RATNA KUMARA

"Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para BUDDHA"

AWAL MULA “PENCIPTAAN” [Menurut Buddhisme]

Posted by ratanakumaro pada November 7, 2008

AWAL MULA “PENCIPTAAN”

“Agama Masa Depan adalah Agama Kosmik (berkenaan dengan Alam Semesta atau Jagad Raya). Melampaui Tuhan sebagai suatu pribadi serta menghindari Dogma dan Teologi (ilmu ketuhanan). Meliputi yang Alamiah maupun yang Spiritual, Agama yang seharusnya berdasarkan pada Pengertian yang timbul dari Pengalaman akan segala sesuatu yang Alamiah dan Perkembangan Rohani, berupa kesatuan yang penuh arti. Buddhism sesuai dengan Pemaparan ini. Jika ada agama yang sejalan dengan kebutuhan Ilmu Pengetahuan Modern, maka itu adalah Ajaran Buddha.”

( ALBERT EINSTEIN )

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“

Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Pada wacana kali ini saya akan mengajak anda membahas mengenai “ Awal Mula Penciptaan “ dari sudut pandang Buddha-Dhamma. Meskipun kata “Penciptaan” tidaklah tepat jika itu mengacu pada Buddha-Dhamma, namun judul ini saya gunakan karena lebih populis, lebih dikenal oleh para pembaca yang non-Buddhis.

Pada wacana ini saya mereferensi buku “ Kajian Tematis Agama Kristen dan Agama Buddha” ( Djoko Mulyono, Petrus Santoso, Kristiyanto Liman ), dan dari referensi tersebut wacana ini saya kembangkan.

Dulu, pada wacana-wacana terdahulu, saya sudah pernah merujuk salah satu sutta Sang Buddha yang berhubungan dengan awal mula terjadinya alam semesta ini, yaitu Agganna-sutta, yang merupakan Sutta ke-27 dari Digha Nikaya. Kali ini kita akan membahas sutta / khotbah Sang Buddha tersebut dalam bentuk alur proses, sebagai berikut ini :

(a). Masa Setelah Kiamat / Hancurnya Bumi

“Vasetha, terdapat suatu saat, cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini hancur ( kiamat ). Dan ketika hal ini terjadi, umumnya makhluk-makhluk terlahir kembali di Abhassara ( alam cahaya, surga ke-12 dalam kosmologi Buddhis ); disana mereka hidup dari ciptaan batin ( mano maya ), diliputi kegiuran batin, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa, hidup dalam kemegahan.

Mereka hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

(b). Kondisi Bumi setelah berlalunya masa Kiamat / Hancurnya Bumi ( pembentukan awal )

“ Pada waktu itu ( bumi kita ini ) semuanya terdiri dari air, gelap gulita. Tidak ada matahari atau bulan yang nampak, tidak ada bintang-bintang maupun konstelasi-konstelasi yang kelihatan, siang maupun malam belum ada, laki-laki maupun wanita belum ada. Makhluk-makhluk hanya dikenal sebagai makhluk-makhluk saja. “

Khotbah Sang Buddha tersebut ternyata senada dengan pendapat para ilmuwan modern, bahwa pada awal-mulanya, permukaan bumi ini tertutup oleh air. Merujuk pada khotbah tersebut, Sang Buddha tidak menyatakan bahwa matahari dan bintang-bintang belum ada atau tercipta setelah bumi. Yang dinyatakan Sang Buddha adalah, bahwa matahari dan bintang-bintang belumlah nampak, atau dengan kata lain ada sesuatu yang lain yang menghalangi penampakan mereka. Bisa diartikan, yang menghalangi terlihatnya cahaya matahari dan bintang-bintang adalah karena makhluk-makhluk yang ada waktu itu semuanya adalah makhluk cahaya, yang memancarkan sinar kemilau yang megah, yang karenanya menutupi sinar matahari, bulan dan bintang. Makhluk hidup yang ada pertama kali adalah “aseksual”, tidak berjenis kelamin, tidak ada laki-laki, tidak ada perempuan. Hal ini senada dengan temuan para ilmuwan modern.

(c). Makanan yang Muncul Pertama Kali

“ Vasetha, cepat atau lambat setelah masa yang lama sekali bagi makhluk-makhluk tersebut, tanah dengan sarinya muncul keluar dari dalam air. Sama seperti bentuk-bentuk buih ( busa ) di permukaan nasi susu masak yang mendingin, demikianlah munculnya tanah itu.

Tanah itu memiliki warna, bau dan rasa. Sama seperti dadih susu atau mentega murni, demikianlah warna tanah itu; sama seperti madu tawon murni, demikianlah manis tanah itu. “

(d). “Dosa-Asal” Para Makhluk : Keserakahan

“ Kemudian Vasetha, diantara makhluk-makhluk yang memiliki sifat serakah ( lolojatiko ) berkata : “O apakah ini ? “, dan mencicipi sari tanah itu dengan jarinya. Dengan mencicipinya, maka ia diliputi oleh sari itu, nafsu keinginan masuk dalam dirinya.

Makhluk-makhluk lainnya mengikuti contoh perbuatannya, mencicipi sari tanah itu, dengan jari-jari…makhluk-makhluk itu mulai makan sari tanah, memecahkan gumpalan-gumpalan sari tanah tersebut dengan tangan mereka.”

(e). Lenyapnya Cahaya dari Para Makhluk Cahaya dan Terlihatnya Sinar Matahari dan Bintang-bintang

“ Dan dengan melakukan hal ini, cahaya tubuh makhluk-makhluk itu lenyap. Dengan lenyapnya cahaya tubuh mereka, maka matahari, bulan, bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi nampak… siang dan malam terjadi.”

(f). Bermulanya Pembentukan Bumi Kembali ( Evolusi )

“ Demikianlah Vasetha, sejauh itu bumi terbentuk kembali. Vasetha, selanjutnya makhluk-makhluk itu menikmati sari tanah, memakannya, hidup dengannya, dan berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali.”

(g).Terbentuknya Tubuh Para Makhluk Dunia

Berdasarkan atas takaran yang mereka makan itu, maka tubuh mereka menjadi padat, dan terwujudlah berbagai macam bentuk tubuh. Sebagian makhluk memiliki bentuk tubuh yang indah dan sebagian makhluk memiliki bentuk tubuh yang buruk.”

(h). Munculnya Tumbuhan Pertama Kali ( Tumbuhan Serupa Cendawan )

“ Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh yang indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh yang buruk…maka sari tanah itupun lenyap…ketika sari tanah lenyap…muncullah tumbuhan dari tanah ( bhumipappatiko ).

Cara tumbuhnya seperti cendawan…mereka menikmati, mendapatkan makanan, hidup dengan tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali…( seperti diatas )…”

Sementara mereka bangga akan keindahan diri mereka, mereka menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan yang muncul dari tanah itupun lenyap.

(i). Munculnya Tumbuhan Selanjutnya ( Tumbuhan Menjalar )

Selanjutnya tumbuhan menjalar ( badalata ) muncul…warnanya seperti dadih susu atau mentega murni, manisnya seperti madu tawon murni. Mereka menikmati, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan menjalar itu…maka tubuh mereka menjadi lebih padat; dan perbedaan tubuh mereka nampak lebih jelas, sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk.

Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk…

Sementara mereka bangga akan keindahan tubuh mereka sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan menjalar itupun lenyap. “

(j). Munculnya Padi

“ Kemudian Vasetha, ketika tumbuhan menjalar lenyap…muncullah tumbuhan padi ( Sali ) yang masak di alam terbuka, tanpa dedak dan sekam, harum, dengan bulir-bulir yang bersih. Pada sore hari, mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan pada waktu malam, pada keesokan paginya padi itu telah tumbuh dan masak kembali. Bila pada pagi hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan siang, maka pada sore hari padi tersebut telah tumbuh dan masak kembali, demikian terus menerus padi itu muncul.

Vasetha, selanjutnya makhluk-makhluk itu menikmati padi ( masak ) dari alam terbuka, mendapatkan makanan itu dan hidup dengan tumbuhan padi tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali.”

(k). Terbentuknya Jenis Kelamin : Laki-laki dan Perempuan

“ Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat, dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas. Bagi wanita nampak jelas kewanitaannya ( itthilinga ) dan bagi laki-laki nampak jelas kelaki-lakiannya ( purisalinga ).”

(l).Terjadinya Hubungan Sexual

Kemudian wanita sangat memperhatikan tentang keadaan laki-laki, dan laki-lakipun sangat memperhatikan keadaan wanita. Karena mereka saling memperhatikan keadaan diri satu sama lain terlalu banyak, maka timbullah nafsu indria yang membakar tubuh mereka. Dan sebagai akibat adanya nafsu indria tersebut, mereka melakukan hubungan kelamin.

Vasetha, ketika makhluk-makhluk lain melihat mereka melakukan hubungan kelamin…dst…dst… “.

Menurut Sang Buddha, alam semesta ini tidak berawal ; tidak ada awal yang benar-benar awal, karena daur-hidup semesta ini, dari awal-mula terjadi hingga kiamat, dan mulai dari awal evolusi lagi, telah berlangsung sangat lama, tidak hanya sekali saja.

Keberadaan dan berlangsungnya alam-semesta itu ditunjang oleh hukum alam semata. Hukum alam itu sendiri, sesungguhnya bersifat relatif, hanya berlaku di alam fenomena, dan muncul “secara khayal” / “delusif” dari dalam tathagatagarbha ( “rahim Tathagata” ).

Sang Buddha juga mengajarkan bahwa ada banyak planet lain yang juga dihuni makhluk hidup, jauh sebelum tata-surya kita terbentuk. Mungkin inilah yang saat ini oleh ilmuwan dan masyarakat modern dikenal dengan “alien”. Tidak mengherankan bila makhluk luar angkasa ini mempunyai teknologi dan peradaban yang jutaan tahun lebih maju daripada manusia, karena ternyata menurut Sang Buddha sendiri, sebelum tata-surya kita terbentuk, diluar sana telah ada tata-surya yang juga telah dihuni oleh makhluk-makhluk hidup.


AWAL-MULA MUNCULNYA KONSEP  “YANG-MAHA-PENCIPTA”

Sang Buddha bukanlah manusia yang hidup di jaman orang-orang tidak mengenal suatu konsepsi adanya “Yang-Maha-Kuasa”, “Pencipta-Langit-dan-Bumi”, “ Asal-dan-Tujuan-Semua-Makhluk”, “Dari-Nya-kembali-Pada-Nya”.

Sosok tersebut, dalam jaman Sang Buddha, oleh para Brahmana dikenal dengan sebutan Maha-Brahma. Maha-Brahma ini mempunyai pandangan-salah, karena ia secara keliru menganggap dirinya sebagai “Bapa-Alam-Semesta”. Pandangan-salah ini ditunjang dengan kenyataan bahwa Maha-Brahma ini adalah makhluk-mulia, pemimpin para Dewa dari seluruh surga Kammadhatu ( keenam lapisan surga diatas alam manusia ) dan pemimpin para Dewan dan Menteri Brahma.

Brahmajala Sutta didalam Digha Nikaya mengisahkan mengapa Maha-Brahma sampai memiliki pandangan-salah semacam itu ( untuk membaca Brahmajala-Sutta, buka lagi artikel saya yang berjudul “Alam-Semesta, Kehidupan dan Alam-Kehidupan (V)”, buka di Arsip September 2008, tulisan tanggal 16 September 2008 ).

Sang Buddha mengajarkan bahwa dunia yang kita tempati sekarang ini beserta surga-surga kammadhatu akan mengalami penciptaan dan kehancuran secara berkala. Pada saat terjadinya kehancuran bumi kita ini , yang oleh ajaran agama-agama samawi disebut sebagai “kiamat”, para makhluk yang berdiam di alam yang lebih rendah akan terlahir kembali di alam Surga Abhassara ( Sanskrit : Abhasvara ), surga tertinggi di Jhana II ( surga ke-12 bila dihitung dari surga tingkat pertama di alam Kammadhatu ).

Setelah berlalunya waktu yang sangat lama sekali, tiga surga di alam Jhana I muncul kembali, dan seorang dewa Abhassara mati serta terlahir kembali di alam ini sebagai Maha-Brahma ( surga ke-9 bila dihitung dari surga tingkat pertama di alam Kammadhatu ).

Karena lamanya ia sendirian disana, ia merasa kesepian dan menginginkan kehadiran makhluk lain. Tak lama kemudian, harapannya terpenuhi, semata-mata hanya karena para dewa Abhassara lainnya mati dan terlahir kembali di alam Brahma, karena karma-karma mereka sendiri, dan kemudian menjadi para Menteri dan Dewan Brahma.

Karena Maha-Brahma tidak mengingat kehidupannya yang sebelumnya, maka ia berpikir, “ Aku adalah Brahma, Maha-Brahma,… Maha-Tahu, Pengendali, Tuhan, Pembuat, Pencipta… makhluk lainnya yang ada disini adalah ciptaan-Ku.”. Para Menteri dan Dewan Brahma serta para pengikutnya setuju dengan kesimpulan yang keliru ini.

Dan ketika beberapa di antara mereka mati dan terlahir kembali sebagai manusia, ada beberapa banyak dari mereka yang meninggalkan kehidupan perumah tangga, dan menempuh hidup sebagai Petapa / seorang Brahmana, lalu mereka mengembangkan kemampuannya untuk mengingat kehidupan sebelumnya, dan karenanya mengajarkan bahwa Maha-Brahma adalah Pencipta yang kekal dari semua makhluk.


MAHA-BRAHMA : MAKHLUK TERBATAS DAN LEBIH RENDAH TINGKATANNYA BILA DIBANDINGKAN DENGAN SAMMA-SAMBUDDHA

Didalam Digha Nikaya, sebuah Kitab Suci Buddhis, dikisahkan sebuah cerita ironis yang memberikan gambaran tentang keterbatasan-keterbatasan  sosok yang disebut sebagai “Yang-Maha-Pencipta” ini, yang dalam Brahmanisme dikenal dengan nama : Maha-Brahma. Terdapatlah seorang Bhikkhu yang ingin mengetahui asal-usul dunia, bersamadhi supaya dapat berkomunikasi dengan para dewata dan mengajukan pertanyaan filosofis tersebut.

Tetapi, tidak ada satupun dewa. Mulai dari surga tingkat pertama hingga ketujuh ( kediaman dewa pengikut Maha-Brahma ) yang dapat menjawab pertanyaan sulit itu.

Namun para dewa dengan gegabah berani memastikan bahwa Maha-Brahma sanggup menjawab pertanyaan itu. Selang beberapa saat kemudian , Maha-Brahma menampakan diri dan Sang Bhikkhu pun mengajukan pertanyaan padanya.

Jawaban yang diperolehnya hanya semata-mata berupa penegasan penuh percaya diri bahwa alam semesta adalah ciptaannya. Setelah tiga kali memberikan jawaban yang sama, Maha-Brahma menarik Bhikkhu tersebut ke satu sisi dan berkata bahwa dia tidak dapat mengecewakan para pengikutnya dengan mengakui kelemahannya bahwa ia tidak tahu jawaban dari pertanyaannya. Maha-Brahma kemudian memberikan saran bahwa pilihan terbaik bagi Bhikkhu tersebut adalah pergi mengunjungi Sang Buddha, yang pasti mengetahui jawaban atas pertanyaan tersebut.

Demikianlah sosok yang diyakini sebagai “Maha-Pencipta”, Maha-Brahma, ini masih lebih rendah tingkatannya apabila dibandingkan dengan Buddha. Sekalipun mempunyai kebanggaan yang berlebihan akan dirinya , namun “Maha-Dewa” ini merupakan sesosok makhluk yang baik hati dan welas asih ( ingat empat sifat luhur, Brahmavihara ). Ia adalah “Maha-Dewa-Yang-Penuh-Welas Asih “ yang menyangka dirinya sebagai “Maha-Pencipta”, “Bapa-Semua-Makhluk”.


…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Dalam Patika-sutta, Sang Buddha menyatakan Beliau tidak hanya mengetahui asal-muasal ( agganna ) dari segala sesuatu, tapi jauh lebih banyak lagi. Dan menurut Sang Buddha, maka sesungguhnya tidaklah ada “awal” yang benar-benar bisa disebut sebagai “awal”, Sang Bhagava Guru, Sang Sugatha, bersabda, “ Tak dapat ditentukan awal dari alam semesta. Titik terjauh dari kehidupan, berpindah dari kelahiran ke kelahiran, terikat oleh ketidak-tahuan dan keinginan, tidaklah dapat diketahui. “ ( SN. II. 178 )

Sang Buddha menyatakan kepada Ratu Srimala ;

“ Adalah sulit untuk mengetahui dan memahami bagaimana pikiran murni yang intrinsik dapat dikontaminasi oleh noda-noda batin. Srimala, ada dua hal yang sulit dipahami. Apa kedua hal tersebut ? Pertama, pikiran murni yang intrinsik ; Kedua, kontaminasi terhadap pikiran ini oleh noda-noda batin. Hanya engkau dan Bodhisatva-Bodhisatva yang telah mencapai Dhamma-Agung yang dapat menerima dua hal ini setelah mendengarkannya. Para Srawaka dapat memahami mereka hanya melalui ‘iman’ ( Srimala-devi-simhanada-sutra ).

Menurut sabda diatas, hanya Sang Buddha sendiri yang memahami secara eksperiensial mengapa terlahir ketidaktahuan dasar ( avijja ; Sanskrit : Avidya ) berupa noda batin “primordial” dari pikiran sejati yang secara intrinsik adalah suci murni ; makhluk suci lainnya , para savaka, hanya bisa menerima hal ini dengan ‘keyakinan/iman’. Menurut Buddha-Dhamma, pengetahuan tentang asal-muasal dunia tidak dapat dituangkan ke dalam bahasa manusia karena kelahiran semesta bersifat dualistis dan khayal / delusiv, sedangkan pengetahuan itu bersifat transendental, melampaui penggambaran.

Demikianlah, kelahiran segenap fenomena dan makhluk-hidup ( dhatu ) dipandang oleh agama Buddha sebagai suatu kesalahan, ketidakmuliaan, dan bukan merupakan unsur kesengajaan ( penciptaan ) dari suatu makhluk Adikuasa. Bahkan, taman dan istana surgawi tidak diciptakan oleh siapa-siapa, melainkan muncul dari pikiran diskriminatif dan delusiv ( Sutra Winaya Definitif ). Seperti yang dikatakan dalam Srimala-devi-simhanada-sutra, “ Tathagata, dengan kemelekatan sebagai kondisi dan karma penoda sebagai musabab, tiga alam ( dhatu ) dilahirkan. “


ASAL KEMUNCULAN ALAM KEHIDUPAN ( SAMSARA )

Setelah terjadinya “penciptaan”, kemudian barulah muncul berbagai alam kehidupan.

Pada sistem-dunia kita sendiri ada 31 alam kehidupan, yang terbagi menjadi : Kammadhatu, Rupadhatu, dan, Arupadhatu ( sudah saya bahas pada artikel “Alam-Semesta, Kehidupan, dan Alam-Kehidupan”,) . Pembagian ke-31 alam kehidupan tersebut juga dapat dibagi menjadi enam-alam-kehidupan, yaitu :

1. Alam-alam surga ( dari surga Kammadhatu s/d Arupadhatu )

2. Alam para Asura, Resi, Yakkha.

3. Alam para manusia ( Pali : Manussa ), tempat kita hidup sekarang ini.

4. Alam para binatang ( tirrachana-yoni ).

5. Alam para hantu ( Peta ), setan, dan lain-lain.

6. Alam Neraka ( Sanskerta : Naraka , artinya alam penderitaan ).

Pertanyaannya, darimanakah munculnya alam-alam kehidupan tersebut ? Menurut Sang Buddha di dalam Surangama-sutra, sesungguhnya semua makhluk secara fundamental adalah sejati dan suci murni, tetapi disebabkan oleh pandangan keliru mereka, mereka memunculkan kesalahan dalam bentuk kebiasaan jelek, yang terbagi menjadi dua :

i. Aspek Internal, dan,

ii. Aspek Eksternal.

Aspek internal, menunjuk pada apa yang terjadi di dalam makhluk. Disebabkan karena cinta-jasmaniah / nafsu, dan kotoran batin, mereka memunculkan kesalahan dalam bentuk emosi. Emosi yang disebut disini bukan menunjuk pada luapan perasaan dalam waktu singkat, melainkan keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis, seperti kebencian, kekikiran, kemelekatan, kebahagiaan, kemarahan, kesedihan. Ketika emosi-emosi ini berakumulasi tanpa henti, mereka menciptakan “cairan-cinta” . “Cairan-Cinta” dan nafsu keinginan menjelaskan mengapa air liur mereka keluar ketika memikirkan makanan lezat ; ketika mereka memikirkan tentang seorang yang meninggal, air mata mereka menetes ; ketika mereka dengan nafsu serakah ingin memiliki sebuah batu permata, aliran nafsu akan “mengalir” melalui hatinya ; ketika dihadapkan pada tubuh yang “semlohai”, sexy, mulus dan menggiurkan, pikiran mereka menjadi melekat pada nafsu birahi, dan organ seksnya mengeluarkan cairan. Kendati jenis-jenis cinta tersebut berbeda-beda, sifat aliran dan penindasan mereka adalah sama. Dengan adanya “embunan” ini, seseorang tak bisa “menaik”, tetapi akan jatuh secara alami. Ini disebut “Aspek-Internal”. Aspek internal dari emosi seperti cinta-jasmaniah dan kemelekatan mendorong mereka jatuh, berat dan tenggelam. Cinta-jasmaniah , kemelekatan, dan nafsu keinginan ( seperti keserakahan ) berkaitan dengan unsur air.

Aspek eksternal, menunjuk pada apa yang terjadi di luar makhluk, yakni lingkungan. Disebabkan oleh “kerinduan” dan hasrat, mereka menciptakan kesalahan dalam pemikiran yang mengembara.

Ketika proses pemikiran berakumulasi tanpa henti ( pengoptimalan pemurnian batin / buddhi ), ia dapat menciptakan “uap-air” yang naik. Embunan ( aspek-internal ) bersifat jatuh karena berat, sedangkan uap air bersifat naik karena ringan. Dari pemikiran terus-menerus, tanpa melibatkan emosi, suatu respons khusus dapat terjadi, yaitu sebuah gerakan yang bersifat mengangkat. Itulah sebabnya, manusia yang menjaga sila secara murni, tubuh mereka ringan seperti mengapung. Bila mereka berangang-angan dilahirkan di surga, dalam mimpi mereka akan bisa terbang. Bila ada seseorang yang sering bermimpi terbang/melayang, itu adalah bagus, menunjukkan anda memiliki “Sila” yang sudah cukup terjaga ( meski tentunya belumlah semurni seorang “petapa” atau “yogi” yang seumur hidupnya benar-benar menjaga Sila-sila khusus , seperti : selibat, tidak melakukan perbuatan tidak suci ( orgasme ), puasa , meninggalkan kemewahan, dan lain-lain ). Kendati aneka pemikiran itu berbeda-beda, sifat ringan dan mengangkat tersebut adalah sama. Ini disebut aspek eksternal.

Spektrum dari rasio antara pemikiran / batin yang bersifat “naik” dengan emosi yang bersifat “turun” menyebabkan munculnya enam alam kehidupan, berikut adalah penjelasannya :

1. Alam-alam Surga ( dari Kammadhatu s/d Arupadhatu ) :

- Rasio Penggunaan Pikiran / Buddhi : Emosi =

100 % : 0 %

- Karakteristik utama : Kebanggaan akan diri ( tetapi hal ini tidak berlaku di alam para Anagami / Suddhavasa ).

2. Alam para Asura , Resi, Yaksa :

- Rasio Penggunaan Pikiran / Buddhi : Emosi =

30-100% : 0-70%

- Karakteristik utama : Cemburu / temperamental.

- Keterangan : Tergantung rasio penggunaan pikiran / buddhi dengan emosi, mana yang lebih besar. Alam Asura karena prosentase penggunaan emosi cukup tinggi.

3. Alam para Manusia :

- Rasio Penggunaan Pikiran / Buddhi : Emosi =

50 % : 50 %

- Karakteristik utama : Penuh nafsu keinginan.

- Keterangan :

Pemikiran / Buddhi terang = menjadi pintar.

Emosi berat = menjadi bodoh.

4. Alam para Binatang :

- Rasio penggunaan Pikiran / buddhi : Emosi =

40 % : 60 %

- Karakteristik utama = Kebodohan.

- Keterangan =

Emosi ringan = terlahir sebagai binatang bersayap.

Emosi berat = terlahir sebagai binatang buas berbulu.

5. Alam para Hantu / Setan :

- Rasio penggunaan Pikiran / buddhi : Emosi =

30 % : 70 %.

- Karakteristik utama : Kemelekatan , keserakahan.

- Keterangan = contoh-contoh makhluk ini ; kuntilanak, thuyul, pocong, wewe, dll.

6. Alam Neraka ( Sanskrit : Naraka ) :

- Rasio penggunaan Pikiran / buddhi : Emosi =0-20% : 80-100%

- Karakteristik utama : Penuh Kebencian.

Berdasarkan uraian diatas, kita melihat bahwa kadar emosi merupakan salah satu unsur pokok yang menentukan jenis alam kehidupan berikutnya setelah meninggal. Sebagai contoh, misalnya ada seseorang yang menjaga lima-sila / Pancasila ( 1). Tidak membunuh / menyebabkan penderitaan makhluk lain, 2). tidak mengambil barang yang tidak diberikan, 3). tidak berbuat sex yang tidak benar dan baik, 4). tidak berucap dusta, 5). tidak meminum minuman keras / barang madat yang menyebabkan lemahnya kesadaran ), tapi sepanjang hidupnya, atau saat menjelang kematiannya dipenuhi dengan emosi kemelekatan pada anggota keluarganya, harta bendanya, atau sesuatu hal yang mengganjal di hatinya. Disebabkan oleh derajat emosi kemelekatan yang tinggi, ia sementara tertunda kelahirannya di alam surga ( karena sesuai dengan prioritas karma sebagaimana pernah kita bahas dahulu pada artikel mengenai “Hukum-Karma” dan artikel-artikel lain yang berkaitan dan menjelaskannya ), ia terpaksa terlahir kembali menjadi manusia atau bahkan terlahir di alam yang lebih rendah, didorong oleh energi emosi berupa kemelekatan. Setelah kekuatan karma dari energi kemelekatan itu perlahan-lahan terkikis habis, ia baru kemudian akan terlahir di alam surga.

Sesungguhnya samsara diciptakan oleh pikiran setiap makhluk sendiri-sendiri, bukan diciptakan oleh sosok “Sang-Maha-Pencipta”. Beragam alam kehidupan berkorespondensi dengan ragamnya keadaan mental. Alam kehidupan merupakan lokalisasi dari alam pemikiran yang menghasilkannya.

Selanjutnya, marilah kita bahas empat alam kehidupan : alam surga, alam neraka, alam hantu, dan alam binatang. Alam manusia tidak kita bahas lagi, karena dulu sudah cukup banyak dibahas, dan kita sendiri telah mengenal dan mengalaminya. Alam Asura ( penentang para dewa ) tidak dibahas tersendiri, karena golongan ini juga hidup di alam surga, alam manusia, alam hantu, dan alam binatang.

1. Alam-alam Surga

Kosmologi Buddhis mengenal 26 tingkatan alam-surga, dari alam Kamadhatu s/d Arupadhatu ( bila menurut Mazhab Mahayana, ada 28 tingkatan alam-surga ).

Para dewata di enam alam surga pertama, yaitu di lingkup alam keindriaan ( Kamadhatu ), menikmati kesehatan, kenyamanan, kekayaan dan kebahagiaan. Namun, seketika berkah karma untuk hidup di alam surga telah habis, para dewata mau tak mau mesti terlahir kembali di alam yang lebih rendah.

Mengapa keenam surga tingkat pertama itu masih digolongkan dalam Kamadhatu ? Hal ini dikarenakan para makhluk yang terlahir disana masih memiliki semacam nafsu keinginan sexual. Hanya saja kadarnya dapat dikatakan jauh lebih ringan apabila dibandingkan dengan alam manusia dan alam binatang.

Aktivitas dan kehidupan para dewata di alam Kamadhatu sesungguhnya tidak jauh berbeda denga umat manusia, hanya saja kekuatan supranatural mereka jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan manusia biasa. Secara etika dan kemoralan mereka masih belum sempurna, karena nafsu keinginan masih membelenggu mereka. Meskipun mereka masih terbakar oleh api nafsu seksualnya, namun makin tinggi tingkatan alam tempat dewa tersebut tinggal, makin halus cara mereka memuaskan keinginan sexualnya tersebut. Sebagai contoh, para dewa dari dua tingkatan surga pertama ( catummaharajika dan tavatimsa )masih harus memuaskan nafsu sexualnya, tetapi ini cukup dilakukan dengan cara berpelukan saja. Itulah sebabnya mereka dipandang lebih tinggi tingkatannya bila dibandingkan dengan manusia biasa.

Pada umumnya , para dewata menghabiskan sebagian waktu untuk bersenang-senang sehngga sepanjang kehidupan mereka tidak muncul pemikiran untuk menyempurnakan diri ( demi pencapaian Nibbana / Nirvana ). Lalu, tiba-tiba mereka “kaget” karena dihadang oleh datangnya kematian.

Dalam It. 83 dijabarkan lima hal yang menandakan bahwa kematian seorang dewa telah dekat ;

I. Cahaya tubuhnya yang biasanya terang, menjadi redup.

II. Tahta kedewaan yang biasanya memberikan rasa nyaman kepadanya, menjadi tidak nyaman lagi untuk diduduki ; sebaliknya, dia merasa gelisah dan tidak bisa duduk tenang di atas tahtanya.

III. Karangan bunganya, yang biasanya tidak pernah layu, mulai layu.

IV. Pakaiannya, yang selalu bersih dan segar sekalipun sudah dipakai dalam waktu yang lama, mulai kelihatan tua, pudar, kotor, serta mulai mengeluarkan bau.

V. Tubuhnya, yang biasanya tidak pernah berkeringat, mulai berkeringat.

Ketika lima pertanda ini muncul, dewata tersebut tersiksa oleh pemikiran bahwa sebentar lagi ia juga akan mati. Rekan-rekan dan kekasihnya juga mengetahui bahwa ia akan mati ; mereka tidak lagi mendekatinya, melainkan melempar bunga-bunga dari jarak jauh dan mengirimkan harapan baik, “ Ketika engkau mati dan pergi dari sini, semoga engkau terlahir di antara manusia. Semoga perbuatan baikmu disana bisa membuat engkau terlahir kembali di alam dewa. “ Dengan begitu teman-temannya meninggalkannya.

Hidup menyendiri, dewata yang mendekati kematiannya itu diliputi rasa duka. Dengan mata dewanya ia melihat dimana ia akan dilahirkan kembali. Bila mengetahui akan dilahirkan di alam sengsara, siksaan batin dari kejatuhan tersebut akan meliputinya bahkan sebelum ia terlahir disana. Sementara penderitaan batinnya makin mendalam, ia merasa putus asa dan terpaksa menghabiskan tujuh hari waktu surgawi untuk meratapi kemalangannya. Jika seorang dewa dari surga Tavatimsa akan meninggal, maka tujuh hari waktu disana untuknya meratapi adalah sama dengan tujuh ratus tahun waktu manusia ( karena sehari semalam disana adalah sama dengan seratus tahun waktu manusia ).

Di alam surga yang lebih tinggi, yakni alam Rupa-Brahma ( surga ke-7 hingga surga ke-24 ) dan alam Arupa-Brahma ( surga ke-25 hingga surga ke-28 ) , tentu saja tidak ada pernderitaan dari kematian dan transmigrasi. Namun, ketika efek dari perbuatan bajik yang mengirim mereka kesana sudah habis, para Brahma ini akan jatuh kembali ke alam yang lebih rendah seperti seakan-akan bangun dari tidur / mimpi.

2. Alam-alam Neraka ( Sanskrit : Naraka )

Menurut kosmologi Buddhis, alam neraka ( Skt.: naraka – “tempat-penderitaan” ) setidaknya dibagi menjadi empat ( 4 ) kelompok neraka, keseluruhannya mengandung delapan-belas ( 18 ) neraka. Mereka terdiri dari :

- Delapan ( 8 ) neraka panas

- Satu ( 1 ) neraka pinggiran

- Delapan ( 8 ) neraka dingin

- Satu ( 1 ) neraka tersendiri ( soliter )

Akan tetapi sesungguhnya jumlah neraka itu jauh lebih banyak, karena keterbatasan tempat, tidak dibahas disini karakteristik masing-masing neraka tersebut dan jangka kehidupannya, tapi hanya membahas sebab-utama terjadinya aneka bentuk penderitaan di neraka.

Suatu kelompok makhluk bisa menerima balasan karma yang identik, dan terdapat tempat-tempat dimana hal itu terjadi. Semuanya ini datang dari balasan karma yang diciptakan mereka sendiri. Mereka menciptakan sepuluh musabab kebiasaan buruk :

- Kebiasaan nafsu birahi

- Kebiasaan keserakahan

- Kebiasaan arogan

- Kebiasaan kebencian

- Kebiasaan penipuan

- Kebiasaan kebohongan

- Kebiasaan permusuhan

- Kebiasaan pandangan sesat

- Kebiasaan ketidakadilan, dan ,

- Kebiasaan “litigasi” ; suka menuntut secara hukum / pengadilan

Disebabkan adanya sepuluh jenis kebiasaan tersebut, lahirlah pengalaman ilusi berupa aneka bentuk siksaan di neraka. Misalnya, kebiasaan mengobarkan nafsu birahi menciptakan kemunculan ilusi berupa hukuman di neraka dalam bentuk siksaan bersentuhan dengan ranjang besi atau tiang tembaga yang membara.

Kebiasaan keserakahan, menciptakan ilusi dingin yang menggigilkan. Sebab, keserakahan seperti magnet yang menarik benda-benda, hal ini sejenis “penyedotan”. Penyedotan yang berlangsung lama menciptakan ilusi dingin yang menggigilkan.

Kebiasaan kebencian yang disuplai terus-menerus menciptakan ilusi adanya aneka bentuk pisau, pedang, gergaji, kampak, dan lain-lain.

Kebiasaan kebohongan yang terus menerus menyebabkan si pelaku terlahir di berbagai neraka, dimana ia mencium bau kencing, kotoran, dan tempat-tempat kotor yang dipenuhi debu beterbangan. Berbohong sekali-kali ketika masih hidup di dunia tidak akan menyebabkan seseorang jatuh ke neraka-neraka ini karena kekuatan karma negatif yang ada tidak cukup untuk melemparkan ia ke dimensi ilusi tersebut.

Kebiasaan untuk tidak bertindak adil menciptakan ilusi diremukkan diantara gunung-gunung, diremukkan di antara batu-batu, digiling, dihancurlumatkan menjadi debu, dan pengalaman delusiv sejenisnya. Ketidakadilan mencakup mendakwa seseorang yang tak bersalah, memfitnah. Kekuatan karma dari ketidakadilan menciptakan beberapa tipe neraka, seperti pengalaman dihenyakkan dari empat gunung yang datang dari empat penjuru, menghimpit badannya hingga hancur remuk.

Demikian pula dengan kebiasaan buruk lainnya ; masing-masing pencipta kebiasaan buruk menciptakan siksaannya sendiri sesuai dengan energi karma buruk yang disuplainya. Karma buruk itu menciptakan berbagai halusinasi yang bersifat ilusi bagi si pembuat karma buruk. Aneka jenis neraka muncul semata-mata karena adanya suplai energi negatif, BUKAN CIPTAAN TUHAN atau makhluk apapun.

Kemunculan neraka-neraka itu merpakan manifestasi dari kekuatan karma negatif ; karenanya mereka disebut bersifat ilusi. Dimensi alam neraka muncul secara ilusi dari ketidaksucian pikiran, ucapan, dan perbuatan fisik. Ini seperti dimensi mimpi-mimpi buruk yang kita alami. Bagi pelaku karma buruk, neraka-neraka itu seperti nyata, eksis ; bagi makhluk yang tidak terlahir di neraka, neraka tidaklah eksis. Oleh sebab itu, dalam agama Buddha dikatakan bahwa neraka tidak boleh dikatakan “eksis” atau “tidak-eksis” karena pada dasarnya ia kosong dari eksistensi yang inheren, tapi disebabkan karena kekuatan karma, manifestasi ilusi berupa fenomena siksaan muncul didepan mata pelaku karma buruk.

3. Alam para Hantu

Jenis hantu pun bermacam-macam, dan ada beberapa kategori, tergantung dari aspek yang digunakan. Ada yang disebut sepuluh ( 10 ) kategori hantu, ada yang dikenal dengan istilah tiga ( 3 ) kelompok hantu, dan ada yang diistilahkan dengan dua ( 2 ) jenis hantu.

Dalam klasifikasi tiga ( 3 ) kelompok hantu, hantu dibagi menurut jumlah kekayaan, yaitu dari aspek jumlah makanan yang dapat dimakan :

( i ) Hantu yang tanpa kekayaan,

( ii ) Hantu yang memiliki sedikit kekayaan,

( iii ) Hantu yang memiliki banyak kekayaan.

Di antara hantu yang tak memiliki kekayaan adalah :

1. Hantu bermulut obor-api, dimana makanan dan minuman yang masuk kedalam mulutnya akan berubah menjadi kobaran api.

2. Hantu bermulut jarum, di mana tenggorokannya sangat sempit sehingga makanan tidak bisa melaluinya, dan ,

3. Hantu bermulut bau busuk, yang mulutnya sangat rusak, busuk, berbau amis dan mereka tidak bisa mencerna makanan/minuman apapun.

Hantu dengan sedikit kekayaan bisa memakan sedikit makanan. Ada tiga jenis yang termasuk dalam kategori ini , yaitu :

1. Hantu berambut seperti jarum,

2. Hantu berambut bau busuk,

3. Hantu berkulit tumor.

Beberapa dari mereka, pada saat hendak makan, mendapatkan makanannya berubah menjadi nanah dan darah. Beberapa dari mereka memakan dan meminum air ludah, air kencing, tahi, atau menelan benda kotor sebagai makanan.

Hantu yang memiliki banyak kekayaan, yang mempunyai kesenangan mewah, juga terdiri atas tiga sub bagian :

1. Hantu kurban, yang hidup dari kurban serta persembahan yang dilakukan manusia. Hantu ini serupa dengan jenis hantu yang digambarkan dalam tradisi China.

2. Hantu barang lenyap, yang hidup dari barang-barang yang lenyap dari dunia manusia,

3. Hantu dengan kekuatan besar, seperti para yaksa , raksasa, dan lain sebagainya, yang merupakan penguasa para hantu.

Hantu kurban dan hantu barang lenyap kadangkala masih menderita rasa lapar dan haus, tetapi hantu dengan kekuatan besar mempunyai kesenangan yang mendekati kesenangan duniawi. Ini terjadi karena hantu jenis terakhir ini telah berbuat banyak amal semasa masih menjadi manusia, namun pada saat yang sama mereka juga sangat rakus, serakah, dan tidak pernah puas diri, oleh sebab itu mereka terlahir menjadi hantu jenis ini.

Pada umumnya, kebanyakan hantu sedikit atau tidak memiliki kekayaan, dan mereka selalu lapar.

Jenis kategori hantu lainnya adalah berdasarkan komunitasnya, dan dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu hantu yang hidup berkelompok dan yang menjelajah angkasa. Hantu yang hidup berkelompok masih dibagi menjadi tiga subkategori, yaitu hantu yang menderita rintangan eskternal, hantu yang menderita rintangan internal, dan hantu yang menderita rintangan spesifik.

4. Alam Binatang

Terdapat beberapa jenis klasifikasi binatang, tergantung dari kriteria yang dipakai. Ada klasifikasi binatang berdasarkan kriteria tempat tinggal, jumlah kaki, hingga sifat dan derajat penderitaan. Berdasarkan kriteria jumlah kaki, maka ada binatang yang tanpa kaki seperti cacing, dua kaki seperti burun, empat kaki seperti binatang buas, dan banyak kaki seperti serangga dengan enam, delapan kaki, atau lebih.

Penderitaan yang dialami binatang beraneka ragam. Pada umumnya dunia binatang diwarnai dengan saling memangsa dan saling membunuh untuk mempertahankan eksistensi kehidupan. Ikan besar memakan ikan yang lebih kecil, serangga yang besar memakan yang lebih kecil. Laba-laba membangun jaringan laba-laba di sudut rumah hanya untuk menangkap dan membunuh serangga yang terbang. Kodok dan burun menelan serangga, dan nafsu makan mereka luar biasa. Bahkan serangga kecil yang bersembunyi di bawah kulit kayu bisa dimakan oleh burung pelatuk. Ular naga pun harus dimakan oleh Garuda. Ada binatang yang dilahirkan di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh sinar matahari sehingga untuk melihat tubuhnya sendiri juga tidak bisa. Dunia binatang benar-benar adalah seperti rumah penjagalan ; mereka selalu saling membunuh dan bahkan dibunuh oleh manusia.

KESINAMBUNGAN DUNIA

Agama Buddha mengajarkan bahwa kesinambungan alam semesta disebabkan oleh interaksi keempat unsur. Untuk memahaminya, mari kita baca kutipan dari Surangama-Sutra berikut ini :

“ Interaksi antara kecemerlangan pencerahan dengan kekosongan buram menimbulkan gerakan yang terus menerus, sehingga melahirkan roda angin yang menyokong dunia. Oleh karena kekosongan menimbulkan gerakan, cahaya yang mengeras itu membangun kepadatan yang merupakan sifat-inheren metal. Cahaya yang ditambahkan ke pencerahan itu membuat sifat-keras tersebut, sehingga melahirkan roda metal yang menyokong daratan-daratan.

Kemelekatan yang bandel pada kemampuan-kognisi yang tak tercerah mengakibatkan terjadinya formasi logam, sedangkan getaran dari kemampuan-kognisi yang bersifat ilusi menyebabkan timbulnya angin. Angin dan logam saling bergesekan, sehingga terjadilah cahaya-api yang sifatnya bisa berubah-ubah. Kecemerlangan dari logam menghasilkan embun, yang kemudian berubah menjadi uap air oleh cahaya api yang menyembul dari bawah, sehingga melahirkan roda air yang melingkupi sepuluh penjuru dunia.

Api menyembul ke atas dan air jatuh ke bawah, dan kombinasi dari keduanya membangun kepadatan. Yang basah menjadi samudera dan lautan ; yang kering menjadi benua-benua dan pulau-pulau. Disebabkan oleh hal ini, api sering menyembul didalam samudera, dan diatas benua, kali-kali dan sungai-sungai mengalir terus-menerus.

Ketika kekuatan air kurang daripada kekuatan api, hasilnya adalah gunung tinggi… . Ketika kekuatan tanah kurang daripada air, hasilnya adalah rerumputan dan pepohonan. Oleh sebab itulah belukar dan padang rumput berubah menjadi abu bila dibakar dan mengeluarkan air bila dipilin… interaksi [ dari api dan air ] menjadi benih untuk kesinambungan dunia… .

Menurut Surangama-sutra, konfrontasi terus-menerus antara pencerahan yang ditambah cahaya ( penyadaran yang merupakan subjek ) dengan kekosongan gelap yang merupakan objek, menyebabkan terjadi rotasi terus-menerus; oleh sebab itu terdapat angin yang eksis dimana-mana yang menyokong kehidupan dunia alam semesta.

Penyadaran berupa subjek itu terguncang oleh kekosongan relatif ini, terpana olehnya dan mengeras menjadi unsur logam ( tanah ). Kemelekatan yang kuat terhadap penyadaran (pengetahuan) yang belum tercerahkan itu mengakibatkan terbentuknya logam.

Gerakan getaran dari penyadaran yang khayal ini menyebabkan angin naik ke atas. Angin dan logam bergesekan satu sama lain. Dari sini terciptalah unsur api.

Kecemerlangan dari logam menimbulkan embun. Bila logam dipanaskan, ia akan mengeluarkan cairan ; butiran air akan muncul di permukaannya. Oleh karena adanya api, kelembaban tercipta di logam. Dari kebasahan logam itu, uap embun tercipta. Bila cahaya api dari bawah menyembur ke atas, ia menciptakan uap air saat melewati logam. Dari ini muncul unsur air yang ada di sepuluh penjuru dunia.

Api bersifat menyembul keatas, sedangkan air bersifat jatuh kebawah. Kombinasi dari api dan air menciptakan zat-zat. Yang basah menjadi samudera, yang kering menjadi benua dan pulau. Oleh sebab itu, api sering menyembul ke atas didalam lautan, dan aliran sungai selalu mengalir kebawah di atas permukaan bumi.

Bila kekuatan air lebih kecil daripada kekuatan api, gunung-gunung tinggi tercipta. Oleh sebab itulah bebatuan di pegunungan menimbulkan percikan api bila digesek keras, dan menjadi cairan bila dicairkan. Oleh sebab itu juga terdapat gunung berapi di berbagai tempat di bumi ini.

Bila kekuatan tanah lebih kecil daripada kekuatan air, maka akan tercipta rerumputan dan pepohonan. Oleh sebab itulah belukar dan padang rumput akan menjadi abu bila dibakar dan mengeluarkan air bila dipilin ( atau dipatahkan ). Demikianlah, interaksi air dan api menjadi benih bagi kesinambungan dunia, di mana dunia mengalami proses kemusnahan dan pembentukan kembali secara terus menerus tanpa henti ( kiamat dan berevolusi kembali berulang kali ).

Dari segi sains, keempat unsur ini dapat disejajarkan dengan unsur-unsur penyusun sebuah atom. Sebagaimana yang kita ketahui, atom merupakan baigan terkecil yang menyusun segala sesuatu di jagad-raya ini. Agar mendapatkan pemahaman yang lebih jelas kita perlu membahas secara lebih dalam seluk beluk dari keempat unsur dasar itu. Logam atau tanah memiliki fungsi sebagai faktor penunjang serta memiliki sifat kepadatan ( solidity ). Unsur air, berfungsi sebagai pengikat, sifatnya adalah kohesif dan unsur angin memiliki fungsi sebagai penggerak serta sifatnya yang selalu bergerak. Hal ini selaras sekali dengan unsur-unsur penyusun atom. Proton dan neutron yang memiliki andil besar dalam menentukan berat atom serta membentuk inti atom dapat diumpamakan dengan unsur tanah / bumi yang mengandung kepadatan. Meson yang mengikat keduanya dapat disejajarkan dengan unsur air yang berfungsi sebagai pengikat. Elektron yang terus-menerus bergerak mengelilingi inti atom ( proton dan neutron ) dapat disepadankan dengan unsur angin yang selalu bergerak. Energi yang mengikat antara inti atom dengan elektron dapat diumpamakan dengan unsur api yang mengandung unsur panas atau energi.

Demikian pembahasan kita mengenai “Awal Mula Penciptaan” ditinjau dari sudut pandang Buddha-Dhamma, baik mazhab Theravada, maupun mazhab Mahayana.


Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

Semoga Semua Makhluk Berbahagia dan Terbebas… !

– RATANA KUMARO  –

Semarang Barat, Jumat, 03 Oktober 2008.

About these ads

13 Tanggapan to “AWAL MULA “PENCIPTAAN” [Menurut Buddhisme]”

  1. kweklina berkata

    hi…sobat apa kabar?

    Aku ada titipan Award buatmu…diambil ya…

    Thanks! Salam…

  2. jelasnggak~RE berkata

    Menurut Sang Buddha, alam semesta ini tidak berawal ; tidak ada awal yang benar-benar awal, karena daur-hidup semesta ini, dari awal-mula terjadi</b. hingga kiamat, dan mulai dari awal evolusi lagi, telah berlangsung sangat lama, tidak hanya sekali saja.

    –> Saya kurang mengerti dengan hal ini. Bisa dijelaskan lebih lanjut…?

    Jika alam semesta ini tidak berawal, kenapa ditulisan anda menulis dari awal-mula terjadi…dst

    thanks
    ……………………………………………………………………………………………………..
    Dear jelasnggak :)

    Pertanyaan ini sudah umum ditanyakan.
    Coba anda baca dengan seksama dan perhatikan lagi artikel tersebut.

    Maksudnya adalah, setelah bumi ini hancur ( kiamat ), dan semua terlahir dalam surga Abhassara, maka kemudian dimulailah kembali pembentukan alam-semesta ( seperti yang diuraikan didalam artikel tersebut ).

    Nah, inipun bukan “Awal” yang benar2 “Awal”, karena, proses bumi terbentuk, mengembang, mengempis, hancur (kiamat), kemudian terbentuk lagi, itu sudah terjadi berulangkali, tidak hanya terjadi sekali saja.

    Okey ? Semoga anda memahami hal ini :)

    May Happiness b With U, Forever :)
    Sadhu,Sadhu,Sadhu.

    • jelasnggak~RE berkata

      Maksudnya adalah, setelah bumi ini hancur ( kiamat ), dan semua terlahir dalam surga Abhassara, maka kemudian dimulailah kembali pembentukan alam-semesta ( seperti yang diuraikan didalam artikel tersebut ).

      –> Iya.. saya ngerti..

      Maksud saya, sebelum bumi ini hancur, pasti ada kejadian yang mendahuluinya.. iya kan..?

      Katakanlah Z adalah kiamat.

      Sebelum Z, pastilah ada kejadian sebelumnya, yang mendahului Z, kita misalkan saja kejadian tersebut dengan nama kejadian Y.

      Sebelum kejadian Y, pastilah ada kejadian sebelumnya yang mendahului, kita sebut X.

      Sebelum X, pastilah ada kejadian W

      Sebelum W, ada V

      sebelum V ada U

      Sebelum U ada T

      ..
      dst

      ..

      Sebelum B ada A.

      Apakah ada kejadian sebelum A ….?

      Saya tahu, mas ratna ini pasti akan menjawab : Sebelum A adalah Z.
      Yang artinya sebuah siklus, kita namai saja siklus ini sebagai SIKLUS ALAM SEMESTA. (mudah2an ini yang dimaksud mas ratna. kalau salah tolong benerin)

      Pertanyaan saya (kalau apa yang saya tangkap adalah benar),

      *** Menurut Budha, apakah ada peristiwa atau kejadian sebelumnya yang menyebabkan SIKLUS ALAM SEMESTA ITU terjadi…? ****

      Untuk memperjelas pertanyaan saya:

      Anda pernah punya mainan kereta api yang berjalan diatas rel yang berbentuk lingkaran ?
      Kalau anda pehatikan, kereta itu tidak akan berjalan berputar-putar jika anda tidak menjalankannya.
      Setelah anda menjalankannya, Kereta itu akan berputar2 terus menerus sampai ada yang menghentikannya.

      Nah, ibaratkan kereta itu adalah SIKLUS ALAM SEMESTA.

      Adakah yang menyebabkan SIKLUS ALAM SEMESTA itu…?

      thanks
      ……………………………………………………………………………………………………………
      Dear Jelasnggak,

      Jika yang anda maksud adalah adanya “Aktor” seperti contoh seorang anak menggerakkan permainan kereta-api tersebut , maka jawabannya = TIDAK-ADA.

      Hayo, pasti masih penasaran khan ?
      Sebenarnya, karena pertanyaan seperti inilah kemudian muncul pandangan spekulatif mengenai adanya “aktor” yang menjadi “penggerak” semuanya dalam alam semesta ini.
      Pandangan ini, murni spekulatif semata, karena muncul dari pikiran yang “berandai-andai”, menyimpulkan secara sepihak dan dengan “jalan-pintas”, menganggap bahwa ada “aktor” yang seperti itu.

      Semoga jawaban ini membantu anda,
      May U Always b Happy and Well,
      Sadhu,Sadhu,Sadhu.

      • jelasnggak~RE berkata

        Hayo, pasti masih penasaran khan ?

        –> hi hi hi… iya iya… penasaraaaaannnn..

        —————–

        Sebenarnya, karena pertanyaan seperti inilah kemudian muncul pandangan spekulatif mengenai … dst…

        –> Kalau saya ngga salah mengerti jawaban anda adalah : “Jangan bertanya siapa penggerak alam semesta ini, karena kalau bertanya maka akan timbul spekulasi”

        Begitu kan mas…?
        …………………………………………………………………………………………………………………..
        Hi, dear jelasnggak :)

        Wah, anda keliru… ,

        Tergantung siapa yang bertanya itu.

        Jika yang bertanya belum mampu mencapai pencerahan-spiritualitas yang sebenarnya sehingga mampu memahami proses terjadinya alam semesta tersebut, maka pertanyaan itu akan menjadi sia-sia, sebab hanya akan dijawab dengan kesimpulan sepihak dan lewat “jalan-pintas” , yaitu : Mmmhh.. pastilah ada yang menciptakan ini semua…Kalau tidak ada yang menciptakan, lalu, bagaimana semua ini bisa terjadi ? Bukankah segala sesuatu harus ada penciptanya ? :)

        Namun, jika yang bertanya itu adalah yang memang kematangan batinnya sudah siap untuk itu ( demi pencapaian pencerahan ), maka, pertanyaan itu menjadi sangat berarti, sebab mereka akan mampu menembus dan memahami bahwa, semua terjadi bukan karena ada yang menciptakan, tetapi karena kebodohan / kegelapan-batin semata, yang kemudian bagaikan benang-kusut, berkelana tanpa pernah terhenti, tercengkeram oleh hukum-hukum alam yang bekerja dengan sendirinya.. Hanya pencerahan dan pembebasan-sempurnalah yang akan menghentikan semua ini. :)

        By the way, bila anda adalah seorang penganut kepercayaan adanya “Pencipta” tersebut, that’s no problem…,
        Kami disini kan bukan para “pemaksa”, namun hanya memaparkan ajaran Buddha saja.

        Nah, bila anda sreg dengan kepercayaan anda, so silakan my dear…, anda lanjutkan kepercayaan anda itu, okey :)
        …………………………………………………………………………………………………………….

        Kalau begitu, mas ngga perlu menjawab “TIDAK ADA” atas pertanyaan saya itu.

        karena “TIDAK ADA” dan “ADA”, dua-duanya juga sama… yaitu sama-sama jawaban spekulatif. Tetapi bedanya, jawaban “ADA” -nya saya itu memiliki dasar yang kuat dan masuk akal. Tetapi jawaban TIDAK ADA-nya anda kan ngga memiliki dasar yang kuat.
        (lha wong kereta ngga ada yang menyebabkan kok tiba2 bisa jalan – ngga bisa masuk ke akal)

        Kan gitu mas…
        ……………………………………………………………………………………………………………..

        Begini, jelasnggak :)

        Jawaban “Tidak-Ada” yang diperoleh para “suciwan” Buddhist, diperoleh setelah “MENCARI-TAHU” dengan seksama, dengan kemurnian-batin, kekuatan-batin, kesucian-batin ; artinya, itu merupakan jawaban yang didapat setelah tercapainya “Pencerahan”… ,

        Sedangkan jawaban “Ada” itu umumnya diperoleh dari hasil penyimpulan “logika” semata, yaitu seperti pernyataan anda :

        lha wong kereta ngga ada yang menyebabkan kok tiba2 bisa jalan – ngga bisa masuk ke akal

        AKAL-lah yang mengambil kesimpulan, bukan hasil “Pencarian” dalam perjuangan “Pencerahan”.

        Serupa dengan pernyataan :

        “Segala Sesuatu Haruslah Ada yang Menciptakan, Bila tidak, Maka tidak Masuk Akal Sesuatu Bisa Ada”

        Maka, anti-thesis atas pernyataan itu adalah :

        “Jika Segala Sesuatu Harus Ada yang Menciptakan, Lalu, “SIAPAKAH YANG MENCIPTAKAN “SANG-PENCIPTA” ?”

        …………………………………………………………………………………………………………….
        Kemudian.

        Kalau manusia tidak diperbolehkan untuk bertanya (agar tidak timbul spekulasi), maka manusia ngga akan maju seperti sekarang ini mas. Coba, bayangkan, kalau sir isaac newton ngga bertanya kenapa apel bisa jatuh ke tanah, maka peradaban manusia ngga akan secanggih seperti sekarang.

        Setiap manusia kan diberikan kecerdasan untuk berfikir mas. Pada saat saya bertanya, saya itu lagi berfikir menggunakan otak saya mas. Nah, kalau di ajaran Budha kita tidak boleh menggunakan otak kita untuk bertanya-tanya , itu berarti ajaran Budha memberangus kemampuan berfikir manusia mas.

        Bukankah Budha mendapat pencerahan dengan menggunakan otaknya..? dengan bertanya seperti pertanyaan saya kepada anda itu ? Tetapi herannya, kalau budha boleh bertanya (tanpa dikatakan berspekulasi) kenapa saya ngga boleh…?

        Kalau kereta api mainan saya itu tidak ada yang menggerakkan kemudian tiba-tiba jalan sendiri…. wah.. itu yang namanya tidak masuk akal.

        bagaimana..?
        ………………………………………………………………………………………………………………..
        My dear…,

        Anda telah banyak menyimpulkan sesuatu secara pemikiran anda sendiri.

        Justru, dalam Buddhisme, seseorang HARUS-MEMBUKTIKAN sendiri tentang semua-hal, PANTANG-PERCAYA sebelum membuktikan sendiri. Inilah bedanya dengan ajaran lain yang lebih menekankan pada “percaya” ( atau iman ), dimana kepercayaan itu “tidak-bisa” dan “tidak-boleh” dipertanyakan, hanya bisa “di-IYA-kan” saja.

        Prinsip BERTANYA dan harus membuktikan sendiri, dalam Buddhisme itu dikenal dengan prinsip :

        EHI-PASSIKO.

        Datang, Lihat, dan Buktikan !

        Mengenai hal ini sudah pernah saya terangkan pada Lovepassword, tapi tidak mengapa lah saya terangkan lagi :)

        Dalam suatu kesempatan, seorang jutawan bernama UPALI [ seorang pengikut Nigantha Nataputta ], mendekati Sang Buddha dan begitu senang dengan penjelasan Dhamma yang rinci dari Sang Buddha sehingga ia dengan segera menyatakan keinginannya untuk menjadi seorang pengikut Sang Buddha.

        Tapi, Sang Buddha justru menasehatinya, dengan berkata :

        “Dari suatu kebenaran, O perumah tangga, adakanlah suatu penyelidikan yang teliti. Adalah baik bagi seorang terhormat seperti Anda untuk mengadakan suatu penyelidikan yang teliti.”

        Upali, yang diliputi kegembiraan yang meluap-luap atas kata-kata Sang Buddha yang tidak terduga olehnya ini, berkata :

        “Guru, jika saya menjadi seorang pengikut dari guru yang lain, pengikut-pengikutnya akan membawa saya mengelilingi jalan-jalan dalam prosesi untuk memproklamirkan bahwa seorang jutawan telah melepaskan agamanya yang dahulu dan memeluk agama mereka. Saya lebih senang dengan nasihat Anda yang bermanfaat ini ; dan ia dengan senang mengulanginya : Untuk kedua kali saya mencari perlindungan pada Buddha, Dhamma, dan Sangha.”

        Ada kisah menarik dalam Kalama-Sutta mengenai himbauan Sang Buddha kepada para pemuda Kalama untuk senantiasa melakukan penyelidikan atas segala hal dan suatu ajaran :

        Yang Mulia, banyak pertapa dan brahmana yang berkunjung ke Kesaputta. Mereka menerangkan dan membahas dengan panjang lebar ajaran mereka sendiri, tetapi mencaci maki, menghina, merendahkan, dan mencela habis-habisan ajaran orang lain. Lalu datang pula pertapa dan brahmana lain ke Kesaputta. Dan mereka ini juga menerangkan dan membahas dengan panjang lebar ajaran mereka sendiri, dan mencaci-maki, menghina, merendahkan, dan mencela habis-habisan ajaran orang lain. Kami yang mendengar merasa ragu-ragu dan bingung, siapa diantara para pertapa dan brahmana yang berbicara benar dan siapa yang berdusta.”

        3. “Benar, warga suku Kalama, sudah sewajarnyalah kamu ragu-ragu, sudah sewajarnyalah kamu bingung. Dalam hal yang meragukan memang akan menimbulkan kebingungan. Oleh karena itu, warga suku Kalama, janganlah percaya begitu saja berita yang disampaikan kepadamu, atau oleh karena sesuatu yang sudah merupakan tradisi, atau sesuatu yang didesas-desuskan. Janganlah percaya begitu saja apa yang tertulis di dalam kitab-kitab suci; juga apa yang dikatakan sesuai dengan logika atau kesimpulan belaka; juga apa yang katanya telah direnungkan dengan seksama; juga apa yang kelihatannya cocok dengan pandanganmu; atau karena ingin menghormat seorang pertapa yang menjadi gurumu.
        Tetapi, warga suku Kalama, kalau setelah diselidiki sendiri, kamu mengetahui, ‘Hal ini tidak berguna, hal ini tercela, hal ini tidak dibenarkan oleh para Bijaksana, hal ini kalau terus dilakukan akan mengakibatkan kerugian dan penderitaan, maka sudah selayaknya kamu menolak hal-hal tersebut.”

        “Tetapi, warga suku Kalama, kalau setelah diselidiki sendiri, kamu mengetahui, ‘Hal ini berguna; hal ini tidak tercela; hal ini dibenarkan oleh para Bijaksana; hal ini kalau terus dilakukan akan membawa keberuntungan dan kebahagiaan,’ maka sudah selayaknya kamu menerima dan hidup sesuai dengan hal-hal tersebut.”

        Dan hal yang dinyatakan tentang Dhamma ini adalah :

        “Svakkhato bhagavata dhammo,
        Sanditthiko akaliko EHIPASSIKO,
        Opanayiko paccattam veditabbo vinnuhi’ti.”
        [ Dhamma telah sempurna dibabarkan oleh Sang Bhagava,
        terlihat amat jelas, tak bersela waktu,MENGUNDANG UNTUK DIBUKTIKAN,
        patut diarahkan kedalam batin, dapat dihayati oleh para bijaksana,
        dalam batin masing-masing]

        Dalam suatu kesempatan, Sang Buddha bertanya pada salah satu murid utamanya :

        “Apakah engkau percaya atas apa yang baru saja aku ucapkan ?”

        Sang Murid terkemuka tersebut menjawab :

        “Tidak-percaya, Bhante. Sebelum saya membuktikannya sendiri, saya tidak akan percaya”

        Lalu Sang Buddha sangat senang mendengar jawaban itu :

        “Bagus, kamu benar. Janganlah percaya terhadap apapun juga sebelum kamu membuktikan sendiri, sekalipun itu Aku sendiri yang menyatakan.”

        Nah, my dearest “jelasnggak”… ,

        Bagaimana kalau sekarang kita terapkan prinsip ini ?

        Janganlah percaya begitu saja akan semua hal, sebelum anda membuktikan sendiri. Bagaimana ?
        Kemudian, selamat menempuh “Pencarian” anda, demi pencapaian “Pencerahan-Sempurna” untuk diri anda sendiri, okey :)

        Mari kita sama-sama ber-EHI PASSIKO ! he he he.. .
        ………………………………………………………………………………………………………..

        thanks
        ………………………………………………………………………………………………………..
        Thanks to You too… ,

        May U Always b Happy and Well,
        May All Beings attain Enlightenment…,
        Sadhu,Sadhu,Sadhu…. .

        • kelana berkata

          Saya mencoba untuk menanggapi pertanyaan “Adakah yang menyebabkan SIKLUS ALAM SEMESTA itu…?” dari Sdr. Jelasnggak.
          Jawabannya tidak ada. Ia bergerak secara alami, nature. Alami berarti apa adanya, tidak dibuat-buat, tidak ada campur tangan, dll. Oleh karena itulah disebut dengan nature/alam yaitu dasar, basic.

          Jadi adalah tidak tepat jika kita memperumpamakan, menyandingkan kereta api mainan yang bukan nature/alami dengan sistem semesta yang sifatnya nature.

          Demikian

  3. jelasnggak~RE berkata

    respon saya kok ngga ditampilkan mas…?
    :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
    Hi, dear Jelasnggak :)

    Respon yang mana..,
    sudah ditampilin semua kan.

    Coba dicheck di komentar ini
    Okey ..,

    [ eh, blog kamu di halaman debat-terbuka ini rame yah, he he.., ngintip sesekali, pas klik tautan kamu :) ]

    May Happiness Always b With U,
    Sadhu,Sadhu,Sadhu.

  4. aly berkata

    kesejateraan bagi yang mengikuti petunjuk1
    sungguh anek betul apa yang di samapaikan di atas saya sungguh pusingbagai mana agama yang seperti ini bisa dikatakan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan???????
    coba pikir,tida kada awal yang sama sekali awal trus mayak makhul trus ada timbul sari patih bumi dn seeterusnya jadi lah makhul bumi dan segala sistem alama trus berulang lagi sampai tak terhingga ,tus tidak boleh di tanyakan menurut logika tapi datang dan buktikan tapi yang di suruh datang dan buktikan itu tidak tau aharus ke mana karna ada alam seprti khayal dan hanya budah saja yang tau secara memn dalam, trus ada makhlu yang lebih berkuasa darai yang lain dan berbuata salah dengan sombong mengatakan bahwa dia lah yang menciptakan alam dan segalanya tapi makhul ini sangan baik dan belas asih
    yang jadi pertanyaan ?
    bagaimana makhluk ini bisa melakukan kesalaha yang terus samapai tak terhingga menerus ????????
    yang kedua bagaimana amu mengetahi tentang lama semesta klo kita tak memikirkan secar alogika kemana kan harus kita datang dan mebuktian mana teiri yang benar ?
    apakah dengan dudk bersila dan diam biasa mengetahuii hal ini bagai mana prosesnnya ???
    bagai mana ada tiba tiba kedudkan yang lebih tinggi darai yang lain dan lebih berkuasa ?
    apamungkin pada suatu saat nanti ada bisa mengalakan yang palimng berkuasa itu yang di sebut maha brahma??????
    kenapa dia itu yang mengaku maha pencitadapat di benarkan makhul lain nnya
    dan kenapa sang buddah bias lebih tinggi dan lebih mengetahui darai dia dewa yang paling berkuasa????
    dan kenapa buddah hidup dan mati ????????????
    bagai mana mengetahi klo buddah atau satya muni itu sekarang ada di mana dan menjadi apa ?
    dan masih banyk lagi hal yang sanagt kacau yang saya betul betul gak paham
    dalam benak saya selam ini bahwa agama buddah itu salah satu agama yang cukup logis dengan ajaran cinta kasih dan hukum karma seta pengendalian diri untuk mencapai derajat yang tinggi tapi setlah saya mengetahui tentang bagai mana dia memandang tuhan pantas saja menurut saya ajaran nya tidak di teriama di negara nya sendiri serta bayak nya negara 2 yang mayoritas agama buddah menjadi komunis yang anti tuhan karna sunggu8h apa yang di samapaikan dalam ajaran buddah tentang sang maha brahma menyinggung saiapa saja yang percaya pada tuhan yang maha pencipta . mohon penjelasan nya????????? kesejateraan bagi yang mengikutu petunjuk

  5. ratanakumaro berkata

    Namo Buddhaya,

    Dear All my Brothers and sisters,

    Ini ada postingan menarik dari rekan ummat Buddha, Upasika Lily Warsiti. Mari kita simak, semoga bermanfaat _/\_

    Anguttara Nikaya, Sattaka, Mahavagga, Sattasuriya Sutta

    Satta Suriya Sutta

    Demikian yang kudengar. Suatu ketika, Sang Bhagava tinggal di kebun mangga milik Ambapali. Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu:

    “Para bhikkhu, fenomena adalah berubah, tidak tetap, tidak ada yang menyenangkan di dalamnya, maka sesuai bagi kalian untuk berpaling, tidak melekat dan terbebaskan dari segala fenomena.

    Para bhikkhu, puncak tertinggi dari Himalya, adalah delapan puluh empat ribu yojana di atas permukaan laut, delapan puluh empat ribu yojana lebarnya. Delapan puluh empat ribu yojana dalamnya di dalam laut.

    Para bhikkhu, setelah lewat banyak tahun, beratus ribu tahun, akan ada masanya ketika tidak ada hujan. Ketika tidak ada hujan, semua biji-bijian dan tumbuhan seperti rumput obat, pohon dan hutan, mengering dan menghilang. Para bhikkhu, demkianlah fenomena adalah berubah, bukan tetap, tidak ada yang menyenangkan di dalamnya, maka sesuai bagi kalian untuk berpaling, tidak melekat dan terbebaskan dari segala fenomena.

    Para bhikkhu, setelah lewat banyak tahun, beratus ribu tahun, akan ada masanya ketika matahari ke dua muncul. Ketika matahari ke dua muncul, semua kali dan sungai kecil mengering dan menghilang. Para bhikkhu, demkianlah fenomena adalah berubah, bukan tetap, tidak ada yang menyenangkan di dalamnya, maka sesuai bagi kalian untuk berpaling, tidak melekat dan terbebaskan dari segala fenomena.

    Para bhikkhu, setelah lewat banyak tahun, beratus ribu tahun, akan ada masanya ketika matahari ke tiga muncul. Ketika matahari ke tiga muncul, sungai-sungai besar seperti Gangga, Yamuna, Aciravati, Sarabhu dan Mahi mengering. Para bhikkhu, demkianlah fenomena adalah berubah, bukan tetap, tidak ada yang menyenangkan di dalamnya, maka sesuai bagi kalian untuk berpaling, tidak melekat dan terbebaskan dari segala fenomena.

    Para bhikkhu, setelah lewat banyak tahun, beratus ribu tahun, akan ada masanya ketika matahari ke empat muncul. Ketika matahari ke empat muncul, danau besar yang ditopan goleh sungai-sungai besar, seperti Anotatta, Sihapapata, Rathakara, Kannamunda, Kunala, Chadanta, dan Mandakini, mengering dan menghilang. Para bhikkhu, demkianlah fenomena adalah berubah, bukan tetap, tidak ada yang menyenangkan di dalamnya, maka sesuai bagi kalian untuk berpaling, tidak melekat dan terbebaskan dari segala fenomena.

    Para bhikkhu, setelah lewat banyak tahun, beratus ribu tahun, akan ada masanya ketika matahari ke lima muncul. Ketika matahari ke lima muncul, air di samudra besar berkurang sampai seratus yojana, dua ratus yojana, tiga ratus yojana, lima ratus yojana, enam ratus yojana dan tujuh ratus yojana. Ia berkurang tingginya hingga ketinggian tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua dan bahkan satu pohon palem. Ia berkurang hingga ketinggian tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua dan bahkan satu orang. Ia itu berkurang hingga mencapai tinggi setengah manusia. Ia berkurang hingga hanya sedalam lutut manusia, pergelangan kaki manusia. Ketika matahari ke lima muncul, tidak ada air di samudra untuk merendam jari. Para bhikkhu, demkianlah fenomena adalah berubah, bukan tetap, tidak ada yang menyenangkan di dalamnya, maka sesuai bagi kalian untuk berpaling, tidak melekat dan terbebaskan dari segala fenomena.

    Para bhikkhu, setelah lewat banyak tahun, beratus ribu tahun, akan ada masanya ketika matahari ke enam muncul. Ketika matahari ke enam muncul, bumi yang besar dan puncak Himalaya berasap dan tertutup dengan asap. Seperti ketika tembikar dimasak. Demikianlah ketika matahari ke enam muncul, bumi yang besar dan puncak Himalaya berasap, tertutup dengan asap seperti ketika tembikar dimasak. Para bhikkhu, demkianlah fenomena adalah berubah, bukan tetap, tidak ada yang menyenangkan di dalamnya, maka sesuai bagi kalian untuk berpaling, tidak melekat dan terbebaskan dari segala fenomena.

    Para bhikkhu, setelah lewat banyak tahun, beratus ribu tahun, akan ada masanya ketika matahari ke tujuh muncul. Ketika matahari ke tujuh muncul, bumi yang besar dan puncak Himalaya menyala dan terbakar. Ketika bumi yang besar dan puncak Himalaya menyala dan terbakar, api yang dilontarkan oleh angin mencapai alam Brahma. Ketika puncak Himalaya terbakar, puncak setinggi seratus yojana, dua ratus yojana, tiga ratus yojana, empat ratus yojana, dan lima ratus yojana, hancur. Para bhikkhu, ketika bumi dan puncak Himalaya terbakar abu dan cairan abu tidak terlihat. Para bhikkhu, demkianlah fenomena adalah berubah, bukan tetap, tidak ada yang menyenangkan di dalamnya, maka sesuai bagi kalian untuk berpaling, tidak melekat dan terbebaskan dari segala fenomena.

    Para bhikkhu, ketika bumi dan puncak Himalaya terbakar, apapun perkataan surgawi dan kepercayaan, juga terbakar dan hilang, akankah pandangan benar yang dicapai tetap tersisa?

    Para bhikkhu, di masa lalu ada seorang guru bernama Sunetta, seseorang yang bebas dari keserakahan yang membantu menyeberang arus. Guru Sunetta memiliki banyak ratus murid. Para bhikkhu, sang guru mengajar agar terlahir di alam Brahma. Mereka yang telah mengetahui ajaran Sunetta secara lengkap, setelah kematian, akan terlahir di alam Brahma. Sebagian yang tidak mengetahui dengan lengkap ajaran Sunetta, setelah kematian, terlahir sebagai “Penguasa Ciptaan Lain”. Sebagian lagi terlahir sebagai “Pencipta”, “Yang Bahagia”, “Yama”, sebagian di alam tiga-puluh-tiga dan dewa penjaga. Sebagian lain terlahir di kasta tinggi khattiya, Brahmana , dan perumah tangga.
    Kemudian muncul pikiran pada sang guru Sunetta. ‘Adalah tidak sesuai bagi saya setelah kematian, terlahir di alam yang sama dengan para pengikut saya. Bagaimana jika saya kembangkan cinta kasih lebih jauh.’

    Kemudian Guru Sunetta mengembangkan cinta kasih selama tujuh tahun. Setelah mengembangkan cinta kasih selama tujuh tahun, dia tidak kembali lagi ke dunia ini selama tujuh kalpa pengembangan dan penyusutan. Semasa kalpa pengembangan, ia lahir di alam dewa cahaya memancar dan semasa kalpa penyusutan, ia terlahir di alam Brahma kosong. Di sana, ia adalah Brahma tertinggi yang memegang kuasa penuh. Ia berada dalam keadaan itu tujuh kali, tiga puluh enam kali ia menjadi Sakka, raja para dewa. Tidak terhitung banyaknya ia menjadi raja dunia, penakluk empat penjuru dan negara-negara. Para bhikkhu, ia terberkahi dengan tujuh permata seperti permata roda, gajah, kuda, batu permata, wanita, perumah tangga, dan penasihat. Para bhikkhu, ia memiliki lebih dari seribu putra yang berani dengan sosok perkasa yang menghancurkan kekuatan asing. Mereka hidup menguasai dunia dengan kebenaran, bukan senjata sejauh batas samudra. Para bhikkhu, guru Sunetta dengan umur panjang dan kejayaan demikian tidak terbebaskan dari kelahiran, ketuaan, kematian, kesedihan, ratap tangis, ketidaksenangan dan penderitaan.

    Saya katakan, tidak terbebas dari penderitaan. Mengapa demikian? Karena tidak menembus dan mengalami empat hal. Apakah empat itu? Tidak menembus moralitas, konsentrasi dan kebijaksanaan dan kebebasan para mulia. Sekarang ia telah menembus moralitas, konsentrasi dan kebijaksanaan dan kebebasan para mulia. Keinginan telah dicabut akarnya, pemimpin telah dihancurkan. Sekarang ia tidak lagi memiliki kelahiran.”

    Kemudian Sang Bhagava berkata lebih lanjut:
    “Gotama yang terkenal, telah menembus moralitas, konsentrasi, kebijaksanaan dan kebebasan mulia, dan menyatakan ajaran untuk mengakhiri penderitaan, telah padam.”
    ===========

    _/\_ :lotus:

    Sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=128763231301

    ( facebook Cici Lily Warsiti )

    • Jujur Saja berkata

      Kutip : “Kemudian Guru Sunetta mengembangkan cinta kasih selama tujuh tahun. Setelah mengembangkan cinta kasih selama tujuh tahun, dia tidak kembali lagi ke dunia ini selama tujuh kalpa pengembangan dan penyusutan. Semasa kalpa pengembangan, ia lahir di alam dewa cahaya memancar dan semasa kalpa penyusutan, ia terlahir di alam Brahma kosong. Di sana, ia adalah Brahma tertinggi yang memegang kuasa penuh. Ia berada dalam keadaan itu tujuh kali, tiga puluh enam kali ia menjadi Sakka, raja para dewa. Tidak terhitung banyaknya ia menjadi raja dunia, penakluk empat penjuru dan negara-negara. Para bhikkhu, ia terberkahi dengan tujuh permata seperti permata roda, gajah, kuda, batu permata, wanita, perumah tangga, dan penasihat. ”

      Pertanyaan :
      “..setelah mengembangkan cinta kasih selama 7 tahun, tidak kembali kedunia..” jika tidak kembali bagaimana bisa menjadi raja dunia yg tdk terhitung jumlahnya… kemudian jika tidak kembali bagaimana si Budha Gautama bisa tahu ceritanya.. bisa saja sih ngeles karena demikian paripurnanya si Gautama dlm semedhi shg bisa merasakan adanya bisikan itu..xixixi.. seperti cerita sponge Bob yg hidup didalam air… bukankah ini Ajaran Ilusionis…

      Paling komentar ini tidak ditampilkan..

  6. Reno Yu berkata

    色字时空 ,空时字色 . . . aku rasa ini yang paling cocok untuk semua pertanyaan :)

    sabbe satta bhavantu sukhitatta . . .
    :)

  7. stewar berkata

    tuhan anda tau ga datangnya hari kiamat…??

  8. irvan berkata

    dari manakah asal makhluk aseksual itu ?

  9. julianto berkata

    Alam semesta mula mula memang tidak ada, sampai kemudian terjadi Big Bang/dentuman besar 13.8 milyar tahun lalu yang menandai dimulainya pembentukan alam semesta. Selanjunya 13.2 milyar tahun yang lalu galaksi Bima sakti terbentuk. Bumi terbentuk 4.5 milyar tahun yang lalu, mula mula tidak ada kehidupan di bumi, kemudian muncul mahluk bersel satu, sejenis ikan, sejenis amphibi, hewan darat, kemudian Dinosaurus muncul 180 juta tahun yang lalu, kemudian punah setelah meteorit menghantam bumi. Kemudian mamalia mulai berkembang dari pengerat, sejenis kera, sampai homo erektus 1 juta tahun lalu, homo sapien 150 juta tahun lalu, homo sapien cro magnon 40 ribu tahun lalu (38000 SM). 10000 SM -1000 M zaman neolithikum. 1000 – 1800 zaman pertengahan. 1800 – 2014 zaman modern. Dari 13.8 milyar tahun yang lalu, galaksi, bintang, planet muncul dan lenyap, termasuk matahari dan bumi ini akan muncul dan lenyap, demikian pula makluk hidup di dalamnya muncul dari bentuk yang paling primitif, ber evolusi sampai menjadi manusia suatu saat akan lenyap sampai kemudian muncul lagi di bumi yang lain. Jadi cocok ya dengan sutta Sang Buddha tentang terciptanya alam semesta, terciptanya bumi, terciptanya makhluk hidup dari yang primitif kemudian berevolusi menjadi seperti sekarang, kemudian akan datang bumi ini akan hancur, dan kemudian akan terbentuk bumi yang lain yang kembali akan diisi oleh makhluk makluk hidup dari yang paling sederhana kemudian berkembang kembali menjadi makluk yang modern, demikian seterusnya. Jadi menurut agama Buddha tidak ada manusia pertama, karena manusia timbul hasil proses evolusi, demikian juga bumi, planet, galaksi terus ber evolusi di alam semesta muncul kemudian hancur bahkan sampai sekarang dan sampai masa yang akan datang, termasuk juga makhluk hidup didalamnya terus berkembang dan ber evolusi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: