RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

ALAM SEMESTA (II)

Posted by ratanakumaro pada November 5, 2008

ALAM SEMESTA, KEHIDUPAN,

DAN ALAM KEHIDUPAN ( II ) ;

KEHIDUPAN DAN ALAM KEHIDUPAN

“Agama Masa Depan adalah Agama Kosmik (berkenaan dengan Alam Semesta atau Jagad Raya). Melampaui Tuhan sebagai suatu pribadi serta menghindari Dogma dan Teologi (ilmu ketuhanan). Meliputi yang Alamiah maupun yang Spiritual, Agama yang seharusnya berdasarkan pada Pengertian yang timbul dari Pengalaman akan segala sesuatu yang Alamiah dan Perkembangan Rohani, berupa kesatuan yang penuh arti. Buddhism sesuai dengan Pemaparan ini. Jika ada agama yang sejalan dengan kebutuhan Ilmu Pengetahuan Modern, maka itu adalah Ajaran Buddha.”

( ALBERT EINSTEIN )

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa “

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Agama-agama apapun yang ada sekarang ini menyatakan bahwa Tuhan mereka masing-masinglah yang menciptakan kehidupan. Namun pernyataan demikian belum dapat menjawab pertanyaan bagaimana kehidupan dimulai. Sebab, bila Tuhan adalah makhluk hidup, yang digambarkan sebagai sesosok pribadi Adi-Kuasa ( ini sesungguhnya bertentangan dengan pernyataan ( koreksi/revisi 16/10/2009 ~ pen. ) bahwa “Tuhan” adalah “Tidak-Terpersonifikasikan”,”Yang-Mutlak”, “Yang-Tidak-Tercipta”, “Tan-Kena-Kinaya-Ngapa”, “Kang-Tanpa-Wangenan” ( Jawa ) ). Namun umumnya agama-agama yang ada masih mengkonsepkan “Yang-Mutlak” ( koreksi / revisi 16/10/2009 ~ pen. ) sebagai sosok pribadi Tuhan-Pencipta, yang bisa dicitrakan, terkadang dicitrakan mempunyai rambut warna tertentu, kulit warna tertentu, dan lain-lain, yang hidup “Di-Atas-Sana” ), maka dengan demikian harus sejalan dengan pemahaman bahwa ‘ hidup berasal dari hidup ‘, dan, dalam hal ini, belum dapat diterangkan bagaimana kehidupan Tuhan ( sebagai suatu pribadi ) yang dianggap sebagai “Yang-Mutlak” ( koreksi / revisi 16/10/2009 ) dimulai.


ASAL KEHIDUPAN MENURUT PARA ILMUWAN

Lepas dari legenda-legenda yang disiarkan agama-agama yang telah berkembang, sesungguhnya ada dua teori ilmiah yang mencoba menerangkan bagaimana kehidupan semua makhluk bermula didunia ini.

Teori pertama, adalah “Hipotesa-Haldane-Oparin”, diberi nama demikian sesuai dengan nama dua sarjana yang memperkenalkan hipotesa tersebut, Haldane dan Oparin, yang mengemukakan bahwa bahan organik berasal dari bahan anorganik. Menurut hipotesa kedua ilmuwan tersebut, pada jaman lampau, campuran dari gas anorganik yang sederhana larut dalam laut, kemudian berproses secara kimiawi, biologis, dan fisika, dengan energi matahari membentuk molekul prasejarah yang pertama; molekul ini kemudian merupakan prasyarat bermulanya kehidupan. Hipotesa ini adalah yang paling diterima dalam menerangkan asal kehidupan oleh masyarakat dewasa ini, terutama yang berpandangan ilmiah.

Kemudian, teori kedua adalah teori yang dikemukakan oleh Sir Fred Hoyle dan Prof.Chandra Wickramasinghe yang mengajukan hipotesa yang sangat berbeda. Mereka mengatakan bahwa bentuk kehidupan yang sederhana ber-evolusi di angkasa luar lalu terbawa ke bumi oleh meteor-meteor dan ekor komet yang sedang melintas.

Terlepas dari itu semua, baik dari legenda-legenda yang disiarkan agama-agama, maupun teori para ilmuwan, bagaimanapun juga caranya kehidupan dimulai, pada kenyataannya, para ilmuwan pernah menemukan bukti-bukti berupa fosil berbentuk batang yang menyerupai ganggang dan bakteri primitif kita saat ini, yang telah ada sejak 2,7 milyar tahun yang lalu. Hingga saat ini, hampir semua ilmuwan sependapat bahwa bentuk kehidupan awal berkembang di permukaan laut.

ASAL KEHIDUPAN SEMUA MAKHLUK MENURUT SANG BUDDHA

Sang Buddha Gotama mengajarkan, asal kehidupan tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia. Tapi meskipun demikian, Sang Buddha juga pernah bersabda bagaimana kehidupan berawal di bumi menurut hasil penelaahan yang diperoleh beliau dari “kemampuan-batin-luar-biasa”, yang ternyata senada dengan teori ilmu pengetahuan modern. Beliau menjelaskan, ketika alam-semesta mulai mengembang, alam yang ada barulah alam surga ( alam-dewa ). Berikut adalah Sabda Sang Buddha mengenai kejadian bumi dan manusia :

“Vasetha, terdapat suatu saat, cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini hancur. Dan ketika hal ini terjadi, umumnya makhluk-makhluk terlahir kembali di Abhassara ( alam cahaya ); disana mereka hidup dari ciptaan batin ( mano maya ), diliputi kegiuran, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa, hidup dalam kemegahan.

Mereka hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

Pada waktu itu ( bumi kita ini ) semuanya terdiri dari air, gelap gulita. Tidak ada matahari atau bulan yang nampak, tidak ada bintang-bintang maupun konstelasi-konstelasi yang kelihatan, siang maupun malam belum ada, laki-laki maupun wanita belum ada. Makhluk-makhluk hanya dikenal sebagai makhluk-makhluk saja.

Vasetha, cepat atau lambat setelah masa yang lama sekali bagi makhluk-makhluk tersebut, tanah dengan sarinya muncul keluar dari dalam air. Sama seperti bentuk-bentuk buih ( busa ) di permukaan nasi susu masak yang mendingin, demikianlah munculnya tanah itu.

Tanah itu memiliki warna, bau dan rasa. Sama seperti dadih susu atau mentega murni, demikianlah warna tanah itu; sama seperti madu tawon murni, demikianlah manis tanah itu.

Kemudian Vasetha, diantara makhluk-makhluk yang memiliki sifat serakah ( lolojatiko ) berkata : “O apakah ini ? “, dan mencicipi sari tanah itu dengan jarinya. Dengan mencicipinya, maka ia diliputi oleh sari itu, nafsu keinginan masuk dalam dirinya.

Makhluk-makhluk lainnya mengikuti contoh perbuatannya, mencicipi sari tanah itu, dengan jari-jari…makhluk-makhluk itu mulai makan sari tanah, memecahkan gumpalan-gumpalan sari tanah tersebut dengan tangan mereka.

Dan dengan melakukan hal ini, cahaya tubuh makhlk-makhluk itu lenyap. Dengan lenyapnya cahaya tubuh mereka, maka matahari, bulan, bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi nampak… siang dan malam terjadi.

Demikianlah Vasetha, sejauh itu bumi terbentuk kembali. Vasetha, selanjutnya makhluk-makhluk itu menikmati sari tanah, memakannya, hidup dengannya, dan berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali.

Berdasarkan atas takaran yang mereka makan itu, maka tubuh mereka menjadi padat, dan terwujudlah berbagai macam bentuk tubuh. Sebagian makhluk memiliki bentuk tubuh yang indah dan sebagian makhluk memiliki bentuk tubuh yang buruk.

Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh yang indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh yang buruk…maka sari tanah itupun lenyap…ketiksa sari tanah lenyap…muncullah tumbuhan dari tanah ( bhumipappatiko ).

Cara tumbuhnya seperti cendawan…mereka menikmati, mendapatkan makanan, hidup dengan tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali…( seperti diatas )

Sementara mereka bangga akan keindahan diri mereka, mereka menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan yang muncul dari tanah itupun lenyap.

Selanjutnya tumbuhan menjalar ( badalata ) muncul…warnanya seperti dadih susu atau mentega murni, manisnya seperti madu tawon murni. Mereka menikmati, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan menjalar itu…maka tubuh mereka menjadi lebih padat; dan perbedaan tubuh mereka nampak lebih jelas, sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk.

Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk…

Sementara mereka bangga akan keindahan tubuh mereka sehingga menjadi sombong dan congka, maka tumbuhan menjalar itupun lenyap.

Kemudian Vasetha, ketika tumbuhan menjalar lenyap…muncullah tumbuhan padi ( Sali ) yang masak di alam terbuka, tanpa dedak dan sekam, harum, dengan bulir-bulir yang bersih. Pada sore hari, mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan pada waktu malam, pada keesokan paginya padi itu telah tumbuh dan masak kembali. Bila pada pagi hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan siang, maka pada sore hari padi tersebut telah tumbuh dan masak kembali, demikian terus menerus padi itu muncul.

Vasetha, selanjutnya makhluk-makhluk itu menikmati padi ( masak ) dari alam terbuka, mendapatkan makanan itu dan hidup dengan tumbuhan padi tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali.

Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat, dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas. Bagi wanita nampak jelas kewanitaannya ( itthilinga ) dan bagi laki-laki nampak jelas kelaki-lakiannya ( purisalinga ).

Kemudian wanita sangat memperhatikan tentang keadaan laki-laki, dan laki-lakipun sangat memperhatikan keadaan wanita. Karena mereka saling memperhatikan keadaan diri satu sama lain terlalu banyak, maka timbullah nafsu indria yang membakar tubuh mereka. Dan sebagai akibat adanya nafsu indria tersebut, mereka melakukan hubungan kelamin.

Vasetha, ketika makhluk-makhluk lain melihat mereka melakukan hubungan kelamin…dst…dst… “.

Saat ini, setiap ilmuwan, siapapun juga, ermasuk Albert Einstein sekalipun, tak bisa memungkiri bahwa semua yang dijelaskan Sang Buddha adalah sama dengan temuan ilmiah tentang asal tata surya tersebut.

Para ilmuwan dengan temuan ilmiahnya dan Sang Buddha dengan ajaran-Nya yang dihasilkan dari “kemampuan-batin-luar-biasa” yang telah dikembangkan-Nya, kedua-duanya sepaham, bahwa permukaan bumi pada awalnya tertutup oleh air.

Para ilmuwan modern, dan juga Sang Buddha Gotama, keduanya sependapat bahwa kehidupan pertama mengembang diatas permukaan air, dimana mereka menyerap sari makanan.

Keduanya juga sepakat bahwa bentuk kehidupan pada awal-mulanya adalah “tidak-berjenis-kelamin” ( aseksual ), juga sependapat bahwa bentuk kehidupan berevolusi, dari bentuk yang sederhana ke bentuk kehidupan yang lebih kompleks, dan bahwa proses itu berlangsung dalam waktu yang sangat lama sekali.

Demikian wacana mengenai asal mula kehidupan ini saya paparkan. Semoga bermanfaat bagi “Pencerahan-Buddhi” semua yang membacanya.

( Sumber Pustaka : “Dasar Pandangan Agama Buddha”, Ven.S.Dhammika )

Salam Damai dan Cinta Kasih… .

( MAY ALL BEINGS ATTAIN ENLIGHTENMENT ! )

— RATANA KUMARO  —

Semarang Barat, 04 September 2008

5 Tanggapan to “ALAM SEMESTA (II)”

  1. Kebanyakan manusia hanyalah menduga-duga saja…dan ahirnya hanya menyesatkan sebagian yang lainnya saja… berniat baiklah semoga anda mendapatkan petunjuk yang sebenarnya…

  2. @RatanaKumaro

    RATANA KUMARO =====> Agama-agama apapun yang ada sekarang ini menyatakan bahwa Tuhan mereka masing-masinglah yang menciptakan kehidupan. Namun pernyataan demikian belum dapat menjawab pertanyaan bagaimana kehidupan dimulai. Sebab, bila Tuhan adalah makhluk hidup, yang digambarkan sebagai sesosok pribadi Adi-Kuasa ( ini sesungguhnya bertentangan dengan kenyataan bahwa “Tuhan” adalah “Tidak-Terpersonifikasikan”,”Yang-Mutlak”, “Yang-Tidak-Tercipta”, “Tan-Kena-Kinaya-Ngapa”, “Kang-Tanpa-Wangenan” ( Jawa )
    _________________________________________________
    Dear Mas Penghibur… ,

    Pertama-tama, saya ucapkan selamat datang di blog Ratna Kumara ini.

    Kedatangan anda benar-benar membawa “hiburan” tersendiri bagi saya pribadi dan tentunya para pembaca blog ini.

    Sepertinya , artikel tulisan saya yang sudah lama ini ada hal yang harus saya koreksi, dan setelah ini akan saya koreksi, yaitu pada bagian kalimat :

    ( ini sesungguhnya bertentangan dengan kenyataan bahwa “Tuhan” adalah “Tidak-Terpersonifikasikan”,…dst ”

    Kata “kenyataan” yang saya cetak miring tersebut diatas, seharusnya yang benar adalah : PERNYATAAN.

    Kalimat itu menunjukkan, bahwa teori Tuhan-Pencipta mempunyai sisi-sisi yang kontradiktif dalam “pencitraannya”.

    Di satu sisi, dikatakan bahwa Tuhan-Pencipta itu adalah “Tidak-terpersonifikasiikan”, “Yang-Mutlak”, “Yang-Tidak-Tercipta” .
    Tapi disisi lain, jelas-jelas dinyatakan dalam kitab-kitab agama theistik manapun juga ( baik yang monotheistik maupun politheistik ), bahwa Tuhan-Pencipta itu bersifat : Wujud.

    Bahkan, jelas-jelas dinyatakan bahwa Tuhan-Pencipta itu berbicara kepada orang-orang tertentu yang kemudian dilegitimasi sebagai “Nabi” atau “Utusan-Tuhan”, atau “Kekasih-Tuhan” , atau apapun sebutannya sesuai tradisi masing-masing tempat kepercayaan itu berkembang. Tuhan-Pencipta itu berbicara pada mereka, memberi perintah, memberi larangan, terkadang murka bila ummat manusia melanggar perintah dan larangannya, dan lain-lain sebagainya.

    Sehingga, pernyataan bahwa Tuhan-Pencipta itu “Tidak-Terpersonifikasikan”, “Tidak-Tercipta” ; dalam hal ini, telah bertentangan dengan “ciri-ciri” Tuhan-Pencipta yang bisa ditemukan dalam ayat-ayat yang tersebar dalam kitab-kitab agama theistik.
    _____________________________________________________

    PENGHIBUR =====> Tuhan hanya Allah swt, apa-apa juga yang disembah manusia sama ada berhala sebagai perantaraan atau apa saja yang disembah manusia seperti penyembah gunung ganang, penyembah alam, penyembah api, penyembah nafsu dan sebaginya dan termasuk juga golongan yang tidak menyembah apa-apa dan tidak mempercayai wujudnya Tuhan.

    Tuhan hanya Allah swt dan tidak ada yang lain, sama ada manusia percaya atau tidak Tuhan tetap wujud, yang membezakan manusia itu dalam menyembah Tuhan adalah Akidah. semasa hayat dunia ini, Allah swt akan memberi dan mendengar semua doa hamba-hambaNya.

    (QS. Al-Ikhlash 112:1-4)
    “Katakanlah; Dialah Allah Tuhan Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu. Dia Tidak beranak dan tiada pula diperanakkan dan Dia tiada sesuatupun yang serupa (setara) dengan-Nya.”
    ___________________________________________________

    Mas Penghibur,

    Saya dalam menanggapi khusus pernyataan anda yang bagian ini , tidak ingin menggunakan “TEORI”, atau “KONSEPSI” dari ajaran agama.

    Mari kita sama-sama melepaskan atribut kita masing-masing… ,

    Saya tidak akan menggunakan atribut saya sebagai ummat agama tertentu, dan anda juga tidak perlu menggunakan atribut anda sebagai ummat agama tertentu.

    Marilah kita berdiskusi sebagai seorang pecinta spiritualitas yang “bebas” dari atribut apapun juga.

    Begini mas Penghibur, dari teori yang anda ajukan tersebut, apakah anda sudah membuktikan sendiri, atau anda hanya sekedar mengetahuinya dari kitab-suci ? Sebab, teori yang baik, adalah teori yang berasal dari praktek, dan itu bisa dibuktikan oleh siapa saja, kapanpun, dimanapun ; sehingga teori tersebut memenuhi syarat ke-universal-an ; memenuhi syarat kebenaran.

    Darimana anda tahu bahwa Tuhan itu hanyalah Satu-Tuhan saja yang diwartakan dalam agama anda ? Pernahkah anda benar-benar menyelami kehidupan hingga tak berujung dan hanya bertemu SATU-TUHAN saja ?

    Darimana anda benar-benar tahu bahwa Tuhan tidak pernah beranak dan tidak diperanakkan ?

    Kalau anda sudah pernah tahu dan menyaksikan, tunjukkan pada saya yang mana yang anda maksud dengan Satu-Tuhan tersebut, yang telah bertemu “Face to face” dengan anda, dan dimana Satu-Tuhan tersebut tidaklah beranak dan tidak diperanakkan… .
    _____________________________

    RATANA KUMARO =====> Namun umumnya agama-agama yang ada masih mengkonsepkan Tuhan sebagai pribadi, yang bisa dicitrakan, mempunyai rambut warna tertentu, kulit warna tertentu, dan lain-lain, yang hidup “Di-Atas-Sana” ), maka dengan demikian harus sejalan dengan pemahaman bahwa ‘ hidup berasal dari hidup ‘, dan, dalam hal ini, belum dapat diterangkan bagaimana kehidupan Tuhan ( sebagai suatu pribadi ) dimulai.
    ________________________________________

    Dalam kesempatan ini, saya juga hendak mengkoreksi pemilihan kosakata yang saya pakai dulu kala tersebut ( mohon dimaklumi, ini artikel sudah lama sekali, terkadang ada pemilihan kosakata yang tidak sesuai. Sebagai penulis, tentunya terkadang ada salah pemilihan kosakata, maka artikel2 dalam blog saya ini, seringkali saya revisi ; sebagaimana buku-buku yang dicetak dan diterbitkan pun juga sah-sah saja dikoreksi / direvisi, benar begitu kan ? ) . Yaitu, yang hendak saya koreksi adalah pemilihan kata “Tuhan” dalam kalimat berikut :

    Namun umumnya agama-agama yang ada masih mengkonsepkan Tuhan sebagai pribadi, yang bisa dicitrakan,

    Seharusnya, bila menilik terminologi Buddhisme, maka kosakata yang tepat yang harus saya gunakan adalah “Yang-Mutlak”. Sehingga, akan saya koreksi menjadi :

    Namun umumnya agama-agama yang ada masih mengkonsepkan “Yang-Mutlak” sebagai pribadi, yang bisa dicitrakan… dst. , maka dengan demikian harus sejalan dengan pemahaman bahwa ‘ hidup berasal dari hidup ‘, dan, dalam hal ini, belum dapat diterangkan bagaimana kehidupan Tuhan – yang dianggap sebagai “Yang-Mutlak” – ( sebagai suatu pribadi ) dimulai.

    Koreksi atas pemilihan kosakata-kosakata ini perlu saya lakukan, supaya jalannya diskusi antara kita berdua nantinya menjadi nyambung, tidak salah paham.

    Semoga bisa anda mengerti. 😉
    _____________________________________________

    PENGHIBUR =====> Tuhan memang wujud, Allah swt adalah Tuhan Seluruh Alam, Dialah Allah yang memberi saya dan anda NAFAS, Dialah Allah yang memberi saya dan anda KUDRAT, Dialah Allah yang memberi saya dan anda KESIHATAN, Dialah Allah swt yang mencipta Seluruh Isi Alam.
    _________________________________________________________

    Kalimat saya tersebut diatas, yang anda kutip, menuliskan kritikan saya terhadap konsepsi agama Theistik, yang menyatakan bahwa “Yang-Mutlak” adalah dianggap sebagai suatu pribadi yang menciptakan seluruh alam semesta seisinya, yang hidup di suatu alam-surga di “atas-sana”, yang duduk di singgasana didampingi para malaikat-nya. Dinyatakan bahwa Tuhan-Pencipta ini ( yang dianggap sebagai “Yang-Mutlak” ) adalah “awal-mula” segala sesuatu.

    Pertama-tama, mari kita membahas kosakata “Tuhan” itu sendiri.

    “Tuhan”, adalah kosakata dalam bahasa Indonesia ; mungkin juga dalam bahasa Melayu anda.

    Jika kita gunakan bahasa-bahasa dari wilayah lain, maka kita akan menemukan :

    1). Illah ; atau mungkin lebih spesifiknya Allah, karena menurut Islam tidak ada Illah yang wajib disembah kecuali Allah ( terminologi Islam ; Arab (?) )
    2). Issara / Isvara / Mahesvara ( Pali / Sanskrit ; terminologi Buddhis. Disini tidak saya gunakan kosakata “Deva”, sebab, Deva / Dewa ada yang hanyalah dewa “rendahan”. Sedangkan kosakata Issara/Isvara menunjuk pada konsep “Tuhan-Pencipta” yang memiliki suatu “Kuasa” tertentu atas alam semesta )
    3). God ( Bhs.Inggris )

    Dalam, setidaknya, ketiga kosakata tersebut, maka makna yang dimaksud sama saja ; yaitu bermakna “Tuhan-Pencipta” ; the “Creator-God”.

    Nah, jika pernyataan anda adalah bahwa Tuhan-Pencipta itu “Wujud” ;
    maka dalam hal ini saya ada hal yang sependapat, bahwa Tuhan yang anda anggap “Pencipta” tersebut, memang berwujud. Lalu , justru karena itulah saya mengkritik :

    1). Jika jelas-jelas ia berwujud, mengapa disebutkan bahwa ia adalah “Yang-Tidak-Tercipta” ( bagaimana mungkin tidak tercipta sementara jelas-jelas “tercipta” / ber-wujud ) , “Yang-Mutlak” ( bagaimana mungkin bisa dikatakan “Yang-Mutlak” sementara jelas-jelas ada wujudnya ; setiap yang bisa ditunjukkan wujudnya, diakui bahwa itu ber-wujud, jelas-jelas bukan “Yang-Mutlak”, karena setiap wujud tunduk pada hukum alam ke-tidak-kekal-an. )

    2). Jika jelas-jelas ia berwujud, maka mengapa diterangkan bahwa ia tidaklah memiliki “awal-mula”. Sebab, segala sesuatu yang berwujud, pastilah memiliki “awal-mula”. Jika anda tidak percaya, selidikilah segala sesuatu yang ber”wujud” itu, termasuk sesuatu yang disebut “ghaib” yang seakan-akan dianggap “tidak-bisa-dibayangkan”, itu tetaplah ditemui wujudnya dan mempunyai awal-mulanya. Akan tetapi, unfortunately, dari agama-agama theistik sendiri tidak pernah mampu menerangkan bagaimana kehidupan Tuhan-nya yang ber”wujud” itu dimulai.

    Coba, mari kita lakukan penyelidikan dengan seksama. 😉


    _____________________________________________________
    (1) Wujud Tuhan tidak bertempat, Maha Suci Allah dari sifat yang haram terhadap Dzat-Nya.
    (2) Hidup Tuhan TIDAK mempunyai PERMULAAN dan TIDAK mempunyai PENGHABISAN.

    SOALAN SAYA :

    (1) Apakah BUKTI bahawa Tuhan TIDAK WUJUD?
    _____________________________________________________

    Iya, mas Penghibur… ,

    Saya sebagai pribadi, maupun sebagai ummat Buddha, meng-IYA-kan, bahwa Tuhan anda, yang anda anggap sebagai “Pencipta” tersebut , memang benar-benar ber-WUJUD. Tetapi, bukankah justru dari pihak penganut agama2 theistik sendiri yang sering menyangkal keber-wujud-an “Tuhan-Pencipta” itu , dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak bisa dibayangkan, tidak diketahui seperti apanya, tidak-tercipta, dan lain-lain sebagainya ?

    Tahukah perbedaannya dengan pemahaman saya, sebagai pribadi maupun sebagai ummat Buddha ?

    Sesuai / menurut pemahaman spiritual saya, dan juga bersesuaian dengan ajaran Sang Buddha , maka sesungguhnya :

    1). Tidak ada satu Issara / Isvara / Mahesvara ( ini saya gunakan kosakata Buddhisme saja supaya lebih pas untuk pembaca Buddhis ) atau sosok yang manapun yang merupakan “Pencipta” alam-semesta seisinya dan semua makhluk.
    2). “Yang-Mutlak”, “Yang-Tidak-Tercipta”, “Yang-Tidak-Terlahir”, “Yang-Tidak-Berkondisi” itu bukanlah Issara / Isvara / Mahesvara atau sosok yang manapun yang dianggap sebagai “Pencipta” alam-semesta seisinya dan semua makhluk. Karena, sudah jelas seperti point pertama saya nyatakan, dalam perjalanan spiritual, anda tidak akan pernah menemukan sosok “Pencipta” alam-semesta dan seisinya , kecuali hanya akan bertemu sosok-sosok Issara / Isvara / Mahesvara yang mengklaim diri bahwa ia adalah “Tuhan-Pencipta”, Penguasa seluruh alam-semesta ; dan klaim ini tidak terbukti kebenarannya maka tidak bisa diakui keabsahannya , kecuali seseorang meng-iman-inya sebagai kebenaran itu menjadi lain cerita ( karena iman / keyakinan / kepercayaan tidaklah bisa serta-merta disebut sebagai kebenaran, paham ? Karena, kebenaran haruslah bisa dibuktikan kebenarannya, tidak sekedar diimani. ) .

    Paham sekarang ?

    Saya pribadi, maupun Buddhisme, mengakui adanya “Yang-Mutlak”, “Yang-Tidak-Tercipta”, “Yang-Tidak-Terlahir”, “Yang-Tidak-Berkondisi” ; dan justru inilah “TUJUAN-SEJATI” bagi kehidupan spiritual Buddhism.

    Tapi, “Yang-Mutlak” itu bukanlah sosok-sosok “Pencipta” seperti yang dikonsepsikan oleh banyak ajaran. Itu bukanlah sosok “Maha-Kuasa” seperti yang dikonsepsikan oleh banyak ajaran termasuk yang anda sodorkan pada saya tersebut.

    Yang saya, maupun Buddhisme, tolak adalah adanya sosok “Pencipta” alam-semesta yang “TUNGGAL” atau “Maha-Kuasa” yang “TUNGGAL” dalam bentuk apapun. Tapi, keberadaan “Tuhan” yang dianggap dan anda anggap “pencipta” dan “Maha-Kuasa” itu, saya sendiri mengakui, dan pula mengakui bahwa itu ber-Wujud ( semoga anda sendiri tidak mengingkari bahwa Tuhan yang anda anggap sebagai pencipta itu adalah ber-“WUJUD”. Karena, dulu ada seorang ummat agama theistik yang ketika saya kejar bahwa Tuhan itu berwujud, dia menolak menjawab , malah memberi jawaban berbelit-belit yang tidak sesuai konteks pertanyaan. )

    Semoga anda bisa memahami penjelasan saya. 😉
    ___________________________________________________

    By, Penghibur
    ___________________________________________________

    Terimakasih atas kunjungan anda ini mas Penghibur.

    Salam perkenalan juga dari saya.

    Saya sarankan, sebaiknya bila hendak berdiskusi tentang “Tuhan”, anda masuk komentar ke halaman “Tuhan “Yang-Maha…” dimata Seorang Buddha” saja mas, supaya lebih pas tempatnya.

    Sebab, di artikel tersebutlah, segala pemahaman tentang “Tuhan” menurut Buddhisme dengan jelas dipaparkan.

    May U Always b Happy and Well 😉

  3. Penghibur said

    @RatanaKumaro

    Adakah komen tindakbalas saya masuk SPAM? Mengapa ia tidak dikeluarkan, semoga adil, sila keluarkan tindakbalas saya, diperingkat ni saya masih belum membuat sebarang bantahan. Rasanya saudara RatanaKumaro tak perlu risau.

    Mohon anda jawab soalan saya dengan ikhlas, seperti yang saya hantar pada tindakbalas saya terhadap anda.

    SOALAN PENTING : Apakah anda mengimani bahawa Alam ini tidak dicipta dan diperintah oleh Tuhan?

    By, Penghibur

    • Dear mas Penghibur 😉

      Sabar mas Penghibur,

      Bukankah anda juga menggunakan wordpress, jadi seharusnya sudah tahu, kalau terkadang, sistem wordpress ini menahan dengan sendirinya suatu komentar2 dari pengunjung. Jadi, yang menahan komentar anda bukan saya, tapi entah mengapa ada komentar2 anda yang dimasukkan kedalam spam oleh sistem wordpress.

      Sebentar lagi saya approve, tenang saja mas Penghibur 😉
      Tetaplah terus menjadi penghibur bagi semua makhluk yang membutuhkan hiburan 😉

      May Happiness Always b with U 😉

      • Penghibur said

        @Ratanakumaro

        Terima Kasih atas penjelasannya, saya mohon maaf jika terlihat kasar, ya saya baru lagi guna wordpress ni, saya tak faham sangat. 🙂

        By, Penghibur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: