RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

MAKNA BER-NAMASKARA

Posted by ratanakumaro pada September 14, 2009

“Araham Sammasambuddho  Bhagava, Buddham bhagavantam abhivademi”

( Sang Bhagava, Yang Mahasuci, Yang telah Mencapai Penerangan Sempurna ;  Aku bersujud di hadapan Sang Buddha, Sang Bhagava )

“Svakkhato bhagavata dhammo, Dhammam namassami”

( Dhamma telah sempurna dibabarkan oleh Sang Bhagava ; Aku bersujud di hadapan Dhamma )

“Supatipanno bhagavato savakasangho ; Sangham namami”

( Sangha Siswa Sang Bhagava telah bertindak sempurna ; Aku bersujud di hadapan Sangha )

____________________________________________________

“Namo tassa bhagavato arahato sammasambuddhassa”

(tikkhattum)

Namatthu Buddhassa,

“Namakara” atau “Namaskara” , dalam bahasa Indonesia artinya adalah “penghormatan” atau “persujudan”.  Sikap namaskara / sujud ini yang benar adalah dengan : 1) lutut , 2) jari kaki , 3) dahi, 4) siku, 5) telapak tangan ; semuanya menyentuh lantai.

Dalam masyarakat Jawa ada sebuah tradisi yang  disebut dengan “sembah-sungkem”. Sungkeman ini mirip dengan Namakara dalam tradisi Buddha-Dhamma. Tujuannya adalah , memberikan penghormatan kepada yang patut dihormat.

Ratana Kumaro : Di hadapan Bhante Khemacaro Nyana Subalo ( Sangha Agung Indonesia )

Ratana Kumaro memberi penghormatan pada Bhante Khemacaro Nyana Subalo ( Sangha Agung Indonesia )

Sebagai seorang siswa Sang Buddha, sesungguhnya kita setiap hari wajib ber-Namakara kepada Buddha-Dhamma-Sangha. Dengan demikian, hati kita, tekad kita, semakin mengarah pada praktik Dhamma yang lebih dalam dan pada akhirnya kelak berhasil merealisasi Jalan-Kesucian ( Magga ) dan Buah dari Jalan-Kesucian ( Phala ) sesuai yang ditunjukkan oleh Sang Ti-Ratana. Selain hal itu, dengan ber-Namakara akar kebajikan di dalam diri kita semakin berkembang.

Bila Namakara ini dilakukan dengan baik dan benar, dengan penuh konsentrasi, keheningan, dengan penuh kesadaran pengembangan spiritual,  setelah meninggal seorang ummat-awam dapat berharap untuk terlahirkan kembali ke alam-alam surga atau setidaknya dilahirkan di dalam keluarga yang ber-Sila  yang beragama Buddha.

Ratana Kumaro didepan Sangha Agung Indonesia

Ratana Kumaro didepan Sangha Agung Indonesia

Mengapa para siswa Sang Buddha bersujud dan menghormat kepada Sang Buddha adalah karena Sang Buddha adalah Guru-Agung bagi para siswa dan ummat-awam, pembimbing  kita semua menuju berakhirnya  penderitaan samsara dan terealisasinya kebahagiaan-sejati : Nibbana.

Mengapa para siswa Sang Buddha bersujud dan menghormat kepada Dhamma adalah karena Dhamma adalah satu-satunya ajaran yang menuntun kita  semua kepada berakhirnya penderitaan samsara. Dhamma Sang Buddha adalah ajaran yang nyata, Dhamma Sang Buddha adalah kebenaran-sejati  yang tidak dapat dibantah oleh siapapun juga kebenarannya dan dapat dibuktikan oleh siapapun.

Mengapa para siswa Sang Buddha bersujud dan menghormat kepada Sangha adalah karena Sangha merupakan pesamuhan-agung dari para suciwan semenjak jaman para Buddha yang pertama ( Buddha-Dipankara ; Buddha yang pertama dari keseluruhan 28 Samma-Sambuddha yang memberi ramalan pasti kepada boddhisatta Sumedha ( calon Buddha Gotama ) akan pencapaian ke-Buddha-an boddhisatta Sumedha ; serta jutaan Buddha lainnya sebelum ke-28 Samma-Sambuddha tersebut ) hingga Sang Buddha Gotama yang menjaga dan mengajarkan Dhamma kepada ummat manusia ;  Sangha adalah pembimbing ummat manusia dalam upaya untuk memahami Dhamma setelah Sang Buddha parinibbana.

Bersujud kepada Buddha ~ Dhamma ~ dan Sangha adalah yang terbaik ; sebab merupakan wujud penghormatan dan penghargaan yang tertinggi kepada yang memang patut dihormat dan dihargai. Bersujud kepada Buddha~ Dhamma ~ dan Sangha adalah perbuatan luhur yang akan membuahkan kebahagiaan, umur panjang, kesehatan dan kekuatan jasmani maupun rohani. Ketulusan dalam ber-Namakara, merupakan salah satu ciri fisik yang dapat dilihat yang menunjukkan telah lenyapnya keragu-raguan skeptis terhadap Sang Ti-Ratana.

Foto Kiriman Bp.Karim-Jakarta (DPSS) : Buddha-Rupam di Ayuthaya ( Thailand )

Foto Kiriman Bp.Karim-Jakarta (DPSS) : Buddha-Rupam di Ayuthaya ( Thailand )

REFLEKSI NAMAKARA BAGI KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Refleksi dari Namakara ini dalam kehidupan sehari-hari adalah sikap kerendah-hatian, kelemah-lembutan, melenyapnya “ego” yang menjadi sumber dari banyak penderitaan.

Selain itu, ummat Buddha juga diharapkan dapat memberikan penghormatan kepada kedua-orang tua dengan sedalam-dalamnya / setinggi-tingginya. Sang Buddha senantiasa menganjurkan para ummat untuk berbakti kepada kedua-orang tuanya. Sebab, tanpa kedua-orang tua kita, kita tidak akan mungkin menjadi seperti yang sekarang ini ; terlahir ke alam manusia, tumbuh dan berkembang menjadi dewasa, mendapat kasih-sayang, menikmati pendidikan formal dengan baik, dan lain-sebagainya. Mengenai kewajiban kita berbakti kepada kedua orang-tua kita, Sang Buddha pernah bersabda sebagai berikut :

Kunyatakan, O para bhikkhu, ada dua orang yang tidak pernah dapat dibalas budinya oleh seseorang. Apakah yang dua itu?

Ibu dan Ayah

Bahkan seandainya saja seseorang memikul ibunya ke mana-mana di satu bahunya dan memikul ayahnya di bahu yang lain, dan ketika melakukan ini dia hidup seratus tahun, mencapai usia seratus tahun; dan seandainya saja dia melayani ibu dan ayahnya dengan meminyaki mereka, memijit, memandikan, dan menggosok kaki tangan mereka, serta membersihkan kotoran mereka di sana—bahkan perbuatan itu pun belum cukup, dia belum dapat membalas budi ibu dan ayahnya. Bahkan seandainya saja dia mengangkat orang tuanya sebagai raja dan penguasa besar di bumi ini, yang sangat kaya dalam tujuh macam harta, dia belum berbuat cukup untuk mereka, dia belum dapat membalas budi mereka. Apakah alasan untuk hal ini? Orang tua berbuat banyak untuk anak mereka: mereka membesarkannya , memberi makan dan membimbingnya melalui dunia ini.
….”

(Anguttara Nikaya II, iv,2)

Di dalam Sigalaka Sutta, Digha Nikaya 31.28 , Sang Buddha juga menguraikan kewajiban anak kepada orang tuanya sebagai berikut :
1. Menyokong mereka
2. Menjalankan kewajiban mereka
3. Menjaga tradisi keluarga
4. Berupaya melakukan sesuatu yang berharga bagi keluarga
5. Melakukan penghormatan terhadap mereka ketika meninggal (penghormatan terhadap leluhur)

Nah, marilah, saudara-saudari se-Dhamma, kita praktikkan Namakara dan menguncarkan Namakara-Patha ( kalimat-persujudan ) kepada Buddha-Dhamma-Sangha, demi pengembangan spiritual kita masing-masing, demi berkah-berkah kebahagiaan bagi hidup kita masing-masing. Juga, tidak ketinggalan, kita wajib memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada kedua orang-tua kita, sebagaimana Sang Buddha telah mengajarkannya kepada kita semua.

______________________________________________

Oh iya, ini saya ada tambahan foto menarik yang diambil di SUngai Mekong ~ Thailand, kiriman dari Bp.Karim ( PT. DPSS ) ~ Jakarta ,  dikirim sekitar  bulan-bulan akhir tahun  2008.

Foto sungai Mekong ini menarik, karena meskipun diambil dengan kamera yang berbeda ( tentunya jauh lebih canggih daripada kamera digital saya yang hanya sekitar 7,2  megapixel ), diambil dari lokasi yang berbeda ( foto saya saat bernamakara kepada Bhikkhu Sangha diambil di Vihara Mahabodhi Seroja, Semarang, sedangkan foto Bp. Karim diambil di Thailand  ) , dan dalam waktu yang berbeda ( foto saya diambil 06 September 2009, sedang foto Bp.Karim diambil sekitar tahun 2008 ) , namun foto-foto tersebut sama-sama menangkap fenomena alamiah ; yakni adanya “bola-bola-bercahaya” ; fenomena alamiah ini tidak perlu dimaknai dengan “aneh-aneh”, karena mungkin saja bola-bola bercahaya  itu maenannya si Dora-Emon, Nobita dan Giant, he he he… ^_^

Kiriman Bp.Karim~Jakarta (DPSS) : Sungai Mekong di malam hari

Kiriman Bp.Karim~Jakarta (DPSS) : Sungai Mekong di malam hari

_______________________________________________________

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

– RATANA-KUMARO –

Semarang-Barat,Senin, 14 September  2009

Posted in Arti Namaskara, BUDDHA, Makna ber-Namaskara, pentingnya namaskara | 13 Comments »

PENDALAMAN TATA CARA PALIVACANA

Posted by ratanakumaro pada September 1, 2009

Samagga Sakhila Hotha

Hendaklah saling rukun dan berbaik hati

(Apadà na II)


Samagganang Tapo Sukho

Upaya kelompok orang yang bersatu menimbulkan kebahagiaan

(Dhammapada 194)

________________________________________________________

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattum (3X) )

Namatthu Buddhassa,

Rekan-rekan sedhamma semuanya, pada hari Sabtu tanggal 29 Agustus 2009 s/d hari Minggu tanggal 30 Agustus 2009, Keluarga Buddhis Indonesia wilayah Jawa Tengah, mengadakan acara pendalaman tatacara penguncaran Pali Wacana.

Susunan Acaranya adalah sebagai berikut :

  1. Sabtu, 29 Agustus 2009
    1. Jam 17.00 WIB s/d 18.00 WIB      : Daftar Ulang
    2. Jam 18.30 WIB s/d 20.00 WIB      : Session I
    3. Jam 20.00 WIB s/d 20.15 WIB      : Break
    4. Jam 20.15 WIB s/d 22.00 WIB      : Session II
    5. Jam 22.00 WIB s/d 04.45 WIB      : Istirahat
  1. Minggu, 30 Agustus 2009
    1. Jam 04.45 WIB s/d 06.00 WIB      : Chanting Pagi
    2. Jam 06.30 WIB s/d 07.30 WIB      : MCK dan Makan Pagi
    3. Jam 07.30 WIB s/d 09.00 WIB      : Session III
    4. Jam 09.00 WIB s/d 09.15 WIB      : Break
    5. Jam 09.15 WIB s/d 11.00 WIB      : Session IV
    6. Jam 11.00 WIB s/d SELESAI           : Penutupan dan Makan Siang

Panitia acara ini dimotori oleh Dayakasabha Vihara Tanah Putih Semarang , Magabudhi Wilayah Jawa-Tengah dan Cabang Semarang, dan seluruh keluarga Buddhis Theravada Jawa-Tengah.

Acara ini dihadiri oleh perwakilan dari vihara maupun organisasi-organisasi Buddhis Theravada dari seluruh cabang di Jawa-Tengah, berikut adalah daftar peserta yang hadir.

CABANG Jumlah Perwakilan
Kebumen 12
Banyumas 8
Kudus 9
Salatiga 6
Kota Tegal 1
Blora 1
Solo 2
Klaten 1
Kota Semarang 19
Kabupaten Semarang 2
Grobogan 11
Jepara 12
Wonosobo 8
Wonogiri 2
Pati 32
Rembang 2
Kab. Magelang 4
Purwerejo 3
Temanggung 3
Candhakirana Semarang 9
Dhammameta Pati 10
Dhammapannya Temanggung 10
TOTAL PESERTA 167

HARI PERTAMA

persiapan

Sabtu, 29 Agustus 2009 ; Pukul 17.00 WIB . Perwakilan ummat Buddha dari berbagai cabang / kabupaten di Jawa-Tengah mulai berdatangan.  Ada yang kemudian duduk di ruang tempat acara diselenggarakan, ada yang memilih duduk-duduk diluar sembari menikmati hidangan makanan dan minuman yang sudah disediakan.

Romo Sugianto membuka

Romo Sugianto

Sabtu, 29 Agustus 2009 ; Pukul 18.00 WIB. Ummat Buddha yang hadir semuanya mulai berkumpul di dalam ruangan. Romo Sugianto ( dari Magabudhi ) memberikan sedikit kalimat pembuka. Romo Sugianto memberikan semangat kepada ummat Buddha yang hadir untuk semakin memperkuat saddha kepada Sang Buddha. Dan Romo Sugianto prihatin kepada ummat Buddha yang karena pengetahuannya mengenai Buddha-Dhamma sangat minim suatu saat menjadi berpindah agama karena sesuatu hal.

Bhante Suratano

Sabtu, 29 Agustus 2009 ; Pukul 18.30 WIB. Bhante Suratano, sebagai pengajar materi pendalaman Palivacana, memasuki ruangan. Seluruh ummat beranjali.

Bhante Suratano mulai memberikan materi pelajaran. Dimulai dengan menjelaskan jumlah huruf dalam aksara Pali. Total jumlah huruf dalam aksaraPali adalah 41 huruf, terdiri dari 8 huruf vokal dan 33 huruf konsonan. Delapan (8) buah huruf vokal dalam aksara Pali yaitu :

A I U E O + Ā Ī Ū

Huruf vokal yang diberi tanda garis “strip” diatasnya, dibaca lebih panjang daripada huruf vokal yang tanpa garis “strip” diatasnya.

Dan 33 buah huruf konsonan dalam aksara Pali adalah seperti yang terlihat dalam foto yang saya abadikan dibawah ini :

Bhante Suratano

Setelah menjelaskan ke-41 huruf aksara Pali ( yang ditulis dalam huruf latin tersebut ), Bhante Suratano menjelaskan cara pelafadzan / pengucapannya. Kemudian setelah itu, Bhante Suratano mengajak ummat untuk berpraktek membaca Paritta.

Bhante Suratano

Situasi berjalan dengan sangat relaks, santai. Tak jarang diisi dengan lelucon-lelucon dari Bhante Suratano. Dengan berjalannya waktu pelatihan, ummat Buddha yang hadir jadi mengerti, bahwa selama ini masih banyak yang kurang tepat dalam mengucapkan Sutta-Sutta dalam Paritta, dan ini menjadi lelucon tersendiri yang memancing tawa-canda.

Session II selesai

Sabtu 29 Agustus 2009, pukul 22.00 WIB. Tak terasa, setelah melalui break dan dilanjutkan dengan session II, acara untuk hari Sabtu pun selesai. Sebagian ummat yang dari kota Semarang pulang kerumah masing-masing, beberapa ada yang tidur di vihara bersama-sama ummat Buddha yang dari luar kota Semarang. Saya sendiri, menyempatkan diri ber-samadhi di Dhammasala di depan Buddha-Rupam hingga pukul 24.00 WIB,  lalu menyempatkan memotret Pagoda Kwan Im di kegelapan malam dari jarak sejauh 100 meter-an ( kurang lebih ), karena kamera kurang bagus jadi yang nampak hanya lampu-lampu lampion dan sinar bulan , setelah itu saya  pulang kerumah.

Pagoda Kwan Im di malam hari

HARI KEDUA

Minggu, 30 Agustus 2009,pukul 09.00 WIB. Saya datang terlambat, melewatkan acara chanting pukul 04.45 WIB s/d 06.00 WIB , kemudian acara MCK ( Mandi , Cuci, Kakus ) dan makan pagi jam 06.30 WIB s/d 07.30 WIB, dan melewatkan acara Session III dari pelatihan Palivacana jam 07.30 WIB s.d 09.00 WIB. Saya hadir jam 09.00 WIB , disaat peserta pelatihan sedang break istirahat menikmati hidangan yang disajikan oleh panitia.

Session III pagi

Minggu, 30 Agustus 2009, pukul  09.15 WIB s.d 11.00 WIB. Pada session IV ini, Bhante Suratano melanjutkan pelatihan membaca Paritta. Semua ummat menyimak dengan antusias, sembari melakukan otto-kritik atas kesalahan-kesalahan selama ini dalam pengucapan / penguncaran Paritta.

Session III pagi

Hari Minggu 30 Agustus 2009 pukul 11.00 WIB. acara pelatihan Palivacana selesai. Para peserta kemudian duduk santai. Romo Sugiarto mengisi dengan kalimat-kalimat penutup.

Session IV pagi

Selesai

Selesai

Sesi Sharing antar ummat

Kemudian ada sesi SHARING dari peserta. Ada seorang peserta laki-laki yang maju ke depan, dan menyampaikan sharingnya, bahwa banyak ummat Buddha di sekitarnya yang kurang memiliki Saddha yang kuat terhadap Ti-Ratana , sehingga ketika tiba saatnya menikah dan mendapatkan pasangan yang non-Buddhis, mereka meninggalkan agama Buddha dan bersalin agama lain. Kemudian, peserta yang sharing tentang hal ini, mengusulkan supaya ummat Buddha yang hadir lebih saling mengenal, siapa tahu ada yang jodoh dan bisa berlangsung ke pernikahan ( he he, begitu sih memang inginnya si mas kayaknya… ;)   )

Tuntunan Puja Bhakti

CD Pelatihan Palivacana

Pembagian Buku & CD

Setelah acara sharing selesai, dilanjutkan dengan pembagian “TUNTUNAN PUJA BHAKTI” dan “CD PELATIHAN PALIVACANA” ( tiga seri ) oleh Bhante Dhammadiro. Semua perwakilan dari cabang / kabupaten di Jawa-Tengah memperolehnya dengan Cuma-Cuma.

Padesa Nayaka B.Cattamano menutup acara

Minggu, 30 Agustus 2009, pukul 12.30 WIB. Bhante Cattamano sebagai Padesa-Nayaka wilayah Jawa-Tengah, dan juga beserta Bhante Suratano, menutup acara dengan diawali Namakara-Patha pada Sang Buddha.

Dalam ceramahnya, Bhante Cattamano menyatakan kegembiraannya atas acara yang diselenggarakan oleh Keluarga Buddhis Indonesia wilayah Jawa-Tengah. Harapan Bhante Cattamano, semoga kedepan nantinya, ummat Buddha sudah mahir menguncarkan Paritta suci.

Namakara penutupan

Setelah selesai memberikan ceramah, Bhante Cattamano menutup dengan Namakara-patha yang ditujukan pada Sang Buddha.

Demikianlah jalannya keseluruhan acara Pendalaman Tata Cara Palivacana yang diselenggarakan oleh Keluarga Buddhis Indonesia wilayah Jawa-Tengah. Para peserta yang mengikuti acara pendalaman ini, nantinya  jika berminat akan melanjutkan ke jenjang berikutnya yaitu mengikuti ujian untuk mendapatkan sertifikasi dari Sangha sebagai tanda bukti bahwa ia telah mengikuti serangkaian pelatihan Palivacana dan lulus menempuh ujian pendalaman Palivacana.

Semoga berita ini bermanfaat bagi ummat Buddha Jawa-Tengah khususnya dan ummat Buddha dimanapun anda berada umumnya.

____________________________________________

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

– RATANA-KUMARO –

Semarang-Barat,Selasa, 1 September  2009

Posted in Acara Ummat Buddha, Berita Buddhis, BUDDHA | 2 Comments »

PANCASILA DAN ATTHANGASILA

Posted by ratanakumaro pada Agustus 30, 2009

“Ia yang memiliki Sila yang kuat dan mantap, memiliki kebijaksanaan dan konsentrasi, serta bersemangat dan rajin, akan dapat menyeberangi arus yang sukar diseberangi.” ( Samyutta Nikaya i.53 )

“Dengan perbuatan, pengertian, dan kebajikan, dengan Sila serta hidup suci – Dengan cara inilah orang-orang menjadi suci, dan bukan karena keturunan dan harta kekayaan” ( Majjhima Nikaya iii.262 )

“Bukan karena kelahiran orang menjadi sampah. Bukan karena kelahiran pula orang menjadi Brahmana (mulia). Oleh karena perbuatanlah orang menjadi sampah. Oleh karena perbuatan pula orang menjadi Brahmana.”

( Vasala-Sutta ( Khotbah tentang “Manusia-Sampah (Spiritual)” ; Sutta-Nipata, Sutta ke-7 )

___________________________________________________________

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattum (3X) )

Namatthu Buddhassa,

Dhamma indah pada permulaan, pada pertengahan, dan indah pada pengakhirannya ; demikian seringkali dinyatakan. Apa yang indah pada permulaan adalah moralitas ( Sila );  apa yang indah pada pertengahan adalah ketenangan ( samatha ) dan pandangan-terang ( vipassana ) serta Jalan ( Magga ) ; dan apa yang indah pada pengakhirannya adalah Buah ( Phala ) serta Nibbana .

Dalam Visuddhi-Magga karya Bhadantacariya Buddhaghosa disebutkan ada sembilan (9) manfaat dan kegunaan dari SILA :

  1. Serangkai “Tiga-Latihan”, Sila menunjang Samadhi ; dan Samadhi yang ditunjang Sila, akan menghasilkan akhir yang indah : Panna ( Kebijaksanaan Penembusan ).
  2. Disebutkan bahwa Sila menunjukkan manfaat awal dari Dhamma. Ada disebutkan ; “Dan apakah awal dari hal-hal yang bermanfaat ? Sila yang benar-benar murni” (Samyutta Nikaya v.143 ), “Tidak melakukan kejahatan” (Dhammapada 183 ) adalah Sila yang merupakan awal dari Ajaran. Dan itu adalah baik, sebab ia menghasilkan kualitas istimewa, yakni ketidak menyesalan ( Seseorang yang ber-Sila tidak akan menyesal ).
  3. Syarat-syarat yang diperlukan untuk tiga macam pengetahuan-batin (tevijja) ditunjukkan oleh Sila ; Karena ditunjang oleh Sila yang sempurna, seseorang mencapai tiga macam pengetahuan-batin ( Tevijjo ; 1). Pubbenivasanussati-nana : mengetahui kehidupan-kehidupannya yang lampau (tumimbal-lahir) , 2). Cutupapata-nana : mengetahui tumimbal lahir dari semua makhluk hidup, darimana sebelum dilahirkan dan akan terlahir kemana setelah kematiannya, 3). Asavakhaya-nana : mengetahui jalan melenyapkan nafsu kekotoran batin ) .
  4. Sila juga bermanfaat untuk penghindaran terhadap ekstrem pemuasan nafsu-nafsu keinginan.
  5. Demikian pula cara-cara untuk mengatasi keadaan yang merugikan ditunjukkan dengan Sila.
  6. Penglepasan kekotoran batin, dengan menggantikannya dengan sifat-sifat yang berlawanan dari kekotoran batin ditunjukkan dengan Sila.
  7. Pencegahan terhadap pelanggaran yang disebabkan oleh kekotoran batin, ditunjukkan dengan Sila.
  8. Pembersihan dari kekotoran tingkah-laku ditunjukkan dengan Sila.
  9. Demikian pula, syarat-syarat untuk tercapainya tingkat “Pemasuk-Arus” ( Sotapatti ) dan tingkat “Yang-Kembali-Sekali-Lagi” ( Sakadagami ) ditunjukkan dengan Sila.  Seorang “Pemasuk-Arus” ( Sotapanna ) disebut sebagai yang “Telah Sempurna dalam Sila”, demikian pula dengan “Yang-Kembali-Sekali-Lagi” ( Sakadagami ).  Tetapi bagi “Yang-Tidak-Kembali-Lagi” ( Anagami ) disebut “Telah Sempurna dalam Konsentrasi” ; dan Arahat disebut “Telah Sempurna dalam Kebijaksanaan”.

Ajaran Buddha adalah ajaran tentang pengakhiran penderitaan samsara melalui sebuah “Jalan” yang indah pada permulaan, pertengahan, dan pengakhirannya sebagaimana tersebut diatas.  Inilah “Tiga-Rangkaian-Latihan” : SILA -> SAMADHI -> PANNA. Dan pada kesempatan ini, kita akan membahas mengenai “SILA” , atau praktik latihan pemurnian-moralitas , yang merupakan awal dari sebuah kehidupan-suci.

PRAKTIK LATIHAN MORALITAS ( SILA ) DALAM SEJARAH BUDDHIS

Ajaran tentang praktik Sila ini diucapkan oleh Sang Buddha, pertama kalinya ketika Sang Buddha membabarkan Empat-Kesunyataan-Mulia pada kelima petapa :   Assaji, Vappa, Bhadiya, Kondanna dan Mahanama. Khotbah ini adalah khotbah pertama Sang Buddha setelah mencapai pencerahan-sempurna, dan khotbah ini kemudian dikenal sebagai “Dhammacakkapavatthana-Sutta”. Dalam Khotbah inilah Sang Buddha menyebutkan adanya Jalan untuk menuju berakhirnya Dukkha, ialah “Ariya-Atthangika-Magga” ( Jalan Ariya Beruas Delapan ), yang didalamnya terdapat ruas-ruas : Ucapan-Benar (Samma-Vaca), Perbuatan-Benar (Samma-Kamanta), Mata-Pencaharian-Benar (Samma-Ajiva) yang menunjuk pada “SILA”.

Meskipun demikian, sesungguhnya praktik “Sila” ini sudah dikenal sejak jaman para Buddha yang terdahulu, sebelum Sang Buddha Gotama. Di dalam Jataka ( kisah-kisah kehidupan lampau Siddhatta Gotama ) banyak sekali disebutkan kisah mengenai praktik “PANCASILA” ( Lima Aturan Moralitas )  dan “ATTHANGASILA” ( Delapan Aturan Moralitas ) pada saat hari Uposattha ; yang keduanya (Pancasila dan Atthangasila) ditujukan untuk dilatih oleh ummat awam. Sehingga, setidaknya praktik “PANCASILA” dan “ATTHANGASILA” ini telah dikenal dalam dunia Buddhis sejak empat (4) Asankkheyya-Kappa + seratus ribu ( 100.000 ) Kappa yang lampau  ( Sejak masa Buddha Dipankara, Buddha yang pertama kali yang tercatat  dalam khasanah Buddhisme ); dalam masa yang sangat jauh / lama sekali sebelum Siddhatta-Gotama terlahir kembali sebagai manusia sebagai Pangeran Kapilavatthu dan kemudian merealisasi ke-Buddha-an. Hal ini adalah wajar, sebab memang ajaran semua Buddha adalah sama, tiada beda.

Dalam “Jalan Ariya Beruas Delapan” ( Ariya Atthangika Magga ), “SILA” ini merupakan ruas dari : Ucapan-Benar (Samma-Vaca), Perbuatan-Benar (Samma-Kamanta), Mata-Pencaharian-Benar (Samma-Ajiva) . Dalam Cullavedala-Sutta dinyatakan :

-          Ucapan Benar (Samma-Vaca) yang manapun, Perbuatan Benar ( Samma-Kamanta) yang manapun, dan Mata Pencaharian Benar ( Samma-Ajiva ) yang manapun, kesemuanya disusun dalam kelompok Aturan Moralitas (Sila ).

-          Usaha Benar ( Samma- Vayama ) yang manapun, Perhatian Benar ( Samma-Sati ) yang manapun, dan Konsentrasi ( Samma-Samadhi ) yang manapun, kesemuanya disusun dalam kelompok Semedi ( Samadhi ).

-          Pengertian Benar (Samma-Ditthi ) yang manapun dan Pikiran Benar ( Samma-Sankappa ) yang manapun, kesemuanya disusun dalam kelompok Kebijaksanaan ( Panna ).

Dalam Visuddhi-Magga, Acariya Buddhaghosa menerangkan “Tujuh-Tingkat-Pemurnian” ( Satta-Visuddhi ). Sejalan dengan pencapaian masing-masing tingkat ini, berbagai pengetahuan pandangan-cerah / insight ( Nyana ) akan berkembang, menuju tingkat Pembebasan / Kesucian Tertinggi.  Tahap pemurnian yang pertama adalah “Pemurnian-Perilaku” atau “Pemurnian-Moralitas” ( Sila-Visuddhi ).

Lebih lanjut Acariya Buddhaghosa mendeskripsikan “Aturan-Moralitas-Buddhis” sebagai berikut :

-          Menunjukkan sikap batin atau kehendak.

-          Menunjukkan penghindaran  yang merupakan unsur batin.

-          Menunjukkan pengendalian diri.

-          Menunjukkan tiada pelanggaran peraturan yang telah ditetapkan.

MANFAAT DARI PRAKTIK “SILA”

Mengapa “SILA” ini merupakan awal dari tiga-rangkaian-latihan ( Sila -> Samadhi -> Panna ) ? Karena, Sila ini bermanfaat memberikan “Ketiadaan-Rasa-Sesal”. Dengan begitu, batin menjadi tenang, damai, karena terkondisikan dalam perbuatan-perbuatan yang bajik, benar, lurus, dan oleh karenanya tiada lagi penyesalan atas tindakan-tindakan salah ( sebab telah dihindari / tidak dilakukan ).

Praktik “SILA” juga merupakan cara untuk mengendalikan diri dari segala bentuk-bentuk pikiran yang tidak baik atau merupakan usaha untuk membebaskan diri dari lobha (keserakahan/nafsu-indriya), dosa (kemarahan/kebencian), moha (kebodohan-batin).

Dalam Mahaparinibbana-Sutta ( Diggha-Nikaya ) , Sang Buddha bersabda pada ummat perumah-tangga mengenai manfaat yang akan diperoleh dari dilaksanakannya praktik latihan moralitas ( Sila ) :

-          Menyebabkan seseorang memiliki harta kekayaan yang melimpah.

-          Mendatangkan nama baik.

-          Menimbulkan rasa percaya diri dalam lingkungan pergaulan dengan golongan sosial manapun.

-          Menyebabkan kelahiran-kembali ke alam-alam surga.

DASAR TIMBULNYA PRAKTIK “SILA”

Munculnya “SILA” ini didasari adanya :

-          Hiri : Rasa malu untuk berbuat jahat.

-          Otappa : Rasa takut akan akibat perbuatan jahat.

Hiri dan Ottapa ini disebut sebagai “pelindung-dunia” ( Lokapaladhamma ). Tanpa adanya “Hiri” dan “Otappa” , maka dunia ini akan dicengkeram kejahatan, para makhluk menjadi “tidak-aman” untuk berdiam dalam bumi ini ; karena manusia akan bertindak tanpa merenungkan konsekuensi dari tindakannya. “Hiri” dan “Otappa” ini pula yang akan digunakan oleh seseorang untuk melindungi praktik Sila-nya.

PRAKTIK PENSUCIAN-SILA : AKAR KEHIDUPAN SUCI

Matara Sri Nanarama Mahathera, dalam bukunya “Tujuh Tingkat Kesucian & Pengertian Langsung” (Yayasan Penerbit Karaniya, Juli 2003 ) menyatakan, yang paling pertama dan paling mendasar dari kehidupan meditasi adalah “Kesucian-Sila” yang terdiri dari pengertian dan mempertahankan pengendalian, yaitu :

  1. Mematuhi janji pelaksanaan Sila yang telah diucapkan dan melindunginya seperti melindungi kehidupannya sendiri.
  2. Menjaga enam pintu indera dan tidak membiarkan timbulnya noda.
  3. Mempertahankan kehidupan yang benar.
  4. Menggunakan keperluan hidup dengan bijaksana.

Seorang yogi yang hidup menuruti keempat cara pengendalian tersebut akan memperoleh ketidakterikatan terhadap sesuatu atau pun penolakan terhadap sesuatu. Dengan demikian yogi tersebut memiliki kehidupan yang “Terang”, ringan jasmani dan puas dalam batin, bebas dari beban kepemilikian apa pun juga di dunia ini.

Setiap siswa Sang Buddha hendaknya memiliki Sila yang baku yang ditujukan pada realisasi Nibbana. Bagi para Bhikkhu dan Bhikkhuni diharapkan mematuhi peraturan yang diberikan dalam dua disiplin moral sesuai dengan tanggung jawab mereka dalam Patimokkha. Samanera dan Samaneri harus memperhatikan “DASASILA” sebagai standar Sila mereka.

Sedangkan bagi para upasaka dan upasika hendaknya memegang teguh PANCASILA sebagai standar Sila mereka dalam kehidupan sehari-hari ; dan ATTHANGASILA ( Delapan Sila ) dianjurkan sebagai Sila khusus untuk hari-hari Uposatha.

Seorang Upasaka / sika yang tertarik untuk lebih memperdalam spiritualitas dan semakin dalam melepaskan kemelekatan-kemelekatan, dapat menjadi seorang ANAGARIKA / ANAGARINI yang memegang teguh praktik ATTHANGASILA ( Delapan Sila ), atau pun juga mempraktekkan DASASILA dalam kehidupan sehari-hari dalam kehidupannya bermasyarakat.

Lebih lanjut, Matara Sri Nanarama Mahathera, dalam bukunya “Tujuh Tingkat Kesucian & Pengertian Langsung” (Yayasan Penerbit Karaniya, Juli 2003 ) menyatakan, untuk mencapai Jalan Suci ( Magga ) dan Buahnya ( Phala ), baik Bhikkhu maupun ummat awam keduanya harus mengembangkan Sila pengendalian indera. Sila pengendalian indera ini adalah menjaga dengan penuh perhatian keenam pintu indera : mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran. Dengan penuh kesadaran ia harus mencegah munculnya noda-noda yang dicetuskan dari kesan-kesan indera – semua bentuk keinginan – keruwetan yang kecil maupun yang besar, atau pun juga kesombongan yang sangat halus, yang berakar pada “kepalsuan-diri” , dan kebodohan. “Kepalsuan-diri” ( Atta ) adalah sesuatu yang sangat sukar dipahami. Tetapi dengan penuh kesadaran, seseorang mencatat dalam batin setiap objek yang “muncul” pada keenam indera, maka orang tersebut akan dapat membembaskan diri dari “kepalsuan-diri” ( atta ). Ketidaktahuan mengenai yang seharusnya diketahui adalah sama dengan pengertian yang salah mengenai diri ( atta ).

Bila gagal untuk mencatat dalam batin atas timbulnya suatu perasaan yang menyenangkan maka hal itu akan memberi kesempatan bagi keserakahan ( lobha ) untuk muncul. Kegagalan mencatat dalam batin terhadap perasaan yang tidak menyenangkan dapat menjadi kesempatan bagi timbulnya kebencian (dosa), sedangkan kegagalan mencatat dalam batin terhadap perasaan yang bukan-menyenangkan-maupun-bukan-tidak-menyenangkan memberikan kesempatan bagi kepalsuan, pengertian yang salah, atau pun kebodohan untuk muncul. Karena itu latihan untuk mencatat dalam batin terhadap setiap objek yang muncul pada keenam indera akan sangat menolong dalam mengusir kecenderungan terhadap kebodohan yang sudah ada secara laten.

Sang Buddha bersabda, “ Dalam hal perasaan yang menyenangkan, Visakha, kecenderungan laten dari kemelekatan (lobha) harus dihancurkan. Dalam hal perasaan yang menyakitkan, kecenderungan laten dari kebencian (dosa) harus dihancurkan. Dalam hal perasaan yang bukan-menyenangkan-maupun-tidak-menyenangkan, kecenderungan laten dari kebodohan (moha) harus dihancurkan.” ( M.I 303 ; Culavedalla Sutta ).


I. PANCASILA

Dibawah ini adalah kelima Sila dari Pancasila yang telah dijalankan oleh ummat Buddha setidaknya sejak jaman Sang Buddha Gotama ( kurang lebih 600 tahun sebelum Masehi ) :

1. Pāņatipātā veramaņī sikkhāpadam samadiyami

( Aku bertekad melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup )

2. Adinnadana veramani sikkhapadam samadiyami

( Aku bertekad melatih diri menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan )

3. Kamesumicchacara veramani sikkhapadam samadiyami

( Aku bertekad meatih diri menghindari perbuatan asusila, tindakan sexual yang tidak benar )

4. Musavada veramani sikkhapadam samadiyami

( Aku bertekad melatih diri menghindari ucapan tidak-benar / dusta )

5. Surameraya majjapamadatthana veramani sikkhapadam samadiyami

( Aku bertekad melatih diri menghindari meminum minuman keras, mengkonsumsi barang madat hasil peragian yang menyebabkan lemahnya kesadaran )

Dalam pelaksanaan latihan moralitas / Sila tidak ada unsur paksaan, karena itulah semua Sila tersebut senantiasa diawali dengan kalimat “ Aku bertekad melatih diri…dst.”. Aturan moralitas ini bukanlah “Perintah-Tuhan” ; namun sebuah praktik yang didasari atas kesadaran dan kehendak baik yang telah timbul di dalam diri seorang siswa Sang Buddha. Dengan didasari kesadaran dan kehendak baik inilah, maka pelaksanaan Sila ini diliputi dengan kebijaksanaan, dan seorang siswa Sang Buddha yang telah menyadari pentingnya praktek latihan Sila ini, tidak akan melanggar latihan ini, sebab mengetahui bahwa setiap bentuk pelanggaran atas masing-masing Sila ini memiliki akibat / konsekuensi bagi dirinya sendiri berupa vipaka ( buah-karma ).

1. SILA PERTAMA PANCASILA BUDDHIST

“Panatipata veramani sikkhapadam samadiyami”. Kata “Panatipata” terdiri dari dua kata : Pana dan atipata. Kata “Pana” dalam bahasa Pali secara tegas berarti “kehidupan batin-jasmani mengenai keberadaan makhluk tertentu”, sedangkan “atipata” secara harafiah berarti “berakhir” atau “lepas dengan cepat”. Penghancuran secara kejam dari kekuatan kehidupan ini, tanpa mengijinkannya untuk bergerak sesuai dengan waktu hidupnya sendiri, itulah makna dari “Panatipata”.

“ Makhluk Hidup “ disini berarti termasuk dunia hewan, tetapi tanaman tidak termasuk karena mereka tidak mempunyai pikiran, perasaan, persepsi, dan kesadaran apapun ( “ jiwa “ ). Namun meskipun demikian, para Bhikkhu, diharuskan untuk tidak menghancurkan kehidupan tanam-tanaman sekalipun. Hukum ini tidak ditujukan untuk orang biasa yang hidup berumah-tangga.

Dasar dari Sila Pertama dari Pancasila Buddhis ini adalah praktik Kesempurnaan Cinta-Kasih ( Metta-Parami ) dan Kesempurnaan Kasih-Sayang ( Karuna-Parami ).

Sang Buddha pernah bersabda :

“Meletakkan senjata kekerasan, berhenti membunuh makhluk apa pun, berhenti menyebabkan orang lain membunuh makhluk apa pun ; inilah arti “Brahmana”.” (629) [Vasettha-Sutta ; Sutta-Nipata , Bab III : Bab-Besar, Sutta ke-9 ]

“Dia yang tidak menunjukkan kemarahan terhadap mereka yang marah, yang damai terhadap mereka yang menggunakan kekerasan, yang tidak tamak di antara mereka yang cenderung tamak, adalah orang yang kusebut Brahmana.” (630). [Vasettha-Sutta; Sutta-Nipata, Bab III : Bab-Besar, Sutta ke-9]

Lima keadaan dibawah ini diperlukan untuk terjadinya kejahatan membunuh :

  1. Makhluk hidup,
  2. Pengetahuan bahwa ia makhluk hidup,
  3. Kehendak untuk membunuh,
  4. Usaha untuk membunuh,
  5. Adanya kematian.

Ciri dari makhluk hidup yang dimaksudkan disini adalah :

  1. Memiliki pikiran dan atau kesadaran.
  2. Memerlukan makanan.
  3. Dapat bergerak.
  4. Dapat melakukan suatu kegiatan atau perbuatan.
  5. Terlihat oleh mata.

Objek dari pembunuhan makhluk hidup yang dimaksud dibedakan menjadi :

1.   Manusia
2.   Binatang

  1. Binatang yang berguna
  2. Binatang yang tidak berguna
  3. Binatang yang merugikan
  4. Binatang yang tidak merugikan

Faktor Kehendak (Cetana) yang berperan dalam pembunuhan tersebut dibedakan menjadi :

1.   Direncanakan/disengaja/dikehendaki . Contoh dari hal ini adalah pembunuhan berencana yang dilandasi kebencian / pembalasan dendam ( seperti misalnya yang dilakukan oleh gerombolan teroris, kawanan perampok, atau perorangan yang memendam kebencian/rasa dendam terhadap orang/kelompok orang lainnya ).

2.   Tidak di kehendaki

  1. Dorongan sesaat (mendadak) , misalnya kemarahan seorang ayah terhadap anaknya ketika si anak melakukan sesuatu hal yang membuat ayah tersebut naik-pitam dan tanpa disadari kemarahan ayahnya yang meledak itu akhirnya menyebabkan tewasnya si anak tersebut. Demikian sebaliknya ; dan juga berlaku untuk kasus-kasus serupa lainnya.
  2. Mempertahankan diri, misalnya suatu negara diserang oleh negara lainnya dalam peperangan. Tak bisa dihindari, maka tentara dan rakyat negara tersebut yang terlibat dalam upaya mempertahankan kedaulatan akan sangat mungkin melakukan pembunuhan terhadap pasukan negara asing yang menyerang.
  3. Kecelakaan, misalnya seorang pengendara motor yang  mengalami kecelakaan sehingga menyebabkan seseorang yang diboncengkan olehnya meninggal dunia.

Faktor Usaha yang berperan dalam pembunuhan tersebut dibedakan menjadi :
1.   Secara Langsung, yaitu misalnya pembunuhan yang dilakukan oleh orang tersebut dengan tangannya sendiri.
2.   Secara tidak Langsung, yaitu misalnya seseorang yang berniat membunuh orang lain dengan cara menyuruh atau menyewa orang yang lain lagi untuk melakukan pembunuhan tersebut atas nama si penyuruh dan atas persetujuan si penyuruh.

Secara luas, makna dari Sila I Pancasila Buddhis “Panatipata veramani sikkhapadam samadiyami” ini mencakup tekad diri sendiri untuk menghindari penyiksaan dan atau penganiyayaan terhadap makhluk hidup seperti misalnya :

1.   Membiarkan manusia dan binatang kelaparan
2.   Mencambuk/memukul / menyakiti bagian tubuh manusia dan binatang
3.   Menganggu/mengusik manusia dan binatang yg tidak bersalah
4.   Mengadu manusia dan binatang untuk kesenangan
5.   Menjadikan binatang sebagai umpan untuk menangkap binatang lainnya

Bobot kejahatan tergantung pada kebaikan dan besarnya makhluk yang bersangkutan. Pembunuhan terhadap seorang saleh atau seekor hewan besar ( gajah, lembu, kerbau, dll. ) dipandang lebih kejam daripada pembunuhan terhadap seorang yang keji, bengis, jahat ataupun seekor hewan kecil ( nyamuk, semut, kecoa, ulat, dll. ). Hal itu dianggap demikian karena usaha lebih besar diperlukan untuk melakukan kejahatan itu dan kehilangan yang ditimbulkan dipandang lebih besar.

Buah karma buruk dari membunuh adalah :

  1. Umur pendek,
  2. Kesehatan yang buruk,
  3. Selalu berduka karena perpisahan dari mereka yang dicintai, dan,
  4. Selalu ketakutan.

Tindakan pembunuhan dan atau penganiayaan ini merupakan kelompok kamma yang disebut dengan “akusala-kaya-kamma” ; perbuatan buruk yang akan masak di alam keindriyaan (kamadhatu) yang dilakukan melalui tindakan jasmani.  Akusala-kaya-kamma ini dalam kategorisasi kamma termask dalam kategori “kamma berdasarkan kedudukannya” ( Pakatthanacatukka ).

Ada pula pembunuhan dan atau penganiyayaan yang berakibat sangat berat, yaitu yang termasuk dalam golongan “Garuka-Kamma” ( kamma yang berat/serius ), yaitu :


1). Membunuh ibu,

2). Membunuh ayah,

3). Membunuh Orang Suci, Yang Tercerahkan,

4). Melukai Seorang Buddha,

5).Menimbulkan perpecahan dalam persaudaraan para suci / Sangha.

Jika, seandainya seseorang mengembangkan Jhana dan kemudian melakukan salah satu dari kebengisan tersebut, kamma baiknya akan dihapuskan oleh kamma jahat yang sangat kuat itu. Kelahiran berikutnya akan terbentuk oleh kamma jahat walaupun sebelumnya ia sudah mencapai Jhana.

Garukakamma merupakan bentuk kejahatan yang paling berat. Janganlah melakukannya dalam keadaan apapun. Ini akan menghalangi seseorang mencapai Nirvana ( Anguttara Nikaya III,146 ).

Kasus-Kasus tertentu yang tidak Melanggar Sila I Pancasila Buddhis

Ada beberapa kasus yang tidak dianggap melanggar Sila I Pancasila Buddhis.

1. Kasus Perebusan Air untuk diminum

Dalam kasus perebusan air untuk diminum, hal ini bagi ummat awam dianggap tidak melanggar Sila I Pancasila Buddhis. Sebab, bakteri yang terdapat dalam air tersebut tidak terlihat oleh mata manusia awam yang membutuhkan air untuk diminum tersebut ( ingat ciri-ciri makhluk hidup tersebut diatas, salah satunya “terlihat-oleh-mata” ). Namun, meskipun demikian, dianjurkan ( dan dipraktekkan bagi para Bhikkhu ), bahwa sebelum meminum air, maka air tersebut haruslah disaring terlebih dahulu dan dipastikan tidak ada makhluk hidup apapun juga yang terlihat oleh mata di dalam air tersebut sebelum meminum / merebusnya. Sehingga, bila ternyata setelah diteliti melalui uji laboratorium dan mikroskopik terdapat bakteri-bakteri disana, maka tetaplah tidak ada karma buruk yang akan berbuah. Ingat, bahwa faktor utama sesuatu tindakan dapat disebut sebagai “Kamma” adalah adanya niat/kehendak ( Cetana ) ; Sang Buddha pernah bersabda, “O, para Bhikkhu, Cetana itulah yang Aku sebut Kamma.”

2. Penggunaan obat-obatan untuk menyembuhkan orang sakit

Tidak terhindarkan, semua manusia pasti mengalami sakit-penyakit. Dalam hal ini, maka kita diperbolehkan menggunakan obat-obatan untuk menyembuhkan derita sakit jasmani yang kita alami, baik berupa obat luar, maupun berupa obat dalam. Sang Buddha sendiri, pernah suatu ketika mengalami sakit jasmani, kemudian mengijinkan tabib-Nya yang bernama Jivakakomarabhaca untuk menggunakan obat luar dan obat dalam dalam rangka membantu kesembuhan Sang Buddha.

Secara alamiah , banyak bakteri dan virus yang masuk kedalam tubuh manusia, dan tubuh manusia akan secara defensif membuat antibodi untuk melawannya. Sehingga, dalam hal ini, usaha-usaha yang dilakukan untuk mengobati tubuh manusia yang menderita akibat serangan bakteri/virus dianggap sama dengan reaksi alami tubuh manusia ketika membuat antibodi untuk melawannya. Lagipula, upaya mengkonsumsi obat untuk kesembuhan diri dilandasi niat untuk pemulihan dan kesehatan, bukan niat untuk melakukan “pembunuhan-massal”.

Kasus Bunuh Diri : Contoh Lain dari Pembunuhan Makhluk Hidup

Tindakan bunuh diri didasari oleh adanya kebodohan-batin (Moha).  Seseorang yang melakukan tindakan bunuh-diri tidak mengerti, bahwa tindakannya itu tidak mengakhiri masalah / penderitaan yang dialaminya, karena setelah tubuh fisiknya mati, ia akan melanjutkan kehidupannya (tumimbal-lahir) dalam bentuk dan alam yang lainnya lagi sesuai kamma-kamma-nya sendiri.

Berbeda dengan kasus pembunuhan yang dilakukan tanpa sengaja ( seperti misalnya ketika merebus air, berjalan menginjak semut atau binatang2 kecil lainnya, dan lain-lain ), maka kasus bunuh-diri ini jelas melanggar Sila I Pancasila Buddhis.

Penganiayaan dan Pembunuhan terhadap Hewan

Banyak orang beranggapan, bahwa melakukan penganiyayaan dan pembunuhan terhadap binatang tidaklah merupakan suatu bentuk kekejaman. Bahkan bagi orang-orang tertentu dengan suatu kepercayaan tertentu, melakukan pembunuhan massal terhadap beberapa jenis binatang sebagai bagian dari perangkat kepercayaannya. Bagi orang-orang ini, binatang “diciptakan” untuk dikuasai oleh manusia, dan diperlakukan sesuai kehendak manusia.

Namun dalam ajaran Buddha, manusia hendaknya tidak melakukan kekerasan, penganiyayaan dan atau pembunuhan terhadap makhluk-hidup apapun juga, termasuk binatang. Binatang, entah bagaimanapun manusia umumnya memandang, sesungguhnya memiliki “perasaan” sebagaimana manusia memilikinya. Binatangpun bisa berpikir hingga batas-batas tertentu. Binatang pun memiliki kesadaran sebagaimana manusia memilikinya. Binatang juga tidak rela jika hak hidupnya dirampas. Hewan-hewan yang akan disembelih, seringkali meneteskan air mata dengan menghiba. Karena memiliki pikiran, perasaan, pencerapan, dan kesadaran, maka binatang dalam Buddhisme dikelompokkan sebagai makhluk-hidup, dan penganiayayan serta pembunuhan terhadap binatang, akan mengakibatkan buah-kamma ( vipaka ) buruk di kemudian hari.

Penganiyayaan dan pembunuhan terhadap binatang, akan memiliki dampak psikologis bagi si pelaku penganiyayaan / pembunuhan. Dan, negara pun mempunyai hukum-hukum yang jelas berkaitan dengan penganiyayaan dan pembunuhan binatang tersebut.

Rekan saya pernah bercerita. Di negeri Belanda, bahkan mengangkut ayam menggunakan kendaraan pun harus dilakukan dengan penuh welas-asih : tidak boleh seenaknya, tidak boleh kepalanya terbalik / tergantung. Ayam yang diangkut dengan kendaraan harus didudukkan dengan benar, atau menggunakan kandang. Jika seseorang tertangkap mata membawa ayam dengan posisi seenaknya, ia akah dikenakan hukuman. Kata salah seorang teman saya dari negeri Belanda, hal ini didasari alasan bahwa ayam itu sudah menderita sebab hendak disembelih, sehingga seyogyanya ketika mengangkutnya dari peternakan ke tempat penyembelihan tidaklah dilakukan dengan kasar dan seenaknya, untuk menghargai arti sebuah kehidupan bagi ayam tersebut.

2. SILA KEDUA PANCASILA BUDDHIST

Adinnadana veramani sikkhapadam samadiyami. Kata Adinnadana” dalam bahasa Pali berasal dari kata “A”, “Dinna”, dan “Adana”. Kata “A” berarti tidak. Kata “Dinna” berarti barang yang diberikan oleh pemiliknya. Dan, kata “Adana” bearti mengambil barang atau merampas.  Sehingga, makna dari “Adinnadana” adalah mengambil barang yang tidak diberikan ; atau dalam bahasa umumnya disebut dengan mencuri.

Lima ( 5 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kejahatan mencuri, yaitu :

i. Harta milik orang lain,

ii. Pengetahuan bahwa harta itu memang milik orang lain,

iii. Kehendak untuk mencuri,

iv. Usaha untuk mencuri,

v. Pemindahan yang sesungguhnya.

Buah karma buruk dari mencuri adalah :

  1. Kemiskinan,
  2. Penderitaan,
  3. Kekecewaan,
  4. Kehidupan yang bergantung pada pihak lain.

Objek dari tindak pencurian adalah :

  1. Segala harta benda milik orang lain
  2. Segala harta benda / fasilitas milik umum / masyarakat.

Pencurian, dibagi menjadi :

  1. Pencurian secara langsung a. Mencuri

Contoh-contoh dari tindakan mencuri sangat banyak. Seorang karyawan yang mengambil aktiva perusahaan dengan diam-diam dan tanpa seijin pemilik, kemudian untuk digunakan bagi kepentingan pribadinya, ini juga merupakan salah satu contoh tindakan mencuri. Perumah-tangga yang mengambil tambahan tegangan listrik dengan cara men-setting aliran listrik perumahan, ini juga merupakan contoh tindakan mencuri. Seorang maling yang masuk ke rumah orang dan mengambil barang-barang berharga milik pemilik rumah, juga merupakan contoh tindakan mencuri. Dan masih banyak lagi contoh yang lainnya.

b. Merampas / Merampok

Mengambil dengan paksa, dengan atau tanpa melukai pemilik harta-benda tersebut, ini disebut merampas dan atau / merampok. Bila pemilik harta-benda melawan, maka bisa terjadi kemungkinan perampas/perampok melukai pemilik harta-benda tersebut.

c. Memeras

Pungutan liar yang diambil oleh oknum-oknum pemerintah pada masyarakat, atau yang dilakukan oleh preman jalanan, atau juga yang dilakukan seorang penculik anak-anak terhadap orang tua dari anak-anak yang diculiknya, ini semua mreupakan contoh dari memeras.

d. Menipu

Pedagang yang mengatur timbangannya untuk menunjukkan berat-timbangan yang tidak sesuai  dengan berat aslinya, ini adalah contoh mencuri dengan cara menipu.

e. Memalsukan

Memalsukan check, atau memalsukan tanda-tangan, memalsukan produk-produk dagangan tertentu, ini semua merupakan contoh dari memalsukan.

f. Korupsi

Pejabat yang mengambil uang-negara untuk kepentingan pribadi dan keluarganya, ini contoh dari tindak korupsi.

g. Mengingkari janji

Peminjam barang yang mengingkari janjinya untuk mengembalikan barang tersebut tepat-pada waktunya, merupakan contoh mencuri melalui mengingkari-janji.

h. Menukar barang

Seorang penjual yang menukar barang pembeli, misal dari kualitas A namun ketika diserahkan digantikan dengan kualitas B, ini juga merupakan contoh mencuri dengan cara menukar barang.

i. Menyelundupkan barang

Memindahkan barang dagangan dari satu tempat ke tempat lainnya, dengan sembunyi-sembunyi, dengan tujuan menghindari pengenaan pajak, ini merupakan contoh dari mencuri dengan cara menyelundupkan barang.

2. Pencurian secara tidak langsung

a. Menjadi tukang tadah

Membantu para pencuri dengan menjadi tukang tadah curiannya, menyimpankannya, kemudian menjualkan barang-barang hasil curian tersebut, ini adalah contoh dari mencuri dengan cara menjadi tukang tadah.

b. Merayu

Hal ini bisa ditemukan dalam pasangan yang kasmaran yang didasari oleh niat buruk untuk menguras kekayaan pasangannya. Misalkan , seorang perempuan cantik mendekati laki-laki yang kaya raya, kemudian merayu dan memikatnya, lalu mulai menguras harta-benda dari laki-laki tersebut, setelah tercukupi/terpuaskan, perempuan cantik tersebut pergi meninggalkan laki-laki kaya itu. Inilah salah satu contoh mencuri dengan merayu.

c. Mempengaruhi orang lain untuk menipu orang yang lainnya

Meskipun tindakan penipuan ini melalui perantara, namun tetaplah merupakan tindakan pencurian melalui penipuan.  Selain merugikan orang lain (pihak ketiga) yang ditipu, kita juga telah memaksa seseorang ( pihak kedua ) untuk melakukan tindak penipuan.

d. Menerima suap

Seorang hakim yang menerima suap dari seorang terdakwa demi membebaskan sang terdakwa dari hukuman negara, ini merupakan salah satu contoh tindakan mencuri dengan cara menerima suap.

Perbuatan Tidak Terpuji Lainnya yang Setara dengan Pencurian


  1. Menghancurkan barang milik orang lain dengan sengaja

Tindakan ini merugikan, karena barang milik orang lain yang rusak dan hancur, adalah sama dengan menghilangkan barang milik orang tersebut. Semisal seseorang dengan sengaja menghancurkan komputer milik orang lain, maka si pemilik tidak lagi bisa menikmati fasilitas komputer yang dimilikinya.

2. Menggunakan barang yang bukan miliknya sendiri dengan seenaknya / tanpa tanggung-jawab

Contohnya adalah seseorang yang meminjam sepeda motor milik orang lain, namun menggunakannya dengan tanpa kehati-hatian, tanpa tanggung-jawab, sehingga menyebabkan beberapa komponen sepeda motor itu rusak, dan ia mengembalikan sepeda motor itu dalam kondisi yang buruk / tidak seperti sediakala ketika ia meminjamnya.

Mencuri dengan berbagai variannya , seperti yang sudah dicontohkan dan diterangkan diatas, adalah merupakan tindakan buruk.  Mencuri, dalam kategorisasi kamma termasuk dalam tindakan-jahat yang dilakukan melalui tubuh ( akusala-kaya-kamma ). Buah dari kamma buruk jenis ini akan masak di alam keindriyaan ( kamadhatu ).

Oleh karena itulah, Sang Buddha mengajarkan para siswa-Nya untuk ber-Mata-Pencaharian-Benar ( Samma-Ajiva ), tidak melalui cara-cara pencurian dan segala tindakan-jahat untuk memperoleh nafkah.  Ada kebahagiaan yang akan diperoleh oleh seseorang yang mencari nafkah dengan benar, yaitu :

  1. Rasa bangga karena memiliki harta-kekayaan secara sah.
  2. Bebas dari rasa takut/khawatir, dan akan merasa aman untuk pergi kemanapun juga.
  3. Dapat menggunakan harta yang dimiliki dengan tanpa kerisauan / segala bentuk tekanan batin ; karena harta tersebut diperoleh dengan benar dan sah, sehingga tidak ada perasaan bersalah dalam batinnya.
  4. Memperkuat kemampuan dalam menghindari perbuatan-perbuatan jahat.

Berat ringannya buah kamma yang didapatkan seorang pencuri, tergantung pada :

  1. Jenis barang yang dicuri beserta nilai barang tersebut
  2. Motif pencurian tersebut
  3. Usaha yang dilakukan

Umumnya mencuri dilandasi motif keserakahan (lobha), namun tak jarang pula pencurian dilandasi oleh motif kebencian (dosa). Menurut hukum kamma, tindakan yang dilandasi kebencian (dosa) memiliki buah kamma buruk yang lebih berat dibandingkan tindakan yang dilandasi oleh keserakahan (lobha). Contohnya, pencurian yang dilandasi kebencian adalah dengan menghancurkan berbagai asset dari seseorang yang dibencinya, bahkan bisa hingga disertai pembunuhan terhadap seseorang yang dibencinya tersebut. Tentu buah kamma buruk ini jauh lebih berat bila dibandingkan dengan seorang pencuri yang hanya mencuri barang-barang saja tanpa dengan tindakan penghancuran dan pembunuhan.

3. SILA KETIGA PANCASILA BUDDHIS

Kamesumicchacara veramani sikkhapadam samadiyami. Kata “Kamesumicchacara” dalam bahasa Pali berasal dari tiga suku kata : Kama, miccha, dan cara.

“Kamesu” dalam bahasa Pali merupakan bentuk jamak dari kata “kama” yang berarti kesenangan indriya, atau nafsu-seksualitas. Hasrat indriya ini berlandaskan kelima indriya ( penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, perasa ) dan satu indra pikiran.

“Miccha” artinya adalah : Salah , ini merupakan lawan dari kata “Samma” yang artinya : Benar.

“Cara” artinya adalah pelaksanaan atau tingkah-laku.

Sehingga, kamesumicchacara diartikan sebagai “perbuatan/perilaku sex yang tidak benar”.

Empat ( 4 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kejahatan pelanggaran susila :

  1. Pikiran untuk menikmati,
  2. Usaha ke arah itu,
  3. Cara untuk memuaskan,
  4. Pemuasan.

Buah karma buruk dari pelanggaran susila  yang tak dapat dielakkan yaitu :

  1. Mempunyai banyak musuh,
  2. Mendapat suami atau istri yang tidak diinginkan,
  3. Lahir sebagai perempuan; orang kasim ; banci atau /  waria.

Objek yang merupakan pelanggaran Sila III Pancasila Buddhist bagi seorang laki-laki adalah :

1. Wanita yang telah menikah atau akan menikah

Yang dimaksudkan adalah semua wanita yang telah menikah dan atau akan menikah dengan orang lain tanpa memandang latar belakang status sosial dan motivasi pernikahannya.

  1. Wanita yang sudah bertunangan
  2. Wanita yang sudah dibeli atau digadaikan oleh orang-tuanya
  3. Wanita yang tinggal dengan lelaki yang dicintainya
  4. Wanita yang sudah menikah menurut adat-istiadat dan tradisi agama tertentu
  5. Wanita yang dinikahi oleh laki-laki dalam jangka waktu tertentu ( misalnya dalam kasus kawin kontrak )

2. Wanita yang masih dalam Pengawasan Keluarga atau Asuhan Wali

Meliputi semua wanita yang belum menikah yang masih dalam pengawasan keluarga dan atau asuhan wali. Pelanggaran terhadap hal ini biasanya berupa kawin-lari.

3. Wanita yang dilarang untuk disetubuhi menurut adat-istiadat, aturan agama atau peraturan negara.

a. Wanita yang masih dalam satu garis keturunan ; artinya wanita yang masih dalam hubungan keluarga / kekerabatan. Contoh pelanggaran misalnya adalah seorang kakak laki-laki yang menyetubuhi adik perempuannya sendiri ; atau perkawinan inses. Hubungan sedarah telah terbukti menghasilkan keturunan yang lemah, baik secara biologis maupun mental, bahkan hingga bersifat mematikan.

b. Wanita yang dalam perlindungan Dhamma ; contohnya adalah para Upasika Atthasila ( Anagarini ), para Samaneri, dan para Bhikkhuni.

c. Wanita yang menjadi selir raja atau orang yang berkuasa ; ini menjadi terlarang karena adanya hukum kerajaan yang berlaku.

Objek yang merupakan pelanggaran Sila III Pancasila Buddhist bagi seorang perempuan adalah :

  1. Laki-laki yang telah menikah.
  2. Laki-laki yang dilarang untuk disetubuhi karena peraturan agama , misalnya : Upasaka Atthasila ( Anagarika ), Samanera, dan Bhikkhu.

Terjadinya pelanggaran Sila III Pancasila Buddhis adalah ketika :

  1. Seorang wanita/alki-laki yang berbuat asusila dengan laki-laki/wanita yang terlarang baginya, telah melakukan perzinahan
  2. Seorang wanita yg masih di bawah asuhan melakukan perbuatan asusila dengan laki-laki yang tidak merupakan objek terlarang baginya, tidak melanggar sila ini. Tetapi, wanita tersebut dapat dikatakan melanggar Dhamma karena menodai dirinya sendiri, dan menjatuhkan nama baiknya dalam masyarakat.

Hal-hal lain yang dikategorikan pelanggaran sila ketiga yang harus juga kita hindari :

1.   Berzinah (melakukan hubungan kelamin bukan dengan suami/istrinya)
2.   Berciuman dengan lain jenis kelamin yang disertai nafsu birahi
3.   Menyenggol, mencolek & sejenisnya yang disertai nafsu birahi

Catatan :
Tujuan sila ketiga ini adalah untuk mencegah perceraian, dan membina keharmonisan serta kepercayaan timbale balik antara suami istri

4. SILA KEEMPAT PANCASILA BUDDHIS

Musavada veramani sikkhapadam samadiyami. Kata Musavada terdiri dari dua kosakata, yaitu “Musa” dan “Vada”. Kata “Musa” berarti sesuatu yang tidak benar, sedangkan kata “Vada” berarti ucapan. Jadi, arti dari “Musavada” adalah ucapan yang tidak benar ; biasanya diartikan sebagai berbohong ataupun berdusta, meskipun makna yang sesungguhnya dari ucapan tidak benar adalah  lebih luas daripada sekedar berbohong / berdusta.

Mengenai ucapan-benar ( samma-vaca ) ini Sang Buddha bersabda :

“Tetapi jika secara alami dia terlalu banyak bicara, dan senang menyakiti yang lain secara kasar, kehidupan orang seperti ini menjadi tidak bermanfaat dan kekotoran batinnya meningkat.” (275) [Dhammacariya-Sutta ; Sutta-Nipata, Bab II : Bab Minor , Sutta ke-6 ]

“Hendaklah bhikkhu itu menghindari fitnah dan meninggalkan kemarahan dan keserakahan. Dan setelah terbebas dari keterikatan dan penolakan, dia akan menjalani kehidupan tak-berumah secara benar.” (362) [ Sammaparibbajaniya-Sutta ; Sutta-Nipata Bab II : Bab Minor, Sutta ke-13]

“Menjadi orang yang tidak memusuhi siapa pun, yang baik lewat kata-kata, pikiran maupun perbuatan, yang memahami Ajaran dengan benar, yang bercita-cita mencapai keadaan Nibbana, dia akan menjalani kehidupan tak-berumah secara benar.” (365) [ Sammaparibbajaniya-Sutta;Sutta-Nipata Bab II : Bab Minor, Sutta ke-13 ]

“Ucapan yang memiliki empat ciri adalah ucapan yang disampaikan dengan baik, tidak salah dan tidak dicela oleh para bijaksana; yaitu ucapan seorang bhikkhu yang berbicara hanya yang bermanfaat dan bukan yang tidak bermanfaat, yang berbicara hanya yang berharga dan bukan yang tidak berharga, yang berbicara hanya yang menyenangkan dan bukan yang tidak menyenangkan, yang berbicara hanya yang benar dan bukan yang tidak benar. Ucapan yang bercirikan empat faktor ini adalah ucapan benar dan bukan ucapan buruk, tidak salah dan tidak dicela oleh para bijaksana”… [ Subhasita-Sutta ; Sutta-Nipata Bab III : Bab Besar, Sutta ke-3 ].

Dia yang mengucapkan kata-kata yang tidak kasar, kata-kata yang benar serta penuh makna, kata-kata yang tidak menyebabkan kemarahan orang lain, adalah orang yang kusebut Brahmana. [ Vasettha Sutta ; Sutta-Nipata Bab III ; Bab-Besar, Sutta ke-9 ]

Suatu ucapan bisa disebut sebagai ucapan benar bila memenuhi keempat syarat :

  1. Ucapan itu BENAR
  2. Ucapan itu BERALASAN
  3. Ucapan itu BERFAEDAH
  4. Ucapan itu TEPAT PADA WAKTUNYA.

Ucapan-Benar (Samma-Vaca) ini merupakan ruas ketiga dari “Jalan Ariya Beruas Delapan” (Ariya Atthangika Magga ). Vaca secara sederhana  berarti ucapan atau ungkapan dalam suatu pengertian yang cukup literal, sedangkan samma, tidak hanya berarti “Benar” sebagai lawan dari “Salah” – seperti dalam terjemahan umumnya – tetapi benar yang bersifat menyeluruh, lengkap, integral, berkembang sepenuhnya, sempurna. Karena itu, Samma-vaca adalah perkataan benar, perkataan yang sesungguhnya, perkataan yang sungguh berarti, perkataan sempurna.

Kata-kata adalah komunikasi verbal yang mau tak mau kita sebagai manusia harus terlibat didalamnya. Anda bisa saja menghindari samadhi, bermalas-malasan dalam bersamadhi, tapi jika tiba gilirannya untuk berkata-kata, sukarlah bagi anda untuk menghindarinya. Suka atau tidak suka, dalam setiap hari-hari yang anda jalani, anda harus berbicara, berkomunikasi. Anda tidak bisa diam terus meskipun anda menghendakinya. Dalam banyak kasus bahkan kita pada umumnya tidak mau diam untuk waktu yang lama. Karenanya tak terhindarkan bahwa masalah ‘perkataan’ harus mendapat perhatian yang sistematis dalam latihan dan budaya spiritual. Perkataan / ucapan harus diletakkan dibawah pengaruh atau kendali kehidupan spiritual sehingga harus mendapatkan tempat dan perhatian.

Bagaimanakah ucapan yang benar itu ? Untuk memahami bagaimanakah ucapan yang benar itu, maka kita harus tahu bagaimanakah pembicaraan yang tidak benar. Bicara yang tidak benar, contoh konkritnya yaitu : 1). Bicara bohong untuk menipu orang lain, 2). Mengucapkan kata-kata kasar untuk menyakiti hati orang lain, 3). Bicara yang bersifat memfitnah dan menyerang orang lain dari belakang, 4). Omong-omong yang tidak berguna, bergosip. Semua itu adalah bicara yang tidak benar. Jika kita tidak melakukan hal-hal tersebut, maka yang tersisa dalam diri kita adalah : BICARA BENAR.

Jujur, bisa dipercaya, tidak berbohong, tidak memfitnah, selalu membicarakan kebaikan-kebaikan orang lain, bukan keburukannya, tidak mencela dan memecah-belah sesamanya, berbicara indah dan menyenangkan untuk didengarkan, inilah yang disebut : BICARA BENAR.

Ucapan tidak benar ( Musavada ) ini termasuk Perbuatan buruk yang akan masak di alam keindriyaan ( Akusala-Kamma ) , tepatnya adalah perbuatan buruk yang dilakukan melalui ucapan ( Akusala Vadi Kamma ) :

  1. Berbohong ( musavada ),
  2. Memfitnah ( pisunavaca ),
  3. Kata-kata kasar ( pharusavaca ), dan,
  4. Bergunjing ( samphappalapa ).

a. Berbohong ( Musavada )

Empat ( 4 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kejahatan berbohong, yaitu : i. Sesuatu yang tidak benar, ii. Kehendak untuk berbohong, iii. Pengungkapan, iv. Penipuan yang sesungguhnya.

Buah karma buruk dari berbohong yang tak dapat dielakkan yaitu : i. Menjadi sasaran caci maki dan fitnah, ii. Tidak dipercaya, dan, iii. Mulut yang berbau.

b. Memfitnah ( pisunavaca )

Empat ( 4 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kejahatan memfitnah, yaitu : i. Orang-orang yang akan dipisahkan, ii. Kehendak untuk memisahkan mereka atau keinginan untuk mendekatkan diri sendiri kepada orang lain, iii. Usaha ke arah itu, iv. Penyampaian.

Buah karma buruk dari memfitnah yang tak dapat dielakkan adalah pecahnya persahabatan tanpa sebab apapun yang memadai.

c. Kata-Kata Kasar ( pharusavaca )

Tiga ( 3 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kata-kata kasar, yaitu : i. Seseorang untuk dimaki, ii. Pikiran yang marah, dan, iii. Makian yang sesungguhnya.

Buah karma buruk dari kata-kata kasar yang tak dapat dielakkan yaitu : i. Dibenci oleh pihak lain walaupun mutlak tak bersalah, dan, ii. Memiliki suara parau.

d. Pergunjingan ( Samphappalapa )

Dua ( 2 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya pergunjingan, yaitu : i. Keinginan untuk bergunjing, ii. Penyampaian hal itu.

Buah karma buruk dari bergunjing adalah : i. Cacat alat tubuh, ii. Pembicaraan yang tidak masuk akal.

5. Sila Kelima Pancasila Buddhist

Surā-meraya Majja-pamādaţţhānā veramaņī sikkhapadam samadiyami. Kata “Surameraya majjapamadatthana” terdiri dari empat kosakata , yaitu : Sura, Meraya, Majja, dan Pamadatthana.

“Meraya” mengacu pada minuman keras yang diperoleh dari bahan yang diragikan dan dapat menyebabkan orang yang meminumnya tak sadarkan diri, bila kadarnya tinggi maka disebut “Sura” yaitu hasil penyulingan yang mempunyai kekuatan untuk membius. Kata “majja” dapat diartikan berbagai jenis ganja, morfin, heroin, dan lain sebagainya.

“Pamadatthana” terdiri dari dua kata yaitu “Pamado” yang berarti kelengahan, kecerobohan, kelalaian, dan “tthana” yang berarti landasan atau basis.  Sehingga “pamadatthana” berarti yang menjadi dasar/landasan timbulnya kelengahan, kecerobohan, kelalaian.

Dari pengertian masing-masing kosakata tersebut, maka kata “Surā-meraya Majja-pamādaţţhānā” berarti mengkonsumsi atau memakai/menggunakan sesuatu ( khususnya minuman keras dan obat-obatan terlarang ) yang dapat memabukkan dan membuat tidak sadarkan diri yang menjadi dasar/landasan timbulnya kelengahan, kecerobohan, kelalaian.

Banyak fakta menunjukkan, orang-orang yang mengkonsumsi minuman keras dan obat-obatan terlarang menjadi tidak sadarkan diri, sehingga menjadi lengah hingga dapat melakukan perbuatan-perbuatan jahat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Ada empat faktor yang menyebabkan terjadinya pelanggaran Sila kelima ini :

1.   Ada sesuatu yang merupakan “Sura”, “Meraya” atau “majja” yaitu sesuatu yang membuat nekat, mabuk, tak sadarkan diri, yang menjadi dasar dari kelengahan dan kecerobohan
2.   Mempunyai keinginan untuk menggunakannya.
3.   Menggunakannya
4.   Timbul gejala mabuk atau sudah menggunakannya (meminumnya) hingga masuk melalui tenggorokan

Tujuan dari aturan moralitas ini adalah untuk menjaga kondisi batin supaya terhindar dari ketidaksadaran diri yang memabukkan sehingga menjadi landasan bagi segala bentuk kelalaian, kelengahan yang menyebabkan timbulnya berbagai kejahatan ; juga lebih jauh lagi, dengan menjalankan aturan moralitas ini, kita dapat selalu menjaga konsentrasi-benar ( samma-samadhi ) dan perhatian-benar ( samma-sati ).

Objek yang dapat menyebabkan pelanggaran Sila kelima Pancasila Buddhis ini adalah :

  1. Semua jenis minuman yang memabukkan
  2. Barang cair, padat maupun gas yang bila digunakan/dimasukkan ke dalam tubuh bisa membuat lemahnya kesadaran, dan yang bisa menimbulkan ketagihan

II. ATTHANGASILA

Selain “Pancasila”, Sang Buddha juga mengajarkan pelaksanaan “Atthangasila” bagi ummat non-Bhikkhu.  Dalam Atthangasila, Sila ketiga Pancasila diubah menjadi “menghindari perbuatan tidak suci (sexual)”. Lebih lengkapnya, Atthangasila tersebut adalah :

1. Panatipata veramani sikkhapadam samadiyami.

( Aku bertekad melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup )

2. Adinnadana veramani sikkhapadam samadiyami.

( Aku bertekad melatih diri menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan )

3. Abrahmacariya veramani sikkhapadam samadiyami.

( Aku bertekad melatih diri menghindari perbuatan tidak suci )

4. Musavada veramani sikkhapadam samadiyami.

( Aku bertekad melatih diri menghindari ucapan bohon )

5. Sura-meraya-majja-pamadatthana veramani sikkhapaadam samadiyami.

( Aku bertekad melatih diri menghindari minuman memabukkan hasil penyulingan atau peragian yang menyebabkan lemahnya kesadaran )

6. Vikala-bhojana veramani sikkhapadam samadiyami.

( Aku bertekad melatih diri menghindari makan makanan setelah tengah hari )

7. Naccagita-vadita-visukadassana malagandha-vilepana-dharana-mandana-vibhusanatthana veramani sikkhapadam samadiyami .

(Aku bertekad melatih diri menghindari menari, menyanyi, bermain musik, dan pergi melihat pertunjukan; memakai, berhias dengan bebungaan, wewangian, dan barang olesan (kosmetik) dengan tujuan untuk mempercantik tubuh)

8. Uccasayana-mahasayana veramani sikkhapadam samadiyami.

( Aku bertekad melatih diri menghindari penggunaan tempat tidur dan tempat duduk yang tinggi dan besar (mewah) )

Didalam “Dhammika-Sutta” ( Sutta-Nipata, Bab I : Bab Tentang Ular ; Sutta ke-14 ), Sang Buddha menjelaskan mengenai pelaksanaan praktik latihan “Delapan-Sila-Yang-Agung” ( Atthanga-Sila ). Sabda Sang Buddha tersebut adalah sebagai berikut :

Sekarang akan kuberitahukan peraturan perilaku untuk perumah tangga. Jika menjalaninya, dia akan menjadi siswa yang baik. Jika ada kewajiban kebhikkhuan yang harus dijalankan, kewajiban itu tidak akan dapat dipenuhi oleh dia yang memiliki kekayaan rumah tangga. (393)

Hendaknya dia tidak menghancurkan kehidupan, jangan pula dia menyebabkan orang lain menghancurkan kehidupan ataupun menyetujui pembunuhan yang dilakukan orang lain. Hendaknya ia menjauhkan diri dari perbuatan menindas semua makhluk hidup di dunia ini, baik yang kuat maupun lemah. (394)

Kemudian, karena mengetahui bahwa itu milik orang lain, maka mencuri apa pun dari mana pun harus dihindari. Janganlah dia menyebabkan pencurian, jangan juga menyetujui orang lain mencuri. Semua pencurian harus dihindari. (395)

Orang bijaksana harus menghindari kehidupan tidak selibat, seolah-olah kehidupan semacam itu adalah lubang bara api yang menganga. Jika dia tidak mampu menjalani kehidupan selibat total, janganlah dia berselingkuh dengan orang lain. (396)

Apakah dia di tengah pertemuan atau di tempat umum, janganlah dia menceritakan kebohongan kepada yang lain. Janganlah dia menyebabkan orang lain berbohong maupun menyetujui orang lain berbohong. (397)

Perumahtangga yang bergembira dalam mengendalikan diri, karena mengetahui bahwa meneguk minuman keras atau mengkonsumsi segala yang bersifat meracuni adalah merugikan, tidak akan memanjakan diri dalam minuman keras dan lain-lain. Tidak juga dia menyebabkan orang lain meminumnya atau menyetujui orang lain melakukan itu. (398)

Orang-orang dungu melakukan tindakan-tindakan jahat karena mabuk. Dia juga menyebabkan orang lain – yang lengah – ikut bertindak seperti itu. Orang harus menghindari lingkup perbuatan jahat ini, kegilaan ini, kebodohan batin ini, yang merupakan kesenangan-kesenangan orang dungu. (399)

(i) Manusia seharusnya tidak menghancurkan kehidupan ;

(ii) Seharusnya tidak mengambil apa yang tidak diberikan;

(iii) Seharusnya tidak berbohong;

(iv) Seharusnya tidak menjadi peminum;

(v) Seharusnya menjauhi segala ketidak murnian;

(vi) Seharusnya tidak makan di malam hari pada saat yang tidak tepat. (400)

(vii) Manusia seharusnya tidak memakai hiasan, tidak juga menggunakan wangi-wangian;

(viii) Seharusnya berbaring di tikar yang dibentangkan di atas tanah. Inilah yang disebut menjalani “Delapan-Sila-Yang-Agung” , yang dijelaskan oleh Buddha yang datang untuk mengakhiri kesedihan. (401)

Dengan pikiran yang bahagia, orang harus menjalani keluhuran “Delapan-Sila” pada hari ke-14, ke-15, dan ke-8 setiap masa dua minggu perhitungan bulan [ dan selama Patihariyapakkha – tiga bulan musim hujan bersama dengan bulan-bulan sebelumnya dan sesudah musim ini, jadi seluruhnya lima bulan ]. ( 402)

Kemudian pada pagi berikutnya, orang bijaksana yang telah menjalankan Delapan-Sila ini dengan gembira harus menyediakan makanan dan minuman bagi Bhikkhu Sangha dengan cara yang sesuai. (403)

Hendaknya dia menyokong ayah dan ibunya dengan sepantasnya, serta memiliki pekerjaan yang tak tercela. Perumahtangga yang menjalankan kewajiban-kewajiban ini dengan rajin, akan terlahir di alam makhluk “bersinar”. (404)

Menurut Bhikkhu Dhammavuddho Maha Thera dalam bukunya “Message of the Buddha”, Atthangasila ini dilaksanakan setiap tanggal 8, 15, 23, dan hari terakhir penanggalan Lunar, yakni kira-kira sekali dalam seminggu. Pelaksanaan Atthangasila ini membawakan banyak berkah yang dapat menyebabkan kelahiran kembali di alam-alam surga.

Biasanya, ada juga ummat yang menjalankan Atthangasila ini sebagai Sila-nya yang bersifat permanen, sehingga ia hidup selibat ( tidak menikah dan menghindari perbuatan sexual ).

Sang Buddha memuji kehidupan Brhamacariya seperti ini. “Orang yang memiliki kekuatan kebijaksanaan, yang terlahir dari peraturan-peraturan moralitas serta pengendalian diri, yang tenang pikirannya dan bergembira di dalam meditasi,  yang penuh perhatian, bebas dari kemelekatan, bebas dari pikiran yang tak terlatih, dan bebas dari apa yang meracuni, disebut orang suci oleh para bijaksana.” (212) [ Muni-Sutta ; Sutta-Nipata, Bab I : Bab Tentang Ular ; Suta ke-12 ]

“Orang yang memiliki pengendalian diri dan tidak melakukan kejahatan, orang bijaksana seperti itu, tak peduli apakah masih muda atau setengah baya, yang pikirannya terkendali dengan baik, yang tidak tergoda dan tidak menggoda yang lain, disebut orang suci oleh para bijaksana.” (216) [Muni-Sutta; Sutta-Nipata, Bab I : Bab Tentang Ular ; Sutta ke-12 ]

“Orang bijak yang berkelana sendiri, yang tidak melakukan keintiman sexual, yang bahkan pada masa mudanya tidak terikat pada apa pun, yang telah menjauhkan diri dari kesombongan dan kemalasan, disebut orang suci oleh para bijaksana.” (218) [Muni-Sutta;Sutta-Nipata, Bab I : Bab Tentang Ular ; Sutta ke-12]

“Setelah meninggalkan tindakan yang merugikan makhluk-hidup, serta tidak menyiksa bahkan satu makhluk hidup pun, biarlah orang tidak menginginkan anak, apalagi teman! Hendaknya orang hidup sendiri bagaikan sebuah cula Unicorn.”  ( Khaggavisana-Sutta ; Sutta-Nipata, Bab I : Bab Tentang Ular ; sutta ke-3; ayat/paragraf ke-1  ).

“Bagaikan rusa hutan yang tidak terbelenggu berkelana dan makan dengan santai, biarlah orang bijaksana menjunjung tinggi kebebasannya hidup sendiri bagaikan sebuah cula Unicorn.” ( Khaggavisana-Sutta ; Sutta-Nipata, Bab I : Bab Tentang Ular ; sutta ke-3; ayat/paragraf ke-5  ).

“Orang yang tidak menyukai olah-raga, hiburan dan kesenangan-kesenangan duniawi, yang menghindari kehidupan yang mengagungkan diri, yang berbicara kebenaran, hendaknya orang hidup sendiri bagaikan sebuah cula Unicorn.” ( Khaggavisana-Sutta ; Sutta-Nipata, Bab I : Bab Tentang Ular ; sutta ke-3; ayat/paragraf ke-25 ).

“ Kemelekatan terhadap benda merupakan belenggu. Dalam hal semacam itu, kebahagiaan yang ada hanyalah sementara dan penderitaannya lebih besar sedangkan kenikmatannya lebih sedikit. Orang bijaksana yang mengetahui bahwa hal ini seperti kait pancing di tenggorokan, akan hidup sendiri bagaikan sebuah cula Unicorn.”  ( Khaggavisana-Sutta ; Sutta-Nipata, sutta ke-3; ayat/paragraf ke-27 ).

“Bagaikan singa yang tidak takut oleh suara, bagaikan angin yang tidak tertangkap jaring, bagaikan teratai yang tidak terkotori oleh air,  hendaknya orang hidup sendiri bagaikan sebuah cula Unicorn.” ( Khaggavisana-Sutta ; Sutta-Nipata, Bab I : Bab Tentang Ular ; sutta ke-3; ayat/paragraf ke-37 ).

“Dia yang walaupun kaya namun tidak menyokong ayah ibunya yang sudah tua dan lemah – inilah penyebab keruntuhan seseorang.” ( Parabhava-Sutta; Sutta-Nipata, sutta ke-6 )

“Setelah meneguk manisnya kesendirian dan juga manisnya ketenangan, orang menjadi terbebas dari rasa takut dan tindakan yang salah, dan sekaligus dia menikmati manisnya suka cita kebenaran.” (257) [Hiri-Sutta ; Sutta-Nipata , Bab II :  Bab Minor, Sutta ke-3]


MANFAAT MENJALANKAN SILA

Jasa kebajikan dari menjalankan Sila tergantung kepada tingkat pemurnian kepada tingkat pemurnian dari latihan kita. Sang Buddha menjabarkan lima manfaat dari menjalankan Sila ( Anguttara Nikaya 5.213 ) :

(i)                  Kekayaan terjaga

Seseorang yang tidak menjalankan Sila, besar kemungkinan akan menghabiskan kekayaannya dengan sering mengunjungi klub malam dan tempat pelacuran, berjudi, mabuk-mabukan, dll., yang tidak akan dilakukan oleh seseorang yang bermoral.

(ii)                Reputasi Baik

Seseorang yang bermoral yang tidak membunuh, mencuri, berasusila, berbohong dan mabuk maka secara nyata akan dihargai orang lain.

(iii)               Berani berhadapan dengan orang ramai

Seseorang yang bermoral tidak mempunyai alasan untuk merasa malu atau bersalah dan tidak akan memiliki rasa takut ketika dipanggil untuk berhadapan atau bersapa dengan orang ramai.

(iv)              Meninggal dengan pikiran jernih

Menjelang saat kematian, seseorang yang bermoral tidak takut karena pikirannya yang murni memberinya kepercayaan diri yang besar dan kegembiraan.

Akan tetapi, banyak orang meninggal dengan ketakutan yang besar dan teror karena telah menjalani kehidupan yang tidak bermoral, terutama mereka yang melanggar salah satu dari sila-sila dalam tingkatan yang cukup berat seperti seorang penjagal.

(v)                Kelahiran kembali yang baik

Seseorang yang telah menjalankan Sila telah menjalani kehidupan yang tidak membahayakan makhluk dan pasti memperoleh kelahiran kembali yang baik.

Sang Buddha berkata bahwa seseorang yang memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan terhadap Buddha, Dhamma, Sangha ( Ti-Ratana, pen- ) , yang bajik, terkendali dalam Sila ; dapat menyatakan dengan pasti bahwa dia telah memenangkan tahap “Pemasuk-Arus”, yang pasti menuju pencerahan. Dia tidak akan pernah jatuh lagi ke alam kelahiran kembali yang menyedihkan yakni alam hantu, binatang, dan neraka [ Samyutta Nikaya 55.2 ] .

V I R A T T I

( Sumber :  http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,418.0.html )

Sampatti Viratti ( Pantangan seketika ) :

Pantangan mendadak, tanpa suatu rencana yang telah dibuat terlebih dahulu.
Samapatti viratti adalah pantangan untuk melanggar Pancasila meskipun mempunyai banyak kesmepatan untuk melakukannya.

Hal demikian dapat terjadi karena seseorang mempunyai anggapan bahwa perbuatan tersebut tidak pantas bagi seseorang dengan kelahiran, pangkat atau kedudukan seperti dirinya. Walaupun kelihatannya tidak begitu mantap, jenis pantangan ini cukup baik daripada melalaikannya – melanggar sila.

Samadana viratti ( pantangan karena janji ) :

Pantangan yang di rencanakan terlebih dahulu, biasanya di awali dengan suatu janji keagamaan.
Pantangan jenis ini dapat dilakukan dengan melalui :

1.   Pentahbisan, contoh : Samanera/samaneri, Bhikkhu/Bhikkhuni
2.   Pengambilan  keputusan/bertekad, baik di hadapan orang lain maupun pada diri sendiri, baik untuk jangka waktu tertentu saja maupun untuk selamanya

Samuccheda Viratti :

Pantangan secara mutlak, yang di pertahankan tanpa syarat dan setiap saat.
Samuccheda Viratti adalah pantangan melalui penghancuran semua sebab yg akan membawa pada pelanggaran sila.

Pantangan secara mutlak ini hanya dimiliki oleh seseorang yang telah mencapai Penerangan Sempurna, seperti para Arahat & Buddha.

KEMURNIAN BUKAN DARI MAKANAN-VEGETARIAN, TAPI DARI PRAKTIK MORALITAS (SILA)

Dalam “Amagandha-Sutta” [ Sutta-Nipata, Bab II : Bab Minor ; Sutta ke-2 ], terdapat dialog antara Buddha Kassapa dengan Petapa-Tissa. Petapa-Tissa mengkritik Buddha-Kassapa yang tidak mempraktikkan vegetarianisme dan memakan makanan jenis apapun ( baik sayuran maupun daging-dagingan ) yang disediakan oleh para ummat-awam dan karena itu menurut petapa Tissa, Buddha Kasapa memakan bau-busuk, setelah sebelumnya ia memuji praktek vegetarianisme yang akan membuat seseorang tidak berbohong karena kesenangan indera.

Buddha Kassapa kemudian menjelaskan, bahwa “bau-busuk” bukan berasal dari makanan ( daging-dagingan ) , tetapi berasal dari perbuatan yang tidak bermoral. Lebih jauh, Buddha Kassapa juga menyatakan, bahwa praktik ritual keagamaan seperti upacara kurban binatang, puasa musiman, dan lain-lain, hanyalah bermanfaat bagi orang-orang yang belum mengatasi keragu-raguannya.  Berikut ini adalah kisah selengkapnya :

Petapa-Tissa berkata kepada Buddha Kassapa :

  1. Orang bajik yang makan padi-padian, buncis dan kacang-kacangan, dedaunan dan akar-akaran yang dapat dimakan, serta buah dari tanaman rambat apa pun yang diperoleh dengan benar, tidak akan berbohong karena kesenangan indera.
  2. O, Kassapa, engkau makan makanan apa pun yang diberikan orang lain, yang disiapkan dengan baik, diatur dengan indah, bersih dan menarik; dia yang menikmati makanan seperti itu, yang terbuat dari nasi, berarti makan [daging yang membusuk, yang mengeluarkan]bau busuk.
  3. O, Brahmana, walaupun engkau mengatakan bahwa serangan bau busuk itu tidak berlaku bagimu sementara kamu makan nasi dengan unggas yang disiapkan dengan baik, tetapi aku bertanya padamu apa arti ini : “Seperti apa yang Kau sebut bau busuk itu?”

Buddha Kassapa [menjawab] :

  1. Mengambil kehidupan, memukul, melukai, mengikat, mencuri, berbohong, menipu, pengetahuan yang tak berharga, berselingkuh; inilah bau busuk. Bukan makan daging.
  2. Di dunia ini, para individu yang tidak terkendali dalam kesenangan indera, yang serakah terhadap yang manis-manis, yang berhubungan dengan tindakan-tindakan yang tidak murni, yang memiliki pandangan nihilisme, yang jahat, yang sulit diikuti; inilah bau busuk. Bukan makan daging.
  3. Di dunia ini, mereka yang kasar, sombong, memfitnah, berkhianat, tidak ramah, sangat egois, pelit, dan tidak memberi apa pun kepada siapa pun, inilah bau busuk. Bukan makan daging.
  4. Kemarahan, kesombongan, kekeraskepalaan, permusuhan, penipuan, kedengkian, suka membual, egoisme yang berlebihan, bergaul dengan yang tidak bermoral ; inilah bau busuk. Bukan makan daging.
  5. Mereka yang memiliki moral yang buruk, menolak membayar utang, suka memfitnah, tidak jujur dalam usaha mereka, suka berpura-pura, mereka yang didunia ini menjadi orang yang teramat keji dan melakukan hal-hal salah seperti itu; inilah bau busuk. Bukan makan daging.
  6. Mereka yang didunia ini tidak terkendali terhadap makhluk hidup, yang cenderung melukai setelah mengambil harta milik mereka, yang tidak bermoral, kejam, kasar, tidak memiliki rasa hormat; inilah bau busuk. Bukan makan daging.
  7. Mereka yang menyerang makhluk hidup karena keserakahan atau rasa permusuhan dan selalu cenderung jahat, akan menuju ke kegelapan setelah kematian dan jatuh terpuruk ke dalam alam-alam yang menyedihkan; inilah bau busuk. Bukan makan daging.
  8. Menjauhkan diri dari ikan dan daging, bugil, mencukur kepala, berambut gembel, melumuri diri dengan abu, memakai kulit rusa yang kasar, menjaga api kurban; tak satu pun dari berbagai penebusan dosa di dunia yang dilakukan untuk tujuan yang tidak sehat – termasuk jampi-jampi, persembahan keagamaan, pemberian korban maupun puasa musiman—akan menyucikan seseorang yang belum mengatasi keragu-raguannya [ terhadap Buddha-Dhamma-Sangha].
  9. Dia yang hidup dengan indera yang terjaga dan terkendali, serta telah mantap di dalam Dhamma, akan bergembira dengan kehidupan yang lurus dan lemah-lembut; yang sudah melampaui kemelekatan dan mengatasi kesengsaraan; orang bijaksana itu tidak melekat pada apa yang dilihat dan didengar.


Demikianlah Buddha Kassapa mengkhotbahkan hal ini berulang-ulang. Petapa yang pandai dalam syair-syair (Veda) itu memahaminya. Orang suci yang telah terbebas dari kekotoran batin, tidak melekat dan sulit diikuti, menyampaikan (khotbah) ini dalam bait-bait yang indah.

Maka, setelah mendengarkan kata-kata indah yang mengakhiri semua penderitaan, yang diucapkan oleh Sang Buddha yang telah terbebas dari kekotoran batin, dia (petapa-Tissa) memuja Sang Tathagata dengan segala kerendahan hati dan memohon untuk diterima masuk ke dalam Sangha di tempat itu juga.


MANUSIA SAMPAH

Dalam “Vasala-Sutta” [ Sutta-Nipata, Bab I : Bab Tentang Ular ;  Suta ke-7 ] terdapat sebuah kisah menarik ketika Sang Buddha masih hidup. Pada saat itu, Sang Buddha berdiam di dekat Savatthi di Hutan Jeta di vihara Anathapindika. Ketika hari menjelang siang, setelah mengenakan jubah dan mengambil mangkuk, Sang Buddha pergi ke Savatthi untuk mengumpulkan makanan. Pada waktu itu, di rumah Brahmana pemuja-api yang bernama Aggika-Bharadvaja, api dinyalakan dan benda-benda untuk kurban telah disiapkan.

Kemudian Sang Buddha, yang berjalan dari rumah ke rumah, sampai ke tempat tinggal Brahmana itu. Melihat Sang Buddha mendekat, dia berteriak : “Berhentilah di situ, hai petapa Gundul! Berhentilah disitu, hai petapa. Berhentilah disitu, hai manusia sampah!”

Sang Buddha [dengan tenang menjawab] : “O, Brahmana, dapatkah engkau mengenali manusia sampah ? Dapatkah engkau mengetahui hal-hal yang membuat seseorang menjadi sampah ? “

“ Memang tidak, O Tuan Gotama, saya tidak dapat mengenali manusia sampah, dan saya tidak mengetahui hal-hal yang membuat seseorang menjadi sampah. Karena itu,  Tuan Gotama, akan amat bagus bila engkaui menjelaskan padaku mengenai hal ini.”

Sang Buddha [meneruskan] : “Baiklah, wahai Brahmana, dengarkan baik-baik dan camkanlah kata-kata-Ku ini :

  1. Siapapun yang marah, yang memiliki niat-buruk, yang berpikiran jahat dan iri hati; yang berpandangan-salah, yang penuh tipu muslihat, dialah yang disebut sampah.”
  2. Siapapun yang menghancurkan kehidupan, baik burung atau binatang, serangga atau ikan, yang tidak memiliki kasih sayang terhadap kehidupan, dialah yang disebut manusia sampah.
  3. Siapapun yang merusak atau agressif (suka-menyerang) di kota dan di desa dan dikenal sebagai perusak atau penjahat yang kejam, dialah yang disebut manusia sampah.
  4. Siapapun yang mencuri apa yang dianggap milik orang lain, baik yang ada di desa atau hutan, dialah yang disebut manusia sampah.
  5. Siapapun yang setelah berhutang lalu menyangkal ketika ditaguh, dan menjawab pedas : “Aku tidak berhutang padamu!” , dialah yang disebut manusia sampah.
  6. Siapapun yang berkeinginan mencuri walaupun benda tidak berharga, lalu mengambil barang itu setelah membunuh orang dijalan, dialah yang disebut manusia sampah.
  7. Siapapun yang memberikan sumpah palsu untuk kepentingannya sendiri, untuk kepentingan orang lain, atau untuk mendapat keuntungan, dialah yang disebut manusia sampah.
  8. Siapapun yang mempunyai hubungan gelap dengan istri famili atau temannya, baik dengan paksaan atau karena suka sama suka, dialah yang disebut manusia sampah.
  9. Siapapun yang tidak menyokong ayah-ibunya, yang sudah tua dan lemah, padahal dia hidup dalam keadaan berkecukupan, dialah yang disebut manusia sampah.
  10. Siapapun yang menyerang atau mencaci-maki ayah, ibu, saudara kandung, atau ibu-mertua, dialah yang disebut manusia sampah.
  11. Siapapun yang dimintai nasehat yang baik tetapi malah mengajarkan apa yang menyesatkan atau berbicara dengan tidak jelas, dialah yang disebut manusia sampah.
  12. Siapapun yang munafik, yang setelah melakukan pelanggaran kemudian ingin menyembunyikan dari orang-orang lain, dialah yang disebut manusia sampah.
  13. Siapapun yang setelah berkunjung kerumah orang lain dan menerima keramah-tamahan disana, tidak membalasnya dengan sikap serupa, dialah yang disebut manusia sampah.
  14. Siapapun yang menipu petapa, bhikkhu atau guru spiritual lain, dialah yang disebut manusia sampah.
  15. Siapapun yang mencaci-maki dan tidak melayani petapa atau Bhikkhu yang datang untuk makan, dialah yang disebut manusia sampah.
  16. Siapapun, yang karena terperangkap di dalam kebodohan, memberikan ramalan yang tidak benar demi keuntungan yang sebenarnya tidak berharga, dialah yang disebut manusia sampah.
  17. Siapapun yang meninggikan dirinya sendiri dan merendahkan orang lain, pongah dalam kesombongannya, dialah yang disebut manusia sampah.
  18. Siapapun yang suka memicu pertengkaran, yang kikir, memiliki keinginan-keinginan jahat, iri hati, tidak tahu malu dan tidak menyesal kalau melakukan kejahatan, dialah yang disebut manusia sampah.
  19. Siapapun yang menghina Sang Buddha atau siswa-siswa-Nya, baik yang telah meninggalkan keduniawian maupun perumah-tangga biasa, dialah yang disebut manusia sampah.
  20. Siapapun yang berpura-pura Arahat padahal sebenarnya bukan, dia benar-benar penipu hina terbesar di dunia ini, sampah terendah dari semuanya. Demikian telah Kujelaskan siapa yang merupakan sampah.
  21. Bukan karena kelahiran orang menjadi sampah. Bukan karena kelahiran pula orang menjadi Brahmana (mulia). Oleh karena perbuatanlah orang menjadi sampah. Oleh karena perbuatan pula orang menjadi Brahmana.

Demikianlah, saudara-saudari, uraian mengenai praktik latihan moralitas (Sila ) sebagai langkah awal dalam mempraktikkan kehidupan suci. Marilah, kita memperteguh diri kita masing-masing dalam praktik “Tiga-Serangkai-Latihan” : SILA –>  SAMADHI –>  PANNA , hingga berhasil merealisasi pencerahan dan pembebasan-sempurna dari samsara.

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Minggu, 30 Agustus  2009

______________________________________

Sumber  Pustaka :

  1. Bhadantacariya Buddhaghosa, Visuddhi-Magga ; terjemahan dari bahasa Pali oleh Nanamoli.
  2. Sutta-Nipata ; terjemahan dari bahasa Pali oleh H.Saddhatissa
  3. Majjhima Nikaya ; terjemahan Bhikkhu Nanamoli dan Bhikkhu Bodhi
  4. Diggha-Nikaya ; Dhammacitta.press 2009
  5. Matara Sri Nanarama Mahathera, Tujuh Tingkat Kesucian & Pengertian Langsung ; Yayasan Penerbit Karaniya Juli 2003.
  6. Dhammavuddho Maha Thera, Bhikkhu , Message of The Buddha ; cetakan pertama Maret 2008
  7. Ronald Satya Surya, Lima Aturan Moralitas Buddhis ; Insight Vidyasena Production 2009

Posted in ATTHANGASILA, BRAHMACARIYA, BUDDHA, PANCASILA, SILA | 20 Comments »

APAKAH ROMO HUDOYO BERPANDANGAN-SALAH/MENYIMPANG [?]

Posted by ratanakumaro pada Juli 26, 2009

[SADDHA SEORANG SOTAPANNA]

“ Para Bhikkhu, bila keyakinan seseorang telah ditanam, berakar, dan mantap di dalam Tathagata melalui alasan-alasan, istilah-istilah, dan frasa-frasa ini, dikatakan bahwa keyakinannya sudah ditopang oleh alasan, berakar di dalam visi, dan mantap; keyakinannya tak terkalahkan oleh petapa atau brahmana atau dewa atau Mara atau Brahma atau siapapun didunia ini. “

( Vimamsaka-Sutta ; Majjhima-Nikaya, Sutta ke-47 )

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattum (3X) )

Namatthu Buddhassa,

“BUKAN-BUDDHISME”. Demikianlah kesimpulan yang diberikan oleh banyak rekan-rekan ummat Buddha (khususnya yang tergabung dalam dhammacita.org ; meskipun beberapa rekan saya diluar dhammacitta.org juga berpendapat senada) terhadap ajaran yang tertuang dalam sebuah pelatihan “Meditasi Mengenal Diri” (MMD).

Adalah Dr.Hudoyo Hupudhio Mph., seorang Romo / Pandhita dari Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia ( Magabudhi ), yang menggagas pelatihan “Meditasi Mengenal Diri” (MMD), serta menyebarkan berbagai “ajaran”-nya kepada masyarakat luas, termasuk kedalam kalangan ummat Buddha.

Akan tetapi, sebagai seorang Romo, Dr.Hudoyo Hupudhio Mph., oleh banyak ummat Buddha telah dianggap banyak “membelokkan” ajaran Sang Buddha, terutama sehubungan dengan penolakannya terhadap pentingnya penembusan terhadap “Empat Kesunyataan Mulia” ( Cattari Ariya Saccani ) beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan” ( Ariya Atthangika Magga ). Romo Hudoyo Hupudhio juga menolak kebenaran isi Ti-Pitaka , baik Sutta-Pitaka maupun Abhidhamma-Pitaka serta Vinaya-Pitaka tentunya.

Dalam sebuah situs Buddhist resmi di Indonesia ( www.dhammacitta.org ) , pandangan-pandangan Dr.Hudoyo Hupudhio, Mph. yang tertuang dalam ajaran-ajaran “Meditasi Mengenal Diri” (MMD) tersebut, kini telah dikeluarkan dari kategori Buddha-Dhamma.

Berikut adalah cuplikan dari statement resmi Management situs   www.dhammacitta.org =


Dengan ini memutuskan:

1. Peraturan umum tentang diskusi Buddhis semua berdasarkan dua mahzab besar yang ada (Theravada & Mahayana (termasuk vajrayana)) yang meyakini Tiratana, Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulai Berunsur 8. Diluar itu akan dianggap agama/aliran/kepercayaan/keyakinan/filsafat lain. [karena belum ada tempat yang pas]

2. MMD dikategorikan bukan Buddhisme sesuai mahzab besar dan dipindahkan ke board Buddhisme dengan Agama, Kepercayaan, Tradisi dan Filsafat Lain


3. Diskusi tentang MMD diluar board yang seharusnya akan dihapus/edit atau dipindahkan ke board yang seharusnya.

Terima kasih atas perhatiannya.

………. ;

* bahwa DC adalah forum buddhis dan oleh karenanya harus memajukan Buddha Dhamma dengan cara memberikan informasi yang dapat meningkatkan keyakinan umat Buddha khususnya pemula dalam ber-Tisarana (mengambil 3 perlindungan pada Buddha  Dhamma Sangha).

………. ;

* Terlepas dari benar/salah-nya keputusan kami, yang mana tidak akan ada satu pihakpun yang dapat membenarkan/menyalahkan, kami telah berusaha mengambil keputusan sesuai dengan kapasitas dan kewenangan kami, demi kemajuan Agama Buddha dan DhammaCitta ini.

Demikianlah penjelasan ini kami umumkan, semoga semua pihak dapat memaklumi.

[ Sumber = http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,4351.0/wap2.html ]


Atas keputusan tersebut, Romo Hudoyo memberikan tanggapannya. Dan tanggapan beliau tersebut agaknya penting kita pertimbangkan juga untuk kita baca dan resapi :

hudoyo:
Oh, kalian menganggap MMD tidak berdasarkan Tiratana? … Tiratana yang mana maksud kalian? .. Apa artinya “dhammam saranam gacchami”? … Katakan saja terus terang “MMD tidak berdasarkan Kitab Tipitaka Pali tanpa reserve”. Jangan dibelok-belokkan menyangkut Tiratana segala … Itu lebih jujur. … Saya pun pembela Tiratana … Janganlah menjadi pahlawan pembela Tiratana yang merasa paling benar sendiri. … Itu persis seperti MUI yang mengkafirkan Ahmadiyah. …

Pelaporan mana yang kalian maksud? … Jelas SEMUA yang melaporkan adalah orang-orang yang tidak suka dengan MMD, yang patut dipertanyakan pemahamannya akan Buddha Dhamma … mereka yang setuju dengan MMD jelas tidak akan “melaporkan” … Jadi kalau konsiderans keputusan kalian didasarkan pada pelaporan semata-mata, jelas Anda telah berat sebelah. … Tidakkah kalian mempertimbangkan hasil polling tentang MMD baru-baru ini? …

OK … Rekan Sumedho mengundang saya untuk masuk ke forum DC ini … Sekarang kalian beramai-ramai memutuskan “MMD bukan Buddhisme” … Saya tidak terima diperlakukan sebagai sampah di forum ini. … Dengan ini saya menyatakan ABSEN dari forum ini.

Teman-teman Buddhis di forum ini yang ingin mendalami ajaran Sang Guru bersama saya silakan berlangganan forum : HOME / LOEKELOE / Forum Supranatural / Spiritual : Riwayat Agung Para Buddha — http:///showthread.php?t=878014
Saya akan menulis di sana.

Salam,
hudoyo

[ Sumber =

http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,4351.0/wap2.html ]

Dalam sebuah situs ( www.kaskus.us ), seorang rekan yang menggunakan ID “Kemenyan” menjelaskan apa duduk-perkaranya sehingga “ajaran-ajaran” Dr.Hudoyo Hupudhio Mph. ini dikategorikan sebagai “BUKAN BUDDHISME”. Berikut pernyataan rekan “Kemenyan” tersebut :

Hal ini tidak akan pernah ketemu,

Karena pak hudoyo ngotot kalau MMD tidak sejalan dengan

“Jalan mulia berunsur delapan”

yang sama-sama untuk mengakhiri dukkha

Pak hudoyo terlihat lebih memilih untuk tidak dimasukan kedalam kelompok manapun (tidak dilabeli)

Namun, Kami (dari pihak DhammaCitta) tidak mungkin mengunakan standard “perasaan” pribadi untuk memutuskan hal ini, Kami (dari pihak DhammaCitta) juga tidak ingin mengkelompokan thread-thread mengenai MMD sebelumnya,

Namun setelah kami melihat bagaimana “Marketing” MMD nyaris menyerbu seluruh thread, seluruh bagian forum,
Kami dipaksa untuk meng-rapikan.  dan dalam prosesnya…  Timbul pertanyaan… Kemanakah MMD?  yang berakhir pada ricuh-kisuh seperti ini

04-09-2008, 07:56 PM

Sumber =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=8

Di akhir perdebatannya dengan “Kemenyan”,  Romo Hudoyo memberikan tanggapannya sebagai berikut :

OK, Kemenyan … bodoh kalau saya melayani Anda terus … waktu saya sangat berharga untuk membimbing MMD … Sekali lagi, nasi sudah menjadi bubur … sekalipun Anda menghiba-hiba, saya tidak akan masuk ke DC lagi selama managementnya dikuasai oleh orang-orang reaksioner yang ingin memutar mundur jarum sejarah Buddhisme di Indonesia. …

Kita beradu di lapangan … Umat Buddha Indonesia akan menilai sendiri dalam waktu 10 tahun ini … Anda dan teman-teman Anda di DC-kah, atau saya dan teman-teman saya di MMD, yang benar-benar pewaris dari ajaran Sang Guru.

Salam,
hudoyo

[ Sumber =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=8 ]


Dari pandangan-pandangan Romo Hudoyo sendirilah, konflik antara beliau dengan management dhammacitta.org ini terjadi. Romo Hudoyo , sekarang membuka  thread yang ia sebut sebagai “Modern Buddhism” dengan tujuan mewadahi aspirasi para ummat Buddhist dan  non-Buddhist , untuk menampilkan, membahas, memperdebatkan pemikiran & pemahaman baru terhadap ajaran Buddha Gautama yang berkembang di dunia Buddhis internasional maupun lokal, tanpa terikat pada doktrin, mazhab, ritual klasik/tradisional yang ada ; demikian statement beliau. ( Sumber = http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1069163 )


Melihat fenomena yang cukup controversial ini, saya sebagai seorang ummat Buddha, merasa tergugah untuk melakukan research dan telaah kritis atas pandangan-pandangan Romo Hudoyo Hupudhio, yang oleh banyak ummat Buddha dinyatakan sebagai “penyimpangan” dari Buddhisme dan tidak selayaknya diajarkan pada ummat Buddha. Demi mendapatkan kepastian dan kebenarannyalah, artikel ini saya tulis. Mungkin tulisan ini bisa disebut sebagai sebuah “dokumentasi” atas suatu “konflik”  intern dalam tubuh ummat Buddha Indonesia yang pernah terjadi di awal abad ke-21 ini. Atau mungkin juga bisa disebut sebuah bentuk dokumentasi atas timbulnya sebuah “pandangan-salah” dalam diri / sekelompok ummat Buddha.

Setelah melakukan observasi dan proses collecting-data di lapangan atas statement-statement Romo Hudoyo, akhirnya saya mendapatkan beberapa point pandangan-pandangan Romo Hudoyo yang menyebabkan apa yang ia ajarkan dianggap oleh banyak ummat Buddha telah menyimpang dari Buddhisme. Setidaknya ada delapan (8) point pandangan Romo Hudoyo Hupudhio yang bisa kita jadikan bahan pertimbangan, bahwa apa yang diajarkan Romo Hudoyo bukanlah ajaran Buddha, tapi lebih kepada ajaran “Kepercayaan-Lain” yang mungkin memiliki benang-merah dengan Buddhisme, tapi bukan Buddhisme itu sendiri. Ke-delapan ( 8 ) point “pandangan-menyimpang” tersebut adalah :

  1. Penolakan terhadap Empat Kesunyataan Mulia dan Jalan Ariya Beruas Delapan
  2. Pelarangan bagi ummat Buddha untuk melakukan berbagai bentuk Puja ( Namaskara, pembacaan Paritta, dll. ) saat sedang mengikuti retret “MMD”.
  3. Tujuan “MMD” adalah  “berhentinya-pikiran” ( bukan Nibbana sebagaimana Sang Buddha menunjukkannya sebagai tujuan-sejati bagi ummat Buddha )
  4. Penegasan bahwa “MMD” adalah meditasi vipassana “Ala Krishnamurti” ; bukan vipassana ala Buddhisme umumnya.
  5. Penggunaan Bahiya-Sutta, Malunkyaputta-Sutta, dan Angulimala-Sutta sebagai sekedar “jembatan” untuk menghubungkan “MMD” ( yang berbasis ajaran J.Krishnamurti ) dengan ummat Buddha.
  6. Pandangan Romo Hudoyo akan adanya Buddha yang telah muncul di abad ke-20 ; yaitu J.Krishnamurti.
  7. Penolakan [ dengan halus ] Ajaran “Anatta”
  8. Penolakan terhadap Kebenaran isi Ti-Pitaka

Dari bebagai pandangannya, saya menyimpulkan, Saddha Romo Hudoyo terhadap Ti-Ratana, telah terkalahkan semenjak ia ber-“Saddha” kepada J.Krishnamurti. Dan, dengan menolak kesunyataan bahwa hidup adalah dukkha, adanya sebab dukkha, berakhirnya dukkha, dan Jalan menuju berakhirnya dukkha ( Empat Kesunyataan Mulia ) ; Dengan menyatakan adaya si “Aku” yang menjadi penggerak exsistensi manusia, dan  bahwa anatta sesungguhnya tidak bisa dialami oleh para meditator karena hanya merupakan konsepsi belaka,  maka menurut hemat saya, dengan begitu Romo Hudoyo memang benar telah dicengkeram “pandangan-salah” ( micha-ditthi ) yang akan membelenggu beliau serta para siswanya untuk merealisasi pembebasan-sempurna dari samsara.

Untuk mengetahui dengan  lebih jelas, marilah kita masuk pada pembahasan  kedelapan point “pandangan-menyimpang” Romo Hudoyo tersebut.

1. PENOLAKAN ROMO HUDOYO TERHADAP EMPAT KESUNYATAAN MULIA DAN JALAN ARIYA BERUAS DELAPAN

Saya akui, ketika saya menjabat Sekjen Mapanbudhi dulu, saya pernah ikut-ikutan terlibat dalam “pengganyangan” Nichiren Shoshu Indonesia (NSI) … tetapi sekarang saya sadari bahwa itu salah. …

Mengapa Anda bertahan dengan metode ortodoks seperti 4KM ( Empat Kesunyataan Mulia, – pen. ) / JMB8 ( Jalan Mulia Beruas Delapan,- pen. ) kalau itu hanya menyebabkan KETAKUTAN dan KEBINGUNGAN seperti Anda ungkapkan sendiri? …

[ Sumber =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=8 ]

Pertanyaan Romo Hudoyo mengenai mengapa ummat Buddha teguh berjalan ( dalam bahasa Romo Hudoyo = “bertahan-dengan-metode-ortodoks” ) di dalam Jalan Ariya Beruas Delapan dan Empat Kesunyataan Mulia, amat sangat janggal, mengingat pertanyaan ini diajukan oleh seorang Romo / Pandhita Buddhist dari mazhab Theravada.

Sebab, sebagai seorang Theravadin ( apalagi seorang Romo / Pandhita ), seharusnya beliau mengetahui, bahwa Empat Kesunyataan Mulia beserta Jalan Ariya Beruas Delapan adalah “intisari” dari seluruh ajaran Sang Buddha.

Akan berbeda halnya, bila pertanyaan itu diajukan oleh ummat agama lain yang memang tidak ber-Tisarana ( berlindung pada Buddha-Dhamma-Sangha ). Sah-sah saja bagi ummat agama lain untuk menolak Empat Kesunyataan Mulia ( ajaran bahwa : hidup adalah penderitaan, sebab penderitaan adalah nafsu-keinginan, berakhirnya-penderitaan ( bahwa penderitaan tersebut bisa berakhir, yakni saat merealisasi “Nibbana” ), dan adanya Jalan menuju berakhirnya penderitaan ( yaitu “Jalan Ariya Beruas Delapan” ) ).

Quote from: Sumedho on 29 July 2008, 01:29:14 PM

jadi kesimpulannya Pak Hud, apakah jalan mulia beruas 8 bisa membawa kebebasan tidak? kalau sudah disimpulkan, nanti buka thread lain aja supaya lebih rapih

Kalau Anda membaca dengan teliti thread ini, Anda akan melihat beberapa kali saya katakan:

Segala JALAN spiritual, termasuk JMB-8, tidak bisa membebaskan orang; untuk bebas batin harus berhenti, bukan berjalan.

Silakan kalau ada orang mau berpendapat lain.

Salam,

hudoyo

Quote from: ryu on 28 July 2008, 01:38:32 PM

14. “Bhagava, adakah jalan, adakah metode untuk mencapai hal-hal ini?” “Ada jalan, Mahali, ada metode.” [157] “Dan Bhagava, apakah jalan itu, apakah metode itu?”

“Yaitu, Jalan Mulia Berfaktor Delapan, yaitu, Pandangan Benar, Pikiran Benar; Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar; Usaha Benar, Perhatian Benar dan Konsentrasi Benar. Ini adalah jalan, ini adalah cara untuk mencapai hal-hal ini.”

http://dhammacitta.org/tipitaka/dn/dn.06.0.wlsh.html

hehe … ini kan cuma mengulang-ulang argumentasi lama: ada JALAN ajaran Sang Buddha, yakni JMB-8.

Itulah yang diajarkan dalam AGAMA Buddha, dalam Tipitaka Pali yang ditulis berabad-abad setelah Sang Buddha wafat. Saya tidak percaya itu datang dari mulut Sang Buddha.

Quote from: hudoyo on 26 July 2008, 06:36:26 AM

Quote from: nyanadhana on 25 July 2008, 04:11:41 PM

Ketika Sang Buddha memutar Dhammacakkapavattana….Beliau menjelaskan 2 Ekstrim yang dihancurkan melalui Jalan Tengah apakah Jalan Tengah itu ya 8 Jalan Ariya sehingga membawa orang menuju Nibbana. Yang dimaksud mungkin ketika kamu sedang berjuang mencapai Nibbana. gunakan 8 Jalan itu dan ketika sudah sampai maka ibarat rakit dilepas,lagian orang yang telah mencapai Nibbana atau kepadaman, ia tidak lagi memerlukan kemelekatan akan 8 Jalan itu sendiri melainkan telah terintegrasi dalam setiap ucapan,perbuatan dan pikiran.

Ini saja yang saya tangkap ketika membaca Visuddhi Magga

Bagus-bagus saja umat Buddha berpendapat seperti Anda.

Yang saya katakan adalah umat non-Buddhis pun bisa saja mencapai pembebasan (nibbana) tanpa melalui JMB-8, tanpa melalui konsep “pantai seberang”, tanpa melalui konsep “rakit”.

Itulah yang saya pahami dari pengalaman sadar sampai sejauh ini.


Permasalahannya disini saya melihat Romo Hudoyo sangat meragukan kebenaran isi Ti-Pitaka dan menganggap Empat Kesunyataan Mulia beserta Jalan Ariya Beruas Delapan hanyalah merupakan formulasi para Bhikkhu setelah Sang Buddha Parinibbana. Ini yang dilematis, dan tentu bila Romo sudah tidak-yakin, penjelasan seperti apapun juga susah untuk Romo akui. Namun tetap, dibawah ini nanti, saya akan mengulas kembali “sejarah-penyusunan” Ti-Pitaka yang disusun oleh para Arahanta tiga (3) bulan setelah Sang Buddha Parinibbana.

Sesungguhnya banyak sekali Sang Buddha mengkhotbahkan ajaran tersebut dari mulut Beliau sendiri. Meski mungkin Romo Hudoyo anggap sutta ini pun hasil “rekayasa”, tapi saya tetap hendak menuliskannya disini khusus saya sajikan untuk ummat Buddha umumnya yang masih memiliki saddha yang kuat terhadap Ti-Ratana ; bukan untuk yang tidak-yakin / tidak ber-Saddha.  Berikut adalah beberapa khotbah yang bisa menunjukkan bahwa “Empat Kesunyataan Mulia” beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan”, merupakan ajaran langsung dari Sang Buddha Gotama.

” Dan juga, para Bhikkhu, Aku melihat Jalan setapak tua, Jalan-Purba yang ditempuh oleh para Buddha dimasa lampau. Dan apakah jalan setapak tua itu,  Jalan Purba itu ? Jalan itu adalah Jalan Ariya Beruas Delapan : Pandangan-Benar, Pikiran-Benar, Ucapan-Benar, Perbuatan-Benar, Mata-Pencaharian-Benar, Usaha-Benar, Perhatian-Benar, dan Konsentrasi-Benar.” [ Samyutta-Nikaya , 12 : 65 ]

“ ‘Jalan-Tengah yang ditemukan oleh Tathagata menghindari kedua ekstrim itu ; karena memberikan visi, memberikan pengetahuan, Jalan ini membawa menuju kedamaian, menuju pengetahuan-langsung, menuju pencerahan, menuju Nibbana.’ Demikian dikatakan. Dan dengan mengacu pada apa maka hal ini dikatakan ? Itulah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini ; yaitu, Pandangan Benar, Niat Benar, Ucapan Benar, Tindakan Benar, Penghidupan Benar, Usaha Benar, Kewaspadaan Benar, dan Konsentrasi Benar. Jadi, mengacu pada hal inilah maka dikatakan : ‘ Jalan-Tengah yang ditemukan oleh Tathagata menghindari kedua ekstrim itu… menuju Nibbana.” [ Aranavibhanga-Sutta ; Majjhima-Nikaya, Sutta ke-139  ; Khotbah ini disampaikan oleh Sang Buddha pada para Bhikkhu di Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anathapindika ].


“… Nah, Cunda, disini penghapusan harus dipraktekkan olehmu :

…. ;

‘Orang-orang lain akan memiliki pandangan-salah; disini kita akan memiliki “Pandangan-Benar” ; penghapusan harus dipraktekkan-demikian.

‘Orang-orang lain akan memiliki niat-yang-salah ; disini kita akan memiliki ‘Niat-yang-Benar’ ; penghapusan harus dipraktekkan demikian.

‘Orang-orang lain akan akan berbicara-salah ; disini kita akan memiliki “Pembicaraan-yang-Benar” ; penghapusan harus diprakatekkan demikian.

‘ Orang-orang lain akan melakukan tindakan-yang-salah ; disini kita akan memiliki “Tindakan-yang-Benar” ; penghapusan harus dipraktekkan demikian.

‘Orang-orang lain akan memiliki penghidupan-yang-salah ; disini kita akan memiliki “Penghidupan-yang-Benar” ; penghapusan harus dipraktekkan demikian.

‘Orang-orang lain akan memiliki usaha-yang-salah ; disini  kita akan memiliki “Usaha-yang-Benar” ; penghapusan harus dipraktekkan demikian.’

‘ Orang-orang lain akan memiliki kewaspadaan-yang-salah ; disini kita akan memiliki “Kewaspadaan-yang-Benar” ; penghapusan harus dipraktekkan demikian.

‘ Orang-orang lain akan memiliki konsentrasi-yang-salah ; disini kita akan memiliki “Konsentrasi-yang-Benar” ; penghapusan harus dipraktekkan demikian.’

… .”  [ Sallekha-Sutta ; Majjhima-Nikaya, Sutta ke-8 ; Khotbah ini disampaikan oleh Sang Buddha pad Y.M.Maha Cunda ketika Sang Buddha sedang berdiam di Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anathapindika ]


“Ketika pikiranku yang terkonsentrasi telah demikian termurnikan, terang, tak-ternoda, bebas dari ketidaksempurnaan, dapat diolah, lentur, mantap, dan mencapai keadaan tak-terganggu, aku mengarahkannya pada pengetahuan-tentang hancurnya noda-noda (asavakhayanana). Secara langsung aku mengetahui sebagaimana adanya : ‘Inilah Penderitaan’…’Inilah Asal Mula Penderitaan’…’Inilah Berhentinya Penderitaan’…’Inilah Jalan menuju Berhentinya Penderitaan’… [ Bhayabherava-Sutta ; Majjhima-Nikaya, Sutta ke-4 ; Khotbah ini disampaikan oleh Sang Buddha pada Brahmana Janussoni, di Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anatapindika ].


Sesungguhnya, masih banyak Sutta-sutta yang menunjukkan bahwa “Empat Kesunyataan Mulia” beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan” adalah memang ajaran yang dinyatakan dari mulut Sang Buddha sendiri. Seharusnya Romo Hudoyo, sebagai seorang Pandhita, mengetahui hal ini. Bagaimana mungkin seorang Romo tidak mengetahui hal-hal seperti ini.

Tanya = Menurut Pak Hud jalan mulia beruas 8 itu bisa membawa kebebasan tidak? (cuma nanya, jadi mau tahu gimana pandangan Pak Hud mengenai jalan beruas 8 )


Jawab = Menurut hemat saya, kalau orang melekat pada Jalan Mulia Berunsur Delapan ia akan tetap terbelenggu.
Karena sesungguhnya tidak ada jalan … tidak ada tujuan … tidak ada pantai seberang.
Nibbana itu sendiri berarti padam.

Salam,
Hudoyo

[ Sumber =

http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=3718.0 ]


Membaca kalimat Romo Hudoyo,”…sesungguhnya tidak ada jalan…tidak ada tujuan…tidak ada pantai seberang…” tersebut jujur saja, awalnya saya terpesona. Untaian kalimat tersebut sangat indah, bagaikan pernyataan seorang “filsuf”.

Tapi, bila dikaji secara kritis, maka sebenarnya pernyataan tersebut sesungguhnya sangat bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Sang Buddha ( yang seharusnya adalah Guru-Agung bagi pak Hudoyo ; jika ia memang seorang Buddhist ).  Kenyataannya, Sang Buddha sendiri menyatakan “… ada Nirvana, tetapi tak seorangpun yang memasukinya; Ada jalan, tetapi tak seorang pengunjungpun yang melewatinya. “ (Visuddhi Magga. XVI). Dalam Dhammapada, Magga Vagga : 20-1, juga dinyatakan, “ Diantara semua Jalan, Jalan Suci yang beruas delapan adalah yang terbaik. Diantara semua Kebenaran, Empat Kesunyataan Mulia adalah yang termulia; Diantara semua keadaan batin, Nibbana adalah yang tertinggi ;  Diantara semua makhluk yang berkaki dua dan dapat melihat, Sang Buddha adalah yang ter-Agung.

Penolakan Romo Hudoyo terhadap “Empat Kesunyataan Mulia” beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan” ini sepertinya menjadi “semangat-central” dalam setiap diskusi-diskusinya, dalam setiap statement-statementnya. Berikut adalah hasil penelusuran saya atas statement-statement beliau di berbagai situs dan milist di internet :

… apa lagi ini: Jalan Mulia Berunsur Delapan? … Seorang Muslim atau Keristen tidak kenal itu … tapi kalau ia mengikuti MMD ia akan mengakhiri dukkha, sebagaimana dinyatakan oleh Sang Buddha dalam Bahiya-sutta, tanpa perlu menghafal Jalan Mulia Berunsur Delapan sama sekali.

[ Sumber =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=8 ]

“Kalau seseorang mengikuti “MMD” ia akan mengakhiri dukkha”. Demikian dengan penuh percaya diri Romo Hudoyo menyatakan. Agaknya memang Romo Hudoyo ini tidak memahami ( atau barangkali “lupa” ) makna dari “berakhirnya-dukkha”.

Secara sederhana saja, apakah Romo dan para peserta MMD telah berhasil mencabut ketiga-api yang membakar dunia ini ; keserakahan akan keindriyaan (lobha), kemarahan/kebencian (dosa) dan kebodohan batin ( moha ; kebodohan batin adalah, kebodohan karena tidak bisa melihat dengan jelas bahwa hidup ini adalah penderitaan, adanya sebab penderitaan, berakhirnya penderitaan, dan Jalan menuju berakhirnya penderitaan )  ?  .

Apakah ada diantara peserta MMD yang telah tidak dicengkeram “tanha” ( nafsu-keinginan ) ? Ini saja pertanyaan sederhana untuk mengukur sampai sejauh mana kebenaran pernyataan “siapapun yang mengikuti MMD ia akan mengakhiri dukkha”.

Quote from: dilbert on 23 July 2008, 09:17:15 AM

‘Jalan Tengah’ (Madhyama Pratipad) yang diajarkan oleh Sang Buddha itu sendiri tidak relevan di dalam MMD! Tentu Anda kaget mendengar ini.



‘Jalan Tengah’ mengajarkan ‘Sila’ (Moralitas), ‘Samadhi’ (Meditasi), & ‘Prajna’ (Kearifan). Ketiga kategori latihan itu tidak relevan lagi dalam MMD, di mana hanya ada diam dalam sadar/eling pada saat kini.

‘Jalan Tengah’ merupakan “jalan” untuk mencapai suatu tujuan di masa depan, yakni “Lenyapnya Dukkha” (Duhkha-Nirodha). Di dalam MMD tidak diajarkan “jalan” apa pun untuk mencapai tujuan apa pun, melainkan justru dilatih untuk diam pada saat kini.

[ Sumber =

http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan--Apa-ajaran-Sang-Buddha-tentang-sadar-eling-pada-saat-kini--td16575427.html ]


Dari statement diatas ( serangkaian penolakan Romo Hudoyo tehadap Empat Kesunyataan Mulia dan Jalan Ariya Beruas Delapan ), yang menjadi menarik untuk dipelajari adalah, apa yang menjadi latar belakang pemikiran Romo Hudoyo untuk dengan sedemikian keras menolak “Jalan Ariya Beruas Delapan” tersebut ?

Dari hasil penelusuran saya, ternyata pemikiran Romo Hudoyo tersebut berasal dari ajaran J.Krishnamurti. Seseorang bernama ( atau menggunakan ID nama ) Daniel, memposting dialog BBC dengan J.Krishnamurti ( date : July 14, 2006, 03:17 ) yang diterjemahkan oleh Romo Hudoyo Hupudhio. Dari dialog tersebutlah saya jadi mengerti bagaimana awal-mula “pola-pikir” Romo Hudoyo tersebut terbentuk ; yang ternyata banyak diwarnai dari “doktrin” J.Krishnamurti.

Berikut adalah cuplikan dialog tersebut :

JK: Jadi, melihat bahaya — jika Anda melihat
bahaya dari konflik, misalnya, bahaya psikologis
dari seorang manusia yang terus-menerus berada
dalam konflik–ia mungkin bermeditasi, ia mungkin
berbuat apa saja, tetapi konfliknya akan berjalan
terus–tetapi jika ia melihat bahayanya, seperti
bahaya sebuah racun, maka ia akan menghentikannya. Itulah akhirnya.


Sebelum saya lanjutkan dialog antara BBC dengan J.Krishnamurti ini, saya hendak mengkritisi mengenai ajaran “penghentian-konflik” ini. Sebenarnya, ajaran ini sudah sangat tidak asing lagi bagi ummat Buddha ; seperti umumnya ajaran J.Krishnamurti yang memang sudah sangat tidak asing lagi bagi ummat Buddha ( lihat dan baca di pembahasan pandangan-menyimpang keenam (6) dari Romo Hudoyo ; disana saya cuplikkan dialog Walpola Rahula dengan J.Krishnamurti ; statement dari Walpola Rahula, “Bukankah Anda hanya mengulang apa yang disabdakan Buddha”. )

Dalam Aranavibhanga Sutta ( Majjhima-Nikaya ;  Sutta ke-139 ), Sang Buddha secara terperinci membahas tentang “Tanpa-Konflik”. Khotbah dalam sutta ini sangat mendetail tentang hal-hal yang menimbulkan konflik dan hal-hal yang menjauhkan konflik. Berikut adalah petikan sutta tersebut :

“ Para Bhikkhu, akan kuajarkan kepada kalian penjelasan rinci tentang tanpa-konflik. Dengarkan dan perhatikan dengan seksama apa yang akan kukatakan” – “ Ya, Bhante”, jawab para Bhikkhu. Yang Terberkahi mengatakan hal ini :

“ Orang seharusnya tidak mengejar kesenangan indera, yang bersifat rendah, norak, kasar, tidak mulia, dan tidak bermanfaat ; dan orang seharusnya tidak mengejar penyiksaan-diri, yang bersifat menyakitkan, tidak mulia, dan tidak bermanfaat. Jalan-Tengah yang ditemukan oleh Tathagata menghindari kedua ekstrim itu ; karena memberikan visi, memberikan pengetahuan, Jalan ini membawa menuju kedamaian, menuju pengetahuan-langsung, menuju pencerahan, menuju Nibbana.Orang harus mengetahui apa yang harus dijunjung tinggi dan apa yang harus dicela, dan karena mengetahui keduanya, dia seharusnya tidak meninggikan atau mencela melainkan seharusnya mengajarkan hanya Dhamma saja. Orang seharusnya mengetahui bagaimana mendefinisikan kesenangan, dan karena mengetahui hal itu, dia seharusnya mengejar kesenangan di dalam diri sendiri. Orang seharusnya tidak mengeluarkan ucapan tersamar, dan dia seharusnya tidak mengeluarkan ucapan terang-terangan yang tajam. Orang seharusnya berbicara pelan, bukan tergesa-gesa. Orang seharusnya tidak bersikeras dengan bahasa local, dan dia seharusnya tidak mengesampingkan penggunaan normal. Inilah ringkasan penjelasan rinci tentang “Tanpa-Konflik”. “ [ Aranavibhanga-Sutta ; Majjhima-Nikaya, Sutta ke-139 ]


Demikianlah, sehingga ajaran central dari J.Krishnamurti mengenai “tanpa-konflik” itu, bagi ummat Buddha dimanapun juga, bukanlah hal baru dan “asing” lagi.

P: Dari apa yang Anda katakan, tampaknya TIDAK ADA JALAN menuju ke situ.

JK: TIDAK .

P: Lalu bagaimana kita bisa sampai ke situ? Untuk
sampai ke suatu tempat tanpa suatu jalan apa pun,
menurut saya bukan suatu ide yang baik.

JK: Begini — Jalan ini ditetapkan oleh
pikiran–bukan? Seluruh jalan pembebasan Hindu,
Buddhis, Islam, Kristen — Kebenaran bukanlah
suatu titik tertentu yang menetap [fixed]. Jadi manakah jalan ke situ?

[ Sumber http://forum.wgaul.com/archive/thread/t-50991-Ajaran-J-Krishnamurti.html ]

Sedikit pertanyaan dari saya, jika kebenaran bukanlah sesuatu yang “tetap” ( abadi ), bagaimana mungkin ia bisa disebut sebagai “kebenaran” ? Sesuatu kebenaran yang tidak tetap ( tidak abadi ), bukanlah “kebenaran-mutlak” ( paramatha-sacca ). Sebab “kebenaran-mutlak” itu bersifat : benar, tidak terikat oleh waktu, dan tidak terikat oleh ruang. Sejati dan abadi, inilah kebenaran-mutlak. Dan sesungguhnya memang ada “kebenaran-mutlak” tersebut. Dan jika yang ditemukan J.Krishnamurti adalah kebenaran yang masih “tidak-tetap”, berarti J.Krishnamurti belum menemukan adanya kebenaran yang “abadi” dan sejati ( Paramatha-Dhamma ).

Namun seperti apapun makna dari kata2 J.Krishnamurti, agaknya ajaran J.Krishnamurti tersebutlah yang kemudian diimani oleh Romo Hudoyo dan menyebabkan beliau selalu menolak “Jalan Ariya Beruas Delapan”. Beliau selalu menganjurkan untuk “melepaskan” Jalan tersebut, dan menyarankan, “Cukup berhenti saja!”.

Kepada umat Buddha yang merasa berjalan di atas “Jalan Utama Berfaktor Delapan” (Arya-Ashtangika-Marga), kita patut mengingatkan ucapan Sang Buddha kepada Angulimala: “… Kamulah yang terus berlari. Apa yang kamu cari? Berhentilah!”

[ Sumber = http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan--Apa-ajaran-Sang-Buddha-tentang-sadar-eling-pada-saat-kini--td16575427.html ]

Lewat pernyataan diatas, apakah Romo Hudoyo bermaksud menghimbau ummat Buddha yang berjalan di “Jalan Ariya Beruas Delapan” untuk “Berhenti” menempuh Jalan tersebut dengan dasar adanya seruan Sang Buddha pada Angulimala seperti tersebut diatas ( Berhentilah ! ) ?

Sebagai seorang Romo, Bp.Hudoyo tentunya sangat mengerti kisah Angulimala yang dimaksud. Namun , bagaimana bisa Romo Hudoyo menggunakan kisah Angulimala tersebut dalam pengertian yang berbeda untuk tujuan mencari pembenaran / korelasi antara ajaran “berhentinya-pikiran” (ala J.Krishnamurti) dengan ajaran Buddha ? Sebab, Sabda Sang Buddha tersebut bukan bermaksud menyuruh Angulimala untuk “menghentikan” langkahnya dalam menempuh “Jalan Ariya Beruas Delapan” , bahkan Angulimala saat itu pun sama-sekali tidak mengenal apa itu “Jalan Ariya Beruas Delapan”.

Untuk ummat Buddha yang belum mengetahui kisah Angulimala sang pembunuh ini, berikut ini saya sajikan petikan sutta yang menggambarkan kisahnya :

“ … Pada suatu ketika Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anathapindika.

Pada saat itu ada seorang bandit bernama Angulimala di wilayah Raja Pasenadi dari Kosala. Bandit ini membunuh, bertangan-berlumur-darah, terbiasa memukul dan suka kekerasan, tak kenal ampun kepada makhluk hidup. Berbagai desa, kota, dan daerah dihancurkan olehnya. Dia terus saja membunuh orang dan jari-jari korban digunakannya sebagai untaian kalung.

Suatu pagi, Yang Terberkahi berpakaian, mengambil mangkuk dan jubah luar Beliau, lalu pergi ke Savatthi untuk mengumpulkan dana makanan. Setelah Beliau berkelana untuk mengumpulkan dana makanan di Savatthi dan telah kembali, setelah selesai makan Beliau merapikan tempat istirahatnya, mengambil mangkuk dan jubah luar-Nya, lalu berangkat menuju jalan yang mengarah pada Angulimala. Para penggembala sapi, penggembala kambing, dan pembajak sawah yang lewat melihat Yang Terberkahi berjalan menuju Angulimala dan memberitahu Yang Terberkahi : “Jangan mengambil jalan ini, petapa. Di jalan ini ada bandit Angulimala, membunuh, bertangan-berlumur-darah, terbiasa memukul dan suka kekerasan, tak kenal ampun kepada makhluk hidup. Berbagai desa, kota, dan daerah dihancurkan olehnya. Dia terus saja membunuh orang dan jari-jari korban digunakannya sebagai untaian kalung. Orang-orang lewat jalan ini dalam kelompok sepluh, dua puluh, tiga puluh, dan bahkan empat puluh, tetapi tetap saja mereka menjadi korban tangan Angulimala.” Ketika hal ini disampaikan, Yang Terberkahi meneruskan perjalanan-Nya dengan diam.

Untuk kedua kalinya…untuk ketiga kalinya para penggembala sapi, penggembala kambing, dan pembajak sawah memberitahukan hal ini kepada Yang Terberkahi, tetapi tetap saja Yang Terberkahi meneruskan perjalanan-Nya dengan diam.

Bandit Angulimala melihat Yang Terberkahi datang dari kejauhan. Ketika melihat Beliau, dia berpikir : “Ini bagus, ini luar biasa! Orang-orang melewati jalan ini dalam kelompok sepuluh, dua puluh, tiga puluh, dan bahkan empat puluh, dan tetap saja mereka menjadi korban tanganku. Dan sekarang petapa ini datang sendiri, tidak ditemani, seolah-olah didorong oleh nasib. Mengapa aku tidak membunuh petapa ini saja ?” Angulimala kemudian mengambil pedang dan tamengnya, memasang busur dan tempat anak panahnya, dan mengikuti dari dekat di belakang Yang Terberkahi.

Maka Yang Terberkahi menunjukkan kekuatan supranormal yang sedemikian rupa sehingga bandit Angulimala, walaupun berjalan secepat yang dia bisa, tidak sanggup mengejar Yang Terberkahi yang berjalan dengan kecepatan normal. Kemudian bandit Angulimala berpikir : “Ini hebat, ini luar biasa!  Aku bisa mengejar bahkan gajah yang cepat dan menangkap-Nya ; aku bisa mengejar bahkan kuda yang cepat dan menangkapnya; aku bisa mengejar bahkan kereta yang cepat dan menangkapnya; aku bisa mengejar bahkan rusa yang cepat dan menangkapnya ; tetapi sekarang, walaupun aku berjalan secepat yang aku bisa, aku tidak sanggup mengejar petapa yang berjalan dengan kecepatan normal ini!” Dia pun berhenti dan berteriak kepada Yang Terberkahi :” Berhenti, petapa! Berhenti, petapa!”

“Aku telah berhenti, Angulimala,engkau pun berhentilah juga.”

Kemudian bandit Angulimala berpikir : “Petapa-petapa ini, putra-putra Sakya, berbicara kebenaran, menegaskan kebenaran ; tetapi walaupun petapa ini masih berjalan, dia mengatakan : ‘ Aku telah berhenti, Angulimala, engkau pun berhentilah juga.’ Sebaiknya kutanyai petapa ini.”

Maka bandit Angulimala berkata kepada Yang Terberkahi dalam bait-bait demikian :

“Sementara Engkau sedang berjalan, petapa, Kau katakan padaku Engkau telah berhenti ;

Tetapi sekarang, ketika aku telah berhenti, Kau katakan aku belum berhenti.

Aku bertanya kepada-Mu kini, O Petapa, tentang artinya :

Bagaimana bisa Engkau telah berhenti dan aku belum ?”

“ Angulimala, Aku telah berhenti selamanya,

Aku bebas dari kekerasan terhadap makhluk hidup;

Tetapi engkau tidak punya pengendalian diri terhadap makhluk-makhluk hidup;

Itulah sebabnya Aku telah berhenti dan engkau belum.”

“ Oh, akhirnya petapa ini, orang suci yang dihormati, telah datang ke hutan besar ini demi aku. Setelah mendengar bait-Mu yang mengajarkan Dhamma kepadaku, aku benar-benar akan meninggalkan kejahatan selamanya.”

Setelah berkata demikian, bandit itu mengambil pedang dan senjatanya dan melemparkannya ke kedalaman jurang yang menganga ; Si Bandit menyembah di kaki Yang Tertinggi, dan saat itu dan disana juga memohon pentahbisan.

Yang Tercerahkan, Manusia Suci dengan Kasih Sayang yang Besar, Sang Guru dunia dengan [semua] dewanya, berkata kepadanya dengan kata-kata ini, “Datanglah, Bhikkhu.” Dan demikianlah dia [Angulimala] menjadi bhikkhu.

Kemudian Yang Terberkahi mulai berkelana kembali ke Savatthi dengan Angulimala sebagai pelayan Beliau. Berkelana secara bertahap, Beliau akhirnya tiba di Savatthi, dan disana Beliau berdiam di Hutan Jeta, Taman Anathapindika. ( …dst. ; Angulimala-Sutta ; Majjhima-Nikaya, Sutta ke-86 )

Jadi, perintah” Berhentilah! “ dari Sang Buddha kepada Angulimala tersebut adalah perintah untuk menghentikan semua bentuk kejahatan, untuk menyingkirkan pedang dari kehidupan Angulimala, bukan perintah kepada seseorang yang sedang melangkah dalam “Jalan Ariya Beruas Delapan” untuk menghentikan penempuhan Jalan yang “sia-sia” sebagaimana Romo Hudoyo maksudkan. Justru kemudian, setelah Sang Buddha menyuruh Angulimala untuk berhenti dari semua kejahatannya, ia mulai menempuh latihan bertahap, menempuh “Jalan Ariya Beruas Delapan”. Romo Hudoyo agaknya perlu lebih bijaksana dalam mengutip sutta, supaya tidak terjadi distorsi makna.

Dalam banyak kesempatan, Romo Hudoyo menganggap, ummat Buddha yang masih berjalan menempuh “Jalan Ariya Beruas Delapan” adalah belum mampu melihat hakikat “Dhamma”. Ummat Buddha dianggapnya sekedar memegang konsep belaka. Dan apakah Romo dengan demikian tidak memegang “konsep” dari J.Krishnamurti ?

Dan, Romo Hudoyo, Empat-Kesunyataan-Mulia, itu adalah “Dhamma” yang ditembus oleh Sang Buddha sendiri melalui pencerahan-Nya. Empat pandangan cerah inilah tanda pencerahan ( Bodhi ) yang Sang Buddha capai. Dan, hal ini pulalah yang telah ditembus oleh banyak Arahanta serta para Ariya lainnya, sehingga mereka semua akhirnya bisa membebaskan diri dari samsara. Kebodohan-batin ( moha )-lah yang menyebabkan seseorang tidak bisa melihat bahwa : hidup ini sejatinya adalah dukkha, sebab dukkha adalah nafsu-keinginan, berakhirnya-dukkha ( dengan ter-realisasinya Nibbana ), dan adanya Jalan menuju berakhirnya-dukkha ( Jalan Ariya Beruas Delapan ).


Dalam sebuah diskusi antara Romo Hudoyo dengan rekan Wei dan Adri =

Tampaknya Anda berdua masih melekat pada konsep (Jalan Mulia Berfaktor Delapan), terutama rekan Wei. :)

Begini ya, Anda harus dapat membedakan antara konsep dan kebenaran. Konsep adalah pikiran, sedangkan kebenaran berada di luar pikiran. Kebenaran itu bisa diungkapkan dengan berbagai konsep, kata-kata, paradigma dsb, tergantung pembelajaran & keterkondisian pikiran masing-masing orang. Tapi kata-kata tidak bisa menggantikan kebenaran. The word is not the thing.

[ Sumber =

http://groups.yahoo.com/group/semedi/message/17515 ]


Lagi-lagi, kata2 “The Word is not The Thing” itu merujuk pada “Sabda” yang diucapkan oleh Jiddu Krishnamurti =

“Let us look at fear in a different direction. There is the word, and there is the thing. The word tree is not the tree. We will keep it very simple. We will use only one symbol : the word tree is not the actual tree. But for us, the word is the tree. So we must be able to see clearly that THE WORD IS NOT THE THING. This is important to go into the question of fear.”

[ The Collected Works of J. Krishnamurti: 1962-1963, A psychological revolution

Oleh Jiddu Krishnamurti ]


Mengenai “Dhamma”. Romo Hudoyo agaknya perlu diingatkan bahwa “Dhamma” Sang Buddha ini memang unique. Karenanya, Sang Buddha sendiri kemudian berani menyatakan khotbah “Raungan-Singa”-Nya, menyatakan Beliau adalah “Yang-Tertinggi”, dan hanya di dalam “Dhamma”-Nya saja terdapat kehidupan suci, tidak ada di dalam “Dhamma” diluar ajaran Beliau. Janganlah Romo kemudian beranggapan bahwa, Dhamma artinya adalah semua ajaran yang menuju pada suatu “puncak-spiritual” yang diajarkan banyak Guru diluar Sang Buddha, sebab bila demikian, maka akhirnya bahkan tidak ada bedanya Dhamma Sang Buddha dengan “Dhamma” para petapa dan kelana sekte-lain dijaman Sang Buddha, dimana kenyataannya memang jauh berbeda.

Untuk sekedar mengingatkan kita semua, berikut ini adalah Sabda Sang Buddha =

“Pada suatu ketika Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anathapindika. Disana Beliau berkata kepada para Bhikkhu demikian : “Para Bhikkhu” – “Bhante”, jawab mereka. Yang Terberkahi berkata demikian :

Para Bhikkhu, hanya di sinilah terdapat seorang petapa, hanya disinilah petapa kedua, hanya disinilah petapa ketiga, hanya disinilah petapa keempat. Doktrin-doktrin yang lain kosong akan petapa : demikianlah kalian seharusnya mengaumkan raungan singa kalian dengan benar.”

“Mungkin saja, para Bhikkhu, para kelana sekte lain bertanya : “Tetapi dengan kekuatan [argumen] apa, atau dengan penopang [keabsahan] apa maka para mulia berkata demikian ?”… dst.

” Para kelana sekte lain yang bertanya demikian bisa dijawab dengan cara ini : “Kalau demikian, para sahabat, bagaimana tujuannya, apakah satu atau banyak ?” Bila menjawab dengan benar, para kelana sekte lain akan menjawab demikian : “Para sahabat, tujuannya adalah satu, bukan banyak.”

Dalam penjelasan, diterangkan, frasa “hanya-disini” berarti hanya di dalam ajaran Buddha. Empat petapa (samana) yang diacu disini merupakan empat tingkat siswa-agung, yaitu : Pemasuk-Arus, Yang-Kembali-Sekali-Lagi, Yang-tidak-kembali-lagi, dan Arahat. Khotbah “Raungan-Singa” (sihanada) ini merupakan raungan-keunggulan tanpa ketakutan yang diucapkan Sang Buddha.

Para pengikut sekte lain, semuanya akan mengatakan bahwa tujuannya adalah “Kesempurnaan-Spiritual”.
Walaupun demikian, mereka tidak bertujuan mencapai ke-Arahata-an. Ke-Arahata-an, dicapai saat merealisasi “NIBBANA” ; kondisi-batin diatas duniawi, sebagai hasil pemadaman dari ketiga-api ( Lobha,Dosa,Moha ).

Umumnya sekte lain ( selain Buddha-Dhamma ) menunjukkan pencapaian-pencapaian lain sebagai tujuannya, sesuai dengan pandangan-pandangan mereka.

Para Brahmana menyatakan bahwa “Penyatuan-Atman-dan-Brahman” adalah tujuannya. Dengan anggapan bahwa “Maha-Brahma” adalah “Sang-Pencipta, Awal-Mula-Segala-Sesuatu, Maha-Kuasa, Tujuan-Semua-Makhluk,dll.”. Namun oleh Sang Buddha, telah berulangkali dijelaskan, bahwa pendapat adanya “Sang-Pencipta” seperti ini adalah kekeliruan semata ( Brahmajala-Sutta ).

Para petapa lain, akan menyatakan bahwa para Dewa dengan “cahaya-gemerlap”-lah yang menjadi tujuannya.Para kelana menyatakan tujuannya adalah para Dewa dengan “Keagungan-yang-Memancar”. Sedangkan para pengikut sekte Ajivaka akan menyatakan bahwa “Pikiran-yang-Tak-Terbatas”-lah yang akan menjadi tujuannya.

Dengan demikian, jelas terdapat perbedaan mendasar, apa yang menjadi tujuan ajaran lain dengan apa yang menjadi tujuan kehidupan spiritual menurut ajaran Buddha.

” Tetapi, para sahabat, apakah tujuan itu untuk orang yang dipengaruhi oleh nafsu atau yang bebas dari nafsu ? Bila menjawab dengan benar, para kelana sekte lain akan menjawab demikian : “Para sahabat, tujuan itu adalah untuk orang yang bebas dari nafsu, bukan untuk yang dipengaruhi oleh nafsu.” —

“Tetapi para sahabat, apakah tujuan itu, untuk orang yang dipengaruhi oleh kebencian atau yang bebas dari kebencian ?” Bila menjawab dengan benar, mereka akan menjawab : “Para sahabat, tujuan itu adalah untuk orang yang bebas dari kebencian, bukan untuk yang dipengaruhi oleh kebencian.” —

“Tetapi para sahabat, apakah tujuan itu untuk orang yang dipengaruhi oleh kebodohan batin atau yang bebas dari kebodohan batin ? Bila menjawab dengan benar, mereka akan menjawab : “Para sahabat, tujuan itu adalah untuk yang bebas dari kebodohan batin, bukan untuk yang dipengaruhi oleh kebodohan batin.” –

“Tetapi para sahabat, apakah tujuan itu untuk orang yang dipengaruhi nafsu-keserakahan atau yang bebas dari nafsu-keserakahan ?” Bila menjawab dengan benar, mereka akan menjawab :”Para sahabat, tujuan itu adalah untuk orang yang bebas dari nafsu keserakahan, bukan untuk yang dipengaruhi oleh nafsu keserakahan.” –

“Tetapi para sahabat, apakah tujuan itu untuk orang yang dipengaruhi oleh kemelekatan atau yang bebas dari kemelekatan?” Bila menjawab dengan benar, mereka akan mengatakan : “Para sahabat, tujuan itu adalah untuk orang yang bebas dari kemelekatan, bukan untuk yang dipengaruhi oleh kemelekatan.”–

“Tetapi para sahabat, apakah tujuan itu untuk orang yang memiliki visi atau yang tanpa visi ?” Bila menjawab dengan benar, mereka akan mengatakan : “Para sahabat, tujuan itu adalah untuk orang yang memiliki visi, bukan untuk orang yang tanpa visi.” –

“Tetapi para sahabat, apakah tujuan itu untuk orang yang menyukai dan menolak, atau untuk orang yang tidak menyukai dan menolak? ” Kalau menjawab dengan benar, mereka akan mengatakan : “Para sahabat, tujuan itu adalah untuk orang yang tidak menyukai dan tidak menolak, bukan untuk orang yang menyukai dan menolak.” –

Tetapi sahabat, apakah tujuan itu untuk orang yang bergembira di dalam pengembangan dan menikmatinya, atau untuk orang yang tidak bergembira di dalam pengembangan dan menikmatinya? ” Bila menjawab dengan benar, mereka akan mengatakan : “Para sahabat, tujuan itu adalah untuk orang yang tidak bergembira di dalam pengembangan dan tidak menikmatinya, bukan bagi orang yang bergembira dan menikmati pengembangan.”

Mari kita bahas cuplikan khotbah diatas terlebih dahulu, sebelum kita lanjutkan pada khotbah berikutnya.

Mengenai kalimat “Menyukai dan Menolak” ( anurudhapativirodha ) berarti bereaksi dengan rasa-tertarik melalui nafsu, dan dengan penolakan melalui kebencian.

Kata “Pengembangan” ( Papanca ), disini merupakan aktivitas mental yang dikuasai oleh keserakahan dan pandangan-pandangan.

“Para Bhikkhu, ada dua pandangan ini : pandangan mengenai dumadi dan pandangan mengenai tanpa-dumadi. Petapa atau brahmana mana pun yang bergantung pada pandangan dumadi, mengambil pandangan dumadi, menerima pandangan dumadi, akan menolak pandangan tanpa-dumadi. Para petapa atau brahmana mana pun yang bergantung pada pandangan tanpa-dumadi, mengambil pandangan tanpa-dumadi, menerima pandangan tanpa-dumadi, akan meolak pandangan dumadi.”

Pandangan mengenai dumadi ( bhavaditthi ) merupakan eternalisme, kepercayaan pada suatu diri yang abadi ; pandangan tanpa-dumadi ( vibhavaditthi ) merupakan paham pembinasaan, yaitu penyangkalan terhadap prinsip kesinambungan apa pun sebagai suatu landasan kelahiran-ulang dan retribusi karma. Mengambil satu pandangan dan menolak yang lain berarti melumpuhkan pernyataan sebelumnya bahwa tujuan itu adalah bagi orang yang tidak menyukai dan tidak-menolak.

“Petapa atau brahmana mana pun yang tidak memahami seperti apa adanya asal-mulanya, lenyapnya, pemuasannya, bahayanya, dan jalan keluarnya dalam hal dua pandangan ini akan DIPENGARUHI OLEH NAFSU, DIPENGARUHI OLEH KEBENCIAN, DIPENGARUHI OLEH KEBODOHAN BATIN, dipengaruhi oleh nafsu-keserakahan, dipengaruhi oleh kemelekatan, tanpa visi, cenderung lebih menyukai dan menolak, serta mereka akan bergembira dan menimati pengembangan. Mereka tidak terbebas dari kelahiran , usia-tua, dan kematian ; dari dukacita, ratap-tangis, rasa-sakit, kesedihan, dan keputusasaan; mereka tidak terbebas dari penderitaan, demikian Ku-katakan.”


Penjelasan dalam Majjhima-Nikaya adalah sebagai berikut :

Sebagai asal-mula ( samudaya ) dari pandangan-pandangan ini, disebutkan ada delapan kondisi :

- Panca-khanda

- Ketidaktahuan (avijja).

- Kontak,

- Persepsi

- Pemikiran,

- Perhatian yang tidak bijaksana,

- Teman-teman yang buruk [ yang tidak mengerti dan menempuh jalan-suci ]

- Suara orang lain.

Kelenyapannya ( atthangama ) merupakan Jalan Pemasuk-Arus yang menghapus semua pandangan salah.

Pemuasannya ( assada ) bisa dipahami sebagai pemuasan kebutuhan psikologis yang diberikan ; bahayanya ( adinava ) merupakan ikatan terus-menerus yang dibawanya ; jalan-keluar ( nissarana ) dari hal-hal tersebut adalah NIBBANA.


“Petapa atau Brahmana manapun yang memahami seperti apa-adanya asal-mulanya, lenyapnya, pemuasannya, bahayanya, dan jalan keluarnya dalam hal dua pandangan ini akan tidak memiliki nafsu, tanpa-kebencian, tanpa-kebodohan-batin, tanpa nafsu keserakahan, tanpa-kemelekatan, memiliki visi, tidak cenderung menyukai dan tidak menolak, serta mereka tidak bergembira dan tidak menikmati pengembangan. Mereka terbebas dari kelahiran, usia-tua, dan kematian ; dari dukacita, ratap-tangis, rasa-sakit, kesedihan, dan keputusasaan; mereka terbebas dari penderitaan, demikian Ku-katakan.”

Sehingga demikianlah, Dhamma Sang Buddha ini memang “unique” dan jauh berbeda dengan “dhamma”2 yang lain diluar ajaran Sang Buddha. Hendaknya Romo dan ummat Buddha umumnya memahami hal ini.

Kembali mengenai J.Krishnamurti. Sebenarnya, “sabda” dari Jiddhu Krishnamurti sebagaimana tersebut diatas bukanlah hal baru. Tidak unique dan original. Sebab, kalimat tersebut sudah pernah disabdakan oleh Sang Buddha dengan gaya bahasa Beliau bahwa kata-kata manusia yang serba terbatas, “Bagaikan jari menunjuk bulan, bukan bulan itu sendiri…” . Kalimah-sakti itulah ~ the word is not the thing ~ yang seringkali digunakan oleh Romo Hudoyo untuk “membujuk” ummat Buddha melepaskan “kemelekatan” ( demikian istilah Romo Hudoyo ) terhadap Jalan Ariya Beruas Delapan. Namun, tanpa ia sadari, Romo Hudoyo justru telah melekat terhadap “Jalan” yang ditunjukkan oleh J.Krishnamurti ini.

Meskipun tampaknya J.Krishnamurti ini sangat istimewa dimata Romo Hudoyo, namun sebenarnya bila dicermati, pernyataan “Tidak Ada Jalan” tersebut kemudian mau tidak mau harus disanggah oleh J.Krishnamurti sendiri

P: Tetapi tentu ada jalan, saya harap ada jalan,  menuju pengakhiran dari konflik.

JK; ADA — bukan jalan, tetapi ada pengakhiran
konflik, kesedihan, dan sebagainya, bila orang
menyadari–ebih baik saya katakan begini–bila
terdapat aktualitas keelingan yang peka tentang
apa adanya diri kita, tanpa pendistorsian sedikit
pun, menyadarinya, tanpa pilihan apa pun; dan
dari situlah terdapat pengakhiran dari semua kekacauan ini.

[ Sumber http://forum.wgaul.com/archive/thread/t-50991-Ajaran-J-Krishnamurti.html ]

Sampai pada pernyataan ini, saya menjadi bertanya-tanya, apakah sesungguhnya yang istimewa dari pernyataan J.Krishnamurti ini, sehingga membuat Romo Hudoyo lebih mengimaninya daripada ber-saddha pada Sang Buddha ( sehingga kemudian menganggap “Jalan Ariya Beruas Delapan” tidaklah penting lagi ) ? Ummat Buddha sedunia juga tahu, bahwa apa yang dinyatakan tersebut tidak berbeda dengan metode Vipassana umumnya ( perbedaannya hanyalah pada kebingungan J.Krishnamurti tentang “Ada” atau “Tidak-Ada” Jalan. Dan Romo Hudoyo lebih memilih meng-amin-i “Tidak-Ada-Jalan”, terutama “Jalan-Ariya-Beruas-Delapan” ).

Secara umum, vipassana adalah meditasi dengan melakukan perenungan / mengamati fenomena jasmani dan batin yang diketahui sebagai ‘upadanakkhandha’, dan yang secara jelas muncul di dalam “diri”-nya. Fenomena-fenomena ini secara berkesinambungan direnungkan pada setiap saat kemunculannya. Upadanakkhandha adalah semua yang secara jelas dicerap pada saat melihat, mendengar, mencium bau, mengecap, mengalami kontak badan/sentuhan dan memikirkan ide/gagasan dan seterusnya. Singkatnya, sadar setiap saat ( eling ; begitu istilah yang sering dirujuk Romo Hudoyo , mengambil “idiom” dari kalangan Kejawen ) , penuh perhatian ( samma-sati ) mengamati setiap fenomena batin dan jasmani yang muncul tanpa memilah / memilih. Disini sepertinya saya menangkap suatu kerancuan jawaban yang diberikan oleh J.Krishnamurti ( pertama menyatakan “Tidak-Ada-Jalan”, kemudian membalik , dengan “terpaksa” menyatakan “Ada-Jalan” ). Yang tertangkap dari maksud tersimpan dari ajaran J.Krisnamurti ini ketika menyatakan “Tidak-Ada-Jalan” , maka sesungguhnya justru ada “Jalan” yang menjadi alternative “keselamatan”, yaitu ajaran “Tanpa-Jalan” dari J.Krishamurti itu sendiri.

2. PELARANGAN ROMO HUDOYO KEPADA UMMAT BUDDHA UNTUK MELAKUKAN BERBAGAI BENTUK PUJA ( NAMASKARA, PEMBACAAN PARITTA, DLL ) SAAT SEDANG MENGIKUTI RETRET “MMD”.


Di dalam MMD, sekalipun retret dilakukan di dalam Dharmasala (Ruang Kebaktian) sebuah vihara, selama retret berlangsung peserta sangat dianjurkan untuk tidak melakukan ritual agama Buddha apa pun, seperti bersujud (namaskara) kepada arca Buddha (buddharupam) yang ada di sana, membaca paritta, dan sebagainya.

Sedangkan bagi peserta retret MMD yang beragama Islam, mereka tetap dibenarkan melakukan ibadah sholat yang wajib menurut ajaran agamanya.

[ Sumber :

http://meditasi-mengenal-diri.org/mmd_apaitu.html ]

Pernyataan Romo Hudoyo diatas sangat-sangat janggal. Mengapa Romo Hudoyo tidak memperkenankan ( ummat Buddha tentunya ) untuk melakukan namaskara pada Buddharupam, tidak memperkenankan pembacaan paritta, dan lain-lain bentuk bakti ummat Buddha kepada Guru-Agung mereka, Sang Buddha Gotama, sementara Romo Hudoyo membenarkan peserta retret yang beragama Islam untuk tetap melakukan ibadah sholat ?  Bukankah seharusnya lebih bijak bila kedua ummat yang berbeda agama tersebut diperkenankan untuk melakukan kebiasaannya masing-masing ? Atau, mungkin kebalikannya,  melarang kedua ummat melakukan bentuk-bentuk “ritual” dalam ajaran agamanya masing-masing, bukankah hal tersebut lebih bijak ?

Jikalau alasan Romo Hudoyo adalah supaya ummat Buddha mematahkan belenggu “silabatta-paramasa” ( kemelekatan pada ritual-ritual yang tidak perlu ), maka menurut saya itu salah-kaprah. Sebab, ritual-ritual yang tidak perlu itu adalah yang berkaitan dengan ketakhayulan bahwa dengan ritual seseorang bisa “mendapat-berkah” dan “keselamatan” dari sosok “Maha-Dewa” tertentu. Ritual seperti itulah yang harus ditinggalkan ; itulah yang dimaksud dengan mematahkan belenggu “silabataparamasa”.

Sedangkan apa yang dilakukan ummat Buddha, bukanlah ritual “takhayul” yang mengharapkan berkah dan keselamatan dari “Maha-Dewa” seperti itu. Agaknya Romo Hudoyo lupa akan pengertian-benar dari “Puja-Bhakti” di dalam Buddhisme yang sesungguhnya hanyalah merupakan wujud “penghormatan” seorang siswa pada Guru-Agungnya. Atau, jangan-jangan Romo Hudoyo melarang ummat Buddha bernamaskara pada Buddharupam, namun membenarkan ummat Buddha ber-anjali ( bahkan bernamaskara ) pada beliau ? Ini yang saya tidak tahu.

3. ROMO HUDOYO :  TUJUAN “MMD” ADALAH “BERHENTINYA-PIKIRAN” ( Bukan Nibbana sebagaimana Sang Buddha menunjukkanya sebagai tujuan-sejati bagi ummat Buddha )


Dalam berbagai kesempatan, Romo Hudoyo senantiasa menyatakan, bahwa apa yang menjadi tujuan dari praktik “MMD” adalah “berhentinya-pikiran” .

Memang saya bilang, DALAM KESADARAN SEHARI-HARI pikiran itu merupakan bagian dari batin, tapi saya tidak mengatakan “tidak bisa dipisahkan”. Justru ‘tujuan’ MMD adalah berhentinya pikiran pada saaat kini. Dengan kata lain, pikiran bisa berhenti, sementara kesadaran (batin) jalan terus.

[Sumber =

http://groups.yahoo.com/group/milis-spiritual/message/20890]

Dari pernyataan tersebut diatas, hal yang sepatutnya kita kaji secara kritis adalah pada bagian “pikiran bisa dipisahkan dari kesadaran (batin)” dan bahwa “pikiran-bisa-berhenti”.

Apa yang disebut dengan “Nama” ( Batin ; atau masyarakat umum menyebutnya “ROH” ), adalah merupakan formulasi dari :  vedana-khanda ( perasaan-perasaan ), sanna-khanda ( pencerapan ; pengenalan terhadap objek ) , sankhara-khanda ( bentuk-bentuk pikiran ), dan, vinnana-khanda ( kesadaran yang timbul akibat kontak dengan objek ). Keempat “bagian-fungsional” dari batin ini sesungguhnya satu, dan bukannya jajaran unsur-unsur yang berdiri sendiri. Sehingga, tidak akan mungkin memisahkan “pikiran” dari “kesadaran (batin)” sebagaimana yang diajarkan oleh Romo Hudoyo tersebut.

Sebagaimana Y.M. Sariputta pernah berkata pada Y.M. Maha Kotthita dalam Mahavedalla-Sutta ( Majjhima-Nikaya ; Sutta ke-43 ), bahwa antara Kesadaran dan pemahaman akan sesuatu hal ( kebijaksanaan ), tidaklah dapat dipisahkan satu sama lain. Tidaklah mungkin memisahkan masing-masing keadaan ini satu sama lain untuk menjelaskan perbedaan diantara keduanya. Karena apa yang telah menjadi pemahaman seseorang, itu pula yang disadarinya ; dan apa yang disadari seseorang, itu pula yang dipahaminya dengan bijaksana. Itulah sebabnya mengapa keadaan-keadaan ini menyatu, bukannya terpisah, dan tidaklah mungkin memisahkan masing-masing keadaan ini satu sama lain untuk menjelaskan perbedaan diantara keduanya.

“…dan saya tetap berpendapat bahwa
pikiran bisa berhenti.”

[ Sumber =

http://groups.yahoo.com/group/milis-spiritual/message/20890 ]

Romo Hudoyo telah mengajar selama bertahun-tahun , dan menegaskan bahwa “pikiran-bisa-berhenti”, namun , apakah setelah bertahun-tahun mengajar, pikiran Romo telah “berhenti” ? Sebab, bila “pikiran-telah-berhenti”, tidak mungkin Romo masih “berpikir” hingga sekarang ini. Masih melakukan serangkaian sharing, diskusi, hingga perdebatan-perdebatan / beradu argumentasi dengan banyak pihak ( terutama ummat Buddha yang Romo anggap “orthodox” ).

Apa yang sesungguhnya bisa “dicabut” ( atau “dihentikan” , jika menggunakan terminology Romo Hudoyo ), adalah kekotoran-kekotoran batin yang berupa nafsu-keserakahan ( lobha ), kemarahan/kebencian ( dosa ), dan kebodohan-batin ( moha ) yang merupakan “pembuat-ukuran” ( pamanakarana ) , karena ketiganya menentukan batasan-batasan pada jangkauan kedalaman-pikiran, dalam artian bahwa kekotoran-kekotoran batin memungkinkan  orang untuk mengukur dan membedakan seseorang yang masih sebagai “manusia-biasa” ( putthujana ) dengan yang telah bisa dikategorikan sebagai “Ariya” , yaitu : Pemasuk-Arus ( Sottapanna ), Yang-Kembali-Sekali-Lagi ( Sakadagami ), atau Yang-Tidak-Kembali-Lagi ( Anagami ), dan yang telah-sempurna ; Arahat.  Dan, para Arahat serta para Buddha pun, setelah mencabut ketiga-akar kejahatan ( Lobha,Dosa,Moha ), pikiran para Beliau tersebut masih tetap terus berjalan selama belum Parinibbana ( padamnya pancakhanda ). Buktinya, para Buddha dan para Arahat, tetap terus berpikir dan mengajar. Bedanya, pikiran para Buddha dan Arahat tidak lagi menghasilkan kamma-kamma yang baru, tidak lagi tumbuh tunas kelahiran kembali-Nya.

tapi kalau ia mengikuti MMD ia akan mengakhiri dukkha...”

[ Dr.Hudoyo Hupudhio Mph ;

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=8 ]

Apakah tujuan MMD? Tujuan MMD mengandung sebuah paradoks. Di satu sisi, tujuan MMD adalah berakhirnya aku/diri secara radikal, yang berarti berakhirnya penderitaan (dukkha) sepenuhnya—secara teoretis, tentu saja hal ini akan tercapai di masa depan. Di sisi lain, secara praksis aktual, tujuan MMD ini tidak dilihat sebagai berada di masa depan, melainkan harus terjadi pada saat kini, sebagai suatu transformasi batin yang hanya bisa didekati melalui saat ini. Dalam praksis aktual, tujuan MMD adalah sadar/eling sedalam-dalamnya dan terus-menerus terhadap gerak-gerik jasmani dan batin ini pada saat munculnya, dari saat ke saat, sekarang dan di sini.

[ Sumber :

http://meditasi-mengenal-diri.org/mmd_apaitu.html ]

Mengingat dan menimbang betapa seringnya Romo Hudoyo menekankan doktrin “penghentian-pikiran” ini, saya kemudian tertarik melakukan review atas proses belajar saya terhadap Buddha-Dhamma. Saya jadi bertanya, apakah saya yang telah “melewatkan” salah satu ajaran Buddha mengenai “pikiran-bisa-berhenti” ini, atau, mungkin Romo Hudoyo memang mengambil ajaran lain diluar Buddha-Dhamma.

Ternyata kemudian, ajaran “penghentian-pikiran” ini akhirnya justru bisa saya temukan dalam “Sabda-sabda” J.Krishnamurti. Salah satu dari sekian banyak sabda J.Krishnamurti yang mengajarkan mengenai “penghentian-pikiran” adalah sebagai berikut :

[ Dalam sebuah wawancara antara BBC dengan J.Krishnamurti ]

JK: Begini, masalah meditasi adalah rumit …
<berdiam diri lama> … kalau kita tidak lebih
dulu membereskan rumah, yang berarti tidak ada
ketakutan, memahami kenikmatan, mengakhiri
kesedihan, dari situ muncul welas asih,
kecerdasan; dan proses menuju ke situ–kalau
boleh saya namakan ‘proses’ untuk
sementara–adalah bagian dari meditasi. Lalu,
menemukan apakah PIKIRAN BISA BERHENTI, yang
adalah waktu, HARUS BERHENTI. Lalu, dari situ
muncullah keheningan besar. Dan di dalam
keheningan itulah akan ditemukan apa yang suci.

[ Sumber :

http://forum.wgaul.com/archive/thread/t-50991-Ajaran-J-Krishnamurti.html ]

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah “berhentinya-pikiran” sama dengan “berakhirnya-dukkha” sebagaimana yang diajarkan Sang Buddha ? Ini yang perlu kita kaji bersama secara kritis.

Berakhirnya-dukkha ( Dukkha-nirodha-sacca ) ialah sama dengan “Nibbana” / “Nirvana”. Sebelum membahas “berakhirnya-dukkha”, kita harus tahu, apakah “dukkha” itu sendiri ? Sang Buddha bersabda =

“Para Bhikkhu, apakah yang disebut Dukkha itu? Itu bukan lain adalah kelima kelompok kegernaran (Panca-Khandha), …. “ ( Samyutta Nikaya, Khandha Samyutta, 104)

Dukkha adalah kelima kelompok kegemaran ( Panca-Khanda), dan berakhirnya dukkha berarti berakhirnya kombinasi dari “panca-khanda” tersebut.. Pertanyaan selanjutnya, apakah “Panca-Khanda” itu ?

Panca Khanda atau lima agregat atau lima kelompok kegemaran , ialah :

1. Rupa-khanda, yaitu kelompok objek fisik atau jasmani yang oleh Sang Buddha diurai lagi menjadi empat bentuk elemen (Catur Maha Bhuta) yaitu: elemen padat (Pathavi Dhatu) yang bersifat menempati ruang dan mempertahankan posisi serta memberikan sifat kaku pada setiap materi; elemen cair (Apo-Dhatu) yang memberikan gaya rekat atau tarik menarik antara materi; elemen panas atau energi (Tejo-Dhatu) yang memiliki sifat maha bhuta yang lain tetapi dalam dimensi yang lebih kecil; dan elemen gerak atau getaran (Vayo-Dhatu) yang bila berada dalam kesetimbangan dengan apo-dhatu akan menampakkan eksistensi patthavi materi yang bersangkutan. Termasuk kelompok Rupa-khanda ini juga terdapat turunan-turunan dari empat Maha Bhuta tadi yaitu mencakup organ-organ indera (pasada-rupa) beserta objek-objeknya (arammana) misalnya bentuk dan warna sebagai objek penglihatan oleh mata; bunyi dan suara sebagai objek pendengaran telinga; bau-bauan sebagai objek penciuman oleh indera pencium; cita rasa sebagai objek pengecapan oleh lidah; benda-benda dengan berbagai variasi bentuk, temperatur, permukaan kasar atau licin, keras atau lembut, sebagai objek perabaan oleh indera peraba; dan objek- objek mental seperti pikiran, ingatan, konsep dan ide-ide sebagai objek pemikiran oleh indera mental kita. Jadi Rupa-khanda sebenarnya mencakup obyek-obyek di dalam maupun di luar diri kita beserta indera-indera yang dapat berkontak dengannya.

2. Vedana-khanda, yaitu perasaan-perasaan yang timbul akibat adanya kontak antara obyek-obyek indera dengan indera-indera kita. Perasaan-perasaan yang timbul itu bisa berupa perasaan senang, tidak senang, atau netral. Perasaan-perasaan ini timbul sebagai reaksi kontak yang dihubungkan dengan ingatan-ingatan, baik yang berbentuk insting bawaan ataupun yang didapat dari pengalaman-pengalaman.

3. Sanna-khanda, yaitu pencerapan atau pengenalan objek yang terjadi setelah terjadinya kontak dan setelah terjadinya kesadaran akan adanya obyek tersebut. Pencerapan atau pengenalan objek tersebut juga terjadi akibat adanya memori atau ingatan-ingatan, terutama yang berhubungan dengan pengalaman-pengalaman.

4. Sankhara-khanda, yaitu bentuk-bentuk pikiran yang berupa segala kehendak (cetana) yang terjadi setelah timbul perasaan-perasaan akibat kontak yang terjadi. Kehendak-kehendak (cetana) yang terjadi inilah yang kelak akan membuahkan karma berupa perbuatan-perbuatan yang dilakukan, baik yang dilakukan dengan badan jasmani, ucapan, maupun dengan pikiran, yang mengarah kepada perbuatan baik, jahat atau netral.

5. Vinnana-khanda, yaitu kesadaran yang timbul akibat indera mengadakan kontak dengan. obyek yang sesuai. Kesadaran ini timbul sebelum terjadinya proses pencerapan atau pengenalan obyek yang kemudian menimbulkan perasaan-perasaan yang kemudian bisa berakhir dengan reaksi mental berupa kehendak untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan obyek tersebut.

Jelmaan yang terbentuk oleh kombinasi kelima khanda itulah yang tak lain merupakan Dukkha itu sendiri, Dukkha yang mempunyai arti yang lebih luas dari sekedar duka atau penderitaan: Dukkha yang mencakup segala kefanaan, perubahan dan ketidak kekalan. Berakhirnya jelmaan dari “Panca-Khanda” inilah berakhirnya dukkha. Inilah “Nibbana”.

Sehingga, bila Romo Hudoyo mengatakan “berhentinya-pikiran”, “pikiran” yang mana ( dari “unsur-unsur” Nama ) yang anda maksud ?  Apakah vedana-khanda ( perasaan-perasaan ), ataukah sanna-khanda ( pencerapan ; pengenalan terhadap objek ) , atau sankhara-khanda ( bentuk-bentuk pikiran ), atau vinnana-khanda ( kesadaran yang timbul akibat kontak dengan objek ) ? Yang mana ?   Dan, berakhirnya-pikiran itu seperti apa ? Bagaimanakah “proses”-nya sehingga “berhentinya-pikiran” kemudian bisa mengakhiri dukkha secara absolute ( yang berarti mengakhiri jelmaan dari “Panca-Khanda” ) ?

Tertarik dan penasaran dengan arti “Berhentinya-Pikiran” sesuai ajaran Romo Hudoyo ini, saya mencoba menelusur lagi setiap “jejak” statement-statement Romo Hudoyo di berbagai situs dan milist. Dan akhirnya, ketemulah sudah apa yang saya cari itu. Romo Hudoyo menjelaskan :

Yang saya maksud dengan ‘berhentinya pikiran/aku’ di sini adalah ‘khanika-samadhi’ yang bisa dicapai relatif mudah oleh setiap orang yang mau ber-vipassana untuk melepaskan kelekatan kepada pikiran/aku.

Sumber =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=8

Pencerahan yang tertinggi (terdalam) ialah khanika-samadhi, runtuhnya pikiran & si aku untuk waktu yang relatif lama (bukan hanya beberapa momen). … Khanika-samadhi ini yang kelak akan menghasilkan pembebasan permanen, yang adalah pencerahan sempurna; tapi sejak orang masuk ke dalam khanika-samadhi dirinya dan pikirannya (perasaannya, kehendaknya dsb) tidak ada lagi (kecuali ia keluar lagi dari khanika-samadhi).

Salam,
hudoyo

[ Sumber =

http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=3803.660;wap2]

Jika khanika-samadhi inilah yang dimaksudkan oleh Romo Hudoyo sebagai pencapaian “berhentinya-pikiran”, maka setahu saya, khanika-samadhi, adalah kondisi “konsentrasi-pikiran” yang bersifat “sesaat”, tidak permanent, pada berbagai fenomena yang muncul dan lenyap berulang-ulang. Memang benar khanika-samadhi inilah yang kemudian digunakan untuk ber-vipassana ; konsentrasi-pikiran yang melihat lakkhana (anicca,dukkha dan anatta) atau karakteristik batin dan jasmani yang muncul dan lenyap kembali (khanika). Tapi, bukankah dalam khanika-samadhi, “pikiran” itu justru sedang “bergerak” mengamati muncul dan lenyapnya segala fenomena, sesaat mengamati suatu fenomena muncul, disaat yang lain mengamati fenomena tersebut lenyap, saat yang lain lagi mengamati adanya fenomena yang lain muncul kembali, dan kemudian mengamati fenomena lain tersebut melenyap. Demikian seterusnya. Jadi, bukankah keliru kalau dikatakan saat itu “pikiran-berhenti” ?

Lagipula Romo Hudoyo yang terhormat, “Khanika-Samadhi” itu bukanlah tanda-tanda “Pencerahan-Sempurna”. Khanika-samadhi hanyalah sebuah tahapan konsentrasi batin yang bersifat sesaat ( belum memasuki konsentrasi tercerap / Jhana ) yang digunakan untuk mengamati segala fenomena batin dan jasmani dengan apa-adanya. Bahkan, saat khanika-samadhi itu berbagai “Nana” ( pengetahuan-pandangan-cerah ) belum diperoleh oleh yogi. Baru, kemudian setelah ia ber-“Perhatian-Benar” terhadap fenomena batin dan jasmaninya ( dengan menggunakan kekuatan khanika-samadhinya ), yogi tersebut akan mulai memperoleh berbagai pengetahuan pandangan-cerah ( Nana ).

Kembali membahas mengenai “dukkha”. Sang Buddha mengajarkan, sebab dari dukkha adalah dikarenakan “nafsu-keinginan” (tanha) . Lenyapnya tanha ini pula, berarti penderitaan ( sebagai akibat tanha ) ikut berakhir. Apakah dengan “MMD”, telah terbukti ada yang mampu melenyapkan “tanha” ? Apakah ada, yang telah terbukti tercabut ketiga-akar : Lobha ( keserakahan ), Dosa ( Kemarahan ), dan Kegelapan-Batin ( Moha ) -nya ?



4. PENEGASAN OLEH ROMO HUDOYO BAHWA “MMD” ADALAH MEDITASI VIPASSANA “ALA KRISHNAMURTI” ; BUKAN VIPASSANA ALA BUDDHISME UMUMNYA.


Dari pengakuan Romo Hudoyo sendiri di berbagai tempat, “MMD” adalah meditasi yang berpedoman pada ajaran-ajaran J.Krishnamurti. Hal ini perlu dimengerti terlebih dahulu oleh masyarakat, baik Buddhis maupun non-Buddhis, terutama bagi ummat Buddha yang masih awam dan pemula.

Perlu saya kemukakan bahwa pendekatan MMD ini saya pelajari dari J.Krishnamurti,

yang menurut hemat saya adalah seorang yang telah mencapai pencerahan & pembebasan sempurna

dalam hidupnya di abad ke-20 lalu, entah apapun namanya : arahat,  buddha, insan kamil,

hidup di dalam Allah, apa pun,

[ Sumber =

http://www.usenet.com/newsgroups/soc.culture.indonesia/msg03344.html ]


Bagi Romo Hudoyo, semua meditasi vipassana Buddhist telah bergeser jauh dari apa yang sesungguhnya dimaksud oleh Sang Buddha. Lagi-lagi, dasar justifikasi yang dia gunakan adalah “Sabda” dari J.Krishnamurti.

Pemahaman bahwa praktik meditasi vipassana yang banyak diajarkan pada dewasa ini telah bergeser jauh dari apa yang sesungguhnya dimaksud oleh Sang Buddha diilhami oleh praktik meditasi yang diajarkan J. Krishnamurti pada abad ke-20. J. Krishnamurti mengritik kebanyakan teknik meditasi yang semuanya mengutamakan konsentrasi, usaha dan teknik meditasi. Dalam hal ini termasuk pula banyak teknik vipassana Buddhis.

Bagi J. Krishnamurti, teknik meditasi apa pun sama sekali tidak membebaskan, tidak mentransformasikan batin manusia; alih-alih, malah membuat batin lebih dalam terjerat dalam keterkondisian dan keterbatasannya. Teknik konsentrasi apa pun hanya membawa praktisinya ke dalam suatu keadaan pemusatan batin yang kuat, yang mungkin memberikan suatu rasa nikmat dan bahagia yang intens, sehingga mudah disangka sebagai kebebasan, tetapi sesungguhnya menjerat batin dalam keterkondisian dan ketidakbebasan yang lebih halus.

[Sumber :

http://meditasi-mengenal-diri.org/mmd_apaitu.html]


Versi asli “sabda” J.Krishnamurti tersebut adalah sebagai berikut :

P: Meditasi yang benar — apakah meditasi yang
benar itu? Anda menyiratkan ada meditasi yang salah.

JK: Ah, semua meditasi yang ditawarkan oleh
berbagai Guru pada dewasa ini adalah nonsens.

P: Mengapa?

JK: Oleh karena lebih dulu Anda harus membereskan rumah.

P: Apakah itu bukan jalan untuk membereskan rumah?

JK: Ah, itu pemikiran yang keliru. Mereka mengira bahwa dengan meditasi mereka dapat membereskan rumah.

P: Ya. Tidakkah begitu?

JK: Tidak.

P: Bukankah begitu?

JK: Tidak. Justru sebaliknya, Anda harus membereskan rumah, diri Anda, lebih dulu. Kalau  tidak, meditasi akan menjadi pelarian.

[ Sumber :

http://forum.wgaul.com/archive/thread/t-50991-Ajaran-J-Krishnamurti.html ]


Dari pernyataan J.Krishnamurti tersebut, bukankah sebenarnya ia sendiri berpendapat, bahwa sebelum seseorang bermeditasi, ia harus terebih dahulu membereskan rumah, diri sendiri terlebih dahulu, sebab kalau tidak meditasi akan menjadi pelarian ?  Membereskan rumah itu, tentunya melalui berbagai langkah-langkah pensucian. Dan inilah tujuh-tahap-pensucian diri yang dijabarkan dengan jelas dalam visuddhi-magga oleh Bhadantacariya Buddhaghosa :

I)                    Pemurnian-Sila (sila-visuddhi)

II)                   Pemurnian-Pikiran (citta-visuddhi)

III)                 Pemurnian-Pandangan (ditthi-visuddhi)-

IV)               Pemurnian-melalui-hancurnya-keraguan (kankhāvitarana-visuddhi)

V)                Pemurnian pengetahuan dan pandangan tentang jalan dan bukan jalan (maggāmagga-ñānadassana-visuddhi)

VI)               Pemurnian pengetahuan dan pandangan tenteng kemajuan dalam latihan (patipadā-ñānadassana-visuddhi)

VII)             Pemurniann pengetahuan dan pandangan (ñānadassana-visuddhi)

Tapi anehnya, mengapa J.Krishnamurti sendiri kemudian menolak berbagai tindakan untuk “membersihkan-rumah” ( seperti latihan Sila, Disiplin, dan lain-lain ). Namun karena sudah terlanjur melekat pada doktrin J.Krishnamurti tentang “Tidak-Ada-Jalan”, Romo Hudoyo menegaskan bahwa “Tidak-Ada-Metode” apapun yang bisa digunakan untuk mencapai keadaan “sadar” dan “diam” pada saat kini. Dan ia pun telah menegaskan tidak lagi diperlukannya penembusan akan “Empat Kesunyataan Mulia” beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan”, dengan alasan itu semua hanyalah sekedar konsep belaka.

KEADAAN SADAR DAN DIAM PADA
SAAT KINI TIDAK BISA DICAPAI DENGAN METODE APA PUN.

[ Sumber =

http://groups.yahoo.com/group/milis-spiritual/message/20890 ]


Jika tidak dapat dicapai dengan metode apa pun juga, untuk apa Romo mengajarkan “metode” dari “Meditasi-Mengenal-Diri” ? Formulasi ajaran dalam kemasan “MMD” itu sendiri sudah merupakan metode. Demikian sepatutnya hal ini dipikirkan dengan kritis dan seksama.

Menyadari hal itu, pikiran dan si ‘aku’ akan diam, tidak berulah lagi. Itulah MMD. Untuk itu tidak perlu
dan tidak mungkin ada metode apa pun. Dalam MMD, langkah pertama adalah langkah terakhir! Yang penting: sadar (eling).

[ Sumber =

http://groups.yahoo.com/group/milis-spiritual/message/20890 ]


Dengan statement tersebut diatas, Romo Hudoyo tetap bersikukuh menolak “Jalan” apapun juga, meskipun J.Krishnamurti sendiri ( sebagai inspirator RomoHudoyo  ), ketika dikejar mengenai kepastian adanya “Jalan”, akhirnya menjawab ,” ADA — bukan jalan, tetapi ada pengakhiran  konflik, kesedihan, dan sebagainya, bila orang  menyadari–ebih baik saya katakan begini–bila  terdapat aktualitas keelingan yang peka tentang  apa adanya diri kita, tanpa pendistorsian sedikit  pun, menyadarinya, tanpa pilihan apa pun; dan  dari situlah terdapat pengakhiran dari semua kekacauan ini. [ Sumber http://forum.wgaul.com/archive/thread/t-50991-Ajaran-J Krishnamurti.html ] . Itulah “Jalan”, itulah “metode”. Sesungguhnya, tidak ada apapun yang tanpa “metode”, tanpa “cara” , tanpa “Jalan”. Bahkan orang makan itu pun ada “cara”-nya, orang duduk ada “cara”-nya, dan orang buang air juga ada “cara”-nya. Dan sekali lagi, bila tidak perlu metode apapun, maka sebenarnya secara otomatis, “MMD” itu sendiri pun tidak perlu ada dan tidak perlu diajarkan pada masyarakat luas.

Meditasi Mengenal Diri (MMD) adalah versi meditasi vipassana yang selama beberapa tahun terakhir telah dikembangkan dari vipassana yang diajarkan secara “tradisional”. Dalam MMD, meditasi vipassana “tradisional” telah banyak dimodifikasi berdasarkan ajaran J. Krishnamurti tentang sadar/eling secara pasif atau sadar/eling tanpa memilih, yang sesungguhnya adalah kembali pada sifat-sifat praktik meditasi vipassana murni ajaran Sang Buddha sendiri.  Dengan demikian, ada beberapa perbedaan penting antara meditasi vipassana versi MMD dan meditasi vipassana “tradisional”:

Sumber :

http://meditasi-mengenal-diri.org/mmd_apaitu.html


Ketika management dhammacitta.org menempatkan “MMD” kedalam kategori “BUKAN-BUDDHISME”, Romo Hudoyo pun sedikit marah / tersinggung. Dan mengeluarkan statement, termasuk didalamnya menyatakan bahwa ummat Buddha Indonesia berpuas diri dengan teori-teori, doktrin-doktrin, dan praktek meditasi yang tidak lagi efektif dalam “mengakhiri-dukkha” ( Pertanyaannya, dengan kemarahan tersebut, Romo sendiri sudah mengakhiri-dukkha- kah ? ) :

“Jelas sekali bahwa Management DC yang sekarang dikuasai oleh orang-orang yang tidak mau melihat umat Buddha Indonesia mengembangkan wawasan dengan pemahaman-pemahaman baru mengenai ajaran Sang Guru, sejalan dengan perkembangan pemikiran Buddhis di dunia internasional … Mereka mau memasung kebebasan berpikir umat Buddha Indonesia, dan berpuas diri dengan teori-teori, doktrin-doktrin, dan praktik meditasi yang tidak lagi efektif dalam mengakhiri dukkha.”

[ sumber dari =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=7 ]

Romo Hudoyo, apakah MMD sendiri efektif untuk mengakhiri dukkha ? Bila “YA”, mengapa Romo sendiri masih ber-dukkha ? Bukankah ketika Romo menjadi marah karena peristiwa perpecahan Romo dengan pihak Dhammacitta, kemudian timbul perasaan tidak senang karena berpisah dari yang disenangi / dilekati, merasa tidak dihargai, tidak lagi dihormati, itu semua adalah bentuk-bentuk “Dukkha” ? Atau mungkin Romo Hudoyo lupa akan apa makna dari “Dukkha” itu sendiri ?

Pendekatan tradisional masih berpegang pada TEORI Agama Buddha (Jalan Suci Berunsur Delapan, Empat Kebenaran Suci, Satipatthana, Nibbana dsb), dan berpegang pada persepsi bahwa pembebasan (nibbana) dicapai pada suatu waku di MASA DEPAN, berpegang pada paradigma adanya ‘waktu’ dan ‘usaha’. Pendekatan JK tidak memakai teori apa pun, berpegang bahwa pembebasan tercapai pada SAAT KINI, sehingga seluruh latihannya adalah latihan “berada pada saat kini”; kalau orang bisa berada pada saat kini, maka waktu dan usaha tidak relevan lagi.

[ Sumber :

http://groups.yahoo.com/group/semedi/message/6952 ]

Romo, “berada-pada-saat-kini” itu sendiri adalah berada dalam batasan “waktu” ( yaitu “saat-kini” ). Dan pengkondisian untuk “berada-pada-saat-kini” itu sendiri mengandung unsur-unsur “daya-upaya” untuk “berada-pada-saat-kini”. Saya melihat , ini semua hanyalah permainan kata-kata, atau mungkin Romo sedang bingung untuk memahami sesuatu hal, semoga saja tidak demikian.

Sebenarnya sah-sah saja seseorang dengan niat baik ingin berkarya melalui pemberian bimbingan / pelatihan meditasi bagi semua pihak yang ingin mengenal meditasi. Dan juga sah-sah saja setiap orang mempunyai cirri-khas-nya sendiri dalam memberikan pelatihan. Dalam hal ini, saya pribadi sebagai ummat Buddha, sangat menghargai dan tidak akan mempermasalahkannya. Namun yang menjadi masalah adalah ketika dalam berbagai kesempatan, Romo Hudoyo seakan “mengajak” ummat Buddha untuk tidak lagi menempuh “Jalan Ariya Beruas Delapan” dan meninggalkan “Empat Kesunyataan Mulia”. Hal ini sangat janggal dilakukan oleh seorang Romo. Akan jauh lebih baik bila Romo tidak mengusung bendera Buddhisme, tidak lagi menggunakan gelar “Romo”, lalu mengajarkan “MMD” ke masyarakat luas, sehingga dengan demikian tidak ada lagi sangkut pautnya dengan Buddha-Dhamma. Tapi, bila Romo menyatakan diri seorang “Pandhita” Buddhist, namun di sisi lain menganjurkan ummat Buddha untuk “meninggalkan” Empat Kesunyataan Mulia beserta Jalan Ariya Beruas Delapan, maka selamanya Romo akan berada pada kondisi berbenturan dengan kebanyakan ummat Buddha.

Sungguh ironis ketika Romo Hudoyo ( yang notabene secara resmi tercatat sebagai ummat Buddha, bahkan bergelar “Romo” / “Pandhita” ) banyak menolak ajaran Buddha ( terutama pada inti ajaran Buddha : Empat Kesunyataan Mulia beserta Jalan Ariya Beruas Delapan ) yang telah terbukti mampu mengantarkan banyak manusia mencapai tataran “Arahat” /  “Tercerahkan” ( seperti misalnya pada abad ini salah satunya adalah “Ajahn Chah” yang diakui sebagai “Arahat-Abad-Ini” ) sementara ia dengan sekuat “iman” menerima ajaran J.Krishnamurti yang ternyata J.Krishnamurti sendiri mengeluh selama enam-puluh (60) tahun ia mengajar “tidak seorang pun mengalami transformasi batiniah, sebagaimana diharapkannya.” (Hudoyo,  Dari: http://www.kaskus.us -> Forum: Supranatural -> Subforum: Spiritual -> Thread: MMD (Meditasi Mengenal Diri) ;  http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan–Perbedaan-Krishnamurti—Buddha-td16375574.html )



5. PENGGUNAAN BAHIYA-SUTTA, MALUNKYAPUTTA, DAN ANGULIMALA SUTTA, OLEH ROMO HUDOYO SEBAGAI SEKEDAR “JEMBATAN” UNTUK MENGHUBUNGKAN “MMD” ( YANG BERBASIS AJARAN J.KRISHNAMURTI ) DENGAN UMMAT BUDDHA

[ Notes : Pembahasan mengenai digunakannya Angulimala-Sutta oleh Romo Hudoyo untuk melakukan pembenaran atas pandanganya dan menghubungkan pandangannya tersebut dengan Buddha-Dhamma, telah saya bahas pada point pandangan menyimpang pertama diatas ]

Setelah berkali-kali Romo Hudoyo menegaskan penolakannya terhadap “Jalan-Ariya-Beruas-Delapan” dan “Empat-Kesunyataan-Mulia” serta berbagai ajaran Buddha ( yang ia anggap sekedar teori, dogma, dll. ) , pada suatu titik tertentu, Romo Hudoyo mencari “jembatan” penghubung antara “MMD”  ( dengan J.Krishnamurti-nya ) dengan komunitas Buddhist ( baik di Indonesia maupun di luar Indonesia ; sebab, ketika saya membuka situs MMD, disana digunakan bi-lingual, tentunya dengan tujuan menggaet pangsa-pasar luar-negeri )

Nah, mungkin Anda akan bertanya: bagaimana hubungan MMD dengan ajaran Sang Buddha?

Bagaimana ajaran Sang Buddha tentang sadar/eling pada saat kini? …

Sekali peristiwa ada seorang pertapa, namanya Bahiya. Ia BUKAN bhikkhu murid Sang Buddha. Dengan kata lain, ia tidak pernah tahu ajaran Sang Buddha, tidak pernah mendengar Empat Kebenaran Mulia (Catvari Arya Satyani), tidak pernah mendengar Jalan Mulia Berfaktor Delapan (Arya Asthangika Marga), dsb dsb. Bahkan mendengar nama Sang Buddha pun Bahiya belum pernah.

Pada suatu hari ia diberi tahu bahwa di dunia ini ada seorang yang telah bebas sempurna, bernama Gotama (Buddha Gautama), tinggal di Sravasti. Bahiya ingin bertemu dengan Sang Buddha, ingin mendapat tuntunan meditasi untuk mencapai pembebasan.

Nah, setelah bertemu dengan Sang Buddha, Sang Buddha tidak mengajarkan Empat Kebenaran Mulia, tidak mengajarkan Jalan Mulia Berfaktor Delapan, dsb dsb; pendeknya Sang Buddha tidak mengajarkan apa yang belakangan dikenal sebagai “Agama Buddha”.

Mengapa? … Karena semua ajaran “Agama” Buddha itu tidak cocok bagi seorang yang bermeditasi! Alih-alih, inilah ajaran singkat Sang Buddha kepada Bahiya:

“Bahiya, lakukan ini: Di dalam apa yang terlihat, hanya ada yang terlihat; di dalam apa yang terdengar, hanya ada yang terdengar; di dalam apa yang tercerap (perceived) oleh indra-indra yang lain, hanya ada yang tercerap; di dalam apa yang muncul sebagai ingatan, hanya ada ingatan. Kalau kamu bisa melakukan itu, maka KAMU TIDAK ADA. Dan itulah, hanya itulah, akhir dari Dukkha.”

[ Sumber =

http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan--Apa-ajaran-Sang-Buddha-tentang-sadar-eling-pada-saat-kini--td16575427.html ]


Bagi seorang pembaca yang kurang cermat ( terutama bagi seorang Non-Buddhis ), statement Romo Hudoyo diatas nampak tidak janggal sedikitpun. Namun, bila kita cermati dengan seksama, ada satu kalimat yang sesungguhnya sangat tidak tepat menggambarkan alasan mengapa Sang Buddha hanya mengajarkan petunjuk singkat pada Bahiya. Kalimat Romo Hudoyo yang saya maksudkan adalah,  “ … pendeknya Sang Buddha tidak mengajarkan apa yang belakangan dikenal sebagai “Agama Buddha”.  Mengapa? … Karena semua ajaran “Agama” Buddha itu tidak cocok bagi seorang yang bermeditasi! “.

Apakah benar alasan Sang Buddha tidak mengajarkan “Empat Kesunyataan Mulia”  termasuk “Jalan Ariya Beruas Delapan” pada Bahiya adalah karena “Semua ajaran “Agama” Buddha itu TIDAK COCOK BAGI SEORANG YANG BERMEDITASI!” ? Disini terlihat adanya upaya “pembiasan” yang dilakukan oleh Romo Hudoyo. Sebab, ummat Buddha yang telah membaca Bahiya-Sutta ( Udana I.10 ) pasti akan mengetahui kisah selengkapnya dari kisah petapa Bahiya tersebut. Alasan mengapa Sang Buddha “tidak-sempat” mengajarkan “Empat Kesunyataan Mulia” beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan”-Nya adalah karena, saat itu Sang Buddha bersama para Bhikkhu sedang sibuk menerima dana makan. Begini kisah selengkapnya :

“…Ketika melihat Sang Bhagava, dia mendekat, bersujud, dengan kepala di kaki Sang Bhagava dan berkata, “ Ajarilah saya Dhamma,, Sang Bhagava ; ajarilah saya Dhamma, Sugata, demi kebaikan dan kebahagiaan saya sendiri untuk waktu yang lama.”

Ketika diajak berbicara demikian, Sang Bhagava berkata kepada Bahiya yang berpakaian kulit kayu, “ Ini bukan waktu yang tepat, Bahiya, kami akan pergi menerima dana makan.”

Kedua kalinya Bahiya berkata kepada Sang Bhagava,”Sulit untuk tahu dengan pasti, Sang Bhagava, berapa lama Sang Bhagava akan hidup atau berapa lama saya akan hidup. Ajarilah saya Dhamma, Sang Bhagava ; ajarilah saya Dhamma, Sugata, demi untuk kebaikan dan kebahagiaan saya sendiri untuk waktu yang lama.” “

Bahiya kemudian mendesak Sang Buddha dengan mengulangi pertanyaannya tesebut ( sama persis dengan pertanyaan kedua ) ketiga kalinya. Akhirnya, Sang Buddha ( setelah didesak oleh permohonan Bahiya yang diajukan sampai tiga-kali ) berkenan menerangkan Dhamma, yang berupa petunjuk latihan singkat.

“Dalam hal ini, Bahiya, kamu harus melatih dirimu sendiri : di dalam apa yang dilihat hanya ada apa yang dilihat ; di dalam apa yang didengar hanya ada apa yang didengar; didalam apa yang dirasakan hanya ada apa yang dirasakan;  di dalam apa yang diketahui hanya ada apa yang diketahui. Dengan cara ini kamu harus melatih dirimu sendiri, Bahiya.

Jika, Bahiya, di dalam apa yang dilihat hanya ada apa yang dilihat,…., didalam yang diketahui hanya ada apa yang diketahui, maka Bahiya, kamu tidak akan “besama-itu”; bila Bahiya kamu tidak lagi “bersama-itu”, kamu tidak akan berada di dalam itu; bila Bahiya, kamu tidak ada di dalam itu, maka Bahiya, kamu tidak akan berada disini maupun disana tidak juga diantara keduanya. Inilah akhir penderitaan.”

Melalui ajaran Dhamma yang singkat dari Sang Bhagava ini, pikiran Bahiya yang bepakaian kulit kayu segera terbebas dari kekotoran tanpa kemelekatan. Kemudian , sesudah mengajar Bahiya dengan petunjuk ringkas itu, Sang Bhagava pergi melanjutkan perjalanan-Nya bersama para Bhikkhu untuk menerima dana makanan.

Cukup jelas bukan, bahwa alasan mengapa Sang Buddha hanya mengajarkan Dhamma singkat tersebut pada Bahiya ( dan mengapa tidak mengajarkan Dhamma yang lengkap ; “Empat Kesunyataan Mulia” beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan” ) adalah karena Beliau sedang dalam perjalanan pergi menerima dana makanan, dan itu bukan waktu yang tepat untuk mengajarkan Dhamma ; “ Ini bukan waktu yang tepat, Bahiya, kami akan pergi menerima dana makan.”. Jadi, bukan karena  semua ajaran “Agama” Buddha itu tidak cocok bagi seorang yang bermeditasi! “ seperti yang dikatakan Romo Hudoyo.

Dan penyimpulan secara sepihak oleh Romo Hudoyo ini ( tanpa didasari kebenaran yang tersurat dan tersirat dalam Bahiya-Sutta tersebut ), kemudian ia jadikan justifikasi untuk membenarkan “ajaran”-nya dalam “MMD” yang menolak “Empat Kesunyataan Mulia” beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan”.

Itulah MMD. – Ketika mendengar itu, pada saat itu juga, langsung Bahiya tercerahkan sempurna (menjadi Arahat), dengan melompati ketiga tingkat kesucian di bawahnya.

Di dalam khotbah singkat kepada Bahiya itu, Sang Buddha tidak bicara tentang “baik” vs “buruk”, tentang “Usaha Benar”, yakni meningkatkan yang baik dan mengurangi yang buruk, tentang Sila, tentang Pandangan Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Konsentrasi Benar dsb dsb, pendeknya Sang Buddha tidak mengajarkan tentang segala yang “Benar” (samma-) versus segala yang “Salah” (miccha-).

Bahiya-sutta itulah yang menjadi dasar bagi saya mengajarkan MMD kepada umat Buddha. Ajaran singkat Sang Buddha kepada Bahiya itu persis sama dengan yang diajarkan oleh Krishnamurti 2500 tahun kemudian, yang ditemukannya kembali dan diajarkan oleh K selama 60 tahun ia mengajar masyarakat di dunia modern.

Salam,
semar

[ Sumber =

http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan--Apa-ajaran-Sang-Buddha-tentang-sadar-eling-pada-saat-kini--td16575427.html ]


Dan, ajaran J.Krishnamurti yang diadopsi oleh Romo Hudoyo dan secara sepihak ia klaim “sesuai” / “persis-sama” dengan ajaran Sang Buddha pada Bahiya ( yang bila dicermati secara kontekstual ternyata sesungguhnya jauh berbeda secara esensial ) tersebut, sesungguhnya oleh J.Krishnamurti sendiri telah diakui cukup membuatnya tidak lega ( atau “kecewa” ) dengan mengeluhkan bahwa selama enam-puluh (60) tahun ia mengajar “tidak seorang pun mengalami transformasi batiniah, sebagaimana diharapkannya.” (Hudoyo,  Dari: http://www.kaskus.us -> Forum: Supranatural -> Subforum: Spiritual -> Thread: MMD (Meditasi Mengenal Diri) ;  http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan–Perbedaan-Krishnamurti—Buddha-td16375574.html ) . dan dengan begitu, Romo Hudoyomasih “keukeuh” mengklaim bahwa  siapapun ( ummat agama apapun ) yang  “ mengikuti MMD ia akan mengakhiri dukkha...”
[ Dr.Hudoyo Hupudhio Mph ; http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=8 ].

Expektasi yang sangat “tinggi-nun-jauh-disana”, bahkan, apakah Romo Hudoyo sendiri telah “mengakhiri-dukkha” / merealisasi “Nibbana” ? atau, telah menjadi seorang Arahanta ?

Agar kita semua menjadi lebih jelas lagi duduk perkaranya, mari kita membahas lebih dalam lagi mengenai Bahiya-Sutta.

Setelah Bahiya , petapa berkulit kayu, mendengarkan ajaran singkat dari Sang Buddha, ia langsung “tercerahkan”. Membaca kisah “fantastis” ini tentunya sangat menarik hati bagi para pembaca yang ingin segera menjadi seorang “Arahat”, bukan begitu. Tapi, setelah anda yang “tergoda” menjalankan ajaran singkat ini, apakah telah ada diantara anda yang mencapai “Pencerahan-Sempurna” dengan sekedar menjalankan instruksi singkat Sang Buddha pada Bahiya tersebut ? ( Romo Hudoyo sendiri, bagaimana, sudah merealisasi Arahata-Magga-Phala-kah ? )

Kita semua, para ummat Buddha khususnya, dan rekan-rekan non-Buddhis umumnya, seyogyanya lebih bijak dalam mempelajari sebuah Sutta dari Sang Buddha. Sesungguhnya, ada kisah yang panjang dibalik Bahiya-Sutta yang relative pendek tersebut. Kisah lengkap dari petapa Bahiya ini ada di dalam Apadana ( kisah kehidupan lampau para Arahanta ) dan dalam kitab-kitab komentar.

Di dalam salah satu kehidupan lampaunya, Bahiya adalah seorang Bhikkhu , siswa dari Buddha-Kassapa. Ketika itu, karena ingin sekali mencapai kebebasan dengan cepat, ia bersama-sama dengan enam Bhikkhu yang lain, memanjat sebuah gunung curam ke atas sebuah karang besar. Lalu mereka semua membuang tangga, dan meneguhkan diri untuk bermeditasi dan tetap berada diatas karang besar itu sampai mereka tercerahkan atau mati. Yang tertua diantara ke-tujuh Bhikkhu tersebut berhasil merealisasi Arahata-Magga-Phala, dan seorang Bhikkhu tertua yang lain merealisasi Anagami-Magga-Phala, tetapi lima Bhikkhu lainnya, yang menolak makan makanan yang diperoleh oleh dua Bhikkhu tertua yang disebut terdahulu melalui kekuatan batin mereka, meninggal dunia setelah tujuh-hari. Bahiya adalah salah satu dari lima Bhikkhu yang meninggal tersebut. Bhikkhu yang berhasil merealisasi Anagami-Magga-Phala kemudian  dilahirkan kembali di dalam alam Brahma dan kelak ( dimasa kehidupan terakhir Bahiya ) muncul di hadapan Bahiya sebagai “familinya yang dulu”. Kelima Bhikkhu yang meninggal dunia, setelah bertumimbal lahir di alam surga, lahir kembali sebagai manusia pada masa Buddha Gotama, salah satunya adalah Bahiya tersebut ( keempat Bhikkhu yang lainnya, terlahir kembali dimasa Buddha Gotama sebagai : Pukkusati, Sabhiya, Kumarakassapa, dan Dabba si orang Malli ).

Dalam kehidupan terakhirnya, Bahiya adalah seorang pelaut, yang sukses menyeberangi lautan sebanyak tujuh kali. Pada perjalanan kedelapan, kapalnya karam, tetapi ia berhasil selamat ke pantai dengan mengapung di atas kayu gelondongan. Karena kehilangan seluruh pakaiannya, dia membuat pakaian sementara dari kulit kayu, dan pergi untuk meminta makanan di Kampung Supparaka. Penduduk kampong setempat kemudian terkesan dengan penampulannya, dan oleh karenanya mempersembahkan makanan, penghormatan, dan bahkan seperangkat jubah mahal kepada Bahiya. Ketika Bahiya menolak baju baru itu, para penduduk justru semakin menyanjungnya. Bahiya mendapatkan kehidupan yang nyaman, dan dengan begitu dia tidak kembali ke laut. Banyak orang kemudian menganggap Bahiya adalah seorang Arahanta, dan Bahiya pun dengan salah-kaprah menganggap bahwa ia adalah seorang Arahanta.

Disaat itulah kemudian , sesosok Brahma membaca pikiran keliru dari Bahiya dan menegur Bahiya, karena terdorong rasa welas-asih. Brahma tersebut tidak lain adalah salah satu dari ketujuh Bhikkhu yang saat itu merealisasi Anagami-Magga-Phala.Kemudian Brahma Anagami tersebut memberitahu Bahiya bahwa ada seorang Arahanta yang sejati, ialah Buddha Gotama, yang hidup di masa itu, tinggal di sisi lain India, tepatnya di Savatthi.

Setelah diberitahu oleh Brahma Anagami tersebut, Bahiya  segera meninggalkan Supparaka ( sekarang Supparaka adalah Sopara, di utara Mumbai ), dan tiba di Savatthi ( tujuh-belas (17) KM sebelah barat Balrumpur ) dalam waktu semalam saja. Kisah selanjutnya adalah seperti yang sudah saya tuliskan diatas, yaitu penyampaian permohonan Bahiya ( sampai tiga (3) kali )  pada Sang Buddha agar Sang Buddha berkenan memberikan pengajaran Dhamma pada Bahiya. Beberapa waktu setelah Bahiya berhasil merealisasi Arahata-Magga-Phala melalui ajaran singkat Sang Buddha, Bahiya meninggal terbunuh oleh seekor lembu betina yang sedang bersama anaknya ( demikian menurut ungkapan Gavi Tarunavaccha ).

Dari latar-beakang tersebut, bisa kita ketahui bersama bahwa Bahiya adalah seorang manusia luar-biasa. Pada masa Buddha-Kassapa, ia mempunyai tekad luar biasa untuk bermeditasi diatas gunung, lebih baik mati dan tidak akan meninggalkan tempat di atas gunung sebelum ia tercerahkan-sempurna. Dengan kekuatan tekadnya pula, ia saat itu (beserta keempat bhikkhu lainnya) menolak makan makanan dari dua Bhikkhu tertua yang berasal dari kekuatan batin kedua bhikkhu tersebut.

Dalam kehidupan terakhirnya sebelum bertemu Sang Buddha, ia mampu mendengar suara Brahma Anagami yang berbicara padanya, dan dia juga mampu menempuh perjalanan dari Supparaka menuju Savatthi – dengan kecepatan 1.300 Km/per-jam , seperti seorang penerbang masa kini – hanya dalam semalam.

Melihat kisah latar-belakang tersebut, bisa dipastikan bahwa Bahiya adalah seorang petapa yang memiliki “Abhinna” sebagai hasil pencapaian Jhana-Jhana-nya. Dari masa Buddha-Kassapa, ia ber-aditthana dengan kuat untuk bertapa merealisasi pembebasan. Di masa kehidupan terakhir sebelum bertemu Sang Buddha, ia telah memiliki “dibbasotta” / “telinga-dewa” sehingga mampu mendengarkan suara Brahma. Dan, kemampuan ia untuk menempuh perjalanan dari Supparaka menuju Savatthi hanya dalam waktu semalam, semakin memastikan bahwa ia telah meraih Jhana-Jhana melalui samadhinya. Dan barangkali, karena “kemampuan” istimewanya tersebutlah, Bahiya keliru beranggapan bahwa ia adalah seorang Arahanta.

Sehingga karena latar-belakang itu semualah, kita semua bisa memaklumi / tidak heran jika Bahiya yang hanya diberi khotbah Dhamma yang singkat oleh Sang Buddha mampu dengan segera merealisasi Arahata-Magga-Phala.

Tanya = menurut pak hudoyo, yang mana yang ajaran SANG BUDDHA ?? tolong kita kita “dicerahkan” ??


Jawab = Saya tidak berniat mencerahkan siapa pun, tapi menurut saya pribadi, ajaran Sang Buddha adalah vipassana yang diajarkan dalam Bahiya-sutta & Malunkyaputta-sutta.
ITU CUKUP, yang lain-lain tidak perlu sama sekali.

[ Sumber =

http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,3718.15.html ]


Romo Hudoyo merujuk sutta yang lain lagi, Malunkyaputta-Sutta ( Samyutta Nikaya 35.95 ). Sebenarnya, sebelum Malunkyaputta diberi pengajaran yang sama pada Bahiya, Sang Buddha mengajarkan perlunya pencapaian paling tidak salah satu dari Jhana-Jhana ( hal ini diajarkan setelah Sang Buddha menegur Malunkyaputta yang berpadangan-salah saat itu ) guna menghancurkan kelima belenggu yang pertama, dan dengan begitu bisa meraih tingkatan persis di bawah Arahanta, yaitu Anagami-Magga-Phala. Sang Buddha berkata kepada Malunkyaputta bahwa adalah mustahil meraih Anagami-Magga-Phala, apalagi Arahata-Magga-Phala, tanpa sebuah Jhana.

Setelah berhasil merealisasi Anagami-Magga-Phala, dan kemudian mendengarkan ajaran yang persis-sama yang diberikan pada Bahiya, Malunkyaputta lalu “tinggal menyendiri, menyepi, tekun , gigih, dan teguh”, dan tak lama kemudian ia menjadi seorang Arahanta.

Penafsiran Romo Hudoyo atas Bahiya-Sutta dan Malunkyaputta-Sutta yang “dipersingkat”-nya itulah yang membuat jalan-pikiran Romo Hudoyo kemudian menjadi “keliru” ; dan semakin keliru ketika mengajarkan pada murid-muridnya untuk membuang “Empat Kesunyataan Mulia” beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan”.

Jadi, Romo Hudoyo dalam hal ini terlalu menggampangkan persoalan. Seolah-olah “pencerahan” adalah sesederhana itu. Bila sesederhana itu, maka seorang pencuri pun bisa memperoleh pencerahan tanpa harus memperbaiki moralitasnya ;  ia bisa disebut meraih “pencerahan-sempurna” sementara ia tetap terus mencuri, merampok, dan bertindak asusila lainnya ; asalkan ,”…di dalam apa yang dilihat hanya ada apa yang dilihat ; di dalam apa yang didengar hanya ada apa yang didengar ;  di dalam apa yang dirasakan hanya ada apa yang dirasakan; di dalam apa yang diketahui hanya ada apa yang diketahui….dst.”

Seorang pembunuh pun bisa terus mengumbar kemarahan/kebenciannya, tanpa harus mengembangkan cinta-kasih dan kasih-sayang , dan ia tetap memperoleh “pencerahan-sempurna” selama ia menjalankan instruksi, ,”…di dalam apa yang dilihat hanya ada apa yang dilihat ; di dalam apa yang didengar hanya ada apa yang didengar ;  didalam apa yang dirasakan hanya ada apa yang dirasakan; di dalam apa yang diketahui hanya ada apa yang diketahui….dst.”

Jalan Ariya Beruas Delapan, merupakan “Jalan-Visi” dan “Jalan-Transformasi”. Diawali dengan “Pengertian-Benar” ( Samma-ditthi ) seseorang akan memandang alam-semesta seisinya ini dengan apa-adanya, mampu melihat hakekat-sejati, bahwa hidup ini adalah dukkha, dan sebab dukkha adalah nafsu-keinginan (tanha) yang berkobar-kobar, bahwa dukkha ini pun bisa berakhir ( saat merealisasi Nibbana ), dan berakhirnya dukkha tersebut melalui sebuah Jalan, ialah “Jalan Ariya Beruas Delapan” itu sendiri. Inilah ( Pengertian-Benar / Samma-ditthi )  “Jalan-Visi”. Dengan diawali oleh “Jalan-Visi” tersebut, kemudian seseorang mentransformasikan “Visi”-nya tersebut dalam seluruh aspek kehidupannya.  Dengan “Pengertian-Benar”, yang bersih, jernih, selanjutnya ia akan memiliki “Pikiran-Benar” ( Samma-Samkappa ), mulai meninggalkan pikiran-pikiran yang jahat, buruk, dan melangkah untuk membersihkan pikirannya, melalui pemupukan “sepuluh-kesempurnaan” / “dasa-paramita” ( sad-paramita dan catur-paramita ). Dan seterusnya, dan seterusnya, sehingga secara integral , jalan itu terangkum dalam rumusan “Jalan Ariya Beruas Delapan” ( 1. Pengertian Benar ( Samma-ditthi ) ; 2. Pikiran-Benar ( Samma-Samkappa ) ; 3. Ucapan-Benar ( Samma-Vaca ) ; 4. Perbuatan-Benar ( Samma-Kammanta ) ; 5. Mata Pencaharian benar (Samma-Ajiva) ; 6. Usaha-Benar ( Samma-Vayama ) ; 7. Perhatian-Benar (Samma-Sati) ; 8. Konsentrasi-Benar ( Samma-Samadhi ) ) ; dan ini adalah satu-satunya “Jalan” yang harus ditempuh para makhluk demi pencapaian kesucian, demi pembebasan dari arus samsara. Jalan ini adalah “Tunggal” , artinya kedelapan ruas itu adalah satu-kesatuan ; tidak bisa bila hanya ditempuh tujuh (7), atau enam (6), apalagi hanya satu (1) ruas saja. Dan khotbah singkat Sang Buddha pada Bahiya itu hanyalah menggambarkan satu ruas saja dari “Jalan Ariya Beruas Delapan” tersebut, ialah ruas “Perhatian-Benar” ( Samma-Sati ) ; itupun penggambaran yang terlampau singkat bagi umumnya ummat manusia “yang matanya masih ditutupi debu”. Permasalahannya kemudian, apakah  kita yakin, bahwa setiap praktisi ( dalam hal ini, praktisi MMD khususunya ) yang hanya menjalankan instruksi singkat Sang Buddha tersebut telah termasuk golongan “yang matanya hanya ditutupi sedikit debu” seperti Bahiya sehingga dengan sekedar instruksi singkat tersebut, seseorang kemudian menjadi “tercerahkan-sempurna” seperti Bahiya ?

6. PENGAKUAN ROMO HUDOYO ADANYA BUDDHA YANG TELAH MUNCUL DI ABAD KE-20 ; YAITU J.KRISHNAMURTI


“…J.Krishnamurti,yang menurut hemat saya adalah seorang yang telah mencapai

pencerahan & pembebasan sempurna dalam hidupnya di abad ke-20 lalu-

entah apa pun namanya : arahat, buddha, insan kamil, hidup di dalam Allah,

apa pun”.

[ Sumber =

http://www.usenet.com/newsgroups/soc.culture.indonesia/msg03344.html ]


Statement Romo Hudoyo mengenai “pencerahan” atau / “pembebasan-sempurna” yang dicapai oleh J.Krishnamurti ini sepertinya dikeluarkan tanpa memahami terlebih dahulu , apakah itu “pencerahan”, apa itu “pembebasan-sempurna” , kemudian lebih rancu lagi ketika Romo Hudoyo meng-generalisir / mempersamakan pengertian-pengertian dari : Arahat, Buddha, Insan-Kamil, dan “Hidup-di-dalam-Allah”.

Mengenai “pencerahan”, saya akan ambil definisi menurut Buddhisme. Mungkin Romo Hudoyo akan menganggap saya “textbook-thinking” seperti biasanya Romo lontarkan pada umumnya ummat Buddha yang beradu argumentasi dengan Romo. Akan tetapi, definisi melalui sebuah rumusan yang ada, setidaknya lebih “berdasar”, ketimbang definisi yang tidak jelas dan bias, yang akan menjadi “ranah-abu-abu” untuk bermain dengan kata-kata indah yang sebenarnya kosong makna. Berikut ini adalah definisi pencerahan (Bodhi) yang saya ambil dari kitab “Riwayat Agung Para Buddha” karya Tipitakadhara Mingun Sayadaw.

Empat pengetahuan Pandangan Cerah (Jalan menuju lenyapnya penderitaan, yang berbentuk faktor terakhir dari Empat Kebenaran Mulia yang terdiri dari delapan faktor: (1) pandangan benar (sammà ditthi), (2) pemikiran benar (sammà samkappa), (3) perkataan benar (sammà vàcà), (4) perbuatan benar (sammà kammanta), (5) penghidupan benar (sammà àjiva),  (6) usaha benar (sammà vàyàma), (7) perhatian benar (sammà sati), dan (8) pemusatan benar (sammà samàdhi). Dua pertama adalah kebijaksanaan (pannà), tiga berikutnya adalah moralitas (sila), dan tiga terakhir adalah konsentrasi (samàdhi).) ) mengenai Jalan (Magga Nana) dengan atau tanpa disertai kemahatahuan (Sabbannuta Nana  ;  Sabbannuta Nàna terdiri dari kata “sabbannuta” dan “Nàna”. Kata pertama “sabbannuta” artinya adalah “mahatahu”. Seseorang yang memiliki sabbannuta atau Sabbannuta Nàna adalah “Sabbannu” ; “Yang-Mahatahu”, bukan berarti ia selalu mengetahui segalanya, tetapi ia dapat mengetahui segalanya jka ia menghendakinya.) disebut Pencerahan (Bodhi). Pencerahan ada tiga jenis:

(1)         Sammà-Sambodhi: Pencerahan berupa empat pengetahuan Pandangan Cerah mengenai Jalan yang disertai kemahatahuan. Empat pengetahuan mengenai Jalan adalah pemahaman atas Empat Kebenaran Mulia oleh diri sendiri tanpa bantuan guru, dan memiliki kekuatan untuk melenyapkan kotoran batin, juga kebiasaan-kebiasaan (vàsanà) dari kehidupan-kehidupan sebelumnya; Kemahatahuan adalah pemahaman atas semua prinsip yang perlu diketahui.

(2)         Pacceka-Bodhi: Pencerahan berupa empat pengetahuan Pandangan Cerah mengenai Jalan, yaitu pemahaman atas Empat Kebenaran Mulia oleh diri sendiri tanpa bantuan guru.

(3)         Sàvaka-Bodhi: Pencerahan berupa empat pengetahuan Pandangan Cerah mengenai Jalan, yaitu pemahaman atas Empat Kebenaran Mulia oleh diri sendiri dengan bantuan guru.

Nah, menilik definisi tersebut diatas, pencerahan (Bodhi) yang manakah yang telah diraih oleh J.Krishnamurti ? Bukankah J.Krishamurti sendiri menolak adanya “Jalan” sebagai hasil pengetahuan-pandangan-cerah ( meskipun akhirnya setelah dikejar oleh pewawancara dari BBC ia berkata “Ada” ) ?

Atau setidaknya, jika “pengakhiran-dukkha” yang digunakan untuk mendefinisikan dari “pencerahan” / “pembebasan-sempurna” , apakah J.Krishamurti telah mencabut ketiga-akar : keserakahan / nafsu-indriya ( lobha ), kemarahan/kebencian (dosa), dan kebodohan batin ( moha ) ? Bukankah apa yang “dicapai” oleh J.Krishnamurti hanyalah “berhentinya-pikiran” yang itupun masih “rancu” untuk didefinisikan ?

Tapi saya sendiri, berangkat dari sudut pandang Buddhisme yang saya pahami,
secara pribadi menganggap ajaran K adalah ajaran Buddha yang paling murni,
tanpa embel-embel atau bendera apa pun. Ajaran K, seperti ajaran Buddha,
adalah ibarat daun Simsapa yang ada di dalam genggaman tangan–bukan daun
Simsapa yang ada di hutan–sedikit tapi cukup untuk membawa pada pembebasan. — Bahkan menurut hemat saya, dari sudut pandang Buddhis yang saya pahami, K adalah seorang Buddha/arahat pada abad ke-20.

Salam,
Hudoyo

[ Sumber =


http://groups.yahoo.com/group/samaggiphala/message/5582 ]


Pernyataan bahwa J.Krishnamurti adalah seorang “Buddha” di abad ke-20 yang lalu, menurut saya sangatlah tidak berdasar. Buddha yang mana yang dimaksudkan oleh Romo Hudoyo ? Bila yang dimaksud adalah “Samma-Sambuddha” ( Seperti Sang Buddha Gotama ), maka setidaknya ada dua hal yang membuat J.Krishnamurti tidak bisa disebut seorang “Samma-Sambuddha”.

Pertama, sebagaimana semua ummat Buddha tahu, bahwa selama ajaran seorang Samma-Sambuddha masih ada dan diikuti oleh ummat manusia, maka tidak akan mungkin muncul Samma-Sambuddha yang baru. Sebab, semua Buddha mengajarkan Dhamma yang sama, persis-sama tiada beda. Saat ini, Dhamma Sang Buddha masih berkembang dan diikuti oleh setidaknya 500 juta ummat manusia sedunia, Ti-Pitaka yang menguraikan Dhamma Sang Buddha juga masih tersebar luas, bisa dibaca oleh siapapun, bagaimana mungkin disaat seperti itu muncul seorang Samma-Sambuddha ( yang mencapai pencerahan-sempurna tanpa bantuan seorang Guru pun ) ?  Sebab, Dhamma yang ia babarkan dengan demikian PASTI tidak ORIGINAL, karena ia bisa mengakses pelajaran-pelajaran Dhamma, ia bisa membaca berbagai buku dan membaca Ti-Pitaka yang menguraikan tentang Dhamma.

Kedua, Seorang Samma-Sambuddha disebut dengan istilah “Tarayitu” , yang artinya “Ia yang menyeberangkan makhluk-makhluk lain”. Yang-Teragung  , Beliau telah menyeberangi samsara, dan menyelamatkan makhluk-makhluk lain dari samsara. Nah, sementara, J.Krishnamurti sendiri mengeluhkan bahwa selama enam-puluh (60) tahun ia mengajar “tidak seorang pun mengalami transformasi batiniah, sebagaimana diharapkannya.” (Hudoyo,  Dari: http://www.kaskus.us -> Forum: Supranatural -> Subforum: Spiritual -> Thread: MMD (Meditasi Mengenal Diri) ;  http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan–Perbedaan-Krishnamurti—Buddha-td16375574.html ) . Sebuah pengakuan yang jujur ini menunjukkan, bahwa J.Krishnamurti belum pernah “berhasil-membawa” ummat manusia mencapai “pencerahan” seperti yang diharapkannya [!], sehingga bagaimana mungkin pula ia dinobatkan sebagai seorang “Samma-Sambuddha” [?].

Jika yang dimaksud Romo Hudoyo adalah J.Krishnamurti seorang Pacceka Buddha, maka itu juga tidak mungkin. Paceka-Buddha ( Buddha-pribadi ) disebut sebagai “Tarita”, makhluk mulia yang telah menyeberangi lautan samsàra oleh dirinya sendiri namun tidak dapat menyelamatkan makhluk lain dari bahaya saÿsàra. Seorang Pacceka Buddha tidak muncul pada saat kemunculan Buddha Yang Mahatahu. Mereka hanya muncul dalam periode antara kemunculan Dua Samma-Sambuddha dimana ketika itu tidak ada seorang Samma-Sambuddha dan tidak terdengar lagi “Dhamma” dari seorang Samma-Sambuddha. Pacceka Buddha juga memahami Empat Kebenaran Mulia oleh diri sendiri namun tidak mampu mengajarkannya kepada makhluk lain. Setelah mencapai Jalan dan Buahnya, Nibbàna (pativedha, secara harfiah berarti penembusan, merupakan satu dari tiga aspek ajaran Buddha; dua yang pertama adalah pariyatti dan pañipatti, memelajari kitab dan mempraktikkan), Ia tidak dapat menceritakan pengalaman pribadi atas pencapaiannya karena ia tidak memiliki terminologi yang tepat menjelaskan hukum spiritual ini. Oleh karena itu, pengetahuan seorang Pacceka Buddha akan Empat Kebenaran (Dhammàbhisamaya) oleh para komentator diumpamakan sebagai mimpi si dungu atau seorang petani bodoh yang mengalami kehidupan di kota besar yang tidak mampu ia ceritakan kembali. Pacceka Buddha (makhluk Tarita) adalah mereka yang telah menyeberangi samsàra oleh diri sendiri, tetapi tidak dapat membantu makhluk lain menyeberang. Dan, bila muncul seorang Pacekka-Buddha pada masa masih berkembangnya “Dhamma” seorang Samma-Sambuddha, maka ia akan bergabung dalam komunitas para suciwan ( Sangha ) dan merealisasi Arahata-Magga-Phala. Menilik criteria-kriteria seorang Pacceka-Buddha tersebut, maka tidak mungkin pula J.Krishnamurti bisa diakui sebagai seorang Pacceka-Buddha.

Atau mungkin yang dimaksud Romo Hudoyo, J.Krishnamurti adalah seorang Siswa Mulia atau Sàvaka-Buddha ? Sàvaka-Buddha disebut juga makhluk Tàrita karena telah dibantu menyeberangi lautan samsàra oleh Buddha Yang Mahatahu.  ajaran seorang siswa Buddha berasal dari seorang Buddha; bukan berasal dari siswa itu sendiri. Ia tidak dapat memberikan khotbah yang berasal dari diri sendiri tanpa bantuan dan petunjuk dari ajaran Buddha. Oleh karena itu siswa demikian disebut makhluk Tàrita, bukan makhluk Tarayitu, karena mereka tidak mungkin menembus Empat Kebenaran Mulia tanpa seorang guru; dan penembusan mereka atas Jalan dan Buahnya hanya dapat terjadi dengan adanya bantuan dan petunjuk dari guru. Menilik hal ini, maka J.Krishnamurti juga tidak mungkin dikategorikan sebagai seorang Savaka-Buddha, sebab ia sendiri menolak mengakui sebagai “ummat” Buddha ( berarti menolak mengakui dirinya telah “berguru” pada Sang Buddha ). Meskipun ini sesungguhnya controversial, sebab, sebagaimana Romo Hudoyo sendiri mengatakan bahwa J.Krishnamurti sewaktu muda banyak membahas mengenai ajaran Sang Buddha Gotama didalam sebuah kelompok kecil :

Di masa mudanya, sebelum tercerahkan pada th 1922, K suka membahas tentang Buddha Gautama dengan para sahabatnya dalam kelompok kecil. Ia sering mengidungkan bait-bait dari “The Light of Asia” karya Sir Edwin Arnold, sebuah buku tentang riwayat hidup Buddha Gautama dalam bentuk syair. Juga ia sering mengutip dari kitab Dhammapada.

[ Sumber :

http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan--Perbedaan-Krishnamurti---Buddha-td16375574.html ]


Dalam sebuah dialog antara J.Krishnamurti dengan Walpola Rahula ( pakar Buddhisme internasional asal Srilanka, dan penulis “Buddhisme” dalam Encyclopaedia Britannica, juga penulis buku yang sangat terkenal,’What The Buddha Taught” ) J.Krishnamurti sedikit “tidak-suka” ketika Walpola Rahula mengungkapkan dengan penuh kekaguman bahwa apa yang diajarkan J.Krishnamurti sangat tidak berbeda dengan apa yang diajarkan Buddha,, yang membedakan hanyalah kemasan dan gaya-bahasa yang dipakai. Berikut adalah petikan dialog antara Walpola Rahula dengan J.Krishnamurti tersebut :

“BUKANKAH ANDA MENGULANG APA KATA BUDDHA?”

WALPOLA RAHULA (WR): Saya telah mengikuti ajaran Anda–kalau boleh saya pakai kata itu–sejak masa muda saya. Saya telah membaca buku-buku Anda dengan penuh minat, dan saya telah menginginkan diskusi dengan Anda ini sejak lama.

Bagi seseorang yang mengenal ajaran Buddha cukup baik, ajaran Anda bukan hal asing, bukan hal baru baginya. Apa yang diajarkan Buddha 2.500 tahun lalu Anda ajarkan sekarang dengan idiom baru, gaya baru, pakaian baru. Ketika saya baca buku-buku Anda, saya sering membuat catatan-catatan di pinggir halamannya, membandingkan apa yang Anda katakan dengan Buddha, kadang-kadang saya bahkan mengutip bab dan ayat, atau teks–bukan hanya ajaran asli Buddha, tetapi juga ide-ide dari para filsuf Buddhis belakangan–itu juga Anda sampaikan dengan cara yang praktis sama. Saya heran, betapa baik dan indahnya Anda mengutarakannya.

Pertama-tama, saya ingin menyebutkan dengan singkat beberapa poin yang sama antara ajaran Buddha dan ajaran Anda. Misalnya, Buddha tidak menerima pengertian suatu Tuhan Pencipta yang berkuasa di dunia ini dan mengganjar atau menghukum manusia atas perbuatan mereka. Anda juga tidak, saya rasa. Buddha tidak menerima ide Weda, Brahmana kuno tentang adanya suatu roh atau ‘atman’ yang kekal, abadi, tak berubah selama-lamanya–Buddha menolak ini. Saya rasa, Anda juga tidak menerima pengertian ini.

Buddha mengawali ajarannya dengan premis bahwa kehidupan manusia merupakan masalah, penderitaan, konflik, kesedihan. Dan buku-buku Anda selalu menekankan itu. Dan Buddha juga mengatakan bahwa yang menyebabkan konflik, penderitaan ini adalah sikap mementingkan diri sendiri yang diciptakan oleh ide keliru tentang diriku, ‘atman’-ku. Saya rasa Anda berkata begitu juga.

Buddha berkata bahwa jika orang bebas dari keinginan, kelekatan, kepada diri, ia bebas dari penderitaan dan konflik. Dan saya ingat, Anda berkata dalam sebuah buku, bahwa pembebasan berarti pembebasan dari semua kelekatan–tidak dibedakan kelekatan baik dan kelekatan buruk–tentu saja ada perbedaan itu dalam kehidupan praktis sehari-hari, tapi pada akhirnya tidak ada pembagian seperti itu.

Lalu ada melihat kebenaran, merealisasikan kebenaran, artinya, melihat segala sesuatu seperti apa adanya; bila Anda lakukan itu, Anda melihat realitas, Anda melihat kebenaran dan bebas dari konflik. Saya rasa, Anda mengatakan ini sering sekali; misalnya dalam buku “Truth and Actuality”. Ini dikenal baik dalam pemikiran Buddhis sebagai ‘samvrti-satya’ dan ‘paramartha-satya': ‘samvrti-satya’ adalah kebenaran konvensional, dan ‘paramartha-satya’ adalah kebenaran absolut atau tertinggi. Dan orang tidak bisa melihat kebenaran tertinggi dan absolut tanpa melihat kebenaran konvensional atau relatif. Itulah sikap Buddhis. Saya rasa, Anda mengatakan hal yang sama.

Pada tingkat yang lebih populer, tetapi sangat penting, Anda selalu berkata bahwa orang tidak boleh bergantung pada otoritas–otoritas siapa pun, ajaran siapa pun. Anda harus merealisasikannya sendiri, melihatnya sendiri. Ini ajaran yang sangat terkenal dalam Buddhisme. Buddha berkata, jangan menerima apa pun hanya oleh karena itu dikatakan oleh agama atau kitab suci, atau oleh seorang guru atau guru spiritual, terimalah hanya apabila Anda melihat sendiri bahwa itu benar, jika Anda melihat bahwa itu salah atau buruk tolaklah.

Dalam diskusi yang sangat menarik antara Anda dan Swami Venkatesananda, ia bertanya tentang pentingnya guru, dan jawaban Anda selalu: apa yang bisa diperbuat oleh seorang guru? Tergantung Andalah untuk melakukannya, seorang guru tidak bisa menyelamatkan Anda. Ini justru sikap Buddhis–bahwa Anda tidak seharusnya menerima otoritas. Setelah membaca seluruh diskusi itu dalam buku “The Awakening of Intelligence”, saya menulis bahwa Buddha pun pernah mengatakan hal-hal ini juga, dan meringkaskannya dalam dua baris dalam kitab Dhammapada: Andalah yang harus berusaha, para Buddha hanya mengajar. Ini tercantum dalam kitab Dhammapada, yang pernah Anda baca jauh di masa silam ketika Anda masih muda.

Salah satu hal yang sangat penting ialah penekanan Anda pada keadaan sadar [awareness], atau perhatian penuh [mindfulness]. Ini sesuatu yang teramat penting dalam ajaran Buddha, penuh perhatian. Saya sendiri heran ketika saya baca dalam Mahaparinibbana-sutta, suatu khotbah tentang bulan terakhir dalam kehidupannya, bahwa di mana pun ia berhenti dan berbicara kepada para muridnya, ia selalu berkata: sadarlah, kembangkanlah keadaan sadar, perhatian penuh. Itu disebut hadirnya perhatian penuh [the presence of mindfulness]. Ini juga poin amat kuat dalam ajaran Anda, yang sangat saya hargai dan ikuti.

Lalu, hal menarik lainnya ialah penekanan Anda terus-menerus pada ketidakkekalan. Ini salah satu hal mendasar dalam ajaran Buddha, segala sesuatu tidak kekal, tidak ada apa pun yang kekal. Dan di dalam buku “Freedom from the Known”, bahwa melihat tidak ada sesuatu yang kekal adalah luar biasa penting–oleh karena hanya di situ batin bebas. Ini sesuai sepenuhnya dengan Empat Kebenaran Mulia dari Buddha.

Ada satu poin lagi yang menunjukkan kesamaan antara ajaran Anda dan ajaran Buddha. Saya rasa di dalam buku “Freedom from the Known”, Anda berkata bahwa pengendalian diri dan disiplin lahiriah bukanlah jalannya, tetapi hidup tanpa disiplin juga tidak bermanfaat. Ketika saya baca ini, saya tulis di pinggir halaman, seorang Brahmana bertanya kepada Buddha, bagaimana Anda mencapai ketinggian spiritual ini, dengan cara bagaimana, dengan disiplin apa, dengan pengetahuan apa? Kata Buddha, bukan dengan pengetahuan, bukan dengan disiplin, bukan dengan cara, bukan pula tanpa hal-hal itu. Itu yang penting: bukan dengan hal-hal itu, tetapi juga bukan tanpa hal-hal itu. Itu persis apa yang Anda katakan: Anda mengutuk perbudakan pada disiplin, tetapi tanpa disiplin hidup tidak punya nilai. Itu persis seperti dalam Buddhisme Zen–tidak ada Buddhisme Zen, Zen adalah Buddhisme. Dalam Zen, perbudakan pada disiplin dilihat sebagai kelekatan, dan itu sangat dikutuk, tetapi tidak ada sekte Buddhis apa pun di dunia di mana disiplin begitu ditekankan [seperti Zen].

Ada banyak hal yang bisa kita bicarakan, tetapi pertama-tama saya ingin mengatakan ada kesesuaian fundamental dalam hal-hal ini, dan tidak ada konflik antara Anda dan Buddha. Tentu saja, Anda bukan Buddhis, seperti Anda bilang.

Krishnamurti (JK): Tidak, Pak.

WR: Dan saya sendiri tidak tahu saya ini apa, itu tidak penting. Tetapi hampir tidak ada perbedaan antara ajaran Anda dan ajaran Buddha. Soalnya hanya Anda mengatakan hal yang sama dengan cara yang memukau bagi manusia masa kini, dan bagi manusia masa depan. Dan sekarang saya ingin tahu, bagaimana pendapat Anda tentang semua ini.

JK: Bolehkah saya bertanya, Pak, dengan segala hormat, mengapa Anda membanding-bandingkan?

Walpola Rahula (WR): Itu disebabkan karena ketika saya membaca buku-buku Anda sebagai seorang sarjana Buddhis, sebagai seorang yang telah mempelajari kitab-kitab Buddhis, saya selalu melihat bahwa itu hal yang sama.

K: Ya, Pak; tapi kalau boleh saya bertanya, apa perlunya membanding-bandingkan?

WR: Tidak ada perlunya.

K: Jika Anda bukan sarjana dalam Buddhisme serta semua sutra-sutra dan ucapan-ucapan Buddha, jika Anda tidak menyelami Buddhisme dengan sangat dalam, bagaimana kesan Anda ketika membaca buku-buku ini, tanpa latar belakang semua itu?

… dst. “

[ Sumber =

http://www.kaskus.us/showpost.php?p=44998135 ]


Terlihat adanya rasa ke-“tidak-suka”-an yang muncul dalam diri J.Krishnamurti ketika ajaran-ajarannya dikenali sebagai identik dengan ajaran Buddha oleh Walpola Rahula, seorang sarjana Buddhist. Menjawab pertanyaan terakhir dari J.Krishnamurti tersebut diatas, “ Jika anda tidak menyelami Buddhisme dengan sangat dalam, bagaimana kesan Anda ketika membaca buku-buku ini, tanpa latar belakang semua itu ? “ Jawaban dari saya adalah : SAYA PASTI AKAN SANGAT TERKESAN DAN BERDECAK KAGUM [!].

TAPI, bagi seorang Buddhist, maka akan sangat wajar jika kesan yang muncul adalah sama seperti yang muncul dalam diri Walpola Rahula. Mengapa J.Krishnamurti harus menunjukkan ke-“tidak-suka”-an akan hal itu ? Bukankah sebenarnya memang J.Krishnamurti sendiri sewaktu muda banyak membaca ajaran Buddha dan membahasnya dalam sebuah kelompok kecil seperti yang dinyatakan sendiri oleh Romo Hudoyo ?

K & Buddha sama-sama tidak menikah, hidup berkelana (tidak punya tempat tinggal tetap), kebutuhan fisiknya bergantung pada orang lain, dan yang terpenting, pencerahannya tidak diperoleh dari seorang guru, dan sama-sama menghabiskan kehidupannya untuk mengajarkan pembebasan kepada orang lain.

[ Sumber = http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan--Perbedaan-Krishnamurti---Buddha-td16375574.html ]


Jika standard-standard diatas yang digunakan oleh Romo Hudoyo untuk kemudian menobatkan J.Krishnamurti sebagai seorang Buddha abad ke-20, maka sebenarnya diluar Sang Buddha Gotama tidak hanya J.Krishnamurti saja yang hidup tidak menikah, berkelana, kebutuhan fisiknya bergantung pada orang lain. Jaman Sang Buddha sendiri terdapat ratusan petapa-kelana yang memenuhi standard-standard itu, namun mereka semua itupun bukanlah seorang “Buddha”. Berkelana, tidak menikah, dan mengajarkan suatu “ajaran” bukanlah menunjukkan bahwa orang tersebut seorang “Buddha”.

Sedikit mengingatkan pada Romo Hudoyo, sepertinya Romo harus mengulangi lagi “Buddhanussati” sehingga bisa memahami , kualitas-kualitas seperti apakah yang harus dimiliki oleh seseorang sehingga ia bisa diakui sebagai seorang Buddha.

“Iti pi so Bhagava : Araham, Sammasambuddho, Vijjacaranasampano, Sugato, Lokavido, Anuttaropurisadhammasarati, Sattha Devamanussanam, Buddho, Bhagava’ti. “


a). Araham

Ia yang mencapai Pencerahan-Sempurna adalah “Araham”, karena :

Pertama, ia adalah Arahat ( Araham, Arahanta ), karena ia jauh ( araka ) dari semua kejahatan, ia telah menghancurkan semua kejahatan bersama-sama akarnya beserta kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik ( vasana ) yang dimiliki-Nya sebelum mencapai Pencerahan-Sempurna dengan jalan Ariya yang membawa-Nya pada tingkat ke-Buddha-an.

Kedua, Beliau adalah Arahat karena telah memusnahkan (han) musuh-musuh (ari) yaitu : keserakahan ( lobha ), kebencian ( dosa ), dan kegelapan-batin ( moha ), dan lain-lain dengan mengembangkan Jalan-Ariya.

Ketiga, Beliau adalah Arahat karena telah memotong (hata) ruji-ruji (Ara) dari roda samsara, yang lingkaran pusatnya terbuat dari ketidaktahuan dan keinginan hidup duniawi, yang jari-jarinya adalah sankhara, yang bingkainya adalah usia-tua dan kematian, yang sumbunya adalah asava-asava dan badannya terdiri dari tiga rangkaian kehidupan (ti-bhava). Di bawah pohon Bodhi dengan kekuatan kebajikan dan pengetahuan Beliau hancurkan semua ruji-ruji roda ini. Karena itu Beliau disebut seorang Arahat.

Keempat, Beliau adalah Arahat karena pantas dihormati dengan persembahan-persembahan yang terbaik, patut dihormati dengan penghormatan yang paling mulia. Jadi, Beliau adalah Arahat karena kemuliaan kesucian-Nya yang benar-benar layak untuk diberi sebutan “Araham”.

Kelima, Beliau adalah Arahat karena Beliau tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat apapun, sekalipun di tempat yang rahasia ( raha ), tidak seperti mereka yang menyatakan diri mereka suci, tetapi melakukan perbuatan-perbuatan jahat di tempat-tempat rahasia karena takut akan diketahui. Karena itu Beliau disebut “Araham” denga pengertian “A-raha”, bebas dari perbuatan jahat di tempat rahasia.

Jadi, seorang “Arahat”, Beliau yang jauh (araka) dari kejahatan, yang telah menghancurkan musuh-musuh yang berupa kejahatan (ari-hat), yang tidak melakukan kejahatan-kejahatan, sekalipun di tempat rahasia ( a-raha ). Oleh karena itu Beliau adalah : ARAHAM.

b). Sammasambuddho

Sammasambuddho adalah seorang yang telah mencapai pencerahan-sempurna disertai “Ke-Mahatahu-an” ( Sabbannuta ) atas usaha sendiri dan mengajarkan orang lain untuk merealisasi keadaan yang sama, yang pada waktu itu tidak ada lagi Dhamma di bumi.

c). Vijjacaranasampano

Ia telah sempurna ( Sampanno ) dalam pengetahuan luar biasa ( Vijja ) dan laku-lampah ( Carano ). Dalam Ambatha Sutta, Majjhima NikayaI.100, Vijja merupakan :

- Pandangan-terang ( Vipassana-nana )

- Memiliki berbagai kesaktian ( Iddhi-viddhi ) ; seperti menggandakan dirinya dari satu menjadi banyak, kemudian kembali dari banyak menjadi satu, kemampuan berjalan diatas air, kemampuan melayang di udara, kemampuan mendatangkan hujan di tempat yang gersang, kemampuan menyelam dalam bumi, kemampuan berdiam dalam bongkahan batu, kemampuan melunakkan bebatuan, mendatangkan angin, menciptakan sinar , melihat tembus ruang-waktu, menciptakan sesuatu ( seperti ketika Sang Buddha menciptakan perempuan cantik didepan Ratu Khema istri Raja Bimbisara dihadapan para Bhikkhu yang sedang diberi ceramah Dhamma oleh Sang Buddha ) , dan yang terutama, memiliki “Keajaiban-Ganda” ( Yamaka-Patihariya ) , yaitu menciptakan fenomena kembar ( pori-pori tubuh bagian atas menyemburkan api, pori-pori tubuh bagian bawah mennyemburkan air, dan begitu juga sebaliknya ), serta lain-lain kesaktian

- Telinga Dewa ( Dibba-sota )

- Membaca pikiran orang lain ( Cetopariya-nana )

- Mengetahui kehidupan-kehidupan yang lampau ( PUbbenivasanussati-nana )

- Mata-Dewa ( Dibbacakkhu )

- Melenyapkan semua kekotoran batin ( Asavakhaya-nana )

Kedelapan (8) pengetahuan luar biasa Sang Buddha tersebut diatas disebut “Vijja”, dengan pengertian menghancurkan (Vidavidarane ; memecahkan) existensi fenomenal, atau mengalami ( Veda-vide-vida ) “Nibbana”.

“Carana” terdiri atas lima-belas (15) unsure :

1. Kesempurnaan Sila ( Sila-Sampada )

2. Pengendalian Indria ( Indria Samvara )

3. Makan secukupnya ( Bhojanamattannuta )

4. Waspada dan menjaga diri dalam tiga waktu ( Jaganiyanuyoga )

5. Keyakinan ( Saddha )

6. Malu melakukan perbuatan jahat ( Hiri )

7. Takut akibat-akibat perbuatan jahat ( Ottapa )

8. Berpengetahuan luas ( Bahusacca )

9. Semangat ( Viriya )

10. Sadar ( Sati )

11. Bijaksana ( Panna )

12. Jhana pertama ( Pathama Jhana )

13. Jhana kedua ( Dutiya Jhana )

14. Jhana ketiga ( Tatiya Jhana )

15. Jhana keempat ( Catuttha Jhana )


Dengan lima belas unsure-unsur tersebut, seseorang dapat merealisasi Nibbana. Oleh karena itu unsure-unsur itu disebut “laku-lampah”. Di dalam Majjhima Nikaya (I.355) dijelaskan secara terinci sebagai jalan untuk merealisasi Nibbana. Diresapi oleh pengetahuan dan laku lampah yang demikian, maka Sang Buddha dikatakan sebagai “Vijja-carana-sampanno”.

Lebih lanjut, kesempurnaan Pengetahuan membawa Sang Buddha kepada “Ke-Mahatahu-an” ( Sabbannuta-nana ) dan kesempurnaan laku-lampah kepada Maha-Karuna.

Dengan Vijja-sampanno, Ia mampu untuk mengerti keadaan dari semua makhluk. Kasih-sayang-NYa yang besar mendorong-Nya untuk memajukan mereka kedalam jalan yang berfaedah. Oleh sebab itu pengikut-pengikut Sang Buddha terbimbing dengan benar, tidak tersesat seperti siswa-siswa dari petapa-petapa / suciwan-suciwan lainnya, karena kurangnya pengetahuan (Vijja) dan laku-lampah (Carana) mereka.

d). Sugato

Setelah melalui jalan yang benar, Bhagava merealisasi Nibbana, karena itu Beliau disebut “SUGATA”, yang secara harafiah berarti “Yang-Telah-Merealisasi”. Ia telah pergi dengan bahagia sepanjang jalan itu, yaitu Jalan Mulia ( Ariya Magga ). Tanpa ragu-ragu Beliau telah melaluinya ke tempat yang aman. Jadi ia telah sampai dengan sempurna “pada tempat yang benar, keadaan tanpa kematian, “Amata” / “Amerta”.


e).Lokavidu

Sang Bhagava mengetahui alam semesta dalam semua segi, maka ia disebut “Pengenal Alam Semesta “ (Lokavidu) . Loka berarti alam-semesta. Alam semesta ini dikelompokkan menjadi :

a. Alam Benda ( Sankhara Loka )

b. Alam Makhluk Hidup ( Satta Loka )

c. Alam Tempat ( Okasa Loka )

Sang Bhagava mengetahui semua alam tersebut dengan segala isinya seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, manussa, deva, dan brahma, dengan segala kecenderungan, perbuatan dan kehendak mereka.

f). Anuttaropurisadhammasarati

Tidak ada makhluk lain di ala mini yang lebih suci darpiada Sang Buddha. Karena itu Sang Buddha diberi gelar “Tidak-ada-bandingnya” ( Anuttaro ). Beliau menuntukn (Sarathi) makhluk yang harus dijinakkan ( purisadhamma ) melatih mereka ( vinati ) dan menundukkan ( dameti ) seperti kusir ( sarata ) melatih kuda.

Disini “purisadhamma” berarti mereka ( manusia atau bukan ) yang belum dilatih dan yang pantas dilatih.

Ia juga mendidik mereka yang telah mendapat latihan, menerangkan pada mereka tentang Samadhi dan pencapaian-pencapaian lainnya, menganjurkan mereka menempuh jalan untuk kemajuan, menuntun mereka mencapai Arahat.

Oleh sebab itu Bhagava disebut “Kusir-yang-tidak-ada-bandingnya” atau “Pemimpin-mereka-yang-menuntun” ( Anuttaro Purisadhamma Sarati ).

g).Satta Devamanussanam

Beliau melatih makhluk-makhluk sesuai dengan watak mereka, melihat apa yang baik bagi mereka di dalam kehidupan ini dan akan datang.

Sebagai seorang Guru ( Sattha ), beliau bagaikan pemimpin kafilah ( Sattha vaha ), yang memimpin kafilah menyeberangi padang pasir, melalui sarang-sarang penyamun, melalui hutan-hutan yang didiami binatang-binatang liar, melalui daerah yang tidak berair membawa mereka ke tempat yang aman.

Demikian pula Bhagava membawa makhluk-makhluk ( dewa maupun manusia ) menyeberangi padang pasir samsara, melewati kelahiran, usia tua, kelapukan dan kematian. Serta membawa mereka dengan selamat ke Nibbana. Oleh sebab itu Beliau adalah Guru para Deva dan Manussa.

h).Buddho

Buddha adalah seseorang yang telah merealisasi “Pencerahan-Sempurna”. Sebutan bagi mereka yang telah menyadari kebebasan-Nya ( dari samsara ). Ia telah bangun dan membangunkan orang lain. Ia telah mencapai Pencerahan-Sempurna di bawah pohon Bodhi disertai “Ke-Mahatahu-an” (Sabbannuta-nana ). Jadi, Ia adalah BUDDHA, mencapai pencerahan-sempurna atas usahanya sendiri dan menjadikan orang lain merealisasi juga Pencerahan-Sempurna.

i). Bhagava

“Bhagava” adalah sebutan untuk menghormati dan memuji mereka yang paling mulia diantara semua makhluk, yang paling tinggi dalam kesucian.

Bhagava bukanlah suatu nama yang diberikan oleh orang tua atau keluarga tetapi diberikan pada BUDDHA, mereka yang telah mencapai Pencerahan-Sempurna, dengan “Ke-Mahatahu-an” di bawah pohon Bodhi. Bhagava menunjukkan telah berhasil dalam merealisasi sifat-sifat di atas makhluk biasa.

Kemudian, selain hal-hal yang sudah disebutkan diatas,  Seorang Samma-Sambuddha memiliki beberapa “ciri-ciri” yang lainnya, yaitu :

I. Dasabalabana (10 Kemampuan Pandangan Terang) :

1. Pandangan Terang tentang kemungkinan-kemungkinan dan ketidakmungkinan (thanathananana).
2. Pandangan Terang tentang akibat-akibat karma (vipakanana).
3. Pandangan Terang tentang praktik-praktik yang membawa pada bermacam-macam alam kehidupan (sabbatthagaminipatipadanana).
4. Pandangan Terang tentang susunan unsur-unsur kehidupan (banadhatunana).
5. Pandangan Terang tentang perbedaan kecenderungan-kecenderungan (nana-dhimuttikanana).
6. Pandangan Terang tentang perkembangan kemampuan-kemampuan makhluk (indriyaparopariyattinana).
7. Pandangan Terang tentang pencapaian Jhana dan kemundurannya karena ke-kotoran-kekotoran batin (jhanasankilesadinana).
8. Pandangan Terang tentang kelahiran-kelahiran sebelumnya (pubbenivasanus-satinana).
9. Pandangan Terang tentang kelahiran dan kematian makhluk-makhluk berda-sarkan perbedaan karma mereka (cutupapatanana).
10. Pandangan Terang yang menghancurkan kekotoran-kekotoran batin untuk se-ketika dan untuk selama-lamanya (asavakkhayanana).

II. Seorang Samma-Sambuddha memiliki 32 Tanda Istimewa Manusia Agung (Maha Purisa Lakkhana) sebagai berikut :

1. Telapak kaki rata (suppatitthita-pado).
2. Di telapak kaki terdapat lingkaran dengan seribu ruji, dengan bentuk lingkar dan pusat sempurna.
3. Bentuk tumit bagus (ayatapanhi).
4. Jari – jari panjang (dighanguli).
5. Tangan dan kaki : lembut dan halus (mudu-taluna).
6. Tangan dan kaki bagaikan jala (jala-hattha-pado).
7. Tulang pergelangan kaki seperti kulit kerang (ussankha-pado).
8. Kaki bagaikan kaki kijang (enijanghi).
9. Bila berdiri tanpa membungkukkan badan, dengan kedua tangan-Nya dapat menyentuh atau menggosok kedua lutut-Nya.
10. Alat kelamin terbungkus oleh selaput (kosohita-vatthaguyho).
11. Warna kulit bagaikan perunggu berwarna emas.
12. Kulit sangat licin sehingga tidak debu yang dapat melekat di tubuh-Nya.
13. Pada setiap pori-pori di kulit-Nya tumbuh sehelai bulu.
14. Rambut berwarna biru kehitan-hitaman tumbuh keriting ke atas berbentuk ling-karan kecil dengan arah berputar ke kanan.
15. Potongan tubuh yang agung (brahmujju-gatta).
16. Tujuh otot yang kuat (sattusado).
17. Dada bagaikan dada singa (sihapubbaddha-kayo).
18. Di kedua bahu tidak ada lekukan.
19. Potongan tubuh bagaikan pohon nigrodha (beringin). Tinggi tubuh-Nya sama dengan rentangan kedua tangan-Nya, begitu pula sebaliknya.
20. Bahu yang sama lebar (sama-vattakkhandho).
21. Indera perasa sangat peka (rasaggasaggi).
22. Rahang bagaikan rahang singa (sihabanu).
23. Gigi : empat puluh buah.
24. Gigi yang sama (sama-danto).
25. Gigi yang tetap (avivara-danto).
26. Gigi putih bersih.
27. Lidah panjang (pahuta-jivha).
28. Suara bagaikan suara brahma yang seperti suara burung karavika.
29. Mata biru.
30. Bulu mata bagaikan mata sapi (gopakhumo).
31. Di antara alis mata tumbuh (sehelai) rambut halus, putih bagaikan kapas yang halus.
32. Kepala bagaikan kepala berserban (unhisasiso).

III. Seorang Samma-Sambuddha mencapai dan membabarkan pengetahuan yang tidak pernah didengar sebelumnya ( berarti, sebelum munculnya seorang Buddha, ajaran tersebut belum pernah diajarkan siapapun ; ORIGINAL ).
Dalam Dhammacakkappavattana Sutta, pada saat membabarkan Empat Kebenaran Mulia ( Cattari Ariya-Saccani ), masing-masing dinyatakan sebagai berikut :

“Inilah Kebenaran Mulia tentang Dukkha. Demikianlah, o para bhikkhu, me-ngenai segala sesuatu (Dhamma) yang belum pernah saya dengar (pubbe ananussutesu) menjadi terang dan jelas ; timbullah pandangan, timbullah pe-ngetahuan, timbullah kebijaksanaan, timbullah penembusan, timbullah cahaya, … “.

IV. Semua Samma-Sambuddha mengajarkan Dhamma yang sama. Oleh sebab itu, maka sebelum ajaran seorang Samma-Sambuddha lenyap dari muka bumi ( dilupakan oleh semua manusia ), tidak akan mungkin muncul Sammasambuddha baru.


Saya rasa, Romo Hudoyo patut memperhatikan hal-hal tersebut diatas sebelum mengambil kesimpulan bahwa seseorang, dalam hal ini J.Krishnamurti, adalah seorang “BUDDHA”.

7. PENOLAKAN ROMO HUDOYO [ dengan halus ] AKAN AJARAN “ANATTA”

Secara halus, Romo Hudoyo menolak doktrin “Anatta” yang merupakan cirri-khas Buddha-Dhamma. Sebab ada “Atta” yang selalu muncul sebagai pikiran, keinginan, harapan, ketidaksenangan, dan lain sebagainya. Menurut Romo Hudoyo, Anatta tidak bisa dialami saat meditasi. Anatta hanyalah konsep belaka, begitu menurut Romo Hudoyo. Dan Romo Hudoyo sendiri menegaskan, disitulah ( penolakan Anatta ) perbedaan “ajaran” Romo Hudoyo dengan Ti-Lakkhana dalam ajaran Sang Buddha Gotama.

Itulah sebabnya dalam retret MMD saya tidak pernah mengajarkan ‘anatta’ lagi … Saya mengajarkan karakteristik yang dalam agama Buddha disebut ‘anicca’ & ‘dukkha’ … lalu ‘atta’ yang selalu muncul sebagai pikiran, keinginan, harapan, ketidaksenangan dsb. … ‘Atta’ ini yang melekat kepada segala sesuatu yang ‘anicca’ sehingga terjadilah ‘dukkha’. … (Sudah tentu saya tidak menggunakan kata-kata Pali itu kalau pesertanya non-Buddhis.) …

Saya tidak pernah lagi mengajarkan tilakkhana sebagai kombinasi ‘anicca, dukkha, anatta’ … alih-alih, saya mengajarkan ‘anicca, dukkha, atta’ karena hanya inilah yang bisa kita alami dalam meditasi. …

‘Anatta’ tidak bisa kita alami dalam meditasi, ‘anatta’ cuma konsep dari ingatan/pikiran yang mencampuri meditasi sehingga orang tidak melihat ‘anicca, dukkha & atta’ seperti apa adanya. … Selanjutnya, ‘anicca, dukkha & atta’ itu akan lenyap bila pikiran & aku berhenti (khanika-samadhi), sekalipun cuma untuk sementara. … DI SINILAH PERBEDAAN AJARAN SAYA DENGAN KONSEP TILAKKHANA yang pervasif di dalam Tipitaka Pali … ini perbedaan pengertian seorang praktisi MMD dengan praktisi vipassana tradisional atau umat Buddha yang hanya menghafal konsep tilakkhana.

Salam,
hudoyo

[ Sumber =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=6 ]


Ketika seorang ummat Buddha berdiskusi dengan Romo Hudoyo, dan menyatakan saat bervipassana ia melihat Ti-Lakkhana, Romo Hudoyo kembali menegaskan bahwa itu hanyalah tafsiran dari pikiran ummat Buddha tersebut.

Tetapi ketika Anda berkata “… disitulah saya memahami anicca, dukha dan anatta …”, itu tidak lain adalah tafsiran pikiran yang muncul kembali yang menggunakan konsep tilakkhana … terutama tentang ‘anatta’, karena menurut hemat saya, tidak seorang pun puthujjana bisa melihat ‘anatta’ secara otentik; hanya seorang arahat bisa mengalami anatta. …

Itu tentang ‘anicca’ & ‘dukkha’. … Lain lagi dengan ‘anatta’ … tidak ada pencerahan tentang ‘anatta’. … ‘Anatta’ hanya dialami oleh seorang arahat. … Karena Anda belum arahat, maka dalam meditasi Anda tidak mungkin Anda mengalami ‘anatta’. …

Sumber =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=6


Mungkin statement yang terakhir ini ~”Anatta” hanya dialami oleh seorang Arahat~ lebih “lentur” dibandingkan statement yang pertama diatas ketika Romo Hudoyo dengan tegas menolak konsep “Anatta” dan dengan itu meyakinkan bahwa disitulah letak perbedaan “ajaran” beliau dengan ajaran Buddha-Dhamma umumnya. Tetapi, meskipun terlihat lebih “lentur”, statement tersebut tetap mengandung “cacat” dan menunjukkan perbedaannya dengan apa  yang diajarkan dalam Buddha-Dhamma.

Di satu sisi saya setuju dengan Romo Hudoyo, bahwa seorang puthujjana, atau menurut saya lebih tepatnya adalah seorang “assutava puthujjana” ( manusia biasa yang tidak belajar ) / manusia-duniawi-biasa, yang tidak memiliki pencapaian spiritual maupun pembelajaran di dalam Buddha-Dhamma, ia dikuasai oleh berbagai macam kekotoran batin dan pandangan-pandangan salah. Dan assutava-puthujjana seperti ini memang tidak bisa melihat “anatta” ( ke-tanpa-diri-an atau / tidak-adanya-AKU ).

Namun , disisi lain saya tidak sependapat dengan Romo Hudoyo yang menyatakan bahwa HANYA seorang Arahat saja yang bisa mengalami “Anatta”. Sebab, ketika seseorang telah merealisasikan tingkat kesucian yang pertama, yaitu Sotapatti-Magga-Phala, maka disaat itu dia telah “melihat” / “mengalami” Anatta, karena ia pun saat itu telah mencabut / mematahkan ketiga belenggu pertama :

1. Sakkaya-ditthi ; Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa, atau “AKU” yang kekal , anggapan tentang adanya “Diri”, “Pribadi”, “Aku”.

2. Vicikiccha ; Keragu-raguan yang skeptis pada Sang-Ti-Ratana : Buddha, Dhamma, Sangha.

3. Silabbata-paramasa ; Kemelekatan pada suatu kepercayaan bahwa hanya dengan melaksanakan aturan-aturan dan upacara keagamaan seseorang dapat mencapai kebebasan.

Seorang praktisi vipassana, setelah mencapai ketiga-kesucian :

I.Sila Visuddhi ( Kesucian-Sila )

II.Citta-Visuddhi ( Kesucian-Pikiran )

III. Ditthi-Visuddhi ( Kesucian-Pandangan )

Akan mencapai pengetahuan / “insight” yang disebut dengan “Nama-Rupa Pariccheda Nana”, yaitu diraihnya pengertian secara langsung mengenai perbedaan nama ( batin ) dan rupa ( jasmani ). Disaat itu, baik nama ( batin ) maupun rupa ( jasmani ) akan ia lihat dengan jelas sebagai nama (batin) dan rupa (jasmani) saja, tanpa adanya lagi konsep “roh” didalamnya .

Setelah mencapai “Kesucian dengan Mengatasi Keraguan” ( Kankhavitaranavisuddhi ) yang dicapai setelah diperolehnya “Paccaya Pariggaha Nana”, maka sebelum mencapai “Kesucian dengan Pengetahuan dan Pandangan mengenai Jalan dan Bukan Jalan” ( Maggamaggananadassanavisudhi ), seorang praktisi vipassana akan mencapai “Sammasana Nana” ( Pengetahuan dengan pemahaman ), yaitu melihat ti-lakkhana ( anicca,dukkha, anatta ) dengan jelas.

Sehingga, bahkan ketika seorang praktisi vipassana belum merealisasi Sotapatti-Magga-Phala sekalipun, namun ia telah mencapai “Kesucian dengan Mengatasi Keraguan “ ( ( Kankhavitaranavisuddhi ) , ia akan mendapatkan “insight” berupa pengetahuan dengan pemahaman mengenai tiga-corak-umum : Anicca-Dukkha-Anatta. Seharusnya sebagai seorang “Guru” Vipassana dan seorang Romo / Pandhita, Romo Hudoyo memahami hal ini.

Originally Posted by semar00

Lihat saya apa yang tampak melalui pancaindra, bukan hanya apa yang ada diluar, tetapi yang lebih penting ialah apa yang ada di dalam batin. …

Nanti akan terlihat jelas si aku itu sebagai penggerak utama dari eksistensi Anda …

Salam,
hudoyo

Sumber :

http://www.kaskus.us/showthread.php?p=43677304

Apakah ketika Romo Hudoyo menyatakan adanya “Aku” sebagai penggerak-utama dari eksistensi makhluk-manusia ini, Romo Hudoyo sedang “khilaf” ? Saya harap demikian. Sebab, bila pernyataan itu dilakukan dengan sadar dan memang sungguh demikianlah pandangan Romo, maka dengan demikian bisa disimpulkan bahwa Romo Hudoyo telah “memisahkan-diri” dari ajaran “Dhamma” Sang Buddha. Mengapa ? sebab, satu hal yang membuat Buddha-Dhamma “UNIQUE” sehingga berbeda dengan ajaran-ajaran lain adalah karena penolakannya terhadap semua doktrin mengenai diri. Sang Buddha bersabda :

“ Walaupun seorang petapa atau brahmana menyatakan mengemukakan pemahaman penuh mengenai semua jenis kemelekatan, namun mereka tidak sepenuhnya menggambarkan pemahaman penuh mengenai semua jenis kemelekatan. Mereka menggambarkan pemahaman penuh mengenai kemelekatan terhadap kesenangan indera, kemelekatan terhadap peraturan dan pantangan, namun tanpa menggambarkan pemahaman penuh mengenai kemelekatan terhadap doktrin tentang diri. Mereka tidak memahami satu jenis kemelekatan ini seperti apa adanya. Maka dari itu, mereka menggambarkan hanya pemahaman penuh mengenai kemelekatan terhadap kesenangan indera, kemelekatan terhadap pandangan-pandangan, kemelekatan terhadap peraturan dan pantangan, namun tanpa menggambarkan pemahaman penuh mengenai KEMELEKATAN TERHADAP DOKTRIN TENTANG DIRI.” [ Culasihanada Sutta ; Majjhima-Nikaya, sutta ke-11 ]

Sabda Sang Buddha tersebut diatas  dengan jelas menyatakan bahwa factor-kritis yang membedakan ajaran Sang Buddha dari semua pandangan keagamaan dan filsafat lain adalah “pemahaman penuh Beliau mengenai kemelekatan terhadap doktrin tentang diri.” Akibatnya, hal ini berarti bahwa hanya Sang Buddha sendiri yang dapat menunjukkan bagaimana cara menanggulangi semua pandangan tentang diri lewat pengembangan penembusan kebenaran akan tanpa-diri. Karena guru-guru spiritual lain tidak memiliki pemahaman mengenai “tanpa-diri” ( Anatta ) ini, maka pernyataan-pernyataan bahwa mereka telah sepenuhnya memahami tiga jenis kemelekatan yang lainnya ( kemelekatan terhadap kesenangan indera, kemelekatan terhadap pandangan-pandangan, kemelekatan terhadap peraturan dan pantangan ) juga menjadi meragukan.

Romo Hudoyo, siapakah yang anda maksudkan dengan “Si AKU” yang menjadi penggerak “makhluk” manusia itu ?  Romo sebagai seorang ummat Buddha mazhab Theravada seharusnya sudah memahami, bahwa tidak ada “actor” / “individu” apapun yang bisa disebut sebagai “Aku”, sebagai “pelaku”. Kehendak ( cetana ) itu sendirilah si pelaku. Kecuali keadaan murni mental ( suddhadkamma ) ini tidaklah ada seorangpun yang menjadi “actor”.

Yang Ariya Bhikkhu Buddhaghosa menulis dalam Visudhi-Magga :

“ Tak ada pelaku yang menjalankan perbuatan,

Ataupun seseorang merasakan buahnya,

Hanyalah suku cadang penunjang yang bergulir terus,

Inilah sesungguhnya yang betul.”

[ dikutip dari “Sang Buddha dan Ajaran-ajaran-Nya” , penulis Bhante Narada Mahathera ]

Sebagaimana Sang Buddha menyatakan “Hanya Dukkha yang terjelma, tiada seorang penderita pun yang berada; segala perubahan terjadi, tetapi pembuat perubahan itu tidak tertemukan; ada Nirvana, tetapi tak seorangpun yang memasukinya; Ada jalan, tetapi tak seorang pengunjungpun yang melewatinya. “
(Visuddhi Magga. XVI).
Jadi dengan ini sangat jelas bahwa Sang Buddha mengajarkan tidak-adanya “Si AKU” yang menggerakkan eksistensi makhluk-manusia ( dan makhluk-makhluk lainnya ).

8. PENOLAKAN ROMO HUDOYO TERHADAP KEBENARAN  ISI TI-PITAKA

Dalam sebuah disksusi antara Hendra Susanto dengan Hudoyo di situs Kaskus :

Originally Posted by Hendra Susanto

gunakan pikiran mu ;D apakah sahih atau tidak menyangkal salah satu sutta, jgn kita ehipassiko keblinger yg akhirnya sok tau

Sutta-sutta yang ditulis empat ratus tahun setelah Sang Buddha wafat, di sana-sini patut dipertanyakan isinya yang bertentangan dengan pemahaman seorang pemeditasi … apakah tidak kemasukan opini bhikkhu-bhikkhu penghafal Tipitaka sebelum sutta itu dituliskan.

[ Sumber =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=6 ]

Originally Posted by Kelana

Nah ini dia Sdr. Kainyn_Kutho, salah satu pihak tidak ingin membahas materi-materi secara objektif tapi justru membiaskannya dengan pengalaman pribadi (subyektif), contohnya dalam forum Sutta yang seharusnya objektif.

Apa yang Anda maksud dengan “obyektif”? Apakah “sutta dalam keadaannya harus diimani sebagai berasal dari mulut Sang Buddha”? … Tidah usah, ya.

[ Sumber =

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878014&page=6]

Alasan penolakan Romo Hudoyo terhadap kebenaran sutta-sutta, adalah karena menurut Romo Hudoyo sutta-sutta dalam Ti-Pitaka ditulis empat-ratus (400) tahun setelah Sang Buddha parinibbana. Sehingga menurut Romo Hudoyo, isi sutta-sutta tersebut patut dipertanyakan kebenarannya.

Yang aneh, dilain kesempatan Romo Hudoyo mengatakan bahwa Ti-Pitaka “ditulis-orang” tiga-ratus (300) tahun setelah Sang Buddha Parinibbana.

Kitab Tipitaka Pali bukanlah hasil rekaman verbatim dari kaset atau stenografi khotbah Sang Buddha, melainkan ditulis orang 300 tahun setelah
wafatnya Buddha
dari penuturan lisan yang dihafalkan turun-temurun, sehingga dalam Sutta-pitaka terjadilah bentuk-bentuk khotbah yang kaku,
penuh pengulangan dan ganjil, yang jelas bukanlah cara Sang Buddha berkhotbah sesungguhnya.

Sumber =

http://groups.yahoo.com/group/milis-spiritual/message/20890

Yang harus diluruskan terlebih dahulu adalah, pernyataan “ditulis-orang” serta kata “wafat” yang digunakan untuk menunjuk “Parinibbana” Sang Buddha

Frasa “orang” sebagai kata penunjuk subjek “penulis” Ti-Pitaka sangat bias, karena, “orang” bisa berarti : juru-tulis, tukang-kayu, nelayan, petani, pelajar, bangsawan, dan lain-lain “orang”. Dalam hal penyusunan Ti-Pitaka, Romo Hudoyo tentunya tahu, bahwa yang menyusun Ti-Pitaka ini adalah para “Arahat” ; yang telah merealisasi kesucian-tertinggi. Penggunaan kata “Arahat” ini penting ditekankan, untuk menunjukkan bahwa penyusun Ti-Pitaka tersebut bukan “orang” dalam pengertian : juru-tulis, tukang-ketik, tukang-kayu, dan lain-lain “orang” yang belum meralisasi kesucian tertinggi.

Mengenai kata “wafat” ; benarkah Sang Buddha “wafat”. Kata wafat digunakan untuk manusia kebanyakan, yang meskipun kata ini digunakan untuk orang yang dihormati ( sehingga tidak digunakan kata “mati”, “mampus”, “meninggal” ), namun memiliki pengertian yang sangat berbeda dengan “Parinibbana” ( Nibbana-Sempurna ) yang seyogyanya digunakan untuk menunjukkan “Wafat”-nya seorang Buddha ( dalam hal ini Buddha Gotama ), dimana ketika tubuh-fisik tersebut “padam”, maka batin sekaligus dibebaskan dari penderitaan-jasmaniah, ini disebut dengan “Anupadisesa-Nibbana”.

Atau mungkin, sebenarnya Romo Hudoyo memahami terminology Buddhist ini , tapi lebih memilih menggunakan kata “orang” untuk menggantikan para “Arahanta” yang menyusun Ti-Pitaka, dan menggunakan sekedar kata “wafat” untuk menunjukkan “Parinibbana” Sang Buddha ? Ini yang sebaiknya diklarifikasi oleh Romo Hudoyo.

Riwayat penyusunan Ti-Pitaka ini pun seharusnya Romo sudah mengetahuinya. Lalu , bagaimana bisa Romo “bingung” atau “lupa”, tepatnya kapan Ti-Pitaka itu disusun oleh “orang” yang Romo maksud tersebut ; pertama-tama Romo Hudoyo menyatakan Ti-Pitaka ditulis “orang” setelah 400 tahun Sang Buddha “wafat”, dilain kesempatan berubah lagi dan menyatakan Ti-Pitaka ditulis “orang” 300 tahun setelah Sang Buddha “wafat”.

Ada beberapa bagian dari Tipitaka Pali yang saya ragukan kebenarannya. … Yang paling mencolok adalah di dalam Mahaparinibbana-sutta, di mana Sang
Buddha dikisahkan bersabda, bahwa di dalam ajaran mana pun yang tidak mengandung Jalan Mulia Berfaktor Delapan tidak mungkin ada pembebasan. …
Dengan kata lain, di situ ditampilkan Sang Buddha mengklaim bahwa hanya di dalam ajarannya sendiri mungkin tercapai pembebasan, di luar ajaran Buddha
tidak mungkin ada pembebasan: ajaranku paling benar, semua ajaran lain salah.

Saya tidak percaya itu.

Salam,

hudoyo

Sumber =

http://groups.yahoo.com/group/semedi/message/17515

Menurut hemat saya, “sabda Sang Buddha” dalam Mahaparinibbana-sutta tsb disisipkan oleh bhikkhu-bhikkhu penghafal Tipitaka sebelum kitab suci itu
dituliskan ratusan tahun kemudian.
Maksudnya sih baik, menjunjung tinggi ajaran Sang Guru, tapi tidak cocok dengan pencerahan zaman sekarang.

Salam,

hudoyo

[ Sumber =

http://groups.yahoo.com/group/semedi/message/17515 ]

Selain menolak kebenaran isi sutta-sutta dalam Ti-Pitaka, Romo Hudoyo juga selalu menolak pentingya “Abhidhamma” untuk dipelajari. Baginya, Abhidhamma tidak relevan bagi seorang praktisi vipassana, sebagaimana tidak pentingnya sutta-sutta Sang Buddha seperti yang sudah ia nyatakan diatas.

“ Tapi dalam kesadaran vipassana, Abhidhamma-pitaka tidak relevan, sebagaimana seluruh kitab-kitab suci lainnya tidak relevan.”


Sumber =

http://groups.yahoo.com/group/semedi/message/5509

Syukurlah jika Abhidhamma bisa “mengikis kebiasaan2 buruk Anda”. … Saya sendiri tidak mendapat manfaat apa-apa sama sekali dari Abhidhamma yang pernah saya hafalkan beberapa puluh tahun lalu (Abhidhammattha-sangaha); bagi saya, Abhidhamma hanya merupakan pengetahuan pikiran (knowledge) yang menghalangi vipassana, yang justru mengamati pikiran dengan segala isinya sampai pikiran itu berhenti dengan sendirinya. … Anda melakukan meditasi rutin? Meditasi apa, kalau boleh saya tahu? …

[ Sumber =

http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=3803.0;wap2 ]

Pengalaman saya justru sebaliknya: Abhidhamma tidak kompatibel sama sekali dengan vipassana. Yang satu menggunakan pikiran sebagai instrumennya, yang lain justru mengamati pikiran itu sampai berhenti dengan sendirinya. Menurut saya, tidak mungkin orang mempelajari Abhidhamma dan menjalankan vipassana sekaligus; dia harus memilih salah satu.

[ Sumber =

http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=3803.0;wap2 ]

Menimbang kuatnya keraguan Romo Hudoyo terhadap kebenaran isi Ti-Pitaka, dan kerancuan pengertian Romo Hudoyo mengenai sejarah tersusunnya Ti-Pitaka, ada baiknya kita mengulang pelajaran sejarah disusunnya Ti-Pitaka. Dibawah ini saya sajikan sejarah penyusunan Ti-Pitaka, yang saya ambil dari sumber = http://www.secangkirteh.com/forum/index.php?topic=1555.0;wap2

Beberapa minggu setelah Sang Buddha wafat (483 SM) seorang Bhikkhu tua yang tidak disiplin bernama Subhaddha berkata : “Janganlah bersedih kawan-kawan, janganlah meratap, sekarang kita terbebas dari Pertapa Agung yang tidak akan lagi memberitahu kita apa yang sesuai untuk dilakukan dan apa yang tidak, yang membuat hidup kita menderita, tetapi sekarang kita dapat berbuat apa pun yang kita senangi dan tidak berbuat apa yang tidak kita senangi” (Vinaya Pitaka II,284). Maha Kassapa Thera setelah mendengar kata-kata itu memutuskan untuk mengadakan Pesamuan Agung (Konsili) di Rajagaha.

Dengan bantuan Raja Ajatasattu dari Magadha, [ tiga (3) bulan setelah Sang Buddha Parinibbana~pen. ] 500 orang Arahat berkumpul di Gua Sattapanni dekat Rajagaha untuk mengumpulkan ajaran Sang Buddha yang telah dibabarkan selama ini dan menyusunnya secara sistematis. Yang Ariya Ananda, siswa terdekat Sang Buddha, mendapat kehormatan untuk mengulang kembali kotbah-kotbah Sang Buddha dan Yang Ariya Upali mengulang Vinaya (peraturan-peraturan). Dalam Pesamuan Agung Pertama inilah dikumpulkan seluruh ajaran yang kini dikenal sebagai Kitab Suci Tipitaka (Pali). Mereka yang mengikuti ajaran Sang Buddha seperti tersebut dalam Kitab Suci Tipitaka (Pali) disebut Pemeliharaan Kemurnian Ajaran sebagaimana sabda Sang Buddha yang terakhir: “Jadikanlah Dhamma dan Vinaya sebagai pelita dan pelindung bagi dirimu”.

Pada mulanya Tipitaka (Pali) ini diwariskan secara lisan dari satu generasi ke genarasi berikutnya. Satu abad kemudian terdapat sekelompok Bhikkhu yang berniat hendak mengubah Vinaya. Menghadapi usaha ini, para Bhikkhu yang ingin mempertahankan Dhamma – Vinaya sebagaimana diwariskan oleh Sang Buddha Gotama menyelenggarakan Pesamuan Agung Kedua dengan bantuan Raja Kalasoka di Vesali, di mana isi Kitab Suci Tipitaka (Pali) diucapkan ulang oleh 700 orang Arahat. Kelompok Bhikkhu yang memegang teguh kemurnian Dhamma – Vinaya ini menamakan diri Sthaviravada, yang kelak disebut Theravada. Sedangkan kelompok Bhikkhu yang ingin mengubah Vinaya menamakan diri Mahasanghika, yang kelak berkembang menjadi mazhab Mahayana. Jadi, seabad setelah Sang Buddha Gotama wafat, Agama Buddha terbagi menjadi 2 mazhab besar Theravada dan Mahayana.

Pesamuan Agung Ketiga diadakan di Pattaliputta (Patna) pada abad ketiga sesudah Sang Buddha wafat (249 SM) dengan pemerintahan di bawah Kaisar Asoka Wardhana. Kaisar ini memeluk Agama Buddha dan dengan pengaruhnya banyak membantu penyebarkan Dhamma ke suluruh wilayah kerajaan. Pada masa itu, ribuan gadungan (penyelundup ajaran gelap) masuk ke dalam Sangha dangan maksud meyebarkan ajaran-ajaran mereka sendiri untuk meyesatkan umat. Untuk mengakhiri keadaan ini, Kaisar menyelenggarakan Pesamuan Agung dan membersihkan tubuh Sangha dari penyelundup-penyelundup serta merencanakan pengiriman para Duta Dhamma ke negeri-negeri lain.

Dalam Pesamuan Agung Ketiga ini 100 orang Arahat mengulang kembali pembacaan Kitab Suci Tipitaka (Pali) selama sembilan bulan. Dari titik tolak Pesamuaan inilah Agama Buddha dapat tersebar ke suluruh penjuru dunia dan terhindar lenyap dari bumi asalnya.

Pesamuan Agung keempat diadakan di Aluvihara (Srilanka) di bawah lindungan Raja Vattagamani Abhaya pada permulaan abad keenam sesudah Sang Buddha wafat (83 SM). Pada kesempatan itu Kitab Suci Tipitaka (Pali) dituliskan untuk pertama kalinya. Tujuan penulisan ini adalah agar semua orang mengetahui kemurnian Dhamma Vinaya.

Selanjutnya Pesamuan Agung Kelima diadakan di Mandalay (Burma) pada permulaan abad 25 sesudah Sang Buddha wafat (1871) dengan bantuan Raja Mindon. Kejadian penting pada waktu itu adalah Kitab Suci Titpitaka (Pali) diprasastikan pada 727 buah lempengan marmer (batu pualam) dan diletakkan di bukit Mandalay.

Persamuan Agung keenam diadakan di Rangoon pada hari Visakha Puja tahun Buddhis 2498 dan berakhir pada tahun Buddhis 2500 (tahun Masehi 1956). Sejak saat itu penterjemahan Kitab Suci Tipitaka (Pali) dilakukan ke dalam beberapa bahasa Barat.

Sebagai tambahan pengetahuan dapat dikemukakan bahwa pada abad pertama sesudah Masehi, Raja Kaniska dari Afganistan mengadakan Pesamuan Agung yang tidak dihadiri oleh kelompok Theravada. Bertitik tolak pada Pesamuaan ini, Agama Buddha mazhab Mahayana berkembang di India dan kemudian meyebar ke negeri Tibet dan Tiongkok. Pada Pasamuan ini disepakati adanya kitab-kitab suci Buddhis dalam Bahasa Sansekerta dengan banyak tambahan sutra-sutra baru yang tidak terdapat dalam Kitab Suci Tipitaka (Pali).

Dengan demikian, Agama Buddha mazhab Theravada dalam pertumbuhannya sejak pertama sampai sekarang, termasuk di Indonesia, tetap mendasarkan penghayatan dan pembabaran Dhamma – Vinaya pada kemurnian Kitab suci tipitaka (Pali) sehingga dengan demikian tidak ada perbedaan dalam hal ajaran antara Theravada di Indonesia dengan Theravada di Thailand, Srilanka, Burma maupun di negara-negara lain.

Sampai abad ketiga setelah Sang Buddha wafat mazhab Sthaviravada terpecah menjadi 18 sub mazhab, antara lain: Sarvastivada, Kasyapiya, Mahisasaka, Theravada dan sebagainya. Pada dewasa ini 17 sub mazhab Sthaviravada itu telah lenyap. Yang masih berkembang sampai sekarang hanyalah mazhab Theravada (ajaran para sesepuh). Dengan demikian nama Sthaviravada tidak ada lagi. Mazhab Theravada inilah yang kini dianut oleh negara-negara Srilanka, Burma, Thailand, dan kemudian berkembang di Indonesia dan negara-negara lain.

[ Disusun oleh: Dhamma Study Group Bogor ]

Romo Hudoyo sebagai seorang ummat Buddha mazhab Theravada selalu menolak kebenaran isi Ti-Pitaka ( termasuk dengan tegas menolak “Empat Kesunyataan Mulia” beserta “Jalan Ariya Beruas Delapan” ), tetapi anehnya justru di berbagai kesempatan senantiasa membela “kebenaran” buku-buku yang berisi sabda J.Krishnamurti, seperti misalnya pernyataannya dibawah ini :

Salah satu ajaran JK ialah bahwa kebenaran tidak dapat ditangkap oleh kata-kata. "Kata bukanlah bendanya."

Ajaran ini perlu dipelihara kelestariannya. Cara memelihara kelestariannya ialah dengan mempertahankan agar ajaran ini tetap terungkap dengan kata-kata aslinya sebagaimana diucapkan oleh JK. Bukan berarti bahwa kata-katanya itu sakral dsb--"kata bukanlah bendanya"--melainkan keaslian ini dipertahankan agar setiap orang dapat menimba sendiri dari sumber aslinya, dan menginterpretasikannya sendiri sesuai dengan pengalaman batinnya sendiri. -- Di zaman sekarang dengan adanya alat perekam, itu bukan suatu kemustahilan.

Jadi, kata-kata JK sama sekali tidak bisa mentransformasikan. Yang mentransformasikan adalah kesadaran orang itu sendiri. Sedangkan kata-kata JK hanyalah cermin kosong yang bisa dipakai oleh orang itu untuk melihat ke dalam batinnya sendiri. Cermin JK bisa dipakai; atau orang bisa memakai cermin lain, asal betul-betul cermin yang polos (bukan cermin yang sudah ada gambarannya) untuk melihat ke dalam batin sendiri.

Kita telah melihat apa yang terjadi dengan sabda-sabda Sang Buddha. Tahukah kita sekarang, mana yang asli dan mana yang tafsiran? Jelas tidak, karena jelas sutta-sutta itu bukan rekaman verbatim dari apa yang dikatakan oleh Buddha. Jadi, mungkin saja dalam menghafalkan dan membakukan (stilisasi) suta-sutta telah terjadi penekanan-penekanan ke arah tertentu, apalagi kalau menyentuh sudut pandang metafisikal. -- Mungkin itu pula yang menyebabkan munculnya Mahayana, sebagai reaksi terhadap penafsiran kearah tertentu dari pihak Sthaviravada (Theravada) di zaman dulu.

sumber =


http://www.usenet.com/newsgroups/soc.culture.indonesia/msg03344.html


Sebagai catatan dari saya, sebenarnya, setiap orang berhak memiliki pandangan spiritualnya masing-masing. Namun, bila seorang Romo Buddhist menganjurkan para ummat Buddha untuk tidak lagi menganggap penting ajaran-ajaran Buddha ( terutama ajaran utama yang berupa “Empat Kesunyataan Mulia” dan “Jalan Ariya Beruas Delapan” ) dan secara langsung maupun tidak langsung “menganjurkan” ummat Buddha untuk meninggalkan ajaran-ajaran yang tidak lagi dianggap penting tersebut, maka jelas ini akan menjadi persoalan yang tidak bisa diterima oleh kalangan Buddhist manapun juga. Akan jauh berbeda pesoalannya, bila yang menyatakan / menganjurkan hal-hal tersebut adalah pemuka agama lain diluar Buddha-Dhamma atau ummat agama lain, maka ummat Buddha pasti tidak akan mempermasalahkannya, karena setiap orang berhak memiliki pandangan-pandangan spiritualnya sendiri.

KESIMPULAN

Dari review atas delapan (8) point pandangan-menyimpang Romo Hudoyo tersebut, maka saya tidak menyalahkan rekan-rekan Buddhis yang tergabung dalam management Dhammacitta.org khususnya dan banyak ummat Buddha lainnya yang kemudian mengambil garis-batas pemisah antara ajaran Romo Hudoyo dengan Buddha-Dhamma. Melihat memang betapa menyimpangnya pandangan-pandangan Romo Hudoyo tersebut, saya juga sepakat, bahwa apa yang Romo Hudoyo ajarkan, bukanlah ajaran Buddha.

Dan juga, dengan meninjau buah-pikir Romo Hudoyo yang sedemikian, maka saya menyimpulkan Romo Hudoyo memang telah ber-“Pandangan-Salah” ( micha-ditthi ) . Kesimpulan ini setidaknya berdasarkan kedua hal berikut ini  :

1. Dengan menolak “Empat-Kesunyataan-Mulia”, maka Romo-Hudoyo menolak bahwa hidup ini adalah dukkha, menolak bahwa nafsu-keinginan (tanha) akan menyebabkan dukkha, menolak bahwa Nibbana merupakan akhir dari dukkkha ( bahkan Romo Hudoyo menegaskan “berhentinya-pikiran” seperti yang diajarkan J.Krishnamurti adalah “akhir-dukkha” ), dan menolak bahwa Jalan Ariya Beruas Delapan mengantarkan semua makhluk pada pembebasan-sempurna dari samsara / akhir dari dukkha. Dan ini semua adalah “pandangan-salah”.

2. Dengan menyatakan bahwa “Anatta” hanyalah konsep pikiran semata, dan tidak bisa dialami oleh para yogi, serta kemudian mengajarkan para yogi untuk tidak lagi mengamati Ti-Lakkhana : Anicca, Dukkha, Anatta, namun sebaliknya sangat menganjurkan para yogi untuk mengamati : Anicca, Dukkha, dan, ATTA ( adanya si “Aku” yang menggerakkan existensi manusia, demikian kata Romo Hudoyo ). Ini adalah pandangan-salah ( sebab menganggap adanya “Aku” yang menjadi “actor” dalam diri, dimana pandangan ini akan membelenggu manusia untuk merealisasi pembebasan-sempurna dari samsara  ).

Apa yang diajarkan oleh Romo Hudoyo, lebih tepat disebut sebagai ajaran J.Krishnamurti ketimbang ajaran Buddha-Dhamma ( meskipun dalam sejarahnya, J.Krishnamurti sendiri semasa mudanya mempelajari Buddha-Dhamma , sehingga tidak mengherankan bahwa semua isi ajarannya menjadi sangat “identik” dengan Buddha-Dhamma, walau ia menolak mengakuinya ).  Hal ini ( pengajaran ajaran J.Krishnamurti ) sesungguhnya tidak menjadi masalah, jika Romo Hudoyo bukanlah seorang Pandhitta Buddhist atau setidaknya tidak membawa bendera dan atribut Buddhisme apapun juga dalam setiap gerak-langkahnya menyebarkan ajaran praktik “MMD” yang diusung-usungnya tersebut. Namun, karena Dr.Hudoyo Hupudhio Mph., menggunakan atribut Buddhisme ( seperti misalnya pemakaian gelar Romo / Pandhita ) dalam menyebarkan ajarannya maka ia kemudian menjadi  sering menghadapi benturan-benturan dengan ummat Buddha sendiri, missal = dianggap menyebarkan ajaran “menyimpang”, atau yang lebih parah dianggap ingin “merusak” kemurnian ajaran Buddha.

Solusi terbaik yang bisa ditawarkan adalah, Dr.Hudoyo Hupudhio Mph. melepaskan segala atribut Buddhisme  yang ia bawa dan kaitkan dengan ajaran “MMD”-nya. Dengan demikian, semakin lebih terlihat bahwa itu memang “pure” ajaran J.Krishnamurti, yang mungkin memang terdapat kesamaan-kesamaan dengan ajaran-ajaran Buddha dalam setiap pandangan-pandangan J.Krishnamurti ( sebagaimana J.Krishnamurti sendiri mengakui, bahwa diantara semua Guru, ia merasa paling dekat dengan Sang Buddha Gotama ). Menurut saya, ini adalah langkah paling aman dan tidak bermasalah yang bisa ditempuh Romo Hudoyo.

Semoga pembahasan wacana ini bermanfaat bagi kita semua. Semoga semua ummat Buddha bisa memahami Dhamma Sang Buddha dengan benar dan baik, dengan tetap penuh kewaspadaan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Minggu, 26 Juli  2009

Posted in BUDDHA, Dhamma dan Adhamma, Diskusi Ummat Buddha, Dr.Hudoyo Hupudhio Mph., Meditasi Mengenal Diri, MMD, Penyimpangan Ajaran Buddha, Romo Hudoyo, Siapakah Romo Hudoyo Hupudhio | 104 Comments »

HUKUM KARMA ( Kamma-Niyama )

Posted by ratanakumaro pada Juli 5, 2009

“ KAMMASSAKOMHI,

[Aku adalah pemilik perbuatanku sendiri,]

KAMMADAYADO,

[Terwarisi oleh perbuatanku sendiri,]

KAMMAYONI,

[Lahir dari perbuatanku sendiri,]

KAMMABANDHU,

[Berkerabat dengan perbuatanku sendiri,]

KAMMAPATISARANO.

[Tergantung pada perbuatanku sendiri,]

YAM KAMMAM KARISSAMI

[Perbuatan apa pun yang akan kulakukan,]

KALYANAM VA PAPAKAM VA,

[Baik atau pun buruk,]

TASSA DAYADO BHAVISSAMI.

[Perbuatan itulah yang akan kuwarisi.]

EVAM AMHEHI ABHINHAM PACCAVEKKHITABBAM.”

[Demikian hendaknya kerap kali kita renungkan.] “

……………………………………………………………………………………………………………………………..

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”

[tikkhattum ; 3x]

( Tulisan ini merupakan resume mengenai pelajaran Hukum-Karma dari buku-buku : [1.] “Intisari Agama Buddha”, penulis Bhante Narada Mahathera ;   [ 2.]  “Sang Buddha dan Ajaran-ajaran-Nya”, bag.2, penulis : Bhante Naradha Mahathera ;     [3.]  Abhidhammatthasangaha, disusun oleh Pandit J.Kaharuddin ;    [4.]   Kajian Tematis Agama Kristen dan Agama Buddha ; penulis Djoko Mulyono,Petrus Santoso dan Kristiyanto Liman. )


Namatthu Buddhassa

Seorang pemuda pencari kebenaran bernama Subha yang bimbang oleh sesuatu yang tampaknya tak dapat diterangkan mengenai perbedaan yang ada diantara umat manusia, menghadap Sang Buddha dan bertanya tentang hal itu :

“ Apakah alasannya, apakah sebabnya, O Guru, kita jumpai di antara ummat manusia yang berumur pendek ( appayuka ) dan berumur panjang ( dighayuka ), berpenyakit ( bavhabadha ) dan sehat ( appabadha ), jelek ( dubbanna ) dan rupawan ( vannavanta ), tak berpengaruh ( appesakka ) dan berpengaruh ( mahesakka ), miskin ( appabhoga ) dan kaya ( mahabhoga ), hina ( nicakulina ) dan mulia ( uccakulina ), dungu ( duppanna ) dan bijaksana ( pannavanta ) ?”

Sang Buddha menjawab :

“Semua makhluk hidup mempunyai kehendak/perbuatan ( kamma ) sebagai milik mereka, warisan mereka, sebab awal mereka, kerabat mereka, pelindung mereka, Kamma-lah yang membedakan makhluk hidup dalam keadaan rendah atau tinggi.”

[ Majjhima Nikaya, CUllakammavibhanga Sutta, No.135  ]


APAKAH SEMUA KARENA “MAHA-DEWA” ?

Huxley menulis :  “  Apakah kita berpendapat bahwa ada seseorang atau sesuatu yang mengatur keadaan alam semesta yang menakjubkan ini, maka dalam pengertianku ia tidak dapat disebut murah hati dan adil, melainkan kejam dan tidak adil. “

Menurut Albert Einstein : “ Bila makhluk adikodrati ini Maha Kuasa, maka setiap kejadian, termasuk setiap perbuatan, pikiran, perasaan dan aspirasi manusia juga merupakan karyanya ;  lalu bagaimana manusia harus bertanggungjawab atas perbuatan-perbuatan dan pemikiran-pemikiran mereka dihadapan makhluk maha kuasa seperti itu  ? “

“ Sewaktu memberi hukuman dan anugerah, ia sedikit banyak juga harus mengadili dirinya sendiri. Lalu bagaimana hal ini dapat dikaitkan dengan kebajikan dan keadilan yang dianggap berasal dari dirinya ? “

“ Menurut asas-asas Theologi, manusia diciptakan bukan atas dasar keinginannya sendiri, dan untuk selamanya ia mulia atau celaka. Dengan begitu, sejak awal dalam proses penciptaan fisiknya sampai saat kematiannya, manusia itu dapat baik atau jahat, beruntung atau celaka, mulia atau hina, tanpa menghiraukan akan keinginan-keinginan, harapan-harapan, cita-cita, usaha-usaha ataupun doa sujudnya. Inilah fatalisme theology.” ( Spencer Lewis ).

Sebagaimana Charles Bradlaugh mengatakan : “ Adanya keburukan merupakan suatu penghalang yang menakutkan bagi ajaran Theis. Penderitaan, kesengsaraan, kejahatan, kemiskinan, bertolak belakang dengan penganjur kebaikan abadi dan berlawanan dengan pernyataannya akan kemampuan dirinya sebagai dewa serba baik, serba bijaksana, dan serba kuasa. “

Menurut Schopenhauer “ Barangsiapa menganggap dirinya berasal dari ketiadaan, maka ia juga harus berpikir bahwa ia akan kembali ke ketiadaan itu lagi ;  Suatu kekekalan telah lewat sebelum ia ada dan kekekalan kedua telah dimulai, yang melaluinya ia tidak akan pernah berakhir adalah suatu pemikiran yang menakutkan. “

“ Bila kelahiran adalah permulaan yang mutlak, maka kematian seharusnya akhir yang mutlak pula. Anggapan bahwa manusia berasal dari ketiadaan pasti akan membawa pada anggapan bahwa kematian adalah akhir yang mutlak. “

Memberikan komentar terhadap penderitaan manusia dan dewa pencipta, Prof.J.B.S. Haldane menulis :  “ Kalau bukan penderitaan yang diperlukan untuk menyempurnakan sifat manusia, tentu dewa pencipta itu tidak maha kuasa. Teori yang pertama tidak sesuai dengan kenyataan bahwa, sebagian orang yang hanya sedikit sekali menderita namun beruntung dalam keturunan dan pendidikan terbukti mempunyai sifat yang baik. Keberatan terhadap teori yang kedua adalah bahwa hal itu hanya berkenaan dengan alam semesta secara keseluruhan dan bahwasannya terdapat suatu kekosongan intelektual yang harus diisi dengan mengendalikan seorang dewa. Dan barangkali seorang pencipta dapat menciptakan apa saja yang dia inginkan. “

Lord Russell menyatakan : “ Sebagaimana diceritakan kepada kita, dunia diciptakan oleh seorang dewa yang baik dan maha kuasa. Sebelum dia menciptakan dunia, ia telah melihat seluruh penderitaan dan kesengsaraan yang akan terjadi didalamnya. Karenanya, ia bertanggungjawab atas segala sesuatunya. Adalah suatu hal yang sia-sia memperdebatkan bahwa penderitaan dalam dunia disebabkan oleh dosa. Bila dewa pencipta itu telah mengetahui sebelumnya akan dosa yang bakal dilakukan umat manusia, maka jelas ia bertanggungjawab akan akibat-akibat dosa itu.



FAKTOR KETURUNAN ??

Mungkinkah segala perbedaan yang ada pada manusia ini disebabkan oleh factor keturunan dan lingkungan ?  Kita harus mengakui bahwa semua fenomena fisik-kimiawi yang diungkapkan oleh para ilmuwan, sebagian adalah sebagai factor pembantu, tetapi tidak seluruhnya mutlak bertanggungjawab atas perbedaan-perbedaan besar yang terdapat di antara individu-individu. Lalu mengapa ada anak kembar yang memiliki tubuh serupa, mewarisi gen yang sejenis, menikmati kesempatan asuhan yang sama, seringkali memiliki watak, moral dan kecerdasan yang sangat berbeda ?

Keturunan saja tidak dapat menyebabkan perbedaan-perbedaan yang besar ini. Sesungguhnya, factor keturunan lebih masuk akal atas persamaan-persamaan mereka daripada atas perbedaan-perbedaan mereka. Benih fisik kimiawi dengan panjangnya kira-kira sepertiga puluh inci yang diwarisi dari orang tua, hanya menerangkan satu bagian dari manusia, yaitu dasar fisiknya. Mengenai perbedaan-perbedaan batin, intelektual dan moral yang jauh lebih kompleks dan halus itu diperlukan penerangan batin yang lebih dalam. Teori keturunan tidak dapat memberikan suatu jawaban yang memuaskan tentang lahirnya seorang criminal dalam sebuah keluarga yang mempunyai leluhur terhormat atau kelahiran seorang suci atau mulia dalam sebuah keluarga yang memiliki reputasi jelek dan tentang lahirnya seorang tolol, manusia genius dan guru-guru besar.

Menurut agama Buddha, perbedaan-perbedaan ini tidak hanya disebabkan oleh factor keturunan dan lingkungan, tetapi juga disebabkan oleh kamma kita sendiri, atau dengan kata lain, disebabkan oleh akibat dari perbuatan lampau kita dan perbuatan-perbuatan kita sekarang. Kita sendiri yang harus bertanggungjawab atas perbuatan-perbuatan kita. Kita membangun penjara kita sendiri. Kita adalah arsitek dari nasib kita sendiri. Singkatnya, diri kita merupakan akibat dari kamma kita sendiri.

Bagaimana kita bisa mempercayai semua ini, dengan perbedaan berdasarkan hukum sebab-akibat atau sebagai hasil dari bibit kammanya sendiri. Sang Buddha tidak pernah menyuruh seseorang untuk mempercayai segala apa yang diajarkan-Nya. Beliau selalu meminta, “ Datang, lihat, dan buktikan!”, yang dikenal sebagai prinsip EHI PASSIKO.

Beliau bagaikan seorang ilmuwan / penemu. Beliau menerangkan hal-hal mengenai alam-semesta dan kehidupan, seperti seorang ilmuwan menerangkan adanya bakteri, virus, galaksi, bintang, dan lain sebagainya. Kita bisa membuktikan adanya bakteri, virus, dengan melihat dan menyaksikan sendiri melalui mikroskop electron. Kalau kita ingin melihat dengan mata daging ini, sudah pasti Hukum Kamma seakan begitu sulit dan rumit, susah dilihat. Tetapi semua ini telah dibuktikan kebenarannya oleh para suciwan. Seseorang yang senantiasa tekun melatih diri dalam Sila dan Samadhi, dengan kekuatan batin yang tenang didalam Jhana IV, mampu melihat dan membuktikannya, hingga menembus ke kehidupan-kehidupan lampaunya.

Dari sudut pandang agama Buddha, perbedaan-perbedaan batin, intelektual, moral dan watak kita sekarang, pada prinsipnya disebabkan oleh perbuatan-perbuatan kita sendiri yang dilakukan diwaktu lampau dan di waktu sekarang.

Secara harafiah, Kamma berarti perbuatan, tetapi, dalam pengertian mutlaknya kamma berarti kehendak. Kamma ada yang baik ( Kusala Cetana ) dan yang buruk ( Akusala Cetana ). Perbuatan baik akan membuahkan kebaikan. Perbuatan jahat akan membuahkan kesedihan. Inilah Hukum Kamma.

Kita memetik apa yang kita tanam. Kita adalah akibat dari apa yang kita lakukan diwaktu lampau; kita akan menjadi akibat dari apa yang kita lakukan sekarang, tetapi kita tidak mutlak hanya merupakan akibat dari apa yang kita lakukan diwaktu lampau; kita tidak mutlak hanya menjadi akibat dari apa yang kita lakukan sekarang. Misalnya seorang criminal mungkin saja dapat menjadi orang suci dikemudian hari, atau sebaliknya.

APAKAH KAMMA ITU ?

Sesungguhnya, apakah “Kamma” itu ? Dalam Anguttara Nikaya III, 415 Sang Buddha bersabda:

”Cetanaham bhikkhave kammam vadami”

[“O, para bhikkhu, kehendak untuk berbuat (cetana) itulah yang Aku namakan kamma”]

Segala macam tindakan yang disengaja baik batin, ucapan, maupun jasmani/perbuatan dipandang sebagai Kamma. Dengan pengertian umum, Kamma berarti semua kehendak baik dan buruk (kusala akusala cetana). Tindakan yang tidak didasari niat, dilakukan tanpa-sadar, tidak disengaja, walaupun secara teknis merupakan perbuatan, tidak membentuk Kamma, karena didalam tindakan tersebut tidak terdapat “kehendak” ( cetana ), factor terpenting dalam menentukan Kamma.

Ada pengecualian dalam kasus para Buddha dan Arahat karena mereka telah melampaui baik dan buruk. Mereka telah menghancurkan baik ketidak-tahuan maupun nafsu keinginan akar-akar Kamma.

“ Telah sirna perbuatannya yang lampau.

Tiada pula perbuatannya yang baru.

Mereka, yang bijaksana, bebas dari kelahiran kembali,

Telah musnah benih-benih perbuatannya.

Tak tumbuh lagi tunas kelahiran kembalinya. “

[ Ratana-Sutta ]

Kata “perbuatan” didalam sutta tersebut, mengacu pada perbuatan yang dilandasi oleh tanha ( nafsu-keinginan ). Kata “Mereka” yang dimaksud adalah para Arahanta Khinasava.

Bukan berarti para Buddha dan Arahat  itu pasif. Para Buddha dan Arahat dengan tanpa mengenal lelah bekerja secara aktif untuk kesejahteraan dan kebahagiaan-sejati bagi semua pihak. Perbuatan mereka, yang biasa diterima sebagai baik atau bermoral, tidak memberikan kekuatan untuk mereka sendiri. Dengan memahami segala sesuatu sebagai apa adanya, mereka akhirnya telah menghancurkan belenggu duniawi mereka, rantai sebab-akibat.

Kamma, tidak harus berarti perbuatan masa lalu. Kamma mencakup perbuatan masa lalu maupun saat ini. Jadi, pada satu sisi, kita merupakan hasil dari apa yang telah kita lalkukan, kita akan menerima hasil dari apa yang kita lakukan saat ini. Pada sisi lain, harus ditambahkan kita tidak seluruhnya merupakan hasil dari apa yang telah kita lakukan, kita tidak sepenuhnya merupakan hasil dari apa yang kita lakukan saat ini. Saat ini tidak diragukan lagi adalah buah dari masa lalu dan asal-usul dari masa  yang akan datang, tetapi saat ini tidak selalu merupakan petunjuk baik dari masa lalu maupu masa yang akan datang. Seorang penjahat di hari ini, dapat menjadi seorang mulia besok harinya, seseorang yang baik kemarin dapat menjadi seorang yang kejam hari ini.


KAMMA DAN VIPAKA

Kamma adalah perbuatan, dan Vipaka, buah atau hasil, merupakan reaksinya. Kamma, diibaratkan sebagai sebuah “benih”. Dan buah yang tumbuh dari pohon, merupakan “vipaka” ; akibat atau hasil. Kamma, bisa berupa kehendak-baik bisa juga berupa kehendak-buruk, oleh karena itu buahnya pun ( vipaka ) bisa berupa buah-kehendak-baik maupun buah-kehendak-buruk.

Kamma adalah “mental”, demikian pula, vipaka adalah “mental” ; ia dirasakan sebagai kebahagiaan atau berkah, ketidak-bahagiaan atau penderitaan sesuai dengan sifat benih Kamma. Anisamsa merupakan keuntungan keadaan materi yang seiring, seperti kesejahteraan, kesehatan dan usia panjang.

Jika vipaka ( buah-kamma ) diikuti dengan keadaan materi yang tidak menguntungkan, mereka dikenal sebagai adinava ( akibat buruk ), dan muncul sebagai kemiskinan, kejelekan, penyakit, pendek usia dan sebagainya. Yang dimaksudkan dengan Kamma adalah bentuk kesadaran duniawi yang baik dan buruk ( kusala akusala lokiya citta ), serta Vipaka berarti hasil bentuk kesadaran duniawi ( lokiya vipakacitta ).

Di dalam Kamma ada kecenderungan menghasilkan akibat yang sesuai. Sebab menghasilkan akibat, dan akibat menerangkan sebab. Biji menghasilkan buah, dan buah menerangkan biji, begitulah hubungan mereka. Akibat, telah berkembang di dalam sebabnya.

SEBAB KAMMA

Ketidaktahuan/kebodohan-batin ( avijja ) atau tidak memahami segala sesuatu sebagaimana mereka adanya, merpakan sebab utama. Bergantung pada ketidaktahuan timbul kegiatan Kamma ( avijja paccaya samkhara ), merupakan hal yang dinyatakan oleh Sang Buddha dalam Paticcasamuppada ( hukum-sebab-musabab-yang-saling-bergantungan ).

PELAKU KAMMA

Kehendak ( cetana ) itu sendirilah si pelaku. Dan perasaan ( vedana )  itu sendirilah si penerima buah kamma. Kecuali keadaan murni mental ( suddhadkamma ) ini tidaklah ada seorangpun yang menabur dan tidak ada seorangpun yang memetik.

Yang Ariya Bhikkhu Buddhaghosa menulis dalam Visudhi-Magga :

“ Tak ada pelaku yang menjalankan perbuatan,

Ataupun seseorang merasakan buahnya,

Hanyalah suku cadang penunjang yang bergulir terus,

Inilah sesungguhnya yang betul.”

[ dikutip dari “Sang Buddha dan Ajaran-ajaran-Nya” , penulis Bhante Narada Mahathera ]


Yang Ariya Bikkhu Buddhaghosa berkata, tepat seperti dalam hal unsur materi yang diberi nama pohon, segera kapan pun setelah buah muncul, ia kemudian dikatakan “pohon menghasilkan buah” atau “jadi pohon itu  berbuah”, demikian juga dalam hal “kelompok-kehidupan” ( panca-khanda ) yang ada pada nama Dewa ataupun manusia, jika kapanpun hasil kebahagiaan atau penderitaan muncul, lalu dikatakan “bahwa Dewa atau manusia bahagia atau menderita.”

DIMANAKAH KAMMA DISIMPAN ?

Pertanyaan ini pernah diajukan oleh Raja Milinda kepada Y.A. Bhikkhu Nagasena :

“Dimanakah, Y.A. Guru, Kamma itu?” Tanya Sang Raja pada Y.A. Bhikkhu Nagasena.

“ O, Maharaja”, jawab Y.A.Bhikkhu Nagasena, “Kamma tidak dapat dikatakan disimpan di suatu tempat dalam kesadaran yang mengalir atau pada bagian tubuh ini, tetapi bergantung pada pikiran dan materi ia bersandar untuk mewujudkan diri pada sat yang tepat, seperti mangga, tak dapat dikatakan disimpan di suatu tempat dalam pohon mangga, tetapi bergantung pada pohon magga mereka berbuah pada musim yang tepat.”

Angin maupun api tidaklah disimpan dalam tempat tertentu, demikian pula Kamma tidak disimpan di manapun baik didalam atau diluar tubuh.

Seorang psikoanalis berpendapat, “Disimpan dalam jiwa, tetapi biasanya tidak dapat dicapai dan hanya biasa dijangkau oleh beberapa orang saja, adalah seluruh catatan, tanpa kecuali, dari setiap pengalaman yang sudah dilalui seseorang, setiap pengaruh dirasakan, setiap kesan diterima. Pikiran bawah sadar bukan hanya suat catatan pengalaman milik seseorang yang tak dapat dihapus tetapi juga menerima kesan awal dan kecenderungan, yang jauh dari pada dikuasai seperti anggapan orang terhadap mereka, dalam manusia beradab aktif secara di bawah sadar yang mungkin muncul dengan kekuatan yang membingungkan pada saat yang tidak diharapkan.” [ Sang Buddha dan Ajaran-ajarannya, Bhante Narada Mahathera, hal.69 ].

Secara ringkas, seluruh kekuatan Kamma bergantung pada aliran-batin yang selalu bergerak ( citta-santati ) yang selalu siap mewujudkan diri dalam berbagai perwujudan pada saat muncul kesempatan.



SIFAT KAMMA

“Sebagai benih yang kau tabur demikian pula akan kau petik buahnya”

[ Samyutta Nikaya ]

“Jika seseorang mengatakan bahwa orang harus memetik sesuai dengan yang dilakukannya, dalam hal itu tak terdapat kehidupan beragama ataupun kesempatan untuk menghasilkan berhentinya penderitaan secara menyeluruh. Tetapi jika barangsiapa mengatakan bahwa apa yang dipetik seseorang sesuai dengan perbuatannya, dalam hal itu ada kehidupan beragama dan kesempatan untuk menghasilkan berhentinya penderitaan secara menyeluruh.” [ Anguttara Nikaya, bag.I, 249]

Oleh karena itu, ada dan sangat dimungkinkan untuk membentuk kehidupannya yang baru sesuai kammanya sendiri.

Meskipun disebutkan bahwa “ tidak di langit, tidak pula di tengah lautan ataupun memasuki gua di gunung, dimana orang dapat bersembunyi dari akibat suatu perbuatan jahat” , tetapi orang tidak perlu membayar semua tunggakan karma lampau.” [Dhammapada V.127], tapi orang tidak perlu membayar semua tunggakan kamma lampau.

Jika begitu keadaannya, kebebasan akan menjadi sesuatu yang tidak mungkin. Penderitaan abadi akan menjadi hasil yang tidak menguntungkan.

Orang bukanlah majikan atau pembantu dari Kamma. Bahkan orang yang paling jahat pun dengan usahanya sendiri dapat menjadi orang yang paling saleh.

Kita selalu menjadi sesuatu dan sesuatu itu tergantung pada tindakan kita sendiri. Kapan saja kita dapat berubah jadi lebih baik atau lebih buruk. Didunia ini tidak ada  “ produk akhir “, semua adalah proses “ menjadi “.

Bahkan orang yang paling kejam sekalipun tidak seharusnya patah semangat atau berputus asa melihat sifatnya yang jahat. Ia seharusnya dikasihani, karena mereka yang mencelanya mungkin juga pernah dalam keadaan yang sama pada tingkat tertentu.

Seperti mereka yang telah berubah lebih baik, ia juga dapat berubah, mungkin lebih cepat dari mereka. Siapa yang tahu Kamma baik yang telah ia timbun untuk dirinya ? Siapa yang tahu kemampuan kebaikannya ?

Dimasa hidup Sang Buddha Gotama, ada seorang perampok jalanan dan pembunuh lebih dari seribu orang yang bernama Angulimala berhasil mencapai tingkat kesucian tertinggi serta menghapus semua perbuatan jahat / buruknya dimasa lalu.

Alavaka, setan yang kejam yang memakan daging manusia, menghentikan kebiasaannya memakan daging dan mencapai tingkat kesucian pertama.

Raja Asoka yang terkenal hingga sekarang, dulunya adalah seorang yang kejam dalam meluaskan Kekaisarannya, berubah menjadi Dharmasoka, atau Asoka yang Saleh, dan mengubah perjalanan hidupnya sedemikian hebat sehingga saat ini, seorang ahli sejarah dari barat , H.G.Wells, berkomentar – “ Diantara puluhan ribu nama kerajaan yang memenuhi lembaran sejarah, diantara keagungan dan keanggunan, ketenangan dan kemuliaan serta yang sejenis, nama Asoka bersinar, dan bersinar sendiri saja, bagaikan satu bintang “.

Contoh-contoh diatas merupakan contoh mencolok yang menunjukkan bagaimana perbaikan pembawaan yang menyeluruh dapat terjadi dengan keputusan yang mantap.

Dapat terjadi bahwa dalam beberapa hal kejahatan yang ringan dapat menghasilkan akibat yang selaras, sedangkan akibat dari kejahatan yang lebih berat dapat diperkecil.

Sang Buddha Gotama bersabda, “Oh para Bhikkhu, orang tertentu tidak berdisiplin dalam jasmani, dalam moralitas, dalam pikiran, dalam kebijaksanaan, memiliki sedikit kebaikan dan kurang saleh, serta hidup menderita sebagai akibat buruk dari perbuatan tidak baiknya. Bahkan satu perbuatan kecil yang dilakukan orang seperti itu akan membawanya pada keadaan yang menyedihkan.

Oh para Bhikkhu, orang tertentu berdisiplin dalam jasmani, dalam moralitas, dalam pikiran, berbuat banyak kebaikan, luhur, dan hidup dengan kasih sayang tanpa batas untuk semua. Kejahatan sama yang dilakukan oleh orang seperti itu berakibat dalam kehidupan ini saja dan bahkan akibat yang kecil pun tidak mewujudkan diri ( setelah kematian ), apalagi yang berat.

Itu bagaikan orang yang memasukkan sebongkah garam kedalam secangkir kecil air. Apa yang kalian pikir, oh para Bhikkhu ? Apakah sekarang air yang sedikit dalam cangkir itu menjadi asin dan tidak dapat diminum ?”

“Ya, Bhante.“

“Mengapa ?”

“Karena, Bhante, disana hanya ada sedikit air dalam cangkir, oleh karena itu menjadi asin dan tak dapat diminum karena sebongkah garam itu. “

“ Seandainya seorang memasukkan sebongkah garam ke dalam sungai Gangga. Bagaimana pendapat kalian, o, para Bhikkhu ? Apakah sekarang sungai Gangga menjadi asin dan tidak dapat diminum karena sebongkah garam tadi ?”

“Tentu tidak, Bhante.”

“Dan mengapa tidak ?”

“Karena Bhante, jumlah air di sungai Gangga banyak, dan karena itu tidak akan menjadi asin dan tidak dapat diminum.”

“Sama seperti itu, kita mungkin mendapatkan kasus seorang yang melakukan sedikit kejahatan yang membawanya ke dalam keadaan menderita, atau, sekali lagi, kita mungkin mendapatkan kasus orang yang melakukan kejahatan sepele yang sama, namun ia membayarnya dalam kehidupan ini. Bahkan akibat yang kecil pun tidak mewujudkan diri ( setelah kematian ), apalagi yang lebih berat. “

“Kita mungkin mendapatkan kasus seorang yang dimasukkan penjara karena mencuri setengah sen, satu sen, atau seratus sen, atau lagi, kita mungkin mendapatkan seorang yang tidak dimasukkan ke penjara karena mencuri setengah sen, satu sen, atau seratus sen.”

“Siapakah yang dimasukkan penjara untuk setengah sen, untuk satu sen, atau untuk seratus sen ?”

“Barangsiapa yang miskin, membutuhkan bantuan dan fakir miskin, ia dimasukkan penjara untuk setengah sen, untuk satu sen, atau untuk seratus sen.”

“Siapakah yang tidak dimasukkan penjara untuk setengah sen dolar, untuk satu sen dolar, atau untuk seratus sen dolar ? “

“Barangsiapa yang kaya, berharta dan makmur, ia tidak dimasukkan penjara untuk setengah sen dolar, untuk satu sen dolar, untuk seratus sen dolar.”

“Sama halnya adalah bahwa, kita dapat menjumpai kasus seorang yang melakukan kejahatan ringan yang membawanya pada keadaan menyedihkan, atau, kita dapat menjumpai kasus orang lain yang melakukan kejahatan sepele yang sama, dan membayarnya dalam kehidupan ini. Bahkan akibat yang kecil pun tidak mewujudkan diri ( setelah kematiannya ), apalagi yang lebih berat. “ [ Anguttara Nikaya, Bag. I, hal.249 ]



Penyebab Hasil Yang Menghalangi

Kebaikan memperoleh kebaikan, tetapi penyesalan apapun dari pihak pelaku yang muncul kemudian terhadap kebaikan yang dilakukan, menyebabkan kehilangan hasil yang menyenangkan.

Ada satu contoh yang sangat bagus yang bisa menggambarkan hal ini :

Pada suatu ketika Raja Pasenadi dari Kosala menghadap Sang Buddha dan berkata, “ Bhante, di Savatthi seorang jutawan perumah tangga telah meninggal. Ia tidak mempunyai putra, dan sekarang saya kemari, setelah memberikan kekayaannya ke istana, Bhante. Sepuluh juta rupee emas, tidak ada yang perak. Tetapi jutawan ini biasa makan sisa makanan yang basi dan bubur yang tidak enak. Dan bagaimana ia berpakaian ? Untuk baju ia mengenakan jubah rami yang kasar, dan untuk kereta, ia mengendarai gerobak rusak yang dilengkapi tenda daun.”

Kemudian Sang Buddha berkata,

“Demikianlah, o Raja, demikianlah. Dalam kehidupan lampau, o Raja, jutawan perumah tangga ini mempersembahkan makanan untuk seorang Pacceka Buddha yang bernama Tagarasikhi. Selanjutnya, ia menyesal telah memberi makanan, berkata pada diri sendiri,” Lebih baik jika pembantu dan pekerjaku memakan makanan yang kuberikan untuk persembahan.” Dan disamping itu ia membunuh putra tunggal kakaknya demi harta benda. Dan karena jutawan perumah tangga ini mempersembahkan makanan untuk Sang Pacceka Buddha Tagarasikhi, sebagai balasan perbuatan itu, ia bertumimbal lahir tujuh kali di alam surga yang menyenangkan. Dan dengan sisa kecil perbuatan yang sama, ia menjadi jutawan di Savathi sebanyak tujuh kali.

“ Dan karena jutawan perumah tangga ini menyesali telah memberi persembahan, dengan mengatakan pada diri sendiri,”Akan lebih baik jika pembantu dan pekerjaku memakan makanan itu.” Oleh karena itu sebagai akibat perbuatannya ia tidak dapat menghargai makanan sehat, tidak menghargai pakaian indah, tidak dapat menghargai kendaraan bagus, tidak menghargai kenikmatan panca indria.

“ Dan karena jutawan perumah tangga ini membunuh putra tunggal kakaknya demi kekayaan, sebagai akibat perbuatan ini, ia harus menderita bertahun-tahun,beratus tahun,beribu tahun, beratus ribu tahun dalam keadaan menyakitkan. Dan dengan sisa perbuatan yang sama, ia tidak berputra selama tujuh kali, dan sebagai akibatnya, harus meninggalkan kekayaannya untuk kas kerajaan.”[ Samyutta Nikaya, bag.I, hal.91 ]

Jutawan ini mendapatkan keberuntungan besar sebagai akibat perbuatan baik yang dilakukan dalam kehidupan lalu, tetapi karena ia menyesali perbuatan baiknya, ia tidak dapat sepenuhnya menikmati kesenangan orang kaya yang disediakan Kamma untuknya.



Kekuatan Yang Bermanfaat dan Merugikan

Dalam bekerjanya kamma harus dipahami bahwa terdapat kekuatan yang bermanfaat dan merugikan untuk menangkal dan menunjang hukum yang bekerja sendiri ini. Kelahiran ( gati ), waktu atau keadaan ( kala ), kepribadian atau penampilan ( upadhi ) dan usaha ( payoga ) merupakan pembantu dan penghalang bagi berbuahnya Kamma.

Misalnya jika seseorang dilahirkan dalam keluarga mulia atau dalam keadaan bahagia, keberuntungan kelahirannya kadang kala akan merintangi berbuahnya Kamma jahatnya.

Sebaliknya, jika ia dilahirkan dalam keadaan menderita atau dalam keluarga tidak beruntung, kelahiran yang tidak menguntungkan ini akan menyediakan suatu kemudahan bagi Kamma jahatnya untuk bekerja.

Kedua hal ini dikenal sebagai Gati Sampatti ( kelahiran yang menyenangkan ) dan Gati Vipatti ( kelahiran yang tidak menyenangkan ).

Sangat mungkin terjadi, seseorang yang tidak cerdas, yang karena kamma baiknya,dilahirkan dalam keluarga kerajaan dan karena keturunannya yang mulia, ia dihormati orang. Jika orang yang sama mempunyai kelahiran yang kurang menguntungkan, ia tidak akan diperlakukan seperti itu.

Contoh dari hal ini misalnya kisah Raja Dutthagamani dari Sri Lanka. Ia menimbun kamma buruk dengan mengobarkan perang terhadap warga Tamil, serta kamma baik dengan berbagai kegiatan keagamaan dan sosialnya. Karena kamma penghasilnya yang baik, ia bertumimbal lahir di alam surga  yang menyenangkan. Tradisi mengatakan bahwa ia akan memiliki kelahiran terakhir pada masa Buddha Metteyya yang akan datang. Oleh karena itu kamma buruknya tidak dapat bekerja sepenuhnya karena kelahiran yang menguntungkan.

Kecantikan ( Upadhi Sampatti ) dan kejelekan ( Upadhi Vipatti ) merupakan dua faktor yang menghalangi dan menyuburkan bekerjanya Kamma.

Jika, dengan beberapa kamma baik, seseorang mencapai kelahiran yang bahagia tetapi malang bercacat fisik, ia tidak akan dapat sepenuhnya menikmati manfaat hasil kamma baiknya. Bahkan seorang pewaris tahta kerajaan mungkin tidak akan dinaikkan pada kedudukan terhormat itu jika ia mengalami cacat jasmani.

Keindahan, sebaliknya, akan menjadi modal bagi pemiliknya. Seorang putri berparas cantik dari keluarga miskin dapat menarik pria kaya dan dapat menjadikannya terkenal melalui pengaruhnya.

Waktu atau kesempatan yang menguntungkan ( kala sampatti ) dan waktu atau kesempatan yang tidak menguntungkan ( kala vipatti ), merupakan dua faktor lain yang mempengaruhi bekerjanya kamma, yang satu membantu, yang berikutnya merintangi.

Dalam kasus bencana kelaparan semua tanpa kecuali akan terdorong menderita nasib yang sama. Disini keadaan yang tidak menguntungkan membuka kesempatan bekerjanya kamma buruk. Sebaliknya keadaan yang menguntungkan akan mencegah bekerjanya kamma buruk.

Dari semua kekuatan yang bermanfaat dan merugikan ini yang terpenting adalah usaha ( Payoga ). Dalam bekerjanya kamma, usaha atau kurang berusaha memainkan peranan penting. Dengan usaha saat ini orang dapat membuat karma baru, lingkungan baru, suasana baru, dan bahkan dunia baru.

Walaupun berada pada keadaan paling menguntungkan dan dibekali dengan semua kemudahan, jika orang tidak melakukan usaha yang tekun, orang tidak hanya kehilangan kesempatan emas, tetapi juga dapat menghancurkan diri sendiri. Usaha pribadi sangat penting bagi kemajuan duniawi maupun spiritual.

Jika seseorang tidak berusaha menyembuhkan diri sendiri dari penyakit atau untuk menyelamatkan diri sendiri dari kesulitan, atau untuk berjuang dengan tekun demi kemajuannya, kamma buruknya akan menemukan kesempatan baik untuk menghasilkan akibat yant sesuai.

Jika sebaliknya, ia berusaha sendiri untuk mengatasi kesukarannya, untuk memperbaiki keadaannya, untuk menggunakan sebaik mungkin kesempatan yang langka ini, untuk berjuang dengan gigih demi kemajuannya. Kamma baiknya akan datang membantu.

Ketika kapal karam di tengah laut, Sang Bodhisatta Maha Janaka melakukan usaha gigih untuk menyelamatkan diri, sedangkan yang lain berdoa kepada para dewa dan menggantungkan nasib mereka di tangan para dewa “Yang Maha Kuasa”. Hasilnya, Sang Bodhisatta tertolong sedang yang lain tenggelam.

Dua faktor penting terakhir ini dikenal sebagi Payoga Sampatti dan Payoga Vipatti.

Kita bukanlah mutlak majikan atau pelayan dari kamma kita, terbukti dari faktor yang meniadakan dan menunjang; bahwa berbuahnya kamma sampai batas-batas tertentu dipengaruhi oleh keadaan luar, lingkungan, kepribadian, usaha pribadi, dan sebagainya.

Hukum Kamma inilah yang dapat menjelaskan semua fenomena kelahiran, perbedaan, ketidaksetaraan, nasib, kejadian yang menimpa diri seseorang. Dan hukum kamma inilah yang memberikan penghiburan, pengharapan, kepercayaan, dan gairah moral pada setiap orang yang mengerti, mengenal, meresapi, mengikuti Jalan Kebenaran Sejati ( Dhamma ).

Ketika yang tidak diharapkan terjadi, kesulitan, kegagalan, dan ketidak beruntungan menghadangnya, seorang yang telah mengetahui akan menyadari bahwa ia sedang memetik apa yang telah ditaburkannya, dan sedang membayar hutang masa lalu. Daripada mengundurkan diri sendiri, menyerahkan semua pada kamma, ia melakukan usaha yang gigih untuk mencabut pengganggu dan menabur benih yang berguna di tempatnya, karena masa yang akan datang berada ditangannya.

Ia yang mengerti hukum Kamma, tidak mencela orang yang paling jahat sekalipun karena mereka memiliki kesempatan untuk membentuk diri mereka sendiri kapan saja. Walaupun terikat untuk menderita dialam menyedihkan, mereka mempunyai harapan untuk mencapai kedamaian yang abadi.

Dengan perbuatan mereka sendiri mereka membentuk neraka mereka sendiri, dan dengan perbuatan mereka sendiri, mereka membentuk surga mereka sendiri.

Seseorang yang telah mengerti hukum Kamma secara mutlak, tidak akan berdoa pada pihak lain untuk diselamatkan tetapi dengan yakin bergantung pada diri sendiri untuk kebebasannya. Daripada membuat berbagai penyerahan, atau menyetujui berbagai perantara istimewa, ia akan bergantung pada kekuatan kemauannya dan bekerja tiada hentinya demi kesejahteraan dan kebahagiaan semua.

Kepercayaan pada hukum Kamma akan membenarkan usahanya dan menyalakan semangatnya, karena hukum Kamma mengajarkan tanggung jawab pribadi.

Untuk seorang awam, Kamma bertindak sebagai penangkis, tetapi untuk seorang cendekiawan ia bertindak sebagai perangsang untuk  berbuat baik.

Hukum kamma ini menerangkan persoalan penderitaan, misteri dari sesuatu yang disebut nasib dan takdir dalam beberapa agama, diatas semuanya adalah ketidak-samaan umat manusia.

Kita adalah arsitek  hidup dan nasib kita sendiri. Kita adalah pembentuk diri kita sendiri. Kita adalah penghancur diri kita sendiri. Kita membangun surga kita sendiri. Kita juga membangun neraka kita sendiri.

Apa yang kita pikirkan, ucapkan dan lakukan menjadi milik kita. Buah pikiran, perkataan dan perbuatan inilah yang membentuk sebutan Kamma dan berjalan dari kehidupan ke kehidupan, memuliakan dan merendahkan kita, dalam rentang pengembaraan kita dalam Samsara.

Sang Buddha bersabda,

“ Kebajikan dan kejahatan manusia yang ia telah tempa disini, itulah yang ia miliki, yang membawanya mulai sekarang, yang menguji langkahnya, seperti bayangan mengejar. Oleh karena itu biarlah ia membuat timbunan kebaikan untuk kehidupan yang lain, dasar yang pasti dalam berbagai dunia yang akan datang. Hadiah kebaikan menunggu makhluk yang baik. “[Kindred Sayings,I hal.98]



KATEGORISASI KARMA DAN CARA KERJA KARMA

Tabel Kategorisasi Karma

DASAR PENGELOMPOKAN

JENIS KARMA

I. Menurut Jangka Waktunya ( Pakakalacatukka )
  1. Yang Berlaku Segera (Ditthadhammavedaniya Kamma)
  2. Yang Berlaku Sesudahnya (Upapajjavedaniya Kamma)
  3. Yang Berlaku Untuk Jangka Waktu Tidak Terbatas (Aparapariyavedaniya Kamma)
  4. Yang  Kadaluwarsa (Ahosi Kamma )
II. Menurut Sifat Bekerjanya (Kiccacatuka)
  1. Penghasil (Janaka Kamma).
  2. Penunjang (Upatthambaka Kamma).
  3. Pelemah (Upapidaka Kamma).
  4. Penghancur (Upaghataka Kamma).
III. Menurut Sifat hasilnya (Pakadanapariyayacatuka)
  1. Yang Berat / Serius (Garuka Kamma).
  2. Menjelang Kematian (Asanna Kamma).
  3. Kebiasaan (Acinna Kamma).
  4. Yang Bertimbun (Katatta Kamma).
IV. Menurut Kedudukannya

( Pakatthanacatukka )

  1. Perbuatan Buruk (Akusala) yang akan masak di alam keindriaan (kamaloka).
  2. Perbuatan Baik (Kusala) yang akan masak di alam keindriaan (kamaloka).
  3. Perbuatan Baik (Kusala) yang akan masak di alam berbentuk (rupaloka).
  4. Perbuatan baik (Kusala) yang akan masak di alam tidak berbentuk (arupaloka).

PENJELASAN MENGENAI JENIS-JENIS KARMA

1. Kelompok Karma menurut Jangka Waktunya ( Pakakalacatukka )

1.1. Karma/kamma yang memberikan hasil/akibat dalam kehidupan sekarang ini ( Ditthadhammavedaniya Kamma ) :

Ditthadhammavedaniya Kamma ini terbagi menjadi dua (2) macam yaitu :

a). Paripakka Dittha Dhammavedaniya-Kamma ; adalah Kamma yang memberikan hasil/akibat dalam kehidupan sekarang ini, termasuk yang sudah masak betul.

b). Aparipakka Dittha Dhammavedaniya-Kamma ; adalah Kamma yang memberikan hasil/akibat dalam kehidupan sekarang ini, belum termasuk yang masak betul.

1.2. Kamma yang memberikan hasil/akibat dalam kehidupan yang akan datang, yaitu dalam kehidupan setelah kehidupan yang ini [Uppajjavedaniya-Kamma]

1.3. Kamma yang memberikan hasil/akibat dalam kehidupan yang akan datang, yaitu dalam kehidupan berikutnya berturut-turut, yaitu dalam kehidupan yang ke-3 ( setelah yang sekarang ini ) dan seterusnya [ Aparaparavedaniya-Kamma ]

1.4. Kamma yang tidak menimbulkan akibat sama-sekali [ Ahosi-Kamma ]

2. Kelompok Karma menurut Sifat Bekerjanya ( Kiccacatuka )

2.1 Karma/kamma penghasil ( Janaka Kamma ) :

Adalah hukum yang menyebabkan timbulnya syarat untuk terlahirnya kembali suatu makhluk. Kamma ini menimbulkan nama-khanda (kelompok-batin) dan kammaja-rupa ( materi/jasmani ). Oleh sebab itu, kamma ini disebut janaka-kamma. Kamma ini terdiri dari akusala-kamma 12 dan lokiyakusala-kamma 17 ( kamavacarakusala-kamma 8, rupavacarakusala-kamma 5 dan arupavacarakusala-kamma 4 ). Janaka-kamma ini bertugas melahirkan makhluk-makhluk di ke-31 alam kehidupan ( bhumi 31 ).

2.2 Karma/kamma penunjang ( Upatthambaka Kamma ): Adalah hukum kekuatan yang mendorong terpeliharanya satu akibat dari sebab (kamma) yang telah timbul. Kamma ini membantu janaka-kamma dalam tiga (3) hal :

  1. a. Membantu Janaka-Kamma yang belum mempunyai waktu menimbulkan hasil/akibat, memberikan waktu menimbulkan hasil/akibat.
  2. b. Membantu Janaka-Kamma yang sedang mempunyai waktu menimbulkan hasil/akibat, memberikan kekuatan untuk menimbulkan hasil/akibat secara sempurna.
  3. c. Membantu Rupa-Nama ( Lahir-Bathin ) yang dilahirkan oleh Janaka-Kamma menjadi maju dan bertahan lama.

2.3 Upapilaka-Kamma ;

Adalah hukum kekuatan yang menekan, mengolah, dan menyelaraskan satu akibat dari satu sebab. Jadi upapilaka-kamma adalah kamma yang menekan, yaitu :

1. Menekan janaka-kamma yang mempunyai keadaan yang bertentangan. Upapilaka kamma yang menekan janaka-kamma yang mempunyai keadaan bertentangan ini, terbadi menjadi dua (2) lagi :

a. Menekan janaka-kamma yang mempunyai waktu menimbulkan hasil/akibat, supaya mempunyai kekuatan menurun dan menimbulkan hasil/akibat tidak sepenuhnya.

b. Menekan nama-rupa yang dilahirkan oleh janaka-kamma.

Oleh karena itu, ‘peekanan’ dari Upapilaka-Kamma terbagi menjadi tiga (3) macam yaitu :

1. Upapilaka-Kamma yang menekan Janaka-Kamma supaya tidak ada waktu menimbulkan hasil/akibat.

2. Upapilaka-Kamma yang menekan Janaka-Kamma yang mempunyai waktu menimbulkan hasil/akibat, supaya mempunyai kekuatan menurun.

3. Upapilaka-kamma yang menekan nama-rupa yang dilahirkan oleh Janaka-Kamma.

2.4 Upaghataka-Kamma : adalah hukum yang meniadakan kekuatan dan akibat dari satu sebab yang telah terjadi dan sebaliknya menyuburkan berkembangnya karma-baru.

Jadi, Upaghataka-Kamma adalah kamma yang memotong Kamma lainnya dan hasil dari Kamma lainnya secara menyeluruh.

Pemotongan dari Upaghataka-Kamma ada dua (2) macam yaitu :

a. Memotong janaka-kamma supaya tidak ada waktu menimbulkan hasil/akibat untuk selamanya ( kammantara-upaghataka ).

b. Memotong nama-rupa yang dilahirkan oleh Janaka-Kamma sampai rusak ( kammanibbattakhandhasantana-upaghataka ).

3. Kelompok Karma Menurut Sifat Hasilnya (Pakadanapariyayacatuka)

3.1. Kamma yang Berat / Serius ( Garuka Kamma ).

Perbuatan yang berat atau serius / Garuka Kamma, disebut begitu karena kamma ini pasti menghasilkan akibat dalam kehidupan ini atau yang berikutnya.

Dari segi yang baik, perbuatan berbobot adalah Jhana atau kegembiraan yang luar biasa ( yang dicapai bersamaan dengan pemurnian diri melalui pengembangan Sila dan Samadhi ).

Sedangkan dari segi yang tidak baik adalah kebengisan yang berakibat sesudahnya ( Anantariya Kamma ), yaitu :

1). Membunuh ibu,

2). Membunuh ayah,

3). Membunuh Orang Suci, Yang Tercerahkan,

4). Melukai Seorang Buddha,

5).Menimbulkan perpecahan dalam persaudaraan para suci / Sangha.

Jika, seandainya seseorang mengembangkan Jhana dan kemudian melakukan salah satu dari kebengisan tersebut, kamma baiknya akan dihapuskan oleh kamma jahat yang sangat kuat itu. Kelahiran berikutnya akan terbentuk oleh kamma jahat walaupun sebelumnya ia sudah mencapai Jhana.

Garukakamma merupakan bentuk kejahatan yang paling berat. Janganlah melakukannya dalam keadaan apapun. Ini akan menghalangi seseorang mencapai Nirvana ( Anguttara Nikaya III,146 ).

3.2. Kamma Menjelang Kematian ( Asanna Kamma )

Jika tidak ada kamma yang berat untuk membentuk kelahiran berikutnya, maka Kamma menjelang kematian ( asanna ) akan bekerja. Ini adalah perbuatan yang dilakukannya atau diingatnya sesaat sebelum ia meninggal. Karena kemampuannya dalam menentukan kelahiran berikutnya, kebiasaan untuk mengingatkan orang yang akan meninggal terhadap perbuatan baiknya serta membuatnya melakukan kebaikan menjelang kematiannya adalah hal yang sangat perlu dilakukan.

Kadang-kadang orang jahat dapat mati dengan bahagia dan menerima kelahiran yang baik jika ia beruntung mengingat atau melakukan perbuatan baik pada saat-saat terakhir. Ini bukan berarti bahwa karena ia menikmati kelahiran yang baik ia akan bebas dari akibat perbuatan jahat yang ia timbun selama hidupnya.

Sebaliknya, kadangkala orang yang baik meninggal dengan tidak bahagia karena ingatan yang tiba-tiba pada tindakan jahat atau dengan membayangkan suatu pikiran buruk, karena terdorong oleh keadaan yang tidak menguntungkan.

3.3. Kamma Kebiasaan ( Acinna Kamma )

Kamma kebiasaan ( accina ) merupakan kamma yang berikutnya dalam urut-urutan berakibat. Ia merupakan kamma yang secara terus-menerus dilakukan dan diingat seseorang serta padanya ia mempunyai kemelekatan yang kuat. Jika garukakamma dan asannakamma tidak ada, maka acinnakamma yang akan menentukan kondisi-kondisi kelahiran berikutnya.

Kebiasaan yang baik ataupun buruk menjadi sifat yang kedua. Mereka sedikit banyak cenderung membentuk sifat seseorang. Pada waktu luang kita kerap kali menyibukkan diri dalam kebiasaan pikiran dan perbuatan. Dalam cara yang sama pada saat-saat kematian, kecuali dipengaruhi oleh keadaan-keadaan lain, sesuai dengan hukum, kita mengingat kembali kebiasaan pikiran dan perbuatan kita.

3.4. Kamma yang Bertimbun ( Katatta Kamma )

Yang terakhir dalam golongan ini adalah Kamma yang bertimbun     ( katatta ) yang mencakup semua yang tidak dapat dimasukkan kedalam tiga jenis terdahulu. Ini bagaikan dana cadangan dari makhluk tertentu ; karma-karma sisa utama yang belum dihabiskan.

4. Kelompok Karma Berdasarkan Kedudukannya ( Pakatthanacatukka ) :

4.1. Akusala-Kamma : Perbuatan buruk yang akan masak di alam keindriaan

Ada sepuluh ( 10 ) tindakan jahat yang disebabkan oleh perbuatan badan jasmani, ucapan dan pikiran yang menghasilkan Kamma jahat. Akar dari tindakan jahat ini adalah keserakahan ( lobha ) akan keindriyaan, kebencian ( dosa ), dan kebodohan batin ( moha ).

Sepuluh (10) tindakah jahat tersebut adalah sebagai berikut :

(a). Tiga dilakukan perbuatan jasmani ( Akusala-Kaya-Kamma ), yaitu : 1). Membunuh ( panatipata), 2). Mencuri ( adinnadana ), 3). Perbuatan sex yang tidak pada tempatnya dan tidak sepatutnya ( kamesu micchacara ).

(b). Empat dilakukan oleh ucapan (Akusala-Vadi-Kamma), yaitu : 1). Berbohong ( musavada ), 2). Memfitnah ( pisunavaca ), 3). Kata-kata kasar ( pharusavaca ), dan, 4). Bergunjing ( samphappalapa ).

(c). Tiga dilakukan oleh pikiran (Akusala-Mano-Kamma), yaitu : 1). Ketamakan ( abhijjha ), 2). Keinginan Jahat ( Vyapada ), 3). Pandangan Salah ( Micchaditthi ).

4.1.1.Membunuh ( panatipata )

Membunuh ( panatipata ), berarti dengan sengaja melenyapkan nyawa makhluk hidup apapun. Kata “Pana” dari bahasa  Pali dengan tegas berarti “ kehidupan batin – jasmani mengenai keberadaan makhluk tertentu “. Penghancuran secara kejam dari kekuatan kehidupan ini, tanpa mengijinkannya untuk bergerak sesuai dengan waktu hidupnya sendiri, berarti “ panatipata “.

“ Makhluk Hidup “ disini berarti termasuk dunia hewan, tetapi tanaman tidak termasuk karena mereka tidak mempunyai pikiran, perasaan, persepsi, dan kesadaran apapun ( “ jiwa “ ). Namun meskipun demikian, para petapa suci, diharuskan untuk tidak menghancurkan kehidupan tanam-tanaman sekalipun. Hukum ini tidak ditujukan untuk orang biasa yang hidup berumah-tangga.

Lima keadaan dibawah ini diperlukan untuk terjadinya kejahatan membunuh : i. Makhluk hidup, ii. Pengetahuan bahwa ia makhluk hidup, iii. Kehendak untuk membunuh, iv. Usaha untuk membunuh, v. Adanya kematian.

Bobot kejahatan tergantung pada kebaikan dan besarnya makhluk yang bersangkutan. Pembunuhan terhadap seorang saleh atau seekor hewan besar ( gajah, lembu, kerbau, dll. ) dipandang lebih kejam daripada pembunuhan terhadap seorang yang keji, bengis, jahat ataupun seekor hewan kecil ( nyamuk, semut, kecoa, ulat, dll. ). Hal itu dianggap demikian karena usaha lebih besar diperlukan untuk melakukan kejahatan itu dan kehilangan yang ditimbulkan dipandang lebih besar.

Buah karma buruk dari membunuh adalah : i. Umur pendek, ii. Kesehatan yang buruk, iii. Selalu berduka karena perpisahan dari mereka yang dicintai, dan, iv. Selalu ketakutan.

4.1.2.Mencuri ( adinnadana )

Lima ( 5 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kejahatan mencuri, yaitu : i. Harta milik orang lain, ii. Pengetahuan bahwa harta itu memang milik orang lain, iii. Kehendak untuk mencuri, iv. Usaha untuk mencuri, v. Pemindahan yang sesungguhnya.

Buah karma buruk dari mencuri adalah : i. Kemiskinan, ii. Penderitaan, iii. Kekecewaan, iv. Kehidupan yang bergantung pada pihak lain.

4.1.3.Pelanggaran Susila ( kamesu micchacara )

Empat ( 4 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kejahatan pelanggaran susila : i. Pikiran untuk menikmati, ii. Usaha ke arah itu, iii. Cara untuk memuaskan, iv. Pemuasan.

Buah karma buruk dari pelanggaran susila  yang tak dapat dielakkan yaitu : i. Mempunyai banyak musuh, ii. Mendapat suami atau istri yang tidak diinginkan, iii. Lahir sebagai perempuan; orang kasim ; banci atau /  waria.

4.1.4. Berbohong ( musavada )

Empat ( 4 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kejahatan berbohong, yaitu : i. Sesuatu yang tidak benar, ii. Kehendak untuk berbohong, iii. Pengungkapan, iv. Penipuan yang sesungguhnya.

Buah karma buruk dari berbohong yang tak dapat dielakkan yaitu : i. Menjadi sasaran caci maki dan fitnah, ii. Tidak dipercaya, dan, iii. Mulut yang berbau.

4.1.5. Memfitnah ( pisunavaca )

Empat ( 4 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kejahatan memfitnah, yaitu : i. Orang-orang yang akan dipisahkan, ii. Kehendak untuk memisahkan mereka atau keinginan untuk mendekatkan diri sendiri kepada orang lain, iii. Usaha ke arah itu, iv. Penyampaian.

Buah karma buruk dari memfitnah yang tak dapat dielakkan adalah pecahnya persahabatan tanpa sebab apapun yang memadai.

4.1.6. Kata-kata Kasar ( pharusavaca )

Tiga ( 3 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya kata-kata kasar, yaitu : i. Seseorang untuk dimaki, ii. Pikiran yang marah, dan, iii. Makian yang sesungguhnya.

Buah karma buruk dari kata-kata kasar yang tak dapat dielakkan yaitu : i. Dibenci oleh pihak lain walaupun mutlak tak bersalah, dan, ii. Memiliki suara parau.

4.1.7. Pergunjingan ( samphappalapa )

Dua ( 2 ) keadaan diperlukan untuk terjadinya pergunjingan, yaitu : i. Keinginan untuk bergunjing, ii. Penyampaian hal itu.

Buah karma buruk dari bergunjing adalah : i. Cacat alat tubuh, ii. Pembicaraan yang tidak masuk akal.

4.1.8. Rasa Tamak ( abhijjha )

Dua ( 2 ) keadaan diperlukan untuk adanya rasa tamak, yaitu : i. Milik pihak lain, ii.memperhatikannya dengan berpikir, “ seandainya ini milikku “.

Buah karma buruk dari ketamakan yang tidak dapat dielakkan adalah : pengharapan-pengharapan yang tidak bisa terpenuhi.

4.1.9. Keinginan Jahat ( Vyapada )

Dua ( 2 ) keadaan diperlukan untuk adanya keinginan jahat, yaitu : i. Orang lain, ii. Pikiran untuk berbuat jahat.

Buah karma buruk dari keinginan jahat yang tak dapat dielakkan adalah : i. Berwajah jelek, ii. Menderita berbagai penyakit, iii. Pembawaan yang menjijikkan.

4.1.10. Pandangan Salah ( Micchaditthi )

Pandangan salah adalah melihat benda/objek secara salah. Kepercayaan yang salah seperti penolakan terhadap manfaat perbuatan baik termasuk dalam kejahatan ini.

Dua ( 2) keadaan diperlukan untuk adanya pandangan salah ini, yaitu : i. Cara yang salah dalam menanggapi objek, ii. Pengertian terhadap objek itu sesuai dengan gagasan yang salah.

Buah karma buruk dari pandangan salah yang tak dapat dielakkan adalah : i. Keinginan rendah, ii. Kurang bijaksana, iii. Akal yang tumpul, iii. Berbagai penyakit menahun, iv. Gagasan yang tercela.

Ada sepuluh ( 10 ) pandangan salah yang banyak dianut manusia :

i. Tidak ada kebajikan seperti kedermawanan ( dinnam );

ii. Tidak ada kebajikan seperti banyak memberi dana ( ittham ) atau

iii. Tidak ada kebajikan dari memberi hadiah untuk para tamu ( hutam );

iv. Tidak ada buah ataupun akibat dari perbuatan baik dan buruk,

v. Tidak percaya pada “ dunia ini” atau,

vi. Tidak percaya pada “dunia setelah ini “, yaitu  mereka yang dilahirkan tidak menerima keberadaan pada masa lalu, dan mereka yang hidup disini tidak menerima suatu kehidupan yang akan datang,

vii. Tidak ada ibu,

viii. Tidak ada ayah,

ix. Tidak ada makhluk yang mati dan bertumimbal lahir       ( opapatika ),

x. Tidak ada petapa yang berbudi dan bertata-tertib baik serta para brahmana, yang dengan kecerdasan istimewa mereka sendiri telah memahami dunia ini dan dunia setelah ini, dan menjelaskan hal itu.

4.2 Kamavacarakusala-Kamma : Kamma baik yang akan masak di alam keindriaan :

Kamavacarakusala-kamma terbagi menjadi tiga (3) macam , yaitu :

  1. Kusala-Kaya-Kamma ( perbuatan baik melalui jasmani ).
  2. Kusala-Vaci-Kamma ( perbuatan baik melalui perkataan ).
  3. Kusala-Mano-Kamma ( perbuatan baik melalui pikiran ).

Penghindaran dari sepuluh tindakan jahat diatas  disebut “ sepuluh (10) perbuatan bajik “, yang diterangkan secara rinci dalam Sevitabba-asevitabba-sutta, bagian dari Majjhima Nikaya.

Disamping itu, dalam agama Buddha dikenal “Sepuluh Karma Bajik” yang mencakup sepuluh perbuatan bajik disertai perbuatan bajik lainnya, yaitu yang terangkum dalam tabel berikut ini :

JENIS KARMA BAIK AKIBAT / BUAH KARMA
Kedermawanan ( Dana ) :

  1. Materi
  2. Memberikan keberanian, rasa nyaman, dan hiburan bagi orang yang terguncang jiwanya.
  3. Memberikan nasihat dan saran.
  1. Kekayaan Materi.
  2. Banyak teman dan jodoh afinitas.
  3. Mempunyai pengaruh kuat di lingkungan.
Moralitas ( Sila ) Kelahiran dalam keluarga mulia dan dalam keluarga bahagia.
Meditasi ( Bhavana ) Membawa kelahiran di alam berbentuk dan alam tidak berbentuk, serta membantu untuk memperoleh pengetahuan lebih tinggi dan kebebasan.
Penghormatan (apacayana) Memiliki keturunan mulia ; dihormati.
Pengabdian ( veyyavacca ) Menghasilkan banyak pengikut, asisten yang loyal, teman yang setia.
Mengirim jasa ( pattidana ) Memiliki harta berlimpah dalam kelahiran yang akan datang.
Berbahagia atas perbuatan baik pihak lain ( anumodana ) Kegembiraan dimanapun ia dilahirkan kelak.
Mendengarkan ajaran(dhammasavana ) Bijaksana, pandai, dan berpengetahuan luas.
Membabarkan ajaran ( dhammadesana ) Bijaksana, pandai, dan berpengetahuan luas.
Meluruskan pandangan hidup ( ditthijjukamma ). Bijaksana dan pandai.

Menurut agama Buddha, seseorang akan diberkati dengan kekayaan dan kebangsawanan bila ia melakukan empat hal :

1. Memberi pada waktu yang tepat.

2. Memberi tanpa sikap menghina atau angkuh.

3. Memberi dengan tulus hati.

4. Tidak mengharap balasan.

( Sutra Pertanyaan Sumati, Sutra 30 dari Maharatnakuta ).

Seorang umat awam ditekankan untuk melaksanakan tiga karma bajik pertama, yaitu : 1). Berdana ( dana ), 2). Moralitas ( Sila ), 3). Pengembangan Mental / Meditasi ( Bhavana ).

4.3 Kamma baik yang akan masak di alam berbentuk :

Inilah lima macam kegembiraan luar biasa ( Rupa Jhana ) yang semata-mata bersifat mental, yang diperoleh melalui pemurnian batin dengan menjaga Sila dan Samadhi yang terus-menerus :

i. Jhana pertama, kesadaran moral yang terdiri dari penerapan awal ( vitakka ), penerapan terus menerus ( vicara ), perhatian yang menyenangkan ( piti ), kebahagiaan ( sukha ), dan pemusatan perhatian ( ekaggata ),

ii. Jhana kedua, kesadaran moral yang terdiri dari penerapan terus menerus (vicara), perhatian yang menyenangkan (piti), kebahagiaan (sukha) dan pemusatan perhatian (ekaggata).

iii. Jhana ketiga, kesadaran moral yang terdiri dari perhatian yang menyenangkan (piti), kebahagiaan, dan pemusatan perhatian (ekaggata).

iv. Jhana keempat, kesadaran moral yang terdiri dari kebahagiaan (sukha) dan pemusatan perhatian (ekaggata), dan

v. Jhana kelima, kesadaran moral yang terdiri dari keseimbangan ( upekkha ) dan pemusatan perhatian (ekaggata). Jhana-jhana ini mempunyai akibat yang sesuai di Alam Berbentuk.

4. 4 Kamma baik yang akan masak di Alam Tak Berbentuk :

Inilah empat Arupa Jhana yang mempunyai akibat yang selaras di Alam Tak Berbentuk, yaitu :

i. Kesadaran moral yang berada di “ Ruang yang Tidak Terbatas “ ( Akasanancayatana ),

ii. Kesadaran moral yang berada di “ Kesadaran yang Tidak Terbatas “,

iii. Kesadaran moral yang berada di “ Kehampaan “ ( Akincannayatana ), dan,

iv. Kesadaran moral dimana Tidak Ada Pemahaman bukan pula Ada Pemahaman ( N’eva sanna ‘asannayatana ).



CARA KERJA KARMA

Pertama-tama marilah kita mempelajari proses-pikiran ( cittavithi ). Pikiran, kesadaran, dua unsur dari “jiwa” makhluk hidup, memainkan peranan sangat penting dalam perlengkapan manusia yang rumit. Jika seseorang tidur lelap dan dalam keadaan tidak bermimpi, ia merasakan sejenis kesadaran yang lebih kurang bersifat pasif daripada aktif. Perasaan ini seperti kesadaran yang dirasakan seseorang pada saat pembuahan dan wafat. Hal ini disebut sebagai Bhavanga yang berarti “ faktor kehidupan “, atau sebab, atau kondisi keberadaan yang sangat diperlukan.

Timbul dan lenyap setiap saat, pikiran & kesadaran mengalir bagaikan arus yang tidak pernah sama walaupun dengan selang waktu yang sedikit. Kita merasakan bentuk kesadaran ini tidak hanya pada saat tidak bermimpi, tetapi juga pada saat terjaga. Dalam kehidupan kita, kita merasakan saat-pikiran Bhavanga lebih banyak daripada bentuk kesadaran lain. Beberapa ahli psikologi modern menyatakan ‘bhavanga’ sama dengan bawah sadar, yaitu suatu bagian pikiran yang berada dibawah ambang batas kesadaran.

‘Bhavanga’ disebut sebagai faktor kehidupan karena ia merupakan keadaan penting untuk meneruskan keberadaan. Rangkaian kehidupan yang berkesinambungan tampaknya merupakan padanan kalimat terdekat untuk menggantikan istilah/kata “bhavanga”.

Kesadaran bhavanga ini, yang selalu dirasakan seseorang sepanjang tidak terganggu oleh rangsangan dari luar, bergetar selama satu saat-pikiran dan lenyap ketika suatu objek jasmani atau batin memasuki pikiran. Misalnya, objek yang memasuki pikiran adalah objek jasmani, maka proses yang terjadi adalah sebagai berikut : Saat terganggu objek jasmani, aliran kesadaran bhavanga tertahan, kemudian kesadaran pintu indria ( pancadvaravajjana ) yang fungsinya mengarahkan kesadaran menuju objek, muncul dan lenyap. Segera setelah itu muncullah kesadaran penglihatan ( cakkuvinnana ) yang melihat objek, tetapi tidak mengetahui lebih lanjut tentang objek tersebut. Bekerjanya indria penglihatan ini diikuti oleh saat penerimaan dari objek yang dilihat ( sampaticchana ). Selanjutnya muncullah saat pikiran yang menyelidiki ( santirana ) yang secara sesaat memeriksa objek yang dilihat. Ini diikuti oleh saat-pikiran yang menentukan ( votthapana ) ketika pembedaan dilakukan dan kehendak bebas memainkan peranannya. Javana, yaitu keadaan penting selanjutnya yang menurut ilmu jiwa bergantung pada keadaan tersebut. Pada keadaan itulah,pada keadaan Javana, suatu perbuatan dinilai, apakah baik atau buruk. Dan, Karma/kamma berlangsung pada keadaan tersebut. Jika ditanggapi dengan benar ( yonisomanasikara ), ia menjadi baik; jika ditanggapi dengan salah ( ayonisomanasikara ), jadi buruk.

Terlepas dari objek yang diingini atau tidak diingini yang tersajikan dalam pikiran, sungguh memungkinkan bagi seseorang untuk menjadikan proses Javana baik atau buruk. Jika misalnya seseorang bertemu dengan musuh, kemarahan akan muncul dengan sendirinya. Sebaliknya orang yang bijaksana dengan pengendalian diri sendiri, akan memancarkan pikiran cinta kasih kepadanya.

Faktor eksternal mungkin merupakan faktor ‘masukan’, tetapi akhirnya diri kita sendirilah yang menentukan untuk ‘bersikap’, yang secara langsung bertanggungjawab atas tindakan yang kita lakukan. Karmalah yang memungkinkan bagi kita untuk mengatasi pengaruh luar dan menghasilkan pikiran baik dan buruk dengan menggunakan kehendak bebas kita.

Istilah modern ‘apersepsi’ (tanpa-persepsi) mungkin bisa dipadankan dengan Javana. Javana, secara harafiah berarti ‘berlari’ . Disebut begitu karena dalam rentang suatu proses pikiran, ia berlari sebanyak tujuh saat pikiran, atau pada saat kematian, sebanyak lima saat-pikiran dengan objek yang sama. Keadaan mental yang muncul dalam semua saat-pikiran ini adalah sama, tapi kekuatannya berbeda.

Seluruh proses-pikiran ini yang berlangsung dalam waktu sangat singkat berakhir dengan kesadaran yang merekam ( tadalambana ) yang terjadi dalam waktu dua saat-pikiran.

Ada perumpamaan mengenai proses pikiran ini. Seseorang tidur nyenyak di kaki pohon mangga dengan kepala ditutupi. Angin menggerakkan cabang-cabang dan buah mangga jatuh di samping kepala orang yang tidur. Ia menyingkirkan penutup kepalanya, dan menoleh kearah objek. Ia melihatnya lalu mengambilnya. Ia memperhatikannya, dan yakin bahwa itu adalah sebuah mangga yang ranum. Ia memakannya, dan menelan serpihan dengan air liur, lalu ia membaringkan diri untuk tidur.

Tidur dengan tidak bermimpi menunjukkan aliran Bhavanga yang tidak terganggu. Hembusan angin pada pohon menunjukkan Bhavanga masa lalu dan goyangan cabang-cabang menunjukkan getaran Bhavanga. Jatuhnya buah mangga menunjuk Bhavanga yang tertahan / terganggu. Menoleh ke arah objek menunjuk kesadaran pintu-indria, penglihatan pada objek menunjuk pemahaman, mengambil menunjuk kesadaran penerima, memperhatikan menunjuk kesadaran penguji, meyakinkan diri bahwa itu buah mangga yang ranum menunjuk kesadaran penentu. Saat memakan menggambarkan proses Javana, dan menelan potongan menunjukkan ingatan. Kembali tidur  menggambarkan surutnya pikiran menuju Bhavanga lagi.

Dari tujuh saat-pikiran seperti yang disebutkan diatas, akibat dari saat pikiran pertama, yang terlemah dalam kemampuan, orang mungkin memetik buahnya ( buah karma/kamma, atau vipaka ) dalam kehidupan ini juga. Ini disebut “ karma/kamma yang berlaku segera “ ( ditthammavedaniya ). Jika ia tidak bekerja dalam kehidupan ini, ia menjadi kadaluwarsa ( ahosi ).

Urutan terlemah kedua  adalah yang ke-7 dari saat-pikiran. Akibat dari karma ini akan dipetik/dialami dalam kehidupan berikutnya. Oleh karena itu ia disebut “ Karma/kamma yang berlaku sesudah itu “ ( upapajjavedaniya ), yang juga, langsung menjadi kadaluwarsa jika ia tidak bekerja pada kehidupan yang kedua.

Akibat dari lanjutan saat-pikiran mungkin terjadi kapan saja dalam rentang pengembaraan seseorang dalam Samsara sampai akhir Kebebasan. Karma/kamma jenis ini disebut “ berlaku untuk jangka waktu yang tak terbatas “ ( aparapariyavedaniya ).



TIDAK SEMUA KARENA KAMMA

Terdapatlah pandangan salah yang menyatakan bahwa, “Apapun kebahagiaan, penderitaan atau perasaan netral yang dirasakan, semuanya bergantung pada perbuatan masa lalu ( pubbekatahetu )”. Mengenai pandangan-salah ini, Sang Buddha bersabda, “ Jika begitu, karena perbuatan masa lalu orang menjadi pembunuh, pencuri, tak bersusila, pembohong, pemfitnah, pengoceh, tamak, dengki dan jahat. Jadi pada mereka yang bersandar pada perbuatan masa lalu sebagai alasan utama, disana tak ada keinginan untuk berbuat, atau perlu melakukan perbuatan ini atau tidak melakukan perbuatan itu.” [ Anguttara-Nikaya – I.173 ; Gradual Sayings. I.157 ; dikutip dari buku “Sang Buddha dan Ajaran-ajaran-Nya”, penulis Bhante Narada Mahathera, hal.58 ]

Agama Buddha menerangkan semua perbedaan dan ketidak-adilan didunia ini dengan hukum Karma, tetapi tidak menyatakan bahwa segala sesuatu disebabkan oleh Kamma saja. Apabila segala sesuatu disebabkan oleh Kamma, maka seorang penjahat akan selamanya menjadi jahat, karena kammanya yang menjadikan dirinya jahat. Orang tidak perlu memeriksakan dirinya ke dokter untuk disembuhkan penyakitnya, karena bila kammanya memang harus demikian ia akan sembuh dengan sendirinya. Jika kehidupan saat ini sepenuhnya terbentuk atau dikendalikan seluruhnya oleh perbuatan masa lalu kita, maka Kamma tentunya sama saja dengan fatalisme deterministic / atau “Takdir”.

Seseorang bebas untuk membentuk masa sekarang atau masa yang akan datang. Jika fatalisme-deterministic itu betul, maka kehendak-bebas (freewill ) akan menjadi suatu kemustahilan. Kehidupan akan bergerak secara mekanis, tak berbeda dengan mesin. Ajaran fatalisme-deterministik seperti ini bukanlah hukum-Kamma yang diajarkan Sang Buddha.

PANCA-NIYAMA

Menurut agama Buddha, terdapat lima aturan / proses alamiah ( niyama ) yang berlaku dalam alam mental dan fisik, yaitu  :

1. Kamma Niyama ( Sanskrit : Karma )

Yaitu hukum sebab akibat ; perbuatan baik dan buruk menghasilkan akibat-akibat yang sesuai.

2. Bija Niyama,

Hukum Benih ( hukum fisik organic ) ; beras dihasilkan dari padi, gula dihasilkan dari tebut atau madu, dan lain-lain. Teori ilmiah tentang sel-sel dan gen-gen ( plasma pembawa sifat ) dan kemiripan fisik anak kembar diterangkan melalui hukum ini.

3. Utu Niyama,

Hukum fisik ( inorganic ), yaitu fenomena angin dan hujan, musim-musim yang timbul di alam-semesta.

4. Citta Niyama,

Hukum pikiran / batin ( hukum psikis ), yaitu proses-proses kesadaran ( citta-vitthi ), kekuatan pikiran, kemampuan batin, membaca pikiran, kewaskitaan, mengingat kehidupan lampau diri sendiri dan orang lain, dan lain-lainnya.

5. Dhamma Niyama

Hukum alam, yaitu misalnya fenomena alam pada saat kedatangan Bodhisatta pada kelahiran terakhirnya, gravitasi bumi, dan lain-lain sebagainya.

Setiap fenomena mental dan fisik dapat diterangkan dengan lima hukum serba-lengkap ini. Dan hukum alam tersebut berlaku, berjalan sendiri, tanpa peran serta Hakim Agung atau Penguasa tertentu yang mengaturnya.

Tidak ada yang memutuskan bahwa api itu harus membakar. Tidak ada yang memerintahkan bahwa air harus mencari permukaan yang rendah. Tak ada ilmuwan yang memerintahkan bahwa air harus terdiri dari H20 dan sifat dingin harus menjadi salah satu sifatnya. Kamma bukanlah nasib atau takdir yang ditimpakan pada kita oleh kekuatan misterius yang tak dikenal, kepada siapa kita harus menyerahkan diri kita tanpa daya. Perbuatan seseorang sendirilah yang memberi akibat pada dirinya, sehingga dengan demikian ia mempunyai suatu kemungkinan untuk membelokkan jalannya kamma sampai taraf tertentu. Berapa jauh ia dapat membelokkannya, hal itu tergantung pada usaha dirinya sendiri.

……………………………………………………………………………………………………………………….

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )


RATANA KUMARO

Semarang-Barat, Minggu, 5 Juli 2009.

Posted in BUDDHA, Hukum Karma | 25 Comments »

ARTI DOA [ Menurut Buddhisme ]

Posted by ratanakumaro pada Juni 28, 2009

“Sesuai dengan benih yang kita tabur, begitulah buah yang akan kita petik. Pembuat kebajikan akan memperoleh kebahagiaan dan pembuat kejahatan akan memperoleh penderitaan.”

[Samyutta Nikaya I, 227]

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattum (3X) )

Namatthu Buddhassa,

Saya pernah mendapat pertanyaan dari seorang non-Buddhis berkaitan dengan “doa” . Begini pertanyaannya, Jika sosok “Yang-Maha-Kuasa” dan “Yang-Maha-Pencipta”  ditolak keberadaannya oleh Sang Buddha, lalu, kepada siapakah ummat Buddha berdoa ? Saya melihat ummat Buddha banyak yang kaya-raya, makmur, darimanakah itu bila bukan dari “Yang-Maha” ? Ataukah itu dari Sang Buddha ? “

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin menyitir ungkapan yang sangat terkenal dari Descartes, Bapa filsafat idealisme. “Cogito Ergo Sum”, yang artinya, “Aku berpikir, maka Aku Ada”, demikian Descartes berkata. Psikologi modern  juga menyatakan bahwa kita adalah buah pikiran kita sendiri, sebuah temuan ilmiah yang sangat selaras dengan apa yang diajarkan Sang Buddha lebih dari 2.550 tahun yang lalu. Ketika seseorang berdoa, maka sebenarnya ia sedang melakukan proses “sugesti” dan “afirmasi” bagi dirinya sendiri. Dan kemudian ia mendapatkan kelegaan serta keteguhan dari “doa” yang ia ucapkan pada suatu sosok “Yang-Maha-Segala”. Kelegaan dan keteguhan itu sesungguhnya hanyalah efek psikologis semata dari hasil “sugesti” dan “afirmasi” yang ia tanamkan dalam “jiwa” melalui untaian kata-kata indah yang terangkum dalam doa tersebut, bukan berasal dari “sentuhan-tangan-Yang-Maha-Kuasa” . Inilah efek yang diciptakan oleh pikiran melalui “iman” dan “devosi” umumnya ummat manusia.

Dalam satu kesempatan, Sang Buddha bersabda, “Tumhehi kiccam atappam akkhataro Tathagata”, yang artinya, Usaha harus dikerjakan oleh dirimu sendiri. Para Tathagata hanyalah Guru.” ~ Dhammapada v.276.

Sang Buddha tidak pernah mengajarkan para siswa-Nya untuk berdoa dan berserah diri pada “Maha-Dewa” siapapun namanya, termasuk kepada Sang Buddha sendiri. Kebalikan dari ajaran “berserah-diri” tersebut,  Sang Buddha justru mengajarkan para siswa-Nya untuk berusaha, berdaya-upaya dengan kemampuan dirinya sendiri, dengan segenap-tenaga, hingga meraih kesuksesan. Untuk itulah, Sang Buddha memberikan rumusan bagi para siswa-Nya supaya berhasil dengan sukses meraih apa yang dicita-citakan, yang disebut dengan “Panca-Bala” :

“Pañcimāni, bhikkhave, balāni. Katamāni pañca? Saddhābalaŋ, vīriyabalaŋ, satibalaŋ, samādhibalaŋ, paññābalaŋ. “

Inilah o para Bhikkhu, lima kekuatan. Apakah lima kekuatan itu? Kekuatan keyakinan (Saddhābalaŋ), Kekuatan ketekunan/ semangat (vīriyabalaŋ), Kekuatan perhatian (satibalaŋ), Kekuatan samādhi/konsentrasi (samādhibalaŋ), Kekuatan Kebijaksanaan (paññābalaŋ).


Inilah kunci  bagi siapapun yang ingin meraih kesuksesan menggapai cita-citanya. Di dalam berusaha mencapai cita-cita, alih-alih menyibukkan diri dengan uncaran doa-doa berjam- jam, kita hendaknya selalu penuh keyakinan, ketekunan/semangat, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan, dalam berusaha dan berdaya-upaya meraih cita-cita, hingga apa yang kita cita-citakan itu berhasil.

Pada suatu kesempatan, Sang Buddha bersabda pada hartawan Anathapindika:

Oh, perumah tangga, di dunia ini ada lima hal yang diinginkan, menarik dan menyenangkan. Apakah kelima hal itu? Tidak lain adalah usia panjang, kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran dan kelahiran kembali di alam-alam Surga. Akan tetapi, oh, perumah tangga, Saya tidak pernah mengajarkan bahwa lima hal tersebut dapat diperoleh dengan doa (acayana) ataupun dengan kaul/nadar (patthana). Jika seandainya dapat diperoleh dengan doa atau kaul/nadar, [maka] siapakah yang tidak akan melakukannya?

Bagi seorang siswa mulia, oh, perumah tangga, yang mendambakan usia panjang, kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran, dan kelahiran kembali di alam-alam Surga; sangatlah tidak tepat apabila ia berdoa atau merasa senang dalam usaha seperti itu. Sebaliknya, ia selayaknya menempuh jalan kehidupan yang mengakibatkan usia panjang, kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran dan kelahiran kembali di alam-alam Surga. Hanya dengan berbuat demikianlah ia dapat memperoleh apa yang diinginkan, menarik dan menyenangkan.


TIDAK PERLU BERDOA, TETAPI KENDALIKANLAH PIKIRAN KITA

Jika Pikiran tidak terjaga,  tindakan jasmani tidak terjaga, ucapan juga tak terjaga, buah pikiran juga tak terjaga. Jika pikiran terjaga, tindakan jasmani terjaga, ucapan juga terjaga, dan buah-pikiran juga terjaga. [ Atthasalini hal.68. The Expositor,Bag.I,halm91 ]

Dalam Dhammapada, terdapatlah kata-kata mutiara Sang Buddha, yang mengingatkan kita semua untuk senantiasa mengendalikan pikiran kita, karena, pikiran adalah pemimpin, karena pikiran kita sendirilah kita bahagia dan  karena pikiran kita sendirilah kita menderita.

“Pikiran itu sangat sulit dikendalikan, Bergerak sangat cepat, Menuju kemana ia mau pergi. Melatih pikiran adalah baik, Pikiran yang terkendali akan membawa kebahagiaan.” [ Dhammapada ; Citta-Vagga 3:4 ]

“Pikiran itu sangat sulit untuk diawasi dan sangat halus, Bergerak kemana ia mau pergi, Orang bijaksana seharusnya mengendalikan pikirannya; Pikiran yang terkendali akan membawa kebahagiaan.” [ Dhammapada ; Citta-Vagga 3:4 ]

“Seseorang yang pikirannya tidak ternoda oleh nafsu, Terbebas dari kebencian, Dapat mengatasi baik dan buruk, Maka tidak ada lagi perasaan takut.” [ Dhammapada ; Citta-Vagga 3:7 ]

Seperti orang menabur benih padi, maka akan tumbuh tanaman padi, demikian pula, benih-benih pikiran baik akan menyebabkan tumbuhnya pohon yang berbuah kebajikan yang bermanfaat bagi si pembuat kebajikan, dan demikianlah sebaliknya. Hukum-alam seperti ini ( Hukum-Alam, sesungguhnya ada lima, yaitu  : utu-niyama, bija-niyama, kamma-niyama, ctta-niyama, dhamma-niyama ), tidak dapat direkayasa dengan “Doa”.

Rahasia kesuksesan dan kegagalan, semua terletak pada, bagaimana kita menggunakan pikiran [mind-set] kita, bagaimana kita mengendalikan pikiran, dan kemana pikiran kita arahkan, bukan pada “kalimah-sakti” yang terangkai dalam sebuah “doa”. Hendaknya hal ini senantiasa kita pahami dengan bijaksana.

KISAH NYATA ; SESEORANG  YANG  BERSANDAR PADA MUJIZAT “YANG-MAHA-KUASA”

Ada sebuah kisah nyata, dari kehidupan di sekitar saya sendiri. Seorang perumah tangga, mempunyai anak tiga. Semenjak menikah, ia tidak pernah mempunyai pekerjaan tetap. Sekian lama tidak terdengar kabar, pada suatu ketika, saya bertemu dengannya. Cukup kagum, karena ia saat itu naik mobil Mercedes Benz, dan bekerja mandiri sebagai seorang kontraktor. Kemudian, setelah bercakap-cakap, barulah saya ketahui, semua modalnya dia peroleh dari pinjaman uang ke “lintah-darat”, dan saat bertemu dengan saya itu sebenarnya dia terlilit hutang yang sangat besar. Untuk membayar hutang-hutangnya kepada “lintah-darat”, dia membuat banyak kartu-kredit. Ia saat itu berkelakar,

” Jika kita punya hutang yang banyak, kita tidak perlu pusing-pusing memikirkannya, biarkan yang meminjamkan uang pada kita itulah yang pusing memikirkan bagaimana menagih uangnya yang kita pinjam, ha ha ha..! “


Seiring berjalannya waktu, kehidupannya semakin “suram”. Mulailah debt-collector bermunculan, karena ia tak mampu membayar angsuran bulanan lagi. Hutangnya ketika itu sudah mencapai 700 juta rupiah. Pada suatu saat, ia menyatakan sesuatu hal pada saya sebagai obat penghalau “pesimisme”-nya sendiri :

“Seseorang pernah memberikan kesaksian di rumah-ibadah tempat istri saya kesana, disana orang tersebut berkata,”Jika didepan saya tidak terdapat satu jalanpun kecuali hanya sebuah dinding tembok, maka sayapun mau untuk lari menabrak dinding tembok didepan saya, karena saya yakin itulah kehendak Tuhan. Dan Tuhan pasti telah menyiapkan rencana indahnya ketika saya lari menabrakkan diri ke dinding tembok tersebut! “

Berdasarkan kesaksian seseorang di sebuah rumah-ibadah itulah, kemudian, pada perjalanan hidupnya selanjutnya, ia benar-benar melakukan hal yang bodoh. Karena merasa sudah tidak ada jalan lagi, maka ia mulai mempunyai pikiran buruk. Ia mulai menipu ke beberapa teman, saudara, dan akhirnya menipu banyak orang. Padahal, terakhir bertemu saya ( yaitu ketika ia menceritakan kisah “kesaksian” diatas ), ia pun telah terbelit pada hutang kartu kredit dan hutang yang lainnya hingga 700 juta rupiah.

Ketika ia merasa terpojok, ia dan istrinya memutuskan bercerai. Namun dengan perjanjian, bahwa ia tetap tinggal dirumahnya. Perceraian ini hanya rekayasa, supaya istri dan anak-anaknya terbebas dari kejaran para debt collector dan juga para polisi  ( sebab, semua kreditur telah melaporkan dirinya pada pihak yang berwajib, polisi ). Alangkah malangnya, kabar terakhir yang saya dengar, ketika sang suami bersusah payah menyembunyikan diri dari kejaran polisi dan debt collector, si istri asyik-masyuk berselingkuh dengan laki-laki lain yang lebih kaya. Hancurlah ia, meraung-raung, ia tak menyangka semua akan menjadi begitu. Ia meronta, “Dimana keadilan Tuhan, bukankah selama inipun aku rajin beribadah ? Berdoa ? Mengapa doaku tak pernah didengarnya ? Mengapa Tuhan melakukan ini semua padaku ?  “

Nah, saudara-saudari, apakah yang bisa kita petik dari kisah ini ?  Hukum-alam, berjalan dengan pasti. Alam tidak pernah memihak. Alam tidak bisa disanjung dengan doa. Jika kita berbuat jahat, maka buah kejahatan telah mulai berkembang dan menunggu untuk waktu-masak, dimana kita siap memetiknya.

Mengenai hal ini, ada beberapa kata-kata mutiara Sang Buddha, yang patut kita renungkan bersama :

“Apabila buah dari perbuatan buruk belum masak, orang bodoh menganggap hidupnya manis seperti madu; namun apabila buah dari perbuatan buruknya telah masak, maka orang bodoh itu akan merasakan pahitnya penderitaan.” [Dhammapada ; Bala-Vagga 5:10 ]

“Akibat dari perbuatan buruk tidak segera berbuah, seperti susu yang perlahan-lahan menjadi asam setelah diperah; demikian pula penderitaan akan membakar orang bodoh seperti bara api yang tertutup oleh arang.” [ Dhammapada ; Bala-Vagga 5:12 ]

“Janganlah menganggap remeh kejahatan yang ringan dengan berpikir : “Perbuatan keliru yang tidak berarti ini tidak akan berakibat buruk pada diriku.” Karena seperti air yang mengisi tempayan tetes demi tetes, demikian pula orang bodoh memenuhi dirinya dengan perbuatan jahat Sedikit demi sedikit.” [ Dhammapada ; Papa-Vagga 9:6 ]

“Selama akibat dari perbuatan jahat belum masak, si pembuat kejahatan menganggap perbuatan jahatnya sebagai hal yang menguntungkan. Tetapi setelah akibat dari perbuatan jahatnya sudah masak, ia akan menyadari kerugian dari perbuatan jahat tersebut.” [ Dhammapada ; Papa-Vagga 9:4 ]


KISAH SANG BUDDHA MEMANFAATKAN KEKUATAN TAKHAYUL DARI “PERSEMBAHAN-KORBAN” DAN “DOA”

Ada sebuah kisah dari kehidupan lampau Sang Buddha, yang menggambarkan bagaimana Sang Boddhisatta ( calon-Buddha ) memanfaatkan kekuatan takhayul berupa “persembahan-korban-binatang” dan “doa” yang mencengkeram rakyat Benares waktu itu. Sang Boddhisatta sangat kasihan mengapa rakyat Benares dicengkeram kepercayaan takhayul semacam itu. Karena itu, Sang Boddhisatta kemudian mencari cara / “akal” bagaimana caranya membelokkan praktik takhayul tersebut menjadi sebuah praktik latihan lima moralitas ( Pancasila ) yang jauh lebih bermanfaat dari “persembahan-korban-binatang” dan “doa” pada “Maha-Dewa”.

Dahulu kala, Raja Brahmadatta memerintah di Benares, India Utara. Sang Bodhisatta, Makhluk yang akan mencapai Penerangan, terlahir sebagai pangeran di negara itu. Karena pintarnya, ia telah menyelesaikan seluruh pendidikannya kala ia berusia 16 tahun. Jadi pada usia yang sangat muda ayahnya telah menjadikan ia sebagai orang kedua dalam pemerintahannya.

Pada hari-hari itu, kebanyakan orang Benares memuja dewa-dewa. Mereka sangatlah percaya tahayul. Mereka berpikir bahwa para dewalah yang menyebabkan terjadinya sesuatu pada diri mereka, dan bukannya hasil dari perbuatan mereka sendiri. Jadi mereka akan berdoa kepada para dewa ini dan minta pertolongan. Mereka akan meminta pernikahan yang menguntungkan, atau kelahiran seorang anak, atau kekayaan, ketenaran.

Mereka akan berjanji kepada para dewa bahwa, jika doa mereka terkabul mereka akan membayar pada dewa tersebut dengan persembahan. Sebagai tambahan selain bunga dan wewangian, mereka membayangkan bahwa para dewa tersebut menginginkan persembahan korban binatang. Jadi bila mereka berpikir bahwa para dewa telah membantu, mereka akan membunuh banyak binatang-binatang – kambing, lembu, ayam, babi, dsb.

Pangeran tersebut melihat semua ini dan berpikir, “Binatang-binatang yang tak berdaya ini juga merupakan sasaran sang raja, jadi aku harus melindungi mereka. Orang-orang melakukan perbuatan tidak benar ini karena kebodohan dan kepercayaan terhadap tahayul. Ini bukanlah agama yang sebenarnya. Karena agama yang sebenarnnya menawarkan kehidupan seperti apa adannya, bukan pembunuhan. Agama yang benar menawarkan kedamaian bukan pembunuhan.

“Aku takut orang-orang ini terlalu mempercayai tahayul sehingga sukar bagi mereka untuk meninggalkannya. Betapa menyedihkan. Tetapi mungkin paling tidak kepercayaan mereka ini dapat diubah menjadi sesuatu yang berguna. Suatu hari nanti aku akan menjadi raja, Jadi aku harus membuat rencana agar tahayul ini dapat membantu mereka. Jika mereka harus memberikan persembahan biarlah mereka membunuh ketamakan dan kebencian mereka sendiri dan bukannya membunuh binatang-binatang yang tidak berdaya ini! Dengan demikian seluruh kerajaan akan mendapatkan manfaat”.

Jadi pangeran yang pandai tersebut membuat rencana jangka panjang. Sering ia akan mengedarai keretannya menuju satu pohon banyan yagn terkenal tepat di luar kota. Pohon itu sangat besar, banyak orang berdoa dan memberikan persembahan kepada dewa yang mereka kira hidup di pohon itu. Pangeran itu turun dari keretanya dan memberikan persembahan yang sama – dupa, bunga, wewangian dan air – tetapi bukan persembahan binatang.

Dengan cara demikian dia membuat suatu tontonan besar, dan kabar tentang persembahan yang dilakukannya itu dengan segera tersebar luas. Segera, orang mengira bahwa ia juga adalah salah satu pengikut dewa pohon banyan tersebut.

Pada saatnya raja Brahmadatta meninggal dan pangeran tersebut menjadi raja yang baru. Ia memimpin sebagai seorang raja yang adil dan semua rakyatnya mendapatkan manfaat. Jadi semua rakyat percaya dan menghormatinya sebagai seorang raja yang adil dan bijaksana.

Kemudian pada suatu hari, ia memutuskan bahwa telah tiba saatnya yang tepat untuk melaksanakan rencananya. Jadi ia memanggil seluruh jajaran pemimpin rakyat Benares ke aula kerajaan. Ia bertanya kepada mereka, “Para menteri dan rakyatku yang setia, tahukah kalian bagaimana aku mampu memastikan bahwa nantinya aku akan menjadi raja?” Tidak ada seoarngpun dapat menjawab.

Ia berkata, “Ingatkah kalian bahwa aku sering memberikan persembahan yang manis-manis dan baik kepada dewa pohon banyan?” “Ya, tuanku”, kata mereka.

Raja melanjutkan, “Pada tiap-tiap saat itu, aku berjanji pada dewa pohon banyan yang hebat itu, Aku berdoa, ‘Oh dewa yang hebat, jika anda membuatku menjadi raja di Benares, aku akan memberikan persembahan yang khusus, lebih hebat dari bunga dan wewanggian'”.

“Karena sekarang aku telah menjadi raja, anda semua dapat melihat sendiri bahwa dewa telah mengabulkan doaku. Jadi sekarang aku harus memenuhi janjiku dan memberian pesembahan khusus.”

Semua yang berada dalam aula tersebut menyetujuinya. Mereka berkata, “Kita harus mempersiapkan persembahan ini dengan segera. Binatang apa yang hendak paduka bunuh?”

Sang Raja berkata, “Para pengikutku, aku bahagia kalian semua mau bekerjasama. Aku berjanji pada dewa pohon banyan bahwa aku akan mempersembahkan siapa saja yang gagal berlatih Lima Langkah Latihan (Panca Sila). Yaitu, mereka yang menghancurkan kehidupan, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan kesalahan dalam hal seksual, berbicara bohong, atau kehilangan akal sehatnya karena alkohol. Aku berjanji, bahwa jika ada yang melakukan hal ini, aku akan mempersembahkan nyali, daging, dan darah mereka pada altar dewa yang hebat tersebut!”

Karena begitu percayanya akan tahayul, semua yang berada diaula menyetujuinya bahwa hal ini harus dilakukan, atau dewa tentunya akan menghukum raja dan semua yang ada dalam kerajaan itu.

Sang raja berpikir, “Ah, begitu hebatnya kekuatan tahayul sampai-sampai semua orang kehilangan akal sehatnya! Mereka tidak dapat melihat bahwa latihan pertama adalah jangan membunuh. Jika aku mengorbankan salah satu dari mereka, akulah yang akan berada di altar! Dan dengan kekuatan seperti itu aku dapat membuat janji semscam itu, dan tidak harus melakukannya!”

Jadi, dengan keyakinan penuh pada kekuatan tahayul, sang Raja berkata kepada para pimpinan rakyat, “Pergilah ke seluruh bagian kerajaan dan umumkanlah janji yang telah kubuat kepada dewa pohon banyan. Kemudian umumkanlah bahwa seribu orang pertama yang melanggar langkah-langkah latihan akan mendapatkan kehormatan untuk menjadi persembahan, untuk memenuhi janji raja.”

Demikianlah dan terjadilah, orang-orang di Benares menjadi terkenal karena mereka berhati-hati melatih Lima Latihan  Moralitas (Panca Sila). Dan raja yang baik tersebut, yang mengenal dengan baik pengikutnya, tidak mengorbankan siapapun.

[ Sumber :    http://www.geocities.com/Athens/Stage/5255/dhamma/jataka/pangerantahayul.htm      ]


JANGAN BERBUAT JAHAT, PERBANYAK KEBAJIKAN, SUCIKAN HATI DAN PIKIRAN

Sesungguhnya, pada ketiga syair ( jangan berbuat jahat, perbanyak kebajikan, sucikan hati dan pikiran ) tersebutlah, inti kebahagiaan hidup. Sebagaimana kita lihat pada contoh kisah-nyata diatas, seseorang yang mengharapkan “mujizat-keselamatan-dan-ksejahteraan” melalui penguncaran doa-doa sementara ia sendiri senantiasa berbuat jahat, sesungguhnya telah menjerumuskan dirinya sendiri kearah jurang-kehancuran.

Dalam hal ini, kata-kata mutiara Sang Buddha, patut kita renungkan bersama :

“Dalam kehidupan ini ia menderita, dalam kehidupan yang akan datang ia juga akan menderita. Dalam kedua alam kehidupan si pembuat kejahatan menderita. Ia menderita dan bersedih menyaksikan buah dari perbuatannya yang buruk.” [ Dhammapada ; Yamaka-Vaga 1:15 ]

“Dalam kehidupan ini ia berbahagia, dalam kehidupan yang akan datang ia juga berbahagia. Dalam kedua alam kehidupan si pembuat jasa kebaikan berbahagia, Ia bergembira dan berbahagia menyaksikan buah dari perbuatannya yang baik.” [ Dhammapada ; Yamaka-Vagga 1:16 ]

“Si pembuat kejahatan menyesal dalam kehidupan ini, Ia juga menyesal dalam kehidupan yang akan datang. Ia menyesal di kedua alam kehidupan, Ia sangat menyesal ketika merenungkan perbuatan jahatnya. Dan ia akan lebih menderita lagi setelah terlahir di alam sengsara.” [ Dhammapada ; Yamaka-Vagga 1:17 ]

“Si pembuat kebajikan berbahagia dalam kehidupan ini, Ia juga berbahagia dalam kehidupan yang akan datang.  Ia berbahagia di kedua alam kehidupan, Ia sangat berbahagia ketika merenungkan perbuatan bajiknya. Dan ia akan lebih bahagia lagi setelah terlahir di alam surga/bahagia.” [ Dhammapada ; Yamaka-Vagga 1:18 ]

“Jangan terhanyut dalam kelengahan, tidak melekat pada kenikmatan indriya. Orang yang sadar dan selalu waspada, akan memperoleh kebahagiaan yang tidak terbatas.” [ Dhammapada ; Appamada-Vagga 2:7 ]

“Seseorang yang pikirannya tidak ternoda oleh nafsu, terbebas dari kebencian. Dapat mengatasi baik dan buruk, maka tidak ada lagi perasaan takut.” [ Dhammapada ; Citta-Vagga 3:7 ]

“Apabila seseorang telah melakukan perbuatan baik, Ia hendaknya mengulangi perbuatan baik tersebut. Ia merasa berbahagia dengan perbuatan baik, oleh karena kebaikan akan membawa kebahagiaan.” [ Dhammapada ; Papa-Vagga 9:3 ]

“Selama akibat dari perbuatan baik belum masak, si pembuat kebaikan menganggap perbuatan baiknya sebagai hal yang merugikan. Tetapi setelah akibat dari perbuatan baiknya sudah masak, Ia akan menyadari manfaat dari perbuatan baik tersebut.” [ Dhammapada ; Papa-Vagga 9:5 ]

“Janganlah menganggap remeh perbuatan baik yang ringan dengan berpikir : “ Perbuatan baik yang tidak berarti ini tidak akan membawa kebaikan pada diriku” Karena seperti air yang mengisi tempayan tetes demi tetes, Demikian pula orang bijaksana memenuhi dirinya dengan perbuatan baik Sedikit demi sedikit.” [ Dhammapada ; Papa-Vagga 9:7 ]

Nah, saudara-saudari semuanya dan khususnya ummat Buddha, sesungguhnya, mantra dan doa yang “melambung-tinggi” itu tidaklah berharga bila dibandingkan dengan  sebuah usaha yang penuh keyakinan (saddha), ketekunan/semangat ( viriya ), perhatian ( sati ), konsentrasi ( Samadhi ), dan kebijaksanaan ( panna ). Doa, hanya membantu “batin” untuk memperoleh suatu kelegaan dan keteguhan tekad, yang sesungguhnya itu hanyalah proses psikologis semata ( hasil dari “sugesti” dan “afirmasi” yang dilakukan ).

Hindarilah kejahatan, perbanyaklah kebajikan, sucikan hati dan pikiran, inilah kunci kebahagiaan, inilah kunci “surga” pada kehidupan saat ini dan kehidupan setelah kematian nanti ( pada kelahiran-kembali kelak ). Bagaimana kita menghindari kejahatan ? Dengan memperteguh diri dalam “Latihan Lima Moralitas” ( Pancasila ), maka kita telah menghindarkan diri dari kejahatan. Dengan mengembangkan kedermawanan ( Dana ), cinta-kasih ( Metta ), Kasih-Sayang ( Karuna ), rasa simpati ( Mudita ), dan keseimbangan-batin ( Upekkha ),  maka kita telah mengembangkan dan memperbanyak kebajikan.

Seorang penyair Buddhis, Dr.Tagore, pernah membuat sebuah syair yang berusaha menggambarkan bagaimana seorang Boddhisatta ( makhluk yang bercita-cita mencapai pencerahan-sempurna/menjadi Buddha demi keselamatan semua makhluk ) membentuk batin-Nya untuk tujuan pencapaian “pembebasan”-nya. Dengan bersandar pada kekuatan sendiri, dengan usahanya sendiri, seorang Boddhisatta akan membentuk pikirannya seperti ini :

“ Biarlah aku tidak berdoa untuk dilindungi dari bahaya, tetapi untuk tidak takut dalam menghadapi mereka.

Biarlah aku tidak meminta untuk disembuhkan dari penyakitku, tetapi demi ketabahan untuk mengatasinya.

Biarlah aku tidak berharap dalam kecemasan untuk diselamatkan, tetapi berharap demi kesabaran untuk memenangkan kebebasanku. “

Sungguh sebuah syair yang sangat indah, bertujuan untuk memajukan perkembangan spiritual, jauh dari ke-takhayul-an dan “fantasi” akan turunnya “invisible-hand” dari sosok “Maha-Kuasa”. Dan justru “Doa” yang bersifat “afirmasi-positif” seperti inilah sesungguhnya yang sepatutnya mulai kita praktikkan demi manfaat pencapaian perkembangan spiritual kita bersama, bukan “doa” yang diselimuti  kabut “takhayul” akan harapan datangnya “keajaiban” dari “kekuatan-ghaib” diatas  sana.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Minggu, 29 Juni 2009

Posted in BUDDHA, Doa, Rahasia Doa | 21 Comments »

TUHAN “YANG-MAHA…” DIMATA SEORANG BUDDHA

Posted by ratanakumaro pada Juni 22, 2009

”Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan; Mengapa Brahma  itu tidak menciptakan secara baik? Bila kekuatannya demikian tak terbatas, mengapa tangannya begitu jarang memberkati? Mengapa dia tidak memberi kebahagiaan semata? Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela? Mengapa memenangkan kepalsuan, sedangkan kebenaran dan keadilan gagal? SAYA MENGANGGAP, BRAHMA  ADALAH KETIDAK-ADILAN . Yang membuat dunia yang diatur keliru.” [Bhuridatta Jataka, Jataka 543]

Apabila, O para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami penderitaan dan kebahagiaan sebagai hasil atau sebab dari ciptaan Tuhan (Issaranimmanahetu), maka para petapa telanjang ini tentu juga diciptakan oleh satu Tuhan yang jahat/nakal (Papakena Issara), karena mereka kini mengalami penderitaan yang sangat mengerikan.

[Devadaha Sutta, Majjhima Nikaya 101]

Bila ada Sang Maha Kuasa yang dapat mendatangkan bagi setiap mahluk ciptaanya kebahagiaan atau penderitaan, perbuatan baik maupun jahat, maka yang maha kuasa itu diliputi dosa, sedangkan manusia hanya menjalankan perintahnya saja.

( Mahabodhi Jataka No.528 )

___________________________________________________

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

( tikkhattum (3X) )

Namatthu Buddhassa,


Akhir-akhir ini, saya sering mendapat pernyataan dari orang-orang non-Buddhis, bahwa setelah Sang Buddha Parinibbana, Beliau mencapai suatu tataran spiritual  “Menyatunya-Atman-Dengan-Brahman” ( Jawa : Manunggaling-Kawula-Lan-Gusti), pernyataan masyarakat non-Buddhis itu tidaklah-benar. Tidaklah benar pula bila dinyatakan bahwa Sang Buddha adalah salah satu Nabi utusan Tuhan dari sekian banyak Nabi yang tidak dipopulerkan dalam lingkup tradisi agama-agama theistik tertentu.

Pada kenyataannya, Sang Buddha justru menolak teori / pandangan adanya sosok “Maha-Pencipta” dan “Maha-Kuasa” dalam bentuk apapun;  menolak adanya “Atman” dan menolak ke-Maha-Kuasa-an “Brahman”.  Dan Sang Buddha itu sendiripun bukan seorang Tuhan “Yang-Maha…” sebagaimana anggapan orang-orang non-Buddhis. Sang Buddha adalah “Guru-Agung” yang telah mencapai Pencerahan-Sempurna dan kemudian menunjukkan hakekat segala-sesuatu, serta menunjukkan “Jalan-Keselamatan” bagi semua makhluk supaya bisa terbebas dari samsara.

Alam semesta dan makhluk hidup mengada, karena proses hukum alam semata yang tertutup kabut seiring perjalanan waktu semesta yang memang sebenarnya telah berusia sangat tua, sehingga para makhluk tidak mampu menguak misterinya. Dan misteri hukum alam  ini, kemudian telah disingkapkan dengan kehadiran Sang Buddha Gotama ke muka bumi ini.

Setelah pencerahan-Nya, Sang Buddha kemudian menembus dan memahami, bahwa sosok-sosok “Maha-Dewa-Yang-Maha” yang sebelumnya banyak dipuja-puji oleh banyak aliran spiritual sebelum Beliau hadir dan ketika Beliau masih hidup, ternyata hanyalah sekumpulan Dewa, dari surga Kamadhatu, Rupadhatu, hingga Arupadhatu. Untuk Dewa lingkup Kamadhatu, watak Dewa disana masih memiliki nafsu dan emosi, sehingga pantas beberapa “Maha-Dewa” yang diyakini sebagai pemilik “kuasa” memiliki watak seperti itu ( pendendam, pemarah, pencemburu, suka berperang, bangga akan “kekuatan” dan “kekuasaan ). Dan Dewa-dewa dari lingkup kamadhatu ini, selain dikenali dari wataknya, dapat dikenali dari satuan hitungan waktu ( missal, sehari semalam disana = 800 tahun waktu manusia, atau sehari semalam disana = 1.600 tahun waktu manusia, maka Tuhan tersebut berarti hidup di alam surga Kamadhatu, tepatnya di alam Nimmanarati dan Paranimmittavasavatti ).

Pada alam kamadhatu inilah,  seperti yang dikisahkan dalam banyak kitab-kitab Buddhis, kelak siapapun yang masuk ke surga ini, akan mendapatkan jatah ratusan bidadari cantik berkaki merah muda, mendapatkan istana2 megah, istana2 emas, dan lain2 sebagainya.

Gambaran diatas adalah gambaran alam surga Kamadhatu. Berbeda lagi kondisinya bila yang dibicarakan adalah surga Rupa-Dhatu, disana (Rupa-Dhatu) sudah mulai tidak terdapat nafsu. Tidak ada lagi perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan. Ini adalah alam para Brahma. “Maha-Brahma” yang disembah para Brahmana, hidup dalam alam Rupa-Dhatu tepatnya di alam Jhana I. “Maha-Brahma” adalah pemimpin dari keenam surga kamadhatu dibawahnya, dan juga pemimpin para dewan dan menteri Brahma. Usia Maha-Brahma mencapai 1 Asankkheyya-Kappa ( 100.000.000.000.000 tahun waktu manusia ).

Dengan pembagian surga-surga tersebut, Sang Buddha bertujuan memberikan “pencerahan” kepada semua makhluk, bahwa sesungguhnya, apa yang disebut sebagai “Maha-Kuasa” yang “Tunggal”, sesungguhnya tidak ada. Sebab, yang ada hanyalah kumpulan dari para Dewa yang jumlahnya sangat banyak. Dan Sang Buddha, kemudian menunjukkan, bahwa pembebasan dari lautan samsara, bukanlah untuk terlahir di alam-alam “Tuhan” tersebut, tetapi pelenyapan dari keserakahan/nafsu-indriya ( lobha ), kemarahan/kebencian (dosa), dan kebodohan/kegelapan batin ( moha ), ialah saat kita merealisasi   N I B B A N A.

Karena penolakan terhadap adanya “Maha-Pencipta” dan “Maha-Kuasa” dalam bentuk dan nama apapun, maka banyak masyarakat kemudian memandang Buddhisme sebagai sebuah ajaran “Atheistik”. Oleh ilmuwan barat, dan para filosof, penolakan tersebut justru dipandang sebagai hal yang positif dan dianggap sangat sesuai dengan pemikiran modern dan sangat ilmiah. Namun, untuk orang-orang dan tempat tertentu seperti di Indonesia, hal ini menjadi sesuatu hal yang negative , karena seringkali penolakan terhadap adanya “Tuhan-Yang-Maha…” dikaitkan dengan faham “atheist-materialistisch” dan “komunisme”.

Apa yang lebih tepat disematkan pada Buddhisme adalah suatu ajaran “NON-THEISTIK”. Sang Buddha memang menolak adanya suatu sosok “Maha-Pencipta” dan “Maha-Kuasa”. Alih-alih terjebak dalam pandangan spekulatif tentang sosok “Maha..” tersebut, Sang Buddha menerangkan panca-niyama ( lima-hukum-alam ) yang bekerja dengan sendirinya tanpa ada sosok “Maha-Kuasa” dalam bentuk apapun yang menggerakkan, serta bekerjanya hukum-sebab-musabab-yang-saling-bergantungan ( paticcasamuppada ), yang kesemuanya itu Beliau peroleh sebagai hasil Pencerahan-Nya.

Meskipun Sang Buddha menolak adanya sosok “Pencipta”, “Maha-Kuasa”, namun, Sang Buddha menunjukkan suatu “Tujuan-Sejati” bagi kehidupan spiritual/rohani yang jauh lebih dalam dan luas daripada sekedar menuju “Penyatuan-Atman-Brahman” ( Jawa : “Manunggaling-Kawula-Lan-Gusti” )  sebagaimana banyak ajaran spiritual mengajarkannya . Apa yang menjadi tujuan-sejati dalam Buddha-Dhamma itu, adalah suatu kondisi batin sebagai hasil realisasi-pembebasan sempurna dari proses tumimbal-lahir, pembebasan dari samsara, yaitu :  N I B B A N A.

Realisasi pembebasan dan kesucian tertinggi ini, jelas jauh berbeda dan sangat bertentangan dengan pandangan “Atheis-materialistik”. Sebab, kaum materialis berpendapat, bahwa hidup ini tidak mempunyai tujuan apapun setelah kematian nanti, karena setelah kematian, maka “kemusnahan-total” dari fisik-material-lah yang terjadi, sementara Buddha-Dhamma mengajarkan setelah mati, maka “batin” akan melanjutkan potensi-kamma-nya ke kehidupan selanjutnya (tumimbal-lahir). Sehingga, kehidupan-suci yang merupakan tujuan kehidupan spiritual sangat ditolak oleh kaum materialist, sementara Buddha-Dhamma sangat mengagungkan kehidupan-suci. Kaum materialist juga menolak keberadaan “batin”, sebab bagi kaum materialist, apa yang disebut “batin” hanyalah residu dari kumpulan-material penyusun otak saja, yang disebut “Fosfor”, sementara Buddha-Dhamma menerangkan bahwa selain “Rupa” ( tubuh-materi ) terdapat “Nama” ( batin ).

Kaum materialist memandang tidak ada yang lebih tinggi daripada dunia inderawi ini dan oleh karena itu mementingkan hidup untuk bersenang-senang, memuaskan nafsu indriya, mencari kesejahteraan material. Sedangkan Buddha-Dhamma, justru berkebalikan darinya, karena Buddha-Dhamma mengajarkan ummatnya untuk mengejar suatu kebahagiaan-diatas-duniawi, yaitu kebahagiaan-spiritual, realisasi kesucian-tertinggi demi pembebasan sempurna dari samsara. Dalam hal ini, Buddha-Dhamma mempunyai “benang-merah” dengan pandangan ajaran-ajaran yang lain, yaitu bahwa kebahagiaan-tertinggi tidak terdapat pada kehidupan duniawi ini, meskipun dengan tujuan yang berbeda ( Agama lain menuju “Surga” tempat dimana Tuhan bertahta dan hidup berdiam bersama para malaikat dan ummat-ummat pilihannya, sedangkan Buddha-Dhamma menuju pada pengakhiran, pelepasan-Agung ; N I B B A N A ).

Sehingga, menilik hal-hal tersebut diatas, jelas Buddha-Dhamma jauh berbeda dan bahkan sangat bertentangan dengan “Atheisme” kaum materialist, dan oleh karenanya, sangat tidak tepat bila Buddha-Dhamma disebut ajaran yang “Atheistik”.

Diatas dua pandangan : Atheisme-materialistisch dan Theisme-idealistisch, disitulah Buddha-Dhamma berada; mengatasi kedua pandangan “keliru” tersebut. Dan inilah puncak dari semua pengetahuan dan pencarian manusia.

PIKIRAN ITU SENDIRILAH “SANG-MAHA-PENCIPTA”

Menurut Sang Buddha, tidak ada siapapun juga yang menjadi “Creator” atas diri kita, kecuali itu adalah pikiran kita sendiri.

“1. Pikiran mendahului semua kondisi batin, pikiran adalah pemimpin, SEGALANYA DICIPTAKAN OLEH PIKIRAN. Apabila dengan pikiran yang jahat seseorang berbicara  atau berbuat dengan jasmani, maka penderitaan akan mengikuti si pelaku karenanya, seperti roda kereta yang mengikuti jejak kaki lembu jantan yang menariknya.

2. Pikiran mendahului semua kondisi batin, pikiran adalah pemimpin, SEGALANYA DICIPTAKAN OLEH PIKIRAN. Apabila dengan pikiran yang bersih/suci seseorang berbicara atau berbuat dengan jasmani, maka kebahagiaan akan mengikuti si pelaku karenanya, seperti bayangan yang tidak pernah meninggalkan tubuh seseorang.

[ Dhammapada 1; Yamaka-Vagga ; 1-2 ]

Salah satu dari Mahayana Sutra, yaitu Lankavatara Sutra, menyatakan konsep Tuhan yang berdaulat, ataupun atman adalah imajinasi belaka atau perwujudan dari pikiran dan bisa menjadi halangan menuju kesempurnaan karena ini membuat kita menjadi terikat dengan konsep Tuhan Maha Pencipta:

“ Semua konsep seperti sebab, pelanjutan, atom, unsur-unsur dasar, yang membuat kepribadian, jiwa pribadi, roh sakti, Tuhan yang berdaulat, pencipta, adalah imajinasi belaka dan perwujudan dari pemikiran manusia. “

Tidak, Mahamati, doktrin Tathágata dari rahim ke-Tathágata-an tidaklah sama dengan filosofi Atman.

[ Dikutip dari :

http://id.wikipedia.org/wiki/Tuhan_dalam_agama_Buddha ]


HUKUM SEBAB-MUSABAB YANG SALING BERGANTUNGAN (PATICCASAMUPPADA )

DAN LIMA-HUKUM-ALAM ( PANCA-NIYAMA )

Untuk menerangkan terjadinya semua makhluk, Sang Buddha menerangkan bekerjanya “hukum-sebab-akibat-yang-saling-bergantungan” ( Paticcasamuppada ; untuk lebih jelasnya, klik tautan ini ). Sebelum kemunculan seorang Samma-Sambuddha, hukum Paticcasamuppada belum pernah terdengar , dalam system-ajaran manapun juga . Paticcasamuppada adalah hukum yang dilihat Sang Buddha pada detik-detik menjelang Beliau mencapai Pencerahan-Sempurna.

Secara singkat, hukum paticcasamuppada dapat dirumuskan sebagai berikut :

“ Imasming Sati Idang Hoti,

Imassuppada Idang Uppajjati,

Imasming Asati Idang Na Hoti,

Imassa Nirodha Idang Nirsujjati “

Artinya =

“ Dengan adanya ini, maka adalah itu,

Dengan timbulnya ini, maka timbullah itu,

Dengan tidak adanya ini, maka tidak adalah itu,

Dengan padamnya ini, maka padamlah itu.”

Disamping itu, untuk menerangkan segala fenomena alam, maka Sang Buddha menyatakan bahwa hal tersebut semuanya berjalan sesuai hukum-alam yang bekerja dengan sendirinya, tanpa ada campur tangan siapapun juga yang bisa disebut sebagai “Maha-Kuasa”.

“Sesuai dengan benih yang kita tabur, begitulah buah yang akan kita petik. Pembuat kebajikan akan memperoleh kebahagiaan dan pembuat kejahatan akan memperoleh penderitaan.” [Samyutta Nikaya I, 227]

Di dalam Abhidhamma Vatara 54, dan Digha Nikaya Atthakatha II-432 dijelaskan bahwa Hukum Kamma hanya merupakan satu dari dua puluh empat sebab (paccaya 24) atau salah satu dari Panca Niyama (Lima Hukum) yang bekerja di alam Semesta ini, dan masing-masing merupakan hukum sendiri yang saling berhubungan.

Dalam Abhidhamma diterangkan adanya lima jenis hukum-alam ( panca-niyama ) yang mengatur semua fenomena alam-semesta ini , yaitu :

  1. Utu-niyama : hukum energi menyangkut tatanan fisik inorganic, seperti cuaca, angin, dan hujan. Tatanan musim, sifat panas, perubahan iklim yang menyertai perubahan musim, termasuk dalam kelompok ini.
  2. Bija-niyama : hukum hereditas menyangkut tatanan biologi atau alam organic, seperti beras yang diproduksi dari padi, rasa manis dari tebu atau madu, karakteristik dari buah-buahan tertentu, dll. Teori sel, gen dan kemiripan kembar juga termasuk dalam kelompok ini.
  3. Kamma-niyama : hukum karma menyangkut tatanan sebab dan akibat.
  4. Citta-niyama : hukum keteraturan alam batiniah menyangkut tatanan pikiran, seperti proses kesadaran, kemunculan dan kemusnahan kesadaran, komponen kesadaran, dan kekuatan pikiran. Telepati, kemampuan membaca pikiran orang lain, kemampuan memprediksi, dan hal-hal lain yang tak bisa dijelaskan dalam sains, termasuk dalam kelompok ini.
  5. Dhamma-niyama : hukum kodrat menyangkut tatanan sifat-dasar fenomena, seperti naluri, gaya gravitasi dan hukum fisika lainnya.

Kelima niyama tersebut tidak terpisahkan satu sama lain. Istilah niyama hanya bertujuan untuk membantu manusia memahami aturan yang bekerja di alam semesta ini. Panca-niyama secara integrative menunjuk satu realitas, beroperasi dalam satu kesatuan, terkait dan saling bergantungan satu sama lainnya. Terminologi yang diberikan untuk menunjuk keterkaitan tersebut adalah ; interdependensi. Konsep interdependensi menempati peranan sentral dalam Avatamsaka-sutra, yang merupakan salah satu teks utama Buddhisme mazhab Mahayana.

PANDANGAN  SANG BUDDHA TENTANG “SANG-MAHA-PENCIPTA/KUASA”

Berbagai literature Buddhis yang pernah ada semenjak pertama kali Sang Buddha memutar roda-Dhamma hingga sekarang, tidak pernah menyatakan sebuah kepercayaan terhadap adanya “Sang-Maha-Pencipta/Kuasa” seperti yang diusung-usung dalam system ajaran yang lain ( dimana mereka (selain Buddha-Dhamma) lebih bersifat pada sebuah sistem-kepercayaan ). Dan justru inilah hal terutama yang menyebabkan Buddhisme menjadi ajaran yang “UNIQUE”, dan jauh berbeda dengan system ajaran yang lain.

Jikalau Tuhan adalah penyebab dari semua yang terjadi, apalah gunanya usaha keras/pengorbanan manusia? [Asvaghosa, Buddha-carita 9, 53] .

Dewa / “Tuhan” , memang ada, namun “Dewa-Yang-Maha…”, tidak pernah ada. Sebagaimana bahwa “Brahma”, memang ada, dan dia hidup di alam Rupa-Dhatu, namun “Brahma” , dan siapapun yang dinyatakan dan menyatakan dirinya “Tuhan”, bukanlah “Maha…”, karena “Maha…” tersebut tidak pernah ada.

Untuk memahami ajaran Sang Buddha berkaitan dengan penolakan terhadap kepercayaan masyarakat kepada “Sang-Maha…”, tentunya kita harus merujuk kepada sutta-sutta ( khotbah-khotbah ) yang diucapkan oleh Sang Buddha sendiri dan telah dirawat dan diwariskan secara turun-temurun, dalam sebuah kitab yang disebut : Ti-Pitaka ( Pali-Pitaka ; kitab suci bagi ummat Buddha-Theravada ). Sutra-sutra yang tersebar dalam Tri-Pitaka ( Kitab suci ummat Buddha-Mahayana ) juga patut kita perhatikan. Sebab selama ini orang-orang yang tidak mengerti Buddhisme banyak keliru mengartikan, bahwa Buddhisme mazhab Mahayana berseberangan dengan Buddhisme mazhab Theravada dalam memandang kepercayaan kepada “Sang-Maha…” ; dalam kenyataannya, kedua mazhab bersumber dari ajaran yang sama, ialah ajaran Sakyamuni-Buddha sebagai Buddha-historis.

Dari khotbah-khotbah Sang Buddha sendiri, maka kita bisa temukan bahwa Sang Buddha menolak sebuah kepercayaan kepada “Sang-Maha…”. “Maha-Dewa”  yang ditolak Sang Buddha dan dengan begitu tidak di-”imani” oleh ummat Buddha adalah :

-    “Yang-Maha-Pencipta” yang merujuk pada “Makhluk-Adi-Kuasa-Personal” yang dianggap “Kekal-Abadi” dan memiliki kuasa yang “Maha-Tak-Terbatas”

-    “Tuhan-Impersonal” ( Tuhan yang bukan makhluk, tidak terpersonifikasikan ) dengan berbagai deskripsi / atribut seperti : “Roh-Kekal”, “Asal-Muasal-Semesta”, “Sangkan-Paraning-Dumadi”, “Absolut-Idea”, “Roh-Dunia”, “Roh-Absolut”, dan lain sebagainya. Tuhan-impersonal ini sering dipersamakan dengan “Anatta” dalam ajaran Buddha, padahal antara “Roh-Absolut” sebagai “Tuhan-Impersonal” dengan “Anatta” ( Tidak-Ada-Roh ; Ke-Tanpa-Diri-an ) jelas-jelas hal yang sangat bertentangan.

Dalam teks-teks Buddhis, kepercayaan akan seorang “Tuhan-Yang-Maha-Pencipta”, “The-Creator-God” ( issaranimmana-vada ) sering dibahas dan sekaligus ditolak secara bersamaan dalam usaha pembahasan mengenai asal-muasal-dunia, “roh-dunia” (pradhana), waktu ( time ), alam ( nature ), dan sebagainya.

Ajaran Buddha disatu sisi menolak anggapan bahwa kehidupan manusia dan keberadaan alam adalah suatu kebetulan belaka ( Adhiccasamuppanika ; pandangan yang mengajarkan bahwa  asal mula sesuatu terjadi secara kebetulan) , dipihak lain juga menolak ajaran “Absolute-determinisme” ( ajaran yang mengajarkan bahwa hidup manusia sudah ditentukan secara absolute, tidak bisa diubah-ubah lagi ). Pandangan-pandangan seperti ini dinyatakan sebagai pandangan yang bersifat merusak, mempunyai akibat-akibat yang buruk ( niyata-micchaditthi ) yang disebabkan karena efeknya atas tindakan-tindakan moral etika.

Dalam sistem kepercayaan terhadap “Tuhan-Yang-Maha…”, meskipun juga meyakini adanya kelahiran-kembali dalam hal tertentu ( yakni, setelah manusia mati, maka manusia akan dihadapkan pada dua pilihan, surga-kekal-abadi, atau sebaliknya, neraka-jahanam-kekal-abadi ) namun kepercayaan ini jauh berbeda dengan Dhamma yang diajarkan Sang Buddha. Kelahiran kembali yang didasarkan atas kepercayaan pada “Tuhan Yang Maha…” seperti tersebut diatas adalah termasuk jenis pandangan eternalisme ( sassata-ditthi ) dimana pandangan eternalisme ini  dalam Brahmajala-Sutta telah ditolak oleh Sang Buddha. Eternalisme seperti ini adalah penghalang bagi pembebasan-sejati dari samsara. Eternalisme, adalah ekspresi dari keterikatan akan keberlangsungan kehidupan ( bhava-tanha ; nafsu keinginan untuk hidup ), dan eternalisme ini juga merupakan salah satu dari sepuluh-belunggu ( dasa-samyojana ) yang mengikat makhluk-makhluk dalam samsara, sebab ;

-     Theisme ( faham Ke-Tuhan-an ), secara khusus tunduk pada kepercayaan akan adanya “Diri” ( “Diri-sejati”, “Atman” )

-     Theisme, menuntut keterikatan pada Ritual dan Upacara keagamaan

-     Theisme, mendasari pembenaran terhadap nafsu-keinginan untuk kehidupan Materi-Halus ( yaitu, alam-alam surga lingkup keindriyaan ( kamadhatu ) sebagaimana yang sering dijanjikan oleh “Tuhan” sendiri )


AWAL-MULA MUNCULNYA KONSEP “SANG-MAHA-PENCIPTA/KUASA”

“Yang-Maha-Kuasa” dan “Maha-Pencipta”, dalam jaman Sang Buddha, oleh para Brahmana dikenal dengan sebutan Maha-Brahma. Maha-Brahma ini mempunyai pandangan-salah, karena ia secara keliru menganggap dirinya sebagai “Bapa-Alam-Semesta” ( dalam kenyataannya, tidak ada siapapun yang disebut “Bapa-Alam-Semesta”, tidak Maha-Brahma, tidak pula “Tuhan”2 yang lain ). Pandangan-salah ini ditunjang dengan kenyataan bahwa Maha-Brahma ini adalah makhluk-mulia, pemimpin para Dewa dari seluruh surga Kammadhatu ( keenam lapisan surga diatas alam manusia ) dan pemimpin para Dewan dan Menteri Brahma.

Brahmajala Sutta didalam Digha Nikaya mengisahkan mengapa Maha-Brahma sampai memiliki pandangan-salah semacam itu.

Para bhikkhu, pada suatu masa yang lampau setelah berlangsungnya suatu masa yang lama sekali, ‘bumi ini belum ada’. Ketika itu umumnya makhluk-makhluk hidup di alam dewa Abhassara, di situ mereka hidup ditunjang oleh kekuatan pikiran, diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya dan melayang-layang di angkasa hidup diliputi kemegahan, mereka hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

Demikianlah, pada suatu waktu yang lampau ketika berakhirnya suatu yang lama sekali, bumi ini mulai berevolusi dalam pembentuk, ketika hal ini terjadi alam Brahma  kelihatan dan masih kosong. Ada makhluk dari alam dewa Abhassara yang ‘masa hidupnya atau ‘pahala kamma baiknya’  untuk hidup di alam itu telah habis, ia meninggal dari alam Abhassara itu dan terlahir kembali di alam Brahma. Disini, ia hidup ditunjang pula oleh kekuatan pikirannya diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya-cahaya yang melayang-layang di angkasa, hidup diliputi kemegahan, ia hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

Karena terlalu lama ia hidup sendirian di situ, maka dalam dirinya muncullah rasa ketidak puasan, juga muncul suatu keinginan, ‘O, semoga ada makhluk lain yang datang dan hidup bersama saya di sini! Pada saat itu ada makhluk lain yang disebabkan oleh masa usianya atau pahala kamma baiknya telah habis, mereka meninggal di alam Abhassara dan terlahir kembali di alam Brahma sebagai pengikutnya, tetapi dalam banyak hal sama dengan dia.

Para bhikkhu, berdasarkan itu, maka makhluk pertama yang terlahir di alam Brahma berpendapat : “Saya Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan Dari Semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada). Semua makhluk ini adalah ciptaanku”. Mengapa demikian? Baru saja saya berpikir, ‘semoga mereka datang’, dan berdasarkan pada keinginanku itu maka makhluk-makhluk ini muncul. Makhluk-makhluk itu pun berpikir, ‘dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada. Kita semua adalah ciptaannya. Mengapa? Sebab, setahu kita, dialah yang lebih dahulu berada di sini, sedangkan kita muncul sesudahnya”.

“Para bhikkhu, dalam hal ini makhluk pertama yang berada di situ memiliki usia yang lebih panjang, lebih mulia, lebih berkuasa daripada makhluk-makhluk yang datang sesudahnya.
Para bhikkhu, selanjutnya ada beberapa makhluk yang meninggal di alam tersebut dan terlahir kembali di bumi. Setelah berada di bumi ia meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menjadi pertapa. Karena hidup sebagai pertapa, maka dengan bersemangat, tekad, waspada dan kesungguhan bermeditasi, pikirannya terpusat, batinnya menjadi tenang dan memiliki kemampuan untuk mengingat kembali satu kehidupannya yang lampau, tetapi tidak lebih dari itu.

Mereka berkata : “Dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Masa Kuasa, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada. Dialah yang menciptakan kami, ia tetap kekal dan keadaannya tidak berubah, ia akan tetap kekal selamanya, tetapi kami yang diciptakannya dan datang ke sini adalah tidak kekal, berubah dan memiliki usia yang terbatas.”

Dikutip dari  :

http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka_dtl.php?cont_id=167&hal=3&path=tipitaka/sutta/digha&hmid=


Dari sutta tersebut, kita bisa memetik apa yang diajarkan Sang Buddha. Sang Buddha mengajarkan bahwa dunia yang kita tempati sekarang ini beserta surga-surga kammadhatu akan mengalami pembentukan dan kehancuran secara berkala.  Pada saat terjadinya kehancuran bumi kita ini , yang oleh ajaran agama-agama samawi disebut sebagai “kiamat”, para makhluk yang berdiam di alam yang lebih rendah akan terlahir kembali di alam Surga Abhassara ( Sanskrit : Abhasvara ), surga tertinggi di Jhana II ( surga ke-12 bila dihitung dari surga tingkat pertama di alam Kammadhatu ).

Setelah berlalunya waktu yang sangat lama sekali, tiga surga di alam Jhana I muncul kembali, dan seorang dewa Abhassara mati serta terlahir kembali di alam ini sebagai Maha-Brahma ( surga ke-9 bila dihitung dari surga tingkat pertama di alam Kammadhatu ).

Karena lamanya ia sendirian disana, ia merasa kesepian dan menginginkan kehadiran makhluk lain. Tak lama kemudian, harapannya terpenuhi, semata-mata hanya karena para dewa Abhassara lainnya mati dan terlahir kembali di alam Brahma, karena karma-karma mereka sendiri, dan kemudian menjadi para Menteri dan Dewan Brahma.

Karena Maha-Brahma tidak mengingat kehidupannya yang sebelumnya, maka ia berpikir, “ Aku adalah Brahma, Maha-Brahma,… Maha-Tahu, Pengendali, Tuhan, Pembuat, Pencipta… makhluk lainnya yang ada disini adalah ciptaan-Ku.”. Para Menteri dan Dewan Brahma serta para  pengikutnya setuju dengan kesimpulan yang keliru ini.

Dan ketika beberapa di antara mereka mati dan terlahir kembali sebagai manusia, ada beberapa banyak dari mereka yang meninggalkan kehidupan perumah tangga, dan menempuh hidup sebagai Petapa / seorang Brahmana, lalu mereka mengembangkan kemampuannya untuk mengingat kehidupan sebelumnya, dan karenanya mengajarkan bahwa Maha-Brahma adalah Pencipta yang kekal dari semua makhluk.

TEGURAN SANG BUDDHA TERHADAP “SANG-MAHA-PENCIPTA/KUASA”

Dalam sutta-sutta Buddha ditunjukkan bahwa Sang Buddha pernah memberi “teguran”, menunjukkan kekeliruan para Brahma yang keliru memahami dirinya sebagai “Awal-Mula, Pencipta-Langit-dan-Bumi, Yang-Maha-Kuasa “. Dalam Samyutta-Nikaya, Bab Buku dengan Syair ( Sagathavagga ), bagian Brahmasamyutta, dikisahkan Sang Buddha mengingatkan kekeliruan pandangan salah seorang Brahma yang menganggap bahwa alam Brahma sebagai “ Yang-Kekal-Abadi, Yang-Mutlak, Tiada-Kematian, dll. “. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anathapindika. Pada saat itu, muncul suatu pandangan-salah , pandangan spekulatif dalam benak salah seorang Brahma, yang bernama Brahma-Baka ;

“ Ini adalah kekal, Ini adalah stabil, ini abadi, ini Mutlak, ini tidak bisa hancur. Sungguh, inilah tempat orang tidak terlahir, tidak menjadi tua, tidak mati, tidak berlalu, dan tidak terlahir kembali ;  dan tidak ada jalan keluar yang lebih tinggi daripada ini. “


Setelah mengetahui isi hati Brahma Baka dan pandangan-salah yang muncul tersebut, dalam sekejap mata Sang Buddha lenyap dari hutan Jeta dan muncul kembali di alam Brahma. Brahma-Baka melihat Sang Buddha datang dari kejauhan dan berkata kepada Beliau ;

“ Mari Yang Mulia ! Selamat datang, Yang Mulia ! Sudah lama sekali, Yang Mulia, sejak engkau menyempatkan datang kemari. Sungguh, Yang Mulia, INI ADALAH KEKAL, INI STABIL, INI ABADI, INI LENGKAP, INI TIDAK BISA HANCUR. SUNGGUH , INILAH TEMPAT ORANG TIDAK-TERLAHIR, TIDAK MENJADI TUA, TIDAK MATI , TIDAK BERLALU, DAN TIDAK TERLAHIR KEMBALI ; DAN TIDAK ADA JALAN KELUAR YANG LEBIH TINGGI DARIPADA INI. “

“ Sayang, tuan, Brahma Baka terbenam di dalam ketidak-tahuan ! Sayang, tuan, Brahma Baka terbenam di dalam ketidak-tahuan !  Sepanjang dia akan mengatakan apa yang sebenarnya tidak kekal sebagai kekal , dan akan mengatakan apa yang sebenarnya tidak stabil sebagai stabil , dan akan mengatakan apa yang sebenarnya tidak abadi sebagai abadi ,  dan akan mengatakan apa yang sebenarnya tidak lengkap sebagai lengkap , dan akan mengatakan apa yang sebenarnya bisa hancur sebagai tidak bisa hancur , dan dengan mengacu pada [suatu alam] di mana orang terlahir, menjadi tua, mati, berlalu, dan terlahir kembali, akan mengatakan demikian : “ Sungguh, inilah tempat orang tidak terlahir, tidak menjadi tua, tidak mati, tidak berlalu, dan tidak terlahir kembali” ;  dan ketika ada jalan keluar yang lebih tinggi dari ini, akan mengatakan , “ Tidak ada jalan keluar yang lebih tinggi daripada ini. “


Lalu terjadilah dialog panjang antara Brahma-Baka dengan Sang-Buddha. Brahma-Baka meminta Sang Buddha untuk menjelaskan duduk perkaranya, dan menjelaskan bagaimana hal-ihwal Brahma-Baka bisa sampai di alam itu, yang ia anggap sebagai alam “Yang-Kekal-Abadi, Tanpa-Kematian , Yang-Mutlak “. Sang Buddha lalu menjelaskan semuanya dengan mendetail, sebab-sebab apa Brahma-Baka kini terlahir dialam “Ketuhanan” tersebut, dan akan berapa lama ia tinggal disitu, siapakah dulunya Brahma-Baka ini, dan apa hubungannya Brahma-Baka ini dengan Sang Buddha pada kehidupan lampaunya, Sang Buddha juga mampu mengetahui kehidupan masa kini Brahma Baka tersebut. Karena penjelasan Sang Buddha yang sangat dalam dan luas , mendetail itu, Brahma-Baka akhirnya mengakui kebenaran Sang Buddha dan berkata :

“ Pastilah Engkau tahu rentang kehidupanku ini ; Yang lain-lain engkau pun tahu, jadi Engkau adalah  SANG-BUDDHA. Demikianlah keagunganmu yang terang benderang ini menyinari bahkan  alam Brahma. “


Kemudian, kisah yang lain adalah kisah dimana Sang Buddha beserta keempat muridnya, Y.M. Mahamoggallana, Y.M. Mahakassapa, Y.M. Mahakappina, Y.M. Anuruddha, menaklukan satu Brahma yang lain yang penuh kesombongan karena menganggap dirinya lebih tinggi daripada yang lain. Di Savatthi, pada waktu itu muncul pandangan-salah yang sangat spekulatif pada satu Brahma :

“ Tidak ada petapa atau Brahmana yang bisa datang kemari ! “


Dengan kekuatan batinnya Sang Buddha mengerti isi hati satu Brahma itu, dan dalam sekejap Sang Buddha lenyap dari hutan Jeta dan muncul kembali di alam Brahma. Sang Buddha duduk bersila di udara diatas Brahma itu, setelah masuk kedalam samadhi dengan pokok-pemusatan perhatian ; api.

Pada saat itu Y.M. Mahamoggallana bertanya-tanya, “ Dimanakah Sang Buddha berdiam pada saat ini ? “ Dengan kemampuan mata-dewa, Y.M. Mahamoggallana melihat Sang Buddha sedang duduk bersila di udara di atas Brahma itu, setelah masuk ke dalam samadhi objek api. Mengetahui hal ini, Y.M. Mahamoggallana segera menyusul Sang Buddha, lenyap dari hutan Jeta, dan muncul di alam Brahma, kemudian menempatkan diri di bagian timur dan duduk bersila di udara di atas Brahma itu – walaupun lebih rendah dari Sang Buddha -, setelah sebelumnya masuk samadhi dengan objek api juga.

Selanjutnya disusul oleh Y.M. Mahakassapa yang menempatkan diri di bagian selatan, Y.M. Mahakappina yang menempatkan diri di bagian barat, Y.M. Anuruddha yang menempatkan diri di bagian utara. Kesemuanya duduk bersila lebih rendah dari Sang Buddha.

Y.M. Magamoggallana pun lalu menegur Brahma tersebut dengan syair berikut :

“ Hari ini , sahabat, apakah engkau masih memegang pandangan itu, Pandangan yang tadinya kamu pegang ? Apakah engkau melihat kecermelangan Yang Melampaui kecemerlangan di alam Brahma ? “


Brahma tersebut menjawab :

“ Saya tidak lagi memegang pandangan itu Yang Mulia, Pandangan yang tadinya saya pegang. Memang saya melihat kecemerlangan yang melampaui kecemerlangan di alam Brahma. Hari ini bagaimana munkin saya mempertahankan, “ AKU ADALAH KEKAL ABADI ? “


Setelah membangkitkan rasa kemendesakan pada Brahma itu, kemudian dalam sekejap Sang Buddha lenyap dari alam Brahma tersebut dan kembali di hutan Jeta.

Lalu Brahma itu berbicara kepada satu anggota kelompoknya ;

“ Ayo, tuan, datangilah Y.M. Mahamoggallana dan katakan kepadanya : “ Tuan Mahamoggallana , adakah siswa Sang Buddha lainnya yang sekuat dan sehebat Tuan Moggallana, Kassapa, Kappina dan Anuruddha ? “


Anggota kelompok Brahma itu menurutinya dan lalu mendatangi Y.M. Mahamoggallana. Y.M. Mahamoggallana kemudian berkata kepada anggota kelompok Brahma itu dengan syair :

“ Sungguh banyak siswa Sang Buddha yang merupakan Arahat dengan noda-noda yang telah hancur, pemilik tiga-pengetahuan dengan kekuatan-kekuatan batin, yang terampil dalam jalan pikiran orang lain. “


Mendengar jawaban tersebut, para Brahma itu terkagum-kagum dan turut bersuka-cita karenanya.

Dan sesungguhnya, disamping kisah-kisah dalam sutta-sutta tersebut, masih banyak lagi kisah-kisah bagaimana Sang Buddha membimbing para Brahma yang memiliki pandangan salah yang menganggap dirinya adalah “Yang-Mutlak, Pencipta-Alam-Semesta, Yang-Maha-Kuasa “. Dan atas bimbingan Sang Buddha, para Brahma yang berpandangan-salah itupun akhirnya memahami kekeliruannya.

KISAH KONYOL TENTANG “SANG-MAHA-PENCIPTA”

Didalam Kevaddha Sutta ( Sutta ke-11 dari Digha Nikaya ), Sang Buddha menceritakan sebuah kisah kepada Upasaka Kevaddha yang memberikan gambaran tentang keterbatasan-keterbatasan “Sang-Maha-Pencipta” yang oleh kaum Brahmana disebut “Maha-Brahma” ini.

Pada suatu ketika di antara para bhikkhu sangha terdapat seorang bhikkhu yang menjadi ragu-ragu sebagai berikut:

“Kemanakah empat unsure (mahabhutarupa) padat, cair, panas dan udara pergi, mengapa tanpa meninggalkan bekas.”

Bhikkhu itu mengembangkan batinnya dengan melakukan meditasi hingga ia memiliki kemampuan batin untuk mengunjungi dan berkomunikasi dengan para dewa.

Kemudian bhikkhu itu pergi ke alam dewa Catumaharajika menanyakan tentang kemana perginya empat unsur itu, namun para dewa tak dapat memberikan jawaban dan menyuruh bhikkhu itu untuk bertemu dengan Empat Raja Dewa yang lebih tinggi dan berkuasa daripada mereka.

Ia pergi menghadap Empat Raja Dewa dan menanyakan pertanyaan itu, namun Empat Raja Dewa tidak dapat menjawabnya dan menyuruhnya untuk pergi ke alam Tavatimsa.

Di alam Tavatimsa para dewa tak dapat menjawab pertanyaannya dan ia disuruh menghadap Sakka / Dewa Indra, raja alam dewa Tavatimsa. Sakka / Dewa Indra, juga tak dapat menjawab pertanyaannya.

Sakka menyuruhnya ke alam Yama, tapi para dewa alam Yama menyuruhnya menghadap Suyama, raja alam dewa Yama. Suyama tak dapat menjawab juga, maka ia ke alam dewa Tusita, menghadap Santusita; ke alam dewa Nimmanarati, menghadap Sunimmita, raja alam Nimmanarati; ke alam Parinimmita Vasavatti, menghadap Vasavatti, raja alam Parinimmita Vasavatti, yang tak dapat menjawab pertanyaannya juga.

Kemudian Ia disuruh pergi ke alam dewa Brahma, tetapi para dewa pengikut Brahma tak dapat menjawab pertanyaannya itu. Lalu para dewa pengikut Brahma ini menyuruhnya untuk menghadap dewa Maha Brahma “Yang Maha Kuasa”, “Maha Tinggi”, “Maha Tahu”, junjungan dari semua, “Pencipta”, “Pengatur”, “Asal Mula Segala Sesuatu” ( Sangkan-Paraning-Dumadi ), “Ayah dari Semua yang Ada dan yang akan Ada”.  Oleh para dewa Brhama, Maha-Brahma dinyatakan lebih tinggi dan berkuasa daripada mereka.
Ia pergi menghadap “Tuhan” / “Maha Brahma” dan bertanya:

“Kemanakah empat unsur (mahabhuta), padat, cair, panas dan udara- pergi, mengapa tanpa bekas?”


Setelah Bhikkhu itu berkata, Maha Brahma menjawab:

“Bhikkhu, saya adalah dewa brahma yang maha kuasa, maha tinggi, maha tahu, junjungan dari semua, pencipta, pengatur, asal mula segala sesuatu, ayah dari yang ada dan yang akan ada.”


Kemudian bhikkhu itu berkata kepada Brahma:

“Saya tidak bertanya siapa anda, apakah anda itu benar seperti yang anda katakan. Tetapi yang saya tanya adalah kemanakah empat unsur itu pergi, mengapa tanpa bekas?”


Sampai tiga kali bhikkhu itu bertanya, namun Brahma tetap menjawab yang sama. Kemudian Brahma menarik bhikkhu itu ke sampingnya dan berkata:

“Para dewa pengikut Brahma ini berpendapat bahwa tidak ada sesuatu yang tidak saya tidak tahu, saya tahu semua, saya mengerti semua, tidak ada yang saya tidak realisasikan. Maka saya tidak menjawab di depan mereka. Bhikkhu saya tidak tahu jawaban ke mana empat unsur itu pergi, lenyap tanpa bekas. Bhikkhu, anda telah berbuat salah, telah bertindak salah karena anda telah melupakan Sang Buddha, anda telah bersusah payah mencari tahu hal ini, mencari jawaban untuk pertanyaanmu. Pergilah menghadap kepada Sang Bhagava. Terimalah jawaban apa pun yang akan diberikannya.”


Bhikkhu itu dalam sekejap lenyap dari alam Brahma dan muncul di hadapan saya, ia memberi hormat dan duduk. Setelah duduk ia bertanya kepada saya:

“Bhante, ke manakah empat unsur pergi, lenyap tanpa bekas?”

Saya menjawab: “Bhikkhu, pertanyaan itu jangan tanyakan seperti yang kau katakan. Tetapi sebaliknya anda harus bertanya,


‘Di manakah unsur padat, cair, panas dan udara,

Panjang dan pendek, halus dan kasar,

bersih dan tak bersih, tidak di temukan?

Di manakah jasmani dan batin dari orang meninggal,

pergi tanpa bekas?’


Jawabannya:


‘Kebijakan Arahat, yang tak tampak, yang tanpa akhir, yang dapat dicapai dari beberapa sisi Di situlah unsur padat, cair, panas dan udara, Panjang dan pendek, kasar dan halus, bersih dan tak bersih, tidak ditemukan. Di situlah jasmani dan batin dari orang yang meninggal pergi tanpa bekas. Bilamana kesadaran lenyap, hal-hal itu pun lenyap.


Di akhir dari khotbah, Upasaka Kevaddha menjadi senang dan gembira.

PEMBUAL YANG MEMBICARAKAN HAL YANG DIA SENDIRI TIDAK MENGERTI

Dalam Majjhima Nikaya No. 79: Cula Sakuludayi Sutta, terdapat dialog antara Sang Buddha dengan Udayi, dimana Sang Buddha menunjukkan, pembicaraan mengenai “Kemegahan-Tertinggi”,  ” yang tak dapat dipahami”, hanyalah pembicaraan bualan-bualan semata.

“Baiklah kalau begitu, Udayi, apakah doktrin dari gurumu sendiri?”

“Doktrin guru kami sendiri, tuan yang terhormat, berkata demikian:

‘Ini adalah kemegahan tertinggi! Ini adalah kemegahan tertinggi!'”

“Tetapi apakah yang kemegahan tertinggi itu, Udayi, yang mana doktrin   gurumu katakan?”

“Hal itu adalah, tuan yang terhormat, suatu kemegahan yang lebih hebat   dan megah dari segalanya. Hal itu adalah Kemegahan Tertinggi.”

“Tetapi, Udayi, apakah kemegahan yang lebih hebat dan megah dari   segalanya itu?”

“Hal itu, tuan yang terhormat, bahwa Kemegahan Tertinggi lebih hebat   dan megah dari segalanya.”

“Selama waktu yang lama, Udayi, engkau bisa melanjutkan berkata dengan   cara ini, seraya mengatakan,’Suatu kemegahan yang lebih hebat  dan   megah dari segalanya adalah Kemegahan Tertinggi’. Tetapi  tetaplah kau   tidak akan sudah menjelaskan kemegahan itu. Anggaplah seseorang berkata:’Saya mencintai dan mengingini
wanita   tercantik di daratan ini’, dan lantas ia ditanya: ‘Tuan yang  baik,   wanita yang tercantik yang engkau cintai dan ingini itu,
tahukah   engkau apakah ia adalah seorang wanita dari kaum ningrat atau  dari   suatu keluarga Brahmana atau dari kasta pedagang atau Sudra?’ dan ia   menjawab ‘tidak’.—‘Lantas, tuan yang baik, tahukah Anda
namanya dan   nama marganya? Atau apakah ia itu tinggi, pendek, atau  sedang-sedang   tingginya, apakah ia itu berkulit legam, coklat atau keemasan,  atau di   desa atau daerah atau kota  mana ia berdiam?’ dan ia menjawab  ‘tidak’.   Dan lantas ia ditanyai:’Kalau demikian, tuan yang baik, engkau   mencintai dan mengingini sesuatu yang engkau sendiri tidak tahu  pun   melihatnya?’ dan ia menjawab ‘ya’. —Apakah yang kau pikir,  Udayi,   bahwa dengan menjadi demikian, bukankah perkataan orang itu  penuh   dengan bualan (nonsense)?”

“Tentulah, tuan yang terhormat, bahwa dengan menjadi demikian,  perkataan orang itu penuh dengan bualan.”

“Tetapi dengan cara yang sama, kamu, Udayi, berkata, ‘ Suatu kemegahan   yang lebih hebat dan megah daripada segalanya, hal itu adalah   Kemegahan Tertinggi’, dan namun engkau sendiri belumlah  menjelaskan   kemegahan itu.”



KEPERCAYAAN / IMAN MEM-“BUTA”  PARA PENGANUT “MAHA-DEWA” yang  “MAHA-PENCIPTA/KUASA”

Dalam sebuah dialog antara Sang Buddha dengan Vasettha dimana Sang Buddha menunjukkan bahwa kepercayaan / iman  kepada”Maha-Dewa” yang “Maha-Pencipta/Kuasa” hanyalah merupakan khayalan dan kepercayaan / iman “membuta” semata.

“Apakah ada, Vasettha, satu dari para Brahmana yang benar-benar  mengetahui Tiga Veda yang sudah pernah bertemu Brahma muka  dengan   muka?”

“Tidaklah demikian, sesungguhnya, Gotama.”

“Atau adakah kalau begitu, Vasettha, satu dari para guru dari para   Brahmana yang benar-benar mengetahui Tiga Veda, yang sudah  bertemu  Brahma muka dengan muka?”

“Tidaklah demikian, sesungguhnya, Gotama.”

“Atau adakah, Vasettha, satu dari murid-murid dari para guru dari para  Brahmana yang benar-benar mengetahui Tiga Veda yang sudah bertemu Brahma muka dengan muka?”

“Tidaklah demikian, sesungguhnya, Gotama.”

“Atau adakah kalau demikian, Vasettha, satu dari para Brahmana itu  sampai pada tujuh generasi yang sudah bertemu Brahma muka
dengan   muka?”

“Tidaklah demikian, sesungguhnya, Gotama.”

“Baiklah kalau begitu, Vasettha, Rishi-rishi purba dari para  Brahmana   itu yang benar-benar mengetahui Tiga Veda, para penulis dari   syair-syair itu, pengucap-pengucap dari syair-syair itu, yang   kata-kata dalam bentuk kuno/purbanya begitu dilafalkan,  diucapkan atau   digubah, yang mana para Brahmana zaman sekarang melafalkan lagi dan   mengulangi; melagukan atau menghafalpersis seperti apa yang  sudah   dilagukan dandihafalkan—yang dengan lucunya, Atthaka…dan  Bhagu,   lakukan bahkan mereka berkata demikian:”Kami mengetahuinya,  kami sudah   melihatnya, dimana Brahma berada, darimana Brahma adanya,  kemana   Brahma adanya?”

“Tidaklah demikian, sesungguhnya, Gotama.”

“Lantas engkau berkata, Vasettha, bahwa tidak seorangpun dari  para   Brahmana itu, ataupun guru-guru mereka, atau murid-murid
mereka,   bahkan sampai ke generasi ketujuhpun, sudah pernah melihat  Brahma muka   dengan muka. Dan bahkan Rishi-rishi purba, penulis dan para  pengucap   dari syair-syair itu, yang kata-kata dalam bentuk kunonya  begitu   berhati-hatinya dilagukan dan dihafal oleh para Brahmana  sekarang   setepat mungkin seperti yang sudah diturunkan-bahkan mereka  tidak   berpura-pura untuk mengetahui atau sudah melihat dimana atau  darimana   dan kemana Brahma adanya. Jadi para Brahmana yang benar-benar   mengetahui Tiga Veda sudah sesungguhnya mengatakan demikian:
‘Apa yang   kami tidak tahu, apa yang kami belum lihat, atas keselarasan  dengan   itu kami dapat menunjukkan jalan, dan dapat berkata: ‘Ini  adalah jalan   yang lurus, ini adalah jalan yang langsung menuju pada  keselamatan,   dan membimbing mereka yang bertindak sesuai dengannya, pada   persekutuan dengan dengan Brahma.’

“Sekarang apa yang kau pikir, Vasettha? Bukankah hal itu  mengikuti,   hal ini dengan menjadi demikian, bahwa perkataan para Brahmana  yang   benar-benar mengetahui  Tiga Veda, kemudian menjadi suatu  percakapan   yang bodoh/tidak bermanfaat?”

“Sesungguhnya, Gotama, bahwa dengan menjadi demikian, berlanjutbahwa   perkataan dari para Brahmana yang mengetahui dengan benar Tiga  Veda   itu adalah perkataan yang bodoh/tak berguna adanya.”


SEKUMPULAN ORANG BUTA

“Dengan sesungguhnya, Vasettha, para Brahmana yang benar benar   mengetahui Tiga Veda itu seharusnya sanggup untuk menunjukkan  jalan   menuju persekutuan dengan sesuatu yang mereka tidak tahu, pun  belum   melihat—keadaan dari hal-hal demikian itu tidaklah bisa  adanya!

“Sama halnya, Vasettha, seperti ketika sekumpulan orang buta   bergandengan satu sama lain, bukanlah yang terdepan yang bisa
melihat,   pun bukannya yang di tengah, pun bukanlah yang di belakang  tersembunyi   yang bisa melihat — seperti demikianlah, kiranya, Vasettha,  percakapan   para Brahmana yang mengetahui dengan baik Tiga Veda itu adalah   percakapan buta: yang pertama tak melihat apapun, pun yang  ditengah,   pun yang terakhir. Percakapan dari para Brahmana yang  mengetahui   dengan baik Tiga Veda ini lantas menjadi tidak masuk akal,  kata-kata   belaka, suatu hal yang kosong dan gagal!


TANGGA YANG MENUJU KE – TIDAK MANAPUN JUGA

…”Sama halnya, Vasettha, seperti jika seseorang harus membuat
suatu   tangga di dalam suatu tempat dimana 4 jalan bersilangan, untuk  menaiki   suatu rumah yang besar. Dan orang-orang berkata
padanya,’Baiklah,   teman yang baik, rumah yang besar ini, pada mana engkau membuat  tangga   untuk menaikinya, tahukah kamu apakah rumah itu berada di  timur, atau   di selatan, atau di barat, atau di utara? Apakah rumah itu  tinggi atau   rendah atau sedang-sedang saja ukurannya?’

“Dan ketika ditanya demikian dia menjawab: Tidak. — Dan  orang-orang   berkata padanya,’Tetapi kalau begitu, teman yang baik, engkau  sedang   membuat suatu tangga yang menaiki sesuatu — sebagai contoh  sebuah   rumah besar— yang mana, sejenak yang lalu, engkau tidak   mengetahuinya, bahkan pun belum melihatnya.'”…..

BERDOA DEMI ALAM BAKA

“Lagi, Vasettha, jikalau seandainya sungai Aciravati ini penuh
dengan air bahkan sampai ke tepi sungai, dan meluap. Dan seseorang
dengan pekerjaan/bisnis pada tepi yang satunya, dalam perjalanan ke
tepi yang satunya, berusaha menuju ke tepi yang satunya, ingin tiba, dan
mau menyeberang. Dan ia, sambil berdiri pada tepi yang sebelah
sini, memohon dengan khusuk pada tepi yang jauh itu, dan
berkata,’Datanglah kesini, O tepi yang jauh!datanglah ke tepi sini!’

“Sekarang apakah yang engkau pikir, Vasettha?Akankah tepi yang
jauh itu dari sungai Aciravati, oleh sebab permohonan khusuk dari
orang itu dan doanya dan pengharapannya dan pemujaannya, datang ke tepi
yang ini?”

“Tentulah tidak, Gotama.”

“Dengan cara yang sama pula, Vasettha, para Brahmana yang
mengetahui dengan baik Tiga Veda lakukan—menelantarkan praktek-praktek
dengan kualitas yang benar-benar membuat seseorang menjadi seorang
Brahmana, dan mengadopsi praktek-praktek yang kualitasnya membuat
seseorang menjadi Non-Brahmana—berkata demikian: ‘Indra kami memanggil,
Soma kami memanggil, Varuna, Isana, Pajapati, Brahma, Mahiddhi, Yama
kami memanggil.’

“Dengan sesungguhnya, Vasettha, bahwa para Brahmana yang
mengetahui dengan baik Tiga Veda—menelantarkan praktek-praktek dengan
kualitas yang benar-benar membuat orang menjadi seorang Brahmana,
mengadopsi praktek-praktek dengan kualitas yang membuat yang benar-benar
membuat orang Non-Brahmana—boleh, karena alasan  permohonan khusuk
dan doa dan pengharapan dan pemujaan mereka, setelah meninggalkan tubuh
ini, setelah kematian, mencapai persatuan dengan Brahma, kondisi
hal-hal demikian adalah tidak akan bisa.”

[ Digha Nikaya No. 13:Tevijja Sutta ("Tiga Veda") terjemahan
oleh Prof. Rhys Davids]


KRITIK SANG BUDDHA TERHADAP TIGA PANDANGAN KELIRU ( Anguttara-Nikaya ; III,61 )

Para bhikkhu, ada tiga pendapat sektarian yang, jika sepenuhnya diperiksa, diteliti dan dibahas, akan berakhir pada suatu doktrin tanpa tindakan, sekalipun sudah diterapkan karena tradisi. 36Apakah tiga pendapat ini?

Para bhikkhu, ada beberapa petapa dan brahmana yang mengajar dan memegang pandangan ini: “Apapun yang dialami seseorang, apakah itu perasaan menyenangkan, menyakitkan atau perasaan netral, semua itu disebabkan oleh tindakan lampau.” Ada lainnya yang mengajar dan memegang pandangan ini: “Apapun yang dialami seseorang… semua itu disebabkan oleh ciptaan Tuhan.” Dan masih ada petapa dan brahmana lain yang mengajar dan memegang pandangan ini: “Apapun yang dialami seseorang… tidak ada sebabnya dan tidak dikondisikan.”37

(1) Para bhikkhu, aku telah menemui para petapa dan brahmana ini (yang memegang pandangan pertama) dan berkata kepada mereka: “Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajar dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang… semua itu disebabkan oleh tindakan lampau?” Ketika mereka mengatakan “Ya”, aku katakan kepada mereka: “Jika demikian halnya, yang mulia, maka tindakan masa lampau (yang dilakukan dalam suatu kehidupan lampau) itulah yang menyebabkan orang membunuh, mencuri, terlibat dalam perilaku seksual yang salah; yang membuat mereka berbohong, mengucapkan kata-kata yang jahat, berbicara kasar dan suka berbicara yang tak ada gunanya; yang menyebabkan mereka menginginkan milik orang lain, dengki, dan jahat serta memiliki pandangan salah.38 Maka mereka yang menganggap tindakan lampau sebagai faktor penentu tidak akan memiliki semangat dan usaha untuk melakukan ini atau tidak melakukan itu. Karena mereka tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan, istilah ‘petapa’ tidak sesuai untuk mereka, karena mereka hidup tanpa kewaspadaan dan pengendalian diri.”

Para bhikkhu, inilah teguran pertamaku – yang diakui kebenarannya – kepada para petapa dan brahmana yang mengajarkan dan memegang pandangan seperti itu.

(2) Sekali lagi, para bhikkhu, aku menemui para petapa dan brahmana (yang memegang pandangan kedua) dan berkata kepada mereka: “Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajar dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang… semua itu disebabkan oleh ciptaan Tuhan?” Ketika mereka mengatakan “Ya”, kukatakan kepada mereka: “Jika demikian halnya, yang mulia, maka ciptaan Tuhan itulah yang membuat orang-orang membunuh… dan memiliki pandangan salah. Maka mereka yang menganggap ciptaan Tuhan sebagai faktor penentu tidak akan memiliki semangat dan usaha untuk melakukan ini atau tidak melakukan itu. Karena mereka tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan, istilah ‘petapa’ tidak sesuai untuk mereka, karena mereka hidup tanpa kewaspadaan dan pengendalian diri.”

Para bhikkhu, inilah teguran keduaku – yang diakui kebenarannya – kepada para petapa dan brahmana yang mengajar dan memegang pandangan seperti itu.

(3) Sekali lagi, para bhikkhu, aku menemui para petapa dan brahmana (yang memegang pandangan ketiga) dan berkata kepada mereka: “Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajarkan dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang… semua itu tidak ada sebabnya dan tidak dikondisikan?” Ketika mereka mengatakan “Ya”, kukatakan pada mereka: “Jika demikian halnya, yang mulia, maka tidak ada sebab dan kondisi yang membuat orang membunuh… dan memiliki pandangan salah. Maka mereka yang menganggap bahwa (urutan peristiwa) yang tanpa sebab dan kondisi sebagai faktor penentu tidak akan memiliki semangat dan usaha untuk melakukan ini atau tidak melakukan itu. Karena mereka tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan, istilah ‘petapa’ tidak sesuai untuk mereka, karena mereka hidup tanpa kewaspadaan dan pengendalian diri.”

Para bhikkhu, inilah teguran ketigaku – yang diakui kebenarannya – kepada para petapa dan brahmana yang mengajar dan memegang pandangan seperti itu.

Demikianlah, para bhikkhu, tiga pendapat sektarian yang, jika sepenuhnya diperiksa, diteliti dan dibahas, akan berakhir pada suatu doktrin tanpa-tindakan, sekalipun jika dipakai karena tradisi.

Sumber:

http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka_dtl.php?cont_id=738&hal=2&path=tipitaka/sutta/anguttara/anguttara1&hmid

Lebih jauh, atas pandangan tersebut diatas, Sang  Buddha mengatakan,

Jadi, karena diciptakan oleh seorang Tuhan Yang Maha Tinggi, maka manusia akan menjadi pembunuh, pencuri, penjahat, pembohong, pemfitnah, penghina, pembual, pencemburu, pemarah, pendendam, dan orang yang keras kepala“.

Oleh sebab itu, bagi mereka yang berpandangan segala sesuatu adalah ciptaan seorang Tuhan, maka mereka tidak akan lagi mempunyai keinginan, ikhtiar ataupun keperluan untuk melakukan suatu perbuatan ataupun untuk menghindar dari perbuatan lain.” (Majjhima Nikaya ii, Sutta No.101)


SIFAT KETUHANAN YANG TIDAK KEKAL

Sejauh mana matahari-matahari dan bulan-bulan berevolusi dan
penjuru-penjuru langit bersinar dengan cemerlangnya, sejauh
mencakup Seribu-kali lipat sistem-Dunia. Dalam Seribu-kali lipat Sistem
Dunia itu, ada seribu bulan, seribu matahari, seribu Semeru, gunung
dari gunung-gunung, seribu dari keempat benua, seribu dari keempat
samudera, seribu dari dunia-dunia surgawi dari alam inderawi,
dan seribu dari dunia Brahma. Sejauh mencakup Seribu-kali lipat
Sistem Dunia ini, sejauh itu adalah Maha Brahma dianggap yang
tertinggi disana.

Tetapi bahkan pada Maha Brahma, O para bhikkhu, terdapatlah
transformasi, terdapatlah perubahan. Melihat hal ini, O para
bhikkhu,
seorang murid yang terlatih baik merasa muak bahkan dengan hal
itu.
Dengan menjadi muak dengan hal itu, lunturlah keterikatannya
bahkan
sampai yang tertinggi, apalagi pada yang rendah!

[Anguttara Nikaya, Dasaka Nipata, No. 29]

KEKECEWAAN DARI PARA DEWA

Sekarang muncullah di dunia ini seorang Tathagata, yang Suci,
yang
telah mencapai Penerangan Sempurna, sempurna pengetahuan dan
tindak
tandukNya, yang Mulia/Luhur, Pengenal segenap Alam, Pembimbing
manusia
yang tiada taranya, Guru para dewa dan manusia, yang patut
dimuliakan.

Ia lantas mengajarkan Dhamma:”Ini adalah
kepribadian(personality); ini
adalah asal dari kepribadian; ini adalah akhir dari
kepribadian; ini
adalah jalan menuju akhir dari kepribadian.”

Dan dewa-dewa itu yang berumur panjang, yang bergemerlapan
dengan
kecantikan, yang berdiam dengan penuh kesenangan dan untuk
waktu yang
lama berada dalam rumah-rumah surgawi yang megah, bahkan
mereka,
setelah mendengar Sang Bhagava  mengajarkan Dhamma, tertimpa
ketakutan, kegelisahan dan tergetar:

“Aduh celaka, kita yang, sebenarnya, tidak permanen, percaya
bahwa
kita adalah permanen! Kita yang, sebenarnya, rapuh, percaya
bahwa kita
berkesinambungan!Kita yang, sebenarnya, tidak kekal, percaya
bahwa
kita kekal adanya!Tetapi, yang benar adalah bahwa, kita adalah
tidak
permanen, rapuh, tidak kekal, terpikat dalam kepribadian!”

[Anguttara Nikaya, Cattuka nipata, No. 33]


PENCIPTAAN DAN SEBAB

Asumsi bahwa suatu Tuhan (isvara) adalah penyebab, dan lain sebagainya,
bersandar atas kepercayaan salah dalam suatu diri yang kekal;
tetapi
kepercayaan itu haruslah ditinggalkan, jikalau seseorang sudah
dengan
jelas mengerti bahwa segala sesuatu adalah  tunduk pada penderitaan.

[Vasubhandu, Abhidharmakosa, 5, 8 (vol. IV, p. 19); Sphutartha
p. 445,
26.]


Sekolah-sekolah tertentu memegang pandangan bahwa ada suatu
Tuhan
Mahesvara yang adalah absolut, ada/hadir dimana-mana, dan
kekal; dan
bahwa ia adalah pencipta dari semua Dharma.

Teori ini adalah tidak logis. Dan mengapa?
(a) Bahwa yang menciptakan tidaklah kekal; yang tidak kekal
tidaklah
hadir dimana-mana; yang tidak hadir dimana-mana tidaklah
absolut.
(b) Oleh karena ia adalah kekal dan hadir dimana-mana, dan
komplet
dengan semua kemampuan; ia seharusnya, dalam segala masa dan di
semua
tempat, menghasilkan secara tiba-tiba semua Dharma (fenomena).
(c) (Jikalau mereka katakan)bahwa ciptaannya bergantung pada
nafsu dan
kondisi-kondisi, kalau begitu mereka bertentangan dengan
doktrin
mereka sendiri tentang “sebab yang unik”. Atau dengan kata
lain, kita
boleh katakan bahwa nafsu dan kondisi-kondisi seharusnya juga
secara
tiba-tiba muncul semua, karena sebab (yang menghasilkan mereka)
selalu
ada disitu.

[Vijnaptimatrata Siddhi Sastra (suatu karya standar dari
sekolah
Buddhis Idealistik) terjemahan dari versi Chinese oleh Wong Mow
Lam
("The Chinese Buddhist", Vol. II, No. 2; Shanghai 1932) ]


Demikianlah, saudara-saudari, bagaimana Sang Buddha memandang ajaran tentang adanya sosok “Maha-Dewa” yang disebut sebagai “Yang-Maha…”  tersebut. Adalah salah jika dikatakan bahwa Buddha-Dhamma agama yang Theistik, namun juga keliru besar jika Buddha-Dhamma adalah agama yang bersifat “Atheis-Materialistik”. “Tujuan-Sejati” dalam kehidupan spiritual Buddha-Dhamma adalah menuju pada apa yang dalam bahasa Pali disebut dengan :

“Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang”


Yang artinya  :

“Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak”.


Dan itu adalah : N I B B A N A, pemadaman dari ketiga api : keserakahan / nafsu-indriya ( lobha ), kemarahan/kebencian ( dosa ), dan kebodohan/kegelapan batin ( moha ). Nibbana ini lepas dari “Tuhan”, Nibbana ini pun bukan “Tuhan-Yang-Maha” .

Nibbana ini, sering dipersamakan dengan Tuhan dalam agama2 lain. Padahal, sesungguhnya jauh berbeda. Sebab, Nibbana ini bukanlah pencipta alam-semesta seisinya ( termasuk pencipta semua makhluk ).

Nibbana adalah KONDISI-BATIN, yang telah bebas dari kekotoran batin, bebas dari keserakahan / nafsu-indriya (lobha), bebas dari kemarahan/kebencian (dosa), dan bebas dari kebodohan-batin (moha).

Dalam bahasa Sanskerta, NIBBANA ini disebut dengan NIRVANA. Nirvana, berasal dari dua kata, yaitu ; 1). NIR , yang artinya = TANPA ( sifat negasi ), dan, 2). VANA , yang artinya jalinan nafsu keinginan. Sehingga, Nirvana adalah kondisi batin yang telah terbebas dari ikatan/jeratan jalinan nafsu keinginan sebagai penyebab semua makhluk bertumimbal lahir, mengarungi alam sangsara.

Nibbana ini pun  lepas dari alam surga, bukan surga tempat para bidadari-bidadari cantik yang telah tersediakan bagi para ummat-soleh ( ber-Sila ) dan para “pejuang” agama-agama tertentu.  Surga yang termaksud , yang berisi bidadari-bidadari cantik dan istana2 megah tersebut,  barulah lingkup “Kamadhatu”, yaitu “alam-kesenangan-lingkup-keindriyaan” dan ini masih dalam lingkup keberadaan dan duniawi (lokiya). Sedangkan Nibbana, adalah diatas-duniawi ( lokuttara ), tidak dalam lingkup-keindriyaan, tidak dalam lingkup alam Rupa-Jhana, tidak pula dalam lingkup Arupa-Jhana. Tak terjejaki lagi, akhir dari samsara.

_________________________________________________

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”

( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )

RATANA-KUMARO

Semarang-Barat,Minggu, 21 Juni 2009

Posted in BUDDHA | 170 Comments »

JALAN2 KE ALAS KETONGGO

Posted by ratanakumaro pada Juni 15, 2009

Namatthu Buddhassa,

Dear All Brother and Sisters,

Peringatan dari Perhutani

Pada hari Sabtu, 13 Juni 2009, saya diajak seorang Bhikkhu  berjalan-jalan ke Alas Ketonggo, Jawa-Timur.  Bhikkhu tersebut, dulunya (sebelum menjadi Bhikkhu)  tinggal bertapa di dalam hutan itu ( Alas Ketonggo ) selama satu tahun, sebelum akhirnya menuntut ilmu ke tanah para Buddha ( India, Tibet, Thailand, Burma/Myanmar )  dan ditahbiskan menjadi Bhikkhu disana ( Burma/Myanmar ).

Jalan setapak menuju Pertapaan Dewi Tunjung Sari

Alas Ketonggo, adalah hutan dengan luas 4.846 meter persegi, yang terletak 12 Km arah selatan kabupaten Ngawi. Jawa Timur.  Menurut masyarakat Jawa, Alas Ketonggo merupakan salah satu dari kedua alas-angker / “wingit” di tanah Jawa. Disana terdapat kerajaan makhluk-halus, begitu menurut masyarakat. Sedangkan satu hutan lainnya adalah, Alas-Purwa di Banyuwangi.  Alas Purwa disebut dengan “Bapak”, sedangkan Alas Ketonggo disebut dengan “Ibu”.

Menurut catatan, di Alas-Ketonggo terdapat lebih dari sepuluh (10) tempat pertapaan :

Mulai dari Palenggahan-Agung-Srigati, Pertapaan-Dewi-Tunjung-Sekar, Sendang-Derajad, Sendang-Mintowiji, Goa Sidodadi Bagus, Pundhen Watu Dakon, Pundhen Tugu Mas, Umbul Jambe, Punden Siti Hinggil, Kali Tempur Sedalem, Sendang Panguripan, Kori Gapit, dan Pesanggrahan Soekarno.

Papan-Nama-Palenggahan-Agung-Srigati

Saya kemarin hanya sempat ke Palenggahan Agung Srigati, Pertapaan Dewi Tunjung Sekar, Sendang Derajad, Sendang Mintowiji, Gowa Sidodadi Bagus, tidak sempat ke tempat2 lain karena sesuatu hal.

PALENGGAHAN AGUNG SRIGATI

Lokasi Palenggahan Agung Srigati ini di wilayah Desa Babadan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Jawa-Timur. Konon, tempat ini dulunya adalah tempat peristirahatan Prabu Brawijaya V setelah lari dari kerajaan Majapahit karena kerajaan diserbu oleh tentara-tentara Demak dibawah pimpinan R.Patah dan Wali-Sanga ( Sembilan Wali penyebar agama Islam di tanah Jawa ).  Dikatakan, ditempat itulah Sang Prabu kemudian melepas semua tanda-tanda Kebesaran-Kerajaan, yaitu jubah Beliau, Mahkota , dan semua benda-benda Pusaka; konon, kesemuanya kemudian “raib”, “moksa”.  Dan lalu Sang Prabu melanjutkan perjalanan menuju Gunung Lawu.

Pak Marji-Sang Juru Kunci

Yang merupakan petilasan Sang Prabu Brawijaya V adalah berupa gundukan tanah yang tumbuh setiap hari dan mengeras bagaikan membentuk batu-karang.  Kini, gundhukan tanah tersebut, yang didasari plesteran-semen ditutup keramik, dikelilingi oleh sebuah bangunan berukuran 4X3 meter. Dinding rumah Palenggahan Agung Srigati ini biasanya ditutupi bendera Merah-Putih panjang, namun Sabtu kemarin, penutupnya hanya berupa kain putih saja.

Suasana Dalam Pesanggrahan Agung Srigati

Didalam rumah-rumahan Palenggahan Agung ini, terdapat berbagai benda-benda yang secara simbolik melambangkan tanda-tanda kebesaran kerajaan Majapahit. Baik berupa mahkota Raja, tombak-tombak pusaka, gong, dan lain-lainnya.  Di dalam ruangan ini sangat pekat aroma Dupa dan bunga-bunga, hal yang sangat wajar kita temukan di sebuah tempat “sakral”. Dupa dan taburan bunga-bunga ini berasal dari para pengunjung.

Gundukan Tanah Palenggahan Agung Srigati

Pak Marji ( Juru Kunci ) menyatakan, gundukan tanah tersebut pada saat-saat tertentu tidak tumbuh menyembul, katanya saat Indonesia mengalami suatu musibah atau peristiwa yang kurang-baik, maka gundukan tanah tidak akan tumbuh. Bila gundukan tanah tidak tumbuh, maka ini menjadi pertanda buruk bagi bangsa dan negara, begitu katanya.

Plang-Papan-Nama-Pertapaan Dewi Tunjung Sekar

Pada saat terjadi krisis moneter 1997, tanah tersebut tidak tumbuh, sehingga sama sekali tidak ada gundukan yang menyembul.

Pertapaan Dewi Tunjung Sekar ; Tidak terawat

Pada hari-hari tertentu, seperti Jumat Pon dan Jumat Legi, apalagi di bulan Sura, masyarakat Jawa berbondong-bondong datang ke Palenggahan ini. Pada saat-saat itu, warga banyak menguncarkan “doa” dan bertapa, memohon berkah kepada “yang Maha Kuasa”, dari yang meminta berkah rejeki, karier, hingga perjodohan.

Pertapaan Dewi Tunjung Sekar dilihat dari Sungai

KISAH-KISAH MISTIS

Pak Marji menuturkan, banyak kisah mistis di Alas Ketonggo yang berhubungan dengan situasi politik-nasional.  Alkisah, menjelang Soeharto (Presiden RI kedua) lengser pada tanggal 21 Mei 1998, ada pohon jati yang mengering dan mati. Padahal sebelumnya, pohon itu tumbuh seperti biasa.

Papan Nama Sendang Derajad

Sendang Derajad

Dua puluh tiga (23) hari sebelum Ibu Tien Soeharto meninggal juga ada kejadian aneh, yaitu patahnya sebuah dahan pohon besar di Alas-Ketonggo. Padahal saat itu tidak ada hujan tidak ada angin.

Batu Bertuliskan "Tuk Mintowiji"

Tuk Mintowiji 2

Tuk Mintowiji

Tanggal 20 Juli 2001, tiga hari menjelang Megawati Soekarnoputri dilantik menjadi Presiden RI, muncul cahaya Biru dan Putih bagaikan lentera diatas Kali Tempur Sedalem.

Guwa Sidodadi Bagus

Lorong Goa Sidodadi Bagus dari sisi Kanan

Tugu tempat pemujaan di dalam Goa

Lorong Goa sisi Kiri

Cerita-cerita mistis seperti inilah yang membuat banyak orang “ngalab-berkah” ke Alas Ketonggo. Tidak jarang, bahkan para pejabat-pejabat negara Republik Indonesia berkunjung ke tempat ini mencari “orang-sakti” , atau untuk “mohon-petunjuk” kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, begitu katanya.

Sayangnya, jalan menuju Alas Ketonggo ( khususnya menuju Palenggahan Agung Srigati ) ini sangat tidak terawat. Yang ada hanya jalan berbatu (tanpa aspal) yang bergelombang, sempit.  Mungkin sebaiknya pemerintah memperhatikan perbaikan jalan tersebut, supaya orang-orang yang ingin “nglakoni” atau bertapa ke Alas Ketonggo bisa menempuh perjalanan dengan nikmat.

Peace & Love,

Ratana Kumaro.

Posted in WISATA | 50 Comments »

NAFSU INDRIYA ; PENGHALANG YANG HARUS DILENYAPKAN

Posted by ratanakumaro pada Mei 26, 2009

“ Appamado amatapadam. Pamado maccuno padam . Appamatta na miyanti Ye pamatta yatha mata.”

[ Arti : Kewaspadaan adalah Jalan menuju KEKEKALAN, Kelengahan adalah Jalan menuju KEMATIAN.  Mereka yang sadar tidak akan mati, mereka yang tidak sadar seperti orang mati ( Dhammapada , Appamada Vagga ;  2:1 ) ]

“ Etam visesato natva. Appamadamhi Pandita.  Appamadi pamodanti Ariyanam gocare rata.”

[ Arti : Orang yang bijaksana, setelah memahami hal tersebut, mengembangkan kesadarannya, Ia berbahagia menjalani KEHIDUPAN SUCI ( Dhammapada, Appamada Vagga ; 2:2 ) ]

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”

( tikkhattum ; 3X )

Nammatthu Buddhassa,

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Saudara-saudari , para sahabat yang tercinta, sejak jaman Sang Buddha, telah banyak bermunculan guru kerohanian-guru kerohanian yang menunjukkan jalan yang salah kepada kelompok-kelompok orang. Guru-guru ‘sesat’ ini mengajarkan, bahwa pemuasan kesenangan indera, terutama keterlibatan dalam hubungan sexual, tidaklah akan menghalangi seseorang mencapai Pencerahan (?!) .

Hingga kini, banyak orang yang belum mengenal Dhamma, masih mempertahankan pandangan yang sama, bahwa,” Nafsu tidak harus dihapuskan, tetapi cukup dikendalikan. Tanpa nafsu, kita tidak hidup, sama dengan mati. Setelah mati nanti kita akan dengan sendirinya mengalami lenyapnya nafsu.” Suatu pandangan yang sangat terasa “Anti-Kehidupan-Suci”, dan ini sebenarnya pandangan yang salah bilamana berkaitan dengan pembebasan makhluk-makhluk dari samsara.


MENGAPA NAFSU KEINDRIYAAN HARUS DILENYAPKAN ?

Saudara-saudari, pertama-tama, kita harus memahami tahap-tahap pengetahuan “Pencerahan” saat kita berhasil menembus hakekat segala sesuatu.

Pada hakekatnya, dunia ini adalah “Dukkha” ; rendah dan kosong , kosong dari kekekalan, kosong dari keabadian, kosong dari kebahagiaan sejati, karena itulah dunia ini adalah penderitaan. Memang, bagi kebanyakan orang, menembus kesunyataan mulia mengenai dukkha ini tidaklah mudah. Karena itulah Sang Buddha menyatakan :

“Dhamma yang telah kucapai ini sungguh dalam, sungguh sulit untuk dilihat dan dipahami, damai dan tinggi, tak dapat dicapai hanya lewat penalaran, halus, harus dialami oleh para bijaksana.

Sedangkan generasi [sekarang] ini bergembira di dalam keduniawian, bersenang-senang di dalam keduniawian, bersukacita di dalam keduniawian. Generasi seperti ini sungguh sulit untuk melihat kebenaran ini, yaitu, pengkondisian khusus, asal mula yang saling bergantungan. Dan sungguh sulit untuk melihat kebenaran ini, yaitu, berhentinya semua bentukan, lepasnya semua kemelekatan, hancurnya semua keserakahan, HANCURNYA NAFSU, penghentian, Nibbana. “

[ Majjhima Nikaya ; Ariyapariyesana Sutta ; ay.19 ]


Ketika kita telah melihat ketidak-kekalan [anicca], melihat dengan penembusan spiritual, bukan melalui kacamata intelektual semata, maka barulah kita akan memahami, bahwa dunia ini, pengembaraan dalam samsara ini adalah “Dukkha”. Dan sejak saat itu, kita akan berjuang menuju realisasi kebahagiaan-sejati, yang kekal, yang tidak terserang kelapukan, tanpa-kematian [amerta ; nama lain dari Nibbana / Nirvana].

Penembusan terhadap “dukkha-sacca”, adalah penembusan terhadap kesunyataan mulia yang pertama dari “Cattari-Ariya-Saccani” / Empat Kesunyataan Mulia. Penembusan ini baru bisa diperoleh melalui “Samma-Samadhi” [Samadhi-Benar] dan “Samma-Sati” [Perhatian-Benar]. Ketika samadhi kita telah sedemikian kuat, maka kekuatan samadhi itu dapat kita gunakan untuk menembus kesunyataan tentang “dukkha” tersebut.

Setelah itu, penembusan akan berlanjut pada tahap berikutnya, “Apakah sebab dukkha?” . Apakah sukha dan dukha disebabkan oleh suatu sosok “Adi-Kuasa” tertentu ? Jika jawabannya “ya” , maka seharusnya dukkha bisa dilenyapkan dengan sikap ramah-tamah, penghormatan, pemujaan, kepada sosok “Adi-Kuasa” tersebut ; dan seharusnya sukha senantiasa hadir kepada para “hamba” yang setiap hari tak lelah berdoa kepada sosok tersebut.

Namun, ternyata jawabannya adalah “tidak”, dan segala apapun yang terjadi pada diri kita, bukanlah disebabkan oleh “Prima-Causa” yang berupa sosok “Adi-Kuasa” yang “tidak-terlihat” dan “tidak-tahu-entah-dimana” tersebut. Sebanyak apapun kita meminta perlindungan pada sosok “Adi-Kuasa” tersebut supaya jangan mengalami ‘ketidak-kekalan’, jangan mengalami kesedihan, keputus-asaan, supaya tidak mengalami penderitaan, ternyata tetaplah ‘ketidak-kekalan’ dan ‘dukkha’ tersebut menjadi corak utama yang tidak pernah lepas dari seluruh sejarah perjalanan hidup.

Lalu setelah itu, kita kemudian berhasil menembus, bahwa sebab dari dukkha adalah, karena batin / pikiran kita selama menempuh rentang pengembaraan tumimbal-lahir senantiasa terikat oleh kelima tali kesenangan indera, inilah nafsu-keinginan [tanha] . Disinilah kita menemukan penyebabnya, nafsu-keinginan yang menyala-nyala didalam pikiran kita itulah penyebab dari dukkha [dukkha-samudaya-sacca].

Tahap selanjutnya dari penembusan / pencerahan kita adalah, kita mengetahui, bahwa penderitaan [dukkha] tersebut dapat berakhir. Setelah melampaui massa yang sangat panjang dalam samsara dengan segenap keputus-asaan yang menyertainya, berbagai kegagalan, kesedihan, ratap-tangis yang memenuhi sejarah perjalanan hidupnya, pada titik-titik puncak pencerahannya, manusia akhirnya mengetahui , bahwa ada jalan-keluar dari samsara ini, penderitaan bisa berakhir! Inilah saat ia mengetahui NIBBANA / NIRVANA [nirodha-sacca]. Dan pada tahap terakhir, ia menembus pengetahuan akan adanya “Jalan-Menuju-Berakhirnya-Penderitaan” [ Magga-sacca ] , yaitu “Jalan-Ariya-Beruas-Delapan” [ Ariya-Atthangika-Magga ].


Sedikit kepuasan, banyak penderitaan. Saudara-saudari, bila kita belum bisa menembus dengan jauh [hingga ke beberapa kehidupan lampau kita] hakekat dukkha yang diakibatkan oleh nafsu-indriya, maka, kita setidaknya bisa me”review” perjalanan hidup kita yang sekarang ini. Dalam Alagaddupama Sutta , Majjhima Nikaya, Sang Buddha menyatakan bahwa kesenangan-kesenangan indera memberikan sedikit saja pemuasan, namun di sisi lain justru memberikan banyak penderitaan, banyak keputus-asaan, dan betapa besar bahaya di dalam hal-hal tersebut [pemuasan indera dan akibat-akibatnya ].

Ketika nafsu-indriya muncul, ia sudah menimbulkan penderitaan, karena ia “mencambuk-cambuk” batin kita, seakan-akan mengendalikan batin kita [bagi manusia-manusia biasa yang masih belum terbebas dari nafsu indriya] supaya segera mencari jalan menemukan pemuasan nafsu-indriya tersebut.

Ketika “objek” pemuasan nafsu indriya ini muncul, kita kembali ber”dukkha”. Sebab, saat mendapatkannya, kita khawatir suatu saat kehilangan. Kita khawatir “objek” ini kelak dicuri orang lain, kita khawatir bila sampai kita berpisah dari “objek” ini. Juga, ternyata setelah kita “menggenggam” objek pemuasan indriya ini, ternyata tidak seindah yang dibayangkan dulu kala saat mulai munculnya nafsu indriya. Ternyata, “objek” tersebut tidak juga sempurna memberikan kebahagiaan sejati bagi batin kita.

Terakhir, dukkha akan semakin menjadi-jadi saat kita benar-benar berpisah dengan “objek” pemuasan nafsu-indriya kita. Karena kemelekatan kita yang begitu kuat, kita bersedih telah kehilangan”nya”. Mengenai keresahan-keresahan yang disebabkan objek-objek indriya ini, Sang Buddha bersabda :

“… seseorang berpikir demikian : “Aduh, dulu aku memilikinya! Aduh, kini aku tidak memilikinya lagi! Aduh, semoga aku memilikinya! Aduh, aku tidak mempunyainya sekarang!” Maka dia bersedih hati, menangis, dan meratap. Dia meraung-raung memukuli dadanya dan menjadi putus-asa. … .” [Alagaddupama Sutta ; Majjhima Nikaya ]

Keterikatan kita terhadap nafsu-indriya [ tanha ] inilah, yang menyebabkan kita senantiasa bertumimbal-lahir. Kehausan kita terhadap nafsu-indriya dan pemuasannya, inilah “Avijja” ; Ketidak-tahuan, ini pulalah “Moha” ; Kebodohan-batin. Avijja ini sebab utama kita senantiasa bertumimbal lahir, berkelana dalam samsara. Karena kita tidak bisa melihat adanya ; 1. Dukkha, 2.Sebab dari Dukkha, 3.Berakhirnya Dukkha, dan, 4. Jalan menuju berakhirnya dukkha, maka dari itu kita benar-benar “BODOH”. Inilah yang dimaksud dengan Avijja.

Kebodohan batin ini semacam ketololan seorang penjudi yang tidak bisa melihat bahaya dari perjudian, betapa besar penderitaan yang diakibatkan dari perjudian tersebut. Kebodohan batin ini juga semacam ketololan seorang laki-laki yang tergila-gila kepada seorang perempuan penzinah yang menguras harta kekayaannya dan berselingkuh dibelakangnya. Meskipun banyak orang telah memberitahukan kepada laki-laki ini perihal perempuan penzinah tersebut, namun ia tidak peduli, karena hatinya telah dibutakan oleh kecantikan dan kemolekan tubuh perempuan tersebut. Inilah kebodohan-batin ; batin yang tidak bisa melihat dan menembus hakekat sejati dari segala sesuatu apa-adanya, batin yang terperdaya oleh perangkap-perangkap yang penuh penderitaan.

HANYALAH GURU BODOH YANG MENGAJARKAN KETERLIBATAN DENGAN DUNIA NAFSU-INDRIYA

Guru-guru yang mengajarkan para muridnya untuk tetap terlibat dengan nafsu-indriya sembari berjalan menempuh Jalan-Pembebasan adalah guru-guru yang “tidak-mengerti” mana “Jalan” dan mana “bukan-Jalan” ;  guru seperti ini benar-benar bodoh. Sang Buddha bersabda ;

“Sehubungan dengan para petapa dan brahmana yang terikat pada lima tali kesenangan indera ini, tergila-gila padanya dan sepenuhnya terlibat di dalamnya, dan yang menggunakannya tanpa melihat bahaya di dalamnya atau memahami jalan keluar darinya, mengenai mereka hal ini dapat dipahami :

‘Mereka telah bertemu dengan malapetaka, telah bertemu dengan bencana, “Si Jahat” dapat melakukan kepada mereka semaunya.’ [ Ariyapariyesana Sutta ; Majjhima Nikaya ]


Guru-guru yang “belum-cerah” tersebut berargumen, bahwa kita dapat tetap terbebas dari kekotoran “nafsu-indriya” sementara kita tetap “mencicipi” ( bersenang-senang ) dalam kenikmatan nafsu-indriya. Mengenai kebodohan ini, Sang Buddha bersabda :

9. “ Para Bhikkhu, bahwa manusia dapat terlibat di dalam kesenangan-kesenangan indera tanpa nafsu indera, tanpa persepsi nafsu indera, tanpa pemikiran-pemikiran nafsu indera – hal itu tidaklah mungkin.” [Alagaddupama-Sutta ; Majjhima Nikaya ]


Pada sabda Sang Buddha di ayat 9 ini, dengan tegas Sang Buddha menyatakan ketidak-mungkinan bagi manusia untuk terlibat di dalam kesenangan-kesenangan indrera, objek-objek kenikmatan indera, tanpa memiliki “gejolak-gejolak” hasrat nafsu indera. Frasa yang lain bagi kesenangan-indera ini, dalam Bahasa Pali mengacu pada kekotoran batin subjektif yang berhubungan dengan sensualitas, yaitu nafsu keinginan indera ; hubungan sexual, tindakan-tindakan fisik lain yang mengexpresikan keinginan sexual ~ seperti memeluk dan mengelus ~ termasuk dalam pengertian “Kesenangan-indera”.

“Para Bhikkhu, ketika kalian mengetahui bahwa Dhamma mirip dengan rakit, bahkan keadaan-keadaan yang baik pun seharusnya kalian tinggalkan, apalagi keadaan-keadaan yang buruk.” [ Alagaddupama Sutta ]


Keterangan dalam Majjhima Nikaya memberikan penjelasan lebih jauh mengenai akhir dari khotbah diatas, “Para Bhikkhu, Aku mengajarkan untuk bahkan meninggalkan nafsu keinginan dan kemelekatan pada keadaan-keadaan yang damai dan tinggi ~ ketenangan ( samatha ) dan pandangan terang ( vipassana ) ~ apalagi pada hal yang rendah, vulgar, menjijikkan, kasar, dan kotor… [ kesenangan-kesenangan indria, terlibat dalam hubungan sex ]“.

Guru-guru yang “sesat” tersebut belum memahami segala-sesuatu sebagaimana adanya. Ia masih melihat bahwa apa-apa didunia ini semuanya “nyata” dan layak diinginkan. Ia tidak bisa melihat dengan jelas, bahwa semua yang terlihat didunia ini hanyalah “paduan-unsur-unsur” , yang tidak-kekal, tidak layak diinginkan, dan tidak ada “inti-diri” [ Aku ] disana.  Karena ia melihat bahwa ada “diri”, bahwa itu adalah “kekal”, maka ia terpikat, tertarik, mengikuti “keinginan” untuk memilikinya. Mengenai pandangan-pandangan keliru para manusia yang belum tercerahkan dan tidak terlatih dalam Dhamma nan Agung ini, Sang Buddha bersabda :

15.”Para bhikkhu, ada enam pendirian untuk pandangan-pandangan. Apakah yang enam itu ?

Disini, para bhikkhu, seorang biasa yang tidak belajar , yang tidak memiliki rasa hormat bagi orang-orang luhur dan tidak terampil serta tidak disiplin di dalam Dhamma mereka, yang tidak memiliki rasa hormat bagi manusia-manusia sejati dan tidak terampil serta tidak disiplin di dalam Dhamma mereka, menganggap :

- bentuk-bentuk materi demikian ; “ Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku.”

- Dia menganggap perasaan demikian ; “ Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku.”

- Dia menganggap persepsi demikian : “Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku.”

- Dia menganggap bentukan-bentukan demikian ; “ Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku.”

- Dia menganggap apa yang terlihat, terdengar, terasa, terkognisi, ditemui, dicari, direnungkan secara mental demikian ; “Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku.”

- Dan pendirian untuk pandangan-pandangan ini, yaitu ; ‘ Ini adalah diri, ini adalah dunia ; setelah kematian aku akan abadi, langgeng, kekal, tidak terkena perubahan ; aku akan bertahan kekal selama keabadian’ ~ hal inipun juga dianggap demikian ; “ Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku. “


Didalam penjelasan Majjhima-Nikaya disebutkan, bahwa pengertian :

1). “ Ini adalah milikku “ ; disebabkan oleh nafsu keserakahan [ lobha ]

2). “ Ini Aku “ ; disebabkan oleh kesombongan [ mana ]

3). “ Ini adalah diriku “ ; disebabkan oleh pandangan salah [ miccha-ditthi ].

Tiga hal ini, ~ yaitu nafsu keserakahan, kesombongan, dan pandangan salah ~ disebut tiga obsesi (gaha ). Ketiganya ini juga merupakan pendorong utama di balik pemahaman dan pengembangan mental. Pandangan mengenai “kelanggengan ; setelah kematian aku akan memasuki pintu keabadian “ , sesungguhnya pandangan itu sendiri justru menjadi objek nafsu keserakahan, kesombongan, dan pandangan salah tentang diri.

Sang Buddha berkali-kali menegaskan ke-tanpa-diri-an dalam segala sesuatu di dunia ini. Objek apapun di depan kita, semua kosong dari “diri”, bahkan kita sendiri pun kosong dari “diri” ;  TANPA-DIRI ! Anicca ( tidak-kekal ), Dukkha ( derita ), dan Anatta ( Tanpa-Diri ;  Tidak-Ada-Aku ) , itulah sejatinya segala sesuatu hal. Dan nafsu indriya yang menggebu-gebu terhadap segala sesuatu yang sesungguhnya hanyalah “fluks” [ tidak-kekal, derita, dan tanpa “Aku” ], jelas-jelas merupakan kebodohan-batin. Mengenai ketidak-kekalan dan  ke-tanpa-diri-an ini, Sang Buddha bersabda :

22. “Para Bhikkhu, kalian bisa saja [berpikir untuk] memperoleh kepemilikan yang kekal, langgeng, abadi, tidak terkena perubahan, dan yang mungkin bertahan kekal selama keabadian. Tetapi, apakah kalian melihat ada kepemilikan semacam itu, para Bhikkhu ? – “Tidak, Yang Mulia Bhante”. – “ Bagus, para bhikkhu. Aku pun tidak melihat kepemilikan apa pun yang kekal, langgeng, abadi, tidak terkena perubahan, dan yang bisa bertahan kekal selama keabadian.

23. “Para Bhikkhu, engkau bisa saja melekati doktrin tentang diri yang tidak akan menimbulkan kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, penderitaan, dan keputus-asaan di dalam diri orang yang melekatinya. Tetapi apakah kalian melihat ada doktrin tentang diri semacam itu?” – “ Tidak, yang Mulia Bhante”. “Bagus, para bhikkhu. Aku pun tidak melihat doktrin apa pun tentang diri yang tidak akan menimbulkan kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, penderitaan, dan keputus-asaan di dalam diri orang yang melekati padanya.”

25. “ Para bhikkhu, seandainya diri itu memang ada, apakah ada sesuatu yang menjadi milik diriku?” – “ Ya, Yang Mulia Bahnte” – “Atau seandainya saja ada sesuatu yang menjadi milik suatu diri, apakah diriku ada?” – “Ya, Yang Mulia Bhante” – “Para bhikkhu, karena suatu diri dan apa yang menjadi milik suatu diri tidaklah dipahami sebagai yang benar dan terbentuk, maka pendirian untuk pandangan-pandangan ini, yaitu, “ Ini adalah diri , ini adalah dunia ;  setelah kematian aku akan abadi, langgeng, kekal, tidak terkena perubahan ; aku akan bertahan kekal selama keabadian.’ – tidakkah itu merupakan suatu ajaran yang sungguh sepenuhnya tolol ?”

“Tak bisa lain, Yang Mulia Bhante. Pandangan itu merupakan ajaran yang sungguh sepenuhnya tolol.”

26. “Para bhikkhu, bagaimana pendapat kalian? Apakah bentuk materi itu kekal atau tidak kekal?” – “Tidak kekal, Yang Mulia Bhante” – “Apakah sesuatu yang tidak kekal merupakan penderitaan atau kebahagiaan?” – “Penderitaan, Yang Mulia Bhante.” – “Apakah sesuatu yang tidak kekal, penderitaan, dan terkena perubahan, itu pantas dianggap demikian : ‘ Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku?” – “ Tidak, Yang Mulia Bhante”.

“Para Bhikkhu, bagaimana pendapat kalian? Apakah perasaan…apakah persepsi… apakah bentukan-bentukan… apakah kesadaran itu kekal atau tidak kekal?” – “Tidak kekal , Yang Mulia Bhante.” – “Apakah sesuatu yang tidak kekal merupakan penderitaan atau kebahagiaan ? “ – “Penderitaan, Yang Mulia Bhante.” – “Apakah sesuatu yang tidak kekal, penderitaan, dan terkena perubahan, itu pantas dianggap demikian : “Ini adalah milikku, ini adlah aku, ini adalah diriku?” – “Tidak, Yang Mulia Bhante.”

27. “Oleh karenanya, para bhikkhu, jenis bentuk materi apapun – apakah dari masa lalu, masa mendatang, atau masa kini, internal atau eksternal, kasar atau halus, rendah atau tinggi, jauh atau dekat – semua bentuk materi harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan yang benar demikian : “Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.” Jenis perasaaan apapun… jenis persepsi apapun… jenis bentukan-bentukan apa pun… jenis kesadaran apa pun – apakah dari masa lalu, masa mendatang, atau masa kini, internal atau eksternal, kasar atau halus, rendah atau tinggi, jauh atau dekat – semua kesadaran harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan yang benar demikian : ” Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.”

28. ”Dengan melihat demikian, para bhikkhu, seorang siswa  agung yang belajar dengan baik menjadi tidak terpikat oleh bentuk materi, tidak terpikat oleh perasaan, tidak terpikat oleh persepsi , tidak terpikat oleh bentukan-bentukan, tidak terpikat oleh kesadaran.

29. “Karena tidak terpikat, dia menjadi tidak bernafsu. Melalu tiadanya nafsu, [pikirannya] terbebas. Ketika pikiran terbebas, disitu muncul pengetahuan : ‘Pikiran telah terbebas’. Dia memahami : ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi kelahiran pada keadaan dumadi apa pun.”


Ketidaktertarikan ( nibbida ;  yang juga diterjemahkan “reaksi mendadak” atau “kemuakan” ) menunjukkan tingkat puncak kebijaksanaan, hilangnya nafsu (viraga), pencapaian jalan supra-duniawi, dan pembebasan (vimutti), buahnya. Pengetahuan Arahat yang memeriksa (paccavekkhananana) ditunjukkan oleh frasa “disana muncullah pengetahuan “ dan “dia memahami : Kelahiran telah dihancurkan…dst.’ “.

38. “Para bhikkhu, baik dahulu maupun sekarang, apa yang kuajarkan adalah penderitaan dan berhentinya penderitaan.”


Tuduhan yang menyatakan bahwa Sang Buddha mengajarkan penyangkalan, penghancuran, pembasmian dari makhluk yang ada adalah suatu kekeliruan dan pemikiran yang didasari ketidaktahuan.

Sang Buddha menyatakan, bahwa suatu makhluk hidup bukanlah suatu “Diri”, melainkan hanya kumpulan banyak faktor, peristiwa materi dan mental, yang berhubungan di dalam suatu proses yang pada hakekatnya bersifat dukkha, dan bahwa Nibbana, berhentinya penderitaan, bukanlah pemusnahan suatu makhluk melainkan berhentinya proses ketidak-puasan itu sendiri. Seseorang yang telah memiliki pandangan benar, yang telah membuang semua doktrin tentang diri, melihat bahwa apa pun yang muncul hanyalah munculnya dukkha, dan apapun yang lenyap hanyalah lenyapnya dukkha.

LEPASKANLAH GENGGAMANMU PADA DUNIA!

Dalam bagian akhir-akhir khotbah Sang Buddha di dalam Alagaddupama Sutta, Sang Buddha menegaskan kepada para siswa-siswa terpelajar-Nya, untuk meninggalkan apapun di dunia ini, sebab itu bukanlah diri”mu”, bukanlah milik”mu”. Bagi anda yang telah bisa memahami, mengapa “pelepasan” ini adalah hal mutlak, maka anda akan dengan sukarela melepaskan genggaman erat anda pada dunia ini, sebab semua hanyalah “kosong”, “rendah”, “derita”, “tidak-kekal”, dan “tanpa-diri”.

40. “Maka, para bhikkhu, apa pun yang bukan milikmu, tinggalkanlah ; bila kalian telah meinggalkannya, hal itu akan membawa menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kalian untuk waktu yang lama. Apakah yang bukan milikmu itu ?  Bentuk materi bukan milikmu. Tinggalkanlah. Bila kalian telah meninggalkannya, hal itu akan membawa menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kalian untuk waktu yang lama. Perasaan bukan milikmu. Tinggalkanlah. Bila kalian telah meninggalkannya, hal itu akan membawa menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kalian untuk waktu yang lama. Persepsi bukan milikmu. Tinggalkanlah. Bila kalian telah meninggalkannya, hal itu akan membawa menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kalian untuk waktu yang lama. Bentukan-bentukan bukan milikmu. Tinggalkanlah. Bila kalian telah meninggalkannya, hal itu akan membawa menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kalian untuk waktu yang lama. Kesadaran bukan milikmu. Tinggalkanlah. Bila kalian telah meninggalkannya, hal itu akan membawa menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kalian untuk waktu yang lama.”


Dengan sabda ini, Sang Buddha menunjukkan bahwa yang harus ditinggalkan adalah kemelekatan pada lima kelompok kehidupan [ Panca-Khanda ] ; kelompok-kelompok kehidupan itu sendiri tidak dapat dipisahkan atau dicabut.

Demikianlah saudara-saudari, mengapa kita harus melepaskan keduniawian, melenyapkan nafsu-indriya. Karena, ketika kita senantiasa mentoleransi bagi berkembangnya nafsu-indriya di dalam diri kita, serta memberikan pemuasan-pemuasannya, sesungguhnya kita adalah orang-orang “bodoh” yang tidak menyadari bahaya dari nafsu-indriya, perangkap yang disediakan olehnya hanyalah penderitaan, dan suatu masa penderitaan yang panjang akan diakibatkan oleh pemuasan nafsu indriya tersebut, yakni terlahirnya kita berulang-ulang di dalam alam-alam keberadaan ; di dalam SAMSARA.

Salam Damai dan Cinta Kasih…,

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajja hontu, Anigha Hontu, Sukhi attanam Pariharantu “

( “Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari penderitaan, bebas dari kebencian/permusuhan/pertentangan/niat jahat, bebas dari kesakitan, bebas dari kesukaran, semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaan mereka masing-masing” )

~ RATANA KUMARO ~

SEMARANG, 25 MEI 2009.

Posted in BUDDHA | 73 Comments »

PERAYAAN WAISAK 2553 BUDDHIST ERA [BE] DI VIHARA WATUGONG SEMARANG

Posted by ratanakumaro pada Mei 10, 2009

“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”

( tikkhattum ; 3X )

Nammatthu Buddhassa,

Gbr.1

Hari Sabtu, tanggal 09 Mei 2009 , seluruh ummat Buddha merayakan hari raya Tri Suci Waisak 2553 Buddhist Era [BE] / 2009 Masehi. Hari raya Tri Suci Waisak merupakan hari peringatan akan tiga peristiwa Agung berkenaan dengan Sang Buddha Gotama. Ketiga peristiwa Agung ini [sama-sama] terjadi tepat pada bulan Purnama-Siddhi, bulan kelima (5) pada penanggalan Lunar. Ketiga peristiwa termaksud, yaitu :

  1. Lahirnya Boddhisatta Siddhatta Gotama ke dunia kurang lebih 620 tahun sebelum Masehi,
  2. Saat Siddhatta Gotama mencapai Pencerahan Sempurna di bawah pohon Boddhi, di usia-Nya yang ke-35 tahun.
  3. Saat Sang Buddha parinibbana di usia Beliau yang ke-80 tahun.

Gbr.2

Saya sendiri, pada hari Sabtu kemarin, mengikuti seluruh jalannya prosesi perayaan Waisak 2553 BE / 2009 M di Vihara Watugong, Semarang. Berikut adalah liputan saya atas acara perayaan tersebut. Sebagian besar foto-foto masih belum bisa saya upload [koneksi sedang 'lelet'], namun nanti tetap akan saya susulkan. Selamat menikmati ;)

RANGKAIAN ACARA

Gbr.3

Acara dimulai jam 10.00 WIB, dengan agenda pertama adalah Pindapatta. Para Bhikkhu berjalan berurutan beriringan, menerima dana makanan dari para ummat. Pindapatta ini berlangsung hingga pukul 10.45 WIB.

Setelah itu, dilanjutkan dengan acara menyambut detik-detik Waisak, yang dimulai jam 10.45 WIB s/d jam 12.00 WIB. Detik-detik Waisak disambut puja-bhakti yang dipimpin oleh Bhante dengan penguncaran Paritta-suci, dilanjutkan dengan bhavana / Samadhi bersama selama kurang lebih 30 menit.

Gbr.6

Agenda selanjutnya, yang ketiga, adalah makan siang bersama. Ummat awam menikmati hidangan yang telah disediakan oleh panitia, dayaka-sabbha, secara gratis / Cuma-Cuma. Suasana yang sangat meriah. Peringatan waisak di Watugong kali ini dihadiri oleh ratusan ummat Buddha dari Semarang, Salatiga, dan sekitarnya.

Gbr.7

Jika dibanding perayaan serupa di Watugong tahun 2006 silam, maka perayaan tahun 2009 ini menurut saya agak ‘sepi’, mungkin karena ummat sebagian besar juga banyak yang menghadiri upacara peringatan Waisak di Mendut, Barabudur, dan di vihara-vihara local / setempat [kota masing-masing].

Gbr.8

Para Bhikkhu juga menikmati makan siang hasil dari Pindapatta mereka. Nampak Bhante Surattano sebagai Bhikkhu senior memimpin acara.

Gbr.10

Setelah makan siang selesai, sekitar jam 13.00 – 13.30 WIB, dimulai acara Pradaksina, yang diadakan di lokasi Pohon-Boddhi di vihara Watugong Semarang, di depan Pagoda Avalokitesvara.

Gbr.16

Pradaksina adalah upacara mengitari Buddha-rupam searah jarum jam sebanyak tiga (3) kali. Prosesi ini dipimpin oleh Bhante Cattamano [ Beliau datang terlambat, karena sebelumnya berada di Jakarta ]. Pradaksina dilakukan untuk menghormat Sang Ti-ratana [ Tiga-permata ; Buddha, Dhamma, dan Sangha ].

Gbr.20

Selesai Pradaksina, para Bhikkhu Sangha memimpin arak-arakan / kirab [napak-tilas], berjalan dari lokasi pohon Boddhi menuju dhammasala. Acara kirab yang diikuti ratusan ummat Buddha dari berbagai daerah dan etnis ini nampak meriah.

Gbr.22

Akhir acara, Bhante memberikan dhammadesana di dalam dhammasala, menyampaikan pesan Waisak 2553 BE / 2009 Masehi. Mengharapkan ummat Buddha dapat hidup damai, berbakti pada agama, bangsa dan Negara. Mengingatkan ummat Buddha untuk semakin memperdalam praktek-dhamma, memiliki rasa malu untuk berbuat jahat ( hiri ) dan takut akan akibat perbuatan jahat ( otappa ), memperbanyak sedekah ( dana ), memperteguh moralitas ( sila ), dan memperdalam Samadhi.

Gbr.26

Setelah dhammadesana selesai, kembali diuncarkan paritta-suci. Acara ditutup dengan pembagian “Air-Berkah-Waisak”.

Gbr.12

Acara ini bisa disebut sebagai “GONG”-nya dalam acara perayaan hari raya Waisak di vihara Watugong ini. “Air-Berkah-Waisak”, adalah air-minum yang telah disiapkan, yang sebelumnya diletakkan diatas meja Puja-Bhakti selama prosesi peringatan waisak, dan tentunya ter-influense daya penguncaran Paritta-suci.

Gbr.29

Air yang dipersiapkan ini dipercaya membawa berbagai macam berkah, seperti berkah kesehatan, kesuksesan, dan lain-lain, sebab telah mendapat daya dari penguncaran paritta-suci yang diuncarkan oleh Bhikkhu Sangha serta para ummat, didukung oleh kekuatan bhavana yang dilakukan selama upacara berlangsung.

TEMA WAISAK 2553 BUDDHIST ERA [BE] / 2009 MASEHI

Tema Waisak tahun ini adalah, “Kehadiran Buddha Sumber Keharmonisan dan Keutuhan Bangsa”.

Berikut ini kami cuplikkan tema waisak 2553 Buddhist Era [BE] / 2009 Masehi sebagaimana yang dipublikasikan oleh Sangha Theravada Indonesia :

Gbr.24

SANGHA THERAVADA INDONESIA

Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya,

Jl. Agung Permai XV/12, Jakarta 14350.

Telp (021) 64716739. Faks (021) 6450206.

Vihara Mendut, Kotakpos 111,

Kota Mungkid 56501, Magelang.

Telp (0293) 788236. Faks (0293) 788404.
PESAN WAISAK 2553/2009

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Samagga Sakhila Hotha

Hendaklah saling rukun dan berbaik hati

(Apadà na II)
Samagganang Tapo Sukho

Upaya kelompok orang yang bersatu menimbulkan kebahagiaan

(Dhammapada 194)
Tanggal 9 Mei 2009, umat Buddha memperingati Tiga Peristiwa Suci Waisak; saat Kelahiran, Pencerahan Sempurna, dan Kemangkatan Guru Agung Buddha Gotama. Kelahiran Buddha adalah kemunculan seorang manusia luhur yang kelak mampu memahami Kebenaran Dhamma, Pencerahan Sempurna merupakan penembusan Kebenaran Dhamma secara sempurna oleh seorang Buddha, serta Kemangkatan Buddha adalah perealisasian Kebenaran Dhamma tertinggi atau Parinibbà na. Meskipun guru agung Buddha Gotama telah mangkat dua ribu lima ratus lima puluh tiga tahun yang lampau, tetapi ajaran Kebenaran Dhamma masih tetap dipergunakan sebagai pandangan hidup sebagian umat manusia di dunia dewasa ini, khususnya umat Buddha; karena keberadaan Kebenaran Dhamma melintasi batas ruang dan waktu.
Sangha Theravà da Indonesia mengangkat tema Peringatan Hari Raya Waisak 2553/2009: Kehadiran Buddha Sumber Keharmonisan dan Keutuhan Bangsa. Tema tersebut mengingatkan umat Buddha sekalian bahwa peringatan hari raya Waisak adalah memperingati kehadiran Buddha di tengah-tengah dunia ini. Kehadiran Buddha yang sangat jarang terjadi sungguh merupakan suatu peristiwa yang sangat diagungkan bagi kita, karena kehadiran Buddha sama halnya dengan kehadiran penyebab kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Buddha mengingatkan kepada kita: bangun, jangan lengah, tempuhlah kehidupan benar, siapapun yang menempuh hidup sesuai Kebenaran Dhamma, ia akan berbahagia di dunia ini maupun di dunia selanjutnya.
Ditengah-tengah kehidupan yang senantiasa berubah, segala bentuk perubahan dapat saja terjadi, harapan kita tentu perubahan yang terjadi akan menimbulkan kegembiraan, tetapi tidak jarang terjadi perubahan yang berdampak kesedihan, krisis ekonomi global merupakan salah satu bentuk perubahan dalam kehidupan perekonomian yang menimbulkan kesulitan hidup. Kesulitan akibat krisis ekonomi global itu tidak akan teratasi dengan penyesalan, ketidakberdayaan, bahkan putus asa. Sikap kita yang tepat adalah mempunyai harapan hidup lebih baik untuk mencegah terjadinya penyesalan, memiliki kecerdasan berupaya sebagai pengganti dari ketidakberdayaan, dan mempunyai semangat hidup agar tidak terjadi keputus-asaan. Oleh karena itu sebaiknya umat Buddha sekalian menyikapi perubahan hidup akibat krisis ekonomi global ini dengan sikap mental pantang menyerah, terus berupaya dengan cerdas, mencari jalan keluar sesuai Kebenaran Dhamma.
Tahun 2009 bangsa Indonesia menyelenggarakan pesta demokrasi berupa Pemilihan Umum. Rakyat mempunyai kedaulatan untuk memilih calon legislatif yang akan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat serta Dewan Perwakilan Daerah, dan calon presiden/wakil presiden yang akan menjadi Presiden serta Wakil Presiden selama lima tahun ke depan. Meskipun pilihan umat Buddha sekalian bisa berbeda-beda, tetapi jangan sampai perbedaan pilihan itu menjadi kondisi bagi ketidakrukunan satu sama lain. Karena perbedaan pilihan itu adalah suatu hal yang wajar dalam hidup berdemokrasi, masing-masing orang memiliki kebebasan berpendapat untuk menentukan pilihannya. Kebebasan perlu dilandasi pertanggungjawaban yang jelas. Kebebasan tanpa dibarengi dengan tanggung jawab sosial sama halnya dengan kebebasan yang akan menghancurkan masa depan kehidupan sosial masyarakat. Sebaliknya kebebasan yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab tentu akan memajukan kehidupan sosial masyarakat. Tanggung jawab perlu diterapkan terhadap pilihan kebebasan yang telah dilakukan, dan pilihan kebebasan yang akan dilakukan. Kebebasan tanpa disertai pertanggungjawaban sama halnya dengan perilaku semena-mena untuk memenuhi kepentingan “ego†pribadi ataupun kelompok. Keharmonisan dapat tumbuh berkembang apabila tanggung jawab sosial atau tanggung jawab bersama menjadi perhatian utama diawal perilaku kebebasan yang dipilih. Tanggung jawab sosial dapat terjadi apabila manusia mengembangkan kebijaksanaan dan cintakasih dalam kehidupan bermasyarakat. Bijaksana dalam kehidupan individual dan cintakasih dalam kehidupan sosial, yang kedua-duanya mempunyai tujuan jelas dalam rangka pengembangan Kebenaran Dhamma.

Keutuhan bangsa merupakan hasil upaya mereka yang berjuang bagi kebersamaan meskipun dalam keadaan berbeda-beda. Komitmen kebersamaan perlu dibangun dalam kehidupan berbangsa. Komitmen kebersamaan ini dapat terwujud apabila pemerintah dan rakyat memperhatikan ajaran Buddha yang terdapat dalam Mahà Parinibbà na Suttanta. Kemuliaan suatu bangsa tergantung pada tujuh hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah dan rakyatnya, yaitu: sering mengadakan pertemuan dengan dihadiri banyak peserta, mengakhiri pertemuan dengan hasil kesepakatan bersama, menaati peraturan dan undang-undang yang berlaku, memperhatikan dan menghargai pengalaman orang-orang yang lebih cakap, memperhatikan dan menghargai harkat martabat perempuan, membangun dan menjaga tempat-tempat ibadah di dalam maupun luar kota serta menyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan di tempat-tempat ibadah, dan melindungi orang-orang yang menjalani hidup suci. Kemajuan suatu bangsa bisa diharapkan, bukan keruntuhan, demikian penjelasan Buddha.
Marilah umat Buddha sekalian menghormati Guru Agung Buddha Gotama, baik dalam bentuk ucapan, tingkah laku, dan pikiran. Hendaknya bersikap hormat saat membicarakan Buddha, saat memperlakukan Buddha, dan saat memikirkan Buddha.

Selamat Hari Raya Waisak 2553/2009. Berkah Waisak senantiasa melimpah dalam kehidupan Bapak, Ibu, Saudara, Saudari beserta keluarga, Pemerintah, Bangsa dan Negara Indonesia. Harapan kami agar keharmonisan dan keutuhan bangsa tetap terjaga dan berkembang makin baik.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa, Tiratana, selalu melindungi.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia
Kota Mungkid, 9 Mei 2009
SANGHA THERAVADA INDONESIA

Bhikkhu Jotidhammo, Mahathera

Ketua Umum / Sanghanayaka

SEJARAH SINGKAT VIHARA BUDDHAGAYA WATUGONG, SEMARANG

Vihara Buddhagaya Watugong, Semarang, Jawa-Tengah, merupakan vihara yang pertama berdiri di Indonesia semenjak hancurnya Majapahit dan musnahnya Buddha-Dhamma serta lenyapnya ummat Buddha di Nusantara.

Gbr.13

Berawal dari kedatangan Bhante Naradha Mahathera dari Srilanka di sekitar tahun 1930 Masehi, yang menjadi missionaries Buddhis pertama setelah 500 tahun pasca Majapahit. Menurut sejarah, vihara Buddhagaya Watugong ini resmi didirikan pada tahun 1957.

Watugong tampak depan

Di lokasi vihara ini ditanam “Pohon-Boddhi” [ Pohon yang ‘berjasa’ kepada Sang-Buddha Gotama pada saat mencapai Pencerahan Sempurna ], dan yang menanam tersebut adalah Bhante Naradha Mahathera.

Gbr.15

Dahulu kala, vihara ini tidaklah sebesar dan semegah yang sekarang ini.  Vihara Buddhagaya yang sekarang ini merupakan hasil kerjasama ummat Buddha, terutama disokong oleh para dermawan, donator-donatur yang bajik, dengan niat tulus demi perkembangan Buddha-Dhamma, merenovasi vihara Watugong menjadi sebuah Vihara yang sangat besar, indah, megah.

Pagoda kwan Im1

Dimulai dari tahun 2001, perenovasian itu sudah mulai menunjukkan hasil awalnya yang ditandai dengan diresmikannya Gedung Dhammasala oleh Gubernur Jawa Tengah H. Mardiyanto serta peletakan batu pertama pembangunan Patung Buddha setinggi 36 m oleh Menteri Agama Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawar, MA pada 3 November 2002 lalu.

Selembar daun pohon Boddhi di depan Pagoda ; Vihara Buddhagaya Watugong, Semarang

Selembar daun pohon Boddhi di depan Pagoda ; Vihara Buddhagaya Watugong, Semarang

Gedung Dhammasala yang berdiri di atas lokasi Dhammasala yang lama itu terdiri dari dua lantai setinggi 22 meter dengan ukuran 27 meter kali 27 meter. Lantai I untuk kegiatan pertemuan dan lantai II yang memiliki tinggi sekitar 15 meter digunakan untuk upacara keagamaan. Di lantai II terdapat Rupam Sang Buddha dengan posisi duduk dan ber-mudra ‘memutar roda-dhamma’ yang merupakan duplikasi dari Buddha-rupam di Candi Mendut.

Gbr.14

Meskipun luasnya sudah jauh lebih besar dari Dhammasala yang dulu, namun tetap saja masih tersedia banyak lahan kosong mengingat total luas area yang tersedia sebesar 2,5 hektar. Dana yang digunakan untuk pembangunan Gedung Dhammasala dan sarana penunjangnya yang dimulai sejak Februari 2001 tersebut mencapai 3 milyar rupiah yang membengkak dari anggaran awal karena harga barang-barang naik.

Gbr.31

Sayangnya, vihara Buddhagaya Watugong sekarang ini lebih sebagai objek wisata ketimbang tempat ibadah ummat Buddha. Vihara ini adalah milik “pribadi” Yayasan, dan belum diserahkan kepada Sangha. Oleh karena itu, tidak ada Bhikkhu yang berdiam di Vihara Buddhagaya Watugong, kecuali hanya pada saat-saat ada acara-acara keagamaan, seperti acara puja-Bhakti tertentu, upacara perayaan Katthina, Magha-Puja, dan Waisaka-Puja seperti sekarang ini.

Demikian, laporan pandangan mata perayaan Waisak 2553 BE / 2009 M di vihara Watugong Semarang yang bisa saya sharingkan disini.

Tak lupa, saya mengucapkan, “Selamat merayakan hari raya Tri-Suci Waisak 2553 BE / 2009 M. Semoga, Sang Ti-ratana senantiasa melimpahkan berkah kepada kita semua. Dengan Kehadiran Sang Buddha, damai dan tenteramlah semua makhluk di bumi. Sadhu…sadhu…sadhu… .”

Salam Damai dan Cinta Kasih…,

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajja hontu, Anigha Hontu, Sukhi attanam Pariharantu “

( “Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari penderitaan, bebas dari kebencian/permusuhan/pertentangan/niat jahat, bebas dari kesakitan, bebas dari kesukaran, semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaan mereka masing-masing” )

~ RATANA KUMARO ~

SEMARANG, 10 Mei 2009.

Posted in BUDDHA | 15 Comments »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 35 pengikut lainnya.