RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

Archive for November 5th, 2008

ALAM SEMESTA (III)

Posted by ratanakumaro pada November 5, 2008

ALAM SEMESTA, KEHIDUPAN,

DAN ALAM KEHIDUPAN ( III ) ;

KOSMOLOGI BUDDHIS

“Agama Masa Depan adalah Agama Kosmik (berkenaan dengan Alam Semesta atau Jagad Raya). Melampaui Tuhan sebagai suatu pribadi serta menghindari Dogma dan Teologi (ilmu ketuhanan). Meliputi yang Alamiah maupun yang Spiritual, Agama yang seharusnya berdasarkan pada Pengertian yang timbul dari Pengalaman akan segala sesuatu yang Alamiah dan Perkembangan Rohani, berupa kesatuan yang penuh arti. Buddhism sesuai dengan Pemaparan ini. Jika ada agama yang sejalan dengan kebutuhan Ilmu Pengetahuan Modern, maka itu adalah Ajaran Buddha.”

( ALBERT EINSTEIN )

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa “


Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Ilmu Pengetahuan membagi kehidupan menurut susunan tubuhnya, sedang Sang Buddha membagi kehidupan menurut apa yang dialaminya. Sang Buddha menyatakan, ada 31 alam kehidupan didalam alam semesta ini. Ke-31 alam tersebut, dibagi dalam “Tiga-Alam-Kehidupan” ( Triloka ) yaitu ( Penjelasan lebih lengkap lihat di “Tabel Alam Kehidupan” ) :

1. Alam Nafsu Keinginan ( Kamaloka / Kamadhatu )

2. Alam Berbentuk ( Rupaloka / Rupadhatu )

3. Alam Tidak Berbentuk ( Arupaloka / Arupadhatu )

TABEL ALAM-ALAM KEHIDUPAN

ALAM – ALAM KEHIDUPAN

Batas Umur

4 – ARUPA LOKA
(Alam Tanpa Bentuk)

4. N’eva Saññã N’ãsaññãyatana
3. Akiñcaññãyatana
2. Viññãnañcãyatana
1. Ãkãsãnañcãyatana

84.000 M.K.
60.000 M.K.
40.000 M.K.
20.000 M.K.

16 – RUPALOKA
(Alam Bentuk)

Catuttha Jhãna Bhümi
Alam Jhãna IV

Suddhavassa >>

Akanittha
Sudassi
Sudassa
Atappa
Aviha
Asaññasatta
Vehapphala

16.000 M.K.
8.000 M.K.
4.000 M.K.
2.000 M.K.
1.000 M.K.
500 M.K.
500 M.K.

Tatiya Jhãna Bhümi
Alam Jhãna III

Subhakinha
Appamãnasubha
Parittasubha

64 M.K.
32 M.K.
16 M.K.

Dutiya Jhãna Bhümi
Alam Jhãna II

Patama Jhãna Bhümi
Alam Jhãna I

Abhassara
Appamãnabha
Parittabha

Maha Brahma

Brahma Purohita

Brahma Parisajja

8 A.K

4 A.K

2 A.K

1 A.K.

½ A.K.

1/3 A.K.

11 – KÃMALOKA
(Alam Nafsu)

7 – Sugati
(Alam Bahagia)

6 – Devaloka >>
(Alam Surga)

Paranimmitavasavatti
Nimmãnarati
Tusita
Yãma
Tãvatimsa
Cãtummahãrãjika

16.000 T.S.
8.000 T.S.
4.000 T.S.
2.000 T.S.
1.000 T.S.
500 T.S

Manussa – Alam Manusia

Tak Terbatas

4 – Dugati (Alam Menderita) >>

Asurayoni
Petayoni
Tiracchãnayoni
Niraya

Tak Terbatas
Tak Terbatas
Tak Terbatas
Tak Terbatas

Keterangan :
M.K. = Mahã Kappa
A.K. = Asangkheyya Kappa
T.S. = Tahun Surgawi

Ketiga alam tersebut, kesunyataannya, tidaklah kekal-abadi. Anggapan bahwa alam setelah manusia mati nanti, baik menuju ke alam menyedihkan maupun membahagiakan adalah kekal-abadi, mutlak keliru. Karena, masing-masing alam tersebut mempunyai masa / waktu hidup sendiri-sendiri, dan setelah masa waktu untuk hidup di salah satu alam tersebut habis, maka semua makhluk yang belum mencapai “Kebebasan-Sempurna” ( Nibbana ) akan melanjutkan hidupnya di alam-alam yang lain. Untuk itu, marilah kita pertama-tama membahas mengenai satuan waktu hidup dalam alam kehidupan kita ini. Kemudian, sesi ini kita hanya akan membahas bagian pertama dari alam Kamaloka, yakni alam-alam menyedihkan ( Dugati ).

DIMENSI WAKTU

1. Alam Kamaloka

Alam manusia, menggunakan ukuran tahun yang telah diciptakan dan disepakati secara bersama-sama oleh manusia sendiri hingga saat ini, dimana satu hari adalah 24 jam, satu minggu adalah tujuh (7) hari, satu bulan adalah 31 ( atau 30 ) hari, satu tahun adalah 12 bulan. Alam para hantu ( Niraya, Petayoni, dan Asurayoni ), umumnya berusia lebih panjang daripada usia manusia dan alam hewan ( Tiracchanayoni ), bahkan ada yang mencapai jutaan tahun menurut hitungan manusia.

Untuk alam surgawi, yakni alam para dewa yang hidup pada alam Kamaloka ini, maka dimensi waktu disana adalah sebagai-berikut :

a). 50 tahun manusia = 1 hari 1 malam bagi alam Dewa Catummaharajika

b). 100 tahun manusia = 1 hari 1 malam bagi alam Dewa Tavatimsa

c). 200 tahun manusia = 1 hari 1 malam bagi alam Dewa Yama

d). 400 tahun manusia = 1 hari 1 malam bagi alam Dewa Yusita

e). 800 tahun manusia = 1 hari 1 malam alam Dewa Nimmanarati

f). 1600 tahun manusia = 1 hari 1 malam alam Dewa Parinimmitavasavatti

Setelah kita mengetahui dimensi waktu pada masing-masing alam kehidupan pada ketiga-loka tersebut, maka marilah kita membahas masing-masing alam dalam ketiga-loka itu.

2. Alam Rupaloka dan Arupaloka

Pada bab “Alam-Semesta I” saya sudah pernah menyinggung mengenai dimensi waktu yang disebut dengan “Kappa” ( Baca lagi “Alam-Semesta I ).

Ada tiga macam Kappa, yaitu :

1. Antara Kappa.

2. Asankheyya Kappa.

3. Maha Kappa.

Dalam rentang perjalanan manusia, (sesungguhnya) terdapat suatu masa dimana seluruh ummat manusia hanya akan mempunyai batas waktu umur rata-rata hingga 10 tahun. Masa ini terjadi ketika moralitas ummat manusia sedemikian merosotnya, sehingga umurnya hanya akan bertahan hingga 10 tahun, sesudah itu mati. Masa selang antara batas usia manusia rata-rata 10 tahun lalu naik sampai usia yang panjang sekali hingga mencapai delapan puluh ribu ( 80.000 ) tahun, lalu turun kembali hingga batas usia rata-rata menjadi 10 tahun kembali, itu adalah rentang waktu 1 “Antara-Kappa” ( Antara satu kappa ke Kappa berikutnya, itulah “Antara-Kappa” ).

Satu ( 1 ) Asankheyya Kappa adalah sama dengan 20 Antara Kappa. Satu ( 1 ) Asankheyya Kappa, oleh para sarjana dinyatakan, bila dialjabarkan sama dengan 10 pangkat 14 ( angka satu ( 1 ) diikuti seratus empat puluh ( 140 ) angka nol, ( coba anda tuliskan sendiri, hehehe… ), sehingga lamanya melebihi jumlah jutaan-trilyun tahun. Dan Satu ( 1 ) Maha Kappa adalah sama dengan empat ( 4 ) Asankheyya Kappa, sehingga 1 Maha Kappa lamanya melebihi maha jutaan-trilyun tahun.

Dimensi waktu yang disebut “Kappa” inilah yang digunakan untuk mengukur umur rata-rata makhluk-makhluk yang terlahir dalam alam Rupaloka dan Arupaloka, yang kesemuanya bisa anda lihat pada “Tabel 31 Alam Kehidupan”.

I. KAMALOKA / KAMADHATU

Yakni alam nafsu-keinginan, tempat keberadaan makhluk-makhluk duniawi. Ada sebelas ( 11 ) alam kehidupan yang termasuk didalam Kamaloka ini, yang terbagi dalam dua alam, yaitu :

1).Dugati ( Alam-alam menyedihkan ), dan,

2).Sugati ( Alam Bahagia ).

1.) Dugati ( Alam-alam menyedihkan )

Dugati terdiri dari empat (4) alam yang kesemuanya merupakan tempat hidup “yang menyedihkan”. Alam ini disebut juga “Empat Alam Kemerosotan” (Apâyabhûmi). Istilah ‘apâyabhûmi’ terbentuk dari tiga kosakata, yakni ‘apa‘ yang berarti ‘tanpa, tidak ada’, ‘aya‘ yang berarti ‘kebajikan’, dan ‘bhûmi‘ yang berarti ‘alam tempat tinggal makhluk hidup’. Apâyabhûmi adalah suatu alam kehidupan yang tidak begitu ada kesempatan untuk berbuat kebajikan. Delapan jenis suciwan tidak akan terlahirkan di alam ini, dan tidak ada satu makhluk pun dalam alam ini yang mampu meraih kesucian dalam kehidupan sekarang. Alam ini juga sering disebut sebagai ‘dugga-tibhûmi‘.

Yang menyebabkan suatu makhluk terlahir di alam “Dugati” / empat alam menyedihkan ( disebut juga “apaya-bhumi” ) adalah karena :

1. Tidak pernah Berdana ( bersedekah )

2. Tidak menjaga Sila ( Moralitas : Setidaknya ada lima Sila yang harus dijaga, yaitu : 1. Tidak membunuh makhluk hidup apapun juga (termasuk binatang) , 2. Tidak mengambil barang yang tidak diberikan, 3. Tidak berbuat sex yang menyimpang / tidak seharusnya ( perilaku cabul, perzinahan, dll ). 4. Tidak berucap dusta, 5. Tidak meminum minuman / obat-obatan yang menyebabkan lemahnya kesadaran ( yang memabukkan, seperti narkoba, extasy, minuman keras / beralkohol, dll. ) )

3. Tidak pernah mempunyai rasa hormat kepada orang-orang lain.

‘Duggati’ terbentuk dari dua kosakata, yakni ‘du‘ yang berarti ‘jahat, buruk, sengsara’, dan ‘gati‘ yang berarti ‘alam tujuan bagi suatu makhluk yang akan bertumimbal lahir’. Duggatibhûmi adalah suatu alam kehidupan yang buruk, menyengsarakan. Walaupun kerap dipakai se-bagai suatu padanan, duggatibhûmi sesungguhnya tidaklah sama persis cakupannya dengan apâyabhûmi. Apâyabhûmi terdiri atas empat alam, yakni:

a). Niraya ( Ni + aya ; tanpa kebahagiaan )/ Neraka ( Sanskerta )

Yaitu alam keberadaan yang menyedihkan, tempat para makhluk menebus Kamma buruk mereka. Manusia yang dalam hidupnya cenderung kearah penganiayaan makhluk hidup, membunuh makhluk hidup apapun juga, dan senantiasa terjerembab dalam tindakan-tindakan jahat yang dilakukan baik oleh pikiran, ucapan, dan perbuatan, maka ia akan terlahir dialam Niraya ini.

Sesungguhnya, anggapan bahwa neraka adalah tempat hidup yang kekal abadi bagi semua makhluk yang selama masa hidup sebelumnya banyak berbuat karma buruk, adalah keliru. Tidak ada yang kekal-abadi, termasuk didalam neraka sekalipun. Setelah habisnya Kamma buruk yang menyebabkan mereka “tercebur” kedalam alam penuh derita ini ( sama-sekali tidak ada kesenangan, hanya derita yang ada ), makhluk-makkhluk yang hidup dialam ini akan lahir kembali dalam alam-alam lain sesuai timbunan kamma-kamma mereka sendiri, yang telah mereka pupuk selama ribuan tahun rentang pengembaraannya dalam samsara.

Dikisahkan bahwa Mallikâ, yang pernah melakukan perzinahan dengan seekor anjing, berada dalam alam neraka hanya dalam waktu tujuh hari. (Mallikâ adalah permaisuri kesayangan Raja Pasenadi Kosala). Atas kematiannya, raja bertanya kepada Sang Buddha ke alam manakah gerangan istrinya terlahirkan kembali. Beliau tidak menjawab meskipun ditanya setiap hari selama seminggu penuh karena khawatir kalau raja akan bersedih hati mengetahui penderitaan yang harus ditanggung oleh Mallikâ. Baru setelah Mallikâ keluar dari neraka Avîci dan terlahirkan kembali di Surga Tusita, Beliau memberikan jawaban. Tidaklah ‘adil’ untuk menjebloskan suatu makhluk sepanjang hidup (selamanya) dalam neraka hanya karena suatu kejahatan yang pernah dilakukannya dengan mengabaikan semua kebajikannya dan tanpa memberi peluang sedikit pun untuk memperbaiki kehidupannya. Neraka bukanlah suatu tempat pelampiasan kesewenang-wenangan suatu Pencipta Adikodrati yang murka karena diabaikan atau dikhianati oleh makhluk-makhluk ciptaannya.

Neraka terbagi menjadi dua bagian, yaitu:

1. Neraka Besar (Mahâ-niraya)

2. Neraka Kecil (Ussadaniraya).

Neraka besar terdiri atas delapan alam:

1. Sañjîva
Alam kehidupan bagi makhluk yang secara bertubi-tubi dibantai dengan pelbagai senjata; begitu mati langsung terlahirkan kembali di sana secara berulang-ulang hingga habisnya akibat kamma yang ditanggung. Mereka yang suka mempergunakan kekuasaan yang dimiliki untuk menyiksa makhluk lain yang lebih lemah atau rendah kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

2. Kâïasutta
Alam kehidupan bagi makhluk yang dicambuk dengan cemeti hitam dan kemudian dipenggal-penggal dengan parang, gergaji dan sebagainya. Mereka yang suka menganiaya atau membunuh bhikkhu, sâmaóera atau pertapa; atau para bhikkhu-sâmanera yang suka melanggar vinaya kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

3. Sanghâta
Alam kehidupan bagi makhluk yang ditindas hingga luluh lantak oleh bongkahan besi berapi. Mereka yang tugas atau pekerjaannya melibatkan penyiksaan terhadap makhluk-makhluk lain, misalnya pemburu, penjagal dan lain-lain kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

4. Dhûmaroruva
Alam kehidupan bagi makhluk yang disiksa oleh asap api melalui sembilan lubang dalam tubuh hingga menjerit-jerit kepengapan. Mereka yang membakar hutan tempat tinggal binatang; atau nelayan yang menangkap ikan dengan mempergunakan racun dan sebagainya kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

5. Jâlaroruva
Alam kehidupan bagi makhluk yang diberangus dengan api melalui sembilan lubang dalam tubuh hingga meraung-raung kepanasan. Mereka yang suka mencuri kekayaan orangtua atau barang milik bhikkhu, sâmaóera atau pertapa; atau mencoleng benda-benda yang dipakai untuk pemujaan kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

6. Tâpana
Alam kehidupan bagi makhluk yang dibentangkan di atas besi membara. Mereka yang membakar kota, vihâra, sekolahan dan sebagainya kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

7. Patâpana
Alam kehidupan bagi makhluk yang digiring menuju puncak bukit membara dan kemudian dihempaskan ke tombak-tombak terpancang di bawah. Mereka yang menganut pandangan sesat bahwa pemberian dâna tidak membuahkan pahala, pemujaan kepada Tiga Mestika tidak berguna, penghormatan kepada dewa tidak berakibat, tidak ada akibat dari perbuatan baik maupun buruk, ayah-ibu tidak berjasa, tidak ada kehidupan sekarang maupun mendatang, dan tidak ada makhluk yang terlahirkan dengan seketika kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

8. Avîci
Alam kehidupan bagi makhluk yang direntangkan dengan besi membara di empat sisi dan dibakar dengan api sepanjang waktu. Mereka yang pernah melakukan kejahatan terberat, yakni membunuh ayah, ibu atau Arahanta, melukai Sammâsambuddha, atau memecah-belah pasamuan Saõgha niscaya akan terlahirkan di alam ini. Avîci kerap diang-gap sebagai alam kehidupan yang paling rendah.

Neraka kecil terdiri atas delapan alam:

1. Angârakâsu: Alam neraka yang terpenuhi oleh bara api

2. Loharasa: Alam neraka yang terpenuhi oleh besi mencair

3. Kukkula: Alam neraka yang terpenuhi oleh abu bara

4. Aggisamohaka: Alam neraka yang terpenuhi oleh air panas

5. Lohakhumbhî: Alam neraka yang merupakan panci tembaga

6. Gûtha: Alam neraka yang terpenuhi oleh tahi membusuk

7. Simpalivana: Alam neraka yang merupakan hutan pohon ber-duri

8. Vettaranî: Alam neraka yang merupakan air garam berisi duri rotan

b).Tiracchana-yoni ( tiro=melintasi;acchana=pergi )

Ini adalah dunia para hewan. Makhluk-makhluk dilahirkan sebagai binatang-binatang karena Kamma buruk mereka. Setelah masa hidupnya habis, binatang-binatang ini akan lahir dialam-alam lain, misalnya di alam manusia, jika mereka mempunyai Kamma yang cukup untuk itu.

Dengan pengertian lain, binatang disebut Tiracchâna karena merintangi jalan menuju pencapaian Jalan dan Pahala. Binatang sesungguhnya tidak mempunyai alam khusus milik mereka sendiri melainkan hidup di alam manusia. Binatang memiliki hasrat untuk menikmati kesenangan inderawi serta berkembang-biak; naluri untuk mencari makan, bersarang, dan sebagainya; dan perasaan takut mati, mencintai kehidupannya. Binatang tidak mempunyai kemampuan untuk membedakan kebajikan dari kejahatan, kebenaran dari kesesatan, dan sebagainya (dhammasaññâ, conscience) kecuali kalau terlahirkan sebagai calon Buddha (bodhisatta) yang sedang memupuk kesempurnaan. Bodhisatta tidak akan terlahirkan sebagai binatang yang lebih kecil dari burung puyuh [semut misalnya] atau lebih besar dari gajah [dinosaurus misalnya].

Sebenarnya, Kamma yang mewujudkan dirinya dalam bentuk seorang manusia bisa juga mewujudkan dirinya dalam bentuk seekor binatang, demikian juga sebaliknya, sebagaimana halnya arus listrik yang dapat mewujudkan dirinya dalam bentuk : sinar, panas, dan gerakan secara berturutan; dalam hal ini, yang satu tidak perlu merupakan perkembangan lebih lanjut dari yang lainnya.

Sebagai contohnya, seorang manusia yang dalam masa hidupnya mengalami masa-masa dimana ia bertingkah laku bagaikan hewan, tidak mempunyai kebajikan, kesadaran / kecerdasan moral, hanya mengumbar hawa nafsu sexual dan nafsu-nafsu biadabnya, maka sesungguhnya ia tak ubahnya sebagai “binatang”, meski wujudnya saat itu adalah manusia. Kemudian karena kamma buruknya ia selama hidup memperoleh makanan dari mencuri, mengais-ngais ditempat sampah, saat itupun ia tak ubahnya bagai binatang. Bila kita mempunyai teman, saudara, yang mempunyai cara hidup demikian, sebaiknya kita membimbingnya kearah yang baik dan benar. Sesungguhnya, alam kehidupan itu adalah “kondisi-batin”. Tak perlu menunggu mati baru bisa tahu ia terlahir dimana, hanya dengan melihat kondisi batinnya, ia akan tahu, saat itu ia hidup dialam mana.

Binatang mempunyai banyak jenis yang tak terhitung jumlahnya, namun secara garis besarnya dapat dibedakan menjadi Empat Macam, yakni:

1. Yang tak berkaki seperti ular, ikan, cacing dan lain-lain (apada),

2. Yang berkaki dua seperti ayam, bebek, burung dan lain-lain (dvipada),

3. Yang berkaki empat seperti gajah, kuda, kerbau dan lain-lain (catuppada),

4. Yang berkaki banyak seperti kelabang, udang, kepiting dan lain-lain (bahuppada).

Dalam pandangan agama “Ketuhanan”, semua binatang akan musnah setelah kematian. Binatang dianggap tidak mempunyai roh. Binatang hanya diakui memiliki naluri (instinct), tanpa akal budi. Karena itu, mereka tidak perlu mempertanggung-jawabkan perbuatan mereka. Kebahagiaan maupun penderitaan yang dialami bukan ditentukan oleh perbuatan mereka baik dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan kehidupan yang lampau; melainkan merupakan wewenang serta kehendak Tuhan. Binatang diciptakan semata-mata untuk kepentingan umat manusia yang lebih luhur. Tidak ada surga maupun neraka bagi binatang.

c). Peta-yoni ( pa+ita ).

Secara harafiah, artinya adalah makhluk-makhluk yang telah meninggal, atau makhluk-makhluk yang sama sekali tanpa kebahagiaan. Mereka bukan arwah atau setan yang tidak berwujud. Mereka memiliki bentuk tubuh yang cacat yang besarnya bermacam-macam, pada umumnya tidak terlihat dengan mata telanjang. Mereka tidak memiliki alam sendiri, tetapi tinggal di hutan-hutan, lingkungan yang kotor, didalam rumah-rumah kosong, dan lain-lain.

Alam Setan ‘Peta‘ terbentuk atas dua kosakata, yaitu ‘pa‘ yang berarti ‘ke depan, menyeluruh’, dan ‘ita‘ yang berarti ‘telah pergi, telah meninggal’. Berbeda dengan makhluk yang berada di alam neraka yang menderita karena tersiksa, peta atau setan hidup sengsara karena kelaparan, kehausan dan kekurangan. Kejahatan yang membuat suatu makhluk terlahirkan sebagai setan ialah pencurian, dan karma-karma buruk lainnya. Seperti binatang, setan tidak mempunyai alam khusus milik mereka sendiri. Mereka berada di dunia ini dan bertinggal di tempat-tempat seperti hutan, gunung, tebing, lautan, kuburan, dan sebagainya. Beberapa jenis setan mempunyai kemampuan untuk menyalin rupa dalam wujud seperti dewa, manusia, pertapa, binatang, atau hanya menampakkan diri secara samar-samar seperti bayang-bayang gelap dan lain-lain.

Setan terbagi menjadi empat jenis, yakni:

1. Yang hidup bergantung pada makanan pemberian orang lain dengan cara penyaluran jasa dan sebagainya (paradattupajîvika),

2. Yang senantiasa kelaparan, kehausan dan kekurangan (khuppîpâsika),

3. Yang senantiasa terberangus (nijjhâmataóhika),

4. Yang tergolong sebagai iblis atau makhluk yang suram (kâlakañcika).

Jenis yang pertama itu dapat menerima pelimpahan jasa karena mereka bertempat tinggal di sekitar atau di dekat manusia, sehingga dapat mengetahui pemberian ini dan beranumodanâ [menyatakan kebahagiaan atas kebajikan yang diperbuat oleh makhluk lain]. Apabila mereka tidak tahu kalau ada pelimpahan jasa dan tidak beranumodanâ, pelimpahan jasa ini tidak dapat diterima. Orang yang pada saat-saat menjelang kematian mempunyai kemelekatan yang amat kuat pada kekayaan, harta benda, sanak-keluarga, dan sebagainya niscaya akan terlahirkan di alam setan ini.

Dalam Vinaya dan Lakkhaóa-samyutta, disebutkan adanya 21 macam setan, yaitu:

1. Yang hanya bertulang tanpa daging (aööhisaõkha-sika),

2. Yang hanya berdaging tanpa tulang (maõsapesika),

3. Yang berdaging benjol (maõsapióòa),

4. Yang tak berkulit (nicchavirisa),

5. Yang berbulu seperti pisau (asiloma),

6. Yang berbulu seperti tombak (sat-tiloma),

7. Yang berbulu seperti anak panah (usuloma),

8. Yang berbulu seperti jarum (sûciloma),

9. Yang berbulu seperti jarum jenis kedua (duti-yasûciloma),

10. Yang berpelir besar (kumbhaóòa),

11. Yang terbenam dalam tahi (gûthakûpanimugga),

12. Yang makan tahi (gûthakhâdaka),

13. Yang berjenis betina tanpa kulit (nicchavitaka),

14. Yang berbau busuk (duggandha),

15. Yang bertubuh bara api (ogilinî),

16. Yang tak berkepala (asîsa),

17. Yang berperawakan seperti bhikkhu,

18. Yang berperawakan seperti bhikkhunî,

19. Yang berperawakan seperti calon bhikkhunî (sikkhamâna),

20. Yang berperawakan seperti sâmanera,

21. Yang berperawakan seperti sâmanerî.

Sementara itu, Kitab Lokapaññatti serta Chagatidîpanî menyebutkan adanya 12 macam setan, yaitu:

1. Yang makan ludah, dahak dan muntahan (vantâsikâ),

2. Yang makan mayat manusia atau binatang (kuópâsa),

3. Yang makan tahi (gûthakhâdaka),

4. Yang berlidah api (ag-gijâlamukha),

5. Yang bermulut sekecil lubang jarum (sûcimukha),

6. Yang terdorong keinginan tiada habis (taóhaööita),

7. Yang bertubuh hitam pekat (sunijjhâmaka),

8. Yang berkuku panjang dan runcing (satthaõga),

9. Yang bertubuh sangat besar (pabbataõga),

10. Yang bertubuh seperti ular piton (ajagaraõga),

11. Yang menderita di siang hari tetapi menikmati kesenangan surgawi di malam hari (vemânika),

12. Yang memiliki kesaktian (mahiddhika).

d).Asura-yoni

Ini adalah Alam Iblis ‘Asurakâya‘.‘Asurakâya‘ terbentuk atas tiga kosakata, yaitu ‘a‘ yang merupakan unsur pembalik, ‘sura‘ yang berarti ‘cemerlang, gemilang’, dan ‘kâya‘ yang berarti ‘tubuh’. Namun, yang dimaksud dengan ‘tak cemerlang’ di sini bukanlah tidak adanya cahaya yang memancar dari tubuh, melainkan suatu kehidupan yang merana dan serba kekurangan sehingga membuat batin tidak berceria.

Istilah ‘asura’ juga berasal dari kisah kejatuhan dari Surga Tâvatimsa [terkalahkan oleh Sakka dan pengikutnya] akibat minuman memabukkan (surâ). Asurakaya adalah alam Iblis penentang Dewa. Mereka senantiasa menebarkan “peperangan” terhadap para Dewa. Karena sebelumnya pernah bertinggal di alam kedewaan, asurakâya kadangkala juga disebut sebagai ‘pubbadevâ‘.

Asurakâya atau iblis terbagi menjadi tiga macam, yaitu:

1. Iblis berupa dewa(deva-asurâ)

2. Iblis berupa setan (peti-asurâ),

3. Iblis berupa penghuni neraka (niraya-asurâ).

Deva-asurâ terdiri atas vepacitti, râhu, subali,pahâra, sambaratî, dan vinipâtika. Peti-asurâ terdiri atas kâlakañcika,vemânika, dan âvuddhika. Niraya-asurâ hanya terdiri atas satu jenis, yaitu yang menderita kelaparan dan hidupnya bergelantungan seperti kelelawar.

Demikian penjelasan mengenai alam-alam Dugati / Apayabhumi.

Pikiran terakhirlah yang akan menjadi “Gati-nimitta” ; lambang-tujuan alam kelahiran berikutnya. Para pembunuh, penjahat kemanusiaan / penyebar perang, penyiksa binatang-binatang, orang-orang yang bersifat aniaya, dan “kriminil-kriminil” lain terlahir di alam ini. Panjang atau pendek umurnya di alam niraya tergantung berat ringannya kamma-kamma buruk yang ia lakukan. Semakin berat, semakin lama ia akan “mendekam” di penjara ini.

Pada alam Peta dan Asura, makhluk-makhluknya senantiasa kekeringan, kehausan, kepanasan. Kuntilanak, makhluk2 cebol, setengah manusia setengah hewan, siluman, dan lain-lain sejenisnya, mereka hidup di alam ini.

Makhluk-makhluk alam kesengsaraan ini, baik yang dialam niraya/neraka maupun peta dan asura, paling suka dan akan sangat berterima kasih jika kita melakukan pelimpahan jasa kepadanya, seperti misal : mendoakan, memberi petunjuk jalan hidup yang benar, menentramkan hatinya. Saya, sebelum memulai samadhi, senantiasa melakukan ini, membacakan “paritta” untuk mereka, supaya hatinya tentram, tahu bagaimana memperbaiki diri, menuju kehidupan yang lebih baik dan bahagia.


2. Keadaan bahagia ( Sugati ).

Ada tujuh ( 7 ) tingkatan alam yang merupakan “Keberadaan-Yang-Penuh-Kesenangan”. Dalam terminology Islam, sepertinya , ini adalah yang disebut “langit-sab-tujuh”. Tujuh ( 7 ) Alam Sugati ini terdiri dari :

1. Satu Alam Manusia (manussabhûmi),

Yang menyebabkan suatu makhluk terlahir dialam manusia karena memegang teguh moralitas, yaitu melaksanakan PANCASILA :

1. Tidak membunuh makhluk hidup apapun juga. Tidak menyiksa dan menimbulkan penderitaan makhluk-makhluk apapun juga.

2. Tidak mencuri, tidak mengambil barang yang tidak diberikan.

3. Tidak berbuat sex yang menyimpang ( asusila ), menyetubuhi yang bukan haknya.

4. Tidak berbohong, memfitnah, omong kasar, memecah belah dan lain-lain.

5. Tidak meminum minuman keras yang menyebabkan lemahnya kesadaran ( memabukkan ).

2. Enam Alam Dewa (devabhûmi),

Yang menyebabkan suatu makhluk / seseorang terlahir di alam dewa di keenam alam dewa lingkup-keindriaan / Kamadhatu ( Catummaharajika, Tavatimsa, Yama, Tusita, Nimmanarati, Paranimmitavatti ), maka ia harus berlatih dan menjalani hal berikut :

1. Mempunyai “hiri”, yaitu : Rasa malu untuk berbuat jahat.

2. Mempunyai “ottapa”, yaitu : Takut akan akibat perbuatan jahat.

Saat menjadi manusia, maka seseorang harus berlatih / mempraktekkan dhamma dengan baik, maka ia akan terlahir di alam-alam Dewa lingkup-keindrian, ditunjang dengan hiri dan ottapa. Disamping hal-hal itu, dengan berdoa kepada Dewa tertentu, dengan merenungkannya setiap saat, maka seseorang akan terlahir di alam surga tempat dewa tersebut berada. Inilah yang menyebabkan lahirnya agama-agama yang “menyandarkan” diri kepada suatu sosok Dewa atau Maha-Dewa sebagai “Penolong”, atau “Juru-Selamat”nya. Bukan hal yang salah, tetapi hanya tidak akan pernah bisa membebaskan makhluk yang bersandar tersebut dari “samsara”, paling tinggi hanya akan terlahir di alam tempat Dewa tersebut saat ini berada.

Sesungguhnya ada tiga macam deva atau dewa, yaitu :

1. Upattideva: Dewa sebagai makhluk surgawi berdasarkan kelahirannya,

2. Sammutideva: Dewa berdasarkan persepakatan atau perandaian misalnya raja, permaisuri, pangeran dan sebagainya,

3. Visuddhideva: Dewa yang suci terbebas dari segala noda batin yang tidak lain ialah Arahanta.

Dewa yang dimaksud dalam pembahasan ini hanyalah merujuk pada pengertian yang pertama, Upattideva, yakni makhluk surgawi yang mengenyam kenikmatan inderawi. Makhluk surgawi pada hakekatnya adalah TIDAK-KEKAL ( Anicca ), sama dengan makhluk-makhluk lainnya di ke-31 alam kehidupan ini ( kecuali dialam Brahma ke-12, Suddhavasa, alam tempat tinggal para Anagami. Karena dialam ini para Anagami akan menyempurnakan dirinya untuk merealisasi Ke-Buddha-an / Ke-Arahat-an ).

Mereka bisa mati karena salah satu dari empat sebab:

1. Habisnya usia,

2. Habisnya kebajikan,

3. Terlena dalam kenikmatan hingga lupa makan,

4. Murka, cemburu / irihati.

Tuhan yang dipercayai sebagai Pencipta yang Maha Sempurna sendiri dikatakan (tetap) masih memiliki sifat ‘cemburu’, ‘irihati’, ‘murka’ dan sebagainya, pengkisahan karakter sedemikian ini bias anda temukan di kitab-kitab “agama Tuhan”. Sehingga, apa yang diajarkan oleh Sang Buddha bahwa makhluk-makhluk Surga, masih mempunyai sifat : marah/murka, cemburu/iri hati, adalah : BENAR. Menurut ajaran Sang Buddha, alam surga di mana para dewa-dewi bertempat tinggal dalam kurun waktu yang berbatas [tidak kekal, tidak selamanya] terbagi menjadi enam alam, yaitu:

1. Cãtummahãrãjika,

2. Tãvatimsa,

3. Yãma,

4. Tusita,

5. Nimmãnarati,

6. Paranimmitavasavatti

a). Alam Manusia ( Manussabhûmi ).

Alam manusia adalah suatu campuran dari rasa sakit dan kebahagiaan. Ini adalah alam saf pertama dari alam Sugati, tempat kita sekarang ini hidup dan menetap, untuk sementara, sebelum nanti kita mati. Di alam manusia ini, kita mengalami goncangan badai kekanan dan kekiri, yang dikenal dengan “delapan-kondisi-duniawi” ( Atthalokadhamma ), yaitu :

1. Untung ( labha ) dan Rugi ( alabha )

2. Terkenal ( yasa ) dan Tidak Dikenal ( ayasa )

3. Dipuji ( pasamsa ) dan Dicela ( Ninda )

4. Bahagia ( sukha ) dan Menderita ( Dukha )

Manussa’ terbentuk atas dua kosakata, yaitu ‘mano‘ yang berarti ‘pikiran, batin’ dan ‘ussa‘ yang berarti ‘tinggi, luhur, meningkat, berkembang’. Manussa atau manusia adalah suatu makhluk yang berkembang serta kukuh batinnya [mano ussanti etesanti=manussâ], yang tahu serta memahami sebab yang layak [kâranâkaranam manatijânâtîti=manusso], yang tahu serta memahami apa yang bermanfaat dan tak bermanfaat [atthânattam manati jânâtîti=manusso], yang tahu serta memahami apa yang merupakan kebajikan dan kejahatan [kusalâkusalam manati jânâtîti=manusso].

Manusia bertinggal di empat tempat, yaitu

1. Uttarakurudîpa,

2. Pubbavidehadîpa,

3. Aparagoyânadîpa, dan

4. Jambudîpa.

Umat manusia yang berada di Uttarakurudîpa berusia sampai seribu tahun, yang berada di Pubbavidehadîpa berusia sampai tujuh ratus tahun, yang berada di Aparagoyânadîpa berusia sampai lima ratus tahun, sedangkan yang berada di Jambudîpa berusia tidak menentu, tergantung kadar kebajikan serta kesilaan yang dimiliki. Pernah terjadi bahwa umat manusia tidak begitu mengindahkan kebajikan serta kesilaan sehingga usia rata-rata umat manusia menjadi sependek 10 tahun. Pada zaman Buddha Gotama, usia rata-rata umat manusia ialah 100 tahun. Diprakirakan bahwa setiap satu abad, usia manusia memendek selama satu tahun. Karena Buddha Gotama telah mangkat sejak dua puluh lima abad yang lampau, usia rata-rata umat manusia pada saat sekarang ini ialah 75 tahun ( dan ternyata teori itu benar bukan ? Karena, rata-rata umur manusia sekarang ini adalah tujuh-puluh-lima ( 75 ) tahun ).

Seorang Sammâsambuddha tidak akan muncul apabila usia rata-rata manusia lebih pendek dari 100 tahun karena kesempatan bagi kebanyakan orang untuk dapat memahami kebenaran Dhamma terlalu singkat, tetapi juga tidak akan muncul apabila lebih panjang dari 100,000 tahun karena kebanyakan orang akan merasa sulit untuk dapat menembus hakikat ketakkekalan atau kefanaan hidup. Beliau hanya terlahirkan di Jambudîpa, tidak pernah terlahirkan di tiga tempat lainnya apalagi di alam-alam kehidupan selain alam manusia.

Kitab Majjhima Nikâya bagian Mûlapannâsaka memberikan penjelasan secara terinci mengapa manusia mempunyai keadaan yang berbeda. Orang yang dalam kehidupan lampau suka membinasakan atau membunuh makhluk lain niscaya akan terlahirkan sebagai manusia dengan umur pendek; yang suka menganiaya atau menyiksa makhluk lain niscaya akan dihinggapi banyak penyakit; yang suka murkah atau marah niscaya akan berparas buruk; yang suka cemburu atau irihati nis-caya akan tak berwibawa; yang suka berdana atau murah hati niscaya akan memiliki kekayaan melimpah; yang suka bersikap angkuh atau sombong niscaya akan terlahirkan di keluarga yang rendah; yang tak gemar menimba ilmu pengetahuan atau memperdalam pengertian Dhamma niscaya akan terlahirkan dengan sedikit kebijaksanaan.

Demikian pula kebalikannya. Selaras dengan ilmu pengetahuan modern, dalam Aggañña Sutta disebutkan bahwa umat manusia di bumi ini adalah suatu hasil evolusi yang panjang. Manusia bukanlah suatu makhluk yang pada saat pertama kali muncul / lahir di dunia ini sudah berbentuk, berupa atau berwujud sebagaimana yang tertampak pada saat sekarang ini. Dalam wejangan tersebut juga dijelaskan bahwa bumi beserta isinya ini terbentuk dalam suatu proses yang amat panjang, bukan diciptakan secara gaib selama enam hari pada sekitar 6,000 tahun yang lampau sebagaimana yang ditafsirkan dari Alkitab.

Para Bodhisatta ( Calon Buddha ) lebih memilih alam manusia karena alam ini adalah tempat terbaik untuk mengabdi pada dunia dan memenuhi persyaratan ke-Buddhaan. Pada alam manusia ini seseorang benar-benar bisa mengenali sifat / hakekat sejati alam semesta dan alam kehidupan. Pada alam neraka, peta, asura, seorang makhluk hanya mengalami keadaan yang tidak menyenangkan, penderitaan, karena itu iapun tidak sempat mengenal / menembus hakekat, karena ia lebih memikirkan penderitaan demi penderitaan, dan oleh karenanya tidak sempat untuk mencapai alam Kebuddhaan / Nirvana. Pada alam surgawi, hanya ada kesenangan, tidak ada kesedihan / dukkha, sehingga mereka tidak mampu mengenali bahwa hakekat hidup ini adalah dukkha, dan pada alam ini pun para makhluk ( yakni para Dewa ) lebih suka menikmati kesenangan demi kesenangan daripada “nglakoni” untuk mencapai “Yang-Mutlak”. Oleh karenannyalah para Buddha selalu dilahirkan sebagai manusia.

b).Catummaharajika

Ini merupakan alam surga yang paling rendah, saf kedua dari alam sugati, tempat Dewa-dewa Pelindung dari empat sudut cakrawala bertempat tinggal dengan para pengikut mereka.

Alam Câtumahârâjikâ adalah suatu alam surgawi paling rendah yang berada dalam kekuasaan empat raja dewa, yakni:

1. Dhatarattha,

2. Virudhaka,

3. Virûpakkha, dan

4. Kuvera.

Empat raja dewa ini juga dipercayai sebagai pelindung alam manusia, dan karenanya dikenal dengan sebutan ‘Catulokapâla‘. Dalam Kitab Lokîyapakarattha, empat dewa pelindung dunia ini dipanggil sebagai

1. Inda ( Sanskrit : Indra ),

2. Yama,

3. Varuttha dan

4. Kuvera.

Berdasarkan tempat tinggalnya, para dewa-dewi tingkat Câtumahârâjikâ terbagi atas tiga, yaitu:

1. Yang berada di daratan (bhumattha),

2. Yang berada di pohon (rukkha).

Dalam Kitab Ulasan atas Dhammapada dan Buddhavamsa, para dewa-dewi yang hidup di pohon dimasukkan dalam kelompok bhummattha.

3. Yang berada di angkasa (âkâsattha).

Empat raja langit ini serta beberapa dewa lainnya mempunyai ‘istana’ (vimâna) khusus bagi diri mereka masing-masing. Bagi yang tak mempunyai istana secara khusus, maka gunung, sungai, lautan, pohon yang ditinggali itulah istana bagi mereka. Kehidupan di Câtumaharâjikâ berlangsung selama 500 tahun dewa atau kira-kira sembilan juta tahun manusia (Perbandingan usia di alam-alam surga tidaklah sama, tergantung tingkatannya. Satu hari di alam surga tertentu berbanding satu abad di alam manusia, dan ada pula yang lebih lama lagi).

Para dewa-dewi di tingkat Câtumahârâjikâ ada yang cenderung berhati jahat, yaitu:

1. Gandhabbo/Gandhabbî: yang berada di pohon-pohon berbau harum, yang belakangan mungkin dikenali oleh orang-orang Jawa sebagai ‘GANDARUWA’ / ‘GENDERUWA’. Makhluk halus ini sangat melekati tempat tinggalnya. Walaupun pohon tempat tinggalnya ditebang, ia masih tetap mengikuti ke mana pohon itu dipindahkan tidak seperti rukkhadeva lainnya, yang akan mengungsi ke pohon lain yang masih hidup,

2. Kumbhanno/Kumbhannî: penjaga harta pusaka, hutan, dan sebagainya,

3. Nâgo/Nâgî: naga yang memiliki kesaktian, yang mampu menyalin rupa dalam wujud makhluk lain seperti manusia, binatang dan sebagainya,

4. Yakkho/Yakkhinî: raksasa yang gemar menganiaya para penghuni neraka.

Segala macam Dewa / Dewi yang menguasai bumi, seperti Dewa / Dewi Penguasa / Penghuni Laut-Laut tertentu, Penguasa Gunung Tertentu, dan Penguasa Bumi, termasuk hidup di alam Catummaharajika ini.


c).Tavatimsa

Alam Tâvatimsa adalah alam surgawi tingkat kedua. Alam ini sebelumnya / dulunya merupakan tempat tinggal para asurakâya. Ini adalah alam Dewa saf berikutnya, saf ketiga dari alam Sugati. Secara harafiah berarti : tiga puluh tiga. Ini adalah alam surga dari tiga puluh tiga ( 33 ) Dewa dengan dewa Sakka sebagai rajanya. Asal-usul dari nama Tâvatimsatersebut berkaitan dengan sejarah tiga puluh tiga relawan yang tidak mementingkan diri sendiri, yang dipimpin oleh Magha ( nama lain dari Sakka ), karena perbuatan-perbuatan baik mereka berhasil menyingkirkan para asurakâya. , terlahir dialam surgawi iniDi dalam surga inilah Sang Buddha mengajarkan Abhidhamma kepada para Dewa selama tiga ( 3 ) bulan.

Para dewa-dewi di Tâvatimsa terbagi menjadi dua kelompok, yaitu

1. Bhummattha: Sakka beserta 32 dewa pembesar,

2. Âkâsattha: yang bertinggal dalam istana di angkasa.

Surga Tavatimsa ini terletak di atas puncak pegunungan Himalaya, di Gunung Sineru. Maka di tradisi Buddha Mahayana ada sutra-sutra yang isinya menguncarkan pujian terhadap Para Dewa yang tinggal di alam ini. Ibukota Tâvatimsa ialah Masakkasâra. Balai Sudhamma menjadi tempat bagi para dewa-dewi untuk memperbincangkan Kebenaran Dhamma di bawah asuhan Sakka (Beliau berhasil meraih kesucian tingkat Sotâpatti setelah mendengarkan Brahmajâla Sutta). Brahmâ Sanamkumâra kerap menjadi tamu pembabar Dhamma di sini. Buddha Gotama pernah berkunjung ke alam ini, dan bertinggal selama tiga bulan untuk mewejangkan Abhidhamma kepada ibunda-Nya, yang terlahirkan kembali sebagai putra dewa di alam Tusita. Moggallâna Thera juga pernah beberapa kali pergi ke alam ini, dan dari sejumlah penghuninya, beliau memperoleh kesaksian atas perbuatan-perbuatan bajik yang membawa mereka terlahirkan kembali di sini. Kebajikan ini antara lain ialah merawat ayah-ibu, menghormat sesepuh dalam keluarga, berbicara lemah lembut, menghindari penghasutan, mengikis kekikiran, bersifat jujur, menahan marah. Usia rata-rata para dewa-dewi yang terlahirkan di alam Tâvatimsa ialah 1,000 tahun dewa atau kira-kira 36 juta tahun manusia.

d).Yama ( Yâmâbhûmi )

Secara harafiah berarti “Alam para Dewa Yama”. Dewa Yama adalah dewa penghancur rasa sakit. Alam ini adalah saf keempat dari alam Sugati ( berarti alam surga tingkat ketiga ). Alam ini menjadi tempat bagi para dewa-dewi yang terbebas dari segala kesukaran, yang terberkahi dengan kebahagiaan surgawi. Pemegang kekuasaan dalam alam ini ialah Suyâma. Alam ini berada di angkasa. Dalam alam ini dan tingkat yang lebih tinggi, tidak ada dewa-dewi yang tergolong sebagai bhummattha yang bertinggal di daratan. Istana, harta serta tubuh para dewa-dewi di alam ini jauh lebih indah dan halus daripada yang bertinggal di Tâvatimsa. Rentang hidup mereka ialah 2,000 tahun dewa atau kira-kira 142 juta tahun manusia.

e).Tusita ( Tusitabhûmi ).

Secara harafiah berarti, penghuni yang berbahagia, adalah “Alam Kesenangan”. Para Boddhisatta yang telah memenuhi persyaratan-persyaratan Kebuddhaan bertempat tinggal di alam ini sampai saat yang tepat bagi mereka untuk muncul di alam manusia untuk mencapai Kebuddhaan. Tusitabhûmi adalah alam surgawi tingkat keempat. Para dewa-dewi yang hidup di alam ini senantiasa berceria atas keberadaan yang dimiliki. Semua Bodhisatta, sebelum turun ke dunia dan meraih Pencerahan Agung, terlahirkan di alam ini untuk menanti waktu yang tepat bagi kemunculan seorang Buddha. Demikian pula mereka yang akan menjadi orangtua serta Siswa Utama (Aggasâvaka). Sekarang ini, Bodhisatta Metteyya yang akan menjadi Sammâsambuddha setelah ajaran Buddha Gotama punah dari muka bumi ini sedang berada di alam ini. Usia rata-rata di alam ini ialah 4,000 tahun dewa atau kira-kira 567 juta tahun manusia.

Saat ini Bodhisatta Metteya tengah hidup dan bersemayam di alam ini. Alam ini adalah saf kelima dari alam Sugati.


f).Nimmanarati

Secara harafiah berarti “Alam Para Dewa yang Senang dalam Istana yang Diciptakan”. Para dewa di alam ini hidup dengan penuh kesenangan-kesenangan didalam istana yang mereka ciptakan sendiri. Layaknya bangsawan-bangsawan dan para saudagar di alam manusia, mereka hidup “mewah”, berkecukupan, berkelimpahan, mempunyai para pembantu / pelayan / pengikut. Para dewa/dewi di alam ini menikmati kepuasan inderawi sebagaimana yang mereka ciptakan sendiri. Rentang hidup para dewa/dewi di alam ini adalah 8.000 Tahun Surgawi (TS), atau kira-kira 2.304 juta tahun waktu manusia.

Ini adalah alam saf keenam dari alam Sugati.


g).Paranimmitavasavatti

Secara harafiah berarti “Alam Para Dewa yang membuat ciptaan pihak lain bermanfaat untuk tujuan-tujuan mereka sendiri”.  Para dewa/dewi yang hidup di alam ini menikmati kepuasan inderawi dari hasil ciptaan makhluk-makhluk lainnya yang mengerti kesenangan/kesukaan para dewa/dewi ini.Usia rata-rata para dewa/dewi di alam ini adalah 16.000 Tahun Surgawi (TS), atau kira-kira 9.216 juta tahun waktu manusia.

Ini adalah saf-ketujuh / langit ketujuh dari alam Sugati. Merupakan alam Surga / Dewa sekaligus alam Sugati yang tertinggi. Kedua saf tertinggi, Nimmanarati dan Paranimmitavatti inilah, yang  dianggap sebagai tempat berdiamnya “Sang-Pencipta-Semesta” ( terutama menurut versi Islam ( baca QS. Al Hajj supaya jelas ). Namun sejatinya, ini bukanlah alam “Yang-Mutlak”, bukan “Tujuan-Tertinggi” bagi semua makhluk. Sebab, alam ini pun masih tergolong rendah, sebab, diatasnya masih ada alam para Brahma yang hidup di alam RUPADHATU dan ARUPADHATU.

Enam ( 6 ), kecuali yang pertama adalah Alam Para Dewa yang bentuk tubuhnya lebih halus dan lembut dibandingkan dengan bentuk tubuh manusia dan tidak kelihatan dengan mata telanjang. Makhluk-makhluk Dewa ini juga tunduk pada kematian seperti halnya semua makhluk hidup. Alam Dewa ini dalam terminology agama samawi adalah alam-alam surga, tempat para manusia yang beramal-soleh, bajik, kelak akant terlahir, yang digambarkan seorang laki-laki akan mendapatkan hak bidadari-bidadari cantik sebagai istrinya, dan adanya aliran sungai yang dialiri air susu. Kurang lebih memang alam kesenangan ini demikian. Dalam beberapa hal, seperti keadaan jasmani,tempat tinggal, dan makanannya, mereka memang mengungguli manusia. Mereka lahir secara spontan, muncul seperti pemuda dan gadis berusia lima belas atau enam belas tahun.

Enam alam Deva ( Dewa ) ini adalah tempat tinggal sementara yang penuh kebahagiaan dimana para makhluk tampaknya hidup menikmati kesenangan indrianya yang sesungguhnya cepat berlalu.

Alam Sugati ini, seperti halnya alam-alam Dugati, juga terkena hukum alam ; tidak-kekal. Jika ada manusia yang terlahir di alam dewa ini dalam pangkuan seorang dewa / dewi tertentu, maka dia akan menjadi anak dari dewa / dewi tersebut. Para dewa / dewi lahir secara spontan, dengan usia berkisar antara 16 tahun, dan selama mereka hidup di alam surgawi tersebut memiliki rupa yang tampan / cantik.

Jika ada manusia yang terlahir di sebuah istana dewa / dewi tertentu, bukan di pangkuan sesosok dewa / dewi yang berkuasa tersebut, maka ia akan menjadi pelayan Sang Dewa / Dewi.

Para dewa di alam surga memiliki usia kehidupan yang sangat panjang, sehingga terkadang mereka lupa bahwa kehidupan itu tidak kekal. Tetapi meskipun kita sebagai manusia teramat sering mengeluh, meratap dalam menjalani kehidupan di alam manusia ini, sesungguhnya kehidupan manusia ini memiliki kelebihan yang tidak dimiliki para dewa di alam surgawi, dan tumimbal-lahir ke alam manusia, bagi para dewa dianggap sebagai tempat tujuan yang baik. Karena sebab-akibat, atau hukum karma, hampir tidak berlaku diantara para dewa, mereka memiliki hanya sangat sedikit kekuatan, atau bahkan tidak memiliki kekuatan, untuk memutus samsara, roda dumadi, bhavacakka, yang mengikat semua yang harus mati, walaupun ingatan mereka mengenai ajaran-ajaran Dhamma – yang tidak terdengar di alam dewa – tidak punah, seperti halnya dengan semua ciri lain dari kehidupan manusia mereka.


II. RUPALOKA ( Alam Berbentuk ) :

Ini adalah Alam Brahma, dewa tertinggi dari Brahmanisme awal, yang ( hingga kini ) dianggap sebagai “Sang-Pencipta-Alam-Semesta” dan dipuja oleh para Brahmana dengan berbagai kurban dan ritual ( itulah sebabnya, dalam setiap tradisi agama apapun, ada upacara persembahan “kurban” binatang ditujukan bagi “Sang-Pencipta”. Kepercayaan ini ditentang oleh Sang Buddha, karena merupakan suatu kekeliruan ) . Mengenai upacara kurban binatang yang dipersembahkan bagi “sosok” yang dianggap “Yang-Maha-Kuasa” ini, Sang Buddha bersabda :

“ Upacara mengorbankan kuda atau manusia, upacara minuman, upacara kemenangan, upacara melempar pasak,…dst. ; kesemua jenis upacara ini tidaklah sebanding dengan seperenambelas bagian sekalipun dari hati yang diliputi oleh Cinta-Kasih. Bagaikan pancaran rembulan yang mengalahkan cahaya bintang-bintang.”

Alam ini disebut juga Rûpabhûmi , merupakan suatu alam tempat kemunculan ‘rûpâvacaravipâkacitta‘ atau kesadaran akibat yang lazim berkelana dalam alam brahma berbentuk. Dengan perkataan lain, rûpabhûmi adalah suatu alam tempat kelahiran jasmaniah serta batiniah para brahma berbentuk. Yang dimaksud dengan brahma ialah makhluk hidup yang memiliki kebajikan khusus yaitu berhasil mencapai pencerapan Jhâna yang luhur. Jhâna dihasilkan dari pengembangan Samatha Kammatthâna meditasi pemusatan batin pada satu objek demi tercapainya ketenangan.

Alam brahma terdiri atas 16 alam, yakni:

1. Tiga alam bagi peraih Jhâna pertama (pathama),

2. Tiga alam bagi peraih Jhâna kedua (dutiya),

3. Tiga alam bagi peraih Jhâna ketiga (tatiya),

4. Dua alam bagi peraih Jhâna keempat(catuttha),

5. Dan lima alam Suddhâvâsa.

Sang Buddha, dalam rangka meluruskan pandangan kaum Brahmana, menginterpretasikan kembali pengertian mengenai “Brahma-Yang-Agung” ini, dari yang semula dianggap satu-dewa-tunggal “Yang-Maha-Kuasa” menjadi suatu kelompok dewa tinggi yang berdiam di alam berbentuk ( Rupadhatu / Rupaloka ), jauh diatas surga-surga alam sugati ( Kammadhatu ).

Kediaman Brahma ini disebut sebagai “Alam-Brahma”, yang ada banyak dengan berbagai dimensi dan tingkat kekuasaan. Didalam dunia mereka, para Brahma hidup secara berkelompok, dan “Mahabrahma” adalah penguasa para Brahma tersebut, lengkap denga para menteri dan dewan-dewan Brahma.

Seperti halnya semua makhluk hidup, para Brahma itupun tidak kekal, terkena hukum alam, dan juga bertumimbal lahir, meskipun terkadang diantara mereka melupakan hal ini dan menganggap bahwa mereka adalah “Yang-Mutlak”, “Jalan-Keluar-dan-Harapan”.

Para Brahma, dengan Maha Brahma sebagai pemimpinnya, memang memiliki kekuasaan yang besar. Mahabrahma dapat menolong ummatnya yang datang kepadanya, berdoa kepadanya, memohon ridlonya. Namun sesungguhnya, ia bukanlah “Sang-Pencipta”, bukanlah “Yang-Maha-Kuasa”, “Yang-Mutlak”.

Yang membuat Mahabrahma dan para Brahma beranggapan mereka adalah kekal-abadi, “Sang-Pencipta”, “Awal-dan-Akhir”, adalah karena usia mereka yang sangat panjang ( a. Brahma Parisajja / Dewan Brahma berusia 1/3 Asankheyya Kappa ; b. Brahma Purohita / Para Menteri Brahma berusia ½ Asankheyya Kappa ; dan, c). Maha Brahma berusia 1 Asankheyya Kappa. Ingat, 1 Asankeyya Kappa = 20 Antara Kappa, 1 Kappa adalah = 1 siklus daur-hidup alam-semesta ( dari big-bang s/d kiamat, dan menuju awal evolusi alam semesta kembali ) )

Sang Buddha tidak mengajarkan tiadanya “Yang-Mutlak”, karena justru Sang Buddhalah yang pertama kali didunia manusia ini yang menyatakan hal sebagai berikut “

“ O Bhikkhu, ada sesuatu Yang-Tidak-Dilahirkan, Yang-Tidak-Menjelma, Yang-Tidak-Tercipta, Yang-Mutlak. Jika seandainya saja, O, Bhikkhu, tidak ada Yang-Tidak-Dilahirkan, Yang-Tidak-Menjelma, Yang-Tidak-Diciptakan, Yang-Mutlak, maka tidak akan ada jalan keluar untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. … dst” ( Sutta-Pitaka, Udana VII : 3 )

Akan tetapi, yang ditolak dengan tegas oleh Sang-Buddha adalah, bahwa “Yang-Mutlak”, “Yang-Maha-Kuasa”, “Jalan-Keluar-dan-Harapan”, itu adalah : T U H A N / M A H A D E W A , yang oleh ummat Brahmanisme dikenal dengan nama Maha-Brahma. Sebab, para Brahma itu sendiri “berbentuk”, “tercipta”, oleh karenanya, bukan “Yang-Mutlak”. Yang disebut “Yang-Mutlak” ini dalam agama Buddha adalah tidak bisa dikatakan.

Pernyataan Sang Buddha mengenai kesalah-pahaman Maha-Brahma dalam mengidentifikasikan dirinya sebagai “Maha-Pencipta” , “Bapa-Semua-Makhluk”, bisa kita temui dalam Brahmajala-Sutta, yang bunyinya sebagai berikut :

“ Para Bhikkhu, pada suatu masa yang lampau, setelah berlangsungnya suatu masa yang lama sekali, “bumi ini belum ada”. Ketika itu umumnya makhluk-makhluk hidup di alam dewa Abhassara, disitu mereka hidup ditunjang oleh kekuatan pikiran, diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya dan melayang-layang di angkasa, hidup diliputi kemegahan, mereka hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

Demikianlah pada suatu waktu yang lampau, ketika berakhirnya suatu masa yang lama sekali, bumi ini mulai berevolusi dalam proses pembentukan, ketika hal ini terjadi alam Brahma kelihatan dan masih kosong. Ada makhluk dari alam dewa Abhassara yang masa hidupnya atau “pahala karma baiknya” untuk hidup di alam itu telah habis, ia meninggal dari alam Abhassara itu dan terlahir kembali di alam Brahma. Disini, ia hidp ditunjang pula oleh keuatan pikirannya, diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya-cahaya dan melayang-layang di angkasa, hidup diliputi kemegahan, ia hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

Karena terlalu lama ia hidup sendirian disitu, maka dalam dirinya muncullah rasa ketidakpuasan, juga muncul suatu keinginan, “O semoga ada makhluk lain yang datang dan hidup bersama aku disini!”

Pada saat itu ada makhluk lain yang disebabkan oleh masa usianya atau pahala karma baiknya telah habis, mereka meninggal di alam Abhassara dan terlahir kembali di alam Brahma sebagai pengikutnya, tetapi dalam banyak hal sama dengan dia.

Para Bhikkhu, berdasarkan itu, maka makhluk pertama yang terlahir di alam Brahma berpendapat : “Aku Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan Dari Semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu Tempat Bagi Semua Makhluk, Asal Mula Kehidupan, BAPA DARI YANG TELAH ADA DAN YANG AKAN ADA. SEMUA MAKHLUK INI ADALAH CIPTAANKU.”

Mengapa demikian ? Baru saja berpikir, semoga mereka datang, dan berdasarkan pada keinginanku itu maka makhluk-makhluk ini muncul.”

Makhluk-makhluk itu pun berpikir, “ Dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan Dari Semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu Tempat Bagi Semua Makhluk, Asal Mula Kehidupan, BAPA DARI YANG TELAH ADA DAN YANG AKAN ADA. KITA SEMUA ADALAH CIPTAANNYA”.

Mengapa ? Sebab, setahu kita, Dialah yang lebih dahulu berada disini, sedangkan kita muncul sesudah-Nya. “

Para Bhikkhu, dalam hal ini makhluk pertama yang berada disitu memiliki usia yang lebih panjang, lebih mulia, lebih berkuasa daripada makhluk-makhluk yang datang sesudahnya.

Para Bhikkhu, selanjutnya ada beberapa makhluk yang meninggal di alam tersebut dan terlahir kembali di bumi.

Setelah berada di bumi ia meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menjadi petapa. Karena hidup sebagai petapa, maka dengan bersemangat, tekad waspada dan kesungguhan bermeditasi, pikirannya terpusat, batinnya menjadi tenang dan memiliki kemampuan untuk mengingat kembali satu kehidupannya yang lampau, tetapi tidak lebih dari itu. Mereka berkata, “ Dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan Dari Semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu Tempat Bagi Semua Makhluk, Asal Mula Kehidupan, BAPA DARI YANG TELAH ADA DAN YANG AKAN ADA. Dialah yang menciptakan kami, ia tetap kekal selamanya, tetapi kami yang diciptakannya dan datang kesini adalah tidak kekal, berubah dan memiliki usia yang terbatas”.

Namun, para Brahma dan Maha-Brahma ini ,akhirnya, setelah mendapatkan penjelasan / pengajaran dari Sang Buddha, barulah ia memahami bahwa ia bukanlah “Awal-dan-Tujuan-Semua-Makhluk”, bukan “Sangkan-Paraning-Dumadi”. Penjelasan terperinci mengenai hal ini bisa dibaca di Samyutta-Nikaya.

Rupadhatu / Rupaloka ini adalah alam dimana makhluk-makhluk merasa senang karena kebahagiaan Jhana ( Kegembiraan Luar Biasa ), yang dicapai dengan melepaskan nafsu keinginan indria. Jika seseorang ingin terlahir dalam “Rupadhatu” atau “Rupabrahma”, maka ia harus melepaskan keduniawian, mengikis nafsu indria, dan kemudian hidup bertapa untuk mencapai “Jhana” :

1. Petapa yang berhasil mencapai Jhana I dan jika ia pertahankan hingga saat kematiannya ( ketika detik-detik meninggal ia tetap teguh dalam samadhi di Jhana I ), maka ia akan terlahir di alam Brahma tingkat 1, 2, dan 3.

2. Petapa yang berhasil mencapai Jhana II dan jika ia pertahankan hingga saat kematiannya ( ketika detik-detik meninggal ia tetap teguh dalam samadhi di Jhana II ), maka ia akan terlahir di alam Brahma tingkat 4, 5, dan 6.

3. Petapa yang berhasil mencapai Jhana III dan jika ia pertahankan hingga saat kematiannya ( ketika detik-detik meninggal ia tetap teguh dalam samadhi di Jhana III ), maka ia akan terlahir di alam Brahma tingkat 7, 8, dan 9.

4. Petapa yang berhasil mencapai Jhana IV dan jika ia pertahankan hingga saat kematiannya ( ketika detik-detik meninggal ia tetap teguh dalam samadhi di Jhana IV ), maka ia akan terlahir di alam Brahma tingkat 10, 11, dan 12 ( dimana alam Brahma ke-12 ini, dibagi lagi menjadi 5 alam , baca kembali “Rupadhatu” ).

Untuk alam Brahma ke-12, Suddhavasa ( beserta kelima alam turunannya ), yaitu “ Tempat Kediaman Sejati “, adalah alam khusus para Anagami ( Yang Tak Pernah Kembali, baca kembali “Ketuhanan Yang Maha Esa Dalam Buddhisme “ ), makhluk biasa tidak dilahirkan dalam keadaan ini. Sehingga, untuk bisa terlahir dialam ini harus mencapai Jhana keempat dan telah mendapat “magga” sampai anagami. Untuk mencapai Anagami, seseorang harus melenyapkan kelima belenggu sebagai berikut ini :

1. Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa, atau “AKU” yang kekal ( sakkaya-ditthi ).

2. Keragu-raguan yang skeptis pada Buddha, Dhamma, Sangha, dan tentang kehidupan yang lampau dan kehidupan yang akan datang, juga keraguan kepada hukum sebab-akibat ( vicikiccha ).

3. Kemelekatan pada suatu kepercayaan bahwa hanya dengan melaksanakan aturan-aturan dan upacara keagamaan seseorang dapat mencapai kebebasan ( silabbata-paramasa ).

4. Nafsu indriya ( kama-raga ).

5. Dendam dan dengki ( vyapada ).


CIRI-CIRI PARA “BRAHMA”

Para Brahma hidup di alam Rupadhatu. Yang membedakan dengan alam surga dilingkup-keindriaan / Kamadhatu adalah, bahwa dialam Rupadhatu bentuk-bentuk materi yang kasar telah lenyap, yang ada adalah bentuk-bentuk materi yang lebih halus, jauh lebih halus daripada dewa apapun yang terdapat di Kamadhatu.

Penghuni Rupadhatu juga merupakan dewa, hanya, untuk membedakan dengan para dewa Kamadhatu, mereka disebut : Brahma. Waktu hidup / umur para Brahma jauh lebih lama dibanding para dewa Kamadhatu. Di ala mini, nafsu-nafsu indria sudah mereda, termasuk nafsu sexual.

Di alam Rupadhatu ini sudah mulai tidak terdapat perbedaan jenis kelamin. Brahma, yang meskipun disebut sebagai “BAPA” Alam-Semesta, “BAPA” dari semua makhluk, tidaklah tepat jika dinyatakan berjenis kelamin laki-laki, karena dialam Brahma ini, sudah tidak terdapat laki-laki maupun perempuan. Ini sekaligus untuk menjawab kebingungan manusia pada umumnya, “Apakah jenis kelamin Bapa kita di surga ? Apakah Bapa seorang laki-laki, atau perempuan ? “ Jawabannya, “Bukan Laki-laki , bukan pula perempuan “.

Mengapa ummat manusia bisa salah paham sehingga menyebut ada “Bapa” dari segenap alam semesta ini ? Karena Brahma mempunyai usia yang panjang, dimana Maha Brahma tersebut berusia 1 Asankheyya Kappa, dimana 1 A.K tersebut = 20 Antara Kappa, dan 1 Kappa adalah satu siklus dunia, , dan usia Maha Brahma adalah sama dengan 20 kali siklus dunia. Beberapa sarjana menyatakan 1 Asankheyya Kappa ini jika ditulis dalam Aljabar maka sama dengan angka satu ( 1 ) diikuti 140 angka “nol” ( 0 ), atau 10 pangkat 14 ( Coba dituliskan sendiri, hehehehe… ). Jadi 1 A.K. adalah sepanjang 10 pangkat 14 tahun, jauh diatas hitungan “jutaan-trilyun” tahun.

Kemudian, seperti apakah Brahma ini ? Brahma memiliki tubuh yang sangat halus, tidak semua orang bisa bertemu Brahma, bisa meninjau alam Brahma. Hanya para rohaniwan yang telah mahir dalam Jhana-Jhana yang mampu membuktikan keberadaan Brahma ini.

Alam Rupaloka / Rupadhatu / Rupabhumi ini terdiri dari enam belas ( 16 ) alam menurut Jhana atau Kegembiraan Luar Biasa yang terlatih. Mereka adalah :

1. Tiga alam bagi peraih Jhâna pertama (pathama jhana bhumi),

2. Tiga alam bagi peraih Jhâna kedua (dutiya jhana bhumi),

3. Tiga alam bagi peraih Jhâna ketiga (tatiya jhana bhumi),

4. Dua alam bagi peraih Jhâna keempat (catuttha jhana bhumi),

5. Dan lima alam Suddhâvâsa.

a). Alam Jhana Pertama ( Pathama Jhana Bhumi );

1. Pârisajjâ: alam kehidupan bagi Brahma pengikut ( dewan-dewan Brahma ) , yang tidak memiliki kekuasaan khusus, usia mereka sepanjang 1/3 Asankkheyya Kappa.

2. Purohitâ: alam kehidupan bagi brahma penasihat ( para menteri Brahma ), yang berkedudukan tinggi sebagai pemimpin dalam kegiatan-kegiatan, usia mereka mencapai ½ Asankkheyya Kappa.

3. Mahâbrahmâ: alam kehidupan bagi Brahma yang memiliki kebajikan khusus yang besar. Usia mereka mencapai 1 Asankkheyya Kappa.

Yang tertinggi dari tiga pertama ini adalah : Maha Brahma. Maha Brahma ini memiliki muka empat, oleh karenannya masyarakat Tionghoa menyebutnya “Se Mien Fuo”, atau Buddha berwajah Empat, meskipun sesungguhnya Maha Brahma bukanlah seorang Buddha.

Disebut “Maha-Brahma: karena penghuni Alam Maha-Brahma ini melebihi yang lain dalam kebahagiaan, keindahan, dan batas usia karena kebaikan hakiki dari perkembangan batin mereka.

b).Alam Jhana Kedua ( Dutiya Jhana Bhumi );

4. Parittâbhâ: alam kehidupan bagi Brahma yang bercahaya lebih sedikit / kurang bercahaya daripada brahma yang berada di atasnya. Usia mereka mencapai 2 A.K.

5. Appamânabhâ: alam kehidupan bagi Brahma yang bercahaya cemerlang nirbatas ( tanpa batas ). Usia mereka mencapai 4 A.K.

6. Âbhassarâ: alam kehidupan bagi Brahma yang bersinar / bercahaya menyebar luas dari tubuhnya. Usia mereka mencapai 8 Maha Kappa.

c).Alam Jhana Ketiga ( Tatiya Jhana Bhumi ) ;

7. Parittasubhâ: alam kehidupan bagi Brahma yang bercahaya indah tapi lebih sedikit daripada brahma yang berada di atasnya. Usia mereka mencapai 16 Maha Kappa.

8. Appamânasubhâ: alam kehidupan bagi Brahma yang bercahaya indah nirbatas ( tanpa batas ). Usia mereka mencapai 32 Maha Kappa.

9. Subhakinhâ: alam kehidupan bagi Brahma yang bercahaya indah di sekujur tubuhnya, dengan cahaya yang tetap cemerlang tanpa sedetikpun surut. Usia mereka mencapai 64 Maha Kappa.

d).Alam Jhana keempat ( Catuttha Jhana Bhumi ) ;

10).Vehapphala – Alam para Brahma dengan pahala yang besar / sempurna, terbebas dari segala bahaya. Usia makhluk di alam ini mencapai 500 Maha Kappa.

11).Asannasatta – Alam para makhluk tanpa pikiran. Dalam alam ini sama sekali tidak ada unsur batiniah. Kelahiran di alam ini terjadi karena pengembangan perenungan yang memuncak terhadap unsur batiniah yang menjijikkan sehingga makhluk ini tak menginginkannya lagi (saññâvirâgabhâvanâ). Usia makhluk di alam sama dengan alam Vehapphala, yakni mencapai 500 Maha Kappa. Dialam Asannasatta ini makhluk-makhluk dilahirkan tanpa suatu kesadaran.Disini hanya terjadi perubahan jasmaniah secara terus menerus. Pikiran untuk sementara dihentikan ketika kekuatan Jhana berlangsung. Dengan kekuatan meditasi sangat mungkin untuk memisahkan jasmani dan pikiran seperti dalam alam ini. Karena tidak dilengkapi dengan unsur-unsur batiniah, di alam ini sama sekali tidak ada kesempatan untuk mengembangkan kebajikan. Makhluk-makhluk yang terlahirkan secara jasmaniah hanya sekadar menghabiskan akibat perbuatan lampaunya.

12).Suddhavasa – secara harafiah artinya, Tempat Kediaman Sejati. Suddhâvâsabhûmi adalah suatu alam kehidupan bagi mereka yang telah terbebas dari nafsu birahi (kâmarâga), keserakahan, kebencian, ikatan terhadap upacara-upacara keagamaan, dan lain sebagainya, yaitu para Anâgâmî ( Yang Tak Pernah Kembali ) yang berhasil meraih pencerapan Jhâna kelima. Makhluk-makhluk lain yang belum mencapai kesucian tingkat Anâgâmî, meskipun berhasil meraih pencerapan Jhâna kelima, tidak akan terlahirkan di alam ini. Di sinilah para Anâgâmî akan meraih kesucian tingkat Arahatta. Para Bodhisatta tidaklah pernah terlahirkan di alam ini sebab makhluk-makhluk yang terlahirkan di alam ini tidak akan terlahirkan kembali di alam-alam lain yang lebih rendah dari ala mini ( alam Jhana V sub-bagian dari alam Rupaloka ) . Kadangkala, ketika tidak ada Buddha yang muncul dalam kurun waktu yang lama, alam ini kosong melompong tanpa penghuni.

Alam ini lebih lanjut dibagi menjadi lima, yaitu :

i.Aviha – Alam yang dapat bertahan lama.

Para Brahma di alam ini tidak meninggalkan tempat tinggalnya hingga usia hidupnya habis. Para Anagami yang berkemampuan menonjol dalam bidang keyakinan ( saddhindriya ) akan terlahir disini. Usia para Brahma di alam ini mencapai 1.000 Maha Kappa.

ii.Atappa – Alam yang tenteram

Para Brahma di alam ini senantiasa hidup dalam ketentraman / ketenangan yang menyejukkan. Para Anagami yang berkemampuan menonjol dalam bidang semangat ( viriyindriya ) akan terlahir di alam ini. Usia para Brahma di alam ini mencapai 2.000 Maha Kappa.

iii.Sudassa – Alam yang indah

Para Brahma di alam ini memiliki tubuh indah yang sangat menawan hati. Para Anagami yang memiliki “Perhatian Penuh” / “Penyadaran Jeli” ( Satindriya ) akan terlahir di alam ini. Usia para Brahma di alam ini mencapai 4.000 Maha Kappa.

iv.Sudassi – Alam dengan penglihatan tajam

Jika para Brahma di alam Sudassa mempunyai “Perhatian Penuh” / “Penyadaran Jeli”, maka para Brahma di alam Sudassi mempunyai perhatian / penglihatan yang jauh lebih tajam bila dibandingkan dengan para Brahma dialam Sudassi. Para Anagami yang memiliki “Pemusatan Perhatian Sempurna” ( Samadhindriya ) akan terlahir di alam ini. Usia para Brahma di alam ini mencapai 8.000 Maha Kappa.

v.Akanittha – Alam yang Tertinggi.

Para Brahma disini dilengkapi dengan harta surgawi dan kebahagiaan yang tak tertandingi oleh makhluk di alam manapun juga yang berada dibawahnya. Para Anagami yang penuh “Kebijaksanaan” ( Pannindriya ) akan terlahir di alam ini. Usia para Brahma di alam ini mencapai 16.000 Maha Kappa.

Hanya mereka yang telah melatih Jhana atau Kegembiraan yang Luar Biasa ( Baca Lagi topik “Samadhi-Benar” / “Samma-Samadhi” ) yang dapat terlahir di Alam-alam yang lebih tinggi ini. Mereka yang telah mengembangkan Jhana pertama dilahirkan di alam Jhana pertama, yang kedua dan ketiga di alam Jhana kedua, yang keempat dan kelima dialam Jhana ketiga dan alam Jhana keempat.

III. ARUPALOKA / ARUPADHATU ( Alam Brahma Tak Berbentuk )

Adalah alam yang sama sekali tanpa jasmani. Baik dialam Rupaloka maupun Arupaloka tidaklah terdapat perbedaan jenis kelamin. Para makhluk di alam ini hanya terdiri dari batin semata, tanpa suatu landasan materi, karenanya bentuk jasmani / fisik di alam ini sepenuhnya telah lenyap. Banyak yang salah paham, menganggap ini adalah alam Para Buddha. Pandangan ini keliru, karena Arupadhatu ini bukanlah Nirvana, bukan “Yang-Kekal” / “Yang-Mutlak”. Arupadhatu / Arupabhumi adalah suatu alam tempat kelahiran batiniah para Brahma nirbentuk ( tanpa bentuk / rupa ). Meskipun disebut sebagai suatu alam ‘alam’ yang mengacu pada tempat atau bentuk, di sini sesungguhnya sama sekali tidak ada unsure jasmaniah sehalus apa pun dan dalam wujud apa pun. Sebutan ini terpaksa dipakai untuk dapat mengacu pada kemunculan serta keberadaan unsur-unsur batiniah tersebut. Kelahiran di alam brahma nirbentuk ini terjadi karena pengembangan perenungan yang memacak terhadap unsur jasmaniah yang menjijikkan sehingga tak menghasratinya (rûpavirâgabhâvanâ).

Arupaloka dibagi menjadi empat ( 4 ) alam menurut empat ( 4 ) Arupa Jhana, mereka adalah :

1.AkasanancayatanaAlam ruang yang tak terbatas.

Para makhluk di alam ini berdiam di dalam alam yang tidak berbatas, tidak ada sekat-sekat materi yang bisa dibayangkan seperti apapun juga, luas, sangat luas, tanpa batas. Makhluk yang terlahir disini adalah para makhluk suci yang telah berhasil meraih samadhi tingkat pathama-arupahhana yang berobjek pada angkasa yang nirbatas. Usia para makhluk disini mencapai 20.000 Maha Kappa.

2.VinnanancayatanaAlam kesadaran yang tak terbatas.

Para makhluk di alam ini berdiam dalam kesadaran / batin yang tidak terbatas, menembus segala bentuk batasan ruang dan waktu.Yang terlahir disini adalah para makhluk suci yang berhasil meraih samadhi tingkat dutiya-arupajhana yang berobjek pada kesadaran nirbatas. Usia para makhluk disini mencapai 40.000 Maha Kappa.

3.Akincannayatana Alam Kekosongan.

Disini para makhluk berdiam dalam “kekosongan” akan semua hal. Tidak ada “Aku”, tidak ada “Kamu”, jauh lebih halus daripada dua alam Arupadhatu dibawahnya. Makhluk yang terlahir disini adalah makhluk suci yang berhasil meraih samadhi tingkat tatiya-arupajhana yang berobjek pada kehampaan / kekosongan. Usia para makhluk dialam ini mencapai 60.000 Maha Kappa.

4.N’eva Sanna Nasannayatana Alam Tiada Pemahaman maupun Tiadanya Tiada Pemahaman.

Para makhluk di alam ini berdiam dalam batin yang “padam”, tiada pikiran, batin yang tidak bergerak sama sekali. Yang terlahir disini adalah makhluk suci yang berhasil meraih samadhi tingkat catuttha-arupajhana yang berobjek pada “bukan-ingatan-bukan-pula-tanpa-ingatan”. Usia makhluk di alam ini mencapai 84.000 Maha Kappa.

Demikianlah, ke-31 Alam Kehidupan yang terangkum dalam : 1. Kamadhatu, 2. Rupadhatu, dan, 3. Arupadhatu, telah selesai kita bahas.

DIMANAKAH “YANG-MUTLAK, YANG-TIDAK-TERCIPTA” ; “KANG-LANGGENG-TANPA-WANGENAN-TANPA-WEKASAN” BERADA ?

Pertanyaannya, “ Dimanakah letak “Yang-Mutlak, Yang-Tidak-Tercipta, Yang-Tidak-Terbentuk, Yang-Tidak-Terlahir”, “Jalan-Keluar” dari roda samsara itu berada ?” Jawabannya, “ Tidak di ke-31 Alam Kehidupan itu.”

Pada dahulu kala, para Brahmana, dan hingga kini pun ummat manusia umumnya, mengenal “Sangkan-Paraning-Dumadi” adalah sebagai “Brahma”, yaitu “Sang-Pencipta” , “Bapa-Semua-Makhluk-dan-Alam-Semesta”. Namun, pandangan keliru itu diluruskan oleh Sang Buddha. Karena meskipun para Brahma hidup dalam usia yang sangat panjang, bahkan para Brahma diatas Maha Brahma hidup hingga 16.000 Maha Kappa ( 1 Maha Kappa = 4 Asankheyya Kappa, 1 A.K = 20 Antara Kappa ( 1 pangkat 14 tahun ( angka 1 diikuti 140 angka nol ) , 1 Kappa = 1 “world-cycle”, 1 siklus hidup alam semesta ), namun mereka tetaplah : TIDAK-KEKAL. Karena merekapun kelak, ketika karma-karma baiknya yang menyebabkan mereka terlahir di alam tersebut telah habis, mereka akan bertumimbal lahir ke alam-alam lain diantara ke-31 alam kehidupan tersebut. Dan yang tidak-kekal, bukanlah “Yang-Mutlak”, karena “Yang-Mutlak”, adalah “Kekal-Abadi”.

Lalu, apakah “Yang-Mutlak” itu adalah di Arupadhatu ? Juga tidak. Karena, makhluk-makhluk Arupadhatu juga tidak-kekal, mereka kelak juga akan bertumimbal lahir di antara salah satu dari ke-31 alam kehidupan tersebut.

Ilusi mengenai kekekalan dan keabadian alam para Dewa dari alam Kamadhatu, hingga Rupadhatu dan Arupadhatu adalah karena usia mereka yang sangat panjang, terutama mulai Para Brahma dari Rupadhatu hingga Arupadhatu yang bisa melampaui jutaan-tilyun bahkan maha jutaan-trilyun tahun, sedangkan manusia paling lama hanya hidup dalam masa 100 tahun ( Untuk saat ini, akan tetapi, dalam suatu masa dimana moralitas terjaga dengan sangat baik, manusia mampu hidup hingga delapan puluh ribu ( 80.000 ) tahun ) . Karena manusia membandingkan usia mereka yang pendek dengan usia para Dewa apalagi jika dibandingkan dengan para Brahma dari Rupadhatu hingga Arupadhatu, maka manusia keliru menyimpulkan :

“ hidup dialam manusia tidak-kekal , “mung-mampir-ngombe”, tetapi hidup di surga adalah kekal, “Sungguh berbahagia bila kita bisa berada diatas pangkuan BAPA !” .

Sebegitu gelapnya pandangan manusia. Hingga suatu masa lahirlah seorang Samma-Sambuddha, yang mampu menembus semua hakekat, mampu menembus Kebenaran-Sejati, dan menyatakan, bahwa “Yang-Mutlak”, bukanlah di ke-31 alam kehidupan itu. “Yang-Mutlak” ini, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, karena saat semua fenomena telah lenyap, maka tidak ada satu katapun yang dapat mengungkapkannya. Itu adalah : NIRVANA ( Pali : Nibbana ).

Demikian wacana “Triloka” ( dari Kamadhatu, Rupadhatu, hingga Arupadhatu ) telah selesai kita bahas. Semoga memberikan “Pencerahan-Buddhi” bagi semua makhluk yang membacanya.

Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Terbebas, dan Tercerahkan Buddhinya… .

Salam Damai dan Cinta Kasih… .

( MAY ALL BEINGS ATTAIN ENLIGHTENMENT ! )

— RATANA KUMARO  —

Semarang-Barat, Kamis, 18 September 2008

Posted in BUDDHA | 4 Comments »

ALAM SEMESTA (II)

Posted by ratanakumaro pada November 5, 2008

ALAM SEMESTA, KEHIDUPAN,

DAN ALAM KEHIDUPAN ( II ) ;

KEHIDUPAN DAN ALAM KEHIDUPAN

“Agama Masa Depan adalah Agama Kosmik (berkenaan dengan Alam Semesta atau Jagad Raya). Melampaui Tuhan sebagai suatu pribadi serta menghindari Dogma dan Teologi (ilmu ketuhanan). Meliputi yang Alamiah maupun yang Spiritual, Agama yang seharusnya berdasarkan pada Pengertian yang timbul dari Pengalaman akan segala sesuatu yang Alamiah dan Perkembangan Rohani, berupa kesatuan yang penuh arti. Buddhism sesuai dengan Pemaparan ini. Jika ada agama yang sejalan dengan kebutuhan Ilmu Pengetahuan Modern, maka itu adalah Ajaran Buddha.”

( ALBERT EINSTEIN )

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa “

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Agama-agama apapun yang ada sekarang ini menyatakan bahwa Tuhan mereka masing-masinglah yang menciptakan kehidupan. Namun pernyataan demikian belum dapat menjawab pertanyaan bagaimana kehidupan dimulai. Sebab, bila Tuhan adalah makhluk hidup, yang digambarkan sebagai sesosok pribadi Adi-Kuasa ( ini sesungguhnya bertentangan dengan pernyataan ( koreksi/revisi 16/10/2009 ~ pen. ) bahwa “Tuhan” adalah “Tidak-Terpersonifikasikan”,”Yang-Mutlak”, “Yang-Tidak-Tercipta”, “Tan-Kena-Kinaya-Ngapa”, “Kang-Tanpa-Wangenan” ( Jawa ) ). Namun umumnya agama-agama yang ada masih mengkonsepkan “Yang-Mutlak” ( koreksi / revisi 16/10/2009 ~ pen. ) sebagai sosok pribadi Tuhan-Pencipta, yang bisa dicitrakan, terkadang dicitrakan mempunyai rambut warna tertentu, kulit warna tertentu, dan lain-lain, yang hidup “Di-Atas-Sana” ), maka dengan demikian harus sejalan dengan pemahaman bahwa ‘ hidup berasal dari hidup ‘, dan, dalam hal ini, belum dapat diterangkan bagaimana kehidupan Tuhan ( sebagai suatu pribadi ) yang dianggap sebagai “Yang-Mutlak” ( koreksi / revisi 16/10/2009 ) dimulai.


ASAL KEHIDUPAN MENURUT PARA ILMUWAN

Lepas dari legenda-legenda yang disiarkan agama-agama yang telah berkembang, sesungguhnya ada dua teori ilmiah yang mencoba menerangkan bagaimana kehidupan semua makhluk bermula didunia ini.

Teori pertama, adalah “Hipotesa-Haldane-Oparin”, diberi nama demikian sesuai dengan nama dua sarjana yang memperkenalkan hipotesa tersebut, Haldane dan Oparin, yang mengemukakan bahwa bahan organik berasal dari bahan anorganik. Menurut hipotesa kedua ilmuwan tersebut, pada jaman lampau, campuran dari gas anorganik yang sederhana larut dalam laut, kemudian berproses secara kimiawi, biologis, dan fisika, dengan energi matahari membentuk molekul prasejarah yang pertama; molekul ini kemudian merupakan prasyarat bermulanya kehidupan. Hipotesa ini adalah yang paling diterima dalam menerangkan asal kehidupan oleh masyarakat dewasa ini, terutama yang berpandangan ilmiah.

Kemudian, teori kedua adalah teori yang dikemukakan oleh Sir Fred Hoyle dan Prof.Chandra Wickramasinghe yang mengajukan hipotesa yang sangat berbeda. Mereka mengatakan bahwa bentuk kehidupan yang sederhana ber-evolusi di angkasa luar lalu terbawa ke bumi oleh meteor-meteor dan ekor komet yang sedang melintas.

Terlepas dari itu semua, baik dari legenda-legenda yang disiarkan agama-agama, maupun teori para ilmuwan, bagaimanapun juga caranya kehidupan dimulai, pada kenyataannya, para ilmuwan pernah menemukan bukti-bukti berupa fosil berbentuk batang yang menyerupai ganggang dan bakteri primitif kita saat ini, yang telah ada sejak 2,7 milyar tahun yang lalu. Hingga saat ini, hampir semua ilmuwan sependapat bahwa bentuk kehidupan awal berkembang di permukaan laut.

ASAL KEHIDUPAN SEMUA MAKHLUK MENURUT SANG BUDDHA

Sang Buddha Gotama mengajarkan, asal kehidupan tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia. Tapi meskipun demikian, Sang Buddha juga pernah bersabda bagaimana kehidupan berawal di bumi menurut hasil penelaahan yang diperoleh beliau dari “kemampuan-batin-luar-biasa”, yang ternyata senada dengan teori ilmu pengetahuan modern. Beliau menjelaskan, ketika alam-semesta mulai mengembang, alam yang ada barulah alam surga ( alam-dewa ). Berikut adalah Sabda Sang Buddha mengenai kejadian bumi dan manusia :

“Vasetha, terdapat suatu saat, cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini hancur. Dan ketika hal ini terjadi, umumnya makhluk-makhluk terlahir kembali di Abhassara ( alam cahaya ); disana mereka hidup dari ciptaan batin ( mano maya ), diliputi kegiuran, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa, hidup dalam kemegahan.

Mereka hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

Pada waktu itu ( bumi kita ini ) semuanya terdiri dari air, gelap gulita. Tidak ada matahari atau bulan yang nampak, tidak ada bintang-bintang maupun konstelasi-konstelasi yang kelihatan, siang maupun malam belum ada, laki-laki maupun wanita belum ada. Makhluk-makhluk hanya dikenal sebagai makhluk-makhluk saja.

Vasetha, cepat atau lambat setelah masa yang lama sekali bagi makhluk-makhluk tersebut, tanah dengan sarinya muncul keluar dari dalam air. Sama seperti bentuk-bentuk buih ( busa ) di permukaan nasi susu masak yang mendingin, demikianlah munculnya tanah itu.

Tanah itu memiliki warna, bau dan rasa. Sama seperti dadih susu atau mentega murni, demikianlah warna tanah itu; sama seperti madu tawon murni, demikianlah manis tanah itu.

Kemudian Vasetha, diantara makhluk-makhluk yang memiliki sifat serakah ( lolojatiko ) berkata : “O apakah ini ? “, dan mencicipi sari tanah itu dengan jarinya. Dengan mencicipinya, maka ia diliputi oleh sari itu, nafsu keinginan masuk dalam dirinya.

Makhluk-makhluk lainnya mengikuti contoh perbuatannya, mencicipi sari tanah itu, dengan jari-jari…makhluk-makhluk itu mulai makan sari tanah, memecahkan gumpalan-gumpalan sari tanah tersebut dengan tangan mereka.

Dan dengan melakukan hal ini, cahaya tubuh makhlk-makhluk itu lenyap. Dengan lenyapnya cahaya tubuh mereka, maka matahari, bulan, bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi nampak… siang dan malam terjadi.

Demikianlah Vasetha, sejauh itu bumi terbentuk kembali. Vasetha, selanjutnya makhluk-makhluk itu menikmati sari tanah, memakannya, hidup dengannya, dan berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali.

Berdasarkan atas takaran yang mereka makan itu, maka tubuh mereka menjadi padat, dan terwujudlah berbagai macam bentuk tubuh. Sebagian makhluk memiliki bentuk tubuh yang indah dan sebagian makhluk memiliki bentuk tubuh yang buruk.

Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh yang indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh yang buruk…maka sari tanah itupun lenyap…ketiksa sari tanah lenyap…muncullah tumbuhan dari tanah ( bhumipappatiko ).

Cara tumbuhnya seperti cendawan…mereka menikmati, mendapatkan makanan, hidup dengan tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali…( seperti diatas )

Sementara mereka bangga akan keindahan diri mereka, mereka menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan yang muncul dari tanah itupun lenyap.

Selanjutnya tumbuhan menjalar ( badalata ) muncul…warnanya seperti dadih susu atau mentega murni, manisnya seperti madu tawon murni. Mereka menikmati, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan menjalar itu…maka tubuh mereka menjadi lebih padat; dan perbedaan tubuh mereka nampak lebih jelas, sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk.

Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk…

Sementara mereka bangga akan keindahan tubuh mereka sehingga menjadi sombong dan congka, maka tumbuhan menjalar itupun lenyap.

Kemudian Vasetha, ketika tumbuhan menjalar lenyap…muncullah tumbuhan padi ( Sali ) yang masak di alam terbuka, tanpa dedak dan sekam, harum, dengan bulir-bulir yang bersih. Pada sore hari, mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan pada waktu malam, pada keesokan paginya padi itu telah tumbuh dan masak kembali. Bila pada pagi hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan siang, maka pada sore hari padi tersebut telah tumbuh dan masak kembali, demikian terus menerus padi itu muncul.

Vasetha, selanjutnya makhluk-makhluk itu menikmati padi ( masak ) dari alam terbuka, mendapatkan makanan itu dan hidup dengan tumbuhan padi tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali.

Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat, dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas. Bagi wanita nampak jelas kewanitaannya ( itthilinga ) dan bagi laki-laki nampak jelas kelaki-lakiannya ( purisalinga ).

Kemudian wanita sangat memperhatikan tentang keadaan laki-laki, dan laki-lakipun sangat memperhatikan keadaan wanita. Karena mereka saling memperhatikan keadaan diri satu sama lain terlalu banyak, maka timbullah nafsu indria yang membakar tubuh mereka. Dan sebagai akibat adanya nafsu indria tersebut, mereka melakukan hubungan kelamin.

Vasetha, ketika makhluk-makhluk lain melihat mereka melakukan hubungan kelamin…dst…dst… “.

Saat ini, setiap ilmuwan, siapapun juga, ermasuk Albert Einstein sekalipun, tak bisa memungkiri bahwa semua yang dijelaskan Sang Buddha adalah sama dengan temuan ilmiah tentang asal tata surya tersebut.

Para ilmuwan dengan temuan ilmiahnya dan Sang Buddha dengan ajaran-Nya yang dihasilkan dari “kemampuan-batin-luar-biasa” yang telah dikembangkan-Nya, kedua-duanya sepaham, bahwa permukaan bumi pada awalnya tertutup oleh air.

Para ilmuwan modern, dan juga Sang Buddha Gotama, keduanya sependapat bahwa kehidupan pertama mengembang diatas permukaan air, dimana mereka menyerap sari makanan.

Keduanya juga sepakat bahwa bentuk kehidupan pada awal-mulanya adalah “tidak-berjenis-kelamin” ( aseksual ), juga sependapat bahwa bentuk kehidupan berevolusi, dari bentuk yang sederhana ke bentuk kehidupan yang lebih kompleks, dan bahwa proses itu berlangsung dalam waktu yang sangat lama sekali.

Demikian wacana mengenai asal mula kehidupan ini saya paparkan. Semoga bermanfaat bagi “Pencerahan-Buddhi” semua yang membacanya.

( Sumber Pustaka : “Dasar Pandangan Agama Buddha”, Ven.S.Dhammika )

Salam Damai dan Cinta Kasih… .

( MAY ALL BEINGS ATTAIN ENLIGHTENMENT ! )

— RATANA KUMARO  —

Semarang Barat, 04 September 2008

Posted in BUDDHA | 5 Comments »

ALAM SEMESTA (I)

Posted by ratanakumaro pada November 5, 2008

ALAM SEMESTA, KEHIDUPAN,

DAN ALAM KEHIDUPAN ( I ) ;

MEMAHAMI ALAM SEMESTA

“Agama Masa Depan adalah Agama Kosmik (berkenaan dengan Alam Semesta atau Jagad Raya). Melampaui Tuhan sebagai suatu pribadi serta menghindari Dogma dan Teologi (ilmu ketuhanan). Meliputi yang Alamiah maupun yang Spiritual, Agama yang seharusnya berdasarkan pada Pengertian yang timbul dari Pengalaman akan segala sesuatu yang Alamiah dan Perkembangan Rohani, berupa kesatuan yang penuh arti. Buddhism sesuai dengan Pemaparan ini. Jika ada agama yang sejalan dengan kebutuhan Ilmu Pengetahuan Modern, maka itu adalah Ajaran Buddha.”

( ALBERT EINSTEIN )

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa “


Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Saudara-saudara yang terkasih, pada sesi ini saya akan membahas mengenai alam semesta tempat kita hidup ini. Setiap agama yang telah lahir dan diciptakan sendiri oleh manusia serta dijaga, dipelihara dan disebarkan ,mempunyai mitos dan konsep yang mencoba menerangkan asal dan segi-segi alami dari alam semesta.

Suatu agama yang tumbuh di Mesir-Kuno mengajarkan bahwa sesosok Dewa yang bernama “Khnumm” menciptakan alam-semesta beserta isinya ini kemudian membuat manusia dari tanah liat, lalu Dewi Hathor meniupkan hidup pada manusia tanah liat tersebut.

Konsep Mesir-Kuno ini nampaknya serupa dengan konsep dalam agama Islam, mengenai penciptaan alam semesta, yang menyatakan bahwa Allah menciptakan alam semesta dan lalu menciptakan manusia dari tanah liat, kemudian Allah meniupkan “ruh” kehidupan pada mereka.

Kemudian, sebuah agama yang berkembang di Yunani-Kuno mengajarkan konsep bahwa segala sesuatu dibuat oleh Oceanus, air yang pertama.

Yahudi-Kuno serta kaum Kristen memiliki dua legenda penciptaan, keduanya tercatat dalam Alkitab. Legenda penciptaan yang pertama menyatakan, Allah menciptakan alam semesta serta terang dan gelap pada hari pertama, air dan daratan kering pada hari kedua, semua tumbuhan pada hari ketiga, matahari dan bulan serta bintang-bintang pada hari keempat, semua burung dan hewan pada hari kelima, lalu laki-laki dan wanita pertama ( Adam dan Hawa ) pada hari keenam.

Legenda yang kedua menyatakan bahwa Tuhan membuat bumi, lalu laki-laki pertama, lalu tumbuh-tumbuhan dan binatang, lalu terakhir seorang wanita.

Bangsa Cina-Kuno juga mempunyai suatu tradisi kepercayaan, yang mempercayai sesosok Dewa bernama “ P’an Ku “ memahat alam semesta yang sebelumnya “berantakan”. Setelah P’an Ku itu mati, tulangnya kemudian berubah menjadi bukit, dagingnya menjadi tanah, giginya menjadi kandungan logam, dan seterusnya, keseluruhan kejadian itu berjalan selama 18.000 tahun.


UMUR DAN LUAS ALAM SEMESTA MENURUT AGAMA-AGAMA

Setiap agama tersebut mempunyai konsep sendiri-sendiri mengenai umur dan luas alam semesta, yang kebanyakan masih dalam jangkauan pikir/logika manusia.

Alkitab, mengajukan konsep bahwa alam semesta berumur beberapa ribu tahun saja ( terhitung sejak masa penciptaannya ). Al-Quran, sepertinya tidak jauh berbeda dengan konsepsi Alkitab dalam hal usia alam semesta, terlihat mengenai kesamaan pengakuan laki-laki dan perempuan pertama ( Adam & Hawa ), yang jika ditelusur usianya berkisar beberapa ribu tahun yang lalu. Hal-hal lain mengenai alam semesta Al-Quran juga terlihat senada dengan Alkitab.


ALAM SEMESTA MENURUT ILMU PENGETAHUAN DAN PARA ILMUWAN

Setelah melalui perjalanan sejarahnya, sampailah manusia pada peradaban mutakhirnya, yaitu berakhirnya masa kegelapan, berganti jaman “Pencerahan”, jaman dimana Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berkembang. Mitos dan legenda mulai dipertanyakan kebenarannya.

Perkembangan dari Ilmu Fisika modern saat ini telah sampai pada kesimpulan bahwa ALAM SEMESTA TIDAK BERAWAL SECARA SERENTAK. Alam semesta secara berkesinambungan berubah dari suatu keadaan ke keadaan yang lain, terbentuk dan hancur, SUATU PROSES TANPA AWAL DAN AKHIR.

Dengan sendirinya, bila dinyatakan, bahwa bila alam semesta berawal secara serentak, maka diperlukan energi awal yang terjadi dari sesuatu yang tidak ada, dan hal ini jelas bertentangan dengan kaidah ilmu pengetahuan.

ALAM SEMESTA MENURUT SANG BUDDHA

Menurut Sang Buddha Gotama, pengenal segenap alam semesta ( Lokavidu ), alam semesta ini – yang berliau sebut sebagai Samsara – adalah TANPA AWAL. Sang Bhagava Guru, Sang Sugatha, bersabda, “ Tak dapat ditentukan awal dari alam semesta. Titik terjauh dari kehidupan, berpindah dari kelahiran ke kelahiran, terikat oleh ketidak-tahuan dan keinginan, tidaklah dapat diketahui. “

Para ilmuwan dewasa ini meyakini ( setelah melalui riset yang panjang, lama, memakan puluhan tahun ), bahwa alam semesta ini adalah suatu sistem yang “berdenyut”, yang setelah mengembang secara maksimal, lalu menciut dengan segala energi yang ditekan pada suatu bentukan massa; sedemikian besar sehingga menyebabkan ledakan yang dikenal sebagai “ BIG BANG”, yang berakibat pelepasan energi. Pengembangan dan penciutan alam semesta berlangsung dalam kurun waktu milyaran tahun. Sang Buddha telah memaklumi pengembangan dan penciutan alam semesta seperti hasil penelitian ilmiah para ilmuwan, Beliau bersabda, “ Lebih awal atau lebih lambat, ada suatu waktu, sesudah masa waktu yang sangat panjang sekali alam semesta MENCIUT…Tetapi lebih awal atau lebih lambat, sesudah masa yang lama sekali, alam semesta ini MULAI MENGEMBANG LAGI. “

Penemuan tekhnologi, terutama yaitu teleskop konvensional dan teleskop radio yang ditemukan belakangan, telah memungkinkan para ahli astronomi untuk mengetahui tidak saja asal dan sifat alami dari alam semesta, tetapi juga susunannya.

Sekarang ini diketahui, bahwa alam semesta terdiri dari sekian milyar bintang, planet, asteroid, dan komet. Semua benda langit tersebut berkelompok dalam bentuk cakram atau spiral yang disebut galaksi. Planet bumi kita hanya satu titik kecil yang terdapat pada suatu galaksi yang diberi nama Bimasakti ( Inggris : Milky Way ).

Bima Sakti atau Milky Way terdiri atas kurang lebih 100 milyar bintang dengan jarak dari ujung ke ujung 60.000 tahun cahaya. Telah diketahui pula bahwa galaksi-galaksi di alam semesta ini tersusun berkelompok. Kelompok galaksi dimana Bimasakti kita berada terdiri dari dua lusin galaksi; kelompok lain, kelompok Virgo misalnya terdiri dari ribuan galaksi.

Sejalan dengan penemuan para ilmuwan tersebut, yang menyatakan bahwa terdapat tata surya, galaksi, dan kelompok galaksi, yang itupun baru saja diketahui di dunia barat setelah penemuan tekhnolgi canggih, ternyata Sang Buddha Gotama pun telah mengetahui hal yang sama tersebut 2600 tahun yang lalu.

Penganut Sang Buddha Gotama sejak 2600 tahun yang lalu telah menggambarkan galaksi sebagai berbentuk spiral. Istilah galaksi ini didalam bahasa Pali adalah “ CAKKAVALA”, yang berasal dari kata “ CAKKA” yang berarti “ CAKRAM/RODA”.

Sang Buddha Gotama secara sangat jelas dan tepat menggambarkan kelompok-kelompok galaksi, yang oleh para ilmuwan baru ditemukan.
Sistem dunia ini, oleh Sang Buddha disebut sebagai “Loka Dhatu” dan menambahkan perbedaan dalam ukurannya; sistem dunia ribuan-lipat, sistem dunia puluhan-ribu lipat, sistem dunia besar, dan seterusnya, dan seterusnya. Beliau menyebutkan sistem dunia terdiri ( sesuai dengan yang ditemukan oleh para ilmuwan sekarang ) , yakni : M I L Y A R A N , T R I L Y U N A N matahari dan planet . Berikut adalah penggalan Sabda Sang Buddha mengenai hal itu :

“Ananda, apakah kau pernah mendengar tentang seribu Culanika loka dhatu ( tata surya kecil ) ? … Ananda, sejauh matahari dan bulan berrotasi pada garis orbitnya, dan sejauh pancaran sinar matahari dan bulan di angkasa, sejauh itulah luas seribu tata surya.

Didalam seribu tata sruya terdapat seribu matahari, seribu bulan, seribu Sineru, seribu Jambudipa ( Jambudipa = India, Jawadipa = Nusantara / Indonesia ), seribu Aparayojana, seribu Uttarakuru, seribu Pubbavidehana… Inilah,Ananda, yang dinamakan SERIBU TATA SURYA KECIL. ( SAHASSI CULANIKA LOKADHATU ).

Ananda, seribu kali Sahassa Culanika Lokadhatu dinamakan “ DVISAHASSA MAJJHIMANIKA LOKADHATU”. Ananda, seribu kali Dvisahassa Majjhimanika Lokadhatu dinamakan “ TISAHASSI MAHASAHASSI LOKADHATU”.

Ananda, bilamana Sang Tathagata ( sebutan lain bagi Sang Buddha Gotama ) mau, maka ia dapat memperdengarkan suara-Nya sampai terdengar di Tisahassi Mahasahassi Lokadhatu, ataupun melebihinya lagi.”

Sesuai dengan kutipan diatas, didalam sebuah Dvisahassi Majjhimanika lokadhatu terdapat 1.000 X 1.000 = 1.000.000 tata surya. Sedangkan dalam Tisahassi Mahasahassi Lokadhatu terdapat 1.000.000 X 1.000 = 1.000.000.000 tata surya. Alam semesta bukan hanya terbatas pada satu milyar tata surya saja, tetapi masih melampauinya.

Dahulu, dalam waktu yang sangat lama, manusia tidak dapat membayangkan luas alam-semesta baik dalam satuan waktu maupun ruang untuk dapat memahami asal dan luas alam-semesta. Pemikiran saat itu terbatas serta terikat ke pemahaman dunia semata.

Didalam Alkitab misalnya, dipahami bahwa seluruh alam semesta diciptakan dalam enam hari dan bila ditelusur secara kronologis-historis, kejadian penciptaan yang diceritakan itu barulah terjadi beberapa ribu tahun yang lalu. Demikian pula jika kita mengacu Al Quran tidak akan jauh berbeda, karena kisah yang diceritakan juga serupa, termasuk mengenai manusia yang petama kali ada, Adam dan Hawa.

Sekarang ini, para ahli astronomi menghitung bintang dalam satuan ribuan milyar dan mengukur jarak alam semesta dalam satuan tahun cahaya; satu tahun cahaya adalah jarak yang dapat ditempuh oleh cahaya dalam waktu satu tahun. Manusia jaman dulu jelas tidak dapat membayangkan dimensi seperti itu. Akan tetapi, Sang Buddha Gotama adalah pengecualian.

Dengan kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas, Sang Buddha Gotama dapat memahami dari konsep alam semesta yang tak terbatas. Beliau menyebut adanya “ daerah gelap, hitam, kelam, diantara sistem-sistem dunia, sedemikian rupa sehingga cahaya matahari dan bulan sekalipun tak dapat mencapainya… .”

Waktu yang diperlukan untuk terbentuk dan hancurnya suatu sistem dunia sangatlah panjang; diperlukan sangat banyak kappa ( sebagai satuan waktu ) untuk itu. Sewaktu Sang Buddha ditanya tentang panjang kurun waktu satu kappa, Beliau menjawab :

“ Sangat panjang kurun waktu satu kappa. Tak dapat diperhitungkan dengan tahun, abad ataupun ribuan abad.”

“ Bila demikian, Guru, dapatkah dengan menggunakan perumpamaan?”

“Dapat,. Bayangkan bongkahan suatu gunung besar, tanpa retak, tanpa celah, padat, berukuran panjang 1 mil, lebar 1 mil dan tingginya juga 1 mil. Lalu bayangkan setiap seratus tahun ada orang datang menggosoknya dengan sepotong sutra Benares. Maka, akan lebih cepat bukit itu habis tergosok daripada suatu masa kappa berlalu. Pula ketahuilah, lebih dari satu, lebih dari ribuan, lebih dari ratusan ribu kappa, sebenarnya telah berlalu.”

Dari situ terlihat, betapa Sang Buddha menggunakan perumpamaan seperti diuraikan diatas untuk memberi gambaran tentang “ jarak ruang dalam satuan waktu “ ; sama halnya para ahli astronomi saat ini menggambarkan “ jarak-jarak di angkasa luar dengan menggunakan satuan tahun cahaya.”

MEMAHAMI ALAM SEMESTA DAN AWAL PENCIPTAAN TIDAK MENGANTAR PADA PEMBEBASAN

Sang Buddha memebahas tentang asal dan perluasan alam semesta hanya sepintas lalu. Sebab, Beliau tidak menganggap, bahwa pengetahuan tentang asal muasal terciptanya alam semesta, perluasan, hancurnya alam semesta, adalah lebih penting dari masalah mendasar ummat manusia, yakni : p e n d e r i t a a n.

Sang Buddha menganggap bahwa pengetahuan mengenai “Jalan-Pencerahan” untuk membebaskan ummat manusia dari penderitaan dunia adalah jauh lebih penting ketimbang pengetahuan tentang usia alam semesta, asal-usul alam semesta, dan lain-lain.

Mengakhiri penderitaan, dan mencapai kebahagiaan sejati, diatas kesenangan inderawi, kebahagiaan yang diinginkan, membahagiakan, dan abadi, adalah yang terutama. Itu adalah N i r v a n a ( Sanskerta ) / N i b b a n a ( Pali ).

Ketika seseorang mendesak Sang Buddha untuk menjawab pertanyaan tentang luasnya alam semesta, dan penciptaan alam semesta, maka Sang Buddha membuat perumpamaan, “ orang tersebut bagaikan seseorang yang terkena panah beracun, yang memberinya sakit-derita yang hebat, yang akan membawanya ke kematian, namun menolak diobati dan dicabut anak panah yang menancap tersebut, sebelum orang tersebut mengetahui dengan jelas siapakah yang melepaskan anak panah beracun tersebut “. Sang Buddha, kemudian bersabda :

“ Menjalani hidup yang suci tak dikatakan tergantung apakah alam semesta ini berbatas atau tidak, atau keduanya, atau tidak keduanya. Sebab apakah alam semesta ini, berbatas atau tidak, tetaplah ada kelahiran, tetap ada usia lanjut, tetap ada kematian, kesedihan, penyesalan, penderitaan, keperihan dan keputus-asaan; dan untuk mengatasi semua itulah semua yang Saya ajarkan. “

Jadi, dengan hanya berbekal pengetahuan tentang bagaimana alam semesta ini terjadi, kita tidak akan dapat mengatasi penderitaan, juga tidak akan dapat mengembangkan kemurahan hati, kebajikan dan cinta kasih. Bagi Sang Buddha, pertanyaan mengenai hal-hal ini ( mengembangkan kemurahan hati, kebajikan, cinta kasih, dan lain-lain tentang Sang Jalan ), adalah jauh lebih penting daripada “berdiskusi “ tentang asal-mula alam semesta.

Namun, meskipun demikian, ajaran Sang Buddha tentang alam-semesta yang ternyata sangat tepat dan sangat “maju” ( bila dibandingkan dengan kenyataan bahwa ajaran itu diucapkan 2600 tahun yang lalu, dan sekarang ini ilmuwan membuktikan kebenarannya ), membuat kita bertanya, “ Bagaimana mungkin Beliau bisa mengetahui hal itu semua ? “. Bagaimana mungkin seseorang mengetahui tentang berkelompoknya Bima Sakti dan bahwa Bima Sakti itu berbentuk spiral, jauh sebelum penemuan teleskop dan tekhnologi canggih lainnya ? Bagaimana, Dia, yang hidup di zaman lampau demikian menghayati ke-tak-terbatasan ruang dan waktu? “.

Jawaban satu-satunya ialah karena, Beliau, sebagai yang disebut oleh Beliau sendiri, adalah Buddha, yang telah “Tercerahkan-Buddhi-Nya”, yang telah mencapai Pencerahan Sempurna ( Enlightenment ). Batin-Nya demikian sempurna, bebas dari prasangka dan kekhayalan yang biasanya menyelimuti batin seorang manusia bagaikan kabut pekat. Pengetahuan-Nya telah berkembang diluar kemampuan manusia biasa. Sang Buddha menyatakan diri-Nya sebagai “Pengenal Alam-Semesta” ( Lokavidu ), dan pernyataan Beliau memang terbukti, benar adanya.

( Sunber Pustaka : “Dasar Pandangan Agama Buddha”, Ven.S.Dhammika )

Salam Damai dan Cinta Kasih… .

( MAY ALL BEINGS ATTAIN ENLIGHTENMENT ! )

— RATANA KUMARO —

Semarang Barat, 04 September 2008

Posted in BUDDHA | 3 Comments »