

Diantara semua Jalan, Jalan Suci yang beruas delapan

adalah yang terbaik.

Diantara semua Kebenaran, Empat Kesunyataan Mulia adalah yang termulia;

Dantara semua keadaan batin, Nibbana adalah yang tertinggi;

Diantara semua makhluk yang berkaki dua dan dapat melihat,

Sang Buddha adalah yang Teragung “

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa “


Salam Damai dan Cinta Kasih … ,


PERUMPAMAAN IKAN-IKAN DI LAUT


Bagaikan ikan-ikan yang mengapung-apung di lautan, terombang-ambing kekanan dan kekiri, timbul, tenggelam, lahir, hidup, mencecap sedikit kesenangan, kemudian menelan kepahitan-kepahitan, menderita sakit, penuaan, dan akhirnya mati, inilah lautan kehidupan yang kita semua, para makhluk, telah arungi sekian lama, dalam masa yang sudah tak dapat terbayangkan dan terhitung lagi. Inilah “Samsara”.

Saya akan membuat perumpamaan samsara sebagai lautan dan para manusia sebagai ikan-ikan di laut, disertai semua makhluk yang ada di dalam lautan tersebut.

Alkisah, hiduplah seekor ikan yang mengorbankan kehidupannya demi mencari jawaban akan “misteri” besar dari kehidupan para ikan ini, “dari mana” dan “akan kemana” ? Bagaimanakah kebahagiaan itu ? Dimanakah kebahagiaan itu berada ? Seekor ikan tersebut lalu merumuskan suatu penjelasan, bahwa kehidupan ini diciptakan dan dirancang oleh sekelompok DEWAN IKAN yang hidup dan tinggal di ATAS, di alam SURGA, yang masing-masing mempunyai tugasnya sendiri-sendiri untuk membawa keteraturan bagi kehidupan para ikan.

Dijelaskan olehnya, bahwa ada DEWAN IKAN yang bertugas mencurahkan air hujan. Ada juga DEWAN IKAN yang bertugas menyalakan petir, bintang, dan rembulan. Ada DEWAN IKAN yang bertugas menjadi bidan bagi kelahiran telur-telur ikan, dan dijelaskan olehnya ada banyak DEWAN-DEWAN IKAN yang lain, yang mempunyai tugas masing-masing.

Atas penjelasan ikan tersebut, lalu diadakanlah hari-hari khusus untuk memuja dan menyembah DEWAN-DEWAN IKAN yang tinggal di segenap penjuru alam semesta ini, disertai upacara-upacara kurban hewan, yang disembelih khusus untuk para dewan ikan ini, disertai penguncaran doa-doa tertentu, dan sesajian-sesajian lainnya. Tujuan dari ritual-ritual ini semua adalah,supaya kelak, setelah kematian para ikan, mereka dapat terlahir di alam SURGA tempat para DEWAN IKAN berada, yang konon tempat ini adalah kekal-abadi, akhir dari segala penderitaan di dunia para ikan.

Namun, sebanyak apapun sesajian diberikan kepada dewan-dewan ikan ini, sebesar apapun daging dan darah kurban dipersembahkan kepada mereka, sesering apapun doa-doa diuncarkan pada dewan ikan ini, para ikan tetap tidak terbebas dari penderitaan samsara. Setelah kematian para ikan ini, sebagian memang ada yang terlahir di surga karena timbunan pikiran dan perbuatan bajiknya, sebagian lagi kembali ke alam para ikan, sebagian merosot turun ke alam-alam rendah, seperti alam para hantu ikan, dan alam neraka yang penuh penderitaan.

Lalu, suatu ketika, terlahirlah seekor ikan lainnya, yang demi kebahagiaan para ikan lainnya, mengorbankan hidupnya untuk mencari jawaban-jawaban hakiki akan arti kehidupan, meraba-raba sepercik kebenaran. Akhirnya ia membuat pengajaran, bahwa, “Kita ini diciptakan oleh IKAN YANG MAHA KUASA, YANG TUNGGAL, YANG MAHA ESA, yang meskipun tidak mampu kita lihat, tidak mampu kita dengar, namun kita dapat MELIHAT KARYA-NYA, MERASAKAN KEHADIRANNYA lewat alam tempat kita hidup ini!” . Lalu ikan yang cukup bijak ini, mengajarkan untuk mulai mengadakan ritual-ritual memuja IKAN YANG MAHA KUASA, YANG MAHA ESA ini. Sembahyang-sembahyang mulai ia ajarkan. Ikan ini juga mempertunjukkan keajaiban-keajaiban yang membuat ikan-ikan yang lain takjub, seperti meloncat-loncat terbang di atas laut, menyembuhkan ikan-ikan lain yang sekarat, meliuk-liuk di atas ombak, berdiri dengan tenang dalam pusaran air, dan lain-lain. Semua hal yang ia lakukan ini , bertujuan untuk meyakinkan, bahwa jalan keluar dari semua penderitaan didalam “lautan-kehidupan-para-ikan” adalah dengan memuja dan menyembah IKAN YANG MAHA ESA ini, supaya kelak setelah mati para ikan dapat kembali dan diterima di sisi-NYA, di alam SURGA, yang konon kekal-abadi, akhir dari penderitaan dialam dunia para ikan.

Namun , pengajaran dari ikan yang baik hati ini pun, ternyata tidak terbukti kebenarannya. Sebab, meskipun berdoa, menyembah, memuji sesosok IKAN YANG MAHA KUASA yang tidak jelas keberadaannya ini, para ikan-ikan tersebut hingga sekarang masih dilingkupi penderitaan samsara. Mujizat-mujizat selalu dinantikan oleh ikan-ikan pemuja IKAN YANG MAHA KUASA tersebut, hingga nampaknya takhayul menjadi hal yang akrab dengan mereka, mitos-mitos tercipta karena kepercayaan ini. Setelah kematian para ikan tersebut, sebagian memang terlahir di alam surga, sebagian kembali lagi ke-alam para ikan, sebagian lainnya merosot turun ke-alam para hantu ikan dan alam neraka.

Setelah sekian lama, para ikan yang terlahir di alam surga, juga yang telah berada cukup lama di alam para hantu dan alam neraka, dan yang sebelumnya selalu terlahir menjadi ikan-ikan lagi, kini berkumpul kembali. Sebagian ada yang melanjutkan tradisinya memuja dewan-dewan ikan, dan ada juga yang memilih menyembah “Ikan Yang Maha Esa”. Namun, sebanyak apapun perbuatan-perbuatan baik mereka kumpulkan, sesering apapun mereka menguncarkan doa-doa kepada para Dewan Ikan maupun kepada Ikan Yang Maha Tunggal, siklus lahir dan mati tidak juga berakhir.

Dari para ikan tersebut, ada yang kemudian menyadari, bahwa kehidupan dan alam kehidupan, TIDAK-KEKAL, termasuk alam surga sekalipun. Para ikan yang bijak ini kemudian mulai mencari jawaban akan hakekat kehidupan dan alam kehidupan, bagaimanakah caranya, supaya siklus lahir dan mati dalam “samsara” ini dihentikan? Inilah awal dari pandangan-benar yang memantik terbitnya sinar-terang bagi terpecahkannya semua ilusi dunia ; inilah awal dari sebuah : PENCERAHAN.


LAHIRNYA SAMMA-SAMBUDDHA


Demi menolong para makhluk dari samsara sebagaimana ilustrasi diatas, maka, telah terlahirlah para Buddha ; para SAMMA-SAMBUDDHA, di alam manusia ini, yang sebelumnya selama empat (4) asankkheyya-kappa dan seratus-ribu ( 100.000 ) kappa menyempurnakan kesepuluh-kesempurnaan ( Dasa Paramitha : 1. Dana-Paramitha ; kesempurnaan kemurahan hati / pemberian, 2. Sila-paramitha ; kesempurnaan moralitas dan kebajikan , 3. Sacca-Paramitha ; kesempurnaan kebenaran, 4. Viriya-paramitha ; kesempurnaan usaha yang penuh semangat demi pencapaian pencerahan sempurna, 5. Nekkhamma ; kesempurnaan pelepasan “diri” dari ikatan keduniawian, 6. Panna-Paramitha ; kesempurnaan kebijaksanaan, yaitu kemampuan untuk memahami hakekat kehidupan, menembus semua ilusi dunia, 7. Khanti-Paramitha ; kesempurnaan kesabaran dan ketabahan dalam menahan penderitaan, juga kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi serangan nafsu-nafsu indriya, kemarahan, kerinduan, 8. Metta-Paramitha ; kesempurnaan cinta-kasih tanpa batas kepada semua makhluk-makhluk di alam semesta, 9. Aditthana-Paramitha ; kesempurnaan tekad demi tercapainya pencerahan sempurna, 10. Upekkha-Paramitha ; kesempurnaan keseimbangan batin dalam menghadapi deraan badai sukha dan dukha dari keduniawian ) demi terpupuknya “kekuatan-adidaya” untuk menembus semua ilusi, memecahkan “penjara” yang memerangkap semua makhluk dalam samsara.

Atas jasa para Buddha ini, maka akhirnya para manusia “YANG-TELAH-MATANG” ( atau ikan-ikan yang telah menyadari bahwa kehidupan dan semua alam kehidupan adalah tidak kekal,sebagaimana contoh kelompok ikan terakhir dalam paragraph terakhir perumpamaan para ikan diatas ) mampu memahami dengan jelas, bahwa dalam dunia ini sesungguhnya tersimpan “EMPAT-KESUNYATAAN-MULIA” ( Cattari-Ariya-Saccani ), yaitu bahwa :


1. Hidup itu adalah penderitaan ( dukha-sacca ; kebenaran suci tentang penderitaan sebagai hakekat dari kehidupan )

2. Sebab penderitaan adalah nafsu-keinginan ( samudaya-sacca ; kebenaran suci tentang penyebab lahirnya penderitaan )

3. Lenyap / berakhirnya penderitaan ; NIBBANA ( Nirodha-sacca ; kebenaran suci tentang padamnya penderitaan saat pencapaian “Nibbana” )

4. Jalan menuju berakhirnya penderitan ; Ariya-Atthangika-Magga ( Magga-sacca ; kebenaran suci tentang satu-satunya “Jalan” yang mengantar pada pengakhiran penderitaan, pengakhiran dari siklus kelahiran dan kematian dalam samsara )


Untuk menjelaskan mengenai “dukkha-sacca”, maka Sang-Buddha membabarkan “ti-lakkhana” ; tiga corak dunia , ialah :


1. Sabbe sankhara anicca ; segala sesuatu yang tercipta / terbentuk / tersusun dari unsur-unsur adalah TIDAK-KEKAL.

2. Sabbe sankhara dukkha : segala sesuatu yang tercipta / terbentuk / tersusun dari unsur-unsur adalah PENDERITAAN.

3. Sabbe Dhamma Anatta : segala sesuatu , baik yang tercipta maupun yang tidak tercipta / tidak terbentuk / tidak tersusun dari unsur-unsur, adalah : TANPA-AKU, TANPA-DIRI ; Anatta berarti : tidak-ada AKU, tidak-ada PRIBADI.


Empat Kesunyataan Mulia serta Ti-lakkhana , bukanlah ciptaan para Buddha. Namun, kedua hal itu adalah kesunyataan, hokum abadi yang ada di dalam samsara. Hanya saja, sebelum terlahirnya seorang Samma-Sambuddha, kesunyataan tersebut bagaikan tertutup reruntuhan dan ilalang, sehingga para makhluk tidak mampu mengenalinya.

Penembusan terhadap keempat “Kesunyataan-Mulia” tersebut diatas, itulah PENCERAHAN.

Seorang penjudi, sebelum mencapai “pencerahan”, akan selalu tergila-gila dengan kehidupan perjudiannya. Ia merasa ketagihan, tergiur, meskipun sudah berkali-kali merasakan dan mengetahui, bahwa perjudian yang ia geluti semakin hari hanyalah semakin menjerumuskan hidupnya pada kehancuran, pada penderitaan. Ia tahu, bahwa dengan bergelut dalam dunia perjudian, pada akhirnya, apa yang akan ia temukan hanyalah : KEHANCURAN, KEMATIAN.

Suatu ketika, ia mencapai Pencerahan, dan ia-pun menyadari “Empat-Kesunyataan-Mulia” dari kehidupan perjudian tersebut :

1. Perjudian adalah Penderitaan.

2. Sebab penderitaan adalah nafsu keinginan untuk terus berjudi.

3. Lenyapnya penderitaan dari perjudian

4. Jalan menuju lenyapnya penderitaan dari perjudian

Disaat penembusan ini, ia membebaskan dirinya dari jerat-jerat perjudian lagi. Ia menyadari, bahwa perjudian adalah KOSONG, kosong dari kebahagiaan sejati. Ia kini telah menjadi seseorang yang “tercerahkan” ; ia telah menjadi seseorang yang merealisasi NIBBANA!


PENCERAHAN DALAM JALAN BUDDHA,

” Eso’va maggo nath’anno

Dassanassa visuddhiya

Etahmhi tumhe patipajjatha

Marass’etam pamohanam

( Dhammapada, Magga Vagga ; 20:2 )

ARTI :

Hanyalah melalui Jalan ini, bukan yang lain,

yang dapat menyucikan seseorang.

Ikutilah Jalan ini dan melenyapkan semua kejahatan

tanpa sisa. “

Keselamatan, telah dipahami orang-orang sesuai persepsinya sendiri-sendiri. Dalam artikel terdahulu, telah saya uraikan mengenai dua jenis keselamatan ; 1. Keselamatan relatif, 2. Keselamatan absolut.  Keselamatan relatif, adalah keselamatan yang menyatakan , kelak setelah mati, kita kembali di sisi Tuhan, di alam surga, dan hidup penuh kesenangan, menikmati hak bidadari-bidadari cantik, dan lain-lainnya lagi.  Keselamatan seperti ini, sesungguhnya adalah keselamatan relatif, karena, alam surga sesungguhnya tidak kekal-abadi. Kelak, setelah masa hidup di alam surga ini habis, katakanlah 1.000.000 tahun, setelah itu, makhluk2 di alam surga itu akan terlontar kembali, terseret arus samsara, bisa naik ( ke alam-alam para Brahma ), atau, bisa juga turun ke alam-alam bawah.

Keselamatan-absolut adalah, keselamatan dari siklus lahir dan mati, keselamatan dari samsara. Dan keselamatan-absolut seperti ini, sepanjang yang saya ketahui, dari hasil belajar berbagai ajaran ataupun sistem filsafat, hanya Sang Buddha-lah yang mampu menunjukkan Jalannya ; jalan pengakhiran dari samsara.

Hanya seorang SAMMA-SAMBUDDHA yang mampu menemukan Empat-Kesunyataan-Mulia. Ti-lakkhana ( Anicca-Dukkha-Anatta ) juga hanya bisa ditembus oleh seorang Samma-Sambuddha, ditembus oleh seorang Arahanta. Tidak ada seorang guru-guru kerohanian dan pemimpin aliran-aliran ajaran lain yang mampu memahami ini ; baik “Empat-Kesunyataan-Mulia” maupun “Anicca, Dukkha, Anatta”. Oleh karena itu, Pencerahan-Sempurna hanya mampu diraih oleh seorang Samma-Sambuddha ( Samma-Sambuddha memiliki arti, Buddha-Sempurna yang mencapai pencerahan tanpa bantuan seorang Guru, atau entitas apapun diluar diri-Nya ), dan Samma-Sambuddha ini yang mampu menunjukkan pada semua makhluk jalan mencapai pencerahan , menuju berakhirnya penderitaan. Hanya dengan menempuh jalan yang ditunjukkan oleh Samma-Sambuddha-lah semua makhluk akan mampu mengakhiri siklus lahir dan mati yang penuh penderitaan didalam samsara, yang berarti meraih : PENCERAHAN.

Kebanyakan guru-guru ‘spiritual’ selain Sang Buddha, [ terutama di jaman Sang Buddha ] , umumnya hanya mengajarkan bagaimana menyembah sesosok “Dewa” Yang Maha-Kuasa, yang hidup di alam surga yang “dianggap”-nya kekal-abadi ; . Guru-guru kerohanian yang ada tersebut, lebih banyak mengajarkan peraturan-peraturan hidup keduniawian dan kerohanian, bagaimana melakukan ritual-ritual religi, persembahan korban-korban suci, sebagaimana dilakukan brahmana-brahmana di jaman Sang Buddha .

Para guru-guru kerohanian dan para pembabar aliran-aliran spiritual tersebut juga ada yang memiliki “kesaktian”, dan mampu mengajarkan pencapaian kesaktian. Namun, yang patut kita ingat, KESAKTIAN BUKAN TANDA DARI PENCERAHAN. Kesaktian, hanyalah “kekayaan-duniawi”, sedangkan PENCERAHAN, adalah DIATAS DUNIAWI ; Adi-Duniawi. Pencerahan adalah saat dimana kita mampu membongkar semua ilusi dunia ( anicca, dukkha, anatta ) dan mengakhiri siklus lahir dan mati, mengatasi semua mitos-mitos dan takhayul-takhayul.



TAHAP-TAHAP TERCAPAINYA PENCERAHAN

Kita semua, para manusia dan semua makhluk, belum bisa mengakhiri siklus lahir dan mati yang penuh penderitaan dalam samsara, karena kita masih belum bisa memecahkan belenggu-belenggu yang menjerat kita di alam samsara ini. Para makhluk yang belum mencapai pencerahan, disebut sebagai “Putujhana” , yang meskipun ada yang termasuk “nice-person”, dan telah “Alobha ( tidak-serakah ), Adosa ( tidak-mempunyai-kebencian ), dan Amoha ( tidak-gelap-batin / batinnya-telah-terang-oleh-Dhamma )”, namun belumlah menjadi seorang “ARIYA”, yang telah mencapai tingkat kesucian / pencerahan.

Belenggu-belenggu tersebut diatas yang harus kita patahkan, untuk mengakhiri penderitaan dalam samsara dan mencapai pencerahan, ada sepuluh belenggu banyaknya ; ialah “Dasa samyojana” ( Sepuluh belenggu ). Dasa-samyojana ini terbagai menjadi dua ; 1). Lima belenggu yang pertama adalah “Orambhagiya”, atau belenggu-belenggu rendah, 2). Sedang Lima belenggu berikutnya, merupakan “Uddhambhagiya”, atau belenggu-belenggu tingkat tinggi .

Kesepuluh-belenggu tersebut adalah sebagai berikut :

1. Sakkaya-ditthi ; Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa, atau “AKU” yang kekal , anggapan tentang adanya “Diri”, “Pribadi”, “Aku”.

Pada era pertangahan perkembangan Buddhis di India, sebuah debat public yang tersohor tentang ‘TIADA-DIRI” terjadi antara seorang Bhikkhu terpelajar dan Mahadeva, sebagai berikut ini :

Bhikkhu terpelajar ( B ) : “Selamat pagi, siapakah kamu ? “

Mahadeva ( M ) : “Mahadeva”

(B) : “ Siapakah “Mahadeva” ? “

(M) : “ Aku “.

(B) : “ Siapakah “AKU” ? “

(M) : “ Anjing “.

(B) : “ Siapakah “ANJING” ? “

(M) : “ KAMU!”

(B) : “ Siapakah “KAMU” ? “

(M) : “ Mahadeva ”

(B) : “ Siapakah “MAHADEVA” ? “

(M) : “ Aku “

(B) : “ Siapakah “AKU” ? “

(M) : “ Anjing “.

(B) : “ Siapakah “ANJING” ? “

(M) : “ KAMU!”

Demikianlah debat tersebut berlangsung berulang-ulang hingga terciptalah ledak tawa para pemirsa yang akhirnya memberikan pandangan-cerah kepada si Bhikkhu terpelajar itu, ia menyadari bahwa ia telah membiarkan dirinya beberapa kali disebut sebagai “ANJING” oleh Mahadeva yang cerdik itu.

Hal serupa ini juga terjadi di tanah Jawa, yaitu dalam kisah pertentangan antara SIDI JINAR ( Syekh Siti Jenar ) dengan WALI-SEMBILAN ( Sembilan Wali ummat Islam di tanah Jawa ). Berkali-kali Syaikh Sidi Jinar menyatakan, kira-kira sebagai berikut :

“ SIDI JINAR ( Syekh Siti Jenar ) tidak ada, yang ada Ingsun ( Aku )“, “Ingsun ( Aku ) tidak ada , yang ada ALLAH”, “ ALLAH TIDAK ADA, yang ada INGSUN ( Aku ) “, “INGSUN ( AKU ) tidak ada, yang ada SIDI JINAR ( Syekh Siti Jenar ) ” …dst. “

Sidi Jinar ( Syekh Siti Jenar ), oleh ummat Islam dipercaya sebagai muslim yang menganut Al-Hallaj, namun beberapa fakta sejarah yang “tidak-dipopulerkan”, menunjukkan bahwa SIDI JINAR ( Syekh Siti Jenar ) sesungguhnya sisa-sisa rohaniwan Buddha, yang dianggap oleh Wali-Sanga mengadakan “perlawanan” terhadap hegemoni Islam terhadap rakyat Jawa kala transformasi radikal besar-besaran dari Majapahit ke Demak. Itu sebabnya, debat tersebut diatas sangat bernuansa Buddhis ; ANATTA, itulah yang ingin disampaikan Sidi Jinar .

2. Vicikiccha ; Keragu-raguan yang skeptis pada Sang-Ti-Ratana : Buddha, Dhamma, Sangha. Disaat kita meragukan kebenaran Sang Buddha, Dhamma dan Sangha, apakah benar Sang Ti-Ratana tersebut menunjukkan jalan pembebasan, akhir dari siklus lahir dan mati yang penuh penderitaan di ke-31 alam kehidupan, ini adalah bentuk dari “Vicikiccha”. Keraguan tentang adanya kehidupan yang lampau dan kehidupan yang akan datang ( tumimbal-lahir ), juga keraguan kepada hukum sebab-akibat yang saling bergantungan ( hukum kamma dan paticca-samupada ), adalah juga bentuk dari “vicikiccha”.

Segera setelah menyadari anicca,dukkha, anatta dan saat itu kita telah mengenal Sang Buddha, maka, kita kemudian akhirnya akan dengan mantap mengikuti Jalan Sang Buddha. Setelah melihat, menghayati, dan membuktikan bahwa Jalan yang disingkapkan oleh Sang Buddha ini benar adanya dan merupakan satu-satunya jalan menuju “Nibbana” ( Skt. : Nirvana ; Nirvana bukanlah “surga”. Alam-alam surga, masih dalam lingkup “samsara”, sedangkan “Nibbana” , adalah diluar itu. Baca artikel “Empat-Kesunyataan-Mulia” dib log ini juga ). Dengan saddha ( keyakinan ) penuh terhadap Sang Ti-Ratana : Buddha, Dhamma, dan Sangha, dan senantiasa bertekun dalam Jalan yang ditunjukkan oleh Sang Buddha, anda kini telah mematahkan belenggu Vicikiccha.

3. Silabbata-paramasa ; Kemelekatan pada suatu kepercayaan bahwa hanya dengan melaksanakan aturan-aturan dan upacara keagamaan seseorang dapat mencapai kebebasan.


A. SOTAPATTI-MAGGA-PHALA

Siapapun kita, baik seorang Bhikkhu maupun ummat awam ( upasaka/upasika ), yang setelah bertekun dalam Dhamma , menempuh “Jalan Ariya Beruas Delapan” dan kemudian telah mampu memecahkan ketiga belenggu tersebut diatas ini, maka anda adalah seorang “Sotapatti-Magga-Phala” ; anda adalah seorang “PEMENANG-ARUS”.

Setelah tahap Sotapatti tercapai, kita telah benar-benar mampu melenyapkan pandangan sesat tentang adanya “ATTA” / “AKU” / “PRIBADI”. Kini, dukkha-sacca ( kebenaran mulia tentang penderitaan sebagai hakekat dunia ) akan dengan sangat jelas terlihat dan mampu kita tembus. Sebelum tahap sotapatti ini, maka dukkha-sacca akan sangat sulit untuk ditembus. Seseorang rohaniwan yang menolak dukkha-sacca ini menandakan ia benar-benar orang yang belum mencapai pencerahan, apalagi jika ia belum bisa menembus “Ti-lakkhana” : Anicca, Dukkha, Anatta, semakin tampaklah bahwa ia belum berhasil menembus tingkat pertama dari “Pencerahan” ; Sotapatti-Magga dan Phala.

Sotapanna / Sotapatti-Magga dan Phala adalah makhluk suci, yang paling banyak tujuh ( 7 ) kali akan terlahir kembali sebagai manusia , dan setelah itu PASTI ia akan mampu melenyapkan kesepuluh belenggu ( sebagai kesinambungan dari latihannya semenjak tercapainya tingkat kesucian / pencerahan yang pertama kali ) pada kelahiran terakhirnya sebagai manusia dan akan mencapai Arahatta-Magga dan Phala ( tingkat pencerahan tertinggi ; saat kesepuluh belenggu terpecahkan dan kita mencapai pembebasan sempurna dari samsara ).


4. Kamacchanda / Kamaraga ; Keinginan terhadap pemenuhan nafsu-nafsu indriya. Jika anda masih berangan-angan akan kesenangan sexual, dengan dalih apapun, baik dalih pemenuhan kebutuhan biologis maupun untuk berketurunan, meneruskan garis silsilah,  maka, itu semua sesungguhnya adalah bentuk-bentuk dimana anda belum bisa mematahkan “Kamacchanda / Kamaraga ”.

5. Byapada ; Dendam dan dengki. Jika anda menyimpan dendam terhadap seseorang, karena ia menyakiti anda di masa lalu, atau jika anda membawa dendam dari kehidupan lampau anda ; atau juga dimana setiap kali anda mudah tersinggung atas ucapan, pikiran, dan perlakuan orang lain, maka ini adalah bentuk-bentuk dimana anda belum bisa mematahkan belenggu “Byapada”.


B. SAKADAGAMI-MAGGA-PHALA

Siapapun kita, baik seorang Bhikkhu maupun ummat awam ( upasaka/upasika ), yang setelah bertekun dalam Dhamma , menempuh “Jalan Ariya Beruas Delapan” dan kemudian telah mampu memecahkan ketiga belenggu tersebut diatas (1) sakkaya-ditthi, (2) vicikicchã, dan (3) silabbata-parãmãsa, ditambah telah melemahkan kedua belenggu berikutnya, yaitu : (4) kãma-rãga dan (5) vyãpãda, maka anda adalah seorang “Sakadagami-Magga-Phala” ; anda adalah seorang “YANG KEMBALI SEKALI LAGI”. Disebut “Yang-Kembali-Sekali-Lagi”, karena kita paling banyak akan terlahir satu (1) kali lagi sebagai manusia untuk menuntaskan mematahkan kesepuluh belenggu ( sebagai kesinambungan jalan yang kita tempuh ) dan mencapai pembebasan-sempurna dari samsara, mencapai tingkat “Arahatta-Magga-Phala”.


C. ANAGAMI-MAGGA-PHALA

Ini adalah tingkat pencerahan yang ketiga. Siapapun kita , baik seorang Bhikkhu maupun ummat awam ( Upasaka / Upasika ) yang telah mampu melenyapkan / mematakah kelima belenggu tersebut diatas ( dari belenggu kesatu sampai dengan kelima ), akan mencapai tingkat pencerahan ini. Seorang Anagami disebut juga sebagai “YANG-TAK-KEMBALI-LAGI”, sebab, disaat kita telah mencapai tingkat Anagami, kita tidak akan pernah terlahir lagi sebagai seorang manusia, juga tidak akan sekedar terlahir di alam surga-surga kammadhatu, namun, kita akan langsung menuju “SUDDHAVASA”, yaitu dalam lingkup alam RUPA-JHANA, tepatnya JHANA IV ( Baca lagi artikel “Alam Semesta III : Kosmologi Buddhis” di blog ini juga ).

Di alam Suddhavasa ini, kita akan menyempurnakan diri untuk mematahkan sisa-sisa belenggu dari kesepuluh belenggu ( dasa-samyojana ) dan akhirnya setelah berhasil mematahkan semua belenggu, kita akan mencapai tingkat pencerahan tertinggi, Arahatta-Magga-Phala.


6. Rupa-Raga ; Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk. Alam bentuk ( rupa-raga ) dicapai oleh seseorang apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan Samadhi dan telah mencapai Jhana I, Jhana II, Jhana III, atau Jhana IV. Bila anda melekat pada Jhana-Jhana yang anda capai sebagai hasil Samadhi mendalam anda, dan menganggap ini adalah puncak dari segala pencapaian, menganggap bahwa ini adalah pembebasan, maka ini adalah bentuk dari belum mampunya anda mematahkan belenggu “Rupa-raga”.

7. Arupa-Raga ; kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa bentuk. Alam tanpa bentuk ( arupa-raga ) dicapai oleh seseorang apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan samadhi telah mencapai Arupa Jhana I, II, III, dan Arupa Jhana IV. Jika anda menganggap bahwa Arupa-raga ( pencapaian Arupa-Jhana ) merupakan pencapaian tertinggi, merupakan kesaktian yang luar biasa yang mampu membebaskan anda dari samsara / keduniawian, maka ini menandakan bahwa anda belum mampu mematahkan belenggu “Arupa-raga”.

8. Mana ; Kesombongan atau Ego, Perasaan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Kesombongan atas Kasta, menganggap diri sendiri lebih tinggi daripada orang lain, maka ini adalah pertanda anda belum mampu mematahkan belenggu “Mana”.

9. Uddhaca ; Kegelisahan. Suatu kondisi batin yang haus sekali akan dosa ( kebencian ), lobha ( keserakahan akan keindriyaan ), dan moha ( kebodohan / kegelapan batin ), karena yang bersangkutan belum mencapai tingkat kebebasan sempurna ( ARAHAT ) ; adalah pertanda bahwa anda belum mampu mematahkan belenggu “Uddhaca”.

10. Avijja ; Kebodohan atau ketidaktahuan. Kebodohan atau ketidaktahuan ini menunjukkan seseorang yang tidak mengerti mana “Jalan”, mana yang “Bukan-Jalan”. Seseorang yang masih terbakar oleh “tiga-api” ( Keserakahan akan keindriyaan, Kebencian, dan, Kegelapan batin ) termasuk dalam golongan orang yang mengalami ‘ketidaktahuan’. Jika kita masih beranggapan bahwa harta keduniawian adalah sumber kebahagiaan, menganggap bahwa dengan memiliki benda-benda tertentu ( baik benda-benda duniawi, seperti mobil, motor, rumah, HP, dll ; maupun benda-benda surgawi , seperti jimat, benda-benda pusaka ; keris, tombak, pedang sakti, baju zirah milik Dewa, dan lain-lain ) menyebabkan tercapainya kebahagiaan, maka ini suatu pertanda bahwa kita belum mampu mematahkan belenggu “Avijja”.


D. ARAHATTA-MAGGA-PHALA.

Orang suci yang telah menyelesaikan semua usahanya untuk melenyapkan semua belenggu yang mengikatnya. Bila ia meninggal dunia, ia tidak akan terlahir di alam mana pun. Ia akan parinibbana.

Arahat telah melenyapkan sepuluh belenggu (1 – 10).

Terdapat empat macam arahat:

1. Sukhavipassako Arahat.

Arahat yang tidak memiliki jhana/abhinna, hanya mencapai kesucian dengan melaksanakan vipassana bhavana.

2.Tevijjo Arahat.

Arahat yang memiliki tiga pengetahuan (vijja):

a. Pubbenivasanussati Nana; memiliki kesadaran akan kelahirannya yang lampaU.

b. Dibbacakkhu Nana; memiliki “mata dewa” sehingga dapat mengetahui kelahiran makhluk di alam dewa atau peta setelah meninggal.
c. Asavakhaya Nana; memiliki pengetahuan bagaimana cara melenyapkan asava (kekotoran batin yang paling dalam).


3. Chalabhino Arahat :

a sampai c seperti di atas ditambah dengan tiga kemampuan lain, yaitu:


d. Cetopariya Nana (paracitta vijja Nana); dapat membaca atau mengetahui pikiran makhluk lain.

e. Dibbasota Nana (telinga dewa); dapat mendengar percakapan suara dari alam dewa, brahma, dan apaya.

f. Iddhividha Nana, yang terdiri dari:

1. Adhitthana Iddhi, kekuatan kehendak mengubah tubuh dari satu menjadi banyak, dari banyak menjadi satu lagi.

2. Vikubbana Iddhi, kemampuan `menyalin rupa’ menjadi anak kecil, raksasa, rupa buruk, menjadi tak tampak.

3. Manomaya Iddhi. Kemampuan `mencipta’ dengan kekuatan pikiran. Misalnya: mencipta istana, taman, binatang. Lamanya ciptaan itu tergantung dari kekuatan pikiran.

4. Nana vipphara Iddhi. Pengetahuan menembus ajaran yang sulit.

5. Samadhivipphara Iddhi. Kekuatan konsentrasi untuk:

i. menembus dinding

ii. meyelam ke dalam bumi seperti di air

iii. berjalan di atas air seperti di tanah datar

iv. masuk ke dalam api tanpa hangus

v. terbang seperti burung

4. Patisambhidappatto Arahat.

Arahat yang memiliki empat patisambhida (pengetahuan sempurna):

a) Atthapatisambhida.

Pengertian mengenai arti/maksud ajaran dan dapat memberi penerangan secara rinci, hampir seperti Sang Buddha.


b) Dhammapatisambhida.

Pengertian mengenai intisari dari ajaran dan mampu mengajukan pertanyaan ajaran yang mendalam.


c) Niruttipatisambhida.

Pengertian mengenai bahasa dan mampu menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti oleh pendengar.


d) Patibhanapatisambhida.

Pengertian mengenai kebijaksanaan dan mampu menjawab spontan bila ada pertanyaan mendadak


Orambhãgiya-samyojana ( belenggu kesatu s/d kelima ) dan Uddhambhãgiya-samyojana ( belenggu keenam s/d kesepuluh ) telah dimusnahkan oleh seorang Arahat.


PENCERAHAN DAPAT DIREALISASI SAAT INI JUGA

Pencerahan, bukanlah sesuatu yang hanya bisa dinikmati setelah kematian. Pencerahan, bukan pula dicapai setelah dinyatakan oleh suatu “makhluk-AdiKuasa” bahwa kita telah mencapainya. Pandangan tersebut adalah pandangan spekulatif. Pencerahan dapat dicapai dalam kehidupan kita sebagai manusia, dan pencerahan inipun diketahui oleh orang yang bersangkutan pula.

Disaat kita telah bertekun sekian lama dalam Dhamma, maka kita sendiri akan bisa merasakan, telah sampai dimanakah “Tingkat-Pencerahan” kita, sebagaimana disabdakan oleh Sang Buddha dalam Parinibbana Sutta, berkenaan dengan Bhikkhu Salba :


“ Mengenai Bhikkhu Salba, O, Ananda, dengan melenyapkan kekotoran-kekotoran batinnya selama hidupnya itu, maka ia telah memperoleh kebebasan batiniah dari noda, telah mendapatkan kebebasan melalui kebijaksanaan, dan hal itu telah dipahami dan disadarinya sendiri. “


Demikianlah tahapan-tahapan dari pencapaian PENCERAHAN. Siapapun yang bertekun dalam Dhamma, pasti akan mampu merealisasikan keempat tingkat pencerahan ini. Dhamma yang luhur ini dapat dibuktikan, dipuji para bijaksana, dan patut kita arahkan kedalam batin kita masing-masing, demi tercapainya pembebasan sempurna dari penderitaan samsara.


Salam Damai dan Cinta Kasih…,


“ Sabbe Satta Avera Hontu, Abyapajja hontu, Anigha Hontu, Sukhi attanam Pariharantu “


( “Semoga semua makhluk bebas dari permusuhan, kemauan jahat, dan terlepas dari penderitaan, semoga semua makhluk dapat mempertahankan kebahagiaannya sendiri tersebut )

RATANA KUMARO

–SEMARANG, 03 MARET 2009 –

Posted in BUDDHA | 27 Comments »