RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

Archive for November 11th, 2008

MAKHLUK-MAKHLUK ANEH ABAD INI

Posted by ratanakumaro pada November 11, 2008

MAKHLUK-MAKHLUK ANEH ABAD

INI


Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Buaya berkepala manusia

Buaya berkepala manusia


Manusia Buaya

Siapa bilang evolusi telah berakhir ? Diatas ini adalah foto makhluk ‘setengah manusia – setengah buaya ‘ yang ditemukan di Safaniya Beach, Eastern Province. Hasil investigasi yang dilakukan menyebutkan bahwa terdapat lebih dari 3.500 ‘ekor’ / ‘orang’ manusia setengah buaya seperti itu. Manusia buaya ini bukanlah ‘buaya-darat’ pemburu wanita, tetapi benar-benar ‘manusia-buaya’, setengah badan keatas manusia, setengah badan kebawah buaya.

Manusia buaya

Manusia buaya

Berita mengenai penemuan ini sudah pernah saya baca di MAJALAH-DINDING sewaktu saya duduk di bangku kelas 1 SMP PL Domenico Savio Semarang dulu, tahun 1993. Waktu itu berita ini ‘menghebohkan’, dan menjadi ‘berita-utama’ dalam Mading kami. Ketika Mading selesai dipajang, sayang, saya tidak tahu harus kepada siapa meminta izin untuk mengcopy berita ini, dan hilang sudah jejak-jejak fakta akan ‘makhluk’ ini.

Tampaknya karma baik saya berbuah, dan tanggal 9 Oktober 2008 kemarin seorang teman-baik di weblog ini, yaitu Sdri. Kwek Lie Na, mengemailkan ‘foto-foto makhluk aneh’ seperti yang saya upload pada artikel ini, dan salah satu diantaranya adalah makhluk ‘setengah manusia-setengah buaya’ ini. Dan dibawah ini adalah foto makhluk-makhluk aneh yang berhasil diabadikan didalam kamera oleh orang-orang yang peduli.


Ikan Berkepala Manusia

Makhluk apalagi ini ? Mungkin diantara anda ada yang berwajah mirip dengannya ? Hehe… .

Ikan berkepala manussa

Ikan berkepala manussa

Putri Duyung

Mungkin diantara anda ada yang tidak percaya legenda ‘Putri-Duyung’. Tunggu dulu, bagaimana dengan foto dibawah ini ?

Putri Duyung

Putri Duyung

Perempuan Berkaki Empat

Yang ini mungkin tidak pantas disebut sebagai “makhluk-aneh”, mungkin tepatnya diberi julukan ‘manusia-unik’. Melihat fenomena yang terjadi pada perempuan cantik dibawah ini, siapa bilang makhluk berkaki empat hanya ada pada dunia binatang ? Ternyata manusia ada juga yang berkaki empat, dan itu perempuan cantik pula !!

Mempelai Perempuan Berkaki Empat

Mempelai Perempuan Berkaki Empat

Mempelai Perempuan Berkaki Empat

Mempelai Perempuan Berkaki Empat

Proses rebirth ( tumimbal-lahir ) dan evolusi alam semesta beserta semua makhluk tak akan pernah berhenti. “Penciptaan” alam-semesta ternyata tidak persis seperti yang diajarkan selama ini, telah terjadi dan telah berakhir saat langit, bumi, hewan-hewan, tumbuhan serta laki-laki dan perempuan mengisi alam ini, pada beberapa ribu tahun yang lalu, namun sampai kapanpun rebirth dan evolusi itu terus menerus berlangsung tanpa henti. Akan selalu ada perkembangan dan mutasi genetika yang bisa terjadi dan tidak terduga di alam semesta yang maha luas ini.

Semoga artikel dan foto-foto diatas bermanfaat bagi semua yang membacanya.

Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Segala Bentuk Penderitaan, Baik Penderitaan Batin, maupun Penderitaan Jasmani… .

— RATANA KUMARO  —

Semarang Barat, Selasa ,14 Oktober 2008

Posted in BUDDHA | 34 Comments »

KESELAMATAN DAN KEBEBASAN DALAM BUDDHISME

Posted by ratanakumaro pada November 11, 2008

KESELAMATAN & KEBEBASAN


DALAM BUDDHA-DHAMMA


“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa “


Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Dalam Buddha-Dhamma, tidak diajarkan adanya sosok juru-selamat yang hanya dengan beriman kepadanya dosa-dosa kita, ummat manusia, akan sepenuhnya terhapuskan, dan kita terjamin dalam kehidupan yang kekal-abadi karenanya.

Sang Buddha, Guru Agung kita semua, hanyalah penunjuk jalan, tetapi kita masing-masinglah yang harus menjalani “Jalan-Pembebasan” tersebut, seperti Sabda Beliau yang tertera dalam Dhamapada 160 =

“ Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri. Karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya ?

Setelah dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik, ia akan memperoleh perlindungan yang amat sukar dicari. “

Siapakah yang menjadikan seseorang menjadi suci ? Siapakah yang menjadikan seseorang menjadi tidak-suci ? Dengan demikian, siapakah yang menjadikan hidup kita selamat ? Siapakah yang menjerumuskan kehidupan kita dalam jurang kekelaman ? Tidak lain tidak bukan adalah : diri kita sendiri. Keselamatan dan kesucian tidak didapatkan dari suatu kekuatan eksternal, diluar diri kita sendiri. Dhamapada 165 menyatakan :

“ Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan,

Oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci.

Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri.

Tak seorang pun yang dapat mensucikan orang lain. “

Sang Bhagava pernah bersabda, “Jadikanlah dirimu pulau perlindungan bagi dirimu sendiri.” Demikianlah yang diajarkan Sang Buddha. Kita sendiri yang harus bertanggungjawab terhadap hidup kita, terhadap setiap bentuk ucapan, pikiran dan perbuatan kita. Kita tidak pernah bisa menyalahkan siapapun jika hidup kita terjerembab dalam kenistaan, dan kita tidak sepatutnya bermanja-manja meminta kerelaan siapapun untuk “menggendong” kita menuju keselamatan dan kebebasan dari semua bentuk penderitaan.

Dalam Buddha-Dhamma, “Keselamatan” dan “Kebebasan” bukanlah sesuatu yang hanya bisa dinikmati setelah kematian. Pandangan tersebut adalah pandangan spekulatif. Keselamatan dan kebebasan dapat dicapai dalam kehidupan kita sebagai manusia, dan kebebasan inipun diketahui oleh orang yang bersangkutan pula, sebagaimana disabdakan oleh Sang Buddha dalam Parinibbana Sutta, berkenaan dengan Bhikkhu Salba :

“ Mengenai Bhikkhu Salba, O, Ananda, dengan melenyapkan kekotoran-kekotoran batinnya selama hidupnya itu, maka ia telah memperoleh kebebasan batiniah dari noda, telah mendapatkan kebebasan melalui kebijaksanaan, dan hal itu telah dipahami dan disadarinya sendiri. “


REALISASI KEBUDDHAAN SEBAGAI BENTUK KESELAMATAN DAN KEBEBASAN

Sang Buddha tidak mengajarkan manusia untuk “menyembah-Nya”, tetapi justru mengajarkan untuk mencapai apa yang sudah berhasil dicapai-Nya, yakni merealisasi tataran BUDDHA, menjadi BUDDHA, merealisasi Ke-Buddha-an.

Dalam agama Buddha mazhab Mahayana, dikenal istilah “Tathagatagarbha”. Doktrin Tathagatagarbha ini menyatakan, setelah kebodohan / kegelapan batin ( moha ) dilenyapkan, benih ke-Buddha-an yang melekat ( inheren ) dalam setiap makhluk akan tersingkap. Tidak ada suatu makhluk / entitas diluar diri kita sendiri yang bisa menyelamatkan kita selain kita sendiri. Kita masing-masing pada dasarnya adalah Buddha yang belum terealisasikan, seperti yang dinyatakan Sang Buddha dalam Tathagatagarbha-sutra :


“ Aku melihat bahwa semua makhluk

Adalah seperti bayi-bayi dalam kesukaran

Didalam tubuh mereka adalah Tathagatagarbha,

Tetapi mereka tidak menyadarinya.

Maka Aku memberitahukan kepada para Bodhisatva,

“ Hati-hati, jangan sampai menganggap dirimu rendah dan hina, tubuh-tubuhmu adalah Tathagatagarbha ; mereka selalu mengandung Cahaya Keselamatan Dunia. “


Tidak seperti beberapa ajaran diluar Buddhisme, maka Jalan Keselamatan yang ditunjukkan oleh Sang Buddha bukanlah ekslusif untuk suatu suku-bangsa / ras / golongan tertentu saja, tapi untuk semua makhluk, seperti tercantum dalam Avatamsaka-sutra bab 10 =

“ Bagaikan awan hujan yang besar

Menjatuhkan hujan ke seluruh penjuru bumi ;

Curahan hujan tidak membeda-bedakan siapapun

Demikianlah kebenaran semua Buddha. “

Keselamatan dan Kebebasan bukanlah monopoli suatu agama. Tapi keselamatan dan kebebasan adalah monopoli orang-orang yang mensucikan dirinya, membimbing diri ke arah yang baik dan benar, lurus, tanpa noda, apapun agama orang itu.

DUA JENIS KESELAMATAN

Dalam Buddha-Dhamma dikenal dua jenis keselamatan, yaitu :

1). Keselamatan Relatif.

2). Keselamatan Absolut.

1). Keselamatan Relatif

Dalam kebanyakan ajaran-ajaran selain Buddha-Dhamma, dinyatakan bahwa bentuk “Keselamatan” adalah suatu jaminan kelak setelah kita mati kita akan terlahir disisi “Maha-Dewa”, hidup penuh kesenangan didalam sorga.

Jika jenis keselamatan ini yang dimaksudkan, maka bagi agama Buddha keselamatan jenis ini adalah keselamatan “relatif”, karena alam surga sesungguhnya TIDAK-KEKAL, masih dicengkeram kelapukan, karena masih berpijaknya empat unsur alam semesta disana ( air, tanah, api dan udara ), yang senantiasa menuju kehancuran. Alam surga juga bersifat relatif, karena masih terbelenggu oleh dimensi ruang dan waktu.

Sang Buddha tidak pernah mengajarkan untuk berdoa dan menyembah Dewa / Dewi penghuni surga, karena mereka sendiri masih diliputi kekotoran batin, yaitu nafsu-nafsu indria, dan juga masih dicengkeram oleh kelahiran dan kematian. Juga, para Dewa / Dewi masih bisa marah, masih bisa murka, menghukum, tidak senang, cemburu, dan lain-lain sifat-sifat buruk, sehingga bukanlah sosok yang tepat untuk dijadikan perlindungan ( perlindungan yang tepat adalah diri sendiri ).

Seperti yang sudah pernah saya sebutkan pada artikel terdahulu, yang menyebabkan suatu makhluk / seseorang terlahir di alam-alam surga / dewata di keenam alam dewa lingkup-keindriaan / Kamadhatu ( Catummaharajika, Tavatimsa, Yama, Tusita, Nimmanarati, Paranimmitavatti ), adalah hal2 berikut ini :

1. Mempunyai “hiri”, yaitu : Rasa malu untuk berbuat jahat.

2. Mempunyai “ottapa”, yaitu : Takut akan akibat perbuatan jahat.

Saat menjadi manusia, maka seseorang harus berlatih / mempraktekkan dhamma dengan baik, menjaga dan merawat SILA dengan baik, senantiasa berdana / berderma, maka ia akan terlahir di alam-alam Dewa lingkup-keindrian, ditunjang dengan hiri dan ottapa.

Hiri dan ottapa akan mengikis emosi-emosi negatif yang bersifat destruktif, yaitu : kebencian, kemarahan, keirihatian, kemelekatan, dan stress / depressi.

Alam surga bukanlah monopoli agama tertentu. Tetapi, alam surga memang hanya akan dihuni oleh orang-orang tertentu, menjadi monopoli orang-orang semacam itu. Orang-orang seperti apakah ? Orang-orang yang baik hatinya, yang rendah hati, yang penuh cinta kasih, yang mempunyai rasa malu untuk berbuat jahat dan mempunyai rasa takut akan akibat perbuatan jahat, yang selama hidup sebelumnya sangat gemar berderma, suka menolong semua makhluk yang mengalami penderitaan, dan lain-lain sifat dan watak yang positif. Kebajikan dan kebenaranlah yang akan menjamin seseorang masuk s u r g a , bukan agama yang menjamin seseorang masuk s u r g a .

2). Keselamatan Absolut

Buddha-Dhamma mengajarkan, bahwa surga bukanlah tujuan tertinggi bagi semua makhluk. Terbebas dari samsara adalah “Keselamatan-Absolut”, “Kebebasan-Mutlak”. Kebebasan ini diraih dengan merealisasi “Nibbana” ( Sanskerta : Nirvana ), keadaan tanpa-nafsu-keinginan, pemadaman semua kekotoran batin ( dalam ajaran Jawa dikenal dengan “Kahanan-Jati”, “Kang-Tanpa-Tanpa” ).

Musnahnya kekotoran batin, hancurnya nafsu yang abadi serta gemilang, inilah Keselamatan-Mutlak. Saat itulah semua makhluk akan terbebas dan berhasil keluar dari putaran arus kelahiran dan kematian.

Untuk merealisasi Nirvana ini, kita sendirilah yang harus menjalani, yaitu melalui “laku” / praktek : SILA ( moralitas-benar ), SAMADHI ( pemusatan-perhatian-benar ), dan PANNA ( kebijaksanaan-benar ).

Sila yang harus dikembangkan demi realisasi Nirvana ini adalah 227 Sila Pattimokha. Lima moralitas yang dijaga dan dirawat ummat awam ( Pancasila ), hanyalah menyebabkan seseorang terlahir kembali di alam manusia dan alam-alam surga lingkup Kammadhatu. Tapi jika berkehendak untuk merealisasi Nirvana, maka kita harus menjaga dan merawat 227 Sila Pattimokha, yaitu sila ke-Bhikkhu-an.

PENCERAHAN ADALAH PEMBEBASAN

Realisasi Nirvana inilah sesungguhnya pencapaian ke-Buddha-an, Buddhahood. Inilah “Pencerahan”. Banyak orang menyatakan mampu membawa seseorang pada pencapaian “Pencerahan”, tetapi tidak mengerti apa maksud dari “Pencerahan”. Istilah “Pencerahan” dikenal saat Sang Buddha berhasil mencapainya di bulan Vesakkha. Karena pencapaiannya inilah maka ia disebut “Yang-Tercerahkan-Sempurna” ; Samma-Sambuddha, karena mencapai Pencerahan dengan usaha sendiri tanpa bantuan seorang Guru / entitas diluar dirinya sendiri. Sebutan “Buddha” diberikan kepada seseorang yang mampu mencapai “Pencerahan-Buddhi”. Dan Istilah “Pencerahan” inilah yang sekarang ini menjadi banyak diperbincangkan, namun sayang telah terdirtorsi dari “api” sesungguhnya.

Pencerahan dicapai saat seseorang telah mampu menembus “Empat-Kesunyataan-Mulia”, yaitu hakekat hidup, kehidupan dan alam-semesta, ialah : 1). Dukkha ( penderitaan ), 2). Sebab Dukkha ( Tanha : Nafsu keinginan ), 3). Lenyap / Berhentinya dukkha ( Realisasi Nibbana / Nirvana ), dan, 4). Jalan menuju lenyapnya / berhentinya dukkha ( Jalan Mulia Beruas Delapan, yang diringkas : Sila, Samadhi, dan, Panna ).

Untuk menembus Empat Kesunyataan Mulia, maka seseorang perlu terlebih dahulu menembus tiga-corak dunia ( Tilakkhana ) ; 1). Anicca ( Sanskerta : Anitya ), yaitu : Tidak-Kekal, 2). Dukkha, yaitu : Penderitaan, dan, 3). Anatta ( Sanskerta : An-atman ), yaitu : Tidak-Ada AKU.

Pencerahan adalah tersingkapnya ilusi, ilusi keabadian, ilusi kesenangan yang ditawarkan di ke-31 alam kehidupan. Pencerahan dicapai bersamaan dengan padamnya nafsu-nafsu keinginan, terkikisnya keserakahan ( lobha ) akan keindriaan, kebencian ( dosa ), dan kebodohan / kegelapan batin ( moha ).

Kembali kepada realisasi Nibbana, pencapaian ke-Buddha-an. Hal ini sangat dimungkinkan untuk dicapai, karena semua makhluk pada dasarnya memiliki benih-benih ke-Buddha-an didalam dirinya. Disebabkan oleh kekotoran-kekotoran batin, maka ia senantiasa terjebak dalam ilusi-ilusi duniawi. Sebagaimana dinyatakan dalam Anguttara Nikaya I.10 :

“ Batin pada mulanya sesungguhnya adalah suci bersih, tetapi dicemari oleh kekotoran batin yang timbul kemudian, sehingga batin menjadi kotor.

Ummat awam tidak menyadari hal ini, sehingga mereka tidak melatih batinnya.

Akan tetapi batin dapat dibersihkan dari kotoran yang timbul, sehingga batin kembali suci.

Siswa Buddha menyadari hal itu sehingga mereka melatih batinnya. “

Keselamatan dan Kebebasan dalam Buddha-Dhamma menekankan pentingnya transformasi pikiran dibandingkan perbuatan jasmani dan ucapan, karena “ pikiran yang diarahkan dengan keliru, bahkan dapat mengakibatkan kerugian yang jauh lebih besar. “ ( Ud.4.3 ). Juga sebagaimana dinyatakan dalam Anguttara Nikaya II.143 :

“ Bisa ditemukan makhluk yang dapat terbebas dari menderita penyakit jasmaniah selama setahun, dua tahun, atau sepuluh tahun, atau bahkan mungkin seratus tahun.

Tetapi sulit menemukan makhluk yang dapat terbebas dari penyakit batiniah walau untuk sesaat saja, kecuali ia yang telah mengatasi kekotoran batinnya. “

Untuk mencapai “Kebebasan-Mutlak” ini, maka praktek Sila, Samadhi, dan Panna adalah merupakan satu-satunya jalan. Mengenai Sila telah diterangkan tersebut diatas. Mengenai Samadhi, sudah pernah disinggung. Samatha ( Ketenangan ) dan Vipassana ( Pandangan-Terang ), itulah yang diajarkan Sang-Buddha. Dan bagian dari itu ada suatu sutta yang sangat terkenal, yaitu “Mahasatipathana-Sutta”, yang didalamnya dinyatakan :

“Jalan ini, wahai para Bhikkhu, adalah jalan tunggal demi kesucian makhluk-makhluk, demi melampaui kesedihan dan ratap-tangis, demi kepadaman penderitaan dan kepiluan hati, demi mencapai hal yang benar, demi membuat pencerahan Nibbâna; Jalan itu adalah Empat Perkembangan Perhatian (satipathâna). “

Mengenai “Empat-Perkembangan-Perhatian” akan diterangkan lebih lanjut.

Demikianlah, sehingga Keselamatan dan Kebebasan dalam Buddha-Dhamma bukanlah hal sederhana sebagai pencapaian kehidupan di alam surga semata. Keselamatan dalam Buddha-Dhamma merupakan terbebasnya suatu makhluk dari putaran arus kelahiran dan kematian ( samsara ), yang penuh dukkha, kepiluan, dan ratap-tangis. Keselamatan sedemikian ini hanya akan dicapai saat suatu makhluk, dalam hal ini seseorang manusia, merealisasi Nibbana, mencapai Pencerahan, mencapai ke-Buddha-an.

Untuk merealisasi Nirvana ini, maka dalam agama Buddha dikenal tingkatan-tingkatan pencapaian kesucian, yang sudah pernah saya singgung pada artikel “Ketuhanan YME dalam Buddhisme ( I ) “ yang terdahulu. Untuk mengingat kembali, maka tingkatan-tingkatan kesucian tersebut adalah :

1. SOTAPANNA

Adalah manusia suci yang paling banyak akan terlahir tujuh kali lagi. Sotapanna telah melenyapkan tiga belenggu ( samyojana ), yaitu :

1. Sakkaya-ditthi,

2. Vicikiccha, dan,

3. Silabbata-paramasa.

2. SAKADAGAMI

Manusia suci yang paling banyak akan terlahir sekali lagi. Sakadagami telah melenyapkan tiga belenggu ( samyojana ), yaitu :

1. Sakkaya-ditthi,

2. Vicikiccha, dan,

3. Silabbata-paramasa.

Dan telah melemahkan belenggu :

4. Kama-raga, dan

5. Vyapada.

3. ANAGAMI

Manusia suci yang tidak akan terlahir lagi di alam manusia, tetapi langsung terlahir kembali di salah sebuah alam Suddhavasa ( penjelasan mengenai alam Suddhavasa ada dalam buku saya “ Sang Jalan, Ariya-Athangika-Magga… .). Dari salah sebuah alam Suddhavasa ini Anagami itu akan mencapai tingkat kesucian tertinggi sebagai Arahat dan akhirnya ia mencapai parinibbanna.

4. ARAHAT

Manusia suci yang telah menyelesaikan semua usahanya untuk melenyapkan semua belenggu yang mengikatnya. Bila ia meninggal dunia, ia tidak akan terlahir di alam manapun. Ia akan parinibbana.

Belenggu-belenggu yang disebutkan diatas, secara rinci ada sepuluh ( 10 ) belenggu sebagai berikut :

1. Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa, atau “AKU” yang kekal ( sakkaya-ditthi ).

2. Keragu-raguan yang skeptis pada Buddha, Dhamma, Sangha, dan tentang kehidupan yang lampau dan kehidupan yang akan datang, juga keraguan kepada hukum sebab-akibat ( vicikiccha ).

3. Kemelekatan pada suatu kepercayaan bahwa hanya dengan melaksanakan aturan-aturan dan upacara keagamaan seseorang dapat mencapai kebebasan ( silabbata-paramasa ).

4. Nafsu indriya ( kama-raga ).

5. Dendam dan dengki ( vyapada ).

6. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk ( rupa-raga ). Alam bentuk ( rupa-raga ) dicapai oleh seseorang apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan Samadhi dan telah mencapai Jhana I, Jhana II, Jhana III, atau Jhana IV.

7. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa bentuk ( arupa-raga ). Alam tanpa bentuk ( arupa-raga ) dicapai oleh seseorang apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan samadhi telah mencapai Arupa Jhana I, II, III, dan Arupa Jhana IV.

8. Perasaan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

9. Kegelisahan ( uddhaca ). Suatu kondisi batin yang haus sekali karena yang bersangkutan belum mencapai tingkat kebebasan sempurna ( ARAHAT ).

10. Kebodohan atau ketidaktahuan ( avijja ). Kebodohan atau ketidaktahuan ini menunjukkan seseorang yang tidak mengerti mana “Jalan”, mana yang “Bukan-Jalan”. Seseorang yang masih terbakar oleh “tiga-api” ( Nafsu keinginan, Kebencian, dan, Keserakahan ) termasuk dalam golongan orang yang mengalami ‘ketidaktahuan’. Ketidaktahuan akan adanya penderitaan ( dukkha ) dan jalan melenyapkan penderitaan inilah kebodohan. Ketidaktahuan bahwa semua di segenap semesta ini adalah tidak kekal ( anicca ), penderitaan ( dukkha ), dan tidak-ada AKU ( anatta ), adalah kebodohan.

Demikian wacana “Keselamatan dan Kebebasan dalam Buddhisme” telah saya uraikan. Semoga wacana ringkas ini bermanfaat bagi semua yang membacanya.

Salam Damai dan Cinta Kasih… .

Semoga Semua Makhluk Berbahagia dan Terbebas !

— RATANA KUMARO  —

Semarang Barat, Selasa, 23 September 2008

Posted in BUDDHA | 23 Comments »