RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

MENEMUKAN KEBENARAN

Posted by ratanakumaro pada Desember 12, 2008

MENEMUKAN KEBENARAN



“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”


Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

Semua manusia senantiasa mencari satu hal yang sama, ialah : KEBENARAN. Kebenaran adalah harta yang sangat berharga bagi manusia.

Saat ini, dunia telah banyak diwarnai oleh ide-ide yang telah menjadi norma-norma, system-sistem nilai, aliran-aliran kepercayaan, system-system filsafat, agama-agama, dan ideology-ideology, yang menawarkan penjelasan-penjelasan mengenai kehidupan, alam kehidupan, alam semesta, tujuan kehidupan, kebahagiaan, dan lain-lain, yang kesemuanya membuat pernyataan “klise” yang sama seperti berbagai aliran kepercayaan dan ideology / sekte-sekte yang ada pada zaman Sang Buddha, yaitu bahwa “Hanya ( ideology ) inilah yang benar, yang lain salah.”

Artikel ini memuat mengenai metode-metode yang patut dicoba untuk menemukan kebenaran, baik secara tersurat maupun tersirat, dan telah saya praktekkan sendiri serta membawa manfaat yang tak ternilai harganya.


KEPERCAYAAN BUKAN = KEBENARAN

Kita terkadang keliru menyimpulkan, bahwa suatu system kepercayaan tertentu merupakan suatu ajaran mengenai “kebenaran”. Kebenaran ( Dhamma ) berbeda dengan kepercayaan / dogma / doktrin.

Seseorang bisa saja menyatakan bahwa ia telah mencapai suatu tataran spiritual tertentu dan “roh”-nya telah mampu “lepas-dari-tubuhnya” lalu menembus berbagai alam kehidupan sehingga telah menemukan “kebenaran”. Lalu membuat cerita-cerita mengenai hasil “pengalaman”-nya itu. Sebagian lalu percaya kepadanya, lalu menyimpulkan itu adalah kebenaran. Tapi, jika hal itu tidak pernah bisa dibuktikan, dan ketika diselidiki pun tidak ditemukan kebenaran pada cerita orang tersebut, maka, itu bukanlah kebenaran, namun : k e p e r c a y a a n, kepercayaan yang dianut oleh para penganutnya.

Suatu kebenaran haruslah bisa dibuktikan, bukan sekedar di-“iya”-kan saja. Misal, seorang menyatakan bahwa aliran / aru air sungai bisa menjadi sumber energi pembangkit listrik. Jika kita bisa membuktikannya, maka itu adalah kebenaran. Kemudian, seseorang yang lain menyatakan dengan memuja suatu dewa / dewi tertentu, kita akan terjamin segalanya, aman, damai sentausa. Tetapi jika itu tidak terbukti, bahwa ternyata meskipun memuja dewa / dewi tertentu tersebut kita tetap mengalami kesusahan, kesedihan, ratap tangis, kemalangan, kehancuran, maka, itu bukanlah kebenaran, itu hanyalah dogma / doktrin dari suatu system-kepercayaan.

Kebenaran, selalu bisa dibuktikan, tetapi kepercayaan, tidak selalu bisa dibuktikan ( bahkan seringkali memang tidak bisa dibuktikan, baik secara logis-ilmiah maupun secara spiritual / kebatinan ). Kesimpang-siuran ini harus dijelaskan terlebih dahulu, supaya kita tidak lagi menganggap bahwa apa yang telah menjadi “kepercayaan” secara turun-temurun adalah otomatis suatu “kebenaran”, tidak begitu. Kebenaran selalu bisa dibuktikan secara empiris, melalui pengalaman kita sendiri, baik itu secara spiritual maupun material, baik secara subjektif maupun objektif.

Ada hukum alam yang sangat “berkuasa” ( hukum alam ada lima, yang disebut dengan “Panca-Niyama”, untuk lebih jelasnya, silakan baca artikel saya di blog ini juga yang berjudul “Bencana Alam dan Wabah Penyakit dalam Perspektif Buddhisme” ) yang membawa keteraturan dalam alam semesta dan kehidupan ini, ya, ADA. Itu kebenaran, itulah “Dhamma”. Tapi, jika disangkut-pautkan dengan sosok “tokoh” tertentu dan “tunggal” yang berada dibalik itu, ini sudah wilayah kepercayaan, artinya, anda mau meyakini silakan, tidak ya silakan. Yang meyakini bisa saja menjadi baik, dan yang tidak meyakini kekuasaan sosok “tokoh” itu ya tidak akan mengalami apa-apa ( selama ia senantiasa berpikir, berbuat, dan berucap sesuai hukum-alam, senantiasa di jalur kebenaran ), seperti terkena bencana, atau “kecemplung-neraka”, misalnya .

Air mengalir kebawah dan selalu menempati ruang, ini adalah hukum alam, ini kebenaran, . Apakah saat air mengalir kebawah dan menempati ruang, harus ada “yang-menggerakkan” air itu ? Api dan sifat panasnya akan membakar kulit kita jika ia dikenakan pada tubuh kita, ini adalah hukum-alam, tapi, apakah harus ada yang mengatur bahwa api dan sifat panasnya itu akan membakar kulit kita jika dikenakan pada kita ?

Mutasi genetika bisa terjadi, dan berbagai makhluk hidup bisa terbentuk atas proses mutasi genetika, evolusi, dan pengaruh “karma” serta keempat hukum alam lainnya ( keempat hukum alam selain hukum karma adalah : Utu Niyama, Bijja  Niyama, Citta Niyama, dan, Dhamma Niyama ),  ini hukum alam, ini kebenaran, tapi jika disangkut-pautkan dengan adanya sesosok “tokoh”  yang “Tunggal” dibalik itu semua, ini adalah wilayah kepercayaan.

Kepercayaan, adalah sesuatu yang sifatnya “diyakini”, “diimani” secara subjektif, tanpa harus bisa dibuktikan secara objektif, dan belum tentu sesuai “apa-adanya”.

Tetapi , Kebenaran, adalah sesuatu yang sifatnya “benar”, “sesuai-apa-adanya”, “objektif”, dan bisa dibuktikan baik secara subjektif ( oleh individu-individu ) maupun objektif.


DUA JENIS KEBENARAN


Buddha-Dhamma mengenal dua jenis kebenaran, yaitu :

1. Kebenaran konvensional ( Sammuti Sacca ), dan,

2. Kebenaran Mutlak ( Paramatha-Sacca ). Kebenaran Mutlak harus memenuhi syarat :

a). Harus BENAR.

b). Tidak terikat oleh WAKTU,

c). Tidak terikat oleh RUANG.


Kebenaran konvensional adalah suatu “persepakatan-bersama”. Ia bisa terwujud dalam suatu system tradisi, adat, dan agama-agama tertentu. Kebenaran konvensional ini sifatnya lapuk dimakan waktu ( sehingga ia bisa menjadi kepercayaan yang usang, kuno, tidak sesuai perkembangan jaman ), dan tidak “universal”, sehingga tidak bisa diterapkan disetiap belahan bumi, hanya sesuai dengan tempat asalnya.

Tetapi Kebenaran-mutlak ( Paramatha-Saccena ), diluar lingkup semua hal tersebut. Kebenaran mutlak hanya bisa disadari dan dicapai dengan pengembangan pikiran melalui Samadhi, dan bukan melalui jalan berspekulasi / berteori. Kebenaran mutlak tak akan pernah lapuk oleh waktu, tidak akan pernah ketinggalan jaman, dan berlaku secara universal. Misal, hukum Karma, dimana setiap perbuatan akan menuai buahnya. Hukum karma ini berlaku secara abadi, tidak lekang oleh waktu, dan berlaku di belahan bumi manapun juga, di alam kehidupan manapun ( di alam para dewa, hukum karma secara relatif “tidak-begitu-kentara”, karena di alam para dewa, mereka menikmati kesenangan dalam jangka waktu panjang ).  Contohnya lagi, Empat Kesunyataan Mulia ( Cattari Ariya Saccani ) yang terdiri dari : 1. Hidup ini  adalah dukkha, 2. Sebab dukkha adalah nafsu keinginan / tanha, 3. Lenyap / berakhirnya penderitaan ( Nirvana ), dan, 4. Jalan menuju lenyapnya penderitaan ( Ariya Athangika Magga ). Keempat kasunyatan mulia ini berlaku di belahan bumi manapun juga, kapanpun juga, tidak terbatas lingkup ruang dan waktu. Contohnya lagi, kenyataan mengenai TRILOKA ( Kamadhatu, Rupadhatu, dan , Arupadhatu ), dan lain-lain hal Dhamma yang diungkapkan Sang Buddha, itu adalah “Kebenaran-Sejati”, “Kebenaran-Mutlak”, yang berlaku secara  u n i v e r s a l  .

Demikianlah, dhamma yang dibabarkan Sang Buddha adalah Kebenaran-Mutlak mengenai dunia. Buddhisme adalah contoh pertama dari penggunaan metode ilmiah murni yang diterapkan atas pertanyaan sehubungan dengan sifat sejati dari alam semesta, kehidupan, dan alam kehidupan. Buddhisme, juga,  secara “ilmiah” dan  “rohani” sekaligus, menerangkan hal yang spiritual maupun non-spiritual, yaitu, spiritualitas dalam Buddhisme bahkan sangat jauh dari “mitos” , dapat dibuktikan oleh setiap individu yang mau membuktikannya, dan secara spiritual pula mampu menerangkan hal-hal ilmiah, menerangkan kebenaran abadi mengenai alam semesta, kehidupan, dan alam kehidupan. Kebenaran-abadi ini, yang telah ada tanpa harus hadirnya seorang Samma-Sambuddha, ditemukan dan disingkapkan oleh Sang Buddha tanpa bantuan Illahi ( wangsit, wahyu, dan hal “mitos” lainnya ). Sang Buddha bukan “Tuhan”, bukan pula utusan “Tuhan”, bahkan menolak adanya sosok “Tuhan” pribadi yang “tunggal” dan disembah serta dianggap sebagai pencipta dan penguasa dari semua di alam semesta ini ( suatu pencapaian tertinggi yang dapat diraih oleh semua ummat manusia, itulah ke-Buddha-an ) .

Karena berakar pada kebenaran-mutlak yang abadi ini, maka Buddhisme bisa bertahan dengan kuat untuk menghadapi tantangan apapun tanpa harus mengubah prinsip dasar dari Dhamma tersebut. Bahkan, Albert Einstein pun sampai menyatakan, “Jika ada suatu agama yang sesuai dengan kebutuhan ilmu pengetahuan modern, maka itu adalah ajaran Sang Buddha.”

Banyak ajaran terpaksa harus  “merevisi” ajarannya. Misal, ketika Einstein menyatakan teori lubang cacing, lubang hitam, dan lubang putih, maka ajaran-ajaran tersebut terpaksa harus merevisi ajaran-ajarannya. Ketika ilmuwan menemukan bahwa bumi ini bulat, dan bersama-sama dengan planet lainnya berputar sesuai garis orbit mengitari matahari, maka banyak ajaran segera menyesuaikan dengan temuan ilmu pengetahuan. Dan hanya Buddhisme yang bisa betahan dan justru sesuai dengan temuan ilmiah para ilmuwan tersebut ( untuk lebih jelasnya, baca artikel saya yang berjudul “ALAM-SEMESTA” ( jilid I s/d III ) ). Buddhisme satu-satunya agama yang tidak pernah menodai dirinya dengan menghukum mati ilmuwan-ilmuwan yang menyatakan sesuatu hal mengenai alam semesta, sebab, pernyataan para ilmuwan itu, telah dinyatakan oleh Sang Buddha 2600-an tahun yang lampau ( 600-an tahun Before Christ (BC) / Sebelum Masehi ( SM ) ) .

Dogma, iman, dan logika ( disunting dari wikipedia Indonesia )

Dogma ( dari bahasa Yunani, bentuk jamak dalam bahasa Yunani dan Inggris kadangkala dogmata ) adalah kepercayaan atau doktrin yang tidak dapat ( baca : tidak boleh ) dibantah, yang dipegang oleh sebuah agama atau organisasi yang sejenis untuk bisa lebih otoritatif. Bukti, analisis, atau fakta mungkin digunakan, mungkin tidak, tergantung penggunaan.

Ada kesamaan konsep antara dogma dan aksioma yang digunakan sebagai titik awal untuk analisis logika. Aksioma dapat dianggap sebagai konsep dasar atau ‘sudah semestinya demikian’ sehingga tak terbayangkan orang akan membantahnya. Dogma juga bersifat sangat mendasar (misalkan, dogma bahwa ‘Tuhan itu ada’) namun juga mencakup himpunan yang lebih besar dari kesimpulan yang membentuk bidang pikiran (keagamaan) (misalkan, ‘Tuhan menciptakan alam semesta’).

Aksioma adalah pernyataan yang tidak bisa dibuktikan benar atau salah, atau pernyataan yang diterima atas kegunaannya. Filsafat dan teologi menemukan cara untuk membahas semua pernyataan, baik yang diklasifikasikan sebagai aksioma atau dogma.

Mungkin puncak uraian terorganisasi dari sebuah dogma teologi adalah Summa Theologica Katolik Roma yang dicetuskan oleh St Thomas Aquinas, yang mengusulkan hubungan antara iman dan penolakan:

“Bila lawan kita tidak percaya akan wahyu Tuhan, maka tidak akan ada cara lain untuk membuktikan obyek-obyek iman melalui penalaran, melainkan hanya dengan menjawab penolakannya atau penyangkalannya —bila memang dia memilikinya— terhadap iman atau kepercayaan tersebut” (I 1 8).


Dogma dalam agama

Dogma banyak ditemukan dalam agama Kristen dan Islam, di mana mereka dianggap sebagai prinsip utama yang harus dijunjung oleh semua umat agama tersebut. Sebagai unsur dasar dari agama, istilah dogma diberikan kepada ajaran-ajaran teologi yang dianggap telah terbukti baik, sedemikian rupa hingga usul bantahan atau revisinya berarti bahwa orang itu tidak lagi menerima agama tersebut sebagai agamanya sendiri, atau ia mengalami keragu-raguan pribadi.

Dogma dibedakan dari pandangan teologis mengenai hal-hal yang kurang dikenal. Dogmata dapat dijelaskan dan diuraikan tetapi tidak dibantah dalam ajaran-ajaran baru. (mis. Galatia 1:8-9). Penolakan terhadap dogma dianggap ajaran sesat dan dapat menyebabkan seseorang dikeluarkan dari kelompok agamanya, meskipun di dalam Injil Kristen hal ini tidak dilakukan dengan keras Mt 18:15-17).

Bagi sebagian besar anggota Gereja Ortodoks, dogmata sudah dikandung di dalam Doa Syahadat Nicea dan di dalam dua, tiga, atau tujuh konsili ekumenis yang pertama (tergantung apakah orang itu seorang Nestorian, Monofisit, ataukah seorang Kristen Ortodoks Timur. Orang Katolik Roma juga mengakui dogma yang dihasilkan oleh 14 konsili ekumenis yang belakangan dan sejumlah keputusan yang dirumuskan oleh paus yang menjalankan infalibilitas kepausan (lih. mis. Maria ibunda Yesus). Kaum Protestan, pada tingkat yang berbeda-beda mengakui bagian-bagian dari dogmata ini, dan seringkali berpegang pada ‘Pernyataan Iman’ yang khas bagi alirannya, yang menyimpulkan dogma-dogma pilihan mereka.

Dalam Islam, prinsip-prinsip dogma dikandung di dalam aqidah.


Dogma di luar agama

Banyak keyakinan non-agama seringkali digambarkan sebagai dogma, misalnya di bidang politik atau filsafat, maupun di dalam masyarakat sendiri. Istilah dogmatisme mengandung arti bahwa orang berpegang pada keyakinan-keyakinan mereka tanpa berpikir dan hanya ikut-ikutan saja.

Dogmata dianggap anatema bagi ilmu pengetahuan dan analisis ilmiah meskipun orang bisa berdebat bahwa metode ilmiah itu sendiri pun merupakan dogma bagi banyak ilmuwan. Dalam cara yang sama dalam filsafat, seperti misalnya rasionalisme dan skeptisisme, meskipun pertimbangan-pertimbangan metafisika biasanya tidak tampak jelas dalam bidang-bidang itu, dogma-dogma keagamaan yang tradisional cenderung ditolak sementara praduga-praduga yang tidak teruji diterima. Pada dasarnya, dogma adalah suatu kepercayaan yang di-“sakral”-kan, dan tidak boleh “dipertanyakan”, hanya untuk di”imani” saja, di”yakini” saja.


ANJURAN SANG BUDDHA

Sang Buddha selalu menganjurkan seseorang untuk tidak tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan akan sesuatu hal. Penelitian yang sungguh-sungguh haruslah dilakukan, fakta-fakta harus dikumpulkan, disusun dengan benar, dipertimbangkan matang-matang, ditata kembali secara cermat untuk menjadi pijakan dalam penarikan konklusi / kesimpulan, yang tentunya semuanya dilakukan secara hati-hati dan tidak tergesa-gesa.

Banyak aliran-aliran kepercayaan, agama, maupun ideology-ideology tertentu senantiasa menarik-narik orang untuk masuk memeluk kepercayaannya itu. Jika suatu ketika kita terbujuk, dan suatu saat mengetahui bahwa ternyata ajaran itu salah, maka sudah disiapkan pasal “penjerat” agar kita “takut” untuk meninggalkan kesetiaan kita pada ajaran itu, missal dengan memberikan stempel kita “pengkhianat”, “pendosa”, “murtad”, dan lain-lain istilah yang dipakai. Tidak hanya berlaku dalam agama-agama tertentu, dalam dunia politik, jika kita keluar dari suatu ideology politik tertentu dan “menyeberang” darinya, maka kita akan menjadi “target” untuk dilenyapkan.

Sang Buddha dan para murid-muridnya, dalam sejarah perjalanan agama Buddha, tidak pernah mendesak orang-orang untuk dengan gairah berlebihan, secara tergesa-gesa menerima ajaran Sang Buddha mengenai kasunyatan / hakekat hidup, kehidupan, dan alam semesta. Beliau malah akan menganjurkan orang tersebut untuk meneliti terlebih dahulu dengan seksama dan cermat sehingga ketika menerima Dhamma Sang Buddha, itu adalah hasil penelaahan mendalam, bukan karena “iman-membuta” yang diambil dengan keadaan “buta” ( tergesa-gesa, tanpa pertimbangan, hanya ikut-ikutan ).

Suatu ketika, setelah berdiskusi lama dengan Sang Buddha, seorang tokoh yang bernama Upali berharap agar dapat diterima menjadi siswa oleh Sang Buddha, tetapi Sang Buddha justru berkata kepadanya :

“ Upali, telitilah secara mendalam terlebih dahulu. Penelitian yang mendalam adalah sangat baik, bagi orang yang terkenal seperti dirimu. “

( Majjhima Nikaya I : 379 )

Semua manusia hendaknya merenungkan nasehat ini. Betapa banyak diantara kita yang pernah melakukan kesalahan dalam hidup ini, memasuki / memeluk sebuah system ideology, aliran kepercayaan ataupun agama hanya karena propaganda bahwa system keyakinan tersebut adalah yang terbenar karena diwartakan oleh “orang-pilihan”, dan merupakan suatu “wangsit” yang “turun-dari-Tuhan”, atau “turun-dari-langit”, dan hanya dengan masuk menjadi bagian sistem ajaran itu saja, tanpa harus berbuat macam-macam, kita pasti akan terjamin baik di dunia maupun “setelah-mati-nanti”. Namun, dalam perjalanan kemudian, ternyata kita secara intuitif menemukan, ada sesuatu yang “salah” dalam system ideology tersebut.


Mempertimbangkan Pendapat Lain

Sistem filsafat, ideology, dan agama-agama memberikan jawaban yang berbeda-beda akan suatu hal yang sama. Misal, agama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, dan berbagai aliran-aliran kepercayaan serta ideology-ideology di dunia akan memberikan jawaban yang berbeda-beda mengenai suatu topic yang sama, entah itu mengenai : alam semesta, kehidupan, alam kehidupan, dan lain-lain hal.

Dalam kesimpang-siuran ajaran-ajaran yang ada, seyogyanya demi mendapatkan pengertian yang benar, seimbang, objektif dan tidak berdasarkan subjektifitas semata, kita harus mempertimbangkan argumentasi-argumentasi yang ada yang diberikan oleh berbagai aliran kepercayaan, agama, maupun ideology yang ada.

Sang Buddha bersabda :


“ Tidak hanya atas dasar pendapat sepihak, seseorang akan dekat dengan kebenaran.

Orang bijaksana adalah mereka yang menyelidiki ceritera dari kedua belah pihak. “

( Dhammapada : 256 )

Suatu saat, dalam masa kehidupan Sang Buddha, ada kelompok Bhikkhu yang mulai mengajarkan ajaran yang bertentangan dengan Dhamma / kasunyatan. Ummat awam dan para siswa Sang Buddha menjadi bingung, dan ketika mereka mengajukan masalah ini kepada Sang Buddha, Beliau memberikan jawaban yang sekaligus menunjukkan keyakinan-Nya pada kebenaran sejati yang telah beliau ‘singkapkan’ dan juga pada kemampuan umat manusia untuk dapat memahaminya. Beliau berkata kepada mereka :

“ Hendaknya engkau mendengarkan “Dhamma” dari kedua belah pihak, simaklah “dhamma” dari kedua belah pihak ; lalu pilihlah pandangan, pihak, ajakan dan ajaran dari dia yang benar mengucapkan Dhamma. “

( Vinaya IV : 355 )

Beliau tidak memaksakan orang untuk percaya kepada Beliau, tidak menekankan suatu pengertian “siapa yang harus dipercaya”, tetapi Beliau menyarankan agar mereka mendengarkan dulu kedua pandangan yang ada, mempertimbangkannya secara hati-hati dan kemudian baru menarik kesimpulan sendiri. Demikianlah seyogyanya cara ini kita tempuh dalam mencari kebenaran. Jika didalam diri kita sudah tertanam suatu keyakinan, bersikaplah terbuka terhadap pandangan lainnya, karena, belum tentu yang kita ikuti selama ini benar-benar mewartakan suatu kebenaran.

Banyak pemuka-pemuka didunia ini, baik seorang ideolog dan filosof ( Misalnya saja Karl Marx, Hegel, Auguste Comte, Nietzche, dan , boleh dimasukkan juga, Soekarno, dan lain-lainnya) , filsuf , hingga seorang Nabi sekalipun menyatakan menemukan kebenaran, mengajarkan kebenaran, memperoleh “berita” dari “langit”. Kemudian, atas informasi dari mereka ini, maka bermunculanlah para pengikut-pengikut, “ummat-ummat” , dan kebanyakan semuanya menjadi fanatik. Bahkan saat mereka ( para tokoh-tokoh besar penggagas ide-ide tersebut ) hidup, mereka sendiri terlibat adu argument dan pertengkaran-pertengkaran “kecil” ( kalau tidak boleh disebut dengan “peperangan” / “pembantaian” ) dengan ide-ide dan penganut ide-ide diluar dirinya tersebut.

Sang Buddha menceritakan suatu perumpamaan yang sangat menarik untuk menggambarkan hal tersebut :

“ Sekali waktu, ada seorang raja di Savatthi. Dia memanggil pengawalnya dan berkata : “ Kesini, pengawalku yang baik, pergi dan kumpulkanlah mereka yang buta sejak lahir di Savatthi ini, pada suatu tempat.“ “ Baik, tuanku”, sahut pengawalnya, lalu dia melaksanakan titah rajanya, lalu setelah selesai dikumpulkan, raja berseru lagi kepadanya : “ Sekarang, pengawalku yang baik, tunjukkan pada orang-orang buta ini seekor gajah.” “Baik, tuanku”, kata pengawalnya, lalu melaksanakan lagi titah rajanya.

Dia mendekatkan salah seorang dari orang-orang buta itu di kepala gajah, seorang lagi di telinganya, seorang di gadingnya, seorang di belalainya, seorang di kakinya, seorang di punggungnya, soerang di ekornya, seorang lagi di ujung ekornya lalu pengawal berseru : “Wahai, orang-orang buta, inilah yang disebut gajah.”.

Setelah itu, sang pengawal kembali menghadap pada raja dan berkata : “Tuanku, gajah telah ditunjukkan kepada semua orang buta, sesuai titah baginda.” Sang raja kemudian menghampiri orang-orang buta tersebut dan berkata : “Wahai, orang-orang buta, sudahkan engkau tahu bagaimana gajah itu?” “Ya, tuanku, kita telah mengetahuinya,” kata mereka. “Bila demikian, katakana bagaimana yang disebut gajah.”

Orang buta yang memegang kepala gajah berkata,”Gajah menyerupai tempayan.”

Yang memegang telinga berkata,”Gajah menyerupai kipas.”

Demikian seterusnya, mereka mengatakan gading seperti ujung bajak, balalai seperti pegangan bajak, badan gajah seperti lumbung padi, kaki seperti tiang, bokong seperti lesung, dan ekor sebai alunya, ujung ekor disebut sapu. Mereka mulai bertengkar, berteriak : “Ya,begitu!” “Tidak,tidak begitu!” “Gajah tidak seperti itu!” “Ya, seperti itu!”. Mereka kemudian berkelahi, dan sang raja malah menikmati apa yang dilihatnya. “

( Udana : 68 )

Inilah yang terjadi, jika kita menarik kesimpulan secara tergesa-gesa.  Mungkin dari lahir kita diperkenalkan pada suatu system ideology atau ajaran tertentu, dan secara membuta meyakininya sebagai suatu kebenaran mutlak, “credo” yang tidak boleh di-“kritisi”, tidak boleh di-“cermati”, tidak boleh ditelaah dengan benar, dan kita tidak boleh keluar dari sistem ajaran itu. Namun, kita sebagai makhluk ber-“Buddhi”, harus menyelidiki, meneliti, dan jangan “takut” untuk mencari kebenaran atas hal tersebut. Jika kita menutup hati dan batin kita dengan “iman-membuta”, takut akan “azhab-dari-yang-diatas”, maka, kecil kemungkinan bagi kita untuk menemukan kebenaran-sejati.

Misalnya, dulu kala dinyatakan bumi ini datar, juga, bumi adalah pusat tata-surya, dimana matahari berputar mengelilingi bumi ;  hal ini bahkan diajarkan oleh agama-agama besar , selain Buddhisme, yang lahir dari abad setelah tahun “0” Buddhis Era ( setelah wafatnya Sang Buddha ), hingga kurang lebih abad ke-15 M. Pandangan ini dianut dan bertahan hingga sangat lama, hingga suatu ketika, Nicolas Copernicus ( 1473 – 1543 ) , seorang ilmuwan, menemukan dan menyatakan bahwa bumi ini berbentuk bulat, dan mataharilah justru sebagai pusat tata-surya, dimana bumi serta planet-planet yang lain berputar pada garis orbit mengelilingi matahari ( heliocentric). Mengenai hal ini, penganut aliran-aliran diluar Buddhisme akhirnya harus mengalah dan merombak lagi , “mengothak-athik-gathuk”-kan tafsir ayat-ayatnya kembali, namun siswa Sang Buddha, sejak 2600 tahun yang lampau ( 600-an tahun SM  ) telah mengetahui hal ini, dan tidak pernah berbeda pendapat dengan ilmuwan perihal ini, bahkan lebih maju pengetahuannya ( karena banyak hal yang telah dinyatakan Sang Buddha baru bisa dibuktikan oleh para ilmuwan sekarang ini, dan masih banyak hal lagi yang masih berusaha untuk dibuktikan oleh para ilmuwan ).

Seorang murid Sang Buddha, yang bernama Kumara Kassapa, memberikan suatu perumpamaan yang serupa guna melukiskan suatu jalan bagi kita untuk menemukan Kebenaran ;

“ Sekali waktu, seluruh penduduk dari suatu kecamatan meninggalkan wilayahnya. Lalu ada seorang berkata pada kawannya : “ Mari, kita kembali kesana lagi; mungkin kita masih menemukan sesuatu yang berharga.”

Kawannya menyetujui, dan ketika mereka sampai disana, mereka menemukan setumpuk tali ramin yang dibuang di jalanan desa. “ Mari kita mengikat dan membawanya”, orang itu berkata pada kawannya, yang segera menyetujuinya, dan merekapun melakukannya.

Tidak lama, mereka pun sampai di desa lain, disana mereka menemukan setumpuk kain ramin, dari tali ramn yang telah ditenun, orang itu lalu berkata pada kawannya : “ Demi kain ramin inilah, sehingga kita mengumpulkan tali ramin tadi. Buang saja tali ramin itu, mari kita bawa saja kain ramin ini.” Tetapi kawannya berkata : “Saya telah membawa tali ramin ini sepanjang jalan tadi, lagi pula ini telah terikat rapih. Saya akan tetap membawa tali ramin ini saja. Lakukan saja kehendakmu sendiri.”

Lalu orang pertama tadi membuang tali raminnya dan membawa kain ramin tersebut.

Tak lama dalam perjalanan selanjutnya, mereka menemukan benang linen, kain linen, kapas, benang katun, kain katun, besi, tembaga, kaleng, timah, dan perak ; dan setiap kali menemukan yang lebih berharga, orang tadi mengganti bawaannya, sdan si kawannya tetap membawa tali raminnya.

Tak lama kemudian mereka sampai di suatu desa yang lain, disana mereka menemukan setumpuk emas, dan orang tadi berseru kepada kawannya : “ Emas ini adalah yang paling kita inginkan dari segalanya. Buanglah tali raminmu, saya juga akan membuang perakku, lalu kita bawa emas ini.” Tetapi kawannya berkata : “ Saya telah membawa tali ramin ini sepanjang perjalanan, lagi pula ini telah terikat rapih. Saya tetap akan membawanya. Lakukan saja olehmu sendiri.”

Dengan demikian, orang tadi membuang perak tersebut, lalu membawa emas itu. Ketika mereka akhirnya tiba kembali dirumahnya masing-masing, orang yang membawa tali ramin tidaklah membawa kegembiraan pada keluarganya, juga tidak pada dirinya sendiri ; sedangkan orang yang membawa emas telah pula membawa banyak kegembiraan baik pada keluarganya, maupun pada dirinya sendiri. “

( Digha Nikaya,II : 349 )

Bhante Shravasti Dhammika menyatakan, pandangan atau pendapat tentang kebenaran tak ubahnya bayangan cermin seseorang. Pandangan atau pendapat itu bayangan – cerminnya, sedang kebenaran adalah orang itu sendiri. Pandangan mewakili kenyataan, namun bukanlah kenyataan itu sendiri. Bila kita senantiasa mengingat ini dalam batin, pandangan-pandangan dapat menunjukkan kita kearah kebenaran, dan bila kita tetap berusaha maju, kita akan secara bertahap melepaskan pandangan-pandangan itu dan menggantikannya dengan penghayatan langsung.


Demikian , semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semua yang membacanya, terutama yang sangat mencintai “Kebenaran”, dan bahkan masih berjuang mencari “Kebenaran” itu.

Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

“Semoga Semua Makhluk Berbahagia dan Terbebas dari Semua Penderitaan!”

— RATANA KUMARO / RATNA KUMARA / RATYA MARDIKA —

Semarang Barat, Jumat, 12 Desember 2008.

22 Tanggapan to “MENEMUKAN KEBENARAN”

  1. Ngabehi said

    ikut menyimak dengan antusias, semoga bisa mengerti dikit dikit.
    ———————–

    Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

    Silakan, mas ngabehi, silakan, semoga bermanfaat… .

    Salam Damai dan Cinta Kasih… .
    “Semoga Semua Makhluk Berbahagia dan Terbebas dari Semua Penderitaan!”

  2. tomy said

    kebenaran akan terus ditemukan sepanjang jalan, maka dari itu Tong Sam Cong terus berjalan ke arah Barat mencari Kitab Suci 😀
    ———————————–
    Kebenaran, ada dalam DIRI KITA dan ALAM SEMESTA ini sendiri,
    Jika kita bisa menemukan, maka kita akan mengerti dari mana dan sebaiknya akan kemana kita menuju ( disini maksud saya bukan Tuhan sebagai “Sangkan paraning dumadi” lho mas, hehe… .Tapi, menuju pada “Yang-Mutlak”, ialah Nirvana)

    ———————————-
    yang nantinya akan dia sadari bahwa Kitab Suci adalah Hidupnya sendiri & ayat2 suci adalah segala dinamika hidup yang ia alami sepanjang jalan manusia tak akan mampu menangkap semua dedaunan diseluruh hutan :mrgreen:
    ———————————-

    Sekedar sharing / masukan sebagai sebuah koreksi pemahaman =
    TIPITAKA, bukanlah KITAB SUCI seperti pemahaman dalam terminology agama2 samawi,
    Buddhisme tidak mempunyai KITAB SUCI ( sebuah kitab yang turun dari Tuhan ) dan menolak adanya KITAB SUCI seperti itu ( yang diturunkan dari Tuhan ) … ,
    TIPITAKA, adalah TIGA KERANJANG, yang berisi ajaran / kotbah Sang Buddha, yang kesemuanya membahas, berisi tentang hakekat HIDUP, KEHIDUPAN, ALAM SEMESTA, dan ALAM KEHIDUPAN… .
    TIPITAKA : Vinaya Pitaka, Sutta Pitaka, Abhidhamma Pitaka… ,
    Kalau dibahas juga panjang… .
    Vinaya Pitaka kurang lebih berisi kode etik bagi para petapa Buddhis, yang menempuh hidup ke-Bhikkhu-an… , juga aturan2 dan kode etik yang lain… .
    Sutta Pitaka, berisi kotbah Sang Buddha selama 45 tahun pengabdiannya kepada semua makhluk demi pencapaian pencerahan… ,
    Abhidhamma Pitaka, merupakan central ajaran Sang Buddha, sebuah “filsafat” yang dalam yang membahas mengenai “dhamma”, yang sebenarnya adalah yang ada di dalam diri kita sendiri, seperti proses-proses pikiran, dan lain2… .
    Itulah bedanya, jadi, keliru jika menganggap Buddhisme mempunyai KITAB SUCI seperti agama2 samawi.. .
    TIPITAKA sesungguhnya merupakan “kodifikasi” dari sesuatu yang seperti anda nyatakan diatas ;

    ” Kitab Suci adalah Hidupnya sendiri & ayat2 suci adalah segala dinamika hidup yang ia alami sepanjang jalan ”

    Bedanya, ummat Buddha sudah tidak perlu mencari lagi, karena semua sudah ditemukan dan disingkapkan Sang Buddha, ummat Buddha tinggal membuktikan, apakah pernyataan Sang Buddha mengenai hakekat HIDUP, KEHIDUPAN, ALAM SEMESTA, dan ALAM KEHIDUPAN tersebut benar2 nyata adanya, atau tidak, sehingga ummat Buddha senantiasa harus mengingat prinsip EHIPASSIKO, “datang, dan buktikan sendiri!”
    Jika ternyata tidak benar, jangan dipercaya dan jangan diikuti…, itulah prinsip ummat Buddha… .


    ————————————-

    Om Mani Padme Hum

    ————————————–
    Salam Damai dan Cinta Kasih… ,
    “Semoga Semua Makhluk Berbahagia dan Terbebas dari Semua Penderitaan… .”

  3. terima kasih pencerahannya,
    ——————————

    Sama-sama mas, bukan apa-apa kok mas, sekedar sharing… .

    —————————–
    dalam Filsafat Jawa ada istilah Kitab Teles & Kitab Garing
    Kitab Teles adalah Hidup & dirinya sendiri, Budha adalah keberadaan diri dalam setiap saat
    manusia tidak mampu lagi membaca Kitab Teles 😥 untuk itu perlu adanya avalokiteshvara
    matur nuwun sanget
    Rahayu….
    ——————————

    Matur nuwun ugi… ,
    Salam Damai dan Cinta Kasih… ,
    Rahayu… ,
    “Semoga Semua Makhluk Berbahagia dan Terbebas dari Semua Penderitaan!”

  4. CY said

    Bro, pernyataan “air mengalir ke bawah” itu kan terikat oleh ruang, kalo di hampa udara bukan mengalir kebawah lagi lho, apa masih disebut kebenaran??
    —————————–
    Ko CY, setau saya, kalau di hampa udara ( seperti ruang angkasa ), air ( H20 ) itu sudah tidak ada ya Ko… ,
    Bahkan, kadar 02 saja disana sudah tipis Ko…, bener gak ya ini ?

    Nah, mengenai air mengalir kebawah, itu percontohan saja Ko, untuk sesuatu yang terjadi yang “sangat-dekat” dengan diri kita sehari-hari, sehingga saya ambil contoh tersebut… .
    ——————————

    *Buddha memberkati*
    ——————————
    Salam Damai dan Cinta Kasih… ,
    “Semoga Semua Makhluk Berbahagia dan Terbebas dari Semua Penderitaan!”

  5. CY said

    Iya juga bro, kadar O2 disana memang sdh tipis sekali. Cuman, jaman sekarang kan bisa bawa air kesana dan kalo dilepas airnya ga mengalir kebawah tapi beterbangan hehehe…

  6. Andre said

    halo..

    mau tanya nih, perjalanan Tom Sam Cong ke barat mengambil kitab suci bersama dengan siluman kera, babi dll itu hanya sebuah dongeng atau memang benar terjadi? Tom Sam Cong itu sendiri tokoh fiksi atau memang benar seorang tokoh di Agama Buddha?

  7. CY said

    @Andre
    Saya coba menjawab dgn keterbatasan pengetahuan saya. Tong Sam Chong itu sendiri adalah tokoh nyata krn sejarah memang mencatat perjalanan beliau, saya pernah nonton kupasan ttg hal itu di TV (lupa entah TV apa, bukan film tapi memang betul cerita historis sejenis National Geographic Channel). Namun cerita ttg siluman kera, babi, dll itu sepertinya hanya tambahan utk memperkaya kisah perjalanan ke barat itu. Ada yg bilang segala cerita ttg siluman2 itu hanyalah melambangkan tantangan2 yg beliau hadapi di sepanjang perjalanan.

  8. CY said

    Dari beberapa literatur yang ada menunjukkan bahwa tokoh Hsuan-tsang (Tong Sam Chong) ini adalah seorang biksu yang ditasbihkan pada umur 13 tahun dan hidup di Tiongkok sekitar tahun 602-664, dikenal juga dengan nama aslinya Chen-I, mendapatkan gelar
    San-Tsang atau Mu-Ch’a-T’i-P’o (Moksadeva) atau Yuan-tsang (di Jepang dikenal dengan nama Genjo). Beliau tercatat sebagai biksu dan penziarah dari Tiongkok yang terbesar sepanjang sejarah dan hidup pada masa Dinasti Tang (618-907), yang menunggang kuda melakukan perjalanan ke India melewati Himalaya selama 4 tahun perjalanan (dalam usia 23 tahun).

    Beliau sempat tinggal selama 10 tahun di India untuk mempelajari dan menerjemahkan berbagai kitab Sansekerta Tripitaka ke dalam bahasa China, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 645 dengan membawa pulang 658 teks agama Buddha
    dan berbagai sutra Mahayana. Karya terjemahannya dan juga tulisan perjalanannya ke Asia Tengah dan India yang penuh dengan data yang akurat merupakan suatu fakta sejarah tak ternilai bagi para sejarawan dan arkeologis saat ini. Nama
    beliau dapat disejajarkan dengan para sesepuh Mahayana (Tripitaka Master) seperti Mahadeva, Asvaghosa, Nagarjuna, Atisa, Vasubandhu, Bodhidharma, Shanti-Deva, Asanga, Arya-Deva, Tao-An, Kumarajiva, Kobo-Daishi termasuk Buddhaghosa (Theravada).

  9. SELAMAT..pancen hebat tenan adimas satu ini, selalu berkembang sejalan perjalanan waktu..gambaran KEHIDUPAN YG SEJATI.
    tentang KEBENARAN bagus sekali, sistematis, dan komplit.
    apa yg bisa sy sumbangkan sepertinya tak bersisa lagi. alias sudah habis dibahas adimas yg waskita ini.

    KEBENARAN memang sangat sulit dikuak, karena KEBENARAN SEJATI adalah KEBENARAN ILAHIAH, kebenaran Hyang MANON, HYANG WIDHI, GUSTI INGKANG AKARYO JAGAD.

    maka SEBUAH KEBENARAN IBARAT CERMIN YG RETAK BERSERAKAN, ajaran, ilmu, dan agama sebatas MEMUNGUT SATU KEPING PECAHAN DIANTARANYA.

    Maka YG MENJADI TERPENTING dalam kehidupan adalah POSTULAT yg tak terbantah, BAHWA KEBERSAMAAN, BAHU-MEMBAHU, KERJASAMA, SOLIDARITAS, TOLERANSI, PERSATUAN, KEGUYUBAN, PERDAMAIAN di antara semua institusi dan elemen ilmu pengetahuan, ajaran, dan agama AKAN MEWUJUDKAN KEBENARAN SEJATI DI MERCAPADA, yakni AUDAIMONISTIS ; yakni KEBAHAGIAAN umat manusia yg paling tinggi.

    Rahayu
    sabdalagit;
    jalan setapak menggapai spiritualitas sejati
    membangun bumi nusantara yg berbudi pekerti luhur

  10. sugimo said

    Yth, Saudara-Saudaraku,

    Selamat Natal 2008 & Tahun Baru 2009.

    Semoga seluruh makhluk berbahagia, mencapai pencerahan & kebenaran sempurna.
    Terimakasih
    ——————————-

    Maturnuwun, Bp. Sugimo… ,

    Selamat Hari Raya Natal 2008 dan Tahun baru 2009… ,

    SEMOGA SEMUA MAKHLUK BERBAHAGIA, DAMAI, SEJAHTERA, DAN SENTAUSA!

  11. lovepassword said

    Blog yang bagus. MET Tahun Baru

  12. kweklina said

    Wish you…
    12 month of happiness,
    52 weeks of fun,
    365 days of laughtr,
    8760 hours of luck,
    525.600 minutes of joy,
    31.536.000 secon ds of succes.

    HAPPY NEW YEAR 2009 for you! 😀

  13. simon said

    Kebenaran mutlak tak akan pernah lapuk oleh waktu, tidak akan pernah ketinggalan jaman, dan berlaku secara universal. Misal, hukum Karma, dimana setiap perbuatan akan menuai buahnya. Hukum karma ini berlaku secara abadi, tidak lekang oleh waktu, dan berlaku di belahan bumi manapun juga, di alam kehidupan manapun

    jika seorang anak yang lahir cacat, tangannya buntung, mulutnya sumbing, matanya buta, dan dia bertanya pada bapaknya : “Pak, mengapa aku dilahirkan seperti ini ?”

    maka si bapak yang sangat “paham” dengan kebenaran hukum Karma akan menjawab : “Nak, itu akibat dari tingkah lakumu sendiri pada waktu dulu, jadi terimalah karma mu itu, jangan tanya bapak lagi ya !”
    (di tempat yang tersembunyi si bapak, menangis sedih menyesali perbuatannya karena suka pergi kepelacur sehingga berpenyakit sipilis yang mengakibatkan anaknya buta dan cacat)

    Dogma Karma memang tidak pernah lapuk dimakan jaman untuk dipakai membohongi manusia lain.

    • To: Bro Simon

      Ilustrasi yg anda ketik itu tidak mewakili dari contoh Hukum Karma (bahasa sansekerta).

      Perlu anda ketahui bahwa siapa pun yg berbuat baik/buruk dialah yg akan menerima akibatnya!!!

      Bukan pihak lain/orang lain.

      Karena pengertian hukum Kamma (bahasa pali) ialah:
      “Perbuatan yg disertai oleh Kehendak (cetana), cetana itulah yg Ku sebut Kamma”.

      Jadi bila ada seorang bapak yg sering pergi ke tempat pelacuran maka ia akan menerima akibatnya pada kehidupan saat ini juga, maupun kehidupan akan datang.

      Bila bapak tersebut memiliki anak yg cacat dalam hal ini: tangannya buntung, mulutnya sumbing, matanya buta. Maka untuk anak-anak, kita bisa menghibur mereka dengan pemikiran anak-anak. Namun suatu saat nanti, bila kondisi batinnya siap menerima jawaban yg sesungguhnya, maka kita bisa jelaskan dia dengan konsep Hukum Kamma yg sebenarnya.

      Bila pada saat sebelum kehamilan anaknya itu, si bapak suka ber’main’ dengan pelacur, maka Vipaka Kamma (hasil) telah terlihat yaitu dengan merasa bersalah dan pedih melihat anaknya terkena tubuh yg cacat akibat dari perbuatan nistanya!!!

      Dan si anak, memang dia terkena Vipaka Kamma akibat perbuatan buruknya di masa lampau!!!

      Ini memang pahit tapi ini nyata!!! Perbuatan buruk menghasilkan kondisi buruk.

      Bila semua manusia diciptakan oleh Makhluk Adi Kuasa, maka hal ini menjadi sangat rancu. Mengapa? Betapa tidak adilnya ada seorang anak bayi mungil terlahir cacat yg parah seperti yg anda tuliskan itu.

      Kalo boleh memilih mengapa harus dia yg terkena mengapa bukan bapaknya saja, atau anak orang yg lain saja!!!

      Ini merupakan hukum yg sangat adil.

      Yg Simon bilang Tuhan itu sesungguhnya adalah sebuah Hukum. Dan Hukum itu harus disesuaikan sehingga harmonis bukan dipuja-puji apalagi disembah.

      Saya tunggu responnya.

      Salam kenal
      Ali, SAB.

  14. phang said

    @ Simon,

    Kualitas suatu makhluk hidup dipengaruhi oleh 4 hal:
    – Citta (pikiran)
    – Utu ( lingkungan, suhu, etc)
    – Kamma (perbuatan)
    – Ahara (makanan, vitamin, obat2an, etc).

    Anak tsb bisa terlahir didalam kondisi demikian juga karena adanya kesesuaian dengan kamma dengan orang tuanya….

    diri sendirilah pelindung sejati daripada berlindung pada makhluk yang ngga jelas ada atau tidak ada…

  15. jakatan said

    @ simon

    berarti anda belum membaca tuntas ulasan dari mas Ratana tentang reinkarnasi dan hukum karma, termasuk pertanyaan dan jawabannya ….

    kalau mau dijawab terlalu panjang, ada baiknya dibaca ulang dengan kondisi pikiran bersih walau sudah punya pegangan sendiri, kalau berniat ingin mengerti ya harus bersih diri, jangan apriori dulu …..

    salam,

  16. CY said

    Hehehe… itu khas-nya Sdr. Simon. Karena dia kurang mengerti kontradiksi dari perkataan di kitab sucinya yg berjudul “apa yg engkau tabur itu yang engkau tuai”.
    Namun untuk membuat Simon bisa mengerti ttg Karma tampaknya saya harus memakai kalimat itu utk menyerangnya habis2an sampai tak berkutik. Dan itu juga yg membuat saya mengurungkan niat melakukannya, krn pada akhirnya akan melukai hati. Semoga dia mendapat pencerahan suatu saat nanti, sadhu… sadhu… sadhu…

    Kalo usulan saya utk Simon, bacalah sesuatu pengetahuan atau artikel dgn hati tenang tanpa emosi atau amarah atau rasa kebencian terhadap sesuatu. Maka pencerahan/pengertian lebih mudah didapat.

  17. kangBoed said

    Salam Persahabatan
    Mas Ratna yg guaanteng, Ko CY dan Simon Petrus
    Kebenaran hanya ada dalam hati nurani kita masing masing, tapi sangat disayangkan sedikit sekali yang mo bertanya kedalam dirinya, sehingga suara hati nurani hampirlah padam dan tak terdengar lagi bahkan bisikan bisikan nafsulah yang menguasai sang diri.
    Bukankah hati nurani kita tak pernah berbohong, hati tak pernah mencelakakan, hatiku hatimu hati kita semua hati yang sejati merasakan persamaan dan kesamaan yang sama tapi bungkusnya yaitu badan kita berupa rupa bentuk ratusan juta gak ada yang plek sama persis apalagi isi kepalanya makin banyak perbedaannya, hehehe sekali lagi rasa hati kita tak lekang oleh zaman karena itu kebenaran hanya akan dapat kita temukan dalam hati kita yang paling dalam satu kebenaran absolut dan tak terbantahkan lagi,
    Love & Peace

  18. Great Job said

    Wakakaka, Sdr.Simon marah-marah lagi, eh gak marah ding, kali ini cuma ngomel

  19. mulyono said

    Dari : Guru Dvagpa-Lharje Gampora, persoalan2 yang tidak boleh disingkirkan/dihindarkan :

    1. Cita2 hidup suci, yg merupakan cahaya bathin janganlah disingkirkan.
    2. Bentuk2 pikiran yg merupakan gagasan dari kesunyataan janganlah disingkirkan.
    3. Semangat2 tersembunyi yg merupakan cara2 memperingati seseorang dari jalan keliru dalam menempuh kesunyataan agung janganlah disingkirkan
    4. Rintangan & nasib malang yang merupakan jalan untuk menerbitkan rasa suka dan gembira bagi seseorang yang hidup dalam keagamaan, harus tidak dihindarkan.
    5. Sesuatu yang datang dengan sewajarnya sebagai pemberian alam janganlah disingkirkan.
    6. Akal yang merupakan sahabat terbaik dalam tiap2 perbuatan janganlah dihindarkan.
    7. Perbuatan kebaktian (sembahyang) daripada badan dan pikiran, apabila seseorang itu cakap mengerjakannya janganlah dihindarkan.
    8. Cita2 guna menolong orang lain, betapapun kemampuan seseorang untuk menolong, janganlah disingkirkan.

  20. mulyono said

    Petunjuk-Petunjuk dari : Guru Dvagpa-Lharje Gampora, Tibet.

    Dua Belas Kegagalan Yang Menyedihkan.

    1. Jikalau, setelah dilahirkan sebagai manusia, orang tidak suka menaruh perhatian pada Dharma, dia menyerupai seseorang yang kembali dengan tangan kosong dari suatu negeri yang penuh kaya intan permatanya, dan inilah satu kegagalan yang menyedihkan.
    2. Jikalau, setelah memasuki pintu Persaudaraan Suci, orang itu kembali kedalam penghidupan berkeluarga, dia menyerupai sebuah kutu yang terbang menerjang api lampu, dan inilah satu kegagalan yang menyedihkan.
    3. Jikalau hidup berdampingan dan tinggal dengan seorang suci, tetapi tetap bodoh, tidak berpengetahuan, adalah serupa dengan seorang yang mati karena haus ditepi telaga yang amat bening airnya, dan inilah satu kegagalan yang menyedihkan.
    4. Menyiarkan ajaran2 agama tetapi sendirinya tidak mempraktekkan, adalah serupa dengan burung beo yang mengoceh tanpa mengetahui artinya, dan inilah satu kegagalan yang menyedihkan.
    5. Berbuat dana mengamalkan barang2 orang lain yg didapat dengan jalan mencuri, menipu atau merampas, adalah serupa dengan petir yang menyambar permukaan air laut yang tak pernah mengenai sasaran, dan inilah satu kegagalan yang menyedihkan.
    6. Menyajikan daging kepada dewa2, para suci-bijaksana, yang didapat dengan membunuh makhluk2 itu sendiri adalah sama dengan orang yang mempersembahkan kepada seorang ibu, daging anak-kandungnya sendiri, dan inilah satu kegagalan yang menyedihkan.
    7. Melatih keuletan & kesabaran untuk maksud2 keserakahan, lain daripada berbuat kebaikan untuk orang banyak atau orang lainnya adalah sama dengan seekor kucing yang melatih kesabaran supaya dapat menerkam seekor tikus besar, dan inilah satu kegagalan yang menyedihkan.
    8. Melaksanakan pekerjaan2 berpahala demi mendapatkan nama besar dan pujian di dunia, adalah sama dengan menukarkan inti-pelajaran bathin yang suci dengan segumpal kotoran domba, perbuatan mana adalah satu kegagalan yang menyedihkan.
    9. Jikalau, setelah banyak kali mendengar petunjuk2 Dharma, perangainya seseorang masih tetap dangkal, dia serupa dengan seorang dokter yang menderita penyakit kronis, dan ini adalah satu kegagalan yang menyedihkan.
    10. Pintar dalam petunjuk2 agama, pandai berdebat & menguraikan, tetapi tidak mengerti pengalaman2 bathiniah yang diperolehnya dengan mempraktekan petunjuk2 tersebut, adalah serupa dengan seorang kaya yang kehilangan kunci lemari besinya, dan inilah satu kegagalan yang menyedihkan.
    11. Mencoba untuk menerangkan Dharma kepada orang lain yang dia sendiri belum dapat mengerti sepenuhnya, adalah sama juga dengan seorang buta menuntun orang buta lainnya, dan ini adalah satu kegagalan yang menyedihkan.
    12. Menganggap pengalaman2 pertama dalam taraf permulaan dari meditasi sebagai pengalaman tertinggi, sama dengan seorang sesat melihat sebuah tembaga yang dikiranya emas, dan ini adalah satu kegagalan yang menyedihkan.

  21. Phin Phin said

    Salam hormat mas Ratana. Terimakasih penjelasannya.Sepertinya mas adalah salah satu dari sekian banyak ikan2 yg mas umpamakan di atas ya? He.he.

Tinggalkan Balasan ke tomyarjunanto Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: