RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

Archive for November 13th, 2008

BENCANA ALAM DAN WABAH PENYAKIT M/ BUDDHISME

Posted by ratanakumaro pada November 13, 2008

BENCANA ALAM DAN WABAH PENYAKIT DALAM


PERSPEKTIF BUDDHA-DHAMMA


“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Hari Jumat, 18 Juli 2008, saya mendapat pertanyaan yang sangat menarik dari salah seorang responden. Inti pertanyaan yang dilayangkan via email tersebut adalah, “ Salam Saudara Ratna Kumara, bisakah saudara menjelaskan kepada saya mengenai berbagai fenomena alamiah yang terjadi jika ditinjau dari sudut pandang hukum Karma ? Mampukah ajaran Sang Buddha memberi penjelasan mengenai hal tersebut ? “

Sangat menarik. Dalam kepercayaan umumnya, hal ini sangat mudah dijelaskan, yaitu dengan memberi berbagai jawaban seperti misalnya: “Takdir mas…;) ” Lhah, ini kan sudah kehendak yang diatas to thole… 😉 “,

Akan tetapi, dalam Buddha-Dhamma, tidak ada penjelasan ‘buntu’ yang kemudian dipertanggungjawabkan kepada suatu-makhluk tertentu yang misterius yang harus dipercaya saja dan tidak boleh dipertanyakan, hanya boleh di’iya’kan dengan kemisteriusan iman seperti penjelasan-penjelasan diatas. Penjelasan mengenai hal itu bisa diperoleh dengan mengerti kedua hal yang berkaitan dengan ajaran mengenai hukum Karma, yaitu :

1. Hukum Alam ( Panca-Niyama )

2. Korelasi antara Energi Karma dengan Bencana Alam

1. HUKUM ALAM ( Panca Niyama )

Mungkin ajaran ini sudah umum bagi ummat Buddha, juga bagi para responden di weblog “Ratna Kumara” ini yang sudah beberapa kali membaca tulisan saya berkaitan dengannya. Tapi ada baiknya kita membahasnya kembali.

Dalam Abhidharma dikenal lima jenis hukum-alam ( panca-niyama ) :

a. Utu-niyama : hukum energi menyangkut tatanan fisik inorganic, seperti cuaca, angina, dan hujan. Tatanan musim, sifat panas, perubahan iklim yang menyertai perubahan musim, termasuk dalam kelompok ini.

b. Bija-niyama : hukum hereditas menyangkut tatanan biologi atau alam organic, seperti beras yang diproduksi dari padi, rasa manis dari tebu atau madu, karakteristik dari buah-buahan tertentu, dll. Teori sel, gen dan kemiripan kembar juga termasuk dalam kelompok ini.

c. Kamma-niyama : hukum karma menyangkut tatanan sebab dan akibat.

d. Citta-niyama : hukum keteraturan alam batiniah menyangkut tatanan pikiran, seperti proses kesadaran, kemunculan dan kemusnahan kesadaran, komponen kesadaran, dan kekuatan pikiran. Telepati, kemampuan membaca pikiran orang lain, kemampuan memprediksi, dan hal-hal lain yang tak bisa dijelaskan dalam sains, termasuk dalam kelompok ini.

e. Dhamma-niyama : hukum kodrat menyangkut tatanan sifat-dasar fenomena, seperti naluri, gaya gravitasi dan hukum fisika lainnya.

Kelima niyama tersebut tidak terpisahkan satu sama lain. Istilah niyama hanya bertujuan untuk membantu manusia memahami aturan yang bekerja di alam semesta ini. Panca-niyama secara integrative menunjuk satu realitas, beroperasi dalam satu kesatuan, terkait dan saling bergantungan satu sama lainnya. Terminologi yang diberikan untuk menunjuk keterkaitan tersebut adalah ; interdependensi. Konsep interdependensi menempati peranan sentral dalam Avatamsaka-sutra, yang merupakan salah satu teks utama Buddhisme mazhab Mahayana.

Interdependensi antara satu niyama dengan niyama lainnya terjalin secara kontinu atau sinambung terus menerus dan dinamis ( continuum-dynamis ).

Sebagai contoh, dalam interdependensi utu-niyama dengan kamma-niyama, maka segala apa yang kita lakukan ( kamma-niyama ) juga akan mempengaruhi iklim dunia ( utu-niyama ). Misal, jika energi karma negative yang dihasilkan dari akumulasi keserakahan dan kebencian ummat-manusia telah mencapai titik kulminasi tertentu, maka akan terjadi gangguan pada alam atau ekosistem yang dapat berupa : musim hujan tak datang pada waktunya, musim kemarau terlalu panjang, disusul dengan badai hujan yang terlalu ekstrem dan bencana-bencana lainnya.

Contoh berikutnya, interdependensi antara bija-niyama dengan kamma-niyama. Sebagai contoh, energi negative yang dihasilkan dari pembantaian binatang ( dalam hal perburuan illegal, pusat penjagalan hewan, dll ) dan manusia ( dalam hal peperangan dan pembantaian missal yang didasarai alas an apapun juga, termasuk dalih menyebarkan agama-Tuhan dimuka bumi ) secara terus-menerus ( kamma-niyama ) bisa mencapai titik kulminasi tertentu yang mengaktifkan munculnya wabah penyakit baru. Ini menjelaskan mengapa di zaman modern ini muncul berbagai penyakit aneh-aneh yang dizaman baheula tidak pernah dijumpai. Munculnya penyakit baru itu berasal dari kuman yang bermutasi atau bahkan kuman baru ( bija-niyama ). Ternyata setelah orang berhasil menemukan obat bagi penyakit baru itu, muncul kuman baru yang lebih ganas. Siklus ini tidak akan pernah berakhir selama kita masih melakukan kebiasaan-kebiasaan biadab seperti tersebut diatas. Industri kapitalis yang bergerak dalam pemotongan / penjagalan hewan-hewan untuk dipasarkan secara missal merupakan salah satu penyebab utama dalam hal ini. Tradisi penyembelihan hewan-hewan untuk dipersembahkan kepada ‘Penguasa-Alam’ tiap bulan-bulan tertentu juga merupakan salah satu penyebab hal ini. Ilmu kedokteran modern membuktikan bahwa banyak penyakit yang timbul sebagai akibat mengkonsumsi daging berbagai jenis hewan, dan timbul dari bangkai bangkai makhluk hidup yang ‘dibantai’ semena-mena.

Contoh penyakit AIDS juga bisa dijelaskan lewat interdependensi bija-niyama dengan kamma-niyama. Karena kamma-buruk yang berupa pengumbaran nafsu sexual telah mencapai titik kulminasinya, dimana manusia senang berganti-ganti pasangan, tingkat perselingkuhan meningkat, explorasi fantasi sexual ( berhubungan sex dengan hewan, pria dewasa menyodomi anak-anak dibawah umur, esplorasi ‘gaya’ dalam berhubungan sexual yang semakin ‘aneh-aneh’, dll. ), maka hal tersebut kemudian mengaktifkan munculnya wabah penyakit baru yang menhantui ummat manusia : AIDS. Virus ini muncul dari luka-luka dan akumulasi ‘virus’ akibat hubungan sex yang tidak wajar tersebut, juga karena ‘mutasi-genetika’ yang terjadi. Seperti ‘singgat’ atau ‘set’ yang muncul dari makanan busuk, tidak ada yang menciptakan, tapi terjadi secara alamiah, sains ( dalam hal ini fisika, kimia dan biology ) mampu menjelaskan hal tersebut.

Interdependensi antara dhamma-niyama dengan kamma-niyama terwujud dari kaitan yang erat antara gerakan benda-benda alam-semesta dengan karma kolektif makhluk, misalnya ada tsunami yang ‘mengganyang’ masyarakat Aceh, Lumpur ‘Lapindo’ di Porong-Sidoarjo, dan lain-lain, yang menewaskan banyak manusia disekitarnya. Mengapa hanya orang-orang tersebut yang tertimpa musibah, sedangkan yang lainnya, seperti kita disini, bisa selamat, sehat-walafiat ? Mengapa bencana-alam terjadi di tempat-tempat tertentu, tidak di tempat-tempat lainnya ? Kamma kolektif tersebut bisa ditelusur hingga jauh kepada kamma kehidupan lampau. Ingat hukum kamma, seseorang bisa berbuat sesuatu disini saat ini, tapi bisa menuainya saat ini juga, saat berikutnya dalam kehidupan ini, atau pada kehidupan yang berikutnya, dan juga pada kehidupan-kehidupan berikutnya lagi.

Contoh berikutnya adalah interdependensi antara citta-niyama dengan kamma-niyama. Seseorang yang melakukan pemurnian pikiran melalui sila dan Samadhi akan mendapatkan kekuatan batin, bisa membaca pikiran dan hati orang lain, dll. Seseorang yang dari kehidupan lampaunya telah melakukan hal tersebut, bisa saja pada kehidupan saat ini mengalami kecelakaan yang seharusnya menewaskannya, tapi ternyata ia mampu selamat, kembali sehat-walafiat, dan mampu meneruskan hidupnya kembali dengan normal seperti semula.

Hereditas ( bija-niyama ), kejiwaan-lampau ( citta-niyama ) dan karma lampau ( kamma-niyama ) membentuk sisi karakter alamiah dari kehidupan manusia. Perkembangan fisik ( utu-niyama ) dan lingkungan ( dhamma-niyama ) membentuk sisi pengasuhan dari kehidupan manusia. Dengan demikian, agama Buddha memandang perlunya aspek alamiah dan pengasuhan kedua-duanya dalam pengembangan kepribadian.


2. KORELASI ANTARA ENERGI KARMA DENGAN BENCANA ALAM

Meskipun diatas telah disinggung mengenai interdependensi antara kelima hukum-alam, namun dalam sub-bab ini marilah kita membicarakannya lebih lanjut.

Menurut agama Buddha, perbuatan ( karma ) negative yang serupa yang dilakukan banyak orang dalam frekuensi dan internsitas yang tinggi akan menghasilkan karma kolektif yang cukup kuat untuk menghasilkan bencana alam.

Berdasarkan ajaran-ajaran yang merujuk pada Lankavatara-sutra, Avatamsaka-sutra, dan Surangama-sutra, energi karma memicu aktivasi salah satu dari keempat unsure penyusun alam-semesta : tanah, air, api, dan angin, tergantung jenis karma kolektif kolektif yang dilakukan.

Kebencian, kemarahan, dan seks yang berlebihan berkaitan dengan unsure api yang bersifat panas.

Nafsu keinginan, keserakahan, dan kemelekatan berkaitan dengan unsure air yang bersifat menggapai – itulah sebabnya ada cairan di mulut saat memikirkan makanan lezat, cairan / lender di organ seks saat berfantasi adu-asmara dengan kekasih-pujaan-hati, cairan di mata saat memikirkan peristiwa yang penuh nostalgia.

Energi pikiran yang dilahirkan dari keangkuhan, penindasan dan perlakuan semena-mena, berkaitan dengan unsure padat yang bersifat menghantam, menubruk, menabrak. Dalam tindakan penindasan, bila terdapat juga unsure ketidakadilan yang sangat dominant, maka akan mengaktifkan energi gesekan yang menyebabkan gempa-bumi.

Energi pikiran dari pandangan-salah yang keliru dan menyesatkan yang bertolak-belakang dengan realitas-fenomena yang sesungguhnya, sehingga terjadi aktivitas “gerakan”, dan karenanya berkaitan dengan unsure angina. Dari keempat unsure, unsure angin yang terhalus, sesuai dengan energi dari pandangan terbalik yang paling halus tak kentara.

Karma-Kolektif

Unsur yang Terkait

Jenis Bencana

Kebencian, kemarahan, seks yang berlebihan

Api

Gunung berapi meletus, kebakaran hutan, cuaca panas, musim kemarau panjang, pemanasan global.

Nafsu keinginan, keserakahan, kemelekatan

Air

Banjir, permukaan air laut naik secara global,badai hujan, musim hukan yang terlalu panjang, air laut balik ke air sungai.

Penindasan dan perlakuan semena-mena

Tanah

Tubrukan, tabrakan; bila ketidakadilan sangat dominant, terjadi gesekan, sehingga mengakibatkan gempa-bumi.

Pandangan-salah, keliru, menyesatkan, tidak sesuai realitas / hakekat

Angin

Angin topan, tornado, dan berbagai bentuk badai-angin.

Demikianlah penjelasan mengenai berbagai bencana-alam dan wabah penyakit yang terjadi dari sudut pandang Buddha-Dhamma.

Semoga wacana diatas bermanfaat. Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari segala bentuk penderitaan, baik penderitaan batin, maupun penderitaan jasmani.

Salam Damai dan Penuh Cinta kasih… .

( Diolah dari dan dikembangkan dari sumber : “ Kajian Tematis Agama Kristen dan Agama Buddha”, oleh : Djoko Mulyono, Petrus Santoso, Kristiyanto Liman )

— RATNA KUMARA / RATYA MARDIKA —

Semarang-Barat, Jumat 18 Juli 2008

Posted in BUDDHA | 7 Comments »