RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

Archive for November 4th, 2008

TUMIMBAL LAHIR

Posted by ratanakumaro pada November 4, 2008

TUMIMBAL-LAHIR

( REBIRTH / REINKARNASI )

“Agama Masa Depan adalah Agama Kosmik (berkenaan dengan Alam Semesta atau Jagad Raya). Melampaui Tuhan sebagai suatu pribadi serta menghindari Dogma dan Teologi (ilmu ketuhanan). Meliputi yang Alamiah maupun yang Spiritual, Agama yang seharusnya berdasarkan pada Pengertian yang timbul dari Pengalaman akan segala sesuatu yang Alamiah dan Perkembangan Rohani, berupa kesatuan yang penuh arti. Buddhism sesuai dengan Pemaparan ini. Jika ada agama yang sejalan dengan kebutuhan Ilmu Pengetahuan Modern, maka itu adalah Ajaran Buddha.”

( ALBERT EINSTEIN )

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”


Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

“Where did we come from ? Why are we here ? Where do we go when we died ? “ . Itu adalah sepenggal lirik lagu yang dipopulerkan oleh group band “progressive-rock” terkenal, “Dream-Theatre”, yang berjudul “Regression”.

Sesi ini saya akan menjawab pertanyaan terakhir,”Where do we go when we died?”, meskipun nantinya, untuk dua pertanyaan lainnya, akan secara implicit terjawab melalui wacana Tumimbal-Lahir ini. Pun demikian, nantinya saya tetap akan membahasnya tersendiri.

Ada tiga jawaban untuk pertanyaan tersebut. Pertama, bagi penganut konsep adanya “Maha-Dewa-Penguasa”, mereka akan menjawab, bahwa setelah mati, kita akan menuju dua tempat pilihan ; a). Surga kekal, dan, b). Neraka Kekal Abadi.

Jawaban Kedua, dilontarkan oleh penganut faham materialisme, bahwa setelah hidup sekarang ini berakhir, maka mutlak keberadaannya juga berakhir. Pandangan kaum materialist ini menawarkan kepercayaan akan “kemusnahan-pada-kematian”.

Jawaban ketiga, adalah jawaban yang dikemukakan oleh para realis, penganut hukum-alam, yang telah memahami kasunyatan hidup,kehidupan, dan alam kehidupan. Sesuai dengan kaidah-kaidah alamiahnya, maka setelah seseorang atau suatu makhluk tertentu meninggal, maka ia akan terlahir pada kehidupan yang baru. Proses lahir, berkembang, sakit, menua, mati dan lahir kembali, berkembang, sakit, menua lagi, mati lagi, lalu lahir kembali ini akan terus-menerus berkelanjutan. Berhentinya proses lahir-mati-lahir-mati ini adalah saat seseorang berhasil mencapai suatu keadaan “Yang-Mutlak, Yang-Tidak-Berkondisi, Yang-Tidak-Terlahir, Yang-Kekal”, ialah saat tercapainya kebebasan Nibbana ( Sanskerta : Nirvana ).

Buddha-Dharma menganggap kedua pandangan pertama diatas tidak benar dan tidak lengkap. Pandangan pertama yang diajukan oleh para penganut konsep “Dewa-Maha-Kuasa” ditolak karena sangat tidak masuk-akal, tidak adil dan kejam. Seseorang yang berbuat kejahatan tidak semestinya diceburkan dalam hukuman-kekal-abadi di neraka hanya karena berbuat kejahatan dibumi manusia selama kurang-lebih 70 tahun ( itupun juga tidak mungkin, karena, selama kurang-lebih 70 tahun usia kehidupan seorang manusia, tidak mungkin selamanya ia berbuat jahat ). Seseorang yang berbuat baik tidak semestinya dianugerahi surga-kekal, hanya karena berbuat kebaikan dibumi selama kurang-lebih 70 tahun. Meskipun, seseorang berbuat kejahatan sepanjang hidupnya sekalipun, dari usia 0-tahun ( sejak dalam rahim ibu ) hingga matinya, masa 70-an tahun tersebut, tetap tidak sebanding dengan kekal-abadi selama-lamanya ( dimana kekal-abadi selama-lamanya itu adalah “tak-terhingga ). Konsep para penganut “Dewa-Maha-Segalanya” juga tidak masuk akal, karena “maha-dewa” tersebut yang didengung-dengungkan sebagai “Maha-Pengasih-Lagi-Maha-Penyayang” ternyata kemudian mencampakkan dan menghukum “ciptaannya” kedalam siksaan dan kesakitan selama jangka waktu tak terhingga, dalam “panasnya-api-neraka- j a h a n a m “.

Pandangan pertama dan kedua tersebut diatas juga tidak bisa menjawab banyak pertanyaan-pertanyaan kritis yang berkaitan dengan kehidupan-kematian semua makhluk. Setelah hewan-hewan mati, apa yang terjadi pada mereka ? Bukankah mereka tidak disebutkan tergolong dalam yang masuk surga kekal maupun neraka kekal ? Apakah yang terjadi pada milyaran bayi yang mati ketika masih didalam rahim, atau yang mati segera sesudah terlahir ? Apakah bayi-bayi itu ke surga atau ke neraka ? Jika bayi-bayi itu masuk surga, maka “Dewa-Maha-Kuasa” nyata-nyata bukanlah sosok yang “Maha-Adil”, sebab, bayi itu belum pernah berbuat baik ( bukankah ia berasal dari “ketidak-adaan”, baru “ada” setelah didalam rahim ? Tentunya dengan konsep begini, ia sama sekali belum pernah berbuat baik, belum pernah berkarya ). Jikalaupun bayi itu “berbuat-baik” dengan tidak merepotkan proses persalinan ibunya, tidak “rewel”, itupun tidak sebanding dengan manusia dewasa lainnya yang berpuluh tahun bebuat kebajikan, menyembah “Sang-Dewa”, namun karena kesalahannya sedikit saja, ia diceburkan kedalam neraka-jahanam selama-lamanya, tak-terhingga, tak-terbatas-waktu. Jika bayi-bayi itu dimasukkan kedalam neraka, juga sama tidak adilnya, karena, bayi itu sama-sekali belum pernah berbuat jahat.

Dilain sisi, pandangan kaum materialis juga tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar. Kaum materialis menyatakan, “ Materi adalah yang utama, batin ada setelah materi. Tanpa materi, batin tidak ada. Yang “Ada” adalah Materi / Benda. “ Pembuktian adanya roh-halus / makhluk-halus selain manusia dan para hewan, yang tidak berbadan materi ( unsur tanah, air, api, dan udara ), mematahkan tesis kaum materialis. Kaum materialis juga senantiasa kesulitan menjawab fenomena kompleks yang berkaitan dengan batin manusia. Misal, bagaimana proses kesadaran manusia yang timbul setelah pertemuan dua sel kelamin dan perkembangannya selama 9 bulan dalam rahim. Bagaimana terjadinya fenomena telepati. Bagaimana terjadinya fenomena manusia-manusia yang mampu mengingat kehidupan lampaunya dan mampu membuktikan secara konkrit, materiil, dan ilmiah. Saat ini bahkan Parapsikologi telah diterima sebagai cabang ilmu pengetahuan, dan ini semakin membuat pandangan kaum materialis menjadi usang dan tidak sesuai dengan hukum-alam.

Melampaui penjelasan kaum penganut “Maha-Dewa” dan kaum penganut filsafat materialisme, Buddha-Dharma menawarkan keterangan yang sangat memuaskan tentang dari mana kita datang dan apa yang akan terjadi setelah kita mati.

Proses kelahiran kembali, yang disebut ‘punabbhava’ ( Sankerta : Punarbhava, Bali : Punarbawe ) , secara harfiah berarti ‘menjadi lagi’. Sang Buddha berkata, untuk dapat terlahir kembali, tiga syarat harus dipenuhi:

1. sepasang (calon) orang tua yang subur,

2. Hubungan seksual, dan

3. Adanya gandhabba.

Istilah ‘gandhabba’ berarti datang dari tempat lain’, mengacu pada suatu arus energi batin yang terdiri dari kecenderungan-kecenderungan, kemampuan-kemampuan dan ciri-ciri karakteristik yang meninggalkan badan yang telah mati.

Ketika badan-jasmani mati, ‘batin’ / ‘roh’ bergerak keatas (uddhamgami) dan mengembangkan diri lagi pada sel telur (calon) ibu yang baru saja dibuahi. Janin tersebut kemudian tumbuh, lahir dan berkembang sebagai pribadi baru, dengan diprasyarati, baik oleh karakteristik batin yang terbawa (dari kehidupan lampau) juga oleh lingkungan barunya. Kepribadiannya akan berubah dan bermodifikasi oleh usaha kesadaran, pendidikan, pengaruh orang tua dan lingkungan sosial.

Watak menyukai atau tidak menyukai, bakat kemampuan dan sebagainya, yang dikenal sebagai “sifat bawaan” dari setiap individu sebenarnya adalah terbawa dari kehidupan sebelumnya. Dengan kata lain, watak serta apa yang dialami pada kehidupan kita saat sekarang, pada tingkat-tingkat tertentu adalah hasil (vipaka) dari perbuatan (kamma) kehidupan lampau. Perbuatan-perbuatan kita selama hidup, demikian pula, akan menentukan di alam kehidupan mana kita akan dilahirkan.
Secara sederhana, untuk dapat mengerti bagaimana ‘batin’ ‘berpindah’ dari satu badan ke badan yang lain, maka kita dapat membandingkannya dengan pancaran siaran radio. Gelombang radio, yang jelas memang tidak terdiri atas musik atau ‘ocehan’ penyiar radio, namun adalah energi pada frekwensi-frekwensi yang berbeda, dipancarkan lewat angkasa, tertarik dan ditangkap oleh pesawat penerima/radio yang kemudian disiarkan sebagai musik atau pidato. Dengan cara yang serupa, ‘batin’ meninggalkan badan pada saat kematian, bergerak naik ke angkasa, tertarik dan masuk ke sel telur yang telah dibuahi dan kembali “melakukan-siaran’ sebagai suatu pribadi baru ; tidak tepat sama, tapi tidak mutlak berbeda.

Gelombang radio maupun ‘batin’ / ‘roh’ bukanlah benda tapi suatu proses dinamis ( continuum dynamis ), dengan demikian tidaklah benar bila dikatakan bahwa “jiwa yang tak berubah” ( roh yang kekal ) berpindah ke badan baru sebagai halnya musik dan “ocehan” penyiar radio terlepas berpindah ke pesawat pemancar ke radio. Pula, jelas tidak ada ‘keadaan-antara’ (antarabhava), sebab ‘batin’ langsung berpindah dari satu badan ke yang lainnya, seperti halnya gelombang radio langsung ditangkap segera setelah dipancarkan.

Apakah ada bukti yang mendukung fenomena kelahiran kembali? Selama berabad-abad, telah banyak orang yang menyatakan dapat mengingat kehidupannya yang lalu, sebelum dilahirkan kembali. Catatan tertua justru dari Eropa, Pythagoras (582-500 SM), filsuf dan ahli matematika Yunani, menyatakan dapat mengingat beberapa kehidupannya yang lalu, terutama saat ia berlindung dalam kuil Yunani ketika terjadi perang Troya.

Akhir-akhir ini banyak kasus orang-orang yang dengan jelas dapat mengingat kejadian-kejadian yang dialaminya pada kehidupannya yang lampau, beberapa dari kasus tersebut telah dibuktikan kebenarannya. Bukti-bukti kelahiran kembali yang paling mengesankan adalah berupa hasil riset dari Ian Stevenson, seorang ilmuwan Amerika. Dr. Stevenson, yang adalah profesor di bidang Psikiatri (Ilmu Kedokteran Jiwa) di Universitas Virginia, memulai risetnya ditahun 1958, dan ternyata kemudian disambut dan dikenal dunia internasional. Selama bertahun-tahun, dia melaporkan secara rinci kasus-kasus orang dewasa maupun anak-anak, yang dapat mengingat kehidupan lalunya-semuanya dilatar-belakangi oleh metoda riset ilmiah secara cermat. Rekan ilmuwannya, Dr. Harold Leif, mengomentari riset Ian Stevenson, sebagai berikut: “Hanya salah satu dari dua kemungkinan, dia membuat satu kesalahan besar atau dia akan dikenal sebagai Galileo-nya abad ke XX.”

Mari kita meninjau salah-satu kasus penelitian Dr. Stevenson, seorang anak bernama Ravi Shankar dilahirkan 1951 di kota Kanaiy, India Utara. Ayahnya bernama Ram Gupta; sejak berumur dua tahun si anak berkeras bahwa ayah sebenarnya adalah seorang bankir bernama Jogeshwar. Dia juga mengatakan bahwa pada kehidupan lalunya dia dibunuh dengan digorok tenggorokannya oleh dua orang – Chaturi dan Jamahar. Sebagai bukti, si anak menunjuk tanda lahir di lehernya, yang memang bertanda-lahir seperti bekas luka potong. Penyelidikan kemudian membuktikan, bahwa ternyata setengah mil dari kediaman mereka, ada seorang bernama Jogeshwar yang mempunyai anak laki-laki bernama Munna yang telah dibunuh, persis seperti yang digambarkan oleh Ravi Shankar. Yang berwajib sejauh ini memang sangat mencurigai dua orang sebagai pembunuhnya, seorang binatu bernama Chaturi dan seorang bankir bernama Jamahar, namun mereka dibebaskan karena kurangnya bukti. Munna dibunuh enam bulan sebelum Ravi lahir. Riset Dr. Stevenson terbukti kebenarannya secara sangat rinci. Banyak dari kasus-kasus seperti diatas mempunyai bukti yang sangat kuat, ialah bahwa setelah kematian, seorang akan terlahir kembali dengan ingatan yang jelas pada kejadian yang sangat dramatis pada kehidupan lampaunya. Sebaliknya, sejauh ini, tidak pernah ada bukti-bukti yang dapat mendukung kedua pandangan yang disebutkan sebelumnya diatas.

Terlepas dari bukti-bukti diatas, pembabaran fakta mengenai kelahiran kembali amat menarik karena sangat adil. Menurut pandangan suatu agama tertentu, meskipun seorang berperilaku baik dalam hidupnya, senantiasa menjadi seorang yang saleh ( bertata-susila ), maka dia tetap dapat saja dihukum selamanya di neraka kekal, karena dianggap memeluk agama yang salah, bukan agama yang diwartakan “Tuhan”-nya. Ini jelas sangatlah tidak adil.

Kamma ( Sanskerta : Karma ) dan kelahiran kembali berarti orang baik akan terlahir kembali dalam kehidupan / alam-kehidupan yang baik, tidak peduli apapun agama yang dianutnya. Demikian pula sebaliknya, orang jahat akan tetap mempertanggung-jawabkan perbuatannya, walaupun dia “insaf” dan mengubah agamanya di menit-menit terakhir kehidupannya. Doktrin kelahiran kembali juga memungkinkan setiap orang untuk senantiasa mempunyai kesempatan lagi.

Pandangan agama lain, hanya memberi kesempatan sekali saja. Apa yang dia perbuat dan apa kepercayaannya pada hidupnya yang singkat pada satu kehidupan, menentukan bagaimana dia selamanya secara kekal. Sebaliknya, Sang Buddha, sebagai Yang-Terkemuka yang mewakili pandangan kaum realis, menegaskan bahwa bila kita gagal memurnikan diri kita pada kehidupan ini, kita masih dapat melakukannya pada kehidupan akan datang atau yang berikutnya lagi. Kelahiran kembali juga memungkinkan kita untuk senantiasa menyempurnakan keahlian dan minat kita yang telah kita kembangkan pada kehidupan kini, pada kehidupan akan datang. Sang Buddha, malah mengatakan kita dapat saja bertemu, dengan orang yang kita cintai dan sayangi pada kehidupan mendatang, bila kita mempunyai keterikatan yang kuat dengannya.

Seorang perumah tangga Nakulapita dan isterinya Nakulamata mendatangi Sang Buddha; setelah bersimpuh, Nakulapita berkata: “Guru, sejak isteri saya dibawa ke rumah pada saya, ketika itu saya masih seorang anak perjaka, dia masih seorang anak gadis, saya tidak pernah secara sadar menyakitinya baik rohaniah, apalagi jasmaniah. Guru, kami bertekad untuk saling menyayangi, tidak saja pada kehidupan ini, namun juga pada kehidupan mendatang.”

Nakulamata kemudian berkata: “Guru, sejak saya dibawa kerumah suamiku, ketika itu saya masih seorang anak gadis, dia masih seorang anak perjaka, saya tidak pernah secara sadar menyakitinya baik rohaniah, apalagi jasmaniah. Guru, kami bertekad untuk saling menyayangi, tidak saja pada kehidupan ini, namun juga pada kehidupan mendatang.”

Sang Buddha kemudian bersabda: “Apabila suami dan isteri bertekad untuk saling menyayangi pada kehidupan ini dan pada kehidupan mendatang, dan keduanya sepadan dalam keyakinan, sepadan dalam moral, sepadan dalam kemurahan hati dan sepadan dalam kebijaksanaan, maka mereka akan saling menyayangi dalam kehidupan ini, pula pada kehidupan mendatang.

Dengan demikian, secara jujur beralasan bila dikatakan, pembabaran fakta mengenai kelahiran-kembali jelas-jelas tidak terbantahkan, lebih dapat diterima, lebih adil dan lebih menarik hati dibanding konsep-konsep tentang apa yang terjadi sesudah kematian yang diajukan oleh orang-orang yang mengaku diri sebagai “Utusan-Maha-Dewa”.

Bahkan, secara mengejutkan ajaran kelahiran-kembali (sering juga disebut reinkarnasi, transmigrasi) makin menarik minat masyarakat. Penarikan pendapat umum (Inggeris: gallup polls) di Inggeris, menunjukkan bahwa mereka yang percaya pada adanya kelahiran-kembali meningkat jumlahnya dari 18% pada tahun 1968 menjadi 28% di tahun 1978, persentasi terbesar dari mereka berumur sekitar 25 sampai 35 tahun. Penelitian yang sama di Amerika menunjukkan bahwa 28% dari bangsa Amerika menerima doktrin tersebut. Jumlah para pemikir, filsuf serta ilmuwan yang menerima doktrin kelahiran-kembali meningkat secara sangat mengesankan.

Dua filsuf terkenal memberi argumentasi tentang kelahiran-kembali yang masuk-akal dan etis, mereka adalah J.M.E.M. Taggat dan C.J. Duccuas. Thomas Huxley, ilmuwan yang memperkenalkan Sains pada abad ke XIX ke sistim pendidikan di Inggris, yang pula adalah ilmuwan pertama yang mendukung teori Darwin, percaya bahwa kelahiran kembali adalah doktrin yang benar-benar dapat diterima. Dalam bukunya “Evolution and Ethics and other Essays”, dia menulis: Pada doktrin kelahiran-kembali, baik yang berasal dari pandangan kaum Brahmin ataupun Buddhis, telah siap, semua sarana untuk menyusun pertahanan yang beralasan yang menghubungkan kosmos (alam-semesta) dengan manusia ….. Tapi paham yang adil ini belum lebih diterima dibanding yang lainnya; dan para pemikir yang sembrono secara tak berhati-hati menolaknya serta mencampakkannya sebagai sesuatu yang jelas tak masuk akal. Sama halnya dengan doktrin evolusi, doktrin kelahiran-kembali berakar pada dunia yang nyata; dan mampu mendapatkan dukungan-dukungan seperti argumentasi yang kuat dari persamaan yang dapat memenuhinya.”

Professor Gustaf Stromberg, ahli astronomi Swedia, ahli fisika yang adalah kawan Einstein, juga menyebutkan paham kelahiran-kembali sebagai paham yang sangat memikat hati.

Banyak pendapat yang berbeda, mengenai dapat atau tidaknya jiwa manusia ber-reinkarnasi ke dunia lagi. Pada tahun 1936 suatu kasus yang sangat menarik dilaporkan dan diteliti secara luas oleh mereka yang berwajib di India. Seorang anak gadis (Shanti Devi dari Delhi) secara tepat dapat menggambarkan kehidupan lalunya (di Mattra, lima ratus mil dari Delhi) yang berakhir sekitar setahun sebelum ‘kelahiran-keduanya’. Dia menyebut nama suami dan anaknya serta memberi gambaran mengenai riwayat hidup serta rumahnya yang lalu. Panitia penyelidik membawanya ke rumah keluarganya pada kehidupan sebelumnya, yang ternyata membenarkan segala pernyataannya. Diantara masyarakat India, reinkarnasi adalah dianggap masalah biasa; hal yang mereka anggap luar biasa pada kasus ini adalah sedemikian banyaknya hal yang dapat diingat kembali oleh si gadis ini. Kasus ini dan kasus-kasus yang sama dapat dianggap sebagai bukti tambahan tentang teori kekuatan daya ingat.

Profesor Julian Huxley, ilmuwan terhormat dari Inggeris, bekas Direktur Jendral UNESCO, percaya bahwa paham kelahiran-kembali seirama dengan jalan pikiran ilmu penngetahuan.

Tidak ada kekuatan yang dapat merintangi terlepasnya ‘roh kehidupan kekal’ makhluk pribadi, pada saat kematiannya, dengan berbagai cara; sama seperti pesan-pesan radio yang terlepas dari pesawat pemancar-radio dengan caranya sendiri pula. Tapi, hendaknya dicamkan bahwa pesan-pesan radio hanya akan berwujud kembali sebagai pesan setelah berkontak dengan struktur materi baru – yakni pesawat penerima-radio.

Yang terjadi pada “roh” kita adalah, saat badan mati “roh” kita keluar dari jasad tersebut. Kemudian ….. tak pernah dapat berpikir atau merasakan lagi, bila tidak kembali ‘berwujud’ dengan cara bagaimanapun.

Kepribadian kita sangat didasari oleh jasmani kita, yang dengan sendirinya tidak mungkin hidup dalam makna sebenarnya. Tanpa adanya ‘semacam badan’, kita dapat memikirkan sesuatu “roh” yang terlepas, yang sama keadaannya, pada lelaki dan wanita, seperti pesan-pesan radio pada pesawat pemancar; tapi dalam hal ‘kematian’ semestinya, seperti yang dapat dimaklumi oleh siapa saja, yang terjadi adalah gejolak dalam berbagai bentuk yang mengembara, SAMPAI SUATU SAAT MEREKA DATANG KEMBALI dalam wujud kesadaran yang aktual, setelah berkontak dengan sesuatu yang dapat bekerja sebagai ‘pesawat penerima untuk batin’.

Mereka yang berpikiran praktis dan bersahaja sekalipun seperti Henry Ford, industrialis Amerika, pula dapat menemukan nilai kebenaran dalam paham kelahiran-kembali. Ford tertarik pada masalah kelahiran-kembali, sebab tidak seperti paham agama lain, kelahiran kembali memberi kesempatan untuk mengembangkan diri sendiri. Henry Ford berkata: “ Saya menerima pandangan reinkarnasi sejak saya berumur 26 tahun …. Agama tidak menawarkan apapun dalam satu hal …. Bekerja juga tidak memberi kepuasan yang lengkap. Bekerja adalah hal yang sia-sia, bila kita tidak dapat menerapkan pengalaman yang kita kumpulkan pada satu kehidupan, pada kehidupan berikutnya. Sewaktu saya menemukan paham Reinkarnasi, rasanya seakan saya menemukan suatu rencana alam-semesta. Saya sadar bahwa selalu ada kesempatan untuk melaksanakan ide-ide saya. Waktu bukan lagi suatu yang terbatas. Saya bukan lagi budak dari jarum-jarum jam … Genius adalah suatu pengalaman. Ada pendapat yang menganggap, bahwa itu adalah karunia atau bakat, tapi sebenarnya itu adalah buah dari pengalaman-pengalaman yang panjang dalam beberapa kehidupan. Jiwa-jiwa ada yang lebih matang dari jiwa-jiwa yang lainnya … Dengan mengetahui adanya Reinkarnasi, membawa ketenangan batiniah bagi saya …. Apabila anda merekam percakapan ini, tulislah demikian, bahwa ini memberi ketenangan batiniah. Saya suka berkomunikasi dengan yang lainnya tentang ketenangan yang diberikan oleh pandangan tentang kehidupan yang panjang. “

Dengan demikian ajaran agama Buddha tentang kelahiran-kembali didasari oleh bukti-bukti ilmiah yang mendukungnya. Akan senantiasa masuk-akal dan selalu dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tak dapat dijawab baik oleh pandangan agama-agama lain maupun pandangan materialistik.

Kemudian, apakah atau siapakah yang mempersiapkan kelahiran kembali ? Karmalah yang mempersiapkan kelahiran kembali. Karma lampau mempersiapkan kelahiran sekarang, dan karma sekarang, digabung dengan karma lampau, mempersiapkan kelahiran yang akan datang. Masa sekarang ini adalah keturunan dari masa lampau, dan pada gilirannya menjadi cikal bakal masa yang akan datang.

Dalam keadaan terhipnotis ( hipnoterapi, salah satu terapi yang digunakan oleh para psikiater ), beberapa orang dapat menceritakan pengalaman-pengalaman dari kehidupannya yang lampau. Contoh dari Indonesia adalah Nathalia Sunaidi ( penulis buku “Journey to My Past Life” ), dan di Barat justru banyak psikiater yang menceritakan kisah pasien2nya yang mampu mengingat kehidupan lampaunya.

Gejala-gejala dari kepribadian kedua juga telah dijelaskan sebagai sisa-sisa kepribadian masa lampau atau “ dikuasai semangat yang tidak tampak “.

Betapa seringkah kita bertemu dengan orang yang belum pernah kita jumpai sebelumnya, tetapi secara naluriah terasa sudah tidak asing lagi bagi kita ? Betapa sering kita mengunjungi beberapa tempat dan secara naluri merasa terkesan bahwa kita mengenal lingkungan itu secara baik ?

Di dunia ini ada seorang genius seperti Einstein. Dapatkah mereka mengembangkannya secara tiba-tiba ? Dapatkah kemampuan tersebut sebagai hasil hanya dari satu kehidupan saja ?

Bagaimana kita menerangkan tentang kepribadian seperti Confusius, Lao Tze, Plato, dan Sang Buddha ? Bagaimana kita menerangkan tentang orang-orang jenius seperti Shakespeare, Pascal, Bethoven, dan sebagainya ?

Ilmuwan juga tidak dapat menjelaskan mengapa beberapa kelenjar membesar hanya pada sedikit orang dan tidak pada semua orang. Keturunan saja tidak dapat menjelaskan mengenai anak-anak ajaib, sebab bahkan dalam satu keluarga saja dilahirkan anak-anak yang berbeda baik dari segi fisik dan ( teruatama ) dari segi mental / ”jiwa”.

Jika seseorang percaya pada saat sekarang dan akan datang, tidaklah berat hati kiranya untuk percaya pada masa yang lalu.

Jika ada alasan untuk percaya bahwa kita sudah ada pada masa yang lampau, maka tentu saja tidak ada alasan untuk tidak percaya bahwa kita akan meneruskan keberadaan kita setelah kehidupan yang sekarang berakhir.

Kehidupan lampau yang terdekat adalah tadi, kemarin. Jika kita selalu sadar untuk detik ini saja, kita akan semakin mudah mengingat kehidupan tadi, kemarin, kemarin dulu,dan sebelum kelahiran kita dalam fisik yang sekarang, hingga ribuan tahun, jutaan tahun yang lalu.

Kita dilahirkan dalam keadaan yang ditentukan oleh diri kita sendiri. Jika , meskipun kita sudah berbuat kebaikan, tetapi kita mendapat kehidupan yang kurang beruntung, maka itu adalah akibat karma ( kehendak dan perbuatan ) buruk yang lampau.

Kalau, meskipun kita telah melakukan kejahatan kita tetap jaya, ini juga akibat karma baik yang lampau.

Bagaimanapun juga , perbuatan baik dan buruk sekarang, akan menghasilkan akibat pada kesempatan yang sedini mungkin.

1. RODA KEHIDUPAN ( PATICCASAMUPPADA )

Pada bab ini, saya akan membahas perihal yang cukup rumit, yaitu “proses-tumimbal-lahir”. Proses tumimbal lahir terjadi dari sebab-musabab yang terdiri dari 12 sebab dan akibat yang saling bergantungan, yang dalam bahasa Pali disebut : Paccaya dan Paccayupana. Proses ini disebut sebagai paticcasamuppada / roda kehidupan.

Metoda ini secara sederhana menerangkan sebab-akibat yang terjadi dalam proses tumimbal lahir tersebut sebagai berikut : Karena A timbul B. Karena B timbul C. Jika tak ada A, tak ada B. Jika tak ada B, tak ada C. Dengan kata lain, – karena ini begini, maka ada itu, jika ini tak begini, maka tak ada itu.

Paticcasamuppada merupakan penjelasan tentang proses kelahiran dan kematian semua makhluk, bukan teori filsafat berkenaan dengan evolusi dunia sebagaimana yang dikemukakan oleh Darwin. Ia berhubungan dengan sebab tumimbal lahir dan penderitaan. Dengan memahami Paticcasamuppada ini manusia akan mampu membebaskan diri dari penderitaan hidup, melepaskan diri dari putaran arus “samsara”.

Rantai Pertama : Avijja

Ketidaktahuan ( avijja ) tentang kesunyataan adanya penderitaan, sebab, akhir, dan jalan untuk mengakhiri, merupakan sebab utama yang menggerakkan roda kehidupan semua makhluk. Avijja, adalah ketidaktahuan akan benda sebagai mana adanya, atau diri sendiri ( “Aku” / “Atman” ) sebagai mana adanya. Ketidaktahuan ini merupakan “kegelapan-batin”, bagaikan kabut pekat yang menyelimuti “buddhi” semua makhluk, menghalau pemahaman terhadap semua pengertian benar.

“ Ketidak-tahuan merupakan khayalan yang kuat, tempat kita berkelana begitu lama disini, di kehidupan ini “ , demikian Sabda Sang Buddha.

Saat kita mencapai Pencerahan-Sempurna, ketidaktahuan akan dihancurkan dan berubah menjadi pemahaman benar, semua hubungan sebab akibat pun hancur.

Sang Buddha bersabda,” Mereka yang telah menghancurkan khayalan dan menembus kegelapan yang tebal, tak akan mengembara lagi; sebab akibat tiada lagi pada mereka “.

Ketidaktahuan terhadap yang lampau, yang akan datang, baik masa lampau maupun yang akan datang, baik masa lalu maupun yang akan datang serta Paticcasamuppada juga dipandang sebagai Avijja.

Rantai Kedua : Samkhara

Disebabkan oleh ketidaktahuan timbullah kegiatan yang dipersiapkan ( Samkhara ). Samkhara mempunyai arti beraneka-ragam, harus dimengerti berdasarkan konteksnya. Samkhara berarti kehendak ( cetana ) tidak baik ( akusala ), baik ( kusala ) dan tak tergoyahkan ( anenja ) yang merupakan Kamma penghasil tumimbal lahir. Yang pertama, akusala, mencakup semua kehendak dari 12 bentuk kesadaran yang tidak baik; yang kedua, kusala , mencakup semua kehendak dalam 8 bentuk kesadaran yang indah ( sobhana ) dan 5 macam Rupa-Jhana yang baik; yang ketiga, anenja, mencakup semua kehendak dalam 4 bentuk kesadaran Arupa-Jhana yang baik.

Semua pikiran,ucapan dan perbuatan, baik atau buruk, termasuk dalam samkhara.

Perbuatan baik atau buruk, yang langsung atau tak langsung, berakar pada ketidaktahuan ( avijja ), yang tentunya menghasilkan akibat, cenderung untuk memperpanjang pengembaraan dalam Samsara.

Walaupun begitu, perbuatan baik yang bebas dari ketamakan, kebencian dan khayalan, diperlukan untuk membebaskan diri dari penderitaan kehidupan.

Ketidaktahuan menonjol dalam perbuatan tak baik, ia tertutup oleh perbuatan baik. Oleh karena itu baik perbuatan baik maupun buruk dinilai sebagai akibat ketidaktahuan. Seorang Yang-Tercerahkan-Sempurna, Yang-Tersadar, tidak lagi memiliki tunas-tunas perbuatan baik dan perbuatan buruk, oleh karenanya ia tidak akan terlahir dalam rahim manapun juga, baik alam surga ( alam para dewa ), alam manusia, apalagi alam binatang dan alam setan.

Rantai Ketiga : Patisandhi – Vinnana

Bergantung pada perbuatan yang dipersiapkan pada waktu lampau ( samkhara ) muncul kesadaran penyambung atau tumimbal lahir ( patisandhi vinnana ) dalam kehidupan berikut. Disebut begitu karena ia menghubungkan masa lampau dan saat ini, serta merupakan kesadaran awal yang dialami seseorang pada saat pembentukan.

Janin dalam rahim seorang ibu dibentuk oleh perpaduan antara kesadaran penyambung dengan sperma dan sel telur orang tuanya. Dalam kesadaran itu terpendam semua kesan dari kehidupan sebelumnya, ciri-ciri dan kecenderungan dari aliran kehidupan pribadi yang bersangkutan. Kesadaran tumimbal lahir ini dinilai bersih karena ia bebas dari akar kejahatan; keserakahan, kebencian, dan khayalan/nafsu, maupun dari akar kebaikan.

Rantai Keempat : Nama dan Rupa

Bersamaan dengan timbulnya kesadaran penyambung muncullah batin dan jasmani ( nama-rupa ), atau beberapa orang terpelajar lebih suka menyebutnya sebagai,” organisme untuk memenuhi kebutuhan badaniah.”

Unsur ke-2 dan ke-3 ( samkhara dan vinnana ) menyinggung kehidupan masa lalu dan saat ini. Unsur ke-3 dan ke-4 ( vinnana dan nama-rupa ) sebaliknya berada dalam satu masa.

Perpaduan nama-rupa harus dimengerti sebagai nama ( batin ) saja, rupa ( jasmani ) saja, maupun nama-rupa ( batin dan jasmani ) secara bersamaan. Dalam kasus Alam tak berbentuk ( Arupa ) hanya muncul batin dalam hal Alam tanpa batin ( Asanna ) hanya jasmani saja, dalam hal keindriaan ( kama ) dan alam berbentuk terdapat batin dan jasmani.

Nama menunjukkan tiga ( 3 ) kelompok : perasaan ( vedana ), persepsi ( sanna ) dan keadaan mental ( samkhara ), yang muncul bersamaan dengan kesadaran penyambung.

Rupa menunjukkan tiga ( 3 ) bagian; tubuh ( kaya ), sex ( bhava ), dan tempat kesadaran ( vatthu ), yang juga muncul bersamaan dengan kesadaran penyambung, dan ditentukan oleh kamma masa lampau.

Bagian tubuh terdiri dari empat ( 4 ) unsur, yaitu : 1.unsur padat, tanah ( pathavi ), 2.unsur cair, air ( apo ), 3.unsur panas, api ( tejo ), 4.unsur gerak, udara ( vayo ); dengan enam ( 6 ) hal yang mengikuti ( upada rupa ), yaitu : 5.warna ( vanna ), 6.bau ( gandha ), 7.rasa ( rasa ), 8.pokok yang utama ( oja ), 9.tenaga hidup ( jivitindria ), 10.tubuh ( kaya ).

Sex (terdiri atas 10 bagian) dan dasar kehidupan (yang terdiri atas 10 bagian), juga berturut-turut terdiri dari 9 hal pertama serta sex ( bhava ) dan tempat kesadaran ( vatthu ).

Jadi dari penjelasan itu jelas sex ditentukan oleh kamma masa lampau pada saat terjadi pembuahan.

Kaya, berarti bagian tubuh yang peka ( pasada ).

Sex tidak berkembang pada saat pembentukan, tetapi pada kemampuan terpendam ke arah itu. Bukan jantung maupun otak, yang dianggap sebagai tempat kesadaran, tapi kemampuan tempat itulah yang terpendam, berkembang sejak terjadinya pembuahan.

Rantai Kelima : Salayatana

Pada masa pembentukan janin, enam ( 6 ) dasar indria ( salayatana ) secara bertahap berkembang dengan pesat dari perwujudan batin dan jasmani yang latent. Bintik sangat kecil yang tak berarti, sekarang berkembang menjadi peralatan enam ( 6 ) indria yang kompleks.

Peralatan manusia sangat sederhana pada awalnya tetapi sangat rumit pada akhirnya. Sebaliknya, peralatan biasa, sangat rumit pada awalnya tetapi sangat sederhana pada akhirnya.

Rantai Keenam : Sentuhan ( Phassa )

Sekarang peralatan enam ( 6 ) indria manusia bekerja secara mekanis tanpa sesuatu yang bertindak sebagai penggerak. Ke-6 indria, mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan batin, berturut-turut mempunyai objek dan fungsi sendiri. Enam ( 6 ) objek indria seperti bentuk, suara, bau, rasa enak, yang dapat diraba dan objek mental yang bersentuhan dengan alat indria, masing-masing memberikan 6 macam kesadaran. Perpaduan antara alat indria, objek indria dan hasil kesadaran yaitu sentuhan ( phassa ) yang murni bersifat subjektif, tak bersangkut paut dengan orang tertentu.

Sang Buddha mengatakan, “ Karena mata dan bentuk, timbul kesadaran melihat; sentuhan merupakan perpaduan ketiga hal itu. Karena telinga dan suara, timbul kesadaran mendengar; karena hidung dan bau, timbul kesadaran penciuman; karena lidah dan lezat, timbul kesadaran kelezatan; karena tubuh dan objek yang biasa disentuh, timbul kesadaran sentuhan; karena pikiran dan objek mental, timbul kesadaran pikiran. Perpaduan ketiga hal itu adalah sentuhan. “

Rantai Ketujuh : Perasaan ( Vedana )

Jangan dianggap bahwa hanya dengan bersinggungan timbul sentuhan ( na sangatimatto eva phasso ). Begantung pada sentuhan muncul perasaan ( vedana ). Sesungguhnya, perasaan inilah yang meresapi suatu objek pada saat terjadi sentuhan dengan indria. Perasaan inilah yang mengenyam hasil suatu tindakan menyenangkan atau tak menyenangkan dalam kehidupan ini atau yang lalu. Selain keadaan mental ini tak ada jiwa atau sesuatu yang lain yang merasakan hasil perbuatan.

Perasaan atau/ kesan, merupakan keadaan mental yang menyertai semua bentuk kesadaran. Ada tiga ( 3 ) jenis utama perasaan, yaitu : i.menyenangkan ( somanassa ), ii.tidak menyenangkan ( domanassa ), iii.netral ( adhukkhamasukha ). Ditambah dengan penderitaan jasmani ( dukkha ) dan kebahagiaan jasmani ( sukkha ), semuanya ada lima ( 5 ) macam perasaan. Perasaan netral disebut juga upekkha yang berarti acuh tak acuh atau seimbang.

Harus diketahui, kebahagiaan Nirvana/Nibbana tidak berhubungan dengan perasaan bentuk manapun. Kebahagiaan tertinggi ini merupakan kebahagiaan karena bebas dari penderitaan, bukannya suatu kenikmatan objek menyenangkan yang manapun.

Rantai Kedelapan : Nafsu Keinginan ( tanha )

Bergantung pada perasaan timbul nafsu keinginan ( tanha ), seperti halnya ketidaktahuan, merupakan faktor penting dalam “ Paticcasamuppada “. Cinta, kehausan, kemelekatan merupakan terjemahan dari kata Pali – “tanha” – ini.

Nafsu keinginan dibedakan menjadi tiga ( 3 ), yaitu : i.napsu keinginan akan kesenangan indria ( kamatanha ), ii.napsu keinginan pada kesenangan indria yang berhubungan dengan pandangan keabadian ( bhavatanha ), misalnya menikmati kesenangan dengan memikirkan bahwa mereka abadi, dan napsu keingian pada kesenangan indria yang berhubungan dengan pandangan kekosongan ( vibhavatanha ), misalnya menikmati atau memikirkan bahwa semua akan hancur, berhenti, setelah kematian. Yang terakhir ini adalah sudut pandangan materialis.

Bhavatanha dan vibhavatanha juga diterjemahkan sebagai kemelekatan pada Alam yang Berbentuk ( rupabhava ) dan Alam yang Tak Berbentuk ( Arupabhava ). Biasanya istilah ini juga diterjemahkan sebagai napsu keinginan untuk keberadaan dan tidak keberadaan.

Ada enam ( 6 ) macam napsu keinginan yang berhubungan dengan enam ( 6 ) objek indria seperti bentuk, suara dan sebagainya. Mereka menjadi 12 jika diperlukan sebagai bagian dalam dan luar. Mereka dihitung menjadi 36 jika ditinjau dari sudut masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Jika dikalikan dengan 3 macam napsu yang mendahului, mereka berjumlah 108.

Sangat wajar bagi makhluk duniawi untuk mengembangkan napsu keinginan akan kesenangan indria. Mengatasi keinginan indria sangatlah sulit. Unsur terkuat roda kehidupan ( paticcasamuppada ) adalah ketidaktahuan dan napsu keinginan, dua sebab utama paticcasamuppada. Ketidaktahuan ditunjukkan sebagai sebab masa lalu yang membentuk saat ini, dan napsu keinginan, sebab saat ini yang membentuk masa yang akan datang.

Rantai Kesembilan : Upadana

Bergantung pada napsu keinginan muncul kemelekatan ( upadana ) yaitu napsu keinginan yang terus menerus. Tanha bagaikan dalam gelap mencari benda untuk dicuri. Upadana berhubungan dengan pencurian barang itu. Kemeleketan ditimbulkan oleh napsu keinginan dan kesalahan. Ia menimbulkan gagasan yang salah tentang “ aku “ dan “ milikku “.

Ada empat ( 4 ) macam kemelekatan, yaitu : i.kenikmatan indria,ii.pandangan salah,iii.ketergantungan pada upacara-upacara,iv.teori tentang adanya “jiwa”.

Rantai Kesepuluh : Kammabhava

Bergantung pada kemelekatan timbul bhava, yang secara harafiah berarti “menjadi” ( Inggris : being ).

Bhava, ini merupakan perbuatan baik ataupun buruk yang membentuk Kamma ( kammabhava ) – proses aktif untuk menjadi – dan berbagai alam kehidupan ( upattibhava ) – proses menjadi yang pasif. Perbedaan kecil antara samkhara dan kammabhava yaitu yang pertama menunjukkan masa lalu sedangkan yang kedua menunjukkan kehidupan saat ini. Keduanya menunjukkan kekuatan Kamma, hanya saja kammabhava yang membentuk kelahiran yang akan datang.


Rantai Kesebelas : Jati

Bergantung pada proses menjadi muncul kelahiran ( jati ) dalam kehidupan berikutnya.

Yang dimaksudkan dengan kelahiran adalah munculnya perwujudan batin dan jasmani ( khandhanam patubhavo ).

Rantai Keduabelas : Jaramarana

Usia tua dan kematian ( jaramarana ) merupakan hasil kelahiran yang tidak dapat dielakkan.

Urutan Paticcasamuppada secara terbalik akan memperjelas permasalahan proses tumimbal-lahir ini. Berikut ini adalah jika urutan tersebut dibalik :

“ Usia tua dan kematian hanya dimungkinkan terjadi pada organisme batin-jasmani, yaitu suatu “mesin” dengan 6 indria. Organisme semacam itu harus dilahirkan, oleh karena itu perlu adanya kelahiran.

Kelahiran merupakan akibat yang tak dapat dielakkan dari Kamma atau perbuatan masa lalu, yang dibentuk oleh kemelekatan karena adanya napsu keinginan. Napsu keinginan muncul jika ada perasaan. Perasaan merupakan hasil sentuhan indria dengan objeknya.

Oleh karena itu ia menduga adanya alat indria yang tak mungkin ada jika tidak terdapat batin dan jasmani. Batin berakar dari kesadaran tumimbal lahir, yang dibentuk oleh perbuatan-perbuatan, karena tidak mengetahui segala sesuatu sebagaimana adanya. “

Jadi, rumusan selengkapnya adalah sebagai berikut :

1. Bergantung pada ketidaktahuan ( avijja ) muncul kegiatan yang terbatas ( samkhara ) .

2. Bergantung pada kegiatan yang terbatas ( samkhara ) muncul kesadaran penyambung ( pattisandi-vinnana ) .

3. Bergantung pada kesadaran penyambung ( pattisandi-vinnana ) muncul batin dan jasmani ( nama dan rupa ).

4. Bergantung pada batin dan jasmani ( nama dan rupa ) muncul 6 landasan indria ( salayatana ).

5. Bergantung pada 6 landasan indria ( salayatana ) muncul sentuhan ( Phassa ).

6. Bergantung pada sentuhan ( Phassa ) muncul perasaan ( Vedana ).

7. Bergantung pada perasaan ( vedana ) muncul napsu keinginan ( tanha ).

8. Bergantung pada napsu keinginan ( tanha ) muncul kemelekatan ( Upadana ).

9. Bergantung pada kemelekatan ( Upadana ) muncul perbuatan ( kammabhava ).

10. Bergantung pada perbuatan ( Kammabhava ) muncul kelahiran ( Jati ).

11. Bergantung pada kelahiran ( Jati ) muncullah

12. usia tua, kematian, penderitaan, penyesalan, kegetiran, kesedihan, dan kekecewaan ( Jaramarana ).

Demikianlah keseluruhan kelompok penderitaan ( dukkha ) ini timbul.

Berakhirnya Proses Tumimbal Lahir

Proses sebab dan akibat ini berlangsung terus menerus. Awal pertama proses ini tak bisa ditentukan karena tidaklah mungkin untuk membayangkan suatu saat ketika aliran kehidupan ini tidak diliputi oleh ketidak-tahuan.

Tetapi jika ketidak-tahuan ini diganti dengan kebijaksanaan ( Panna ) dan aliran kehidupan ini memahami Nibbana Dhatu. Kebahagiaan Tertinggi, pada saat itulah proses tumimbal-lahir berakhir.

“ Ketidak-tahuanlah yang menimbulkan lingkaran suram – saat ini disini, saat ini disana – kelahiran dan kematian yang tak terhitung. Tetapi, tak ada apapun yang menanti bagi mereka yang memahami “, demikian sabda Sang Buddha.

Padamnya ketidak-tahuan ( avijja ) secara menyeluruh menyebabkan berhentinya kegiatan yang dibatasi ( samkhara ).

Padamnya kegiatan yang dibatasi ( samkhara ) menyebabkan berhentinya kesadaran penyambung ( patisandhi vinnana ).

Padamnya kesadaran penyambung ( patisandhi vinnana ) menyebabkan berhentinya batin dan jasmani ( nama dan rupa ).

Padamnya batin dan jasmani ( nama dan rupa ) menyebabkan berhentinya 6 landasan indira ( salayatana ).

Padamnya 6 landasan indria ( salayatana ) menyebabkan berhentinya sentuhan ( Phassa ).

Padamnya sentuhan ( Phassa ) menyebabkan berhentinya perasaan ( Vedana ).

Padamnya perasaan ( Vedana ) menyebabkan berhentinya napsu keinginan ( Tanha ).

Padamnya napsu keinginan ( Tanha ) menyebabkan berhentinya kemelekatan ( Upadana ).

Padamnya kemelekatan ( Upadana ) menyebabkan berhentinya perbuatan ( Kammabhava ).

Padamnya perbuatan ( Kammabhava ) menyebabkan berhentinya kelahiran ( Jati ).

Padamnya kelahiran ( Jati ) menyebabkan berhentinya usia tua, kematian, penderitaan, penyesalan, kegetiran, kesedihan, kekecewaan ( Jaramarana ).

Demikianlah hasil padamnya kelompok penderitaan secara keseluruhan. Padamnya penderitaan ini, tidak adanya lagi tunas-tunas kelahiran yang baru, adalah saat-saat terindah, saat tercapainya N I R V A N A ( Pali : Nibbana ).

Penutup

Itulah dua belas ( 12 ) mata rantai roda kehidupan. Dua ( 2 ) yang pertama dari ke-12 mata rantai itu menunjuk masa lalu, delapan ( 8 ) yang ditengah menunjuk saat ini, dan dua ( 2 ) yang terakhir menunjuk masa yang akan datang.

Kegiatan baik dan buruk ( samkhara ) dan Perbuatan ( bhava ) dipandang sebagai K a m m a / K a r m a.

Ketidak-tahuan ( avijja ), napsu keinginan ( tanha ), dan kemelekatan ( upadana ) dipandang sebagai napsu atau kekotoran ( kilesa ).

Kesadaran penyambung ( patisandhi vinnana ), batin dan jasmani ( nama-rupa ), enam ( 6 ) landasan indira ( salayatana ), sentuhan ( phasa ), perasaan ( vedana ), kelahiran ( jati ), usia tua dan kematian ( jara marana ) dipandang sebagai akibat ( vipaka ) atau buah karma/kamma.

Jadi ketidaktahuan ( avijja ), kegiatan ( samkhara ) ,napsu keinginan ( tanha ) ,kemelekatan ( Upadana ) dan Kamma, 5 sebab di masa lampau, membentuk 5 akibat ( phala ) saat ini, yaitu : kesadaran penyambung ( patisandhi vinnana ), batin dan jasmani ( nama dan rupa ),enam ( 6 ) landasan indria ( salayatana ), sentuhan ( phassa ) , dan, perasaan ( vedana ).

Sama halnya nafsu keinginan ( tanha ), kemelekatan,Kamma / Karma ( Kehendak ) ,ketidak-tahuan ( Avijja ) dan kegiatan saat ini menentukan lima ( 5 ) akibat diatas untuk masa yang akan datang.

2. CARA-CARA KELAHIRAN DAN KEMATIAN

2.1. CARA-CARA KEMATIAN SUATU MAKHLUK

Pada sesi sebelumnya ( Tumimbal Lahir ( II ) ), kita telah membahas suatu hukum / metoda yang menerangkan terjadinya proses tumimbal lahir, yang dikenal dengan istilah “ Paticca Samuppada”. Paticca Samuppada atau roda kehidupan yang dibabarkan Sang Buddha menerangkan proses kelahiran dengan istilah teknis yang mendalam dan menyebutkan bahwa kematian disebabkan oleh salah satu dari empat ( 4 ) sebab berikut ini :

1). Energi Kamma penyebab telah habis ( kammakkhya ),

2). Berakhirnya waktu kehidupan ( ayukkhaya ),

3).Kamma penyebab telah habis bersamaan dengan berakhirnya jangka waktu hidup ( ubhayakkhaya ),

4).Bekerjanya berlawanan dari kamma yang lebih kuat yang tidak diduga dan merintangi jalannya kamma penyebab serta sebelum jangka waktu hidup berakhir ( upacchedaka kamma ).

Nomor satu, dua, dan tiga disebut “ kematian yang sudah waktunya “ ( kala-marana ), dan yang keempat dikenal dengan “ kematian yang belum waktunya “ ( akalamarana ).

1. Energi Kamma Penyebab telah Habis ( Kammakkhaya )

Pikiran, kemauan, atau keinginan, yang sangat kuat selama hidup seseorang, muncul paling kuat pada saat kematian dan menjadi sebab kelahiran yang berikutnya. Proses pikiran yang terakhir inilah yang merupakan kemampuan khusus. Sebagaimana kita ketahui, pada kasus orang-orang yang akan meninggal, maka semua memori yang terekam selama rentang perjalanan hidupnya akan muncul, bagaikan sebuah film yang diputar ulang. Pada saat muncul memori itu, akan terdapat suatu kecenderungan pikiran, kemauan atau keinginan yang paling kuat selama hidup seseorang.

Ketika energi kamma penyebab ( janaka kamma ) telah habis, kegiatan organik bentuk materi yang diwujudkan dalam kekuatan hidup, berhenti bahkan sebelum akhir jangka waktu hidup di tempat tertentu. Ini sering terjadi pada makhluk yang dilahirkan dalam keadaan sengsara ( apaya ) tetapi dapat juga makhluk di alam lain ( baik manusia maupun alam surga / para dewa ).

2. Berakhirnya Waktu Kehidupan (Ayukkhaya)

Yang kedua, berakhirnya waktu kehidupan ( ayukkhaya ), yang berbeda di alam-alam yang berlainan. Kematian yang alami, misalnya usia tua, dapat diklasifikasikan dalam golongan ini. Ada berbagai alam kehidupan dengan batas usia yang berlainan pula. Terlepas dari kekuatan kamma yang harus dijalani, makhluk harus mengalah pada kematian bilamana batas usia telah dicapai. Jika kekuatan kamma penyebab sangat kuat, tenaga kamma akan muncul sendiri pada tempat yang sama atau seperti dalam hal para dewa, lahir di alam yang lebih tinggi.

3. Kamma Penyebab Telah Habis Bersamaan dengan Berakhirnya Jangka Waktu Hidup ( Ubhayakkhaya )

Yang ketiga, kamma penyebab telah habis bersamaan dengan berakhirnya jangka waktu hidup ( ubhayakkhaya ). Golongan kematian yang ketiga ini merupakan perpaduan antara jenis pertama dan jenis kedua, yakni dimana energi kamma penyebab ( janaka kamma ) telah habis, kegiatan organik bentuk materi yang diwujudkan dalam kekuatan hidup, berhenti bersamaan dengan saat berakhirnya jangka waktu hidup di tempat tertentu ( alam manusia, surga, neraka, maupun binatang ).

4. Bekerjanya Kamma yang Lebih Kuat yang Merintangi Jalannya Kamma Penyebab Sebelum Jangka Waktu Hidup Berakhir ( Upacchedaka Kamma ).

Yang keempat, bekerjanya berlawanan dari kamma yang lebih kuat yang tidak diduga dan merintangi jalannya kamma penyebab serta sebelum jangka waktu hidup berakhir ( upacchedaka kamma ). Contohnya : kematian tiba-tiba pada orang yang mati pada usia terlalu muda dan kematian dalam masa kanak-kanak .

Suatu kekuatan yang bertentangan dapat mengejar jalannya sebatang anak panah yang terbang dan membawanya kembali jatuh ke tanah. Jadi, suatu kekuatan kamma yang sangat hebat pada masa lalu akan mampu menghapus potensi energi proses pikiran terakhir, dan mungkin menghancurkan kehidupan batin manusia.

Sebuah perumpamaan yang dapat menggambarkan yaitu : Sebuah lentera bisa mati karena keempat sebab berikut; sumbunya habis ( mengilustrasikan kematian suatu makhluk karena sebab jenis pertama ), minyaknya habis ( mengilustrasikan kematian suatu makhluk karena sebab jenis kedua ), sumbu dan minyaknya habis ( mengilustrasikan kematian suatu makhluk karena sebab jenis ketiga ), atau hal-hal lain yang tak ada hubungannya, seperti hembusan angin, hancurnya lentera karena terjadi “ kejadian tak terduga “, misalnya jatuh dan hancur ke tanah karena tersenggol seorang manusia, dan lain-lain ( mengilustrasikan kematian suatu makhluk karena sebab jenis keempat ).

Jadi, kematian disebabkan karena keempat hal tersebut diatas, bukan karena diminta oleh “ Yang Maha Kuasa “.

Begitulah sebab-sebab kematian telah dijelaskan.

2.2. CARA-CARA KELAHIRAN SUATU MAKHLUK

Mengenai kelahiran, ada empat ( 4 ) caranya :

1).Makhluk yang dilahirkan melalui telur ( andaja ),

2).Makhluk yang dilahirkan melalui rahim ( jalabuja ),

3).Makhluk yang dilahirkan melalui uap lembab ( samsedaja ), dan,

4).Makhluk yang kelahirannya secara spontan ( opapatika ).

Burung dan ular yang bertelur termasuk golongan pertama.

Manusia, beberapa dewa yang menghuni bumi, dan beberapa binatang yang lahir dari rahim induknya termasuk golongan kedua.

Embrio, menggunakan uap lembab sebagai media untuk pertumbuhannya, seperti binatang-binatang rendah tertentu, termasuk golongan ketiga.

Makhluk-makhluk yang lahir secara spontan biasanya tidak dapat dilihat oleh mata biasa. Disebabkan oleh kammanya yang terakhir, mereka muncul dengan spontan, tanpa melalui tingkat embrio. Para setan, dewa, dan Brahma, termasuk dalam golongan ini.

2.3. BERLANGSUNGNYA PROSES TUMIMBAL LAHIR

Pada orang yang akan mati, pada saat kritis ini, muncul suatu Karma/Kamma, yang bernama Kamma Nimitta atau Gati Nimitta.

Yang dimaksud dengan Kamma disini adalah perbuatan-perbuatan baik atau buruk selama masa hidupnya atau sesaat sebelum kematiannya.

Ia merupakan pikiran baik atau buruk.

Bila orang yang akan mati telah melakukan salah satu dari lima kejahatan yang berat ( Garuka Kamma ), seperti membunuh orang tua, dan lain-lain, atau sebaliknya justru telah mengembangkan Jhana-Jhana ( Kegembiraan Yang Luar Biasa ), ia akan mengalami Kamma seperti itu sebelum kematiannya.

Hal ini sangat kuat sehingga mereka memudarkan sama sekali semua perbuatan yang lain dan muncul dengan sangat jelas didepan mata batin.

Bila ia tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang demikian berat, ia akan mengalami objek proses pikiran menjelang kematian berupa suatu Kamma yang diperbuat sesaat sebelum kematian ( Asanna Kamma ); yang dapat disebut suatu “ Kamma menjelang kematian “.

Tiadanya suatu “ Kamma Menjelang Kematian “, suatu kebiasaan perbuatan baik atau buruk ( Acinna Kamma ) dimunculkan, seperti penyembuhan orang sakit dalam hal seorang dokter yang baik, atau Ajaran Kebenaran ( Dhamma ) dalam hal seorang Bhikkhu yang saleh, atau pencurian dalam kasus seorang pencuri.

Tanpa memiliki semua hal itu, beberapa perbuatan baik dan buruk yang lemah sifatnya ( Katatta Kamma ) akan menjadi objek proses pikiran menjelang kematian.

Kamma Nimitta atau “Lambang”, berarti suatu reproduksi batin beberapa penglihatan, suara, bau, cita rasa, sentuhan atau pikiran yang menonjol pada waktu beberapa kegiatan penting, baik atau buruk, seperti sebuah mata pisau atau binatang-binatang yang hampir mati dalam hal seorang tukang jagal, pasien-pasien dalam hal seorang dokter, dan objek pemujaan dalam hal seorang pengikut, dan lain-lain. Itu sebabnya, ada yang bercerita pengalaman mati surinya bertemu seorang nabi, guru kerohanian, dan lain-lain.

Gati Nimitta atau “ Lambang Tujuan “ diartikan beberapa tanda dari tempat kelahiran yang akan datang. Ini seringkali muncul sendiri pada orang-orang yang akan meninggal, dan menunjukkan kegembiraan atau kemurungan pada roman mereka.

Bila tanda-tanda kelahiran yang akan datang ini terjadi, jika mereka buruk, mereka dapat diperbaiki pada waktu itu. Hal ini dilakukan dengan mempengaruhi pikiran orang yang akan meninggal. Lambang pikiran yang terjalin lebih dahulu mungkin berupa api, hutan, daerah pegunungan, kandungan ibu, ruang angkasa, dll.

Mengambil objek sebuah kamma, atau suatu lambang kamma, atau suatu lambang tujuan, suatu proses pikiran melaksanakan tugasnya bahkan seandainya kematian itu terjadi segera.

Untuk mudahnya, marilah kita membayangkan bahwa orang yang akan meninggal itu akan dilahirkan kembali dalam alam manusia dan bahwa objeknya adalah beberapa Kamma baik.

Kesadaran Bhavanganya ( suatu keadaan yang terjadi pada seorang yang “tidur-tanpa-bermimpi” ) dipotong, menggetarkan suatu saat pikiran dan hilang; setelah mana pintu kesadaran ( mano-dvaravajjana ) muncul dan hilang. Kemudian datanglah keadaan penting secara psikologis yaitu proses Javana yang hanya berlangsung selama lima saat pikiran karena kelemahannya, yang pada keadaan normal adalah tujuh.

Kesadaran ini tidak mempunyai semua kemampuan reproduksi; fungsi utamanya hanya mengatur kehidupan baru ( abhinavakarana ). Obyek disini menyenangkan, kesadaran yang dia alami berupa moral.

Kesadaran Tadalambana yang mempunyai fungsi sebagai pencatat atau pengenal obyek yang dirasa selama dua saat, dapat atau tidak dapat mengikuti. Setelah ini terjadi Kesadaran akan Kematian ( cuticitta ), saat pikiran terakhir yang dialami pada kehidupan yang sekarang ini.

Ada kesalahpahaman diantara beberapa orang bahwa kelahiran yang berikut dipersiapkan oleh Kesadaran akan Kematian. Yang terakhir ini ( cuticitta ) sesungguhnya tidak mempunyai fungsi khusus untuk melakukannya, yang sebenarnya menjadi kondisi tumimbal-lahir adalah apa yang dialami seseorang selama proses Javana.

Dengan berhentinya Kesadaran akan Kematian, kematian yang sesungguhnya benar-benar terjadi. Kemudian tidak ada sifat-sifat materi yang lahir dari makanan dan batin ( cittaja dan aharaja ) dihasilkan. Hanya satu rangkaian wujud jasmani yang lahir dari panas ( utuja ) berlangsung sampai jenasah tersebut dimusnahkan menjadi abu.

Untuk catatan, sifat-sifat materi ( dalam hal ini berkaitan dengan bentuk tubuh ) dihasilkan dalam empat ( 4 ) cara : i. Kama, misanya perbuatan-perbuatan baik dan buruk masa lampau, ii.Utu, misalnya perubahan jasmani atau unsur Tejo ( panas ) termasuk panas maupun dingin, iii.Citta, misalnya sifat-sifat batin dan pikiran, iv.Ahara, misalnya gizi yang ada didalam makanan.

Bersamaan dengan munculnya kesadaran tumimbal-lahir disana muncullah “ landasan jasmani “, “landasan seks” dan “ landasan dasar “ ( kaya-bhava-vatthu-dasaka ).

Jenis kelamin ditentukan pada saat pembuahan dan dipersiapkan oleh Kamma, bukan oleh gabungan antara sperma dan sel telur secara kebetulan saja ( Ingat, segala sesuatu didunia ini tidak ada yang terjadi karena kebetulan, semua ada sebabnya, dan Kamma adalah salah satu penyebab utama ).

Hilangnya kesadaran akan kelahiran yang lalu adalah saat munculnya kesadaran baru pada kelahiran yang berikut. Bagaimanapun, tidak ada sesuatu yang tidak berubah atau kekal yang diteruskan dari masa lampau ke masa sekarang.

Seperti roda berada di atas tanah pada satu titik tertentu, begitupun kita hidup hanya untuk satu saat pikiran. Kita selalu ada pada masa sekarang, dan masa sekarang itu sesungguhnya menyelinap masuk pada masa lampau yang tidak dapat diperoleh lagi.

Setiap kesadaran sesaat dari proses kehidupan yang selalu berubah ini, pada saat meninggal meneruskan seluruh kekuatannya, semua kesan yang terekam yang tidak terhapuskan pada hal tersebut, pada penggantinya.

Setiap kesadaran baru, oleh karena itu, terdiri dari kemampuan pendahulunya bersama-sama dengan sesuatu tambahan. Pada saat kematian, kesadaran hilang, seperti dalam kenyataan kesadaran hilang setiap saat, hanya timbul pada saat yang lain dalam suatu tumimbal lahir.

Kesadaran yang diperbaharui ini mewarisi semua pengalaman masa lampau. Karena semua pengaruh yang terekam tidak terhapuskan pada batin yang seperti pada kertas perkamen, yang terus berubah seperti pikiran, dan semua kemampuan diteruskan dari kehidupan yang satu ke kehidupan yang berikutnya, dengan mengabaikan kehancuran sementara, jadi mungkin ada kenangan dari kelahiran – kelahiran masa lampau atau kejadian masa lampau. Sebaliknya, jika ingatan tergantung semata-mata pada sel-sel otak, kenangan demikian akan menjadi hal yang mustahil.

Dalam suatu tumimbal lahir, makhluk baru ini merupakan perwujudan kini dari arus kekuatan Kamma yang tidak sama dengan makhluk yang sebelumnya yang bertumimbal lahir tersebut, dan tidak mempunyai ciri-ciri dengan makhluk sebelumnya dalam rentangan proses sinambungnya, karena kumpulan tersebut yang membuat susunan ini menjadi berbeda dari sebelumnya dan tidak mempunyai ciri-ciri dengan hal-hal yang membentuk makhluk pendahulunya.

Namun, makhluk ini bukan merupakan suatu makhluk yang berbeda secara keseluruhan, ia mempunyai arus kekuatan Kamma yang sama, walaupun karena faktor-faktor kamma masa lampaunya dan beberapa hukum-hukum alamiah yang bekerja telah memodifikasi dengan penampilannya sendiri dalam perwujudan itu, yang sekarang ini membuat kehadirannya dikenal dalam dunia keindriaan sebagai makhluk baru.

Kematian adalah penghentian dari kehidupan batin-jasmani dari setiap keberadaan individu. Kematian adalah lenyapnya kekuatan ( ayu ), yaitu, kehidupan batin dan jasmani ( jivitindriya ), panas ( usma ) dan kesadaran ( vinnana ).

Kematian bukan merupakan penghancuran yang menyeluruh dari suatu makhluk, walaupun suatu masa kehidupan tertentu berakhir, kekuatan yang sampai sekarang ini bergerak tidak dihancurkan.

Seperti sebuah lampu listrik yang merupakan perwujudan tampak luar dari tenaga listrik yang tidak kelihatan, begitupun kita adalah perwujudan yang keluar dari kekuatan Kamma yang tidak kelihatan.

Bola lampu bisa pecah, dan sinarnya kelak akan padam, tetapi arusnya tetap ada dan sinarnya dapat dipancarkan kembali dalam bola lampu yang lain.

Dengan cara yang sama, kekuatan Kamma tetap ada dan tak terganggu oleh kehancuran badan jasmani, dan hilangnya kesadaran yang sekarang membawa kemunculan dari suatu kesadaran yang baru dalam kelahiran yang lain. Tetapi, tidak ada sesuatu yang tidak berubah atau tetap yang melewati masa sekarang ini ke masa yang akan datang.

Dalam kasus yang terdahulu, kalau pikiran yang dialami sebelum kematian adalah baik, hasil kesadaran akan tumimbal lahir mengambil materinya sebuah sperma dan sel telur yang tepat dari pasangan orang tuanya.

Kesadaran akan tumimbal lahir ( patisandhi vinnana ) kemudian akan menjadi keadaan Bhavanga.

Kesinambungan perubahan yang terus menerus, pada saat kematian, tidak terputus ditinjau dari sudut waktu, dan tidak ada pemutusan dalam arus kesadaran.

Tumimbal lahir berlangsung segera, terlepas dari tempat lahir, seperti sebuah gelombang elektromagnetik, yang bila diproyeksikan kedalam suatu tempat akan dengan segera dipancarkan kembali dalam suatu radio penerima. Kelahiran kembali dari arus batin pun seketika itu juga dan tidak memberi peluang untuk kesdaran perantara ( antara-bhava ).

Kepercayaan bahwa roh dari orang yang meninggal tinggal di suatu tempat khusus / pondokan untuk sementara waktu sampai ia mendapat tempat yang cocok untuk kelahiran kembalinya adalah : S A L A H !

Untuk memperjelas hal ini, bahwa kepercayaan yang menyatakan saat seseorang meninggal maka rohnya akan berada pada “ruang-tunggu” untuk sementara waktu sampai ia mendapat tempat yang “cocok” adalah suatu kepercayaan yang salah, yang tidak sesuai hukum-alam, maka kiranya kisah berikut ini mampu mengilustrasikannya.

PERTANYAAN RAJA MILINDA TERHADAP YANG MULIA NAGASENA

Di India, dahulu kala, hiduplah seorang Raja, bernama Raja Milinda. Suatu ketika, Sang Raja mengajukan kepada seorang Bhikkhu senior, Yang Mulia Nagasena. Raja Milinda bertanya, “ Yang Mulia Nagasena, jika seseorang meninggal disini dan dilahirkan kembali di alam Brahma, dan orang lain meninggal disini dan dilahirkan kembali di Kashmir, yang mana dari mereka yang akan sampai pertama kali ? “

Yang Mulia Nagasena menjawab, “ Mereka akan sampai pada saat yang sama, O Raja”.

Kemudian, lanjut Yang Mulia Nagasena, bertanya, “Di kota mana anda dilahirkan, O Raja.”

“Disebuah desa yang bernama Kalasi, Yang Mulia”, Jawab Raja Milinda.

“Berapa jauh Kalasi dari sini,O Raja ? “, Sahut Yang Mulia Nagasena.

“Sekitar dua ratus mil, Yang Mulia”, Jawab Raja Milinda.

Lanjut Yang Mulia Nagasena, “Dan berapa jauh Kashmir dari sini, O Raja ?”

“Sekitar dua belas mil, Yang Mulia”, Jawab Sang Raja.

Yang Mulia Nagasena berkata, “Sekarang pikirkan tentang Kalasi, O Raja.”

“Saya telah melakukannya,Yang Mulia”, Sahut Sang Raja.

“Dan sekarang pikirkan tentang Kashmir,O Raja”, Yang Mulia Nagasena memerintahkan.

Sang Raja menyahut, “Telah saya lakukan,Yang Mulia.”

Yang Mulia Nagasena bertanya, “Yang mana di antara kedua ini,O Raja, yang Baginda pikirkan lebih lambat dan yang mana yang lebih cepat?”,

“Keduanya sama cepat, Yang Mulia”, sahut Sang Raja.

“ Cocok,O Raja, ia yang meninggal disini dan dilahirkan kembali di alam Brahma, dilahirkan kembali tidak lebih lambat dari pada ia yang meninggal disini dan dilahirkan kembali di Kashmir”, Yang Mulia Nagasena berkata.

Makhluk hidup tak terbatas jumlahnya, dan begitupun juga sistem-sistem didunia. Sperma dan sel-sel telur yang subur bukan satu-satunya jalan untuk lahir kembali. Dunia hampir merupakan sebuah bintik kecil yang tidak berarti di alam semesta, bukan satu-satunya planet yang dapat didiami, dan manusia bukanlah satu-satunya makhluk hidup. Makhluk-makhluk senantiasa bertumimbal lahir di ke-31 alam kehidupan, baik di alam kesengsaraan tempat tinggal para setan, neraka, alam manusia, maupun alam-alam surga tempat para “Tuhan” / “Dewa” ( Inggris : Gods ). Kesemuanya itu t i d a k k e k a l.

Akan selalu ada suatu tempat yang tepat untuk menerima getaran batin terakhir. Suatu tempat selalu siap menerima batu yang jatuh.

3. BUKAN ROH KEKAL YANG BERTUMIMBAL LAHIR

Pada sesi ini saya akan membahas bab yang berkaitan dengan “AKU”. Bab ini adalah bab yang penting, sebab hingga sekarang masih banyak para penempuh jalan-kerohanian masih terselimuti kabut kegelapan dalam memahami,” Siapakah “ a k u “ ? “. Namun, pembahasan mengenai “Aku” akan lebih diperjelas pada wacana berikutnya, “Anatta” ( Sanskerta : Anatman ).

Sang Buddha bersabda, “ Bukanlah yang sama meskipun demikian bukan pula yang lain “,

Sesungguhnya, tidak ada satu jiwa yang kekal, atau suatu pribadi yang abadi, yang diperoleh orang dengan cara misterius dari sumber yang sama misteriusnya. Yang ada hanyalah unsur-unsur batin ( nama ) dan jasmani ( rupa ). Itulah kesunyataan tentang “jiwa”, “roh”, “aku”.

Satu jiwa yang kekal harus selalu tetap sama tanpa perubahan apa pun. Jika jiwa yang dianggap sebagai inti manusia adalah kekal, disana tidak akan ada kejayaan ataupun keruntuhan.

Untuk membenarkan adanya kebahagiaan tanpa akhir di surga yang abadi dan siksaan tanpa akhir di neraka yang abadi, maka memang mutlak perlu untuk merumuskan dan merancang, mengangan-angankan satu jiwa yang abadi. Namun, itu hanya angan-angan / rancangan, kesunyataannya, tidaklah demikian.

“ Seharusnya dikatakan “, tulis Bertrand Russel, dalam bukunya Religion and Science ( 1960, hal 132-33 ), “ bahwa pembedaan kuno antara jiwa dan raga telah menguap, terlebih lagi karena ‘materi’ telah kehilangan kepadatannya,karena batin telah kehilangan kespiritualannya. Psikologi mulai menjadi sesuatu yang ilmiah. Dalam keadaan psikologi dan fisiologi saat ini, kepercayaan pada kekekalan tidak dapat meminta dukungan dari ilmu pengetahuan.”

Sesuatu berubah begitu cepat, bahkan tidak ada dua saat sekalipun yang tepat sama. Orang tidak dapat memukul satu tempat yang sama dua kali tanpa perubahan walaupun tampaknya orang melakukan hal itu tanpa perubahan.

Bertrand Russel mengatakan, dalam bukunya yang berjudul Religion and Science,” Sampai baru-baru ini ilmuwan percaya akan adanya atom yang tidak dapat dibelah dan dihancurkan. Untuk alasan yang cukup, banyak ahli fisika telah mengubah atom ini dengan satu rangkaian peristiwa; untuk alasan yang sama baiknya ahli jiwa menemukan bahwa batin tidak mempunyai jati diri ( identitas ) satu “benda” yang berlanjut tetapi merupakan satu rangkaian kejadian yang terikat bersama oleh hubungan erat tertentu. Oleh karena itu pertanyaan tentang keabadian, telah menjadi pertanyaan apakah hubungan yang erat ini ada diantara kejadian-kejadian yang dihubungkan dengan satu tubuh yang hidup serta kejadian-kejadian lain yang terjadi setelah tubuh mati.”

David Hume, seorang filosof terkenal abad 21, dalam pencariannya terhadap “jiwa” menyatakan, “ ada beberapa ahli filsafat yang membayangkan bahwa setiap saat kita sangat sadar akan apa yang kita sebut diri kita sendiri : bahwa kita merasakan keberadaannya dan kelangsungannya dalam keberadaan serta merasa pasti jati diri dan kesederhanaannya yang sempurna diluar pembuktian dengan satu demonstrasi. Untuk pihakku, jika aku memasuki tempat yang paling dalam apa yang kusebut diriku, aku selalu terkecoh pada beberapa persepsi tertentu atau yang lainnya – tentang panas atau dingin, cahaya atau bayangan, cinta atau benci, menyakitkan atau menyenangkan, aku tak pernah dapat menangkap diriku kapanpun tanpa satu persepsi, dan tidak dapat mengamati apa pun kecuali p e r s e p s i . “

Henry Bergson, yang juga seorang filosof terkenal abad 21, berkata, “ semua kesadaran adalah keberadaan dalam waktu; dan satu keadaan sadar bukanlah keadaan yang bertahan tanpa perubahan. Ia adalah satu perubahan yang tanpa henti; ketika perubahan berakhir, ia berakhir; ia sendiri bukanlah apa-apa hanya perubahan saja.”

Prof.James, seorang ahli ilmu jiwa, meyatakan demikian dalam kaitannya tentang “jiwa” ini, “ Teori jiwa ini sungguh berlebihan, sepanjang menurut fakta pembuktian pengalaman kesadaran yang sesungguhnya. Sejauh ini tidak seorangpun dapat dipaksa untuk menggarisbawahi demi alasan ilmiah yang pasti.

Aku ini adalah sekumpulan unsur berdasarkan pengalaman terhadap benda yang diketahui secara objektif. Si “aku” yang mengetahui mereka tidak bisa menjadi kumpulan unsur sendiri, tidak pula untuk keperluan psikologi ia perlu dipandang sebagai kesatuan metafisika yang tidak berubah seperti jiwa atau prinsip seperti Ego murni yang dipandang sebagai di”luar waktu”. Ia adalah buah pikiran, yang setiap saat berbeda daripada yang terjadi sebelumnya, tetapi berkaitan dengan yang terdahulu, bersama dengan semuanya itu yang terdahulu menyebutkan sebagai dirinya. Semua fakta percobaan mendapatkan tempatnya dalam paparan ini, tidak dibebani dengan hipotesa manapun kecuali keberadaan buah pikiran yang berlalu atau keadaan hipotesa.”

Prof.James menyimpulkan dalam bab yang menarik tentang jiwa dengan perkataan : “ Dan dalam buku ini pemecahan sementara yang telah kita capai haruslah kata akhir : “ Buah pikiran sendirilah si pemikir “.

Kalimat-kalimat pernyataan Prof.James merupakan gema dari kata-kata Sang Buddha sendiri 2600 tahun yang lalu di lembah Sungai Gangga.

3.1. ATOM DALAM PANDANGAN BUDDHISME

Pada jaman dahulu, para petapa Budhis juga menyatakan adanya atom yang tidak terlihat yang mereka sebut Paramanu. Menurut kepercayaan tersebut, tiga puluh enam ( 36 ) paramanu membentuk satu Anu; tiga puluh enam ( 36 ) Anu menjadi satu Tajjari; dan tiga puluh enam ( 36 ) Tajjari merupakan satu Ratharenu. Partikel debu yang kecil yang terlihat menari di sinar matahari disebut Ratharenu.

Oleh karena itu, satu Paramanu merupakan 1/46.656 bagian dari satu Ratharenu. Dengan kemampuan pandangan yang luar biasa Sang Buddha menganalisis Paramanu dan menyatakan bahwa Paramanu terdiri dari kekuatan yang saling berkaitan yang dikenal sebagai Paramatha atau inti materi.

Paramatha ini adalah unsur-unsur Pathavi ( tanah ), Apo ( Air ), Tejo ( Api ), dan , Vayo ( Udara / Angin ).

Pathavi berarti unsur materi yang diperluas, yang merupakan substrata darinya. Tanpa dia objek tidak dapat menempati ruang. Sifat relatif keras dan lembut merupakan dua keadaan dari unsur yang sama ini. Dalam keenam indria kita, pathavi ini berwujud sebagai “tanah”.

Apo, merupakan unsur “ daya tarik / kohesi “. Tidak seperti pathavi, ia tidak bisa diraba. Unsur inilah yang membuat atom-atom materi yang terpisah-pisah saling menyatu dan memberi kita gagasan tentang “benda”. Jika benda padat dicairkan, unsur ini menjadi lebih nyata dalam cairan yang dihasilkan. Unsur ini ditemukan bahkan dalam pertikel yang sangat kecil ketika benda padat dihancurkan menjadi serbuk. Unsur yang “memuai dan daya tarik” sangat berkaitan sehingga pada saat “daya tarik” lenyap, pemuaian pun hilang. Dalam keenam indria kita, apo ini berwujud “air”.

Tejo, merupakan unsur panas. Dingin juga satu bentuk dari tejo karena mereka memiliki kekuatan untuk mematangkan benda, atau dengan kata lain, ia adalah kekuatan hayati. Pemeliharaan dan kelapukan tergantung pada unsur ini. Tidak seperti tiga unsur penting materi lainnya, unsur ini juga disebut utu, mempunyai kekuatan untuk memperbaharui sendiri. Dalam keenam indria kita, tejo ini berwujud sebagai “api”.

Vayo, adalah unsur gerak. Pergerakan disebabkan oleh unsur ini. Gerak dipandang sebagai kekuatan atau penghasil panas. Dalam keenam indria kita, vayo ini berwujud sebagai “ udara/angin”.

Gerak dan panas dalam dunia jasmani, masing-masing dapat disamakan dengan kesadaran dan Kamma dalam batin.

Keempat unsur diatas merupakan unsur dasar materi dan selalu berpaduan dengan empat turunannya yaitu : i.warna ( vanna ), ii.bau ( gandha ), iii.rasa ( rasa ), iv.inti yang bergizi ( oja ).

Empat unsur dan turunannya tidak terpisahkan dan saling berhubungan, tetapi satu unsur dapat lebih menonjol daripada yang lainnya, seperti misalnya, unsur yang memuai lebih menonjol di bumi, kohesi di air, panas dalam api, dan gerak menonjol di udara.

Jadi, materi terdiri dari kekuatan-kekuatan dan sifat-sifat yang dalam keadaan selalu mengalir. Materi bertahan hanya untuk tujuh belas saat pikiran. Kelangsungan waktu dari satu-saat pikiran bahkan lebih sedikit dari pada satu per-sejuta bagian waktu yang diperlukan seberkas sinar kilat.

3.2. APA YANG DISEBUT “ROH”

Batin / “roh” ( Nama ), bagian yang lebih penting dalam peralatan manusia yang rumit, terdiri dari 52 keadaan mental. Salah satunya adalah perasaan atau sentuhan ( vedana ), pemahaman ( sanna ) merupakan yang lainnya. Sisanya yang lima puluh ( 50 ) secara bersama-sama disebut kegiatan berdasarkan kehendak ( samkhara ), tidak ada terjemahan yang tepat untuk menunjukkan arti istilah Pali. Di antara mereka, kehendak atau cetana adalah faktor yang terpenting. Semua keadaan psikis muncul dalam satu kesadaran ( vinnana ).

Menurut filsafat Buddhis tidak ada saat dimana orang tidak merasakan jenis kesadaran tertentu atau bergantung pada beberapa objek baik jasmani maupun batin. Batasan waktu kesadaran semacam itu disebut satu saat pikiran. Setiap saat-pikiran diikuti oleh yang lainnya. Jadi kelangsungan keadaan-mental terdiri dari unsur waktu. Kecepatan berlangsung saat-pikiran itu hampir tidak dapat dirasakan.

Setiap kesatuan kesadaran terdiri dari tiga saat ( khana ). Mereka merupakan kemunculan atau kejadian ( uppada ), tetap atau berkembang ( thiti ) dan berhenti atau terurai ( bhanga ).

Segera setelah satu saat pikiran berhenti, muncullah kejadian dari saat-pikiran yang berikutnya. Setiap kesadaran yang sesaat dari proses kehidupan yang selalu berubah, pada saat mati, memindahkan pada penerusnya seluruh kekuatannya; semua rekaman kesan yang tidak terhapuskan.

Setiap kesadaran baru terdiri dari kemampuan dari pendahulunya bersama dengan sesuatu yang lebih. Oleh karena itu terdapat aliran kesadaran yang terus menerus seperti satu aliran yang tak terganggu apapun.

Saat-pikiran yang berikutnya yang merupakan aliran kehidupan yang sama, tidaklah mutlak sama ataupun berbeda dengan pendahulu-nya karena perpaduannya tidak sama. TIDAKLAH ADA MAKHLUK YANG TEPAT SAMA, TETAPI TERDAPAT KESAMAAN DALAM PROSES.

Kita tidak dapat mengatakan bahwa kesadaran bersatu dalam ikatan rangkaian seperti kereta api atau rantai. Sebaliknya, “ ia selalu mengalir seperti sungai yang menerima aliran perasaan dan anak sungai yang selalu bertambah sampai menjadi banjir, dan selalu menyalurkannnya pada dunia di sekelilingnya bahkan pikiran yang telah dikumpulkan sepanjang jalan. Ia mempunyai kelahiran sebagai hulunya dan kematian sebagai hilirnya.”

Terjadilah keadaan kesadaran yang berlalu sangat cepat yang hadir berdampingan tapi tidak saling menindih seperti yang diyakini kebanyakan orang.

Tidak ada keadaan yang telah berlalu bisa berulang lagi – tidak satupun yang tepat sama dengan yang terdahulu.

Keadaan ini selalu berubah, tidak tepat sama bahkan dalam dua saat yang berurutan.

Orang biasa terperangkap dalam jaring khayalan, terkecoh dengan kesinambungan nyata sebagai sesuatu yang abadi dan melangkah jauh sampai memperkenalkan satu jiwa yang kekal ( yang dianggap sebagai pelaku dan pengamat dari semua perbuatan ) pada kesadaran yang selalu berubah.

Empat ( 4 ) jenis perwujudan batin ( gabungan dari pikiran, perasaan, pencerapan dan kesadaran ) , dirangkai dengan perwujudan jasmani ( gabungan dari unsur tanah, air, api, dan udara ), membentuk lima kelompok kehidupan ( pancakhanda ), perpaduan kompleks yang menjadikan satu makhluk.

Kepribadian seseorang merupakan perpaduan dari kelima kelompok ini.

Kita melihat selembar kain yang indah dan halus, tetapi sesungguhnya itu hanya terdiri dari milyaran bulir-bulir kapas. Kita melihat permukaan air yang luas di laut, tetapi air di samudera terdiri dari tetes-tetes air yang tak terhitung.Sejumlah partikel pasir yang tak terbatas membentuk pantai, tetapi ia tampak seperti lembaran yang panjang. Gelombang timbul dan tenggelam di pantai, tetapi secara tegas tidak ada satu gelombang pun yang datang dari kedalaman laut biru untuk melepaskan jati dirinya di pantai. Dalam film kita melihat adegan yang bergerak, tetapi untuk menggambarkan gerakan itu, satu rangkaian gambar sekilas harus muncul di layar.

Orang tidak dapat mengatakan bahwa harum sekuntum bunga bergantung pada kelopak atau putik atau warna, karena harum itu perpaduan dari semua unsur-unsurnya, harum itu ada pada si bunga.

Demikian pula halnya, kepribadian seseorang merupakan perpaduan dari keseluruhan lima kelompok.

Seluruh proses perwujudan batin-jasmani ini yang selalu terjadi dan berlalu, timbul dan lenyap, yang dalam istilah lazim disebut diri sendiri atau atta oleh Sang Buddha; tetapi ia merupakan proses, dan bukannya suatu jati diri yang diberi istilah itu.

Dalam arti mutlak ( paramatha saccena ), satu makhluk yang tetap sama atau kesatuan lahir yang tetap : TIDAK ADA.

Pribadi adalah aliran atau kesinambungan, bukan “produk akhir” yang tetap,kekal,abadi.

Aliran atau kesinambungan yang tidak terputus dari perwujudan batin-jasmani ini, dibentuk oleh Kamma, tidak memiliki sumber yang dapat dilihat dimasa lalu, tanpa awal ataupun akhir dari kelanjutannya di masa yang akan datang, kecuali dengan “Jalan Arya Beruas Delapan”, yang akan mengantar ke Nibbana, berakhirnya dan terurainya semua unsur-unsur pembentuk nama-rupa.

3.3. TUMIMBAL LAHIR TANPA SATU JIWA

Bagaimana mungkin tumimbal lahir dimungkinkan tanpa satu jiwa untuk dilahirkan kembali ?

Kelahiran adalah munculnya khanda, kelompok atau kumpulan ( khandhanam patubhavo ).

Seperti timbulnya keadaan jasmani yang dibentuk oleh keadaan yang mendahului sebagai penyebabnya, demikian pula kemunculan perwujudan batin-jasmani ini dibentuk oleh sebab-sebab yang mendahului kelahiran itu.

Proses terjadinya saat ini merupakan hasil dari keinginan untuk menjadi dalam kelahiran lampau, dan keinginan naluriah saat ini membentuk kehidupan dalam kelahiran yang akan datang.

Karena proses dari satu rentang kehidupan dimungkinkan tanpa satu kesatuan yang tetap yang berpindah dari satu saat pikiran menuju ke yang lainnya, jadi rangkaian proses kehidupan juga dimungkinkan tanpa adanya apapun yang berpindah dari satu keberadaan menuju ke yang lainnya.

Sehingga, tumimbal-lahir ini secara mutlak berbeda dengan teori reinkarnasi yang menunjukkan perpindahan satu jiwa dan bahan yang ditumimbal-lahirkan yang tidak berubah.

Badan mati dan kekuatan Kammanya bertumimbal lahir di tempat lain tanpa ada apa pun yang berpindah dari kehidupan ini menuju kehidupan lain. Saat-pikiran terakhir dari kehidupan ini lenyap membentuk saat-pikiran lain dalam kehidupan berikutnya. Makhluk baru ini, yang tidaklah tepat sama – karena ia telah berubah – maupun mutlak berbeda – merupakan aliran kekuatan Kamma yang sama. Itu hanyalah satu kesinambungan dari aliran kehidupan tertentu.

( Sumber Pustaka : “Sang Buddha dan Ajaran-ajaran-Nya”, Bhante Narada Mahathera, dan karya tulis Bhante K.Sri Dhammanada )

Salam Damai dan Cinta Kasih… .

— RATANA KUMARO  —

Semarang Barat, Sabtu 30 Agustus 2008

Posted in BUDDHA | 22 Comments »