PENDALAMAN TATA CARA PALIVACANA
Posted by ratanakumaro pada September 1, 2009
Samagga Sakhila Hotha
Hendaklah saling rukun dan berbaik hati
(Apadà na II)
Samagganang Tapo Sukho
Upaya kelompok orang yang bersatu menimbulkan kebahagiaan
(Dhammapada 194)
________________________________________________________
“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“
( tikkhattum (3X) )
Namatthu Buddhassa,
Rekan-rekan sedhamma semuanya, pada hari Sabtu tanggal 29 Agustus 2009 s/d hari Minggu tanggal 30 Agustus 2009, Keluarga Buddhis Indonesia wilayah Jawa Tengah, mengadakan acara pendalaman tatacara penguncaran Pali Wacana.
Susunan Acaranya adalah sebagai berikut :
- Sabtu, 29 Agustus 2009
- Jam 17.00 WIB s/d 18.00 WIB : Daftar Ulang
- Jam 18.30 WIB s/d 20.00 WIB : Session I
- Jam 20.00 WIB s/d 20.15 WIB : Break
- Jam 20.15 WIB s/d 22.00 WIB : Session II
- Jam 22.00 WIB s/d 04.45 WIB : Istirahat
- Minggu, 30 Agustus 2009
- Jam 04.45 WIB s/d 06.00 WIB : Chanting Pagi
- Jam 06.30 WIB s/d 07.30 WIB : MCK dan Makan Pagi
- Jam 07.30 WIB s/d 09.00 WIB : Session III
- Jam 09.00 WIB s/d 09.15 WIB : Break
- Jam 09.15 WIB s/d 11.00 WIB : Session IV
- Jam 11.00 WIB s/d SELESAI : Penutupan dan Makan Siang
Panitia acara ini dimotori oleh Dayakasabha Vihara Tanah Putih Semarang , Magabudhi Wilayah Jawa-Tengah dan Cabang Semarang, dan seluruh keluarga Buddhis Theravada Jawa-Tengah.
Acara ini dihadiri oleh perwakilan dari vihara maupun organisasi-organisasi Buddhis Theravada dari seluruh cabang di Jawa-Tengah, berikut adalah daftar peserta yang hadir.
| CABANG | Jumlah Perwakilan |
| Kebumen | 12 |
| Banyumas | 8 |
| Kudus | 9 |
| Salatiga | 6 |
| Kota Tegal | 1 |
| Blora | 1 |
| Solo | 2 |
| Klaten | 1 |
| Kota Semarang | 19 |
| Kabupaten Semarang | 2 |
| Grobogan | 11 |
| Jepara | 12 |
| Wonosobo | 8 |
| Wonogiri | 2 |
| Pati | 32 |
| Rembang | 2 |
| Kab. Magelang | 4 |
| Purwerejo | 3 |
| Temanggung | 3 |
| Candhakirana Semarang | 9 |
| Dhammameta Pati | 10 |
| Dhammapannya Temanggung | 10 |
| TOTAL PESERTA | 167 |
HARI PERTAMA

Sabtu, 29 Agustus 2009 ; Pukul 17.00 WIB . Perwakilan ummat Buddha dari berbagai cabang / kabupaten di Jawa-Tengah mulai berdatangan. Ada yang kemudian duduk di ruang tempat acara diselenggarakan, ada yang memilih duduk-duduk diluar sembari menikmati hidangan makanan dan minuman yang sudah disediakan.


Sabtu, 29 Agustus 2009 ; Pukul 18.00 WIB. Ummat Buddha yang hadir semuanya mulai berkumpul di dalam ruangan. Romo Sugianto ( dari Magabudhi ) memberikan sedikit kalimat pembuka. Romo Sugianto memberikan semangat kepada ummat Buddha yang hadir untuk semakin memperkuat saddha kepada Sang Buddha. Dan Romo Sugianto prihatin kepada ummat Buddha yang karena pengetahuannya mengenai Buddha-Dhamma sangat minim suatu saat menjadi berpindah agama karena sesuatu hal.

Sabtu, 29 Agustus 2009 ; Pukul 18.30 WIB. Bhante Suratano, sebagai pengajar materi pendalaman Palivacana, memasuki ruangan. Seluruh ummat beranjali.
Bhante Suratano mulai memberikan materi pelajaran. Dimulai dengan menjelaskan jumlah huruf dalam aksara Pali. Total jumlah huruf dalam aksaraPali adalah 41 huruf, terdiri dari 8 huruf vokal dan 33 huruf konsonan. Delapan (8) buah huruf vokal dalam aksara Pali yaitu :
| A | I | U | E | O | + | Ā | Ī | Ū |
Huruf vokal yang diberi tanda garis “strip” diatasnya, dibaca lebih panjang daripada huruf vokal yang tanpa garis “strip” diatasnya.
Dan 33 buah huruf konsonan dalam aksara Pali adalah seperti yang terlihat dalam foto yang saya abadikan dibawah ini :

Setelah menjelaskan ke-41 huruf aksara Pali ( yang ditulis dalam huruf latin tersebut ), Bhante Suratano menjelaskan cara pelafadzan / pengucapannya. Kemudian setelah itu, Bhante Suratano mengajak ummat untuk berpraktek membaca Paritta.

Situasi berjalan dengan sangat relaks, santai. Tak jarang diisi dengan lelucon-lelucon dari Bhante Suratano. Dengan berjalannya waktu pelatihan, ummat Buddha yang hadir jadi mengerti, bahwa selama ini masih banyak yang kurang tepat dalam mengucapkan Sutta-Sutta dalam Paritta, dan ini menjadi lelucon tersendiri yang memancing tawa-canda.

Sabtu 29 Agustus 2009, pukul 22.00 WIB. Tak terasa, setelah melalui break dan dilanjutkan dengan session II, acara untuk hari Sabtu pun selesai. Sebagian ummat yang dari kota Semarang pulang kerumah masing-masing, beberapa ada yang tidur di vihara bersama-sama ummat Buddha yang dari luar kota Semarang. Saya sendiri, menyempatkan diri ber-samadhi di Dhammasala di depan Buddha-Rupam hingga pukul 24.00 WIB, lalu menyempatkan memotret Pagoda Kwan Im di kegelapan malam dari jarak sejauh 100 meter-an ( kurang lebih ), karena kamera kurang bagus jadi yang nampak hanya lampu-lampu lampion dan sinar bulan , setelah itu saya pulang kerumah.

HARI KEDUA
Minggu, 30 Agustus 2009,pukul 09.00 WIB. Saya datang terlambat, melewatkan acara chanting pukul 04.45 WIB s/d 06.00 WIB , kemudian acara MCK ( Mandi , Cuci, Kakus ) dan makan pagi jam 06.30 WIB s/d 07.30 WIB, dan melewatkan acara Session III dari pelatihan Palivacana jam 07.30 WIB s.d 09.00 WIB. Saya hadir jam 09.00 WIB , disaat peserta pelatihan sedang break istirahat menikmati hidangan yang disajikan oleh panitia.

Minggu, 30 Agustus 2009, pukul 09.15 WIB s.d 11.00 WIB. Pada session IV ini, Bhante Suratano melanjutkan pelatihan membaca Paritta. Semua ummat menyimak dengan antusias, sembari melakukan otto-kritik atas kesalahan-kesalahan selama ini dalam pengucapan / penguncaran Paritta.

Hari Minggu 30 Agustus 2009 pukul 11.00 WIB. acara pelatihan Palivacana selesai. Para peserta kemudian duduk santai. Romo Sugiarto mengisi dengan kalimat-kalimat penutup.




Kemudian ada sesi SHARING dari peserta. Ada seorang peserta laki-laki yang maju ke depan, dan menyampaikan sharingnya, bahwa banyak ummat Buddha di sekitarnya yang kurang memiliki Saddha yang kuat terhadap Ti-Ratana , sehingga ketika tiba saatnya menikah dan mendapatkan pasangan yang non-Buddhis, mereka meninggalkan agama Buddha dan bersalin agama lain. Kemudian, peserta yang sharing tentang hal ini, mengusulkan supaya ummat Buddha yang hadir lebih saling mengenal, siapa tahu ada yang jodoh dan bisa berlangsung ke pernikahan ( he he, begitu sih memang inginnya si mas kayaknya…
)



Setelah acara sharing selesai, dilanjutkan dengan pembagian “TUNTUNAN PUJA BHAKTI” dan “CD PELATIHAN PALIVACANA” ( tiga seri ) oleh Bhante Dhammadiro. Semua perwakilan dari cabang / kabupaten di Jawa-Tengah memperolehnya dengan Cuma-Cuma.

Minggu, 30 Agustus 2009, pukul 12.30 WIB. Bhante Cattamano sebagai Padesa-Nayaka wilayah Jawa-Tengah, dan juga beserta Bhante Suratano, menutup acara dengan diawali Namakara-Patha pada Sang Buddha.
Dalam ceramahnya, Bhante Cattamano menyatakan kegembiraannya atas acara yang diselenggarakan oleh Keluarga Buddhis Indonesia wilayah Jawa-Tengah. Harapan Bhante Cattamano, semoga kedepan nantinya, ummat Buddha sudah mahir menguncarkan Paritta suci.

Setelah selesai memberikan ceramah, Bhante Cattamano menutup dengan Namakara-patha yang ditujukan pada Sang Buddha.
Demikianlah jalannya keseluruhan acara Pendalaman Tata Cara Palivacana yang diselenggarakan oleh Keluarga Buddhis Indonesia wilayah Jawa-Tengah. Para peserta yang mengikuti acara pendalaman ini, nantinya jika berminat akan melanjutkan ke jenjang berikutnya yaitu mengikuti ujian untuk mendapatkan sertifikasi dari Sangha sebagai tanda bukti bahwa ia telah mengikuti serangkaian pelatihan Palivacana dan lulus menempuh ujian pendalaman Palivacana.
Semoga berita ini bermanfaat bagi ummat Buddha Jawa-Tengah khususnya dan ummat Buddha dimanapun anda berada umumnya.
____________________________________________
“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”
( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )
– RATANA-KUMARO –
Semarang-Barat,Selasa, 1 September 2009
卓俊樺~RE berkata
Melihat foto2 mas Ratana,
menimbulkan kerinduan dalam diri saya .
Sudah lebih dari 2 tahun, saya tidak melihat buku Puja bakti dan Bhante Theravada
_________________________________________________________
Namo Buddhaya,
Ya berarti, buruan main2 ke vihara Theravada, temuin Bhante, diskusikan Dhamma, dan baca2 buku Puja Bhakti.
Yang pasti, puja-bhakti bukanlah suatu “kewajiban” yang memaksa.
Buddhisme sebenarnya tidak mengenal ritual seperti itu.
Namun, karena adanya tradisi2, maka timbullah tata-cara puja-bhakti.
Theravada mempunyai tradisinya dengan Paritta-Suci berbahasa Pali, Mahayana mempunyai sutra2nya sendiri, dan lain2nya.
Hanya, memang sebagai seorang siswa, maka sudah selayaknya dan sepantasnyalah kita memberikan pengormatan dan puja-bhakti kita kepada Guru Agung yang telah membabarkan Dhamma nan indah pada permulaan, pertengahan, dan pengakhirannya ; yang bercita rasa pembebasan
Mettacittena.
May U Always b Happy,
Sadhu,Sadhu,Sadhu.
hendra berkata
Namo Buddhaya _/\_
ehm saya mau nanya soal acara kebaktian di Vihara watugong, Kira2 hari apa saja ada kebaktian dan waktunya dari jam berapa sampai jam berapa??