RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

Archive for November 29th, 2008

HARUSKAH BERPANTANG MAKAN DAGING?

Posted by ratanakumaro pada November 29, 2008

“Namo Tassa Bhagavato Arahatto Sammasambuddhassa”

(tikkhattum / 3x )


Namatthu Buddhassa,

Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

Pertanyaan ini umum diajukan oleh orang-orang yang ingin “nglakoni”, atau sedang menjalankan “laku”, yang bertujuan “resik-resik” diri. Sebagian orang mengatakan, kita harus berpantang makan “yang berjiwa” jika kita ingin mencapai kesucian / kemurnian. Apakah benar demikian ?

Hal ini pun juga menjadi perdebatan dikalangan ummat Buddha. Untuk mendapatkan jawaban mengenai hal inilah saya menulis artikel “Haruskah Berpantang Makan Daging ?” ini. Dan jawaban atas pertanyaan ini bersumber dari Sang Guru Agung, Buddha Gotama.

Sila pertama dalam Pancasila yang diajarkan oleh Sang Buddha 600-an tahun SM dulu kala berbunyi :

“ Panatipata veramani sikkhapadam samadiyami “

Artinya :

“ Aku bertekad melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup “

Berhubungan dengan ajaran ini, yang menjunjung tinggi prinsip “tanpa-kekerasan” ( Avihimsa ), apakah berarti seorang Buddhis harus menjadi vegetaris ? Tidak harus. Ummat Buddha, tidak diperbolehkan makan daging jika :

1. Membunuh binatang / makhluk hidup dengan tangan sendiri,

2. Menyuruh seseorang untuk membunuh binatang / makhluk hidup atas namanya.

3. Membiarkan seseorang untuk membunuh binatang / makhluk hidup atas namanya.


Contoh kasus mengenai ketiga hal tersebut diatas yang sering terjadi misalnya : kita membeli seekor hewan hidup dan kemudian entah dengan tangan kita sendiri, atau dengan menyuruh orang lain dan membiarkannya membantai hewan hidup tersebut untuk kemudian dagingnya ia santap, baik sendirian, maupun dengan tujuan didermakan ke orang-orang lain. Bahkan, bila pembelian hewan ini untuk maksud persembahan kepada suatu Dewa  tertentu sekalipun, dan kemudian dagingnya dibagi-bagikan ke masyarakat sekitar sekalipun, tetaplah ini merupakan perbuatan yang tidak baik dan tidak benar, tetaplah merupakan suatu karma yang tidak baik dan tidak benar, dan pasti berbuah-karma yang tidak baik dan tidak benar pula.

Kemudian, bilamana ummat Buddha diperbolehkan makan daging ? Ummat Buddha diperbolehkan memakan daging jika dan hanya jika, binatang itu dibunuh :

1. Tanpa seizinnya,

2. Tanpa persetujuannya, dan,

3. Tanpa sepengetahuannya.

Kasus kedua ini contohnya adalah ketika kita bertamu dirumah seseorang dan kita disuguhi sajian masakan yang menggunakan bahan utama daging-dagingan, maka, para ummat Buddha diperbolehkan untuk menyantapnya.

Ummat Buddha juga boleh membeli masakan yang berbahan dasar daging-dagingan di rumah-rumah makan, pasar, dan lain sebagainya, karena hewan-hewan tersebut dibunuh bukan atas dasar kehendak kita, dan dagingnya tidak disajikan khusus untuk kita / atas nama kita.

Meskipun demikian, tetaplah disaat kita menyantap daging ini kita sedikit atau banyak turut bertanggungjawab secara tidak langsung atas terbunuhnya hewan tersebut.

Walau demikian , seorang vegetarian ketat sekalipun mempunyai tanggung jawab yang sama dengan orang-orang non vegetarian, terhadap makhluk-makhluk yang dibunuh secara tidak langsung.

Sayur-sayuran, sebagai makanan para vegetarian tidak luput dari penyemprotan hama serangga, yang notabene adalah makhluk hidup juga.

Para vegetarian juga sangat mungkin menggunakan pakaian, sepatu, tas, dompet, “kalep” jam tangan, sabuk, topi, sandal, dan lain-lain perlengkapan yang terbuat dari kulit makhluk hidup.

Para vegetarian juga sangat mungkin menggunakan bahan-bahan rumah tangga yang terbuat dari bagian-bagian hewan, misalnya : sabun. Bukankah sabun juga terbuat dari lemak hewan ?

Para vegetarian juga tidak terhindarkan pernah dan akan sering menggunakan obat-obatan, jamu-jamuan, yang terdiri dari serum hewan atau dibuat setelah dicoba dengan mengorbankan binatang-binatang untuk uji-coba ( “kelinci-percobaan” ).

Jika kita harus menjadi seorang vegetarian, maka seharusnya, kita secara konsekwen harus menjadi vegetarian mutlak, tidak mempergunakan seluruh produk hewani dan sayur-sayuran yang dibudidayakan. Jadi, sebagai seorang vegetarian, untuk ‘hidup’ ia harus secara konsekwen memurnikan makanan, lingkungan dan hidupnya, padahal untuk menjadi demikian sangatlah tidak mungkin, karena memang demikianlah hakekat keberadaan ( hidup ) yang memang secara mutlak tidak memuaskan.

Pada dasarnya, seorang Buddhis harus berbuat apa saja untuk mencegah pembunuhan, akan tetapi, dia bisa memilih untuk menjadi vegetarian, atau tidak, setiap orang bebas menentukan pilihannya masing-masing. Yang non-vegetarian sekalipun tetap mengambil peranan spiritual yang sama dengan para vegetarian.

SUCI DAN TIDAK SUCI BUKAN DARI MAKANAN

Apakah makan daging membuat seseorang menjadi ternoda, tidak murni, dan tidak suci ? Sang Buddha dengan tegas mengatakan : T I D A K . Bukan karena makanan yang kita makan sehingga kita menjadi ternoda, tetapi karena pikiran, perbuatan dan perkataan yang jahatlah yang menjadikan kita ternoda, tidak murni, dan tidak suci.

“ Apabila seseorang kasar, congkak, menghasut, menipu, licik, dan tidak mau berbagi pada orang lain, inilah yang membuat manusia ternodai, bukan karena makan daging.

Kemarahan, kesombongan, keras kepala, keinginan jahat, licik, cemburu, angkuh berkelompok dengan mereka yang jahat, inilah yang membuat manusia ternodai, bukan karena makan daging.

Bermoral jelek, tak membayar hutang, bergunjing, menipu, bersaksi dusta, berbuat jahat seperti itu kepada yang lainnya, inilah yang membuat manusia ternodai, bukan karena makan daging. “

( SN ; 244 -246 ).

Para pengikut sekolah Buddhisme Mahayana adalah vegetarian ketat. Mereka menghormati para vegetarian, dan mengutuk yang memakan daging. Seyogyanya para siswa Mahayana ini ingat, bahwa dalam Ajaran asli Sang Buddha tidak mengharuskan semua ummat Buddha untuk menjadi vegetarian. Kita sebagai ummat Buddha harus ingat bahwa Jalan yang diajarkan Sang Buddha adalah “JALAN-TENGAH” ( Majjhima Pattipada ), sehingga haruslah bersifat “membebaskan”, dan tidak perlu menjadi ekstrim dalam menempuh “Jalan-Pembebasan”, karena justru jalan-jalan ekstrim inilah yang dulu dihindari oleh Sang Buddha, baik ekstrim yang bersifat penyiksaan diri ( termasuk vegetarian ), maupun ekstrim pemuasan hawa-nafsu ( pengumbaran syahwat, beristri lebih dari satu,dan lain-lain ).

DAGING YANG DILARANG UNTUK DIKONSUMSI

Meskipun Sang Buddha tidak mengharuskan para siswanya untuk menjadi vegetarian, namun Beliau pernah menasehati para Bhikkhu untuk menghindari memakan sepuluh jenis daging dengan tujuan demi kehormatan dan perlindungan diri mereka sendiri. Kesepuluh jenis daging itu adalah :

1. Daging Manusia,

2. Gajah,

3. Kuda,

4. Anjing,

5. Ular,

6. Singa,

7. Harimau,

8. Macan tutul,

9. Beruang,

10. Hyena.

Hewan-hewan tersebut diatas ( kecuali tentunya yang pertama, manusia, bukanlah “hewan” ) akan menyerang jika mereka mencium aroma daging jenis mereka sendiri pada diri kita / tubuh kita ( Vinaya Pitaka ). Namun, pada kesempatan yang lain, Sang Buddha secara rinci menganjurkan pemberian kaldu daging untuk memberi kekuatan pada tubuh yang sakit ( Vinaya V: 205 ).

Devadatta, salah seorang murid-Nya dan sekaligus sepupunya, pernah meminta Sang Buddha untuk memberlakukan peraturan pertapaan yang keras bagi para Bhikkhu, yang salah satu diantaranya adalah berpantang makan daging ; namun Sang Buddha menolak / tidak menerima permintaan Devadatta tersebut.

Jivaka Komarabhacca, seorang tabib / dokter, mendiskusikan issue controversial ini, yang dihembuskan oleh sekelompok orang “Jain”dengan Sang Buddha :

“ Tuan, aku telah mendengar bahwa hewan sengaja dibantai untuk Petapa Gotama, dan bahwa petapa Gotama secara sadar makan daging yang sengaja dibunuh untuknya.

Tuan, apakah mereka yang berkata bahwa hewan sengaja dibantai untuk Petapa Gotama, dan Petapa Gotama secara sadar makan daging yang sengaja dibunuh untuknya ; apakah mereka memberi tuduhan palsu pada Sang Buddha ? Atau apakah mereka [ justru ] mengatakan yang sebenarnya ?

Apakah pernyataan Anda dan pernyataan tambahan Anda tidak diejek oleh orang lain dengan segala cara ? “

Sang Buddha menjawab :

“ Jivaka, mereka yang berkata : “ Hewan sengaja dibantai untuk Petapa Gotama, dan Petapa Gotama secara sadar makan daging yang sengaja dibunuh untuknya”, tidak berkata sesuai dengan apa yang telah aku Nyatakan, dan mereka memberi tuduhan palsu kepadaKu.

Jivaka, Aku telah menyatakan bahwa seseorang tidak boleh menggunakan daging jika terlihat, terdengar atau dicurigai telah sengaja dibunuh untuk seorang Bhikkhu.

Aku mengizinkan para Bhikkhu makan daging yang cukup murni dalam tiga hal :

1. Tidak terlihat,

2. Tidak terdengar, atau

3. Tidak dicurigai


Telah sengaja dibunuh untuk seorang Bhikkhu. “ ( Jivaka Sutra ).

Vegetarianisme itu sendiri tidak membantu manusia untuk mengembangkan sifat spiritualitasnya. Ada orang-orang yang baik, rendah hati, sopan, dan religius di antara non-vegetarian. Karena itu, orang sebaiknya tidak menyatakan bahwa orang religius yang sejati haruslah mempraktekkan vegetarianisme.

Namun, jika para non-vegetarianis menyatakan bahwa seseorang tidak dapat memiliki hidup sehat tanpa makan protein hewani, juga tidak dapat dibenarkan, karena ada jutaan vegetarian murni di seluruh dunia yang lebih kuat dan sehat bila dibandingkan para “carnivora” berkaki dua ini.

Orang-orang yang mengkritik ummat Buddha yang makan daging tidak memahami ajaran Buddha tentang makanan. Makhluk hidup memerlukan nutrisi, kita memerlukan makan untuk hidup, dengan demikian manusia harus menyediakan makanan bagi tubuhnya untuk menjaganya agar tetap sehat dan memberinya energi untuk berkarya.

Jika seseorang mencandu suatu jenis makanan, atau membunuh untuk memuaskan ketamakannya akan daging, hal inilah yang salah. Jika seseorang makan tanpa ketamakan dan tanpa terlibat langsung dalam tindakan pembunuhan, tetapi semata-mata untuk mempertahankan tubuh fisik, maka ini hal benar, dan ia telah mempraktekkan “penahanan-diri” dari bentuk-bentuk pikiran, ucapan, dan perbuatan jahat.

Pada kenyataannya, Sang Buddha menyatakan bahwa bukanlah apa yang masuk kedalam mulut seseorang yang mengotori, melainkan apa yang keluar dari mulutnyalah yang menodai kesucian / kemurniannya.

MAKANAN PARA ARIYA

Sang Buddha tidak pernah memilih-milih makanan atas dasar kesukaan / kegiuran.

Pada suatu ketika Sang Buddha sedang ber-Pindapata dengan Bhikkhu Ananda dan bertemu seorang wanita bernama Punadesi ( ditengah-tengah jalan ). Punadesi seorang yang miskin, dan bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga yang kaya raya.

Ketika Punadesi melihat Sang Buddha, ia merasa gembira sekali. Dahulu, ia pernah ingin berdana makanan, akan tetapi saat itu ia tidak punya makanan apapun untuk dihaturkan pada Sang Buddha. Dan hari ini, bagi Punadesi, merupakan karma baik baginya bisa bertemu dengan Sang Buddha dan Bhikkhu Ananda. Kemudian, ia segera berdana makanan dan Sang Buddha-pun menerimanya dan makan di pinggir jalan agar Punadesi dapat melihatnya dan bergembira / senang hatinya. Seusai makan, Sang Buddha ber-Anumodana ( mengungkapkan kegembiraan atas dana yang dihaturkan kepadaNya ), dan kemudian Punadesi mencapai tingkat kesucian pertama, Sotapana.

Contoh yang lain mengenai makanan para Ariya, misalnya yang ditauladankan oleh Bhikkhu Rathabala ( seroang “SAVAKA-BUDDHA” pada jaman Sang Buddha dan merupakan salah satu murid Sang Buddha ). Bhikkhu Rathabala memakan makanan yang sudah dibuang seseorang. Pada suatu hari Bhikkhu Rathabala sedang ber-Pindapatta. Beliau berdiri didepan rumah tetapi tidak ada yang mengenali Beliau. Keluarga pemilik rumah itu adalah keluarga yang kaya raya. Beliau melihat ada makanan yang dibuang lalu meminta tolong kepada pembantu keluarga itu untuk menaruh makanan itu kedalam mangkuknya. Pembantu tersebut bersedia dan memasukkan makanan itu ke dalam mangkuk Bhikkhu Rathabala. Setelah itu beliau pergi agaka jauh dan mencari tempat untuk makan makanan tersebut.

Inilah yang telah dicontohkan oleh Para Ariya yang Agung. Mereka tidak memilih-milih makanan, entah berdasarkan kegiuran / nafsu pribadi, maupun dengan alasan jenis makanan tersebut makanan berdaging atau bukan. Para Ariya menyantap makanan apapun yang disajikan, KECUALI MAKANAN YANG BUSUK DAN MENIMBULKAN PENYAKIT.

Seorang Ariya tidak bisa menerima persembahan dana makanan jika dana itu diberikan dengan terlebih dahulu menyebutkan jenis makanannya. Makanan yang “lezat” dan disebutkan terlebih dahulu akan menimbulkan “kilesa” / kekotoran batin ( dalam hal ini nafsu ), dan hal ini salah dalam DHAMMA dan VINAYA ( hukum / peraturan ke-Bhikkhuan ). Namun, meskipun makanan itu lezat, bila disajikan tanpa disebutkan terlebih dahulu, makanan itu boleh disantap oleh para Ariya.

Para Ariya tidak mabuk dalam makanan, tidak mabuk dalam kehidupan.

Orang yang tidak mabuk dalam kehidupan karena telah melihat “tilakkhana” ( aniccam-dhukkam-anatta ), kemudian dapat melihat terang dalam “Ariya-Saccani” dan menjadi seorang “Ariya”, seorang yang suci, akhirnya mencapai Nibbana ( Sanskerta : Nirvana ).

Demikianlah ulasan saya mengenai “Haruskan Berpantang Makan Daging ?”. Semoga ulasan ini bermanfaat bagi para pejalan spiritual yang sedang / ingin “NGLAKONI”.


Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

“ Semoga Semua Makhluk Berbahagia dan Terbebas dari Semua Penderitaan ! “

— RATANA KUMARO  —

Semarang Barat, Sabtu, 29 November 2008

Posted in BUDDHA | 28 Comments »